ANALISIS DAYA SAING DAN STRUKTUR PROTEKSI KOMODITAS PALAWIJA

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "ANALISIS DAYA SAING DAN STRUKTUR PROTEKSI KOMODITAS PALAWIJA"

Transkripsi

1 ANALISIS DAYA SAING DAN STRUKTUR PROTEKSI KOMODITAS PALAWIJA I Wayan Rusastra, Benny Rachman dan Supena Friyatno Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian Jl. A. Yani No. 7 Bogor ABSTRACT Secondary crops (corn, soybean, and peanut) considered to be having second position after rice as the main staple food in Indonesia. All of those commodities were the main potential competitors of rice in term of land utilization, important role in improving structural and fertility of agricultural land, and substantial potential domestic market. The objectives of this paper are to analyze the profitability, comparative advantage, protection structural, and the impact of government policies to the competitiveness of the said commodities with respect to rice. Based on the value of DRCR, the stability of economic efficiency of corn and peanut with respect to the possibility of decreasing productivity or international parity price was relatively higher than soybean. In the condition of existing technology as well as the current farmer s management capacity, corn and peanut farming was reasonable to have priority on secondary crops development. Soybean farming can be developed on the regimes being traditionally potential in term of resources endowment and high comparative advantages. Compared to rice, secondary crop s farmer did not yet receive appropriate incentive and protection policies from the government. The policy instrument of input and output price was necessary for accelerating and strengthening growth of production and productivity of secondary crops, which currently relatively low. The current structural protection of food crops was necessary to improve, in which corn and peanut with higher comparative advantage compared to soybean and rice, have to receive better incentive from food crops economic system. Key words : secondary crops; comparative advantage; protection structure PENDAHULUAN Palawija merupakan kelompok komoditas tanaman pangan kedua terpenting setelah padi. Jagung, kedelai, dan kacang tanah merupakan komoditas palawija utama yang diusahakan petani pada musim kemarau pada berbagai jenis pengairan di lahan sawah. Ketiga jenis komoditas ini juga dapat diusahakan pada musim penghujan untuk lahan sawah yang memiliki drainase pengairan cukup baik. Fakta empiris di lapangan untuk beberapa lokasi, ketiga jenis komoditas palawija ini memiliki potensi sebagai pesaing komoditas padi dalam pemanfaatan sumber daya lahan. Terdapat beberapa pertimbangan kenapa petani mengusahakan komoditas palawija bersamaan/bergiliran dengan komoditas padi, yaitu: (a) Hemat dalam penggunaan air, sehingga dapat diusahakan pada musim kemarau saat persediaan air terbatas; (b) Pemanfaatan palawija dalam pola tanam setahun dapat memulihkan struktur dan kesuburan lahan; (c) Pengusahaan palawija dapat memotong siklus hama dan penyakit pada tanaman padi; (d) Komoditas palawija memiliki potensi pasar dalam negeri yang cukup besar, di mana sebagian kebutuhannya dipenuhi dari impor; dan (e) Komoditas ini memiliki potensi pengembangan yang relatif masih terbuka dan pada daerah dengan potensi pengembangan yang baik, palawija dapat memberikan tingkat keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan usahatani padi. Dalam konteks palawija sebagai kompetitor utama padi, analisis daya saing memiliki peran strategis sebagai basis perumusan kebijakan. Instrumen kebijakan perlu dirancang sedemikian rupa agar sumber daya yang langka pada suatu wilayah dimanfaatkan oleh komoditas yang memiliki keunggulan komparatif yang lebih tinggi. Pada tingkat keuntungan relatif sama, komoditas dengan keunggulan komparatif yang lebih tinggi perlu didorong dan difasilitasi pengembangannya. Di samping itu peluang untuk peningkatan keunggulan komparatif antar komoditas perlu diketahui keragaannya. Komoditas dengan tingkat stabilitas keunggulan komparatif yang tinggi dan memiliki potensi dan kemudahan dalam peningkatan produktivitas untuk mencapai tingkat daya saing yang lebih baik perlu mendapatkan prioritas dalam pengembangan. 28

2 Berdasarkan pada latar belakang tersebut di atas, maka tujuan dari tulisan ini adalah: (a) Menganalisis tingkat profitabilitas finansial dan ekonomi komoditas palawija; (b) Menganalisis keunggulan komparatif dan kompetitif yang merefleksikan daya saing komoditas palawija; (c) Melakukan analisis sensitivitas daya saing terhadap perubahan harga paritas output dan perubahan produktivitas untuk mengetahui tingkat stabilitas daya saing komoditas yang diteliti; dan (d) Menganalisis strutkur proteksi dan dampak kebijakan pemerintah kaitannya dengan kinerja daya saing komoditas palawija. METODE PENELITIAN Lokasi Penelitian, Informasi dan Data Dari tujuh kabupaten contoh dalam penelitian ini yang tersebar di lima provinsi, lokasi pengusahaan palawija adalah sebagai berikut: (a) Komoditas kedelai diusahakan di dua kabupaten yaitu dan Ngawi. Di kedelai diusahakan pada jenis irigasi teknis dan tadah hujan, sedangkan di Ngawi diusahakan pada tiga jenis pengairan yaitu pengairan setengah teknis, sederhana dan tadah hujan. Kedelai umumnya diusahakan pada MK I atau MK II. (b) Komoditas jagung diusahakan di tiga kabupaten yaitu, Kediri dan Sidrap. Di Kediri, jagung diusahakan pada seluruh jenis sistem pengairan, pada MK I dan MK II. Di Sidrap, jagung diusahakan di tiga sistem pengairan (kecuali jenis pengairan teknis), pada MK II. Di, jagung hanya diusahakan pada musim kemarau pada jenis pengairan setengah teknis dan tadah hujan. (c) Pengembangan kacang tanah sebagai kompetitor padi juga relatif terbatas. Komoditas ini hanya diusahakan di dua kabupaten yaitu dan Sidrap pada agroekosistem pengairan yang terbatas. Di Sidrap, kacang tanah diusahakan pada sistem pengairan setengah teknis (MK I dan MK II), dan tadah hujan (MK II 21). Di pengembangannya juga mencakup pada dua sistem pengairan, yaitu irigasi teknis (MK II 21), dan lahan tadah hujan (MK II 21). Pendekatan Analisis Untuk menjawab tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini digunakan pendekatan analisis yaitu, Analisis Matriks Kebijaksanaan (Policy Analysis Matrix, PAM). PAM digunakan untuk menganalisis: analisis kelayakan baik secara private maupun secara sosial, keunggulan kompetitif (efisiensi finansial) dan keunggulan komparatif (efisiensi ekonomi), serta dampak intervensi atau kebijakan pemerintah terhadap sistem komoditas. Analisis daya saing pada dasarnya membutuhkan data pokok dan proses sebagai berikut: (a) Data input-output fisik usahatani komoditas yang diteliti; (2) Harga finansial dan ekonomi input-output usahatani; (3) Pemisahan komponen domestik dan asing masukan (input) usahatani; (4) Penghitungan komponen pokok analisis matrik kebijaksanaan; dan (5) Penghitungan indikator hasil analisis yang mencakup analisis keuntungan, efisiensi finansial dan ekonomi, dan dampak kebijakan pemerintah. Pada tingkat usahatani (level farm gate), namun informasi pada industri pengolahan maupun pemasaran diperlukan untuk melakukan penyesuaian dalam penentuan harga sosial. Untuk jelasnya Matriks PAM dapat dilihat pada Tabel 1. Baris pertama dari Matriks PAM adalah perhitungan dengan harga privat atau harga pasar, yaitu harga yang betul-betul diterima atau dibayarkan oleh pelaku ekonomi. Baris kedua merupakan perhitungan yang didasarkan pada harga sosial (shadow price), yaitu harga yang menggambarkan nilai sosial atau nilai ekonomi yang sesungguhnya bagi unsur-unsur biaya maupun hasil. Baris ketiga merupakan perbedaan perhitungan dari harga privat dengan harga sosial sebagai akibat dari dampak kebijaksanaan pemerintah. Untuk input dan output yang dapat diperdagangkan secara internasional, harga sosial dapat dihitung berdasarkan harga perdagangan internasional. Untuk komoditas yang diimpor dipakai harga CIF (Cost Insurance and Freight), sedangkan komoditas yang diekspor digunakan harga FOB (Free on Board). Sedangkan untuk menghitung harga sosial input non tradable digunakan biaya imbangannya (opportunity cost). 29

3 Tabel 1. Policy Analysis Matrix (PAM) Penerimaan Biaya Input tradable Input non- tradable Keuntungan Harga privat A B C D = A B C Harga sosial E F G H = E F G Divergensi I = A - E J = B F K = C G L = I J K = D H Sumber: Eric A. Monke dan Scott R. Pearson, 1989 Keterangan: D = Keuntungan Privat; H = Keuntungan Sosial; I = Output Transfer; J = Input Transfer; K = Factor Transfer; L = Net Transfer Beberapa indikator kunci yang dapat diperoleh dari PAM diantaranya adalah: 1. Analisis Keuntungan a. Private Profitability (PP) : D = A (B+C) Keuntungan privat merupakan indikator daya saing (competitiveness) dari sistem komoditas berdasarkan teknologi, nilai output, biaya input dan transfer kebijaksanaan yang ada. Apabila D >, maka sistem komoditas menghasilkan laba di atas biaya normal yang berarti bahwa komoditas itu secara finansial layak diusahakan, kecuali apabila sumber daya terbatas atau adanya komoditas alternatif yang lebih menguntungkan. b. Social Profitability (SP): H = E (F+G) Keuntungan sosial merupakan indikator keuntungan komparatif (comparative advantage) dari sistem komoditas pada kondisi tidak ada divergensi harga baik akibat kebijakan pemerintah maupun distorsi pasar. Apabila H >, maka sistem komoditas menghasilkan laba atas biaya normal dalam harga sosial dan mempunyai keunggulan komparatif untuk dikembangkan di dalam negeri. 2. Efisiensi Finansial (Keunggulan Kompetitif) dan Efisiensi Ekonomi (Keunggulan Komparatif) a. Private Cost Ratio (PCR) = C/(A B): yaitu indikator profitabilitas privat yang menunjukkan kemampuan sistem untuk membayar biaya domestik dan tetap kompetitif. Sistem bersifat kompetitif jika PCR < 1. Semakin kecil nilai PCR berarti semakin kompetitif. b. Domestic Resource Cost (DRC) = G/(E F): yaitu indikator keunggulan komparatif, yang menunjukkan jumlah sumber daya domestik yang dapat dihemat untuk menghasilkan satu unit devisa. Sistem mempunyai keunggulan komparatif jika DRC < 1. Semakin kecil nilai DRC berarti sistem semakin efisien dan mempunyai keunggulan komparatif yang tinggi. 3. Dampak Kebijaksanaan Pemerintah a. Kebijakan Output (1) Output Transfer : OT = A-E: Transfer output merupakan selisih antara penerimaan yang dihitung atas harga privat (finansial) dengan penerimaan yang dihitung berdasarkan harga sosial (bayangan). Jika nilai OT > menunjukkan adanya transfer dari masyarakat (konsumen) atau pemerintah terhadap produsen, demikian juga sebaliknya. (2) Nominal Protection Coefficient on Output (NPCO) = A/E; yaitu indikator yang menunjukkan tingkat proteksi pemerintah terhadap output pertanian domestik. Kebijakan bersifat protektif terhadap output jika nilai NPCO > 1. Semakin besar nilai NPCO berarti semakin tinggi tingkat proteksi pemerintah terhadap output. b. Kebijakan Input (1) Input Transfer: IT = B F: Transfer input adalah selisih antara biaya input yang dapat diperdagangkan pada harga private dengan biaya yang dapat diperdagangkan pada harga sosial. Jika nilai IT >, menunjukkan adanya transfer dari petani produsen kepada produsen input tradable atau pemerintah. (2) Nominal Protection Coefficient on Input (NPCI) = B/F; yaitu indikator yang menunjukkan tingkat proteksi 3

