IV. METODE PENELITIAN

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "IV. METODE PENELITIAN"

Transkripsi

1 IV. 4.1 METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa Kabupaten Wonosobo merupakan salah satu sentra produksi kentang di Indonesia, khususnya provinsi Jawa Tengah. Pemilihan Kecamatan Kejajar juga dilakjukan secara sengaja (purposive), dengan pertimbangan bahwa Kecamatan Kejajar merupakan daerah yang memberikan kontribusi terbesar terhadap total produksi kentang Kabupaten Wonosobo. Kecamatan Kejajar merupakan salah satu Kecamatan yang memberikan pengaruh besar terhadap total produksi kentang di Kabupaten Wonosobo. Tahun 2010 Kecamatan Kejajar menghasilkan sekitar 85 persen kentang dari total produksi kentang di seluruh Kabupaten Wonosbo dengan luas panen 2695 hektar mampu memproduksi kentang sebanyak 40,708 ton. Selebihnya produksi kentang berada di Kecamatan Garung, Sapuran, Kalikajar, dan Kepil dengan produksi masing-masing Kecamatan sebesar 5,26 ton, 3,65 ton, 1,74 ton dan 0,89 ton (Lampiran 2). Dengan demikian, Kecamatan Kejajar merupakan sentra produksi kentang yang dapat dijadikan contoh daerah yang tepat untuk melakukan analisis dayasaing dan dampak kebijakan pemerintah terhadap komoditas kentang di Kabupaten Wonosobo. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari hingga Maret Metode Penentuan Sampel Pengambilan sampel penelitian ini dilakukan dengan metode acak (simple random sampling). Sampel merupakan petani yang mengusahakan kentang, pedagang pengumpul, serta pedagang input-input pertanian. Petani yang dijadikan responden dalam penelitian ini berjumlah 57 orang yang mewakili dua desa yang berada di Kecamatan Kejajar, yakni Desa Sigedang dan Desa Dieng. Sedangkan untuk pedagang pengumpul dan pedagang input pertanian masing-masing

2 berjumlah 5 dan 2 orang. Tabel 8 menyajikan sebaran petani sampel di Kecamatan Kejajar. Tabel 8. Sebaran Petani Sampel di Kecamatan Kejajar Desa Sigedang Dieng Total 4.3 Jumlah Petani Sampel (Orang) Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara langsung dengan responden ataupun dalam bentuk memberikan kuisioner. Pengumpulan data primer dilakukan dengan metode sampling, dimana penelitian difokuskan pada pemecahan masalah yang aktual dengan pengambilan sampel secara aktual. Data sekunder dapat diperoleh dari penelitian terdahulu dan instansi-instansi terkait seperti Badan Pusat Statistik (BPS), Perpustakaan FEM IPB, Perpustakan LSIIPB, internet dan dinas pertanian daerah ataupun kantor kelurahan. 4.4 Analisis Data Penelitian ini terdiri dari dua tahap, yakni analisis dayasaing dengan menggunakan Policy Analysis Matrix (PAM), dan kedua analisis dayasaing dengan adanya kebijakan menggunakan analisis sensitivitas. Langkah-langkah yang dilakukan dalam analisis data penelitian ini antara lain, pertama adalah penentuan input usahatani kentang, berupa lahan, bibit, pupuk organik dan anorganik, obat-obatan, tenaga kerja, serta peralatan yang diperlukan dalam budidaya kentang. Langkah kedua adalah pengidentifikasian input kedalam komponen input tradable dan non tradable. Input tradable yakni input yang dapat diperdagangkan di pasar internasional baik ekpor maupun impor. Sedangkan input non tradable adalah input yang dihasilkan pasar domestik dan tidak diperdagangkan secara internasional. Langkah ketiga adalah penentuan harga bayangan input dan output, kemudian dianalisis menggunakan Policy Analysis Matrix (PAM). Dan tahap terakhir adalah analisis sensitivitas untuk mengukur

3 dampak perubahan yang kemungkinan akan terjadi akibat kebijakan yang dibuat. Data yang diperoleh diolah menggunakan perangkat lunak Ms. Excel. Dalam kerangka pemikiran disebutkan bahwa PAM merupakan alat analisis yang kaku, sehingga untuk mengatasinya dengan melakukan analisis sensitivitas. Analisis ini dilakukan untuk mengatasi kelemahan PAM yang dalam analisisnya hanya memberlakukan satu tingkat harga padahal keadaan sebenarnya harga tersebut sangat bervariatif. Selain itu analisis ini juga digunakan untuk melihat pengaruh kebijakan pemerintah terhadap kondisi dayasaing kentang di Kabupaten Wonosobo. Hasil analisis PAM digunakan untuk mengidentifikasi petani yang memiliki dayasaing atas kebijakan yang berlaku, dan bagaimana pendapatan mereka jika terjadi perubahan kebijakan. PAM digunakan untuk mengetahui suatu wilayah apakah memiliki tingkat efisiensi yang tinggi atau rendah yang pada akhirnya mempengaruhi suatu wilayah atau negara akan melakukan impor atau memproduksi sendiri. Selain itu PAM juga digunakan untuk menunjukkan suatu kebijakan dapat memperbaiki dayasaing melalui penciptaan efisiensi usaha dan pertumbuhan pendapatan. 4.5 Policy Analysis Matrix (PAM) Terdapat banyak metode pendekatan dan teori untuk menganalisis dayasaing komoditi, yang masing- masing memiliki kekurangan dan kelebihan. Salah satu cara yang dapat digunakan dan dipandang efisien adalah metode Policy Analysis Matrix (PAM) yang telah dikembangkan oleh Monke dan Pearson sejak tahun Policy Analysis Matrix (PAM) mengukur tiga analisis yakni keuntungan privat dan keuntungan sosial atau ekonomi, analisis dayasaing (komparatif dan kompetitif) serta analisis dampak kebijakan pemerintah terhadap komoditas. Oleh karena itu penggunaan metode ini didasarkan pada pendekatan keunggulan kompetitif dan komparatif model PAM dengan formulasi Tabel 9.

4 Tabel 9. Policy Analysis Matrix (PAM) Keterangan Penerimaan Harga privat A B Biaya Input Non Tradable (faktor domestik) C Harga Sosial Efek Divergensi E F G H I J K L Input Tradable Keuntungan D Sumber : Pearson et.al (2005) Keterangan : Keuntungan Privat Keuntungan sosial Transfer Output Transfer Input Transfer Faktor Transfer Bersih Rasio Biaya Privat Rasio Biaya Sumbedaya Domestik Koefisien Proteksi Output Nominal Koefisien Proteksi Input Nominal Koefisien Proteksi Efektif Koefisien Keuntungan : (D) = (A) (B) (C) : (H) = (E) (F) (G) : (I) = (A) (E) : (J) = (B) (F) : (K) = (C) (G) : (L) = (D) (H) = I (J + K) : (PCR) = C / (A - B) : (DRCR) = C / (E - F) : (NPCO) = A / E : (NPCI) = B / F : (EPC) = (A - B) / (E - F) : (PC) = D / H Kelebihan model PAM ini adalah diketahuinya indikator komparatif yang diperoleh dari koefisien DRCR (Domestic Resource Cost Ratio). Analisis ini juga menghasilkan beberapa indikator lain yang terkait dengan variabel dayasaing seperti PCR (Private Cost Ratio) untuk menilai keunggulan kompetitif, NPCO (Nominal Protection Coefficient on Tradable Output), NCPI (Nominal Protection Coefficient on Tradable Input), dan PC (Profitablity Coefficient). Untuk mendapatkan nilai koefisien tersebut, setiap unit biaya (input), output, dan keuntungan dikelompokkan kedalam harga pasar (privat) dan harga sosial. Selisih dari kedua kelompok harga tersebut diperoleh angka transfer untuk menilai dampak kebijakan pemerintah. Penggunaan PAM sebagai metode analisis dalam penelitian ini karena memiliki banyak keunggulan (Pearson et.al, 2005) yaitu : a) PAM merupakan metode analisis yang efektif sehingga digunakan secara luas dalam analisis kebijakan pertanian b) PAM merupakan metode analisis yang sederhana sehingga mudah diaplikasikan dalam analisis kebijakan pertanian

5 c) PAM merupakan metode analisis yang fleksibel sehingga dapat digunakan untuk menganalis proyek maupun kebijakan pemerintah d) PAM merupakan metode analisis yang dapat digunakan untuk mengukur dampak kebijakan dan kegagalan pasar dalam sistem perekonomian e) PAM merupakan metode analisis yang dapat digunakan untuk menilai proyek investasi publik dan kebijakan publik di sektor publik f) Hasil analisis PAM mudah dikomunikasikan kepada pembuat kebijakan (Policy Maker) g) Hasil analisis PAM dapat menunjukkan pengaruh individual maupun kolektif dari kebijakan h) PAM dapat memberikan informasi dasar (Base Line Information) yang penting bagi Benefit-Cost Analysis Analisis Keuntungan Kuntungan didefinisikan sebagai penerimaan dikurangi biaya yang dikeluarkan. Analisis keuntungan terdiri dari keuntungan privat dan keuntungan sosial. Keuntungan privat (KP) menunjukkan selisih antara penerimaan dengan harga atau biaya aktual yang terjadi di pasar. Nilai KP yang lebih besar dari nol berarti kebijakan pemerintah atau komoditi yang diusahakan secara finansial menguntungkan. Sebaliknya jika KP kurang dari nol maka kegiatan usaha tidak menguntungkan pada kondisi intervensi pemerintah terhadap input dan output. Berdasarkan Tabel 9 diperoleh rumus perhitungan keuntungan privat, yakni: Kuntungan Privat (KP) ; D = A (B + C) D = Keuntungan Privat A = Penerimaan Privat B = Biaya Input Tradable Privat C = Biaya Input Non Tradable (domestik) Privat Keuntungan sosial (KS) menunjukkan selisih antara penerimaan dengan biaya yang dinilai dengan harga sosial. Jika nilai KS lebih besar dari nol, kondisi pasar yang terjadi yakni persaingan sempurna, kegiatan pengusahaan komoditi dapat dilanjutkan karena menguntungkan atau dengan kata lain memiliki keunggulan komparatif. Jika nilai KS kurang dari atau sama dengan nol maka

