BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. Percobaan ini dilakukan mulai

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. Percobaan ini dilakukan mulai"

Transkripsi

1 BAHAN DAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Percobaan ini dilakukan di Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian,, Medan. Percobaan ini dilakukan mulai dari bulan April 2016 hingga Mei Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah buah pepaya dengan varietas calina, pasir sebagai media tumbuh, KNO 3 untuk meningkatkan viabilitas benih, air kelapa untuk meningkatkan viabilitas benih, aquades untuk merendam benih kontrol, dan label sebagai penanda. Adapun alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah bak kecambah, pisau, penggaris, penanda sampel, handsprayer, buku data dan alat tulis, timbangan analitik dan kamera. MetodePenelitian Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan 2 faktor : FaktorI : Konsentrasi KNO 3 (M) dengan 4taraf, yaitu : M 0 : Kontrol M 1 : Konsentrasi 2,5 % M 2 : Konsentrasi 5,0 % M 3 : Konsentrasi 7,5 % FaktorII : Konsentrasi Air Kelapa (N) dengan 5 taraf, yaitu : N 0 : Kontrol N 1 : Konsentrasi 25 %

2 N 2 : Konsentrasi 50 % N 3 : Konsentrasi 75 % N 4 : Konsentrasi 100 % Sehingga diperoleh 20 kombinasi perlakuan, yaitu : M 0 N 0 M 0 N 1 M 0 N 2 M 0 N 3 M 0 N 4 M 1 N 0 M 1 N 1 M 1 N 2 M 1 N 3 M 1 N 4 M 2 N 0 M 2 N 1 M 2 N 2 M 2 N 3 M 2 N 4 M 3 N 0 M 3 N 1 M 3 N 2 M 3 N 3 M 3 N 4 Jumlah ulangan : 3 ulangan Jumlah unit percobaan : 60 unit percobaan Jumlah biji tiap unit percobaan : 40 biji Jumlah biji seluruhnya : 2400 biji Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan sidik ragam dengan model linear sebagai berikut : Y ijk = μ + α i + β j + (αβ) ij + ε ijk i=1,2,3,4 (t) j=1,2,3,4,5 (t) k=1,2,3 (r) dimana : Y ijk : Data hasil pengamatan dari unit percobaan ke-k dengan perlakuan KNO 3 taraf ke-i air kelapa taraf ke-j μ : Nilai tengah α i : Efek konsentrasi KNO 3 taraf ke-i β j : Efek perlakuan konsentrasi air kelapa pada taraf ke-j (αβ) ij : Efek interaksi dari konsentrasi KNO 3 pada taraf ke-i dan perlakuan konsentrasi air kelapa pada taraf ke-j

3 ε ijk : Galat dari ulangan ke-k, konsentrasi KNO 3 pada taraf ke-i dan perlakuan konsentrasi air kelapa pada taraf ke-j Jika dari hasil analisis sidik ragam menunjukkan pengaruh yang nyata, maka dilanjutkan dengan Uji Beda Rataan berdasarkan Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5% (Steel and Torrie, 1989).

4 PELAKSANAAN PENELITIAN Persiapan Benih Buah pepaya yang telah dipanen kemudian dikupas dan biji dikeluarkan.biji yang digunakan adalah biji yang ukurannya seragam dan tidak terserang cendawan.biji dibersihkan dari aril dengan menggunakan air. Persiapan Media Perkecambahan Media perkecambahan yang digunakan adalah media pasir, kemudian dimasukkan kedalam bak kecambah dengan ketebalan ±4 cm. Sebelum digunakan, terlebih dahulu pasir diayak dengan ayakan dan disterilkan dengan cara digongseng selama+30 menit untuk menghilangkan kontaminasi dari cendawan dan bakteri. Pengecambahan benih dilakukan pada bak kecambah dengan ukuran 25 cm x 22 cm x 4 cm sebanyak 40 benih per bak kecambah dengan kedalaman lubang tanam pada media pasir sedalam 2 cm. Pengukuran Kadar Air Sebelum diberi perlakuan, benih diukur kadar air awalnya. Pengukuran kadar air dilakukan dengan cara beberapa benih ditumbuk dengan menggunakan mortal untuk dihaluskan dan kemudian ditimbang bobot basahnya. Setelah itu benih dimasukkan ke dalam oven pada suhu C selama 24 jam sampai berat benih konstan.kadar air benih yang didapat yaitu 26,389%. Kadar air benih dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Kadar Air = Bobot basah Bobot kering Bobot basah x 100% (Mugnisjah, et al.,1994)

5 Perendaman Dengan KNO 3 dan Air Kelapa Perlakuan perendaman terhadap biji pepaya dilakukan dengan biji pepaya direndam terlebih dahulu selama 25 menit dalam larutan KNO 3 sesuai dengan konsentrasi yang telah ditentukan, kemudian setelah itu biji pepaya dimasukkan kedalam air kelapa selama 25 menit dengan konsentrasi yang sesuai dengan perlakuan. Pemeliharaan Penyiraman dilakukan pada sore hari dengan menggunakan handsprayer hingga media menjadi lembab dan dalam kondisi kapasitas lapang, dilakukan pemeliharaan setiap hari sampai 30 hari setelah ditanam pada bak perkecambahan. Parameter Pengamatan Kadar Air Benih (%) Pengamatan kadar benih (%) ini dilakukan pada setiap taraf perlakuan dilakukan setelah aplikasi. Dengan cara diambil 15 benih setiap perlakuan untuk dihaluskan kemudian di timbang bobot basahnya dan dimasukkan ke dalam oven yang dipanaskan pada suhu C selama 24 jam untuk mendapatkan bobot keringnya. Kadar air benih (%) dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: Kadar Air = Bobot basah Bobot kering Bobot basah x 100% (Mugnisjah et al.,1994) Laju Perkecambahan (hari) Laju perkecambahan diukur dengan menghitung jumlah hari yang diperlukan untuk munculnya radikula atau plumula.perhitungan laju perkecambahan menggunakan formulasi Sutopo (2012) sebagai berikut :

6 Rata- rata hari = N1T1 + N2T2 + + NxTx Jumlah total benih berkecambah Keterangan : N T : Jumlah benih yang berkecambah pada satuan waktu tertentu : Menunjukkan jumlah waktu antara awal pengujian sampai dengan akhir dan interval tertentu suatu pengamatan Uji Daya Kecambah Analisa daya kecambah atau daya tumbuh dilakukan setelah benih dikecambahkan selama 30 hari dengan kondisi optimum. Menurut Sutopo (2012) untuk evaluasi kecambah digunakan kriteria sebagai berikut : a. Kecambah normal (%). Kriteria kecambah normal adalah : 1. Kecambah yang memiliki perkembangan sistem perakaran yang baik terutama akar primer dan untuk tanaman yang secara normal menghasilkan akar seminal maka akar ini tidak boleh kurang dari dua. 2. Perkembangan hipokotil yang baik dan sempurna tanpa ada kerusakan pada jaringan-jaringannya. 3. Pertumbuhan plumula yang sempurna dengan daun hijau dan tumbuh baik, di dalam atau muncul dari koleoptil atau pertumbuhan epikotil yang sempurna dengan kuncup yang normal. 4. Memiliki satu kotiledon untuk kecambah dari monokotil dan dua bagi dikotil. Perhitungan persentase kecambah normal sebagai berikut :

7 Jumlah kecambah normal Kecambah normal = - x 100% Jumlah contoh benih yang diuji b. Kecambah abnormal (%) Kriteria kecambah abnormal adalah : 1. Kecambah yang rusak, tanpa kotiledon, embrio yang pecah, dan akar priemernya yang pendek. 2. Kecambah yang bentuknya cacad, perkembangannya lemah atau kurang seimbang dari bagian-bagian yang penting. Plumula yang terputar, hipokotil, epikotil, kotiledon yang membengkok, akar yang pendek, koleoptil yang pecah atau tidak mempunyai daun; kecambah yang kerdil. 3. Kecambah yang tidak membentuk klorofil 4. Kecambah yang lunak 5. Untuk benih pohon-pohonan bila dari microphyl keluar daun dan bukannya akar. Perhitungan persentase kecambah abnormal sebagai berikut : Jumlah kecambah abnormal Kecambah abnormal = x 100 % Jumlah contoh benih yang diuji c. Benih yang belum tumbuh Kriteria ini ditujukan untuk benih-benih yang belum berkecambah setelah jangka waktu pengujian yang telah ditentukan. Perhitungan persentase benih yang belum tumbuh sebagai berikut : Jumlah benih yang belum tumbuh Benih yang belum tumbuh = x 100% Jumlah contoh benih yang diuji

8 Indeks Vigor Indeks vigor (IV) dihitung berdasarkan rumus L. O. Copeland (1977) dalam Kartasapoetra (2003) : IV = G1 + G2 + G Gn D1 D2 D3 Dn Keterangan : IV : Indeks Vigor G : Jumlah benih yang berkecambah pada hari tertentu D : Waktu yang bersesuaian dengan G n : Jumlah hari pada perhitungan terakhir Bobot Segar Kecambah (g) Bobot segar kecambah (g) diperoleh dengan cara menimbang masingmasing kecambah normal setiap perlakuan pada hari ke 30 dengan menggunakan timbangan analitik. Kecambah yang digunakan masih dalam keadaan segar dan bersih dari pasir yang melekat. Bobot Kering Kecambah (g) Bobot kering kecambah (g) diperoleh dengan cara menimbang berat kering masing-masing kecambah normal pada perlakuan yang telah dimasukkan ke dalam oven C selama 24 jam sampai berat kecambah konstan. Sebelum dimasukkan ke dalam oven, terlebih dahulu kecambah dibersihkan dari pasir yang melekat

