VIII. ANALISIS KEBIJAKAN ATAS PERUBAHAN HARGA OUTPUT/ INPUT, PENGELUARAN RISET JAGUNG DAN INFRASTRUKTUR JALAN

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "VIII. ANALISIS KEBIJAKAN ATAS PERUBAHAN HARGA OUTPUT/ INPUT, PENGELUARAN RISET JAGUNG DAN INFRASTRUKTUR JALAN"

Transkripsi

1 VIII. ANALISIS KEBIJAKAN ATAS PERUBAHAN HARGA OUTPUT/ INPUT, PENGELUARAN RISET JAGUNG DAN INFRASTRUKTUR JALAN 8.1. Pengaruh Perubahan Harga Output dan Harga Input terhadap Penawaran Output dan Permintaan Input Model yang digunakan dalam analisis kebijakan ini adalah model yang telah digunakan oleh Fulginiti and Ferrin (1990) seperti telah dirumuskan pada persamaan (47). Untuk melakukan analisis kebijakan ini digunakan nilai elastisitas penawaran output dan permintaan input (Tabel 13 dan Tabel 14). Analisis dipilah yaitu untuk Provinsi Jawa Timur dan Jawa Barat. Beberapa perubahan yang ingin dianalisis pengaruhnya terdapat 10 (sepuluh skenario) yaitu: (1) harga jagung naik 10 persen, (2) harga jagung turun 10 persen, (3) harga benih naik 10 persen, (4) harga pupuk naik 10 persen, (5) kombinasi 1,3,4, (6) kombinasi 2,3,4, (7) pengeluaran riset dan pengembangan jagung naik 10 persen, (8) infrastruktur jalan meningkat 10 persen, (9) kombinasi 1,3,4,7,8, dan (10) kombinasi 2,3,4,7,8. Hasil perhitungan dari beberapa perubahan tersebut diatas dan pengaruhnya terhadap penawaran output dan permintaan input di Provinsi Jawa Timur dan Jawa Barat disajikan pada Tabel 18 dan Pengaruh Perubahan Harga Output Di Provinsi Jawa Timur seperti disajikan pada Tabel 18, perubahan harga jagung yaitu berupa peningkatan sebesar 10 persen (skenario 1) menyebabkan jumlah jagung yang ditawarkan meningkat sebesar persen. Kenaikan harga jagung ini juga diikuti dengan peningkatan permintaan jumlah input benih,

2 146 pupuk urea, pupuk TSP dan tenaga kerja yang relatif berimbang dengan peningkatan output yaitu masing-masing sebesar persen, persen, persen dan persen. Seperti halnya diketahui, bahwa kebijakan pengaturan harga jagung sudah tidak ada sejak tahun Harga jagung dibebaskan dan ditentukan oleh mekanisme pasar. Harga jagung secara rata-rata dari tahun meningkat sekitar 10 persen baik di Provinsi Jawa Timur dan Jawa Barat. Tabel 18. Pengaruh Perubahan Berbagai Faktor terhadap Penawaran dan Permintaan Input Jagung di Provinsi Jawa Timur, Tahun 2009 Perubahan (%) Perubahan Jumlah Penawaran Output dan Permintaan Input (%) Jagung Benih Pupuk Urea Pupuk TSP T. Kerja 1. Harga jagung(+10) Harga Jagung(-10) Harga Benih(+15) Harga pupuk(+10) Kombinasi 1,3, Kombinasi 2,3, Pengel.Riset jagung (+10) Infrastruktur Jalan (+10) Kombinasi 1,3,4,7, Kombinasi 2,3,4,7, Jika terdapat penurunan harga jagung sebesar 10 persen, maka akan berdampak menurunnya penawaran jagung di Jawa Timur sebesar persen. Penurunan harga jagung ini juga diikuti dengan penurunan permintaan benih, pupuk urea, pupuk TSP dan tenaga kerja yang relatif berimbang dengan penurunan output yaitu masing-masing sebesar , , dan persen. Penurunan permintaan input tersebut sebagai akibat penurunan harga

3 147 jagung yang menyebabkan menurunnya motivasi/dorongan untuk meningkatkan usahatani jagung. Di Provinsi Jawa Barat seperti disajikan pada Tabel 19, jika terdapat peningkatan harga jagung sebesar 10 persen (skenario 1) menyebabkan jumlah jagung yang ditawarkan meningkat sebesar persen. Kenaikan harga jagung ini juga diikuti dengan peningkatan permintaan jumlah input benih, pupuk urea, pupuk TSP dan tenaga kerja yang relatif berimbang dengan peningkatan output yaitu masing-masing sebesar , , dan persen. Tabel 19. Pengaruh Perubahan Berbagai Faktor terhadap Penawaran dan Permintaan Input Jagung di Provinsi Jawa Barat, Tahun 2009 Perubahan Perubahan Jumlah Penawaran Output dan Permintaan Input (%) (%) Jagung Benih Pupuk Urea Pupuk TSP T. Kerja 1. Harga jagung(+10) Harga Jagung(-10) Harga Benih(+15) Harga pupuk(+10) Kombinasi 1,3, Kombinasi 2,3, Pengel. Riset jagung (+10) Infrastruktur Jalan (+10) Kombinasi 1,3,4,7, Kombinasi 2,3,4,7, Di Provinsi Jawa Barat, jika terdapat penurunan harga jagung sebesar 10 persen, akan berdampak menurunnya penawaran jagung sebesar persen. Penurunan harga jagung ini juga diikuti dengan penurunan permintaan input benih, pupuk urea, pupuk TSP dan tenaga kerja yang relatif berimbang dengan penurunan output yaitu masing-masing sebesar , , dan persen. Penurunan permintaan input tersebut juga sebagai akibat penurunan harga

4 148 jagung yang menyebabkan menurunnya motivasi/dorongan untuk meningkatkan usahatani jagung Pengaruh Perubahan Harga Input dan Harga Output Umumnya kenaikan harga tanaman terutama padi dan jagung, diawali dengan kenaikan harga pupuk (Pengurangan subsidi). Jenis pupuk yang disubsidi tahun 2009 adalah : urea, SP 36, ZA, NPK Ponska, NPK Pelangi, NPK Kujang, dan Pupuk Organik (Nuryartono, 2009). Menurunnya subsidi pupuk terhadap suatu jenis pupuk tertentu yang menyebabkan HET (Harga Eceran Tertinggi) pupuk meningkat misalnya untuk pupuk urea dan SP 36. Pada tahun 2005, HET urea dan SP 36 masing-masing sebesar Rp per kilogram dan Rp per kilogram. Kemudian pada tahun 2009 mengalami peningkatan menjadi Rp per kilogram dan Rp per kilogram. Pada daerah-daerah yang jaraknya jauh, dan biaya transportasi mahal, maka harga eceran selalu diatas HET. Hasil analisis pada Provinsi Jawa Timur menunjukkan bahwa jika terdapat kebijakan peningkatan harga pupuk 10 persen pengaruhnya sekitar persen terhadap penawaran jagung atau lebih kecil jika dibandingkan dengan penurunan output akibat penurunan harga jagung. Hasil ini mengindikasikan bahwa petani tidak responsif terhadap perubahan harga pupuk urea dan TSP. Hal ini disebabkan karena petani selalu berupaya membeli pupuk sesuai kemampuan modal yang dimilikinya. Akibat kebijakan ini, permintaan benih, pupuk urea, pupuk TSP dan tenaga kerja mengalami penurunan masing-masing sebesar , , dan persen. Sementara itu, jika terdapat peningkatan harga benih sebesar 15 persen mengakibatkan penurunan penawaran jagung sebesar persen. Di samping

5 149 itu peningkatan harga benih menyebabkan menurunnya permintaan terhadap benih sebesar persen. Peningkatan harga benih juga menyebabkan penurunan permintaan pupuk urea, pupuk TSP dan tenaga kerja masing-masing sebesar 4.338, dan persen. Selanjutnya jika terdapat kombinasi kebijakan berupa peningkatan: harga jagung sebesar 10 persen, harga pupuk sebesar 10 persen dan harga benih sebesar 15 persen menyebabkan meningkatnya penawaran jagung sebesar persen. Peningkatan harga output dan input tersebut juga menyebabkan meningkatnya permintaan input benih, pupuk urea, pupuk TSP dan tenaga kerja masing-masing sebesar 3.393, 4.867, dan persen. Sementara, jika terdapat kombinasi kebijakan berupa: penurunan harga jagung sebesar 10 persen, sedangkan harga input benih meningkat 15 persen dan harga pupuk meningkat 10 persen, menyebabkan penurunan penawaran jagung sebesar persen. Kombinasi kebijakan ini juga menyebabkan penurunan permintaan input benih, pupuk urea, pupuk TSP dan tenaga kerja yang relatif proporsional dengan penurunan outputnya yaitu masing-masing sebesar , , dan persen. Hasil analisis di Provinsi Jawa Barat menunjukkan bahwa jika terdapat kebijakan peningkatan harga pupuk 10 persen juga pengaruhnya sekitar persen terhadap penawaran jagung atau lebih kecil jika dibandingkan dengan penurunan output akibat penurunan harga jagung. Hal ini disebabkan petani di Jawa Barat juga tidak responsif terhadap perubahan harga pupuk urea dan TSP, dan petani selalu berupaya membeli pupuk sesuai kemampuan modal yang dimilikinya. Akibat kebijakan ini, permintaaan benih, pupuk TSP, urea dan tenaga

