IMPLEMENTASI PENGEMBANGAN METODE DIFFERENTIAL EVOLUTION UNTUK CLUSTERING PIXEL
|
|
|
- Ivan Atmadja
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 IMPLEMENTASI PENGEMBANGAN METODE DIFFERENTIAL EVOLUTION UNTUK CLUSTERING PIXEL Ahmad Saikhu, Hisyam Fahmi Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Informasi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Kampus ITS Sukolilo, Surabaya [email protected], [email protected] ABSTRAK Perkembangan metode komputasi telah mengalami percepatan yang luar biasa. Berbagai teknik komputasi untuk mendapatkan solusi dengan kinerja optimal terus berkembang. Sejumlah algoritma termasuk dalam rumpun Evolutionary Computation, diantaranya adalah Differential Evolution (DE) yang berhasil menyelesaikan masalah optimasi dalam berbagai bidang diantaranya masalah clustering. Keunggulan DE adalah karena implementasinya yang mudah dan kecepatan konvergensinya. Dalam clustering, DE menghadapi kendala penentuan jumlah cluster. Pada penelitian ini diimplementasikan sebuah algoritma Evolutionary Clustering (EC) yang merupakan pengembangan dari DE. EC diterapkan untuk melakukan pengelompokan pixel-pixel dari citra gray-scale atas beberapa area homogen yang berbeda satu dengan lainnya. EC tidak membutuhkan informasi awal tentang jumlah cluster yang akan terbentuk. EC menjadi salah satu solusi untuk menentukan jumlah cluster optimal dengan nilai validitas yang lebih baik. Kinerja dari EC akan dibandingkan dengan algoritma Fuzzy C-Means (FCM). Hasil dari EC dibanding FCM relatif sama dari segi nilai cluster validity index namun EC membutuhkan waktu relatif lebih singkat. Kata Kunci: Clustering pixel, Differential Evolution, Evolutionary Clustering, Fuzzy C Means. 1. PENDAHULUAN Perkembangan metode komputasi telah mengalami percepatan yang luar biasa. Berbagai teknik komputasi untuk memperoleh solusi yang optimal terus berkembang sebagai jawaban atas semakin banyaknya masalah optimasi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu teknik komputasi diantaranya adalah Evolutionary Computation. Ada beberapa algoritma yang termasuk dalam rumpun algoritma evolutionary, antara lain Genetic Algorithm, Genetic Programming, Evolutionary Strategies, Differential Evolution, Evolutionary Programming, dan Grammatical Evolution. Menurut Dasgupta dan Michalewicz, masih banyak lagi sistem hybrid yang menggabungkan berbagai fiturfitur atau karakteristik yang dimiliki oleh algoritmaalgoritma diatas, sehingga sulit untuk diklasifikasikan [1]. Salah satu algorima terbaik adalah DE yang dikenalkan oleh Storn dan Price pada tahun Beberapa alasan yang membuat algoritma ini dipilih adalah karena implementasinya yang mudah dan kecepatan konvergensinya. Algoritma ini sukses digunakan untuk menyelesaikan masalah optimasi dalam berbagai bidang, antara lain clustering, desain filter digital, optimasi fungsi linier, dan optimasi multi-objective. DE mengalami perkembangan yang cukup signifikan dengan berbagai varian sebagai usaha untuk meningkatkan performa dari algoritma ini [2]. Clustering merupakan proses membagi himpunan data yang tidak memiliki label dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok (cluster) terdiri atas objek-objek yang mirip dan akan berbeda untuk anggota kelompok yang lain. Algoritma clustering dibagi 2, yaitu secara hirarki dan partisi [3]. Clustering secara hirarki dibedakan menjadi agglomerative dan divisive. Agglomerative berawal dari objek-objek yang individual dimana saat inisialisasi banyaknya cluster sama dengan banyaknya objek. Dua objek yang paling mirip dikelompokkan menjadi satu kelompok dan proses ini diulang sampai menghasilkan satu cluster. Metode hirarki divisive merupakan kebalikan dari metode hirarki agglomerative. Hasil pembagian kelompok dengan metode hirarki ditunjukkan dalam bentuk diagram yang disebut dendogram [4]. Sedangkan clustering secara partisi, pemisahan obyek atas sekumpulan data dilakukan secara langsung menjadi beberapa kelompok yang berbeda. Data sebagai obyek dalam proses clustering dapat berupa teks maupun citra [4]. Pada penelitian ini diimplementasikan sebuah algoritma EC untuk melakukan pengelompokan pixel secara otomatis dari sebuah citra menjadi beberapa area homogen yang berbeda satu dengan lainnya. Pada algoritma ini tidak dibutuhkan informasi awal tentang jumlah cluster yang akan terbentuk. Sebuah varian penyempurnaan dari algoritma DE akan digunakan untuk menentukan jumlah cluster yang terjadi secara alami dalam citra dan untuk memperbaiki pusat cluster [3]. Selain itu, akan dibandingkan kinerja ekstensif dengan metode lain, 1
2 Volume 9, Nomor 2, Juli 2011: 1 6 yaitu algoritma fuzzy c-means klasik (FCM) melalui sejumlah citra grayscale, yaitu citra yang memiliki satu nilai intensitas untuk setiap elemen dalam ruang RGB. Perbandingan ini akan mememperlihatkan keunggulan algoritma EC dalam hal kecepatan (speed), ketepatan (accuracy) dan ketahanan (robustness). 2. METODE DIFFERENTIAL EVOLUTION Algoritma DE klasik adalah sebuah algoritma optimasi global berbasis populasi yang menggunakan sebuah representasi floating-point (real-coded). Algoritma DE hampir sama dengan algoritma genetik. Pada DE juga dilakukan proses genetik seperti mutasi dan crossover. Pseudocode algoritma DE secara umum adalah sebagai berikut [5]: Inisialisasi Evaluasi Repeat Mutasi Rekombinasi Evaluasi Seleksi Until(kriteria berhenti tercapai) Di dalam DE, individu individu adalah nilai riil yang merupakan nilai sebenarnya dari solusi yang dicari. Nilai riil ini selanjutnya disebut dengan istilah vektor. 2.1 Tahap Inisialisasi Kromosom Inisialisasi kromosom merupakan tahap awal dari algoritma DE. Sebuah kromosom dinotasikan dengan matriks, yang berukuran 3 C_max. Matriks berisikan variabel T ij yang merupakan activation threshold, pusat cluster v i, dan flag ij yang menyimpan kondisi pusat cluster aktif atau tidak. Inisialisasi dilakukan pada 3 komponen, yaitu inisialisasi activation threshold, inisialisasi pusat cluster, dan penentuan pusat cluster aktif. Representasi dari sebuah kromosom dapat dilihat pada Gambar 1. V i,cmax V i,1 V i,2 T i,1 T i,1... T i,cmax... flag i,1 flag i,1 flag i,cmax Activation Threshold Cluster Centroids Gambar 1. Representasi kromosom tunggal Activation threshold merupakan variabel yang digunakan untuk menentukan sebuah pusat cluster aktif atau tidak. Activation threshold disimbolkan dengan T i,j dengan i adalah indeks dari kromosom dan j adalah indeks dari pusat cluster. Inisialisasi nilai dari activation threshold dilakukan dengan membangkitkan bilangan acak antara 0 