HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum"

Transkripsi

1 15 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Suhu ruangan selama pelaksanaan penelitian ini berkisar C. Kondisi suhu ini baik untuk vase life bunga potong, karena kisaran suhu tersebut dapat memperlambat proses transpirasi, sehingga proses kemunduran bunga menjadi lambat dan bunga tidak cepat layu. Suhu ruangan yang tinggi akan meningkatkan laju transpirasi, sehingga volume jumlah total larutan peraga akan berkurang. Selain itu, semakin tinggi suhu ruangan akan mendorong peningkatan produksi etilen. Etilen ini dapat menyebabkan bunga menjadi cepat matang dan layu, sehingga kisaran suhu pada penelitian ini baik untuk proses vase life bunga potong. Menurut Reid (1992) beberapa tanaman tropis seperti Anthurium dan beberapa genus anggrek sebaiknya berada pada suhu yang tidak terlalu dingin atau suhu lebih dari 10 0 C agar tidak terjadi chilling injury atau kerusakan pada suhu rendah. Derajat keasaman larutan holding (sukrosa 3% + asam salisilat 150 ppm) pada awal penelitian (1 HSP) menurut Nurfitria (2004) adalah 3.83, sedangkan pada akhir penelitian (29 HSP) adalah Kisaran ph yang baik untuk bunga potong yaitu (Gast, 2000). Pada penelitian ini tidak dilakukan pengukuran terhadap ph larutan karena ph larutan awal pada penelitian sebelumnya sama dengan penelitian ini. Gangguan yang terjadi pada bunga potong dalam penelitian ini adalah terdapatnya semut yang masuk kedalam botol larutan pengawet karena adanya gula pada larutan. Gangguan semut dapat diatasi dengan pemberian kapur serangga pada meja yang digunakan untuk tempat menyimpan botol perlakuan. Kondisi ruang penelitian untuk meletakan posisi masing-masing kelompok percobaan yaitu kelompok 1 terletak pada posisi dekat rak meja laboratorium dan berdekatan dengan AC. Kelompok 2 terletak diantara pada posisi dekat rak meja laboratorium dan berada ditengah-tengah kelompok 1 dan 3, sedangkan kelompok 3 terletak pada posisi pinggir dekat jendela. Cahaya matahari yang masuk pada ruangan ini cukup banyak, namun tidak dilakukan pengukuran cahaya. Kondisi ruangan penelitian dapat dilihat pada Gambar 3.

2 16 Kelompok 1 (5-10 kuntum bunga) Kelompok 2 (11-15 kuntum bunga) Kelompok 3 (16-20 kuntum bunga) Gambar 3. Penempatan setiap kelompok percobaan dalam ruangan penelitian

3 17 Kualitas Bunga Jumlah dan Persentase Total Kuntum Bunga Bunga potong pada awal penelitian secara visual terlihat baik, karena tidak mengalami kelayuan dan gugur. Hal ini disebabkan pada saat pengangkutan bunga dari lapang sampai laboratorium dilakukan upaya pencelupan tangkai bunga anggrek kedalam ember yang berisi air. Hal ini bertujuan untuk mengurangi tingkat panas lapang, sehingga bunga anggrek tetap terlihat segar selama dalam perjalanan menuju laboratorium sampai pada saat dimulainya penelitian. Rata-rata jumlah dan persentase kuntum bunga anggrek pada awal percobaan dapat dilihat dari Tabel 1, 2 dan 3. Tabel 1. Jumlah dan Persentase Total Kuntum Bunga di Awal Percobaan pada berbagai Perlakuan Waktu Konsentrasi (ppm) Rata-rata (menit) Waktu ----kuntum bunga Rata-rata konsentrasi Total jumlah kuntum bunga merupakan penjumlahan dari jumlah bunga yang masih kuncup dengan bunga yang sudah mekar di awal percobaan. Tabel 1 menunjukan bahwa rata-rata jumlah total kuntum bunga pada seluruh perlakuan di awal percobaan adalah 13.7 kuntum dengan nilai persentase 100%. Rata-rata jumlah kuntum ini baik untuk bunga potong karena jumlahnya tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit, bila tangkai bunga terlalu banyak kuntum kemungkinan posisi tangkainya tidak akan tegak saat di pajang, sementara bila jumlah kuntum terlalu sedikit kemungkinan masa kesegarannya tidak tahan lama.

4 18 Tabel 2. Jumlah dan Persentase Kuntum Bunga yang Masih Kuncup di Awal Percobaan pada berbagai Perlakuan Waktu Konsentrasi (ppm) Rata-rata (menit) Waktu ----kuntum bunga (58.9%) 8.3 (60.6%) 9.7 (69.8%) 8.6 (60.1%) 8.7 (62.4%) (64.7%) 7.9 (58.1%) 7.9 (62.7%) 9.3 (66.4%) 8.4 (62.9%) (64.2%) 8.7 (67.4%) 8.9 (62.7%) 8.9 (66.4%) 8.8 (65.0%) Rata-rata konsentrasi (56.9%) 8.3 (60.9%) (59.4%) 8.3 (61.3%) (72.6%) 9.1 (67.0%) (68.8%) 9.2 (65.4%) (64.4%) 8.7 (63.7%) Tabel 3. Jumlah dan Persentase Kuntum Bunga yang Sudah Mekar di Awal Percobaan pada berbagai Perlakuan Waktu Konsentrasi (ppm) Rata-rata (menit) Waktu ----kuntum bunga (41.1%) 5.4 (39.4%) 4.2 (30.2%) 5.8 (39.9%) 5.2 (37.6%) (35.3%) 5.7 (41.9%) 4.7 (37.3%) 4.7 (33.6%) 5.0 (37.1%) Rata-rata konsentrasi (35.8%) 5.8 (43.1%) 5.3 (39.1%) (32.6%) 5.6 (40.6%) 5.2 (38.7%) (37.3%) 3.8 (27.4%) 4.6 (33.0%) (33.6%) 4.6 (31.2%) 4.9 (34.6%) (35.0%) 5.0 (35.6%) 5.0 (36.3%) Tabel 2 menunjukan bahwa rata-rata jumlah kuntum bunga yang masih kuncup pada seluruh perlakuan di awal percobaan adalah 8.7 kuntum dengan nilai persentase 63.7 %, sedangkan tabel 3 menunjukan bahwa rata-rata jumlah kuntum bunga yang sudah mekar pada seluruh perlakuan di awal percobaan adalah 5 kuntum dengan nilai persentase 36.3%. Kondisi awal percobaan ini mengalami perubahan dari awal penelitian sampai akhir penelitian. Hal ini disebabkan oleh terdapatnya kuntum bunga baru yang mekar, layu, gugur dan terserang hama penyakit pada saat penelitian.

5 19 Aquades 0 ppm 80 ppm 160 ppm 240 ppm Kelompok 1 Aquades 0 ppm 80 ppm 160 ppm 240 ppm Kelompok 2 Aquades 0 ppm 80 ppm 160 ppm 240 ppm Kelompok 3 Gambar 4. Penampilan Bunga Potong Anggrek Dendrobium Woxinia pada 8 HSP, Beberapa Perlakuan Sudah Mengalami Kelayuan pada Kuntum Bunga yang Paling Bawah.

