menggunakan asumsi bahwa penghitungan jumlah laba rugi

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "menggunakan asumsi bahwa penghitungan jumlah laba rugi"

Transkripsi

1 BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Penentuan Kebijakan Mata Uang Fungsional Dan Pengukuran Kembali Laporan Keuangan 1. Asumsi-asumsi Sebelum dilakukan analisis faktor penentu mata uang fungsional dan penerapan prosedur pengukuran kembali Laporan Keuangan serta penghitungan Pajak Penghasilan yang terutang maka perlu ditentukan asumsi-asumsi yang menjadi acuan dasar dalam pelaksanaan pembahasan. Asumsi-asumsi dasar yang dianggap perlu, utamanya meliputi: a. Laporan Keuangan PT SI yang akan dianalisis dan diukur kembali serta dihitung beban pajak terutang dalam mata uang Dollar Amerika Serikat adalah terbatas pada Neraca dan laporan Laba Rugi dari Tahun Analisis yang dilakukan lebih mengarah kepada penghitungan Pajak Penghasilan yang terutang. Selain itu penulis menggunakan asumsi bahwa penghitungan jumlah laba rugi perusahaan secara komersial tidak terdapat perbedaan fiskal baik beda waktu maupun beda tetap sehingga tidak diperlukan penyesuaian fiskal. b. Tujuan pembahasan ini adalah membandingkan angka-angka dalam Laporan Keuangan Rupiah dengan Laporan Keuangan yang diukur kembali dalam mata uang fiingsionalnya untuk menentukan 32

2 33 penghitungan beban pajak yang terutang dengan memakai mata uang yang manakah yang lebih baik dan realistis dan menguntungkan bagi perusahaan. 2. Penentuan Kebijakan Mata Uang Fungsional Berikut ini penulis sajikan analisis secara umum terhadap indikatorindikator penentu mata uang fungsional tersebut untuk PT SI sebagai berikut: a. Arus Kas Asumsi dalam melakukan analisis mengenai arus kas ini didasarkan hanya pada transaksi yang berhubungan dengan kegiatan perusahaan terutama yang bersifat material. Penentuan mata uang fungsional didasarkan pada materialitas unsur mata uang tertentu dalam pos-pos Neraca dan Laba Rugi. Pos-pos yang akan dinilai dalam indikator ini untuk Neraca adalah kas dan setara kas, piutang usaha, hutang bank, pendapatan diterima di muka, hutang pemegang saham, hutang bank jangka panjang, sedangkan untuk Laba Rugi adalah penjualan. Tingkat materialitas atau dominasi di atas ditentukan dengan judgement penulis. Judgement tersebut didasarkan dengan ketentuan bahwa unutk masing-masing pos di dalam Neraca dan Laba Rugi suatu unsur mata uang dikatakan material atau dominan bila sama atau lebih besar 50% dari total jumlah yang terdapat dalam pos tersebut. Laporan Keuangan yang dipakai unutk mengevaluasi pos-pos tersebut adalah Laporan Keuangan PT SI per tanggal 31 Desember 2004.

3 34 Dengan asumsi di atas maka pos-pos dalam Neraca dan Laba Rugi yang memiliki hubungan dengan kegiatan perusahaan dapat digambarkan dengan memakai mata uang asal seperti tercantum pada Tabel 4.1. Datadata yang diperlukan diperoleh dari catatan atas Laporan Keuangan Tahunan untuk Tahun Dari data-data tersebut diperoleh proporsi mata uang untuk pos kas dan setara kas adalah sebagai berikut: untuk Dollar Amerika Serikat sebesar 66,70% (Rpl ,00 * Rp ,00 ), Euro sebesar 1,01% (Rp ,00 + Rp ,00), KRW sebesar 1,93% (Rp ,00 + Rp ,00 ), dan Rupiah sebesar 30,36% (Rp ,00 + Rp ,00). Proporsi mata uang untuk pos piutang usaha adalah sebagai berikut: untuk Dollar Amerika Serikat sebesar 70,64% (Rp ,00 - Rp ,00 ), Euro sebesar 29,36% (Rp ,00 - Rp ,00). Proporsi mata uang untuk pos utang usaha adalah sebagai berikut: untuk Dollar Amerika Serikat sebesar 43,74% (Rp ,00 - Rp ,00), Euro sebesar 10,97% (Rp ,00 - Rp ,00), KRW sebesar 23,81% (Rp ,00 - Rp ,00), dan Rupiah sebesar 21,49% (Rpl ,00 - Rp ,00). Untuk pos-pos hutang bank, hutang pemegang saham dan hutang bank jangka panjang seluruhnya menggunakan mata uang Dollar Amerika Serikat. Proporsi dari setiap pos-pos tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.1.

4 _ - _ 35 Dari label 4.1 terlihat bahwa mata uang Dollar Amerika Serikat ternyata mendominasi sebagian besar pos-pos dalam Neraca. Untuk pospos Neraca yang dianalisis menunjukkan proporsi mata uang dollar amerika yang cukup dominan yaitu berkisar antara 43,74% sampai dengan 100% atau rata-rata 71,87%. TabeU.l Proporsi Mata Uang Asal Dalam Beberapa Pos-Pos Neraca 21UM i iniw 1 si) 'ui i ui-1 : kkw *".» (%> I<P Neraca: Kas dan setara kas 66,70 1,01 1,93 30,36 Piutang usaha 70,64 29,36 Hutang bank 100 Hutang usaha 43,74 10,97 23,81 21,49 Hutang pemegang saham 100 hutang bank jangka panjang Sumber: diolah dari catatan atas Laporan Keuangan PT SI Tahun Demikian juga halnya untuk pos-pos yang dianalisis pada Laba Rugi yang dalam hal ini dianalisis dengan melihat proporsi dalam pos penjualan yang terdiri dari penjualan ekspor dan lokal dimana dalam total pos penjualan tersebut sebagian besar pangsa pasar produk PT SI adalah untuk diekspor kepada konsumen di luar negeri. Berdasarkan catatan atas Laporan Keuangan Tahun 2004 diketahui bahwa total penjualan bersih sebesar Rp ,00 dimana proporsi untuk penjualan ekspor

5 36 sebesar Rp ,00 atau 98,90% dari total penjualan bersih sedangkan penjualan lokal hanya sebesar Rp ,00 atau 1,10% dari total penjualan bersih. Sehingga apabila dengan melihat lagi dominasi mata uang Dollar Amerika Serikat dalam kas dan setara kas serta piutang usaha, maka tentu saja penjualan ekspor sebesar 98,90% dari total penjualan bersih tersebut sebagian besar menggunakan mata uang Dollar Amerika Serikat. Hasil analisis terhadap indikator arus kas tersebut di atas menunjukkan bahwa arus kas sehubungan dengan kegiatan perusahaan didominasi oleh mata uang Dollar Amerika Serikat. Dengan demikian berkaitan dengan indikator arus kas dapat disimpulkan babwa mata uang fungsional perusahaan adalah Dollar Amerika Serikat. b. Harga Jual Penentuan harga jual produk PT SI memakai harga yang berlaku di pasaran internasional atau berdasarkan negosiasi. Tentu saja karena sebagian besar produknya diekspor ke luar negeri maka penetapan harga jualnya sebagian besar dalam mata uang Dollar Amerika Serikat. Sedangkan harga jual dalam mata uang Rupiah hanya untuk penjualan lokal saja. Karena keterbatasan data yang diperoleh penulis, maka penetapan mata uang fungsional dari harga jual hanya dapat dilihat dari tujuan penjualan produk perusahaan yang secara dominan dipasarkan untuk diekspor. Dengan demikian analisis terhadap indikator harga jual ini hanya

6 37 mencakup pangsa pasar produk perusahaan. Jangkauan pemasaran produk PT SI sangat luas dan sebagian besar adalah pasar di luar negeri (produk ekspor). Dari analisis tentang pangsa pasar untuk menilai indikator harga jual terlihat.bahwa Dollar Amerika Serikat memegang peranan dominan. Penetapan harga jual sangat dipengaruhi oleh fluktuasi Dollar Amerika Serikat karena sebagian besar penjualan adalah ekspor dengan pangsa pasar di beberapai negara di luar negeri. Dengan demikian dapat diketahui bahwa hasil penilaian indikator harga jual ini menunjukkan bahwa mata uang fungsional perusahaan adalah Dollar Amerika Serikat. c. Biaya Analisis tentang indikator biaya ini dibatasi hanya untuk biaya yang berhubungan erat dengan kegiatan utama perusahaan. Biaya yang berhubungan dengan kegiatan utama perusahaan antara lain pembelian bahan baku yang merupakan komponen dalam harga pokok penjualan. Jumlah pembelian impor bahan baku yang dilakukan dengan memakai Dollar Amerika Serikat sebesar 1,05% dari total pembelian bahan baku untuk Tahun 2004 atau senilai equivalent Rupiah hanya sebesar Rp ,00 dari total pembelian bahan baku sebesar Rp ,00. Sedangkan dari data yang diberikan perusahaan diketahui bahwa jumlah pembelian bahan baku lokal yang dilakukan dengan memakai Dollar Amerika Serikat sebesar 23% atau sebesar Rp ,69. Pembelian bahan baku tersebut merupakan komponen yang sangat signifikan dalam menentukan harga pokok

7 38 penjualan sebagai salah satu penentu pemakaian bahan baku. Sesuai data yang diperoleh dari perusahaan, selama Tahun 2004 beban pokok penjualan memiliki komponen Dollar Amerika Serikat sebesar 39,24% atau sebesar Rpl ,15 dari total harga pokok penjualan sebesar Rp ,00. Hasil analisis terhadap indikator biaya tersebut menunjukkan bahwa Rupiah memiliki proporsi yang lebih besar namun tidak terdapat perbedaan yang sangat signifikan. Hasil analisis terhadap indikator biaya tersebut menunjukkan bahwa mata uang fimgsional perusahaan tidak dapat ditentukan apakah Dollar Amerika Serikat atau Rupiah. Hal ini disebabkan tidak adanya dominasi yang sangat kuat dari salah satu mata uang asal. Sehingga kesimpulan selanjutnya sangat bergantung kepada indikator-indikator lainnya dan tentunya bergantung juga kepada pertimbangan profesional (profesional judgement). Dari hasil analisis terhadap ketiga indikator yaitu arus kas, harga jual dan biaya di atas dapat dikatakan bahwa Dollar Amerika Serikat merupakan sebagai mata uang fungsional PT SI dengan pertimbangan sebagai berikut: a. Hasil analisis indikator arus kas menunjukkan bahwa komponen Dollar Amerika Serikat mendominasi jumlah yang dianalisis dengan persentase rata-rata Tahun 2004 sebesar 71,87%; b. Indikator harga jual menunjukkan hasil bahwa harga jual produk perusahaan sangat dipengaruhi oleh mata uang Dollar Amerika

