Tugas Filsafat Ilmu (BI7101) Dosen : Intan Ahmad Ph.D. Pelanggaran Etik Pada Pelaksanaan Uji Klinis. Produk Farmasi di Negara Berkembang.

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Tugas Filsafat Ilmu (BI7101) Dosen : Intan Ahmad Ph.D. Pelanggaran Etik Pada Pelaksanaan Uji Klinis. Produk Farmasi di Negara Berkembang."

Transkripsi

1 Tugas Filsafat Ilmu (BI7101) Dosen : Intan Ahmad Ph.D. Pelanggaran Etik Pada Pelaksanaan Uji Klinis Produk Farmasi di Negara Berkembang Tinjauan Bioetika Oleh : Maharani (NIM ) SEKOLAH ILMU DAN TEKNOLOGI HAYATI INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2009

2 Pelanggaran Etik Pada Pelaksanaan Uji Klinis Produk Farmasi di Negara Berkembang Tinjauan Bioetika I. Pendahuluan Uji klinis dari produk farmasi yang akan beredar merupakan suatu kegiatan riset biomedis dengan memferifikasi secara klinis efek farmakodinamiknya untuk menjamin bahwa produk farmasi aman untuk digunakan dan/atau efikasinya memenuhi persyaratan. Uji klinis ini melibatkan subjek manusia yang berpartisipasi baik sebagai resipien dari produk farmasi yang diujikan maupun sebagai kontrol. Good Clinical Practice (GCP) merupakan standar etik dan kualitas keilmiahan dari desain, pelaksanaan, pencatatan dan pelaporan dari uji klinis yang melibatkan manusia sebagai subjek. GCP dijadikan sebagai standar yang digunakan untuk menjamin publik bahwa hak, keamanan, dan kondisi orang yang menjadi subjek uji klinis terlindungi sesuai Deklarasi Helsinki dan data yang didapat dari uji klinis dapat dipercaya [1]. Deklarasi Helsinki merupakan prinsip-prinsip etik yang dikembangkan oleh World Medical Association untuk memberikan panduan kepada para dokter dan partisipan lain pada riset medik yang melibatkan manusia sebagai subjek [2]. Council for International Organization of Medical Sciences (CIOMS) sebagai panduan lain menyatakan bahwa semua riset yang melibatkan manusia sebagai subjek riset harus dilaksanakan sesuai dengan tiga prinsip dasar etika yaitu adanya penghormatan terhadap manusia, rasa kedermawanan dan keadilan. Secara umum telah disepakati bahwa ketiga prinsip ini, yang secara ringkas memiliki kekuatan moral, menjadi petunjuk bagi pembuatan proposal studi sains yang sangat teliti dan berhati-hati. Pada kondisi yang beragam, prinsip-prinsip tersebut dapat terimplimentasi secara berbeda dengan tingkat kekuatan moral yang juga berbeda dan aplikasinya juga mungkin menghasilkan keputusan atau prosedur yang berbeda. Penghormatan terhadap manusia merupakan gabungan dari minimal dua pertimbangan dasar etika yaitu penghormatan terhadap hak otonomi seseorang dan perlindungan terhadap orang yang hak otonominya terganggu atau berkurang. Hak 1

3 otonomi seseorang memungkinkan orang tersebut untuk dapat mempertimbangkan sendiri secara mendalam keputusan yang akan diambilnya dengan juga menghormati ketetapan yang dipilihnya. Hak otonomi terganggu atau berkurang dapat diartikan bahwa orang tersebut tergantung dan rentan untuk mendapat penyalahgunaan perlakuan yang berakibat pada kerugian orang yang bersangkutan. Kedermawanan merupakan suatu kewajiban terhadap etika untuk memaksimalkan manfaat dan menimimalkan kerugian yang didapat. Prinsip kedermawanan akan mengarahkan resiko pelaksanaan riset akan berbuah manfaat yang diharapkan, desain riset akan diumumkan secara luas dan bahwa investigator sebagai pelaksana uji klinis memiliki kompetensi untuk melaksanakan riset dan menjaga kesejahteraan subjek riset. Lebih jauh lagi,kedermawanan melarang terjadinya kerugian yang diderita oleh orang sebagai subjek riset,dan dikenal sebagai nonmaleficence(do no harm). Keadilan berarti kewajiban terhadap etika untuk memperlakukan setiap orang dengan layak dan sesuai dengan ketentuan moral sehingga memberikan setiap orang apa yang menjadi haknya. Etika yang berlaku pada riset yang melibatkan manusia sebagai subjek,secara utama,berpedoman pada keadilan yang merata dimana tercapai keseimbangan dari beban yang diberikan dengan keuntungan yang didapat oleh partisipan sebagai subjek riset. Keseimbangan ini menghindari adanya kerentanan seseorang untuk berada di posisi subordinat dari kelompok lain [3]. Dalam banyak contoh,negara berkembang sering dianggap sebagai tempat komunitas yang rentan terhadap penyalahgunaan uji klinis oleh negara-negara maju. II. Peraturan Internasional Yang Berhubungan Dengan Uji Klinis 2.1. Prinsip Dasar Deklarasi Helsinki Riset Biomedis yang melibatkan manusia sebagai subjek harus memenuhi prinsip ilmiah yang telah diterima secara umum dan harus berdasar pada eksperimen yang dilakukan pada laboratorium dan hewan laboratorium yang memadai juga berdasarkan literatur ilmiah Desain dan pelaksanaan dari prosedur eksperimen yang melibatkan manusia sebagai subjek harus terformulasi dengan jelas dalam suatu 2

4 protokol yang telah mendapat tinjauan berupa pertimbangan, komentar dan petunjuk dari suatu komite independen Riset Biomedis yang melibatkan manusia sebagai subjek harus dilakukan hanya oleh orang yang memenuhi kualifikasi ilmiah dan dibawah pengawasan tenaga medis yang kompeten Riset Biomedis yang melibatkan manusia tidak dapat disahkan untuk dapat dilaksanakan kecuali bila kepentingan riset bersifat proposional dengan resiko yang mungkin timbul pada subjek Setiap riset Biomedis yang melibatkan manusia harus didahului dengan penilaian terhadap resiko yang bisa diprediksi dalam perbandingannya dengan keuntungan yang juga sudah dapat diduga terhadap subjek atau lainnya Hak dari subjek riset untuk perlindungannya harus dihormati Dokter tidak bisa melakukan riset kecuali bahaya yang mungkin terjadi dapat diprediksi Dalam mempublikasi hasil riset,dokter harus menjaga tingkat akurasi dari hasil riset tersebut Dalam riset yang melibatkan manusia, setiap subjek harus cukup mendapat informasi mengenai tujuan,metoda, keuntungan dan bahaya yang potensial terjadi dan akan menimbulkan ketidaknyamanan yang mungkin akan terjadi Pada saat mendapat persetujuan setelah pemberitahuan pada projek riset,dokter harus bersikap hati-hati terhadap kemungkinan subjek menyetujui karena adanya paksaan Pada keadaan ketidakmampuan legal, persetujuan setelah pemberitahuan harus didapat dari pendamping yang legal sesuai peraturan pemerintah Protokol riset harus selalu memuat pertimbangan-pertimbangan etik dan dinyatakan dengan jelas sesuai deklarasi yang berlaku. 3

5 2.2. CIOMS Guidelines Produk farmasi, sebelum disetujui untuk digunakan secara umum, harus dilakukan uji klinis,dimana uji ini merupakan bagian yang substansial dari riset keseluruhan dan melibatkan manusia sebagai subjek. Uji klinis harus memenuhi hal-hal pokok sebagai berikut: Dasar kebenaran etik dan validitas ilmiah dari riset biomedis yang melibatkan manusia di dalamnya Komite etik Review etik terhadap sponsor luar Persetujuan setelah pemberitahuan bersifat perseorangan Pada perolehan persetujuan setelah pemberitahuan,kepada calon subjek riset harus diberikan informasi yang penting/pokok Pada perolehan persetujuan setelah pemberitahuan harus terdapat kewajiban-kewajiban tertentu dari sponsor dan investigator Dukungan finansial terhadap subjek Keuntungan dan resiko seimbang dengan resiko yang diminimalkan Mengutamakan adanya pembatasan resiko bagi subjek yang tidak memiliki kemampuan terhadap persetujuan setelah pemberitahuan Mengikuti panduan pada riset yang dilakukan pada populasi dan komunitas dengan sumber daya yang terbatas Pemilihan kontrol pada uji klinis Keseimbangan pada beban dan keuntungan pada proses seleksi kelompok subjek yang akan ikut serta pada riset Mengikuti panduan riset yang melibatkan orang-orang yang rentan untuk disalahgunakan Mengikuti panduan riset yang melibatkan anak-anak Mengikuti panduan riset yang melibatkan orang-orang yang dengan alasan mental dan gangguan perilaku tidak memiliki kemampuan untuk melakukan persetujuan setelah pemberitahuan Jaminan kerahasiaan data subjek. 4