6 20 Aquades 0 ppm 80 ppm 160 ppm 240 ppm Kelompok 1 Aquades 0 ppm 80 ppm Kelompok ppm 240 ppm Aquades 0 ppm 80 ppm 160 ppm 240 ppm Kelompok 3 Gambar 5. Penampilan Bunga Potong Anggrek Dendrobium Woxinia Pada 22 HSP, Bunga yang Gugur Terdapat di Tangkai Bawah dan Tangkai Tengah Bunga pada Beberapa Perlakuan

7 21 Jumlah dan Persentase Kuntum Bunga Mekar Hasil sidik ragam pada lampiran 1 dan 2 menunjukkan bahwa konsentrasi, lama waktu perendaman dan interaksi antara keduanya tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah dan persentase kuntum bunga mekar, sedangkan kelompok berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah dan persentase kuntum bunga mekar. Hal ini disebabkan pada setiap pengelompokkan jumlah awal kuntum bunga berbeda-beda. Rata-rata jumlah dan persentase kuntum bunga mekar 1-29 HSP dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Jumlah dan Persentase Kuntum Bunga Mekar 1-29 HSP pada berbagai Perlakuan Waktu Konsentrasi (ppm) Rata-rata (menit) Waktu ----kuntum bunga mekar (78.4%) (86.9%) (85.9%) Rata-rata Konsentrasi (78.7%) 9.2 (82.5%) (82.0%) 8.5 (79.8%) 8.1 (86.9%) 9.2 (78.7%) 8.6 (81.9%) (85.8%) 8.3 (81.7%) 9.3 (80.6%) 11.1 (90.2%) 9.5 (84.6%) (86.3%) 10.1 (88.9%) 8.7 (84.9%) 9.1 (87.4%) 9.6 (86.9%) (83.1%) 9.1 (84.3%) 8.8 (84.6%) 9.4 (83.8%) 9.2 (83.9%) Tabel 4 menunjukan bahwa jumlah dan persentase kuntum bunga mekar dari semua perlakuan rata-ratanya relatif sama dari awal hingga akhir pengamatan (1-29 HSP) yaitu 9.2 kuntum mekar atau 83.9%. Jumlah kuntum bunga mekar dari awal sampai akhir pengamatan (1-29 HSP) hanya mengalami kenaikan 47.6% dari jumlah awal kuntum bunga mekar (36.3%), sehingga kuntum bunga tidak mekar sampai maksimal. Hal ini disebabkan perlakuan tidak memberikan pengaruh dalam mendorong pemekaran kuntum bunga, diduga larutan tidak terserap optimal oleh jaringan kuntum bunga karena metode perendamannya hanya dilakukan pada tangkai bunga saja, bukan pada bunga secara keseluruhan atau tidak dilakukan penyemprotan larutan langsung pada kuntum bunga.

8 22 Selama pengamatan jumlah kuntum bunga mekar mengalami perubahan dari 1 29 HSP. Perubahan itu dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Perubahan Jumlah Kuntum Bunga Mekar 1-29 HSP pada berbagai Perlakuan Perlakuan HSP kuntum bunga mekar----- Konsentrasi (ppm) Waktu (menit) Tabel 5 menunjukan bahwa selama penelitian, kuntum bunga mekar mengalami perubahan dari awal penelitian sampai akhir penelitian. Rata-rata jumlah kuntum bunga mekar mengalami peningkatan pada 7 dan 15 HSP, selanjutnya kuntum bunga mekar terus mengalami penurunan sampai 29 HSP. Hal ini disebabkan sebagian bunga tersebut mengalami layu dan gugur. Pemanenan menentukan tingkat kemekaran bunga. Jumlah bunga mekar yang terlalu banyak pada saat panen, mengakibatkan bunga cepat mengalami kelayuan. Hal ini disebabkan cadangan energi yang terdapat dalam bunga sudah mulai berkurang saat digunakan selama pemekaran. Begitu juga sebaliknya apabila bunga yang dipanen masih kuncup atau belum ada bunga yang mekar, dimana persediaan gula atau karbohidrat sedikit diproduksi, maka bunga tidak akan dapat melakukan pemekaran. Hal ini disebabkan energi yang tersimpan hanyalah sedikit saat digunakan selama pemekaran, sehingga umur simpan bunga semakin pendek.

9 23 Jumlah dan Persentase Kuntum Bunga Layu Hasil sidik ragam pada lampiran 3 dan 4 menunjukkan bahwa konsentrasi, lama waktu perendaman dan interaksi antara keduanya tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah dan persentase kuntum bunga layu, sedangkan pengaruh kelompok sangat nyata terhadap jumlah kuntum bunga layu. Rata-rata jumlah dan persentase kuntum bunga layu dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Jumlah dan Persentase Kuntum Bunga Layu 1-29 HSP pada berbagai Perlakuan Waktu Konsentrasi (ppm) Rata-rata (menit) Waktu ----kuntum bunga layu (4.7%) 0.5 (5.1%) 0.6 (7.0%) 0.4 (3.0%) 0.5 (5.0%) (2.8%) 0.5 (5.2%) 0.5 (5.2%) 0.5 (4.1%) 0.5 (4.3%) (5.5%) 0.6 (7.5%) 0.5 (5.0%) 0.6 (5.5%) 0.6 (5.9%) (5.4%) 0.5 (4.7%) 0.3 (2.7%) 0.8 (6.9%) 0.5 (4.9%) Rata-rata Konsentrasi 0.6 (4.6%) 0.5 (5.6%) 0.5 (5.0%) 0.6 (4.9%) 0.5 (5.0%) Tabel 6 menunjukan bahwa jumlah dan persentase kuntum bunga layu dari semua perlakuan rata-ratanya relatif sama dari awal hingga akhir pengamatan (1-29 HSP) yaitu 0.5 kuntum layu atau 5.0 %. Selama penelitian, kuntum bunga layu mengalami perubahan dari awal penelitian sampai akhir penelitian. Tabel 7 menunjukan bahwa selama penelitian kuntum bunga layu mengalami perubahan dari awal penelitian sampai akhir penelitian. Rata-rata jumlah kuntum bunga layu mengalami peningkatan pada 7 HSP, selanjutnya kuntum bunga layu terus mengalami penurunan sampai 29 HSP. Hal ini dapat dikatakan bahwa bunga mengalami tingkat kelayuan maksimal pada 7 HSP. Penurunan bunga layu disebabkan oleh banyaknya bunga yang mengalami gugur dan mekar selama masa peragaan.

10 24 Tabel 7. Perubahan Jumlah Kuntum Bunga Layu 1-29 HSP pada berbagai Perlakuan Perlakuan HSP kuntum bunga layu----- Konsentrasi (ppm) Waktu (menit) Bunga mengalami kelayuan karena terjadi kerusakan akibat jaringan pada bunga mengalami kematangan. Selain itu kelayuan pada bunga dapat terjadi karena pasokan air yang tidak lancar atau tertutupnya tangkai atau batang bunga karena mengalami kontaminasi oleh mikroorganisme sehingga penyerapan air terganggu. Layu adalah terkulai atau mengkerutnya jaringan akibat perubahan sifat elastis karena menurunya tegangan turgor. Kelayuan berhubungan dengan potensial air pada jaringan (Halevy and Mayak, 1979). Jumlah dan Persentase Kuntum Bunga Gugur Hasil sidik ragam pada lampiran 5 dan 6 menunjukkan bahwa konsentrasi, lama waktu perendaman dan interaksi antara keduanya tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah dan persentase kuntum bunga gugur, sedangkan pengaruh kelompok berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah kuntum bunga gugur, tetapi pada persentase kuntum bunga gugur tidak berpengaruh nyata. Rata-rata jumlah dan persentase kuntum bunga gugur dapat lihat pada Tabel 8.

