Analisis. Menggali Pemahaman Lebih Dalam

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Analisis. Menggali Pemahaman Lebih Dalam"

Transkripsi

1 Analisis Menggali Pemahaman Lebih Dalam Robert Marzano dalam Taksonomi Baru dari Berbagai Tujuan Pendidikannya menawarkan model baru untuk pemikiran berbagai proses yang terlibat dalam pelajaran. Ia mengidentifikasi tiga system: Sistem Diri, Sistem Metakognitif, dan Sistem Kognitif, yang semuanya bekerja dalam koordinasi dengan Sistem Pengetahuan. Ia memecah Sistem Kognitif menjadi empat komponen: mendapatkan pengetahuan kembali, pemahaman, analisis, dan penggunaan pengetahuan. Saat pemahaman melibatkan apa yang disebut Piaget sebagai asimilasi, penggabungan pengetahuan baru ke dalam pengetahuan pelajar yang ada saat ini, menganalisis secara parallel konsep penyesuaian diri dimana seseorang merubah pemahamannya berdasar pada apa yang telah dipelajari. Berbagai Sumber dan Contoh Contoh Analisis Berpikir Kritis Argumentasi Pertimbangan Informal terhadap Berbagai Keyakinan yang Keliru Penjelasan Bibliografi: Berpikir Tingkat Tinggi Marzano mengidentifikasi lima proses kognitif dalam analisis: menyesuaikan, pengklasifikasikan, menganalisis kesalahan, menyamaratakan, dan menentukan. Dengan terlibat dalam proses ini, pelajar dapat menggunakan apa yang mereka pelajari untuk membuat berbagai wawasan baru dan membuat berbagai cara menggunakan apa yang telah mereka pelajari dalam berbagai situasi baru. Penyesuaian melibatkan pengidentifikasian berbagai kesamaan dan perbedaan antara berbagai konsep. Marzano menjelaskan empat langkah yang terlibat dalam penyesuaian: 1. Memilih apa yang akan dianalisa 2. Mengidentifikasi berbagai atribut atau karakteristik untuk dianalisa 3. Menetapkan bagaimana persamaan dan perbedaan mereka 4. Mengkomunikasikan berbagai persamaan dan perbedaan dengan tepat Klasifikasi melibatkan pengaturan berbagai konsep atau ide ke dalam berbagai kategori yang penuh arti. Komponen-komponen dari klasifikasi adalah: 1. Memilih konsep untuk diklasifikasi 2. Mengidentifikasi berbagai atribut dari konsep 3. Memberi nama sebuah kategori superordinat dimana sebuah konsep berlaku dan mengkomunikasikan mengapa konsep itu berlaku dalam kategori tersebut. 4. Mengidentifikasi berbagai kategori subordinate untuk sebuah konsep dan menjelaskan hubungan mereka.

2 Analisis Kesalahan adalah aspek penting dari apa yang sering disebut pemikiran kritis. Dengan menggunakan proses ini, para siswa menguji rasionalitas pengetahuan. Dari sebuah perspektif, analisis kesalahan dapat dibandingkan kepada pemikiran logis, penilaian berbagai argument, dan identifikasi keyakinan yang keliru dalam pertimbangan. Generalisasi dapat dilalukan baik secara deduktif dan induktif, tetapi ia melibatkan pembuatan berbagai kesimpulan untuk membentuk berbagai prinsip atau aturan yang dapat diuji terhadap berbagai kejadian atau konsep khusus. Membuat Generalisasi yang baik melibatkan empat langkah: 1. Mengarahkan perhatian kepada berbagai pengamatan atau informasi spesifik 2. Menemukan berbagai pola dan hubungan dalam informasi 3. Membuat pernyataan yang menjelaskan berbagai pola dan hubungan 4. Mengumpulkan lebih banyak contoh dan mengujinya untuk melihat jika Generalisasi berlanjut untuk membunyikan kebenaran dan merubahnya jika tidak benar. Spesifikasi adalah imbangan untuk generalisasi. Ini adalah proses dari menghasilkan berbagai aplikasi baru dari hal-hal yang telah dikenal (p.44). Langkah-langkah untuk Spesifikasi adalah: 1. Mengidentifikasi konsep yang akan dianalisa 2. Memilih Generalisasi yang diterapkan ke dalam konsep 3. Memastikan bahwa sebuah konsep menyesuaikan berbagai kondisi Generalisasi 4. Menarik berbagai kesimpulan dan membuat perkiraan berdasar pada penerapan Generalisasi Kecakapan yang digunakan dalam analisis sumber-sumber tercetak atau online dibutuhkan jika para siswa berpikir secara kritis tentang informasi yang mereka temukan dan untuk menggunakan informasi itu secara efektif. Referensi Marzano, R. J. (2000). Designing a new taxonomy of educational objectives. Thousand Oaks, CA: Corwin Press.

3 Desain Proyek Efektif: Analisis Berbagai Contoh Analisis Mengajar Analisis Mengajar untuk Siswa Kelas 1-3 Bekerja dengan teman-teman yang lebih tua, para siswa sekolah dasar menjadi ahli dari delapan spesies beruang. Para siswa terlibat dalam sebuah variasi perbandingan berbagai aktifitas, termasuk mengestimasi kemudian mengukur perbedaan antara dir mereka sendiri dan beruang. Mereka juga membandingkan habitat, ukuran dan kebutuhan dari kedua spesies. Akhirnya, para siswa menggali lebih dalam untuk mempelajari semua yang dapat mereka pelajari tentang seekor beruang, dan kemudian menerapkan pengalaman mereka dengan membuat panduan untuk anak-anak yang mengunjungi kebun binatang setempat. Untuk informasi lebih lanjut tentang unit ini masuklah ke unit Meet the Bears*. Penyesuaian: Siswa membandingkan dua tipe beruang yang berbeda dan mencatat berbagai kesamaan dan perbedaan mereka. Klasifikasi: Siswa mengklasifikasi berbagai buku tentang beruang sebagai fiksi atau non fiksi Analisis Kesalahan: Saat mereka membaca berbagai buku fiksi tentang hewan, para siswa melihat berbagai karakteristik dan kebiasaan yang tidak benar dari beruang sungguhan di alam liar. Generalisasi: Para siswa menulis sebuah pernyataan yang benar tentang semua beruang Spesifikasi: Setelah mempelajari berbagai jenis beruang yang berbeda, para siswa melihat berbagai gambar dari jenis-jenis beruang yang berbeda dan nama jenis beruang apakah mereka. Analisis Mengajar untuk Siswa kelas 6-8 Dalam simulasi pengungsian ini, para siswa melakukan perjalanan waktu balik dan pengalaman hidup melalui mata pengungsi Eropa di abad 19. Mereka mempelajari factor-faktor yang menarik dan mendorong terjadinya perpindahan, dan menulis surat multimedia ke Negara asal menjelaskan kesan-kesan mereka terhadap rumah baru mereka di Amerika dan berbagai tantangan dan kesempatan yang ditawarkannya. Ini adalah sebuah bagian dalam sebuah unit pengajaran tentang gelombang pengungsian, dan meliputi juga pandangan pada pengungsi Asia dan turunan Spanyol. Lihat Destination America: Our Hope, Our Future* untuk informasi lebih lanjut pada unit ini. Penyesuaian: Para siswa membandingkan Amerika yang mereka tinggali dengan sesuatu yang ditemukan para pengungsi di Abad 19. Klasifikasi: Setelah mempelajari berbagai kelompok orang berbeda yang mengungsi ke amerika, para siswa mengklasifikasikan mereka sesuai alasan-alasannya untuk mengungsi.

4 Analisa Kesalahan: Para siswa secara kritis membaca berbagai cerita dan artikel yang ditulis balik pada abad para pengungsi, mengidetifikasi berbagai asumsi dan kesimpulan yang salah. Generalisasi: Para siswa menghasilkan berbagai prinsip tentang kebijakan imigrasi saat ini Spesifikasi: Siswa menggunakan berbagai prinsip yang telah mereka hasilkan untuk membuat berbagai rekomendasi mengenai latihan tindakan apa yang harus diambil dalam berbagai isu imigrasi spesifik saat ini. Analisis Mengajar untuk Siswa Kelas 9-12 Menggunakan artikel Jim Brandenburg North Woods Journal dari isu di November 1997 National Geographic sebagai inspirasi, siswa berspekulasi ke dalam alam dan merekam pengalaman mereka dalam berbagai kata dan foto. Mereka mengembangkan sebuah bahasan dimana mereka membandingkan reaksi-reaksi mereka kepada alam dengan berbagai persepsi dan sikap penulis seperti Emerson, Fuller dan Thoreau. Masukan jurnal dan foto-foto berkombinasi dalam sebuah slideshow, dan disajikan sebagai latar belakang multimedia untuk presentasi masing-masing siswa. Penyesuaian: Para siswa mengamati sebuah variasi tempat dalam komunitas mereka dan membandingkan apa yang mereka lihat, dengar dan rasakan disana. Klasifikasi: Menggunakan informasi yang terekam dalam jurnal mereka, para siswa membuat kategori data yang telah mereka kumpulkan. Analisis Kesalahan: Sebagai bagian dari kreasi presentasi multimedia mereka, para siswa meninjau pekerjaan satu sama lain dan melihat berbagai kesalahan dalam konsistensi dan pertimbangan. Generalisasi: Para siswa menggunakan tanggal yang sudah dikategorikan dari jurnal mereka untuk mengembangkan berbagai pernyataan tentang kesadaran mereka akan lingkungan sekitar mereka. Spesifikasi: Untuk membuat presentasi multimedianya para siswa mencari berbagai gambar dan bahasa yang nyata unutk mendemonstrasikan berbagai prinsip mereka.