6 Hak perawatan dan kompensasi dari subjek yang mengalami perlukaan akibat uji klinis Memperkuat kapasitas etik, review ilmiah dan riset biomedis Melaksanakan kewajiban etik oleh sponsor dari luar untuk melaksanakan pelayanan kesehatan. III. Kasus Pelanggaran Bioetika pada Uji Klinis 3.1.Uji Klinis Dipyrone di Thailand Tiga uji klinis dipyrone di Thailand telah menyita perhatian kelompok perlindungan konsumen sehubungan dengan permasalahan di dalamnya yang telah diketahui secara luas. Uji klinis pertama dilakukan di rumah sakit pendidikan dengan tujuan untuk membandingkan kemanjuran pengurangan rasa sakit dan kemampuan toleran dari dipyrone (metamizole) dan pethidine pada pasien paska operasi appendix. Dua uji klinis lainnya dilakukan untuk membandingkan kemampuan mengurangi sakit antara dipyrone dan parasetamol (asetaminofen). Salah satu dari studi itu melibatkan 60 orang anak berusia antara 4-7 tahun yang mengalami demam (38.5 o C atau lebih). Sebelumnya dipyrone telah dilarang beredar di beberapa negara [4] Uji klinis AZT Pada tahun 1994,protokol ACTG 076 menunjukkan bahwa pengobatan dengan AZT lima kali sehari pada sebelas minggu sebelum melahirkan,pemberian secara intravena selama melahirkan dan pemberian pada bayi usia enam minggu akan mengurangi penularan HIV dari 25% menjadi 8%. Biaya pengobatan yang setidaknya sebesar $800,menyebabkan pengobatan ini kecil kemungkinan dilakukan oleh negara berkembang yang dibiayai sendiri. Dengan demikian uji klinis AZT dilakukan di negara berkembang dengan menggunakan plasebo untuk menjamin validitas uji.uji klinis ini juga mengundang banyak komentar [5] IV. Pembahasan Uji klinis dipyrone pertama di Thailand tidak sesuai dengan prinsip ilmiah karena ternayata identitas obat tidak ada, disamping juga jumlah pasien sebanyak 130 orang dianggap tidak mencukupi untuk menilai kemampuan toleran dari dipyrone. Kedua 5

7 hal tersebut telah melanggar prinsip dasar deklarasi Helsinki yaitu bahwa riset biomedis yang melibatkan manusia sebagai subjek harus memenuhi prinsip ilmiah. Tidak satupun dari ketiga uji klinis dipyrone di Thailand yang mengindahkan resiko terhadap subjek. Tingkat kesakitan akibat operasi apendiks tidak dapat digunakan untuk mengarahkan apakah subjek dapat terkena agranulositosis atau syok anafilaktik. Sementara kejadian syok yang timbul akibat suntikan dipyrone sendiri diperkirakan terjadi 1 dalam Hal ini merupakan pelanggaran deklarasi Helsinki karena uji klinis dipyrone ternyata tidak didahului dengan penilaian terhadap resiko yang mungkin timbul disamping juga resiko yang mungkin terjadi tidak sepadan dengan manfaat yang didapat. Seharusnya uji klinis ini tidak dapat disahkan. Perbandingan dari kemampuan antipiretik dari dipyrone (sudah dilarang beredar di beberapa negara) dengan parasetamol pada demam biasa tidak dapat dipertanggungjawabkan merupakan pelanggaran deklarasi Helsinki karena nampaknya uji klinis tidak dilakukan berdasarkan eksperimen yang dilakukan pada laboratorium dan hewan laboratorium yang memadai dan kemungkinan juga tidak berdasarkan literatur ilmiah. Hal ini juga melanggar guidelines CIOMS karena tidak terdapat kapasitas etik dan review ilmiah yang memadai. Pelanggaran berganda terjadi karena tidak satupun dari ketiga uji klinis tersebut dilaporkan pada komite review uji klinis dari rumah sakit yang bersangkutan. Pelanggaran pada guidelines CIOMS disebabkan oleh digunakannya subjek pada anak-anak yang tidak akan pernah dibenarkan untuk digunakan sebagai subjek penelitian bisa masih mungkin dilakukan pada orang dewasa. Menurut deklarasi Helsinki anak-anak berada dalam keadaan ketidakmampuan legal sehingga persetujuan setelah pemberitahuan harus didapat dari pendamping yang legal sesuai peraturan pemerintah. Hal penting lainnya adalah apakah subjek memberikan persetujuan mereka sebelum uji klinis dilakukan dan siapa yang akan bertanggung jawab terhadap kompensasi yang akan diberikan bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, karena pelaksana penelitian dan perusahaan yang mensponsori menolak untuk membuat pernyataan secara umum mengenai validitas dari pekerjaan tersebut. Ketiga uji klinis didesain, diinisiasi dan disponsori oleh Hoescht,perusahaan berkelas dunia yang memproduksi dipyrone, pada saat yang sama saat kelompok 6

8 perlindungan konsumen di Thailand telah menyerukan penarikan dipyrone dari pasaran. Beberapa bulan sebelum kejadian di Thailand, Hoescht mendapat perintah dari Biro Obat dan Makanan Filipina yang melarang penggunaan dipyrone. Dipyrone telah beredar di pasaran lebih dari 65 tahun. Selama penyelidikan terhadap uji klinis ini dilakukan,para ahli Thailand menyatakan bahwa tidak pernah terjadi suatu perusahaan obat asing melaksanakan uji klinis yang tidak direview. Dalam hal ini analisa dan publikasi dari data seringkali diberikan seluruhnya kepada perusahaan sponsor. Nampaknya undang-undang mengenai uji klinis sudah sangat diperlukan. Undang-undang tersebut akan memastikan bahwa uji klinis harus terdaftar tidak hanya di negara dimana uji klinis berlangsung tetapi juga di negara di mana perusahaan sponsor berada. Uji klinis harus terbuka untuk publik peneliti yang peduli terhadap etik. Diharapkan jurnal medis dapat menghormati perjanjian Helsinki dan menolak untu mempublikasi uji klinis dipyrone diatas. Penggunaan plasebo pada uji klinis AZT juga menuai kritik tajam pada banyak literatur sejak tahun 1995, akan tetapi tidak ada tanggapan yang cukup berarti sampai akhirnya Public Citizens s Health Research Group mengkritisi uji klinis tersebut pada kongres dengar pendapat bioetik pada 8 Mei Kritik tertuju pada uji klinis AZT yang dilakukan di Uganda dan Thailand. Disampaikan bahwa lebih dari 1000 anak di negara berkembang akan meninggal sia-sia. Uji klinis ini didukung oleh NGO Family Health International yang mendapat masalah cukup berat akibat kritik ini. Juga didapat informasi bahwa pejabat negara berkembang itu sendiri,edward Mbidde pejabat dari Uganda s AIDS Research Committee mendukung terlaksananya uji klinis. Penggunaan plasebo dalam uji klinis ini dianggap telah melanggar deklarasi Helsinki dan guidelines CIOMS. Pada perkembangannya CIOMS melarang pelaksanaan uji klinis fase III di suatu negara yang tidak dibarengi dengan uji klinis di negara sponsor. Akan tetapi, tidak begitu mudahnya uji klinis ini dapat ditolak mengingat deklarasi Helsinki dan guidelines CIOMS dapat saja tidak sesuai dengan kondisi negara di mana uji klinis dilakukan.transmisi perinatal ini adalah suatu contoh bahwa revisi terhadap guidelines sudah diperlukan. Walaupun idealnya revisi 7

