BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN. menembus dengan volume 67 ton biji gelondong kering (Direktorat Jenderal

Save this PDF as:
Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN. menembus dengan volume 67 ton biji gelondong kering (Direktorat Jenderal"

Transkripsi

1 BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN Perkembangan ekspor jambu mete di Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem selama Tahun 2009 mencapai volume sebanyak 57 ton biji gelondong kering dan diharapkan pada Tahun 2010 ekspor jambu mete bisa menembus dengan volume 67 ton biji gelondong kering (Direktorat Jenderal Perkebunan, 2010). Namun ekspor jambu mete nasional Tahun 2010 diperkirakan akan mengalami penurunan, karena panen jambu mete pada Tahun 2010 mengalami penurunan hasil sekitar 15% atau sebesar ton biji gelondong kering dibandingkan pada Tahun 2009 ( Di akses 10 Maret 2010). Pemerintah dapat mengintervensi sektor pertanian dalam upaya meningkatkan produktivitas pertanian dengan menggunakan tiga bentuk kebijakan, yakni kebijakan harga, kebijakan investasi publik, dan kebijakan ekonomi makro. Secara khusus, dampak kebijakan harga, kebijakan investasi pertanian dan kebijakan ekonomi makro dianalisis melalui pendekatan Policy Analysis Matrix (PAM). Analisis daya saing komoditas jambu mete di Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali selengkapnya sebagai berikut. 6.1 Asumsi Ekonomi Makro Asumsi makro ekonomi yang digunakan pada analisis Policy Analysis Matrix (PAM) adalah tingkat suku bunga nominal (% per tahun), tingkat suku bunga sosial (% per tahun), dan nilai tukar (Rupiah per US Dollar) yang disajikan pada Tabel

2 91 Tabel 6.1 Asumsi Ekonomi Makro Asumsi ekonomi makro Jumlah Tingkat suku bunga nominal (% per tahun) 21,60 % Tingkat suku bunga sosial (% per tahun) 20,30 % Nilai tukar rupiah (Rp/$) Asumsi APBN ,00 Sumber : Bank Indonesia (2010) dan Kementerian Keuangan RI (2010). Tingkat suku bunga nominal (nominal interest rate) diperoleh dari informasi tingkat bunga kredit formal (bank persero, bank pemerintah daerah, bank swasta nasional, bank asing dan bank campuran, bank umum, dan lembaga kredit lainnya). Dalam penelitian ini digunakan tingkat bunga nominal, bukan tingkat bunga riil karena seluruh komponen biaya bukan modal dalam bujet PAM telah mencerminkan dampak inflasi sehingga akan tidak konsisten seandainya dampak inflasi dihilangkan hanya pada komponen modal dengan menggunakan tingkat bunga riil. Tingkat suku bunga nominal yang digunakan adalah rata-rata tingkat bunga privat untuk modal yang bersumber dari lembaga kredit formal yang ada di lokasi penelitian, yakni sebesar 21,60% per tahun (BI, 2010). Tingkat suku bunga sosial (social interest rate) merupakan penjumlahan dari social opportunity cost of capital yang diasumsikan sebesar 15% per tahun ditambah dengan laju inflasi nasional pada tahun penelitian. Hal ini sesuai dengan pengalaman historis negara-negara di Asia Tenggara ketika berada pada tahap pembangunan yang sama dengan Indonesia saat ini. Laju inflasi nasional Tahun 2010 yakni sebesar 5,3 % dengan demikian tingkat suku bunga sosial berada pada besaran 20,30 % per tahun (Monke and Pearson, 1995 dan Kementerian Keuangan RI, 2010).

3 92 Nilai tukar yang digunakan dalam penelitian ini sesuai dengan asumsi APBN, yaitu pada tahun 2010 sebesar Rp 9.200,00 per US Dollar (Kementerian Keuangan RI, 2010). 6.2 Struktur Input Output Fisik Struktur input-output fisik di tingkat petani terbagi menjadi empat bagian. Pertama, input tradable (barang-barang input yang diperdagangkan) meliputi benih, pupuk kimia seperti pupuk urea, TSP, KCl, NPK, pupuk kandang, pupuk cair Mitra Flora, pestisida, dan herbisida. Kedua, peralatan yang digunakan. Ketiga, penggunaan tenaga kerja, modal kerja, dan sewa tanah. Keempat, produksi (output) yang dihasilkan. Berikut ini kajian tentang struktur input-output fisik komoditas jambu mete organik di Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali. (1) Bibit Bibit jambu mete berasal dari bantuan Dinas Perkebunan Provinsi Bali pada Tahun Bibit jambu mete di tanam dengan jarak tanam 8 m x 8 m, sehingga dalam satu hektarnya rata-rata petani di lokasi penelitian memperoleh tanaman sebanyak 156 bibit. (Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Karangasem. 2010). (2) Pupuk Pemupukan tanaman jambu mete dengan pupuk organik dan anorganik dilakukan pada awal penanaman untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Oleh karena komoditas jambu mete di Kecamatan Kubu ini sebagai satu-satunya

4 93 usahatani komoditas jambu mete organik di Provinsi Bali, maka pemeliharaan pada tahun berikutnya tidak lagi menggunakan pupuk anorganik (kimia) tetapi hanya menggunakan pupuk organik sebagai pupuk utama untuk mendukung pertumbuhan pertanaman. Jenis pupuk yang digunakan pada awal penanaman jambu mete adalah urea dengan rata-rata dosis 312 kg/ha, TSP dengan dosis 156 kg/ha, KCl dengan dosis 78 kg/ha, NPK dengan dosis 78 kg/ha, pupuk kandang dengan dosis kg/ha, dan pupuk cair Mitra Flora dengan dosis 12 lt/ha. Selanjutnya pada tahun kedua dan berikutnya tanaman jambu mete dipupuk oleh petani dengan menggunakan pupuk organik berupa pupuk kandang dan pupuk cair Mitra Flora masing-masing dengan rata-rata dosis kg/ha dan 2 lt/ha. (3) Pestisida dan herbisida Petani juga menggunakan pestisida dan herbisida dalam pemeliharaan tanaman jambu mete pada awal pertumbuhan. Herbisida polaris digunakan untuk membersihkan lahan dari tanaman gulma jenis alang-alang dan rumput-rumputan dengan dosis 24 lt/ha. Sedangkan pestisida pounce digunakan untuk melindungi tanaman terhadap serangan hama utama yang menyerang tanaman jambu mete dengan dosis 6 lt/ha. (4) Peralatan dan mesin pertanian Petani dalam pengolahan lahan dengan maksud pembuatan lubang tanaman menggunakan alat pertanian berupa cangkul dan linggis. Selain itu petani juga menggunakan peralatan pertanian lain seperti hand sprayer, gunting pangkas, dan ember untuk pemeliharaan tanaman.

5 94 Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata penggunaan peralatan pertanian oleh petani di lokasi penelitian seperti cangkul rata-rata sebanyak empat unit, gunting pangkas sebanyak dua unit, alat semprot (hand sprayer) sebanyak dua unit, linggis sebanyak dua unit dan ember sebanyak dua unit. Rata-rata umur ekonomis peralatan pertanian yang digunakan petani sekitar lima tahun. (5) Tenaga kerja Tenaga kerja yang digunakan dalam usahatani komoditas jambu mete sebagian besar berasal dari keluarga petani sendiri yang terdiri atas ayah sebagai kepala keluarga, isteri dan anak-anak itu sendiri. Anak-anak berumur 15 tahun misalnya sudah dapat merupakan tenaga kerja produktif bagi usahatani. Mereka dapat membantu pembuatan lubang tanaman, mengangkut bibit atau pupuk ke kebun, penanaman, pemeliharaan, panen dan pasca panen serta membantu pemasaran hasil. Tenaga kerja berasal dari keluarga petani itu merupakan sumbangan keluarga pada produksi pertanian secara keseluruhan yang tidak pernah dinilai dalam uang. Pada daerah-daerah dengan pertumbuhan perekonomian baik/maju, keberadaan tenaga kerja sektor pertanian sebagai faktor produksi menjadi terbatas jumlahnya jika dibandingkan dengan tanah dan modal. Sehingga keefektifan tenaga kerja diukur dengan tingginya produktivitas tenaga kerja. Dalam keadaan seperti ini mulai ditemukan penggunaan mesin-mesin pertanian (sperti: traktor, theresher dan mesin pemanen padi pada lahan sawah) dan berkembangnya tenaga kerja upahan (seperti pada pertanian sawah atau perkebunan). Apabila permintaan (demand) atau kebutuhan akan tenaga kerja menjadi tinggi dalam waktu yang

6 95 hampir bersamaan. Tak jarang diantara petani kerap terjadi persaingan dalam memperoleh tenaga kerja. Hal ini cenderung berimplikasi terhadap upah/ongkos tenaga kerja (buruh tani) menjadi meningkat, yang berujung pada peningkatan biaya produksi. Dalam kaitan ini, analisis tenaga kerja untuk hari orang kerja (HOK) menjadi salah satu faktor yang menentukan dalam proses usahatani komoditas jambu mete. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa penyerapan tenaga kerja ini tersegmentasi berdasarkan jenis kegiatan, yakni: (1) persiapan lahan, (2) penanaman, (3) pemeliharaan, (4) panen, (5) pasca panen, dan (6) pemasaran. Pada usahatani jambu mete, rata-rata jumlah tenaga kerja yang terserap selama 18 tahun sebanyak 669,40 HOK/ha, dengan jumlah tenaga kerja terbanyak pada jenis kegiatan pemeliharaan tanaman sebanyak 365,94 HOK/ha atau sebesar 54,67% dari total kegiatan usahatani jambu mete di Karangasem. Rata-rata jumlah tenaga kerja yang digunakan dalam usahatani jambu mete berdasarkan jenis kegiatannya di Kabupaten Karangasem sampai Tahun 2010 seperti Table 6.2 berikut. Tabel 6.2 Jumlah Penyerapan Tenaga Kerja Menurut Jenis Kegiatan pada Usahatani Jambu Mete di Kabupaten Karangasem Tahun 2010 Kegiatan Tenaga kerja HOK/ha Share (%) 1. Persiapan lahan 22,33 3,33 2. Penanaman 16,67 2,49 3. Pemeliharaan tanaman 365,94 54,67 4. Panen 143,22 21,40 5. Pasca panen 111,86 16,71 6. Pemasaran 9,38 1,40 Total 669,40 100,00.

