KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DI PERGURUAN TINGGI UMUM

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DI PERGURUAN TINGGI UMUM"

Transkripsi

1 KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DI PERGURUAN TINGGI UMUM Komisi Kateketik KWI Jakarta

2 KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK Di Perguruan Tinggi Umum (Edisi Revisi) Diterbitkan oleh: KOMISI KATEKETIK KWI Jl. Cut Meutia No. 10 Tromol Pos 3044 JAKARTA Telp. (021) , Fax. (021) Desain isi dan cover: Chatarina Setyo Winarti Dicetak oleh: Komisi Kateketik KWI 2

3 Daftar Isi Daftar Isi Kata Pendahuluan: Dirjen Bimas Katolik... 5 Kata Pendahuluan: Ketua Komisi Kateketik KWI... 7 Kurikulum PAK di PTU... 9 Silabus Kuliah PAK di PTU

4 4

5 KATA PENDAHULUAN DIRJEN BIMAS KATOLIK DEPARTEMEN AGAMA RI Sasaran program Pendidikan Agama dan Keagamaan adalah meningkatnya pembinaan kepada peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia, dan meningkatnya persiapan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan / atau menjadi ahli ilmu agama dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agama. Berdasarkan sasaran tersebut, Program Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan Katolik dilaksanakan melalui kegiatan: 1) Penyempurnaan kurikulum dan materi bahan ajar pendidikan agama Katolik yang berwawasan multikultural, gender dan lingkungan hidup, 2) Peningkatan kompetensi guru dan dosen agama Katolik, 3) Peningkatan kualifikasi Guru dan dosen agama Katolik, 4) Pengembangan bakat dan kepemimpinan bagi peserta didik, mahasiswa, guru/dosen agama Katolik, 6) Pemberian bantuan sarana, peralatan, buku pelajaran agama, buku bacaan bernuansa agama Katolik lainnya kepada sekolah/ perguruan tinggi umum, perguruan tinggi keagamaan Katolik dan Lembaga Pendidikan Keagamaan Katolik lainnya, 7) Pelaksanaan koordinasi dan kerja sama dengan lembaga/institusi terkait, baik dengan institusi Gereja Katolik maupun institusi pemerintah lainnya. Kerja sama Ditjen Bimas Katolik dan Komisi Kateketik KWI dalam penyusunan Kurikulum Pendidikan Agama Katolik di Perguruan Tinggi Umum, sesuai dengan kebijakan yang tertuang dalam Visi Misi Ditjen Bimas Katolik yaitu menumbuhkan dan mengembangkan inisiatif, prakarsa, inovasi masyarakat Katolik di Indonesia dengan pola mitra bersama Gereja Katolik membangun bangsa dan negara. Hubungan kemitraan tersebut dilaksanakan dengan senantiasa memahami, 5

6 mengakui, dan menghormati otonomitas masing-masing. Keduanya membangun medan kerja yang simbiosis mutualistis, saling mendukung, saling melengkapi untuk mencapai visi misi ke depan yaitu Menjadikan masyarakat Katolik Warga Negara Indonesia Seratus Persen dan Katolik Seratus Persen. Kerja sama dalam Penyusunan Kurikulum ini, merupakan tanggapan atas kebutuhan khususnya di lingkungan Perguruan Tinggi Umum yang menjadi salah satu dari sasaran program Pendidikan agama dan keagamaan katolik. Diharapkan buku kecil ini dapat bermanfaat bagi dosen kuliah agama Katolik di Perguruan Tinggi Umum. Tentu saja, arah yang dibuka dalam buku kurikulum ini masih perlu dikembangkan lebih lanjut oleh para dosen kuliah agama Katolik. Pengembangan lebih lanjut tersebut terutama menyangkut metode penyampaian materi ajar. Mahasiswa kini, tidak akan lagi tertarik untuk mengikuti kuliah secara searah, dosen berceramah, mahasiswa mendengarkan. Perlu dikembangkan model diskusi, penugasan, kerja kelompok, penyampaian materi dengan pemutaran film dan refleksi bersama. Masing-masing, dengan garis besar yang ada pada kurikulum dan GBPP yang tertuang dalam buku kecil ini dapat mengembangkan kuliah dengan metode yang menarik sehingga kuliah agama Katolik tidak lagi menjadi kuliah kelas dua, tetapi menjadi sungguh diminati karena menyangkut nilai kehidupan yang mendasar dan disampaikan dengan cara yang menarik. Kami sampaikan terima kasih kepada Komisi Kateketik KWI yang telah bekerja sama hingga tersusun Kurikulum Kuliah Agama Katolik di Perguruan Tinggi Umum yang telah tersaji di hadapan kita. Semoga bermanfaat. 6

7 KATA PENDAHULUAN KOMISI KATEKETIK KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA Beberapa dosen Kuliah Agama Katolik menanyakan apakah ada Kurikulum Pendidikan Agama Katolik di Perguruan Tinggi Umum. Pada tahun 2002 Komkat KWI dalam kerjasama dengan Ditjen Bimas Katolik Kementerian Agama RI menerbitkan Kurikulum Pendidikan Agama Katolik di Perguruan Tinggi Umum. Beberapa tahun sebelumnya, tepatnya pada tahun 1994 Komkat KWI mengeluarkan buku Kuliah Agama Katolik di Perguruan Tinggi Umum yang disusun oleh Romo Ign. Ismartono, SJ., terbitan Obor, Jakarta, sebagai usaha untuk melayani kebutuhan akan adanya Kurikulum Pendidikan Agama di Perguruan Tinggi Umum dan buku pegangannya. Buku kecil ini, yang diberi judul Kurikulum Pendidikan Agama Katolik di Perguruan Tinggi Umum, disusun sebagai hasil beberapa kali pertemuan tentang Kurikulum Pendidikan Agama Katolik di Perguruan Tinggi Umum oleh para dosen Kuliah Agama Katolik dari beberapa Perguruan Tinggi di Indonesia yang diselenggarakan oleh Komisi Kateketik KWI dalam kerjasama dengan Ditjen Bimas Katolik Kementerian Agama RI. Secara umum tidak ada perubahan yang mendasar bila dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya. Pada pertemuan itu diputuskan bahwa dalam kurikulum ini tidak dicantumkan Pengalaman Belajar. Maka dalam kurikulum ini tidak ditemukan kolom Pengalaman Belajar. Kurikulum ini masih perlu dilengkapi dengan penjabarannya dalam bentuk Buku Pegangan Kuliah Agama Katolik. Kurikulum ini adalah Kurikulum Pendidikan Agama Katolik di Perguruan Tinggi Umum. Pada pertemuan para dosen Kuliah Agama Katolik itu muncul pemikiran sebaiknya juga disusun Kurikulum Pendidikan Agama Katolik di Perguruan Tinggi Khusus, yang 7

8 diperuntukkan, misalnya bagi para mahasiswa yang belajar di bidang studi kesehatan/keperawatan, kepolisian/ketentaraan. Dengan terbitnya buku kecil ini diharapkan para dosen Kuliah Agama Katolik terbantu dalam mempersiapkan dan melaksanakan perkuliahan mereka dengan pengayaan materi sesuai lingkungan belajar/ ciri khasnya masing-masing. Tentu buku ini masih ada kekurangankekurangannya. Masukan-masukan dan saran-saran dari para dosen Kuliah Agama Katolik akan sangat membantu terjadinya perbaikan buku kecil ini, yang semoga bisa menjadi sumbangan bagi dunia pendidikan agama di Perguruan Tinggi kita. 8

9 KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DI PERGURUAN TINGGI UMUM PENGANTAR Profil mahasiswa yang ingin diperoleh melalui perkualiahn agama Katolik adalah seorang sarjana yang beriman kepada Allah menurut pola Yesus Kristus dengan senantiasa mempertanggungjawabkan imannya dalam hidup menggereja dan memasyarakat. Agar profil semacam itu tercapai, hendaknya beberapa hal diperhatikan. Dari segi materi perkuliahan agama Katolik hendaknya memenuhi suatu standar tertentu. Mahasiswa hendaknya memiliki pemahaman ajaran imannya yang pokok secara utuh dalam hidup nyatanya. Pemahaman yang hanya sepenggal-sepenggal tentang ajaran pokok imannya akan mempersulit pertanggungjawaban imannya. Untuk mencapai komprehensivitas materi, hendaknya perkuliahan agama Katolik mencakup empat unsur berikut: dari pribadi, Yesus Kristus, Gereja dan masyarakat. Kecuali komprehensivitas materi, perkuliahan agama harus memiliki relevansi bagi hidup nyata mahasiswa ialah kontekstualitas. Perkuliahan agama yang kontekstual adalah perkuliahan agama yang menyentuh hidup nyata sehari-hari yang mau tak mau terkait dengan kehidupan masyarakat. Banyak masalah kita temukan dalam masyarakat. Tiga diantaranya adalah masalah-masalah yang terkait dengan kehidupan politik, hukum dan kemanusiaan. Kalau perkuliahan agama Katolik ingin relevan, jangan menutup diri atau menghindar dari masalah-masalah tersebut, karena justru dalam dan di tengah-tengah masalah-masalah 9

