VII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING LADA PUTIH

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "VII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING LADA PUTIH"

Transkripsi

1 93 VII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING LADA PUTIH 7.1. Justifikasi Harga Bayangan Penelitian ini, untuk setiap input dan output ditetapkan dua tingkat harga, yaitu harga pasar (harga privat atau harga aktual) dan harga bayangan (harga sosial atau harga ekonomi). Harga pasar adalah tingkat harga pasar yang diterima dalam penjualan hasil produksinya atau tingkat harga yang dibayar dalam pembelian faktor-faktor produksi. Menurut Gitinger (1986) harga bayangan merupakan harga sebenarnya yang akan terjadi dalam suatu perekonomian jika pasar dalam keadaan persaingan sempurna dan pada kondisi keseimbangan. Perhitungan harga bayangan dapat dilakukan dengan mengeluarkan distorsi akibat adanya kebijakan pemerintah seperti subsidi, pajak, penentuan upah minimum dan lain - lain. Harga bayangan dalam penelitian ini adalah output (biji lada putih), pupuk urea, TSP/SP36, Kcl, tenaga kerja, lahan dan sarana produksi pertanian. Berikut ini akan dijelaskan penentuan harga bayangan tersebut Harga Bayangan Output Harga bayangan dalam hal ini lada putih ditingkat petani digunakan harga FOB (Free on Board). Hal ini didasarkan bahwa eksportir lada putihdi Bangka Belitung tidak menanggung risiko. Kemudian dari harga border tersebut dilakukan penyesuaian dengan pengurangan biaya penanganan dan pengangkutan. Harga output lada putih disesuaikan dengan nilai tukar rupiah bayangan (Shadow Exchange Rate). Harga bayangan lada putih dalam penelitian ini ditetapkan rata -

2 94 rata sebesar Rp per kilogram. Harga ini diperoleh dari harga fob lada putih yaitu US $ 6 per kilogram, dikurangi dengan biaya tataniaga sebesar Rp. 785 per kg, yang terdiri dari biaya pengepakan sebesar Rp. 140 per kg dan biaya transportasi sebesar Rp. 645 per kg. Kemudian dikalikan dengan SER Rp Harga Bayangan Lahan Harga sosial didekati dengan nilai sewa lahan di daerah penelitian, hal ini dilandasi oleh mekanisme pasar lahan di pedesaan berjalan dengan baik, dan sulitnya mencari oppourtunity cost of land. Berdasarkan hal tersebut, harga bayang sewa lahan mengacu pada harga sewa lahan yang berlaku didaerah penelitian yaitu Rp per hektar Harga Bayangan Tenaga Kerja Harga bayangan tenaga kerja dihitung dengan mempertimbangkan tingkat pengangguran pada daerah penelitian. Harga bayangan tenaga kerja jika tidak ada pengangguran berarti harganya sama dengan harga aktual upah, sedangkan berdasarkan Badan Pusat Statistik Provinsi Bangka Belitung (2010) dengan adanya pengangguran sebesar 6 persen, maka harga bayangan sosial adalah 94 persen dari tingkat upah yang berlaku didaerah penelitian. Tingkat upah aktual yang berlaku adalah Rp per HOK untuk pria, danrp per HOK untuk wanita. Dengan demikian harga bayangan tenaga kerja adalah Rp per HOK untuk pria dan Rp per HOK untuk wanita Harga Bayangan Sarana Produksi dan Peralatan Penentuan harga bayangan sarana produksi dan peralatan didasarkan pada harga border price, untuk yang termasuk komoditas tradable dan harga domestik

3 95 untuk input non tradable. Dalam penelitian ini yang termasuk input tradable adalah pupuk urea, NPK/TSP, KCL, sedangkan bibit, ajir/tajar, pupuk kandang dan penyusutan peralatan termasuk kedalam input non tradable. Untuk harga pupuk urea, SP36/TSP dan KCL sampai saat ini masih disubsidi oleh pemerintah yaitu berdasarkan peraturan menteri pertanian nomor 32 tahun 2010 yaitu tentang kebutuhan dan harga eceran tertinggi (HET) pupuk bersubsidi untuk sektor pertanian. Harga subsidi pupuk urea Rp per kg, Superphos (SP-18)/TSP Rp per kg, untuk pupuk KCL tidak disubsidi pemerintah. Jadi untuk harga bayangan pupuk urea, TSP/SP36, dan Kcl berdasarkan harga pupuk non subsidi diwilayah penelitian yaitu urea Rp per kg, TSP/SP36 sebesar Rp per kg dan Kcl sebesar Rp per kg. Harga bayangan untuk peralatan digunakan harga pasar dengan pertimbangan tidak ada kebijakan pemerintah yang mengatur secara langsung, sehingga distorsi pasar yang terjadi amat kecil atau pasar mendekati pasar persaingan sempurna. Sementara dalam perhitungan analisis ekonomi dan finansial, nilai harga yang dimasukan adalah nilai penyusutan dari masing-masing peralatan berdasarkan umur ekonomisnya yaitu untuk hand sprayer 5 tahun dan untuk alat pertanian kecil 1 tahun (Ditjen Perkebunan, 2001) Harga Bayangan Nilai Tukar Harga bayangan nilai tukar rupiah dihitung menggunakan standar conversion faktor (SCF) sebagai koreksi terhadap nilai tukar resmi yang berlaku. Harga bayangan merupakan hasil bagi dari harga nilai tukar resmi pemerintah dengan SCF. Untuk harga bayangan nilai tukar ini sudah dibahas dibab 4, pada akhirnya diperoleh nilai SER sebesar Rp

4 Karakteristik Petani Responden Pada penelitian ini yang menjadi kriteria untuk identifikasi petani responden terdiri atas beberapa aspek diantaranya yaitu; umur, tingkat pendidikan pengalaman berusahatani, luas areal tanaman lada putih dan umur tanaman lada putih yang menggunakan tiang panjat hidup. Untuk lebih jelasnya, karakteristik dari petani responden dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7. Karakteristik Petani Responden Lada Putih di Provinsi Bangka Belitung, Tahun 2011 No Uraian Rendah Tinggi 1. Umur (tahun) Pendidikan Formal SD SMA/SMK 3. Pengalaman berusahatani lada putih (tahun) Luas areal (hektar) Umur tanaman lada putih (tahun) 3 10 Berdasarkan Tabel 7, memperlihatkan bahwa umur petani responden berkisar antara 28 tahun untuk yang terendah dan tertinggi berumur 63 tahun. Dari segi pendidikan formal, petani responden mempunyai tingkat pendidikan beragam mulai dari tamatan SD sebesar 22.2 persen, tamatan SMP sebesar 22.2 persen dan tamatan SMA/SMK sebesar 55.6 persen. Pengalaman usahatani responden beragam mulai dari 5 tahun sampai dengan 35 tahun, pengalaman ini didapat d dari pengalaman orang tua terdahulu yang masih menggunakan tiang panjat mati untuk lada putihnya.luas tanaman lada putih responden mulai dari 0.25 hektar atau 22.2 persen, 0.5 hektar atau 22.2 persen dan seluas 1 hektar (55.6 persen). Jarak tanam lada putih yaitu 2.5m x 2.5m, kalau dikonversikan dengan jumlah tanaman sebanyak batang per hektar tanaman lada putih. Sedangkan sebaran umur tanaman lada putih petani responden bervariasi, mulai

5 97 terendah berumur 3 tahun atau 33.3 persen, kemudian umur tanaman 4, 5, 6 dan 8 tahun atau masing - masing sebesar 11.1 persen dan umur tanaman lada putih tertinggi yaitu 10 tahun atau 22.2 persen dari total petani responden Struktur Biaya, Penerimaan Privat dan Penerimaan Sosial Tingkat efisiensi dan kemampuan daya saing lada putih di Provinsi Bangka Belitung dapat dijelaskan dengan menggunakan matrik analisis kebijakan (PAM). Matrik ini disusun berdasarkan data biaya input dari suatu komoditas, kemudian biaya dipisahkan ke dalam komponen tradable dan domestik. Menurut Mubyarto (1986), didalam mengelola usahataninya seorang petani memerlukan sejumlah input yang berupa biaya produksi. Besar kecilnya biaya yang dikeluarkan dalam melakukan aktivitas budidaya tanaman lada putih sangat ditentukan oleh skala pengelolaannya. Komponen biaya yang digunakan pada pengusahaan tanaman ini cukup beragam mulai dari biaya pembukaan kebun, pengadaan bibit, pupuk, tenaga kerja, tiang panjat atau tajar dan lainnya. Berdasarkan (Tabel 8), untuk setiap tahunya (siklus tanaman lada putih yaitu 10 tahun) rata - rata biaya yang dikeluarkan petani terbesar dialokasikan untuk tenaga kerja baik secara finansial maupun ekonomi. Hal ini lebih disebabkan oleh mahalnya upah tenaga kerja di provinsi Bangka Belitung. Rata-rata upah tenaga kerja pria Rp per hok (7 jam kerja), sedangkan untuk wanita Rp per hok (7 jam kerja), biasanya tenaga kerja wanita digunakan pada saat panen. Proporsi terbesar penggunaan tenaga kerja pada saat tahun pertama yaitu pembukaan lahan yang terdiri dari tebas tebang, pembakaran, manduk, membuat lobang tanam dan lain-lain, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 8, yang dirujuk dari Lampiran 7 dan Lampiran 8.

6 98 Tabel 8. Rata-rata Penerimaan dan Komponen Biaya Finansial dan Ekonomi Lada Putih per Hektar/Thn di Provinsi Bangka Belitung, Tahun 2011 Finansial Ekonomi No Uraian Jmlh Nilai Jmlh Nilai (Rp) (%) (Rp) (%) A. Penerimaan B. Biaya Input 1. Bibit Lada (Btg) Tiang panjat hidup (Btg) Pupuk (Kg) Organik Urea SP36/TSP KCL Dolomit Tenaga Kerja (Hok) Penyusutan Peralatan Sewa Lahan Pajak C. Total Biaya Proporsi biaya berikutnya adalah biaya pupuk organik rata-rata sebesar Rp per tahun. Penggunaan pupuk organik lebih diutamakan dibandingkan dengan pupuk anorganik, hal ini disebabkan bahwa kondisi tanah di Provinsi Bangka Belitung didominasi podsolik yang merupakan tanah dengan ph (tingkat kemasaman) yang rendah dan kandungan Al yang tinggi. ph yang rendah menyebabkan ketersediaan hara menurun, sedangkan Al yang tinggi dapat meracuni tanaman (Sasmita dan Rusli, 2009). Selain itu juga untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia, dikarenakan harganya lebih mahal dan ketersediaanya terbatas. Harga pupuk organik di Provinsi Bangka Belitung masih tergolong tinggi dan jumlahnya sangat terbatas. Untuk itu usaha lada putih lebih intensif jika diintegrasikan dengan ternak, disamping tersedianya pakan ternak, sehingga dapat menurunkan biaya pembelian pupuk organik.