4 pemerintah terhadap harga input pertanian domestik. Kebijakan bersifat protektif terhadap input jika nilai NPCI < 1, berarti ada kebijakan subsidi input tradable. (3) Factor Transfer. Transfer faktor merupakan nilai yang menunjukkan perbedaan harga privat dengan harga sosialnya yang diterima produsen untuk pembayaran faktor-faktor produksi yang tidak diperdagangkan. Nilai FT >, mengandung arti bahwa ada transfer dari petani produsen kepada produsen input non tradable atau pemerintah, demikian juga sebaliknya. c. Kebijakan Input-Output (1) Effective Protection Coefficient (EPC) = (A-B)/(E-F); yaitu indikator yang menunjukkan tingkat proteksi simultan terhadap output dan input tradable. Kebijakan masih bersifat protektif jika nilai EPC > 1. Semakin besar nilai EPC berarti semakin tinggi tingkat proteksi pemerintah terhadap komoditas pertanian domestik. (2) Net Transfer: NT = D H Transfer bersih merupakan selisih antara keuntungan bersih yang benarbenar diterima produsen dengan keuntungan bersih sosialnya. Nilai NT >, menunjukkan tambahan surplus produsen yang disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang diterapkan pada input dan output, demikian juga sebaliknya. (3) Profitability Coefficient: PC = D/H Koefisien keuntungan adalah perbandingan antara keuntungan bersih yang benar-benar diterima produsen dengan keuntungan bersih sosialnya. Jika PC >, berarti secara keseluruhan kebijakan pemerintah memberikan insentif kepada produsen, demikian juga sebaliknya. (4) Subsidity Ratio to Producer (SRP) = L/E = (D-H)/E; yaitu indikator yang menunjukkan proporsi penerimaan pada harga sosial yang diperlukan apabila subsidi atau pajak digunakan sebagai pengganti kebijakan. KEUNTUNGAN FINANSIAL DAN EKONOMI Keuntungan Finansial Pada bahasan ini akan dianalisis secara spasial keuntungan finansial menurut wilayah, jenis atau sistem pengairan, dan pada musim tanam yang berbeda. Keuntungan finansial adalah selisih penerimaan dan biaya total dengan dasar perhitungan harga keluaran yang diterima dan harga masukan yang dibayar petani produsen. Total biaya telah mencakup nilai sewa lahan dan sewa tenaga kerja dalam keluarga. Profitabilitas yang merefleksikan keuntungan relatif terhadap penerimaan juga ditampilkan sebagai indikator komparasi secara spasial. Pada kondisi aplikasi teknologi aktual, kinerja usahatani, pada tingkat harga yang dibayar dan diterima petani, dan kebijaksanaan yang sedang berjalan nampak bahwa usahatani kedelai tidak memberikan keuntungan pada petani produsen (Tabel 2). Secara finansial usahatani kedelai tidak memiliki keunggulan kompetitif dan dinilai tidak efisien dalam pemanfaatan sumberdaya. Komoditas ini akan mengalami hambatan dalam pengembangannya bila terdapat komoditas lain yang ternyata memiliki daya saing yang lebih tinggi secara finansial. Usahatani kedelai diusahakan secara terbatas di dua kabupaten contoh dan Ngawi, dan umumnya diusahakan pada lahan bukan irigasi teknis, khususnya pada musim kemarau. Pengusahaan di lahan irigasi teknis dan setengah teknis usahatani kedelai masih menunjukkan profitabilitas di atas keuntungan normal (normal profit) masing-masing dengan keuntungan relatif terhadap penerimaan sebesar 4,7 persen dan,3 persen (Tabel 2). Pada jenis irigasi sederhana (MK II) mengalami kerugian relatif sebesar 1,1 persen atau sebesar Rp 25.4/ha. Tingkat kerugian yang paling besar dialami oleh pengusahaan kedelai di lahan tadah hujan (MK II) di Kabupaten Ngawi dengan tingkat kerugian relatif 4,6 persen (Rp 9.26/ha). Tingkat kerugian pada jenis lahan dan musim tanam yang sama di Kabupaten nampak sedikit lebih rendah yaitu sebesar 3,1 persen (Rp 71.61/ha). Nampak bahwa pengusahaan kedelai juga membutuhkan kondisi lahan yang lebih subur dan fasilitasi pengairan yang memadai. 31

5 Tabel 2. Keuntungan Finansial Usahatani Kedelai Menurut Jenis Pengairan di Dua Kabupaten Contoh, 2 21 Irigasi Teknis MK II 21 MK II 21 Ngawi MK II 21 Irigasi Sederhana MK II 21 MK I 21 MK II 21 Uraian Penermaan (Rp/ha) Total biaya (Rp/ha) Keuntungan (Rp/ha) (%) ,7-3,1,3-1,1-1,2-4,6 Hal ini diindikasikan oleh semakin meningkatnya tingkat kerugian yang dialami petani pada kondisi lahan dan pengairan yang semakin kurang baik. Pada wilayah yang sama (), pada tingkat penerimaan yang relatif tetap, pengusahaan kedelai di lahan tadah hujan membutuhkan biaya 13, persen lebih tinggi dibandingkan dengan di lahan irigasi teknis (Rp vs Rp /ha). Di Kabupaten Ngawi pengusahaan kedelai di lahan irigasi sederhana membutuhkan total biaya 27,8 persen lebih tinggi, sementara peningkatan hasil hanya 26, persen dibandingkan dengan pengusahaan kedelai di lahan irigasi setengah teknis. Petani mengusahakan kedelai, khususnya di Kabupaten Ngawi pada MK II pada lahan bukan irigasi teknis dan setengah teknis dikarenakan oleh kendala teknis dan tidak adanya pilihan komoditas lain yang lebih menguntungkan. Analisis keuntungan finansial usahatani jagung di tiga kabupaten contoh disajikan pada Tabel 3. Kecuali di Kabupaten Kediri, jagung umumnya diusahakan pada lahan bukan irigasi teknis dan setengah teknis, dan pilihan musim tanam adalah MK I atau MK II. Dibandingkan dengan kedelai pada wilayah dan jenis pengairan yang sama (, lahan tadah hujan, MK II) jagung lebih menguntungkan dibandingkan kedelai dengan tingkat keuntungan relatif 11,8 persen, sementara kedelai mengalami kerugian sebesar 3,1 persen. Secara absolut usahatani jagung di Jawa ( dan Kediri) lebih menguntungkan dibandingkan dengan di Sidrap. Di Jawa, pada jenis pengairan yang semakin baik, tingkat keuntungan nampak lebih tinggi, dan keuntungan pada MK I lebih besar dibandingkan dengan MK II. Secara relatif keuntungan usahatani jagung pada MK I secara konsisten dan signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan MK II. Nampak bahwa keuntungan usahatani jagung ini semakin tinggi pada kondisi lahan dan pengairan yang semakin membaik. Sebagai ilustrasi di Kabupaten Kediri pada MK I, secara absolut keuntungan usahatani jagung menurun secara konsisten dari Rp /ha (irigasi teknis) menjadi Rp 988.6/ha pada lahan tadah hujan. Secara relatif keuntungan pada MK I berkisar antara 2,2 27,1 persen, sedangkan pada MK II hanya 15, 24,1 persen. Analisis finansial keuntungan usahatani kacang tanah di dua kabupaten contoh dan Sidrap disajikan pada Tabel 4. Usahatani kacang tanah pada kabupaten, jenis pengairan dan musim tanam yang sama, ternyata memiliki keuntungan absolut dan relatif yang lebih tinggi dibandingkan dengan jagung. Jadi pada agroekosistem yang sama, secara finansial usahaani kacang tanah lebih prospektif dibandingkan dengan jagung dan kedelai. Urutan prioritas pengembangan dari ketiga jenis palawija ini adalah kacang tanah, jagung, dan kedelai. Di dan Sidrap, pengusahaan kacang tanah pada sistem pengairan yang lebih baik pada musim tanam yang sama (MK II) memberikan tingkat keuntungan yang lebih baik. Tingkat keuntungan pada MK I tetap lebih baik dibandingkan dengan MK II. Nampak bahwa kecenderungan ini terjadi pada ketiga jenis palawija ini. Sebagai ilustrasi keuntungan usahatani kacang tanah MK II untuk jenis irigasi teknis 11,6 persen lebih tinggi dibandingkan 32

6 Tabel 3. Keuntungan Finansial Usahatani Jagung Menurut Jenis Pengairan di Tiga Kabupaten Contoh, 2 21 Uraian MK I 21 MK II 21 MK II 21 Kediri Irigasi Teknis MK I 21 MK II 21 MK I 21 MK II 21 Irigasi Sederhana MK I 21 MK II 21 MK I 21 MK II 21 Sidrap MK II 21 Irigasi Sederhana MK II 21 MK II 21 Penerimaan (Rp/ha) Total biaya Keuntungan (Rp/ha) (Rp/ha) (%) ,2 21,6 11,8 27,1 24,1 21,4 15, 23,2 16,9 2,2 17,9 11,7 15,6 12,1 Tabel 4. Keuntungan Finansial Usahatani Kacang Tanah Menurut Jenis Pengairan di Dua Kabupaten Contoh, 2 21 Irigasi Teknis MK II 21 MK II 21 Sidrap MK I 21 MK II 21 MK II 21 Uraian Penerimaan (Rp/ha) Total biaya (Rp/ha) Keuntungan (Rp/ha) (%) ,1 27,9 37,4 26,4 28,1 di lahan tadah hujan (Rp vs Rp /ha), dan tingkat keuntungan secara relatif adalah 29,1 vs 27,9 persen (Tabel 4). Di Kabupaten Sidrap pada jenis pengairan setengah teknis (moderat), keuntungan usahatani kacang tanah pada MK I adalah 22,2 persen lebih tinggi dari MK II (Rp vs Rp 952.5/ha), dan tingkat keuntungan secara relatif adalah 37,4 vs 26,4 persen. Komoditas palawija (kecuali kedelai), walaupun diusahakan pada sistem irigasi yang lebih inferior dan umumnya pada MK II, namun memiliki tingkat profitabilitas lebih baik dibandingkan dengan padi, khususnya di Jawa. 33

7 Tabel 5. Keuntungan Ekonomi Usahatani Kedelai Menurut Jenis Pengairan di Dua Kabupaten Contoh, 2 21 Uraian Irigasi Teknis MK II 21 MK II 21 Ngawi MK II 21 Irigasi Sederhana MK II 21 MK I 21 MK II 21 Penerimaan (Rp/ha) Total biaya Keuntungan (Rp/ha) (Rp/ha) (%) ,4,7 1,5-12,7 21,3 5,1 Di dan Kediri, profitabilitas finansial padi mencapai 14 persen dan 19 persen, sementara itu komoditas jagung mencapai 38,3 persen dan 43,7 persen, dan kacang tanah mencapai 31,7 persen di. Nampak bahwa jagung dan kacang tanah secara finansial lebih menguntungkan dan lebih efisien dalam pemanfaatan modal. Keuntungan Ekonomi Keuntungan ekonomi mengindikasikan keunggulan komparatif suatu komoditas dalam pemanfaatan sumber daya yang langka di dalam negeri. Pada kondisi ini harga input dan output diperhitungkan dalam kondisi pasar persaingan sempurna di mana segala bentuk subsidi dan proteksi yang bersifat mendistorsi pasar telah ditiadakan. Sistem komoditas dengan tingkat keuntungan ekonomi yang semakin tinggi menunjukkan tingkat keunggulan komparatif yang semakin besar. Dengan mengabaikan segala bentuk kebijakan yang mendistorsi pasar input dan output, nampak bahwa usahatani kedelai memberikan tingkat keuntungan, kecuali di Ngawi (irigasi sederhana-mk 2), dengan kerugian secara relatif sebesar 12,7 persen (Tabel 5). Tingkat keuntungan paling tinggi diperoleh pada pengusahaan kedelai di lahan tadah hujan (MK I) di Kabupaten Ngawi dengan nilai absolut sebesar Rp /ha atau secara relatif sebesar 21,3 persen. Sistem irigasi dengan keunggulan komparatif berikutnya adalah irigasi setengah teknis (MK II) di Ngawi dengan keuntungan relatif 1,5 persen, irigasi teknis (MK II) Kabupaten dengan nilai 6,4 persen. Analisis keuntungan ekonomi usahatani jagung di tiga kabupaten contoh ditampilkan pada Tabel 6. Masih tetap konsisten dengan hasil analisis finansial, secara ekonomi usahatani jagung tetap lebih menguntungkan dibandingkan dengan kedelai. Sebagai ilustrasi pada wilayah dan agroekosistem yang sama (, lahan tadah hujan, MK II), tingkat profitabilitas ekonomi usahatani jagung adalah 45,5 persen (Rp /ha), sementara itu usahatani kedelai mengalami keuntungan sebesar,7 persen. Secara umum dapat dinyatakan bahwa secara ekonomi usahatani jagung memiliki tingkat keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan hasil analisis secara finansial. Kecuali di Sidrap, wilayah dengan sistem pengairan yang lebih baik memiliki tingkat keuntungan secara absolut dan relatif lebih tinggi. Demikian juga halnya dengan pengusahaan jagung pada MK I memiliki tingkat keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan MK II. Pola keuntungan menurut wilayah, jenis pengairan, dan musim tanam masih tetap sama dengan hasil analisis finansial. Komoditas kacang tanah pada wilayah, jenis pengairan, dan musim tanam yang sama ternyata memiliki keuntungan ekonomi yang lebih rendah dibandingkan dengan jagung (Tabel 6 dan 7). Sebagai ilustrasi di Kabupaten (lahan tadah hujan, MK II) keuntungan ekonomi kacang tanah dibandingkan dengan jagung adalah 3,6 persen vs 44,7 persen (Rp /ha vs Rp /ha). Di Kabupaten Sidrap pada jenis pengairan dan musim 34