7 96 (6) Modal kerja, pajak, sewa lahan dan lain-lain keluaran Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar modal kerja (working capital) yang digunakan oleh petani dalam usahatani jambu mete adalah modal kerja sendiri melalui lembaga kredit formal yang ada di lokasi penelitian. Ratarata tingkat suku bunga privat (nominal interest rate) sebesar 21,60 % per tahun atau 1,80 % per bulan. Dari hasil penelitian juga menunjukkan bahwa kepemilikan tanah yang digunakan petani pada usahatani jambu mete adalah milik sendiri dan tidak menyewa, namun dalam analisis usahatani, nilai lahan tetap diperhitungkan (Mubyarto, 1995). (7) Produksi Tanaman jambu mete mulai berproduksi setelah tanaman berumur empat tahun. Pemanenan dilakukan secara selektif yaitu langsung dipilih dan dipetik dari pohonnya, dengan ciri ciri: (1) warna kulit buah semu menjadi kuning, orange atau merah tergantung pada jenisnya, (2) ukuran buah semu lebih besar dari buah sejati, (3) tekstur daging buah semu lunak, rasanya asam agak manis, berair dan aroma buahnya mirip stroberi, dan (4) warna kulit bijinya menjadi putih ke abuabuan dan mengkilat. Namun produksi jambu mete yang dimaksud dalam penelitian ini adalah produksi (output) berupa biji gelondongan kering yang telah dipisahkan dengan buah semunya. Rata-rata produksi jambu mete pada tanaman menghasilkan tahun ke-5 (TM 5) mencapai 505,99 kg/ha atau 3,24 kg/pohon/ha. Perkembangan produksi cenderung bervariasi dari tahun ke tahun sesuai dengan umur pohon, jumlah pohon yang menghasilkan dan produksi biji gelondongan kering yang

8 97 dihasilkannya. Produksi jambu mete juga dipengaruhi oleh iklim kemarau yang ekstrim (kemarau panjang). Pada tanaman menghasilkan tahun ke-18 (TM 18) diperkirakan rata-rata produksi yang dihasilkan meningkat menjadi 1.816,12 kg/ha (11,64 kg/pohon/ha). Dengan kata lain, selama periode TM 5 hingga TM 18, rata-rata produksi mencapai 1.816,12 kg/ha dengan laju pertumbuhan 18,49 % pertahun. Data mengenai input-output fisik usahatani jambu mete organik di Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran Harga Privat dan Harga Sosial Harga privat Ukuran nilai dari suatu barang-barang dan jasa-jasa adalah harga. Harga merupakan faktor ekonomi yang sangat penting karena berhubungan dengan prilaku petani baik sebagai produsen maupun sebagai konsumen. Penetapan harga dapat mempengaruhi pendapatan total dan biaya total, maka setiap keputusan dan strategi penetapan harga memegang peranan penting dalam setiap usahatani. Dalam konteks ini, harga privat didasarkan pada harga aktual yang didapat dari usahatani petani sampel selaku responden di lokasi penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bibit jambu mete yang ditanam oleh petani di Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem, berasal dari bantuan (subsidi) Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Provinsi Bali dengan harga sebesar Rp 2.500,00 per bibit.

9 98 Harga pupuk Urea dilokasi penelitian sebesar Rp 1.600,00 /kg, TSP sebesar Rp 2.000,00 /kg, KCl sebesar Rp 2.350,00 / kg, NPK phonska sebesar Rp 2.300,00 /kg dan pupuk organik sebesar Rp 1.500,00 / kg, pupuk kandang sebesar Rp 75,00 /kg, dan pupuk pelengkap cair Mitra Flora sebesar Rp ,00 /liter. Untuk herbisida Polaris diperoleh dengan harga sebesar Rp ,00 /liter, sedangkan nilai pestisida (Pounce) yang digunakan dalam pemeliharaan tanaman jambu mete berkisar Rp ,00 /liter. Harga peralatan yang digunakan pada usahatani jambu mete ini merupakan biaya pemulihan modal peralatan selama periode tertentu (annual capital recovery cost), setelah diperhitungkan dengan faktor umur ekonomis peralatan dan tingkat suku bunga privat yang telah ditentukan. Perhitungan biaya pemulihan modal peralatan secara privat dapat dilihat pada Lampiran 2. Besarnya upah tenaga kerja untuk jenis kegiatan persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan tanaman, panen dan pasca panen serta pemasaran sebesar Rp ,00 /hari. Sedangkan nilai sewa lahan dalam satu tahun di lokasi penelitian sebesar Rp ,00. Untuk modal kerja, sebagian besar dari petani sampel menggunakan modal kerja (working capital) sendiri yang diperoleh melalui lembaga kredit formal yang ada di lokasi penelitian. Rata-rata tingkat suku bunga privat (nominal interest rate) sebesar 1,80 % perbulan atau 21,60 % pertahun. Harga mete gelondongan kering di tingkat petani berfluktuatif tergantung musim dan harga mete dunia, harga mete gelondongan kering di tingkat petani saat penelitian berlangsung adalah Rp /kg.

10 Harga sosial Harga sosial atau harga bayangan adalah harga dunia atau harga internasional yang sesuai (harga CIF untuk komoditas yang diimpor dan harga FOB untuk komoditas yang diekspor) untuk mengestimasi harga efisiensi, baik untuk output maupun input yang tradabel. Menentukan harga dunia (output dan input tradabel) yang komparabel dengan komoditas yang sedang dianalisis merupakan hal yang paling rumit. Sebagian besar masalah terjadi akibat pemilihan harga dunia (dalam US $) yang tidak tepat. Harga sosial harus ditentukan pada waktu, bentuk/kualitas, dan lokasi yang sama. Proses memperoleh harga dunia yang tepat akan senantiasa merupakan tantangan bagi keberhasilan analisis PAM. Perhitungan harga paritas harus mempertimbangkan biaya pengiriman barang dari pelabuhan ke pedagang besar terdekat (dari lokasi penelitian), mengkonversi nilai barang dari barang olahan menjadi barang yang belum diolah. Ini dilakukan kalau harga dunia yang diperoleh adalah harga barang olahan, sedangkan komoditas yang diteliti adalah komoditas belum terolah. Biaya penyimpanan juga perlu dipertimbangkan jika harga dunia yang diperoleh adalah harga pada saat yang berbeda dengan harga pada saat komoditas yang diteliti itu diperoleh. Berdasarkan BPS (2008), disebutkan bahwa FOB adalah cara penilaian barang yang dijual dalam perdagangan internasional, dimana biaya angkutan dan biaya asuransi dari pelabuhan muat sampai gudang pembeli ditanggung oleh pembeli. Sedangkan, CIF adalah cara penilaian barang yang dibeli dalam perdagangan internasional, dimana semua ongkos dan biaya angkut serta premi

11 100 asuransi di pelabuhan barang dan pelabuhan pembongkaran di tanggung oleh penjual. Penjual harus mengantarkan barang sampai di pelabuhan pembeli. Harga sosial bibit jambu mete dihitung dengan menggunakan harga aktual (privat) di tingkat petani pada lokasi penelitian. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa data ekspor impor bibit tersebut yang sesuai spesifikasi komoditas di lokasi penelitian tidak tersedia. Demikian pula harga sosial untuk pupuk kandang dihitung dengan menggunakan harga aktual (privat) di tingkat petani pada lokasi penelitian. Dengan demikian dapat diasumsikan bahwa bibit jambu mete dan pupuk kandang tidak diperdagangkan. Dengan kata lain, pengadaan bibit jambu mete dan pupuk kandang hanya untuk konsumsi domestik. Indonesia adalah negara net importir TSP, KCl dan NPK serta net eksportir urea dan mete gelondongan kering, maka harga sosial untuk TSP, KCl, dan NPK adalah harga paritas impor, sedangkan harga sosial urea dan mete gelondongan kering adalah harga paritas ekspor. Untuk harga sosial pupuk organik, pupuk pelengkap cair, pestisida dan herbisida, bentuk cair maupun padat digunakan harga privat aktual di lokasi penelitian, dikurangi tarif impor sebesar 10 % dan pajak pertambahan nilai 10 %. Perhitungan efisiensi nasional sebuah negara, seperti Indonesia, ditentukan oleh nilai opportunity cost of imports (atau opportunity cost of revenue from exports) yang secara nyata terjadi, walaupun harga dunia mengalami distorsi. Harga internasional (shadow prices) menunjukkan biaya yang dikeluarkan Indonesia untuk mengimpor satu unit tambahan barang yang diimpor atau

12 101 penerimaan yang diperoleh oleh Indonesia untuk setiap tambahan satu unit barang yang diekspor. Upaya untuk mengkoreksi harga aktual internasional karena adanya anggapan bahwa harga tersebut telah terdistorsi (harga suatu komoditas lebih rendah dari yang seharusnya akibat kebijakan perdagangan negara-negara kaya yang memberi subsidi dan proteksi pada sektor pertanian mereka yang tidak efisien) adalah hal yang tidak benar. Koreksi tersebut dapat dilakukan bila sudah diyakini (lewat perundingan) bahwa negara kaya akan mengubah kebijakan yang distorsif tersebut. Harga sosial tenaga kerja diasumsikan sama dengan harga privat (tingkat upah aktual di lokasi penelitian) karena tidak ditemui distorsi kebijakan maupun kegagalan pasar di pedesaan. Dengan kata lain, tidak ada divergensi di pasar tenaga kerja yang tidak terampil di pedesaan. Sedangkan harga sosial peralatan (cangkul, gunting pangkas, hand sprayer, linggis dan ember) diproksi dari biaya pemulihan modal peralatan selama periode tertentu (annual capital recovery cost), setelah diperhitungkan dengan faktor umur ekonomis peralatan dan tingkat suku bunga sosial yang ditentukan. Perhitungan biaya pemulihan modal peralatan secara sosial dapat dilihat pada Lampiran 3. Tingkat bunga sosial (social interest rate) diasumsikan 20,30% per tahun atau 1,69% per bulan. Asumsi ini didasarkan pada pengalaman historis negaranegara di Asia Tenggara ketika mereka berada pada tahap pembangunan yang

13 102 sama dengan Indonesia saat ini, yakni penjumlahan dari social opportunity cost of capital sebesar 15% ditambah inflasi nasional tahun 2010 sebesar 5,30%. Harga sosial lahan (Social Opportunity Cost of Land) merupakan keuntungan kotor sebelum dikurangi sewa lahan dari komoditas alternatif terbaik (the next best alternative commodity), yaitu komoditas jagung. Dari hasil perhitungan diperoleh bahwa harga sosial lahan di Kabupaten Karangasem adalah sebesar Rp ,00 /ha per tahun. Sedangkan harga dunia kacang mete gelondongan kering, berdasarkan perhitungan paritas ekspor adalah sebesar Rp ,43/kg. 6.4 PAM Multi Period Jambu Mete di Kabupaten Karangasem PAM multi-period adalah PAM yang digunakan untuk komoditas yang masa tanam dan panennya (siklus produksi) berlangsung dalam waktu yang panjang. Perhitungan PAM untuk komoditas dengan rentang waktu yang panjang seperti itu memerlukan tabel PAM untuk setiap periode, kemudian menghitung net present value (NPV) seluruh periode tersebut. Proses diskonto (discounting) diperlukan dalam kasus ini karena nilai penerimaan (revenue, R) dan biaya (cost, C) yang akan diterima/dikeluarkan di masa yang akan datang akan lebih kecil nilainya bila dinilai pada saat ini. Fakta bahwa alternatif penerimaan dan ekspektasi biaya (opportunity cost) meningkat dengan cara bunga-berbunga (compound rate) seperti tabungan di bank, perlu dipertimbangkan dalam PAM multi-period ini (Monke dan Pearson, 1995).

