BAB II TIMBULNYA LEMBAGA PISAH MEJA DAN RANJANG DALAM PENGATURAN MENGENAI PERKAWINAN MENURUT KUH PERDATA (BW)

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II TIMBULNYA LEMBAGA PISAH MEJA DAN RANJANG DALAM PENGATURAN MENGENAI PERKAWINAN MENURUT KUH PERDATA (BW)"

Transkripsi

1 BAB II TIMBULNYA LEMBAGA PISAH MEJA DAN RANJANG DALAM PENGATURAN MENGENAI PERKAWINAN MENURUT KUH PERDATA (BW) A. Pengertian Perpisahan Meja dan Ranjang Menurut KUH Perdata BW KUH Perdata (BW) tidak secara tegas menyatakan definisi tentang perpisahan meja dan ranjang. Namun demikian dari Pasal-pasal yang mengatur tentang perpisahan meja dan ranjang dapat dinyatakan bahwa perpisahan meja dan ranjang adalah suatu keadaan hukum dimana pasangan suami isteri yang masih terikat tali perkawinan tidak lagi memiliki kewajiban untuk tinggal bersama dalam satu atap rumah. 31 Seorang suami tidak lagi memiliki hak untuk mewajibkan isterinya tinggal bersama dalam rumah kediamannya. Demikian pula sebaliknya seorang isteri memperoleh kembali kebebasannya untuk menentukan sendiri tempat tinggal/rumah yang ingin didiaminya, dan tidak lagi wajib mengikuti tempat tinggal suaminya. Peristiwa pisah meja dan ranjang yang telah dilakukan pasangan suami isteri tersebut memiliki akibat hukum bagi pasangan suami isteri dibidang harta benda perkawinan yaitu : Pengakhiran, percampuran harta benda perkawinan antara pasangan suami isteri tersebut seolah-olah telah terjadi suatu perceraian (Pasal 243 KUH Perdata BW). 31 Wirjono Prodjodikoro, Hukum Perkawinan di Indonesia, SUMUR, Bandung, 1976, hlm Kho Tjay Sing, Hukum Perdata, Jilid I (Hukum Perseorangan dan Keluarga), Loka Cipta, Semarang, 1984, hlm 12.

2 2. Penghentian sementara pengurusan atas harta isteri oleh suami (Pasal 244 KUH Perdata BW). 3. Apabila perpisahan meja dan ranjang diputuskan oleh hakim karena alasan tertentu sebagaimana tercantum dalam Pasal 233 KUH Perdata (BW), maka akibat-akibat dari keuntungan tertentu yang diperjanjikan antara pasangan suami-isteri serta pemberian nafkah adalah sama dengan hal perceraian. Tetapi hal tersebut di atas tidak berlaku apabila keputusan pisah meja dan ranjang diambil oleh suami-isteri tanpa mengajukan alasan. Dalam hal tersebut di atas wajib dibuat suatu akta otentik antara pasangan suami-isteri yaitu suatu perjanjian berdasarkan kesepakatan bersama yang berisikan hak dan kewajiban suami-isteri yang harus dipatuhi dan dilaksanakan bersama pada saat perpisahan meja dan ranjang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap. Perpisahan meja dan ranjang dapat menimbulkan Perceraian bila selama menjalani masa perpisahan meja dan ranjang pasangan suami-isteri tersebut tidak dapat mencapai suatu kesepakatan untuk berdamai. Sebaliknya apabila selama masa menjalani perpisahan meja dan ranjang dapat tercapai suatu kesepakatan untuk melakukan perdamaian maka demi undangundang peristiwa perpisahan meja dan ranjang tersebut batal demi hukum. Perdamaian antara pasangan suami-isteri yang menjalani perpisahan meja dan ranjang membawa konsekuensi hukum yaitu semua akibat hukum dari perkawinan diantara pasangan suami-isteri tersebut dinyatakan hidup/berlaku kembali, namun semua tindakan kepada pihak ketiga selama menjalani perpisahan meja dan ranjang sebelumnya tetap berlaku. Pasal 248 KUH Perdata (BW) menyatakan bahwa :

3 Perpisahan meja dan ranjang demi hukum menjadi batal karena perdamaian suami-isteri, dan hiduplah kembali karenanya segala akibat perkawinan, sementara itu dengan tidak mengurangi akan terus berlakunya perbuatanperbuatan perdata terhadap pihak ketiga, yang dilakukan kiranya dalam tenggang antara perpisahan dan perdamaian. Segala persetujuan antara suami-isteri bertentangan dengan ini, adalah batal. Pasal 119 KUH Perdata (BW) menyatakan bahwa, Mulai saat perkawinan dilangsungkan, demi hukum berlakulah persatuan bulat antara harta kekayaan suamiisteri, sekedar mengenai itu dengan perjanjian kawin tidak diadakan ketentuan lain. Pasal 119 KUH Perdata (BW) ini memberikan penegasan bahwa sejak adanya perkawinan antara suami dan isteri, seluruh harta kekayaan yang diperoleh selama perkawinan tersebut berlangsung merupakan harta bersama (gono-gini) sepanjang tidak ditentukan lain melalui suatu perjanjian sebelum perkawinan tersebut dilangsungkan. Pasal 120 KUH Perdata (BW) menyatakan bahwa, Sekedar mengenai labalabanya, persatuan harta kekayaan tersebut meliputi harta kekayaan suami dan isteri, bergerak dan tak bergerak, baik yang sekarang maupun yang kemudian, maupun pula yang mereka peroleh dengan cuma-cuma, kecuali dalam hal yang terakhir ini yang mewariskan atau yang menghibahkan dengan tegas menentukan sebaliknya. Pasal 120 KUH Perdata (BW) ini menegaskan tentang bagian-bagian yang menjadi harta bersama, termasuk harta kekayaan yang diperoleh secara Cuma-cuma dari pihak ketiga. Kemudian pihak ketiga yang memberikan harta kekayaan tersebut menentukan bahwa harta yang diberikannya tersebut merupakan harta bawaan yang terlepas dari harta bersama. Selanjutnya Pasal 121 KUH Perdata (BW) menyatakan

4 bahwa, Sekedar mengenai beban-bebannya, persatuan itu meliputi segala utang suami-isteri masing-masing yang terjadi, baik sebelumnya maupun sepanjang perkawinan. Pasal 124 KUH Perdata (BW) menyatakan bahwa, Suami sendiri harus mengurus harta kekayaan persatuan. Suami diperbolehkan menjual, memindah tangankan dan membebaninya tanpa campur tangan isteri, kecuali memindah tangankan atau membebani barang-barang tak bergerak si isteri, surat-surat pendaftaran dalam buku besar tentang perutangan umum, surat-surat berharga lainnya dan hutang-piutang atas nama isteri, sekedar olehnya dimasukkan dalam persatuan, atau yang sepanjang perkawinan masuk kiranya dari pihak isteri di dalamnya. Suami bertindak sebagai kepala persatuan suami-isteri hanya dalam masa perkawinan tersebut masih berlangsung. Bila terjadi perceraian, maka segala wewenang suami terhadap harta persatuan menjadi gugur, karena Undang-Undang mengharuskan pembagian harta persatuan tersebut secara adil diantara pasangan suami-isteri itu. Dalam pasal 243 KUH Perdata (BW), dinyatakan bahwa, Perpisahan meja dan ranjang selamanya mengakibatkan perpisahan harta kekayaan dan karenanya merupakan alasan untuk mengadakan perpisahan persatuan, seolah-olah perkawinan telah dibubarkan. Selanjutnya Pasal 244 KUH Perdata (BW) menyatakan bahwa, Karena perpisahan meja dan ranjang, pengurusan suami atas harta kekayaan isteri dipertangguhkan. Akibat hukum perpisahan meja dan ranjang terhadap harta kekeyaan suamiisteri yang diperoleh selama masa perkawinan (gono-gini) adalah sama dengan

5 perceraian, yakni diharuskannya dilakukan pembagian yang sama diantara suamiisteri tersebut dan secara otomatis mempertangguhkan untuk sementara waktu hak suami sebagai kepala persatuan suami-isteri dalam mengurus harta kekayaan persatuan tersebut. Artinya hak suami dalam pengurusan harta kekayaan isterinya untuk sementara waktu tidak dapat lagi dilaksanakannya. 33 B. Tujuan Diadakannya Lembaga Pisah Meja dan Ranjang dalam Pengaturan Hukum Perkawinan Menurut KUH Perdata (BW) Sebagaimana diketahui bahwa hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek) dilahirkan di dunia barat yang sebahagian besar penduduknya beragama Kristen. Di dalam hal perkawinan, agama Kristen berpegang kepada prinsip bahwa sorang laki-laki hanyalah dapat kawin dengan seorang perempuan saja, dan seorang perempuan hanya dapat kawin dengan seorang laki-laki (Asas Monogami Absolut). Prinsip ini memperoleh penegasan dalam pasal 27 KUH Perdata (BW) yang berbunyi, Dalam waktu yang sama seorang laki-laki, hanya boleh mempunyai seorang isteri, dan seorang perempuan hanya boleh mempunyai seorang suami. Pelanggaran terhadap prinsip tersebut di atas tidak hanya menimbulkan batalnya perkawinan, tapi juga diancam hukuman menurut pasal 279 KUH Pidana. Pasal 279 KUH Pidana tersebut menyatakan bahwa, Diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun : 33 Djaja S. Meliala, Perkembangan Hukum Perdata Tentang Orang dan Hukum Keluarga, Nuansa Aulia Bandung, 2007, hlm, 59.