8 Tabel 6. Keuntungan Ekonomi Usahatani Jagung Menurut Jenis Pengairan di Tiga Kabupaten Contoh, 2 21 Uraian MK I 21 MK II 21 MK II 21 Kediri Irigasi Teknis MK I 21 MK II 21 Irigasi ½ teknis MK I 21 MK II 21 Irigasi Sederhana MK I 21 MK II 21 MK I 21 MK II 21 Sidrap Irigasi ½ teknis MK II 21 Irigasi Sederhana MK II 21 MK II 21 Penerimaan (Rp/ha) Total biaya Keuntungan (Rp/ha) (Rp/ha) (%) ,5 44,7 45,5 54,1 43,9 5,2 36,5 53, 48,7 48,6 42,2 29,8 37,5 36,9 Tabel 7. Keuntungan Ekonomi Usahatani Kacang Tanah Menurut Jenis Pengairan di Dua Kabupaten Contoh, 2 21 Irigasi Teknis MK II 21 MK II 21 Sidrap Irigasi ½ teknis MK I 21 MK II 21 MK II 21 Uraian Penerimaan (Rp/ha) Total biaya (Rp/ha) Keuntungan (Rp/ha) (%) , 3, ,9 29,1 tanam yang sama perbandingan tingkat keuntungan relatifnya adalah 24,8 persen vs 36,9 persen. Secara ekonomi dapat dinyatakan bahwa jagung memiliki keunggulan komparatif yang lebih baik dibandingkan dengan kacang tanah. Secara ekonomi nampak bahwa usahatani kacang tanah ini memiliki tingkat keuntungan absolut dan relatif yang lebih tinggi dibandingkan dengan secara finansial. Secara ekonomik, pengusahaan kacang tanah pada sistem pengairan yang lebih baik memiliki tingkat keuntungan yang lebih tinggi. Demikian juga halnya pengusahaan kacang tanah pada MK I nampak lebih menguntungkan dibandingkan dengan yang ditanam pada MK II. 35

9 KEUNGGULAN KOMPETITIF DAN KOMPARATIF Komoditas Kedelai Secara umum dapat dinyatakan usahatani kedelai tidak memiliki keunggulan kompetitif yang ditunjukkan oleh nilai PCR yang lebih besar daripada satu (Tabel 8). Indikator profitabilitas privat ini menunjukkan bahwa sistem usahatani kedelai tidak mampu membayar korbanan biaya domestik, sehingga ia tidak memiliki keunggulan kompetitif dalam pemanfaatan sumberdaya. Keadaan ini menjadi salah satu sebab kenapa usahatani kedelai relatif tidak berkembang di lapangan, karena secara finansial tidak memiliki keunggulan kompetitif. Di lain pihak, secara ekonomi usahatani kedelai memiliki keunggulan komparatif yang ditunjukkan oleh nilai DRCR lebih kecil dari satu, kecuali di lahan irigasi sederhana (MK II) di Kabupaten Ngawi. Namun demikian, nilai besaran DRCR dinilai sangat marginal, yaitu mendekati satu, sehingga akan sangat rentan terhadap perubahan faktor eksternal. Di Kabupaten kisaran nilai DRCR adalah antara,92 (lahan irigasi teknis) dan,99 (lahan tadah hujan), pada musim tanam yang sama (MK II). Di Kabupaten Ngawi kisaran DRCR adalah,75 1,15. Keunggulan komparatif tertinggi didapatkan pada pengusahaan kedelai di lahan tadah hujan pada MK I di Kabupaten Ngawi. Jadi untuk menghemat satu satuan devisa melalui pengembangan usahatani kedelai untuk memenuhi kebutuhan domestik dibutuhkan pengorbanan sumber daya di dalam negeri lebih kecil dari satu US$, yaitu US$.75. Pengusahaan kedelai di lahan irigasi sederhana pada MK II dinilai tidak memiliki keunggulan komparatif karena sumber daya domestik yang harus dikorbankan lebih besar dari satu US$, yaitu US$ 1,15. Dibandingkan dengan padi, pada wilayah pengembangan yang sama ( dan Ngawi), nampak bahwa komoditas kedelai memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif sedikit lebih rendah dibandingkan dengan padi. Pada kedua wilayah, nilai PCR padi adalah,84 dan,93, dengan nilai DRCR,78 dan,87. Walaupun keunggulan komparatif padi dinilai marginal, namun masih lebih kecil dibandingkan dengan satu sebagai batas aman pengusahaan padi untuk memenuhi kebutuhan domestik. Tabel 8. Keunggulan Kompetitif dan Komparatif Usahatani Kedelai Menurut Jenis Pengairan di Dua Kabupaten Contoh, 2-21 Uraian PCR DRCR Irigasi Teknis MK II 21,94,92 MK II 21 Ngawi MK II 21 Irigasi Sederhana MK II 21 MK I 21 MK II 21 1,4 1, 1,1 1,1 1,5,99,88 1,15,75,94 Menarik untuk dikemukakan dinamika keunggulan komparatif komoditas kedelai yang dilakukan oleh beberapa peneliti (Rosegrant et al., 1987; Simatupang, 199; Rusastra, 1995) dengan menggunakan data struktur ongkos yang diterbitkan oleh BPS, Jakarta, dengan temuan ringkas sebagai berikut: (1) Di Jawa terdapat kemunduran keunggulan komparatif kedelai, dan bahkan analisis terakhir menunjukkan bahwa tiga provinsi di Jawa tidak efisien secara ekonomi, baik untuk tujuan substitusi impor, perdagangan antar daerah, dan lebihlebih lagi untuk tujuan promosi ekspor; (2) Penurunan kinerja kelayakan ekonomi ini disebabkan oleh tidak adanya terobosan teknologi (varietas dan teknik berproduksi) yang mampu meningkatkan produktivitas, dan di sisi lain petani terus memacu penggunaan masukan modern dengan konskuensi tambahan hasil yang tidak proporsional; (3) Pengusahaan kedelai di luar Jawa memiliki keunggulan komparatif untuk tujuan substitusi impor, dengan nilai DRCR hampir mendekati satu (titik impas) yang mengindikasikan kurang stabilnya kelayakan ekonomis komoditas ini; dan (4) Kinerja keunggulan komparatif kedelai di luar Jawa lebih baik dibandingkan dengan di Jawa disebabkan oleh biaya ekonomi per unit keluaran yang lebih rendah sekitar 45, persen (Rp 379/kg vs Rp 689/kg). Untuk mendapatkan gambaran pengembangan kedelai pada suatu lokasi spesifik, dinilai perlu untuk menampilkan studi kasus yang dilakukan oleh Hermanto et al. (1993) di dua kabupaten di Jawa Timur. Penelitian dilakukan di Kabupaten Blitar dan Jember yang 36

10 masing-masing mewakili kabupaten dengan produktivitas kedelai rendah dan tinggi. Hasil analisis data primer menunjukkan bahwa usahatani kedelai di Jember (produktivitas tinggi) adalah menguntungkan secara finansial dan ekonomi, dengan nilai DRCR,4. Berbeda dengan produksi kedelai di Jember, kinerja kelayakan usahatani di Blitar hanya layak secara finansial, sedangkan secara ekonomis mengalami kerugian dan tidak memiliki keunggulan komparatif dengan nilai DRCR lebih besar dari satu, yaitu 1,18. Hasil analisis mikro menunjukkan bahwa masih terdapat kantong-kantong produksi kedelai di Jawa Timur yang memiliki potensi pengembangan cukup baik. Hermanto et al. (1993) mengakui bahwa keunggulan komparatif kedelai di Jember tidak terlepas dari dukungan lingkungan yang mendukung seperti kondisi tanah dan iklim yang sesuai, di samping tatalaksana pengairan yang terkelola secara baik. Rusastra et al. (1992) menunjukkan bahwa daerah seperti Banyuwangi, Pasuruan, dan Lamongan yang memiliki produktivitas di atas rataan Jawa Timur juga dinilai memiliki potensi keunggulan komparatif dalam usahatani kedelai. Hal ini diindikasikan oleh tingkat keuntungan terhadap total biaya yang mencapai sekitar 44,-89, persen dengan memperhitungkan harga keluaran sebesar harga paritasnya di pasar dunia. Tingkat profitabilitas ini dinilai cukup tinggi, yakni jauh melebihi tingkat suku bunga di pasar modal. Tingkat keuntungan ini diperkirakan masih cukup memadai, walaupun subsidi harga masukan ditiadakan. Komoditas Jagung Dari analisis keunggulan kompetitif dan komparatif usahatani jagung pada Tabel 9, dapat ditarik beberapa kesimpulan menarik sebagai berikut: (1) Usahatani jagung memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif pada semua wilayah, jenis pengairan, dan musim tanam yang dipertimbangkan; (2) Di Jawa, wilayah dengan jenis pengairan yang lebih baik memilliki keunggulan kompetitif dan komparatif yang lebih baik; (3) Jagung yang diusahakan pada MK I dibandingkan dengan MK II, juga menunjukkan kinerja efisiensi privat dan efisiensi ekonomi yang lebih baik; (4) Dilihat dari besaran nilai DRCR dan PCR, nampak jelas bahwa keunggulan komparatif lebih tinggi dan lebih stabil dibandingkan dengan tingkat keunggulan kompetitif; (5) Di Jawa rataan keunggulan kompetitif (PCR) adalah,71, dengan kisaran,52 s/d,84; (6) Rataan keunggulan komparatif adalah,43, dengan kisaran,3 dan,56; (7) Di luar Jawa (Sidrap) rataan nilai PCR dan DRCR nampak lebih tinggi yaitu,83 dan,6, yang mengindikasikan kinerja keunggulan kompetitif dan komparatif yang lebih rendah dan kurang stabil; (8) Dibandingkan dengan kedelai, usahatani jagung secara meyakinkan memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif yang lebih baik. Pada wilayah pengembangan yang sama (, Kediri, dan Sidrap) secara sangat meyakinkan, bahwa komoditas jagung memiliki keunggulan komparatif yang lebih tinggi dibandingkan dengan padi. Nilai koefisien DRCR padi di tiga kabupaten ini adalah,96;,9; dan,83 yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan DRCR jagung (Tabel 9). Dalam meningkatkan pendapatan petani dan efisiensi ekonomi pemanfaatan sumberdaya, pada daerah dan musim tanam yang tepat, komoditas jagung perlu mendapat prioritas untuk dikembangkan. Tabel 9. Keunggulan Kompetitif dan Komparatif Usahatani Jagung Menurut Jenis Pengairan di Tiga Kabupaten Contoh, 2/21 Uraian PCR DRCR MK I 21 MK II 21 MK II 21 Kediri Irigasi Teknis MK I 21 MK II 21 MK I 21 MK II 21 Irigasi Sederhana MK I 21 MK II 21 MK I 21 MK II 21 Sidrap MK II 21 Irigasi Sederhana MK II 21 MK II 21,52,73,84,65,69,69,8,69,77,7,74,85,8,85,3,5,48,37,49,39,56,38,43,39,48,65,56,58 37