14 103 Rumus untuk menghitung NPV untuk penerimaan adalah sebagai berikut: NPV R = R n t t t 1 (1 i) Di mana i adalah tingkat suku bunga (interest rate); t adalah jumlah periode; dan n adalah periode t terakhir dari nilai R yang diharapkan. Baris kedua dari PAM multi-period (harga sosial) dihitung dengan menggunakan cara yang sama. Nilai NPV penerimaan, biaya-biaya input dan faktor domestik kemudian disusun kedalam format PAM yang biasa. Hasil PAM multi-period menunjukkan total keuntungan serta total divergensi kebijakan dan kegagalan pasar selama priode tersebut. Tingkat diskonto (discount rate) yang digunakan dalam menghitung NPV PAM adalah tingkat bunga nominal privat untuk baris privat dan tingkat bunga nominal sosial untuk baris sosial. Khusus untuk faktor domestik tenaga kerja (labour), tingkat diskonto dalam menghitung NPV PAM menggunakan tingkat bunga nominal privat. Cara menginterprestasikan PAM multi-period sama dengan PAM periode tunggal. Analisis PAM Multi-Period juga memasukkan opportunity cost dari modal tetap (fixed capital) atau biaya pemulihan modal ke dalam biaya tahunan. Jika tidak dilakukan akan menimbulkan distorsi, tidak hanya dalam keputusan menyangkut barang modal jangka panjang, tetapi juga memilih tanaman atau teknologi. Seperti yang diuraikan oleh Monke dan Pearson (1995), salah satu cara sederhana menentukan biaya input tetap pertahun adalah dengan membagi biaya investasi awal (initial cost) dengan umur operasi input tersebut (useful life), dan jangan mengabaikan opportunity cost dari modal yang terikat pada input tetap tersebut. Petani dapat menyimpan uangnya di bank bila tidak diinvestasikan ke

15 104 dalam input tetap. Oleh karena itu, biaya modal yang sebenarnya adalah biaya fixed cost pertahun plus yang seharusnya diperoleh dari modal tersebut. Di dalam PAM multi-period, salah satu hal penting yang harus diperhatikan adalah mengestimasi capital recovery cost. Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam mengestimasi capital recovery cost, yakni menggali informasi yang berhubungan biaya pemulihan (cost of recovering) dari investasi. Informasi ini mencakup biaya investasi awal (privat dan sosial), dugaan umur teknis atau operasi dari investasi, nilai sisa (salvage value, s), dan total kapasitas (misalnya dalam satuan horse power) yang diharapkan dari investasi tersebut. Biaya investasi awal dan umur operasi merupakan dua informasi terpenting dalam proses perhitungan capital recovery cost. Setelah investasi habis masa operasinya, investasi tersebut mungkin masih memiliki nilai sisa dalam bentuk besi tua atau suku cadang yang masih bisa digunakan. Nilai sisa akan diterima (present value of salvage value, PVs) beberapa tahun yang akan datang (t), sehingga harus di diskonto dengan menggunakan data tingkat suku bunga nominal privat dan sosial yang digunakan. PVs = s/(1+i) t Kemudian dikurangkan dari nilai investasi awal (C 0 ) untuk mendapatkan biaya bersih saat ini (present value net cost, PVCnet). PVCnet = C 0 - PVs Barangkali yang paling rumit adalah menghitung recovery ratio, yang memperhitungkan tingkat suku bunga dan umur investasi yang diharapkan. Seperti dijelaskan dalam Monke dan Pearson, recovery ratio merupakan bagian

16 105 dari biaya bersih (net cost, Cnet) yang harus diperoleh kembali (recovered) setiap tahunnya agar mampu membeli kembali investasi pada saat umur barang investasi tersebut berakhir. Rr = ((1 + i) t x i) / (((1+ i) t ) -1) Apabila recovery ratio sudah diperoleh, maka nilai aktualnya bisa dihitung. Krc = Rr x PVCnet Selanjutnya, capital recovery cost dapat pula dihitung dalam satuan biaya per jam atau satuan lainnya yang sesuai. Selain itu, ada dua ketegori hasil analisis tabel PAM multi-period yang memerlukan interpretasi, yakni keuntungan dan divergensi. Dalam hal keuntungan, yang menjadi perhatian adalah nilai keuntungan privat dan sosial. Interpretasi hasil analisis PAM multi-period secara umum mengikuti suatu pola dengan alur logika yang sangat sederhana, yakni: (a) menjelaskan profitabilitas privat (serta nilai-nilai yang ada di baris pertama pada tabel PAM); (b) mendiskusikan profitabilitas sosial (serta nilai-nilai yang ada pada baris kedua tabel PAM); dan (c) menjelaskan perbedaan profitabilitas privat dan profitabilitas sosial (nilai yang ada pada baris ketiga tabel PAM) Bujet privat dan keuntungan finansial Bujet privat diperoleh dengan mengalikan kuantitas input-output fisik /ha (Lampiran 1) dengan tabel harga net present value privat (Lampiran 4) per unit masing-masing komponen. Data bujet net present value privat jambu mete selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 5.

17 106 Suatu usahatani yang menguntungkan secara finansial belum tentu menguntungkan secara ekonomi. Hal tersebut dimungkinkan, misalnya karena terdapat subsidi pada input produksi sehingga keuntungan finansial akan meningkat, namun keuntungan ekonomi tetap atau mengalami penurunan. Apabila tidak disertai peningkatan produktivitas dan atau harga output, maka secara ekonomi kebijakan subsidi tersebut tidak akan meningkatkan keuntungan ekonomi. Untuk mengetahui efisiensi suatu usahatani maka cara yang paling sederhana adalah mengetahui nilai keuntungan. Suatu usaha akan terus dijalankan apabila keuntungan yang diperoleh lebih besar dari nul atau telah mencapai keuntungan normal. Indikator efisiensi yang lebih tepat adalah nilai efisiensi ekonomi (sosial) daripada efisiensi finansial (privat). Efisiensi finansial atau keuntungan finansial merupakan ukuran daya saing dalam harga pasar aktual. Hasil analisis PAM multi period jambu mete secara privat selama 18 tahun di Kabupaten Karangasem yang sajikan pada Tabel 6.3 menunjukkan bahwa total penerimaan (total revenue) yang diperoleh petani sampel jambu mete baru terlihat pada TM 5 TM 18, sedangkan pada TBM 0 TBM 4 usahatani tersebut belum menghasilkan atau belum berproduksi sehingga keuntungan bersih (net profit) yang didapat masih negatif. Pada tahun kelima dari umur tanaman jambu mete atau sebagai tahun pertama tanaman menghasilkan, rata-rata total penerimaan petani sampel baru mencapai Rp ,74 /ha, sedangkan total biaya yang dikeluarkan petani pada saat itu sebesar Rp ,15 /ha sehingga keuntungan bersih (net profit) yang diterima petani sampel baru mencapai sebesar Rp ,59 /ha. Perkembangan keuntungan bersih cenderung mengalami

18 107 peningkatan mengikuti total penerimaan usahatani jambu mete yang semakin meningkat setelah dikurangi dengan total biaya (total cost) usahatani. Meningkatnya penerimaan petani jambu mete terebut disebabkan perkembangan jumlah produksi yang cenderung meningkat dengan asumsi bahwa harga produksi tetap selama TM 1 hingga TM 14. Pengeluaran biaya terbesar pada sistim usahatani jambu mete di Kabupaten Karangasem diperuntukan tenaga kerja sekitar 49,45%, input tradabel sekitar 19,94%, modal kerja sekitar 14,99%, lahan sekitar 12,83% dan peralatan sekitar 2,79%. Dari hasil analisis PAM multi period jambu mete secara privat selama 18 tahun, menunjukkan bahwa rata-rata total penerimaan (total revenue) petani adalah sebesar Rp ,11 /ha dengan total biaya (total cost) yang merupakan input tradabel sebesar Rp ,66 dan faktor domestik sebesar Rp ,29 yang dikeluarkan petani sebesar Rp ,95 /ha maka keuntungan finansial petani dari usahatani jambu mete di Kabupaten Karangasem adalah sebesar Rp ,16 /ha. Dari total penerimaan dan total biaya yang dikeluarkan petani dalam usahatani jambu mete diperoleh nilai R/C atau PBCR (private benefit-cost ratio) sebesar 3,55. Dapat dikatakan bahwa usahatani jambu mete di Kabupaten Karangasem secara finansial layak, karena rasio R/C atau PBCR (private benefitcost ratio) lebih besar dari 1. Menurut Monke dan Pearson (1995) suatu aktivitas ekonomi yang mempunyai keuntungan finansial diatas normal merupakan indikator bahwa pengembangan aktivitas ekonomi tersebut masih dimungkinkan.

19 108 Tahun Penerimaan Input Tradabel Tabel 6.3 Privat Budget Multi Period Jambu Mete di Kabupaten Karangasem Faktor domestik TK Modal Lahan Peralatan Total Keuntungan bersih , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,98 NPV , , , , , , , ,16

20

21 Bujet sosial dan keuntungan ekonomi Untuk bujet sosial diperoleh dengan mengalikan kuantitas input-output fisik /ha (Lampiran 1) dengan tabel harga net present value sosial (Lampiran 6) per unit masing-masing komponen. Data bujet net present value sosial jambu mete selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 7. Menurut Grey et al. (1985), menyebutkan bahwa analisis keuntungan ekonomi merupakan analisis yang menilai suatu aktivitas ekonomi atas manfaat bagi masyarakat secara keseluruhan tanpa melihat siapa yang memberi dan siapa yang menerima manfaat dari aktivitas tersebut. Berdasarkan hal tersebut, maka pada analisis keuntungan ekonomi tidak dibedakan antara keuntungan ditingkat petani dan keuntungan ditingkat pedagang. Dengan demikian analisis keuntungan ekonomi baik output maupun input yang digunakan berdasarkan harga sosial atau harga bayangan (shadow price). Tanaman jambu mete baru mulai berproduksi pada saat tahun kelima atau pada saat tanaman menghasilkan pertama ini biasa dikenal sebagai TM 1, namun belum menunjukkan hasil yang tinggi sehingga belum memberikan keuntungan ekonomis yang layak bagi petani. Rata-rata total penerimaan petani sampel secara sosial pada TM 1 baru mencapai Rp ,52 /ha, sedangkan total biaya yang dikeluarkan petani secara sosial pada saat itu lebih besar yaitu sebesar Rp ,64 /ha sehingga petani belum memperoleh keuntungan secara ekonomi, dengan perkataan lain keuntungan bersih (net profit) secara ekonomi masih negatif. Hal ini terjadi hingga tahun keenam dari umur tanaman atau pada TM 2. Selanjutnya usahatani jambu mete baru mulai menunjukkan keuntungan bersih

22 110 pada TM 3 atau ketika tanaman berumur tujuh tahun, dimana rata-rata total penerimaan petani telah mencapai sebesar Rp ,15 /ha dengan total biaya yang dikeluarkan petani pada usahatani jambu mete sebesar Rp ,87 /ha, sehingga keuntungan bersih yang diterima petani jambu mete sebesar Rp ,28 /ha. Seperti halnya keuntungan finansial, maka perkembangan keuntungan bersih cenderung mengalami peningkatan mengikuti total penerimaan usahatani jambu mete yang semakin meningkat setelah dikurangi dengan total biaya (total cost) usahatani. Meningkatnya penerimaan petani jambu mete terebut disebabkan perkembangan jumlah produksi yang cenderung meningkat dengan asumsi bahwa harga produksi secara sosial adalah tetap. Hasil analisis PAM multi period jambu mete secara sosial selama 18 tahun di Kabupaten Karangasem dapat dilihat pada Tabel 6.4. Dari hasil analisis PAM multi period jambu mete secara sosial selama 18 tahun, menunjukkan bahwa rata-rata total penerimaan (total revenue) petani adalah sebesar Rp ,88 /ha dengan total biaya (total cost) yang merupakan input tradabel sebesar Rp ,74 dan faktor domestik sebesar Rp ,38 yang dikeluarkan petani sebesar Rp ,12 /ha maka keuntungan ekonomi petani dari usahatani jambu mete di Kabupaten Karangasem adalah sebesar Rp ,76 /ha. Ditinjau dari aspek biaya pengeluaran input secara sosial yang terbesar adalah biaya sewa lahan sekitar 70,69%, penggunaan tenaga kerja sekitar 16,48%,

23 111 tradabel input sekitar 7,12%, penggunaan modal kerja sekitar 4,79% dan penggunaan peralatan pertanian sekitar 0,92%. Berdasarkan perhitungan rasio total penerimaan terhadap total biaya di atas, maka usahatani jambu mete menghasilkan nilai R/C atau SBCR (social benefit-cost ratio) sebesar 1,10. Dapat dikatakan bahwa usahatani jambu mete di Kabupaten Karangasem secara ekonomi (sosial) layak, karena rasio R/C atau SBCR (social benefit-cost ratio) lebih besar dari 1. Karena baik keuntungan finansial maupun keuntungan ekonomi usahatani jambu mete di atas adalah positif, maka usahatani jambu mete tersebut memiliki keuntungan kompetitif dan keuntungan komparatif dalam menggunakan sumberdaya ekonomi. Keuntungan ekonomi merupakan hasil analisis PAM yang menarik. Untuk memahami arti keuntungan ekonomi, terlebih dahulu harus dipahami konsep harga efisiensi. Ketika penerimaan lebih besar dari biaya, di mana keduanya dihitung pada tingkat harga efisiensi (disebut juga sebagai harga ekonomi/sosial), maka keuntungan ekonomi/sosial menjadi positif. Harga efisiensi mencerminkan social opportunity cost. Suatu output dinilai sebagai harga efisiensi dengan cara mengukur berapa besar penerimaan yang diperoleh perekonomian secara keseluruhan dengan memproduksi satu unit tambahan output (komoditas ekspor) atau berapa besar penghematan yang akan dilakukan dengan tidak mengimpor satu unit komoditas impor, sedangkan harga efisiensi semua input (input tradable dan faktor domestik) dinilai dengan menduga berapa besar pendapatan nasional akibat digunakannya sumberdaya untuk memproduksi komoditas yang sedang diteliti.

