RENCANA KERJA (RENJA) DINAS PERHUBUNGAN PARIWISATA KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA PROVINSI GORONTALO TAHUN ANGGARAN 2015

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "RENCANA KERJA (RENJA) DINAS PERHUBUNGAN PARIWISATA KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA PROVINSI GORONTALO TAHUN ANGGARAN 2015"

Transkripsi

1 RENCANA KERJA (RENJA) DINAS PERHUBUNGAN PARIWISATA KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA PROVINSI GORONTALO TAHUN ANGGARAN 2015 GORONTALO 2014 i

2 KATA PENGANTAR Segala puji syukur hanya patut dihaturkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan kesehatan dan kekuatan, sehingga penyusunan Rencana Kerja (RENJA) Dinas Perhubungan Pariwisata Komunikasi dan Informatika Provinsi Gorontalo 2015 ini dapat diselesaikan sebagaimana mestinya. Rencana Kerja (RENJA) Dinas Perhubungan Pariwisata Komunikasi Provinsi Gorontalo Tahun 2015 ini disusun berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 54 Tahun 2010 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah dengan berpedoman pada Review RPJMD Provinsi Gorontalo dan Review Renstra Dinas Perhubungan Pariwisata Komunikasi dan Informatika Provinsi Gorontalo Tahun Rencana Kerja merupakan suatu dokumen perencanaan yang nantinya akan dilaksanakan selama (satu) tahun tanpa menutup kemungkinan disuatu saat akan berkembang ataupun berubah sesuai dengan perkembangan pembangunan yang ada di Provinsi Gorontalo khususnya dibidang perhubungan, parwisata, komunikasi dan informatika. Dalam penyusunan Rencana Kerja ini, masih terdapat beberapa kendala kendala yang dihadapi namun berkat ketekunan semua staf akhirnya semua kendala dapat diatasi dan penyusunan Rencana Kerja ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Untuk ini segala saran dan masukan akan sangat dibutuhkan dalam rangka lebih memberikan masukan yang berarti dalam dokumen Rencana Kerja tahun 2015 ini selanjutnya. Terima kasih Gorontalo, Maret 2014 Kepala Dinas Perhubungan Pariwisata Komunikasi dan Informatika Provinsi Gorontalo HENRY F. DJUUNA Pembina Utama Madya NIP ii

3 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... BAB I : PENDAHULUAN... I Latar Belakang... I Landasan Hukum Penyusunan RENJA... I Maksud dan Tujuan Penyusunan... I Sistimatika Penulisan... I-2 BAB II : EVALUASI PELAKSANAAN RENJA SKPD... II Evaluasi Pelakasanaan Renja SKPD Tahun Lalu dan Capaian Renstra SKPD... II Analisis Kinerja Pelayanan SKPD... II Isu isu Penting Penyelenggaraan Tugas dan Fungsi SKPD... II-16 BAB III : TUJUAN, SASARAN, PROGRAM DAN KEGIATAN... III Telaah Terhadap Kebijakan Nasional... III Tujuan dan Sasaran Renja SKPD... III Program dan Kegiatan... III-4 BAB IV : PENUTUP... VI-1 LAMPIRAN i ii iii

4 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dinas Perhubungan Pariwisata Komunikasi dan Informatika Provinsi Gorontalo sebagai instansi penunjang penggerak pembangunan di daerah mempunyai peranan penting dalam pelayanan Jasa Perhubungan dan Pariwisata. Berdasarkan Peraturan Daerah Gorontalo Nomor 12 Tahun 2013 tentang pembentukan tata kerja dinas dinas daerah Provinsi Gorontalo dimana Dinas Perhubungan dan Pariwisata Provinsi Gorontalo berubah menjadi Dinas Perhubungan, Pariwisata, Komunikasi dan Informatika Provinsi Gorontalo, mempunyai tugas membantu Gubernur dalam penyelenggaraan pemerintahan di Bidang Perhubungan, Pariwisata dan Kominfo. Pembangunan Perhubungan, Pariwisata dan Komunikasi Informatika akan berpengaruh besar terhadap perekonomian daerah, khususnya dibidang transportasi berperan penting dalam distribusi barang dan jasa. Mengingat pembangunan perhubungan berdampak signifikan terhadap kondisi perekonomian daerah, maka kebijakan pembangunan perhubungan kedepan akan sangat berpengaruh terhadap prospek perekonomian daerah. Prospek perekonomian daerah sangat dipengaruhi oleh kondisi eksternal dan internal, kemajuan-kemajuan yang telah dicapai serta kebijakan strategis yang ditempuh selama ini. Permasalahan dan tantangan pembangunan bidang perhubungan, pariwisata dan komunikasi informatia yang dihadapi dalam 1 (satu) tahun ke depan akan menentukan agenda, sasaran serta program pembangunan yang juga harus bersifat lintas kaitan dan lintas koordinasi. Proses globalisasi yang dimotori oleh kemajuan di bidang Transportasi, Telekomunikasi, Informasi, maupun Pariwisata telah mendorong berbagai Negara dan atau daerah untuk mengembangkan perhubungan dengan mengupayakan ketersediaan infratruktur melalui pembangunan dan pemeliharaan sarana dan prasarana transportasi yang berkelanjutan, guna mendorong pemerataan pembangunan, melayani kebutuhan masyarakat dengan harga terjangkau serta membuka keterisolasian wilayah tertinggal. Demikian halnya dibidang pariwisata sebagai usaha kemajuan ekonomi daerah dan merupakan salah satu prioritas pemerintah daerah sebagai penghasil devisa utama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Berdasarkan penjelasan tersebut di atas maka dalam rangka penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi Dinas sebagai instansi pemerintah Dinas Perhubungan, Pariwisata dan Komunikasi dan Informatika Provinsi Gorontalo menyusun Rencana Kerja (RENJA) SKPD Tahun Anggaran Landasan Hukum Penyusunan RENJA Tahun 2015 Rencana Kerja (RENJA) Dinas Perhubungan, Pariwisata Komunikasi dan Informatika Provinsi Gorontalo tahun 2015 disusun berdasarkan peraturan perundang undangan sebagai berikut: 1. Undang-undang Nomor 38 Tahun 2000 Tentang Pembentukan Provinsi Gorontalo. 2. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Daerah 3. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional 4. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah 5. Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah iv

5 6. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom. 8. Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah. 9. Peraturan Pemerintah Nomor 108 Tahun 2000 tentang Tata Cara Pertanggungjawaban Kepala Daerah. 10. Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 Tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 11. Peraturan Presiden RI Nomor 7 tahun 2005 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 12. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah 13. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 7 Tahun 2010 Tentang Rencana Strategis Departemen Perhubungan Tahun Rencana Strategis Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Permendagri Nomor 54 Tahun 2010 tentang tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah 16. Peraturan Gubernur No. 67 Tahun 2010 tentang Tataran Transportasi Wilayah Provinsi Gorontalo 17. Peraturan Gubernur No. 47 Tahun 2010 tentang Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah Provinsi Gorontalo 18. Peraturan Daerah No. 2 Tahun 2012 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Gorontalo Peraturan Daerah No. 15 Tahun 2013 tentang Review (Kajian Kembali) Rencana Pembangunan Menengah Daerah (RPJMD Provinsi Gorontalo Tanggal 11 Nov Keputusan Gubernur No. 352/18/VIII/2012 tentang Pengesahan Rencana Strategis SKPD Provinsi Gorontalo tahun Rancangan RKPD Provinsi Gorontalo Tahun Maksud dan Tujuan Penyusunan Maksud penyusunan RENJA Dinas Perhubungan, Pariwisata Komunikasi dan Informatika Provinsi Gorontalo adalah untuk memberikan gambaran tentang visi, misi, tujuan, sasaran, strategi, kebijakan, dan program kegiatan dalam kurung waktu 2015, sedangkan tujuannya adalah sebagai berikut: a. Sebagai pedoman SKPD/Dinas dalam penyelengaraan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan jasa perhubungan, pariwisata komunikasi dan informatika yang handal dan berdaya saing khusunya yang akan dilaksanakan tahun b. Sebagai pedoman SKPD/Dinas dalam penyusunan RKA SKPD Tahun 2015 c. Sebagai tolak ukur SKPD/Dinas dalam evaluasi penilaian kinerja dalam melaksanakan program pembangunan pada tahun Sistimatika Penulisan Secara sistematis Rencana Strategis Dinas Perhubungan, Pariwisata, Komunikasi dan Informatika Provinsi Gorontalo tahun 2015 dapat diuraikan sebagai berikut : BAB I Merupakan Bab Pendahuluan yang memuat hal-hal substansial penyusunan RENJA seperti Latar Belakang, Landasan Hukum Penyusunan, Maksud dan Tujuan penyusunan, serta Sistematika Penulisan. v

6 BAB II Merupakan Bab Evaluasi Pelaksanaan RENJA SKPD yang memuat Evaluasi pelakasanaan RENJA SKPD tahun lalu dan capaian Renstra SKPD, Analisis kinerja pelayanan SKPD, Isu-isu penting penyelenggaraan tugas dan fungsi SKPD, Review terhadap RKPD, Telaah usulan program dan kegiatan masyarakat. BAB III Merupakan Bab Tujuan, Sasaran, Program dan Kegiatan yang akan memuat Telaah terhadap kebijakan nasional, Tujuan dan sasaran Renja SKPD, serta Program dan kegiatan. BAB IV Merupakan Bab Penutup, yang memuat kesimpulan dan saran dalam penyusunan RENJA SKPD tahun 2015 LAMPIRAN Matriks RENJA Tahun 2015 vi

7 BAB II EVALUASI PELAKSANAAN RENJA SKPD 2.1 Evaluasi Pelaksanaan RENJA SKPD Tahun Lalu dan Capaian Renstra SKPD Evaluasi pelaksanaan RENJA SKPD dan capaian Renstra SKPD sampai dengan tahun 2013 secara umum dapat dijelaskan bahwa terdapat beberapa program dan kegiatan yang akan dilaksanakan pada tahun 2015 dan belum dilakukan pada tahun 2013 maupun tahun Di bidang perhubungan kegiatan yang akan dilaksanakan berupa lanjutan dukungan pembangunan fasilitas Terminal tipe B di Kab/Kota, dimana kegiatan ini ditujukan untuk mendukung pembangunan fasilitas penunjang serta mensupport penetapan terminal tipe B di Kab/Kota sehingga dapat mengurangi peniadaaan terminal bayangan. Untuk pariwisata diusahakan pembangunan fasilitas sarana dan prasarana obyek wisata unggulan maupun pendukung di Kab/Kota agar dapat meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan di 8 (delapan) obyek wisata unggulan. Penjelasan di atas dapat dilihat pada Tabel 2.1. sebagaimana terlampir [ 2.2. Analisis Kinerja Pelayanan SKPD Analisis kinerja pelayanan SKPD yang akan dilaksanakan tahun 2015 dan sesuai target Renstra Dinas Perhubungan, Pariwisata Komunikasi dan Informatika Provinsi Gorontalo Dinas Perhubungan, Pariwisata Komunikasi dan Informatika Provinsi Gorontalo kini elah menempati gedung baru di kompleks perkantoran Pemerintah Provinsi Gorontalo Desa Ayula Kec. Tapa Kab. Bone Bolango. Dari segi prasarana, Dinas Perhubungan, Pariwisata Komunikasi dan Informatika Provinsi Gorontalo memiliki 19 unit kendaraan roda dua dan 7 unit kendaraan roda empat. Selain prasarana di atas, dalam mengoptimalkan kinerja, maka Dinas Perhubungan Pariwisata Komunikasi dan Informatika Provinsi Gorontalo telah mengusahakan secara bertahap pengadaan komputer dalam rangka persiapan komputerisasi dalam proses administrasi dan sistem informasi. Saat ini, semua komputer sudah terhubung dalam LAN dan untuk fasilitas telepon sudah menggunakan PABX. Pada Dinas Perhubungan Pariwisata Komunikasi dan Informatika Provinsi Gorontalo terdapat pelayanan SKPD yang berhubungan langsung dengan masyarakat yaitu pelayanan izin trayek, pemberian rekomendasi pembangunan tower telekomunikasi, pemberian izin dan rekomendasi jasa titipan, pemberian rekomendasi pendirian travel perjalanan dan pelayanan lainnya yang berhubungan langsung dengan masyarakat. Kemudian untuk Prasarana dan Sarana terhadap pelayanan masyarakat dapat dilihat sebagai berikut : a. Pelayanan Transportasi Darat Infrastruktur transportasi sejak berdirinya Provinsi Gorontalo mengalami pertumbuhan yang signifikan. Sesuai Keputusan Menteri PU NOMOR. 631/KPTS/M/2009 tentang Jalan Nasional, maka saat ini Provinsi Gorontalo memiliki jalan nasional sepanjang 606,696 Km dimana pada tahun 2002 hanya terdapat 551,03 Km (naik 10,1 %). Meskipun dari segi kualitas, jalan nasional maupun jalan provinsi masih perlu pembenahan. Adapun kewenangan pembangunan dan peningkatan jalan ini ada di Dinas PU Kimpraswil Provinsi Gorontalo untuk jalan Provinsi sedangkan untuk jalan nasional ada di Kementerian PU yang kemudian dalam pelaksanaannya, Kementerian PU menyerahkan pelaksanaan kegiatan tersebut ke satker di Dinas PU Kimpraswil Provinsi Gorontalo. Adapun detail jalan nasional dan jalan provinsi dapat dilihat pada Tabel berikut ini: vii