9 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Dari hasil pengamatan dan analisis data yang dilakukan, diperoleh bahwa perlakuan konsentrasi KNO 3 berpengaruh nyata terhadap laju perkecambahan, kecambah normal, benih yang belum tumbuh,indeks vigor, bobot segar kecambah dan bobot kering kecambah. Perlakuan konsentrasi air kelapa berpengaruh nyata terhadap kadar air benih, laju perkecambahan, indeks vigor, dan bobot kering kecambah. Interaksi antara perlakuan konsentrasi KNO 3 dan konsentrasi air kelapa berpengaruh tidak nyata terhadap seluruh parameter pengamatan. Kadar Air Benih Berdasarkan data pengamatan dan hasil sidik ragam pada Lampiran 15 dan 16 diketahui bahwa konsentrasi KNO 3 berpengaruh tidak nyata terhadap kadar air benih. Konsentrasi air kelapa berpengaruh nyata terhadap parameter kadar air benih dan interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata terhadap kadar air benih. Rataan kadar air benih pada perlakuan konsentrasi KNO 3 dan konsentrasi air kelapa dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Kadar air benih pepaya pada perlakuan konsentrasi KNO 3 dan konsentrasi air kelapa Konsentrasi Konsentrasi Air Kelapa Rataan KNO 3 N 0 N 1 N 2 N 3 N 4...%... 26,257 28,018 29,825 30,677 31,392 29,234 M 0 M 1 M 2 M 3 26,725 28,559 30,526 30,932 31,965 29,741 27,005 28,829 30,789 31,094 32,213 29,986 27,286 29,099 31,053 31,524 32,459 30,284 Rataan 26,818 d 28,626 c 30,548 c 31,057 b 32,008 a 29,811 Keterangan: Angka yang diikuti notasi yang sama pada baris yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α=5%

10 Tabel 1 menunjukkan pada perlakuan konsentrasi air kelapa diperoleh rataan tertinggi yaitu pada perlakuan N 4 (konsentrasi 100%) yaitu 32% yang berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Grafik hubungan kadar air benih dengan konsentrasi air kelapa dapat dilihat pada Gambar Kadar Air benih (%) y = 5,123x + 27,24 r = 0, ,00 0,25 0,50 0, ,00 Konsentrasi Air Kelapa (%) Gambar 1. Grafik hubungan kadar air benih dengan konsentrasi air kelapa Gambar 1 menunjukkan terdapat hubungan linier positif antara kadar air benih dengan konsentrasi air kelapa. Hal ini menunjukkan semakin tinggi konsentrasi air kelapa maka semakin tinggi kadar air benih pepaya. Uji Daya Kecambah Kecambah Normal Berdasarkan data pengamatan dan hasil sidik ragam pada Lampiran 3 dan 4 diketahui bahwa konsentrasi KNO 3 berpengaruh nyata terhadap kecambah normal. Konsentrasi air kelapa berpengaruh tidak nyata terhadap parameter

11 kecambah normal dan interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata terhadap kecambah normal. Rataan kecambah normal pada perlakuan konsentrasi KNO 3 dan konsentrasi air kelapa dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Kecambah normal pepaya pada perlakuan konsentrasi KNO 3 dan konsentrasi air kelapa Konsentrasi Konsentrasi Air Kelapa KNO 3 N 0 N 1 N 2 N 3 N 4 Rataan.%... M 0 0,00 0,00 0,03 0,00 0,01 0,01 c M 1 0,00 0,00 0,00 0,07 0,11 0,04 b M 2 0,00 0,03 0,03 0,08 0,04 0,04 b M 3 0,00 0,07 0,07 0,07 0,06 0,05 a Rataan 0,00 0,02 0,03 0,06 0,06 0,03 Keterangan: Angka yang diikuti notasi yang sama pada kolom yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α=5% Tabel 2 menunjukkan pada perlakuan konsentrasi KNO 3 diperoleh rataan tertinggi yaitu pada perlakuan M 3 (konsentrasi 7,5%) yaitu 0,05 yang berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Grafik hubungan kecambah normal dengan konsentrasi KNO 3 dapat dilihat pada Gambar 2. Kecambah Normal (%) 0,06 0,05 ŷ = 0,533x + 0,013 r = 0,933 0,04 0,03 0,02 0,01 0,00 0,00 2,5 0,03 0,05 5,0 0,08 7,5 Konsentrasi KNO 3 (%) Gambar 2. Grafik hubungan kecambah normal dengan konsentrasi KNO 3

12 Gambar 2 menunjukkan terdapat hubungan linier positif antara kecambah normal dengan KNO 3. Hal ini menunjukkan semakin tinggi konsentrasi air kelapa maka semakin tinggi kecambah normal pepaya. Kecambah Abnormal Berdasarkan data pengamatan dan hasil sidik ragam pada Lampiran 5 dan 6 diketahui bahwa konsentrasi KNO 3 berpengaruh tidak nyata terhadap kecambah abnormal. Konsentrasi air kelapa berpengaruh tidak nyata terhadap parameter kecambah abnormal dan interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata terhadap kecambah normal. Rataan kecambah abnormal pada perlakuan konsentrasi KNO 3 dan konsentrasi air kelapa dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Kecambah abnormal pepaya pada perlakuan konsentrasi KNO 3 dan konsentrasi air kelapa Konsentrasi Konsentrasi Air Kelapa KNO 3 N 0 N 1 N 2 N 3 N 4 Rataan.%... M 0 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,000 M 1 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,000 M 2 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,000 M 3 0,00 0,00 0,00 0,00 0,01 0,003 Rataan 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,001 Tabel 3 menunjukkan pada perlakuan konsentrasi KNO 3 diperoleh rataan tertinggi yaitu pada perlakuan M 3 (konsentrasi 7,5%) yaitu 0,003. Benih yang Belum Tumbuh Berdasarkan data pengamatan dan hasil sidik ragam pada Lampiran 7 dan 8 diketahui bahwa konsentrasi KNO 3 berpengaruh nyata terhadap benih yang belum tumbuh. Konsentrasi air kelapa berpengaruh tidak nyata terhadap

13 parameter benih yang belum tumbuh dan interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata terhadap benih yang belum tumbuh. Rataan benih yang belum tumbuh pada perlakuan konsentrasi KNO 3 dan konsentrasi air kelapa dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Benih yang belum tumbuh pepaya pada perlakuan konsentrasi KNO 3 dan konsentrasi air kelapa Konsentrasi Konsentrasi Air Kelapa KNO 3 N 0 N 1 N 2 N 3 N 4 Rataan.%... M 0 1,67 1,67 1,64 1,67 1,65 1,66 a M 1 1,67 1,67 1,67 1,60 1,60 1,64 b M 2 1,67 1,64 1,64 1,58 1,60 1,63 b M 3 1,67 1,60 1,60 1,58 1,64 1,62 c Rataan 1,67 1,64 1,64 1,61 1,62 1,63 Keterangan: Angka yang diikuti notasi yang sama pada kolom yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α=5% Tabel 4 menunjukkan pada perlakuan konsentrasi KNO 3 diperoleh rataan tertinggi yaitu pada perlakuan M 0 (konsentrasi 0%) yaitu 1,66 yang berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Grafik hubungan benih yang belum tumbuh dengan konsentrasi KNO 3 dapat dilihat pada Gambar 3. Benih Belum Tumbuh (%) Gambar 3. 1,670 1,660 1,650 1,640 1,630 1,620 1,610 1,600 1,590 ŷ = -0,555x + 1,655 r = 0,984 0,00 0,03 2,5 0,05 5,0 0,08 7,5 Konsentrasi KNO 3 (%) Grafik hubungan benih yang belum tumbuh dengan konsentrasi KNO 3

14 Gambar 3 menunjukkan terdapat hubungan linier negatif antara bibit yang belum tumbuh dengan konsentrasi KNO 3. Hal ini menunjukkan semakin tinggi konsentrasi KNO 3 maka semakin rendah benih pepaya yang belum tumbuh. Laju Perkecambahan Berdasarkan data pengamatan dan hasil sidik ragam pada Lampiran 1 dan 2 diketahui bahwa konsentrasi KNO 3 berpengaruh nyata terhadap laju perkecambahan konsentrasi air kelapa berpengaruh nyata terhadap parameter laju perkecambahan dan interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata terhadap laju perkecambahan. Rataan laju perkecambahan pada perlakuan konsentrasi KNO 3 dan konsentrasi air kelapa dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Laju perkecambahan pepaya pada perlakuan konsentrasi KNO 3 dan konsentrasi air kelapa Konsentrasi Konsentrasi Air Kelapa Rataan KNO 3 N 0 N 1 N 2 N 3 N 4.hari... M 0 0,00 0,00 0,22 0,00 0,09 0,06 c M 1 0,00 0,00 0,00 0,56 0,71 0,25 bc M 2 0,00 0,27 0,21 0,59 0,46 0,31 ab M 3 0,00 0,48 0,42 0,48 0,51 0,38 a Rataan 0,00 d 0,19 c 0,21 c 0,41 b 0,44 a 0,25 Keterangan: Angka yang diikuti notasi yang sama pada kolom yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α=5% Tabel 5 menunjukkan pada perlakuan konsentrasi KNO 3 diperoleh rataan tertinggi yaitu pada perlakuan M 3 (konsentrasi 7,5%) yaitu 0,38 hari yang berbeda tidak nyata dengan perlakuan M 2 (konsentrasi 5,0%) dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya.

