I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Dirofilaria immitis (D. immitis) yang dikenal sebagai cacing jantung,

Save this PDF as:
Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Dirofilaria immitis (D. immitis) yang dikenal sebagai cacing jantung,"

Transkripsi

1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dirofilaria immitis (D. immitis) yang dikenal sebagai cacing jantung, adalah penyebab penyakit parasit yang serius pada anjing, hidup pada ventrikel kanan dan arteri pulmonalis (Aranda et al., 1998; Cringoli et al., 2001; Atkins, 2005). Spesies hewan yang dapat terinfeksi D. immitis selain anjing adalah kucing, serigala, rubah, coyote, ferret, tikus air, singa laut, coatimundi (Atkins, 2005), dan orangutan (Duran-Struuck et al., 2005). Dirofilaria immitis sebagai agen penyebab penyakit cacing jantung tidak hanya menimbulkan masalah pada hewan tetapi juga bersifat zoonosis (Cruz- Chan, et al., 2009; Genchi, et al., 2009; Alia et al., 2013). Kasus pertama pada manusia dilaporkan pada tahun 1887 (Labarthe dan Guerrero, 2005). Prevalensi dirofilariasis pada anjing bervariasi antara 0,6% sampai 40% pada daerah yang berbeda di dunia (Tabel 2). Iskandar et al. (1997) melaporkan bahwa dari 175 ekor anjing yang diperiksa di Klinik Hewan Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor pada Oktober 1996 Maret 1997, 16 ekor di antaranya positif terinfeksi D. immitis. Situasi epidemiologi dirofilariasis saat ini mengalami perubahan yang sangat cepat, kejadian dirofilariasis di daerah endemis terus mengalami peningkatan dan bahkan telah terjadi penyebaran ke daerah yang sebelumnya bebas dirofilariasis walaupun telah banyak dilakukan upaya-upaya untuk mencegah dan mengontrol infeksi pada anjing. Penyebab yang diduga dapat 1

2 2 mengakibatkan perluasan infeksi cacing jantung adalah perubahan iklim, irigasi pertanian, penyebaran nyamuk sebagai vektor, perkembangan jenis inang nonanjing, dan perpindahan anjing yang mikrofilaremik. Kegagalan mengenali infeksi cacing jantung juga menyebabkan peningkatan penyebaran kasus dirofilariasis pada suatu populasi (Colby et al., 2011). Kebanyakan anjing yang terinfeksi tidak memperlihatkan gejala penyakit untuk jangka waktu lama (Atkins, 2005; Venco, 2007). Cacing D. immitis dapat mengakibatkan perubahan pada jantung (Wang et al., 2005), paru-paru (Atkins, 2005), hati (Ressang, 1984), dan ginjal (Paes-de-Almeida et al., 2003). Efek utama pada arteri pulmonalis berupa inflamasi, hipertensi pulmoner, gangguan keutuhan pembuluh arteri, dan fibrosis. Cacing D. immitis memberikan tekanan yang berlebihan terhadap jantung. Hipertrofi merupakan kompensasi pertama yang terjadi, dan pada infeksi yang parah akhirnya akan terjadi dekompensasi (gagal jantung kanan) (Atkins, 2005). Gangguan peredaran darah di dalam jantung kanan menyebabkan terjadinya pembendungan-pembendungan umum (edema, hati pala, dan sebagainya) (Ressang, 1984). Pada anjing penderita dirofilariasis juga dapat terjadi kerusakan ginjal berupa membrano-proliferative glomerulonephritis. Adanya deposit pada membran basal glomerular menunjukkan bahwa patogenesis penyakit ginjal pada kasus dirofilariasis berkaitan dengan deposit kompleks antigen-antibodi (Paes-de-Almeida et al., 2003). Untuk mendiagnosis infeksi oleh D.immitis pada anjing telah digunakan berbagai macam metode, di antaranya pemeriksaan secara klinis, pemeriksaan

3 3 ulasan darah secara mikroskopik, teknik konsentrasi sampel darah dan Knott s test untuk mendeteksi mikrofilaria, pemeriksaan dan identifikasi cacing dewasa pada nekropsi, radiografi, elektorkardiografi, uji antibodi dan antigen, dan metode molekuler. Penentuan diagnosis berdasarkan gejala klinis sangat sulit ditegakkan karena kebanyakan kasus infeksi cacing jantung adalah asimptomatik (Atkins, 2005) dan gejala penyakit cacing jantung pada anjing yang disebabkan oleh cacing dewasa, kalau ada, bersifat nonspesifik (Weil, 1989). Masalah utama dalam penegakan diagnosis dengan metode ulasan darah secara mikroskopik, teknik konsentrasi sampel darah, dan Knott s test untuk mendeteksi mikrofilaria adalah adanya occult infection (infeksi tanpa disertai adanya mikrofilaria di dalam darah tepi). Jumlah occult infection tersebut dapat mencapai 10 67% pada anjing yang terinfeksi secara alami (Song et. al., 2002). Penggunaan metode radiografi dan elektrokardiografi hasilnya juga kurang akurat. Hasil penelitian Akhtardanesh et al. (2010) menunjukkan bahwa pada kasus seropositif dirofilariasis, tanda-tanda khas yang ditemukan dengan metode radiografi hanya terlihat pada 50% kasus dan tanda-tanda khas dengan elektrokardiografi ditemukan hanya pada 30% kasus. Penegakan diagnosis dengan metode molekuler membutuhkan peralatan khusus dan peralatan tersebut tidak selalu tersedia. Uji untuk mendeteksi antibodi terhadap D. immitis memiliki beberapa kelemahan. Masalah utama dalam uji antibodi adalah kurang spesifik. Deteksi antibodi terhadap Dirofilaria dipengaruhi oleh banyak variabel dan tidak memberikan bukti langsung terhadap infeksi cacing jantung sehingga uji antibodi

4 4 tidak diterima sebagai metode serologis untuk mendeteksi cacing jantung pada anjing (Goodwin, 1998). Kesulitan dalam menegakkan diagnosis Dirofilaria menginspirasi upaya mendeteksi antigen parasit sebagai alternatif diagnosis yang dapat lebih diandalkan. Untuk mendeteksi antigen D. immitis yang beredar di dalam darah saat ini telah tersedia berbagai macam uji. Kelemahan diagnosis D. immitis dengan deteksi antigen di dalam darah adalah sensitivitasnya sangat rendah apabila jumlah cacing di dalam jantung sangat sedikit. Sebagian uji antigen D. immitis yang tersedia saat ini hanya mampu mendeteksi antigen cacing betina. McCall et al. (2000) menyatakan bahwa infeksi oleh cacing jantan saja tidak dapat dideteksi oleh sepuluh jenis/merk uji antigen D. immitis. Karena itu perlu dilakukan analisis profil protein excretory-secretory (ES) cacing jantan dan betina. Keberadaan cacing jantung di Indonesia sudah pernah dipublikasikan, tetapi penyakit ini masih kurang mendapat perhatian walaupun penyakit ini bersifat zoonosis. Bertitik tolak dari hal tersebut, maka perlu dilakukan penelitian untuk mengidentifikasi cacing jantung secara morfologi, faktor-faktor risiko yang mempengaruhi infeksi, perbedaan profil protein ES cacing jantan dan betina, dan perubahan histopatologik yang ditimbulkan pada anjing di Indonesia. 1.2 Keaslian Penelitian Penelitian tentang D. immitis yang banyak dilakukan di luar negeri adalah penelitian tentang epidemiologinya. Analisis profil protein D. immitis yang telah banyak dipublikasikan adalah profil protein permukaan dan somatik. Di Indonesia, berdasarkan tinjauan kepustakaan yang ada, publikasi D. immitis