11 Perkembangan secara dinamis kinerja keunggulan komparatif usahatani jagung yang dilakukan oleh Kasryno (199) dan Kariyasa dan Adnyana (1998) menunjukkan beberapa informasi menarik sebagai berikut: (a) Terdapat indikasi kuat terjadinya penurunan keunggulan komparatif di Jawa maupun luar Jawa, namun masih tetap pada tingkat menguntungkan bagi perekonomian secara keseluruhan; (2) Hasil analisis terakhir menunjukkan bahwa keunggulan komparatif jagung di lahan sawah irigasi di tiga provinsi di Jawa adalah lebih baik dibandingkan dengan pengembangan pada jenis lahan lainnya (tadah hujan dan lahan kering) dengan nilai rataan DRCR,747 vs,89; (3) Kinerja pengembangan jagung di lahan tadah hujan dan lahan kering di Sulawesi Selatan ternyata memiliki keunggulan komparatif yang relatif sama dengan agroekosistem sawah irigasi di Jawa, masing-masing dengan nilai DRCR,714 dan,771. Kacang Tanah Usahatani kacang tanah memiliki keunggulan komparatif yang lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat keunggulan kompetitifnya, namun tidak berbeda secara meyakinkan seperti halnya pada kasus komoditas jagung. Di samping itu juga tidak terdapat indikasi kuat adanya perbedaan kinerja daya saing antarwilayah dan agroekosistem pengembangan, kecuali perbedaan antar musim tanam, dimana MK I memiliki daya saing yang lebih baik dibandingkan dengan kacang tanah yang diusahakan pada MK II (Tabel 1). Dengan demikian kisaran nilai PCR dan DRCR antar wilayah dan agroekosistem pengembangan relatif kecil, masingmasing berkisar antara,57-,65 dan,57-,63. Dibandingkan dengan komoditas jagung pada wilayah, jenis pengairan, dan musim tanam yang sama, komoditas kacang tanah memiliki tingkat keunggulan komparatif yang relatif sama. Sebagai ilustrasi, perbedaan nilai DRCR jagung dan kacang tanah di (tadah hujan, MK II) adalah,54 vs,58, di Sidrap pada jenis irigasi dan musim tanam yang sama adalah,64 vs,61. Dari ketiga jenis komoditas palawija ini, jagung dan kacang tanah memiliki daya saing secara ekonomi yang lebih baik dibandingkan dengan kedelai. Pada wilayah dan agroekosistem yang sama, arah kebijakan pengembangan perlu memberikan prioritas kepada jagung dan atau kacang tanah sebagai komoditas yang mampu memanfaatkan sumberdaya domestik secara lebih efisien. Komoditas kacang tanah di dan Sidrap, bukan saja memiliki keunggulan komparatif, tetapi juga keunggulan kompetitif yang lebih baik dibandingkan dengan padi. Padi dengan nilai PCR dan DRCR di sebesar,84 dan,96, dan di Sidrap sebesar,71 dan,83, nampak jelas memiliki daya saing yang lebih rendah secara finansial dan ekonomi dibandingkan dengan kacang tanah (Tabel 1). Persoalannya sekarang adalah, bagaimana menciptakan lingkungan ekonomi agar usahatani kacang tanah ini dapat memberikan tingkat keuntungan yang berkelanjutan. Tabel 1. Keunggulan Kompetitif dan Komparatif Usahatani Kacang Tanah Menurut Jenis Pengairan di Dua Kabupaten Contoh, 2/21 Uraian PCR DRCR Irigasi Teknis MK II 21 MK II 21,61,61,6,59 Sidrap MK I 21 MK II 21 MK II 21,57,65,63,57,63,62 ANALISIS SENSITIVITAS HARGA PARITAS DAN PRODUKTIVITAS Komoditas Kedelai Bahasan ini diarahkan untuk mengetahui tingkat stabilitas keunggulan komparatif terhadap kemungkinan perubahan produktivitas dan harga komoditas di pasar dunia. Semakin tinggi persentase penurunan harga atau produktivitas yang dibutuhkan untuk mencapai DRCR = 1, maka semakin tinggi tingkat stabilitas keunggulan komparatif suatu komoditas. Hasil analisis pada Tabel 11 menunjukkan bahwa tingkat stabilitas keunggulan komparatif kedelai adalah sangat rentan terhadap perubahan dari salah satu indikator produktivitas atau harga kedelai di pasar dunia. Sebagai ilustrasi bila produktivitas atau harga paritas kedelai menurun di atas 1,8 persen di lahan 38

12 Tabel 11. Analisis Sensitivitas Harga Paritas dan Produktivitas Usahatani Kedelai Menurut Jenis Pengairan di Dua Kabupaten Contoh, 2/21 Uraian Irigasi Teknis MK II 21 MK II 21 Ngawi MK II 21 Irigasi Sederhana MK II 21 MK I 21 MK II 21 Harga paritas (Rp/kg) Produktivitas (Kg//Ha) Aktual BEP Aktual BEP Perubahan (%) -7,18 -,38-1,84-1,7,349 2,2 irigasi ½ teknis (MK II), Ngawi maka pengusahaan kedelai untuk memenuhi kebutuhan domestik menjadi tidak layak secara ekonomi. Di lahan irigasi teknis pada musim yang sama di terdapat toleransi yang lebih besar, yaitu bila terjadi penurunan harga/produktivitas di atas 7,18 persen. Jadi pada tingkat keunggulan komparatif yang marginal, perubahan produktivitas/harga paritas yang relatif kecil menyebabkan pengusahaan kedelai menjadi tidak layak atau tidak efisien secara ekonomi. Komoditas Jagung Kelayakan ekonomi usahatani jagung sangat stabil. Sebagai ilustrasi di Kabupaten dibutuhkan penurunan produktivitas/ harga paritas dengan kisaran 19,38 persen 41,24 persen untuk mencapai titik BEP (DRCR = 1). Semakin baik sistem irigasi semakin tinggi tingkat stabilitas keunggulan komparatif, dan semakin tinggi perubahan harga/produktivitas yang dibutuhkan (Tabel 12). Di Kabupaten Kediri, usahatani jagung mengalami keuntungan normal (DRCR = 1) apabila terjadi penurunan produktivitas dan harga internasional di atas kisaran 23,96 29,72 persen (Tabel 12). Semakin baik sistem irigasi, semakin stabil tingkat keunggulan komparatifnya yang berarti semakin tinggi toleransi penurunan produktivitas atau harga di pasar dunia. Pengusahaan jagung pada MK I juga nampak lebih stabil kelayakan ekonominya dibandingkan dengan yang diusahakan pada MK II. Di Kabupaten Sidrap dengan kondisi keunggulan komparatif jagung yang lebih rendah (kisaran DRCR,62,74), maka tingkat toleransi penurunan produktivitas/harga paritas relatif lebih kecil, yaitu berkisar antara 16,1 persen 19,37 persen (Tabel 12). Tidak terdapat pola hubungan yang jelas dan konsisten antara tingkat keunggulan komparatif dengan kondisi jenis pengairan. Di lahan irigasi setengah teknis dan tadah hujan, bila produktivitas/harga di pasar dunia menurun masingmasing di atas 16,34 persen dan 16,95 persen maka komoditas jagung tidak layak dikembangkan secara ekonomi. Sebaliknya di lahan irigasi sederhana penurunan produktivitas/harga paritas maksimal sebesar 2,8 persen masih dapat ditolerir, dan komoditas ini masih efisien secara ekonomis dalam pemanfaatan sumber daya di dalam negeri. Komoditas Kacang Tanah Pada daerah pengembangan dan musim tanam yang sama, tingkat daya saing kacang tanah lebih stabil daripada jagung. Di (tadah hujan) toleransi penurunan produktivitas atau harga paritas kacang tanah nampak lebih besar (31,% vs 19,38%) untuk mencapai titik impas (DRCR = 1). Pada sistem irigasi ½ teknis (MK II) dan tadah hujan di Sidrap, stabilitas daya saing kacang tanah tetap lebih baik, dengan toleransi penurunan produktivitas/harga paritas 28,89 persen vs 15,9 persen dan 23,13 persen vs 16,1 persen. Pada kondisi pasar faktual, usahatani kacang tanah lebih dapat diandalkan dalam menanggung risiko usaha relatif dibandingkan dengan jagung, apalagi dengan komoditas kedelai. 39

13 Tabel 12. Analisis Sensitivitas Harga Paritas dan Produktivitas Usahatani Jagung Menurut Jenis Pengairan di Tiga Kabupaten Contoh, 2/21 Uraian MK I 21 MK II 21 MK II 21 Kediri Irigasi Teknis MK I 21 MK II 21 MK I 21 MK II 21 Irigasi Sederhana MK I 21 MK II 21 MK I 21 MK II 21 Sidrap MK II 21 Irigasi Sederhana MK II 21 MK II 21 Harga paritas (Rp/kg) Produktivitas (Kg//Ha) Aktual BEP Aktual BEP Perubahan (%) -41,24-26,42-19,38-29,72-28,97-25,16-26,97-26,16-23,96-25,31-25,21-15,9-19,37-16,1 Tabel 13. Analisis Sensitivitas Harga Paritas dan Produktivitas Usahatani Kacang Tanah Menurut Jenis Pengairan di Dua Kabupaten Contoh, 2/21 Uraian Harga (Rp/kg) Produktivitas (kg/ha) Aktual BEP Aktual BEP Irigasi teknis MK II Tadah hujan MK II 21 Sidrap Irigasi ½ teknis MK I 21 MK II 21 Tadah hujan MK II Perubahan (%) -31, -3,59-37,54-28,89-29,13 KEBIJAKSANAAN INSENTIF Instrumen kebijaksanaan pemerintah dalam meningkatkan dan mengembangkan sektor pertanian tidak hanya berupa insentif terhadap harga output, namun juga terhadap input produksinya. Upaya mengetahui dampak kebijaksanaan harga input, khususnya bagi petani sebagai konsumen dari input produksi yang digunakan dapat dilihat dari nilai transfer input dan koefisien proteksi input nominal (NPCI). Sedangkan dampak kebijaksanaan harga output dapat dicirikan dari nilai transfer output dan koefisien proteksi output nominal (NPCO). Selanjutnya, untuk menelaah pengaruh bersih dari kebijaksanaan pemerintah dapat dilihat dari nilai transfer bersih dan koefisien proteksi efektif (EPC). Ukuran-ukuran tersebut dipandang penting untuk mengetahui derajat dari proteksi yang menyebabkan adanya perbedaan nilai tambah pada kondisi sebelum dan setelah adanya proteksi. Selengkapnya, hasil analisis kebijaksanaan insentif disajikan dalam Tabel 14 dan 15. 4

14 Tabel 14. Koefisien Proteksi Output dan Input dan Proteksi Efektif untuk Komoditas Kedelai, Jagung dan Kacang Tanah di Empat Kabupaten, Tahun 21 Kedelai Irigasi teknis MK I 21 Tadah hujan MK II 21 Ngawi Irigasi ½ teknis MK II 21 Irigasi sederhana MK II 21 Tadah hujan MK I 21 MK II 21 Jagung Irigasi ½ teknis MK I 21 MK II 21 Tadah hujan MK II 21 Kediri Irigasi teknis MK I 21 MK II 21 Irigasi ½ teknis MK I 21 MK II 21 Irigasi sederhana MK I 21 MK II 21 Tadah hujan MK I 21 MK II 21 Sidrap Irigasi ½ teknis MK II 21 Irigasi sederhana MK II 21 Tadah hujan MK II 21 Kacang tanah Irigasi teknis MK II 21 Tadah hujan MK II 21 Sidrap Irigasi ½ teknis MK I 21 MK II 21 Tadah hujan MK II 21 1,6 1,6,97 1,21,82,99,69,83,75,71,87,72,88,69,75,75,85,91,86,83 1, 1, 1, 1, 1, 1, 1, 1, 1, 1, 1, 1,43 1,81 1,53 1,38 1,6 1,7 1,48 1,44 1,73 1,39 1,81 1,21 1,22 1,29 1, 1, 1, 1, 1,,98 1,2,98,9 1,4 1,9,9 1,2 1,19 1,2,87,98,92 1,2,99 1, 1,4,98 1,11,91 1,3 1,7 1,3 1,7,85 1,3,99 1,5 1,16,91 1,3,91 1,3,91 1,6,93 1,6 1,8 1,7 1,1 1,3 1,3,97 1,1 1,1 1,9 1,23,95 1,9 1,4 1,8 1,6 1,7,84,99 1,8,93 1,2 1,2,97 1,1,94 1,4 1,11 1,2 NPCI Uraian NPCO Pestisida Seed Urea SP-36 KCl ZA NPK Herbisida Total 1,8 1,13 1,9 1,9 1, 1,15 1,9 1,29 1,38 1,1 1,23 1,11 1,21 1,9 1,29 1,15 1,28 1,16 1,16 1,21 1,6 1,8,99 1,9 1,2 EPC,99,96,89 1,15,75,9,58,69,58,58,71,57,71,56,57,57,66,77,7,68,98,97 1,,97,98 41

