VIII. PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN TANGKAP YANG BERKELANJUTAN. perikanan tangkap di perairan Kabupaten Morowali memperlihatkan jumlah alokasi

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "VIII. PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN TANGKAP YANG BERKELANJUTAN. perikanan tangkap di perairan Kabupaten Morowali memperlihatkan jumlah alokasi"

Transkripsi

1 VIII. PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN TANGKAP YANG BERKELANJUTAN Hasil analisis LGP sebagai solusi permasalahan pemanfaatan sumberdaya perikanan tangkap di perairan Kabupaten Morowali memperlihatkan jumlah alokasi alat tangkap, deviasi tujuan pengelolaan perikanan tangkap dan pemakaian sumberdaya. Nilai total dari fungsi tujuan dalam persoalan LGP ini kurang memiliki makna dalam pembuatan keputusan. Hal ini disebabkan karena nilai tersebut tidak dapat memperlihatkan deviasi pencapaian dari setiap tujuan yang diinginkan yang bersifat multidimensi. Jadi hal yang terpenting untuk diketahui dalam penggunaan LGP adalah berapa alokasi optimal dari alat tangkap yang digunakan, berapa besar ketercapaian tujuan yang diinginkan sesuai dengan target yang telah ditetapkan dan berapa besar sumberdaya yang digunakan dalam mencapai tujuan tersebut Optimalisasi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Tangkap Optimalisasi pemanfaatan sumberdaya perikanan tangkap dimaksudkan untuk menentukan alokasi alat tangkap dan penggunaan sumberdaya yang tersedia bagi usaha perikanan guna pencapaian target kesejahteraan masyarakat dan kelestarian sumberdaya perikanan. Nilai yang diperoleh merupakan solusi optimal basis pengembangan perikanan tangkap untuk diterapkan saat ini di perairan Kabupaten Morowali Alokasi Alat Tangkap dan Penggunaan Sumberdaya Solusi optimal basis yang diperoleh dari metode analisis LGP terdiri atas nilai alokasi alat tangkap, target yang dicapai dan penggunaan sumberdaya yang optimal. Alokasi alat tangkap optimal basis selanjutnya dibandingkan dengan alokasi alat tangkap saat ini (aktual) guna menentukan apakah diperlukan

2 penambahan atau pengurangan jumlah alat tangkap yang dioperasikan. Untuk lebih jelasnya terlihat pada Tabel 17. Tabel 17. Alokasi Alat Tangkap Aktual dan Solusi Optimal Basis Pengelolaan Perikanan Tangkap di Perairan Kabupaten Morowali, 2003 Variabel Aktual Solusi optimal Jenis alat tangkap keputusan (unit) basis (unit) X1 Bubu X2 Pancing X3 Jaring Insang X4 Bagan X5 Purse seine Tabel 17 menunjukkan bahwa pemanfaatan sumberdaya perikanan tangkap menurut solusi optimal basis tidak merekomendasikan penggunaan alat tangkap Jaring Insang. Unit usaha yang direkomendasikan untuk ditingkatkan pengalokasiannya yakni usaha Bubu dari unit menjadi unit dan usaha Pancing dari 163 unit menjadi 232 unit. Pengurangan unit usaha terjadi pada Bagan dan Purse seine. Hal ini menunjukkan bahwa usaha yang memungkinkan untuk dilakukan saat ini adalah usaha Bubu dan Pancing. Alat tangkap Bubu direkomendasikan karena biaya produksi yang dikeluarkan sangat kecil dibanding keempat jenis alat tangkap lain, mudah dioperasikan, sedangkan alat tangkap Pancing dapat memberikan keuntungan yang lebih besar. Persamaan kedua jenis alat tersebut adalah dapat menangkap jenis ikan yang memiliki nilai ekonomis tinggi (Kerapu dan Kakap), khusus Pancing mampu menangkap ikan Cakalang dan Tuna dalam volume yang relatif besar. Pengalokasian sejumlah alat tangkap guna mencapai tujuan yang diinginkan pada dasarnya selalu dihadapkan pada keterbatasan (kendala) sumberdaya yang tersedia. Kendala dan nilai sisa pemakaian sumberdaya tersebut, disajikan pada Tabel

3 Tabel 18. Nilai Sisa Pemakaian Sumberdaya Perikanan Tangkap Menurut Solusi Optimal Basis di Perairan Kabupaten Morowali, Tahun 2003 No. Jenis sumberdaya Kendala (RHS) Nilai sisa 1. Effort optimum Pelagis Kecil (trip) Effort optimum Pelagis Besar (trip) Effort optimum Demersal (trip) Effort optimum ikan Karang (trip) Ketersediaan BBM/Solar (liter) Ketersediaan BBMinyak Tanah (litr) Ketersediaan Pelumas Mesin (liter) Ketersediaan Es (unit) Ketersediaan Umpan (ton) Ketersediaan Garam (liter) Keterangan : RHS = Righthand Side Tabel 18 menunjukkan bahwa kondisi optimal dalam pencapaian tujuan yang diinginkan dalam pengelolaan perikanan tangkap menunjukkan upaya penangkapan ikan Karang, penggunaan Bahan Bakar Minyak dan es seluruhnya habis terpakai, sedangkan sumberdaya lain sebagian besar masih tersisa. Kebutuhan bahan bakar minyak terutama solar dan minyak tanah serta es dirasakan sangat penting dalam mendukung operasi penangkapan ikan sehingga persediaan sumberdaya tersebut habis terpakai. Sisa upaya penangkapan ikan Pelagis Besar dan ketersediaan es terlihat semakin kecil dibanding penggunaan sumberdaya lainnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa mobilitas nelayan dalam melakukan penangkapan ikan Karang dan ikan Pelagis Besar cukup tinggi sehingga ketersediaan BBM dan es perlu ditingkatkan. Penggunaan umpan yang dioperasikan bersama alat Pancing dengan sasaran utama penangkapan ikan Tuna dan Kerapu, baru mencapai ton (8.13%) dari total umpan ikan yang tersedia. Hal ini terkait dengan frekuensi penangkapan ikan Tuna yang relatif kecil dalam setahun, faktor musim dan modal yang digunakan cukup besar. Modal investasi terbesar dalam usaha penangkapan ikan Tuna dengan menggunakan Pancing berasal dari biaya alat penunjang (rumpon). Tingginya 95

4 96 modal operasional penangkapan ikan Tuna disebabkan oleh setiap trip penangkapan ikan berlangsung selama 3-4 hari kerja dengan jumlah personil 4-5 orang, sementara trip penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap lain rata-rata satu hari kerja dengan jumlah personil 1-5 orang. Pemecahan masalah modal telah dilakukan perusahaan perikanan dan nelayan dengan sistem kemitraan. Caranya, perusahaan perikanan memberikan bantuan awal dalam bentuk pengadaan rumpon, sementara hasil tangkapan ikan Tuna oleh nelayan selanjutnya dijual ke perusahaan dengan sistem pembayaran yang telah disepakati bersama Pencapaian Tujuan Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Tangkap Pengalokasian unit alat tangkap yang direkomendasikan menunjukkan bahwa target yang ingin dicapai melalui pengelolaan usaha perikanan tangkap dapat diminimumkan deviasinya. Target yang dicapai pada analisis LGP menunjukkan besarnya dampak pengelolaan perikanan tangkap yang dilakukan nelayan saat ini. Besaran target yang tidak tercapai dari pengelolaan perikanan tangkap menurut solusi optimal basis di perairan Kabupaten Morowali, disajikan pada Tabel 19. Tabel 19. Pencapaian Tujuan Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Tangkap Menurut Solusi Optimal Basis di Perairan Morowali, Tahun 2003 No. Meminimumkan deviasi tujuan Besaran target DU dan DO 1. Pendapatan maksimum (Rp juta) Memenuhi permintaan ekspor ikan (ton) Memenuhi permintaan konsumsi ikan (ton) Penyerapan tenaga kerja (000 HOK) Pemanfaatan sumberdaya ikan Pelagis Kecil (ton) 6. Pemanfaatan sumberdaya ikan Pelagis Besar (ton) 7. Pemanfaatan sumberdaya ikan Demersal (ton) 8. Pemanfaatan sumberdaya ikan Karang (ton) Keterangan : DU = pencapaian kurang (underachievement) dari target DO = pencapaian lebih (overachievement) dari target

5 97 Tabel 19 menunjukkan bahwa maksimum pendapatan nelayan yang dicapai dari target awal Rp juta yakni Rp juta (96.90% yang tercapai). Pemenuhan permintaan ekspor ikan seluruhnya terpenuhi, sedangkan pemenuhan permintaan ikan domestik terpenuhi ton (84.92%). Hal ini menunjukkan bahwa baik peningkatan pendapatan nelayan maupun pemenuhan kebutuhan ikan bagi masyarakat setempat melalui perikanan tangkap belum dapat terpenuhi. Penyerapan tenaga kerja melaut juga masih di bawah target yakni baru mencapai 55.15% dari target potensial. Kondisi ini menunjukkan belum maksimalnya pemanfaatan sumberdaya manusia yang digunakan dalam usaha perikanan tangkap. Hal ini terkait dengan pengalokasian tenaga kerja tidak semata pada usaha perikanan tangkap saja, akan tetapi tenaga kerja juga dialokasikan pada perikanan budidaya dan tambak, tenaga kerja di sektor pertanian, industri dan jasa. Tingkat pencapaian tujuan pemanfaatan potensi sumberdaya perikanan tangkap menunjukkan hasil tangkapan yang diperoleh berada pada level 34.56% %. Pemanfaatan sumberdaya ikan tertinggi pada kelompok ikan Karang, sedangkan yang terendah pemanfaatannya yakni ikan Pelagis Besar, yang berarti bahwa pemanfaatan potensi sumberdaya perikanan tangkap masih di bawah MSY. Kenyataan ini menunjukkan bahwa diperlukan adanya upaya-upaya dari pihak terkait dalam rangka meningkatkan pemanfaatan sumberdaya perikanan tangkap. Upaya-upaya tersebut dapat berupa seperangkat kebijakan yang ditujukan menumbuhkan kemudahan berinvestasi bagi masyarakat di sektor perikanan. Berikut ini dijelaskan bagaimana pemanfaatan sumberdaya perikanan tangkap dikelola secara terpadu antara nelayan, pemerintah dan swasta. Skenario yang ditampilkan dalam model mempertimbangkan ketersediaan sumberdaya dan perubahan dalam harga input produksi dan hasil perikanan tangkap.

