STUDI KEUNGGULAN KOMPARATIF USAHATANI TEBU ABSTRACT ABSTRAK

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "STUDI KEUNGGULAN KOMPARATIF USAHATANI TEBU ABSTRACT ABSTRAK"

Transkripsi

1 AGRISE Volume X No. 2 Bulan Mei 2010 ISSN: STUDI KEUNGGULAN KOMPARATIF USAHATANI TEBU (COMPARATIVE ADVANTAGE STUDY OF SUGAR CANE FARMING) Riyanti Isaskar 1, Salyo Sutrisno 1, Dinik Putri D. 1 1) Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Universitas Brawijaya, Jl. Veteran Malang ABSTRACT Research Goals of this research are to analyze and to find out the efficiency of domestic resources usage which indicating comparative advantage of sugar cane farming in Kediri Regency and to analyze and to find out the effectiveness of government s policy which give protection to sugar cane farming. The result of this research showed that sugar cane farming in Kediri Regency have efficiency economical in allocation of resources or have excellence of comparability. DRC (Domestic Resource Cost) for Kediri Regency as a whole smaller than one (0,93). Sugar cane farming at both research location needed protection from government. (a) EPC for Kediri Regency is 1,176. It s mean that equal to 17 % from the economical value added so that can live in international emulation. (b) NPCO for Kediri Regency is 1,168. It means that the consumers should pay higher price (market price) than they should pay (social price). (c) NPCI for Kediri Regency is 1,008. It means that the farmers should pay higher tradeable input than they should pay on social price. Key words: Sugarcane Farming, Comparative Advantage. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis efisiensi penggunaan sumberdaya domestik yang menunjukkan keunggulan komparatif dari usahatani tebu pada Kabupaten Kediri dan untuk mengetahui dan menganalisis efektivitas kebijakan dari pemerintah yang bersifat melindungi usahatani tebu. Hasil penelitian menyebutkan bahwa usahatani Tebu di Kabupaten Kediri masih memiliki keunggulan komparatif. Hal ini ditunjukkan oleh nilai DRC yang lebih kecil dari 1 (0,93). Usahatani tebu pada Kabupaten Kediri masih memerlukan tingkat proteksi dari pemerintah untuk melindungi usahatani tebu. Hal ini ditunjukkan oleh : (a) Nilai EPC sebesar 1,176. Artinya, usahatani tebu pada kedua lokasi penelitian membutuhkan tingkat proteksi dari pemerintah sebesar 17 % dari nilai tambahnya secara ekonomi agar mampu hidup dalam persaingan internasional. (b) Nilai NPCO sebesar 1,168. Hal ini mengindikasikan bahwa telah terjadi transfer output dari konsumen kepada produsen. (c) Nilai NPCI adalah 1,008. Hal ini berarti petani harus membayar input tradeable lebih tinggi dari harga yang seharusnya mereka terima. Kata kunci: Usahatani Tebu, Keunggulan Komparatif.

2 130 AGRISE Volume X No. 2 Bulan Mei 2010 PENDAHULUAN Selama lebih dari tiga abad, Indonesia menjadi swasembada dan eksportir gula yang kuat. Karena kurangnya informasi tentang usahatani tebu maka petani cenderung untuk menanam komoditas strategis lain yang dianggap lebih menguntungkan seperti padi, jagung dan kedelai. Meningkatnya permintaan konsumsi terhadap komoditas gula dari tahun ke tahun di Indonesia sebenarnya telah diikuti oleh meningkatnya produksi komoditas tersebut, namun peningkatan produksi gula tidak mengikuti peningkatan konsumsinya. Dalam pemenuhan kebutuhannya, pemerintah Indonesia lebih banyak mendatangkannya dari luar negeri (impor). Rendahnya produktivitas tebu menjadi indikasi bahwa usahatani yang dilakukan di dalam negeri masih kurang efisien. Kondisi demikian akan menjadi permasalahan ketika memasuki liberalisasi perdagangan, dimana suatu komoditas akan mampu bersaing di pasaran jika komoditi tersebut memiliki keunggulan dan daya saing. Adapun salah satu parameter untuk mengetahui daya saing suatu komoditas adalah tingkat efisiensi produksi komoditas tersebut dihasilkan. Sejak Indonesia menganut kebijakan ekonomi terbuka dan terintegrasi ke dalam jaringan ekonomi global, guncangan sekecil apapun pada lingkungan strategis akan turut berpengaruh terhadap kinerja industri dalam negeri termasuk industri gula. Keterkaitan secara langsung antara pasar domestik dan pasar gula dunia yang dikenal tidak stabil sangat berpotensi untuk menimbulkan kerugian jangka panjang karena mengandung tiga bahaya yaitu : (1) Dapat mengancam kelangsungan industri gula nasional dalam situasi pasar gula dunia mengalami excess supply yang berlebihan, (2) Dapat menimbulkan kerugian besar bagi konsumen gula dalam negeri dengan membayar harga yang sangat mahal dalam situasi pasar dunia mengalami krisis (supply shortage), (3) Stabilisasi pasar gula domestik akan sukar dilakukan dan dapat menjadi sangat mahal. Untuk menghindari dampak negatif dari pelaksanaan liberalisasi perdagangan maka keunggulan komparatif yang tinggi secara menyeluruh harus menjadi karakter strategis dalam semua kegiatan usaha termasuk usahatani tebu yang merupakan input bagi industri gula pasir. Sehubungan dengan permasalahan tersebut, perlu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk (1) menganalisis efisiensi penggunaan sumberdaya domestik yang menunjukkan keunggulan komparatif dari usahatani tebu pada Kabupaten Kediri. (2) menganalisis efektivitas kebijakan dari pemerintah yang bersifat melindungi usahatani tebu. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi kepada petani, pemerintah dan peneliti selanjutnya terkait dengan masalah keunggulan komparatif usahatani tebu. METODE PENELITIAN Penentuan lokasi penelitian dilakukan dengan sengaja (purposive) dengan mengambil tempat penelitian di Kabupaten Kediri (diwakili oleh Kecamatan Wates dan Kecamatan Gurah). Kedua kecamatan tersebut berada di Propinsi Jawa Timur yang sampai saat ini masih merupakan sentra industri gula dan masih menjadi propinsi penyumbang produksi tebu terbesar di Indonesia. Adapun proses penentuan lokasi penelitian tersebut yaitu dari propinsi Jawa Timur dipilih kabupaten yang menjadi produsen tebu dan bermitra dengan Pabrik Gula Pesantren Baru. Metode penentuan responden dilakukan dengan sengaja (purposive) dengan teknik pengambilan data secara sensus atau metode pencacah lengkap. Artinya seluruh anggota populasi dicacah sebagai responden (Hidayat, 1989). Responden dalam penelitian ini adalah petani tebu di Kabupaten Kediri yang berusaha tani pada lahan sawah dengan sistem ungaran (plant cane) yang bermitra dengan pabrik gula Pesantren Baru. Data dikumpulkan dengan metode wawancara menggunakan instrument kuesioner, observasi dan dokumentasi.

3 Riyanti Isaskar Studi Komparatif Usahatani Tebu Metode Analisis Data 1. Analisis Keunggulan Komparatif Metode yang digunakan untuk menganalisis keunggulan komparatif usahatani tebu adalah metode PAM (Policy Analysis Matrix). Asumsi yang digunakan dalam PAM adalah : 1. Harga pasar adalah harga yang benar-benar diterima petani atau produsen yang didalamnya sudah terdapat kebijakan pemerintah 2. Harga bayangan adalah harga pada pasar persaingan sempurna yang mewakili biaya imbangan sosial yang sesungguhnya. Harga bayangan pada komoditas tradeable (yang diperdagangkan) adalah harga yang terjadi pada pasar dunia. 3. Output bersifat tradeable dan input yang digunakan dipisahkan menjadi input tradeable dan non tradeable. Langkah-langkah yang diperlukan untuk membangun model PAM adalah sebagai berikut : 1. Menentukan produksi dan struktur input fisik di tingkat pengolah 2. Menentukan besarnya biaya tataniaga di tingkat pengolah 3. Menentukan harga pasar dan harga sosial (bayangan) pada input dan output di tingkat pengolah 4. Mengalokasikan biaya ke dalam komponen domestik (non tradeable) dan asing (tradeable) 5. Menyusun matriks PAM yang menggunakan hasil akhir dari nomor 1 sampai nomor 4 Tabel 1. Matrik Analisa Kebijakan (Policy Analysis Matrix) Cost Harga Revenue Input Tradeable Faktor Domestik Profit Harga Pasar A B C D Harga Sosial E F G H Selisih I J K L Profit Finansial (D) = A B C Profit Sosial (H) = E F G Transfer Output (I) = A E Transfer Input (J) = B F Transfer Faktor (K) = C G Transfer Bersih (L) = D H / L = J K Ratio Biaya Sumber Daya Domestik DRC G E F.1 Koefisien Proteksi Efektif A B EPC E F....2 Koefisien Proteksi Output Nominal A NPCO 3 E Koefisien Proteksi Input Nominal B NPCI.. 4 F Jika nilai DRC < 1 maka usaha tersebut mempunyai keunggulan komparatif, jika DRC = 1 usaha tersebut netral, namun bila DRC > 1 usaha tersebut tidak mempunyai keunggulan komparatif. Jika EPC bernilai positif berarti proyek tidak menguntungkan dan EPC bernilai nol atau negatif berarti proyek feasible atau menguntungkan.