15 42

16 Proteksi Input Kedelai Kebijaksanaan input yang diterapkan pemerintah berdampak disinsentif bagi petani palawija (kedelai), seperti dicirikan dari harga input produksi yang dibayar petani cenderung lebih tinggi dari harga sosialnya. Untuk Kabupaten, transfer negatif melalui ongkos produksi berkisar Rp 3 ribu - Rp 62 ribu atau petani membayar input produksi sekitar 8-13 persen lebih mahal dari harga sosialnya. Sementara untuk Kabupaten Ngawi, transfer negatif berkisar Rp 1 ribu - Rp 34 ribu atau petani membayar 15 persen lebih tinggi dari harga yang seharusnya (harga sosial). Secara agregat, petani kedelai di kedua kabupaten memperoleh dis-insentif harga input (pupuk) sekitar 15 persen. Transfer negatif tersebut terutama berasal dari pembayaran biaya pupuk, sehingga harga pupuk yang relatif mahal ini dapat menghambat upaya pengembangan usahatani kedelai. Dekomposisi input produksi (pupuk) menunjukkan bahwa harga pupuk Urea yang dibayar petani kedelai di Kabupaten relatif sama dengan harga sosialnya, sedangkan untuk pupuk SP-36, harga yang dibayar petani lebih tinggi 3 7 persen dari harga sosialnya. Sementara itu, untuk petani kedelai di Kabupaten Ngawi memberikan gambaran yang relatif sama, dimana harga pupuk Urea yang dibayar petani relatif sama dengan harga sosialnya, sedangkan untuk SP-36 dan ZA masing-masing 3 persen dan 7 persen lebih tinggi dari harga sosialnya, namun bervariasi antar musim. Jagung Secara umum di ketiga kabupaten (, Kediri, dan Sidrap), petani jagung belum menikmati perlindungan harga input dari pemerintah atau petani membeli input dengan harga 9 38 persen lebih mahal dari harga sesungguhnya. Transfer negatif melalui ongkos produksi jagung masing-masing berkisar Rp 76 ribu Rp 243 ribu (), Rp 94 ribu Rp 292 ribu (Kediri), dan Rp 117 ribu Rp 12 ribu (Sidrap). Dengan kata lain, tingkat proteksi nominal negatif yang diterima petani jagung berkisar 9 38 persen untuk, 9 29 persen untuk Kediri, dan persen untuk Sidrap. Tampak bahwa transfer negatif terbesar berasal dari harga bibit jagung. Transfer negatif bibit jagung berkisar Rp 41 ribu - Rp 233 ribu. Sementara transfer negatif untuk komponen input lainnya relatif kecil. Berbeda halnya, pada MK I, petani cenderung menikmati harga SP-36 sedikit lebih murah sekitar satu persen dari harga sosialnya. Sebaliknya, pada MK II petani membeli SP-36 lebih mahal sekitar 3-16 persen dari harga sosialnya. Variasi ini lebih disebabkan oleh perbedaan nilai tukar, di mana pada MK I terjadi apresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika, dan sebaliknya depresiasi pada MK II. Kacang Tanah Sebagaimana umumnya petani palawija, petani kacang tanah di Kabupaten dan Sidrap belum mendapat perlidungan harga input produksi dari pemerintah. Kenyataan ini tercermin dari transfer negatif yang diterima petani kacang tanah di berkisar Rp 59 ribu Rp 85 ribu dengan tingkat proteksi nominal negatif sekitar 6-8 persen. Sedangkan di Sidrap transfer negatif berkisar Rp 4 ribu Rp 72 ribu dengan tingkat proteksi nominal negatif sekitar - 9 persen. Transfer input negatif ini terutama berasal dari harga Urea, di mana petani membayar biaya pupuk (urea) 8-31 persen lebih tinggi dari harga di pasar internasional. Proteksi Output Terdapatnya distorsi harga domestik dan harga internasional tidak terlepas dari adanya intervensi pemerintah, baik berupa subsidi, pajak maupun kebijaksanaan perdagangan. Bentuk perlindungan ini secara implisit diharapkan dapat meningkatkan daya saing produk dalam negeri maupun pasar ekspor. Besarnya perlindungan/proteksi harga jual output dapat diindikasikan dari nilai transfer output, yang merupakan perbedaan penerimaan usahatani riil diterima petani dengan penerimaan usahatani yang menggunakan harga sosial. Sedangkan tingkat proteksi nominal output dapat dicirikan dari koefisien nominal proteksi output (NPCO). Hasil analisis menunjukkan bahwa secara umum di seluruh wilayah penelitian, petani belum menikmati kebijaksanaan harga output palawija (kedelai, jagung, dan kacang tanah) dari pemerintah atau terjadi pengalihan surplus produsen kepada konsumen. Harga jual di tingkat petani cenderung lebih rendah dari harga output yang seharusnya dibayar masyarakat (harga sosial). Untuk keseluruhan wilayah transfer output negatif ketiga komoditas tersebut 43

17 berkisar Rp 7,76 ribu Rp 2,8 juta dengan tingkat proteksi nominal output negatif yang diterima petani palawija berkisar 31 persen. Transfer output negatif yang diterima petani relatif bervariasi menurut lokasi dan komoditas. Untuk komoditas kedelai (kecuali MK II di Ngawi), petani memperoleh harga jual lebih rendah dari harga paritas impor. Transfer output negatif berkisar Rp 7,76 ribu Rp 647 ribu dengan tingkat proteksi nominal output negatif berkisar 1 18 persen. Kecenderungan yang sama, untuk komoditas jagung yang diusahakan di, Kediri dan Sidrap, nilai transfer output yang diterima petani produsen sejalan dengan tingkat proteksi output (NPCO) yang relatif rendah, dan hal ini memberi makna bahwa produsen domestik menerima harga jual lebih rendah dibanding harga di pasar internasional. Petani menerima transfer output negatif berkisar Rp 875 ribu Rp 2,78 juta dengan tingkat proteksi output negatif berkisar 9 31 persen. Sementara itu, untuk komoditas kacang tanah di dan Sidrap, petani menerima harga output yang relatif sama dengan harga sosialnya. Hasil analisis ini membawa pada pengertian terjadinya proses pengalihan surplus petani produsen kepada konsumen (masyarakat), sebagaimana tercermin dari rendahnya harga yang diterima oleh petani dibanding harga yang sesungguhnya (pasar internasional). Proteksi Efektif (EPC) Untuk mengetahui dampak kumulatif kebijakan output dan input tradable dapat ditelusuri dari transfer bersih (net transfer) yang diterima petani dan nilai koefisien proteksi efektif (EPC). Besarnya proteksi efektif yang dinikmati petani sangat tergantung dari kombinasi transfer output dan transfer input. Hasil analisis mengindikasikan bahwa secara umum petani palawija (kedelai, jagung dan kc. tanah) tidak memperoleh perlindungan efektif dari pemerintah, baik untuk output maupun input. Hal ini tercermin dari net transfer yang negatif dan nilai EPC yang kurang dari satu, sehingga petani cenderung membayar harga input tradable dan menjual harga output yang tidak sesuai dengan harga sosialnya. Untuk keseluruhan komoditas dan wilayah, net transfer negatif yang diterima petani berkisar dari terendah Rp 4,9 ribu (kacang tanah) hingga tertinggi Rp 2,9 juta (jagung), dengan tingkat proteksi efektif negatif berkisar 2 38 persen. Dengan demikian, petani hanya memperoleh persen dari nilai tambah pasar bersaing sempurna. Relatif rendahnya proteksi efektif yang diterima petani palawija dikarenakan petani membayar tradable inputs lebih tinggi dari harga sosialnya, sementara harga jual output lebih rendah dari harga yang seharusnya diterima petani. Kenyataan ini menunjukkan bahwa efek kumulatif dari kebijakan pemerintah bagi sistem usahatani palawija dinilai kurang efektif melindungi petani, dan dapat menghambat peningkatan produksi palawija domestik. Temuan yang sama dari hasil penelitian Hutabarat et al. (1997) menginformasikan bahwa petani produsen palawija di luar Jawa belum menikmati proteksi harga dari adanya kebijaksanaan pemerintah, sebagaimana tercermin dari net transfer negatif yang diterima oleh petani. Dari ketiga komoditas palawija yang dikaji, komoditas jagung menerima net transfer negatif (disincentive) terbesar dengan kisaran Rp1, juta - Rp 2,9 juta, dengan tingkat proteksi efektif negatif berkisar persen. Temuan senada (Rachman dan Agustian, 1997) menunjukkan bahwa petani jagung di Sumatera Selatan dan Jambi belum menikmati perlindungan efektif dari hadirnya kebijaksanaan pemerintah. Sementara itu, temuan berbeda (Simatupang, 22) yang dilakukan di Lampung dan Sumatera Utara mengindikasikan bahwa distorsi pasar cenderung menguntungkan petani jagung yang memperoleh subsidi netto berkisar Rp 121 ribu Rp 28 ribu per hektar dengan tingkat proteksi efektif sekitar 4 persen. Selanjutnya, ditelaah menurut komoditas tampak net transfer negatif teritinggi untuk komoditas kedelai dan kacang tanah masingmasing adalah Rp 667 ribu dan Rp 117 ribu dengan tingkat proteksi efektif negatif 2` persen dan 4 persen. Dengan pengertian lain, secara efektif kebijaksanaan yang diterapkan pemerintah cenderung tidak melindungi produsen palawija domestik. Konotasi yang sama juga terlihat secara parsial wilayah dan tipe lahan, di mana petani palawija menerima disincentive dari kebijakan yang diintrodusir pemerintah. Dibandingkan dengan padi, struktur insentif yang dialami komoditas palawija ini nampak kontradiktif. Komoditas palawija (khususnya jagung dan kacang tanah) dengan tingkat keunggulan komparatif yang lebih baik 44

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Karangasem dengan lokasi sampel penelitian, di Desa Dukuh, Kecamatan Kubu. Penentuan lokasi penelitian dilakukan

Lebih terperinci

IV METODOLOGI PENELITIAN

IV METODOLOGI PENELITIAN IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada petani tebu di wilayah kerja Pabrik Gula Sindang Laut Kabupaten Cirebon Propinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi penelitian

Lebih terperinci

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1. Analisis Daya Saing Analisis keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan prospek serta kemampuan komoditi gula lokal yang dihasilkan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan tujuan

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan tujuan 33 III. METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional dan Konsep Dasar Konsep dasar dan batasan operasional ini mencakup pengertian yang digunakan untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 26 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan batasan operasional merupakan pengertian dan petunjuk mengenai variabel yang akan diteliti untuk memperoleh dan menganalisis

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN VI HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1 Analisis Daya Saing Analisis keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan prospek serta kemampuan komoditi susu sapi lokal dalam

Lebih terperinci

VI. ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA USAHATANI JAMBU BIJI

VI. ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA USAHATANI JAMBU BIJI VI. ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA USAHATANI JAMBU BIJI Daya saing usahatani jambu biji diukur melalui analisis keunggulan komparatif dan kompetitif dengan menggunakan Policy

Lebih terperinci

DAYA SAING KEDELAI DI KECAMATAN GANDING KABUPATEN SUMENEP

DAYA SAING KEDELAI DI KECAMATAN GANDING KABUPATEN SUMENEP DAYA SAING KEDELAI DI KECAMATAN GANDING KABUPATEN SUMENEP PURWATI RATNA W, RIBUT SANTOSA, DIDIK WAHYUDI Fakultas Pertanian, Universitas Wiraraja Sumenep ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah (1) menganalisis

Lebih terperinci

VIII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING RUMPUT LAUT

VIII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING RUMPUT LAUT 83 VIII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING RUMPUT LAUT 8.1. Struktur Biaya, Penerimaan Privat dan Penerimaan Sosial Tingkat efesiensi dan kemampuan daya saing rumput laut di

Lebih terperinci

KERANGKA PEMIKIRAN. berupa derasnya arus liberalisasi perdagangan, otonomi daerah serta makin

KERANGKA PEMIKIRAN. berupa derasnya arus liberalisasi perdagangan, otonomi daerah serta makin 22 III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Analisis Dewasa ini pengembangan sektor pertanian menghadapi tantangan dan tekanan yang semakin berat disebabkan adanya perubahan lingkungan strategis

Lebih terperinci

EFISIENSI DAN DAYA SAING SISTEM USAHATANI PADI

EFISIENSI DAN DAYA SAING SISTEM USAHATANI PADI EFISIENSI DAN DAYA SAING SISTEM USAHATANI PADI Beny Rachman, Pantjar Simatupang, dan Tahlim Sudaryanto Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian Jl. A. Yani No. 70 Bogor 16161 ABSTRACT

Lebih terperinci

ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KENTANG

ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KENTANG ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KENTANG VI. 6.1 Analisis Dayasaing Hasil empiris dari penelitian ini mengukur dayasaing apakah kedua sistem usahatani memiliki keunggulan

