BAB 2 LANDASAN TEORI. merupakan suatu produk dari Advanced Research Projects Agency yang

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 2 LANDASAN TEORI. merupakan suatu produk dari Advanced Research Projects Agency yang"

Transkripsi

1 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Internet Sejarah Internet Internet mempunyai sejarah yang panjang sehingga bisa menjadi jaringan global seperti sekarang ini. Mengutip dari Turban (2003, p201), Internet berawal dari suatu jaringan bernama ARPANET, yang dikembangkan oleh departemen pertahanan Amerika pada tahun Pada dasarnya ARPANET merupakan suatu produk dari Advanced Research Projects Agency yang menghubungkan unit militer, agen pemerintahan, dan peneliti serta pakar akademik. Tujuan dasar dibangunnya jaringan ini adalah untuk memberikan fasilitas bagi para peneliti agar dapat berbagi sumber daya penghitungan dan pertukaran informasi sehubungan dengan komunikasi-komunikasi yang ada. Pada akhir tahun 1970, USENET (User s Network) mulai menyediakan komunikasi akademik dan selanjutnya melayani organisasi komersial. Kemudian pada tahun 1986, The National Science Foundation Network (NSFNET) menghubungkan peneliti di seluruh dunia melalui lima komputer besar terpusat yang lalu dikenal sebagai Internet. Saat ini, jumlah pengguna Internet di seluruh dunia berkembang dengan sangat cepatnya. Pada tahun 1998, masih kurang dari dua persen penduduk dunia yang baru menggunakan Internet. Namun saat ini sudah jiwa di dunia yang menggunakan Internet, dengan pengguna terbanyak adalah dari benua Asia ( jiwa) (InternetWorldStats).

2 Definisi Internet Mengutip dari Turban (2003, p201), internet (kependekan daripada perkataan 'interconnected-networking') merupakan rangkaian komputer yang terhubung di dalam beberapa rangkaian. Manakala Internet (huruf 'I' besar) ialah sistem komputer umum, yang berhubung secara global dan menggunakan TCP/IP sebagai protokol pertukaran paket (packet switching communication protocol). Rangkaian internet yang terbesar dinamakan Internet. Cara menghubungkan rangkaian dengan kaedah ini dinamakan internetworking Teknologi komputer dan aplikasi Internet untuk pertama kalinya menawarkan pemasaran yang memungkinkan pengumpulan, pemrosesan, analisa dan penggunaan secara efisien jumlah data dan mengadopsi personalisasi pendekatan pemasaran kepada masing-masing pelanggan. Dapat disimpulkan bahwa Internet merupakan jaringan komunikasi tanpa batas yang melibatkan jutaan komputer yang tersebar di seluruh dunia termasuk untuk melakukan pelayanan kepada pelanggan Mengutip dari Turban (2003, p189), is a telecommunication device that may send any other electronic object such as text, graphic, voice, appliation file which attached to the message. adalah alat telekomunikasi yang dapat mengirimkan objek elektronik, seperti teks, grafik, suara, atau file aplikasi yang dilampirkan melalui pesan. Ketika pengirim mengirimkan pesan melalui terminal, maka penerima dapat membaca pesan yang dikirim melalui terminal komputer, mencetak,

3 13 menyimpan, merubah, atau bahkan mengirimkan kembali. Itulah fungsi utama dari Web merupakan media komunikasi digital. Definisi Web mengutip dari Turban (2003, p214), Web is a system with universally accepted standards for storing, retrieving, formatting, and displaying information via a client/server architecture. Web adalah sistem dengan standar persetujuan universal untuk menyimpan, mengambil, mengubah dan menampilkan informasi melalui klien/server arsitektur. Teknologi World Wide Web ditemukan oleh Timothy Berners pada tahun HTML Web berdasar pada bahasa standar disebut juga Hypertext Markup Languange (HTML), dimana bentuk dokumen dan hypertext secara dinamik berhubungan dengan dokumen-dokumen lain yang disimpan pada komputer yang sama maupun yang berbeda URL Untuk mengakses web, maka pengguna harus memiliki Uniform Resource Locator (URL), dimana menunjuk kepada alamat spesifik dari lokasi tujuan. Contoh URL adalah

4 Pelanggan Definisi Pelanggan Pelanggan merupakan pihak yang sangat penting bagi perusahaan, hal tersebut sesuai dengan pengutaraan bahwa pelanggan adalah seseorang yang secara berulang kali datang ke tempat yang sama untuk memenuhi keinginannya dan mampu memberikan pengaruh bagi kinerja perusahaan. Menurut Irawan (2002, p3), Pelanggan atau langganan merujuk pada individu atau rumah tangga yang membeli barang atau jasa yang dihasilkan. Secara spesifik, kata ini sering pula diartikan sebagai seseorang yang terbiasa untuk membeli barang pada suatu toko tertentu. Kebutuhan pelanggan dapat berupa barang atau jasa yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tertentu. Pelanggan memiliki kebutuhan yang berbeda tingkatannya dan pengharapan pelanggan biasanya dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya, iklan, pemasaran, serta bentuk komunikasi lain, baik dari pemasok maupun sumber-sumber lainnya Kepuasan Pelanggan Mengutip dari Irawan (2002, p3), Kepuasan adalah respon dari konsumen bahwa produk atau pelayanan telah memberikan tingkat kenikmatan dimana tingkat pemenuhan ini bisa lebih atau kurang. Kepuasan terjadi ketika pelanggan merasa mendapatkan nilai dari pemasok, produsen atau penyedia jasa. Nilai ini bisa berasal dari produk, pelayanan, sistem atau sesuatu yang bersifat emosi. Jika pelanggan mengatakan bahwa nilai adalah produk yang berkualitas, maka kepuasan terjadi kalau

5 15 pelanggan mendapatkan produk yang berkualitas. Jika nilai dari pelanggan adalah harga yang murah, maka pelanggan akan puas kepada produsen yang memberikan harga yang paling kompetitif Indikasi baik tidaknya perusahaan di mata pelanggan adalah melalui kepuasan. Jika kinerja produk kurang dari yang diharapkan, pembelinya tidak puas. Demikian pula sebaliknya, pelanggan akan puas apabila kinerja produk lebih dari harapan yang ada di benak pelanggan. Dalam arti lain, kepuasan pelanggan dapat terpenuhi bila perusahaan dapat menyediakan produk atau jasa sesuai, bahkan melebihi, kebutuhan dan keinginan pelanggan. Salah satunya yaitu melalui Relationship Marketing yang tidak hanya mengutamakan pada bagaimana menciptakan penjualan saja tetapi bagaimana mempertahankan pelanggan dengan dasar hubungan kerjasama dan kepercayaan supaya tercipta kepuasan pelanggan yang maksimal dan pemasaran yang berkelanjutan Manfaat Kepuasan Pelanggan Ketika perusahaan dapat memenuhi kepuasan yang ada pada pelanggan, maka otomatis perusahaan pun akan mampu mendapatkan dampak. Satu dari setiap empat pembelian menghasilkan kekecewaan konsumen, tetapi kurang dari 5 persen pelanggan yang kecewa mau melaporkan kekecewaan mereka. Akibatnya, perusahaan kehilangan pelanggan, yang seharusnya tidak perlu terjadi.

6 16 Menurut Irawan (2002, p9), terdapat tiga manfaat kepuasan pelanggan yaitu: 1. Pelanggan yang puas akan siap membayar dengan harga yang lebih tinggi. 2. Pelanggan yang puas akan membeli lebih banyak lagi. 3. Dengan memiliki banyak pelanggan yang puas, maka biaya operasional akan jauh lebih efektif. Loyalitas pelanggan merupakan kekuatan perusahaan dalam menciptakan barrier to new entrans (menghalangi pemain baru masuk). Dalam rangka menciptakan kesetiaan pelanggan maka perusahaan harus berpikir untuk dapat menciptakan kepuasan pelanggan terlebih dahulu Nilai Pelanggan Konsumen membeli dari perusahaan yang dipercaya oleh mereka akan menawarkan nilai yang tertinggi bagi mereka (pelanggan). Mengutip dari Kotler (2001, p297), A value for customer is a differences between total value for customer and total value offered by company. Nilai bagi pelanggan adalah perbedaan antara nilai total bagi pelanggan dan biaya total pelanggan terhadap penawaran perusahaan (dalam arti singkat adalah laba bagi pelanggan). Perusahaan menjumlahkan semua nilai dari empat sumber produk, pelayanan, personel dan citra- untuk ditawarkan kepada pelanggan. Di sisi pelanggan, biaya total yang dikeluarkan mencakup biaya, waktu, energi dan psikis. Selisih antara pengurangan biaya total pelanggan dan nilai perusahaan itulah yang menjadi nilai bagi pelanggan

7 17 Nilai Produk Nilai Jasa Nilai Personal Nilai Citra Nilai Pelanggan Total Biaya Pelanggan Total Nilai Bagi Pelanggan Biaya Moneter Biaya Waktu Biaya Energi Biaya Psikis Gambar 2.1 Nilai bagi Pelanggan Sumber: Kotler (2001, p 296) 2.3 Customer Relationship Management (CRM) Konsep dari relationship marketing dasar pertama kali ditemukan pada tahun Dari konsep hubungan pemasaran itulah terbangun CRM. Yang menjadi perbedaan utama hanyalah hubungan pemasaran tidak menggunakan penerapan teknologi. Sedangkan pada pengembangan CRM, dapat dilakukan pengembangan dalam aspek teknologi, yaitu sistem dan bahkan melalui Website Pengertian CRM Mengutip definisi CRM menurut Kalakota (2000, p67), CRM means segmenting customers and tailoring offerings to create value, consists of Price, quality, intrinsic Product features, brand, Service, and very pleasurable experience. CRM berarti dilakukannya segmentasi pelanggan dan menawarkan

8 18 kepada mereka nilai berupa harga, kualitas, fitur produk, merek, pelayanan dan pengalaman sangat menyenangkan. Menurut Kalakota (2000, p111), CRM is defined as an integrated Sales, Marketing and Service Strategy. CRM didefinisikan sebagai integrasi antara penjualan, pemasaran dan strategi pelayanan. Marketing Service Marketing Customer Relationship Management Gambar 2.2 Integrasi CRM Sumber: Kalakota (2000, p111) Mengutip dari Greenberg (2005 p16-17), CRM is a set of process and comprehensive technology for maintaining relationship with potential customer and existing customer including Marketing, Selling and Service. CRM merupakan sekumpulan proses dan teknologi yang komprehensif untuk mengelola hubungan dengan pelanggan potensial dan pelanggan sekarang serta rekan bisnis dalam pemasaran, penjualan dan layanan terlepas dari saluran komunikasi. Menurut Kramer (2002, p5), Customer Relationship Management adalah suatu filosofi perusahaan karena merupakan pendekatan fundamental dalam melaksanakan bisnis. CRM merupakan rangkaian mengenai penjualan, pelayanan, bantuan meja (helpdeks) dan pemasaran, dimana orang-orang saling berbagi informasi