4 132 AGRISE Volume X No. 2 Bulan Mei 2010 Jika nilai koefisien proteksi output nominal lebih besar dari 1 (NPCO > 1), mengindikasikan terjadinya transfer output dari konsumen kepada produsen karena konsumen harus membayar harga lebih mahal dari harga yang seharusnya mereka terima Jika NPCO = 1, maka tidak terjadi transfer output dan sebaliknya jika nilai koefisien proteksi output nominal lebih kecil dari 1 (NPCO < 1), maka terjadi transfer output dari produsen ke konsumen karena produsen harus kehilangan sebagian dari pendapatan yang seharusnya diperoleh untuk menyokong konsumen dalam bentuk harga yang lebih murah. Apabila nilai koefisien proteksi input nominal lebih besar dari satu (NPCI > 1) berarti telah terjadi transfer input dari produsen ke konsumen dan pemerintah. 2. Pengalokasian Biaya Asing dan Biaya Domestik Pengalokasian biaya asing hanya untuk pupuk yang merupakan input tradeable. Hal tersebut dikarenakan sebagian besar bahan baku untuk pembuatan pupuk masih diimpor dari luar negeri. Pupuk yang dipakai petani dalam penelitian ini adalah pupuk Petrokimia Gresik dengan jenis Phonska dan ZA. Sedangkan input seperti sewa lahan, bibit, tenaga kerja yang dapat dipenuhi dari pasar domestik ditetapkan sebagai komponen biaya domestik. 3. Penentuan Harga Bayangan 3.1. Harga Bayangan Output Harga bayangan output yang digunakan adalah harga perbatasan (border price), yaitu harga f.o.b. (free on board) bila output ekspor atau merupakan komoditas yang potensial untuk diekspor. Sedangkan harga c.i.f (cost, insurance and freight) bila output diimpor. Tebu pada penelitian ini merupakan komoditas substitusi (pengganti) impor sehingga harga bayangan yang digunakan adalah harga c.i.f Harga Bayangan Sarana Produksi a. Bibit Harga sosial bibit tebu didekati dengan harga pasar (harga yang berlaku di daerah penelitian) karena sudah diproduksi dari dalam negeri. b. Pupuk Nilai harga bayangan untuk pupuk didekati dengan harga eceran tertinggi (HET) pupuk yang telah disubsidi oleh pemerintah Harga Bayangan Tenaga Kerja Upah sesungguhnya (dalam satuan HOK) di daerah penelitian dapat dipakai sebagai harga bayangan karena jumlah permintaan tenaga kerja dapat terpenuhi dari lokasi penelitian Harga Bayangan Lahan Nilai finansial dan ekonomi lahan diasumsikan sama karena tidak ada kebijaksanaan pemerintah yang dianggap berpengaruh terhadap harga lahan (Gray et al, 2003). Maka dalam penelitian ini harga bayangan lahan ditentukan berdasarkan harga aktual sewa lahan Harga Bayangan Nilai Tukar Pada penelitian ini digunakan nilai kurs tengah bank Indonesia yang terjadi pada bulan Juli 2008 sebagai nilai tukar bayangan. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Komponen Penerimaan Usahatani Tebu Tabel 2. Rata-Rata Penerimaan Usahatani Tebu Per 1 Ha MT menggunakan analisa finansial Penerimaan Usahatani Tebu Kabupaten Kediri Rata-rata produksi tebu 1.209,62 Kw/Ha Rendemen 7,8 % Harga gula lokal Rp ,00 Penerimaan Bagi Hasil 66% petani : 34% PG Rp ,31 Penerimaan tetes tebu Rp ,23 Total Penerimaan Petani Rp ,54

5 Riyanti Isaskar Studi Komparatif Usahatani Tebu Tabel 3. Rata-Rata Penerimaan Usahatani Tebu Per 1 Ha Masa Tanam menggunakan analisa sosial Penerimaan Usahatani Tebu Kabupaten Kediri Rata-rata produksi tebu 1.209,62 Kw/Ha Rendemen 7,8 % Harga c.i.f 465,5 US $/ton Harga bayangan nilai tukar rupiah Rp ,45 / US $ Total (Bagi Hasil 66 % petani : 34% PG) Rp ,66 Sumber : analisis data primer 2. Komponen Pendapatan (Profit) Usahatani tebu Tabel 4. Rata-Rata Pendapatan Usahatani Tebu Per 1 Ha Masa Tanam menggunakan analisa finansial Profit Usahatani Tebu Kabupaten Kediri Penerimaan usahatani tebu Rp ,54 Biaya input tradeable Rp ,54 Biaya faktor domestik Rp ,69 Hasil profit usahatani tebu Rp ,31 Tabel 5. Rata-Rata Pendapatan Usahatani Tebu Per 1 Ha Masa Tanam menggunakan analisa sosial Profit Usahatani Tebu Kabupaten Kediri Penerimaan usahatani tebu Rp ,66 Biaya input tradeable Rp ,31 Biaya faktor domestik Rp ,69 Hasil profit usahatani tebu Rp ,66 3. Analisis Keunggulan Komparatif Hasil matrik analisis kebijakan (PAM) menunjukkan pada shadow exchange rate sebesar Rp ,45 kegiatan usahatani tebu secara keseluruhan dapat dikatakan efisien dalam penggunaan sumberdaya ekonomi secara makro. Hal ini ditunjukkan dengan nilai profit sosial yang lebih besar dari nol. Rata-rata perolehan keuntungan sebesar Rp ,18 dengan rata-rata nilai rendemen sebesar 7,8 % dan rata-rata produksi tebu sebesar 1.209,62 Kw/Ha. Dari hasil matrik analisa kebijakan (PAM) diperoleh nilai biaya sumberdaya domestik (DRC) untuk Kabupaten Kediri secara keseluruhan lebih kecil dari satu (DRC < 1) yaitu sebesar 0,93. Hal tersebut berarti usahatani tebu yang dilakukan petani di kedua lokasi penelitian mempunyai efisiensi secara ekonomi dalam pengalokasian sumberdaya atau memiliki keunggulan komparatif. Analisa keunggulan komparatif menunjukkan bahwa pengusahaan usahatani tebu pada Kabupaten Kediri memiliki keunggulan komparatif sebesar 0,93 yang artinya untuk mendapatkan tambahan keuntungan atau menghemat devisa sebesar 1 US $ (shadow exchange rate sebesar Rp ,45) diperlukan pengorbanan sebesar 0,93 US $ atau Rp ,01. Tabel 6. Hasil Analisa Keunggulan Komparatif Usahatani Tebu Per 1 Ha Masa Tanam Kriteria / Pengukuran Kabupaten Kediri Profit sosial (Rp) ,53 DRC (Ratio) 0,93 DRC (Rp) 8.987,01 Hasil matrik analisis kebijakan yang menolak hipotesis yang telah disusun sebagai dugaan sementara tentang keunggulan komparatif dapat terjadi karena : 1. Petani Kemitraan. Karena petani pada daerah penelitian bermitra dengan Pabrik Gula Pesantren Baru maka para petani sudah mendapatkan pembinaan / penyuluhan dari pihak pabrik. Penyuluhan dari pihak pabrik dimulai dari aspek pembibitan, budidaya dan pascapanen seperti penentuan bibit unggul, penentuan