6 150 kerja mengalami penurunan yang juga relatif kecil yaitu masing-masing sebesar 3.166, 5.559, dan persen. Sementara itu, jika terdapat peningkatan harga benih sebesar 15 persen mengakibatkan penurunan penawaran jagung sebesar persen. Selain itu, peningkatan harga benih di Jawa Barat juga menyebabkan menurunnya permintaan terhadap benih sebesar persen. Peningkatan harga benih juga menyebabkan penurunan permintaan pupuk urea, pupuk TSP dan tenaga kerja yaitu masing-masing sebesar 5.147, dan persen. Selanjutnya jika terdapat kombinasi kebijakan berupa peningkatan: harga jagung sebesar 10 persen, harga pupuk sebesar 10 persen dan harga benih sebesar 15 persen menyebabkan meningkatnya penawaran jagung di Jawa Barat sebesar persen. Akibat kebijakan tersebut menyebabkan meningkatnya permintaan input benih, pupuk urea, pupuk TSP dan tenaga kerja masing-masing sebesar 6.397, 6.153, dan persen. Sementara, jika kombinasi harga jagung menurun 10 persen, sedangkan harga input benih meningkat 15 persen dan pupuk meningkat 10 persen, menyebabkan penurunan penawaran jagung sebesar persen. Kombinasi penurunan harga jagung dan peningkatan harga input juga menyebabkan penurunan permintaan input benih, pupuk urea, TSP dan tenaga kerja yang relatif berimbang yaitu masing-masing sebesar , , dan persen Pengaruh Perubahan Pengeluaran Riset dan Pengembangan Jagung serta Infrastruktur Jalan Di Provinsi Jawa Timur, jika terdapat kebijakan peningkatan pengeluaran riset dan pengembangan jagung sebesar 10 persen menyebabkan penawaran

7 151 jagung meningkat persen. Peningkatan pengeluaran riset tersebut juga mempengaruhi terhadap perubahan permintaan input (benih, pupuk urea, pupuk TSP dan tenaga kerja) yang relatif proporsional dengan peningkatan outputnya yaitu antara persen. Sementara, peningkatan infrastruktur jalan menyebabkan perubahan penawaran output sebesar persen dan juga mempengaruhi perubahan permintaan input (benih, pupuk urea, pupuk TSP dan tenaga kerja) yaitu antara persen. Kombinasi kebijakan peningkatan harga jagung 10 persen, peningkatan harga input (pupuk 10 persen dan benih 15 persen), peningkatan pengeluaran riset jagung 10 persen menyebabkan meningkatnya penawaran jagung sebesar persen. Kombinasi kebijakan tersebut juga menyebabkan meningkatnya permintaan input benih, pupuk urea, pupuk TSP dan tenaga kerja masing-masing meningkat secara proporsional dengan peningkatan outputnya yaitu antara persen. Selanjutnya kombinasi kebijakan penurunan harga jagung 10 persen, peningkatan harga input (pupuk sebesar 10 persen dan benih sebesar 15 persen), peningkatan pengeluaran riset jagung dan infrastruktur jalan masing-masing sebesar 10 persen menyebabkan penawaran jagung menurun sebesar persen. Kombinasi kebijakan tersebut juga menyebabkan menurunnya permintaan input benih, pupuk urea, pupuk TSP dan tenaga kerja antara persen. Sementara itu, di Provinsi Jawa Barat, jika terdapat kebijakan peningkatan pengeluaran riset jagung sebesar 10 persen menyebabkan penawaran jagung meningkat persen. Peningkatan pengeluaran riset tersebut juga mempengaruhi terhadap perubahan permintaan input (benih, pupuk urea, pupuk

8 152 TSP dan tenaga kerja) yang relatif proporsional dengan peningkatan outputnya yaitu antara persen. Sementara, peningkatan infrastruktur jalan menyebabkan perubahan penawaran output sebesar persen dan juga mempengaruhi perubahan permintaan input (benih, pupuk urea, pupuk TSP dan tenaga kerja) yaitu antara persen. Kombinasi kebijakan peningkatan harga jagung, peningkatan harga input (pupuk 10 persen dan benih 15 persen), peningkatan pengeluaran riset jagung 10 persen menyebabkan meningkatnya penawaran jagung sebesar persen. Peningkatan tersebut juga menyebabkan meningkatnya permintaan input meningkatnya permintaan input benih, pupuk urea, pupuk TSP dan tenaga kerja masing-masing meningkat secara proporsional dengan peningkatan outputnya yaitu antara persen. Selanjutnya kombinasi kebijakan penurunan harga jagung 10 persen, peningkatan harga input (pupuk sebesar 10 persen dan benih sebesar 15 persen), peningkatan pengeluaran riset jagung dan infrastruktur jalan masing-masing sebesar 10 persen di Jawa Barat menyebabkan penawaran jagung menurun sebesar persen. Kombinasi kebijakan tersebut juga menyebabkan menurunnya permintaan input benih, pupuk urea, pupuk TSP dan tenaga kerja antara persen Analisis Sensitivitas Usahatani Jagung Analisis sensitivitas digunakan untuk menentukan bagaimana sensitivitas suatu model untuk suatu perubahan nilai-nilai parameter dari model tersebut, dan untuk merubah struktur dari model tersebut. Analisis sensitivitas membantu dalam membangun tingkat kepercayaan terhadap suatu model dengan

9 153 mempelajari ketidakpastian yang sering diasosiasikan dengan parameterparameter dalam suatu model (Breierova and Choudari, 2001). Berdasarkan pengertian dan maksud dilakukannya analisis sensitivitas tersebut, maka dalam penelitian ini dilakukan analisis sensitivitas atas usahatani jagung tahun 2009 dilakukan skenario variasi perubahan harga output (jagung), harga pada input (pupuk dan benih), pengeluaran riset dan pengembangan jagung serta infrastruktur jalan. Hal ini dilakukan untuk mencari bentuk kebijakan yang kira-kira efektif dalam peningkatan keuntungan dan daya saing usahatani jagung di Provinsi Jawa Timur dan Jawa Barat. Hasil analisis sensitivitas usahatani di Provinsi Jawa Timur disajikan pada Tabel 20 dan di Provinsi Jawa Barat disajikan pada Tabel 21. Seperti telah dibahas pada sebelumnya bahwa nilai keuntungan privat dan sosial, keunggulan komparatif serta kompetitif yang diperoleh dari usahatani sebelum dilakukan analisis kebijakan (sensitivitas) merupakan nilai basis untuk dasar analisis kebijakan (sensitivitas). Nilai keuntungan privat dan sosial basis di Provinsi Jawa Timur adalah sebesar Rp per hektar dan Rp per hektar. Selain itu, nilai koefisien DRC dan PCRnya masing-masing adalah sebesar dan Di Provinsi Jawa Timur, jika harga jagung naik sebesar 10 persen maka keuntungan privat naik sebesar persen dari nilai basis (sebelum ada skenario kebijakan) yaitu menjadi Rp per hektar dan keuntungan sosial juga meningkat sebesar persen menjadi Rp per hektar. Nilai koefisien DRC dan PCR menjadi lebih efisien lagi yaitu menjadi dan Selanjutnya jika harga jagung menurun 10 persen maka keuntungan privat juga

10 154 menurun sebesar persen dari nilai basis (sebelum ada skenario kebijakan) yaitu menjadi Rp per hektar dan keuntungan sosial turun sebesar persen yaitu menjadi Rp per hektar. Nilai koefisien DRC menjadi dan PCR menjadi Dengan demikian, jika terdapat kenaikan harga jagung akan menyebabkan keuntungan privat dan sosial serta tingkat daya saing (keunggulan komparatif dan kompetitif) menjadi lebih meningkat, sebaliknya jika harga jagung menurun maka disamping keuntungan privat serta sosial menurun, juga mengakibatkan menurunnya keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif usahatani jagung. Jika terdapat kebijakan peningkatan harga pupuk sebesar 10 persen, maka keuntungan privat dan sosial mengalami penurunan dari basis masing-masing sekitar dan persen. Begitupula keunggulan komparatif dan kompetitifnya mengalami sedikit penurunan seperti ditunjukkan oleh koefisen DRC dan PCR yang menjadi dan Sementara jika terdapat kebijakan peningkatan harga benih sebesar 10 persen, maka keuntungan privat dan sosial juga mengalami penurunan dari nilai keuntungan basis masing-masing sekitar dan persen. Begitupula keunggulan komparatif dan kompetitifnya sedikit menurun seperti ditunjukkan oleh koefisen DRC dan PCR yang menjadi dan Jika terdapat kombinasi kebijakan peningkatan harga jagung sebesar 10 persen, diiringi dengan peningkatan harga benih dan pupuk masing-masing sebesar 15 dan 10 persen maka menyebabkan keuntungan privat dan sosial mengalami peningkatan dari nilai keuntungan basis masing-masing sekitar dan persen. Keunggulan komparatif dan kompetitifnya juga meningkat

11 155 seperti ditunjukkan oleh koefisen DRC dan PCR yang menjadi dan Sebaliknya jika terdapat kombinasi kebijakan penurunan harga jagung sebesar 10 persen, diiringi dengan peningkatan harga benih dan pupuk masing-masing sebesar 15 dan 10 persen maka menyebabkan keuntungan privat dan sosial mengalami penurunan dari nilai keuntungan basis masing-masing sekitar dan persen. Keunggulan komparatif dan kompetitifnya juga menurun seperti ditunjukkan oleh koefisen DRC dan PCR yang menjadi dan Tabel 20. Analisis Sensitivitas Usahatani Jagung di Provinsi Jawa Timur, Tahun 2009 Skenario Perubahan Harga Keuntungan (Rupiah) DRCR PCR Privat Sosial Nilai Basis Harga jagung naik persen 1) (45.023) (21.931) 2. Harga jagung turun persen ( ) ( ) 3. Harga pupuk naik 10 persen (-8.765) (-8.212) 0, Harga benih naik persen (-9.046) (-7.901) 5. Kombinasi 1,3, (24.940) (4.316) 6. Kombinasi 2,3, ( ) ( ) 7. Pengeluaran Riset dan Pengembangan jagung naik 10 persen (13.578) (13.898) Infrastruktur Jalan Naik 10 persen (16.578) (16.375) 9. Kombinasi 1,3,4,7, (58.747) (34.211) 10. Kombinasi 2,3,4,7, ( ) (-2.701) Keterangan: 1) Angka dalam kurung pada keuntungan privat dan sosial adalah persen peningkatan / penurunan terhadap basis.

