PENGARUH KOMPOSISI LARUTAN PULSING DAN ANTI- TRANSPIRAN CHITOSAN TERHADAP VASELIFE BUNGA POTONG ANYELIR

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PENGARUH KOMPOSISI LARUTAN PULSING DAN ANTI- TRANSPIRAN CHITOSAN TERHADAP VASELIFE BUNGA POTONG ANYELIR"

Transkripsi

1 i PENGARUH KOMPOSISI LARUTAN PULSING DAN ANTI- TRANSPIRAN CHITOSAN TERHADAP VASELIFE BUNGA POTONG ANYELIR JUANITA ELINA A DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012

2 i RINGKASAN JUANITA ELINA. Pengaruh Komposisi Larutan Pulsing dan Anti- Transpiran Chitosan terhadap Vaselife Bunga Potong Anyelir. (Dibimbing oleh DEWI SUKMA). Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui pengaruh komposisi larutan pulsing dan anti-transpiran chitosan terhadap vaselife bunga potong anyelir. Penelitian dilaksanakan di ruang cold storage, Laboratorium Produksi dan Pascapanen Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB pada bulan Februari- Maret Penelitian ini terdiri dari tiga percobaan. Percobaan pertama dilaksanakan untuk menguji pengaruh anti-transpiran chitosan di suhu ruang (25 o C), percobaan kedua dilaksanakan untuk menguji pengaruh komposisi larutan pulsing di cold storage (10-15 o C) dan percobaan ketiga dilaksanakan untuk menguji pengaruh kombinasi komposisi larutan pulsing dan anti-transpiran chitosan terhadap vaselife bunga potong anyelir di cold storage (10-15 o C). Percobaan pertama menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor perlakuan yaitu tanpa chitosan, chitosan 0.1 ppm, chitosan 0.5 ppm, dan chitosan 1 ppm. Setiap perlakuan terdiri dari 5 ulangan dengan 1 tangkai bunga potong per ulangan. Percobaan kedua menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor perlakuan yaitu perlakuan larutan pulsing yang terdiri dari aquades, aquades + sukrosa 3%, akuades + sukrosa 3% + asam salisilat 100 ppm, akuades + sukrosa 3% + Benzylaminopurin (BAP) 5 ppm, dan akuades + sukrosa 3% + asam salisilat 100 ppm + Benzylaminopurin (BAP) 5 ppm. Setiap perlakuan terdiri dari 3 ulangan dengan 1 tangkai bunga potong per ulangan. Percobaan ketiga menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dua faktor. Faktor pertama dengan 5 taraf perlakuan komposisi larutan pulsing yaitu aquades, aquades + sukrosa 3%, akuades + sukrosa 3% + asam salisilat 100 ppm, akuades + sukrosa 3% + Benzylaminopurin (BAP) 5 ppm, dan akuades + sukrosa 3% + asam salisilat 100 ppm + Benzylaminopurin (BAP) 5 ppm dan faktor kedua dengan 4 taraf perlakuan konsentrasi chitosan yang digunakan yaitu tanpa

3 chitosan, chitosan 0.1 ppm, 0.5 ppm, dan 1 ppm, sehingga terdapat 20 satuan percobaan. Setiap satuan percobaan terdapat lima ulangan dengan 1 tangkai bunga per ulangan sehingga terdapat 100 tangkai bunga yang diamati. Bahan tanaman yang digunakan di dalam penelitian yaitu bunga potong anyelir Dianthus caryophyllus tipe standar. Tangkai bunga direndam dalam botol bervolume 300 ml larutan pulsing selama 1 x 24 jam, kemudian dipindahkan dalam botol bervolume 300 ml larutan akuades (holding) selama penyimpanan. Larutan chitosan pada konsentrasi 0, 0.1, 0.5, dan 1 ppm disemprotkan ke permukaan bunga potong. Hasil percobaan pertama menunjukkan konsentrasi chitosan yang digunakan dalam perlakuan belum dapat meningkatkan vaselife bunga potong anyelir White Corso karena konsentrasi chitosan 0.1, 0.5 dan 1 ppm memiliki respon yang sama dengan kontrol (tanpa chitosan). Hasil dari percobaan kedua menunjukkan bahwa konsentrasi larutan pulsing yang digunakan tidak memberikan pengaruh nyata terhadap diameter bunga, jumlah mahkota yang membuka, kesegaran bunga, tingkat kemekaran bunga, dan vaselife bunga potong anyelir, namun memberikan pengaruh yang nyata terhadap volume larutan yang diserap bunga pada saat pulsing. Perlakuan akuades + sukrosa 3% + asam salisilat 100 ppm + Benzylaminopurin (BAP) 5 ppm merupakan larutan terbanyak yang diserap bunga potong pada saat pulsing. Hasil percobaan ketiga menunjukkan komposisi larutan pulsing dan bahan organik chitosan serta interaksi kedua perlakuan berpengaruh nyata terhadap diameter bunga dan jumlah mahkota bunga potong anyelir. Perlakuan pulsing akuades+sukrosa 3%+BAP 5 ppm berpengaruh nyata meningkatkan diameter bunga, jumlah mahkota bunga yang membuka, tingkat kemekaran bunga, warna bunga, mempertahankan kesegaran bunga, dan meningkatkan vaselife sampai hari. Perlakuan pulsing akuades+sukrosa 3%+SA 100 ppm, akuades+sukrosa 3%+BAP 5 ppm, akuades+sukrosa 3%+SA 100 ppm+bap 5 ppm tanpa chitosan mampu meningkatkan vaselife bunga potong anyelir sampai 25 hari, sementara pada kontrol (larutan akuades tanpa chitosan) memiliki vaselife hanya hari. Konsentrasi chitosan tidak memberikan pengaruh terhadap kesegaran dan vaselife bunga potong anyelir selama penyimpanan. ii

4 PENGARUH KOMPOSISI LARUTAN PULSING DAN ANTI- TRANSPIRAN CHITOSAN TERHADAP VASELIFE BUNGA POTONG ANYELIR iv Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor JUANITA ELINA A DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012

5 v Judul Nama NRP : PENGARUH KOMPOSISI LARUTAN PULSING DAN ANTI-TRANSPIRAN CHITOSAN TERHADAP VASELIFE BUNGA POTONG ANYELIR : JUANITA ELINA : A Menyetujui, Pembimbing Dr. Dewi Sukma, S.P, M.Si NIP Mengetahui, Ketua Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor Dr. Ir. Agus Purwito, M.Sc.Agr. NIP Tanggal Lulus :

6 vi RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Padang, Provinsi Sumatera Barat pada tanggal 02 Juni Penulis merupakan anak pertama dari empat bersaudara dari Bapak Asrin Aburdin dan Ibu Elya Roza. Penulis menyelesaikan pendidikan mulai dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas di Kota Payakumbuh, Provinsi Sumatera Barat. Tahun 1996 penulis menyelesaikan pendidikan di TK Pertiwi, Kabupaten 50 Kota. Tahun 2002 penulis lulus dari SD Negeri 02 Labuh Baru Payakumbuh, kemudian pada tahun 2005 penulis menyelesaikan studi di SMPN 1 Payakumbuh. Pada tahun 2008 penulis lulus dari SMAN 2 Payakumbuh. Tahun 2008 penulis diterima di Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian IPB melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan kemudian memilih Arsitektur Lanskap sebagai bidang keahlian pelengkap (minor) dari Departemen Arsitektur Lanskap. Selama kuliah, penulis aktif dalam organisasi diantaranya Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Fakultas Pertanian tahun dan Ikatan Keluarga Mahasiswa Payakumbuh (IKMP) Tahun 2011 penulis menjadi asisten mata kuliah Dasar-dasar Agronomi dan pada tahun 2012 menjadi asisten Ilmu Tanaman Perkebunan.

7 vii KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberi kekuatan dan hidayah sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini dengan baik. Penelitian yang berjudul Pengaruh Komposisi Larutan Pulsing dan Antitranspiran Chitosan terhadap Vaselife Bunga Potong Anyelir, dilaksanakan untuk mengetahui masa simpan bunga potong anyelir pada saat pascapanen. Penulis menyampaikan terimakasih kepada dosen pembimbing skripsi, Dr. Dewi Sukma, S.P., M.Si yang telah memberikan saran, bimbingan, pengarahan selama kegiatan penelitian dan penyusunan skripsi ini. Penulis menyampaikan terima kasih kepada dosen penguji, yaitu Dr. Ir. Syarifah Iis Aisyah, M.Sc., dan Dr. Ir. Sandra A. Aziz, M.Si. atas saran dan masukan yang membangun untuk perbaikan skripsi ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Dr. Ir. Endah Retno Palupi, M.Sc. selaku pembimbing akademik selama berkuliah di IPB. Bapak Desrial dan Rose Farm yang telah membantu dalam penyediaan anyelir potong. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada kedua orang tua yang telah memberikan dorongan baik moril maupun matriil. Teman seperjuangan Nida dan Erick. Teman-teman yang memberikan bantuan (Aline, Adisti, Riri, Rista, Mela, Ami, Ray, Bayu, Andri, Beny, Topan, Yuyuk, dan teman-teman Indigenous 45) dalam kegiatan penelitian ini. Penulis berharap kegiatan penelitian ini dapat memberikan manfaat kepada semua kalangan dan digunakan sebaik-baiknya. Bogor, 25 Juli 2012 Penulis

8 DAFTAR ISI DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... Halaman PENDAHULUAN... 1 Latar Belakang... 1 Tujuan... 3 Hipotesis... 3 TINJAUAN PUSTAKA... 4 Botani Anyelir... 4 Budidaya Anyelir Potong... 5 Pemanenan Anyelir Potong... 6 Penanganan Pascapanen Anyelir Potong... 7 Vaselife Bunga Potong... 9 Teknik Pengawetan Bunga Potong... 9 Sukrosa... 9 Asam Salisilat Sitokinin Chitosan BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Percobaan Percobaan Pertama Percobaan Kedua Percobaan Ketiga Pelaksanaan Percobaan Ketiga Pengamatan HASIL DAN PEMBAHASAN Percobaan Pertama Percobaan Kedua Percobaan Ketiga Pembahasan KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN ix xi xii

9 DAFTAR TABEL Nomor Halaman 1. Tingkat Kemekaran Bunga Potong Anyelir Rata-Rata Diameter Bunga Potong Anyelir pada Penyemprotan Kitosan di Suhu Ruang Rata-Rata Tingkat Kesegaran Bunga Potong Anyelir pada Penyemprotan Kitosan di Suhu Ruang Rata-Rata Vaselife dan Volume Larutan Holding Terserap Bunga Potong Anyelir pada Penyemprotan Kitosan di Suhu Ruang Rata-rata Diameter Bunga Potong Anyelir Perendaman Tangkai Bunga dalam Larutan Pulsing Selama 24 Jam di Cold Storage Rata-rata Tingkat Kesegaran Bunga Potong Anyelir Perendaman Tangkai Bunga dalam Larutan Pulsing Selama 24 Jam di Cold Storage Rata-rata Vaselife, Volume Larutan Pulsing dan Holding Terserap Bunga Potong Anyelir Perendaman Tangkai Bunga dalam Larutan Pulsing Selama 24 Jam di Cold Storage Rata-rata Diameter Bunga Potong Anyelir pada Perendaman Tangkai Bunga dalam Larutan Pulsing Selama 24 Jam dan Penyemprotan Kitosan di Cold Storage Rata-rata Diameter Bunga Potong Anyelir Pengaruh Interaksi pada Perendaman Tangkai Bunga dalam Larutan Pulsing Selama 24 Jam dan Penyemprotan Kitosan di Cold Storage Rata-rata Jumlah Mahkota Bunga Membuka Bunga Potong Anyelir pada Perendaman Tangkai Bunga dalam Larutan Pulsing Selama 24 Jam dan Penyemprotan Kitosan di Cold Storage Rata-rata Jumlah Mahkota Bunga Membuka Bunga Potong Anyelir Pengaruh Interaksi pada Perendaman Tangkai Bunga dalam Larutan Pulsing Selama 24 Jam dan Penyemprotan Kitosan di Cold Storage Rata-rata Warna Bunga Potong Anyelir pada Perendaman Tangkai Bunga dalam Larutan Pulsing Selama 24 Jam dan Penyemprotan Kitosan di Cold Storage Rata-rata Tingkat Kemekaran dan Tingkat Kesegaran Bunga Potong Anyelir pada Perendaman Tangkai Bunga dalam Larutan Pulsing Selama 24 Jam dan Penyemprotan Kitosan di Cold Storage Rata-rata Volume Larutan Pulsing Terserap (ml) pada Perendaman Tangkai Bunga Anyelir dalam Larutan Pulsing Selama 24 Jam di Cold Storage... 34

10 15. Rata-rata Volume Larutan Holding Terserap (ml) pada Perendaman Tangkai Bunga Anyelir dalam Larutan Pulsing Selama 24 Jam dan Penyemprotan Kitosan di Cold Storage Rata-rata Vaselife Bunga Potong Anyelir pada Perendaman Tangkai Bunga dalam Larutan Pulsing Selama 24 Jam dan Penyemprotan Kitosan di Cold Storage x

11 DAFTAR GAMBAR Nomor Halaman 1. Warna Bunga RHS 45A (a), RHS 47A (b), RHS 44A (c) Kriteria Tingkat Kemekaran Bunga Potong Anyelir Kondisi Bunga Potong Anyelir saat 10 HSP. Kitosan 0 ppm (a), Kitosan 0.1 ppm (b), Kitosan 0.5 ppm (c), Kitosan 1 ppm (d) Kondisi Bunga Potong Anyelir saat 21 HSP. Komposisi Akuades (a), Komposisi Akuades + Sukrosa 3% (b), Komposisi Akuades + Sukrosa 3% + Asam Salisilat 100 ppm (c), Komposisi Akuades + Sukrosa 3% + BAP 5 ppm (d), Komposisi Akuades + Sukrosa 3% + Asam Salisilat 100 ppm + BAP 5 ppm (e) Bunga Potong Anyelir Dianthus caryophyllus Setelah Panen Sebelum Perlakuan (a), Bunga Potong Anyelir Setelah Perlakuan Pulsing (b), Bunga Potong Anyelir Terserang Cendawan (c)... 25

12 DAFTAR LAMPIRAN Nomor Halaman 1. Layout percobaan Rekapitulasi Sidik Ragam Pengaruh Komposisi Larutan Pulsing dan Konsentrasi Kitosan terhadap Vaselife Bunga Potong Anyelir Rata-rata Diameter Bunga Potong Anyelir Pengaruh Interaksi pada Perendaman Tangkai Bunga dalam Larutan Pulsing Selama 24 Jam dan Penyemprotan Kitosan di Cold Storage Rata-rata Jumlah Petal Bunga Membuka Bunga Potong Anyelir Pengaruh Interaksi pada Perendaman Tangkai Bunga dalam Larutan Pulsing Selama 24 Jam dan Penyemprotan Kitosan di Cold Storage Rata-rata Warna Bunga Potong Anyelir pada Perendaman Tangkai Bunga dalam Larutan Pulsing Selama 24 Jam dan Penyemprotan Kitosan di Cold Storage Data Suhu dan RH Harian di Cold Storage Keragaan Bunga Potong Anyelir pada 25 HSP... 52

13 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Tanaman hias adalah semua tanaman yang memiliki nilai keindahan atau nilai hias dari keragaan fisik yang dapat ditata untuk memperindah lingkungan sehingga suasana menjadi lebih indah dan nyaman. Kelompok tanaman hias bunga potong umumnya lebih banyak diminati karena bernilai ekonomis tinggi dengan warna bunga yang menarik dan volume bunga yang dapat mencapai jumlah yang besar. Menurut Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian (2007), tanaman hias yang bernilai ekonomis sebagai bunga potong harus memenuhi persyaratan yakni: 1. berwarna indah, mulus, bersih, tidak bernoda dan baunya wangi tidak menyengat; 2. bunga dapat bertahan lama setelah dipotong; 3. tangkai bunga cukup panjang dan kuat; 4. bunga tidak mudah rusak dalam pengepakan dan; 5. bunga dihasilkan oleh tanaman yang subur dan mudah berbunga tanpa mengenal musim. Beberapa jenis bunga potong yang terkenal di Indonesia adalah anggrek, krisan, mawar, anyelir, gladiol, gerbera (Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, 2007). Dianthus caryophyllus L. di Indonesia dinamakan anyelir (carnation (Inggris)) termasuk tanaman tahunan yang dibiarkan merumpun. Tanaman ini juga termasuk tanaman dua musim dengan tiga kali panen dalam setahun (Winarto dan Minangsari, 2011). Dianthus berasal dari daerah Mediterania yang biasanya berbunga pada awal musim semi (Whealy, 1992). Di banyak negara, Dianthus atau yang biasa dikenal anyelir adalah salah satu dari bunga potong paling populer dan bernilai ekonomi tinggi dalam industri bunga potong (Satoh et al., 2005). Bunga potong anyelir digunakan dalam dua bentuk atau kategori, yaitu tipe standar di mana bunga anyelir memiliki satu bunga pada batang dan tipe spray yang memiliki beberapa bunga pada batang (Widyawan dan Prahastuti, 1994). Bunga anyelir tipe spray telah menjadi populer karena tipe ini dapat tumbuh dengan sedikit tindakan pemeliharaan dalam memenuhi permintaan konsumen.