6 134 AGRISE Volume X No. 2 Bulan Mei 2010 rata-rata dosis pupuk, tingkat produktivitas tenaga kerja yang perlu ditingkatkan (termasuk kebersihan lahan maupun tanaman tebu agar rendemen yang dihasilkan lebih tinggi) dan teknologi tepat guna lainnya. 2. Pola Tanam. Pola tanam usahatani tebu pada daerah penelitian menggunakan sistem ungaran atau yang dikenal dengan tanam pertama yaitu usahatani yang dimulai dari penanaman bibit tebu yang baru dan diusahakan pada lahan sawah. Kegiatan on farm tersebut dapat dijadikan penguatan alasan adanya peningkatan produktivitas usahatani tebu sehingga keunggulan komparatif dapat terwujud. 3. Harga Dasar. Adanya harga dasar memungkinkan petani terhindar dari dampak fluktuasi harga dunia yang seringkali kurang menguntungkan produsen. Dengan kata lain, harga dasar merupakan benteng proteksi bagi petani dari dampak liberalisasi perdagangan dunia yang sarat distorsi. Sejak 2003, penjaminan harga gula petani dikaitkan lisensi impor yang diberikan pemerintah kepada perusahaan perkebunan yang dalam proses produksinya menggunakan sekurang-kurangnya 75% bahan baku dari tebu rakyat. Dalam implementasinya, besarnya harga dasar merupakan kesepakatan bersama antara petani tebu, perusahaan gula selaku importir terdaftar, dan investor yakni kalangan pedagang/distributor gula yang selama ini terbiasa membeli gula petani. Selama gula petani belum terjual, mereka mendapatkan dana talangan (bridging finance) sebanyak gula miliknya dengan referensi harga dasar. Dengan demikian, selama gula belum terjual, petani memiliki dana cukup untuk diinvestasikan di kebun dalam bentuk peningkatan mutu intensifikasi budi daya maupun ekspansi areal. Tentang harga riil gula sendiri tetap diserahkan mekanisme pasar melalui lelang terbuka. Apabila dalam lelang tadi harga terbentuk kurang dari harga dasar, risiko ditanggung investor. Tetapi bila lebih besar dari harga dasar, kelebihannya dibagi secara proporsional antara petani dan investor dengan formula profit sharing yang telah disepakati sebelumnya. Aliansi strategik ketiga pihak inilah yang kemudian mampu menciptakan iklim usaha di bidang agribisnis pergulaan jauh lebih kondusif. Dampaknya dapat dirasakan bersama dari meningkatnya produksi gula nasional dan kesejahteraan petani. Kembalinya kepercayaan petani terhadap usaha tani tebu tidak terlepas dari membaiknya harga gula. 4. Analisis Pengaruh Kebijakan Untuk melihat sejauh mana pengaruh kebijakan pemerintah dapat dilihat pada analisis koefisien proteksi efektif (EPC), analisis koefisien proteksi output nominal (NPCO), dan koefisien proteksi input nominal (NPCI). Analisis pengaruh kebijakan pada Kabupaten Kediri disajikan dalam tabel 7 berikut ini. Tabel 7. Analisis pengaruh kebijakan Usahatani Tebu Per 1 Ha Masa Tanam Kriteria Pengukuran Hasil Matrik Analisa Kebijakan (PAM) EPC 1,176 NPCO 1,168 NPCI 1, Koefisien Proteksi Efektif (EPC) Efektivitas kebijakan yang bersifat melindungi usahatani suatu komoditas dapat dilihat dari kriteria Koefisien Proteksi Efektif (effective protection coefficient). Nilai EPC dapat berguna untuk melihat kombinasi efek dari kebijakan harga output dan input tradeable yang digunakan. Dari hasil matrik analisa kebijakan (PAM) diketahui bahwa usahatani tebu pada lokasi penelitian masih memerlukan proteksi dari pemerintah. Hal ini terlihat dari nilai EPC pada Kabupaten Kediri yang lebih dari 1 yaitu sebesar 1,176. Nilai ini mengindikasikan bahwa produsen dalam negeri (petani tebu) menerima tingkat pengembalian hasil atau nilai tambah sebesar 17 % lebih tinggi dari sumberdaya yang telah dikorbankan akibat adanya kebijakan pemerintah dengan mempengaruhi harga yang sifatnya melindungi produsen seperti penerapan bea masuk, berbagai pajak pungutan terhadap gula pasir sebagai output usahatani tebu yang secara langsung akan mempengaruhi harga tebu bila dibandingkan dengan nilai tambah yang akan

7 Riyanti Isaskar Studi Komparatif Usahatani Tebu diperoleh jika kondisi perekonomian dalam keadaan seimbang. Artinya, usahatani tebu pada kedua lokasi penelitian membutuhkan tingkat proteksi dari pemerintah sebesar 17 % dari nilai tambahnya secara ekonomi agar mampu hidup dalam persaingan internasional Koefisien Proteksi Output Nominal (NPCO) Hasil matrik analisa kebijakan (PAM) tentang analisis koefisian proteksi output nominal (NPCO) menunjukkan nilai lebih besar dari 1 untuk usahatani tebu di Kabupaten Kediri. Nilai ini mengindikasikan bahwa dalam kegiatan usahatani tebu di Kabupaten Kediri telah terjadi transfer output kepada petani baik dari konsumen maupun pemerintah. Nilai koefisien output nominal sebesar 1,168. Dari nilai tersebut terlihat bahwa telah terjadi transfer kepada produsen (petani tebu) sebesar 16,8 %. Dari hasil penelitian transfer output kepada petani tebu, jika dikonversikan kedalam harga gula pasir yang merupakan output tebu diketahui harga aktual (harga pasar) yang diterima konsumen lebih tinggi dibandingkan dengan harga sosialnya. Harga pasar yang diterima konsumen lebih tinggi yaitu sebesar Rp ,00 dibandingkan dengan harga sosialnya yang hanya sebesar Rp ,34 untuk setiap 1 kilogram gula. Dalam hal ini konsumen harus membayar harga yang lebih tinggi (harga pasar) daripada yang seharusnya mereka terima (harga sosial) atau dengan perkataan lain produsen dalam hal ini petani tebu menerima harga yang lebih tinggi dari yang seharusnya mereka terima (harga sosial). Transfer output sebesar 16,8 % terjadi sebagai akibat dari harga tebu yang secara aktual lebih tinggi daripada harga sosialnya. Keadaan ini tidak terlepas dari beberapa hal diantaranya : 1. Perbedaan harga gula dunia dengan harga produksi domestik, karena kebijakan harga yang ditetapkan oleh pemerintah melampaui harga gula dunia. Harga gula pasir yang lebih tinggi ini disatu sisi akan mampu meningkatkan pendapatan petani tebu, sehingga dapat tetap memberikan rangsangan pada petani agar tetap mengusahakan lahannya untuk ditanami tebu. Tapi disisi lain juga mengharuskan konsumen untuk membayar lebih tinggi dari harga yang seharusnya mereka terima (transfer output). 2. Berlakunya kebijakan pemerintah tentang bea masuk import sebesar 20-25% dan berbagai pungutan liar di pelabuhan (PPN, PPH) bagi komoditi gula pasir yang merupakan output dari usahatani tebu sehingga akan meningkatkan harga jualnya dipasar domestik dan memperbesar penyimpangannya dari harga perbatasannya (Border Price) Koefisien Proteksi Input Nominal (NPCI) Hasil analisis koefisien input nominal dari matrik analisa kebijakan yang ditunjukkan menunjukkan nilai NPCI pada Kabupaten Kediri lebih besar dari 1 (NPCI > 1). Nilai koefisien input nominal sebesar 1,008, nilai ini mengindikasikan bahwa telah terjadi transfer input sebesar 0,8 % dari petani tebu selaku produsen kepada masyarakat. Artinya petani tebu harus membayar input tradeable lebih tinggi dari harga yang seharusnya dibayar pada harga sosialnya. Input tradeable dalam penelitian ini adalah pupuk ZA dan pupuk Phonska. Rata-rata harga aktual perkuintal untuk pupuk ZA sebesar Rp ,69 lebih tinggi dibandingkan harga sosial yang hanya sebesar Rp ,00. Demikian pula untuk pupuk Phonska harga aktual perkuintalnya sebesar Rp ,69 lebih tinggi dibandingkan harga sosial yang hanya sebesar Rp ,00. Salah satu faktor yang menyebabkan perbedaan harga adalah karena pengawasan pemerintah tidak berjalan secara optimal. Padahal dalam undang-undang tercantum bahwa pupuk bersubsidi tersebut juga diawasi peredarannya oleh pemerintah. Jadi divergensi/perbedaan harga pupuk pada kedua daerah penelitian disamping disebabkan oleh kebijakan pemerintah pada pasar input yang makin mendistorsi pasar juga disebabkan oleh kegagalan pasar pada pasar input. 5. Hubungan Hasil Matrik Analisis Kebijakan Dengan Liberalisasi Perdagangan Dari hasil matrik analisis kebijakan secara keseluruhan tentang analisis keunggulan kompartif dan analisis pengaruh kebijakan, ternyata usahatani tebu pada Kabupaten Kediri sebagai bahan baku komoditi gula pasir mampu bersaing secara internasional (liberalisasi perdagangan) karena nilai produktivitasnya relatif tinggi dengan tingkat rendemennya relatif tinggi pula. Agar usahatani ini mampu bersaing dalam persaingan internasional dan memiliki keunggulan komparatif yang merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki oleh suatu negara dalam menghadapi liberalisasi perdagangan masih