12 156 Selanjutnya jika terdapat peningkatan pengeluaran riset dan pengembangan jagung sebesar 10 persen akan menyebabkan keuntungan privat dan sosial mengalami peningkatan dari nilai keuntungan basis masing-masing sekitar dan persen. Begitupula keunggulan komparatif dan kompetitifnya mengalami peningkatan seperti ditunjukkan oleh koefisen DRC dan PCR yang menjadi dan Hal yang sama jika terdapat peningkatan infrastruktur jalan sebesar 10 persen akan menyebabkan keuntungan privat dan sosial juga mengalami peningkatan dari nilai keuntungan basis masing-masing sekitar dan persen. Begitupula keunggulan komparatif dan kompetitifnya juga mengalami peningkatan seperti ditunjukkan oleh koefisen DRC dan PCR yang menjadi dan Hasil analisis sensitivitas usahatani jagung di Jawa Timur juga memperlihatkan bahwa skenario kombinasi kebijakan: harga jagung naik 10 persen, harga pupuk (urea dan TSP) naik 10 persen, harga benih naik 15 persen, pengeluaran riset dan pengembangan jagung naik 10 persen serta infrastruktur jalan naik 10 persen menyebabkan keuntungan privat dan sosial mengalami peningkatan sebesar persen dan persen dari nilai basis keuntungan. Tingkat daya saing (keunggulan komparatif dan kompetitif) juga meningkat dimana nilai DRC dan PCR masing-masing menjadi dan Semakin kecil nilai DRC dan PCR menunjukkan semakin meningkat tingkat daya saing komoditas usahatani jagung, dimana nilai ini berhubungan dengan peningkatan profitabilitas baik secara privat maupun sosial. Hasil analisis sensitivitas usahatani jagung lainnya di Jawa Timur juga memperlihatkan bahwa skenario kombinasi kebijakan: harga jagung turun 10

13 157 persen, harga pupuk (urea dan TSP) naik 10 persen, harga benih naik 15 persen, pengeluaran riset dan pengembangan jagung naik 10 persen serta infrastruktur jalan naik 10 persen menyebabkan keuntungan privat dan sosial mengalami penurunan sebesar persen dan persen dari nilai basis keuntungan. Tingkat daya saing (keunggulan komparatif dan kompetitif) juga menurun dimana nilai DRC dan PCR masing-masing menjadi dan Analisis berikutnya adalah untuk Provinsi Jawa Barat, dimana nilai keuntungan privat dan sosial yang diperoleh dari usahatani sebelum dilakukan analisis kebijakan (sensitivitas) merupakan nilai basis untuk dasar analisis kebijakan (sensitivitas). Nilai keuntungan privat dan sosial basis di Provinsi Jawa Barat adalah sebesar Rp per hektar dan Rp per hektar. Selain itu, nilai basis keunggulan komparatif serta kompetitif yang ditunjukkan oleh koefisien DRC dan PCRnya masing-masing adalah sebesar dan Di Provinsi Jawa Barat, jika harga jagung naik sebesar 10 persen maka keuntungan privat naik sebesar persen dari nilai basis (sebelum ada skenario kebijakan) yaitu menjadi Rp per hektar dan keuntungan sosial juga meningkat sebesar persen menjadi Rp per hektar. Keunggulan komparatif dan kompetitif menjadi lebih meningkat seperti ditunjukkan oleh nilai koefisien DRC dan PCR menjadi dan Selanjutnya jika harga jagung menurun 10 persen maka keuntungan privat juga menurun sebesar persen dari nilai basis (sebelum ada skenario kebijakan) yaitu menjadi Rp per hektar dan keuntungan sosial turun sebesar persen yaitu menjadi Rp per hektar. Keunggulan komparatif dan kompetitif menjadi menurun seperti ditunjukkan oleh nilai koefisien DRC dan

14 158 PCR menjadi dan Dengan demikian, jika terdapat kenaikan harga jagung akan menyebabkan keuntungan privat dan sosial serta tingkat daya saing (keunggulan komparatif dan kompetitif) meningkat, sebaliknya jika harga jagung menurun maka disamping keuntungan privat serta sosial menurun, juga mengakibatkan menurunnya keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif usahatani jagung. Selanjutnya jika terdapat kebijakan peningkatan harga pupuk sebesar 10 persen, maka keuntungan privat dan sosial mengalami penurunan dari basis masing-masing sekitar dan persen. Begitupula keunggulan komparatif dan kompetitifnya mengalami sedikit menurun seperti ditunjukkan oleh koefisen DRC dan PCR yang menjadi dan Sementara jika terdapat kebijakan peningkatan harga benih sebesar 10 persen, maka keuntungan privat dan sosial mengalami penurunan dari nilai keuntungan basis masingmasing sekitar dan persen. Begitupula keunggulan komparatif dan kompetitifnya mengalami sedikit penurunan seperti ditunjukkan oleh koefisen DRC dan PCR yang menjadi dan Analisis lainnya yaitu jika terdapat kombinasi kebijakan peningkatan harga jagung sebesar 10 persen, diiringi dengan peningkatan harga benih dan pupuk masing-masing sebesar 15 dan 10 persen maka menyebabkan keuntungan privat dan sosial mengalami peningkatan dari nilai keuntungan basis masingmasing sekitar dan persen. Keunggulan komparatif dan kompetitifnya juga mengalami peningkatan seperti ditunjukkan oleh koefisen DRC dan PCR yang menjadi dan Sebaliknya jika terdapat kombinasi kebijakan penurunan harga jagung sebesar 10 persen, diiringi dengan peningkatan

15 159 harga benih dan pupuk masing-masing sebesar 15 dan 10 persen maka menyebabkan keuntungan privat dan sosial mengalami penurunan dari nilai keuntungan basis masing-masing sekitar dan persen. Keunggulan komparatif dan kompetitifnya juga menurun seperti ditunjukkan oleh koefisen DRC dan PCR yang menjadi dan Selanjutnya jika terdapat peningkatan pengeluaran riset dan pengembangan jagung sebesar 10 persen akan menyebabkan keuntungan privat dan sosial mengalami peningkatan dari nilai keuntungan basis masing-masing sekitar dan persen. Begitupula keunggulan komparatif dan kompetitifnya mengalami peningkatan seperti ditunjukkan oleh koefisen DRC dan PCR yang menjadi dan Hal yang sama jika terdapat peningkatan infrastruktur jalan sebesar 10 persen akan menyebabkan keuntungan privat dan sosial juga mengalami peningkatan dari nilai keuntungan basis masing-masing sekitar dan persen. Begitupula keunggulan komparatif dan kompetitifnya juga mengalami peningkatan seperti ditunjukkan oleh koefisen DRC dan PCR yang menjadi dan Hasil analisis sensitivitas usahatani jagung di Jawa Barat juga memperlihatkan bahwa skenario kombinasi kebijakan: harga jagung naik 10 persen, harga pupuk (urea dan TSP) naik 10 persen, harga benih naik 15 persen, pengeluaran riset dan pengembangan jagung naik 10 persen serta infrastruktur jalan naik 10 persen menyebabkan keuntungan privat dan sosial mengalami peningkatan sebesar persen dan persen dari nilai basis keuntungan. Tingkat daya saing (keunggulan komparatif dan kompetitif) juga meningkat dimana nilai DRC dan PCR masing-masing menjadi dan

16 160 Semakin kecil nilai DRC dan PCR menunjukkan semakin tinggi tingkat daya saing komoditas jagung, dimana nilai ini berhubungan dengan peningkatan profitabilitas baik secara privat maupun sosial. Tabel 21. Analisis Sensitivitas Usahatani Jagung di Provinsi Jawa Barat, Tahun 2009 Skenario Perubahan Harga Keuntungan (Rupiah) DRCR PCR Privat Sosial Nilai Basis Harga jagung naik persen 1) (53.661) (21.608) 2. Harga jagung turun persen ( ) ( ) 3. Harga pupuk naik persen ( ) (-8.966) 4. Harga benih naik persen (-9.928) (-8.700) 5. Kombinasi 1,3, (30.276) (3.788) 6. Kombinasi 2,3, ( ) ( ) 7. Pengeluaran Riset dan Pengembangan jagung naik 10 persen (15.278) (13.989) Infrastruktur Jalan Naik 10 persen (16.041) (15.310) 9. Kombinasi 1,3,4,7, (67.084) (32.751) 10. Kombinasi 2,3,4,7, ( ) (-5.400) Keterangan: 1) Angka dalam kurung pada keuntungan privat dan sosial adalah persen peningkatan / penurunan terhadap basis. Hasil analisis sensitivitas usahatani jagung lainnya di Jawa Barat juga memperlihatkan bahwa skenario kombinasi kebijakan: harga jagung turun 10 persen, harga pupuk (urea dan TSP) naik 10 persen, harga benih naik 15 persen, pengeluaran riset dan pengembangan jagung naik 10 persen serta infrastruktur