5 Desain Proyek Efektif: Analisis Berpikir Kritis Mencari Kebenaran Saat para pendidik berdiskusi membantu para siswa mengembangkan kecakapan pemikiran mereka, mereka seringkali mengacu pada berpikir kritis sebagai tujuan. Bentuk ini yag digunakan secara berkala dalam lingkaran pendidikan secara umum berarti membentk berbagai opini dengan mencari informasi relevan, penuh pemikiran dan secara obyektif menguji kualitas informasi, dan merubah pikiran kita saat informasi baru yang terpercaya mendatangi perhatian kami. Berpikir kritis adalah bagian penting dalam Negara demokrasi dimana orang-orang memliki kekuatan unutk membuat berbagai keputusan tentang berbagai hukum dan kebijakan dimana mereka hidup dengannya. Menurut (Facione 1998), para pemikir kritis memiliki kualitas tipe Sherlock Holmes, meskipun untuk tingkat yang jauh lebih rendah. Mereka selalu bertanya Mengapa atau Bagaimana dan selalu mencari informasi yang relevan. Sebagai tambahan kemampuan untuk menganalisa dan menguji apa yang mereka temukan, para pemikir kritis juga menunjukkan rasa ingin tahu atas keterbukaan pikiran yang menggerakkan mereka untuk mencari kebenaran dan fleksibilitas untuk merubah pikiran mereka saat dihadapkan dengan berbagai alasan baik untuk melakukannya. Argumen yang paling berpengaruh terhadap mengajarkan berpikir kritis, bagaimanapun, adalah gambaran seperti apa dunia saat orang-orang tidak berpikir secara kritis. Cara yang tidak kritis dari melihat dunia sekitar kita berisi penerimaan yang buta akan iklan, pernyataan-pernyataan politik, buku teks, sumber-sumber tercetak dan berbagai posisi dari organisasi dan institusi (Messina dan Messina 2005). Meskipun berpikir kritis seringkali dipikirkan sebagai negative, sebagai penolakan untuk mempercayai apa yang salah, ia juga mengacu pada penerimaan apa yang benar. Penolakan untuk mempercayai segala hal tidak lebih baik dibandingkan mempercayai segala hal. Berbagai Kecakapan Kognitif Pada tahun 1990, sekelompok ahli pada berpikir kritis meletakkan bersama-sama Laporan Delphi yang menguji konsep berpiki rkritis dan membuat berbagai rekomendasi untuk mengajarkannya. Baca lebih lanjut tentang berbagai kesimpulan mereka dalam Ringkasan Penting*. (PDF; 20 halaman) Laporan mengurutkan berbagai kecakapan dan sub kecakapan yang terlibat dalam berpikir kritis berikut: Pengkategorian Penguraian hal-hal yang penting Penjelasan Makna Analisis Menguji Berbagai Ide Mengidentifikasi Berbagai Argumen Menganalisa Berbagai Argumen

6 Evaluasi Menilai berbagai klaim Menilai berbagai argumen Kesimpulan Menanyakan Bukti Memperkirakan Berbagai Alternatif Menarik Kesimpulan Penjelasan Menyatakan berbagai hasil Menjelaskan berbagai prosedur Menunjukkan berbagai argumen Pengaturan Diri Sendiri Pengujian Diri Sendiri Perbaikan Diri Sendiri Mengajarkan Berpikir Kritis di Kelas 6 Dalam Unit Plan Jangan Kotori Bumi*, siswa kelas enam melatih kemampuan berpikir kritis mereka untuk membuat berbagai keputusan lingkungan. Tugas mereka adalah menguji berbagai praktek daur ulang dan pengelolaan sampah sekolah. Setelah menganalisa berbagai metode saat ini, berbagai kelompok mengembangkan sebuah rencana daur ulang baru lengkap dengan analisis biaya dan data-data pendukung, dan menunjukkan berbagai proposal mereka kepada kepala sekolah. Dalam pertunjukan akhir dari tanggung jawab sosial, para siswa pengusaha merubah sampah menjadi uang dimana mereka mengalihkan berbagai materi yang berasal dari sampah dan merubahnya menjadi berbagai produk yang menarik yang mereka jual di pekan bisnis liburan. Untuk menyelesaikan proyek ini dengan sukses, para siswa mengartikan informasi yang mereka dengar dan baca mengenai daur ulang dan pengelolaan sampah. Mereka membuat kategori berbagai metode berbeda dari daur ulang untuk mencari hal-hal yang sesuai dengan situasi tertentu. Mereka juga memutuskan informasi mana yang penting untuk dipertimbangkan, dan mereka mendapat penjelasan unutk berbagai bentuk dan konsep yang tidak mereka pahami. Saat siswa mendengarkan para pembicara dan mencari informasi di sumber-sumber tercetak dan online, mereka menganalisa apa yang telah mereka temukan. Mereka berpikir tentang berbagai argument yang dibuat unutk berbagai jenis daur ualng yang berbeda dan memikirkan berbagai klaim mereka, bukti yang mendukungnya, dan berbagai kesimpulan yang mereka buat. Berdasar pada apa yang mereka lihat dalam berbagai argument, para siswa menguji sumber-sumber mereka, membuat Spesifikasi klaim yang mana yang berasalasan, bukti yang mana yang dapat dipercaya, dan kesimpulan-kesimpulan apa yang logis. Lihat Alat Bantu Menunjukkan Bukti* sebagai cara untuk membuat para siswa berpikir tentang menguji berbagai argument dan sudut pandang. Saat siswa menjadi terbiasa dengan isi yang berhubungan dengan daur ulang dan pengelolaan sampah, mereka melatih kecakapan berasumsi mereka dengan mengkombinasikan pengetahuan yang mereka dapat dengan pengalaman pribadi mereka untuk menanyakan bukti yang mereka baca. Mereka juga berpikir secara kreatif dengan meletakkan apa yang

7 mereka ketahui bersama dan membuat kesimpulan tentang berbagai konsekuensi dari penggunaan berbagai metode tertentu di sekolah mereka. Mereka juga dapat mengembangkan berbagai alternative baru berdasar pada apa yang telah mereka pelajari. Terkahir, para siswa mengkomunikasikan kesimpulan-kesimpulan mereka dalam sebuah presentasi untuk kepala sekolah. Untuk presentasi ini, mereka menjelaskan sumber-sumber informasi mereka dan mengapa mereka membuat keputusan yang telah mereka buat. Referensi Facione, P. A. (1998). Critical Thinking: What It is and Why it Counts. Santa Clara, CA: OERI. (PDF; 22 halaman) Facione, P. A. (1990). Critical Thinking: A Statement of Expert Consensus for Purposes of Educational Assessment and Instruction: Executive summary. Millbrae, CA: California Academic Press. (PDF; 20 halaman) Messina, J. J. and C. M. Messina. (2005). Overview of critical thinking. Tampa Bay, FL: Coping.org

8 Desain Proyek Efektif: Analisis Argumentasi Pertimbangan Jelas Saat siswa dewasa, mereka dapat mempelajari lebih banyak tipe-tipe argumentasi formal dan terstruktur. Siswa-siswa yang lebih muda dapat mempersiapkan pertimbangan semacam ini dengan berpikir secara berhati-hati tentang berbagai alasan unutk opini-opini mereka. Guru-guru siswa sekolah dasar dapat mendorong anakanak untuk mengidentifikasi berbagai sumber dari opini-opini mereka dan menguji kehandalan sumber tersebut. Saat siswa mencapai sekolah menengah, mereka dapat mulai memahami terminology dan struktur argumentasi formal. Dijelaskan oleh filsuf Stephen Toulmin, berbagai argument persuasive terdiri dari setidaknya tiga komponen: klaim, bukti, dan jaminan. Klaim Sebuah klaim adalah sebuah pernyataan dari sebuah posisi yang anda inginkan untuk mempengaruhi keyakinan orang lain. Berbagai contoh dari klaim adalah: Abraham Lincoln lebih tertarik menyelamatkan persatuan dibanding dengan membebaskan para budak Penebangan harus dilarang di semua hutan-hutan dengan pertumbuhan yang sudah tua Hukum harus melarang pengkloningan manusia Willy Lowman adalah karakter tragis terbesar dalam literature Amerika di abad 20 Klaim memiliki berbagai nama yang berbeda dala konteks yang berbeda. Mereka jug dapat disebut hipotesis, penolakan, perkiraan, tesis, posisi, proposisi dan premis. Bukti Juga disebut contoh, fakta, observasi, atau data, bukti berisi berbagai alasan yang harus diyakini seseorang dari klaim anda. Kualitas bukti dapat ditentukan dengan bertanya tentang kecukupan, kehandalan dan ketepatannya. Adakah bukti yang cukup untuk mendukung klaim? Apakah bukti berasal dari kekuatan yang tidak bias? Apakah bukti penuh kebenaran dan dapatkah ia diverifikasi dari berbagai macam sumber? Bukti dapat berbentuk kuantitatif, angka-angka dan statistic, atau kualitatif, penjelasan dan kejadian. Apakah sebuah bukti beruba angka atau catatan, ia seharusnya mencerminkan analisis sistematik dari sejumlah kasus, bukan statistic yang terpisahkan atau contoh. Jaminan Berbagai jaminan menjawab pertanyaan: Mengapa bukti ini berarti bahwa seseorang harus menerima klaim saya? Adalah sebuah jaminan. Jmainan dari sebuah argument seringkali diasumsikan dan tertutup dan mungkin bergantung