15 Pada perlakuan konsentrasi air kelapa diperoleh rataan tertinggi pada perlakuan N 4 (konsentrasi 100%) yaitu 0,44 hari yang berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Grafik hubungan laju perkecambahan dengan konsentrasi KNO 3 dapat dilihat pada Gambar 4. Laju Perkecambahan (hari) 0,5 0,4 0,3 0,2 0,1 0,0 ŷ = 4,010x + 0,100 r = 0,954 0,00 2,5 0,03 5,0 0,05 0,08 7,5 Konsentrasi KNO 3 (%) Gambar 4. Grafik hubungan laju perkecambahan dengan konsentrasi KNO 3 Gambar 4 menunjukkan terdapat hubungan linier positif antara laju perkecambahan dengan konsentrasi KNO 3. Hal ini menunjukkan semakin tinggi konsentrasi KNO 3 maka semakin tinggi laju perkecambahan benih pepaya. Grafik hubungan laju perkecambahan dengan konsentrasi air kelapa dapat dilihat pada Gambar 5. Laju perkecambahan (hari) 0,50 0,40 0,30 0,20 0,10 0,00 y = 0,004x + 0,029 R² = 0, Konsentrasi air kelapa (%) Gambar 5. Grafik hubungan laju perkecambahan dengan konsentrasi air kelapa

16 Gambar 5 menunjukkan terdapat hubungan linier positif antara laju perkecambahan dengan konsentrasi air kelapa.hal ini menunjukkan semakin tinggi konsentrasi air kelapa maka semakin tinggi laju perkecambahan benih pepaya. Indeks Vigor Berdasarkan data pengamatan dan hasil sidik ragam pada Lampiran 9 dan 10 diketahui bahwa konsentrasi KNO 3 berpengaruh nyata terhadap indeks vigor. konsentrasi air kelapa berpengaruh nyata terhadap parameter indeks vigor dan interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata terhadap indeks vigor. Rataan indeks vigor pada perlakuan konsentrasi KNO 3 dan konsentrasi air kelapa dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Indeks vigor pepaya pada perlakuan konsentrasi KNO 3 dan konsentrasi air kelapa Konsentrasi Konsentrasi Air Kelapa KNO 3 N 0 N 1 N 2 N 3 N 4 Rataan.%... M 0 0,00 0,00 0,04 0,00 0,02 0,01 c M 1 0,00 0,00 0,00 0,10 0,20 0,06 b M 2 0,00 0,03 0,04 0,13 0,12 0,07 b M 3 0,00 0,11 0,13 0,11 0,11 0,09 a Rataan 0,00 d 0,04 c 0,05 c 0,09 b 0,11 a 0,06 Keterangan: Angka yang diikuti notasi yang sama pada baris atau kolom yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α=5% Tabel 6 menunjukkan pada perlakuan konsentrasi KNO 3 diperoleh rataan tertinggi yaitu pada perlakuan M 3 (konsentrasi 7,5%) yaitu 0,09 yang berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Pada perlakuan konsentrasi air kelapa diperoleh rataan tertinggi pada perlakuan N 4 (konsentrasi 100%) yaitu 0,11 yang berbeda nyata dengan perlakuan lainnya.

17 Gambar 6. Grafik hubungan indeks vigor dengan konsentrasi KNO 3 dapat dilihat pada Indeks Vigor 0,12 0,11 0,10 0,09 0,08 0,07 0,06 0,05 0,04 0,03 0,02 0,01 0,00 ŷ = 0,986x + 0,020 r = 0,956 0,00 0,03 2,5 0,05 5,0 7,5 0,08 Konsentrasi KNO 3 (%) Gambar 6. Grafik hubungan indeks vigor dengan konsentrasi KNO 3 Gambar 6 menunjukkan terdapat hubungan linier positif antara indeks vigor dengan konsentrasi KNO 3. Hal ini menunjukkan semakin tinggi konsentrasi KNO 3 maka semakin tinggi indeks vigor benih pepaya. Grafik hubungan indeks vigor dengan konsentrasi air kelapa dapat dilihat pada Gambar 7. Indeks Vigor 0,12 0,10 0,08 0,06 0,04 0,02 0,00 ŷ = 0,109x + 0,002 r = 0,994 0,00 0,25 0,50 0, ,00 Konsentrasi Air Kelapa (%) Gambar 7. Grafik hubungan indeks vigor dengan konsentrasi air kelapa

18 Gambar 7 menunjukkan terdapat hubungan linier positif antara indeks vigor dengan konsentrasi air kelapa. Hal ini menunjukkan semakin tinggi konsentrasi air kelapa maka semakin tinggi indeks vigor benih pepaya. Bobot Segar Kecambah Berdasarkan data pengamatan dan hasil sidik ragam pada lampiran 11 dan `12 diketahui bahwa konsentrasi KNO 3 berpengaruh nyata terhadap bobot segar kecambah. Konsentrasi air kelapa berpengaruh tidak nyata terhadap parameter bobot segar kecambah dan interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata terhadap bobot segar kecambah. Rataan bobot segar kecambah pada perlakuan konsentrasi KNO 3 dan konsentrasi air kelapa dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7. Bobot segar kecambah pepaya pada perlakuan konsentrasi KNO 3 dan konsentrasi air kelapa Konsentrasi Konsentrasi Air Kelapa KNO 3 N 0 N 1 N 2 N 3 N 4 Rataan....%... M 0 0,00 0,00 0,08 0,00 0,02 0,02 b M 1 0,00 0,00 0,00 0,06 0,12 0,03 b M 2 0,00 0,03 0,05 0,18 0,12 0,08 a M 3 0,00 0,15 0,13 0,10 0,14 0,10 a Rataan 0,00 0,05 0,06 0,08 0,10 0,06 Keterangan: Angka yang diikuti notasi yang sama pada kolom yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α=5% Tabel 7 menunjukkan pada perlakuan konsentrasi KNO 3 diperoleh rataan tertinggi yaitu pada perlakuan M 3 (konsentrasi 7,5%) yaitu 0,10 g yang berbeda tidak nyata dengan perlakuan M 2 (konsentrasi 5,0%) dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Grafik hubungan bobot segar kecambah dengan konsentrasi KNO 3 dapat dilihat pada Gambar 8.

19 Bobot segar kecambah (%) 0,12 0,11 0,10 0,09 0,08 0,07 0,06 0,05 0,04 0,03 0,02 0,01 0,00 ŷ = 1,161x + 0,015 r = 0,985 0,00 2,5 0,03 5,0 0,05 7,5 0,08 Konsentrasi KNO 3 (%) Gambar 8. Grafik hubungan bobot segar kecambah dengan konsentrasi KNO 3 Gambar 8 menunjukkan terdapat hubungan linier positif antara bobot segar kecambah dengan konsentrasi KNO 3. Hal ini menunjukkan semakin tinggi konsentrasi KNO 3 maka semakin tinggi bobot segar kecambah pepaya. Bobot Kering Kecambah Berdasarkan data pengamatan dan hasil sidik ragam pada lampiran 13 dan 14 diketahui bahwa konsentrasi KNO 3 berpengaruh nyata terhadap bobot kering kecambah. konsentrasi air kelapa berpengaruh nyata terhadap parameter bobot kering kecambah dan interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata terhadap bobot kering kecambah. Rataan bobot kering kecambah pada perlakuan konsentrasi KNO 3 dan konsentrasi air kelapa dapat dilihat pada Tabel 9.

20 Tabel 8. Bobot kering kecambah pepaya pada perlakuan konsentrasi KNO 3 dan konsentrasi air kelapa Konsentrasi Konsentrasi Air Kelapa Rataan KNO 3 N 0 N 1 N 2 N 3 N 4....%... M 0 0,00 0,00 0,04 0,00 0,00 0,01 c M 1 0,00 0,00 0,00 0,03 0,05 0,02 b M 2 0,00 0,02 0,02 0,08 0,05 0,04 b M 3 0,00 0,08 0,05 0,05 0,23 0,08 a Rataan 0,00 d 0,03 cd 0,03 bc 0,04 b 0,08 a 0,04 Keterangan: Angka yang diikuti notasi yang sama pada baris atau kolom yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α=5% Tabel 8.menunjukkan pada perlakuan konsentrasi KNO 3 diperoleh rataan tertinggi yaitu pada perlakuan M 3 (konsentrasi 7,5%) yaitu 0,08 g yang berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Pada perlakuan konsentrasi air kelapa diperoleh rataan tertinggi pada perlakuan N 4 (konsentrasi 100%) yaitu 0,08 g yang berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Grafik hubungan bobot kering kecambah dengan konsentrasi KNO 3 dapat dilihat pada Gambar 9. Bobot kering kecambah (g) 0,09 0,08 0,07 0,06 0,05 0,04 0,03 0,02 0,01 0,00 ŷ = 0,962x - 0,000 r = 0,941 0,00 0,03 2,5 0,05 5,0 7,5 0,08 Konsentrasi KNO 3 (%) Gambar 9. Grafik hubungan bobot kering kecambah dengan konsentrasi KNO 3