9 19 mengenai pelanggan yang bertujuan meningkatkan revenue dari kepuasan pelanggan. Dengan dibentuk lebih lengkap, informasi yang lebih tepat waktu, orang-orang terkait tersebut dapat menghasilkan keputusan yang lebih baik dan menjaga pelanggan agar tetap datang dan membeli produk lagi. CRM terdiri atas Customer Acquisition dan Customer Retention. Customer Acquisition terbagi atas Marketing dan Sales. Sedangkan untuk Customer Retention ditujukan kepada Service. CRM mengakui bahwa setiap pelanggan adalah individu yang memiliki keinginan dalam memenuhi kebutuhan dan aspirasinya. CRM juga tampak pada proses dalam mengatur detail informasi mengenai pelanggan individu dan dengan hati-hati mengatur segala titik pelanggan dalam memaksimalkan kesetiaan pelanggan Jenis CRM Menurut Greenberg (2005, p48), CRM berdasar segmennya terbagi atas: 1. Operational CRM Operational CRM mencakup kepada transaksi dalam melayani pelanggan dari internal perusahaan. Fungsi bisnis umum mencakup pelayanan, manajemen pemesanan, tagihan, penjualan otomatisasi penjualan dan pemasaran. Bagian dari operational CRM mencakup kepada pusat kontak pelanggan, atau biasa disebut Customer Interaction Center (CIC).

10 20 2. Analytical CRM Analytical CRM mencakup penangkapan, penyimpanan, penjabaran, pemrosesan, pelaporan data pelanggan kepada pengguna, bukan hanya algoritma dan penyimpanan, tetapi juga respon terhadap personalisasi penggunaan data. 3. Collaborative CRM Merupakan pusat komunikasi, jaringan koordinasi yang merujuk kepada lajur pelanggan dan supliernya sendiri. Dimaksudkan seperti web atau . Jenis ini biasa disebut juga sebagai strategi hubungan, fungsi CRM yang menyediakan interaksi antara pelanggan dan jalur mereka sendiri Tujuan CRM Tujuan dari CRM menurut Kalakota (2000, p111) yaitu, CRM melakukan optimisasi dari keuntungan perusahaan yang benar-benar mengerti apa dan bagaimana pelanggan berinteraksi dalam mencapai kesetiaan pelanggan dan diasosiasikan dengan peningkatan keuntungan. Hal tersebut sesuai dengan tujuan dari kerangka CRM yaitu: Menggunakan hubungan yang sudah ada untuk meningkatkan pendapatan. Meningkatkan keuntungan melalui identifikasi, menarik dan mengikat pelanggan terbaik. Menggunakan informasi yang terintegrasi untuk pelayanan terbaik. Memperkenalkan proses dan prosedur penjualan secara berulang. Menciptakan nilai baru dan menanamkan kesetiaan. Mengimplementasikan solusi strategi yang proactive.

11 21 CRM memungkinkan perusahaan membedakan dengan lebih baik dan efisien dalam mengalokasikan sumber daya yang dikeluarkan untuk pelanggan yang lebih menguntungkan. Dengan demikian perusahaan dapat melakukan pengelolaan sumber daya dan mengembangkan relasi yang lebih baik dengan pelanggan Manfaat CRM Fokus akan strategi CRM bukan hanya membantu dalam menjaga pasar yang ada, tetapi juga keuntungan dari persaingan harga. Kesetiaan, sehubungan dengan harga atau toleransi harga dapat dilihat sebagai bagian dari dimensi CRM. Manfaat utama pada CRM menurut Tunggal (2000, p10) yaitu: o Meningkatkan pelanggan Dengan informasi yang tersedia, perusahaan dapat meningkatkan siklus peluncuran produk, menawarkan produk yang tepat kepada pelanggan disaat yang tepat. o Mendorong loyalitas pelanggan CRM memungkinkan perusahaan untuk mendayagunakan informasi dan semua titik kontak dengan pelanggan. Konsistensi dari informasi ini memungkinkan penjualan dan pelayanan yang lebih baik dengan berbagai informasi penting mengenai pelanggan tersebut. o Mengurangi biaya CRM memungkinkan penjualan atau pelayanan dengan biaya yang murah dalam skema program pemasaran yang spesifik dan terfokus.

12 22 o Meningkatkan efisiensi operasional Otomatisasi penjualan dan proses pelayanan dapat mengurangi resiko turunnya kualitas pelayanan dan mengurangi beban cash flow. Perusahaan dapat menyederhanakan informasi dan transaksi untuk meningkatkan waktu respon terhadap pelanggan maupun sikulus penjualan produk. o Peningkatan time-to-market CRM sangat memungkinkan membawa produk ke pasar dengan lebih cepat mengenai info perusahaan yang lebih baik. Manfaat CRM pada masing-masing bagian menurut Tunggal (2000, p10) adalah: Sales o Meningkatkan penjualan o Mempercepat periode penjualan o Meningkatkan nilai penjualan o Menarik pelanggan kompetitor Marketing o Meningkatkan respon promosi o Melakukan branding awareness o Menekan biaya promosi o Melakukan pemasaran yang memiliki target Service o Meingkatkan customer retention o Meningkatkan customer service Productivity o Mengurangi request solusi time

13 23 o Mengurangi biaya customer service Relasi antara perusahaan dan pelanggan yang terjalin erat akan membuat pelanggan merasa ikut memiliki perusahaan. Berdasarkan hal itu maka loyalitasnya terhadap perusahaan sedikit demi sedikit akan semakin tumbuh dan berkembang. Dengan demikian perusahaan akan memperoleh manfaat dari penerapan CRM, yaitu memiliki pelanggan yang loyal Fungsi-fungsi CRM Menurut Suroso (2004), sebuah sistem CRM harus bisa menjalankan fungsi: Mengidentifikasi faktor-faktor penting bagi pelanggan. Mengusung falsafah customer-oriented (customer centric) Mengadopsi pengukuran berdasarkan sudut pandang pelanggan Membangun proses ujung ke ujung dalam melayani pelanggan Menyediakan dukungan pelanggan yang sempurna Menangani keluhan pelanggan Mencatat dan mengikuti semua aspek dalam penjualan Membuat informasi holistik tentang informasi layanan dan penjualan Fase CRM Menurut Kalakota (2000, p ), CRM pada prosesnya terbagi atas: Memperoleh pelanggan baru (Acquisition) Memperoleh pelanggan baru dengan mempromosikan keunggulan produk atau pelayanan dalam hal inovasi serta kemudahan. Nilai tambah bagi pelanggan adalah penawaran suatu produk berkualitas yang didukung oleh pelayanan yang sempurna.

14 24 Meningkatkan keuntungan yang diperoleh dari pelanggan yang sudah ada (Enhancement) Membangun hubungan yang lebih erat dan meningkatkan keuntungan yang diperoleh dari pelanggan yang sudah ada dengan mendorong terciptanya penjualan produk atau jasa yang melengkapi (cross-selling) dan lebih baik (up-selling). Mempertahankan pelanggan yang memberikan keuntungan (Retain) Hal ini dilakukan dengan menawarkan apa yang dibutuhkan oleh pelanggan spesifik bukan yang dibutuhkan oleh pelanggan pasar. Nilai tambah bagi pelanggan adalah penawaran suatu hubungan proaktif yang sesuai dengan minat pelanggan. Fokus perusahaan pada tahap ini adalah bagaimana mempertahankan pelanggan yang sudah ada yang pasti memberikan keuntungan bagi perusahaan daripada bagimana mendapatkan pelanggan baru yang belum tentu menguntungkan. Gambar 2.3 Fase CRM Sumber: Kalakota (2000, p114)

15 25 Semua fase dalam CRM berhubungan. Tetapi cukup sulit untuk mengerjakan ketiga bagian tersebut dengan cukup baik, sehingga biasanya perusahaan hanya berfokus benar kepada satu dimensi sebagai fokus utama tanpa menyampingkan dua dimensi lainnya Langkah-Langkah Memulai CRM Ada beberapa langkah langkah menurut Jarot (2004) untuk memulai CRM pada suatu perusahaan agar hubungan antara perusahaan dan pelanggan terjalin dengan baik yaitu: mendefinisikan visi dari CRM memahami pelanggan mengembangkan kasus bisnis mempelajari kesiapan perusahaan menentukan strategi dan sasaran dari CRM yang dikembangkan memilih aplikasi yang sesuai memperhatikan pendapat pelanggan Electronic-Customer Relationship Management (E-CRM) Dengan menggabungkan unsur teknologi informasi dan Internet, maka konsep CRM akan dinamakan e-crm dimana secara konsep CRM yang ada, yaitu pengaturan aktivitas hubungan dengan pelanggan dibangun diatas basis Website elektronik. Mengutip dari Darudiarto (2008) e-crm adalah CRM yang diterapkan secara electronic dengan menggunakan web browser, internet dan media

16 26 elektronik. e-crm juga meliputi proses aplikasi online seperti segmentasi dan personalisasi. e-crm merupakan aplikasi yang digunakan untuk mengelola pelanggan (customer), yang meliputi pengelolaan data pelanggan, selling process, complaint handling, status order, customer services, dan laporan. Mengutip dari Kalakota dan Robinson (2000, p ), e-crm is a management of customer for e-business which must be facing a complexity of management for customer, business partner in media such as online and offline, personal contact and any others communication media. E-CRM merupakan manajemen pelanggan untuk e-bisnis yang harus berhadapan dengan kompleksitas dari manajemen yang menarik bagi pelanggan dan partner bisnis dalam berbagai macam media yang meliputi media online dan offline, personal contact dan media komunikasi elektronik lainnya. Sistem CRM yang berbasiskan Internet menyediakan kemampuan mengelola hubungan dengan pelanggan secara efektif dan menawarkan bantuan melalui Internet setiap saat sehingga pelanggan dapat mengikuti perkembangan produk, melaporkan masalah pelayanan, menanyakan pertanyaan atau mendapatkan informasi produk. Dapat dikatakan e-crm merupakan CRM yang menggunakan internet atau perangkat e-bisnis lainnnya yang memungkinka untuk dilakukannya hal-hal yang tidak dapat dilakukan oleh CRM seperti Real-time Personalization Tingkatan E-CRM Mengutip dari Wikipedia (2008), ruang lingkup e-crm terbagi atas tiga tingkatan yang dapat dijabarkan:

17 27 Foundational Services Pelayanan ini termasuk kebutuhan dasar minimal sebuah Website seperti melakukan efektifisasi dan respon terhadap pemenuhan pesanan. Customer-centered Services Pelayanan ini termasuk seperti pelacakan pesanan, konfigurasi produk dan perubahan-perubahan pribadi atas dasar keamanan. Value-added Services Pelayanan ekstra ini seperti lelang secara online dan pelatihan serta pendidikan online. 2.4 Pemasaran Definisi Pemasaran Menurut Kotler (2007, p5-6), Marketing deals with identifying and meeting human and social needs. One of the shortest definition of Marketing is meeting needs profitability. Pemasaran berhubungan dengan identifikasi dan menemui kebutuhan manusia dan sosial. Definisi singkat dari pemasaran adalah memenuhi kebutuhan. Pemasaran terjadi ketika minimal ada satu pihak yang menjadi pemikir potensial mengenai pencapaian hasrat dalam merespon pihak-pihak lainnya Bauran Pemasaran Dalam pemasaran terdapat empat prinsip dasar atau disebut juga bauran pemasaran. Keputusan bauran pemasaran harus mempengaruhi saluran

18 28 pemasaran sebaik mungkin kepada pelanggan akhir. Menurut Kotler (2007, p19), bauran pemasaran yang terdiri dari 4 P yaitu: Product (produk) Produk berfokus kepada Customer Solution. Mencakup variasi produk, kualitas, desain, fitur, merek, kemasan, ukuran, garansi dan lainnya. Price (harga) Harga berfokus pada Customer Cost. Harga dalam bauran pemasaran mencakup pemasaran dalam hal daftar harga, diskon, kelonggaran, periode pembayaran dan bentuk cicilan. Place (saluran distribusi) Saluran distribusi berfokus pada kemudahan pelanggan. Place dalam bauran pemasaran mencakup saluran disribusi, jangkauan distribusi, lokasi pemasaran, persediaan dan metode transportasi pengiriman. Promotion (promosi) Metode promosi pada bauran pemasaran mencakup promosi penjualan, pengiklanan, usaha penjualan, hubungan publik dan pemasaran langsung. Dalam perkembangannya, untuk layanan jasa dikenal juga istilah 7 P, dimana 4 P pertama adalah Product, Price, Place, dan Promotion seperti yang telah disebutkan diatas. Untuk 3 P yang selanjutnya adalah: Bukti Fisik (Physical Evidence) Bukti fisik dalam perusahaan jasa adalah adanya bukti fisik dalam kegiatan pemasaran.

19 29 Proses (Process) Prosess dalam bauran pemasaran perusahaan jasa adalah proses dalam melakukan pemasaran itu sendiri dari dimulainya hingga berakhirnya proses pemasaran. Orang (People) Orang dalam bauran pemasaran perusahaan jasa adalah pelaku dalam kegiatan pemasaran perusahaan jasa. 2.5 Analisa Analisa Porter Model five competitive forces atau biasa disebut juga model lima kompetensi Porter menurut Porter (1998, pp3-29) adalah alat pendekatan yang digunakan secara luas untuk mengembangan strategi dalam banyak industri. Hakikat persaingan suatu industri dapat dilihat sebagai kombinasi atas lima kekuatan: 1. Kekuatan tawar-menawar pembeli/konsumen 2. Persaingan antarperusahaan sejenis 3. Kekuatan tawar-menawar penjual/pemasok 4. Kemungkinan masuknya pesaing baru 5. Potensi pengembangan produk subtitusi

20 30 Kemungkinan masuknya pesaing baru Kekuatan tawarmenawar pembeli/konsumen Persaingan antarperusahaan sejenis Kekuatan tawarmenawar penjual/pemasok Potensi pengembangan produk subtitusi Gambar 2.4 Model kompetensi Porter Sumber: Porter (1998, p4) 1. Kekuatan tawar menawar pembeli (Bargaining power of buyers) Ketika pelanggan terkonsentrasi atau jumlahnya besar, atau membeli dalam jumlah banyak, kekuatan tawarnya merupakan kekuatan utama yang mempengaruhi intensitas pelanggan dalam suatu industri. Ketika demikian halnya, konsumen sering dapat melakukan negosiasi atau menekan harga jual, jaminan, dan paket aksesori sampai ke tingkat tertentu. 2. Persaingan antara perusahaan sejenis Kekuatan ini paling berpengaruh dibandingkan dengan empat kekuatan lainnya. Strategi yang dijalankan oleh satu perusahaan dapat berhasil jika strategi itu memiliki keunggulan kompetitif (competitive advantage) dibandingkan dengan strategi yang dijalankan oleh perusahaan pesaing.

21 31 Intensitas persaingan di antara perusahaan yang bersaing cenderung meningkat ketika jumlah pesaing bertambah, ketika konsumen dapat dengan mudah berganti merek dan jika merger dan akuisisi biasa terjadi dalam industri. 3. Kekuatan tawar-menawar penyedia (Bargaining power of suppliers) Kekuatan tawar pemasok mempengaruhi intensitas persaingan dalam suatu industri, terutama ketika jumlah pemasok banyak, ketika hanya ada sedikit bahan baku pengganti yang baik, atau ketika biaya penggantian bahan baku amat tinggi. Sering kali demi kepentingan bersama, pemasok dan produsen saling membantu dengan memberikan harga yang terjangkau, mutu yang lebih baik, pengembangan pelayanan baru, penyerahan barang tepat waktu, dan mengurangi biaya inventarisasi, sehingga meningkatkan kemampuan meraih laba jangka panjang bagi semua pihak yang terkait. 4. Kemungkinan masuknya pendatang baru Hambatan-hambatan terhadap masuknya pesaing baru bisa berupa skala ekonomi, diferensiasi produk, kebutuhan modal, kurangnya pengalaman, kuatnya loyalitas pelanggan, fanatisme terhadap merek tertentu, kurangnya saluran distribusi yang memadai, kebijakan peraturan pemerintah, tarif, kurangnya akses bahan baku dan kepemilikan paten. 5. Potensi pengembangan produk subtitusi Tekanan persaingan akibat adanya produk pengganti semakin bertambah ketika harga produk pengganti relatif murah dan biaya konsumen untuk beralih

22 32 ke produk lain pun rendah. Semakin uniknya produk atau jasa yang kita hasilkan, akan mengecilkan peluang adanya produk atau jasa pengganti dari pihak lain Analisa Critical Success Factor (CSF) Analisa CSF menurut Turban (2003, p367) yaitu, CSF merupakan faktor-faktor yang harus benar sehubungan dengan pengorganisasian dalam mencapai tujuan. Faktor-faktor tersebut dapat berada di level divisi maupun manajerial. Sekali CSF diidentifikasikan, selanjutnya dapat dipantau, diukur dan dibandingkan dengan standar-standar. CSF dari suatu industri adalah hal-hal yang paling mempengaruhi kemampuan untuk mensukseskan pangsa pasar. CSF merupakan hal yang sangat natural dimana setiap industri harus menaruh perhatian atasnya. Contoh penerapan CSF dalam beberapa industri seperti industri telekomunikasi adalah harga dan kualitas, otomotif (keamanan, daya tahan), makanan (kualitas), perbankan (keamanan). Meskipun CSF cukup spesifik, hal tersebut adalah berbeda dari satu industri ke industri lain, antara organisasi dalam industri yang sama bahkan dari satu waktu ke waktu lainnya dalam organisasi. 2.6 Jenis Strategi Strategi alternatif yang dapat diambil oleh perusahaan dapat dikelompokkan menjadi 13 tindakan, yaitu integrasi ke depan, integrasi ke belakang, integrasi horizontal, penetrasi pasar, pengembangan pasar, pengembangan produk, diversifikasi konsentrik, diversifikasi konglomerat, diversifikasi horizontal, joint venture, rasionalisasi biaya, divestasi dan likuidasi (David, 2006, p ).

23 33 Banyak organisasi menjalankan dua strategi atau lebih secara bersamaan, namun strategi kombinasi tersebut dapat sangat beresiko jika dijalankan terlalu jauh. Jenis alternatif strategi tersebut adalah: Strategi Integrasi Integrasi Vertikal Integrasi ke depan Strategi yang berupaya memiliki atau meningkatkan kendali atas distributor atau pengecer. Integrasi ke belakang Strategi yang berupaya memiliki atau meningkatkan kendali atas perusahaan pemasok Integrasi Horizontal Strategi yang mencoba memiliki atau meningkatkan kendali atas pesaing Strategi Intensif Penetrasi Pasar, Pengembangan Pasar dan Pengembangan Produk disebut sebagai Strategi Intensif karena semuanya memerlukan usaha-usaha intensif jika posisi persaingan perusahaan dengan produk yang ada hendak ditingkatkan. Penetrasi Pasar Strategi penetrasi pasar berusaha meningkatkan pangsa pasar untuk produk atau jasa yang sudah ada di pasar melalui usaha pemasaran yang gencar.

24 34 Pengembangan Pasar Pengembangan pasar merupakan upaya memperkenalkan produk atau jasa yang ada ke wilayah geografis baru. Pengembangan Produk Pelayanan Pengembangan produk adalah strategi yang berupaya meningkatkan penjualan dengan memperbaiki atau memodifikasi produk atau jasa pelayanan yang sudah ada Strategi Diversifikasi Secara umum strategi diversifikasi menjadi kurang populer karena organisasi mengetahui betapa lebih sulitnya mengelola aktivitas yang beragam. Meski demikian diversifikasi masih terbukti sebagai strategi yang tepat dan efektif. Diversifikasi terbagi atas: Diversifikasi Konsentris Adalah menambah produk atau jasa baru, namun masih terkait. Diversifikasi Horizontal Adalah menambah produk atau jasa baru yang tidak terkait untuk pelanggan yang sudah ada. Diversifikasi Konglomerat Adalah menambah produk atau jasa baru yang tidak terkait.

