DAFTAR ISI. RPJMD Kabupaten Bantul HALAMAN JUDUL... LEGAL DRAFTING... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "DAFTAR ISI. RPJMD Kabupaten Bantul 2011-2015 HALAMAN JUDUL... LEGAL DRAFTING... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR..."

Transkripsi

1 DAFTAR ISI Kabupaten Bantul HALAMAN JUDUL... LEGAL DRAFTING... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang... I Landasan Hukum... I Hubungan Kabupaten Bantul Dengan Dokumen Perencanaan Lainnya... I Sistematika Penulisan... I Maksud dan Tujuan... I-9 i ii iii vi xii BAB II. GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH 2.1. Aspek Geografi dan Demografi... II Karakteristik Lokasi dan Wilayah... II Letak dan Batas Wilayah Administrasi... II Letak dan Kondisi Geografis... II Kondisi Topografi... II Kondisi Geologi... II Kondisi Hidrologi... II Kondisi Klimatologi... II Penggunaan Lahan... II Potensi Pengembangan Wilayah... II Wilayah Rawan Bencana... II Demografi... II Aspek Kesejahteraan Masyarakat... II Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi... II Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)... II PDRB Perkapita... II Laju Inflasi... II Koefisien Gini... II Fokus Kesejahteraan Sosial... II Pendidikan... II Kesehatan... II Kemiskinan... II Kesempatan Kerja (Rasio Penduduk Yang Bekerja)... II Kriminalitas (Angka Kriminalitas Yang Tertangani)... II Fokus Seni Budaya dan Olahraga... II Aspek Pelayanan Umum... II Fokus Layanan Urusan Wajib... II-42 ii

2 Pendidikan... II Kesehatan... II Pekerjaan Umum... II Perumahan... II Penataan Ruang... II Perencanaan Pembangunan... II Perhubungan... II Lingkungan Hidup... II Pertanahan... II Kependudukan dan Catatan Sipil... II Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak... II Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera... II Sosial... II Ketenagakerjaan... II Koperasi dan Usaha Kecil Menengah... II Penanaman Modal... II Kebudayaan... II Kepemudaan dan Olah Raga... II Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri... II Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian... II Ketahanan Pangan... II Pemberdayaan Masyarakat... II Statistik... II Kearsipan... II Komunikasi dan Informatika... II Perpustakaan... II Fokus Layanan Urusan Pilihan... II Pertanian... II Kehutanan... II Energi dan Sumberdaya Mineral... II Pariwisata... II Kelautan dan Perikanan... II Perdagangan... II Perindustrian... II Ketransmigrasian... II Aspek daya Saing Daerah... II Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah... II Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Derah, Kepegawaian dan Persandian... II Pertanian... II Fokus Fasilitas Wilayah/Infrastruktur... II Perhubungan... II Penataan Ruang (Penataan Wilayah)... II Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Kepegawaian dan Persandian... II Komunikasi dan Informatika (Fasilitas Listrik dan Telepon)... II Fokus Iklim Berinvestasi... II Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian (Keamanan dan Ketertiban)... II Fokus Sumber Daya Manusia... II Ketenaga Kerjaan... II-137 BAB III. GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN 3.1. Keuangan Masa Lalu... III Pelaksanaan APBD... III Neraca Daerah... III Kebijakan Pengelolaan Keuangan Masa Lalu... III Proporsi Penggunaan Anggaran... III Analisis Pembiayaan... III Kerangka pendanaan... III Analisis Proyeksi Pendapatan Daerah... III Analisis Proyeksi Pembiayaan Daerah... III Proyeksi Pengeluaran Periodik dan Mengikat serta Prioritas Utama... III Penghitungan Kerangka Pendanaan... III-17 BAB IV. ANALISIS ISU ISU STRATEGIS 4.1. Permasalahan Pembangunan... IV Permasalahan Pembangunan Urusan Wajib... IV Permasalahan Pembangunan Urusan Pilihan... IV Isu-Isu Strategis... IV Isu strategis Pembangunan di Luar Kabupaten Bantul... IV Lingkungan Internasional... IV Lingkungan Nasional... IV Kondisi Lingkungan Regional Daerah Istimewa Yogyakarta... IV Telahaan RPJPD Kabupaten Bantul... IV Isu strategis Pembangunan Kabupaten Bantul... IV-23 BAB V. PENYAJIAN VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN 5.1. Visi... V Misi... V Tujuan dan Sasaran... V Hubungan Prioritas Pembangunan Kabupaten Bantul Dengan Provinsi dan Nasional... V Tema Pembangunan Kabupaten Bantul... V-22 iii iv

3 BAB VI. STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN... BAB VII. KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH... VI-1 VII-1 DAFTAR TABEL BAB VIII. INDIKASI RENCANA PROGRAM PRIORITAS NO HALAMAN YANG DISERTAI KEBUTUHAN PENDANAAN... VIII-1 BAB IX. PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH... IX-1 BAB X. PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN Transisi... X Kaidah Pelaksanaan... X Jumlah Desa, Dukuh, dan Luas Kecamatan di Kabupaten Bantul Tahun II Kelas Ketinggian dan Luas Wilayah Kabupaten Bantul Tahun II Luas Wilayah Kabupaten Bantul Menurut Ketinggian dari Permukaan Laut Kabupaten Bantul Tahun II Luas Wilayah Berdasarkan Kemiringan Tanah di Kabupaten Bantul Tahun II Hubungan Formasi Geologi Dengan Luas Penyebarannya Dikabupaten Bantul... II Daerah Aliran Sungai di Kabupaten Bantul Tahun II Data Curah Hujan di Kabupaten Bantul... II Kawasa rawan bencana di Kabupaten Bantul Menurut Perda Kabupaten Bantul Nomor 4 Tahun 2011 Tentang RTRW Kabupaten Bantul Tahun II Kepadatan Penduduk Agraris per Kecamatan di Kabupaten Bantul Tahun II Total Population / Proyeksi Jumlah Penduduk Pada Skenario Rendah, Sedang, Tinggi... II Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 Kabupaten Bantul... II Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun Atas Dasar Harga Berlaku Kabupaten Bantul... II Perkembangan PDRB Per-Kapita Menurut Harga Berlaku dan Harga Konstan Tahun 2000 Kabupaten Bantul Tahun II Angka Melek Huruf di Kabupaten Bantul Tahun II Angka Rata Rata Lama Sekolah Kabupaten Bantul II Perkembangan Angka Partisipasi Murni (APM) Tahun Kabupaten Bantul... II Perkembangan Angka Partisipasi Kasar (APK) Tahun Kabupaten Bantul... II Perkembangan Angka Kelangsungan Hidup Bayi (AKHB) Tahun Kabupaten Bantul... II Perkembangan Angka Kematian Ibu (AKI) Tahun Kabupaten Bantul... II Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Tahun Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah DIY, dan Nasional... II Persentase Balita Gizi Buruk Tahun Kabupaten Bantul... II Persentase KK Miskin dan Jiwa Miskin Tahun Kabupaten Bantul... II Persentase Jiwa dan Keluarga Miskin Kabupaten Bantul Tahun II Rasio Penduduk Yang Bekerja Dengan Angkatan Kerja Tahun Kabupaten Bantul... II Jumlah Angkatan Kerja di Kabupaten Bantul Tahun II Jumlah Angkatan kerja Menurut Jenis Kelamin Kabupaten Bantul Tahun II-37 v vi

4 2.27. Angka Kriminalitas Tahun Kabupaten Bantul... II Capaian Pembangunan Seni, Budaya, dan Olahraga Tahun II Lembaga Budaya di Kabupaten Bantul Tahun II Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS)... II Ketersediaan Sekolah Tahun Kabupaten Bantul... II Ketersediaan Sekolah dan Penduduk Usia Sekolah Tahun 2012 Menurut Kecamatan Kabupaten Bantul... II Jumlah Guru dan Murid Jenjang Pendidikan Dasar Tahun 2008 sd 2012 Kabupaten Bantul... II Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS)... II Ketersediaan Sekolah Tahun Kabupaten Bantul... II Ketersediaan Sekolah dan Penduduk Usia Sekolah Tahun 2012 Menurut Kecamatan Kabupaten Bantul... II Jumlah Guru dan Murid Jenjang Pendidikan Menengah Tahun 2008 sd 2012 Kabupaten Bantul... II Banyaknya sekolah Kabupaten Bantul... II Jumlah Posyandu dan Balita Tahun Kabupaten Bantul... II Jumlah Posyandu dan Balita per Kecamatan Tahun 2012 Kabupaten Bantul... II Jumlah Puskesmas, Poliklinik dan Pustu Kabupaten Bantul... II Jumlah Fasilitas Pelayanan Kesehatan di Kabupaten Bantul Tahun II Jumlah Dokter Kabupaten Bantul Tahun II Jumlah Tenaga Kesehatan di Fasilitas Kesehatan Pemerintah Tahun II Jumlah dan Persentase Komplikasi Kebidanan yang ditangani Tahun II Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan yang Memiliki Kompetensi Kebidanan Tahun II Cakupan Desa / Kelurahan Universal Child Immunization (UCI)... II Panjang Jaringan Jalan Berdasarkan Kondisi Tahun 2008 s/d 2012 Kabupaten Bantul... II Target dan Capaian DI yang Terlayani Air Irigasi Tahun II Target dan Capaian Saluran Irigasi dalam Kondisi Baik Tahun II Rasio Tempat Ibadah Tahun Kabupaten Bantul... II Persentase Rumah Tinggal Bersanitasi Tahun Kabupaten Bantul... II Tempat Pemakaman Umum Per-Satuan Penduduk Menurut Kecamatan Tahun 2012 Kabupaten Bantul... II Rasio TPS per Satuan Penduduk Tahun II Rasio Rumah Layak Huni Tahun II Data Banjir Genangan Akibat Curah Hujan Tinggi tahun II Persentase Penduduk Berakses Air Bersih di Kabupaten Bantul... II Jumlah KK Yang Belum Berlistrik Tahun II Banyaknya Pelanggan Listrik dan Daya Terpasang di Kabupaten Bantul Tahun II Jumlah Rumah Layak Huni Tahun II Produk Perencanaan Tata Ruang... II Jumlah Penumpang Angkutan Umum Kabupaten Bantul... II Jumlah Penumpang Angkutan Umum Menurut Kecamatan Tahun 2012 Kabupaten Bantul... II Jumlah Ijin Trayek Tahun 2008 s.d 2012 Kabupaten Bantul... II Jumlah Ijin Trayek Menurut Kecamatan Tahun II Jumlah Uji KIR Angkutan Umum Tahun 2008 s.d II Jumlah Uji Kir Angkutan Umum Menurut Kecamatan Tahun 2012 Kabupaten Bantul... II Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bus Kabupaten Bantul... II Jumlah angkutan umum yang beroperasi di Kabupaten Bantul Tahun 2008 s.d II Kepemilikan KIR Angkutan Umum di Kabupaten Bantul Tahun 2008 s.d II Fasilitas Perhubungan Terpasang di Kabupaten Bantul... II Jumlah Volume Sampah dan Produksi Sampah Tahun Kabupaten Bantul... II Proporsi Jumlah Penduduk yang Mendapat Air Minum PDAM di Kabupaten Bantul... II Luas Lahan Bersertifikat Tahun Tahun Kabupaten Bantul... II Persentase Jumlah Izin lokasi tahun di Kabupaten Bantul... II Estimasi Penduduk Kabupaten Bantul Tahun 2012 per Kelompok Umur... II Kepadatan Penduduk Geografis per Kecamatan Tahun II Persentase Partisipasi Perempuan di Lembaga Pemerintah Tahun Kabupaten Bantul... II Data Pilah PNS Kabupaten Bantul Tahun II Rasio KDRT Tahun Kabupaten Bantul... II Perkembangan Indeks Pemberdayaan Gender Kabupaten Bantul... II Jumlah dan Rasio Pekerja Anak di Kabupaten Bantul Menurut Kabupaten II Partisipasi Angkatan Kerja Perempuan Kabupaten Bantul... II Partisipasi Angkatan Kerja Perempuan Kabupaten Bantul... II Rasio Akseptor KB Tahun Kabupaten Bantul... II Rasio Akseptor KB Menurut Kecamatan Tahun 2012 Kabupaten Bantul... II Pencapaian Sasaran SPM Cakupan Sasaran PUS Peserta KB Aktif... II Tahapan Keluarga Sejahtera di Kabupaten Bantul II Sarana Sosial Panti Asuhan dan Panti Jompo Kabupaten Bantul Tahun II Jenis PMKS di Kabupaten Bantul Tahun II Penduduk Yang bekerja Menurut Lapangan Usaha Tahun II Persentase Koperasi Aktif Tahun 2008 sd 2012 Kabupaten Bantul... II Jumlah UKM Non BPR/LKM Tahun Kabupaten Bantul... II Nilai Investasi Kabupaten Bantul Tahun II Investasi PMA dan PMDN di Kabupaten Bantul Tahun II Penyelenggaraan Festival Seni dan Budaya... II Sarana Penyelenggaraan Seni dan Budaya... II Benda, Situs dan Kawasan Cagar Budaya Yang dilestarikan... II Jumlah Organisasi Pemuda Tahun 2009 s.d Kabupaten Bantul... II Jumlah Organisasi Olahraga Tahun 2009 s.d Kabupaten Bantul... II Jumlah Kegiatan Kepemudaan Tahun 2011 s.d Kabupaten Bantul... II Jumlah Kegiatan Olahraga Tahun 2009 Sampai 2012 Kabupaten Bantul... II-99 vii viii

5 Daftar OKP dan Kegiatan Kepemudaan... II Rasio Jumlah Polisi Pamong Praja Tahun Kabupaten Bantul... II Data Kepala Keluarga Miskin Kabupaten Bantul Berdasarkan Jenis KelaminTahun II Jumlah Keluarga Miskin Kabupaten Bantul Tahun II Persentase KK Miskin dan Jiwa Miskin Tahun Kabupaten Bantul... II Kegiatan Penegakan PERDA Di Kabupaten Bantul... II Persentase Penegakan PERDA Kabupaten Bantul... II Rasio Petugas Satpol PP terhadap Jumlah Penduduk Kabupaten Bantul... II Penyelesaian Pelanggaran K3 Kabupaten Bantul... II Jumlah Petugas Linmas Tahun Kabupaten Bantul... II Ketersediaan Energi dan Protein (KEP) untuk Dikonsumsi di Kabupaten Bantul Tahun II Perkembangan Cadangan Pangan Masyarakat di Kabupaten Bantul Tahun II Perkembangan Skor Pola Pangan Harapan (PPH) di Kabupaten Bantul Tahun II Kelompok Binaan LPM Tahun Kabupaten Bantul... II Kelompok Binaan PKK Tahun Kabupaten Bantul... II Jumlah LSM Aktif Tahun 2009 sd 2012 Kabupaten Bantul... II LPM Berprestasi Kabupaten Bantul Tahun II Persentase PKK Aktif Menurut Kabupaten Bantul Tahun II Jumlah Posyandu Kabupaten Bantul Tahun II Persentase Posyandu Aktif Kabupaten Bantul Tahun II Jumlah dan Jabatan Fungsional Arsiparis II Jumlah Jaringan Komunikasi Kabupaten Bantul... II Jumlah Surat Kabar Nasional/Lokal Tahun Kabupaten Bantul... II Jumlah Penyiaran Radio/TV Tahun Kabupaten Bantul... II Jumlah Pengunjung Perpustakaan Tahun Kabupaten Bantul... II Perkembangan Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Padi Sawah, Padi Ladang, Jagung, Kacang Tanah, Kedelai Tahun II Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Bawang Merah, Cabai Merah, Cabai Rawit, Kacang Panjang dan Jamur Tahun II Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Tembakau, Mete, Tebu, dan Kelapa Tahun II Produksi Daging, Telur, dan Susu Tahun II Luas Lahan Kritis Tahun II Pengadaan Bibit Jati dan Buah Tahun II Target dan Capaian Reklamasi Lahan Bekas Tambang... II Tingkat Kerusakan Akibat Penggalian dan Penambangan... II Jumlah Kunjungan Wisatawan dan PAD Sektor Pariwisata Tahun II Kontribusi Sektor Pariwisata terhadap PDRB Tahun II Produksi Perikanan Budidaya menurut Jenis Ikan tahun II Produksi Benih Ikan dari UPR dan BBI Tahun II Produksi Perikanan Tangkap, Jumlah Nelayan dan KUB, dan Sarpras Lainnya Tahun II Perkembangan Ekspor Tahun II Perkembangan Industri Kecil Menengah Tahun II Pengeluaran Riil per Kapita yang disesuaikan di DIY, II Pengeluaran Rata-Rata per Kapita Sebulan menurut Golongan Pengeluaran di DIY Tahun II Produktivitas Per-Sektor Kabupaten Bantul... II Nilai Tukar Petani (NTP) Tahun * Daerah Istimewa Yogyakarta... II Jumlah Orang/Barang yang Terangkut Angkutan Umum Kabupaten Bantul... II Data Banjir Genangan Akibat Curah Hujan Tinggidi Kabupaten Bantul Tahun II Luas Wilayah Perkotaan... II Jenis, Kelas, dan Jumlah Restoran Kabupaten Bantul... II Jenis, Kelas, dan Jumlah Penginapan/Hotel Kabupaten Bantul... II Banyaknya Daya Terpasang di Kabupaten Bantul Tahun II Rumah tangga miskin yang memakai listrik tahun II Persentase Rumah Tangga yang menggunakan Listrik di Kabupaten Bantul Tahun II Angka Kriminalitas Tahun Kabupaten Bantul... II Jumlah Demonstrasi Kabupaten Bantul... II Perkembangan Kontribusi PAD terhadap Pendapatan DaerahTahun II Jumlah Perda Yang Mendukung Iklim Usaha Kabupaten Bantul... II Desa Tertinggal di Kabupaten Bantul II Jumlah Lulusan S1/S2/S3 Pegawai Kabupaten Bantul... II Rata-rata Pertumbuhan Pendapatan Daerah Tahun 2008 s.d Tahun III Kontribusi Dana Perimbangan dan PAD Terhadap Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun III Proporsi dan Rata-Rata Pertumbuhan Belanja Tahun Anggaran III Neraca Kabupaten Bantul 31 Desember 2009 s.d III Analisis Rasio Keuangan Kabupaten Bantul... III Proporsi Belanja Terhadap Anggaran Belanja Kabupaten Bantul Tahun 2008 s.d Tahun III Belanja Pemenuhan Kebutuhan Aparatur Kabupaten Bantul Tahun 2010 s.d Tahun III Analisis Proporsi Belanja Pemenuhan Kebutuhan Aparatur Kabupaten Bantul... III Pengeluaran Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama Kabupaten Bantul III Penutup Defisit Riil Anggaran Kabupaten Bantul... III Komposisi Penutup Defisit Riil Anggaran Kabupaten Bantul Tahun III Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Kabupaten Bantul Tahun III dan Proyeksi Pendapatan Daerah Tahun Anggaran III Proyeksi dan Sisa Lebih (Riil) Pembiayaan Anggaran Kabupaten Bantul III dan Proyeksi Kapasitas Kemampuan Keuangan Daerah... III dan Proyeksi Pengeluaran Periodik, Wajib dan Mengikat Serta Prioritas Utama Kabupaten Bantul Tahun III-17 ix x

6 3.17. Alokasi Kapasitas Keuangan Daerah Menurut Kelompok Prioritas Tahun Anggaran III Kerangka Pendanaan Alokasi Kapasitas Keuangan Daerah Tahun Anggaran III Tahapan dan Skala prioritas ke II ( )... IV Keterkaitan Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Kabupaten Bantul... V Rumusan Sasaran dan Indikator... V Strategi dan Arah Kebijakan Misi 1 Kabupaten Bantul... VI Strategi dan Arah Kebijakan Misi 2 Kabupaten Bantul... VI Strategi dan Arah Kebijakan Misi 3 Kabupaten Bantul... VI Strategi dan Arah Kebijakan Misi 4 Kabupaten Bantul... VI Kebijakan Umum dan Pembangunan Daerah Misi 1 Kabupaten Bantul... VII Kebijakan Umum dan Pembangunan Daerah Misi 2 Kabupaten Bantul VII Kebijakan Umum dan Pembangunan Daerah Misi 3 Kabupaten Bantul Kebijakan Umum dan Pembangunan Daerah Misi 4 Kabupaten Bantul Indikasi Rencana Prioritas Yang Disertai Kebutuhan Pendanaan Kabupaten Bantul Tabel Penetapan Indikator Daerah Terhadap Capaian Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Kabupaten Bantul... VII-29 VII-56 VIII-2 IX-2 DAFTAR GAMBAR NO HALAMAN 1.1. Hubungan Kabupaten Bantul Dengan Dokumen Perencanaan Lainnya... I Peta Batas Wilayah Kabupaten Bantul... II Hubungan Jenis Tanah Dengan Luas Penyebaran di Kabupaten Bantul Tahun II Peta Penggunaan Lahan... II Penduduk Menurut Jenis Kelamin Per-Kecamatan di Kabupaten Bantul... II Kepadatan Penduduk Geografis... II Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Bantul, Provinsi DIY dan Nasional (%)... II Pertumbuhan Ekonomi Empat Sektor Tertinggi Pada Tahun 2012, Periode (%)... II Pergeseran Struktur Ekonomi Kabupaten Bantul Tahun II Pertumbuhan PDRB Per-Kapita Kabupaten Bantul ADHB dan ADHK Tahun 2000, Periode II Perkembangan Inflasi di Kabupaten Bantul Tahun II Koefisien Gini di Kabupaten Bantul Tahun II Persentase Penduduk Diatas Garis Kemiskinan Kabupaten Bantul Tahun II Jiwa Miskin di Kabupaten Bantul Tahun II Jiwa Miskin Dan Rumah Tangga Miskin di Kabupaten Bantul Tahun II Angka Kesembuhan TB di Kabupaten Bantul Tahun II Pertumbuhan Penduduk di Kabupaten Bantul Tahun II Angkatan Kerja Berdasarkan Jenis Kelamin Tahun II Peta Penganggur Kabupaten Bantul Tahun II-91 xi xii

7 Bab I Pendahuluan Bab I Pendahuluan BAB I PENDAHULUAN a) Hasil pengendalian dan evaluasi menunjukkan bahwa proses perumusan, tidak sesuai dengan tahapan dan tatacara penyusunan rencana pembangunan daerah yang diatur dalam Peraturan Menteri ini; 1.1 LATAR BELAKANG b) Hasil pengendalian dan evaluasi menunjukkan bahwa substansi yang dirumuskan, tidak sesuai dengan Peraturan Menteri ini; Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah () merupakan dokumen perencanaan yang memuat visi, misi, dan program Kepala Daerah yang dituangkan ke dalam strategi, arah kebijakan, dan program pembangunan daerah. Rencana c) Terjadi perubahan yang mendasar; dan/atau d) Merugikan kepentingan nasional. Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun ini merupakan penjabaran lima tahun kedua dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Bantul sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2010 tentang perubahan atas Perda Nomor 14 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Bantul Tahun Di samping itu tersebut juga memperhatikan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah () Provinsi Tahun Selain sebagai petunjuk dan penentu arah kebijakan, dokumen ini juga berguna sebagai dasar penilaian kinerja bupati dalam melaksanakan pemerintahan, pembangunan, dan pemberdayaan masyarakat selama masa jabatannya dan menjadi tolok ukur keberhasilan bupati dalam laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang nantinya diserahkan kepada Menteri Dalam Negeri Hal mendasar dari hasil evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah () Kabupaten Bantul, diketahui bahwa proses perumusan tidak sesuai dengan tahapan dan tatacara penyusunan rencana pembangunan, serta substansi yang dirumuskan tidak sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun Berdasarkan hal tersebut, maka perubahan Kabupatan Bantul Tahun memenuhi syarat sebagaimana diatur diatas. Lebih lanjut, mengingat bahwa operasionalisasi dilaksanakan melalui Renstra SKPD maka penyusunan perubahan juga diikuti dengan perubahan Renstra SKPD. Hal ini sejalan dengan Pasal 25 ayat (3) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 menyebutkan bahwa penyusunan Renstra-SKPD berpedoman pada dan bersifat indikatif dimana penyusunan Renstra SKPD dilakukan bersamaan dengan. melalui Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta dan laporan keterangan pertanggungjawaban bupati yang nantinya diserahkan kepada DPRD Kabupaten Bantul. 1.2 LANDASAN HUKUM Pelaksanaan pembangunan Kabupaten Bantul sejak tahun 2011 berpedoman kepada yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 1 Tahun 2011 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Bantul Tahun Dalam perjalanan pembangunan jangka menengah yang menginjak tahun ke-3 ini, dilakukan evaluasi terhadap pelaksanaan. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, maka dipandang perlu untuk melakukan perubahan yang tahapan dan tatacaranya berpedoman kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Berdasarkan Pasal 282 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian Dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah, perubahan hanya dapat dilakukan apabila: Penyusunan peraturan perundang-undangan memiliki landasan sebagai berikut: 1) Landasan idiil Pancasila; 2) Landasan konstitusional Undang-Undang Dasar (UUD) 1945; 3) Landasan operasional: Dalam penyusunan ini, sejumlah peraturan digunakan sebagai rujukan, yaitu: a) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten dalam Lingkungan Daerah Istimewa Yogyakarta (Berita Negara Republik Indonesia tanggal 6 Agustus 1950); b) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851); I -1 I -2

8 Bab I Pendahuluan Bab I Pendahuluan c) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran m) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Negara Republik Indonesia Nomor 112 Tahun 2009, Tambahan Lembaran Republik Indonesia Nomor 4286); Negara Republik Indonesia Nomor 5038); d) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara n) Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1950 tentang Penetapan Mulai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Berlakunya Undang-undang 1950 Nomor 12, 13, 14 dan 15 (Berita Negara Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355); Republik Indonesia tanggal 14 Agustus 1950); e) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan o) Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389); Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 f) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan pengelolaan dan Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737); Tanggungjawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun p) Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 Tentang Pedoman Evaluasi 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4406); Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah, Tatacara Penyusunan, Pengendalian, g) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah (Lembaran Negara Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421); Republik Indonesia Nomor 4815); h) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran q) Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 21, terakhir dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4817); Atas Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah r) Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Penanggulangan Bencana (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 42, Negara Republik Indonesia Nomor 4844); Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4828); i) Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara s) Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2008 tentang Pendanaan dan Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Pengelolaan Bantuan Bencana (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 43, Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4829); Indonesia Nomor 4438); t) Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang dan j) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pembangunan Jangka Panjang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Nasional Tahun (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833); Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700); u) Peraturan Presiden Nomor 5 tahun 2010 tentang Rencana Jangka Menengah k) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana Nasional; (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara v) Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2010 tentang Percepatan Penanggulangan Republik Indonesia Nomor 4723); Kemiskinan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 21, l) Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5103); Negara Republik Indonesia tahun 2007 nomor 68, Tambahan Lembaran Negara w) Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Republik Indonesia Nomor 4725); Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2010; x) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir I -3 I -4

9 Bab I Pendahuluan Bab I Pendahuluan dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 310); y) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian Dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 517); z) Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 4 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun (Lembaran Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2009 Nomor 4); aa) Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 10 Tahun 2007 tentang Pokokpokok Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Bantul (Lembaran Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2007 Seri D Nomor 8); bb) Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 13 Tahun 2007 tentang Penetapan Urusan Pemerintahan Wajib dan Pilihan Kabupaten Bantul (Lembaran Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2007 Seri D Nomor 11); cc) Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 24 Tahun 2008 tentang Tata Cara Penyusunan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2008 Seri D Nomor 2); dd) Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 12 Tahun 2010 tentang Perubahan Perda No 14 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Bantul Tahun (Lembaran Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2010 Seri D Nomor 12); dan ee) Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 1 Tahun 2011 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Bantul Tahun ((Lembaran Daerah Kabupaten Bantul Seri D Nomor 01 Tahun 2011). Hal ini dimaksudkan agar proses penyusunan dokumen dapat menghasilkan dokumen perencanaan yang sinergis dan terpadu baik dalam aspek kewilayahan maupun aspek sektoral dengan harapan agar dalam implementasinya diperoleh hasil yang tepat dan terarah. Keterkaitan antara Kabupaten Bantul dengan dokumen lainnya selengkapnya disajikan dalam Gambar 1. Dokumen ini harus dijabarkan ke dalam dokumen Renstra Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), yang merupakan penjabaran dari visi, misi dan program prioritas kepala daerah. Untuk tataran operasional setiap tahun maka menjadi acuan bagi Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), sedangkan Renstra SKPD dijabarkan ke Rencana Kerja (Renja) SKPD. Dalam kaitannya dengan pengembangan ekonomi lokal, maka penyusunan rencana kerja SKPD perlu juga memperhatikan dokumen Renstra PEL Bantul Tahun RPJP NAS/PROP & RTR NAS Acuan RPJP DAERAH Acuan RTRW KAB. Gambar 1.1 Hubungan Kabupaten Bantul Dengan Dokumen Perencanaan Lainnya Pedoman Pedoman RPJM NAS/PROP & RTR PROP Memperhatikan RPJM DAERAH Pedoman RENSTRA SKPD Dijabarkan RKP NAS/PROP Dijabarkan RKP DAERAH Pedoman Mengacu RENJA SKPD Pedoman Pedoman RAPBD RKA SKPD APBD RINCIAN APBD PUSAT/ PROVINSI DAERAH UU. No. 25/04 SPPN UU. No. 17/03 KN 1.3 HUBUNGAN KABUPATEN BANTUL DENGAN DOKUMEN PERENCANAAN LAINNYA Dokumen Kabupaten Bantul disusun dengan mengacu, merujuk, mempedomani, dan memperhatikan dokumen perencanaan lainnya seperti RPJM Nasional, Provinsi, RPJPD Kabupaten Bantul, Rencana Tata Ruang Nasional, Rencana Tata Ruang Provinsi, dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bantul. I -5 I -6

