TINJAUAN PUSTAKA. Perkembangan Teknologi Molekuler Dalam Akuakultur. dalam maupun di luar negeri. Produksi akuakultur diharapkan dapat ditingkatkan

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "TINJAUAN PUSTAKA. Perkembangan Teknologi Molekuler Dalam Akuakultur. dalam maupun di luar negeri. Produksi akuakultur diharapkan dapat ditingkatkan"

Transkripsi

1 6 TINJAUAN PUSTAKA Perkembangan Teknologi Molekuler Dalam Akuakultur Saat ini keamanan pangan telah menjadi isu hangat di masyarakat baik di dalam maupun di luar negeri. Produksi akuakultur diharapkan dapat ditingkatkan beberapa kali lipat untuk memenuhi kebutuhan pangan berupa ikan dimasa-masa mendatang akibat peningkatan populasi manusia. Intensitas dan kapasitas produksi diharapkan meningkat dengan menggunakan pendekatan bioteknologi. Salah satu teknik modern yang diduga akan menjadi sarana yang berguna dalam pengembangan akuakultur adalah teknologi transfer gen. Teknik ini telah diaplikasikan pada spesies yang memiliki nilai ekonomis (Alimuddin dkk., 2003). Untuk meningkatkan keberlanjutan budidaya, umumnya dilakukan pembiakan secara selektif untuk mengembangkan strain yang tampil baik di penangkaran. Sayangnya, keberlanjutan berbagai sektor industri secara negatif dipengaruhi oleh inbreeding, wabah penyakit, produksi rendah dan kualitas daging yang rendah. Untuk mengatasi masalah tersebut dilakukan pengembangan strain ikan berkualitas tinggi yang memiliki tingkat pertumbuhan yang tinggi, tahan terhadap penyakit dan memiliki nilai gizi tinggi (Ding dkk., 2015). Pengenalan teknik molekuler di samping metode bioteknologi yang lebih tradisional telah memasok sumber daya untuk meningkatkan produksi secara signifikan dalam dunia akuakultur. Kekayaan informasi yang diberikan oleh berbagai proyek genom dan kemajuan dalam genomik fungsional dan teknologi transgenik telah menambahkan sumber daya baru untuk bidang bioteknologi. Potensi aplikasi pendekatan baru khusus untuk bioteknologi akuakultur bisa membawa kita lebih dekat untuk mencapai tuntutan pertumbuhan dunia

2 7 akuakultur. Termasuk peningkatan kebutuhan produksi pangan secara global, penemuan dan pengembangan sumber daya alam yang baru serta kesadaran akan penurunan keanekaragaman hayati dan efek merugikan masyarakat modern terhadap lingkungan (Melamed dkk., 2002). Biologi dan Taksonomi Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) Menurut Kottelat dkk., (1993), klasifikasi dari ikan lele dumbo adalah sebagai berikut: Kingdom Filum Kelas Ordo Family Genus Spesies : Animalia : Chordata : Pisces : Ostariophysi : Clariidae : Clarias : Clarias gariepinus Clarias gariepinus didistribusikan secara luas di Afrika dan asia. Habitat utamanya adalah danau yang tenang, sungai dan rawa-rawa di daerah yang banjir secara musiman. Di alam ikan ini bersifat omnivora, makan bahan tanaman, plankton, anthropods, moluska, ikan, reptil dan amfibi (Vitule dkk, 2006). Clarias gariepinus adalah ikan air tawar yang ditemukan di daerah tropis Afrika Barat. Mereka tersebar luas di Asia dan Afrika dan mereka mendiami sebagian danau, kolam dan sungai. Makanan utama dari spesies ini adalah plankton, larva serangga, siput, krustasea, cacing dan ikan kecil. Spesies Clarias keluarga Clariidae biasa disebut "Mudfish" dan terpisah dari nila. Clarias adalah spesies ikan yang paling berbudaya di Nigeria dan ikan ini umumnya kuat,

3 8 mereka memiliki organ pernapasan aksesori, terdiri dari ruang udara yang berisi berisi dua struktur arborescent terletak di busur branchial keempat, yang dilindungi oleh tulang rawan dan ditutupi oleh jaringan vaskuler yang dapat menyerap oksigen langsung dari atmosfer. Spesies ikan ini memungkinkan mereka mentolerir kondisi air yang buruk di mana spesies ikan budidaya lainnya tidak dapat bertahan hidup (Ulufayo, 2009). Pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan budidaya tergantung pada padat tebar, bibit lele dumbo cenderung tampil lebih baik di kepadatan penebaran 425 ikan per m dibandingkan dengan padat tebar tinggi 850 dan ikan per m, oleh karena itu mungkin tidak menguntungkan untuk benih stok C. gariepinus pada kepadatan tebar sangat tinggi (Akinwole dkk, 2014). Kombinasi faktor fisik, kimia dan faktor biologis, seperti perubahan tingkat air, kimia, ph, suhu, kejelasan dan kecepatan aliran, peningkatan jumlah tanaman marjinal, perubahan kimia terkait dan akses ke daerah pemijahan yang cocok merupakan penentu untuk memicu pemijahan lele (Yalcin dkk, 2001). Sumber ikan (liar atau kolam), jenis kelamin, masa aklimatisasi dapat mengerahkan beberapa pengaruh terhadap beberapa karakteristik hematologis Clarias gariepinus sehingga perlu untuk memperhitungkan faktor-faktor tersebut dalam penilaian dan pelaporan indeks hematologis (Gabriel dkk, 2004). Teknologi Transgenesis Transfer gen pertama kali berhasil dilakukan pada ikan dilaporkan dari China pada pertengahan 1980-an. Sejak itu, transfer gen telah dicapai dalam banyak spesies akuakultur dan negara lainnya yang kebanyakan targetnya melibatkan hormon pertumbuhan gen. Set kromosom dan manipulasi sex yang

4 9 intensif diselidiki di tahun 1970-an dan 1980-an di beberapa spesies dan masih sedang disempurnakan. Hal ini mulai mempengaruhi industri selama tahun 1980an. Teknik molekuler (penanda DNA dan manipulasi gen) secara intensif diselidiki sejak pertengahan 1980-an dan kemudian mencapai aplikasi pertama pada pertengahan 1990-an (Hulata, 2001). Transgenesis merupakan teknik rekayasa genetik dengan cara mengintroduksi gen pengode karakter unik yang dapat memberikan nilai tambah bagi organisme target (Alimuddin dkk., 2008). Sebagai contoh, transfer gen pengode hormon pertumbuhan (growth hormone, GH) untuk meningkatkan laju pertumbuhan ikan coho salmon (Onconhyncus kisutch) hingga beberapa kali lipat (Devlin dkk, 1994), gen cecropin terhadap channel catfish (Ictalarus punctatus) (Dunham, 2002) atau lisozim terhadap ikan zebra (Brachydanio rerio) (Yazawa dkk, 2005) untuk meningkatkan resistensi terhadap bakteri pathogen, dan protein antibeku (antifreeze protein) terhadap ikan atlantic salmon (Salmo salar) (Du dkk., 1992) dan ikan coho salmon (Oncorhyncus kisutch) (Devlin dkk., 1995) untuk meningkatkan daya tahan terhadap suhu dingin. Saat ini memungkinkan untuk memperkenalkan setiap gen asing yang menarik ke dalam genom tanaman dan hewan melalui teknologi transfer gen. Ketika gen terintegrasi, diwariskan dan diekspresikan maka organisme transgenik tersebut memperoleh genotipe baru dan fenotipe tergantung pada sifat dan kekhasan dari gen yang diintroduksikan serta kekuatan dari promotor untuk mendorong ekspresi dari gen tersebut (Hew dan Garth, 2001). Dari berbagai teknik molekuler yang tersedia sejauh ini nampaknya transgenesis akan menjadi salah satu teknologi yang paling signifikan. Produksi

5 10 organisme hasil rekayasa genetika atau GMO dalam beberapa kasus dikombinasikan dengan bentuk-bentuk perbaikan genetik menawarkan peluang yang cukup besar untuk lebih efisien dan lebih efektif dalam budidaya di berbagai spesies (Beardmore dan Joanne, 2003). Pengembangan dan penerapan teknologi penanda DNA sudah digunakan dalam bidang lain seperti sistematika molekuler, genetika populasi, biologi evolusi, ekologi molekuler, genetika konservasi, dan pemantauan keamanan makanan laut. Hal tersebut pasti akan berdampak pada industri akuakultur dengan cara yang tak terduga. Studi populasi dan genetika konservasi mengubah peran penting bidang pembenihan dan budidaya yang dijalankan untuk pembesaran dan pemulihan stok ikan liar (Liu dan Cordes, 2004). Budidaya merupakan salah satu industri yang paling cepat berkembang di seluruh dunia pertanian. Salah satu faktor yang paling penting untuk budidaya berkelanjutan adalah pengembangan strain budaya berkinerja tinggi. Manipulasi genom menawarkan metode yang kuat untuk mencapai pemuliaan ikan secara cepat dan terarah yaitu metode pemuliaan ikan dengan berbasis teknologi transgenik. Metode ini menawarkan peningkatan efisiensi, presisi dan prediktabilitas dalam perbaikan genetik atas metode tradisional serta kemungkinan akan memainkan peran utama di masa pembiakan genetik pada ikan (Ding dkk., 2015). Diprediksi bahwa pada tahun 2030 penduduk di seluruh dunia akan melebihi delapan miliar orang, dengan demikian perikanan dan akuakultur tradisional tidak akan mampu memenuhi permintaan manusia terhadap ikan. Studi pada pemuliaan hormon pertumbuhan (GH) ikan transgenik telah dikembangkan