sampai 1 sebanyak c cluster pada tiap kromosom. Inisialisasi pusat cluster pada setiap kromosom dilakukan dengan cara memilih nilai intensitas secara acak antara 0 sampai 255. Pusat cluster akan diinisialisasi dengan sejumlah c cluster (Cmax) dalam satu kromosom. Setiap melakukan inisialisasi nilai pusat cluster yang ke-j akan dicek apakah nilai pusat cluster sudah pernah digunakan. Jika sudah ada, akan diinisialisasi kembali secara acak sehingga dalam satu kromosom tidak ada pusat cluster yang sama [3]. Setelah dilakukan inisialisasi, dilanjutkan dengan memilih pusat cluster yang aktif berdasarkan nilai activation threshold. Pemilihan pusat cluster yang aktif ini berdasarkan Persamaan (1)., 0.5, 1 (1), 0 Jika nilai activation threshold bernilai lebih dari 0,5 maka pusat cluster akan aktif dan jika kurang dari 0,5 maka pusat cluster tidak aktif. Variabel flag i,j digunakan menyimpan nilai aktif dari pusat cluster, di mana flag i,j = 1 jika pusat cluster aktif dan flag i,j = 0 jika sebaliknya. Jumlah pusat cluster yang aktif akan diperiksa apakah jumlahnya kurang dari dua atau tidak. Jika kurang dari dua maka dilakukan inisialisasi ulang activation threshold. 2.2 Penentuan Keanggotaan Tiap Pixel Setelah diperoleh pusat cluster yang aktif, selanjutnya dihitung nilai jarak tiap pixel dari citra masukan terhadap masing-masing pusat cluster yang aktif. Nilai kesamaan antara satu pixel dengan pixel yang lain diambil dari nilai jarak ke pusat cluster. Perhitungan jarak menggunakan jarak Euclidean, sehingga tiap pixel akan dihitung jaraknya terhadap semua pusat cluster yang aktif. Matriks jarak yang diperoleh, akan digunakan untuk menentukan keanggotaan dari pixel. Setiap pixel akan diberi label berdasarkan jarak level intensitasnya ke pusat cluster yang paling dekat. Misalnya, suatu level intensitas paling dekat dengan pusat cluster pertama dibandingkan dengan pusat cluster yang lain, maka semua pixel dengan level intensitas tersebut akan dimasukkan menjadi anggota cluster satu. Hasil clustering pixel akan diperiksa jumlah anggota dari tiap cluster-nya. Jika ada cluster yang beranggotakan < 2, maka akan dilakukan pembaruan terhadap label dari pixel pada cluster tersebut. Pembaruan label cluster dari pixel dilakukan dengan metode tetangga terdekat (nearest neighbor), yaitu 2
3 Saikhu & Fahmi, Implementasi Pengembangan Metode Differential Evolution untuk Clustering Pixel dengan memilih pusat cluster terdekat dengan cluster yang akan diperbarui [9]. 2.3 Mutasi dan Crossover Operasi mutasi genetik dan crossover merupakan proses yang terpenting dalam metode DE. Pada proses ini dihasilkan individu baru yang akan diseleksi apakah akan bertahan pada generasi selanjutnya. Proses mutasi dilakukan untuk mendapatkan vektor donor. Pada proses mutasi, DE membangkitkan suatu vektor (kromosom) baru dengan melibatkan tiga gen dari kromosom induk. Pembangkitan vektor baru dilakukan dengan menambahkan selisih antara dua gen (gen ke-1 dan ke-2) kepada gen lainnya (gen ke-3). Ada dua skema mutasi yang diusulkan oleh Kenneth dan Price [1]. Untuk setiap vektor,, 0,1,2,,1, suatu vektor baru dibangkitkan berdasarkan,3,.1,2, (2).,,.,, (2) di mana,, 0, 1 adalah bilangan integer yang berbeda satu sama lain dan F>0. Ketiga bilangan,, dipilih secara acak dalam interval 0, 1. Sedangkan F disebut dengan faktor skala yang berupa bilangan real dan merupakan konstanta yang mengontrol penguatan variasi diferensial,, [2]. Faktor skala ini lebih berkaitan dengan kecepatan konvergensi [5]. Setelah diperoleh vektor hasil proses mutasi, proses selanjutnya adalah crossover untuk mendapatkan vektor trial. Saat ini dikenal dua metode crossover dalam DE yaitu binomial dan eksponensial. Crossover eksponensial adalah metode yang dikenalkan oleh Kenneth dan Price [1]. Namun crossover binomial justru lebih banyak digunakan dalam aplikasinya saat ini [6]. Dalam crossover, dikenal parameter Cr yang mempunyai peranan penting dalam algoritma DE. Cr lebih sensitif kepada kompleksitas masalah yang diselesaikan. Penentuan nilai Cr yang tepat akan menghasilkan performa DE yang bagus, namun sebaliknya pemilihan nilai Cr yang salah akan membawa DE ke dalam performa yang buruk [6]. Persamaan untuk melakukan binomial crossover ditunjukkan pada Persamaan (3).,,, ,, (3) 2.4 Seleksi Kromosom Pada proses selanjutnya adalah seleksi kromosom. Seleksi kromosom bertujuan untuk memilih kromosom mana yang bertahan pada generasi selanjutnya dilihat dari nilai fitness-nya. Nilai fitness dari sebuah kromosom ditentukan dengan fitness function. Fitness function didefinisikan pada Persamaan (4)., (4) dengan PS i (c) adalah nilai cluster validity PS index yang akan dijelaskan pada Persamaan (5). Jika nilai fitness dari kromosom hasil crossover lebih besar atau sama dengan nilai fitness kromosom awal, maka kromosom baru hasil crossover akan menggantikan kromosom awal pada generasi berikutnya. Namun jika sebaliknya, kromosom awal akan bertahan pada generasi selanjutnya. 2.5 Tahap Perhitungan Cluster Validity Cluster validity index merupakan fungsi statistik yang digunakan untuk mengevaluasi hasil clustering secara kuantitatif. Secara umum, cluster validity index bertujuan untuk menentukan apakah jumlah kelas yang terbentuk telah optimal [8]. Pada penelitian ini digunakan tiga macam cluster validity index, yaitu PS index, Davies-Bouldin index, dan Dunn index. Formula PS index ditunjukkan pada Persamaan (5). 1 1,,, dimana, min,,, min,,,,, (5) Semakin kecil nilai PS(c) mengindikasikan sebuah partisi optimal yang valid dengan jumlah cluster sebanyak c. Davies-Bouldin index dihitung berdasarkan ukuran kesamaan dari cluster (R ij ) yang berbasis ukuran penyebaran anggota cluster pada sebuah cluster (s i ) dan ukuran ketidaksamaan cluster (d ij ). R ij didefinisikan pada Persamaan (6)., dimana,,,. (6) Sehingga Davies-Bouldin index dapat diformulasikan sesuai persamaan (7). 1,dimana max,, 1. (7) Davies-Bouldin index mengukur rata-rata kemiripan antar cluster dan salah satu yang paling 3
