VIII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING RUMPUT LAUT

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "VIII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING RUMPUT LAUT"

Transkripsi

1 83 VIII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING RUMPUT LAUT 8.1. Struktur Biaya, Penerimaan Privat dan Penerimaan Sosial Tingkat efesiensi dan kemampuan daya saing rumput laut di Kepulauan Tanakeke dapat dijelaskan dengan menggunakan matriks analisis kebijakan (PAM). Matriks ini disusun berdasarkan data biaya input dari suatu komoditas, kemudian biaya dipisahkan ke dalam komponen tradable dan domestik. Dalam mengelola usahataninya seorang petani memerlukan sejumnlah input yang merupakan biaya produksi. Besar kecilnya biaya yang dikeluarkan dalam usahatani rumput laut sangat ditentukan oleh skala pengelolaannya. Berdasarkan Tabel 12, rata-rata biaya yang dikeluarkan untuk setiap musim tanam usahatani rumput laut terdiri dari biaya bibit, biaya tali rafia, solar, tenaga kerja, dan peralatan. Rata-rata penerimaan dan komponen biaya usahatani rumput laut per 0.6 hektar di Kepulauan Tanakeke dapat dilihat pada Tabel 12. Tabel 12. Rata-Rata Penerimaan dan Komponen Biaya Privat dan Sosial Rumput Laut di Kepulauan Tanakeke. Petani Privat Sosial Uraian Jumlah Nilai (Rp) Proporsi (%) Jumlah Nilai (Rp) Proporsi (%) A. Penerimaan B. Biaya Input 1. Bibit Rumput Laut (Kg) Tali Rafia (Kg) Solar (liter) Tenaga Kerja Penyusutan Alat C. Total Biaya D. Keuntungan Berdasarkan Tabel 12 untuk setiap musim tanam, rata-rata petani rumput laut di Kepulauan Tanakeke mengeluarkan biaya dengan alokasi yang terbesar adalah bibit yaitu sebesar Rp baik secara harga privat maupun secara harga sosial. Hal ini disebabkan karena mahalnya harga bibit yang

2 84 digunakan oleh petani rumput laut karena bibit yang dibeli berasal dari luar Kepulauan Tanakeke, dimana harga bibit per kg sebesar Rp Proporsi biaya berikutnya adalah biaya penyusutan peralatan sebesar persen atau senilai Rp baik secara harga privat maupun harga sosial. Hal ini disebabkan karena banyaknya peralatan yang digunakan oleh petani yang dibeli dengan harga cukup tinggi. Proporsi biaya yang paling sedikit digunakan oleh petani rumput laut baik secara harga privat maupun secara harga sosial adalah penggunaan solar yaitu hanya sebesar 0.14 persen atau senilai Rp Hal ini disebabkan karena petani hanya menggunakan rata-rata solar sebanyak 3 liter per ha pada saat penanaman dan panen. Komoditi rumput laut berproduksi 3 sampai 4 kali dalam setahun, dimana dalam satu musim tanam, umur panen tanaman 40 sampai 45 hari. Akan tetapi petani rumput laut di Kepulauan Tanakeke, melakukan panen rumput laut pada umur tanaman hari. Hal tersebut menyebabkan kandungan keragenan rumput laut yang dihasilkan kurang dan akan mempengaruhi kualitas rumput laut yang dihasilkan, sehingga apabila rumput laut tersebut dijual dipasar maka harga jualnya menjadi rendah. Penerimaan yang dihasilkan oleh petani rumput laut secara privat lebih rendah dibanding secara sosia. Tingkat penerimaan petani secara harga privat rata-rata per musim tanam sebesar Rp sedangkan secara harga sosial rata-rata per musim tanam sebesar Rp Perbedaan penerimaan petani rumput laut yang cukup besar disebabkan karena adanya perbedaan harga jual rumput laut kering Analisis Keuntungan Privat dan Sosial Keuntungan privat dan keuntungan sosial merupakan salah satu indikator keluaran dari model PAM (Policy Matrix Analysis) yang digunakan dalam penelitian ini. Keuntungan dalam analisis PAM, merupakan excess profit yaitu nilai lebih setelah semua biaya diperhitungkan. Keuntungan privat adalah selisih penerimaan dengan biaya total berdasarkan harga privat (harga aktual yang terjadi di pasar) yang digunakan oleh

3 85 petani rumput laut di Kepulauan Tanakeke, dimana harga tersebut telah dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah. Keuntungan privat dilakukan untuk mengukur daya saing dari sistem komoditas dan dapat digunakan sebagai dasar untuk analisis biaya manfaat pada tingkat harga privat atau harga aktual (Pearson, 2005). Keuntungan sosial adalah selisih antara penerimaan dengan total biaya pada tingkat harga sosial atau harga efesiensi yang didasarkan pada estimasi social opportunity costs. Pada keadaan ini, harga sosial untuk input dan output tradable adalah harga internasional untuk barang yang sejenis (comparable) yaitu harga impor untuk komoditas impor dan harga ekspor untuk komoditas ekspor. Sedangkan faktor domestik seperti tenaga kerja tidak memiliki harga internasional, sehingga harga sosialnya (social opportunity costs) diestimasi melalui pengamatan lapangan atas pasar faktor domestik di pedesaan. Tujuannya untuk mengetahui berapa besar ouput atau pendapatan yang hilang karena faktor domestik digunakan untuk memproduksi komoditas tersebut dibandingkan dengan apabila digunakan untuk komoditas alternatif terbaiknya (Pearson, 2005). Keuntungan privat dan sosial yang diperoleh petani rumput laut di Kepulauan Tanakeke diperlihatkan pada Tabel 13. Tabel 13. Keuntungan Privat dan Keuntungan Sosial Usahatani Rumput Laut di Kepulauan Tanakeke, Tahun Biaya (Rp/0.6 Ha) Uraian Penerimaan Keuntungan Input Faktor (Rp/0.6 Ha) Tradable Domestik Harga Privat Harga Sosial Hasil analisis pada Tabel 13 memperlihatkan bahwa secara privat (harga aktual) maupun secara sosial (harga ekonomi) usahatani rumput laut di Kepulauan Tanakeke sangat menguntungkan. Hal ini terlihat dari keuntungan secara privat dan sosial yang bernilai positif. Nilai keuntungan privat yang lebih besar dari nol (D > 0) yaitu sebesar Rp per musim tanam menunjukkan bahwa usahatani rumput laut

4 86 menguntungkan secara privat dan dapat bersaing selama sumberdaya tersedia dan tidak ada komoditas lain yang lebih menguntungkan. Demikian pula keuntungan sosial yang diperoleh petani rumput laut bernilai positif (H > 0) yaitu sebesar Rp per musim tanam. Hal ini menunjukkan bahwa sumberdaya yang digunakan dalam memproduksi rumput laut dapat dimanfaatkan secara efesien dan dapat bersaing pada tingkat harga internasional tanpa bantuan kebijakan pemerintah. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mira dan Reswati (2006) yang menyatakan bahwa usaha budidaya rumput laut di Sulawesi memiliki daya saing yang dilihat dari hasil keuntungan privat lebih besar dari nol (D > 0) dan keuntungan sosial yang lebih besar dari nol (H > 0). Hal ini dikarenakan bibit yang digunakan relatif lebih bagus dan budidaya dilakukan sepanjang tahun. Tabel 13 memperlihatkan pula bahwa terjadi perbedaan yang besar antara keuntungan privat dan keuntungan sosial yang menunjukkan divergensi negatif. Berdasarkan hasil analisis perbandingan antara keuntungan yang diperoleh petani rumput laut secara privat dengan keuntungan sosial, ternyata keuntungan sosial lebih besar dibandingkan keuntungan privat (KP<KS). Hal ini menginformasikan bahwa secara sosial atau pada kondisi dimana harga input dan output dihitung berdasarkan harga opportunity cost (biaya imbangan) dan tidak adanya kegagalan pasar atau intervensi pemerintah, maka pengusahaan komoditi rumput laut sangat menguntungkan untuk terus diusahakan. Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa pengusahaan rumput laut di Kepulauan Tanakeke memiliki keuntungan privat dan sosial yang lebih besar dari nol. Hal ini berarti bahwa ada atau tidaknya kebijakan pemerintah, pengusahaan rumput laut masih menguntungkan secara privat (aktual) dan sosial (ekonomi) Analisis Daya Saing Rumput Laut Matrik Analisis Kebijakan (PAM) merupakan salah satu metode analisis yang dapat digunakan untuk menganalisis efesiensi ekonomi dan besarnya dampak kebijakan pemerintah pada pengusahaan berbagai aktivitas usahatani, pengolahan maupun pemasaran hasil pertanian secara keseluruhan dan sistimatis.