8 136 AGRISE Volume X No. 2 Bulan Mei 2010 diperlukannya tingkat proteksi dari pemerintah sebesar 17 %. Nilai DRC yang lebih kecil dari satu mengindikasikan bahwa usaha tani tebu secara keseluruhan mempunyai keunggulan komparatif karena tidak terjadi pemborosan devisa negara dalam penggunaan sumber daya nasional pada usaha tani tersebut. Untuk menghemat devisa sebesar 1 US $ (shadow exchange rate pada bulan Juli 2008 sebesar Rp ,45) diperlukan pengorbanan sebesar 0,93 US $ atau Rp ,01. Ketika 1 US $ nilai shadow exchange rate sebesar Rp ,45 harga bayangan gula mencapai Rp ,34 / Kg. Sedangkan pada Kabupaten Kediri yang mempunyai keunggulan komparatif sebesar 0,93 US $ atau Rp ,01 harga bayangan gula hanya mencapai Rp ,45. Semakin besar perbedaan harga bayangan gula dengan harga aktual (Rp ,00) berakibat semakin besar pula nilai NPCO karena konsumen harus membayar harga gula lebih besar daripada harga yang seharusnya mereka terima. Kenaikan harga gula c.i.f sebesar 465,5 US $ per ton dibandingkan dengan pembentukan harga yang terjadi pada periode November 2007-April 2008 yang berkisar 320 US $ US $ f.o.b per ton menyebabkan semakin tinggi keunggulan komparatif yang dimiliki oleh usahatani tebu yang ditunjukkan dengan semakin rendahnya nilai DRC. Semakin rendahnya nilai DRC berarti semakin rendah pula biaya yang harus dikorbankan untuk penggunaan sumberdaya secara makro dan akan semakin memperkecil biaya-biaya sumberdaya nasional yang dikorbankan untuk menghemat satu satuan devisa. Dalam prinsip perdagangan bebas semua bentuk hambatan perdagangan internasional baik yang bersifat tariff barrier maupun non tariff barrier akan dihilangkan / dikurangi sehingga mengantungkan kebutuhan domestik gula pasir yang merupakan output dari usaha tani tebu pada impor bukanlah alternatif yang baik karena akan berbahaya bagi kelangsungan hidup agroindustri gula nasional mengingat fluktuasi harga dunia komoditi gula pasir tidak menentu dan hal ini akan di transmisikan ke dalam harga domestik ketika liberalisasi perdagangan terjadi. Hal ini akan membawa konsekuensi buruk bagi perkembangan usaha tani tebu di Indonesia. Implikasi akibat adanya liberalisasi perdagangan yang paling mungkin terjadi pada usahatani tebu adalah dengan bebasnya gula impor yang masuk, apabila tidak ada kebijakan-kebijakan penyesuaian dari negara importir maka dalam jangka pendek banyak perusahaan domestik yang mati karena kalah bersaing yang selanjutnya akan menurunkan volume produksi dan peningkatan pengangguran (mengingat industri pergulaan merupakan industri padat karya). Akan terjadi banyak kemungkinan pada saat liberalisasi perdagangan terkait produksi gula tanah air. Kemungkinan-kemungkinan tersebut antara lain : 1. Jika kita menggantungkan kebutuhan gula dengan jalan impor dimana produk gula lokal sudah tidak mempunyai daya saing dan petani sudah beralih ke usahatani yang lain maka jika dilakukan embargo impor dari negara pengekspor, pemerintah Indonesia harus berusaha menyediakan kebutuhan gula bagi rakyatnya meskipun harus mengeluarkan devisa yang lebih banyak karena mengimpor dari negara selain yang melakukan embargo dan harus membangun sektor pertanian tebu kembali. 2. Jika harga gula impor meningkat tajam maka pemerintah harus mengeluarkan devisa yang sangat banyak, dimana produsen dalam negeri (petani tebu) sudah tidak mengusahatanikan tanaman tersebut. Hilangnya minat petani untuk menanam tebu tentu berakibat buruk bagi pabrik gula karena 80 % bahan baku berupa tebu diperoleh dari tebu rakyat. 3. Jika produksi gula lokal Indonesia mempunyai daya saing (mutu produk juga bagus) dan mempunyai keunggulan komparatif maka : a. Mampu menghemat devisa untuk pembelian gula impor b. Saat harga dunia melambung tinggi tidak perlu khawatir karena konsumsi gula dalam negeri dapat dicukupi oleh industri gula dalam negeri c. Jika produksi gula melebihi tingkat konsumsi maka terciptalah swasembada gula Indonesia sehingga dapat dilakukan ekspor untuk menambah cadangan devisa negara. Untuk mengahadapi hal tersebut diatas maka pemantapan produksi domestik perlu segera dilakukan dengan alasan antara lain dapat menghemat devisa, membuka kesempatan kerja dan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat serta memberikan pengaruh ganda pendapatan dan kesempatan kerja terhadap struktur perekonomian wilayah. Untuk meningkatkan produksi domestik dapat dilakukan dengan cara :

9 Riyanti Isaskar Studi Komparatif Usahatani Tebu Untuk menekan biaya produksi dapat dilakukan dengan perbaikan teknologi dan manajemen seperti penggunaan bibit unggul dengan produktivitas tinggi dalam meningkatkan daya saing tebu. Keberhasilan memanfaatkan benih tebu unggul sangat penting dalam menjaga efisiensi pengusahaan tebu jangka panjang karena tidak menimbulkan distorsi sebagaimana apabila kenaikan produksi dirangsang oleh subsidi pupuk atau penetapan harga dasar. 2. Pengembangan tebu didukung oleh penerapan teknologi baik mengenai penyediaan varietas tebu, pembibitan, pengolahan tanah, pengairan, hingga tebang angkut. Untuk pengolahan tanah sebaiknya ditambahkan pupuk organik untuk memperbaiki struktur tanah yang rusak akibat pemakaian pupuk kimia bertahun tahun, menggemburkan tanah kembali serta mampu melarutkan dan mengikat zat-zat yang dibutuhkan tanah agar produktivitas meningkat. 3. Mempermudah prosedur dalam permodalan serta dalam penyediaan sarana produksi seperti bibit dan pupuk (memecahkan persoalan kelangkaan pupuk yang terjadi setiap tahunnya) serta sarana dan prasarana transportasi (perbaikan jalan). 4. Mengkaji kembali kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah seperti mengijinkan impor gula sebagai penyangga (buffer stock) pada saat masa giling belum berakhir. Hal tersebut dapat berpengaruh pada penumpukan gula lokal pada petani sehingga harga lelang yang terbentuk sesuai harga dasar atau lebih rendah dibandingkan harga dasar. Jika harga gula lokal meningkat maka minat petani untuk mengusahakan tebu akan kembali tinggi. 5. Peningkatan pengawasan pada regulasi gula rafinasi. Perembesan gula rafinasi yang seharusnya hanya dipakai untuk industri tetapi dikonsumsi langsung oleh konsumen (masyarakat) memberikan dampak bagi peredaran gula lokal. Impor gula memang masih diperlukan, tetapi apabila pengawasan dan penggunaannya sesuai dengan kebutuhan (gula rafinasi hanya untuk kebutuhan industri saja) tentunya masalah pergulaan di Indonesia juga semakin sedikit. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Usahatani tebu pada Kabupaten Kediri masih mempunyai efisiensi secara ekonomi dalam pengalokasian sumberdaya atau memiliki keunggulan komparatif. Hal ini ditunjukkan oleh nilai DRC (Domestic Resouce Cost) yang lebih kecil dari 1, yaitu 0, Usahatani tebu pada Kabupaten Kediri masih memerlukan tingkat proteksi dari pemerintah untuk melindungi usahatani tebu. Hal ini ditunjukkan oleh : a. Nilai EPC (Effective Coefficient Protection) sebesar 1,176. Artinya, usahatani tebu pada kedua lokasi penelitian membutuhkan tingkat proteksi dari pemerintah sebesar 17 % dari nilai tambahnya secara ekonomi agar mampu hidup dalam persaingan internasional. b. Nilai NPCO (Nominal Protection Coefficient Output) sebesar 1,168. Hal ini mengindikasikan bahwa usahatani tebu pada lahan sawah di kedua kecamatan Kabupaten Kediri telah terjadi transfer output dari konsumen kapada produsen karena konsumen harus membayar harga yang lebih tinggi (harga aktual) daripada harga yang seharusnya mereka terima (harga sosial). c. Nilai NPCI (Nominal Protection Coefficient Input) adalah 1,008. Hal ini mengindikasikan bahwa pada kegiatan usahatani tebu tersebut telah terjadi transfer input dari produsen kepada pemerintah karena harga input yang harus dibayar oleh produsen (harga pasar) lebih tinggi daripada harga yang seharusnya dibayar (harga sosial).