10 itu Tuhan bersabda kepada para mahasiswa dan menginginkan mereka terlibat di dalamnya sebagai wujud penghatan hidup beriman mereka. Tujuan perkuliahan agama Katolik tidak hanya berhenti pada penyampaian pengetahuan iman, tetapi pertobatan (metonia). Dengan kata lain perkuliahan agama Katolik ditujukan untuk membantu mahasiswa mampu, ulet dan cekatan dalam mengartikan dan menerapkan pengetahuan imannya dalam hidup nyata sehari-hari. Agar tujuan ini bisa dicapai, metode yang dipergunakan adalah perkuliahan agama Katolik hendaknya disesuaikan dengan alam demokratis dan reformasi, yang memberi tempat bagi pelbagai aspirasi dan partisipasi mahasiswa. Maka hendaknya digunakan metode dialog partisipatif yang bersifat eksploratif. Dengan metode semacam ini diharapkan mahasiswa mampu menginterpretasi dan mencernakan apa yang diketahui tentang imannya dalam hidup nyata sehari-hari. VISI KURIKULUM PAK PTU SARJANA YANG BERIMAN KEPADA ALLAH MENURUT POLA YESUS KRISUS DENGAN SENANTIASA MEMPER- TANGGUNGJAWABKAN IMANNYA DALAM HIDUP MENGGEREJA DAN MEMASYARAKAT. Catatan: Bila dibandingkan dengan PAK di Sekolah Menengah PAK PTU memiliki penekanan pada mempertanggungjawabkan imannya. Berkat perkuliahan agama mahasiswa diharapkan dapat mempertanggungjawabkan imannya secara rasional, kritis dan dinamis, terutama melalui keselarasan antara apa yang diketahuinya, dipikirkannya, dikatakannya. 10

11 KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI Kurikulum yang dipergunakan dalam perkuliahan agama Katolik adalah kurikulum berbasis komptensi. Pilihan tersebut berdasarkan alasan berikut. Pengetahuan yang diperoleh seseorang tidak selalu membuat hidupnya sukses dan bermutu. Tetapi kemampuan, keuletan dan kecekatan seseorang mencernakan dan menerapkan apa yang diketahuinya dalam hidup nyata itulah yang membuat hidupnya sukses dan bermutu. Begitu juga dalam kehidupan beragama. Seorang disebut beriman dan diselamatkan bukan karena apa yang ia ketahui tentang imannya, tetapi oleh penghayatan imannya, yaitu usahanya untuk menggumuli, menginterpretasi dan menerapkan pengetahuan imannya dalam hidup nyata sehari-hari. Seorang pakar ilmu agama bukan secara otomatis dinyatakan sebagai seorang Santo atau Santa. Seorang dinyatakan sebagai orang kudus karena dalam hidupnya ia senantiasa berusaha menggumuli, menginterpretasi dan menerapkan pengetahuan imannya dalam hidup nyata sehari-hari, karena...iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati (Yak 2: 26). KURIKULUM YANG KONTEKSTUAL Agar memiliki kemampuan iman, bukan hanya pengetahuan iman, mahasiswa perlu dibantu untuk bisa melihat kenyataan hidup masyarakat dengan segala kecenderungan dan permasalahannya. Perkuliahan agama Katolik tidak bisa dan tidak boleh melalaikan kenyataan hidup masyarakat, karena Tuhan hadir dan bersabda di tengah kehidupan masyarakat serta mengundang mahasiswa untuk terlibat dalam hidup masyarakat sebagai salah satu wujud penghayatan hidup berimannya. Arus globalisasi dan krisis multi dimensi sedang melanda masyarakat. Budaya globalisasi yang diusung oleh kemajuan pengetahuan dan teknologi, terutama teknologi media komunikasi, membawa banyak perubahan, termasuk perubahan nilai-nilai yang bersifat konstruktif 11

12 maupun destruktif. Kecuali itu masyarakat saat ini sedang mengalami krisis multi dimensi, antara lain krisis dalam bidang politik, hukum dan kemanusiaan. Akar krisis multi dimensi itu ialah krisis etika dan krisis moral. Menghadapi budaya global dan krisis multi dimensi semacam itu, perkuliahan agama Katolik tidak cukup hanya membekali mahasiswa dengan pengetahuan. Mahasiswa perlu dibekali juga dengan pelbagai kemampuan, yaitu: 1. Kemampuan bersikap kritis: tahu menemukan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah, dan sebagainya. 2. Kemampuan berinisiatif dan mengambil prakarsa, sebagai contoh mampu membuat terobosan, mampu bersikap serta bertindak inovatif. 3. Kemampuan bersikap mandiri: memiliki prinsip dan pendapat pribadi, tidak ikut-ikutan orang lain. 4. Kemampuan membangun relasi, berdialog dan terbuka. STANDAR KOMPETENSI Mahasiswa memahami dirinya dari segi asal-usul dan tujuan hidupnya sebagai citra Allah yang beragama dan beriman akan Kristus serta sebagai Gereja diutus untuk melanjutkan karya keselamatan di tengah masyarakat. KOMPETENSI DASAR 1. Mahasiswa memahami asal-usul, hakekat dan tujuan manusia, sehingga dapat membangun hidup yang lebih bermartabat. 2. Mahasiswa memahami makna hidup beragama dan bersedia bekerjasama dengan umat beragama lain untuk menanggapi masalahmasalah aktual dewasa ini. 3. Mahasiswa memahami hidup dan karya Yesus Kristus yang ditulis 12

13 dalam Kitab Suci dan diwartakan oleh Gereja sehingga mampu menghayati pola hidup Yesus dalam kehidupan nyata. 4. Mahasiswa memahami gambaran Gereja Universal dan Gereja Indonesia (lokal) dan memiliki empati serta bersedia melibatkan diri di dalamnya dengan mengambil bagian dalam tugas perutusan Gereja di tengah-tengah masyarakat/dunia. INDIKATOR Dalam KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) selalu dicantumkan Indikator. Indikator ialah kemampuan spesifik dan rinci yang diharapkan dapat dikuasai mahasiswa dan merupakan penjabaran kemampuan dasar. Indikator merupakan target pencapain pembelajaran dan sekaligus menjadi ukuran keberhasilan proses pembelajaran untuk mencapai kemampuan operasional, sehingga tingkat ketercapaiannya dapat diukur. MATERI POKOK Pakar Teologi dan Kitab Suci menyarankan agar materi pokok perkuliahan agama Katolik mengandung 4 (empat) aspek iman Katolik, yaitu: 1. Aspek pribadi mahasiswa, termasuk relasinya dengan sesama dan lingkungan hidupnya. 2. Aspek pribadi Yesus Kristus. Ia adalah Pribadi yang menjadi pusat dan penentu iman Kristiani. Kekhasan iman Kristiani diwarnai oleh Pribadi Yesus Kristus ini. 3. Aspek Gereja. Gereja merupakan paguyuban murid-murid Yesus Kristus, yang melanjutkan karya dan perutusannya menjadi pewarta dan saksi Khabar Baik. Ajaran dan iman Gereja bertumbuh kembang dalam paguyuban orang-orang beriman ini. 13

14 4. Aspek kemasyarakatan. Gereja ada atau hadir di tengah masyarakat, oleh karena itu masyarakat dengan permasalahannya hendaknya menjadi materi PAK PTU. Berdasarkan 4 (empat) aspek ini ditentukan materi pokok dan tema-tema PAK PTU. Materi pokok yang ditemukan dalam Kurikulum PAK PTU masih bisa dikembangkan sesuai dengan situasi dan kebutuhan setempat. Dari segi materi, Kurikulum PAK PTU bersifat linear. PENDEKATAN Pendekatan yang dipergunakan dalam perkuliahan agama Katolik yang menggunakan Kurikulum Berbasis Kompetensi, hendaknya menunjang tercapainya kompetensi mahasiswa. Pendekatan yang dipergunakan hendaknya: 1. Memungkinkan mahasiswa menjadi aktif. 2. Memungkinkan terjadinya interaksi antara dosen dan mahasiswa serta antar mahasiswa sendiri. 3. Memungkinkan terjadinya proses yang berkesinambungan. 4. Memungkinkan mahasiswa mampu menginterpretasi dan menerapkan ajaran iman ke dalam hidup nyatanya sehari-hari. Pendekatan semacam itu boleh disebut sebagai pendekatan interaksi aktif untuk menginterpretasi dan menerapkan ajaran iman dalam hidup nyata dan bersifat eksploratif. RAMBU-RAMBU 1. Kurikulum yang disusun ini berbasis pada kompetensi mahasiswa. Orientasinya bukan terutama pada materi, tetapi pada kompetensi mahasiswa. Materi di sini menjadi sarana supaya kompetensi mahasiswa bisa dirangsang, namun materi tetap juga penting dalam PAK. 14

15 2. Materi yang dicantumkan di sini terdiri dari tema-tema yang dijabarkan dalam materi-materi pokok. Materi-materi pokok yang dicantumkan di sini dibuat agak terbatas (minimal), sehingga Gereja lokal atau Perguruan Tinggi dapat mengembangkannya sesuai kebutuhan. 3. Kompetensi dasar merupakan uraian pengetahuan, keterampilan dan sikap yang memadai mengenai bahan ajar. Kompetensi dasar dicapai melalui proses pembelajaran dan pengalaman hidup sesuai dengan tahap perkembangan siswa. 4. Materi pokok, merupakan bagian dari suatu bahan kajian yang berupa bahan ajar atau pengertian konseptual. 5. Indikator pencapaian hasil belajar secara spesifik dapat dijadikan ukuran untuk menilai ketercapaian hasil belajar. 6. Kegiatan pembelajaran merupakan rangkaian kegiatan yang mencakup seluruh komponen proses kompetensi, materi pokok dan indikator. 7. PAK bukan segala-galanya. Maka PAK perlu ditunjang dengan kegiatan ekstrakulikuler dari pastoral Perguruan Tinggi. 15

16 16

17 SILABUS KULIAH PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DI PERGURUAN TINGGI UMUM STANDAR KOMPETENSI: Memahami dirinya dari segi asal usul dan tujuan hidupnya sebagai citra Allah yang beragama dan beriman akan Kristus serta sebagai Gereja diutus untuk melanjutkan karya keselamatan di tengah masyarakat. 17

