VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "VI. HASIL DAN PEMBAHASAN"

Transkripsi

1 VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1. Analisis Daya Saing Analisis keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan prospek serta kemampuan komoditi gula lokal yang dihasilkan oleh perkebunan tebu dalam negeri dalam bersaing dengan gula impor sebagai produk substitusi. Oleh karena itu daya saing gula lokal yang dihasilkan oleh petani tebu di lokasi penelitian dianalisis dengan menggunakan Matriks Analisis Kebijakan Pemerintah (PAM). Matirks ini disusun berdasarkan data penerimaan dan biaya produksi yang keseluruhanya terbagi dalam dua bagian yaitu harga privat (finansial) dan harga ekonomi (social opportunity cost). Masing-masing biaya produksi pada harga privat dan ekonomi dibagi menjadi input asing dan domestik. Adapun hasil analisis yang diperoleh dapat dilihat pada tabel 12. Tabel 12. Hasil Tabulasi PAM pada Kondisi Tarif Impor Rp 400/kg (Rp/ha) Keterangan Penerimaan Biaya Input tradable non tradable Keuntungan Nilai Finansial , , , ,52 Nilai Ekonomi , , , ,77 Dampak Kebijakan , , , ,25 Divergensi yang dihasilkan pada Matriks Analisis Kebijakan Pemerintah bernilai negatif untuk divergensi penerimaan, divergensi pada biaya input tradabel, dan divergensi pendapatan. Sedangkan divergensi pada biaya input non tradable (faktor domestik) bernilai positif. Divergensi negatif dengan nilai Rp ,79 pada penerimaan output terjadi karena harga sosial gula lebih tinggi dari harga yang diterima petani. Hal ini terjadi karena harga sosial gula dihitung berdasarkan harga gula impor yang lebih tinggi daripada harga gula lokal. Divergesi negatif pada biaya input tradable sebesar Rp ,64 terjadi karena harga sosial input tradable seperti pupuk lebih tinggi dari harga privatnya. Walaupun input tradable berupa pestisida memiliki harga sosial yang lebih rendah dari harga privatnya, secara keseluruhan harga dari input-input tradable lebih 50

2 besar dari harga yang diterima petani. Hal ini mengindikasikan adanya kebijakan pemerintah atau distorsi pasar yang mengakibatkan harga sosial input tradable lebih tinggi dari harga finansialnya seperti adanya subsidi pupuk, tarif impor, dan pajak pertambahan nilai. Di sisi lain divergensi positif senilai Rp ,10 pada biaya input non tradable (faktor domestik) terjadi karena biaya sosial faktor domestik lebih rendah daripada biaya privatnya. Hal ini menandakan bahwa petani harus mengeluarkan biaya lebih atas faktor domestik dibandingkan dengan biaya sosial faktor domestik yang bersangkutan. Hal tersebut diduga terjadi karena adanya kebijakan pemerintah atau kegagalan pasar pada penggunaan faktor domestik untuk pestisida. Selain itu penyebab divergensi positif pada biaya faktor domestik juga diakibatkan oleh pembayaran upah yang lebih tinggi dari harga sosialnya. Hal ini karena tenaga kerja yang digunakan dalam usahatani tebu merupakan tenaga kerja tidak tetap dan pada umumnya juga tidak terdidik sehingga perhitungan harga bayangan tenaga kerja tersebut mengacu pada Siregar (2009) yaitu sebesar 80 persen dari tingkat upah yang berlaku di lokasi penelitian. Divergensi negatif sebesar Rp ,25 pada pendapatan terjadi karena pedapatan finansial petani lebih kecil daripada pendapatan sosialnya. Hal ini merupakan akumulasi dari efek divergensi harga output dan biaya input baik tradable maupun non tradable. Berdasarkan matriks analisis kebijakan yang telah disusun dilakukan perhitungan-perhitungan untuk memperoleh nilai-nilai yang akan menjadi indikator tingkat keuntungan yang diperoleh dari usahatani tebu pada kondisi finansial dan ekonomi, nilai keuntungan komparatif dan kompetitif serta nilai untuk mengukur pengaruh kebijakan pemerintah pada output dan input. Berdasarkan Tabel 12. diperoleh indikator-indikator analisis matriks kebijakan yang disajikan pada Tabel

3 Tabel 13. Indikator-indikator dari Analisis Matriks Kebijakan Indikator Nilai Private Profitability (PP) Rp ,52 Private Cost Rasio (PCR) 0,94 Social Profitability (SP) Rp ,77 Domestic Resource Cost Ratio (DRC) 0,67 Input Transfer (IT) Rp ( ,64) Nominal Protection Coefficient on Tradable Input (NPCL) 0,83 Transfer Factor (TF) Rp ,10 Output Transfer (OT) Rp ( ,79) Nominal Protection Coefficient on Tradable Output (NPCO) 0,80 Effective Protection Coeffiient (EPC) 0,80 Net Transfer (NT) Rp( ,25) Prifitability Coefisien (PC) 0,16 Subsidy Ratio to Product (SRP) ( 0,26) Analisis Keunggulan Kompetitif Analisis keunggulan kompetitif terdiri dari analisis keuntungan privat (PP) dan rasio biaya privat (PCR). Keuntungan privat usahatani tebu merupakan selisih antara penerimaan dan biaya yang dikeluarkan per hektar lahan. Harga yang digunakan dalam analisis ini adalah harga aktual yang terjadi di pasar yang telah dipengaruhi oleh adanya kebijakan pemerintah, baik untuk input maupun output. Berdasarkan indikator pada Tabel 13, dapat dilihat penerimaan petani tebu per hektar secara finansial adalah Rp ,52. Biaya total yang dikeluarkan adalah Rp ,66 per hektar. Biaya tersebut terdiri dari biaya input tradable sebesar Rp ,71 serta biaya input non tradable sebesar Rp ,95. Oleh karena itu keuntungan privat yang diperoleh adalah sebesar Rp ,52 per hektar. Nilai keuntungan finansial yang lebih besar dari nol (PP > 0) tersebut menunjukan bahwa secara finansial usahatani tebu di wilayah kerja PG Sindang Laut menguntungkan untuk dilaksanakan secara privat dan dapat bersaing pada tingkat harga privat. 52

4 Selain menggunakan analisis keuntungan finansial, rasio biaya privat (PCR) juga dapat digunakan untuk menilai keunggulan kompetitif dari pengusahaan komoditi. Efisiensi finansial dapat diukur dengan menggunakan rasio biaya privat (PCR) yang merupakan rasio antara biaya input non tradable dengan selisih antara peneriman dan biaya input tradable pada tingkat harga yang berlaku. Nilai PCR menunjukan bagaimana alokasi sumberdaya diarahkan untuk mencapai efisiensi finansial dalam menjalankan usahatani tebu. Suatu aktivitas akan efisien secara finansial apabila nilai PCR yang diperoleh lebih kecil dari satu (PCR < 1). Semakin kecil nilai PCR yang diperoleh maka semakin tinggi tingkat keuntungan kompetitif yang dimiliki. Hasil analisis matriks PAM menunjukan bahwa nilai PCR adalah sebesar 0,94. Nilai tersebut menunjukan bahwa usahatani tebu di lokasi penelitian efisien secara finansial dan memiliki keunggulan secara kompetitf. Nilai PCR sebesar 0,94 berarti bahwa pada tingkat harga privat untuk meningkatkan nilai tambah output sebesar satu rupiah diperlukan tambahan biaya input non tradable (faktor domestik) sebesar Rp 0,94. Hal ini berarti penggunaan faktor domestik sudah efisien sehingga layak untuk diusahakan karena untuk meningkatkan nilai tambah gula sebesar satu rupiah membutuhkan biaya faktor domestik kurang dari satu rupiah Analisis Keunggulan Komparatif Analisis keunggulan komparatif dapat diukur dengan menggunakan keuntungan sosial (ekonomi) (SP) dan rasio biaya sumberdaya domestik (DRC). Keuntungan sosial adalah keuntungan yang diperoleh jika terjadi pasar persaingan sempurna dimana tidak ada campur tangan pemerintah dan kegagalan pasar. Berbeda dengan analisis keuntungan finansial, dalam analisis keuntungan ekonomi komponen input dan output dinilai dengan menggunakan harga bayangan. Sehingga keunggulan komparatif dijadikan sebagai indikator untuk menilai apakah usahatani tebu memiliki daya saing, mampu hidup tanpa bantuan pemerintah, dan memiliki peluang yang besar sebagai produk substitusi impor. Keuntungan sosial (SP) dari usahatani tebu di lokasi penelitian yang ditunjukan dengan nilai Social Profitability (SP) adalah positif (>1) yaitu Rp ,77 per hektar. Keuntungan sosial tersebut menunjukkan bahwa 53

5 usahatani tebu untuk menghasilkan gula lokal menguntungkan secara ekonomi jika tanpa adanya kebijakan pemerintah dan distorsi pasar yang berlaku saat ini. Selain dari keuntungan ekonomi, keunggulan komparatif usahatani tebu juga dapat diketahui dari rasio biaya sumberdaya domestik atau domestic resource cost (DRC). DRC merupakan rasio antara biaya non tradable dengan selisih antara penerimaan dikurangi biaya tradable pada harga bayangan atau harga sosial yaitu harga tanpa adanya intervensi pemerintah. Suatu aktivitas mempunyai keunggulan komparatif apabila nilai DRC lebih kecil dari satu (DRC < 1). Nilai DRC yang lebih kecil dari satu menunjukan bahwa untuk memperoleh tambahan satu rupiah output diperlukan tambahan biaya faktor domestik lebih kecil dari satu rupiah yang dinilai pada tingkat harga sosial. Sebaliknya, suatu aktivitas tidak mempunyai keunggulan komparatif apabila nilai DRC lebih besar dari 1 (DRC > 1). Semakin kecil nilai DRC maka komoditi tersebut akan semakin memiliki keunggulan komparatif. Hasil analisis tabel PAM memperlihatkan nilai DRC sebesar 0,67. Nilai DRC 0,67 berarti pada tingkat harga sosial untuk meningkatkan nilai output sebesar satu rupiah diperlukan tambahan biaya faktor domestik sebesar Rp 0,67. Hal ini menunjukan bahwa usahatani tebu sudah efisien dalam menggunakan sumberdaya ekonomi. Nilai DRC yang lebih kecil dari satu (DRC < 1) juga menunjukan bahwa tanpa kebijakan pemerintah, usahatani tebu di lokasi penelitian tetap mempunyai daya saing atau memiliki keunggulan komparatif. Nilai keuntungan sosial (Rp ,77 per hektar) yang lebih besar dari keuntungan privat (Rp ,52 per hektar) menunjukkan kondisi pendapatan yang lebih menguntungkan pada tingkat harga sosial. Keuntungan sosial yang lebih tinggi dari keuntungan privat tersebut diakibatkan oleh harga gula impor yang lebih tinggi yaitu Rp ,26 per kilogram sementara harga gula lokal adalah Rp per kilogram. Selain itu hal tersebut juga disebabkan oleh adanya nilai pajak impor sebesar 10 persen untuk pestisida (insektisida dan herbisida) pada tingkat harga finansial sehingga menyebabkan biaya finansial input tradable untuk pestisida lebih tinggi dari biaya sosialnya. Biaya aktual tenaga kerja yang dibayarkan lebih tinggi dari biaya sosialnya juga menyebabkan keuntungan sosial lebih tinggi daripada keuntungan privatnya. 54