25 Strategi Difensif Rasionalisasi Biaya Rasionalisasi biaya terjadi ketika suatu organisasi melakukan restrukturisasi melalui penghematan biaya dan aset untuk meningkatkan kembali penjualan dan laba yang sedang menurun. Divestasi Adalah menjual suatu divisi atau bagian dari organisasi. Divestasi sering digunakan untuk meningkatkan modal yang selanjutnya akan digunakan untuk akuisisi atau investasi yang lebih lanjut. Likuidasi Adalah menjual semua aset perusahaan secara bertahap Kerangka Perumusan Strategi Yang Komprehensif Menurut David (2004, p285), teknik-teknik perumusan strategi yang penting dapat diintegrasikan ke dalam kerangka pembuatan keputusan tiga tahap, seperti yang akan ditunjukkan pada tabel di bawah ini. Kerangka perumusan strategi dapat dipakai untuk semua jenis organisasi dan dapat membantu perencana strategi mengidentifikasi, mengevaluasi, dan memilih strategi. Tabel 2.1 Tabel Kerangka Kerja Analitis TAHAP 1:TAHAP INPUTAN Matriks Evaluasi Faktor Matriks Evaluasi Faktor Eksternal (EFE) Internal (IFE) TAHAP 2: TAHAP PENCOCOKKAN Matriks Matriks SWOT SPACE Matriks Profil Kompetitif (CPM) Matriks Grand Strategy Matriks IE Matriks BCG TAHAP 3: TAHAP KEPUTUSAN Quantitive Strategic Planning Matrix (QSPM) Sumber:David (2006, p283)

26 Matriks CPM (Competitive Profile Matrix) Menurut David (2006, p284), CPM (Competitif Profile Matrix) atau matriks profil persaingan mengidentifikaskan pesaing utama perusahaan serta kekuatan dan kelemahannya terkait dengan contoh strategis perusahaan. Bobot dan total nilai yang dibobot dalam CPM dan EFE mempunyai arti yang sama. Namun, faktor-faktor keberhasilan kritis dalam CPM mencakup baik isu-isu eksternal maupun internal. Peringkat berkisar antara 1 hingga 4 dimana 4 = kekuatan utama, 3 = kekuatan minor, 2 = kelemahan minor, 1 = kelemahan utama. Di dalam CPM, pemeringkatan dan total nilai yang dibobot untuk perusahaan pesaing dapat dibandingkan dengan perusahaan sampel. Analisis perbandingan ini memberikan informasi strategis internal yang penting. Angka tersebut mengungkapkan kekuatan relatif dari perusahaan, namun keakuratan yang tersirat hanyalah ilusi. Tujuannya bukanlah untuk memperoleh angka, tetapi untuk mencerna dan menilai informasi dengan cara yang bermakna sehingga membantu dalam pembuatan keputusan External Factor Strategy (EFE) dan Internal Factor Strategy (IFE) Dalam upaya menghasilkan strategi perusahaan yang kompetitif, selain menganalisis strategi korporat, perlu untuk meninjau terlebih dahulu situasi lingkungan yang dihadapi oleh perusahaan saat ini. Lingkungan perusahaan terdiri dari dua macam: lingkungan eksternal (external environment) dan lingkungan internal (internal environment).

27 37 Dari masing-masing lingkungan ini, dihasilkan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Faktor yang berasal dari lingkungan eksternal disebut dengan External Faktor Evaluation Strategy (EFE), disusun untuk merumuskan kerangka Opportunities dan Threats. Sementara, faktor yang berasal dari lingkungan internal disebut dengan Internal Factor Evaluation Strategy (IFE) disusun untuk merumuskan faktor-faktor strategis internal dalam kerangka Strengths dan Weaknesses Matriks Evaluasi Faktor Eksternal (EFE) Matriks EFE memungkinkan para penyusun strategi untuk merangkum dan mengevaluasi informasi ekonomi, sosial, budaya, demografi, lingkungan, politik, pemerintah, hukum, teknologi, dan persaingan. Menurut David (2006, p285), Matriks EFE dapat dibuat dengan lima tahapan : Tuliskan faktor eksternal utama mencakup peluang dan ancaman yang mempengaruhi perusahaan dan industrinya. Tuliskan peluang terlebih dahulu dan kemudian ancaman. Peluang sering kali diberi bobot lebih tinggi dari ancaman, tetapi ancaman juga dapat diberi bobot yang tinggi jika mereka sangat serius atau sangat mengancam. Bobot yang tepat dapat ditemukan dengan mendiskusikan faktor dan mencapai konsensus kelompok. Penjumlahan dari seluruh bobot yang diberikan kepada semua faktor harus sama dengan 1,0.

28 38 Berikan peringkat 1 hingga 4 untuk masing-masing faktor eksternal kunci tentang seberapa efektif strategi perusahaan saat ini dalam merespon faktor tersebut, di mana 4 = respon perusahaan superior, 3 = respon perusahaan di atas rata-rata, 2 = respon perusahaan ratarata, 1 = respon perusahaan jelek. Peringkat didasari pada efektivitas strategi perusahaan. Dengan demikian, peringkat didasarkan pada perusahaan (company based), sedangkan bobot pada tahap 2 didasarkan pada industri (industry based). Penting untuk diperhatikan bahwa ancaman dan peluang dapat diberi peringkat 1, 2, 3 atau 4. Kalikan masing-masing bobot faktor dengan peringkat untuk menentukan rata-rata tertimbang. Jumlahkan rata-rata tertimbang untuk masing-masing variabel untuk menentukan total rata-rata tertimbang untuk organisasi Matriks Evaluasi Faktor Internal (IFE) Menurut David (2006, 286), Matriks IFE dapat dikembangkan dalam 5 tahap: Tuliskan faktor internal utama mecakup kekuatan dan kelemahan. Bobot yang diberikan kepada masing-masing faktor mengindikasikan tingkat relatif kepentingan dari faktor terhadap keberhasilan perusahaan dalam industri. Berikan peringkat 1 hingga 4 untuk masing-masing faktor untuk mengindikasikan apakah faktor tersebut menunjukkan kelemahan

29 39 utama (peringkat =1), atau kelemahan minor (peringkat = 2), kekuatan minor (peringkat = 3), atau kekuatan utama (peringkat = 4) Perhatikan bahwa kekuatan harus mendapatkan peringkat 3 dan 4 dan kelemahan harus mendapatkan peringkat 1 dan 2. Peringkat adalah berdasarkan perusahaan, di mana bobot di langkah 2 adalah berdasarkan industri. Kalikan masing-masing bobot faktor dengan peringkat untuk menentukan rata-rata tertimbang untuk masing-masing variabel. Jumlahkan rata-rata tertimbang untuk masing-masing variabel untuk menentukan total rata-rata tertimbang untuk organisasi. Berapapun banyaknya faktor yang dimasukkan dalam matriks IFE, total rata-rata tertimbang berkisar antara yang terendah 1,0 dan tertinggi 4,0, degan rata-rata 2,5. Total rata-rata tertimbang di bawah 2,5 menggambarkan organisasi yang lemah secara internal, sementara total nilai di atas 2,5 mengindikasikan posisi internal yang kuat Analisa SWOT Matrik Kekuatan-Kelemahan-Peluang-Ancaman (Strengths-Weakness- Opportunities-Threats-SWOT Matrix) adalah alat untuk mencocokkan yang penting dalam membantu manajer mengembangkan empat tipe strategi: SO (kekuatan-peluang strengths-opportunities), WO (kelemahan-peluang weakness-opprotunities), ST (kekuatan-ancaman strengths-threats), WT (kelemahan-ancaman weakness-threats). Menurut David (2006, - 287), matriks SWOT terdiri atas sembilan sel, seperti yang ditunjukkan pada Tabel 2.2.

30 40 Terdapat empat faktor kunci, empat sel strategi dan satu sel yang selalu dibiarkan kosong. Empat sel strategi yang diberi nama SO, WO, ST dan WT dikembangkan setelah menyelesaikan empat sel faktor kunci, diberi nama S, W, O dan T. IFE EFE OPPORTUNITIES (O) Tentukan 5-10 Kekuatan THREATS (T) Tentukan 5-10 Ancaman Tabel 2.2 Matriks SWOT STRENGTHS (S) Tentukan 5-10 Kekuatan WEAKNESS(W) Tentukan 5-10 Kelemahan STRATEGI SO STRATEGI WO Ciptakan strategi yang Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan meminimalkan kelemahan untuk memanfaatkan peluang untuk memanfaatkan peluang STRATEGI ST STRATEGI WT Ciptakan strategi yang Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan meminimalkan kelemahan untuk mengatasi ancaman untuk menghindari ancaman (Sumber: David, 2006, p287) Strategi SO menggunakan kekuatan internal perusahaan untuk memanfaatkan peluang eksternal. Strategi WO bertujuan untuk memperbaiki kelemahan internal dengan memanfaatkan peluang eksternal. Strategi ST menggunakan kekuatan perusahaan untuk menghindari atau mengurangi pengaruh dari ancaman eksternal. Strategi WT adalah taktik defensif yang diarahkan pada pengurangan kelemahan internal dan menghindari ancaman eksternal. Ada delapan langkah yang terlibat dalam membuat Matrik SWOT: 1. Tuliskan peluang eksternal kunci perusahaan 2. Tulisakan ancaman eksternal kunci perusahaan 3. Tuliskan kekuatan internal kunci perusahaan

31 41 4. Tuliskan kelemahan internal kunci perusahaan 5. Cocokkan kekuatan internal dengan peluang eksternal dan catat hasil Strategi SO dalam sel yang ditentukan. 6. Cocokkan kelemahan internal dengan peluang eksternal dan catat hasil Strategi WO dalam sel yang ditentukan. 7. Cocokkan kekuatan internal dengan ancaman eksternal dan catat hasil Strategi ST dalam sel yang ditentukan. 8. Cocokkan kelemahan internal dengan ancaman eksternal dan catat hasil Strategi WT dalam sel yang ditentukan Matriks IE (Internal-Eksternal) Menurut David (2006, p290), Matriks IE (Internal Eksternal) menempatkan berbagai divisi dari suatu organisasi dalam sembilan sel. Matriks IE serupa dengan matriks BCG dalam arti keduanya menempatkan berbagai divisi dari organisasi di dalam diagram skematis, sehingga keduanya disebut matriks portofolio. Total Nilai EFE yang diberi Bobot Tinggi Sedang Rendah Tabel 2.3 Total Nilai IFE Yang Diberi Bobot Kuat I Tumbuh dan Kembangkan IV Tumbuh dan Kembangkan VII Jaga dan Pertahankan Sedang II Tumbuh dan Kembangkan V Jaga dan Pertahankan VIII Panen atau Divestasi Lemah III Jaga dan Pertahankan VI Panen atau Divestasi IX Panen atau Divestasi

