1 PENDAHULUAN Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I PENDAHULUAN. Tabel 1. Produksi dan Konsumsi Beras Nasional, Tahun

I. PENDAHULUAN. sektor-sektor yang berpotensi besar bagi kelangsungan perekonomian

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang

Benih merupakan salah satu unsur pokok dalam usaha tani padi. Kebutuhan akan sarana tersebut semakin lama semakin meningkat

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Sektor pertanian dalam tatanan pembangunan nasional memegang peranan

PENDAHULUAN Latar Belakang

DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PENDAHULUAN. Latar Belakang

Kebijakan PSO/Subidi Benih Untuk Padi, Kedelai dan Jagung

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Produktivitas (Qu/Ha)

Ringkasan Eksekutif Analisis Efektivitas Kebijakan Subsidi Pupuk dan Benih: Studi Kasus Tanaman Padi dan Jagung 1

I. PENDAHULUAN. komoditas utama penghasil serat alam untuk bahan baku industri Tekstil dan

I. PENDAHULUAN. Indonesia berhasil meningkatkan produksi padi secara terus-menerus. Selama

I. PENDAHULUAN. Di Indonesia, beras tetap menjadi sumber utama gizi dan energi bagi lebih dari

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian nasional. Hal ini dapat dilihat dari kontribusi yang dominan, baik

POLICY BRIEF MENDUKUNG GERAKAN PENERAPAN PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU (GP-PTT) MELALUI TINJAUAN KRITIS SL-PTT

I. PENDAHULUAN. sebagai dasar pembangunan sektor-sektor lainnya. Sektor pertanian memiliki

Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan KATA PENGANTAR

I. PENDAHULUAN. Padi (Oryza sativa L.) merupakan tanaman pokok di Indonesia karena sebagian besar

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PENINGKATAN PRODUKTIVITAS DAN EFISIENSI USAHATANI PADI SISTEM RATUN DI LAHAN PASANG SURUT

I. PENDAHULUAN. Pangan merupakan kebutuhan yang mendasar (basic need) bagi setiap

I. PENDAHULUAN. agraris seharusnya mampu memanfaatkan sumberdaya yang melimpah dengan

I. PENDAHULUAN. Ketahanan pangan menyangkut ketersediaan dan keterjangkauan terhadap

I. PENDAHULUAN. Tanaman padi (Oryza sativa L.) ialah tanaman penghasil beras yang menjadi sumber

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Tanaman pangan terutama padi/beras menjadi komoditas yang sangat strategis karena merupakan bahan makanan pokok bagi bangsa Indonesia.

I PENDAHULUAN. Pembangunan pertanian memiliki peran yang strategis dalam perekonomian

Persepsi Petani dan Identifikasi Faktor Penentu Pengembangan dan Adopsi Varietas Padi Hibrida

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENGUATAN KELEMBAGAAN PENANGKAR BENIH UNTUK MENDUKUNG KEMANDIRIAN BENIH PADI DAN KEDELAI

V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. akan menyebabkan kerawanan ekonomi, sosial dan politik yang dapat

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

PENCAPAIAN SURPLUS 10 JUTA TON BERAS PADA TAHUN 2014 DENGAN PENDEKATAN DINAMIKA SISTEM (SYSTEM DYNAMICS)

PROPOSAL POTENSI, Tim Peneliti:

Prospek dan Arah Pengembangan AGRIBISNIS PADI. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2005

VALUASI EKONOMI SUMBER DAYA GENETIK PERTANIAN INDONESIA: Studi Kasus Padi

UJI ADAPTASI BEBERAPA PADI HIBRIDA DI LAHAN SAWAH IRIGASI BARITO TIMUR, KALIMANTAN TENGAH

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. penting dalam pertumbuhan pasar dalam negeri bagi sektor-sektor nonpertanian

BAB I PENDAHULUAN. pencapaian tujuan perusahaan. Keberadaan manajemen sumber daya manusia

PENDAHULUAN. Indonesia, tercapainya kecukupan produksi beras nasional sangat penting

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian merupakan salah satu roda penggerak pembangunan