8 39 Serikat. Hal tersebut dikarenakan sebagian besar pangsa pasar produk perusahaan adalah untuk di ekspor ke luar negeri dengan memakai harga jual sebagian besar dalam Dollar Amerika Serikat; c. Hasil analisis terhadap indikator biaya menunjukkan tidak terdapatnya dominasi yang sangat signiflkan dari suatu mata uang terhadap mata uang yang lainnya. Dengan demikian Laporan Keuangan PT SI melalui pertimbangan penulis selain memperhatikan ketiga indikator tersebut di atas juga memperhatikan aspek selisih kurs dan tax planning serta cash flow perusahaan, dapat diukur kembali dengan mata uang selain mata uang lokal. Mata uang tersebut adalah mata uang fungsional perusahaan yaitu Dollar Amerika Serikat. 3. Pengukuran Kembali Laporan Keuangan Pengukuran kembali (remeasurement) merupakan suatu proses untuk menyajikan kembali angka-angka dalam Laporan Keuangan seolah-olah perusahaan dari awalnya telah memakai mata uang tertentu. Pengukuran kembali disini hanya bertujuan untuk menyajikan kembali Laporan Keuangan PT SI yang diukur kembali dalam mata uang Rupiah ke daiam mata uang Dollar Amerika Serikat secara umum. Prosedur pengukuran kembali Laporan Keuangan untuk PT SI yang semula disajikan dalam mata uang Rupiah ke dalam mata uang fungsionalnya yaitu Dollar Amerika Serikat sesuai PSAK No. 52 adalah sebagai berikut:

9 40 a. aktiva dan kewajiban moneter diukur kembali dengan menggunakan kurs tanggal Neraca; b. aktiva dan kewajiban non-moneter serta modal saham diukur kembali dengan menggunakan kurs historis atau kurs tanggal terjadinya transaksi perolehan aktiva tetap, terjadinya kewajiban atau penyetoran modal saham; c. selisih antara aktiva, kewajiban dan modal saham dalam mata uang pelaporan baru, yang merupakan hasil perhitungan prosedur (a) dan (b) di atas, diperhitungkan pada saldo laba atau akumulasi kerugian pada periode tersebut; d. pendapatan dan beban diukur kembali dengan menggunakan kurs rata-rata tertimbang selama periode yang diperbandingkan, kecuali untuk beban penyusutan aktiva tetap atau amortisasi aktiva nonmoneter yang diukur kembali dengan menggunakan kurs historis aktiva yang bersangkutan; e. dividen diukur dengan menggunakan kurs tanggal pencatatan dividen tersebut; f. prosedur (d) dan (e) di atas akan menghasilkan selisih pengukuran kembali yang diperhitungkan pada saldo laba atau akumulasi kerugian pada periode tersebut; g. selisih pengukuran kembali merupakan hasil dari perhitungan berikut: saldo laba (akumulasi kerugian) akhir Tahun (hasil dari prosedur (c)) ditambah dengan dividen (hasil prosedur (e)) dan

10 41 dikurangi dengan hasil perhitungan laba (rugi) bersih selama periode yang diperbandingkan (hasil dari prosedur (d)). Berikut ini penulis akan melakukan pengukuran kembali untuk pospos dalam Neraca dan Laba Rugi dari Laporan Keuangan 2004 sebagai berikut: a. Neraca Prosedur pertama yaitu pengukuran kembali aktiva dan pasiva moneter dapat dilakukan dengan cara yang relatif sederhana. Pos-pos moneter merupakan pos-pos yang mencerminkan kas atau klaim terhadap kas. Proses pengukuran kembali pos-pos moneter ini cukup sederhana karena data-data pos-pos moneter dapat diperoleh dengan mudah dari Neraca PT SI. Pos-pos moneter yang dinayatakan dalam Rupiah ini dibagi dengan kurs tengah bank indonesia untuk menghasilkan nilai dalam Dollar Amerika Serikat. Kurs yang dipakai untuk mengukur kembali adalah kurs tengah bank indonesia pada tanggal Neraca. Pada tanggal 31 desember 2004 kurs tengah bank indonesia yang berlaku untuk Rupiah per Dollar Amerika Serikat adalah sebesar Rp9.290,00. Hasil penerapan prosedur pengukuran kembali aktiva dan kewajiban moneter dengan memakai kurs pada tanggal Neraca secara lebih detil dapat dilihat pada Tabel 4.2.

11 42 Tabel4.2 Aktiva Dan Kewajiban Moneter Dalam Dollar Amerika Serikat (USD) aktiva moneter Kas dan setara kas , , ,59 Piutang Usaha , , ,05 Piutang Lain-lain , ,00 77,15 Jumlah Aktiva , ,78 Kewaiiban Moneter Hutang usaha , , ,84 Hutang bank , , ,12 Hutang lain-lain , , ,34 Hutang pajak , , ,18 Biaya yang masih harus dibayar , , ,96 Hutang jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu Tahun: Hutang pemegang saham 9.290,00 Hutang sewa guna usaha , , ,65 Kewajiban Jangka Panjang : Hutang pemegang saham , , ,00 Hutang sewa guna usaha , , ,99 Hutang bank , , ,00 Jumlah Kewajiban , ,08 Sumber: diolah dari catatan atas Laporan Keuangan PT SI Tahun 2004 Hasil pengukuran kembali pos-pos moneter ini merupakan bagian dari Laporan Keuangan yang akan diukur kembali dalam Dollar Amerika

12 43 Serikat (USD). Jumlah aktiva moneter dalam Dollar Amerika Serikat pada 31 desember 2004 sebesar USD ,78. sedangkan jumlah kewajiban moneter untuk Tahun 2004 adalah sebesar USD ,08. Selanjutnya prosedur kedua (b) dalam proses pengukuran kembali ini berlaku bagi pos-pos Neraca yang bersifat non-moneter. Aktiva dan kewajiban non-moneter ini diukur kembali dengan memakai kurs historis atau kurs terjadinya transaksi. Dalam Neraca PT SI, pos-pos non-moneter tersebut pada sisi aktiva adalah persediaan, uang muka pembelian, pajak dibayar dimuka, biaya dibayar dimuka, aktiva tetap, sedangkan pada sisi kewajiban dan ekuitas adalab pendapatan diterima dimuka, dan modal disetor. Agak sedikit berbeda dengan pengukuran kembali pos-pos moneter, pengukuran pos-pos non-moneter lebih rumit karena harus memperoleh data historis berupa tanggal, jumlah dan kurs yang berlaku pada saat terjadinya transaksi. Untuk beberapa pos yaitu uang muka pembelian, biaya dibayar dimuka, pajak dibayar dimuka, aktiva tetap, pendapatan diterima dimuka dan modal disetor diukur kembali dengan kurs saat transaksi untuk jumlah yang tercantum di dalam laporan. Sedangkan untuk persediaan dihitung dengan kurs rata-rata. Hasil perhitungan pengukuran kembali pos-pos Neraca non-moneter dari Rupiah ke dalam Dollar Amerika Serikat per 31 desember 2004 dapat dilihat pada Tabel 4.3. dari Tabel 4.3 kita dapat melihat bahwa total aktiva non-moneter untuk Tahun

13 memiliki jumlah USD31,137, Sedangkan total pasiva nonmoneter untuk Tahun 2004 berjumlah USD ,45. Tabel 4.3 Aktiva Dan Pasiva Non-Moneter Dalam Dollar Amerika Serikat (USD) Yt\-:.- f Ik.(.if Aktiva non Moneter Persediaan Uang Muka: Uang muka dibayar Uang muka pajak Uang muka biaya Aktiva Tetap Uang Jaminan , , , , , ,00 21,036, , , , ,618, , Jumlah Aktiva non Moneter Kewajiban dan Ekuitas non Moneter: Uang muka diterima Modal dasar , ,00 632, ,362, Jumlah Kewajiban dan Ekuitas Sumber: diolah berdasarkan data-data dan informasi dari PT SI Tahun Setelah diperoleh angka dalam Dollar Amerika Serikat untuk pos-pos moneter dan non-moneter melalui prosedur pertama dan kedua, prosedur selanjutnya atau ketiga (c) adalah mencari akumulasi saldo laba atau rugi dengan cara mencari selisih total aktiva (moneter dan non-moneter) dikurangi pasiva (moneter dan non-moneter) dalam Dollar Amerika

14 45 Serikat. Jumlah akumulasi saldo laba atau rugi dalam Dollar Amerika Serikat untuk Tahun 2004 dapat dilihat pada Tabel 4.4 berikut ini. Tabel4.4 Perhitungan Akumulasi Saldo Laba Atau Rugi PT SI Dalam Dollar Amerika Serikat Tahun 2004 Aktiva Moneter Non-moneter Total aktiva (1) t4 B4JAN - -, ^-.i'!i!] V* >^A&,Ali"~ _.Jj ,78 31,137, ,686, Pasiva Moneter Non-moneter Total pasiva sebelum akumulasi saldo laba (rugi) (2) , ,53 Selisih (1-2) 1,855, Sumber: diolah berdasarkan data-data dan informasi dari PT SI Tahun Pelaksanaan prosedur pertama sampai dengan ketiga tersebut telah dapat menghasilkan Neraca PT SI per 31 desember 2004 yang diukur kembali dalam Dollar Amerika Serikat sebagai mata uang flingsionalnya seperti tersaji pada Tabel 4.5. Proses penyusunan Neraca PT SI dalam Dollar Amerika Serikat melalui prosedur pengukuran kembali ini memang memiliki sedikit memiliki perbedaan bila dibandingkan dengan penyajian melalui prosedur akuntansi yang lazim yaitu melalui jurnal dan buku besar. Perbedaan tersebut terdapat pada proses penghitungan akumulasi saldo laba atau rugi. Bila melalui prosedur yang lazim, akumulasi saldo