7 99 Selanjutnya proporsi terbesar berikutnya adalah penggunaan pupuk kimia, selain penggunaan pupuk organik tanaman lada putih juga dibantu pemupukan dengan pupuk anorganik, penggunaan pupuk anorganik sebaik mungkin untuk diminimalisirkan, penggunaan pupuk anorganik untuk lebih cepat memacu pertumbuhan tanaman lada putih. Seiring dengan penelitian Marwoto (2003), mengatakan bahwa tingginya biaya operasional lada putih lebih disebabkan karena tingginya biaya pemupukan, pada umumnya kesuburan tanah sangat rendah sehingga pemupukan yang sesuai mutlak dilakukan. Karakteristik petani di Bangka Belitung dalam hal pemupukan anorganik tergantung pada harga lada putih, semakin tinggi harga lada maka semakin tinggi pemberian pupuknya. Tanaman lada awal berproduksi pada tahun ke-3, namun penerimaan tahun ke-3 belum mampu menutupi biaya investasi yang dikeluarkan petani selama tahun ke-1 dan ke-2. Tingkat penerimaan tertinggi pada pengusahaan komoditas lada putih dicapai pada produksi tahun ke-6 dengan penerimaan sebesar Rp per hektar (analisis finansial) dan Rp per hektar (analisis ekonomi). Sedangkan penerimaan terendah pada tahun ke 10 sebesar Rp per hektar (Finansial) dan sebesar Rp (ekonomi) untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Lampiran 7 dan Lampiran 8. Namun, secara rata-rata (siklus 10 tahun) penerimaan usahatani lada secara finansial sebesar Rp per tahun, sedangkan penerimaan usahatani lada secara ekonomi sebesar Rp per tahun. Adanya perbedaan penerimaan petani yang cukup tinggi antara penerimaan secara ekonomi bila dibandingkan dengan penerimaan secara finansial, hal ini lebih dikarenakan adanya perbedaan harga output lada baik secara ekonomi dan finansial.

8 Analisis Keuntungan Privat dan Sosial Model PAM dipakai sebagai alat analisis dari penelitian ini, mempunyai beberapa bentuk indikator keluaran, diantaranya adalah nilai keuntungan privat dan keuntungan sosial, efisiensi finansial dan efisiensi ekonomi serta dampak kebijakan pemerintah. Keuntungan privat adalah selisih penerimaan dan biaya total t yang dihitung berdasarkan harga privat, harga yang sesungguhnya diterima dan dibayarkan oleh petani lada. Total biaya termasuk juga nilai sewa lahan dan upah tenaga kerja dalam keluarga. Harga tersebut sudah dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah, baik berupa subsidi, proteksi, pemberlakuan tarif masuk, pajak maupun kebijakan lainnya. Keuntungan privat merupakan indikator keunggulan kompetitif dari sistem komoditas berdasarkan teknologi, nilai output, biaya input dan transfer kebijakan yang ada. Suatu usahatani memperoleh laba diatas biaya normal apabila keuntungan yang didapat lebih besar dari nol (D>0), sehingga implikasinya bahwa usahatani lada tersebut mampu berekspansi. Hasil analisis secara finansialpada Tabel 9 dibawah, menunjukkan bahwa keuntungan privat lebih besar dari nol, yaitu sebesar Rp per hektar. Hal ini memberikan arti bahwa sistem produksi lada putih di Bangka Belitung memperoleh keuntungan diatas keuntungan normal, yang berarti usaha lada putih layak untuk diteruskan, baik untuk jangka pendek maupun untuk jangka panjang. Keuntungan sosial merupakan indikator keunggulan komparatif (comparative c advantage) suatu komoditas dalam pemanfaatan sumberdaya yang langka di dalam negeri. Pada kondisi ini harga input dan output diperhitungkan dalam kondisi persaingan sempurna, dimana segala bentuk subsidi dan proteksi

9 101 yang bersifat mendistorsi pasar telah dihilangkan. Sistem komoditas dengan tingkat keuntungan sosial yang makin tinggi, maka menunjukkan tingkat keunggulan komparatif yang semakin besar. Dari hasil yang diperoleh, menunjukkan bahwa usahatani lada putih di Bangka Belitung memiliki keuntungan sosial yang positif (H>0), yaitu sebesar Rp per hektar. Hal ini menunjukkan bahwa usahatani lada putih di Bangka Belitung mempunyai keunggulan komparatif atau efisien secara ekonomi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 9. Senada dengan penelitian Sudarlin (2008), tentang daya saing lada putih di kecamatan Air Gegas, Kabupaten Bangka Selatan, menyatakan bahwa keuntungan privat dan keuntungan sosial untuk setiap siklus produksi (7 tahun) lebih besar dari nol artinya usahatani lada putih dengan tiang panjat mati layak untuk diusahakan dan mempunyai keunggulan komparatif atau efisien secara ekonomi. Tabel 9. Keuntungan Privat dan Keuntungan Sosial Pada Usahatani Lada Putih di Provinsi Bangka Belitung, Tahun 2011 Biaya (Rp/ha) Keuntungan Uraian Penerimaan Input Faktor (Rp/ha) Tradable domestik Harga Privat Harga Sosial Tabel 9 diatas menunjukkan adanya perbedaan antara keuntungan privat dan keuntungan sosial, perbedaan keuntungan sosial lebih disebabkan karena perbedaaan penerimaan ekonomi, dibandingkan karena perbedaan total biaya produksi ekonominya. Harga bayangan lada putih ini diperoleh dari harga perbatasan (border price) dikurangi dengan biaya pengepakkan dan transportasi.

10 102 Harga bayangan ini menunjukkan bahwa tidak terjadinya distorsi pasar atau intervensi pemerintah sehingga harga ini didasarkan pada kondisi pasar persaingan sempurna. Berdasarkan hasil analisis perbandingan antara keuntungan yang diperoleh petani lada putih secara privat dengan keuntungan sosial, ternyata keuntungan sosial lebih besar dibandingkan keuntungan privat (KS>KP). Hal ini menginformasikan bahwa secara sosial atau pada kondisi dimana harga input dan output dihitung berdasarkan harga opportunity cost (biaya imbangan) dan tidak adanya kegaggalan pasar atau intervensi pemerintah, maka pengusahaan komoditas lada putih sangat menguntungkan untuk terus diusahakan. Usahatani lada putih di Bangka Belitung memiliki keuntungan privat dan keuntungan sosial diatas keuntungan normal sehingga layak untuk diusahakan. Kondisi ini didukung oleh adanya kebijakan pemerintah melalui revitalisasi perkebunan lada dan gerakan pengembangan lada putih, yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah provinsi Bangka Belitung melalui perbaikan sistem budidaya, yang selama ini dilakukan petani secara tradisional menuju teknologi budidaya sesuai anjuran dengan penggunaan tiang panjat hidup. Penggunaan tiang panjat hidup ini memberikan keuntungan yang positif bagi petani, sehingga usahatani lada putih terus dapat dikembangkan di provinsi Bangka Belitung AnalisisDaya Saing Analisis daya saing terdiri dari kompetitif (efisiensi finansial) dan komparatif (efisiensi ekonomi). Penilaian daya saing kompetitif dilihat dari rasio biaya domestik terhadap nilai tambah dalam harga privat (Private Cost Ratio). Harga yang digunakan dalam analisis ini adalah harga aktual yang terjadi dipasar,

11 103 dimana harga tersebut telah dipengaruhi oleh intervensi pemerintah. Nilai PCR menunjukkan ukuran efisiensi secara finansial, yaitu indikator keuntungan yang menunjukkan kemampuan usahatani membayar biaya domestik. Efisiensi finansial dicapai apabila nilai PCR lebih kecil dari satu. Berdasarkan Tabel 10, menunjukkan bahwa usahatani lada putih di Provinsi Bangka Belitung mempunyai efisiensi secara finansial, yang ditunjukkan nilai PCR lebih kecil dari satu. Berdasarkan nilai PCR dapat dikatakan bahwa komoditas lada putih efisien secara finansial dan mempunyai keunggulan kompetitif, karena untuk menghasilkan satu unit nilai tambah pada harga-harga privat hanya memerlukan kurang dari satu unit input domestik. Semakin kecil nilai PCR yang diperoleh, maka semakin tinggi tingkat efisiensi dan keunggulan kompetitif yang dimiliki. Nilai PCR yang diperoleh pada usahatani lada putih di provinsi Bangka Belitung adalah 0.813, hal ini berarti untuk mendapatkan nilai tambah output sebesar satu-satuan pada harga privat diperlukan tambahan biaya faktor domestik sebesar Keunggulan kompetitif akan meningkat jika biaya faktor domestik dapat diminimumkan dan atau memaksimumkan nilai tambahnya. Peningkatan nilai tambah dapat ditingkatkan dengan peningkatan penggunaan teknologi yang dapat menurunkan biaya per unit output. Hal ini seiring dengan kebijakan revitalisasi perkebunan melalui gerakan pengembangan lada putih di provinsi Bangka Belitungbahwa sistem budidaya yang selama ini dilakukan petani secara tradisional berdampak pada inefisiensi biaya produksi, untuk itu dianjurkan dengan pola budidaya anjuran dengan

12 104 menggunakan tiang panjat hidup dengan penerapan konsep Good Agriculture Praktice (GAP) menuju pola budidaya ramah lingkungan. Tabel 10. Nilai Indikator PCR dan DRCR Lada Putih di Provinsi Bangka Belitung, Tahun 2011 No Indikator Nilai 1 Private Cost Rasio (PCR) Domestic Resource Cost Ratio (DRCR) Keunggulan komparatif dan tingkat efisiensi ekonomi usahatani lada putih ditunjukkan oleh nilai DRCR (Domestic Resource Cost Ratio) yaitu rasio antara biaya domestik terhadap nilai tambahpada harga sosialnya. Nilai DRCR menunjukkan kemampuan sistem produksi usahatani lada putih dalam membiayai faktor domestiknya pada harga sosial atau dengan kata lain menunjukkan jumlah sumberdaya domestik yang dapat dihemat untuk menghasilkan satu unit devisa. Dikatakan efisiensi secara ekonomi apabila DRCR lebih kecil dari satu dan mempunyai keunggulan komparatif makin tinggi jika nilai DRCR semakin mendekati nol. Hasil analisis DRCR menunjukkan bahwa Provinsi Bangka Belitung mempunyai keunggulan komparatif untuk memproduksi lada putih yang ditunjukkan nilai DRCR < 1, yaitu Artinya setiap US $ yang dibutuhkan untuk impor lada putih jika diproduksi di Bangka Belitung hanya membutuhkan biaya sebesar US $ 0.805, sehingga terjadi penghematan devisa negara sekitar US $ Hal ini senada dengan penelitian Marwoto (2003); Sudarlin (2008), menyatakan bahwa usahatani lada putih memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif pada yang dilihat dari nilai PCR dan DRCR lebih kecil dari satu.