11 25 Tabel 8. Jumlah dan Persentase Kuntum Bunga Gugur 1-29 HSP pada berbagai Perlakuan Waktu Konsentrasi (ppm) Rata-rata (menit) Waktu ----kuntum bunga gugur (4.1%) 0.4 (5.9%) 0.4 (8.0%) 0.3 (2.7%) 0.4 (5.2%) (4.9%) 0.4 (5.4%) 0.4 (6.0%) 0.4 (4.9%) 0.4 (5.3%) (4.8%) 0.5 (8.6%) 0.5 (6.4%) 0.5 (6.5%) 0.5 (6.6%) (4.8%) 0.4 (5.6%) 0.4 (5.0%) 0.5 (7.0%) 0.4 (5.6%) Rata-rata Konsentrasi 0.4 (4.7%) 0.4 (6.4%) 0.4 (6.4%) 0.4 (5.3%) 0.4 (5.7%) Tabel 8 menunjukan bahwa jumlah dan persentase kuntum bunga gugur dari semua perlakuan rata-ratanya relatif sama dari awal hingga akhir pengamatan (1-29 HSP) yaitu 0.4 kuntum gugur atau 5.7 %. Selama penelitian, kuntum bunga gugur mengalami perubahan dari awal penelitian sampai akhir penelitian. Perubahan jumlah kuntum bunga gugur dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9. Perubahan Jumlah Kuntum Bunga Gugur 1-29 HSP pada berbagai Perlakuan Perlakuan HSP kuntum bunga gugur----- Konsentrasi (ppm) Waktu (menit)

12 26 Tabel 9 menunjukan bahwa rata-rata jumlah kuntum bunga mulai gugur pada 7 HSP, kemudian terus meningkat sampai 29 HSP. Peningkatan jumlah kuntum gugur bunga dari 1-29 HSP disebabkan terdapatnya kuntum yang sudah layu karena faktor umur bunga semakin tua selama penelitian dan gugurnya kuncup bunga yang masih muda yang tidak mengalami proses pemekaran. Ratarata bunga mengalami gugur setelah melalui fase layu dan kering terlebih dahulu, sehingga gugurnya bunga berlangsung normal. Masa Pajang (Vase Life) Bunga Masa pajang (vase life) bunga potong merupakan lamanya umur relatif bunga potong dalam keadaan tetap segar dan indah setelah dipotong dari tanaman induknya (Wiryanto, 1993). Vase life bunga potong anggrek dihitung sejak bunga mulai dipanen sampai 50 persen dari total bunga mengalami kelayuan. Hasil sidik ragam pada lampiran 7 menunjukkan bahwa interaksi konsentrasi dengan lama waktu perendaman dan kelompok berpengaruh nyata terhadap vase life bunga potong anggrek, sehingga dilakukan uji lanjut Duncan pada taraf 5 %. Hasil uji lanjut interaksi antara konsentrasi dan lama waktu perendaman dapat di lihat pada Tabel 10. Tabel 10. Uji Lanjut Duncan Taraf 5 % terhadap Vase Life Bunga Potong Anggrek Dendrobium Woxinia pada berbagai Perlakuan Waktu Konsentrasi (ppm) Rata-rata (menit) Waktu ----hari a 26.8 a 23.9 ba 29.0 a 27.1 a a 25.9 a 23.7 ba 27.0 a 25.8 ab a 18.9 b 27.2a 26.1 a 24.9 ab a 26.5 a 27.9 a 23.4ab 26.2 ab Rata-rata Konsentrasi 27.4 a 24.5 ab 25.7 ba 26.4 ab 26.0 ab Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama pada kolom dan baris sama menunjukan tidak berbeda nyata berdasarkan Uji lanjut Duncan pada taraf 5 %

13 27 Tabel 10 menunjukan bahwa masa pajang (vase life) dari semua perlakuan rata-ratanya relatif sama dari awal hingga akhir pengamatan (1-29 HSP) yaitu 26 hari. Pada perlakuan konsentrasi 80 ppm dengan lama waktu perendaman 90 menit hasilnya terlihat berbeda nyata dengan perlakuan yang lain yaitu 18.9 hari. Pada perlakuan kontrol atau konsentrasi 0 ppm (tanpa perendaman ) hasil rata-ratanya sedikit lebih besar daripada yang menggunakan perendaman, sehingga perlakuan hanya sedikit memberikan pengaruh dalam memperpanjang vase life bunga. Hal ini diduga larutan tidak terserap optimal oleh jaringan kuntum bunga, karena metode perendamannya hanya dilakukan pada tangkai bunga saja bukan pada bunga secara keseluruhan. Rendahnya vase life bunga potong anggrek pada perlakuan konsentrasi 80 ppm dengan lama waktu perendaman 90 menit diduga bahwa proses metabolisme bunga ini berlangsung lebih tinggi sehingga cadangan energi yang tersimpan digunakan lebih banyak yang menyebabkan energi pada bunga habis terpakai. Volume Larutan Terserap Hasil sidik ragam pada lampiran 8 menunjukkan bahwa konsentrasi, lama waktu perendaman, interaksi, dan kelompok tidak berpengaruh nyata terhadap volume larutan yang terserap pada taraf 5 %. Rata-rata data volume yang terserap pada bunga potong anggrek dapat dilihat dari Tabel 11. Tabel 11. Volume Larutan Terserap 29 HSP dikurangi 1 HSP pada berbagai Perlakuan Waktu Konsentrasi (ppm) Rata-rata (menit) Waktu ----ml Rata-rata Konsentrasi

14 28 Tabel 11 menunjukan bahwa volume larutan terserap pada kuntum bunga dari semua perlakuan rata-ratanya relatif sama dari awal pengamatan (1 HSP) dikurangi akhir pengamatan (29 HSP) yaitu 26.4 ml. Perlakuan tidak memberikan pengaruh dalam meningkatkan volume larutan yang terserap. Hal ini disebabkan tidak dapat mempercepat proses tranpirasi pada bunga. Bunga akan mengalami transpirasi atau kehilangan air dalam melakukan aktivitas metabolismenya. Transpirasi merupakan proses hilangnya air karena adanya penguapan dari jaringan bunga selama melakukan aktivitasnya. Semakin lama bunga melakukan kegiatan respirasi dan aktivitas lainnya maka semakin banyak terjadinya transpirasi dari bunga, karena makin banyak terjadi transpirasi pada bunga maka larutan yang terserap selama masa keragaan makin banyak pula. Dengan demikian bunga yang makin banyak menyerap larutan mampu bertahan hidup lebih lama karena dapat menggantikan air yang hilang selama proses hidupnya. Waktu Terserang Hama dan Penyakit Pada penelitian ini tidak ditemukan adanya hama yang menyerang bunga. Kemungkinan hal ini terjadi karena penelitian ini dilakukan dalam ruangan laboratorium yang steril dari hama. Selain itu, diduga konsentrasi perlakuan dapat mempertahankan bunga dari serangan hama. Hasil sidik ragam pada lampiran 9 menunjukkan bahwa konsentrasi, lama waktu perendaman, interaksi, dan kelompok tidak berpengaruh nyata terhadap waktu terserang penyakit sehingga hasil analisis tidak dapat di uji lanjut. Hal ini berarti setiap perlakuan memiliki pertahanan yang baik terhadap serangan penyakit tanaman. Rata-rata waktu terserang penyakit tanaman dapat dilihat pada Tabel 12.

15 29 Tabel 12. Waktu Terserang Penyakit 1-29 HSP pada berbagai Perlakuan Waktu Konsentrasi (ppm) Rata-rata (menit) Waktu ----hari Rata-rata Konsentrasi Tabel 12 menunjukan bahwa pada umumnya setiap perlakuan relatif aman dari serangan penyakit, hanya ada 2 perlakuan yang terserang penyakit yaitu pada perlakuan konsentrasi 0 dan 80 ppm dengan lama waktu perendaman selama 60 menit. Perlakuan tersebut mulai terserang penyakit pada hari ke-28.8 dan Rata-rata serangan penyakit mulai terjadi pada hari ke 28.9, akan tetapi ada beberapa perlakuan yang tidak terserang penyakit sampai akhir pengamatan. Rendahnya serangan penyakit disebabkan oleh kondisi alat-alat yang digunakan saat penelitian bersih, suhu ruangan yang baik untuk menghambat pertumbuhan penyakit dan kondisi awal bunga anggrek pada saat prapanen relatif bebas dari penyakit. Penyakit yang menyerang pada bunga potong ini adalah penyakit yang disebabkan oleh cendawan. Cendawan yang tumbuh pada bunga botong dalam penelitian diduga jenis Corticium salmonicolor (jamur upas), berdasarkan ciri-ciri yang tampak yaitu hifa atau miselia cendawan berwarna putih kemerahan. Ciriciri jamur upas adalah miselia tampak seperti sarang laba-laba/sutera mengkilap yang kemudian warnanya berubah menjadi merah jambu (Deptan, 2009). Uji Hedonik Uji hedonik adalah uji tingkat kesukaan (Soekarto, 1981). Panelis dimintakan tanggapan pribadinya tentang kesukaan atau sebaliknya (ketidaksukaan). Disamping panelis mengemukakan tanggapan senang, suka atau kebalikannya, mereka juga mengemukakan tingkat kesukaannya. Tingkat-tingkat kesukaan ini disebut skala hedonik. Skala hedonik dapat direntangkan menurut