14 2 Pemanenan bunga anyelir tergantung pada ukuran pertumbuhan tunas dan kelopak. Anyelir jenis standar dipanen ketika bunga setengah terbuka dan kelopak pertama dalam posisi horizontal. Jenis spray dipanen ketika dua kelopak telah membuka dan kuncup yang tersisa menunjukkan warna (Whealy, 1992). Bunga yang terbaik dipanen pada pagi hari. Kesegaran bunga akan terjaga jika bunga diletakkan pada air bersih atau larutan pengawet selama sekitar 4-6 jam dan kemudian ditempatkan di ruang dingin pada 4-6 o C. Bunga dikelompokkan dalam 20 ikatan dan disimpan pada suhu 0-2 o C selama jam kemudian dikemas dalam kotak karton (Chaurasia, 2007). Setelah itu bunga siap untuk didistribusikan. Vaselife dan daya simpan bunga dapat ditingkatkan dengan merendam tangkai bunga ke dalam sukrosa 10% + 1 mm STS (Silver Thiosulfat) selama 8-10 jam (Chaurasia, 2007). Bunga anyelir sensitif terhadap gas etilen (Whealy, 1992). Saat ini anti-etilena senyawa 1-MCP (1 - siklopropenoid metil) dan STS (perak thiosulfate) digunakan sebagai pengawet bunga (Abadi et al., 2009). Banyak hasil penelitian menunjukkan manfaat pengawetan dalam memperpanjang masa segar bunga termasuk pemberian larutan penyegar saat pulsing dan holding. Amiarsi et al. (2003) menyatakan bahwa pulsing adalah pemberian cadangan nutrisi kepada bunga segera setelah panen selama beberapa jam. Larutan pulsing merupakan perlakuan yang diberikan pada bunga sebelum pengiriman untuk memberi tambahan sumber energi, dan melindungi tangkai bunga dari masuk dan berkembangnya mikroorganisme penyebab penyumbatan pada batang dan menunda senesen. Holding adalah penyegar yang diberikan kepada bunga secara terus menerus dalam waktu yang lama, misalnya selama pemajangan. Bunga yang mendapat perlakuan pulsing memiliki daya tahan yang lebih lama. Bunga tampil lebih segar dalam waktu lebih lama, jika pulsing dilakukan segera setelah panen (Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, 2007). Santoso (2005) menyatakan bahwa pemberian sitokinin dalam larutan pulsing ternyata dapat menunda senesen pada beberapa jenis tanaman hias. Konsentrasi sitokinin sebesar 5 ppm, dapat memperpanjang umur bunga potong anyelir dan mawar.

15 3 Asam salisilat dapat digunakan untuk mengontrol penyakit pasca panen. Capdeville et al, (2003) menyatakan bahwa sebagian besar penelitian menggunakan asam salisilat untuk menginduksi secara langsung kemampuan ketahanan sistemik tanaman dalam menanggulangi serangan patogen. Antitranspiran adalah senyawa yang diaplikasikan pada tanaman untuk mengurangi transpirasi (Bhattacharjee, 2005). Senyawa ini digunakan pada bunga potong, dalam aplikasi untuk melindungi tanaman dari kekeringan yang terlalu cepat. Anti-transpiran juga telah digunakan untuk melindungi daun dari penyakit yang disebabkan oleh cendawan (Bhattacharjee, 2005). Penggunaan chitosan dilakukan sebagai anti-transpiran pada bunga yang dapat menekan laju respirasi sehingga perlakuan ini merupakan salah satu alternatif untuk mempertahankan kesegaran bunga potong. Pelapisan (coating) akan menghambat proses respirasi sehingga perubahan kimiawi yang terjadi pada bunga relatif terhambat (Chutichudet and Chutichudet, 2011). Tujuan 1. Mengetahui pengaruh komposisi larutan pulsing dan anti-transpiran chitosan terhadap kesegaran bunga potong anyelir. 2. Mendapatkan komposisi larutan pulsing dan anti-transpiran chitosan terbaik untuk meningkatkan vaselife bunga potong anyelir. 3. Mengetahui interaksi larutan pulsing dan anti-transpiran chitosan terbaik untuk meningkatkan vaselife bunga potong anyelir. Hipotesis 1. Perlakuan komposisi larutan pulsing dan anti-transpiran chitosan berpengaruh dalam mempertahankan kesegaran bunga potong anyelir. 2. Terdapat komposisi larutan pulsing dan anti-transpiran chitosan yang menghasilkan vaselife terbaik pada bunga potong anyelir. 3. Terdapat interaksi larutan pulsing dan anti-transpiran chitosan yang menghasilkan vaselife terbaik pada bunga potong anyelir.

16 4 TINJAUAN PUSTAKA Botani Anyelir Anyelir (Dianthus caryophyllus L.) yang dikenal dalam bahasa Inggris sebagai carnation merupakan tanaman hias pekarangan dan bunga potong. Tanaman ini termasuk ke dalam famili Caryophyllaceae dan berasal dari kawasan Mediterania (Whealy, 1992). Bunga anyelir memiliki warna yang terang dan berwarna-warni, sehingga sering digunakan sebagai hiasan. Anyelir juga merupakan tumbuhan yang umum dibudidayakan sebagai tanaman hias di kebunkebun atau pekarangan. Tanaman ini tumbuh dengan baik di daerah pegunungan pada ketinggian di atas 1000 m dari permukaan laut (Widyawan dan Prahastuti, 1994). Tanaman anyelir menyukai tanah yang gembur dan subur dengan kondisi tanah yang berstruktur liat berpasir atau pasir berlempung. Tanaman anyelir dapat mencapai ketinggian sampai 1 meter (Mattjik, 2010), namun untuk dapat tumbuh tegak harus diikat dengan penyokong. Diameter batang tanaman bunga anyelir dapat mencapai 1 cm dan biasanya membengkak pada buku atau ruas. Anyelir atau carnation bukan tanaman asli Indonesia, tetapi masuk ke Indonesia dibawa oleh penggemar-penggemar bunga dari Belanda ke Indonesia beberapa abad yang lalu. Warna bunga beraneka ragam, putih, merah muda, merah cerah, merah marun, oranye, kuning, ungu, dan kombinasinya salem (Mattjik, 2010). Tanaman bunga anyelir berumur produktif selama kurang lebih satu tahun yaitu sekitar 5 bulan masa pertumbuhan dan 7 bulan masa menghasilkan bunga (Widyawan dan Prahastuti, 1994). Di beberapa negara, anyelir adalah salah satu dari bunga potong paling populer dan bernilai ekonomi tinggi dalam industri bunga (Satoh et al., 2005). Di Indonesia produksi anyelir tiap tahunnya terus meningkat karena besarnya permintaan konsumen terhadap tanaman hias bunga potong anyelir untuk dekorasi. Menurut data Badan Pusat Statistik (2011) pada tahun 2009 produksi anyelir 5,320,824 tangkai. Produksi anyelir pada tahun 2010 meningkat menjadi 7,607,588 tangkai.

17 5 Budidaya Anyelir Potong Anyelir (Dianthus caryophyllus L.) merupakan salah satu jenis tanaman hias komersial, bernilai ekonomi tinggi, kaya variasi warna, dan populer dibudidayakan oleh petani dan pengusaha bunga potong. Menurut Winarto dan Minangsari (2011), berdasarkan umurnya dikenal jenis tanaman semusim (6-12 bulan) dan tahunan (2-4 tahun). Tanaman ini digunakan sebagai bahan rangkaian bunga, obat, dan kosmetika. Kualitas bunga anyelir dinilai dari batang yang kuat dan lurus dengan daun yang lebar, tangkai bunga kuat dan lurus, bunga berwarna cerah, tidak ada kerusakan pada petal, dan ketahanan simpan (vaselife) yang lama dan bebas dari pengaruh serangan hama dan penyakit. Dalam budidaya, anyelir diperbanyak menggunakan biji, perundukan, dan stek. Umumnya tanaman diperbanyak menggunakan stek tunas pucuk dan lateral untuk tujuan komersial. Proses budidaya tanaman anyelir perlu memperhatikan syarat tumbuhnya, pemilihan bibit, pengakaran, pengolahan tanah, pemupukan, penanaman, pemeliharaan, dan pemanenan bunga. Pemanenan bunga dapat dilakukan secara mingguan maupun bulanan tergantung pada cara pemincingan tanaman yang dilakukan. Anyelir tumbuh bagus pada tanah pasir berlempung dengan ph media berkisar antara 6-7, suhu media 16 o C, suhu o C, cukup sirkulasi udara, cukup cahaya matahari, dan kelembaban yang relatif tinggi (Soekartawi, 1996). Bibit anyelir yang bagus, diambil dari tanaman induk yang berusia muda (4 bulan), yang dirawat secara optimal dan intensif dalam kondisi pertumbuhan vegetatif. Pembibitan diletakkan pada tempat yang teduh/tutup dengan plastik transparan selama 5-10 hari dan bibit berakar selama hari tergantung respon kultivar (Winarto dan Minangsari, 2011). Pemupukan perlu dilakukan sebelum dan sesudah penanaman. Pemupukan sebelum penanaman dilakukan dengan cara menaburkan pupuk kandang serta TSP dan KCl di atas bedengan. Dua minggu setelah bibit ditanam dilakukan pemupukan dengan ZA, Urea, KNO 3 serta TSP secara rutin setiap dua minggu sekali. Hama yang sering dijumpai adalah hama aphid, thrips, laba-laba, tungau, larva ngengat, dan siput. Penyakit yang menyerang adalah Prouch rot (menyerang daun), Botrytis sp. (menyerang bunga), cabang akar, dan virus (Widyawan dan

18 6 Prahastuti, 1994). Pengendalian hama-penyakit dilakukan apabila ada tanda/gejala serangannya. Penggunaan pestisida seminimal mungkin sangat disarankan. Bunga dipanen setelah tanaman berumur lima bulan, pada saat petal mulai mekar satu (Winarto dan Minangsari, 2011). Pemanenan Anyelir Potong Ada dua jenis tanaman anyelir yaitu jenis standar (satu bunga pada setiap tangkai) dan jenis spray (banyak bunga pada setiap tangkai) (Widyawan dan Prahastuti, 1994). Saat panen yang tepat pada anyelir standar adalah ketika bunga telah setengah mekar atau 3-4 hari sebelum mekar penuh (Whealy, 1992). Bunga yang seharusnya dipotong harus segera dipotong, karena keterlambatan panen akan menurunkan kualitas bunga. Panen biasanya dilakukan pada pagi hari, kemudian segera ditempatkan pada ruang dingin (1-6 o C) (Mattjik, 2010). Kegiatan pemotongan bunga sebaiknya dilakukan bila bunga sudah membuka dan sudah tidak ada embun yang melekat pada bunga. Apabila tanah dalam keadaan kering, sebaiknya tanah disiram terlebih dahulu sehingga tanaman yang akan dipotong menjadi segar dan tidak layu. Pada waktu pemanenan bunga, sebaiknya dilakukan juga seleksi bunga berdasarkan kualitasnya (grade 1 dan 2). Bunga yang tidak termasuk grade 1 dan 2 sebaiknya tidak dipanen dan dibuang. Pada kondisi normal bunga yang termasuk grade 1 berjumlah sekurang-kurangnya 75% dari hasil panen. Dalam analisis finansial, asumsi penjualan didasarkan pada penjualan bunga grade 1 (Widyawan dan Prahastuti, 1994). Setelah dipanen, batang bunga segera dimasukkan ke dalam air untuk dibawa ke tempat penampungan atau tempat penyortiran. Penyortiran hendaknya menurut mutunya dan sekaligus mengumpulkan bunga yang sama warnanya. Bunga yang cacat akibat serangan hama atau penyakit, atau rusak karena pengangkutan dari kebun sebaiknya dipisahkan. Hal ini penting untuk menjaga kualitas bunga yang akan dijual. Sekitar 20 atau 25 batang bunga diikat menjadi satu. Dasar tangkai dipotong sewaktu masih berada di dalam air antara 1-2 cm dan dibiarkan berada dalam air sambil menunggu pengepakan. Penempatan bunga di

19 7 dalam ember dengan air yang terlalu hangat perlu dihindari untuk menjaga kualitas bunga potong. Widyawan dan Prahastuti (1994) menyatakan bahwa kualitas bunga anyelir untuk grade 1 memiliki ciri sebagai berikut, bunga mekar (tidak terlalu mekar atau terlalu kuncup), segar, tidak terserang hama penyakit seperti apid, thrips, tidak ada bercak, tidak ada busuk kehitaman pada pinggir bunga, dan tidak ada luka. Menurut Badan Standardisasi Nasional (1999), bunga anyelir grade 1 dipanen pada stadia setengah mekar dan berwarna yang ditandai mekar 2 petal, bunga sempurna, ukuran seragam, bebas organisme pengganggu, tidak terjadi kerusakan mekanis/fisik, tidak mengandung sisa pestisida serta kotoran telah dibersihkan dari bunga. Bunga anyelir grade 2 memiliki kriteria yang sama dengan grade 1 dengan toleransi 5%. Bunga anyelir grade 3 memiliki kriteria yang sama dengan grade 1 dengan toleransi 10%. Selanjutnya Winarto dan Minangsari (2011) menyatakan bahwa bunga anyelir grade 1 memiliki batang besar (sesuai dengan jenisnya), tegar, lurus, dan panjang minimal 60 cm, bunga memiliki daun hijau segar, tidak kering, dan tidak terserang hama penyakit. Kualitas bunga anyelir untuk grade 2 memiliki ciri bunga mekar, segar, dan pinggir bunga tidak terserang penyakit (Widyawan dan Prahastuti, 1994). Batang boleh agak kecil tapi harus lurus dengan panjang minimal 50 cm. Kriteria lain sama dengan kriteria grade 1 dengan sedikit toleransi, seperti daun terserang hama penyakit tetapi tidak terlalu parah masih dapat dimasukkan dalam grade 2. Penanganan Pascapanen Anyelir Potong Etilen adalah senyawa organik sederhana yang dapat berperan sebagai hormon yang mengatur pertumbuhan, perkembangan, dan kelayuan (Mor, 1983). Keberadaan etilen akan mempercepat tercapainya tahap kelayuan (senesence) (Bhattacharjee, 2005). Senyawa ini perlu disingkirkan dari ruang penyimpanan untuk tujuan pengawetan dengan cara menyemprotkan enzim penghambat produksi etilen pada produk. Upaya untuk mengurangi kehilangan hasil yang disebabkan oleh kerusakan yang sering timbul setelah panen pada tanaman hias seperti layu, patahnya batang dan daun, serta lepasnya kelopak bunga dan penuaan (senesence), diperlukan perhatian khusus pada penanganan pascapanennya agar

20 8 produk mempunyai fase hidup atau daya simpan yang lama. Penanganan pascapanen bunga merupakan suatu kegiatan yang memberikan perlakuanperlakuan terhadap bunga, setelah bunga tersebut dipanen sampai bunga itu diterima oleh konsumen. Umumnya penanganan pasca panen tanaman hias lebih banyak dilakukan untuk kelompok tanaman hias bunga potong, dibanding dengan kelompok tanaman hias yang lain (Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, 2007). Hal ini disebabkan pertimbangan nilai ekonomis bunga potong dengan warna yang menarik dan volume bunga potong yang mencapai jumlah besar saat dilakukan pengiriman atau pemasarannya. Penanganan pasca panen tanaman hias khususnya bunga potong bertujuan untuk : 1. memperkecil respirasi, 2. memperkecil transpirasi, 3. mencegah infeksi atau luka, 4. memelihara keindahan, 5. memperoleh harga yang tinggi. Periode kesegaran bunga yang pendek dapat diperpanjang dengan pemberian nutrisi dan bahan pengawet (Suyanti, 2002). Panen bunga anyelir biasanya dilakukan di pagi hari, kemudian segera ditempatkan pada ruang dingin (1-6 o C). Dianthus dapat dipanen apabila sebagian mahkota sudah mekar dan sebagian lagi masih kuncup. Apabila terjadi dehidrasi maka diatasi dengan cara merendam bagian batang dalam air hangat. Kuncup bunga yang belum terlihat warna petalnya apabila dipanen sebaiknya diletakkan pada larutan perak thiosulfat (STS) dan ditempatkan pada ruangan dingin 0-1 o C selama 24 minggu. Kuncup yang dipanen dapat bertahan sampai 4-5 minggu, sedangkan yang telah mekar dapat bertahan 2-4 minggu di ruang 0 o C dengan kelembaban 90% (Whealy, 1992). Kuncup bunga dapat bertahan 4 minggu apabila tangkai bunga direndam dalam larutan yang mengandung fungisida, sukrosa, dan STS (Bhattacharjee, 2005). Bunga anyelir sangat sensitif terhadap etilen dan sangat responsif terhadap perlakuan STS, 1-methylcyclopropene (1-MCP) (Whealy, 1992). Bunga tanpa perlakuan pascapanen hanya dapat bertahan 6-9 hari, sedangkan bila diberi STS tahan sampai 30 hari (Mattjik, 2010). Keadaan etilen yang terlalu rendah mengakibatkan kuncup bunga sulit mekar atau mekar dalam keadaan bunga yang merunduk.