13 105 Secara keseluruhan bahwa pengusahaan lada putih di provinsi Bangka Belitung, baik dilihat dari nilai PCR dan DRCR memiliki keunggulan, baik secara kompetitif dan komparatif. Berarti petani di provinsi Bangka Belitung mempunyai kemampuan secara ekonomi dalam membiayai dan memproduksi lada putih dan secara finansial lada putih yang dihasilkannya dapat bersaing di pasar domestik maupun internasional. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dalam kondisi pasar aktual dimana terdapat intervensi atau kebijakan pemerintah dan distorsi pasar, komoditas lada putih mempunyai daya saing sehingga mampu bersaing di pasar internasional dibawah kondisi kebijakan perekonomian yang ada. Kebijakan pemerintah yang mendorong peningkatan daya saing lada putih di provinsi Bangka Belitung yaitu melalui gerakan pengembangan lada putih (Gerbang Latih) yang dicanangkan pemerintah daerah dalam meningkatkan kembali minat masyarakat untuk membudidayakan lagi lada putih, langkah operasional antara lain: rehabilitasi tanaman lada yang telah rusak dan terserang hama penyakit tanaman, subsidi bibit tanaman lada, subsidi pupuk serta pengembangan kebun induk tanaman lada. Selain itu juga perbaikan teknologi budidaya tradisional menuju budidaya ramah lingkungan sehingga dapat meningkatkan efisiensi biaya produksi sehingga dapat bersaing Dampak Kebijakan Pemerintah Insentif kebijakan atau intervensi pemerintah dalam produksi maupun pemasaran lada putih memberikan dampak pada produsen maupun konsumen. Dampak yang diberikan bisa saja berpengaruh positif maupun negatif terhadap masing - masing pelaku ekonomi tersebut. Pengaruh kebijakan juga dapat meningkatkan atau menurunkan produksi dan produktivitas usahatani. Analisis

14 106 dampak kebijakan ini terdiri dari kebijakan input, kebijakan output dan kebijakan input-output. Sedangkan untuk melihat besarnya dampak kebijakan tersebut, digunakan beberapa indikator yaitu dari Transfer Output, NPCO, Transfer Input, Transfer Factor dan NPCI, sementara secara simultan pada indikator Net Transfer, Profitability Coeficient (PC), Effective Protection Coeficient (EPC) dan Subsidy Ratio to Producer (SRP) Dampak Kebijakan Output Lada Putih Adanya intervensi pemerintah mengakibatkan harga output berbeda antara harga yang diterima petani dengan harga dipasar International. Kebijakan pemerintah dalam komoditas output, biasanya terdiri dari kebijakan subsidi, pajak dan kebijakan perdagangan, seperti penerapan tarif ekspor atau impor dalam rangka melindungi kebutuhan dalam negeri. Untuk komoditas lada, tidak ada kebijakan subsidi, pajak atau tarif ekspor maupun tarif impor lada putih. Sehingga kebijakan perdagangan lada yang berlaku disesuaikan dengan perkembangan harga dunia berdasarkan mekanisme permintaan dan penawaran. Salah satu pendekatan untuk melihat dampak kebijakan output adalah kriteria transfer output (TO), yang merupakan selisih antara penerimaan finansial dengan penerimaan ekonomi. Transfer outputmenunjukkan terdapat kebijakan pemerintah pada output sehingga ada perbedaan antara harga output privat dan sosial. Jika TO lebih besar dari nol (TO> 0) atau positif menunjukkan bahwa ada insentif masyarakat terhadap produsen artinya harga yang dibayarkan oleh konsumen pada produsen lebih tinggi dari seharusnya atau ada kebijakan pemerintah berupa subsidi output yang menyebabkan harga privat output yang diterima produsen lebih tinggi dari harga sosialnya. Dan apabila nilai TO negatif,

15 107 tidak ada kebijakan pemerintah berupa subsidi output yang menyebabkan harga output sosial yang diterima produsen lebih tinggi dari harga privatnya atau harga internasional lebih tinggi dari harga domestik, sehingga masyarakat atau konsumen membeli harga lada putih lebih rendah dari yang seharusnya. Tabel 11, tampak bahwa dampak kebijakan pemerintah dan kegagalan pasar bekerja pada kondisi pasar persaingan sempurna menyebabkan terjadinya transfer pendapatan dari petani lada putih ke konsumen lada maupun produsen input. Kondisi ini menyebabkan petani sebagai penerima harga (price taker) sedangkan pembeli menguasai harga di pasar, baik tingkat domestik maupun dunia. Mengingat pada pasar lada putih belum ada kebijakan pemerintah, maka transfer pendapatan diduga lebih banyak ditentukan oleh kegagalan pasar bekerja pada kondisi pasar persaingan sempurna. Nampak bahwa terjadi transfer pendapatan dari petani lada putih ke konsumen sebesar Rp per hektar. Hal ini seiring dengan penelitian Marwoto (2003), nilai TO negatif dapat diinterprestasikan bahwa harga lada ditingkat petani atau domestik lebih rendah dari harga di pasar internasional, terjadi aliran surplus dari petani ke eksportir atau konsumen akhir di negara importir. Salvatore (1997) mengatakan bahwa harga terbentuk karena adanya perpotongan antara kurva tawar-menawar antara kedua negara yang terlibat dalam perdagangan, sehingga harga relatif menggambarkan kuantitas impor yang diinginkan in sama dengan kuantitas ekspor yang ditawarkan. Dengan demikian harga dunia sangat dipengaruhi oleh kekuatan - kekuatan yang mempengaruhi perubahan permintaan impor, perubahan penawaran ekspor atau karena keduaduanya secara bersama-sama. Selanjutnya Pitaningrum (2005) dalam

16 108 Soebtrianasari (2008), kekuatan mekanisme harga dipasar internasional dapat mempengaruhi mekanisme pasar domestik dan sebaliknya. Tabel 11. Nilai Indikator Analisis Kebijakan Output Lada Putih, Tahun 2011 No Indikator Nilai 1 Transfer Output (TO) Rp/ha Koefisien Proteksi Output Nominal (NPCO) 0.87 Hasil Transfer Output (TO) berhubungan erat dengan koefisien proteksi output nominal (NPCO), merupakan rasio penerimaan yang dihitung berdasarkan harga privat dengan penerimaan berdasarkan harga sosial. Dalam kaitan itulah nilai NPCO menunjukkan dampak kebijakan akibat kegagalan pasar yang tidak dikoreksi dengan kebijakan efisiensi yang mengakibatkan terjadinya divergensi harga privat terhadap harga sosial. Nilai NPCO yang lebih besar dari satu merupakan petunjuk bahwa pemerintah menaikkan harga output di pasar domestik diatas harga efisiensinya atau dunia, sehingga terjadi penambahan penerimaan petani akibat adanya kebijakan yang mempengaruhi harga output.nilai NPCO < 1, berarti konsumen dan produsen dalam negeri menerima harga lebih murah dari harga seharusnya, sehingga terjadi pengurangan penerimaan petani. Namun mengingat sampai saat ini belum ada kebijakan pemerintah untuk perdagangan lada putih, maka output lada putih ini diduga kegagalan pasar menyebabkan harga yang diterima petani lebih rendah dari seharusnya. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai NPCO untuk pengusahaan komoditas lada putih di provinsi Bangka Belitung kurang dari satu(npco < 1) sebesar Seperti yang terlihat pada Tabel 11, artinya bahwa petani menerima harga lebih murah dari harga dunia, dimana harga jual lada putih di tingkat petani 13 persen lebih murah dari harga

17 109 output yang seharusnya diterima. Dengan kata lain, telah terjadi pengalihan pendapatan dari petani lada ke konsumen lada yaitu industri makanan, industri farmasi dan industri yang berbahan baku lada putih. Lebih rendahnya harga lada putih di tingkat petani dibandingkan dengan harga sosialnya yang seharusnya diterima adalah berkaitan dengan tiga faktor klasik, yaitu (1) lembaga pemasaran output belum berfungsi efektif dan tidak transparan, sehingga rantai pemasaran panjang, (2) posisi tawar petani lemah sehingga petani menjadi penerima harga yang pasif, dan (3) mental usahatani masih bermental subsidi sehingga menjadi kendala untuk mandiri, maju dan bersaing dengan pasar global (Novianti, 2002). Dengan adanya revitalisasi lada putih maka kebijakan pemerintah dalam mendorong perbaikan harga lada putih dapat ditempuh melalui kebijakan pengolahan dan pemasaran hasil yaitu : (1) mempercepat adopsi teknologi pengolahan hasil yang higienis (mutu tinggi), (2) fasilitasi penyediaan sarana pengolahan hasil di daerah sentra produksi lada, (3) pemanfaatan limbah pengolahan (kulit buah) lada putih sebagai bahan minyak lada, (4) promosi produk - produk lada Indonesia dengan memfokuskan pada keunggulannya seperti rasa dan aroma yang prima, dan (5) pengembangan jaringan pemasaran dalam negeri dan ekspor Dampak Kebijakan Input Lada Putih Kebijakan input tradable dan nontradable dapat berupa kebijakan subsidi atau pajak dan kebijakan hambatan perdagangan. Pengaruh pajak pada input tradable menyebabkan harga input lebih tinggi dan biaya produksi meningkat sehingga mengurangi pendapatan petani. Dampak subsidi menyebabkan harga

18 110 input lebih rendah dan biaya produksi lebih rendah sehingga meningkatkan pendapatan petani. Dalam penelitian ini, untuk melihat adanya kebijakan pemerintah yang mempengaruhi harga input asing di pasar, digunakan kriteria Transfer Input (TI). Adapun jenis input asing yang digunakan dalam perkebunan lada adalah pupuk p anorganik (urea, SP36/TSP dan KCl). Jika nilai TI lebih besar dari nol (positif) artinya terdapat pajak atau tarif impor atas input asing tersebut, sehingga petani harus membeli input tersebut dengan harga yang lebih mahal dari yang seharusnya.sedangkan TI kurang dari nol, hal ini menunjukkan adanya subsidi pemerintah terhadap input asing, sehingga petani tidak membayar penuh korbanan sosial yang seharusnya dibayarkan Berdasarkan Tabel 12, kebijakan input yang tidak efektif juga menyebabkan terjadi transfer input produksi dari pedagang input ke petani lada yaitu bernilai negatif sebesar Rp per hektar, artinya terdapat subsidi pemerintah terhadap input asing. Bentuk subsidi dapat berupa insentif yang memberikan kemudahan dalam pengadaan saran dan prasarana pertanian. Sebagaimaan diatur dalam peraturan menteri pertanian, No. 32/Permentan/SR.130/4/2010, tentang tentang kebutuhan dan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi untuk sektor pertanian. Hal ini berdampak pada biaya yang dikeluarkan oleh petani untuk membeli input produksi pupuk (urea, TSP/SP36) menjadi rendah, karena harga input yang diterima petani lada putih pada kondisi harga privat lebih rendah bila dibandingkan dengan harga sosialnya terutama harga input pupuk.