10 Bab I Pendahuluan Bab I Pendahuluan 1.4 SISTEMATIKA PENULISAN Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun Kabupaten Bantul ini disusun dengan sistematika penulisan sebagai berikut: BAB I PENDAHULUAN Bab ini berisi tentang latar belakang penyusunan, dasar hokum penyusunan, hubungan dengan dokumen perencanaan lainnya, sistematika penulisan, serta maksud dan tujuan penyusunan. BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH Gambaran umum kondisi daerah akan menjelaskan tentang kondisi geografi dan demografi serta indikator capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah provinsi dan kabupaten/kota. Adapun indikator capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan yang penting dianalisis meliputi 3 (tiga) aspek utama, yaitu: 1. Aspek Geografi dan Demografi, mencakup uraian tentang karakteristik lokasi dan wilayah, potensi pengembangan wilayah, wilayah rawan bencana, dan demografi; 2. Aspek Kesejahteraan Masyarakat, meliputi kesejahteraan dan pemerataan ekonomi, kesejahteraan sosial, serta seni budaya dan olahraga.; 3. Aspek Pelayanan Umum, yaitu meliputi Pelayanan publik atau pelayanan umum yang merupakan segala bentuk jasa pelayanan, baik dalam bentuk barang publik maupun jasa publik yang menjadi tanggungjawab Pemerintah Daerah dalam upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat sesuai dengan ketentuan perundangundangan. Aspek Pelayanan Umum terdiri dari Fokus Layanan Urusan Wajib dan Fokus Layanan Urusan Pilihan; dan 4. Aspek Daya Saing, terdiri dari kemampuan ekonomi daerah, fasilitas wilayah atau infrastruktur, iklim berinvestasi dan sumber daya manusia. BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN Bab ini menyajikan gambaran hasil pengolahan data dan analisis terhadap pengelolaan keuangan daerah sebagaimana telah dilakukan pada tahap perumusan ke dalam sub-bab Keuangan Masa Lalu, Kebijakan Pengelolaan Keuangan Masa Lalu, dan Kerangka Pendanaan. BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS Memuat isu-isu strategis pembangunan 5 (lima) tahun yang merupakan hasil analisis atau telaahan terhadap permasalahan pembangunan daerah, isu/kebijakan internasional, nasional, regional dan daerah. BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN Bab ini dimulai dengan penjelasan visi dan diturunkan (diderivasi) menjadi misi kemudian dilanjutkan dengan menjabarkan tujuan dan sasaran masing-masing misi. BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Dalam bagian ini diuraikan strategi yang dipilih dalam mencapai tujuan dan sasaran serta arah kebijakan dari setiap strategi terpilih. BAB VII KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH Dalam bagian ini diuraikan hubungan antara kebijakan umum yang berisi arah kebijakan pembangunan berdasarkan strategi yang dipilih dengan target capaian indikator kinerja, serta penjelasan tentang hubungan antara program pembangunan daerah dengan indikator kinerja yang dipilih. BAB VIII INDIKASI RENCANA PROGRAM PRIORITAS YANG DISERTAI KEBUTUHAN PENDANAAN Dalam bagian ini diuraikan hubungan urusan pemerintah dengan SKPD terkait beserta program yang menjadi tanggung jawab SKPD. Pada bagian ini, disajikan pula pencapaian target indikator kinerja pada akhir I -7 I -8

11 Bab I Pendahuluan Bab I Pendahuluan BAB IX periode perencanaan yang dibandingkan dengan pencapaian indikator kinerja pada awal periode perencanaan. PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH Penetapan indikator kinerja daerah bertujuan untuk memberi gambaran tentang ukuran keberhasilan pencapaian visi dan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah pada akhir periode masa jabatan. pada aspek pengurangan risiko bencana, pelestarian lingkungan, ilmu dan teknologi, serta responsif gender yang akan dibiayai; 3) Memudahkan seluruh jajaran pemerintah daerah dan DPRD untuk memahami dan menilai arah kebijakan dan program serta kegiatan operasional tahunan dalam rentang waktu lima tahun ke depan; dan 4) Sebagai tolok ukur untuk mengukur dan melakukan evaluasi kinerja setiap satuan kerja perangkat daerah. BAB X PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN Bab ini memuat penjelasan pedoman penyusunan RKPD dan RAPBD tahun pertama dibawah kepemimpinan Kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih hasil pemilihan umum kepala daerah pada periode berikutnya untuk menjaga kesinambungan pembangunan dan mengisi kekosongan RKPD setelah berakhir. 1.5 MAKSUD DAN TUJUAN Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah () Kabupaten Bantul Tahun disusun untuk menterjemahkan visi, misi dan program prioritas kepala daerah, yang digunakan sebagai acuan resmi bagi Pemerintah Daerah, DPRD dan swasta, dan masyarakat dalam pembangunan daerah yang sekaligus merupakan acuan penentuan pilihan-pilihan program kegiatan tahunan daerah yang akan dibahas dalam rangkaian forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan Daerah secara berjenjang. Oleh karena itu, isi dan substansinya mencakup visi, misi, tujuan, sasaran, indikator, strategi, kebijakan, program, dan pagu indikatif dalam kurun waktu lima tahun. Berdasarkan pertimbangan diatas, maka Kabupaten Bantul disusun dengan tujuan sebagai berikut: 1) Menjabarkan gambaran tentang kondisi umum daerah dalam konstelasi regional dan nasional, sekaligus menjelaskan arah dan tujuan yang ingin dicapai pada kurun waktu tertentu dalam rangka mewujudkan visi dan misi daerah; 2) Sebagai acuan resmi bagi seluruh jajaran pemerintah daerah dan DPRD dalam menentukan prioritas program dan kegiatan tahunan yang memberi ruang I -9 I -10

12 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH 2.1 Aspek Geografi dan Demografi Karakteristik Lokasi dan Wilayah Letak dan Batas Wilayah Administrasi Secara geografis, Kabupaten Bantul terletak antara 07º44'04"-08º00'27" Lintang Selatan dan 110º12'34"-110º31'08" Bujur Timur. Wilayah Kabupaten Bantul merupakan salah satu wilayah paling selatan di Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut: Sebelah Utara : Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman Sebelah Selatan : Samudera Indonesia Sebelah Barat : Kabupaten Kulonprogo dan Kabupaten Sleman Sebelah Timur :KabupatenGunungkidul Sumber : Bappeda Kabupaten Bantul, 2013 Gambar 2. 1 Peta Batas Wilayah Kabupaten Bantul Dilihat dari bentang alamnya, wilayah Kabupaten Bantul terdiri dari daerah dataran yang terletak pada bagian tengah dan daerah perbukitan yang terletak pada bagian timur dan barat, serta kawasan pantai di sebelah selatan. Kondisi bentang alam tersebut relatif membujur dari utara ke selatan. II -1 Luas wilayah Kabupaten Bantul adalah 506,85 Km 2 dan secara administratif terdiri dari 17 kecamatan yang dibagi menjadi 75 desa dan 933 pedukuhan. Kecamatan Dlingo adalah kecamatan yang mempunyai wilayah paling luas, yaitu 55,87 km 2 sementara Kecamatan Srandakan adalah kecamatan dengan wilayah paling sempit, yaitu 18,32 Km 2. Sedangkan jumlah desa dan pedukuhan yang terbanyak terdapat di Kecamatan Imogiri dengan 8 desa dan 72 pedukuhan.desa-desa di Kabupaten Bantul dibagi lagi berdasarkan statusnya menjadi desa pedesaan (rural area) dan desa perkotaan (urban area). Secara umum jumlah desa yang termasuk dalam wilayah perkotaan sebanyak 41 desa, sedangkan desa yang termasuk dalam wilayah perdesaan sebanyak 34 desa. Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui bahwa Kecamatan Dlingo mempunyai wilayah paling luas, yaitu 55,87 km 2, sedangkan jumlah desa dan pedukuhan yang terbanyak terdapat di Kecamatan Imogiri dengan 8 desa dan 72 pedukuhan. Tabel 2. 1 Jumlah Desa, Dukuh, dan Luas Kecamatan di Kabupaten Bantul Tahun 2013 No Kecamatan Desa Luas Perkotaan Perdesaan (km 2 ) % Luas 1 Srandakan Poncosari (24 dusun ) Trimurti (19 dusun) 18,32 3,61 2 Sanden Sri Gading(20 dusun) Gadingsari (18 dusun) Gadingharjo (6 dusun) Murtigading (18dusun) 23,16 4,57 Tirtohargo (6 dusun) Donotirto (13dusun) 3 Kretek Parangtritis (11 dusun) Tirtosari(7 dusun) Tirtomulyo (15 dusun) 26,77 5,28 4 Pundong Seloharjo (16 dusun) Srihardono (17 dusun) Panjang Rejo(16 dusun) 23,68 4,67 5 Bambanglipuro Sumber Mulyo(16 dusun) Sidomulyo (15 dusun) Mulyodadi (14dusun) 22,70 4,48 Caturharjo (14dusun) Wijirejo (10dusun) 6 Pandak Triharjo (10dusun) Gilangharjo (15dusun) 24,30 4,79 7 Pajangan Guwosari (15 dusun) Triwidadi (22 dusun) Sendangsari (18 dusun) 33,25 6,56 Sabdodadi (5 dusun) Palbapang (10 dusun) 8 Bantul Ringinharjo (6 dusun) Bantul (12 dusun) Trirenggo (17 dusun) 21,95 4,33 9 Jetis Patalan (20 dusun) Trimulyo (12 dusun) Canden (15 dusun ) Sumber Agung (17 dusun) 24,47 4,83 Selopamioro(18 dusun ) Kebonagung (5) Sriharjo (13 dusun) Karangtalun (5 dusun ) 10 Imogiri Karangtengah (6 dusun ) Imogiri (4 dusun) Wukirsari (16 dusun ) Girirejo (5 dusun ) 54,49 10,75 Mangunan (6 dusun) Dlingo (10 dusun ) 11 Dlingo Muntuk (11 dusun) Temuwuh (12 dusun) Jatimulyo (10 dusun ) Terong (9 dusun) 55,87 11,02 Tamanan (9 dusun) Baturetno (8 dusun) Jagalan (2 dusun) Banguntapan 11 dusun) 12 Banguntapan Singosaren (5 dusun) Wirokerten (8 dusun) Jambidan (7 dusun) Potorono (9 dusun) 28,48 5,62 II -2

13 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah No Kecamatan Desa Luas Perkotaan Perdesaan (km 2 ) % Luas Bawuran (7 dusun) Wonokromo (12 dusun) 13 Pleret Wonolelo (8 dusun) Pleret (11) 22,97 4,53 Segoroyoso (9 dusun) 14 Piyungan Sitimulyo (21 dusun) Srimulyo (22 dusun) Srimartani (17 dusun) 32,54 6,42 15 Sewon Pendowoharjo(16 dusun) Bangunharjo(17 dusun) Timbulharjo (16 dusun) Panggungharjo(14 dusun) 27,16 5,36 Tamantirto (10 dusun) Tirtonirmolo (12 dusun) 16 Kasihan Ngestiharjo (12 dusun) Bangunjiwo (19 dusun) 32,38 6,39 17 Sedayu Argodadi (14 dusun) Argosari (13 dusun) Argomulyo (14 dusun) Argorejo (13 dusun) 34,36 6,78 Jumlah ,85 100,00 Sumber : Bagian Tata Pemerintahan Kabupaten Bantul, Letak dan Kondisi Geografis Kabupaten Bantul merupakan salah satu bagian wilayah Indonesia yang rawan bencana khususnya gempa bumi karena terletak pada pertemuan lempeng(vault) Eurasia dan lempeng Indonesia-Australia. Posisi Kabupaten Bantul yang berada pada lintasan patahan/sesar Opak yang masih aktif menjadikan wilayah Kabupaten Bantul kawasan rawan bencana gempa bumi tektonik yang potensial tsunami. Wilayah Kabupaten Bantul dilewati oleh tiga sungai utama dan tiga sungai lainnya yaitu : 1. Sungai Oya (Kecamatan Dlingo, Imogiri) dengan panjang sungai 37,21 km; 2. Sungai Progo (Kecamatan Sedayu, Pajangan, Pandak dan Srandakan) dengan panjang sungai 26,33 km; 3. Sungai Opak (Kecamatan Piyungan, Banguntapan, Pleret, Jetis, Imogiri, Pundong, Kretek) dengan panjang sungai 36,69 km; 4. Sungai Winongo (Kecamatan Sewon, Bantul, Jetis, Pundong, Kretek) dengan panjang sungai 23,00 km; 5. Sungai Bedog (Kecamatan Kasihan, Pajangan, Bantul, Pandak) dengan panjang sungai 23,38 km; 6. Sungai Code (Kecamatan Banguntapan, Pleret, Sewon, Jetis) dengan panjang sungai 9,21 km Kondisi Topografi Secara topografis, Kabupaten Bantul terbagi menjadi daerah dataran, daerah perbukitan serta daerah pantai.secara garis besar, satuan fisiografi Kabupaten Bantul sebagian besar berada pada dataran aluvial (Fluvio Volcanic Plain), perbukitan di sisi barat dan timur serta fisiografi pantai. Adapun pembagian satuan fisiografi yang lebih rinci di Kabupaten Bantul adalah sebagai berikut: II -3 a. Daerah di bagian Timur merupakan jalur perbukitan berlereng terjal dengan kemiringan lereng dominan curam (>70%) dan ketinggian mencapai 400 meter dari permukaan air laut, Daerah ini terbentuk oleh formasi Nglanggran dan Wonosari, b. Daerah di bagian Selatan ditempati oleh gisik dan gumuk-gumuk pasir (fluviomarine) dengan kemiringan lereng datar-landai, Daerah ini terbentuk oleh material lepas dengan ukuran pasir kerakal, c. Daerah di bagian tengah merupakan dataran aluvial (Fluvio Volcanic Plain), yang dipengaruhi oleh Graben Bantul dan terendapi oleh material vulkanik dari endapan vulkanik Merapi, d. Daerah di bagian Barat merupakan perbukitan rendah dengan kemiringan lereng landai-curam dan ketinggian mencapai 150 meter dari permukaan air laut, Daerah ini terbentuk oleh formasi Sentolo. Apabila dilihat per wilayah kecamatan terlihat bahwa wilayah kecamatan yang paling luas memiliki lahan miring terletak di Kecamatan Dlingo dan Imogiri, sedangkan wilayah kecamatan yang didominasi oleh lahan datar terletak di Kecamatan Sewon dan Banguntapan. Tabel 2.2. Kelas Ketinggian dan Luas Wilayah Kabupaten Bantul Tahun 2013 No Kelas Ketinggian (dpl) m Luas (ha) (%) , , , ,31 5 > Jumlah Sumber: Kantor Pertanahan Kabupaten Bantul, 2013 Ketinggian tempat di Kabupaten Bantul dibagi menjadi empat kelas. Hubungan kelas ketinggian dengan luas sebarannya dapat dilihat pada Tabel 2.2 dan Tabel 2.3. Dari kedua tabel tersebut dapat diketahui bahwa kelas ketinggian Kabupaten Bantul yang memiliki penyebaran paling luas terletak pada elevasi antara meter ( ha atau 54,67%) yang terletak pada bagian utara, bagian tengah, dan bagian Tenggara Kabupaten Bantul. Wilayah yang mempunyai elevasi rendah (elevasi kurang dari 7 meter) seluas Ha (6,37%) terdapat di Kecamatan Kretek, Sanden, dan Srandakan. Wilayah dengan elevasi rendah umumnya berbatasan dengan Samudera Indonesia. Untuk wilayah yang mempunyai elevasi di atas 100 meter terdapat di sebagian Kecamatan Dlingo, Imogiri, Piyungan, dan Pajangan.Kecamatan Srandakan dan Sanden merupakan daerah terendah di antara kecamatan-kecamatan lain di Kabupaten Bantul, yaitu berkisar dari 0 sampai 25 II -4

14 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah meter dari permukaan laut, mencakup areal seluas ha atau 8,2% dari seluruh luas Kabupaten Bantul. Tabel Luas Wilayah Kabupaten Bantul Menurut Ketinggian dari Permukaan Laut Kabupaten Bantul Tahun 2013 No, Kecamatan Luas (Ha) dan Ketinggian tempat (dpl) 0 7m 7 25m m m >500m Jumlah 1. Srandakan Sanden Kretek Pundong Bambanglipuro Pandak Pajangan Bantul Jetis Dlingo Banguntapan Pleret Piyungan Sewon Kasihan Sedayu Imogiri T O T A L Sumber: Kantor Pertanahan Kabupaten Bantul, 2013 Kemiringan lahan wilayah Kabupaten Bantul sebagian besar berupa daerah dataran yang tersebar di wilayah selatan, tengah, dan utara Kabupaten Bantul dengan kemiringan kurang dari 2%dan luas sebesar ha (61,99%). Wilayah timur dan barat umumnya berupa daerah dengan kemiringan 2,1-40,0% dan luas sebesar ha (30,09%). Sebagian kecil wilayah timur dan barat seluas4.009 ha (7,9%) mempunyai kemiringan lereng di atas 40,1%. Wilayah yang memiliki lahan miring paling luas terletak di Kecamatan Dlingo dan Banguntapan, sedangkan wilayah kecamatan yang didominasi oleh lahan datar terletak di Kecamatan Kasihan dan Pleret. Tabel 2. 4 Luas Wilayah Berdasarkan Kemiringan Tanahdi Kabupaten Bantul Tahun 2013 No, Kecamatan Luas kemiringan tanah/lereng (ha) 0 2% 2-8% 8-15% 15 25% 25 40% >40% Jumlah 1, Srandakan , Sanden , Kretek , Pundong , Bambanglipuro , Pandak , Pajangan II -5 No, Kecamatan Luas kemiringan tanah/lereng (ha) 0 2% 2-8% 8-15% 15 25% 25 40% >40% Jumlah 8, Bantul , Jetis , Dlingo , Banguntapan , Pleret , Piyungan , Sewon , Kasihan , Sedayu , Imogiri T o t a l Sumber: Kantor Pertanahan Kabupaten Bantul, Kondisi Geologi Formasi adalah suatu susunan batuan yang mempunyai keseragaman ciri-ciri geologis yang nyata, baik terdiri dari satu macam jenis batuan, maupun perulangan dari dua jenis batuan atau lebih yang terletak di permukaan bumi atau dibawah permukaan. Geologi menunjukkan kelompok-kelompok bantuan yang berguna sebagai indikator terdapatnya suatu bahan tambang. Jenis batuan yang terdapat di Kabupaten Bantul secara umum terdiri dari tiga jenis batuan yaitu batuan beku, batuan sedimen dan batuan endapan. Berdasarkan sifat-sifat batuannya dapat dirinci menjadi beberapa formasi. Tabel Hubungan Formasi Geologi Dengan Luas Penyebarannya Dikabupaten Bantul No Formasi Geologi Jenis Batuan Luas (Ha) % 1. F. Yogyakarta Pasir vulkanik klastik, lanau, gravel F. Semilir-Nglanggran Breksi, batupasir, tuff F. Sentolo Batu gamping berlapis, napal, tuff F. Wonosari Batugamping karang lagoon F. Sambipitu Konglomerat, batupasir F. Gumuk Pasir Pasir tersortasi J u m l a h Sumber: BappedaKabupaten Bantul,2013 Wilayah Kabupaten Bantul mempunyai tujuh jenis tanah yaitu tanah Renzina, Alluvial, Grumusol, Latosol, Mediteran, Regosol, dan Lithosol. Jenis tanah Regosol merupakan jenis tanah yang dominan di wilayah Kabupaten Bantul. Tanah Regosol adalah tanah yang berasal dari material gunung berapi, bertekstur (mempunyai butiran) kasar bercampur dengan pasir, dengan solum tebal dan memiliki tingkat kesuburan rendah. Jenis tanah ini tersebar pada Kecamatan Kasihan, Sewon, Banguntapan, Jetis, Bantul, dan Bambanglipuro. Tanah Lithosol berasal dari batuan induk batu gamping, batupasir, dan breksi/konglomerat, tersebar di Kecamatan II -6

15 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Pajangan, Kasihan, dan Pandak. Tanah Mediteran berasal dari batugamping karang, batugamping berlapis, dan batupasir, tersebar di Kecamatan Dlingo dan sedikit di Sedayu. Tanah Latosolberasal dari batuan induk breksi, tersebar di Kecamatan Dlingo, Imogiri, Pundong, Kretek, Piyungan, dan Pleret. Tanah Grumusol berasal dari batuan induk batu gamping berlapis, napal, dan tuff, terdapat di Kecamatan Sedayu, Pajangan, Kasihan, Pandak, Sanden, Bambanglipuro, dan Srandakan. 51% 14% 2% 2% Sumber: Kantor Pertanahan Kabupaten Bantul, 2013 Gambar 2. 2 Hubungan Jenis Tanah Dengan Luas Penyebaran di Kabupaten Bantul Tahun % 13% 3% Renzina Aluvial Grumusol Latosol Mediteran Regosol Lithosol Tabel Daerah Aliran Sungai di Kabupaten Bantul Tahun 2012 NO DAS SUBDAS LUAS (Ha) SUB LUAS DAS(Ha) LUAS LAHAN YANG DIAIRI (Ha) SUB LUAS ONCORAN (SAWAH- Ha) Progo 3, , PROGO Bedog 7, , Timoho 3, , , Opak 7, , Buntung Code Gadjahwong 1, Gawe OPAK Kuning Bulus 1, , Belik Tambakbayan Winongo Kecil 4, , Winongo 5, , , , Oyo 3, Plilan OYO Celeng 2, Kedungmiri Dlingo 1, , GUMUK PASIR PANTAI 1, , JUMLAH 50, , , , Sumber: Dinas SDA, Desember Kondisi Hidrologi Di wilayah Kabupaten Bantul terdapat 3 (tiga) DAS (Daerah Aliran Sungai) yaitu DAS Progo, DAS Opak, dan DAS Oyo. DAS Oyo mempunyai 5 (lima) sub-das yaitu sub-das Oyo, Plilan, Celeng, Kedungmiri dan Dlingo. Untuk DAS Opak mempunyai 11 (sebelas) sub-das yaitu sub-das Opak, Buntung, Code, Gadjahwong, Gawe, Kuning, Bulus, Belik, Tambakbayan, Winongo Kecil dan Winongo. DAS Progo mempunyai 3 (tiga) sub-das yaitu sub-das Progo, Bedog dan Timoho. Secara keseluruhan DAS di wilayah Kabupaten Bantul menempati lahan seluas ,05 ha. Meliputi DAS Opak dengan luas ,85 ha, DAS Progo luas ,36 ha, DAS Oyo luas 9.915,30 ha dan Gumuk pasir pantai luas 1.645,54 ha. Sungai-sungai tersebut merupakan sungai yang berair sepanjang tahun (permanen), meskipun untuk sungai yang kecil pada musim kemarau debit airnya relatif sedikit. Salah satu fungsi dari masing-masing DAS adalah untuk mengairi areal pertanian. Di samping itu air sungai juga dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. II -7 II -8

16 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Kondisi Klimatologi Tabel 2.7 Data Curah Hujan di Kabupaten Bantul No. Bulan MM HH MM HH MM HH MM HH MM HH 1 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jumlah Rata-rata Sumber: Dipertahut, 2013 Keterangan: - Bulan basah: curah hujan lebih dari 100 mm - Bulan lembab: curah hujan antara mm - Bulan kering: curah hujan kurang dari 60 mm Secara umum iklim di wilayah Kabupaten Bantul dapat dikategorikan sebagai daerah beriklim tropis basah (humid tropical climate) karena termasuk tipe Af sampai Am dari klasifikasi iklim Koppen. Pada musim hujan, secara tetap bertiup angin dari Barat Laut yang membawa udara basah dari Laut Cina Selatan dan bagian Barat Laut Jawa. Pada musim kemarau, bertiup angin kering bertemperatur relatif tinggi dari arah Australia yang terletak di Tenggara.Data curah hujan disajikan sebagai perbandingan adalah data pada Tahun Penggunaan Lahan Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 4 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bantul Tahun rencana pola ruang Kabupaten Bantul terdiri atas: 1. Kawasan Lindung Kabupaten Rencana pengembangan Kawasan Lindung Kabupaten meliputi : a. Kawasan hutan lindung Penyebaran kawasan hutan lindung meliputi Desa Dlingo, Desa Mangunan, Desa Muntuk, Desa Jatimulyo, Desa Temuwuh, Desa Terong Kecamatan Dlingo, Desa Wonolelo Kecamatan Pleret, Desa Wukirsari Kecamatan Imogiri, dan Desa Srimulyo Kecamatan Piyungan. b. Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya yaitu kawasan resapan air. c. Kawasan perlindungan setempat Kawasan perlindungan setempat adalah kawasan sempadan sungai, kawasan sempadan pantai, kawasan sekitar mata air, dan ruang terbuka hijau perkotaan kabupaten. d. Kawasan suaka alam, pelestarian alam, dan cagar budaya e. Kawasan rawan bencana Kawasan rawan bencana meliputi kawasan rawan gempa bumi, kawasan rawan longsor, kawasan rawan banjir, kawasan rawan gelombang pasang, dan kawasan rawan kekeringan. 2. Kawasan budidaya Kabupaten Rencana pengembangan kawasan budidaya Kabupaten terdiri atas: a. Kawasan peruntukan hutan rakyat Kawasan peruntukan kehutanan (hutan rakyat) direncanakan seluas kurang lebih Hektar atau 16,86% dari luas wilayah Kabupaten Bantul. b. Kawasan peruntukan pertanian Kawasan peruntukan pertanian meliputi kawasan pertanian lahan basah, kawasan pertanian lahan kering, dan kawasan peternakan. Kawasan pertanian lahan basah di Kabupaten direncanakan seluas kurang lebih Hektar atau 26,29%. Kawasan pertanian lahan kering di Kabupaten direncanakan seluas kurang lebih Hektar atau 10,35% dari luas wilayah Kabupaten Bantul. Kawasan peternakan di Kabupaten direncanakan sebagai berikut: 1) Peternakan itik di Kecamatan Kretek, Kecamatan Bantul, dan Kecamatan Sanden; 2) Peternakan sapi perah di Kecamatan Srandakan, Kecamatan Banguntapan, Kecamatan Jetis, dan Kecamatan Sedayu; 3) Peternakan sapi potong tersebar di hampir seluruh kecamatan; 4) Peternakan babi di Kecamatan Srandakan dan Kecamatan Kasihan; 5) Peternakan kambing tersebar di hampir seluruh kecamatan; 6) Peternakan kerbau di Kecamatan Sanden dan Kecamatan Banguntapan; 7) Peternakan kelinci di Kecamatan Sanden c. Kawasan peruntukan perikanan d. Kawasan peruntukan pertambangan II -9 II -10

17 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah e. Kawasan peruntukan industri f. Kawasan peruntukan pariwisata g. Kawasan peruntukan permukiman h. Kawasan peruntukan lainnya Berdasarkan kondisi lahan di Kabupaten Bantul terdapat luas lahan 506,85 Km 2 yang terbagi dalam beberapa klasifikasi penggunaan lahan yang terdiri dari pekarangan, sawah, tegal, dan kebun campur. Penggunaan lahan adalah informasi yang menggambarkan sebaran pemanfaatan lahan yang ada di Kabupaten Bantul. Pada peta penggunaan lahan pada Gambar 2.3 terlihat bahwa penggunaan lahan terbesar adalah untuk kebun campur sebesar 32,55% dan sawah sebesar 31,22%, sedangkan yang terkecil adalah tambak sebesar 0,06%. Pemanfaatan kebun campur terbesar ada di Kecamatan Pajangan yaitu seluas 2.295,00 Ha, sedangkan persawahan terluas terdapat di Kecamatan Sewon dengan luas 1.408,11 Ha. Sementara itu, pemanfaatan tambak hanya berada di wilayah Kecamatan Srandakan seluas 30 Ha Potensi Pengembangan Wilayah Secara geografis dan administratif Kabupaten Bantul memiliki potensi pengembangan, hal ini berdasarkan: Batas wilayah yang tidak berbatas secara fisik, meski terdapat ring road namun perkembangan saat ini telah melewati batas tersebut, Topografi kawasan yang relatif datar, Tidak terdapat kendala terhadap kawasan resapan air, Banyaknya daerah wisata yang belum tergarap secara optimal untuk pengembangan sektor hotel dan restoran. Sesuai Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 4 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bantul Tahun , potensi pengembangan kawasan di Kabupaten Bantul dilakukan dengan penetapan kawasan strategis kabupaten yang meliputi kawasan strategis ekonomi, kawasan strategis sosio - kultural, dan pengembangan kawasan strategis lingkungan hidup. Kawasan strategis ekonomi kabupaten meliputi: 1. Kawasan Strategis Kawasan Perkotaan Yogyakarta (KPY); 2. Kawasan Strategis Bantul Kota Mandiri (BKM); 3. Kawasan Strategis Pantai Selatan,Pengembangan Pesisir dan Pengelolaan Hasil Laut Pantai Depok, Pantai Samas, Pantai Kuwaru, dan Pantai Pandansimo; 4. Kawasan Strategis Industri Sedayu; dan 5. Kawasan Strategis Industri Piyungan. Sedangkan kawasan strategis sosio kultural kabupaten meliputikawasan Strategis Desa Wisata dan Kerajinan Gabusan Manding Tembi (GMT) dan Kasongan Jipangan Gendeng Lemahdadi (Kajigelem). Dan kawasan strategis lingkungan hidup kabupaten meliputi: 1. Kawasan Strategis Agrowisata di Kecamatan Dlingo dan Agropolitandi Kecamatan Sanden, Kecamatan Kretek, Kecamatan Pundong, Kecamatan Imogiri, dan Kecamatan Dlingo; dan 2. Kawasan Strategis Gumuk Pasir Parangtritis yang berfungsi untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan penelitian. Sumber: Bappeda Kabupaten Bantul, 2013 (data diolah) Gambar Peta Penggunaan Lahan Wilayah Rawan Bencana Wilayah Kabupaten Bantul memiliki potensi rawan bencana alam seperti: rawan banjir, bencana tanah longsor, gempa bumi, tsunami, dan kekeringan. Gempa bumi dahsyat yang terjadi pada tanggal 27 Mei 2006 berdampak hampir di seluruh wilayah Kabupaten Bantul. Gelombang air pasang (rob) merupakan bencana yang II -11 II -12