15 46 laba atau rugi merupakan jumlah laba atau rugi Tahun lalu ditambah dengan laba atau rugj Tahun berjalan, namun dalam proses pengukuran kembali ini jumlah tersebut diperoleh dari selisih aktiva dan pasiva hasil pengukuran kembali. Tabel 4.5 Neraca PT SI per 31 Desember 2004 yang diukur kembali dalam Dollar Amerika Serikat, II Aktiva Aktiva Lancar Kas dan setara kas Piutang Usaha Piutang Lain-Iain Persediaan Uang Muka: Uang muka dibayar Uang muka pajak Uang muka biaya Jumlah Aktiva Lancar , ,05 77,15 21,036, , , ,050, Aktiva Tidak Lancar Aktiva Tetap Uang Jaminan Jumlah Aktiva Tidak Lancar 9,618, , ,635, Jumlah Aktiva Kewajiban Dan Ekuitas Kewaiiban Janaka Pendek Hutang usaha Hutang bank Hutang Iain-lain Uang muka diterima Hutang pajak Biaya yang masih hams dibayar , , ,34 632, , ,96

16 47 Hutang jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun: Hutang pemegang saham Hutang sewa guna usaha Jumlah Kewajiban Jangka Pendek 514, ,364, Kewaiiban Jangka Paniang Hutang pemegang saham Hutang sewa guna usaha Hutang bank Jumlah kewajiban Jangka Panjang , , ,104, Ekuitas Modal saham-modal dasar, ditempatkan dan disetor penuh saham biasa dengan nilai nominal US$100,00 per saham Saklo Laba Jumlah Ekuitas 6,362, ,217, Jumlah Kewajiban dan Ekuitas Sumber: diolah berdasarkan catatan atas laporan keuangan dan data-data serta informasi PT SI Tahun b. Laba Rugi Prosedur pengukuran kembali yang keempat (d) adalah pengukuran kembali pendapatan dan beban dengan menggunakan kurs rata-rata tertimbang, kecuali untuk beban penyusutan aktiva tetap atau amortisasi aktiva non-moneter yang diukur kembali dengan menggunakan kurs historis aktiva yang bersangkutan. Idealnya akun rugi laba secara keseluruhan diukur dengan memakai kurs historis. Namun apabila hal ini dilakukan maka penyusunan Laporan Keuangan akan menjadi tidak praktis. Dengan demikian dapat ditempuh cara Iain, yaitu dengan penggunaan kurs rata-rata tertimbang yang dapat mencerminkan pergerakan kurs selama periode Laporan Keuangan yang dicakup. Kurs

17 48 rata-rata tertimbang yang digunakan dalam pengukuran kembali pos-pos dalam Laba Rugi adalah kurs rata-rata bulanan. Perhitungan dilakukan dengan membagi biaya dalam Rupiah yang menjadi beban pada suatu bulan dengan kurs rata-rata Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat bulan yang bersangkutan dan mengakumulasikannya selama periode laporan (satu Tahun). Perhitungan tersebut hanya untuk pendapatan dan biaya yang terjadi dalam mata uang selain Dollar Amerika Serikat, sebab bila transaksi aslinya sudah terjadi dalam Dollar Amerika Serikat tidak perlu lagi diukur ulang. Prosedur ini akan menghasilkan laporan Laba Rugi dalam Dollar Amerika Serikat sebagai mata uang rungsional PT SI seperti yang terlihat pada Tabel 4.6. Tabel 4.6 Laporan Laba Rugi Dalam Mata Uang Dollar Amerika Serikat Penjualan Beban Pokok Penjualan Laba kotor 51,363, ,838, Beban usaha: Beban umum dan administrsi Laba usaha ,55 Penghasilan (beban) lain - lain: Laba (rugi) selisih kurs - bersih Beban bunga Laba (rugi) pelepasan aktiva tetap Penghasilan bunga Potongan pembelian Lain - lain bersih 982, (1,399,634.99) (107,609.33) 275, , ,220.18

18 49 Sumbangan / hadiah Klaim penjualan Jumlah penghasilan (beban) lain - lain (5,405.62) ) (327,837.55) Laba (rugi) sebelum taksiran pajak penghasilan Taksiran pajak penghasilan Laba (rugi) bersih akhir tahun 1,196, ,196, Sumber: diolah berdasarkan data-data dan informasi PT SI Tahun Pada Tabel 4.6 yang menyajikan pos-pos Laba Rugi dalam Dollar Amerika Serikat terlihat laba bersih untuk Tahun 2004 sebesar USD ,97. Bila dibandingkan dengan laba bersih laporan Laba Rugi dalam Rupiah, maka terdapat perbedaan yaitu terjadi rugi bersih sebesar Rp ,00. Kondisi ini memberikan gambaran bahwa penyajian Laporan Keuangan dalam Dollar Amerika Serikat mencerminkan hasil laba bersih yang lebih baik dan lebih realistis bila dibandingkan dengan penyajian dalam Rupiah. Dilihat dari sudut pandang profitabilitas maka penyajian laba bersih dalam dollar amrika serikat jauh lebih bagus dari pada Rupiah. Apalagi Dollar Amerika Serikat merupakan salah satu mata uang kuat dunia yang relatif lebih stabil daripada Rupiah. Prosedur kelima (e) adalah pengukuran kembali dividen dengan memakai kurs tanggal pencatatan dividen atau tanggal deklarasi dividen. Namun prosedur ini tidak perlu diterapkan pada proses penyajian Laporan Keuangan PT SI dalam Dollar Amerika Serikat karena dalam Tahun 2004 tidak membagikan dividen.

19 50 c. Laba ditahan Prosedur remeasurement selanjutnya (prosedur keenam (f) dan ketujuh (g)) adalah penghitungan selisih pengukuran kembali yang akan diperhitungkan sebagai komponen pada saldo laba atau akumulasi kerugian pada satu periode. Sesuai dengan batasan bahwa Laporan Keuangan yang akan dipakai sebagai dasar analisis adalah Neraca dan laporan Laba Rugi saja maka prosedur terakhir ini tidak akan dibahas karena hanya menyangkut laporan saldo laba yang tidak relevan lagi dalam pembahasan ini. Dengan demikian keseluruhan tahapan pengukuran kembali Laporan Keuangan PT SI dari Rupiah ke dalam Dollar Amerika Serikat telah selesai dengan menghasilkan Neraca dan laporan Laba Rugi dalam mata uang Dollar Amerika Serikat. B. Ketentuan Perpajakan Dan Penghitungan Beban Pajak Setelah memperoleh data keuangan berupa Laporan Keuangan PT SI untuk Tahun 2004 dalam mata uang Dollar Amerika Serikat, maka penulis akan melakukan perbandingan/komparatif antara Laporan Keuangan dalam mata uang Rupiah dengan Laporan Keuangan dalam mata uang Dollar Amerika Serikat melalui penghitungan Pajak Penghasilan yang perbandingannya dilakukan dalam mata uang Rupiah.

20 51 1. Kctentuan Perpajakan Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 533/KMK.04/2000 sebagaimana telah diuraikan dalam Bab II Landasan Teori Sub Bab D Ketentuan Perpajakan, PT SI memenuhi kriteria sebagai salah satu Wajib Pajak yang dapat menyelenggarakan pembukuan dalam bahasa Inggris dan mata uang Dollar Amerika Serikat karena PT SI merupakan Wajib Pajak dalam rangka Penanaman Modal Asing yang terdaftar di Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing Satu. 2. Penghitungan Beban Pajak Penghasilan Penghasilan Kena Pajak merupakan dasar penghitungan untuk menentukan besarnya Pajak Penghasilan yang terutang. Tarif pajak yang diterapkan atas Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak badan dalam negeri dapat dilihat pada Tabel 4.7. Tabel 4.7 Tarif pajak yang diterapkan atas Penghasilan Kena Pajak I jpum PciiL-h.isilan Kcu;; l\ij;ik Liriri\ij;ik sampai dengan Rp ,00 (lima puluh juta rupiah) 10% (sepuluh persen)

21 52 di atas Rp ,00 (lima puluh juta rupiah) 15% (lima belas persen) s-d. Rp ,00 (seratus juta rupiah) di atas Rp ,00 (seratus juta rupiah) 30% (tiga puluh persen) Sumber: Pasal 17 ayat (I) huruf b Undatig-undang Nomor 17 Tahun Untuk keperluan penerapan tarif pajak, jumlah Penghasilan Kena Pajak dibulatkan ke bawah dalam ribuan rupiah penuh. Berikut ini penulis akan menyajikan penghitungan Pajak Penghasilan untuk pembukuan yang diselenggarakan dalam mata uang Rupiah maupun Dollar Amerika Serikat. a. Penghitungan Pajak Penghasilan Untuk Pembukuan Yang Diselenggarakan Dalam Mata Uang Rupiah. Dalam penghitungan Pajak Penghasilan ini penulis menggunakan asumsi bahwa penghitungan jumlah laba rugi perusahaan secara komersial tidak terdapat perbedaan fiskal baik beda waktu maupun beda tetap sehingga tidak diperlukan penyesuaian fiskal. Penghitungan Pajak Penghasilan yang terutang adalah sebagai berikut: Penghasilan Neto Fiskal : (Rp ,00) Kompensasi Kerugian : Penghasilan Kena Pajak : PPh Yang Terutang : Nihil

22 53 Berdasarkan Laporan Laba Rugi untuk periode yang berakhir per 31 Desember 2004 diketahui bahwa perusahaan mempunyai kerugian sebelum taksiran pajak sebesar Rp ,00. Dengan demikian atas kerugian yang dialami oleh perusahaan tersebut tidak terutang Pajak Penghasilan karena Pajak Penghasilan hanya dikenakan terhadap laba perusahaan. b. Penghitungan Pajak Penghasilan Untuk Pembukuan Yang Diselenggarakan Dalam Mata Uang Dollar Amerika Serikat. Besarnya Penghasilan Kena Pajak (PKP) Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan pada akhir tahun buku / tahun pajak dihitung berdasarkan pembukuan dalam mata uang Dollar Amerika Serikat sesuai dengan ketentuan Pasal 16 atau ketentuan khusus Undang-Undang Pajak Penghasilan. Apabila Wajib Pajak mempunyai hak kompensasi kerugian fiskal dari tahun-tahun sebelumnya dalam mata uang Rupiah, kerugian fiskal tersebut terlebih dahulu hams dikonversikan ke mata uang Dollar Amerika Serikat dengan kurs pajak yang ditetapkan Menteri Keuangan yang berlaku pada akhir tahun buku / tahun pajak terjadinya kerugian fiskal tersebut. Penghitungan kompensasi kerugian yang dialami oleh perusahaan adalah sebagai berikut:

23 54 Laba fiskal tahun 1999 Rp ,- Rugi fiskal tahun 2000 (Rp O38.458,-) Laba fiskal tahun 2001 Rp ,- Laba fiskal tahun 2002 Rp ,- Laba fiskal tahun 2003 Rpl ,- Kurs KMK akhir tahun 2000 Rp9.285,- / USD Kompensasi kerugian fiskal dalam mata uang Dollar AS pada Tahun 2004 adalah : Rugi Fiskal Tahun 2000 (Rp ,-) Laba fiskal 5 tahun berikutnya: Laba fiskal tahun 2001 Rp ,- Laba fiskal tahun 2002 Rp ,- Jumlah laba fiskal Laba fiskal tahun 2003 Rpl Rp Sisa rugi fiskal Tahun 2000 (Rp ,-) Jumlah kompensasi kerugian fiskal dalam USD: Rp ,-: Rp9.285,- = USD ,67 Kemudian untuk penghitungan Pajak Penghasilan Badan terhutang dalam mata uang Dollar Amerika Serikat, terlebih dahulu masing-masing lapisan PKP pada tarif umum Pasal 17 ayat (1) Undang-Undang Pajak Penghasilan dikonversikan ke mata uang Dollar Amerika Serikat dengan kurs pajak yang ditetapkan Menteri Keuangan yang berlaku pada akhir tahun

24 55 buku / tahun pajak yang bersangkutan. Berikut ini disajikan penghitungan pajak penghasilan terutang: Penghasilan Neto Fiskal : USD ,97 Kompensasi Kerugian : (USD ') Penghasilan Kena Pajak : USD 740, PPh Yang Terutang: Kurs KMK akhir tahun 2004 adalah Rp9.266,- / USD. Lapisan PKP dalam mata uang Dollar AS : Rp ,- : Rp9.266,- = USD 5.396,07 Rp ,- : Rp9.266,- = USD 5.396,07 Selebihnya : Rp9.266,- Sehingga penghitungan PPh Terutang adalah sebagai berikut: USD 5.396,07 X 10% = USD 539,61 USD 5.396,07 X 15% = USD 809,41 USD 730, X 30% = USD 219, PPh Terutang USD 220, Ekuivalent Rupiah: USD 220, X Rp9.266,- = Rp 2,042,157, Berdasarkan Laporan Laba Rugi dalam mata uang Dollar Amerika Serikat untuk periode yang berakhir per 31 Deseraber 2004 diketahui bahwa perusahaan mempunyai Laba sebelum taksiran pajak sebesar USD ,97. Dengan demikian

25 56 atas Laba yang dialami oleh perusahaan tersebut terutang Pajak Penghasilan sebesar USD 220, dengan ekuivalent dalam mata uang Rupiah sebesar Rp ,46. c. Perbandingan Penghitungan Beban Pajak Penghasilan Dengan melihat Laporan Laba Rugi dalam mata uang Rupiah untuk periode yang berakhir per 31 Desember 2004 diketahui bahwa perusahaan mempunyai Rugi sebelum taksiran pajak sebesar Rp ,00. Dengan demikian atas kerugian yang dialami oleh perusahaan tersebut tidak terutang Pajak Penghasilan. Namun apabila melihat Laporan Laba Rugi dalam mata uang Dollar Amerika Serikat untuk periode yang berakhir per 31 Desember 2004 diketahui bahwa perusahaan mempunyai Laba sebelum taksiran pajak sebesar USD ,97 atau ekuivalent Rupiah sebesar Rpll ,13,-. Dengan demikian atas Laba yang dialami oleh perusahaan tersebut terutang Pajak Penghasilan sebesar USD 220, atau ekuivalent dalam mata uang Rupiah sebesar Rp ,46. Dari kedua Laporan Laba Rugi tersebut terlihat bahwa terjadi perbedaan dalam jumlah Penghasilan Neto Fiskal yang sangat signifikan. Apabila PT SI menyelenggarakan pembukuan dalam mata uang Rupiah, maka PT SI mengalami Rugi Rp ,00 yang sebagian besar akibat rugi selisih

26 57 nilai tukar yang berasal dari utang yang didominasi dalam mata uang Dollar Amerika Serikat kepada pemegang saham, sehingga dengan adanya rugi tersebut PT SI tidak mempunyai utang Pajak Penghasilan yang harus dibayar. Kerugian selisih kurs yang dialami oleh PT SI sebesar Rpl ,- merupakan jumlah yang besar dan sangat tidak realistis serta sangat mempengaruhi penghitungan laba bersih perusahaan. Tidak realistisnya kerugian selisih kurs tersebut dapat dilihat dari perbandingan antara rugi bersih sebesar Rp ,00 dengan Kerugian selisih kurs sebesar Rpl ,-. Dari perbandingan tersebut terlihat bahwa jumlah kerugian selisih kurs iebih besar daripada rugi bersih perusahaan. Tidak dikenakannya Pajak Penghasilan akibat selisih kurs tersebut merupakan suatu manfaat (tax saving) bagi perusahaan, akan tetapi rugi bersih sebesar Rp ,00 dalam Laporan Keuangan menunjukkan suatu penurunan kinerja perusahaan. Walau demikian, penurunan ini hanya sebatas catatan pembukuan. Di lain pihak, apabila PT SI menyelenggarakan pembukuan dalam mata uang Dollar Amerika Serikat, maka PT SI mengalami Laba USD ,97 atau ekuivalen Rpl ,13,-. Sehingga dengan adanya Laba tersebut PT SI mempunyai utang Pajak Penghasilan yang harus dibayar

27 58 sebesar USD 220, dengan ekuivalent dalam mata uang Rupiah sebesar Rp ,46. Laba bersih sebesar Rpll ,13,- mencerminkan suatu kinerja yang baik walaupun hanya sebatas dalam Laporan Keuangan saja. Namun pengenaan Pajak Penghasilan sebesar Rp ,46 akan mengganggu cashflow perusahaan dan akan menggurangi dana perusahaan yang tersedia yang dapat digunakan untuk kegiatan operasional perusahaan. Selain itu apabila PT SI menyelenggarakan pembukuan dalam mata uang Dollar Amerika Serikat, akan terjadi pemajakan atas keuntungan selisih kurs atas utang piutang dalam mata uang selain Dollar Amerika Serikat. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka dapat dikatakan bahwa kebijakan PT SI untuk menyelenggarakan pembukuan dalam mata uang Rupiah akan sangat menguntungkan apabila dilihat dari sudut pandang kewajiban perpajakannya, namun apabila dilihat kembali dari sudut pandang kinerja keuangan perusahaan, maka pembukuan dalam mata uang Dollar Amerika Serikat merupakan suatu kebijakan yang Iebih cocok untuk diselenggarakan oleh PT SI. Sampai dengan saat ini, PT SI belum mengajukan permohonan untuk menyelenggarakan pembukuan dalam bahasa Inggris dan mata uang Dollar Amerika Serikat.

28 59 Sehingga penyelenggaraan pembukuan untuk kepentingan perpajakan tetap harus menggunakan mata uang nasional, dalam hal ini Rupiah. Oleh karena PT SI belum memperoleh izin untuk menyelenggarakan pembukuan untuk kepentingan perpajakan dalam mata uang Dollar Amerika Serikat tetapi mata uang fungsionalnya adalah dalam mata uang Dollar Amerika Serikat, sesuai dengan ketentuan PSAK Nomor 52, PT SI dapat menyelenggarakan pembukuan untuk kepentingan komersial dengan menggunakan mata uang Dollar Amerika Serikat. Dalam hal ini maka akan terjadi penyelenggaraan pembukuan dengan menggunakan dua mata uang {dual currency), yaitu Rupiah (untuk kepentingan perpajakan) dan Dollar Amerika Serikat (untuk kepentingan komersial). Dengan demikian, apabila PT SI menerapkan penyelenggaraan pembukuan dual currency, maka PT SI wajib menghitung, menyetor dan melaporkan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan yang terutang dalam mata uang Rupiah berdasarkan pembukuan yang diselenggarakan dalam mata uang Rupiah. Sedangkan untuk Laporan Keuangan Tahunan kepada investor dan pemegang saham serta kreditur tetap disajikan dengan menggunakan angka-angka berdasarkan pembukuan dalam mata uang Dollar Amerika Serikat.

analisis perbandingan dan pertimbangan terhadap indikator-indikator

analisis perbandingan dan pertimbangan terhadap indikator-indikator BABV KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Dari hasil analisis penentuan kebijakan mata uang fungsional dan pengukuran kembali Laporan Keuangan PT SI ke dalam mata uang fungsionalnya (Dollar Amerika Serikat)

Lebih terperinci

PT SARASA NUGRAHA Tbk NERACA Per 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Ribuan Rupiah, Kecuali Data Saham)

PT SARASA NUGRAHA Tbk NERACA Per 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Ribuan Rupiah, Kecuali Data Saham) NERACA Per 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Ribuan Rupiah, Kecuali Data Saham) AKTIVA AKTIVA LANCAR Kas dan Bank 2.b, 4 7.079.491 4.389.630 Investasi Jangka Pendek 2.d, 5 6.150 6.150 Piutang Usaha 2.b,

Lebih terperinci

JUMLAH AKTIVA

JUMLAH AKTIVA NERACA 31 DESEMBER 2007 AKTIVA AKTIVA LANCAR Kas dan bank 3 866.121.482 3.038.748.917 Piutang usaha - bersih Hubungan istimewa 2b, 2c, 4, 5, 8 2.635.991.416 328.548.410 Pihak ketiga - setelah dikurangi

Lebih terperinci

Catatan 31 Maret Maret 2010

Catatan 31 Maret Maret 2010 NERACA KONSOLIDASI ASET Catatan 31 Maret 2011 31 Maret 2010 ASET LANCAR Kas dan setara kas 2f, 3 220.361.019.579 10.981.803.022 Piutang usaha - setelah dikurangi penyisihan piutang ragu-ragu Pihak yang

Lebih terperinci

BAB IV. ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PT GUDANG GARAM Tbk. modal kerja yang paling tinggi tingkat likuiditasnya. Hal ini berarti bahwa

BAB IV. ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PT GUDANG GARAM Tbk. modal kerja yang paling tinggi tingkat likuiditasnya. Hal ini berarti bahwa BAB IV ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PT GUDANG GARAM Tbk IV.1 Analisis Laporan Arus Kas Kas merupakan aktiva yang paling likuid atau merupakan salah satu unsur modal kerja yang paling tinggi tingkat likuiditasnya.