Lebih terperinci

VII. ANALISIS DAYA SAING USAHATANI JAGUNG

VII. ANALISIS DAYA SAING USAHATANI JAGUNG VII. ANALISIS DAYA SAING USAHATANI JAGUNG 7.1. Profitabilitas Privat dan Sosial Analisis finansial dan ekonomi usahatani jagung memberikan gambaran umum dan sederhana mengenai tingkat kelayakan usahatani

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Daya Saing Perdagangan Internasional pada dasarnya merupakan perdagangan yang terjadi antara suatu negara tertentu dengan negara yang

Lebih terperinci

EFISIENSI DAN DAYA SAING USAHATANI HORTIKULTURA

EFISIENSI DAN DAYA SAING USAHATANI HORTIKULTURA EFISIENSI DAN DAYA SAING USAHATANI HORTIKULTURA Handewi P.S. Rachman, Supriyati, Saptana, Benny Rachman Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian Jl. A. Yani No. 70 Bogor 16161 ABSTRACT

Lebih terperinci

III METODE PENELITIAN. Daya saing adalah suatu konsep yang menyatakan kemampuan suatu produsen

III METODE PENELITIAN. Daya saing adalah suatu konsep yang menyatakan kemampuan suatu produsen III METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Daya saing adalah suatu konsep yang menyatakan kemampuan suatu produsen untuk memproduksi suatu komoditas dengan mutu yang cukup baik dan

Lebih terperinci

Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Daya Saing Komoditas Kelapa di Kabupaten Flores Timur

Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Daya Saing Komoditas Kelapa di Kabupaten Flores Timur Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Daya Saing Komoditas Kelapa di Kabupaten Flores Timur Krisna Setiawan* Haryati M. Sengadji* Program Studi Manajemen Agribisnis, Politeknik Pertanian Negeri

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KEDELAI VS PENGUSAHAAN KEDELAI DI KABUPATEN LAMONGAN, JAWA TIMUR

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KEDELAI VS PENGUSAHAAN KEDELAI DI KABUPATEN LAMONGAN, JAWA TIMUR ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KEDELAI VS PENGUSAHAAN KEDELAI DI KABUPATEN LAMONGAN, JAWA TIMUR Syahrul Ganda Sukmaya 1), Dwi Rachmina 2), dan Saptana 3) 1) Program

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP JERUK SIAM

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP JERUK SIAM VI ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP JERUK SIAM 6.1. Analisis Daya Saing Analisis keunggulan kompetitif dan komparatif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan kemampuan jeruk

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional ini mencakup pengertian yang. jagung per musim tanam yang, diukur dalam satuan ton.

III. METODOLOGI PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional ini mencakup pengertian yang. jagung per musim tanam yang, diukur dalam satuan ton. III. METODOLOGI PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan definisi operasional ini mencakup pengertian yang digunakan untuk mendapatkan data dan melakukan analisis terhadap tujuan

Lebih terperinci

VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK

VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK 6.1 Analisis Keuntungan Sistem Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok Analisis keunggulan komparatif

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING AGRIBISNIS BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO

ANALISIS DAYA SAING AGRIBISNIS BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO ANALISIS DAYA SAING AGRIBISNIS BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO COMPETITIVENESS ANALYSIS OF SHALLOTS AGRIBUSINESS IN PROBOLINGGO REGENCY Competitiveness analysis of shallot business in Probolinggo

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN 45 IV. METODE PENELITIAN 4.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kepulauan Tanakeke, Kabupaten Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan. Pemilihan daerah tersebut dilakukan secara purposive

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITI PADI SAWAH DI KECAMATAN PERBAUNGAN KABUPATEN SERDANG BEDAGAI ABSTRACT

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITI PADI SAWAH DI KECAMATAN PERBAUNGAN KABUPATEN SERDANG BEDAGAI ABSTRACT ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITI PADI SAWAH DI KECAMATAN PERBAUNGAN KABUPATEN SERDANG BEDAGAI Denti Juli Irawati*), Luhut Sihombing **), Rahmanta Ginting***) *) Alumni

Lebih terperinci

VI. ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN SIAM DEDDY FISH FARM

VI. ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN SIAM DEDDY FISH FARM VI. ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN SIAM DEDDY FISH FARM Analisis keunggulan komparatif dan kompetitif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan prospek serta

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN 28 IV. METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan dari Bulan Pebruari sampai April 2009, mengambil lokasi di 5 Kecamatan pada wilayah zona lahan kering dataran rendah

Lebih terperinci

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan tujuan penelitian dan hasil analisis, maka pada penelitian ini

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan tujuan penelitian dan hasil analisis, maka pada penelitian ini BAB VII SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan tujuan penelitian dan hasil analisis, maka pada penelitian ini diperoleh beberapa simpulan, implikasi kebijakan dan saran-saran seperti berikut. 7.1 Simpulan 1. Dari

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN 51 IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di tiga tempat di Provinsi Bangka Belitung yaitu Kabupaten Bangka Selatan, Kabupaten Bangka Barat, dan Kabupaten Belitung.

Lebih terperinci

sesuaian harga yang diterima dengan cost yang dikeluarkan. Apalagi saat ini,

sesuaian harga yang diterima dengan cost yang dikeluarkan. Apalagi saat ini, RINGKASAN Kendati Jambu Mete tergolong dalam komoditas unggulan, namun dalam kenyataannya tidak bisa dihindari dan kerapkali mengalami guncangan pasar, yang akhirnya pelaku (masyarakat) yang terlibat dalam

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN

IV METODE PENELITIAN IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Desa Cilembu (Kecamatan Tanjungsari) dan Desa Nagarawangi (Kecamatan Rancakalong) Kabupaten Sumedang, Propinsi Jawa Barat.

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING APEL JAWA TIMUR (Studi Kasus Apel Batu, Nongkojajar dan Poncokusumo)

ANALISIS DAYA SAING APEL JAWA TIMUR (Studi Kasus Apel Batu, Nongkojajar dan Poncokusumo) ANALISIS DAYA SAING APEL JAWA TIMUR (Studi Kasus Apel Batu, Nongkojajar dan Poncokusumo) Novi Itsna Hidayati 1), Teguh Sarwo Aji 2) Dosen Fakultas Pertanian Universitas Yudharta Pasuruan ABSTRAK Apel yang

Lebih terperinci

3.5 Teknik Pengumpulan data Pembatasan Masalah Definisi Operasional Metode Analisis Data

3.5 Teknik Pengumpulan data Pembatasan Masalah Definisi Operasional Metode Analisis Data DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... ii HALAMAN PERNYATAAN... iii KATA PENGANTAR... iv DAFTAR ISI... vi DAFTAR TABEL... ix DAFTAR GAMBAR... xi DAFTAR LAMPIRAN... xii ABSTRAK... xiii ABSTRACT...

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Definisi operasional dan konsep dasar ini mencakup semua pengertian yang

III. METODE PENELITIAN. Definisi operasional dan konsep dasar ini mencakup semua pengertian yang III. METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional dan Konsep Dasar Definisi operasional dan konsep dasar ini mencakup semua pengertian yang dipergunakan untuk memperoleh data yang akan dianalisis sesuai dengan

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN. Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Pemilihan lokasi

IV. METODE PENELITIAN. Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Pemilihan lokasi IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Studi kasus penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Sukaresmi dan Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Pemilihan lokasi dilakukan secara purpossive

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu Menurut penelitian Fery (2013) tentang analisis daya saing usahatani kopi Robusta di kabupaten Rejang Lebong dengan menggunakan metode Policy Analiysis

Lebih terperinci

Performa Dayasaing Komoditas Padi. Commodities Rice Competitiveness Performance. Benny Rachman

Performa Dayasaing Komoditas Padi. Commodities Rice Competitiveness Performance. Benny Rachman Jurnal Penelitian Pertanian Terapan Vol. 11 (2): 84-91 ISSN 141-52 Performa Dayasaing Komoditas Padi Commodities Rice Competitiveness Performance Benny Rachman Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Usaha Sapi Potong di Kabupaten Indrgiri Hulu 5.1.1. Profitabilitas Privat dan Sosial Usaha Sapi Potong Usaha peternakan sapi

Lebih terperinci

KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN DAMPAK KEBIJAKAN PENGURANGAN SUBSIDI INPUT TERHADAP PENGEMBANGAN KOMODITAS KENTANG DI KOTA BATU

KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN DAMPAK KEBIJAKAN PENGURANGAN SUBSIDI INPUT TERHADAP PENGEMBANGAN KOMODITAS KENTANG DI KOTA BATU Habitat Volume XXIV, No. 2, Bulan Agustus 2013 ISSN: 0853-5167 KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN DAMPAK KEBIJAKAN PENGURANGAN SUBSIDI INPUT TERHADAP PENGEMBANGAN KOMODITAS KENTANG DI KOTA BATU COMPARATIVE ADVANTAGE

Lebih terperinci

Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 12 No. 2, Agustus 2007 Hal: namun sering harganya melambung tinggi, sehingga tidak terjangkau oleh nelayan. Pe

Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 12 No. 2, Agustus 2007 Hal: namun sering harganya melambung tinggi, sehingga tidak terjangkau oleh nelayan. Pe Jurnal EKONOMI PEMBANGUNAN Kajian Ekonomi Negara Berkembang Hal: 141 147 EFISIENSI EKONOMI DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP USAHA PENANGKAPAN LEMURU DI MUNCAR, JAWA TIMUR Mira Balai Besar Riset

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PRODUKSI KAKAO DI JAWA TIMUR

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PRODUKSI KAKAO DI JAWA TIMUR ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PRODUKSI KAKAO DI JAWA TIMUR Dede Haryono 1, Soetriono 2, Rudi Hartadi 2, Joni Murti Mulyo Aji 2 1 Program Studi Agribisnis Program Magister

Lebih terperinci

ANALISIS SENSITIVITAS

ANALISIS SENSITIVITAS VII ANALISIS SENSITIVITAS 7.1. Analisis Sensitivitas Analisis sensitivitas dilakukan untuk mengetahui bagaimana pengaruh dari perubahan kurs mata uang rupiah, harga jeruk siam dan harga pupuk bersubsidi

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

METODE PENELITIAN. 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan

Lebih terperinci

DAMPAK KEBIJAKAN KREDIT DAN SUBSIDI PUPUK TERHADAP KEUNTUNGAN USAHATANI PADI. I Made Tamba Ni Luh Pastini

DAMPAK KEBIJAKAN KREDIT DAN SUBSIDI PUPUK TERHADAP KEUNTUNGAN USAHATANI PADI. I Made Tamba Ni Luh Pastini DAMPAK KEBIJAKAN KREDIT DAN SUBSIDI PUPUK TERHADAP KEUNTUNGAN USAHATANI PADI I Made Tamba Ni Luh Pastini ABSTRACT Rice is high-valued commodities since pre-independence era. The paper aims to analyze impact

Lebih terperinci

Volume 12, Nomor 1, Hal ISSN Januari - Juni 2010

Volume 12, Nomor 1, Hal ISSN Januari - Juni 2010 Volume 12, Nomor 1, Hal. 55-62 ISSN 0852-8349 Januari - Juni 2010 DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP DAYA SAING DAN EFISIENSI SERTA KEUNGGULAN KOMPETITIF DAN KOMPARATIF USAHA TERNAK SAPI RAKYAT DI KAWASAN

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Pasir Penyu dan Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Kabupaten Indragiri Hulu terdiri

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. A. Metode Dasar Penelitian

METODE PENELITIAN. A. Metode Dasar Penelitian II. METODE PENELITIAN A. Metode Dasar Penelitian Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode deskriptif analitis. Menurut Nazir (2014) Metode deskriptif adalah suatu metode dalam

Lebih terperinci

POLICY BRIEF DAYA SAING KOMODITAS PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI DALAM KONTEKS PENCAPAIAN SWASEMBADA PANGAN. Dr. Adang Agustian

POLICY BRIEF DAYA SAING KOMODITAS PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI DALAM KONTEKS PENCAPAIAN SWASEMBADA PANGAN. Dr. Adang Agustian PENDAHULUAN POLICY BRIEF DAYA SAING KOMODITAS PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI DALAM KONTEKS PENCAPAIAN SWASEMBADA PANGAN Dr. Adang Agustian 1) Salah satu peran strategis sektor pertanian dalam perekonomian nasional

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING USAHATANI KELAPA SAWIT DI KABUPATEN MUKOMUKO (STUDI KASUS DESA BUMI MULYA)