18 No. Kompetensi Dasar Pokok Sub Pokok Materi 1. Mahasiswa mampu memahami asal usul, hakekat dan tujuan hidup manusia sehingga dapat membangun hidup yang lebih bermartabat. MANUSIA Beberapa pandangan tentang asal usul manusia Pandangan Sains tentang asal usul manusia 18

19 I n d i k a t o r Metode Evaluasi Sumber Bahan Menjelaskan asal usul manusia menurut beberapa pandangan yang berkembang. Diskusi Snijders Adelbert Manusia Paradox dan seruan (Antropologi Filsafat) Yogyakarta: Kanisius, 2004 Mengkritisi beberapa pandangan tentang penciptaan manusia. Tanya jawab Dahler Franz, Pijar Peradaban Manusia, Yogyakarta: Kanisius, 2003 Menjelaskan bahwa teori evolusi tidak dapat menjawab pertanyaanpertanyaan dasar hidup manusia. Pengamatan Ceramah Leahy Louis, Siapakah Manusia?, Yogyakarta; Kanisius, 2001 Hadi Hardanu, Epistomologi (Filsafat Pengetahuan), Yogyakarta: Kanisius,

20 No. Kompetensi Dasar Pokok Sub Pokok Materi Sains VS Iman Pandangan Kitab Suci tentang asal usul manusia. 20

21 Indikator Metode Evaluasi Sumber Bahan Menjelaskan bahwa sains dan iman tidak bertentangan Penugasan Proyek Bouman Josef SVD., Telaah Pastoral tentang Manusia. Jakarta: Celesty Hieronika, (2000 hlm ) Paus Yoh. Paulus II, Fides et Ratio, Jakarta: Dokpen KWI, 1999 Paus Benediktus XVI, Hubungan antara Ilmu Pengetahuan dan Kebenaran (teks pidato untuk Universitas La Sapiensa - Roma) dalam Praedicamus Vol. VIII, No. 26/ 2009 Menjelaskan asal usul, hakekat dan tujuan hidup manusia. Ceramah Diskusi Kitab Suci Deutero Kanonika. Ende, Flores, NTT,

22 No. Kompetensi Dasar Pokok Sub Pokok Materi Martabat manusia Manusia Imago Dei 22

23 Indikator Metode Evaluasi Sumber Bahan Menjelaskan pengertian martabat manusia menurut ajaran Kitab Suci. Menarik implikasi manusia citra Allah bagi kehidupan bersesama. Menjelaskan unsur-unsur konstitutif manusia sebagai citra Allah. Memiliki sikap yang menghargai sesama sebagai citra Allah. Diskusi Ceramah Tanya jawab Penugasan Test tertulis/ Proyek Ismartono, I., SJ., Kuliah Agama Katolik di Perguruan Tinggi Umum, Jakarta: Obor, 1993 Dokumen Konsili Vatikan II, Jakarta: Dokpen KWI dan Obor, 1996 KWI, Iman Katolik Buku Informasi dan Referensi Jakarta: Obor dan Yogyakarta: Kanisius, 1996 Dokumen Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes (Art: 12, 15, 16, 17) Dokpen KWI dan Obor, Jakarta,

24 No. Kompetensi Dasar Pokok Sub Pokok Materi 2. Mahasiswa dapat menjelaskan makna hidup beragama dan mampu bekerjasama dengan umat beragama lain untuk menanggapi masalahmasalah aktual dewasa ini. AGAMA Pluralitas Agama Pengalaman religius Macam-macam pengalaman religius Pengertian: Agama Motivasi beragama Hubungan wahyu dan iman (umum) Kerukunan antar umat beragama Agama merupakan rahmat bagi semua Dialog antar umat beragama. 24

25 Indikator Metode Evaluasi Sumber Bahan Menjelaskan arti pengalaman religius Menjelaskan macam-macam pengalaman religius Ceramah Diskusi Tanya jawab Sikap Kitab Suci: Efesus 4:1-6 Menjelaskan pengertian agama Menjelaskan motivasi beragama Refleksi dan sharing. Unjuk kerja Dokumen Konsili Vatikan II, Nostra Aetate, Dokpen KWI dan Obor, Jakarta, 1996 Merumuskan esensi dari hidup beragama: tanggapan manusia atas pernyataan diri Allah Dialog narasi: Pertobatan Agustinus, Ignatius, Fransiskus Asisi, Saulus, dll Sikap Mensharingkan satu pengalaman dicintai Allah dalam penghayatan iman Katolik Menunjukkan sikap menghargai umat beragama lain Refleksi dan sharing Pemberian tugas mandiri, mis: membuat paper tentang iklusivisme di tengah masyarakat Indonesia Proyek Kliping-kliping koran & majalah tentang kerukunan hidup antar umat beragama di Indonesia 25

26 No. Kompetensi Dasar Pokok Sub Pokok Materi 3. Mahasiswa mengenal dan memahami hidup dan karya Yesus Kristus yang ditulis dalam Kitab Suci dan diwartakan oleh Gereja sehingga mampu menghayati pola hidup Yesus dalam kehidupan nyata. YESUS KRISTUS DAN KARYA PENYELA- MATANNYA 3.1. Kitab Suci Sumber Mengenal Kristus KS Perjanjian Lama sebagai persiapan kedatangan Yesus Kristus dan KSPB sebagai peristiwa Yesus 3.2. Yesus Kristus Situasi masyarakat Yahudi yang merindukan seorang mesias (ratu adil) Mewartakan Kerajaan Allah Ciri, Hakikat, dan makna/nilai Kerajaan Allah 26

27 Indikator Metode Evaluasi Sumber Bahan Menjelaskan teks KSPL tentang Yesus Kristus sebagai pemenuh harapan mesianis Menjelaskan pribadi Yesus orang Nazaret Mengungkapkan pengalaman kehadiran Yesus dalam kehidupan diri mahasiswa Sharing siapa Yesus Kristus bagi diriku Bercerita tentang peranan KS dalam usaha mengenal Yesus Kristus Observasi Untuk kerja Sikap Kitab Suci, Dokumen Konsili Vatikan II, tentang Dei Verbum, Dokpen KWI dan Obor, Jakarta, 1996 Ratzinger Joseph (Paus Benediktus XVI), Yesus dari Nazaret, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2008 Menjelaskan situasi masyarakat Yahudi yang merindukan seorang mesias (ratu adil) Diskusi (tentang alasan munculnya harapan mesianis dan membandingkan dengan konsep ratu adil di Indonesia) Tes tertulis Kirchberger George, Allah Menggugat, Ledalero, 2007 Menjelaskan hakikat dan makna Kerajaan Allah Ceramah (tentang warta kabar baik Yesus Kristus & interpretasinya untuk konteks Indonesia) Dister, Nico Syukur, Kristologi sebuah Sketsa, Yogyakarta: Kanisius,

28 No. Kompetensi Dasar Pokok Sub Pokok Materi Pokok-pokok pewartaan Yesus Kristus tentang Kerajaan Allah Makna Kerajaan Allah bagi orang Kristiani 3.3.Sengsara, wafat dan Kebangkitan Yesus Kristus Yesus; mesias yang menderita Sengsara, Wafat dan Kebangkitan Yesus Kristus Peristiwa kebangkitan Yesus Kristus 28

29 Indikator Metode Evaluasi Sumber Bahan Problem solving Menguraikan pokok-pokok pewartaan Yesus Kristus tentang Kerajaan Allah Mengartikan makna Kerajaan Allah bagi orang Kristiani Lalu Yosep, Mewartakan Kabar Baik Kerajaan Allah, Jakarta: Komkat KWI, 2000 Menjelaskan Yesus: mesias yang menderita Diskusi (tentang Yesus sebagai Mesias yang menderita Film The Passion King of Kings Menguraikan sengsara, wafat & kebangkitan Yesus Kristus Mengamati gambar dan film (tentang sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus) Kitab Suci (tentang sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus) Menginterpretasikan peristiwa kebangkitan Yesus Kristus Refleksi (tentang peristiwa kebangkitan Yesus Kristus Fragmentasi drama, dll) Dister Nico Syukur, Kristologi sebuah Sketsa, Yogyakarta: Kanisius,

30 No. Kompetensi Dasar Pokok Sub Pokok Materi 3.4. Makna Hidup Yesus bagi manusia Gambaran situasi krisis masyarakat Indonesia saat ini Relevansi hidup Yesus Kristus bagi masyarakat 3.5. Allah Tritungga (Bapa-Putra- Roh Kudus) Allah Bapa Pencipta Putra penebus Karya kasih Allah Roh Kudus Relasi dalam pribadi Allah Tritunggal 30

31 Indikator Metode Evaluasi Sumber Bahan Menganalisa situasi krisis masyarakat Indonesia saat ini Diskusi (tentang situasi krisis masyarakat Indonesia saat ini) Ratzinger Joseph, Paus Benekdiktus XVI, Yesus dari Nazaret, Gramedia Jakarta, 2008 Menginterpretasi makna hidup Yesus Kristus bagi masyarakat saat ini Menjelaskan peran Allah sebagai Pencipta Menjelaskan peran Putra sebagai penebus Menjelaskan karya kasih Allah Roh Kudus Ceramah (tentang makna hidup Yesus Kristus bagi masyarakat saat ini) Observasi Problem solving Diskusi tentang peran Allah Bapa sebagai Pencipta Diskusi tentang peran Putra sebagai Penebus Diskusi tentang karya kasih Allah Roh Kudus narasi analogis/perumpamaan Refleksi pengalaman iman Proyek Kliping dari media tentang potret krisis multi dimensi di Indonesia KWI, Iman Katolik, Buku Informasi dan Referensi, Jakarta; Obor dan Kanisius, Yogyakarta,