6 1. Barang siapa mengadakan perkawinan mengetahui bahwa pernikahan atau perkawinan-perkawinannya yang telah ada menjadi penghalang yang sah untuk itu. 2. Barang siapa mengadakan perkawinan padahal mengetahui bahwa perkawinan atau perkawinan-perkawinan pihak lain, menjadi penghalang untuk itu. Di samping itu KUH Perdata juga memperberat syarat-syarat untuk melakukan perceraian. Pasal 209 KUH Perdata (BW) mengatur tentang alasan-alasan yang diperbolehkan UU dalam menuntut suatu perceraian. Hanya dengan alasan yang disebutkan dalam pasal 209 KUH Perdata (BW) tersebut yang boleh dijadikan dasar dalam mengajukan tuntutan perceraian. Alasan-alasan yang termuat dalam pasal 209 KUH Perdata (BW) tersebut antara lain adalah: 1. Zinah, 2. Meninggalkan tempat tinggal bersama dengan iktikad jahat, 3. Penghukuman dengan hukuman penjara lima tahun lamanya atau dengan hukuman yang lebih berat yang diucapkan oleh hakim di pengadilan setelah perkawinan, 4. Melukai berat atau menganiyaya, sehingga membahayakan jiwa, pihak yang dilukai atau dianiyaya atau mengakibatkan lukaluka yang membahayakan. Dari rumusan yang terdapat dalam pasal 209 KUH Perdata (BW) tersebut diketahui bahwa alasan-alasan perceraian tersebut merupakan suatu perbuatan nyata yang harus dapat dibuktikan oleh pihak yang akan mengajukan tuntutan perceraian dalam hal perbuatan zina. Pihak suami atau isteri yang merasa dirugikan terhadap perbuatan pasangannya tersebut, harus dapat membuktikan secara nyata/otentik bahwa perbuatan zina tersebut telah terjadi atau telah dilakukan. Perbuatan zina

7 merupakan pengingkaran terhadap perkawinan itu sendiri yang menuntut suatu kesetiaan dari masing-masing pasangan. Karena itu KUH Perdata (BW) memandang perbuatan zina merupakan perbuatan yang melawan hukum yang tidak saja bisa mengakhiri perkawinan tapi juga pelakunya dapat dikenakan sanksi pidana. Demikian pula halnya dengan meninggalkan tempat tinggal bersama dengan niat jahat. Pasal 103 KUH Perdata (BW) dengan tegas menyatakan bahwa, Suami dan isteri, mereka harus saling setia menasehati, tolong menolong dan bantu membantu. Pasal 109 KUH Perdata (BW) selanjutnya menyatakan bahwa, Setiap suami wajib menerima diri isterinya dalam rumah yang di diaminya. Berwajiblah pula ia melindunginya dan memberi padanya segala apa yang diperlukan dan berpatutan dengan kedudukan dan kemampuannya. Dari rumusan pasal 103 dan 107 KUH Perdata (BW) tersebut di atas dapat ditegaskan bahwa pasangan suami-isteri harus saling tolong-menolong dan bantu membantu dalam satu rumah tangga yang didiami bersama diantara keduanya. Dengan demikian perbuatan meninggalkan tempat bersama apa lagi dengan iktikad jahat merupakan suatu perbuatan melawan hukum yang juga dapat dijadikan alasan penuntutan perceraian bagi salah satu pasangan yang merasa dirugikan dengan perbuatan tersebut. Penghukuman dengan hukuman penjara lima tahun atau hukuman yang lebih berat dari itu, setelah perkawinan pada hakikatnya juga perbuatan melawan hukum terhadap ketentuan pasal 107 KUH Perdata (BW) tersebut di atas. Demikian pula halnya dengan melukai/menganiaya pasangan yang dapat

8 membahayakan/mengancam jiwa pasangan tersebut merupakan perbuatan yang melanggar ketentuan pasal 103 dan 107 KUH Perdata (BW) tersebut. Dari uraian tentang alasan-alasan yang dapat dijadikan dasar untuk melakukan penuntutan perceraian tersebut, dapat dikatakan bahwa seluruh perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh salah satu pasangan suami-isteri tersebut, harus dapat dibuktikan di pengadilan pada saat dilaksanakannya sidang tuntutan perceraian tersebut. Hakim dapat saja menolak tuntutan perceraian yang diajukan tersebut dengan alasan tidak kuatnya bukti yang diajukan di pengadilan. Kecuali di antara pasangan suami-isteri tersebut telah terjadi Mufakat Jahat untuk melakukan rekayasa hukum sehingga tuntutan perceraian tersebut dapat dikabulkan oleh hakim. Perbuatan melakukan tuntutan perceraian dengan mufakat jahat atau dengan persetujuan diantara pasangan suami-isteri tersebut adalah dilarang oleh KUH Perdata (BW). Pasal 208 KUH Perdata (BW) menegaskan pelarangan perbuatan tersebut dengan menyatakan, Perceraian suatu perkawinan sekali-kali tidak dapat dicapai dengan suatu persetujuan antara kedua belah pihak (pasangan suami-isteri tersebut). Apabila perceraian karena persetujuan suami-isteri tersebut dapat dibuktikan kebenarannya, maka hakim berwenang membatalkan tuntutan perceraian yang diajukan oleh pasangan suami-isteri tersebut. Memperhatikan uraian tentang alasanalasan agar dapat melakukan tuntutan terhadap perceraian tersebut, maka dapatlah dikatakan bahwa proses hukum untuk melakukan perceraian menurut KUH Perdata (BW) adalah cukup berat dan membutuhkan alasan-alasan yang jelas dan nyata serta terbukti kebenarannya. Hal ini mengindikasikan bahwa KUH Perdata (BW) pada

9 prinsipnya tidak menghendaki terjadinya perceraian dalam suatu perkawinan 34. Oleh karena itu diadakanlah suatu lembaga yang disebut lembaga pisah meja dan ranjang yang eksistensinya bertujuan untuk mengupayakan agar tidak terjadi suatu perceraian. Dalam kehidupan berumah tangga suatu perkawinan sering terjadi masalah-masalah yang harus dihadapi oleh pasangan suami-isteri yang tak jarang menimbulkan perbedaan pendapat, perselisihan bahkan pertengkaran antara pasangan suami-isteri tersebut karena permasalahan yang dihadapi itu. Perselisihan dan pertengkaran tersebut dapat pula menimbulkan keretakan dalam kehidupan berumah tangga yang pada akhirnya mengancam keutuhan perkawinan itu sendiri. Oleh karena itu dibutuhkan suatu ketenangan dan penurunan tingkat emosional dalam upaya menyelamatkan keutuhan suatu kehidupan berumah tangga (perkawinan). Untuk mencapai ketenangan dan penurunan tingkat emosional yang tinggi tersebut atau kejenuhan dalam kehidupan berumah tangga, mungkin saja diperlukan kesendirian untuk merenung dan memaknai kembali hakikat perkawinan tersebut. Apalagi dalam perkawinan itu telah dilahirkan anak-anak yang merupakan buah dari ikatan cinta pasangan suami-isteri. Untuk itulah diadakan lembaga pisah meja dan ranjang yang pada intinya adalah melakukan perpisahan kehidupan suami-isteri untuk tidak lagi hidup dalam satu rumah dan berusaha untuk memikirkan kehidupan masing-masing sesuai dengan pemikirannya sendiri. Dengan terjadinya pisah meja dan ranjang dalam perkawinan antara pasangan suami-isteri tersebut maka menimbulkan akibat hukum 34 K. Wanjik Soleh, Himpunan Peraturan dan Undang-Undang tentang Perkawinan, Ichtiar Baru, Jakarta 1974, hlm. 17.