9 pada budaya dan pengalaman dari khalayak. Sebagai contoh, jika seseorang berpendapat bahwa penebangan harus dilarang di hutan-hutan dengan usia pertumbuhan yang tua, bukti untuk klaim ini bisa jadi adalah bahwa kita kehilangan ribuan hektar hutan setiap tahun. Jaminan untuk bukti ini adalah bahwa jika pohon-pohon tua bermanfaat dan penebangan dihapuskan sehingga akan banyak pohon tua yang tumbuh, ini seharusnya tidak diijinkan. Pertimbangan yang jelas dan efektif adalah kecakapan penting untuk dikuasai oleh siswa. Alat Bantu Menunjukkan Bukti* memberi para siswa latihan dalam membentuk dan mempertahankan berbagai argument.

10 Desain Proyek Efektif: Analisis Pertimbangan Informal Berbagai Keyakinan yang Keliru Berbagai Kesalahan dalam Pertimbangan Kualitas bukti yang buruk dan tidak beralasan sering menjamin kearah berbagai kesimpulan yang salah. Berbagai kesalahan dalam pertimbangan seringkali dijelaskan sebagai pertimbangan informal dari berbagai keyakinan yang keliru. Pengetahuan dari kekeliruan keyakinan ini dapat membantu para siswa membentuk berbagai argument yang lebih kuat dan menjadi pemikir yang lebih baik. Generalisasi yang Tergesa-gesa Saat orang-orang membentuk berbagai opini berdasar atas bukti yang terlalu kecil atau contoh yang terlalu sedikit, mereka membuat Generalisasi yang tergesa-gesa. Sebuah contoh dari keyakinan yang keliru ini berupa seseorang yang menyaksikan sebuah cerita pada berita di TV tentang seorang perempuan yang menjiplak pada dinas kesejahteraan sosial dan berasumsi bahwa sebagian besar orang di dinas kesejahteraan sosial adalah penjiplak. Stereotip seringkali menjadi hasil dari Generalisasi yang tergesa-gesa. Sebuah tipe Generalisasi yang tergesa-gesa adalah pemberian perhatian pada keyakinan yang keliru atas kasus-kasus yang terkenal dipercaya untuk mewakili sebagian besar kasus. Kebetulan Tipe kekeliruan ini terjadi saat para individu mendasarkan opini pada pengecualian sebuah aturan. Sebagai contoh, meskipun orang-orang secara umum setuju bahwa membunuh orang lain adalah salah, sebagian besar setuju bahwa terdapat waktu, seperti mislanya pertahanan atas diri anda sendiri atau orang lain, ketika hal itu mungkin dapat diterima. Pertimbangan dengan kebetulan akan mengatakan karena membunuh dalam mempertahankan diri tidak salah, maka membunuh di situasi jenis lain tidak salah. Penyebab Kesalahan Keyakinan yang keliru dalam pertimbangan terjadi saat para siswa berpikir bahwa karena dua kejadian terjadi tepat setelah yang satunya terjadi, yang satu menyebabkan yang lainnya. Kedua kejadian dapat disebabkan oleh kejadian ketiga yang sama atau mereka hanya berupa sebuah kebetulan yang terjadi di waktu yang bersamaan. Banyak peramal datang dari berbagai pertimbangan ini. Ketika saya mengenakan baju keberuntungan saya, saya selalu mengerjakan test dengan sangat baik. Analogi yang Salah Membandingkan dua konsep atau ide yang serupa melalui berbagai analogi dapat menjadi sebuah alat yang kuat untuk memahami berbagai konsep yang tidak biasa. Pertimbangan yang salah masuk kedalam permainan, bagaimanapun, saat berbagai perbandingan yang tidak beralasan dibuat. Sebagai contoh, ada banyak kesamaan antara pembuatan pernyataan tentang sesuatu yang kemungkinan salah sehubungan terdapat juga berbagai perbedaan yang signifikan diantara tiga revolusi. Meracuni Mata Air Strategi ini digunakan oleh orang-orang yang sangat loyal pada sudut pandang tertentu dimana mereka mengurangi

11 berbagai bukti yang bertentangan dengan pandangan mereka. Seorang siswa SMA, sebagai contoh, meneriakan bahwa lakon Shakespeare adalah bodoh dan menolak untuk mengakui bahwa jutaan orang menikmatinya selama berabad-abad. Meminta Pertanyaan Kekeliruan keyakinan ini, yang juga disebut pertimbangan berputar, digunakan saat orang-orang menggunakan sebuah klaim itu sendiri sebagai bukti untuk keabsahan klaim. Sebagai contoh, seorang siswa akan meminta pertanyaan jika dalam menanggapi pertanyaan, Siapakah presiden Amerika yang paling efektif, ia menulis, Lincoln adalah presiden Amerika paling efektif karena ia yang terbaik yang pernah kita miliki. Siswa lain diminta memberi alasan untuk pilihan buku favorit nya akan berkata, Ini adalah buku terbaik karena saya menyukainya. Menghindari Isu Tipe Pertimbangan ini sering digunakan oleh tokoh masyarakat yang tidak mau mendiskusikan topic tertentu untuk beberapa alasan. Alasannya mungkin valid, untuk kasus-kasus tentang kerahasiaan atau keamanan, atau topic yang mungkin memalukan atau negative. Sebagai contoh, seorang walikota mungkin menanggapi pertanyaan tentang korupsi dalam administrasinya dengan menjelaskan bagaimana pengindahan taman-taman kota berkembang. Berbagai Kesalahan Dalam Pertimbangan Menarik kepada Kewenangan Bukti yang meyakinkan memiliki kemampuan untuk dapat dipercaya, dan bukti macam ini dapat berasal dari pihak berwenang yang dihargai. Meskipun beberapa pihak mungkin tidak setuju dengan berbagai opini dari Asosiasi Kesehatan Amerika atau Asosiasi Pendidikan Nasional, pandangan mereka memiliki kewenangan yang berasal dari sumber yang sarat akan pengetahuan. Beberapa kewenangan, di sisi lain, bisa jadi tidak sesuai untuk argument tertentu atau hanya dinilai oleh kelompok-kelompok tertentu. Menarik kepada pihak yang berwenang dengan urusan keagamaan, sebagai contoh, hanya merupakan argumen yang kuat untuk mereka yang merupakan bagian dari agama. Ketertarikan lain seperti itu, seperti misalnya coba-dan-benar, Karena saya berkata demikian permintaan yang sering oleh orang tua mungkin efektif dan efisien pada waktu, tetapi mereka tidak butuh contoh-contoh petimbangan yang baik. Pembuktian dari Ketidaktahuan Strategi ini mengklaim bahwa berhubung klaim tidak dapat dibuktikan salah, maka ia pasti benar. anda tidak dapat membuktikan tidak ada piring terbang, jadi itu artinya mereka harus ada. Bandwagon Sering digunakan dalam periklanan, keyakinan yang keliru ini menarik kepada hasrat manusia untuk diterima dan seperti yang lainnya. Orang-orang diminta untuk percaya atau melakukan sesuatu karena setiap orang melakukannya. Sebuah iklan pakaian menyatakan secara tidak langsung bahwa anda harus membeli jeans ini karena semua anak-anak keren mengenakannya. Jawaban yang umum unutk argument ini adalah terkenal, Jika setiap orang lompat ke jurang, akankah anda melakukannya juga? Dilema Kesalahan Juga disebut pemikiran-hitam-putih, tipe pertimbangan ini mengurangi berbagai isu kompleks dengan berbagai pilihan apakah sesuatu hal merupakan isu atau tidak. Contoh umum dari kekeliruan keyakinan ini adalah Amerika. Cinta dia atau tinggalkan dia. Seorang siswa yang menggunakan pertimabangan jenis ini mungkin berkata apakah anda menyukai saya dan memberi saya nilai A atau anda tidak menyukai saya dan memberi saya nilai C atau apakah anda berkeyakian dnegan berdoa di sekolah atau anda seorang atheist.

12 Si Penarik Kepercayaan (Straw Man) Gambarkan scenario ini. Lola Buron berlari ke dewan kota dan membuat pernyataan berikut ini tentang candidate yang berlari menyerangnya: lawan saya, Dirk Headstone, meminta kenaikan pajak untuk membangun lapangan golf untuk perumahan elit. Orang yang menggunakan strategi ini menggambarkan sudut pandang lawan secara tidak akurat atau tidak lengkap sehingga dapat dengan mudah dipotong. Nama dari kekeliruan keyakinan ini berasal dari ide dimana seorang penarik keyakinandapat dihancurkan dan dirusak dengan mudah dibandingkan lawan yang nyata. Kekeliruan keyakinan dalam pertimbangan berlimpah baik dalam komunikasi masyarakat begitu juga dalam percakapan pribadi. Kesadaran akan berbagai perangkap dalam logika adalah penting jika para siswa ingin berkembang menjadi pemikir yang baik.