5 5 yang ada adalah tentang kajian patologik infeksi D. immitis pada anjing oleh Handharyani dan Wulansari (1995), dan konfirmasi keberadaan cacing D. immitis pada anjing berdasarkan tanda-tanda klinik oleh Iskandar et al. (1998). Identifikasi cacing dan mikrofilarianya, korelasi antara jumlah cacing dengan perubahan histopatologik jantung, paru-paru, hati, dan ginjal, serta kajian tentang profil protein ES cacing jantan dan betina belum pernah diteliti. Persamaan dan perbedaan penelitian ini dengan penelitian-penelitian terdahulu disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Persamaan dan perbedaan penelitian D. immitis terdahulu dengan penelitian ini Judul Persamaan Perbedaan Identifikasi cacing dan mikrofilaria Rajulani, (2013). Investigasi keberadaan D. immitis pada anjing di tempat pemotongan anjing di Gorontalo (identifikasi cacing secara makroskopis: panjang cacing jantan dan betina) Epidemiologi Banyak publikasi Internasional tentang epidemiologi D. immitis. Penelitian epidemilogi D. immitis di Indonesia: Iskandar et al., (1998). Konfirmasi keberadaan cacing D. immitis pada anjing berdasarkan tanda-tanda klinik (kasus klinik di Bogor) Suarsana, (1990). Pengaruh umur terhadap prevalensi infeksi cacing D. immitis pada anjing lokal Bali di Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng Identifikasi cacing D. immitis Konfirmasi keberadaan cacing D. immitis di Indonesia. Penelitian prevalensi dan pengaruh umur identifikasi mikrofilaria dan cacing dewasa secara makroskopis dan mikroskopis dan analisis korelasi jumlah cacing dengan jumlah mikrofilaria per ml darah. konfirmasi berdasarkan pemeriksaan cacing secara langsung pada jantung. selain pengaruh umur juga disertai analisis faktor risiko jenis kelamin, bangsa, dan asal anjing.

6 6 Tabel 1. Lanjutan Yuvianto, (2008). Kajian faktor risiko endogen infeksi cacing jantung pada berbagai anjing di wilayah Jawa dan Bali (pemeriksaasn dengan metode ELISA) Analisis antigen Kaneko et al., (1990). Antigenic identification of excretory secretory products of adult D. immitis (pada Western Blotting menggunakan serum anjing terinfeksi D. immitis) Karmil et al., (2007). Karakterisasi gut associated antigens dari larva L3 dan L4 D. immitis isolat lapang sebagai upaya penyempurnaan kehandalan kit diagnostik dan potensi vaksin asal kutikula Patologi Handharyani dan Wulansari, (1995). Infeksi D. immitis pada anjing: kajian patologik Carreton et al., (2012). Myocardial damage in dogs affected by D. immitis: Immunohistochemical study of cardiac myoglobin and troponin I in naturally infected dogs Paes-de-Almeida et al., (2003). Kidney ultrastructural lessions in dogs experimentally infected with D. immitis Analisis faktor risiko Identifikasi antigen ES Analisis antigen Kajian patologik infeksi D. immitis Pemeriksaan histopatologik myokardium Pemeriksaan histopatologik ginjal pemeriksaan cacing secara langsung pada jantung. pada Western Blotting menggunakan serum mencit yang diimunisasi dengan antigen D. immitis. analisis antigen ekskretorisekretori cacing dewasa. kajian patologik disertai analisis korelasi jumlah cacing dengan perubahan histopatologik. selain jantung juga pemeriksaan histopatologik paru-paru, hati, dan ginjal. penelitian kasus lapangan.

7 7 1.3 Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: 1. Bagaimana morfologi mikrofilaria dan cacing jantung yang ditemukan pada anjing di Indonesia? 2. Apakah ada korelasi antara jumlah cacing dengan jumlah mikrofilaria di dalam darah tepi? 3. Apa saja faktor risiko yang mempengaruhi prevalensi infeksi cacing jantung pada anjing di Indonesia? 4. Bagaimana profil protein ES cacing jantan dan betina? 5. Apakah dapat diproduksi antibodi anti-male excretory-secretory (anti-mes) dan anti-female excretory-secretory (anti-fes) untuk mendeteksi adanya protein ES pada serum anjing terinfeksi D. immitis? 6. Bagaimana perubahan histopatologik yang terjadi pada organ anjing? 7. Apakah perubahan histopatologik tersebut berkorelasi dengan jumlah cacing di dalam jantung? 1.4 Tujuan Penelitian Peneltian ini bertujuan untuk: 1. Mengetahui morfologi mikrofilaria dan cacing jantung yang ditemukan pada anjing di Indonesia.

8 8 2. Mengetahui korelasi antara jumlah cacing dengan jumlah mikrofilaria di dalam darah tepi. 3. Mengetahui prevalensi dan faktor risiko yang mempengaruhi infeksi cacing jantung pada anjing di Indonesia. 4. Mengetahui perbedaan profil protein ES cacing jantan dan betina. 5. Memproduksi antibodi anti-mes dan anti-fes untuk mendeteksi adanya protein ES pada serum anjing terinfeksi D. immitis. 6. Mengetahui perubahan histopatologik jantung, paru-paru, hati, dan ginjal anjing terinfeksi cacing jantung. 7. Mengetahui korelasi jumlah cacing dengan perubahan histopatologik jantung, paru-paru, hati, dan ginjal anjing terinfeksi cacing jantung. 1.5 Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan memberikan informasi tentang keberadaan cacing jantung di Indonesia dalam hal morfologi, faktor-faktor risiko yang mempengaruhi infeksi, perubahan histopatologik, dan profil protein ES cacing jantan dan betina, serta kemungkinan dikembangkannya metode diagnosis dengan menggunakan antibodi anti-fes dan anti-mes.