10 baru bagi kedua belah pihak. Akibat hukum yang timbul dari peristiwa pisah meja dan ranjang tersebut diantaranya adalah tidak diwajibkannya lagi pasangan suamiisteri tersebut untuk tinggal bersama dalam satu atap/ rumah dan juga mengakibatkan terjadinya perpisahan harta kekayaan, dan juga bisa berdampak pada mengadakannya perpisahan persatuan seolah-olah perkawinan tersebut telah dibubarkan. Namun pada intinya perpisahan meja dan ranjang tidak mengakhiri suatu perkawinan, akan tetapi akibat hukumnya pada harta kekayaan seolah-olah sama dengan telah terjadinya perceraian 35. Lembaga pisah meja dan ranjang dapat digunakan oleh pasangan suamiisteri untuk mengevaluasi sikap dan perilaku masing-masing dan melakukan perbaikan-perbaikan terhadap sikap dan perilaku tersebut sehingga di harapkan dapat terjadi perdamaian diantara pasangan suami-isteri tersebut. Dengan terjadinya perdamaian, maka dengan sendirinya akan membatalkan perpisahan meja dan ranjang tersebut. Dengan batalnya perpisahan meja dan ranjang tersebut, maka keutuhan perkawinan dari pasangan suami-isteri tersebut kembali seperti semula dan yang paling penting adalah perceraian diantara pasangan suami-isteri dapat dihindari. Inilah sesungguhnya makna dari keberadaan lembaga pisah meja dan ranjang tersebut yakni mengupayakan agar perkawinan dapat terjaga dengan utuh dan perceraian dapat dicegah/dihindari semaksimal mungkin. Pada prakteknya lembaga pisah meja dan ranjang jarang/hampir tidak pernah digunakan oleh pasangan suami-isteri dalam menyelamatkan keutuhan perkawinan 35 Muhammad Anwar, Hukum Perkawinan menurut KUH Perdata (BW), Ghalia Indonesia, Bandung, 1999, hlm. 29.

11 atau menghindari terjadinya perceraian di kalangan golongan tionghoa dimana lembaga pisah meja dan ranjang tersebut berlaku sesuai dengan KUH Perdata (BW) 36. Dikalangan golongan tionghoa justru sering diumumkan di Media Cetak (surat kabar) tentang pernyataan putus hubungan antara pasangan suami-isteri agar dapat diketahui oleh pihak ketiga. Pernyataan putus hubungan yang sering dimuat dalam media cetak (Surat kabar) tersebut merupakan pernyataan yang mengindikasikan telah terjadi suatu perceraian antara pasangan suami-isteri tersebut dan merupakan pengumuman kepada pihak ketiga agar diketahui secara luas, khususnya bagi rekan-rekan bisnis pasangan suami-isteri tersebut. Dengan jarangnya lembaga pisah meja dan ranjang digunakan dalam upaya menyelamatkan keutuhan suatu perkawinan atau menghindari terjadinya suatu perceraian, maka tujuan diadakannya lembaga pisah meja dan ranjang tersebut dalam pengaturan perkawinan menjadi tidak tercapai/tidak menemui sasarannya. Hal ini bisa saja terjadi karena kurang dikenalnya lembaga pisah meja dan ranjang di kalangan golongan tionghoa. Pada umumnya pada bidang hukum perkawinan, golongan tionghoa hanya mengenal kata Perkawinan dan Perceraian dalam mengakhiri perkawinan. Sedangkan lembaga pisah meja dan ranjang nyaris terlupakan sebagai suatu lembaga yang dapat digunakan untuk melakukan penyelamatan atau untuk menghindari terjadinya suatu perceraian sebagaimana tujuan diadakannya lembaga tersebut dalam pengaturan perkawinan. 36 Abdurahman Fikri, Lembaga Pisah Meja dan Ranjang, dan Akibat Hukumnya, Mitra Persada, Jakarta, 1998, hlm 46.

12 Meskipun lembaga pisah meja dan ranjang bertujuan untuk menyelamatkan keutuhan suatu perkawinan atau menghindari terjadinya suatu perceraian, namun pada prakteknya sering pula mengalami kegagalan untuk mendamaikan pasangan suami-isteri tersebut. Apabila selama masa pisah meja dan ranjang tidak terjadi suatu perdamaian dan perpisahan tersebut telah berjalan genap 5 (lima) tahun lamanya, maka para pihak dapat menuntut supaya perkawinan dibubarkan. Pembubaran perkawinan yang dimaksud di sini adalah dengan melakukan penuntutan perceraian yang diajukan oleh salah satu pihak pasangan suami-isteri tersebut. Pasal 200 KUH Perdata (BW) menyatakan bahwa, Apabila suami-isteri telah berpisah meja dan ranjang, baik karena salah satu alasan tersebut dalam pasal 233 KUH Perdata (BW) maupun atas permimtaan kedua belah pihak, dan perpisahan tersebut telah berjalan genap 5 (lima) tahun lamanya dengan tak adanya perdamaian antara kedua belah pihak, maka tiap-tiap mereka adalah leluasa menarik pihak yang lain di muka pengadilan dan menuntut, supaya perkawinan dibubarkan. Dari rumusan pasal 200 KUH Perdata tersebut diatas maka dapat dikatakan bahwa lembaga pisah meja dan ranjang juga memiliki keterbatasan dalam upaya menyelamatkan keutuhan perkawinan atau menghindari terjadinya suatu perceraian. Dengan demikian tidak ada jaminan keberhasilan dalam menyelamatkan keutuhan perkawinan atau untuk menghindari terjadinya perceraian, meskipun telah digunakan lembaga pisah meja dan ranjang tersebut. Dalam hal pasangan suami isteri menggunakan lembaga pisah meja dan ranjang dalam mengatasi masalah perselisisihan/pertengkaran dalam suatu kehidupan perkawinan, maka

13 konsekuensinya adalah perkawinan masih tetap utuh/berlangsung diantara pasangan suami-isteri tersebut, namun menimbulkan hak dan kewajiban yang sama seperti telah terjadinya perceraian. Untuk melakukan penuntutan perceraian, pasangan suami-isteri tersebut harus menunggu jangka waktu perpisahan meja dan ranjang tersebut sampai genap 5 (lima) tahun. Hal ini menimbulkan dampak hukuman dan juga psikologis bagi pasangan suami-isteri yang melakukan pisah meja dan ranjang tersebut. Dampak hukumnya adalah tidak diwajibkannya lagi pasangan suami-isteri untuk hidup bersama dalam satu rumah, dan terjadinya perpisahan harta kekayaan dan perpisahan persatuan antara pasangan suami-isteri tersebut. Dampak psikologisnya adalah kehidupan suami isteri yang terpisah satu sama lain meskipun masih terikat dalam suatu ikatan perkawinan menimbulkan pembatasan-pembatasan antara pasangan suami-isteri tersebut dalam merencanakan penggantian pasangan hidup selanjutnya dalam suatu perkawinan berikutnya. KUH Perdata (BW) melarang pasangan suamiisteri yang masih terikat tali perkawinan untuk melangsungkan perkawinan berikutnya, bahkan KUH Pidana mengancam perbuatan melangsungkan perkawinan berikutnya tersebut dengan ancaman pidana 5 (lima) tahun penjara sesuai dengan Pasal 279 ayat (1) KUH Pidana. Menurut Pasal 279 ayat (2) KUH Pidana menyatakan bahwa, Jika yang melakukan perbuatan tersebut menyembunyikan kepada pihak dan bahwa perkawinan yang telah ada akan menjadi penghalang yang sah untuk itu diancam dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun. Selanjutnya pasal 280 KUH Pidana menyatakan bahwa, Barang siapa mengadakan perkawinan, padahal sengaja tidak memberitahukan kepada pihak lain bahwa ada penghalang yang sah,

14 diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun, apabila kemudian berdasarkan penghalang tersebut, perkawinan lalu dinyatakan tidak sah. Dari uaraian diatas dapat diketahui bahwa perpisahan meja dan ranjang tidak mengakhiri ikatan perkawinan yang telah terjadi antara pasangan suami isteri tersebut. Apabila salah satu pihak yang sedang berada dalam jangka waktu perpisahan meja dan ranjang tersebut melangsungkan perkawinan baik secara terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi maka berdasarkan Pasal 279 dan Pasal 280 KUH Pidana maka pasangan yang melangsungkan perkawinan tersebut dapat diganjar dengan hukuman penjara. Perpisahan meja dan ranjang tidak pernah digunakan oleh golongan timur asing tionghoa bila terjadi permasalahan dalam kehidupan perkawinan mereka. 37 Pada umumnya bila dalam sebuah perkawinan telah terjadi banyak sekali perbedaan pendapat, perselisihan dan bahkan pertengkaran yang menjurus kepada penganiayaan atau kekerasan fisik yang dilakukan oleh pasangan suami-isteri tersebut terhadap pasangannya yang lain, maka pihak yang teraniaya ataupun tersakiti tersebut secara psikologis cenderung untuk mengakhiri perkawinan tersebut dengan tuntutan perceraian. 38 Rasa benci, emosional yang tinggi dan kejenuhan yang telah berlangsung cukup lama karena seringnya terjadi perselisihan, pertengkaran bahkan kekerasan fisik tersebut akan memicu pasangan tersebut untuk mengambil keputusan yang cenderung emosional pula dan tidak lagi dengan menggunakan pertimbangan 37 Wawancara dengan Mansyurdin, Panitra PenggantiPada Pengadilan Negeri Medan pada hari Rabu Tanggal 1 Juni 2011, Pukul Wib di ruang kerjanya. 38 Wawancara dengan Darma Putra (Liem Te It) dan Suratna Chandra (Mei Ling Hwa), Pasangan Suami- Isteri golongan timur asing tiong hoa yang sedang mengalami proses hukum perceraian di Pengadilan Negeri Medan, pada Hari Rabu, Tanggal1 Juni 2011, Pukul Wib di Pengadilan Negeri Medan.