21 9 Vaselife Bunga Potong Vaselife merupakan periode mulai dari saat panen hingga petal kehilangan turgor dan absisi atau terjadi bent neck (Farooq, 2004). Periode vaselife dihitung hingga 50% bunga layu. Banyak yang harus diperhatikan dalam proses pemanenan agar kesegaran bunga potong dapat terjaga, misalnya penggunaan pisau yang tajam dan bersih agar area pemotongan tidak mudah terinfeksi serta penentuan usia bunga yang tepat untuk dipanen. Panen dan penanganan pascapanen pada bunga potong merupakan tahap terpenting dalam produksi bunga potong. Kriteria utama untuk standardisasi nilai komersial bunga potong yang baik yaitu bebas dari cedera mekanik serta hama dan penyakit (Dwiatmini et al., 1994). Tahap ini sangat menentukan vaselife bunga potong. Teknik Pengawetan Bunga Potong Air yang dipakai untuk merendam tanaman biasanya tidak steril. Bunga potong yang direndam air merupakan bahan organik yang menjadi media pertumbuhan bakteri. Hal-hal yang tidak diinginkan adalah pembusukan yang menyebabkan bau yang tidak enak. Bakteri yang ada akan menyumbat saluran vaskular, sehingga air tidak dapat diserap oleh tanaman dan menyebabkan kelayuan (Amiarsi et al., 2003). Bahan-bahan yang umumnya dipakai sebagai penyerap etilen adalah 8- HQS (8-Hydroquinoline sulphate), physan-20, perak nitrat (AgNO 3 ), PTS (Perak Tiosulfat), dan sodium hipoklorit (Mattjik, 2010). Penggunaan zat-zat di atas yang berlebihan akan berakibat buruk, tetapi pemakaian bahan-bahan tersebut dapat dikombinasikan. Menurut Murtiningsih dan Yulianingsih (1991) penambahan AgNO 3 dan bakterisida ke dalam sukrosa menyebabkan pertumbuhan bakteri dapat dihambat, sehingga penyerapan air oleh bunga potong dapat berjalan normal. Sukrosa Sukrosa merupakan sumber utama makanan bagi bunga dan dibutuhkan untuk menjalankan semua proses biokimia setelah bunga lepas dari pohon induk. Sukrosa eksogen menggantikan karbohidrat endogen yang habis digunakan

22 10 selama masa pascapanen bunga (Bhattacharjee, 2005). Pada larutan pengawet yang menggunakan sukrosa berfungsi sebagai penyedia karbohidrat bagi bunga potong. Sukrosa berperan dalam pemekaran kuncup bunga dan dapat menunda kelayuan (Simanjuntak, 2000). Penggunaan konsentrasi sukrosa tergantung jenis perlakuan dan jenis bunga. Penggunaan konsentrasi yang terlalu tinggi dapat merusak bunga dan dapat meningkatkan pertumbuhan mikroorganisme serta terjadinya embolisme. Sukrosa dalam larutan perendam berperan sebagai bahan baku respirasi untuk menghasilkan energi yang akan digunakan dalam proses kehidupan sehingga kesegaran bunga lebih lama (Wiraatmaja, 2007). Pemakaian sukrosa pada konsentrasi yang tinggi sering menyebabkan tumbuhnya bakteri dan terbentuknya lendir, sehingga menghambat penyerapan larutan oleh tangkai bunga. Asam Salisilat Asam salisilat merupakan salah satu bahan kimia yang cukup penting dalam kehidupan sehari-hari serta mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi karena dapat digunakan sebagai bahan intermediet dari pembuatan obat-obatan seperti antiseptik dan analgesik. Asam salisilat memiliki rumus molekul C 6 H 4 COOHOH berbentuk kristal kecil berwarna merah muda terang hingga kecoklatan yang memiliki berat molekul sebesar g/mol dengan titik leleh sebesar 156 o C dan densitas pada 25 o C sebesar g/ml (Kristian dan Amitra, 2007). Asam salisilat merupakan salah satu bakterisida yang memiliki peranan penting dalam pertahanan tanaman terhadap penyakit. Asam salisilat mencegah masuknya penyakit melalui luka dan membentuk area yang bebas organisme parasit disekitar luka tersebut. Menurut Nurfitria (2004) asam salisilat efektif mengatasi penyumbatan yang terjadi dalam tangkai bunga sehingga dapat meningkatkan kuncup bunga yang mekar. Etilen yang diproduksi oleh jaringan atau organ bunga terkandung pada gen-gen yang mengendalikan pertumbuhan dan perkembangan komponen bunga. Stilus memproduksi etilen lebih banyak dibandingkan bagian-bagian lain dari bunga. Polen (butir sari) yang memproduksi auksin, lebih banyak merupakan

23 11 sumber perangsang bagi stigma (kepala putik) untuk memproduksi etilen. Asam salisilat dan sukrosa terbukti efektif menurunkan aktivitas ACC oksidase yang merupakan penyebab terbentuknya etilen, menunda senesen dan kelayuan pada bunga anyelir potong serta mampu meningkatkan vaselife bunga (Kazemi et al., 2011). Sitokinin Sitokinin adalah hormon tumbuhan turunan adenin yang berfungsi untuk merangsang pembelahan sel dan diferensiasi mitosis, disintesis pada ujung akar dan ditranslokasikan melalui pembuluh xylem. Biosintesis sitokinin terjadi melalui modifikasi biokimia adenin. Sitokinin merupakan salah satu senyawa yang terdapat di jaringan pembuluh, dikandung berbagai jenis tumbuhan. Pemberian sitokinin pada larutan pulsing dapat mengurangi senesen pada bunga potong. Pemberian sitokinin juga menghambat kehilangan berat kering bungabunga yang telah matang (Santoso, 2005). Selain itu juga, sitokinin dapat merangsang penyerapan air melalui pemeliharaan keutuhan sel-sel. Kemampuan sitokinin menunda penuaan, berlaku pada bunga potong tertentu dan sayur segar. Konsentrasi sitokinin di daun mahkota bunga mawar dan anyelir menurun sejalan dengan bertambahnya umur bunga dan penambahan sitokinin dapat memperlambat proses penuaan tersebut. Larutan yang mengandung dihidrozeatin atau benziladenin terbukti paling efektif untuk menunda senesen (Salisbury dan Ross, 1995). Pada sebagian besar jenis bunga potong, sitokinin eksogen tidak mampu menanggulangi efek etilen yang dihasilkan bunga untuk mempercepat penuaan. Chitosan Salah satu pelapis (anti-transpiran) yang mulai dikembangkan adalah chitosan, polisakarida yang berasal dari limbah pengolahan udang (Crustaceae). Chitosan merupakan turunan dari deasetilasi kitin yang berasal dari dinding sel jamur, crustaceae, kutikula serangga, dan ganggang (Uthairatanakij, 2007). Bahan organik ini ramah lingkungan untuk keperluan pertanian karena mudah

24 12 terdegradasi dan tidak beracun bagi manusia. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa chitosan mempunyai potensi yang cukup baik sebagai pelapis pada benih dan buah-buahan misalnya pada tomat dan leci (Zhang, 2011). Sifat lain chitosan adalah dapat menginduksi enzim chitinase pada jaringan tanaman yaitu enzim yang dapat mendegradasi kitin yang merupakan penyusun dinding sel fungi. Chitosan mendorong sintesis lignin untuk beberapa komoditas hortikultura dan hias (Bittelli et al., 2001). Kemampuannya untuk membentuk lapisan semipermeabel tersebut sehingga chitosan dapat memperpanjang masa simpan pada buah dan sayuran dengan meminimalkan laju respirasi dan mengurangi kehilangan air (Banos, 2006). Perlakuan pelapisan chitosan 3% mampu mengurangi persentase kelayuan dan meningkatkan vaselife dragon fruit sampai 8 hari (Chutichudet and Chutichudet, 2011).

25 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan pertama dilaksanakan dalam suhu ruang (25 o C) di Laboratorium Produksi dan Pascapanen Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Percobaan kedua dan ketiga dilaksanakan di dalam Cold Storage Laboratorium Produksi Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, dengan suhu cold storage antara o C sehingga lingkungan penelitian homogen. Percobaan pertama dilaksanakan pada bulan November 2011, percobaan kedua dilaksanakan pada bulan Februari 2012, dan percobaan ketiga dilaksanakan bulan Maret Bahan dan Alat Bahan tanaman yang digunakan di dalam percobaan pertama yaitu bunga potong anyelir Dianthus caryophyllus L. tipe spray varietas White Corso yang diperoleh dari floris Eldadi di Ciawi, Bogor. Bahan tanaman yang digunakan di dalam percobaan kedua yaitu bunga potong anyelir Dianthus caryophyllus L. tipe standar dengan kode 031 dan percobaan ketiga bunga potong anyelir Dianthus caryophyllus L. tipe standar dengan kode 001 (kode dari perusahaan) yang diperoleh dari floris Rose Farm di Cisarua, Bogor. Bahan lain yang digunakan adalah akuades, chitosan ppm (0.1-1 mg/l), asam asetat, sukrosa 3%, asam salisilat 100 ppm, dan Benzylaminopurin (BAP) 5 ppm sedangkan alat-alat yang digunakan adalah botol 600 ml, corong, gelas piala 1000 ml, gelas ukur 100 ml, penggaris, dan alat tulis. Metode Percobaan Percobaan Pertama Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor perlakuan. Perlakuan yang dicobakan adalah konsentrasi chitosan yang terdiri atas kontrol, chitosan 0.1 ppm, chitosan 0.5 ppm, chitosan 1

26 14 ppm. Larutan chitosan pada perlakuan 0.1, 0.5, dan 1 ppm disemprotkan ke permukaan bunga potong. Setiap satuan percobaan terdiri dari sekurangkurangnya 5 tangkai bunga dengan satu tangkai bunga per botol sehingga terdapat 20 tangkai bunga. Selama pengamatan dilakukan pemotongan bagian dasar tangkai bunga setiap 3 hari sekali sepanjang ± 2 cm untuk mencegah terjadinya embolisme. Percobaan Kedua Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor perlakuan. Perlakuan yang dicobakan adalah komposisi larutan pulsing (perendaman 1 x 24 jam) terdiri dari aquades, aquades + sukrosa 3%, akuades + sukrosa 3% + asam salisilat 100 ppm, akuades + sukrosa 3% + Benzylaminopurin (BAP) 5 ppm, dan akuades + sukrosa 3% + asam salisilat 100 ppm + Benzylaminopurin (BAP) 5 ppm. Tangkai bunga direndam dalam larutan akuades selama pemajangan, setelah tangkai bunga direndam dalam larutan pulsing selama 1 x 24 jam. Setiap satuan percobaan terdiri dari sekurangkurangnya 3 tangkai bunga dengan satu tangkai bunga per botol sehingga terdapat 15 tangkai bunga. Selama pengamatan dilakukan pemotongan tangkai bunga setiap 3 hari sekali sepanjang ± 2 cm untuk mencegah terjadinya embolisme. Percobaan Ketiga Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama yaitu perlakuan pulsing terdiri dari 5 taraf perlakuan dan faktor kedua adalah perlakuan chitosan dengan 4 taraf perlakuan yang diulang sebanyak 5 ulangan. Layout percobaan dapat dilihat pada Lampiran 1. Perlakuan pulsing terdiri dari aquades, aquades + sukrosa 3%, akuades + sukrosa 3% + asam salisilat 100 ppm, akuades + sukrosa 3% + Benzylaminopurin (BAP) 5 ppm, dan akuades + sukrosa 3% + asam salisilat 100 ppm + Benzylaminopurin (BAP) 5 ppm. Perlakuan chitosan yang digunakan terdiri atas kontrol, chitosan 0.1 ppm, chitosan 0.5 ppm, dan chitosan 1 ppm. Tangkai bunga direndam dalam larutan akuades selama pemajangan. Sebelumnya bunga direndam dalam larutan pulsing sesuai perlakuan selama 1 x

27 15 24 jam. Larutan chitosan pada perlakuan chitosan 0.1, 0.5, dan 1 ppm disemprotkan ke permukaan bunga potong. Setiap kombinasi perlakuan terdiri dari 5 tangkai bunga dengan satu tangkai bunga per botol sehingga terdapat 100 tangkai bunga pada percobaan ketiga. Selama pengamatan dilakukan pemotongan tangkai bunga setiap 3 hari sekali sepanjang ± 2 cm untuk mencegah terjadinya embolisme. Pengolahan data dilakukan dengan uji F pada sistem SAS (Statistical Analysis System). Setelah diuji F, perlakuan yang berpengaruh nyata diuji lanjut dengan DMRT (Duncan Multiple Range Test) pada taraf nyata 5%. Adapun model statistika yang digunakan adalah sebagai berikut : Y ij = µ + α i + β j + (αβ) ij + ε ij Keterangan : Y ij = nilai pengamatan pada perlakuan ke-i, kelompok ke-j µ = nilai tengah populasi α i β j = pengaruh perlakuan komposisi larutan pulsing taraf ke-j = pengaruh perlakuan konsentrasi chitosan pada taraf ke-i (αβ) ij = pengaruh interaksi perlakuan α i dan β j ε ij = pengaruh acak pada perlakuan ke-i dan kelompok ke-j Data non parametrik dianalisis menggunakan Uji Kruskal Wallis. Peubah yang dianalisis yaitu warna bunga, tingkat kemekaran bunga dan tingkat kesegaran bunga. Rumus uji Kruskal Wallis adalah sebagai berikut : H = - 3 (N + 1) Keterangan : H = nilai Kruskal Wallis dari hasil perhitungan Ri = jumlah ranking dari perlakuan ke-i k = banyaknya perlakuan N = jumlah seluruh data (N = n1 + n2 + n nk)

28 16 Pelaksanaan Percobaan Ketiga Bahan pulsing : - akuades - gula pasir - asam salisilat - BAP Pembuatan larutan pulsing : aquades aquades + sukrosa 3% akuades + sukrosa 3% + asam salisilat 100 ppm akuades + sukrosa 3% + Benzylaminopurin 5 ppm akuades + sukrosa 3% + asam salisilat 100 ppm + Benzylaminopurin (BAP 5 ppm) Persiapan anyelir potong : pengangkutan bunga potong dari kebun ke laboratorium bunga direndam dalam air hangat bagian dasar tangkai bunga dipotong ± 2 cm Perendaman dalam larutan pulsing 1 x 24 jam Bunga dipindahkan ke larutan holding Pembuatan larutan chitosan 0.1 ppm, 0.5 ppm, dan 1 ppm Bunga disemprot chitosan Penyimpanan di cold storage dan pengamatan

29 17 Pengamatan Pengamatan dilakukan terhadap kondisi bunga. Pengamatan dilakukan setiap hari sampai bunga yang layu mencapai 50% dari jumlah bunga yang mekar. Peubah yang diamati antara lain adalah : 1. Diameter bunga Diameter bunga diukur dari diameter bunga yang terlebar pada saat pengamatan menggunakan alat ukur jangka sorong. 2. Jumlah petal bunga yang membuka Jumlah petal bunga dihitung dari helaian petal bunga yang membuka pada saat pengamatan. 3. Tingkat kesegaran bunga Tingkat kesegaran bunga potong dilihat dari persentase mahkota yang masih segar pada setiap lapisan dengan skoring 1= 0-25%, 2= 25-50%, 3= 50-75%, 4= % Warna petal bunga Warna bunga diukur menggunakan mini color chart dari RHS (Royal Horticulture Society) dan tingkatan perubahan warna diperoleh menggunakan skoring 1 = RHS 41A, 2 = RHS 41A 44A, 3 = RHS 44A, 4 = RHS 44A RHS 47A, 5 = RHS 47A, 6 = RHS 47A 45A, 7 = RHS 45A. 45A 47A 44A 41A

30 18 (a) (b) (c) Gambar 1. Warna Bunga RHS 45A (a), RHS 47A (b), RHS 44A (c) 5. Gejalaa serangan hama dan penyakit Gejala dapat dilihat apabila larutan keruh, terdapat hifa cendawan, dan terjadi busuk pada batang atau bunga. 6. ph awal larutan Pengukuran ph larutan pulsing menggunakan kertas indikator ph untuk menentukan derajat keasaman larutan. Bunga potong menyerap larutan pada ph optimal antara Tingkat Kemekaran Bunga Tingkat kemekaran bunga dinilai berdasarkan keadaan fisik bunga anyelir. Keadaan fisik ditentukan oleh indeks kemekaran bunga seperti dalam Tabel 1. Bunga dinyatakan mekar apabila telah mencapai indeks 4. Tabel 1. Tingkat kemekaran bunga potong anyelir Indeks Kriteria kemekaran bunga Kemekaran (Criteriaa of bud opening) Bunga 1 Petal terluar sedikit membuka 1-2 helai (0-10%), petal bagian dalam masih tertutup rapat, petal membuka 1-2 helai 2 Petal luar membuka sedikit lebih lebar (11-25%), petal bagian dalam mulai merenggang rapat 3 Petal terluar membuka 26-50%, petal bagian dalam merenggang, ornamen bunga (putik dan benang sari) belum tampak (masih tertutup petal terdalam) 4 Petal terluar membuka semua diikutii oleh petal pada lapisan bagian dalam (51-75%), ornamen bunga mulai terlihat 5 Petal membuka hampir seluruhnya (76-100%), ornamen bunga mulai tampak terlihat seluruhnya (Amiarsi dan Tejasarwana, 2011, dimodifikasi)

31 19 (a) (b) (c) (d) Gambar 1. Kriteria Tingkat Kemekaran Bunga Potong Anyelir 1 : 0-10% (a), 2 : 11-25% (b), 3 : 26-50% (c), 4 : 51-75% (d), 5 : % (e). 8. Jumlah tangkai bunga yang patah : Jumlah tangkai bunga yang patah saat pengamatan (jumlah tangkai bunga patah tidak termasuk tangkai bunga yang bent neck). 9. Jumlah tangkai bunga yang mengalami bent neck (tangkai bunga terkulai). 10. Vaselife Vaselife atau masa kesegaran adalah lamanya waktu (hari) bunga dalam penyimpanan, dihitung dari waktu setelah pemetikan sampai 50 persen bunga yang telah mekar mengalami kelayuan (Sari, 2008). 11. Volume larutan pulsing terserap, diukur dari selisih volume larutan awal dan volume larutan akhir pada saat pulsing. 12. Volume larutan holding terserap, diukur dari selisih volume larutan awal dan volume larutan akhir pada saat holding. (e)