6 8.2. Dampak Kebijakan Perikanan terhadap Kesejahteraan dan Kelestarian Sumberdaya Perikanan Tangkap 98 Kebijakan pemerintah dalam pengelolaan perikanan tangkap berhubungan dengan ketersediaan input bagi usaha perikanan (BBM, es dan kebutuhan pokok untuk konsumsi melaut), regulasi sektor perikanan guna meningkatkan pendapatan daerah (retribusi usaha perikanan) dan peningkatan pendapatan nelayan (peningkatan harga ikan). Perubahan kebijakan perikanan tersebut berdampak pada kesejahteraan masyarakat dan kelestarian sumberdaya perikanan tangkap (diperlihatkan oleh hasil analisis postoptimal pada sub-sub bab berikut) Peningkatan Ketersediaan Sumberdaya, Pemberlakuan Retribusi Usaha Perikanan dan Harga Ikan Solusi optimal dari usaha pengelolaan perikanan melalui kombinasi kebijakan peningkatan ketersediaan sumberdaya, pemberlakuan retribusi usaha perikanan dan peningkatan harga ikan disajikan pada Tabel 20. Tabel 20. Jumlah Alat Tangkap yang Direkomendasikan Akibat Peningkatan Ketersediaan Sumberdaya, Pemberlakuan Retribusi Usaha Perikanan dan Harga Ikan di Perairan Kabupaten Morowali, Tahun 2003 Variabel Jenis alat Rekomendasi (Unit) keputusan Optimal Skenario Skenario Skenario Skenario Skenario tangkap Basis X1 Bubu X2 Pancing X3 Jaring Insang X4 Bagan X5 Purse seine Keterangan : Skenario 1 = peningkatan aksesibilitas penggunaan BBM 50% + effort penangkapan ikan 25% Skenario 2 = peningkatan aksesibilitas penggunaan BBM 50% + effort penangkapan ikan 25% + ketersediaan es 50% Skenario 3 = peningkatan aksesibilitas penggunaan BBM 50% + effort penangkapan ikan 25% + ketersediaan es 50% + retribusi usaha perikanan 5% Skenario 4 = peningkatan aksesibilitas penggunaan BBM 50% + effort penangkapan ikan 25% + ketersediaan es 50% + h arga perikanan 10% Skenario 5 = peningkatan aksesibilitas penggunaan BBM 50% + effort penangkapan ikan 25% + ketersediaan es 50% + retribusi usaha perikanan 5% + harga perikanan 10%

7 99 Tabel 20 menunjukkan bahwa kebijakan peningkatan aksesibilitas dalam penggunaan BBM (solar/bensin dan minyak tanah) oleh nelayan menyebabkan upaya penangkapan ikan juga meningkat sehingga ada indikasi untuk menambah usaha penangkapan ikan terutama usaha Bubu, Pancing dan Bagan. Namun kebijakan tersebut tidak berpengaruh pada penambahan unit usaha Jaring Insang dan Purse seine. Jaring Insang tidak direkomendasikan penggunaannya karena berhubungan dengan faktor wilayah penangkapan ikan yang terbatas pada daerah pantai dan kedalaman di bawah 20 meter (sama dengan pengoperasian Bubu). Perbedaannya adalah usaha Bubu lebih mudah dan murah dalam pengoperasiannya dibanding usaha Jaring Insang. Jika kemudahan memperoleh BBM dilakukan bersamaan dengan kebijakan investasi pabrik es dan pemberlakuan retribusi usaha perikanan, maka terjadi penurunan jumlah alokasi alat tangkap Bubu dan Bagan, alokasi alat Pancing tetap, sedangkan jumlah alat Jaring Insang dan Purse seine yang dialokasikan mengalami peningkatan. Penurunan jumlah alat tangkap Bubu dan Bagan menunjukkan bahwa alat tangkap tersebut tidak mampu merespon perubahan kebijakan yang terjadi. Hal ini disebabkan karena pengoperasian Bubu dan Bagan tidak menggunakan es dan pemasaran hasil tangkapan kedua alat relatif cepat, sehingga penggunaan es terhadap hasil tangkapan belum efektif. Sebaliknya penggunaan es lebih efektif bagi Jaring Insang dan Purse seine, karena keduanya menggunakan es setiap kali melaut. Jika peningkatan aksesibilitas BBM dan es diikuti dengan kenaikan harga ikan, maka jumlah alat tangkap Bubu dan Pancing yang dialokasikan akan meningkat, sedangkan alokasi alat Jaring Insang, Bagan dan Purse seine relatif tetap. Kondisi ini terkait dengan ikan hasil tangkapan dari alat Bubu dan Pancing memiliki harga yang relatif tinggi (umumnya komoditi ekspor).

8 100 Secara umum, pemberlakuan retribusi perikanan bagi kelima usaha perikanan tidak mempengaruhi nelayan untuk menambah atau mengurangi jumlah alat tangkap yang dialokasikan di perairan Kabupaten Morowali. Ini berarti bahwa retribusi usaha perikanan oleh pemerintah dapat diberlakukan seiring dengan kebijakan peningkatan aksesibilitas penggunaan BBM dan es sehingga tujuan pengelolaan perikanan secara terpadu dapat tercapai. Besaran tujuan yang dicapai dari pengelolaan perikanan tangkap berdasarkan kombinasi kebijakan ketersediaan sumberdaya, pemberlakuan retribusi usaha perikanan dan peningkatan harga ikan, secara jelas disajikan pada Tabel 21. Tabel 21. Pencapaian Tujuan Pengelolaan Perikanan Tangkap Akibat Peningkatan Ketersediaan Sumberdaya, Pemberlakuan Retribusi Usaha Perikanan dan Harga Ikan di Perairan Kabupaten Morowali, Tahun 2003 No Tujuan yang ingin dicapai DU dan DO Besaran target Skenario Skenario Skenario Skenario Skenario Basis Pendapatan maksimum (Rp juta) 2. Pemenuhan permintaan ekspor ikan (ton) 3. Pemenuhan konsumsi ikan domestik (ton) 4. Penyerapan tenaga kerja (000 HOK) 5. Pemanfaatan sumberdaya ikan Pelagis Kecil (ton) 6. Pemanfaatan sumberdaya ikan Pelagis Besar (ton) 7. Pemanfaatan sumberdaya ikan Demersal (ton) 8. Pemanfaatan sumberdaya ikan Karang (ton) Keterangan : DU = pencapaian kurang (underachievement) dari target DO = pencapaian lebih (overachievement) dari target Tabel 21 menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pendapatan nelayan, pemenuhan permintaan ikan ekspor dan konsumsi ikan domestik yang melebihi target awal jika kebijakan peningkatan aksesibilitas dalam penggunaan BBM (solar/bensin dan minyak tanah) dan upaya penangkapan ikan diterapkan. Kebijakan tersebut juga berpengaruh terhadap peningkatan penyerapan tenaga kerja dari 55.15% menjadi

9 % dan pemanfaatan sumberdaya perikanan tangkap mencapai 90.00%, terutama pada sumberdaya ikan Pelagis Kecil dan ikan Karang. Jika kemudahan aksesibilitas penggunaan BBM dan peningkatan upaya penangkapan ikan dilakukan bersamaan dengan kebijakan investasi pabrik es, maka hampir seluruh target yang ingin dicapai mengalami peningkatan (dari skenario 1), kecuali meminimumkan deviasi pemanfaatan sumberdaya ikan Pelagis Besar. Pada skenario 2, target pemanfaatan sumberdaya ikan Pelagis Kecil dan ikan Karang tercapai seluruhnya. Peningkatan pencapaian target dari seluruh tujuan pengelolaan sumberdaya perikanan tangkap juga berlaku pada kebijakan peningkatan aksesibilitas BBM, effort penangkapan, ketersediaan es dikombinasikan dengan pemberlakuan retribusi usaha perikanan (skenario 3), peningkatan harga ikan (skenario 4) ataupun kombinasi keduanya. Perbedaan mendasar dari skenario 3, 4 dan 5 adalah pada skenario 4 (ketersediaan BBM, effort penangkapan ikan dan es dikombinasikan dengan peningkatan harga ikan), pendapatan maksimum, pemenuhan permintaan ekspor ikan yang dicapai, jumlah tenaga kerja yang diserap dan sumberdaya ikan Pelagis Besar yang dimanfaatkan lebih besar dibanding pada skenario 3 dan 5. Sebaliknya pada skenario 3 dan 5, kebutuhan konsumsi ikan domestik yang dipenuhi dan sumberdaya ikan Demersal yang dimanfaatkan pencapaiannya lebih besar dari skenario 4. Hal ini menunjukkan bahwa kombinasi kebijakan peningkatan ketersediaan BBM, effort, es dan harga ikan mampu meningkatkan pendapatan nelayan, pemenuhan permintaan ekspor ikan, penyerapan tenaga kerja dan penggunaan sumberdaya ikan Pelagis Besar. Tingginya pemanfaatan ikan Pelagis Besar terkait dengan jenis ikan hasil tangkapan merupakan komoditi ekspor dan harga jual yang relatif tinggi dibanding dengan ikan Pelagis Kecil dan ikan Demersal.

10 102 Pencapaian tujuan sesuai dengan target tidak terlepas dari keterbatasan sejumlah sumberdaya yang tersedia dan intensitas penggunaannya. Jenis dan sisa pemakaian sumberdaya dalam mencapai tujuan pengelolaan perikanan tangkap berdasarkan kombinasi kebijakan peningkatan ketersediaan BBM, effort penangkapan ikan, retribusi usaha dan harga ikan disajikan pada Tabel 22. Tabel 22. Nilai Sisa Pemanfaatan Sumberdaya Akibat Peningkatan Ketersediaan Sumberdaya, Pemberlakuan Retribusi Usaha Perikanan dan Harga Ikan di Perairan Kabupaten Morowali, Tahun 2003 No. Jenis sumberdaya Nilai sisa Besaran kendala Optimal Skenario Skenario Skenario Skenario Skenario Basis a b c d e f g h i Effort optimum ikan 1. Pelagis Kecil (trip) Effort optimum ikan 2. Pelagis Besar (trip) Effort optimum ikan 3. Demersal (trip) Effort optimum ikan 4. Karang (trip) BBM Solar/Bensin (liter) j BBM Minyak Tanah k (liter) l 7. Pelumas Mesin (liter) Es (balok) m n 9. Umpan (ton) Garam (liter) Keterangan : a, c, e, g, i, k, m = optimal basis b, d, f, h, j, l, n = skenario 1-5 Tabel 22 menunjukkan bahwa walaupun ketersediaan BBM dan upaya penangkapan ikan ditingkatkan (skenario 2), namun pemakaian sumberdaya tersebut cukup tinggi terutama pada effort penangkapan ikan Karang, Pelagis Besar dan penggunaan minyak tanah. Kebijakan peningkatan ketersediaan BBM dan effort penangkapan ikan menyebabkan juga penggunaan es meningkat. Jika ketersediaan es meningkat, maka upaya penangkapan ikan Pelagis Kecil, Pelagis Besar dan ikan Demersal meningkat, sedangkan upaya penangkapan ikan Karang menurun.