19 111 Tabel 12. Nilai Indikator Analisis Kebijakan Input Lada Putih, Tahun 2011 No Indikator Nilai 1 Transfer Input (TI) (Rp/ha) Koefisien Proteksi Input Nominal (NPCI) Transfer Faktor (TF)(Rp/ha) Kriteria koefisien proteksi input nominal (NPCI) adalah indikator yang menunjukkan tingkat proteksi pemerintah terhadap harga input domestik. NPCI merupakan rasio biaya input tradable berdasarkan harga privat dan harga sosial. Nilai NPCI kurang dari satu (NPCI<1) maka kebijakan pemerintah bersifat protektif terhadap input dan produsen menerima subsidi input asing tradable sehingga produsen membeli dengan harga yang lebih rendah. Dari hasil analisis pada Tabel 12, memperlihatkan bahwa nilai NPCI untuk pengusahaan lada putih kurang dari 1(NPCI < 1) yaitu Hal ini berarti bahwa harga input yang dibayar petani lebih rendah 44 persen dari harga dunia, artinya pemerintah melakukan kebijakan subsidi terhadap input produksi tradable dengan menetapkan harga domestik lebih rendah dari harga dunia. Kondisi ini berpengaruh pada tingkat pengusahaan lada putih, karena harga input produksi tradable yang rendah akan membantu meningkatkan pendapatan petani di provinsi Bangka Belitung. Kebijakan pemerintah dapat dilihat dari subsidi pupuk kepada petani sebagaimaan diatur dalam peraturan menteri pertanian, No.32/Permentan/SR.130/4/2010 tentang tentang kebutuhan dan harga eceran tertinggi (het) pupuk bersubsidi untuk sektor pertanian. Harga subsidi pupuk urea Rp /kg, Superphos (SP-18)/TSP Rp /Kg, untuk pupuk Kcl tidak disubsidi pemerintah. Darwis dan Nurmanaf (2004) mengemukakan bahwa

20 112 beberapa kebijakan strategis perlu dipertimbangkan pemerintah menyangkut masalah pupuk ditingkat usahatani, yaitu : (1) rasionalisasi penggunaan pupuk ditingkat petani, (2) rekomendasi pupuk berdasarkan analisis tanah spesifikasi lokasi, (3) peningkatan efektifitas penggunaan pupuk anorganik yang dikomplemen dengan pemanfaatan pupuk organik, dan (4) perbaikan standarisasi dan sertifikasi pupuk, dan pelaksanaan kebijakan ekspor dan impor pupuk yang kondusif bagi kontinuitas dan harga pupuk ditingkat petani. Indikator Transfer Factor (TF) diterapkan untuk menilai kebijakan pemerintah terhadap input domestik (non tradable) seperti tenaga kerja, lahan, pupuk p organik, tiang panjat hidup. Transfer faktor merupakan nilai yang menunjukkan perbedaan harga privat dengan harga sosialnya yang diterima produsen untuk pembayaran faktor-faktor produksi yang tidak diperdagangkan. Nilai TF menunjukkan adanya kebijakan pemerintah terhadap produsen dan konsumen yang berbeda dengan kebijakan input tradable. Intervensi pemerintah untuk input domestik dilakukan dalam bentuk kebijakan subsidi (positif dan negatif). Nilai transfer faktor positif menunjukkan bahwa terjadi subsidi negatif pada input non tradable, sedangkan TF negatif berarti terdapat subsidi positif pada input non tradable atau dengan kata lain kebijakan pemerintah lebih memihak pada produsen atau petani lada putih. Berdasarkan Tabel 12, nilai Transfer Faktor (TF) bernilai negatif. Artinya bahwa kebijakan pemerintah lebih memihak kepada produsen atau petani. Hal ini terlihat dari beberapa kebijakan pemerintah yang memihak petani atau produsen seperti penyediaan subsidi bibit lada, pupuk organik dan tiangpanjat hidup. Selain itu, upah tenaga kerja pada harga sosial sebesar 0.6 persen lebih rendah dibandingkan upah tenaga kerja pada harga privat.

21 Dampak Kebijakan Input - Output Lada Putih Untuk melihat dampak kebijakan input-output keseluruhan dapat digunakan beberapa indikator yaitu koefisien proteksi efektif (EPC), transfer bersih (net transfer), koefisien keuntungan (PC) dan rasio subsidi produsen (SRP). Hasil analisis dampak kebijakan pemerintah dalam input-output terhadap usahatani lada putih di provinsi Bangka Belitung dapat dilihat pada Tabel 13. Koefisien proteksi efektif merupakan indikator yang menunjukkan tingkat proteksi simultan terhadap input dan output tradable. EPC menggambarkan sejauh mana kebijakan pemerintah bersifat melindungi atau menghambat produksi pengusahaan lada putih domestik. EPC merupakan rasio yang membandingkan antara nilai tambah input tradable pada tingkat harga privat dengan nilai tambah input tradable pada tingkat harga sosial. Nilai EPC yang lebih besar dari satu (EPC > 1), menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah terhadap output dan input dapat memberikan insentif kepada petani lada putih untuk berproduksi. Hasil analisispada (Tabel 13) memperlihatkan bahwa nilai EPC pada pengusahaan komoditas lada putih di Provinsi Bangka Belitung kurang dari satu (EPC < 1) yaitu 0.89, artinya dampak kebijakan input-output terhadap usahatani lada putih belum berjalan secara efektif. Nilai tersebut menunjukkan bahwa petani lada putih cenderung membayar harga input tradable dan menjual harga output tidak sesuai dengan harga seharusnya (harga sosial). Kondisi ini membuktikan bahwa secara simultan kebijakan pemerintah terhadap input - output tidak memberikan perlindungan yang efektif bagi petani lada putih untuk berproduksi.

22 114 Dengan kata lain pengaruh instrumen kebijakan pemerintah dalam pasar input - output yang diterapkan saat ini menimbulkan dampak disinsentif terhadap pengembangan usaha perkebunan lada, sebab nilai tambah yang diperoleh petani (privat) lebih rendah dari yang seharusnya diterima yaitu 89 persen. Rendahnya nilai tambah petani disebabkan mekanisme pasar yang distortif, yaitu disatu sisi petani menerima harga input yang tinggi, sedangkan disisi lain petani juga menrima harga output yang rendah dari yang seharusnya, atau sebalikanya petani menerima input yang lebih rendah akan tetapi tidak diikuti dengan kenaikan harga output. Tabel 13. Dampak Kebijakan Harga Output dan Kinerja Pasar Pada Usahatani Lada Putih di Provinsi Bangka Belitung, Tahun 2011 No Indikator Nilai 1 Koefisien Proteksi Efektif (EPC) Net Transfer (NT) (Rp/ha) Koefisien Profitabilitas (PC) Koefisien Rasio Subsidi Produsen (SRP) Net Transfer (NT) atau transfer bersih mencerminkan dampak kebijakan pemerintah secara keseluruhan terhadap penerimaan petani, apakah merugikan atau menguntungkan petani. Nilai NT positif menunjukkan bahwa tambahan surplus produsen disebabkan oleh adanya kebijakan pemerintah terhadap input dan output. Dalam siklus usaha sepuluh tahun, petani hanya menerima keuntungan privat Rp per hektar, jauh lebih rendah dari keuntungan sosial yang seharusnya diterima petani Rp per hektar, akibatnya petani harus menerima net transfer negatif sebesar Rp per hektar. Kondisi ini mencerminkan besarnya pengurangan surplus petani sebagai akibat kebijakan pemerintah, sehingga dalam hal ini petani dirugikan, atau dengan kata

23 115 lain menunjukkan bahwa secara keseluruhan, usahatani lada putih mengalami inefisiensi dimana petani dirugikan oleh adanya kebijakan pemerintah atau distorsi pasar input (input tradable dan faktor domestik) dan output. Koefisien profitabilitas (PC) menunjukkan perbandingan antara keuntungan bersih privat dengan keuntungan sosialnya. Koefisien keuntungan merupakan indikator yang menunjukkan dampak insentif dari semua kebijakan output, kebijakan input asing (tradable), dan input domestik (net policy transfer). Jika nilai PC lebih besar dari satu (PC>1), menunjukkan bahwa secara keseluruhan kebijakan pemerintah memberikan insentif kepada produsen. Tabel 13 menunjukkan nilai rasio PC sebesar 0.86, artinya bahwa kebijakan pemerintah membuat keuntungan yang diterima produsen (petani) lebih kecil dibandingkan tanpa ada kebijakan. Keuntungan yang diterima petani lada berkurang sebesar 14 persen dari keuntungan yang seharusnya diterima tanpa adanya kebijakan pemerintah. Koefisien Rasio Subsidi Produsen (SRP) menunjukkan rasio dari net transfer dengan penerimaan sosialnya. Nilai rasio subsidi bagi produsen merupakan indikator yang menunjukkan tingkat penambahan dan pengurangan penerimaan atas pengusahaan suatu komoditas karena adanya kebijakan pemerintah. Tabel 13 menunjukkan SRP bernilai negatif yakni sebesar Hal ini berarti terjadi arah transfer dari petani ke pemerintah atau konsumen. Dengan kata lain kebijakan pemerintah berpengaruh negatif terhadap struktur biaya produksi, karena biaya yang diinvestasikan lebih besar dari pada nilai tambah keuntungan yang dapat diterimanya. Petani atau produsen lada putih

24 116 mengeluarkan biaya produksi lebih besar 2.6 persen dari opportunity cost untuk produksi sehingga terjadi pengurangan penerimaan. Lebih rendahnya nilai tambah yang diterima produsen daripada harga sosialnya yang seharusnya diterima kemungkinan disebabkan karena faktor faktor : (1) tingkat permodalan petani yang terbatas berdampak pada pemenuhan harga input, (2) tingkat pendidikan masih rendah, berpengaruh terhadap adopsi tekhnologi, (3) pemberdayaan kelembagaan petani belum maksimal, (4) masih panjangnya rantai pemasaran, sehingga margin penjualan banyak dinikmati pedagang, dan (5) petani lebih menjual dalam produk primer, dan pengembangan diversifikasi produk belum berkembang Perubahan terhadap Keuntungan dan Daya Saing Lada Putih Gittinger (1986) mengemukakan bahwa meneliti kembali suatu analisis dengan tujuan untuk melihat pengaruh yang akan terjadi sebagai akibat keadaan yang berubah - ubah disebut dengan analisis kepekaan (sensitivity analysis). Analisis sensitivitas diperlukan, karena analisis dalam metode PAM merupakan analisis yang bersifat statis. Analisis sensitivitas juga berguna untuk mengetahui kepekaan efisiensi dalam usahatani lada putih terhadap perubahan pada komponen - kompenen yang sangat berpengaruh dalam usahatani lada putih, dalam hal ini yang berpengaruh nyata yaitu input (pupuk) dan perubahan output. Pada penelitian ini dilakukan analisis kepekaan untuk mengantisipasi adanya perubahan lingkungan strategis, kebijakan pemerintah, struktur biaya produksi dan produktivitas terhadap keuntungan dan daya saing lada putih sangat penting dilakukan, sehingga dapat diketahui jika terjadi perubahan pada aspek -