18 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah mengikuti bencana gempa bumi tahun 2006 dan terjadi di kawasan pantai selatan Kabupaten Bantul yang meliputi Kecamatan Kretek, Sanden, dan Srandakan. Kekeringan di Kabupaten Bantul hampir terjadi setiap tahun dan terjadi di Kecamatan Dlingo, Piyungan, Pajangan, Pleret, Imogiri, dan Pundong. Tabel 2.8. Kawasarawan bencana di Kabupaten BantulMenurut Perda Kabupaten Bantul Nomor 4 Tahun 2011Tentang RTRW Kabupaten Bantul Tahun NO JENIS BENCANA LOKASI YANG BERPOTENSI 1. Kawasan rawan gempa bumi Di seluruh kecamatan 2. Kawasan rawan longsor Imogiri, Dlingo, Pleret, Piyungan, Pundong. 3. Kawasan rawan banjir Kretek, Srandakan, Sanden, Pandak, Jetis, Pundong, Pleret. 4. Kawasan rawan gelombang pasang Kretek, Srandakan,Sanden, sebagian Pandak, sebagian Pundong, sebagian Imogiri, sebagian Jetis, sebagian Bambanglipuro. 5. Kawasan rawan kekeringan Dlingo, sebagian Piyungan, sebagian Pajangan, sebagian Pleret, sebagian Imogiri, sebagian Pundong, sebagian Sedayu, sebagian Kasihan, dan sebagian Kretek. Sumber : Bappeda, 2013 Upaya penanggulangan bencana guna menghindari jatuhnya korban jiwa ataupun kerugian yang lebih besar dilakukan dengan penghijauan di kawasan rawan longsor dan sekitar pantai, pembangunan talud, drainase, pembangunan prasarana air bersih, droping air, dan sebagainya. Selain itu, pembangunan berbasis pengurangan risiko bencana mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: Pada daerah-daerah sesar/wilayah rawan tinggi bencana gempa bumi tidak dibangun untuk permukiman dan fasilitas umum, 1. Pada daerah-daerah sesar/wilayah rawan sedang, permukiman haruslah mempunyai struktur bangunan yang kuat, begitu pula sekolah, puskesmas, tempat ibadah dan toko-toko, 2. Pada daerah-daerah sesar/wilayah rawan gempa, disiapkan sekolah siaga bencana, desa siaga bencana, bahkan kantor siaga bencana. II Demografi Berdasarkan Sensus Penduduk (SP) Tahun 2010 jumlah penduduk Kabupaten Bantul tercatat sejumlah jiwa. Berdasarkan estimasi, jumlah penduduk Kabupaten Bantul pada Tahun 2012 ini mencapai jiwa.adapun jumlah penduduk laki-laki dan perempuan Kabupaten Bantul Tahun 2012 hampir sama. Guna melakukan kebijakan yang berprespektif gender maka sangat diperlukan pengetahuan mengenai persebaran penduduk berdasarkan jenis kelamin. Kebijakan pada persebaran penduduk yang seimbang antara laki-laki dan perempuan sudah seharusnya berbeda dengan persebaran yang didominasi salah satunya. Dengan demikian kebijakan yang diambil lebih efektif. Dari tabel dibawah terlihat bahwa perbandingan penduduk laki-laki dan perempuan Kabupaten Bantul Tahun 2012 hampir sama. Sedayu Kasihan Banguntapan Pleret Imogiri Bantul Bambanglipuro Kretek Srandakan Sumber: BPS, 2013 (Estimasi penduduk dengan laju pertumbuhan SP2000-SP2010, angka sementara) Gambar Penduduk Menurut Jenis Kelamin Per Kecamatan di Kabupaten Bantul Kepadatan penduduk geografis menunjukkan jumlah penduduk pada suatu daerah setiap kilometer persegi. Selain itu, kepadatan penduduk geografis menunjukkan penyebaran penduduk dan tingkat kepadatan penduduk di suatu daerah. Pada Gambar 2.5terlihat bahwa penyebaran penduduk di Kabupaten Bantul tidak merata, daerah yang mempunyai kepadatan penduduk geografis tinggi terletak di wilayah Kabupaten Bantul yang berbatasan dengan kota Yogyakarta yang meliputi kecamatan Banguntapan (4.383 jiwa/km 2 ), Sewon (3.937 jiwa/km 2 ), dan Kasihan (3.533 jiwa/km 2 ), sedangkan kepadatan penduduk geografis terendah terletak di Kecamatan Dlingo (641 jiwa/km 2 ). Kepadatan penduduk geografis Kabupaten Bantul Tahun 2012 mencapai 1,835jiwa per km Perempuan Laki-laki II -14

19 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Tabel 2.9 Kepadatan Penduduk Agraris per Kecamatan di Kabupaten Bantul Tahun Sumber: Bappeda Kabupaten Bantul, 2013 (data diolah) Gambar Kepadatan Penduduk Geografis No Kecamatan Luas Areal Pertanian (ha) Luas Areal Pertanian (ha) Jumlah Pendud uk (Jiwa) Jumlah Pendudu k (Jiwa) Kepadata n Pendudu k/ha Kepadatan penduduk /ha Srandakan 484,46 484, Sanden 836,08 836, Kretek 954,43 953, Pundong 875,62 875, Babanglipuro 1.164, , Pandak 984,95 984, Bantul 1.213, , Jetis 1.347, , Imogiri 922,98 922, Dlingo 261,00 261, Pleret 716,91 715, Piyungan 1.325, , Banguntapan 1.319, , Sewon 1.408, , Kasihan 851,14 840, Pajangan 280,67 280, Sedayu 980,66 978, JUMLAH , , Sumber: BPS dan BPN, 2013 (angka sementara) Selain kepadatan penduduk geografis, kepadatan penduduk dapat pula ditinjau dari kepadatan penduduk agraris. Berdasarkan mata pencaharian penduduk di Kabupaten Bantul sebagian besar menggantungkan hidupnya di sektor pertanian, sehingga kepadatan penduduk agraris per wilayah perlu diketahui agar tercapai akurasi kebijakan. Secara rinci kepadatan penduduk agraris dapat dilihat pada Tabel 2.9.Kepadatan penduduk agraris adalah angka yang menunjukkan perbandingan jumlah penduduk pada suatu daerah dengan luas lahan pertanian yang tersedia. Berdasarkan data kepadatan penduduk agraris yang ada diketahui bahwa setiap tahun terjadi penyusutan lahan pertanian yang berdampak pada berkurangnya jumlah produksi pertanian. Dengan melihat kecenderungan bahwa setiap tahun terjadi pengurangan lahan pertanian, maka perlu ada upaya-upaya kongkrit agar pemenuhan kebutuhan dari produk pertanian tetap terjaga serta adanya langkah-langkah pengamanan lahan pertanian untuk menekan laju penyusutannya. Penyusutan lahan banyak terjadi di daerah aglomerasi perkotaan seperti di Sewon, Banguntapan, dan Kasihan. Hal ini banyak disebabkan oleh migrasi dari kota Yogyakarta. Kondisi di Kabupaten Bantul, berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2010 semakin jelas menunjukkan pertambahan dan pertumbuhan penduduk yang meningkat yaitu rata-rata 1,56 %. Isu pertambahan jumlah penduduk ini menjadi ancaman terhadap kemungkinan terjadinya ledakan penduduk. Dengan jumlah penduduk sekitar 915 ribu lebih dan luasan daerah yang hanya sekitar 506,5 km 2 saja pemerintah daerah sudah banyak menghadapi banyak masalah dengan banyaknya anggaran yang harus disalurkan di berbagai kebutuhan hidup masyarakat, sementara daya dukung dan daya tampung lingkungan yang layak tidak semakin ideal lagi. Saat ini kita telah banyak menghadapi berbagai kendala dan masalah sampah, perubahan iklim, kesulitan akses air bersih, hingga bencana akibat perusakan alam. Apabila gejala ledakan penduduk tidak terkendali maka akan terjadi kehancuran ekologi. Disisi lain dengan bertambahnya jumlah penduduk tuntutan kebutuhan dasar seperti pangan, sandang dan papan, kesehatan, pendidikan penyediaan lapangan kerja.. Oleh karena itu penyerasian kebijakan dan grand design pembangunan yang berwawasan kependudukan juga harus lebih komprehensif. II -15 II -16

20 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Sehubungan dengan issue kependudukan Kabupaten Bantulmenganalisis proyeksi penduduk denganaplikasi Spectrum Model Demography Projection/DemProj dan RAPID. Hasil DemProj dengan skenario TFR rendah (1,94), sedang (1,97) dan tinggi (2,2) hasilnya dapat ditunjukkan sebagai berikut : Tabel 2.10 Total Population / Proyeksi Jumlah Penduduk pada Skenario Rendah, Sedang, Tinggi TAHUN TFR RENDAH TFR SEDANG TFR TINGGI , , , , , , , , , , ,035 1,000, ,014,756 1,017,648 1,020, ,025,739 1,030,116 1,034,470 Sumber: BKK, PP dan KB, 2013 Jumlah penduduk pada tahun 2010, pada sekenario TFR rendah, sedang dan tinggi sama, tambahan jumlah penduduk per 5 tahun dari tahun 2010 hingga tahun 2035 terbanyak ada di tahun 2015, sehingga dapat diprediksikan tahun 2015 terjadi pertambahan penduduk yang cukup tinggi. Jika mulai tahun 2015 pengendalian jumlah penduduk tidak mendapat perhatian maka jumlah penduduk Kabupaten Bantul akan tergambarkan seperti granat, merupakan struktur penduduk muda, sebesar 65,17 % kelompok ini akan memberikan bonus besar bagi pembangunan atau dikenal dengan bonus demografi yaitu keuntungan ekonomis yang disebabkan oleh penurunan rasio ketergantungan ketika potensi atau kualitasnya baik, tetapi jika potensinya rendah maka daerahharus mampu menyiapkan lapangan pekerjaan sesuai dengan kapasitas penduduk yang dimiliki. 2.2 Aspek Kesejahteraan Masyarakat Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) PDRB merupakan nilai keseluruhan semua barang dan jasa yang diproduksi di dalam wilayah dalam jangka waktu tertentu (biasanya per tahun). PRDB atas dasar harga berlaku Kabupaten Bantul pada Tahun 2012 sebesar 11,24 triliun rupiah. Dibandingkan dengan nilai PDRB pada Tahun 2011 yang mencapai 10,1 triliun rupiah, berarti selama tahun 2012 terdapat kenaikan sebesar 1,14 triliun rupiah. Kenaikan nilai PDRB atas dasar harga berlaku belum tentu mencerminkan kenaikan produktivitas sektor ekonomi secara riil, karena kenaikan ini masih mengandung faktor perubahan harga(inflasi). Pada tahun 2012, kinerja perekonomian Kabupaten Bantul secara riil yang dipresentasikan melalui PDRB atas dasar harga konstan 2000 masih mampu mengalami pertumbuhan yang cukup baik. Berdasarkan hasil penghitungan, nilai PDRB atas dasar harga konstan 2000 pada tahun 2012 tercatat sebesar 4,4 triliun rupiah. Dibandingkan dengan nilai PDRB tahun sebelumnya terjadi peningkatan sebesar 223,11 milyar rupiah atau sekitar 5,34 persen. Bila dibandingkan dengan tahun 2000 terjadi perkembangan PDRB atas dasar harga berlaku sebesar 434,98%. Hal ini menunjukkan bahwa dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2012 PDRB atas dasar harga berlaku Kabupaten Bantul mengalami perkembangan lebih dari empat kali lipatdibandingkan tahun dasar Sementara itu PDRB atas dasar harga konstan dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2012 mengalami perkembangan sebesar 170,26 persen atau lebih dari satu setengan kali lipat dibandingkan tahun dasar II -17 II -18

21 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Tabel Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 Kabupaten Bantul No Sektor * (Juta Rp) % (Juta Rp) % (Juta Rp) % (Juta Rp) % (Juta Rp) % 1 Pertanian , , , , ,72 2 Pertambangan & Penggalian , , , , ,90 3 Industri Pengolahan , , , , ,74 4 Listrik, Gas, dan Air Bersih , , , , ,92 5 Konstruksi , , , , ,63 6 Perdagangan, Hotel & Restoran , , , , ,49 7 Pengangkutan & Komunikasi , , , , ,57 8 Keuangan, Sewa, & Jasa Perusahaan , , , , ,94 9 Jasa-jasa , , , , ,08 PDRB Sumber : BPS 2013 II -19 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Tabel Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun Atas Dasar Harga Berlaku Kabupaten Bantul No Sektor * (Juta Rp) % (Juta Rp) % (Juta Rp) % (Juta Rp) % (Juta Rp) % 1 Pertanian , , , , ,92 2 Pertambangan & Penggalian , , , , ,88 3 Industri Pengolahan , , , , ,06 4 Listrik, Gas, dan Air Bersih , , , , ,10 5 Konstruksi , , , , ,86 6 Perdagangan, Hotel & Restoran , , , , ,28 7 Pengangkutan & Komunikasi , , , , ,85 8 Keuangan, Sewa, & Jasa Perusahaan , , , , ,00 9 Jasa-jasa , , , , ,04 PDRB Sumber : BPS 2013 II -20

22 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Sementara itu untuk menghitung tingkat pertumbuhan ekonomi, digunakan PDRB komunikasi (7,06 persen). Kenaikan pertumbuhan yang cukup tinggi di sektor atas dasar harga konstan. Dengan menggunakan data atas dasar harga konstan, maka keuangan, persewaan dan jasa perusahaan banyak disumbang oleh subsektor sewa pertumbuhan PDRB yang diperoleh hanya mencerminkan pertumbuhan output yang bangunan yang berasal dari imputasi sewa bangunan pribadi maupun komersil (kost dihasilkan perekonomian pada periode tertentu tanpa adanya pengaruh dari mahasiswa/pelajar dan kontrak untuk tempat tinggal).sementara itu kenaikan gaji perubahan harga (riil). PNS sebesar 10 persen menyebabkan meningkatnya belanja pegawai sebesar 13,59 Pada tahun 2012, perekonomian Bantul tumbuh 5,34 persen mengalami percepatan dibandingkan tahun 2011 yang hanya tumbuh 5,27 persen. Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2012 ini merupakan pertumbuhan tertinggi selama lima tahun terakhir (periode ). Selama periode tersebut, perlambatan pertumbuhan ekonomi persen dibandingkan tahun Hal ini mampu meningkatkan nilai tambah subsektor jasa pemerintahan sebesar 8,87 persen. Disamping itu subsektor jasa lain yang meningkat drastis adalah jasa hiburan dan rekreasi serta penyelenggaraan event-event wisata seperti Jogja Air Show. hanya terjadi pada tahun 2009 akibat krisis global yang menurunkan permintaan Pertumbuhan sektor perdagangan, hotel dan restoran(phr) yang konsisten tidak barang komoditas ekspor. lepas dari peran Kabupaten Bantul sebagai salah satu tujuan wisata. Selain itu Laju pertumbuhan Kabupaten Bantul dibandingkan level nasional dan provinsi DIY transaksi dan kegiatan perdagangan di pasar-pasar tradisional dan modern seperti mulai tahun 2008 hingga tahun 2012 dapat dilihat pada gambar berikut : minimarket juga terus meningkat. Pertumbuhan yang cukup tinggi di sektor PHR juga didukung oleh lancarnya distribusi barang. Hal ini terlihat dari sektor pengangkutan 7 6 dan komunikasi yang tumbuh sebesar 7,06 persen dari tahun sebelumnya Nasional DIY Bantul Gambar 2.6. Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Bantul, Provinsi DIY dan Nasional (%) Perdagangan, Hotel & Restoran Sumber : Bappeda, Pengangkutan & Komunikasi Keuangan, Sewa, & Jasa Perusahaan Jasa-jasa Dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional, secara umum pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bantul relatif lebih lambat. Namun apabila dibandingkan dengan laju pertumbuhan ekonomi provinsi relatif sama. Gambar 2.7. Pertumbuhan Ekonomi Empat Sektor Tertinggi Pada Tahun 2012, Periode (%) Bila dilihat pertumbuhan sektoral, semua sektor ekonomi di Kabupaten Bantul pada tahun 2012 tumbuh positif dibandingkan tahun sebelumnya. Sektor-sektor yang mempunyai pertumbuhan cukup tinggi berturut-turut yaitu sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan(9,23 persen); sektor jasa-jasa(8,49 persen); sektor perdagangan, hotel dan restoran (7,35 persen); dan sektor pengangkutan dan Pada tahun 2012, struktur perekonomian Kabupaten Bantul masih didominasi empat sektor, yaitu sektor pertanian(19,92 persen); sektor industri pengolahan (19,06 persen);sektor perdagangan, hotel dan restoran (18,28 persen); dan sektor jasa-jasa (15,04 persen). Sektor pertanian yang mendominasi perekonomian Kabupaten Bantul disumbang oleh nilai tambah komoditas tanaman pangan. Komoditas tanaman pangan yang menjadi andalan perekonomian Kabupaten Bantul adalah padi. Kondisi II -21 II -22

23 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah membaiknya produksi tanaman pangan mampu meningkatkan kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian setelah beberapa tahun selalu mengalami penurunan. Sektor yang menyumbang kontribusi terbesar kedua pada perekonomian Bantul adalah sektor industri pengolahan. Selisih kontribusi terhadap perekonomian bila dibandingkan dengan sektor pertanian sebesar 0,86 percentage points. Hal ini sedikit menunda transformasi struktural dari daerah agraris menuju industri, mengingat sejak sebelum tahun 2012 peran industri pengolahan selalu meningkat dan mencoba menggantikan peran sektor pertanian. Usaha pemerintah daerah untuk menyediakan kawasan industri di Kecamatan Piyungan dan Sedayu juga diharapkan mampu meningkatkan share sektor industri terutama yang berskala menengah dan besar di Kabupaten Bantul.Kontribusi sektor perdagangan, hotel dan restoran terhadap perekonomian selama lima tahun terakhir cenderung berfluktuatif namun masih berkisar di angka persen. Sementara sektor jasa-jasa merupakan penyumbang nilai tambah terbesat ke-4 pada PDRB tahun 2012 sebesar 15,04 persen. Selengkapnya struktur perekonomian Kabupaten Bantul berdasarkan lapangan usaha dan kelompok sektor dapat dilihat pada tabel berikut: PDRB Perkapita Produk Domestik Regional Bruto perkapita merupakan salah satu indikator produktivitas penduduk dihitung dengan cara membagi PDRB dengan jumlah penduduk pertengahan tahun yang bersangkutan. Produk Domestik Regional Bruto perkapita dapat dihitung atas dasar berlaku maupun atas dasar konstan. PDRB perkapita Kabupaten Bantul selama lima tahun terakhir menunjukkan peningkatan baik atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan. No Tabel Perkembangan PDRB Per Kapita Menurut Harga Berlaku dan Harga Konstan Tahun 2000 Kabupaten Bantul Tahun Tahun Penduduk pertengahan tahun Nilai (Rp) Harga Berlaku Pertumbu han Harga Konstan Tahun 2000 Nilai (Rp) Pertumbuhan Sumber: BPS, PDRB per kapita Kabupaten Bantul Tahun 2012 menunjukkan adanya peningkatan menjadi sebesar 12,11 juta rupiah per kapita per tahun meningkat 10,30 persen dibanding tahun 2011 yang mencapai 10,98 juta rupiah per kapita per tahun Sumber : Bappeda, 2013 Th 2008 Th 2009 Th 2010 Th 2011 Th 2012 Sektor primer Sektor sekunder Sektor tersier Gambar 2.8 Pergeseran Struktur Ekonomi Kabupaten Bantul Tahun Apabila dilihat dari struktur perekonomian, sektor pertanian masih merupakan komponan terpenting penyusun PDRB sampai dengan tahun Selama tahun 2012 kontribusi sektor pertanian mengalami peningkatan setelah selama tiga tahun berturut-turut( ) mengalami penurunan. Namun peningkatan kontribusi sektor pertanian tersebut belum menimbulkan pergeseran struktural terhadap Sumber : Bappeda, PDRB perkapita ADHB PDRB perkapita ADHK Gambar 2.9. Pertumbuhan PDRB Per Kapita Kabupaten Bantul ADHB dan ADHK Tahun 2000,Periode perekonomian, dimana sektor tersier masih mendominasi perekonomian. II -23 II -24

24 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Laju inflasi Laju inflasi tahun 2012 di Kabupaten Bantul berada pada angka 4,13 persen meningkat 0,40 poin dari Tahun 2011, namun lebih rendah apabila dibandingkan dengan laju inflasi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang mencapai 4,31 persen dan laju inflasi nasional sebesar 4,30 persen. Kondisi inflasi tersebut berada dilevel rendah dikarenakan kestabilan harga bahan pangan yang didukung oleh kebijakan pemerintah dalam menjaga kecukupan pasokan dan kelancaran distribusi. Secara umum distribusi inflasi Kabupaten Bantul Tahun 2012 dipengaruhi oleh laju inflasi tertinggi pada kelompok bahan makanan sebesar 8,13 %, sedangkan kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami laju paling rendah yaitu sebesar 1,24%. Secara grafis, perbandingan laju inflasi Tahun 2012 antar Kabupaten Bantul dengan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Nasional dapat dilihat pada gambar berikut : Pemerintah menyadari bahwa hasil pembangunan yang telah dilaksanakan belum sepenuhnya dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Tujuan pembangunan tidak semata-mata mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi, namun juga telah memberikan penekanan dengan bobot yang sama kepada aspek peningkatan tingkat pendapatan masyarakat dan aspek pemerataan. Alternatif pilihan kebijakan penanggulangan ketimpangan dan kemiskinan antara lain program Jamkesmas, jamkesda, PNPM mandiri.pelaku bisnis dan masyarakat juga perlu ikut berperan aktif, agar kaum miskin tidak semakin terpinggirkan dengan memberikan lapangan kerja Laju Inflasi Bantul 6 Laju inflasi Yogya 4 Laju Inflasi Nasional Laju Inflasi Bantul Sumber: BPS, Laju inflasi Yogya Laju Inflasi Nasional Sumber : BPS, * Koefisien Gini Gambar Koefisien Gini di Kabupaten Bantul Tahun Gambar Perkembangan Inflasi di Kabupaten Bantul Tahun lnflasi Tahun 2012 sebesar 4,13 persen termasuk ke dalam kriteria inflasi ringan (kurang dari 10% per tahun). Inflasi ringan mempunyai dampak positif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik antara lain meningkatkan pendapatan dan investasi Fokus Kesejahteraan Sosial Pendidikan a. Angka Melek Huruf Angka melek huruf adalah proporsi penduduk berusia 15 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis dalam huruf latin atau lainnya. Angka melek huruf didapat Koefisien Gini Koefisien Gini merupakan salah satu indikator untuk mengetahui distribusi dan ketimpangan pendapatan penduduk. Koefisien Gini pada Tahun 2011 sebesar 0,2445 dan pada Tahun 2012 sebesar 0,2492. dengan membagi jumlah penduduk usia 15 tahun keatas yang dapat membaca dan menulis dengan jumlah penduduk usia 15 tahun keatas kemudian hasilnya dikalikan dengan seratus. Angka melek huruf di Kabupaten Bantul tahun disajikan pada tabel berikut: II -25 II -26

25 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Tabel Angka Melek Huruf di Kabupaten Bantul Tahun APM SD/MI pada Tahun 2012 adalah 79,84%, adapun APM SMP/MTs Tahun 2012 adalah 63,61%. Capaian APM seperti di atas bukan berarti bahwa anak usia 7- Uraian Jumlah Melek Huruf (orang) Persentase Melek Huruf (%) 84,09 87,44 91,03 91,23 92,19 Sumber: Dinas Pendidikan dan Non Formal, tahun dan anak usia tahun tidak bersekolah, akan tetapi dimungkinkan dari kelompok umur tersebut ada yang bersekolah di luar Kabupaten Bantul atau sudah masuk di jenjang yang lebih tinggi. Sedangkan untuk SMA/MA/SMK mencapai Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa presentase melek huruf di Kabupaten Bantul 52,98%. Angka ini lebih tinggi daripada Tahun 2011 yang mencapai 50,29%. pada Tahun 2012 mengalami kenaikan menjadi 92,19%. Angka tersebut melebihi dari target yaitu sebesar 90,34%.Hal ini menunjukkan bahwa minat belajar masyarakat cukup tinggi. d. Angka Partisipasi Kasar (APK) APK adalah perbandingan jumlah siswa pada tingkat pendidikan SD/SLTP/SLTA dibagi dengan jumlah penduduk berusia 7 hingga 18 tahun atau rasio jumlah siswa, b. Angka rata-rata lama sekolah Angka rata rata lama sekolah adalah rata rata jumlah tahun yang dihabiskan oleh penduduk usia 15 tahun ke atas untuk menempuh semua jenis pendidikan formal yang pernah dijalani. Data tahun 2011 menunjukkan rata rata lama sekolah di berapapun usianya, yang sedang sekolah di tingkat pendidikan tertentu terhadap jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan tertentu. APK pada setiap jenjang pendidikan di Kabupaten Bantul pada Tahun disajikan pada tabel berikut : Kabupaten Bantul adalah 8,92. Angka ini menunjukkan rata rata penduduk di Kabupaten Bantul bersekolah setingkat SLTP. Angka rata rata lama sekolah dari kurun waktu 2008 sampai tahun 2011 mengalami peningkatan. Tabel Perkembangan Angka Partisipasi Kasar(APK) Tahun Kabupaten Bantul Tabel Angka Rata Rata Lama Sekolah Kabupaten Bantul Kabupaten Bantul 8,55 8,64 8,82 8,92 8,95 Sumber : BPS Kabupaten Bantul, 2011 No Jenjang Pendidikan APK SD/MI 104,64 104,99 91,48 92,30 92,91 2. APK SMP/MTs 96,22 96,41 91,66 91,66 87,97 3. APK SMA/MA/SMK 78,13 80,53 65,02 69,88 71,04 Sumber : Dikdas dan Dikmenof, 2013 Dari tabel diatas terlihat bahwa nilai APK baik SD/MImaupun SMA/MA/SMK Tahun c. Angka Partisipasi Murni (APM) 2012 mengalami kenaikan. Hal ini mengindikasikan bahwa jumlah siswa yang APM merupakan indikator yang digunakan untuk menentukan tingkat partisipasi bersekolah di jenjang pendidikan baik SD/MI, pada Tahun 2012 semakin banyak yang murni penduduk usia sekolah. Keberhasilan program wajib belajar sembilan tahun sesuai dengan usia sekolah (banyak sekolah yang memberlakukan minimal usia dapat dilihat dari indikator angka partisipasi kasar dan angka partisipasi murni.apm sekolah), sedangkan pada tahun-tahun sebelumnya masih banyaknya siswa yang menunjukkan perbandingan antara jumlah siswa yang berasal dari Kabupaten bersekolah tidak pada usia sekolah.hal ini juga dikarenakan adanya perbedaan Bantul dengan jumlah penduduk Kabupaten Bantul pada usia sekolah. jumlah penduduk antara proyeksi dan hasil sensus. Tabel Perkembangan Angka Partisipasi Murni (APM) Tahun Kabupaten Bantul Kesehatan a. Angka Kelangsungan Hidup Bayi(AKHB) Upaya mempercepat penurunan kematian bayi memerlukan keterpaduan lintas No Jenjang Pendidikan APM SD/MI 91,27 92,12 89,03 81,76 79,84 2. APM SMP/MTs 74,55 73,94 74,63 62,09 63,61 3. APM SMA/MA/SMK 58,3 59,98 43,80 50,29 52,98 Sumber: Dinas Pendidikan Dasar & Dinas Pendidikan Menengah dan NF, 2013 program antara lain program pencegahan penyakit melalui imunisasi pada bayi dan program perbaikan gizi masyarakat. Adapun keterpaduan program perbaikan gizi meliputi peningkatan pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif bagi bayi sampai umur enam bulan, dan pemberian makanan pendamping ASI (MP ASI) bagi keluarga miskin II -27 II -28

26 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah (Gakin), serta kegiatan Kelompok Pendukung Ibu (KP Ibu). KP Ibu bertujuan untuk 111,2 per kelahiran hidup. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat memotivasi ibu hamil dalam melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) pada saat kesejahteraan ibu sudah cukup baik dengan capaian AKI yang jauh dibawah target. melahirkan sehingga mendorong peningkatan pemberian ASI eksklusif. Capaian indikator angka kematian bayi (AKB) pada tahun 2012 sebesar 8,64 per 1000 kelahiran hidup lebih tinggi dari capaian pada tahun 2011 yaitu sebesar 8,5 per Tabel Perkembangan Angka Kematian Ibu (AKI) Tahun Kabupaten Bantul 1000 kelahiran hidup namun angka ini telah berhasil mencapai target yang telah ditentukan dalam yaitu sebesar 9 per 1000 kelahiran hidup. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan bayi sudah cukup baik dengan capaian Uraian Bantul 140,13 158,29 82,07 111,2 52,2 Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul,2013 AKB yang dibawah target. b. Angka Usia Harapan Hidup Tabel Perkembangan Angka Kelangsungan Hidup Bayi (AKHB) Tahun Kabupaten Bantul No Uraian Jumlah kematian bayi usia 170 dibawah 1 th Jumlah kelahiran hidup AKB 13,2 11,8 9,8 8,5 8,64 4 AKHB 986,8 988,2 990,2 991,5 991,36 Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul (AKHB = 1000 AKB) Angka harapan hidup merupakan alat untuk mengevaluasi kinerja pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya, dan meningkatkan derajat kesehatan pada khususnya Pada Tahun 2012 usia harapan hidup (UHH) Kabupaten Bantul mencapai71,34 tahun. Angka tersebut lebih tinggi dari tahun 2011 yaitu sebesar 71,33 tahun dan melebihi target RKPD Tahun 2012 sebesar 71,30 tahun. Angka UHH tahun 2012 dihitung akhir tahun 2013.Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kualitas kesehatan penduduk Kabupaten Bantul sudah meningkat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. peningkatan dan keselamatan ibu bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui upaya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI). Partisipasi masyarakat melalui pemberdayaan kader kesehatan untuk pendampingan ibu hamil resiko tinggi dan peningkatan kualitas sarana dan prasarana kesehatan serta sumber daya manusia sangat diperlukan. Dalam hal ini, partisipasi stakeholders Dari sisi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI), yaitu suatu ukuran untuk menilai keberhasilan pembangunan dari segi pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, kondisi di Kabupaten Bantul dari tahun cenderung mengalami peningkatan, dimana pada tahun 2010 sebesar 74,53 menjadi 75,51 pada tahun terkait dan masyarakat untuk menurunkan AKI dilakukan melalui kegiatan-kegiatan, yaitu Kelompok Pendukung Ibu (KP Ibu) yang sudah diintegrasikan dengan kelas ibu, membentuk jejaring Kesehatan Ibu Bayi Baru Lahir dan Anak (KIBBLA), dan peningkatan Puskesmas mampu Penanganan Obstetri Neonatal Emergency Dasar (PONED). Upaya mempercepat penurunan AKI memerlukan keterpaduan lintas program, yaitu Perbaikan Gizi Masyarakat, khususnya pada ibu hamil melalui pemberian Tabel Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Tahun Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah DIY, dan Nasional No Uraian Kabupaten Bantul 73,38 73,75 74,53 75,05 75,51 2 Propinsi DIY ,23 75,77 76,32 76,75 3 Nasional 71,17 71,76 72,27 72,77 73,29 Sumber: BPS Kabupaten Bantul makanan tambahan (PMT) pemulihan bagi ibu hamil Kurang Energi Kronis (KEK) sebanyak 210 ibu hamil, program promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat melalui penyiapan masyarakat dalam desa siaga, ambulan desa, dan donor darah. Capaian angka kematian ibu pada tahun 2012 sebesar 52,2 per kelahiran hidup, berarti terjadi penurunan dibandingkan dengan tahun 2011 yaitu sebesar c. Persentase Balita Gizi Buruk Persentase balita gizi buruk adalah persentase balita dalam kondisi gizi buruk terhadap jumlah balita. Keadaan tubuh anak atau bayi dilihat dari berat badan menurut umur. Status gizi balita secara sederhana dapat diketahui dengan II -29 II -30

