BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat. diameter 12 cm dan panjang 28 cm, dan bahan-bahan lain yang mendukung

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat. diameter 12 cm dan panjang 28 cm, dan bahan-bahan lain yang mendukung"

Transkripsi

1 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat lebih kurang 25 meter di atas permukaan laut. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan Oktober 2008 (empat bulan). Bahan dan Alat Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah setek batang tanaman kamboja jepang, zat pengatur tumbuh akar (Rootone F), top soil, kascing, pasir, sekam bakar, air, alkohol 70%, kertas label, polibag dengan ukuran diameter 12 cm dan panjang 28 cm, dan bahan-bahan lain yang mendukung pelaksanaan penelitian ini. Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah gembor, meteran, pisau tajam, handsprayer, kalkulator, timbangan analitik, dan alat-alat lain yang mendukung dalam pelaksanaan penelitian ini. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan 2 faktor perlakuan, yaitu : Faktor I : Zat pengatur tumbuh akar (Rootone-F), dengan 3 taraf, yaitu : R 0 = kontrol R 1 = konsentrasi 100 ppm

2 R 2 = konsentrasi 200 ppm R 3 = konsentrasi 300 ppm Faktor II : Media tanam dengan 3 taraf, yaitu : M 1 = Pasir + top soil (2:1) M 2 = Pasir + kascing (2:1) M 3 = Pasir + arang sekam (2:1) Sehingga diperoleh 12 kombinasi : R 0 M 1 R 1 M 1 R 2 M 1 R 3 M 1 R 0 M 2 R 1 M 2 R 2 M 2 R 3 M 2 R 0 M 3 R 1 M 3 R 2 M 3 R 3 M 3 Jumlah Ulangan : 3 Jumlah Kombinasi : 12 Jumlah Plot : 36 Jumlah Tanaman/ Plot : 4 Jumlah Sampel/ Plot : 2 Jumlah Tanaman Seluruhnya : 144 Jumlah Sampel Seluruhnya : 72 Jarak antar Blok Jarak antar Plot : 30 cm : 30 cm Dari data penelitian dianalisis dengan sidik ragam dengan model linier sebagai berikut : Yijk = μ + αi + βj + (αβ)ij + εijk

3 Dimana : Yijk = Hasil pengamatan perlakuan Rootone F pada taraf ke-i dan media tanam pada taraf ke-j μ αi βj (αβ)ij = Nilai tengah = Pengaruh Rootone F pada taraf ke-i = Pengaruh media tanam pada taraf ke-j = Pengaruh interaksi Rootone F pada taraf ke-i dan media tanam pada taraf ke-j εijk = Pengaruh galat yang disebabkan perlakuan Rootone F pada taraf ke-i dan media tanam pada taraf ke-j pada ulangan ke-k Data hasil penelitian pada perlakuan yang berpengaruh nyata dilanjutkan dengan uji DMRT dengan taraf 5% (Bangun, 1991).

4 PELAKSANAAN PENELITIAN Persiapan Media Tanam Media tanam terdiri dari top soil, kascing, pasir, dan sekam bakar. Pasir terlebih dahulu disterilisasi dengan cara digongseng. Sedangkan sekam bakar, top soil dan kascing tidak disterilisasi, karena top soil, sekam bakar dan kascing yang digunakan sudah siap pakai. Kemudian media tanam tersebut dicampur hingga merata sesuai dengan perbandingan pada komposisi perlakuan dan dimasukkan ke dalam polibag berdiameter 12 cm dengan panjang 28 cm. Media tanam diisikan ke polibag hingga setinggi 24 cm. Persiapan Bahan Tanaman Bahan tanaman diambil dari utama tanaman yang sudah berkayu (minimal berumur 1 tahun), dengan pertumbuhan sehat dan normal. Bahan tanaman diambil dengan cara memotong batang menggunakan pisau tajam dengan kriteria batang berwarna hijau ke-abu-abuan, sudah berkayu, tetapi tidak terlalu tua, batang lurus dan sehat, panjang batang cm, diameter batang 1 1,5 cm. Semua bahan tanaman yang digunakan memiliki kriteria yang sama. Lalu potongan batang diletakan pada posisi horizontal agar getah mengalir ke bawah. Potongan batang dikeringanginkan selama 1 minggu di tempat teduh. Pengambilan bahan tanaman dilakukan pada pagi hari.

5 Aplikasi Zat Pengatur Tumbuh Akar (Rootone F) Rootone F diaplikasikan dengan cara menambahkan sedikit alkohol untuk melarutkan kemudian ditambahkan air sehingga menjadi larutan. Kemudian bahan tanaman direndam pada larutan setinggi 5 cm selama + 2 jam. Penanaman Setek Kamboja Jepang Jumlah setek per polibag sebanyak 1 batang, penanaman setek dilakukan dengan memasukkan setek secara tegak tepat di bagian tengah polibag. Setek yang terbenam media adalah sedalam 5 cm. Setelah setek ditanam, kemudian media tanam di siram dengan air hingga kapasitas lapang. Pemeliharaan Tanaman Penyiraman Penyiraman dilakukan tiga hari sekali yaitu pagi atau sore hari secara merata pada seluruh tanaman dengan menggunakan gembor dan air bersih. Penyisipan Penyisipan dilakukan guna mengganti tanaman yang rusak akibat hama, penyakit ataupun kerusakan mekanis lainnya. Batas waktu penyisipan adalah 12 minggu setelah tanam. Penyiangan polibag. Penyiangan di lakukan secara manual, untuk gulma yang terdapat dalam

6 Pengamatan Parameter Persentase Setek Bertunas (%) Dihitung pada 4 minggu setelah tanam yaitu dengan menghitung setek yang bertunas dibagi jumlah tanaman pada masing-masing plot dikali 100%. Persentase setek bertunas dihitung pada akhir penelitian Rumus % setek bertunas = jumlah setek yang bertunas x 100% jumlah setek tiap plot Jumlah Tunas Jumlah tunas dihitung satu kali pada setiap tanaman sampel yang dilakukan pada akhir penelitian. Panjang Tunas (cm) Panjang tunas diukur dari pangkal tumbuhnya tunas sampai titik tumbuh tertinggi. Tunas yang diukur adalah tunas yang terpanjang dan dilakukan sejak 12 minggu setelah tanam dengan interval 2 minggu sekali. Jumlah Daun (helai) Jumlah daun yang dihitung adalah daun yang sudah membuka sempurna. Jumlah daun dihitung pada akhir penelitian. Jumlah Akar Primer Jumlah akar primer dihitung pada akhir penelitian dengan menghitung jumlah akar terdekat yang keluar pada pangkal setek.

7 Panjang Akar Primer (cm) Panjang akar diukur pada akhir penelitian dimulai dari pangkal stek sampai ujung akar dengan menggunakan dengan menggunakan penggaris. Pengukuran dilakukan pada akar terpanjang. Bobot Basah Akar (g) Bobot basah akar diukur dengan cara menimbang akar yang telah dipotong dan dibersihkan. Penimbangan dilakukan pada akhir penelitian dengan menggunakan timbangan analitik. Bobot Basah Tunas (g) Bobot basah tunas yang ditimbang adalah dengan memotong tunas yang keluar selama penelitian dan dibersihkan. Penimbangan dilakukan pada akhir penelitian dengan menggunakan timbangan analitik. Bobot Kering Akar (g) Akar yang telah ditimbang bobot basahnya, selanjutnya dimasukkan dalam amplop. Kemudian amplop yang berisi akar tadi diovenkan dengan suhu 70 0 C selama 2 x 24 jam. Setelah itu akar dikeluarkan dari amplop dan dihitung bobot kering akar dengan menggunakan timbangan analitik. Bobot Kering Tunas (g) Bagian atas tanaman yang telah ditimbang bobot basahnya, selanjutnya dimasukkan dalam amplop. Kemudian amplop yang berisi bagian atas tanaman tadi diovenkan dengan suhu 70 0 C selama 2 x 24 jam. Setelah itu dikeluarkan dari amplop dan dihitung bobot kering akar dengan menggunakan timbangan analitik.

8 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Analisis data secara statistik menunjukkan pemberian berbagai konsentrasi Rootone F berpengaruh nyata terhadap jumlah tunas, panjang tunas 12 dan 14 MST, jumlah daun, panjang akar bobot basah akar, bobot basah tunas, bobot kering akar dan bobot kering tunas, tetapi berpengaruh tidak nyata terhadap persentase setek bertunas dan panjang tunas 16 MST. Komposisi berbagai media tanam berpengaruh tidak nyata terhadap seluruh parameter yang diamati. Interaksi antara Rootone F dan media tanam berpengaruh nyata terhadap jumlah akar primer., tetapi berpengaruh tidak nyata terhadap persentase setek bertunas, jumlah tunas, panjang tunas, jumlah daun, panjang akar, bobot basah akar,bobot basah tunas, bobot kering akar dan bobot kering tunas. Persentase Setek Bertunas (%) Hasil pengamatan persentase setek bertunas dan daftar sidik ragam persentase setek bertunas dapat dilihat pada Lampiran 3-4 yang menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi Rootone F dan media serta interaksi kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata.