6 11 dengan baik. Oleh karena itu, pertumbuhan ikan transgenik yang ditingkatkan mungkin dapat menjadi hewan transgenik yang dikomersialkan untuk produksi pangan (Zhong dkk., 2012). Teknologi transgenik dapat digunakan dala berbagai bidang dan fungsi antara lain untuk meningkatkan laju pertumbuhan ikan, kontrol kematangan seksual, kemandulan dan diferensiasi seks, meningkatkan kelangsungan hidup dengan meningkatkan ketahanan terhadap penyakit terhadap patogen, beradaptasi dengan lingkungan yang ekstrim seperti tahan terhadap suhu dingin, mengubah karakteristik biokimia dari dalam daging untuk meningkatkan kualitas gizi dan mengubah jalur biokimia atau metabolik untuk meningkatkan pemanfaatan pangan (Hew dan Garth, 2001). Kekuatan yang mendorong dalam penerapan teknologi transgenik pada ikan adalah keinginan untuk menghasilkan induk yang secara genetik unggul untuk produksi pangan. Kemajuan dalam penerapan teknologi transgenik terhadap ikan budidaya sudah sangat cepat. Potensi ekonomi yang menguntungkan dari teknologi transgenik tersebut terhadap bidang budidaya sangatlah penting. Isolasi dan konstruksi gen untuk sifat yang diinginkan dan mentransfer gen tersebut ke dalam tubuh induk dapat memberikan lompatan atau kelebihan dibanding seleksi dan pemuliaan metode tradisional. Selain itu, sifat-sifat baru tidak muncul dalam genom dapat ditransfer dari spesies tertentu, sehingga memungkinkan produksi fenotipe baru (Fletcher dan Peter, 1991). Pengembangan teknik editing genom memungkinkan untuk memodifikasi beberapa gen di lokasi yang tepat dengan efisiensi tinggi dan dalam waktu singkat. Karakteristik ini membuat pendekatan yang cocok untuk meningkatkan

7 12 strain budidaya. Lebih penting lagi, proses ini didasarkan pada perbaikan DNA homologi yang terarah, sehingga tidak membawa elemen DNA asing, melainkan memodifikasi DNA endogen itu sendiri. Oleh karena itu, bila dikombinasikan dengan manipulasi PGC (primordial germ cell) spesifik dan teknik manipulasi genom konvensional (seperti manipulasi poliploidi), teknik ini harus membuat pembudidayaan ikan (dan hewan lainnya) menjadi lebih efisien, lebih tepat dan lebih dapat diprediksi (Ding dkk,. 2015). Pengembangan penanda genetik berbasis DNA memiliki dampak revolusioner pada genetika hewan. Secara teori penanda DNA digunakan untuk mengamati dan memanfaatkan variasi genetik di seluruh genom. Penanda genetik populer di masyarakat akuakultur termasuk allozymes, DNA mitokondria, RFLP, RAPD, AFLP, mikrosatelit, SNP, dan EST marker. Penerapan penanda DNA telah memungkinkan suatu kemajuan yang pesat dalam penyelidikan variabilitas genetik dan inbreeding dalam bidang budidaya, pemilihan induk, spesies dan identifikasi strain serta pembangunan peta genetik dengan resolusi tinggi untuk spesies akuakultur (Liu dan Cordes, 2004). Teknik Transfer Gen Perkembangan teknologi ilmiah mempercepat penelitian ilmiah dan mengubah yang "tidak mungkin" menjadi "mungkin". Meskipun komersialisasi ikan transgenik menghadapi masalah non-ilmiah yang signifikan, saat ini belum ada bukti konklusif dari masalah keamanan terkait dengan komersialisasi organisme hasil rekayasa genetika (GMO). Namun demikian, perlu dilakukan evaluasi jangka panjang serta keamanan sebelum hewan GM diotoriasi ke pasar komersial. Selain transgenesis, baru-baru ini mengembangkan teknik editing

8 13 genom menyediakan alat yang sangat besar yang berharga untuk pembibitan ikan. Dalam waktu dekat, pengenalan editing genom dalam pembudidayaan ikan konvensional akan memungkinkan peneliti untuk secara langsung dan tepat meningkatkan sifat-sifat tertentu tanpa mempengaruhi sifat-sifat lainnya. Karena pendekatan ini tidak lagi menggunakan fragmen gen eksogen, melainkan memodifikasi informasi genetik itu sendiri sehingga layak untuk memainkan peran utama dalam masa depan pemuliaan genetik ikan dan pengembangbiakan hewan lain (Ding dkk., 2015). Penggunaan teknologi transgenesis di Indonesia untuk memproduksi ikan lele tumbuh cepat dimulai sejak tahun Ada dua teknik dalam transfer gen yaitu dengan teknik elektroforasi dan mikroinjeksi. Penggunaan metode mikroinjeksi pada embrio ikan lele memiliki kelemahan antara lain yaitu memerlukan tingkat keterampilan yang tinggi dalam aplikasinya, telur yang diinjeksi seringkali pecah dan menempel pada jarum mikroinjeksi, dan jumlah embrio yang berhasil menetas dan hidup sampai menjadi dewasa sangat rendah dibandingkan dengan jumlah telur yang dihasilkan ikan lele sehingga peluang mendapatkan induk ikan lele yang mampu mentransmisikan transgen pada anakannya sangat rendah (Dewi dkk., 2013). Penggunaan teknik elektroforasi dibandingkan dengan mikro injeksi, teknik transfer gen melalui elektroforasi dengan menggunakan media sperma relatif lebih mudah dan efisien, karena ribuan telur dapat diproses dalam waktu bersamaan dengan menggunakan teknik fertilisasi buatan (Cheng dkk., 2002). Mikroinjeksi DNA asing ke dalam inti oosit atau sitoplasma telur yang dibuahi merupakan metode yang paling umum digunakan untuk memproduksi

9 14 ikan transgenik. Hasil percobaan menggunakan teknik ini mendukung keyakinan bahwa strain ekonomis penting ikan dapat dikembangkan menggunakan transfer gen. Cara ini terlalu memakan waktu dan membutuhkan tenaga kerja yang intensif untuk digunakan dalam menghasilkan sejumlah besar ikan. Saat ini juga telah banyak delakukan transfer gen dengan menggunakan media sperma dan metode elektroforasi (Xie dkk, 1993). Elektroporasi merupakan alternatif yang meredakan banyak masalah ini dan memiliki potensi untuk melakukan transfer gen lebih efisien (Hostetler dkk., 2003). Beberapa penelitian pembentukan strain ikan transgenik telah berhasil dilakukan pada ikan dengan menggunakan beberapa metode yaitu ikan kerapu tikus (Cromileptes Altivelis) transgenik dengan metode elektroporasi dan mikroinjeksi (Subyakto dkk., 2010), ikan medaka (Oryzias latipes) transgenik dengan metode particle gun (Kinoshita dkk., 2003) dan ikan kakap silver (Sparus sarba ) transgenik dengan metode transfeksi (Lu dkk., 2002). Sperma memiliki kelebihan dalam bertindak sebagai media transfer gen, karena sperma menggunakan vektor alami dalam mentransfer gen. Sel sperma telah digunakan sebagai vektor transfer gen pada ikan. Masuknya konstruksi gen ke dalam sperma dapat dipermudah dengan penggunaan elektroporator dan efektifitas transfer gen dengan elektroporasi sperma sangat dipengaruhi kondisi listrik dan parameter biologi (Faqih, 2011). Pemanfaatan teknik transfer gen dalam peningkatan laju pertumbuhan melalui teknik elektroforasi dengan media transfer sperma telah berhasil dilakukan pada ikan lele dumbo (Clarias gariepinus). Ikan lele dumbo yang diintroduksikan gen PhGH memiliki bobot badan yang lebih bervariasi serta

10 15 terdapat individu ikan lele dengan bobot hampir duakali lipat dibandingkan bobot rata-rata populasi ikan lele normal (non transgenik) (Dewi dkk., 2013). Sekali gen asing terintegrasi ke dalam genom resipien, gen tersebut akan diwariskan ke keturunannya melalui germ line. Sebagai contoh, tingkat pertumbuhan dapat dipercepat dengan mengintroduksi gen yang mengkodekan hormon pertumbuhan yang mensintesa peptida hormon pertumbuhan dalam jumlah yang besar dan daya tahan terhadap suhu dingin dapat diperoleh dengan memasukkan gen yang mengkodekan protein antibeku (antifreeze protein) dari ikan yang hidup di temperatur subzero (Alimuddin dkk., 2003). Lebih dari 35 jenis spesies ikan yang berbeda telah digunakan dalam studi transfer gen sejak ikan transgenik pertama kali dibentuk. Keturunan ikan transgenik telah dihasilkan dengan memanfaatkan hormon pertumbuhan (GH) yang ditransmisikan melalui beberapa germ-line (Wei dan Zhu, 2010). Lokalisai produk gen memiliki fungsi yang kritis, sehingga kontrol lokasi transgen merupakan teknik penting dalam studi transgenik (Tanaka dan Masato, 2001). Hormon Pertumbuhan (GH) GH adalah salah satu dari beberapa gen yang saat ini digunakan dalam pemuliaan ikan transgenik (Wei dan Zhu, 2010). Gen pengontrol hormon pertumbuhan (growth hormone, GH) merupakan gen target yang paling banyak digunakan dalam transgenik ikan. Introduksi gen hormon pertumbuhan (GH) pada ikan telah berhasil diaplikasikan dalam rangka peningkatan kecepatan pertumbuhan (Parenrengi dkk., 2009). Hormon pertumbuhan (GH) adalah hormon yang diproduksi pluripotent oleh kelenjar hipofisis di teleosts seperti dalam vertebrata lainnya. GH membawa