Lebih terperinci

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN 4.1. Kebijakan Akuntansi Perusahaan Dalam Pelaksanaan pencatatan dan pelaporan keuangan perusahaan terdapat kebijakan akuntansi perusahaan yang diterapkan terhadap seluruh transaksi

Lebih terperinci

PT MUSTIKA RATU Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

PT MUSTIKA RATU Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN PT MUSTIKA RATU Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL 30 SEPTEMBER 2007 (DENGAN ANGKA PERBANDINGAN UNTUK TAHUN 2006) (MATA UANG INDONESIA) 1 MUSTIKA

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 533/KMK.04/2000 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 533/KMK.04/2000 TENTANG KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 533/KMK.04/2000 TENTANG PENYELENGGARAAN PEMBUKUAN DALAM BAHASA ASING DAN MATA UANG SELAIN RUPIAH SERTA PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN TAHUNAN MENTERI

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. perusahaan yang mengajak orang lain untuk membeli barang dan jasa yang ditawarkan

BAB II LANDASAN TEORI. perusahaan yang mengajak orang lain untuk membeli barang dan jasa yang ditawarkan BAB II LANDASAN TEORI II.1. Penjualan II.1.1. Definisi Penjualan Penjualan secara umum memiliki pengertian kegiatan yang dilakukan oleh suatu perusahaan yang mengajak orang lain untuk membeli barang dan

Lebih terperinci

PT TEMPO SCAN PACIFIC Tbk. DAN ANAK PERUSAHAAN NERACA KONSOLIDASI 31 Maret 2010 dan 2009 (Dinyatakan dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain)

PT TEMPO SCAN PACIFIC Tbk. DAN ANAK PERUSAHAAN NERACA KONSOLIDASI 31 Maret 2010 dan 2009 (Dinyatakan dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) Ekshibit A NERACA KONSOLIDASI 31 Maret 2010 dan 2009 (Dinyatakan dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) A S E T ASET LANCAR Kas dan setara kas 2c,2p,3,25 1,349,564,406,813 1,205,030,845,882 Investasi jangka

Lebih terperinci

30 Juni 31 Desember

30 Juni 31 Desember LAPORAN POSISI KEUANGAN KONSOLIDASIAN 30 Juni 2012 dan 31 Desember 2011 30 Juni 31 Desember ASET ASET LANCAR Kas dan setara kas 73102500927 63710521871 Investasi 2072565000 1964636608 Piutang usaha - setelah

Lebih terperinci

MEMBACA LAPORAN KEUANGAN

MEMBACA LAPORAN KEUANGAN MEMBACA LAPORAN KEUANGAN Denny S. Halim Jakarta, 31 Juli 2008 1 Outline Pengertian Akuntansi Proses Akuntansi Laporan Keuangan Neraca Laporan Rugi Laba Laporan Arus Kas Pentingnya Laporan Keuangan Keterbatasan

Lebih terperinci

PSAK NO. 52 - MATA UANG PELAPORAN SEBUAH CONTOH PENERAPAN

PSAK NO. 52 - MATA UANG PELAPORAN SEBUAH CONTOH PENERAPAN 16 Jurnal Akuntansi dan Keuangan Vol. 1, No. 1, Mei 1999 : 16-27 PSAK NO. 52 - MATA UANG PELAPORAN SEBUAH CONTOH PENERAPAN Y. Jogi Christiawan Dosen Fakultas Ekonomi, Jurusan Akuntansi Universitas Kristen

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 191/PMK.010/2015 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 191/PMK.010/2015 TENTANG PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 191/PMK.010/2015 TENTANG PENILAIAN KEMBALI AKTIVA TETAP UNTUK TUJUAN PERPAJAKAN BAGI PERMOHONAN YANG DIAJUKAN PADA TAHUN 2015 DAN TAHUN 2016 DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

JUMLAH ASET LANCAR

JUMLAH ASET LANCAR LAPORAN POSISI KEUANGAN (NERACA) KONSOLIDASI 30 September 2011 dan 31 Desember 2010 30 September 2011 31Desember 2010 ASET ASET LANCAR Kas dan setara kas 50948250925 80968763439 Investasi 1963117500 2016231750

Lebih terperinci

1 Januari 2010/ 31 Desember 31 Desember 31 Desember (Disajikan kembali)

1 Januari 2010/ 31 Desember 31 Desember 31 Desember (Disajikan kembali) LAPORAN POSISI KEUANGAN KONSOLIDASIAN 31 Desember 2011, 2010 dan 1 Januari 2010/ 31 Desember 2009 1 Januari 2010/ 31 Desember 31 Desember 31 Desember 2009 2011 2010 (Disajikan kembali) ASET ASET LANCAR

Lebih terperinci

ANAK PERUSAHAAN NERACA KONSOLIDASI

ANAK PERUSAHAAN NERACA KONSOLIDASI P.T. PEMBANGUNAN JAYA ANCOL Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN NERACA KONSOLIDASI 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 AKTIVA 2004 2003 (Disajikan Rental' - Catatan 38) AKTIVA LANCAR Kas dan setara kas 161.020.965.269 41.211.323.789

Lebih terperinci

Pernyataan ini dimaksudkan untuk meningkatkan mutu laporan keuangan yang disajikan sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan melalui:

Pernyataan ini dimaksudkan untuk meningkatkan mutu laporan keuangan yang disajikan sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan melalui: 0 0 PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NO. (REVISI ) PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN Paragraf-paragraf yang dicetak dengan huruf tebal dan miring (bold italic) adalah paragraf standar, yang harus dibaca

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN. prinsip dan praktek akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Mata uang

BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN. prinsip dan praktek akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Mata uang BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN A. Penerapan Akuntansi Dana Pensiun KWI 1. Deskriptif Kualitatif a. Penyajian Laporan Keuangan Laporan keuangan Dana Pensiun KWI disusun dengan menggunakan prinsip dan

Lebih terperinci

LAPORAN KEUANGAN (Tidak Diaudit) 30 September 2008 dan PT Asahimas Flat Glass Tbk

LAPORAN KEUANGAN (Tidak Diaudit) 30 September 2008 dan PT Asahimas Flat Glass Tbk LAPORAN KEUANGAN (Tidak Diaudit) 30 September 2008 dan 2007 PT Asahimas Flat Glass Tbk Rusli Pranadi Manager Corporate Finance Samuel Rumbajan Direktur Keuangan NERACA (Tidak diaudit) 30 September 2008

Lebih terperinci

30 September 31 Desember Catatan

30 September 31 Desember Catatan LAPORAN POSISI KEUANGAN KONSOLIDASIAN 30 September 2012 dan 31 Desember 2011 30 September 31 Desember ASET ASET LANCAR Kas dan setara kas 2e, 4, 30, 33 59998597270 63710521871 Investasi 2c, 5, 30, 33 2068611000

Lebih terperinci

AKTIVA LANCAR Kas dan setara kas 2c,2e,4, Penyertaan sementara 2c,2f,

AKTIVA LANCAR Kas dan setara kas 2c,2e,4, Penyertaan sementara 2c,2f, NERACA KONSOLIDASIAN (UNAUDITED) AKTIVA Catatan 2008 2007 AKTIVA LANCAR Kas dan setara kas 2c,2e,4,43 10.942.829 10.828.433 Penyertaan sementara 2c,2f,43 182.685 188.139 Piutang usaha 2c,2g,5,36,43 Pihak

Lebih terperinci

ASET Aset Lancar Kas dan setara kas 1.429.755 1.314.091 1.020.730 Investasi jangka pendek 83.865 47.822 38.657 Investasi mudharabah - - 352.512 Piutang usaha Pihak berelasi 14.397 20.413 30.670 Pihak ketiga

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yaitu sebagai dasar untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menggunakan arus kas

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yaitu sebagai dasar untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menggunakan arus kas BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teoritis 1. Pengertian Laporan Arus Kas Laporan arus kas yang disajikan sangat berguna bagi para pemakai laporan keuangan yaitu sebagai dasar untuk menilai kemampuan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 138 TAHUN 2000 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 138 TAHUN 2000 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 138 TAHUN 2000 TENTANG PENGHITUNGAN PENGHASILAN KENA PAJAK DAN PELUNASAN PAJAK PENGHASILAN DALAM TAHUN BERJALAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

1. jelaskan faktor-faktor penting yang memiliki pengaruh signifikan dalam perkembangan dunia akuntansi!

1. jelaskan faktor-faktor penting yang memiliki pengaruh signifikan dalam perkembangan dunia akuntansi! 1. jelaskan faktor-faktor penting yang memiliki pengaruh signifikan dalam perkembangan dunia akuntansi! Ada 8 faktor yang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan akuntansi, antara lain

Lebih terperinci

AKUNTANSI MULTINASIONAL TRANSLASI LAPORAN KEUANGAN ENTITAS ASING MATERI AKL 1

AKUNTANSI MULTINASIONAL TRANSLASI LAPORAN KEUANGAN ENTITAS ASING MATERI AKL 1 AKUNTANSI MULTINASIONAL TRANSLASI LAPORAN KEUANGAN ENTITAS ASING MATERI AKL 1 Pada saat perusahaan multinasional Indonesia menyusun laporan keuangan untuk pelaporan kepada pemegang sahamnya, perusahaan

Lebih terperinci

1 Catatan Revaluasi Aktiva Tetap Perusahaan

1 Catatan Revaluasi Aktiva Tetap Perusahaan Perusahaan dapat melakukan penilaian kembali aktiva tetap perusahaan untuk tujuan perpajakan, dengan syarat telah memenuhi semua kewajiban pajaknya sampai dengan masa pajak terakhir sebelum masa pajak

Lebih terperinci

Lihat Catatan atas Laporan Keuangan Konsolidasi yang merupakan Bagian yang tidak terpisahkan dari Laporan ini

Lihat Catatan atas Laporan Keuangan Konsolidasi yang merupakan Bagian yang tidak terpisahkan dari Laporan ini LAPORAN POSISI KEUANGAN KONSOLIDASI Per (Tidak Diaudit) ASET 31 Desember 2010 ASET LANCAR Kas dan Setara Kas Piutang Usaha Pihak Ketiga Piutang Lainlain Pihak Ketiga Persediaan Bersih Biaya Dibayar di

Lebih terperinci

PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN

PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN PSAK No. 52 IKATAN AKUNTAN INDONESIA MATA UANG PELAPORAN Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 52 tentang MATA UANG PELAPORAN telah disetujui dalam Rapat