6 kegiatan usaha tidak menguntungkan secara ekonomi. Adapun rumus untuk menghitung keuntungan sosial berdasarkan Tabel 9 yakni: Keuntungan Sosial (KS) ; H = E (F + G) H = Keuntungan Sosial E = Penerimaan Sosial F = Biaya Input Tradable Sosial G = Biaya Input Non Tradable (domestik) Sosial Analisis Efisiensi Tingkat efisiensi pengusahaan suatu komoditi dapat dilihat dari dua indikator yaitu indikator keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif. Keunggulan komparatif dapat dilihat dari nilai Rasio Biaya Private (Private Cost Ratio atau PCR) yakni rasio anatara biaya input domestik privat dengan nilai tambah privat. Jika nilai PCR lebih kecil dari satu, berarti untuk meningkatkan nilai tambah output sebesar satu satuan diperlukan tambahan biaya faktor domestik lebih kecil dari satu satuan. Dengan kata lain pengusahaan komoditi tersebut efisien secara finansial atau memiliki keunggulan kompetitif pada saat kebijakan pemerintah. Sebaliknya jika nilai PCR lebih besar atau sama dengan satu maka untuk meningkatkan nilai tambah output sebesar satu satuan diperlukan tambahan biaya daktor domestik lebih besar dari satu satuan. Private Cost Ratio (PCR) = C / (A B) PCR = Rasio Keuntungan Privat C = Biaya Input Non Tradable (domestik) Privat A = Penerimaan Privat B = Biaya Input Tradable Privat Keunggulan komparatif dilihat dari nilai Rasio Biaya Sumberdaya Domestik (Domestic Resource Cost atau DRC). Jika nilai DRC lebih kecil dari satu maka pengusahaan komoditi efisen secara ekonomi atau memiliki keunggulan komparatif pada kondisi tanpa adanya kebijakan atau nilai tambah yang dihasilkan melebihi biaya sumberdaya domestik yang digunakan. Sedangkan jika nilai DRC lebih dari satu maka penggunaan sumberdaya tidak efisien atau dengan kata lain nilai sosial faktor domestik yang digunakan untuk memproduksi

7 komoditas tersebut melebihi nilai yang digunakan utnuk memproduksi komoditas tersebut melebihi nilai tambah sosialnya. Domestic Resource Cost Ratio (DRC) = G / (E F) DRC = Rasio Keuntungan Sosial G = Biaya Input Non Tradable (domestik) Sosial E = Penerimaan Sosial F = Biaya Input Tradable Sosial Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah Dampak kebijakan dalam penerapan PAM meliputi dampak kebijakan pemerintah terhadap output, input dan dampak kebijakan terhadap input-output. 1) Dampak Kebijakan Output Kebijakan pemerintah terhadap output dijelaskan oleh Nilai Transfer Output (TO) dan Koefisien Proteksi Output Nominal (Nominal Protection Coefficient on Output atau NPCO). Transfer output adalah selisih pendapatan privat dengan pendapatan sosial. Nilai transfer output yang positif menyebabkan timbulnya implisit subsidi atau transfer sumberdaya yang menambah keuntungan. Dengan kata lain masyarakat membeli produk dengan harga yang lebih tinggi dari harga yang seharusnya diterima. Jika nilai transfer output bernilai negatif menyebabkan implisit pajak atau transfer sumberdaya yang mengurangi keuntungan. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat kebijakan subsidi negatif pada output yang menyebabkan harga privat lebih rendah daripada harga sosialnya. Untuk output ekspor, angka negatif menunjukkan bahwa kebijakan menyebabkan harga yang output yang diterima oleh produsen di dalam negeri lebih kecil dari harga di pasar dunia. Berdasarkan matrik PAM pada Tabel 9, nilai TO dapat dirumuskan sebagai berikut : Transfer Output (TO) = A E TO = Transfer Faktor A = Penerimaan Privat E = Penerimaan Sosial

8 Koefisien Proteksi Output Nominal (NPCO) merupakan rasio yang dibuat untuk mengukur output transfer (TO) serta menunjukkan seberapa besar harga domestik (harga privat) berbeda dengan harga sosial. Berdasarkan analisis PAM pada Tabel 9, bila NPCO lebih besar dari satu atau positif, berarti harga domestik lebih tinggi daripada harga impor atau ekspor dan pengusahaan komoditi tersebut menerima proteksi. NPCO yang bernilai negatif menunjukkan adanya kebijakan pemerintah, harga privat lebih kecil dari harga dunia, sehingga dapat dikatakan produsen output memberikan transfer kepada pemerintah. Dengan kata lain, harga domestik atau privat tidak di proteksi oleh pemerintah. Nominal Protection Coefficient on Tradable Output (NPCO) = A / E NPCO = Rasio Proteksi Output Nominal A = Penerimaan Privat E = Penerimaan Sosial 2) Dampak Kebijakan Input Dampak kebijakan pemerintah terhadap input tradable dijelaskan dengan Transfer Input (TI) dan Koefisien Proteksi Input Nominal (NPCI), sedangkan dampak kebijakan input domestik dijelaskan oleh Transfer Faktor (TF) (Tabel 9). Nilai Transfer Input menujukkan biaya input tradable berbeda dengan biaya sosialnya. Nilai TI positif menunjukkan kebijakan pemerintah pada input tradable menyebabkan keuntungan yang diterima secara privat lebih besar dibandingkan tanpa adanya kebijakan. Nilai TI negatif menunjukkan kebijakan pemerintah menyebabkan keuntungan yang diterima secara finansial lebih kecil dibandingkan tanpa adanya kebijakan. Transfer Input (TI) = B F TI = Transfer Input B = Input Tradable Privat F = Input Tradable Sosial NPCI merupakan rasio untuk mengukur transfer input tradable. Rasio ini juga menunjukkan besarnya harga domestik atau privat dari input tradable dengan harga sosialnya. Bila nilai NPCI lebih dari satu menunjukkan biaya input domestik lebih mahal dari biaya input pada tingkat dunia. Dengan kata lain,

9 kegiatan usaha seolah-olah dibebani pajak yang sangat merugikan produsen. Bila NPCI lebih kecil dari satu, harga domestik lebih rendah atau sama dengan harga dunia, atau adanya hambatan ekspor input, sehingga produksi menggunakan input lokal. Nominal Protection Coefficient on Tradable Input (NPCI) = B / F NPCI = Rasio Proteksi Input Nominal B = Input Tradable Privat F = Input Tradable Sosial Nilai Transfer Faktor menunjukkan pengaruh kebijakan pemerintah terhadap produsen dan konsumen yang berbeda dengan kebijakan pada input tradable. Nilai TF menunjukkan besarnya subsidi terhadap input non tradable. Bila nilai transfer faktor negatif berarti terdapat subsidi positif pada input non tradable. Transfer Faktor (TF) = C G TF = Transfer Faktor C = Biaya Input Non Tradable (domestik) Privat G = Biaya Input Non Tradable (domestik) Sosial 3) Dampak Kebijakan Input Output Pengaruh kebijakan Input-Output dapat dijelaskan melalui analisis Koefisien Proteksi Efektif (Effective Protection Coeffisien atau EPC), Transfer Bersih (NT), Koefisien Keuntungan (PC), dan Rasio Subsidi bagi Produsen (SRP). Koefisien Proteksi Efektif (EPC) merupakan rasio antara nilai tambah pada harga privat dengan nilai tambah harga sosial atau analisis gabungan proteksi output dengan proteksi input. Nilai EPC menggambarkan arah kebijakan pemerintah bersifat melindungi atau menghambat produksi domestik secara efektif. Nilai EPC lebih besar dari satu menunjukkan kebijakan untuk melindungi produsen domestik berjalan dengan efektif. Jika EPC lebih kecil dari satu maka kebijakan untuk melindungi produsen domestik tidak berjalan dengan baik. Effective Protection Coeffisien (EPC) = (A B) / (E F)

10 EPC = Koefisien Proteksi Efektif A = Penerimaan Privat B = Biaya Input Tradable Privat E = Penerimaan Sosial F = Biaya Input Tradable Sosial Transfer bersih (Net Transfer atau NT) menunjukkan selisih antara keuntungan privat dan keuntungan sosial. Nilai NT juga menggambarkan selisih antara transfer output dengan transfer input. Jika nilai NT lebih besar dari nol, maka nilai tersebut menunjukkan tambahan surplus produsen yang disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang dilakukan pada input dan output. Sebaliknya NT lebih kecil dari nol maka yang terjadi adalah sebalikya. Berdasarkan Tabel 9 diperoleh rumus net transfer yakni: Net Transfer (NT) = D H NT = Transfer Bersih D = Keuntungan Privat H = Keuntungan Sosial Koefisien keuntungan (Profitability Coefficient atau PC) adalah rasio antara keuntungan privat dan keuntungan sosial. Nilai PC kurang dari satu menunjukkan kebijakan pemerintah membuat keuntungan yang diterima produsen lebih kecil bila dibandingkan tanpa ada kebijakan. Sebaliknya jika nilai PC lebih dari satu maka kebijakan pemerintah membuat keuntungan yang diterima oleh produsen lebih besar dibandingkan tanpa ada kebijakan. Profitability Coefficient (PC) = D / H PC = Koefisien Keuntungan D = Keuntungan Privat H = Keuntungan Sosial Rasio subsidi bagi produsen (Subsidi Ratio to Producers atau SRP) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur semua dampak transfer. SRP dirumuskan sebagai berikut : Subsidy Ratio to Produce (SRP) = L / E

11 SRP = Rasio Subsidi Produsen L = Keuntungan Efek Divergensi E = Penerimaan Sosial Subsidi Ratio to Producers (SRP) menunjukkan sejauhmana pendapatan dari usaha meningkat atau menurun karena pengaruh transfer. Nilai SRP negatif menunjukkan kebijakan pemerintah yang berlaku membuat produsen mengeluarkan biaya produksi lebih besar dari biaya imbangan untuk berproduksi dan sebaliknya jika Nilai SRP positif, menunjukkan kebijakan pemerintah yang berlaku membuat produsen mengeluarkan biaya produksi lebih kecil dari biaya imbangan untuk berproduksi. 4.6 Identifikasi Input Output Alokasi Komponen Input Tradable dan Non Tradable Dalam Policy Analysis Matrix (PAM), input yang digunakan dalam proses produksi dapat dibedakan menjadi tradable dan non tradable. Kedua komponen di atas merupakan bagian dari pendekatan yang digunakan untuk mengalokasikan biaya kedalam komponen domestik dan asing, yaitu pendekatan total dan pendekatan langsung. Pendekatan langsung mengasumsikan bahwa seluruh biaya input tradable, baik yang diimpor maupun produksi domestik dinilai sebagai komponen biaya asing dan dapat dipergunakan jika tambahan permintaan input tradable dapat dipenuhi dari perdagangan internasional. Dengan kata lain, input non tradable yang bersumber dari pasar domestik ditetapkan sebagai komponen domestik dan input asing yang dipergunakan dalam proses produksi barang non tradable dihitung sebagai komponen biaya asing. Pendekatan total mengasumsikan bahwa setiap biaya input tradable dibagi kedalam biaya domestik dan asing, penambahan input tradable dapat dipenuhi dari produksi domestik jika input tersebut memiliki kemungkinan diproduksi di dalam negeri Alokasi Biaya Produksi Biaya produksi merupakan biaya yang dikeluarkan secara tunai maupun sudah diperhitungkan untuk menghasilkan produk akhir yang siap di pasarkan ataupun dikonsumsi. Penentuan alokasi biaya produksi kedalam komponen asing

12 dan domestik didasarkan atas jenis input, penilaian biaya input asing dan domestik dalam biaya total input. Data alokasi biaya produksi komoditas kentang di lokasi penelitian pada Tabel 10 menunjukkan bahwa input produksi bibit kentang, pupuk organik, tenaga kerja, penyusutan peralatan, bunga modal, sewa lahan, dan PBB tidak mengandung komponen asing dalam usahatani kentang. Sedangkan input produksi yang mengandung komponen asing (tradable) yang digunakan dalam penelitian ini adalah pupuk anorganik dan pestisida. Adanya komponen biaya asing (tradable) pada input pupuk anorganik dan pestisida karena bahan baku yang digunakan untuk memproduksi input tersebut masih diperoleh dengan mengimpor dari negara lain. Tabel 10. Alokasi Biaya Produksi Komoditas Kentang di Lokasi Penelitian No Biaya Benih Pupuk* Urea TSP KCL NPK ZA Pupuk Organik Pestisida** Biaya Tenaga Kerja Penyusutan Peralatan Bunga Modal Sewa Lahan Pajak Domestik (%) 100 Asing (%) Sumber : * Arsanti, dkk (2001) ** Saptana, dkk (2001) 4.7 Penentuan Harga Bayangan atau Harga Sosial Dalam analisis ekonomi, harga yang digunakan adalah harga sosial atau harga bayangan, karena harga pasar tidak mencerminkan biaya imbangan sosialnya dan tidak mencerminkan korbanan yang dikeluarkan jika sumberdaya tersebut dipakai untuk kegiatan lain. Harga bayangan dilakukan dengan cara menyesuaikan terhadap penyimpangan harga yang terjadi akibat kebijakan pemerintah (subsidi, pajak, tarif, kebijakan harga) maupun distorsi pasar.

