Lampiran 1. Syarat Mutu Lada Putih Mutu I dan Mutu II. binatang

Save this PDF as:

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Lampiran 1. Syarat Mutu Lada Putih Mutu I dan Mutu II. binatang"

Transkripsi

1 131 Lampiran 1. Syarat Mutu Lada Putih Mutu I dan Mutu II No Jenis Uji Satuan 1 Cemaran Binatang 2 Warna 3 Kadar Benda Asing (b/b) 4 Kadar Biji Enteng (b/b) 5 Kadar Cemaran Kapang 6 Kadar Warna Kehitam-hitaman 7 Kadar Air - - % % % % % Persyaratan Mutu I Mutu II Bebas dari serangga Bebas dari serangga hidup maupun mati hidup maupun mati serta bagian-bagian serta bagian-bagian yang berasal dari yang berasal dari binatang binatang Putih Kekuningkuningakuningan, Putih Kekuning- Putih keabu-abuan atau putih kecoklatan Maks 1.0 Maks 2.0 Maks 1.0 Maks 2.0 Maks 1 Maks 1 Maks 1.0 Maks Kadar Piperin Dicantumkan sesuai % hasil analisa 9 Kadar Minyak Dicantumkan sesuai % Atsiri hasil analisa Sumber : Dewan Standar Nasional, Maks 13.0 Maks 14.0 Dicantumkan sesuai hasil analisa Dicantumkan sesuai hasil analisa

2 132 Lampiran 2. Data Luas Areal, Produksi dan Produktivitas Lada Putih Menurut Kabupaten di Provinsi Bangka Belitung Tahun 2009 No Kabupaten/Kota Luas Lahan (Ha) % Produksi (Ton) % Produksi Rata-Rata (Ton/Ha/Thn) 1 Bangka Bangka Selatan Bangka Tengah Bangka Barat ,5 5 Belitung Belitung Timur Pangkalpinang Total Sumber : Dinas Pertanian, Peternakan dan Perkebunan Provinsi Bangka Belitung, 2010.

3 133 Lampiran 3. Alokasi Komponen Biaya Input dan Output dalam Komponen Domestik dan Asing No Uraian Domestik Asing A 1. Penerimaan Lada Putih B Biaya Input Produksi Bibit Lada Tajar/Ajir Hidup Pupuk : Kandang Urea NPK/SP KCL Dolomit Obat-Obatan Tenaga Kerja Penyusutan Peralatan** Sewa Lahan Biaya Tataniaga : Pengangkutan Penanganan Sumber : Novianti, 2003; Sudarlin, 2008.

4 134 Lampiran 4. Perhitungan Standar Convertion Faktor dan Shadow Price Exchange rate Tahun (Milyar Rupiah) Tahun Xt Mt TXt TMt OER SCF SER Sumber : BPS 2007; BPS, 2010; Kementrian Keuangan 2010; Bank Indonesia, 2010.

5 135 Lampiran 5. Metode Pendekatan Penentuan Harga Privat dan Sosial Usaha Tanaman Lada Putih di Provinsi Bangka Belitung No Uraian Harga Privat Harga Bayangan Sosial 1 Output Harga yang berlaku Harga perbatasan FOB. dipasaran Harga Bayangan Lada Putih = (FOB x SER) Biaya Tataniaga (Pearson, et all, 2005) 2 Lahan Sewa lahan (Private Opportunity Cost) 3 Tenaga Kerja Tingkat Upah yang belaku di daerah penelitian 4 Bibit Lada Harga yang berlaku dipasaran 5 Pupuk Organik Harga yang berlaku dipasaran Anorganik 6 Obat-obatan Harga yang berlaku dipasaran 7. Tajir/Tajar Harga yang berlaku Hidup dipasaran 8 Biaya Biaya Penyusutan Peralatan peralatan 9 Nilai Tukar Nilai tukar yang berlaku saat penelitian berlangsung Sama dengan harga privat Berdasarkan konsep produk marginal (Gittenger, 1986) mempertimbangkan tingkat pengangguran. Tingkat Pengangguran 6 persen. sehingga 94 % dari upah aktual. Sama dengan harga privat Sama dengan harga privat Fob/Cif +biaya pengangkutan Fob/Cif +biaya pengangkutan Sama dengan harga privat Sama dengan harga privat Keseimbangan nilai tukar uang yang didekati dengan menggunakan SCF (standar conversion factor.

6 136 Lampiran 6. Luas Areal Luas dan Produksi Lada per Propinsi di Indonesia Tahun 2009 dan Tahun No Provinsi Luas Produksi Luas Produksi Areal (Ha) (Ton) Areal (Ha) (Ton) 1. Nangro Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepulaun Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Utara Papua Indonesia Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan, 2010.

7 Lampiran an 7. Input Output Lada Putih Menurut Umur Berdasarkan Harga Privat/Finansial di Provinsi Bangka Belitung Tahun 2010/2011 (Rp/Ha) No Uraian satuan Harga Umur (Tahun) Ke Nilai (Rp/Tahun) Ke Satuan (Rp) Volume (Ha/Tahun) Volume (Ha/Tahun) A Output Kg B Input 1. Bibit Lada Btg Ajir Hidup Btg Pupuk Oganik Organik Urea Kg SP36/TSP KCL Dolomit omit Tenaga Kerja 0 1 Pembukaan Lahan a Penanaman HOK 3 Pemeliharaan eliharaan Panen Pasca panen Peralatan 0 Cangkul Parang/Golok ang/golok Buah Arit Sprayer Sewa Lahan Tahun Pajak Tahun Total Biaya C. Pendapatan i

8 Lampiran an 8. Input Output Lada Putih Menurut Umur Berdasarkan Harga Sosial/Ekonomi di Provinsi Bangka Belitung Tahun 2010/2011 (Rp/Ha) No Uraian satuan Harga Umur (Tahun) Ke Nilai (Rp/Tahun) Ke Satuan (Rp) Volume (Ha/Tahun) Volume (Ha/Tahun) A Penerimaan e Kg B Pengeluaran 1. Bibit i Lada Batang Ajir Hidup Batang Pupuk uk Organik Urea SP36/TSP Kg KCL Dolomit omit Tenaga Kerja Pembukaan Lahan Penanaman HOK Pemeliharaan eliharaan Panen Pasca panen Peralatan Cangkul Parang/Golok Buah Arit Sprayer Sewa Lahan Tahun Pajak Tahun Total Biaya C. Pendapatan