32 No. Kompetensi Dasar Pokok Sub Pokok Materi 4. Mahasiswa mengetahui gembaran Gereja Universal dan Gereja Indonesia (lokal) sehingga diharapkan mahasiswa memiliki empati dan mampu melibatkan diri di dalamnya dan mengambil bagian dalam tugas perutusan Gereja di tengahtengah masyarakat/ dunia GEREJA DAN IMAN YANG MEMASYA- RAKAT 1. Gereja Asal usul Gereja Hakikat Gereja 32

33 Indikator Metode Evaluasi Sumber Bahan Menjelaskan Kristus sebagai pendiri Gereja Ceramah Tanya jawab Andang Al, Agama yang berppijak dan berpihak, Yogyakarta: kanisius, 1998 Mendeskripsikan dinamika Gereja sebagai karya Roh dan usaha manusia Tanya jawab Diskusi Presentasi Ceramah Anthoni CH, Richardo, Iman dan Keadilan, Yogyakarta: Kanisius, 1991 Menjelaskan hakikat Gereja sebagai persekutuan Umat Allah (LG 8, 9, 20, 31, 37, 44) [tercakup: hirarkhi, awam, lembaga hidup bakti] Diskusi Presentasi Ceramah Kisser SJ., Solidaritas 100 Tahun ASG, Yogyakarta; Kanisius, 1992 Mendeskripsikan Gereja sebagai sakramen keselamatan bagi dunia menurut LG art. 9 dan 48 Mengungkapkan tanggapan iman gereja purba kepada Yesus Kristus, Tuhan yang bangkit Diskusi Diskusi Ceramah KWI, Iman Katolik; Buku Informasi dan Referensi, Jakarta, Obor dan Yogykarta: Kanisius, 1990, hal

34 No. Kompetensi Dasar Pokok Sub Pokok Materi Sifat-sifat Gereja 2. Gambaran Gereja dan perutusannya Model-model Gereja Perutusan Gereja 34

35 Indikator Metode Evaluasi Sumber Bahan Menjelaskan sifatsifat Gereja (Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik) Diskusi Ceramah Krispurwana Cahyadi, T. John.Paul II, Gereja, Teologi dan Kehidupan, Jakarta, Obor, 2007 Menjelaskan modelmodel Gereja Braindstorming Diskusi Tanya jawab Penugasan Proyek Dokumen Ajaran Sosial Gereja Mendiskripsikan model Gereja Indonesia (Lokal) Pemberian tugas Proyek Menjelaskan tugas perutusan Gereja (pewartaan, pengudusan dan pelayanan) Braindstorming Diskusi Tanya jawab Pemberian tugas Proyek KWI, Iman Katolik, Buku Informasi dan Referensi, Obor, Jakarta, Kanisius, Yogyakarta,

36 No. Kompetensi Dasar Pokok Sub Pokok Materi 3. Masalahmasalah sosial Masalah-masalah sosial aktual dewasa ini 36

37 Indikator Metode Evaluasi Sumber Bahan Mengidentifikasi masalah Braindstorming Diskusi Tanya jawab Penugasan (identifikasi masalah-masalah sosial) Proyek Kliping koran, majalah tentang masalah-masalah sosial Menganalisa tiga Diskusi pleno masalah besar di dan Indonesia (nota rangkuman pastoral KWI 2004) Nota Pastoral KWI, 2004, Keadaban publik menuju habitus baru bangsa Menganalisa masalah-masalah sosial lokal Diskusi Tanya jawab 37

38 No. Kompetensi Dasar Pokok Sub Pokok Materi 4. Iman yang memasyarakat Ajaran Sosial Gereja Masalah-masalah sosial sebagai tantangan dan peluang untuk mengambil peran dalam pembangunan masyarakat 38

39 Indikator Metode Evaluasi Sumber Bahan Mendeskripsikan sepuluh kata kunci Ajaran Sosial Gereja (ASG) Ceramah Diskusi Penugasan Proyek Suharyo, I. Pr., The Chatolic Way, KWI, Nota Pastoral KWI, 2004 Kompendium ASG dalam Mendeskripsikan masalah-maslah sosial sebagai peluang dalam pembangunan masyarakat Ceramah Diskusi Penugasan Produk Proyek Komkat KWI, Katekse sosial, Obor, Jakarta, 1992 Membangun wacana dalam melibatkan diri untuk mengatasi masalahmasalah sosial Diskusi Penugasan Proyek Nota Pastoral KWI, 2006, Habitus baru dan kesejahteraan bersama Membuat proyek untuk mengatasi masalah-masalah aktual sosial masyarakat Action lapangan Proyek Bahan-bahan yang diambil dari atau Tentang Ajaran Sosial Gereja 39

KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DI PERGURUAN TINGGI UMUM

KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DI PERGURUAN TINGGI UMUM KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DI PERGURUAN TINGGI UMUM Komisi Kateketik KWI Jakarta 2011 Kurikulum PAK - PTU Kurikulum PAK - PTU 1 4. Iman yang memasyarakat Ajaran Sosial Gereja Daftar Isi Daftar

Lebih terperinci

12. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)

12. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 12. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama

Lebih terperinci

11. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik Sekolah Menengah Pertama (SMP) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan

11. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik Sekolah Menengah Pertama (SMP) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan 11. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik Sekolah Menengah Pertama (SMP) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan

Lebih terperinci

10. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen untuk Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Tunalaras (SMPLB E)

10. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen untuk Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Tunalaras (SMPLB E) 10. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen untuk Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Tunalaras (SMPLB E) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi

Lebih terperinci

11. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Dasar (SD)

11. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Dasar (SD) 11. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Dasar (SD) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan

Lebih terperinci

03. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia.

03. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. 03. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. imannya itu kepada Kristus dalam doa dan pujian. Doa, pujian dan kegiatan-kegiatan liturgi

BAB I PENDAHULUAN. imannya itu kepada Kristus dalam doa dan pujian. Doa, pujian dan kegiatan-kegiatan liturgi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penulisan Gereja adalah persekutuan umat beriman yang percaya kepada Kristus. Sebagai sebuah persekutuan iman, umat beriman senantiasa mengungkapkan dan mengekspresikan

Lebih terperinci

Gereja di dalam Dunia Dewasa Ini

Gereja di dalam Dunia Dewasa Ini ix U Pengantar ndang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan

Lebih terperinci

BERKAS PENYUSUNAN RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS)

BERKAS PENYUSUNAN RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) FAKULTAS Semua FAKULTAS Program Studi Semua Program Studi BERKAS PENYUSUNAN RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) Mata Kuliah : Pendidikan Agama Katolik Kode Mata Kuliah : HUH1C2 SKS : 2 (dua) SKS Semester

Lebih terperinci

KONTRAK / RENCANA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK (MPK 103 / UNI

KONTRAK / RENCANA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK (MPK 103 / UNI Hlm. 1 Dosen: KONTRAK / RENCANA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK (MPK 103 / UNI 612103; 3: 3-0) Semester Ganjil 2016-2017 Universitas Lampung http://staff.unila.ac.id/fxsusilo 1) F.X. Susilo Kantor:

Lebih terperinci

INSTITUT KEUANGAN PERBANKAN INFORMATIKA ASIA (ASIAN BANKING FINANCE INFORMATICS INSTITUTE) PERBANAS JAKARTA SATUAN ACARA PEMBELAJARAN (SAP)

INSTITUT KEUANGAN PERBANKAN INFORMATIKA ASIA (ASIAN BANKING FINANCE INFORMATICS INSTITUTE) PERBANAS JAKARTA SATUAN ACARA PEMBELAJARAN (SAP) INSTITUT KEUANGAN PERBANKAN INFORMATIKA ASIA (ASIAN BANKING FINANCE INFORMATICS INSTITUTE) PERBANAS JAKARTA SATUAN ACARA PEMBELAJARAN (SAP) Edisi : Januari 2011 MATA KULIAH KODE MATA KULIAH PROGRAM STUDI

Lebih terperinci

PASTORAL DIALOGAL. Erik Wahju Tjahjana

PASTORAL DIALOGAL. Erik Wahju Tjahjana PASTORAL DIALOGAL Erik Wahju Tjahjana Pendahuluan Konsili Vatikan II yang dijiwai oleh semangat aggiornamento 1 merupakan momentum yang telah menghantar Gereja Katolik memasuki Abad Pencerahan di mana

Lebih terperinci

KISI-KISI PENULISAN SOAL. kemampuan

KISI-KISI PENULISAN SOAL. kemampuan KISI-KISI PENULISAN SOAL Jenis Sekolah : SMP Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kurikulum : 2006 Alokasi Waktu : 120 Menit Jumlah soal : 40 + 5 Bentuk Soal : Pilihan Ganda dan Uraian

Lebih terperinci

6. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen untuk Sekolah Dasar (SD)

6. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen untuk Sekolah Dasar (SD) 6. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen untuk Sekolah Dasar (SD) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya untuk mewujudkan

Lebih terperinci

42. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DAN BUDI PEKERTI SMA/SMK

42. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DAN BUDI PEKERTI SMA/SMK 42. KOMPETENSI INTI DAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DAN BUDI PEKERTI SMA/SMK KELAS: X Kompetensi Sikap Spiritual, Kompetensi Sikap Sosial, Kompetensi Pengetahuan, dan Kompetensi Keterampilan secara keseluruhan

Lebih terperinci

C. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DAN BUDI PEKERTI SMPLB AUTIS

C. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DAN BUDI PEKERTI SMPLB AUTIS - 1822 - C. KOMPETENSI INTI DAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DAN BUDI PEKERTI SMPLB AUTIS KELAS: VII Kompetensi Sikap Spiritual, Kompetensi Sikap Sosial, Kompetensi Pengetahuan, dan Kompetensi Keterampilan

Lebih terperinci

KELUARGA KATOLIK: SUKACITA INJIL

KELUARGA KATOLIK: SUKACITA INJIL Warta 22 November 2015 Tahun VI - No.47 KELUARGA KATOLIK: SUKACITA INJIL Hasil Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia IV (sambungan minggu lalu) Tantangan Keluarga dalam Memperjuangkan Sukacita Anglia 9.