13 Menurut Gitinger (1986), harga bayangan adalah sebagian harga yang terjadi dalam perekonomian pada kondisi pasar persaingan sempurna dan dalam keadaan kesimbangan sosial yang sama dengan harga pasar aktual. Namun dalam kenyataannya sulit ditemukan kondisi pasar dalam kondisi keseimbangan. Jika diasumsikan bahwa perdagangan di pasar internasional adalah bersaing sempurna, maka harga bayangan untuk input dan output yang bersifat tradable dapat menggunakan harga batas atau harga bayangan (shadow price). Untuk komoditi yang diekpor atau potensial ekspor akan digunakan harga FOB (Free on Board) dan untuk barang yang diimpor akan menggunakan CIF (Cost, Insurance, and Freight). Sedangkan penggunaan Harga bayangan untuk input non tradable menggunakan biaya imbangan (opportunity cost) Harga Bayangan Output Harga bayangan output adalah harga output yang terjadi di pasar dunia apabila diberlakukan pasar bebas dan harga yang digunakan adalah harga batas (border price). Harga bayangan output untuk komoditas ekspor atau berpotensi ekspor digunakan harga perbatasan FOB. Sedangkan harga bayangan output untuk komoditas impor digunakan harga perbatasan CIF. Penelitian ini dalam menghitung harga bayangan kentang menggunakan harga CIF karena volume ekspor kentang lebih rendah dibandingkan volume impornya. Harga CIF ini akan dikonversi dengan SER dan dikurangi biaya tataniaga berupa transportasi dan handling dari pelabuhan ke lokasi penelitian. Penentuan harga CIF dapat dihitung dari harga FOB kentang ditambah dengan biaya Freight and Insurance. Harga kentang FOB yang digunakan berdasarkan harga yang diperoleh Gaomi Youning Primary Product Co., Ltd., yakni 700 US Dollar per Ton9). Harga FOB tersebut kemudian dijumlahkan dengan biaya Freight and Insurance dari China ke Indonesia yang ditentukan dari besarnya pajak yang harus dikeluarkan berdasarkan keputusan Direktorat Jendral Pajak sebesar 10 persen dari harga FOB untuk komoditas yang berasal dari Asia 9 Gaomi Youming Primary Product Co., Ltd Fresh Chinese Potato (di akses tanggal 8 April 2012)

14 yang bukan negara anggota Asean10), sehingga nilai CIF yang diperoleh sebesar 770 US Dollar per Ton. Harga CIF dalam mata uang domestik sebesar Rp 6697,03 per kilogram. Harga tersebut sudah dikonversi dengan besarnya harga bayangan nilai tukar (SER) sebesar Rp 8697,44 per US Dollar tahun Hasil tersebut dikurangi dengan biaya distribusi ke tingkat petani sebesar Rp 800,00 per kilogram kentang, sehingga didapat harga paritas di tingkat petani untuk kentang sebesar Rp 5777,03 per kilogram. Biaya distribusi merupakan jumlah keuntungan yang diperoleh suplier dan biaya distribusi dari provinsi ke desa (Lampiran 3,4). Diasumsikan harga bayangan yang digunakan untuk kedua lokasi penelitian adalah sama. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari pedagang pengumpul di wilayah penelitian tingkat harga yang ditawarkan adalah sama Harga Bayangan Input Perhitungan harga bayangan input yang tradable sama dengan perhitungan harga bayangan output, yaitu dengan menggunakan harga perbatasan (border price), yaitu komoditi ekpor menggunakan harga FOB dan komoditi impor menggunakan CIF. Sedangkan untuk perhitungan harga bayangan input yang non tradable digunakan harga domestik setelah mengeluarkan beberapa faktor domestik. a) Harga Bayangan Bibit Kentang. Penentuan harga bayangan bibit kentang didasarkan pada harga yang ada di pasar tempat penelitian. Bibit yang digunakan merupakan bibit pengembangbiakan sendiri yang dilakukan oleh petani berdasarkan dari hasil panen sebelumnya. Bibit digunakan hingga produktivitas kentang menurun ketika panen. Sumber bibit sendiri berasal dari penangkaran kentang daerah Kledung, yakni Kebun Benih Hortilutura (KBH) Kledung. Dilain pihak juga tidak ada campur tangan pemerintah atau kebijaan pemerintah yang mengatur produksi bibit kentang tersebut secara langsung. Sehingga harga bayangan bibit kentang diasumsikan sama dengan harga privat bibit kentang di lokasi penelitian. Untuk Desa Sigedang harga bayangan bibit kentang sebesar Rp 9.648,15 per kilogram. 10 Contoh Perhitungan Bea Masuk dan Pajak Dalam Rangka Impor dan Impor Sementara. (di akses tanggal 8 April 2012)

15 Sedangkan harga bayangan untuk bibit kentang di Desa Dieng adalah sebesar Rp 5.933,33 per kilogram. Perbedaan harga ini dikarenakan sebagian besar petani di Desa Sigedang menggunakan bibit kentang kualitas yang lebih baik dengan harga yang relatif lebih mahal daripada harga bibit kentang yang berasal dari panen sebelumnya, sehingga harga rata-rata untuk bibit yang digunakan menjadi lebih mahal daripada harga rata-rata bibit kentang di Desa Dieng. b) Harga Bayangan Pupuk Anorganik Berdasarkan peraturan menteri pertanian No. 06/Permentan/SR.130 /2/2011, pupuk anorganik adalah pupuk hasil proses rekayasa secara kimia, fisika dan atau biologi, dan merupakan hasil industri atau pabrik pembuat pupuk. Pupuk yang digunakan dalam usahatani kentang terdiri dari beberapa jenis pupuk, diantaranya pupuk Urea, TSP/SP-36, KCL, Za dan NPK. Berdasarkan pertimbangan dalam Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 06/Permentan/SR.130/2011, bahwa untuk meningkatkan kemampuan petani dalam penerapan pemupukan berimbang diperlukan adanya subsidi pupuk. Jenis pupuk yang mendapat subsidi dari pemerintah yakni, pupuk Urea, SP-36, Za, dan NPK. Penentuan harga bayangan pupuk anorganik didasarkan pada pendekatan harga internasional. Hal ini dikarenakan besarnya subsidi masing-masing pupuk tersebut tidak diketahui. Asumsi lain yang digunakan dalam perhitungan harga bayangan pupuk anorganik yakni, harga paritas impor di tingkat pedagang akan ditambah dengan biaya ditribusi hingga ke tingkat petani. Namun pada pupuk Urea harga paritas yang digunakan adalah harga paritas ekspor di tingkat pedagang dikurangi dengan biaya distribusi ketingkat petani karena Indonesia telah mampu mengekspor pupuk Urea ke negara lain. Penentuan harga bayangan pupuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 5. i. Pupuk Urea Harga bayangan pupuk urea dalam penelitian ini menggunakan harga paritas ekspor karena Indonesia telah mampu mengekspor Urea ke negara lain. Berdasarkan Keputusan Menteri Kuangan RI No 356/KMK.06/2003 tentang Tata Cara Perhitungan dan Pembayaran Subsidi Pupuk, besaran subsidi untuk pupuk urea dihitung berdasarkan selisih harga gas sesuai kontrak dengan harga gas yang

16 dibebankan kepada produsen pupuk kemudian dikalikan volume pemanfaatan gas. Penentuan harga bayangan pupuk urea didasarkan pada harga FOB urea rata-rata di Black Sea tahun 2011 sebesar 420,96 US Dollar per Ton11), karena jumlah dan tempat terbesar bahan baku Urea berasal dari negara-negara anggota Black Sea. Nilai tersebut kemudian ditambahkan dengan biaya Freight and Insurance sebesar 63,14 US Dollar per Ton yang berasal dari besarnya pajak yang ditentukan dirjen pajak sebesar 15 persen dari FOB urea rata-rata12). Rata-rata harga bayangan pupuk urea adalah sebesar Rp 3945,09 per kilogram. Nilai tersebut diperoleh setelah di konversi dengan SER dan dikurangi biaya tataniaga. ii. Pupuk TSP/SP-36 Pada penelitian ini data mengenai besaran subsidi pupuk non urea yang diberikan pemerintah sangat sulit diperoleh, sehingga penentuan harga bayangan pupuk TSP/SP-36 berdasarkan pada harga rata-rata TSP di Tunisia. Seperti Black Sea, Tunisia merupakan salah satu negara penghasil bahan baku pupuk TSP di dunia, sehingga penentuan harga bayangan pupuk TSP berdasarkan FOB rata-rata pada tahun 2011 sebesar 538,26 US Dollar per Ton13). Nilai tersebut kemudian ditambahkan nilai pengapalan dan asuransi sebesar 80,74 US Dollar per Ton, selanjutnya dikalikan nilai tukar bayangan tahun 2011 sebesar Rp 8697,44 per US Dollar, diperoleh Harga CIF sebesar Rp 5383,71 per kilogram. Hingga tingkat pedagang besar harga paritas impor diperoleh sebesar Rp 5472,71 per kilogram, namun setelah ditambah dengan biaya distribusi hingga ke tingkat desa diperoleh harga bayangan sebesar Rp 5618,09 per kilogram. iii. Pupuk KCL Penentuan harga bayangan pupuk KCL berdasarkan harga FOB rata-rata Potassium Chloride pada tahun 2011 yakni 435,28 US Dollar per Ton. Penentuan FOB rata-rata di Vancouver ini dikarenakan informasi mengenai subsidi harga tersebut sulit diperoleh. Vancouver merupakan daerah penentuan standard grade Potassium chloride yang merupakan bahan baku pupuk KCL. Harga CIF pupuk 11 Worldbank.org Contoh Perhitungan Bea Masuk dan Pajak Dalam Rangka Impor dan Impor Sementara. (di akses tanggal 8 April 2012) 13 Worldbank.org 12