13 Desain Proyek Efektif: Analisis Catatan Bibliografi: Berpikir Tingkat Tinggi Berbagai sumber Kecakapan Berpikir Tingkat Tinggi Anderson, L. W. and D. R. Krathwohl. A taxonomy for learning, teaching, and assessing: A revision of Bloom's Taxonomy of Educational Objectives. New York: Longman, Revisi dari Taksonomi Bloom ini lebih sejalan dengan pengetahuan mengenai belajar dan mengajar saat ini. Buku ini didedikasikan kepada penerapan praktis dari taksonomi yang telah diperbaiki dalam pengajaran dan penilaian. Costa, A. L. (Ed.). Developing minds: A resource book for teaching thinking. Alexandria, VA: ASCD, Sebuah koleksi luas bab-bab singkat dari berbagai topic yang berhubungan dengan pemikiran ditulis oleh para ahli yang diakui secara nasional di bidangnya. Jika anda hanya mampu menyediakn satu buku mengenai pemikiran unutk perpustakaan sekolah anda, volume ini adalah sumber yang tak ternilai untuk setiap orang yang tetarik dalam meningkatkan proses berpikir siswa. Cotton, K. Teaching thinking skills. Portland, OR: NWREL, Meskipun agak terlambat, sintesis dari penelitian mengenai mengajarkan berpikir memegang predikat cukup baik sepanjang waktu. Tersedia gratis dari Northwest Regional Educational Laboratory dan akan sangat berguna untuk perorangan atau pengembangan professional fakultas. Facione, P. A. Critical Thinking: What It is and Why it Counts. Santa Clara, CA: OERI, Ringkasan Penting ini, disebut The Delphi Report, menampilkan berbagai konsensus atas berpikir kritis oleh psikolog kognitif paling penting di dunia. Fennimore, T. F. and M. B. Tinzmann. What is a thinking curriculum? Oak Brook, IL: NCREL, Artikel 15 halaman ini menggali konsep berpikir kritis yang berhubungan dnegan kurikulum dan praktek dalam kelas. Artikel ini memuat berbagai contoh baik dari sekolah di kota maupun di pedesaan yang membahas pemikiran dari perspektif antar disiplin ilmu. Marzano, R. J. Designing a new taxonomy of educational objectives. Thousand Oaks, CA: Corwin Press, Buku ini ditulis oleh salah seorang peneliti pendidikan dan praktek mengajar yang paling dihormati saat ini, menjelaskan dengan detil pengartian ulang atas Taksonomi Bloom. Buku ini menjelaskan dasar teoritis untuk taksonomi seperti halnya penerapan praktis bagaimana menggunakannya. Sternberg, R. J. Handbook of creativity. New York: Cambridge University Press, Sternberg tekah mempelajari secara kreatif dan cerdas selama bertahun-tahun. Buku ini mencakup berbagai karangan dengan variasi topic yang berhubungan dengan kreatifitas. Buku ini adalah bacaan yang berat, tetapi merupakan sumber yang lengkap dan handal tehadap subyeknya. Swartz, R. J. Towards Developing and Implementing A Thinking Curriculum. Keynote address presented at the 1st Annual Thinking Qualities Initiative Conference, Hong Kong, June 23, Mr. Swartz adalah ahli pada topik berpikir kritis yang diakui secara internasional. Pidato ini menawarkan

14 kerangka kerja praktis unutk menggabungkan pemikiran kritis lintas kurikulum dan mencakup berbagai contoh dari semua tingkat kelas dan bidang studi. Thomas, M. Higher-Order Thinking Strategies for the Classroom. Kansas City, MO: Center for Studies in Higher-Order Literacy, Sebuah ringkasan strategi mengajar praktis yang dibangun oleh para ahli di bidang bahan bacaan, Anthony dan Ula Manzo. Daftar ini mencakup berbagai saran untuk membaca pada tingkat yang lebih rendah, berbagai contoh pertanyaan, dan berbagai strategi pendidikan. Wegerif, R. W. Literature review in thinking skills, technology, and learning. Bristol, England: NESTA Futurelab, Tulisan yang baik, tinjauan penelitian di bidang teknologi dan pemikiran tingkat tinggi yang lengkap. Meskipun bernada agak akademis, artikel ini merangkum topic penelitian yang penting Willis, D. Critical thinking and the Internet. Ontario, Canada: Wilfrid Laurier University, Sumber yang dikumpulkan oleh seorang pustakawan referensi universitas ini adalah sebuah daftar yang panjang dari berbagai situs web yang dapat digunakan oleh para siswa yang lebih tua untuk mengajarkan mereka bagaiman berpikir secara kritis tentang apa yang mereka temukan di internet. Ini mencakup saran bagaimana menguji kewenangan dari sebuah situs wenb dan seberapa up to date nya situs tersebut, sejalan dengan berbagai contoh situs ilmu gadungan seperti Astrologi Pasar Market dan berbagai iklan yang mengaburkan garis antara berita dan iklan.

II. TINJAUAN PUSTAKA. berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu kata efektif juga dapat

II. TINJAUAN PUSTAKA. berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu kata efektif juga dapat 9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Efektivitas Pembelajaran Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia efektivitas berasal dari kata efektif yang berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran kooperatif merupakan pemanfaatan kelompok kecil dua hingga

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran kooperatif merupakan pemanfaatan kelompok kecil dua hingga 9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Model Pembelajaran Examples Non Examples Pembelajaran kooperatif merupakan pemanfaatan kelompok kecil dua hingga lima orang dalam pembelajaran yang memungkinkan siswa bekerja

Lebih terperinci

JUDUL UNIT : Menerapkan Prinsip - Prinsip Rancangan Instruksional

JUDUL UNIT : Menerapkan Prinsip - Prinsip Rancangan Instruksional KODE UNIT : TIK.MM01.009.01 JUDUL UNIT : Menerapkan Prinsip - Prinsip Rancangan Instruksional DESKRIPSI UNIT : Unit ini menjelaskan keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk menggunakan prinsip

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (Depok: Intuisi Press,1998) Cet 2, hlm. 2-3

BAB I PENDAHULUAN. (Depok: Intuisi Press,1998) Cet 2, hlm. 2-3 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tantangan kehidupan selalu muncul secara alami seiring dengan berputarnya waktu. Berbagai tantangan bebas bermunculan dari beberapa sudut dunia menuntut untuk

Lebih terperinci

KONTRIBUSI DALAM RAPAT DAN RAPAT YANG EFEKTIF

KONTRIBUSI DALAM RAPAT DAN RAPAT YANG EFEKTIF KONTRIBUSI DALAM RAPAT DAN RAPAT YANG EFEKTIF Oleh: Iqbal Islami *) ABSTRAK Kontribusi dalam rapat merupakan kompetensi yang penting dimiliki para peserta rapat untuk mewujudkan rapat yang efektif. Tingkat

Lebih terperinci

Belajar Berbasis Aneka Sumber

Belajar Berbasis Aneka Sumber Materi 3 Belajar Berbasis Aneka Sumber Petunjuk belajar Perkembangan teknologi informasi yang pesat memiliki pengaruh yang signifikan terhadap berbagai aktivitas kehidupan manusia termasuk didalamnya aktivitas

Lebih terperinci

SILABUS. Kompetensi Dasar Materi Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Indikator Penilaian Alokasi Waktu

SILABUS. Kompetensi Dasar Materi Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Indikator Penilaian Alokasi Waktu KELAS XII SEMESTER 1 SILABUS Semester : 1 Standar Kompetensi : Mendengarkan 1. Memahami informasi dari berbagai laporan 1.1 Membedakan Laporan Mencatat pokok-pokok antara fakta Laporan kegiatan isi laporan

Lebih terperinci

Sesi 8: Pemberitaan tentang Masalah Gender

Sesi 8: Pemberitaan tentang Masalah Gender Sesi 8: Pemberitaan tentang Masalah Gender 1 Tujuan belajar 1. Memahami arti stereotip dan stereotip gender 2. Mengidentifikasi karakter utama stereotip gender 3. Mengakui stereotip gender dalam media

Lebih terperinci

tempat. Teori Atribusi

tempat. Teori Atribusi 4 C. PERSEPSI DAN KEPRIBADIAN Persepsi adalah suatu proses di mana individu mengorganisasikan dan menginterpretasikan kesan sensori mereka untuk memberi arti pada lingkungan mereka. Riset tentang persepsi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan manusia sehari-hari. Beberapa diantaranya sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan manusia sehari-hari. Beberapa diantaranya sebagai berikut: 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Matematika adalah bagian yang sangat dekat dengan kehidupan seharihari. Berbagai bentuk simbol digunakan manusia sebagai alat bantu dalam perhitungan, penilaian,

Lebih terperinci

UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA DI SEKOLAH

UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA DI SEKOLAH UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA DI SEKOLAH A. Ridwan Siregar Universitas Sumatera Utara I. PENDAHULUAN Minat baca adalah keinginan atau kecenderungan hati yang tinggi (gairah) untuk membaca. Minat baca dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sesuai dengan tuntutan Kurikulum KTSP yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah mengharapkan agar penguasaan