11 16 aksinya dengan mengikat reseptor pass-transmembran tunggal dan reseptor GH (GHR) pada jaringan target (Reinecke dkk., 2005). Sifat biologis hormon pertumbuhan (GH) adalah pleiotropic, menggambarkan pertumbuhan, mobilisasi energi, perkembangan gonad, nafsu makan dan perilaku sosial. Dengan demikian, pengaturan jaringan untuk GH bersifat kompleks dan mencakup banyak endokrin dan faktor lingkungan yang sesuai untuk keadaan fisiologis yang beragam dimana GH terlibat. Pada ikan, kontrol neuroendokrin GH bersifat multifaktorial dengan beberapa inhibitor dan stimulator sekresi hipofisis GH (Canosa dkk., 2006). Sifat biologis GH tidak hanya untuk mengendalikan pertumbuhan tetapi juga perkembangan gonad. GH merupakan faktor penting dalam perkembangan seksual dari berbagai spesies. Dalam ikan mas betina, penerapan berbagai konsentrasi steroid yang berbeda pada kultur primer sel hipofisis menyebabkan pelepasan GH. Intinya, mempelajari sifat-sifat perkembangan reproduksi dan gonad dari GH ikan transgenik memberikan parameter fisik populasi untuk mengevaluasi keamanan lingkungan. GH Ikan transgenik menyediakan sebuah sistem yang berguna untuk mempelajari mekanisme interaksi antara somatotropic dan sumbu gonadotropic ikan (Wei dan Zhu, 2010). Ikan Lele Transgenik Beberapa keturunan ikan transgenik telah dihasilkan melalui teknik transfer gen hormon pertumbuhan (GH) diantaranya yaitu gold fish (Carrasius auratus L) (Zhu dkk., 1985), zebra fish (Bayer dan Jose, 1992), ikan nila (Oreochromis niloticus) (Kobayashi dkk., 2007), coho salmon (Devlin dkk., 1994), ayu fish (Plecoglossus altivelis) (Cheng dkk., 2002), ikan medaka (Oryzias

12 17 latipes) (Inoue dkk., 1990; Murakami dkk., 1994; Ono dkk., 1997), ikan kerapu tikus (Cromileptes Altivelis) (Subyakto dkk., 2010), ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) (Dewi dkk., 2013). Proses dari produksi hewan transgenik terdiri atas beberapa tahapan secara ringkas yaitu identifikasi gen yang diinginkan (gen target), isolasi gen target, amplifikasi gen target untuk memproduksi beberapa kopi, penggabungan gen target dengan promoter yang tepat dan sekuens poly serta insersi kedalam plasmid, multiplikasi plasma di dalam bakteri dan recovery konstruksi kloning untuk injeksi, transfer konstruksi kedalam jaringan resipien, integrasi gen kedalam jaringan resipien, ekspresi gen pada genom resipien, dan pewarisan gen pada generasi selanjutnya (Beardmore dan Porter, 2003). Pembentukan strain ikan lele C.gariepinus cepat tumbuh dilakukan melalui program seleksi dan transgenesis. Program seleksi dilakukan pada karakter pertumbuhan menggunakan metode seleksi individu, dengan target peningkatan laju pertumbuhan 30% dan tingkat inbreeding rendah. Transgenesis dilakukan melalui penyisipan gen pengkode hormon pertumbuhan ikan patin siam (PhGH) menggunakan metode elektroporasi dengan media transfer sperma dengan target peningkatan laju pertumbuhan 100% dan FCR rendah (Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2012). Pembentukan strain ikan lele tumbuh cepat generasi F 0 dilakukan dengan menggunakan teknologi transgenesis melalui metode elektroforasi. Konstruksi gen yang digunakan adalah all fish yang tersusun dari gen GH yang berasal dari patin siam (PhGH) dan promoter β-aktin dari ikan mas. Hasil penelitian

13 18 menunjukkan bahwa gen PhGH mampu terinsersi dan terekspresi pada ikan lele dumbo generasi F 0 (Dewi dkk., 2013). Deteksi Transgen DNA mreupakan sebuah polimer panjang yang tidak bercabang yang terdiri dari empat subunit yang berbeda yaitu deoksiribonukleotida yang mengandung adenin basa nitrogen (A), sitosin (C), guanin (G) dan timin (T). Basa nitrogen dapat dibagi menjadi dua kategori kimia yaitu A dan G merupakan purin, T dan C adalah pirimidin. Subunit biasanya disebut sebagai nukleotida, asam nukleat atau pasangan basa (basa dalam kasus DNA untai tunggal). Setiap nukleotida mengandung gula pentosa (5-carbon-ring) dan basa nitrogen. Kelima (5-prime atau 5 ') karbon dari ring pentosa terhubung ke ketiga (3-prime, atau 3') karbon dari ring pentosa berikutnya melalui gugus fosfat dan basa nitrogen tetap keluar dari gula phosphate. Orientasi 5 '/ 3' ini menunjukkan polaritas sepanjang untai DNA, dimana semua nukleotida dalam untai yang sama diatur dengan cara yang sama. Dengan konvensi urutan DNA dibaca dari 5 'ke 3' sehubungan dengan polaritas untai. Sebuah molekul DNA terdiri dari dua untai nukleotida terikat bersama oleh ikatan hidrogen (Chapman dan Hall, 1995). Ekspresi Transgen Ekspressi gen dianalisis dengan mengukur level mrna dan protein. Messenger RNA dari gen asing dapat dideteksi menggunakan probe (fragment DNA yang diberi label radioaktif biasanya berupa 35 P) dan protein dengan cara immunodeteksi dengan menggunakan antibodi. Akan tetapi kedua metode ini membutuhkan banyak waktu dan relatif kompleks. Oleh karena itu, untuk

14 19 mengembangkan promoter/enhanser yang baik diperlukan suatu metode yang sederhana dan cepat untuk mendeteksi ekspresi gen (Alimuddin dkk., 2003). Modifikasi gen endogen melalui rekombinasi homolog (penargetan gen) pada ikan akan menjadi alat yang sangat ampuh untuk pemuliaan genetik dan studi dasar ekspresi gen dan untuk memahami fungsi dari produk gen (Yoshizaki dkk., 2000). Pembentukan metode untuk mengintroduksikan gen eksogen ke dalam suatu organisme untuk menurunkan gen eksogen ke generasi selanjutnya dan untuk mengarahkan ekspresi yang sesuai dari gen eksogen adalah salah satu kriteria dasar dan sangat diperlukan untuk suatu organisme (Tanaka dkk Kinoshita, 2001). Mekanisme gen eksogen diintegrasikan ke dalam genom inang telah menjadi topik utama penelitian transgenik. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa transgen terintegrasi secara acak dan beragam ke dalam ikan. Jumlah susunan salinan transgen memberikan pengaruh represif pada ekspresi. Beberapa penelitian melaporkan penurunan pada level ekspresi per copy melalui peningkatan jumlah copy, sementara dengan penurunan jumlah copy menghasilkan peningkatan pada ekspresi transgen (Wei dan Zhu, 2010). Gen yang ditransfer akan direplikasi tanpa mengalami integrasi ke dalam genom resipien pada awal perkembangan embrio (Iyengar dkk., 1996). Setelah mengalami beberapa pembelahan sel, beberapa gen asing tersebut terintegrasi secara acak di genom resipien di salah satu blastomer yang diikuti dengan pembentukan concatemer. Gen asing terintegrasi stabil di dalam sel resipien, dan dalam bentuk ekstrakromosomal terdegradasi oleh endogenous nuclease (Alimuddin dkk., 2003).

15 20 Ekspresi gen asing atau transgen yang diintroduksi adalah dikontrol oleh suatu urutan DNA yang disebut promoter. Kemampuan promoter dalam mengendalikan ekspresi gen asing yang diintroduksi merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan transgenesis. Jenis promoter yang digunakan akan menentukan letak, waktu dan tingkat ekspresi transgen. Dalam hubungannya dengan tempat aktivitasnya, promoter dapat dibedakan menjadi promoter yang aktif di mana-mana (ubiquitous), dan promoter yang aktif pada jaringan tertentu seperti hanya aktif di hati, otak atau di gonad saja. Hal lain yang diduga menyebabkan tingginya ekspresi transgen adalah terekspresinya plasmid-plasmid DNA, tetapi seiring dengan fase perkembangan larva, plasmid-plasmid DNA tersebut ikut terdegradasi (Alimuddin dkk., 2008). Ekspresi transgen b-aktin pada ikan mas (Cyprinus carpio) masih tetap terlihat pada larva, sekitar 71,61% ± 6,76% larva mengekspresikan transgen, tetapi ekspresi tersebut tidak spesifik pada suatu organ, karena promoter b-aktin memiliki sifat yang dapat aktif pada semua jaringan/ sel otot (Alimuddin et al., 2008). Gen b-actin yang berasal dari ikan mas dikendalikan oleh beberapa unsur regulasi. Unsur promotor proksimal mengarahkan tingkat ekspresi yang cukup tinggi, sehingga dapat digunakan dalam transfer gen pada ikan (Liu dkk., 1990). Gen b-actin merupakan protein yang melimpah di hampir semua semua tipe sel, menunjukkan bahwa promoter ini sangat aktif dan serbaguna. Pada beberapa jenis ikan, ekspresi terdapat juga dikulit, insang dan jaringan peripheral (sekeliling tubuh) lainnya (Alimuddin dkk., 2003). Gen b-actin diatur pada tingkat transkripsi oleh faktor protein trans-acting yang mengikat urutan DNA cis-acting dalam bagian promotor. Meskipun gen

16 21 aktin diekspresikan dalam seluruh jaringan, gen aktin individu menunjukkan spesifitas jaringan dan perkembangan dalam ekspresinya. Gen b-aktin dinyatakan dalam jenis sel tertentu, mungkin karena perbedaan pengikatan faktor transkripsi untuk elemen regulasi gen (Liu dkk., 1990). Introduksi gen pengkode karakter yang diharapkan ke ikan harus bisa ditranskripsi dan ditranslasi secara akurat dalam ikan resipien. Namun demikian, pengontrolan ekspresi gen pada ikan masih belum banyak diketahui sebagai akibat dari belum banyaknya gen ikan yang diklon dibandingkan dengan vertebrata tingkat tinggi. Oleh karena itu, umumnya peneliti menggunakan promoter/enhanser yang diperoleh dari vertebrata lainnya atau dari virus yang menginfeksinya (Alimuddin dkk., 2003). PCR dan analisis sekuensing menunjukkan bahwa gen asing yang terintegrasi dalam ikan mas transgenik adalah head-to-head dan head-to-tail. Transgen diekpresikan tergantung pada jumlah salinan transgen. Semakin sedikit jumlah salinan transgen terintegrasi di kromosom inang, maka semakin tinggi efisiensi ekspresi transgen. Jumlah salinan transgen yang rendah juga akan mengakibatkan transmisi transgen tetap stabil pada germ-line melalui generasi yang berbeda. Namun, ukuran hewan transgenik tidak berkorelasi dengan baik dengan jumlah salinan transgen (Wei dan Zhu, 2010). Karena integrasi transgen terjadi secara acak, lokasi penyisipan transgen tidak dapat diketahui dengan tepat. Jumlah salinan di lokasi penyisipan juga tidak dapat dikontrol, yang mengarah untuk menurunkan rasio fungsional integrasi dan efisiensi yang lebih rendah dari ekspresi transgen. Proses integrasi secara acak merupakan racun bagi ikan target. Ekspresi transgen tidak dapat dikonfigurasikan