32 42 Strategi yang sesuai bagi Divisi yang masuk dalam sel I, II dan IV adalah strategi intensif (penetrasi pasar, pengembangan pasar dan pengembangan produk), strategi integratif (integrasi ke belakang, integrasi ke depan, dan integrasi horizontal). Strategi yang seusai bagi Divisi yang masuk dalam sel III, V atau VII adalah penetrasi pasar dan pengembangan produk. Strategi yang sesuai bagi Divisi yang masuk ke dalam sel VI, VIII, IX adalah panen atau divestasi Matriks SPACE Menurut David (2006, p292), Matriks Strategy Position and Action Evaluation (SPACE) merupakan alat pencocokkan lain yang penting. Alat ini terdiri dari kerangka empat kuadran yang menunjukkan strategi agresif, konservatif, defensif atau kompetitif yang paling cocok. FS Konservatif: Penetrasi pasar Pengembangan pasar Pengembangan produk Agresif: Intensif Diversifikasi Integrasi IS CA Defensif ES Bersaing: Integrasi Intensif Joint venture Gambar 2.5 Matriks SPACE Sumber: David (2006, p )

33 Matriks Strategi Besar (Grand Strategy) Dalam Matriks Grand Strategy, semua organisasi dapat diposisikan dalam salah satu dari empat kuadran dalam matriks ini. Mengutip dari David (2006, p293), Matriks Grand Strategy didasarkan pada dua dimensi evaluatif: posisi kompetitif dan pertumbuhan pasar. Strategi yang sesuai untuk dipertimbangkan suatu organisasi terdapat pada urutan daya tariknya dalam masing-masing kuadran dalam matriks. Perusahaan yang berada pada kuadran I dalam matriks ini berada pada posisi yang sangat bagus. Untuk perusahaan ini, terus berkonsentrasi pada pasar saat ini (penetrasi pasar dan pengembangan pasar) dan produk saat ini (pengembangan produk) adalah strategi yang sesuai. Tidaklah bijak bagi perusahaan di kuadran I untuk bergerak jauh dari keunggulan kompetitif yang dimilikinya saat ini. Ketika organisasi pada kuadran ini memiliki sumber daya yang berlimpah, maka integrasi ke belakang, ke depan atau horizontal dapat menjadi strategi yang efektif. Perusahaan yang berada pada kuadran II perlu mengevaluasi pendekatan mereka saat ini terhadap pasar secara serius. Karena perusahaan pada kuadran II berada pada industri yang pasarnya tumbuh cepat, strategi intensif biasanya menjadi pilihan pertama. Tetapi jika perusahaan tidak memiliki keunggulan kompetitif, maka integrasi horizontal sering menjadi strategi yang dipertimbangkan. Sebagai jalan terakhir, divestasi atau likuidasi dapat dipertimbangkan. Divestasi dapat memberikan dana yang dibutuhkan untuk membeli bisnis lain atau membeli kembli saham perusahaan.

34 44 Perusahaan di kuadran III bersaing dalam industri yang tumbuh dengan lambat dan memiliki posisi kompetitif yang lemah. Perusahaan ini harus membut perbaikan secara drastis untuk menghindari likuidasi (retrenchment). Pengurangan biaya dan aset secara ekstensif harus dilakukan terlebih dahulu. Alternatif strategi lain adalah mengalihkan sumber daya dari bisnis saat ini ke bidang lain (diversifikasi). Pilihan terakhir adalah divestasi atau likuidasi. Akhirnya bisnis di kuadran IV memiliki posisi kompetitif yang kuat dalam industri yang tumbuh lambat. Perusahaan ini mempunyai kekuatan untuk memperkenalkan program yang terdiversifikasi ke area yang pertumbuhannya menjanjikan. Perusahaan ini dapat menjalankan diversifikasi konsentrik, horizontal, atau konglomerat dengan sukses. Selain itu, joint venture juga dapat dilakukan. Posisi kompetitif yang lemah Pertumbuhan pasar yang tinggi Kuadran II Kuadran I 1. Pengembangan pasar 1. Pengembangan pasar 2. Penetrasi pasar 2. Penetrasi pasar 3. Pengembangan produk 3. Pengembangan produk 4. Integrasi horizontal 4. Integrasi ke depan 5. Divestasi 5. Integrasi ke belakang 6. Likuidasi 6. Integrasi horizontal 7. Diversifikasi konsentrik Kuadran III Kuadran IV 1. Retrenchment 1. Diversifikasi konsentrik 2. Diversifikasi konsentrik 2. Diversifikasi horizontal 3. Diversifikasi horizontal 3. Diversifikasi konglomerat 4. Diversifikasi konglomerat 4. Joint venture 5. Divestasi 6. Likuidasi Posisi kompetitif yang kuat Pertumbuhan pasar yang rendah Gambar 2.6 Matriks Grand Strategy Sumber: David (2006, p307)

35 Matriks QSPM QSPM (Quantitive Strategic Planning Matrix) atau matriks perencanaan strategis kuantitatif secara objektif menunjukkan strategi alternatif yang paling baik. QSPM menggunakan masukan informasi dari matriks EFE dan IFE. Hasilhasil pencocokkan pada tahap 2 berupa matriks SWOT, matriks SPACE, dan matriks Grand Strategy dipergunakan untuk memutuskan secara objektif strategi alternatif yang dapat dijalankan. Pemilihan alternatif strategi yang didapat dari tahap pencocokkan harus menggunakan penilaian intuitif yang bagus untuk kemudian dimasukkan ke dalam matriks QSPM (David, 2006, p294). 2.8 Sistem Pengertian Sistem Secara sederhana sistem dapat didefinisikan sebagai kumpulan dari elemen yang berhubungan atau berinteraksi dalam membentuk kesatuan. Mengutip dari O Brien (2005, p8). A system is a group of interrelated components working together toward a common goal by accepting imputs and producing outputs in an organized transformation process. Sistem adalah kumpulan atas komponen terkait yang bekerja bersama untuk mencapai tujuan umum dengan menerima input dan menghasilkan output melalui proses yang terorganisasi Komponen Sistem Menurut O Brien (2005, p8), sistem memiliki tiga komponen dasar yang saling berinteraksi, yaitu:

36 46 Input Input mencakup pengumpulan elemen-elemen dan kemudian memasuki sistem untuk diproses, contohnya seperti bahan baku, data, intruksi. Proses Proses termasuk dilakukannya transformasi untuk mengubah input menjadi output, contohnya seperti proses fabrikasi. Output Termasuk pengiriman elemen-elemen yang telah diproduksi melalui proses transformasi kepada tujuan utama, contohnya seperti barang jadi Pengertian Sistem Informasi Menurut O Brien (2005, p7), Information system can be any organized combination of people, hardware, software, communication networks and data resources that collect, transforms, and disseminates information in an organization. Sistem informasi dapat didefinisikan sebagai pengorganisasian antara kombinasi sumber daya orang, hardware, software, network dan data untuk mengumpulkan, mengtransformasikan serta menyebarkan informasi di dalam organisasi. Gambar 2.7 Komponen Sistem Informasi Sumber: O Brien (2005, p7)

37 47 Informasi terdiri dari data yang telah diolah atau sebaliknya digunakan untuk tujuan informasi atau sebagai dasar untuk peramalan dan pengambilan keputusan. Sistem informasi tak lain adalah sistem yang dirancang untuk dapat melakukan penginputan, memproses, menghasilkan output, melakukan penyimpanan dengan perangkat keras, perangkat lunak, tenaga kerja, prosedur, dan data yang dapat membantu manajer dalam pengambilan keputusan, pengontrolan, pengkoordinasian, dan analisa masalah. 2.9 Database Definisi Database Menurut O brien (2005, p145) Database is an integrated collection of logically related data elements, consolidates records previously stored in separate files into a common pool of data elements that provides data for many applications. Database adalah kumpulan secara logikal dari integrasi elemen data untuk mengkonsolidasikan penyimpanan sebelumnya dalam file terpisah ke dalam baris elemen data yang menghasilkan data untuk banyak aplikasi Tipe Database Tipe Database menurut O Brien (2005, p150) yaitu: Operational Database Database ini menyimpan detail data yang dibutuhkan untuk mendukung proses bisnis dan operasi dari e-bisnis perusahaan.

38 48 Distributed Database Tipe Database ini mereplikasi dan mendistribusi bagian-bagian Database untuk jaringan server, bertujuan untuk meningkatkan performa Database dan keamanan. External Database Tipe Database ini yaitu dilakukannya penyimpanan Database yang berada diluar proses bisnis perusahaan berlangsung, sekaligus biasanya sebagai back-up User Interface Prinsip-Prinsip User Interface Tujuan dari User Interface Design (UID) adalah merancang Interface yang efektif untuk sistem perangkat lunak. Berikut ini prinsip-prinsip UID menurut Proboyekti (2003): User familiarity: gunakan istilah, konsep dan kebiasaan user bukan computer. Consistency: Konsisten dalam operasi dan istilah di seluruh sistem sehingga tidak membingungkan. Minimal surprise: Operasi bisa diduga prosesnya berdasarkan perintah yang disediakan. Recoverability: Terdiri ada dua macam: o Confirmation of destructive action (konfirmasi terhadap aksi yang merusak), dan o Ketersediaan fasilitas pembatalan (Undo)

39 49 User guidance: Sistem manual online, menu help, caption pada icon khusus tersedia. User Interface yang baik harus menyatukan interaksi pengguna (user interaction) dan penyajian informasi (information presentation). Ada 5 tipe utama interaksi untuk user interaction: 1. Direct manipulation pengoperasian secara langsung: interaksi langsung dengan objek pada layar. Misalnya delete file dengan memasukkannya ke trash. 2. Menu selection pilihan berbentuk menu: Memilih perintah dari daftar yang disediakan. Misalnya saat klik kanan dan memilih aksi yang dikehendaki. 3. Form fill-in pengisian form: Mengisi area-area pada form. Contoh: Stock control. 4. Command language perintah tertulis: Menuliskan perintah yang sudah ditentukan pada program. Contoh: operating system. 5. Natural language perintah dengan bahasa alami: Gunakan bahasa alami untuk mendapatkan hasil. Contoh: search engine di Internet. Warna menambah dimensi ekstra pada suatu Interface dan membantu user memahami struktur yang komplek. Dalam menggunakan warna pada desain Interface ada beberapa petunjuk yang dapat diikuti seperti berikut ini: 1. Hindari penggunaan terlalu banyak warna 2. Gunakan kode warna untuk mendukung operasi 4. Desain monochrome kemudian tambahkan warna