17 KCL yakni sebesar Rp 4353,69 per kilogram. Nilai tersebut didapatkan dengan menambahkan nilai FOB rata-rata dan kegiatan pengapalan dan asuransi 15 persen dari nilai rata-rata FOB, kemudian dikonversi dengan nilai SER pada tahun 2011 sebesar Rp 8697,44 per US Dollar. Setelah ditambah dengan biaya ditribusi dari provinsi ke desa, harga bayangan pupuk KCL di tingkat petani diperoleh sebesar Rp 4577, 12 per kilogram. iv. Pupuk Za Harga bayangan pupuk Za hingga di tingkat petani adalah sebesar Rp 1916,97 per kilogram. Penentuannya didasarkan pada harga FOB rata-rata Ammonium Sulphate di Jiaocheng Sanxi Chemical Co., Ltd., China pada tahun 2011 sebesar 180 US Dollar per Ton. Nilai tersebut ditambah dengan biaya pengapalan dan asuransi (Freight and Insurance) 10 persen dari FOB rata-rata, sehingga didapatkan harga CIF Indonesia sebesar 198 US Dollar per Ton. Selanjutnya nilai tersebut dikalikan nilai tukar bayangan pada tahun 2011 sebesar Rp 8697,44 per US Dollar. Nilai tersebut kemudian ditambahkan dengan biaya disstribusi dari tingkat provinsi ke tingkat desa, sehingga di dapatkan harga bayangan pupuk Za. Penggunaan FOB dari negara China karena China merupakan salah satu negara pengekspor pupuk Za terbesar untuk Indonesia. v. Pupuk NPK Pabrik-pabrik pupuk di Indonesia sebenarnya mampu memproduksi pupuk NPK, namun sulitnya memperoleh data jumlah pupuk NPK yang beredar di pasar dan harga rata-rata pupuk NPK yang beredar di pasar. Penentuan harga bayangan pupuk NPK berdasarkan harga FOB rata-rata di Planer Chemical Fertilizer Industries Co., Ltd., sebesar 350 US Dollar per Ton. Selanjutnya nilai tersebut ditambahkan dengan nilai pengapalan dan asuransi sebesar 10 persen dari harga FOB rata-rata. Nilai yang di peroleh tersebut kemudian dikalikan dengan nilai SER atau nilai tukar bayangan pada tahun 2011 sebesar Rp 8597,44 per US Dollar, sehingga diperoleh harga bayangan pupuk NPK sebesar Rp 3699,19 per kilogram yang sebelumnya terlebih dahulu ditambahkan biaya transportasi dari provinsi hingga ke desa.

18 c) Harga Bayangan Pupuk Organik. Pupuk organik yang digunakan dalam usahatani kentang biasanya berupa pupuk kandang. Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 06/Permentan/SR.130/2011, pupuk Organik termasuk salah satu jenis pupuk yang disubsidi oleh pemerintah. Namun penentuan harga bayangan pupuk organik akan ditentukan berdasarkan harga pasar dengan pertimbangan tidak ada campur tangan dari pihak pemerintah. Harga bayangan pupuk ditentukan berdasarkan mekanisme pasar (pasar bebas), sehingga pendekatan harga bayangan pupuk organik sama seperti harga aktual yang terjadi di pasar. Harga bayangan pupuk organik untuk Desa Sigedang sebesar Rp 325,07 per kilogram, sedangkan Desa Dieng sebesar Rp 340,43 per kilogram. d) Harga Bayangan Pestisida Pada dasarnya dalam menentukan harga bayangan input produksi yang termasuk komoditi tradable tidak berbeda dengan penentuan harga bayangan input pupuk anorganik. Pestisida merupakan salah satu input yang termasuk dalam input tradable. Sehingga harga bayangan seharusnya ditentukan berdasarkan harga border price. Meskipun sudah ada pestisida yang diproduksi di dalam negeri, namun sebagian besar bahan bakunya didatangkan atau diimpor dari luar negeri, sehingga harga bayangan pestisida ditentukan berdasarkan harga CIF. Penentuan harga bayangan pestisida akan didasarkan pada rata-rata harga yang ada di pasar sekitar lokasi penelitian. Hal ini berdasarkan pada saat ini perdagangan pestisida telah diserahkan kedalam mekasnisme pasar dan tidak ada campur tangan pemerintah ditambah subsisdi untuk pestisida sudah tidak berlaku. Dengan demikian harga sosial atau harga bayangan pestisida sama dengan harga privat atau harga aktualnya. Dalam penelitian ini pestisida dikategorikan kedalam jenis pestisida padat dan cair, karena penggunaan pestisida tiap petani berbeda satu sama lain. Kondisi tanaman yang terjadi pada saat budidaya berbeda tiap petani sehingga menuntut perlakuan yang berbeda. Harga bayangan pestisida Cair untuk Desa Sigedang dan Desa Dieng masing-masing sebesar Rp ,36 per liter dan Rp ,33 per liter, sedangkan pestisida padat masing-masing desa sebesar Rp ,52 per kilogram dan Rp ,67 per kilogram.

19 e) Harga Bayangan Peralatan Peralatan termasuk ke dalam input non tradable. Sehingga penentuan harga bayangan menggunakan harga domestik. Peralatan yang digunakan untuk menunjang kegiatan usahatani kentang antara lain, cangkul, terpal, ember, sabit, kerangjang, sprayer tank, dan mulsa. Penentuan harga bayangan diserahkan kedalam mekanisme pasar, yakni berdasarkan harga pasar. Selain tidak adanya campur tangan pemerintah, kondisi pasar yang mendekati persaingan sempurna juga berpengaruh karena distorsi pasar akan relatif lebih kecil. f) Harga Bayangan Tenaga Kerja Penentuan harga bayangan tenaga kerja budidaya kentang di lokasi penelitian mengacu pada penelitian Dewanata (2011) yang mengatakan jika terdapat pengangguran disuatu tempat maka harga bayangan tenaga kerjanya sama dengan nol. Hal ini sesuai dengan pernyataan (Pearson, 2005) bahwa harga sosial untuk tenaga kerja diestimasi dengan prinsip social opportunity cost. Karena faktor sumberdaya domestik tidak diperdagangkan secara internasional, maka faktor tersebut tidak ada harga dunianya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa social opportunity cost untuk tenaga kerja yang menganggur adalah nol. Dalam penelitian ini faktor tenaga kerja di klasifikasikan menurut gender, yakni pria dan wanita. Dimana produktivitas tenaga kerja berbeda nyata dalam kategori tersebut yang bisa menyebabkan perbedaan tingkat upah. Penentuan upah bayangan tenaga kerja secara umum dapat di formulasikan sebagai berikut : ℎ Dimana : = ( 100% % HB : harga bayangan HA : harga aktual ) ℎ Berdasarkan data yang diperoleh, jumlah tingkat pengangguran terbuka di Kabupaten Wonosobo sebesar 3,62 persen, sehingga harga bayangan upah kerja tidak terdidik dilokasi penelitian sebesar 96,38 persen dari upah finansialnya14). Upah finansial atau privat di Desa Sigedang untuk pria dan wanita masing-masing Rp ,44 per HOK dan Rp ,85 per HOK. Upah finansial berasal dari rata-rata upah yang dibayarkan kepada tenaga kerja yang berasal dari luar 14 Kabupatenwonosobo.com

20 keluarga selama kegiatan usahatani berlangsung. Sehingga harga bayangan upah tenaga kerja pria dan wanita untuk Desa Sigedang diperoleh masing-masing sebesar Rp per HOK dan Rp per HOK. Sedangkan Desa Dieng dengan upah finansial sebesar Rp ,73 per HOK untuk pria dan Rp ,17 per HOK untuk wanita, diperoleh harga bayangan upah tenaga kerja di Desa Dieng masing-masing sebesar Rp per HOK dan Rp per HOK. g) Harga Bayangan Lahan Lahan merupakan faktor produksi terpenting dalam kegiatan usahatani yang termasuk kedalam input faktor domestik (non tradable). Menurut Gitinger (1986), bahwa menentukan harga bayangan lahan adalah dengan memakai nilai sewa yang diperhitungkan setiap musim. Sedangkan menurut Monke dan Pearson (1989), harga bayangan lahan ditentukan berdasarkan pendapatan dari tanah untuk tanaman alternatif terbaik. Dalam penelitian ini harga sosial atau bayangan lahan akan mengacu pada Gitinger (1986), yaitu memakai nilai sewa yang diperhitungkan setiap musim. Lokasi lahan dan kemudahan akses transportasi dan infrasruktur akan memberikan perbedaan yang signifikan terhadap harga sewa lahan. Harga bayangan lahan untuk Desa Sigedang dan Desa Dieng masingmasing sebesar Rp ,52 per hektar dan Rp per hektar. h) Harga Bayangan Modal Analisis PAM mengkategorikan biaya modal kedalam dua kategori, yaitu modal kerja dan modal investasi. Modal investasi merupakan pengeluaran atas aset yang memberikan kegunaan dan manfaat (benefit) dalam periode panjang atau lebih dari satu tahun. Sedangkan modal kerja adalah biaya tunai yang harus dibayar petani seperti upah tenaga kerja dan pembelian input dalam kurun waktu satu tahun. Tingkat suku bunga modal diperlukan dalam menghitung biaya tunai yang dikeluarkan pada proses usahatani mulai tanam hingga pascapanen (Pearson et.al. 2005). Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di lokasi peneltian bahwa seluruh modal yang digunakan untuk kegiatan usahatani kentang berasal dari modal pribadi. Sehingga, penentuan tingkat suku bunga modal privat berasal dari tingkat suku bunga doposito di bank BRI yang terletak dilokasi penelitian, dimana tingkat suku bunga depositonya sebesar enam persen.

21 Penentuan harga bayangan modal menggunakan pendekatan arbitrary rule of thumb (pendekatan kira-kira), yaitu pengalaman peneliti lain untuk negara berkembang dengan tahap pembangunan yang sama dengan Indonesia. Berdasarkan pendekatan itu diduga tingkat bunga sosial untuk modal kerja di Indonesia sekitar 15 persen per tahun ditambah dengan tingkat inflasi (Pearson et.al. 2005). Tingkat inflasi di Indoensia menurut Badan Pusat Statistik pada tahun 2011 mencapai 3,8 persen. Sehingga harga bayangan modal yang digunakan di lokasi penelitian sebesar 18,80 persen per tahun. i) Harga Bayangan Nilai Tukar Nilai tukar rupiah ditetapkan berdasarkan atar perkembangan nilai tukar mata uang asing. Acuan mata uang asing tersebut yakni US Dollar pada tahun Rumusan formula dalam menentukan harga bayangan nilai tukar mata uang, yakni : = Keterangan : SCR : Nilai Tukar Bayangan (Rp/US$) OER : Nilai Tukar Resmi (Rp/US$) SCF : Faktor Konversi Standar Nilai faktor konversi standar yang merupakan rasio dari nilai impor dan ekspor ditambah pajaknya dapat ditentukan sebagai berikut. = ( + )+ ( + ) Keterangan : SCFt : Faktor Konversi Standar untuk tahun ke-t Xt : Nilai Ekspor Indonesia untuk tahun ke-t (Rp) Mt : Nilai Impor Indonesia untuk tahun ke-t (Rp) Txt : Penerimaan Pemerintah dari pajak ekpor untuk tahun ke-t (Rp) Tmt : Penerimaan Pemerintah dari pajak impor untuk tahun ke-t (Rp) Harga bayangan nilai tukar dihitung berdasarkan metode di atas yang didasarkan pada informasi total nilai ekpor dan impor Indonesia tahun 2011, serta total nilai penerimaan pemerintah dari pajak ekpor dan impor Indonesia tahun Berdasarkan nilai yang diperoleh nilai ekspor Indonesia (Xt) pada tahun