16 30 rentangan skala yang dikehendakinya. Skala hedonik dapat juga diubah menjadi skala numerik dengan angka mutu menurut tingkat kesukaan, dengan data numerik ini dapat dilakukan analisis secara statistik. Uji hedonik dilakukan diakhir pengamatan yaitu pada hari ke 29. Jumlah panelis pada uji hedonik ini berjumlah 50 orang, yang terdiri dari 25 mahasiswa putra dan 25 mahasiswa putri. Seluruh panelis memberikan skor tingkat kesukaannya kepada masing-masing sampel bunga yang mewakili setiap perlakuan. Tingkat kesukaan pada uji ini dilakuakn terhadap warna, aroma, kesegaran dan overall atau penampilan menyeluruh bunga potong. Pengolahan data pada uji hedonik dari penelitian ini menggunakan metode uji Friedman. 1. Hasil Uji dari Panelis Perempuan a. Warna Hasil uji Friedman untuk warna pada lampiran 10 menunjukkan bahwa warna bunga yang paling banyak disukai panelis perempuan adalah warna bunga pada perlakuan konsentrasi 0 ppm dengan lama waktu perendaman 90 menit. Fungsi uji warna pada penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkatan warna bunga yang paling disukai panelis. Warna bunga anggrek pada penelitian ini umunya berwarna putih cerah, namun selama penelitian, tingkatan kecerahan warna bunga anggrek ini berbeda-beda. Tingkat kecerahan warna terjadi karena adanya bunga yang masih putih cerah dan ada juga yang mengalami proses pencoklatan pada kuntum bunga akibat bunga tersebut mengalami kelayuan. b. Aroma Hasil uji Friedman untuk aroma pada lampiran 11 menunjukkan bahwa aroma bunga yang paling banyak disukai panelis perempuan adalah aroma bunga pada perlakuan konsentrasi 240 ppm dengan lama waktu perendaman 90 menit. Fungsi uji aroma pada penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat keharuman bunga yang paling disukai panelis dari setiap perlakuan. Pada awal penelitian (1 HSP) rata-rata kuntum bunga memiliki tingkat aroma harum yang sama, namun selama penelitian tingkat keharuman dari setiap perlakuan bunga berbeda-beda.

17 31 c. Kesegaran Hasil uji Friedman untuk kesegaran pada lampiran 12 menunjukkan bahwa kesegaran bunga yang paling banyak disukai panelis perempuan adalah kesegaran bunga pada perlakuan konsentrasi 160 ppm dengan lama waktu 60 menit. d. Penampilan Keseluruhan Bunga (Overall) Hasil uji Friedman untuk overall pada lampiran 13 menunjukkan bahwa penampilan keseluruhan bunga yang paling banyak disukai panelis perempuan adalah bunga pada perlakuan konsentrasi 160 ppm dengan lama waktu perendaman 120 menit. 2. Hasil Uji dari Panelis Laki-laki a. Warna Hasil uji Friedman untuk warna pada lampiran 14 menunjukkan bahwa warna bunga yang paling banyak disukai panelis laki-laki adalah warna bunga pada perlakuan konsentrasi 160 ppm dengan lama waktu perendaman 120 menit. Fungsi uji warna pada penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkatan warna bunga yang paling disukai panelis. Warna bunga anggrek pada penelitian ini umunya berwarna putih cerah, namun selama penelitian, tingkatan kecerahan warna bunga anggrek ini berbeda-beda. Tingkat kecerahan warna terjadi karena adanya bunga yang masih putih cerah dan ada juga yang mengalami proses pencoklatan pada kuntum bunga akibat bunga tersebut mengalami kelayuan. b. Aroma Hasil uji Friedman untuk aroma pada lampiran 15 menunjukkan bahwa aroma bunga yang paling banyak disukai panelis laki-laki adalah aroma bunga pada perlakuan konsentrasi 80 ppm dengan lama waktu perendaman 120 menit. Fungsi uji aroma pada penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat keharuman bunga yang paling disukai panelis dari setiap perlakuan. Pada awal penelitian (1 HSP) rata-rata kuntum bunga memiliki tingkat aroma harum yang sama, namun selama penelitian tingkat keharuman dari setiap perlakuan bunga berbeda-beda.

18 32 c. Kesegaran Hasil uji Friedman untuk kesegaran pada lampiran 16 menunjukkan bahwa kesegaran bunga yang paling banyak disukai panelis laki-laki adalah kesegaran bunga pada perlakuan konsentrasi 160 ppm dengan lama waktu perendaman 120 menit. d. Penampilan Keseluruhan Bunga (Overall) Hasil uji Friedman untuk overall pada lampiran 17 menunjukkan penampilan keseluruhan bunga yang paling banyak disukai panelis laki-laki adalah bunga pada perlakuan konsentrasi 160 ppm dengan lama waktu perendaman 120 menit. Hasil uji hedonik panelis perempuan menunjukan bahwa warna, aroma, kesegaran dan penampakan keseluruhan bunga (overall) masing-masing memiliki tingkat kesukaan yang berbeda dari setiap perlakuan. Sementara panelis laki-laki memberikan hasil bahwa warna, kesegaran dan overall memiliki tingkat kesukaan yang sama yaitu pada perlakuan 160 ppm dengan lama waktu 120 menit, sedangkan pada aroma berbeda. Rata-rata laki-laki menyukai bunga pada perlakuan 160 ppm dengan lama waktu perendaman 120 menit. Pada penampakan keseluruhan bunga dari panelis laki-laki dan peremuan menunjukan hasil bahwa perlakuan 160 ppm dengan lama waktu perendaman 120 menit merupakan perlakuan yang paling banyak disukai oleh seluruh panelis.

BAHAN DAN METODE. = µ + A i + B j + (AB) ij + C k + ijk

BAHAN DAN METODE. = µ + A i + B j + (AB) ij + C k + ijk 10 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pendidikan Hortikultura. Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Lebih terperinci

PENGARUH PERENDAMAN TANGKAI BUNGA DALAM CaCl 2 TERHADAP KUALITAS PASCAPANEN BUNGA POTONG ANGGREK Dendrobium Woxinia

PENGARUH PERENDAMAN TANGKAI BUNGA DALAM CaCl 2 TERHADAP KUALITAS PASCAPANEN BUNGA POTONG ANGGREK Dendrobium Woxinia PENGARUH PERENDAMAN TANGKAI BUNGA DALAM CaCl 2 TERHADAP KUALITAS PASCAPANEN BUNGA POTONG ANGGREK Dendrobium Woxinia Oleh Nurcahyawati A34304043 PROGRAM STUDI HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN

Lebih terperinci

PENGARUH PERENDAMAN TANGKAI BUNGA DALAM CaCl 2 TERHADAP KUALITAS PASCAPANEN BUNGA POTONG ANGGREK Dendrobium Woxinia

PENGARUH PERENDAMAN TANGKAI BUNGA DALAM CaCl 2 TERHADAP KUALITAS PASCAPANEN BUNGA POTONG ANGGREK Dendrobium Woxinia PENGARUH PERENDAMAN TANGKAI BUNGA DALAM CaCl 2 TERHADAP KUALITAS PASCAPANEN BUNGA POTONG ANGGREK Dendrobium Woxinia Oleh Nurcahyawati A34304043 PROGRAM STUDI HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. mawar merupakan salah satu bunga yang sangat diminati masyarakat, karena

I. PENDAHULUAN. mawar merupakan salah satu bunga yang sangat diminati masyarakat, karena I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Florikultura merupakan sektor bisnis yang menjanjikan, salah satunya agribisnis bunga potong. Bisnis bunga potong berkembang pesat seiring dengan meningkatnya kebutuhan

Lebih terperinci

PASCA PANEN BUNGA POTONG (KRISAN)