9 sudah dilakukan sebelum uji klinis dilaksanakan. Bahwa transmisi HIV pada bayi yang baru lahir adalah masalah besar di negara berkembang sehingga uji klinis tersebut bisa langsung dilaksanakan,juga tidak dapat dibenarkan walaupun mungkin nantinya akan memberikan manfaat bagi subjek. Pokok bahasan lain dari uji klinis AZT ini adalah bahwa uji klinis baru bisa disetujui bila para subjek sudah menyatakan persetujuannya untuk mengikuti uji klinis.pertanyaan selanjutnya adalah apakah subjek menyadari penjelasan yang sebenar-benarnya hingga mereka memutuskan untuk terlibat pada uji klinis atau hanya karena mereka melihat uji klinis sebagai solusi dari pengobatan yang menjanjikan. Dari uji klinis AZT ini didapat informasi bahwa subjek tidak cukup mengerti atas pemberitahuan yang disampaikan kepada mereka. Di Uganda sebagai contoh, seorang wanita bernama Nicole hanya mengetahui bahwa AZT dapat menghentikan transmisi virus selama masa kehamilan. Dia menyatakan bahwa informasi yang didapat menjelaskan bahwa AZT mampu melindungi bayi dan pelaksana uji klinis akan memantau kehamilannya serta keefektifan AZT. Pada saat ditanya bagaimana bila yang didapatnya adalah plasebo, nada bicara Nicole berubah menjadi kasar dan langsung mengatakan bahwa itu tidak adil. Seharusnya apabila komite etik mengangap bahwa penggunaan plasebo ini adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan uji yang valid,maka harus ada jaminan bahwa pihak sponsor merupakan penanggung jawab utama terhadap hal tersebut. Prinsip etik dari kedermawanan dan keadilan dengan norma dan standar hak azasi manusia secara internasional menuntut adanya kewajiban dari peneliti, sponsor dan otorita kesehatan masyarakat. Hal ini termasuk pada ketentuan perlakuan pada subjek yang terlibat pada uji klinis vaksin,obat juga metoda dan teknologi baru dari upaya pencegahan serta kuratif suatu penyakit. Desain uji klinis vaksin seharusnya memenuhi standar pencegahan terhadap hal yang tidak diinginkan yang dapat diaplikasikan pada populasi dimana uji klinis dilakukan. Desain ini harus melalui review komite etik yaitu komite yang independen dan terdiri dari ahli medis, anggota saintifik medis maupun bukan medis, mereka yang bertanggung jawab kepada hak,keamanan dan kesehatan partisipan yang terlibat pada uji klinis dengan cara melakukan review,menyetujui dan memfasilitasi review yang berkesinambungan dari 8

10 protokol uji klinis,amandemen, metoda, dan material yang digunakan untuk mendapatkan dan mendokumentasikan persetujuan setelah pemberitahuan dari subjek [6] Uji klinis dilaksanakan berdasarkan dua hal penting yang harus melalui proses review yaitu saintifik dan etik. Review saintifik dari suatu proposal uji klinis mengevaluasi dasar pemikiran, metoda,hal yang diharapkan dari uji klinis dan pemenuhan dari prinsip etik yang telah dapat diterima secara universal. Pada beberapa kejadian, review tersebut,dilakukan di tempat yang jaraknya jauh dari komunitas tempat uji klinis dilakukan, subjek yang ikut serta dan pelaksana yang merawat subjek selama uji klinis berlangsung. Review etik dari proposal uji klinis menaksir nilai potensial dari uji tersebut, resiko subjeknya dan manfaat potensial kepada subjek dan pemenuhan uji terhadap hukum, regulasi serta standar dan norma etik yang berlaku. Pada umumnya review dlakukan pada tingkat yang berbeda-beda yaitu Ethical Review Committees (ERCs) dari sponsor, komisi etik Nasional dan komite lokal dari dari negara dimana uji klinis dilakukan. Walaupun review etik melibatkan komponen yang peduli pada uji klinis yang akan dilakukan,biasanya masih terdapat kekurangan dalam tercapainya kesepakatan diantara stakeholder mengenai standar perawatan dan perlakuan yang diterapkan pada uji klinis. ERCs lah yang berfungsi sebagai pelindung hak dan kesejahteraan dari subjek uji dengan menjamin bahwa protokol uji terimplementasi sesuai prinsip etik (otonomi,kedermawanan dan keadilan) serta menjamin bahwa protokol dijalankan sesuai dengan regulasi nasional maupun pnduan internasional [6]. Konsep Good Research Governance yang dibangun dari praktik riset yang terbaik dan standar etik dapat dilihat sebagai hasil dan juga sebagai proses. Hasil dari Good Research Governance dapat diringkas sebagai hasil terbaik dari perpaduan kualitas riset dan pemenuhan etik riset serta pemenuhan standar hak subjek. Proses dari Good Research Governance menegaskan bahwa pada setiap riset, perjanjian yang ditujukan untuk mendapat manfaat maksimal dan pemenuhan standar etik yang optimal harus didapatkan dari mekanisme yang telah diinformasikan,distrukturkan,dinegosiasikan, keikutsertaan dan bersifat transparan. 9

11 V. Daftar Pustaka [1] ICH Expert Working Group. (1996), International Conference On Harmonisation of Technical Requirements For Registration Of Pharmaceuticals For Human Use. Guideline For Good Clinical Practice E6 (R1). [2] Declaration of Helsinki. (1964), Recommendation Guiding Physicians in Biomedical Research Involving Human Subjects. [3] Council for International Organization of Medical Sciences. (2002), International Ethical Guidelines for Biomedical Research Involving Human Subjects, Geneva. [4] Prasert Kiatboonsri, Judith Richter. (1988),Unethical trials of dipyrone in Thailand. The Lancet, December 24/31. [5] Reidar K. Ethical issues in clinical trial collaboration with developing countrieswith special reference to preventive HIV vaccine trial with secondary endpoints, Norway. [6] Meeting report. (2007). Ethical considerations related to the provision of care and treatment in vaccine trials. ScienceDirect.Vaccine 25,

BAB V PENUTUP. 1. Melibatkan manusia sebagai subjek penelitian medis membutuhkan. kesehatan dan harus diperbaharui.

BAB V PENUTUP. 1. Melibatkan manusia sebagai subjek penelitian medis membutuhkan. kesehatan dan harus diperbaharui. BAB V PENUTUP 5. 1 Simpulan Berdasarkan pembahasan penulis, jawaban atas identifikasi masalah pada Bab I skripsi ini adalah: 1. Melibatkan manusia sebagai subjek penelitian medis membutuhkan aturan yang

Lebih terperinci

PEMILIHAN KONSULTAN INDEPENDEN

PEMILIHAN KONSULTAN INDEPENDEN FAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS PADJADJARAN KOMISI ETIK PENELITIAN KESEHATAN HEALTH RESEARCH ETHICS COMMITTE PEMILIHAN KONSULTAN INDEPENDEN Halaman 5-1 5-5 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG

Lebih terperinci

PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN (PSP)

PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN (PSP) PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN (PSP) KOMISI ETIK PENELITIAN KESEHATAN Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes RI TUJUAN UMUM Peserta memahami tentang PSP dalam hal: Tujuan utama dari PSP didasarkan

Lebih terperinci

ETIKA PENELITIAN EPIDEMIOLOGI ERYATI DARWIN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS

ETIKA PENELITIAN EPIDEMIOLOGI ERYATI DARWIN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS ETIKA PENELITIAN EPIDEMIOLOGI ERYATI DARWIN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS PENDAHULUAN Penelitian epidemiologi - merupakan studi distribusi dan determinan (penentu) status atau kejadian yang berkaitan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan teknologi, para ahli di bidang kesehatan dituntut untuk

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan teknologi, para ahli di bidang kesehatan dituntut untuk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Seiring perkembangan jaman yang semakin maju Sejalan dengan perkembangan teknologi, para ahli di bidang kesehatan dituntut untuk meningkatkan pengetahuan dan

Lebih terperinci

KLIRENS ETIK PENELITIAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL DAN KEMANUSIAAN

KLIRENS ETIK PENELITIAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL DAN KEMANUSIAAN KLIRENS ETIK PENELITIAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL DAN KEMANUSIAAN KOMISI KLIRENS ETIK BIDANG ILMU PENGETAHUAN SOSIAL DAN KEMANUSIAAN LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA PENGANTAR Klirens Etik (ethical clearance)

Lebih terperinci

PENGAJUAN PROTOKOL UNTUK TELAAH AWAL Halaman

PENGAJUAN PROTOKOL UNTUK TELAAH AWAL Halaman PENGAJUAN PROTOKOL UNTUK TELAAH AWAL Halaman 9-1 9-7 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2017 POB KEPK-FK UNPAD 2017 Halaman 9-1 DAFTAR ISI No Hal DAFTAR ISI... 9-2 1. TUJUAN... 9-3 2.