Lebih terperinci

KISI KISI PENULISAN SOAL ULANGAN KENAIKAN KELAS, KELASVIII TAHUN PELAJARAN

KISI KISI PENULISAN SOAL ULANGAN KENAIKAN KELAS, KELASVIII TAHUN PELAJARAN KISI KISI PENULISAN SOAL ULANGAN KENAIKAN KELAS, KELASVIII TAHUN PELAJARAN 2012 2013 Sekolah : SMP Bentuk soal : PG Mata Pelajaran : Agama Katolik Alokasi wkatu : 90 Menit Kurikulum acuan : KTSP No Standar

Lebih terperinci

KEADILAN, PERDAMAIAN DAN KEUTUHAN CIPTAAN

KEADILAN, PERDAMAIAN DAN KEUTUHAN CIPTAAN KEADILAN, PERDAMAIAN DAN KEUTUHAN CIPTAAN DALAM KONSTITUSI KITA Kita mengembangkan kesadaran dan kepekaan terhadap masalah-masalah keadilan, damai dan keutuhan ciptaan.para suster didorong untuk aktif

Lebih terperinci

6. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP)

6. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) 6. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya

Lebih terperinci

7. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)

7. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 7. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Gereja adalah sebuah persekutuan orang-orang percaya, sebagai umat yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Gereja adalah sebuah persekutuan orang-orang percaya, sebagai umat yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Gereja adalah sebuah persekutuan orang-orang percaya, sebagai umat yang terpanggil dan dihimpun oleh Allah Bapa, keluar dari kegelapan menuju kepada Yesus Kristus

Lebih terperinci

6. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP)

6. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) 6. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya

Lebih terperinci

BAB I ARTI DAN MAKNA GEREJA

BAB I ARTI DAN MAKNA GEREJA BAB I ARTI DAN MAKNA GEREJA A. KOMPETENSI 1. Standar Kompetensi Memahami karya Yesus Kristus yang mewartakan Kerajaan Allah dan penerusannya oleh Gereja, sehingga dapat mengembangkan hidup bersama dan

Lebih terperinci

SPIRITUALITAS EKARISTI

SPIRITUALITAS EKARISTI SPIRITUALITAS EKARISTI SUSUNAN PERAYAAN EKARISTI RITUS PEMBUKA LITURGI SABDA LITURGI EKARISTI RITUS PENUTUP RITUS PEMBUKA Tanda Salib Salam Doa Tobat Madah Kemuliaan Doa Pembuka LITURGI SABDA Bacaan I

Lebih terperinci

Silabus. MPK 1022 Pendidikan Agama Katolik. Program Studi: Strata 1 (S-1) Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Silabus. MPK 1022 Pendidikan Agama Katolik. Program Studi: Strata 1 (S-1) Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Silabus MPK 1022 Pendidikan Agama Katolik Program Studi: Strata 1 (S-1) Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Institut Keuangan Perbankan dan Informatika Asia Perbanas Jalan Perbanas, Karet Kuningan, Setiabudi,

Lebih terperinci

SILABUS PEMBELAJARAN

SILABUS PEMBELAJARAN SILABUS PEMBELAJARAN Sekolah : SMP... Kelas : VIII (Delapan) Mata : PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN Semester : 1 (Satu) Standar : Nilai-nilai Kristiani: Hidup dalam segala situasi serta mewujudkan hidup beriman

Lebih terperinci

Suster-suster Notre Dame

Suster-suster Notre Dame Suster-suster Notre Dame Diutus untuk menjelmakan kasih Allah kita yang mahabaik dan penyelenggara Para suster yang terkasih, Generalat/Rumah Induk Roma Paskah, 5 April 2015 Kisah sesudah kebangkitan dalam

Lebih terperinci

Pendidikan Agama. Katolik IMAN DAN GLOBALISASI ( PEMBAHARUAN KONSILI VATIKAN II ) Modul ke: 12Fakultas Psikologi

Pendidikan Agama. Katolik IMAN DAN GLOBALISASI ( PEMBAHARUAN KONSILI VATIKAN II ) Modul ke: 12Fakultas Psikologi Pendidikan Agama Modul ke: 12Fakultas Psikologi Katolik IMAN DAN GLOBALISASI ( PEMBAHARUAN KONSILI VATIKAN II ) Program Studi Psikologi Oleh : Drs. Sugeng Baskoro, M.M Sejarah Konsili Vatikan II Konsili

Lebih terperinci

BAB I MENGENAL GEREJA

BAB I MENGENAL GEREJA BAB I MENGENAL GEREJA 1 STANDAR KOMPETENSI Memahami karya Yesus Kristus yang mewartakan Kerajaan Allah dan penerusannya oleh Gereja, sehingga dapat mengembangkan hidup bersama dan ber-gereja sesuai dengan

Lebih terperinci

Tahun C Minggu Tri Tunggal Maha Kudus LITURGI SABDA

Tahun C Minggu Tri Tunggal Maha Kudus LITURGI SABDA 1 Tahun C Minggu Tri Tunggal Maha Kudus LTRG SABDA Bacaan Pertama Ams. 8 : 22-31 Sebelum bumi ada, kebijaksanaan sudah ada. Bacaan diambil dari Kitab Amsal: Tuhan telah menciptakan aku sebagai permulaan

Lebih terperinci

KELUARGA DAN PANGGILAN HIDUP BAKTI 1

KELUARGA DAN PANGGILAN HIDUP BAKTI 1 1 KELUARGA DAN PANGGILAN HIDUP BAKTI 1 Pontianak, 16 Januari 2016 Paul Suparno, S.J 2. Abstrak Keluarga mempunyai peran penting dalam menumbuhkan bibit panggilan, mengembangkan, dan menyertai dalam perjalanan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. PERMASALAHAN

BAB I PENDAHULUAN A. PERMASALAHAN BAB I PENDAHULUAN A. PERMASALAHAN A.1. Latar Belakang Masalah Memberitakan Injil dalam wacana kekristenanan dipandang sebagai tugas dan tanggung jawab melanjutkan misi Kristus di tengah dunia. Pemahaman

Lebih terperinci

LITURGI SABDA. Bacaan pertama (Kis. 4 : 32-35) Mereka sehati dan sejiwa. Bacaan diambil dari Kisah Para Rasul

LITURGI SABDA. Bacaan pertama (Kis. 4 : 32-35) Mereka sehati dan sejiwa. Bacaan diambil dari Kisah Para Rasul TAHN B - Hari Minggu Paskah II 12 April 2015 LITRGI SABDA Bacaan pertama (Kis. 4 : 32-35) Mereka sehati dan sejiwa. Bacaan diambil dari Kisah Para Rasul Kumpulan orang yang telah percaya akan Yesus sehati

Lebih terperinci

PENGANTAR PENDIDIKAN, oleh Nanang Purwanto, S.Pd., M.Pd. Hak Cipta 2014 pada penulis

PENGANTAR PENDIDIKAN, oleh Nanang Purwanto, S.Pd., M.Pd. Hak Cipta 2014 pada penulis PENGANTAR PENDIDIKAN, oleh Nanang Purwanto, S.Pd., M.Pd. Hak Cipta 2014 pada penulis GRAHA ILMU Ruko Jambusari 7A Yogyakarta 55283 Telp: 0274-889398; Fax: 0274-889057; E-mail: info@grahailmu.co.id Hak

Lebih terperinci

Pendidikan Agama Kristen Protestan

Pendidikan Agama Kristen Protestan Pendidikan Agama Kristen Protestan Modul ke: 01Fakultas Psikologi GEREJA DAN HAKIKATNYA Drs. Sugeng Baskoro,M.M. Program Studi Psikologi HAKEKAT GEREJA A.pengertian Gereja Kata Gereja berasal dari bahasa

Lebih terperinci

KISI KISI PENULISAN SOAL US TAHUN PELAJARAN

KISI KISI PENULISAN SOAL US TAHUN PELAJARAN KISI KISI PENULISAN SOAL US TAHUN PELAJARAN 2012 2013 Sekolah : Bentuk soal : PG Mata Pelajaran : Agama Katolik Alokasi wkatu : 120 Menit Kurikulum acuan : KTSP Penyusun : Lukas Sungkowo, SPd Standar Kompetensi

Lebih terperinci

TOPIK 2 = PEMBINAAN REMAJA & PEMUDA

TOPIK 2 = PEMBINAAN REMAJA & PEMUDA TOPIK 2 = PEMBINAAN REMAJA & PEMUDA SUB BIDANG PEMBINAAN WARGA GEREJA SINODE GEREJA KRISTUS YESUS KATA PENGANTAR Puji Syukur kepada Tuhan Yesus atas pimpinan-nya sehingga buku ini dapat diterbitkan. Sesungguhnya

Lebih terperinci

RELIGIUS SEBAGAI MISTIK DAN NABI DI TENGAH MASYARAKAT Rohani, Juni 2012, hal Paul Suparno, S.J.