40 50 5. Gunakan warna kode secara konsisten 6. Hindari pasangan warna yang tidak cocok/norak 7. Gunakan warna untuk menunjukkan perubahan status Delapan Aturan Emas Dalam perancangan User Interface terdapat pedoman delapan aturan emas menurut Shneiderman (1998, p74-75), yaitu: a. Berusaha untuk konsisten Harus selalu konsisten dalam merancang tampilan. b. Memungkinkan frequent users menggunakan shortcuts Umumnya user sudah sering menggunakan aplikasi lebih menginginkan kecepatan dalam mengakses fungsi yang diinginkan. Untuk itu perlu disediakan tombol spesial atau perintah tersembunyi. c. Memberikan umpan balik yang informatif Umpan balik harus diberikan untuk memberikan informasi kepada user sesuai dengan action yang diakukannya. Umpan balik ini bisa berupa konfirmasi atau informasi atas suatu aksi. d. Merancang dialog yang memberikan penutupan (keadaan akhir) Umpan balik atas akhir dari suatu proses dan aksi akan sangat membantu dan juga user akan mendapat signal untuk melanjutkan ke aksi lainnya. e. Memberikan pencegahan kesalahan dan penanganan kesalahan yang sederhana Sistem dirancang sedemikian rupa sehingga dapat mencegah user dalam membuat kesalahan. Contohnya, bila terjadi kesalahan, sistem harus

41 51 dapat memberikan instruksi yang sederhana, konstruktif dan spesifik untuk perbaikan. f. Memungkinkan pembalikan aksi yang mudah Ada kalanya user tidak sengaja melakukan aksi yang tidak diinginkan, untuk itu user ingin melakukan pembatalan. Sistem harus mampu memberikan fungsi pembatalan ini agar user akan merasakan lebih aman dan tidak takut dalam mencoba memakai sistem tersebut. g. Mendukung pusat kendali internal User yang berpengalaman sangat mendambakan kontrol yang kuat pada sistem, sehingga mereka merasa menguasai sistem tersebut. Sistem yang tidak terduga dan sulit dalam melakukan aksi akan menyulitkan user. h. Mengurangi beban ingatan jangka pendek Keterbatasan memori pada manusia harus ditanggulangi oleh program dengan tidak banyak membuat user untuk melakukan proses penyimpanan memori Metode Analisis dan Perancangan Sistem Berorientasi Objek Object Oriented Analysis and Design berusaha untuk menggabungkan data dan proses menjadi suatu gagasan tunggal yang disebut object (objek). Object Oriented Analysis and Design memperkenalkan object diagram yang mendokumentasikan sistem dipandang dari segi object dan interaksinya. Menurut Mathiassen et al (2000, pp14-15), terdapat 4 aktivitas utama dalam Object Oriented Analysis and Design, yaitu Problem Domain Analysis, Application Domain Analysis, Architectural Design, dan Component Design.

42 52 Gambar 2.8 Aktivitas Utama dalam OOA&D Sumber: (Mathiassen et al, 2000, p15) Keuntungan metode analisis dan perancangan berbasis objek atau biasa disebut object oriented menurut Mathiassen et al (2000, pp5-6) adalah: 1. Object-oriented menyediakan informasi yang jelas mengenai konteks sistem. 2. Hubungan yang kuat di antara object-oriented analysis, object-oriented design, object-oriented user Interface, dan object oriented programming. Object dapat memodelkan kondisi sosial, ekonomi, dan kondisi organisasi, demikian juga dengan system interface, function, process, dan component. 3. Object menawarkan sebuah cara pemikiran yang alami atas suatu permasalahan yang mendukung abstraksi tanpa memaksakan cara pandang teknik satu sisi.

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Desain penelitian dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang menggambarkan kondisi eksternal dan internal PT. Padang Digital Indonesia saat ini

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Manajemen Manajemen merupakan proses pengkoordinasian kegiatan-kegiatan pekerjaan sehingga pekerjaan tersebut terselesaikan secara efisien

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB 2 LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN BAB 2 LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Pengertian Strategi Menurut David (2009, p18) Strategi adalah sarana bersama dengan tujuan jangka panjang hendak dicapai. Strategi bisnis mencakup ekspansi

Lebih terperinci

BAB III. Metodologi Penelitian

BAB III. Metodologi Penelitian BAB III Metodologi Penelitian 3.1 Desain Penelitian Dalam penelitian ini, jenis penilitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Metode analisis deskriptif adalah suatu metode yang digunakan untuk

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif, yaitu metode

BAB 3 METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif, yaitu metode BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif, yaitu metode yang bertujuan membantu memecahkan masalah yang bertujuan membantu memecahkan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang akan digunakan adalah penelitian deskriptif. Metode analisis

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang akan digunakan adalah penelitian deskriptif. Metode analisis BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Desain Penelitian Jenis penelitian yang akan digunakan adalah penelitian deskriptif. Metode analisis deskriptif adalah metode yang digunakan untuk meneliti sekelompok manusia,

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Manajemen 2.1.1 Definisi Manajemen Menurut Stephen P. Robins dan Mary Coulter (2012:9) manajemen adalah mengkoordinasikan dan mengawasi kegiatan kerja orang lain sehingga kegiatan

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PROBLEM SOLVING

BAB 3 METODE PROBLEM SOLVING BAB 3 METODE PROBLEM SOLVING Penetapan Kriteria Optimasi Penetapan kriteria optimasi dalam studi ini akan dijabarkan sebagai berikut: Kekuatan aspek internal perusahaan yang terdiri dari kekuatan dan kelemahan

Lebih terperinci

time horizon atau dimensi waktu yang digunakan adalah cross sectional, yang berarti

time horizon atau dimensi waktu yang digunakan adalah cross sectional, yang berarti 50 BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Berdasarkan tujuan yang akan diteliti pada penulisan skripsi ini, maka jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif, dimana penelitian

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN BAB 3 METODE PENELITIAN 3. Disain Penelitian Menurut Sarwono, Jonathan (2006:79) dalam melakukan penelitian salah satu hal penting adalah membuat desain penelitian. Desain Penelitian bagaikan sebuah peta

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Wisata Agro Tambi yang terletak di Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Pemilihan lokasi ini ditentukan secara sengaja

Lebih terperinci

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN. teoretik. Manajemen strategi didefinisikan sebagai ilmu tentang perumusan

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN. teoretik. Manajemen strategi didefinisikan sebagai ilmu tentang perumusan 22 BAB III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Manajemen Strategi Penelitian ini menggunakan perencanaan strategi sebagai kerangka teoretik. Manajemen strategi didefinisikan sebagai

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Perencanaan Strategi Sistem dan Teknologi Informasi 2.1.1 Pengertian Perencanaan Strategis Perencanaan strategis, menurut Ward dan Peppard (2002, p462) adalah analisa

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Disain Penelitian Dalam penelitian ini, jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui

Lebih terperinci

BAB II MANAJEMEN PEMASARAN

BAB II MANAJEMEN PEMASARAN BAB II MANAJEMEN PEMASARAN 2.1 Konsep Pemasaran Pemasaran tidak bisa dipandang sebagai cara yang sempit yaitu sebagai tugas mencari cara-cara yang benar untuk menjual produk/jasa. Pemasaran yang ahli bukan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Strategi Menurut Robbins dan Coulter (2014:266) Strategi adalah rencana untuk bagaimana sebuah organisasi akan akan melakukan apa yang harus dilakukan dalam bisnisnya,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 29 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi yang sesuai untuk Rumah Makan Ayam Goreng & Bakar Mang Didin Asgar yang berlokasi di Jalan Ahmad Yani

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Gama Catering yang beralamat di Komp. Bumi Panyileukan Blok G 13 No. 20 Kota Bandung. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Metode yang Digunakan Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yaitu metode yang meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB 2 LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN BAB 2 LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Landasan teori 2.1.1 Pengertian Manajemen Menurut Robbins dan Coulter (2007, p7), manajemen adalah proses pengoordinasian kegiatan-kegiatan pekerjaan sehingga

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi informasi di era globalisasi yang begerak cepat telah

BAB 1 PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi informasi di era globalisasi yang begerak cepat telah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan teknologi informasi di era globalisasi yang begerak cepat telah dapat meningkatkan kinerja dan memungkinkan berbagai kegiatan dapat dilaksanakan dengan

Lebih terperinci

Rekayasa Perangkat Lunak Semester Genap 2009/2010. Bahan Ajar Rekayasa Perangkat Lunak USER INTERFACE DESIGN (UID)

Rekayasa Perangkat Lunak Semester Genap 2009/2010. Bahan Ajar Rekayasa Perangkat Lunak USER INTERFACE DESIGN (UID) Rekayasa Perangkat Lunak Semester Genap 2009/2010 Bahan Ajar Rekayasa Perangkat Lunak USER INTERFACE DESIGN (UID) Pengantar Tujuan dari UID adalah merancang interface yang efektif untuk sistem perangkat

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. yang paling besar di dunia. Menurut Wikipedia, negara Indonesia adalah negara

BAB 1 PENDAHULUAN. yang paling besar di dunia. Menurut Wikipedia, negara Indonesia adalah negara BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Negara Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat jumlah penduduk yang paling besar di dunia. Menurut Wikipedia, negara Indonesia adalah negara berpenduduk

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Persaingan pasti selalu ada dalam sebuah pasar terutama dalam dunia bisnis itu

BAB 1 PENDAHULUAN. Persaingan pasti selalu ada dalam sebuah pasar terutama dalam dunia bisnis itu BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Persaingan pasti selalu ada dalam sebuah pasar terutama dalam dunia bisnis itu sendiri. Dimana banyak aspek bisa menjadi daya saing membuat suatu perusahaan dapat bertahan,

Lebih terperinci

penelitian ini diharapkan mampu menghasilkan alternatif strategi yang lebih objektif.

penelitian ini diharapkan mampu menghasilkan alternatif strategi yang lebih objektif. IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan pada usaha sate bebek H. Syafe i Cibeber, Kota Cilegon, Provinsi Banten. Pemilihan lokasi penelitian ini dilakukan secara sengaja

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 35 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan pada restoran iga bakar Mang Opan yang terletak di Jl. Adhyaksa II No.1A, Buah Batu, Bandung. Pemilihan tempat dilakukan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang akan digunakan adalah penelitian deskriptif. Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang akan digunakan adalah penelitian deskriptif. Penelitian BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Disain Penelitian Jenis penelitian yang akan digunakan adalah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif menurut Arikunto (2005: 234) adalah penelitian yang dimaksud untuk