Lebih terperinci

MENANGGAPI KELUHAN SUBJEK PENELITIAN

MENANGGAPI KELUHAN SUBJEK PENELITIAN 16. Menanggapi Keluhan Subjek Penelitian Revisi ke-1 MENANGGAPI KELUHAN SUBJEK PENELITIAN Halaman 16-1 16-6 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2014 No FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN

Lebih terperinci

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN FACULTY OF MEDICINE UNIVERSITAS PADJADJARAN

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN FACULTY OF MEDICINE UNIVERSITAS PADJADJARAN TELAAH DI PERCEPAT Halaman 8-1 8-8 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2014 DAFTAR ISI No Hal DAFTAR ISI... 8-2 1. TUJUAN... 8-3 2. RUANG LINGKUP... 8-3 3. PENANGGUNG JAWAB... 8-3 4. ALUR

Lebih terperinci

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN FACULTY OF MEDICINE UNIVERSITAS PADJADJARAN

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN FACULTY OF MEDICINE UNIVERSITAS PADJADJARAN TELAAH DIPERCEPAT Halaman 8-1 8-8 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2017 POB KEPK-FK UNPAD 2017 Halaman 8-1 DAFTAR ISI No Hal DAFTAR ISI... 8-2 1. TUJUAN... 8-3 2. RUANG LINGKUP... 8-3

Lebih terperinci

TELAAH LANJUTAN TERHADAP PROTOKOL YANG SEDANG DILAKSANAKAN

TELAAH LANJUTAN TERHADAP PROTOKOL YANG SEDANG DILAKSANAKAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 12. Telaah Lanjutan terhadap Protokol yang Sedang TELAAH LANJUTAN TERHADAP PROTOKOL YANG SEDANG DILAKSANAKAN Halaman 13-1 13-10 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS

Lebih terperinci

MANAJEMEN TERMINASI PENELITIAN

MANAJEMEN TERMINASI PENELITIAN MANAJEMEN TERMINASI PENELITIAN Halaman 17-1 17-7 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2017 POB KEPK-FK UNPAD 2017 Halaman 17-1 No FAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS PADJADJARAN DAFTAR ISI DAFTAR

Lebih terperinci

dr. SETYO TRISNADI, Sp.F, G.Bioethics

dr. SETYO TRISNADI, Sp.F, G.Bioethics dr. SETYO TRISNADI, Sp.F, G.Bioethics Etika adalah cabang ilmu filsafat moral yang mencoba mencari jawaban guna menentukan dan mempertahankan secara rasional teori yang berlaku secara umum tentang apa

Lebih terperinci

TELAAH LANJUTAN TERHADAP PROTOKOL YANG SEDANG DILAKSANAKAN

TELAAH LANJUTAN TERHADAP PROTOKOL YANG SEDANG DILAKSANAKAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN TELAAH LANJUTAN TERHADAP PROTOKOL YANG SEDANG DILAKSANAKAN Halaman 13-1 13-10 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2017 POB KEPK-FK UNPAD 2017

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN SUMENEP

PEMERINTAH KABUPATEN SUMENEP PEMERINTAH KABUPATEN SUMENEP PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMENEP NOMOR : 4 TAHUN 2011 TENTANG PELAYANAN PUBLIK DI KABUPATEN SUMENEP DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang Mengingat : : BUPATI SUMENEP

Lebih terperinci

FAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS PADJADJARAN FACULTY OF MEDICINE UNIVERSITAS PADJADJARAN KOMISI ETIK PENELITIAN KESEHATAN

FAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS PADJADJARAN FACULTY OF MEDICINE UNIVERSITAS PADJADJARAN KOMISI ETIK PENELITIAN KESEHATAN 21. Rapat Fullboard Revisi ke-1 RAPAT FULLBOARD Halaman 21-1 21-6 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2017 POB KEPK-FK UNPAD 2017 Halaman 21-1 POB/21/KEPK- FKUP 21. Rapat Fullboard Revisi

Lebih terperinci

15B. Catatan Sementara NASKAH REKOMENDASI TENTANG PEKERJAAN YANG LAYAK BAGI PEKERJA RUMAH TANGGA. Konferensi Perburuhan Internasional

15B. Catatan Sementara NASKAH REKOMENDASI TENTANG PEKERJAAN YANG LAYAK BAGI PEKERJA RUMAH TANGGA. Konferensi Perburuhan Internasional Konferensi Perburuhan Internasional Catatan Sementara 15B Sesi Ke-100, Jenewa, 2011 NASKAH REKOMENDASI TENTANG PEKERJAAN YANG LAYAK BAGI PEKERJA RUMAH TANGGA 15B/ 1 NASKAH REKOMENDASI TENTANG PEKERJAAN

Lebih terperinci

PEDOMAN ETIK INTERNASIONAL UNTUK PENELITIAN BIOMEDIS YANG MELIBATKAN SUBYEK MANUSIA

PEDOMAN ETIK INTERNASIONAL UNTUK PENELITIAN BIOMEDIS YANG MELIBATKAN SUBYEK MANUSIA PEDOMAN ETIK INTERNASIONAL UNTUK PENELITIAN BIOMEDIS YANG MELIBATKAN SUBYEK MANUSIA Disusun oleh Dewan Organisasi Ilmu-ilmu Kedokteran Internasional (CIOMS) bekerja sama dengan Organisasi Kesehatan Sedunia

Lebih terperinci

Lampiran 1. Informed Consent. Penjelasan prosedur

Lampiran 1. Informed Consent. Penjelasan prosedur Lampiran 1 Penjelasan prosedur Informed Consent Anda diminta untuk berpartisipasi dalam penelitian yang yang akan dilakukan oleh Gaby Gabriela Langi, SKM, mahasiswa Minat Utama Epidemiologi Lapangan Program

Lebih terperinci

5.1.1 Kesimpulan Tugas Khusus Pengawasan Mutu - Kualitas air dan menjaga air dari kontaminasi mikrobiologi merupakan bagian penting untuk memastikan

5.1.1 Kesimpulan Tugas Khusus Pengawasan Mutu - Kualitas air dan menjaga air dari kontaminasi mikrobiologi merupakan bagian penting untuk memastikan BAB V KESIMPULAN 5.1. Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil kegiatan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) pada tanggal 03 April 2017 sampai 19 Mei 2017 di PT. OTTO Pharmaceutical Industries

Lebih terperinci

INTERVENSI TERHADAP KESALAHAN/PENYIMPANGAN PROTOKOL

INTERVENSI TERHADAP KESALAHAN/PENYIMPANGAN PROTOKOL INTERVENSI TERHADAP KESALAHAN/PENYIMPANGAN PROTOKOL Halaman 15-1 15-6 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2014 DAFTAR ISI No Hal DAFTAR ISI... 15-2 1. TUJUAN... 15-3 2. RUANG LINGKUP...