22 2011 sebesar Rp ,00, nilai impor Indonesia (Mt) sebesar Rp ,00, penerimaan pemerintah dari pajak ekspor (Txt) sebesar Rp ,00, dan penerimaan pemerintah dari pajak impor (Tmt) adalah sebesar Rp ,0015). Menurut Saptana (1999) dalam Feryanto (2010) dengan adanya kebijakan makro yang diterapkan di Indonesia bahwa sejak tahun 1996 Indonesia menerapkan nilai tukar bebas atau mengambang (floating exchange rate), serta kebijakan deregulatif berupa penurunan tarif bea masuk dan pajak ekspor maka diasumsikan nilai tukar mata uang yang terjadi di pasar uang dapat menggambarkan harga bayangan nilai tukar mata uang. Nilai tukar resmi rata-rata mata uang Rupiah terhadap US Dollar pada tahun 2011 adalah sebesar Rp 8708,85 per US Dollar (Bank Indonesia, 2011). Berdasarkan data di atas, nilai faktor konversi standar pada tahun 2011 sebesar 1,00, sehingga diperoleh nilai tukar bayangan mata uang Rupiah terhadap US Dollar (SER) sebesar Rp 8697,44 per US Dollar (Perhitungan nilai tukar bayangan dapat dilihat pada Lampiran 3). 4.8 Analisis Sensitivitas Analisis sensitivitas dilakukan untuk mengetahui perubahan perhitungan biaya dan manfaat dari perubahan input dan output dari hasil analisis suatu efektivitas ekonomi. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam perekonomian nasional maupun internasional dapat mempengaruhi penerimaan. Analisis senstivitas dilakukan untuk mensubstitusi kelemahan metode Policy Analysis Matrix yang hanya memberlakukan satu tingkat harga sedangkan dalam keadaan sebenarnya harga tersebut sangat bervariatif. Penggunaan analisis sensitivitas juga memiliki kelemahan. Kelemahan analisis sensitivitas adalah: (1) analisis sensitivitas tidak dapat digunakan untuk pemilihan proyek karena merupakan analisis parsial yang hanya merubah parameter pada suatu saat tertentu, dan (2) analisis sensitivitas hanya mencatat apa yang terjadi jika variabel berubah-ubah dan bukan menentukan layak atau tidak layak suatu proyek. Analisis sensitivitas dalam penelitian ini dengan mengubah besarnya nilai mata uang, harga output, 15 Detikfinance. ( (diaskes pada 4 Februari 2012)

23 harga kentang, dan harga pupuk. Dasar perubahan kebijakan yang digunakan dalam analisis sensitivitas ini, diantaranya adalah: 1) Perubahan terhadap Nilai Mata Uang. Bila terjadi penguatan (apresiasi) dan pelemahan (depresiasi) nilai mata uang rupiah terhadap US Dollar dan faktor lain dianggap tetap, cateris paribus. Hal ini didasarkan pada fluktuasi tingkat nilai tukar rupiah terhadap UD Dollar pada tahun 2011 sebesar 5,2 persen. Berdasarkan asumsi tersebut penelitian ini ingin melihat bagaimana dampak penguatan dan pelemahan nilai mata uang rupiah terhadap keuntungan dan dayasaing pengusahaan kentang di lokasi penelitian. 2) Perubahan terhadap Harga Output. Asumsi yang digunakan dalam perubahan terhadap harga output ini yakni, kenaikan dan penurunan harga kentang sebesar 15 persen, dan faktor lain dianggap tetap, cateris paribus. Penentuan besarnya proporsi kenaikan dan penurunan berdasarkan kondisi fluktuasi harga kentang di lokasi penelitian tahun Tidak berbeda dengan perubahan terhadap nilai mata uang, perubahan harga output juga ingin melihat dampak kenaikan dan penurunan harga kentang terhadap keuntungan dan dayasaing pengusahaan kentang di lokasi penelitian. 3) Perubahan terhadap Harga Pestisida. Bila terjadi kenaikan dan penurunan harga pestisida cair sebesar 15 persen dan harga pestisida padat sebesar 10 persen, dan faktor lain dianggap tetap, cateris paribus. Penentuan besarnya persentasi didasarkan pada Produsen obat-obatan dan pembasmi hama yang tergabung dalam Himpunan masyarakat Pestisida Nasional (HMPN), dimana perubahan ini di dasarkan pada kenaikan harga minyak mentah dunia. Bahan aktif untuk membuat pestisida merupakan derivatif atau produk turunan minyak bumi, sehingga kenaikan harga minyak bumi akan mempengaruhi besarnya biaya bahan baku pestisida tersebut. 4) Perubahan terhadap Harga Pupuk Bila terjadi kenaikan harga pupuk bersubsidi urea sebesar 10 persen, dan pupuk non-urea rata-rata sebesar 30 persen. Kenaikan harga pupuk

24 ditetapkan berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia No 32/Permentan/SR.130/4/2010 tentang perubahan harga eceran tertinggi pupuk bersubsidi. Kenaikan harga eceran tertinggi pupuk bersubsidi terkait dengan turunnya anggaran subsidi pupuk dalam APBN sekitar 40 persen, dimana subsidi pupuk hanya dianggarkan sebesar Rp 11,3 triliun dari usulan anggaran subsisi pupuk sebesar Rp 20,2 triliun 16). 16 HET Pupuk Bersubsidi Akhirnya Naik! (diakses tanggal 8 April 2012)

ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KENTANG

ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KENTANG ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KENTANG VI. 6.1 Analisis Dayasaing Hasil empiris dari penelitian ini mengukur dayasaing apakah kedua sistem usahatani memiliki keunggulan

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN 45 IV. METODE PENELITIAN 4.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kepulauan Tanakeke, Kabupaten Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan. Pemilihan daerah tersebut dilakukan secara purposive

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan tujuan

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan tujuan 33 III. METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional dan Konsep Dasar Konsep dasar dan batasan operasional ini mencakup pengertian yang digunakan untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN

IV METODE PENELITIAN IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Desa Cilembu (Kecamatan Tanjungsari) dan Desa Nagarawangi (Kecamatan Rancakalong) Kabupaten Sumedang, Propinsi Jawa Barat.

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. A. Metode Dasar Penelitian

METODE PENELITIAN. A. Metode Dasar Penelitian II. METODE PENELITIAN A. Metode Dasar Penelitian Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode deskriptif analitis. Menurut Nazir (2014) Metode deskriptif adalah suatu metode dalam

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN. Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Pemilihan lokasi

IV. METODE PENELITIAN. Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Pemilihan lokasi IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Studi kasus penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Sukaresmi dan Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Pemilihan lokasi dilakukan secara purpossive

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian

METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat tepatnya di Kecamatan Samarang. Pemilihan lokasi ditentukan secara sengaja (purposive)

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Pasir Penyu dan Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Kabupaten Indragiri Hulu terdiri

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

METODE PENELITIAN. 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 26 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan batasan operasional merupakan pengertian dan petunjuk mengenai variabel yang akan diteliti untuk memperoleh dan menganalisis

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Daya Saing Perdagangan Internasional pada dasarnya merupakan perdagangan yang terjadi antara suatu negara tertentu dengan negara yang

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP JERUK SIAM

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP JERUK SIAM VI ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP JERUK SIAM 6.1. Analisis Daya Saing Analisis keunggulan kompetitif dan komparatif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan kemampuan jeruk

Lebih terperinci

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1. Analisis Daya Saing Analisis keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan prospek serta kemampuan komoditi gula lokal yang dihasilkan

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN 51 IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di tiga tempat di Provinsi Bangka Belitung yaitu Kabupaten Bangka Selatan, Kabupaten Bangka Barat, dan Kabupaten Belitung.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN VI HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1 Analisis Daya Saing Analisis keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan prospek serta kemampuan komoditi susu sapi lokal dalam

Lebih terperinci

IV METODOLOGI PENELITIAN

IV METODOLOGI PENELITIAN IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada petani tebu di wilayah kerja Pabrik Gula Sindang Laut Kabupaten Cirebon Propinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi penelitian

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional ini mencakup pengertian yang. jagung per musim tanam yang, diukur dalam satuan ton.

III. METODOLOGI PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional ini mencakup pengertian yang. jagung per musim tanam yang, diukur dalam satuan ton. III. METODOLOGI PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan definisi operasional ini mencakup pengertian yang digunakan untuk mendapatkan data dan melakukan analisis terhadap tujuan

Lebih terperinci

III METODE PENELITIAN. Daya saing adalah suatu konsep yang menyatakan kemampuan suatu produsen

III METODE PENELITIAN. Daya saing adalah suatu konsep yang menyatakan kemampuan suatu produsen III METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Daya saing adalah suatu konsep yang menyatakan kemampuan suatu produsen untuk memproduksi suatu komoditas dengan mutu yang cukup baik dan

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Karangasem dengan lokasi sampel penelitian, di Desa Dukuh, Kecamatan Kubu. Penentuan lokasi penelitian dilakukan

Lebih terperinci

VI. ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA USAHATANI JAMBU BIJI

VI. ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA USAHATANI JAMBU BIJI VI. ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA USAHATANI JAMBU BIJI Daya saing usahatani jambu biji diukur melalui analisis keunggulan komparatif dan kompetitif dengan menggunakan Policy

Lebih terperinci

VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK

VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK 6.1 Analisis Keuntungan Sistem Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok Analisis keunggulan komparatif

Lebih terperinci

ANALISIS SENSITIVITAS

ANALISIS SENSITIVITAS VII ANALISIS SENSITIVITAS 7.1. Analisis Sensitivitas Analisis sensitivitas dilakukan untuk mengetahui bagaimana pengaruh dari perubahan kurs mata uang rupiah, harga jeruk siam dan harga pupuk bersubsidi

Lebih terperinci

VIII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING RUMPUT LAUT

VIII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING RUMPUT LAUT 83 VIII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING RUMPUT LAUT 8.1. Struktur Biaya, Penerimaan Privat dan Penerimaan Sosial Tingkat efesiensi dan kemampuan daya saing rumput laut di

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN 28 IV. METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan dari Bulan Pebruari sampai April 2009, mengambil lokasi di 5 Kecamatan pada wilayah zona lahan kering dataran rendah

Lebih terperinci

Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Beras Organik Ekspor (Suatu Kasus di Gapoktan Simpatik Kabupaten Tasikmalaya)

Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Beras Organik Ekspor (Suatu Kasus di Gapoktan Simpatik Kabupaten Tasikmalaya) Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Beras Organik Ekspor (Suatu Kasus di Gapoktan Simpatik Kabupaten Tasikmalaya) Tirsa Neyatri Bandrang, Ronnie S. Natawidjaja, Maman Karmana Program Magister