5 87 Hasil analisis PAM dalam penelitian ini dapat dilihat pada Lampiran 8. Hasil analisis PAM yang digunakan untuk mengukur tingkat daya saing adalah nilai DRC dan PCR yang dapat dilihat pada Tabel 14. Tabel 14. Domestic Resources Cost Ratio (DRC) dan Private Cost Ratio (PCR) Usahatani Rumput Laut di Kepulauan Tanakeke, Tahun No. Indikator Kriteria Nilai 1 Domestic Resources Ratio (DRC) 2 Private Cost Ratio (PCR) < 1 > 1 < 1 > Untuk mengukur tingkat daya saing suatu komoditas dalam kaitannya dengan efesiensi penggunaan sumberdaya, maka digunakan dua pendekatan yaitu keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif. Indikator yang digunakan untuk mengukur keunggulan komparatif adalah rasio biaya sumberdaya domestik (DRC), sedangkan untuk mengukur keunggulan kompetitif digunakan indikator rasio biaya privat (PCR) Keunggulan Komparatif Usahatani Rumput laut Keunggulan komparatif atau tingkat efesiensi ekonomi usahatani rumput laut ditunjukkan oleh nilai Domestic Resource Cost Ratio (DRC) yaitu rasio antara biaya domestik terhadap nilai tambah pada harga sosialnya. Nilai DRC menunjukkan kemampuan usahatani rumput laut dalam membiayai faktor domestiknya pada harga sosial yang berarti sejumlah sumberdaya domestik yang dapat dihemat untuk menghasilkan satu unit devisa. Jika DRC lebih kecil dari satu (DRC < 1) dan atau lebih kecil lagi, maka komoditi yang diusahakan makin efesien dan memiliki daya saing tinggi atau memiliki peluang ekspor yang tinggi serta dapat berkembang tanpa bantuan atau tanpa adanya kebijakan pemerintah. Berdasarkan Tabel 14, menunjukkan bahwa pengusahaan rumput laut di Kepulauan Tanakeke memiliki nilai DRC kurang dari satu yaitu sebesar Hal ini menunjukkan bahwa besarnya sumberdaya domestik yang digunakan lebih kecil dibandingkan dengan nilai tambah yang diperoleh. Artinya setiap satu

6 88 satuan yang dihasilkan karena mengekspor rumput laut kering, hanya membutuhkan biaya sumberdaya domestik sebesar 0.64 satuan sehingga terjadi perolehan devisa sebesar 0.31 satuan. Dengan demikian pengusahaan rumput laut di Kepulauan Tanakeke efesien secara sosial atau memiliki keunggulan komparatif. Semakin kecil nilai DRC, maka komoditas tersebut semakin memiliki keunggulan komparatif atau semakin memiliki daya saing yang tinggi dalam kondisi tanpa adanya kebijakan pemerintah Keunggulan Kompetitif Usahatani Rumput Laut Keunggulan kompetitif suatu komoditas dapat dilihat dari bagaimana alokasi sumberdaya diarahkan untuk mencapai efesiensi privat dalam usahatani rumput laut. Efesiensi privat dapat diukur dengan menggunakan Rasio Biaya Privat (PCR). PCR merupakan rasio antara biaya faktor domestik dengan nilai tambah output yang dihasilkan. Nilai tambah diperoleh dari selisih antara penerimaan output dengan input tradable yang dugunakan pada harga aktual atau pada kondisi harga telah dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah seperti pajak atau subsidi. Nilai PCR menunjukkan kemampuan suatu sistem usahatani dalam membiayai faktor domestik pada harga aktual. Semakin kecil nilai PCR, maka semakin tinggi tingkat keunggulan kompetitif dari pengusahaan rumput laut tersebut. Berdasarkan Tabel 14, nilai PCR pengusahaan rumput laut di Kepulauan Tanakeke menunjukkan hasil yang lebih kecil dari satu (PCR < 1) yaitu sebesar sebesar Hal ini berarti bahwa untuk memproduksi rumput laut sebesar satu satuan pada harga privat, petani memerlukan tambahan biaya input domestik sebesar Keunggulan kompetitif akan meningkat, jika biaya faktor domestik dapat diminimumkan. Dengan demikian pengusahaan rumput laut di Kepulauan Tanakeke efesien secara privat atau memiliki keunggulan kompetitif. Pengusahaan rumput laut baik secara privat maupun sosial mempunyai efesiensi yang tidak terlalu tinggi, akan tetapi tetap memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif sebagai komoditi ekspor. Dengan demikian pengusahaan rumput laut di Kepulauan Tanakeke mempunyai daya saing di pasar internasional.

7 89 Nilai DRC yang lebih kecil dari PCR (DRC < PCR ) menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah pada pengusahaan rumput laut di Kepulauan Tanakeke menyebabkan nilai tambah yang diperoleh petani pada harga sosial lebih rendah dari nilai tambah pada harga aktual (privat). Kebijakan pemerintah yang menetapkan pajak pemerintah sebesar 30 persen dan birokrasi ekspor yang mahal, tidak memberikan intensif kepada petani karena keuntungan privat yang diperoleh menjadi lebih rendah dibandingkan jika pemerintah tidak menetapkan kebijakan tersebut. Artinya akan lebih efesien jika kebijakan pemerintah tersebut diperbaiki atau dikaji kembali. Namun demikian, diperlukan beberapa kebijakan yang operasional untuk mendorong daya saing rumput laut, diantaranya : (1) berbagai kebijakan di bidang penelitian agar ditemukan bibit unggul, (2) menyediakan infrastruktur fisik maupun ekonomi sehingga dapat meningkatkan aksebilitas sentra produksi rumput laut terhadap pasar input maupun pasar output Dampak Kebijakan Pemerintah Usahatani rumput laut hanya dapat berkembang apabila didukung oleh kebijakan yang kondusif. Kebijakan pemerintah dalam pengembangan usahatani rumput laut dapat memberikan dampak positif maupun negatif. Tujuan dari kebijakan pemerintah dalam perdagangan adalah untuk melindungi produsen maupun konsumen dalam negeri. Kebijakan yang dibuat dapat membuat harga di dalam negeri berbeda dengan harga di pasar internasional, besarnya harga yang ditentukan nantinya tergantung dari siapa yang dilindungi apakah konsumen atau produsen dalam negeri. Oleh karena itu pemerintah telah memiliki instrument-instrumen kebijakan yang dapat diimplementasikan untuk mencapai tujuan tersebut, kebijakan tersebut dapat berdampak terhadap input maupun output (Hidayat, 2009). Dampak kebijakan pemerintah ini dalam analisis PAM dapat dilihat melalui identitas divergensi. Divergensi menyebabkan harga privat berbeda dengan harga sosialnya. Divergensi meningkat karena adanya distorsi kebijakan atau kekuatan pasar yang gagal. Besarnya dampak kebijakan tersebut dapat dilihat melalui indikator yaitu Output Transfer (OT), Nominal Protection

8 90 Coefficient on Output (NPCO), Input Transfer, Factor Transfer dan Nominal Protection Coefficient on Input (NPCI) Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Output Indikator untuk melihat intervensi pemerintah terhadap output rumput laut dapat dilihat dari nilai Output Transfer (OT) dan nilai Nominal Protection Coefficient on Output (NPCO) atau Koefisien Proteksi Output Nominal. Output Transfer (OT) merupakan selisih antara penerimaan finansial dengan penerimaan ekonomi. Output Transfer (OT) atau transfer output menunjukkan adanya kebijakan pemerintah terhadap output sehingga ada perbedaan harga output privat dan harga output sosial. Jika OT lebih besar dari nol (OT > 0) atau positif menunjukkan bahwa ada insentif konsumen terhadap produsen dimana harga yang dibayarkan konsumen kepada produsen lebih tinggi dari seharusnya. Jika OT lebih kecil dari nol (OT < 0) atau negatif, artinya tidak ada kebijakan pemerintah berupa subsidi output sehingga harga yang diterima produsen lebih rendah dari yang seharusnya diterima, sehingga konsumen membeli rumput laut dengan harga yang lebih rendah dari yang seharusnya. Nilai Output Transfer (OT) dan nilai Nominal Protection Coefficient on Output (NPCO) usahatani rumput laut di Kepulauan Tanakeke pada Tabel 15. Tabel 15. dapat dilihat Output Transfer (OT) dan Nominal Protection Coefficient on Output (NPCO) Usahatani Rumput Laut di Kepulauan Tanakeke, tahun No. Indikator Kriteria Nilai 1 Output Transfer (OT) 2 Nominal Protection Coefficient on Output (NPCO) < 0 > 0 < 1 > Tabel 15 menunjukkan bahwa hasil Output Transfer (OT) komoditi rumput laut di Kepulauan Tanakeke bernilai negatif yaitu sebesar Hal ini berarti bahwa harga privat output rumput laut lebih rendah dibandingkan harga sosialnya atau harga domestik lebih rendah dari harga internasional dalam

9 91 hal ini harga ekspor rumput laut. Hal ini memperlihatkan bahwa ada kebijakan pemerintah yang tidak protektif terhadap petani rumput laut sehingga merugikan petani rumput laut. Kebijakan pemerintah dengan menetapkan pajak sebesar 30 persen menyebabkan harga rumput laut domestik lebih rendah dibandingkan dengan harga di pasar internasional, sehingga penerimaan yang diterima petani (penerimaan privat) menjadi rendah. Artinya konsumen domestik lebih diuntungkan karena membeli rumput laut dengan harga yang lebih rendah dari harga yang sebenarnya, atau terjadi pengalihan surplus dari produsen ke konsumen. Besarnya pengalihan surplus petani rumput laut ke konsumen sebesar Rp Hal ini terjadi karena selisih antara harga privat output dengan harga sosial output cukup besar yaitu sebesar Rp Hasil Output Transfer (OT) berhubungan erat dengan Nominal Protection Coefficient on Output (NPCO) atau koefisien proteksi output nominal yang merupakan rasio penerimaan harga privat dengan penerimaan harga sosial. Nilai NPCO lebih besar dari satu (NPCO > 1) menunjukkan bahwa harga domestik lebih tinggi dari harga dunia atau internasional. Berdasarkan Tabel 15 diperoleh nilai Nominal Protection Coefficient on Output (NPCO) usahatani rumput laut di Kepulauan Tanakeke sebesar 0.97 atau NPCO kurang dari satu (NPCO < 1). Hasil ini menunjukkan bahwa petani rumput laut di Kepulauan Tanakeke menerima harga lebih rendah atau murah dari harga dunia (harga internasional), dimana harga jual rumput laut kering di tingkat petani 3 persen lebih rendah dari harga output yang seharusnya diterima. Hal ini menunjukkan bahwa harga domestik di disproteksi. Pengembangan rumput laut di Kepulauan Tanakeke terutama dalam perdagangan rumput laut sampai saat ini belum didukung oleh kebijakan pemerintah, sehingga rendahnya harga output yang diterima oleh petani rumput laut disebabkan adanya kebijakan pemerintah dengan menetapkan pajak untuk ekspor rumput laut sebesar 30 persen khususnya ke Negara China dan birokrasi ekspor yang cukup mahal, sehingga menurunkan harga rumput laut domestik. Hal ini dilakukan oleh pemerintah untuk menurunkan ekspor rumput laut untuk memenuhi produksi dalam negeri sebagai bahan baku industri pengolahan. Penurunan harga rumput laut dalam negeri mengakibatkan konsumen membeli