Lebih terperinci

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN BAB III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Strategi Perusahaan Manajemen meliputi perencanaan, pengarahan, pengorganisasian dan pengendalian atas keputusan-keputusan dan

Lebih terperinci

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN BAB III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Pengertian Strategi Strategi berasal dari bahasa Yunani kuno yang berarti seni berperang. Suatu strategi mempunyai dasar-dasar atau skema

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2 Jenis dan Sumber Data

METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2 Jenis dan Sumber Data IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di dua lokasi, yakni Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah, khususnya di Kesatuan Bisnis Mandiri (KBM) Agroforestry yang membawahi

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN. Dalam penelitian ini, jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian

BAB 3 METODE PENELITIAN. Dalam penelitian ini, jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian 27 BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Disain Penelitian Dalam penelitian ini, jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 19 III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Langkah awal yang dilakukan dalam penelitian ini adalah mengetahui visi, misi dan tujuan Perum Pegadaian. Kemudian dilakukan analisis lingkungan internal

Lebih terperinci

BAB III METODA PENELITIAN

BAB III METODA PENELITIAN 18 BAB III METODA PENELITIAN A. Waktu Penelitian No Kegiatan Tabel 3.1 Jadwal Pelaksanaan Penelitian 1. Studi kepustakaan 2. Penyusunan desain penelitan 3. Penyusunan teknis pelaksanaan pengambilan data

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian PT. Pelni merupakan perusahaan pelayaran nasional yang bergerak dalam bidang jasa dan memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam hal pelayanan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Persaingan antar organisasi bisnis yang semakin ketat beberapa dekade terakhir

BAB 2 LANDASAN TEORI. Persaingan antar organisasi bisnis yang semakin ketat beberapa dekade terakhir 5 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Pengertian Umum Strategi Persaingan antar organisasi bisnis yang semakin ketat beberapa dekade terakhir sebelum era Millenium baru, nampaknya akan menjadi bertambah sengit setelah

Lebih terperinci

Universitas Bina Nusantara. Analisis Strategi Pemasaran Untuk Pengembangan Pasar Pada PT. Padang Digital Indonesia

Universitas Bina Nusantara. Analisis Strategi Pemasaran Untuk Pengembangan Pasar Pada PT. Padang Digital Indonesia Universitas Bina Nusantara Analisis Strategi Pemasaran Untuk Pengembangan Pasar Pada PT. Padang Digital Indonesia Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Skripsi Strata 1 Semester Ganjil tahun 2006/2007 Yuyun

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Strategi Strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan jangka panjang. Menurut David (2008) strategi merepresentasikan tindakan yang akan diambil

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Metode Penentuan Sampel

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Metode Penentuan Sampel IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Elsari Brownies & Bakery (EBB) yang bertempat di Jalan Raya Pondok Rumput Nomor 18 RT 06/RW 11, Kelurahan Kebon Pedes,

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. bagi suatu perusahaan untuk tetap survive di dalam pasar persaingan untuk jangka panjang. Daya

BAB II KAJIAN TEORI. bagi suatu perusahaan untuk tetap survive di dalam pasar persaingan untuk jangka panjang. Daya BAB II KAJIAN TEORI 2.1. Daya Saing 2.1.1 Pengertian Daya Saing Perusahaan yang tidak mempunyai daya saing akan ditinggalkan oleh pasar. Karena tidak memiliki daya saing berarti tidak memiliki keunggulan,

Lebih terperinci

USER INTERFACE DESIGN (UID)

USER INTERFACE DESIGN (UID) USER INTERFACE DESIGN (UID) Tujuan dari UID adalah merancang interface yang efektif untuk sistem perangkat lunak. Efektif artinya siap digunakan, dan hasilnya sesuai dengan kebutuhan penggunanya. Pengguna

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 33 III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian PT Bank Syariah Mandiri hadir, tampil, dan tumbuh sebagai bank yang mampu memadukan idealisme usaha dengan nilai-nilai rohani, yang melandasi

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PROBLEM SOLVING

BAB 3 METODE PROBLEM SOLVING BAB 3 METODE PROBLEM SOLVING 3.1 Penetapan Kriteria Penelitian Kriteria Optimasi yang digunakan untuk menganalisis alternatif-alternatif strategi bisnis yang akan digunakan Restaurant PT Okirobox Indonesia

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Metode Penentuan Responden

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Metode Penentuan Responden IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada usaha Durian Jatohan Haji Arif (DJHA), yang terletak di Jalan Raya Serang-Pandeglang KM. 14 Kecamatan Baros, Kabupaten

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Konsep Strategi Menurut Kotler (2008:58), strategi pemasaran adalah logika pemasaran dimana perusahaan berharap untuk menciptakan nilai pelanggan dan mencapai hubungan yang

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI. Market Assessment. Marketing Strategy. Business Plan. Conclusion

BAB III METODOLOGI. Market Assessment. Marketing Strategy. Business Plan. Conclusion 40 BAB III METODOLOGI 3.1. Kerangka Pikir Market Assessment SWOT Porter s Five Forces Marketing Strategy Business Plan Conclusion Gambar 3.1 Kerangka Pikir 41 3.2. Penjelasan Kerangka Pikir Pertama-tama,

Lebih terperinci

BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis hasil pengolahan data maka dapat disimpulkan bahwa:

BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis hasil pengolahan data maka dapat disimpulkan bahwa: BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan analisis hasil pengolahan data maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Dapat diketahui faktor eksternal PT. Gema Shafa Marwa adalah: a. Faktor

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada Pia Apple Pie yang berada di Jalan Pangrango 10 Bogor. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN Strategi Pengembangan Usaha Maharani Farm Gambar 4. Kerangka Pemikiran Operasional IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Rumah Potong Ayam Maharani Farm yang beralamat

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Apabila mengharapkan penerapan TI yang optimal, dibutuhkan strategi

BAB II LANDASAN TEORI. Apabila mengharapkan penerapan TI yang optimal, dibutuhkan strategi BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Strategi STI Apabila mengharapkan penerapan TI yang optimal, dibutuhkan strategi STI yang selaras dengan strategi bisnis perusahaan. Hal ini sangat diperlukan agar investasi yang

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Manajemen s 2.1.1 Pengertian Pearce dan Robinson (2008, p2) menyatakan bahwa strategi merupakan suatu rencana yang berskala besar, dengan berorientasi ke masa depan guna untuk

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian pada produk teh siap minum Walini Peko yang diproduksi oleh

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian pada produk teh siap minum Walini Peko yang diproduksi oleh 44 BAB III METODE PENELITIAN 3.1.Objek dan Tempat Penelitian Penelitian pada produk teh siap minum Walini Peko yang diproduksi oleh Industri Hilir Teh (IHT) PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII di Cibiru,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.10 Pengertian Pemasaran Kemajuan zaman yang membawa masalah-masalah dan kesempatankesempatan baru telah menjadi sebab menariknya pengetahuan pemasaran bagi perusahaan-perusahaan,

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di peternakan domba Tawakkal Farm (TF) Jalan Raya Sukabumi Km 15 Dusun Cimande Hilir No. 32, Caringin, Bogor. Pemilihan lokasi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Konsep Strategi Strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan. Dalam perkembangannya, konsep strategi terus berkembang. Hal ini dapat ditunjukkan oleh adanya perbedaan konsep

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Mitra Alam. Pemilihan lokasi ini dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa perusahaan tersebut merupakan

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRATEGIS. Roedhy Poerwanto Departemen Agronomi & Hortikultura Faperta-IPB

PERENCANAAN STRATEGIS. Roedhy Poerwanto Departemen Agronomi & Hortikultura Faperta-IPB PERENCANAAN STRATEGIS Roedhy Poerwanto Departemen Agronomi & Hortikultura Faperta-IPB Audit External Visi & Misi Audit Internal Tujuan Jangka Panjang Strategi Implementasi Strategi Isu Manajemen Implementasi

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN. (PKPBDD) yang terletak di Jalan Raya Sawangan No. 16B, Pancoran Mas,

IV. METODE PENELITIAN. (PKPBDD) yang terletak di Jalan Raya Sawangan No. 16B, Pancoran Mas, IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Pusat Koperasi Pemasaran Belimbing Dewa Depok (PKPBDD) yang terletak di Jalan Raya Sawangan No. 16B, Pancoran Mas, Depok. Pemilihan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI. 1. Data keuangan perusahaan. 2. Data kegiatan operasional Perusahaan. ini dapat berupa:

BAB III METODOLOGI. 1. Data keuangan perusahaan. 2. Data kegiatan operasional Perusahaan. ini dapat berupa: BAB III METODOLOGI III.1 Tehnik Pengumpulan Data III.1.1 Jenis Data Jenis data yang digunakan dalam penyusunan GFP ini dibagi 2, yaitu :! Data Primer Merupakan data internal yang didapat dari PT. QCC.

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Manajemen Pemasaran Pengertian manajemen pemasaran menurut American Marketing Association adalah perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian operasi pemasaran total, termasuk perumusan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan teknologi, khususnya di era globalisasi saat ini tidak dapat dielakkan lagi. Untuk dapat berkembang dan bertahan di dunia bisnis, suatu perusahaan harus

Lebih terperinci

Bab 5 Analisis 5.1. Analisis Matriks Internal Factor Evaluation (IFE) 5.2. Analisa Matriks ekternal Factor Evaluation (EFE)

Bab 5 Analisis 5.1. Analisis Matriks Internal Factor Evaluation (IFE) 5.2. Analisa Matriks ekternal Factor Evaluation (EFE) Bab 5 Analisis Dari hasil pengolahan data pada bab IV, selanjutnya dilakukan analisis dan pembahasan yang berkaitan dengan upaya menentukan strategi pemasaran perusahaan, yang meliputi langkah-langkah

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di tempat produksi sate bandeng pada UKM Awal Putra Mandiri yang berlokasi di Jl. Ratu Rangga Blok B No.252 Rt. 02/11, Kampung

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA Manajemen Strategis

II. TINJAUAN PUSTAKA Manajemen Strategis 7 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Manajemen Strategis Strategi menurut Hamel dan Prahalad dalam Umar (2008) didefinisikan sebagai suatu proses penentuan rencana para pemimpin puncak yang berfokus pada tujuan

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis dalam penelitian ini membahas tentang : konsep strategi, manajemen strategi, analisis faktor internal dan eksternal serta