9

10

11

12 Lampiran an 8. Input Output Lada Putih Menurut Umur Berdasarkan Harga Sosial/Ekonomi di Provinsi Bangka Belitung Tahun 2010/2011 (Rp/Ha) No Uraian satuan Harga Umur (Tahun) Ke Nilai (Rp/Tahun) Ke Satuan (Rp) Volume (Ha/Tahun) Volume (Ha/Tahun) A Penerimaan an Kg B Pengeluaran eluaran an 1. Bibit Lada Batang Ajir Hidup Batang Pupuk Organik Urea SP36/TSP Kg KCL Dolomit Tenaga Kerja Pembukaan Lahan Penanaman HOK Pemeliharaan an Panen Pasca panen Peralatan Cangkul Parang/Golok Buah Arit Sprayer Sewa Lahan Tahun Pajak Tahun Total Biaya C. Pendapatan

13 Lampiran 9. Lanjutan III a. Input Pupuk Organik Kg Urea Kg SP36/TSP Kg KCL Kg Dolomit Kg b. Tenaga Kerja Pemeliharaan Hok Panen Hok Pasca panen Hok c. Peralatan Cangkul set Parang/Golok set Arit set Sprayer set d. Sewa Lahan Tahun e. Pajak Tahun IV a. Input Pupuk Organik Kg Urea Kg SP36/TSP Kg KCL Kg b. Tenaga Kerja Pemeliharaan Hok Panen Hok Pasca panen Hok c. Peralatan Cangkul set Parang/Golok set Arit set Sprayer set d. Sewa Lahan Tahun e. Pajak Tahun

14 Lampiran 9. Lanjutan V a. Input Pupuk Organik Kg Urea Kg SP36/TSP Kg KCL Kg b. Tenaga Kerja Pemeliharaan Hok Panen Hok Pasca panen Hok c. Peralatan Cangkul set Parang/Golok set Arit set Sprayer set d. Sewa Lahan Tahun e. Pajak Tahun VI a. Input Pupuk Organik Kg Urea Kg SP36/TSP Kg KCL Kg b. Tenaga Kerja Pemeliharaan Hok Panen Hok Pasca panen Hok c. Peralatan Cangkul set Parang/Golok set Arit set Sprayer set d. Sewa Lahan Tahun e. Pajak Tahun

15 Lampiran 9. Lanjutan VII a. Input Pupuk Organik Kg Urea Kg SP36/TSP Kg KCL Kg b. Tenaga Kerja Pemeliharaan Hok Panen Hok Pasca panen Hok c. Peralatan Cangkul set Parang/Golok set Arit set Sprayer set d. Sewa Lahan Tahun e. Pajak Tahun VIII a. Input Pupuk Organik Kg Urea Kg SP36/TSP Kg KCL Kg b. Tenaga Kerja Pemeliharaan Hok Panen Hok Pasca panen Hok c. Peralatan Cangkul set Parang/Golok set Arit set Sprayer set d. Sewa Lahan Tahun e. Pajak Tahun

16 Lampiran 9. Lanjutan IX a. Input Pupuk Organik Kg Urea Kg SP36/TSP Kg KCL Kg b. Tenaga Kerja Pemeliharaan Hok Panen Hok Pasca panen Hok c. Peralatan Cangkul set Parang/Golok set Arit set Sprayer set d. Sewa Lahan Tahun e. Pajak Tahun X a. Input Pupuk Organik Kg Urea Kg SP36/TSP Kg KCL Kg b. Tenaga Kerja Pemeliharaan Hok Panen Hok Pasca panen Hok c. Peralatan Cangkul set Parang/Golok set Arit set Sprayer set d. Sewa Lahan Tahun e. Pajak Tahun

17 Lampiran 10. Analisis Finansial Lada Putih di Provinsi Bangka Belitung, Tahun 2011 Produksi Tahun Harga DF Nilai Kini Penerimaan Domestik Asing Keuntungan Lada 15% Penerimaan Domestik Asing Keuntungan (Kg) (Rp/Kg) (Rupiah) (Rupiah) Total Net Present Value (NPV) Rasio Benefit/Cost 1.214

18 Lampiran 11. Analisis Ekonomi Lada Putih di Provinsi Bangka Belitung, Tahun 2011 Produksi Harga DF Nilai Kini Penerimaan Domestik Asing Keuntungan Tahun Lada 15% Penerimaan Domestik Asing Keuntungan (Kg) (Rp/Kg) (Rupiah) (Rupiah) Total Net Present Value (NPV) Rasio Benefit/Cost 1.217

19 146 Lampiran 12. Hasil Matrik Analisis Kebijakan Lada Putih di Bangka Belitung Tabel 1.Tabel PAM Lada Putih di Provinsi Bangka Belitung Uraian Penerimaan (Rp/ha) Biaya (Rp/ha) Input Tradable Faktor domestik Pendapatan (Rp/ha) Nilai Finansial Nilai Ekonomi Dampak a Kebijakan dan Distorsi Pasar Tabel.2. Tabel Indikator Daya Saing dan Dampak Kebijakan Pemerintah Usahatani Lada Puth di Provinsi Bangka Belitung Indikator Daya Saing Nilai 1. Keuntungan Privat (Rp/ha) Keuntungan Sosial (Rp/ha) Privat Cost Ratio (PCR) Domestic Resource Cost Ratio (DRCR) Indikator Dampak Kebijakan 1. Transfer Output (TO) (Rp/ha) NPCO Transfer Input utk input tradeble (IT) (Rp/ha) NPCI Transfer Faktor utk Non Tradable (TF) (Rp/ha) EPC Net Trasnfer (NT) (Rp/ha) PC SRP

20 Lampiran 13. Analisis Finansial Lada Putih Ketika Produksi Turun 20 Persen di Provinsi Bangka Belitung, Tahun 2011 Tahun Produksi Harga DF Nilai Kini Penerimaan Domestik Asing Keuntungan Lada 15% Penerimaan Domestik Asing Keuntungan (Kg) (Rp/Kg) (Rupiah) (Rupiah) , , , , , , , , , , Total Net Present Value (NPV) Rasio Benefit/Cost 0.971

21 Lampiran 14. Analisis Ekonomi Lada Putih Ketika Porduksi Turun 20 Persen di Provinsi Bangka Belitung, Tahun 2011 Produksi Harga DF Nilai Kini Tahun Lada Penerimaan Domestik Asing Keuntungan 15% Penerimaan Domestik Asing Keuntungan (Kg) (Rp/Kg) (Rupiah) (Rupiah) , , , , , , , , , , Total Net Present Value (NPV) Rasio Benefit/Cost 0.974

22 Lampiran 15. Analisis Finansial Lada Putih Ketika Harga Output Turun 20 Persen di Provinsi Bangka Belitung, Tahun 2011 Tahun Produksi Harga DF Nilai Kini Penerimaan Domestik Asing Keuntungan Lada 15% Penerimaan Domestik Asing Keuntungan (Kg) (Rp/Kg) (Rupiah) (Rupiah) Total Net Present Value (NPV) Rasio Benefit/Cost 0.971