10 92 rumput laut lebih murah, akan tetapi merugikan petani sebagai produsen yang menerima harga lebih rendah. Faktor lain yang menyebabkan rendahnya harga yang diterima oleh petani rumput laut di kepulauan Tanakeke dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu (1) lembaga pemasaran rumput laut belum efektif, masih banyaknya ketergantungan petani terhadap pedagang pengumpul yang ada di Kepulauan Tanakeke sehingga terjadi keterikatan erat antara nelayan dengan pedagang sehingga harga ditentukan oleh pedagang, (2) kurangnya informasi harga yang diterima oleh petani rumput laut, (3) Mental petani rumput laut yang tidak menjaga kualitas rumput laut yang dihasilkan mulai dari panen yang kurang dari waktu panen yang ditetapkan sampai penjemuran yang sangat sederhana. Salah satu kebijakan pemerintah dalam perbaikan peningkatan harga rumput laut di Kepulauan Tanakeke pada khususnya dan Sulawesi Selatan pada umumnya adalah revitalisasi rumput laut melalui kebijakan pengembangan yaitu : (1) pengembangan skala kawasan/kluster, (2) pengembangan kebun bibit unggul, (3) metode budidaya dan perawatan yang tepat, (4) panen dan pasca panen yang tepat berkaitan dengan peningkatan kualitas rumput laut dan (5) pengembangan kelembagaan dan pola kemitraan. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Novianti (2003) yang menyatakan bahwa rendahnya harga di tingkat petani dibandingkan dengan harga yang sosial yang seharusnya diterima berkaitan dengan tiga faktor yaitu : (1) lembaga pemasaran output belum berfungsi efektif sehingga rantai pemasaran menjadi panjang, (2) posisi tawar petani lemah sehingga petani menjadi penerima harga yang pasif, (3) mental usahatani selalu ingin disubsidi sehingga petani menjadi kurang mandiri, maju dan bersaing dengan pasar internasional Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Input Kebijakan pemerintah bukan hanya berlaku untuk output tapi juga mengenai kebijakan input. Kebijakan input biasanya dilakukan dengan pemberian subsidi input atau pajak dan hambatan perdagangan berupa tariff dan non tariff yang diberlakukan agar produsen dapat memanfaatkan sumberdaya secara optimal dan melindungi produsen dalam negeri.

11 93 Kebijakan pemerintah dalam penggunaan input rumput laut di Kepulauan Tanakeke dapat dilihat melalui nilai Input Transfer (IT), Factor Transfer (FT) dan Nominal Protection Coefficient on Input (NPCI). Indikator ini dapat dilihat pada Tabel 16. Tabel 16. Input Transfer (IT), Factor Transfer (FT) dan Nominal Protection Coefficient on Input (NPCI) Usahatani Rumput Laut di Kepulauan Tanakeke, Tahun No. Indikator Kriteria Nilai > 1 1 Input Transfer (IT) = 0 < Factor Transfer (FT) > 0 < > 1 3 Nominal Protection Coefficient on Input (NPCI) = 1 < Indikator yang digunakan untuk melihat kebijakan pemerintah yang mempengaruhi harga input tradable dipasar adalah Input Transfer (IT), Jika Input Transfer lebih besar dari nol (IT > 0) atau bernilai positif, artinya terdapat pajak atas input tradable tersebut, sehingga petani rumput laut harus membeli input tersebut dengan harga yang lebih mahal dari yang seharusnya. Akan tetapi jika Input Transfer lebih kecil dari nol (IT < 0) atau bernilai negatif, artinya ada subsidi pemerintah terhadap input tersebut sehingga petani tidak membayar penuh sesuai dengan harga yang sebenarnya. Input yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari input tradable dan non tradable. Jenis input tradable yang digunakan dalam usahatani rumput laut di Kepulauan Tanakeke adalah tali rafia dan solar. Tabel 16 menunjukkan nilai Input Transfer (IT) atau transfer input adalah nol. Hal ini menunjukkan bahwa harga input pada tingkat privat maupun tingkat sosial sama, atau harga input domestik dan harga internasional tidak berbeda. Berdasarkan hasil IT yang diperoleh sebesar nol ini berarti tidak ada transfer input produksi dari pedagang input ke petani rumput laut ataupun sebaliknya. Artinya pemerintah tidak menerapkan kebijakan apapun terhadap input yang digunakan, baik kebijakan pajak ataupun subsidi.

12 94 Penilaian kebijakan pemerintah terhadap input domestik (non tradable) seperti bibit, tenaga kerja, penyusutan alat dapat dilihat dari indikator factor transfer (FT). factor transfer (FT) atau transfer faktor merupakan nilai yang menunjukkan perbedaan harga privat dengan harga sosialnya yang diterima produsen untuk pembayaran faktor-faktor produksi yang tidak diperdagangkan. Kebijakan ini dapat berupa subsidi positif dan negatif Tabel 16 menunjukkan bahwa factor transfer (FT) di Kepulauan Tanakeke bernilai positif yaitu sebesar Rp per musim tanam, ini berarti bahwa harga input non tradable yang dikeluarkan oleh petani rumput laut di Kepulauan Tanakeke pada harga privat lebih besar dibanding dengan harga input non tradable pada harga sosialnya. Artinya terdapat kebijakan pemerintah yang mengakibatkan petani harus membayar input domestik lebih mahal daripada harga sosialnya sebesar Rp Nominal Protection Coefficient on Input (NPCI) merupakan rasio antara biaya yang dihitung berdasarkan harga privat dengan input tradable yang dihitung berdasarkan harga bayangan (harga sosial). Berdasarkan Tabel 16, nilai NPCI untuk rumput laut di Kepulauan Tanakeke sama dengan satu (NPCI = 1). Hal ini menunjukkan bahwa total biaya input tradable baik pada harga privat maupun harga sosial adalah sama. Artinya ada atau tidak ada kebijakan pemerintah yang diterapkan terhadap input tradable, harga domestik akan sama dengan harga dunia Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Input-Output Dampak efektif dari insentif yang diberikan pemerintah pada output dan input secara keseluruhan terhadap usahatani rumput laut dapat dilihat dari nilai Effective Protection Coefficient atau Koefisien Proteksi Efektif (EPC), Net Transfer atau Transfer Bersih (NT), Profitability Coefficient atau nilai Koefisien Keuntungan (PC) dan Subsidy Ratio to Producer atau Rasio Subsidi Produsen (SRP). Hasil analisis dampak kebijakan pemerintah terhadap input-output usahatani rumput laut di Kepulauan Tanakeke dapat dilihat pada Tabel 17.

13 95 Tabel 17. Nilai Kebijakan Input-Output Usahatani Rumput Laut di Kepulauan Tanakeke, Tahun No. Indikator Kriteria Nilai 1 Koefisien Proteksi Efektif (EPC) < 1 > Transfer Bersih (NT) < 0 > Koefisien Keuntungan (PC) < 1 > Rasio Subsidi Produsen (SRP) < 0 > Nilai EPC menggambarkan sejauh mana kebijakan pemerintah bersifat melindungi produksi domestik secara efektif. Jika nilai EPC kurang dari satu (EPC < 1), maka kebijakan tersebut tidak berjalan secara efektif atau menghambat produsen untuk produksi. Sebaliknya jika nilai EPC lebih besar satu (EPC > 1), maka kebijakan tersebut berjalan secara efektif sehingga melindungi petani untuk berproduksi. Tabel 17 menunjukkan bahwa nilai koefisien proteksi efektif (EPC) lebih kecil dari satu atau 0.97, ini berarti tambahan keuntungan yang diperoleh petani rumput laut sebesar 3 persen lebih rendah dari yang seharusnya, ini menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah terhadap input-output tidak berjalan dengan efektif bagi petani rumput laut di Kepulauan Tanakeke untuk berproduksi. Indikator yang mampu menjelaskan pengaruh dampak kebijakan terhadap surplus produsen (petani rumput laut) adalah nilai transfer bersih (NT). Nilai transfer bersih (NT) yang diterima oleh petani rumput laut di Kepulauan Tanakeke, menunjukkan nilai yang negatif sebesar Rp artinya bahwa transfer yang diterima dari produsen input tradable dan faktor domestik lebih sedikit dari transfer yang diberikan kepada konsumen. Melalui koefisien profitabilitas (PC) mampu menjelaskan dampak insentif dari seluruh kebijakan output, kebijakan input tradable dan input domestik. Tabel 17 memperlihatkan nilai PC kurang dari satu (PC < 1) yaitu sebesar 0.89.