PASCA PANEN BUNGA POTONG (KRISAN) PASCA PANEN BUNGA POTONG (KRISAN) Post 04 Desember 2014, By Ir. Elvina Herdiani, MP. bbpplbungapotperkembangan bisnis bunga potong meningkat dengan cukup pesat dari waktu ke waktu, hal ini menunjukkan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 21 HASIL DAN PEMBAHASAN Percobaan 1 Rata-rata volume larutan holding yang diserap oleh tangkai bunga disajikan pada Tabel 2. Hasil percobaan 1 menunjukkan bahwa konsentrasi aplikasi chitosan tidak memberikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Bunga potong dapat diartikan sebagai bunga yang dipotong dari tanamannya dengan tujuan sebagai penghias ruangan atau karangan bunga. Menurut Widyawan dan Prahastuti

Lebih terperinci

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN VI. HASIL DAN PEMBAHASAN Perubahan mutu yang diamati selama penyimpanan buah manggis meliputi penampakan sepal, susut bobot, tekstur atau kekerasan dan warna. 1. Penampakan Sepal Visual Sepal atau biasa

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 2. Cendawan pada Stek (a), Batang Kecoklatan pada Stek (b) pada Perlakuan Silica gel

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 2. Cendawan pada Stek (a), Batang Kecoklatan pada Stek (b) pada Perlakuan Silica gel HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Stek Pengamatan keadaan umum stek bertujuan untuk mengetahui sifat fisik, kualitas dan daya tumbuh stek selama penyimpanan. Keadaan umum stek yang diamati meliputi warna,

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Botani Anggrek

TINJAUAN PUSTAKA Botani Anggrek TINJAUAN PUSTAKA Botani Anggrek Menurut Sheehan (1992) anggrek merupakan tanaman hias yang unik. Tanaman ini memiliki perbedaan vegetatif yang luas. Berdasarkan taksonomi, anggrek termasuk famili yang

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Cabai Merah (Capsicum annuum L.) Karakteristik awal cabai merah (Capsicum annuum L.) diketahui dengan melakukan analisis proksimat, yaitu kadar air, kadar vitamin

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Perubahan Ion Leakage Ion merupakan muatan larutan baik berupa atom maupun molekul dan dengan reaksi transfer elektron sesuai dengan bilangan oksidasinya menghasilkan ion.

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Sistematika Ilmiah dan Botani Tanaman Krisan. Klasifikasi ilmiah tanaman krisan menurut Direktorat Jendral Hortikultura

TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Sistematika Ilmiah dan Botani Tanaman Krisan. Klasifikasi ilmiah tanaman krisan menurut Direktorat Jendral Hortikultura II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sistematika Ilmiah dan Botani Tanaman Krisan Klasifikasi ilmiah tanaman krisan menurut Direktorat Jendral Hortikultura (2013) adalah sebagai berikut: Kingdom Divisi Sub divisi

Lebih terperinci

PENGARUH PULSING DENGAN AIR KELAPA DAN SUHU PENYIMPANAN TERHADAP MUTU BUNGA POTONG MAWAR (Rosa hybrida) ABSTRACT ABSTRAK

PENGARUH PULSING DENGAN AIR KELAPA DAN SUHU PENYIMPANAN TERHADAP MUTU BUNGA POTONG MAWAR (Rosa hybrida) ABSTRACT ABSTRAK PENGARUH PULSING DENGAN AIR KELAPA DAN SUHU PENYIMPANAN TERHADAP MUTU BUNGA POTONG MAWAR (Rosa hybrida) Riva R. Rengkuan ) Ireine A. Longdong STP, MP ) Dr. Ir Lady C. Ch. Lengkey, MSi ) ABSTRACT Effects

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka

I. PENDAHULUAN. Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka I. PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian dan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Steenis (1987) klasifikasi tanaman mawar adalah sebagai berikut:

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Steenis (1987) klasifikasi tanaman mawar adalah sebagai berikut: II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sistematika dan Botani Tanaman Mawar Menurut Steenis (1987) klasifikasi tanaman mawar adalah sebagai berikut: Kingdom Divisio Sub Divisio Classis Ordo Familia Genus Species : Plantae

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bunga potong adalah bunga yang kini banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bahan rangkaian bunga salah satunya adalah Bunga Krisan. Hasil observasi di Pasar

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. perendam daging ayam broiler terhadap awal kebusukan disajikan pada Tabel 6.

HASIL DAN PEMBAHASAN. perendam daging ayam broiler terhadap awal kebusukan disajikan pada Tabel 6. 1 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Terhadap Awal Kebusukan Daging Ayam Broiler Hasil penelitian pengaruh berbagai konsentrasi daun salam sebagai perendam daging ayam broiler terhadap awal kebusukan

Lebih terperinci

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. Hasil sidik ragam pada lampiran 3a, bahwa pemberian KMnO 4 berpengaruh terhadap

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. Hasil sidik ragam pada lampiran 3a, bahwa pemberian KMnO 4 berpengaruh terhadap IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Pengaruh Konsentrasi KMnO 4 Terhadap Susut Berat Hasil sidik ragam pada lampiran 3a, bahwa pemberian KMnO 4 berpengaruh terhadap susut berat cabai merah berbeda nyata

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Botani Tanaman Mawar Menurut Tjitrosoepomo (1996), Morfologi tanaman mawar adalah sebagai berikut: Kingdom Divisi Sub- Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Plantae : Spermathopyta

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 17 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian ini berlangsung di kebun manggis daerah Cicantayan Kabupaten Sukabumi dengan ketinggian 500 700 meter di atas permukaan laut (m dpl). Area penanaman manggis

Lebih terperinci

Pengaruh Pemberian Beberapa Konsentrasi Bahan Pengawet Chrysal terhadap Kesegaran Bunga Sedap Malam (Polianthes tuberosa)

Pengaruh Pemberian Beberapa Konsentrasi Bahan Pengawet Chrysal terhadap Kesegaran Bunga Sedap Malam (Polianthes tuberosa) AGROTROP, 7 (1): 79-88 (2017) ISSN: 2088-155X Fakultas Pertanian Universitas Udayana Denpasar Bali - Indonesia Pengaruh Pemberian Beberapa Konsentrasi Bahan Pengawet Chrysal terhadap Kesegaran Bunga Sedap

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

BAB III METODE PENELITIAN. dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September sampai Oktober 2013 di Laboratorium Patologi, Entomologi, dan Mikrobiologi Fakultas Pertanian dan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian

III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan selama 7 bulan pada bulan Mei sampai bulan Desember 2015 di kebun salak Tapansari, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Salak yang

Lebih terperinci

2007 DEPARTEMEN TEKNIK PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2007 DEPARTEMEN TEKNIK PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR SKRIPSI PENGARUH PERLAKUAN PRA PENYIMPANAN, SUHU DAN KOMPOSISI LARUTAN PULSING TERHADAP KESEGARAN BUNGA POTONG GERBERA (Gerbera jamessonii) SELAMA PENYIMPANAN Oleh : GD SUASTAMA SAGITA MANU F14103014 2007

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2011 sampai bulan Mei 2011 bertempat

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2011 sampai bulan Mei 2011 bertempat 20 III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2011 sampai bulan Mei 2011 bertempat di Laboratorium Rekayasa Bioproses dan Pasca Panen, Jurusan Teknik

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. WARNA KULIT BUAH Selama penyimpanan buah pisang cavendish mengalami perubahan warna kulit. Pada awal pengamatan, buah berwarna hijau kekuningan dominan hijau, kemudian berubah

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengemasan Buah Nanas Pada penelitian ini dilakukan simulasi transportasi yang setara dengan jarak tempuh dari pengumpul besar ke pasar. Sebelum dilakukan simulasi transportasi,

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian

III. METODE PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2015 sampai bulan Januari 2016 di kebun salak Tapansari, Candibinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Luas

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. perendaman bunga potong pada hari ke 6 pengamatan disajikan pada Tabel 4.