11 103 Kebijakan peningkatan ketersediaan BBM, effort optimum penangkapan ikan dan penggunaan es diikuti dengan peningkatan harga (skenario 4), maka upaya penangkapan ikan Pelagis Kecil, Pelagis Besar, ikan Karang dan penggunaan BBM dan es juga meningkat dibanding pada skenario 3 (retribusi usaha perikanan) dan 5 (kombinasi retribusi usaha perikanan dan harga ikan). Kombinasi kebijakan pemberlakuan retribusi usaha dan peningkatan harga ikan, mampu meningkatkan upaya penangkapan ikan Demersal. Ketersediaan upaya penangkapan ikan Pelagis Besar, minyak tanah dan es yang selalu habis terpakai dari kelima skenario menunjukkan intensitas pemanfaatan sumberdaya ikan berlangsung cukup tinggi. Hal ini diperlihatkan oleh tercapainya target pemanfaatan potensi sumberdaya ikan, sehingga ketersediaannya semakin terbatas. Implikasi dari kebijakan peningkatan aksesibitas penggunaan BBM, prasarana pabrik es dan harga ikan bagi usaha penangkapan ikan adalah dapat menambah jumlah unit alat tangkap yang dioperasikan dengan keuntungan yang lebih besar bagi nelayan, pencapaian pemenuhan permintaan ikan melebihi target dan potensi sumberdaya ikan dapat dimanfaatkan secara maksimal Peningkatan Harga Input, Pemberlakuan Retribusi Usaha Perikanan dan Harga Ikan Solusi optimal dari usaha pengelolaan perikanan akibat peningkatan harga input BBM, es dan kebutuhan pokok, pemberlakuan retribusi usaha perikanan dan peningkatan harga ikan disajikan pada Tabel 23. Tabel 23 menunjukkan bahwa jika harga BBM (solar/bensin dan minyak tanah), es dan kebutuhan pokok meningkat, maka terjadi penurunan alokasi unit alat tangkap Bubu, Pancing, Jaring Insang dan Bagan. Kebijakan tersebut pun tidak berpengaruh terhadap penambahan alat tangkap Purse seine. Namun jika

12 peningkatan harga BBM, es dan kebutuhan pokok diantisipasi dengan kenaikan harga ikan, maka jumlah alat tangkap Bubu, Jaring Insang, Bagan dan Purse seine yang dialokasikan mengalami penurunan, sedangkan jumlah alokasi alat tangkap Pancing meningkat. Kondisi ini terkait dengan harga ikan hasil tangkapan dari alat tangkap Pancing relatif tinggi (umumnya komoditi ekspor seperti Kerapu, Kakap dan Tuna) sehingga nelayan mengharapkan keuntungan yang lebih besar. Tabel 23. Jumlah Alat Tangkap yang Direkomendasikan Akibat Peningkatan Harga Input, Pemberlakuan Retribusi Usaha Perikanan dan Harga Ikan di Perairan Kabupaten Morowali, Tahun Variabel Rekomendasi (Unit) keputusan Jenis alat tangkap Skenario 6 Skenario 7 Skenario 8 Skenario 9 X1 Bubu X2 Pancing X3 Jaring Insang X4 Bagan X5 Purse seine Keterangan : Skenario 6 = peningkatan harga BBM, es dan kebutuhan pokok masing-masing 15% Skenario 7 = peningkatan harga BBM, es dan kebutuhan pokok masing -masing 15% + retribusi usaha perikanan 5% Skenario 8 = peningkatan harga BBM, es dan kebutuhan pokok masing -masing 15% + harga perikanan 10% Skenario 9 = peningkatan harga BBM, es dan kebutuhan pokok masing -masing 15% + retribusi usaha perikanan 5% + harga perikanan 10% Jika peningkatan harga BBM, es, kebutuhan pokok dan pemberlakuan retribusi bagi kelima usaha perikanan diikuti dengan kenaikan harga ikan, maka akan meningkatkan alokasi alat tangkap Bubu, Jaring Insang, Bagan dan Purse seine, sementara alokasi alat tangkap Pancing mengalami penurunan. Ini berarti bahwa untuk meningkatkan unit alat tangkap ikan skala kecil (Bubu, Jaring Insang dan Bagan) maka dampak peningkatan harga input dan pemberlakuan retribusi usaha perikanan dapat ditekan dengan meningkatkan harga ikan.

13 105 Besaran tujuan yang dicapai dari pengelolaan perikanan tangkap akibat peningkatan harga input, pemberlakuan retribusi usaha perikanan dan peningkatan harga ikan, secara jelas disajikan pada Tabel 24. Tabel 24. Pencapaian Tujuan Pengelolaan Perikanan Tangkap Akibat Peningkatan Harga Input, Pemberlakuan Retribusi Usaha Perikanan dan Harga Ikan di Perairan Kabupaten Morowali, Tahun 2003 No Tujuan yang ingin dicapai Besaran DU dan DO target Skenario 6 Skenario 7 Skenario 8 Skenario 9 1. Pendapatan maksimum (Rp juta) 2. Pemenuhan permintaan ekspor ikan (ton) 3. Pemenuhan konsumsi ikan domestik (ton) 4. Penyerapan tenaga kerja (000 HOK) 5. Pemanfaatan sumberdaya ikan Pelagis Kecil (ton) 6. Pemanfaatan sumberdaya ikan Pelagis Besar (ton) 7. Pemanfaatan sumberdaya ikan Demersal (ton) 8. Pemanfaatan sumberdaya ikan Karang (ton) Keterangan : DU = pencapaian kurang (underachievement) dari target DO = pencapaian lebih (overachievement) dari target Tabel 24 menunjukkan bahwa jika harga BBM (solar/bensin dan minyak tanah), es dan kebutuhan pokok meningkat, maka seluruh tujuan pengelolaan sumberdaya perikanan tangkap yang telah ditargetkan tidak tercapai. Deviasi pencapaian tujuan menjadi lebih besar jika pemerintah memberlakukan retribusi bagi usaha perikanan. Jika peningkatan harga BBM (solar/bensin dan minyak tanah), es dan kebutuhan pokok disertai dengan kenaikan harga ikan, maka nelayan akan memperoleh surplus pendapatan dan seluruh permintaan ekspor ikan terpenuhi, sedangkan target lain pengelolaan perikanan tidak tercapai. Secara khusus dengan kenaikan harga ikan, akan meningkatkan pemanfaatan sumberdaya ikan Pelagis Besar, ikan Demersal dan ikan Karang. Hal ini terkait dengan harga

14 ketiga jenis ikan tersebut relatif tinggi (umumnya komoditi ekspor seperti Tuna, Kerapu dan Kakap) sehingga pendapatan yang diperoleh nelayan relatif besar. 106 Jika peningkatan harga BBM, es, kebutuhan pokok dan pemberlakuan retribusi bagi kelima usaha perikanan diikuti dengan kenaikan harga ikan, maka hanya tujuan memaksimumkan pendapatan nelayan saja yang tercapai, sedangkan tujuan lain pengelolaan perikanan tidak tercapai. Walaupun demikian pada skenario ini, target pemenuhan konsumsi ikan domestik lebih rendah pencapaiannya dibanding pada skenario 6 dan 7. Pencapaian target yang diinginkan berdampak pada perubahan penggunaan sejumlah sumberdaya. Nilai sisa pemakaian sumberdaya akibat peningkatan harga input, retribusi usaha perikanan dan harga ikan, disajikan pada Tabel 25. Tabel 25. Nilai Sisa Pemanfaatan Sumberdaya Akibat Peningkatan Harga Input, Pemberlakuan Retribusi Usaha Perikanan dan Harga Ikan di Perairan Kabupaten Morowali, Tahun 2003 Besaran Nilai Sisa No. Jenis sumberdaya kendala Skenario 6 Skenario 7 Skenario 8 Skenario 9 Effort optimum ikan Pelagis Kecil (trip) Effort optimum ikan Pelagis Besar (trip) Effort optimum ikan Demersal (trip) Effort optimum ikan Karang (trip) 5. BBM Solar/Bensin (liter) BBM Minyak Tanah (liter) 7. Pelumas Mesin (liter) Es (balok) Umpan (ton) Garam (liter) Tabel 25 menunjukkan bahwa walaupun terjadi peningkatan harga BBM, es dan kebutuhan pokok serta pemberlakuan retribusi usaha perikanan (skenario 6 dan 7), namun pemanfaatan effort optimum penangkapan ikan Pelagis Kecil dan ikan

15 107 Karang serta penggunaan bensin/solar dan minyak tanah cukup besar (terpakai habis). Pada kondisi ini nelayan lebih memilih menangkap ikan Pelagis Kecil dan ikan Karang dibanding ikan Pelagis Besar dan Demersal. Hal ini terkait dengan penggunaan BBM dan es yang relatif kecil pada upaya penangkapan ikan Pelagis Kecil dan ikan Karang. Jika peningkatan harga BBM, es, kebutuhan pokok dan retribusi usaha perikanan diikuti dengan peningkatan harga (skenario 8 dan 9), maka upaya penangkapan ikan Pelagis Kecil dan Demersal menurun, sedangkan upaya penangkapan ikan Pelagis Besar dan ikan Karang meningkat. Kenyataan ini memperkuat argumen tentang peningkatan pemanfaatan ikan Pelagis Besar dan ikan Karang untuk mencapai tujuan pengelolaan perikanan tangkap, akibat adanya peningkatan harga ikan. Implikasi dari skenario peningkatan harga BBM, es, kebutuhan pokok, dan pemberlakuan retribusi usaha perikanan menyebabkan target pengelolaan perikanan tangkap tidak tercapai. Namun dengan adanya peningkatan harga ikan, target pendapatan maksimum dan pemenuhan permintaan ekspor ikan masih dapat tercapai serta terjadi peningkatan pemanfaatan sumberdaya ikan Pelagis Besar dan ikan Karang Penurunan Harga BBM dan Es, Peningkatan Harga Kebutuhan Pokok, Pemberlakuan Retribusi Usaha Perikanan dan Harga Ikan Solusi optimal dari usaha pengelolaan perikanan melalui kombinasi penurunan harga BBM dan es, peningkatan harga kebutuhan pokok, effort penangkapan ikan, pemberlakuan retribusi usaha perikanan dan peningkatan harga ikan disajikan pada Tabel 26.