6 Nilai DRC yang lebih kecil dari PCR (DRC < PCR) menunjukkan bahwa cenderung tidak terdapat kebijakan pemerintah yang meningkatkan efisiensi produsen dalam berproduksi. Salah satunya penyebabnya adalah tidak adanya subsidi pemerintah terhadap pestisida padahal petani tebu masih menggunakannya. Selain itu kebijakan yang pemerintah yang diduga dapat mengurangi efisiensi petani tebu adalah adanya penurunnan tarif impor gula dari Rp 790 per kilogram menjadi Rp 400 per kilogram untuk semua jenis gula berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No.239/PMK.011/2009. Adanya kebijakan-kebijakan tersebut mengakibat usahatani tebu mengalami penurunan efisiensi jika dibandingkan apabila pemerintah memberikan subsidi terhadap pestisida dan menurunkan tarif impor gula. Besarnya nilai keuntungan sosial daripada keuntungan privat yang diperoleh petani tebu serta nilai DRC yang lebih kecil dari PCR mengindikasikan adanya pengaruh intervensi pemerintah atau distorsi pasar yang tidak memberikan insentif yang baik kepada petani tebu sehingga keuntungan privat yang dihasilkan menjadi lebih rendah dari keuntungan sosial yang diperoleh tanpa adanya intervensi pemerintah terhadap input produksi dan distorsi pada pasar output Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah Ditetapkannya kebijakan pemerintah pada suatu aktivitas ekonomi akan mempunyai dampak yang positif atau negatif terhadap aktivitas ekonomi tersebut, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dampak positif dari ditetapkannya kebijakan pemerintah akan meningkatkan produksi maupun produktivitas. Sebaliknya dampak negatif dari ditetapkannya kebijakan pemerintah akan menurunkan produksi dan produktivitas aktivitas ekonomi tersebut. Dengan menggunakan analisis PAM dari beberapa indikator maka dapat diketahui seberapa besar dampak kebijakan pemerintah. Tujuan dari kebijakan pemerintah dalam perdagangan biasanya ditujukan untuk melindungi produsen dalam negeri. Apabila harga impor suatu komoditi lebih rendah dari harga komoditi serupa hasil produksi dalam negeri maka hal tersebut akan menurunkan daya saing dari produksi dalam negeri. Hal tersebut disebabkan oleh kecenderungan konsumen yang lebih memilih komoditi dengan harga yang lebih murah. Akibatnya, permintaan terhadap produk domestik akan 55

7 menurun yang berimplikasi pada penurunan produksi dan pendapatan produsen dalam negeri Kebijakan Output Tingkat ukuran intervensi pemerintah pada output dapat dilihat dari nilai Transfer Output (OT) dan Koefisien Proteksi Output Nominal (NPCO). Bentuk distorsi pemerintah tersebut dapat berupa subsidi atau kebijakan hambatan perdagangan berupa tarif dan pajak ekspor. a. Transfer Output (OT) Divergensi pada harga output menyebabkan pendapatan privat berbeda dengan pendapatan sosial serta terjadinya transfer output (OT). Nilai OT yang positif menunjukan bahwa kebijakan pemerintah pada output menyebabkan harga output privat lebih besar dibandingkan harga output pada kondisi harga bayangan. Hal ini menunjukkan adanya insentif konsumen kepada produsen dimana konsumen membayar lebih dari harga yang seharusnya dibayarkan. Sedangkan nilai OT yang negatif menunjukan bahwa kebijakan pemerintah dan distorsi pasar yang berlaku saat ini menyebabkan harga output pada kondisi aktual menjadi lebih rendah dibandingkan harga bayanganya. Hasil analisis menunjukan bahwa nilai transfer output (OT) adalah negatif sebesar Rp ,79. Hal ini berarti bahwa harga output di pasar domestik pada pengusahaan gula lebih rendah dibandingkan harga di pasar internasional atau terdapat transfer output dari produsen ke konsumen sebesar Rp ,79 per hektar. Implikasi dari adanya transfer output tersebut adalah konsumen membeli gula dengan harga yang lebih rendah dari harga yang seharusnya diterima petani apabila pasar tidak terdistorsi. Hal ini merugikan petani tebu karena petani tebu kurang mendapatkan insentif untuk meningkatkan produksinya. Tingginya perbedaan harga antara gula impor dan gula lokal di duga adalah akibat lelang gula impor yang dilakukan oleh pemerintah pada saat harga gula dunia sedang melambung. Tingginya harga gula internasional disebabkan karena negara produsen gula dunia seperti India dan Brazil sedang mengalami krisis karena pengaruh perubahan iklim. Sehingga negara-negara produsen gula 56

8 dunia banyak yang berubah haluan dari tanaman tebu ke tanaman pangan. Akibatnya stok gula dunia mengalami penurunan. b. Nilai Koefisien Proteksi Nominal (NPCO) Nilai koefisien proteksi nominal (NPCO) merupakan rasio antara penerimaan yang dihitung berdasarkan harga finansial dengan penerimaan yang dihitung berdasarkan harga bayangan. Nilai NPCO yang lebih besar dari satu (NPCO > 1) menunjukan adanya proteksi harga, dimana adanya kebijakan pemerintah menyebabkan harga yang diterima oleh produsen lebih tinggi dari harga yang seharusnya (harga bayangan). Berdasarkan hasil analisis, nilai NPCO pada penelitian ini adalah sebesar 0,80. Nilai NPCO yang lebih kecil dari satu (NPCO < 1) menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah menurunkan tarif impor gula menyebabkan harga yang diterima produsen lebih rendah dari harga bayangannya. Produsen hanya menerima harga 80 persen dari harga yang seharusnya diterima bila tidak ada distorsi pasar dan intervensi pemerintah pada pasar output. Dalam hal ini petani menerima harga yang lebih rendah dari harga yang seharusnya sehingga terjadi transfer pendapatan dari petani kepada konsumen. Kondisi ini mengakibatkan petani lokal tidak mendapatkan insentif untuk meningkatkan produksinya Kebijakan Input Kebijakan pemerintah untuk memicu peningkatan produksi tidak saja dilakukan pada harga output tetapi juga pada harga input. Bentuk distorsi pemerintah pada input dapat berupa hambatan ekspor (tarif atau kuota) serta subsidi dan pajak pada unsur input. Subsidi sarana produksi bagi produsen bertujuan untuk merangsang penggunaan input tersebut sehingga akan meningkatkan produksi dan produktivitas. Sedangkan hambatan perdagangan pada input bertujuan agar input domestik tidak diekspor dan digunakan untuk kebutuhan produksi dalam negeri. Kebijakan subsidi maupun kebijakan hambatan perdagangan yang ditetapkan oleh pemerintah dengan harapan agar produsen dalam negeri dapat mengunakan sumberdaya domestik secara optimal dan dapat melindungi produsen dalam negeri. 57

9 Dampak kebijakan pemerintah pada input dapat ditujukan dengan nilai transfer input (IT), transfer faktor (FT), dan koefisien proteksi input nomial (NPCL). a. Transfer Input (IT) Nilai transfer input (IT) merupakan selisih antara biaya input tradable pada harga finansial dengan biaya input tradable pada harga ekonomi (harga bayangan). Apabila nilai IT yang diperoleh positif berarti terdapat kebijakan subsidi negatif atau pajak pada input produksi. Sebaliknya apabila nilai IT yang diperoleh negatif hal ini menunjukan adanya subsidi pada input, karena subsidi pada harga input akan menyebakan biaya yang dikeluarkan untuk input pada harga finansial lebih rendah dari harga ekonominya. Berdasarkan tabel PAM, nilai IT adalah negatif sebesar Rp ,64. Nilai tersebut berarti bahwa kebijakan pemeritah pada input tradable menguntungkan petani tebu Rp ,64 per hektar. Artinya terdapat subsidi atas input asing (subsidi pupuk) dengan harga yang lebih rendah dari harga yang seharusnya diterima apabila tanpa adanya kebijakan pemerintah. Sehingga biaya yang dikeluarkan petani tebu untuk input tradable pada harga finansial lebih rendah dari harga ekonominya. b. Koefisien proteksi input nominal (NPCL) Koefisien proteksi input nominal (NPCL) merupakan rasio antara biaya input tradable yang dihitung berdasarkan harga privat dengan biaya input tradable yang dihitung berdasarkan harga bayangan. Nilai NPCL menunjukan tingkat proteksi atau distorsi yang dibebankan pemerintah pada input tradable apabila dibandingkan tanpa adanya kebijakan pemerintah. Nilai NPCL lebih besar dari satu (NPCL > 1) menunjukan adanya intervensi pemerintah terhadap input berupa subsidi pada input tersebut, sehingga harga finansial lebih rendah dari harga yang seharusnya. Sebaliknya, jika nilai NPCL lebih kecil dari satu (NPCL < 1) maka mengindikasikan adanya subsidi atas input tersebut. Hasil analisis menunjukan nilai NPCL adalah sebesar 0,83. Nilai tersebut berarti bahwa terdapat kebijakan proteksi terhadap konsumen input berupa subsidi yang menyebabkan harga finansial input lebih rendah dibandingkan harga 58