24 112 Tabel 6.4 Sosial Budget Multi Period Jambu Mete di Kabupaten Karangasem Tahun Penerimaan Input Tradabel Faktor Domestik TK Modal Lahan Peralatan Total Keuntungan bersih , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,86 NPV , , , , , , , ,76 Sumber : Data Primer.

25

26 Daya Saing Komoditas Jambu Mete di Kabupaten Karangasem Analisis daya saing secara internasional adalah suatu analisis untuk menilai suatu aktifitas ekonomi (layak atau tidak layak) ditinjau dari segi pemanfaatan sumberdaya domestik yang digunakan. Alat analisis yang digunakan untuk mengukur daya saing secara internasional suatu komoditas adalah dengan menggunakan rasio Domestic Resourse Cost (DRC), yaitu rasio antara biaya domestik dengan nilai tambah output dari biaya input yang dapat diperdagangkan pada harga sosial. Usahatani suatu komoditas dikatakan mempunyai daya saing secara internasional jika rasio DRC < 1, artinya komoditas tersebut lebih menguntungkan jika diusahakan didalam negeri dari pada diimpor. Sebaliknya jika rasio DRC > 1 berarti usahatani suatu komoditas tidak mempunyai daya saing internasional atau secara ekonomi tidak layak untuk diusahakan karena terjadi pemborosan sumberdaya domestik. Sehingga pada kondisi seperti ini akan lebih menguntungkan jika komoditas tersebut diimpor daripada diusahakan di dalam negeri. Hasil analisis dengan menggunakan metode Policy Analysis Matrix (PAM) menunjukkan bahwa nilai rasio sumberdaya domestik atau Domestic Resourse Cost (DRC) usahatani jambu mete di Kabupaten Karangasem adalah 0,91. Nilai tersebut menunjukkan bahwa untuk mendapatkan 1 unit nilai tambah diperlukan biaya domestik sebesar 0,91 unit pada usahatani jambu mete. Dalam kaitan perdagangan internasional maka nilai rasio DRC usahatani jambu mete sebesar

27 114 0,91 artinya bahwa setiap 1 $ US devisa negara yang dikeluarkan untuk mengimpor mete gelondongan kering, jika diproduksi di dalam negeri hanya dibutuhkan biaya sebesar 0,91 $ US. Nilai ekspor mete gelondongan kering Indonesia sepuluh tahun terakhir yaitu pada Tahun 2000 mencapai volume ton dengan nilai $ US, nilai ekspor cukup berfluktuatif namun memiliki kecenderungan yang terus meningkat hingga Tahun 2009 yaitu mencapai volume ton dengan nilai $ US. Sejalan dengan nilai ekspor, Indonesia juga mengimpor kacang mete gelondongan kering dengan volume lebih rendah dari nilai ekspornya. Pada Tahun 2000 volume impor mete gelondongan kering sebesar 212 ton dengan nilai $ US. Nilai impor mete gelondongan kering ini juga memiliki kecenderungan yang sama dengan nilai ekspornya, yaitu terus mengalami peningkatan sehingga pada Tahun 2009 volume impor mete mencapai ton dengan nilai $ US. Dari uraian di atas, untuk meningkatkan dan sekaligus menghemat devisa negara dari sektor perkebunan yang tiap tahun nilai impornya semakin besar, maka Kabupaten Karangasem sangat cocok jika dijadikan sebagai salah satu sentra pengembangan komoditas mete organik nasional. Salah satu faktor yang menyebabkan suatu sistem usahatani jambu mete memiliki daya saing internasional adalah dengan membandingkan alokasi biaya penggunaan input tradable dan domestik. Hal ini berkaitan dengan alokasi biaya input tradable pada usahatani jambu mete yang sebagian besar adalah pengadaan pupuk anorganik, pupuk organik, bibit, herbisida dan pestisida (Lampiran 7).

28 115 Meminimumkan biaya input tradable dengan penerapan prinsip pengendalian hama terpadu, penggunaan bibit unggul dalam jumlah yang tepat, dan penggunaan pupuk kandang, penggunaan organik lainnya sesuai rekomendasi (spesifik lokasi) dalam sistem usahatani jambu mete dapat meminimumkan DRC. Meminimumkan nilai DRC ekivalen dengan memaksimumkan keuntungan ekonomi (sosial). Pada Tabel 6.5 diketahui bahwa usahatani jambu mete yang dianalisis mempunyai rasio DRC < 1, hal ini berarti usahatani jambu mete di Kabupaten Karangasem mempunyai daya saing secara internasional. Dengan kata lain, faktor domestik digunakan secara efisien, sehingga usahatani jambu mete ini layak dan masih dimungkinkan untuk dikembangkan. Tabel 6.5 Analisis Daya Saing Komoditas Jambu Mete Di Kabupaten Karangasem Tahun Penerimaan (Rp/Ha) Biaya-biaya (Rp/ha) Input tradable Faktor domestik Keuntungan (Rp/ha) DRC PCR Privat , , , ,15 0,91 0,24 Sosial , , , ,76 Divergensi , , , ,39 Sumber : Data Primer. Rasio biaya privat (Privat Cost Ratio atau PCR) adalah perbandingan antara biaya faktor domestik dengan nilai tambah output dari biaya input tradable pada harga privat (finansial). Rasio ini dapat digunakan sebagai indikator untuk mencapai tujuan dari kegiatan usahatani yaitu memperoleh keuntungan maksimum. Supaya diperoleh nilai keuntungan maksimum maka petani selalu

29 116 berusaha meminimumkan nilai PCR, misalnya dengan meminimumkan pengeluaran biaya faktor domestik atau dengan cara memaksimumkan nilai tambah, yaitu dengan cara meminimumkan input tradable. PCR memainkan fungsi yang sama seperti DRC, hanya berbeda dalam dasar penilaian harga. PCR dinilai dalam harga privat (finansial) yang sudah dipengaruhi kebijakan pemerintah. Nilai PCR merupakan ukuran daya saing atau efisiensi pada nilai finansial atau keunggulan kompetitif. Itu berarti daya saing pada nilai finansial dicapai jika nilai PCR lebih kecil dari satu (PCR < 1), sebaliknya tidak mempunyai daya saing pada nilai finansial jika PCR > 1. Penjelasan dan analisis di atas maka usahatani jambu mete di Kabupaten Karangasem merupakan sistem usahatani yang menguntungkan dan memiliki daya saing pada nilai finansial atau keunggulan kompetitif, karena besarnya rasio biaya privat (PCR) untuk sistem usahatani jambu mete adalah 0,24 (Tabel 6.5). Usahatani jambu mete di atas bisa diusahakan, karena untuk menghasilkan satu unit nilai tambah memerlukan biaya domestik yang lebih kecil dari satu unit. Hasil analisis PCR dan DRC pada usahatani jambu mete di atas menunjukkan bahwa nilai PCR < 1 dan DRC < 1, dengan demikian usahatani jambu mete di Kabupaten Karangasem mempunyai daya saing pada nilai finansial dan daya saing pada nilai ekonomis (internasional) atau memiliki keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif. Selain itu juga diketahui bahwa nilai PCR pada usahatani jambu mete mempunyai nilai yang lebih rendah daripada nilai DRC-nya, atau PCR < DRC. Keadaan ini memberi arti bahwa tanpa adanya kebijakan pemerintah, untuk menghasilkan satu unit nilai tambah memerlukan

30 117 faktor domestik yang lebih besar dibandingkan dengan adanya kebijakan. Dengan kata lain masih diperlukan kebijakan pemerintah untuk menunjang daya saing pada nilai ekonomis (internasional). Kebijakan pemerintah yang sesuai dengan ketentuan WTO antara lain berupa tarifikasi dan akses pasar tanpa mengurangi perlindungan terhadap petani. 6.6 Dampak Kebijakan Input Output Suatu kebijakan pemerintah dalam suatu sistem komoditas akan memberikan dampak baik kepada produsen, konsumen maupun pedagang perantara. Dampak yang diberikan dapat saja positif atau negatif terhadap masingmasing pelaku sistem tersebut. Dampak kebijakan juga bisa meningkatkan atau menurunkan produksi atau produktivitas suatu usahatani. Sebagai contoh, subsidi pupuk yang diberikan sejak masa pemerintahan orde baru, yaitu sejak dimulainya rencana pembangunan lima tahun tahap I (REPELITA I). Adanya subsidi tersebut harga pupuk yang dibayar petani menjadi lebih rendah dari harga ekonomisnya. Kesuksesan subsidi pupuk mendorong peningkatan penggunaan pupuk. Respon positif petani terhadap subsidi pupuk ini membawa konsekuensi pembengkakan anggaran pemerintah untuk subsidi pupuk. Dua dasa warsa terakhir, pemerintah mulai melakukan kebijakan pengurangan subsidi atas input utama. Pada Tahun 1994 subsidi pupuk KCl telah dihapus. Selanjutnya secara bertahap pengurangan subsidi atas input utama terus dilakukan melalui penyesuaian harga pupuk. Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian No. 17/Permentan/SR.130/5/2006 tanggal 16 Mei 2006, pemerintah