25 117 aspek tersebut, apakah memproduksi lada putih di Bangka Belitung masih lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan impor. Analisis kepekaan yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari 3 skenario mencakup : (1) perubahan pada harga output sebesar 20 persen, (2) perubahan harga input khususnya pupuk sebesar 20 persen, dan (3) perubahan pada produksi tanaman lada sebesar 20 persen. Setiap simulasi dilakukan dengan asumsi harga input lainnya tetap (ceteris paribus). Secara keseluruhan, dari 3 skenario kebijakan, kondisi yang paling tidak menguntungkan petani di Provinsi Bangka Belitung adalah ketika produksi lada putih turun 20 persen dan harga output turun 20 persen atau sensitif terhadap perubahan produksi dan harga ouput. Tabel 14. Nilai Keuntungan Berdasarkan Analisis Sensitivitas Lada Putih di Provinsi Bangka Belitung, Tahun 2011 No Skenario Keuntungan (Rp/Ha) Privat Sosial 1 Kondisi normal Produksi turun 20 persen Harga output turun 20 persen Harga pupuk naik 20 persen Berdasarkan Tabel 14, penurunan produksi lada putih 20 persen menyebabkan keuntungan petani (keuntungan privat dan sosial) menjadi negatif atau sensitif terhadap perubahan produksi. Hal ini juga terjadi pada penurunan harga output sebesar 20 persen menyebabkan keuntungan petani menjadi negatif baik keuntungan privat maupun keuntungan sosial. Penurunan harga output sebesar 20 persen dari kondisi harga normal yaitu Rp menjadi Rp per kilogram (harga privat) dan Rp menjadi Rp per kilogram (harga sosial), membuat keuntungan petani menjadi negatif. Kondisi ini

26 118 menyebabkan usahatani lada putih di Bangka Belitung tidak layak lagi untuk diusahakan karena memberikan keuntungan yang negatif. Kita ketahui bahwa harga lada putih merupakan insentif bagi petani untuk berproduksi, ketika harga lada putih turun menyebabkan kemampuan petani untuk membeli sarana produksi menjadi menurun bahkan tidak mampu lagi, sehingga berdampak pada penurunan produksi dan intensitas pengelolaan kebun lada putih. Kenaikan harga pupuk sebesar 20 persen tidak mempengaruhi pendapatan petani, artinya kenaikan harga pupuk tidak sensitif terhadap keuntungan petani (baik keuntungan privat maupun keuntungan sosial). Kenaikan harga pupuk sebesar 20 persen menyebabkan keuntungan petani menurun sebesar Rp atau 59.8 persen (keuntungan privat) dan Rp atau 51.6 persen (keuntungan sosial) dari keuntungan normalnya.walaupun harga pupuk naik sebesar 20 persen, usahatani lada putih di Bangka Belitung masih layak untuk diusahakan. Kenaikan harga pupuk dapat diantisipasi petani dengan mengurangi penggunaan pupuk kimia dan meningkatkan penggunaan pupuk alternatif seperti pupuk kandang. Hal ini seiring dengan gerakan pengembangan lada putih di Provinsi Bangka Belitungbahwa budidaya secara tradisional yang selama ini dilakukan oleh petani lada putih dengan biaya produksi yang cukup tinggi khususnya penggunaan pupuk, maka harus mengubah pola budidaya lada putih sesuai dengan anjuran menuju budidaya yang ramah lingkungan. Budidaya ramah lingkungan ini dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia digantikan dengan pemanfaatan pupuk organik dan biomasa hasil pangkasan tajar hidup. Analisis sensitivitas juga dilakukan untuk melihat daya saing lada putih di Provinsi Bangka Belitung apabila terjadi perubahan faktor internal maupun

27 119 eksternal, apakah usahatani lada putih masih memiliki daya saing. Analisis sensitivitas terhadap indikator daya saing lada putih dapat dilihat pada Tabel 15. Tabel 15. Indikator Daya Saing Berdasarkan Analisis Sensitivitas Lada Putih di Provinsi Bangka Belitung, Tahun 2011 No Skenario Nilai PCR DRCR 1 Kondisi normal Produksi turun 20 persen Harga output turun 20 persen Harga pupuk naik 20 persen Hasil analisis menunjukkan bahwa kebijakan yang menjadikan petani lada putih berada pada kondisi paling tidak berdaya saing adalah ketika produksi lada putih dan harga output turun sebesar 20 persen. Kondisi lain yang dapat ditunjukkan oleh analisis sensitivitas adalah yang paling sensitif terhadap perubahan daya saing yaitu jika terjadi perubahan produksi dan perubahan harga lada putih, menyebabkan usahatani lada putih tidak memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif. Penurunan produksi dan harga lada putih sebesar 20 persen menyebabkan nilai PCR dan DRCR lebih besar dari satu, hal ini berarti usahatani lada putih di Provinsi Bangka Belitung tidak efisien untuk diproduksi baik secara finansial maupunekonomi, karena memboroskan sumberdaya. Kondisi ini harus diantisipasi pemerintah dengan mengembangkan paket teknologi budidaya lada putih sesuai anjuran yakni; penggunaan varietas unggul, penggunaan parit keliling dan saluran drainase, pemangkasan sulur yang teratur sampai umur produktif, pemangkasan tajar diawal dan diakhir musim hujan, pembuangan sulur inferior dan cabang bawah, penanaman penutup tanah Arachis Pintoi dan pagar keliling rumput gajah, pemupukan yang berimbang dengan

28 120 pupuk anorganik dan organik, pengendalian hama penyakit yang ramah lingkungan, dan panen yang tepat. Sedangkan kenaikan harga pupuk sebesar 20 persen tidak sensitif terhadap perubahan daya saing lada putih baik PCR maupun DRCR. Hal ini ditunjukkan oleh nilai PCR dan DRCR lada putih lebih kecil dari satu, menunjukkan bahwa usahatani lada putih masih memiliki keunggulan kompetitif maupun keunggulan komparatif. Walaupun terjadi kenaikan harga pupuk, usahatani lada putih masih memiliki kemampuan membayar faktor domestik pada harga privat dan sosial. Dikarenakan harga output lada putih ditentukan berdasarkan mekanisme permintaan dan penawaran lada putih di tingkat dunia dan terjadi pada pasar persaingan sempurna. Untuk mempertahankan agar harga lada putih pada kondisi stabil sehingga adanya insentif bagi petani lada putih, oleh karena itu perlu mekanisme kebijakan yang harus dilakukan yaitu pertama, mendorong perkembangan pangsa pasar domestik, selama ini lada putih di ekspor ke negaranegara Eropa, Amerika Serikat, serta Asia. Untuk itu pentingnya memperluas pangsa pasar domestik khususnya industri rumah makan serta peningkatan konsumsi rumah tangga. Kedua, mendorong industri pengolahan hasil lada putih (agroindustri), selama ini ekspor lada putih ke negaraimportir dalam bentuk primer (biji lada putih kering) sehingga nilai tambah industri lada dinikmati negara importir. Untuk itu perlu pengembangan diversifikasi lada putih pada tingkat industri,agar petani dapat memperoleh nilai tambah dari produksinya. Ketiga, mendorong perubahan pola budidaya lada putih konvensional menuju pola budidaya lada organik sesuai dengan permintaan pasar. Sudah waktunya mengembangkan peluang pasar baru dengan pengembangan lada putih organik.

VIII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING RUMPUT LAUT

VIII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING RUMPUT LAUT 83 VIII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING RUMPUT LAUT 8.1. Struktur Biaya, Penerimaan Privat dan Penerimaan Sosial Tingkat efesiensi dan kemampuan daya saing rumput laut di

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN 51 IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di tiga tempat di Provinsi Bangka Belitung yaitu Kabupaten Bangka Selatan, Kabupaten Bangka Barat, dan Kabupaten Belitung.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN VI HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1 Analisis Daya Saing Analisis keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan prospek serta kemampuan komoditi susu sapi lokal dalam

Lebih terperinci

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1. Analisis Daya Saing Analisis keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan prospek serta kemampuan komoditi gula lokal yang dihasilkan

Lebih terperinci

VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK

VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK 6.1 Analisis Keuntungan Sistem Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok Analisis keunggulan komparatif

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN 45 IV. METODE PENELITIAN 4.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kepulauan Tanakeke, Kabupaten Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan. Pemilihan daerah tersebut dilakukan secara purposive

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP JERUK SIAM

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP JERUK SIAM VI ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP JERUK SIAM 6.1. Analisis Daya Saing Analisis keunggulan kompetitif dan komparatif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan kemampuan jeruk

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 26 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan batasan operasional merupakan pengertian dan petunjuk mengenai variabel yang akan diteliti untuk memperoleh dan menganalisis

Lebih terperinci

VI. ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA USAHATANI JAMBU BIJI

VI. ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA USAHATANI JAMBU BIJI VI. ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA USAHATANI JAMBU BIJI Daya saing usahatani jambu biji diukur melalui analisis keunggulan komparatif dan kompetitif dengan menggunakan Policy

Lebih terperinci

Lampiran 1. Syarat Mutu Lada Putih Mutu I dan Mutu II. binatang

Lampiran 1. Syarat Mutu Lada Putih Mutu I dan Mutu II. binatang 131 Lampiran 1. Syarat Mutu Lada Putih Mutu I dan Mutu II No Jenis Uji Satuan 1 Cemaran Binatang 2 Warna 3 Kadar Benda Asing (b/b) 4 Kadar Biji Enteng (b/b) 5 Kadar Cemaran Kapang 6 Kadar Warna Kehitam-hitaman

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Usaha Sapi Potong di Kabupaten Indrgiri Hulu 5.1.1. Profitabilitas Privat dan Sosial Usaha Sapi Potong Usaha peternakan sapi

Lebih terperinci

ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KENTANG

ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KENTANG ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KENTANG VI. 6.1 Analisis Dayasaing Hasil empiris dari penelitian ini mengukur dayasaing apakah kedua sistem usahatani memiliki keunggulan

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Karangasem dengan lokasi sampel penelitian, di Desa Dukuh, Kecamatan Kubu. Penentuan lokasi penelitian dilakukan

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Daya Saing Perdagangan Internasional pada dasarnya merupakan perdagangan yang terjadi antara suatu negara tertentu dengan negara yang

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Pasir Penyu dan Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Kabupaten Indragiri Hulu terdiri

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan tujuan

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan tujuan 33 III. METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional dan Konsep Dasar Konsep dasar dan batasan operasional ini mencakup pengertian yang digunakan untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN. Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Pemilihan lokasi

IV. METODE PENELITIAN. Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Pemilihan lokasi IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Studi kasus penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Sukaresmi dan Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Pemilihan lokasi dilakukan secara purpossive

Lebih terperinci

IV METODOLOGI PENELITIAN

IV METODOLOGI PENELITIAN IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada petani tebu di wilayah kerja Pabrik Gula Sindang Laut Kabupaten Cirebon Propinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi penelitian

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu Menurut penelitian Fery (2013) tentang analisis daya saing usahatani kopi Robusta di kabupaten Rejang Lebong dengan menggunakan metode Policy Analiysis

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN

IV METODE PENELITIAN IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Desa Cilembu (Kecamatan Tanjungsari) dan Desa Nagarawangi (Kecamatan Rancakalong) Kabupaten Sumedang, Propinsi Jawa Barat.

Lebih terperinci

3.5 Teknik Pengumpulan data Pembatasan Masalah Definisi Operasional Metode Analisis Data

3.5 Teknik Pengumpulan data Pembatasan Masalah Definisi Operasional Metode Analisis Data DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... ii HALAMAN PERNYATAAN... iii KATA PENGANTAR... iv DAFTAR ISI... vi DAFTAR TABEL... ix DAFTAR GAMBAR... xi DAFTAR LAMPIRAN... xii ABSTRAK... xiii ABSTRACT...