10 bayangannya. Sehingga sektor yang menggunakan input tersebut menerima harga yang lebih murah 0,83 persen dari harga yang seharusnya. Kebijakan proteksi tersebut berupa pemberian subsidi oleh pemerintah terhadap produsen pupuk. Nilai NPCL yang lebih kecil dari satu (NPCL < 1) mengindikasikan adanya transfer dari produsen input ke sektor yang menggunakan input tersebut. c. Transfer Faktor (FT) Input yang digunakan dalam proses produksi tidak hanya input yang dapat diperdagangkan (tradable), tetapi juga input domestik (non tradable) dimana harga ditentukan oleh harga domestik. Transfer Faktor (FT) merupakan selisih antara biaya input domestik yang dihitung pada harga finansial dengan biaya input domestik yang dihitung berdasarkan harga sosial (harga bayangan). Berdasarkan matriks PAM nilai FT usahatani tebu adalah sebesar Rp ,10. Nilai ini berarti bahwa adanya kebijakan pemerintah yang menyebabkan biaya input domestik pada harga finansial lebih tinggi dibandingkan dengan biaya input pada harga bayangan. Hal ini mengakibatkan petani tebu harus membayar input domestik lebih mahal dibandingkan tanpa adanya kebijakan pemerintah. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa kebijakan pemerintah tidak melindungi petani tebu. Akibatnya, petani tebu harus membayar input domestik lebih mahal Rp ,10 per hektar dari harga sosialnya sementara produsen input domestik mendapatkan tambahan keuntungan senilai Rp ,10. Salah satu penyebab adanya transfer faktor tersebut adalah karena penilaian harga sosial tenaga kerja. Hal ini karena tenaga kerja yang digunakan dalam usahatani tebu merupakan tenaga kerja tidak tetap dan pada umumnya juga tidak terdidik sehingga perhitungan harga bayangan tenaga kerja tersebut mengacu pada Siregar (2009) yaitu sebesar 80 persen dari tingkat upah yang berlaku. Dalam hal ini, harga sosial tenaga kerja adalah 80 persen dari upah yang dibayarkan petani tebu yaitu sebesar Rp ,38 per hari orang kerja Kebijakan Input-Output Dalam melihat dampak kebijakan input-output keseluruhan dapat digunakan beberapa indikator yaitu koefisien keuntungan (PC), koefisien proteksi efektif (EPC), transfer bersih (NT), rasio subsidi bagi produsen (SRP). Nilai-nilai 59

11 tersebut merupakan hasil analisis gabungan antara kebijakan input dan kebijakan output. a. Koefisien Proteksi Efektif (EPC) Koefisien proteksi efektif (EPC) digunakan untuk melihat dampak kebijakan pemerintah dalam melindungi atau menghambat produksi domestik secara efektif. EPC merupakan rasio antara selisih penerimaan dan biaya input tradable yag dihitung pada harga privat dengan selisih antara penerimaan dan biaya input non tradable yang dihitung pada harga sosial. Nilai EPC yang lebih besar dari satu (EPC > 1) menunjukan bahwa kebijakan pemerintah untuk melindungi produsen domestik berjalan efektif, sedangkan apabila nilai EPC lebih kecil dari satu (EPC <1) menunjukan kebijakan pemerintah untuk melindungi produsen domestik tidak berjalan dengan efektif. Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai EPC adalah sebesar 0,80. Hal ini berarti bahwa kebijakan pemerintah untuk melindungi petani tebu domestik berjalan dengan tidak efektif. Nilai EPC yang lebih kecil dari satu (EPC < 1) menunjukan bahwa kebijakan input-output tidak dapat melindungi petani lokal dan telah menghambat petani untuk berproduksi. Petani tebu dalam hal ini tidak memperoleh fasilitas proteksi dari pemerintah karena harga privat output lebih kecil dari harga bayanganya. b. Koefisien Keuntungan (PC) Berdasarkan analisis PAM juga dapat dilihat koefisien keuntungan (PC) yaitu rasio antara keuntungan privat dengan keuntungan sosial. Nilai PC menunjukan pengaruh atau dampak kebijakan gabungan pada output, input tradable, dan input non tradable. Nilai PC juga menunjukan dampak kebijakan yang menyebabkan perbedaan tingkat keuntungan privat dan keuntungan sosial. Nilai PC yang diperoleh adalah sebesar 0,16 atau lebih kecil satu yang berarti bahwa keuntungan petani dengan intervensi dan distorsi yang terjadi saat ini adalah 0,16 kali dari keuntungan sosialnya. Hal ini berarti bahwa petani hanya menerima keuntungan sebesar 16 persen dari keuntungan yang seharusnya diterima. 60

12 c. Transfer Bersih (NT) Dalam melihat besarnya tambahan atau pengurangan surplus produsen yang disebabkan oleh kebijakan pemerintah dapat digunakan indikator transfer bersih (NT) yang merupakan selisih antara keuntungan privat dengan keuntungan sosial. Nilai NT yang positif menunjukan adanya kebijakan insentif menyebabkan penambahan surplus produsen, sedangkan nilai NT negatif menyebabkan pengurangan surplus produsen. Berdasarkan hasil analisis diperoleh nilai NT yang negatif sebesar Rp ,25 per hektar, yang berarti adanya pengurangan surplus petani sebesar Rp ,25 per hektar yang disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang berlaku saat ini. Keuntungan yang diperoleh petani pada kondisi adanya kebijakan pemerintah dan distorsi pasar saat ini lebih rendah Rp ,25 per hektar dibandingkan apabila tidak ada campur tangan pemerintah. d. Rasio Subsidi bagi Produsen (SRP) Rasio Subisidi bagi Produsen (SRP) merupakan rasio antara transfer bersih dengan penerimaan berdasarkan harga sosial yang menunjukan persentase subsidi atau insentif bersih atas penerimaan. Nilai SRP positif (SRP > 0) menunjukan bahwa adanya kebijakan pemerintah menyebabkan produsen mengeluarkan biaya produksi terhadap input lebih rendah dari biaya yang seharusnya untuk berproduksi. Sebaliknya, nilai SRP negatif (SRP < 0) menunjukan adanya kebijakan pemerintah yang berlaku menyebabkan produsen mengeluarkan biaya produksi terhadap input lebih besar dari biaya imbangan untuk berproduksi. Dari hasil matriks PAM diperoleh nilai SRP negatif sebesar 0,26. Hal ini berarti bahwa kebijakan pemerintah yang berlaku selama ini menyebabkan petani tebu mengeluarkan biaya produksi lebih besar 26 persen dari opportunity cost untuk berproduksi. Jadi secara keseluruhan distorsi pasar dan kebijakan pemerintah yang terjadi saat ini merugikan petani tebu di lokasi penelitian Analisis Sensitivitas Analisis sensitivitas dilakukan untuk mensubstitusi kelemahan metode PAM yang hanya berlaku pada waktu yang relatif singkat dengan faktor-faktor yang sebenarnya sangat rentan untuk berubah. Analisis sensitivitas yang 61

13 dilakukan dalam penelitian ini bertujuan untuk melihat dampak penurunan tarif impor gula dari Rp 790 per kilogram menjadi Rp 400 per kilogram, serta untuk mengetahui nilai indikator daya saing jika tarif impor dinaikkan menjadi Rp per kilogram sesuai dengan rekomendasi dari Dirjen Bina Produksi Perkebunan Departemen Pertanian. Penelitian ini lebih menekankan pada efek penurunan tarif impor gula. Oleh karena itu, penelitian ini hanya menggunakan dua skenario analisis senstivitas yaitu : 1. Daya saing komoditi tebu jika tarif impor gula Rp 790 per kilogram. Analisis ini bertujuan untuk melihat dampak perubahan daya saing komoditi tebu yang dihasilkan petani sebelum tarif impor gula diturunkan oleh pemerintah. Analisis ini dilakukan karena diduga adanya penurunan tarif impor gula menyebabkan daya saing komoditi tebu mengalami penurunan. 2. Daya saing komoditi tebu jika tarif impor sebesar Rp per kilogram. Hal ini terkait dengan rekomendasi dari Dirjen Bina Produksi Perkebunan Departemen Pertanian bahwa tarif impor yag ideal diberlakukan adalah Rp per kilogram. Adanya pemberlakuan tarif impor senilai Rp per kilogram diharapkan dapat melindungi petani tebu dan memberikan insentif bagi petani untuk mengembangkan usahanya Analisis Sensitivitas untuk Melihat Perubahan Daya Saing Tebu Akibat Penurunan Tarif Impor Gula dari Rp 790/kg menjadi Rp 400/kg Penerapan tarif impor gula menjadi Rp 790 per kilogram akan menyebabkan perubahan harga gula pada kondisi harga sosial. Penetapan tarif ini akan menyebakan harga gula impor lebih mahal daripada harga ketika tarif impor Rp 400 per kilogram diberlakukan. Adapun hasil tabel PAM untuk tarif impor Rp 790 per kilogram dapat dilihat pada Tabel 14. Tabel 14. Tabel PAM untuk Kondisi Tarif Impor Rp 790 per kilogram Keterangan Penerimaan Biaya Input tradable non tradable Keuntungan Privat , , , ,52 Sosial , , , ,74 Divergensi , , , ,22 62

14 Tabel 14. menunjukkan hasil analisis sensitivitas berdasarkan perubahan tarif impor. Menurut hasil yang dilakukan, adanya pengurangan tarif impor gula mengurangi daya saing komoditi tebu secara komparatif. Kebijakan pemerintah tersebut tidak memberikan insentif bagi petani untuk meningkatkan produksi. Tabel 15. Indikator-indikator dari Analisis Matriks Kebijakan pada Kondisi Tarif Impor Rp 790 per kilogram Indikator Nilai Private Profitability (PP) Rp ,52 Private Cost Rasio (PCR) 0,94 Social Profitability (SP) Rp ,74 Domestic Resource Cost Ratio (DRC) 0,65 Input Transfer (IT) Rp ( ,64) Nominal Protection Coefficient on Tradable Input (NPCL) 0,83 Transfer Factor (TF) Rp ,10 Output Transfer (OT) Rp ( ,76) Nominal Protection Coefficient on Tradable Output (NPCO) 0,77 Effective Protection Coeffiient (EPC) 0,77 Net Transfer (NT) Rp( ,22) Prifitability Coefisien (PC) 0,14 Subsidy Ratio to Product (SRP) (0,28) Penurunan tarif impor gula menyebabkan penurunan pada harga gula impor atau harga sosial output. Sedangkan harga output pada kondisi tingkat harga privat diasumsikan tidak berubah. Berdasarkan hasil analisis, penurunan tarif impor gula dari Rp 790 per kilogram menjadi Rp 400 per kilogram menyebabkan penurunan harga gula impor dari Rp ,26 per kilogram menjadi Rp ,26 per kilogram. Hal ini menyebabkan nilai keuntungan sosial mengalami penurunan dari Rp ,74 menjadi Rp ,77. Sebaliknya, penurunan tarif impor menyebabkan nilai DRC cenderung mengalami peningkatan dari 0,65 menjadi 0,67. Nilai DRC yang semakin tinggi menunjukan adanya penurunan dalam hal keunggulan komparatif komoditi tebu. Hasil analisis tabel PAM yang memperlihatkan nilai DRC sebesar 0,65 berarti pada tingkat 63