I. PENDAHULUAN. mutu hidup serta kesejahteraan masyarakat. Salah satu upaya peningkatan

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 562 KMK. 02/2004 TENTANG

I. PENDAHULUAN. (Riyadi, 2002). Dalam komponen pengeluaran konsumsi masyarakat Indonesia

BAB I. PENDAHULUAN. adalah mencukupi kebutuhan pangan nasional dengan meningkatkan. kemampuan berproduksi. Hal tersebut tertuang dalam RPJMN

KEMITRAAN PEMASARAN BENIH PADI DI KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH KALIMANTAN SELATAN

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GRAFIK... DAFTAR LAMPIRAN... RINGKASAN EKSEKUTIF... I. PENDAHULUAN...

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI DAN IMPOR KEDELAI DI INDONESIA. Oleh : RIKA PURNAMASARI A

Laporan Kinerja 2014 KATA PENGATAR

POLITIK KETAHANAN PANGAN MENUJU KEMANDIRIAN PERTANIAN

Bab 1 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang

Produksi Padi Tahun 2005 Mencapai Swasembada

I. PENDAHULUAN. Beras merupakan bahan pangan yang dikonsumsi hampir seluruh penduduk

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Struktur PDB Menurut Lapangan Usaha di Indonesia Tahun (Persentase)

I. PENDAHULUAN. negara dititikberatkan pada sektor pertanian. Produksi sub-sektor tanaman

I. PENDAHULUAN. keharusannya memenuhi kebutuhan pangan penduduk. Berdasarkan Sensus

PEMANTAUAN DAN EVALUASI TANAMAN SEREALIA TRIWULAN I 2016

POTENSI PENGEMBANGAN PADI SAWAH VARIETAS UNGGUL BARU DI PROVINSI KALIMANTAN BARAT

Kebijakan PSO/Subsidi Pupuk dan Sistem Distribusi. I. Pendahuluan

Adopsi dan Dampak Penggunaan Benih Berlabel di Tingkat Petani.

I. PENDAHULUAN. Pembangunan pertanian, khususnya tanaman pangan bertujuan untuk meningkatkan

V. PERKEMBANGAN PRODUKSI, USAHATANI DAN INFRASTRUKTUR PENDUKUNG PENGEMBANGAN JAGUNG

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Sektor pertanian merupakan salah satu sektor penting dalam menunjang

I. PENDAHULUAN. Tingginya tingkat konsumsi beras di Indonesia harus diimbangi oleh produksi

I. PENDAHULUAN. Padi merupakan bahan makanan yang menghasilkan beras. Bahan makanan

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Perkembangan Konsumsi Gula Tahun Periode

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I PENDAHULUAN. Tabel 1. Jumlah Tenaga Kerja Pertanian di Indonesia Tahun Pertanian ** Pertanian. Tenaga Kerja (Orang)

STUDI KASUS PERMASALAHAN KOMODITAS KEDELAI DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA

PENDAHULUAN. mengandung gizi dan penguat yang cukup bagi tubuh manusia, sebab didalamnya

PRODUKSI PADI DAN PALAWIJA (Angka Tetap Tahun 2015)

SAMBUTAN GUBERNUR KALIMANTAN BARAT PADA ACARA PANEN RAYA PADI DI DESA SENAKIN KECAMATAN SENGAH TEMILA KABUPATEN LANDAK

SEBARAN DAN POTENSI PRODUSEN BENIH PADI UNGGUL MENDUKUNG PENYEDIAAN BENIH BERMUTU DI KALIMANTAN SELATAN

I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Beras merupakan bahan pangan pokok bagi sebagian besar penduduk

pelaksanaan pencapaian ketahanan pangan dan kemandirian pangan nasional.