15 akal pikiran yang arif dan bijaksana. Apabila pertimbangan masih didasarkan kepada akal pikiran yang sehat, arif dan bijaksana, maka pengambilan keputusan dari para pihak pasangan suami-isteri tersebut akan lebih condong mempertahankan keutuhan perkawinan tersebut dengan menempuh jalur pendekatan dari hati ke hati terhadap pasangannya sehingga dapat tercipta kembali kerukunan maupun keharmonisan hidup berumah tangga dalam suatu ikatan perkawinan yang sakral. Apabila langkah pendekatan (approach) dan hati ke hati gagal mencapai tujuan seperti yang diinginkan, maka masih bisa ditempuh upaya lainnya, yakni dengan menggunakan lembaga pisah meja dan ranjang yang tujuan akhirnya tetap mempertahankan keutuhan suatu perkawinan. Meskipun akibat hukum yang timbul dari peristiwa hukum pisah meja dan ranjang tersebut adalah sama dengan peristiwa hukum perceraian, namun tidak mengakhiri ikatan perkawinan yang telah terjadi diantara pasangan suami-isteri tersebut 39. Namun pada praktek pelaksanaannya di masyarakat golongan timur asing tionghoa, ternyata lembaga pisah meja dan ranjang tidak menjadi pilihan dalam menyelesaikan kemelut yang terjadi dalam suatu perkawinan. Para pihak yang mengalami masalah kemelut dalam kehidupan perkawinannya cenderung lebih memilih perceraian, sebagai solusi pemecahan masalah perkawinan tersebut. 40 Hal ini menunjukkan bahwa pandangan pasangan suami-isteri dalam perkawinan mulai megalami pergeseran nilai sehingga pada masa sekarang ini sering 39 RM Suryo Diningrat, Asas Monogami Absolut dalam Perkawinan menurut KUH Perdata (BW), Tarsito Bandung, 2001, hlm Wawancara dengan Wilton Leo (Ham Fu Hung ) dan Lina Gunawan (Acui Lien), Pasangan Suami-Isteri golongan timur asing Tionghoa yang sedang menjalani proses hukum perceraian di Pengadilan Negeri Medan pada Hari Senin, Tanggal 6 Juni 2011, Pukul Wib di Pengadilan Negeri Medan.

16 kita saksikan di masyarakat khususnya pada golongan Timur Asing tionghoa, bahwa ikatan perkawinan yang seharusnya dijaga dan dipertahankan, menjadi begitu gampang untuk diakhiri melalui suatu tuntutan perceraian. Bahkan demi dikabulkannya tuntutan perceraian tersebut pasangan suami-isteri tersebut secara diam-diam melakukan suatu rekayasa hukum dengan persetujuan bersama sepakat untuk bercerai dengan mengajukan gugatan cerai ke pengadilan. Alasan yang dijadikan dasar tuntutan perceraian direkayasa sedemikian rupa oleh para pihak dengan persetujuan bersama agar tuntutan perceraian tersebut dapat dikabulkan oleh hakim di pengadilan. Sebagai contoh misalnya perbuatan zina, yang menurut KUH Perdata (BW) dapat dijadikan alasan untuk penuntutan perceraian di pengadilan, dijadikan dasar tuntutan, padahal sebenarnya perbuatan zina tersebut tidak benar dilakukan oleh pasangan suami-isteri tersebut. Namun oleh pasangan suami-isteri tersebut direkayasa sedemikian rupa sehingga seolah-olah perbuatan zina tersebut benar-benar dilakukan oleh salah seorang pasangan dari suami-isteri tersebut. Hal ini bertujuan agar tuntutan perceraian yang diajukan oleh salah seorang dari pasangan suami-isteri tersebut dapat dikabulkan oleh hakim di pengadilan. C. Pembubaran Perkawinan Setelah Perpisahan Meja dan Ranjang Pasal 201 KUH Perdata (BW) menyatakan bahwa, Tuntutan pisah meja dan ranjang karena salah satu alasan sebagaimana tercantum dalam pasal 233 KUH Perdata (BW), maupun atas permintaan kedua belah pihak pasangan suami-isteri tersebut karena telah genap 5 (lima) tahun jangka waktu pisah meja dan ranjang diantara keduanya, harus segera ditolak bilamana pihak yang digugat, setelah tiga kali dari bulan ke bulan dipanggil di muka pengadilan, tidak datang menghadap atau datang mengahadap, melancarkan tantangan, atau pada akhirnya menyatakan dirinya sanggup berdamai dengan pihak lawan.

17 Dari rumusan pasal 201 KUH Perdata (BW) tersebut di atas dapat dijelaskan bahwa meskipun jangka waktu perpisahan meja dan ranjang diantara pasangan suami-isteri tersebut telah mencapai 5 (lima) tahun dan oleh karena itu para pihak berhak mengajukan tuntutan perceraian terhadap pasangannya. Namun hakim harus segera menolak tuntutan perceraian yang diajukan pasangan suami-isteri tersebut apabila pihak yang digugat, setelah tiga kali dipanggil dari bulan ke bulan oleh pengadilan tidak datang menghadap, atau pihak tergugat mengatakan dirinya sanggup berdamai dengan pihak lawan (penggugat). Pernyataan dari pihak tergugat untuk sanggup berdamai dengan pihak lawan (penggugat) mengakibatkan hakim menolak tuntutan perceraian yang diajukan penggugat untuk sementara waktu dengan tujuan memberi kesempatan kepada pasangan suami-isteri yang sedang mengalami pisah meja dan ranjang tersebut untuk berdamai kembali. Hakim memerintahkan kedua pasangan suami-isteri tersebut untuk menghadap di muka pengadilan secara bersamasama dan secara langsung tanpa diwakilkan kepada orang lain atau kuasanya. Pasangan suami-isteri yang sedang menjalani masa perpisahan meja dan ranjang tersebut diwajibkan menghadap dimuka seorang anggota atau lebih hakim pengadilan yang pada tujuan akhirnya akan mencoba mendamaikan kedua belah pihak. Seandainya upaya memperdamaikan tersebut tidak berhasil dilakukan maka pengadilan harus memerintahkan pertemuan diulang sekali lagi, Jangka waktu pertemuan untuk kedua kali tersebut secepat-cepatnya dilaksanakan 3 (tiga) bulan dan paling lambat 6 (enam) bulan setelah pertemuan pertama yang gagal tersebut dilaksanakan. Jika ternyata ada alasan-alasan yang sah untuk tidak menghadap bagi

18 pasangan suami-isteri tersebut, maka anggota atau anggota-anggota yang ditunjuk tadi harus pergi ke rumah suami-isteri tersebut. Jika si suami atau isteri ataupun keduanya bertempat tinggal di luar daerah Hakim Pengadilan Negeri kepada siapa permintaan itu diajukan, maka pengadilan itu boleh meminta kepada Pengadilan Negeri, yang mana dalam daerah hukumnya kedua suami-isteri tadi bertempat tinggal supaya melakukan perbuatan-perbuatan tersebut, yaitu 41 : 1. Menolak gugatan perceraian yang diajukan oleh salah satu pihak tersebut dengan alasan pihak tergugat tidak hadir/tidak datang menghadap setelah dipanggil secara wajar sebanyak 3 (tiga) kali dari bulan ke bulan dan pihak tergugat juga telah membuat pernyataan dalam bentuk tertulis tentang kesanggupan untuk berdamai dengan pihak lawan (penggugat). 2. Memerintahkan pasangan suami-isteri tersebut untuk datang menghadap ke pengadilan secara bersama-sama dan dengan hadir sendiri tanpa bisa diwakilkan oleh orang lain/ kuasanya dan hakim pengadilan akan mencoba memperdamaikan pasangan suami-isteri tersebut. 3. Jika ternyata pasangan suami-isteri tersebut tidak bisa datang menghadap ke depan pengadilan dengan alasan yang sah, maka hakim anggota yang ditunjuk oleh pengadilan harus pergi ke rumah pasangan suami-isteri tersebut untuk memperdamaikan pasangan suami-isteri tersebut di tempat kediamannya itu. Jika si suami atau isteri ataupun keduanya berdiam di luar wilayah Indonesia, maka 41 Taslim sastro hadi, Perkawinan yang Bersangkutan di LuarNegeri dan akibat Hukumnya, Perdata Agung, Jakarta, 2003, hlm 39.