15 harga sosial untuk meningkatkan nilai output sebesar satu rupiah diperlukan tambahan biaya faktor domestik sebesar Rp 0,65. Hal ini menunjukan bahwa usahatani tebu sudah efisien dalam menggunakan sumberdaya ekonomi. Nilai DRC yang lebih kecil dari satu (DRC < 1) juga menunjukan bahwa tanpa kebijakan pemerintah, usahatani tebu di lokasi penelitian tetap mempunyai daya saing atau memiliki keunggulan komparatif ketika tarif impor gula diterapkan sebesar Rpp 790 per kilogram. Jadi adanya penurunan tarif impor gula dari Rp 790 per kilogram menjadi Rp 400 per kilogram akan menurunkan keunggulan komparatif komoditi tebu. Hal ini menyebabkan adanya penurunan daya saing tebu dari aspek keunggulan komparatif. Padahal pada tingkat tarif impor Rp 790 per kilogram saja, nilai DRC masih lebih kecil dari nilai PCR yang mengindikasikan adanya pengaruh intervensi pemerintah atau distorsi pasar yang tidak memberikan insentif yang baik kepada petani tebu sehingga keuntungan privat yang dihasilkan menjadi lebih rendah dibandingkan keuntungan yang diperoleh tanpa adanya intervensi pemerintah terhadap input produksi dan distorsi pasar output pada saat itu. Selain itu, penerapan tarif impor gula sebesar Rp 790 per kilogram akan menyebakan perubahan pada indikator nilai EPC, NT, PC dan SRP. Ketika tarif impor berada pada tingkat R 790 per kilogram nilai EPC yang dihasilkan adalah sebesar 0,77 dan nilai NT yang dihasilkan adalah negatif Rp ,22. Nilai EPC sebesar 0,77 berarti bahwa kebijakan pemerintah untuk melindungi petani tebu domestik berjalan dengan tidak efektif. Nilai EPC yang lebih kecil dari satu (EPC < 1) menunjukan bahwa kebijakan input-output tidak dapat melindungi petani lokal dan telah menghambat petani untuk berproduksi. Petani tebu dalam hal ini masih tidak memperoleh fasilitas proteksi dari pemerintah karena harga privat output lebih kecil dari harga bayanganya. Sedangkan nilai NT yang negatif sebesar Rp ,22 berarti adanya pengurangan surplus petani sebesar Rp ,22 per hektar yang disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang berlaku saat ini. Keuntungan yang diperoleh petani pada kondisi adanya kebijakan pemerintah dan distorsi pasar saat ini lebih rendah Rp ,22 per hektar dibandingkan apabila tidak ada campur tangan pemerintah. 64

16 Penerapan tarif impor pada tingkat Rp 790 per kilogram juga memberikan nilai PC sebesar 0,14 dan nilai SRP negatif sebesar 0,28. Nilai PC sebesar 0,14 berarti berarti bahwa keuntungan petani dengan intervensi dan distorsi yang terjadi saat tarif impor diterapkan sebesar Rp 790 per kilogram adalah 0,14 kali dari keuntungan sosialnya. Hal ini berarti bahwa petani hanya menerima keuntungan sebesar 14 persen dari keuntungan yang seharusnya diterima. Sedangkan nilai SRP yag negatif sebesar 0,28 berarti bahwa kebijakan pemerintah yang berlaku selama ini menyebabkan petani tebu mengeluarkan biaya produksi lebih besar 28 persen dari opportunity cost untuk berproduksi. Jadi secara keseluruhan distorsi pasar dan kebijakan pemerintah yang terjadi saat ini merugikan petani tebu di lokasi penelitian. Dengan demikian pada saat kondisi tarif impor gula Rp 790 per kilogram, pemerintah pun bahkan belum memberikan kebijakan yang efektif dilihat dari nilai EPC yang lebih kecil dari satu, nilai NT yang negatif, serta nilai PC dan SRP yang lebih kecil dari satu. Akibatnya, penurunan tarif impor gula semakin membuat daya saing komoditi tebu dalam negeri menurun Analisis Sensitivitas Jika Tarif Impor Ditetapkan Rp 1.200/kg Menurut rekomendasi dari Dirjen Bina Produksi Perkebunan Departemen Pertanian, tarif impor yang sesuai untuk gula adalah sebesar Rp per kilogram. Adanya pemberlakuan tarif impor senilai Rp per kilogram diharapkan dapat melindungi petani tebu dan memberikan insentif bagi petani untuk mengembangkan usahanya. Tabel 16. Tabel PAM untuk Kondisi Tarif Impor Rp per kilogram Keterangan Penerimaan Biaya Input tradable non tradable Keuntungan Privat , , , ,52 Sosial , , , ,02 Divergensi , , , ,50 Menurut hasil analisis yang ditampilkan pada Tabel 16, dapat dilihat bahwa semakin tinggi nilai tarif impor gula maka semakin tinggi pula daya saing komoditi tebu yang dihasilkan petani di lokasi penelitian. Peningkatan daya saing 65

17 tersebut ditandai dengan semakin tingginya nilai keuntungan sosial dan semakin kecilnya nilai DRC. Tabel 17. Indikator-indikator dari Analisis Matriks Kebijakan pada Kondisi Tarif Impor Rp per kilogram. Indikator Private Profitability (PP) Private Cost Rasio (PCR) Social Profitability (SP) Domestic Resource Cost Ratio (DRC) Input Transfer (IT) Nominal Protection Coefficient on Tradable Input (NPCL) Transfer Factor (TF) Output Transfer (OT) Nominal Protection Coefficient on Tradable Output (NPCO) Effective Protection Coeffiient (EPC) Net Transfer (NT) Prifitability Coefisien (PC) Subsidy Ratio to Product (SRP) Nilai Rp ,52 0,94 Rp ,02 0,62 Rp ( ,64) 0,83 Rp ,10 Rp( ,04) 0,74 0,74 Rp( ,50) 0,13 (0,31) Dengan tarif impor Rp per kilogram, maka harga sosial gula diperkirakan akan menjadi Rp ,26 per kilogram dimana harga sosial gula pada kondisi tarif impor Rp 400 per kilogram adalah Rp ,26 per kilogram. Hal ini menyebabkan keuntugan sosial menjadi meningkat dari Rp ,77 per hektar menjadi Rp ,02 per hektar. Selain itu, kenaikan tarif impor menjadi Rp per kilogram juga menyebabkan nilai DRC mengalami penurunan dari 0,67 menjadi 0,62. Hal ini berarti dengan meningkatnya tarif impor gula dapat menyebabkan peningkatan keunggulan komparatif komoditi tebu. Jadi, penetapan tarif impor sebesar Rp per kilogram diduga akan meningkatkan daya saing komoditi tebu. Akan tetapi, penetapan tarif impor sebesar Rp per kilogram tersebut belum menunjukan adanya kebijakan pemerintah yang efektif untuk melindungi dan mendorong pengembangan 66

18 usahatani tebu. Hal ini ditunjukkan dengan nilai DRC yang masih lebih kecil dari PCR, nilai EPC sebesar 0,74, nilai NT negatif sebesar Rp ,50, serta nilai PC dan SRP masing-masing sebesar 0,13 dan negatif 0,31. Nilai EPC sebesar 0,74 berarti bahwa kebijakan pemerintah untuk melindungi petani tebu domestik berjalan dengan tidak efektif. Nilai EPC yang lebih kecil dari satu (EPC < 1) menunjukan bahwa kebijakan input-output tidak dapat melindungi petani lokal dan telah menghambat petani untuk berproduksi. Petani tebu dalam hal ini masih tidak memperoleh fasilitas proteksi dari pemerintah karena harga privat output lebih kecil dari harga bayanganya. Sedangkan nilai NT yang negatif sebesar Rp ,50 berarti adanya pengurangan surplus petani sebesar Rp ,50 per hektar yang disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang berlaku saat ini. Keuntungan yang diperoleh petani pada kondisi adanya kebijakan pemerintah dan distorsi pasar saat ini lebih rendah Rp Rp ,50 per hektar dibandingkan apabila tidak ada campur tangan pemerintah. Penerapan tarif impor pada tingkat R per kilogram juga memberikan nilai PC sebesar 0,13 dan nilai SRP negatif sebesar 0,31. Nilai PC sebesar 0,13 berarti berarti bahwa keuntungan petani dengan intervensi dan distorsi yang terjadi saat tarif impor diterapkan sebesar Rp per kilogram adalah 0,13 kali dari keuntungan sosialnya. Hal ini berarti bahwa petani hanya menerima keuntungan sebesar 13 persen dari keuntungan yang seharusnya diterima. Sedangkan nilai SRP yang negatif sebesar 0,31 berarti bahwa kebijakan pemerintah yang berlaku selama ini menyebabkan petani tebu mengeluarkan biaya produksi lebih besar 31 persen dari opportunity cost untuk berproduksi. Jadi secara keseluruhan distorsi pasar dan kebijakan pemerintah yang terjadi saat ini merugikan petani tebu di lokasi penelitian. 67

VI. ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA USAHATANI JAMBU BIJI

VI. ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA USAHATANI JAMBU BIJI VI. ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA USAHATANI JAMBU BIJI Daya saing usahatani jambu biji diukur melalui analisis keunggulan komparatif dan kompetitif dengan menggunakan Policy