HASIL DAN PEMBAHASAN. perendaman bunga potong pada hari ke 6 pengamatan disajikan pada Tabel 4. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. ph larutan Derajat keasaman (ph) merupakan tingkatan asam basa suatu larutan yang diukur dengan skala 0 sampai dengan 14. Tinggi rendahnya ph air sangat dipengaruhi oleh kandungan

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur In Vitro Fakultas

TATA CARA PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur In Vitro Fakultas III. TATA CARA PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur In Vitro Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Penelitian dimulai pada bulan April

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. wilayah beriklim sedang, tropis, dan subtropis. Tanaman ini memerlukan iklim

II. TINJAUAN PUSTAKA. wilayah beriklim sedang, tropis, dan subtropis. Tanaman ini memerlukan iklim 15 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Deskripsi Tanaman Buncis Buncis berasal dari Amerika Tengah, kemudian dibudidayakan di seluruh dunia di wilayah beriklim sedang, tropis, dan subtropis. Tanaman ini memerlukan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL PENELITIAN PENDAHULUAN Dari penelitian pendahuluan diperoleh bahwa konsentrasi kitosan yang terbaik untuk mempertahankan mutu buah markisa adalah 1.5%. Pada pengamatan

Lebih terperinci

Jurnal Agrijati V. 14 (1); Agustus, 2010

Jurnal Agrijati V. 14 (1); Agustus, 2010 Pengaruh Konsentrasi Gula dan AgNO 3 dalam Larutan Pulsing terhadap Mutu Keragaan Bunga Mawar Potong (Rosa sinensis L.) Oleh : Siti Wahyuni Dosen Fakultas Pertanian Unswagati Cirebon Penelitian ini bertujuan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. PENELITIAN PENDAHULUAN Penelitian pendahuluan diawali dengan melakukan uji terhadap buah salak segar Padangsidimpuan. Buah disortir untuk memperoleh buah dengan kualitas paling

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. dan mempertahankan kesegaran buah. Pada suhu dingin aktivitas metabolisme

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. dan mempertahankan kesegaran buah. Pada suhu dingin aktivitas metabolisme IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Suhu Suhu merupakan faktor yang sangat penting untuk memperpanjang umur simpan dan mempertahankan kesegaran buah. Pada suhu dingin aktivitas metabolisme menjadi lambat sehingga

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 9. Pola penyusunan acak

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 9. Pola penyusunan acak IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pengaruh Penyusunan Buah Dalam Kemasan Terhadap Perubahan Suhu Penelitian ini menggunakan dua pola penyusunan buah tomat, yaitu pola susunan acak dan pola susunan teratur. Pola

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. A. Krisan (Crysanthemum sp.) Krisan (Crysanthemum sp.) adalah tanaman yang berasal dari Cina.

TINJAUAN PUSTAKA. A. Krisan (Crysanthemum sp.) Krisan (Crysanthemum sp.) adalah tanaman yang berasal dari Cina. II. TINJAUAN PUSTAKA A. Krisan (Crysanthemum sp.) Krisan (Crysanthemum sp.) adalah tanaman yang berasal dari Cina. Menurut Rukmana dan Mulyana (1997), tingkatan takson dari krisan adalah sebagai berikut

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian ± 32 meter di

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian ± 32 meter di 14 BAHAN DAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Teknologi Benih, Fakultas Pertanian,, Medan dengan ketinggian ± 32 meter di atas permukaan laut, pada

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Perubahan Konsentrasi O dan CO dalam Kemasan mempunyai densitas antara.915 hingga.939 g/cm 3 dan sebesar,9 g/cm 3, dimana densitas berpengaruh terhadap laju pertukaran udara

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Susut Bobot Susut bobot merupakan salah satu faktor yang mengindikasikan penurunan mutu buah. Muchtadi (1992) mengemukakan bahwa kehilangan bobot pada buah-buahan yang disimpan

Lebih terperinci

Memperpanjang Kesegaran Bunga Potong Krisan (Dendranthema grandiflora Tzvelev.) dengan Larutan Perendam Sukrosa dan Asam Sitrat

Memperpanjang Kesegaran Bunga Potong Krisan (Dendranthema grandiflora Tzvelev.) dengan Larutan Perendam Sukrosa dan Asam Sitrat Agritrop, 26 (3) : 129-135 (2007) issn : 0215 8620 C Fakultas Pertanian Universitas Udayana Denpasar Bali - Indonesia Memperpanjang Kesegaran Bunga Potong Krisan (Dendranthema grandiflora Tzvelev.) dengan

Lebih terperinci

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. interaksi antara perlakuan umur pemanenan dengan konsentrasi KMnO 4. Berikut

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. interaksi antara perlakuan umur pemanenan dengan konsentrasi KMnO 4. Berikut IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian pada semua parameter menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi antara perlakuan umur pemanenan dengan konsentrasi KMnO 4. Berikut ini merupakan rata-rata

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. SUSUT BOBOT Susut bobot merupakan salah satu faktor yang mengindikasikan mutu tomat. Perubahan terjadi bersamaan dengan lamanya waktu simpan dimana semakin lama tomat disimpan

Lebih terperinci

47 Tabel 3. Rata-rata Persentase kecambah Benih Merbau yang di skarifikasi dengan air panas, larutan rebung dan ekstrak bawang merah Perlakuan Ulangan

47 Tabel 3. Rata-rata Persentase kecambah Benih Merbau yang di skarifikasi dengan air panas, larutan rebung dan ekstrak bawang merah Perlakuan Ulangan BAB IV HASIL PENELITIAN 4.1 Hasil Pengamatan Pengamatan dilakukan dengan mengamati kecambah benih merbau yang hidup yaitu dengan cara memperhatikan kotiledon yang muncul ke permukaan tanah. Pada tiap perlakuan

Lebih terperinci

PEMANFAATAN LIMBAH AIR KELAPA DAN ASAM SITRAT UNTUK MEMPERPANJANG KESEGARAN BUNGA POTONG SEDAP MALAM

PEMANFAATAN LIMBAH AIR KELAPA DAN ASAM SITRAT UNTUK MEMPERPANJANG KESEGARAN BUNGA POTONG SEDAP MALAM PEMANFAATAN LIMBAH AIR KELAPA DAN ASAM SITRAT UNTUK MEMPERPANJANG KESEGARAN BUNGA POTONG SEDAP MALAM (Polianthes tuberose) Hairurraziqin 1), Budi Santosa 2), Kgs Ahmadi 3) Program Studi Teknologi Indunstri

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Teknologi Pangan Universitas Katholik Soegiyapranata untuk analisis fisik (ph) dan Laboratorium Kimia Universitas

Lebih terperinci

PEMBAHASAN Pertumbuhan Tanaman Lily

PEMBAHASAN Pertumbuhan Tanaman Lily 62 PEMBAHASAN Pertumbuhan Tanaman Lily Pengamatan terhadap pertumbuhan vegetatif dan generatif dilakukan terhadap 20 tanaman contoh untuk setiap varietas. Lily yang dibudidayakan di kebun produksi Cibodas

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN III. METODOLOGI PENELITIAN A. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pangan dan Laboratorium Biofarmaka, IPB-Bogor. Penelitian ini berlangsung selama lima

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Benih Indigofera yang digunakan dalam penelitian ini cenderung berjamur ketika dikecambahkan. Hal ini disebabkan karena tanaman indukan sudah diserang cendawan sehingga

Lebih terperinci

1989).Sampel sebanyak 2 g dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer 500ml. balik. Didihkan selama 30 menit dan kadang kala digoyang- goyangkan.

1989).Sampel sebanyak 2 g dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer 500ml. balik. Didihkan selama 30 menit dan kadang kala digoyang- goyangkan. Penentuan kadar serat kasar Kadar serat kasar dianalisa dengan menggunakan metode Sudarmadji dkk, 1989).Sampel sebanyak 2 g dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer 500ml kemudian ditambahkan 200 ml H 2 SO4

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penilitan

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penilitan BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Jatibarang, Indramayu dan Laboratorium Pascapanen, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor. Penelitian

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Suhu Penyimpanan Terhadap Laju Respirasi Respirasi merupakan proses metabolisme oksidatif yang mengakibatkan perubahan-perubahan fisikokimia pada buah yang telah dipanen.