RELIGIUS SEBAGAI MISTIK DAN NABI DI TENGAH MASYARAKAT Rohani, Juni 2012, hal Paul Suparno, S.J. 1 RELIGIUS SEBAGAI MISTIK DAN NABI DI TENGAH MASYARAKAT Rohani, Juni 2012, hal 25-28 Paul Suparno, S.J. Suster Mistika dikenal oleh orang sekitar sebagai seorang yang suci, orang yang dekat dengan Tuhan,

Lebih terperinci

Selama ini selain bulan Mei, kita mengenal bulan Oktober adalah bulan Maria yang diperingati setiap

Selama ini selain bulan Mei, kita mengenal bulan Oktober adalah bulan Maria yang diperingati setiap Pengantar Selama ini selain bulan Mei, kita mengenal bulan Oktober adalah bulan Maria yang diperingati setiap tahunnya oleh seluruh umat katolik sedunia untuk menghormati Santa Perawan Maria. Bapa Suci

Lebih terperinci

SEJARAH GEREJA, ALIRAN, TOKOH DAN PENGARUHNYA

SEJARAH GEREJA, ALIRAN, TOKOH DAN PENGARUHNYA SEJARAH GEREJA, ALIRAN, TOKOH DAN PENGARUHNYA HAKEKAT GEREJA A.pengertian Gereja Kata Gereja berasal dari bahasa Portugis Igreya dan dalam bahasa Yunani ekklesia (gereja disebut ekklesia (ek=keluar, kaleo=memanggil)

Lebih terperinci

Kristologi Dalam Paham Pluralisme Agama Suatu Kajian Kristologi Alkitabiah Terhadap Pandangan Kristologi Dalam Pluralisme. Skripsi

Kristologi Dalam Paham Pluralisme Agama Suatu Kajian Kristologi Alkitabiah Terhadap Pandangan Kristologi Dalam Pluralisme. Skripsi Kristologi Dalam Paham Pluralisme Agama Suatu Kajian Kristologi Alkitabiah Terhadap Pandangan Kristologi Dalam Pluralisme Skripsi Diajukan kepada Fakultas Teologi Dalam Memenuhi Sebagian Persyaratan Untuk

Lebih terperinci

33. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DAN BUDI PEKERTI SMP

33. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DAN BUDI PEKERTI SMP 33. KOMPETENSI INTI DAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DAN BUDI PEKERTI SMP KELAS: VII Kompetensi Sikap Spiritual, Kompetensi Sikap Sosial, Kompetensi Pengetahuan, dan Kompetensi Keterampilan secara keseluruhan

Lebih terperinci

RESENSI BUKU Keselamatan Milik Allah Kami - bagi milik

RESENSI BUKU Keselamatan Milik Allah Kami - bagi milik RESENSI BUKU Judul : Keselamatan Milik Allah Kami Penulis : Christopher Wright Penerbit : Surabaya: Literatur Perkantas Jawa Timur Tahun : 2011 Halaman : 225 halaman Dalam buku ini Christopher Wright berupaya

Lebih terperinci

Yusri. ialah STANDAR KOMPETENSI:

Yusri. ialah STANDAR KOMPETENSI: SILABUS MATAKULIAH PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DI FISE DAN FMIPA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA SEMUA PRODI JURUSAN Kode mata kuliah UNUU 203 Yusri Deskripsi Silabus Pendidikan Agamaa

Lebih terperinci

TANDA SALIB DAN SALAM Umat berdiri

TANDA SALIB DAN SALAM Umat berdiri 1 RITUS PEMBUKA PERARAKAN MASUK LAGU PEMBUKA TANDA SALIB DAN SALAM Umat berdiri Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Umat : Amin. Rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah, dan persekutuan

Lebih terperinci

PELAJARAN 11 GEREJA DAN DUNIA

PELAJARAN 11 GEREJA DAN DUNIA PELAJARAN 11 GEREJA DAN DUNIA TUJUAN KHUSUS PEMBELAJARAN Pada akhir pelajaran, saya dapat: 1. menjelaskan arti dunia; 2. menjelaskan pandangan Gereja tentang dunia; 3. menjelaskan arti dari Konstitusi

Lebih terperinci

KEMENAG. Sekolah Menengah Agama. Katolik. Perubahan.

KEMENAG. Sekolah Menengah Agama. Katolik. Perubahan. No.1891, 2014 KEMENAG. Sekolah Menengah Agama. Katolik. Perubahan. PERATURAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 54 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI AGAMA NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG

Lebih terperinci

Tahun A-B-C : Hari Raya Paskah LITURGI SABDA

Tahun A-B-C : Hari Raya Paskah LITURGI SABDA 1 Tahun A-B-C : Hari Raya Paskah LITURGI SABDA Bacaan Pertama Kis. 10 : 34a. 37-43 Kami telah makan dan minum bersama dengan Yesus setelah Ia bangkit dari antara orang mati. Bacaan diambil dari Kisah Para

Lebih terperinci

LEMBAR KERJA SISWA AGAMA KATOLIK 2 ROMBONGAN KELAS XI

LEMBAR KERJA SISWA AGAMA KATOLIK 2 ROMBONGAN KELAS XI LEMBAR KERJA SISWA AGAMA KATOLIK 2 ROMBONGAN KELAS XI 2 DI SUSUN OLEH: PETRUS FABER.S.S.Pd Untuk Kalangan sendiri SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) NEGERI 78 JAKARTA Jalan Bhakti IV/1 Komp. Pajak Kemanggisan

Lebih terperinci

Pada waktu itu Musa berkata kepada bangsanya tentang hal-ikhwal persembahan katanya,

Pada waktu itu Musa berkata kepada bangsanya tentang hal-ikhwal persembahan katanya, 1 Tahun C Hari Minggu Prapaskah I LITURGI SABDA Bacaan Pertama Ul. 26 : 4-10 Pengakuan iman bangsa terpilih. Bacaan diambil dari Kitab Ulangan: Pada waktu itu Musa berkata kepada bangsanya tentang hal-ikhwal

Lebih terperinci

BAB TIGA PENYELAMATAN ALLAH

BAB TIGA PENYELAMATAN ALLAH BAB TIGA PENYELAMATAN ALLAH Minggu ke-3, ARTI DAN HAKIKAT PENYELAMATAN ALLAH 19. Pert : Apakah yang dimaksud dengan penyelamatan Allah? Jwb : Penyelamatan Allah adalah tindakan Allah melepaskan manusia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh berbagai krisis yang melanda, maka tantangan dalam

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh berbagai krisis yang melanda, maka tantangan dalam 1 BAB I PENDAHULUAN Pada saat bangsa Indonesia menghadapi permasalahan komplek yang disebabkan oleh berbagai krisis yang melanda, maka tantangan dalam menghadapi era globalisasi yang bercirikan keterbukaan

Lebih terperinci

KESEJATIAN IMAM YANG BERTINDAK IN PERSONA CHRISTI MELALUI PELAYANAN SAKRAMEN EKARISTI DALAM TERANG ENSIKLIK ECCLESIA DE EUCHARISTIA NO.

KESEJATIAN IMAM YANG BERTINDAK IN PERSONA CHRISTI MELALUI PELAYANAN SAKRAMEN EKARISTI DALAM TERANG ENSIKLIK ECCLESIA DE EUCHARISTIA NO. KESEJATIAN IMAM YANG BERTINDAK IN PERSONA CHRISTI MELALUI PELAYANAN SAKRAMEN EKARISTI DALAM TERANG ENSIKLIK ECCLESIA DE EUCHARISTIA NO. 29 (Sebuah Tinjauan Teologis) SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Filsafat

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG

UKDW BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG Gereja yang ada dan hadir dalam dunia bersifat misioner sebagaimana Allah pada hakikatnya misioner. Yang dimaksud dengan misioner adalah gereja mengalami bahwa dirinya

Lebih terperinci

BAB II EKARISTI SEBAGAI SUMBER DAN PUNCAK HIDUP KRISTIANI. Dosen : Drs. Petrus Yusuf Adi Suseno, M.H. Modul ke: Fakultas MKCU. Program Studi Psikologi

BAB II EKARISTI SEBAGAI SUMBER DAN PUNCAK HIDUP KRISTIANI. Dosen : Drs. Petrus Yusuf Adi Suseno, M.H. Modul ke: Fakultas MKCU. Program Studi Psikologi BAB II Modul ke: 03 EKARISTI SEBAGAI SUMBER DAN PUNCAK HIDUP KRISTIANI Fakultas MKCU Dosen : Drs. Petrus Yusuf Adi Suseno, M.H. Program Studi Psikologi www.mercubuana.ac.id 1 A. Pengertian Ekaristi Istilah

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN

UKDW BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Indonesia merupakan negara di wilayah Asia secara geografis yang diwarnai oleh dua kenyataan, yaitu kemajemukan agama dan kebudayaan, serta situasi kemiskinan

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.177, 2013 KEMENTERIAN AGAMA. Sekolah Menengah Agama Katolik. Pendirian. Kurikulum. PERATURAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG SEKOLAH MENENGAH

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia sebagai persona pertama-tama karena ke-diri-annya (self). Artinya, self

BAB I PENDAHULUAN. manusia sebagai persona pertama-tama karena ke-diri-annya (self). Artinya, self BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusia tidak hanya dipahami sebagai individu, melainkan sebagai persona. 1 Sifat individual berarti ia sebagai ada yang dapat dibedakan dengan ada yang lain dari satu

Lebih terperinci

Yusri 1.TUHAN YANG MAHAESA

Yusri 1.TUHAN YANG MAHAESA SILABUS MATAKULIAH PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN DAN FMIPA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA Kode mata kuliah MDU 303 Yusri Deskripsi Silabus Pendidikan Agama Kristen

Lebih terperinci

Tahun C Hari Minggu Biasa III LITURGI SABDA. Bacaan Pertama Neh. 8 : 3-5a

Tahun C Hari Minggu Biasa III LITURGI SABDA. Bacaan Pertama Neh. 8 : 3-5a 1 Tahun C Hari Minggu Biasa III LITURGI SABDA Bacaan Pertama Neh. 8 : 3-5a. 6-7. 9-11 Bagian-bagian Kitab Taurat Allah dibacakan dengan jelas, dengan diberi keterangan-keterangan sehingga pembacaan dimengerti.