4 Volume 9, Nomor 2, Juli 2011: 1 6 mirip. Semakin rendah nilai Davies-Bouldin index, maka cluster tersebut semakin baik. Sedangkan Dunn index, formulasinya persamaan (8). min min dengan,, max, min,, dan max,,. (8) Jika cluster yang dihasilkan terpisah dengan baik, maka jarak antar cluster akan menjadi besar dan ukuran diameter dari cluster akan menjadi kecil. Nilai Dunn index yang besar berarti cluster yang dihasilkan adalah baik (9). 3. UJI COBA Data uji coba pada penelitian ini adalah citra grayscale. Data masukan yang digunakan adalah brain.gif, cameraman.gif, coins.gif, dan pepper.gif. Keempat citra masukan tersebut berukuran pixel. Uji coba dilakukan dengan 3 skenario, yaitu mengubah nilai parameter masukan Cmax, Pop_size, dan t_max pada setiap kali percobaan. Dari hasil uji coba akan dilakukan perbandingan nilai cluster validity dengan metode FCM. Perbandingan akan dilakukan pada empat data citra masukan. Contoh hasil uji coba pada citra brain.gif dapat dilihat pada Gambar 2. Hasil uji coba clustering menggunakan EC akan dibandingkan dengan FCM. Nilai yang dibandingkan adalah cluster validity index. Sesuai persamaan 5, 7 dan 8, hasil clustering adalah optimal jika memiliki nilai PS index dan Davies-Bouldin index yang kecil dan nilai Dunn index yang besar. Tabel 1. Perbandingan Nilai Cluster Validity Citra Rata-rata Nilai Validity Cluster Validity Index EC FCM brain.gif PS-Index 0,0236* 0,0363 Davies-Bouldin 0,2818* 0,5434 Dunn 0,0113* 0,0102 cameraman.gif PS-Index 0,0196* 0,0232 Davies-Bouldin 0,2622* 0,5577 Dunn 0,0131* 0,0112 coins.gif PS-Index 0,0177* 0,0322 Davies-Bouldin 0,7193 0,1838* Dunn 0,0127 0,0147* pepper.gif PS-Index 0,0187 0,0105* Davies-Bouldin 0,4987 0,4678* Dunn 0,0117 0,0157* EC=Evolutionary Clustering, FCM=Fuzzy C-Means Gambar 2. Contoh hasil clustering pada citra brain.gif Pada Gambar 2. Contoh hasil clustering pada citra brain.gif ditunjukkan perbandingan nilai cluster validity antara hasil clustering dengan EC dibanding FCM dengan 20 kali percobaan. Dapat dilihat bahwa clustering menggunakan EC adaah lebih baik pada citra brain.gif dan cameraman.gif dengan nilai PS- Index dan Davies-Bouldin Index yang lebih kecil dan Dunn-Index yang lebih besar untuk EC, yang ditandai dengan (*). Sedangkan metode FCM lebih unggul pada citra coins.gif dan pepper.gif, Tabel 2. Perbandingan Jumlah Optimal Cluster Citra Jumlah Cluster Rata-rata Jumlah Cluster Optimal DE FCM brain.gif ,11 cameraman.gif ,96 coins.gif ,18 pepper.gif ,77 Pada Tabel 2 ditunjukkan bahwa percobaan dengan 3 skenario dan perulangan sebanyak 20 kali, didapatkan rata-rata jumlah cluster yang mendekati nilai optimal adalah hasil clustering menggunakan EC, sesuai kolom (3). Jumlah cluster optimal pada kolom (2) merupakan hasil clustering dengan nilai PS-index terkecil. Pada Tabel 3 ditunjukkan waktu eksekusi yang dibutuhkan oleh masing-masing metode untuk melakukan clustering. Dapat dilihat bahwa EC membutuhkan waktu yang relatif lebih cepat untuk mendapatkan hasil cluster yang optimal. 4
5 Saikhu & Fahmi, Implementasi Pengembangan Metode Differential Evolution untuk Clustering Pixel Tabel 3. Perbandingan Waktu Proses Eksekusi Rata-rata Waktu yang Citra Dibutuhkan (detik) DE FCM brain.gif 49,01 101,41 cameraman.gif 58,97 102,21 coins.gif 57,03 109,94 pepper.gif 58,19 111,27 4. EVALUASI HASIL UJI COBA Evaluasi hasil uji coba dilakukan dengan menguji apakah nilai cluster validity dipengaruhi oleh citra masukan. Pengujian ini menggunakan One-Way Multivariate Analysis of Variance (MANOVA) karena melibatkan satu variabel tetap yaitu citra masukan dan tiga variabel terikat yaitu nilai PS index Davies-Bouldin dan Dunn index. Dari Error! Reference source not found. diketahui bahwa nilai cluster validity index dipengaruhi jenis citra masukan di mana nilai pengujian Wilks Lambda menghasilkan nilai signifikansi di bawah 0,05 (p < 0.05). Melalui MANOVA, diperoleh bahwa cluster validity yang dipengaruhi oleh citra masukan adalah Dunn index, karena nilai signifikan < 0,05, sesuai hasil yang ditampilkan pada Tabel 5. Kemudian dilakukan uji t untuk mengetahui jenis citra apa saja yang berbeda nilai cluster validity-nya. Pada uji t dilakukan pengujian secara berpasangan, sehingga ada enam pasang pengujian pada masing-masing nilai cluster validity. Tabel 4. Pengujian Multivariat Efek Nilai F df Error df Sig. Pillai's Wilks' Hotelling's Roy's a Pada Tabel 6, ditunjukkan hasil uji t berpasangan berdasarkan nilai Dunn index. Dapat dilihat bahwa citra yang berpasangan dengan citra pepper.gif nilai selang kepercayaan (min-maks) tidak memuat nilai nol, sehingga disimpulkan bahwa citra pepper.gif berbeda nilai Dunn index-nya dibanding citra yang lain. Selain dilakukan pengujian terhadap pengaruh citra masukan, juga dilakukan pengujian apakah nilai cluster validity dipengaruhi oleh parameter yang digunakan, yaitu Cmax Pop_size dan t_max. Pengujian dilakukan dengan analisis Two-Way MANOVA. Hasil uji MANOVA untuk pengaruh dari Cmax dan Pop_size ditunjukkan pada Tabel 7 sedangkan untuk parameter t_max ditunjukkan pada Tabel 8. Tabel 5. Pengaruh Jenis Citra terhadap Validity Index Sumber Citra Error Total Variabel Terikat Sum of Squares df Mean Square F Sig. PS DAVIES DUNN 4.70E E PS DAVIES DUNN E-06 PS DAVIES DUNN a. R Squared =,075 (Adjusted R Squared =,038) b. R Squared =,053 (Adjusted R Squared =,015) c. R Squared =,187 (Adjusted R Squared =,154) Tabel 6. Uji t Pada Tiap Pasang Citra Masukan Pasangan Citra Selang Kepercayaan Citra 1 Citra 2 Mean Min Maks Brain Cameraman 0,0000-0,0013 0,0014 Brain Coins -0,0005-0,0018 0,0009 Brain Pepper -0,0019-0,0033-0,0005 Cameraman Coins -0,0005-0,0019 0,0009 Cameraman Pepper -0,0020-0,0033-0,0006 coins pepper -0,0015-0,0028-0,0001 Dari Tabel 7 dan 8 dapat ditarik kesimpulan bahwa parameter yang berpengaruh terhadap nilai cluster validity adalah Cmax. Hal ini dapat dilihat pada nilai pengujian Wilks Lambda pada efek Cmax bernilai yang menghasilkan nilai signifikansi (p<0 05). Sedangkan pada efek parameter yang lain niai pengujian Wilks Lambda tidak signifikan. 5. KESIMPULAN Dari uji coba dan analisis hasil, dapat ditarik sejumlah kesimpulan bahwa: a. Clustering pixel secara otomatis pada citra grayscale dapat dilakukan menggunakan EC tanpa harus menentukan jumlah cluster yang akan terbentuk. b. Hasil clustering menggunakan EC dibanding FCM relatif sama dari segi nilai cluster validity index. c. Metode EC membutuhkan waktu relatif lebih singkat untuk menentukan jumlah cluster optimal secara otomatis dibanding FCM. 5