9 Tabel 2. Rataan Persentase Setek Bertunas Pada Berbagai Konsentrasi Rootone F dan Komposisi Media Tanam Media Tanam R 0 (0) R 1 (100) R 2 (200) R 3 (300) Rataan M 1 (Pasir + Top soil) a M 2 (Pasir + Kascing) a M 3 (Pasir + Arang sekam) a Rataan 63.04a 72.88a 68.44a 63.73a Keterangan : Notasi huruf yang berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf 5% menurut uji Duncan. Tabel 2 menunjukkan bahwa persentase setek bertunas tertinggi pada perlakuan konsentrasi Rootone F yaitu pada konsentrasi 100 ppm (72,88 %) dan yang terendah pada konsentrasi 0 ppm (63,04 %). Persentase setek bertunas tertinggi pada perlakuan media yaitu pada perlakuan Pasir + kascing (69,35 %) dan yang terendah Pasir + top soil (64,56 %). Sedangkan interaksi kedua perlakuan, persentase setek bertunas tertinggi pada perlakuan R 1 M 1, R 1 M 2, R 2 M 2 dan R 2 M 3 (74,13 %) sedangkan paling rendah pada perlakuan R 0 M 3 (55 %). Jumlah Tunas Hasil pengamatan jumlah tunas dan daftar sidik ragam jumlah tunas dapat dilihat pada Lampiran 5-6 yang menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi Rootone F berpengaruh nyata terhadap jumlah tunas, sedangkan perlakuan media serta interaksi kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata. Tabel 3. Rataan Jumlah Tunas Pada Berbagai Konsentrasi Rootone F dan Komposisi Media Tanam Media Tanam R 0 (0) R 1 (100) R 2 (200) R 3 (300) Rataan M 1 (Pasir + Top soil) a M 2 (Pasir + Kascing) a M 3 (Pasir + Arang sekam) a Rataan 1.39ab 1.27bc 1bc 1.72a Keterangan : Notasi huruf yang berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf 5% menurut uji Duncan.

10 Tabel 3 menunjukkan bahwa jumlah tunas tertinggi pada perlakuan konsentrasi Rootone F yaitu pada konsentrasi 300 ppm (1,72) dan yang terendah pada konsentrasi 200 ppm (1). Jumlah tunas tertinggi pada perlakuan media yaitu pada perlakuan pasir + arang sekam (1,41) dan yang terendah Pasir + top soil (1,25). Sedangkan interaksi kedua perlakuan, jumlah tunas tertinggi pada perlakuan R 3 M 3 (2) sedangkan paling rendah pada perlakuan R 0 M 1, R 2 M 1, R 2 M 2 dan R 2 M 3 (1). Pengaruh konsentrasi Rootone F pada berbagai media terhadap jumlah tunas, kurva responnya dapat dilihat pada Gambar 1 Jumlah Tunas ŷ = x + 2E-05x 2 R 2 = ymin = Gambar 1. Hubungan konsentrasi Rootone F dengan jumlah tunas bibit tanaman kamboja jepang Dari gambar 1 dapat dilihat bahwa hubungan konsentrasi Rootone F dengan jumlah tunas bibit tanaman kamboja jepang adalah kuadratik dimana jumlah tunas menurun pada konsentrasi Rootone F 100 ppm (R 1 ) dan meningkat pada konsentrasi Rootone F 300 ppm (R 3 ) bibit tanaman kamboja jepang yang digunakan.

11 Panjang Tunas Hasil pengamatan panjang tunas dan daftar sidik ragam panjang tunas dapat dilihat pada Lampiran 7-10 yang menunjukkan bahwa perlakuan Rootone F berpengaruh nyata terhadap panjang tunas 12 dan 14 MST, sedangkan perlakuan Rootone F terhadap panjang tunas 16 MST, media serta interaksi kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata. Tabel 4. Rataan Panjang Tunas 12 sampai 16 MST Pada Berbagai Konsentrasi Rootone F dan Komposisi Media Tanam Perlakuan Panjang Tunas (MST) R 0 (0) 0.21b 0.26b 0.33a R 1 (100) 0.20b 0.24b 0.33a R 2 (200) 0.25ab 0.28b 0.37a R 3 (300) 0.32a 0.38a 0.52a Media Tanam (M) M 1 (Pasir + Top soil) 0.24a 0.28a 0.39a M 2 (Pasir + Kascing) 0.26a 0.32a 0.44a M 3 (Pasir + Arang sekam) 0.23a 0.27a 0.34a Interaksi (RxM) R 0 M R 0 M R 0 M R 1 M R 1 M R 1 M R 2 M R 2 M R 2 M R 3 M R 3 M R 3 M Keterangan : Notasi huruf yang berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf 5% menurut uji Duncan.

12 Tabel 5. Rataan Panjang Tunas 16 MST Pada Berbagai Konsentrasi Rootone F dan Komposisi Media Tanam Media Tanam Konsentrasi Rootone F R 0 (0) R 1 (100) R 2 (200) R 3 (300) Rataan M 1 (Pasir + Top soil) a M 2 (Pasir + Kascing) a M 3 (Pasir + Arang sekam) a Rataan 0.33a 0.33a 0.37a 0.52a Keterangan : Notasi huruf yang berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf 5% menurut uji Duncan. Tabel 5 menunjukkan bahwa konsentrasi Rootone F berpengaruh tidak nyata, dimana panjang tunas tertinggi yaitu pada konsentrasi 300 ppm (0,52) dan yang terendah pada konsentrasi 0 ppm dan 100 ppm (0,33). Perlakuan berbagai komposisi media berpengaruh tidak nyata, dimana panjang tunas tertinggi pada perlakuan pasir + top soil (0,39) dan yang terendah pasir + arang sekam (0,34). Sedangkan kombinasi kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata, dimana panjang tunas tertinggi pada perlakuan R 3 M 1 (0,57) sedangkan paling rendah pada perlakuan R 0 M 1 dan R 0 M 3 (0,26). Jumlah Daun Hasil pengamatan jumlah daun dan daftar sidik ragam jumlah daun dapat dilihat pada Lampiran yang menunjukkan bahwa perlakuan Rootone F berpengaruh nyata terhadap jumlah daun, sedangkan perlakuan media serta interaksi kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata.

13 Tabel 6. Rataan Jumlah Daun Pada Berbagai Konsentrasi Rootone F dan Komposisi Media Tanam Media Tanam R 0 (0) R 1 (100) R 2 (200) R 3 (300) Rataan M 1 (Pasir + Top soil) a M 2 (Pasir + Kascing) a M 3 (Pasir + Arang sekam) a Rataan 2.40cd 2.53b 2.43bc 3.28a Keterangan : Notasi huruf yang berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf 5% menurut uji Duncan. Tabel 6 menunjukkan bahwa perlakuan Rootone F berpengaruh nyata terhadap jumlah daun, dimana tertinggi pada konsentrasi 300 ppm (3,28) dan yang terendah pada konsentrasi 0 ppm (2,40). Perlakuan berbagai komposisi media berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun, dimana tertinggi pada perlakuan media yaitu pada perlakuan Pasir + kascing (2,84) dan yang terendah pasir + arang sekam (2,52). Kombinasi kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun, dimana tertinggi pada perlakuan R 3 M 1 (3,59) sedangkan paling rendah pada perlakuan R 0 M 1 (1,76). Pengaruh Rootone F pada berbagai media terhadap jumlah daun, kurva responnya dapat dilihat pada Gambar 2 Jumlah Daun (helai) ŷ = x r = Gambar 2. Hubungan konsentrasi Rootone F dengan tanaman kamboja jepang jumlah daun bibit

14 Dari gambar 2 dapat dilihat bahwa hubungan konsentrasi Rootone F dengan jumlah daun bibit tanaman kamboja jepang adalah linier yang artinya jumlah daun akan meningkat sejalan dengan semakin tinggi konsentrasi Rootone F yang akan digunakan dengan konsentrasi Rootone F 300 ppm (R 3 ). Jumlah Akar Primer Hasil pengamatan jumlah akar primer dan daftar sidik ragam jumlah akar primer dapat dilihat pada Lampiran yang menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi Rootone F berpengaruh nyata terhadap jumlah akar primer dan interaksi kedua perlakuan, sedangkan perlakuan media berpengaruh tidak nyata. Tabel 7. Rataan Jumlah Akar Primer Pada Berbagai Konsentrasi Rootone F dan Komposisi Media Tanam Media Tanam R 0 (0) R 1 (100) R 2 (200) R 3 (300) M 1 (Pasir + Top soil) 1.29gh 2.11abcd 1.53defgh 2.16abc M 2 (Pasir + Kascing) 2.31a 1.72abcdefg 1.65bcdefgh 2.00abcdef M 3 (Pasir + Arang sekam) 1.69bcdefgh 2.16abc 2.03abcde 2.18ab Keterangan : Notasi huruf yang berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf 5% menurut uji Duncan. Tabel 7 menunjukkan bahwa pemberian Rootone F berpengaruh nyata terhadap jumlah akar primer, dimana tertinggi pada konsentrasi 300 ppm (2,10) dan yang terendah pada konsentrasi 200 ppm (1,73). Perlakuan berbagai komposisi media berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah akar primer, dimana tertinggi pada perlakuan media yaitu pada perlakuan pasir + arang sekam (2,01) dan yang terendah pada media pasir + top soil (1,77). Interaksi kedua perlakuan berpengaruh nyata terhadap jumlah akar primer, dimana tertinggi pada perlakuan R 0 M 2 (2,31) sedangkan paling rendah pada perlakuan R 0 M 1 (1,29).