14 96 Artinya bahwa keuntungan yang diterima oleh petani rumput laut lebih rendah sebesar 89 persen (berkurang sebesar 11 persen) dari keuntungan yang seharusnya diterima tanpa adanya kebijakan. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah (pajak pemerintah terhadap ekspor rumput laut) mengakibatkan harga jual rumput laut rendah sehingga berdampak terhadap penerimaan yang diperoleh petani, selain itu tidak ada kebijakan terhadap input yang digunakan, sehingga kesemuanyan tidak memberikan insentif kepada petani dan membuat keuntungan yang diterima oleh petani lebih rendah dibandingkan dengan tanpa ada kebijakan. Nilai rasio subsidi bagi produsen (SRP) merupakan indikator yang menunjukkan tingkat penambahan atau pengurangan penerimaan atas pengusahaan suatu komoditas karena adanya kebijakan pemerintah. Tabel 17 menunjukkan SRP bernilai negatif sebesar Hal ini berarti bahwa kebijakan pemerintah berpengaruh negatif terhadap struktur biaya produksi, karena biaya yang diinvestasikan lebih besar daripada nilai tambah (keuntungan) yang diterima oleh petani rumput laut di Kepulauan Tanakeke. Petani rumput laut di Kepulauan Tanakeke mengeluarkan biaya produksi sebesar 4 persen lebih besar dari opportunity cost untuk produksi sehingga terjadi pengurangan penerimaan. Berdasarkan dampak pengaruh kebijakan pemerintah terhadap input output menunjukkan bahwa usahatani rumput laut dalam jangka panjang akan memberikan kerugian pada produsen akibat produsen mengeluarkan biaya yang sangat besar dari seharusnya dan teknologi yang digunakan sangat sederhana Analisis Sensitivitas Terhadap Keuntungan dan Daya Saing Rumput Laut Analisis sensitivitas bertujuan untuk melihat bagaimana hasil analisis suatu usahatani rumput laut bila terjadi perubahan terhadap input maupun output. Perubahan ini dapat mempengaruhi penerimaan dan biaya petani rumput laut di Kepulauan Tanakeke. Analisis sensitivitas pada penelitian ini dilakukan dengan mengubah besarnya produksi dan harga rumput laut. Penetapan besarnya perubahanperubahan tersebut didasarkan atas asumsi-asumsi sebagai berikut :

15 97 3. Fluktuasi harga rumput laut sebesar 16 persen per tahun ditetapkan berdasarkan kondisi fluktuasi harga yang terjadi di tempat penelitian. 4. Perubahan besarnya produksi rumput laut sebesar 30 persen. Analisis kepekaan (sensitivity analysis) adalah analisis yang dilakukan untuk melihat pengaruh yang akan terjadi akibat keadaan yang berubah-ubah (Gittinger, 1986). Analisis sensitivitas dilakukan karena analisis dalam metode PAM merupakan analisis yang bersifat statis. Hal ini juga berguna untuk mengetahui kepekaan efesiensi dalam usahatani rumput laut terhadap perubahan seperti perubahan produksi dan harga. Analisis sensitivitas yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan 2 skenario yang mencakup penurunan harga output rumput laut sebesar 16 persen dan penurunan produksi sebesar 30 persen. Setiap simulasi dilakukan dengan asumsi harga input lainnya tetap (cateris paribus). Analisis sensitivitas terhadap indikator daya saing dapat dilihat pada Tabel 18. Tabel 18. No. Nilai Keuntungan Berdasarkan Analisis Sensitivitas Rumput Laut di Kepulauan Tanakeke, Skenario Privat Keuntungan Sosial 1 Kondisi Normal Harga output turun 16 persen Produksi turun 30 persen Tabel 18 menunjukkan bahwa apabila terjadi penurunan produksi rumput laut sebesar 30 persen, menyebabkan keuntungan privat petani rumput laut di Kepulauan Tanakeke menjadi lebih sedikit dibandingkan pada kondisi tanpa adanya perubahan. Hal ini menunjukkan bahwa pengusahaan rumput laut di Kepulauan Tanakeke sensitif terhadap perubahan produksi. Sedangkan apabila terjadi penurunan harga output rumput laut sebesar 16 persen, maka petani masih memiliki keuntungan yang positif atau masih layak untuk diusahakan meskipun keuntungan tersebut akan berkurang 2 kali lipat dari kondisi normal.

16 98 Analisis sensitivitas juga dilakukan untuk melihat daya saing rumput laut di Kepulauan Tanakeke apabila terjadi perubahan harga output maupun produksi. Analisis sensitivitas terhadap indikator daya saing dapat dilihat pada Tabel 19. Tabel 19 menunjukkan bahwa kebijakan yang menjadikan petani rumput laut pada kondisi tidak berdaya saing dan paling sensitif terhadap perubahan daya saing adalah ketika produksi rumput laut turun sebesar 30 persen. Penurunan produksi sebesar 30 persen dan penurunan harga output sebesar 16 persen menyebabkan nilai DRC dan PCR semakin besar dari kondisi normal. Hal ini berarti usahatani rumput laut di Kepulauan Tanakeke akan semakin kurang efesien untuk diproduksi baik secara privat amupun maupun sosial. Oleh karena itu, pemerintah harus benar-benar memperhatikan kestabilan harga rumput laut agar petani rumput laut tetap memiliki insentif untuk membudidayakan rumput laut. Tabel 19. Indikator Daya Saing Berdasarkan Analisis Sensitivitas Rumput Laut di Kepulauan Tanakeke, Tahun No. Skenario Indikator Daya Saing DRC PCR 1 Kondisi Normal Harga output turun 16 persen Produksi turun 30 persen Kebijakan Alternatif Terhadap Peningkatan Daya Saing Usahatani Rumput laut Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan menunjukkan bahwa secara umum peran pemerintah dalam usahatani rumput laut masih belum memberikan perlindungan terhadap petani rumput laut. Usahatani rumput laut hanya dapat berkembang dan maju apabila didukung oleh kebijakan yang kondusif. Berdasarkan analisis PAM dan sensitivitas yang dilakukan, maka dalam meningkatkan daya saing rumput laut baik di pasar domestik maupun pasar internasional, hendaknya pemerintah harus melindungi petani rumput laut melalui peningkatan produktivitas dan harga jual rumput laut.

17 99 Peningkatan harga jual rumput laut berkaitan dengan kualitas rumput laut yang dimiliki oleh petani rumput laut saat ini. Harga jual rumput laut di pasar internasional sangat rendah, bahkan beberapa negara maju pengimpor rumput laut dari Indonesia mengurangi permintaan rumput laut Eucheuma cottoni akibat rumput laut yang dimiliki oleh petani tidak memenuhi standar kualitas yang diberlakukan oleh negara-negara pengimpor seperti Cina dan Jepang. Sehubungan dengan masalah yang dialami oleh petani rumput laut saat ini mengenai kualitas agar tetap memiliki harga jual yang tinggi maka komitmen pemerintah adalah dengan melakukan program-program peningkatan produktivitas dan kualitas diantaranya pemerintah memfokuskan pengembangan minopolitan percontohan di 41 lokasi yaitu 9 lokasi Minapolitan berbasis perikanan tangkap, 24 lokasi Minapolitan berbasis perikanan budidaya, dan 8 lokasi sentra garam. Pelaksanaan program minapolitan memiliki tiga tujuan yaitu meningkatkan produksi serta kualitas, meningkatkan pendapatan nelayan pembudidaya serta pengolah ikan, dan mengembangkan kawasan ekonomi kelautan dan perikanan untuk menggerakan ekonomi daerah. Selain itu pemerintah juga memberlakukan sistem resi gudang dengan menggunakan hasil produksi rumput laut sebagai salah satu komoditas yang akan menjadi standar dan dipergunakan dalam sistem tersebut. Hal ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 36 Tahun 2007 tentang Resi Gudang untuk melaksanakan ketentuan UU Nomor 9 Tahun 2006 tentang Sistem Resi Gudang. Resi gudang ini akan memiliki sistem appraisal yang bertugas untuk menentukan standar rumput laut dan rumput laut yang disimpan bisa dijadikan agunan berdasarkan Permendag No. 26/M-DAG/PER/6/2007 tentang barang yang dapat disimpan di gudang dalam penyelenggaraan sistem resi gudang, maka rumput laut merupakan salah satu komoditas yang dapat diresi gudangkan (Kemenetrian Kelautan dan Perikanan, 2011). Kementrian Kelautan dan Perikanan bekerjasama dengan Kementerian Perdagangan memfasilitasi kelompok masyarakat atau sektor usaha rumput laut untuk memanfaatkan keberadaan gudang sebagai tempat penampungan rumput laut yang terstandarisasi, selain itu menyediakan data dan informasi pasar terkait

18 100 pemasaran hasil-hasil produksi rumput laut. Berkaitan dengan hal tersebut, maka Kementerian Perdagangan telah mempunyai program pendukung melalui Sistem Resi Gudang dan Pasar Lelang. Melalui kedua program tersebut memungkinkan pelaku usaha di bidang rumput laut untuk melakukan tunda jual guna memperoleh harga yang lebih baik. Saat ini Kemnetrian Perdagangan bekerjasama dengan pemerintah daerah provinsi menyelenggarakan Pasar Lelang, terdapat tiga provinsi yang menyelenggarakan Pasar Lelang yaitu Provinsi Sulawesi Selatan (Makassar), Sulawesi Tenggara (Kendari) dan Nusa Tenggara Barat (Mataram).