8 Tabel 2.2. Jalan Nasional di Provinsi Gorontalo Sumber : Dinas PU Prov. Gorontalo, 2013 Tabel 2.3. Jalan Provinsi di Provinsi Gorontalo Kep. Gub No. No. Ruas Nama Ruas (Km) Lebar (M) Terpasang Fas. Kes LLAJ Isimu - Batudaa 14, Sudah Batudaa - Gorontalo 5, Sudah K 1 Jl.Hasanudin (Gorontalo) 0, Sudah K 2 Jl. Raja Eyato (Gorontalo) 2, Sudah JK 3 Jl. Usman Ikhsan (Gorontalo) 6, Sudah Jl. Kabila - Tapa 9, Rencana K1 Jl. Toto Utara 1, Rencana Gorontalo Suwawa - Tulabolo 23, Rencana K Gorontalo Suwawa - Tulabolo 3, Sudah Tapa - Atinggola 45, K Jl. Cokroaminoto 0, Sudah K Jl. Ahmad Dahlan 1, Sudah K Jl. Pangeran Hidayat 1, Sudah K Jl. Rusli Datau 1, Sudah Marisa - Tolinggula 80, Aladi - Tulabolo 30, Gorontalo Biluhu Barat 27, K Jl. Kalengkongan 0, Sudah K Jl. Kamboja 0, Sudah K Jl. Yos Sudarso 2, Sudah K Jl. Botuliyodu 4, Sudah Biluhu Barat - Bilato 28, Bilato - Tangkobu 16, Rencana Tangkobu - Pentadu 55, Rencana Motolohu Marisa IV 35, Duhiyadaa - Imbodu 16, J U M L A H 414,51 viii

9 Sumber : Dinas PU Prov. Gorontalo, 2013 Dari segi sarana transportasi, pertumbuhan kendaraan menunjukkan angka yang signifikan. Dibandingkan dengan tahun 2012, maka tahun 2013 ini jumlah kendaraan meningkat sebesar rata-rata 25,54 % dimana yang paling besar pertumbuhannya didominasi kendaraan roda dua seperti terlihat pada Tabel dibawah ini. Tabel 2.4. Pertumbuhan kendaraan di Provinsi Gorontalo NO KAB/KOTA Rata-rata Pertumbuhan per Tahun RODA 2 RODA 4 RODA 2 RODA 4 RODA 2 RODA 4 RODA 2 RODA 4 RODA 2 RODA 4 RODA 2 RODA 4 RODA 2 RODA 4 1 SAMSAT KOTA ,36% 19,77% 2 SAMSAT BONE BOLANGO ,47% 0,07% 3 SAMSAT LIMBOTO ,93% 103,08% 4 SAMSAT GORUT ,01% 32,79% 5 SAMSAT BOALEMO ,56% 29,51% 6 SAMSAT POHUWATO ,37% 67,25% JUMLAH ,54% 22,48% Sumber : Badan Keuangan Daerah Provinsi Gorontalo, 2013 Untuk mendukung arus lalu lintas barang dan orang, maka dibangunlah fasilitas terminal sebagai simpul jaringan jalan. Terminal ini terbagi menjadi 3 kategori yakni terminal tipe A yang melayani trayek Antar Kota Antar Provinsi (AKAP), terminal tipe B yang melayani trayek Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP), dan terminal tipe C yang melayani trayek lokal dari ibukota kabupaten/kota ke kecamatan dan desa di wilayahnya masing-masing. Provinsi Gorontalo memiliki 2 unit terminal tipe A, 6 unit terminal tipe B, dan 11 unit terminal tipe C. Terminal tipe A terletak di Kota Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo. Akan tetapi terminal yang berada di Isimu Kabupaten Gorontalo pemanfaatannya kurang dioptimalkan sehingga kondisinya sebagian rusak dan tidak terawat. Selain itu belum adanya penetapan status Terminal Tipe B oleh Kab/Kota sehingga mulai tahun 2013 mulai dilakukan upaya support kepada Dishub Kab/Kota agar segera melakukan penetapan status Terminal Tipe B tersebut. Dilihat dari kewenangan pengoperasian, maka sesuai PP No 38 tahun 2007 maka yang berwewenang untuk menyetujui pengoperasian terminal tipe A ini adalah Pemerintah Pusat. Lokasi terminal dan trayek yang dilayani oleh masing-masing terminal tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini: ix

10 Tabel 2.5. Terminal di Provinsi Gorontalo (Dishubpar, 2013) x

11 Lanjutan Tabel 2.5 xi

12 Lanjutan Tabel 2.5 Untuk melayani trayek - trayek pada terminal - terminal tersebut, terdapat 561 unit armada angkutan AKDP (Data Dishub Prov. 2012). Izin trayek dikeluarkan oleh Dinas Perhubungan, Pariwisata Komunikasi dan Informatika Provinsi Gorontalo dimana izin tersebut dipantau secara berkala melalui operasi lalu lintas bekerja sama dengan Kepolisian Daerah serta Dinas Perhubungan Kab/Kota. Dalam upaya merasionalisasi armada angkutan yang beroperasi, sebaiknya izin trayek diberikan dengan masa berlaku sesuai kelaikan operasional kendaraan. Selain terdapat angkutan Angkutan Kota Dalam Provinsi (AKDP) maka di Provinsi Gorontalo terdapat Angkutan Antar Jemput Antar Provinsi (AJAP) atau lazim dikenal dengan sebutan kendaraan rental, dari tahun terakhir (2011) tercatat telah terdaftar 200 jumlah angkutan AJAP (Data Dishub Prov. 2011) dan baru 10 kendaraan yang memiliki ijin trayek/ijin operasional sampai tahun 2011, kedepannya kendaraan ini akan lebih ditertibkan sebagai salah satu faktor penurunan laka lantas angkutan umum. Dalam mengurangi dan menimimalisir muatan berlebih dijalan raya maka diperlukan Jembatan Timbang sebagai sarana pengontrol tersebut. Unit Pelaksana Penimbangan (Jembatan Timbang) yang terdapat di Provinsi Gorontalo sebanyak 3 xii

13 unit yaitu Jembatan timbang tersebut terletak di Isimu. (Kabupaten Gorontalo), Marisa (Kabupaten Pohuwato) dan Molotabu (Kabupaten Bone Bolango) seperti yang terlihat pada tabel berikut : Tabel 2.6. Daftar Lokasi Jembatan Timbang di Prov. Gorontalo No Nama Lokasi Ket 1 Jembatan Timbang Isimu Isimu, Kec. Tibawa Kapasitas 20 Ton, Kab. Gorontalo dalam tahap relokasi 2 Jembatan Timbang Marisa Kec. Marisa, Kapasitas 40 Ton Kab. Pohuwato 3 Jembatan Timbang Molotabu Desa Botutonuo Kapasitas 40 Ton Kec. Kabila Bone Kab. Bone Bolango Sumber : Dinas Perhubungan dan Pariwisata Provinsi Gorontalo, 2013 Sedangkan dalam upaya meningkatkan pelayanan angkutan transportasi darat khususnya daerah yang belum terjangkau oleh layanan transportasi umum masih terdapat 7 daerah lintasan yang belum dilayani oleh lintasan perintis dari total 19 daerah lintasan sebagaimana terlihat pada tabel berikut Tabel 2.7. Daftar Lintasan Perintis di Prov. Gorontalo No Lintasan Ket 1 Gorontalo Kwandang Tolinggula Ulu - Papualangi 2 Terminal 42 Bongopini Suwawa - Wongkaditi 3 Gorontalo Marisa - Malango Disupport 4 Gorontalo Parungi Lakeya Bululi Sukoharjo - Mohiyolo dengan APBN 5 Gorontalo Kayubulan Biluhu Tengah - Ilomata 6 Gorontalo Molibagu 1 Gorontalo - Pangea Disupport 2 Gorontalo - Bobaa dengan APBD 3 Gorontalo - Bondawuna 4 Tml. Isimu Mulyonegoro Paris - Satria 1 Gorontalo Tapa Owata - Dulamayo 2 Tml. Isimu Wonggahu Mutiara Bongo I Bongo III 3 Tml. Isimu Mulyonegoro Paris - Satria 4 Gorontalo Tapa Kabila Suwawa - Tulabolo Yang belum terlayani 5 Tml. Isimu Pulubala Pangadaa - Batulayar 6 Gorontalo Botupingge Timbuolo Jembatan Suwawa 7 Tml. 42 Kampung Jawa Hutabohu Tabongo Timur - Bongomeme Sumber : Dinas Perhubungan dan Pariwisata Provinsi Gorontalo, 2013 Selain moda angkutan darat, maka sarana transportasi yang cukup berkembang adalah moda angkutan penyeberangan. Provinsi Gorontalo saat ini memiliki 2 pelabuhan penyeberangan yakni Pelabuhan Penyeberangan Gorontalo yang berada di Kota Gorontalo dan melayani trayek komersial Gorontalo - Pagimana dan trayek perintis Gorontalo Wakai - Ampana, serta Pelabuhan Penyeberangan Bumbulan yang berada di Kabupaten Pohuwato dan melayani trayek perintis Marisa Dolong - Ampana. Untuk Pelabuhan Penyeberangan Gorontalo, trayek komersial dilayani dengan menggunakan KMP Baronang dan KMP Adhi Swadarma III sedangkan trayek perintis dilayani dengan KMP Tuna Tomini. Sementara yang trayek perintis di Pelabuhan Penyeberangan Bumbulan dilayani dengan menggunakan KMP Tanjung Siapi-api. Secara administrasi, Kantor Pelabuhan Penyeberangan Bumbulan masih berada di bawah koordinasi Kantor Pelabuhan Penyeberangan Gorontalo berhubung pelabuhan tersebut baru dioperasikan pada tahun Pengoperasian kedua kantor Pelabuhan penyeberangan tersebut merupakan kewenangan Pemerintah Pusat dalam xiii