Lebih terperinci

PENGAJUAN PROTOKOL UNTUK TELAAH AWAL Halaman

PENGAJUAN PROTOKOL UNTUK TELAAH AWAL Halaman PENGAJUAN PROTOKOL UNTUK TELAAH AWAL Halaman 9-1 9-7 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2014 DAFTAR ISI No Hal DAFTAR ISI... 9-2 1. TUJUAN... 9-3 2. RUANG LINGKUP... 9-3 3. PENANGGUNG

Lebih terperinci

R201 Rekomendasi tentang Pekerjaan Yang Layak bagi Pekerja Rumah Rangga, 2011

R201 Rekomendasi tentang Pekerjaan Yang Layak bagi Pekerja Rumah Rangga, 2011 R201 Rekomendasi tentang Pekerjaan Yang Layak bagi Pekerja Rumah Rangga, 2011 2 R-201: Rekomendasi tentang Pekerjaan Yang Layak bagi Pekerja Rumah Rangga, 2011 R201 Rekomendasi tentang Pekerjaan Yang Layak

Lebih terperinci

LAPORAN PELATIHAN ETIK DASAR PENELITIAN KESEHATAN

LAPORAN PELATIHAN ETIK DASAR PENELITIAN KESEHATAN LAPORAN PELATIHAN ETIK DASAR PENELITIAN KESEHATAN Diselenggarakan oleh Dewan Penegakan Kode Etik Universitas Esa Unggul dan Komisi Etik Badan Litbang Kesehatan - Kementrian Kesehatan RI Senin-Selasa, 24-25

Lebih terperinci

PEMBENTUKAN KEPK Halaman

PEMBENTUKAN KEPK Halaman PEMBENTUKAN KEPK Halaman 2-1 2-17 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2014 DAFTAR ISI No Hal DAFTAR ISI... 2-2 1. TUJUAN... 2-3 2. RUANG LINGKUP... 2-4 3. PENANGGUNG JAWAB... 2-4 4. ALUR

Lebih terperinci

Pedoman Penyusunan Lembar Penjelasan kepada Calon Subyek

Pedoman Penyusunan Lembar Penjelasan kepada Calon Subyek Pedoman Penyusunan Lembar Penjelasan kepada Calon Subyek Calon subyek dapat berasal dari masyarakat (penelitian komunitas) atau pasien (penelitian klinis). Lembar penjelasan harus cukup jelas dan mudah

Lebih terperinci

BAB I DEFENISI. Tujuan Discharge Planning :

BAB I DEFENISI. Tujuan Discharge Planning : BAB I DEFENISI Pelayanan yang diberikan kepada pasien di unit pelayanan kesehatan rumah sakit misalnya haruslah mencakup pelayanan yang komprehensif (bio-psiko-sosial dan spiritual). Disamping itu pelayanan

Lebih terperinci

APLIKASI ETIKA DALAM PRAKTIK KEBIDANAN. IRMA NURIANTI, SKM. M.Kes

APLIKASI ETIKA DALAM PRAKTIK KEBIDANAN. IRMA NURIANTI, SKM. M.Kes APLIKASI ETIKA DALAM PRAKTIK KEBIDANAN IRMA NURIANTI, SKM. M.Kes Praktek Kebidanan Oleh Bidan meliputi: 1. Pemeriksaan kehamilan 2. Pertolongan persalinan 3. Pelayanan keluarga berencana 4. Pemeriksaan

Lebih terperinci

PERNYATAAN KERAHASIAAN DAN PERNYATAAN KONFLIK KEPENTINGAN

PERNYATAAN KERAHASIAAN DAN PERNYATAAN KONFLIK KEPENTINGAN PERNYATAAN KERAHASIAAN DAN PERNYATAAN KONFLIK KEPENTINGAN Halaman 4-1 4-9 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2014 DAFTAR ISI No Hal DAFTAR ISI... 4-2 1. TUJUAN... 4-3 2. RUANG LINGKUP...

Lebih terperinci

PERSIAPAN PENYUSUNAN PROSEDUR OPERASIONAL BAKU Halaman

PERSIAPAN PENYUSUNAN PROSEDUR OPERASIONAL BAKU Halaman PERSIAPAN PENYUSUNAN PROSEDUR OPERASIONAL BAKU Halaman 1-1 1-8 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2017 POB KEPK-FK UNPAD 2017 Halaman 1-1 DAFTAR ISI No Hal DAFTAR ISI... 1-2 1. TUJUAN...

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Penggunaan obat didefinisikan oleh World Health Organization (WHO)

BAB I PENDAHULUAN. Penggunaan obat didefinisikan oleh World Health Organization (WHO) BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penggunaan obat didefinisikan oleh World Health Organization (WHO) sebagai pemasaran, distribusi, resep, dan penggunaan obat-obatan dalam masyarakat, dengan penekanan

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN UJI KLINIK OBAT HERBAL

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN UJI KLINIK OBAT HERBAL PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR 13 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN UJI KLINIK OBAT HERBAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

Kode Etik Bisnis Pemasok Smiths

Kode Etik Bisnis Pemasok Smiths Kode Smiths Pengantar dari Philip Bowman, Kepala Eksekutif Sebagai sebuah perusahaan global, Smiths Group berinteraksi dengan pelanggan, pemegang saham, dan pemasok di seluruh dunia. Para pemangku kepentingan

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. 1 P e d o m a n K e l a y a k a n E t i k P e n g g u n a a n H e w a n I n s t i t u t P e r t a n i a n B o g o r

1. PENDAHULUAN. 1 P e d o m a n K e l a y a k a n E t i k P e n g g u n a a n H e w a n I n s t i t u t P e r t a n i a n B o g o r 1 P e d o m a n K e l a y a k a n E t i k P e n g g u n a a n H e w a n 1. PENDAHULUAN Keputusan Bersama Menteri Negara Riset dan Teknologi No 108/M/Kp/IX/2004, Menteri Kesehatan No 1045/Menkes/SKB/IX/2004

Lebih terperinci

TELAAH PROTOKOL YANG DIAJUKAN KEMBALI

TELAAH PROTOKOL YANG DIAJUKAN KEMBALI POB/001/KEPK-FKUP TELAAH PROTOKOL YANG DIAJUKAN KEMBALI Halaman 11-1 11-7 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2017 POB KEPK-FK UNPAD 2017 Halaman 11-1 DAFTAR ISI No Hal DAFTAR ISI... 11-2

Lebih terperinci

FAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS PADJADJARAN FACULTY OF MEDICINE UNIVERSITAS PADJADJARAN KOMISI ETIK PENELITIAN KESEHATAN

FAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS PADJADJARAN FACULTY OF MEDICINE UNIVERSITAS PADJADJARAN KOMISI ETIK PENELITIAN KESEHATAN TELAAH AMANDEMEN Halaman 12-1 12-9 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2014 No. DAFTAR ISI DAFTAR ISI... 12-2 1. TUJUAN... 12-3 2. RUANG LINGKUP... 12-3 3. PENANGGUNG JAWAB... 12-3 4. ALUR

Lebih terperinci

2013, No Mengingat e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d, perlu membentuk Undang-U

2013, No Mengingat e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d, perlu membentuk Undang-U No.132, 2013 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PENDIDIKAN. Kedokteran. Akademik. Profesi. Penyelenggaraan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5434) UNDANG-UNDANG REPUBLIK

Lebih terperinci

MENJAJAKI KODE ETIK PENELITIAN SOSIOLOGI

MENJAJAKI KODE ETIK PENELITIAN SOSIOLOGI MENJAJAKI KODE ETIK PENELITIAN SOSIOLOGI Maria E. Pandu ABSTRAK Ketika ilmu ilmu sosial yang objek/subjeknya adalah masyarakat, dimana masyarakat terdiri atas individu manusia (human being) maka perlu

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB V SIMPULAN DAN SARAN BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, penulis mengambil kesimpulan bahwa: 1. Komite Audit dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya

Lebih terperinci

TELAAH PROTOKOL YANG DIAJUKAN KEMBALI

TELAAH PROTOKOL YANG DIAJUKAN KEMBALI POB/001/KEPK-FKUP 10. Telaah Protokol yang Diajukan Kembali Revisi ke-1 TELAAH PROTOKOL YANG DIAJUKAN KEMBALI Halaman 11-1 11-6 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2014 DAFTAR ISI No Hal

Lebih terperinci

AGENDA RAPAT DAN NOTULEN

AGENDA RAPAT DAN NOTULEN KOMITE ETIK AN KESEHATAN AGENDA RAPAT DAN TULEN Halaman 20-1 20-15 KOMITE ETIK AN KESEHATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2014 KOMITE ETIK AN KESEHATAN DAFTAR ISI No Hal DAFTAR ISI.....