31 118 melakukan kebijakan pengurangan subsidi atas pupuk lagi atau menaikkan harga eceran tertinggi (HET) pupuk sehingga harga pupuk urea naik menjadi Rp 1.200,00/kg (14,29 %), SP-36 menjadi Rp 1.550,00/kg (10,71 %), ZA menjadi Rp 1.050,00/kg (10,53 %), NPK menjadi Rp 1.750,00/kg (9,30 %) dan PONSKA menjadi Rp 1.750,00/kg. Peraturan Menteri Pertanian di atas telah mengalami beberapa koreksi diantaranya Peraturan Menteri Pertanian No. 50/Permentan/SR.130/11/2009, Peraturan Menteri Pertanian No. 22/Permentan/SR.130/2/2010 dan terakhir adalah Peraturan Menteri Pertanian No. 32/Permentan/SR.130/4/2010 tanggal 8 April 2010, pemerintah melakukan penyesuaian kembali atas kebutuhan dan harga eceran tertinggi (HET) pupuk bersubsidi untuk sektor pertanian Tahun Anggaran 2010, sehingga harga pupuk urea naik menjadi Rp 1.600,00/kg, SP-36 menjadi Rp 2.000,00/kg, ZA menjadi Rp 1.400,00/kg, NPK Phonska menjadi Rp 2.300,00/kg dan Pupuk Organik Rp 700/kg. Keadaan ini menyebabkan meningkatnya biaya produksi, dan semakin tidak kondusifnya bagi pengembangan usahatani beberapa komoditas pertanian. Penghapusan subsidi pupuk tersebut dikhawatirkan akan menurunkan kemampuan petani membeli pupuk yang disebabkan menurunnya nilai tukar hasil petani terhadap harga sarana produksi (Sudaryanto et al., 1999; Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali, 2006). Pada hal pupuk merupakan faktor pembatas bagi optimalisasi produksi komoditas pertanian terutama yang berbasis lahan (land base agriculture). Analisis dampak kebijakan pada penelitian ini dilakukan untuk melihat sampai sejauh mana kebijakan pemerintah memberikan perlindungan terhadap

32 119 petani domestik, baik kebijakan harga input maupun kebijakan harga output. Besarnya dampak kebijakan dilihat dari tingkat proteksi yang diterima petani domestik dalam menjalankan usahanya. Dengan menggunakan beberapa indikator dari analisis dengan metoda Matriks Analisis Kebijakan (Policy Analysis Matrix atau PAM) dapat diketahui berapa besar dampak kebijakan pemerintah tersebut Divergensi Pada dasarnya, PAM dimaksudkan sebagai alat analisis kebijakan dan dampak kebijakan tersebut, yang tersembunyi dalam divergensi. Setiap divergensi, baik yang disebabkan oleh distorsi kebijakan atau kegagalan pasar, seyogyanya dapat dijelaskan secara meyakinkan, kalau tidak ingin memunculnya anggapan bahwa telah terjadi kesalahan data. Adanya perbedaan nilai privat (output dan input) dibandingkan dengan nilai-nilai sosialnya mungkin disebabkan oleh adanya kebijakan yang terdistorsi (distorting policy) atau pasar berjalan tidak sempurna sehingga gagal menciptakan pasar yang efisien (market failure) yang menyebabkan harga privat (harga pasar aktual) berbeda dengan harga sosialnya (harga efisiensi atau social opportunity cost). Kebijakan yang terdistorsi tersebut dapat berupa penerapan pajak atau subsidi, hambatan perdagangan atau intervensi lain, sedangkan kegagalan pasar berupa monopoli atau monopsoni, eksternalitas atau tidak berkembangnya pasar sumberdaya domestik.

33 120 Adanya kecurigaan bahwa divergensi disebabkan oleh distorsi kebijakan atau kegagalan pasar, harus dapat dibuktikan secara meyakinkan. Apabila hal tersebut tidak dapat dibuktikan secara meyakinkan maka dilakukan pemeriksaan ulang terhadap asumsi yang digunakan atau data yang berkaitan dengan pasar komoditas. Di sektor pertanian, kegagalan pasar sangat jarang terjadi (di pasar output maupun input tradabel) karena produsen mudah keluar masuk pasar (easy to entry/exit). Kegagalan pasar banyak terjadi di pasar sumberdaya domestik pedesaan negara-negara sedang berkembang, utamanya di pasar modal dan pasar lahan. Dari Tabel 6.5 menunjukkan bahwa divergensi dalam penerimaan (revenue) pada usahatani komoditas jambu mete di Kabupaten Karangasem sebesar Rp ,23 /ha disebabkan oleh perbedaan harga privat yang diterima petani dengan harga sosialnya. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat transfer penerimaan dari konsumen kepada produsen (petani) atau konsumen membeli dan produsen (petani) menerima dengan harga yang lebih tinggi dari harga seharusnya. Dampak kebijakan pemerintah mengenai harga mete gelondongan kering menguntungkan produsen (petani) atau terdapat subsidi yang dapat meningkatkan pendapatan. Nilai divergensi dalam penerimaan (output transfer) juga memberi implikasi dalam perdagangan internasional. Dalam hal ini mete gelondongan kering sebagai komoditas ekspor dan impor, maka adanya divergensi bernilai positif, seharusnya pemerintah dapat menetapkan salah satu

34 121 pembatasan perdagangan internasional yaitu dengan cara pengenaan tarif atau pembatasan jumlah (kuota) impor. Divergensi input yang diperdagangkan (tradable) pada usahatani jambu mete sebesar Rp ,08 /ha juga disebabkan oleh perbedaan harga privat yang dikeluarkan petani dengan harga sosialnya. Dari hasil analisis tersebut divergensi input tradabel bernilai negatif, itu berarti terdapat kebijakan yang menghasilkan harga privat yang lebih rendah atau petani sebagai konsumen membayar harga input secara keseluruhan lebih murah daripada harga sosialnya (pasar internasional). Nilai negatif pada divergensi input tradabel menunjukkan adanya kebijakan subsidi. Hal ini berarti bahwa usahatani jambu mete di Kabupaten Karangasem menerima subsidi input. Subsidi input dari pemerintah yang diterima petani pada usahatani jambu mete adalah pupuk Urea, TSP/SP-36, KCl dan NPK. Input faktor domestik adalah input produksi yang harganya ditentukan oleh pasar domestik. Perbedaan harga finansial dan harga ekonomi tidak sematamata disebabkan oleh kebijakan pajak atau subsidi, tetapi juga adanya unsur perbedaan penilaian pada faktor domestik. Penilaian upah tenaga kerja, biaya modal (kapital) pada nilai finansial, biaya pemulihan alat pertanian, dan sewa lahan tidak dimasukkan dalam perhitungan nilai ekonomi. Dari Tabel 6.5 dapat diketahui bahwa divergensi faktor domestik pada usahatani jambu mete di Kabupaten Karangasem menunjukkan nilai negatif, sebesar Rp ,09 /ha. Nilai divergensi faktor domestik yang negatif menunjukkan adanya kebijakan subsidi dari pemerintah.

35 122 Divergensi tenaga kerja pada usahatani jambu mete sama dengan nul, karena tidak ada perbedaan biaya tenaga kerja privat dan sosial (Lampiran 10). Dapat dikatakan bahwa tidak terjadi distorsi kebijakan atau kegagalan pasar tenaga kerja. Sedangkan divergensi pada biaya modal sebesar Rp ,39 /ha disebabkan oleh perbedaan harga privat yang diterima petani dengan harga sosialnya. Divergensi ini timbul sebagai akibat dari tingkat bunga sosial lebih rendah dari tingkat bunga privatnya (Lampiran 10). Divergensi biaya lahan disebabkan oleh perbedaan nilai sewa lahan privat (finansial) dengan nilai sosial lahan. Nilai sosial lahan merupakan nilai keuntungan yang mungkin dicapai seandainya lahan tersebut digunakan untuk usahatani jagung. Divergensi biaya lahan yang negatif ( Rp ,08 /ha) mencerminkan sebagai kurang berkembangnya sistem sewa lahan di Kabupaten Karangasem (Lampiran 10). Divergensi pada biaya pemulihan peralatan sebesar Rp 9.396,60 /ha disebabkan oleh perbedaan harga privat yang diterima petani dengan harga sosialnya. Divergensi ini juga timbul sebagai akibat dari tingkat bunga sosial lebih rendah dari tingkat bunga privatnya (Lampiran 10). Divergensi keuntungan bersih (net profit) usahatani jambu mete sebesar Rp ,39 /ha. Nilai divergensi keuntungan bersih (net profit) yang positif, berarti bahwa terdapat kebijakan insentif pada usahatani jambu mete di Kabupaten Karangasem, membuat surplus pada produsen (petani) bertambah atau kebijakan insentif membuat usahatani jambu mete menjadi efisien.

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan tujuan penelitian dan hasil analisis, maka pada penelitian ini

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan tujuan penelitian dan hasil analisis, maka pada penelitian ini BAB VII SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan tujuan penelitian dan hasil analisis, maka pada penelitian ini diperoleh beberapa simpulan, implikasi kebijakan dan saran-saran seperti berikut. 7.1 Simpulan 1. Dari

Lebih terperinci

sesuaian harga yang diterima dengan cost yang dikeluarkan. Apalagi saat ini,

sesuaian harga yang diterima dengan cost yang dikeluarkan. Apalagi saat ini, RINGKASAN Kendati Jambu Mete tergolong dalam komoditas unggulan, namun dalam kenyataannya tidak bisa dihindari dan kerapkali mengalami guncangan pasar, yang akhirnya pelaku (masyarakat) yang terlibat dalam

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Karangasem dengan lokasi sampel penelitian, di Desa Dukuh, Kecamatan Kubu. Penentuan lokasi penelitian dilakukan

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP JERUK SIAM

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP JERUK SIAM VI ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP JERUK SIAM 6.1. Analisis Daya Saing Analisis keunggulan kompetitif dan komparatif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan kemampuan jeruk

Lebih terperinci

VII. ANALISIS DAYA SAING USAHATANI JAGUNG

VII. ANALISIS DAYA SAING USAHATANI JAGUNG VII. ANALISIS DAYA SAING USAHATANI JAGUNG 7.1. Profitabilitas Privat dan Sosial Analisis finansial dan ekonomi usahatani jagung memberikan gambaran umum dan sederhana mengenai tingkat kelayakan usahatani

Lebih terperinci

KERANGKA PEMIKIRAN. berupa derasnya arus liberalisasi perdagangan, otonomi daerah serta makin

KERANGKA PEMIKIRAN. berupa derasnya arus liberalisasi perdagangan, otonomi daerah serta makin 22 III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Analisis Dewasa ini pengembangan sektor pertanian menghadapi tantangan dan tekanan yang semakin berat disebabkan adanya perubahan lingkungan strategis

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu Menurut penelitian Fery (2013) tentang analisis daya saing usahatani kopi Robusta di kabupaten Rejang Lebong dengan menggunakan metode Policy Analiysis

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan tujuan

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan tujuan 33 III. METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional dan Konsep Dasar Konsep dasar dan batasan operasional ini mencakup pengertian yang digunakan untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN

IV METODE PENELITIAN IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Desa Cilembu (Kecamatan Tanjungsari) dan Desa Nagarawangi (Kecamatan Rancakalong) Kabupaten Sumedang, Propinsi Jawa Barat.