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN VI HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1 Analisis Daya Saing Analisis keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan prospek serta kemampuan komoditi susu sapi lokal dalam

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Usaha Sapi Potong di Kabupaten Indrgiri Hulu 5.1.1. Profitabilitas Privat dan Sosial Usaha Sapi Potong Usaha peternakan sapi

Lebih terperinci

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1. Analisis Daya Saing Analisis keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan prospek serta kemampuan komoditi gula lokal yang dihasilkan

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN 45 IV. METODE PENELITIAN 4.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kepulauan Tanakeke, Kabupaten Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan. Pemilihan daerah tersebut dilakukan secara purposive

Lebih terperinci

ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KENTANG

ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KENTANG ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KENTANG VI. 6.1 Analisis Dayasaing Hasil empiris dari penelitian ini mengukur dayasaing apakah kedua sistem usahatani memiliki keunggulan

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Karangasem dengan lokasi sampel penelitian, di Desa Dukuh, Kecamatan Kubu. Penentuan lokasi penelitian dilakukan

Lebih terperinci

VI. ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA USAHATANI JAMBU BIJI

VI. ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA USAHATANI JAMBU BIJI VI. ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA USAHATANI JAMBU BIJI Daya saing usahatani jambu biji diukur melalui analisis keunggulan komparatif dan kompetitif dengan menggunakan Policy

Lebih terperinci

VI. ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN SIAM DEDDY FISH FARM

VI. ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN SIAM DEDDY FISH FARM VI. ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN SIAM DEDDY FISH FARM Analisis keunggulan komparatif dan kompetitif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan prospek serta

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 26 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan batasan operasional merupakan pengertian dan petunjuk mengenai variabel yang akan diteliti untuk memperoleh dan menganalisis

Lebih terperinci

DAYA SAING KEDELAI DI KECAMATAN GANDING KABUPATEN SUMENEP

DAYA SAING KEDELAI DI KECAMATAN GANDING KABUPATEN SUMENEP DAYA SAING KEDELAI DI KECAMATAN GANDING KABUPATEN SUMENEP PURWATI RATNA W, RIBUT SANTOSA, DIDIK WAHYUDI Fakultas Pertanian, Universitas Wiraraja Sumenep ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah (1) menganalisis

Lebih terperinci

IV METODOLOGI PENELITIAN

IV METODOLOGI PENELITIAN IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada petani tebu di wilayah kerja Pabrik Gula Sindang Laut Kabupaten Cirebon Propinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi penelitian

Lebih terperinci

VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK

VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK 6.1 Analisis Keuntungan Sistem Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok Analisis keunggulan komparatif

Lebih terperinci

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan tujuan penelitian dan hasil analisis, maka pada penelitian ini

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan tujuan penelitian dan hasil analisis, maka pada penelitian ini BAB VII SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan tujuan penelitian dan hasil analisis, maka pada penelitian ini diperoleh beberapa simpulan, implikasi kebijakan dan saran-saran seperti berikut. 7.1 Simpulan 1. Dari

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Daya Saing Perdagangan Internasional pada dasarnya merupakan perdagangan yang terjadi antara suatu negara tertentu dengan negara yang

Lebih terperinci

sesuaian harga yang diterima dengan cost yang dikeluarkan. Apalagi saat ini,

sesuaian harga yang diterima dengan cost yang dikeluarkan. Apalagi saat ini, RINGKASAN Kendati Jambu Mete tergolong dalam komoditas unggulan, namun dalam kenyataannya tidak bisa dihindari dan kerapkali mengalami guncangan pasar, yang akhirnya pelaku (masyarakat) yang terlibat dalam

Lebih terperinci

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF BERAS SOLOK ORGANIK Mardianto 1, Edi Firnando 2

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF BERAS SOLOK ORGANIK Mardianto 1, Edi Firnando 2 ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF BERAS SOLOK ORGANIK Mardianto 1, Edi Firnando 2 email: mardianto.anto69@gmail.com ABSTRAK 9 Penelitian tentang Analisis Keunggulan Komparatif dan Kompetitif

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP JERUK SIAM

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP JERUK SIAM VI ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP JERUK SIAM 6.1. Analisis Daya Saing Analisis keunggulan kompetitif dan komparatif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan kemampuan jeruk

Lebih terperinci

Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Daya Saing Komoditas Kelapa di Kabupaten Flores Timur

Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Daya Saing Komoditas Kelapa di Kabupaten Flores Timur Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Daya Saing Komoditas Kelapa di Kabupaten Flores Timur Krisna Setiawan* Haryati M. Sengadji* Program Studi Manajemen Agribisnis, Politeknik Pertanian Negeri

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional ini mencakup pengertian yang. jagung per musim tanam yang, diukur dalam satuan ton.

III. METODOLOGI PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional ini mencakup pengertian yang. jagung per musim tanam yang, diukur dalam satuan ton. III. METODOLOGI PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan definisi operasional ini mencakup pengertian yang digunakan untuk mendapatkan data dan melakukan analisis terhadap tujuan

Lebih terperinci

3.5 Teknik Pengumpulan data Pembatasan Masalah Definisi Operasional Metode Analisis Data

3.5 Teknik Pengumpulan data Pembatasan Masalah Definisi Operasional Metode Analisis Data DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... ii HALAMAN PERNYATAAN... iii KATA PENGANTAR... iv DAFTAR ISI... vi DAFTAR TABEL... ix DAFTAR GAMBAR... xi DAFTAR LAMPIRAN... xii ABSTRAK... xiii ABSTRACT...

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Pasir Penyu dan Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Kabupaten Indragiri Hulu terdiri

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan tujuan

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan tujuan 33 III. METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional dan Konsep Dasar Konsep dasar dan batasan operasional ini mencakup pengertian yang digunakan untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. A. Metode Dasar Penelitian

METODE PENELITIAN. A. Metode Dasar Penelitian II. METODE PENELITIAN A. Metode Dasar Penelitian Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode deskriptif analitis. Menurut Nazir (2014) Metode deskriptif adalah suatu metode dalam

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN. Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Pemilihan lokasi

IV. METODE PENELITIAN. Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Pemilihan lokasi IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Studi kasus penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Sukaresmi dan Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Pemilihan lokasi dilakukan secara purpossive

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

METODE PENELITIAN. 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan

Lebih terperinci

Volume 12, Nomor 1, Hal ISSN Januari - Juni 2010

Volume 12, Nomor 1, Hal ISSN Januari - Juni 2010 Volume 12, Nomor 1, Hal. 55-62 ISSN 0852-8349 Januari - Juni 2010 DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP DAYA SAING DAN EFISIENSI SERTA KEUNGGULAN KOMPETITIF DAN KOMPARATIF USAHA TERNAK SAPI RAKYAT DI KAWASAN

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING APEL JAWA TIMUR (Studi Kasus Apel Batu, Nongkojajar dan Poncokusumo)

ANALISIS DAYA SAING APEL JAWA TIMUR (Studi Kasus Apel Batu, Nongkojajar dan Poncokusumo) ANALISIS DAYA SAING APEL JAWA TIMUR (Studi Kasus Apel Batu, Nongkojajar dan Poncokusumo) Novi Itsna Hidayati 1), Teguh Sarwo Aji 2) Dosen Fakultas Pertanian Universitas Yudharta Pasuruan ABSTRAK Apel yang

Lebih terperinci

Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 12 No. 2, Agustus 2007 Hal: namun sering harganya melambung tinggi, sehingga tidak terjangkau oleh nelayan. Pe

Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 12 No. 2, Agustus 2007 Hal: namun sering harganya melambung tinggi, sehingga tidak terjangkau oleh nelayan. Pe Jurnal EKONOMI PEMBANGUNAN Kajian Ekonomi Negara Berkembang Hal: 141 147 EFISIENSI EKONOMI DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP USAHA PENANGKAPAN LEMURU DI MUNCAR, JAWA TIMUR Mira Balai Besar Riset

Lebih terperinci

KERANGKA PEMIKIRAN. berupa derasnya arus liberalisasi perdagangan, otonomi daerah serta makin

KERANGKA PEMIKIRAN. berupa derasnya arus liberalisasi perdagangan, otonomi daerah serta makin 22 III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Analisis Dewasa ini pengembangan sektor pertanian menghadapi tantangan dan tekanan yang semakin berat disebabkan adanya perubahan lingkungan strategis

Lebih terperinci

VII. ANALISIS DAYA SAING USAHATANI JAGUNG

VII. ANALISIS DAYA SAING USAHATANI JAGUNG VII. ANALISIS DAYA SAING USAHATANI JAGUNG 7.1. Profitabilitas Privat dan Sosial Analisis finansial dan ekonomi usahatani jagung memberikan gambaran umum dan sederhana mengenai tingkat kelayakan usahatani

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN 23 III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Daya Saing Daya saing merupakan kemampuan suatu produsen untuk memproduksi suatu komoditi dengan mutu yang baik dan biaya produksi

Lebih terperinci

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Harga Gula Domestik

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Harga Gula Domestik II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Harga Gula Domestik Menurut Susila (2005), Indonesia merupakan negara kecil dalam perdagangan dunia dengan pangsa impor sebesar 3,57 persen dari impor gula dunia sehingga Indonesia

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN 51 IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di tiga tempat di Provinsi Bangka Belitung yaitu Kabupaten Bangka Selatan, Kabupaten Bangka Barat, dan Kabupaten Belitung.

Lebih terperinci

ANALISIS SENSITIVITAS

ANALISIS SENSITIVITAS VII ANALISIS SENSITIVITAS 7.1. Analisis Sensitivitas Analisis sensitivitas dilakukan untuk mengetahui bagaimana pengaruh dari perubahan kurs mata uang rupiah, harga jeruk siam dan harga pupuk bersubsidi

Lebih terperinci

III METODE PENELITIAN. Daya saing adalah suatu konsep yang menyatakan kemampuan suatu produsen

III METODE PENELITIAN. Daya saing adalah suatu konsep yang menyatakan kemampuan suatu produsen III METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Daya saing adalah suatu konsep yang menyatakan kemampuan suatu produsen untuk memproduksi suatu komoditas dengan mutu yang cukup baik dan

Lebih terperinci

DAMPAK KEBIJAKAN PEMBATASAN IMPOR BAWANG MERAH TERHADAP USAHATANI BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO

DAMPAK KEBIJAKAN PEMBATASAN IMPOR BAWANG MERAH TERHADAP USAHATANI BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO DAMPAK KEBIJAKAN PEMBATASAN IMPOR BAWANG MERAH TERHADAP USAHATANI BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO Policy Impact of Import Restriction of Shallot on Farm in Probolinggo District Mohammad Wahyudin,

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN 28 IV. METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan dari Bulan Pebruari sampai April 2009, mengambil lokasi di 5 Kecamatan pada wilayah zona lahan kering dataran rendah

Lebih terperinci

VII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING LADA PUTIH

VII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING LADA PUTIH 93 VII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING LADA PUTIH 7.1. Justifikasi Harga Bayangan Penelitian ini, untuk setiap input dan output ditetapkan dua tingkat harga, yaitu harga

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN

IV METODE PENELITIAN IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Desa Cilembu (Kecamatan Tanjungsari) dan Desa Nagarawangi (Kecamatan Rancakalong) Kabupaten Sumedang, Propinsi Jawa Barat.