Lebih terperinci

Lampiran 1. Syarat Mutu Lada Putih Mutu I dan Mutu II. binatang

Lampiran 1. Syarat Mutu Lada Putih Mutu I dan Mutu II. binatang 131 Lampiran 1. Syarat Mutu Lada Putih Mutu I dan Mutu II No Jenis Uji Satuan 1 Cemaran Binatang 2 Warna 3 Kadar Benda Asing (b/b) 4 Kadar Biji Enteng (b/b) 5 Kadar Cemaran Kapang 6 Kadar Warna Kehitam-hitaman

Lebih terperinci

DAYA SAING KEDELAI DI KECAMATAN GANDING KABUPATEN SUMENEP

DAYA SAING KEDELAI DI KECAMATAN GANDING KABUPATEN SUMENEP DAYA SAING KEDELAI DI KECAMATAN GANDING KABUPATEN SUMENEP PURWATI RATNA W, RIBUT SANTOSA, DIDIK WAHYUDI Fakultas Pertanian, Universitas Wiraraja Sumenep ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah (1) menganalisis

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu Menurut penelitian Fery (2013) tentang analisis daya saing usahatani kopi Robusta di kabupaten Rejang Lebong dengan menggunakan metode Policy Analiysis

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Usaha Sapi Potong di Kabupaten Indrgiri Hulu 5.1.1. Profitabilitas Privat dan Sosial Usaha Sapi Potong Usaha peternakan sapi

Lebih terperinci

KERANGKA PEMIKIRAN. berupa derasnya arus liberalisasi perdagangan, otonomi daerah serta makin

KERANGKA PEMIKIRAN. berupa derasnya arus liberalisasi perdagangan, otonomi daerah serta makin 22 III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Analisis Dewasa ini pengembangan sektor pertanian menghadapi tantangan dan tekanan yang semakin berat disebabkan adanya perubahan lingkungan strategis

Lebih terperinci

VII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING LADA PUTIH

VII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING LADA PUTIH 93 VII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING LADA PUTIH 7.1. Justifikasi Harga Bayangan Penelitian ini, untuk setiap input dan output ditetapkan dua tingkat harga, yaitu harga

Lebih terperinci

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan tujuan penelitian dan hasil analisis, maka pada penelitian ini

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan tujuan penelitian dan hasil analisis, maka pada penelitian ini BAB VII SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan tujuan penelitian dan hasil analisis, maka pada penelitian ini diperoleh beberapa simpulan, implikasi kebijakan dan saran-saran seperti berikut. 7.1 Simpulan 1. Dari

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING APEL JAWA TIMUR (Studi Kasus Apel Batu, Nongkojajar dan Poncokusumo)

ANALISIS DAYA SAING APEL JAWA TIMUR (Studi Kasus Apel Batu, Nongkojajar dan Poncokusumo) ANALISIS DAYA SAING APEL JAWA TIMUR (Studi Kasus Apel Batu, Nongkojajar dan Poncokusumo) Novi Itsna Hidayati 1), Teguh Sarwo Aji 2) Dosen Fakultas Pertanian Universitas Yudharta Pasuruan ABSTRAK Apel yang

Lebih terperinci

3.5 Teknik Pengumpulan data Pembatasan Masalah Definisi Operasional Metode Analisis Data

3.5 Teknik Pengumpulan data Pembatasan Masalah Definisi Operasional Metode Analisis Data DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... ii HALAMAN PERNYATAAN... iii KATA PENGANTAR... iv DAFTAR ISI... vi DAFTAR TABEL... ix DAFTAR GAMBAR... xi DAFTAR LAMPIRAN... xii ABSTRAK... xiii ABSTRACT...

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN 23 III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Daya Saing Daya saing merupakan kemampuan suatu produsen untuk memproduksi suatu komoditi dengan mutu yang baik dan biaya produksi

Lebih terperinci

sesuaian harga yang diterima dengan cost yang dikeluarkan. Apalagi saat ini,

sesuaian harga yang diterima dengan cost yang dikeluarkan. Apalagi saat ini, RINGKASAN Kendati Jambu Mete tergolong dalam komoditas unggulan, namun dalam kenyataannya tidak bisa dihindari dan kerapkali mengalami guncangan pasar, yang akhirnya pelaku (masyarakat) yang terlibat dalam

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Analisis Daya Saing Dalam sistem perekonomian dunia yang semakin terbuka, faktor-faktor yang mempengaruhi perdagangan dunia (ekspor dan impor)

Lebih terperinci

Lampiran 1. Perhitungan Premium Nilai Tukar dan Nilai Tukar Bayangan Tahun 2009

Lampiran 1. Perhitungan Premium Nilai Tukar dan Nilai Tukar Bayangan Tahun 2009 LAMPIRAN Lampiran 1. Perhitungan Premium Nilai Tukar dan Nilai Tukar Bayangan Tahun 2009 Uraian Jumlah (Rp) Total Ekspor (Xt) 1,211,049,484,895,820.00 Total Impor (Mt) 1,006,479,967,445,610.00 Penerimaan

Lebih terperinci

VI. ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN SIAM DEDDY FISH FARM

VI. ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN SIAM DEDDY FISH FARM VI. ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN SIAM DEDDY FISH FARM Analisis keunggulan komparatif dan kompetitif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan prospek serta

Lebih terperinci

Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Daya Saing Komoditas Kelapa di Kabupaten Flores Timur

Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Daya Saing Komoditas Kelapa di Kabupaten Flores Timur Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Daya Saing Komoditas Kelapa di Kabupaten Flores Timur Krisna Setiawan* Haryati M. Sengadji* Program Studi Manajemen Agribisnis, Politeknik Pertanian Negeri

Lebih terperinci

KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN DAMPAK KEBIJAKAN PENGURANGAN SUBSIDI INPUT TERHADAP PENGEMBANGAN KOMODITAS KENTANG DI KOTA BATU

KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN DAMPAK KEBIJAKAN PENGURANGAN SUBSIDI INPUT TERHADAP PENGEMBANGAN KOMODITAS KENTANG DI KOTA BATU Habitat Volume XXIV, No. 2, Bulan Agustus 2013 ISSN: 0853-5167 KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN DAMPAK KEBIJAKAN PENGURANGAN SUBSIDI INPUT TERHADAP PENGEMBANGAN KOMODITAS KENTANG DI KOTA BATU COMPARATIVE ADVANTAGE

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN. Fish Farm) dilaksanakan di lokasi usaha yang bersangkutan yaitu di daerah

IV. METODE PENELITIAN. Fish Farm) dilaksanakan di lokasi usaha yang bersangkutan yaitu di daerah IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Studi kasus penelitian mengenai Analisis Keunggulan Komparatif dan Kompetitif Usaha Pembenihan Ikan Patin Siam (Studi Kasus : Perusahaan Deddy Fish Farm) dilaksanakan

Lebih terperinci

VII. ANALISIS DAYA SAING USAHATANI JAGUNG

VII. ANALISIS DAYA SAING USAHATANI JAGUNG VII. ANALISIS DAYA SAING USAHATANI JAGUNG 7.1. Profitabilitas Privat dan Sosial Analisis finansial dan ekonomi usahatani jagung memberikan gambaran umum dan sederhana mengenai tingkat kelayakan usahatani

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KEDELAI VS PENGUSAHAAN KEDELAI DI KABUPATEN LAMONGAN, JAWA TIMUR

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KEDELAI VS PENGUSAHAAN KEDELAI DI KABUPATEN LAMONGAN, JAWA TIMUR ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KEDELAI VS PENGUSAHAAN KEDELAI DI KABUPATEN LAMONGAN, JAWA TIMUR Syahrul Ganda Sukmaya 1), Dwi Rachmina 2), dan Saptana 3) 1) Program

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Definisi operasional dan konsep dasar ini mencakup semua pengertian yang

III. METODE PENELITIAN. Definisi operasional dan konsep dasar ini mencakup semua pengertian yang III. METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional dan Konsep Dasar Definisi operasional dan konsep dasar ini mencakup semua pengertian yang dipergunakan untuk memperoleh data yang akan dianalisis sesuai dengan

Lebih terperinci

VIII. ANALISIS KEBIJAKAN ATAS PERUBAHAN HARGA OUTPUT/ INPUT, PENGELUARAN RISET JAGUNG DAN INFRASTRUKTUR JALAN

VIII. ANALISIS KEBIJAKAN ATAS PERUBAHAN HARGA OUTPUT/ INPUT, PENGELUARAN RISET JAGUNG DAN INFRASTRUKTUR JALAN VIII. ANALISIS KEBIJAKAN ATAS PERUBAHAN HARGA OUTPUT/ INPUT, PENGELUARAN RISET JAGUNG DAN INFRASTRUKTUR JALAN 8.1. Pengaruh Perubahan Harga Output dan Harga Input terhadap Penawaran Output dan Permintaan

Lebih terperinci

EFISIENSI DAN DAYA SAING SISTEM USAHATANI PADI

EFISIENSI DAN DAYA SAING SISTEM USAHATANI PADI EFISIENSI DAN DAYA SAING SISTEM USAHATANI PADI Beny Rachman, Pantjar Simatupang, dan Tahlim Sudaryanto Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian Jl. A. Yani No. 70 Bogor 16161 ABSTRACT

Lebih terperinci

VII. DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DAN FAKTOR LAINNYA TERHADAP KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF PADA USAHATANI JAMBU BIJI

VII. DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DAN FAKTOR LAINNYA TERHADAP KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF PADA USAHATANI JAMBU BIJI VII. DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DAN FAKTOR LAINNYA TERHADAP KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF PADA USAHATANI JAMBU BIJI Analisis sensitivitas perlu dilakukan karena analisis dalam metode

Lebih terperinci

EFISIENSI DAN DAYA SAING USAHATANI HORTIKULTURA

EFISIENSI DAN DAYA SAING USAHATANI HORTIKULTURA EFISIENSI DAN DAYA SAING USAHATANI HORTIKULTURA Handewi P.S. Rachman, Supriyati, Saptana, Benny Rachman Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian Jl. A. Yani No. 70 Bogor 16161 ABSTRACT

Lebih terperinci

DAFTAR TABEL. 1. Produksi manggis di Pulau Sumatera tahun Produksi manggis kabupaten di Provinsi Lampung tahun

DAFTAR TABEL. 1. Produksi manggis di Pulau Sumatera tahun Produksi manggis kabupaten di Provinsi Lampung tahun DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1. Produksi manggis di Pulau Sumatera tahun 2012... 5 2. Produksi manggis kabupaten di Provinsi Lampung tahun 2010-2012... 6 3. Luas panen, produktivitas, dan produksi manggis

Lebih terperinci

Pendapatan Rata-Rata Peternak Sapi Perah Per Ekor/Bulan

Pendapatan Rata-Rata Peternak Sapi Perah Per Ekor/Bulan LAMPIRAN 82 Lampiran 1. Pendapatan Rata-Rata Peternak Sapi Perah Per Ekor/Bulan No Keterangan Jumlah Satuan Harga Nilai A Penerimaan Penjualan Susu 532 Lt 2.930,00 1.558.760,00 Penjualan Sapi 1 Ekor 2.602.697,65

Lebih terperinci

BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN. menembus dengan volume 67 ton biji gelondong kering (Direktorat Jenderal

BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN. menembus dengan volume 67 ton biji gelondong kering (Direktorat Jenderal BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN Perkembangan ekspor jambu mete di Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem selama Tahun 2009 mencapai volume sebanyak 57 ton biji gelondong kering dan diharapkan pada Tahun 2010

Lebih terperinci

Volume 12, Nomor 1, Hal ISSN Januari - Juni 2010

Volume 12, Nomor 1, Hal ISSN Januari - Juni 2010 Volume 12, Nomor 1, Hal. 55-62 ISSN 0852-8349 Januari - Juni 2010 DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP DAYA SAING DAN EFISIENSI SERTA KEUNGGULAN KOMPETITIF DAN KOMPARATIF USAHA TERNAK SAPI RAKYAT DI KAWASAN

Lebih terperinci

KEUNGGULAN KOMPARATIF KOMODITAS JAGUNG DI KABUPATEN KEDIRI

KEUNGGULAN KOMPARATIF KOMODITAS JAGUNG DI KABUPATEN KEDIRI KEUNGGULAN KOMPARATIF KOMODITAS JAGUNG DI KABUPATEN KEDIRI NAVITA MAHARANI Prodi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Islam Kadiri, Kediri fp.uniska@gmail.com ABSTRAK Penelitian ini dilakukan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. peneliti menggunakan konsep dasar dan batasan oprasional sebagai berikut:

III. METODE PENELITIAN. peneliti menggunakan konsep dasar dan batasan oprasional sebagai berikut: III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Batasan Operasional Agar tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda pada penelitian ini, maka peneliti menggunakan konsep dasar dan batasan oprasional sebagai

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PRODUKSI KAKAO DI JAWA TIMUR

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PRODUKSI KAKAO DI JAWA TIMUR ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PRODUKSI KAKAO DI JAWA TIMUR Dede Haryono 1, Soetriono 2, Rudi Hartadi 2, Joni Murti Mulyo Aji 2 1 Program Studi Agribisnis Program Magister

Lebih terperinci

Jurnal Agribisnis dan Ekonomi Pertanian (Volume 2. No 1 Juni 2008)

Jurnal Agribisnis dan Ekonomi Pertanian (Volume 2. No 1 Juni 2008) 1 ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF PENGUSAHAAN KOMODITI JAGUNG DI KABUPATEN GROBOGAN A. Faroby Falatehan 1 dan Arif Wibowo 2 1 Departemen Ekonomi Sumberdaya Lingkungan, Fakultas Ekonomi dan

Lebih terperinci

DAMPAK KEBIJAKAN PEMBATASAN IMPOR BAWANG MERAH TERHADAP USAHATANI BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO

DAMPAK KEBIJAKAN PEMBATASAN IMPOR BAWANG MERAH TERHADAP USAHATANI BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO DAMPAK KEBIJAKAN PEMBATASAN IMPOR BAWANG MERAH TERHADAP USAHATANI BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO Policy Impact of Import Restriction of Shallot on Farm in Probolinggo District Mohammad Wahyudin,

Lebih terperinci

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pendekatan Penelitian Sistem Usaha Pertanian dan Agribisnis

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pendekatan Penelitian Sistem Usaha Pertanian dan Agribisnis II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pendekatan Penelitian Sistem Usaha Pertanian dan Agribisnis Pada awalnya penelitian tentang sistem pertanian hanya terbatas pada tahap budidaya atau pola tanam, tetapi pada tahun

Lebih terperinci

DAMPAK KEBIJAKAN KREDIT DAN SUBSIDI PUPUK TERHADAP KEUNTUNGAN USAHATANI PADI. I Made Tamba Ni Luh Pastini

DAMPAK KEBIJAKAN KREDIT DAN SUBSIDI PUPUK TERHADAP KEUNTUNGAN USAHATANI PADI. I Made Tamba Ni Luh Pastini DAMPAK KEBIJAKAN KREDIT DAN SUBSIDI PUPUK TERHADAP KEUNTUNGAN USAHATANI PADI I Made Tamba Ni Luh Pastini ABSTRACT Rice is high-valued commodities since pre-independence era. The paper aims to analyze impact

Lebih terperinci

Pengkajian Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Usahatani Padi dan Jeruk Lahan Gambut Kabupaten Barito Kuala Kalimantan Selatan

Pengkajian Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Usahatani Padi dan Jeruk Lahan Gambut Kabupaten Barito Kuala Kalimantan Selatan Pengkajian Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Usahatani Padi dan Jeruk Lahan Gambut Kabupaten Barito Kuala Kalimantan Selatan Muhammad Husaini Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian

Lebih terperinci

STUDI KELAYAKAN BISNIS ( Domestic Resource Cost )

STUDI KELAYAKAN BISNIS ( Domestic Resource Cost ) STUDI KELAYAKAN BISNIS ( Domestic Resource Cost ) Oleh: Dr Rita Nurmalina Suryana INSTITUT PERTANIAN BOGOR Domestic Resource Cost Of Earning or Saving a Unit of Foreign Exchange (Biaya Sumberdaya Domestik

Lebih terperinci

Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 12 No. 2, Agustus 2007 Hal: namun sering harganya melambung tinggi, sehingga tidak terjangkau oleh nelayan. Pe

Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 12 No. 2, Agustus 2007 Hal: namun sering harganya melambung tinggi, sehingga tidak terjangkau oleh nelayan. Pe Jurnal EKONOMI PEMBANGUNAN Kajian Ekonomi Negara Berkembang Hal: 141 147 EFISIENSI EKONOMI DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP USAHA PENANGKAPAN LEMURU DI MUNCAR, JAWA TIMUR Mira Balai Besar Riset

Lebih terperinci

MACAM-MACAM ANALISA USAHATANI

MACAM-MACAM ANALISA USAHATANI MACAM-MACAM ANALISA USAHATANI Pendahuluan Sebelum melakukan analisis, data yang dipakai harus dikelompokkan dahulu : 1. Data Parametrik : data yang terukur dan dapat dibagi, contoh; analisis menggunakan

Lebih terperinci

DAMPAK DEPRESIASI RUPIAH TERHADAP DAYA SAING DAN TINGKAT PROTEKSI KOMODITAS PADI DI KABUPATEN BADUNG

DAMPAK DEPRESIASI RUPIAH TERHADAP DAYA SAING DAN TINGKAT PROTEKSI KOMODITAS PADI DI KABUPATEN BADUNG DAMPAK DEPRESIASI RUPIAH TERHADAP DAYA SAING DAN TINGKAT PROTEKSI KOMODITAS PADI DI KABUPATEN BADUNG Jarek Putradi Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Badung, Bali jarek.putradi@gmail.com

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITI PADI SAWAH DI KECAMATAN PERBAUNGAN KABUPATEN SERDANG BEDAGAI ABSTRACT

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITI PADI SAWAH DI KECAMATAN PERBAUNGAN KABUPATEN SERDANG BEDAGAI ABSTRACT ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITI PADI SAWAH DI KECAMATAN PERBAUNGAN KABUPATEN SERDANG BEDAGAI Denti Juli Irawati*), Luhut Sihombing **), Rahmanta Ginting***) *) Alumni

Lebih terperinci

Jurnal Agribisnis dan Ekonomi Pertanian (Volume 3. No 2 Desember 2009)

Jurnal Agribisnis dan Ekonomi Pertanian (Volume 3. No 2 Desember 2009) 58 ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF KAIN TENUN SUTERA PRODUKSI KABUPATEN GARUT Dewi Gustiani 1 dan Parulian Hutagaol 2 1 Alumni Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen - IPB

Lebih terperinci

DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PENGEMBANGAN USAHATANI BAWANG MERAH DI KECAMATAN BULAKAMBA KABUPATEN BREBES

DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PENGEMBANGAN USAHATANI BAWANG MERAH DI KECAMATAN BULAKAMBA KABUPATEN BREBES Habitat Volume XXV, No. 1, Bulan April 2014 ISSN: 0853-5167 DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PENGEMBANGAN USAHATANI BAWANG MERAH DI KECAMATAN BULAKAMBA KABUPATEN BREBES THE IMPACTS OF GOVERNMENT S

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan dan menganalisis data sesuai dengan tujuan penelitian.

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan dan menganalisis data sesuai dengan tujuan penelitian. 29 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan definisi operasional mencakup pengertian yang dipergunakan untuk mendapatkan dan menganalisis data sesuai dengan tujuan

Lebih terperinci

KEUNGGULAN KOMPARATIF USAHATANI JAGUNG MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN DI PROVINSI NTT. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, 2

KEUNGGULAN KOMPARATIF USAHATANI JAGUNG MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN DI PROVINSI NTT. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, 2 KEUNGGULAN KOMPARATIF USAHATANI JAGUNG MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN DI PROVINSI NTT Yusuf 1 dan Rachmat Hendayana 2 1 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, 2 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi

Lebih terperinci

JIIA, VOLUME 1, No. 4, OKTOBER 2013

JIIA, VOLUME 1, No. 4, OKTOBER 2013 DAYA SAINGJAGUNG DI KECAMATAN SEKAMPUNG UDIK KABUPATEN LAMPUNG TIMUR (Competitiveness of Corn in Sekampung Udik District of East Lampung Regency) Cahya Indah Franiawati, Wan Abbas Zakaria, Umi Kalsum Jurusan

Lebih terperinci

14,3 13,1 11,1 8,9 27,4 26,4 4. 1,0 1,0 9,9 6. 7,0 15,6 16,1 6,5 6,2 8,5 8,3 10,0

14,3 13,1 11,1 8,9 27,4 26,4 4. 1,0 1,0 9,9 6. 7,0 15,6 16,1 6,5 6,2 8,5 8,3 10,0 114 Lampiran 1. Distribusi Persentase Produk Domestik Bruto (PDB) Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Sektor) No. Lapangan Usaha (Sektor) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 1. Pertanian, Peternakan,

Lebih terperinci

POLICY BRIEF DAYA SAING KOMODITAS PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI DALAM KONTEKS PENCAPAIAN SWASEMBADA PANGAN. Dr. Adang Agustian

POLICY BRIEF DAYA SAING KOMODITAS PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI DALAM KONTEKS PENCAPAIAN SWASEMBADA PANGAN. Dr. Adang Agustian PENDAHULUAN POLICY BRIEF DAYA SAING KOMODITAS PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI DALAM KONTEKS PENCAPAIAN SWASEMBADA PANGAN Dr. Adang Agustian 1) Salah satu peran strategis sektor pertanian dalam perekonomian nasional

Lebih terperinci

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Harga Gula Domestik

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Harga Gula Domestik II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Harga Gula Domestik Menurut Susila (2005), Indonesia merupakan negara kecil dalam perdagangan dunia dengan pangsa impor sebesar 3,57 persen dari impor gula dunia sehingga Indonesia

Lebih terperinci

STUDI KEUNGGULAN KOMPARATIF USAHATANI TEBU ABSTRACT ABSTRAK

STUDI KEUNGGULAN KOMPARATIF USAHATANI TEBU ABSTRACT ABSTRAK AGRISE Volume X No. 2 Bulan Mei 2010 ISSN: 1412-1425 STUDI KEUNGGULAN KOMPARATIF USAHATANI TEBU (COMPARATIVE ADVANTAGE STUDY OF SUGAR CANE FARMING) Riyanti Isaskar 1, Salyo Sutrisno 1, Dinik Putri D. 1