15 Pengaruh Rootone F pada berbagai media terhadap jumlah akar primer, kurva responnya dapat dilihat pada Gambar 3 Jumlah Akar Primer ŷ = x x 2 + 4E-07x 3 R 2 = 1 ymax = 2.16 dan ymin = Pasir + Top soil Pasir + Kascing Pasir + Arang sekam Gambar 3. Hubungan konsentrasi Rootone F pada berbagai media tanam terhadap jumlah akar primer bibit tanaman kamboja jepang Dari gambar 3 dapat dilihat bahwa hubungan konsentrasi Rootone F pada berbagai media tanam terhadap jumlah akar primer bibit tanaman kamboja jepang adalah kubik, jumlah akar primer akan meningkat pada konsentrasi Rootone F 100 ppm (R 1 ) dan menurun pada konsentrasi Rootone F 200 ppm (R 3 ) yang digunakan. Panjang Akar Hasil pengamatan panjang akar dan daftar sidik ragam panjang akar dapat dilihat pada Lampiran yang menunjukkan bahwa perlakuan Rootone F berpengaruh nyata terhadap panjang akar primer, sedangkan perlakuan media dan interaksi kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata.

16 Tabel 8. Rataan Panjang Akar Pada Berbagai Konsentrasi Rootone F dan Komposisi Media Tanam Media Tanam R 0 (0) R 1 (100) R 2 (200) R 3 (300) Rataan M 1 (Pasir + Top soil) a M 2 (Pasir + Kascing) a M 3 (Pasir + Arang sekam) a Rataan 2.08cd 2.44bc 2.67ab 3.03a Keterangan : Notasi huruf yang berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf 5% menurut uji Duncan. Tabel 8 menunjukkan bahwa pemberian Rootone F berpengaruh nyata terhadap panjang akar, dimana tertinggi pada konsentrasi 300 ppm (3,03) dan yang terendah pada konsentrasi 0 ppm (2,08). Perlakuan berbagai komposisi media berpengaruh tidak nyata terhadap panjang akar, dimana tertinggi pada perlakuan media yaitu pada media pasir + top soil (2,84) dan yang terendah pada media pasir + arang sekam (2,34). Interaksi kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap panjang akar, dimana tertinggi pada perlakuan R 3 M 1 (3,58) sedangkan paling rendah pada perlakuan R 0 M 3 (1,53). Pengaruh konsentrasi Rootone F pada berbagai media terhadap panjang akar, kurva responnya dapat dilihat pada Gambar 4 Panjang Akar (cm) ŷ = x r = Gambar 4. Hubungan konsentrasi Rootone F dengan panjang akar bibit tanaman kamboja jepang

17 Dari gambar 4 dapat dilihat bahwa hubungan konsentrasi Rootone F dengan panjang akar bibit tanaman kamboja jepang adalah linier yang artinya panjang akar akan meningkat sejalan dengan semakin tinggi konsentrasi Rootone F yang akan digunakan dengan konsentrasi Rootone F 300 ppm (R 3 ). Bobot Basah Akar Hasil pengamatan bobot basah akar dan daftar sidik ragam bobot basah akar dapat dilihat pada Lampiran yang menunjukkan bahwa konsentrasi Rootone F berpengaruh nyata terhadap bobot basah akar, sedangkan perlakuan media dan interaksi kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata. Tabel 9. Rataan Bobot Basah Akar Pada Berbagai Konsentrasi Rootone F dan Komposisi Media Tanam Media Tanam R 0 (0) R 1 (100) R 2 (200) R 3 (300) Rataan M 1 (Pasir + Top soil) a M 2 (Pasir + Kascing) a M 3 (Pasir + Arang sekam) a Rataan 0.90bc 1.13ab 1.17ab 1.41a Keterangan : Notasi huruf yang berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf 5% menurut uji Duncan. Tabel 9 menunjukkan bahwa pemberian Rootone F berpengaruh nyata terhadap bobot basah akar, dimana tertinggi pada konsnetrasi 300 ppm (1,41) dan yang terendah pada konsentrasi 0 ppm (0,9). Perlakuan berbagai komposisi media berpengaruh tidak nyata terhadap bobot basah akar, dimana tertinggi pada perlakuan media yaitu pada media pasir + top soil (1,23) dan yang terendah pada media pasir + arang sekam (1,09). Interaksi kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap panjang akar, dimana tertinggi pada perlakuan R 3 M 1 (1,57) sedangkan paling rendah pada perlakuan R 0 M 3 (0,77).

18 Pengaruh Rootone F pada berbagai media terhadap bobot basah akar, kurva responnya dapat dilihat pada Gambar 5 Bobot Basah Akar (g) ŷ = x r = Gambar 5. Hubungan konsentrasi Rootone F dengan bobot basah akar bibit tanaman kamboja jepang Dari gambar 5 dapat dilihat bahwa hubungan konsentrasi Rootone F dengan bobot basah akar bibit tanaman kamboja jepang adalah linier yang artinya bobot basah akar akan meningkat sejalan dengan semakin tinggi konsentrasi Rootone F yang akan digunakan dengan konsentrasi Rootone F 300 ppm (R 3 ). Bobot Basah Tunas Hasil pengamatan bobot basah tunas dan daftar sidik ragam bobot basah tunas dapat dilihat pada Lampiran yang menunjukkan bahwa perlakuan Rootone F berpengaruh nyata terhadap bobot basah tunas, sedangkan perlakuan media dan interaksi kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata. Tabel 10. Rataan Bobot Basah Tunas Pada Berbagai Konsnetrasi Rootone F dan Komposisi Media Tanam Media Tanam R 0 (0) R 1 (100) R 2 (200) R 3 (300) Rataan M 1 (Pasir + Top soil) a M 2 (Pasir + Kascing) a M 3 (Pasir + Arang sekam) a Rataan 1.10b 1.57b 1.94b 2.87a Keterangan : Notasi huruf yang berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf 5% menurut uji Duncan.

19 Tabel 10 menunjukkan bahwa pemberian Rootone F berpengaruh nyata terhadap bobot basah tunas, dimana tertinggi pada perlakuan R 3 (2,87) dan yang terendah pada perlakuan R 0 (1,10). Perlakuan berbagai komposisi media berpengaruh tidak nyata terhadap bobot basah tunas, dimana tertinggi pada perlakuan media yaitu pada perlakuan M 2 (2,43) dan yang terendah M 3 (1,46). Interaksi kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap panjang akar, dimana tertinggi pada perlakuan R 3 M 1 (3,05) sedangkan paling rendah pada perlakuan R 0 M 1 (0,37). Pengaruh konsentrasi Rootone F pada berbagai media terhadap bobot basah tunas, kurva responnya dapat dilihat pada Gambar 6 Bobot Basah Tunas (g) ŷ = x r = Gambar 6. Hubungan konsentrasi Rootone F bobot basah tunas bibit tanaman kamboja jepang Dari gambar 6 dapat dilihat bahwa hubungan konsentrasi Rootone F dengan bobot basah tunas bibit tanaman kamboja jepang adalah linier yang artinya bobot basah tunas akan meningkat sejalan dengan semakin tinggi konsentrasi Rootone F yang akan digunakan dengan konsentrasi Rootone F 300 ppm (R 3 ).

20 Bobot Kering Akar Hasil pengamatan bobot kering akar dan daftar sidik ragam bobot kering akar dapat dilihat pada Lampiran yang menunjukkan bahwa perlakuan Rootone F berpengaruh nyata terhadap bobot kering akar, sedangkan perlakuan media dan interaksi kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata. Tabel 11. Rataan Bobot Kering Akar Pada Berbagai Konsentrasi Rootone F dan Komposisi Media Tanam Media Tanam R 0 (0) R 1 (100) R 2 (200) R 3 (300) Rataan M 1 (Pasir + Top soil) a M 2 (Pasir + Kascing) a M 3 (Pasir + Arang sekam) a Rataan 0.75c 0.84ab 0.85ab 0.88a Keterangan : Notasi huruf yang berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf 5% menurut uji Duncan. Tabel 11 menunjukkan bahwa pemberian Rootone F berpengaruh nyata terhadap bobot kering akar, dimana tertinggi pada konsentrasi 300 ppm (0,88) dan yang terendah pada konsentrasi 0 ppm (0,75). Perlakuan berbagai komposisi media berpengaruh tidak nyata terhadap bobot kering akar, dimana tertinggi pada perlakuan media yaitu pada perlakuan pasir + top soil (0,86) dan yang terendah pasir + kascing (0,81). Interaksi kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap bobot kering akar, dimana tertinggi pada perlakuan R 3 M 1 (0,93) sedangkan paling rendah pada perlakuan R 0 M 1 (0,71).