21 Gambar 9 menunjukkan terdapat hubungan linier positif antara bobot kering kecambah dengan konsentrasi KNO 3. Hal ini menunjukkan semakin tinggi konsentrasi KNO 3 maka semakin tinggi bobot kering kecambah pepaya. Grafik hubungan bobot kering kecambah dengan konsentrasi air kelapa dapat dilihat pada Gambar 10. Bobot kering kecambah (g) 0,09 0,08 0,07 0,06 0,05 0,04 0,03 0,02 0,01 0,00 ŷ = 0,072x - 0,001 r = 0,938 0,00 0,25 0,50 0, ,00 Konsentrasi Air Kelapa (%) Gambar 10. Grafik hubungan bobot kering kecambah dengan konsentrasi air kelapa Gambar 10 menunjukkan terdapat hubungan linier positif antara bobot kering kecambah dengan konsentrasi air kelapa. Hal ini menunjukkan semakin tinggi konsentrasi air kelapa maka semakin tinggi bobot kering kecambah pepaya. Pembahasan Pemberian KNO 3 pada uji viabilitas benih pepaya (Carica papaya L) Berdasarkan hasil analisis sidik ragam diketahui bahwa perlakuan konsentrasi KNO 3 berpengaruh nyata terhadap laju perkecambahan, kecambah normal, benih yang belum tumbuh,indeks vigor, bobot segar kecambah dan bobot kering kecambah.

22 Konsentrasi KNO 3 berpengaruh nyata terhadap laju perkecambahan benih pepaya dengan rataan tertinggi diperoleh pada perlakuan M 3 (konsentrasi 5,0%) yaitu 0,38 hari dan rataan terendah pada perlakuan M 0 (konsentrasi 0%) yaitu 0,06 hari. Hal ini dikarenakan pemberian KNO 3 berperan merangsang perkecambahan pada hampir seluruh jenis biji. Hal ini sesuai dengan pernyataan Faustina et al (2011) yang menyatakan KNO 3 berfungs iuntuk meningkatkan aktifitas hormone pertumbuhan pada benih dan menjadikan kulit benih lebih mudah dimasuki air pada waktu proses imbibisi.pengaruh KNO 3 yang ditimbulkan ditentukan oleh besar kecil konsentrasinya.perlakuan awal dengan larutan KNO 3 berperan merangsang perkecambahan pada hampir seluruh jenis biji. Perlakuan perendaman dalam larutan KNO 3 dilaporkan juga dapat mengaktifkan metabolisme sel dan mempercepat perkecambahan. Pada parameter uji daya kecambah (kecambah normal) diperoleh rataan tertinggi pada perlakuan M 3 (konsentrasi 7,5%) yaitu 0,05 dan terendah pada perlakuan M 0 (konsentrasi 0%) yaitu 0,01. Hal ini disebabkan pemberian cairan kimia berupa KNO 3 efektif mematahkan dormansi. Semakin tinggi konsentrasi KNO 3 yang diberikan maka semakin efektif pematahan dormansi benih. Hal ini sesuai dengan pernyataan Faustina et al (2011) yang menyatakan bahwa salah satu larutan kimia untuk mematahkan dormansi adalah KNO 3, larutan KNO 3 juga sudah teruji efektif mematahkan dormansi beberapa benih tanaman, antara lain padi dan aren. KNO 3 berfungsi untuk meningkatkan aktifitas hormone pertumbuhan pada benih dan menjadikan kulit benih lebih mudah dimasuki air pada waktu proses imbibisi.pengaruh KNO 3 yang ditimbulkan ditentukan oleh besar kecil konsentrasinya.perlakuan awal dengan larutan KNO 3 berperan

23 merangsang perkecambahan pada hampir seluruh jenis biji. Perlakuan perendaman dalam larutan KNO 3 dilaporkan juga dapat mengaktifkan metabolisme sel dan mempercepat perkecambahan. Perlakuan konsentrasi KNO 3 berpengaruh nyata terhadap uji daya kecambah (benih yang belum tumbuh) dengan rataan tertinggi diperoleh pada perlakuan M 0 (Konsentrasi 0%) yaitu 1,66 dan terendah pada perlakuan M 3 (konsentrasi 7,5%) yaitu 1,62. Hal ini dapat terlihat bahwa benih lebih banyak tumbuh pada benih yang diberi perlakuan konsentrasi KNO 3. Hal ini sesuai dengan pernyataan Faustina et al (2011) yang menyatakan bahwa metode pematahan dormansi dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain dengan cara mekanis, fisik maupun kimia. Metode kimia dapat dikatakan metode yang paling praktis karena hanya dilakukan dengan mencampurkan cairan kimia dengan biji. Pada parameter indeks vigor diperoleh rataan tertinggi pada perlakuan M 3 (konsentrasi 7,5%) yaitu 0,09 dan terendah pada perlakuan M 0 (Konsentrasi 0%) yaitu 0,01. Hal ini dikarenakan pemberian KNO 3 efektif mempercepat perkecambahan benih dan mempercepat penerimaan benih terhadap O 2. Hal ini sesuai dengan pernyataan Jain (2008) yang menyatakan bahwa dormansi dapat diatasi dengan penggunaan zat kimia dalam perangsangan perkecambahan benih, dengan bahan kimia misalnya: KNO 3 sebagai pengganti fungsi cahaya dan suhu serta untuk mempercepat penerimaan benih akan O 2, melunakkan kulit biji. Konsentrasi KNO 3 berpengaruh nyata terhadap parameter bobot segar kecambah dan bobot kering kecambah. Dari data pengamatan bobot segar kecambah, dapat dilihat bahwa rataan tertinggi pada perlakuan M 3 (konsentrasi 7,5%) yaitu 0,10 g dan terendah pada perlakuan M 0 (konsentrasi 0%) yaitu 0,02 g.

24 Pada parameter bobot kering kecambah, dapat dilihat bahwa rataan tertinggi diperoleh pada perlakuan perlakuan M 3 (konsentrasi 7,5%) yaitu 0,08 g dan rataan terendah pada perlakuan M 0 (konsentrasi 0%) yaitu 0,01 g. Hal ini dikarenakan pemberian KNO 3 meningkatkan aktifitas hormone pertumbuhan pada benih dan menjadikan kulit benih lebih mudah dimasuki air pada waktu proses imbibisi dan larutan KNO 3 berperan merangsang perkecambahan pada hampir seluruh jenis biji. Perlakuan perendaman dalam larutan KNO 3 dilaporkan juga dapat mengaktifkan metabolisme sel dan mempercepat perkecambahan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Faustina et al (2011) yang menyatakan bahwa KNO 3 berfungsi untuk meningkatkan aktifitas hormone pertumbuhan pada benih dan menjadikan kulit benih lebih mudah dimasuki air pada waktu proses imbibisi. Pengaruh KNO 3 yang ditimbulkan ditentukan oleh besar kecil konsentrasinya. Perlakuan awal dengan larutan KNO 3 berperan merangsang perkecambahan pada hampir seluruh jenis biji. Perlakuan perendaman dalam larutan KNO 3 dilaporkan juga dapat mengaktifkan metabolisme sel dan mempercepat perkecambahan. Pemberian air kelapa pada uji viabilitas benih pepaya (Carica papaya L) Berdasarkan hasil analisis sidik ragam diketahui bahwa perlakuan konsentrasi air kelapa berpengaruh nyata terhadap kadar air benih, laju perkecambahan, indeks vigor, dan bobot kering kecambah. Pada parameter kadar air benih diperoleh rataan tertinggi pada perlakuan N 4 (konsentrasi 100%) yaitu 32 % dan terendah pada perlakuan N 0 (konsentrasi 0%) yaitu 26%. Hal ini disebabkan air kelapa mengandung zat hara dan zat pengatur tumbuh yang diperlukan untuk perkembangan dan pertumbuhan tanaman. Hal ini sesuai dengan pernyataan Yunita (2011) yang menyatakan bahwa Air kelapa

25 mengandung zat hara dan zat pengatur tumbuh yang diperlukan untuk perkembangan dan pertumbuhan tanaman. Air kelapa mengandung senyawa organik seperti vitamin C, vitamin B, hormon auksin, giberelin dan sitokinin 5,8 mg/l. Air kelapa muda juga mengandung air, protein, karbohidrat, mineral, vitamin, sedikit lemak, Ca dan P. Konsentrasi air kelapa berpengaruh nyata terhadap laju perkecambahan benih pepaya dengan rataan tertinggi diperoleh pada perlakuan N 4 (konsentrasi 100%) yaitu 0,44 hari dan rataan terendah pada perlakuan N 0 (konsentrasi 0%) yaitu 0 hari. Hal ini dikarenakan pemberian air kelapa dengan konsentrasi 100% dapat menghasilkan persentase perkecambahan yang tinggi dan persentase kecepatan tumbuh yang tinggi pula. Hal ini sesuai dengan pernyataan Hedty et al (2014) yang menyatakan bahwa Perendaman biji kopi dengan air kelapa menghasilkan persentase perkecambahan yang tinggi dan persentase kecepatan tumbuh yang tinggi pula. Peningkatan konsentrasi air kelapa dari 0%, 60%, 80%, dan 100% secara linear juga meningkatkan persentase perkecambahan. Pada parameter indeks vigor diperoleh rataan tertinggi pada perlakuan N 4 (konsentrasi 100%) yaitu 0,11 dan terendah pada perlakuan N 0 (konsentrasi 0%) yaitu 0. Hal ini dikarenakan air kelapa muda adalah salah satu zat pengatur tumbuh yang mengandung auksin dan sitokinin yang diperlukan untuk perkembangan dan pertumbuhan tanaman. Hal ini sesuai dengan pernyataan Fanesa (2011) yang menyatakan bahwa air kelapa muda adalah salah satu zat pengatur tumbuh yang mengandung auksin dan sitokinin yang diperlukan untuk perkembangan dan pertumbuhan tanaman. Menurut penelitian Fahmi (2008), air