Lebih terperinci

Fisiologi Pasca Panen Pada Bunga Anggrek Potong FISIOLOGI PASCA PANEN PADA BUNGA ANGGREK POTONG

Fisiologi Pasca Panen Pada Bunga Anggrek Potong FISIOLOGI PASCA PANEN PADA BUNGA ANGGREK POTONG FISIOLOGI PASCA PANEN PADA BUNGA ANGGREK POTONG Oleh : Siswadi PENDAHULUAN Anggrek merupakan tanaman yang sangat banyak jenisnya, terutama keindahan bunganya. Bentuk, ukuran variasi warna, dan corak bunga

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Botani Anggrek Dendrobium sp

TINJAUAN PUSTAKA Botani Anggrek Dendrobium sp 4 TINJAUAN PUSTAKA Botani Anggrek Dendrobium sp Anggrek termasuk golongan Monocotyledoneae dan famili Orchidaceae. Famili ini terdiri atas 900 genus dan lebih dari 25.000 spesies (Llamas, 2003). Kontribusi

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN MBAHASAN A. SUSUT BOBOT Perubahan susut bobot seledri diukur dengan menimbang bobot seledri setiap hari. Berdasarkan hasil pengukuran selama penyimpanan, ternyata susut bobot seledri mengalami

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Terong atau yang dikenal dengan nama latin Solanum melongena L.

BAB I PENDAHULUAN. Terong atau yang dikenal dengan nama latin Solanum melongena L. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Terong atau yang dikenal dengan nama latin Solanum melongena L. adalah jenis tanaman yang hidup baik pada daerah tropis dan wilayah iklim sedang. Di daerah tropis terong

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi dan Botani Bunga Matahari

TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi dan Botani Bunga Matahari 4 TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi dan Botani Bunga Matahari Menurut Kristio (2007) dalam taksonomi tumbuhan, bunga matahari dapat diklasifikasikan sebagai berikut : Kingdom : Plantae Divisi : Magnoliophyta

Lebih terperinci

Pengendalian hama dan penyakit pada pembibitan yaitu dengan menutup atau mengolesi luka bekas pengambilan anakan dengan tanah atau insektisida,

Pengendalian hama dan penyakit pada pembibitan yaitu dengan menutup atau mengolesi luka bekas pengambilan anakan dengan tanah atau insektisida, PEMBAHASAN PT National Sago Prima saat ini merupakan perusahaan satu-satunya yang bergerak dalam bidang pengusahaan perkebunan sagu di Indonesia. Pengusahaan sagu masih berada dibawah dinas kehutanan karena

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Lahan Percobaan Lapang Terpadu dan Laboratorium

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Lahan Percobaan Lapang Terpadu dan Laboratorium 14 III. METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Lahan Percobaan Lapang Terpadu dan Laboratorium Benih dan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Lampung dari bulan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. PROSES PENGOLAHAN BERAS PRATANAK Gabah yang diperoleh dari petani masih bercampur dengan jerami kering, gabah hampa dan kotoran lainnya sehingga perlu dilakukan pembersihan.

Lebih terperinci

HUBUNGAN AIR DAN TANAMAN STAF LAB. ILMU TANAMAN

HUBUNGAN AIR DAN TANAMAN STAF LAB. ILMU TANAMAN HUBUNGAN AIR DAN TANAMAN STAF LAB. ILMU TANAMAN FUNGSI AIR Penyusun tubuh tanaman (70%-90%) Pelarut dan medium reaksi biokimia Medium transpor senyawa Memberikan turgor bagi sel (penting untuk pembelahan

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur In Vitro Fakultas

TATA CARA PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur In Vitro Fakultas III. TATA CARA PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur In Vitro Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada bulan Januari April 2016.

Lebih terperinci

IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. Air leri merupakan bahan organik dengan kandungan fosfor, magnesium

IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. Air leri merupakan bahan organik dengan kandungan fosfor, magnesium IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN Air leri merupakan bahan organik dengan kandungan fosfor, magnesium dan vitamin B1 yang efektif bila dimanfaatkan sebagai bahan tambahan pada proses perbanyakan tanaman

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Secara umumm planlet anggrek Dendrobium lasianthera tumbuh dengan baik dalam green house, walaupun terdapat planlet yang terserang hama kutu putih Pseudococcus spp pada

Lebih terperinci

Pengaruh Konsentrasi Larutan Sukrosa dan Waktu Perendaman Terhadap Kesegaran Bunga Potong Oleander (Nerium oleander L.)

Pengaruh Konsentrasi Larutan Sukrosa dan Waktu Perendaman Terhadap Kesegaran Bunga Potong Oleander (Nerium oleander L.) Biocelebes, Juni 2011, hlm. 71-81 ISSN: 1978-6417 Vol. 5 No. 1 Pengaruh Konsentrasi Larutan Sukrosa dan Waktu Perendaman Terhadap Kesegaran Bunga Potong Oleander (Nerium oleander L.) Eny Yuniati 1) dan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. ph Tanah Data hasil pengamatan ph tanah gambut sebelum inkubasi, setelah inkubasi, dan setelah panen (Lampiran 4) menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap peningkatan ph tanah.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara tropis yang kaya akan buah-buahan. Iklim di

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara tropis yang kaya akan buah-buahan. Iklim di I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara tropis yang kaya akan buah-buahan. Iklim di Indonesia memungkinkan berbagai jenis buah-buahan tumbuh dan berkembang. Namun sayangnya, masih banyak

Lebih terperinci

Lampiran 1. Prosedur Analisa

Lampiran 1. Prosedur Analisa LAMPIRAN 32 Lampiran 1. Prosedur Analisa 1. Kesegaran Sepal (Penampakan Sepal) Sepal diamati secara visual, Kemudian diberikan penilaian atau skor 1 sampai dengan 4. Nilai 1 untuk sepal manggis dengan

Lebih terperinci

III. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur In vitro Fakultas

III. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur In vitro Fakultas III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur In vitro Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, pada Bulan November 2015 hingga

Lebih terperinci

PERLAKUAN FISIK DAN KJMIA. UNTUK RlElMPERPANJANG KESEGARlN BUNGA POTONG

PERLAKUAN FISIK DAN KJMIA. UNTUK RlElMPERPANJANG KESEGARlN BUNGA POTONG PERLAKUAN FISIK DAN KJMIA UNTUK RlElMPERPANJANG KESEGARlN BUNGA POTONG SEDAP NIALAM (Polianthes tuberose L.) Oleh FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR Supardi. F. 29.0098. Perlakuan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. ulangan. Faktor pertama adalah jenis pati bahan edible coating (P) yang

BAB III METODE PENELITIAN. ulangan. Faktor pertama adalah jenis pati bahan edible coating (P) yang 48 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini termasuk dalam penelitian eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 faktor perlakuan dan 3 kali ulangan. Faktor

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang seharusnya kita dapat mempelajari dan bersyukur kepadanya. Kekayaan yang

BAB I PENDAHULUAN. yang seharusnya kita dapat mempelajari dan bersyukur kepadanya. Kekayaan yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia termasuk salah satu negara yang kaya dengan berbagai spesies flora. Kekayaan tersebut merupakan suatu anugerah besar yang diberikan Allah SWT yang seharusnya

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 19 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Kondisi Umum Penelitian Penelitian dilaksanakan di rumah kaca C Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. Penelitian ini dilakukan selama kurun waktu 4 bulan

Lebih terperinci

LAMPIRAN. Lampiran 1. Prosedur Analisis Kadar Air dengan Metode Gravimetri

LAMPIRAN. Lampiran 1. Prosedur Analisis Kadar Air dengan Metode Gravimetri LAMPIRAN Lampiran 1. Prosedur Analisis Kadar Air dengan Metode Gravimetri (AOAC 925.10-1995) Prinsip dari metode ini adalah berdasarkan penguapan air yang ada dalam bahan dengan jalan pemanasan, kemudian

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Bahan dan Alat

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Bahan dan Alat BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Buah mangga yang digunakan untuk bahan penelitian langsung diambil dari salah satu sentra produksi mangga, yaitu di daerah Indramayu, Kecamatan Jatibarang.