27 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah membandingkan antara berat badan menurut umur maupun menurut panjang Kemiskinan badannya dengan rujukan (standar) yang telah ditetapkan. perbaikan gizi masyarakat pada tahun 2012 sebagian besar (93%) digunakan untuk pemberian makanan tambahan bagi Balita gizi burukdiantaranya melalui pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi, keluarga sadar gizi (Kadarzi) dan pemantauan penimbangan balita. Hasil capaian pemantauan penimbangan Balita tahun 2012 adalah sebagai berikut: 1. Partisipasi masyarakat diketahui melalui jumlah Balita yang ditimbang dibandingkan dengan seluruh Balita (D/S) sebesar 76,5%, meningkat dibanding a. PersentasePenduduk Diatas Garis Kemiskinan dan PersentaseKemiskinan Persentase penduduk diatas garis kemiskinan dihitung dengan menggunakan formula (100 angka kemiskinan). Angka kemiskinan adalah persentase penduduk yang masuk kategori miskin terhadap jumlah penduduk. Penduduk miskin dihitung berdasarkan garis kemiskinan. Garis kemiskinan adalah nilai rupiah pengeluaran per kapita setiap bulan untuk memenuhi standar minimum kebutuhan-kebutuhan konsumsi pangan dan non pangan yang dibutuhkan oleh individu untuk hidup layak. tahun 2011 sebesar 75,3%. 2. Kondisi kesehatan Balita diketahui melalui jumlah Balita yang naik berat badannya dibandingkan dengan Balita yang ditimbang (N/D) sebesar 60,4%, meningkat dibanding tahun 2011 sebesar 58,9% 3. Potensi masalah gizi diketahui melalui jumlah Balita yang memiliki berat badan di bawah garis merah dibandingkan dengan Balita yang ditimbang (BGM/D) Tabel Persentase KK Miskin dan Jiwa MiskinTahun Kabupaten Bantul Tahun Jumlah KK Jumlah KK % Jumlah Jiwa Jumlah Jiwa % Total Miskin Total Miskin , , , , , ,27 Sumber : BKK PP dan KB Kabupaten Bantul, 2013 sebesar 1,61%, menurun dibanding tahun 2011 sebesar 2,35%. Beberapa upaya terus dikembangkan oleh Pemerintah Kabupaten, salah satunya melalui program PMT (Pemberian Makanan Tambahan) Balita Gizi Buruk berupa bantuan makanan tambahan selama 180 hari makan anak bagi 225 Balita serta kunjungan dan pemeriksaan oleh dokter ahli anak di Puskesmas. Selain itu, upaya perbaikan gizi juga dilakukan dengan PMT bagi 210 ibu hamil Kurang Energi Kronis (KEK) untuk 90 hari makan. Dari tabel 2.22 dapat dilihat bahwa angka kemiskinan Kabupaten Bantul pada Tahun 2012 adalah 14,27% sehingga persentase penduduk diatas garis kemiskinan sebesar 85,73%. Angka ini lebih baik daripada Tahun 2011 dimana persentase jiwa miskin terhadap jumlah jiwa total sebesar 15,02%. Namun persentase kemiskinan pada Tahun 2012 ini masih belum memenuhi target dalam RKPD Tahun 2012 yaitu sebesar 12 %. Hal ini dikarenakan belum adanya sistem dan mekanisme baku tentang sistem pencatatan dan pelaporan program pengentasan kemiskinan. Pada tahun 2012, terjadi penurunan status gizi buruk pada balita, yaitu angka balita gizi buruk sebesar 0,44% dari seluruh balita (target DIY <1%). Angka ini jauh sudah melampauitarget MDGs Provinsi DIY dan lebih baik dari capaian Tahun 2011yaitu sebesar 0,52%. Tabel Persentase Balita Gizi Buruk Tahun Kabupaten Bantul Uraian Jumlah balita gizi buruk (jiwa) Jumlah balita ditimbang (jiwa) Persentase balita gizi buruk 0,51 0,58 0,52 0,44 Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, Sumber : BKK PP KB, Persentase penduduk diatas garis kemiskinan Persentase kemiskinan Gambar Persentase Penduduk Diatas Garis Kemiskinan Kabupaten Bantul Tahun II -31 II -32

28 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bentuk upaya yang telah dilakukan pemerintah dalam rangka penanggulangan kemiskinan adalah melalui pembentukan lembaga TKPKD (Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah) sampai ditingkat kecamatan, desa dan pedukuhan,program pemberdayaan masyarakat, pengurangan beban KK Miskin, penguatan kelembagaan, serta validasi data keluarga miskin. Kebijakan tersebut diarahkan untuk mengembangkan kemampuan masyarakat, membangun perilaku, serta pengorganisasian masyarakat. Tabel Persentase Jiwa dan Keluarga Miskin Kabupaten Bantul Tahun 2012 NO KECAMATAN KK KK JIWA JIWA %JIWA % TOTAL GAKIN TOTAL MISKIN MISKIN 1. Kretek , ,61 2. Sanden , ,76 3. Srandakan , ,69 4. Pandak , ,48 5. Bambanglipuro , ,55 6. Pundong , ,25 7 Imogiri , ,51 8. Dlingo , ,47 9. Jetis , , Bantul , , Pajangan , , Sedayu , , Kasihan , , Sewon , , Piyungan , , Pleret , , Banguntapan , ,41 Jumlah , ,27 Sumber: BKK PP dan KB Bantul 2012 Sumber : BKK PP KB, 2013 Gambar Jiwa Miskin di Kabupaten Bantul Tahun 2012 Berdasarkan data dari TNP2K kecamatan yang mempunyai angka kemiskinan tertinggi yaitu kecamatan Kasihan, Sewon, Pandak dan Imogiri. Adanya perbedaan ini dikarenakan perbedaan indikator yang berbeda dalam penentuan kriteria miskin. kegiatan penanganan kemiskinan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Bantul dari tahun ke tahun telah menunjukan hasil yang cukup baik, hal Sumber : Data PPLS (TNP2K),2013 ini tercermin dari semakin berkurangnya jumlah jiwa miskin. Dari 17 kecamatan yang ada di Kabupaten Bantul, angka kemiskinan tertinggi ada pada kecamatan Gambar Jiwa Miskin Dan Rumah Tangga Miskin di Kabupaten Bantul Tahun 2012 Banguntapan, Kasihan, Sewon dan Imogiri Kesempatan Kerja (Rasio Penduduk Yang Bekerja) Kesempatan kerja merupakan hubungan antara angkatan kerja dengan kemampuan penyerapan tenaga kerja. Pertambahan angkatan kerja harus diimbangi dengan investasi yang dapat menciptakan kesempatan kerja. Dengan demikian, dapat menyerap pertambahan angkatan kerja.sedangkan rasio penduduk yang bekerja adalah perbandingan jumlah penduduk yang bekerja terhadap jumlah angkatan kerja. Rasio penduduk yang bekerja Kabupaten Bantul pada Tahun 2012 mencapai 0,947. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa 94,7% dari angkatan kerja yang ada di II -33 II -34

29 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Kabupaten Bantul memperoleh kesempatan kerja sedangkan 5,3% nya masih mencari kerja atau pengangguran. Tabel Rasio Penduduk Yang Bekerja Dengan Angkatan Kerja Tahun Kabupaten Bantul No Uraian Jumlah Penduduk Yang Bekerja Jumlah Angkatan Kerja Rasio Penduduk Yang Bekerja 0,920 0,930 0,940 0,942 0,947 Sumber: Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bantul,2013 Pembangunan bidang ketenagakerjaan bertujuan untuk menyediakan lapangan kerja dan lapangan usaha untuk memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan dengan harapan jumlah penganggur dan setengah penganggur dapat ditekan atau diperkecil. Sehubungan dengan hal tersebut kondisi permasalahan ketenagakerjaan ternyata sangat terkait erat dengan keadaan ekonomi yang berkembang setiap saat.pertumbuhan ekonomi terkait erat terhadap dunia usaha, bahwa pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi akan berpengaruh pada terciptanya iklim usaha yang kondusif, yaitu melalui investasi yang ditanamkan oleh para investor, sehingga akhirnya akan berdampak pada perluasan kesempatan kerja sebaliknya menurunnya pertumbuhan ekonomi juga akan berdampak negatif terhadap bidang ketenagakerjaan.kondisi tersebut mendorong pemerintah dan masyarakat memanfaatkan peluang kerja di luar negeri sebagai salah satu upaya yang cukup strategis guna menangani masalah pengangguran di dalam negeri Karena keterbatasan kemampuan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) pencari kerja yang pada umumnya berpendidikan SLTA ke bawah. Selain kondisi dunia usaha yang belum kondusif, minimnya informasi pasar kerja baik dalam maupun luar negeri juga merupakan salah satu kendala dalam upaya untuk menangani masalah pengangguran dan disatu sisi pencari kerja tidak mudah untuk memperoleh pekerjaan sesuai dengan kompetensinya, disisi lain para pengguna juga sulit mendapatkan pekerja sesuai dengan job/jabatan yang dibutuhkan. perluasan kesempatan kerja dan penanganan masalah pengurangan pengangguran.. Sebagai gambaran jumlah angkatan kerja di Kabupaten Bantul dapat dilihat pada tabel Tabel tersebutmenunjukkanbahwasecara proporsional, jumlah penganggurmenurundari5,8% menjadi5,3%. Jika dilihat menurut jenis kelamin, tahun perubahan jumlah penganngur laki-laki dan perempuan memiliki pola yang sama dengan perubahan penganggur pada umumnya yakni menurun. Secara kuantitas jumlah penganggur laki-laki dibanding penganggur perempuan tidak menunjukkan perbedaan yang mencolok, meskipun jumlah penganggur laki-laki lebih kecil daripada penganggur perempuan. Menurunnya jumlah penganggur laki-laki dan perempuan mencerminkan bahwa para pencari kerja laki-laki dan perempuan telah memiliki kapasitas yang cukup memadahi, sehingga mampu mengisi lapangan kerja baru yang tercipta. Tabel Jumlah Angkatan Kerja di Kabupaten Bantul Tahun AngkatanKerja No Kecamatan Tahun2011 Tahun2012 Bekerja Penganggur Bekerja Penganggur 1 Srandakan Sanden Kretek Pundong Bambanglipuro Pandak Bantul Jetis Imogiri Dlingo Pleret Piyungan Banguntapan Sewon Kasihan Pajangan Sedayu Jumlah Persentase 5,8% 5,3% Sumber : Disnakertrans, 2013 Melihat kenyataan tersebut masalah ketenagakerjaan khususnya penanganan pengangguran terbuka (open unployment) merupakan masalah yang serius dan harus segera dipecahkan bersama baik antara pihak pemerintah dan swasta, maupun antar instansi pemerintah. Dalam hal ini pemerintah mempunyai peranan sangat penting yaitu disamping sebagai penggerak, pemerintah juga ikut serta menciptakan Berbagai kegiatan yang selama ini dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bantul pada kenyataannya memperoleh animo dan mendapat sambutan yang baik dari masyarakat. Kenyataan yang ada selama ini, jumlah angkatan kerja di Bantul cukup besarsementara di sisi lain penciptaanlapangan kerjamasihterbatassehinggamasalah pengangguranselaluadadaritahunke tahun. II -35 II -36

30 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah KECAMATAN Tabel JumlahAngkatan kerjamenurut Jenis Kelamin Kabupaten BantulTahun ANGKATAN KERJA PENGANGGUR STGH PENGANGGUR BEKERJA JUMLAH L P L P L P L P TOTAL Kasihan Sewon Banguntapan Bantul Pajangan Sedayu Pandak Srandakan Sanden Bambang Lipuro Pundong Kretek Jetis Imogiri Dlingo Pleret Piyungan TOTAL Sumber : Disnakertrans, Kriminalitas (Angka Kriminalitas Yang Tertangani) Pemerintah daerah dapat terselenggara dengan baik apabila pemerintah dapat memberikan rasa aman kepada masyarakat, menjaga ketertiban dalam pergaulanmasyarakat, serta menanggulangi kriminalitas sehingga kuantitas dan kualitas kriminalitas dapat diminimalisir Fokus SeniBudaya dan Olahraga Fokus Seni budaya mencakup jumlah kelompok seni budaya dan jumlah gedung olah ragapencapaian pembangunan seni, budaya dan olahraga dapat dilihat berdasarkan indikator jumlah grup kesenian, jumlah gedung kesenian, jumlah klub olahraga, dan jumlah gedung olahraga.capaian pembangunan seni, budaya, dan olahraga Kabupaten Bantul Tahun 2012 disajikan dalam tabel berikut: Tabel Capaian Pembangunan Seni, Budaya, dan Olahraga Tahun 2012 NO Capaian Pembangunan Jumlah grup kesenian Jumlah gedung kesenian Jumlah klub olahraga Jumlah gedung olahraga Jumlah cabang olahraga Organisasi kepemudaan Sumber : Kantor PORA dan Disbudpar, 2013 Kebudayaan merupakan penunjang sektor pariwisata di Kabupaten Bantul. Hal ini disebabkan karena pilar pariwisata di Kabupaten Bantul bertumpu pada wisata budaya dan wisata alam. Potensi bidang kebudayaan di Kabupaten Bantul ditunjukkan dengan adanya sejumlah lembaga budaya yang terus menerus melaksanakan peran pelestarian Lembaga budaya yang ada di Kabupaten Bantul. Tabel Lembaga Budaya di Kabupaten Bantul Tahun 2012 Angka kriminalitas yang tertangani adalah penanganan kriminal oleh aparat penegakhukum (polisi/kejaksaan). Angka kriminalitas yang tertangani merupakan jumlah tindak kriminal yang ditangani selama 1 tahun terhadap penduduk. Angka kriminalitas Kabupaten Bantul Tahun 2012mencapai7,07. Tabel Angka Kriminalitas Tahun Kabupaten Bantul Uraian Jumlah tindak kriminal tertangani dalam th (kasus) Jumlah penduduk Angka kriminalitas 11,24 17,11 4,72 7,07 Sumber: Polres Bantul,2013 No Nama Alamat Bintang Mataram Badan Seni Mahasiswa Indonesia (BSMI) Dagelan Mataram Baru (DMB) Forum Kesenian Indonesia Institut Seni Indonesia Jl Ringin putih 500 B Perum Depag Kotagede telp Purek III ISI Yogayakrta Telp fax JL Parangtritis km 6 PO BOX 1210 Desa Kerajinan Keramik Kasongan Jotawang, Bangunharjo Telp ISI Yogayakrta Telp fax JL Parangtritis km 6 PO BOx 1210 Bentuk Organisasi Org informal Org informal Org informal Yayasan Org informal Teater kontemporer Bidang Musik tradisional, musik kontemporer, teater, tari, tari kontemporer, seni lukis tradisional dan kontemporer, seni patung tradisional dan kontemporer, fotografi, animasi desain, sastra Teater tradisional Teater kontemporer, pendamping dan pelatihan sastra Musik tradisional, musik kontemporer, teater tradisional, tari tradisional, tari kontemporer, seni lukis tradisional dan kontemporer, seni patung tradisional dan kontemporer, fotografi, II -37 II -38

31 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah No Nama Alamat Kelompok Jendela Keroncong Sinten Remen Komunitas Angkringan Gentong Potters Komunitas Kethoprak Lesung Yogyakarta KUA Etnika Komunitas Seni Lembaga Penelitian Institut Seni Indonesia Yogyakarta Lembaga Rumah Dongeng Indonesia Lembaga Studi Kajian Desain Lembaga Studi Pengembanga n Musik Ngudya Wirama Paguyuban Orkes Mahasiswa ISI Yogyakarta Paguyuban Seni Kasanggit PAKRIYO (Paguyuban Kriyawan Indonesia) Kersan No 211 RT 08 / 05 Tirtonirmolo Telp Desa Kersa, Tirtonirmolo surat da Yayasan Galang Jl Bakung Baru 13 Yogyakarta Telp , Fax Jl Nitiprayan 50 Ngestiharjo RT 01/RW 01 Kode pos Soboiman Gg Kemuning no 232 RT 06 / 29 Ngestiharjo Telp Fax Perum Sewon Indah C-17 Kode Pos Desa Kersa, Tirtonirmolo surat da Yayasan Galang Jl Bakung Baru 13 Yogyakarta Telp , Fax Jl Parangtritis km 65 Telp Fax Saman RT 4 RW 15, Bangunharjo Telp Jl Sonopakis Lor No 15 Telp Perumahan Sewon Indah A-15 Kode Pos Telp Gedongkuning RT 04 / 03 Kode Pos ISI Yogayakrta Telp fax JL Parangtritis km 6 PO BOX 1210 Perum Perndowo Harjo Indah Jl Nakula 14 Sewon Tirto Bangunjiwo Telp Bentuk Organisasi Org informal Org informal Org informal Org informal Org informal Org informal Lembaga Yayasan Lembaga Yayasan Org informal Orginformal Orginformal Orginformal Bidang animasi desain, sastra, tradisi lisan, etnomusikologi, etnologi tari, sejarah seni, antrpologi Seni lukis kontemporer, seni patung kontemporer, instalasi, sastra, tradisi lisan, sejarah seni, antrpologi, lingkungan, hukum, politik dan social musik tradisional dan kontemporer Musik kontemporer, teater kontemporer, tari kontemporer, sastra, tradisi lisan, entomusikologi, etnologi tari,sejarah seni, antropologi Keramik Teater tradisional Muasik tradisional dan kontemporer musik tradisional dan kontemporer, teater tardisional dan kontemporer, pedalangan, seni grafis dan seni kriya Musik kontemporer, teater kontemporer, teater boneka kontemporer, teater anak (wayang kardus kontemporer), seni lukis kontemporer, fotografi, sastra, tradisi lisan, permainan dan maianan anak Desain musik klasik barat, musikologi musik tradisional musik kontemporer dan klasik musik tradisional, teater boneka tradisional, teater kontemporer, tari tradisionasal seni kriya No Nama Alamat Pardiman Acapella Petak Umpet Rancang Grafis Pracabaan Ki Pudjo Sanggar Kereta Sanggar/Balai Tari Wasana Nugraha Sekolah Mengengah Musik Negeri 2 (SMKN 2 Kasihan) SENI : Jurnal Pengetahuan dan Pencipataan Seni SMK Negeri 3 Kasihan (SMSR Yogakarta SMKN I Kasihan (SMKIN YK) 30 Studio ISI 31 Study Sastar dan Teater Sila 32 Teater Alam Teater Gandrik Teater Garasi Yogayakarta 35 Teater Gema Desa Kersa, Tirtonirmolo surat da Yayasan Galang Jl Bakung Baru 13 Yogyakarta Telp , Fax Sorowajan 316 RT 12 / 29 Panggungharjo Gendeng RT 04 / 02 Bangunjiwo Kode Pos Jeblog Rt o1 / 06 Ds III Tirtonirmolo Kode Pos Dagaran, Jurug Bangunharjo RT 06 / 45 Sewon Jl PG Madukismo Bugisan Telp , Jl Parangtritis km 6 PO BOX 1210 Jl PG Madukismo Bugisan Telp Jl PG Madukismo Bugisan Telp Jurusan Teater FSP ISI Yogyakarta Jl Parangtritis km 65 Perum Puspa Indah Sito Kasongan Kode Pos Jotawang, Bangunharjo Sewon Kode Pos Telp Jl Sawo No 6 Perum Wirokerten Indah Telp Desa Kersa, Tirtonirmolo surat da Yayasan Galang Jl Bakung Baru 13 Yogyakarta Telp , Fax Jl Bugisan Selatan Tegal Kenongo RT 01/08 No 36A Telp STIE Kerjasama Jl Parangtritis km 35 Bentuk Organisasi Orginformal Org informal Org informal Lembaga Org informal Instansi Pemerintah Instansi Pemerintah Lembaga Instasi Pemerintah Yayasan Lembaga Org informal Org informal Lembaga Lemabaga Bidang musik tradisional dan kontemporer Desain, ilustrasi, animasi musik tradisional, teater boneka tardisional, wayang kulit purwa Musik tradisional, musik kontemporer, teater tradisional, tari tradisional, tari kontemporer, seni lukis tradisional dan kontemporer, seni patung tradisional dan kontemporer, sastra, tradisi lisan musik tardisional, tari tradisional dan kontemporer, tradisi lisan etnomusikologi, etno tari musik universal sastra, tardisi lisan, etnomusikologi, etnologi tari, sejarah seni, estetika kritik seni Seni lukis tradisional dan kontemporer, seni patung tradisonal dan kontemporer, fotografi kriya kayu dan keramik Musik tradisional, teater tradisional, teater kontemporer, teaater boneka tradisional, sastra, etnologi tari dan sejarah seni teater tradisional dan kontemporer teater tradisional, kontemporer dan sastra teater kontemporer teater kointemporer teater kontemporer, fotografi, film, video, sastra, tradisi lisan, sejarah seni, antropogi, gagasan teater musik kontemporer, teater kontemporer, musik klasik, puisi, seni lukis kontemporer II -39 II -40

32 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah No Nama Alamat Teater Pelopor Yayasan Padepokan Seni Bagong Kusudiharjo Yayasan Peduli Tekstil Tradisional Indonesia (PETTRII) Panggung, Argomulyo Kode Pos Kemabaran RT 04/21 No 146 Tamantirto Telp Karangnongko RT 10/42 Panggungharjo Telp/fax Bentuk Organisasi Org Informal Yayasan Yayasan Sumber : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bantul, 2013 Bidang Teter kontemporer, sastra, sejarah seni, teater dan biografi Musik tradisional, musik kontemporer, teater tradisional, tari tradisional, tari kontemporer, seni lukis tradisional dan kontemporer, sejarah seni seni kerajinan tekstil, seni kriya tekstil, sastra, tradisi lisan, etnologi tari, sejarah seni, antropologi, sejarah tekstil tradisional Keberhasilan pembangunan di bidang pemuda dan olahraga di Kabupaten Bantul dapat dilihat dari banyaknya prestasi olahraga yang dicapai oleh Kabupaten Bantul baik tingkat propinsi maupun nasional.hal ini didukung dengan adanya klub olahraga dan pembangunan gedung olah raga di Kabupaten Bantul. 2.3 Aspek Pelayanan Umum Aspek pelayanan umum menjelaskan tentang kondisi pelayanan umum di Kabupaten Bantul sebagai bagian dari indikator kinerja pembangunan secara keseluruhan.salah satu indikator tersebut adalah pencapaian Standar Pelayanan Minimal (SPM)Pemerintah daerah dalam melaksanakan urusan wajib yang merupakan pelayanan dasar kepada masyarakat dibutuhkan standar baik jenis dan mutu yaitu Standar pelayanan MinimalSPM yang telah ditetapkan Pemerintah ada 15 bidang,meliputi: 1. Bidang Perumahan Rakyat, 2. Bidang Pemerintahan Dalam Negeri, 3. Bidang Sosial, 4. Bidang Kesehatan, 5. Spm Terpadu Bagi Sanksi dan atau Korban Tindak Pidana Perdagangan Orangdan Penghapusan Eksploitasi Seksual Pada Anak Dan Remaja, Bidang Layanan Terpadu Bagi Perempuan Dan Anak Korban Kekerasan, 6. Bidang Lingkungan Hidup, 7. Bidang Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera, 8. Bidang Pendidikan Dasar, 9. Bidang Ketenagakerjaan, 10. Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, 11. Bidang Ketahanan Pangan, 12. Bidang Kesenian, 13. Bidang Kominfo, 14. Bidang Perhubungan, 15. Bidang Penanaman Modal. Aspek pelayanan umum juga ditinjau dari fokus layanan urusan wajib dan layanan urusan pilihan Fokus Layanan Urusan Wajib Pendidikan a. Pendidikan Dasar a1. Angka Partisipasi Sekolah APS pendidikan dasar adalah jumlah murid kelompok usia pendidikan dasar (7 12 tahun dan tahun) yang masih menempuh pendidikan dasar per jumlah penduduk usia pendidikan dasar. Tabel Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) No Jenjang Pendidikan SD/MI 1.1. jumlah murid usia 7-12 thn di SD Jumlah murid usia 7-12 thn di SMP Jumlah murid usia 7-12 total jumlah penduduk kelompok usia tahun 1.5 APS SD/MI 992,70 972,12 887,11 883,91 2 SMP/MTs 2.1. jumlah murid usia thn di SMP Jumlah murid usia 13-15thn di SD Jumlah murid usia 13-15thn di SLTA Jumlah murid murid usia total jumlah penduduk kelompok usia tahun APS SMP/MTs 959,74 805,34 819,32 781,55 Sumber :Dikdas, Dikmenof, dan BPS II -41 II -42

33 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah a2. Rasio Ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah Rasio ketersediaan sekolah adalah jumlah sekolah tingkat pendidikan dasar per jumlah penduduk usia sekolah dasar.peningkatan jumlah sarana sekolah dari Tahun menunjukkan bahwa sarana pendidikan dasar secara kuantitas telah cukup memadai. Tabel Ketersediaan Sekolah Tahun Kabupaten Bantul No Jenjang Pendidikan Jumlah gedung sekolah SD/MI Jumlah gedung sekolah SMP/MTs Sumber: Dikdas & Dikmenof Kabupaten Bantul,2013 Tabel Jumlah Guru dan Murid Jenjang Pendidikan DasarTahun 2008 sd 2012 Kabupaten Bantul NO Jenjang Pendidikan SD/MI 1.1. Jumlah Guru Jumlah Murid Rasio 12,9 13, ,7 2 SMP/MTs 2.1. Jumlah Guru Jumlah Murid Rasio 9,04 10,43 19,01 19,01 10,94 Sumber : Dikdas,Dikmenof NF,2013 Tabel Ketersediaan Sekolah dan Penduduk Usia Sekolah Tahun 2012 Menurut Kecamatan Kabupaten Bantul SD/MI SMP/MTs No Kecamatan jumlah jumlah jumlah jumlah gedung penduduk Rasio gedung penduduk Rasio sekolah usia 7-12 th sekolah usia th 1 Kec. Sewon Kec. Pandak Kec. Pundong Kec. Bantul Kec. Sanden Kec. Kretek , Kec. Sedayu Kec. Dlingo Kec. Jetis Kec. Pajangan Kec. Bambanglipuro Kec. Piyungan Kec. Srandakan Kec. Banguntapan Kec. Imogiri Kec. Kasihan Kec. Pleret Jumlah Sumber: Dinas Pendidikan Dasar & Dinas Pendidikan Non Formal Kabupaten Bantul,2013 a3. Rasio guru/murid Rasio guru terhadap murid adalah jumlah guru tingkat pendidikan dasar per1000 jumlah murid pendidikan dasar.rasio ini mengindikasikan ketersediaan tenaga pengajar per kelas.disamping itu juga untuk mengukur jumlah ideal murid untuk satu guru agar tercapai mutu pengajaran. b. Pendidikan Menengah b1. Angka Partisipasi Sekolah APS pendidikan menengah adalah jumlah murid kelompok usia pendidikan menengah (16 18 tahun)yang masih menempuh pendidikan menengah per jumlah penduduk usia pendidikan menengah. Tabel Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) No Jenjang Pendidikan SMA / MA / SMK 1.1. jumlah murid usia thn jumlah penduduk kelompok usia tahun 1.3. APS SMA / MA /SMK 62,95 66,79 48,80 55,21 55,99 Sumber : Tahun (2012) b2. Rasio Ketersediaan Sekolah terhadap penduduk usia sekolah Rasio ketersediaan sekolah adalah jumlah sekolah tingkat pendidikan menengah per jumlah penduduk usia sekolah menengah. Peningkatan jumlah sarana sekolah dari Tahun menunjukkan bahwa sarana pendidikan menengah secara kuantitas telah cukup memadai. Tabel Ketersediaan Sekolah Tahun Kabupaten Bantul Jenjang Pendidikan Jumlah gedung sekolah SMA/MA/SMK Sumber: Dikdas & Dikmenof Kabupaten Bantul,2013 II -43 II -44

34 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah No Kecamatan Tabel Ketersediaan Sekolah dan Penduduk Usia Sekolah Tahun 2012 Menurut Kecamatan Kabupaten Bantul jumlah gedung sekolah SD/MI SMP/MTs SMA Jum lah jumlah jumlah jumlah pendu jumlah pendu pendudu Rasio gedung duk Rasio gedung duk usia k usia sekolah usia sekolah 7-12 th th th 1 Kec. Sewon Kec. Pandak Kec. Pundong Kec. Bantul Kec. Sanden Kec. Kretek Kec. Sedayu Kec. Dlingo Kec. Jetis Kec. Pajangan Kec. Bambanglipuro Kec. Piyungan Kec. Srandakan Kec. Banguntapan Kec. Imogiri Kec. Kasihan Kec. Pleret Jumlah Sumber: Dinas Pendidikan Dasar & Dinas Pendidikan Non Formal Kabupaten Bantul,2013 b3. Rasio Guru Terhadap Murid Rasio guru terhadap murid adalah jumlah guru tingkat pendidikan menengah per1000 jumlah murid pendidikan menengah.rasio ini mengindikasikan ketersediaan tenaga pengajar per kelas. Di samping itu juga untuk mengukur jumlah ideal murid untuk satu guru agar tercapai mutu pengajaran. Tabel Jumlah Guru dan Murid Jenjang Pendidikan MenengahTahun 2008 sd 2012 Kabupaten Bantul Jenjang NO Pendidikan SMA/MA/SMK 1.1 Jumlah Guru Jumlah Murid Rasio Sumber : Dikdas,Dikmenof NF,2013 c. Fasilitas Pendidikan Sarana pendidikan yang tersedia di Kabupaten Bantul mulai dari pendidikan non formal (PAUD dan TK) sampai dengan perguruan tinggi baik yang dikelola oleh Rasio pemerintah maupun swasta, serta kursus kursus ketrampilan semakin berkembang. Salah satu data fasilitas pendidikan adalah jumlah sekolah, dimana jumlah sekolah terbanyak adalah jumlah TK swasta, yaitu 519 unit. Sedangkan jumlah sekolah paling sedikit adalah TK Negeri, yaitu 1 unit. Tabel Banyaknya sekolah Kabupaten Bantul NO JENIS SEKOLAH JUMLAH (UNIT) 1 TK Negeri 1 2 TK Swasta SD Negeri SD Swasta 74 5 SLTP Negeri 49 6 SLTP Swasta 38 7 SMU Negeri 19 8 SMU Swasta 16 9 SMK Negeri SMK Swasta 31 Jumlah Sumber : BPS Kab. Bantul, 2012 Dari semua fasilitas pendidikan tersebut kondisi bangunan dalam keadaan baik pada tahun 2012 mencapai 85,71% untuk SD/MI dan 91% untuk fasilitas pendidikan SMP/MTs maupun SMA/SMK/MA. d. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Data jumlah siswa jenjang TK/PAUD di Kabupaten Bantul tahun 2012 adalah sebanyak siswa. Sedangkan jumlah anak usia 0 6 tahun adalah sebanyak jiwa, sehingga angka partsisipasi kasar TK/PAUD mencapai 58,72 %. Jika dibanding dengan tahun 2011 nilai APK TK/PAUD sebesar 57,91, maka terjadi peningkatan sebesar 0,81%. e. Angka Putus Sekolah Angka Putus Sekolah untuk jenjang SD / MI pada tahun 2012 sekitar 0,04%. Untuk APS jenjang SMP / MTs pada tahun 2012 adalah 0,11%. Jika dibandingkan dengan nilai APS jenjang SMP/MTs pada tahun 2011 yaitu 0,12%, maka terjadi penurunan sebesar 0,10 % pada tahun Kemudian untuk Angka Putus Sekolah jejang SMA / SMK pada tahun 2012 adalah 0,75%. Jika dibandingkan dengan tahun 2011 angka APS sebesar 0,83%, maka terjadi penurunan sebesar 0,08% pada tahun II -45 II -46