32 20 HASIL DAN PEMBAHASAN Percobaan Pertama Percobaan pertama dilakukan di Laboratorium Pascapanen dengan suhu ruang simpan 25 o C. Hasil dari percobaan pertama menunjukkan bahwa konsentrasi chitosan yang digunakan tidak memberikan pengaruh nyata terhadap diameter bunga, tingkat kesegaran bunga potong anyelir, vaselife dan volume larutan holding terserap. Konsentrasi chitosan yang digunakan dalam perlakuan belum dapat meningkatkan vaselife bunga potong anyelir karena konsentrasi chitosan 0.1, 0.5 dan 1 ppm memiliki respon yang sama dengan kontrol (tanpa chitosan). Tabel 2. Rata-Rata Diameter Bunga Potong Anyelir pada Penyemprotan Chitosan di Suhu Ruang Perlakuan Hari Setelah Panen (HSP) Chitosan (ppm) Uji F tn tn tn tn tn tn Keterangan : tn = tidak berpengaruh nyata Tabel 3. Rata-Rata Tingkat Kesegaran Bunga Potong Anyelir pada Penyemprotan Chitosan di Suhu Ruang Hari Setelah Panen (HSP) Perlakuan S R S R S R S R S R S R Chitosan (ppm) H P 1.00 tn 1.00 tn 0.09 tn 0.32 tn 0.32 tn 0.10 tn Keterangan : H = nilai Uji Kruskal Wallis, *) = P value < 0.05, tn) = P value > 0.05, S : Skor, R : Peringkat

33 Berdasarkan Tabel 2 dan 3, karakteristik diameter bunga dan kesegaran secara umum sama. Semua perlakuan memiliki tangkai bunga layu mulai hari ke 6 hingga hari ke 10. Kesegaran untuk semua perlakuan konstan hingga hari ke 10 kecuali perlakuan chitosan 0.1 ppm yang tetap mengalami penurunan kesegaran. Tabel 4. Rata-rata Vaselife dan Volume Larutan Holding Terserap Bunga Potong Anyelir pada Penyemprotan Chitosan di Suhu Ruang Chitosan (ppm) Vaselife (hari) Volume Terserap (ml) uji F tn tn KK Keterangan : tn = tidak berpengaruh nyata 21 Berdasarkan Tabel 4, perlakuan konsentrasi chitosan tidak berpengaruh terhadap vaselife dan volume larutan holding terserap bunga potong anyelir. Vaselife bunga terlama diperoleh pada perlakuan kontrol (tanpa chitosan). Perlakuan pada bunga potong anyelir tanpa konsentrasi chitosan mampu menunjukkan vaselife selama 10 hari. Jumlah air terserap terbanyak terjadi pada perlakuan chitosan 0.1 ppm, sementara air yang diserap paling sedikit adalah perlakuan chitosan 0.5 ppm dan chitosan 1 ppm. Perlakuan chitosan dengan konsentrasi rendah (0.1, 0.5 dan 1 ppm) belum memberikan efek dalam meningkatkan vaselife bunga potong anyelir. Keragaan bunga potong anyelir 10 HSP dapat dilihat pada Gambar 2.

34 22 a. Chitosan 0 ppm b. Chitosan 0.1 ppm c. Chitosan 0.5 ppm d. Chitosan 1 ppm Gambar 2. Kondisi Bunga Potong Anyelir saat 10 HSP. Chitosan 0 ppm (a), Chitosan 0.1 ppm (b), Chitosan 0.5 ppm (c), Chitosan 1 ppm (d). Percobaan Kedua Percobaan kedua dilakukan di ruang cold storage dengan suhu penyimpanan o C. Hasil dari percobaan kedua menunjukkan bahwa konsentrasi larutan pulsing yang digunakan tidak memberikan pengaruh terhadap diameter bunga, jumlah petal bunga membuka, tingkat kesegaran bunga, tingkat kemekaran bunga, dan vaselife namun berpengaruh nyata terhadap volume larutan yang terserap pada saat pulsing. Tabel 5. Rata-Rata Diameter Bunga Potong Anyelir pada Perendaman Tangkai Bunga dalam Larutan Pulsing Selama 24 Jam di Cold Storage Perlakuan Hari Setelah Panen (HSP) AQ AQ+sukrosa 3% AQ+sukrosa 3%+SA 100 ppm AQ+sukrosa 3%+BAP 5 ppm AQ+sukrosa 3%+SA 100 ppm+bap 5 ppm Uji F tn tn tn tn tn tn Keterangan : tn = tidak berpengaruh nyata

35 23 Berdasarkan Tabel 5 dan 6, konsentrasi larutan pulsing tidak memberikan pengaruh nyata terhadap diameter bunga dan kesegaran bunga. Perlakuan larutan pulsing akuades + sukrosa 3% + asam salisilat 100 ppm memberikan peringkat tertinggi dengan tingkat kesegaran 3 (Tabel 6), meskipun memiliki pengaruh yang sama dengan perlakuan lainnya. Hal ini diduga larutan akuades + sukrosa 3% + asam salisilat 100 ppm bersifat asam yang memiliki derajat keasaman (ph) 3. Berdasarkan Tabel 7, perlakuan larutan pulsing tidak berpengaruh terhadap vaselife dan volume larutan holding terserap bunga potong anyelir. Vaselife bunga terlama diperoleh pada perlakuan akuades+sukrosa 3%+SA 100 ppm. Perlakuan larutan pulsing berpengaruh sangat nyata terhadap volume larutan yang diserap bunga potong pada saat pulsing, larutan akuades+sukrosa 3%+SA 100 ppm+bap 5 ppm merupakan larutan dengan volume terbanyak yang diserap bunga potong pada saat pulsing. Larutan yang bersifat asam mencegah penyumbatan pada batang yang disebabkan oleh bakteri (Amiarsi et al., 2003) sehingga larutan bergerak lebih cepat dan penyerapan nutrisi bunga potong maksimum. Sukrosa berperan untuk kesegaran kuncup karena sukrosa merupakan karbohidrat yang berguna dalam pemekaran bunga (Amiarsi dan Tejasarwana, 2011). Keragaan bunga potong anyelir 21 HSP dapat dilihat pada Gambar 3. (a) (b) (c) (d) (e) Gambar 3. Kondisi Bunga Potong Anyelir saat 21 HSP. Komposisi Akuades (a), Komposisi Akuades + Sukrosa 3% (b), Komposisi Akuades + Sukrosa 3% + Asam Salisilat 100 ppm (c), Komposisi Akuades + Sukrosa 3% + BAP 5 ppm (d), Komposisi Akuades + Sukrosa 3% + Asam Salisilat 100 ppm + BAP 5 ppm (e).

36 Tabel 6. Rata-Rata Tingkat Kesegaran Bunga Potong Anyelir pada Perendaman Tangkai Bunga dalam Larutan Pulsing Selama 24 Jam di Cold Storage Hari Setelah Panen (HSP) Perlakuan S R S R S R S R S R S R AQ AQ+sukrosa 3% AQ+sukrosa 3%+SA 100 ppm AQ+sukrosa 3%+BAP 5 ppm AQ+sukrosa 3%+SA 100 ppm+bap 5 ppm H P 1.00 tn 1.00 tn 0.94 tn 0.55 tn 0.10 tn 0.38 tn Keterangan : H = nilai Uji Kruskal Wallis, *) = P value < 0.05, tn) = P value > 0.05, S = skor, R = peringkat 24

37 Tabel 7. Rata-rata Vaselife, Volume Larutan Pulsing dan Holding Terserap Bunga Potong Anyelir pada Perendaman Tangkai Bunga dalam Larutan Pulsing Selama 24 Jam di Cold Storage Perlakuan Vaselife (hari) Larutan Pulsing (ml) Larutan Holding (ml) AQ bc 9.16 AQ+sukrosa 3% b AQ+sukrosa 3%+SA b ppm AQ+sukrosa 3%+BAP c ppm AQ+sukrosa 3%+SA a ppm+bap 5 ppm uji F tn ** tn KK Keterangan : tn = tidak berpengaruh nyata, **) = berpengaruh sangat nyata 25 Percobaan Ketiga Bunga potong anyelir diperoleh dari kebun bunga potong PT. Rose Farm yang berlokasi di kawasan puncak, Cisarua, Jawa Barat. Kebun terletak pada ketinggian ± 900 m di atas permukaan laut, serta mempunyai suhu rata-rata o C. Suhu di cold storage diatur antara o C sehingga lingkungan penelitian homogen. Rata-rata suhu bola basah yaitu o C dan rata-rata suhu bola kering o C dengan kelembaban udara 89-90%. Percobaan dilakukan selama 25 hari dan pengamatan dilakukan setiap hari. (a) (b) (c) Gambar 4. Bunga Potong Anyelir Setelah Panen Sebelum Perlakuan (a), Bunga Potong Anyelir Setelah Perlakuan Pulsing (b), Bunga Potong Anyelir Terserang Cendawan (c). Secara umum, kondisi awal semua bunga potong anyelir yang digunakan sangat baik dengan tingkat kemekaran bunga 5 % (sedikit membuka). Pada hari keenam pengamatan terdapat tiga tangkai bunga yang terserang cendawan. Hal ini

38 26 diduga adanya butiran air yang tidak mengering pada mahkota bunga setelah dilakukan penyemprotan chitosan dan kondisi ruang simpan yang lembab. Larutan pulsing yang digunakan memiliki derajat keasaman (ph) yang berbedabeda yaitu larutan akuades memiliki ph 7, larutan akuades+sukrosa 3% memiliki ph 4, larutan akuades+sukrosa 3%+SA 100 ppm memiliki ph 3, larutan akuades+sukrosa 3%+BAP 5 ppm memiliki ph 9, larutan akuades+sukrosa 3%+SA 100 ppm+bap 5 ppm memiliki ph 10. Selama pengamatan tidak ditemukan tangkai bunga yang mengalami bent neck. Tangkai bunga patah terdapat pada pengamatan 21, 24, dan 25 HSP pada perlakuan akuades+sukrosa 3%+asam salisilat 100 ppm tanpa chitosan, perlakuan akuades+sukrosa 3%+BAP 5 ppm + konsentrasi chitosan 1 ppm, dan perlakuan akuades + chitosan 0.5 ppm. Pemberian komposisi larutan pulsing ke dalam larutan perendam dan penyemprotan chitosan dengan konsentrasi berbeda pada permukaan bunga, menunjukkan pengaruh dan interaksi yang nyata terhadap diameter bunga dan jumlah petal bunga yang membuka. Rekapitulasi hasil sidik ragam pada keragaan bunga potong anyelir dapat dilihat pada Lampiran 2. Berdasarkan Lampiran 2, komposisi larutan pulsing mulai berpengaruh nyata terhadap parameter pengamatan mulai 20 HSP sampai 25 HSP. Konsentrasi chitosan tidak berpengaruh nyata terhadap warna bunga, tingkat kemekaran bunga, tingkat kesegaran bunga, dan vaselife, namun konsentrasi chitosan berpengaruh nyata terhadap diameter bunga pada 25 HSP, jumlah petal bunga membuka pada 15 dan 25 HSP dan larutan yang diserap bunga pada saat holding. Diameter Bunga. Berdasarkan data hasil analisis (Tabel 8) terlihat bahwa perlakuan larutan pulsing akuades+sukrosa 3%+BAP 5 ppm berpengaruh nyata meningkatkan diameter bunga potong anyelir pada 13 sampai 19 HSP. Pada 20 dan 21 HSP perlakuan larutan pulsing tidak berpengaruh nyata terhadap diameter bunga potong kemudian pada 22 sampai 25 HSP komposisi larutan pulsing kembali berpengaruh nyata terhadap diameter bunga potong.

39 Tabel 8. Rata-rata Diameter Bunga Potong Anyelir pada Perendaman Tangkai Bunga dalam Larutan Pulsing Selama 24 Jam dan Penyemprotan Chitosan di Cold Storage Perlakuan Hari Setelah Panen (HSP) cm AQ b bc AQ + S 3% ab c AQ + S 3%+SA 100 ppm a abc AQ + S 3%+BAP 5 ppm a a AQ + S 3%+SA 100 ppm+bap ab ab ppm uji F tn tn tn * tn * Chitosan (ppm) a ab b a uji F tn tn tn tn tn * Interaksi tn tn tn tn ** * Keterangan : Nilai pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf 5%. HSP:hari setelah panen. tn) : tidak berpengaruh nyata *) : berpengaruh nyata pada taraf 5% **) : berpengaruh nyata pada taraf 1 % Perlakuan larutan pulsing dapat meningkatkan diameter bunga potong anyelir sampai hari ke 18, setelah itu diameter mengalami penurunan sampai bunga layu. Interaksi yang sangat nyata antara pemberian larutan pulsing dengan berbagai konsentrasi chitosan terhadap diameter bunga, terjadi pada 20 HSP. Interaksi yang nyata terjadi saat 25 HSP,sedangkan pada 0, 5, 10, dan 15 HSP terjadi interaksi yang tidak nyata. Berdasarkan Tabel 9, interaksi pemberian perlakuan pulsing akuades+sukrosa 3%+BAP 5 dan chitosan 0 ppm menunjukkan diameter terlebar dibandingkan chitosan 0.1, 0.5, dan 1 ppm pada 20 dan 25 HSP. Pada interaksi perlakuan chitosan 0 ppm dan larutan pulsing akuades+sukrosa 3% menunjukkan diameter terpendek dibandingkan perlakuan pulsing lainnya pada 20 dan 25 HSP. Konsentrasi chitosan belum menunjukkan pengaruh terhadap 27

40 28 diameter bunga potong anyelir. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan larutan pulsing akuades+sukrosa 3%+BAP 5 ppm tanpa chitosan mampu meningkatkan ukuran diameter bunga. Tabel 9. Rata-rata Diameter Bunga Potong Anyelir Pengaruh Interaksi Perendaman Tangkai Bunga dalam Larutan Pulsing Selama 24 Jam dan Penyemprotan Chitosan di Cold Storage Larutan Pulsing Chitosan (ppm) HSP AQ 6.36 Aa 6.28 Aa 5.31 Bb 6.27 Aa AQ+sukrosa 3% 5.03 Bb 6.69 Aa 6.62 Aa 6.36 Aa AQ+sukrosa 3%+SA 100 ppm 6.69 Aa 6.50 Aa 5.86 Aab 6.54 Aa AQ+sukrosa 3%+BAP 6.80 Aa 6.64 Aa 6.19 Aab 6.75 Aa 5 ppm AQ+sukrosa 3%+SA 100 ppm+bap 5 ppm 6.67 Aa 6.09 Aa 6.46 Aab 6.38 Aa HSP AQ 5.31 Aba 5.38 ABa 4.27 Bb 5.46 Aa AQ+sukrosa 3% 4.08 Ab 5.19 Aa 4.77 Aab 5.12 Aa AQ+sukrosa 3%+SA 5.91 Aa 5.87 Aa 4.22 Bb 5.40 Aa 100 ppm AQ+sukrosa 3%+BA 5 ppm 6.44 Aa 5.56 Aa 5.35 Aab 5.83 Aa AQ+sukrosa 3%+SA 100 ppm+ba 5 ppm 6.09 Aa 4.67 Ba 5.74 Aba 5.62 Aba Keterangan : Nilai yang diikuti huruf kapital pada baris (pulsing) yang sama atau huruf kecil pada kolom (chitosan) yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf 5%. HSP:hari setelah panen. Jumlah Petal Bunga Membuka. Pengamatan terhadap jumlah petal bunga membuka pada bunga anyelir dilakukan dengan cara menghitung jumlah petal membuka pada bunga setiap pengamatan. Berdasarkan data hasil uji statistik yang ditampilkan pada Tabel 10 dapat diketahui bahwa perlakuan larutan pulsing akuades+sukrosa 3%+BAP 5 ppm berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah petal bunga membuka pada 21 HSP sampai 25 HSP. Chitosan 0.1 ppm berpengaruh nyata pada 15 HSP dan chitosan 0 ppm berpengaruh sangat nyata pada 25 HSP. Interaksi perlakuan larutan pulsing akuades+sukrosa 3%+BAP 5 ppm dan chitosan 0 ppm berpengaruh sangat nyata pada 25 HSP. Perlakuan pulsing akuades+sukrosa 3%+BAP 5 ppm mampu mempertahankan kesegaran

41 bunga hingga jumlah petal bunga masih membuka pada 25 HSP dengan jumlah petal bunga terbanyak. 29 Tabel 10. Rata-rata Jumlah Petal Bunga Membuka Bunga Potong Anyelir pada Perendaman Tangkai Bunga dalam Larutan Pulsing Selama 24 Jam dan Penyemprotan Chitosan di Cold Storage Perlakuan Hari Setelah Panen (HSP) AQ c AQ + S 3% c AQ + S 3%+SA 100 ppm bc AQ + S 3%+BAP 5 ppm a AQ + S 3%+SA 100 ppm+bap b ppm uji F tn tn tn tn tn ** Chitosan (ppm) b a a ab b c b bc uji F tn tn tn * tn ** Interaksi tn tn tn tn tn ** Keterangan : Nilai pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf 5%. HSP:hari setelah panen. tn) : tidak berpengaruh nyata, *) : berpengaruh nyata pada taraf 5%, **) : berpengaruh nyata pada taraf 1 % Tabel 11. Rata-rata Jumlah Petal Membuka Bunga Potong Anyelir Pengaruh Interaksi Perendaman Tangkai Bunga dalam Larutan Pulsing Selama 24 Jam dan Penyemprotan Chitosan di Cold Storage Larutan Pulsing Chitosan (ppm) HSP AQ 2.00 Ac 3.33Abc 0.00 Ab 3.00 Aa AQ+sukrosa 3% 2.00 Ac 2.33Abc 0.66 Ab 0.66 Aa AQ+sukrosa 3%+SA 100 ppm 4.66Abc 4.66Aab 0.00 Ab 2.33 Aa AQ+sukrosa 3%+BAP 5 ppm 14.00Aa 11.66Aa 2.00 Bb 5.33Aba AQ+sukrosa 3%+SA 100 ppm+bap 5 ppm 9.33Aab 0.00 Bc 7.00 Aa 1.66 Ba Keterangan : Nilai yang diikuti huruf kapital pada baris (pulsing) yang sama atau huruf kecil pada kolom (chitosan) yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf 5%. HSP:hari setelah panen.