14 NO TAHUN TRIP hal ini Kementerian Perhubungan. Adapun produktivitas di Pelabuhan Penyeberangan Grontalo dapat dilihat pada Tabel berikut Tabel 2.8. Produktivitas Pelabuhan Penyeberangan Gorontalo , ,37 74,0 7,0 81,0-25,00 3,0-3,0-97, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,83 Jumlah Sumber : Pelabuhan Penyeberangan Gorontalo, 2013 TURUN JUMLAH VOLUME ANGKUTAN PENUMPANG (Org) BARANG (Ton) KENDARAAN (Unit) NAIK TURUN JUMLAH TREND NAIK TREND RODA 2 TREND RODA 4 JUMLAH NAIK TURUN NAIK TURUN Grafik.2.1. Produktivitas Pelabuhan Penyeberangan Gorontalo JUMLAH TREND Berdasarkan Tabel dan Grafik Produktivitas Pelabuhan Penyeberangan Gorontalo 5 (lima) Tahun terakhir dapat dilihat bahwa arus turun naik penumpang, barang dan kendaraan cenderung mengalami pengerakan yang fluktuatif, dimana setiap tahun mengalami kenaikan maupun penurunan yang bervariasi, pada Tahun 2012 penumpang yang diangkut sebanyak orang dan tahun 2013 sebanyak orang, mengalami kenaikan sebesar 39,17%. Angkutan barang tahun 2012 sebanyak ton dan tahun 2013 sebanyak ton mengalami penurunan sebesar 33,02%. Untuk tahun 2012 angkutan kendaraan roda 2 sebanyak unit dan tahun unit, hal ini mengalami peningkatan sebesar 21,50% dan roda 4 sebanyak xiv

15 4.901 unit dibandingkan dengan tahun 2012 sebesar unit hal ini mengalami penurunan sebesar 6,83%. b. Pelayanan Transportasi Laut Provinsi Gorontalo memiliki 5 pelabuhan laut yang terletak di pesisir Utara dan Selatan. Sesuai Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 53 tahun 2002 tentang Tatanan Kepelabuhanan Nasional, maka terdapat 3 (tiga) pelabuhan nasional yakni Pelabuhan Gorontalo, Pelabuhan Anggrek, dan Pelabuhan Kwandang, dan terdapat 1 (satu) pelabuhan regional yakni Pelabuhan Tilamuta dan 1 (satu) pelabuhan lokal yaitu Pelabuhan Bumbulan. Di pesisir utara terdapat Pelabuhan Anggrek yang dikhususkan untuk melayani barang secara cargo dan peti kemas baik pelayaran dalam negeri maupun internasional, untuk Pelabuhan Kwandang digunakan untuk pelayaran rakyat ke Buol dan Toli-toli Sulawesi Tengah. Kedepannya nanti Pelabuhan Kwandang dikembangkan untuk pelayaran antara Gorontalo sampai Balikpapan Kalimantan Timur. Sedangkan di pesisir selatan terdapat Pelabuhan Gorontalo, Pelabuhan Tilamuta dan Pelabuhan Bumbulan dimana ke 3 (tiga) pelabuhan tersebut bertugas sebagai pengumpul dan pendistribusi dikawasan Teluk Tomini. Operasional kantor pelabuhan-pelabuhan ini merupakan kewenangan pemerintah pusat dan dijalankan oleh Kepala Kantor Pelabuhan. Akan tetapi dalam pelaksanaan tugasnya, Kakanpel tersebut berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Gorontalo melalui Dinas Perhubungan Pariwisata Komunikasi dan Informatika Provinsi Gorontalo. Demikian halnya dalam pengajuan/penambahan anggaran ke Kementerian Perhubungan RI melibatkan Dinas Perhubungan Pariwisata Komunikasi dan Informatika Provinsi Gorontalo Tabel 2.9. Aktivitas Kunjungan Kapal di Pelabuhan se-provinsi Gorontalo NO PELABUHAN Tiba Berangkat Jmlh Pergerakan Tiba Berangkat Jmlh Pergerakan 2010 Tiba Berangkat Jmlh Pergerakan 2011 Tiba Berangkat Jmlh Pergerakan 2012 Tiba Berangkat Jmlh Pergerakan 2013 Tiba Berangkat Jmlh Pergerakan 1 PELABUHAN GORONTALO PELABUHAN ANGGREK PELABUHAN KWANDANG PELABUHAN TILAMUTA PELABUHAN BUMBULAN JUMLAH TOTAL Sumber : Pelabuhan Laut se- Provinsi Gorontalo, Grafik.2.2. Arus Kunjungan Kapal di Pelabuhan se-prov. Gorontalo xv

16 NO PELABUHAN Berdasarkan Tabel dan Grafik Arus Kunjungan Kapal di Pelabuhan se-provinsi Gorontalo di atas, dapat dilihat bahwa Kunjungan kapal cenderung mengalami pengerakan yang fluktuatif, dimana setiap tahun mengalami kenaikan yang bervariasi namun kenaikan kunjungan kapal pada ke 4 pelabuhan meningkat tajam di tahun Tahun 2013 di 4 pelabuhan tersebut sebanyak unit, bila dibandingkan dengan Tahun 2012 adalah mengalami sebesar 56,3%. Tabel Arus Turun Naik Penumpang di Pelabuhan se-provinsi Gorontalo TURUN NAIK Jumlah Pergerakan TURUN NAIK Jumlah Pergerakan TURUN NAIK Jumlah Pergerakan TURUN NAIK Jumlah 2012 Pergerakan TURUN NAIK Jumlah 2013 Pergerakan TURUN NAIK Jumlah Pergerakan 1 PELABUHAN GORONTALO , , , , , ,68 2 PELABUHAN ANGGREK , , , , ,00 0 0,00 3 PELABUHAN KWANDANG , , , , , ,00 4 PELABUHAN TILAMUTA , , , , , ,00 5 PELABUHAN BUMBULAN ,00 JUMLAH TOTAL Sumber : Pelabuhan Laut se-provinsi Gorontalo, 2013 Grafik Arus Turun Naik Penumpang di Pelabuhan se-provinsi Gorontalo Berdasarkan Tabel dan Grafik Arus Turun Naik Penumpang di Pelabuhan se- Provinsi Gorontalo terlihat bahwa sampai tahun 2013 yang melayani penumpang hanya Pelabuhan Gorontalo dan dimasuki oleh kapal PELNI KM. Tilong Kabila dengan frekuensi kurang lebih dua kali dalam sebulan (2 minggu 1 kali). Pergerakan penumpang Tahun 2013 terlihat bahwa jumlah yang diangkut pada Pelabuhan Gorontalo berjumlah orang yang terdiri dari penumpang turun sebanyak orang dan penumpang naik sebanyak orang bila dibandingkan dengan tahun 2012 mengalami penurunan sebesar 8,68%. Tabel Arus Bongkar Muat Barang di Pelabuhan se-provinsi Gorontalo NO PELABUHAN BKR MUAT Jumlah Pergerakan BKR (ton/m3) (ton/m3) (ton/m3) (ton/m3) MUAT Jumlah (ton/m3) (ton/m3) Pergerakan BKR MUAT Jumlah (ton/m3) (ton/m3) (ton/m3) Pergerakan BKR MUAT 2011 Jumlah (ton/m3) (ton/m3) (ton/m3) Pergerakan BKR MUAT 2012 Jumlah (ton/m3) (ton/m3) (ton/m3) Pergerakan BKR MUAT 2013 Jumlah (ton/m3) (ton/m3) (ton/m3) Pergerakan 1 PELABUHAN GORONTALO , , , , , ,75 2 PELABUHAN ANGGREK , , , , , ,79 3 PELABUHAN KWANDANG , , , , , ,85 4 PELABUHAN TILAMUTA , , , , , ,63 5 PELABUHAN BUMBULAN ,90 JUMLAH TOTAL xvi

17 Sumber : Pelabuhan Laut se-provinsi Gorontalo, 2013 Grafik Arus Bongkar Muat Barang (Ton/M3) di Pelabuhan se-provinsi Gorontalo Berdasarkan Tabel dan Grafik Arus Bongkar Muat Barang (Ton/M3) di Pelabuhan se-provinsi Gorontalo terlihat bahwa arus bongkar muat cenderung mengalami pergerakan yang fluktuatif, dimana setiap tahun bervariasi presentase kenaikan, pada tahun 2013 di 4 (empat) pelabuhan adalah sebesar ton/m3 yang terdiri dari volume bongkar ton/m3 dan muat ton/m3, mengalami peningkatan sebesar 1,96 % dibandingkan tahun 2012 hal memberikan gambaran bahwa terjadi peningkatan ekonomi di Provinsi Gorontalo. c. Pelayanan Transportasi Udara Bandar Udara Djalaluddin Gorontalo merupakan satu-satunya bandar udara yang ada di Provinsi Gorontalo dimana beberapa tahun terakhir mengalami perkembangan infrastruktur yang cukup signifikan. Adapun fasilitas yang ada di bandar udara saat ini adalah sebagai berikut : 1) Status Bandara Nasional Kelas II C. 2) Kapasitas Landasan Boeing , Boeing NG, Boeing ER 3) Runway uk m x 45 m 4) Konstruksi Asphalt Concrete dengan kekuatan PCN 41 F/C/Y/T 5) Taxiway 2 bh uk. 115 m x 23 m 6) Apron uk. 231,5 m x 80 m, kapasitas maksimum parkir pesawat ± 2 bh pesawat 7) Terminal Penumpang m2 (Data Sapras Bandara Djalaluddin Gorontalo, 2011), kapasitas maksimum penumpang ± 200 orang Kedepannya Bandara Djalaluddin Gorontalo di fokuskan menjadi Bandara Internasional Regional / Haji. Adapun rute lintasan dan maskapai penerbangan yang beroperasi di Bandara Djalaludin adalah sebagaimana pada tabel berikut: Tabel Aktivitas Penerbangan di Bandara Djalaluddin, 2013 NO MASKAPAI TIPE PESAWAT JUMLAH SEAT PESAWAT RUTE KETERANGAN 1 LION AIR B ER 205 Seat 1. Gorontalo - Makassar - Jakarta (PP) Berjadwal B Seat Datang : GTO : WITA 2. Gorontalo - Makassar - Surabaya - Jakarta (PP) Berangkat : JKT : WIB 2. GARUDA INDONESIA B Seat 1. Gorontalo - Makassar - Jakarta (PP) Berjadwal Datang : GTO : WITA Bombardier Gorontalo - Makassar - Surabaya - Jakarta (PP) Berangkat : JKT : WIB 3. SRIWIJAYA AIR B Seat Gorontalo - Makassar - Jakarta (PP) Berjadwal B Seat Datang : GTO : xvii WITA Berangkat : JKT : WIB 5. WINGS AIR ATR Seat Gorontalo - Manado Datang : GTO : WITA MDO : WITA Connect dengan B ER

18 NO TAHUN Secara administrasi bandara ini merupakan salah satu UPT Kementerian Perhubungan dan dalam menjalankan tugasnya Kepala Bandara bertanggung jawab kepada Menteri Perhubungan disamping juga dalam pelaksanaan tugas sehari-hari dapat berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Gorontalo. Tabel Aktivitas di Bandara Djalaluddin 5 Tahun Terakhir (DishubparKominfo, 2013) Tiba Brkt Jumlah pergerakan Tiba Brkt Transit Jumlah Sumber : Bandara Djalaluddin Gorontalo, 2013 pergerakan Bongkar Muat Jumlah pergerakan , , , , , , , , , , , , , , , , , ,13 Jumlah Rata-rata per tahun Rata-rata per hari , , NO TAHUN PESAWAT PENUMPANG BAGASI (Kg) Bongkar Muat Jumlah pergerakan Bongkar Muat Jumlah pergerakan , , , , , , , , , , , ,91 Jumlah Rata-rata per tahun Rata-rata per hari CARGO (Kg) POS (Kg) Grafik 2.5. Tren Arus Pesawat, Penumpang, Cargo dan Bagasi di Bandara Djalaluddin Gorontalo xviii

19 Berdasarkan Grafik dan Layanan Penerbangan di Bandara Djalaluddin Gorontalo, terlihat bahwa arus pesawat, penumpang, bagasi, cargo, dan pos selama kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir cenderung mengalami pengerakan yang fluktuatif, dimana setiap tahun mengalami kenaikan maupun penurunan yang bervariasi, namun pada tahun 2013 arus pesawat di Bandara Djalaluddin adalah sebanyak pesawat, naik 24,66% dibandingkan tahun Penumpang pada tahun 2013 sebanyak penumpang, mengalami peningkatan 15,85% dibandingkan tahun 2012 atau rata-rata per hari 508 penumpang. d. Pelayanan Pariwisata xix