21 Pengaruh Rootone F pada berbagai media terhadap bobot kering akar, kurva responnya dapat dilihat pada Gambar 7 Bobot Kering Akar (g) ŷ = x r = Gambar 7. Hubungan konsentrasi Rootone F dengan bobot kering akar bibit tanaman kamboja jepang Dari gambar 7 dapat dilihat bahwa hubungan konsentrasi Rootone F dengan bobot kering akar bibit tanaman kamboja jepang adalah linier yang artinya bobot kering akar akan meningkat sejalan dengan semakin tinggi konsentrasi Rootone F yang akan digunakan dengan konsentrasi Rootone F 300 ppm (R 3 ). Bobot Kering Tunas Hasil pengamatan bobot kering tunas dan daftar sidik ragam bobot kering tunas dapat dilihat pada Lampiran yang menunjukkan bahwa perlakuan Rootone F berpengaruh nyata terhadap bobot kering tunas, sedangkan perlakuan media dan interaksi kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata.

22 Tabel 12. Rataan Bobot Kering Tunas Pada Berbagai Konsentrasi Rootone F dan Komposisi Media Tanam Media Tanam R 0 (0) R 1 (100) R 2 (200) R 3 (300) Rataan M 1 (Pasir + Top soil) a M 2 (Pasir + Kascing) a M 3 (Pasir + Arang sekam) a Rataan 0.79cd 0.83bc 0.86b 0.95a Keterangan : Notasi huruf yang berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf 5% menurut uji Duncan. Tabel 12 menunjukkan bahwa pemberian Rootone F berpengaruh nyata terhadap bobot kering tunas, dimana tertinggi pada konsentrasi 300 ppm (0,95) dan yang terendah pada konsentrasi 0 ppm (0,79). Perlakuan berbagai komposisi media berpengaruh tidak nyata terhadap bobot kering tunas, dimana tertinggi pada perlakuan media yaitu pada media pasir + kascing (0,90) dan yang terendah pada media pasir + top soil (0,83). Interaksi kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap bobot kering tunas, dimana tertinggi pada perlakuan R 3 M 3 (0,97) sedangkan paling rendah pada perlakuan R 0 M 1 (0,72). Pengaruh konsentrasi Rootone F pada berbagai media terhadap bobot kering tunas, kurva responnya dapat dilihat pada Gambar 8 Bobot Kering Tunas (g) ŷ = x r = Gambar 8. Hubungan konsentrasi Rootone F dengan bobot kering tunas bibit tanaman kamboja jepang

23 Dari gambar 8 dapat dilihat bahwa hubungan konsentrasi Rootone F dengan bobot kering tunas bibit tanaman kamboja jepang adalah linier yang artinya bobot kering tunas akan meningkat sejalan dengan semakin tinggi konsentrasi Rootone F yang akan digunakan dengan konsentrasi Rootone F 300 ppm (R 3 ). Pembahasan Pengaruh ZPT Akar Terhadap Keberhasilan dan Pertumbuhan Setek Kamboja Jepang Dari data pengamatan dan hasil analisis secara statistika maka diperoleh bahwa perlakuan Rootone F berpengaruh nyata terhadap jumlah tunas, panjang tunas 12 dan 14 MST (cm), jumlah daun (helai), panjang akar (cm), bobot basah akar (g), bobot basah tunas (g), bobot kering akar (g) dan bobot kering tunas (g). Serta berpengaruh tidak nyata terhadap persentase setek bertunas (%), panjang tunas 16 MST (cm) dan jumlah akar primer. Adanya pengaruh nyata terhadap jumlah tunas disebabkan oleh perbedaan konsentrasi Rootone F yang diberikan. Semakin besar konsentrasi Rootone F yang diberikan semakin banyak jumlah tunas yang muncul. Hal ini dipengaruhi oleh Rootone F yang dapat meningkatkan pertumbuhan akar untuk menyerap hara dan air dalam tanah sehingga proses fotosintesis dapat berlangsung. Hasil fotosintesis sebagian dipergunakan untuk membentuk organ tanaman termasuk tunas. Hal ini sesuai dengan literatur Elisabeth (2004) yang menyatakan bahwa penggunaan Rootone F sebagai hasil kombinasi dari ketiga jenis hormon yaitu IBA, IAA dan NAA lebih efektif merangsang perakaran dari pada penggunaan hanya satu jenis hormon secara tunggal. Hal ini juga diduga adanya pengaruh suhu dalam rumah

24 kaca yang tinggi yang dapat meningkatkan perkembangan tunas termasuk jumlah tunas. Hal ini didukung oleh pernyataan Hartman, 1983 dalam Elisabeth (2004) yang menyatakan Suhu perakaran optimal untuk perakaran stek berkisar antara 21 o C sampai 27 o C pada pagi dan siang hari dan 15 o C pada malam hari. Suhu yang terlampau tinggi dapat mendorong perkembangan tunas melampaui perkembangan perakaran dan meningkatkan laju transpirasi. Perlakuan Rootone F berpengaruh nyata terhadap bobot basah dan bobot kering akar pada berbagai konsentrasi Rootone F. Hal ini dikarenakan Rootone F mengandung kombinasi hormon tumbuh IBA, IAA dan NAA yang lebih efektif merangsang perakaran yang berpengaruh pada bobot basah dan bobot kering akar. Hal ini sesuai dengan literatur Elisabeth (2004) yang menyatakan bahwa Rootone F sebagai hasil kombinasi dari ketiga hormon tumbuh yaitu IBA, IAA dan NAA yang lebih efektif merangsang perakaran dari pada penggunaan hanya satu jenis hormon secara tunggal. Bobot basah tunas dan bobot kering tunas berpengaruh nyata pada berbagai konsentrasi Rootone F. Hal ini dikarenakan Rootone F dapat mempercepat keluarnya akar. Hal ini disebabkan karena adanya perbandingan antara auksin dan sitokinin dalam tubuh tanaman. Apabila kandungan auksin lebih tinggi dari sitokinin akan terjadi induksi akar dan pemanjangan tunas. Sebaliknya kandungan auksin lebih rendah dari sitokinin akan terjadi induksi tunas dan pemanjangan akar. Hal ini sesuai dengan pernyataan Skoog, 1957 dan Haryadi, 1979 dalam Wuryaningsih, dkk.(2000) yang menyatakan bahwa pembentukan tunas dan akar tergantung pada perbandingan antara auksin dan sitokinin dalam tubuh tanaman. Apabila kandungan auksin lebih tinggi dari

25 sitokinin akan terjadi induksi akar dan pemanjangan tunas. Sebaliknya kandungan auksin lebih rendah dari sitokinin akan terjadi induksi tunas dan pemanjangan akar. Perlakuan Rootone F berpengaruh tidak nyata terhadap panjang tunas 16 MST. Hal ini diduga dipengaruhi oleh suhu di dalam rumah kaca yang mendorong tunas bertambah panjang melampaui perkembangan perakaran. Hal ini sesuai dengan literatur Hartman, 1983 dalam Elisabeth (2004) yang menyatakan bahwa suhu perakaran optimal untuk perakaran stek berkisar antara 21 0 C sampai 27 0 C pada pagi dan siang hari dan 15 0 C pada malam hari. Suhu yang terlampau tinggi dapat mendorong perkembangan tunas melampaui perkembangan perakaran dan meningkatkan laju transpirasi. Rootone F berpengaruh nyata terhadap parameter panjang akar primer. Hal ini disebabkan karena kandungan auksin yang terdapat pada Rootone F. Auksin adalah salah satu ZPT yang dapat merangsang pembentukan akar pada stek. Hal ini sesuai dengan literatur yang dikemukakan oleh http/ (2008) yang menyatakan bahwa auksin adalah hormon tanaman seperti indolasetat yang berfungsi untuk merangsang pembesaran sel, sintesis DNA kromosom, serta pertumbuhan aksis longitudinal tanaman, gunanya untuk merangsang pertumbuhan akar pada stekan atau cangkokan. Pengaruh Berbagai Komposisi Media Tanam Terhadap Keberhasilan dan Pertumbuhan Setek Kamboja Jepang Dari data pengamatan dan hasil analisis secara statistika maka diperoleh bahwa perlakuan berbagai komposis media tanam berpengaruh tidak nyata terhadap seluruh parameter yang diamati.