6 Volume 9, Nomor 2, Juli 2011: 1 6 d. Parameter masukan dari metode EC yang paling berpengaruh terhadap nilai cluster validity index adalah parameter Cmax, yaitu jumlah maksimum dari cluster. Tabel 7. Pengujian Efek Cmax dan Pop_size Cmax PopSize Cmax * PopSize Efek Nilai Tabel 8. Pengujian Multivariat Efek t_max 6. DAFTAR PUSTAKA [1] Babu B.V. dan Angira R "Optimization of Water Pumping System Using Differential Evolution Strategies" Proceedings of the The Second International Conference on F Hip df Error df Sig. Pillai's Wilks' Hotelling's Roy's a Pillai's Wilks' Hotelling's Roy's a Pillai's Wilks' Hotelling's Roy's a Efek Nilai F Hip. Error Df df Sig. t_max Pillai's Wilks' Hotelling's Roy's 0.24 a Computational Intelligence Robotics and Autonomous Systems (CIRAS-2003).Singapore Desember [2] Prince KV Storm RM Lampinen JA Differential Evolution - A Practical Approach to Global Optimization Natural Computing Science. Berlin : Springer. [3] Das S. Abraham A. Konar A 2008 " Automatic Clustering Using an Improved Differential Evolution Algorithm" IEEE Transaction on Systems Man and Cybernetics Part A 38(1) [4] Hair Joseph F. Jr William C. Black Barry J. Babin Rolph E. Anderson 2010 Multivariate Data Analysis 7/e Prentice Hall. [5] Qin A.K. Suganthan 2005 "Self-adaptive Differential Evolution Algorithm for Numerical Optimization". Skotlandia : u.n Proceedings of IEEE Congress on Evolutionary Computation (CEC2005) pp Scotland [6] Zaharie D "A Comparative Analysis of Crossover Variants in Differential Evolution" Proceedings of International Multi conference on Computer Science and Information Technology. pp [7] Karaboga D. Okdem S "A Simple and Global Optimization Algorithm for ngineering Problems: Differential Evolution Algorithm" Turkish Journal Electrical Engineering & Computer Science Vol (1) [8] Kovács F. Legány C. and Babos A "Cluster Validity Measurement Techniques" Proceedings of 5th WSE AS International Conf. Artificial Intell. Know Engineering. Hungary: Budapest. [9] Pramusinto Isnani 2010 "Implementasi Self- Adaptive Differential Evolution with Neighborhood Search (SANSDE) untuk Optomasi Sistem Pompa Air" Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2010 (SNATI 2010) Yogyakarta 19 Mei
IMPLEMENTASI SELF-ADAPTIVE DIFFERENTIAL EVOLUTION WITH NEIGHBORHOOD SEARCH (SANSDE) UNTUK OPTIMASI SISTEM POMPA AIR
IMPLEMENTASI SELF-ADAPTIVE DIFFERENTIAL EVOLUTION WITH NEIGHBORHOOD SEARCH (SANSDE) UNTUK OPTIMASI SISTEM POMPA AIR Isnani Pramusinto 1 1 Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Industri,Universitas
IMPLEMENTASI DETEKSI OUTLIER PADA ALGORITMA HIERARCHICAL CLUSTERING
IMPLEMENTASI DETEKSI OUTLIER PADA ALGORITMA HIERARCHICAL CLUSTERING Yoga Bhagawad Gita 1, Ahmad Saikhu 2 1,2 Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Informasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Optimasi Teknik Klasifikasi Modified k Nearest Neighbor Menggunakan Algoritma Genetika
Optimasi Teknik Klasifikasi Modified k Nearest Neighbor Menggunakan Algoritma Genetika Siti Mutrofin 1, Arrie Kurniawardhani 2, Abidatul Izzah 3, Mukhamad Masrur 4 Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Clustering adalah proses di dalam mencari dan mengelompokkan data yang memiliki kemiripan karakteristik (similarity) antara satu data dengan data yang lain. Clustering
Implementasi automatic clustering menggunakan particle swarm optimization dan genetic algorithm pada data kemahasiswaan
Konferensi Nasional Sistem & Informatika 2015 STMIK STIKOM Bali, 9 10 Oktober 2015 Implementasi automatic clustering menggunakan particle swarm optimization dan genetic algorithm pada data kemahasiswaan
Optimasi Multi Travelling Salesman Problem (M-TSP) Menggunakan Algoritma Genetika
Optimasi Multi Travelling Salesman Problem (M-TSP) Menggunakan Algoritma Genetika Wayan Firdaus Mahmudy ([email protected]) Program Studi Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya, Malang, Indonesia Abstrak.
(M.6) FUZZY C-MEANS CLUSTERING DENGAN ANALISIS ROBUST
(M.6) FUZZY C-MEANS CLUSTERING DENGAN ANALISIS ROBUST 1Nor Indah FitriyaNingrum, 2 Suwanda, 3 Anna Chadidjah 1Mahasiswa JurusanStatistika FMIPA UniversitasPadjadjaran 2Jurusan Statistika FMIPA Universitas
OPTIMASI PENJADWALAN CERDAS MENGGUNAKAN ALGORITMA MEMETIKA
OPTIMASI PENJADWALAN CERDAS MENGGUNAKAN ALGORITMA MEMETIKA Muhammad Arief Nugroho 1, Galih Hermawan, S.Kom., M.T. 2 1, 2 Universitas Komputer Indonesia Jl. Dipatiukur No. 112-116, Bandung 40132 E-mail
Fuzzy C-means Clustering menggunakan Cluster Center Displacement
Fuzzy C-means Clustering menggunakan Cluster Center Displacement Fitri Hidayah Sundawati 1), Jadi Suprijadi 2), Titi Purwandari 3) 1) Mahasiswa Statistika Terapan, UniversitasPadjadjaran-Indonesia 2) Pengajar
DETEKSI MAHASISWA BERPRESTASI DAN BERMASALAH DENGAN METODE K- MEANS KLASTERING YANG DIOPTIMASI DENGAN ALGORITMA GENETIKA
DETEKSI MAHASISWA BERPRESTASI DAN BERMASALAH DENGAN METODE K- MEANS KLASTERING YANG DIOPTIMASI DENGAN ALGORITMA GENETIKA Akmal Hidayat 1) & Entin Martiana 2) 1) Teknik Elektro Politeknik Bengkalis Jl.
OPTIMALISASI SOLUSI TERBAIK DENGAN PENERAPAN NON-DOMINATED SORTING II ALGORITHM
OPTIMALISASI SOLUSI TERBAIK DENGAN PENERAPAN NON-DOMINATED SORTING II ALGORITHM Poetri Lestari Lokapitasari Belluano [email protected] Universitas Muslim Indonesia Abstrak Non Dominated Sorting pada
Analisis Operator Crossover pada Permasalahan Permainan Puzzle
Analisis Operator Crossover pada Permasalahan Permainan Puzzle Kun Siwi Trilestari [1], Ade Andri Hendriadi [2] Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Singaperbanga Karawang
Analisis Perbandingan Algoritma Fuzzy C-Means dan K-Means
Analisis Perbandingan Algoritma Fuzzy C-Means dan K-Means Yohannes Teknik Informatika STMIK GI MDD Palembang, Indonesia Abstrak Klasterisasi merupakan teknik pengelompokkan data berdasarkan kemiripan data.
SYSTEM IDENTIFIKASI GANGGUAN STROKE ISKEMIK MENGGUNAKAN METODE OTSU DAN FUZZY C-MEAN (FCM)
SYSTEM IDENTIFIKASI GANGGUAN STROKE ISKEMIK MENGGUNAKAN METODE OTSU DAN FUZZY C-MEAN (FCM) Jani Kusanti Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Teknik Elektro dan Informatika Universitas Surakarta (UNSA),
PENYELESAIAN PERMASALAHAN TRAVELLING SALESMAN PROBLEM MENGGUNAKAN ALGORITMA DIFFERENTIAL EVOLUTION
PENYELESAIAN PERMASALAHAN TRAVELLING SALESMAN PROBLEM MENGGUNAKAN ALGORITMA DIFFERENTIAL EVOLUTION Heri Awalul Ilhamsah Jurusan Teknik Industri Universitas Trunojoyo Email: [email protected] ABSTRAK
Algoritma Evolusi Evolution Strategies (ES)
Algoritma Evolusi Evolution Strategies (ES) Imam Cholissodin [email protected] Pokok Bahasan 1. Struktur Dasar Evolution Strategies (ES) 2. Siklus ES (µ, λ) 3. Siklus ES (µ/r + λ) 4. Studi Kasus
Implementasi Segmentasi Citra dengan Menggunakan Metode Generalized Fuzzy C- Means Clustering Algorithm with Improved Fuzzy Partitions
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2012) 1-5 1 Implementasi Segmentasi Citra dengan Menggunakan Metode Generalized Fuzzy C- Means Clustering Algorithm with Improved Fuzzy Partitions Ivan Hardiyanto,
Penyusun Tugas Akhir : Ivan Hardiyanto (NRP : ) Dosen Pembimbing : Yudhi Purwananto, S.Kom, M.Kom Rully Soelaiman, S.Kom, M.