Lebih terperinci

IV METODOLOGI PENELITIAN

IV METODOLOGI PENELITIAN IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada petani tebu di wilayah kerja Pabrik Gula Sindang Laut Kabupaten Cirebon Propinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi penelitian

Lebih terperinci

VIII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING RUMPUT LAUT

VIII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING RUMPUT LAUT 83 VIII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING RUMPUT LAUT 8.1. Struktur Biaya, Penerimaan Privat dan Penerimaan Sosial Tingkat efesiensi dan kemampuan daya saing rumput laut di

Lebih terperinci

VI. ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN SIAM DEDDY FISH FARM

VI. ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN SIAM DEDDY FISH FARM VI. ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN SIAM DEDDY FISH FARM Analisis keunggulan komparatif dan kompetitif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan prospek serta

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP JERUK SIAM

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP JERUK SIAM VI ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP JERUK SIAM 6.1. Analisis Daya Saing Analisis keunggulan kompetitif dan komparatif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan kemampuan jeruk

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Karangasem dengan lokasi sampel penelitian, di Desa Dukuh, Kecamatan Kubu. Penentuan lokasi penelitian dilakukan

Lebih terperinci

sesuaian harga yang diterima dengan cost yang dikeluarkan. Apalagi saat ini,

sesuaian harga yang diterima dengan cost yang dikeluarkan. Apalagi saat ini, RINGKASAN Kendati Jambu Mete tergolong dalam komoditas unggulan, namun dalam kenyataannya tidak bisa dihindari dan kerapkali mengalami guncangan pasar, yang akhirnya pelaku (masyarakat) yang terlibat dalam

Lebih terperinci

VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK

VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK 6.1 Analisis Keuntungan Sistem Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok Analisis keunggulan komparatif

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN. Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Pemilihan lokasi

IV. METODE PENELITIAN. Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Pemilihan lokasi IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Studi kasus penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Sukaresmi dan Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Pemilihan lokasi dilakukan secara purpossive

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN 45 IV. METODE PENELITIAN 4.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kepulauan Tanakeke, Kabupaten Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan. Pemilihan daerah tersebut dilakukan secara purposive

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Daya Saing Perdagangan Internasional pada dasarnya merupakan perdagangan yang terjadi antara suatu negara tertentu dengan negara yang

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 26 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan batasan operasional merupakan pengertian dan petunjuk mengenai variabel yang akan diteliti untuk memperoleh dan menganalisis

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

METODE PENELITIAN. 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan

Lebih terperinci

VII. ANALISIS DAYA SAING USAHATANI JAGUNG

VII. ANALISIS DAYA SAING USAHATANI JAGUNG VII. ANALISIS DAYA SAING USAHATANI JAGUNG 7.1. Profitabilitas Privat dan Sosial Analisis finansial dan ekonomi usahatani jagung memberikan gambaran umum dan sederhana mengenai tingkat kelayakan usahatani

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan tujuan

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan tujuan 33 III. METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional dan Konsep Dasar Konsep dasar dan batasan operasional ini mencakup pengertian yang digunakan untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. A. Metode Dasar Penelitian

METODE PENELITIAN. A. Metode Dasar Penelitian II. METODE PENELITIAN A. Metode Dasar Penelitian Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode deskriptif analitis. Menurut Nazir (2014) Metode deskriptif adalah suatu metode dalam

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional ini mencakup pengertian yang. jagung per musim tanam yang, diukur dalam satuan ton.

III. METODOLOGI PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional ini mencakup pengertian yang. jagung per musim tanam yang, diukur dalam satuan ton. III. METODOLOGI PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan definisi operasional ini mencakup pengertian yang digunakan untuk mendapatkan data dan melakukan analisis terhadap tujuan

Lebih terperinci

Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Daya Saing Komoditas Kelapa di Kabupaten Flores Timur

Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Daya Saing Komoditas Kelapa di Kabupaten Flores Timur Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Daya Saing Komoditas Kelapa di Kabupaten Flores Timur Krisna Setiawan* Haryati M. Sengadji* Program Studi Manajemen Agribisnis, Politeknik Pertanian Negeri

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Pasir Penyu dan Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Kabupaten Indragiri Hulu terdiri

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN 51 IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di tiga tempat di Provinsi Bangka Belitung yaitu Kabupaten Bangka Selatan, Kabupaten Bangka Barat, dan Kabupaten Belitung.

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KEDELAI VS PENGUSAHAAN KEDELAI DI KABUPATEN LAMONGAN, JAWA TIMUR

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KEDELAI VS PENGUSAHAAN KEDELAI DI KABUPATEN LAMONGAN, JAWA TIMUR ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KEDELAI VS PENGUSAHAAN KEDELAI DI KABUPATEN LAMONGAN, JAWA TIMUR Syahrul Ganda Sukmaya 1), Dwi Rachmina 2), dan Saptana 3) 1) Program

Lebih terperinci

VII. DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DAN FAKTOR LAINNYA TERHADAP KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF PADA USAHATANI JAMBU BIJI

VII. DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DAN FAKTOR LAINNYA TERHADAP KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF PADA USAHATANI JAMBU BIJI VII. DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DAN FAKTOR LAINNYA TERHADAP KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF PADA USAHATANI JAMBU BIJI Analisis sensitivitas perlu dilakukan karena analisis dalam metode

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN 28 IV. METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan dari Bulan Pebruari sampai April 2009, mengambil lokasi di 5 Kecamatan pada wilayah zona lahan kering dataran rendah

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING APEL JAWA TIMUR (Studi Kasus Apel Batu, Nongkojajar dan Poncokusumo)

ANALISIS DAYA SAING APEL JAWA TIMUR (Studi Kasus Apel Batu, Nongkojajar dan Poncokusumo) ANALISIS DAYA SAING APEL JAWA TIMUR (Studi Kasus Apel Batu, Nongkojajar dan Poncokusumo) Novi Itsna Hidayati 1), Teguh Sarwo Aji 2) Dosen Fakultas Pertanian Universitas Yudharta Pasuruan ABSTRAK Apel yang

Lebih terperinci

MACAM-MACAM ANALISA USAHATANI

MACAM-MACAM ANALISA USAHATANI MACAM-MACAM ANALISA USAHATANI Pendahuluan Sebelum melakukan analisis, data yang dipakai harus dikelompokkan dahulu : 1. Data Parametrik : data yang terukur dan dapat dibagi, contoh; analisis menggunakan

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Analisis Daya Saing Dalam sistem perekonomian dunia yang semakin terbuka, faktor-faktor yang mempengaruhi perdagangan dunia (ekspor dan impor)

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu Menurut penelitian Fery (2013) tentang analisis daya saing usahatani kopi Robusta di kabupaten Rejang Lebong dengan menggunakan metode Policy Analiysis

Lebih terperinci

ANALISIS SENSITIVITAS

ANALISIS SENSITIVITAS VII ANALISIS SENSITIVITAS 7.1. Analisis Sensitivitas Analisis sensitivitas dilakukan untuk mengetahui bagaimana pengaruh dari perubahan kurs mata uang rupiah, harga jeruk siam dan harga pupuk bersubsidi

Lebih terperinci

Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 12 No. 2, Agustus 2007 Hal: namun sering harganya melambung tinggi, sehingga tidak terjangkau oleh nelayan. Pe

Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 12 No. 2, Agustus 2007 Hal: namun sering harganya melambung tinggi, sehingga tidak terjangkau oleh nelayan. Pe Jurnal EKONOMI PEMBANGUNAN Kajian Ekonomi Negara Berkembang Hal: 141 147 EFISIENSI EKONOMI DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP USAHA PENANGKAPAN LEMURU DI MUNCAR, JAWA TIMUR Mira Balai Besar Riset

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN

IV METODE PENELITIAN IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Desa Cilembu (Kecamatan Tanjungsari) dan Desa Nagarawangi (Kecamatan Rancakalong) Kabupaten Sumedang, Propinsi Jawa Barat.

Lebih terperinci

KERANGKA PEMIKIRAN. berupa derasnya arus liberalisasi perdagangan, otonomi daerah serta makin

KERANGKA PEMIKIRAN. berupa derasnya arus liberalisasi perdagangan, otonomi daerah serta makin 22 III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Analisis Dewasa ini pengembangan sektor pertanian menghadapi tantangan dan tekanan yang semakin berat disebabkan adanya perubahan lingkungan strategis

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan dan menganalisis data sesuai dengan tujuan penelitian.

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan dan menganalisis data sesuai dengan tujuan penelitian. 29 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan definisi operasional mencakup pengertian yang dipergunakan untuk mendapatkan dan menganalisis data sesuai dengan tujuan

Lebih terperinci

Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Beras Organik Ekspor (Suatu Kasus di Gapoktan Simpatik Kabupaten Tasikmalaya)

Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Beras Organik Ekspor (Suatu Kasus di Gapoktan Simpatik Kabupaten Tasikmalaya) Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Beras Organik Ekspor (Suatu Kasus di Gapoktan Simpatik Kabupaten Tasikmalaya) Tirsa Neyatri Bandrang, Ronnie S. Natawidjaja, Maman Karmana Program Magister

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PRODUKSI KAKAO DI JAWA TIMUR

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PRODUKSI KAKAO DI JAWA TIMUR ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PRODUKSI KAKAO DI JAWA TIMUR Dede Haryono 1, Soetriono 2, Rudi Hartadi 2, Joni Murti Mulyo Aji 2 1 Program Studi Agribisnis Program Magister

Lebih terperinci

Jurnal Agribisnis dan Ekonomi Pertanian (Volume 2. No 1 Juni 2008)

Jurnal Agribisnis dan Ekonomi Pertanian (Volume 2. No 1 Juni 2008) 1 ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF PENGUSAHAAN KOMODITI JAGUNG DI KABUPATEN GROBOGAN A. Faroby Falatehan 1 dan Arif Wibowo 2 1 Departemen Ekonomi Sumberdaya Lingkungan, Fakultas Ekonomi dan

Lebih terperinci

Pengkajian Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Usahatani Padi dan Jeruk Lahan Gambut Kabupaten Barito Kuala Kalimantan Selatan