23 Lampiran 16. Analisis Ekonomi Lada Putih Ketika Harga Output Turun 20 Persen di Provinsi Bangka Belitung, Tahun 2011 Produksi Harga DF Nilai Kini Tahun Lada Penerimaan Domestik Asing Keuntungan 15% Penerimaan Domestik Asing Keuntungan (Kg) (Rp/Kg) (Rupiah) (Rupiah) , , , , , , , , , , Total Net Present Value (NPV) Rasio Benefit/Cost 0.974

24 Lampiran 17. Analisis Finansial Lada Putih Ketika Harga Pupuk Naik 20 Persen di Provinsi Bangka Belitung, Tahun 2011 Tahun Produksi Harga DF Nilai Kini Penerimaan Domestik Asing Keuntungan Lada 15% Penerimaan Domestik Asing Keuntungan (Kg) (Rp/Kg) (Rupiah) (Rupiah) , , , , , , , , , , Total Net Present Value (NPV) Rasio Benefit/Cost 1.12

25 Lampiran 18. Analisis Ekonomi Lada Putih Ketika Harga pupuk Naik 20 Persen di Provinsi Bangka Belitung, Tahun 2011 Produksi Harga DF Nilai Kini Penerimaan Domestik Asing Keuntungan Tahun Lada 15% Penerimaan Domestik Asing Keuntungan (Kg) (Rp/Kg) (Rupiah) (Rupiah) , , , , , , , , , , Total Net Present Value (NPV) Rasio Benefit/Cost 1.10

26

27 153 Lampiran 19. Matrik Analisis Kebijakan Ketika Produksi Turun 20 Persen Uraian Penerimaan (Rp/ha) Input Tradable Biaya(Rp/ha) Faktor domestik Pendapatan (Rp/ha) Nilai Finansial Nilai Ekonomi Dampak Kebijakan dan Distorsi Pasar Indikator Daya Saing Keuntungan Privat PCR Keuntungan Sosial DRCR Lampiran 20. Matrik Analisis Kebijakan Ketika Harga Output Turun 20 Persen Uraian Penerimaan (Rp/ha) Input Tradable Biaya(Rp/ha) Faktor domestik Pendapatan (Rp/ha) Nilai Finansial Nilai Ekonomi Dampak Kebijakan dan Distorsi Pasar Indikator Daya Saing Keuntungan Privat PCR Keuntungan Sosial DRCR Lampiran 21. Matrik Analisis Kebijakan Ketika Harga Pupuk Naik 20 Persen Uraian Penerimaan (Rp/ha) Input Tradable Biaya(Rp/ha) Faktor domestik Pendapatan (Rp/ha) Nilai Finansial Nilai Ekonomi Dampak Kebijakan dan Distorsi Pasar Indikator Daya Saing Keuntungan Privat PCR 0.89 Keuntungan Sosial DRCR 0.90

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN 45 IV. METODE PENELITIAN 4.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kepulauan Tanakeke, Kabupaten Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan. Pemilihan daerah tersebut dilakukan secara purposive

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN

IV METODE PENELITIAN IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Desa Cilembu (Kecamatan Tanjungsari) dan Desa Nagarawangi (Kecamatan Rancakalong) Kabupaten Sumedang, Propinsi Jawa Barat.

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN 51 IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di tiga tempat di Provinsi Bangka Belitung yaitu Kabupaten Bangka Selatan, Kabupaten Bangka Barat, dan Kabupaten Belitung.

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Pasir Penyu dan Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Kabupaten Indragiri Hulu terdiri

Lebih terperinci

VII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING LADA PUTIH

VII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING LADA PUTIH 93 VII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING LADA PUTIH 7.1. Justifikasi Harga Bayangan Penelitian ini, untuk setiap input dan output ditetapkan dua tingkat harga, yaitu harga

Lebih terperinci

VI HASIL DAN PEMBAHASAN

VI HASIL DAN PEMBAHASAN VI HASIL DAN PEMBAHASAN Pengusahaan ubi jalar di Kabupaten Sumedang dipusatkan di daerah pengembangan yaitu di Desa Cilembu (Pamulihan) sebagai penghasil ubi Cilembu dan Desa Nagarawangi (Rancakalong)

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan tujuan

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan tujuan 33 III. METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional dan Konsep Dasar Konsep dasar dan batasan operasional ini mencakup pengertian yang digunakan untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 26 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan batasan operasional merupakan pengertian dan petunjuk mengenai variabel yang akan diteliti untuk memperoleh dan menganalisis

Lebih terperinci

Pendapatan Rata-Rata Peternak Sapi Perah Per Ekor/Bulan

Pendapatan Rata-Rata Peternak Sapi Perah Per Ekor/Bulan LAMPIRAN 82 Lampiran 1. Pendapatan Rata-Rata Peternak Sapi Perah Per Ekor/Bulan No Keterangan Jumlah Satuan Harga Nilai A Penerimaan Penjualan Susu 532 Lt 2.930,00 1.558.760,00 Penjualan Sapi 1 Ekor 2.602.697,65

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu Menurut penelitian Fery (2013) tentang analisis daya saing usahatani kopi Robusta di kabupaten Rejang Lebong dengan menggunakan metode Policy Analiysis

Lebih terperinci

Lampiran 1. Perhitungan Nilai Tukar Bayangan

Lampiran 1. Perhitungan Nilai Tukar Bayangan LAMPIRAN Lampiran 1. Perhitungan Nilai Tukar Bayangan No. Bulan Tahun 2010 1 Januari 9,365.00 2 Februari 9,335.00 3 Maret 9,115.00 4 April 9,012.00 5 Mei 9,180.00 6 Juni 9,083.00 7 Juli 8,952.00 8 Agustus

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional ini mencakup pengertian yang. jagung per musim tanam yang, diukur dalam satuan ton.

III. METODOLOGI PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional ini mencakup pengertian yang. jagung per musim tanam yang, diukur dalam satuan ton. III. METODOLOGI PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan definisi operasional ini mencakup pengertian yang digunakan untuk mendapatkan data dan melakukan analisis terhadap tujuan

Lebih terperinci

Lampiran 1. Perhitungan Premium Nilai Tukar dan Nilai Tukar Bayangan Tahun 2009

Lampiran 1. Perhitungan Premium Nilai Tukar dan Nilai Tukar Bayangan Tahun 2009 LAMPIRAN Lampiran 1. Perhitungan Premium Nilai Tukar dan Nilai Tukar Bayangan Tahun 2009 Uraian Jumlah (Rp) Total Ekspor (Xt) 1,211,049,484,895,820.00 Total Impor (Mt) 1,006,479,967,445,610.00 Penerimaan

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP JERUK SIAM

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP JERUK SIAM VI ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP JERUK SIAM 6.1. Analisis Daya Saing Analisis keunggulan kompetitif dan komparatif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan kemampuan jeruk

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN 28 IV. METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan dari Bulan Pebruari sampai April 2009, mengambil lokasi di 5 Kecamatan pada wilayah zona lahan kering dataran rendah