I. PENDAHULUAN. karena pangan menempati urutan terbesar pengeluaran rumah tangga. Tanaman

UPAYA PERCEPATAN ADOPSI VARIETAS UNGGUL BARU PADI INPARI

PENDAHULUAN Latar Belakang

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Benih Padi Hibrida

MTH Sri Budiastutik, Pengembangan Sistem Insentif Teknologi Industri Produksi Benih dan Bibit. JKB. Nomor 6 Th. IV Januari

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. pokok sebagian besar penduduk di Indonesia. karbohidrat lainnya, antara lain: (1) memiliki sifat produktivitas tinggi, (2) dapat

I. PENDAHULUAN. meningkat. Sementara lahan pertanian khususnya lahan sawah, yang luas

Transkripsi:

1 PENDAHULUAN Latar Belakang Padi (Oryza sativa) merupakan salah satu bahan pangan pokok bagi masyarakat Indonesia. Sejak Indonesia merdeka, perkembangan perpadian (perberasan) di Indonesia telah mengalami pasang surut. Diawal tahun kemerdekaan, ketidakmampuan menyediakan beras bagi rakyat Indonesia telah menimbulkan instabilitas politik. Pada tahun 1984, Indonesia telah mampu mencapai swasembada beras. Satu dasawarsa setelah itu penyediaan beras bersumber dari produksi dalam negeri tidak dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri sehingga penyediaan beras dari impor menjadi alternatif untuk mengurangi resistensi sosial dan politik. Pada tahun 2008 Indonesia mencapai swasembada lagi setelah pemerintah melakukan sejumlah program subsidi seperti penyediaan benih unggul, pupuk dan pengawalan terhadap serangan organisme pengganggu. Melihat realitas tersebut, padi menjadi komoditas yang fundamental dan strategis. Untuk itu, pengelolaan perpadian memerlukan perhatian khusus dari pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya. Selama 5 tahun mendatang, kebutuhan padi akan terus meningkat seiring dengan proyeksi laju pertambahan penduduk. Tetapi pencapaian produksi padi ke depan akan semakin sulit karena pertumbuhan jumlah penduduk masih lebih dari pertumbuhan produksi padi nasional. Untuk memenuhi produksi padi nasional, direncanakan peningkatan produksi padi 1,50 % setiap tahunnya. Dalam konteks ini, diperlukan berbagai terobosan-terobosan peningkatan produksi (Ditjen Tanaman Pangan 2015). Penggunaan benih bermutu merupakan hal yang perlu mendapat perhatian, baik komoditas padi, palawija, maupun hortikultura. Keberhasilan ketiga budidaya tersebut sangat ditentukan oleh mutu benih yang digunakan. Masukan-masukan lainnya seperti pupuk dan pestisida akan memberikan dukungan positif manakala petani menggunakan benih bermutu. Mutu benih yang dimaksud mencakup tiga hal yang tidak terpisahkan yaitu mutu fisik, mutu fisiologi dan mutu genetik (Sadjad 1993). Di antara berbagai benih padi unggul, dalam kurun waktu terakhir ini padi hibrida menjadi salah satu yang mendapat perhatian pemerintah. Data Ditjen Tanaman Pangan, sejak tahun 2001 hingga kini, jumlah varietas padi hibrida yang telah dilepas sebanyak 98 varietas. Terdiri 23 hasil perakitan varietas dalam negeri, dan 75 varietas merupakan hasil introduksi dari luar. Varietas yang berkembang kini antara lain HIPA 8, SL 8 SHS, Sembada 168, Sembada B 09, Mapan P05, Candra, H6444 dan PP3 (Badan Litbang Pertanian 2007). Beberapa varietas benih padi hibrida yang telah dilepas oleh Kementerian Pertanian disajikan dalam Tabel 1. Varietas padi hibrida memiliki keunggulan dibandingkan dengan varietas benih padi bersari bebas (inbrida), yaitu memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap peningkatan produksi, vigor, aspek fisiologis maupun morfologis lebih baik (Virmani dan Khumar 2004). Didalam bisnis pertanian, pengembangan teknik manajemen pertanaman sangat mempengaruhi permintaan akan benih dengan jalan meningkatkan jumlah varietas yang diminta oleh penanam, dan