Lebih terperinci

Information Literacy Kunci Sukses Pembelajaran Di Era Informasi. Sri Andayani Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY

Information Literacy Kunci Sukses Pembelajaran Di Era Informasi. Sri Andayani Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY Information Literacy Kunci Sukses Pembelajaran Di Era Informasi Sri Andayani Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY Abstrak Pembelajaran di abad informasi menyebabkan terjadinya pergeseran fokus dari

Lebih terperinci

2. Pelaksanaan Unit Kompetensi ini berpedoman pada Kode Etik Humas/Public Relations Indonesia yang berlaku.

2. Pelaksanaan Unit Kompetensi ini berpedoman pada Kode Etik Humas/Public Relations Indonesia yang berlaku. KODE UNIT : KOM.PR01.005.01 JUDUL UNIT : Menyampaikan Presentasi Lisan Dalam Bahasa Inggris DESKRIPSI UNIT : Unit ini berhubungan dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dibutuhkan profesi humas

Lebih terperinci

MODUL MEMBACA EFEKTIF MENGGUNAKAN SQ3R

MODUL MEMBACA EFEKTIF MENGGUNAKAN SQ3R MODUL MEMBACA EFEKTIF MENGGUNAKAN SQ3R A. MENGAPA KEAHLIAN INI PENTING Membaca merupakan salah satu kegiatan yang harus dilalui dalam rangkaian keahlian literasi informasi bagi seseorang. Keahlian ini

Lebih terperinci

PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK UNTUK MENINGKATKAN KARAKTER RASA INGIN TAHU DAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS X MIA 3 SMA NEGERI 6 MALANG

PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK UNTUK MENINGKATKAN KARAKTER RASA INGIN TAHU DAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS X MIA 3 SMA NEGERI 6 MALANG 1 PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK UNTUK MENINGKATKAN KARAKTER RASA INGIN TAHU DAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS X MIA 3 SMA NEGERI 6 MALANG Rima Buana Prahastiwi 1, Subani 2, Dwi Haryoto 3 Jurusan Fisika

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pelajaran matematika. Permasalahan ini relevan dengan bukti empiris yang. membaca atau mengerjakan soal-soal yang ada di dalamnya.

BAB I PENDAHULUAN. pelajaran matematika. Permasalahan ini relevan dengan bukti empiris yang. membaca atau mengerjakan soal-soal yang ada di dalamnya. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kurang maksimalnya pemanfaatan media merupakan salah satu dari sekian banyak masalah dalam pembelajaran di sekolah termasuk pada mata pelajaran matematika. Permasalahan

Lebih terperinci

TAHAP-TAHAP PENELITIAN

TAHAP-TAHAP PENELITIAN TAHAP-TAHAP PENELITIAN Tiga tahap utama penelitian yaitu: tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap penulisan laporan. A. TAHAP PERENCANAAN 1. Pemilihan masalah, dengan kriteria: Merupakan tajuk penting,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Sesuai dengan sifat dan karakter permasalahan data yang diangkat dalam

BAB III METODE PENELITIAN. Sesuai dengan sifat dan karakter permasalahan data yang diangkat dalam BAB III METODE PENELITIAN A. Paradigma dan Pendekatan Sesuai dengan sifat dan karakter permasalahan data yang diangkat dalam penelitian ini, maka paradigma yang relevan dalam penelitian ini adalah paradigma

Lebih terperinci

Merancang Strategi Komunikasi Memenangkan Pemilih Dan Kelompok - edit

Merancang Strategi Komunikasi Memenangkan Pemilih Dan Kelompok - edit esaunggul.ac.id http://www.esaunggul.ac.id/article/merancang-strategi-komunikasi-memenangkan-pemilih-dan-kelompok/ Merancang Strategi Komunikasi Memenangkan Pemilih Dan Kelompok - edit Dr. Erman Anom,

Lebih terperinci

AKSES INFORMASI DARI KELOMPOK BANK DUNIA

AKSES INFORMASI DARI KELOMPOK BANK DUNIA 3 AKSES INFORMASI DARI KELOMPOK BANK DUNIA PADA BAGIAN INI Informasi adalah hak! Kebijakan akan keterbukaan di Bank Dunia, IFC, dan MIGA Strategi lainnya untuk memperoleh informasi mengenai operasi Kelompok

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Setiap karya ilmiah yang dibuat disesuaikan dengan metodologi penelitian. Dan

BAB III METODE PENELITIAN. Setiap karya ilmiah yang dibuat disesuaikan dengan metodologi penelitian. Dan BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Setiap karya ilmiah yang dibuat disesuaikan dengan metodologi penelitian. Dan seorang peneliti harus memahami metodologi penelitian yang merupakan

Lebih terperinci

Pengawasan dan Evaluasi Proses

Pengawasan dan Evaluasi Proses Sesi Kedua Pengawasan dan Evaluasi Proses B l j Handout PENGAWASAN DAN EVALUASI (M&E) M&E adalah sebuah proses yang harus terjadi sebelum, selama dan setelah aktifitas tertentu untuk mengukur efek aktifitas

Lebih terperinci

KURIKULUM DAN PENGEMBANGAN BAHAN AJAR

KURIKULUM DAN PENGEMBANGAN BAHAN AJAR KURIKULUM DAN PENGEMBANGAN BAHAN AJAR 1. Model Pengembangan Kurikulum A. Model Tyler Model ini dikembangkan dengan prinsip komprehensif yang mementingkan pada tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan itu sendiri

Lebih terperinci

DRAFT PEDOMAN MENGENAI HUBUNGAN AICHR DENGAN ORGANISASI MASYARAKAT MADANI

DRAFT PEDOMAN MENGENAI HUBUNGAN AICHR DENGAN ORGANISASI MASYARAKAT MADANI PEDOMAN MENGENAI HUBUNGAN AICHR DENGAN ORGANISASI MASYARAKAT MADANI As of 14 November 2013 I. Pendahuluan 1. Salah satu tujuan ASEAN seperti yang diatur dalam Piagam ASEAN adalah untuk memajukan ASEAN

Lebih terperinci

Oleh: Egrita Buntara Widyaiswara Muda Balai Diklat Kepemimpinan www.bppk.depkeu.go.id/bdpimmagelang

Oleh: Egrita Buntara Widyaiswara Muda Balai Diklat Kepemimpinan www.bppk.depkeu.go.id/bdpimmagelang Pemimpin : Lakukan NetWORK Bukan NetSit Atau NetEat Oleh: Egrita Buntara Widyaiswara Muda Balai Diklat Kepemimpinan www.bppk.depkeu.go.id/bdpimmagelang Dalam rangka meningkatkan nilai dan kualitas kehidupan,

Lebih terperinci

MENGENAL GAYA BELAJAR PESERTA DIDIK. Oleh Mansur HR Widyaiswara LPMP Provinsi Sulawesi Selatan

MENGENAL GAYA BELAJAR PESERTA DIDIK. Oleh Mansur HR Widyaiswara LPMP Provinsi Sulawesi Selatan MENGENAL GAYA BELAJAR PESERTA DIDIK Oleh Mansur HR Widyaiswara LPMP Provinsi Sulawesi Selatan Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 19 disebutkan bahwa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seminar, dan kegiatan ilmiah lain yang di dalammnya terjadi proses tanya-jawab,

BAB I PENDAHULUAN. seminar, dan kegiatan ilmiah lain yang di dalammnya terjadi proses tanya-jawab, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Metode tanya-jawab seringkali dikaitkan dengan kegiatan diskusi, seminar, dan kegiatan ilmiah lain yang di dalammnya terjadi proses tanya-jawab, meskipun

Lebih terperinci

FUNGSI TEORI DALAM PENELITIAN

FUNGSI TEORI DALAM PENELITIAN TEORI Teori a set of interrelated constructs (variables), definitions and propositions that present a systematic view of phenomena by specifying relations among variables, with the purpose of explaining

Lebih terperinci

APA YANG HARUS DIKETAHUI DI USIA 2 TAHUN?

APA YANG HARUS DIKETAHUI DI USIA 2 TAHUN? APA YANG HARUS DIKETAHUI DI USIA 2 TAHUN? ASPEK YANG DISUKAI ANAK YANG BISA KITA AJARKAN FISIK Sangat Aktif. Bisa jalan, lari, lompat 2 kaki, bertumpu, dan manjat. Bisa corat-coret, bekerja dengan 3-4

Lebih terperinci

TEKNIK MENYUSUN SKRIPSI YANG BEBAS PLAGIAT *Salam, M.Pd

TEKNIK MENYUSUN SKRIPSI YANG BEBAS PLAGIAT *Salam, M.Pd TEKNIK MENYUSUN SKRIPSI YANG BEBAS PLAGIAT *Salam, M.Pd A. Pendahuluan Ketika seorang mahasiswa sudah masuk pada semester VII, terasa ada beban yang mulai menyelimuti pikirannya. Pikiran itu mengarah pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penting bagi manusia, jika ide pokok di dalam wacana tersebut tidak dipahami.