35 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah f. Angka Kelulusan Angka Kelulusan untuk tingkat SD/MI pada tahun 2012 telah mencapai 99,99%, dengan kata lain hamper seluruh siswa SD/MI telah lulus sekolah. Kemudian untuk angka kelulusan jenjang SMP/MTs di Kabupaten Bantul, pada tahun 2012 mencapai 99,66%. Sedangkan untuk jenjang SMA/SMK, angka kelulusannya mencapai 99,84%. Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa pada Tahun 2012 rasio posyandu per 1000 balita sebesar 17,38 berarti dalam 1000 balita terdapat 17 posyandu. Hal ini dapat diartikan bahwa 1 posyandu melayani 57 balita. Rasio tersebut menunjukan bahwa dari segi kuantitas jumlah posyandu di Kabupaten Bantul sudah mencukupi. Sesuai dengan tingkat penyebarannya jumlah posyandu hampir merata di 17 kecamatan. g. Angka Melanjutkan Angka melanjutkan menunjukkan tingkat siswa yang melanjutkan ke jenjang selanjutnya.angka melanjutkan dari SD/MI ke SMP pada tahun 2012 mencapai 106%. Dibandingkan dengan tahun 2010 terjadi peningkatan dmana sedangkan angka melanjutkan dari SMP/MTs ke SMA/SMK/MA mencapai 97%. h. Guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV Jumlah guru SD yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV berturut-berturut dari tahun adalah 65,05persen; 67,56persen dan 68,79persen.Untuk jenjang SMP jumlah guru yang memenuhi kualifikasi S-1/D-IV dberturut-turut dari tahun adalah 74,37persen; 76,07 persen dan 84,12persen. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi kenaikan peningkatan kualitas guru baik SD maupun SMP dari tahun ke tahun Kesehatan a. Rasio pos pelayanan terpadu (posyandu) per satuan balita Posyandu merupakan wadah peranserta masyarakat untuk menyampaikan dan memperoleh pelayanan kesehatan dasarnya, maka diharapkan pula strategi operasional pemeliharaan dan perawatan kesejahteraan ibu dan anak secara dinidapat dilakukan di setiap posyandu.pembentukan Posyandu sebaiknya tidak terlalu dekat dengan Puskesmas agar pendekatan pelayanan kesehatan terhadap Tabel Jumlah Posyandu dan Balita per Kecamatan Tahun 2012 Kabupaten Bantul Tahun 2011 Tahun Rasio Rasio Jumla posyan posyandu Jumla (/jumlah Jumlah (/jumlah No Kecamatan h du Jumlah melayani x h posyandu posyan posyandu posya melaya balita balita balita / jumlah du / jumlah ndu ni x balita) balita) balita 1 Sewon ,48 64,61 2 Pandak ,74 67,82 3 Pundong ,40 42,73 4 Bantul ,82 72,34 5 Sanden ,10 35,59 6 Kretek ,76 42,09 7 Sedayu ,23 52,00 8 Dlingo ,97 41,73 9 Jetis ,65 56,67 10 Pajangan ,12 41,47 11 Bambanglipuro ,25 57,98 12 Piyungan ,27 49,32 13 Srandakan ,75 48,18 14 Banguntapan ,49 74,10 15 Imogiri ,55 53,90 16 Kasihan ,98 91,07 17 Pleret ,67 56,60 Jumlah ,38 57,54 Sumber: Dinas Kesehatan,2013 masyarakat lebih tercapai dan idealnya satu Posyandu melayani 100 balita (Permendagri 54 Tahun 2010). b. Rasio Puskesmas, Poliklinik dan Puskesmas Pembantu (Pustu) Sarana kesehatan milik Pemerintah di Kabupaten Bantul Tahun 2012 meliputi Tabel Jumlah Posyandu dan BalitaTahun Kabupaten Bantul Puskesmas sebanyak 27 unit, Puskesmas Pembantu sebanyak 67 unit, 70 unit poliklinik dan 1 Rumah Sakit Umum Daerah, yaitu Rumah Sakit Umum Panembahan NO Uraian Jumlah posyandu Jumlah balita Rasio (per 1000 balita) 18,83 19,26 17,73 15,12 17,38 Sumber : Dinkes 2013 Senopati Bantul.Adapun persebaran puskesmas, poliklinik dan pustu di masingmasing kecamatan yang ada di Kabupaten Bantul dapat dilihat pada table berikut : II -47 II -48

36 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Tabel Jumlah Puskesmas, Poliklinik dan Pustu Kabupaten Bantul sehingga meminimalisir terjadinya kesalahan dalam pelayanan yang dapat berakibat fatal Regulasi tersebut antara lain dengan menerbitkan aturan bahwa setiap tenaga No Uraian Jumlah Puskesmas Jumlah Poliklinik Jumlah Pustu Jumlah Penduduk Rasio Puskesmas per satuan penduduk 0,029 0,029 6 Rasio Poliklinik per satuan penduduk 0,076 0,075 7 Rasio Pust per satuan penduduk 0,073 0,072 Sumber : Dinkes,2013 yang bekerja di sektor kesehatan (dokter, dokter gigi, perawat, bidan, apoteker, nutrisionis, analis, radiographer, fisioterapis dan sanitarian) wajib memiliki Surat Ijin sebelum melakukan pekerjaan sesuai kompetensinya. d. Rasio Dokter Per Satuan Penduduk Indikator rasio dokter per jumlah penduduk menunjukkan tingkat pelayanan yang c. Ketersediaan fasilitas kesehatan Hasil Fasilitas Pelayanan Kesehatan dapat diketahui dengan semakin meningkatnya kuantitas dan kualitas fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah seperti Rumah Sakit Umum, Rumah Sakit Khusus (KIA, Bedah), Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Sarana Puskesmas Keliling, Balai Pengobatan dan Balai Pengobatan-Rumah Bersalin. Selain fasilitas pelayanan kesehatan milik pemerintah, fasilitas pelayanan kesehatan milik swasta juga mengalami perkembangan yang cukup pesat pada Tahun dapat diberikan oleh dokter dibandingkan jumlah penduduk yang ada. Dikaitkan dengan standar sistem pelayanan kesehatan terpadu, idealnya satu orang dokter melayani penduduk.rasio ketersediaan tenaga dokter umum di Kabupaten Bantul telah meningkat dari 0,11 menjadi 0,12 pada tahun Rasio ini menunjukkan jumlah dokter yang tersedia per penduduk. Sedangkan untuk rasio dokter spesialis meningkat dari 0,043 pada tahun 2011, menjadi 0,048 pada tahun Tabel Jumlah Dokter Kabupaten Bantul Tahun Tabel Jumlah Fasilitas Pelayanan Kesehatan di Kabupaten Bantul Tahun No Fasilitas Pelayanan Kesehatan Umum (unit) (unit) (unit) (unit) 1 Rumah Sakit Umum Rumah Sakit Bersalin Rumah Sakit Khusus (Bedah) KIA) Balai Pengobatan Rumah Bersalin Apotek Klinik Rawat Inap Pelayanan Medik Dasar Toko Obat Industri Peracik Batra Laboratorium Optik Posyandu Puskesmas Rawat Inap Puskesmas Non Rawat Inap Puskesmas Pembantu Puskesmas Keliling Sumber:Dinas Kesehatan, 2013 Keberadaan fasilitas pelayanan kesehatan yang semakin banyak sudah pasti diikuti dengan semakin banyak pula tenaga kerja di sektor kesehatan. Kondisi ini perlu diantisipasi dengan regulasi agar tenaga kerja benar-benar kompetendibidangnya, No Uraian Jumlah Dokter Umum Jumlah Dokter Spesialis Jumlah Penduduk Rasio Dokter Umum 0,11 0,12 5 Rasio Dokter Spesialis 0,043 0,048 Sumber : Dinkes, 2013 e. Ketersediaan tenaga kesehatan Fasilitas pelayanan kesehatan yang semakin meningkat juga diikuti dengan bertambahnya jumlah tenaga kesehatan. Jumlah tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan pemerintah disajikan pada tabel berikut: Tabel Jumlah Tenaga Kesehatan di Fasilitas Kesehatan Pemerintah Tahun No Jenis Tenaga Dokter Spesialis Dokter Umum Dokter Gigi Spesialis Dokter Gigi Perawat Perawat Gigi Bidan Kefarmasian II -49 II -50

37 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah No Jenis Tenaga Kesehatan Masyarakat Sanitarian Gizi Keterapian Fisik Teknis Medis Tenaga Non Kesehatan Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, 2013 pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2011 : Tabel Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan yang Memiliki Kompetensi Kebidanan Tahun f. Cakupan Komplikasi Kebidanan yang Ditangani Data cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani dari tahun 2009 sampai tahun 2011 menunjukkan tren kenaikan di Kabupaten Bantul. Komplikasi kebidanan yang tidak ditangani akan menyebabkan resiko kematian ibu, yang berdampak pada Angka Kematian Ibu (AKI). Tabel berikut menunjukkan jumlah ibu hamil resiko tinggi yang ditangani di Kabupaten Bantul. Tahun Jumlah Ibu Bersalin Jumlah Ibu Bersalin Ditolong Tenaga kesehatan Cakupan Persalinan Oleh Tenaga kesehatan yang berkompetensi kebidanan , , , ,99 Sumber : Profil Dinas Kesehatan Tabel Jumlah dan Persentase Komplikasi Kebidanan yang ditangani Tahun h. Cakupan Desa/ Kelurahan Universal Child Immunization (UCI) UCI (Universal Child Immunization) adalah tercapainya imunisasi dasar secara Tahun Bumil Risti/ Komplikasi Bumil Risti/ Komplikasi ditangani Cakupan Bumil Risti/ Komplikasi yang ditangani (%) , , ,7 Sumber : Profil Dinas Kesehatan lengkap pada bayi (0-11 bulan), Ibu hamil, WUS dan anak sekolah tingkat dasar. Imunisasi dasar lengkap pada bayi meliputi: 1 dosis BCG, 3 dosis DPT, 4 dosis Polio, 4 dosis Hepatitis B, 1 dosis Campak. Ibu hamil dan WUS meliputi 2 dosis TT. Anak sekolah tingkat dasar meliputi 1 dosis DT, 1 dosis campak, dan 2 dosis TT. Data menunjukan peningkatan cakupan desa/kelurahan Universal Child ImmunizationKabupaten Bantul mencapai angka 100. Hal ini berarti tujuan Universal Child Immunization sudah tercapai sempurna di Kabupaten Bantul. Tabel berikut g. Cakupan Pertolongan Persalinan dan Tenaga Kesehatan yang Memiliki Kompetensi Kebidanan Cakupan pertolongan oleh tenaga kesehatan yang memiliki komptensi kebidanan menggambarkan cakupan desa/kelurahan Universal Child Immunization (UCI). Pencapaian program imunisasi lengkap di Kabupaten Bantul tahun 2011 menurun bila dibandingkan tahun sebelumnya. mengalami peningkatan dari tahun 2009 sampai dengan tahun Pada tahun 2009 cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki Tabel Cakupan Desa / Kelurahan Universal Child Immunization (UCI) kompetensi kebidanan sebesar 94,42 % meningkat pada tahun 2011 menjadi 99,87%, dan sudah di atas target 95%. Hal ini menunjukkan bahwa hampir semua persalinan di Kabupaten Bantul ditolong oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan. Beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain akses terhadap sarana dan pelayanan kesehatan khususnya pertolongan persalinan Tahun Jumlah Desa/Kel Desa/Kel UCI % Desa/Kel UCI Sumber : Profil Dinas Kesehatan semakin mudah dan peningkatan kesadaran masyarakat untuk melakukan persalinan dengan ditolong oleh tenaga kesehatan. Tabel berikut menunjukkan cakupan i. Cakupan Balita Gizi Buruk mendapat perawatan Gambaran status gizi masyarakat di Kabupaten Bantul pada tahun 2012 adalah masih adanya KEP total Balita sebesar 7,54%. Angka KEP tersebut mengalami penurunan II -51 II -52

38 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah dibandingkan dengan tahun 2011 sebesar 11,31% dan sudah berada di bawah target ditangani oleh pelayanan kesehatan yang ada di Kabupaten Bantul. Pada tahun 2012 Nasional pada tahun 2015 sebesar 15%. Pada tahun 2012 prevalensi balita gizi buruk dilaporkan tidak ada kematian akibat DBD (0%). di Kabupaten Bantul adalah 0,32%, prevalensi tersebut mengalami penurunan jika dibandingkan dengan 2011 yaitu 0,42%. Dari tahun 2009 hingga 2011, situasi gizi buruk mengalami penurunan secara signifikan. Di Kabupaten Bantul, prevalensi gizi buruk ini sudah sesuai harapan yaitu <1%. Dari segi pelayanan, cakupan Balita gizi buruk yang mendapat perawatan mencapai 100%, artinya sebanyak 215 balita yang mengalami gizi buruk tahun 2012 semuanya mendapatkan perawatan. l. Cakupan Pelayanan Kesehatan Rujukan Pasien Masyarakat Miskin Cakupan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Miskin sudah mencakup seluruh (100%) masyarakat miskin yang terdaftar di Kabupaten Bantul sebagai peserta Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh masyarakat miskinkabupaten Bantul di Strata 1 pada tahun 2012 dilaporkan sebanyak 105,6%, meningkat dibandingkan tahun 2011 sebanyak 101,4%. Untuk pelayanan kesehatan rawat jalan di Strata 2 dan Strata 3 sebesar 18,94% pada tahun 2012, angka ini di Untuk pelayanan rawat inap 0,5 % di Strata 1 dan 3,5 % di Strata 2 j. Cakupan Penemuan dan Penanganan penderita Penyakit TBC BTA dan Strata 3. Anak usia 6-23 bulan dari keluarga miskin yaitu sebanyak anak, Penemuan kasus TB Paru TBA positif pada tahun 2012 sebesar 51,02%, mengalami 100% sudah mendapatkan Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI). peningkatan dibandingkan tahun 2011 sebesar 46,02%. Jumlah kematian akibat TB paru dilaporkan sebesar 3 per penduduk (28 orang). Adapun angka kesuksesan (Success Rate) terdiri dari angka kesembuhan dan pengobatan lengkap TB paru. Angka kesuksesan pada tahun 2012 dilaporkan sebesar 89% dan angka kesembuhan (cure rate) pada tahun 2012 dilaporkan sebesar 86,12%.Angka kesembuhan pengobatan TB di Kabupaten Bantul pada Tahun terus mengalami pening dari tahun 2008 sebesar 84,13% menjadi 86,12% pada tahun 2012 m. Cakupan Kunjungan Bayi Kunjungan Bayi minimal 4 kali di Kabupaten Bantul tahun 2012 dilaporkan sebesar 84%, angka ini menurun dibandingkan tahun 2011 yang dilaporkan sebesar 86,1%. Bayi yang lahir di Kabupaten Bantul tahun 2012 dilaporkan 100% ditimbang, hasilnya adalah bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) sejumlah 4 %. Bayi dengan BBLR tersebut semuanya sudah ditangani. Kunjungan Neonatus (KN) di Kabupaten Bantul pada tahun 2012 berdasarkan laporan adalah sebagai berikut, KN KESEMBUHAN TB (%) sebesar 99,21 %, KN 3/KN lengkap sebesar 92,85%. Cakupan tersebut mengalami penurunan pada tahun 2011 yang berdasarkan laporan adalah sebagai berikut, KN 1 sebesar 99,3 %, KN 3/KN lengkap sebesar 93,4 %. Jumlah neonatal resiko tinggi pada tahun 2012 sebanyak bayi dan yang ditangani sebesar 74,2 % (1.494 bayi). n. Cakupan Puskesmas Jangkauan atau akses pelayanan kesehatan khususnya Puskesmas telah menjangkau seluruh wilayah di Kabupaten Bantul dan mencapai lebih dari 100%, hal ini menunjukkan di setiap kecamatan sudah memiliki puskesmas. Adapun cakupan Angka Kesembuhan TBC Target MDGs puskesmas di Kabupaten Bantul pada tahun 2012 adalah 158,82%, dengan jumlah Gambar Angka Kesembuhan TB di Kabupaten Bantul Tahun puskesmas 27 unit pada 17 kecamatan. o. Cakupan Pembantu Puskesmas k. Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderita Penyakit DBD Pada tahun 2012, jumlah kasus DBD 277 kasus (IR 30,1), jumlah ini meningkat bila dibandingkan pada tahun 2011 yaitu 247 kasus DBD (IR 0,27%). Laporan tatalaksana penanganan penderita DBD di Kabupaten Bantul bahwa 100% penderita sudah Cakupan puskesmas pembantu di Kabupaten Bantul pada tahun 2011 adalah 90,67%. Angka ini menunjukaan sudah hampir seluruh kelurahan atau desa di Kabupaten Bantul memiliki puskesmas pembantu. Adapun cakupan puskesmas pembantu di Kabupaten Bantul adalah 89,3% dengan jumlah Pustu 67 unit pada 75 Desa / Kelurahan. II -53 II -54

39 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Pekerjaan Umum provinsi yang berada di wilayah Kabupaten Bantul antara lain Jalan Palbapang- Urusan Pekerjaan Umum dilaksanakan untuk menyediakan dan memenuhi pelayanan Samas, Jalan Sedayu-Pandak, dan lainnya. yang mendasar dan mutlak yang dibutuhkan oleh masyarakat dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan pemerintahan seperti sumberdaya air, jalan, air minum, dan sanitasi lingkungan (air limbah, drainase, dan persampahan) yang berhak diperoleh setiap warga secara minimal. b. Rasio Jaringan Irigasi Pemenuhan air irigasi pada lahan daerah irigasi meningkat pada tahun 2012 dengan target 80% (13.229,10 ha) dapat tercapai 84% (13.551,76 ha), melebihi 2% dari target. Data series pemenuhan air irigasi meningkat selama lima tahun terakhir. a. Proporsi panjang jaringan Jalan dalam Kondisi Baik Panjang jaringan jalan tahun 2012 beraspal dengan kondisi baik sepanjang km.namun demikian masih terdapat ruas-ruas jalan kabupaten dengan kondisi sedang, rusak, ataupun rusak berat dimana proporsinya menurun dari tahun ke tahun. Panjang jaringan jalan berdasarkan kondisi di Kabupaten Bantul ditunjukkan pada tabel berikut: Tabel Panjang Jaringan Jalan Berdasarkan Kondisi Tahun 2008 s/d 2012 Kabupaten Bantul Tabel Target dan Capaian DI yang Terlayani Air Irigasi Tahun Tahun Luas lahan yang terairi irigasi Rencana (Ha) % (Ha) % , , , , ,92 77, , , , , ,76 84 Sumber: Dinas SDA, NO Kondisi Jalan Panjang Jalan (km) Kondisi Baik 328,61 365,56 386,25 407, Kondisi Sedang 316,87 295,07 285,58 285, Kondisi Rusak 209,65 195,20 180,90 159, Kondisi Rusak Berat 44,70 44,00 43,00 43, Jalan Kabupaten 899,83 899,83 895,73 895, Jalan Propinsi 146,00 146,00 136,05 136, Jalan Nasional 42,24 42,24 30,58 30, Jumlah Jalan secara keseluruhan 1088, , , , Sumber : DPU, 2013 Jalan sebagai bagian prasarana transportasi mempunyai peran penting dalam bidang ekonomi, budaya, lingkungan hidup, politik, pertahanan dan keamanan. Jalan sebagai prasarana distribusi barang dan jasa merupakan urat nadi kehidupan masyarakat, bangsa, dan Negara. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang jalan, maka jalan dikelompokkan menurut fungsi, status, dan kelas. Berdasarkan statusnya, jalan yang ada di Kabupaten Bantul terdiri dari jalan nasional, Pada tahun 2012, kondisi jaringan irigasi primer dan sekunder yang berfungsi baik tercapai 85,5% ( ,97 m) dari target 82,5% ( ,68 m) atau melebihi dari target sebesar 3%. Pelaksanaan pola dan tata tanam berjalan dengan baik, dan tidak ada kekurangan air yang tidak terselesaikan. Secara series data kondisi saluran selalu meningkat. Tabel Target dan Capaian Saluran Irigasi dalam Kondisi Baik Tahun Tahun Target dan Capaian Target*) (m) % Capaian (m) % , , , , , ,53 82, ,25 81, , ,68 82, ,97 85,5 Sumber: Dinas SDA, 2013 Catatan: Panjang total saluran primer-sekunder kewenangan pemerintah adalah ,91 m. jalan provinsi, jalan kabupaten, dan jalan desa. Total panjang jalan di Kabupaten Bantul pada Tahun 2012 lebih kurang km. Di Kabupaten Bantul terdapat 11 c. Rasio Tempat Ibadah per Satuan Penduduk ruas jalan yang berstatus sebagai jalan provinsi. Kondisi jalan provinsi di Kabupaten Sarana tempat ibadah di Kabupaten Bantul meliputi: Masjid, Gereja, dan Pura. Rasio Bantul hampir seluruhnya dalam kondisi mantap, sehingga sangat mendukung tempat ibadah per satuan penduduk di Kabupaten Bantul Tahun 2011 dan 2012 peningkatan perekonomian dan akses hubungan antar wilayah. Adapun jalan disajikan dalam tabel berikut: II -55 II -56

40 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Tabel Rasio Tempat Ibadah Tahun Kabupaten Bantul Bangunan NO tempat Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Ibadah Rasio Rasio (unit) pemeluk (unit) pemeluk (unit) pemeluk Rasio 1 Masjid :493 1, ,850 1:493 1, ; Gereja : ,999 1: ,177 1 ; Pura : : ; Vihara Lain-Lain Sumber: Kementerian Agama Kab Bantul, 2013 Mayoritas penduduk Bantul beragama Islam, karena itu persebaran tempat ibadah Masjid di masing-masing kecamatan hampir merata. Tempat ibadah gereja juga tersebar di masing-masing kecamatan. d. Persentase Rumah Tinggal Bersanitasi Rumah tinggal berakses sanitasi sekurang-kurangnya mempunyai akses untuk memperoleh layanan sanitasi yaitu fasilitas air bersih, air limbah domestik, drainase, dan persampahan. Untuk mengatasi permasalahan di sektor sanitasi, pemerintah Kabupaten Bantul pada tahun 2010 ikut serta dalam Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP), melakukan penilaian risiko kesehatan lingkungan (Environmental Health Risk Assessment/EHRA), menyusun Buku Putih Sanitasi, menyusun dokumen Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK)pada tahun 2011, dan menyusun Memorandum Sektor Sanitasi (MPSS) tahun Tabel Persentase Rumah Tinggal Bersanitasi Tahun Kabupaten Bantul NO URAIAN Jumlah rumah tinggal berakses sanitasi Jumlah rumah tinggal 213, Persentase Sumber: Dinkes 2012 e. Rasio Tempat Pemakaman Umum per Satuan Penduduk Seiring berkembangnya iklim investasi di Kabupaten Bantul khususnya di bidang perumahan, muncul permasalahan baru salah satunya penyediaan fasilitas permakaman bagi warga perumahan. Untuk mengatasi hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Bantul membangun tempat pemakaman umum (TPU) di Desa Wukirsari Kecamatan Imogiri yang dikelola oleh pemerintah daerah diperuntukkan bagi masyarakat umum diantaranya warga perumahan yang ada di Kabupaten Bantul. No Tabel Tempat Pemakaman Umum Per Satuan Penduduk Menurut Kecamatan Tahun 2012 Kabupaten Bantul Kecamatan Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jmh Luas (m²) Jmh Tempat Pemakaman Bukan Umum (TPBU) Luas (m²) Tempat Pemakaman Khusus (TPK) Jmh Luas (m²) Lain-lain Jmh Luas (m²) Jumlah Total Tempat Pemaka man Luas (m²) 1 Kec Sewon Kec Pandak Kec Pundong Kec Bantul Kec Sanden Kec Kretek Kec Sedayu Kec Dlingo Kec Jetis Kec Pajangan Kec Bambang lipuro 12 Kec Piyungan Kec Srandakan Kec Banguntapa n 15 Kec Imogiri Kec Kasihan Kec Pleret Jumlah Sumber : Kecamatan f. Rasio Tempat Pembuangan Sampah (TPS) per Satuan Penduduk Jumlah TPS di Kabupaten Bantul pada tahun 2012 sebanyak 124 unit yang tersebar di 16 Kecamatan, sedangkan jumlah penduduk pada tahun 2012 sebanyak jiwa. Rasio jumlah TPS per satuan penduduk pada tahun 2012 adalah 1 : Tabel Rasio TPS per Satuan Penduduk Tahun Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012 Jumlah TPS Jumlah penduduk (jiwa) Rasio 1 : : : Sumber: DPU 2013 II -57 II -58

41 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah g. Rasio Rumah Layak Huni Pada tahun 2012, jumlah penduduk miskin di Kabupaten Bantul sebanyak KK. Tingginya tingkat kemiskinan berkaitan erat dengan ketidakmampuan masyarakat untuk memiliki rumah layak huni. Disamping itu, banyak satu rumah ditempati oleh lebih dari satu kepala keluarga. Rasio rumah layak huni terhadap jumlah penduduk di Kabupaten Bantul dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel Rasio Rumah Layak Huni Tahun Tahun 2011 Tahun 2012 Jumlah rumah layak huni (rumah) Jumlah penduduk (jiwa) Rasio 0,2087 0,2143 Sumber: Bappeda 2012 Tabel Data Banjir Genangan Akibat Curah Hujan Tinggi tahun No. Tahun Potensi Banjir Genangan akibat curah hujan tinggi (Ha) , , , ,40 Sumber: Dinas SDA j. Luas Irigasi Kabupaten dalam Kondisi Baik Berdasarkan data bulan Desember 2012 di Kabupaten Bantul terdapat 159 Daerah Irigasi (DI) dengan luas oncoran sebesar ,05 hektar, terdiri dari irigasi teknis pada sembilan DI dengan luas oncoran 4.979,32 hektar, irigasi semi teknis pada 98 DI dengan luas oncoran 9.159,75 hektar, dan irigasi sederhana pada 52 DI dengan luas h. Rasio Permukiman Layak Huni oncoran 1.993,98 hektar. Sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas kawasan perumahan dan permukiman sederhana sehat, Pemerintah Kabupaten Bantul telah menempuh berbagai upaya antara lain pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) dan bantuan stimulan pembangunan sarana prasarana lingkungan seperti jalan lingkungan, drainase dan jembatan. Rusunawa telah dibangun di Kawasan Perkotaan Yogyakarta (KPY) di wilayah Kecamatan Sewon, Kecamatan Kasihan, dan Kecamatan Banguntapan. Pada tahun 2009 telah dibangun Rusunawa Panggungharjo sebanyak 2 Twin Blok (TB) atau 198 unit, pada tahun 2011 di Dusun Tambak, Desa Ngestiharjo, Kecamatan Kasihan, sebanyak satu TB atau 98 unit, dan pada tahun 2012 di Dusun Pringgolayan, Desa Banguntapan, Kecamatan Banguntapan sebanyak dua TB atau 198 unit Perumahan a. Rumah Tangga Pengguna Air Bersih Penyediaan Pengelolaan Air Bersih dilaksanakan Dinas PU bekerjasama dengan PDAM Kabupaten Bantul. Dalam rangka penanganan di lokasi rawan kekeringan dan belum terjangkau jaringan PDAM, selama lima tahun terakhir telah dibangun Hidran Umum (HU), pembangunan Sistem Instalasi Perpipaan Air Sederhana (SIPAS). Selain itu, untuk mendukung kawasan siap bangun/lingkungan siap bangun (Kasiba/Lisiba) Bantul Kota Mandiri dibangun sistem pengolahan air minum (SPAM) di IKK Pajangan.Proporsi jumlah penduduk yang mendapat air bersih disajikan pada tabel berikut: Tabel Persentase Penduduk Berakses Air Bersih dikabupaten Bantul i. Drainase dalam Kondisi baik / Pembuangan aliran air tidak tersumbat Drainase merupakan pembuangan air permukaan baik secara gravitasi maupun dengan pompa dengan tujuan untuk mencegah terjadinya genangan, menjaga dan menurunkan permukaan air sehingga genangan air dapat dihindarkan. Kondisi NO URAIAN Jumlah penduduk yang mendapatkan akses air bersih 2 Jumlah penduduk Persentase penduduk berakses air bersih (%) 74,19 75, Sumber : DPU,2012 sistem drainase di Kabupaten Bantul masih merupakan drainase gabungan dimana pembuangan air limbah dan air hujan serta air kotor disalurkan dalam satu saluran. b. Rumah Tangga Pengguna Listrik Sebagian besar sistem drainase yang ada merupakan sistem drainase terbuka. Berdasarkan data berbasis dusun, semua dusun (933 dusun) telah terlayani listrik. Namun, belum seluruh rumah dalam satu dusun terjangkau oleh pelayanan listrik, hal ini disebabkan oleh letak geografis rumah tersebut jauh dari jaringan listrik. Disamping itu, perhitungan berdasarkan jumlah kepala keluarga II -59 II -60

42 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah (KK)belummencerminkan jangkauan pelayanan listrik, hal ini dikarenakan dalam d. Rumah Layak Huni satu rumah/pelanggan bisa dihuni oleh lebih dari satu KK. Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan Tabel Jumlah KK Yang Belum Berlistrik Tahun 2012 NO. KECAMATAN JUMLAH KK YANG BELUM BERLISTRIK 1. Srandakan - 2. Sanden Kretek Pundong Bambanglipuro Pandak Bantul - 8. Jetis Imogiri Dlingo Pleret Piyungan Banguntapan Sewon Kasihan Pajangan Sedayu 14 Total Sumber : Dinas SDA 2012 mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat, yang merupakan kebutuhan dasar manusia. Pemerintahberperan dalam menyediakan dan memberikankemudahan dan bantuan perumahan bagi masyarakat untuk dapat menempati rumah layak huni. Jumlah rumah tidak layak huni dengan kriteria rumah berlantai tanah, berdinding bambu atau beratap rumbia, pada tahun 2012 berjumlah rumah turun dibanding pada tahun 2011 sebanyak rumah. Penurunan ini diantaranya dikarenakan Pemerintah Kabupaten Bantul mendapatkan Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) sejak tahun 2008 dari Kementerian Perumahan Rakyat, stimulan bantuan material dan dana tukang dari APBD DIY, serta stimulan partisipasi masyarakat dari APBD kabupaten. Tabel Jumlah Rumah Layak Huni Tahun Tahun 2011 Tahun 2012 Jumlah rumah layak huni (unit) Jumlah rumah (unit) 213, Persentase Sumber: Bappeda 2012 Tabel Banyaknya Pelanggan Listrik dan Daya Terpasang di Kabupaten Bantul Tahun Penataan Ruang NO URAIAN Banyaknya pelanggan Daya terpasang (VA) Sumber : PLN, Penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatanruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang. Permasalahan penataan ruang di Kabupaten Bantul saat ini adalah meningkatnya alih fungsi lahan. Hal ini dikarenakan Kabupaten Bantul merupakan bagian pengembangan Kawasan c. Lingkungan Pemukiman Kumuh Kebutuhan rumah yang terus meningkat tiap tahun khususnya di wilayah perkotaan yang jumlah penduduknya relatif banyak dan padat, sempitnya lahan dan mahalnya harga tanah di di wilayah perkotaan mendorong munculnya permukiman kumuh. Permukiman kumuh di Kabupaten Bantul teridentifikasi berada di Kawasan kumuh tepi sungai yaitu di Desa Jagalan, Desa Potorono Kecamatan Banguntapan, dan Desa Perkotaan Yogyakarta (KPY) yang mendorong masuknya kegiatan investasi di berbagai sektor. Perencanaan tata ruang adalah suatu proses untuk menentukan struktur ruang dan pola ruang yang meliputi penyusunan dan penetapan rencana tata ruang. Produk perencanaan tata ruang yang telah dimiliki Kabupaten Bantul sampai dengan tahun 2012 dapat dilihat pada tabel Pendowoharjo Kecamatan Sewon; Kawasan kumuh sekitar pusat kegiatan yaitu di Desa Bantul Kecamatan Bantul, Desa Tirtonirmolo Kecamatan Kasihan, dan Desa Singosaren Kecamatan Banguntapan; serta Kawasan kumuh pinggiran kota yaitu di Desa Ringinharjo dan Desa Trirenggo Kecamatan Bantul. Meskipun dokumen RDTR seluruh kecamatan telah disusun, namun sesuai Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 20 tahun 2011 tentang pedoman penyusunan RDTR dan peraturan zonasi, RDTR harus disertai dengan peraturan zonasi dan peta skala 1:5000, sedangkan RDTR yang telah disusun belum dilengkapi peraturan zonasi dan II -61 II -62