10 138 AGRISE Volume X No. 2 Bulan Mei 2010 Saran Dalam rangka meningkatkan produktivitas dari usahatani tebu maka perlu adanya kerja sama antara pihak Pabrik Gula, petani dan terutama Pemerintah yang mengeluarkan kebijakan yang berpihak pada kepentingan petani. Bentuk kerjasama tersebut antara lain peningkatan kinerja di pabrik gula dengan pergantian mesin-mesin yang sudah tua agar hasil produksi meningkat. Peningkatan kinerja pada petani dapat dilakukan dengan meningkatkan SDM dan kemudahan mendapatkan akses informasi (penyuluhan dari pihak pabrik maupun dari Departemen Pertanian) yang bertujuan untuk perbaikan mutu dan kualitas output. Pemerintah juga harus mengeluarkan kebijakan seperti tarif atau bea masuk, pelarangan impor, kuota ataupun subsidi untuk mendukung industri gula Indonesia. DAFTAR PUSTAKA Boediono Ekonomi Internasional. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta Gray, Clive, dkk Pengantar Evaluasi Proyek. Edisi Kedua. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta Hidayat, Hamid Diktat Kuliah Metode Penelitian Sosial. Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Malang Soekartawi Panduan Membuat Usulan Proyek Pertanian Dan Pedesaan. Andi Offset. Yogyakarta. Soentoro, N.Indiarto dan A.M.S.Ali Usaha Tani Dan Tebu Rakyat Intensifikasi di Jawa. Dalam Ekonomi Gula di Indonesia. Penyunting M.H.Sawit, dkk. Penerbit Institut Pertanian Bogor

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan tujuan

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan tujuan 33 III. METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional dan Konsep Dasar Konsep dasar dan batasan operasional ini mencakup pengertian yang digunakan untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan

Lebih terperinci

IV METODOLOGI PENELITIAN

IV METODOLOGI PENELITIAN IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada petani tebu di wilayah kerja Pabrik Gula Sindang Laut Kabupaten Cirebon Propinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi penelitian

Lebih terperinci

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1. Analisis Daya Saing Analisis keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan prospek serta kemampuan komoditi gula lokal yang dihasilkan

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN 45 IV. METODE PENELITIAN 4.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kepulauan Tanakeke, Kabupaten Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan. Pemilihan daerah tersebut dilakukan secara purposive

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Daya Saing Perdagangan Internasional pada dasarnya merupakan perdagangan yang terjadi antara suatu negara tertentu dengan negara yang

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 26 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan batasan operasional merupakan pengertian dan petunjuk mengenai variabel yang akan diteliti untuk memperoleh dan menganalisis

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN VI HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1 Analisis Daya Saing Analisis keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan prospek serta kemampuan komoditi susu sapi lokal dalam

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Karangasem dengan lokasi sampel penelitian, di Desa Dukuh, Kecamatan Kubu. Penentuan lokasi penelitian dilakukan

Lebih terperinci

VIII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING RUMPUT LAUT

VIII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING RUMPUT LAUT 83 VIII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING RUMPUT LAUT 8.1. Struktur Biaya, Penerimaan Privat dan Penerimaan Sosial Tingkat efesiensi dan kemampuan daya saing rumput laut di

Lebih terperinci

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Harga Gula Domestik

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Harga Gula Domestik II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Harga Gula Domestik Menurut Susila (2005), Indonesia merupakan negara kecil dalam perdagangan dunia dengan pangsa impor sebesar 3,57 persen dari impor gula dunia sehingga Indonesia

Lebih terperinci

Volume 12, Nomor 1, Hal ISSN Januari - Juni 2010

Volume 12, Nomor 1, Hal ISSN Januari - Juni 2010 Volume 12, Nomor 1, Hal. 55-62 ISSN 0852-8349 Januari - Juni 2010 DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP DAYA SAING DAN EFISIENSI SERTA KEUNGGULAN KOMPETITIF DAN KOMPARATIF USAHA TERNAK SAPI RAKYAT DI KAWASAN

Lebih terperinci

DAYA SAING KEDELAI DI KECAMATAN GANDING KABUPATEN SUMENEP

DAYA SAING KEDELAI DI KECAMATAN GANDING KABUPATEN SUMENEP DAYA SAING KEDELAI DI KECAMATAN GANDING KABUPATEN SUMENEP PURWATI RATNA W, RIBUT SANTOSA, DIDIK WAHYUDI Fakultas Pertanian, Universitas Wiraraja Sumenep ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah (1) menganalisis

Lebih terperinci

3.5 Teknik Pengumpulan data Pembatasan Masalah Definisi Operasional Metode Analisis Data

3.5 Teknik Pengumpulan data Pembatasan Masalah Definisi Operasional Metode Analisis Data DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... ii HALAMAN PERNYATAAN... iii KATA PENGANTAR... iv DAFTAR ISI... vi DAFTAR TABEL... ix DAFTAR GAMBAR... xi DAFTAR LAMPIRAN... xii ABSTRAK... xiii ABSTRACT...

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN

IV METODE PENELITIAN IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Desa Cilembu (Kecamatan Tanjungsari) dan Desa Nagarawangi (Kecamatan Rancakalong) Kabupaten Sumedang, Propinsi Jawa Barat.

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. A. Metode Dasar Penelitian

METODE PENELITIAN. A. Metode Dasar Penelitian II. METODE PENELITIAN A. Metode Dasar Penelitian Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode deskriptif analitis. Menurut Nazir (2014) Metode deskriptif adalah suatu metode dalam

Lebih terperinci

KERANGKA PEMIKIRAN. berupa derasnya arus liberalisasi perdagangan, otonomi daerah serta makin

KERANGKA PEMIKIRAN. berupa derasnya arus liberalisasi perdagangan, otonomi daerah serta makin 22 III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Analisis Dewasa ini pengembangan sektor pertanian menghadapi tantangan dan tekanan yang semakin berat disebabkan adanya perubahan lingkungan strategis

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Budidaya tebu adalah proses pengelolaan lingkungan tumbuh tanaman

TINJAUAN PUSTAKA. Budidaya tebu adalah proses pengelolaan lingkungan tumbuh tanaman 24 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Usahatani Tebu 2.1.1 Budidaya Tebu Budidaya tebu adalah proses pengelolaan lingkungan tumbuh tanaman sehingga tanaman dapat tumbuh dengan optimum dan dicapai hasil yang diharapkan.

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP JERUK SIAM

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP JERUK SIAM VI ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP JERUK SIAM 6.1. Analisis Daya Saing Analisis keunggulan kompetitif dan komparatif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan kemampuan jeruk

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu Menurut penelitian Fery (2013) tentang analisis daya saing usahatani kopi Robusta di kabupaten Rejang Lebong dengan menggunakan metode Policy Analiysis

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING APEL JAWA TIMUR (Studi Kasus Apel Batu, Nongkojajar dan Poncokusumo)

ANALISIS DAYA SAING APEL JAWA TIMUR (Studi Kasus Apel Batu, Nongkojajar dan Poncokusumo) ANALISIS DAYA SAING APEL JAWA TIMUR (Studi Kasus Apel Batu, Nongkojajar dan Poncokusumo) Novi Itsna Hidayati 1), Teguh Sarwo Aji 2) Dosen Fakultas Pertanian Universitas Yudharta Pasuruan ABSTRAK Apel yang

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN. Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Pemilihan lokasi

IV. METODE PENELITIAN. Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Pemilihan lokasi IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Studi kasus penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Sukaresmi dan Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Pemilihan lokasi dilakukan secara purpossive

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN 51 IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di tiga tempat di Provinsi Bangka Belitung yaitu Kabupaten Bangka Selatan, Kabupaten Bangka Barat, dan Kabupaten Belitung.

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional ini mencakup pengertian yang. jagung per musim tanam yang, diukur dalam satuan ton.

III. METODOLOGI PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional ini mencakup pengertian yang. jagung per musim tanam yang, diukur dalam satuan ton. III. METODOLOGI PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan definisi operasional ini mencakup pengertian yang digunakan untuk mendapatkan data dan melakukan analisis terhadap tujuan

Lebih terperinci

VII. ANALISIS DAYA SAING USAHATANI JAGUNG

VII. ANALISIS DAYA SAING USAHATANI JAGUNG VII. ANALISIS DAYA SAING USAHATANI JAGUNG 7.1. Profitabilitas Privat dan Sosial Analisis finansial dan ekonomi usahatani jagung memberikan gambaran umum dan sederhana mengenai tingkat kelayakan usahatani

Lebih terperinci

ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KENTANG

ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KENTANG ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KENTANG VI. 6.1 Analisis Dayasaing Hasil empiris dari penelitian ini mengukur dayasaing apakah kedua sistem usahatani memiliki keunggulan

Lebih terperinci

VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK

VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK 6.1 Analisis Keuntungan Sistem Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok Analisis keunggulan komparatif

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Pasir Penyu dan Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Kabupaten Indragiri Hulu terdiri

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

METODE PENELITIAN. 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan

Lebih terperinci

VI. ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA USAHATANI JAMBU BIJI

VI. ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA USAHATANI JAMBU BIJI VI. ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA USAHATANI JAMBU BIJI Daya saing usahatani jambu biji diukur melalui analisis keunggulan komparatif dan kompetitif dengan menggunakan Policy

Lebih terperinci

Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Daya Saing Komoditas Kelapa di Kabupaten Flores Timur

Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Daya Saing Komoditas Kelapa di Kabupaten Flores Timur Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Daya Saing Komoditas Kelapa di Kabupaten Flores Timur Krisna Setiawan* Haryati M. Sengadji* Program Studi Manajemen Agribisnis, Politeknik Pertanian Negeri

Lebih terperinci

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN VIII. KESIMPULAN DAN SARAN 8.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1.a. Faktor-faktor yang berpengaruh nyata/signifikan terhadap produksi usahatani jagung

Lebih terperinci

VI. ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN SIAM DEDDY FISH FARM

VI. ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN SIAM DEDDY FISH FARM VI. ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN SIAM DEDDY FISH FARM Analisis keunggulan komparatif dan kompetitif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan prospek serta