PENYAKIT CACING JANTUNG. Infeksi cacing jantung (dirofilariasis) disebabkan oleh D. immitis,

PENYAKIT CACING JANTUNG. Infeksi cacing jantung (dirofilariasis) disebabkan oleh D. immitis, 4 PENYAKIT CACING JANTUNG Infeksi cacing jantung (dirofilariasis) disebabkan oleh D. immitis, terutama terjadi pada anggota famili Canidae, telah tersebar luas di daerah tropis, subtropis, dan daerah beriklim

Lebih terperinci

Produksi Antibodi Anti-Dirofilaria immitis Untuk Pengembangan Diagnosis Dirofilariasis Pada Anjing

Produksi Antibodi Anti-Dirofilaria immitis Untuk Pengembangan Diagnosis Dirofilariasis Pada Anjing Produksi Antibodi Anti-Dirofilaria immitis Untuk Pengembangan Diagnosis Dirofilariasis Pada Anjing (THE PRODUCTION OF ANTI-Dirofilaria immitis ANTIBODIES FOR THE DIAGNOSIS DEVELOPMENT OF DIROFILARIASIS

Lebih terperinci

Antigen Ekskretori-Sekretori Cacing Jantung (Dirofilaria immitis) Jantan dan Betina yang Berpotensi Sebagai Marka Diagnosis

Antigen Ekskretori-Sekretori Cacing Jantung (Dirofilaria immitis) Jantan dan Betina yang Berpotensi Sebagai Marka Diagnosis pissn: 1411-8327; eissn: 2477-5665 DOI: 10.19087/jveteriner.2015.16.4.463 Terakreditasi Nasional SK. No. 15/XI/Dirjen Dikti/2011 online pada http://ejournal.unud.ac.id/php.index/jvet. Antigen Ekskretori-Sekretori

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL PENELITIAN

BAB 4 HASIL PENELITIAN Prevalensi pre_treatment BAB 4 HASIL PENELITIAN Sebanyak 1857 orang penduduk berpartisipasi dalam penelitian ini. Penduduk laki-laki sebanyak 878 orang dan penduduk wanita sebanyak 979 orang. Gambar 1

Lebih terperinci

FAKTOR RISIKO MANAJEMEN PEMELIHARAAN ANJING TERHADAP KEJADIAN INFEKSI Dirofilaria immitis DI WILAYAH PULAU JAWA DAN BALI RITA MARLINAWATY MANALU

FAKTOR RISIKO MANAJEMEN PEMELIHARAAN ANJING TERHADAP KEJADIAN INFEKSI Dirofilaria immitis DI WILAYAH PULAU JAWA DAN BALI RITA MARLINAWATY MANALU FAKTOR RISIKO MANAJEMEN PEMELIHARAAN ANJING TERHADAP KEJADIAN INFEKSI Dirofilaria immitis DI WILAYAH PULAU JAWA DAN BALI RITA MARLINAWATY MANALU FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

Lebih terperinci

Prevalensi pre_treatment

Prevalensi pre_treatment Prevalensi pre_treatment BAB 4 HASIL Sebanyak 757 responden berpartisipasi pada pemeriksaan darah sebelum pengobatan masal dan 301 responden berpartisipasi pada pemeriksaan darah setelah lima tahun pengobatan

Lebih terperinci

HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN. RIWAYAT HIDUP ABSTRAK ABSTRACT UCAPAN TERIMAKASIH DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR

HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN. RIWAYAT HIDUP ABSTRAK ABSTRACT UCAPAN TERIMAKASIH DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL.... i HALAMAN PENGESAHAN.... ii RIWAYAT HIDUP... iv ABSTRAK... v ABSTRACT... vi UCAPAN TERIMAKASIH... vii DAFTAR ISI... ix DAFTAR GAMBAR..... xi BAB I PENDAHULUAN... 1

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. oleh Salmonella typhi yang masih dijumpai secara luas di berbagai negara

BAB I PENDAHULUAN. oleh Salmonella typhi yang masih dijumpai secara luas di berbagai negara 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Demam tifoid merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh Salmonella typhi yang masih dijumpai secara luas di berbagai negara berkembang, terutama

Lebih terperinci

HEMATOLOGI KLINIK ANJING PENDERITA DIROFILARIASIS. Menurut Atkins (2005), anjing penderita penyakit cacing jantung

HEMATOLOGI KLINIK ANJING PENDERITA DIROFILARIASIS. Menurut Atkins (2005), anjing penderita penyakit cacing jantung 16 HEMATOLOGI KLINIK ANJING PENDERITA DIROFILARIASIS Menurut Atkins (2005), anjing penderita penyakit cacing jantung memiliki kelainan hematologi pada tingkat ringan berupa anemia, neutrofilia, eosinofilia,

Lebih terperinci

Prevalensi dan Faktor Risiko Infeksi Dirofilaria immitis pada Anjing yang Dipotong di Daerah Istimewa Yogyakarta

Prevalensi dan Faktor Risiko Infeksi Dirofilaria immitis pada Anjing yang Dipotong di Daerah Istimewa Yogyakarta Jurnal Veteriner Desember 2017 Vol. 18 No. 4 : 541-546 pissn: 1411-8327; eissn: 2477-5665 DOI: 10.19087/jveteriner.2017.18.4.541 Terakreditasi Nasional, Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan, online

Lebih terperinci

KAJIAN FAKTOR RISIKO ENDOGEN INFEKSI CACING JANTUNG (Dirofilaria immitis) PADA BERBAGAI ANJING DI WILAYAH JAWA DAN BALI LAURENSIUS YUVIANTO

KAJIAN FAKTOR RISIKO ENDOGEN INFEKSI CACING JANTUNG (Dirofilaria immitis) PADA BERBAGAI ANJING DI WILAYAH JAWA DAN BALI LAURENSIUS YUVIANTO KAJIAN FAKTOR RISIKO ENDOGEN INFEKSI CACING JANTUNG (Dirofilaria immitis) PADA BERBAGAI ANJING DI WILAYAH JAWA DAN BALI LAURENSIUS YUVIANTO FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 ABSTRAK

Lebih terperinci

PREVALENSI DAN RISIKO INFEKSI CACING JANTUNG PADA ANJING YANG DIIMPOR MELALUI BANDARA SOEKARNO-HATTA ESMIRALDA EKA FITRI

PREVALENSI DAN RISIKO INFEKSI CACING JANTUNG PADA ANJING YANG DIIMPOR MELALUI BANDARA SOEKARNO-HATTA ESMIRALDA EKA FITRI PREVALENSI DAN RISIKO INFEKSI CACING JANTUNG PADA ANJING YANG DIIMPOR MELALUI BANDARA SOEKARNO-HATTA ESMIRALDA EKA FITRI SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009 PERNYATAAN MENGENAI TESIS

Lebih terperinci

INFEKSI CACING JANTUNG PADA ANJING DI BEBERAPA WILAYAH PULAU JAWA DAN BALI : FAKTOR RISIKO TERKAIT DENGAN MANAJEMEN KESEHATAN ANJING FITRIAWATI

INFEKSI CACING JANTUNG PADA ANJING DI BEBERAPA WILAYAH PULAU JAWA DAN BALI : FAKTOR RISIKO TERKAIT DENGAN MANAJEMEN KESEHATAN ANJING FITRIAWATI INFEKSI CACING JANTUNG PADA ANJING DI BEBERAPA WILAYAH PULAU JAWA DAN BALI : FAKTOR RISIKO TERKAIT DENGAN MANAJEMEN KESEHATAN ANJING FITRIAWATI FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI FILARIASIS YANG DISEBABKAN OLEH CACING NEMATODA WHECERERIA

IDENTIFIKASI FILARIASIS YANG DISEBABKAN OLEH CACING NEMATODA WHECERERIA IDENTIFIKASI FILARIASIS YANG DISEBABKAN OLEH CACING NEMATODA WHECERERIA Editor: Nama : Istiqomah NIM : G1C015022 FAKULTAS ILMU KESEHATAN DAN KEPERAWATAN TAHUN AJARAN 2015 /2016 1 IDENTIFIKASI FILARIASIS

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dengan yang lainnya sehingga mendorong manusia untuk memberi perhatian lebih.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dengan yang lainnya sehingga mendorong manusia untuk memberi perhatian lebih. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gambaran Umum dan klasifikasi Anjing Anjing adalah hewan yang sangat dekat dengan manusia. Anjing merupakan hewan kesayangan dengan jumlah ras terbanyak dan memiliki perbedaan

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Malaria merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit dari genus Plasmodium.