Pengkajian Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Usahatani Padi dan Jeruk Lahan Gambut Kabupaten Barito Kuala Kalimantan Selatan Pengkajian Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Usahatani Padi dan Jeruk Lahan Gambut Kabupaten Barito Kuala Kalimantan Selatan Muhammad Husaini Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN 23 III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Daya Saing Daya saing merupakan kemampuan suatu produsen untuk memproduksi suatu komoditi dengan mutu yang baik dan biaya produksi

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. 4.1 METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITI PADI SAWAH DI KECAMATAN PERBAUNGAN KABUPATEN SERDANG BEDAGAI ABSTRACT

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITI PADI SAWAH DI KECAMATAN PERBAUNGAN KABUPATEN SERDANG BEDAGAI ABSTRACT ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITI PADI SAWAH DI KECAMATAN PERBAUNGAN KABUPATEN SERDANG BEDAGAI Denti Juli Irawati*), Luhut Sihombing **), Rahmanta Ginting***) *) Alumni

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING AGRIBISNIS BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO

ANALISIS DAYA SAING AGRIBISNIS BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO ANALISIS DAYA SAING AGRIBISNIS BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO COMPETITIVENESS ANALYSIS OF SHALLOTS AGRIBUSINESS IN PROBOLINGGO REGENCY Competitiveness analysis of shallot business in Probolinggo

Lebih terperinci

VII. ANALISIS DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PADA USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN Kerangka Skenario Perubahan Harga Input dan Output

VII. ANALISIS DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PADA USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN Kerangka Skenario Perubahan Harga Input dan Output VII. ANALISIS DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PADA USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN 7.1. Kerangka Skenario Perubahan Harga Input dan Output Perubahan-perubahan dalam faktor eksternal maupun kebijakan pemerintah

Lebih terperinci

Lampiran 1. Perhitungan Premium Nilai Tukar dan Nilai Tukar Bayangan Tahun 2009

Lampiran 1. Perhitungan Premium Nilai Tukar dan Nilai Tukar Bayangan Tahun 2009 LAMPIRAN Lampiran 1. Perhitungan Premium Nilai Tukar dan Nilai Tukar Bayangan Tahun 2009 Uraian Jumlah (Rp) Total Ekspor (Xt) 1,211,049,484,895,820.00 Total Impor (Mt) 1,006,479,967,445,610.00 Penerimaan

Lebih terperinci

ANALISIS KEBIJAKAN KOPI ROBUSTA DALAM UPAYA MENINGKATKAN DAYA SAING DAN PENGUATAN REVITALISASI PERKEBUNAN

ANALISIS KEBIJAKAN KOPI ROBUSTA DALAM UPAYA MENINGKATKAN DAYA SAING DAN PENGUATAN REVITALISASI PERKEBUNAN ANALISIS KEBIJAKAN KOPI ROBUSTA DALAM UPAYA MENINGKATKAN DAYA SAING DAN PENGUATAN REVITALISASI PERKEBUNAN Anik Suwandari dan Soetriono Dosen Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian/ Agribisnis Fakultas Pertanian

Lebih terperinci

DAMPAK DEPRESIASI RUPIAH TERHADAP DAYA SAING DAN TINGKAT PROTEKSI KOMODITAS PADI DI KABUPATEN BADUNG

DAMPAK DEPRESIASI RUPIAH TERHADAP DAYA SAING DAN TINGKAT PROTEKSI KOMODITAS PADI DI KABUPATEN BADUNG DAMPAK DEPRESIASI RUPIAH TERHADAP DAYA SAING DAN TINGKAT PROTEKSI KOMODITAS PADI DI KABUPATEN BADUNG Jarek Putradi Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Badung, Bali jarek.putradi@gmail.com

Lebih terperinci

STUDI KELAYAKAN BISNIS ( Domestic Resource Cost )

STUDI KELAYAKAN BISNIS ( Domestic Resource Cost ) STUDI KELAYAKAN BISNIS ( Domestic Resource Cost ) Oleh: Dr Rita Nurmalina Suryana INSTITUT PERTANIAN BOGOR Domestic Resource Cost Of Earning or Saving a Unit of Foreign Exchange (Biaya Sumberdaya Domestik

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN STRUKTUR PROTEKSI KOMODITAS PALAWIJA

ANALISIS DAYA SAING DAN STRUKTUR PROTEKSI KOMODITAS PALAWIJA ANALISIS DAYA SAING DAN STRUKTUR PROTEKSI KOMODITAS PALAWIJA I Wayan Rusastra, Benny Rachman dan Supena Friyatno Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian Jl. A. Yani No. 7 Bogor 16161

Lebih terperinci

EFISIENSI DAN DAYA SAING USAHATANI HORTIKULTURA

EFISIENSI DAN DAYA SAING USAHATANI HORTIKULTURA EFISIENSI DAN DAYA SAING USAHATANI HORTIKULTURA Handewi P.S. Rachman, Supriyati, Saptana, Benny Rachman Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian Jl. A. Yani No. 70 Bogor 16161 ABSTRACT

Lebih terperinci

DAMPAK KEBIJAKAN KREDIT DAN SUBSIDI PUPUK TERHADAP KEUNTUNGAN USAHATANI PADI. I Made Tamba Ni Luh Pastini

DAMPAK KEBIJAKAN KREDIT DAN SUBSIDI PUPUK TERHADAP KEUNTUNGAN USAHATANI PADI. I Made Tamba Ni Luh Pastini DAMPAK KEBIJAKAN KREDIT DAN SUBSIDI PUPUK TERHADAP KEUNTUNGAN USAHATANI PADI I Made Tamba Ni Luh Pastini ABSTRACT Rice is high-valued commodities since pre-independence era. The paper aims to analyze impact

Lebih terperinci

Lampiran 1. Syarat Mutu Lada Putih Mutu I dan Mutu II. binatang

Lampiran 1. Syarat Mutu Lada Putih Mutu I dan Mutu II. binatang 131 Lampiran 1. Syarat Mutu Lada Putih Mutu I dan Mutu II No Jenis Uji Satuan 1 Cemaran Binatang 2 Warna 3 Kadar Benda Asing (b/b) 4 Kadar Biji Enteng (b/b) 5 Kadar Cemaran Kapang 6 Kadar Warna Kehitam-hitaman

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Budidaya tebu adalah proses pengelolaan lingkungan tumbuh tanaman

TINJAUAN PUSTAKA. Budidaya tebu adalah proses pengelolaan lingkungan tumbuh tanaman 24 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Usahatani Tebu 2.1.1 Budidaya Tebu Budidaya tebu adalah proses pengelolaan lingkungan tumbuh tanaman sehingga tanaman dapat tumbuh dengan optimum dan dicapai hasil yang diharapkan.

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. peneliti menggunakan konsep dasar dan batasan oprasional sebagai berikut:

III. METODE PENELITIAN. peneliti menggunakan konsep dasar dan batasan oprasional sebagai berikut: III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Batasan Operasional Agar tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda pada penelitian ini, maka peneliti menggunakan konsep dasar dan batasan oprasional sebagai

Lebih terperinci

EFISIENSI DAN DAYA SAING SISTEM USAHATANI PADI

EFISIENSI DAN DAYA SAING SISTEM USAHATANI PADI EFISIENSI DAN DAYA SAING SISTEM USAHATANI PADI Beny Rachman, Pantjar Simatupang, dan Tahlim Sudaryanto Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian Jl. A. Yani No. 70 Bogor 16161 ABSTRACT

Lebih terperinci

ANALISIS DAYASAING USAHATANI JAGUNG DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW PROPINSI SULAWESI UTARA

ANALISIS DAYASAING USAHATANI JAGUNG DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW PROPINSI SULAWESI UTARA ANALISIS DAYASAING USAHATANI JAGUNG DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW PROPINSI SULAWESI UTARA Zulkifli Mantau, Bahtiar, Aryanto Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Gorontalo Jl. Kopi No.270 Kec. Tilongkabila

Lebih terperinci

(The analysis of profitability, comparative advantage, competitive advantage and import policy impact on beef cattle fattening in west java)

(The analysis of profitability, comparative advantage, competitive advantage and import policy impact on beef cattle fattening in west java) Analisis Tingkat Keuntungan, Keunggulan Kompetitif, Keunggulan Komparatif, dan Dampak Kebijakan Impor Pada Usaha Peternakan Sapi Potong di Provinsi Jawa Barat (The analysis of profitability, comparative

Lebih terperinci

VIII. ANALISIS KEBIJAKAN ATAS PERUBAHAN HARGA OUTPUT/ INPUT, PENGELUARAN RISET JAGUNG DAN INFRASTRUKTUR JALAN

VIII. ANALISIS KEBIJAKAN ATAS PERUBAHAN HARGA OUTPUT/ INPUT, PENGELUARAN RISET JAGUNG DAN INFRASTRUKTUR JALAN VIII. ANALISIS KEBIJAKAN ATAS PERUBAHAN HARGA OUTPUT/ INPUT, PENGELUARAN RISET JAGUNG DAN INFRASTRUKTUR JALAN 8.1. Pengaruh Perubahan Harga Output dan Harga Input terhadap Penawaran Output dan Permintaan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Definisi operasional dan konsep dasar ini mencakup semua pengertian yang

III. METODE PENELITIAN. Definisi operasional dan konsep dasar ini mencakup semua pengertian yang III. METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional dan Konsep Dasar Definisi operasional dan konsep dasar ini mencakup semua pengertian yang dipergunakan untuk memperoleh data yang akan dianalisis sesuai dengan

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING MANGGIS INDONESIA DI PASAR DUNIA (STUDI KASUS DI SUMATERA BARAT)

ANALISIS DAYA SAING MANGGIS INDONESIA DI PASAR DUNIA (STUDI KASUS DI SUMATERA BARAT) ANALISIS DAYA SAING MANGGIS INDONESIA DI PASAR DUNIA (STUDI KASUS DI SUMATERA BARAT) Reni Kustiari, Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Jl. A. Yani 70. Bogor. 16161 Email: renikustiari@yahoo.com

Lebih terperinci

PENENTUAN PRODUK UNGGULAN PADA KAWASAN MINAPOLITAN DI KABUPATEN GIANYAR

PENENTUAN PRODUK UNGGULAN PADA KAWASAN MINAPOLITAN DI KABUPATEN GIANYAR PENENTUAN PRODUK UNGGULAN PADA KAWASAN MINAPOLITAN DI KABUPATEN GIANYAR I Ketut Arnawa Program Studi Agribisnis Universitas Mahasaraswati Denpasar E-mail: arnawa_62@yahoo.co.id ABSTRACT The main objective