16 108 Tabel 26. Jumlah Alat Tangkap yang Direkomendasikan Akibat Perubahan Harga BBM, Es dan Kebutuhan Pokok, Pemberlakuan Retribusi Usaha Perikanan dan Harga Ikan di Perairan Kabupaten Morowali, Tahun 2003 Variabel Rekomendasi (Unit) keputusan Jenis alat tangkap Skenario 10 Skenario 11 X1 Bubu X2 Pancing X3 Jaring Insang X4 Bagan X5 Purse seine Keterangan : Skenario 10 = penurunan harga BBM dan es 20% + peningkatan harga kebutuhan pokok 15% + retribusi usaha perikanan 5% + effort penangkapan ikan 25% Skenario 11 = penurunan harga BBM dan es 20% + peningkatan harga kebutuhan pokok 15% + retribusi usaha perikanan 5% + effort penangkapan ikan 25% + harga ikan 10% Tabel 26 skenario 10 menunjukkan bahwa walaupun terjadi peningkatan harga kebutuhan pokok dan pemberlakuan retribusi usaha perikanan, namun jika diantisipasi dengan penurunan harga BBM dan es, maka alokasi kelima alat tangkap mengalami peningkatan. Demikian pula jika kondisi pada skenario 10 juga diikuti oleh peningkatan harga ikan (skenario 11), terlihat adanya kecenderungan penurunan jumlah alat tangkap Bubu, sedangkan jumlah pengalokasian alat tangkap lainnya relatif tetap. Hal ini mengindikasikan bahwa walaupun harga ikan tidak mengalami peningkatan namun adanya penurunan harga input BBM dan es masih mampu menarik minat nelayan untuk meningkatkan usaha perikanannya. Besaran tujuan yang dicapai dari pengelolaan perikanan tangkap akibat penurunan harga BBM dan es, peningkatan harga kebutuhan pokok, pemberlakuan retribusi usaha perikanan, peningkatan upaya penangkapan ikan dan harga ikan secara simultan, disajikan pada Tabel 27. Tabel 27 menunjukkan bahwa apabila terjadi penurunan harga BBM dan es, peningkatan harga kebutuhan pokok, pemberlakuan retribusi usaha perikanan, peningkatan upaya penangkapan ikan dan harga ikan secara simultan (skenario 11),

17 maka pendapatan maksimum yang diperoleh nelayan, pemenuhan konsumsi ikan 109 domestik dan pemanfaatan sumberdaya ikan Demersal dapat dicapai melebihi target awal. Kondisi ini terbalik jika terjadi penurunan dan peningkatan harga input serta pemberlakuan kebijakan retribusi usaha perikanan tidak diikuti dengan peningkatan harga ikan (skenario 10). Tanpa kenaikan harga ikan, target yang dicapai dari pemenuhan permintaan ekspor ikan, penyerapan tenaga kerja dan pemanfaatan sumberdaya ikan Pelagis Besar lebih besar dari skenario 11 (ada kenaikan harga ikan). Hal ini memberikan suatu solusi optimal bagi pelaku usaha perikanan, bahwa walaupun terjadi peningkatan harga kebutuhan pokok, pemberlakuan kebijakan retribusi usaha perikanan dan tidak ada peningkatan harga ikan, namun tujuan yang diinginkan dari pemenuhan permintaan ekspor ikan dan kesempatan kerja tetap tercapai (melebihi target). Tabel 27. Pencapaian Tujuan Pengelolaan Perikanan Tangkap Akibat Perubahan Harga BBM, Es dan Kebutuhan Pokok, Pemberlakuan Retribusi Usaha Perikanan dan Harga Ikan di Perairan Kabupaten Morowali, Tahun 2003 No. Tujuan yang ingin dicapai Besaran DU dan DO target Skenario 10 Skenario Pendapatan maksimum (Rp juta) Pemenuhan permintaan ekspor ikan (ton) Pemenuhan konsumsi Ikan domestik (ton) 4. Penyerapan tenaga kerja ( HOK) 5. Pemanfaatan sumberdaya ikan Pelagis Kecil (ton) 6. Pemanfaatan sumberdaya ikan Pelagis Besar (ton) 7. Pemanfaatan sumberdaya ikan Demersal (ton) 8. Pemanfaatan sumberdaya ikan Karang (ton) Keterangan : DU = pencapaian kurang (underachievement) dari target DO = pencapaian lebih (overachievement) dari target

18 110 Hal lain yang dapat dikemukakan pada skenario 10 dan 11, pemanfaatan sumberdaya ikan Pelagis Kecil dan sumberdaya ikan Karang dari kedua kondisi tersebut mencapai titik maksimum atau termanfaatkan seluruhnya. Ini berarti bahwa seluruh potensi sumberdaya kedua kelompok ikan telah termanfaatkan sehingga diperlukan langkah-langkah atisipatif guna menjaga kelestariannya. Nikijuluw dkk. (2002), menyatakan bahwa jika pemanfaatan sumberdaya perikanan mencapai titik MSY, maka sebaiknya upaya penangkapan di perairan tersebut dikurangi atau mencari wilayah perairan baru (new fishing ground) guna kelangsungan ketersediaan sumberdaya tersebut. Pencapaian tujuan pengelolaan perikanan tangkap jika terjadi penurunan dan peningkatan harga input (BBM, es dan kebutuhan pokok), peningkatan effort penangkapan ikan, pemberlakuan retribusi usaha perikanan dan harga ikan secara simultan, disajikan pada Tabel 28. Tabel 28. Nilai Sisa Pemanfaatan Sumberdaya Akibat Perubahan Harga BBM, Es dan Kebutuhan Pokok, Pemberlakuan Retribusi Usaha Perikanan dan Harga Ikan di Perairan Kabupaten Morowali, Tahun 2003 No. Jenis sumberdaya Besaran Nilai sisa kendala Skenario 10 Skenario Effort optimum ikan Pelagis Kecil (trip) Effort optimum ikan Pelagis Besar (trip) Effort optimum ikan Demersal (trip) Effort optimum ikan Karang (trip) BBM Solar/Bensin (liter) BBM Minyak Tanah (liter) l Pelumas Mesin (liter) Es (balok) Umpan (ton) Garam (liter) Tabel 28 menunjukkan bahwa jika terjadi penurunan harga BBM dan es, maka daya beli nelayan untuk memperoleh BBM dan es menjadi lebih besar. Hal ini berdampak pada upaya untuk melakukan penangkapan ikan Pelagis Kecil dan

19 111 Pelagis Besar meningkat (jika dibandingkan peningkatan harga BBM dan es pada skenario 8 dan 9). Peningkatan penangkapan ikan Pelagis Besar menyebabkan penggunaan umpan juga meningkat Upaya penangkapan ikan Demersal dan ikan Karang pada skenario 10 dan 11 mengalami penurunan. Kondisi ini disebabkan karena unit alat tangkap yang menggunakan BBM dan es dalam volume yang relatif besar dengan jenis ikan tangkapan Pelagis adalah unit alat tangkap Pancing, Bagan dan Purse seine. Sebaliknya alat tangkap Bubu dan Jaring Insang umumnya menangkap jenis ikan Demersal dan ikan Karang dengan penggunaan BBM dan es yang relatif lebih kecil dibanding ketiga jenis alat tangkap sebelumnya. Implikasi dari kedua skenario ini adalah penurunan harga BBM dan es akan sangat berarti bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat (tercapainya target pendapatan maksimum, permintaan ikan ekspor, konsumsi ikan dan penyerapan tenaga kerja). Di sisi ketersediaan sumberdaya perikanan, penurunan harga BBM dan es menyebabkan seluruh potensi sumberdaya ikan Pelagis Kecil dan ikan Karang termanfaatkan. Oleh sebab itu diperlukan daerah perairan baru untuk penangkapan ikan sejenis guna kelestarian (keberlanjutan) sumberdaya perikanan Dampak Alternatif Kebijakan Perikanan terhadap Kesejahteraan Masyarakat dan Kelestarian Sumberdaya Hasil analisis LGP yang ditampilkan dalam bentuk skenario kebijakan perikanan dan perubahan eksternal dalam model ekonomi sumberdaya perikanan tangkap yang berkelanjutan (perubahan ketersediaan sumberdaya) memberikan pilihan alternatif terbaik usaha pengembangan perikanan tangkap. Penetapan alternatif kebijakan perikanan tangkap terbaik untuk diaplikasikan pada pelaku perikanan ditujukan untuk meningkatkan taraf hidup (kesejahteraan) masyarakat

20 112 dan kelestarian sumberdaya perikanan tangkap. Peningkatan kesejahteraan masyarakat dan kelestarian sumberdaya memiliki indikator sebagai berikut : 1. Secara ekonomi dapat meningkatkan pendapatan nelayan 2. Mampu memenuhi permintaan pasar ikan (domestik dan ekspor) 3. Dapat meningkatkan penyerapan tenaga kerja 4. Secara biologi, kelestarian sumberdaya perikanan tangkap tetap terjaga Tiga indikator pertama dapat diidentifikasi melalui besaran target yang dicapai dari tujuan pengelolaan sumberdaya perikanan tangkap untuk setiap perubahan internal pelaku perikanan dan kebijakan pemerintah terhadap usaha perikanan. Kriteria keempat dapat diidentifikasi melalui besaran nilai potensi sumberdaya ikan (MSY) yang termanfaatkan. Makin besar pencapaian pendapatan, pemenuhan permintaan ikan dan kesempatan kerja, maka makin baik kesejahteraan masyarakat. Namun, jika pemanfaatan potensi sumberdaya perikanan melebihi nilai MSY, maka terjadi ancaman kelestarian sumberdaya. Untuk itu, pemanfaatan potensi sumberdaya perikanan yang berkelanjutan tidak boleh melebihi MSY. Penentuan alternatif kebijakan terbaik berdasarkan indikator disesuaikan dengan kondisi sumberdaya, perubahan dalam harga input-output perikanan dan penetapan kebijakan retribusi usaha perikanan. Kondisi yang dimaksud terdiri atas 3 kombinasi dengan 11 skenario perubahan dalam koefisien tujuan (akibat perubahan harga input-output dan kebijakan pemerintah) dan kendala sumberdaya (akibat perubahan ketersediaan sumberdaya). Beberapa alternatif kebijakan pengelolaan perikanan tangkap guna peningkatan kesejahteraan dan kelestarian sumberdaya perikanan tangkap di perairan Kabupaten Morowali, disajikan pada Tabel 29.