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Saat ini perekonomian domestik tidak bisa berdiri sendiri melainkan dipengaruhi juga oleh kondisi ekonomi global. Pengalaman telah menunjukkan bahwa pada triwulan III tahun

Lebih terperinci

STUDI KELAYAKAN BISNIS ( Domestic Resource Cost )

STUDI KELAYAKAN BISNIS ( Domestic Resource Cost ) STUDI KELAYAKAN BISNIS ( Domestic Resource Cost ) Oleh: Dr Rita Nurmalina Suryana INSTITUT PERTANIAN BOGOR Domestic Resource Cost Of Earning or Saving a Unit of Foreign Exchange (Biaya Sumberdaya Domestik

Lebih terperinci

sesuaian harga yang diterima dengan cost yang dikeluarkan. Apalagi saat ini,

sesuaian harga yang diterima dengan cost yang dikeluarkan. Apalagi saat ini, RINGKASAN Kendati Jambu Mete tergolong dalam komoditas unggulan, namun dalam kenyataannya tidak bisa dihindari dan kerapkali mengalami guncangan pasar, yang akhirnya pelaku (masyarakat) yang terlibat dalam

Lebih terperinci

III METODE PENELITIAN. Daya saing adalah suatu konsep yang menyatakan kemampuan suatu produsen

III METODE PENELITIAN. Daya saing adalah suatu konsep yang menyatakan kemampuan suatu produsen III METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Daya saing adalah suatu konsep yang menyatakan kemampuan suatu produsen untuk memproduksi suatu komoditas dengan mutu yang cukup baik dan

Lebih terperinci

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan tujuan penelitian dan hasil analisis, maka pada penelitian ini

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan tujuan penelitian dan hasil analisis, maka pada penelitian ini BAB VII SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan tujuan penelitian dan hasil analisis, maka pada penelitian ini diperoleh beberapa simpulan, implikasi kebijakan dan saran-saran seperti berikut. 7.1 Simpulan 1. Dari

Lebih terperinci

KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN DAMPAK KEBIJAKAN PENGURANGAN SUBSIDI INPUT TERHADAP PENGEMBANGAN KOMODITAS KENTANG DI KOTA BATU

KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN DAMPAK KEBIJAKAN PENGURANGAN SUBSIDI INPUT TERHADAP PENGEMBANGAN KOMODITAS KENTANG DI KOTA BATU Habitat Volume XXIV, No. 2, Bulan Agustus 2013 ISSN: 0853-5167 KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN DAMPAK KEBIJAKAN PENGURANGAN SUBSIDI INPUT TERHADAP PENGEMBANGAN KOMODITAS KENTANG DI KOTA BATU COMPARATIVE ADVANTAGE

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Usaha Sapi Potong di Kabupaten Indrgiri Hulu 5.1.1. Profitabilitas Privat dan Sosial Usaha Sapi Potong Usaha peternakan sapi

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Analisis Daya Saing Dalam sistem perekonomian dunia yang semakin terbuka, faktor-faktor yang mempengaruhi perdagangan dunia (ekspor dan impor)

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN 28 IV. METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan dari Bulan Pebruari sampai April 2009, mengambil lokasi di 5 Kecamatan pada wilayah zona lahan kering dataran rendah

Lebih terperinci

Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Beras Organik Ekspor (Suatu Kasus di Gapoktan Simpatik Kabupaten Tasikmalaya)

Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Beras Organik Ekspor (Suatu Kasus di Gapoktan Simpatik Kabupaten Tasikmalaya) Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Beras Organik Ekspor (Suatu Kasus di Gapoktan Simpatik Kabupaten Tasikmalaya) Tirsa Neyatri Bandrang, Ronnie S. Natawidjaja, Maman Karmana Program Magister

Lebih terperinci

Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 12 No. 2, Agustus 2007 Hal: namun sering harganya melambung tinggi, sehingga tidak terjangkau oleh nelayan. Pe

Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 12 No. 2, Agustus 2007 Hal: namun sering harganya melambung tinggi, sehingga tidak terjangkau oleh nelayan. Pe Jurnal EKONOMI PEMBANGUNAN Kajian Ekonomi Negara Berkembang Hal: 141 147 EFISIENSI EKONOMI DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP USAHA PENANGKAPAN LEMURU DI MUNCAR, JAWA TIMUR Mira Balai Besar Riset

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Gula merupakan salah satu komoditas perkebunan strategis Indonesia baik

I. PENDAHULUAN. Gula merupakan salah satu komoditas perkebunan strategis Indonesia baik I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Gula merupakan salah satu komoditas perkebunan strategis Indonesia baik dari dimensi ekonomi, sosial, maupun politik. Indonesia memiliki keunggulan komparatif sebagai

Lebih terperinci

DAMPAK KEBIJAKAN PEMBATASAN IMPOR BAWANG MERAH TERHADAP USAHATANI BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO

DAMPAK KEBIJAKAN PEMBATASAN IMPOR BAWANG MERAH TERHADAP USAHATANI BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO DAMPAK KEBIJAKAN PEMBATASAN IMPOR BAWANG MERAH TERHADAP USAHATANI BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO Policy Impact of Import Restriction of Shallot on Farm in Probolinggo District Mohammad Wahyudin,

Lebih terperinci

LAPORAN AKHIR REVITALISASI SISTEM DAN USAHA AGRIBISNIS GULA

LAPORAN AKHIR REVITALISASI SISTEM DAN USAHA AGRIBISNIS GULA LAPORAN AKHIR REVITALISASI SISTEM DAN USAHA AGRIBISNIS GULA Oleh: A. Husni Malian Erna Maria Lokollo Mewa Ariani Kurnia Suci Indraningsih Andi Askin Amar K. Zakaria Juni Hestina PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KEDELAI VS PENGUSAHAAN KEDELAI DI KABUPATEN LAMONGAN, JAWA TIMUR

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KEDELAI VS PENGUSAHAAN KEDELAI DI KABUPATEN LAMONGAN, JAWA TIMUR ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KEDELAI VS PENGUSAHAAN KEDELAI DI KABUPATEN LAMONGAN, JAWA TIMUR Syahrul Ganda Sukmaya 1), Dwi Rachmina 2), dan Saptana 3) 1) Program

Lebih terperinci

POLICY BRIEF DAYA SAING KOMODITAS PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI DALAM KONTEKS PENCAPAIAN SWASEMBADA PANGAN. Dr. Adang Agustian

POLICY BRIEF DAYA SAING KOMODITAS PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI DALAM KONTEKS PENCAPAIAN SWASEMBADA PANGAN. Dr. Adang Agustian PENDAHULUAN POLICY BRIEF DAYA SAING KOMODITAS PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI DALAM KONTEKS PENCAPAIAN SWASEMBADA PANGAN Dr. Adang Agustian 1) Salah satu peran strategis sektor pertanian dalam perekonomian nasional

Lebih terperinci

KEUNGGULAN KOMPARATIF USAHATANI JAGUNG MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN DI PROVINSI NTT. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, 2

KEUNGGULAN KOMPARATIF USAHATANI JAGUNG MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN DI PROVINSI NTT. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, 2 KEUNGGULAN KOMPARATIF USAHATANI JAGUNG MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN DI PROVINSI NTT Yusuf 1 dan Rachmat Hendayana 2 1 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, 2 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Definisi operasional dan konsep dasar ini mencakup semua pengertian yang

III. METODE PENELITIAN. Definisi operasional dan konsep dasar ini mencakup semua pengertian yang III. METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional dan Konsep Dasar Definisi operasional dan konsep dasar ini mencakup semua pengertian yang dipergunakan untuk memperoleh data yang akan dianalisis sesuai dengan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan dan menganalisis data sesuai dengan tujuan penelitian.

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan dan menganalisis data sesuai dengan tujuan penelitian. 29 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan definisi operasional mencakup pengertian yang dipergunakan untuk mendapatkan dan menganalisis data sesuai dengan tujuan

Lebih terperinci

MACAM-MACAM ANALISA USAHATANI

MACAM-MACAM ANALISA USAHATANI MACAM-MACAM ANALISA USAHATANI Pendahuluan Sebelum melakukan analisis, data yang dipakai harus dikelompokkan dahulu : 1. Data Parametrik : data yang terukur dan dapat dibagi, contoh; analisis menggunakan

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING AGRIBISNIS BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO

ANALISIS DAYA SAING AGRIBISNIS BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO ANALISIS DAYA SAING AGRIBISNIS BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO COMPETITIVENESS ANALYSIS OF SHALLOTS AGRIBUSINESS IN PROBOLINGGO REGENCY Competitiveness analysis of shallot business in Probolinggo

Lebih terperinci

KEUNGGULAN KOMPARATIF KOMODITAS JAGUNG DI KABUPATEN KEDIRI

KEUNGGULAN KOMPARATIF KOMODITAS JAGUNG DI KABUPATEN KEDIRI KEUNGGULAN KOMPARATIF KOMODITAS JAGUNG DI KABUPATEN KEDIRI NAVITA MAHARANI Prodi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Islam Kadiri, Kediri fp.uniska@gmail.com ABSTRAK Penelitian ini dilakukan