20 Pelayanan pariwisata disesuaikan dengan kondisi sosial budaya dan dimensi ekonomi dengan titik berat pada wisata alam antara lain wisata bahari serta pengembangan kesenian tradisional sebagai sarana promosi. Saat ini Provinsi Gorontalo memiliki banyak obyek wisata yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota. Terdapat 86 obyek wisata dimana ada yang merupakan kategori wisata alam, wisata buatan, serta kategori wisata budaya dan peninggalan sejarah. Seperti terlihat pada tabel sebagai berikut Tabel Data Obyek Wisata di Provinsi Gorontalo NO NAMA OBYEK JENIS OBYEK LOKASI KOTA GORONTALO 1 Benteng Otanaha Wisata sejarah ± 8 km dari pusat kota, Kel. Dembe Kec. Kota Barat 2 Telapak Lahilote Wisata sejarah ± 2 km dari pusat kot, Kel. Pohe Kec. Kota Selatan 3 Pantai Indah Pohe Wisata bahari ± 2 km dari pusat kot, Kel. Pohe Kec. Kota Selatan 4 Tangga Dua Ribu Wisata buatan ± 2.5 km dari pusat kota, Kel. Dembe Kec. Kota Barat 5 Kolam Renang Lahilote Wisata buatan ± 2.5 km dari pusat kota, Kel. Limba U2 Kec. Kota Selatan 6 Rumah Adat Dulohupa Wisata budaya ± 2.5 km dari pusat kota, Kel. Limba U2 Kec. Kota Selatan 7 Pemandian Bak Potanga Wisata buatan ± 4km dari pusat kota, Kel. Pilolodaa Kec. Kota Barat 8 Makam Keramat Du Panggola Wisata sejarah ± 8km dari pusat kota, Kel. Dembe I Kec. Kota Barat 9 Makam Keramat Ta'Jailoyibuo Wisata sejarah ± 2km dari pusat kota, Kel. Donggala Kec. Kota Barat 10 Makam Keramat Ta'Ilayabe Wisata sejarah Kompleks Pelabuhan Gorontalo 11 Makam Keramat Haji Buulu Wisata sejarah Jl. Teuku Umar Kota Gorontalo 12 Makam Keramat Pulubunga Wisata sejarah ± 4km dari pusat kota, Kel. Tanjung Kramat Kec. Kota Selatan 13 Pantai Karang Citra Wisata bahari ± 4km dari pusat kota, Kec. Kota Selatan 14 Goa Baya Lo Milate Wisata alam ± 4km dari pusat kota, Kel. Tanjung Kramat Kec. Kota Selatan 15 Masjid Hunto (Sultan Amai) Wisata sejarah ± 2km dari pusat kota, Kel. Siendeng 16 Masjid Baiturrahim Wisata sejarah Pusat Kota Gorontalo KABUPATEN GORONTALO 1 Danau Limboto Wisata alam ± 10km dari pusat kota, Kel. Limboto dan Kec. Batudaa 2 Museum Pendaratan Soekarno Wisata sejarah ± 10km dari pusat kota, Desa Iluta Kec. Batudaa 3 Pemandian Taluhu Barakati Wisata alam ± 12km dari pusat kota, Desa Barakati Kec. Batudaa 4 Goa Ular Wisata alam ± 15km dari pusat kota, Kec. Batudaa 5 Sirkuit Pacuan Kuda dan Lap Golf Wisata buatan Desa Yosonegoro Kec. Limboto Barat 6 Pentadio Resort Wisata buatan Desa Pentadio Kec. Telaga Biru 7 Rumah Adat Bantayo Poboide Wisata budaya Pusat Kota Limboto 8 Menara Keagungan Limboto Wisata buatan Pusat Kota Limboto 9 Bukit PPN Limboto Wisata buatan Desa Bongohulawa Kec. Limboto 10 Batu Buaya dan Batu Babi Wisata alam Kec. Batudaa KABUPATEN BOALEMO 1 Pantai Bolihutuo Wisata bahari Desa Bolihutuo Kec. Botumoito 2 Taman Laut Pulau Limba Wisata bahari Desa Paguyaman Pantai 3 Pulau Pasir Putih Wisata bahari Desa Mohutomba 4 Pulau Mohupomba Wisata bahari 5 Pulau Asiangi Wisata bahari 6 Pemandian Air Panas Dulanga Wisata alam Desa Dulango 7 Pulau Dulupi Wisata bahari Kec. Dulupi 8 Pulau Poheita Wisata bahari Desa Tenilo 9 Teluk Bu'baa Wisata alam Paguyaman Pantai 10 Perkampungan Etnis Bali Wisata budaya Kec. Wonosari 11 Taman Nasional Nantu Wisata alam Kel. Libuo Kec. Paguat KABUPATEN POHUWATO 1 Pantai Libuo Wisata bahari ± 13 km dari Pusat Kota Marisa, Kec. Paguat 2 Tanjung Maleo Wisata bahari Desa Maleo Kec. Paguat 3 Tanjung Bajo Wisata bahari ± 20 km dari Pusat Kota Marisa, Desa Bumbulan Kec. Paguat 4 Pohon Cinta Wisata bahari Pusat Kota Marisa, Desa Pohuwato Timur 5 Pantai Bulili Wisata alam Desa Bulili, Kec. Duhiadaa 6 Pantai Lalape Wisata alam ± 70 km dari Pusat Kota Marisa, Desa Trikora Kec. Popayato 7 Danau Delo Wisata alam ± 15 km dari Pusat Kota Marisa, Desa Trikora Kec. Popayato 8 Danau Embung Wisata alam ± 30 km dari Pusat Kota Marisa, Kec. Patilanggio 9 Danau Telaga Wisata alam Desa Telaga Kec. Popayato 10 Masjid Keramat Wanggarasi Wisata buatan Kec. Wanggarasi 11 Desa Wisata Torosiaje Wsata Budaya Desa Torosiaje Kec. Popayato 12 Air Terjun Kelapa Lima Wisata alam Kec. Popayato Timur 13 Air Terjun Makarti Jaya Wisata alam Kec. Taluditi 14 Air Terjun Lomuli Wisata alam Desa Lomuli Kec. Lemito 15 Air Terjun Wanggarasi Wisata alam Kec. Wanggarasi 16 Pulau Lahe Wisata bahari Desa Pohuwato Timur Kec. Marisa xx

21 Lanjutan Tabel 2.14, NO NAMA OBYEK JENIS OBYEK LOKASI KABUPATEN BONE BOLANGO 1 Air Terjun Taludaa Wisata alam Desa Taludaa Kec. Bone Pantai 2 Taman Laut Olele Wisata bahari Desa Olele Kec. Kabila Bone 3 Taman Nasional Bogani Nani Wartabone Wisata alam Kec. Suwawa Timur 4 Air Terjun Lombongo I dan II Wisata alam Desa Lombongo, Kec. Suwawa Timur 5 Danau Perintis Wisata alam Kec. Suwawa 6 Makam Raja-raja Atinggola Wisata sejarah Desa Dunggala Kec. Tapa 7 Kebun Binatang Mana Suka Wisata buatan Kec. Kabila 8 Pantai Botutonuo Wisata bahari Kec. Kabila Bone KABUPATEN GORONTALO UTARA 1 Pulau Saronde Wisata alam Desa Ponelo 2 Benteng Oranye Wisata sejarah Desa Dambalo 3 Ota Jin Wisata sejarah Desa Kota Jin Kec. Atinggola 4 Pantai Minanga Wisata bahari Desa Kota Jin Kec. Atinggola 5 Pontolo Indah Wisata buatan Desa Pontolo Kec. Kwandang 6 Pantai Monano Wisata bahari Desa Monano Kec. Anggrek 7 Pantai Tolitohuyu Wisata bahari Desa Dunu Kec. Anggrek 8 Taman Laut Raja Wisata bahari Desa Dunu Kec. Anggrek 9 Pulau Raja Wisata bahari Desa Dunu Kec. Anggrek 10 Pulau Mas Wisata bahari Desa Buladu 11 Pulau Popaya Wisata bahari Desa Deme II 13 Pantai Limu Wisata bahari Desa Bulontio Timur Kec. Sumalata 14 Bulonggo Daa Wisata sejarah Desa Buladu 15 Kuburan Belanda Wisata sejarah Desa Buladu 16 Pantai Tolinggula Wisata bahari Desa Tolinggula Tengah 17 Perkampungan Polahi Wisata budaya Desa Bulontio Timur Kec. Sumalata 18 Desa Wisata Ponelo Wisata buatan Desa Ponelo 19 Pulau Seribu Wisata alam Desa Dudepo 20 Pulau Katialada Wisata alam Desa Moluo Kec. Kwandang 21 Pulau Mohinggito Wisata alam Desa Ponelo 22 Air Terjun Pontolo Wisata alam Desa Pontolo Kec. Kwandang 23 Air Terjun Bontula Wisata alam Desa Boalemo 25 Pemandian Batu Licin Wisata alam Desa Molingkapoto Kec. Kwandang Sumber : Dinas Perhubungan Pariwisata dan Kominfo Prov. Gorontalo, 2013 Dalam perencanaan pengembangan potensi pariwisata untuk 5 tahun ke depan, maka pengembangan obyek akan lebih difokuskan pada pengembangan 8 obyek wisata unggulan yakni Taman Laut Olele, Air terjun Lombongo, Benteng Otanaha, Pentadio Resort, Museum pendaratan Soekarno, Hutan Nantu, Desa Torosiaje dan pulau Saronde. Satu hal yang menjadi catatan dalam pengembangan obyek wisata di Provinsi Gorontalo adalah masih minimnya keterlibatan masyarakat dalam kegiatan kepariwisataan. Adapun kunjungan wisatawan baik wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara di obyek wisata yang tersebar di Provinsi Gorontalo dapat dilihat pada tabel di bawah ini Tabel Data Kunjungan Wisatawan di Provinsi Gorontalo (Tahun ) No Tahun Jumlah Kunjungan Wisman dan Wisnus Ket orang orang xxi orang orang

22 Sumber : Dinas Perhubungan Pariwisata dan Kominfo Prov. Gorontalo, Isu isu Penting Penyelenggaraan Tugas dan Fungsi SKPD Analisis isu isu penting dalam penyelenggaraan tugas dan fungsi Dinas Perhubungan Pariwisata Komunikasi dan Informatika Provinsi Gorontalo didasarkan pada beberapa hal sebagai berikut : 1. Koordinasi dan sinergi program antara Dinas Perhubungan Pariwisata Komunikasi dan Informatika Provinsi Gorontalo dengan lintas SKPD kabupaten/kota serta dengan Kementerian Perhubungan RI, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI dan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI dalam rangka pencapaian kinerja pembangunan dilaksanakan dalam bentuk koordinasi antara semua stakehoulder, dimana kegiatan ini dilaksanakan berupa Rapat koordinasi maupun rembuk SKPD dengan lintas terkait yang telah berjalan dengan baik. Dalam pelaksanaannya usulan program dan kegiatan yang dihasilkan merupakan hasil aspirasi dari bawah yang kemudian dimasukan menjadi bahan usulan tahun berjalan maupun tahun akan datang 2. Tantangan, Kendala, Masalah dan Peluang Penyelenggaraan Tugas dan Fungsi SKPD - Bidang Perhubungan (Transportasi) Transportasi darat, masih banyaknya akses jalan yang masih berupa jalan kerikil dan tanah, masih minimnya fasilitas fasilitas keselamatan LLAJ diruas jalan Nasional maupun Provinsi, masih tingginya kerusakan jalan, masih rendahnya kuantitas dan kualitas angkutan umum yang menyebabkan rendahnya kualitas pelayanan, masih banyaknya daerah daerah yang belum dilayani oleh angkutan umum dimana hal ini masih harus disubsidi oleh angkutan darat perintis yang disupport oleh dana APBD maupun APBN. dengan Kondisi ini mengakibatkan mobilitas kegiatan ekonomi daerah, khususnya dari sentra produksi menuju pasar mengalami perlambatan. Demikian halnya dengan distribusi barang, penumpang dan jasa mengalami hambatan. Hal ini mengakibatkan turunnya daya saing komoditi unggulan dan daya dorong terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Dilain pihak masih banyaknya mobil mobil penumpang yang masih berplat hitam, dan belum adannya angkutan pemadu moda dibandara, dimana hal ini akan dapat memacu lancarnya akses antar moda darat dan udara maupun pelabuhan Dibidang transportasi laut juga masih dirasakan keterbatasan-keterbatasan yang menyebabkan rendahnya kontribusi sektor transportasi laut terhadap ekonomi daerah. Kapasitas bongkar muat di pelabuhan Gorontalo, keterbatasan sarana pelabuhan Anggrek, pelabuhan Kwandang serta pelabuhan Tilamuta, merupakan beberapa bagian yang menjadi tantangan untuk bisa diwujudkan. Pelabuhan Gorontalo merupakan pelabuhan pengumpul dan pendistribusi dikawasan teluk tomini, sedangkan Pelabuhan Tilamuta dan Bumbulan sebagai pengumpan ke pelabuhan Gorontalo, Pelabuhan Anggrek terletak di kawasan utara Gorontalo yang saat ini melayani aktifitas bongkar/muat barang cargo xxii