21 Tabel 29. Alternatif Kebijakan Pengelolaan Perikanan guna Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat dan Kelestarian Sumberdaya Perikanan Tangkap di Perairan Kabupaten Morowali, Tahun 2003 No. Indikator kesejahteraan dan kelestarian sumberdaya perikanan A. KESEJAHTERAAN MASYARAKAT 1. Pendapatan maksimum (Rp juta) 2. Memenuhi permintan ekspor ikan (ton) 3. Memenuhi permintaan ikan domestik (ton) 4. Penyerapan tenaga kerja (.000 HOK) Besaran target Basis (96.90) (84.92) (55.15) B. KELESTARIAN SUMBERDAYA PERIKANAN TANGKAP 1 2 MSY ikan Pelagis Kecil (ton) MSY ikan Pelagis Besar (ton) 3 MSY ikan Demersal (ton) MSY ikan Karang (ton) Keterangan : (67.29) (34.56) (44.22) (77.05) Tingkat pencapaian target kesejahteraan masyarakat dan kelestarian sumberdaya perikanan (%) Skenario (125.37) (128.35) (111.27) (73.04) (95.11) (45.65) (55.58) (96.68) Skenario (129.16) (133.06) (115.53) (75.29) (45.65) (61.36) Skenario (119.16) (133.06) (115.53) (75.29) (45.65) (61.36) Skenario (150.92) (133.68) (115.42) (75.52) (46.15) (61.27) Skenario (139.44) (133.07) (115.53) (75.29) (45.65) (61.36) Skenario (95.63) (77.64) (95.25) (52.39) (92.99) (15.87) (48.09) (79.23) Skenario (88.58) (77.64) (95.25) (52.39) (92.99) (15.87) (48.09) (79.23) Skenario (106.30) (87.98) (53.79) (60.48) (31.48) (49.21) (80.89) Skenario (90.63) (91.02) (53.20) (74.11) (24.94) (48.74) (80.20) Skenario (119.08) (133.68) (115.42) (75.52) (46.15) (51.27) Skenario 1 = Peningkatan aksesibilitas (ketersediaan) BBM 50% + effort penangkapan ikan 25% Skenario 2 = Peningkatan aksesibilitas BBM 50% + effort penangkapan ikan 25% + ketersediaan es 50% Skenario 3 = Peningkatan aksesibilitas BBM 50% + effort penangkapan ikan 25% + ketersediaan es 50% + retribusi usaha perikanan 5% Skenario 4 = Peningkatan aksesibilitas BBM 50% + effort penangkapan ikan 25% + ketersediaan es 50% + harga ikan 10% Skenario 5 = Peningkatan aksesibilitas BBM 50% + effort penangkapan ikan 25% + ketersediaan es 50% + retribusi usaha perikanan 5% + harga ikan 10% Skenario 6 = Peningkatan harga BBM, Es dan kebutuhan pokok (biaya konsumsi melaut) masing-masing 15% Skenario 7 = Peningkatan harga BBM, Es dan kebutuhan pokok (biaya konsumsi melaut) masing-masing 15% + retribusi usaha perikanan 5% Skenario 8 = Peningkatan harga BBM, Es dan kebutuhan pokok (biaya konsumsi melaut) masing-masing 15% + harga ikan 10% Skenario 9 = Peningkatan harga BBM, Es dan kebutuhan pokok (biaya konsumsi melaut) masing-masing 15% + retribusi usaha perikanan 5%+ harga ikan 10% Skenario 10 = Penurunan harga BBM dan Es masing-masing 20% + peningkatan harga kebutuhan pokok 15% + pemberlakuan retribusi usaha perikanan 5% + peningkatan effort penangkapan ikan 25% Skenario 11 = Penurunan harga BBM dan Es masing-masing 20% + peningkatan harga kebutuhan pokok 15% + pemberlakuan retribusi usaha perikanan 5% + peningkatan effort penangkapan ikan 25% + harga ikan 10% 113 Skenario (139.30) (133.06) (115.52) (75.29) (45.66) (61.36)

22 114 Tabel 29 menunjukkan bahwa, ada tiga kombinasi dan 11 skenario perubahan internal kebijakan perikanan, dimana penentuan alternatif terbaik pengelolaan perikanan tangkap guna kesejahteraan masyarakat dan kelestarian sumberdaya dapat tercapai. Kombinasi tersebut adalah (1) ketersediaan BBM, es dan effort penangkapan meningkat, (2) peningkatan harga BBM, es dan kebutuhan pokok, dan (3) kombinasi kedua kondisi 1 dan 2. Setiap kombinasi divariasi dengan pemberlakuan retribusi usaha perikanan dan peningkatan harga ikan. Berdasarkan ketiga kombinasi dan 11 skenario perubahan kebijakan, maka dipilih 5 (lima) skenario terbaik, yakni : 1. Skenario 4, yakni peningkatan aksesibilitas penggunaan BBM, es dan upaya penangkapan ikan, diikuti dengan peningkatan harga ikan. Target yang dicapai dari kombinasi kebijakan ini melebihi kebijakan lainnya terutama dalam hal memaksimumkan pendapatan nelayan mencapai Rp juta (150.92%), permintaan ikan untuk ekspor terpenuhi ton (133.68%) dan tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan Pelagis Besar mencapai 46.15%. Namun, jika pemerintah memberlakukan retribusi pada seluruh usaha perikanan tangkap, maka dipilih skenario 5. Target pemenuhan kebutuhan konsumsi ikan domestik dan pemanfaatan sumberdaya ikan Demersal pada skenario ini melebihi skenario 4, sedangkan besaran target lainnya menduduki urutan kedua setelah skenario Skenario 8 yakni peningkatan harga BBM, es dan kebutuhan pokok diikuti dengan peningkatan harga ikan. Pertimbangannya, walaupun terjadi peningkatan harga input, namun pencapaian pendapatan oleh nelayan masih melebihi target (Rp juta yang dicapai) dan ton permintaan ekspor ikan terpenuhi, serta pemanfaatan sumberdaya ikan Pelagis Besar, Demersal dan ikan Karang (kecuali ikan Pelagis Kecil) mengalami peningkatan.

23 Skenario 11, jika penurunan harga input BBM dan es, disaat harga kebutuhan pokok dan retribusi usaha perikanan diberlakukan diikuti dengan peningkatan harga ikan menyebabkan pendapatan nelayan meningkat sampai Rp (139.30%) dan permintaan konsumsi ikan domestik terpenuhi sampai ton (115.53%). Namun jika pengelolaan perikanan ditujukan untuk pemenuhan permintaan ekspor ikan dan penyerapan tenaga kerja, maka dipilih skenario 10. Ketersediaan BBM minyak tanah dan es balok pada setiap skenario selalu terpakai habis. Hal ini mengindikasikan pentingnya kedua input tersebut bagi usaha nelayan sehingga ketersediaannya perlu ditambah. Namun peningkatan ketersediaan BBM dan es, akan meningkatkan intensitas penangkapan pada sumberdaya ikan Pelagis Kecil, Pelagis Besar dan ikan Karang sehingga ketersediaan sumberdaya menurun dan seluruhnya termanfaatkan. Pada kondisi ini pemanfaatan sumberdaya perikanan mencapai titik MSY, sehingga diperlukan daerah penangkapan baru (new fishing ground) guna kelestarian sumberdaya. Kebijakan peningkatan aksesibilitas penggunaan BBM dan es yang ditunjang oleh peningkatan harga ikan berdampak pada pencapaian target pengelolaan perikanan tangkap. Secara makro, pemberlakuan retribusi bagi usaha perikanan dapat meningkatkan pendapatan daerah Kabupaten Morowali dari sektor perikanan. Secara biologi, pemanfaatan sumberdaya perikanan tangkap oleh nelayan dapat berlangsung dalam jangka waktu yang relatif lama dan ketersediaan sumberdaya ikan tetap lestari.

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... vii. DAFTAR LAMPIRAN... viii

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... vii. DAFTAR LAMPIRAN... viii DAFTAR ISI DAFTAR TABEL........ iv DAFTAR GAMBAR........ vii DAFTAR LAMPIRAN........ viii I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang....... 1.2. Perumusan Masalah.......... 1.3. Tujuan dan Kegunaan..... 1.4. Ruang

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN. Model merupakan abstraksi atau simplifikasi dari dunia nyata. Model

IV. METODE PENELITIAN. Model merupakan abstraksi atau simplifikasi dari dunia nyata. Model IV. METODE PENELITIAN 4.1. Tahapan dan Perumusan Model Model merupakan abstraksi atau simplifikasi dari dunia nyata. Model menyatakan tentang hubungan fungsional yang langsung maupun tidak langsung, interaksi

Lebih terperinci

VII. POTENSI LESTARI SUMBERDAYA PERIKANAN TANGKAP. Fokus utama estimasi potensi sumberdaya perikanan tangkap di perairan

VII. POTENSI LESTARI SUMBERDAYA PERIKANAN TANGKAP. Fokus utama estimasi potensi sumberdaya perikanan tangkap di perairan VII. POTENSI LESTARI SUMBERDAYA PERIKANAN TANGKAP Fokus utama estimasi potensi sumberdaya perikanan tangkap di perairan Kabupaten Morowali didasarkan atas kelompok ikan Pelagis Kecil, Pelagis Besar, Demersal

Lebih terperinci

VI. KARAKTERISTIK PENGELOLAAN PERIKANAN TANGKAP. Rumahtangga nelayan merupakan salah satu potensi sumberdaya yang

VI. KARAKTERISTIK PENGELOLAAN PERIKANAN TANGKAP. Rumahtangga nelayan merupakan salah satu potensi sumberdaya yang VI. KARAKTERISTIK PENGELOLAAN PERIKANAN TANGKAP.. Rumahtangga Nelayan Rumahtangga nelayan merupakan salah satu potensi sumberdaya yang berperan dalam menjalankan usaha perikanan tangkap. Potensi sumberdaya

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Potensi perikanan laut meliputi perikanan tangkap, budidaya laut dan

I. PENDAHULUAN. Potensi perikanan laut meliputi perikanan tangkap, budidaya laut dan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Potensi perikanan laut meliputi perikanan tangkap, budidaya laut dan industri bioteknologi kelautan merupakan asset yang sangat besar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia,

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Perikanan tangkap merupakan salah satu kegiatan ekonomi yang sangat penting di Kabupaten Nias dan kontribusinya cukup besar bagi produksi perikanan dan kelautan secara

Lebih terperinci

V. DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Morowali merupakan salah satu daerah otonom yang baru

V. DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Morowali merupakan salah satu daerah otonom yang baru V. DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN Geografis dan Administratif Kabupaten Morowali merupakan salah satu daerah otonom yang baru terbentuk di Provinsi Sulawesi Tengah berdasarkan Undang-Undang Nomor 51 tahun

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. dimana pada daerah ini terjadi pergerakan massa air ke atas

TINJAUAN PUSTAKA. dimana pada daerah ini terjadi pergerakan massa air ke atas TINJAUAN PUSTAKA Tinjauan Pustaka Wilayah laut Indonesia kaya akan ikan, lagi pula sebagian besar merupakan dangkalan. Daerah dangkalan merupakan daerah yang kaya akan ikan sebab di daerah dangkalan sinar

Lebih terperinci

6 PEMBAHASAN 6.1 Unit Penangkapan Bagan Perahu 6.2 Analisis Faktor Teknis Produksi

6 PEMBAHASAN 6.1 Unit Penangkapan Bagan Perahu 6.2 Analisis Faktor Teknis Produksi 93 6 PEMBAHASAN 6.1 Unit Penangkapan Bagan Perahu Unit penangkapan bagan yang dioperasikan nelayan di Polewali, Kabupaten Polewali Mandar berukuran panjang lebar tinggi adalah 21 2,10 1,8 m, jika dibandingkan

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan kebutuhan akan bahan pangan dan gizi yang lebih baik, permintaan ikan terus meningkat dari tahun ke tahun. Permintaan ikan

Lebih terperinci

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Keadaan Umum Perikanan Tangkap 4.1.1 Armada Kapal Perikanan Kapal penangkapan ikan merupakan salah satu faktor pendukung utama dalam melakukan kegiatan penangkapan

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Berdasarkan data PBB pada tahun 2008, Indonesia memiliki 17.508 pulau dengan garis pantai sepanjang 95.181 km, serta

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang.