2 mempersingkat daur hidup varietas. Jika dibandingkan produktivitas antara benih hibrida dan inbrida, maka terlihat bahwa benih hibrida akan dapat meningkatkan produksi hingga 8-11 ton per Ha dibandingkan dengan padi inbrida yang menghasilkan 7-8 ton per Ha untuk lokasi di Pulau Jawa (Satoto dan Suprihatno 2008). Tabel 1 Varietas padi hibrida yang dilepas di Indonesia Nama Varietas Tetua Betina Asal Tetua Jantan Asal Tahun dilepas Maro IR58025A IRRI IR53942 IRRI 2002 Rokan IR58025A IRRI BR827 Bangladesh 2002 HIPA 3 IR58025A IRRI MTU9992 Intoduksi 2004 HIPA 4 IR58025A IRRI MTU9992 Intoduksi 2004 HIPA 5 CEVA IR58025A IRRI BR168 Bangladesh 2007 HIPA 6 JETE IR58025A IRRI B8049F BB Padi 2007 HIPA 7 IR58025A IRRI IR40750 IRRI 2009 HIPA 8 Pioner IR58025A IRRI BP51 BB Padi 2009 HIPA 9 IR58025A IRRI S435D BB Padi 2009 HIPA 10 IR68897A IRRI BIO-9 BB Padi 2009 HIPA 11 IR68897A IRRI IR40750 IRRI 2009 Sumber:Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan dan International Rice Research Institute (2010) Pada kenyataannya kualitas benih hibrida tersebut tidak mampu menggantikan penggunaan benih inbrida, data dari Ditjend Tanaman Pangan 2015 menunjukkan bahwa pada tahun 2015 alokasi kawasan padi hibrida yang selama ini digunakan di Indonesia masih 50.000 Ha, sedangkan 300.000 Ha dialokasikan pada kawasan padi inbrida (padi biasa) dari benih alami yang didapatkan dari petani sendiri dengan teknik yang masih sederhana. Menurut Zaini (2008) dan Wahyuningsih (2009) beberapa hal yang menjadi kendala pengembangan benih padi hibrida adalah varietas yang di-release sebagian besar merupakan hasil produksi dari luar negeri yang memiliki karakter varietas yang berbeda dengan lingkungan di Indonesia, sehingga sering terjadi kegagalan dalam produksi benih padi hibrida atau membutuhkan waktu yang lebih lama untuk beradaptasi. Kendala lain yang membuat petani lebih memilih menanam benih padi inbrida daripada hibrida adalah harga benih yang relatif cukup mahal. Harga padi hibrida di kisaran Rp. 70 ribu per kg, benih padi biasa Rp. 10 ribu per kilogram dengan kebutuhan benih sekitar 15-20 kg per hektar. Padahal dengan benih padi hibrida, produktivitas padi bisa mencapai 11 ton atau Ha, sementara dengan padi inbrida (padi biasa) hanya mencapai 6 ton atau Ha (Kementerian Pertanian 2015). Oleh karena itu, untuk meningkatkan penggunaan benih padi hibrida, pemerintah memberikan bantuan berupa subsidi benih kepada petani. Berdasarkan data dari Tabloid Sinar Tani edisi Maret 2015, pada tahun 2015 pemerintah mengalokasikan benih bersubsidi sebanyak 1.500 ton untuk areal tanam seluas 100 ribu ha atau 6% dari sasaran areal tanam padi seluas 14,5 juta ha.