Lebih terperinci

14,3 13,1 11,1 8,9 27,4 26,4 4. 1,0 1,0 9,9 6. 7,0 15,6 16,1 6,5 6,2 8,5 8,3 10,0

14,3 13,1 11,1 8,9 27,4 26,4 4. 1,0 1,0 9,9 6. 7,0 15,6 16,1 6,5 6,2 8,5 8,3 10,0 114 Lampiran 1. Distribusi Persentase Produk Domestik Bruto (PDB) Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Sektor) No. Lapangan Usaha (Sektor) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 1. Pertanian, Peternakan,

Lebih terperinci

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1. Analisis Daya Saing Analisis keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan prospek serta kemampuan komoditi gula lokal yang dihasilkan

Lebih terperinci

VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK

VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK 6.1 Analisis Keuntungan Sistem Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok Analisis keunggulan komparatif

Lebih terperinci

ANALISIS KEBIJAKAN PENGEMBANGAN DAYA SAING INDUSTRI KELAPA SAWIT RIAU

ANALISIS KEBIJAKAN PENGEMBANGAN DAYA SAING INDUSTRI KELAPA SAWIT RIAU Volume 8, Nomor 2, Desember 2017 ISSN 2087-409X Indonesian Journal of Agricultural Economics (IJAE) ANALISIS KEBIJAKAN PENGEMBANGAN DAYA SAING INDUSTRI KELAPA SAWIT RIAU Nina*, Suardi Tarumun** dan Ahmad

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. IV. GAMBARAN UMUM Gambaran Umum Wilayah Penelitian... 49

DAFTAR ISI. IV. GAMBARAN UMUM Gambaran Umum Wilayah Penelitian... 49 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... ii PERNYATAAN... iii KATA PENGANTAR... iv DAFTAR ISI... v DAFTAR TABEL... vii DAFTAR GAMBAR... x DAFTAR LAMPIRAN... xi INTISARI... xiii ABSTRACT... xiv

Lebih terperinci

VI. ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA USAHATANI JAMBU BIJI

VI. ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA USAHATANI JAMBU BIJI VI. ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA USAHATANI JAMBU BIJI Daya saing usahatani jambu biji diukur melalui analisis keunggulan komparatif dan kompetitif dengan menggunakan Policy

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN. Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Pemilihan lokasi

IV. METODE PENELITIAN. Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Pemilihan lokasi IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Studi kasus penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Sukaresmi dan Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Pemilihan lokasi dilakukan secara purpossive

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN VI HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1 Analisis Daya Saing Analisis keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan prospek serta kemampuan komoditi susu sapi lokal dalam

Lebih terperinci

IV METODOLOGI PENELITIAN

IV METODOLOGI PENELITIAN IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada petani tebu di wilayah kerja Pabrik Gula Sindang Laut Kabupaten Cirebon Propinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi penelitian

Lebih terperinci

Lampiran 1. Perhitungan Nilai Tukar Bayangan

Lampiran 1. Perhitungan Nilai Tukar Bayangan LAMPIRAN Lampiran 1. Perhitungan Nilai Tukar Bayangan No. Bulan Tahun 2010 1 Januari 9,365.00 2 Februari 9,335.00 3 Maret 9,115.00 4 April 9,012.00 5 Mei 9,180.00 6 Juni 9,083.00 7 Juli 8,952.00 8 Agustus

Lebih terperinci

ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KENTANG

ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KENTANG ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KENTANG VI. 6.1 Analisis Dayasaing Hasil empiris dari penelitian ini mengukur dayasaing apakah kedua sistem usahatani memiliki keunggulan

Lebih terperinci

Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Daya Saing Komoditas Kelapa di Kabupaten Flores Timur

Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Daya Saing Komoditas Kelapa di Kabupaten Flores Timur Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Daya Saing Komoditas Kelapa di Kabupaten Flores Timur Krisna Setiawan* Haryati M. Sengadji* Program Studi Manajemen Agribisnis, Politeknik Pertanian Negeri

Lebih terperinci

DAFTAR TABEL. 1. Produksi manggis di Pulau Sumatera tahun Produksi manggis kabupaten di Provinsi Lampung tahun

DAFTAR TABEL. 1. Produksi manggis di Pulau Sumatera tahun Produksi manggis kabupaten di Provinsi Lampung tahun DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1. Produksi manggis di Pulau Sumatera tahun 2012... 5 2. Produksi manggis kabupaten di Provinsi Lampung tahun 2010-2012... 6 3. Luas panen, produktivitas, dan produksi manggis

Lebih terperinci

Lampiran 1. Perhitungan Premium Nilai Tukar dan Nilai Tukar Bayangan Tahun 2009

Lampiran 1. Perhitungan Premium Nilai Tukar dan Nilai Tukar Bayangan Tahun 2009 LAMPIRAN Lampiran 1. Perhitungan Premium Nilai Tukar dan Nilai Tukar Bayangan Tahun 2009 Uraian Jumlah (Rp) Total Ekspor (Xt) 1,211,049,484,895,820.00 Total Impor (Mt) 1,006,479,967,445,610.00 Penerimaan

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN 45 IV. METODE PENELITIAN 4.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kepulauan Tanakeke, Kabupaten Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan. Pemilihan daerah tersebut dilakukan secara purposive

Lebih terperinci

POLICY BRIEF DAYA SAING KOMODITAS PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI DALAM KONTEKS PENCAPAIAN SWASEMBADA PANGAN. Dr. Adang Agustian

POLICY BRIEF DAYA SAING KOMODITAS PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI DALAM KONTEKS PENCAPAIAN SWASEMBADA PANGAN. Dr. Adang Agustian PENDAHULUAN POLICY BRIEF DAYA SAING KOMODITAS PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI DALAM KONTEKS PENCAPAIAN SWASEMBADA PANGAN Dr. Adang Agustian 1) Salah satu peran strategis sektor pertanian dalam perekonomian nasional

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Daya Saing Perdagangan Internasional pada dasarnya merupakan perdagangan yang terjadi antara suatu negara tertentu dengan negara yang

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 26 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan batasan operasional merupakan pengertian dan petunjuk mengenai variabel yang akan diteliti untuk memperoleh dan menganalisis

Lebih terperinci

VIII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING RUMPUT LAUT

VIII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING RUMPUT LAUT 83 VIII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING RUMPUT LAUT 8.1. Struktur Biaya, Penerimaan Privat dan Penerimaan Sosial Tingkat efesiensi dan kemampuan daya saing rumput laut di

Lebih terperinci

DAMPAK DEPRESIASI RUPIAH TERHADAP DAYA SAING DAN TINGKAT PROTEKSI KOMODITAS PADI DI KABUPATEN BADUNG

DAMPAK DEPRESIASI RUPIAH TERHADAP DAYA SAING DAN TINGKAT PROTEKSI KOMODITAS PADI DI KABUPATEN BADUNG DAMPAK DEPRESIASI RUPIAH TERHADAP DAYA SAING DAN TINGKAT PROTEKSI KOMODITAS PADI DI KABUPATEN BADUNG Jarek Putradi Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Badung, Bali jarek.putradi@gmail.com

Lebih terperinci

Lampiran 1. Syarat Mutu Lada Putih Mutu I dan Mutu II. binatang

Lampiran 1. Syarat Mutu Lada Putih Mutu I dan Mutu II. binatang 131 Lampiran 1. Syarat Mutu Lada Putih Mutu I dan Mutu II No Jenis Uji Satuan 1 Cemaran Binatang 2 Warna 3 Kadar Benda Asing (b/b) 4 Kadar Biji Enteng (b/b) 5 Kadar Cemaran Kapang 6 Kadar Warna Kehitam-hitaman

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN. berupa data mengenai kondisi umum wilayah, potensi lahan, pendapatan dan

IV. METODE PENELITIAN. berupa data mengenai kondisi umum wilayah, potensi lahan, pendapatan dan 51 IV. METODE PENELITIAN 4.1. Metode Pengmpulan Data Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Data primer yang digunakan adalah berupa potensi lahan. Sedangkan data sekunder berupa data

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. A. Metode Dasar Penelitian

METODE PENELITIAN. A. Metode Dasar Penelitian II. METODE PENELITIAN A. Metode Dasar Penelitian Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode deskriptif analitis. Menurut Nazir (2014) Metode deskriptif adalah suatu metode dalam

Lebih terperinci

ANALISIS BISNIS JAGUNG LOKAL MADURA DALAM PERSPEKTIF SISTEM AGRIBISNIS

ANALISIS BISNIS JAGUNG LOKAL MADURA DALAM PERSPEKTIF SISTEM AGRIBISNIS ANALISIS BISNIS JAGUNG LOKAL MADURA DALAM PERSPEKTIF SISTEM AGRIBISNIS Purwati Ratna W. Fakultas, Universitas Wiraraja Sumenep ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah: 1) Menganalisis bisnis jagung lokal

Lebih terperinci

DAYA SAING KEDELAI DI KECAMATAN GANDING KABUPATEN SUMENEP

DAYA SAING KEDELAI DI KECAMATAN GANDING KABUPATEN SUMENEP DAYA SAING KEDELAI DI KECAMATAN GANDING KABUPATEN SUMENEP PURWATI RATNA W, RIBUT SANTOSA, DIDIK WAHYUDI Fakultas Pertanian, Universitas Wiraraja Sumenep ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah (1) menganalisis

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN 51 IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di tiga tempat di Provinsi Bangka Belitung yaitu Kabupaten Bangka Selatan, Kabupaten Bangka Barat, dan Kabupaten Belitung.

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional ini mencakup pengertian yang. jagung per musim tanam yang, diukur dalam satuan ton.

III. METODOLOGI PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional ini mencakup pengertian yang. jagung per musim tanam yang, diukur dalam satuan ton. III. METODOLOGI PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan definisi operasional ini mencakup pengertian yang digunakan untuk mendapatkan data dan melakukan analisis terhadap tujuan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Budidaya tebu adalah proses pengelolaan lingkungan tumbuh tanaman

TINJAUAN PUSTAKA. Budidaya tebu adalah proses pengelolaan lingkungan tumbuh tanaman 24 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Usahatani Tebu 2.1.1 Budidaya Tebu Budidaya tebu adalah proses pengelolaan lingkungan tumbuh tanaman sehingga tanaman dapat tumbuh dengan optimum dan dicapai hasil yang diharapkan.

Lebih terperinci

III METODE PENELITIAN. Daya saing adalah suatu konsep yang menyatakan kemampuan suatu produsen

III METODE PENELITIAN. Daya saing adalah suatu konsep yang menyatakan kemampuan suatu produsen III METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Daya saing adalah suatu konsep yang menyatakan kemampuan suatu produsen untuk memproduksi suatu komoditas dengan mutu yang cukup baik dan

Lebih terperinci

KEUNGGULAN KOMPARATIF USAHATANI JAGUNG MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN DI PROVINSI NTT. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, 2

KEUNGGULAN KOMPARATIF USAHATANI JAGUNG MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN DI PROVINSI NTT. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, 2 KEUNGGULAN KOMPARATIF USAHATANI JAGUNG MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN DI PROVINSI NTT Yusuf 1 dan Rachmat Hendayana 2 1 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, 2 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi

Lebih terperinci

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF BERAS SOLOK ORGANIK Mardianto 1, Edi Firnando 2

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF BERAS SOLOK ORGANIK Mardianto 1, Edi Firnando 2 ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF BERAS SOLOK ORGANIK Mardianto 1, Edi Firnando 2 email: mardianto.anto69@gmail.com ABSTRAK 9 Penelitian tentang Analisis Keunggulan Komparatif dan Kompetitif

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN 28 IV. METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan dari Bulan Pebruari sampai April 2009, mengambil lokasi di 5 Kecamatan pada wilayah zona lahan kering dataran rendah

Lebih terperinci

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pendekatan Penelitian Sistem Usaha Pertanian dan Agribisnis

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pendekatan Penelitian Sistem Usaha Pertanian dan Agribisnis II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pendekatan Penelitian Sistem Usaha Pertanian dan Agribisnis Pada awalnya penelitian tentang sistem pertanian hanya terbatas pada tahap budidaya atau pola tanam, tetapi pada tahun

Lebih terperinci

Analisis Tingkat Keuntungan Usahatani Padi Sawah sebagai Dampak dari adanya Subsidi Pupuk di Kabupaten Tabanan

Analisis Tingkat Keuntungan Usahatani Padi Sawah sebagai Dampak dari adanya Subsidi Pupuk di Kabupaten Tabanan Analisis Tingkat Keuntungan Usahatani Padi Sawah sebagai Dampak dari adanya Subsidi Pupuk di Kabupaten Tabanan NI LUH PRIMA KEMALA DEWI Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Univesitas Udayana Jalan

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS KELAPA DI KABUPATEN FLORES TIMUR

ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS KELAPA DI KABUPATEN FLORES TIMUR 350 PARTNER, TAHUN 21 NOMOR 2, HALAMAN 350-358 ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS KELAPA DI KABUPATEN FLORES TIMUR Krisna Setiawan Program Studi Manajemen Agribisnis Politeknik Pertanian Negeri Kupang Jalan

Lebih terperinci

Pengkajian Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Usahatani Padi dan Jeruk Lahan Gambut Kabupaten Barito Kuala Kalimantan Selatan

Pengkajian Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Usahatani Padi dan Jeruk Lahan Gambut Kabupaten Barito Kuala Kalimantan Selatan Pengkajian Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Usahatani Padi dan Jeruk Lahan Gambut Kabupaten Barito Kuala Kalimantan Selatan Muhammad Husaini Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian

Lebih terperinci

Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Beras Organik Ekspor (Suatu Kasus di Gapoktan Simpatik Kabupaten Tasikmalaya)

Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Beras Organik Ekspor (Suatu Kasus di Gapoktan Simpatik Kabupaten Tasikmalaya) Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Beras Organik Ekspor (Suatu Kasus di Gapoktan Simpatik Kabupaten Tasikmalaya) Tirsa Neyatri Bandrang, Ronnie S. Natawidjaja, Maman Karmana Program Magister

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Ekonomi Internasional III KERANGKA PEMIKIRAN Keunggulan komparatif maupun kompetitif berawal dari adanya hubungan ekonomi antar satu negara dengan negara yang lain.