PRESENTASI TUGAS AKHIR KI091391 IMPLEMENTASI SEGMENTASI CITRA DENGAN MENGGUNAKAN METODE GENERALIZED FUZZY C- MEANS CLUSTERING ALGORITHM WITH IMPROVED FUZZY PARTITIONS (Kata kunci: Algoritma Fuzzy Clustering,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Fuzzy Local Binary Pattern (FLBP) Fuzzifikasi pada pendekatan LBP meliputi transformasi variabel input menjadi variabel fuzzy, berdasarkan pada sekumpulan fuzzy rule. Dalam
Prosiding Seminar Sains dan Teknologi FMIPA Unmul Vol. 1 No. 2 Desember 2015, Samarinda, Indonesia ISBN :
Clustering Data Status Tugas Belajar Dan Ijin Belajar Menggunakan Metode Fuzzy C-Means (Studi Kasus : Di Lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur) Fevin Triyas Rantika 1, Indah Fitri Astuti, M.Cs
APLIKASI UNTUK PREDIKSI JUMLAH MAHASISWA PENGAMBIL MATAKULIAH DENGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA, STUDI KASUS DI JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA ITS
APLIKASI UNTUK PREDIKSI JUMLAH MAHASISWA PENGAMBIL MATAKULIAH DENGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA, STUDI KASUS DI JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA ITS Hafid Hazaki 1, Joko Lianto Buliali 2, Anny Yuniarti 2
Optimasi Fungsi Tanpa Kendala Menggunakan Algoritma Genetika Dengan Kromosom Biner dan Perbaikan Kromosom Hill-Climbing
Optimasi Fungsi Tanpa Kendala Menggunakan Algoritma Genetika Dengan Kromosom Biner dan Perbaikan Kromosom Hill-Climbing Wayan Firdaus Mahmudy, ([email protected]) Program Studi Ilmu Komputer, Universitas
Oleh : Rahanimi Pembimbing : Dr. M Isa Irawan, M.T
PERAMALAN JUMLAH MAHASISWA PENDAFTAR PMDK JURUSAN MATEMATIKA MENGGUNAKAN METODE AUTOMATIC CLUSTERING DAN RELASI LOGIKA FUZZY (STUDI KASUS di INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA) Oleh : Rahanimi
SEGMENTASI CITRA MENGGUNAKAN PENGHAPUSAN TEKSTUR DAN K-MEANS DENGAN BATASAN RUANG
SEGMENTASI CITRA MENGGUNAKAN PENGHAPUSAN TEKSTUR DAN K-MEANS DENGAN BATASAN RUANG Gama Wisnu Fajarianto 1, Handayani Tjandrasa 2 Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Informasi Institut Teknologi
ALGORITMA GENETIKA PADA PEMROGRAMAN LINEAR DAN NONLINEAR
Buletin Ilmiah Mat. Stat. dan Terapannya (Bimaster) Volume 5, No. 03(2016), hal 265 274. ALGORITMA GENETIKA PADA PEMROGRAMAN LINEAR DAN NONLINEAR Abdul Azis, Bayu Prihandono, Ilhamsyah INTISARI Optimasi
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Data Mining Data Mining adalah proses pencarian pengetahuan dari suatu data berukuran besar melalui metode statistik, machine learning, dan artificial algorithm. Hal yang paling
Optimasi Cluster Pada Fuzzy C-Means Menggunakan Algoritma Genetika Untuk Menentukan Nilai Akhir
IJCCS, Vol.6, No.1, January 2012, pp. 101~110 ISSN: 1978-1520 101 Optimasi Cluster Pada Fuzzy C-Means Menggunakan Algoritma Genetika Untuk Menentukan Nilai Akhir Putri Elfa Mas`udia* 1, Retantyo Wardoyo
Rancang Bangun Robot PANTILT: Pendeteksian Posisi Kepala Manusia Menggunakan Algoritma Genetika
Rancang Bangun Robot PANTILT: Pendeteksian Posisi Kepala Manusia Menggunakan Algoritma Genetika Ferman Hakiki 1, Indra Adji Sulistijono 2 1 Jurusan Teknik Elektornika, Politeknik Elekronika Negeri Surabaya
OPTIMASI TEKNIK KLASIFIKASI MODIFIED K NEAREST NEIGHBOR MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA
OPTIMASI TEKNIK KLASIFIKASI MODIFIED K NEAREST NEIGHBOR MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA Optimization Techniques Modi ed k Nearest Neighbor Classi cation Using Genetic Algorithm Siti Mutro n 1, Abidatul
PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK MENYELESAIKAN PERMASALAHAN PENJADWALAN DOSEN DENGAN FUZZY
PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK MENYELESAIKAN PERMASALAHAN PENJADWALAN DOSEN DENGAN FUZZY Arief Kelik Nugroho Fakultas Teknik, Universitas PGR Yogyakarta e-mail : [email protected] Abstrak
Algoritma Genetika Ganda (AGG) untuk Capacitated Vehicle Routing Problem (CVRP)
SEMINAR NASIONAL MATEMATIKA DAN PENDIDIKAN MATEMATIKA UNY 2015 T 6 Algoritma Genetika Ganda (AGG) untuk Capacitated Vehicle Routing Problem (CVRP) Daryono Budi Utomo, Mohammad Isa Irawan, Muhammad Luthfi
Bab II Konsep Algoritma Genetik
Bab II Konsep Algoritma Genetik II. Algoritma Genetik Metoda algoritma genetik adalah salah satu teknik optimasi global yang diinspirasikan oleh proses seleksi alam untuk menghasilkan individu atau solusi
LABORATORIUM DATA MINING JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA. Modul II CLUSTERING
LABORATORIUM DATA MINING JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA Modul II CLUSTERING TUJUA PRAKTIKUM 1. Mahasiswa mempunyai pengetahuan dan kemampuan dasar dalam
BAB III K-MEANS CLUSTERING. Analisis klaster merupakan salah satu teknik multivariat metode
BAB III K-MEANS CLUSTERING 3.1 Analisis Klaster Analisis klaster merupakan salah satu teknik multivariat metode interdependensi (saling ketergantungan). Oleh karena itu, dalam analisis klaster tidak ada
OPTIMASI PENEMPATAN KAPASITOR PADA SALURAN DISTRIBUSI 20 kv DENGAN MENGGUNAKAN METODE KOMBINASI FUZZY DAN ALGORITMA GENETIKA
OPTIMASI PENEMPATAN KAPASITOR PADA SALURAN DISTRIBUSI 20 kv DENGAN MENGGUNAKAN METODE KOMBINASI FUZZY DAN ALGORITMA GENETIKA I Made Wartana, Mimien Mustikawati Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknologi
PREDIKSI TIME SERIES TINGKAT INFLASI INDONESIA MENGGUNAKAN EVOLUTION STRATEGIES
PREDIKSI TIME SERIES TINGKAT INFLASI INDONESIA MENGGUNAKAN EVOLUTION STRATEGIES Universitas Telkom Jl.Telekomunikasi No. 1, Terusan Buah Batu, Bandung [email protected] Abstrak Prediksi tingkat
PERBANDINGAN SEGMENTASI CITRA BERWARNA DENGAN FUZZY CMEANS CLUSTERING PADA BEBERAPA REPRESENTASI RUANG WARNA
PERBANDINGAN SEGMENTASI CITRA BERWARNA DENGAN FUZZY CMEANS CLUSTERING PADA BEBERAPA REPRESENTASI RUANG WARNA Naser Jawas Sistem Komputer STMIK STIKOM Bali Jl Raya Puputan No.86 Renon, Denpasar, Bali 80226
OPTIMASI PUSAT KLASTER MENGGUNAKAN ALGORITMA FAST GENETIC KMEAN PADA DATA BERDISTRIBUSI NORMAL
OPTIMASI PUSAT KLASTER MENGGUNAKAN ALGORITMA FAST GENETIC KMEAN PADA DATA BERDISTRIBUSI NORMAL Budi Nur Iman, Entin Martiana K, Umi Sa adah Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), ITS Surabaya,
Implementasi Algoritma Fuzzy C Means Dan Statistical Region Merging Pada Segmentasi Citra
Konferensi Nasional Sistem & Informatika 2015 STMIK STIKOM Bali, 9 10 Oktober 2015 Implementasi Algoritma Fuzzy C Means Dan Statistical Region Merging Pada Segmentasi Citra I Made Budi Adnyana STMIK STIKOM