ANALISIS DAYA SAING USAHATANI KELAPA SAWIT DI KABUPATEN MUKOMUKO (STUDI KASUS DESA BUMI MULYA) ANALISIS DAYA SAING USAHATANI KELAPA SAWIT DI KABUPATEN MUKOMUKO (STUDI KASUS DESA BUMI MULYA) ANALYSIS OF PALM OIL FARMING COMPETITIVENESS IN MUKOMUKO DISTRICT (CASE STUDY VILLAGE BUMI MULYA) Aprizal,

Lebih terperinci

DAYA SAING JAGUNG, KETELA POHON, DAN KETELA RAMBAT PRODUKSI LAHAN KERING DI KECAMATAN KUBU, KABUPATEN KARANGASEM PROVINSI BALI

DAYA SAING JAGUNG, KETELA POHON, DAN KETELA RAMBAT PRODUKSI LAHAN KERING DI KECAMATAN KUBU, KABUPATEN KARANGASEM PROVINSI BALI DAYA SAING JAGUNG, KETELA POHON, DAN KETELA RAMBAT PRODUKSI LAHAN KERING DI KECAMATAN KUBU, KABUPATEN KARANGASEM PROVINSI BALI I Made Tamba Universitas Mahasaraswati Denpasar ABSTRAK Jagung, ketela pohon

Lebih terperinci

DAMPAK KEBIJAKAN PEMBATASAN IMPOR BAWANG MERAH TERHADAP USAHATANI BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO

DAMPAK KEBIJAKAN PEMBATASAN IMPOR BAWANG MERAH TERHADAP USAHATANI BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO DAMPAK KEBIJAKAN PEMBATASAN IMPOR BAWANG MERAH TERHADAP USAHATANI BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO Policy Impact of Import Restriction of Shallot on Farm in Probolinggo District Mohammad Wahyudin,

Lebih terperinci

DAYA SAING KACANG TANAH PRODUKSI KECAMATAN KUBU KABUPATEN KARANGASEM

DAYA SAING KACANG TANAH PRODUKSI KECAMATAN KUBU KABUPATEN KARANGASEM 1043 DAYA SAING KACANG TANAH PRODUKSI KECAMATAN KUBU KABUPATEN KARANGASEM I Made Tamba, I Made Sukerta, I Ketut Widnyana Universitas Mahasaraswati made.tamba125@gmail.com ABSTRAK Pengembangan usahatani

Lebih terperinci

KEUNGGULAN KOMPARATIF USAHATANI JAGUNG MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN DI PROVINSI NTT. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, 2

KEUNGGULAN KOMPARATIF USAHATANI JAGUNG MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN DI PROVINSI NTT. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, 2 KEUNGGULAN KOMPARATIF USAHATANI JAGUNG MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN DI PROVINSI NTT Yusuf 1 dan Rachmat Hendayana 2 1 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, 2 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi

Lebih terperinci

MACAM-MACAM ANALISA USAHATANI

MACAM-MACAM ANALISA USAHATANI MACAM-MACAM ANALISA USAHATANI Pendahuluan Sebelum melakukan analisis, data yang dipakai harus dikelompokkan dahulu : 1. Data Parametrik : data yang terukur dan dapat dibagi, contoh; analisis menggunakan

Lebih terperinci

14,3 13,1 11,1 8,9 27,4 26,4 4. 1,0 1,0 9,9 6. 7,0 15,6 16,1 6,5 6,2 8,5 8,3 10,0

14,3 13,1 11,1 8,9 27,4 26,4 4. 1,0 1,0 9,9 6. 7,0 15,6 16,1 6,5 6,2 8,5 8,3 10,0 114 Lampiran 1. Distribusi Persentase Produk Domestik Bruto (PDB) Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Sektor) No. Lapangan Usaha (Sektor) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 1. Pertanian, Peternakan,

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN 23 III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Daya Saing Daya saing merupakan kemampuan suatu produsen untuk memproduksi suatu komoditi dengan mutu yang baik dan biaya produksi

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING KEDELAI DI JAWA TIMUR

ANALISIS DAYA SAING KEDELAI DI JAWA TIMUR ANALISIS DAYA SAING KEDELAI DI JAWA TIMUR MUHAMMAD FIRDAUS *) *) Staf Pengajar pada STIE Mandala Jember Alamat. Jl Sumatera Jember 68121 ABSTRACT The objective of the study were (1) to know the trend of

Lebih terperinci

Pengkajian Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Usahatani Padi dan Jeruk Lahan Gambut Kabupaten Barito Kuala Kalimantan Selatan

Pengkajian Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Usahatani Padi dan Jeruk Lahan Gambut Kabupaten Barito Kuala Kalimantan Selatan Pengkajian Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Usahatani Padi dan Jeruk Lahan Gambut Kabupaten Barito Kuala Kalimantan Selatan Muhammad Husaini Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian

Lebih terperinci

Oleh: Tobari dan Budi Dharmawan Fakultas Pertanian Unsoed Purwokerto (Diterima: 11 September 2004, disetujui: 21 September 2004)

Oleh: Tobari dan Budi Dharmawan Fakultas Pertanian Unsoed Purwokerto (Diterima: 11 September 2004, disetujui: 21 September 2004) PROFIL PENGEMBANGAN DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN SEKTOR PERTANIAN DI KABUPATEN PURBALINGGA JAWA TENGAH (Tinjauan pada Pengembangan Komoditas Jagung) PROFILE OF POLICY AND AGRICULTURE DEVELOPMENT IN PURBALINGGA

Lebih terperinci

VIII. ANALISIS KEBIJAKAN ATAS PERUBAHAN HARGA OUTPUT/ INPUT, PENGELUARAN RISET JAGUNG DAN INFRASTRUKTUR JALAN

VIII. ANALISIS KEBIJAKAN ATAS PERUBAHAN HARGA OUTPUT/ INPUT, PENGELUARAN RISET JAGUNG DAN INFRASTRUKTUR JALAN VIII. ANALISIS KEBIJAKAN ATAS PERUBAHAN HARGA OUTPUT/ INPUT, PENGELUARAN RISET JAGUNG DAN INFRASTRUKTUR JALAN 8.1. Pengaruh Perubahan Harga Output dan Harga Input terhadap Penawaran Output dan Permintaan

Lebih terperinci

ANALISIS DAYASAING USAHATANI JAGUNG DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW PROPINSI SULAWESI UTARA

ANALISIS DAYASAING USAHATANI JAGUNG DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW PROPINSI SULAWESI UTARA ANALISIS DAYASAING USAHATANI JAGUNG DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW PROPINSI SULAWESI UTARA Zulkifli Mantau, Bahtiar, Aryanto Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Gorontalo Jl. Kopi No.270 Kec. Tilongkabila

Lebih terperinci

DAMPAK DEPRESIASI RUPIAH TERHADAP DAYA SAING DAN TINGKAT PROTEKSI KOMODITAS PADI DI KABUPATEN BADUNG

DAMPAK DEPRESIASI RUPIAH TERHADAP DAYA SAING DAN TINGKAT PROTEKSI KOMODITAS PADI DI KABUPATEN BADUNG DAMPAK DEPRESIASI RUPIAH TERHADAP DAYA SAING DAN TINGKAT PROTEKSI KOMODITAS PADI DI KABUPATEN BADUNG Jarek Putradi Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Badung, Bali jarek.putradi@gmail.com

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING USAHATANI KOPI ROBUSTA (COFFEA CANEPHORA) DI KABUPATEN REJANG LEBONG

ANALISIS DAYA SAING USAHATANI KOPI ROBUSTA (COFFEA CANEPHORA) DI KABUPATEN REJANG LEBONG ANALISIS DAYA SAING USAHATANI KOPI ROBUSTA (COFFEA CANEPHORA) DI KABUPATEN REJANG LEBONG The Competitiveness of Robusta Coffee Farming in Rejang Lebong District Fery Murtiningrum, Putri Suci Asriani, dan

Lebih terperinci

Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Beras Organik Ekspor (Suatu Kasus di Gapoktan Simpatik Kabupaten Tasikmalaya)

Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Beras Organik Ekspor (Suatu Kasus di Gapoktan Simpatik Kabupaten Tasikmalaya) Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Beras Organik Ekspor (Suatu Kasus di Gapoktan Simpatik Kabupaten Tasikmalaya) Tirsa Neyatri Bandrang, Ronnie S. Natawidjaja, Maman Karmana Program Magister

Lebih terperinci

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHATANI JAGUNG DAN PADI DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW PROPINSI SULAWESI UTARA ZULKIFLI MANTAU

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHATANI JAGUNG DAN PADI DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW PROPINSI SULAWESI UTARA ZULKIFLI MANTAU ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHATANI JAGUNG DAN PADI DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW PROPINSI SULAWESI UTARA ZULKIFLI MANTAU SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009 SURAT PERNYATAAN

Lebih terperinci

Jurnal Agribisnis dan Ekonomi Pertanian (Volume 3. No 2 Desember 2009)

Jurnal Agribisnis dan Ekonomi Pertanian (Volume 3. No 2 Desember 2009) 58 ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF KAIN TENUN SUTERA PRODUKSI KABUPATEN GARUT Dewi Gustiani 1 dan Parulian Hutagaol 2 1 Alumni Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen - IPB

Lebih terperinci

SENSITIVITAS DAYA SAING JERUK LOKAL KABUPATEN JEMBER [SENSITIVITY OF JEMBER LOCAL CITRUS COMPETITIVENESS]

SENSITIVITAS DAYA SAING JERUK LOKAL KABUPATEN JEMBER [SENSITIVITY OF JEMBER LOCAL CITRUS COMPETITIVENESS] SENSITIVITAS DAYA SAING JERUK LOKAL KABUPATEN JEMBER [SENSITIVITY OF JEMBER LOCAL CITRUS COMPETITIVENESS] Henik Prayuginingsih 1) dan Oktarina 1) 1) Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Jember

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. peneliti menggunakan konsep dasar dan batasan oprasional sebagai berikut:

III. METODE PENELITIAN. peneliti menggunakan konsep dasar dan batasan oprasional sebagai berikut: III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Batasan Operasional Agar tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda pada penelitian ini, maka peneliti menggunakan konsep dasar dan batasan oprasional sebagai

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan dan menganalisis data sesuai dengan tujuan penelitian.

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan dan menganalisis data sesuai dengan tujuan penelitian. 29 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan definisi operasional mencakup pengertian yang dipergunakan untuk mendapatkan dan menganalisis data sesuai dengan tujuan

Lebih terperinci

VII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING LADA PUTIH

VII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING LADA PUTIH 93 VII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING LADA PUTIH 7.1. Justifikasi Harga Bayangan Penelitian ini, untuk setiap input dan output ditetapkan dua tingkat harga, yaitu harga

Lebih terperinci

VII. DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DAN FAKTOR LAINNYA TERHADAP KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF PADA USAHATANI JAMBU BIJI

VII. DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DAN FAKTOR LAINNYA TERHADAP KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF PADA USAHATANI JAMBU BIJI VII. DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DAN FAKTOR LAINNYA TERHADAP KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF PADA USAHATANI JAMBU BIJI Analisis sensitivitas perlu dilakukan karena analisis dalam metode

Lebih terperinci

Jurnal Agribisnis dan Ekonomi Pertanian (Volume 2. No 1 Juni 2008)

Jurnal Agribisnis dan Ekonomi Pertanian (Volume 2. No 1 Juni 2008) 1 ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF PENGUSAHAAN KOMODITI JAGUNG DI KABUPATEN GROBOGAN A. Faroby Falatehan 1 dan Arif Wibowo 2 1 Departemen Ekonomi Sumberdaya Lingkungan, Fakultas Ekonomi dan

Lebih terperinci

STUDI KELAYAKAN BISNIS ( Domestic Resource Cost )

STUDI KELAYAKAN BISNIS ( Domestic Resource Cost ) STUDI KELAYAKAN BISNIS ( Domestic Resource Cost ) Oleh: Dr Rita Nurmalina Suryana INSTITUT PERTANIAN BOGOR Domestic Resource Cost Of Earning or Saving a Unit of Foreign Exchange (Biaya Sumberdaya Domestik

Lebih terperinci

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Harga Gula Domestik

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Harga Gula Domestik II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Harga Gula Domestik Menurut Susila (2005), Indonesia merupakan negara kecil dalam perdagangan dunia dengan pangsa impor sebesar 3,57 persen dari impor gula dunia sehingga Indonesia