26 Perlakuan berbagai komposisi media tanam berpengaruh tidak nyata terhadap seluruh parameter yang diamati. Hal ini diduga ketiga komposisi media tanam yang digunakan memiliki fungsi yang sama, yaitu memegang setek agar tidak mudah goyah dan memberikan kelembaban yang cukup. Hal ini sesuai dengan literatur Ashari (1995) yang menyatakan bahwa fungsi media perakaran yang digunakan menanam setek adalah memegang setek agar tidak mudah goyah, memberikan kelembaban yang cukup dan mengatur peredaran udara (aerasi). Oleh karenanya, media yang ideal haruslah mampu memberikan aerasi yang cukup, mempunyai daya pegang air dan drainase yang baik serta bebas dari jamur dan bakteri patogen. Pengaruh Interaksi ZPT Akar dan Media Tanam terhadap Kerberhasilan dan Pertumbuhan Setek Kamboja Jepang Dari hasil analisis secara statistik interaksi perlakuan Rootone F dan media tanam berpengaruh nyata terhadap jumlah akar primer. Tetapi berpengaruh tidak nyata terhadap persentase setek bertunas, jumlah tunas, panjang tunas, jumlah daun, panjang akar bobot basah akar, bobot basah tunas, bobot kering akar dan bobot kering tunas. Interaksi Rootone F dan media tanam berpengaruh nyata terhadap jumlah akar primer. Hal ini disebabkan pembentukan akar pada setek dipengaruhi oleh Rootone F untuk mempercepat munculnya akar. Hal ini sesuai dengan literatur Ashari (1995) yang menyatakan bahwa IAA sintetik juga telah terbukti mendorong pertumbuhan akar adventif. Pada era yang sama juga ditemukan asam indol butirat (IBA) dan asam naptalen asetat (NAA) yang mempunyai efek sama dengan IAA. Pada saat sekarang masyarakat sudah mengetahui peran auksin

27 sebagai zat tumbuh perangsang perakaran yang dijual dengan nama dagang Bioroton atau Rootone F (Ashari,1995). Pembentukan akar juga dipengaruhi oleh media tanam yang mengandung unsur hara yang memiliki aerasi dan drainase yang baik, dimana komposisi media yang digunakan dominan pasir. Hal ini sesuai dengan literatur Anonimous (2007) yang menyatakan pasir dianggap memadai dan sesuai jika digunakan sebagai media untuk penyemaian benih, pertumbuhan bibit tanaman, dan perakaran stek batang tanaman. Selain itu, keunggulan media tanam pasir adalah kemudahan dalam penggunaan dan dapat meningkatkan aerasi serta drainase media tanam. Interaksi ZPT akar (Rootone F) dan media tanam berpengaruh nyata tidak terhadap persentase setek bertunas, jumlah tunas, panjang tunas, jumlah daun, panjang akar bobot basah akar, bobot basah tunas, bobot kering akar dan bobot kering tunas. Hal ini diduga campuran media tanam yang digunakan sesuai dan mampu mengikat air dan udara. Hal ini sesuai dengan literatur Anonimous (2007) yang menyatakan bahwa pada dasarnya, semua campuran media tanam bagus bila cocok dengan lingkungan dan cara pembudidayaannya. Hanya saja, media tanam yang baik bagi tanaman kamboja jepang yaitu mampu mengikat air dan udara sekaligus (porous tapi dapat menyerap air), mensuplai unsur hara, dan derajat keasaman (ph) berkisar 5,6-6,5.

28 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Perlakuan zpt akar (Rootone F) berpengaruh nyata terhadap jumlah tunas, panjang tunas 12 dan 14 MST, jumlah daun, panjang akar, bobot basah akar, bobot basah tunas, bobot kering akar dan bobot kering tunas. Tetapi berpengaruh tidak nyata terhadap persentase setek bertunas, panjang tunas 16 MST dan jumlah akar primer 2. Perlakuan media tanam berpengaruh tidak nyata terhadap seluruh parameter amatan yaitu persentase setek bertunas, jumlah tunas, panjang tunas 12, 14 dan 16 MST, jumlah daun, panjang akar, jumlah akar primer, bobot basah akar, bobot basah tunas, bobot kering akar dan bobot kering tunas. 3. Interaksi zpt akar (Rootone F) dan media tanam berpengaruh nyata terhadap jumlah akar primer. Tetapi berpengaruh tidak nyata terhadap persentase stek bertunas, jumlah tunas, panjang tunas 12, 14 dan 16 MST, jumlah daun, panjang akar, bobot basah akar, bobot basah tunas, bobot kering akar dan bobot kering tunas.

29 Saran 1. Sebaiknya pada perbnyakan setek kamboja jepang menggunakan ZPT akar (Rootone F) pada konsentrasi 300 ppm dan mdia tanam pasir + top soil 2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan konsentrasi ZPT akar yang lebih tinggi dan campuran media tanam yang bervariasi hingga dapat diperoleh interaksi kedua perlakuan lebih nyata.

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. Percobaan ini dilakukan mulai

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. Percobaan ini dilakukan mulai BAHAN DAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Percobaan ini dilakukan di Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian,, Medan. Percobaan ini dilakukan mulai dari bulan April 2016 hingga Mei

Lebih terperinci

III. MATERI DAN METODE

III. MATERI DAN METODE III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini bertempat di lahan percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, Jl. H.R. Soebrantas KM. 15

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di Lapangan Terpadu Kampus Gedung Meneng Fakultas

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di Lapangan Terpadu Kampus Gedung Meneng Fakultas 19 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Lapangan Terpadu Kampus Gedung Meneng Fakultas Pertanian, Universitas Lampung Kampus Gedung Meneng, Bandar Lampung dan

Lebih terperinci

BAHAN METODE PENELITIAN

BAHAN METODE PENELITIAN BAHAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di lahan penelitian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan, dengan ketinggian tempat ± 25 m dpl, dilaksanakan pada

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 15 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Pertumbuhan dan perkembangan stek pada awal penanaman sangat dipengaruhi oleh faktor luar seperti air, suhu, kelembaban dan tingkat pencahayaan di area penanaman stek.

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITAN. Medan Area jalan Kolam No1 Medan, Sumatera Utara, dengan ketinggian 20 m

BAB III METODOLOGI PENELITAN. Medan Area jalan Kolam No1 Medan, Sumatera Utara, dengan ketinggian 20 m 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian BAB III METODOLOGI PENELITAN Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Medan Area jalan Kolam No1 Medan, Sumatera Utara, dengan ketinggian

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilakukan di Lapangan Terpadu Fakultas Pertanian, Universitas

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilakukan di Lapangan Terpadu Fakultas Pertanian, Universitas 18 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Lapangan Terpadu Fakultas Pertanian, Universitas Lampung Kampus Gedung Meneng, Bandar Lampung. Penelitian dilaksanakan dari

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Universitas Lampung. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai

III. BAHAN DAN METODE. Universitas Lampung. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Rumah Kaca Gedung Hortikultura, Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca gedung Hortikultura Universitas Lampung

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca gedung Hortikultura Universitas Lampung III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di rumah kaca gedung Hortikultura Universitas Lampung pada bulan Juni November 2014. 3.2 Bahan dan Alat Bahan-bahan yang digunakan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. dengan ketinggian tempat ± 25 di atas permukaan laut, mulai bulan Desember

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. dengan ketinggian tempat ± 25 di atas permukaan laut, mulai bulan Desember BAHAN DAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan di desa Cengkeh Turi dengan ketinggian tempat ± 25 di atas permukaan laut, mulai bulan Desember sampai

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi IBA (Indole Butyric Acid)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi IBA (Indole Butyric Acid) IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi IBA (Indole Butyric Acid) berpengaruh nyata pada jumlah akar primer bibit tanaman nanas, tetapi tidak

Lebih terperinci

PENGARUH KONSENTRASI DAN LAMA PERENDAMAN DENGAN ZAT PENGATUR TUMBUH (ZPT) INDOLEBUTYRIC ACID (IBA) TERHADAP PERTUMBUHAN STEK TANAMAN JERUK

PENGARUH KONSENTRASI DAN LAMA PERENDAMAN DENGAN ZAT PENGATUR TUMBUH (ZPT) INDOLEBUTYRIC ACID (IBA) TERHADAP PERTUMBUHAN STEK TANAMAN JERUK WAHANA INOVASI VOLUME 4 No.2 JULI-DES 2015 ISSN : 2089-8592 PENGARUH KONSENTRASI DAN LAMA PERENDAMAN DENGAN ZAT PENGATUR TUMBUH (ZPT) INDOLEBUTYRIC ACID (IBA) TERHADAP PERTUMBUHAN STEK TANAMAN JERUK Arta

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Jl. HR. Soebrantas KM 15 Panam, Pekanbaru. Penelitian ini dilaksanakan pada

MATERI DAN METODE. Jl. HR. Soebrantas KM 15 Panam, Pekanbaru. Penelitian ini dilaksanakan pada III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau yang beralamat di Jl. HR.