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN. Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Pemilihan lokasi

IV. METODE PENELITIAN. Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Pemilihan lokasi IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Studi kasus penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Sukaresmi dan Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Pemilihan lokasi dilakukan secara purpossive

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING KOMODITI LADA DI KABUPATEN KOLAKA TIMUR

ANALISIS DAYA SAING KOMODITI LADA DI KABUPATEN KOLAKA TIMUR 117 ANALISIS DAYA SAING KOMODITI LADA DI KABUPATEN KOLAKA TIMUR Nursalam 1*, Yuli Purbaningsih 2, Muh. Obi Kasmin 3 123 Program Studi Agribisnis Universitas Sembilanbelas November Kolaka, Popalia, Kolaka,

Lebih terperinci

DAFTAR ALAMAT MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TAHUN 2008/2009

DAFTAR ALAMAT MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TAHUN 2008/2009 ACEH ACEH ACEH SUMATERA UTARA SUMATERA UTARA SUMATERA BARAT SUMATERA BARAT SUMATERA BARAT RIAU JAMBI JAMBI SUMATERA SELATAN BENGKULU LAMPUNG KEPULAUAN BANGKA BELITUNG KEPULAUAN RIAU DKI JAKARTA JAWA BARAT

Lebih terperinci

Lampiran.1 Perkembangan Produksi Bayam Di Seluruh Indonesia Tahun

Lampiran.1 Perkembangan Produksi Bayam Di Seluruh Indonesia Tahun Lampiran.1 Perkembangan Produksi Bayam Di Seluruh Indonesia Tahun 2003 2006 No Propinsi Produksi Th 2003 Th 2004 Th 2005 Th 2006 1 Aceh 2.410 4.019 3.859 3.571 2 Sum. Utara 10.958 6.222 3.169 8.996 3 Sum.

Lebih terperinci

DAFTAR TABEL. 1. Produksi manggis di Pulau Sumatera tahun Produksi manggis kabupaten di Provinsi Lampung tahun

DAFTAR TABEL. 1. Produksi manggis di Pulau Sumatera tahun Produksi manggis kabupaten di Provinsi Lampung tahun DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1. Produksi manggis di Pulau Sumatera tahun 2012... 5 2. Produksi manggis kabupaten di Provinsi Lampung tahun 2010-2012... 6 3. Luas panen, produktivitas, dan produksi manggis

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

METODE PENELITIAN. 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan

Lebih terperinci

7. Pengangkutan dan Komunikasi 7,3 8,0 8,8 9,4 9,8 8. Keuangan, Real Estate dan 9,4 9,6 9,6 9,6 9,6

7. Pengangkutan dan Komunikasi 7,3 8,0 8,8 9,4 9,8 8. Keuangan, Real Estate dan 9,4 9,6 9,6 9,6 9,6 LAMPIRAN Lampiran 1. Distribusi Persentase Produk Bruto (PDB) atas Dasar Harga Konstan Menurut Lapangan Usaha (2007-2011) Lapangan Usaha 2007 2008 2009 2010* 2011** 1. Pertanian, Peternakan, 13,8 13,7

Lebih terperinci

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1. Analisis Daya Saing Analisis keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan prospek serta kemampuan komoditi gula lokal yang dihasilkan

Lebih terperinci

VI. ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA USAHATANI JAMBU BIJI

VI. ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA USAHATANI JAMBU BIJI VI. ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA USAHATANI JAMBU BIJI Daya saing usahatani jambu biji diukur melalui analisis keunggulan komparatif dan kompetitif dengan menggunakan Policy

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. A. Metode Dasar Penelitian

METODE PENELITIAN. A. Metode Dasar Penelitian II. METODE PENELITIAN A. Metode Dasar Penelitian Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode deskriptif analitis. Menurut Nazir (2014) Metode deskriptif adalah suatu metode dalam

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. 4.1 METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan

Lebih terperinci

3.5 Teknik Pengumpulan data Pembatasan Masalah Definisi Operasional Metode Analisis Data

3.5 Teknik Pengumpulan data Pembatasan Masalah Definisi Operasional Metode Analisis Data DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... ii HALAMAN PERNYATAAN... iii KATA PENGANTAR... iv DAFTAR ISI... vi DAFTAR TABEL... ix DAFTAR GAMBAR... xi DAFTAR LAMPIRAN... xii ABSTRAK... xiii ABSTRACT...

Lebih terperinci

Populasi Ternak Menurut Provinsi dan Jenis Ternak (Ribu Ekor),

Populasi Ternak Menurut Provinsi dan Jenis Ternak (Ribu Ekor), Babi Aceh 0.20 0.20 0.10 0.10 - - - - 0.30 0.30 0.30 3.30 4.19 4.07 4.14 Sumatera Utara 787.20 807.40 828.00 849.20 871.00 809.70 822.80 758.50 733.90 734.00 660.70 749.40 866.21 978.72 989.12 Sumatera

Lebih terperinci

VIII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING RUMPUT LAUT

VIII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING RUMPUT LAUT 83 VIII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING RUMPUT LAUT 8.1. Struktur Biaya, Penerimaan Privat dan Penerimaan Sosial Tingkat efesiensi dan kemampuan daya saing rumput laut di

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. IV. GAMBARAN UMUM Gambaran Umum Wilayah Penelitian... 49

DAFTAR ISI. IV. GAMBARAN UMUM Gambaran Umum Wilayah Penelitian... 49 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... ii PERNYATAAN... iii KATA PENGANTAR... iv DAFTAR ISI... v DAFTAR TABEL... vii DAFTAR GAMBAR... x DAFTAR LAMPIRAN... xi INTISARI... xiii ABSTRACT... xiv

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Lokasi penelitian dilaksanakan di Kabupaten Teluk Bintuni. Pemilihan

METODE PENELITIAN. Lokasi penelitian dilaksanakan di Kabupaten Teluk Bintuni. Pemilihan IV. METODE PENELITIAN 4.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Lokasi penelitian dilaksanakan di Kabupaten Teluk Bintuni. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive), dengan pertimbangan merupakan

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian

METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat tepatnya di Kecamatan Samarang. Pemilihan lokasi ditentukan secara sengaja (purposive)

Lebih terperinci

PENERBITAN IAR TAHUN 2018

PENERBITAN IAR TAHUN 2018 Update : 12 Februari 2019 IAR TAHUN 2018 JANUARI BALI 39 7 0 46 46 BANTEN 30 5 5 40 40 BENGKULU 39 5 2 46 46 D.I YOGYAKARTA 51 0 3 54 54 DKI JAKARTA 95 7 5 107 107 GORONTALO 27 15 1 43 43 JAWA BARAT 325

Lebih terperinci

Lampiran 1. Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Tanaman Ubi Jalar Seluruh Provinsi Tahun 2009