Lebih terperinci

Lampiran 1. Syarat Mutu Lada Putih Mutu I dan Mutu II. binatang

Lampiran 1. Syarat Mutu Lada Putih Mutu I dan Mutu II. binatang 131 Lampiran 1. Syarat Mutu Lada Putih Mutu I dan Mutu II No Jenis Uji Satuan 1 Cemaran Binatang 2 Warna 3 Kadar Benda Asing (b/b) 4 Kadar Biji Enteng (b/b) 5 Kadar Cemaran Kapang 6 Kadar Warna Kehitam-hitaman

Lebih terperinci

ANALISIS DAYASAING KOMODITI TEMBAKAU RAKYAT DI KLATEN JAWA TENGAH PENDAHULUAN

ANALISIS DAYASAING KOMODITI TEMBAKAU RAKYAT DI KLATEN JAWA TENGAH PENDAHULUAN ANALISIS DAYASAING KOMODITI TEMBAKAU RAKYAT DI KLATEN JAWA TENGAH SAPTANA, SUPENA FRIYATNO DAN TRI BASTUTI P. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor ABSTRACT Historically tobacco

Lebih terperinci

Lampiran 1. Perhitungan Premium Nilai Tukar dan Nilai Tukar Bayangan Tahun 2009

Lampiran 1. Perhitungan Premium Nilai Tukar dan Nilai Tukar Bayangan Tahun 2009 LAMPIRAN Lampiran 1. Perhitungan Premium Nilai Tukar dan Nilai Tukar Bayangan Tahun 2009 Uraian Jumlah (Rp) Total Ekspor (Xt) 1,211,049,484,895,820.00 Total Impor (Mt) 1,006,479,967,445,610.00 Penerimaan

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS KEDELAI MENURUT AGRO EKOSISTEM: KASUS DI TIGA PROVINSI DI INDONESIA

ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS KEDELAI MENURUT AGRO EKOSISTEM: KASUS DI TIGA PROVINSI DI INDONESIA ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS KEDELAI MENURUT AGRO EKOSISTEM: KASUS DI TIGA PROVINSI DI INDONESIA The Analysis of Competitiveness of the Soybean Commodity According to Agro the Ecosystem: the Case in Three

Lebih terperinci

ANALISIS USAHATANI DAN KESEJAHTERAAN PETANI PADI, JAGUNG DAN KEDELE

ANALISIS USAHATANI DAN KESEJAHTERAAN PETANI PADI, JAGUNG DAN KEDELE ANALISIS USAHATANI DAN KESEJAHTERAAN PETANI PADI, JAGUNG DAN KEDELE Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Kementerian Pertanian Februari 2011 ANALISIS USAHATANI DAN KESEJAHTERAAN PETANI PADI, JAGUNG

Lebih terperinci

JIIA, VOLUME 1, No. 4, OKTOBER 2013

JIIA, VOLUME 1, No. 4, OKTOBER 2013 DAYA SAINGJAGUNG DI KECAMATAN SEKAMPUNG UDIK KABUPATEN LAMPUNG TIMUR (Competitiveness of Corn in Sekampung Udik District of East Lampung Regency) Cahya Indah Franiawati, Wan Abbas Zakaria, Umi Kalsum Jurusan

Lebih terperinci

Analisis Tingkat Keuntungan Usahatani Padi Sawah sebagai Dampak dari adanya Subsidi Pupuk di Kabupaten Tabanan

Analisis Tingkat Keuntungan Usahatani Padi Sawah sebagai Dampak dari adanya Subsidi Pupuk di Kabupaten Tabanan Analisis Tingkat Keuntungan Usahatani Padi Sawah sebagai Dampak dari adanya Subsidi Pupuk di Kabupaten Tabanan NI LUH PRIMA KEMALA DEWI Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Univesitas Udayana Jalan

Lebih terperinci

EFISIENSI DAN DAYASAING USAHATANI TEBU DAN TEMBAKAU DI JAWA TIMUR DAN JAWA TENGAH

EFISIENSI DAN DAYASAING USAHATANI TEBU DAN TEMBAKAU DI JAWA TIMUR DAN JAWA TENGAH EFISIENSI DAN DAYASAING USAHATANI TEBU DAN TEMBAKAU DI JAWA TIMUR DAN JAWA TENGAH Saptana, Supena, dan Tri Bastuti Purwantini Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian Jl. A. Yani No.

Lebih terperinci

DAFTAR TABEL. 1. Produksi manggis di Pulau Sumatera tahun Produksi manggis kabupaten di Provinsi Lampung tahun

DAFTAR TABEL. 1. Produksi manggis di Pulau Sumatera tahun Produksi manggis kabupaten di Provinsi Lampung tahun DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1. Produksi manggis di Pulau Sumatera tahun 2012... 5 2. Produksi manggis kabupaten di Provinsi Lampung tahun 2010-2012... 6 3. Luas panen, produktivitas, dan produksi manggis

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Analisis Daya Saing Dalam sistem perekonomian dunia yang semakin terbuka, faktor-faktor yang mempengaruhi perdagangan dunia (ekspor dan impor)

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. 4.1 METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan

Lebih terperinci

PENENTUAN PRODUK UNGGULAN PADA KAWASAN MINAPOLITAN DI KABUPATEN GIANYAR

PENENTUAN PRODUK UNGGULAN PADA KAWASAN MINAPOLITAN DI KABUPATEN GIANYAR PENENTUAN PRODUK UNGGULAN PADA KAWASAN MINAPOLITAN DI KABUPATEN GIANYAR I Ketut Arnawa Program Studi Agribisnis Universitas Mahasaraswati Denpasar E-mail: arnawa_62@yahoo.co.id ABSTRACT The main objective

Lebih terperinci

DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PENGEMBANGAN USAHATANI BAWANG MERAH DI KECAMATAN BULAKAMBA KABUPATEN BREBES

DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PENGEMBANGAN USAHATANI BAWANG MERAH DI KECAMATAN BULAKAMBA KABUPATEN BREBES Habitat Volume XXV, No. 1, Bulan April 2014 ISSN: 0853-5167 DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PENGEMBANGAN USAHATANI BAWANG MERAH DI KECAMATAN BULAKAMBA KABUPATEN BREBES THE IMPACTS OF GOVERNMENT S

Lebih terperinci

Keunggulan Komparatif dan Kompetitif dalam Produksi Padi di Kabupaten Lampung Tengah Propinsi Lampung

Keunggulan Komparatif dan Kompetitif dalam Produksi Padi di Kabupaten Lampung Tengah Propinsi Lampung Jurnal Penelitian Pertanian Terapan Vol.10 (3): 185-199 ISSN 1410-5020 Keunggulan Komparatif dan Kompetitif dalam Produksi Padi di Kabupaten Lampung Tengah Propinsi Lampung Comparative Advantage and Competitive

Lebih terperinci

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF JERUK SIAM DI SENTRA PRODUKSI

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF JERUK SIAM DI SENTRA PRODUKSI ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF JERUK SIAM DI SENTRA PRODUKSI ANALYSIS OF CITRUS COMPARATIF AND COMPETITIVE ADVANTAGE IN PRODUCTION CENTRE Apri Laila Sayekti* dan Lizia Zamzami** Puslitbang

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN KAWASAN AGRIBISNIS JAGUNG DAN MANGGA DI KABUPATEN BLORA Development of Corn and Mango Agribusiness Region in Blora District

PENGEMBANGAN KAWASAN AGRIBISNIS JAGUNG DAN MANGGA DI KABUPATEN BLORA Development of Corn and Mango Agribusiness Region in Blora District PENGEMBANGAN KAWASAN AGRIBISNIS JAGUNG DAN MANGGA DI KABUPATEN BLORA Development of Corn and Mango Agribusiness Region in Blora District Ernoiz Antriyandarti 1 dan Susi Wuri Ani 1 1 Program Studi Agribisnis,

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING USAHA PEMBESARAN IKAN NILA PETANI PEMODAL KECIL DI KABUPATEN MUSI RAWAS

ANALISIS DAYA SAING USAHA PEMBESARAN IKAN NILA PETANI PEMODAL KECIL DI KABUPATEN MUSI RAWAS ANALISIS DAYA SAING USAHA PEMBESARAN IKAN NILA PETANI PEMODAL KECIL DI KABUPATEN MUSI RAWAS Competitiveness Analysis of Tilapia Grower Business of Small Farmers in Musi Rawas Regency Verry Yarda Ningsih,

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Budidaya tebu adalah proses pengelolaan lingkungan tumbuh tanaman

TINJAUAN PUSTAKA. Budidaya tebu adalah proses pengelolaan lingkungan tumbuh tanaman 24 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Usahatani Tebu 2.1.1 Budidaya Tebu Budidaya tebu adalah proses pengelolaan lingkungan tumbuh tanaman sehingga tanaman dapat tumbuh dengan optimum dan dicapai hasil yang diharapkan.

Lebih terperinci

BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN. menembus dengan volume 67 ton biji gelondong kering (Direktorat Jenderal

BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN. menembus dengan volume 67 ton biji gelondong kering (Direktorat Jenderal BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN Perkembangan ekspor jambu mete di Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem selama Tahun 2009 mencapai volume sebanyak 57 ton biji gelondong kering dan diharapkan pada Tahun 2010

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN. Fish Farm) dilaksanakan di lokasi usaha yang bersangkutan yaitu di daerah

IV. METODE PENELITIAN. Fish Farm) dilaksanakan di lokasi usaha yang bersangkutan yaitu di daerah IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Studi kasus penelitian mengenai Analisis Keunggulan Komparatif dan Kompetitif Usaha Pembenihan Ikan Patin Siam (Studi Kasus : Perusahaan Deddy Fish Farm) dilaksanakan

Lebih terperinci

IX. KESIMPULAN DAN SARAN

IX. KESIMPULAN DAN SARAN IX. KESIMPULAN DAN SARAN 9.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa: 1. Penawaran output jagung baik di Jawa Timur maupun di Jawa Barat bersifat elastis

Lebih terperinci

KEUNGGULAN KOMPARATIF KOMODITAS JAGUNG DI KABUPATEN KEDIRI

KEUNGGULAN KOMPARATIF KOMODITAS JAGUNG DI KABUPATEN KEDIRI KEUNGGULAN KOMPARATIF KOMODITAS JAGUNG DI KABUPATEN KEDIRI NAVITA MAHARANI Prodi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Islam Kadiri, Kediri fp.uniska@gmail.com ABSTRAK Penelitian ini dilakukan

Lebih terperinci

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHATANI PALA (STUDI KASUS: KABUPATEN BOGOR DAN SUKABUMI)

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHATANI PALA (STUDI KASUS: KABUPATEN BOGOR DAN SUKABUMI) Analisis Keunggulan Komparatif dan Kompetitif Usahatani Pala (Studi Kasus: Kabupaten Bogor dan Sukabumi) (Abdul Muis Hasibuan, Bedy Sudjarmoko, dan Dewi Listyati) ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS KELAPA DI KABUPATEN KUPANG

ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS KELAPA DI KABUPATEN KUPANG ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS KELAPA DI KABUPATEN KUPANG Competitiveness Analysis of Coconut Commodities in Kupang District Krisna Setiawan 1, Slamet Hartono 2, Any Suryantini 2 1 Politeknik Pertanian

Lebih terperinci

ANALISIS KEBIJAKAN KOPI ROBUSTA DALAM UPAYA MENINGKATKAN DAYA SAING DAN PENGUATAN REVITALISASI PERKEBUNAN

ANALISIS KEBIJAKAN KOPI ROBUSTA DALAM UPAYA MENINGKATKAN DAYA SAING DAN PENGUATAN REVITALISASI PERKEBUNAN ANALISIS KEBIJAKAN KOPI ROBUSTA DALAM UPAYA MENINGKATKAN DAYA SAING DAN PENGUATAN REVITALISASI PERKEBUNAN Anik Suwandari dan Soetriono Dosen Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian/ Agribisnis Fakultas Pertanian

Lebih terperinci

EKONOMI KELEMBAGAAN SISTEM USAHATANI PADI DI INDONESIA 1)

EKONOMI KELEMBAGAAN SISTEM USAHATANI PADI DI INDONESIA 1) EKONOMI KELEMBAGAAN SISTEM USAHATANI PADI DI INDONESIA 1) BENNY RACHMAN, SUPRIYATI, DAN SUPENA 2) Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor ABSTRACT This study was conducted in five regencies/rural

Lebih terperinci

DAYA SAING USAHATANI LADA DI LAMPUNG

DAYA SAING USAHATANI LADA DI LAMPUNG DAYA SAING USAHATANI LADA DI LAMPUNG Abdul Muis Hasibuan dan Bedy Sudjarmoko Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri ABSTRAK Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kelayakan dan daya

Lebih terperinci