Lebih terperinci

PELAKSANAAN PENELITIAN. Disiapkan batang atas ubi karet dan batang bawah ubi kayu gajah yang. berumur 8 bulan dan dipotong sepanjang 25 cm.

PELAKSANAAN PENELITIAN. Disiapkan batang atas ubi karet dan batang bawah ubi kayu gajah yang. berumur 8 bulan dan dipotong sepanjang 25 cm. PELAKSANAAN PENELITIAN Persiapan Lahan Lahan yang akan digunakan dibersihkan dari gulma dengan cara manual. Setelah dibersihkan, lahan diukur dengan ukuran panjang x lebar : 12 m x 4 m. Persiapan Bibit

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian ± 32 meter di

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian ± 32 meter di 14 BAHAN DAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Teknologi Benih, Fakultas Pertanian,, Medan dengan ketinggian ± 32 meter di atas permukaan laut, pada

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia mempunyai aneka ragam tanaman hias, baik tanaman hias daun maupun

I. PENDAHULUAN. Indonesia mempunyai aneka ragam tanaman hias, baik tanaman hias daun maupun I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Indonesia mempunyai aneka ragam tanaman hias, baik tanaman hias daun maupun tanaman hias bunga. Tanaman hias yaitu suatu tanaman yang bagian akar, batang,

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat ± 32 meter di atas permukaan

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat ± 32 meter di atas permukaan 13 diinduksi toleransi stres dan perlindungan terhadap kerusakan oksidatif karena berbagai tekanan (Sadak dan Mona, 2014). BAHAN DAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2010 sampai dengan bulan Oktober 2010 di Laboraturium Bioteknologi Tanaman, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas

Lebih terperinci

I.MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2013 hingga Februari. Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

I.MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2013 hingga Februari. Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. I.MATERI DAN METODE 1.1. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2013 hingga Februari 2014. Penelitian dilakukan di lahan percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas

Lebih terperinci

III. MATERI DAN METODE. Penelitian ini dileksanakan dari bulan Juni sampai September 2013, lahan

III. MATERI DAN METODE. Penelitian ini dileksanakan dari bulan Juni sampai September 2013, lahan III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dileksanakan dari bulan Juni sampai September 2013, lahan percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 14 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian berlangsung dari bulan Mei 2011 sampai bulan Juli 2011 di lahan Pembibitan Kebun Percobaan Cikabayan, IPB Darmaga. Penelitian diawali dengan pemilihan pohon

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca, Fakultas Pertanian, Universitas

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca, Fakultas Pertanian, Universitas 23 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung, Kampus Gedung Meneng, Bandar Lampung pada bulan Desember 2013

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Tuan dengan ketinggian 25 mdpl, topografi datar dan jenis tanah alluvial.

III. BAHAN DAN METODE. Tuan dengan ketinggian 25 mdpl, topografi datar dan jenis tanah alluvial. III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di kebun Fakultas Pertanian Universitas Medan Area yang berlokasi di jalan Kolam No. 1 Medan Estate, Kecamatan Percut Sei

Lebih terperinci

Pengendalian hama dan penyakit pada pembibitan yaitu dengan menutup atau mengolesi luka bekas pengambilan anakan dengan tanah atau insektisida,

Pengendalian hama dan penyakit pada pembibitan yaitu dengan menutup atau mengolesi luka bekas pengambilan anakan dengan tanah atau insektisida, PEMBAHASAN PT National Sago Prima saat ini merupakan perusahaan satu-satunya yang bergerak dalam bidang pengusahaan perkebunan sagu di Indonesia. Pengusahaan sagu masih berada dibawah dinas kehutanan karena

Lebih terperinci

BAB III MATERI DAN METODE. sampai panen okra pada Januari 2017 Mei 2017 di lahan percobaan dan

BAB III MATERI DAN METODE. sampai panen okra pada Januari 2017 Mei 2017 di lahan percobaan dan 13 BAB III MATERI DAN METODE 3.1. Materi Penelitian Pelaksanaan penelitian lapang meliputi persiapan pupuk, penanaman sampai panen okra pada Januari 2017 Mei 2017 di lahan percobaan dan Laboratorium Ekologi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Nanas (Ananas comosus [L.] Merr) merupakan komoditas andalan dalam perdagangan buah

I. PENDAHULUAN. Nanas (Ananas comosus [L.] Merr) merupakan komoditas andalan dalam perdagangan buah I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Nanas (Ananas comosus [L.] Merr) merupakan komoditas andalan dalam perdagangan buah tropika yang menempati urutan ke dua terbesar setelah pisang. Indonesia merupakan produsen

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Perternaka UIN Suska Riau. Pelaksanaan penelitian ini berlangsung dari tanggal

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Perternaka UIN Suska Riau. Pelaksanaan penelitian ini berlangsung dari tanggal III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN 3. 1. Tempat dan waktu Penelitian dilaksanakan di Kebun percobaan Fakultas Pertanian dan Perternaka UIN Suska Riau. Pelaksanaan penelitian ini berlangsung dari tanggal

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian III. METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Medan Area yang berlokasi di jalan Kolam No. 1 Medan Estate, Kecamatan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Sumatera Utara, Medan. Penelitian dilakukan bulan Juni 2011 Oktober 2011.

BAHAN DAN METODE. Sumatera Utara, Medan. Penelitian dilakukan bulan Juni 2011 Oktober 2011. BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Rumah Kaca, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. Penelitian dilakukan bulan Juni 2011 Oktober 2011. Bahan dan Alat

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIAN. Penelitian dilakukan di Greenhouse Universitas Muhammadiyah

TATA CARA PENELITIAN. Penelitian dilakukan di Greenhouse Universitas Muhammadiyah III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Greenhouse Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan selama bulan November 2016-Februari

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian pengaruh konsentrasi dan lama perendaman IAA (Indole Acetic

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian pengaruh konsentrasi dan lama perendaman IAA (Indole Acetic BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian pengaruh konsentrasi dan lama perendaman IAA (Indole Acetic Acid) terhadap pertumbuhan vegetatif bibit tebu (Saccharum officinarum L.) G2 varietas

Lebih terperinci

IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. Air leri merupakan bahan organik dengan kandungan fosfor, magnesium

IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. Air leri merupakan bahan organik dengan kandungan fosfor, magnesium IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN Air leri merupakan bahan organik dengan kandungan fosfor, magnesium dan vitamin B1 yang efektif bila dimanfaatkan sebagai bahan tambahan pada proses perbanyakan tanaman

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar

HASIL DAN PEMBAHASAN. Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar 13 HASIL DAN PEMBAHASAN Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar Hasil Uji t antara Kontrol dengan Tingkat Kematangan Buah Uji t digunakan untuk membandingkan

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Sederhana Dusun IX, Desa Sambirejo Timur, Kecamatan Percut Sei Tuan,

III. BAHAN DAN METODE. Sederhana Dusun IX, Desa Sambirejo Timur, Kecamatan Percut Sei Tuan, III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kebun Percobaan yang berlokasi di Jalan Sederhana Dusun IX, Desa Sambirejo Timur, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten

Lebih terperinci

PELAKSANAAN PENELITIAN

PELAKSANAAN PENELITIAN PELAKSANAAN PENELITIAN Persiapan Lahan Disiapkan lahan dengan panjang 21 m dan lebar 12 m yang kemudian dibersihkan dari gulma. Dalam persiapan lahan dilakukan pembuatan plot dengan 4 baris petakan dan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Sumatera Utara (USU), Medan pada ketinggian tempat sekitar 25 m dpl. Analisis

BAHAN DAN METODE. Sumatera Utara (USU), Medan pada ketinggian tempat sekitar 25 m dpl. Analisis 26 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU), Medan pada ketinggian tempat sekitar 25 m dpl. Analisis dilakukan

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Green House dan Laboratorium penelitian

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Green House dan Laboratorium penelitian III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Green House dan Laboratorium penelitian Fakultas Pertanian UMY, pada bulan Desember 2015 Maret 2016. B. Alat dan Bahan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PEELITIA 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Balai Pengkajian Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Serpong, Tangerang. Penelitian dilaksanakan

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan waktu Penelitian Penelitian dilakukan di areal kebun percobaan kampus STIPAP Medan, Sumatera Utara. Penelitian ini dilakukan Selama 6 bulan yaitu mulai dari bulan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PELAKSANAAN. Agustus Bertempat di green house Universitas Muhammadiyah Malang.