17 161 jalan naik 10 persen menyebabkan keuntungan privat dan sosial mengalami penurunan sebesar persen dan persen dari nilai basis keuntungan. Tingkat daya saing (keunggulan komparatif dan kompetitif) juga menurun seperti ditunjukkkan oleh nilai DRC dan PCR yang masing-masing menjadi dan Oleh karena itu, dengan hasil skenario diatas, meskipun harga input (pupuk dan benih) meningkat asalkan harga output meningkat maka keuntungan usahatani meningkat dan daya saing meningkat. Peningkatan produksi yang diraih, disamping untuk pemenuhan kebutuhan jagung dalam negeri (substitusi impor) juga berpeluang untuk ekspor. Efisiennya usahatani jagung seperti tercermin dari perolehan nilai DRC dan PCR yang kurang dari satu, maka peningkatan produksi dalam negeri lebih efisien jika dibandingkan dengan mendatangkan dari luar daerah khususnya berasal dari impor. Menurut Monke dan Pearson (1995) bahwa untuk mengurangi impor dan memotivasi peningkatan produksi dalam negeri, maka pemerintah perlu memberikan subsidi kepada produsen domestik atas barang yang di impor tersebut. Dengan subsidi tersebut akan meningkatkan produksi domestik dan menurunkan jumlah komoditas/produk yang di impor. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa peningkatan harga input menyebabkan keuntungan usahatani menurun yang relatif lebih kecil jika dibandingkan jika terjadi penurunan harga output (jagung). Namun untuk lebih mendorong peningkatan produksi masih perlu mendapat subsidi bagi petani mengingat kondisi petani jagung khususnya di Jawa Timur dan Jawa Barat merupakan petani kecil berlahan sempit dan memiliki keterbatasan modal. Subsidi

18 162 yang dimaksud adalah berupa subsidi harga output dan subsidi bunga modal berupa kredit lunak dengan sistem yang mudah diakses oleh petani kecil. Terkait dalam hal penyaluran pupuk bersubsidi yang sedang berjalan, perlu adanya perbaikan dalam pendistribusian yang tepat waktu serta ketersediaan di lapangan atau dengan kata lain harus benar-benar mengacu pada 6 tepat distribusi pupuk, yaitu tepat jumlah, jenis, harga, waktu, tempat dan mutu. Sehingga kelangkaan pupuk yang sering terjadi saat ini dapat teratasi. Kelangkaan pupuk justru sering terjadi dan menjadikan harga pupuk melonjak di tingkat pengecer. Subsidi pupuk yang diberikan pemerintah saat ini bukanlah subsidi pupuk langsung bagi petani, namun subsidi gas dari pemerintah bagi pabrik-pabrik penghasil pupuk, padahal harga pupuk di tingkat petani tidak berkaitan langsung dengan harga pokok pabrik pupuk domestik. Pada tatanan pasar terbuka, seperti saat ini, harga pupuk di tingkat petani ditentukan oleh harga paritas impornya (Simatupang, 2002). Pengalaman empiris membuktikan bahwa jika harga di pasar internasional meningkat, maka untuk mengejar laba yang lebih tinggi, pabrik pupuk domestik cenderung mengekspor produknya. Akibatnya adalah pasokan pupuk di tingkat petani menjadi langka dan harganya pun meningkat seiring dengan peningkatan harga pupuk internasional. Sebagai perusahaan komersial, produsen pupuk tentunya tidak dapat disalahkan mengekspor pupuk untuk mengejar laba sebesar-besarnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa untuk meningkatkan daya saing usahatani jagung di Provinsi Jawa Timur dan Jawa Barat, pemerintah sebaiknya melakukan kebijakan umum berupa peningkatan harga jual jagung. Hasil analisis menunjukan bahwa perubahan harga input

19 163 (terutama harga pupuk) lebih kecil pengaruhnya jika dibandingkan dengan pengaruh perubahan harga jagung terhadap penawaran jagung, tingkat keuntungan dan daya saing usahatani jagung. Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa Peningkatan harga jagung ditingkat petani dapat dilakukan melalui: (1) lebih memperbaiki kualitas hasil melalui penerapan teknologi panen dan pasca panen (post harvest), dan (2) mendorong pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota dengan kelembagaan pemasaran yang ada untuk membeli jagung petani disaat produksi jagung meningkat (panen). Dalam rangka meningkatkan daya saing jagung, terdapat strategi agribisnis yang dapat dilakukan, yaitu: (1) meningkatkan kualitas produksi dan menekan biaya produksi (usahatani), dan (2) meningkatkan produksi jagung dengan prinsip enam tepat, yaitu: tepat mutu (berkualitas), tepat varietas (jenis jagung yang diusahakan adalah varietas unggul hibrida), tepat jumlah (sesuai volume kebutuhan jagung), tepat waktu (waktunya merata sepanjang musim sesuai kebutuhan jagung nasional), tepat lokasi (pengembangan jagung sesuai pewilayahan komoditas) dan tepat harga (harga jual jagung di tingkat petani dapat memberikan insentif bagi pengembangan usahatani jagung). Sementara itu, kebijakan-kebijakan operasional yang dapat dilakukan dalam rangka meningkatkan daya saing jagung, khususnya di Provinsi Jawa Timur dan Jawa Barat, yaitu: (1) menghilangkan atau mengurangi distorsi pasar baik pada pasar input maupun pada pasar output, seperti: berbagai pungutan atas komoditi dan mengontrol harga pembelian, (2) mengefektifkan program-program penelitian yang bersifat terapan untuk inovasi teknologi usahatani sehingga

20 164 langsung bisa dirasakan manfaatnya oleh para petani, terjangkau dengan anggaran usahatani yang dimiliki petani dan dapat diadopsi petani sehingga meningkatkan produktivitas usahatani, (3) menyediakan sarana dan prasarana yang dapat meningkatkan aksesibilitas sentra-sentra produksi terhadap pasar input maupun output, (4) fasilitasi kredit permodalan usahatani jagung, terutama terhadap petani skala kecil dengan skema kredit yang mudah dan bunga ringan, dan (5) mendorong penciptaan nilai tambah ditingkat petani agar tidak hanya menjual jagung sebagai bahan baku industri semata, namun dapat menjual jagung dalam bentuk hasil olahan.

IX. KESIMPULAN DAN SARAN

IX. KESIMPULAN DAN SARAN IX. KESIMPULAN DAN SARAN 9.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa: 1. Penawaran output jagung baik di Jawa Timur maupun di Jawa Barat bersifat elastis

Lebih terperinci

VII. ANALISIS DAYA SAING USAHATANI JAGUNG

VII. ANALISIS DAYA SAING USAHATANI JAGUNG VII. ANALISIS DAYA SAING USAHATANI JAGUNG 7.1. Profitabilitas Privat dan Sosial Analisis finansial dan ekonomi usahatani jagung memberikan gambaran umum dan sederhana mengenai tingkat kelayakan usahatani

Lebih terperinci

V. PERKEMBANGAN PRODUKSI, USAHATANI DAN INFRASTRUKTUR PENDUKUNG PENGEMBANGAN JAGUNG

V. PERKEMBANGAN PRODUKSI, USAHATANI DAN INFRASTRUKTUR PENDUKUNG PENGEMBANGAN JAGUNG V. PERKEMBANGAN PRODUKSI, USAHATANI DAN INFRASTRUKTUR PENDUKUNG PENGEMBANGAN JAGUNG 5.1. Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Jagung di Jawa Timur dan Jawa Barat 5.1.1. Jawa Timur Provinsi Jawa Timur

Lebih terperinci

KONSTRUKSI KEBIJAKAN SUBSIDI PUPUK TAHUN 2006

KONSTRUKSI KEBIJAKAN SUBSIDI PUPUK TAHUN 2006 KONSTRUKSI KEBIJAKAN SUBSIDI PUPUK TAHUN 2006 Ringkasan Eksekutif 1. Konstruksi dasar kebijakan subsidi pupuk tahun 2006 adalah sebagai berikut: a. Subsidi pupuk disalurkan sebagai subsidi gas untuk produksi

Lebih terperinci

ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KENTANG

ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KENTANG ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KENTANG VI. 6.1 Analisis Dayasaing Hasil empiris dari penelitian ini mengukur dayasaing apakah kedua sistem usahatani memiliki keunggulan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Jagung merupakan salah satu komoditas utama tanaman pangan sebagai

I. PENDAHULUAN. Jagung merupakan salah satu komoditas utama tanaman pangan sebagai I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Jagung merupakan salah satu komoditas utama tanaman pangan sebagai sumber karbohidrat kedua setelah beras yang sangat berperan dalam menunjang ketahanan pangan, dan kecukupan