Lebih terperinci

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF USAHATANI BAWANG MERAH DI DESA PONJANAN BARAT, KECAMATAN BATUMARMAR, KABUPATEN PAMEKASAN

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF USAHATANI BAWANG MERAH DI DESA PONJANAN BARAT, KECAMATAN BATUMARMAR, KABUPATEN PAMEKASAN JEPA-Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Volume I No. 1 Bulan November 2017 ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF USAHATANI BAWANG MERAH DI DESA PONJANAN BARAT, KECAMATAN BATUMARMAR, KABUPATEN PAMEKASAN COMPARATIVE

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi Penelitian berada di Kabupaten Siak, Propinsi Riau. Pemilihan lokasi didasarkan atas pertimbangan bahwa, Propinsi Riau merupakan daerah dengan

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu 4.2. Metode Pengambilan Responden 4.3. Desain Penelitian

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu 4.2. Metode Pengambilan Responden 4.3. Desain Penelitian IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Desa Blendung, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi ini ditentukan secara sengaja (purposive)

Lebih terperinci

VII. ANALISIS DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PADA USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN Kerangka Skenario Perubahan Harga Input dan Output

VII. ANALISIS DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PADA USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN Kerangka Skenario Perubahan Harga Input dan Output VII. ANALISIS DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PADA USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN 7.1. Kerangka Skenario Perubahan Harga Input dan Output Perubahan-perubahan dalam faktor eksternal maupun kebijakan pemerintah

Lebih terperinci

DAYA SAING DAN PERAN PEMERINTAH DALAM MENINGKATKAN DAYA SAING KOMODITI KAKAO DI SULAWESI TENGAH

DAYA SAING DAN PERAN PEMERINTAH DALAM MENINGKATKAN DAYA SAING KOMODITI KAKAO DI SULAWESI TENGAH DAYA SAING DAN PERAN PEMERINTAH DALAM MENINGKATKAN DAYA SAING KOMODITI KAKAO DI SULAWESI TENGAH Competitiveness and the Role of Government to Increase Competitiveness of Cocoa in Central Sulawesi Siti

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING AGRIBISNIS BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO

ANALISIS DAYA SAING AGRIBISNIS BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO ANALISIS DAYA SAING AGRIBISNIS BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO COMPETITIVENESS ANALYSIS OF SHALLOTS AGRIBUSINESS IN PROBOLINGGO REGENCY Competitiveness analysis of shallot business in Probolinggo

Lebih terperinci

Keunggulan Komparatif dan Kompetitif dalam Produksi Padi di Kabupaten Lampung Tengah Propinsi Lampung

Keunggulan Komparatif dan Kompetitif dalam Produksi Padi di Kabupaten Lampung Tengah Propinsi Lampung Jurnal Penelitian Pertanian Terapan Vol.10 (3): 185-199 ISSN 1410-5020 Keunggulan Komparatif dan Kompetitif dalam Produksi Padi di Kabupaten Lampung Tengah Propinsi Lampung Comparative Advantage and Competitive

Lebih terperinci

BAB VII ANALISIS PENDAPATAN USAHA TANI PEPAYA CALIFORNIA BERDASARKAN SPO DAN TANPA SPO

BAB VII ANALISIS PENDAPATAN USAHA TANI PEPAYA CALIFORNIA BERDASARKAN SPO DAN TANPA SPO BAB VII ANALISIS PENDAPATAN USAHA TANI PEPAYA CALIFORNIA BERDASARKAN SPO DAN TANPA SPO Bentuk analisis pendapatan ini mengacu kepada konsep pendapatan biaya yang dikeluarkan, yaitu biaya tunai dan biaya

Lebih terperinci

EMBRYO VOL. 7 NO. 2 DESEMBER 2010 ISSN 0216-0188

EMBRYO VOL. 7 NO. 2 DESEMBER 2010 ISSN 0216-0188 EMBRYO VOL. 7 NO. 2 DESEMBER 2010 ISSN 0216-0188 ANALISIS USAHA TANI DAN EVALUASI KEBIJAKAN PEMERINTAH TERKAIT KOMODITAS CABAI BESAR DI KABUPATEN MALANG DENGAN MENGGUNAKAN POLICY ANALYSIS MATRIX (PAM)

Lebih terperinci

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN VIII. KESIMPULAN DAN SARAN 8.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1.a. Faktor-faktor yang berpengaruh nyata/signifikan terhadap produksi usahatani jagung

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Rancabungur, Desa Pasirgaok, Bogor,

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Rancabungur, Desa Pasirgaok, Bogor, 26 BAB IV METODE PENELITIAN 4.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Rancabungur, Desa Pasirgaok, Bogor, Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi ini dilakukan dengan pertimbangan

Lebih terperinci

ANALISIS KEBIJAKAN KOPI ROBUSTA DALAM UPAYA MENINGKATKAN DAYA SAING DAN PENGUATAN REVITALISASI PERKEBUNAN

ANALISIS KEBIJAKAN KOPI ROBUSTA DALAM UPAYA MENINGKATKAN DAYA SAING DAN PENGUATAN REVITALISASI PERKEBUNAN ANALISIS KEBIJAKAN KOPI ROBUSTA DALAM UPAYA MENINGKATKAN DAYA SAING DAN PENGUATAN REVITALISASI PERKEBUNAN Anik Suwandari dan Soetriono Dosen Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian/ Agribisnis Fakultas Pertanian

Lebih terperinci

VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI KEDELAI EDAMAME PETANI MITRA PT SAUNG MIRWAN

VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI KEDELAI EDAMAME PETANI MITRA PT SAUNG MIRWAN VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI KEDELAI EDAMAME PETANI MITRA PT SAUNG MIRWAN 7.1. Penerimaan Usahatani Kedelai Edamame Analisis terhadap penerimaan usahatani kedelai edamame petani mitra PT Saung Mirwan

Lebih terperinci

PENENTUAN PRODUK UNGGULAN PADA KAWASAN MINAPOLITAN DI KABUPATEN GIANYAR

PENENTUAN PRODUK UNGGULAN PADA KAWASAN MINAPOLITAN DI KABUPATEN GIANYAR PENENTUAN PRODUK UNGGULAN PADA KAWASAN MINAPOLITAN DI KABUPATEN GIANYAR I Ketut Arnawa Program Studi Agribisnis Universitas Mahasaraswati Denpasar E-mail: arnawa_62@yahoo.co.id ABSTRACT The main objective

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Teori Perdagangan Internasional Teori perdagangan internasional merupakan teori yang digunakan untuk mengkaji dasar-dasar terjadinya perdagangan

Lebih terperinci

ANALISIS DAYASAING USAHATANI JAGUNG DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW PROPINSI SULAWESI UTARA

ANALISIS DAYASAING USAHATANI JAGUNG DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW PROPINSI SULAWESI UTARA ANALISIS DAYASAING USAHATANI JAGUNG DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW PROPINSI SULAWESI UTARA Zulkifli Mantau, Bahtiar, Aryanto Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Gorontalo Jl. Kopi No.270 Kec. Tilongkabila

Lebih terperinci

Performa Dayasaing Komoditas Padi. Commodities Rice Competitiveness Performance. Benny Rachman

Performa Dayasaing Komoditas Padi. Commodities Rice Competitiveness Performance. Benny Rachman Jurnal Penelitian Pertanian Terapan Vol. 11 (2): 84-91 ISSN 141-52 Performa Dayasaing Komoditas Padi Commodities Rice Competitiveness Performance Benny Rachman Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING USAHATANI KOPI ROBUSTA (COFFEA CANEPHORA) DI KABUPATEN REJANG LEBONG

ANALISIS DAYA SAING USAHATANI KOPI ROBUSTA (COFFEA CANEPHORA) DI KABUPATEN REJANG LEBONG ANALISIS DAYA SAING USAHATANI KOPI ROBUSTA (COFFEA CANEPHORA) DI KABUPATEN REJANG LEBONG The Competitiveness of Robusta Coffee Farming in Rejang Lebong District Fery Murtiningrum, Putri Suci Asriani, dan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PENDAHULUAN A. Latar Belakang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hortikultura sebagai salah satu subsektor pertanian memiliki peran yang cukup strategis dalam perekonomian nasional. Hal ini tercermin dari perannya sebagai pemenuh kebutuhan

Lebih terperinci

VIII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI BAWANG MERAH

VIII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI BAWANG MERAH VIII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI BAWANG MERAH 8.1. Penerimaan Usahatani Bawang Merah Penerimaan usahatani bawang merah terdiri dari penerimaan tunai dan penerimaan tidak tunai. Penerimaan tunai merupakan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Budidaya tebu adalah proses pengelolaan lingkungan tumbuh tanaman

TINJAUAN PUSTAKA. Budidaya tebu adalah proses pengelolaan lingkungan tumbuh tanaman 24 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Usahatani Tebu 2.1.1 Budidaya Tebu Budidaya tebu adalah proses pengelolaan lingkungan tumbuh tanaman sehingga tanaman dapat tumbuh dengan optimum dan dicapai hasil yang diharapkan.

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING USAHATANI KELAPA SAWIT DI KABUPATEN MUKOMUKO (STUDI KASUS DESA BUMI MULYA)

ANALISIS DAYA SAING USAHATANI KELAPA SAWIT DI KABUPATEN MUKOMUKO (STUDI KASUS DESA BUMI MULYA) ANALISIS DAYA SAING USAHATANI KELAPA SAWIT DI KABUPATEN MUKOMUKO (STUDI KASUS DESA BUMI MULYA) ANALYSIS OF PALM OIL FARMING COMPETITIVENESS IN MUKOMUKO DISTRICT (CASE STUDY VILLAGE BUMI MULYA) Aprizal,

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN KAWASAN AGRIBISNIS JAGUNG DAN MANGGA DI KABUPATEN BLORA Development of Corn and Mango Agribusiness Region in Blora District

PENGEMBANGAN KAWASAN AGRIBISNIS JAGUNG DAN MANGGA DI KABUPATEN BLORA Development of Corn and Mango Agribusiness Region in Blora District PENGEMBANGAN KAWASAN AGRIBISNIS JAGUNG DAN MANGGA DI KABUPATEN BLORA Development of Corn and Mango Agribusiness Region in Blora District Ernoiz Antriyandarti 1 dan Susi Wuri Ani 1 1 Program Studi Agribisnis,

Lebih terperinci

JIIA, VOLUME 1 No. 3, JULI 2013

JIIA, VOLUME 1 No. 3, JULI 2013 ANALISIS DAYA SAING LADA HITAM DI KECAMATAN ABUNG TINGGI KABUPATEN LAMPUNG UTARA (Competitiveness Analysis of Black Pepper in Abung Tinggi Subdistrict of North Lampung Regency) Rossika Meliyana, Wan Abbas

Lebih terperinci

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Empiris Ubi Jalar

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Empiris Ubi Jalar II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Empiris Ubi Jalar Ubi jalar telah banyak diteliti dari berbagai bidang disiplin ilmu, akan tetapi penelitian mengenai efisiensi teknis usahatani belum pernah dilakukan.

Lebih terperinci