BAB III METODOLOGI PELAKSANAAN. Agustus Bertempat di green house Universitas Muhammadiyah Malang. BAB III METODOLOGI PELAKSANAAN 3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan penelitian dilaksanakan mulai bulan Juni sampai dengan bulan Agustus 2016. Bertempat di green house Universitas Muhammadiyah Malang. 3.2

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Hortikultura Fakultas Pertanian

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Hortikultura Fakultas Pertanian 19 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Pelaksanaan Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Hortikultura Fakultas Pertanian Universitas Lampung yang dimulai pada bulan November 2014 sampai April

Lebih terperinci

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dilaksanakan di Screen House, Balai Penelitian Tanaman Sayuran

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dilaksanakan di Screen House, Balai Penelitian Tanaman Sayuran 14 BAB III MATERI DAN METODE Penelitian dilaksanakan di Screen House, Balai Penelitian Tanaman Sayuran (BALITSA), Lembang, Jawa Barat. Penelitian dilaksanakan dari bulan September hingga November 2016.

Lebih terperinci

III. MATERI DAN METODE

III. MATERI DAN METODE III. MATERI DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ini telah dilakukan di lahan percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau yang beralamat di Jl. HR.

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Bahan dan Alat Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Bahan dan Alat Metode Penelitian BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di dua tempat, yaitu pembibitan di Kebun Percobaan Leuwikopo Institut Pertanian Bogor, Darmaga, Bogor, dan penanaman dilakukan di

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Universitas Lampung pada titik koordinat LS dan BT

III. BAHAN DAN METODE. Universitas Lampung pada titik koordinat LS dan BT III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung pada titik koordinat 5 22 10 LS dan 105 14 38 BT

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Dracaena adalah tanaman yang tumbuh tegak dengan bentuk batang bulat dan

TINJAUAN PUSTAKA. Dracaena adalah tanaman yang tumbuh tegak dengan bentuk batang bulat dan II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Morfologi dan Taksonomi Tanaman Dracaena Dracaena adalah tanaman yang tumbuh tegak dengan bentuk batang bulat dan beruas-ruas. Daun dracaena berbentuk tunggal, tidak bertangkai,

Lebih terperinci

RESPOMS PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI SAAWI (Brassica Juncea. L) TERHADAP INTERVAL PENYIRAMAN DAN KONSENTRASILARUTAN PUPUK NPK SECARA HIDROPONIK

RESPOMS PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI SAAWI (Brassica Juncea. L) TERHADAP INTERVAL PENYIRAMAN DAN KONSENTRASILARUTAN PUPUK NPK SECARA HIDROPONIK 864. Jurnal Online Agroekoteknologi Vol.1, No.3, Juni 2013 ISSN No. 2337-6597 RESPOMS PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI SAAWI (Brassica Juncea. L) TERHADAP INTERVAL PENYIRAMAN DAN KONSENTRASILARUTAN PUPUK NPK SECARA

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Muhammadiyah Yogyakarta di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Muhammadiyah Yogyakarta di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Green House Fak. Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul,

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Penelitian ini dimulai pada bulan

BAHAN DAN METODE. Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Penelitian ini dimulai pada bulan BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Fakultas Pertanian, Medan. Penelitian ini dimulai pada bulan Maret 2010 sampai dengan Juni 2010.

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini telah dilakukan di Lahan Percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Penelitian ini dilaksanakan

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE III. BAHAN DAN METODE 3. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai Mei 202 di Rumah Kaca Gedung Hortikultura, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. 3.2 Bahan dan Alat Bahan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas

BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas 26 III. BAHAN DAN METODE 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Lampung pada bulan Januari 2012 sampai Maret 2012. 3.2. Alat dan Bahan.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Eksplorasi Eksplan Terubuk

HASIL DAN PEMBAHASAN Eksplorasi Eksplan Terubuk 22 HASIL DAN PEMBAHASAN Eksplorasi Eksplan Terubuk Bahan tanam awal (eksplan) merupakan salah satu faktor penting dalam keberhasilan perbanyakan tanaman secara in vitro. Eksplan yang baik untuk digunakan

Lebih terperinci

Lampiran 1. Data persentase hidup (%) bibit A. marina dengan intensitas naungan pada pengamatan 1 sampai 13 Minggu Setelah Tanam (MST)

Lampiran 1. Data persentase hidup (%) bibit A. marina dengan intensitas naungan pada pengamatan 1 sampai 13 Minggu Setelah Tanam (MST) Lampiran 1. Data persentase hidup (%) bibit A. marina dengan intensitas naungan pada pengamatan 1 sampai 13 Minggu Setelah Tanam (MST) Perlakuan Persentase Hidup (%) 0% 100 25% 100 50% 100 75% 100 Total

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN 8 BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilakukan di PT Holcim Tbk, Cibadak, Kabupaten Sukabumi. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan Juni 2012 dengan lama

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Universitas Medan Area yang berlokasi di jalan Kolam No. 1 Medan Estate,

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Universitas Medan Area yang berlokasi di jalan Kolam No. 1 Medan Estate, III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Medan Area yang berlokasi di jalan Kolam No. 1 Medan Estate,

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di perumahan Jalan Tombak No.49A Medan,

BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di perumahan Jalan Tombak No.49A Medan, III. BAHAN DAN METODE 3.1.Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan di perumahan Jalan Tombak No.49A Medan, Sumatera Utara. Yangdilakukan mulai tanggal26 Juli sampai dengan tanggal23 September 2016.

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE III. BAHAN DAN METODE 3.1 Waktu dan Tempat penelitian Penelitian dilaksanakan di kebun penelitian Fakultas Pertanian, Universitas Lampung di belakang Masjid Alwasi i (komplek perumahan dosen), dari bulan

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini telah di laksanakan di Rumah Kaca Kebun Percobaan Fakultas Pertanian, Jalan Bina Widya KM 12,5 Simpang Baru Kecamatan Tampan Pekanbaru yang berada

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 13 HASIL DAN PEMBAHASAN Perkecambahan Benih Penanaman benih pepaya dilakukan pada tray semai dengan campuran media tanam yang berbeda sesuai dengan perlakuan. Kondisi kecambah pertama muncul tidak seragam,

Lebih terperinci

III. MATERI DAN METODE

III. MATERI DAN METODE III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini telah dilaksanakan dilahan pertanian yang beralamat di Jl. Sukajadi, Desa Tarai Mangun, Kecamatan Tambang, Kampar. Penelitian ini dilakukan bulan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Tinggi Tanaman BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Waktu semai bibit tomat sampai tanaman dipindahkan di polybag adalah 3 minggu. Pengukuran tinggi tanaman tomat dimulai sejak 1 minggu setelah tanaman dipindahkan

Lebih terperinci

TATA LAKSANA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu. Penelitian ini dilakukan di daerah Minggir, Sleman, Yogyakarta dan di

TATA LAKSANA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu. Penelitian ini dilakukan di daerah Minggir, Sleman, Yogyakarta dan di III. TATA LAKSANA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilakukan di daerah Minggir, Sleman, Yogyakarta dan di laboratorium fakultas pertanian UMY. Pengamatan pertumbuhan tanaman bawang merah dan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian ini dilakukan dalam dua tahapan pelaksanaan, yaitu tahap kultur in vitro dan aklimatisasi. Tahap kultur in vitro dilakukan di dalam Laboratorium Kultur Jaringan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di lahan milik petani di Desa Dolat Rakyat-

BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di lahan milik petani di Desa Dolat Rakyat- 22 BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Percobaan Penelitian ini dilaksanakan di lahan milik petani di Desa Dolat Rakyat- Tongkoh, Kabupaten Karo, Sumatera Utara dengan jenis tanah Andosol, ketinggian tempat

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan (rumah kassa) Fakultas

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan (rumah kassa) Fakultas BAHAN DAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan (rumah kassa) Fakultas Pertanian, Medan dengan ketinggian + 25 meter diatas permukaan laut, mulai

Lebih terperinci

III. MATERI DAN METODE

III. MATERI DAN METODE III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Lahan percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Jl. HR. Soebrantas KM 15

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Bahan dan Alat Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Bahan dan Alat Metode Penelitian 14 BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilakukan pada bulan Oktober 2009 sampai dengan bulan Juni 2011 di Laboratorium Kultur Jaringan Kelompok Peneliti Biologi Sel dan Jaringan, Balai

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, terletak di jalan

MATERI DAN METODE. Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, terletak di jalan III. MATERI DAN METODE 1.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, terletak di jalan H.R. Soebrantas

Lebih terperinci

III. MATERI DAN METODE. Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Pekanbaru, selama 3 bulan dimulai dari

III. MATERI DAN METODE. Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Pekanbaru, selama 3 bulan dimulai dari III. MATERI DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Pekanbaru, selama 3 bulan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Silvikultur, Jurusan

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Silvikultur, Jurusan III. METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Silvikultur, Jurusan Kehutanan dan rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Waktu penelitian

Lebih terperinci

UJI PEMOTONGAN UMBI DAN MEDIA TANAM UNTUK PERTUMBUHAN DAN HASIL VERTIKULTUR TANAMAN BAWANG MERAH (Allium cepa)

UJI PEMOTONGAN UMBI DAN MEDIA TANAM UNTUK PERTUMBUHAN DAN HASIL VERTIKULTUR TANAMAN BAWANG MERAH (Allium cepa) UJI PEMOTONGAN UMBI DAN MEDIA TANAM UNTUK PERTUMBUHAN DAN HASIL VERTIKULTUR TANAMAN BAWANG MERAH (Allium cepa) Libria Widiastuti dan Muhammad Hanif Khairudin Staf Pengajar Fakultas Pertanian, Universitas

Lebih terperinci

III. MATERI DAN METODE

III. MATERI DAN METODE III MATERI DAN METODE 31 Tempat dan Waktu Penelitian ini telah dilaksanakan di Lahan Pertanian Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Jl HR Subrantas KM15 Panam,

Lebih terperinci

Penanganan bibit jati (Tectona grandis Linn. f.) dengan perbanyakan stek pucuk

Penanganan bibit jati (Tectona grandis Linn. f.) dengan perbanyakan stek pucuk Standar Nasional Indonesia Penanganan bibit jati (Tectona grandis Linn. f.) dengan perbanyakan stek pucuk ICS 65.020.20 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi...i Prakata...ii 1 Ruang lingkup...