26 kelapa muda 25% merupakan zat pengatur tumbuh yang tepat dan terbaik yang dapat merangsang pertumbuhan tunas dasar buah nenas Konsentrasi air kelapa berpengaruh nyata terhadap parameter bobot kering kecambah.pada parameter bobot kering kecambah, dapat dilihat bahwa rataan tertinggi diperoleh pada perlakuan perlakuan N 4 (konsentrasi 100%) yaitu 0,08 g dan rataan terendah pada perlakuan N 0 (konsentrasi 0%) yaitu 0 g. Hal ini dikarenakan air kelapa mengandung senyawa-senyawa organik yang dapat mempercepat perkembangan dan pertumbuhan tanaman. Hal ini sesuai dengan pernyataan Yunita (2011) yang menyatakan bahwa air kelapa mengandung zat hara dan zat pengatur tumbuh yang diperlukan untuk perkembangan dan pertumbuhan tanaman. Air kelapa mengandung senyawa organik seperti vitamin C, vitamin B, hormon auksin, giberelin dan sitokinin 5,8 mg/l. Air kelapa muda juga mengandung air, protein, karbohidrat, mineral, vitamin, sedikit lemak, Ca dan P. Interaksi antara pemberian KNO 3 dan air kelapa pada uji viabilitas benih pepaya (Carica papaya L) Berdasarkan sidik ragam diketahui bahwa perlakuan konsentrasi KNO 3 dan konsentrasi air kelapa berpengaruh tidak nyata terhadap seluruh parameter pengamatan. Hal ini menunjukkan bahwa kedua faktor perlakuan memberikan respon masing-masing sebagai faktor tunggal tanpa adanya interaksi. Bila interaksinya tidak nyata, maka disimpulkan bahwa faktor-faktornya bertindak bebas satu sama lain. Hal ini didukung oleh (Sujarwati dan Santoso 2004) yang menyatakan bahwa perendaman biji dalam larutan kalium nitrat (KNO 3 ) 0 %, 0,15%, 0.30% dan 0.45% selama 2 jam adalah biji dianggap sudah menyerap

27 konsentrasi larutan tersebut dan untuk mengantisipasi biji agar tidak terjadi plasmolisis yaitu runtuhnya dinding sel akibat dari perendaman yg terlalu banyak. (Sujarwati dan Santosa 2004).

28 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Konsentrasi KNO 3 yang melepaskan kulit aril berpengaruh nyata terhadap laju perkecambahan, kecambah normal, benih yang belum tumbuh, indeks vigor, bobot segar kecambah dan bobot kering kecambah. 2. konsentrasi Air kelapa berpengaruh nyata terhadap viabilitas benih yaitu kadar air benih, laju perkecambahan, indeks vigor, dan bobot kering kecambah. 3. Interaksi antara perlakuan konsentrasi KNO 3 dan konsentrasi air kelapa berpengaruh tidak nyata terhadap seluruh parameter pengamatan. Saran Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut dalam uji viabilitas benih pepaya sehingga dicapai viabilitas yang maksimal dengan menentukan konsentrasi KNO 3 yang tepat dan semakin tinggi konsentrasi air kelapa maka semakin tinggi laju perkecambahan benih pepaya dan lama perendaman yang sesuai untuk benih tersebut.

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian ± 32 meter di

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian ± 32 meter di 14 BAHAN DAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Teknologi Benih, Fakultas Pertanian,, Medan dengan ketinggian ± 32 meter di atas permukaan laut, pada

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Uji perkecambahan benih padi dengan menggunakan konsentrasi larutan Kalium Nitrat (KNO 3 ) 3%

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Uji perkecambahan benih padi dengan menggunakan konsentrasi larutan Kalium Nitrat (KNO 3 ) 3% BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Dari hasil pengamatan diperoleh data persentase kecambah normal, kecambah abnormal, benih segar tidak tumbuh, benih mati yang disajikan dalam bentuk Tabel 1 berikut

Lebih terperinci

PEMBERIAN KNO 3 DAN AIR KELAPA PADA UJI VIABILITAS BENIH PEPAYA (Carica papaya L.) SKRIPSI OLEH :

PEMBERIAN KNO 3 DAN AIR KELAPA PADA UJI VIABILITAS BENIH PEPAYA (Carica papaya L.) SKRIPSI OLEH : PEMBERIAN KNO 3 DAN AIR KELAPA PADA UJI VIABILITAS BENIH PEPAYA (Carica papaya L.) SKRIPSI OLEH : DIO TIRTA ARDI 110301215 BUDIDAYA PERTANIAN DAN PERKEBUNAN PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 19 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Kondisi Umum Penelitian Penelitian dilaksanakan di rumah kaca C Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. Penelitian ini dilakukan selama kurun waktu 4 bulan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Asam jawa merupakan tanaman keras berumur panjang yang dapat mencapai

II. TINJAUAN PUSTAKA. Asam jawa merupakan tanaman keras berumur panjang yang dapat mencapai 7 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Botani Asam Jawa (Tamarindus indica) Asam jawa merupakan tanaman keras berumur panjang yang dapat mencapai umur hingga 200 tahun. Akar pohon asam jawa yang dalam, juga membuat

Lebih terperinci

47 Tabel 3. Rata-rata Persentase kecambah Benih Merbau yang di skarifikasi dengan air panas, larutan rebung dan ekstrak bawang merah Perlakuan Ulangan

47 Tabel 3. Rata-rata Persentase kecambah Benih Merbau yang di skarifikasi dengan air panas, larutan rebung dan ekstrak bawang merah Perlakuan Ulangan BAB IV HASIL PENELITIAN 4.1 Hasil Pengamatan Pengamatan dilakukan dengan mengamati kecambah benih merbau yang hidup yaitu dengan cara memperhatikan kotiledon yang muncul ke permukaan tanah. Pada tiap perlakuan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat. diameter 12 cm dan panjang 28 cm, dan bahan-bahan lain yang mendukung

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat. diameter 12 cm dan panjang 28 cm, dan bahan-bahan lain yang mendukung BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat lebih kurang 25 meter di atas permukaan laut.

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian 13 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian IPB, Dramaga, Bogor untuk pengujian

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman pepaya (Carica papaya L.) termasuk ke dalam family

TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman pepaya (Carica papaya L.) termasuk ke dalam family TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Tanaman pepaya (Carica papaya L.) termasuk ke dalam family Caricaceae dan merupakan tanaman herba (Barus dan Syukri, 2008). Sampai saat ini, Caricaceae itu diperkirakan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Benih Indigofera yang digunakan dalam penelitian ini cenderung berjamur ketika dikecambahkan. Hal ini disebabkan karena tanaman indukan sudah diserang cendawan sehingga

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Konsentrasi Air Kelapa (Cocos nucifera) terhadap Viabilitas Rosella Merah (Hibiscus sabdariffa var. sabdariffa) Berdasarkan hasil analisis (ANAVA) pada lampiran

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 21 hari setelah tanam. Sedangkan analisis pengaruh konsentrasi dan lama perendaman

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 21 hari setelah tanam. Sedangkan analisis pengaruh konsentrasi dan lama perendaman BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Konsentrasi dan Lama Perendaman Ektrak Bawang Merah (Allium cepa L.) Terhadap Persentase Daya Berkecambah Benih Kakao (Theobroma cacao L.) Pengamatan persentase

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN 13 III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Rumah Kaca C Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta mulai bulan Oktober 2015 sampai dengan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Pelaksanaan penelitian bertempat di Laboratorium Fisiologi Hewan

BAB III METODE PENELITIAN. Pelaksanaan penelitian bertempat di Laboratorium Fisiologi Hewan 28 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Pelaksanaan penelitian bertempat di Laboratorium Fisiologi Hewan Jurusan Biologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Penelitian ini

Lebih terperinci

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi dan Pemuliaan

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi dan Pemuliaan 14 BAB III MATERI DAN METODE Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi dan Pemuliaan Tanaman Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro pada tanggal 27 Maret 2017-23 Mei

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Percobaan

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Percobaan BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Darmaga pada

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar

HASIL DAN PEMBAHASAN. Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar 13 HASIL DAN PEMBAHASAN Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar Hasil Uji t antara Kontrol dengan Tingkat Kematangan Buah Uji t digunakan untuk membandingkan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Viabilitas benih diartikan sebagai kemampuan benih untuk tumbuh menjadi

II. TINJAUAN PUSTAKA. Viabilitas benih diartikan sebagai kemampuan benih untuk tumbuh menjadi 11 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Viabilitas Benih 2.1.1 Viabilitas benih Viabilitas benih diartikan sebagai kemampuan benih untuk tumbuh menjadi kecambah. Istilah lain untuk viabilitas benih adalah daya kecambah