43 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah peta yang dibuat masih skala 1: sehingga perlu dilakukan review RDTR. Hal ini (taman kota, hutan kota, jalur hijau jalan, sempadan rel kereta api, Jalur hijau jaringan dikarenakan hampir seluruh dokumen RDTR disusun sebelum terbitnya PermenPU listrik tegangan tinggi, sempadan sungai, sempadan pantai, pengamanan sumber air tersebut. baku/mata air, dan Pemakaman) dan RTH privat (pekarangan rumah tinggal; halaman perkantoran, pertokoan, dan tempat usaha; taman atap bangunan). Rasio Tabel Produk Perencanaan Tata Ruang RTH per satuan luas wilayah di wilayah Perkotaan (Kecamatan Kasihan, Banguntapan, Sewon, Bantul, Pajangan, Piyungan, dan Pleret) di Kabupaten Bantul NO PRODUK PERENCANAAN TATA RUANG 1. Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun Kabupaten Bantul tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bantul Tahun Peraturan Daerah No. 5 Tahun 2011 tentang Bangunan Gedung 3. Peraturan Daerah No. 33 Tahun 2008 tentang Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kecamatan Sewon 4. Peraturan Bupati Bantul Nomor 34 Tahun 2011 tentang Izin Mendirikan Bangunan 5. Peraturan Bupati Bantul Nomor 35 Tahun 2011 tentang Garis Sempadan 6. Peraturan Bupati Bantul Nomor 36 Tahun 2011 tentang Pedoman Pembangunan Perumahan di Kabupaten Bantul 7. Peraturan Bupati Bantul Nomor 37 Tahun 2011 tentang Pengaturan Bangunan Bukan Gedung 8. Dokumen Rencana Detail Tata Ruang (RDTR), 17 Kecamatan 9. Dokumen Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kawasan Paseban Bantul 10. Dokumen Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kawasan Strategis Gabusan-Manding-Tembi (GMT) 11. Dokumen Rencana Tindak Kawasan GMT 12. Studi Rencana Pengembangan dan Pembangunan Perumahan dan Kawasan Permukiman (RP3KP) 13. DED Kawasan Paseban Bantul 14. DED Kawasan Pantai Kuwaru 15. DED Kawasan Kotagede Sumber : Bappeda Bantul, 2013 tahun 2012 adalah 26,98%. b. Rasio Bangunan ber-imb per Satuan Bangunan Izin mendirikan bangunan gedung adalah perizinan yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Bantul kepada pemilik bangunan gedung untuk membangun baru, mengubah, memperluas, mengurangi, dan/atau merawat bangunan gedung sesuai dengan persyaratan administratif dan persyaratan teknis yang berlaku.bangunan gedung adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya, sebagian atau seluruhnya berada diatas dan/atau di dalam tanah dan/atau air, yang berfungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya, baik untuk hunian atau tempat tinggal, kegiatan keagamaan, kegiatan usaha, kegiatan sosial, budaya, maupun kegiatan khusus. Di Kabupaten Bantul, jumlah bangunan ber-imb dari Tahun 2009 sampai Tahun 2011 berturut-turut adalah 50000, 26015, dan Jumlah IMB dari tahun 2009 sampai Tahun 2011 cenderung mengalami penurunan, hal ini terkait dengan telah selesainya proses rekonstruksi gempa. Dalam rangka menserasikan dan mensinergikan penataan ruang daerah serta menindaklanjuti Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 50 tahun 2009 tentang Pedoman Koordinasi Penataan Ruang Daerah, maka Bupati Bantul melalui Surat Keputusan Bupati Bantul No. 106 A Tahun 2012 tentang Perubahan atas Surat Keputusan Bupati Bantul No. 101 E Tahun 2011 telah membentuk Badan Koordinasi (BKPRD), Sekretariat, dan Kelompok Kerja Penataan Ruang Daerah Kabupaten Bantul. BKPRD Kabupaten Bantul rutin melakukan koordinasi dalam rangka penanganan dan penyelesaian permasalahan pemanfaatan ruang Perencanaan Pembangunan a. Tersedianya dokumen perencanaan RPJPD yang telah ditetapkan dengan PERDA RPJPD Kabupaten Bantul telah ditetapkan Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 12 Tahun 2010 (Perubahan Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 14 Tahun 2005 tentang RPJPD Kabupaten Bantul Tahun ). b. Tersedianya dokumen perencanaan yang telah ditetapkan a. Rasio Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas ber HPL/HGB dengan PERDA/PERKADA Ruang Terbuka Hijau adalah area memanjang/jalur dan atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh Dokumen telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 1 Tahun 2012 tentang Kabupaten Bantul Tahun tanaman secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. RTH terdiri dari RTH publik II -63 II -64

44 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah c. Tersedianya dokumen perencanaan RKPD yang telah ditetapkan Upaya yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan ini antara lain : dengan PERKADA 1. Manajemen penataan dan pemerataan trayek angkutan umum pada pusat-pusat Dokumen RKPD telah ditetapkan dengan Peraturan Bupati Kabupaten Bantul Nomor 32 Tahun 2013 tentang RKPD Kabupaten Bantul Tahun d. Penjabaran ke dalam RKPD kegiatan yang belum tersentuh oleh angkutan umum. 2. Melaksanakan sosialisasi/penyuluhan kepada masyarakat agar senantiasa memilih menggunakan kendaraan umum daripada kendaraan pribadi 3. Melaksanakan sosialisasi/penyuluhan kepada penyelenggara angkutan umum Adalah rasio jumlah program RKPD tahun berkenan, dengan jumlah program baik pengusaha angkutan maupun awak angkutan umum agar senantiasa yang harus dilaksanakan tahun berkenaan. meningkatkan pelayanannya Perhubungan a. Jumlah Arus Penumpang Angkutan Umum Tabel Jumlah Penumpang Angkutan Umum Menurut Kecamatan Tahun 2012 Kabupaten Bantul Angkutan umum yang ada di Kabupaten Bantul berupa armada bis Angkutan umum yang lain seperti kereta api, kapal laut, dan pesawat udara tidak terdapat di Kabupaten Bantul. Adapaun jumlah penumpang angkutan umum bis di Kabupaten Bantul dari Tahun cenderung mengalami penurunan. Tabel Jumlah Penumpang Angkutan UmumKabupaten Bantul NO URAIAN Jumlah penumpang Bus Jumlah penumpang Kereta api Jumlah penumpang Kapal laut Jumlah penumpang Pesawat udara Total Jumlah Penumpang Sumber : Dinas Perhubungan, 2013 No Kecamatan Jumlah Penumpang Jumlah Kereta Kapal Pesawat Bis Total Api Laut Udara 1 Bantul Sewon Kasihan Sedayu Pajangan Srandakan Pandak Sanden Bambanglipuro Pundong Kretek Imogiri Jetis Dlingo Pleret Banguntapan Piyungan Jumlah Sumber : Dishub, 2013 Penurunan penggunaan angkutan umum di masyarakat terjadi karena beberapa faktor, antara lain : 1. Pesatnya tingkat pertumbuhan kendaraan pribadi. 2. Pelayanan angkutan umum yang belum memenuhi standar pelayanan 3. Berkurangnya jumlah angkutan umum yang melayani dikarenakan keterbatasan biaya operasional kendaraan. 4. Rute/trayek angkutan umum yang belum dapat menjangkau wilayah sesuai kebutuhan masyarakat. b. Rasio Ijin Trayek Izin Trayek adalah izin untuk mengangkut orang dengan mobil bus dan/ atau mobil penumpang umum pada jaringan trayek. Trayek adalah lintasan kendaraan umum untuk pelayanan jasa angkutan orang dengan mobil bus, yang mempunyai asal dan tujuan perjalanan tetap, lintasan tetap dan jadwal tetap maupun tidak berjadwal. Jaringan Trayek adalah kumpulan dari trayek-trayek yang menjadi satu kesatuan jaringan pelayanan angkutan orang. Terkait kewenangan pemberian ijin trayek sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007, untuk kabupaten hanya berwenang memberikan ijin trayek untuk angkutan pedesaan. Adapun jumlah ijin II -65 II -66

45 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah trayek untuk angkutan pedesaan di Kabupaten Bantul yang telah dikeluarkan selama tahun 2008 s.d 2012 disajikan pada tabel berikut: Tabel Jumlah Ijin Trayek Tahun 2008 sd 2012 Kabupaten Bantul No Uraian Izin Trayek perkotaan Izin Trayek perdesaan Jumlah Izin Trayek Sumber : Dinas Perhubungan, 2013 Tabel Jumlah Ijin Trayek Menurut Kecamatan Tahun 2012 No Kecamatan Jumlah Ijin Trayek Perkotaan Perdesaan Jumlah 1 Bantul Sewon Kasihan Sedayu Pajangan Srandakan Pandak Sanden Bambanglipuro Pundong Kretek Imogiri Jetis Dlingo Pleret Banguntapan Piyungan Jumlah Sumber : Dinas Perhubungan, 2013 c. Jumlah uji KIR Angkutan Umum Uji KIR Angkutan umum merupakan pengujian setiap angkutan umum yang diimpor, baik yang dibuat dan/atau dirakit di dalam negeri yang akan dioperasikan di jalan agar memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. Setiap kendaraan bermotor yang meliputi mobil penumpang umum,mobil bus, mobil barang, kendaraan khusus,kereta gandengan dan kereta tempelan yang dioperasikan dijalan harus memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan yang ditetapkan melalui pengujian berkala yang dilakukan setiap enam bulan sekali. Pelaksanaan pengujian berkala kendaraan bermotor dilakukan oleh tenaga penguji pada Dinas Perhubungan yang memiliki kualifikasi teknis yang ditetapkan oleh Menteri Perhubungan. Adapun jumlah uji kir yang telah dilaksanakan di Kabupaten Bantul dari tahun 2008 s.d 2012 tersaji dalam tabel di bawah ini : Tabel Jumlah Uji KIR Angkutan Umum Tahun 2008 s.d 2012 NO ANGKUTAN UMUM JUMLAH KIR Mobil Penumpang Umum Mobil Bus Mobil barang : Pick Up Mobil barang : Truk Kereta gandengan Mobil 8 ton Taxi Kendaraan khusus Jumlah Sumber : Dinas Perhubungan, 2013 Tabel Jumlah Uji Kir Angkutan Umum Menurut Kecamatan Tahun 2012Kabupaten Bantul NO KECAMATAN MPU MOBIL BUS MOBIL BARANG JUMLAH 1 Bantul Sewon Kasihan Sedayu Pajangan Srandakan Pandak Sanden Bambanglipuro Pundong Kretek Imogiri Jetis Dlingo Pleret Banguntapan Piyungan Jumlah Sumber : Dinas Perhubungan, 2013 d. Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bus Pelabuhan laut diartikan sebagai sebuah fasilitas di ujung samudera, sungai, danau untuk menerima kapal dan memindahkan barang kargo maupun penumpang ke dalamnya. Di Kabupaten Bantul pelabuhan laut dikembangkan dengan II -67 II -68

46 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah mengoptimalkan Kawasan Pandansimo di Desa Poncosari Kecamatan Srandakan dilakukan dengan sistem sewa atau bayar. Termasuk dalam pengertian angkutan sebagai pelabuhan perikanan dan pendukung wisata pantai. Pelabuhan umum penumpang adalah angkutan kota (bus, minibus, dsb), kereta api, angkutan air, udara/bandara bisa diartikan sebagai sebuah fasilitas untuk menerima pesawat dan dan angkutan udara.angkutan Darat atauland transportation yaitu jenis kegiatan memindahkan barang kargo maupun penumpang ke dalamnya.terminal bus dapat ekonomi berupa pemberian / bisnis jasa angkutan / transportasi barang atau orang diartikan sebagai prasarana transportasijalan untuk keperluan menurunkan dan di darat, seperti yang dilakukan oleh perusahaan bus, taksi maupun kereta api. menaikkan penumpang, perpindahan intra dan/atau antar moda transportasi serta Terkait dengan masalah angkutan darat, sampai dengan tahun ini kondisi angkutan mengatur kedatangan dan pemberangkatan kendaraan umum. Adapun jumlah darat umum di Kabupaten Bantul masih belum optimal. Jumlah angkutan umum dari terminal bus yang ada di Kabupaten Bantul ada 2 (dua) terminal yang masuk dalam tahun ke tahun terus mengalami penurunan.hal ini disebabkan karena adanya kategori terminal tipe B yang berlokasi di Desa Palbapang, Kabupaten Bantul dan keterbatasan biaya operasional kendaraan yang dimiliki oleh perusahaan angkutan Desa Imogiri Kecamatan Imogiri. Di samping itu ada 3 (tiga) terminal pembantu yang dan menurunnya jumlah pengguna angkutan umum. Berikut data jumlah angkutan ada di Kecamatan Piyungan, Sedayu dan Kretek. umum yang beroperasi di Kabupaten Bantul dari tahun 2008 s.d Tabel Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bus Kabupaten Bantul NO URAIAN Jumlah pelabuhan laut Jumlah pelabuhan udara Jumlah terminal bus Jumlah Sumber : Dinas Perhubungan, 2013 Sistem transportasi darat (sebagaimana dimaksud dalam Perda Kabupaten Bantul Nomor 4 tahun 2011 tentang RTRW Kabupaten Bantul Tahun Pasal 13 ayat 2) untuk pergerakan lokal maupun regional didukung oleh pengembangan Tabel Jumlah angkutan umum yang beroperasi di Kabupaten Bantul Tahun 2008 s.d 2012 NO NAMA KELOMPOK PASA PPAP KOPATEK RIAS PPD PPKS MAHARDIKA ABADI KARYA TAMAN SARI JUMLAH fasilitas angkutan darat di Kabupaten yang meliputi: a. terminal penumpang tipe B di Desa Imogiri Kecamatan Imogiri dan di Desa Palbapang Kecamatan Bantul; b. terminal angkutan barang di Desa Argosari Kecamatan Sedayu; c. stasiun penumpang dan stasiun barang serta pergudangan di Stasiun Sedayu; dan d. terminal angkutan barang di Desa Srimulyo Kecamatan Piyungan. Sejalan dengan hal tersebut penggunaan angkutan umum sebagai sarana transportasimassal yang dapat mengurangi beban lalu lintas masih sangat kurang,bahkan dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan. Saat ini dengan adanya kemudahan dalam memperoleh kendaraan pribadi (sepeda motor) masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi dibanding dengan angkutan umum. f. Kepemilikan KIR Angkutan Umum e. Angkutan Darat Untuk menjamin keselamatan dan keamanan dalam penyelenggaraan pelayanan Angkutan pada dasarnya adalah sarana untuk memindahkan orang dan atau barang angkutan umum, setiap angkutan umum yang beroperasi diwajibkan untuk dari satu tempat ke tempat lain. Tujuannya membantu orang atau kelompok orang melakukan uji kendaraan secara berkala setiap 6 (enam) bulan sekali untuk menjangkau berbagai tempat yang dikehendaki atau mengirimkan barang dari mengetahui kondisi kendaraan sehingga kendaraan tersebut memenuhi syarat teknis tempat asalnya ke tempat tujuannya. Prosesnya dapat dilakukan dengan dan laik jalan. Berikut data kepemilikan kir angkutan umum di Kabupaten Bantul menggunakan sarana angkutan berupa kendaraan. Sementara Angkutan Umum tahun 2008 s.d Penumpang adalah angkutan penumpang yang menggunakan kendaraan umum yang II -69 II -70

47 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah kilogram : Rp ,00 (dua puluh ribu rupiah) Tabel Kepemilikan KIR Angkutan Umum di Kabupaten Bantul Tahun 2008 s.d mobil barang : a) jumlah berat diperbolehkan (JBB) NO NAMA KELOMPOK PASA PPAP KOPATEK RIAS PPD PPKS MAHARDIKA ABADI KARYA TAMAN SARI JUMLAH kurang dari atau sama dengan (empat ribu) kilogram : Rp ,00 (tujuh belas ribu rupiah) b) jumlah berat diperbolehkan (JBB) lebih dari (empat ribu) kilogram : Rp ,00 (dua puluh ribu rupiah) 4. kendaraan khusus : a) jumlah berat diperbolehkan (JBB) kurang dari atau sama dengan (empat ribu) kilogram : Rp ,00 (tiga belas ribu lima ratus g. Lama Pengujian Kelayakan Angkutan Umum (KIR) Untuk mengetahui tingkat kepuasan masyarakat terkait pelayanan pengujian kendaraan bermotor di Kabupaten Bantul telah dilakukan survey IKM. Salah satu unsur yang dinilai dalam survey ini adalah unsur kecepatan pelayanan yaitu target waktu pelayanan dapat diselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan oleh penyelenggara pelayanan. Untuk pelayanan pengujian kendaraan bermotor di Kabupaten Bantul, waktu yang diperlukan untuk sekali uji dari proses pendaftaran sampai dengan pengambilan hasil uji diperlukan waktu sekitar 25 menit. rupiah) b) jumlah berat diperbolehkan (JBB) lebih dari (empat ribu) kilogram : Rp ,00 (dua puluh ribu rupiah) 5. kereta gandengan : Rp ,00 (sepuluh ribu rupiah) 6. kereta tempelan : Rp ,00 (sepuluh ribu rupiah) 7. a. biaya uji untuk kendaraan dengan jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) lebih dari (delapan ribu) h. Biaya Pengujian Kelayakan Angkutan Umum Kilogram : Rp ,00 (tiga puluh lima ribu rupiah) b. penggantian tanda uji, pengetokan Untuk mengetahui tingkat kepuasan masyarakat terkait pelayanan pengujian nomor uji dan segel plat uji : Rp ,00 (empat ribu rupiah) kendaraan bermotor di Kabupaten Bantul telah dilakukan survey IKM. Salah satu c. buku uji berkala : Rp ,00 (tujuh ribu rupiah) unsur yang dinilai dalam survey ini adalah unsur kepastian biaya pelayanan yaitu d. sticker tanda samping : Rp ,00 (dua belas ribu lima ratusrupiah) kesesuaian antara biaya yang dibayarkan dengan biaya yang telah ditetapkan. Sesuai e. mutasi uji/uji kendaraan baru : Rp ,00 (tujuh ribu lima ratus rupiah ). dengan Peraturan Daerah Kabupaten Bantul nomor 9 tahun 2011 telah ditetapkan f. formulir permohonan uji : Rp ,00 (dua ribu lima ratus rupiah). besarnya biaya pengujian kendaraan bermotor sebagai berikut : g. penggantian sebuah buku karena hilang atau rusak sebelum habis masa 1. mobil penumpang umum : Rp ,00 (tiga belas ribu rupiah) berlakunya : Rp ,00 (tujuh ribu rupiah) 2. mobil bus : h. pengantian sebuah tanda uji karena a) jumlah berat diperbolehkan (JBB) hilang atau rusak sebelum habis masa kurang dari atau sama dengan berlakunya : Rp ,00 (empat ribu rupiah) (empat ribu) kilogram : Rp ,00 (tujuh belas ribu rupiah) i. sticker daerah : Rp ,00 (seribu rupiah) b) jumlah berat diperbolehkan (JBB) lebih dari (empat ribu) II -71 II -72

48 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah harus ditangani dengan lebih baik agar tidak menyebabkan penumpukan volume i. Pemasangan Rambu Rambu sampah dan pencemaran lingkungan Sebagian sampah yang tidak terlayani dilakukan Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 dan Peraturan Bupati Nomor 58 Tahun 2008, salah satu kewenangan Dinas Perhubungan adalah melaksanakan pengadaan dan pemasangan fasilitas keselamatan lalu lintas antara lain APILL, rambu lalu lintas, marka jalan, flashing lamp, guardraill dll. Kegiatan tersebut telah dilaksanakan sejak berdirinya Dinas Perhubungan dan menjadi kegiatan rutin setiap tahun baik dengan APBD maupun APBN melalui DAK. Pada tahun 2012 persentase fasilitas keselamatan lalu lintas sebesar 20,5% dari tahun pengelolaan oleh masyarakat, antara lain dimanfaatkan untuk pupuk tanaman. Penanganan pengelolaan air diupayakan dengan sistem pengelolaan air limbah domestik setempat dan terpusat.sistem pengolahan air limbah domestik setempat meliputi pembuangan air limbah domestik ke dalam tangki septik individual, tangki septik komunal atau Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL) Komunal.Sistem pengolahan air limbah domestik terpusat adalah pembuangan air limbah domestik ke dalam jaringan air limbah terpusat yang disediakan oleh Pemerintah di IPAL Sewon sebesar 10%.Berikut adalah data fasilitas terpasang di Kabupaten Bantul sampai dengan tahun Tabel Fasilitas Perhubungan Terpasang di Kabupaten Bantul NO NAMA FASILITAS JUMLAH 1 Rambu Lalu Lintas 722 unit 2 Marka Jalan meter 3 APILL 27 unit 4 Flashing Lamp 14 unit 5 Guadraill 250 meter 6 Halte 9 unit 7 LPJU unit Sumber : Dishub, 2013 Tabel Jumlah Volume Sampah dan Produksi Sampah Tahun Kabupaten Bantul NO URAIAN Jumlah sampah yang ditangani (m3/hari) 113,33 131,37 2 Jumlah volume produksi sampah (m3/hari) 2142, ,43 PERSENTASE 5,29 6,00 Sumber: DPU, 2013 Dengan semakin meningkatnya jumlah jejaring sampah dan bank sampah menjadi icon nasional dan program-program penanganan persampahan diharapkan pada tahun mendatang volume persampahan akan semakin tertangani dengan baik Lingkungan Hidup b. Persentase Penduduk Berakses Air Minum a. Persentase Penanganan Sampah Sumber air minum sebagian besar berasal dari air tanah, baik air tanah dangkal yang Pengelolaan sampah di Kabupaten Bantul dilaksanakan dengan prinsip mengurangi, berupa sumur galimaupun sumur dalam. Sebagian besar penduduk menggunakan memanfaatkan, dan mendaur ulang sampah. Pengembangan sistem persampahan sumur gali, mencapai lebih dari 80% dan hanya sebagian kecil menggunakan air dari terdiri atas pengelolaan cara setempat, pengelolaan cara komunal dan pengolahan PDAM yang bersumber dari sumur dalam (lebih kurang 19,92%). sampah mandiri Pengelolaan sampah pada tempat penampungan sampah sementara ditetapkan tersebar di seluruh kecamatan sesuai dengan tingkat pelayanannya. Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah yaitu di desa Sitimulyo kecamatan Piyungan seluas kurang lebih 12 hektar, yang dikelola dengan sanitary landfill untuk Tabel Proporsi Jumlah Penduduk yang Mendapat Air Minum PDAM dikabupaten Bantul sampah residu akhir. Jumlah volume produksi sampah di Kabupaten Bantul pada Tahun 2012sebesar2.190,43 m 3 /hari dengan jumlah sampah yang ditangani sebesar 131,37 m 3 /hari (UPTD KP3 DPU, 2013). Jadi persentase penduduk yang terlayani pengelolaan sebesar6%, diantaranya karena kurangnya armada pengangkutan NO URAIAN Jumlah penduduk yg mendapatkan akses air , ,270 minum (jiwa) 2 Jumlah penduduk (jiwa) Persentase penduduk berakses air bersih (%) 15,97 19,94 20,03 19,92 Sumber: PDAM Bantul, sampah. Hal ini menunjukkan bahwa masalah sampah di Kabupaten Bantul masih II -73 II -74

49 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah c. Pencemaran Status Mutu Air pelayanan, jasa pelintingan rokok, asphalt mixing plant and batching plant, industri Pada tahun 2012, berdasarkan hasil uji laboratorium ada beberapa parameter yang melebihi persyaratan. Parameter-parameter yang konsentrasinya melebihi baku mutu yaitu senyawa timbal dan Total koli. Parameter timbal melebihi baku mutu di tiga lokasi pantau dengan konsentrasi sebesar 0,1 mg/l, 0,18 mg/l dan 0,25 mg/l. Tingginya konsentrasi timbal diindikasikan adanya pencemaran yang berasal dari pupuk cair organik dan penyamakan kulit masing-masing 1 kegiatan. Untuk meningkatkan pengelolaan dan pemantauan lingkungan bagi usaha/kegiatan yang telah memiliki dokumen lingkungan dan melaporkan secara rutin kepada instansi pengawas (BLH kab. Bantul), maka dari berbagai dokumen lingkungan tersebut dilakukan pengawasan baik secara adminitrasi maupun tinjauan lapangan. limbah domestik rumah tangga, industri kecil dan bengkel. Penyebab tingginya kadar timbal di air sumur warga adalah pembuangan baterai bekas dan air aki bekas ke f. Penegakan Hukum Lingkungan sembarang tempat yang kemudian meresap ke tanah hingga sampai ke air sumur Meningkatnya aktivitas pembangunan yang diiringi dengan peningkatan aktivitas warga. manusia menyebabkan berbagai dampak baik positif maupun negatif. Salah satu Untuk parameter total koli, ketiga titik pantau juga melebihi baku mutu dengan dampak negatif yang timbul adalah masalah pencemaran maupun kerusakan konsentrasi sebesar 9,0 x 10 jml/100 ml, 1,5 jml/100 ml dan 7 x 10 jml/100 ml. lingkungan yang terjadi di beberapa wilayah kecamatan. Selama tahun 2012, Badan Tingginya konsentrasi bakteri koli dipengaruhi oleh sanitasi yang kurang baik seperti Lingkungan Hidup Kabupaten Bantul menerima 11 jenis pengaduan masyarakat terikutnya kotoran manusia maupun hewan dalam air tersebut. akibat adanya dugaan pencemaran dan perusakan lingkungan yang meliputi : d. Cakupan Penghijauan Wilayah Rawan Longsor dan Sumber Mata Air Untuk tahun 2012berdasarkan data yang terhimpun, rehabilitasi lahan yang berupa penghijauan khususnya di kawasan hutan dilaksankan pohon.pada tahun 2009 telah dilaksanakan penghijauan dengan penanaman pohon sebanyak batang, tahun 2010 sebanyak batang di tiga lokasi. Dan pada tahun 2011 penghijauan di tiga kecamatan yaitu Imogiri, Pajangan dan Kretek seluas 100 Ha dengan jumlah pohon 3600 batang. penghijauan yang dilaksanakan oleh Dinas Pertanian, Kehutanan dan Peternakan. Kegiatan reboisasi yang dilakukan oleh Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Bantul pada tahun 2011 dilaksanakan di 10 kecamatan melalui penanaman batang. Penghijauan ini dimaksudkan selain untuk menambah sumber oksigen juga untuk mencegah terjadinya bencana alam seperti longsor dan banjir. 1. Dugaan pencemaran akibat kegiatan/usaha peternakan unggas sebanyak 7 kasus di Kec. Jetis, Kec. Pajangan, Kec. Piyungan dan Kec. Bantul. 2. Dugaan pencemaran akibat kegiatan/usaha kelompok ternak 1 kasus di Kec. Jetis. 3. Dugaan pencemaran akibat kegiatan/usaha ternak babi 3 kasus di Kec. Bambanglipuro dan Kec. Kasihan. 4. Dugaan pencemaran akibat usaha penambangan 1 kasus di Kec. Pleret 5. Dugaan pencemaran akibat usaha tambak udang PT. Indokor. 6. Dugaan pencemaran air yang menyebabkan kematian ikan di Potorono, Kec. Banguntapan. 7. Dugaan pencemaran akibat kegiatan/usahapupuk cair PT. Surya Pratama di Kec. Sewon. 8. Dugaan pencemaran akibat kegiatan/usaha industri garment PT. Amaya di e. Cakupan Pengawasan terhadap Pelaksanaan AMDAL Selama tahun 2012 BLH bersama dinas/instansi terkait telah membahas dan merekomendasi dokumen lingkungan baik UKL/UPL maupun SPPL sebanyak 29 dokumen lingkungan yang berasal dari beberapa macam jenis usaha/kegiatan. Dokumen tersebut meliputi industri konveksi sebanyak 3 kegiatan, penambangan batuan/tanah urug 2 kegiatan, pengeboran sumur dalam 1 kegiatan, perumahan 7 kegiatan, terminal BBM 1 kegiatan, kesehatan sebanyak 2 kegiatan, pembangunan pabrik makanan 1 kegiatan, pembuatan mesin industri dan jasa perawatan 1 kegiatan, pembangunan pasar ikan 1 kegiatan, pembangunan sarana olahraga dan Kec. Pajangan. 9. Dugaan pencemaran akibat kegiatan/usaha industri sablon di Kec. Banguntapan. 10. Dugaan pencemaran akibat kegiatan/usaha PT. PLN di Kec. Sedayu. 11. Dugaan pencemaran akibat kegiatan/usaha meubelair Alas Jogja di Kec. Sewon. 12. Dugaan pencemaran akibat kegiatan/usaha meubelair Livea. 13. Dugaan pencemaran akibat kegiatan/usaha SPBU milik Zein Kadir di Kec. Banguntapan. rekreasi 1 kegiatan, industri furniture/meubel 4 kegiatan dan pembangunan kantor II -75 II -76