42 30 Interaksi yang sangat nyata antara pemberian larutan pulsing dengan berbagai konsentrasi chitosan terhadap jumlah petal bunga membuka, terjadi pada 25 HSP. Berdasarkan Tabel 11, interaksi perlakuan larutan pulsing akuades+sukrosa 3%+BAP 5 ppm dan chitosan 0.5 ppm menunjukkan bahwa jumlah petal terkecil dibandingkan dengan konsentrasi chitosan 0, 0.1, dan 1 ppm pada 25 HSP. Pada perlakuan konsentrasi chitosan 0 ppm dan larutan pulsing akuades+sukrosa 3%+BAP 5 ppm menunjukkan jumlah petal bunga terbanyak dibandingkan perlakuan pulsing lainnya. Pemberian pulsing dapat meningkatkan jumlah petal bunga yang membuka hingga 18 HSP. Warna Petal Bunga. Berdasarkan hasil uji pengaruh komposisi larutan pulsing terhadap warna bunga potong anyelir (Tabel 12) dapat diketahui bahwa dari keempat macam jenis komposisi larutan pulsing yang digunakan, komposisi larutan pulsing akuades+sukrosa 3%+BAP 5 ppm berpengaruh nyata terhadap warna bunga potong anyelir pada 22 dan 25 HSP, sedangkan perlakuan chitosan dan interaksi kedua perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap warna bunga. Tingkat Kemekaran Bunga. Tingkat kemekaran bunga diukur menggunakan skoring. Berdasarkan data hasil uji statistik yang ditampilkan pada Tabel 13 dapat diketahui bahwa interaksi perlakuan pulsing akuades+sukrosa 3%+BAP 5 ppm dengan chitosan 0 ppm berpengaruh nyata terhadap tingkat kemekaran bunga potong anyelir pada 25 HSP dengan tingkat kemekaran bunga 4. Perlakuan chitosan tidak berpengaruh terhadap tingkat kemekaran bunga. Hal ini menunjukkan bahwa larutan pulsing akuades+sukrosa 3%+BAP 5 ppm mampu mempertahankan tingkat kemekaran bunga potong.

43 Tabel 12. Rata-rata Warna Bunga Potong Anyelir pada Perendaman Tangkai Bunga dalam Larutan Pulsing Selama 24 Jam dan Penyemprotan Chitosan di Cold Storage Hari Setelah Panen (HSP) Perlakuan S R S R S R S R S R S R AQ AQ+sukrosa 3% AQ+sukrosa 3%+SA 100 ppm AQ+sukrosa 3%+BA 5 ppm AQ+sukrosa 3%+SA 100 ppm+ba 5 ppm H P * 0.02 * Chitosan (ppm) H P tn 0.41 tn 0.28 tn Keterangan : H = nilai Uji Kruskal Wallis, *) = P value < 0.05, tn) = P value > 0.05, 1 = RHS 41A, 2 = RHS 41A 44A, 3 = RHS 44A, 4 = RHS 44A RHS 47A, 5 = RHS 47A, 6 = RHS 47A 45A, 7 = RHS 45A, S = skor, R = peringkat 31

44 Tabel 13. Rata-rata Tingkat Kemekaran dan Tingkat Kesegaran Bunga Potong Anyelir pada Perendaman Tangkai Bunga dalam Larutan Pulsing Selama 24 Jam dan Penyemprotan Chitosan di Cold Storage Hari Setelah Panen (HSP) Perlakuan Mekar Segar Mekar Segar Mekar Segar Larutan Pulsing Chitosan S R S R S R S R S R S R AQ AQ+sukrosa 3% AQ+sukrosa 3%+SA 100 ppm AQ+sukrosa 3%+BAP 5 ppm AQ+sukrosa %+SA ppm+bap ppm H P Keterangan : H = nilai Uji Kruskal Wallis, *) = P value < 0.05, tn) = P value > 0.05, S = skor, R = peringkat 32

45 Tabel 13. (Lanjutan) Rata-rata Tingkat Kemekaran dan Tingkat Kesegaran Bunga Potong Anyelir pada Perendaman Tangkai Bunga dalam Larutan Pulsing Selama 24 Jam dan Penyemprotan Chitosan di Cold Storage Hari Setelah Panen (HSP) Perlakuan Mekar Segar Mekar Segar Mekar Segar Larutan Pulsing Chitosan S R S R S R S R S R S R AQ AQ+sukrosa 3% AQ+sukrosa 3%+SA 100 ppm AQ+sukrosa 3%+BAP 5 ppm AQ+sukrosa %+SA ppm+bap ppm H P * 0.02 * Keterangan : H = nilai Uji Kruskal Wallis, *) = P value < 0.05, tn) = P value > 0.05, S = skor, R = peringkat 33

46 34 Tingkat Kesegaran Bunga. Berdasarkan hasil uji pengaruh komposisi larutan pulsing dan konsentrasi chitosan terhadap kesegaran bunga potong anyelir (Tabel 13) dapat diketahui bahwa, interaksi komposisi larutan pulsing akuades+sukrosa 3%+BAP 5 ppm dan chitosan 0 ppm berpengaruh nyata mempertahankan kesegaran bunga potong anyelir pada 25 HSP. Kesegaran bunga potong anyelir Dianthus caryophyllus semakin menurun sampai 25 HSP, namun perlakuan pulsing akuades+sukrosa 3%+BAP 5 ppm mampu mempertahankan kesegaran dengan tingkat kesegaran 4. Pada 25 HSP perlakuan larutan pulsing akuades dan larutan pulsing akuades+sukrosa 3% memiliki tingkat kesegaran terendah dibandingkan perlakuan pulsing lainnya. Larutan Pulsing Terserap. Berdasarkan Tabel 14, perlakuan komposisi larutan pulsing tidak berpengaruh nyata terhadap volume larutan yang diserap bunga pada saat pulsing. Rata-rata larutan pulsing terserap terbanyak diperoleh pada perlakuan akuades+sukrosa 3%+BAP 5 ppm. Penyimpanan bunga pada suhu rendah menyebabkan penyerapan yang sama antar perlakuan pada saat perlakuan pulsing. Tabel 14. Rata-rata Volume Pulsing Terserap (ml) pada Perendaman Tangkai Bunga Anyelir dalam Larutan Pulsing Selama 24 Jam di Cold Storage Larutan Pulsing ph Volume Terserap (ml) AQ AQ+sukrosa 3% AQ+sukrosa 3%+SA 100 ppm AQ+sukrosa 3%+BAP 5 ppm AQ+sukrosa 3%+SA 100 ppm+bap 5 10 ppm Uji F tn KK Keterangan : tn = tidak berpengaruh nyata KK = Koefisien Keragaman Larutan Holding Terserap. Berdasarkan Tabel 15, perlakuan chitosan berpengaruh nyata terhadap volume larutan yang diserap bunga saat penyimpanan. Larutan pulsing dan interaksi kedua perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap

47 35 larutan terserap saat holding. Rata-rata volume larutan terserap terbanyak pada saat penyimpanan yaitu pada perlakuan chitosan 1 ppm. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian chitosan mampu menghambat transpirasi pada bunga sehingga bunga menyerap air lebih banyak untuk menjaga turgiditas sel agar tetap segar. Tabel 15. Rata-rata Larutan Holding Terserap pada Perendaman Tangkai Bunga Potong Anyelir dalam Larutan Pulsing Selama 24 Jam dan Penyemprotan Chitosan di Cold Storage Larutan Pulsing Chitosan (ppm) Rataan Larutan Holding Terserap ml AQ AQ+S 3% AQ+S 3%+SA 100 ppm AQ+S 3%+BAP 5 ppm AQ+S 3%+SA 100 ppm+bap 5 ppm Rataan b b b a Keterangan : Nilai pada baris dan kolom interaksi yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf 5%. Vaselife. Pemberian larutan pulsing dan interaksi kedua perlakuan berpengaruh terhadap masa simpan / vaselife bunga potong anyelir. Berdasarkan Tabel 16, dari kelima larutan pulsing kecuali larutan akuades dan larutan akuades+sukrosa3%, menghasilkan vaselife terlama yaitu hari. Pada perlakuan larutan pulsing, kesegaran bunga terlama yaitu hari diperoleh pada pemberian larutan akuades+sukrosa 3%+SA 100 ppm+bap 5 ppm. Menurut Mattjik (2010) bunga anyelir tanpa perlakuan pascapanen hanya dapat bertahan 6-9 hari. Pemberian larutan akuades+sukrosa 3%+BAP 5 ppm pada penyimpanan dingin dapat meningkatkan vaselife selama 15 hari. Berdasarkan interaksi kedua perlakuan, konsentrasi chitosan 0 ppm dan perlakuan pulsing dengan penambahan asam salisilat dan BAP mampu meningkatkan vaselife hingga 25 hari. Perlakuan pulsing akuades+sukrosa 3% memberikan vaselife tercepat yaitu selama hari.

48 Tabel 16. Rata-rata Vaselife Bunga Potong Anyelir pada Perendaman Tangkai Bunga dalam Larutan Pulsing Selama 24 Jam dan Penyemprotan Chitosan di Cold Storage Larutan Pulsing Chitosan (ppm) hari Rataan AQ 21.80Aa 21.80Aa 22.20Aa 21.40Aa b AQ+sukrosa 3% 17.80Bb 23.40Aa 23.40Aa 22.00ABa b AQ+sukrosa 3%+SA 100 ppm 24.80Aa 21.40Aa 23.40Aa 23.60Aa ab AQ+sukrosa 3%+BAP 5 ppm 25.00Aa 24.20Aa 23.60Aa 24.80Aa a AQ+sukrosa 3%+SA 100 ppm+bap Aa 24.20Aa 21.80Aa 24.20Aa a ppm Rataan A A A A Keterangan : Nilai yang diikuti huruf kapital pada baris (pulsing) yang sama atau huruf kecil pada kolom (chitosan) yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf 5%. HSP:hari setelah panen. 36 Pembahasan Respirasi adalah proses pemecahan komponen organik (karbohidrat, lemak dan protein) menjadi produk yang lebih sederhana dan energi (Santoso, 2005). Aktivitas ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan energi sel agar tetap hidup. Komoditi dengan laju respirasi tinggi akan menunjukkan kecenderungan lebih cepat rusak. Manipulasi faktor ini dapat dilakukan dengan teknik pelapisan (coating), penyimpanan pada suhu rendah, atau memodifikasi atmosfir ruang penyimpanan. Laju respirasi pada kebanyakan bunga potong memuncak pada saat mekar bunga, dan kemudian menurun selama proses pematangan dan senesen. Selanjutnya terjadi puncak kedua respirasi yang sangat singkat dan kemudian menurun kembali. Upaya penundaan senesen pada bunga ditujukan pada penundaan tercapainya puncak kedua respirasi tersebut. Salah satu penundaan tersebut dengan menggunakan komposisi larutan sukrosa, asam salisilat, dan sitokinin sintetik yaitu 6-benzylaminopurin ataupun dengan cara penyemprotan bahan organik chitosan ke seluruh permukaan bunga potong.

49 37 Pada kebanyakan bunga atau tanaman hias potong terdapat dua stadia fisiologi yang berbeda. Stadia pertama adalah pertumbuhan dan perkembangan kuncup bunga hingga stadia mekar penuh. Stadia kedua adalah kematangan, senesen, dan kemudian kelayuan. Hasil percobaan pertama menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi chitosan tidak berpengaruh terhadap vaselife bunga potong anyelir. Chitosan dengan konsentrasi tertentu mampu melapisi permukaan bunga dan menekan laju respirasi dan transpirasi (Chutichudet and Chutichudet, 2011), namun dalam percobaan ini diduga dengan konsentrasi rendah efek chitosan belum terlihat. Hasil percobaan kedua menunjukkan bahwa perlakuan komposisi larutan pulsing tidak berpengaruh terhadap vaselife bunga potong anyelir White Corso. Vaselife terlama terdapat pada perlakuan akuades + sukrosa 3% + asam salisilat 100 ppm yaitu 21 hari. Asam salisilat dan sukrosa terbukti efektif menunda senesen dan kelayuan pada bunga anyelir potong (pink) serta mampu meningkatkan vaselife bunga (Kazemi et al., 2011). Hasil percobaan ketiga menunjukkan bahwa rata-rata diameter terlebar diperoleh pada perlakuan larutan pulsing akuades+sukrosa 3%+BAP 5 ppm. Perlakuan chitosan tidak berpengaruh nyata terhadap diameter bunga. Larutan pulsing dapat meningkatkan diameter bunga potong anyelir sampai hari ke 18 (diameter optimum), setelah itu diameter mengalami penurunan sampai bunga mati. Peningkatan diameter bunga diduga karena pemberian sukrosa dan BAP (sitokinin) pada larutan pulsing. Pemberian sukrosa berfungsi sebagai nutrisi bunga potong selama penyimpanan karena sukrosa (gula) merupakan sumber energi yang efektif bagi kehidupan bunga setelah dipotong dari induknya dan juga merupakan karbohidrat yang berguna dalam pertumbuhan dan pemekaran kuncup (Halevy dan Mayak, 1981). Konsentrasi sitokinin di mahkota bunga anyelir menurun sejalan dengan bertambahnya umur penyimpanan. Penambahan sitokinin dapat memperlambat proses penuaan yang disebabkan oleh etilen pada tanaman sehingga diameter bunga terus meningkat hingga diameter optimum yaitu pada 18 HSP. Pada anyelir, larutan yang mengandung dihidrozeatin atau benziladenin terbukti paling efektif untuk memperlambat proses penuaan (Salisbury dan Ross, 1995). Rata-rata diameter bunga tertinggi diperoleh pada interaksi perlakuan akuades+sukrosa

50 38 3%+BAP 5 ppm tanpa chitosan. Penggunaan larutan perendam ini dapat digunakan untuk mempertahankan diameter mahkota bunga meskipun tanpa perlakuan chitosan dan dinilai lebih ekonomis untuk menekan biaya dalam mempertahankan vaselife bunga potong. Perlakuan komposisi larutan pulsing, konsentrasi chitosan, dan interaksi kedua perlakuan berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah petal bunga membuka pada 25 HSP. Rata-rata jumlah petal bunga membuka terbanyak diperoleh pada perlakuan larutan pulsing akuades+sukrosa 3%+BAP 5 ppm dan perlakuan tanpa chitosan (kontrol). Selain pengaruh sukrosa sebagai bahan baku respirasi untuk menghasilkan energi, juga disebabkan oleh konsentrasi BAP (sitokinin sintetik) dalam larutan pulsing. Hal ini diduga bahwa, BAP diserap oleh tangkai bunga potong anyelir kemudian diangkut melalui xilem ke seluruh bagian bunga. Sitokinin bergerak ke pangkal tangkai daun dan tertimbun di daun. Penimbunan sitokinin di tangkai menunjukkan bahwa helai daun dewasa dapat memasok sitokinin ke daun muda dan jaringan muda lainnya melalui floem sehingga menyebabkan pertambahan jumlah petal bunga yang membuka. Rata-rata jumlah petal bunga membuka tertinggi untuk perlakuan chitosan diperoleh pada konsentrasi 0 ppm. Konsentrasi chitosan belum menunjukkan pengaruh terhadap jumlah petal membuka bunga potong anyelir. Rata-rata nilai skoring warna tertinggi bunga potong anyelir diperoleh pada larutan pulsing akuades+sukrosa 3%+BAP 5 ppm. Berdasarkan Royal Horticulture Society (RHS) mini color chart, skala warna mahkota bunga setelah diberi perlakuan larutan pulsing akuades+sukrosa 3%+BAP 5 ppm tetap pada 45A. Proses hilangnya warna merupakan gejala umum kebanyakan senesen beberapa bunga potong. Dua komponen utama bunga seperti karotenoid dan anthosianin bertanggung jawab terhadap warna bunga. Perubahan warna pada petal yang sedang mengalami senesen sangat dipengaruhi oleh perubahan ph vakuola. Proses perubahan warna petal bunga yang semulanya berwarna merah disebabkan penuaan dan peningkatan ph vakuola. Hal ini dikarenakan selama proses perubahan tersebut berlangsung, perusakan protein terjadi sehingga meningkatkan kandungan amonia bebas. Vakuola merupakan tempat menyimpan senyawa organik seperti protein yang ditumpuk dalam vakuola sel. Sebagian vakuola