Pemerintah menyerahkan tugas produksi dan distribusi benih tanaman pangan dan palawija kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor pertanian, yang salah satunya adalah PT Sang Hyang Seri (Persero). PT Sang Hyang Seri (Persero) diharapkan menjadi perusahaan yang dapat memproduksi benih yang berkualitas sehingga dapat melayani petani sekaligus meningkatkan kualitas hasil pertanian untuk memenuhi kebutuhan beras dari produksi dalam negeri, yang telah ditetapkan sasaran produksi padi oleh pemerintah pada tahun 2015 sebesar 73.400.000 ton gabah kering giling (GKG). Hal ini tentu saja menjadikan tugas PT Sang Hyang Seri (Persero) semakin sulit, karena adanya perilaku petani yang lebih memilih benih padi inbrida dibandingkan dengan benih padi hibrida, ditambah dengan persaingan yang datang dari penghasil benih hibrida swasta. Dalam menghadapi lingkungan persaingan bisnis yang sangat dinamis dan strategis, maka PT Sang Hyang Seri (Persero) memerlukan strategi pemasaran yang komprehensif, mengingat bahwa petani padi lebih memilih untuk menggunakan benih inbrida dibandingkan dengan benih hibrida. Untuk meningkatkan penggunaan benih padi hibrida, tim pemasaran PT Sang Hyang Seri (Persero) perlu mempelajari alasan apa yang melatar belakangi petani dalam mengambil keputusan untuk menggunakan benih padi hibrida. Sikap (attitudes) adalah faktor penting yang akan mempengaruhi keputusan konsumen/petani. Teori Perilaku Terencana (Theory Planned Behaviour/ TPB) adalah model sikap yang memperkirakan minat atau niat konsumen untuk melakukan suatu perilaku atau tindakan (Sumarwan 2011). Niat tidak hanya bergantung kepada sikap, tetapi juga norma-norma subyektif atau tekanan sosial yang dilakukan oleh orang lain, seperti kontak tani ataupun teman, untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perilaku (Santoso 1995). Menurut Peterson (2012) minat merupakan prediktor yang penting dari perilaku, di mana minat ditentukan oleh sikap terhadap perilaku yang akan dilakukan, norma-norma subyektif (subjective norms) yang berhubungan dengan perilaku yang akan dilakukan, dan kontrol perilaku (perceived behavioral kontrol) untuk melakukan perilaku tersebut. Pemasaran merupakan fungsi yang memiliki kontak paling besar dengan lingkungan eksternal, sedangkan perusahaan hanya memiliki kendali yang terbatas terhadap lingkungan eksternal. Oleh karena itu pemasaran memainkan peranan penting dalam pengembangan strategi perusahaan. Dalam peranan strategisnya, pemasaran mencakup setiap usaha untuk mencapai kesesuaian antara perusahaan dengan lingkungannya. Kesesuaian tersebut dalam rangka mencari pemecahan atas masalah penentuan tiga pertimbangan pokok yaitu bisnis apa yang digeluti perusahaan saat ini dan jenis bisnis apa yang dapat dimasuki dimasa datang serta bagaimana bisnis yang telah dipilih tersebut dapat dijalankan dengan sukses dalam lingkungan kompetitif atas dasar perspektif produk, harga, promosi dan distribusi untuk melayani pasar sasaran (Kotler 1998). Berdasarkan pada uraian-uraian tersebut diatas, maka terlihat adanya anomali perilaku penggunaan benih pada tingkat petani, bahwa seharusnya petani tertarik untuk menggunakan benih hibrida, karena tingkat produktivitas benih hibrida lebih tinggi dari benih padi inbrida, akan tetapi pada kenyataannya justru adalah kebalikannya. 3