Lebih terperinci

Pedoman Perilaku. Nilai & Standar Kita. Dasar Keberhasilan Kita. Edisi IV

Pedoman Perilaku. Nilai & Standar Kita. Dasar Keberhasilan Kita. Edisi IV Pedoman Perilaku Nilai & Standar Kita Dasar Keberhasilan Kita Edisi IV Perusahaan Kita Sejak awal, perjalanan MSD dituntun oleh keyakinan untuk melakukan hal yang benar. George Merck menegaskan prinsip

Lebih terperinci

PENGGUNAAN FORMULIR PENILAIAN PROTOKOL Halaman

PENGGUNAAN FORMULIR PENILAIAN PROTOKOL Halaman PENGGUNAAN FORMULIR PENILAIAN PROTOKOL Halaman 7-1 7-25 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2017 POB KEPK-FK UNPAD 2017 Halaman 7-1 DAFTAR ISI No Hal DAFTAR ISI... 7-2 1. TUJUAN... 7-3

Lebih terperinci

SOP PENGAJUAN DAN PENILAIAN KELAYAKAN ETIK PENELITIAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

SOP PENGAJUAN DAN PENILAIAN KELAYAKAN ETIK PENELITIAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA SOP PENGAJUAN DAN PENILAIAN KELAYAKAN ETIK PENELITIAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA A. Prosedur Pengajuan Kelayakan Etik Penelitian 1. Penilaian kelayakan etik dilakukan terhadap

Lebih terperinci

Kode Perilaku VESUVIUS: black 85% PLC: black 60% VESUVIUS: white PLC: black 20% VESUVIUS: white PLC: black 20%

Kode Perilaku VESUVIUS: black 85% PLC: black 60% VESUVIUS: white PLC: black 20% VESUVIUS: white PLC: black 20% Kode Perilaku 2 Vesuvius / Kode Perilaku 3 Pesan dari Direktur Utama Kode Perilaku ini menegaskan komitmen kita terhadap etika dan kepatuhan Rekan-rekan yang Terhormat Kode Perilaku Vesuvius menguraikan

Lebih terperinci

9/4/2017 HAK PASIEN DAN KELUARGA (HPK) FOKUS AREA HAK PASIEN DAN KELUARGA

9/4/2017 HAK PASIEN DAN KELUARGA (HPK) FOKUS AREA HAK PASIEN DAN KELUARGA HAK PASIEN DAN KELUARGA (HPK) CURICULUM VITAE: DR.Dr.Sutoto,M.Kes Ketua Eksekutif KARS (Komisi Akreditasi RS Seluruh Indonesia), Board Member of ASQua (Asia Society for Quality in Health Care), Regional

Lebih terperinci

BAB 8: UJI KLINIS SEDIAAN OBAT

BAB 8: UJI KLINIS SEDIAAN OBAT SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2016 FARMASI BAB 8: UJI KLINIS SEDIAAN OBAT Nora Susanti, M.Sc, Apk KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN 2016 BAB VIII UJI

Lebih terperinci

Pokok-pokok Isi Protokol Opsional pada Konvensi Menentang Penyiksaan

Pokok-pokok Isi Protokol Opsional pada Konvensi Menentang Penyiksaan 1 Pokok-pokok Isi Protokol Opsional pada Konvensi Menentang Penyiksaan I.PENDAHULUAN Konvensi menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman yang Kejam, Tidak Manusiawi, atau Merendahkan Martabat

Lebih terperinci

LAPORAN HASIL SURVEY PERLINDUNGAN MATERNITAS DAN HAK-HAK REPRODUKSI BURUH PEREMPUAN PADA 10 AFILIASI INDUSTRIALL DI INDONESIA

LAPORAN HASIL SURVEY PERLINDUNGAN MATERNITAS DAN HAK-HAK REPRODUKSI BURUH PEREMPUAN PADA 10 AFILIASI INDUSTRIALL DI INDONESIA LAPORAN HASIL SURVEY PERLINDUNGAN MATERNITAS DAN HAK-HAK REPRODUKSI BURUH PEREMPUAN PADA 10 AFILIASI INDUSTRIALL DI INDONESIA KOMITE PEREMPUAN IndustriALL Indonesia Council 2014 1 LAPORAN HASIL SURVEY

Lebih terperinci

BAB 2 HAK PASIEN DAN KELUARGA (HPK)

BAB 2 HAK PASIEN DAN KELUARGA (HPK) BAB 2 HAK PASIEN DAN KELUARGA (HPK) GAMBARAN UMUM Pasien dan keluarganya adalah pribadi yang unik dengan sifat, sikap, perilaku yang berbeda-beda, kebutuhan pribadi, agama, keyakinan, dan nilai-nilai pribadi.

Lebih terperinci

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 02002/SK/KBPOM

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 02002/SK/KBPOM BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 02002/SK/KBPOM TENTANG TATA LAKSANA UJI KLINIK KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 10 TAHUN 2013 TENTANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 10 TAHUN 2013 TENTANG PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 10 TAHUN 2013 TENTANG IZIN USAHA KLINIK, IZIN USAHA RUMAH BERSALIN, DAN IZIN USAHA LABORATORIUM KLINIK SWASTA

Lebih terperinci

AGENDA FULLBOARD DAN NOTULEN

AGENDA FULLBOARD DAN NOTULEN AGENDA FULLBOARD DAN TULEN Halaman 20-1 20-16 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2017 POB KEPK-FK UNPAD 2017 Halaman 20-1 DAFTAR ISI No Hal DAFTAR ISI..... 20-2 1. TUJUAN........ 20-3

Lebih terperinci

PROGRAM KERJA SUBKOMITE ETIK DAN DISIPLIN PROFESI KOMITE MEDIK RUMAH SAKIT BUNDA SIDOARJO TAHUN 2015

PROGRAM KERJA SUBKOMITE ETIK DAN DISIPLIN PROFESI KOMITE MEDIK RUMAH SAKIT BUNDA SIDOARJO TAHUN 2015 Lampiran 3 PROGRAM KERJA SUBKOMITE ETIK DAN DISIPLIN PROFESI KOMITE MEDIK RUMAH SAKIT BUNDA SIDOARJO TAHUN 2015 1. PENDAHULUAN Rumah Sakit Bunda Sidoarjo adalah rumah sakit umum tipe C yang melayani masyarakat

Lebih terperinci

ETIK PENELITIAN KESEHATAN

ETIK PENELITIAN KESEHATAN ETIK PENELITIAN KESEHATAN Pudji Rahaju Komite Etik Penelitian Kesehatan RSUD dr. Saiful Anwar SMF/Lab IK.THT-KL RSUD dr. Saiful Anwar/ Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang 1. Pendahuluan 2.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas pembina di Indonesia. Universitas Gadjah Mada yang berlokasi

BAB I PENDAHULUAN. Universitas pembina di Indonesia. Universitas Gadjah Mada yang berlokasi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebagai Universitas yang tertua di Indonesia Universitas Gadjah Mada bersifat nasional yang berperan sebagai pengemban Pancasila dan sebagai Universitas pembina di

Lebih terperinci

dr. AZWAN HAKMI LUBIS, SpA, M.Kes

dr. AZWAN HAKMI LUBIS, SpA, M.Kes dr. AZWAN HAKMI LUBIS, SpA, M.Kes Peraturan yg menjadi acuan : Peraturan Menteri Kesehatan RI. No.755/MENKES/PER/IV/2011 Tentang Penyelenggaraan Komite Medik Di Rumah Sakit. Definisi Komite Medik Perangkat

Lebih terperinci

Hubungan Kemitraan Antara Pasien dan Dokter. Indah Suksmaningsih Konsil Kedokteran Indonesia (KKI)

Hubungan Kemitraan Antara Pasien dan Dokter. Indah Suksmaningsih Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) Hubungan Kemitraan Antara Pasien dan Dokter Indah Suksmaningsih Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) Pelayanan Kesehatan Memperoleh pelayanan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau merupakan hak dasar

Lebih terperinci

LAMPIRAN 1. Instrumen Penelitian. Universita Sumatera Utara

LAMPIRAN 1. Instrumen Penelitian. Universita Sumatera Utara LAMPIRAN 1. Instrumen Penelitian KUESIONER HUBUNGAN PENGETAHUAN, KOMUNIKASI INTERPERSONAL, DAN KETERAMPILAN TEKNIK DENGAN PENERAPAN PROSES KEPERAWATAN DI RUANG RAWAT INAP RSUP HAJI ADAM MALIK MEDAN Identitas

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN TRANSPLANTASI ORGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN TRANSPLANTASI ORGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN TRANSPLANTASI ORGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