Lebih terperinci

VII. DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DAN FAKTOR LAINNYA TERHADAP KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF PADA USAHATANI JAMBU BIJI

VII. DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DAN FAKTOR LAINNYA TERHADAP KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF PADA USAHATANI JAMBU BIJI VII. DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DAN FAKTOR LAINNYA TERHADAP KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF PADA USAHATANI JAMBU BIJI Analisis sensitivitas perlu dilakukan karena analisis dalam metode

Lebih terperinci

Ringkasan Eksekutif Analisis Efektivitas Kebijakan Subsidi Pupuk dan Benih: Studi Kasus Tanaman Padi dan Jagung 1

Ringkasan Eksekutif Analisis Efektivitas Kebijakan Subsidi Pupuk dan Benih: Studi Kasus Tanaman Padi dan Jagung 1 Ringkasan Eksekutif Analisis Efektivitas Kebijakan Subsidi Pupuk dan Benih: Studi Kasus Tanaman Padi dan Jagung 1 Kebijakan pemberian subsidi, terutama subsidi pupuk dan benih yang selama ini ditempuh

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Daya Saing Perdagangan Internasional pada dasarnya merupakan perdagangan yang terjadi antara suatu negara tertentu dengan negara yang

Lebih terperinci

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN VIII. KESIMPULAN DAN SARAN 8.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1.a. Faktor-faktor yang berpengaruh nyata/signifikan terhadap produksi usahatani jagung

Lebih terperinci

ANALISIS SENSITIVITAS

ANALISIS SENSITIVITAS VII ANALISIS SENSITIVITAS 7.1. Analisis Sensitivitas Analisis sensitivitas dilakukan untuk mengetahui bagaimana pengaruh dari perubahan kurs mata uang rupiah, harga jeruk siam dan harga pupuk bersubsidi

Lebih terperinci

POLICY BRIEF DAYA SAING KOMODITAS PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI DALAM KONTEKS PENCAPAIAN SWASEMBADA PANGAN. Dr. Adang Agustian

POLICY BRIEF DAYA SAING KOMODITAS PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI DALAM KONTEKS PENCAPAIAN SWASEMBADA PANGAN. Dr. Adang Agustian PENDAHULUAN POLICY BRIEF DAYA SAING KOMODITAS PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI DALAM KONTEKS PENCAPAIAN SWASEMBADA PANGAN Dr. Adang Agustian 1) Salah satu peran strategis sektor pertanian dalam perekonomian nasional

Lebih terperinci

VI. ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA USAHATANI JAMBU BIJI

VI. ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA USAHATANI JAMBU BIJI VI. ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA USAHATANI JAMBU BIJI Daya saing usahatani jambu biji diukur melalui analisis keunggulan komparatif dan kompetitif dengan menggunakan Policy

Lebih terperinci

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1. Analisis Daya Saing Analisis keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan prospek serta kemampuan komoditi gula lokal yang dihasilkan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN VI HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1 Analisis Daya Saing Analisis keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan prospek serta kemampuan komoditi susu sapi lokal dalam

Lebih terperinci

VII. ANALISIS DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PADA USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN Kerangka Skenario Perubahan Harga Input dan Output

VII. ANALISIS DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PADA USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN Kerangka Skenario Perubahan Harga Input dan Output VII. ANALISIS DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PADA USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN 7.1. Kerangka Skenario Perubahan Harga Input dan Output Perubahan-perubahan dalam faktor eksternal maupun kebijakan pemerintah

Lebih terperinci

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF BERAS SOLOK ORGANIK Mardianto 1, Edi Firnando 2

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF BERAS SOLOK ORGANIK Mardianto 1, Edi Firnando 2 ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF BERAS SOLOK ORGANIK Mardianto 1, Edi Firnando 2 email: mardianto.anto69@gmail.com ABSTRAK 9 Penelitian tentang Analisis Keunggulan Komparatif dan Kompetitif

Lebih terperinci

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pendekatan Penelitian Sistem Usaha Pertanian dan Agribisnis

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pendekatan Penelitian Sistem Usaha Pertanian dan Agribisnis II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pendekatan Penelitian Sistem Usaha Pertanian dan Agribisnis Pada awalnya penelitian tentang sistem pertanian hanya terbatas pada tahap budidaya atau pola tanam, tetapi pada tahun

Lebih terperinci

Kebijakan PSO/Subsidi Pupuk dan Sistem Distribusi. I. Pendahuluan

Kebijakan PSO/Subsidi Pupuk dan Sistem Distribusi. I. Pendahuluan 6 Bab V. Analisis Kebijakan Kapital, Sumberdaya Lahan dan Air Kebijakan PSO/Subsidi Pupuk dan Sistem Distribusi I. Pendahuluan Dalam rangka pencapaian ketahanan pangan nasional, Pemerintah terus berupaya

Lebih terperinci

III METODE PENELITIAN. Daya saing adalah suatu konsep yang menyatakan kemampuan suatu produsen

III METODE PENELITIAN. Daya saing adalah suatu konsep yang menyatakan kemampuan suatu produsen III METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Daya saing adalah suatu konsep yang menyatakan kemampuan suatu produsen untuk memproduksi suatu komoditas dengan mutu yang cukup baik dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Produktivitas (Qu/Ha)

BAB I PENDAHULUAN. Produktivitas (Qu/Ha) BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia memiliki potensi sumber daya yang sangat mendukung untuk sektor usaha pertanian. Iklim tropis yang ada di Indonesia mendukung berkembangnya sektor pertanian

Lebih terperinci

VI. HASIL PENDUGAAN FUNGSI KEUNTUNGAN, ELASTISITAS PENAWARAN OUTPUT DAN PERMINTAAN INPUT

VI. HASIL PENDUGAAN FUNGSI KEUNTUNGAN, ELASTISITAS PENAWARAN OUTPUT DAN PERMINTAAN INPUT VI. HASIL PENDUGAAN FUNGSI KEUNTUNGAN, ELASTISITAS PENAWARAN OUTPUT DAN PERMINTAAN INPUT 6.1. Pendugaan Fungsi Keuntungan Translog Menurut Shidu and Baanante (1981) bahwa fungsi keuntungan yang direstriksi

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Fungsi Produksi dan Keuntungan Fungsi produksi merupakan fungsi yang menggambarkan hubungan teknis antara input dan output (Debertin, 1986). Dalam proses produksi pertanian

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP JERUK SIAM

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP JERUK SIAM VI ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP JERUK SIAM 6.1. Analisis Daya Saing Analisis keunggulan kompetitif dan komparatif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan kemampuan jeruk

Lebih terperinci

VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK

VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK 6.1 Analisis Keuntungan Sistem Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok Analisis keunggulan komparatif

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan tujuan

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan tujuan 33 III. METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional dan Konsep Dasar Konsep dasar dan batasan operasional ini mencakup pengertian yang digunakan untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu Menurut penelitian Fery (2013) tentang analisis daya saing usahatani kopi Robusta di kabupaten Rejang Lebong dengan menggunakan metode Policy Analiysis

Lebih terperinci

DAYA SAING KEDELAI DI KECAMATAN GANDING KABUPATEN SUMENEP

DAYA SAING KEDELAI DI KECAMATAN GANDING KABUPATEN SUMENEP DAYA SAING KEDELAI DI KECAMATAN GANDING KABUPATEN SUMENEP PURWATI RATNA W, RIBUT SANTOSA, DIDIK WAHYUDI Fakultas Pertanian, Universitas Wiraraja Sumenep ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah (1) menganalisis

Lebih terperinci

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Empiris Ubi Jalar

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Empiris Ubi Jalar II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Empiris Ubi Jalar Ubi jalar telah banyak diteliti dari berbagai bidang disiplin ilmu, akan tetapi penelitian mengenai efisiensi teknis usahatani belum pernah dilakukan.

Lebih terperinci

Pupuk dan Subsidi : Kebijakan yang Tidak Tepat Sasaran

Pupuk dan Subsidi : Kebijakan yang Tidak Tepat Sasaran Pupuk dan Subsidi : Kebijakan yang Tidak Tepat Sasaran Oleh : Feryanto (email: fery.william@gmail.com) Sektor pertanian merupakan sektor yang memiliki peranan yang signifikan dalam pembangunan perekonomian

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pengekspor jagung (net exporter), namun situasi ini secara drastis berubah setelah

I. PENDAHULUAN. pengekspor jagung (net exporter), namun situasi ini secara drastis berubah setelah I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sampai kurun waktu 1976 Indonesia masih termasuk salah satu negara pengekspor jagung (net exporter), namun situasi ini secara drastis berubah setelah kurun waktu tersebut,

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Budidaya tebu adalah proses pengelolaan lingkungan tumbuh tanaman

TINJAUAN PUSTAKA. Budidaya tebu adalah proses pengelolaan lingkungan tumbuh tanaman 24 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Usahatani Tebu 2.1.1 Budidaya Tebu Budidaya tebu adalah proses pengelolaan lingkungan tumbuh tanaman sehingga tanaman dapat tumbuh dengan optimum dan dicapai hasil yang diharapkan.