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Malaria merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit dari genus Plasmodium. BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Malaria merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit dari genus Plasmodium. Ada lima jenis Plasmodium yang sering menginfeksi manusia, yaitu P. falciparum,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang. protozoa Toxoplasma gondii, infeksi parasit ini dijumpai di seluruh dunia

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang. protozoa Toxoplasma gondii, infeksi parasit ini dijumpai di seluruh dunia BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Toksoplasmosis adalah penyakit zoonosis yang disebabkan parasit protozoa Toxoplasma gondii, infeksi parasit ini dijumpai di seluruh dunia (Kijlstra dan Jongert, 2008).

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang. Penyakit Surra merupakan penyakit pada ternak yang disebabkan oleh

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang. Penyakit Surra merupakan penyakit pada ternak yang disebabkan oleh 1 BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penyakit Surra merupakan penyakit pada ternak yang disebabkan oleh protozoa Trypanosoma evansi. Penyakit ini juga menyerang hewan domestik dan hewan liar. Parasit ini

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi Dirofilaria immitis Gambaran Morfologi

TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi Dirofilaria immitis Gambaran Morfologi 4 TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi Dirofilaria immitis Genus Dirofilaria dibagi menjadi dua subgenus, yaitu subgenus Dirofilaria meliputi Dirofilaria immitis dan Dipetalonema reconditum sedangkan subgenus

Lebih terperinci

POTENSI NYAMUK Aeries albopictus (DLE'TERA : CULICIDAE) SEBAGAI. VEKTOR DirojiZaria inzmitis (NEMATODA : FILARIIDAE) PADA ANJING HAMNY B

POTENSI NYAMUK Aeries albopictus (DLE'TERA : CULICIDAE) SEBAGAI. VEKTOR DirojiZaria inzmitis (NEMATODA : FILARIIDAE) PADA ANJING HAMNY B POTENSI NYAMUK Aeries albopictus (DLE'TERA : CULICIDAE) SEBAGAI VEKTOR DirojiZaria inzmitis (NEMATODA : FILARIIDAE) PADA ANJING HAMNY B01497046 PAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2001 RINGKASAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang. tinggi pada manusia maupun hewan. Pada manusia, antara 20-30% dari pasien

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang. tinggi pada manusia maupun hewan. Pada manusia, antara 20-30% dari pasien BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Gagal ginjal akut merupakan suatu kondisi dengan resiko kematian yang tinggi pada manusia maupun hewan. Pada manusia, antara 20-30% dari pasien yang dalam kondisi kritis,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Pengujian Serum dan Kuning Telur Hasil AGPT memperlihatkan pembentukan garis presipitasi yang berwarna putih pada pengujian serum dan kuning telur tiga dari sepuluh ekor ayam yang

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 28 HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik anjing impor Berdasarkan data Pusat Karantina Hewan (2008), tercatat sebanyak 548 ekor anjing impor dari berbagai negara yang dilalulintaskan melalui Balai Besar Karantina

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Demam tifoid merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang. disebabkan oleh Salmonella typhi yang masih dijumpai secara luas di

BAB I PENDAHULUAN. Demam tifoid merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang. disebabkan oleh Salmonella typhi yang masih dijumpai secara luas di 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Demam tifoid merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh Salmonella typhi yang masih dijumpai secara luas di berbagai negara berkembang yang terutama

Lebih terperinci

PREVALENSI DAN RISIKO INFEKSI CACING JANTUNG PADA ANJING YANG DIIMPOR MELALUI BANDARA SOEKARNO-HATTA ESMIRALDA EKA FITRI

PREVALENSI DAN RISIKO INFEKSI CACING JANTUNG PADA ANJING YANG DIIMPOR MELALUI BANDARA SOEKARNO-HATTA ESMIRALDA EKA FITRI PREVALENSI DAN RISIKO INFEKSI CACING JANTUNG PADA ANJING YANG DIIMPOR MELALUI BANDARA SOEKARNO-HATTA ESMIRALDA EKA FITRI SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009 PERNYATAAN MENGENAI TESIS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus sebagai vektor ke tubuh manusia

BAB I PENDAHULUAN. nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus sebagai vektor ke tubuh manusia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Infeksi Dengue disebabkan oleh virus Dengue yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus sebagai vektor ke tubuh manusia melalui gigitannya. Virus

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Malaria merupakan penyakit infeksi parasit yang sangat penting di

BAB 1 PENDAHULUAN. Malaria merupakan penyakit infeksi parasit yang sangat penting di BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Malaria merupakan penyakit infeksi parasit yang sangat penting di dunia dan masih merupakan problem kesehatan masyarakat secara global dan memerlukan perhatian yang

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata kunci: Cysticercus cellulosae, crude antigen, ELISA

ABSTRAK. Kata kunci: Cysticercus cellulosae, crude antigen, ELISA ABSTRAK Sistiserkosis merupakan penyakit parasitik yang disebabkan oleh larva stadium metacestoda cacing pita yang disebut Cysticercus. Cysticercus yang ditemukan pada babi adalah Cysticercus cellulosae

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. terabaikan atau Neglected Infection Diseases (NIDs) yaitu penyakit infeksi

BAB 1 PENDAHULUAN. terabaikan atau Neglected Infection Diseases (NIDs) yaitu penyakit infeksi BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Leptospirosis merupakan masalah kesehatan masyarakat diseluruh dunia, khususnya negara-negara yang beriklim tropis dan subtropis yang memiliki curah hujan tinggi.