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. A. Metode Dasar Penelitian

METODE PENELITIAN. A. Metode Dasar Penelitian II. METODE PENELITIAN A. Metode Dasar Penelitian Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode deskriptif analitis. Menurut Nazir (2014) Metode deskriptif adalah suatu metode dalam

Lebih terperinci

DAYA SAING KEDELAI DI KECAMATAN GANDING KABUPATEN SUMENEP

DAYA SAING KEDELAI DI KECAMATAN GANDING KABUPATEN SUMENEP DAYA SAING KEDELAI DI KECAMATAN GANDING KABUPATEN SUMENEP PURWATI RATNA W, RIBUT SANTOSA, DIDIK WAHYUDI Fakultas Pertanian, Universitas Wiraraja Sumenep ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah (1) menganalisis

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional ini mencakup pengertian yang. jagung per musim tanam yang, diukur dalam satuan ton.

III. METODOLOGI PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional ini mencakup pengertian yang. jagung per musim tanam yang, diukur dalam satuan ton. III. METODOLOGI PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan definisi operasional ini mencakup pengertian yang digunakan untuk mendapatkan data dan melakukan analisis terhadap tujuan

Lebih terperinci

Lampiran 1. Perhitungan Premium Nilai Tukar dan Nilai Tukar Bayangan Tahun 2009

Lampiran 1. Perhitungan Premium Nilai Tukar dan Nilai Tukar Bayangan Tahun 2009 LAMPIRAN Lampiran 1. Perhitungan Premium Nilai Tukar dan Nilai Tukar Bayangan Tahun 2009 Uraian Jumlah (Rp) Total Ekspor (Xt) 1,211,049,484,895,820.00 Total Impor (Mt) 1,006,479,967,445,610.00 Penerimaan

Lebih terperinci

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan tujuan penelitian dan hasil analisis, maka pada penelitian ini

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan tujuan penelitian dan hasil analisis, maka pada penelitian ini BAB VII SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan tujuan penelitian dan hasil analisis, maka pada penelitian ini diperoleh beberapa simpulan, implikasi kebijakan dan saran-saran seperti berikut. 7.1 Simpulan 1. Dari

Lebih terperinci

VII. ANALISIS DAYA SAING USAHATANI JAGUNG

VII. ANALISIS DAYA SAING USAHATANI JAGUNG VII. ANALISIS DAYA SAING USAHATANI JAGUNG 7.1. Profitabilitas Privat dan Sosial Analisis finansial dan ekonomi usahatani jagung memberikan gambaran umum dan sederhana mengenai tingkat kelayakan usahatani

Lebih terperinci

VI. ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN SIAM DEDDY FISH FARM

VI. ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN SIAM DEDDY FISH FARM VI. ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN SIAM DEDDY FISH FARM Analisis keunggulan komparatif dan kompetitif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan prospek serta

Lebih terperinci

sesuaian harga yang diterima dengan cost yang dikeluarkan. Apalagi saat ini,

sesuaian harga yang diterima dengan cost yang dikeluarkan. Apalagi saat ini, RINGKASAN Kendati Jambu Mete tergolong dalam komoditas unggulan, namun dalam kenyataannya tidak bisa dihindari dan kerapkali mengalami guncangan pasar, yang akhirnya pelaku (masyarakat) yang terlibat dalam

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

METODE PENELITIAN. 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan

Lebih terperinci

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF BERAS SOLOK ORGANIK Mardianto 1, Edi Firnando 2

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF BERAS SOLOK ORGANIK Mardianto 1, Edi Firnando 2 ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF BERAS SOLOK ORGANIK Mardianto 1, Edi Firnando 2 email: mardianto.anto69@gmail.com ABSTRAK 9 Penelitian tentang Analisis Keunggulan Komparatif dan Kompetitif

Lebih terperinci

III METODE PENELITIAN. Daya saing adalah suatu konsep yang menyatakan kemampuan suatu produsen

III METODE PENELITIAN. Daya saing adalah suatu konsep yang menyatakan kemampuan suatu produsen III METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Daya saing adalah suatu konsep yang menyatakan kemampuan suatu produsen untuk memproduksi suatu komoditas dengan mutu yang cukup baik dan

Lebih terperinci

VII. DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DAN FAKTOR LAINNYA TERHADAP KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF PADA USAHATANI JAMBU BIJI

VII. DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DAN FAKTOR LAINNYA TERHADAP KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF PADA USAHATANI JAMBU BIJI VII. DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DAN FAKTOR LAINNYA TERHADAP KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF PADA USAHATANI JAMBU BIJI Analisis sensitivitas perlu dilakukan karena analisis dalam metode

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN 28 IV. METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan dari Bulan Pebruari sampai April 2009, mengambil lokasi di 5 Kecamatan pada wilayah zona lahan kering dataran rendah

Lebih terperinci

KERANGKA PEMIKIRAN. berupa derasnya arus liberalisasi perdagangan, otonomi daerah serta makin

KERANGKA PEMIKIRAN. berupa derasnya arus liberalisasi perdagangan, otonomi daerah serta makin 22 III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Analisis Dewasa ini pengembangan sektor pertanian menghadapi tantangan dan tekanan yang semakin berat disebabkan adanya perubahan lingkungan strategis

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KEDELAI VS PENGUSAHAAN KEDELAI DI KABUPATEN LAMONGAN, JAWA TIMUR

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KEDELAI VS PENGUSAHAAN KEDELAI DI KABUPATEN LAMONGAN, JAWA TIMUR ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KEDELAI VS PENGUSAHAAN KEDELAI DI KABUPATEN LAMONGAN, JAWA TIMUR Syahrul Ganda Sukmaya 1), Dwi Rachmina 2), dan Saptana 3) 1) Program

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING APEL JAWA TIMUR (Studi Kasus Apel Batu, Nongkojajar dan Poncokusumo)

ANALISIS DAYA SAING APEL JAWA TIMUR (Studi Kasus Apel Batu, Nongkojajar dan Poncokusumo) ANALISIS DAYA SAING APEL JAWA TIMUR (Studi Kasus Apel Batu, Nongkojajar dan Poncokusumo) Novi Itsna Hidayati 1), Teguh Sarwo Aji 2) Dosen Fakultas Pertanian Universitas Yudharta Pasuruan ABSTRAK Apel yang

Lebih terperinci

Volume 12, Nomor 1, Hal ISSN Januari - Juni 2010

Volume 12, Nomor 1, Hal ISSN Januari - Juni 2010 Volume 12, Nomor 1, Hal. 55-62 ISSN 0852-8349 Januari - Juni 2010 DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP DAYA SAING DAN EFISIENSI SERTA KEUNGGULAN KOMPETITIF DAN KOMPARATIF USAHA TERNAK SAPI RAKYAT DI KAWASAN

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. 4.1 METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan

Lebih terperinci

ANALISIS SENSITIVITAS

ANALISIS SENSITIVITAS VII ANALISIS SENSITIVITAS 7.1. Analisis Sensitivitas Analisis sensitivitas dilakukan untuk mengetahui bagaimana pengaruh dari perubahan kurs mata uang rupiah, harga jeruk siam dan harga pupuk bersubsidi

Lebih terperinci

Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Daya Saing Komoditas Kelapa di Kabupaten Flores Timur

Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Daya Saing Komoditas Kelapa di Kabupaten Flores Timur Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Daya Saing Komoditas Kelapa di Kabupaten Flores Timur Krisna Setiawan* Haryati M. Sengadji* Program Studi Manajemen Agribisnis, Politeknik Pertanian Negeri

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PRODUKSI KAKAO DI JAWA TIMUR

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PRODUKSI KAKAO DI JAWA TIMUR ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PRODUKSI KAKAO DI JAWA TIMUR Dede Haryono 1, Soetriono 2, Rudi Hartadi 2, Joni Murti Mulyo Aji 2 1 Program Studi Agribisnis Program Magister

Lebih terperinci

.SIMULASI KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP DAYA SAING TEMBAKAU MADURA. Kustiawati Ningsih

.SIMULASI KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP DAYA SAING TEMBAKAU MADURA. Kustiawati Ningsih 1.SIMULASI KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP DAYA SAING TEMBAKAU MADURA Kustiawati Ningsih Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Islam Madura, Kompleks Ponpes Miftahul Ulum Bettet, Pamekasan,

Lebih terperinci

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN VIII. KESIMPULAN DAN SARAN 8.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1.a. Faktor-faktor yang berpengaruh nyata/signifikan terhadap produksi usahatani jagung

Lebih terperinci

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Harga Gula Domestik

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Harga Gula Domestik II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Harga Gula Domestik Menurut Susila (2005), Indonesia merupakan negara kecil dalam perdagangan dunia dengan pangsa impor sebesar 3,57 persen dari impor gula dunia sehingga Indonesia

Lebih terperinci

VII. ANALISIS DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PADA USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN Kerangka Skenario Perubahan Harga Input dan Output

VII. ANALISIS DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PADA USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN Kerangka Skenario Perubahan Harga Input dan Output VII. ANALISIS DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PADA USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN 7.1. Kerangka Skenario Perubahan Harga Input dan Output Perubahan-perubahan dalam faktor eksternal maupun kebijakan pemerintah

Lebih terperinci

VI. KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM PENGEMBANGAN LADA PUTIH

VI. KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM PENGEMBANGAN LADA PUTIH 83 VI. KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM PENGEMBANGAN LADA PUTIH Secara umum tujuan kebijakan pemerintah dapat dibagi kedalam tiga tujuan utama yaitu,peningkat efisiensi (efficiency), pencipta pemerataan (equity)

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Definisi operasional dan konsep dasar ini mencakup semua pengertian yang

III. METODE PENELITIAN. Definisi operasional dan konsep dasar ini mencakup semua pengertian yang III. METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional dan Konsep Dasar Definisi operasional dan konsep dasar ini mencakup semua pengertian yang dipergunakan untuk memperoleh data yang akan dianalisis sesuai dengan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Budidaya tebu adalah proses pengelolaan lingkungan tumbuh tanaman

TINJAUAN PUSTAKA. Budidaya tebu adalah proses pengelolaan lingkungan tumbuh tanaman 24 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Usahatani Tebu 2.1.1 Budidaya Tebu Budidaya tebu adalah proses pengelolaan lingkungan tumbuh tanaman sehingga tanaman dapat tumbuh dengan optimum dan dicapai hasil yang diharapkan.