23 dan peti kemas termasuk ekspor jagung yang dikemudian hari dinaikkan skala kapasitas kapal yang beroperasi di Pelabuhan tersebut. Keunggulan pelabuhan Anggrek ini memiliki jarak yang relatif dekat dengan negara-negara tetangga dibandingkan dengan pelabuhan Bitung seperti Malaysia, Philipina, Korea dan Jepang Sedangkan Pelabuhan Kwandang melayani antar pulau utamanya angkutan ternak sapi. Dibidang transportasi udara, adalah masih terbatasnya sarana prasarana bandara dan fasilitas pendukung bandara menuju bandara International Regional hal ini merupakan tantangan yang perlu direalisasikan kedepan agar pertumbuhan ekonomi Gorontalo meningkat. - Bidang Pariwisata Permasalahan dan tantangan yang dihadapi di bidang pariwisata yaitu : 1. Belum optimalnya pelibatan dan peran masyarakat lokal sehingga potensi dan posisi masyarakat lokal sebagai pelaku/subyek penting dalam pengembangan pariwisata masih belum terujud secara nyata dan optimal. 2. Belum optimalnya nilai manfaat pariwisata bagi masyarakat lokal sehingga kedudukan masyarakat sebagai penerima manfaat dalam pengembangan pariwisata juga masih sering terabaikan dan belum mendapat manfaat secara memadai. 3. Belum kuatnya komitmen sadar wisata di kalangan masyarakat sehingga sadar wisata sebagai bentuk komitmen strategis dalam pengembangan pariwisata masih belum mengakar, dipahami, dan disikapi secara tepat dan kongkret di kalangan masyarakat. 4. Dukungan dan peran media yang belum optimal sehingga dalam pengembangan pariwisata masih relatif terbatas, belum kontinue, atau masih tomporer (masih berdasarkan keberadaan suatu even). 5. Koordinasi/sinergi lintas sektor dan kabupaten kota yang belum efektif sehingga masih muncul ego sektoral dan kedaerahan dalam pengembangan pariwisata, upaya pemberdayaan masyarakat masih menjadi sasaran sekunder sehingga upaya pengembangan belum terintegrasi. 6. Masih terbatasnya alokasi dana baik untuk kegiatan promosi dan penyiapan sarana dan prasarana pariwisata. Adapun peluang khususnya di bidang Perhubungan dan Pariwisata Provinsi Gorontalo sebagai berikut : 1. Posisi geoekonomi strategis yang berhadapan dengan Filipina, Brunei & Malaysia sehingga pengembangan infrastruktur transportasi dalam rangka interkonektivitas wilayah mutlak diperlukan 2. Pengembangan sektor pertanian dan perikanan memberikan efek terhadap pengembangan sektor perhubungan dan pariwisata 3. Perdagangan bebas memberi peluang pada sektor perhubungan, komunikasi/informatika dan pariwisata 4. Sebagai lintasan transportasi darat yang menghubungkan antara Sulut, Sulteng & Sulsel 3. Formulasi isu isu penting penyelenggaraan tugas dan fungsi SKPD - Kapasitas alat timbang di Jembatan timbang yang sudah tidak memadai, yang tersedia hanya ton sedangkan yang dipersyaratkan oleh Kementerian Perhubungan RI maksimum 80 ton. - Terdapat jalan provinsi yang belum memiliki fasilitas keselamatan LLAJ - Belum adanya penetapan status terminal tipe B di Kab/Kota xxiii

24 - Belum tersedianya angkutan pemadu moda di bandara dan pelabuhan - Belum tersedianya prototipe bentor yang memenuhi standar kelayakan - Masih terdapat daerah daerah yang belum dilayani oleh lintasan darat perintis - Produktivitas bongkar muat di bandara dan pelabuhan yang masih rendah - Kondisi runway Bandara Djalaluddin Gorontalo yang sudah tidak mampu melayani pesawat yang beroperasi saat ini - Kapasitas terminal penumpang Bandara Djalaluddin Gorontalo yang sudah tidak memadai - Kapasitas kapal di Pelabuhan Anggrek yang belum memenuhi syarat sebagai pelabuhan internasional - Infratruktur jaringan LAN/WAN Pemerintah Provinsi Gorontalo belum terintegrasi dengan jaringan Kab/Kota - Belum tersedianya sistem informasi dan aplikasi yang mengolah data secara on line, terpusat dan terintegrasi antar SKPD amapun antar Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kab/Kota - SDM pengelola teknologi informasi masih sangat kurang - - Fasilitas sarana dan prasarana obyek wisata unggulan yang masih kurang dan belum memadai - Belum optimalnya peran masyarakat dalam pengelolaan obyek wisata - Perlunya peningkatan jumlah kunjungan wisatawan (wisman dan wisnus) dan lama tinggal di Provinsi Gorontalo agar terjadi peningkatan ekonomi masyarakat xxiv

25 BAB III TUJUAN, SASARAN, PROGRAM DAN KEGIATAN 3.1. Telaah Terhadap Kebijakan Nasional Telaah terhadap Kebijakan Nasional Bidang Perhubungan Sasaran bidang Transportasi tahun 2015 a. Meningkatnya kapasitas dan kualitas jaringan infrastruktur transportasi yang terintegrasi dalam mendukung konektivitas koridor ekonomi dan sistem logistik nasional, baik yang menghubungkan sentra-sentra produksi dan outlet nasional maupun di wilayah terpencil, perdalaman, perbatasan dan wilayah terluar; b. Meningkatnya keselamatan transportasi jalan dengan berkuangnya tingkat fatalitas kecelakaan transportasi; c. Meningkatnya kualitas pelayanan transportasi di wilayah perkotaan melalui penataan sistem jaringan transportasi di 6 kota besar Arah kebijakan bidang Transportasi tahun 2015 Terkait pembangunan transportasi : (a) meningkatnya aksesibilitas pelayanan transportasi di wilayah terpencil, perdalaman, perbatasan dan wilayah terluar melalui penyediaan subsidi operasi perintis dan PSO angkutan penumpang kereta api dan angkutan laut kelas ekonomi; (b) meningkatnya keselamatan transportasi melalui penyediaan fasilitas dan peralatan keselamatan serta penataan sistem jaringan transportasi yang berkeselamatan; (c) meningkatnya tingkat pelayanan transportasi sesuai dengan SPM melalui penataan regulasi dan manajemen pelayanan angkutan umum transportasi di wilayah perkotaan. Terkait pembangunan transportasi: (a) pembangunan jaringan infrastruktur transportasi penghubung antar dan menuju koridor ekonomi dan kawasan-kawasan pertumbuhan ekonomi (jalan, pelabuhan, pelabuhan udara) untuk mendukung sistem logistik nasional; (b) memperluas jangkauan pelayanan infrastruktur transportasi ke daerah marjinal dengan penyediaan angkutan umum murah, penyediaan aksesibilitas dan kegiatan keperintisan baik transportasi darat, perkeretaapian, laut dan udara; (c) meningkatkan kapasitas sarana dan prasarana transportasi untuk mengurangi backlog maupun bottleneck kapasitas prasarana transportasi dan sarana transportasi antarmoda dan antarpulau yang terintegrasi. Sehubungan dengan sasaran Kebijakan Nasional dalam hal ini sasaran bidang transportasi tahun 2015 maka Dinas Perhubungan dan Pariwisata Provinsi Gorontalo ditindaklanjuti kedalam Renja Tahun 2015 melalui pembangunan terminal tipe B; pengadaan dan pelayanan angkutan darat keperintisan; koordinasi lintas sektor untuk mempercepat pembangunan infrastruktur transportasi; pengadaan, pemasangan serta pemeliharaan fasilitas keselamatan LLAJ. Telaah terhadap Kebijakan Nasional Bidang Pariwisata Pembangunan kepariwisataan dan pembangunan ekonomi kreatif pada tahun 2015 diarahkan untuk mendorong peningkatan penerimaan devisa dan peningkatan nilai tambah produk-produk ekonomi kreatif melalui penguatan pariwisata berbasis masyarakat dan peningkatan kualitas produk-produk kreatif, dengan tetap berpegang pada prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Adapun strategi untuk mencapai sasaran pembangunan kepariwisataan dan ekonomi kreatif pada tahun 2015 adalah sebagai berikut: 1. Mengembangkan destinasi pariwisata nasional melalui penataan dan penguatan manajemen dan tata kelola destinasi pariwisata, peningkatan daya tarik wisata alam, bahari dan budaya termasuk daya tarik pariwisata di pulau-pulau terdepan dan wilayah perbatasan yang mempunyai potensi pariwisata; mendorong dan memfasilitasi perbaikan dan peningkatan kualitas jaringan prasarana dan sarana xxv

DINAS PERHUBUNGAN, PARIWISATA, KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA PROVINSI GORONTALO

DINAS PERHUBUNGAN, PARIWISATA, KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA PROVINSI GORONTALO DINAS PERHUBUNGAN, PARIWISATA, KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA PROVINSI GORONTALO 1.TUGAS 2.FUNGSI : SEBAGAI PERANGKAT DAERAH YANG MEMBANTU GUBERNUR DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DI BIDANG PERHUBUNGAN,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang menyebabkan orang-orang semakin memiliki kemampuan untuk berwisata dan

BAB I PENDAHULUAN. yang menyebabkan orang-orang semakin memiliki kemampuan untuk berwisata dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kepariwisataan merupakan salah satu industri yang berkembang pesat di Indonesia dan akan terus berkembang dengan perkembangan industrialisasi dan perubahan gaya hidup

Lebih terperinci

DINAS PERHUBUNGAN PARIWISATA KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA PROVINSI GORONTALO TAHUN ANGGARAN 2015

DINAS PERHUBUNGAN PARIWISATA KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA PROVINSI GORONTALO TAHUN ANGGARAN 2015 LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) DINAS PERHUBUNGAN PARIWISATA KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA PROVINSI GORONTALO TAHUN ANGGARAN 2015 GORONTALO 2016 1 IKHTISAR EKSEKUTIF Berdasarkan Peraturan Daerah

Lebih terperinci

DATA DASAR PUSKESMAS PROVINSI GORONTALO

DATA DASAR PUSKESMAS PROVINSI GORONTALO DATA DASAR PROVINSI GORONTALO KONDISI DESEMBER 2014 KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA JAKARTA, 2015 JUMLAH MENURUT KABUPATEN/KOTA (KEADAAN 31 DESEMBER 2014) PROVINSI GORONTALO KAB/KOTA RAWAT INAP

Lebih terperinci

LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) DINAS PERHUBUNGAN PARIWISATA KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA PROVINSI GORONTALO TAHUN ANGGARAN 2015

LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) DINAS PERHUBUNGAN PARIWISATA KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA PROVINSI GORONTALO TAHUN ANGGARAN 2015 LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) DINAS PERHUBUNGAN PARIWISATA KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA PROVINSI GORONTALO TAHUN ANGGARAN 2015 GORONTALO 2016 IKHTISAR EKSEKUTIF Berdasarkan Peraturan Daerah

Lebih terperinci

GUBERNUR GORONTALO PERATURAN DAERAH PROVINSI GORONTALO NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI GORONTALO TAHUN

GUBERNUR GORONTALO PERATURAN DAERAH PROVINSI GORONTALO NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI GORONTALO TAHUN GUBERNUR GORONTALO PERATURAN DAERAH PROVINSI GORONTALO NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI GORONTALO TAHUN 2010-2030 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang Mengingat GUBERNUR

Lebih terperinci

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Terbentuknya Provinsi Gorontalo berdasarkan Undang-Undang No. 38 tahun 2000 maka

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Terbentuknya Provinsi Gorontalo berdasarkan Undang-Undang No. 38 tahun 2000 maka BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 3.1 Deskripsi Lokasi Penelitian Terbentuknya Provinsi Gorontalo berdasarkan Undang-Undang No. 38 tahun 2000 maka pada tanggal 16 Februari 2001 merupakan wujud dari

Lebih terperinci

INDIKASI PROGRAM UTAMA LIMA TAHUNAN RTRW PROVINSI GORONTALO

INDIKASI PROGRAM UTAMA LIMA TAHUNAN RTRW PROVINSI GORONTALO LAMPRAN.1 PERATURAN DAERAH PROPNS GORONTALO N O M O R : 4 TAHUN 2011 TANGGAL : 29 DESEMBER 2011 NDKAS PROGRAM UTAMA LMA TAHUNAN RTRW PROVNS GORONTALO USULAN PROGRAM UTAMA LOKAS NSTANS V PERWUJUDAN STRUKTUR

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI. Kata Pengantar... i Daftar Isi... ii

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI. Kata Pengantar... i Daftar Isi... ii KATA PENGANTAR Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas karunia-nya Buku Informasi Transportasi Kementerian Perhubungan 2012 ini dapat tersusun sesuai rencana. Buku Informasi Transportasi

Lebih terperinci

RENCANA KERJA (RENJA) DINAS PEKERJAAN UMUM BINA MARGA PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2016

RENCANA KERJA (RENJA) DINAS PEKERJAAN UMUM BINA MARGA PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2016 PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR RENCANA KERJA (RENJA) DINAS PEKERJAAN UMUM BINA MARGA PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2016 DINAS PEKERJAAN UMUM BINA MARGA PROVINSI JAWA TIMUR JL. GAYUNG KEBONSARI NO. 167 SURABAYA

Lebih terperinci

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 66 TAHUN 2011 TENTANG RINCIAN TUGAS POKOK DINAS PERHUBUNGAN, INFORMASI DAN KOMUNIKASI PROVINSI BALI

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 66 TAHUN 2011 TENTANG RINCIAN TUGAS POKOK DINAS PERHUBUNGAN, INFORMASI DAN KOMUNIKASI PROVINSI BALI GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 66 TAHUN 2011 TENTANG RINCIAN TUGAS POKOK DINAS PERHUBUNGAN, INFORMASI DAN KOMUNIKASI PROVINSI BALI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI, Menimbang

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Deskripsi profil sekolah a. Akreditasi sekolah Dari keseluruhan sampel sekolah menengah atas (SMA) yang diteliti, terdapat sebanyak 11

Lebih terperinci

DINAS PERHUBUNGAN PARIWISATA KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA PROVINSI GORONTALO TAHUN ANGGARAN 2016

DINAS PERHUBUNGAN PARIWISATA KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA PROVINSI GORONTALO TAHUN ANGGARAN 2016 LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) DINAS PERHUBUNGAN PARIWISATA KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA PROVINSI GORONTALO TAHUN ANGGARAN 2016 GORONTALO 2017 1 IKHTISAR EKSEKUTIF Berdasarkan Peraturan Daerah

Lebih terperinci

GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH

GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH NOMOR 24 TAHUN 2008 T E N T A N G TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS PERHUBUNGAN, KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA PROVINSI KALIMANTAN TENGAH DENGAN

Lebih terperinci

BUPATI CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI CIAMIS NOMOR 57 TAHUN 2016 TENTANG TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA UNSUR ORGANISASI DINAS PERHUBUNGAN

BUPATI CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI CIAMIS NOMOR 57 TAHUN 2016 TENTANG TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA UNSUR ORGANISASI DINAS PERHUBUNGAN BUPATI CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI CIAMIS NOMOR 57 TAHUN 2016 TENTANG TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA UNSUR ORGANISASI DINAS PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI CIAMIS, Menimbang

Lebih terperinci

GUBERNUR GORONTALO KEPUTUSAN GUBERNUR GORONTALO NOMOR 250 / 11 / VI /2015 TENTANG

GUBERNUR GORONTALO KEPUTUSAN GUBERNUR GORONTALO NOMOR 250 / 11 / VI /2015 TENTANG Menimbang GUBERNUR GORONTALO KEPUTUSAN GUBERNUR GORONTALO NOMOR 250 / 11 / VI /2015 TENTANG PEMBENTUKAN TIM KOORDINASI PENYELENGGARAAN ANGKUTAN LEBARAN TERPADU PROVINSI GORONTALO TAHUN 2015/1436 H GUBERNUR

Lebih terperinci

PENTINGNYA PEMBANGUNAN SARANA PRASARANA TRANSPORTASI SEBAGAI UPAYA MEMBANGUN DESA DI KABUPATEN GORONTALO PROVINSI GORONTALO

PENTINGNYA PEMBANGUNAN SARANA PRASARANA TRANSPORTASI SEBAGAI UPAYA MEMBANGUN DESA DI KABUPATEN GORONTALO PROVINSI GORONTALO PENTINGNYA PEMBANGUNAN SARANA PRASARANA TRANSPORTASI SEBAGAI UPAYA MEMBANGUN DESA DI KABUPATEN GORONTALO PROVINSI GORONTALO Sisca V. Pandey Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Keberhasilan pembangunan sangat dipengaruhi oleh peran transportasi. Karenanya sistem transportasi nasional (SISTRANAS) diharapkan mampu menghasilkan jasa transportasi

Lebih terperinci

RENCANA KERJA 2014 KATA PENGANTAR

RENCANA KERJA 2014 KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR Puji Syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, dengan telah tersusunnya Rencana Kerja ini merupakan suatu program kerja yang akan dicapai oleh Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika

Lebih terperinci

BAB-6 BAB VI ARAH PENGEMBANGAN JARINGAN TRANSPORTASI

BAB-6 BAB VI ARAH PENGEMBANGAN JARINGAN TRANSPORTASI BAB-6 BAB VI ARAH PENGEMBANGAN JARINGAN TRANSPORTASI 6.1 Potensi dan kendala Dalam menyusun kebijakan dan program perlu memperhatikan potensi dan kendala memperhatikan faktor internal Pemerintah dan faktor

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kota Semarang terletak LS dan BT, dengan. sebelah selatan : Kabupaten Semarang

BAB I PENDAHULUAN. Kota Semarang terletak LS dan BT, dengan. sebelah selatan : Kabupaten Semarang BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Kota Semarang terletak 6 55-7 6 LS dan 110 15-110 31 BT, dengan batas-batas wilayah administrasi sebagai berikut : sebelah utara : Laut Jawa sebelah selatan : Kabupaten

Lebih terperinci

KEBUTUHAN PENGEMBANGAN FASILITAS PELABUHAN KOLAKA UNTUK MENDUKUNG PENGEMBANGAN WILAYAH KABUPATEN KOLAKA

KEBUTUHAN PENGEMBANGAN FASILITAS PELABUHAN KOLAKA UNTUK MENDUKUNG PENGEMBANGAN WILAYAH KABUPATEN KOLAKA KEBUTUHAN PENGEMBANGAN FASILITAS PELABUHAN KOLAKA UNTUK MENDUKUNG PENGEMBANGAN WILAYAH KABUPATEN KOLAKA TUGAS AKHIR Oleh: FARIDAWATI LATIF L2D 001 418 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK

Lebih terperinci

- 1 - BUPATI KEPULAUAN SANGIHE PROVINSI SULAWESI UTARA PERATURAN BUPATI KEPULAUAN SANGIHE NOMOR 57 TAHUN 2016 TENTANG

- 1 - BUPATI KEPULAUAN SANGIHE PROVINSI SULAWESI UTARA PERATURAN BUPATI KEPULAUAN SANGIHE NOMOR 57 TAHUN 2016 TENTANG - 1 - BUPATI KEPULAUAN SANGIHE PROVINSI SULAWESI UTARA PERATURAN BUPATI KEPULAUAN SANGIHE NOMOR 57 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN

Lebih terperinci

VISI DAN MISI DINAS PERHUBUNGAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA KABUPATEN TANAH DATAR

VISI DAN MISI DINAS PERHUBUNGAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA KABUPATEN TANAH DATAR VISI DAN MISI DINAS PERHUBUNGAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA KABUPATEN TANAH DATAR Visi dan Misi Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Tanah Datar mengacu pada Visi dan Misi instansi di

Lebih terperinci

DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN... 1

DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN... 1 DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang... 1 1.1.1 Dasar Hukum... 1 1.1.2 Gambaran Umum Singkat... 1 1.1.3 Alasan Kegiatan Dilaksanakan... 3 1.2 Maksud dan Tujuan... 3 1.2.1 Maksud Studi...

Lebih terperinci

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO 1.2 SISI PENAWARAN Dinamika perkembangan sektoral pada triwulan III-2011 menunjukkan arah yang melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Keseluruhan sektor mengalami perlambatan yang cukup signifikan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN JEMBER

PEMERINTAH KABUPATEN JEMBER PEMERINTAH KABUPATEN JEMBER PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBER NOMOR 2 TAHUN 2006 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN JEMBER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBER,

Lebih terperinci

BUPATI MALANG PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI MALANG PROVINSI JAWA TIMUR BUPATI MALANG PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI MALANG NOMOR 37 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI, SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

2017, No c. bahwa untuk mempercepat penyelenggaraan kewajiban pelayanan publik untuk angkutan barang di laut, darat, dan udara diperlukan progr

2017, No c. bahwa untuk mempercepat penyelenggaraan kewajiban pelayanan publik untuk angkutan barang di laut, darat, dan udara diperlukan progr No.165, 2017 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PELAYANAN PUBLIK. Daerah Tertinggal, Terpencil, Terluar, Perbatasan. Angkutan Barang. Penyelenggaraan. Pencabutan. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI 3.1. Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika A. Permasalahan Adapun Permasalahan

Lebih terperinci

Studi Pengembangan Kapasitas dan Fasilitas Pelabuhan Dalam Mendukung MP3EI Koridor Sulawesi KATA PENGANTAR. Final Report

Studi Pengembangan Kapasitas dan Fasilitas Pelabuhan Dalam Mendukung MP3EI Koridor Sulawesi KATA PENGANTAR. Final Report KATA PENGANTAR Dengan mengucap rasa syukur Alhamdulillah Laporan Akhir () kegiatan Pekerjaan Studi Pengembangan Kapasitas dan Fasilitas Pelabuhan Dalam Mendukung Percepatan dan Perluasan Pembangunan Koridor

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Peningkatan kondisi ekonomi, sosial dan pertumbuhan penduduk

BAB I PENDAHULUAN. Peningkatan kondisi ekonomi, sosial dan pertumbuhan penduduk BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Peningkatan kondisi ekonomi, sosial dan pertumbuhan penduduk menyebabkan meningkatnya tuntutan manusia terhadap sarana transportasi. Untuk menunjang kelancaran pergerakan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS PERHUBUNGAN RENCANA KERJA (RENJA) TAHUN 2015

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS PERHUBUNGAN RENCANA KERJA (RENJA) TAHUN 2015 PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS PERHUBUNGAN RENCANA KERJA (RENJA) TAHUN 2015 SURABAYA, SEPTEMBER 2014 DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI... i BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Maksud dan Tujuan

Lebih terperinci

Badan Litbang Perhubungan telah menyusun kegiatan penelitian yang dibiayai dari anggaran pembangunan tahun 2010 sebagai berikut.