19 bolehlah pengadilan Negeri meminta kepada pejabat pengadilan tempat mereka berdiam, supaya melakukan perbuatan-perbuatan sebagaimana yang telah diuraikan pada point 1 sampai dengan poin 3 di atas atau bolehlah pengadilan tersebut memerintahkan kepada jawatan perwakilan Indonesia yang mana dalam daerahnya mereka berdiam. Jawatan perwakilan tempat pasangan suami-isteri tersebut berdiam akan membuat berita acara perbuatan itu dan segera dikirimkan kepada pengadilan Negeri yang memerintahkan perbuatan-perbuatan tersebut dilaksanakan 42. Pasal 203 KUH Perdata (BW) menyatakan bahwa, Apabila pertemuan untuk kedua halnya pun tak berhasil pula, maka Pengadilan Negeri setelah mendengar jawatan kejaksaan, harus memberikan putusannya dan mengabulkan permintaan itu, jika segala syarat dalam pengajuan perkara tersebut di atas telah dipenuhi dengan sebaik-baiknya. Sementara itu pengadilan leluasa setelah selesainya pemeriksaan mempertangguhkan putusannya selama 6 (enam) bulan, jika nampak olehnya kemungkinan-kemungkinan akan masih dapat tercapainya perdamaian. Dari rumusan pasal 203 KUH Perdata (BW) tersebut di atas dapat dijelaskan bahwa bila pertemuan kedua kalinya dalam upaya memperdamaikan pasangan suamiisteri tersebut juga mengalami jalan buntu atau gagal, maka Pengadilan Negeri setelah mendengar pertimbangan dan saran yang diajukan oleh jawatan kejaksaan harus mengambil suatu keputusan terhadap permasalahan yang dihadapi pasangan 42 Muchsan Ali, Himpunan Peraturan Perundang-Undangan Tentang Perkawinan, Nuansa Aulia, Jakarta, 1996, hlm 53.

MAHKAMAH AGUNG Undang-Undang No. 14 Tahun 1985 Tanggal 30 Desember 1985 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA. Presiden Republik Indonesia,

MAHKAMAH AGUNG Undang-Undang No. 14 Tahun 1985 Tanggal 30 Desember 1985 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA. Presiden Republik Indonesia, MAHKAMAH AGUNG Undang-Undang No. 14 Tahun 1985 Tanggal 30 Desember 1985 Menimbang : DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Presiden Republik Indonesia, a. bahwa negara Republik Indonesia, sebagai negara hukum

Lebih terperinci

PROSEDUR DAN PROSES BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA

PROSEDUR DAN PROSES BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA PROSEDUR DAN PROSES BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA I.A. Prosedur Dan Proses Penyelesaian Perkara Cerai Talak PROSEDUR Langkah-langkah yang harus dilakukan Pemohon (suami) atau kuasanya : 1. a. Mengajukan

Lebih terperinci

PUTUSAN. Nomor : 0827/Pdt.G/2010/PA.Pas BISMILLAHIRRAHMAANIRRAHIIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

PUTUSAN. Nomor : 0827/Pdt.G/2010/PA.Pas BISMILLAHIRRAHMAANIRRAHIIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA PUTUSAN Nomor : 0827/Pdt.G/2010/PA.Pas BISMILLAHIRRAHMAANIRRAHIIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Agama Pasuruan yang memeriksa dan mengadili perkara perdata dalam tingkat

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG DARURAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 1951 TENTANG PENIMBUNAN BARANG-BARANG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG DARURAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 1951 TENTANG PENIMBUNAN BARANG-BARANG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG DARURAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 1951 TENTANG PENIMBUNAN BARANG-BARANG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Pemerintah berhubung dengan keadaan dalam dan luar negeri

Lebih terperinci

UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 1999 TENTANG ARBITRASE DAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA

UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 1999 TENTANG ARBITRASE DAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 1999 TENTANG ARBITRASE DAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa berdasarkan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa setiap warga negara

Lebih terperinci

P U T U S A N. Nomor:0230/Pdt.G/2007/PA.Wno BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

P U T U S A N. Nomor:0230/Pdt.G/2007/PA.Wno BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA P U T U S A N Nomor:0230/Pdt.G/2007/PA.Wno BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Agama Wonosari yang memeriksa dan mengadili perkara-perkara tertentu pada

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2001 TENTANG YAYASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2001 TENTANG YAYASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, 1 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2001 TENTANG YAYASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pendirian Yayasan di Indonesia selama ini dilakukan

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk mewujudkan upaya

Lebih terperinci

P U T U S A N Nomor : 98 /Pdt.G /2010/ PAME BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

P U T U S A N Nomor : 98 /Pdt.G /2010/ PAME BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA P U T U S A N Nomor : 98 /Pdt.G /2010/ PAME BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Agama Muara enim di Muara Enim yang memeriksa dan mengadli perkara-perkara

Lebih terperinci

ALASAN PERCERAIAN DAN PENERAPAN PASAL 76 UU NO.7 TAHUN 1989 YANG DIUBAH OLEH UU NO.3 TAHUN 2006 DAN PERUBAHAN KEDUA OLEH UU NOMOR 50 TAHUN 2009

ALASAN PERCERAIAN DAN PENERAPAN PASAL 76 UU NO.7 TAHUN 1989 YANG DIUBAH OLEH UU NO.3 TAHUN 2006 DAN PERUBAHAN KEDUA OLEH UU NOMOR 50 TAHUN 2009 ALASAN PERCERAIAN DAN PENERAPAN PASAL 76 UU NO.7 TAHUN 1989 YANG DIUBAH OLEH UU NO.3 TAHUN 2006 DAN PERUBAHAN KEDUA OLEH UU NOMOR 50 TAHUN 2009 Oleh Drs. H. Jojo Suharjo ( Wakil Ketua Pengadilan Agama

Lebih terperinci

Langkah-langkah yang harus dilakukan Pemohon banding:

Langkah-langkah yang harus dilakukan Pemohon banding: Langkah-langkah yang harus dilakukan Pemohon banding: 1. Permohonan banding harus disampaikan secara tertulis atau lisan kepada pengadilan agama/mahkamah syar iah dalam tenggang waktu : a. 14 (empat belas)

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pembangunan perekonomian nasional bertujuan

Lebih terperinci

PUTUSAN. NOMOR : 333/Pdt.G/2010/PAME. BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

PUTUSAN. NOMOR : 333/Pdt.G/2010/PAME. BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA PUTUSAN NOMOR : 333/Pdt.G/2010/PAME. BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Agama Muara Enim yang memeriksa dan mengadili perkara tertentu pada tingkat pertama

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1982 TENTANG WAJIB DAFTAR PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1982 TENTANG WAJIB DAFTAR PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1982 TENTANG WAJIB DAFTAR PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa kemajuan dan peningkatan pembangunan

Lebih terperinci

NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN STATUS DAN JANGKA WAKTU MAKSUD DAN TUJUAN KEGIATAN

NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN STATUS DAN JANGKA WAKTU MAKSUD DAN TUJUAN KEGIATAN NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN Pasal 1 1. Yayasan ini bernama [ ] disingkat [ ], dalam bahasa Inggris disebut [ ] disingkat [ ], untuk selanjutnya dalam Anggaran Dasar ini disebut "Yayasan" berkedudukan di

Lebih terperinci

PERADILAN TATA USAHA NEGARA Undang-Undang No. 5 Tahun 1986 Tanggal 29 Desember 1986 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA. Presiden Republik Indonesia,

PERADILAN TATA USAHA NEGARA Undang-Undang No. 5 Tahun 1986 Tanggal 29 Desember 1986 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA. Presiden Republik Indonesia, PERADILAN TATA USAHA NEGARA Undang-Undang No. 5 Tahun 1986 Tanggal 29 Desember 1986 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Presiden Republik Indonesia, Menimbang : a. bahwa negara Republik Indonesia sebagai

Lebih terperinci

K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA

K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA 1 K 29 - Kerja Paksa atau Wajib Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan bagi laki-laki

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1982 TENTANG WAJIB DAFTAR PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1982 TENTANG WAJIB DAFTAR PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1982 TENTANG WAJIB DAFTAR PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa kemajuan dan peningkatan pembangunan

Lebih terperinci

MASALAH PUTUSAN SERTA MERTA DALAM PRAKTEK DI PENGADILAN NEGERI (Studi Kasus Di Pengadilan Negeri Surakarta)

MASALAH PUTUSAN SERTA MERTA DALAM PRAKTEK DI PENGADILAN NEGERI (Studi Kasus Di Pengadilan Negeri Surakarta) MASALAH PUTUSAN SERTA MERTA DALAM PRAKTEK DI PENGADILAN NEGERI (Studi Kasus Di Pengadilan Negeri Surakarta) SKRIPSI Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Syarat-syarat Guna Mencapai Derajat

Lebih terperinci

P U T U S A N Nomor : 339/PID/2011/PT-Mdn.