Lebih terperinci

DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PENGEMBANGAN USAHATANI BAWANG MERAH DI KECAMATAN BULAKAMBA KABUPATEN BREBES

DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PENGEMBANGAN USAHATANI BAWANG MERAH DI KECAMATAN BULAKAMBA KABUPATEN BREBES Habitat Volume XXV, No. 1, Bulan April 2014 ISSN: 0853-5167 DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PENGEMBANGAN USAHATANI BAWANG MERAH DI KECAMATAN BULAKAMBA KABUPATEN BREBES THE IMPACTS OF GOVERNMENT S

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. khususnya bagi sektor pertanian dan perekonomian nasional pada umumnya. Pada

I. PENDAHULUAN. khususnya bagi sektor pertanian dan perekonomian nasional pada umumnya. Pada I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Subsektor peternakan merupakan salah satu sumber pertumbuhan baru khususnya bagi sektor pertanian dan perekonomian nasional pada umumnya. Pada tahun 2006 Badan Pusat

Lebih terperinci

EFISIENSI DAN DAYA SAING SISTEM USAHATANI PADI

EFISIENSI DAN DAYA SAING SISTEM USAHATANI PADI EFISIENSI DAN DAYA SAING SISTEM USAHATANI PADI Beny Rachman, Pantjar Simatupang, dan Tahlim Sudaryanto Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian Jl. A. Yani No. 70 Bogor 16161 ABSTRACT

Lebih terperinci

Lampiran 1. Perhitungan Premium Nilai Tukar dan Nilai Tukar Bayangan Tahun 2009

Lampiran 1. Perhitungan Premium Nilai Tukar dan Nilai Tukar Bayangan Tahun 2009 LAMPIRAN Lampiran 1. Perhitungan Premium Nilai Tukar dan Nilai Tukar Bayangan Tahun 2009 Uraian Jumlah (Rp) Total Ekspor (Xt) 1,211,049,484,895,820.00 Total Impor (Mt) 1,006,479,967,445,610.00 Penerimaan

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN 23 III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Daya Saing Daya saing merupakan kemampuan suatu produsen untuk memproduksi suatu komoditi dengan mutu yang baik dan biaya produksi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pangan merupakan kebutuhan yang paling mendasar bagi sumberdaya manusia suatu bangsa. Untuk mencapai ketahanan pangan diperlukan ketersediaan pangan dalam jumlah dan kualitas

Lebih terperinci

VIII. ANALISIS KEBIJAKAN ATAS PERUBAHAN HARGA OUTPUT/ INPUT, PENGELUARAN RISET JAGUNG DAN INFRASTRUKTUR JALAN

VIII. ANALISIS KEBIJAKAN ATAS PERUBAHAN HARGA OUTPUT/ INPUT, PENGELUARAN RISET JAGUNG DAN INFRASTRUKTUR JALAN VIII. ANALISIS KEBIJAKAN ATAS PERUBAHAN HARGA OUTPUT/ INPUT, PENGELUARAN RISET JAGUNG DAN INFRASTRUKTUR JALAN 8.1. Pengaruh Perubahan Harga Output dan Harga Input terhadap Penawaran Output dan Permintaan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. I. PENDAHULUAN 1.Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Manfaat Penelitian... 4

DAFTAR ISI. I. PENDAHULUAN 1.Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Manfaat Penelitian... 4 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGAJUAN... ii HALAMAN PENGESAHAN... iii HALAMAN PENYATAAN... iv KATA PENGANTAR... v DAFTAR ISI... vi DAFTAR TABEL... viii DAFTAR GAMBAR... ix DAFTAR LAMPIRAN...

Lebih terperinci

Tabel 1.1. Konsumsi Beras di Tingkat Rumah Tangga Tahun Tahun Konsumsi Beras*) (Kg/kap/thn)

Tabel 1.1. Konsumsi Beras di Tingkat Rumah Tangga Tahun Tahun Konsumsi Beras*) (Kg/kap/thn) I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sektor pertanian merupakan sektor penting dalam pembangunan ekonomi nasional. Peran strategis sektor pertanian digambarkan dalam kontribusi sektor pertanian dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia dikenal sebagai negara agraris karena memiliki kekayaan alam yang berlimpah, terutama di bidang sumber daya pertanian seperti lahan, varietas serta iklim yang

Lebih terperinci

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pendekatan Penelitian Sistem Usaha Pertanian dan Agribisnis

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pendekatan Penelitian Sistem Usaha Pertanian dan Agribisnis II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pendekatan Penelitian Sistem Usaha Pertanian dan Agribisnis Pada awalnya penelitian tentang sistem pertanian hanya terbatas pada tahap budidaya atau pola tanam, tetapi pada tahun

Lebih terperinci

EFISIENSI DAN DAYA SAING USAHATANI HORTIKULTURA

EFISIENSI DAN DAYA SAING USAHATANI HORTIKULTURA EFISIENSI DAN DAYA SAING USAHATANI HORTIKULTURA Handewi P.S. Rachman, Supriyati, Saptana, Benny Rachman Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian Jl. A. Yani No. 70 Bogor 16161 ABSTRACT

Lebih terperinci

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PENDAHULUAN A. Latar Belakang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hortikultura sebagai salah satu subsektor pertanian memiliki peran yang cukup strategis dalam perekonomian nasional. Hal ini tercermin dari perannya sebagai pemenuh kebutuhan

Lebih terperinci

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI DAN IMPOR KEDELAI DI INDONESIA. Oleh : RIKA PURNAMASARI A

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI DAN IMPOR KEDELAI DI INDONESIA. Oleh : RIKA PURNAMASARI A ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI DAN IMPOR KEDELAI DI INDONESIA Oleh : RIKA PURNAMASARI A14302053 PROGRAM STUDI EKONOMI PERTANIAN DAN SUMBERDAYA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Lebih terperinci

Pengkajian Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Usahatani Padi dan Jeruk Lahan Gambut Kabupaten Barito Kuala Kalimantan Selatan

Pengkajian Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Usahatani Padi dan Jeruk Lahan Gambut Kabupaten Barito Kuala Kalimantan Selatan Pengkajian Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Usahatani Padi dan Jeruk Lahan Gambut Kabupaten Barito Kuala Kalimantan Selatan Muhammad Husaini Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian

METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat tepatnya di Kecamatan Samarang. Pemilihan lokasi ditentukan secara sengaja (purposive)

Lebih terperinci

ANALISIS SENSITIVITAS

ANALISIS SENSITIVITAS VII ANALISIS SENSITIVITAS 7.1. Analisis Sensitivitas Analisis sensitivitas dilakukan untuk mengetahui bagaimana pengaruh dari perubahan kurs mata uang rupiah, harga jeruk siam dan harga pupuk bersubsidi

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PRODUKSI KAKAO DI JAWA TIMUR

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PRODUKSI KAKAO DI JAWA TIMUR ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PRODUKSI KAKAO DI JAWA TIMUR Dede Haryono 1, Soetriono 2, Rudi Hartadi 2, Joni Murti Mulyo Aji 2 1 Program Studi Agribisnis Program Magister

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pertanian merupakan sektor potensial yang memegang peranan penting

I. PENDAHULUAN. Pertanian merupakan sektor potensial yang memegang peranan penting 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertanian merupakan sektor potensial yang memegang peranan penting dalam pembangunan Indonesia. Hal ini didasarkan pada kontribusi sektor pertanian yang tidak hanya

Lebih terperinci

VII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING LADA PUTIH

VII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING LADA PUTIH 93 VII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING LADA PUTIH 7.1. Justifikasi Harga Bayangan Penelitian ini, untuk setiap input dan output ditetapkan dua tingkat harga, yaitu harga

Lebih terperinci

Jl. Veteran Malang Telp (0341)

Jl. Veteran Malang Telp (0341) HABITAT Volume XIV No. 2 Bulan Agustus 2013 ISSN: 0853-5167 KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN DAMPAK KEBIJAKAN SUBSIDI INPUT OUTPUT TERHADAP PENGEMBANGAN KOMODITAS KEDELAI (Glycine max) DI KABUPATEN PASURUAN (Studi

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Gula merupakan salah satu komoditas pertanian yang telah ditetapkan Indonesia sebagai komoditas khusus (special product) dalam forum perundingan Organisasi Perdagangan

Lebih terperinci

Lampiran 1. Syarat Mutu Lada Putih Mutu I dan Mutu II. binatang

Lampiran 1. Syarat Mutu Lada Putih Mutu I dan Mutu II. binatang 131 Lampiran 1. Syarat Mutu Lada Putih Mutu I dan Mutu II No Jenis Uji Satuan 1 Cemaran Binatang 2 Warna 3 Kadar Benda Asing (b/b) 4 Kadar Biji Enteng (b/b) 5 Kadar Cemaran Kapang 6 Kadar Warna Kehitam-hitaman

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. 4.1 METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan

Lebih terperinci

PEMBANGUNAN PERTANIAN & KEBIJAKAN PEMERINTAH

PEMBANGUNAN PERTANIAN & KEBIJAKAN PEMERINTAH PEMBANGUNAN PERTANIAN & KEBIJAKAN PEMERINTAH TIK ; MAHASISWA DIHARAPKAN DAPAT MENJELASKAN SYARAT - SYARAT POKOK PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN KEBIJAKAN PENDUKUNGNYA PERAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PEMBANGUNAN

Lebih terperinci

SIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN

SIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN 273 VII. SIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN 7.1. Simpulan Berdasarkan hasil analisis deskripsi, estimasi, dan simulasi peramalan dampak kebijakan subsidi harga BBM terhadap kinerja perekonomian, kemiskinan,

Lebih terperinci

Jurnal Agribisnis dan Ekonomi Pertanian (Volume 2. No 1 Juni 2008)

Jurnal Agribisnis dan Ekonomi Pertanian (Volume 2. No 1 Juni 2008) 1 ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF PENGUSAHAAN KOMODITI JAGUNG DI KABUPATEN GROBOGAN A. Faroby Falatehan 1 dan Arif Wibowo 2 1 Departemen Ekonomi Sumberdaya Lingkungan, Fakultas Ekonomi dan

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian mengenai Analisis Pendapatan Usahatani Ubi Jalar ini dilakukan di Desa Gunung Malang yang berada di Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor,

Lebih terperinci

JURNAL HABITAT ISSN: (p); (e), Volume 27, No. 1, April 2016, Hal DOI: /ub.habitat

JURNAL HABITAT ISSN: (p); (e), Volume 27, No. 1, April 2016, Hal DOI: /ub.habitat JURNAL HABITAT ISSN: 0853-5167 (p); 2338-2007 (e), Volume 27, No. 1, April 2016, Hal. 25-36 DOI: 10.21776/ub.habitat.2016.027.1.4 Analisis Keunggulan Komparatif Usahatani Tebu (Studi di Desa Wates, Kecamatan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. di Pulau Jawa. Sementara pabrik gula rafinasi 1 yang ada (8 pabrik) belum

BAB 1 PENDAHULUAN. di Pulau Jawa. Sementara pabrik gula rafinasi 1 yang ada (8 pabrik) belum BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia mempunyai potensi menjadi produsen gula dunia karena didukung agrokosistem, luas lahan serta tenaga kerja yang memadai. Di samping itu juga prospek pasar

Lebih terperinci

ANALISIS KEBIJAKAN KOPI ROBUSTA DALAM UPAYA MENINGKATKAN DAYA SAING DAN PENGUATAN REVITALISASI PERKEBUNAN

ANALISIS KEBIJAKAN KOPI ROBUSTA DALAM UPAYA MENINGKATKAN DAYA SAING DAN PENGUATAN REVITALISASI PERKEBUNAN ANALISIS KEBIJAKAN KOPI ROBUSTA DALAM UPAYA MENINGKATKAN DAYA SAING DAN PENGUATAN REVITALISASI PERKEBUNAN Anik Suwandari dan Soetriono Dosen Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian/ Agribisnis Fakultas Pertanian

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN. Fish Farm) dilaksanakan di lokasi usaha yang bersangkutan yaitu di daerah

IV. METODE PENELITIAN. Fish Farm) dilaksanakan di lokasi usaha yang bersangkutan yaitu di daerah IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Studi kasus penelitian mengenai Analisis Keunggulan Komparatif dan Kompetitif Usaha Pembenihan Ikan Patin Siam (Studi Kasus : Perusahaan Deddy Fish Farm) dilaksanakan

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN STRUKTUR PROTEKSI KOMODITAS PALAWIJA

ANALISIS DAYA SAING DAN STRUKTUR PROTEKSI KOMODITAS PALAWIJA ANALISIS DAYA SAING DAN STRUKTUR PROTEKSI KOMODITAS PALAWIJA I Wayan Rusastra, Benny Rachman dan Supena Friyatno Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian Jl. A. Yani No. 7 Bogor 16161

Lebih terperinci

DAMPAK DEPRESIASI RUPIAH TERHADAP DAYA SAING DAN TINGKAT PROTEKSI KOMODITAS PADI DI KABUPATEN BADUNG

DAMPAK DEPRESIASI RUPIAH TERHADAP DAYA SAING DAN TINGKAT PROTEKSI KOMODITAS PADI DI KABUPATEN BADUNG DAMPAK DEPRESIASI RUPIAH TERHADAP DAYA SAING DAN TINGKAT PROTEKSI KOMODITAS PADI DI KABUPATEN BADUNG Jarek Putradi Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Badung, Bali jarek.putradi@gmail.com

Lebih terperinci

VIII. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN. dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan net ekspor baik dalam

VIII. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN. dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan net ekspor baik dalam 219 VIII. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN 8.1. Kesimpulan 8.1.1. Berdasarkan pengujian, diperoleh hasil bahwa guncangan ekspor nonagro berpengaruh positip pada kinerja makroekonomi Indonesia, dalam

Lebih terperinci

DAYA SAING JAGUNG, KETELA POHON, DAN KETELA RAMBAT PRODUKSI LAHAN KERING DI KECAMATAN KUBU, KABUPATEN KARANGASEM PROVINSI BALI

DAYA SAING JAGUNG, KETELA POHON, DAN KETELA RAMBAT PRODUKSI LAHAN KERING DI KECAMATAN KUBU, KABUPATEN KARANGASEM PROVINSI BALI DAYA SAING JAGUNG, KETELA POHON, DAN KETELA RAMBAT PRODUKSI LAHAN KERING DI KECAMATAN KUBU, KABUPATEN KARANGASEM PROVINSI BALI I Made Tamba Universitas Mahasaraswati Denpasar ABSTRAK Jagung, ketela pohon

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan pertanian, khususnya pada sub sektor tanaman pangan merupakan salah satu prioritas pembangunan nasional. Prioritas ini penting, mengingat saat ini dan di

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN INDONESIA. negara selain faktor-faktor lainnya seperti PDB per kapita, pertumbuhan ekonomi,

BAB IV GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN INDONESIA. negara selain faktor-faktor lainnya seperti PDB per kapita, pertumbuhan ekonomi, BAB IV GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN INDONESIA 4.1 Perkembangan Laju Inflasi di Indonesia Tingkat inflasi merupakan salah satu indikator fundamental ekonomi suatu negara selain faktor-faktor lainnya seperti

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Teori Permintaan Permintaan adalah jumlah barang atau jasa yang rela dan mampu dibeli oleh konsumen selama periode tertentu (Pappas & Hirschey

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tebu merupakan tumbuhan sejenis rerumputan yang dikelompokkan

BAB I PENDAHULUAN. Tebu merupakan tumbuhan sejenis rerumputan yang dikelompokkan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tebu merupakan tumbuhan sejenis rerumputan yang dikelompokkan dalam famili gramineae. Seperti halnya padi dan termasuk kategori tanaman semusim, tanaman tebu tumbuh

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pertanian berperan besar dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional. Di

I. PENDAHULUAN. pertanian berperan besar dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional. Di I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang tangguh dalam perekonomian dan memiliki peran sebagai penyangga pembangunan nasional. Hal ini terbukti pada saat Indonesia

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. perekonomian Indonesia. Hal ini terlihat dari beberapa peranan sektor pertanian

1. PENDAHULUAN. perekonomian Indonesia. Hal ini terlihat dari beberapa peranan sektor pertanian 1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara yang berbasis pada sektor pertanian, sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa sektor pertanian merupakan sektor yang sangat penting bagi

Lebih terperinci

JIIA, VOLUME 2, No. 1, JANUARI 2014

JIIA, VOLUME 2, No. 1, JANUARI 2014 ANALISIS POSISI DAN TINGKAT KETERGANTUNGAN IMPOR GULA KRISTAL PUTIH DAN GULA KRISTAL RAFINASI INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL (Analysis of the Position and Level of Dependency on Imported White Sugar

Lebih terperinci

Kebijakan PSO/Subsidi Pupuk dan Sistem Distribusi. I. Pendahuluan

Kebijakan PSO/Subsidi Pupuk dan Sistem Distribusi. I. Pendahuluan 6 Bab V. Analisis Kebijakan Kapital, Sumberdaya Lahan dan Air Kebijakan PSO/Subsidi Pupuk dan Sistem Distribusi I. Pendahuluan Dalam rangka pencapaian ketahanan pangan nasional, Pemerintah terus berupaya

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITI PADI SAWAH DI KECAMATAN PERBAUNGAN KABUPATEN SERDANG BEDAGAI ABSTRACT

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITI PADI SAWAH DI KECAMATAN PERBAUNGAN KABUPATEN SERDANG BEDAGAI ABSTRACT ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITI PADI SAWAH DI KECAMATAN PERBAUNGAN KABUPATEN SERDANG BEDAGAI Denti Juli Irawati*), Luhut Sihombing **), Rahmanta Ginting***) *) Alumni

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis merupakan merupakan suatu rancangan kerja penelitian yang digunakan untuk mengungkapkan konsep dan teori dalam menjawab

Lebih terperinci