Badan Litbang Perhubungan telah menyusun kegiatan penelitian yang dibiayai dari anggaran pembangunan tahun 2010 sebagai berikut. Badan Litbang Perhubungan telah menyusun kegiatan penelitian yang dibiayai dari anggaran pembangunan tahun 2010 sebagai berikut. A. KEGIATAN POKOK 1. Studi Besar a. Sektoral/Sekretariat 1) Studi Kelayakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam upaya memantapkan implementasi mekanisme perencanaan dan penganggaran daerah secara partisipatif sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004

Lebih terperinci

MATRIKS PENJABARAN PENCAPAIAN KINERJA PROGRAM MENURUT URUSAN PEMERINTAHAN

MATRIKS PENJABARAN PENCAPAIAN KINERJA PROGRAM MENURUT URUSAN PEMERINTAHAN MATRIKS PENJABARAN PENCAPAIAN KINERJA PROGRAM MENURUT URUSAN PEMERINTAHAN No ( Kinerja RPJMD) Program Dedicated 2 Pembangunan Perhubungan dan Transportasi 14.c Program pembangunan Terminal Bus Pulogebang

Lebih terperinci

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA SALINAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 59 TAHUN 2015 TENTANG RINCIAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2017 TENTANG PENYELENGGARAAN KEWAJIBAN PELAYANAN PUBLIK UNTUK ANGKUTAN BARANG DARI DAN KE DAERAH TERTINGGAL, TERPENCIL, TERLUAR, DAN PERBATASAN DENGAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun

BAB I PENDAHULUAN. Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Transportasi merupakan suatu sistem yang terdiri dari sarana, prasarana, yang didukung oleh tata laksana dan sumber daya manusia dalam membentuk jaringan prasarana

Lebih terperinci

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2014 TENTANG PANITIA NASIONAL PENYELENGGARA SAIL TOMINI TAHUN 2015

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2014 TENTANG PANITIA NASIONAL PENYELENGGARA SAIL TOMINI TAHUN 2015 KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2014 TENTANG PANITIA NASIONAL PENYELENGGARA SAIL TOMINI TAHUN 2015 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa

Lebih terperinci

-2- Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679); 6. Undang-Un

-2- Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679); 6. Undang-Un pas GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 78 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI, SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN PROVINSI BALI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

PERATURAN WALIKOTA SEMARANG

PERATURAN WALIKOTA SEMARANG PERATURAN WALIKOTA SEMARANG NOMOR 28 TAHUN 2008 TENTANG PENJABARAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS PERHUBUNGAN, KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA KOTA SEMARANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SEMARANG, Menimbang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. para wisatawan baik domestik maupun mancanegara untuk berkunjung ke negara Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN. para wisatawan baik domestik maupun mancanegara untuk berkunjung ke negara Indonesia. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan sebuah negara yang mempunyai berbagai ragam kebudayaan dan sumber daya alam yang merupakan modal utama untuk meningkatkan taraf hidup bangsa melalui

Lebih terperinci

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, STRATEGIS DAN KEBIJAKAN

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, STRATEGIS DAN KEBIJAKAN BAB IV VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, STRATEGIS DAN KEBIJAKAN 1. VISI DAN MISI Sebagai unsur pelaksana Pemerintah Kabupaten Lamandau dalam bidang Perhubungan komunikasi dan Informatika dituntut adanya peningkatan

Lebih terperinci

BUPATI BANTUL PERATURAN BUPATI BANTUL NOMOR 58 TAHUN 2008 T E N T A N G RINCIAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN BANTUL

BUPATI BANTUL PERATURAN BUPATI BANTUL NOMOR 58 TAHUN 2008 T E N T A N G RINCIAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN BANTUL BUPATI BANTUL PERATURAN BUPATI BANTUL NOMOR 58 TAHUN 2008 T E N T A N G RINCIAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN BANTUL BUPATI BANTUL, Menimbang : a. bahwa sebagai tindak lanjut

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2003 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN BONE BOLANGO DAN KABUPATEN POHUWATO DI PROVINSI GORONTALO

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2003 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN BONE BOLANGO DAN KABUPATEN POHUWATO DI PROVINSI GORONTALO UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2003 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN BONE BOLANGO DAN KABUPATEN POHUWATO DI PROVINSI GORONTALO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : TENTANG RENCANA UMUM PENGEMBANGAN TRANSPORTASI DARAT TAHUN

RANCANGAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : TENTANG RENCANA UMUM PENGEMBANGAN TRANSPORTASI DARAT TAHUN KONSEP Dikerjakan oleh Bagian Hukum dan Kerjasama : Ely Rusnita Diperiksa oleh Kasubang Peraturan Perundang-undangan : Endy Irawan, SH, MH Terlebih dahulu: 1. Kabag Perencanaan : 2. Kabag Hukum dan Kerjasama

Lebih terperinci

BAB-6 BAB VI ARAH PENGEMBANGAN JARINGAN TRANSPORTASI

BAB-6 BAB VI ARAH PENGEMBANGAN JARINGAN TRANSPORTASI BAB-6 BAB VI ARAH PENGEMBANGAN JARINGAN TRANSPORTASI 6.1 Potensi dan Kendala Dalam menyusun kebijakan dan program perlu memperhatikan potensi dan kendala memperhatikan faktor internal Pemerintah dan faktor

Lebih terperinci

GUBERNUR JAMBI PERATURAN GUBERNUR JAMBI NOMOR 14 TAHUN 2013 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) BIDANG PERHUBUNGAN

GUBERNUR JAMBI PERATURAN GUBERNUR JAMBI NOMOR 14 TAHUN 2013 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) BIDANG PERHUBUNGAN GUBERNUR JAMBI PERATURAN GUBERNUR JAMBI NOMOR 14 TAHUN 2013 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) BIDANG PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAMBI, Menimbang : bahwa dalam rangka melaksanakan

Lebih terperinci

BAB-6 BAB VI ARAH PENGEMBANGAN JARINGAN TRANSPORTASI

BAB-6 BAB VI ARAH PENGEMBANGAN JARINGAN TRANSPORTASI BAB-6 BAB VI ARAH PENGEMBANGAN JARINGAN TRANSPORTASI 6.1 Potensi dan Kendala Dalam menyusun kebijakan dan program perlu memperhatikan potensi dan kendala memperhatikan faktor internal Pemerintah dan faktor

Lebih terperinci

BAB II DINAS PERHUBUNGAN PROVINSI SUMATERA UTARA

BAB II DINAS PERHUBUNGAN PROVINSI SUMATERA UTARA BAB II DINAS PERHUBUNGAN PROVINSI SUMATERA UTARA A. Sejarah Ringkas Departemen Perhubungan telah ada sejak periode awal kemerdekaan Indonesia yang dibentuk berdasarkan periode Kabinet-Kabinet Republik

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2003 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN BONE BOLANGO DAN KABUPATEN POHUWATO DI PROVINSI GORONTALO

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2003 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN BONE BOLANGO DAN KABUPATEN POHUWATO DI PROVINSI GORONTALO 1 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2003 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN BONE BOLANGO DAN KABUPATEN POHUWATO DI PROVINSI GORONTALO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan BAB III Urusan Desentralisasi

Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan BAB III Urusan Desentralisasi 16. URUSAN PERHUBUNGAN a. Program dan Kegiatan. Program pokok urusan Perhubungan tahun 2012 yang dilaksanakan yaitu: 1) Program Pelayanan Administrasi Perkantoran, 2) Program Peningkatan Sarana dan Prasarana

Lebih terperinci

BUPATI BARITO UTARA PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

BUPATI BARITO UTARA PROVINSI KALIMANTAN TENGAH BUPATI BARITO UTARA PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PERATURAN BUPATI BARITO UTARA NOMOR 15 TAHUN 2017 TENTANG TUGAS DAN URAIAN TUGAS JABATAN PADA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN BARITO UTARA DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

GUBERNUR PAPUA PERATURAN GUBERNUR PAPUA

GUBERNUR PAPUA PERATURAN GUBERNUR PAPUA GUBERNUR PAPUA PERATURAN GUBERNUR PAPUA NOMOR 23 TAHUN 2015 TENTANG URAIAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS PERHUBUNGAN PROVINSI PAPUA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR PAPUA, Menimbang : a. bahwa sehubungan

Lebih terperinci

PETA LOKASI KEGIATAN STRATEGIS PEMBANGUNAN TRANSPORTASI DALAM RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN PERHUBUNGAN TAHUN

PETA LOKASI KEGIATAN STRATEGIS PEMBANGUNAN TRANSPORTASI DALAM RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN PERHUBUNGAN TAHUN PETA LOKASI KEGIATAN STRATEGIS PEMBANGUNAN TRANSPORTASI DALAM RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN PERHUBUNGAN TAHUN 2015-2019 Rencana Strategis Kementerian Perhubungan Tahun 2015-2019 Peta - 1 LOKASI PEMBANGUNAN

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil olahan data penulis maka beberapa informasi yang dapat disampaikan adalah sebagai berikut : 1. Lokasi Penelitian

Lebih terperinci

PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 69 TAHUN 2016 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN PROVINSI JAWA TENGAH

PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 69 TAHUN 2016 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 69 TAHUN 2016 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN PROVINSI JAWA TENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TENGAH, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

PRIORITAS 11 MATRIKS ARAH KEBIJAKAN BUKU III RKP 2011 WILAYAH SULAWESI

PRIORITAS 11 MATRIKS ARAH KEBIJAKAN BUKU III RKP 2011 WILAYAH SULAWESI PRIORITAS 11 MATRIKS ARAH KEBIJAKAN BUKU III RKP 2011 WILAYAH SULAWESI NO. ARAH KEBIJAKAN STRATEGI PENGEMBANGAN FOKUS PRIORITAS KEMENTERIAN/LEMBAGA 1. Provinsi Sulawesi Utara 1. Pengembangan jalur wisata

Lebih terperinci

2. Undang-undang Nomor 29 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Tingkat II di Sulawesi (Lembaran Negara Republik

2. Undang-undang Nomor 29 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Tingkat II di Sulawesi (Lembaran Negara Republik UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2003 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN BONE BOLANGO DAN KABUPATEN POHUWATO DI PROVINSI GORONTALO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Keberhasilan pembangunan sangat dipengaruhi oleh peran transportasi. Karenanya sistem transportasi nasional (SISTRANAS) diharapkan mampu menghasilkan jasa transportasi

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN MENTERI TENTANG PENYELENGGARAAN PELABUHAN PENYEBERANGAN MENTERI PERHUBUNGAN,

RANCANGAN PERATURAN MENTERI TENTANG PENYELENGGARAAN PELABUHAN PENYEBERANGAN MENTERI PERHUBUNGAN, Menimbang RANCANGAN PERATURAN MENTERI TENTANG PENYELENGGARAAN PELABUHAN PENYEBERANGAN MENTERI PERHUBUNGAN, : a. bahwa dalam Peraturan Pemerintah Nomor 61 tahun 2009 tentang Kepelabuhanan telah diatur ketentuan

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI MUSI RAWAS NOMOR 61 TAHUN 2008 T E N T A N G

PERATURAN BUPATI MUSI RAWAS NOMOR 61 TAHUN 2008 T E N T A N G PERATURAN BUPATI MUSI RAWAS NOMOR 61 TAHUN 2008 T E N T A N G PENJABARAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS PERHUBUNGAN, KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA KABUPATEN MUSI RAWAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

POKOK-POKOK PIKIRAN MENGENAI PENGEMBANGAN JARINGAN PELAYANAN DAN PRASARANA TRANSPORTASI DARAT TERPADU DALAM PERSPEKTIF SISTEM TRANSPORTASI NASIONAL