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Hipertensi merupakan salah satu kondisi kronis yang sering terjadi di

UKDW BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Hipertensi merupakan salah satu kondisi kronis yang sering terjadi di BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Hipertensi merupakan salah satu kondisi kronis yang sering terjadi di masyarakat. Seseorang dapat dikatakan hipertensi ketika tekanan darah sistolik menunjukkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Separuh penduduk dunia berisiko tertular malaria karena hidup lebih dari 100

BAB I PENDAHULUAN. Separuh penduduk dunia berisiko tertular malaria karena hidup lebih dari 100 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Malaria masih merupakan salah satu penyakit menular yang masih sulit diberantas dan merupakan masalah kesehatan diseluruh dunia termasuk Indonesia, Separuh penduduk

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penyakit ini tersebar di berbagai penjuru dunia. Di Indonesia, penyakit ini bersifat

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penyakit ini tersebar di berbagai penjuru dunia. Di Indonesia, penyakit ini bersifat I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Toksoplasmosis merupakan salah satu dari sekian banyak penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang secara alami dapat menular dari hewan ke manusia. Gejala klinis dari penyakit

Lebih terperinci

Deskripsi. IMUNOGLOBULIN YOLK (IgY) ANTI Canine parvovirus MURNI UNTUK TERAPI INFEKSI VIRUS PARVO PADA ANJING

Deskripsi. IMUNOGLOBULIN YOLK (IgY) ANTI Canine parvovirus MURNI UNTUK TERAPI INFEKSI VIRUS PARVO PADA ANJING 1 I Gst Ayu Agung Suartini(38) FKH - Universitas Udayana E-mail: gaa.suartini@gmail.com Tlf : 081282797188 Deskripsi IMUNOGLOBULIN YOLK (IgY) ANTI Canine parvovirus MURNI UNTUK TERAPI INFEKSI VIRUS PARVO

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. peningkatan angka kejadian, tidak hanya terjadi di Indonesia juga di berbagai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. peningkatan angka kejadian, tidak hanya terjadi di Indonesia juga di berbagai 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sejak beberapa tahun terakhir ini, berbagai penyakit infeksi mengalami peningkatan angka kejadian, tidak hanya terjadi di Indonesia juga di berbagai belahan dunia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Hepatitis merupakan penyakit inflamasi dan nekrosis dari sel-sel hati yang dapat

BAB I PENDAHULUAN. Hepatitis merupakan penyakit inflamasi dan nekrosis dari sel-sel hati yang dapat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hepatitis merupakan penyakit inflamasi dan nekrosis dari sel-sel hati yang dapat disebabkan oleh infeksi virus. Telah ditemukan lima kategori virus yang menjadi agen

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. disebabkan oleh mikroorganisme Salmonella enterica serotipe typhi yang

I. PENDAHULUAN. disebabkan oleh mikroorganisme Salmonella enterica serotipe typhi yang 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Demam tifoid akut merupakan penyakit infeksi akut bersifat sistemik yang disebabkan oleh mikroorganisme Salmonella enterica serotipe typhi yang dikenal dengan Salmonella

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil pemeriksaan konsentrasi antigen E/S Fasciola gigantica asal domba dan kerbau masing-masing sebesar 6755 µg /ml dan 6420 µg/ml. Dosis protein antigen untuk dapat menginduksi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penyakit malaria masih merupakan masalah kesehatan bagi negara tropis/

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penyakit malaria masih merupakan masalah kesehatan bagi negara tropis/ BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit malaria masih merupakan masalah kesehatan bagi negara tropis/ sub-tropis, negara berkembang maupun negara maju. Pada tahun 2012, diperkirakan ada 207 juta kasus

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masih menjadi masalah kesehatan global bagi masyarakat dunia. Angka kejadian

BAB I PENDAHULUAN. masih menjadi masalah kesehatan global bagi masyarakat dunia. Angka kejadian BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Demam tifoid adalah penyakit sistemik akut pada saluran pencernaan yang masih menjadi masalah kesehatan global bagi masyarakat dunia. Angka kejadian demam tifoid di

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. maupun fungsional dari pengisian atau pompa ventrikel (Yancy et al., 2013).

BAB I PENDAHULUAN. maupun fungsional dari pengisian atau pompa ventrikel (Yancy et al., 2013). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gagal jantung merupakan suatu sindrom klinis akibat kelainan struktural maupun fungsional dari pengisian atau pompa ventrikel (Yancy et al., 2013). Prevalensi gagal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Demam tifoid merupakan infeksi bakteri sistemik yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi yang dijumpai di berbagai negara berkembang terutama di daerah tropis

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. TORCH merupakan suatu istilah jenis penyakit infeksi yang terdiri

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. TORCH merupakan suatu istilah jenis penyakit infeksi yang terdiri BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang TORCH merupakan suatu istilah jenis penyakit infeksi yang terdiri dari Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus dan Herpes. Keempat jenis penyakit ini sama bahayanya bagi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Organisasi kesehatan dunia, WHO, baru-baru ini membunyikan tanda bahaya untuk mewaspadai serangan berbagai penyakit infeksi. Pada tahun-tahun terakhir ini, wabah penyakit

Lebih terperinci

DISTRIBUSI IGG4 ANTIFILARIA PADA IBU HAMIL YANG TINGGAL DI DAERAH ENDEMIK KECACINGAN DI KECAMATAN PONDOK GEDE, KABUPATEN BEKASI, JAWA BARAT

DISTRIBUSI IGG4 ANTIFILARIA PADA IBU HAMIL YANG TINGGAL DI DAERAH ENDEMIK KECACINGAN DI KECAMATAN PONDOK GEDE, KABUPATEN BEKASI, JAWA BARAT Ringkasan Laporan Skripsi Dengan Judul: DISTRIBUSI IGG4 ANTIFILARIA PADA IBU HAMIL YANG TINGGAL DI DAERAH ENDEMIK KECACINGAN DI KECAMATAN PONDOK GEDE, KABUPATEN BEKASI, JAWA BARAT Wulan Ayu Lestari*, Heri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh Salmonella typhi (S.typhi), bersifat endemis, dan masih

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh Salmonella typhi (S.typhi), bersifat endemis, dan masih 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Demam tifoid merupakan penyakit infeksi tropik sistemik, yang disebabkan oleh Salmonella typhi (S.typhi), bersifat endemis, dan masih merupakan masalah kesehatan masyarakat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Demam tifoid adalah penyakit infeksi bakteri yang disebabkan oleh Salmonella typhi. Demam tifoid masih merupakan penyakit endemik di Indonesia. Hal ini dikaitkan dengan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat E. ictaluri Ikan Lele ( Clarias sp.)

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat E. ictaluri Ikan Lele ( Clarias sp.) BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian telah dilaksanakan di Laboratorium Balai Uji Standar Karantina Ikan Departemen Kelautan dan Perikanan di Jakarta dan Bagian Patologi, Departemen Klinik, Reproduksi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Latar Belakang. yang dapat menimbulkan kerugian ekonomi (Wibowo, 2014). Hal ini disebabkan

I. PENDAHULUAN. Latar Belakang. yang dapat menimbulkan kerugian ekonomi (Wibowo, 2014). Hal ini disebabkan I. PENDAHULUAN Latar Belakang Penyakit Avian Influenza (AI) adalah salah satu penyakit infeksi penting yang dapat menimbulkan kerugian ekonomi (Wibowo, 2014). Hal ini disebabkan adanya kematian yang tinggi

Lebih terperinci

Epidermophyton (Kahn dan Line, 2007). Ketiga genus ini telah dikelompokkan

Epidermophyton (Kahn dan Line, 2007). Ketiga genus ini telah dikelompokkan PENDAHULUAN Latar Belakang Salah satu penyakit zoonotik yang sering ditemukan pada hewan peliharaan adalah dermatofitosis. Dermatofitosis merupakan keratinisasi berlebih pada sel permukaan terluar kulit