17 22 saat ikan transgenik diproduksi dengan metode konvensional. Membentuk generasi ikan transgenik yang stabil dengan sifat yang diinginkan untuk budidaya merupakan tugas yang sulit. Dengan demikian, target dan kontrol ekspresi transgen dalam ikan telah menjadi fokus penelitian dalam beberapa tahun terakhir (Wei dan Zhu, 2010). Ekstraksi DNA/RNA Ekstraksi DNA merupakan prosedur rutin dalam analisis molekuler. Jumlah dan kualitas DNA hasil ekstraksi bervariasi tergantung dari spesies yang digunakan sehingga mempengaruhi analisis lebih lanjut seperti hibridisasi DNA, pemotongan DNA dengan enzim restriksi maupun analisis dengan Polymerase Chain Reaction (PCR) (Pharmawati, 2009). Ekstraksi untuk mendapatkan DNA berkualitas tinggi merupakan satu kaidah dasar yang harus dipenuhi dalam analisis molekuler. Masalah-masalah dalam ekstraksi DNA masih merupakan hal penting yang perlu diatasi (Restu, 2012). Amplifikasi PCR (Polymerase Chain Reaction) Reaksi berantai polimerase (Polymerase Chain Reaction, PCR) adalah suatu metode enzimatis untuk melipatgandakan secara eksponensialsuatu sekuen nukleotida tertentu dengan cara in vitro. Pada awal perkembangannya metode ini hanya digunakan untuk melipatgandakan molekul DNA, tetapi kemudian dikembangkan lebih lanjut sehingga dapat digunakan pula untuk melipatgandakan dan melakukan kuantitasi molekul mrna melalui teknik Reverse Transcriptase PCR (RT-PCR). Konsep teknologi PCR mensyaratkan bahwa bagian tertentu sekuen DNA yang akan dilipatgandakan harus diketahui terlebih dahulu primer

18 23 yang digunakan, yaitu suatu sekuen oligonukleotida pendek yang berfungsi mengawali sintesis rantai DNA dalam reaksi berantai polimerase (Yuwono, 2006). Primer PCR merupakan oligonukleotida yang berperan sebagai inisiasi amplifikasi molekul DNA. Dengan keberadaan primer PCR tersebut, maka gen target akan teramplifikasi sepanjang reaksi PCR berlangsung. Untuk merancang primer spesifik tersebut diperlukan data sekuen gen yang menyandikan protein sejenis dengan fragmen yang akan diamplifikasi melalui PCR (Aris dkk., 2013). Empat komponen utama pada proses PCR adalah (1) DNA cetakan yaitu fragmen DNA yang akan dilipatgandakan, (2) oligonukleotida primer yaitu suatu sekuen oligonukleotida pendek (15-25 basa nukleotida) yang digunakan untuk mengawali sintesis rantai DNA, (3) deoksiribonukleotida trifosfat (dntp) yaitu terdiri atas datp, dtcp, dgtp, dttp dan (4) enzim DNA polimerase yaitu enzim yang melakukan katalis reaksi sintesis rantai DNA. Komponen lain yang juga penting adalah senyawa buffer (Yuwono, 2006). Reaksi penggandaan suatu fragmen DNA dimulai dengan denaturasi DNA template (cetakan) sehingga rantai DNA yang berantai ganda (double stranded) akan terpisah menjadi rantai tunggal (singgle stranded). Denaturasi DNA dilakukan pada suhu 95 0 C selama 1-2 menit, kemudian suhu diturunkan menjadi 55 0 C sehingga primer akan menempel (annealing) pada cetakan yang telah terpisah menjadi rantai tunggal. Amplifikasi akan lebih efisien jika dilakukan pada suhu yang lebih rendah (37 0 C), tetapi biasanya akan terjadi mispriming yaitu penempelan primer pada tempat yang salah. Pada suhu yang lebih tinggi (55 0 C), spesifitas reaksi amplifikasi akan meningkat, tetapi secara keseluruhan

19 24 efisiensinya akan menurun. Reaksi tersebut diulangi sampai siklus sehingga pada akhir siklus akan didapatkan molekul-molekul DNA rantai ganda dalam jumlah yang lebih banyak. Banyaknya siklus amplifikasi yang digunakan tergantung dari jumlah konsentrasi DNA target di dalam campuran reaksi (Yuwono, 2006). Pada umumnya PCR dilakukan dengan mengulangi siklus pelipatgandaan sebanyak siklus. Akan tetapi, banyaknya siklus yang diperlukan tergantung terutama pada konsentrasi awal molekul DNA target yang akan dilipatgandakan. Siklus yang terlalu banyak justru akan meningkatkan konsentrasi produk yang tidak spesifik, sedangkan siklus yang terlalu sedikit akan mengurangi kuantitas produk yang diharapkan (Yuwono, 2006). Oleh karena PCR tidak dapat dilakukan dengan menggunakan RNA sebagai cetakan maka terlebih dahulu dilakukan proses transkripsi balik (reverse transcription) terhadap molekul mrna sehingga diperoleh molekul cdna (complementary DNA). Molekul cdna tersebut kemudian digunakan sebagai cetakan dalam proses PCR. Teknik RT-PCR ini sangat berguna untuk mendeteksi ekspresi gen, untuk amplifikasi RNA sebelum dilakukan kloning dan analisis, maupun untuk diagnosis agensia infektif maupun penyakit genetik. Teknik RT- PCR memerlukan enzim transkriptase balik (reverse transcriptase). Enzim transkriptase balik adalah enzim DNA polimerase yang menggunakan molekul RNA sebagai cetakan untuk mensintesis molekul DNA (cdna) yang komplementer dengan molekul RNA tersebut (Yuwono, 2006). Elektroforesis

20 25 Teknik elektroforesis gel agarosa digunakan untuk menganalisis DNA hasil amplifikasi. Proses ini dilaksanakan dalam larutan penyangga TBE (Tris- Borat-EDTA). Pewarnaan DNA hasil elektroforesis dilakukan dengan menggunakan larutan etidium bromida. Setelah diwarnai, gel kemudian divisualisasi melalui ultraviolet transilluminator. Untuk menentukan ukuran fragmen DNA, digunakan penanda berat molekul yang dinyatakan dengan pasangan basa (basepair = bp). Hasil positif ditunjukkan dengan adanya pita fragmen DNA pada gel agarosa setelah pewarnaan dan dilakukan visualisasi (Rosilawati dkk., 2002).

PENDAHULUAN. sangat pokok dalam menunjang keberlanjutan kegiatan budidaya dan hasil

PENDAHULUAN. sangat pokok dalam menunjang keberlanjutan kegiatan budidaya dan hasil 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Ketersediaan induk unggul dalam bidang akuakultur merupakan hal yang sangat pokok dalam menunjang keberlanjutan kegiatan budidaya dan hasil produksi untuk dapat memenuhi kebutuhan

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN LATAR BELAKANG

1. PENDAHULUAN LATAR BELAKANG 1 1. PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Ikan patin siam (Pangasionodon hypophthalmus) merupakan salah satu spesies ikan air tawar yang memiliki nilai ekonomis tinggi di Indonesia. Dalam program peningkatan produksi

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) Menurut Kottelat dkk., (1993), klasifikasi dari ikan lele dumbo adalah.

TINJAUAN PUSTAKA. Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) Menurut Kottelat dkk., (1993), klasifikasi dari ikan lele dumbo adalah. TINJAUAN PUSTAKA Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) Menurut Kottelat dkk., (1993), klasifikasi dari ikan lele dumbo adalah sebagai berikut: Kingdom Filum Kelas Ordo Family Genus : Animalia : Chordata

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. transfer gen sejak penelitian pertama ikan transgenesis dimulai (Zhu dkk., 1985).

TINJAUAN PUSTAKA. transfer gen sejak penelitian pertama ikan transgenesis dimulai (Zhu dkk., 1985). TINJAUAN PUSTAKA Teknologi Transgenesis Telah lebih dari 35 spesies ikan berbeda telah telah diteliti untuk kegiatan transfer gen sejak penelitian pertama ikan transgenesis dimulai (Zhu dkk., 1985). Transgenesis

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Isolasi Promoter -Aktin Ikan Mas Promoter -Aktin dari ikan mas diisolasi dengan menggunakan metode PCR dengan primer yang dibuat berdasarkan data yang ada di Bank Gen. Panjang

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Derajat Kelangsungan Hidup Embrio dan Derajat Penetasan Berdasarkan hasil pengamatan terhadap derajat kelangsungan hidup

HASIL DAN PEMBAHASAN. Derajat Kelangsungan Hidup Embrio dan Derajat Penetasan Berdasarkan hasil pengamatan terhadap derajat kelangsungan hidup HASIL DAN PEMBAHASAN Derajat Kelangsungan Hidup Embrio dan Derajat Penetasan Berdasarkan hasil pengamatan terhadap derajat kelangsungan hidup (DKH-e) dan derajat penetasan (DP) tiap promoter (perlakuan)

Lebih terperinci

adalah bagian dari DNA dimana RNA polymerase menempel. Fungsi dari promoter ini adalah untuk mengarahkan RNA polymerase sehingga transkripsi terjadi.

adalah bagian dari DNA dimana RNA polymerase menempel. Fungsi dari promoter ini adalah untuk mengarahkan RNA polymerase sehingga transkripsi terjadi. 66 VI. PEMBAHASAN UMUM Teknik rekayasa genetika merupakan salah satu alternatif yang menjanjikan dalam mengatasi masalah rendahnya produksi, karena dengan teknik ini kita dapat mengintroduksi gen unggul