Lebih terperinci

I. UMUM II. PASAL DEMI PASAL. Pasal 1. Cukup jelas. Pasal 2

I. UMUM II. PASAL DEMI PASAL. Pasal 1. Cukup jelas. Pasal 2 I. UMUM PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 94 TAHUN 2010 TENTANG PENGHITUNGAN PENGHASILAN KENA PAJAK DAN PELUNASAN PAJAK PENGHASILAN DALAM TAHUN BERJALAN Dengan diundangkannya

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. Tbk dari tahun 2002 hingga tahun 2004 dengan menggunakan metode analisis horizontal

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. Tbk dari tahun 2002 hingga tahun 2004 dengan menggunakan metode analisis horizontal BAB V SIMPULAN DAN SARAN V.1. Simpulan Berdasarkan hasil analisis terhadap neraca dan laporan laba-rugi PT Astra Otoparts Tbk dari tahun 2002 hingga tahun 2004 dengan menggunakan metode analisis horizontal

Lebih terperinci

Laporan Keuangan: Neraca

Laporan Keuangan: Neraca Laporan Keuangan: Neraca MATERI 1. Sifat dan kegunaan laporan keuangan 2. Jenis Laporan Keuangan 3. Isi dan Elemen Laporan Keuangan, Khusus untuk Neraca 4. Catatan Atas Laporan Keuangan 5. Keterbatasan

Lebih terperinci

PSAK 21 Akuntansi Ekuitas (Accounting for Equity)

PSAK 21 Akuntansi Ekuitas (Accounting for Equity) PSAK 21 Akuntansi Ekuitas (Accounting for Equity) Akuntansi Ekuitas 9. Ekuitas sebagai bagian hak pemilik dalam perusahaan harus dilaporkan sedemikian rupa seingga memberikan informasi mengenai sumbernya

Lebih terperinci

PT. INTANWIJAYA INTERNASIONAL, Tbk. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN 31 MARET 2009 DAN 2008

PT. INTANWIJAYA INTERNASIONAL, Tbk. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN 31 MARET 2009 DAN 2008 Halaman 8 PT. INTANWIJAYA INTERNASIONAL, Tbk. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN 31 MARET 2009 DAN 2008 1. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN a. Pendirian Perusahaan PT. Intanwijaya Internasional Tbk. (Perusahaan) didirikan

Lebih terperinci

PT. BPRS PUDUARTA INSANI NERACA 31 DESEMBER 2014 dan 2013

PT. BPRS PUDUARTA INSANI NERACA 31 DESEMBER 2014 dan 2013 Catatan 31 Desember 2014 31 Desember 2013 AKTIVA Aktiva Lancar Kas 1 393,356,550 474,788,750 Penempatan Pada Bank Lain 2 12,477,079,745 11,223,260,746 Piutang 3 31,488,397,366 30,580,798,958 Penyisihan

Lebih terperinci

PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NO. 52 MATA UANG PELAPORAN

PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NO. 52 MATA UANG PELAPORAN 0 0 PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NO. MATA UANG PELAPORAN Paragraf standar, yang dicetak dengan format tebal dan miring, harus dibaca dalam konteks paragraf penjelasan dan panduan implementasi

Lebih terperinci

BAGIAN IX ASET

BAGIAN IX ASET - 81 - BAGIAN IX ASET IX.1 ASET TETAP A. Definisi Aset tetap adalah aset berwujud yang: 1. dimiliki untuk digunakan dalam penyediaan jasa atau untuk tujuan administratif; dan 2. diharapkan akan digunakan

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN 6 BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Laporan Keuangan 2.1.1 Pengertian Laporan Keuangan Salah satu fungsi akuntansi adalah mencatat transaksi-transaksi yang terjadi serta pengaruhnya terhadap aktiva, utang modal,

Lebih terperinci

Kementerian Keuangan RI Direktorat Jenderal Pajak

Kementerian Keuangan RI Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan RI Direktorat Jenderal Pajak 1 Dasar Pengenaan Pajak TELAH melakukan penilaian kembali pada saat permohohonan BELUM melakukan penilaian kembali pada saat permohohonan TELAH melakukan

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PP) NOMOR 138 TAHUN 2000 (138/2000) TENTANG PENGHITUNGAN PENGHASILAN KENA PAJAK DAN PELUNASAN PAJAK PENGHASILAN DALAM TAHUN BERJALAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN 62 BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Koreksi Fiskal atas Laporan Laba Rugi Komersial dalam Penentuan Penghasilan Kena Pajak Laporan keuangan yang dibuat oleh PT. Madani Securities bertujuan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Suatu unit usaha atau kesatuan akuntansi, dengan aktifitas atau kegiatan ekonomi dari

BAB II LANDASAN TEORI. Suatu unit usaha atau kesatuan akuntansi, dengan aktifitas atau kegiatan ekonomi dari BAB II LANDASAN TEORI II.1 Rerangka Teori dan Literatur II.1.1. Pengertian Entitas Suatu unit usaha atau kesatuan akuntansi, dengan aktifitas atau kegiatan ekonomi dari unit tersebut sebagai fokusnya.

Lebih terperinci

AKUNTANSI UNTUK PAJAK PENGHASILAN

AKUNTANSI UNTUK PAJAK PENGHASILAN AKUNTANSI UNTUK PAJAK PENGHASILAN Laba yang dihasilkan oleh perusahaan merupakan obyek pajak penghasilan. Jumlah Laba Kena Pajak (SPT) dihitung berdasar ketentuan dan Undang undang yang berlaku dalam tahun

Lebih terperinci

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN DENGAN METODE COMMON SIZE PADA PT. HOLCIM INDONESIA Tbk.

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN DENGAN METODE COMMON SIZE PADA PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. ANALISIS LAPORAN KEUANGAN DENGAN METODE COMMON SIZE PADA PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. Nama : Syarif Saefullah NPM : 26210788 Jurusan : Akuntansi Pembimbing : Silvia Avira SE.,MM. bab1 Latar Belakang Banyak

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI REVALUASI ASET TETAP BERDASARKAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NO. 79 TAHUN 2008 PADA PERUSAHAAN DI INDONESIA

IMPLEMENTASI REVALUASI ASET TETAP BERDASARKAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NO. 79 TAHUN 2008 PADA PERUSAHAAN DI INDONESIA 1 IMPLEMENTASI REVALUASI ASET TETAP BERDASARKAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NO. 79 TAHUN 2008 PADA PERUSAHAAN DI INDONESIA Putri Nabela Dewi Universitas Negeri Surabaya PutriSnowbella@gmail.com Abstract

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 94 TAHUN 2010 TENTANG PENGHITUNGAN PENGHASILAN KENA PAJAK DAN PELUNASAN PAJAK PENGHASILAN DALAM TAHUN BERJALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN. CV Scala Mandiri akan memperoleh beberapa manfaat, antara lain: 1. Dapat menyusun laporan keuangannya sendiri.

BAB IV PEMBAHASAN. CV Scala Mandiri akan memperoleh beberapa manfaat, antara lain: 1. Dapat menyusun laporan keuangannya sendiri. BAB IV PEMBAHASAN IV.1 Manfaat Implementasi SAK ETAP Dengan mengimplementasikan SAK ETAP di dalam laporan keuangannya, maka CV Scala Mandiri akan memperoleh beberapa manfaat, antara lain: 1. Dapat menyusun

Lebih terperinci

2 Ayat (2) Huruf a Huruf b Huruf c Fasilitas pengurangan penghasilan neto diberikan selama 6 (enam) tahun terhitung sejak saat mulai berproduksi komer

2 Ayat (2) Huruf a Huruf b Huruf c Fasilitas pengurangan penghasilan neto diberikan selama 6 (enam) tahun terhitung sejak saat mulai berproduksi komer TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI KEUANGAN. Pajak Penghasilan. Penanaman Modal. Fasilitas. Pencabutan. (Penjelasan Atas Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 77) PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH

Lebih terperinci

LAMPIRAN KHUSUS SPT TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK BADAN

LAMPIRAN KHUSUS SPT TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK BADAN DAFTAR PENYUSUTAN DAN AMORTISASI FISKAL 1A BULAN / HARGA NILAI SISA BUKU FISKAL METODE PENYUSUTAN / AMORTISASI KELOMPOK / JENIS HARTA TAHUN PEROLEHAN AWAL TAHUN PENYUSUTAN / AMORTISASI FISKAL TAHUN INI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bidang, hal ini didukung dengan munculnya arus globalisasi yaitu perdagangan bebas

BAB I PENDAHULUAN. bidang, hal ini didukung dengan munculnya arus globalisasi yaitu perdagangan bebas BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penelitian Perdagangan dunia telah mengalami kemajuan yang sangat pesat di berbagai bidang, hal ini didukung dengan munculnya arus globalisasi yaitu perdagangan bebas

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2015 TENTANG FASILITAS PAJAK PENGHASILAN UNTUK PENANAMAN MODAL DI BIDANG-BIDANG USAHA TERTENTU DAN/ATAU DI DAERAH-DAERAH TERTENTU DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

S A L I N A N KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL LEMBAGA KEUANGAN NOMOR : KEP-2345/LK/2003 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN DANA PENSIUN

S A L I N A N KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL LEMBAGA KEUANGAN NOMOR : KEP-2345/LK/2003 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN DANA PENSIUN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL LEMBAGA KEUANGAN S A L I N A N KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL LEMBAGA KEUANGAN NOMOR : KEP-2345/LK/2003 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN

Lebih terperinci

SPT TAHUNAN PPH BADAN TERKAIT PENYAMPAIAN SURAT PERNYATAAN HARTA (SPH) UNTUK PENGAMPUNAN PAJAK

SPT TAHUNAN PPH BADAN TERKAIT PENYAMPAIAN SURAT PERNYATAAN HARTA (SPH) UNTUK PENGAMPUNAN PAJAK SPT TAHUNAN PPH BADAN TERKAIT PENYAMPAIAN SURAT PERNYATAAN HARTA (SPH) UNTUK PENGAMPUNAN PAJAK Aula KPP Madya Jakarta Utara Lt.3 Selasa, 14 Maret 2017 Pembukuan Undang-Undang KUP Pasal 28 ayat (7) Memori

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1 Tahun 2008 mengenai Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, pengertian dari Usaha

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1 Tahun 2008 mengenai Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, pengertian dari Usaha BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1.1 Usaha Mikro, Kecil dan Menengah 2.1.1 Usaha Mikro Berdasarkan Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 20 Pasal 1 Ayat 1 Tahun 2008 mengenai Usaha Mikro, Kecil dan Menengah,

Lebih terperinci

PENJABARAN LAPORAN KEUANGAN DALAM MATA UANG ASING ( Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No.11 )

PENJABARAN LAPORAN KEUANGAN DALAM MATA UANG ASING ( Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No.11 ) ISSN 1411 0393 PENJABARAN LAPORAN KEUANGAN DALAM MATA UANG ASING ( Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No.11 ) Akhmad Riduwan *) ABSTRAK Mata uang pelaporan (reporting currency) bagi perusahaan yang

Lebih terperinci

Lampiran 1 PT. Matahari Putra Prima Tbk dan Entitas Anak Laporan Arus Kas Konsolidasian Tahun Yang Berakhir Pada Tanggal-tanggal 31 Desember 2011,2012,2013 (Disajikan dalam jutaan rupiah Indonesia) 2011

Lebih terperinci

4. PPh TERUTANG (Pilih salah satu sesuai dengan kriteria Wajib Pajak. Untuk lebih jelasnya, lihat Buku Petunjuk Pengisian SPT) 10a. 10b.