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Data dan Sumber Data Jenis data yang digunakan pada penelitian ini adalah data time series dan untuk pembahasan juga dikumpulkan informasi kualitatif hasil diskusi dengan Dinas

Lebih terperinci

VIII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING RUMPUT LAUT

VIII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING RUMPUT LAUT 83 VIII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING RUMPUT LAUT 8.1. Struktur Biaya, Penerimaan Privat dan Penerimaan Sosial Tingkat efesiensi dan kemampuan daya saing rumput laut di

Lebih terperinci

KEUNGGULAN KOMPARATIF USAHATANI JAGUNG MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN DI PROVINSI NTT. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, 2

KEUNGGULAN KOMPARATIF USAHATANI JAGUNG MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN DI PROVINSI NTT. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, 2 KEUNGGULAN KOMPARATIF USAHATANI JAGUNG MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN DI PROVINSI NTT Yusuf 1 dan Rachmat Hendayana 2 1 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, 2 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi

Lebih terperinci

3.5 Teknik Pengumpulan data Pembatasan Masalah Definisi Operasional Metode Analisis Data

3.5 Teknik Pengumpulan data Pembatasan Masalah Definisi Operasional Metode Analisis Data DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... ii HALAMAN PERNYATAAN... iii KATA PENGANTAR... iv DAFTAR ISI... vi DAFTAR TABEL... ix DAFTAR GAMBAR... xi DAFTAR LAMPIRAN... xii ABSTRAK... xiii ABSTRACT...

Lebih terperinci

EVALUASI PELAKSANAAN KEBIJAKAN SUBSIDI PUPUK TAHUN 2004 DAN PROSPEK TAHUN 2005

EVALUASI PELAKSANAAN KEBIJAKAN SUBSIDI PUPUK TAHUN 2004 DAN PROSPEK TAHUN 2005 EVALUASI PELAKSANAAN KEBIJAKAN SUBSIDI PUPUK TAHUN 2004 DAN PROSPEK TAHUN 2005 1. Konstruksi Kebijakan Menimbulkan Dualisme Pasar dan Rawan Terhadap Penyimpangan Subsidi pupuk pertama kali diberikan kepada

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Faktor-Faktor Penting yang Memengaruhi Dayasaing Suatu Komoditas

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Faktor-Faktor Penting yang Memengaruhi Dayasaing Suatu Komoditas II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Faktor-Faktor Penting yang Memengaruhi Dayasaing Suatu Komoditas Dayasaing sangat penting dalam menentukan keberhasilan suatu industri karena dayasaing merupakan kemampuan suatu

Lebih terperinci

ANALISIS USAHATANI DAN KESEJAHTERAAN PETANI PADI, JAGUNG DAN KEDELE

ANALISIS USAHATANI DAN KESEJAHTERAAN PETANI PADI, JAGUNG DAN KEDELE ANALISIS USAHATANI DAN KESEJAHTERAAN PETANI PADI, JAGUNG DAN KEDELE Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Kementerian Pertanian Februari 2011 ANALISIS USAHATANI DAN KESEJAHTERAAN PETANI PADI, JAGUNG

Lebih terperinci

BIRO ANALISA ANGGARAN DAN PELAKSANAAN APBN SETJEN DPR RI

BIRO ANALISA ANGGARAN DAN PELAKSANAAN APBN SETJEN DPR RI SUBSIDI PUPUK DALAM RANGKA MENINGKATKAN KETAHANAN PANGAN YANG BERKESINAMBUNGAN DALAM APBN TAHUN 2013 Salah satu dari 11 isu strategis nasional yang akan dihadapi pada tahun 2013, sebagaimana yang disampaikan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pangan merupakan kebutuhan yang paling mendasar bagi sumberdaya manusia suatu bangsa. Untuk mencapai ketahanan pangan diperlukan ketersediaan pangan dalam jumlah dan kualitas

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. manusia, sehingga kecukupan pangan bagi tiap orang setiap keputusan tentang

I. PENDAHULUAN. manusia, sehingga kecukupan pangan bagi tiap orang setiap keputusan tentang 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pangan merupakan hal yang sangat penting karena merupakan kebutuhan dasar manusia, sehingga kecukupan pangan bagi tiap orang setiap keputusan tentang subsidi pupuk merupakan

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. adalah mencukupi kebutuhan pangan nasional dengan meningkatkan. kemampuan berproduksi. Hal tersebut tertuang dalam RPJMN

BAB I. PENDAHULUAN. adalah mencukupi kebutuhan pangan nasional dengan meningkatkan. kemampuan berproduksi. Hal tersebut tertuang dalam RPJMN 1 BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Menurut Dillon (2009), pertanian adalah sektor yang dapat memulihkan dan mengatasi krisis ekonomi di Indonesia. Peran terbesar sektor pertanian adalah

Lebih terperinci

DAFTAR TABEL. 1. Produksi manggis di Pulau Sumatera tahun Produksi manggis kabupaten di Provinsi Lampung tahun

DAFTAR TABEL. 1. Produksi manggis di Pulau Sumatera tahun Produksi manggis kabupaten di Provinsi Lampung tahun DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1. Produksi manggis di Pulau Sumatera tahun 2012... 5 2. Produksi manggis kabupaten di Provinsi Lampung tahun 2010-2012... 6 3. Luas panen, produktivitas, dan produksi manggis

Lebih terperinci

IV METODOLOGI PENELITIAN

IV METODOLOGI PENELITIAN IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada petani tebu di wilayah kerja Pabrik Gula Sindang Laut Kabupaten Cirebon Propinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi penelitian

Lebih terperinci

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Harga Gula Domestik

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Harga Gula Domestik II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Harga Gula Domestik Menurut Susila (2005), Indonesia merupakan negara kecil dalam perdagangan dunia dengan pangsa impor sebesar 3,57 persen dari impor gula dunia sehingga Indonesia

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Jawa Barat merupakan salah satu sentra produksi tanaman bahan makanan di

I. PENDAHULUAN. Jawa Barat merupakan salah satu sentra produksi tanaman bahan makanan di I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki lahan pertanian yang sangat luas dan sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani. Jawa Barat merupakan

Lebih terperinci

IX. KESIMPULAN DAN SARAN. petani cukup tinggi, dimana sebagian besar alokasi pengeluaran. dipergunakan untuk membiayai konsumsi pangan.

IX. KESIMPULAN DAN SARAN. petani cukup tinggi, dimana sebagian besar alokasi pengeluaran. dipergunakan untuk membiayai konsumsi pangan. IX. KESIMPULAN DAN SARAN 9.1. Kesimpulan 1. Penggunaan tenaga kerja bagi suami dialokasikan utamanya pada kegiatan usahatani, sedangkan istri dan anak lebih banyak bekerja pada usaha di luar usahataninya

Lebih terperinci

Policy Brief KAJIAN PENYESUAIAN HET PUPUK BERSUBSIDI PADA USAHATANI PADI DAN DAMPAKNYA BAGI PENDAPATAN PETANI 1

Policy Brief KAJIAN PENYESUAIAN HET PUPUK BERSUBSIDI PADA USAHATANI PADI DAN DAMPAKNYA BAGI PENDAPATAN PETANI 1 Policy Brief KAJIAN PENYESUAIAN HET PUPUK BERSUBSIDI PADA USAHATANI PADI DAN DAMPAKNYA BAGI PENDAPATAN PETANI 1 Dr. Sri Hery Susilowati dan Ir. Supriyati, MS Pendahuluan Sampai saat ini pemerintah masih

Lebih terperinci

LAPORAN AKHIR ANALISIS KEBIJAKAN KAJIAN PENYESUAIAN HET PUPUK BERSUBSIDI PADA USAHATANI PADI DAN DAMPAKNYA BAGI PENDAPATAN PETANI

LAPORAN AKHIR ANALISIS KEBIJAKAN KAJIAN PENYESUAIAN HET PUPUK BERSUBSIDI PADA USAHATANI PADI DAN DAMPAKNYA BAGI PENDAPATAN PETANI LAPORAN AKHIR ANALISIS KEBIJAKAN KAJIAN PENYESUAIAN HET PUPUK BERSUBSIDI PADA USAHATANI PADI DAN DAMPAKNYA BAGI PENDAPATAN PETANI Oleh Sri Hery Susilowati Supriyati Yulias Nuryatin Riyani Eni Darwati PUSAT

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. Latar belakang

I. PENDAHULUAN A. Latar belakang I. PENDAHULUAN A. Latar belakang Pupuk merupakan salah satu faktor produksi yang penting bagi petani. Keberadaan pupuk secara tepat baik jumlah, jenis, mutu, harga, tempat, dan waktu akan menentukan kualitas

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Karangasem dengan lokasi sampel penelitian, di Desa Dukuh, Kecamatan Kubu. Penentuan lokasi penelitian dilakukan

Lebih terperinci

ANALISIS FINANSIAL USAHA PUPUK ORGANIK KELOMPOK TANI DI KABUPATEN BANTUL I. PENDAHULUAN

ANALISIS FINANSIAL USAHA PUPUK ORGANIK KELOMPOK TANI DI KABUPATEN BANTUL I. PENDAHULUAN ANALISIS FINANSIAL USAHA PUPUK ORGANIK KELOMPOK TANI DI KABUPATEN BANTUL A. Latar Belakang I. PENDAHULUAN Sektor pertanian merupakan sektor yang mempunyai peranan strategis dalam struktur pembangunan perekonomian

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. khususnya bagi sektor pertanian dan perekonomian nasional pada umumnya. Pada