Lebih terperinci

KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN DAMPAK KEBIJAKAN PENGURANGAN SUBSIDI INPUT TERHADAP PENGEMBANGAN KOMODITAS KENTANG DI KOTA BATU

KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN DAMPAK KEBIJAKAN PENGURANGAN SUBSIDI INPUT TERHADAP PENGEMBANGAN KOMODITAS KENTANG DI KOTA BATU Habitat Volume XXIV, No. 2, Bulan Agustus 2013 ISSN: 0853-5167 KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN DAMPAK KEBIJAKAN PENGURANGAN SUBSIDI INPUT TERHADAP PENGEMBANGAN KOMODITAS KENTANG DI KOTA BATU COMPARATIVE ADVANTAGE

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERNGK PEMIKIRN 3.1. Kerangka Teoritis Kerangka teoritis berisi teori-teori dan konsep yang berkaitan dengan penelitian analisis keunggulan komparatif dan kompetitif usahatani jambu biji. kerangka

Lebih terperinci

ANALYSIS ON COMPETITIVENESS OF ARABICA COFFEE IN NORTH TAPANULI (Case Study: Bahal Batu III Village, Siborong-borong Subdistrict)

ANALYSIS ON COMPETITIVENESS OF ARABICA COFFEE IN NORTH TAPANULI (Case Study: Bahal Batu III Village, Siborong-borong Subdistrict) ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS KOPI ARABIKA DI KABUPATEN TAPANULI UTARA ( Studi Kasus : Desa Bahal Batu III, Kecamatan Siborong-Borong) ANALYSIS ON COMPETITIVENESS OF ARABICA COFFEE IN NORTH TAPANULI (Case

Lebih terperinci

JIIA, VOLUME 1, No. 4, OKTOBER 2013

JIIA, VOLUME 1, No. 4, OKTOBER 2013 DAYA SAINGJAGUNG DI KECAMATAN SEKAMPUNG UDIK KABUPATEN LAMPUNG TIMUR (Competitiveness of Corn in Sekampung Udik District of East Lampung Regency) Cahya Indah Franiawati, Wan Abbas Zakaria, Umi Kalsum Jurusan

Lebih terperinci

Program Studi Magister Sains Agribisnis, Sekolah Pascasarjana IPB 2

Program Studi Magister Sains Agribisnis, Sekolah Pascasarjana IPB 2 DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP USAHA TANI BERAS ORGANIK DI PROVINSI JAWA BARAT The Impacts of Government Policy towards Organic Rice Farming in West Java Ulpah Jakiyah 1, Lukman M Baga 2, Netti Tinaprilla

Lebih terperinci

JURUSAN ILMU-ILMU SOSIAL EKONOMI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR FANNYTA YUDHISTIRA A

JURUSAN ILMU-ILMU SOSIAL EKONOMI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR FANNYTA YUDHISTIRA A !. KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN DAMPAK KEBIJAKSANAAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITI KAKAO (Kasus di Perkebunan Rajamandala, P1P X1~ Kabupaten 8andung, Jawa Barat) FANNYTA YUDHISTIRA A 29.1599 JURUSAN ILMU-ILMU

Lebih terperinci

I. TINJAUAN PUSTAKA. A. Penelitian Terdahulu

I. TINJAUAN PUSTAKA. A. Penelitian Terdahulu I. TINJAUAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu 1. Penelitian Terdahulu Tentang Padi Organik Prihtanti (2014) meneliti tentang Kinerja dan Multifungsionalitas Usahatani Padi Organik dan Konvensional di Provinsi

Lebih terperinci

DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PENGEMBANGAN USAHATANI BAWANG MERAH DI KECAMATAN BULAKAMBA KABUPATEN BREBES

DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PENGEMBANGAN USAHATANI BAWANG MERAH DI KECAMATAN BULAKAMBA KABUPATEN BREBES Habitat Volume XXV, No. 1, Bulan April 2014 ISSN: 0853-5167 DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PENGEMBANGAN USAHATANI BAWANG MERAH DI KECAMATAN BULAKAMBA KABUPATEN BREBES THE IMPACTS OF GOVERNMENT S

Lebih terperinci

DAYA SAING JAGUNG, KETELA POHON, DAN KETELA RAMBAT PRODUKSI LAHAN KERING DI KECAMATAN KUBU, KABUPATEN KARANGASEM PROVINSI BALI

DAYA SAING JAGUNG, KETELA POHON, DAN KETELA RAMBAT PRODUKSI LAHAN KERING DI KECAMATAN KUBU, KABUPATEN KARANGASEM PROVINSI BALI DAYA SAING JAGUNG, KETELA POHON, DAN KETELA RAMBAT PRODUKSI LAHAN KERING DI KECAMATAN KUBU, KABUPATEN KARANGASEM PROVINSI BALI I Made Tamba Universitas Mahasaraswati Denpasar ABSTRAK Jagung, ketela pohon

Lebih terperinci

Jurnal Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Agriekonomika Volume 5, Nomor 2, 2016

Jurnal Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian  Agriekonomika Volume 5, Nomor 2, 2016 Jurnal Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian http://journal.trunojoyo.ac.id/agriekonomika Agriekonomika Volume 5, Nomor 2, 2016 PENGARUH KEBIJAKAN PENERAPAN SPO TERHADAP PROFITABILITAS PISANG MAS KIRANA

Lebih terperinci

Oleh: Tobari dan Budi Dharmawan Fakultas Pertanian Unsoed Purwokerto (Diterima: 11 September 2004, disetujui: 21 September 2004)

Oleh: Tobari dan Budi Dharmawan Fakultas Pertanian Unsoed Purwokerto (Diterima: 11 September 2004, disetujui: 21 September 2004) PROFIL PENGEMBANGAN DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN SEKTOR PERTANIAN DI KABUPATEN PURBALINGGA JAWA TENGAH (Tinjauan pada Pengembangan Komoditas Jagung) PROFILE OF POLICY AND AGRICULTURE DEVELOPMENT IN PURBALINGGA

Lebih terperinci

Keunggulan Komparatif dan Kompetitif dalam Produksi Padi di Kabupaten Lampung Tengah Propinsi Lampung

Keunggulan Komparatif dan Kompetitif dalam Produksi Padi di Kabupaten Lampung Tengah Propinsi Lampung Jurnal Penelitian Pertanian Terapan Vol.10 (3): 185-199 ISSN 1410-5020 Keunggulan Komparatif dan Kompetitif dalam Produksi Padi di Kabupaten Lampung Tengah Propinsi Lampung Comparative Advantage and Competitive

Lebih terperinci

DAYA SAING USAHA BUDI DAYA IKAN PATIN DI KABUPATEN INDRAGIRI HULU PROVINSI RIAU ABSTRACT ABSTRAK

DAYA SAING USAHA BUDI DAYA IKAN PATIN DI KABUPATEN INDRAGIRI HULU PROVINSI RIAU ABSTRACT ABSTRAK DAYA SAING USAHA BUDI DAYA IKAN PATIN DI KABUPATEN INDRAGIRI HULU PROVINSI RIAU Silvia Hayandani *)1, Muhammad Firdaus **), dan Wiwik Rindayati **) *) Dinas Pendidikan Provinsi Riau Jl. Cut Nyak Dien No.

Lebih terperinci

ANALISIS NILAI TAMBAH DAN DAYA SAING SERTA DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP INDUSTRI TEMPE DI KABUPATEN BOGOR

ANALISIS NILAI TAMBAH DAN DAYA SAING SERTA DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP INDUSTRI TEMPE DI KABUPATEN BOGOR ANALISIS NILAI TAMBAH DAN DAYA SAING SERTA DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP INDUSTRI TEMPE DI KABUPATEN BOGOR (Kasus : Desa Citeureup, Kecamatan Citeureup) Oleh: MERIKA SONDANG SINAGA A14304029 PROGRAM

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Teori Perdagangan Internasional Teori perdagangan internasional merupakan teori yang digunakan untuk mengkaji dasar-dasar terjadinya perdagangan

Lebih terperinci

KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA AGRIBISNIS AYAM RAS PEDAGING DI KABUPATEN LAMONGAN JAWA TIMUR

KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA AGRIBISNIS AYAM RAS PEDAGING DI KABUPATEN LAMONGAN JAWA TIMUR KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA AGRIBISNIS AYAM RAS PEDAGING DI KABUPATEN LAMONGAN JAWA TIMUR NOVI ITSNA HIDAYATI Dosen Jurusan Agribisnis, Fakultas Pertanian Universitas Yudharta Pasuruan ABSTRACT:

Lebih terperinci

DAYA SAING USAHA TERNAK SAPI PERAH RAKYAT DI KECAMATAN PUJON KABUPATEN MALANG JAWA TIMUR

DAYA SAING USAHA TERNAK SAPI PERAH RAKYAT DI KECAMATAN PUJON KABUPATEN MALANG JAWA TIMUR Daya Saing Usaha Ternak Sapi Perah Rakyat Di Kecamatan Pujon Kabupaten Malang Jawa Timur DAYA SAING USAHA TERNAK SAPI PERAH RAKYAT DI KECAMATAN PUJON KABUPATEN MALANG JAWA TIMUR Harmini Adibowo Departemen

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian

METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat tepatnya di Kecamatan Samarang. Pemilihan lokasi ditentukan secara sengaja (purposive)

Lebih terperinci

DAYA SAING KACANG TANAH PRODUKSI KECAMATAN KUBU KABUPATEN KARANGASEM

DAYA SAING KACANG TANAH PRODUKSI KECAMATAN KUBU KABUPATEN KARANGASEM 1043 DAYA SAING KACANG TANAH PRODUKSI KECAMATAN KUBU KABUPATEN KARANGASEM I Made Tamba, I Made Sukerta, I Ketut Widnyana Universitas Mahasaraswati made.tamba125@gmail.com ABSTRAK Pengembangan usahatani

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING KEDELAI DI JAWA TIMUR

ANALISIS DAYA SAING KEDELAI DI JAWA TIMUR ANALISIS DAYA SAING KEDELAI DI JAWA TIMUR MUHAMMAD FIRDAUS *) *) Staf Pengajar pada STIE Mandala Jember Alamat. Jl Sumatera Jember 68121 ABSTRACT The objective of the study were (1) to know the trend of

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Komoditas Unggulan Agribisnis Komoditas unggulan adalah komoditas andalan yang paling menguntungkan untuk diusahakan atau dikembangkan pada suatu daerah (Depkimpraswil, 2003).