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Biji Buru Hotong Gambar biji buru hotong yang diperoleh dengan menggunakan Mikroskop Sterio tipe Carton pada perbesaran 2 x 10 diatas kertas millimeter blok menunjukkan

Lebih terperinci

Tipe perkecambahan epigeal

Tipe perkecambahan epigeal IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Pertumbuhan merupakan proses bertambahnya ukuran dan jumlah sel tanaman sedangkan perkembangan tanaman merupakan suatu proses menuju kedewasaan. Parameter pertumbuhan meliputi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian pengaruh konsentrasi dan lama perendaman IAA (Indole Acetic

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian pengaruh konsentrasi dan lama perendaman IAA (Indole Acetic BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian pengaruh konsentrasi dan lama perendaman IAA (Indole Acetic Acid) terhadap pertumbuhan vegetatif bibit tebu (Saccharum officinarum L.) G2 varietas

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Kelompok Peneliti Biologi Sel dan Jaringan, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan di dua tempat yaitu, di Laboratorium PKHT IPB, Baranangsiang untuk pengujian kadar air dan penyimpanan dengan perlakuan suhu kamar dan suhu rendah.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 1.1 Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini termasuk penelitian eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 5x4. Faktor pertama adalah konsentrasi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil Percobaan I. Pengaruh Suhu Air dan Intensitas Perendaman terhadap Perkecambahan Benih Kelapa Sawit

HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil Percobaan I. Pengaruh Suhu Air dan Intensitas Perendaman terhadap Perkecambahan Benih Kelapa Sawit 20 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Percobaan I. Pengaruh Suhu Air dan Intensitas Perendaman terhadap Perkecambahan Benih Kelapa Sawit Berdasarkan rekapitulasi hasil sidik ragam pada Tabel 1 menunjukkan bahwa

Lebih terperinci

III. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian dilakukan di Laboratorium dan Lahan Percobaan Fakultas

III. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian dilakukan di Laboratorium dan Lahan Percobaan Fakultas III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Laboratorium dan Lahan Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan dilaksanakan pada bulan Juli

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini termasuk penelitian eksperimen dengan menggunakan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini termasuk penelitian eksperimen dengan menggunakan 44 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini termasuk penelitian eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah H

Lebih terperinci

STUDI PERLAKUAN PEMATAHAN DORMANSI BENIH DENGAN SKARIFIKASI MEKANIK DAN KIMIAWI

STUDI PERLAKUAN PEMATAHAN DORMANSI BENIH DENGAN SKARIFIKASI MEKANIK DAN KIMIAWI STUDI PERLAKUAN PEMATAHAN DORMANSI BENIH DENGAN SKARIFIKASI MEKANIK DAN KIMIAWI Zaki Ismail Fahmi (PBT Ahli Pertama) Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Surabaya I. Pendahuluan Dormansi

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Riau Jalan H.R Subrantas Km 15 Simpang Baru Panam. Penelitian ini berlangsung

MATERI DAN METODE. Riau Jalan H.R Subrantas Km 15 Simpang Baru Panam. Penelitian ini berlangsung III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Agronomi dan di lahan Percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Lebih terperinci

I. HASIL DAN PEMBAHASAN

I. HASIL DAN PEMBAHASAN digilib.uns.ac.id 21 I. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Perkecambahan Biji 1. Kecepatan Kecambah Viabilitas atau daya hidup biji biasanya dicerminkan oleh dua faktor yaitu daya kecambah dan kekuatan tumbuh. Hal

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Kopi merupakan produk tanaman perkebunan yang dibutuhkan oleh

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Kopi merupakan produk tanaman perkebunan yang dibutuhkan oleh 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Kopi merupakan produk tanaman perkebunan yang dibutuhkan oleh masyarakat seluruh dunia, komoditas ini merupakan komoditas yang tetap bertahan di pasaran global dikarenakan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Ubi kayu (Manihot esculenta Crantz) merupakan tanaman sumber karbohidrat

I. PENDAHULUAN. Ubi kayu (Manihot esculenta Crantz) merupakan tanaman sumber karbohidrat I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Ubi kayu (Manihot esculenta Crantz) merupakan tanaman sumber karbohidrat ketiga setelah padi dan jagung. Konsumsi penduduk dunia, khususnya penduduk negara-negara

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di lokasi pembibitan CV. TAIDU Kecamatan Alor

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di lokasi pembibitan CV. TAIDU Kecamatan Alor 33 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan di lokasi pembibitan CV. TAIDU Kecamatan Alor Barat Daya, Kab. Alor-NTT. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Oktober 2011 sampai

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. = 0 minggu = 1 minggu = 2 minggu = 3 minggu = 4 minggu = 5 minggu = 6 minggu = 7 minggu = 8 minggu P 1 P 2 P 3 P 4 P 5 P 6 P 7 P 8

MATERI DAN METODE. = 0 minggu = 1 minggu = 2 minggu = 3 minggu = 4 minggu = 5 minggu = 6 minggu = 7 minggu = 8 minggu P 1 P 2 P 3 P 4 P 5 P 6 P 7 P 8 III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium dan lahan percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri sultan Syarif Kasim Riau, Jalan H.R

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu 25 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Kegiatan penelitian dilaksanakan di PPKS Marihat, Pematang Siantar, Sumatera Utara. Penelitian dilakukan selama 5 bulan, dimulai tanggal 1 Maret hingga 24 Juli 2010.

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 15 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Parameter persentase perkecambahan Berdasarkan hasil anasisis sidik ragam pada Lampiran 1, perlakuan konsentrasi dan lama perendaman tidak berbeda nyata terhadap persentase

Lebih terperinci

III. MATERI DAN METODE

III. MATERI DAN METODE III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Agronomi dan lahan percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim

Lebih terperinci

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dilaksanakan pada bulan November Februari 2017, di

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dilaksanakan pada bulan November Februari 2017, di 12 BAB III MATERI DAN METODE Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2016 - Februari 2017, di pembibitan tanaman tebu Penelitian dan Pengembangan (Litbang) PTPN VII (Persero) Unit Usaha Bungamayang,

Lebih terperinci

Dalam suatu tumbuhan yang mengalami perkecambahan terdapat: Planula : ujung batang yang akan menjadi sepasang daun, daun lembaga kotiledon kotiledon

Dalam suatu tumbuhan yang mengalami perkecambahan terdapat: Planula : ujung batang yang akan menjadi sepasang daun, daun lembaga kotiledon kotiledon PERKECAMBAHAN 1. Pengertian Perkecambahan merupakan proses metabolism biji hingga dapat menghasilkan pertumbuhan dari komponen kecambah (plumula dan radikal). Definisi perkecambahan adalah jika sudah dapat

Lebih terperinci

BAHAN METODE PENELITIAN

BAHAN METODE PENELITIAN BAHAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di lahan penelitian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan, dengan ketinggian tempat ± 25 m dpl, dilaksanakan pada

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. terdiri dari 4 taraf perlakuan. Faktor kedua adalah lama perendaman (L) di dalam

BAB III METODE PENELITIAN. terdiri dari 4 taraf perlakuan. Faktor kedua adalah lama perendaman (L) di dalam BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama adalah konsentrasi larutan PEG 6000 (K) terdiri dari

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Padi (Oryza sativa L.) merupakan tanaman penghasil beras yang menjadi

I. PENDAHULUAN. Padi (Oryza sativa L.) merupakan tanaman penghasil beras yang menjadi 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Padi (Oryza sativa L.) merupakan tanaman penghasil beras yang menjadi sumber makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Peningkatan petumbuhan jumlah penduduk

Lebih terperinci

Lampiran 1. Deskripsi kacang hijau varietas Camar

Lampiran 1. Deskripsi kacang hijau varietas Camar Lampiran 1. Deskripsi kacang hijau varietas Camar Tahun pelepasan : 1991 Nomor galur : MI-5/Psj. Asal : iradiasi gamma dosis 0,1 Kgy di varietas Manyar Hasil rata-rata : 1-2 ton/ha biji bersih Warna daun

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. (Allium cepa L.) terhadap viabilitas benih kakao (Theobrema cacao L.) ini bersifat

BAB III METODE PENELITIAN. (Allium cepa L.) terhadap viabilitas benih kakao (Theobrema cacao L.) ini bersifat BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian pengaruh konsentrasi dan lama perendaman ekstrak bawang merah (Allium cepa L.) terhadap viabilitas benih kakao (Theobrema cacao L.) ini bersifat

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama adalah konsentrasi larutan PEG 6000 (K) yang terdiri

Lebih terperinci

Lampiran 4. Deskripsi Varietas TM 999 F1. mulai panen 90 HST

Lampiran 4. Deskripsi Varietas TM 999 F1. mulai panen 90 HST Lampiran 4. Deskripsi Varietas TM 999 F1 Golongan : hibrida Bentuk tanaman : tegak Tinggi tanaman : 110-140 cm Umur tanaman : mulai berbunga 65 HST mulai panen 90 HST Bentuk kanopi : bulat Warna batang

Lebih terperinci

yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu terjadi karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas. (QS. Al-Baqarah : 61)

yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu terjadi karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas. (QS. Al-Baqarah : 61) yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu terjadi karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas. (QS. Al-Baqarah : 61) BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Rancangan penelitian Penelitian ini adalah

Lebih terperinci

Sri Wira Karina 1), Elis Kartika 2), dan Sosiawan Nusifera 2) Fakultas Pertanian Universitas Jambi

Sri Wira Karina 1), Elis Kartika 2), dan Sosiawan Nusifera 2) Fakultas Pertanian Universitas Jambi PENGARUH PERLAKUAN PEMECAHAN DORMANSI TERHADAP PERKECAMBAHAN BENIH KOPI LIBERIKA TUNGKAL JAMBI (Coffea liberica var. liberica cv. Liberika Tungkal Jambi) Sri Wira Karina 1), Elis Kartika 2), dan Sosiawan

Lebih terperinci

Pengaruh Konsentrasi dan Lama Perendaman Ekstrak Bawang Merah (Allium cepa L.) Terhadap Viabilitas Benih Kakao (Theobroma cacao L.