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN 23 III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Daya Saing Daya saing merupakan kemampuan suatu produsen untuk memproduksi suatu komoditi dengan mutu yang baik dan biaya produksi

Lebih terperinci

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pendekatan Penelitian Sistem Usaha Pertanian dan Agribisnis

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pendekatan Penelitian Sistem Usaha Pertanian dan Agribisnis II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pendekatan Penelitian Sistem Usaha Pertanian dan Agribisnis Pada awalnya penelitian tentang sistem pertanian hanya terbatas pada tahap budidaya atau pola tanam, tetapi pada tahun

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Studi Empiris Tentang Jeruk

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Studi Empiris Tentang Jeruk II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Studi Empiris Tentang Jeruk Studi mengenai jeruk telah dilakukan oleh banyak pihak, salah satunya oleh Sinuhaji (2001) yang melakukan penelitian mengenai Pengembangan Usahatani

Lebih terperinci

Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Beras Organik Ekspor (Suatu Kasus di Gapoktan Simpatik Kabupaten Tasikmalaya)

Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Beras Organik Ekspor (Suatu Kasus di Gapoktan Simpatik Kabupaten Tasikmalaya) Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Beras Organik Ekspor (Suatu Kasus di Gapoktan Simpatik Kabupaten Tasikmalaya) Tirsa Neyatri Bandrang, Ronnie S. Natawidjaja, Maman Karmana Program Magister

Lebih terperinci

VIII. ANALISIS KEBIJAKAN ATAS PERUBAHAN HARGA OUTPUT/ INPUT, PENGELUARAN RISET JAGUNG DAN INFRASTRUKTUR JALAN

VIII. ANALISIS KEBIJAKAN ATAS PERUBAHAN HARGA OUTPUT/ INPUT, PENGELUARAN RISET JAGUNG DAN INFRASTRUKTUR JALAN VIII. ANALISIS KEBIJAKAN ATAS PERUBAHAN HARGA OUTPUT/ INPUT, PENGELUARAN RISET JAGUNG DAN INFRASTRUKTUR JALAN 8.1. Pengaruh Perubahan Harga Output dan Harga Input terhadap Penawaran Output dan Permintaan

Lebih terperinci

Jurnal Agribisnis dan Ekonomi Pertanian (Volume 2. No 1 Juni 2008)

Jurnal Agribisnis dan Ekonomi Pertanian (Volume 2. No 1 Juni 2008) 1 ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF PENGUSAHAAN KOMODITI JAGUNG DI KABUPATEN GROBOGAN A. Faroby Falatehan 1 dan Arif Wibowo 2 1 Departemen Ekonomi Sumberdaya Lingkungan, Fakultas Ekonomi dan

Lebih terperinci

Pengkajian Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Usahatani Padi dan Jeruk Lahan Gambut Kabupaten Barito Kuala Kalimantan Selatan

Pengkajian Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Usahatani Padi dan Jeruk Lahan Gambut Kabupaten Barito Kuala Kalimantan Selatan Pengkajian Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Usahatani Padi dan Jeruk Lahan Gambut Kabupaten Barito Kuala Kalimantan Selatan Muhammad Husaini Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian

Lebih terperinci

KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN DAMPAK KEBIJAKAN PENGURANGAN SUBSIDI INPUT TERHADAP PENGEMBANGAN KOMODITAS KENTANG DI KOTA BATU

KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN DAMPAK KEBIJAKAN PENGURANGAN SUBSIDI INPUT TERHADAP PENGEMBANGAN KOMODITAS KENTANG DI KOTA BATU Habitat Volume XXIV, No. 2, Bulan Agustus 2013 ISSN: 0853-5167 KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN DAMPAK KEBIJAKAN PENGURANGAN SUBSIDI INPUT TERHADAP PENGEMBANGAN KOMODITAS KENTANG DI KOTA BATU COMPARATIVE ADVANTAGE

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN. Fish Farm) dilaksanakan di lokasi usaha yang bersangkutan yaitu di daerah

IV. METODE PENELITIAN. Fish Farm) dilaksanakan di lokasi usaha yang bersangkutan yaitu di daerah IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Studi kasus penelitian mengenai Analisis Keunggulan Komparatif dan Kompetitif Usaha Pembenihan Ikan Patin Siam (Studi Kasus : Perusahaan Deddy Fish Farm) dilaksanakan

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING AGRIBISNIS BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO

ANALISIS DAYA SAING AGRIBISNIS BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO ANALISIS DAYA SAING AGRIBISNIS BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO COMPETITIVENESS ANALYSIS OF SHALLOTS AGRIBUSINESS IN PROBOLINGGO REGENCY Competitiveness analysis of shallot business in Probolinggo

Lebih terperinci

DAYA SAING JAGUNG, KETELA POHON, DAN KETELA RAMBAT PRODUKSI LAHAN KERING DI KECAMATAN KUBU, KABUPATEN KARANGASEM PROVINSI BALI

DAYA SAING JAGUNG, KETELA POHON, DAN KETELA RAMBAT PRODUKSI LAHAN KERING DI KECAMATAN KUBU, KABUPATEN KARANGASEM PROVINSI BALI DAYA SAING JAGUNG, KETELA POHON, DAN KETELA RAMBAT PRODUKSI LAHAN KERING DI KECAMATAN KUBU, KABUPATEN KARANGASEM PROVINSI BALI I Made Tamba Universitas Mahasaraswati Denpasar ABSTRAK Jagung, ketela pohon

Lebih terperinci

EFISIENSI DAN DAYA SAING USAHATANI HORTIKULTURA

EFISIENSI DAN DAYA SAING USAHATANI HORTIKULTURA EFISIENSI DAN DAYA SAING USAHATANI HORTIKULTURA Handewi P.S. Rachman, Supriyati, Saptana, Benny Rachman Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian Jl. A. Yani No. 70 Bogor 16161 ABSTRACT

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Analisis Daya Saing Dalam sistem perekonomian dunia yang semakin terbuka, faktor-faktor yang mempengaruhi perdagangan dunia (ekspor dan impor)

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian

METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat tepatnya di Kecamatan Samarang. Pemilihan lokasi ditentukan secara sengaja (purposive)

Lebih terperinci

MACAM-MACAM ANALISA USAHATANI

MACAM-MACAM ANALISA USAHATANI MACAM-MACAM ANALISA USAHATANI Pendahuluan Sebelum melakukan analisis, data yang dipakai harus dikelompokkan dahulu : 1. Data Parametrik : data yang terukur dan dapat dibagi, contoh; analisis menggunakan

Lebih terperinci

VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI JAGUNG MANIS

VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI JAGUNG MANIS VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI JAGUNG MANIS Keberhasilan usahatani yang dilakukan petani biasanya diukur dengan menggunakan ukuran pendapatan usahatani yang diperoleh. Semakin besar pendapatan usahatani

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. peneliti menggunakan konsep dasar dan batasan oprasional sebagai berikut:

III. METODE PENELITIAN. peneliti menggunakan konsep dasar dan batasan oprasional sebagai berikut: III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Batasan Operasional Agar tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda pada penelitian ini, maka peneliti menggunakan konsep dasar dan batasan oprasional sebagai

Lebih terperinci

Tabel 1.1. Konsumsi Beras di Tingkat Rumah Tangga Tahun Tahun Konsumsi Beras*) (Kg/kap/thn)

Tabel 1.1. Konsumsi Beras di Tingkat Rumah Tangga Tahun Tahun Konsumsi Beras*) (Kg/kap/thn) I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sektor pertanian merupakan sektor penting dalam pembangunan ekonomi nasional. Peran strategis sektor pertanian digambarkan dalam kontribusi sektor pertanian dalam

Lebih terperinci

EFISIENSI DAN DAYA SAING SISTEM USAHATANI PADI

EFISIENSI DAN DAYA SAING SISTEM USAHATANI PADI EFISIENSI DAN DAYA SAING SISTEM USAHATANI PADI Beny Rachman, Pantjar Simatupang, dan Tahlim Sudaryanto Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian Jl. A. Yani No. 70 Bogor 16161 ABSTRACT

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING USAHATANI KELAPA SAWIT DI KABUPATEN MUKOMUKO (STUDI KASUS DESA BUMI MULYA)

ANALISIS DAYA SAING USAHATANI KELAPA SAWIT DI KABUPATEN MUKOMUKO (STUDI KASUS DESA BUMI MULYA) ANALISIS DAYA SAING USAHATANI KELAPA SAWIT DI KABUPATEN MUKOMUKO (STUDI KASUS DESA BUMI MULYA) ANALYSIS OF PALM OIL FARMING COMPETITIVENESS IN MUKOMUKO DISTRICT (CASE STUDY VILLAGE BUMI MULYA) Aprizal,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. khususnya bagi sektor pertanian dan perekonomian nasional pada umumnya. Pada

I. PENDAHULUAN. khususnya bagi sektor pertanian dan perekonomian nasional pada umumnya. Pada I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Subsektor peternakan merupakan salah satu sumber pertumbuhan baru khususnya bagi sektor pertanian dan perekonomian nasional pada umumnya. Pada tahun 2006 Badan Pusat

Lebih terperinci

DAFTAR TABEL. 1. Produksi manggis di Pulau Sumatera tahun Produksi manggis kabupaten di Provinsi Lampung tahun

DAFTAR TABEL. 1. Produksi manggis di Pulau Sumatera tahun Produksi manggis kabupaten di Provinsi Lampung tahun DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1. Produksi manggis di Pulau Sumatera tahun 2012... 5 2. Produksi manggis kabupaten di Provinsi Lampung tahun 2010-2012... 6 3. Luas panen, produktivitas, dan produksi manggis

Lebih terperinci

LAPORAN AKHIR REVITALISASI SISTEM DAN USAHA AGRIBISNIS GULA

LAPORAN AKHIR REVITALISASI SISTEM DAN USAHA AGRIBISNIS GULA LAPORAN AKHIR REVITALISASI SISTEM DAN USAHA AGRIBISNIS GULA Oleh: A. Husni Malian Erna Maria Lokollo Mewa Ariani Kurnia Suci Indraningsih Andi Askin Amar K. Zakaria Juni Hestina PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

Lebih terperinci

Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 12 No. 2, Agustus 2007 Hal: namun sering harganya melambung tinggi, sehingga tidak terjangkau oleh nelayan. Pe

Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 12 No. 2, Agustus 2007 Hal: namun sering harganya melambung tinggi, sehingga tidak terjangkau oleh nelayan. Pe Jurnal EKONOMI PEMBANGUNAN Kajian Ekonomi Negara Berkembang Hal: 141 147 EFISIENSI EKONOMI DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP USAHA PENANGKAPAN LEMURU DI MUNCAR, JAWA TIMUR Mira Balai Besar Riset

Lebih terperinci

KEUNGGULAN KOMPARATIF USAHATANI JAGUNG MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN DI PROVINSI NTT. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, 2

KEUNGGULAN KOMPARATIF USAHATANI JAGUNG MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN DI PROVINSI NTT. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, 2 KEUNGGULAN KOMPARATIF USAHATANI JAGUNG MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN DI PROVINSI NTT Yusuf 1 dan Rachmat Hendayana 2 1 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, 2 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN STRUKTUR PROTEKSI KOMODITAS PALAWIJA

ANALISIS DAYA SAING DAN STRUKTUR PROTEKSI KOMODITAS PALAWIJA ANALISIS DAYA SAING DAN STRUKTUR PROTEKSI KOMODITAS PALAWIJA I Wayan Rusastra, Benny Rachman dan Supena Friyatno Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian Jl. A. Yani No. 7 Bogor 16161

Lebih terperinci

DAYA SAING USAHA TERNAK SAPI RAKYAT PADA KELOMPOK TANI DAN NON KELOMPOK TANI (suatu survey di Kelurahan Eka Jaya)

DAYA SAING USAHA TERNAK SAPI RAKYAT PADA KELOMPOK TANI DAN NON KELOMPOK TANI (suatu survey di Kelurahan Eka Jaya) Volume, Nomor 2, Hal. 09-6 ISSN 0852-8349 Juli - Desember 2009 DAYA SAING USAHA TERNAK SAPI RAKYAT PADA KELOMPOK TANI DAN NON KELOMPOK TANI (suatu survey di Kelurahan Eka Jaya) Muhammad Farhan dan Anna

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pertanian merupakan sektor potensial yang memegang peranan penting

I. PENDAHULUAN. Pertanian merupakan sektor potensial yang memegang peranan penting 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertanian merupakan sektor potensial yang memegang peranan penting dalam pembangunan Indonesia. Hal ini didasarkan pada kontribusi sektor pertanian yang tidak hanya

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN. usahatani, pendapatan usahatani, dan rasio penerimaan dan biaya (R-C rasio).