BAB I PENDAHULUAN. penting bagi manusia, jika ide pokok di dalam wacana tersebut tidak dipahami. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia adalah makhluk yang butuh akan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan diharapkan akan membawa manusia semakin baik. Hanya saja ilmu pengetahuan tidak akan diperoleh

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Mulyati, 2013

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Mulyati, 2013 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika sering dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit dan membosankan bagi siswa. Begitu pula bagi guru, matematika dianggap sebagai pelajaran yang sulit

Lebih terperinci

Cara-Cara. Keaktifan Siswa. Mendorong. untuk. dalam Pembelajaran. Suhadi. Alifa Alternative Media. http://suhadinet.wordpress.com

Cara-Cara. Keaktifan Siswa. Mendorong. untuk. dalam Pembelajaran. Suhadi. Alifa Alternative Media. http://suhadinet.wordpress.com Suhadi Cara-Cara untuk Mendorong Keaktifan Siswa dalam Pembelajaran Alifa Alternative Media Suhadi Cara-Cara untuk Mendorong Keaktifan Siswa dalam Pembelajaran Hak cipta: Alifa Alternative Media (April

Lebih terperinci

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN BAHASA INGGRIS

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN BAHASA INGGRIS STANDAR KOMPETENSI LULUSAN BAHASA INGGRIS DIREKTORAT PEMBINAAN KURSUS DAN PELATIHAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI, NONFORMAL DAN INFORMAL KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL 2011 1 A. Latar

Lebih terperinci

Menulis Makalah Yang Baik:

Menulis Makalah Yang Baik: Menulis Makalah Yang Baik: 1. Memilih topik, ide Teman saya Peter Turney memiliki bagian kunci dari saran: menjadi ambisius. Bayangkan setiap kertas baru Anda menulis sebagai referensi berlangsung selama

Lebih terperinci

Taksonomi Tujuan Pembelajaran

Taksonomi Tujuan Pembelajaran Taksonomi Tujuan Pembelajaran Ari Widodo Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia Jl. Dr. Setiabudhi 229 Bandung Email: widodo@upi.edu September 2005 Dari penulis Taksonomi pembelajaran

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Abstrak... Daftar Isi... Daftar Tabel... Daftar Bagan... Daftar Gambar... Daftar Lampiran... BAB I PENDAHULUAN... 1

DAFTAR ISI. Abstrak... Daftar Isi... Daftar Tabel... Daftar Bagan... Daftar Gambar... Daftar Lampiran... BAB I PENDAHULUAN... 1 DAFTAR ISI Abstrak... Daftar Isi... Daftar Tabel... Daftar Bagan... Daftar Gambar... Daftar Lampiran... v vii xii xiii xiv xv BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang Masalah Penelitian... 1 1.2 Identifikasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam lagi bahasa tercakup dalam kebudayaan. Bahasa menggambarkan cara berfikir

BAB I PENDAHULUAN. dalam lagi bahasa tercakup dalam kebudayaan. Bahasa menggambarkan cara berfikir BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa dan kebudayaan merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Bahasa selalu menggambarkan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan; lebih dalam lagi bahasa

Lebih terperinci

Penilaian Unjuk kerja Oleh Kusrini & Tatag Y.E. Siswono

Penilaian Unjuk kerja Oleh Kusrini & Tatag Y.E. Siswono washington College of education, UNESA, UM Malang dan LAPI-ITB. 1 Pebruari 8 Maret dan 8-30 April 2002 di Penilaian Unjuk kerja Oleh Kusrini & Tatag Y.E. Siswono Dalam pembelajaran matematika, sistem evaluasinya

Lebih terperinci

Prakarsa Karet Alam Berkesinambungan Sukarela (SNR) Kriteria dan Indikator Kinerja

Prakarsa Karet Alam Berkesinambungan Sukarela (SNR) Kriteria dan Indikator Kinerja Prakarsa Karet Alam Berkesinambungan Sukarela (SNR) Kriteria dan Indikator Kinerja Kriteria, Indikator dan KPI Karet Alam Berkesinambungan 1. Referensi Kriteria, Indikator dan KPI SNR mengikuti sejumlah

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF. Oleh Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.

METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF. Oleh Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF Oleh Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. APA ITU PENELITIAN KUALITATIF? Penelitian Kualitatif adalah study yang meneliti kualitas hubungan, aktivitas, situasi, atau berbagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Akhir masa kanak-kanak (late childhood) berlangsung dari usia enam

BAB I PENDAHULUAN. Akhir masa kanak-kanak (late childhood) berlangsung dari usia enam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Akhir masa kanak-kanak (late childhood) berlangsung dari usia enam tahun sampai tiba saatnya individu menjadi matang secara seksual. Pada awal dan akhirnya,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Abad ke-21 disebut-sebut oleh pakar, termasuk futurology, sebagai abad

BAB I PENDAHULUAN. Abad ke-21 disebut-sebut oleh pakar, termasuk futurology, sebagai abad 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Abad ke-21 disebut-sebut oleh pakar, termasuk futurology, sebagai abad informasi dan pengetahuan. Karena informasi dan pengetahuan akan menjadi landasan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. hasil tes keterampilan membaca puisi untuk mengetahui kondisi awal keterampilan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. hasil tes keterampilan membaca puisi untuk mengetahui kondisi awal keterampilan BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Pada bab ini akan disajikan hasil penelitian tindakan kelas yang berupa hasil tes dan nontes. Hasil tes meliputi siklus I dan siklus II. Hasil

Lebih terperinci

Kualitas informasi tergantung pada empat hal yaitu akurat, tepat waktu, relevan dan ekonomis, yaitu:

Kualitas informasi tergantung pada empat hal yaitu akurat, tepat waktu, relevan dan ekonomis, yaitu: Data dan Informasi Informasi tidak hanya sekedar produk sampingan, namun sebagai bahan yang menjadi faktor utama yang menentukan kesuksesan atau kegagalan, oleh karena itu informasi harus dikelola dengan

Lebih terperinci

Oleh: HARRY SULASTIANTO

Oleh: HARRY SULASTIANTO Oleh: HARRY SULASTIANTO PENGERTIAN KARYA TULIS ILMIAH Karya seorang ilmuwan (yang berupa hasil pengembangan) yang ingin mengembangkan ipteks yang diperolehnya melalui studi kepustakaan, pengalaman, penelitian,

Lebih terperinci

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TUTOR SEBAYA UNTUK SISWA KELAS VII-F SMP NEGERI 7 MALANG

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TUTOR SEBAYA UNTUK SISWA KELAS VII-F SMP NEGERI 7 MALANG MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TUTOR SEBAYA UNTUK SISWA KELAS VII-F SMP NEGERI 7 MALANG Umar Wirahadi Kusuma Universitas Negeri Malang Pembimbing

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. bahwa kemerdekaan pers merupakan salah satu wujud kedaulatan

Lebih terperinci

Syarat dan Ketentuan

Syarat dan Ketentuan Syarat dan Ketentuan Persyaratan Bisnis dan Lisensi Penggunaan aplikasi Legentas dan layanan yang berkaitan (yang selanjutnya disebut sebagai "Layanan Legentas" atau "Layanan") diatur oleh ketentuan kontraktual

Lebih terperinci

BAB 2 FASE DEFINISI Memahami Masalah User

BAB 2 FASE DEFINISI Memahami Masalah User BAB 2 FASE DEFINISI Memahami Masalah User 2.1. PENDAHULUAN Tujuan dari fase definisi adalah untuk memahami dengan baik masalah-masalah yang dihadapi oleh user dalam memperkirakan biaya dan waktu penyelesaian

Lebih terperinci

Uji Penilaian Profesional Macquarie. Leaflet Latihan. Verbal, Numerikal, Pemahaman Abstrak, Kepribadian.

Uji Penilaian Profesional Macquarie. Leaflet Latihan. Verbal, Numerikal, Pemahaman Abstrak, Kepribadian. Uji Penilaian Profesional Macquarie Leaflet Latihan Verbal, Numerikal, Pemahaman Abstrak, Kepribadian. Mengapa Uji Penilaian psikometrik digunakan Dewasa ini semakin banyak perusahaan yang menyertakan

Lebih terperinci

Konsep Pembelajaran Orang Dewasa. Oleh : Najamuddin,S.Ag,M.Ag

Konsep Pembelajaran Orang Dewasa. Oleh : Najamuddin,S.Ag,M.Ag Konsep Pembelajaran Orang Dewasa Oleh : Najamuddin,S.Ag,M.Ag Abstraksi Tulisan ini akan menjelaskan bagaimana implementasi pembelajaran orang dewasa mulai dari pemahaman terhadap orang dewasa sebagai peserta

Lebih terperinci

PRINSIP PRIVASI UNILEVER

PRINSIP PRIVASI UNILEVER PRINSIP PRIVASI UNILEVER Unilever menerapkan kebijakan tentang privasi secara khusus. Lima prinsip berikut melandasi pendekatan kami dalam menghormati privasi Anda. 1. Kami menghargai kepercayaan yang

Lebih terperinci

Memaknai Kembali Arti Kesejahteraan Guru. Oleh : Fahriza Marta Tanjung, S.Pd. 1

Memaknai Kembali Arti Kesejahteraan Guru. Oleh : Fahriza Marta Tanjung, S.Pd. 1 Memaknai Kembali Arti Kesejahteraan Guru Oleh : Fahriza Marta Tanjung, S.Pd. 1 Perspektif Kesejahteraan Guru Kini Dalam setiap Peringatan Hari Guru, persoalan kesejahteraan guru selalu menjadi topik yang