P U T U S A N Nomor : 339/PID/2011/PT-Mdn. P U T U S A N Nomor : 339/PID/2011/PT-Mdn. DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA ----- PENGADILAN TINGGI MEDAN, yang memeriksa dan mengadili perkara pidana dalam peradilan tingkat banding,

Lebih terperinci

TENTANG DUDUK PERKARA

TENTANG DUDUK PERKARA P E N E T A P A N Nomor : XX/Pdt.P/2011/PA.Ktb. BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Agama Kotabumi yang memeriksa dan mengadili perkara perdata pada tingkat

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1977 TENTANG PERWAKAFAN TANAH MILIK (LNRI. No. 38, 1977; TLNRI No. 3107)

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1977 TENTANG PERWAKAFAN TANAH MILIK (LNRI. No. 38, 1977; TLNRI No. 3107) PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1977 TENTANG PERWAKAFAN TANAH MILIK (LNRI. No. 38, 1977; TLNRI No. 3107) PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa wakaf adalah suatu lembaga

Lebih terperinci

PERBUATAN MELANGGAR HUKUM OLEH PENGUASA

PERBUATAN MELANGGAR HUKUM OLEH PENGUASA PERBUATAN MELANGGAR HUKUM OLEH PENGUASA (PMHP/OOD) disampaikan oleh: Marianna Sutadi, SH Pada Acara Bimbingan Teknis Peradilan Tata Usaha Negara Mahkamah Agung RI Tanggal 9 Januari 2009 Keputusan Badan/Pejabat

Lebih terperinci

BAB IV AKIBAT HUKUM PERKAWINAN DI BAWAH TANGAN DALAM HAK PEWARISAN ANAK YANG DILAHIRKAN DALAM PERKAWINAN

BAB IV AKIBAT HUKUM PERKAWINAN DI BAWAH TANGAN DALAM HAK PEWARISAN ANAK YANG DILAHIRKAN DALAM PERKAWINAN 52 BAB IV AKIBAT HUKUM PERKAWINAN DI BAWAH TANGAN DALAM HAK PEWARISAN ANAK YANG DILAHIRKAN DALAM PERKAWINAN Perkawinan dibawah tangan banyak sekali mendatangkan kerugian daripada kebaikan terutama terhadap

Lebih terperinci

TATA CARA DAN MEKANISME PEMBERIAN BANTUAN HUKUM DALAM PERKARA PERDATA PELAYANAN PERKARA PRODEO

TATA CARA DAN MEKANISME PEMBERIAN BANTUAN HUKUM DALAM PERKARA PERDATA PELAYANAN PERKARA PRODEO TATA CARA DAN MEKANISME PEMBERIAN BANTUAN HUKUM DALAM PERKARA PERDATA PELAYANAN PERKARA PRODEO Syarat-Syarat Berperkara Secara Prodeo 1. Anggota masyarakat yang tidak mampu secara ekonomis dapat mengajukan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa negara Republik

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. A. Definisi Perkawinan, Perceraian serta akibat-akibat Hukumnya.

BAB II KAJIAN PUSTAKA. A. Definisi Perkawinan, Perceraian serta akibat-akibat Hukumnya. BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Definisi Perkawinan, Perceraian serta akibat-akibat Hukumnya. A.1. Perkawinan Perkawinan amat penting dalam kehidupan manusia, perseorangan, maupun kelompok. Dengan jalan perkawinan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

HUKUM ACARA PIDANA Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tanggal 31 Desember 1981 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

HUKUM ACARA PIDANA Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tanggal 31 Desember 1981 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : HUKUM ACARA PIDANA Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tanggal 31 Desember 1981 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, a. bahwa negara Republik Indonesia adalah negara hukum

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN TENTENG LEVERING SEBAGAI CARA UNTUK MEMPEROLEH HAK MILIK DALAM JUAL BELI MENURUT HUKUM PERDATA

BAB II TINJAUAN TENTENG LEVERING SEBAGAI CARA UNTUK MEMPEROLEH HAK MILIK DALAM JUAL BELI MENURUT HUKUM PERDATA BAB II TINJAUAN TENTENG LEVERING SEBAGAI CARA UNTUK MEMPEROLEH HAK MILIK DALAM JUAL BELI MENURUT HUKUM PERDATA Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya manusia memerlukan usaha-usaha yang dapat menghasilkan barang-barang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PENGANGKATAN ANAK. A. Pengertian Anak Angkat dan Pengangkatan Anak

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PENGANGKATAN ANAK. A. Pengertian Anak Angkat dan Pengangkatan Anak BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PENGANGKATAN ANAK A. Pengertian Anak Angkat dan Pengangkatan Anak Dalam kamus umum bahasa Indonesia mengartikan anak angkat adalah anak orang lain yang diambil (dipelihara)

Lebih terperinci

Bentuk: UNDANG-UNDANG. Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Nomor: 4 TAHUN 1961 (4/1961) Tanggal: 25 PEBRUARI 1961 (JAKARTA)

Bentuk: UNDANG-UNDANG. Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Nomor: 4 TAHUN 1961 (4/1961) Tanggal: 25 PEBRUARI 1961 (JAKARTA) Bentuk: UNDANG-UNDANG Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 4 TAHUN 1961 (4/1961) Tanggal: 25 PEBRUARI 1961 (JAKARTA) Sumber: LN 1961/15; TLN NO. 2154 Tentang: PERUBAHAN ATAU PENAMBAHAN NAMA KELUARGA

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa perekonomian nasional yang diselenggarakan

Lebih terperinci

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM PENETAPAN Nomor: 0051/Pdt.P/2013/PA.Pas. BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Agama Pasuruan yang memeriksa dan mengadili perkara perdata dalam tingkat

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2009 TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

P U T U S A N Nomor : 138/PDT/2015/PT.Bdg. perkara perdata dalam Peradilan Tingkat Banding, telah menjatuhkan putusan. Islam, pekerjaan Wiraswasta ;

P U T U S A N Nomor : 138/PDT/2015/PT.Bdg. perkara perdata dalam Peradilan Tingkat Banding, telah menjatuhkan putusan. Islam, pekerjaan Wiraswasta ; P U T U S A N Nomor : 138/PDT/2015/PT.Bdg. DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA PENGADILAN TINGGI BANDUNG di Bandung yang memeriksa dan mengadili perkara perdata dalam Peradilan Tingkat Banding,

Lebih terperinci

LANGKAH-LANGKAH PELENGKAP YANG TERLEWATKAN DALAM PEMERIKSAAN PERKARA

LANGKAH-LANGKAH PELENGKAP YANG TERLEWATKAN DALAM PEMERIKSAAN PERKARA 1 LANGKAH-LANGKAH PELENGKAP YANG TERLEWATKAN DALAM PEMERIKSAAN PERKARA oleh : Ali M. Haidar I. PENDAHULUAN Tulisan ini disajikan hanyalah sebagai ulangan dan bahkan cuplikan dari berbagai tulisan tentang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG 1946 NOMOR 22 TENTANG PENCATATAN NIKAH, NIKAH, TALAK DAN RUJUK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.

UNDANG-UNDANG 1946 NOMOR 22 TENTANG PENCATATAN NIKAH, NIKAH, TALAK DAN RUJUK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. UNDANG-UNDANG 1946 NOMOR 22 TENTANG PENCATATAN NIKAH, NIKAH, TALAK DAN RUJUK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Menimbang : 1) bahwa peraturan pencatatan nikah, talak dan rujuk seperti yang diatur di dalam Huwelijksordonnantie

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2004 TENTANG JABATAN NOTARIS

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2004 TENTANG JABATAN NOTARIS SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2004 TENTANG JABATAN NOTARIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 1961 TENTANG PENCABUTAN HAK-HAK ATAS TANAH DAN BENDA-BENDA YANG ADA DI ATASNYA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 1961 TENTANG PENCABUTAN HAK-HAK ATAS TANAH DAN BENDA-BENDA YANG ADA DI ATASNYA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 1961 TENTANG PENCABUTAN HAK-HAK ATAS TANAH DAN BENDA-BENDA YANG ADA DI ATASNYA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa perlu diadakan peraturan

Lebih terperinci

PEDOMAN TEKNIS ADMINISTRASI DAN TEKNIS PERADILAN TATA USAHA NEGARA EDISI 2008

PEDOMAN TEKNIS ADMINISTRASI DAN TEKNIS PERADILAN TATA USAHA NEGARA EDISI 2008 PEDOMAN TEKNIS ADMINISTRASI DAN TEKNIS PERADILAN TATA USAHA NEGARA EDISI 2008 MAHKAMAH AGUNG RI 2008 1 DAFTAR ISI Kata Pengantar... iii Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor : KMA/032/SK/IV/2007

Lebih terperinci

Undang-Undang Nomor 11 tahun 1992 Tentang Dana Pensiun

Undang-Undang Nomor 11 tahun 1992 Tentang Dana Pensiun Undang-Undang Nomor 11 tahun 1992 Tentang Dana Pensiun BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan : 1. Dana Pensiun adalah badan hukum yang mengelola dan menjalankan program

Lebih terperinci

SOAL SEMESTER GANJIL ( 3.8 )

SOAL SEMESTER GANJIL ( 3.8 ) SOAL SEMESTER GANJIL ( 3.8 ) Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam Kompetensi Dasar : Pernikahan dalam Islam ( Hukum, hikmah dan ketentuan Nikah) Kelas : XII (duabelas ) Program : IPA IPS I. Pilihlah

Lebih terperinci

P U T U S A N. Nomor : 689/PID/2012/PT-MDN. DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

P U T U S A N. Nomor : 689/PID/2012/PT-MDN. DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA P U T U S A N Nomor : 689/PID/2012/PT-MDN. DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA PENGADILAN TINGGI MEDAN di Medan, yang memeriksa dan mengadili perkara pidana dalam Peradilan Tingkat Banding,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG PERATURAN DISIPLIN ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG PERATURAN DISIPLIN ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG PERATURAN DISIPLIN ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