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Demam tifoid merupakan masalah kesehatan yang penting di negara-negara

I. PENDAHULUAN. Demam tifoid merupakan masalah kesehatan yang penting di negara-negara 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Demam tifoid merupakan masalah kesehatan yang penting di negara-negara berkembang, salah satunya di Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Salmonella enterica

Lebih terperinci

BAB XX FILARIASIS. Hospes Reservoir

BAB XX FILARIASIS. Hospes Reservoir BAB XX FILARIASIS Filariasis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi nematoda jaringan yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk dalam kelenjar getah bening. Penyakit ini bersifat menahun dan bila

Lebih terperinci

GAMBARAN HASIL METODE DIPSTIK IgM/IgG BERDASARKAN LAMA DEMAM PADA DEMAM TIFOID WIDAL O/H TITER 1/160

GAMBARAN HASIL METODE DIPSTIK IgM/IgG BERDASARKAN LAMA DEMAM PADA DEMAM TIFOID WIDAL O/H TITER 1/160 GAMBARAN HASIL METODE DIPSTIK IgM/IgG BERDASARKAN LAMA DEMAM PADA DEMAM TIFOID WIDAL O/H TITER 1/160 Manuscript Oleh : G1C217242 PROGRAM STUDI DIV ANALIS KESEHATAN FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sedangkan penyakit non infeksi (penyakit tidak menular) justru semakin

BAB I PENDAHULUAN. sedangkan penyakit non infeksi (penyakit tidak menular) justru semakin BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Di Indonesia sering terdengar kata Transisi Epidemiologi atau beban ganda penyakit. Transisi epidemiologi bermula dari suatu perubahan yang kompleks dalam pola kesehatan

Lebih terperinci

BAB III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN

BAB III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN 8 BAB III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan selama dua bulan mulai Juli sampai dengan Agustus 2010. Pemeliharaan ayam broiler dimulai dari Day Old Chick (DOC)

Lebih terperinci

PENGARUH PERILAKU HIDUP SEHAT TERHADAP KEJADIAN ASCARIASIS PADA SISWA SD NEGERI SEPUTIH III KECAMATAN MAYANG KABUPATEN JEMBER

PENGARUH PERILAKU HIDUP SEHAT TERHADAP KEJADIAN ASCARIASIS PADA SISWA SD NEGERI SEPUTIH III KECAMATAN MAYANG KABUPATEN JEMBER PENGARUH PERILAKU HIDUP SEHAT TERHADAP KEJADIAN ASCARIASIS PADA SISWA SD NEGERI SEPUTIH III KECAMATAN MAYANG KABUPATEN JEMBER SKRIPSI Oleh Abdi Jauhari NIM 032010101009 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. protozoa parasit Toxoplasma gondii (T.gondii), parasit tersebut dapat menginfeksi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. protozoa parasit Toxoplasma gondii (T.gondii), parasit tersebut dapat menginfeksi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Toxoplasmosis adalah penyakit zoonotik yang disebabkan oleh protozoa parasit Toxoplasma gondii (T.gondii), parasit tersebut dapat menginfeksi semua mamalia dan spesies

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. HIV merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi Human

BAB 1 PENDAHULUAN. HIV merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi Human BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang HIV merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi Human Immunodeficiency Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Infeksi HIV dapat menyebabkan penderita

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. nefrologi dengan angka kejadian yang cukup tinggi, etiologi luas, dan sering diawali

BAB 1 PENDAHULUAN. nefrologi dengan angka kejadian yang cukup tinggi, etiologi luas, dan sering diawali BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit ginjal kronik (PGK) merupakan salah satu permasalahan dibidang nefrologi dengan angka kejadian yang cukup tinggi, etiologi luas, dan sering diawali tanpa keluhan

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN. Tempat dan Waktu Penelitian. Bahan dan Alat Penelitian

METODOLOGI PENELITIAN. Tempat dan Waktu Penelitian. Bahan dan Alat Penelitian 14 METODOLOGI PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Tempat penelitian dilakukan di Laboratorium Unit Pelayanan Mikrobiologi Terpadu, Bagian Mikrobiologi Kesehatan, Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seluruh dunia (Dastkhosh et al,2014). WHO memperkirakan orang

BAB I PENDAHULUAN. seluruh dunia (Dastkhosh et al,2014). WHO memperkirakan orang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Rabies merupakan penyakit zoonosis yang mematikan dan tersebar di seluruh dunia (Dastkhosh et al,2014). WHO memperkirakan 70.000 orang meninggal setiap tahun karena

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN UKDW. Hipertensi saat ini masih menjadi ma. jsalah kesehatan utama yang dihadapi tenaga kesehatan di Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN UKDW. Hipertensi saat ini masih menjadi ma. jsalah kesehatan utama yang dihadapi tenaga kesehatan di Indonesia. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Hipertensi saat ini masih menjadi ma jsalah kesehatan utama yang dihadapi tenaga kesehatan di Indonesia. Penderita hipertensi masih sering ditemukan pada

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Sebanyak 173 dan 62 contoh serum sapi dan kambing potong sejumlah berasal dari di provinsi Jawa Timur, Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Barat, Jakarta dan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 18 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil uji tantang virus AI H5N1 pada dosis 10 4.0 EID 50 /0,1 ml per ekor secara intranasal menunjukkan bahwa virus ini menyebabkan mortalitas pada ayam sebagai hewan coba

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan adalah hipertensi. Hipertensi adalah keadaan peningkatan

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan adalah hipertensi. Hipertensi adalah keadaan peningkatan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan kesehatan semakin mendapat perhatian luas diseluruh dunia, dimana perubahan cara pandang dari yang semula melihat kesehatan dari sesuatu yang konsumtif menjadi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Isolasi, Produksi dan Karakterisasi Antigen ES F. gigantica

HASIL DAN PEMBAHASAN Isolasi, Produksi dan Karakterisasi Antigen ES F. gigantica HASIL DAN PEMBAHASAN Isolasi, Produksi dan Karakterisasi Antigen ES F. gigantica Sampel hati sapi terinfeksi cacing F. gigantica dikoleksi dari sapi yang dipotong di rumah potong hewan Palu dan Purwodadi.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Infeksi neonatus khususnya sepsis neonatorum sampai saat ini masih

BAB I PENDAHULUAN. Infeksi neonatus khususnya sepsis neonatorum sampai saat ini masih BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Infeksi neonatus khususnya sepsis neonatorum sampai saat ini masih menjadi masalah karena merupakan penyebab utama mortalitas dan morbiditas pada bayi baru lahir. Masalah

Lebih terperinci

Dosen Pembimbing dr. Syafyudin, M. Biomed

Dosen Pembimbing dr. Syafyudin, M. Biomed SPEKTROSKOPI NMR 2D 1 H 600 MHZ BERBASIS METABONOMIK PADA PLASMA DARAH SEBAGAI ALAT DIAGNOSTIK POTENSIAL TB PARU PADA ANAK YANG CEPAT DAN SPESIFIK Diajukan untuk mengikuti Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Malaria masih merupakan salah satu masalah utama penyakit infeksi di