III. KERANGKA PEMIKIRAN. usahatani, pendapatan usahatani, dan rasio penerimaan dan biaya (R-C rasio). III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis penelitian ini meliputi konsep usahatani, biaya usahatani, pendapatan usahatani, dan rasio penerimaan dan biaya (R-C

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. melalui perluasan areal menghadapi tantangan besar pada masa akan datang.

I. PENDAHULUAN. melalui perluasan areal menghadapi tantangan besar pada masa akan datang. I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Upaya peningkatan produksi tanaman pangan khususnya pada lahan sawah melalui perluasan areal menghadapi tantangan besar pada masa akan datang. Pertambahan jumlah penduduk

Lebih terperinci

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF KOMODITAS JAGUNG (Zea mays L.) DI KABUPATEN KEDIRI

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF KOMODITAS JAGUNG (Zea mays L.) DI KABUPATEN KEDIRI AGRISE Volume XIV No. 3 Bulan Agustus 2014 ISSN: 1412-1425 ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF KOMODITAS JAGUNG (Zea mays L.) DI KABUPATEN KEDIRI (COMPARATIVE ADVANTAGE ANALYSIS OF MAIZE (Zea mays L.) IN KEDIRI

Lebih terperinci

DAMPAK KEBIJAKAN PEMBATASAN IMPOR BAWANG MERAH TERHADAP USAHATANI BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO

DAMPAK KEBIJAKAN PEMBATASAN IMPOR BAWANG MERAH TERHADAP USAHATANI BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO DAMPAK KEBIJAKAN PEMBATASAN IMPOR BAWANG MERAH TERHADAP USAHATANI BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO Policy Impact of Import Restriction of Shallot on Farm in Probolinggo District Mohammad Wahyudin,

Lebih terperinci

IX. KESIMPULAN DAN SARAN

IX. KESIMPULAN DAN SARAN IX. KESIMPULAN DAN SARAN 9.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa: 1. Penawaran output jagung baik di Jawa Timur maupun di Jawa Barat bersifat elastis

Lebih terperinci

BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN. menembus dengan volume 67 ton biji gelondong kering (Direktorat Jenderal

BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN. menembus dengan volume 67 ton biji gelondong kering (Direktorat Jenderal BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN Perkembangan ekspor jambu mete di Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem selama Tahun 2009 mencapai volume sebanyak 57 ton biji gelondong kering dan diharapkan pada Tahun 2010

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA 6 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Diversifikasi Siegler (1977) dalam Pakpahan (1989) menyebutkan bahwa diversifikasi berarti perluasan dari suatu produk yang diusahakan selama ini ke produk baru yang

Lebih terperinci

POLICY BRIEF DAYA SAING KOMODITAS PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI DALAM KONTEKS PENCAPAIAN SWASEMBADA PANGAN. Dr. Adang Agustian

POLICY BRIEF DAYA SAING KOMODITAS PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI DALAM KONTEKS PENCAPAIAN SWASEMBADA PANGAN. Dr. Adang Agustian PENDAHULUAN POLICY BRIEF DAYA SAING KOMODITAS PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI DALAM KONTEKS PENCAPAIAN SWASEMBADA PANGAN Dr. Adang Agustian 1) Salah satu peran strategis sektor pertanian dalam perekonomian nasional

Lebih terperinci

ANALISIS DAYASAING USAHATANI JAGUNG DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW PROPINSI SULAWESI UTARA

ANALISIS DAYASAING USAHATANI JAGUNG DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW PROPINSI SULAWESI UTARA ANALISIS DAYASAING USAHATANI JAGUNG DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW PROPINSI SULAWESI UTARA Zulkifli Mantau, Bahtiar, Aryanto Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Gorontalo Jl. Kopi No.270 Kec. Tilongkabila

Lebih terperinci

STUDI KELAYAKAN BISNIS ( Domestic Resource Cost )

STUDI KELAYAKAN BISNIS ( Domestic Resource Cost ) STUDI KELAYAKAN BISNIS ( Domestic Resource Cost ) Oleh: Dr Rita Nurmalina Suryana INSTITUT PERTANIAN BOGOR Domestic Resource Cost Of Earning or Saving a Unit of Foreign Exchange (Biaya Sumberdaya Domestik

Lebih terperinci

KEUNGGULAN KOMPARATIF KOMODITAS JAGUNG DI KABUPATEN KEDIRI

KEUNGGULAN KOMPARATIF KOMODITAS JAGUNG DI KABUPATEN KEDIRI KEUNGGULAN KOMPARATIF KOMODITAS JAGUNG DI KABUPATEN KEDIRI NAVITA MAHARANI Prodi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Islam Kadiri, Kediri fp.uniska@gmail.com ABSTRAK Penelitian ini dilakukan

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING USAHA PEMBESARAN IKAN NILA PETANI PEMODAL KECIL DI KABUPATEN MUSI RAWAS

ANALISIS DAYA SAING USAHA PEMBESARAN IKAN NILA PETANI PEMODAL KECIL DI KABUPATEN MUSI RAWAS ANALISIS DAYA SAING USAHA PEMBESARAN IKAN NILA PETANI PEMODAL KECIL DI KABUPATEN MUSI RAWAS Competitiveness Analysis of Tilapia Grower Business of Small Farmers in Musi Rawas Regency Verry Yarda Ningsih,

Lebih terperinci

Pendapatan Rata-Rata Peternak Sapi Perah Per Ekor/Bulan

Pendapatan Rata-Rata Peternak Sapi Perah Per Ekor/Bulan LAMPIRAN 82 Lampiran 1. Pendapatan Rata-Rata Peternak Sapi Perah Per Ekor/Bulan No Keterangan Jumlah Satuan Harga Nilai A Penerimaan Penjualan Susu 532 Lt 2.930,00 1.558.760,00 Penjualan Sapi 1 Ekor 2.602.697,65

Lebih terperinci

Ringkasan Eksekutif Analisis Efektivitas Kebijakan Subsidi Pupuk dan Benih: Studi Kasus Tanaman Padi dan Jagung 1

Ringkasan Eksekutif Analisis Efektivitas Kebijakan Subsidi Pupuk dan Benih: Studi Kasus Tanaman Padi dan Jagung 1 Ringkasan Eksekutif Analisis Efektivitas Kebijakan Subsidi Pupuk dan Benih: Studi Kasus Tanaman Padi dan Jagung 1 Kebijakan pemberian subsidi, terutama subsidi pupuk dan benih yang selama ini ditempuh

Lebih terperinci

Jurnal Agribisnis dan Ekonomi Pertanian (Volume 3. No 2 Desember 2009)

Jurnal Agribisnis dan Ekonomi Pertanian (Volume 3. No 2 Desember 2009) 58 ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF KAIN TENUN SUTERA PRODUKSI KABUPATEN GARUT Dewi Gustiani 1 dan Parulian Hutagaol 2 1 Alumni Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen - IPB

Lebih terperinci

DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PENGEMBANGAN USAHATANI BAWANG MERAH DI KECAMATAN BULAKAMBA KABUPATEN BREBES

DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PENGEMBANGAN USAHATANI BAWANG MERAH DI KECAMATAN BULAKAMBA KABUPATEN BREBES Habitat Volume XXV, No. 1, Bulan April 2014 ISSN: 0853-5167 DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PENGEMBANGAN USAHATANI BAWANG MERAH DI KECAMATAN BULAKAMBA KABUPATEN BREBES THE IMPACTS OF GOVERNMENT S

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan dan menganalisis data sesuai dengan tujuan penelitian.

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan dan menganalisis data sesuai dengan tujuan penelitian. 29 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan definisi operasional mencakup pengertian yang dipergunakan untuk mendapatkan dan menganalisis data sesuai dengan tujuan

Lebih terperinci

DAYA SAING USAHATANI LADA DI LAMPUNG

DAYA SAING USAHATANI LADA DI LAMPUNG DAYA SAING USAHATANI LADA DI LAMPUNG Abdul Muis Hasibuan dan Bedy Sudjarmoko Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri ABSTRAK Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kelayakan dan daya

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS KELAPA DI KABUPATEN FLORES TIMUR

ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS KELAPA DI KABUPATEN FLORES TIMUR 350 PARTNER, TAHUN 21 NOMOR 2, HALAMAN 350-358 ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS KELAPA DI KABUPATEN FLORES TIMUR Krisna Setiawan Program Studi Manajemen Agribisnis Politeknik Pertanian Negeri Kupang Jalan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Untuk tingkat produktivitas rata-rata kopi Indonesia saat ini sebesar 792 kg/ha

I. PENDAHULUAN. Untuk tingkat produktivitas rata-rata kopi Indonesia saat ini sebesar 792 kg/ha I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan tradisional yang mempunyai peran penting dalam perekonomian Indonesia. Peran tersebut antara lain adalah sebagai sumber

Lebih terperinci

ANALISIS KEBIJAKAN KOPI ROBUSTA DALAM UPAYA MENINGKATKAN DAYA SAING DAN PENGUATAN REVITALISASI PERKEBUNAN

ANALISIS KEBIJAKAN KOPI ROBUSTA DALAM UPAYA MENINGKATKAN DAYA SAING DAN PENGUATAN REVITALISASI PERKEBUNAN ANALISIS KEBIJAKAN KOPI ROBUSTA DALAM UPAYA MENINGKATKAN DAYA SAING DAN PENGUATAN REVITALISASI PERKEBUNAN Anik Suwandari dan Soetriono Dosen Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian/ Agribisnis Fakultas Pertanian

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Konsep Usahatani Usahatani adalah proses pengorganisasian faktor-faktor produksi yaitu alam, tenaga kerja, modal dan pengelolaan yang diusahakan

Lebih terperinci

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF SERTA IMPLIKASI KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA KOMODITAS JAGUNG DI KABUPATEN BENGKAYANG

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF SERTA IMPLIKASI KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA KOMODITAS JAGUNG DI KABUPATEN BENGKAYANG ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF SERTA IMPLIKASI KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA KOMODITAS JAGUNG DI KABUPATEN BENGKAYANG DODY RADIANSAH 1), RADIAN 2), NURLIZA 3) 1) Alumni Magister Manajemen Agribisnis

Lebih terperinci