I. PENDAHULUAN. khususnya bagi sektor pertanian dan perekonomian nasional pada umumnya. Pada I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Subsektor peternakan merupakan salah satu sumber pertumbuhan baru khususnya bagi sektor pertanian dan perekonomian nasional pada umumnya. Pada tahun 2006 Badan Pusat

Lebih terperinci

KEBIJAKAN HARGA INPUT-OUTPUT DAN PENGARUHNYA TERHADAP KENAIKAN PRODUKSI DAN PENDAPATAN PETANI PADI

KEBIJAKAN HARGA INPUT-OUTPUT DAN PENGARUHNYA TERHADAP KENAIKAN PRODUKSI DAN PENDAPATAN PETANI PADI KEBIJAKAN HARGA INPUT-OUTPUT DAN PENGARUHNYA TERHADAP KENAIKAN PRODUKSI DAN PENDAPATAN PETANI PADI Prof. Dr. Ir. Sri Hartoyo, MS Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kebijakan Pengembangan, Kebutuhan dan Impor Jagung 2.1.1. Kebijakan Pengembangan Jagung Jagung diusahakan pada lingkungan yang beragam yaitu dari lahan kering, sawah tadah hujan

Lebih terperinci

IX. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN. A. Kesimpulan. 1. Pada daerah sentra produksi utama di Indonesia, perkembangan luas panen,

IX. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN. A. Kesimpulan. 1. Pada daerah sentra produksi utama di Indonesia, perkembangan luas panen, IX. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN A. Kesimpulan 1. Pada daerah sentra produksi utama di Indonesia, perkembangan luas panen, produksi dan produktivitas jagung dengan periodisasi tiga musim tanam jagung

Lebih terperinci

Analisis Kebijakan Pertanian Volume 1 No. 1, Mei 2003 : 90-95

Analisis Kebijakan Pertanian Volume 1 No. 1, Mei 2003 : 90-95 CUPLIKAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : 70/MPP/Kep/2/2003 Tentang Pengadaan dan Penyaluran Pupuk Bersubsidi untuk Sektor Pertanian Pasal 1 Dalam keputusan ini

Lebih terperinci

Efektifitas Subsidi Pupuk: Implikasinya pada Kebijakan Harga Pupuk dan Gabah

Efektifitas Subsidi Pupuk: Implikasinya pada Kebijakan Harga Pupuk dan Gabah 20 Bab V. Analisis Kebijakan Kapital, Sumberdaya Lahan dan Air Efektifitas Subsidi Pupuk: Implikasinya pada Kebijakan Harga Pupuk dan Gabah Pendahuluan Sebagai salah satu kebijakan utama pembangunan pertanian

Lebih terperinci

DAYA SAING JAGUNG, KETELA POHON, DAN KETELA RAMBAT PRODUKSI LAHAN KERING DI KECAMATAN KUBU, KABUPATEN KARANGASEM PROVINSI BALI

DAYA SAING JAGUNG, KETELA POHON, DAN KETELA RAMBAT PRODUKSI LAHAN KERING DI KECAMATAN KUBU, KABUPATEN KARANGASEM PROVINSI BALI DAYA SAING JAGUNG, KETELA POHON, DAN KETELA RAMBAT PRODUKSI LAHAN KERING DI KECAMATAN KUBU, KABUPATEN KARANGASEM PROVINSI BALI I Made Tamba Universitas Mahasaraswati Denpasar ABSTRAK Jagung, ketela pohon

Lebih terperinci

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PENDAHULUAN A. Latar Belakang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hortikultura sebagai salah satu subsektor pertanian memiliki peran yang cukup strategis dalam perekonomian nasional. Hal ini tercermin dari perannya sebagai pemenuh kebutuhan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. agraris seharusnya mampu memanfaatkan sumberdaya yang melimpah dengan

I. PENDAHULUAN. agraris seharusnya mampu memanfaatkan sumberdaya yang melimpah dengan I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi yang merupakan salah satu indikator keberhasilan suatu negara dapat dicapai melalui suatu sistem yang bersinergi untuk mengembangkan potensi yang dimiliki

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN

IV METODE PENELITIAN IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Desa Cilembu (Kecamatan Tanjungsari) dan Desa Nagarawangi (Kecamatan Rancakalong) Kabupaten Sumedang, Propinsi Jawa Barat.

Lebih terperinci

Jurnal Agribisnis dan Ekonomi Pertanian (Volume 2. No 1 Juni 2008)

Jurnal Agribisnis dan Ekonomi Pertanian (Volume 2. No 1 Juni 2008) 1 ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF PENGUSAHAAN KOMODITI JAGUNG DI KABUPATEN GROBOGAN A. Faroby Falatehan 1 dan Arif Wibowo 2 1 Departemen Ekonomi Sumberdaya Lingkungan, Fakultas Ekonomi dan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Perkembangan Jagung Jagung merupakan salah satu komoditas utama tanaman pangan yang mempunyai

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Padi merupakan bahan makanan yang menghasilkan beras. Bahan makanan

I. PENDAHULUAN. Padi merupakan bahan makanan yang menghasilkan beras. Bahan makanan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Padi merupakan bahan makanan yang menghasilkan beras. Bahan makanan ini merupakan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Padi adalah salah satu bahan makanan

Lebih terperinci

ANALISIS KELAYAKAN PENGALIHAN SUBSIDI PUPUK MENJADI PENJAMINAN HARGA GABAH : Subsidi Input vs Output *

ANALISIS KELAYAKAN PENGALIHAN SUBSIDI PUPUK MENJADI PENJAMINAN HARGA GABAH : Subsidi Input vs Output * ANALISIS KELAYAKAN PENGALIHAN SUBSIDI PUPUK MENJADI PENJAMINAN HARGA GABAH : Subsidi Input vs Output * A. ISU POKOK 1. Tahun 2003, pemerintah kembali menerapkan subsidi pupuk secara tidak langsung melalui

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1. Tinjauan Pustaka 2.1.1. Pupuk Kompos Pupuk digolongkan menjadi dua, yakni pupuk organik dan pupuk anorganik. Pupuk

Lebih terperinci

EFISIENSI DAN DAYA SAING USAHATANI HORTIKULTURA

EFISIENSI DAN DAYA SAING USAHATANI HORTIKULTURA EFISIENSI DAN DAYA SAING USAHATANI HORTIKULTURA Handewi P.S. Rachman, Supriyati, Saptana, Benny Rachman Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian Jl. A. Yani No. 70 Bogor 16161 ABSTRACT

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 26 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan batasan operasional merupakan pengertian dan petunjuk mengenai variabel yang akan diteliti untuk memperoleh dan menganalisis

Lebih terperinci

KERANGKA PEMIKIRAN. berupa derasnya arus liberalisasi perdagangan, otonomi daerah serta makin

KERANGKA PEMIKIRAN. berupa derasnya arus liberalisasi perdagangan, otonomi daerah serta makin 22 III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Analisis Dewasa ini pengembangan sektor pertanian menghadapi tantangan dan tekanan yang semakin berat disebabkan adanya perubahan lingkungan strategis

Lebih terperinci

EFISIENSI DAN DAYA SAING SISTEM USAHATANI PADI

EFISIENSI DAN DAYA SAING SISTEM USAHATANI PADI EFISIENSI DAN DAYA SAING SISTEM USAHATANI PADI Beny Rachman, Pantjar Simatupang, dan Tahlim Sudaryanto Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian Jl. A. Yani No. 70 Bogor 16161 ABSTRACT

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pangan merupakan kebutuhan yang mendasar (basic need) bagi setiap

I. PENDAHULUAN. Pangan merupakan kebutuhan yang mendasar (basic need) bagi setiap I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pangan merupakan kebutuhan yang mendasar (basic need) bagi setiap manusia untuk dapat melakukan aktivitas sehari-hari guna mempertahankan hidup. Pangan juga merupakan

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Produksi, Produktivitas, dan Luas Areal Ubi Kayu di Indonesia Serta

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Produksi, Produktivitas, dan Luas Areal Ubi Kayu di Indonesia Serta BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan 5.1.1 Produksi, Produktivitas, dan Luas Areal Ubi Kayu di Serta Proyeksinya 5.1.1.1 Produksi Produksi rata - rata ubi kayu di sampai dengan tahun 2009 mencapai

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN. Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Pemilihan lokasi

IV. METODE PENELITIAN. Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Pemilihan lokasi IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Studi kasus penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Sukaresmi dan Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Pemilihan lokasi dilakukan secara purpossive

Lebih terperinci

Analisis Penawaran dan Permintaan Pupuk di Indonesia

Analisis Penawaran dan Permintaan Pupuk di Indonesia LAPORAN AKHIR PENELITIAN TA 2007 Analisis Penawaran dan Permintaan Pupuk di Indonesia 2007-2012 Oleh : Prajogo U. Hadi Dewa K. Swástica Frans Betsí M. D. Nur Khoeriyah Agustin Masdjidin Siregar Deri Hidayat

Lebih terperinci

JIIA, VOLUME 1, No. 4, OKTOBER 2013

JIIA, VOLUME 1, No. 4, OKTOBER 2013 DAYA SAINGJAGUNG DI KECAMATAN SEKAMPUNG UDIK KABUPATEN LAMPUNG TIMUR (Competitiveness of Corn in Sekampung Udik District of East Lampung Regency) Cahya Indah Franiawati, Wan Abbas Zakaria, Umi Kalsum Jurusan

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Analisis Daya Saing Dalam sistem perekonomian dunia yang semakin terbuka, faktor-faktor yang mempengaruhi perdagangan dunia (ekspor dan impor)

Lebih terperinci

VI. ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN SIAM DEDDY FISH FARM

VI. ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN SIAM DEDDY FISH FARM VI. ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN SIAM DEDDY FISH FARM Analisis keunggulan komparatif dan kompetitif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan prospek serta

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional ini mencakup pengertian yang. jagung per musim tanam yang, diukur dalam satuan ton.