4. PPh TERUTANG (Pilih salah satu sesuai dengan kriteria Wajib Pajak. Untuk lebih jelasnya, lihat Buku Petunjuk Pengisian SPT) 10a. 10b. 77 DEPARTEMEN KEUANGAN RI DIREKTORAT JENDERAL PAJAK PERHATIAN SPT TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK BADAN h SEBELUM MENGISI BACA DAHULU BUKU PETUNJUK PENGISIAN h ISI DENGAN HURUF CETAK/DIKETIK DENGAN

Lebih terperinci

Susunan Dewan Komisaris dan Direksi Perusahaan pada tanggal 30 September 2011 dan 31 Desember 2010 adalah sebagai berikut: Tahun 2011 Tahun 2010

Susunan Dewan Komisaris dan Direksi Perusahaan pada tanggal 30 September 2011 dan 31 Desember 2010 adalah sebagai berikut: Tahun 2011 Tahun 2010 1. UMUM a. Pendirian dan Informasi Umum PT. Primarindo Asia Infrastructure, Tbk. (Perusahaan) didirikan di Bandung berdasarkan Akta No. 7 tanggal 1 Juli 1988 dan Notaris Nany Sukarja, S. H. Akta Pendirian

Lebih terperinci

PT BNI SECURITIES LAPORAN KEUANGAN UNTUK 3 BULAN YANG BERAKHIR 31 MARET 2008 DAN 2007 (UNAUDITED)

PT BNI SECURITIES LAPORAN KEUANGAN UNTUK 3 BULAN YANG BERAKHIR 31 MARET 2008 DAN 2007 (UNAUDITED) PT BNI SECURITIES LAPORAN KEUANGAN UNTUK 3 BULAN YANG BERAKHIR 31 MARET 2008 DAN 2007 (UNAUDITED) 0 PT BNI SECURITIES LAPORAN KEUANGAN UNTUK 3 BULAN YANG BERAKHIR 31 MARET 2008 DAN 2007 (UNAUDITED) Daftar

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Perencanaan Pajak Penghasilan Dalam Rangka Meminimalkan Beban

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Perencanaan Pajak Penghasilan Dalam Rangka Meminimalkan Beban BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Perencanaan Pajak Penghasilan Dalam Rangka Meminimalkan Beban Pajak pada PT. Malta Printindo. Perencanaan pajak yang dilakukan oleh perusahaan tidak dapat dipisahkan

Lebih terperinci

- 1 - DANA PENSIUN. PROGRAM PENSIUN MANFAAT PASTI LAPORAN AKTIVA BERSIH

- 1 - DANA PENSIUN. PROGRAM PENSIUN MANFAAT PASTI LAPORAN AKTIVA BERSIH Berjalan Sebelumnya AKTIVA INVESTASI (Nilai Wajar) Deposito on call XX XX Deposito Berjangka XX XX Sertifikat Deposito XX XX Sertifikat Bank Indonesia XX XX Saham XX XX Obligasi XX XX Unit Penyertaan Reksadana

Lebih terperinci

Akuntansi Keuangan Koperasi

Akuntansi Keuangan Koperasi Akuntansi Keuangan Koperasi Peraturan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia Nomor : 04/Per/M.KUKM/VII/2012 MENIMBANG : (d). Bahwa Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang

Lebih terperinci

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR KEP - 519/PJ./2002 TENTANG

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR KEP - 519/PJ./2002 TENTANG KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR KEP - 519/PJ./2002 TENTANG TATA CARA DAN PROSEDUR PELAKSANAAN PENILAIAN KEMBALI AKTIVA TETAP PERUSAHAAN UNTUK TUJUAN PERPAJAKAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK, Menimbang

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENGAMPUNAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENGAMPUNAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENGAMPUNAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : Mengingat : a. bahwa pembangunan nasional

Lebih terperinci

KEPUTUSAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL NOMOR KEP-38/PM/1996 TENTANG LAPORAN TAHUNAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL,

KEPUTUSAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL NOMOR KEP-38/PM/1996 TENTANG LAPORAN TAHUNAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL, KEPUTUSAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL NOMOR KEP-38/PM/1996 TENTANG Peraturan Nomor VIII.G.2 LAPORAN TAHUNAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL, Menimbang : bahwa dengan berlakunya Undang-undang Nomor

Lebih terperinci

Laporan Arus Kas. Akuntansi Keuangan 2 - Pertemuan 8. Slide OCW Universitas Indonesia Oleh : Nurul Husnah dan Dwi Martani Departemen Akuntansi FEUI

Laporan Arus Kas. Akuntansi Keuangan 2 - Pertemuan 8. Slide OCW Universitas Indonesia Oleh : Nurul Husnah dan Dwi Martani Departemen Akuntansi FEUI Laporan Arus Kas Akuntansi Keuangan 2 - Pertemuan 8 Slide OCW Universitas Indonesia Oleh : Nurul Husnah dan Dwi Martani Departemen Akuntansi FEUI 1 Agenda 1 2 Laporan Arus Kas Latihan dan Pembahasan 3

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Menurut Undang-Undang No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan. Umum dann Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah dengan

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Menurut Undang-Undang No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan. Umum dann Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah dengan BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Pajak 2.1.1.1 Definisi Pajak Menurut Undang-Undang No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dann Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN. IV.1. Perbedaan antara Laba Komersial dan Laba Fiskal. Perusahaan dalam melaksanakan kegiatan usaha diwajibkan untuk menyusun

BAB IV PEMBAHASAN. IV.1. Perbedaan antara Laba Komersial dan Laba Fiskal. Perusahaan dalam melaksanakan kegiatan usaha diwajibkan untuk menyusun BAB IV PEMBAHASAN IV.1. Perbedaan antara Laba Komersial dan Laba Fiskal Perusahaan dalam melaksanakan kegiatan usaha diwajibkan untuk menyusun laporan keuangan setiap akhir periode, dan laporan keuangan

Lebih terperinci

- 6 - DANA PENSIUN. PROGRAM PENSIUN IURAN PASTI LAPORAN AKTIVA BERSIH

- 6 - DANA PENSIUN. PROGRAM PENSIUN IURAN PASTI LAPORAN AKTIVA BERSIH Berjalan Sebelumnya AKTIVA INVESTASI (Nilai Wajar) Deposito on call XX XX Deposito Berjangka XX XX Sertifikat Deposito XX XX Sertifikat Bank Indonesia XX XX Saham XX XX Obligasi XX XX Unit Penyertaan Reksadana

Lebih terperinci

PT. PRIMARINDO ASIA INFRASTRUCTURE, Tbk. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Per 30 Juni 2010 dan 2009

PT. PRIMARINDO ASIA INFRASTRUCTURE, Tbk. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Per 30 Juni 2010 dan 2009 1. UMUM a. Pendirian dan Informasi Umum PT. Primarindo Asia Infrastructure, Tbk. (Perusahaan) didirikan di Bandung berdasarkan Akta No. 7 tanggal 1 Juli 1988 dan Notaris Nany Sukarja, S. H. Akta Pendirian

Lebih terperinci

DANA PENSIUN LEMBAGA KEUANGAN. LAPORAN AKTIVA BERSIH

DANA PENSIUN LEMBAGA KEUANGAN. LAPORAN AKTIVA BERSIH - 11 - LAPORAN AKTIVA BERSIH Per. Berjalan Sebelumnya AKTIVA INVESTASI (Nilai Wajar) Deposito on call XX XX Deposito Berjangka XX XX Sertifikat Deposito XX XX Sertifikat Bank Indonesia XX XX Saham XX XX

Lebih terperinci

Dalam Bahasa dan Mata Uang Apa Laporan Keuangan Disajikan?

Dalam Bahasa dan Mata Uang Apa Laporan Keuangan Disajikan? Dalam Bahasa dan Mata Uang Apa Laporan Keuangan Disajikan? Oleh: Tarkosunaryo Paper ini bermaksud untuk menyajikan analisis penggunaan mata uang yang seharusnya digunakan oleh perusahaan dalam menyusun

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 8/18/PBI/2006 TENTANG KEWAJIBAN PENYEDIAAN MODAL MINIMUM BANK PERKREDITAN RAKYAT GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 8/18/PBI/2006 TENTANG KEWAJIBAN PENYEDIAAN MODAL MINIMUM BANK PERKREDITAN RAKYAT GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 8/18/PBI/2006 TENTANG KEWAJIBAN PENYEDIAAN MODAL MINIMUM BANK PERKREDITAN RAKYAT GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka mewujudkan Bank Perkreditan Rakyat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menengah dan besar, tidak melihat apakah perusahan tersebut bertujuan untuk

BAB I PENDAHULUAN. menengah dan besar, tidak melihat apakah perusahan tersebut bertujuan untuk 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sebagaimana kita ketahui bahwa bidang keuangan merupakan bidang yang sangat penting dalam suatu perusahaan. Baik dalam perusahaan yang berskala kecil, menengah dan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian yang dilakukan adalah penelitian yang didasarkan pada teori yang mendukung dengan perbandingan PSAK 1 dan IAS 1 tentang penyajian laporan keuangan.

Lebih terperinci

PT. BANK OMEGA NERACA PER TANGGAL 31 DESEMBER 20XX

PT. BANK OMEGA NERACA PER TANGGAL 31 DESEMBER 20XX PT. BANK OMEGA NERACA PER TANGGAL 31 DESEMBER 20XX 1. AKTIVA 2. KEWAJIBAN 1.1. K a s 2.1. G i r o 1.2. Giro pada Bank Indonesia 2.2. Kewajiban Segera Lainnya 1.3. Giro pada Bank Lain 2.3. Tabungan 1.4.