Lampiran 1. Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Tanaman Ubi Jalar Seluruh Provinsi Tahun 2009 Lampiran 1. Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Tanaman Ubi Jalar Seluruh Provinsi Tahun 2009 Provinsi Luas Panen Produksi(Ton) Produktivitas(Ku/Ha) (Ha) Indonesia 183 874 2 057 913 111,92 Aceh 1 519

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN VI HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1 Analisis Daya Saing Analisis keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan prospek serta kemampuan komoditi susu sapi lokal dalam

Lebih terperinci

ANALISIS KEBIJAKAN PENGEMBANGAN DAYA SAING INDUSTRI KELAPA SAWIT RIAU

ANALISIS KEBIJAKAN PENGEMBANGAN DAYA SAING INDUSTRI KELAPA SAWIT RIAU Volume 8, Nomor 2, Desember 2017 ISSN 2087-409X Indonesian Journal of Agricultural Economics (IJAE) ANALISIS KEBIJAKAN PENGEMBANGAN DAYA SAING INDUSTRI KELAPA SAWIT RIAU Nina*, Suardi Tarumun** dan Ahmad

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Definisi operasional dan konsep dasar ini mencakup semua pengertian yang

III. METODE PENELITIAN. Definisi operasional dan konsep dasar ini mencakup semua pengertian yang III. METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional dan Konsep Dasar Definisi operasional dan konsep dasar ini mencakup semua pengertian yang dipergunakan untuk memperoleh data yang akan dianalisis sesuai dengan

Lebih terperinci

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF BERAS SOLOK ORGANIK Mardianto 1, Edi Firnando 2

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF BERAS SOLOK ORGANIK Mardianto 1, Edi Firnando 2 ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF BERAS SOLOK ORGANIK Mardianto 1, Edi Firnando 2 email: mardianto.anto69@gmail.com ABSTRAK 9 Penelitian tentang Analisis Keunggulan Komparatif dan Kompetitif

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Karangasem dengan lokasi sampel penelitian, di Desa Dukuh, Kecamatan Kubu. Penentuan lokasi penelitian dilakukan

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN. berupa data mengenai kondisi umum wilayah, potensi lahan, pendapatan dan

IV. METODE PENELITIAN. berupa data mengenai kondisi umum wilayah, potensi lahan, pendapatan dan 51 IV. METODE PENELITIAN 4.1. Metode Pengmpulan Data Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Data primer yang digunakan adalah berupa potensi lahan. Sedangkan data sekunder berupa data

Lebih terperinci

Lampiran 1. Luas Panen, Produktivitas, Produksi Sayur dan Buah Semusim (SBS) di Kabupaten WonosoboTahun 2010

Lampiran 1. Luas Panen, Produktivitas, Produksi Sayur dan Buah Semusim (SBS) di Kabupaten WonosoboTahun 2010 LAMPIRAN Lampiran. Luas Panen, Produktivitas, Produksi Sayur dan Buah Semusim (SBS) di Kabupaten WonosoboTahun No Komoditas 4 5 4 5 4 5 Bawang Merah Bawang Putih Bawang Daun Kentang Kubis Kembang Kol Petsai/Sawi

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. peneliti menggunakan konsep dasar dan batasan oprasional sebagai berikut:

III. METODE PENELITIAN. peneliti menggunakan konsep dasar dan batasan oprasional sebagai berikut: III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Batasan Operasional Agar tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda pada penelitian ini, maka peneliti menggunakan konsep dasar dan batasan oprasional sebagai

Lebih terperinci

III METODE PENELITIAN. Daya saing adalah suatu konsep yang menyatakan kemampuan suatu produsen

III METODE PENELITIAN. Daya saing adalah suatu konsep yang menyatakan kemampuan suatu produsen III METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Daya saing adalah suatu konsep yang menyatakan kemampuan suatu produsen untuk memproduksi suatu komoditas dengan mutu yang cukup baik dan

Lebih terperinci

IV METODOLOGI PENELITIAN

IV METODOLOGI PENELITIAN IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada petani tebu di wilayah kerja Pabrik Gula Sindang Laut Kabupaten Cirebon Propinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi penelitian

Lebih terperinci

KERANGKA PEMIKIRAN. berupa derasnya arus liberalisasi perdagangan, otonomi daerah serta makin

KERANGKA PEMIKIRAN. berupa derasnya arus liberalisasi perdagangan, otonomi daerah serta makin 22 III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Analisis Dewasa ini pengembangan sektor pertanian menghadapi tantangan dan tekanan yang semakin berat disebabkan adanya perubahan lingkungan strategis

Lebih terperinci

Analisis Daya Saing Usahatani Kelapa Sawit Rakyat Di Kecamatan Pelepat Kabupaten Bungo ABSTRAK ABSTRACT

Analisis Daya Saing Usahatani Kelapa Sawit Rakyat Di Kecamatan Pelepat Kabupaten Bungo ABSTRAK ABSTRACT Analisis Daya Saing Usahatani Kelapa Sawit Rakyat Di Kecamatan Pelepat Kabupaten Bungo Sopiyan Adhe Poetera Manik 1), Saad Murdy 2), Ardhiyan Saputra 2) 1) Alumni Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian

Lebih terperinci

Lampiran 1. Perhitungan Manfaat Produk Bukan Kayu di TNGL

Lampiran 1. Perhitungan Manfaat Produk Bukan Kayu di TNGL LAMPIRAN 149 150 Lampiran 1. Perhitungan Manfaat Produk Bukan Kayu di TNGL Komoditas Produksi (ton) Harga (Rp) Nilai Randu 1,177 571,050 672,125,850 Rotan 18,064 571,050 10,315,447,200 Damar 319 761,400

Lebih terperinci

BPS PROVINSI SUMATERA SELATAN

BPS PROVINSI SUMATERA SELATAN BADAN PUSAT STATISTIK BPS PROVINSI SUMATERA SELATAN No.53/09/16 Th. XVIII, 01 September 2016 TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK SUMATERA SELATAN MARET 2016 GINI RATIO SUMSEL PADA MARET 2016 SEBESAR

Lebih terperinci

VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK

VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK 6.1 Analisis Keuntungan Sistem Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok Analisis keunggulan komparatif

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian IV. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di Kota Depok tepatnya di Kecamatan Pancoran Mas dan Kecamatan Cipayung. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive)

Lebih terperinci

ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KENTANG

ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KENTANG ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KENTANG VI. 6.1 Analisis Dayasaing Hasil empiris dari penelitian ini mengukur dayasaing apakah kedua sistem usahatani memiliki keunggulan

Lebih terperinci

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK SUMATERA BARAT MARET 2016 MULAI MENURUN

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK SUMATERA BARAT MARET 2016 MULAI MENURUN No.54/9/13/Th. XIX, 1 ember 2016 TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK SUMATERA BARAT MARET 2016 MULAI MENURUN GINI RATIO PADA MARET 2016 SEBESAR 0,331 Pada 2016, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk

Lebih terperinci

Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Daya Saing Komoditas Kelapa di Kabupaten Flores Timur

Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Daya Saing Komoditas Kelapa di Kabupaten Flores Timur Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Daya Saing Komoditas Kelapa di Kabupaten Flores Timur Krisna Setiawan* Haryati M. Sengadji* Program Studi Manajemen Agribisnis, Politeknik Pertanian Negeri

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI No. 17 /04/63/Th.XV, 1 April 2011 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI KALIMANTAN SELATAN *) Pada Maret 2011, Nilai Tukar Petani (NTP) Kalimantan Selatan tercatat 107,64 atau

Lebih terperinci

IV. METODOLOGI PENELITIAN

IV. METODOLOGI PENELITIAN IV. METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di daerah sentra sapi perah di Provinsi Jawa Barat dengan wilayah atau level usaha ternak sapi perah rakyat. Pemilihan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Tembakau merupakan salah satu komoditas perdagangan penting di dunia. Menurut Rachmat dan Sri (2009) sejak tahun

I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Tembakau merupakan salah satu komoditas perdagangan penting di dunia. Menurut Rachmat dan Sri (2009) sejak tahun I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Tembakau merupakan salah satu komoditas perdagangan penting di dunia. Menurut Rachmat dan Sri (2009) sejak tahun 2000-an kondisi agribisnis tembakau di dunia cenderung

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN 23 III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Daya Saing Daya saing merupakan kemampuan suatu produsen untuk memproduksi suatu komoditi dengan mutu yang baik dan biaya produksi

Lebih terperinci

ANALISIS SENSITIVITAS

ANALISIS SENSITIVITAS VII ANALISIS SENSITIVITAS 7.1. Analisis Sensitivitas Analisis sensitivitas dilakukan untuk mengetahui bagaimana pengaruh dari perubahan kurs mata uang rupiah, harga jeruk siam dan harga pupuk bersubsidi

Lebih terperinci

VI. ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN SIAM DEDDY FISH FARM

VI. ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN SIAM DEDDY FISH FARM VI. ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN SIAM DEDDY FISH FARM Analisis keunggulan komparatif dan kompetitif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan prospek serta

Lebih terperinci

VII. DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DAN FAKTOR LAINNYA TERHADAP KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF PADA USAHATANI JAMBU BIJI

VII. DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DAN FAKTOR LAINNYA TERHADAP KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF PADA USAHATANI JAMBU BIJI VII. DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DAN FAKTOR LAINNYA TERHADAP KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF PADA USAHATANI JAMBU BIJI Analisis sensitivitas perlu dilakukan karena analisis dalam metode

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PRODUKSI KAKAO DI JAWA TIMUR

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PRODUKSI KAKAO DI JAWA TIMUR ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PRODUKSI KAKAO DI JAWA TIMUR Dede Haryono 1, Soetriono 2, Rudi Hartadi 2, Joni Murti Mulyo Aji 2 1 Program Studi Agribisnis Program Magister

Lebih terperinci

14,3 13,1 11,1 8,9 27,4 26,4 4. 1,0 1,0 9,9 6. 7,0 15,6 16,1 6,5 6,2 8,5 8,3 10,0

14,3 13,1 11,1 8,9 27,4 26,4 4. 1,0 1,0 9,9 6. 7,0 15,6 16,1 6,5 6,2 8,5 8,3 10,0 114 Lampiran 1. Distribusi Persentase Produk Domestik Bruto (PDB) Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Sektor) No. Lapangan Usaha (Sektor) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 1. Pertanian, Peternakan,

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN. Fish Farm) dilaksanakan di lokasi usaha yang bersangkutan yaitu di daerah

IV. METODE PENELITIAN. Fish Farm) dilaksanakan di lokasi usaha yang bersangkutan yaitu di daerah IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Studi kasus penelitian mengenai Analisis Keunggulan Komparatif dan Kompetitif Usaha Pembenihan Ikan Patin Siam (Studi Kasus : Perusahaan Deddy Fish Farm) dilaksanakan

Lebih terperinci

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK PROVINSI BENGKULU MARET 2016 MULAI MENURUN

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK PROVINSI BENGKULU MARET 2016 MULAI MENURUN No.54/09/17/I, 1 September 2016 TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK PROVINSI BENGKULU MARET 2016 MULAI MENURUN GINI RATIO PADA MARET 2016 SEBESAR 0,357 Daerah Perkotaan 0,385 dan Perdesaan 0,302 Pada

Lebih terperinci

Tabel Lampiran 1. Produksi, Luas Panen dan Produktivitas Padi Per Propinsi

Tabel Lampiran 1. Produksi, Luas Panen dan Produktivitas Padi Per Propinsi Tabel., dan Padi Per No. Padi.552.078.387.80 370.966 33.549 4,84 4,86 2 Sumatera Utara 3.48.782 3.374.838 826.09 807.302 4,39 4,80 3 Sumatera Barat.875.88.893.598 422.582 423.402 44,37 44,72 4 Riau 454.86

Lebih terperinci

LAMPIRAN. Lampiran I JADWAL PENELITIAN. Universitas Sumatera Utara

LAMPIRAN. Lampiran I JADWAL PENELITIAN. Universitas Sumatera Utara LAMPIRAN Lampiran I JADWAL PENELITIAN Lampiran II Daftar Kemampuan Keuangan Pemerintah Daerah Provinsi Dalam jutaan Rupiah No. Provinsi Kemampuan Pendapatan Dana Belanja DAK Keuangan Asli Daerah Transfer

Lebih terperinci

BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN. menembus dengan volume 67 ton biji gelondong kering (Direktorat Jenderal

BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN. menembus dengan volume 67 ton biji gelondong kering (Direktorat Jenderal BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN Perkembangan ekspor jambu mete di Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem selama Tahun 2009 mencapai volume sebanyak 57 ton biji gelondong kering dan diharapkan pada Tahun 2010

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI No. 002/02/63/Th.XIV, 1 Pebruari 2010 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI KALIMANTAN SELATAN *) Pada Desember 2009, Nilai Tukar Petani (NTP) Kalimantan Selatan tercatat 104,76

Lebih terperinci

RUMAH KHUSUS TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN

RUMAH KHUSUS TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN Pembangunan Perumahan Dan Kawasan Permukiman Tahun 2016 PERUMAHAN PERBATASAN LAIN2 00 NASIONAL 685.00 1,859,311.06 46,053.20 4,077,857.49 4,523.00 359,620.52 5,293.00 714,712.50 62,538.00 1,344,725.22

Lebih terperinci

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan tujuan penelitian dan hasil analisis, maka pada penelitian ini