50 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Adapun status pengaduan dari kasus lingkungan tersebut secara keseluruhan telah Dan Perda 5 Tahun penjelasan umum angka 4. Dasar hukum kekuasaan selesai, masing-masing pihak tidak akan mempermasalahkan kembali kasus-kasus mengatur Hak Atas Tanah (HAT) oleh pemerintah Kasultanan dan Kadipaten didalam tersebut. daerahnya masing masing (Domeinverklaaring) yang termuat dalam Rijksblad 1918, 1925,1930 no.16/18, 23/25, 16/09 Setelah Daerah Istimewa Yogyakarta terbentuk Pertanahan a. Persentase luas lahan bersertifikat Urusan wajib pertanahan masih menjadi kewenangan pemerintah pusat dan sampai saat ini belum diserahkan untuk menjadi kewenangan daerah, sehingga program dan kegiatan anggaran masih bersumber dari APBN dan dilaksanakan oleh Kantor Pertanahan Kabupaten Bantul Sedangkan fungsi kabupaten dalam urusan pertanahan menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 3 tahun 1950, yang telah ditambah dan diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia No. 19 Tahun 1950, maka Kekuasaan(bevoegdheid) mengatur hak atas tanah tersebut di atas berdasar Undang- Undang Republik Indonesia No. 3 Tahun 1950 pasal 4 ayat (4) beralih dari Pemerintah Kasultanan dan Pakualaman kepada Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai hak asal usul. bersifat koordinasi. Sultan Ground dan Paku Alam Grounddalam prakteknya pihak Kraton (Kasultanan dan Kadipaten) tetap melestarikan kewenangan mereka terhadap tanah-tanah Tabel Luas Lahan Bersertifikat Tahun Tahun Kabupaten Bantul No Uraian Luas wilayah daratan 506,85 506,85 506,85 2 Luas tanah bersertifikat HGB 41,26 0,984 3 Luas tanah bersertifikat HM 17965, ,1 4 Total luas tanah bersertifikat 18006, Persentase HGB dibanding luas daratan 8% 2% 6 Persentase HM dibanding luas daratan 35,44% 35% 7 Persentase total luas lahan bersertifikat 35,53% 37,40% Sumber: Kantor Pertanahan Kabupaten Bantul, 2013 tersebut dan eksistensinya diakui baik oleh warga masyarakat maupun pemerintah. Hak Anganggo yang dahulu diberikan oleh pihak Kraton (Kasultanan dan Kadipaten) kepada perorangan menjadi Hak Milik Perorangan. Sedangkan Hak Anggaduh yang dahulu diberikan oleh pihak Kraton (Kasultanan dan Kadipaten) kepada Desa menjadi Tanah Desa. Jadi dapat dijelaskan bahwa di wilayah DIY tidak terdapat tanah Negara, yang ada adalah tanah Kas Desa selebihnya adalah SG dan PAG. c. Penyelesaian Izin Lokasi b. Penyelesaian Kasus Tanah Negara Dalam sejarahnya regulasi kebijakan pertanahan di wilayah Daerah istimewa Yogyakarta berbeda dengan daerah lainnya. Sejarah pertanahan dimulai dari zaman kerajaan Mataram hingga kemerdekaan Republik Indonesia. Ketika Negara Republik Indonesia merdeka Kasultanan Jogjakarta sudah terbentuk sebelumnya dan masih berdaulat tetapi pada saat itu kasultanan Jogjakarta menyatakan menjadi bagian dari Republik Indonesia. Dalam sejarahnya tanah di wilayah kasultanan Jogjakarta yang sekarang menjadi Daerah Istimewa Yogyakarta dikembalikan lagi ke Kasultanan Yogyakarta untuk menjadi Haknya dalam pengelolaannya. Berdasarkan UU 3 Tahun 1950 Pasal 5 ayat (1) Segala milik baik berupa barang tetap maupun berupa tidak tetap dan perusahaan - perusahaan DIY sebelum dibentuknya menurut UU ini menjadi milik DIY, yang selanjutnya dapat menyerahkan Perizinan terkait pemanfaatan ruang berdasarkan Perda No. 4 tahun 2011 tentang RTRW kabupaten Bantul yaitu persetujuan prinsip, kesesuaian aspek tata ruang, izin perubahan penggunaan tanah (IPPT), perizinan klarifikasi/perizinan lokasi, perizinan mendirikan bangunan, perizinan gangguan, danperizinan teknis operasional. Perizinan lokasidiperuntukan untuk izin pemanfaatan ruang dengan luasan lahan diatas satu hektar. Tabel Persentase Jumlah Izin lokasi tahun di Kabupaten Bantul TAHUN JUMLAH PERMOHONAN IZIN JUMLAH IZIN PERSENTASE LOKASI LOKASI (%) ,71% * 7,69%* Sumber : Dinas Perijinan *)persentase kecil dikarenakan sebagian masih dalam proses sesuatunya kepada daerah-daerah di bawahnya. II -77 II -78

51 Jumlah penduduk Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Kependudukan dan Catatan Sipil a. Pertumbuhan Penduduk Tabel Estimasi Penduduk Kabupaten Bantul Tahun 2012 per Kelompok Umur Pertumbuhan penduduk Kabupaten Bantul pada tahun 2012 ini mengalami penurunan, yaitu sebesar 0,98% ( jiwa menjadi jiwa) sedangkan pada tahun 2011 pertumbuhan penduduk sebesar 1,07% ( jiwa menjadi jiwa). Angka laju pertumbuhan penduduk menurun dari tahun ke tahunsehingga kondisi ini menunjukkan keberhasilan dalam pengendalian pertumbuhan penduduk Jumlah Penduduk No Estimasi 2012 (Jiwa) KELOMPOK UMUR Laki+ Laki-laki Perempuan % Peremp Jumlah Sumber: BPS, 2013 (Estimasi penduduk dengan laju pertumbuhan SP2000-SP2010, angka sementara) Kepadatan penduduk kelompok umur adalah jumlah penduduk berdasarkan Sumber: BPS 2013 (Estimasi Jumlah Penduduk Berdasarkan Hasil SP2010) Gambar Pertumbuhan Penduduk di Kabupaten Bantul Tahun kelompok umur pada suatu daerah setiap kilometer persegi. Kepadatan penduduk kelompok umur menunjukkan proporsi umur. Berdasarkan kelompok umur terbesar yaitu pada umur tahun (8,346%), tahun (8,075%) dan tahun (8,053%). Berdasarkan data tersebut dalam perencanaan pembangunan khususnya di bidang kesehatan pada kelompok umur tahun ke atas harus mendapatkan b. Pengelompokan penduduk Pengelompokan penduduk dapat dilihat dari beberapa sudut pandang, antara lain berdasarkan persebaran penduduk/geografis, berdasarkan kelompok umur dan berdasarkan jenis kelamin. kepadatan penduduk agraris, kepadatan penduduk daerah terbangun, kepadatan penduduk kelompok umur, dan sebagainya. Persebaran penduduk menurut umur sangat diperlukan untuk mengambil kebijakan yang berkaitan dengan banyak sektor seperti tenaga kerja, pendidikan, dan lain-lain. Dengan mengetahui sebaran penduduk kelompok umur dominan di suatu wilayah maka dapat dilakukan kebijakan yang lebih tepat dan efisien untuk pengembangan wilayah tersebut. prioritas dan perhatian lebih sedangkan pada usia tahun yang proporsinya paling besar danmerupakan kelompok umur produktif maka kebijakan ekonomi menjadi lebih dominan. Disamping itu, guna melakukan kebijakan yang berprespektif gender maka sangat diperlukan pengetahuan mengenai persebaran penduduk berdasarkan jenis kelamin. Kebijakan pada persebaran penduduk yang seimbang antara laki-laki dan perempuan sudah seharusnya berbeda dengan persebaran yang didominasi salah satunya. Dengan demikian kebijakan yang diambil lebih efektif. Pengelompokan penduduk berdasarkan persebaran pendudu/geografis menunjukkan penyebaran penduduk dan tingkat kepadatan penduduk di suatu daerahsetiap kilometer persegi. Penyebaran penduduk di Kabupaten Bantul tidak merata, daerah yang mempunyai kepadatan penduduk geografis tinggi terletak di II -79 II -80

52 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah wilayah Kabupaten Bantul yang berbatasan dengan kota Yogyakarta yang meliputi kecamatan Banguntapan (4.383 jiwa/km 2 ), Sewon (3.937 jiwa/km 2 ), dan Kasihan (3.533 jiwa/km 2 ), sedangkan kepadatan penduduk geografis terendah terletak di Kecamatan Dlingo (641 jiwa/km 2 ).. Kepadatan penduduk geografis Kabupaten Bantul Tahun 2012 mencapai 1,835 jiwa per km 2. Tabel Kepadatan Penduduk Geografis per Kecamatan Tahun 2012 NO. Kecamatan Kepadatan Penduduk Luas (Km2) Jml Penduduk Kepadatan/Km2 (1) (2) (3) (4) (5) 1 Srandakan ,755 1,570 2 Sanden ,814 1,287 3 Kretek ,470 1,101 4 Pundong ,881 1,346 5 Bambanglipuro ,617 1,657 6 Pandak ,104 1,980 7 Bantul ,192 2,742 8 Jetis ,667 2,152 9 Imogiri ,823 1, Dlingo , Pleret ,155 1, Piyungan ,137 1, Banguntapan ,838 4, Sewon ,929 3, Kasihan ,412 3, Pajangan ,549 1, Sedayu ,116 1,313 Jumlah ,276 1,835 Sumber : BPS, 2013 Tabel Persentase Partisipasi Perempuan di Lembaga Pemerintah Tahun Kabupaten Bantul NO URAIAN Jumlah perempuan yang menempati jabatan eselon II Jumlah perempuan yang menempati jabatan eselon III Jumlah perempuan yang menempati jabatan eselon IV Pekerja perempuan di pemerintah Jumlah pekerja perempuan Persentase pekerja perempuan di lembaga pemerintah ,60 Sumber:Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Bantul, 2012 Tabel Data Pilah PNS Kabupaten Bantul Tahun NO TAHUN LAKI-LAKI PEREMPUAN TOTAL b. Rasio Kekerasan Dalam Rumah Tangga Kasus KDRT di Kabupaten Bantul belum dapat dipantau secara keseluruhan dikarenakan belum semua korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) mau melaporkan kasusnya ke pihak yang berwenang. Diharapkan dengan adanya pemberian pelayanan dan perlindungan terhadap perempuan dan anak yang bersedia melaporkan kasus dan mengalami tindak kekerasan/kdrt akan menjadi solusi yang tepat Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak a. Persentasi Partisipasi Perempuan di Lembaga Pemerintah Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah adalah proporsi perempuan yang bekerja pada lembaga pemerintah terhadap jumlah seluruh pekerja perempuan. Tabel Rasio KDRT Tahun Kabupaten Bantul NO URAIAN Jumlah KDRT Jumlah Rumah Tangga Rasio KDRT 0,0183 0,0228 0,0439 Sumber: BKKPP & KB kabupaten Bantul,2013. Pemahaman dan pengetahuanmasyarakat tentang kesetaraan gender masih kurang. Hal ini dapat dilihat dari Indeks Kesetaraan Gender (IKG) dan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) yang masih relatif cukup rendah. Solusi yang dilakukan diantaranya yaitu dengan memfasilitasi terbentuknya Pokja PUG di Kabupaten Bantul serta melaksanakan sosialisasi dan diklat tentang PUG bagi stakeholder. II -81 II -82

53 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Tabel Perkembangan Indeks Pemberdayaan GenderKabupaten Bantul d. Partisipasi Angkatan Kerja Perempuan Menggambarkan jumlah penduduk perempuan yang secara aktif melakukan kegiatan TAHUN PEREMPUAN DI PARLEMEN (%) PEREMPUAN PEKERJA PROFESIONAL (%) PEREMPUAN DALAM ANGKATAN KERJA (%) PEREMPUAN UPAH PEKERJA NON PERTANIAN ,6 6,46 43,08 800,0 63, ,6 7,62 34,82 800,0 64,00 Sumber: BKKPP & KB kabupaten Bantul, 2012 nilai capaian indeks pembangunan gender tahun 2012 sebesar 71,33%, jika dibanding dengan tahun 2011 dengan realisasi Indeks pembangunan gender mencapai sebesar 64,00% berarti terjadi peningkatan sebesar 7,33%. Hal ini disebabkan berkurangnya kesenjangan pembangunan manusia antara laki-laki dan perempuan. IDG ekonomi terhadap total penduduk perempuan usia kerja. PAK perempuan dihitung dengan membandingkan antara jumlah angkatan kerja perempuan dengan penduduk perempuan usia kerja. Semakin besar PAK perempuan, maka semakin banyak penduduk perempuan yang secara aktif melakukan kegiatan ekonomi. Tabel Partisipasi Angkatan Kerja Perempuan Kabupaten Bantul Uraian Tahun 2011 Tahun 2012 Angkatan kerja perempuan Perempuan usia kerja Persentase 66,88% 68,20% Sumber: BKKPP & KB kabupaten Bantul, 2012 Sedangkan jumlah pekerja perempuan yang bekerja di lembaga sosial, pemerintah dan swasta pada tahun 2012 sebanyak orang. jika dibanding dengan jumlah seluruh angkatan kerja pada tahun 2012 sebanyak orang, mengalami peningkatan sebesar 48% Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera a. Rata Rata Jumlah Anak per Keluarga Salah satu indikasi keberhasilan Keluarga Berencana adalah rata-rata c. Persentase Jumlah Tenaga Kerja di bawah Umur Pekerja anak adalah anak yang melakukan semua jenis pekerjaan yang membahayakan kesehatan dan menghambat proses belajar serta tumbuh kembang. Data pekerja anak di Kabupaten Bantul menurut kementrian tenaga kerja RI tahun 2011 sebanyak 417 anak. Sehingga rasio pekerja anak di Kabupaten Bantul sebesar 0,109. Tabel berikut menunjukkan jumlah pekerja anak di Kabupaten Bantul tahun jumlah jiwa dalam setiap keluarga. Semakin sedikit jumlah jiwa dalam keluarga dapatdiindikasikan keluarga yang bersangkutan mempunyai kepedulian yang tinggi dalam perencanaan keluarga serta penghormatan yang tinggi pada kesehatan reproduksi wanita. Hal ini karena terlalu sering melahirkan menjadi salah satu faktor pemicu dan penyebab seorang ibu lebih mudah terkena kanker leher rahim serta mengalami kematian saat melahirkan. Maka sesungguhnya Keluarga Berencana tidak sekedar sebagai upaya pengendalian jumlah penduduk namun juga harus dimaknai sebagai sebuah upaya Tabel Jumlah dan Rasio Pekerja Anak di Kabupaten Bantul Menurut Kabupaten2011 JUMLAH PEKERJA JUMLAH PEKERJA DI ATAS 15 NO KABUPATEN RASIO ANAK TAHUN 1 Kab. Bantul ,09 Sumber : Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Pusdatinaker, diolah perlindungan kesehatan reproduksi wanita dan menekan angka kematian ibu saat melahirkan. Berikut adalah data rata-rata jumlah jiwa dalam setiap keluarga per kecamatan pada tahun 2012 : Tabel Rata-rata jumlah jiwa dalam setiap keluarga per kecamatan Beberapa penyebab terjadinya pekerja anak antara lain kemiskinan, tidak sekolah (kesulitan dalam akses dan sumberdaya), perekonomian sektor informal, dan pekerja anak relatif lebih murah dibanding orang dewasa NO KECAMATAN JML KK JML JIWA RATA-RATA JML JIWA PER KK 1 KRETEK ,02 2 SANDEN ,08 3 SRANDAKAN ,28 4 PANDAK ,23 5 B. LIPURO ,20 II -83 II -84

54 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah NO KECAMATAN JML KK JML JIWA RATA-RATA JML JIWA PER KK 6 PUNDONG ,29 7 IMOGIRI ,29 8 DLINGO ,09 9 JETIS ,19 10 BANTUL ,17 11 PAJANGAN ,32 12 SEDAYU ,15 13 KASIHAN ,24 14 SEWON ,37 15 PIYUNGAN ,23 16 PLERET ,23 17 B.TAPAN ,50 KABUPATEN ,25 Sumber: BKKPP KB, 2013 b. Rasio akseptor KB Keluarga Berencanayang telah berhasil dilaksanakan meliputi penyediaan pelayanan KB dan alat kontrasepsi bagi keluarga miskin, pelayanan KIE, peningkatan perlindungan hak reproduksi individu, promosi pelayanan KHIBA, pembinaan Keluarga Berencana, pengadaan sarana mobilitas tim KB keliling, pendampingan kegiatan Harganas dan mengikuti Jambore PKB/PLKB tingkat nasional. Tujuan program Keluarga berencana adalah mengendalikan jumlah kelahiran sehingga laju pertumbuhan penduduk dapat terkendali dengan tujuan kesejahteraan keluarga dapat ditingkatkan Gambaran jumlah Pasangan Usia Subur (PUS), peserta KB Aktif (PA) dan perbandingan PA/PUS dapat dilihat pada tabel berikut : NO Tabel Rasio Akseptor KB Menurut Kecamatan Tahun 2012 Kabupaten Bantul KECAMATAN JUMLAH PASANGAN USIA SUBUR (PUS) TAHUN 2012 JUMLAH AKSEPTOR KB (PA) RASIO AKSEPTOR KB (PA/PUS) 1 KRETEK ,94 2 SANDEN ,53 3 SRANDAKAN ,68 4 PANDAK ,60 5 B. LIPURO ,54 6 PUNDONG ,88 7 IMOGIRI ,04 8 DLINGO ,21 9 JETIS ,08 10 BANTUL ,64 11 PAJANGAN ,34 12 SEDAYU ,99 13 KASIHAN ,93 14 SEWON ,53 15 PIYUNGAN ,12 16 PLERET ,47 17 B. TAPAN ,62 JUMLAH ,57 Sumber: BKK PP & KB Kabupaten Bantul,2013 c. Cakupan Peserta KB Aktif Perkembangan KB aktif di Kabupaten Bantul dari tahun ke tahun mengalami fluktuasi yang cukup bagus. Hal ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini Tabel Rasio Akseptor KB Tahun Kabupaten Bantul NO URAIAN Jumlah akseptor KB (PA) Jumlah pasangan usia subur (PUS) Persentase akseptor KB (PA/PUS) 78,00 79,50 79,40 80,57 Sumber: BKK PP dan KB, 2013 Tabel Pencapaian Sasaran SPM Cakupan Sasaran PUS Peserta KB Aktif NO INDIKATOR SPM Cakupan sasaran PUS menjadi Peserta KB aktif 77,6% Target SPM nasional 65% 65% 65% Sumber: BKK PP dan KB, 2013 Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa cakupan sasaran PUS menjadi peserta KB aktif sejak tahun 2010 sudah melampaui target SPM yang dicanangkan oleh pemerintah pusat II -85 II -86

55 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah d. Keluarga Pra Sejahtera dan keluarga sejahtera 1 Keberhasilan gerakan Keluarga Berencana (KB) kemudian berkembang menjadi program Keluarga Sejahtera. Keluarga di kategorisasikan kedalam 5 tahapan keluarga, yaitu keluarga Pra Sejahtera, Keluarga Sejahtera I, Keluarga Sejahtera II, Keluarga Sejahtera III, dan Keluarga Sejahtera III Plus. Tabel Tahapan Keluarga Sejahtera di Kabupaten Bantul Tabel Sarana Sosial Panti Asuhan dan Panti Jompo Kabupaten Bantul Tahun Tahun Panti Asuhan Panti Wredha Lembaga Anak Asuh Lembaga Anak Asuh Sumber : Dinsos, 2013 TAHUN NO. TAHAPAN KELUARGA SEJAHTERA JUMLAH JUMLAH PERSENTASE KK KK PERSENTASE JUMLAH KK PERSENTASE 1. Pra S % % % 2. KS I % % % 3. KS II % % % 4. KS III % % % 5. KS III Plus % % % Jumlah KK % % % Sumber : BKK PP KB Tabel Tahapan Keluarga Sejahtera di Kabupaten Bantul Tahun menunjukkan bahwa data pra sejahtera di tahun 2010 dibandingkan di tahun 2011 dan 2012 jumlahnya mengalami peningkatan,sedangkan Keluarga Sejahtera II Plus dari tahun 2010 sampai 2012 secara persentase, mengalami penurunan. Salah satu penyebab dari penurunan ini adalah perluasan kawasan pemukiman : - indikator atau luas lantai rumah yaitu paling kurang 8 m2 untuk setiap penghuni rumah. - Pemekaran Kawasan perkotaan sebagai dampak tumbuh perguruan tinggi di kawasan lahan subur itu tidak ditangkap sebagai peluang tapi membuat penduduk asli semakain terpinggirkan dan pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut yg menikmati adalah para investor luar daerah. b. PMKS yang memperoleh bantuan sosial Sasaran pelayanan urusan sosial adalah para PMKS yang merupakan seseorang, keluarga, atau kelompok masyarakat yang karena suatu hambatan, kesulitan, atau gangguan tidak dapat melaksanakan fungsi sosialnya dan karenanya tidak dapat menjalin hubungan yang serasi dan kreatif dengan lingkungannya sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya (jasmani, rohani dan sosial) secara memadai dan wajar. Hambatan, kesulitan, dan gangguan tersebut dapat berupa kemiskinan, keterlantaran, kecacatan, ketunaan sosial, keterbelakangan, atau keterasingan dan kondisi atau perubahan lingkungan (secara mendadak) yang kurang mendukung atau menguntungkan. Tabel Jenis PMKS di Kabupaten Bantul Tahun 2012 NO. JENIS PMKS JUMLAH 1 Anak Yang Berhadapan Dengan Hukum Anak Yang Memerlukan Perlindungan Khusus 63 3 Kelompok Minoritas 0 4 Korban Trafficking 0 5 Fakir Miskin Anak Dengan Kedisabilitasan Anak Yang Menjadi Korban Tindak Kekerasan 63 8 Pemulung 19 JUMLAH Sumber : Dinsos, Sosial a. Sarana Sosial (Panti asuhan, Panti Jompo dan Panti Rehabilitasi) Kabupaten Bantul memiliki beberapa sarana sosial seperti panti asuhan, panti jompo dan panti rehabilitasi. Dari tabel di bawah ini menunjukkan adanya peningkatan jumlah panti di Kabupaten Bantul. Pada tahun 2010 terjadi penambahan jumlah panti asuhan sebanyak 3 panti dan pada tahun 2011 bertambah 3 panti. Jumlah ini tetap sampai pada tahun Untuk lebih jelasnya jumlah sarana sosial yang ada di Kabupaten Bantul dapat dilihat pada tabel berikut: c. Penanganan penyandang masalah kesejahteraan sosial Beberapa permasalahan PMKS yang menjadi perhatian antara lain masih tingginya jumlah anak jalanan dan tingginya kasus penyalahgunaan NAPZA di DIY. Keberadaan anak jalanan sedikit banyak akan berkontribusi negatif terhadap citra DIY sebagai daerah tujuan wisata. Terkait hal itu, Pemerintah Daerah DIY telah menyusun Perda Nomor 6 Tahun 2011 tentang Perlindungan Anak yang Hidup di Jalan. Di dalam Pasal 3 disebutkan bahwa perlindungan anak yang hidup di jalan bertujuan untuk (1) mengentaskan anak dari kehidupan di jalan, (2) menjamin pemenuhan hak-hak anak II -87 II -88

56 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, dan (3) memberikan perlindungan dari diskriminasi, eksploitasi dan kekerasan, demi terwujudnya anak yang berkualitas, berakhlak mulia, dan sejahtera Ketenagakerjaan a. Angka dan Tingkat Partisipasi angkatan Kerja Secara struktural, angkatan kerja merupakan bagian dari penduduk usia kerja, sehingga jumlah angkatan kerja sangat tergantung pada jumlah penduduk usia kerja yang masuk ke dalam angkatan kerja. Jumlah angkatan kerja setiap tahunnya mengalami peningkatan sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk usia kerja. Pada tahun 2011 angkatan kerja di Bantul sebanyak orang menjadi orang pada tahun 2012 atau naik sekitar 4,8%. Untuk mengatasi permasalahan angkatan kerja ini diantaranya melalui program untuk persediaan tenaga kerja (menambah jenis pelatihan sesuai kondisi pasar, meningkatkan bantuan pendidikan bagi tenaga kerja, meningkatkan program keluarga berencana untuk menurunkan laju pertumbuhan penduduk dan tenaga kerja), program untuk kebutuhan tenaga kerja (meningkatkan kapasitas dan peralatan serta kemampuan pengajar di sekolah sekolah kejuruan, melaksanakan pelatihan wirausaha bantuan permodalan dan fasilitas, memberikan insentif dan kemudahan dalam bidang investasi) dan program untuk pengangguran (pembangunan informasi pasar kerja yang mudah diakses, peningkatan penempatan tenaga kerja luar negeri melalui pemasaran, pelatihan, bantuan permodalan). Jumlah penduduk angkatan kerja Kabupaten Bantul Tahun 2012 dapat dilihat pada gambar berikut : II -89 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah JUMLAH PENDUDUK 947,878 L : 465,739 P : 482,139 BUKAN PENDUDUK USIA KERJA PENDUDUK USIA KERJA ANAK < 15 TAHUN 63, , ,692 L : 29,117 L : 362,577 L : 74,045 P : 34,439 P : 372,053 P : 75,647 ANGKATAN KERJA BUKAN ANGKATAN KERJA 530, ,562 L : 276,307 L : 86,270 P : 253,761 P : 118,292 PENGANGGUR STGH PENGANGGUR BEKERJA SEKOLAH MENGURUS RT PENERIMA PDPT LAIN 28,075 70, , ,003 52,010 37,549 L : 13,572 L : 32,781 L : 229,954 L : 57,421 L : 9,542 L : 19,307 P : 14,503 P : 37,253 P : 202,005 P : 57,582 P : 42,468 P : 18,242 Sumber : Disnakertrans,2013 Gambar Angkatan Kerja Berdasarkan Jenis Kelamin Tahun 2012 II -90

57 Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah b. Tingkat Pengangguran Terbuka Penganggur di Kabupaten Bantul dari tahun ke tahun bersifat fluktuatif (naik turun). Penganggur terbuka terdiri atas mereka yang mencari pekerjaan, mereka yang mempersiapkan usaha, mereka yang tidak bekerja karena tidak mungkin mendapatkan pekerjaan, dan mereka yang sudah punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja. Jumlah penganggur ditentukan beberapa hal. Adanya bencana dan gelombang ekonomi dunia yang tidak menentu juga menyebabkan terjadinya lonjakan pengangguran yang cukup tinggi. Namun demikian beberapa program yang dilaksanakan cukup mampu untuk mengatasi hal tersebut. -program dan kegiatan diarahkan untuk membuka kesempatan peluang kerja. Dan ini mampu mengurangi pengangguran sebagai dampak adanya krisis. Jumlah pengangguran di Kabupaten Bantul pada Tahun 2012 sebesar orang atau sebesar 5,3% dari jumlah penduduk angkatan kerja ( orang). Persentase pengangguran tahun 2012 ini mengalami penurunan dari tahun 2011 yang mencapai 5,8%. Upaya yang telah dilakukan untuk mengurangi pengangguran ini diantaranya melalui program kerja sama penempatan tenaga kerja di Malaysia, inkubasi bisnis, uji coba wirausaha, subsidi program, padat karya produktif dan infrastruktur serta perluasan lapangan kerja. c. Kesempatan kerja Kesempatan kerja merupakan peluang atau keadaan yang menunjukkan tersedianya lapangan pekerjaan sehingga semua orang yang bersedia dan sanggup bekerja dalam proses produksi dapat memperoleh pekerjaan sesuai dengan keahlian, keterampilan dan bakatnya masing-masing Kesempatan kerja adalah suatu keadaan yang menggambarkan/ketersediaan pekerjaan. Jumlah penduduk yang ada dalam suatu wilayah kemudian dikelompokkan berdasarkan lapangan usaha yang ada. Komposisi penduduk yang bekerja di sektor pertanian masih cukup mendominasi dalam penyerapan tenaga kerja dibandingkan dengan sektor lainnya. Meskipun komposisi penduduk yang bekerja menurut lapangan usaha menunjukkan jumlah penduduk yang bekerja di sektor angkutan, perdagangan, jasa menunjukkan peningkatan, namun karakter Negara Indonesia masih tergolong agraris. Keadaan tersebut dapat terlihat bahwa komposisi penduduk yang bekerja di sektor pertanian masih cukup mendominasi dalam penyerapan tenaga kerja dibandingkan dengan sektor yang lain, meskipun jumlahnya cenderung menurun sekitar 6,5%. Menurunnya proporsi jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian diduga karena para pencari kerja lebih memilih untuk bekerja di sektor non pertanian. Tabel Penduduk Yang bekerja Menurut Lapangan Usaha Tahun LAPANGAN USAHA TAHUN 2010 TAHUN 2011 TAHUN 2012 Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air Bangunan Perdagangan,Hotel dan Restoran Angkutan dan Komunikasi Keuangan Persewaan dan jasa Perusahaan Jasa Lainnya JUMLAH Sumber : Disnakertrans Koperasi dan Usaha Kecil Menengah a. Persentase Koperasi Aktif Sumber : Disnakertrans,2013 Gambar Peta Penganggur Kabupaten Bantul Tahun 2012 Pembangunan koperasi dan UKM di Kabupaten Bantul diarahkan pada pengembangan koperasi dan UKM menjadi unit usaha yang kuat, maju, dan mandiri serta memiliki daya saing dengan fokus pada revitalisasi koperasi serta fasilitasi koperasi dan UKM. Adapun sasarannya adalah peningkatan kinerja dan produktifitas usaha koperasi dan UKM. II -91 II -92

DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... i vii xii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang... I-1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan... I-2 1.3 Hubungan Antar Dokumen... I-4 1.3.1 Hubungan RPJMD

Lebih terperinci

DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN. Bab I Pendahuluan I-1

DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN. Bab I Pendahuluan I-1 DAFTAR ISI DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN i iii v vii Bab I Pendahuluan I-1 1.1. Latar Belakang I-1 1.2. Maksud dan Tujuan I-2 1.3. Dasar Hukum I-3 1.4. Hubungan Antar Dokumen I-6

Lebih terperinci

Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Direktorat Perencanaan Pembangunan Daerah

Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Direktorat Perencanaan Pembangunan Daerah Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Direktorat Perencanaan Pembangunan Daerah KEMENTERIAN DALAM NEGERI DIREKTORAT JENDERAL BINA PEMBANGUNAN DAERAH TAHUN 2014 DASAR HUKUM EVALUASI HASIL RENCANA

Lebih terperinci

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kota Parepare Tahun 2014 BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kota Parepare Tahun 2014 BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kota Parepare 2014 1 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Undang-undang Nomor 25 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-Undang Nomor 32

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pelaksanaan otonomi daerah secara luas, nyata dan bertanggungjawab telah menjadi tuntutan daerah. Oleh karena itu, pemerintah daerah memiliki hak dan kewenangan dalam mengelola

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN R encana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) adalah dokumen perencanaan pembangunan daerah untuk periode 5 (lima) tahun. RPJMD memuat visi, misi, dan program pembangunan dari Bupati

Lebih terperinci

Pemerintah Kota Bengkulu BAB 1 PENDAHULUAN

Pemerintah Kota Bengkulu BAB 1 PENDAHULUAN BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perencanaan pembangunan nasional adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat, melalui urutan pilihan dengan memperhitungkan sumber daya yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Mengacu pada Undang-undang Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, tiga bulan setelah Bupati / Wakil Bupati terpilih dilantik wajib menetapkan

Lebih terperinci

RANCANGAN AWAL RKPD KABUPATEN LEBAK 2016

RANCANGAN AWAL RKPD KABUPATEN LEBAK 2016 LAMPIRAN I SURAT EDARAN BUPATI LEBAK Nomor : 050/03-Bapp/I/2015 Tanggal : 29 Januari 2015 Tentang : Pedoman Penyusunan Rencana Kerja Kerja Perangkat (Renja-SKPD) Tahun 2016 RANCANGAN AWAL RKPD KABUPATEN

Lebih terperinci

TATA CARA PENYUSUNAN POLA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR

TATA CARA PENYUSUNAN POLA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT NOMOR : 10/PRT/M/2015 TANGGAL : 6 APRIL 2015 TATA CARA PENYUSUNAN POLA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR BAB I TATA CARA PENYUSUNAN POLA PENGELOLAAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tujuan bangsa Indonesia sebagaimana yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 alinea 4 adalah untuk

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tujuan bangsa Indonesia sebagaimana yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 alinea 4 adalah untuk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tujuan bangsa Indonesia sebagaimana yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 alinea 4 adalah untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah

Lebih terperinci

POKOK-POKOK PIKIRAN DPRD DIY TERHADAP RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) TAHUN 2016

POKOK-POKOK PIKIRAN DPRD DIY TERHADAP RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) TAHUN 2016 POKOK-POKOK PIKIRAN DPRD DIY TERHADAP RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) TAHUN 2016 LATAR BELAKANG : Menegaskan kembali terhadap arah kebijakan pembangunan jangka panjang yang akan diwujudkan pada

Lebih terperinci

B A P P E D A D A N P E N A N A M A N M O D A L P E M E R I N T A H K A B U P A T E N J E M B R A N A. 1.1 Latar Belakang

B A P P E D A D A N P E N A N A M A N M O D A L P E M E R I N T A H K A B U P A T E N J E M B R A N A. 1.1 Latar Belakang 1.1 Latar Belakang U ntuk menindak lanjuti diberlakukannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 maka dalam pelaksanaan otonomi daerah yang harus nyata dan bertanggung

Lebih terperinci

Tabel 1.1. Letak geografi dan administratif Kota Balikpapan. LS BT Utara Timur Selatan Barat. Selat Makasar

Tabel 1.1. Letak geografi dan administratif Kota Balikpapan. LS BT Utara Timur Selatan Barat. Selat Makasar KOTA BALIKPAPAN I. KEADAAN UMUM KOTA BALIKPAPAN 1.1. LETAK GEOGRAFI DAN ADMINISTRASI Kota Balikpapan mempunyai luas wilayah daratan 503,3 km 2 dan luas pengelolaan laut mencapai 160,1 km 2. Kota Balikpapan

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH 2.1. Aspek Geografi dan Demografi 2.1.1. Aspek Geografi Kabupaten Musi Rawas merupakan salah satu Kabupaten dalam Provinsi Sumatera Selatan yang secara geografis terletak

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa sesuai dengan Pasal 18 ayat (7) Undang-Undang

Lebih terperinci

RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH A. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah 1. Kondisi Ekonomi Daerah Tahun 2011 dan Perkiraan Tahun 2012 Kondisi makro ekonomi Kabupaten Kebumen Tahun

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2007 TENTANG PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN ANTARA PEMERINTAH, PEMERINTAHAN DAERAH PROVINSI, DAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2007 TENTANG PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN ANTARA PEMERINTAH, PEMERINTAHAN DAERAH PROVINSI, DAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2007 TENTANG PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN ANTARA PEMERINTAH, PEMERINTAHAN DAERAH PROVINSI, DAN PEMERINTAHAN DAERAH KABUPATEN/KOTA DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

Dengan Persetujuan Bersama. DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA dan GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA

Dengan Persetujuan Bersama. DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA dan GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 10 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA, Menimbang

Lebih terperinci

A. GAMBARAN UMUM KABUPATEN WONOSOBO

A. GAMBARAN UMUM KABUPATEN WONOSOBO BAB I PENDAHULUAN A. GAMBARAN UMUM KABUPATEN WONOSOBO 1. Kondisi Geografi Secara geografis Kabupaten Wonosobo terletak antara 7. 11 dan 7. 36 Lintang Selatan (LS), 109. 43 dan 110. 04 Bujur Timur (BT).