...Humas Kanwil Kemenag Prov. Jabar

...Humas Kanwil Kemenag Prov. Jabar PERATURAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2007 TENTANG PENCATATAN NIKAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA Menimbang : bahwa untuk memenuhi tuntutan perkembangan

Lebih terperinci

BIAYA PERKARA UNDANG-UNDANG NO. 50 TAHUN 2009

BIAYA PERKARA UNDANG-UNDANG NO. 50 TAHUN 2009 BIAYA PERKARA UNDANG-UNDANG NO. 50 TAHUN 2009 1 TAKAH RAKERPTA 2012 Pasal 91A UU NO. 50 TAHUN 2009 (1) Dalam menjalankan tugas peradilan, peradilan agama dapat menarik biaya perkara. (2) Penarikan biaya

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR : 790 TAHUN : 2009 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN TUNTUTAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

Setiap istilah di bawah ini, kecuali dengan tegas ditentukan lain dalam Syarat dan Ketentuan ini mempunyai arti dan pengertian sebagai berikut:

Setiap istilah di bawah ini, kecuali dengan tegas ditentukan lain dalam Syarat dan Ketentuan ini mempunyai arti dan pengertian sebagai berikut: SYARAT & KETENTUAN Safe Deposit Box A. DEFINISI Setiap istilah di bawah ini, kecuali dengan tegas ditentukan lain dalam Syarat dan Ketentuan ini mempunyai arti dan pengertian sebagai berikut: 1. Anak Kunci

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a.

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 6 TAHUN 2006 TENTANG PENYELENGGARAAN USAHA PEMONDOKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 6 TAHUN 2006 TENTANG PENYELENGGARAAN USAHA PEMONDOKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, S A L I N A N NOMOR 4/E, 2006 PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 6 TAHUN 2006 TENTANG PENYELENGGARAAN USAHA PEMONDOKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, Menimbang : a. bahwa Kota Malang

Lebih terperinci

JURNAL ILMIAH PROSES PELAKSANAAN PENETAPAN PENGADILAN TERHADAP PERMOHONAN AKTA KELAHIRAN ANAK LUAR KAWIN. ( Studi Kasus Di Pengadilan Negeri Mataram )

JURNAL ILMIAH PROSES PELAKSANAAN PENETAPAN PENGADILAN TERHADAP PERMOHONAN AKTA KELAHIRAN ANAK LUAR KAWIN. ( Studi Kasus Di Pengadilan Negeri Mataram ) i JURNAL ILMIAH PROSES PELAKSANAAN PENETAPAN PENGADILAN TERHADAP PERMOHONAN AKTA KELAHIRAN ANAK LUAR KAWIN ( Studi Kasus Di Pengadilan Negeri Mataram ) Oleh : L I S M A Y A D I D1A 009 211 FAKULTAS HUKUM

Lebih terperinci

DEKLARASI UNIVERSAL HAK-HAK ASASI MANUSIA

DEKLARASI UNIVERSAL HAK-HAK ASASI MANUSIA DEKLARASI UNIVERSAL HAK-HAK ASASI MANUSIA Diterima dan diumumkan oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 10 Desember 1948 melalui resolusi 217 A (III) Mukadimah Menimbang, bahwa pengakuan atas martabat alamiah

Lebih terperinci

PENGALIHAN HAK MILIK ATAS BENDA MELALUI PERJANJIAN JUAL BELI MENURUT KUH PERDATA. Oleh : Deasy Soeikromo 1

PENGALIHAN HAK MILIK ATAS BENDA MELALUI PERJANJIAN JUAL BELI MENURUT KUH PERDATA. Oleh : Deasy Soeikromo 1 PENGALIHAN HAK MILIK ATAS BENDA MELALUI PERJANJIAN JUAL BELI MENURUT KUH PERDATA Oleh : Deasy Soeikromo 1 A. PENDAHULUAN Jual beli bagi manusia sudah merupakan bagian dari aktivitas keseharian untuk memenuhi

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 08/PMK/2006 TENTANG PEDOMAN BERACARA DALAM SENGKETA KEWENANGAN KONSTITUSIONAL LEMBAGA NEGARA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PENYERAHAN UANG IWADH DALAM PRAKTIK ACARA PERADILAN AGAMA. Oleh : Mahruddin Andry ( Pegawai PA. Sidikalang )

PENYERAHAN UANG IWADH DALAM PRAKTIK ACARA PERADILAN AGAMA. Oleh : Mahruddin Andry ( Pegawai PA. Sidikalang ) PENYERAHAN UANG IWADH DALAM PRAKTIK ACARA PERADILAN AGAMA Oleh : Mahruddin Andry ( Pegawai PA. Sidikalang ) Pendahulan. Salah satu alasan perceraian para pencari keadilan dalam berperkara di Pengadilan

Lebih terperinci

PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG PROSEDUR PENYELESAIAN SENGKETA INFORMASI PUBLIK

PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG PROSEDUR PENYELESAIAN SENGKETA INFORMASI PUBLIK PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG PROSEDUR PENYELESAIAN SENGKETA INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, KOMISI INFORMASI Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

P U T U S A N Nomor : 0328/Pdt.G/2012/PA.Bn

P U T U S A N Nomor : 0328/Pdt.G/2012/PA.Bn P U T U S A N Nomor : 0328/Pdt.G/2012/PA.Bn BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Agama Bengkulu Kelas I A yang mengadili perkara perdata pada tingkat pertama

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA. pada peradilan tingkat banding telah menjatuhkan putusan

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA. pada peradilan tingkat banding telah menjatuhkan putusan P U T U S A N NOMOR 129 / PID / 2015/ PT MDN. DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Tinggi Medan yang memeriksa dan mengadili perkaraperkara pidana pada peradilan tingkat banding

Lebih terperinci

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR TAHUN 2013 TENTANG IZIN PEMAKAIAN RUMAH MILIK ATAU DIKUASAI PEMERINTAH KOTA SURABAYA

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR TAHUN 2013 TENTANG IZIN PEMAKAIAN RUMAH MILIK ATAU DIKUASAI PEMERINTAH KOTA SURABAYA RANCANGAN PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR TAHUN 2013 TENTANG IZIN PEMAKAIAN RUMAH MILIK ATAU DIKUASAI PEMERINTAH KOTA SURABAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SURABAYA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 62 TAHUN 1958 TENTANG KEWARGANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 62 TAHUN 1958 TENTANG KEWARGANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 62 TAHUN 1958 TENTANG KEWARGANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : Mengingat : bahwa perlu diadakan Undang-undang kewarganegaraan Republik

Lebih terperinci

Bayyinah, yang artinya satu yang menjelaskan. Secara terminologis

Bayyinah, yang artinya satu yang menjelaskan. Secara terminologis BAB II PEMBUKTIAN DAN PENGAKUAN DALAM HUKUM ACARA PERDATA A. Pembuktian 1. Pengertian Pembuktian Secara etimologis pembuktian dalam istilah arab disebut Al- Bayyinah, yang artinya satu yang menjelaskan.

Lebih terperinci

P E N E T A P A N No. 27/Pdt.P/2013/PN.Wnsb. DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Negeri Wonosobo yang memeriksa dan

P E N E T A P A N No. 27/Pdt.P/2013/PN.Wnsb. DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Negeri Wonosobo yang memeriksa dan P E N E T A P A N No. 27/Pdt.P/2013/PN.Wnsb. DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Negeri Wonosobo yang memeriksa dan mengadili perkara perkara perdata permohonan dalam tingkat pertama,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NOMOR 21 TAHUN 2007 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG [LN 2007/58, TLN 4720 ]

UNDANG-UNDANG NOMOR 21 TAHUN 2007 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG [LN 2007/58, TLN 4720 ] UNDANG-UNDANG NOMOR 21 TAHUN 2007 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG [LN 2007/58, TLN 4720 ] BAB II TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG Pasal 2 (1) Setiap orang yang melakukan perekrutan,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1999 TENTANG LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1999 TENTANG LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1999 TENTANG LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa salah satu alat

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1979 TENTANG PEMBERHENTIAN PEGAWAI NEGERI SIPIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1979 TENTANG PEMBERHENTIAN PEGAWAI NEGERI SIPIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1979 TENTANG PEMBERHENTIAN PEGAWAI NEGERI SIPIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa ketentuan-ketentuan mengenai pemberhentian Pegawai

Lebih terperinci

PROSES PEMBUKTIAN DAN PENGGUNAAN ALAT-ALAT BUKTI PADA PERKARA PERDATA DI PENGADILAN. Oleh : Deasy Soeikromo 1

PROSES PEMBUKTIAN DAN PENGGUNAAN ALAT-ALAT BUKTI PADA PERKARA PERDATA DI PENGADILAN. Oleh : Deasy Soeikromo 1 PROSES PEMBUKTIAN DAN PENGGUNAAN ALAT-ALAT BUKTI PADA PERKARA PERDATA DI PENGADILAN 124 Oleh : Deasy Soeikromo 1 A. PENDAHULUAN Hukum acara, khususnya Hukum Acara Perdata, tidak terlalu mendapat perhatian