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan tujuan penelitian dan hasil analisis, maka pada penelitian ini BAB VII SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan tujuan penelitian dan hasil analisis, maka pada penelitian ini diperoleh beberapa simpulan, implikasi kebijakan dan saran-saran seperti berikut. 7.1 Simpulan 1. Dari

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Usaha Sapi Potong di Kabupaten Indrgiri Hulu 5.1.1. Profitabilitas Privat dan Sosial Usaha Sapi Potong Usaha peternakan sapi

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING APEL JAWA TIMUR (Studi Kasus Apel Batu, Nongkojajar dan Poncokusumo)

ANALISIS DAYA SAING APEL JAWA TIMUR (Studi Kasus Apel Batu, Nongkojajar dan Poncokusumo) ANALISIS DAYA SAING APEL JAWA TIMUR (Studi Kasus Apel Batu, Nongkojajar dan Poncokusumo) Novi Itsna Hidayati 1), Teguh Sarwo Aji 2) Dosen Fakultas Pertanian Universitas Yudharta Pasuruan ABSTRAK Apel yang

Lebih terperinci

DAYA SAING KEDELAI DI KECAMATAN GANDING KABUPATEN SUMENEP

DAYA SAING KEDELAI DI KECAMATAN GANDING KABUPATEN SUMENEP DAYA SAING KEDELAI DI KECAMATAN GANDING KABUPATEN SUMENEP PURWATI RATNA W, RIBUT SANTOSA, DIDIK WAHYUDI Fakultas Pertanian, Universitas Wiraraja Sumenep ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah (1) menganalisis

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KEDELAI VS PENGUSAHAAN KEDELAI DI KABUPATEN LAMONGAN, JAWA TIMUR

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KEDELAI VS PENGUSAHAAN KEDELAI DI KABUPATEN LAMONGAN, JAWA TIMUR ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KEDELAI VS PENGUSAHAAN KEDELAI DI KABUPATEN LAMONGAN, JAWA TIMUR Syahrul Ganda Sukmaya 1), Dwi Rachmina 2), dan Saptana 3) 1) Program

Lebih terperinci

Nusa Tenggara Timur Luar Negeri Banten Kepulauan Riau Sumatera Selatan Jambi. Nusa Tenggara Barat Jawa Tengah Sumatera Utara.

Nusa Tenggara Timur Luar Negeri Banten Kepulauan Riau Sumatera Selatan Jambi. Nusa Tenggara Barat Jawa Tengah Sumatera Utara. LAMPIRAN I ZONA DAN KOEFISIEN MASING-MASING ZONA Zona 1 Zona 2 Zona 3 Zona 4 Zona 5 Zona 6 Koefisien = 5 Koefisien = 4 Koefisien = 3 Koefisien = 2 Koefisien = 1 Koefisien = 0,5 DKI Jakarta Jawa Barat Kalimantan

Lebih terperinci

VII. ANALISIS DAYA SAING USAHATANI JAGUNG

VII. ANALISIS DAYA SAING USAHATANI JAGUNG VII. ANALISIS DAYA SAING USAHATANI JAGUNG 7.1. Profitabilitas Privat dan Sosial Analisis finansial dan ekonomi usahatani jagung memberikan gambaran umum dan sederhana mengenai tingkat kelayakan usahatani

Lebih terperinci

DAYA SAING USAHATANI LADA DI LAMPUNG

DAYA SAING USAHATANI LADA DI LAMPUNG DAYA SAING USAHATANI LADA DI LAMPUNG Abdul Muis Hasibuan dan Bedy Sudjarmoko Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri ABSTRAK Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kelayakan dan daya

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. ini yang dianalisis adalah biaya, benefit, serta kelayakan usahatani lada putih yang

METODE PENELITIAN. ini yang dianalisis adalah biaya, benefit, serta kelayakan usahatani lada putih yang III. METODE PENELITIAN A. Metode Dasar Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis, yang merupakan suatu metode penelitian yang ditujukan untuk menggambarkan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan dan menganalisis data sesuai dengan tujuan penelitian.

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan dan menganalisis data sesuai dengan tujuan penelitian. 29 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan definisi operasional mencakup pengertian yang dipergunakan untuk mendapatkan dan menganalisis data sesuai dengan tujuan

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Daya Saing Perdagangan Internasional pada dasarnya merupakan perdagangan yang terjadi antara suatu negara tertentu dengan negara yang

Lebih terperinci

Pengkajian Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Usahatani Padi dan Jeruk Lahan Gambut Kabupaten Barito Kuala Kalimantan Selatan

Pengkajian Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Usahatani Padi dan Jeruk Lahan Gambut Kabupaten Barito Kuala Kalimantan Selatan Pengkajian Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Usahatani Padi dan Jeruk Lahan Gambut Kabupaten Barito Kuala Kalimantan Selatan Muhammad Husaini Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian

Lebih terperinci

VII. PEMBAHASAN ASPEK FINANSIAL

VII. PEMBAHASAN ASPEK FINANSIAL VII. PEMBAHASAN ASPEK FINANSIAL 7.1. Proyeksi Arus Kas (Cashflow) Proyeksi arus kas merupakan laporan aliran kas yang memperlihatkan gambaran penerimaan (inflow) dan pengeluaran kas (outflow). Dalam penelitian

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Untuk tingkat produktivitas rata-rata kopi Indonesia saat ini sebesar 792 kg/ha

I. PENDAHULUAN. Untuk tingkat produktivitas rata-rata kopi Indonesia saat ini sebesar 792 kg/ha I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan tradisional yang mempunyai peran penting dalam perekonomian Indonesia. Peran tersebut antara lain adalah sebagai sumber

Lebih terperinci

DAMPAK KEBIJAKAN PEMBATASAN IMPOR BAWANG MERAH TERHADAP USAHATANI BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO

DAMPAK KEBIJAKAN PEMBATASAN IMPOR BAWANG MERAH TERHADAP USAHATANI BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO DAMPAK KEBIJAKAN PEMBATASAN IMPOR BAWANG MERAH TERHADAP USAHATANI BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO Policy Impact of Import Restriction of Shallot on Farm in Probolinggo District Mohammad Wahyudin,

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING STROBERI DI KABUPATEN PURBALINGGA JAWA TENGAH (STUDI KASUS DI DESA SERANG KEC KARANGREJA KAB PURBALINGGA)

ANALISIS DAYA SAING STROBERI DI KABUPATEN PURBALINGGA JAWA TENGAH (STUDI KASUS DI DESA SERANG KEC KARANGREJA KAB PURBALINGGA) ANALISIS DAYA SAING STROBERI DI KABUPATEN PURBALINGGA JAWA TENGAH (STUDI KASUS DI DESA SERANG KEC KARANGREJA KAB PURBALINGGA) Dennanda Elpharani 1, Endang Siti Rahayu 2, Mei Tri Sundari 3 Program Studi