Lebih terperinci

PERINTAH YESUS DITURUTI (KISAH 2) contoh orang yang secara tepat menuruti pengaturan Yesus.

PERINTAH YESUS DITURUTI (KISAH 2) contoh orang yang secara tepat menuruti pengaturan Yesus. PERINTAH YESUS DITURUTI (KISAH 2) Berbeda dengan mereka yang sekarang mengubah pengaturan Yesus, Kisah 2 memberi contoh orang yang secara tepat menuruti pengaturan Yesus. Cerita Awalnya Dalam Kisah 2 Petrus

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. Di dalam Gereja Katolik, umat Allah dipahami sebagai persekutuan orang-orang yang

BAB V PENUTUP. Di dalam Gereja Katolik, umat Allah dipahami sebagai persekutuan orang-orang yang BAB V PENUTUP 1.1 Kesimpulan Di dalam Gereja Katolik, umat Allah dipahami sebagai persekutuan orang-orang yang percaya kepada Kristus. Sebagai sebuah persekutuan orang beriman, mereka mengungkapkan imannya

Lebih terperinci

Pendidikan Agama Katolik

Pendidikan Agama Katolik SATUAN ACARA PERKULIAHAN Kode Mata Kuliah: UM0082/2 sks Program Studi: S 1 Sistem Informasi INSTITUT KEUANGAN PERBANKAN INFORMATIKA ASIA PERBANAS Jl. Perbanas, Karet Kuningan, Setiabudi, Jakarta 12940,

Lebih terperinci

C. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DAN BUDIPEKERTI SDLB TUNANETRA

C. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DAN BUDIPEKERTI SDLB TUNANETRA - 27 - C. KOMPETENSI INTI DAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DAN BUDIPEKERTI SDLB TUNANETRA KELAS: I Kompetensi Sikap Spiritual, Kompetensi Sikap Sosial, Kompetensi Pengetahuan, dan Kompetensi Keterampilan dirumuskan

Lebih terperinci

DIREKTUR JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 38/DIKTI/Kep/2002 TENTANG

DIREKTUR JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 38/DIKTI/Kep/2002 TENTANG SALINAN KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 38/DIKTI/Kep/2002 TENTANG RAMBU-RAMBU PELAKSANAAN MATA KULIAH PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN DI

Lebih terperinci

BAB IV TINJAUAN TEOLOGIS TERHADAP PENGHAYATAN ROH KUDUS JEMAAT KRISTEN INDONESIA INJIL KERAJAAN DI SEMARANG

BAB IV TINJAUAN TEOLOGIS TERHADAP PENGHAYATAN ROH KUDUS JEMAAT KRISTEN INDONESIA INJIL KERAJAAN DI SEMARANG BAB IV TINJAUAN TEOLOGIS TERHADAP PENGHAYATAN ROH KUDUS JEMAAT KRISTEN INDONESIA INJIL KERAJAAN DI SEMARANG Pada Bab ini, penulis akan menggunakan pemahaman-pemahaman Teologis yang telah dikemukakan pada

Lebih terperinci

MATERI I MATERI I. subyek yang ikut berperan

MATERI I MATERI I. subyek yang ikut berperan subyek yang ikut berperan 14 1 7. PERTANYAAN UNTUK DISKUSI Menurut Anda pribadi, manakah rencana Allah bagi keluarga Anda? Dengan kata lain, apa yang menjadi harapan Allah dari keluarga Anda? Menurut Anda

Lebih terperinci

41. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DAN BUDI PEKERTI SMA/SMK

41. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DAN BUDI PEKERTI SMA/SMK 41. KOMPETENSI INTI DAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DAN BUDI PEKERTI SMA/SMK KELAS: X Kompetensi Sikap Spiritual, Kompetensi Sikap Sosial, Kompetensi Pengetahuan, dan Kompetensi Keterampilan secara keseluruhan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. aspirasi (cita-cita) untuk maju, sejahtera, dan bahagia menurut konsep

BAB I PENDAHULUAN. aspirasi (cita-cita) untuk maju, sejahtera, dan bahagia menurut konsep BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan bagi kehidupan umat manusia merupakan kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Tanpa pendidikan sama sekali mustahil suatu kelompok manusia

Lebih terperinci

SILABUS PEMBELAJARAN

SILABUS PEMBELAJARAN SILABUS PEMBELAJARAN Sekolah : SMP Kelas : IX (Sembilan) Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Katolik Semester : 1 (Satu) Standar Kompetensi: 3.Memahami melaksanakan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam hidup

Lebih terperinci

ARAH DASAR KEUSKUPAN SURABAYA

ARAH DASAR KEUSKUPAN SURABAYA ARAH DASAR KEUSKUPAN SURABAYA 2010-2019 1. HAKIKAT ARAH DASAR Arah Dasar Keuskupan Surabaya merupakan panduan hidup menggereja yang diterima, dihayati dan diperjuangkan bersama oleh segenap umat Keuskupan

Lebih terperinci

BERIMAN CERDAS, TANGGUH, DAN MISIONER BERSAMA

BERIMAN CERDAS, TANGGUH, DAN MISIONER BERSAMA BERIMAN CERDAS, TANGGUH, DAN MISIONER BERSAMA Santo Ignatius Loyola Bahan Pertemuan Lingkungan BERIMAN CERDAS, TANGGUH, DAN MISIONER BERSAMA SANTO IGNATIUS LOYOLA Bahan Pertemuan Lingkungan BERIMAN CERDAS,

Lebih terperinci

Th A Hari Minggu Biasa VIII 26 Februari 2017

Th A Hari Minggu Biasa VIII 26 Februari 2017 1 Th A Hari Minggu Biasa V 26 Februari 2017 Antifon Pembuka Mzm. 18 : 19-20 Tuhan menjadi sandaranku. a membawa aku keluar ke tempat lapang. a menyelamatkan aku karena a berkenan kepadaku. Pengantar Rasa-rasanya

Lebih terperinci

13. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu.

13. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu. KOMPETENSI INTI 13. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu. (PKn) Pengertian Mata PelajaranPendidikan Kewarganegaraan Berdasarkan UU Nomor

Lebih terperinci

2013 PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN NARASI MELALUI METODE MIND MAPPING DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH DASAR

2013 PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN NARASI MELALUI METODE MIND MAPPING DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH DASAR BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa merupakan dasar bagi pengetahuan manusia. Bahasa juga dikatakan sebagai alat komunikasi yang digunakan oleh setiap manusia dengan yang lain. Sebagai alat

Lebih terperinci

B. RINGKASAN MATERI 1. Gereja yang satu 2. Gereja yang kudus 3. Gereja yang katolik 4. Gereja yang apostolic

B. RINGKASAN MATERI 1. Gereja yang satu 2. Gereja yang kudus 3. Gereja yang katolik 4. Gereja yang apostolic BAB II SIFAT SIFAT GEREJA A. KOMPTENTSI 1. Standar Kompetensi Memahami karya Yesus Kristus yang mewartakan Kerajaan Allah dan penerusannya oleh Gereja, sehingga dapat mengembangkan hidup bersama dan bergereja

Lebih terperinci

LITURGI SABDA. Tahun C Minggu Paskah III. Bacaan Pertama Kis. 5:27b b-41. Kami adalah saksi dari segala sesuatu: kami dan Roh Kudus.

LITURGI SABDA. Tahun C Minggu Paskah III. Bacaan Pertama Kis. 5:27b b-41. Kami adalah saksi dari segala sesuatu: kami dan Roh Kudus. 1 Tahun C Minggu Paskah III LITURGI SABDA Bacaan Pertama Kis. 5:27b-32. 40b-41 Kami adalah saksi dari segala sesuatu: kami dan Roh Kudus. Bacaan diambil dari Kisah Para Rasul: Setelah ditangkap oleh pengawal

Lebih terperinci

SPIRITUALITAS MISTIK DAN KENABIAN DALAM PRAKSIS PENDIDIKAN SEKOLAH KATOLIK Pertemuan MABRI, Muntilan 22 Maret 2014 Paul Suparno, S.J.

SPIRITUALITAS MISTIK DAN KENABIAN DALAM PRAKSIS PENDIDIKAN SEKOLAH KATOLIK Pertemuan MABRI, Muntilan 22 Maret 2014 Paul Suparno, S.J. SPIRITUALITAS MISTIK DAN KENABIAN DALAM PRAKSIS PENDIDIKAN SEKOLAH KATOLIK Pertemuan MABRI, Muntilan 22 Maret 2014 Paul Suparno, S.J. Isi singkat 1. Semangat mistik 2. Semangat kenabian 3. Spiritualitas

Lebih terperinci

GEREJA KRISTEN NAZARENE PASAL-PASAL TENTANG IMAN

GEREJA KRISTEN NAZARENE PASAL-PASAL TENTANG IMAN GEREJA KRISTEN NAZARENE PASAL-PASAL TENTANG IMAN I Allah Tritunggal Kami percaya kepada satu Allah yang tidak terbatas, yang keberadaan-nya kekal, Pencipta dan Penopang alam semesta yang berdaulat; bahwa

Lebih terperinci

ANGGARAN DASAR IKATAN SARJANA KATOLIK INDONESIA SANCTUS ALBERTUS MAGNUS PEMBUKAAN

ANGGARAN DASAR IKATAN SARJANA KATOLIK INDONESIA SANCTUS ALBERTUS MAGNUS PEMBUKAAN ANGGARAN DASAR IKATAN SARJANA KATOLIK INDONESIA SANCTUS ALBERTUS MAGNUS PEMBUKAAN Atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, Maha Pengasih dan Maha Bijaksana, umat Katolik menyadari dan menghayati secara

Lebih terperinci

LITURGI SABDA. Tahun C Minggu Paskah VII. Bacaan Pertama Kis. 7 : Aku melihat Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.