Lebih terperinci

ANALISIS DAYASAING KOMODITI TEMBAKAU RAKYAT DI KLATEN JAWA TENGAH PENDAHULUAN

ANALISIS DAYASAING KOMODITI TEMBAKAU RAKYAT DI KLATEN JAWA TENGAH PENDAHULUAN ANALISIS DAYASAING KOMODITI TEMBAKAU RAKYAT DI KLATEN JAWA TENGAH SAPTANA, SUPENA FRIYATNO DAN TRI BASTUTI P. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor ABSTRACT Historically tobacco

Lebih terperinci

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF JERUK SIAM DI SENTRA PRODUKSI

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF JERUK SIAM DI SENTRA PRODUKSI ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF JERUK SIAM DI SENTRA PRODUKSI ANALYSIS OF CITRUS COMPARATIF AND COMPETITIVE ADVANTAGE IN PRODUCTION CENTRE Apri Laila Sayekti* dan Lizia Zamzami** Puslitbang

Lebih terperinci

STUDI KEUNGGULAN KOMPARATIF USAHATANI TEBU ABSTRACT ABSTRAK

STUDI KEUNGGULAN KOMPARATIF USAHATANI TEBU ABSTRACT ABSTRAK AGRISE Volume X No. 2 Bulan Mei 2010 ISSN: 1412-1425 STUDI KEUNGGULAN KOMPARATIF USAHATANI TEBU (COMPARATIVE ADVANTAGE STUDY OF SUGAR CANE FARMING) Riyanti Isaskar 1, Salyo Sutrisno 1, Dinik Putri D. 1

Lebih terperinci

EFISIENSI DAN DAYASAING USAHATANI TEBU DAN TEMBAKAU DI JAWA TIMUR DAN JAWA TENGAH

EFISIENSI DAN DAYASAING USAHATANI TEBU DAN TEMBAKAU DI JAWA TIMUR DAN JAWA TENGAH EFISIENSI DAN DAYASAING USAHATANI TEBU DAN TEMBAKAU DI JAWA TIMUR DAN JAWA TENGAH Saptana, Supena, dan Tri Bastuti Purwantini Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian Jl. A. Yani No.

Lebih terperinci

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHATANI PALA (STUDI KASUS: KABUPATEN BOGOR DAN SUKABUMI)

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHATANI PALA (STUDI KASUS: KABUPATEN BOGOR DAN SUKABUMI) Analisis Keunggulan Komparatif dan Kompetitif Usahatani Pala (Studi Kasus: Kabupaten Bogor dan Sukabumi) (Abdul Muis Hasibuan, Bedy Sudjarmoko, dan Dewi Listyati) ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dapat dihasilkan dari berbagai cara yang berbeda. Metode produksi yang digunakan dalam proses

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dapat dihasilkan dari berbagai cara yang berbeda. Metode produksi yang digunakan dalam proses BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Teori Produksi Produksi meliputi semua kegiatan untuk menciptakan atau menambah nilai atau guna suatu barang atau jasa. Proses produksi menunjukkan metode atau cara produksi.

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PRODUKSI GULA PADA PABRIK GULA DJATIROTO SKRIPSI

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PRODUKSI GULA PADA PABRIK GULA DJATIROTO SKRIPSI ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PRODUKSI GULA PADA PABRIK GULA DJATIROTO SKRIPSI Oleh Farina Fauzi NIM. 021510201206 JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS

Lebih terperinci

Lampiran 1. Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Tanaman Ubi Jalar Seluruh Provinsi Tahun 2009

Lampiran 1. Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Tanaman Ubi Jalar Seluruh Provinsi Tahun 2009 Lampiran 1. Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Tanaman Ubi Jalar Seluruh Provinsi Tahun 2009 Provinsi Luas Panen Produksi(Ton) Produktivitas(Ku/Ha) (Ha) Indonesia 183 874 2 057 913 111,92 Aceh 1 519

Lebih terperinci

DAYA SAING USAHA TERNAK SAPI RAKYAT PADA KELOMPOK TANI DAN NON KELOMPOK TANI (suatu survey di Kelurahan Eka Jaya)

DAYA SAING USAHA TERNAK SAPI RAKYAT PADA KELOMPOK TANI DAN NON KELOMPOK TANI (suatu survey di Kelurahan Eka Jaya) Volume, Nomor 2, Hal. 09-6 ISSN 0852-8349 Juli - Desember 2009 DAYA SAING USAHA TERNAK SAPI RAKYAT PADA KELOMPOK TANI DAN NON KELOMPOK TANI (suatu survey di Kelurahan Eka Jaya) Muhammad Farhan dan Anna

Lebih terperinci

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pendekatan Penelitian Sistem Usaha Pertanian dan Agribisnis

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pendekatan Penelitian Sistem Usaha Pertanian dan Agribisnis II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pendekatan Penelitian Sistem Usaha Pertanian dan Agribisnis Pada awalnya penelitian tentang sistem pertanian hanya terbatas pada tahap budidaya atau pola tanam, tetapi pada tahun

Lebih terperinci

Analisis Tingkat Keuntungan Usahatani Padi Sawah sebagai Dampak dari adanya Subsidi Pupuk di Kabupaten Tabanan

Analisis Tingkat Keuntungan Usahatani Padi Sawah sebagai Dampak dari adanya Subsidi Pupuk di Kabupaten Tabanan Analisis Tingkat Keuntungan Usahatani Padi Sawah sebagai Dampak dari adanya Subsidi Pupuk di Kabupaten Tabanan NI LUH PRIMA KEMALA DEWI Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Univesitas Udayana Jalan

Lebih terperinci

Jl. Veteran Malang Telp (0341)

Jl. Veteran Malang Telp (0341) HABITAT Volume XIV No. 2 Bulan Agustus 2013 ISSN: 0853-5167 KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN DAMPAK KEBIJAKAN SUBSIDI INPUT OUTPUT TERHADAP PENGEMBANGAN KOMODITAS KEDELAI (Glycine max) DI KABUPATEN PASURUAN (Studi

Lebih terperinci

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF KOMODITAS KENTANG DAN KUBIS DI WONOSOBO JAWA TENGAH

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF KOMODITAS KENTANG DAN KUBIS DI WONOSOBO JAWA TENGAH ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF KOMODITAS KENTANG DAN KUBIS DI WONOSOBO JAWA TENGAH SAPTANA, SUMARYANTO DAN SUPENA FRIYATNO 1) Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian,

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Faktor-Faktor Penting yang Memengaruhi Dayasaing Suatu Komoditas

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Faktor-Faktor Penting yang Memengaruhi Dayasaing Suatu Komoditas II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Faktor-Faktor Penting yang Memengaruhi Dayasaing Suatu Komoditas Dayasaing sangat penting dalam menentukan keberhasilan suatu industri karena dayasaing merupakan kemampuan suatu

Lebih terperinci

EMBRYO VOL. 7 NO. 2 DESEMBER 2010 ISSN 0216-0188

EMBRYO VOL. 7 NO. 2 DESEMBER 2010 ISSN 0216-0188 EMBRYO VOL. 7 NO. 2 DESEMBER 2010 ISSN 0216-0188 ANALISIS USAHA TANI DAN EVALUASI KEBIJAKAN PEMERINTAH TERKAIT KOMODITAS CABAI BESAR DI KABUPATEN MALANG DENGAN MENGGUNAKAN POLICY ANALYSIS MATRIX (PAM)

Lebih terperinci

BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN. menembus dengan volume 67 ton biji gelondong kering (Direktorat Jenderal

BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN. menembus dengan volume 67 ton biji gelondong kering (Direktorat Jenderal BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN Perkembangan ekspor jambu mete di Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem selama Tahun 2009 mencapai volume sebanyak 57 ton biji gelondong kering dan diharapkan pada Tahun 2010

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. I. PENDAHULUAN 1.Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Manfaat Penelitian... 4

DAFTAR ISI. I. PENDAHULUAN 1.Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Manfaat Penelitian... 4 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGAJUAN... ii HALAMAN PENGESAHAN... iii HALAMAN PENYATAAN... iv KATA PENGANTAR... v DAFTAR ISI... vi DAFTAR TABEL... viii DAFTAR GAMBAR... ix DAFTAR LAMPIRAN...

Lebih terperinci

DAYA SAING USAHATANI LADA DI LAMPUNG

DAYA SAING USAHATANI LADA DI LAMPUNG DAYA SAING USAHATANI LADA DI LAMPUNG Abdul Muis Hasibuan dan Bedy Sudjarmoko Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri ABSTRAK Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kelayakan dan daya

Lebih terperinci

DAMPAK KRISIS MONETER DAN KEBIJAKSANAAN PEMERINTAH TERHADAP DAYA SAING AGRIBISNIS AYAM RAS PEDAGING DI JAWA BARAT

DAMPAK KRISIS MONETER DAN KEBIJAKSANAAN PEMERINTAH TERHADAP DAYA SAING AGRIBISNIS AYAM RAS PEDAGING DI JAWA BARAT DAMPAK KRISIS MONETER DAN KEBIJAKSANAAN PEMERINTAH TERHADAP DAYA SAING AGRIBISNIS AYAM RAS PEDAGING DI JAWA BARAT SAPTANA dan I WAYAN RUSASTRA 1 Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian Badan Penelitian

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Gula merupakan salah satu komoditas perkebunan strategis Indonesia baik

I. PENDAHULUAN. Gula merupakan salah satu komoditas perkebunan strategis Indonesia baik I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Gula merupakan salah satu komoditas perkebunan strategis Indonesia baik dari dimensi ekonomi, sosial, maupun politik. Indonesia memiliki keunggulan komparatif sebagai

Lebih terperinci

II. METODOLOGI PENELITIAN

II. METODOLOGI PENELITIAN II. METODOLOGI PENELITIAN 1. Kerangka Pemikiran Perdagangan internasional terjadi karena adanya perbedaan dalam hal kepemilikan sumberdaya dan cara pengelolaannya di tiap-tiap negara Suatu negara akan

Lebih terperinci