4 Perumusan Masalah Regional I Sukamandi PT Sang Hyang Seri (Persero) sebagai salah satu perusahaan BUMN penyedia benih padi hibrida di Indonesia dalam situasi persaingan saat ini, harus dapat memanfaatkan sumber daya yang dimiliki untuk meningkatkan nilai tambah produk sebelum produk itu diserahkan atau dikirim kepada konsumen. Peningkatan nilai tambah produk tersebut bertujuan agar Regional I Sukamandi PT. Sang Hyang Seri (Persero) dapat meningkatkan daya saingnya dalam industri benih padi hibrida di Indonesia. Saat ini kondisi pemasaran yang dihadapi oleh Regional I Sukamandi PT Sang Hyang Seri (Persero) cenderung mengalami penurunan, jika memperhatikan data pada Tabel 2, maka terlihat dengan jelas bahwa jumlah benih hibrida yang dipasarkan terus menurun sejak tahun 2012, dan tentunya hal ini akan sangat mempengaruhi kinerja perusahaan dengan memperhatikan nilai perolehan dari hasil penjualan benih hibrida tersebut, yang juga semakin menurun. Tabel 2 Realisasi pemasaran benih hibrida Regional I Sukamandi PT Sang Hyang Seri (Persero) dan cabang Sukamandi Tahun Regonal I Sukamandi Cabang Sukamandi Fisik (Kg) Nilai (Rp) Fisik (Kg) Nilai (Rp) 2009 434.275 21.704.946.250 218.700 10.931.441.250 2010 238.690 12.076.704.275 90.135 4.560.570.000 2011 346.000 17.431.002.750 153.100 7.485.866.250 2012 424.185 21.099.052.500 273.885 13.356.352.500 2013 116.375 5.601.461.925 24.375 1.176.454.925 2014 157.627 1.217.177.000 64.875 500.325.000 2015 15.850 823.350.000 850 43.350.000 Sumber: PT Sang Hyang Seri (2016) Regional I Sukamandi PT Sang Hyang Seri (Persero) mempunyai empat kantor cabang, yaitu di wilayah Sukamandi, Serang, Ciamis dan Kalimantan Barat. Dari keempat kantor cabang tersebut, Sukamandi merupakan kantor cabang terbesar yang dimiliki oleh Regional I Sukamandi PT Sang Hyang Seri (Persero), dan sejalan dengan pertumbuhan penjualan perusahaan, kantor cabang Sukamandi pun mengalami penurunan sejak tahun 2013 (Tabel 2). Pertanyaan Penelitian 1. Bagaimana minat petani padi terhadap pembelian ulang benih padi hibrida? 2. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi minat petani padi terhadap pembelian ulang benih padi hibrida? 3. Strategi pemasaran apa yang sebaiknya diterapkan oleh PT Sang Hyang Seri (Persero) meningkatkan penjualan benih padi hibrida?

5 Tujuan Penelitian Berdasarkan latar belakang dan masalah yang telah dirumuskan, penelitian ini bertujuan untuk: 1. Menganalisis minat petani padi terhadap pembelian ulang benih padi hibrida. 2. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi minat petani padi terhadap pembelian ulang benih padi hibrida. 3. Merumuskan strategi pemasaran benih padi hibrida. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi Regional I Sukamandi PT Sang Hyang Seri (Persero) sebagai masukan yang berguna dalam menyusun strategi pemasarannya baik yang berkaitan dengan pengembangan bisnis ataupun untuk meningkatkan daya saing perusahaan. Bagi peneliti, penelitian ini adalah sarana untuk pengembangan wawasan dan menjadi pengalaman praktis dalam melakukan riset di bidang pemasaran. Penelitian ini juga bermanfaat bagi akademisi yakni sebagai referensi atau pembanding terutama untuk keperluan penelitian berikutnya yang terkait dalam strategi pemasaran. Ruang Lingkup Penelitian 1. Penelitian ini difokuskan pada analisis perilaku pembelian ulang benih hibrida di kalangan petani padi sebagai informasi dasar dalam pengembangan strategi pemasaran. 2. Penelitian ini dilakukan sampai tahapan pemberian alternatif strategi pemasaran yang relevan, sedangkan implementasi strategi diserahkan kepada pihak perusahaan. 3. Penelitian ini dilakukan di wilayah Regional I Sukamandi PT Sang Hyang Seri (Persero) terhadap responden yang memenuhi kriteria yakni petani padi yang pernah atau sedang menggunakan padi hibrida untuk bercocok tanam padi. 2 TINJAUAN PUSTAKA Strategi Pemasaran Kegiatan pemasaran memegang peranan penting agar produk dapat menjangkau pasar sasaran dan sampai ke tangan konsumen. Tujuan pemasaran dicapai melalui perumusan strategi pemasaran yang tepat, sesuai dengan kondisi perusahaan dan dapat memaksimalkan kinerja pemasaran sehingga mampu memanfaatkan peluang pasar (Kotler 1997). Keberadaan pasar yang sangat luas biasanya menyebabkan keterbatasan pemasaran oleh perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan harus dapat memahami kebutuhan dan keinginan pasar serta memberi kepuasan bagi konsumen terhadap produk maupun jasa yang mereka tawarkan (Chandra 2002).

Untuk Selengkapnya Tersedia di Perpustakaan SB-IPB