Penentuan Portofolio Saham Optimal Menggunakan Algoritma Genetika
Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer e-issn: 2548-964X Vol. 1, No. 1, Januari 2017, hlm. 63-68 http://j-ptiik.ub.ac.id Penentuan Portofolio Saham Optimal Menggunakan Algoritma Genetika
OPTIMASI PERSEDIAAN BAJU MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA
OPTIMASI PERSEDIAAN BAJU MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA andra Aditya 1), Wayan Firdaus Mahmudy 2) 1) Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer Malang Jl. Veteran, Malang 65145, Indonesia
IMPLEMENTASI METODE ANT COLONY OPTIMIZATION UNTUK PEMILIHAN FITUR PADA KATEGORISASI DOKUMEN TEKS
IMPLEMENTASI METODE ANT COLONY OPTIMIZATION UNTUK PEMILIHAN FITUR PADA KATEGORISASI DOKUMEN TEKS Yudis Anggara Putra Chastine Fatichah Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Informasi, Institut
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2. Program linier (Linier Programming) Pemrograman linier merupakan metode matematik dalam mengalokasikan sumber daya yang terbatas untuk mencapai suatu tujuan seperti memaksimumkan
Genetic Algorithme. Perbedaan GA
Genetic Algorithme Algoritma ini bekerja dengan sebuah populasi yang terdiri atas individu-individu (kromosom). Individu dilambangkan dengan sebuah nilai kebugaran (fitness) yang akan digunakan untuk mencari
PEMANFAATAN ALGORITMA FUZZY EVOLUSI UNTUK PENYELESAIAN KASUS TRAVELLING SALESMAN PROBLEM
PEMANFAATAN ALGORITMA FUZZY EVOLUSI UNTUK PENYELESAIAN KASUS TRAVELLING SALESMAN PROBLEM Syafiul Muzid Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta E-mail:
Analisis Komparasi Genetic Algorithm dan Firefly Algorithm pada Permasalahan Bin Packing Problem
Analisis Komparasi Genetic Algorithm dan Firefly Algorithm pada Permasalahan Bin Packing Problem Adidtya Perdana Sekolah Tinggi Teknik Harapan Medan Jl. H.M. Jhoni No. 70 C Medan [email protected] Abstrak
MEMBANGUN TOOLBOX ALGORITMA EVOLUSI FUZZY UNTUK MATLAB
MEMBANGUN TOOLBOX ALGORITMA EVOLUSI FUZZY UNTUK MATLAB Syafiul Muzid 1, Sri Kusumadewi 2 1 Sekolah Pascasarjana Magister Ilmu Komputer, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta e-mail: [email protected] 2 Jurusan
PEMAMPATAN MATRIKS JARANG DENGAN METODE ALGORITMA GENETIKA MENGGUNAKAN PROGRAM PASCAL
Jurnal Matematika UNAND Vol. 3 No. 1 Hal. 98 106 ISSN : 2303 2910 c Jurusan Matematika FMIPA UNAND PEMAMPATAN MATRIKS JARANG DENGAN METODE ALGORITMA GENETIKA MENGGUNAKAN PROGRAM PASCAL YOSI PUTRI, NARWEN
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2004 Yogyakarta, 19 Juni 2004
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2004 Yogyakarta, 19 Juni 2004 Penyelesaian Masalah Penugasan dengan Algoritma Genetika Zainudin Zukhri Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Industri,
PERBANDINGAN KINERJA ALGORITMA GENETIK DAN ALGORITMA BRANCH AND BOUND PADA TRAVELLING SALESMAN PROBLEM
PERBANDINGAN KINERJA ALGORITMA GENETIK DAN ALGORITMA BRANCH AND BOUND PADA TRAVELLING SALESMAN PROBLEM Nico Saputro dan Suryandi Wijaya Jurusan Ilmu Komputer Universitas Katolik Parahyangan [email protected]
PENERAPAN TEKNIK KLASIFIKASI PADA SISTEM REKOMENDASI MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA
PENERAPAN TEKNIK KLASIFIKASI PADA SISTEM REKOMENDASI MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA Rita Rismala 1, Mahmud Dwi Sulistiyo 2 Program Studi S1 Teknik Informatika, Fakultas Informatika Universitas Telkom 1,
Algoritma Genetika Ganda untuk Capacitated Vehicle Routing Problem
JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 4, No.2, (2015) 2337-3520 (2301-928X Print) A-19 Algoritma Genetika Ganda untuk Capacitated Vehicle Routing Problem Muhammad Luthfi Shahab dan Mohammad Isa Irawan Matematika,
PENYELESAIAN KNAPSACK PROBLEM MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA
PENYELESAIAN KNAPSACK PROBLEM MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA Kartina Diah KW1), Mardhiah Fadhli2), Charly Sutanto3) 1,2) Jurusan Teknik Komputer Politeknik Caltex Riau Pekanbaru Jl. Umban Sari No.1 Rumbai-Pekanbaru-Riau
ERWIEN TJIPTA WIJAYA, ST.,M.KOM
ERWIEN TJIPTA WIJAYA, ST.,M.KOM DEFINISI ALGEN adalah algoritma yang memanfaatkan proses seleksi alamiah yang dikenal dengan evolusi Dalam evolusi, individu terus menerus mengalami perubahan gen untuk
ANALISIS PENGATURAN INDIVIDU CROSSOVER DAN MUTASI ALGORITMA GENETIKA STUDI KASUS TRAVELLING SALESMAN PROBLEM
ANALISIS PENGATURAN INDIVIDU CROSSOVER DAN MUTASI ALGORITMA GENETIKA STUDI KASUS TRAVELLING SALESMAN PROBLEM Sean Coonery Sumarta* 1 1 Program Studi Teknik Informatika, Universitas Atma Jaya Makassar,
KLASIFIKASI USAHA KECIL DAN MENENGAH (UKM) SEKTOR INDUSTRI DENGAN METODE FUZZY C-MEANS CLUSTERING WILAYAH KOTA CILEGON
Seminar Nasional IENACO 213 ISSN: 2337-39 KLASIFIKASI USAHA KECIL DAN MENENGAH (UKM) SEKTOR INDUSTRI DENGAN METODE FUZZY C-MEANS CLUSTERING WILAYAH KOTA CILEGON Ratna Ekawati 1),Nurul Yulis 2) 1) Jurusan
Penyelesaian Puzzle Sudoku menggunakan Algoritma Genetik
Penyelesaian Puzzle Sudoku menggunakan Algoritma Genetik Afriyudi 1,Anggoro Suryo Pramudyo 2, M.Akbar 3 1,2 Program Studi Sistem Informasi Fakultas Ilmu Komputer. Universitas Bina Darma Palembang. email
PENERAPAN ALGORITMA K MEANS UNTUK PENENTUAN PENCOCOKAN PEWARNAAN CLUSTERING SECARA OTOMATIS PADA PRODUK FASHION
Konferensi Nasional Ilmu Sosial & Teknologi (KNiST) Maret 2016, pp. 590~595 PENERAPAN ALGORITMA K MEANS UNTUK PENENTUAN PENCOCOKAN PEWARNAAN CLUSTERING SECARA OTOMATIS PADA PRODUK FASHION 590 Indra Gunawan
2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Peringkasan Teks
4 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Peringkasan Teks Peringkasan teks adalah proses pemampatan teks sumber ke dalam versi lebih pendek namun tetap mempertahankan informasi yang terkandung didalamnya (Barzilay & Elhadad
PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK MEMAKSIMALKAN LABA PRODUKSI JILBAB
Journal of Environmental Engineering & Sustainable Technology Vol. 02 No. 01, July 2015, Pages 06-11 JEEST http://jeest.ub.ac.id PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK MEMAKSIMALKAN LABA PRODUKSI JILBAB Samaher
PERFORMANCE ALGORITMA GENETIKA (GA) PADA PENJADWALAN MATA PELAJARAN
PERFORMANCE ALGORITMA GENETIKA (GA) PADA PENJADWALAN MATA PELAJARAN Eva Desiana, M.Kom Pascasarjana Teknik Informatika Universitas Sumatera Utara, SMP Negeri 5 Pematangsianta Jl. Universitas Medan, Jl.