Lebih terperinci

VII. DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DAN FAKTOR LAINNYA TERHADAP KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF PADA USAHATANI JAMBU BIJI

VII. DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DAN FAKTOR LAINNYA TERHADAP KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF PADA USAHATANI JAMBU BIJI VII. DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DAN FAKTOR LAINNYA TERHADAP KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF PADA USAHATANI JAMBU BIJI Analisis sensitivitas perlu dilakukan karena analisis dalam metode

Lebih terperinci

VII. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN Kesimpulan Implikasi Kebijakan I. PENDAHULUAN

VII. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN Kesimpulan Implikasi Kebijakan I. PENDAHULUAN 15 6.5 Dampak Kebijakan Pemerintah... 68 6.6 Analisis Sensitivitas... 69 6.7 Perbandingan Industri Gula Asing dan Industri Gula Nasional... 71 6.7.1 Struktur Industri Gula Kristal Putih... 72 6.7.2 Industri

Lebih terperinci

Lampiran 1. Luas Panen, Produktivitas, Produksi Sayur dan Buah Semusim (SBS) di Kabupaten WonosoboTahun 2010

Lampiran 1. Luas Panen, Produktivitas, Produksi Sayur dan Buah Semusim (SBS) di Kabupaten WonosoboTahun 2010 LAMPIRAN Lampiran. Luas Panen, Produktivitas, Produksi Sayur dan Buah Semusim (SBS) di Kabupaten WonosoboTahun No Komoditas 4 5 4 5 4 5 Bawang Merah Bawang Putih Bawang Daun Kentang Kubis Kembang Kol Petsai/Sawi

Lebih terperinci

DAMPAK KEBIJAKAN PEMBATASAN IMPOR BAWANG MERAH TERHADAP USAHATANI BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO

DAMPAK KEBIJAKAN PEMBATASAN IMPOR BAWANG MERAH TERHADAP USAHATANI BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO DAMPAK KEBIJAKAN PEMBATASAN IMPOR BAWANG MERAH TERHADAP USAHATANI BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO Policy Impact of Import Restriction of Shallot on Farm in Probolinggo District Mohammad Wahyudin,

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KEDELAI VS PENGUSAHAAN KEDELAI DI KABUPATEN LAMONGAN, JAWA TIMUR

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KEDELAI VS PENGUSAHAAN KEDELAI DI KABUPATEN LAMONGAN, JAWA TIMUR ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KEDELAI VS PENGUSAHAAN KEDELAI DI KABUPATEN LAMONGAN, JAWA TIMUR Syahrul Ganda Sukmaya 1), Dwi Rachmina 2), dan Saptana 3) 1) Program

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian

METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat tepatnya di Kecamatan Samarang. Pemilihan lokasi ditentukan secara sengaja (purposive)

Lebih terperinci

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Harga Gula Domestik

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Harga Gula Domestik II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Harga Gula Domestik Menurut Susila (2005), Indonesia merupakan negara kecil dalam perdagangan dunia dengan pangsa impor sebesar 3,57 persen dari impor gula dunia sehingga Indonesia

Lebih terperinci

VII. PEMBAHASAN ASPEK FINANSIAL

VII. PEMBAHASAN ASPEK FINANSIAL VII. PEMBAHASAN ASPEK FINANSIAL 7.1. Proyeksi Arus Kas (Cashflow) Proyeksi arus kas merupakan laporan aliran kas yang memperlihatkan gambaran penerimaan (inflow) dan pengeluaran kas (outflow). Dalam penelitian

Lebih terperinci

VIII. ANALISIS KEBIJAKAN ATAS PERUBAHAN HARGA OUTPUT/ INPUT, PENGELUARAN RISET JAGUNG DAN INFRASTRUKTUR JALAN

VIII. ANALISIS KEBIJAKAN ATAS PERUBAHAN HARGA OUTPUT/ INPUT, PENGELUARAN RISET JAGUNG DAN INFRASTRUKTUR JALAN VIII. ANALISIS KEBIJAKAN ATAS PERUBAHAN HARGA OUTPUT/ INPUT, PENGELUARAN RISET JAGUNG DAN INFRASTRUKTUR JALAN 8.1. Pengaruh Perubahan Harga Output dan Harga Input terhadap Penawaran Output dan Permintaan

Lebih terperinci

VI. ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN SIAM DEDDY FISH FARM

VI. ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN SIAM DEDDY FISH FARM VI. ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN SIAM DEDDY FISH FARM Analisis keunggulan komparatif dan kompetitif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan prospek serta

Lebih terperinci

VII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING LADA PUTIH

VII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING LADA PUTIH 93 VII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING LADA PUTIH 7.1. Justifikasi Harga Bayangan Penelitian ini, untuk setiap input dan output ditetapkan dua tingkat harga, yaitu harga

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN 31 III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Pengertian dan Teori Daya Saing Daya saing adalah suatu konsep komparatif dari kemampuan dan pencapaian dari suatu perusahaan, subsektor atau negara untuk memproduksi, menjual

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Definisi operasional dan konsep dasar ini mencakup semua pengertian yang

III. METODE PENELITIAN. Definisi operasional dan konsep dasar ini mencakup semua pengertian yang III. METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional dan Konsep Dasar Definisi operasional dan konsep dasar ini mencakup semua pengertian yang dipergunakan untuk memperoleh data yang akan dianalisis sesuai dengan

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Analisis Daya Saing Dalam sistem perekonomian dunia yang semakin terbuka, faktor-faktor yang mempengaruhi perdagangan dunia (ekspor dan impor)

Lebih terperinci

EFISIENSI DAN DAYA SAING SISTEM USAHATANI PADI

EFISIENSI DAN DAYA SAING SISTEM USAHATANI PADI EFISIENSI DAN DAYA SAING SISTEM USAHATANI PADI Beny Rachman, Pantjar Simatupang, dan Tahlim Sudaryanto Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian Jl. A. Yani No. 70 Bogor 16161 ABSTRACT

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Usaha Sapi Potong di Kabupaten Indrgiri Hulu 5.1.1. Profitabilitas Privat dan Sosial Usaha Sapi Potong Usaha peternakan sapi

Lebih terperinci

Volume 12, Nomor 1, Hal ISSN Januari - Juni 2010

Volume 12, Nomor 1, Hal ISSN Januari - Juni 2010 Volume 12, Nomor 1, Hal. 55-62 ISSN 0852-8349 Januari - Juni 2010 DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP DAYA SAING DAN EFISIENSI SERTA KEUNGGULAN KOMPETITIF DAN KOMPARATIF USAHA TERNAK SAPI RAKYAT DI KAWASAN

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING APEL JAWA TIMUR (Studi Kasus Apel Batu, Nongkojajar dan Poncokusumo)

ANALISIS DAYA SAING APEL JAWA TIMUR (Studi Kasus Apel Batu, Nongkojajar dan Poncokusumo) ANALISIS DAYA SAING APEL JAWA TIMUR (Studi Kasus Apel Batu, Nongkojajar dan Poncokusumo) Novi Itsna Hidayati 1), Teguh Sarwo Aji 2) Dosen Fakultas Pertanian Universitas Yudharta Pasuruan ABSTRAK Apel yang

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Lokasi penelitian dilaksanakan di Kabupaten Teluk Bintuni. Pemilihan

METODE PENELITIAN. Lokasi penelitian dilaksanakan di Kabupaten Teluk Bintuni. Pemilihan IV. METODE PENELITIAN 4.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Lokasi penelitian dilaksanakan di Kabupaten Teluk Bintuni. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive), dengan pertimbangan merupakan

Lebih terperinci

VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI JAGUNG MANIS

VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI JAGUNG MANIS VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI JAGUNG MANIS Keberhasilan usahatani yang dilakukan petani biasanya diukur dengan menggunakan ukuran pendapatan usahatani yang diperoleh. Semakin besar pendapatan usahatani

Lebih terperinci

3.5 Teknik Pengumpulan data Pembatasan Masalah Definisi Operasional Metode Analisis Data

3.5 Teknik Pengumpulan data Pembatasan Masalah Definisi Operasional Metode Analisis Data DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... ii HALAMAN PERNYATAAN... iii KATA PENGANTAR... iv DAFTAR ISI... vi DAFTAR TABEL... ix DAFTAR GAMBAR... xi DAFTAR LAMPIRAN... xii ABSTRAK... xiii ABSTRACT...