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KEDELAI VS PENGUSAHAAN KEDELAI DI KABUPATEN LAMONGAN, JAWA TIMUR

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KEDELAI VS PENGUSAHAAN KEDELAI DI KABUPATEN LAMONGAN, JAWA TIMUR ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KEDELAI VS PENGUSAHAAN KEDELAI DI KABUPATEN LAMONGAN, JAWA TIMUR Syahrul Ganda Sukmaya 1), Dwi Rachmina 2), dan Saptana 3) 1) Program

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu Menurut penelitian Fery (2013) tentang analisis daya saing usahatani kopi Robusta di kabupaten Rejang Lebong dengan menggunakan metode Policy Analiysis

Lebih terperinci

VII. DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DAN FAKTOR LAINNYA TERHADAP KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF PADA USAHATANI JAMBU BIJI

VII. DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DAN FAKTOR LAINNYA TERHADAP KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF PADA USAHATANI JAMBU BIJI VII. DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DAN FAKTOR LAINNYA TERHADAP KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF PADA USAHATANI JAMBU BIJI Analisis sensitivitas perlu dilakukan karena analisis dalam metode

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PRODUKSI KAKAO DI JAWA TIMUR

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PRODUKSI KAKAO DI JAWA TIMUR ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PRODUKSI KAKAO DI JAWA TIMUR Dede Haryono 1, Soetriono 2, Rudi Hartadi 2, Joni Murti Mulyo Aji 2 1 Program Studi Agribisnis Program Magister

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING USAHA PEMBESARAN IKAN NILA PETANI PEMODAL KECIL DI KABUPATEN MUSI RAWAS

ANALISIS DAYA SAING USAHA PEMBESARAN IKAN NILA PETANI PEMODAL KECIL DI KABUPATEN MUSI RAWAS ANALISIS DAYA SAING USAHA PEMBESARAN IKAN NILA PETANI PEMODAL KECIL DI KABUPATEN MUSI RAWAS Competitiveness Analysis of Tilapia Grower Business of Small Farmers in Musi Rawas Regency Verry Yarda Ningsih,

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING AGRIBISNIS BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO

ANALISIS DAYA SAING AGRIBISNIS BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO ANALISIS DAYA SAING AGRIBISNIS BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO COMPETITIVENESS ANALYSIS OF SHALLOTS AGRIBUSINESS IN PROBOLINGGO REGENCY Competitiveness analysis of shallot business in Probolinggo

Lebih terperinci

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN VIII. KESIMPULAN DAN SARAN 8.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1.a. Faktor-faktor yang berpengaruh nyata/signifikan terhadap produksi usahatani jagung

Lebih terperinci

MACAM-MACAM ANALISA USAHATANI

MACAM-MACAM ANALISA USAHATANI MACAM-MACAM ANALISA USAHATANI Pendahuluan Sebelum melakukan analisis, data yang dipakai harus dikelompokkan dahulu : 1. Data Parametrik : data yang terukur dan dapat dibagi, contoh; analisis menggunakan

Lebih terperinci

VII. ANALISIS DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PADA USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN Kerangka Skenario Perubahan Harga Input dan Output

VII. ANALISIS DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PADA USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN Kerangka Skenario Perubahan Harga Input dan Output VII. ANALISIS DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PADA USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN 7.1. Kerangka Skenario Perubahan Harga Input dan Output Perubahan-perubahan dalam faktor eksternal maupun kebijakan pemerintah

Lebih terperinci

Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Beras Organik Ekspor (Suatu Kasus di Gapoktan Simpatik Kabupaten Tasikmalaya)

Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Beras Organik Ekspor (Suatu Kasus di Gapoktan Simpatik Kabupaten Tasikmalaya) Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Beras Organik Ekspor (Suatu Kasus di Gapoktan Simpatik Kabupaten Tasikmalaya) Tirsa Neyatri Bandrang, Ronnie S. Natawidjaja, Maman Karmana Program Magister

Lebih terperinci

DAYA SAING USAHA BUDI DAYA IKAN PATIN DI KABUPATEN INDRAGIRI HULU PROVINSI RIAU ABSTRACT ABSTRAK

DAYA SAING USAHA BUDI DAYA IKAN PATIN DI KABUPATEN INDRAGIRI HULU PROVINSI RIAU ABSTRACT ABSTRAK DAYA SAING USAHA BUDI DAYA IKAN PATIN DI KABUPATEN INDRAGIRI HULU PROVINSI RIAU Silvia Hayandani *)1, Muhammad Firdaus **), dan Wiwik Rindayati **) *) Dinas Pendidikan Provinsi Riau Jl. Cut Nyak Dien No.

Lebih terperinci

Analysis of Competitiveness and Marketing Channels Ikan Kembung ( Rastrelliger sp.) in Rembang Regency, Central Java Effect

Analysis of Competitiveness and Marketing Channels Ikan Kembung ( Rastrelliger sp.) in Rembang Regency, Central Java Effect ANALISIS DAYA SAING DAN SALURAN PEMASARAN IKAN KEMBUNG (RASTRELLIGER SP.) DI KABUPATEN REMBANG, JAWA TENGAH Analysis of Competitiveness and Marketing Channels Ikan Kembung ( Rastrelliger sp.) in Rembang

Lebih terperinci

Jurnal Agribisnis dan Ekonomi Pertanian (Volume 3. No 2 Desember 2009)

Jurnal Agribisnis dan Ekonomi Pertanian (Volume 3. No 2 Desember 2009) 58 ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF KAIN TENUN SUTERA PRODUKSI KABUPATEN GARUT Dewi Gustiani 1 dan Parulian Hutagaol 2 1 Alumni Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen - IPB

Lebih terperinci

PENENTUAN PRODUK UNGGULAN PADA KAWASAN MINAPOLITAN DI KABUPATEN GIANYAR

PENENTUAN PRODUK UNGGULAN PADA KAWASAN MINAPOLITAN DI KABUPATEN GIANYAR PENENTUAN PRODUK UNGGULAN PADA KAWASAN MINAPOLITAN DI KABUPATEN GIANYAR I Ketut Arnawa Program Studi Agribisnis Universitas Mahasaraswati Denpasar E-mail: arnawa_62@yahoo.co.id ABSTRACT The main objective

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITI PADI SAWAH DI KECAMATAN PERBAUNGAN KABUPATEN SERDANG BEDAGAI ABSTRACT

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITI PADI SAWAH DI KECAMATAN PERBAUNGAN KABUPATEN SERDANG BEDAGAI ABSTRACT ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITI PADI SAWAH DI KECAMATAN PERBAUNGAN KABUPATEN SERDANG BEDAGAI Denti Juli Irawati*), Luhut Sihombing **), Rahmanta Ginting***) *) Alumni

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan dan menganalisis data sesuai dengan tujuan penelitian.

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan dan menganalisis data sesuai dengan tujuan penelitian. 29 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan definisi operasional mencakup pengertian yang dipergunakan untuk mendapatkan dan menganalisis data sesuai dengan tujuan

Lebih terperinci

Pengkajian Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Usahatani Padi dan Jeruk Lahan Gambut Kabupaten Barito Kuala Kalimantan Selatan

Pengkajian Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Usahatani Padi dan Jeruk Lahan Gambut Kabupaten Barito Kuala Kalimantan Selatan Pengkajian Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Usahatani Padi dan Jeruk Lahan Gambut Kabupaten Barito Kuala Kalimantan Selatan Muhammad Husaini Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian

Lebih terperinci

STUDI KELAYAKAN BISNIS ( Domestic Resource Cost )

STUDI KELAYAKAN BISNIS ( Domestic Resource Cost ) STUDI KELAYAKAN BISNIS ( Domestic Resource Cost ) Oleh: Dr Rita Nurmalina Suryana INSTITUT PERTANIAN BOGOR Domestic Resource Cost Of Earning or Saving a Unit of Foreign Exchange (Biaya Sumberdaya Domestik

Lebih terperinci

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHATANI JAGUNG DAN PADI DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW PROPINSI SULAWESI UTARA ZULKIFLI MANTAU

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHATANI JAGUNG DAN PADI DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW PROPINSI SULAWESI UTARA ZULKIFLI MANTAU ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHATANI JAGUNG DAN PADI DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW PROPINSI SULAWESI UTARA ZULKIFLI MANTAU SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009 SURAT PERNYATAAN

Lebih terperinci

ANALISIS DAYASAING USAHATANI JAGUNG DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW PROPINSI SULAWESI UTARA

ANALISIS DAYASAING USAHATANI JAGUNG DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW PROPINSI SULAWESI UTARA ANALISIS DAYASAING USAHATANI JAGUNG DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW PROPINSI SULAWESI UTARA Zulkifli Mantau, Bahtiar, Aryanto Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Gorontalo Jl. Kopi No.270 Kec. Tilongkabila

Lebih terperinci

Jurnal Agribisnis dan Ekonomi Pertanian (Volume 2. No 1 Juni 2008)

Jurnal Agribisnis dan Ekonomi Pertanian (Volume 2. No 1 Juni 2008) 1 ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF PENGUSAHAAN KOMODITI JAGUNG DI KABUPATEN GROBOGAN A. Faroby Falatehan 1 dan Arif Wibowo 2 1 Departemen Ekonomi Sumberdaya Lingkungan, Fakultas Ekonomi dan

Lebih terperinci

POLICY BRIEF DAYA SAING KOMODITAS PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI DALAM KONTEKS PENCAPAIAN SWASEMBADA PANGAN. Dr. Adang Agustian

POLICY BRIEF DAYA SAING KOMODITAS PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI DALAM KONTEKS PENCAPAIAN SWASEMBADA PANGAN. Dr. Adang Agustian PENDAHULUAN POLICY BRIEF DAYA SAING KOMODITAS PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI DALAM KONTEKS PENCAPAIAN SWASEMBADA PANGAN Dr. Adang Agustian 1) Salah satu peran strategis sektor pertanian dalam perekonomian nasional