Pengaruh Konsentrasi dan Lama Perendaman Ekstrak Bawang Merah (Allium cepa L.) Terhadap Viabilitas Benih Kakao (Theobroma cacao L. Pengaruh Konsentrasi dan Ekstrak Bawang Merah (Allium cepa L.) Terhadap Viabilitas Benih Kakao (Theobroma cacao L.) Mas Khoirud Darojat, Ruri Siti Resmisari, M.Si, Ach. Nasichuddin, M.A. Jurusan Biologi,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. dengan 2 faktor. Faktor pertama adalah konsentrasi larutan PEG (Polyethylene

BAB III METODE PENELITIAN. dengan 2 faktor. Faktor pertama adalah konsentrasi larutan PEG (Polyethylene BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan 2 faktor. Faktor pertama adalah konsentrasi larutan PEG (Polyethylene Glycol)

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. (United States Department of Agriculture, 2011). vertikal dan horizontal. Bagian akar yang aktif adalah pada kedalaman cm,

TINJAUAN PUSTAKA. (United States Department of Agriculture, 2011). vertikal dan horizontal. Bagian akar yang aktif adalah pada kedalaman cm, TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Tanaman delima diklasifikasikan sebagai berikut kingdom: Plantae, divisio : Spermatophyta, subdivisio : Angiospermae, kelas : Dicotyledonae, ordo : Myrtales, famili : Punicaceae,

Lebih terperinci

Metode Penelitian. commit to user 100% 13,33% 50% 26,67% 30% 46,67% 25% 60,00% 15% 66,67% 10% 73,33% 4% 80,00% 2% 86,67%

Metode Penelitian. commit to user 100% 13,33% 50% 26,67% 30% 46,67% 25% 60,00% 15% 66,67% 10% 73,33% 4% 80,00% 2% 86,67% III. Metode Penelitian A. Waktu dan tempat penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan bulan Oktober 2013 bertempat di Desa Karanggeneng, Kecamatan Boyolali, Kabupaten Boyolali

Lebih terperinci

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dilaksanakan pada Januari April 2017 di Rumah Paranet

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dilaksanakan pada Januari April 2017 di Rumah Paranet 18 BAB III MATERI DAN METODE 3.1. Waktu Pelaksanaan Penelitian Penelitian dilaksanakan pada Januari April 2017 di Rumah Paranet Kampung Muteran, Pudak Payung, Banyumanik, Semarang dan Laboratorium Fisiologi

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman srikaya memiliki bentuk pohon yang tegak dan hidup tahunan.

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman srikaya memiliki bentuk pohon yang tegak dan hidup tahunan. 7 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Srikaya (Annona squamosa L.). 2.1.1 Klasifikasi tanaman. Tanaman srikaya memiliki bentuk pohon yang tegak dan hidup tahunan. Klasifikasi tanaman buah srikaya (Radi,1997):

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 15 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca dan laboratorium silvikultur Institut Pertanian Bogor serta laboratorium Balai Penelitian Teknologi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 15 HASIL DAN PEMBAHASAN Pengujian Penyimpanan Suhu Rendah Pepaya Varietas Sukma Rekapitulasi sidik ragam pada pepaya Varietas Sukma baik pada faktor tunggal maupun interaksinya dilihat pada Tabel 1. Faktor

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Waktu dan Tempat

BAHAN DAN METODE. Waktu dan Tempat 8 BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan November 2008 hingga Maret 2009 di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian,

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca (greenhouse) Unit Pelaksana Teknis Dinas

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca (greenhouse) Unit Pelaksana Teknis Dinas 15 III. METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di rumah kaca (greenhouse) Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pertanian Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Penelitian 10 BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Percobaan ini dilaksanakan di Kebun Percobaan IPB Cikarawang, Dramaga, Bogor. Sejarah lahan sebelumnya digunakan untuk budidaya padi konvensional, dilanjutkan dua musim

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Waktu dan Tempat

BAHAN DAN METODE. Waktu dan Tempat 10 BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan mulai dari bulan Februari 2012 sampai Mei 2012. Penderaan fisik benih, penyimpanan benih, dan pengujian mutu benih dilakukan di Laboratorium

Lebih terperinci

Lampiran 1 : Deskripsi Varietas Kedelai

Lampiran 1 : Deskripsi Varietas Kedelai Lampiran 1 : Deskripsi Varietas Kedelai VARIETAS ANJASMORO KABA SINABUNG No. Galur MANSURIAV395-49-4 MSC 9524-IV-C-7 MSC 9526-IV-C-4 Asal Seleksi massa dari populasi Silang ganda 16 tetua Silang ganda

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Penelitian ini dimulai pada bulan

BAHAN DAN METODE. Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Penelitian ini dimulai pada bulan BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Fakultas Pertanian, Medan. Penelitian ini dimulai pada bulan Maret 2010 sampai dengan Juni 2010.

Lebih terperinci

IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. Muhammadiyah Yogyakarta dalam suhu ruang. Parameter penelitian di. normal di akhir pengamatan (Fridayanti, 2015).

IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. Muhammadiyah Yogyakarta dalam suhu ruang. Parameter penelitian di. normal di akhir pengamatan (Fridayanti, 2015). IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Pengaruh Invigorasi Terhadap Viabilitas dan Vigor Penelitian dilakukan di Laboratorium Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dalam suhu ruang. Parameter

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. multiguna karena hampir seluruh bagian pohonnya dapat dimanfaatkan.

I. PENDAHULUAN. multiguna karena hampir seluruh bagian pohonnya dapat dimanfaatkan. 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Asam jawa (Tamarindus indica) merupakan tanaman tropis penghasil buah yang termasuk dalam famili Caesalpiniaceae. Asam jawa juga dikategorikan pohon multiguna karena

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan Tanaman dan Media

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan Tanaman dan Media BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Bioteknologi Tanaman, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian dilaksanakan

Lebih terperinci

MATERI 1 STRUKTUR BENIH DAN TIPE PERKECAMBAHAN I. PENDAHULUAN

MATERI 1 STRUKTUR BENIH DAN TIPE PERKECAMBAHAN I. PENDAHULUAN MATERI 1 STRUKTUR BENIH DAN TIPE PERKECAMBAHAN I. PENDAHULUAN Teknologi benih adalah suatu ilmu pengetahuan mengenai cara-cara untuk dapat memperbaiki sifat-sifat genetik dan fisik benih yang mencangkup

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Lama Perendaman di Dalam Polyethylene Glycol (PEG) 6000

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Lama Perendaman di Dalam Polyethylene Glycol (PEG) 6000 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Lama Perendaman di Dalam Polyethylene Glycol (PEG) 6 Terhadap Viabilitas Benih Tembakau (Nicotiana tabacum) Berdasarkan hasil analisis variansi (ANAVA) pada lampiran

Lebih terperinci

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dengan judul Produksi dan Kandungan Nutrien Fodder Jagung

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dengan judul Produksi dan Kandungan Nutrien Fodder Jagung 11 BAB III MATERI DAN METODE Penelitian dengan judul Produksi dan Kandungan Nutrien Fodder Jagung Hidroponik dengan Media Perendaman dan Penggunaan Dosis Pupuk yang Berbeda sebagai Pakan Alternatif Ruminansia

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Persentase Perkecambahan 4.1.1. Pengaruh Konsentrasi Asam Sulfat terhadap Persentase Perkecambahan Benih Saga Pohon (Adenanthera pavonina L.). Berdasarkan hasil uji normalitas

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Metode Penelitian Pengaruh Lot Benih dan Kondisi Tingkat Kadar Air Benih serta Lama Penderaan pada PCT terhadap Viabilitas

BAHAN DAN METODE. Metode Penelitian Pengaruh Lot Benih dan Kondisi Tingkat Kadar Air Benih serta Lama Penderaan pada PCT terhadap Viabilitas 16 BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih, Laboratorium Hortikultura dan rumah kaca Kebun Percobaan Cikabayan, IPB Darmaga. Penelitian ini

Lebih terperinci

BAHA DA METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penelitian

BAHA DA METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penelitian BAHA DA METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Tanaman Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini dimulai

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN METODOLOGI PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari-Oktober 2011 di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih, Laboratorium Kromatografi dan Analisis Tumbuhan, Departemen

Lebih terperinci

TATA LAKSANA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu. Penelitian ini dilakukan di daerah Minggir, Sleman, Yogyakarta dan di

TATA LAKSANA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu. Penelitian ini dilakukan di daerah Minggir, Sleman, Yogyakarta dan di III. TATA LAKSANA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilakukan di daerah Minggir, Sleman, Yogyakarta dan di laboratorium fakultas pertanian UMY. Pengamatan pertumbuhan tanaman bawang merah dan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Bahan dan Alat