Lebih terperinci

LAPORAN AKHIR APLIKASI 1-METHYLCYCLOPROPENE (1-MCP) UNTUK MEMPERPANJANG KESEGARAN BUNGA KRISAN

LAPORAN AKHIR APLIKASI 1-METHYLCYCLOPROPENE (1-MCP) UNTUK MEMPERPANJANG KESEGARAN BUNGA KRISAN LAPORAN AKHIR APLIKASI 1-METHYLCYCLOPROPENE (1-MCP) UNTUK MEMPERPANJANG KESEGARAN BUNGA KRISAN (Dendrathema grandiflora) cv White Fiji DAN Yellow Fiji Oleh : Yayat Rochayat Suradinata JURUSAN BUDIDAYA

Lebih terperinci

III METODOLOGI PENELITIAN. Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan noga kacang hijau adalah

III METODOLOGI PENELITIAN. Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan noga kacang hijau adalah III METODOLOGI PENELITIAN Bab ini akan menjelaskan mengenai : (3.1) Bahan dan Alat, (3.2) Metode Penelitian, dan (3.3) Prosedur Penelitian. 3.1. Bahan dan Alat 3.1.1. Bahan-bahan yang Digunakan Bahan-bahan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. Percobaan ini dilakukan mulai

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. Percobaan ini dilakukan mulai BAHAN DAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Percobaan ini dilakukan di Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian,, Medan. Percobaan ini dilakukan mulai dari bulan April 2016 hingga Mei

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman dan Buah Manggis (Garcinia mangostana L.)

TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman dan Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) TINJAUAN PUSTAKA Tanaman dan Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) Manggis (Garcinia mangostana L.) termasuk buah eksotik yang digemari oleh konsumen baik di dalam maupun luar negeri, karena rasanya yang

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan Mei 2015.

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan Mei 2015. III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian di laksanakan di Sumatera Kebun Jamur, Budidaya Jamur, di Jalan, Benteng Hilir, No. 19. Kelurahan, Bandar Khalifah. Deli Serdang. Penelitian

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Tinggi Tanaman IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil pengamatan yang telah diperoleh terhadap tinggi tanaman cabai setelah dilakukan analisis sidik ragam (lampiran 7.a) menunjukkan bahwa pemberian pupuk

Lebih terperinci

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. Variabel pertumbuhan yang diamati pada eksplan anggrek Vanda tricolor

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. Variabel pertumbuhan yang diamati pada eksplan anggrek Vanda tricolor IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN Variabel pertumbuhan yang diamati pada eksplan anggrek Vanda tricolor berupa rerata pertambahan tinggi tunas, pertambahan jumlah daun, pertambahan jumlah tunas, pertambahan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Paprika. Syarat Tumbuh

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Paprika. Syarat Tumbuh 4 TINJAUAN PUSTAKA Botani Paprika Tanaman paprika (Capsicum annum var. grossum L.) termasuk ke dalam kelas Dicotyledonae, ordo Solanales, famili Solanaceae dan genus Capsicum. Tanaman paprika merupakan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Waktu penelitian dilaksanakan selama tiga bulan yaitu mulai dari bulan Maret hingga Mei 2011, bertempat di Laboratorium Pilot Plant PAU dan Laboratorium Teknik

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. (a) TK 2 (b) TK 3 (c) TK 4 Gambar 5. Manggis dengan tingkat kematangan berbeda

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. (a) TK 2 (b) TK 3 (c) TK 4 Gambar 5. Manggis dengan tingkat kematangan berbeda IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Tingkat Kematangan Buah Manggis Tingkat kematangan manggis yang dianalisis dalam tahap ini ada 3 yaitu tingkat kematangan 2, 3, dan 4. Tingkat kematangan 2 terlihat dari warna

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian bertempat di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Lampung, dan

III. METODE PENELITIAN. Penelitian bertempat di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Lampung, dan 13 III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian bertempat di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Lampung, dan dilaksanakan selama 4 bulan, yaitu dari bulan Februari sampai dengan

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN 17 METODOLOGI PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknik Pengolahan Pangan dan Hasil Pertanian (TPPHP) Departemen Teknik Mesin dan Biosistem, Fateta-IPB.

Lebih terperinci

Peningkatan Lama Kesegaran Bunga Gerbera dengan Penambahan 8-Hidroquinolin Sulfate, Sukrosa dan Asam Sitrat pada Larutan Perendam

Peningkatan Lama Kesegaran Bunga Gerbera dengan Penambahan 8-Hidroquinolin Sulfate, Sukrosa dan Asam Sitrat pada Larutan Perendam Peningkatan Lama Kesegaran Bunga Gerbera dengan Penambahan 8-Hidroquinolin Sulfate, Sukrosa dan Asam Sitrat pada Larutan Perendam Syariful Mubarok *), Ade Salimah, Farida, Nursuhud dan Ai Yanti Rismayanti

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Yogyakarta, GreenHouse di Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Yogyakarta, GreenHouse di Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di lahan kering, Desa Gading PlayenGunungkidul Yogyakarta, GreenHouse di Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan 3 ulangan. Faktor pertama, konsentrasi

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Masalah, (3) Maksud dan tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka. Penelitian, (6) Hipotesis, dan (7) Tempat Penelitian.

I PENDAHULUAN. Masalah, (3) Maksud dan tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka. Penelitian, (6) Hipotesis, dan (7) Tempat Penelitian. 12 I PENDAHULUAN Bab ini akan menguraikan mengenai : (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Penelitian, (6) Hipotesis, dan

Lebih terperinci

No. 5 - September 2009 Teknik Pengemasan

No. 5 - September 2009 Teknik Pengemasan No. 5 - September 2009 Teknik Pengemasan Þ«²¹ б ±²¹ Ó Bunga mawar sebagai bunga potong bermanfaat untuk dekorasi ruangan baik perkantoran, hotel, maupun restoran tampil baik secara tunggal, bergerombol,

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIAN. Penelitian dilakukan di Greenhouse Universitas Muhammadiyah

TATA CARA PENELITIAN. Penelitian dilakukan di Greenhouse Universitas Muhammadiyah III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Greenhouse Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan selama bulan November 2016-Februari

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Perubahan Parameter Fisik dan Organoleptik Pada Perlakuan Blansir 1. Susut Bobot Hasil pengukuran menunjukkan bahwa selama penyimpanan 8 hari, bobot rajangan selada mengalami

Lebih terperinci

Lampiran 1. Prosedur Analisa Karakteristik Bumbu Pasta Ayam Goreng 1. Kadar Air (AOAC, 1995) Air yang dikeluarkan dari sampel dengan cara distilasi

Lampiran 1. Prosedur Analisa Karakteristik Bumbu Pasta Ayam Goreng 1. Kadar Air (AOAC, 1995) Air yang dikeluarkan dari sampel dengan cara distilasi Lampiran 1. Prosedur Analisa Karakteristik Bumbu Pasta Ayam Goreng 1. Kadar Air (AOAC, 1995) Air yang dikeluarkan dari sampel dengan cara distilasi azeotropik kontinyu dengan menggunakan pelarut non polar.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Buah merupakan salah satu jenis pangan yang sangat penting peranannya bagi tubuh kita, terlebih karena mengandung beberapa vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh. Buah juga

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Botani Pisang

TINJAUAN PUSTAKA Botani Pisang 4 TINJAUAN PUSTAKA Botani Pisang Pisang adalah salah satu jenis tanaman pangan yang sudah dibudidayakan sejak dahulu. Pisang berasal dari kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia, kemudian menyebar luas

Lebih terperinci

LAPORAN ILMU TEKNOLOGI PANGAN Pembotolan Manisan Pepaya. Oleh :

LAPORAN ILMU TEKNOLOGI PANGAN Pembotolan Manisan Pepaya. Oleh : LAPORAN ILMU TEKNOLOGI PANGAN Pembotolan Manisan Pepaya Oleh : VIVIT NILASARI RINTHA AMELIA LUTHFIYAH NUR SAFITRI VINA AULIA P1337431214018 P1337431214023 P1337431214024 P1337431214033 Prodi D4 GIZI Politeknik

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Penentuan Laju Respirasi dengan Perlakuan Persentase Glukomanan Proses respirasi sangat mempengaruhi penyimpanan dari buah sawo yang terolah minimal, beberapa senyawa penting

Lebih terperinci