Lebih terperinci

BAB II. LANDASAN TEORI dan KERANGKA PEMIKIRAN

BAB II. LANDASAN TEORI dan KERANGKA PEMIKIRAN BAB II LANDASAN TEORI dan KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Definisi Marketing Marketing atau pemasaran diartikan sebagai proses eksplorasi terhadap kebutuhan pelanggan melalui beragam pendekatan

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. sangat kuat. Deregulasi yang dikeluarkan pemerintah dapat membuat sebagian lembaga

BAB 4 HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. sangat kuat. Deregulasi yang dikeluarkan pemerintah dapat membuat sebagian lembaga BAB 4 HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1. Evaluasi Faktor Eksternal 4.1.1. Evaluasi Ancaman (Threats) Faktor Eksternal Kebijakan dan keputusan pemerintah Kebijakan dan keputusan yang dibuat pemerintah merupakan

Lebih terperinci

IV. METODOLOGI PENELITIAN

IV. METODOLOGI PENELITIAN 37 IV. METODOLOGI PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Loka Farm yang terletak di Desa Jogjogan, Kelurahan Cilember, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Pemilihan lokasi ini

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Teoritis 3.1.1. Manajemen Strategi Manajemen strategi (strategic management) dapat didefinisikan sebagai seni dan ilmu untuk memformulasi, mengimplementasi, dan mengevaluasi

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Pengertian Strategi Strategi berasal dari bahasa Yunani kuno yang berarti seni berperang. Suatu strategi mempunyai dasar-dasar atau skema

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Properti Properti berasal dari bahasa Latin yaitu proprietas atau berarti kepemilikan, dan merujuk pada satu atau lebih entitas yang dimiliki seseorang atau badan organisasi, dimana

Lebih terperinci

(Library Reasearch) dan penelitian lapangan (Field research),yaitu:

(Library Reasearch) dan penelitian lapangan (Field research),yaitu: BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Desain penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif. Metode analisis deskriptif adalah suatu metode yagn digunakan untuk meneliti sekelompok manusia,

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian ini dilakukan di kawasan Kalimalang, Jakarta Timur.

IV METODE PENELITIAN. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian ini dilakukan di kawasan Kalimalang, Jakarta Timur. IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian ini dilakukan di kawasan Kalimalang, Jakarta Timur. Pemilihan lokasi penelitian ini dilakukan secara sengaja berdasarkan pertimbangan

Lebih terperinci

BAB 2. Landasan Teori

BAB 2. Landasan Teori BAB 2 Landasan Teori 2.1 Services Marketing Marketing (pemasaran) adalah mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan manusia dan sosial. Manajemen pemasaran (marketing management) sebagai seni dan ilmu memilih

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Konsep Pengembangan Usaha Bagi wirausahawan sejati, pengembangan usaha mempunyai makna yang luhur dan tidak hanya sekedar mengeruk keuntungan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. World Wide Web World Wide Web (WWW), suatu sistem yang memungkinkan para pemakai komputer untuk melihat dan berinteraksi dengan berbagai macam informasi,

Lebih terperinci

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 126 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Setelah melakukan analisis mendalam tentang PT. Asuransi Wahana Tata serta melakukan perhitungan terhadap setiap aspek yang berkaitan dengan pengembangan strategi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Pemasaran BAB II TINJAUAN PUSTAKA Menurut Stanton dalam Tambajong (2013:1293), pemasaran adalah suatu sistem dari kegiatan bisnis yang dirancang untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Metode yang digunakan Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif deskriptif. Menurut (Sanders, Tom J., 2012) Penelitian manajemen strategis cenderungdilakukan

Lebih terperinci

commit to user 8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Pengertian Pemasaran Menurut Kotler (2009 : 5) pemasaran adalah mengidentifikasi

commit to user 8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Pengertian Pemasaran Menurut Kotler (2009 : 5) pemasaran adalah mengidentifikasi BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Pengertian Pemasaran Menurut Kotler (2009 : 5) pemasaran adalah mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan manusia dan sosial. Sedangkan menurut beliau, manajemen

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN BAB IV METODE PENELITIAN 4. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di PT. Kaliduren Estates yang berlokasi di Perkebunan Tugu/Cimenteng, Desa Langkap Jaya, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Sukabumi.

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah penelitian deskriptif, jenis penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana faktor faktor internal

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. pilihan produk kepada pelanggan sehingga pelanggan dapat saja pindah sewaktu-waktu

BAB 1 PENDAHULUAN. pilihan produk kepada pelanggan sehingga pelanggan dapat saja pindah sewaktu-waktu BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan zaman yang sangat cepat memberikan ruang yang bebas antara pelanggan dan pembeli serta banyaknya variasi produk dan harga akan memberikan pilihan produk

Lebih terperinci

LANDASAN TEORI. Enterprise Resource Planning (ERP) adalah sebuah aplikasi bisnis yang

LANDASAN TEORI. Enterprise Resource Planning (ERP) adalah sebuah aplikasi bisnis yang BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Enterprise Resource Planning Enterprise Resource Planning (ERP) adalah sebuah aplikasi bisnis yang didisain untuk dapat menyediakan lingkungan yang terintegrasi dan sistematis

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN

IV METODE PENELITIAN IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Rahat Cafe 1 yang berlokasi di Jalan Malabar 1 No.1 (samping Pangrango Plaza) kota Bogor. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi yang dijadikan sebagai tempat penelitian adalah PT Godongijo Asri yang beralamat di Desa Serua, Kecamatan Cinangka, Sawangan, Depok, Jawa

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Manajemen Manajemen merupakan seni yaitu, seni mengelola sumber daya yang dimiliki untuk mencapai tujuan yang ingin diperoleh (Wijayanto 2012 : 12). Sedangkan

Lebih terperinci

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN BAB III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Strategi Strategi merupakan cara-cara yang digunakan oleh organisasi untuk mencapai tujuannya melalui pengintegrasian segala keunggulan

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN

IV METODE PENELITIAN IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Kegiatan penelitian ini dilaksanakan di Koperasi Simpan Pinjam Warga Sepakats beralamat di Jalan Raya Cibanteng Bogor No. 02 Cihideung Ilir- Ciampea

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. biasa cepat. Menurut data dari jumlah pengguna internet di

BAB 1 PENDAHULUAN. biasa cepat. Menurut data dari  jumlah pengguna internet di 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penggunaan internet di Indonesia telah mengalami perkembangan yang luar biasa cepat. Menurut data dari www.internetworldstats.com, jumlah pengguna internet di Indonesia

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. semua fungsi manajemen karena tanpa perencanaan fungsi-fungsi lain

BAB II LANDASAN TEORI. semua fungsi manajemen karena tanpa perencanaan fungsi-fungsi lain 5 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Perencanaan Perencanaan adalah proses mendefinisikan tujuan organisasi, membuat strategi untuk mencapai tujuan itu, dan mengembangkan rencana aktivitas kerja organisasi.

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Daya Saing

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Daya Saing 7 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Daya Saing Konsep daya saing berhubungan dengan kemampuan meningkatkan posisi tawar (bargaining position) dalam memaksimalkan pencapaian tujuan (Tamba, 2004). Untuk meraih kesuksesan

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini merupakan studi kasus suatu rantai pasokan udang vaname. Penelitian ini dilaksanakan di berbagai tempat, yaitu pada produsen benih

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian ini dilakukan pada CV Salim Abadi (CV SA), yang terletak di Jalan Raya Punggur Mojopahit Kampung Tanggul Angin, Kecamatan Punggur,

Lebih terperinci

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Buah Carica 2.2. One Village One Product (OVOP)

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Buah Carica 2.2. One Village One Product (OVOP) 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Buah Carica Buah carica atau pepaya gunung merupakan rumpun buah pepaya yang hanya tumbuh di dataran tinggi. Di dunia, buah carica hanya tumbuh di tiga negara yaitu Amerika Latin,

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Manajemen Pemasaran Pengertian Manajemen Pemasaran Orientasi Manajemen Pemasaran

BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Manajemen Pemasaran Pengertian Manajemen Pemasaran Orientasi Manajemen Pemasaran BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Manajemen Pemasaran 2.1.1 Pengertian Manajemen Pemasaran Menurut Kotler dan Armstrong (2010,p32), Manajemen pemasaran adalah Seni dan ilmu memilih target pasar dan membangun hubungan

Lebih terperinci

III. METODE KAJIAN A. Pengumpulan Data Pengumpulan data yang digunakan adalah : 1. Pengumpulan data primer melalui survei lapangan, wawancara

III. METODE KAJIAN A. Pengumpulan Data Pengumpulan data yang digunakan adalah : 1. Pengumpulan data primer melalui survei lapangan, wawancara 20 III. METODE KAJIAN A. Pengumpulan Data Pengumpulan data yang digunakan adalah : 1. Pengumpulan data primer melalui survei lapangan, wawancara (lampiran 1) dengan pihak perusahaan sebanyak 3 responden

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Konseptual 3.1.1. Pengertian Strategi Strategi adalah rencana yang mengandung cara komprehensif dan integratif yang dapat dijadikan pegangan untuk bekerja,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. pendapatan dan keuntungannya. Persaingan bisnis sekarang ini menuntut

BAB 1 PENDAHULUAN. pendapatan dan keuntungannya. Persaingan bisnis sekarang ini menuntut BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada dasarnya setiap perusahaan didirikan dengan tujuan utama memperoleh keuntungan maksimal dari bisnis yang dijalankannya. Salah satu aspek penting yang mempengaruhi

Lebih terperinci

FORMULASI STRATEGI UNTUK PENGEMBANGAN PASAR INDUSTRI SELULER DI PEKANBARU (STUDI KASUS PERUSAHAAN XXX)

FORMULASI STRATEGI UNTUK PENGEMBANGAN PASAR INDUSTRI SELULER DI PEKANBARU (STUDI KASUS PERUSAHAAN XXX) FORMULASI STRATEGI UNTUK PENGEMBANGAN PASAR INDUSTRI SELULER DI PEKANBARU (STUDI KASUS PERUSAHAAN XXX) Gezang Putri Agung dan Fuad Achmadi Project Management, Magister Management Technology, ITS Jl. Cokroaminoto

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kelangsungan hidupnya, saat ini persaingan yang semakin ketat dan tajam

BAB I PENDAHULUAN. kelangsungan hidupnya, saat ini persaingan yang semakin ketat dan tajam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Situasi pasar yang berubah setiap saat sulit untuk diramalkan dan dipastikan di masa mendatang. Perubahan yang terjadi pada perusahaan dapat saja bersumber dari

Lebih terperinci