Lebih terperinci

5. PEMBAHASAN UMUM. Tabel 5. Beberapa konstruksi gen all fish dalam pembuatan ikan transgenik GH.

5. PEMBAHASAN UMUM. Tabel 5. Beberapa konstruksi gen all fish dalam pembuatan ikan transgenik GH. 58 5. PEMBAHASAN UMUM Tujuan umum introduksi gen asing ke dalam genom ikan adalah membuat ikan dengan karakteristik komersial yang lebih baik untuk meningkatkan produksi akuakultur. Sejak pertengahan tahun

Lebih terperinci

Pengertian TEKNOLOGI DNA REKOMBINAN. Cloning DNA. Proses rekayasa genetik pada prokariot. Pemuliaan tanaman konvensional: TeknologiDNA rekombinan:

Pengertian TEKNOLOGI DNA REKOMBINAN. Cloning DNA. Proses rekayasa genetik pada prokariot. Pemuliaan tanaman konvensional: TeknologiDNA rekombinan: Materi Kuliah Bioteknologi Pertanian Prodi Agroteknologi Pertemuan Ke 9-10 TEKNOLOGI DNA REKOMBINAN Ir. Sri Sumarsih, MP. Email: Sumarsih_03@yahoo.com Weblog: Sumarsih07.wordpress.com Website: agriculture.upnyk.ac.id

Lebih terperinci

Teknik-teknik Dasar Bioteknologi

Teknik-teknik Dasar Bioteknologi Teknik-teknik Dasar Bioteknologi Oleh: TIM PENGAMPU Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Jember Tujuan Perkuliahan 1. Mahasiswa mengetahui macam-macam teknik dasar yang digunakan

Lebih terperinci

Saintek Vol 5, No 6, Tahun 2010 POLYMERASE CHAIN REACTION (PCR) Zuhriana K.Yusuf

Saintek Vol 5, No 6, Tahun 2010 POLYMERASE CHAIN REACTION (PCR) Zuhriana K.Yusuf Saintek Vol 5, No 6, Tahun 2010 POLYMERASE CHAIN REACTION (PCR) Zuhriana K.Yusuf Staf Pengajar Jurusan Kesehatan Masyarakat FIKK Universitas Negeri Gorontalo Abstrak (Polymerase Chain Reaction, PCR) adalah

Lebih terperinci

REKAYASA GENETIKA. By: Ace Baehaki, S.Pi, M.Si

REKAYASA GENETIKA. By: Ace Baehaki, S.Pi, M.Si REKAYASA GENETIKA By: Ace Baehaki, S.Pi, M.Si Dalam rekayasa genetika DNA dan RNA DNA (deoxyribonucleic Acid) : penyimpan informasi genetika Informasi melambangkan suatu keteraturan kebalikan dari entropi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kekayaan hasil perikanan yang beranekaragam, sehingga mendatangkan devisa negara yang cukup besar terutama dari

Lebih terperinci

INTRODUKSI DAN PERSENTASE IKAN YANG MEMBAWA GEN GH Growth Hormone IKAN NILA Oreochromis niloticus PADA IKAN LELE DUMBO Clarias sp.

INTRODUKSI DAN PERSENTASE IKAN YANG MEMBAWA GEN GH Growth Hormone IKAN NILA Oreochromis niloticus PADA IKAN LELE DUMBO Clarias sp. INTRODUKSI DAN PERSENTASE IKAN YANG MEMBAWA GEN GH Growth Hormone IKAN NILA Oreochromis niloticus PADA IKAN LELE DUMBO Clarias sp. GENERASI F0 BAMBANG KUSMAYADI GUNAWAN SKRIPSI PROGRAM STUDI TEKNOLOGI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ikan sebagai salah satu sumber protein hewani mengandung semua jenis asam amino esensial yang diperlukan oleh tubuh manusia (Suhartini dan Nur 2005 dalam Granada 2011),

Lebih terperinci

URAIAN MATERI 1. Pengertian dan prinsip kloning DNA Dalam genom sel eukariotik, gen hanya menempati sebagian kecil DNA kromosom, selain itu merupakan

URAIAN MATERI 1. Pengertian dan prinsip kloning DNA Dalam genom sel eukariotik, gen hanya menempati sebagian kecil DNA kromosom, selain itu merupakan URAIAN MATERI 1. Pengertian dan prinsip kloning DNA Dalam genom sel eukariotik, gen hanya menempati sebagian kecil DNA kromosom, selain itu merupakan sekuen non kode (sekuen yang tidak mengalami sintesis

Lebih terperinci

Identifikasi Gen Abnormal Oleh : Nella ( )

Identifikasi Gen Abnormal Oleh : Nella ( ) Identifikasi Gen Abnormal Oleh : Nella (10.2011.185) Identifikasi gen abnormal Pemeriksaan kromosom DNA rekombinan PCR Kromosom waldeyer Kromonema : pita spiral yang tampak pada kromatid Kromomer : penebalan

Lebih terperinci

TUGAS TERSTRUKTUR BIOTEKNOLOGI PERTANIAN VEKTOR DNA

TUGAS TERSTRUKTUR BIOTEKNOLOGI PERTANIAN VEKTOR DNA TUGAS TERSTRUKTUR BIOTEKNOLOGI PERTANIAN VEKTOR DNA Oleh: Gregorius Widodo Adhi Prasetyo A2A015009 KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN PROGRAM

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN UMUM Latar belakang

I. PENDAHULUAN UMUM Latar belakang 1 I. PENDAHULUAN UMUM Latar belakang Produksi akuakultur setiap tahun meningkat seiring dengan meningkatnya pertambahan penduduk di Indonesia. Pada tahun 2005 jumlah penduduk Indonesia sebanyak 220 juta

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Elaeidobius kamerunicus Faust. (Coleoptera : Curculionidae) Kumbang ini mengalami metamorfosis sempurna (holometabola), yakni

TINJAUAN PUSTAKA. Elaeidobius kamerunicus Faust. (Coleoptera : Curculionidae) Kumbang ini mengalami metamorfosis sempurna (holometabola), yakni TINJAUAN PUSTAKA Elaeidobius kamerunicus Faust. (Coleoptera : Curculionidae) Kumbang ini mengalami metamorfosis sempurna (holometabola), yakni siklus hidupnya terdiri dari telur larva pupa imago. E. kamerunicus

Lebih terperinci

diregenerasikan menjadi tanaman utuh. Regenerasi tanaman dapat dilakukan baik secara orgnogenesis ataupun embriogenesis (Sticklen 1991; Zhong et al.

diregenerasikan menjadi tanaman utuh. Regenerasi tanaman dapat dilakukan baik secara orgnogenesis ataupun embriogenesis (Sticklen 1991; Zhong et al. PENDAHULUAN Perbaikan suatu sifat tanaman dapat dilakukan melalui modifikasi genetik baik dengan pemuliaan secara konvensional maupun dengan bioteknologi khususnya teknologi rekayasa genetik (Herman 2002).

Lebih terperinci

BAB XII. REAKSI POLIMERISASI BERANTAI

BAB XII. REAKSI POLIMERISASI BERANTAI BAB XII. REAKSI POLIMERISASI BERANTAI Di dalam Bab XII ini akan dibahas pengertian dan kegunaan teknik Reaksi Polimerisasi Berantai atau Polymerase Chain Reaction (PCR) serta komponen-komponen dan tahapan

Lebih terperinci

BIOTEKNOLOGI. Struktur dan Komponen Sel

BIOTEKNOLOGI. Struktur dan Komponen Sel BIOTEKNOLOGI Struktur dan Gambar Apakah Ini dan Apakah Perbedaannya? Perbedaan dari gambar diatas organisme Hidup ular organisme Hidup Non ular Memiliki satuan (unit) dasar berupa sel Contoh : bakteri,

Lebih terperinci

BIO306. Prinsip Bioteknologi

BIO306. Prinsip Bioteknologi BIO306 Prinsip Bioteknologi KULIAH 7. PUSTAKA GENOM DAN ANALISIS JENIS DNA Konstruksi Pustaka DNA Pustaka gen merupakan sumber utama isolasi gen spesifik atau fragmen gen. Koleksi klon rekombinan dari

Lebih terperinci

Teknologi manipulasi gen (genetic engineering) telah dikembangkan sebagai pelengkap program perbenihan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas dari

Teknologi manipulasi gen (genetic engineering) telah dikembangkan sebagai pelengkap program perbenihan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas dari VI. PEMBAHASAN UMUM Produksi udang windu tahan penyakit atau memiliki daya tahan tubuh yang kuat (resisten) terhadap patogen merupakan salah satu strategi yang perlu dilakukan dalam upaya mengendalian

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan November 2007 hingga Juli 2009, bertempat di Laboratorium Reproduksi dan Genetika Organisme Akuatik Departemen

Lebih terperinci

ANALISA HASIL TRANSFORMASI DENGAN MENGGUNAKAN PCR KOLONI DAN RESTRIKSI

ANALISA HASIL TRANSFORMASI DENGAN MENGGUNAKAN PCR KOLONI DAN RESTRIKSI 1 ANALISA HASIL TRANSFORMASI DENGAN MENGGUNAKAN PCR KOLONI DAN RESTRIKSI PENDAHULUAN Polimerase Chain Reaction (PCR) PCR adalah suatu reaksi invitro untuk menggandakan jumlah molekul DNA pada target tertentu

Lebih terperinci

DETEKSI DAN ANALISIS EKSPRESI TRANSGEN (PhGH) PADA IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus) TRANSGENIK F3 FERY JAKSEN SIHOTANG

DETEKSI DAN ANALISIS EKSPRESI TRANSGEN (PhGH) PADA IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus) TRANSGENIK F3 FERY JAKSEN SIHOTANG DETEKSI DAN ANALISIS EKSPRESI TRANSGEN (PhGH) PADA IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus) TRANSGENIK F3 FERY JAKSEN SIHOTANG 110302045 PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS

Lebih terperinci

DIAGNOSTIK MIKROBIOLOGI MOLEKULER

DIAGNOSTIK MIKROBIOLOGI MOLEKULER DIAGNOSTIK MIKROBIOLOGI MOLEKULER Sunaryati Sudigdoadi Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran 2015 KATA PENGANTAR Puji dan syukur dipanjatkan kehadirat Allah Subhanahuwa ta

Lebih terperinci

SINTESIS PROTEIN. Yessy Andriani Siti Mawardah Tessa Devitya

SINTESIS PROTEIN. Yessy Andriani Siti Mawardah Tessa Devitya SINTESIS PROTEIN Yessy Andriani Siti Mawardah Tessa Devitya Sintesis Protein Proses dimana kode genetik yang dibawa oleh gen diterjemahkan menjadi urutan asam amino SINTESIS PROTEIN EKSPRESI GEN Asam nukleat

Lebih terperinci

REKAYASA GENETIKA. Genetika. Rekayasa. Sukarti Moeljopawiro. Laboratorium Biokimia Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada

REKAYASA GENETIKA. Genetika. Rekayasa. Sukarti Moeljopawiro. Laboratorium Biokimia Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada REKAYASA GENETIKA Sukarti Moeljopawiro Laboratorium Biokimia Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada Rekayasa Genetika REKAYASA GENETIKA Teknik untuk menghasilkan molekul DNA yang berisi gen baru yang

Lebih terperinci

KATAPENGANTAR. Pekanbaru, Desember2008. Penulis

KATAPENGANTAR. Pekanbaru, Desember2008. Penulis KATAPENGANTAR Fuji syukut ke Hadirat Allah SWT. berkat rahmat dan izin-nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang beijudul "Skrining Bakteri Vibrio sp Penyebab Penyakit Udang Berbasis Teknik Sekuens

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Babi Babi adalah sejenis hewan ungulata yang bermoncong panjang dan berhidung leper dan merupakan hewan yang aslinya berasal dari Eurasia. Didalam Al-Qur an tertera dengan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Ekstraksi dan Purifikasi DNA Total DNA total yang diperoleh dalam penelitian bersumber dari darah dan bulu. Ekstraksi DNA yang bersumber dari darah dilakukan dengan metode phenolchloroform,

Lebih terperinci

Kasus Penderita Diabetes

Kasus Penderita Diabetes Kasus Penderita Diabetes Recombinant Human Insulin Marlia Singgih Wibowo School of Pharmacy ITB Sejak Banting & Best menemukan hormon Insulin pada tahun 1921, pasien diabetes yang mengalami peningkatan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Sapi Perah Friesian Holstein

TINJAUAN PUSTAKA Sapi Perah Friesian Holstein TINJAUAN PUSTAKA Sapi Perah Friesian Holstein Sapi Friesian Holstein (FH) merupakan bangsa sapi yang paling banyak terdapat di Amerika Serikat, sekitar 80-90% dari seluruh sapi perah yang berada di sana.

Lebih terperinci

STRUKTUR KIMIAWI MATERI GENETIK

STRUKTUR KIMIAWI MATERI GENETIK STRUKTUR KIMIAWI MATERI GENETIK Mendel; belum terfikirkan ttg struktur, lokus, sifat kimiawi serta cara kerja gen. Sesudah Mendel barulah dipelajari ttg komposisi biokimiawi dari kromosom. Materi genetik

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Domba lokal merupakan salah satu ternak yang ada di Indonesia, telah

TINJAUAN PUSTAKA. Domba lokal merupakan salah satu ternak yang ada di Indonesia, telah II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Domba Lokal Indonesia Domba lokal merupakan salah satu ternak yang ada di Indonesia, telah beradaptasi dengan iklim tropis dan beranak sepanjang tahun. Domba lokal ekor tipis

Lebih terperinci

Lampiran 2. Rubrik Penilaian Jawaban Esai Genetika. 1. Hubungan antara DNA, gen, dan kromosom:

Lampiran 2. Rubrik Penilaian Jawaban Esai Genetika. 1. Hubungan antara DNA, gen, dan kromosom: 100 Lampiran 2. Rubrik Penilaian Jawaban Esai Genetika 1. Hubungan antara DNA, gen, dan kromosom: DNA polimer nukleotida (deoksiribosa+fosfat+basa nitrogen) gen (sekuens/dna yang mengkode suatu polipeptida/protein/sifat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ikan Cyprinid salah satu yang populer diantaranya adalah ikan mas atau common carp (Cyprinus carpio) merupakan ikan air tawar yang bernilai ekonomis penting dan cukup

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Hewan Babi Hewan babi berasal dari Genus Sus, Linnaeus 1758 mempunyai bentuk hidung yang rata sangat khas, hewan ini merupakan jenis hewan omnivora atau hewan pemakan segala.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Clarias fuscus yang asli Taiwan dengan induk jantan lele Clarias mossambius yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Clarias fuscus yang asli Taiwan dengan induk jantan lele Clarias mossambius yang 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Biologi Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) Lele dumbo merupakan ikan hasil perkawinan silang antara induk betina lele Clarias fuscus yang asli Taiwan dengan induk jantan

Lebih terperinci

Metode-metode dalam biologi molekuler : isolasi DNA, PCR, kloning, dan ELISA

Metode-metode dalam biologi molekuler : isolasi DNA, PCR, kloning, dan ELISA Metode-metode dalam biologi molekuler : isolasi DNA, PCR, kloning, dan ELISA Dr. Syazili Mustofa, M.Biomed Lektor mata kuliah ilmu biomedik Departemen Biokimia, Biologi Molekuler, dan Fisiologi Fakultas

Lebih terperinci

MAKALAH BIOLOGI PERBEDAAN ANTARA DNA dengan RNA

MAKALAH BIOLOGI PERBEDAAN ANTARA DNA dengan RNA MAKALAH BIOLOGI PERBEDAAN ANTARA DNA dengan RNA Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Biologi Oleh: Aria Fransisca Bashori Sukma 141810401023 Dosen Pembimbing Eva Tyas Utami, S.Si, M.Si NIP. 197306012000032001

Lebih terperinci

REVERSE TRANSKRIPSI. RESUME UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH Genetika I Yang dibina oleh Prof. Dr. A. Duran Corebima, M.Pd. Oleh

REVERSE TRANSKRIPSI. RESUME UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH Genetika I Yang dibina oleh Prof. Dr. A. Duran Corebima, M.Pd. Oleh REVERSE TRANSKRIPSI RESUME UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH Genetika I Yang dibina oleh Prof. Dr. A. Duran Corebima, M.Pd Oleh UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN

Lebih terperinci

Aulia Dwita Pangestika A2A Fakultas Kesehatan Masyarakat. DNA dan RNA

Aulia Dwita Pangestika A2A Fakultas Kesehatan Masyarakat. DNA dan RNA Aulia Dwita Pangestika A2A014018 Fakultas Kesehatan Masyarakat DNA dan RNA DNA sebagai senyawa penting yang hanya ada di mahkluk hidup. Di mahkluk hidup senyawa ini sebagai master kehidupan untuk penentuan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Isolasi Fragmen DNA Penyandi CcGH Mature Plasmid pgem-t Easy yang mengandung cdna GH ikan mas telah berhasil diisolasi. Hal ini ditunjukkan dengan adanya pita DNA pada ukuran

Lebih terperinci

Home -- Reproduksi Sel -- Hereditas -- Struktur & Ekspresi Gen. Regulasi Ekspresi Gen Teknologi DNA Rekombinan -- Genom Manusia GLOSSARY

Home -- Reproduksi Sel -- Hereditas -- Struktur & Ekspresi Gen. Regulasi Ekspresi Gen Teknologi DNA Rekombinan -- Genom Manusia GLOSSARY Home -- Reproduksi Sel -- Hereditas -- Struktur & Ekspresi Gen Regulasi Ekspresi Gen Teknologi DNA Rekombinan -- Genom Manusia GLOSSARY Adenin: salah satu jenis basa purin yang terdapat pada DNA dan RNA

Lebih terperinci

V. EXPRESSION OF GROWTH HORMONE GENE OF TILAPIA (tigh) IN CATFISH (Clarias sp.) TRANSGENIC FIRST GENERATION ABSTRACT

V. EXPRESSION OF GROWTH HORMONE GENE OF TILAPIA (tigh) IN CATFISH (Clarias sp.) TRANSGENIC FIRST GENERATION ABSTRACT 37 V. EXPRESSION OF GROWTH HORMONE GENE OF TILAPIA (tigh) IN CATFISH (Clarias sp.) TRANSGENIC FIRST GENERATION ABSTRACT The research intends to analyse expression of growth hormone gene of tilapia (tigh)

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Transgenik

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Transgenik II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Transgenik Salah satu pendekatan untuk perbaikan genetik organisme akuatik yang muncul sebagai suatu disiplin ilmu tersendiri baru-baru ini adalah transgenesis, yaitu proses transfer

Lebih terperinci

KLONING. dari kata clone yang diturunkan dari bahasa Yunani klon, artinya potongan yang digunakan untuk memperbanyak tanaman.

KLONING. dari kata clone yang diturunkan dari bahasa Yunani klon, artinya potongan yang digunakan untuk memperbanyak tanaman. KLONING dari kata clone yang diturunkan dari bahasa Yunani klon, artinya potongan yang digunakan untuk memperbanyak tanaman. DI BID PERTANIAN KLON = sekelompok individu yang genetis uniform berasal dari

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 4. Hasil Amplifikasi Gen FSHR Alu-1pada gel agarose 1,5%.