Lebih terperinci

MANAJEMEN PERPUSTAKAAN SEKOLAH. Oleh Arif Surachman 1

MANAJEMEN PERPUSTAKAAN SEKOLAH. Oleh Arif Surachman 1 MANAJEMEN PERPUSTAKAAN SEKOLAH Oleh Arif Surachman 1 Pendahuluan Perpustakaan berkembang pesat dari waktu ke waktu menyesuaikan dengan perkembangan pola kehidupan masyarakat, kebutuhan, pengetahuan, dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan ilmu pengetahuan sains saat ini menunjukkan bahwa sains memiliki peran yang sangat vital dalam kehidupan manusia. Berkembangnya ilmu pengetahuan

Lebih terperinci

BAB 1 SIKAP (ATTITUDE)

BAB 1 SIKAP (ATTITUDE) Psikologi Umum 2 Bab 1: Sikap (Attitude) 1 BAB 1 SIKAP (ATTITUDE) Bagaimana kita suka / tidak suka terhadap sesuatu dan pada akhirnya menentukan perilaku kita. Sikap: - suka mendekat, mencari tahu, bergabung

Lebih terperinci

Ditulis oleh Orang Gila

Ditulis oleh Orang Gila 1 PRAMA WIRATAMA Ditulis oleh Orang Gila Ditulis oleh Orang Gila Oleh: Prama Wiratama Copyright 2010 by Prama Wiratama Desain Sampul: PENGANTAR 2 Assalamu'alaikum Wr. Wb. Alhamdulillah akhirnya buku saya

Lebih terperinci

Identifikasi Proyek. Menanggapi KebutuhanResponding to a need

Identifikasi Proyek. Menanggapi KebutuhanResponding to a need Bagian 1 Identifikasi Proyek TELAAH ALKITAB Penilaian Kebutuhan Menanggapi KebutuhanResponding to a need Baca Nehemia 1 Nehemia adalah seorang Yahudi dalam pembuangan di negeri asing. Sebagaian orang Yahudi

Lebih terperinci

Beri tanda [v] pada statement di bawah ini yang sesuai dengan diri Anda saat ini. Jumlahkan tanda [v] pada masing-masing kolom.

Beri tanda [v] pada statement di bawah ini yang sesuai dengan diri Anda saat ini. Jumlahkan tanda [v] pada masing-masing kolom. Beri tanda [v] pada statement di bawah ini yang sesuai dengan diri Anda saat ini. Jumlahkan tanda [v] pada masing-masing kolom. Suka menulis kreatif Menonjol dalam kelas seni di sekolah Mengarang kisah

Lebih terperinci

KARYA TULIS ILMIAH SEBAGAI SALAH SATU KARYA PENGEMBANGAN PROFESI GURU Oleh : Dra. Umi Chotimah, M. Pd

KARYA TULIS ILMIAH SEBAGAI SALAH SATU KARYA PENGEMBANGAN PROFESI GURU Oleh : Dra. Umi Chotimah, M. Pd KARYA TULIS ILMIAH SEBAGAI SALAH SATU KARYA PENGEMBANGAN PROFESI GURU Oleh : Dra. Umi Chotimah, M. Pd 1. Pendahuluan Profesionalisme merupakan tuntutan yang saat ini dituntut bagi seorang guru, tidak hanya

Lebih terperinci

KAJIAN TUGAS AKHIR STRATA SATU (S1) FAKULTAS ILMU KOMPUTER UNIVERSITAS INDONESIA

KAJIAN TUGAS AKHIR STRATA SATU (S1) FAKULTAS ILMU KOMPUTER UNIVERSITAS INDONESIA KAJIAN TUGAS AKHIR STRATA SATU (S1) FAKULTAS ILMU KOMPUTER UNIVERSITAS INDONESIA Shinta T. Effendy 1, Rahmat M. Samik Ibrahim 2 1 Ilmu Komputer, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Indonesia (shintaeffendy

Lebih terperinci

Kami dapat membantu Anda belajar bahasa Inggris

Kami dapat membantu Anda belajar bahasa Inggris Kami dapat membantu Anda belajar bahasa Inggris Mengapa saya harus belajar bahasa Inggris? Kini setelah Anda berada di Australia, sangatlah penting bagi Anda untuk belajar bahasa Inggris. Bahasa Inggris

Lebih terperinci

Indonesian Continuers

Indonesian Continuers 2014 HIGHER SCHOOL CERTIFICATE EXAMINATION Indonesian Continuers (Section I Listening and Responding) Transcript Familiarisation Text Bagaimana perayaan Natal? Cukup baik. Kami ke rumah kakek dan nenek.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Hasil belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kualitas pembelajaran yang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Hasil belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kualitas pembelajaran yang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Hasil belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kualitas pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah. Dan salah satu hal yang menentukan kualitas pembelajaran adalah

Lebih terperinci

Penulisan Tesis Bab I & II. Frida Chairunisa

Penulisan Tesis Bab I & II. Frida Chairunisa Penulisan Tesis Bab I & II Frida Chairunisa Peta Wisata Tesis Pintu gerbang penelitian tesis Bab I Pendahuluan Bab III Metodologi Penelitian Bab V Kesimpulan dan Saran Magister Peneliti Bab II Tinjauan

Lebih terperinci

PANDUAN EVALUASI KEMAMPUAN SAINS ANAK USIA DINI

PANDUAN EVALUASI KEMAMPUAN SAINS ANAK USIA DINI PANDUAN EVALUASI KEMAMPUAN SAINS ANAK USIA DINI KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN Pusat Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal dan Informal (P2PAUDNI) Regional II Semarang Tahun 2014 PENILAIAN

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan analis isi ( content analysis). Pendekatan analisis isi merupakan suatu langkah

Lebih terperinci

Please purchase PDFcamp Printer on http://www.verypdf.com/ to remove this watermark.

Please purchase PDFcamp Printer on http://www.verypdf.com/ to remove this watermark. Proses Berpikir Siswa dalam Pengajuan Soal Tatag Yuli Eko Siswono Universitas Negeri Surabaya Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses berpikir siswa dalam mengajukan soal-soal pokok

Lebih terperinci

Sistem manajemen mutu Persyaratan

Sistem manajemen mutu Persyaratan SNI ISO 9001-2008 Standar Nasional Indonesia Sistem manajemen mutu Persyaratan ICS 03.120.10 Badan Standardisasi Nasional SNI ISO 9001-2008 Daftar isi Daftar isi... i Prakata... iv Pendahuluan... vi 0.1

Lebih terperinci

Internet Sehat dan Aman (INSAN)

Internet Sehat dan Aman (INSAN) Internet Sehat dan Aman (INSAN) Oleh : Rini Agustina, S.Kom, M.Pd Sumber : Direktorat Pemberndayaan Informatika Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia

Lebih terperinci

Beri putra putri Anda awal yang tepat untuk masuk universitas

Beri putra putri Anda awal yang tepat untuk masuk universitas Monash University Foundation Year Beri putra putri Anda awal yang tepat untuk masuk universitas www.monashcollege.edu.au Mengapa memilih Foundation Year kami yang berbasis di Melbourne? Persiapan terbaik

Lebih terperinci

Panduan Permohonan Hibah

Panduan Permohonan Hibah Panduan Permohonan Hibah 1. 2. 3. Sebelum memulai proses permohonan hibah, mohon meninjau inisiatif-inisiatif yang didukung Ford Foundation secara cermat. Selain memberikan suatu ikhtisar tentang prioritas

Lebih terperinci

http://padamu.siap.web.id Page 1 of 14

http://padamu.siap.web.id Page 1 of 14 1. http://padamu.siap.web.id/ 2. klik: aktifasi akun PTK 3. isi NUPTK 4. isi kode aktifasi 5. klik: lanjut 6. isi password 7. ulangi password 8. isi email (WAJIB ADA) 9. klik: lanjut 10. klik: simpan 11.