Lebih terperinci

JURNAL ILMIAH AKIBAT HUKUM AKTA BUKU NIKAH YANG TIDAK MEMENUHI SYARAT-SYARAT PERKAWINAN MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974

JURNAL ILMIAH AKIBAT HUKUM AKTA BUKU NIKAH YANG TIDAK MEMENUHI SYARAT-SYARAT PERKAWINAN MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 1 JURNAL ILMIAH AKIBAT HUKUM AKTA BUKU NIKAH YANG TIDAK MEMENUHI SYARAT-SYARAT PERKAWINAN MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 Oleh : DESFANI AMALIA D1A 009183 FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MATARAM MATARAM

Lebih terperinci

Menimbang : a. bahwa untuk kelancaran pemulihan kerugian Daerah agar dapat berjalan lebih

Menimbang : a. bahwa untuk kelancaran pemulihan kerugian Daerah agar dapat berjalan lebih RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA NOMOR TAHUN 2013 TENTANG TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PENAJAM

Lebih terperinci

1. PELAPORAN Proses pertama bisa diawali dengan laporan atau pengaduan ke kepolisian.

1. PELAPORAN Proses pertama bisa diawali dengan laporan atau pengaduan ke kepolisian. KASUS PIDANA UMUM CONTOH-CONTOH KASUS PIDANA: Kekerasan akibat perkelahian atau penganiayaan Pelanggaran (senjata tajam, narkotika, lalu lintas) Pencurian Korupsi Pengerusakan Kekerasan dalam rumah tangga

Lebih terperinci

KEKUATAN PEMBUKTIAN AKTA DI BAWAH TANGAN YANG TELAH MEMPEROLEH LEGALITAS DARI NOTARIS. Oleh : Lusy K.F.R. Gerungan 1

KEKUATAN PEMBUKTIAN AKTA DI BAWAH TANGAN YANG TELAH MEMPEROLEH LEGALITAS DARI NOTARIS. Oleh : Lusy K.F.R. Gerungan 1 KEKUATAN PEMBUKTIAN AKTA DI BAWAH TANGAN YANG TELAH MEMPEROLEH LEGALITAS DARI NOTARIS Oleh : Lusy K.F.R. Gerungan 1 A. PENDAHULUAN Notaris dengan kewenangan yang diberikan oleh perundang-undangan itu,

Lebih terperinci

Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:

Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2004 TENTANG SYARAT DAN TATA CARA PENGALIHAN PERLINDUNGAN VARIETAS TANAMAN DAN PENGGUNAAN VARIETAS YANG DILINDUNGI OLEH PEMERINTAH PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PROSEDUR BERACARA DALAM PEMBUBARAN PARTAI POLITIK

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PROSEDUR BERACARA DALAM PEMBUBARAN PARTAI POLITIK MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PROSEDUR BERACARA DALAM PEMBUBARAN PARTAI POLITIK MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA Menimbang Mengingat

Lebih terperinci

SALINAN PENETAPAN. Nomor : XX/Pdt.P/2011/PA.Ktb BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

SALINAN PENETAPAN. Nomor : XX/Pdt.P/2011/PA.Ktb BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA SALINAN PENETAPAN Nomor : XX/Pdt.P/2011/PA.Ktb BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA PENGADILAN AGAMA Kotabumi yang memeriksa dan mengadili perkara perdata pada

Lebih terperinci

Rp.100.000.000,- (seratus juta rupiah

Rp.100.000.000,- (seratus juta rupiah AKTA PENDIRIAN YAYASAN "..." Nomor :... Pada hari ini,..., tanggal... 2012 (duaribu duabelas) pukul... Waktu Indonesia Barat. Berhadapan dengan saya, RUFINA INDRAWATI TENGGONO, Sarjana Hukum, Notaris di

Lebih terperinci

PENERAPAN ASAS SEDERHANA, CEPAT DAN BIAYA RINGAN SERTA ASAS MEMBERIKAN BANTUAN KEPADA PENCARI KEADILAN DI PERADILAN AGAMA

PENERAPAN ASAS SEDERHANA, CEPAT DAN BIAYA RINGAN SERTA ASAS MEMBERIKAN BANTUAN KEPADA PENCARI KEADILAN DI PERADILAN AGAMA PENERAPAN ASAS SEDERHANA, CEPAT DAN BIAYA RINGAN SERTA ASAS MEMBERIKAN BANTUAN KEPADA PENCARI KEADILAN DI PERADILAN AGAMA Oleh : Drs.H. Zainir Surzain., S.H., M.Ag I. PENDAHULUAN Peradilan agama adalah

Lebih terperinci

STANDAR PELAYANAN PERADILAN PADA PENGADILAN TATA USAHA NEGARA JAKARTA

STANDAR PELAYANAN PERADILAN PADA PENGADILAN TATA USAHA NEGARA JAKARTA STANDAR PELAYANAN PERADILAN PADA PENGADILAN TATA USAHA NEGARA JAKARTA JAKARTA 2014 STANDAR PELAYANAN PERADILAN DI PENGADILAN TATA USAHA NEGARA JAKARTA I. KETENTUAN UMUM A. Dasar Hukum 1. Undang-undang

Lebih terperinci

P E N E T A P A N. Nomor : 0053/Pdt.P/2012/PA.Pas BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

P E N E T A P A N. Nomor : 0053/Pdt.P/2012/PA.Pas BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA SALINAN P E N E T A P A N Nomor : 0053/Pdt.P/2012/PA.Pas BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Agama Pasuruan yang memeriksa dan mengadili perkaraperkara

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG TATA CARA PEMBERHENTIAN DENGAN HORMAT, PEMBERHENTIAN TIDAK DENGAN HORMAT, DAN PEMBERHENTIAN SEMENTARA, SERTA HAK JABATAN FUNGSIONAL JAKSA

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 1996 TENTANG HAK TANGGUNGAN ATAS TANAH BESERTA BENDA-BENDA YANG BERKAITAN DENGAN TANAH

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 1996 TENTANG HAK TANGGUNGAN ATAS TANAH BESERTA BENDA-BENDA YANG BERKAITAN DENGAN TANAH UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 1996 TENTANG HAK TANGGUNGAN ATAS TANAH BESERTA BENDA-BENDA YANG BERKAITAN DENGAN TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2002 TENTANG KOMISI PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2002 TENTANG KOMISI PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2002 TENTANG KOMISI PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI, DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA. NOMOR : 19/Per/M.KUKM/XI/2008 TENTANG

PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI, DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA. NOMOR : 19/Per/M.KUKM/XI/2008 TENTANG Draft Htl Maharani 9 September 2008 PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI, DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 19/Per/M.KUKM/XI/2008 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN KEGIATAN USAHA SIMPAN PINJAM

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masalah perceraian, yang juga merupakan bagian dari bidang Perkawinan.

BAB I PENDAHULUAN. masalah perceraian, yang juga merupakan bagian dari bidang Perkawinan. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu kewenangan absolut Pengadilan Agama adalah menangani masalah perceraian, yang juga merupakan bagian dari bidang Perkawinan. Perceraian di sini dimaksudkan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 1997 TENTANG PENGADILAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 1997 TENTANG PENGADILAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA www.legalitas.org UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 1997 TENTANG PENGADILAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa anak adalah bagian dari generasi muda sebagai

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa di dalam era perdagangan global, sejalan dengan konvensi-konvensi

Lebih terperinci

PENJELASAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 1994 TENTANG PEMBUBARAN KOPERASI OLEH PEMERINTAH

PENJELASAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 1994 TENTANG PEMBUBARAN KOPERASI OLEH PEMERINTAH PENJELASAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 1994 TENTANG PEMBUBARAN KOPERASI OLEH PEMERINTAH I. UMUM Berdasarkan Pasal 48 Undang-undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian,

Lebih terperinci

NOMOR 8 TAHUN 1953 TENTANG PENGUASAAN TANAH-TANAH NEGARA

NOMOR 8 TAHUN 1953 TENTANG PENGUASAAN TANAH-TANAH NEGARA PERATURAN PEMERINTAH NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1953 TENTANG PENGUASAAN TANAH-TANAH NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Berkehendak mengatur kembali penguasaan

Lebih terperinci

Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia

Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia Mukadimah Menimbang bahwa pengakuan atas martabat alamiah dan hak-hak yang sama dan mutlak dari semua anggota keluarga manusia adalah dasar kemerdekaan, keadilan

Lebih terperinci

PETUNJUK PENGISIAN ADVISBLAAD HAKIM BANDING

PETUNJUK PENGISIAN ADVISBLAAD HAKIM BANDING PETUNJUK PENGISIAN ADVISBLAAD HAKIM BANDING I. Mempelajari Berkas Perkara 1. Bentuk Dakwaan: a. Tunggal : Adalah tehadap Terdakwa hanya didakwakan satu perbuatan yang memenuhi Uraian dalam satu Pasal tertentu

Lebih terperinci