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. ketinggian tempat 41 m di atas permukaan laut pada titik koordinat LU

BAHAN DAN METODE. ketinggian tempat 41 m di atas permukaan laut pada titik koordinat LU 16 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di lahan sawahkecamatan medan baru dengan ketinggian tempat 41 m di atas permukaan laut pada titik koordinat 3.331810 LU dan

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca dan Laboratorium Ilmu Tanaman

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca dan Laboratorium Ilmu Tanaman 15 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca dan Laboratorium Ilmu Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Lampung dari bulan September 2013 sampai

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium UPT BBI (Balai Benih Induk) Jl.

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium UPT BBI (Balai Benih Induk) Jl. III. BAHA DA METODE 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium UPT BBI (Balai Benih Induk) Jl. Jendral Besar Dr. Abdul Haris asution Gedung Johor Medan Sumatera Utara, selama

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 26 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan 3, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB selama sembilan minggu sejak Februari hingga

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada April sampai dengan Juni 2012 di Perum Polda 2

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada April sampai dengan Juni 2012 di Perum Polda 2 16 III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan pada April sampai dengan Juni 2012 di Perum Polda 2 Gang Mawar no 7 Kelurahan Pinang Jaya, Kecamatan Kemiling, Kota Bandar

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 16 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Kondisi lingkungan yang teramati selama aklimatisasi menunjukkan suhu rata-rata 30 o C dengan suhu minimum hingga 20 o C dan suhu maksimum mencapai 37 o C. Aklimatisasi

Lebih terperinci

HIDROPONIK SUBSTRAT TOMAT DENGAN BERAGAM UKURAN DAN KOMPOSISI SERAT BATANG AREN. Dwi Harjoko Retno Bandriyati Arniputri Warry Dian Santika

HIDROPONIK SUBSTRAT TOMAT DENGAN BERAGAM UKURAN DAN KOMPOSISI SERAT BATANG AREN. Dwi Harjoko Retno Bandriyati Arniputri Warry Dian Santika HIDROPONIK SUBSTRAT TOMAT DENGAN BERAGAM UKURAN DAN KOMPOSISI SERAT BATANG AREN Dwi Harjoko Retno Bandriyati Arniputri Warry Dian Santika LIMBAH SERAT BATANG AREN SEBAGAI SUBSTRAT ORGANIK PADA HIDROPONIK

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian dan

MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian dan III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, Jalan H. R. Soebrantas

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE 15 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu dan Laboratorium Ilmu Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Penelitian dilakukan

Lebih terperinci

METODE Lokasi dan Waktu Materi Alat dan Bahan Rancangan percobaan Perlakuan Model

METODE Lokasi dan Waktu Materi Alat dan Bahan Rancangan percobaan Perlakuan Model METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Agrostologi, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor pada bulan Maret sampai Juni

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE Tempat dan Waktu

MATERI DAN METODE Tempat dan Waktu III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau yang beralamat di Jalan H.R.

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Waktu penelitian dimulai dari bulan Februari 2014 sampai dengan bulan Januari 2015.

III. METODE PENELITIAN. Waktu penelitian dimulai dari bulan Februari 2014 sampai dengan bulan Januari 2015. 12 III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Waktu penelitian dimulai dari bulan Februari 2014 sampai dengan

Lebih terperinci

SKRIPSI OLEH : ANI MEGAWATI SIMBOLON** BDP-AGRONOMI

SKRIPSI OLEH : ANI MEGAWATI SIMBOLON** BDP-AGRONOMI PENGARUH ZAT PENGATUR TUMBUH AKAR DAN MEDIA TANAM TERHADAP KEBERHASILAN DAN PERTUMBUHAN SETEK KAMBOJA JEPANG (Adenium obesum) SKRIPSI OLEH : ANI MEGAWATI SIMBOLON** 040301035 BDP-AGRONOMI PROGRAM STUDI

Lebih terperinci

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dilaksanakan pada bulan November Februari 2017, di

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dilaksanakan pada bulan November Februari 2017, di 12 BAB III MATERI DAN METODE Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2016 - Februari 2017, di pembibitan tanaman tebu Penelitian dan Pengembangan (Litbang) PTPN VII (Persero) Unit Usaha Bungamayang,

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. penelitian ini dilakukan di Gang Metcu, Desa Guru Singa, Kecamatan

BAHAN DAN METODE. penelitian ini dilakukan di Gang Metcu, Desa Guru Singa, Kecamatan III. BAHAN DAN METODE 3.1.Tempat dan Waktu Penelitian penelitian ini dilakukan di Gang Metcu, Desa Guru Singa, Kecamatan Brastagi, Kabupaten Karo, dan jarak penelitian 15 km dari letak gunung sinabung

Lebih terperinci

Dari kedua faktor tersebut diperoleh 9 kombinasi, adapun kombinasi perlakuannya sebagai berikut:

Dari kedua faktor tersebut diperoleh 9 kombinasi, adapun kombinasi perlakuannya sebagai berikut: m. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ini akan dilaksanakan di rumah Kasa Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Riau, Jalan Bina widya, Kelurahan Simpang Baru, Kecamatan Tampan,

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Unit Pelayanan Teknis (UPT), Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Riau. Pelaksanaannya dilakukan pada bulan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat ± 25 meter diatas permukaan

BAHAN DAN METODE. Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat ± 25 meter diatas permukaan BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan Penelitian dilaksanakan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat ± 25 meter diatas permukaan laut. Penelitian

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Serdang Bedagai dengan ketinggian tempat kira-kira 14 m dari permukaan laut, topografi datar

III. METODE PENELITIAN. Serdang Bedagai dengan ketinggian tempat kira-kira 14 m dari permukaan laut, topografi datar III. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di Desa Pergajahan Kahan, Kecamatan Bintang Bayu Kabupaten Serdang Bedagai dengan ketinggian tempat kira-kira 14 m dari

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Greenhouse Jurusan Bioloi Fakultas Sains dan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Greenhouse Jurusan Bioloi Fakultas Sains dan BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan di Greenhouse Jurusan Bioloi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, pada bulan Maret

Lebih terperinci

PENGARUH PEMBERIAN NITROGEN DAN KOMPOS TERHADAP KOMPONEN PERTUMBUHAN TANAMAN LIDAH BUAYA (Aloe vera)

PENGARUH PEMBERIAN NITROGEN DAN KOMPOS TERHADAP KOMPONEN PERTUMBUHAN TANAMAN LIDAH BUAYA (Aloe vera) PENGARUH PEMBERIAN NITROGEN DAN KOMPOS TERHADAP KOMPONEN PERTUMBUHAN TANAMAN LIDAH BUAYA (Aloe vera) ABSTRAK Noverita S.V. Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Sisingamangaraja-XII Medan Penelitian

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. A 2 : 120 g/tanaman. A 3 : 180 g/tanaman

MATERI DAN METODE. A 2 : 120 g/tanaman. A 3 : 180 g/tanaman III. MATERI DAN METODE 1.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau yang beralamat di Jl. HR.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.

BAB III METODE PENELITIAN. Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. 37 BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2012 - Januari 2013 di Green house Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri

Lebih terperinci

I. BAHAN DAN METODE. Soebrantas KM. 15 Panam, Pekanbaru. Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan

I. BAHAN DAN METODE. Soebrantas KM. 15 Panam, Pekanbaru. Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan I. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini bertempat di lahan percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, Jl. H. R. Soebrantas KM. 15 Panam,

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan bulan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan bulan BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi Dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan bulan Oktober 2012 dilaksanakan di Kebun Kelompok Wanita Tani Ilomata Desa Huntu

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. B. Bahan dan Alat Penelitian. C. Rancangan Penelitian dan Analisis Data

METODE PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. B. Bahan dan Alat Penelitian. C. Rancangan Penelitian dan Analisis Data III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta dengan ketinggian tempat 95 m dpl bulan

Lebih terperinci