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang. 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang. Kajian tentang konsep kapasitas penangkapan ikan berikut metoda pengukurannya sudah menjadi isu penting pada upaya pengelolaan perikanan yang berkelanjutan. The Code of

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perikanan sebagai salah satu sektor unggulan dalam pembangunan nasional mempunyai peranan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di masa mendatang, serta mempunyai

Lebih terperinci

BAB I PENGANTAR. sudah dimekarkan menjadi 11 kecamatan. Kabupaten Kepulauan Mentawai yang

BAB I PENGANTAR. sudah dimekarkan menjadi 11 kecamatan. Kabupaten Kepulauan Mentawai yang BAB I PENGANTAR 1.1 Latar Belakang Kepulauan Mentawai terdiri dari empat pulau besar dan berpenghuni yaitu Siberut, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan. Setelah Indonesia merdeka dan sistem pemerintahan

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia memiliki wilayah perairan yang luas, yaitu sekitar 3,1 juta km 2 wilayah perairan territorial dan 2,7 juta km 2 wilayah perairan zona ekonomi eksklusif (ZEE)

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sumberdaya ikan merupakan sumberdaya yang dapat pulih (renewable resources) dan berdasarkan habitatnya di laut secara garis besar dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 2 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan daerah kepulauan dengan luas wilayah perairan mencapai 4 (empat) kali dari seluruh luas wilayah daratan Provinsi Kepulauan

Lebih terperinci

4 KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

4 KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN 4 KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1 Letak Geografis dan Batas Administrasi Secara geografis Kabupaten Halmahera Utara terletak antara 127 O 17 BT - 129 O 08 BT dan antara 1 O 57 LU - 3 O 00 LS. Kabupaten

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pengelolaan perikanan di Indonesia secara umum bersifat terbuka (open access), sehingga nelayan dapat dengan leluasa melakukan kegiatan penangkapan di wilayah tertentu

Lebih terperinci

4 HASIL. Gambar 18 Grafik kurva lestari ikan selar. Produksi (ton) Effort (trip) MSY = 5.839,47 R 2 = 0,8993. f opt = ,00 6,000 5,000 4,000

4 HASIL. Gambar 18 Grafik kurva lestari ikan selar. Produksi (ton) Effort (trip) MSY = 5.839,47 R 2 = 0,8993. f opt = ,00 6,000 5,000 4,000 126 4 HASIL 4.1 Status Pemanfaatan Sumberdaya Ikan 4.1.1 Produksi ikan pelagis kecil Produksi ikan pelagis kecil selama 5 tahun terakhir (Tahun 2001-2005) cenderung bervariasi, hal ini disebabkan karena

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Laut dan sumberdaya alam yang dikandungnya dipahami secara luas sebagai suatu sistem yang memberikan nilai guna bagi kehidupan manusia. Sebagai sumber kehidupan, potensi

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN Tinjauan Pustaka Perikanan adalah kegiatan ekonomi dalam bidang penangkapan atau budidaya ikan atau binatang air lainnya serta

Lebih terperinci

7 PEMBAHASAN 7.1 Pemilihan Teknologi Perikanan Pelagis di Kabupaten Banyuasin Analisis aspek biologi

7 PEMBAHASAN 7.1 Pemilihan Teknologi Perikanan Pelagis di Kabupaten Banyuasin Analisis aspek biologi 7 PEMBAHASAN 7.1 Pemilihan Teknologi Perikanan Pelagis di Kabupaten Banyuasin Teknologi penangkapan ikan pelagis yang digunakan oleh nelayan Sungsang saat ini adalah jaring insang hanyut, rawai hanyut

Lebih terperinci

5 HASIL PENELITIAN. Tahun. Gambar 8. Perkembangan jumlah alat tangkap purse seine di kota Sibolga tahun

5 HASIL PENELITIAN. Tahun. Gambar 8. Perkembangan jumlah alat tangkap purse seine di kota Sibolga tahun 37 5 HASIL PENELITIAN 5.1 Aspek Teknis Perikanan Purse seine Aspek teknis merupakan aspek yang menjelaskan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan usaha penangkapan ikan, yaitu upaya penangkapan, alat

Lebih terperinci

seine yang digunakan sebagai sampel, ada 29 (97%) unit kapal yang tidak

seine yang digunakan sebagai sampel, ada 29 (97%) unit kapal yang tidak 5 PEMBAHASAN Hasil penghitungan pemanfaatan kapasitas penangkapan dengan menggunakan single output (total tangkapan) berdasarkan bulan ( Agustus 2007 Juli 2008) menunjukkan bahwa hanya ada 1 2 unit kapal

Lebih terperinci

4 KERAGAAN PERIKANAN DAN STOK SUMBER DAYA IKAN

4 KERAGAAN PERIKANAN DAN STOK SUMBER DAYA IKAN 4 KERAGAAN PERIKANAN DAN STOK SUMBER DAYA IKAN 4.1 Kondisi Alat Tangkap dan Armada Penangkapan Ikan merupakan komoditas penting bagi sebagian besar penduduk Asia, termasuk Indonesia karena alasan budaya

Lebih terperinci

PEMBAHASAN 5.1 Tingkat pemanfaatan sumberdaya dan peluang pengembangannya di Maluku

PEMBAHASAN 5.1 Tingkat pemanfaatan sumberdaya dan peluang pengembangannya di Maluku 155 5 PEMBAHASAN 5.1 Tingkat pemanfaatan sumberdaya dan peluang pengembangannya di Maluku Penangkapan ikan pada dasarnya merupakan aktifitas eksploitasi sumberdaya ikan di laut. Pemanfaatan potensi sumberdaya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perikanan skala kecil. Menurut Hermawan (2005) cit. Rahmi,dkk (2013), hanya

BAB I PENDAHULUAN. perikanan skala kecil. Menurut Hermawan (2005) cit. Rahmi,dkk (2013), hanya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Secara umum perikanan tangkap di Indonesia masih didominasi oleh usaha perikanan skala kecil. Menurut Hermawan (2005) cit. Rahmi,dkk (2013), hanya 15% usaha perikanan

Lebih terperinci

1.PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

1.PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Wilayah laut Indonesia terdiri dari perairan teritorial seluas 0,3 juta km 2, perairan laut Nusantara seluas 2,8 juta km 2 dan perairan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) seluas

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan sub-sektor perikanan tangkap merupakan bagian integral dari pembangunan kelautan dan perikanan yang bertujuan untuk : (1) meningkatkan kesejahteraan masyarakat

Lebih terperinci

ANALISIS KEBUTUHAN ENERGI UNTUK SEKTOR PERIKANAN DI PROVINSI GORONTALO

ANALISIS KEBUTUHAN ENERGI UNTUK SEKTOR PERIKANAN DI PROVINSI GORONTALO Perencanaan Energi Provinsi Gorontalo 2000-2015 ANALISIS KEBUTUHAN ENERGI UNTUK SEKTOR PERIKANAN DI PROVINSI GORONTALO Hari Suharyono Abstract Gorontalo Province has abundace fishery sources, however the

Lebih terperinci

ARAHAN LOKASI DAN STRATEGI PENGEMBANGAN TEMPAT PELELANGAN IKAN DI KAWASAN PESISIR UTARA KABUPATEN SIKKA NUSA TENGGARA TIMUR TUGAS AKHIR

ARAHAN LOKASI DAN STRATEGI PENGEMBANGAN TEMPAT PELELANGAN IKAN DI KAWASAN PESISIR UTARA KABUPATEN SIKKA NUSA TENGGARA TIMUR TUGAS AKHIR ARAHAN LOKASI DAN STRATEGI PENGEMBANGAN TEMPAT PELELANGAN IKAN DI KAWASAN PESISIR UTARA KABUPATEN SIKKA NUSA TENGGARA TIMUR TUGAS AKHIR Oleh : FRANSISKUS LAKA L2D 301 323 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Perikanan purse seine di pantai utara Jawa merupakan salah satu usaha perikanan tangkap yang menjadi tulang punggung bagi masyarakat perikanan di Jawa Tengah, terutama

Lebih terperinci

VI. ANALISIS BIOEKONOMI

VI. ANALISIS BIOEKONOMI 111 VI. ANALISIS BIOEKONOMI 6.1 Sumberdaya Perikanan Pelagis 6.1.1 Produksi dan Upaya Penangkapan Data produksi yang digunakan dalam perhitungan analisis bioekonomi adalah seluruh produksi ikan yang ditangkap

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 16 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kabupaten Halmahera Utara sebagai salah satu kabupaten kepulauan di Provinsi Maluku Utara, memiliki sumberdaya kelautan dan perikanan yang sangat potensial untuk dikembangkan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Propinsi Sumatera Utara yang terdiri dari daerah perairan yang mengandung

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Propinsi Sumatera Utara yang terdiri dari daerah perairan yang mengandung BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Propinsi Sumatera Utara yang terdiri dari daerah perairan yang mengandung sumber daya ikan yang sangat banyak dari segi keanekaragaman jenisnya dan sangat tinggi dari

Lebih terperinci

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1 Letak Geografis Kabupaten Seram Bagian Timur memiliki luas wilayah 20.656.894 Km 2 terdiri dari luas lautan 14,877.771 Km 2 dan daratan 5,779.123 Km 2. Dengan luas

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ekosistem terumbu karang mempunyai produktivitas organik yang tinggi. Hal ini menyebabkan terumbu karang memilki spesies yang amat beragam. Terumbu karang menempati areal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Informasi tentang kerusakan alam diabadikan dalam Al-Qur an Surah

BAB I PENDAHULUAN. Informasi tentang kerusakan alam diabadikan dalam Al-Qur an Surah BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Informasi tentang kerusakan alam diabadikan dalam Al-Qur an Surah Ar-Ruum ayat 41, bahwa Telah nampak kerusakan didarat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan

Lebih terperinci

PENDUGAAN STOK IKAN TONGKOL DI SELAT MAKASSAR SULAWESI SELATAN

PENDUGAAN STOK IKAN TONGKOL DI SELAT MAKASSAR SULAWESI SELATAN PENDUGAAN STOK IKAN TONGKOL DI SELAT MAKASSAR SULAWESI SELATAN Edy H.P. Melmambessy Staf Pengajar Univ. Musamus-Merauke, e-mail : edymelmambessy@yahoo.co.id ABSTRAK Ikan tongkol termasuk dalam golongan

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM PERAIRAN SELAT BALI

V. GAMBARAN UMUM PERAIRAN SELAT BALI V. GAMBARAN UMUM PERAIRAN SELAT BALI Perairan Selat Bali merupakan perairan yang menghubungkan Laut Flores dan Selat Madura di Utara dan Samudera Hindia di Selatan. Mulut selat sebelah Utara sangat sempit

Lebih terperinci

Analisis usaha alat tangkap gillnet di pandan Kabupaten Tapanuli 28. Tengah Sumatera Utara