Lebih terperinci

Profil Permukiman Transmigrasi Simpang Tiga SP 3 Provinsi Sumatera Selatan

Profil Permukiman Transmigrasi Simpang Tiga SP 3 Provinsi Sumatera Selatan 1 A. GAMBARAN UMUM 1. Nama Permukiman Transmigrasi Simpang Tiga SP 3 2. Permukiman Transmigrasi Simpang Tiga SP 3 Terletak di Kawasan a. Jumlah Transmigran (Penempatan) Penempata 2009 TPA : 150 KK/563

Lebih terperinci

B. GAMBARAN UMUM DAERAH

B. GAMBARAN UMUM DAERAH BAB I PENDAHULUAN A. DASAR HUKUM Pembentukan Kabupaten Bangka ditetapkan dengan Undang Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II dan Kota Praja di Sumatera Selatan

Lebih terperinci

REPUBLIK INDONESIA 47 TAHUN 1997 (47/1997) 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA)

REPUBLIK INDONESIA 47 TAHUN 1997 (47/1997) 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA) Menimbang : PP 47/1997, RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL Bentuk: PERATURAN PEMERINTAH (PP) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 47 TAHUN 1997 (47/1997) Tanggal: 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA) Sumber:

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Strategi dan arah kebijakan pembangunan daerah Kabupaten Bengkulu Utara selama lima tahun, yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun

Lebih terperinci

Warta Kebijakan. Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang. Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan tata ruang. Perencanaan Tata Ruang

Warta Kebijakan. Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang. Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan tata ruang. Perencanaan Tata Ruang No. 5, Agustus 2002 Warta Kebijakan C I F O R - C e n t e r f o r I n t e r n a t i o n a l F o r e s t r y R e s e a r c h Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan

Lebih terperinci

BAB V RENCANA DETAIL TATA RUANG KAWASAN PERKOTAAN

BAB V RENCANA DETAIL TATA RUANG KAWASAN PERKOTAAN BAB V RENCANA DETAIL TATA RUANG KAWASAN PERKOTAAN 5.1 Umum Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan, merupakan penjabaran dari Rencana Umum Tata Ruang Wilayah Kota/Kabupaten ke dalam rencana pemanfaatan

Lebih terperinci

Maksud dan Tujuan. Hasil

Maksud dan Tujuan. Hasil Judul Penelitian : Kerangka Kebijakan Sosial Budaya dan Pemerintahan Umum Kabupaten Sidoarjo Pelaksana : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Sidoarjo Kerjasama Dengan : - Latar Belakang Salah

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2003 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2003 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2003 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 16 ayat (2) Undang-undang Nomor

Lebih terperinci

Penanganan Das Bengawan Solo di Masa Datang Oleh : Ir. Iman Soedradjat,MPM

Penanganan Das Bengawan Solo di Masa Datang Oleh : Ir. Iman Soedradjat,MPM Penanganan Das Bengawan Solo di Masa Datang Oleh : Ir. Iman Soedradjat,MPM DAS Bengawan Solo merupakan salah satu DAS yang memiliki posisi penting di Pulau Jawa serta sumber daya alam bagi kegiatan sosial-ekonomi

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2007 TENTANG LAPORAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH KEPADA PEMERINTAH, LAPORAN KETERANGAN PERTANGGUNGJAWABAN KEPALA DAERAH KEPADA DEWAN PERWAKILAN

Lebih terperinci

RANCANGAN AWAL RKP 2016 DAN PAGU INDIKATIF 2016. DEPUTI BIDANG PENDANAAN PEMBANGUNAN Jakarta, 15 April 2015

RANCANGAN AWAL RKP 2016 DAN PAGU INDIKATIF 2016. DEPUTI BIDANG PENDANAAN PEMBANGUNAN Jakarta, 15 April 2015 RANCANGAN AWAL RKP 2016 DAN PAGU INDIKATIF 2016 DEPUTI BIDANG PENDANAAN PEMBANGUNAN Jakarta, 15 April 2015 OUTLINE 1 Rancangan Awal RKP 2016 2 3 Pagu Indikatif Tahun 2016 Pertemuan Tiga Pihak 4 Tindak

Lebih terperinci

KEMENTERIAN DALAM NEGERI IMPLEMENTASI UU NOMOR 23 TAHUN 2014 PEMBAGIAN PERAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT, PROVINSI, DAN KABUPATEN/KOTA

KEMENTERIAN DALAM NEGERI IMPLEMENTASI UU NOMOR 23 TAHUN 2014 PEMBAGIAN PERAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT, PROVINSI, DAN KABUPATEN/KOTA KEMENTERIAN DALAM NEGERI IMPLEMENTASI UU NOMOR 23 TAHUN 2014 PEMBAGIAN PERAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT, PROVINSI, DAN KABUPATEN/KOTA Tahapan RPJPN 2005-2025 RPJMN 4 (2020-2024) RPJMN 1 (2005-2009) Menata

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMEDANG,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMEDANG, PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMEDANG, Menimbang : a. bahwa pengaturan pengelolaan air tanah dimaksudkan

Lebih terperinci

RKPD KABUPATEN GARUT TAHUN 2015 RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH

RKPD KABUPATEN GARUT TAHUN 2015 RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH RKPD RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN GARUT TAHUN 205 Peningkatan Infrastruktur Dasar, Kinerja Aparatur Dan Tata Kelola Pemerintahan Dalam Pelayanan Publik Guna Mewujudkan Pemerintahan Yang Bermartabat.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUMAS NOMOR 10 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2013-2018 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perencanaan

Lebih terperinci

BAB II KONDISI UMUM DAERAH

BAB II KONDISI UMUM DAERAH BAB II KONDISI UMUM DAERAH 2.1. Kondisi Geografi dan Demografi Kota Bukittinggi Posisi Kota Bukittinggi terletak antara 100 0 20-100 0 25 BT dan 00 0 16 00 0 20 LS dengan ketinggian sekitar 780 950 meter

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN LAMPIRAN : PERATURAN GUBERNUR JAMBI NOMOR : TAHUN 2011 TANGGAL :

BAB I PENDAHULUAN LAMPIRAN : PERATURAN GUBERNUR JAMBI NOMOR : TAHUN 2011 TANGGAL : LAMPIRAN : PERATURAN GUBERNUR JAMBI NOMOR : TAHUN 2011 TANGGAL : BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) adalah dokumen perencanaan daerah untuk periode 1 (satu) tahun

Lebih terperinci

BAB II PERENCANAAN DAN PENETAPAN KINERJA

BAB II PERENCANAAN DAN PENETAPAN KINERJA BAB II PERENCANAAN DAN PENETAPAN KINERJA RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Daerah Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2011-2015, sebagaimana ditetapkan dengan

Lebih terperinci

Review RENCANA STRATEGIS (RENSTRA SKPD) TAHUN 2010-2015

Review RENCANA STRATEGIS (RENSTRA SKPD) TAHUN 2010-2015 Review RENCANA STRATEGIS (RENSTRA SKPD) TAHUN 2010-2015 DINAS CIPTA KARYA KABUPATEN BADUNG Mangupura, 2013 PEMERINTAH KABUPATEN BADUNG DINAS CIPTA KARYA PUSAT PEMERINTAHAN MANGUPRAJA MANDALA JALAN RAYA

Lebih terperinci

BAB II EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN

BAB II EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN BAB II EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN 2.1. Analisis Gambaran Umum Kondisi Daerah 2.1.1 Aspek Geografi dan Demografi a. Karakteristik Wilayah

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH TAHUN 2005-2025

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH TAHUN 2005-2025 PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH TAHUN 2005-2025 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN. rencana pembangunan jangka menengah daerah, maka strategi dan arah

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN. rencana pembangunan jangka menengah daerah, maka strategi dan arah BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah, maka strategi dan arah kebijakan pembangunan jangka menengah

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 11 /PRT/M/2009 TENTANG

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 11 /PRT/M/2009 TENTANG MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 11 /PRT/M/2009 TENTANG PEDOMAN PERSETUJUAN SUBSTANSI DALAM PENETAPAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG RENCANA TATA RUANG

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN - 115 - BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Visi dan Misi, Tujuan dan Sasaran perlu dipertegas dengan upaya atau cara untuk mencapainya melalui strategi pembangunan daerah dan arah kebijakan yang diambil

Lebih terperinci

TATA GUNA LAHAN DAN PERTUMBUHAN KAWASAN

TATA GUNA LAHAN DAN PERTUMBUHAN KAWASAN TATA GUNA LAHAN DAN PERTUMBUHAN KAWASAN Pengantar Perencanaan Wilayah dan Kota Johannes Parlindungan Disampaikan dalam Mata Kuliah Pengantar PWK Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH (RPJPD) KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA TAHUN 2005-2025 DENGAN RAKHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

STRUK UK UR O R O GANISA GANISA DIN DI AS AS DAE RAH KABUP UP TEN N A B NGKA T HUN UN 0 2 0 0 8

STRUK UK UR O R O GANISA GANISA DIN DI AS AS DAE RAH KABUP UP TEN N A B NGKA T HUN UN 0 2 0 0 8 DINAS DAERAH TAHUN 2008 DINAS PENDIDIKAN LAMPIRAN I : PERATURAN DAERAH PERNCANAN DAN TAMAN KANAK-KANAK DAN SEKOLAH DASAR SEKOLAH MENENGAH PENDIDIKAN NON FORMAL PERENCANAAN KURIKULUM KURIKULUM PENDIDIKAN

Lebih terperinci

RINGKASAN LAPORAN REALISASI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH

RINGKASAN LAPORAN REALISASI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH Bidang Pemerintahan : 1. 01 Pendidikan Unit Organisasi : 1. 01. 01 DINAS PENDIDIKAN, PEMUDA DAN OLAHRAGA 1 PENDAPATAN DAERAH 110.228.000,00 87.384.000,00 (22.844.000,00) 79,28 1. 1 PENDAPATAN ASLI DAERAH

Lebih terperinci

Latar belakang: Landasan hukum Landasan filosofi Definisi Tata ruang Kerangka materi Asas dan Tujuan Ruang lingkup Isi Rencana Proses

Latar belakang: Landasan hukum Landasan filosofi Definisi Tata ruang Kerangka materi Asas dan Tujuan Ruang lingkup Isi Rencana Proses TATA RUANG ~ TATA GUNA TANAH/ LAHAN (Buku Pedoman Teknik Tata Ruang ) Latar belakang: Landasan hukum Landasan filosofi Definisi Tata ruang Kerangka materi Asas dan Tujuan Ruang lingkup Isi Rencana Proses

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk penyelenggaraan

Lebih terperinci

BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH

BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH 5.1. Sasaran Pokok dan Arah Pembangunan Jangka Panjang Daerah Tujuan akhir pelaksanaan pembangunan jangka panjang daerah di Kabupaten Lombok Tengah

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS DAERAH KABUPATEN JEPARA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS DAERAH KABUPATEN JEPARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS DAERAH KABUPATEN JEPARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEPARA, Menimbang : a bahwa dalam rangka mengoptimalkan

Lebih terperinci

PERATURAN WALIKOTA BALIKPAPAN NOMOR 12 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH KOTA BALIKPAPAN TAHUN 2015

PERATURAN WALIKOTA BALIKPAPAN NOMOR 12 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH KOTA BALIKPAPAN TAHUN 2015 PERATURAN WALIKOTA BALIKPAPAN NOMOR 12 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH KOTA BALIKPAPAN TAHUN 2015 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BALIKPAPAN, Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN PERTEMUAN 08 Teknik Analisis Aspek Fisik & Lingkungan, Ekonomi serta Sosial Budaya dalam Penyusunan Tata Ruang Tujuan Sosialisasi Pedoman Teknik Analisis Aspek Fisik ik & Lingkungan,

Lebih terperinci

TANGGAPAN KAJIAN/EVALUASI KONDISI AIR WILAYAH SULAWESI (Regional Water Assessment) Disampaikan oleh : Ir. SALIMAN SIMANJUNTAK, Dipl.

TANGGAPAN KAJIAN/EVALUASI KONDISI AIR WILAYAH SULAWESI (Regional Water Assessment) Disampaikan oleh : Ir. SALIMAN SIMANJUNTAK, Dipl. TANGGAPAN KAJIAN/EVALUASI KONDISI AIR WILAYAH SULAWESI (Regional Water Assessment) Disampaikan oleh : Ir. SALIMAN SIMANJUNTAK, Dipl. HE 1 A. KONDISI KETAHANAN AIR DI SULAWESI Pulau Sulawesi memiliki luas

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA NOMOR 30 TAHUN 2009 TENTANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA NOMOR 30 TAHUN 2009 TENTANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA NOMOR 30 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PELAPORAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, BUPATI PENAJAM

Lebih terperinci

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN MENJADI KELAPA SAWIT DI BENGKULU : KASUS PETANI DI DESA KUNGKAI BARU

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN MENJADI KELAPA SAWIT DI BENGKULU : KASUS PETANI DI DESA KUNGKAI BARU 189 Prosiding Seminar Nasional Budidaya Pertanian Urgensi dan Strategi Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian Bengkulu 7 Juli 2011 ISBN 978-602-19247-0-9 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN

Lebih terperinci

BAB III KONDISI UMUM. 3.1. Geografis. Kondisi Umum 14. Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga

BAB III KONDISI UMUM. 3.1. Geografis. Kondisi Umum 14. Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau dan Kabupaten Lingga BAB III KONDISI UMUM 3.1. Geografis Wilayah Kepulauan Riau telah dikenal beberapa abad silam tidak hanya di nusantara tetapi juga

Lebih terperinci

c. Perda ini mengatur tentang perubahan pada Ketentuan Umum dan Susunan Organisasi.

c. Perda ini mengatur tentang perubahan pada Ketentuan Umum dan Susunan Organisasi. PEMBENTUKAN, KEDUDUKAN, TUGAS POKOK, FUNGSI DAN SUSUNAN ORGANISASI SEKRETARIAT DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH - PERUBAHAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 1 organisasi di lingkungan Sekretariat

Lebih terperinci

NILAI TUKAR PETANI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BULAN FEBRUARI 2015 SEBESAR 100,79

NILAI TUKAR PETANI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BULAN FEBRUARI 2015 SEBESAR 100,79 No. 17/03/34/Th.XVII, 2 Maret 2015 NILAI TUKAR PETANI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BULAN FEBRUARI 2015 SEBESAR 100,79 A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI 1. Nilai Tukar Petani (NTP) Pada Februari 2015, NTP

Lebih terperinci

5. Arah Kebijakan Tahun Kelima (2018) pembangunan di urusan lingkungan hidup, urusan pertanian,

5. Arah Kebijakan Tahun Kelima (2018) pembangunan di urusan lingkungan hidup, urusan pertanian, urusan perumahan rakyat, urusan komunikasi dan informatika, dan urusan kebudayaan. 5. Arah Kebijakan Tahun Kelima (2018) Pembangunan di tahun kelima diarahkan pada fokus pembangunan di urusan lingkungan

Lebih terperinci

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN BERBASIS MITIGASI BENCANA

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN BERBASIS MITIGASI BENCANA TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN PERTEMUAN 13 PERENCANAAN TATA RUANG BERBASIS MITIGASI BENCANA GEOLOGI 1. Pendahuluan Perencanaan tataguna lahan berbasis mitigasi bencana geologi dimaksudkan untuk mengantisipasi

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KABUPATEN SERANG

BERITA DAERAH KABUPATEN SERANG BERITA DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR : 13 TAHUN : 2005 PERATURAN BUPATI SERANG NOMOR 13 TAHUN 2005 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI KELURAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SERANG Menimbang : a.

Lebih terperinci

- 44 - BAGIAN KETIGA PERTIMBANGAN TEKNIS PERTANAHAN DALAM PENERBITAN IZIN PERUBAHAN PENGGUNAAN TANAH

- 44 - BAGIAN KETIGA PERTIMBANGAN TEKNIS PERTANAHAN DALAM PENERBITAN IZIN PERUBAHAN PENGGUNAAN TANAH - 44 - BAGIAN KETIGA PERTIMBANGAN TEKNIS PERTANAHAN DALAM PENERBITAN IZIN PERUBAHAN PENGGUNAAN TANAH A. Tahapan Penyusunan dan Penerbitan I. Penerimaan dan Pemeriksaan Dokumen Permohonan 1. Permohonan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa ruang wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk menyimpan air yang berlebih pada

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROVINSI SUMATERA SELATAN

PEMERINTAH PROVINSI SUMATERA SELATAN PEMERINTAH PROVINSI SUMATERA SELATAN PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN NOMOR 17 TAHUN 2007 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN TAHUN 2005-2025 One Team

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk penyelenggaraan

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI REJANG LEBONG NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS CEPAT TUMBUH DI KABUPATEN REJANG LEBONG BUPATI REJANG LEBONG,

PERATURAN BUPATI REJANG LEBONG NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS CEPAT TUMBUH DI KABUPATEN REJANG LEBONG BUPATI REJANG LEBONG, PERATURAN BUPATI REJANG LEBONG NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS CEPAT TUMBUH DI KABUPATEN REJANG LEBONG BUPATI REJANG LEBONG, Menimbang : a. bahwa dalam rangka mendorong percepatan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR 03 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) TAHUN 2013-2018

PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR 03 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) TAHUN 2013-2018 PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR 03 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) TAHUN 2013-2018 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BANDUNG, Menimbang : a. bahwa dalam

Lebih terperinci

a. Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup. b. Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam.

a. Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup. b. Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam. URUSAN LINGKUNGAN HIDUP Pada Tahun Anggaran 2008, penyelenggaraan urusan wajib bidang lingkungan hidup sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya yang dilaksanakan oleh Badan Pengendalian Dampak Lingkungan

Lebih terperinci

Disampaikan pada: SOSIALISASI PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NO.6 TAHUN 2014 TENTANG DESA dan TRANSISI PNPM MANDIRI Jakarta, 30 April 2015

Disampaikan pada: SOSIALISASI PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NO.6 TAHUN 2014 TENTANG DESA dan TRANSISI PNPM MANDIRI Jakarta, 30 April 2015 KEMENTERIAN DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERMENDES NO.1: Pedoman Kewenangan Berdasarkan Hak Asal Usul dan Kewenangan Lokal Berskala Desa PERMENDES NO.5: Penetapan

Lebih terperinci

URUSAN WAJIB & PILIHAN (Psl 11)

URUSAN WAJIB & PILIHAN (Psl 11) UU NO. 23 TAHUN 2014 DESENTRALISASI OTONOMI DAERAH URUSAN WAJIB & PILIHAN (Psl 11) PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN URUSAN WAJIB terkait PD (psl 12 ayat1 ) a) Pendidikan b) Kesehatan c) Pekerjaan Umum & Penataan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN DAERAH

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN DAERAH MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

MENTERI NEGARA AGRARIA/KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL

MENTERI NEGARA AGRARIA/KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL MENTERI NEGARA AGRARIA/KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL PERATURAN MENTERI NEGARA AGRARIA/ KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL NOMOR 1 TAHUN 1997 TENTANG PEMETAAN PENGGUNAAN TANAH PERDESAAN, PENGGUNAAN TANAH

Lebih terperinci

PERNYATAAN PENETAPAN KINERJA PENETAPAN KINERJA TAHUN 2014

PERNYATAAN PENETAPAN KINERJA PENETAPAN KINERJA TAHUN 2014 PERNYATAAN PENETAPAN KINERJA PEMERINTAH KOTA AMBON PENETAPAN KINERJA TAHUN 2014 Dalam rangkaa mewujudkan manajemen pemerintahan yang efektif, transparan dan akuntabel serta berorientasi pada hasil, yang

Lebih terperinci

LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 2 TAHUN 2009 TENTANG

LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 2 TAHUN 2009 TENTANG LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 2 TAHUN 2009 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH (RPJPD) KABUPATEN BADUNG TAHUN 2005-2025 Rincian Rencana Pembangunan Jangka panjang Daerah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Proses berkembangnya suatu kota baik dalam aspek keruangan, manusia dan aktifitasnya, tidak terlepas dari fenomena urbanisasi dan industrialisasi. Fenomena seperti

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Halaman Judul... i Kata Pengantar... ii Daftar Isi... iii Daftar Tabel... iv Daftar Gambar... vi Daftar Lampiran...

DAFTAR ISI. Halaman Judul... i Kata Pengantar... ii Daftar Isi... iii Daftar Tabel... iv Daftar Gambar... vi Daftar Lampiran... DAFTAR ISI Halaman Judul... i Kata Pengantar... ii Daftar Isi... iii Daftar Tabel... iv Daftar Gambar... vi Daftar Lampiran... vii BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang......... 1 1.2 Landasan Hukum...

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

GEOMORFOLOGI BALI DAN NUSA TENGGARA

GEOMORFOLOGI BALI DAN NUSA TENGGARA GEOMORFOLOGI BALI DAN NUSA TENGGARA PULAU BALI 1. Letak Geografis, Batas Administrasi, dan Luas Wilayah Secara geografis Provinsi Bali terletak pada 8 3'40" - 8 50'48" Lintang Selatan dan 114 25'53" -

Lebih terperinci

LAPORAN STATUS LINGKUNGAN HIDUP DAERAH KABUPATEN BANTUL TAHUN 2013 PEMERINTAH KABUPATEN BANTUL PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

LAPORAN STATUS LINGKUNGAN HIDUP DAERAH KABUPATEN BANTUL TAHUN 2013 PEMERINTAH KABUPATEN BANTUL PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA LAPORAN STATUS LINGKUNGAN HIDUP DAERAH KABUPATEN BANTUL TAHUN 2013 PEMERINTAH KABUPATEN BANTUL PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Tahun 2013 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR......

Lebih terperinci

RENCANA KERJA ( RENJA ) BAGIAN BINA PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASSET SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN LAMONGAN TAHUN 2014

RENCANA KERJA ( RENJA ) BAGIAN BINA PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASSET SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN LAMONGAN TAHUN 2014 RENCANA KERJA ( RENJA ) BAGIAN BINA PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASSET SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN LAMONGAN TAHUN 2014 BAGIAN BINA PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASSET SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN LAMONGAN TAHUN

Lebih terperinci

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum. Tentang PEDOMAN PEMANTAUAN DAN EVALUASI PEMANFAATAN RUANG WILAYAH KOTA BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum. Tentang PEDOMAN PEMANTAUAN DAN EVALUASI PEMANFAATAN RUANG WILAYAH KOTA BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: / / Tentang PEDOMAN PEMANTAUAN DAN EVALUASI PEMANFAATAN RUANG WILAYAH KOTA BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Direktorat Jenderal Penataan Ruang Kementrian Pekerjaan

Lebih terperinci

memerintahkan untuk merancang Banjarbaru sebagai alternatif ibukota Provinsi Kalimantan Selatan.

memerintahkan untuk merancang Banjarbaru sebagai alternatif ibukota Provinsi Kalimantan Selatan. Bab 2 Kantor Balai Kota Banjarbaru Cikal bakal lahirnya Kota Banjarbaru bermula pada tahun 1951 saat gubernur Dr. Murdjani memimpin apel di halaman kantor gubernur di Banjarmasin, saat itu hujan turun

Lebih terperinci

BUPATI BANYUMAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA,

BUPATI BANYUMAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, BUPATI BANYUMAS PERATURAN BUPATI BANYUMAS NOMOR 22 TAHUN 2010 TENTANG PENJABARAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS PERTANIAN, PERKEBUNAN DAN KEHUTANAN KABUPATEN BANYUMAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, BUPATI

Lebih terperinci

H a l I-1 1.1 LATARBELAKANG

H a l I-1 1.1 LATARBELAKANG H a l I-1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATARBELAKANG Dalam rangka melaksanakan amanat Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah

Lebih terperinci

PROFIL KABUPATEN / KOTA

PROFIL KABUPATEN / KOTA PROFIL KABUPATEN / KOTA KOTA AMBON MALUKU KOTA AMBON ADMINISTRASI Profil Wilayah Kota Ambon merupakan ibukota propinsi kepulauan Maluku. Dengan sejarah sebagai wilayah perdagangan rempah terkenal, membentuk

Lebih terperinci

VISI KALTIM BANGKIT 2013

VISI KALTIM BANGKIT 2013 VISI KALTIM BANGKIT 2013 Mewujudkan Kaltim Sebagai Pusat Agroindustri Dan EnergiTerkemuka Menuju Masyarakat Adil Dan Sejahtera MENCIPTAKAN KALTIM YANG AMAN, DEMOKRATIS, DAN DAMAI DIDUKUNG PEMERINTAHAN

Lebih terperinci

RENCANA KERJA KECAMATAN DENPASAR SELATAN TAHUN 2014

RENCANA KERJA KECAMATAN DENPASAR SELATAN TAHUN 2014 RENCANA KERJA KECAMATAN DENPASAR SELATAN TAHUN 204 BAB I PENDAHULUAN. LATAR BELAKANG.. Umum. Berdasarkan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, dimana dinyatakan bahwa Kecamatan

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN : 2007 NOMOR : 13 PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR 13 TAHUN 2007 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN : 2007 NOMOR : 13 PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR 13 TAHUN 2007 TENTANG LEMBARAN DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN : 2007 NOMOR : 13 PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR 13 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN DAN SUSUNAN ORGANISASI DINAS DAERAH KOTA BANDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN A. Strategi Pembangunan Daerah Strategi adalah langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. Strategi pembangunan Kabupaten Semarang

Lebih terperinci

Dampak Banjir Terhadap Inflasi

Dampak Banjir Terhadap Inflasi Dampak Banjir Terhadap Inflasi Praptono Djunedi, Peneliti Badan Kebijakan Fiskal Siapa yang merusak harga pasar hingga harga itu melonjak tajam, maka Allah akan menempatkannya di dalam neraka pada hari

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 82, 2007 (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737) PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2007 TENTANG PEMBAGIAN URUSAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KOTA SUNGAI PENUH DI PROVINSI JAMBI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KOTA SUNGAI PENUH DI PROVINSI JAMBI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KOTA SUNGAI PENUH DI PROVINSI JAMBI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk memacu

Lebih terperinci

BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN. dengan Kecamatan Ujung Tanah di sebelah utara, Kecamatan Tallo di sebelah

BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN. dengan Kecamatan Ujung Tanah di sebelah utara, Kecamatan Tallo di sebelah BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN IV.1 Gambaran Umum Kecamatan Biringkanaya IV.1.1 Keadaan Wilayah Kecamatan Biringkanaya merupakan salah satu dari 14 Kecamatan di kota Makassar dengan luas wilayah 48,22

Lebih terperinci