III. METODOLOGI PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional ini mencakup pengertian yang. jagung per musim tanam yang, diukur dalam satuan ton. III. METODOLOGI PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan definisi operasional ini mencakup pengertian yang digunakan untuk mendapatkan data dan melakukan analisis terhadap tujuan

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN 51 IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di tiga tempat di Provinsi Bangka Belitung yaitu Kabupaten Bangka Selatan, Kabupaten Bangka Barat, dan Kabupaten Belitung.

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Pembangunan pertanian memiliki peran yang strategis dalam perekonomian

I PENDAHULUAN. Pembangunan pertanian memiliki peran yang strategis dalam perekonomian I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan pertanian memiliki peran yang strategis dalam perekonomian nasional. Peran strategis pertanian tersebut digambarkan melalui kontribusi yang nyata melalui pembentukan

Lebih terperinci

GUBERNUR SULAWESI TENGAH

GUBERNUR SULAWESI TENGAH GUBERNUR SULAWESI TENGAH SAMBUTAN GUBERNUR SULAWESI TENGAH PADA ACARA PEMBUKAAN SINKRONISASI PROGRAM KEGIATAN PEMBANGUNAN PERTANIAN PROVINSI SULAWESI TENGAH SELASA, 01 MARET 2011 ASSALAMU ALAIKUM WAR,

Lebih terperinci

VI. KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM PENGEMBANGAN LADA PUTIH

VI. KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM PENGEMBANGAN LADA PUTIH 83 VI. KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM PENGEMBANGAN LADA PUTIH Secara umum tujuan kebijakan pemerintah dapat dibagi kedalam tiga tujuan utama yaitu,peningkat efisiensi (efficiency), pencipta pemerataan (equity)

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KEDELAI VS PENGUSAHAAN KEDELAI DI KABUPATEN LAMONGAN, JAWA TIMUR

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KEDELAI VS PENGUSAHAAN KEDELAI DI KABUPATEN LAMONGAN, JAWA TIMUR ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KEDELAI VS PENGUSAHAAN KEDELAI DI KABUPATEN LAMONGAN, JAWA TIMUR Syahrul Ganda Sukmaya 1), Dwi Rachmina 2), dan Saptana 3) 1) Program

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM DISTRIBUSI PUPUK DAN PENGADAAN BERAS

GAMBARAN UMUM DISTRIBUSI PUPUK DAN PENGADAAN BERAS IV. GAMBARAN UMUM DISTRIBUSI PUPUK DAN PENGADAAN BERAS 4.1. Arti Penting Pupuk dan Beras Bagi Petani, Pemerintah dan Ketahanan Pangan Pupuk dan beras adalah dua komoditi pokok dalam sistem ketahanan pangan

Lebih terperinci

PERATURAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR : 115 TAHUN 2009 TENTANG PENYALURAN PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DAN PERIKANAN GUBERNUR JAWA BARAT;

PERATURAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR : 115 TAHUN 2009 TENTANG PENYALURAN PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DAN PERIKANAN GUBERNUR JAWA BARAT; Gubernur Jawa Barat PERATURAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR : 115 TAHUN 2009 TENTANG PENYALURAN PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DAN PERIKANAN GUBERNUR JAWA BARAT; Menimbang Mengingat : a. bahwa pupuk

Lebih terperinci

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan tujuan penelitian dan hasil analisis, maka pada penelitian ini

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan tujuan penelitian dan hasil analisis, maka pada penelitian ini BAB VII SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan tujuan penelitian dan hasil analisis, maka pada penelitian ini diperoleh beberapa simpulan, implikasi kebijakan dan saran-saran seperti berikut. 7.1 Simpulan 1. Dari

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 106/Kpts/SR.130/2/2004 TENTANG KEBUTUHAN PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN TAHUN ANGGARAN 2004

KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 106/Kpts/SR.130/2/2004 TENTANG KEBUTUHAN PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN TAHUN ANGGARAN 2004 KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 106/Kpts/SR.130/2/2004 TENTANG KEBUTUHAN PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN TAHUN ANGGARAN 2004 MENTERI PERTANIAN, Menimbang : a. bahwa dalam rangka mewujudkan

Lebih terperinci

VIII SKENARIO ALTERNATIF KEBIJAKAN PENGEMBANGAN SISTEM AGROINDUSTRI KAKAO

VIII SKENARIO ALTERNATIF KEBIJAKAN PENGEMBANGAN SISTEM AGROINDUSTRI KAKAO VIII SKENARIO ALTERNATIF KEBIJAKAN PENGEMBANGAN SISTEM AGROINDUSTRI KAKAO Pada bab sebelumnya, telah dilakukan analisis dampak kebijakan Gernas dan penerapan bea ekspor kakao terhadap kinerja industri

Lebih terperinci

VIII. DAMPAK PERUBAHAN FAKTOR INTERNAL DAN EKSTERNAL TERHADAP EKONOMI RUMAHTANGGA PETANI

VIII. DAMPAK PERUBAHAN FAKTOR INTERNAL DAN EKSTERNAL TERHADAP EKONOMI RUMAHTANGGA PETANI VIII. DAMPAK PERUBAHAN FAKTOR INTERNAL DAN EKSTERNAL TERHADAP EKONOMI RUMAHTANGGA PETANI Bagian ini akan menganalisis hasil melakukan simulasi, yaitu melakukan perubahan-perubahan pada satu atau beberapa

Lebih terperinci

DAMPAK KEBIJAKAN KREDIT DAN SUBSIDI PUPUK TERHADAP KEUNTUNGAN USAHATANI PADI. I Made Tamba Ni Luh Pastini

DAMPAK KEBIJAKAN KREDIT DAN SUBSIDI PUPUK TERHADAP KEUNTUNGAN USAHATANI PADI. I Made Tamba Ni Luh Pastini DAMPAK KEBIJAKAN KREDIT DAN SUBSIDI PUPUK TERHADAP KEUNTUNGAN USAHATANI PADI I Made Tamba Ni Luh Pastini ABSTRACT Rice is high-valued commodities since pre-independence era. The paper aims to analyze impact

Lebih terperinci

PROSPEK DAN ARAH PENGEMBANGAN AGRIBISNIS KEDELAI. Edisi Kedua. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian AGRO INOVASI

PROSPEK DAN ARAH PENGEMBANGAN AGRIBISNIS KEDELAI. Edisi Kedua. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian AGRO INOVASI PROSPEK DAN ARAH PENGEMBANGAN AGRIBISNIS KEDELAI Edisi Kedua Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2007 AGRO INOVASI MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN MENTERI PERTANIAN

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. karena sampai saat ini sektor pertanian merupakan sektor yang paling

I. PENDAHULUAN. karena sampai saat ini sektor pertanian merupakan sektor yang paling I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pertanian di Indonesia merupakan salah satu sektor yang paling strategis karena sampai saat ini sektor pertanian merupakan sektor yang paling diunggulkan. Selain itu, sektor

Lebih terperinci

VI ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI

VI ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI VI ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI 6.1 Penerimaan Usahatani Penerimaan usahatani merupakan nilai yang diperoleh dari total produksi usahatani sayuran per hektar yang dikelola oleh petani di Kelompok Tani

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Definisi operasional dan konsep dasar ini mencakup semua pengertian yang

III. METODE PENELITIAN. Definisi operasional dan konsep dasar ini mencakup semua pengertian yang III. METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional dan Konsep Dasar Definisi operasional dan konsep dasar ini mencakup semua pengertian yang dipergunakan untuk memperoleh data yang akan dianalisis sesuai dengan

Lebih terperinci

KAJIAN KEBIJAKAN HPP GABAH

KAJIAN KEBIJAKAN HPP GABAH KAJIAN KEBIJAKAN HPP GABAH Oleh: Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian TUJUAN KEBIJAKAN DAN KETENTUAN HPP Harga jual gabah kering panen (GKP) petani pada saat panen raya sekitar bulan Maret-April

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Sektor pertanian merupakan sektor yang mempunyai peranan strategis dalam struktur pembangunan ekonomi nasional. Oleh karena itu sektor pertanian menjadi salah satu sektor

Lebih terperinci

KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PERTANIAN: Upaya Peningkatan Produksi Komoditas Pertanian Strategis

KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PERTANIAN: Upaya Peningkatan Produksi Komoditas Pertanian Strategis KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PERTANIAN: Upaya Peningkatan Produksi Komoditas Pertanian Strategis 1 Pendahuluan (1) Permintaan terhadap berbagai komoditas pangan akan terus meningkat: Inovasi teknologi dan penerapan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kamus Lengkap Ekonomi Collins (1997) dalam Manaf (2000),

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kamus Lengkap Ekonomi Collins (1997) dalam Manaf (2000), II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Teori 2.1.1. Subsidi Menurut Kamus Lengkap Ekonomi Collins (1997) dalam Manaf (2000), subsidi adalah cadangan keuangan dan sumber-sumber daya lainnya untuk mendukung

Lebih terperinci