POKOK-POKOK PIKIRAN MENGENAI PENGEMBANGAN JARINGAN PELAYANAN DAN PRASARANA TRANSPORTASI DARAT TERPADU DALAM PERSPEKTIF SISTEM TRANSPORTASI NASIONAL DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT POKOK-POKOK PIKIRAN MENGENAI PENGEMBANGAN JARINGAN PELAYANAN DAN PRASARANA TRANSPORTASI DARAT TERPADU DALAM PERSPEKTIF SISTEM TRANSPORTASI NASIONAL

Lebih terperinci

STATISTIK PERHUBUNGAN KABUPATEN MAMUJU 2014

STATISTIK PERHUBUNGAN KABUPATEN MAMUJU 2014 s. bp uk ab. am uj m :// ht tp id go. STATISTIK PERHUBUNGAN KABUPATEN MAMUJU 2014 ISSN : - No. Publikasi : 76044.1502 Katalog BPS : 830.1002.7604 Ukuran Buku : 18 cm x 24 cm Jumlah Halaman : v + 26 Halaman

Lebih terperinci

BAB II PROFIL DINAS PERHUBUNGAN PROVINSI SUMATERA UTARA

BAB II PROFIL DINAS PERHUBUNGAN PROVINSI SUMATERA UTARA BAB II PROFIL DINAS PERHUBUNGAN PROVINSI SUMATERA UTARA A. Sejarah Ringkas Dinas Perhubungan Provinsi Sumatera Utara Departemen Perhubungan telah ada sejak periode awal kemerdekaan Indonesia yang dibentuk

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitan Berdasarkan lingkup kegiatan dan permasalahan-permasalahan dalam penjelasan Kerangka Acuan Kerja (KAK), penelitian ini tidak termasuk kategori

Lebih terperinci

BAB II PROFIL DINAS PERHUBUNGAN PROPINSI SUMATERA UTARA

BAB II PROFIL DINAS PERHUBUNGAN PROPINSI SUMATERA UTARA BAB II PROFIL DINAS PERHUBUNGAN PROPINSI SUMATERA UTARA A. Sejarah Ringkas Dinas Perhubungan Propinsi Sumatera Utara Departemen Perhubungan telah ada sejak periode awal kemerdekaan Indonesia yang dibentuk

Lebih terperinci

Pesawat Polonia

Pesawat Polonia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia sebagai negara maritim sekaligus negara kepulauan terbesar di dunia, tidak bisa dibantah bahwa pelabuhan menjadi cukup penting dalam membantu peningkatan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PENGANGKUTAN MULTIMODA. pengangkutan barang dari tempat asal ke tempat tujuan dengan lebih efektif dan

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PENGANGKUTAN MULTIMODA. pengangkutan barang dari tempat asal ke tempat tujuan dengan lebih efektif dan 30 BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PENGANGKUTAN MULTIMODA 2.1. Pengertian Angkutan Multimoda Dengan dikenalnya sistem baru dalam pengangkutan sebagai bagian dari perekonomian saat ini yaitu pengangkutan multimoda

Lebih terperinci

Welcome to Gorontalo Province

Welcome to Gorontalo Province Welcome to Gorontalo Province Drs. Rusli Habibie, M.AP Governor of Gorontalo DR Drs. Idris Rahim, MM Vice Governor of Gorontalo Pemerintah Provinsi Gorontalo Kementerian Luar Negeri PERTUMBUHAN EKONOMI

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. DR.Ir. SUDIRMAN HABIBIE, M.Sc

KATA PENGANTAR. DR.Ir. SUDIRMAN HABIBIE, M.Sc KATA PENGANTAR Pembangunan di Provinsi Gorontalo terus mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Terbukti dengan berbagai capaian yang dihasilkan dalam upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. nasional. Kendaraan bermotor dalam perkembangannya setiap hari

BAB I PENDAHULUAN. nasional. Kendaraan bermotor dalam perkembangannya setiap hari BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Lalu lintas dan angkutan jalan memegang peranan penting dalam menunjang, memperlancar dan meningkatkan pembangunan perekonomian baik regional maupun nasional. Kendaraan

Lebih terperinci

PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI KARAWANG NOMOR 55 TAHUN 2016

PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI KARAWANG NOMOR 55 TAHUN 2016 PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI KARAWANG NOMOR 55 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN KARAWANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1046, 2013 KEMENTERIAN PERHUBUNGAN. Kebandarudaraan. Nasional. Tatanan. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR PM 69 TAHUN 2013 TENTANG TATANAN KEBANDARUDARAAN NASIONAL

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 78,

Lebih terperinci

BUPATI LUMAJANG PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI LUMAJANG PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN BUPATI LUMAJANG PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI LUMAJANG NOMOR 75 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, URAIAN TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

BAB-6 BAB VI ARAH PENGEMBANGAN JARINGAN TRANSPORTASI

BAB-6 BAB VI ARAH PENGEMBANGAN JARINGAN TRANSPORTASI BAB-6 BAB VI ARAH PENGEMBANGAN JARINGAN TRANSPORTASI 6.1 Potensi dan Kendala Dalam menyusun kebijakan dan program perlu memperhatikan potensi dan kendala memperhatikan faktor internal Pemerintah dan faktor

Lebih terperinci

WALIKOTA SINGKAWANG PROVINSI KALIMANTAN BARAT

WALIKOTA SINGKAWANG PROVINSI KALIMANTAN BARAT WALIKOTA SINGKAWANG PROVINSI KALIMANTAN BARAT PERATURAN WALIKOTA SINGKAWANG NOMOR 65 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS POKOK DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI BANTEN NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANTEN,

PERATURAN DAERAH PROVINSI BANTEN NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANTEN, PERATURAN DAERAH PROVINSI BANTEN NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANTEN, Menimbang : a. bahwa untuk mewujudkan keamanan, keselamatan, ketertiban

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN PRESIDEN NOMOR 42 TAHUN 2014 TENTANG PANITIA NASIONAL PENYELENGGARA SAIL TOMINI TAHUN 2015 DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG POLA PENGEMBANGAN TRANSPORTASI WILAYAH

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG POLA PENGEMBANGAN TRANSPORTASI WILAYAH SALINAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG POLA PENGEMBANGAN TRANSPORTASI WILAYAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR DAERAH

Lebih terperinci

Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2003 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN BONE BOLANGO DAN KABUPATEN POHUWATO DI PROVINSI GORONTALO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN BONGKAR BARANG

PERKEMBANGAN BONGKAR BARANG TON PERSEN BAB 1 160,000 140,000 120,000 100,000 80,000 60,000 40,000 20,000 - PERKEMBANGAN BONGKAR BARANG Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 2009 2010 2011 40.00 30.00 20.00 10.00 0.00-10.00-20.00-30.00 VOLUME

Lebih terperinci

SETDIJEN PERHUBUNGAN DARAT

SETDIJEN PERHUBUNGAN DARAT Sekilas Kondisi Geografis Provinsi Kalimantan Utara merupakan Provinsi ke-34 di Indonesia dan merupakan provinsi termuda dari seluruh Provinsi yang ada di Indonesia. Letak Geografis Provinsi Kalimantan

Lebih terperinci

RENJA BAGIAN PERTANAHAN TAHUN 2015 (REVIEW)

RENJA BAGIAN PERTANAHAN TAHUN 2015 (REVIEW) 1 RENJA BAGIAN PERTANAHAN TAHUN 2015 (REVIEW) Renja Bagian Pertanahan Tahun 2015 (Review) Page 1 2 KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan Puji Syukur Kehadirat Allah SWT Rencana Kerja Bagian Pertanahan Sekretariat

Lebih terperinci

BUPATI PROBOLINGGO PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI PROBOLINGGO PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN BUPATI PROBOLINGGO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI PROBOLINGGO NOMOR : 67 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KARJA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN PROBOLINGGO

Lebih terperinci

RUU SISTEM TRANSPORTASI NASIONAL DAN HARAPAN SISTEM TRANSPORTASI YANG TERINTEGRASI, AMAN, EFEKTIF, DAN EFISIEN

RUU SISTEM TRANSPORTASI NASIONAL DAN HARAPAN SISTEM TRANSPORTASI YANG TERINTEGRASI, AMAN, EFEKTIF, DAN EFISIEN RUU SISTEM TRANSPORTASI NASIONAL DAN HARAPAN SISTEM TRANSPORTASI YANG TERINTEGRASI, AMAN, EFEKTIF, DAN EFISIEN Oleh: Zaqiu Rahman * Naskah diterima: 16 Januari 2015; disetujui: 23 Januari 2015 Keberhasilan

Lebih terperinci

BAHAN PAPARAN. Disampaikan pada : BIMBINGAN TEKNIS AUDIT

BAHAN PAPARAN. Disampaikan pada : BIMBINGAN TEKNIS AUDIT BAHAN PAPARAN Disampaikan pada : BIMBINGAN TEKNIS AUDIT PENGERTIAN ISTILAH 1. Bandar Udara adalah lapangan terbang yang dipergunakan untuk mendarat dan lepas landas pesawat udara, naik turun penumpang

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN PRESIDEN NOMOR 42 TAHUN 2014 TENTANG PANITIA NASIONAL PENYELENGGARA SAIL TOMINI TAHUN 2015 DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Halmahera Utara, Kabupaten Halmahera Selatan, Kabupaten Kepulauan Sula,

BAB I PENDAHULUAN. Halmahera Utara, Kabupaten Halmahera Selatan, Kabupaten Kepulauan Sula, 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kota Sanana saat ini adalah Ibu Kota Kabupaten Kepulauan Sula Provinsi Maluku Utara berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2008 tentang

Lebih terperinci

Perkembangan Jumlah Penelitian Tahun

Perkembangan Jumlah Penelitian Tahun Pada tahun anggaran 2012, Badan Litbang Perhubungan telah menyelesaikan 368 studi yang terdiri dari 103 studi besar, 20 studi sedang dan 243 studi kecil. Perkembangan jumlah studi dari tahun 2008 sampai

Lebih terperinci

BUPATI TANAH BUMBU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN BUPATI TANAH BUMBU NOMOR TAHUN 2017 TENTANG

BUPATI TANAH BUMBU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN BUPATI TANAH BUMBU NOMOR TAHUN 2017 TENTANG BUPATI TANAH BUMBU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN BUPATI TANAH BUMBU NOMOR TAHUN 2017 TENTANG TUGAS, FUNGSI, URAIAN TUGAS DAN TATA KERJA UNSUR-UNSUR ORGANISASI DINAS PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 78,

Lebih terperinci

Presiden Republik Indonesia,

Presiden Republik Indonesia, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 1990 TENTANG PENYERAHAN SEBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN DALAM BIDANG LALULINTAS DAN ANGKUTAN JALAN KEPADA DAERAH TINGKAT I DAN DAERAH TINGKAT II Menimbang

Lebih terperinci

PROGRAM PENYUSUNAN PERATURAN PRESIDEN PRIORITAS TAHUN 2014

PROGRAM PENYUSUNAN PERATURAN PRESIDEN PRIORITAS TAHUN 2014 LAMPIRAN KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 20 TAHUN 2014 TANGGAL : 20 MEI 2014 PROGRAM PENYUSUNAN PERATURAN PRESIDEN PRIORITAS TAHUN 2014 1. RPerpres tentang Penyelenggaraan Sistem Administrasi

Lebih terperinci

WALIKOTA SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR

WALIKOTA SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR WALIKOTA SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN PERATURAN WALIKOTA SURABAYA NOMOR 60 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, URAIAN TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KOTA SURABAYA

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 78,

Lebih terperinci

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. BUTIR-BUTIR SAMBUTAN DIRJEN PERHUBUNGAN DARAT RAPAT KOORDINASI TEKNIS (RAKORNIS) PERHUBUNGAN DARAT YOGYAKARTA, 14 OKTOBER 2014 Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Yth. Gubernur Daerah Istimewa

Lebih terperinci