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 4. Hasil Amplifikasi Gen FSHR Alu-1pada gel agarose 1,5%. HASIL DAN PEMBAHASAN Amplifikasi Gen FSHR Alu-1 Amplifikasi fragmen gen FSHR Alu-1 dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) dilakukan dengan kondisi annealing 60 C selama 45 detik dan diperoleh produk

Lebih terperinci

PENGENALAN BIOINFORMATIKA

PENGENALAN BIOINFORMATIKA PS-S1 Jurusan Biologi, FMIPA, UNEJ (2017) PENGENALAN BIOINFORMATIKA Oleh: Syubbanul Wathon, S.Si., M.Si. Pokok Bahasan Sejarah Bioinformatika Istilah-istilah biologi Pangkalan data Tools Bioinformatika

Lebih terperinci

Pengertian TEKNOLOGI DNA REKOMBINAN. Cloning DNA. Proses rekayasa genetik pada prokariot. Pemuliaan tanaman konvensional: TeknologiDNA rekombinan:

Pengertian TEKNOLOGI DNA REKOMBINAN. Cloning DNA. Proses rekayasa genetik pada prokariot. Pemuliaan tanaman konvensional: TeknologiDNA rekombinan: Materi Kuliah Bioteknologi Pertanian Prodi Agribisnis Pertemuan Ke 5 TEKNOLOGI DNA REKOMBINAN Ir. Sri Sumarsih, MP. Email: Sumarsih_03@yahoo.com Weblog: Sumarsih07.wordpress.com Website: agriculture.upnyk.ac.id

Lebih terperinci

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil 3.1.1 Disosiasi Sel Testikular Ikan Gurame Berdasarkan kriteria ukuran sel spermatogonia ikan gurame (5-15 µm) menurut Mauluddin (2009), jumlah dan persentase sel spermatogonia

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tubuh manusia tersusun atas sel yang membentuk jaringan, organ, hingga

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tubuh manusia tersusun atas sel yang membentuk jaringan, organ, hingga 6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 DNA Mitokondria Tubuh manusia tersusun atas sel yang membentuk jaringan, organ, hingga sistem organ. Dalam sel mengandung materi genetik yang terdiri dari DNA dan RNA. Molekul

Lebih terperinci

BIOTEKNOLOGI. Perubahan Genetik, Replikasi DNA, dan Ekspresi Gen

BIOTEKNOLOGI. Perubahan Genetik, Replikasi DNA, dan Ekspresi Gen BIOTEKNOLOGI Perubahan Genetik, Replikasi DNA, dan Ekspresi Gen Sekilas tentang Gen dan Kromosom 1882, Walther Flemming menemukan kromosom adalah bagian dari sel yang ditemukan oleh Mendel 1887, Edouard-Joseph-Louis-Marie

Lebih terperinci

REGULASI EKSPRESI GEN PADA ORGANISME EUKARYOT

REGULASI EKSPRESI GEN PADA ORGANISME EUKARYOT REGULASI EKSPRESI GEN PADA ORGANISME EUKARYOT Morfologi dan fungsi berbagai tipe sel organisme tingkat tinggi berbeda, misalnya: neuron mamalia berbeda dengan limfosit, tetapi genomnya sama Difenrensiasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sapi Bali adalah sapi asli Indonesia yang berasal dari Banteng liar (Bibos

BAB I PENDAHULUAN. Sapi Bali adalah sapi asli Indonesia yang berasal dari Banteng liar (Bibos BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sapi Bali adalah sapi asli Indonesia yang berasal dari Banteng liar (Bibos Banteng Syn Bos sondaicus) yang didomestikasi. Menurut Meijer (1962) proses penjinakan

Lebih terperinci

MATERI GENETIK. Oleh : TITTA NOVIANTI, S.Si., M. Biomed.

MATERI GENETIK. Oleh : TITTA NOVIANTI, S.Si., M. Biomed. MATERI GENETIK Oleh : TITTA NOVIANTI, S.Si., M. Biomed. PENDAHULUAN Berbagai macam sifat fisik makhluk hidup merupakan hasil dari manifestasi sifat genetik yang dapat diturunkan pada keturunannya Sifat

Lebih terperinci

Adalah asam nukleat yang mengandung informasi genetik yang terdapat dalam semua makluk hidup kecuali virus.

Adalah asam nukleat yang mengandung informasi genetik yang terdapat dalam semua makluk hidup kecuali virus. DNA DAN RNA Adalah asam nukleat yang mengandung informasi genetik yang terdapat dalam semua makluk hidup kecuali virus. ADN merupakan blue print yang berisi instruksi yang diperlukan untuk membangun komponen-komponen

Lebih terperinci

Ciri Khas Materi Genetik

Ciri Khas Materi Genetik KIMIA DARI GEN Ciri Khas Materi Genetik 1. Replikasi: digandakan, diturunkan kepada sel anak 2. Penyimpan informasi 3. Meng ekspresi kan informasi: Dimulai dengan transkripsi DNA sehingga dihasilkan RNA,

Lebih terperinci

Paramita Cahyaningrum Kuswandi* FMIPA UNY 2012

Paramita Cahyaningrum Kuswandi* FMIPA UNY 2012 MK. GENETIKA (BIOLOGI SEM 4) Kuswandi* FMIPA UNY 2012 Email *: paramita@uny.ac.id 2 1. From Mendel to DNA 2. The double helix 3. Genomics 4. The impact of genetic engineering 5. Model organisms 6. The

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pertumbuhan merupakan indikator terpenting dalam meningkatkan nilai

I. PENDAHULUAN. Pertumbuhan merupakan indikator terpenting dalam meningkatkan nilai 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertumbuhan merupakan indikator terpenting dalam meningkatkan nilai ekonomi untuk budidaya sapi pedaging. Sapi Pesisir dan sapi Simmental merupakan salah satu jenis

Lebih terperinci

Pengujian DNA, Prinsip Umum

Pengujian DNA, Prinsip Umum Pengujian DNA, Prinsip Umum Pengujian berbasis DNA dalam pengujian mutu benih memang saat ini belum diregulasikan sebagai salah satu standar kelulusan benih dalam proses sertifikasi. Dalam ISTA Rules,

Lebih terperinci

Dr. Dwi Suryanto Prof. Dr. Erman Munir Nunuk Priyani, M.Sc.

Dr. Dwi Suryanto Prof. Dr. Erman Munir Nunuk Priyani, M.Sc. BIO210 Mikrobiologi Dr. Dwi Suryanto Prof. Dr. Erman Munir Nunuk Priyani, M.Sc. Kuliah 10. GENETIKA MIKROBA Genetika Kajian tentang hereditas: 1. Pemindahan/pewarisan sifat dari orang tua ke anak. 2. Ekspresi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Mycobacterium tuberculosis adalah bakteri patogen penyebab tuberkulosis.

BAB I PENDAHULUAN. Mycobacterium tuberculosis adalah bakteri patogen penyebab tuberkulosis. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Mycobacterium tuberculosis adalah bakteri patogen penyebab tuberkulosis. Secara umum penyebaran bakteri ini melalui inhalasi, yaitu udara yang tercemar oleh penderita

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... ii I. Pendahuluan...1 II. Tinjauan Pustaka...4 III. Kesimpulan...10 DAFTAR PUSTAKA...

DAFTAR ISI. KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... ii I. Pendahuluan...1 II. Tinjauan Pustaka...4 III. Kesimpulan...10 DAFTAR PUSTAKA... DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... ii I. Pendahuluan...1 II. Tinjauan Pustaka...4 III. Kesimpulan...10 DAFTAR PUSTAKA...11 I. PENDAHULUAN Latar Belakang Munculnya uniseluler dan multi seluler

Lebih terperinci

EKSPRESI GEN 3. Ani Retno Prijanti FKUI 2010

EKSPRESI GEN 3. Ani Retno Prijanti FKUI 2010 EKSPRESI GEN 3 Ani Retno Prijanti FKUI 2010 Regulasi Ekspresi Gen Ekspresi gen, adl produksi suatu produk RNA dari suatu gen tertentu yg dikontrol oleh mekanisme yg kompleks. Secara normal hanya sebagian

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Derajat Kelangsungan Hidup (SR) Perlakuan Perendaman (%)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Derajat Kelangsungan Hidup (SR) Perlakuan Perendaman (%) IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Hasil yang diperoleh pada penelitian ini meliputi persentase jenis kelamin jantan rata-rata, derajat kelangsungan hidup (SR) rata-rata setelah perlakuan perendaman dan

Lebih terperinci

M A T E R I G E N E T I K

M A T E R I G E N E T I K M A T E R I G E N E T I K Tujuan Pembelajaran: Mendiskripsikan struktur heliks ganda DNA, sifat dan fungsinya. Mendiskripsikan struktur, sifat dan fungsi RNA. Mendiskripsikan hubungan antara DNA, gen dan

Lebih terperinci

POLYMERASE CHAIN REACTION (PCR)

POLYMERASE CHAIN REACTION (PCR) POLYMERASE CHAIN REACTION (PCR) Disusun oleh: Hanif Wahyuni (1210411003) Prayoga Wibhawa Nu Tursedhi Dina Putri Salim (1210412032) (1210413031) SEJARAH Teknik ini dirintis oleh Kary Mullis pada tahun 1985

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Management of Farm Animal Genetic Resources. Tujuannya untuk melindungi dan

I. PENDAHULUAN. Management of Farm Animal Genetic Resources. Tujuannya untuk melindungi dan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perserikatan Bangsa Bangsa telah mendirikan FAO Global Strategy for the Management of Farm Animal Genetic Resources. Tujuannya untuk melindungi dan mengatur pemanfaatan

Lebih terperinci

Organisasi DNA dan kode genetik

Organisasi DNA dan kode genetik Organisasi DNA dan kode genetik Dr. Syazili Mustofa, M.Biomed Lektor mata kuliah ilmu biomedik Departemen Biokimia, Biologi Molekuler, dan Fisiologi Fakultas Kedokteran Unila DNA terdiri dari dua untai

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Mitokondria merupakan organel yang terdapat di dalam sitoplasma.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Mitokondria merupakan organel yang terdapat di dalam sitoplasma. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Fungsi dan Struktur Mitokondria Mitokondria merupakan organel yang terdapat di dalam sitoplasma. Mitokondria berfungsi sebagai organ respirasi dan pembangkit energi dengan

Lebih terperinci

Silabus Olimpiade BOF XI Soal SMP

Silabus Olimpiade BOF XI Soal SMP Silabus Olimpiade BOF XI Soal SMP No Materi pokok Lingkup materi 1 Makhluk Hidup a. Asal usul makhluk hidup b. Ciri-ciri makhluk hidup c. Perbedaan makhluk hidup dan benda mati d. Pengukuran Pada makhluk