Analisis usaha alat tangkap gillnet di pandan Kabupaten Tapanuli 28. Tengah Sumatera Utara Analisis usaha alat tangkap gillnet di pandan Kabupaten Tapanuli 28 Jurnal perikanan dan kelautan 17,2 (2012): 28-35 ANALISIS USAHA ALAT TANGKAP GILLNET di PANDAN KABUPATEN TAPANULI TENGAH SUMATERA UTARA

Lebih terperinci

C E =... 8 FPI =... 9 P

C E =... 8 FPI =... 9 P 3 METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan selama 6 (enam) bulan yang meliputi studi literatur, pembuatan proposal, pengumpulan data dan penyusunan laporan. Penelitian

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peranan subsektor perikanan tangkap semakin penting dalam perekonomian nasional. Berdasarkan data BPS, kontribusi sektor perikanan dalam PDB kelompok pertanian tahun

Lebih terperinci

ANALISIS EKONOMI PERIKANAN YANG TIDAK DILAPORKAN DI KOTA TERNATE, PROVINSI MALUKU UTARA I. PENDAHULUAN

ANALISIS EKONOMI PERIKANAN YANG TIDAK DILAPORKAN DI KOTA TERNATE, PROVINSI MALUKU UTARA I. PENDAHULUAN 2 ANALISIS EKONOMI PERIKANAN YANG TIDAK DILAPORKAN DI KOTA TERNATE, PROVINSI MALUKU UTARA I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Prospek pasar perikanan dunia sangat menjanjikan, hal ini terlihat dari kecenderungan

Lebih terperinci

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

5 HASIL DAN PEMBAHASAN 37 5 HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Pemanfaatan Kapasitas Penangkapan (Fishing Capacity) Dalam menganalisis kapasitas penangkapan purse seine berdasarkan bulan, data adalah data pendaratan ikan dari kapal-kapal

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebagai negara kepulauan dengan luas wilayah daratan 1,9 juta km 2 dan wilayah laut 5,8 juta km 2 dan panjang garis pantai 81.290 km, Indonesia memiliki potensi sumber

Lebih terperinci

4 HASIL PENELITIAN. 4.1 Statistik Produksi Ikan dan Telur Ikan Terbang Produksi tahunan ikan dan telur ikan terbang

4 HASIL PENELITIAN. 4.1 Statistik Produksi Ikan dan Telur Ikan Terbang Produksi tahunan ikan dan telur ikan terbang 4 HASIL PENELITIAN 4.1 Statistik Produksi Ikan dan Telur Ikan Terbang 4.1.1 Produksi tahunan ikan dan telur ikan terbang Produksi ikan terbang (IT) di daerah ini dihasilkan dari beberapa kabupaten yang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dalam PDB (Produk Domestik Bruto) nasional Indonesia. Kontribusi sektor

I. PENDAHULUAN. dalam PDB (Produk Domestik Bruto) nasional Indonesia. Kontribusi sektor I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor perikanan merupakan salah satu sektor andalan bagi Indonesia untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, baik dalam skala lokal, regional maupun negara, dimana sektor

Lebih terperinci

8 SELEKSI ALAT TANGKAP DAN TEKNOLOGI YANG TEPAT DALAM PEMANFAATAN SUMBERDAYA LEMURU (Sardinella lemuru Bleeker 1853) DI SELAT BALI

8 SELEKSI ALAT TANGKAP DAN TEKNOLOGI YANG TEPAT DALAM PEMANFAATAN SUMBERDAYA LEMURU (Sardinella lemuru Bleeker 1853) DI SELAT BALI 131 8 SELEKSI ALAT TANGKAP DAN TEKNOLOGI YANG TEPAT DALAM PEMANFAATAN SUMBERDAYA LEMURU (Sardinella lemuru Bleeker 1853) DI SELAT BALI 8.1 Pendahuluan Mewujudkan sosok perikanan tangkap yang mampu mempertahankan

Lebih terperinci

6 PENGEMBANGAN USAHA PERIKANAN TANGKAP BERBASIS KEWILAYAHAN. 6.1 Urgensi Sektor Basis Bagi Pengembangan Usaha Perikanan Tangkap di Kabupaten Belitung

6 PENGEMBANGAN USAHA PERIKANAN TANGKAP BERBASIS KEWILAYAHAN. 6.1 Urgensi Sektor Basis Bagi Pengembangan Usaha Perikanan Tangkap di Kabupaten Belitung 6 PENGEMBANGAN USAHA PERIKANAN TANGKAP BERBASIS KEWILAYAHAN 6.1 Urgensi Sektor Basis Bagi Pengembangan Usaha Perikanan Tangkap di Kabupaten Belitung Supaya tujuh usaha perikanan tangkap yang dinyatakan

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kabupaten Aceh Besar merupakan salah satu kabupaten di Pemerintah Aceh yang memiliki potensi sumberdaya ikan. Jumlah sumberdaya ikan diperkirakan sebesar 11.131 ton terdiri

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Sumberdaya tersebut diolah dan digunakan sepuasnya. Tidak satupun pihak yang

PENDAHULUAN. Sumberdaya tersebut diolah dan digunakan sepuasnya. Tidak satupun pihak yang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Sumberdaya perikanan laut memiliki sifat spesifik, yakni akses terbuka (open access). Sumberdaya perikanan juga bersifat kepemilikan bersama (common property). Semua individu

Lebih terperinci

ANALISIS PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERIKANAN DENGAN PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT PESISIR DI KECAMATAN PEMANGKAT KABUPATEN SAMBAS

ANALISIS PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERIKANAN DENGAN PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT PESISIR DI KECAMATAN PEMANGKAT KABUPATEN SAMBAS ANALISIS PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERIKANAN DENGAN PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT PESISIR DI KECAMATAN PEMANGKAT KABUPATEN SAMBAS SYARIF IWAN TARUNA ALKADRIE SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan perikanan sebagai bagian dari pembangunan ekonomi nasional mempunyai tujuan antara lain untuk meningkatkan taraf hidup serta kesejahteraan nelayan. Pembangunan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Sumberdaya ikan merupakan salah satu jenis sumberdaya alam yang

PENDAHULUAN. Sumberdaya ikan merupakan salah satu jenis sumberdaya alam yang PENDAHULUAN Latar Belakang Sumberdaya ikan merupakan salah satu jenis sumberdaya alam yang bersifat terbarukan (renewable). Disamping itu sifat open access atau common property yang artinya pemanfaatan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang

PENDAHULUAN. Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Kemiskinan masih menjadi masalah yang mengancam Bangsa Indonesia. Jumlah penduduk miskin di Indonesia pada bulan Maret 2007 sebesar 37,17 juta jiwa yang berarti sebanyak 16,58

Lebih terperinci

Indonesia mempakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari. dapat pulih seperti minyak bumi dan gas mineral atau bahan tambang lainnya

Indonesia mempakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari. dapat pulih seperti minyak bumi dan gas mineral atau bahan tambang lainnya A. Latar Belakang Indonesia mempakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.000 pulau dengan garis pantai sepanjang 81.000 km dan luas laut sekitar 5,s juta km2. Wilayah pesisir dan lautan

Lebih terperinci

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pelabuhan Perikanan Nusantara 2.2 Kegiatan Operasional di Pelabuhan Perikanan

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pelabuhan Perikanan Nusantara 2.2 Kegiatan Operasional di Pelabuhan Perikanan 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) merupakan pelabuhan perikanan tipe B atau kelas II. Pelabuhan ini dirancang untuk melayani kapal perikanan yang

Lebih terperinci

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 21 4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Keadaan Umum Daerah Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu terletak di Kecamatan Palabuhanratu yang

Lebih terperinci

penangkapan (Berkes et a/., 2001 dalam Wiyono dan Wahju, 2006). Secara de

penangkapan (Berkes et a/., 2001 dalam Wiyono dan Wahju, 2006). Secara de I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Operasi penangkapan ikan dengan alat tangkap purse seine merupakan salah satu metoda pernanfaatan ikan-ikan pelagis yang ada di suatu perairan. Alat tangkap purse seine

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perkembangan Pengusahaan Yoghurt di Indonesia

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perkembangan Pengusahaan Yoghurt di Indonesia II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perkembangan Pengusahaan Yoghurt di Indonesia Industri pengolahan susu baik berskala kecil maupun berskala besar memiliki peranan penting dan strategis bagi perkembangan agribisnis

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perikanan tangkap merupakan suatu sistem yang terdapat dalam sektor perikanan dan kelautan yang meliputi beberapa elemen sebagai subsistem yang saling berkaitan dan mempengaruhi

Lebih terperinci

6 KEBERLANJUTAN PERIKANAN TANGKAP PADA DIMENSI EKONOMI

6 KEBERLANJUTAN PERIKANAN TANGKAP PADA DIMENSI EKONOMI 6 KEBERLANJUTAN PERIKANAN TANGKAP PADA DIMENSI EKONOMI 6.1 Pendahuluan Penentuan atribut pada dimensi ekonomi dalam penelitian ini menggunakan indikator yang digunakan dari Rapfish yang dituangkan dalam

Lebih terperinci

Produksi (Ton) Trip Produksi (Ton) Pukat Cincin ,

Produksi (Ton) Trip Produksi (Ton) Pukat Cincin , Lampiran 1. Produksi per alat tangkap per tahun Tabel 11. Produksi ikan tembang per upaya penangkapan tahun 2008-2012 Jenis Alat 2008 2009 2010 2011 2012 Tangkap Upaya Penangkapan Produksi (Ton) Upaya

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor kelautan dan perikanan merupakan salah satu pilihan yang strategis untuk dikembangkan, terutama di Kawasan Timur Indonesia (KTI) karena memiliki potensi yang sangat

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tujuan pembangunan kelautan dan perikanan adalah meningkatkan

I. PENDAHULUAN. Tujuan pembangunan kelautan dan perikanan adalah meningkatkan I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tujuan pembangunan kelautan dan perikanan adalah meningkatkan pertumbuhan ekonomi, pemerataan kesejahteraan, kelestarian ekosistem, serta persatuan dan kesatuan. Sedangkan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dalam upaya pengelolaan sumberdaya perikanan laut di Kabupaten Malang Jawa

I. PENDAHULUAN. dalam upaya pengelolaan sumberdaya perikanan laut di Kabupaten Malang Jawa I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sendang Biru merupakan salah satu kawasan pesisir yang menjadi prioritas dalam upaya pengelolaan sumberdaya perikanan laut di Kabupaten Malang Jawa Tmur. Pengembangan

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN STOCK. Analisis Bio-ekonomi Model Gordon Schaefer

METODE PENELITIAN STOCK. Analisis Bio-ekonomi Model Gordon Schaefer METODE PENELITIAN 108 Kerangka Pemikiran Agar pengelolaan sumber daya udang jerbung bisa dikelola secara berkelanjutan, dalam penelitian ini dilakukan beberapa langkah perhitungan untuk mengetahui: 1.