Lebih terperinci

PT PENYELENGGARA PROGRAM PERLINDUNGAN INVESTOR EFEK INDONESIA

PT PENYELENGGARA PROGRAM PERLINDUNGAN INVESTOR EFEK INDONESIA Daftar Isi Halaman Laporan Auditor Independen Laporan Keuangan Untuk Periode yang Dimulai dari 18 Desember 2012 (Tanggal Pendirian) sampai dengan 31 Desember 2012 Laporan Posisi Keuangan 1 Laporan Laba

Lebih terperinci

PEDOMAN PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN LAPORAN KEUANGAN DANA PENSIUN

PEDOMAN PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN LAPORAN KEUANGAN DANA PENSIUN PEDOMAN PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN LAPORAN KEUANGAN DANA PENSIUN Lampiran II I. PEDOMAN UMUM A TANGGUNG JAWAB ATAS LAPORAN KEUANGAN 1 Pengurus Dana Pensiun bertanggung jawab atas laporan keuangan Dana

Lebih terperinci

CONTOH PENERAPAN DAN PENGHITUNGAN FASILITAS PAJAK PENGHASILAN

CONTOH PENERAPAN DAN PENGHITUNGAN FASILITAS PAJAK PENGHASILAN LAMPIRAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 144/PMK.011/2012 TENTANG : PEMBERIAN FASILITAS PAJAK PENGHASILAN UNTUK PENANAMAN MODAL DI BIDANG-BIDANG USAHA TERTENTU DAN/ATAU DI DAERAH-DAERAH

Lebih terperinci

PT SIANTAR TOP Tbk LAPORAN KEUANGAN UNTUK ENAM BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL 30 JUNI 2007 DAN 2006 (TIDAK DIAUDIT)

PT SIANTAR TOP Tbk LAPORAN KEUANGAN UNTUK ENAM BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL 30 JUNI 2007 DAN 2006 (TIDAK DIAUDIT) PT SIANTAR TOP Tbk LAPORAN KEUANGAN UNTUK ENAM BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL 30 JUNI 2007 DAN 2006 (TIDAK DIAUDIT) 1 PT SIANTAR TOP Tbk NERACA PER TANGGAL 30 JUNI 2007 DAN 2006 (TIDAK DIAUDIT) Catatan

Lebih terperinci

Penyesuaian Perusahaan Jasa

Penyesuaian Perusahaan Jasa Penyesuaian Perusahaan Jasa Daftar saldo atau neraca saldo perlu disesuaikan agar mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Jurnal penyesuaian dibuat untuk memisahkan antara biaya yang sudah menjadi beban

Lebih terperinci

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN. Perbandingan Perlakuan Akuntansi PT Aman Investama dengan

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN. Perbandingan Perlakuan Akuntansi PT Aman Investama dengan BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN IV.1 Perbandingan Perlakuan Akuntansi PT Aman Investama dengan Perlakuan Akuntansi SAK ETAP Setelah mendapatkan gambaran detail mengenai objek penelitian, yaitu PT Aman Investama.

Lebih terperinci

MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SA:LINAI\T

MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SA:LINAI\T MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SA:LINAI\T PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 191/PMK. 010/2015 TENTANG PENILAIAN KEMBALI AKTIVA TETAP UNTUK TUJUAN PERPAJAKAN BAGI PERMOHONAN YANG

Lebih terperinci

EVALUASI ATAS PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 PADA PT SNI. Dalam rangka pemanfaatan Undang undang Perpajakan secara optimal untuk

EVALUASI ATAS PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 PADA PT SNI. Dalam rangka pemanfaatan Undang undang Perpajakan secara optimal untuk BAB IV EVALUASI ATAS PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 PADA PT SNI Dalam rangka pemanfaatan Undang undang Perpajakan secara optimal untuk meningkatkan efisiensi perusahaan pada PT SNI, penulis akan menguraikan

Lebih terperinci

(Dibuat di atas kop surat perusahaan)

(Dibuat di atas kop surat perusahaan) FORMULIR NOMOR : 106.PBK.01. (Dibuat di atas kop surat perusahaan) Nomor :...,... Lampiran : Perihal : Laporan Keuangan PT.. Yth. Kepala Badan Pengawas Di Jakarta Sesuai dengan Keputusan Kepala Bappebti

Lebih terperinci

2 b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, dan untuk melaksanakan ketentuan Pasal 31A Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 te

2 b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, dan untuk melaksanakan ketentuan Pasal 31A Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 te LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.77, 2015 KEUANGAN. Pajak Penghasilan. Penanaman Modal. Fasilitas. Pencabutan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5688) PERATURAN PEMERINTAH

Lebih terperinci

KANTOR JASA PENILAI PUBLIK (KJPP) O, P, Q DAN REKAN. LAPORAN POSISI KEUANGAN (NERACA) KOMPARATIF 31 DESEMBER 2013 DAN 2014 (Dinyatakan dalam Rupiah)

KANTOR JASA PENILAI PUBLIK (KJPP) O, P, Q DAN REKAN. LAPORAN POSISI KEUANGAN (NERACA) KOMPARATIF 31 DESEMBER 2013 DAN 2014 (Dinyatakan dalam Rupiah) Berikut di bawah ini merupakan (contoh) ilustrasi sederhana penyajian laporan keuangan yang terdiri atas: 1. Laporan Posisi Keuangan (Neraca) Komparatif; 2. Laporan Laba Rugi Komparatif; 3. Catatan Atas

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1994 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH DENGAN UNDANG-UNDANGNOMOR 7 TAHUN 1991 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

KEPUTUSAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL NOMOR KEP-06/PM/2000 TENTANG PERUBAHAN PERATURAN NOMOR VIII.G.7 TENTANG PEDOMAN PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN

KEPUTUSAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL NOMOR KEP-06/PM/2000 TENTANG PERUBAHAN PERATURAN NOMOR VIII.G.7 TENTANG PEDOMAN PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN KEPUTUSAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL NOMOR KEP-06/PM/2000 Peraturan Nomor VIII.G.7 TENTANG PERUBAHAN PERATURAN NOMOR VIII.G.7 TENTANG PEDOMAN PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 94 TAHUN 2010 TENTANG PENGHITUNGAN PENGHASILAN KENA PAJAK DAN PELUNASAN PAJAK PENGHASILAN DALAM TAHUN BERJALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2015 TENTANG FASILITAS PAJAK PENGHASILAN UNTUK PENANAMAN MODAL DI BIDANG- BIDANG USAHA TERTENTU DAN/ATAU DI DAERAH-DAERAH TERTENTU DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. pemungutan pajak merupakan perwujudan dari pengabdian, kewajiban dan peran serta

BAB II LANDASAN TEORI. pemungutan pajak merupakan perwujudan dari pengabdian, kewajiban dan peran serta BAB II LANDASAN TEORI II.1. Pajak Pajak merupakan salah satu pungutan negara terhadap rakyatnya. Pada hakekatnya, pemungutan pajak merupakan perwujudan dari pengabdian, kewajiban dan peran serta Wajib

Lebih terperinci

DANA PENSIUN BANK DKI PROGRAM PENSIUN MANFAAT PASTI LAPORAN ASET NETO PER 31 DESEMBER ASET Semester II 2015 Semester I 2015

DANA PENSIUN BANK DKI PROGRAM PENSIUN MANFAAT PASTI LAPORAN ASET NETO PER 31 DESEMBER ASET Semester II 2015 Semester I 2015 A. LAPORAN ASET NETO INVESTASI (NILAI WAJAR) ASET Semester II 2015 Semester I 2015 Surat Berharga Negara 20.056.075.000 5.058.305.000 Tabungan 4.684.964.144 5.714.635.010 Deposito on call 0 0 Deposito

Lebih terperinci

LAMPIRAN A. 1.1 Data Responden. : Irwan Syafrudin. : Tax Accounting Manager. 1.2 Hasil Wawancara

LAMPIRAN A. 1.1 Data Responden. : Irwan Syafrudin. : Tax Accounting Manager. 1.2 Hasil Wawancara LAMPIRAN 80 81 LAMPIRAN A WAWANCARA EVALUASI KETEPATAN PELAPORAN KEUANGAN TERHADAP STANDAR AKUNTANSI YANG BERLAKU UMUM SEBAGAI DASAR PENGUNGKAPAN KECURANGAN PELAPORAN KEUANGAN (Studi Kasus Pada PT Jasa

Lebih terperinci

a. dimiliki untuk digunakan dalam penyediaan jasa atau untuk tujuan administratif; dan b. diharapkan akan digunakan lebih dari satu periode.

a. dimiliki untuk digunakan dalam penyediaan jasa atau untuk tujuan administratif; dan b. diharapkan akan digunakan lebih dari satu periode. VIII.1 ASET TETAP A. Definisi 01. Aset tetap adalah aset berwujud yang: a. dimiliki untuk digunakan dalam penyediaan jasa atau untuk tujuan administratif; dan b. diharapkan akan digunakan lebih dari satu

Lebih terperinci

TRANSAKSI DALAM MATA UANG ASING. PDF created with pdffactory Pro trial version

TRANSAKSI DALAM MATA UANG ASING. PDF created with pdffactory Pro trial version TRANSAKSI DALAM MATA UANG ASING KONSEP MATA UANG Mata uang Fungsional Mata uang Asing (Foreign currency) Mata uang lokal (Local currency) Mata uang lokal adalah mata uang yang menjadi alat transaksi dalam

Lebih terperinci

PT HARTADINATA ABADI, Tbk LAPORAN KEUANGAN. Untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2017 dan 2016

PT HARTADINATA ABADI, Tbk LAPORAN KEUANGAN. Untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2017 dan 2016 PT HARTADINATA ABADI, Tbk LAPORAN KEUANGAN Untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2017 dan 2016 serta tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2016 PT HARTADINATA ABADI, Tbk DAFTAR

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN Pada laporan akuntansi DPLK AIAF, periode akuntasi (tahun buku) adalah 1 Januari sampai dengan 31 Desember. A. Jurnal Pencatatan Akuntansi Dana Pensiun Pencatatan Transaksi

Lebih terperinci

BAB IV EVALUASI PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 PADA PT TGS

BAB IV EVALUASI PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 PADA PT TGS BAB IV EVALUASI PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 PADA PT TGS Pada laporan rugi laba yang telah dibuat oleh PT TGS yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 menunjukkan adanya unsur penjualan yang telah berhasil

Lebih terperinci