51 39 mengandung banyak pigmen yang mewarnai sel tersebut, seperti pigmen merah dan biru dari mahkota bunga. Tingkat kemekaran bunga dapat dilihat dari jumlah petal bunga yang membuka. Tingkat kemekaran bunga tertinggi diperoleh pada interaksi perlakuan akuades+sukrosa 3%+BAP 5 ppm dan konsentrasi chitosan 0 ppm pada 25 HSP. Bunga potong mampu mempertahankan kemekaran karena sukrosa mampu memberikan nutrisi terhadap bunga dan bunga mendapat lebih cukup energi selama penyimpanan serta adanya penambahan BAP yang dapat menghambat senesen bunga. Sukrosa mempunyai kemampuan untuk menunda kelayuan yang berhubungan dengan kemampuannya untuk mendukung metabolisme sel dan menjaga integritas membran pada bunga carnation (Achock dan Nichols, 1979). Masa penyimpanan bunga potong anyelir dihitung sejak bunga potong dipanen hingga bunga mengalami 50% kelayuan. Kelayuan pada bunga anyelir ditandai dengan pembengkokan tangkai bunga, mengkerut atau mengeringnya mahkota bunga setelah mencapai kemekaran maksimum, dan perubahan warna dari merah menjadi kecoklatan. Rata-rata nilai kesegaran tertinggi pada perlakuan akuades+sukrosa 3%+SA 100 ppm+bap 5 ppm pada 25 HSP menentukan vaselife bunga potong anyelir selama penyimpanan yaitu selama 25 hari. Perlakuan tersebut tidak berbeda dengan perlakuan akuades+sukrosa 3%+BAP 5 ppm pada bunga potong yang terlihat lebih segar secara visual. Konsentrasi sitokinin alami (endogen) pada petal bunga potong menurun dengan semakin tuanya organ tersebut. Konsentrasi tersebut lebih rendah pada jenis-jenis atau kultivar yang berumur pendek dibandingkan berumur panjang. Rata-rata penyerapan larutan tertinggi pada saat pulsing yaitu pada perlakuan akuades+sukrosa 3%+BAP 5 ppm. Pemberian sitokinin dari luar ternyata dapat menunda senesen pada beberapa jenis tanaman hias. Pemberian sitokinin juga menghambat kehilangan berat kering bunga-bunga yang telah matang. Selain itu juga, sitokinin dapat merangsang penyerapan air melalui pemeliharaan keutuhan sel-sel. Konsentrasi sebesar 5 persen kinetin, dapat memperpanjang umur bunga potong anyelir dan mawar (Santoso, 2005). Pada Tabel 16 terlihat bahwa masa penyimpanan maksimum yang dicapai oleh bunga pada perlakuan akuades+sukrosa 3%+SA 100 ppm+bap 5 ppm

52 40 selama 25 hari, sedangkan masa penyimpanan minimum terjadi pada akuades+sukrosa 3% selama 18 hari. Perlakuan akuades+sukrosa 3 %+BAP 5 ppm mampu mempertahankan vaselife sampai 24 HSP. Hal ini disebabkan pada larutan terdapat sukrosa yang berfungsi sebagai energi (Amiarsi dan Tejasarwana, 2011), asam salisilat yang berfungsi sebagai pencegah munculnya bakteri atau cendawan dan BAP sebagai penghambat senesen sehingga bunga potong mampu mempertahankan vaselife-nya sampai 25 hari. Rata-rata vaselife pada perlakuan akuades+sukrosa 3%+BAP 5 ppm tidak berbeda nyata dengan perlakuan larutan pulsing akuades tanpa chitosan (kontrol). Perlakuan pulsing ini dapat mempertahankan vaselife bunga potong lebih lama dibandingkan penyimpanan bunga pada suhu ruang (6-9 hari). Hal ini disebabkan oleh suhu cold storage yang memenuhi kriteria suhu penyimpanan optimum bunga potong anyelir sehingga bunga mampu mempertahankan kesegarannya. Perlakuan larutan akuades tanpa chitosan pada suhu o C dinilai lebih ekonomis karena penggunaan larutan tanpa bahan pengawet dan bahan organik chitosan, namun perlakuan larutan pulsing akuades+sukrosa 3%+BAP 5 ppm memiliki tampilan yang lebih baik secara visual. Pada perlakuan larutan pulsing akuades, pedagang bunga hanya menyediakan ruang pendingin untuk penyimpanan bunga potong sebelum dijual ke konsumen. Pengaturan suhu rendah merupakan faktor penting dalam penyimpanan bunga potong. Penurunan suhu selama penyimpanan dapat memperlambat terjadinya senesen pada bunga dan daun sehingga bunga dapat disimpan lebih lama. Pada suhu rendah, produksi etilen pada bunga rendah dan kurang aktif. Selain suhu, intensitas transpirasi bunga potong dikontrol oleh kelembaban relatif (RH). Kelembaban yang tinggi (90-95%) optimal bagi bunga potong, sedangkan kelembaban yang rendah (70-80%) menyebabkan bunga kehilangan air dan petal akan mengalami kelayuan.

53 41 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Hasil percobaan pertama menunjukkan konsentrasi chitosan yang digunakan belum dapat meningkatkan vaselife bunga potong anyelir White Corso. Hasil dari percobaan kedua menunjukkan bahwa konsentrasi larutan pulsing yang digunakan tidak memberikan pengaruh nyata terhadap diameter bunga, jumlah petal bunga membuka, tingkat kesegaran bunga, tingkat kemekaran bunga, dan vaselife bunga potong anyelir kode 031, namun memberikan pengaruh yang nyata pada volume larutan yang diserap bunga pada saat pulsing. Hasil percobaan ketiga menunjukkan komposisi larutan pulsing dan bahan organik chitosan serta interaksi kedua perlakuan berpengaruh nyata terhadap diameter bunga dan jumlah petal membuka bunga potong anyelir kode 001. Perlakuan pulsing akuades+sukrosa 3%+BAP 5 ppm berpengaruh terhadap diameter bunga, jumlah petal bunga membuka, tingkat kemekaran bunga tertinggi di akhir penyimpanan, warna bunga, tingkat kesegaran bunga, dan vaselife sampai hari. Perlakuan pulsing akuades+sukrosa 3%+SA 100 ppm, akuades+sukrosa 3%+BAP 5 ppm, akuades+sukrosa 3%+SA 100 ppm+bap 5 ppm tanpa chitosan mampu meningkatkan vaselife bunga potong anyelir sampai 25 hari, sementara pada kontrol (larutan akuades tanpa chitosan) vaselife hanya hari. Konsentrasi chitosan tidak memberikan pengaruh terhadap kesegaran dan vaselife bunga potong anyelir selama penyimpanan. Saran Perlu dilakukan penelitian lanjutan mengenai aplikasi konsentrasi chitosan yang lebih tinggi, frekuensi aplikasi penyemprotan, dan cara aplikasi bahan organik chitosan pada bunga potong anyelir yaitu bunga potong direndam dalam larutan chitosan pada ukuran waktu tertentu.

54 42 DAFTAR PUSTAKA Abadi, D. H., B. Kaviani, S. S. Hoor, A. M. Torkashvand and R. Zarei Quality management of cut carnation Tempo with 1-MCP. African Journal of Biotechnology 8(20): Amiarsi, D., Yulianingsih, W. Broto, dan Sjaifullah Pengaruh larutan pulsing dalam pengemasan dan pengangkutan bunga mawar potong. Jurnal Hortikultura 13(4): , dan R. Tejasarwana Pengawet untuk menjaga kualitas bunga potong mawar selama penyimpanan. Jurnal Hortikultura 21(3): Badan Pusat Statistik Republik Indonesia Produksi Tanaman Hias (Tangkai) menurut Provinsi di Indonesia. Badan Pusat Statistik Republik Indonesia. Jakarta. Badan Standardisasi Nasional Standar Nasional Indonesia Bunga Potong Anyelir. Badan Standardisasi Nasional. Jakarta. 14 hal. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian Penanganan Pascapanen Tanaman Hias Bunga Potong. Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Departemen Pertanian. Jakarta. 6 hal. Banos, S. B., A. N. H. Lauzardo, M. G. V. Valle, M. H. Lopez, E. A. Barka, E. B. Molina, and C. L. Wilson Chitosan as a potential natural compound to control pre and postharvest diseases of horticultural commodities. Crop Protection 25(2): Bittelli, M., M. Flury, G. S. Campbell, and E. S. Nichols Reduction of transpiration through foliar application of chitosan. Agric. For. Meteorol. 107: Capdeville, G.D., L.A. Maffia, F.L. Finger, and U.G. Batista Gray mold severity and vase life of rose buds after pulsing with citric acid, salicylic acid, calcium sulfate, sucrose and silver thiosulfate. Phytopatol. Bras. 28(4). Chaurasia, S Carnation flower harvesting and post harvest handling. [ 30 April 2011]. Chutichudet, B. and P. Chutichudet Effects of chitosan coating to some postharvest characteristics Hylocercus undatus (Haw) Brit. and rose fruit. Int. J. Agric. Res. 6(1):82-92.

55 Dwiatmini, K., D. Herlina, dan S. Wuryaningsih Inventarisasi dan karakterisasi beberapa jenis bunga potong komersial di pasaran bunga Cipanas, Lembang, Bandung, dan Jakarta. Buletin Penelitian Tanaman Hias 2(1):7-18. Farooq, M.U Storage and vaselife of cut rose flowers as influenced by various packing materials. Int. J. Agri. Biol. 6:2. Halevy A.H., dan S. Mayak Senescence and post harvest physiology of cut flower. Hort. Rev. 3: Kazemi, M., E. Hadavi, and J. Hekmati Role of salicylic acid in decreases of membrane senescence in cut carnation flower. J. Agric. Technol. 7(5): Kristian, R. dan P. S. Amitra Asam Salisilat dari Phenol. Fakultas Teknik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Cilegon. 39 hal. Mattjik, N. A Anyelir (Dianthus caryophyllus L.), p Dalam Agus Purwito (Ed.). Budi Daya Bunga Potong dan Tanaman Hias. IPB Press. Bogor. Mor, Y., H. Spiegelstein, and A. H. Halevy Inhibition of ethylene biosynthesis in carnation petals by cytokinin. Plant Physiol. 71: Murtiningsih dan Yulianingsih Memperpanjang kesegaran bunga potong anggrek vanda genta Bandung. Jurnal Hortikultura 1(4): Nurfitria, M Pengaruh Komposisi Larutan Pengawet Terhadap Vaselife Bunga Anggrek Dendrobium. Skripsi. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Salisbury, F. B. and C. W. Ross Hormon dan zat pengatur tumbuh:sitokinin, etilen, asam absisat, dan beberapa senyawa lain, p Dalam Lukman, D. R. dan Sumaryono (Eds.). Fisiologi Tumbuhan Jilid ITB Bandung. Bandung. Santoso, B. B Pascapanen Hortikultura. Program Studi Hortikultura Fakultas Pertanian Universitas Mataram. 34 hal. Sari, I. P Aplikasi Pewarnaan Biru pada Bunga Potong Krisan (Dendrathema grandiflora Tzvelev.), Gerbera (Gerbera jamesonii Bolus) dan Mawar (Rosa hybrida L.). Program Studi Hortikultura Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Bogor. 91 hal. Satoh, S., H. Nukui, and T. Inokuma A method for determining the vaselife of cut spray. J. App. Hort. 7(1):8-10. Simanjuntak, D. J Pengaruh Suhu dan Komposisi Larutan Pulsing terhadap Kesegaran Bunga Potong Anggrek Vanda Selama Penyimpanan. Jurusan 43

56 Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor. Bogor. 107 hal. Soekartawi Manajemen Agribisnis Bunga Potong. Universitas Indonesia. Jakarta. 97 p. Suyanti Teknologi pascapanen bunga sedap malam. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian 21(1): Uthairatanakij, A., J. A. T. Silva, and K. Obsuwan Chitosan for improving orchid production and quality. Orchid Sci. and Biotechnol. 1(1):1-5. Whealy, C. A Carnations, p In Roy A. Larson (Ed.). Introduction to Floriculture Second Edition. Department of Horticulture Science College of Agriculture and Life Science North Carolina State University Raleigh. North Carolina. Widyawan, R., dan S. Prahastuti Bunga Potong : Tinjauan Literatur. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta. 33 p. Winarto, B. dan D. Minangsari Budidaya anyelir. [ 26 Desember 2011]. Wiraatmaja, I. W., I. N. G. Astawa, dan N. Y. Devianitri Memperpanjang kesegaran bunga potong krisan (Dendrathema grandiflora Tzvelev.) dengan larutan perendam sukrosa dan asam sitrat. Agritrop 26(3): Zhang, H., R. Li, and W. Liu Effects of chitin and its derivative chitosan on postharvest decay of fruits. Int. J. Mol. Sci. 12:

57 LAMPIRAN

58 Lampiran 1. Layout Percobaan H2 P3 H1 P2 H4 P3 H3 P0 H1 P1 H3 P2 H4 P1 H1 P0 H2 P1 H5 P2 H4 P3 H3 P1 H5 P3 H2 P0 H4 P2 H5 P1 H4 P0 H3 P3 H2 P2 H5 P0 H1 P2 H1 P0 H3 P1 H2 P2 H3 P3 H2 P1 H2 P0 H5 P1 H3 P2 H4 P3 H3 P0 H4 P2 H1 P3 H4 P1 H5 P2 H4 P0 H5 P3 H1 P1 H5 P0 H2 P3 H3 P1 H4 P2 H3 P3 H2 P0 H4 P3 H5 P2 H2 P1 H3 P2 H1 P0 H2 P3 H1 P1 H2 P2 H3 P0 H1 P3 H4 P1 H5 P3 H4 P0 H1 P2 H5 P1 H5 P0 H3 P0 H4 P0 H1 P3 H3 P1 H2 P2 H1 P0 H5 P2 H4 P1 H2 P0 H5 P1 H3 P2 H5 P0 H1 P1 H5 P3 H2 P1 H4 P2 H3 P3 H1 P2 H4 P3 H2 P3 H2 P0 H5 P0 H4 P3 H2 P1 H3 P0 H3 P3 H1 P1 H5 P2 H3 P1 H1 P0 H5 P1 H3 P2 H2 P3 H4 P2 H1 P2 H5 P3 H1 P3 H4 P1 H2 P2 H4 P0 U B T S Keterangan : Larutan pulsing H0 = aquades H1 = aquades + sukrosa 3% H2 = akuades + sukrosa 3% + asam salisilat 100 ppm H3 = akuades + sukrosa 3% + Benzylaminopurin (BAP) 5 ppm H4 = akuades + sukrosa 3% + asam salisilat 100 ppm + Benzylaminopurin (BAP 5 ppm) Larutan anti-transpiran dengan chitosan P0 = kontrol, tanpa pemberian anti-transpiran P1 = Chitosan 0.1 ppm P2 = Chitosan 0.5 ppm P3 = Chitosan 1 ppm 46

59 Lampiran 2. Rekapitulasi Sidik Ragam Pengaruh Komposisi Larutan Pulsing dan Konsentrasi Chitosan terhadap Vaselife Bunga Potong Anyelir Parameter Pengamatan Diameter bunga Jumlah petal bunga membuka Warna petal bunga Tingkat Kemekaran Bunga Tingkat kesegaran bunga 47 HSP Konsentrasi Konsentrasi KK Interaksi Larutan Pulsing Chitosan (%) 0 tn tn tn tn tn tn tn tn tn * tn tn tn tn ** * * * tn tn tn 0.00 a 5 tn tn tn a 10 tn tn tn a 15 tn * tn 9.17 a 20 tn tn tn a 25 ** ** ** a 0 tn tn tn - 5 tn tn tn - 10 tn tn tn - 15 tn tn tn - 20 tn tn tn - 25 tn tn tn - 0 tn tn tn - 5 tn tn tn - 10 tn tn tn - 15 tn tn tn - 20 tn tn tn - 25 * tn * - 0 tn tn tn - 5 tn tn tn - 10 tn tn tn - 15 tn tn tn - 20 * tn tn - 25 ** tn * - Larutan pulsing terserap tn tn tn a Larutan holding terserap tn * tn Vaselife ** tn * Keterangan: KK = koefisien keragaman a = hasil transformasi 1 tn) : tidak berpengaruh nyata *) : berpengaruh nyata pada taraf 5% **) : berpengaruh nyata pada taraf 1 %