Lebih terperinci

LANGKAH-LANGKAH PENGGUNAAN E-LEARNING (Untuk Siswa)

LANGKAH-LANGKAH PENGGUNAAN E-LEARNING (Untuk Siswa) LANGKAH-LANGKAH PENGGUNAAN E-LEARNING (Untuk Siswa) Akses ke dalam Portal e-learning PLN User/Siswa dapat melakukan akses ke dalam Portal e-learning melalui 2 (dua) jaringan komputer: 1. Akses melalui

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. agar manusia tidak terjerumus dalam kehidupan yang negatif. Pendidikan

BAB 1 PENDAHULUAN. agar manusia tidak terjerumus dalam kehidupan yang negatif. Pendidikan BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Secara umum pengertian pendidikan adalah proses perubahan atau pendewasaan manusia, berawal dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak biasa menjadi biasa, dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keputusan-keputusan penting yang berkaitan dengan pergaulan dengan orang lain

BAB I PENDAHULUAN. keputusan-keputusan penting yang berkaitan dengan pergaulan dengan orang lain BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Belajar merupakan salah satu bentuk kegiatan individu dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan. Tujuan dari setiap belajar mengajar adalah untuk memperoleh hasil

Lebih terperinci

BAGIAN II DESKRIPSI KOMPONEN PROPOSAL SKRIPSI ATAU TUGAS AKHIR

BAGIAN II DESKRIPSI KOMPONEN PROPOSAL SKRIPSI ATAU TUGAS AKHIR BAGIAN II DESKRIPSI KOMPONEN PROPOSAL SKRIPSI ATAU TUGAS AKHIR Proposal penelitian untuk menyusun skripsi atau tugas akhir terdiri atas komponen yang sama. Perbedaan di antara keduanya terletak pada kadar

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. dalam penyusunan program bimbingan dan konseling, hal tersebut merupakan

III. METODE PENELITIAN. dalam penyusunan program bimbingan dan konseling, hal tersebut merupakan 43 III. METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Penelitian ini meneliti mengenai unjuk kerja guru bimbingan dan konseling dalam penyusunan program bimbingan dan konseling, hal tersebut merupakan masalah

Lebih terperinci

Penerapan SA Berbasis ISA Secara Proporsional. Sesuai Ukuran dan Kompleksitas Suatu Entitas KOMITE ASISTENSI DAN IMPLEMENTASI STANDAR PROFESI

Penerapan SA Berbasis ISA Secara Proporsional. Sesuai Ukuran dan Kompleksitas Suatu Entitas KOMITE ASISTENSI DAN IMPLEMENTASI STANDAR PROFESI TANYA DAN JAWAB TJ 01 IAPI INSTITUT AKUNTAN PUBLIK INDONESIA Penerapan SA Berbasis ISA Secara Proporsional Sesuai Ukuran dan Kompleksitas Suatu Entitas KOMITE ASISTENSI DAN IMPLEMENTASI STANDAR PROFESI

Lebih terperinci

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 25 B. TUJUAN 25 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 25 D. UNSUR YANG TERLIBAT 26 E. REFERENSI 26 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 26

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 25 B. TUJUAN 25 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 25 D. UNSUR YANG TERLIBAT 26 E. REFERENSI 26 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 26 DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 25 B. TUJUAN 25 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 25 D. UNSUR YANG TERLIBAT 26 E. REFERENSI 26 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 26 G. URAIAN PROSEDUR KERJA 27 LAMPIRAN 1 : ALUR PROSEDUR KERJA

Lebih terperinci

Mengapa setiap orang bisa dan mampu menjadi pemimpin?

Mengapa setiap orang bisa dan mampu menjadi pemimpin? Kepemimpinan tidak sekadar mulai ketika posisi sedang di atas. Pemimimpin juga bisa ditemukan di level terendah dalam organisasi dan di setiap bagian dalam organisasi. Dalam laporan khusus oleh Knowledge@Wharton

Lebih terperinci

Perang Dunia I. Pertanyan-pertanyaan dalam Kerangka-Kurikulum

Perang Dunia I. Pertanyan-pertanyaan dalam Kerangka-Kurikulum Perang Dunia I Ringkasan Unit Para murid sejarah sekolah menengah atas memulai sebuah perjalanan untuk menemukan jawaban dari Pertanyaan Unit: Apakah perang untuk mengakhiri semua perang ini telah dihindari?

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. biasa disebut dengan kreativitas siswa dalam matematika. Ulangan Harian Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2012/2013 SD Negeri No.

BAB I PENDAHULUAN. biasa disebut dengan kreativitas siswa dalam matematika. Ulangan Harian Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2012/2013 SD Negeri No. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu upaya untuk memberikan pengetahuan kepada seseorang dengan tujuan agar orang tersebut mampu menghadapi perubahan akibat adanya kemajuan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 2 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 2 D. UNSUR YANG TERLIBAT 2 E. REFERENSI 2 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 3

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 2 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 2 D. UNSUR YANG TERLIBAT 2 E. REFERENSI 2 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 3 DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 2 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 2 D. UNSUR YANG TERLIBAT 2 E. REFERENSI 2 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 3 G. URAIAN PROSEDUR KERJA 5 LAMPIRAN 1 : ALUR PROSEDUR KERJA ANALISIS

Lebih terperinci

PROPOSAL PEMBUKAAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS. nama perguruan tinggi. logo perguruan tinggi. nama kota, bulan dan tahun

PROPOSAL PEMBUKAAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS. nama perguruan tinggi. logo perguruan tinggi. nama kota, bulan dan tahun PROPOSAL PEMBUKAAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS nama perguruan tinggi logo perguruan tinggi nama kota, bulan dan tahun DAFTAR ISI Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar (jika

Lebih terperinci

PENILAIAN PEMBELAJARAN

PENILAIAN PEMBELAJARAN PENILAIAN PEMBELAJARAN PENILAIAN APA PENILAIAN? APA PENILAIAN BERBASIS KOMPETENSI? BAGAIMANA CARANYA? PENILAIAN: PROSES SISTIMATIS MELIPUTI PENGUMPULAN INFORMASI (ANGKA, DESKRIPSI VERBAL), ANALISIS, INTERPRETASI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Internet sebagai salah satu media pembelajaran sangat dibutuhkan saat ini,

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Internet sebagai salah satu media pembelajaran sangat dibutuhkan saat ini, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Internet sebagai salah satu media pembelajaran sangat dibutuhkan saat ini, baik secara langsung, sebagai media pembelajaran jarak jauh atau sebagai sarana bagi

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 200 TENTANG GERAKAN PRAMUKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 200 TENTANG GERAKAN PRAMUKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 200 TENTANG GERAKAN PRAMUKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan kepribadian ditujukan untuk mengembangkan

Lebih terperinci

PANDUAN E-RESOURCES PNRI.GO.ID. Petunjuk Penggunaan Summon Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

PANDUAN E-RESOURCES PNRI.GO.ID. Petunjuk Penggunaan Summon Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Petunjuk Penggunaan Summon Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Summon merupakan Web Scale Discovery Services yang dapat menjadi portal utama dalam pencarian e-journal, e-book, video, ataupun koleksi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan metode yang tepat maka akan mendapatkan hasil yang tepat pula.

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan metode yang tepat maka akan mendapatkan hasil yang tepat pula. 40 BAB III METODE PENELITIAN Metodologi penelitian dalam suatu penelitian sangat penting, sebab dengan menggunakan metode yang tepat maka akan mendapatkan hasil yang tepat pula. Artinya apabila seseorang

Lebih terperinci

Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 7 (2011): 106-110

Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 7 (2011): 106-110 ISSN: 1693-1246 Juli 2011 Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 7 (2011): 106-110 J P F I http://journal.unnes.ac.id PEMBELAJARAN SAINS DENGAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Model peraihan konsep disebut juga model perolehan konsep atau model

II. TINJAUAN PUSTAKA. Model peraihan konsep disebut juga model perolehan konsep atau model 9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Model Peraihan Konsep Model peraihan konsep disebut juga model perolehan konsep atau model pencapaian konsep. Model peraihan konsep mula-mula didesain oleh Joice

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Sesuai dengan permasalahan dan tujuan penelitian yang akan dilaksanakan, jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dalam bentuk studi kasus. Penelitian

Lebih terperinci

Dr. Wahyu Wibowo. Pelatihan Penulisan Buku Ajar PT Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin Makassar, 25-27 Mei 2012

Dr. Wahyu Wibowo. Pelatihan Penulisan Buku Ajar PT Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin Makassar, 25-27 Mei 2012 Dr. Wahyu Wibowo Pelatihan Penulisan Buku Ajar PT Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin Makassar, 25-27 Mei 2012 1. Persiapkan laporan panelitian yang telah dipertanggungjawabkan (bila ada); 2.

Lebih terperinci

P 21 Mengasah Kemampuan Berpikir Kreatif dan Rasa Ingin Tahu Melalui Pembelajaran Matematika dengan Berbasis Masalah (Suatu Kajian Teoritis)

P 21 Mengasah Kemampuan Berpikir Kreatif dan Rasa Ingin Tahu Melalui Pembelajaran Matematika dengan Berbasis Masalah (Suatu Kajian Teoritis) P 21 Mengasah Kemampuan Berpikir Kreatif dan Rasa Ingin Tahu Melalui Pembelajaran Matematika dengan Berbasis Masalah (Suatu Kajian Teoritis) Fransiskus Gatot Iman Santoso Program Studi Pendidikan Matematika

Lebih terperinci

CARA MENJUAL PRODUK ANDA SECARA EFEKTIF VIA EBAY

CARA MENJUAL PRODUK ANDA SECARA EFEKTIF VIA EBAY CARA MENJUAL PRODUK ANDA SECARA EFEKTIF VIA EBAY Yusnita Dewi Yusnita@raharja.info Abstrak Menjual produk adalah suatu proses yang dilakukan antara si penjual dan si pembeli, dimana kedua belah pihak sama

Lebih terperinci

ARTIKEL CONTOH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH MATEMATIKA SMP KELAS VII

ARTIKEL CONTOH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH MATEMATIKA SMP KELAS VII ARTIKEL CONTOH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH MATEMATIKA SMP KELAS VII Oleh Adi Wijaya, S.Pd, MA PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN (PPPPTK) MATEMATIKA

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Jenis dan Sumber Data 3.1.1. Jenis Penelitian Dalam penelitian ini penulis menggunakan penelitian kuantitatif, karena data yang diperoleh nantinya berupa angka. Dari angka

Lebih terperinci