Lebih terperinci

DAYA SAING JAGUNG, KETELA POHON, DAN KETELA RAMBAT PRODUKSI LAHAN KERING DI KECAMATAN KUBU, KABUPATEN KARANGASEM PROVINSI BALI

DAYA SAING JAGUNG, KETELA POHON, DAN KETELA RAMBAT PRODUKSI LAHAN KERING DI KECAMATAN KUBU, KABUPATEN KARANGASEM PROVINSI BALI DAYA SAING JAGUNG, KETELA POHON, DAN KETELA RAMBAT PRODUKSI LAHAN KERING DI KECAMATAN KUBU, KABUPATEN KARANGASEM PROVINSI BALI I Made Tamba Universitas Mahasaraswati Denpasar ABSTRAK Jagung, ketela pohon

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. peneliti menggunakan konsep dasar dan batasan oprasional sebagai berikut:

III. METODE PENELITIAN. peneliti menggunakan konsep dasar dan batasan oprasional sebagai berikut: III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Batasan Operasional Agar tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda pada penelitian ini, maka peneliti menggunakan konsep dasar dan batasan oprasional sebagai

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. 4.1 METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan

Lebih terperinci

DAMPAK KEBIJAKAN KREDIT DAN SUBSIDI PUPUK TERHADAP KEUNTUNGAN USAHATANI PADI. I Made Tamba Ni Luh Pastini

DAMPAK KEBIJAKAN KREDIT DAN SUBSIDI PUPUK TERHADAP KEUNTUNGAN USAHATANI PADI. I Made Tamba Ni Luh Pastini DAMPAK KEBIJAKAN KREDIT DAN SUBSIDI PUPUK TERHADAP KEUNTUNGAN USAHATANI PADI I Made Tamba Ni Luh Pastini ABSTRACT Rice is high-valued commodities since pre-independence era. The paper aims to analyze impact

Lebih terperinci

Economics Development Analysis Journal

Economics Development Analysis Journal EDAJ 5 (4) (2016) Economics Development Analysis Journal http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/edaj ANALISIS KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM MENINGKATAN DAYA SAING INDUSTRI PAKAIAN JADI Awinda lutfina Ratnasari

Lebih terperinci

Lampiran 1. Syarat Mutu Lada Putih Mutu I dan Mutu II. binatang

Lampiran 1. Syarat Mutu Lada Putih Mutu I dan Mutu II. binatang 131 Lampiran 1. Syarat Mutu Lada Putih Mutu I dan Mutu II No Jenis Uji Satuan 1 Cemaran Binatang 2 Warna 3 Kadar Benda Asing (b/b) 4 Kadar Biji Enteng (b/b) 5 Kadar Cemaran Kapang 6 Kadar Warna Kehitam-hitaman

Lebih terperinci

KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN DAMPAK KEBIJAKAN PENGURANGAN SUBSIDI INPUT TERHADAP PENGEMBANGAN KOMODITAS KENTANG DI KOTA BATU

KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN DAMPAK KEBIJAKAN PENGURANGAN SUBSIDI INPUT TERHADAP PENGEMBANGAN KOMODITAS KENTANG DI KOTA BATU Habitat Volume XXIV, No. 2, Bulan Agustus 2013 ISSN: 0853-5167 KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN DAMPAK KEBIJAKAN PENGURANGAN SUBSIDI INPUT TERHADAP PENGEMBANGAN KOMODITAS KENTANG DI KOTA BATU COMPARATIVE ADVANTAGE

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN. Fish Farm) dilaksanakan di lokasi usaha yang bersangkutan yaitu di daerah

IV. METODE PENELITIAN. Fish Farm) dilaksanakan di lokasi usaha yang bersangkutan yaitu di daerah IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Studi kasus penelitian mengenai Analisis Keunggulan Komparatif dan Kompetitif Usaha Pembenihan Ikan Patin Siam (Studi Kasus : Perusahaan Deddy Fish Farm) dilaksanakan

Lebih terperinci

EFISIENSI DAN DAYA SAING USAHATANI HORTIKULTURA

EFISIENSI DAN DAYA SAING USAHATANI HORTIKULTURA EFISIENSI DAN DAYA SAING USAHATANI HORTIKULTURA Handewi P.S. Rachman, Supriyati, Saptana, Benny Rachman Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian Jl. A. Yani No. 70 Bogor 16161 ABSTRACT

Lebih terperinci

DAYA SAING USAHA TERNAK SAPI RAKYAT PADA KELOMPOK TANI DAN NON KELOMPOK TANI (suatu survey di Kelurahan Eka Jaya)

DAYA SAING USAHA TERNAK SAPI RAKYAT PADA KELOMPOK TANI DAN NON KELOMPOK TANI (suatu survey di Kelurahan Eka Jaya) Volume, Nomor 2, Hal. 09-6 ISSN 0852-8349 Juli - Desember 2009 DAYA SAING USAHA TERNAK SAPI RAKYAT PADA KELOMPOK TANI DAN NON KELOMPOK TANI (suatu survey di Kelurahan Eka Jaya) Muhammad Farhan dan Anna

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING USAHATANI KELAPA SAWIT DI KABUPATEN MUKOMUKO (STUDI KASUS DESA BUMI MULYA)

ANALISIS DAYA SAING USAHATANI KELAPA SAWIT DI KABUPATEN MUKOMUKO (STUDI KASUS DESA BUMI MULYA) ANALISIS DAYA SAING USAHATANI KELAPA SAWIT DI KABUPATEN MUKOMUKO (STUDI KASUS DESA BUMI MULYA) ANALYSIS OF PALM OIL FARMING COMPETITIVENESS IN MUKOMUKO DISTRICT (CASE STUDY VILLAGE BUMI MULYA) Aprizal,

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Budidaya tebu adalah proses pengelolaan lingkungan tumbuh tanaman

TINJAUAN PUSTAKA. Budidaya tebu adalah proses pengelolaan lingkungan tumbuh tanaman 24 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Usahatani Tebu 2.1.1 Budidaya Tebu Budidaya tebu adalah proses pengelolaan lingkungan tumbuh tanaman sehingga tanaman dapat tumbuh dengan optimum dan dicapai hasil yang diharapkan.

Lebih terperinci

DAMPAK DEPRESIASI RUPIAH TERHADAP DAYA SAING DAN TINGKAT PROTEKSI KOMODITAS PADI DI KABUPATEN BADUNG

DAMPAK DEPRESIASI RUPIAH TERHADAP DAYA SAING DAN TINGKAT PROTEKSI KOMODITAS PADI DI KABUPATEN BADUNG DAMPAK DEPRESIASI RUPIAH TERHADAP DAYA SAING DAN TINGKAT PROTEKSI KOMODITAS PADI DI KABUPATEN BADUNG Jarek Putradi Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Badung, Bali jarek.putradi@gmail.com

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Analisis Daya Saing Dalam sistem perekonomian dunia yang semakin terbuka, faktor-faktor yang mempengaruhi perdagangan dunia (ekspor dan impor)

Lebih terperinci

ANALISIS KEBIJAKAN KOPI ROBUSTA DALAM UPAYA MENINGKATKAN DAYA SAING DAN PENGUATAN REVITALISASI PERKEBUNAN

ANALISIS KEBIJAKAN KOPI ROBUSTA DALAM UPAYA MENINGKATKAN DAYA SAING DAN PENGUATAN REVITALISASI PERKEBUNAN ANALISIS KEBIJAKAN KOPI ROBUSTA DALAM UPAYA MENINGKATKAN DAYA SAING DAN PENGUATAN REVITALISASI PERKEBUNAN Anik Suwandari dan Soetriono Dosen Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian/ Agribisnis Fakultas Pertanian

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS UDANG VANNAMEI DI DESA GLAGAH KABUPATEN LAMONGAN WACHIDATUS SA'ADAH

ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS UDANG VANNAMEI DI DESA GLAGAH KABUPATEN LAMONGAN WACHIDATUS SA'ADAH ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS UDANG VANNAMEI DI DESA GLAGAH KABUPATEN LAMONGAN WACHIDATUS SA'ADAH ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya saing usahatani budidaya udang vannamei intensifdan

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN STRUKTUR PROTEKSI KOMODITAS PALAWIJA

ANALISIS DAYA SAING DAN STRUKTUR PROTEKSI KOMODITAS PALAWIJA ANALISIS DAYA SAING DAN STRUKTUR PROTEKSI KOMODITAS PALAWIJA I Wayan Rusastra, Benny Rachman dan Supena Friyatno Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian Jl. A. Yani No. 7 Bogor 16161

Lebih terperinci

VIII. ANALISIS KEBIJAKAN ATAS PERUBAHAN HARGA OUTPUT/ INPUT, PENGELUARAN RISET JAGUNG DAN INFRASTRUKTUR JALAN

VIII. ANALISIS KEBIJAKAN ATAS PERUBAHAN HARGA OUTPUT/ INPUT, PENGELUARAN RISET JAGUNG DAN INFRASTRUKTUR JALAN VIII. ANALISIS KEBIJAKAN ATAS PERUBAHAN HARGA OUTPUT/ INPUT, PENGELUARAN RISET JAGUNG DAN INFRASTRUKTUR JALAN 8.1. Pengaruh Perubahan Harga Output dan Harga Input terhadap Penawaran Output dan Permintaan

Lebih terperinci

DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING RUMPUT LAUT DI KEPULAUAN TANAKEKE PROVINSI SULAWESI SELATAN MUTMAINNA

DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING RUMPUT LAUT DI KEPULAUAN TANAKEKE PROVINSI SULAWESI SELATAN MUTMAINNA 1 DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING RUMPUT LAUT DI KEPULAUAN TANAKEKE PROVINSI SULAWESI SELATAN MUTMAINNA SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 2 SURAT PERNYATAAN