60 Lampiran 3. Rata-rata Diameter Bunga Potong Anyelir Pengaruh Interaksi pada Perendaman Tangkai Bunga dalam Larutan Pulsing Selama 24 Jam dan Penyemprotan Chitosan di Cold Storage Chitosan (ppm) Larutan Pulsing Diameter (cm) HSP AQ AQ + S 3% AQ + S 3%+SA 100 ppm AQ + S 3%+BAP 5 ppm AQ + S 3%+SA 100 ppm+bap 5 ppm HSP AQ AQ + S 3% AQ + S 3%+SA 100 ppm AQ + S 3%+BAP 5 ppm AQ + S 3%+SA 100 ppm+bap 5 ppm HSP AQ AQ + S 3% AQ + S 3%+SA 100 ppm AQ + S 3%+BAP 5 ppm AQ + S 3%+SA 100 ppm+bap 5 ppm HSP AQ AQ + S 3% AQ + S 3%+SA 100 ppm AQ + S 3%+BAP 5 ppm AQ + S 3%+SA 100 ppm+bap 5 ppm HSP AQ 6.36 Aa 6.28 Aa 5.31 Bb 6.27 Aa AQ + S 3% 5.03 Bb 6.69 Aa 6.62 Aa 6.36 Aa AQ + S 3%+SA 100 ppm 6.69 Aa 6.50 Aa 5.86 Aab 6.54 Aa AQ + S 3%+BAP 5 ppm 6.80 Aa 6.64 Aa 6.19 Aab 6.75 Aa AQ + S 3%+SA 100 ppm+bap 5 ppm 6.67 Aa 6.09 Aa 6.46 AaB 6.38 Aa HSP AQ 5.31Aba 5.38ABa 4.27 Bb 5.46 Aa AQ + S 3% 4.08 Ab 5.19 Aa 4.77 Aab 5.12 Aa AQ + S 3%+SA 100 ppm 5.91 Aa 5.87 Aa 4.22 Bb 5.40 Aa AQ + S 3%+BAP 5 ppm 6.44 Aa 5.56 Aa 5.35 Aab 5.83 Aa AQ + S 3%+SA 100 ppm+bap 5 ppm 6.09 Aa 4.67 Ba 5.74 Aba 5.62Aba Keterangan : Nilai yang diikuti huruf kapital pada baris yang sama atau huruf kecil pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf 5%. HSP:hari setelah panen. 48

61 Lampiran 4. Rata-rata Jumlah Petal Bunga Membuka Bunga Potong Anyelir Pengaruh Interaksi pada Perendaman Tangkai Bunga dalam Larutan Pulsing Selama 24 Jam dan Penyemprotan Chitosan di Cold Storage Larutan Pulsing Chitosan (ppm) HSP AQ AQ + S 3% AQ + S 3%+SA 100 ppm AQ + S 3%+BAP 5 ppm AQ + S 3%+SA 100 ppm+bap 5 ppm HSP AQ AQ + S 3% AQ + S 3%+SA 100 ppm AQ + S 3%+BAP 5 ppm AQ + S 3%+SA 100 ppm+bap 5 ppm HSP AQ AQ + S 3% AQ + S 3%+SA 100 ppm AQ + S 3%+BAP 5 ppm AQ + S 3%+SA 100 ppm+bap 5 ppm HSP AQ AQ + S 3% AQ + S 3%+SA 100 ppm AQ + S 3%+BAP 5 ppm AQ + S 3%+SA 100 ppm+bap 5 ppm HSP AQ AQ + S 3% AQ + S 3%+SA 100 ppm AQ + S 3%+BAP 5 ppm AQ + S 3%+SA 100 ppm+bap 5 ppm HSP AQ 2.00 Ac 3.33 Ab 0.00 Ab 3.00 Aab AQ + S 3% 2.00 Ac 2.33 Ab 0.66 Ab 0.66 Ab AQ + S 3%+SA 100 ppm 4.66Abc 4.66 Ab 0.00 Ab 2.33 Aab AQ + S 3%+BAP 5 ppm 14.00Aa 11.66ABa 2.00 Cb 5.33 Bca AQ + S 3%+SA 100 ppm+bap 5 ppm 9.33Aab 0.00 Bb 7.00 Aa 1.66 Aab Keterangan : Nilai yang diikuti huruf kapital pada baris yang sama atau huruf kecil pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf 5%. HSP:hari setelah panen. 49

62 Lampiran 5. Rata-rata Warna Bunga Potong Anyelir pada Perendaman Tangkai Bunga dalam Larutan Pulsing Selama 24 Jam dan Penyemprotan Chitosan di Cold Storage Perlakuan Hari Setelah Panen (HSP) Larutan Chitosan Pulsing S R S R S R S R S R S R AQ AQ+sukrosa 3% AQ+sukrosa 3%+SA 100 ppm AQ+sukrosa 3%+BAP 5 ppm AQ+sukrosa 3%+SA 100 ppm+bap 5 ppm H P 1.00 tn 1.00 tn 0.99 tn 0.99 tn 0.18 tn 0.42 tn Keterangan : H = nilai Uji Kruskal Wallis, *) = P value < 0.05, tn) = P value > 0.05, HSP:hari setelah panen. 1 = RHS 41A, 2 = RHS 41A 44A, 3 = RHS 44A, 4 = RHS 44A RHS 47A, 5 = RHS 47A, 6 = RHS 47A 45A, 7 = RHS 45A, S = skor, R = rank 50

63 Lampiran 6. Data Suhu dan RH Harian di Cold Storage Tanggal Hari ke- Suhu Bola basah Suhu Bola Kering RH ( o C) ( o C) (%) 24 Februari Februari Februari Februari Februari Februari Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret

64 52 Lampiran 7. Keragaan Bunga Potong Anyelir pada 25 HSP H0P0 H0P1 H0P2 H0P3 H1P1 H1P1 H1P2 H1P3 H2P0 H2P1 H2P2 H2P3 H3P0 H3P1 H3P2 H3P3 H4P0 H4P1 H4P2 H4P3 Keterangan : Larutan pulsing H0 = aquades H1 = aquades + sukrosa 3% H2 = akuades + sukrosa 3% + asam salisilat 100 ppm H3 = akuades + sukrosa 3% + Benzylaminopurin (BAP) 5 ppm H4 = akuades + sukrosa 3% + asam salisilat 100 ppm + Benzylaminopurin (BAP 5 ppm) Larutan anti-transpiran dengan chitosan P0 = kontrol, tanpa pemberian anti-transpiran P1 = Chitosan 0.1 ppm P2 = Chitosan 0.5 ppm P3 = Chitosan 1 ppm

TINJAUAN PUSTAKA Botani Anyelir

TINJAUAN PUSTAKA Botani Anyelir 4 TINJAUAN PUSTAKA Botani Anyelir Anyelir (Dianthus caryophyllus L.) yang dikenal dalam bahasa Inggris sebagai carnation merupakan tanaman hias pekarangan dan bunga potong. Tanaman ini termasuk ke dalam

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum 15 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Suhu ruangan selama pelaksanaan penelitian ini berkisar 18-20 0 C. Kondisi suhu ini baik untuk vase life bunga potong, karena kisaran suhu tersebut dapat memperlambat

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Sistematika Ilmiah dan Botani Tanaman Krisan. Klasifikasi ilmiah tanaman krisan menurut Direktorat Jendral Hortikultura

TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Sistematika Ilmiah dan Botani Tanaman Krisan. Klasifikasi ilmiah tanaman krisan menurut Direktorat Jendral Hortikultura II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sistematika Ilmiah dan Botani Tanaman Krisan Klasifikasi ilmiah tanaman krisan menurut Direktorat Jendral Hortikultura (2013) adalah sebagai berikut: Kingdom Divisi Sub divisi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 21 HASIL DAN PEMBAHASAN Percobaan 1 Rata-rata volume larutan holding yang diserap oleh tangkai bunga disajikan pada Tabel 2. Hasil percobaan 1 menunjukkan bahwa konsentrasi aplikasi chitosan tidak memberikan

Lebih terperinci

PASCA PANEN BUNGA POTONG (KRISAN)

PASCA PANEN BUNGA POTONG (KRISAN) PASCA PANEN BUNGA POTONG (KRISAN) Post 04 Desember 2014, By Ir. Elvina Herdiani, MP. bbpplbungapotperkembangan bisnis bunga potong meningkat dengan cukup pesat dari waktu ke waktu, hal ini menunjukkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bunga potong adalah bunga yang kini banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bahan rangkaian bunga salah satunya adalah Bunga Krisan. Hasil observasi di Pasar

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. mawar merupakan salah satu bunga yang sangat diminati masyarakat, karena

I. PENDAHULUAN. mawar merupakan salah satu bunga yang sangat diminati masyarakat, karena I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Florikultura merupakan sektor bisnis yang menjanjikan, salah satunya agribisnis bunga potong. Bisnis bunga potong berkembang pesat seiring dengan meningkatnya kebutuhan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. = µ + A i + B j + (AB) ij + C k + ijk

BAHAN DAN METODE. = µ + A i + B j + (AB) ij + C k + ijk 10 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pendidikan Hortikultura. Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi dan Botani Bunga Matahari

TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi dan Botani Bunga Matahari 4 TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi dan Botani Bunga Matahari Menurut Kristio (2007) dalam taksonomi tumbuhan, bunga matahari dapat diklasifikasikan sebagai berikut : Kingdom : Plantae Divisi : Magnoliophyta

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Muhammadiyah Yogyakarta di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Muhammadiyah Yogyakarta di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Green House Fak. Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul,

Lebih terperinci

PENGARUH PERENDAMAN TANGKAI BUNGA DALAM CaCl 2 TERHADAP KUALITAS PASCAPANEN BUNGA POTONG ANGGREK Dendrobium Woxinia

PENGARUH PERENDAMAN TANGKAI BUNGA DALAM CaCl 2 TERHADAP KUALITAS PASCAPANEN BUNGA POTONG ANGGREK Dendrobium Woxinia PENGARUH PERENDAMAN TANGKAI BUNGA DALAM CaCl 2 TERHADAP KUALITAS PASCAPANEN BUNGA POTONG ANGGREK Dendrobium Woxinia Oleh Nurcahyawati A34304043 PROGRAM STUDI HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Desa Manjung, Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Kecamatan Sawit memiliki ketinggian tempat 150 m dpl. Penelitian ini dilaksanakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Bunga potong dapat diartikan sebagai bunga yang dipotong dari tanamannya dengan tujuan sebagai penghias ruangan atau karangan bunga. Menurut Widyawan dan Prahastuti

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca gedung Hortikultura Universitas Lampung

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca gedung Hortikultura Universitas Lampung III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di rumah kaca gedung Hortikultura Universitas Lampung pada bulan Juni November 2014. 3.2 Bahan dan Alat Bahan-bahan yang digunakan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. A. Krisan (Crysanthemum sp.) Krisan (Crysanthemum sp.) adalah tanaman yang berasal dari Cina.

TINJAUAN PUSTAKA. A. Krisan (Crysanthemum sp.) Krisan (Crysanthemum sp.) adalah tanaman yang berasal dari Cina. II. TINJAUAN PUSTAKA A. Krisan (Crysanthemum sp.) Krisan (Crysanthemum sp.) adalah tanaman yang berasal dari Cina. Menurut Rukmana dan Mulyana (1997), tingkatan takson dari krisan adalah sebagai berikut

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. Percobaan ini dilakukan mulai

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. Percobaan ini dilakukan mulai BAHAN DAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Percobaan ini dilakukan di Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian,, Medan. Percobaan ini dilakukan mulai dari bulan April 2016 hingga Mei

Lebih terperinci

TEKNOLOGI PENGEMASAN DAN PASCA PANEN BUNGA

TEKNOLOGI PENGEMASAN DAN PASCA PANEN BUNGA TEKNOLOGI PENGEMASAN DAN PASCA PANEN BUNGA Ir Sitawati, MS Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang Disampaikan dalam Kegiatan Pelatihan Pengembangan Model Pemasaran Tanaman Hias/Bunga di Kota Batu

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara Provinsi Jawa Tengah. Ketinggian tempat

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara Provinsi Jawa Tengah. Ketinggian tempat III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan di UPT-Kebun Bibit Dinas di Desa Krasak Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara Provinsi Jawa Tengah. Ketinggian tempat berada 96

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Cabai Merah (Capsicum annuum L.) Karakteristik awal cabai merah (Capsicum annuum L.) diketahui dengan melakukan analisis proksimat, yaitu kadar air, kadar vitamin

Lebih terperinci

Pengendalian hama dan penyakit pada pembibitan yaitu dengan menutup atau mengolesi luka bekas pengambilan anakan dengan tanah atau insektisida,

Pengendalian hama dan penyakit pada pembibitan yaitu dengan menutup atau mengolesi luka bekas pengambilan anakan dengan tanah atau insektisida, PEMBAHASAN PT National Sago Prima saat ini merupakan perusahaan satu-satunya yang bergerak dalam bidang pengusahaan perkebunan sagu di Indonesia. Pengusahaan sagu masih berada dibawah dinas kehutanan karena

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penelitian 15 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Margahayu Lembang Balai Penelitian Tanaman Sayuran 1250 m dpl mulai Juni 2011 sampai dengan Agustus 2012. Lembang terletak

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Steenis (1987) klasifikasi tanaman mawar adalah sebagai berikut:

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Steenis (1987) klasifikasi tanaman mawar adalah sebagai berikut: II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sistematika dan Botani Tanaman Mawar Menurut Steenis (1987) klasifikasi tanaman mawar adalah sebagai berikut: Kingdom Divisio Sub Divisio Classis Ordo Familia Genus Species : Plantae

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Secara umumm planlet anggrek Dendrobium lasianthera tumbuh dengan baik dalam green house, walaupun terdapat planlet yang terserang hama kutu putih Pseudococcus spp pada

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 26 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan 3, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB selama sembilan minggu sejak Februari hingga

Lebih terperinci

I. TINJAUAN PUSTAKA. Gladiol (Gladiolus hybridus L) tergolong dalam famili Iridaceae yang

I. TINJAUAN PUSTAKA. Gladiol (Gladiolus hybridus L) tergolong dalam famili Iridaceae yang I. TINJAUAN PUSTAKA 1.1 Botani Gladiol Gladiol (Gladiolus hybridus L) tergolong dalam famili Iridaceae yang mempunyai jenis 180 jenis. Tanaman gladiol ditemukan di Afrika, Mediterania, dan paling banyak

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Waktu dan Tempat. Bahan dan Alat

BAHAN DAN METODE. Waktu dan Tempat. Bahan dan Alat BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan di UPTD Pengembangan Teknologi Lahan Kering Desa Singabraja, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Waktu pelaksanaan penelitian mulai

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Bahan dan Alat

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Bahan dan Alat BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Buah mangga yang digunakan untuk bahan penelitian langsung diambil dari salah satu sentra produksi mangga, yaitu di daerah Indramayu, Kecamatan Jatibarang.

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Botani dan Syarat Tumbuh Tanaman

TINJAUAN PUSTAKA Botani dan Syarat Tumbuh Tanaman TINJAUAN PUSTAKA Botani dan Syarat Tumbuh Tanaman Cabai (Capsicum sp.) berasal dari Amerika dan menyebar di berbagai negara di dunia. Cabai termasuk ke dalam famili terong-terongan (Solanaceae). Menurut

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Metode Penelitian Percobaan I: Pengaruh Tingkat Berbuah Sebelumnya dan Letak Strangulasi Terhadap Pembungaan Jeruk Pamelo Cikoneng

BAHAN DAN METODE. Metode Penelitian Percobaan I: Pengaruh Tingkat Berbuah Sebelumnya dan Letak Strangulasi Terhadap Pembungaan Jeruk Pamelo Cikoneng BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan pada areal pertanaman jeruk pamelo di lahan petani Desa Bantarmara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat dengan ketinggian tempat

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIAN. Penelitian dilakukan di Greenhouse Universitas Muhammadiyah

TATA CARA PENELITIAN. Penelitian dilakukan di Greenhouse Universitas Muhammadiyah III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Greenhouse Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan selama bulan November 2016-Februari

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu penelitian. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2015 sampai Mei 2016

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu penelitian. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2015 sampai Mei 2016 III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2015 sampai Mei 2016 di Lahan Percobaan, Laboratorium Penelitian dan Laboratorium Tanah Fakultas

Lebih terperinci

IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. Air leri merupakan bahan organik dengan kandungan fosfor, magnesium

IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. Air leri merupakan bahan organik dengan kandungan fosfor, magnesium IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN Air leri merupakan bahan organik dengan kandungan fosfor, magnesium dan vitamin B1 yang efektif bila dimanfaatkan sebagai bahan tambahan pada proses perbanyakan tanaman

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat. diameter 12 cm dan panjang 28 cm, dan bahan-bahan lain yang mendukung

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat. diameter 12 cm dan panjang 28 cm, dan bahan-bahan lain yang mendukung BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat lebih kurang 25 meter di atas permukaan laut.