Lebih terperinci

Kolokium Departemen Biologi FMIPA IPB: Ria Maria

Kolokium Departemen Biologi FMIPA IPB: Ria Maria Kolokium Departemen Biologi FMIPA IPB: Ria Maria Ria Maria (G34090088), Achmad Farajallah, Maria Ulfah. 2012. Karakterisasi Single Nucleotide Polymorphism Gen CAST pada Ras Ayam Lokal. Makalah Kolokium

Lebih terperinci

MAKALAH BIOLOGI PERBEDAAN DNA DAN RNA

MAKALAH BIOLOGI PERBEDAAN DNA DAN RNA MAKALAH BIOLOGI PERBEDAAN DNA DAN RNA Oleh: Nama : Nur Amalina Fauziyah NIM : 141810401041 JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS JEMBER 2014 PEMBAHASAN Asam nukleat

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Amplifikasi Gen Calpastatin (CAST MspI) Amplifikasi fragmen gen calpastatin (CAST MspI) pada setiap bangsa sapi dilakukan dengan menggunakan mesin thermal cycler (AB Bio System) pada

Lebih terperinci

Ada 2 kelompok basa nitrogen yang berikatan pada DNA yaitu

Ada 2 kelompok basa nitrogen yang berikatan pada DNA yaitu DNA DNA adalah rantai doble heliks berpilin yang terdiri atas polinukleotida. Berfungsi sebagi pewaris sifat dan sintesis protein. Struktur DNA (deoxyribosenucleic acid) yaitu: 1. gula 5 karbon (deoksiribosa)

Lebih terperinci

Bimbingan Olimpiade SMA. Paramita Cahyaningrum Kuswandi ( FMIPA UNY 2012

Bimbingan Olimpiade SMA. Paramita Cahyaningrum Kuswandi (  FMIPA UNY 2012 Bimbingan Olimpiade SMA Paramita Cahyaningrum Kuswandi (email : paramita@uny.ac.id) FMIPA UNY 2012 Genetika : ilmu yang memperlajari tentang pewarisan sifat (hereditas = heredity) Ilmu genetika mulai berkembang

Lebih terperinci

19/10/2016. The Central Dogma

19/10/2016. The Central Dogma TRANSKRIPSI dr.syazili Mustofa M.Biomed DEPARTEMEN BIOKIMIA DAN BIOLOGI MOLEKULER FK UNILA The Central Dogma 1 The Central Dogma TRANSKRIPSI Transkripsi: Proses penyalinan kode-kode genetik yang ada pada

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi lele menurut SNI (2000), adalah sebagai berikut : Kelas : Pisces. Ordo : Ostariophysi. Famili : Clariidae

II. TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi lele menurut SNI (2000), adalah sebagai berikut : Kelas : Pisces. Ordo : Ostariophysi. Famili : Clariidae 6 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi Lele Klasifikasi lele menurut SNI (2000), adalah sebagai berikut : Filum: Chordata Kelas : Pisces Ordo : Ostariophysi Famili : Clariidae Genus : Clarias Spesies :

Lebih terperinci

Di dalam bab ini akan dibicarakan pengertian teknologi DNA rekombinan. beserta tahapan-tahapan kloning gen, yang secara garis besar meliputi

Di dalam bab ini akan dibicarakan pengertian teknologi DNA rekombinan. beserta tahapan-tahapan kloning gen, yang secara garis besar meliputi Di dalam bab ini akan dibicarakan pengertian teknologi DNA rekombinan beserta tahapan-tahapan kloning gen, yang secara garis besar meliputi isolasi DNA kromosom dan DNA vektor, pemotongan DNA menggunakan

Lebih terperinci

4 Hasil dan Pembahasan

4 Hasil dan Pembahasan 4 Hasil dan Pembahasan Dalam bab ini akan dipaparkan hasil dari tahap-tahap penelitian yang telah dilakukan. Melalui tahapan tersebut diperoleh urutan nukleotida sampel yang positif diabetes dan sampel

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. perempuan di dunia dan urutan pertama untuk wanita di negara sedang

I. PENDAHULUAN. perempuan di dunia dan urutan pertama untuk wanita di negara sedang I. PENDAHULUAN Kanker serviks menduduki urutan kedua dari penyakit kanker yang menyerang perempuan di dunia dan urutan pertama untuk wanita di negara sedang berkembang (Emilia, dkk., 2010). Berdasarkan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Jenis kelamin menjadi salah satu studi genetik yang menarik pada tanaman

I. PENDAHULUAN. Jenis kelamin menjadi salah satu studi genetik yang menarik pada tanaman I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jenis kelamin menjadi salah satu studi genetik yang menarik pada tanaman dioecious. Jenis kelamin betina menjamin keberlangsungan hidup suatu individu, dan juga penting

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. terbesar di seluruh dunia. Nenek moyang ikan mas diduga berasal dari Laut Kaspia

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. terbesar di seluruh dunia. Nenek moyang ikan mas diduga berasal dari Laut Kaspia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ikan mas merupakan salah satu ikan dengan penyebaran dan domestikasi terbesar di seluruh dunia. Nenek moyang ikan mas diduga berasal dari Laut Kaspia dan dari lokai

Lebih terperinci

Topik 4 DNA Sebagai Bahan Genetik

Topik 4 DNA Sebagai Bahan Genetik Topik 4 DNA Sebagai Bahan Genetik Pada tahun 1953 James Watson dan Francis Crick mempublikasikan sebuah paper yang terdiri dari dua halaman dalam majalah Nature berjudul `struktur molekuler asam nukleat

Lebih terperinci

MACAM-MACAM TIPE PCR DAN TEKNIK PEMOTONGAN PROTEIN DENGAN METODE EDMAN SEBAGAI DASAR KERJA ANALISIS SEKUENSING

MACAM-MACAM TIPE PCR DAN TEKNIK PEMOTONGAN PROTEIN DENGAN METODE EDMAN SEBAGAI DASAR KERJA ANALISIS SEKUENSING TUGAS GENETIKA MOLEKULER MACAM-MACAM TIPE PCR DAN TEKNIK PEMOTONGAN PROTEIN DENGAN METODE EDMAN SEBAGAI DASAR KERJA ANALISIS SEKUENSING Oleh: Laurencius Sihotang 8756130889 Program Studi Magister Pendidikan

Lebih terperinci

VII. UJI EKSPRESI GEN TcAP1 (APETALA1 KAKAO) PADA TANAMAN MODEL. Abstrak

VII. UJI EKSPRESI GEN TcAP1 (APETALA1 KAKAO) PADA TANAMAN MODEL. Abstrak VII. UJI EKSPRESI GEN TcAP1 (APETALA1 KAKAO) PADA TANAMAN MODEL Abstrak Pada berbagai spesies termasuk kakao, gen AP1 (APETALA1) diketahui sebagai gen penanda pembungaan yang mengendalikan terbentuknya

Lebih terperinci

BAB XIII. SEKUENSING DNA

BAB XIII. SEKUENSING DNA BAB XIII. SEKUENSING DNA Pokok bahasan di dalam Bab XIII ini meliputi prinsip kerja sekuensing DNA, khususnya pada metode Sanger, pangkalan data sekuens DNA, dan proyek-proyek sekuensing genom yang ada

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Ikan nila

TINJAUAN PUSTAKA Ikan nila 6 TINJAUAN PUSTAKA Ikan nila Ikan nila (Oreochromis niloticus) termasuk dalam family Chiclidae. Ciri yang spesifik pada ikan nila adalah adanya garis vertikal berwarna gelap di tubuh berjumlah 6-9 buah

Lebih terperinci

DASAR REKAYASA GENETIKA

DASAR REKAYASA GENETIKA DASAR REKAYASA GENETIKA Rekayasa = manipulasi = modifikasi = perubahan bahan genetik (perubahan & pemindahan gen) Cara: 1. Persilangan seksual (perkawinan) 2. Hibridisasi somatik 3. Mutasi 4. Teknologi

Lebih terperinci

REKAYASA GENETIKA DENGAN MIKROBTA

REKAYASA GENETIKA DENGAN MIKROBTA REKAYASA GENETIKA DENGAN MIKROBTA Rekayasa genetika adalah teknik memanipulasi gen-gen secara biokimia untuk mendapatkan mikrobia yang telah mengalami peningkatan atau perubahan aktivitasnya. Rekayasa

Lebih terperinci

Gambar 2.1 udang mantis (hak cipta Erwin Kodiat)

Gambar 2.1 udang mantis (hak cipta Erwin Kodiat) 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Udang Mantis 2.1.1 Biologi Udang Mantis Udang mantis merupakan kelas Malocostraca, yang berhubungan dengan anggota Crustasea lainnya seperti kepiting, lobster, krill, amphipod,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Deteksi genom virus avian influenza pada penelitian dilakukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Deteksi genom virus avian influenza pada penelitian dilakukan 30 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. KONDISI OPTIMAL REAKSI AMPLIFIKASI Deteksi genom virus avian influenza pada penelitian dilakukan menggunakan primer NA. Primer NA dipilih karena protein neuraminidase,

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1. Ikan nila merah Oreochromis sp.

TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1. Ikan nila merah Oreochromis sp. II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Karakteristik ikan nila merah Oreochromis sp. Ikan nila merupakan ikan yang berasal dari Sungai Nil (Mesir) dan danaudanau yang berhubungan dengan aliran sungai itu. Ikan nila

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN LATAR BELAKANG

I. PENDAHULUAN LATAR BELAKANG I. PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Beberapa tahun terakhir ini, para peneliti mencoba mengatasi masalahmasalah reproduksi pada hewan melalui teknologi transplantasi sel germinal jantan atau disebut juga transplantasi

Lebih terperinci

REPLIKASI DNA. Febriana Dwi Wahyuni, M.Si.

REPLIKASI DNA. Febriana Dwi Wahyuni, M.Si. REPLIKASI DNA Febriana Dwi Wahyuni, M.Si. REPLIKASI REPLIKASI adalah perbanyakan diri menghasilkan produk baru yang sama dengan dirinya Pada tingkat molekul kimia hanya DNA yang dapat melakukan replikasi

Lebih terperinci