BAHAN DAN METODE. Bahan dan Alat 18 BAHAN DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian dilakukan di kebun percobaan Institut Pertanian Bogor, Sawah Baru Babakan Darmaga, selama 4 bulan, dari bulan Mei-September 2010. Bahan dan Alat Bahan-bahan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 35 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Suhu, Lama Perendaman dan Interaksi (suhu dan lama perendaman) terhadap Daya Kecambah (Persentase Jumlah Kecambah) Biji Ki Hujan (Samanea saman) Berdasarkan

Lebih terperinci

PERENDAMAN BENIH SAGA (Adenanthera pavonina L.) DENGAN BERBAGAI KONSENTRASI AIR KELAPA UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS KECAMBAH

PERENDAMAN BENIH SAGA (Adenanthera pavonina L.) DENGAN BERBAGAI KONSENTRASI AIR KELAPA UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS KECAMBAH PERENDAMAN BENIH SAGA (Adenanthera pavonina L.) DENGAN BERBAGAI KONSENTRASI AIR KELAPA UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS KECAMBAH SOAKING OF Adenanthera pavonina Linn. IN VARIOUS OF COCONUT WATER CONCENTRATION

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak Kelompok

BAB III METODE PENELITIAN. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak Kelompok BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan menggunakan 2 faktor, 16 kombinasi perlakuan dan 3 kali ulangan,

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA A. Klasifikasi Tanaman Jengkol Klasifikasi tanaman jengkol dalam ilmu tumbuh-tumbuhan dimasukkan dalam klasifikasi sebagai berikut (Pitojo,1992). Divisi : Spermatophyta Kelas : Dicotyledonae

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian adalah penelitian eksperimen Rancanagn Acak Lengkap (RAL)

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian adalah penelitian eksperimen Rancanagn Acak Lengkap (RAL) BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rangcangan Penelitian Penelitian adalah penelitian eksperimen Rancanagn Acak Lengkap (RAL) faktorial atau completely Rondom design pola faktorial dengan 2 faktor dan 3 kali

Lebih terperinci

Pengaruh Perendaman Beberapa Konsentrasi Potassium Nitrat (KNO3) dan Air Kelapa Terhadap Viabilitas Biji Delima (Punica granatum L.

Pengaruh Perendaman Beberapa Konsentrasi Potassium Nitrat (KNO3) dan Air Kelapa Terhadap Viabilitas Biji Delima (Punica granatum L. Pengaruh Perendaman Beberapa Konsentrasi Potassium Nitrat (KNO3) dan Air Kelapa Terhadap Viabilitas Biji Delima (Punica granatum L.) Effect of Potassium nitrate (KNO3) and Coconut Water Concentrationon

Lebih terperinci

Pengaruh Perlakuan Pematahan Dormansi Secara Kimia Terhadap Viabilitas Benih Delima (Punica granatum L.)

Pengaruh Perlakuan Pematahan Dormansi Secara Kimia Terhadap Viabilitas Benih Delima (Punica granatum L.) Pengaruh Perlakuan Pematahan Dormansi Secara Kimia Terhadap Viabilitas Benih Delima (Punica granatum L.) Effect of Dormancy Breaking Treatment in Chemistry on the Viability of Pomegranate Seed (Punica

Lebih terperinci

HASIL DA PEMBAHASA. Percobaan 1. Pengujian Pengaruh Cekaman Kekeringan terhadap Viabilitas Benih Padi Gogo Varietas Towuti dan Situ Patenggang

HASIL DA PEMBAHASA. Percobaan 1. Pengujian Pengaruh Cekaman Kekeringan terhadap Viabilitas Benih Padi Gogo Varietas Towuti dan Situ Patenggang HASIL DA PEMBAHASA 21 Percobaan 1. Pengujian Pengaruh Cekaman Kekeringan terhadap Viabilitas Benih Padi Gogo Varietas Towuti dan Situ Patenggang Tabel 1 menunjukkan hasil rekapitulasi sidik ragam pengaruh

Lebih terperinci

3. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu 3.2 Bahan dan Alat 3.3 Metode Penelitian Sumber Benih

3. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu 3.2 Bahan dan Alat 3.3 Metode Penelitian Sumber Benih 13 3. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Benih Departemen Agronomi dan Hortikultura, Kebun Percobaan Leuwikopo Institut Pertanian Bogor dan Kebun Percobaan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITAN. Medan Area jalan Kolam No1 Medan, Sumatera Utara, dengan ketinggian 20 m

BAB III METODOLOGI PENELITAN. Medan Area jalan Kolam No1 Medan, Sumatera Utara, dengan ketinggian 20 m 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian BAB III METODOLOGI PENELITAN Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Medan Area jalan Kolam No1 Medan, Sumatera Utara, dengan ketinggian

Lebih terperinci

MENGAMATI PERTUMBUHAN BIJI KACANG HIJAU

MENGAMATI PERTUMBUHAN BIJI KACANG HIJAU MENGAMATI PERTUMBUHAN BIJI KACANG HIJAU 05115011 Rodiyah TUGAS TIK UNIVERSITAS NAROTAMA SURABAYA 2015 http://narotama.ac.id PERCOBAAN PERTUMBUHAN PERKECAMBAHAN Tujuan : Untuk membandingkan pertumbuhan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober - Desember 2009, di Balai Besar

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober - Desember 2009, di Balai Besar III. METODE PENELITIAN A. Waktu Dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober - Desember 2009, di Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut (BBPBL) Hanura Kecamatan Padang Cermin Kabupaten

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kayu afrika merupakan jenis pohon yang meranggas atau menggugurkan daun

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kayu afrika merupakan jenis pohon yang meranggas atau menggugurkan daun II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kayu Afrika (Maesopsis eminii) Kayu afrika merupakan jenis pohon yang meranggas atau menggugurkan daun tinggi mencapai 45 m dengan batang bebas cabang 2 per 3 dari tinggi total,

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Tuan dengan ketinggian 25 mdpl, topografi datar dan jenis tanah alluvial.

III. BAHAN DAN METODE. Tuan dengan ketinggian 25 mdpl, topografi datar dan jenis tanah alluvial. III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di kebun Fakultas Pertanian Universitas Medan Area yang berlokasi di jalan Kolam No. 1 Medan Estate, Kecamatan Percut Sei

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian 3.2 Alat dan Bahan 3.3 Prosedur Penelitian Persiapan

BAB III METODOLOGI 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian 3.2 Alat dan Bahan 3.3 Prosedur Penelitian Persiapan BAB III METODOLOGI 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2011 sampai Januari 2012. Lokasi pengambilan tailing dilakukan di PT. Antam UPBE Pongkor dan penelitian

Lebih terperinci

III. MATERI DAN METODE

III. MATERI DAN METODE III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini bertempat dilahan percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, Jl. H. R. Soebrantas KM. 15

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Rancangan Percobaan

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Rancangan Percobaan 14 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di kebun percobaan Leuwikopo dan Laboratorium Teknologi Benih, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian III. METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Medan Area yang berlokasi di jalan Kolam No. 1 Medan Estate, Kecamatan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Percobaan

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Percobaan BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2009 hingga bulan Mei 2010 di rumah kaca Kebun Percobaan IPB Cikabayan, Kampus Dramaga, Bogor dan Balai Penelitian Tanaman

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode 23 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret Agustus 2012. Perbanyakan benih dilakukan pada bulan Maret-Juni 2012 di KP Leuwikopo. Pengujian benih dilakukan pada bulan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi botani tanaman palem botol adalah sebagai berikut:

TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi botani tanaman palem botol adalah sebagai berikut: TINJAUAN PUSTAKA Botani tanaman Klasifikasi botani tanaman palem botol adalah sebagai berikut: Kingdom Divisio Sub divisio Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Plantae : Spermatophyta : Angiospermae : Monocotyledonae

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. = nilai peubah yang diamati µ = nilai rataan umum

BAHAN DAN METODE. = nilai peubah yang diamati µ = nilai rataan umum 9 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Benih Leuwikopo, Institut Pertanian Bogor, Dramaga-Bogor. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli-Oktober

Lebih terperinci

Pendahuluan. ACARA I Perkecambahan Benih. (eksternal). Faktor Dalam Faktor dalam yang mempengaruhi perkecambahan benih antara lain :

Pendahuluan. ACARA I Perkecambahan Benih. (eksternal). Faktor Dalam Faktor dalam yang mempengaruhi perkecambahan benih antara lain : Pendahuluan Perkecambahan benih dapat diartikan sebagai dimulainya proses pertumbuhan embrio dari benih yang sudah matang (Taiz and Zeiger ). dapat berkecambah bila tersedia faktor-faktor pendukung selama

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap

BAB III METODE PENELITIAN. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial dengan menggunakan 2 faktor 12 kombinasi perlakuan dan 3 kali ulangan,

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. dilaksanakan di lahan percobaan dan Laboratorium. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih pakcoy (deskripsi

MATERI DAN METODE. dilaksanakan di lahan percobaan dan Laboratorium. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih pakcoy (deskripsi III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan dan Laboratorium Agronomi Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau,

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN 22 METODOLOGI PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Januari 2010 sampai dengan Pebruari 2011. Tempat pelaksanaan kultur jaringan tanaman adalah di Laboratorium Kultur Jaringan

Lebih terperinci