Lebih terperinci

PENGARUH KONSENTRASI DAN CARA APLIKASI CaCl 2 TERHADAP VASE LIFE BUNGA ANGGREK DENDROBIUM WOXINIA. Asti Adha Perdani

PENGARUH KONSENTRASI DAN CARA APLIKASI CaCl 2 TERHADAP VASE LIFE BUNGA ANGGREK DENDROBIUM WOXINIA. Asti Adha Perdani PENGARUH KONSENTRASI DAN CARA APLIKASI CaCl 2 TERHADAP VASE LIFE BUNGA ANGGREK DENDROBIUM WOXINIA Asti Adha Perdani DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2010

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka

I. PENDAHULUAN. Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka I. PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian dan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Gladiol merupakan salah satu komoditas hortikultura sebagai penghasil bunga potong

I. PENDAHULUAN. Gladiol merupakan salah satu komoditas hortikultura sebagai penghasil bunga potong I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Gladiol merupakan salah satu komoditas hortikultura sebagai penghasil bunga potong yang berpotensi untuk dibudidayakan secara intensif. Prospek agribisnis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tanaman hias yang populer dalam tatanan kehidupan manusia karena bentuk dan

BAB I PENDAHULUAN. tanaman hias yang populer dalam tatanan kehidupan manusia karena bentuk dan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Bunga potong mawar (Rosa hybrida L.) merupakan salah satu kelompok tanaman hias yang populer dalam tatanan kehidupan manusia karena bentuk dan warna yang menarik,

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2016 sampai dengan Juli 2016

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2016 sampai dengan Juli 2016 III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2016 sampai dengan Juli 2016 yang bertempat di Greenhouse Fakultas Pertanian dan Laboratorium Penelitian,

Lebih terperinci

IV. INDUKSI MUTASI DENGAN SINAR GAMMA

IV. INDUKSI MUTASI DENGAN SINAR GAMMA Latar Belakang IV. INDUKSI MUTASI DENGAN SINAR GAMMA MELALUI IRADIASI TUNGGAL PADA STEK PUCUK ANYELIR (Dianthus caryophyllus) DAN UJI STABILITAS MUTANNYA SAMPAI GENERASI MV3 Pendahuluan Perbaikan sifat

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian dan

MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian dan III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempatdan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, JalanH.R. Soebrantas No.155

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca Gedung Hortikultura Universitas Lampung

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca Gedung Hortikultura Universitas Lampung 25 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di rumah kaca Gedung Hortikultura Universitas Lampung dengan dua kali percobaan yaitu Percobaan I dan Percobaan II. Percobaan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Botani Anggrek

TINJAUAN PUSTAKA Botani Anggrek TINJAUAN PUSTAKA Botani Anggrek Menurut Sheehan (1992) anggrek merupakan tanaman hias yang unik. Tanaman ini memiliki perbedaan vegetatif yang luas. Berdasarkan taksonomi, anggrek termasuk famili yang

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 17 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian ini berlangsung di kebun manggis daerah Cicantayan Kabupaten Sukabumi dengan ketinggian 500 700 meter di atas permukaan laut (m dpl). Area penanaman manggis

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Waktu penelitian dimulai dari bulan Februari 2014 sampai dengan bulan Januari 2015.

III. METODE PENELITIAN. Waktu penelitian dimulai dari bulan Februari 2014 sampai dengan bulan Januari 2015. 12 III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Waktu penelitian dimulai dari bulan Februari 2014 sampai dengan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman gladiol termasuk ke dalam famili Iridaceae dan memiliki daun yang

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman gladiol termasuk ke dalam famili Iridaceae dan memiliki daun yang 10 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Botani dan Morfologi Tanaman Gladiol Bunga gladiol yang berasal dari daratan Afrika Selatan ini memang sangat indah. Bunga ini simbol kekuatan, kejujuran, kedermawanan, ketulusan

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Yogyakarta, GreenHouse di Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Yogyakarta, GreenHouse di Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di lahan kering, Desa Gading PlayenGunungkidul Yogyakarta, GreenHouse di Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta,

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. A. Limbah Cair Industri Tempe. pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karna tidak

TINJAUAN PUSTAKA. A. Limbah Cair Industri Tempe. pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karna tidak II. TINJAUAN PUSTAKA A. Limbah Cair Industri Tempe Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses industri maupun domestik (rumah tangga), yang lebih di kenal sebagai sampah, yang kehadiranya

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Universitas Medan Area yang berlokasi di jalan Kolam No. 1 Medan Estate,

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Universitas Medan Area yang berlokasi di jalan Kolam No. 1 Medan Estate, III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Medan Area yang berlokasi di jalan Kolam No. 1 Medan Estate,

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN 22 METODOLOGI PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Januari 2010 sampai dengan Pebruari 2011. Tempat pelaksanaan kultur jaringan tanaman adalah di Laboratorium Kultur Jaringan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Genus Gladiolus yang tergolong dalam famili Iridaceae ini mempunyai 180 jenis

II. TINJAUAN PUSTAKA. Genus Gladiolus yang tergolong dalam famili Iridaceae ini mempunyai 180 jenis II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Botani Gladiol Genus Gladiolus yang tergolong dalam famili Iridaceae ini mempunyai 180 jenis (Herlina, 1991). Tanaman gladiol berasal dari Afrika Selatan dan menyebar di Asia dan

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Laboratorium Terpadu dan Laboratorium

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Laboratorium Terpadu dan Laboratorium 13 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Laboratorium Terpadu dan Laboratorium Benih dan Pemuliaan Tanaman, Fakultas Pertanian Universitas Lampung dari

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Botani Krisan

TINJAUAN PUSTAKA Botani Krisan 3 TINJAUAN PUSTAKA Botani Krisan Krisan (Dendranthema grandiflora Tzvelev) termasuk dalam klasifikasi kingdom Plantae, divisi Spermatophyta, sub-divisi Angiospermae, kelas Dicotiledonae, ordo Asterales,

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Botani Tanaman Mawar Menurut Tjitrosoepomo (1996), Morfologi tanaman mawar adalah sebagai berikut: Kingdom Divisi Sub- Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Plantae : Spermathopyta

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman. Hasil sidik ragam 5% terhadap tinggi tanaman menunjukkan bahwa

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman. Hasil sidik ragam 5% terhadap tinggi tanaman menunjukkan bahwa 1. Tinggi tanaman IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pertumbuhan Tanaman Hasil sidik ragam 5% terhadap tinggi tanaman menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan memberikan pengaruh yang berbeda nyata. Hasil Uji

Lebih terperinci

II. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Gunung Terang, Gang Swadaya VI,

II. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Gunung Terang, Gang Swadaya VI, II. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Gunung Terang, Gang Swadaya VI, Kecamatan Tanjung Karang Barat. Kota Bandar Lampung, mulai bulan Mei sampai

Lebih terperinci

Pertumbuhan tanaman dan produksi yang tinggi dapat dicapai dengan. Pemupukan dilakukan untuk menyuplai unsur hara yang dibutuhkan oleh

Pertumbuhan tanaman dan produksi yang tinggi dapat dicapai dengan. Pemupukan dilakukan untuk menyuplai unsur hara yang dibutuhkan oleh 45 4.2 Pembahasan Pertumbuhan tanaman dan produksi yang tinggi dapat dicapai dengan memperhatikan syarat tumbuh tanaman dan melakukan pemupukan dengan baik. Pemupukan dilakukan untuk menyuplai unsur hara

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Penelitian 10 BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Percobaan ini dilaksanakan di Kebun Percobaan IPB Cikarawang, Dramaga, Bogor. Sejarah lahan sebelumnya digunakan untuk budidaya padi konvensional, dilanjutkan dua musim

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Percobaan

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Percobaan BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2009 hingga bulan Mei 2010 di rumah kaca Kebun Percobaan IPB Cikabayan, Kampus Dramaga, Bogor dan Balai Penelitian Tanaman

Lebih terperinci

III. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. B. Bahan dan Alat Penelitian. Penah atau pensil, Buku pengamatan. C.

III. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. B. Bahan dan Alat Penelitian. Penah atau pensil, Buku pengamatan. C. III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Green House Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiayah Yogyakarta. Penelitian ini dilaksanakan salama dua bulan April

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan di net house Gunung Batu, Bogor. Analisis tanah dilaksanakan di Laboratorium Tanah, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Institut Pertanian

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Unit Pelayanan Teknis (UPT), Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Riau. Pelaksanaannya dilakukan pada bulan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian 13 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian IPB, Dramaga, Bogor untuk pengujian

Lebih terperinci

PENYIAPAN BIBIT UBIKAYU

PENYIAPAN BIBIT UBIKAYU PENYIAPAN BIBIT UBIKAYU Ubi kayu diperbanyak dengan menggunakan stek batang. Alasan dipergunakan bahan tanam dari perbanyakan vegetatif (stek) adalah selain karena lebih mudah, juga lebih ekonomis bila

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman. Mangga berakar tunggang yang bercabang-cabang, dari cabang akar ini tumbuh

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman. Mangga berakar tunggang yang bercabang-cabang, dari cabang akar ini tumbuh TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Mangga berakar tunggang yang bercabang-cabang, dari cabang akar ini tumbuh cabang lagi kecil-kecil, cabang kecil ini ditumbuhi bulu-bulu akar yang sangat halus. Akar tunggang

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 2. Cendawan pada Stek (a), Batang Kecoklatan pada Stek (b) pada Perlakuan Silica gel

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 2. Cendawan pada Stek (a), Batang Kecoklatan pada Stek (b) pada Perlakuan Silica gel HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Stek Pengamatan keadaan umum stek bertujuan untuk mengetahui sifat fisik, kualitas dan daya tumbuh stek selama penyimpanan. Keadaan umum stek yang diamati meliputi warna,

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Subhan dkk. (2005) menyatakan bahwa pertumbuhan vegetatif dan generatif pada

II. TINJAUAN PUSTAKA. Subhan dkk. (2005) menyatakan bahwa pertumbuhan vegetatif dan generatif pada II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pemupukan pada Tanaman Tomat 2.1.1 Pengaruh Aplikasi Pupuk Kimia Subhan dkk. (2005) menyatakan bahwa pertumbuhan vegetatif dan generatif pada tanaman tomat tertinggi terlihat pada

Lebih terperinci

I. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat Dan Waktu Penelitian. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2016 Agustus 2016 yang

I. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat Dan Waktu Penelitian. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2016 Agustus 2016 yang I. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat Dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2016 Agustus 2016 yang bertempat di Lapangan (Green House) dan Laboratorium Tanah Universitas Muhammadiyah

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman dan Buah Manggis (Garcinia mangostana L.)

TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman dan Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) TINJAUAN PUSTAKA Tanaman dan Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) Manggis (Garcinia mangostana L.) termasuk buah eksotik yang digemari oleh konsumen baik di dalam maupun luar negeri, karena rasanya yang

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Dracaena adalah tanaman yang tumbuh tegak dengan bentuk batang bulat dan

TINJAUAN PUSTAKA. Dracaena adalah tanaman yang tumbuh tegak dengan bentuk batang bulat dan II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Morfologi dan Taksonomi Tanaman Dracaena Dracaena adalah tanaman yang tumbuh tegak dengan bentuk batang bulat dan beruas-ruas. Daun dracaena berbentuk tunggal, tidak bertangkai,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. perendaman bunga potong pada hari ke 6 pengamatan disajikan pada Tabel 4.

HASIL DAN PEMBAHASAN. perendaman bunga potong pada hari ke 6 pengamatan disajikan pada Tabel 4. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. ph larutan Derajat keasaman (ph) merupakan tingkatan asam basa suatu larutan yang diukur dengan skala 0 sampai dengan 14. Tinggi rendahnya ph air sangat dipengaruhi oleh kandungan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Cabai merah (Capsicum annuum L.) merupakan tanaman pertanian yang strategis untuk dibudidayakan karena permintaan cabai yang sangat besar dan banyak konsumen yang mengkonsumsi

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Laboratorium Lapang Terpadu

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Laboratorium Lapang Terpadu 14 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung pada bulan Oktober 2014 hingga Maret

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat 17 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Perlakuan iradiasi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Bunga Gladiol (Gladiolus hybridus L) merupakan bunga potong yang menarik

I. PENDAHULUAN. Bunga Gladiol (Gladiolus hybridus L) merupakan bunga potong yang menarik I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bunga Gladiol (Gladiolus hybridus L) merupakan bunga potong yang menarik dan cukup popular. Bunga gladiol memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi dan menduduki

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum 16 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Kondisi lingkungan tumbuh yang digunakan pada tahap aklimatisasi ini, sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan planlet Nepenthes. Tjondronegoro dan Harran (1984) dalam

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Pelaksanaan Bahan dan Alat Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Pelaksanaan Bahan dan Alat Metode Penelitian BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Pelaksanaan Kegiatan penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Lebih terperinci

BAB III TATALAKSANA TUGAS AKHIR

BAB III TATALAKSANA TUGAS AKHIR 13 BAB III TATALAKSANA TUGAS AKHIR A. Tempat Pelaksanaan Pelaksanaan Tugas Akhir dilaksanakan di Dusun Kwojo Wetan, Desa Jembungan, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. B. Waktu Pelaksanaan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu 9 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan di laboratorium dan kebun percobaan Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi) Segunung, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Tempat

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Kondisi Umum Lokasi Penelitian

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Kondisi Umum Lokasi Penelitian IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Kondisi Umum Lokasi Penelitian Tanaman salak yang digunakan pada penelitian ini adalah salak pondoh yang ditanam di Desa Tapansari Kecamatan Pakem Kabupaten Sleman Yogyakarta.

Lebih terperinci

Penanganan bibit jati (Tectona grandis Linn. f.) dengan perbanyakan stek pucuk

Penanganan bibit jati (Tectona grandis Linn. f.) dengan perbanyakan stek pucuk Standar Nasional Indonesia Penanganan bibit jati (Tectona grandis Linn. f.) dengan perbanyakan stek pucuk ICS 65.020.20 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi...i Prakata...ii 1 Ruang lingkup...

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian. Bahan dan Alat

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian. Bahan dan Alat BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Cikabayan-University Farm IPB, Darmaga Bogor. Areal penelitian bertopografi datar dengan elevasi 250 m dpl dan curah

Lebih terperinci

METODE. Lokasi dan Waktu. Materi

METODE. Lokasi dan Waktu. Materi METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2005 sampai dengan Januari 2006. Penanaman dan pemeliharaan bertempat di rumah kaca Laboratorium Lapang Agrostologi, Departemen Ilmu

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian 8 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian yang dilakukan terdiri dari (1) pengambilan contoh tanah Podsolik yang dilakukan di daerah Jasinga, (2) analisis tanah awal dilakukan di Laboratorium

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 14 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian berlangsung dari bulan Mei 2011 sampai bulan Juli 2011 di lahan Pembibitan Kebun Percobaan Cikabayan, IPB Darmaga. Penelitian diawali dengan pemilihan pohon

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Pertanian, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Yogyakarta.

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Pertanian, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Yogyakarta. III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Greenhouse dan Lahan Percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Yogyakarta. Penelitian ini

Lebih terperinci

MANAJEMEN TANAMAN PAPRIKA

MANAJEMEN TANAMAN PAPRIKA Nama : Sonia Tambunan Kelas : J NIM : 105040201111171 MANAJEMEN TANAMAN PAPRIKA Dengan lahan seluas 1500 m², saya akan mananam tanaman paprika (Capsicum annuum var. grossum L) dengan jarak tanam, pola

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Percobaan

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Percobaan BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan IPB, Cikarawang, Bogor. Waktu pelaksanaan penelitian dimulai dari bulan Oktober 2010 sampai dengan Februari 2011.

Lebih terperinci

I. TATA CARA PENELITIAN. Muhammadiyah Yogyakarta di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten

I. TATA CARA PENELITIAN. Muhammadiyah Yogyakarta di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten I. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Green House Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul,

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Bahan dan Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Bahan dan Metode Penelitian 9 BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari 2005 sampai Pebruari 2006. Tempat penelitian di Kebun Tajur I UPT Kebun Percobaan IPB Unit Kegiatan Pusat Kajian

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan waktu penelitian. Kabupaten Bantul, Daerah istimewa Yogyakarta. Waktu pelaksanaan dimulai

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan waktu penelitian. Kabupaten Bantul, Daerah istimewa Yogyakarta. Waktu pelaksanaan dimulai III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan waktu penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Penelitian Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Penelitian BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan IPB Cikarawang, Darmaga, Bogor. Penelitian dilakukan mulai dari bulan Oktober 2010 sampai Februari 2011. Analisis tanah dan hara

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Perubahan Ion Leakage Ion merupakan muatan larutan baik berupa atom maupun molekul dan dengan reaksi transfer elektron sesuai dengan bilangan oksidasinya menghasilkan ion.

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian

III. METODE PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2015 sampai bulan Januari 2016 di kebun salak Tapansari, Candibinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Luas

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Species: Allium ascalonicum L. (Rahayu dan Berlian, 1999). Bawang merah memiliki batang sejati atau disebut discus yang bentuknya

TINJAUAN PUSTAKA. Species: Allium ascalonicum L. (Rahayu dan Berlian, 1999). Bawang merah memiliki batang sejati atau disebut discus yang bentuknya Botani Tanaman TINJAUAN PUSTAKA Bawang merah diklasifikasikan sebagai berikut: Kingdom: Plantae, Divisio: Spermatophyta, Subdivisio: Angiospermae, Kelas: Monocotyledonae, Ordo: Liliales/ Liliflorae, Famili:

Lebih terperinci

BAHA DA METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penelitian

BAHA DA METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penelitian BAHA DA METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Tanaman Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini dimulai

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Bahan dan Alat Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Bahan dan Alat Metode Penelitian BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di dua tempat, yaitu pembibitan di Kebun Percobaan Leuwikopo Institut Pertanian Bogor, Darmaga, Bogor, dan penanaman dilakukan di

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian

III. METODE PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Maret 2015 sampai bulan Januari 2016 bertempat di Screen House B, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret,

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITAN. Medan Area jalan Kolam No1 Medan, Sumatera Utara, dengan ketinggian 20 m

BAB III METODOLOGI PENELITAN. Medan Area jalan Kolam No1 Medan, Sumatera Utara, dengan ketinggian 20 m 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian BAB III METODOLOGI PENELITAN Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Medan Area jalan Kolam No1 Medan, Sumatera Utara, dengan ketinggian

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Gambar 2. Bibit Caladium asal Kultur Jaringan

BAHAN DAN METODE. Gambar 2. Bibit Caladium asal Kultur Jaringan BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan dilakukan di MJ Flora, desa JambuLuwuk, Bogor dengan curah hujan 3000 mm/tahun. Lokasi penelitian berada pada ketinggian tempat kurang lebih 700 meter di atas

Lebih terperinci

III. MATERI DAN METODE

III. MATERI DAN METODE III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Penelitian dilakukan pada

Lebih terperinci