Lebih terperinci

VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PADI SEHAT

VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PADI SEHAT VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PADI SEHAT 7.1. Penerimaan Usahatani Padi Sehat Penerimaan usahatani padi sehat terdiri dari penerimaan tunai dan penerimaan diperhitungkan. Penerimaan tunai adalah penerimaan

Lebih terperinci

VIII. KELAYAKAN USAHATANI LIDAH BUAYA

VIII. KELAYAKAN USAHATANI LIDAH BUAYA VIII. KELAYAKAN USAHATANI LIDAH BUAYA 8.1. Deskripsi Usahatani Lidah Buaya Usahatani lidah buaya dalam penelitian ini dikelola petani pada lahan sebagian besar status hak milik. Jenis tanah yang digunakan

Lebih terperinci

DAYA SAING JAGUNG, KETELA POHON, DAN KETELA RAMBAT PRODUKSI LAHAN KERING DI KECAMATAN KUBU, KABUPATEN KARANGASEM PROVINSI BALI

DAYA SAING JAGUNG, KETELA POHON, DAN KETELA RAMBAT PRODUKSI LAHAN KERING DI KECAMATAN KUBU, KABUPATEN KARANGASEM PROVINSI BALI DAYA SAING JAGUNG, KETELA POHON, DAN KETELA RAMBAT PRODUKSI LAHAN KERING DI KECAMATAN KUBU, KABUPATEN KARANGASEM PROVINSI BALI I Made Tamba Universitas Mahasaraswati Denpasar ABSTRAK Jagung, ketela pohon

Lebih terperinci

VIII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI UBI JALAR

VIII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI UBI JALAR VIII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI UBI JALAR 8.1 Penerimaan Usahatani Ubi Jalar Penerimaan usahatani ubi jalar terdiri dari penerimaan tunai dan penerimaan tidak tunai. Penerimaan tunai merupakan penerimaan

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING AGRIBISNIS BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO

ANALISIS DAYA SAING AGRIBISNIS BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO ANALISIS DAYA SAING AGRIBISNIS BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO COMPETITIVENESS ANALYSIS OF SHALLOTS AGRIBUSINESS IN PROBOLINGGO REGENCY Competitiveness analysis of shallot business in Probolinggo

Lebih terperinci

VI ANALISIS KERAGAAN USAHATANI BAWANG MERAH

VI ANALISIS KERAGAAN USAHATANI BAWANG MERAH VI ANALISIS KERAGAAN USAHATANI BAWANG MERAH Keragaan usahatani dikaji untuk menggambarkan kondisi aktual usahatani bawang merah di Desa Sukasari Kaler sehingga pendapatan usahatani yang dianalisis sesuai

Lebih terperinci

DAYA SAING USAHA TERNAK SAPI RAKYAT PADA KELOMPOK TANI DAN NON KELOMPOK TANI (suatu survey di Kelurahan Eka Jaya)

DAYA SAING USAHA TERNAK SAPI RAKYAT PADA KELOMPOK TANI DAN NON KELOMPOK TANI (suatu survey di Kelurahan Eka Jaya) Volume, Nomor 2, Hal. 09-6 ISSN 0852-8349 Juli - Desember 2009 DAYA SAING USAHA TERNAK SAPI RAKYAT PADA KELOMPOK TANI DAN NON KELOMPOK TANI (suatu survey di Kelurahan Eka Jaya) Muhammad Farhan dan Anna

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Pasir Penyu dan Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Kabupaten Indragiri Hulu terdiri

Lebih terperinci

DAMPAK KEBIJAKAN BANTUAN TERNAK SAPI POTONG TERHADAP KESEJAHTERAAN PETERNAK DAN PEREKONOMIAN DAERAH BEKAS TAMBANG BATUBARA SAWAHLUNTO

DAMPAK KEBIJAKAN BANTUAN TERNAK SAPI POTONG TERHADAP KESEJAHTERAAN PETERNAK DAN PEREKONOMIAN DAERAH BEKAS TAMBANG BATUBARA SAWAHLUNTO DAMPAK KEBIJAKAN BANTUAN TERNAK SAPI POTONG TERHADAP KESEJAHTERAAN PETERNAK DAN PEREKONOMIAN DAERAH BEKAS TAMBANG BATUBARA SAWAHLUNTO Dwi Yuzaria dan Ismet Iskandar Fakultas peternakan Universitas Andalas

Lebih terperinci

.SIMULASI KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP DAYA SAING TEMBAKAU MADURA. Kustiawati Ningsih

.SIMULASI KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP DAYA SAING TEMBAKAU MADURA. Kustiawati Ningsih 1.SIMULASI KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP DAYA SAING TEMBAKAU MADURA Kustiawati Ningsih Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Islam Madura, Kompleks Ponpes Miftahul Ulum Bettet, Pamekasan,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Jawa Barat merupakan salah satu sentra produksi tanaman bahan makanan di

I. PENDAHULUAN. Jawa Barat merupakan salah satu sentra produksi tanaman bahan makanan di I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki lahan pertanian yang sangat luas dan sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani. Jawa Barat merupakan

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. 4.1 METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional merupakan pengertian dan petunjuk

III. METODE PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional merupakan pengertian dan petunjuk 39 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan definisi operasional merupakan pengertian dan petunjuk mengenai variabel yang akan diteliti untuk memperoleh dan menganalisis

Lebih terperinci

Analisis Daya Saing Usahatani Kelapa Sawit Rakyat Di Kecamatan Pelepat Kabupaten Bungo ABSTRAK ABSTRACT

Analisis Daya Saing Usahatani Kelapa Sawit Rakyat Di Kecamatan Pelepat Kabupaten Bungo ABSTRAK ABSTRACT Analisis Daya Saing Usahatani Kelapa Sawit Rakyat Di Kecamatan Pelepat Kabupaten Bungo Sopiyan Adhe Poetera Manik 1), Saad Murdy 2), Ardhiyan Saputra 2) 1) Alumni Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian

Lebih terperinci

V. PERKEMBANGAN PRODUKSI, USAHATANI DAN INFRASTRUKTUR PENDUKUNG PENGEMBANGAN JAGUNG

V. PERKEMBANGAN PRODUKSI, USAHATANI DAN INFRASTRUKTUR PENDUKUNG PENGEMBANGAN JAGUNG V. PERKEMBANGAN PRODUKSI, USAHATANI DAN INFRASTRUKTUR PENDUKUNG PENGEMBANGAN JAGUNG 5.1. Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Jagung di Jawa Timur dan Jawa Barat 5.1.1. Jawa Timur Provinsi Jawa Timur

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN. Rukmana (1995) menyatakan bahwa manggis merupakan tanaman buah

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN. Rukmana (1995) menyatakan bahwa manggis merupakan tanaman buah 12 II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN A. Tinjauan Pustaka 1. Tinjauan Agronomis Manggis a. Klasifikasi Tanaman Manggis Rukmana (1995) menyatakan bahwa manggis merupakan tanaman buah berupa pohon

Lebih terperinci

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN VIII. KESIMPULAN DAN SARAN 8.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1.a. Faktor-faktor yang berpengaruh nyata/signifikan terhadap produksi usahatani jagung

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN. usahatani, pendapatan usahatani, dan rasio penerimaan dan biaya (R-C rasio).

III. KERANGKA PEMIKIRAN. usahatani, pendapatan usahatani, dan rasio penerimaan dan biaya (R-C rasio). III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis penelitian ini meliputi konsep usahatani, biaya usahatani, pendapatan usahatani, dan rasio penerimaan dan biaya (R-C

Lebih terperinci

VI ANALISIS KERAGAAN USAHATANI KEDELAI EDAMAME PETANI MITRA PT SAUNG MIRWAN

VI ANALISIS KERAGAAN USAHATANI KEDELAI EDAMAME PETANI MITRA PT SAUNG MIRWAN VI ANALISIS KERAGAAN USAHATANI KEDELAI EDAMAME PETANI MITRA PT SAUNG MIRWAN 6.1. Analisis Budidaya Kedelai Edamame Budidaya kedelai edamame dilakukan oleh para petani mitra PT Saung Mirwan di lahan persawahan.

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING KOMODITI LADA DI KABUPATEN KOLAKA TIMUR

ANALISIS DAYA SAING KOMODITI LADA DI KABUPATEN KOLAKA TIMUR 117 ANALISIS DAYA SAING KOMODITI LADA DI KABUPATEN KOLAKA TIMUR Nursalam 1*, Yuli Purbaningsih 2, Muh. Obi Kasmin 3 123 Program Studi Agribisnis Universitas Sembilanbelas November Kolaka, Popalia, Kolaka,

Lebih terperinci

DAMPAK KEBIJAKAN KREDIT DAN SUBSIDI PUPUK TERHADAP KEUNTUNGAN USAHATANI PADI. I Made Tamba Ni Luh Pastini

DAMPAK KEBIJAKAN KREDIT DAN SUBSIDI PUPUK TERHADAP KEUNTUNGAN USAHATANI PADI. I Made Tamba Ni Luh Pastini DAMPAK KEBIJAKAN KREDIT DAN SUBSIDI PUPUK TERHADAP KEUNTUNGAN USAHATANI PADI I Made Tamba Ni Luh Pastini ABSTRACT Rice is high-valued commodities since pre-independence era. The paper aims to analyze impact

Lebih terperinci

VIII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI BAWANG MERAH

VIII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI BAWANG MERAH VIII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI BAWANG MERAH 8.1. Penerimaan Usahatani Bawang Merah Penerimaan usahatani bawang merah terdiri dari penerimaan tunai dan penerimaan tidak tunai. Penerimaan tunai merupakan

Lebih terperinci

Kebijakan PSO/Subsidi Pupuk dan Sistem Distribusi. I. Pendahuluan

Kebijakan PSO/Subsidi Pupuk dan Sistem Distribusi. I. Pendahuluan 6 Bab V. Analisis Kebijakan Kapital, Sumberdaya Lahan dan Air Kebijakan PSO/Subsidi Pupuk dan Sistem Distribusi I. Pendahuluan Dalam rangka pencapaian ketahanan pangan nasional, Pemerintah terus berupaya

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS KEDELAI DI

ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS KEDELAI DI ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS KEDELAI DI PROVINSI BANTEN Viktor Siagian, Ahmad Fauzan, Nofri Amin, Iin Setyowati dan Rina Sintawati Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Banten Jln. Ciptayasa Km 01 Ciruas-

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. petani responden menyebar antara tahun. No Umur (thn) Jumlah sampel (%) , ,

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. petani responden menyebar antara tahun. No Umur (thn) Jumlah sampel (%) , , V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Karakteristik Responden 5.1.1 Umur petani responden Umur Petani merupakan salah satu faktor yang berpengaruh pada aktivitas di sektor pertanian. Berdasarkan hasil penelitian

Lebih terperinci

KAJIAN KEBIJAKAN HPP GABAH

KAJIAN KEBIJAKAN HPP GABAH KAJIAN KEBIJAKAN HPP GABAH Oleh: Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian TUJUAN KEBIJAKAN DAN KETENTUAN HPP Harga jual gabah kering panen (GKP) petani pada saat panen raya sekitar bulan Maret-April

Lebih terperinci

VIII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PENANGKARAN BENIH PADI BERSERTIFIKAT PADA PETANI MITRA DAN NON MITRA

VIII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PENANGKARAN BENIH PADI BERSERTIFIKAT PADA PETANI MITRA DAN NON MITRA VIII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PENANGKARAN BENIH PADI BERSERTIFIKAT PADA PETANI MITRA DAN NON MITRA Penelitian ini menganalisis perbandingan usahatani penangkaran benih padi pada petani yang melakukan

Lebih terperinci

VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI KEDELAI EDAMAME PETANI MITRA PT SAUNG MIRWAN

VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI KEDELAI EDAMAME PETANI MITRA PT SAUNG MIRWAN VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI KEDELAI EDAMAME PETANI MITRA PT SAUNG MIRWAN 7.1. Penerimaan Usahatani Kedelai Edamame Analisis terhadap penerimaan usahatani kedelai edamame petani mitra PT Saung Mirwan

Lebih terperinci

IV. METODOLOGI PENELITIAN

IV. METODOLOGI PENELITIAN IV. METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di daerah sentra sapi perah di Provinsi Jawa Barat dengan wilayah atau level usaha ternak sapi perah rakyat. Pemilihan

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN 47 V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Setelah pemekaran wilayah terakhir pada tahun 2008, maka wilayah Bolaang Mongondow terbagi menjadi lima daerah tingkat dua, yaitu Kabupaten

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan yang sering muncul bagi pelaku usaha dalam hal ini usaha pertanian pada saat merencanakan atau mendirikan suatu usaha produksi adalah menganalisis kelayakan

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PRODUKSI KAKAO DI JAWA TIMUR

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PRODUKSI KAKAO DI JAWA TIMUR ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PRODUKSI KAKAO DI JAWA TIMUR Dede Haryono 1, Soetriono 2, Rudi Hartadi 2, Joni Murti Mulyo Aji 2 1 Program Studi Agribisnis Program Magister

Lebih terperinci