KLASIFIKASI SISWA KELAS UNGGULAN MENGGUNAKAN FUZZY C-MEANS
KLASIFIKASI SISWA KELAS UNGGULAN MENGGUNAKAN FUZZY C-MEANS Nunik Mariastuti Wijilestari, Moch. Hariadi Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya 60
PERANCANGAN KONFIGURASI JARINGAN DISTRIBUSI PRODUK BISKUIT MENGGUNAKAN METODE ALGORITMA GENETIKA (Studi Kasus: PT. EP)
PERANCANGAN KONFIGURASI JARINGAN DISTRIBUSI PRODUK BISKUIT MENGGUNAKAN METODE ALGORITMA GENETIKA (Studi Kasus: PT. EP) Rezki Susan Ardyati dan Dida D. Damayanti Program Studi Teknik Industri Institut Teknologi
Penerapan Adaptive Genetic Algorithm dengan Fuzzy Logic Controller pada Capacitated Vehicle Routing Problem
Penerapan Adaptive Genetic Algorithm dengan Fuzzy Logic Controller pada Capacitated Vehicle Routing Problem Tri Kusnandi Fazarudin 1, Rasyid Kurniawan 2, Mahmud Dwi Sulistiyo 3 1,2 Prodi S1 Teknik Informatika,
PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK PENENTUAN BATASAN FUNGSI KENGGOTAAN FUZZY TSUKAMOTO PADA KASUS PERAMALAN PERMINTAAN BARANG
Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (JTIIK) Vol. 3, No. 3, September 2016, hlm. 169-173 PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK PENENTUAN BATASAN FUNGSI KENGGOTAAN FUZZY TSUKAMOTO PADA KASUS PERAMALAN
Denny Hermawanto
Algoritma Genetika dan Contoh Aplikasinya Denny Hermawanto [email protected] http://dennyhermawanto.webhop.org Lisensi Dokumen: Seluruh dokumen di IlmuKomputer.Com dapat digunakan, dimodifikasi dan disebarkan
RANCANG BANGUN SISTEM PENENTUAN KOMPOSISI BAHAN PANGAN HARIAN MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA
ABSTRAKSI RANCANG BANGUN SISTEM PENENTUAN KOMPOSISI BAHAN PANGAN HARIAN MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA Tedy Rismawan, Sri Kusumadewi Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Industri Universitas
APLIKASI ALGORITMA GENETIKA UNTUK PENENTUAN TATA LETAK MESIN
APLIKASI ALGORITMA GENETIKA UNTUK PENENTUAN TATA LETAK MESIN Hari Purnomo, Sri Kusumadewi Teknik Industri, Teknik Informatika Universitas Islam Indonesia Jl. Kaliurang Km 4,5 Yogyakarta [email protected],
Implementasi Algoritma Genetika dalam Pembuatan Jadwal Kuliah
Implementasi Algoritma Genetika dalam Pembuatan Jadwal Kuliah Leonard Tambunan AMIK Mitra Gama Jl. Kayangan No. 99, Duri-Riau e-mail : [email protected] Abstrak Pada saat ini proses penjadwalan kuliah
KNAPSACK PROBLEM DENGAN ALGORITMA GENETIKA
LAPORAN TUGAS BESAR ARTIFICIAL INTELLEGENCE KNAPSACK PROBLEM DENGAN ALGORITMA GENETIKA Disusun Oleh : Bayu Kusumo Hapsoro (113050220) Barkah Nur Anita (113050228) Radityo Basith (113050252) Ilmi Hayyu
Aplikasi Algoritma Differential Evolution Untuk Permasalahan Kompleks Pemilihan Portofolio
Aplikasi Algoritma Differential Evolution Untuk Permasalahan Kompleks Pemilihan Portofolio Disusun Oleh: Irmaduta Fahmiari 2506 100 077 Dosen Pembimbing: Ir. Budi Santosa, M.S., Ph.D INVESTASI ALOKASI
OPTIMASI QUERY DATABASE MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIK
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2008 (SNATI 2008) ISSN 1907-5022 OPTIMASI QUERY DATABASE MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIK Manahan Siallagan, Mira Kania Sabariah, Malanita Sontya Jurusan Teknik
BAB V PENUTUP. Menggunakan Metode Fuzzy C-Means Clustering, dapat diambil kesimpulan
BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan Dari serangkaian uji coba dan analisa yang telah dilakukan pada aplikasi Sistem Pendukung Keputusan Pengadaan Buku Perpustakaan STIKOM Surabaya Menggunakan Metode Fuzzy C-Means
PENJADWALAN OPERASIONAL PEMBANGKIT BERBASIS ALGORITMA GENETIK PADA SISTEM PEMBANGKIT SUMATERA BAGIAN TENGAH
Penjadwalan Operasional Pembangkit Berbasis Algoritma Genetik (Dwi Ana dkk) PENJADWALAN OPERASIONAL PEMBANGKIT BERBASIS ALGORITMA GENETIK PADA SISTEM PEMBANGKIT SUMATERA BAGIAN TENGAH Rahmanul Ikhsan 1,
ALGORITMA GENETIKA UNTUK OPTIMASI STRUKTUR ANFIS
ALGORITMA GENETIKA UNTUK OPTIMASI STRUKTUR ANFIS Ariesta Damayanti 1), Rudy Cahyadi 2) 1) Teknik Informatika STMIK AKAKOM Yogyakarta, 2) Politeknik Negeri Media Kreatif Jakarta 1) Jl. Janti 143 Yogyakarta,
DATA MINING DAN WAREHOUSE A N D R I
DATA MINING DAN WAREHOUSE A N D R I CLUSTERING Secara umum cluster didefinisikan sebagai sejumlah objek yang mirip yang dikelompokan secara bersama, Namun definisi dari cluster bisa beragam tergantung
Rancang Bangun Aplikasi Prediksi Jumlah Penumpang Kereta Api Menggunakan Algoritma Genetika
1 Rancang Bangun Aplikasi Prediksi Jumlah Penumpang Kereta Api Menggunakan Algoritma Genetika Annisti Nurul Fajriyah Politeknik Elektronika Negeri Surabaya Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya
Pendekatan Algoritma Genetika pada Peminimalan Fungsi Ackley menggunakan Representasi Biner
Vol. 7, 2, 108-117, Januari 2011 Pendekatan Algoritma Genetika pada Peminimalan Fungsi Ackley menggunakan Representasi Biner Jusmawati Massalesse Abstrak Tulisan ini dimaksudkan untuk memperlihatkan proses
PENGELOMPOKAN GAMBAR BERDASARKAN WARNA DAN BENTUK MENGGUNAKAN FGKA (FAST GENETIC KMEANS ALGORITHM) UNTUK PENCOCOKAN GAMBAR