Lebih terperinci

MACAM-MACAM ANALISA USAHATANI

MACAM-MACAM ANALISA USAHATANI MACAM-MACAM ANALISA USAHATANI Pendahuluan Sebelum melakukan analisis, data yang dipakai harus dikelompokkan dahulu : 1. Data Parametrik : data yang terukur dan dapat dibagi, contoh; analisis menggunakan

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 041/P/2017 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 041/P/2017 TENTANG SALINAN KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 041/P/2017 TENTANG PENETAPAN ALOKASI DANA DEKONSENTRASI KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TAHUN ANGGARAN 2017 MENTERI PENDIDIKAN

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS KELAPA DI KABUPATEN FLORES TIMUR

ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS KELAPA DI KABUPATEN FLORES TIMUR 350 PARTNER, TAHUN 21 NOMOR 2, HALAMAN 350-358 ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS KELAPA DI KABUPATEN FLORES TIMUR Krisna Setiawan Program Studi Manajemen Agribisnis Politeknik Pertanian Negeri Kupang Jalan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. untuk tanaman pangan salah satunya yaitu ubi kayu (Manihot utilissima). Ubi

I. PENDAHULUAN. untuk tanaman pangan salah satunya yaitu ubi kayu (Manihot utilissima). Ubi 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia dikenal sebagai negara yang sangat cocok sebagai media tanam untuk tanaman pangan salah satunya yaitu ubi kayu (Manihot utilissima). Ubi kayu merupakan komoditas

Lebih terperinci

Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Beras Organik Ekspor (Suatu Kasus di Gapoktan Simpatik Kabupaten Tasikmalaya)

Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Beras Organik Ekspor (Suatu Kasus di Gapoktan Simpatik Kabupaten Tasikmalaya) Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Beras Organik Ekspor (Suatu Kasus di Gapoktan Simpatik Kabupaten Tasikmalaya) Tirsa Neyatri Bandrang, Ronnie S. Natawidjaja, Maman Karmana Program Magister

Lebih terperinci

PREVALENSI BALITA GIZI KURANG BERDASARKAN BERAT BADAN MENURUT UMUR (BB/U) DI BERBAGAI PROVINSI DI INDONESIA TAHUN Status Gizi Provinsi

PREVALENSI BALITA GIZI KURANG BERDASARKAN BERAT BADAN MENURUT UMUR (BB/U) DI BERBAGAI PROVINSI DI INDONESIA TAHUN Status Gizi Provinsi LAMPIRAN 1 PREVALENSI BALITA GIZI KURANG BERDASARKAN BERAT BADAN MENURUT UMUR (BB/U) DI BERBAGAI PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2013 Status Gizi No Provinsi Gizi Buruk (%) Gizi Kurang (%) 1 Aceh 7,9 18,4

Lebih terperinci

KUESIONER RESPONDEN PEMILIK ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL DAN PROSPEK PEMASARAN BUDIDAYA GAHARU PENGENALAN TEMPAT PETUGAS PROGRAM STUDI KEHUTANAN

KUESIONER RESPONDEN PEMILIK ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL DAN PROSPEK PEMASARAN BUDIDAYA GAHARU PENGENALAN TEMPAT PETUGAS PROGRAM STUDI KEHUTANAN Lampiran 1 KUESIONER RESPONDEN PEMILIK ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL DAN PROSPEK PEMASARAN BUDIDAYA GAHARU Dusun PENGENALAN TEMPAT Desa Kecamatan Kabupaten Provinsi Sumatera Utara No urut sampel PETUGAS

Lebih terperinci

KEUNGGULAN KOMPARATIF KOMODITAS JAGUNG DI KABUPATEN KEDIRI

KEUNGGULAN KOMPARATIF KOMODITAS JAGUNG DI KABUPATEN KEDIRI KEUNGGULAN KOMPARATIF KOMODITAS JAGUNG DI KABUPATEN KEDIRI NAVITA MAHARANI Prodi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Islam Kadiri, Kediri fp.uniska@gmail.com ABSTRAK Penelitian ini dilakukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pembangunan merupakan suatu upaya untuk mencapai pertumbuhan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pembangunan merupakan suatu upaya untuk mencapai pertumbuhan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan merupakan suatu upaya untuk mencapai pertumbuhan kesejahteraan sosial, yaitu berupa kegiatan-kegiatan yang dilakukan suatu negara untuk mengembangkan kegiatan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2017 TENTANG PELIMPAHAN SEBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG KEBUDAYAAN KEPADA GUBERNUR DALAM PENYELENGGARAAN DEKONSENTRASI

Lebih terperinci

2017, No telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang- Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahu

2017, No telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang- Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahu No.740, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENDIKBUD. Penyelenggaraan Dekonsentrasi. TA 2017. PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2017 TENTANG PELIMPAHAN

Lebih terperinci

2

2 2 3 c. Pejabat Eselon III kebawah (dalam rupiah) NO. PROVINSI SATUAN HALFDAY FULLDAY FULLBOARD (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1. ACEH

Lebih terperinci

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK SULAWESI TENGGARA MARET 2017 MENURUN TERHADAP MARET 2016

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK SULAWESI TENGGARA MARET 2017 MENURUN TERHADAP MARET 2016 BADAN PUSAT STATISTIK BADAN PUSAT STATISTIK No.39/07/Th.XX, 17 Juli 2017 TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK SULAWESI TENGGARA MARET 2017 MENURUN TERHADAP MARET 2016 GINI RATIO PADA MARET 2017 SEBESAR

Lebih terperinci

Lampiran 1. Produksi dan Luas Areal Kopi Arabika di Kabupaten Tapanuli Utara Periode Perkembangan (%) Luas Areal (Ha) Perkembangan (%)

Lampiran 1. Produksi dan Luas Areal Kopi Arabika di Kabupaten Tapanuli Utara Periode Perkembangan (%) Luas Areal (Ha) Perkembangan (%) Lampiran 1. Produksi dan Luas Areal Kopi Arabika di Kabupaten Tapanuli Utara Periode 2007-2012 Tahun Produksi (Ton) Perkembangan (%) Luas Areal (Ha) Perkembangan (%) Produktivitas (Ton/ha) 2007 9.057,07-8.554,23-1,06

Lebih terperinci

KEGIATAN PRIORITAS PENGEMBANGAN PERKEBUNAN TAHUN Disampaikan pada: MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN PERTANIAN NASIONAL Jakarta, 31 Mei 2016

KEGIATAN PRIORITAS PENGEMBANGAN PERKEBUNAN TAHUN Disampaikan pada: MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN PERTANIAN NASIONAL Jakarta, 31 Mei 2016 KEGIATAN PRIORITAS PENGEMBANGAN PERKEBUNAN TAHUN 2017 Disampaikan pada: MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN PERTANIAN NASIONAL Jakarta, 31 Mei 2016 PERKEMBANGAN SERAPAN ANGGARAN DITJEN. PERKEBUNAN TAHUN

Lebih terperinci