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pemetaan Partisipatif Daerah Penangkapan Ikan kurisi dapat ditangkap dengan menggunakan alat tangkap cantrang dan jaring rampus. Kapal dengan alat tangkap cantrang memiliki

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, DAN KERANGKA PEMIKIRAN BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1. Tinjauan Pustaka 2.1.1. Usaha Penangkapan Ikan Dalam buku Statistik Perikanan Tangkap yang dikeluarkan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. Tabel 1. Volume dan nilai produksi ikan lemuru Indonesia, tahun Tahun

1. PENDAHULUAN. Tabel 1. Volume dan nilai produksi ikan lemuru Indonesia, tahun Tahun 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ikan lemuru merupakan salah satu komoditas perikanan yang cukup penting. Berdasarkan data statistik perikanan Indonesia tercatat bahwa volume tangkapan produksi ikan lemuru

Lebih terperinci

3.3 Metode Penelitian 3.4 Metode Pengambilan Sampel 3.5 Jenis Data yang Dikumpulkan

3.3 Metode Penelitian 3.4 Metode Pengambilan Sampel 3.5 Jenis Data yang Dikumpulkan 13 3.3 Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode studi kasus yang dilakukan di PPN Palabuhanratu. Sebagai kasus dalam penelitian ini adalah kondisi perikanan yang berbasis di pelabuhan ini dengan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia karena memiliki luas

I. PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia karena memiliki luas I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia karena memiliki luas laut dan jumlah pulau yang besar. Panjang garis pantai Indonesia mencapai 104.000 km dengan jumlah

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kepulauan Mentawai adalah kabupaten termuda di Propinsi Sumatera Barat yang dibentuk berdasarkan Undang-undang No.49 Tahun 1999. Kepulauan ini terdiri dari empat pulau

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan luas keseluruhan sekitar ± 5,18 juta km 2, dari luasan tersebut dimana luas daratannya sekitar ± 1,9 juta

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sumberdaya perikanan di Kabupaten Gorontalo Utara meliputi perikanan tangkap dan perikanan budidaya.

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sumberdaya perikanan di Kabupaten Gorontalo Utara meliputi perikanan tangkap dan perikanan budidaya. 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sumberdaya perikanan di Kabupaten Gorontalo Utara meliputi perikanan tangkap dan perikanan budidaya. Salah satu potensi sumberdaya perikanan yang belum banyak dimanfaatkan

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Potensi perikanan Indonesia diestimasi sekitar 6,4 juta ton per tahun, dengan tingkat pemanfaatan pada tahun 2005 telah mencapai 4,408 juta ton, dan tahun 2006 tercatat

Lebih terperinci

Lampiran 1 Layout PPN Prigi

Lampiran 1 Layout PPN Prigi LAMPIRAN 93 Lampiran 1 Layout PPN Prigi TPI Barat BW 01 BW 02 Kolam Pelabuhan Barat BW 03 Kantor Syahbandar Cold Storage Kantor PPN TPI Timur BW 04 Kolam Pelabuhan Timur Sumber: www.maps.google.co.id diolah

Lebih terperinci

C. URUSAN PILIHAN YANG DILAKSANAKAN

C. URUSAN PILIHAN YANG DILAKSANAKAN C. URUSAN PILIHAN YANG DILAKSANAKAN Yang dimaksud dengan urusan pilihan adalah urusan yang secara nyata ada di daerah dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi, kekhasan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam 10 tahun terakhir, jumlah kebutuhan ikan di pasar dunia semakin meningkat, untuk konsumsi dibutuhkan 119,6 juta ton/tahun. Jumlah tersebut hanya sekitar 40 %

Lebih terperinci

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Pelaksanaan Strategi

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Pelaksanaan Strategi 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Pelaksanaan Strategi Strategi adalah istilah yang sering kita dengar untuk berbagai konteks pembicaraan, yang sering diartikan sebagai cara untuk mencapai keinginan tertentu

Lebih terperinci

5 HASIL PENELITIAN. 5.1 Komposisi Hasil Tangkapan Ikan Pelagis Kecil

5 HASIL PENELITIAN. 5.1 Komposisi Hasil Tangkapan Ikan Pelagis Kecil 5 HASIL PENELITIAN 5.1 Komposisi Hasil Tangkapan Ikan Pelagis Kecil Komposisi hasil tangkapan ikan pelagis kecil menurut ketentuan Keputusan Menteri Kelautan Dan Perikanan No. KEP.38/MEN/2003 tentang produktivitas

Lebih terperinci

5 TINGKAT KEBUTUHAN ES UNTUK KEPERLUAN PENANGKAPAN IKAN DI PPS CILACAP

5 TINGKAT KEBUTUHAN ES UNTUK KEPERLUAN PENANGKAPAN IKAN DI PPS CILACAP 30 5 TINGKAT KEBUTUHAN ES UNTUK KEPERLUAN PENANGKAPAN IKAN DI PPS CILACAP 5.1 Kapal-kapal Yang Memanfaatkan PPS Cilacap Kapal-kapal penangkapan ikan yang melakukan pendaratan seperti membongkar muatan

Lebih terperinci

POTENSI PERIKANAN DALAM PENGEMBANGAN KAWASAN MINAPOLITAN DI KABUPATEN CILACAP, JAWA TENGAH. Oleh : Ida Mulyani

POTENSI PERIKANAN DALAM PENGEMBANGAN KAWASAN MINAPOLITAN DI KABUPATEN CILACAP, JAWA TENGAH. Oleh : Ida Mulyani POTENSI PERIKANAN DALAM PENGEMBANGAN KAWASAN MINAPOLITAN DI KABUPATEN CILACAP, JAWA TENGAH Oleh : Ida Mulyani Indonesia memiliki sumberdaya alam yang sangat beraneka ragam dan jumlahnya sangat melimpah

Lebih terperinci

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan luas wilayah perairan. Sumberdaya hayati (ikan) merupakan bagian dari sumberdaya alam yang

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan luas wilayah perairan. Sumberdaya hayati (ikan) merupakan bagian dari sumberdaya alam yang PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan dengan luas wilayah perairan mencapai 213 dari seluruh luas wilayah Indonesia. Luas perairan yang mencapai 5,8 juta km2 yang terbagi atas

Lebih terperinci

3 METODOLOGI PENELITIAN

3 METODOLOGI PENELITIAN 27 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Pengumpulan data dilaksanakan bulan Juli-September 2007 yaitu di Polewali, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Pemilihan lokasi penelitian

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kawasan pesisir merupakan daerah peralihan antara ekosistem darat dan laut. Kawasan pesisir merupakan ekosistem yang kompleks dan mempunyai nilai sumberdaya alam yang tinggi.

Lebih terperinci

6 PEMBAHASAN 6.1 Daerah Penangkapan Ikan berdasarkan Jalur Jalur Penangkapan Ikan

6 PEMBAHASAN 6.1 Daerah Penangkapan Ikan berdasarkan Jalur Jalur Penangkapan Ikan 6 PEMBAHASAN 6.1 Daerah Penangkapan Ikan berdasarkan Jalur Jalur Penangkapan Ikan Daerah penangkapan ikan kakap (Lutjanus sp.) oleh nelayan di Kabupaten Kupang tersebar diberbagai lokasi jalur penangkapan.

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Terumbu karang merupakan salah satu ekosistem di wilayah pesisir yang kompleks, unik dan indah serta mempunyai fungsi biologi, ekologi dan ekonomi. Dari fungsi-fungsi tersebut,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. udang, kakap, baronang, tenggiri, kerang, kepiting, cumi-cumi dan rumput laut yang tersebar

BAB I PENDAHULUAN. udang, kakap, baronang, tenggiri, kerang, kepiting, cumi-cumi dan rumput laut yang tersebar BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Aktivitas usaha perikanan tangkap umumnya tumbuh di kawasan sentra nelayan dan pelabuhan perikanan yang tersebar di wilayah pesisir Indonesia. Indonesia memiliki potensi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dengan dua pertiga wilayahnya berupa perairan serta memiliki jumlah panjang garis

I. PENDAHULUAN. dengan dua pertiga wilayahnya berupa perairan serta memiliki jumlah panjang garis I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia memiliki 17.508 pulau dengan dua pertiga wilayahnya berupa perairan serta memiliki jumlah panjang garis pantai 91.000

Lebih terperinci

3 METODOLOGI. Gambar 3 Peta lokasi penelitian.

3 METODOLOGI. Gambar 3 Peta lokasi penelitian. 31 3 METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Pengambilan data untuk kebutuhan penelitian ini dilakukan pada bulan Maret 2011 hingga Mei 2011 bertempat di Sibolga Propinsi Sumatera Utara (Gambar 3).

Lebih terperinci

Volume 5, Nomor 2, Desember 2014 Indonesian Journal of Agricultural Economics (IJAE) ANALISIS POTENSI LESTARI PERIKANAN TANGKAP DI KOTA DUMAI

Volume 5, Nomor 2, Desember 2014 Indonesian Journal of Agricultural Economics (IJAE) ANALISIS POTENSI LESTARI PERIKANAN TANGKAP DI KOTA DUMAI Volume 5, Nomor 2, Desember 2014 ISSN 2087-409X Indonesian Journal of Agricultural Economics (IJAE) ANALISIS POTENSI LESTARI PERIKANAN TANGKAP DI KOTA DUMAI Hazmi Arief*, Novia Dewi**, Jumatri Yusri**

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. sumberdaya kelautan yang sangat potensial untuk dikembangkan guna

PENDAHULUAN. sumberdaya kelautan yang sangat potensial untuk dikembangkan guna PENDAHULUAN Latar Belakang Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi sumberdaya kelautan yang sangat potensial untuk dikembangkan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jakarta sebagai ibukota negara dan pusat pemerintahan sejak abad ke- 17 telah menjadi kota Bandar, karena memiliki posisi sangat strategis secara geopolitik dan geostrategis.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Nelayan mandiri memiliki sejumlah karakteristik khas yang membedakannya dengan nelayan lain. Karakteristik tersebut dapat diketahui dari empat komponen kemandirian, yakni

Lebih terperinci

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

5 HASIL DAN PEMBAHASAN 5 HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Alat Tangkap 5.1.1 Penangkapan ikan pelagis besar Unit penangkapan ikan pelagis besar di Kabupaten Aceh Jaya pada umumnya dilakukan oleh nelayan dengan menggunakan alat penangkapan

Lebih terperinci

Kiat Kiat Jurus Jitu Pengembangan Minapolitan

Kiat Kiat Jurus Jitu Pengembangan Minapolitan Kiat Kiat Jurus Jitu Pengembangan Minapolitan Dinas Kelautan, Perikanan dan Pengelola Sumberdaya Kawasan Segara Anakan (DKP2SKSA) Kabupaten Cilacap mengakui dengan memaparkan dalam gambaran umum di webnya,

Lebih terperinci