PENGELOMPOKAN GAMBAR BERDASARKAN WARNA DAN BENTUK MENGGUNAKAN FGKA (FAST GENETIC KMEANS ALGORITHM) UNTUK PENCOCOKAN GAMBAR Farah Zakiyah Rahmanti 1, Entin Martiana K. 2, S.Kom, M.Kom, Nana Ramadijanti
IMPLEMENTASI DETEKSI OUTLIER PADA ALGORITMA HIERARCHICAL CLUSTERING
IMPLEMENTASI DETEKSI OUTLIER PADA ALGORITMA HIERARCHICAL CLUSTERING Ahmad Saikhu 2, Yoga Bhagawad Gita 2 Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Informasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS),
BAB I PENDAHULUAN. kehidupan sehari-hari dan juga merupakan disiplin ilmu yang berdiri sendiri serta
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan juga merupakan disiplin ilmu yang berdiri sendiri serta tidak merupakan
KOMBINASI ALGORITMA DIFFERENTIAL EVOLUTION DENGAN ITERATED GREEDY UNTUK PERMASALAHAN TRAVELING SALESMAN PROBLEM (TSP)
KOMBINASI ALGORITMA DIFFERENTIAL EVOLUTION DENGAN ITERATED GREEDY UNTUK PERMASALAHAN TRAVELING SALESMAN PROBLEM (TSP) Ong Andre Wahju Riyanto * ABSTRAKSI Penelitian ini ditujukan untuk memperbaiki kelemahan
Imputasi Misssing Data Menggunakan Metode K-Nearest Neighbour Dengan Optimasi Algoritma Memetika
Imputasi Misssing Data Menggunakan Metode K-Nearest Neighbour Dengan Optimasi Algoritma Memetika Missing Value Imputation Using Method Optimized With Memetic Algorithm Ida Bagus Gde Narinda Giriputra Prodi
OPTIMASI PENCAPAIAN TARGET PADA SIMULASI PERENCANAAN JALUR ROBOT BERGERAK DI LINGKUNGAN DINAMIS
OPTIMASI PENCAPAIAN TARGET PADA SIMULASI PERENCANAAN JALUR ROBOT BERGERAK DI LINGKUNGAN DINAMIS Yisti Vita Via Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Informasi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada awal diciptakan, komputer hanya difungsikan sebagai alat hitung saja. Namun seiring dengan perkembangan zaman, maka peran komputer semakin mendominasi kehidupan.
KOMBINASI METODE MORPHOLOGICAL GRADIENT DAN TRANSFORMASI WATERSHED PADA PROSES SEGMENTASI CITRA DIGITAL
KOMBINASI METODE MORPHOLOGICAL GRADIENT DAN TRANSFORMASI WATERSHED PADA PROSES SEGMENTASI CITRA DIGITAL Rudy Adipranata Universitas Kristen Petra Jl. Siwalankerto 121-131, Surabaya. Telp. (031) 8439040
PENJADWALAN MESIN BERTIPE JOB SHOP UNTUK MEMINIMALKAN MAKESPAN DENGAN METODE ALGORITMA GENETIKA (STUDI KASUS PT X)
PENJADWALAN MESIN BERTIPE JOB SHOP UNTUK MEMINIMALKAN MAKESPAN DENGAN METODE ALGORITMA GENETIKA (STUDI KASUS PT X) Ria Krisnanti 1, Andi Sudiarso 2 1 Jurusan Teknik Mesin dan Industri, Fakultas Teknik,
Algoritma Genetik: Alternatif Metode Penentuan Strata Optimum dalam Perancangan Survei
125 Algoritma Genetik: Alternatif Metode Penentuan Strata Optimum dalam Perancangan Survei 1 Yusma Yanti, 2 Septian Rahardiantoro 1 Program Studi Ilmu Komputer, Universitas Pakuan 2 Departemen Statistika,
PERAMALAN HARGA EMAS MENGGUNAKAN ALGORTIMA MEMETIKA DENGAN PENCARIAN LOCAL TABU SEARCH. Iqbal Dwihanandrio
ISSN : 2355-9365 e-proceeding of Engineering : Vol.2, No.2 Agustus 2015 Page 6447 PERAMALAN HARGA EMAS MENGGUNAKAN ALGORTIMA MEMETIKA DENGAN PENCARIAN LOCAL TABU SEARCH Iqbal Dwihanandrio S1 Teknik Informatika
Implementasi Metode Pairwise Comparison pada Uji Kinerja Varian Metode Kecerdasan Buatan pada Penyelesaian Masalah TSP
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 1, (201) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) 1 Implementasi Metode Pairwise Comparison pada Uji Kinerja Varian Metode Kecerdasan Buatan pada Penyelesaian Masalah TSP Muhammad
A. ADHA. Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik,Universitas Islam Riau, Pekanbaru, Indonesia Corresponding author:
Institut Teknologi Padang, 27 Juli 217 ISBN: 978-62-757-6-7 http://eproceeding.itp.ac.id/index.php/spi217 Optimasi Bentuk Struktur dan Penampang pada Struktur Rangka Baja Terhadap Kendala Kehandalan Material
PENGEMBANGAN ALGORITMA DIFFERENTIAL EVOLUTION UNTUK PENJADWALAN FLOW SHOP MULTI OBYEKTIF DENGAN BANYAK MESIN ABSTRAK
PENGEMBANGAN ALGORITMA DIFFERENTIAL EVOLUTION UNTUK PENJADWALAN FLOW SHOP MULTI OBYEKTIF DENGAN BANYAK MESIN Rudi Nurdiansyah Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh
Pengantar Kecerdasan Buatan (AK045218) Algoritma Genetika
Algoritma Genetika Pendahuluan Struktur Umum Komponen Utama Seleksi Rekombinasi Mutasi Algoritma Genetika Sederhana Referensi Sri Kusumadewi bab 9 Luger & Subblefield bab 12.8 Algoritma Genetika 1/35 Pendahuluan
BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Algoritma Genetika
6 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Algoritma Genetika Algoritma genetika merupakan metode pencarian yang disesuaikan dengan proses genetika dari organisme-organisme biologi yang berdasarkan pada teori evolusi
Optimasi Penjadwalan Ujian Menggunakan Algoritma Genetika
Optimasi Penjadwalan Ujian Menggunakan Algoritma Genetika Nia Kurnia Mawaddah Wayan Firdaus Mahmudy, ([email protected]) Jurusan Matematika, FMIPA Universitas Brawijaya, Malang 65145 Abstrak Penjadwalan
Perancangan Sistem Penjadwalan Asisten Dosen Menggunakan Algoritma Genetika (Studi Kasus: STIKOM Bali)
Konferensi Nasional Sistem & Informatika 2017 STMIK STIKOM Bali, 10 Agustus 2017 Perancangan Sistem Penjadwalan Asisten Dosen Menggunakan Algoritma Genetika (Studi Kasus: STIKOM Bali) I Made Budi Adnyana