Menjalankan Nilai-Nilai Kami, Setiap Hari

Menjalankan Nilai-Nilai Kami, Setiap Hari Kode Etik Global Menjalankan Nilai-Nilai Kami, Setiap Hari Takeda Pharmaceutical Company Limited Pasien Kepercayaan Reputasi Bisnis KODE ETIK GLOBAL TAKEDA Sebagai karyawan Takeda, kami membuat keputusan

Lebih terperinci

KLIRENS ETIK PENELITIAN BIDANG ILMU PENGETAHUAN HAYATI (IPH)

KLIRENS ETIK PENELITIAN BIDANG ILMU PENGETAHUAN HAYATI (IPH) KLIRENS ETIK PENELITIAN BIDANG ILMU PENGETAHUAN HAYATI (IPH) Enny Sudarmonowati Ketua Sub Komisi Klirens Etik Penelitian Bidang IPH dan Tim Sub Komisi Klirens Etik Penelitian Bidang IPH Sosialisasi 3 Pilar

Lebih terperinci

PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN SELATAN NOMOR 012 TAHUN 2014 TENTANG

PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN SELATAN NOMOR 012 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN SELATAN NOMOR 012 TAHUN 2014 TENTANG URAIAN TUGAS UNSUR ORGANISASI RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT GUSTI HASAN AMAN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

PROSPEK PENGATURAN DAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PASIEN YANG MENJADI SUBJEK PENELITIAN MEDIS DAN ASPEK PEMBIAYAAN OLEH PERUSAHAAN ASURANSI ABSTRAK

PROSPEK PENGATURAN DAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PASIEN YANG MENJADI SUBJEK PENELITIAN MEDIS DAN ASPEK PEMBIAYAAN OLEH PERUSAHAAN ASURANSI ABSTRAK PROSPEK PENGATURAN DAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PASIEN YANG MENJADI SUBJEK PENELITIAN MEDIS DAN ASPEK PEMBIAYAAN OLEH PERUSAHAAN ASURANSI ABSTRAK Menjadi lebih baik. Itulah kalimat yang biasanya dibutuhkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berbagai lapisan masyarakat dan ke berbagai bagian dunia. Di Indonesia,

BAB I PENDAHULUAN. berbagai lapisan masyarakat dan ke berbagai bagian dunia. Di Indonesia, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kasus HIV/AIDS bermunculan semakin banyak dan menyebar ke berbagai lapisan masyarakat dan ke berbagai bagian dunia. Di Indonesia, dilaporkan bahwa epidemi HIV dan AIDS

Lebih terperinci

Institute for Criminal Justice Reform

Institute for Criminal Justice Reform UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2007 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa setiap orang

Lebih terperinci

PERSIAPAN PENYUSUNAN PROSEDUR OPERASIONAL BAKU Halaman

PERSIAPAN PENYUSUNAN PROSEDUR OPERASIONAL BAKU Halaman PERSIAPAN PENYUSUNAN PROSEDUR OPERASIONAL BAKU Halaman 1-1 1-11 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2014 DAFTAR ISI No Hal DAFTAR ISI... 1-2 1. TUJUAN... 1-3 2. RUANGLINGKUP... 1-3 3. PENANGGUNG

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 10 TAHUN 2013 TENTANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 10 TAHUN 2013 TENTANG PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 10 TAHUN 2013 TENTANG IZIN USAHA KLINIK, IZIN USAHA RUMAH BERSALIN, DAN IZIN USAHA LABORATORIUM KLINIK SWASTA

Lebih terperinci

Pedoman Pelaksanaan Persetujuan Tindakan Kedokteran (Informed Consent)

Pedoman Pelaksanaan Persetujuan Tindakan Kedokteran (Informed Consent) Pedoman Pelaksanaan Persetujuan Tindakan Kedokteran (Informed Consent) Rumah Sakit xy Pedoman Pelaksanaan Persetujuan Tindakan Kedokteran 1. Umum a. Bahwa masalah kesehatan seseorang (pasien) adalah tanggung

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 77 TAHUN 2015 TENTANG PEDOMAN ORGANISASI RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 77 TAHUN 2015 TENTANG PEDOMAN ORGANISASI RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 77 TAHUN 2015 TENTANG PEDOMAN ORGANISASI RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kesehatan merupakan hal yang sangat penting bagi setiap manusia karena tanpa kesehatan yang baik, maka setiap manusia akan sulit dalam melaksanakan aktivitasnya sehari-hari.

Lebih terperinci

REGULATIONS AND POLICIES ON CLINICAL RESEARCH IN INDONESIA

REGULATIONS AND POLICIES ON CLINICAL RESEARCH IN INDONESIA REGULATIONS AND POLICIES ON CLINICAL RESEARCH IN INDONESIA Dr. Siswanto, MHP, DTM Director for Center for Applied Health Technology and Clinical Epidemiology/NIHRD Peraturan dalam Riset Klinik UUD 1945

Lebih terperinci

Pengertian Anak dan Pentingnya Mendefinisikan Anak Secara Konsisten dalam Sistem Hukum 1 Oleh: Adzkar Ahsinin

Pengertian Anak dan Pentingnya Mendefinisikan Anak Secara Konsisten dalam Sistem Hukum 1 Oleh: Adzkar Ahsinin Bahan Bacaan: Modu 2 Pengertian Anak Pengertian Anak dan Pentingnya Mendefinisikan Anak Secara Konsisten dalam Sistem Hukum 1 Oleh: Adzkar Ahsinin A. Situasi-Situasi yang Mengancam Kehidupan Anak Sedikitnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Data World Health Organization (2012) menunjukkan bahwa dua miliar orang di seluruh dunia telah terinfeksi virus Hepatitis B dan sekitar 600.000 orang meninggal

Lebih terperinci

The Mexico City Principles. Kode Etik Bisnis pada Sektor Biofarmasi

The Mexico City Principles. Kode Etik Bisnis pada Sektor Biofarmasi The Mexico City Principles T Kode Etik Bisnis pada Sektor Biofarmasi Interaksi bisnis di sektor biofarmasi yang dilakukan sesuai etika dapat menjamin bahwa keputusan medis dibuat demi kepentingan pasien.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. menyebutkan bahwa diperkirakan pasien rawat inap per tahun

BAB 1 PENDAHULUAN. menyebutkan bahwa diperkirakan pasien rawat inap per tahun 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Globalisasi dan liberalisasi dalam bidang pelayanan kesehatan telah menghantarkan tantangan persaingan dan lingkungan yang kompetitif bagi industri rumah sakit di

Lebih terperinci

BPOM. Uji Klinik. Persetujuan. Tata Laksana. Pencabutan.

BPOM. Uji Klinik. Persetujuan. Tata Laksana. Pencabutan. No.1038, 2014 BPOM. Uji Klinik. Persetujuan. Tata Laksana. Pencabutan. PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG TATA LAKSANA PERSETUJUAN UJI KLINIK

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 66 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN REGISTRI PENELITIAN KLINIK

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 66 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN REGISTRI PENELITIAN KLINIK PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 66 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN REGISTRI PENELITIAN KLINIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pembangunan kesehatan ditujukan untuk meningkatkan kesadaran,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pembangunan kesehatan ditujukan untuk meningkatkan kesadaran, 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan kesehatan ditujukan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan yang optimal

Lebih terperinci

- 1 - PEMERINTAH KOTA PONTIANAK PERATURAN DAERAH KOTA PONTIANAK NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG PELAYANAN PUBLIK PEMERINTAH KOTA PONTIANAK

- 1 - PEMERINTAH KOTA PONTIANAK PERATURAN DAERAH KOTA PONTIANAK NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG PELAYANAN PUBLIK PEMERINTAH KOTA PONTIANAK Bagian Organisasi - 1 - PEMERINTAH KOTA PONTIANAK PERATURAN DAERAH KOTA PONTIANAK NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG PELAYANAN PUBLIK PEMERINTAH KOTA PONTIANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PONTIANAK

Lebih terperinci

2 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Pelayanan Kesehatan adalah suatu kegiatan dan/atau serangkaian

2 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Pelayanan Kesehatan adalah suatu kegiatan dan/atau serangkaian No.169, 2014 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KESEHATAN. Reproduksi. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5559) PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2014

Lebih terperinci

BAB 4 METODE PENELITIAN. Pulmonologi serta Ilmu Mikrobiologi Klinik.