BAB I PENDAHULUAN. Malaria masih merupakan salah satu masalah utama penyakit infeksi di 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Malaria masih merupakan salah satu masalah utama penyakit infeksi di dunia dan menjadi penyebab morbiditas dan mortalitas terutama di negara tropis. Satu dari tiga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Mycobacterium leprae (M. leprae) yang menyerang saraf tepi, tetapi bisa juga menyerang 1,2

BAB I PENDAHULUAN. Mycobacterium leprae (M. leprae) yang menyerang saraf tepi, tetapi bisa juga menyerang 1,2 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang masalah Penyakit kusta adalah penyakit kronis pada manusia yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium leprae (M. leprae) yang menyerang saraf tepi, tetapi bisa juga

Lebih terperinci

KONFIRMASI KEBERADAAN CACING Dirofilaria immitis PADA ANJING BERDASARKAN TANDA-TANDA KLINIK

KONFIRMASI KEBERADAAN CACING Dirofilaria immitis PADA ANJING BERDASARKAN TANDA-TANDA KLINIK KONFIRMASI KEBERADAAN CACING Dirofilaria immitis PADA ANJING BERDASARKAN TANDA-TANDA KLINIK THE CONFIRMATION OF THE PRESENCE OF Dirojiluria immitis IN DOGS BASED ON CLINICAL SIGNS Herryanto Iskandar',

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penyakit jantung bawaan terjadi pada 8 bayi dari. setiap 1000 kelahiran. (Sommer, 2008) Penyakit jantung

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penyakit jantung bawaan terjadi pada 8 bayi dari. setiap 1000 kelahiran. (Sommer, 2008) Penyakit jantung BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit jantung bawaan terjadi pada 8 bayi dari setiap 1000 kelahiran. (Sommer, 2008) Penyakit jantung bawaan yang paling sering terjadi ialah defek septum ventrikel

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Peningkatan kasus infeksi human immunodeficiency virus (HIV) dan

BAB I PENDAHULUAN. Peningkatan kasus infeksi human immunodeficiency virus (HIV) dan BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Peningkatan kasus infeksi human immunodeficiency virus (HIV) dan acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) memerlukan deteksi cepat untuk kepentingan diagnosis dan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pada anggota badan terutama pada tungkai atau tangan. apabila terkena pemaparan larva infektif secara intensif dalam jangka

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pada anggota badan terutama pada tungkai atau tangan. apabila terkena pemaparan larva infektif secara intensif dalam jangka BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum Tentang Filariasis 1. Filariasis Filariasis adalah suatu infeksi cacing filaria yang menginfeksi manusia melalui gigitan nyamuk dan dapat menimbulkan pembesaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sepsis terbanyak setelah infeksi saluran nafas (Mangatas, 2004). Sedangkan

BAB I PENDAHULUAN. sepsis terbanyak setelah infeksi saluran nafas (Mangatas, 2004). Sedangkan BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan masalah kesehatan yang serius mengenai jutaan populasi manusia setiap tahunnya. ISK merupakan penyebab sepsis terbanyak setelah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. yang ditandai oleh peningkatan kadar glukosa darah kronik (Asdi, 2000).

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. yang ditandai oleh peningkatan kadar glukosa darah kronik (Asdi, 2000). 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit heterogen yang serius yang ditandai oleh peningkatan kadar glukosa darah kronik (Asdi, 2000). Risiko kematian penderita

Lebih terperinci

LAPORAN GAMBARAN DURATION OF IMMUNITY VAKSIN RABIVET 92. Pusat Veterinaria Farma ABSTRAK

LAPORAN GAMBARAN DURATION OF IMMUNITY VAKSIN RABIVET 92. Pusat Veterinaria Farma ABSTRAK LAPORAN GAMBARAN DURATION OF IMMUNITY VAKSIN RABIVET 92 Darmawan, Dyah Estikoma dan Rosmalina Sari Dewi D Pusat Veterinaria Farma ABSTRAK Untuk mendapatkan gambaran antibodi hasil vaksinasi Rabivet Supra

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil uji tantang virus avian influenza (AI) strain H5N1/Ngk/2003 secara intranasal dengan dosis 10 6,0 EID 50 /0,1 ml per ekor menunjukkan bahwa virus ini mengakibatkan mortalitas

Lebih terperinci

EPIDEMIOLOGI ZOONOSIS DI INDONESIA

EPIDEMIOLOGI ZOONOSIS DI INDONESIA EPIDEMIOLOGI ZOONOSIS DI INDONESIA Disunting oleh: Dyah Ayu Widiasih Setyawan Budiharta Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta GADJAH MADA UNIVERSITY PRESS iii DAFTAR ISI KONTRIBUTOR

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit demam berdarah hingga saat ini masih merupakan masalah kesehatan yang sulit ditanggulangi di Indonesia. Jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Hipertensi dalam kehamilan masih merupakan masalah besar. dalam bidang obstetri, dengan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi

BAB I PENDAHULUAN. Hipertensi dalam kehamilan masih merupakan masalah besar. dalam bidang obstetri, dengan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hipertensi dalam kehamilan masih merupakan masalah besar dalam bidang obstetri, dengan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi baik pada ibu maupun bayi. Hipertensi

Lebih terperinci

Uji Konfirmasi Widal Positif O Titer 1/160 dengan Rapid Test IgM Anti Salmonella typhi pada Penderita Suspek Demam Tifoid

Uji Konfirmasi Widal Positif O Titer 1/160 dengan Rapid Test IgM Anti Salmonella typhi pada Penderita Suspek Demam Tifoid Uji Konfirmasi Widal Positif O Titer 1/160 dengan Rapid Test IgM Anti Salmonella typhi pada Penderita Suspek Demam Tifoid Andi Selviana Amir 1, Harun Nurrachmat 2, Aprilia Indra Kartika 3 1 Program Studi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berhasil mencapai target Millenium Development Goal s (MDG s), peningkatan

BAB I PENDAHULUAN. berhasil mencapai target Millenium Development Goal s (MDG s), peningkatan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menjadi tantangan global. Meskipun program pengendalian TB di Indonesia telah berhasil mencapai target

Lebih terperinci

AVIAN PARAMYXOVIRUS TIPE 1: BIOLOGI DAN POLIMORFISME GENETIK

AVIAN PARAMYXOVIRUS TIPE 1: BIOLOGI DAN POLIMORFISME GENETIK AVIAN PARAMYXOVIRUS TIPE 1: BIOLOGI DAN POLIMORFISME GENETIK Oleh: Prof. drh. Anak Agung Ayu Mirah Adi, MSi., PhD. Prof. drh. Nyoman Mantik Astawa, PhD. AVIAN PARAMYXOVIRUS TIPE 1: BIOLOGI DAN POLIMORFISME

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Demam tifoid adalah penyakit akibat infeksi bakteri Salmonella enterica

BAB I PENDAHULUAN. Demam tifoid adalah penyakit akibat infeksi bakteri Salmonella enterica BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Demam tifoid adalah penyakit akibat infeksi bakteri Salmonella enterica serotipe typhi. Demam tifoid masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia yang timbul secara