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING USAHATANI KOPI ROBUSTA (COFFEA CANEPHORA) DI KABUPATEN REJANG LEBONG

ANALISIS DAYA SAING USAHATANI KOPI ROBUSTA (COFFEA CANEPHORA) DI KABUPATEN REJANG LEBONG ANALISIS DAYA SAING USAHATANI KOPI ROBUSTA (COFFEA CANEPHORA) DI KABUPATEN REJANG LEBONG The Competitiveness of Robusta Coffee Farming in Rejang Lebong District Fery Murtiningrum, Putri Suci Asriani, dan

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING AGRIBISNIS RUMPUT LAUT DI KABUPATEN LOMBOK TIMUR

ANALISIS DAYA SAING AGRIBISNIS RUMPUT LAUT DI KABUPATEN LOMBOK TIMUR Jurnal Agribisnis Indonesia (Vol 5 No 2, Desember 2017); halaman 89-102 89 ANALISIS DAYA SAING AGRIBISNIS RUMPUT LAUT DI KABUPATEN LOMBOK TIMUR Fadli 1, Rachmat Pambudy 2 and Harianto 2 1) Magister Sains

Lebih terperinci

KERANGKA PEMIKIRAN Struktur Biaya Produksi Usahaternak Sapi Perah

KERANGKA PEMIKIRAN Struktur Biaya Produksi Usahaternak Sapi Perah III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Faktor-faktor Produksi Usahaternak Sapi Perah Produksi adalah suatu proses penting dalam usahaternak, menurut Raharja (2000), produksi adalah

Lebih terperinci

ANALISIS NILAI TAMBAH DAN DAYA SAING SERTA DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP INDUSTRI TEMPE DI KABUPATEN BOGOR

ANALISIS NILAI TAMBAH DAN DAYA SAING SERTA DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP INDUSTRI TEMPE DI KABUPATEN BOGOR ANALISIS NILAI TAMBAH DAN DAYA SAING SERTA DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP INDUSTRI TEMPE DI KABUPATEN BOGOR (Kasus : Desa Citeureup, Kecamatan Citeureup) Oleh: MERIKA SONDANG SINAGA A14304029 PROGRAM

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pertanian merupakan sektor potensial yang memegang peranan penting

I. PENDAHULUAN. Pertanian merupakan sektor potensial yang memegang peranan penting 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertanian merupakan sektor potensial yang memegang peranan penting dalam pembangunan Indonesia. Hal ini didasarkan pada kontribusi sektor pertanian yang tidak hanya

Lebih terperinci

DAFTAR TABEL. 1. Produksi manggis di Pulau Sumatera tahun Produksi manggis kabupaten di Provinsi Lampung tahun

DAFTAR TABEL. 1. Produksi manggis di Pulau Sumatera tahun Produksi manggis kabupaten di Provinsi Lampung tahun DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1. Produksi manggis di Pulau Sumatera tahun 2012... 5 2. Produksi manggis kabupaten di Provinsi Lampung tahun 2010-2012... 6 3. Luas panen, produktivitas, dan produksi manggis

Lebih terperinci

SENSITIVITAS DAYA SAING JERUK LOKAL KABUPATEN JEMBER [SENSITIVITY OF JEMBER LOCAL CITRUS COMPETITIVENESS]

SENSITIVITAS DAYA SAING JERUK LOKAL KABUPATEN JEMBER [SENSITIVITY OF JEMBER LOCAL CITRUS COMPETITIVENESS] SENSITIVITAS DAYA SAING JERUK LOKAL KABUPATEN JEMBER [SENSITIVITY OF JEMBER LOCAL CITRUS COMPETITIVENESS] Henik Prayuginingsih 1) dan Oktarina 1) 1) Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Jember

Lebih terperinci

IX. KESIMPULAN DAN SARAN

IX. KESIMPULAN DAN SARAN IX. KESIMPULAN DAN SARAN 9.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa: 1. Penawaran output jagung baik di Jawa Timur maupun di Jawa Barat bersifat elastis

Lebih terperinci

(The analysis of profitability, comparative advantage, competitive advantage and import policy impact on beef cattle fattening in west java)

(The analysis of profitability, comparative advantage, competitive advantage and import policy impact on beef cattle fattening in west java) Analisis Tingkat Keuntungan, Keunggulan Kompetitif, Keunggulan Komparatif, dan Dampak Kebijakan Impor Pada Usaha Peternakan Sapi Potong di Provinsi Jawa Barat (The analysis of profitability, comparative

Lebih terperinci

Keunggulan Komparatif dan Kompetitif dalam Produksi Padi di Kabupaten Lampung Tengah Propinsi Lampung

Keunggulan Komparatif dan Kompetitif dalam Produksi Padi di Kabupaten Lampung Tengah Propinsi Lampung Jurnal Penelitian Pertanian Terapan Vol.10 (3): 185-199 ISSN 1410-5020 Keunggulan Komparatif dan Kompetitif dalam Produksi Padi di Kabupaten Lampung Tengah Propinsi Lampung Comparative Advantage and Competitive

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERNGK PEMIKIRN 3.1. Kerangka Teoritis Kerangka teoritis berisi teori-teori dan konsep yang berkaitan dengan penelitian analisis keunggulan komparatif dan kompetitif usahatani jambu biji. kerangka

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. khususnya bagi sektor pertanian dan perekonomian nasional pada umumnya. Pada

I. PENDAHULUAN. khususnya bagi sektor pertanian dan perekonomian nasional pada umumnya. Pada I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Subsektor peternakan merupakan salah satu sumber pertumbuhan baru khususnya bagi sektor pertanian dan perekonomian nasional pada umumnya. Pada tahun 2006 Badan Pusat

Lebih terperinci

Lampiran 1. Perhitungan Premium Nilai Tukar dan Nilai Tukar Bayangan Tahun 2009

Lampiran 1. Perhitungan Premium Nilai Tukar dan Nilai Tukar Bayangan Tahun 2009 LAMPIRAN Lampiran 1. Perhitungan Premium Nilai Tukar dan Nilai Tukar Bayangan Tahun 2009 Uraian Jumlah (Rp) Total Ekspor (Xt) 1,211,049,484,895,820.00 Total Impor (Mt) 1,006,479,967,445,610.00 Penerimaan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Definisi operasional dan konsep dasar ini mencakup semua pengertian yang

III. METODE PENELITIAN. Definisi operasional dan konsep dasar ini mencakup semua pengertian yang III. METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional dan Konsep Dasar Definisi operasional dan konsep dasar ini mencakup semua pengertian yang dipergunakan untuk memperoleh data yang akan dianalisis sesuai dengan

Lebih terperinci

Jurnal Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Agriekonomika Volume 5, Nomor 2, 2016

Jurnal Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian  Agriekonomika Volume 5, Nomor 2, 2016 Jurnal Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian http://journal.trunojoyo.ac.id/agriekonomika Agriekonomika Volume 5, Nomor 2, 2016 PENGARUH KEBIJAKAN PENERAPAN SPO TERHADAP PROFITABILITAS PISANG MAS KIRANA

Lebih terperinci

DAYA SAING KACANG TANAH PRODUKSI KECAMATAN KUBU KABUPATEN KARANGASEM

DAYA SAING KACANG TANAH PRODUKSI KECAMATAN KUBU KABUPATEN KARANGASEM 1043 DAYA SAING KACANG TANAH PRODUKSI KECAMATAN KUBU KABUPATEN KARANGASEM I Made Tamba, I Made Sukerta, I Ketut Widnyana Universitas Mahasaraswati made.tamba125@gmail.com ABSTRAK Pengembangan usahatani

Lebih terperinci

DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PENGEMBANGAN USAHATANI BAWANG MERAH DI KECAMATAN BULAKAMBA KABUPATEN BREBES

DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PENGEMBANGAN USAHATANI BAWANG MERAH DI KECAMATAN BULAKAMBA KABUPATEN BREBES Habitat Volume XXV, No. 1, Bulan April 2014 ISSN: 0853-5167 DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PENGEMBANGAN USAHATANI BAWANG MERAH DI KECAMATAN BULAKAMBA KABUPATEN BREBES THE IMPACTS OF GOVERNMENT S

Lebih terperinci

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pendekatan Penelitian Sistem Usaha Pertanian dan Agribisnis

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pendekatan Penelitian Sistem Usaha Pertanian dan Agribisnis II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pendekatan Penelitian Sistem Usaha Pertanian dan Agribisnis Pada awalnya penelitian tentang sistem pertanian hanya terbatas pada tahap budidaya atau pola tanam, tetapi pada tahun

Lebih terperinci

ANALYSIS ON COMPETITIVENESS OF ARABICA COFFEE IN NORTH TAPANULI (Case Study: Bahal Batu III Village, Siborong-borong Subdistrict)

ANALYSIS ON COMPETITIVENESS OF ARABICA COFFEE IN NORTH TAPANULI (Case Study: Bahal Batu III Village, Siborong-borong Subdistrict) ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS KOPI ARABIKA DI KABUPATEN TAPANULI UTARA ( Studi Kasus : Desa Bahal Batu III, Kecamatan Siborong-Borong) ANALYSIS ON COMPETITIVENESS OF ARABICA COFFEE IN NORTH TAPANULI (Case

Lebih terperinci

PEMODELAN DAN STRATEGI COMPETITIVENESS AGRIBISNIS TEMBAKAU BESUKI NA-OOGST DI JAWA TIMUR

PEMODELAN DAN STRATEGI COMPETITIVENESS AGRIBISNIS TEMBAKAU BESUKI NA-OOGST DI JAWA TIMUR PEMODELAN DAN STRATEGI COMPETITIVENESS AGRIBISNIS TEMBAKAU BESUKI NA-OOGST DI JAWA TIMUR Evita Soliha Hani*, Soetriono*, Hadi Paramu* *Dosen Pasca Sarjana Universitas Jember ABSTRACT. Agribusiness of NOTA

Lebih terperinci