BAB 4 METODE PENELITIAN. Pulmonologi serta Ilmu Mikrobiologi Klinik. BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1. Ruang lingkup penelitian Ruang lingkup penelitian ini meliputi bidang Ilmu Penyakit Dalam divisi Pulmonologi serta Ilmu Mikrobiologi Klinik. 4.2. Tempat dan waktu penelitian

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Ruang Lingkup Keilmuan: Anastesiologi dan Ilmu Penyakit Dalam. Penelitian dimulai pada bulan juni 2013 sampai juli 2013.

BAB IV METODE PENELITIAN. Ruang Lingkup Keilmuan: Anastesiologi dan Ilmu Penyakit Dalam. Penelitian dimulai pada bulan juni 2013 sampai juli 2013. BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang Lingkup Keilmuan: Anastesiologi dan Ilmu Penyakit Dalam. 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian 1) Tempat penelitian: Ruang ICU (Intensive Care Unit)

Lebih terperinci

K102. Konvensi ILO No. 102 Tahun 1952 mengenai (Standar Minimal) Jaminan Sosial

K102. Konvensi ILO No. 102 Tahun 1952 mengenai (Standar Minimal) Jaminan Sosial K102 Konvensi ILO No. 102 Tahun 1952 mengenai (Standar Minimal) Jaminan Sosial 1 Konvensi ILO No. 102 Tahun 1952 mengenai (Standar Minimal) Jaminan Sosial Copyright Organisasi Perburuhan Internasional

Lebih terperinci

PENGARSIPAN DAN PENCARIAN DOKUMEN

PENGARSIPAN DAN PENCARIAN DOKUMEN PENGARSIPAN DAN PENCARIAN DOKUMEN Halaman 24-1 24-7 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2017 POBKEPK-FK UNPAD 2017 Halaman 24-1 DAFTAR ISI No Hal DAFTAR ISI..... 24-2 1. TUJUAN..... 24-3

Lebih terperinci

MASUKAN KOALISI PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN ATAS PERUBAHAN UU NO. 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN.

MASUKAN KOALISI PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN ATAS PERUBAHAN UU NO. 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN. MASUKAN KOALISI PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN ATAS PERUBAHAN UU NO. 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN 26 Juni 2014 No Rumusan RUU Komentar Rekomendasi Perubahan 1 Pasal 1 Dalam Undang-Undang

Lebih terperinci

Pada UU No 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran khususnya pada pasal 52 juga diatur hak-hak pasien, yang meliputi:

Pada UU No 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran khususnya pada pasal 52 juga diatur hak-hak pasien, yang meliputi: Hak dan Kewajiban Pasien Menurut Undang-Undang Menurut Declaration of Lisbon (1981) : The Rights of the Patient disebutkan beberapa hak pasien, diantaranya hak memilih dokter, hak dirawat dokter yang bebas,

Lebih terperinci

Diadopsi oleh resolusi Majelis Umum 53/144 pada 9 Desember 1998 MUKADIMAH

Diadopsi oleh resolusi Majelis Umum 53/144 pada 9 Desember 1998 MUKADIMAH Deklarasi Hak dan Kewajiban Individu, Kelompok dan Badan-badan Masyarakat untuk Pemajuan dan Perlindungan Hak Asasi Manusia dan Kebebasan Dasar yang Diakui secara Universal Diadopsi oleh resolusi Majelis

Lebih terperinci

2. Bagi Apotek Kabupaten Cilacap Dapat dijadikan sebagai bahan masukan sehingga meningkatkan kualitas dalam melakukan pelayanan kefarmasian di Apotek

2. Bagi Apotek Kabupaten Cilacap Dapat dijadikan sebagai bahan masukan sehingga meningkatkan kualitas dalam melakukan pelayanan kefarmasian di Apotek 2. Bagi Apotek Kabupaten Cilacap Dapat dijadikan sebagai bahan masukan sehingga meningkatkan kualitas dalam melakukan pelayanan kefarmasian di Apotek Cilacap. 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Focus Group Discusion

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KEBIDANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KEBIDANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG KEBIDANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pemenuhan pelayanan kesehatan merupakan hak setiap

Lebih terperinci

2 Mengingat e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d, perlu membentuk Undang-Undang tentang

2 Mengingat e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d, perlu membentuk Undang-Undang tentang No.307, 2014 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KESEHATAN. Keperawatan. Pelayanan. Praktik. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5612) UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR

Lebih terperinci

KOMENTAR UMUM 7 (1997) Hak atas Tempat Tinggal yang Layak: Pengusiran Paksa (Pasal 11 [1]

KOMENTAR UMUM 7 (1997) Hak atas Tempat Tinggal yang Layak: Pengusiran Paksa (Pasal 11 [1] 1 KOMENTAR UMUM 7 (1997) Hak atas Tempat Tinggal yang Layak: Pengusiran Paksa (Pasal 11 [1] Perjanjian Internasional atas Hak-hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya 1. Dalam Komentar Umum No. 4 (1991), Komite

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BARRU TAHUN 2011 NOMOR 5 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BARRU NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG PELAYANAN PUBLIK

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BARRU TAHUN 2011 NOMOR 5 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BARRU NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG PELAYANAN PUBLIK LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BARRU TAHUN 2011 NOMOR 5 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BARRU NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG PELAYANAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BARRU, Menimbang : a. bahwa pemerintah

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 77 TAHUN 2015 TENTANG PEDOMAN ORGANISASI RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 77 TAHUN 2015 TENTANG PEDOMAN ORGANISASI RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 77 TAHUN 2015 TENTANG PEDOMAN ORGANISASI RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 43 TAHUN 2016 TENTANG PEDOMAN FASILITASI AKREDITASI FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 43 TAHUN 2016 TENTANG PEDOMAN FASILITASI AKREDITASI FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 43 TAHUN 2016 TENTANG PEDOMAN FASILITASI AKREDITASI FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang

Lebih terperinci

PEMBUKTIAN MALPRAKTIK

PEMBUKTIAN MALPRAKTIK Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia The Indonesian Association of Forensic Medicine Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Proceeding Annual Scientific Meeting 2017 PEMBUKTIAN MALPRAKTIK Syarifah Hidayah

Lebih terperinci

HEALTH RESEARCH ETHICS COMMITTE

HEALTH RESEARCH ETHICS COMMITTE AUDIT DAN INSPEKSI Halaman 26-1 26-7 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2014 DAFTAR ISI No Hal DAFTAR ISI... 26-2 1. TUJUAN... 26-3 2. RUANG LINGKUP... 26-3 3. PENANGGUNGJAWAB... 26-3

Lebih terperinci

Aspek Etik dan Hukum Kesehatan

Aspek Etik dan Hukum Kesehatan Aspek Etik dan Hukum Kesehatan Latar Belakang berlakunya etik sebagai norma dalam kehidupan manusia : - Kata etik atau etika, berasal dari dua kata yunani yang hampir sama bunyinya namun berbeda artinya.

Lebih terperinci

MODUL PEMBELAJARAN DAN PRAKTIKUM MANAJEMEN HIV AIDS DISUSUN OLEH TIM

MODUL PEMBELAJARAN DAN PRAKTIKUM MANAJEMEN HIV AIDS DISUSUN OLEH TIM MODUL PEMBELAJARAN DAN PRAKTIKUM MANAJEMEN HIV AIDS DISUSUN OLEH TIM PROGRAM STUDI D III KEBIDANAN POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES GORONTALO TAHUN 2013 DAFTAR ISI Daftar Isi... 2 Pendahuluan... 3 Kegiatan

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KOTA BEKASI NOMOR :33.A 2012 SERI : E PERATURAN WALIKOTA BEKASI NOMOR 33.A TAHUN 2012

BERITA DAERAH KOTA BEKASI NOMOR :33.A 2012 SERI : E PERATURAN WALIKOTA BEKASI NOMOR 33.A TAHUN 2012 BERITA DAERAH KOTA BEKASI NOMOR :33.A 2012 SERI : E PERATURAN WALIKOTA BEKASI NOMOR 33.A TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN WALIKOTA BEKASI NOMOR 32 TAHUN 2010 TENTANG TATA KELOLA RUMAH SAKIT

Lebih terperinci