LITURGI SABDA. Tahun C Minggu Paskah VII. Bacaan Pertama Kis. 7 : Aku melihat Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah. 1 Tahun C Minggu Paskah VII LITRGI SABDA Bacaan Pertama Kis. 7 : 55-60 Aku melihat Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah. Bacaan diambil dari Kisah Para Rasul: Di hadapan Mahkamah Agama Yahudi, Stefanus,

Lebih terperinci

LITURGI SABDA. Tahun C Minggu Paskah V

LITURGI SABDA. Tahun C Minggu Paskah V 1 Tahun C Minggu Paskah V LITRGI SABDA Bacaan Pertama Kis. 14 : 21b-27 Mereka menceritakan segala sesuatu yang dilakukan Allah dengan perantaraan mereka. Bacaan diambil dari Kisah Para Rasul: Sekali peristiwa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional diharapkan dapat

BAB I PENDAHULUAN. Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional diharapkan dapat 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penyelenggaraan pendidikan sebagaimana yang diamanatkan dalam Undangundang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional diharapkan dapat mewujudkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keselamatan adalah bahwa Gereja hadir sebagai tanda sekaligus sarana yang mewujudkan

BAB I PENDAHULUAN. keselamatan adalah bahwa Gereja hadir sebagai tanda sekaligus sarana yang mewujudkan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejak Konsili Vatikan II 1, Gereja mulai melihat adanya kemungkinan keselamatan dalam agama lain. Keselamatan ini tidak hanya merupakan kekecualian yang jarang terjadi,

Lebih terperinci

KONTEKSTUALISASI DAN PERJANJIAN LAMA

KONTEKSTUALISASI DAN PERJANJIAN LAMA KONTEKSTUALISASI DAN PERJANJIAN LAMA SHORTER kitab Perjanjian lama lebih dahulu menempatkan Sabda kepada dunia, konsep yang mendasari pendekatan Kristologi untuk berkontekstualisasi. inilah suara Tuhan

Lebih terperinci

Tahun C Pesta Pembaptisan Tuhan LITURGI SABDA. Bacaan Pertama Yes. 40 :

Tahun C Pesta Pembaptisan Tuhan LITURGI SABDA. Bacaan Pertama Yes. 40 : 1 Tahun C Pesta Pembaptisan Tuhan LITURGI SABDA Bacaan Pertama Yes. 40 : 1-5. 9-11 Kemuliaan Tuhan akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya. Bacaan diambil dari Kitab Nabi Yesaya: Beginilah

Lebih terperinci

LITURGI SABDA. Bacaan pertama Aku bersukaria di dalam Tuhan Bacaan diambil dari Kitab Yesaya :

LITURGI SABDA. Bacaan pertama Aku bersukaria di dalam Tuhan Bacaan diambil dari Kitab Yesaya : Thn B Hari Minggu Adven 14 Desember 2014 LTRG SABDA Bacaan pertama Aku bersukaria di dalam Tuhan Bacaan diambil dari Kitab Yesaya : (Yes 61 : 1-2a.10-11) Kata nabi, Roh Tuhan ada padaku, sebab ia telah

Lebih terperinci

26. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DAN BUDI PEKERTI SD

26. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DAN BUDI PEKERTI SD 26. KOMPETENSI INTI DAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DAN BUDI PEKERTI SD KELAS: I Kompetensi Sikap Spiritual, Kompetensi Sikap Sosial, Kompetensi Pengetahuan, dan Kompetensi Keterampilan secara keseluruhan

Lebih terperinci

ILMU PENGETAHUAN SOSIAL (IPS)

ILMU PENGETAHUAN SOSIAL (IPS) KURIKULUM 2013 KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) / MADRASAH TSANAWIYAH (MTS) KELAS VII - IX MATA PELAJARAN : ILMU PENGETAHUAN SOSIAL (IPS) Nama Guru NIP/NIK Sekolah : : : 1

Lebih terperinci

BAB 1 Pendahuluan. 1 NN, Badan Geologi Pastikan Penyebab Gempa di Yogyakarta, ANTARA News,

BAB 1 Pendahuluan.  1 NN, Badan Geologi Pastikan Penyebab Gempa di Yogyakarta, ANTARA News, 1 BAB 1 Pendahuluan 1. 1. Latar Belakang Gempa bumi yang terjadi pada tanggal 27 Mei 2006 berkekuatan 5,9 Skala Richter pada kedalaman 17,1 km dengan lokasi pusat gempa terletak di dekat pantai pada koordinat

Lebih terperinci

Studi Perbandingan Katolik Roma (5) API PENYUCIAN

Studi Perbandingan Katolik Roma (5) API PENYUCIAN API PENYUCIAN "Gereja mempercayai adanya Api Penyucian, bukan sebagai suatu tempat tersendiri yang lain daripada surga maupun neraka. Api Penyucian diterima sebagai orang meninggal yang belum layak menikmati

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang masalah Pendidikan nasional, sebagai salah satu sektor pembangunan nasional dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, mempunyai visi terwujudnya sistem pendidikan sebagai

Lebih terperinci

PANDUAN Pengurus Lingkungan Paroki Santo Yusup - Gedangan Stasi Santo Ignatius - Banjardawa Semarang

PANDUAN Pengurus Lingkungan Paroki Santo Yusup - Gedangan Stasi Santo Ignatius - Banjardawa Semarang PANDUAN Pengurus Lingkungan Paroki Santo Yusup - Gedangan Stasi Santo Ignatius - Banjardawa Semarang Tahun 2009 Dewan Paroki Santo Yusup - Gedangan Jl. Ronggowarsito 11 Semarang - 50127 Telp. 3552252,

Lebih terperinci

Tahun C Hari Minggu Biasa XXVIII LITURGI SABDA. Bacaan Pertama 2 Raj. 5 : Naaman kembali kepada Elisa, abdi Allah, dan memuji Tuhan.

Tahun C Hari Minggu Biasa XXVIII LITURGI SABDA. Bacaan Pertama 2 Raj. 5 : Naaman kembali kepada Elisa, abdi Allah, dan memuji Tuhan. 1 Tahun C Hari Minggu Biasa XXVIII LITURGI SABDA Bacaan Pertama 2 Raj. 5 : 14-17 Naaman kembali kepada Elisa, abdi Allah, dan memuji Tuhan. Bacaan diambil dari Kitab Kedua Raja-Raja: Sekali peristiwa,

Lebih terperinci

BAB XII MENJAGA KEUTUHAN CIPTAAN. Dosen : Drs. Petrus Yusuf Adi Suseno, M.H. Modul ke: Fakultas MKCU. Program Studi Psikologi.

BAB XII MENJAGA KEUTUHAN CIPTAAN. Dosen : Drs. Petrus Yusuf Adi Suseno, M.H. Modul ke: Fakultas MKCU. Program Studi Psikologi. BAB XII Modul ke: 13 MENJAGA KEUTUHAN CIPTAAN Fakultas MKCU Dosen : Drs. Petrus Yusuf Adi Suseno, M.H. www.mercubuana.ac.id Program Studi Psikologi MENJAGA KEUTUHAN CIPTAAN Terima Kasih A. PENDAHULUAN

Lebih terperinci

Dasar Kebersatuan Umat Kristen. Efesus 2: Pdt. Andi Halim, S.Th.

Dasar Kebersatuan Umat Kristen. Efesus 2: Pdt. Andi Halim, S.Th. Dasar Kebersatuan Umat Kristen Efesus 2:11-22 Pdt. Andi Halim, S.Th. Bicara soal kebersatuan, bukan hanya umat Kristen yang bisa bersatu. Bangsa Indonesia pun bersatu. Ada semboyan Bhineka Tunggal Ika,

Lebih terperinci

RANGKUMAN PELAJARAN AGAMA KATOLIK KELAS 3 SEMESTER

RANGKUMAN PELAJARAN AGAMA KATOLIK KELAS 3 SEMESTER RANGKUMAN PELAJARAN AGAMA KATOLIK KELAS 3 SEMESTER 2 Pelajaran 12. Sakramen Bapis 1) Ada 7 sakramen yang diakui oleh Gereja, yaitu: a) Sakramen Bapis b) Sakramen Ekarisi c) Sakramen Krisma d) Sakramen

Lebih terperinci

BAB IV REFLEKSI TEOLOGIS

BAB IV REFLEKSI TEOLOGIS BAB IV REFLEKSI TEOLOGIS Keluarga merupakan salah satu komponen penting dalam kehidupan masyarakat yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak, dalamnya harus terdapat keseimbangan, keselarasan kasih sayang

Lebih terperinci

BAB V. Penutup. GKJW Magetan untuk mengungkapkan rasa syukur dan cinta kasih karena Yesus

BAB V. Penutup. GKJW Magetan untuk mengungkapkan rasa syukur dan cinta kasih karena Yesus BAB V Penutup 5.1 Kesimpulan dan Refleksi Upacara slametan sebagai salah satu tradisi yang dilaksanakan jemaat GKJW Magetan untuk mengungkapkan rasa syukur dan cinta kasih karena Yesus sebagai juruslamat

Lebih terperinci