Lebih terperinci

PENGANTAR KBM MATA KULIAH BIOMEDIK I. (Bagian Parasitologi) didik.dosen.unimus.ac.id

PENGANTAR KBM MATA KULIAH BIOMEDIK I. (Bagian Parasitologi) didik.dosen.unimus.ac.id PENGANTAR KBM MATA KULIAH BIOMEDIK I (Bagian Parasitologi) Pengertian Parasitologi adalah ilmu yang mempelajari jasad renik yang hidup pada jasad lain di dalam maupun di luar tubuh dengan maksud mengambil

Lebih terperinci

PENDEKATAN DIAGNOSIS DEMAM BERDARAH DENGUE PADA ANAK DI SELURUH PUSKESMAS KEPERAWATAN WILAYAH KABUPATEN JEMBER PERIODE 1 JANUARI 31 DESEMBER 2007

PENDEKATAN DIAGNOSIS DEMAM BERDARAH DENGUE PADA ANAK DI SELURUH PUSKESMAS KEPERAWATAN WILAYAH KABUPATEN JEMBER PERIODE 1 JANUARI 31 DESEMBER 2007 PENDEKATAN DIAGNOSIS DEMAM BERDARAH DENGUE PADA ANAK DI SELURUH PUSKESMAS KEPERAWATAN WILAYAH KABUPATEN JEMBER PERIODE 1 JANUARI 31 DESEMBER 2007 SKRIPSI Oleh Siska Yuni Fitria NIM 042010101027 FAKULTAS

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata-kata Kunci : Antibodi, C. cellulosae, babi lokal.

ABSTRAK. Kata-kata Kunci : Antibodi, C. cellulosae, babi lokal. ABSTRAK Sistiserkosis merupakan penyakit yang bersifat zoonosis pada babi dan manusia yang disebabkan oleh larva cacing pita Taenia solium yang disebut Cysticercus cellulosae. Di Indonesia terdapat tiga

Lebih terperinci

Identifikasi Mikrofilaria pada Penderita Filariasis Pasca Pengobatan 11

Identifikasi Mikrofilaria pada Penderita Filariasis Pasca Pengobatan 11 Identifikasi Mikrofilaria pada Penderita Filariasis Pasca Pengobatan 11 IDENTIFIKASI MIKROFILARIA PADA PENDERITA FILARIASIS PASCA PENGOBATAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS RUM BALIBUNGA KECAMATAN TIDORE UTARA

Lebih terperinci

PERBEDAAN CARDIOTHORACIC RATIO

PERBEDAAN CARDIOTHORACIC RATIO PERBEDAAN CARDIOTHORACIC RATIO PADA FOTO THORAX STANDAR USIA DI BAWAH 60 TAHUN DAN DI ATAS 60 TAHUN PADA PENYAKIT HIPERTENSI DI RS. PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kronik dan termasuk penyakit hati yang paling berbahaya dibandingkan dengan. menularkan kepada orang lain (Misnadiarly, 2007).

BAB I PENDAHULUAN. kronik dan termasuk penyakit hati yang paling berbahaya dibandingkan dengan. menularkan kepada orang lain (Misnadiarly, 2007). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hepatits B disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV) yang termasuk virus DNA, yang menyebakan nekrosis hepatoseluler dan peradangan (WHO, 2015). Penyakit Hepatitis B

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. disebut dengan kerapu bebek (Cromileptes altivelis). Ikan ini memiliki potensi

I. PENDAHULUAN. disebut dengan kerapu bebek (Cromileptes altivelis). Ikan ini memiliki potensi I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Budidaya perikanan banyak diminati masyarakat untuk meningkatkan pendapatan serta memperoleh keuntungan yang cukup banyak. Salah satu budidaya ikan yang bisa dijadikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Glomerulonefritis akut masih menjadi penyebab. morbiditas ginjal pada anak terutama di negara-negara

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Glomerulonefritis akut masih menjadi penyebab. morbiditas ginjal pada anak terutama di negara-negara BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Glomerulonefritis akut masih menjadi penyebab morbiditas ginjal pada anak terutama di negara-negara berkembang meskipun frekuensinya lebih rendah di negara-negara maju

Lebih terperinci

1 Universitas Kristen Maranatha

1 Universitas Kristen Maranatha BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hepar merupakan organ terbesar dalam tubuh manusia, dengan berat 1.200-1.500 gram. Pada orang dewasa ± 1/50 dari berat badannya sedangkan pada bayi ± 1/18 dari berat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. gondii. Toxoplasma gondii adalah jenis protozoa obligat intraseluler yang memiliki

BAB I PENDAHULUAN. gondii. Toxoplasma gondii adalah jenis protozoa obligat intraseluler yang memiliki BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Toksoplasmosis adalah zoonosis yang disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii. Toxoplasma gondii adalah jenis protozoa obligat intraseluler yang memiliki tiga bentuk

Lebih terperinci

PARASITOLOGI. OLEH: Dra. Nuzulia Irawati, MS

PARASITOLOGI. OLEH: Dra. Nuzulia Irawati, MS PARASITOLOGI OLEH: Dra. Nuzulia Irawati, MS DEFINISI PARASITOLOGI ialah ilmu yang mempelajari tentang jasad hidup untuk sementara atau menetap pada/ di dalam jasad hidup lain dengan maksud mengambil sebagian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menular (PTM) yang meliputi penyakit degeneratif dan man made diseases.

BAB I PENDAHULUAN. menular (PTM) yang meliputi penyakit degeneratif dan man made diseases. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Transisi epidemiologi yang terjadi di Indonesia mengakibatkan perubahan pola penyakit yaitu dari penyakit infeksi atau penyakit menular ke penyakit tidak menular (PTM)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hipertensi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang umum terjadi di negara berkembang dan merupakan penyebab kematian tertinggi kedua di Indonesia. Tekanan darah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. individu. Pemberian antibiotik seperti penisilin pada streptococcal faringitis turut

BAB I PENDAHULUAN. individu. Pemberian antibiotik seperti penisilin pada streptococcal faringitis turut BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Stenosis mitral adalah kondisi dimana terjadi hambatan aliran darah dari atrium kiri ke ventrikel kiri pada fase diastolik akibat penyempitan katup mitral. Stenosis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pemeriksaan laboratorium merupakan pemeriksaaan yang sering dilakukan

BAB I PENDAHULUAN. Pemeriksaan laboratorium merupakan pemeriksaaan yang sering dilakukan BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Pemeriksaan laboratorium merupakan pemeriksaaan yang sering dilakukan untuk kepentingan klinik. Tujuan pemeriksaan laboratorium adalah untuk skrining suatu penyakit,

Lebih terperinci

METODOLOGI UMUM. KAJIAN ECP BAKTERI S. agalactiae MELIPUTI

METODOLOGI UMUM. KAJIAN ECP BAKTERI S. agalactiae MELIPUTI 15 METODOLOGI UMUM Alur pelaksanaan penelitian Pelaksanaan penelitian secara skematis disajikan pada Gambar 2, yang merupakan penelitian secara laboratorium untuk menggambarkan permasalahan secara menyeluruh

Lebih terperinci