V. HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
12/29/2010. PEMODELAN SPASIAL KESESUAIAN HABITAT TAPIR (Tapirus indicus Desmarest 1819) DI RESORT BATANG SULITI- TAMAN NASIONAL KERINCI-SEBLAT

IV. METODE PENELITIAN

Gambar 2 Peta lokasi penelitian.

IV. METODE PENELITIAN

Manfaat METODE. Lokasi dan Waktu Penelitian

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV METODE PENELITIAN

TINJAUAN PUSTAKA. Secara geografis DAS Besitang terletak antara 03 o o LU. (perhitungan luas menggunakan perangkat GIS).

PENYUSUN : TIM KONSULTAN PT. DUTA POLINDO CIPTA 1. M. Sugihono Hanggito, S.Hut. 2. Miftah Ayatussurur, S.Hut.

METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

Gambar 1. Peta DAS penelitian

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai Agustus 2014.

III. METODE PENELITIAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2017 hingga bulan Februari

BAB I PENDAHULUAN. dalam Siswanto (2006) mendefinisikan sumberdaya lahan (land resource) sebagai

BAB III METODOLOGI. Gambar 1 Lokasi Taman Nasional Ujung Kulon.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

INVENTARISASI DAN ANALISIS HABITAT TUMBUHAN LANGKA SALO

I. PENDAHULUAN. Berkurangnya luas hutan (sekitar 2 (dua) juta hektar per tahun) berkaitan

BAB VI PROFIL TUTUPAN LAHAN

III. METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

Indeks Vegetasi Bentuk komputasi nilai-nilai indeks vegetasi matematis dapat dinyatakan sebagai berikut :

BAB III. METODE PENELITIAN

Kondisi koridor TNGHS sekarang diduga sudah kurang mendukung untuk kehidupan owa jawa. Indikasi sudah tidak mendukungnya koridor TNGHS untuk

BAB III METODE PENELITIAN

Lokasi Kajian Metode Penelitian Lanjutan Metode Penelitian

GAMBARAN UMUM SWP DAS ARAU

Proses Pemulihan Vegetasi METODE. Waktu dan Tempat Penelitian

METODOLOGI PENELITIAN

Gambar 9. Peta Batas Administrasi

METODE PENELITIAN. Lokasi dan Waktu Penelitian

3 METODE PENELITIAN. Waktu dan Lokasi

KERUSAKAN MANGROVE SERTA KORELASINYA TERHADAP TINGKAT INTRUSI AIR LAUT (STUDI KASUS DI DESA PANTAI BAHAGIA KECAMATAN MUARA GEMBONG KABUPATEN BEKASI)

STUDI EVALUASI PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH (TNBT) KABUPATEN INDRAGIRI HULU - RIAU TUGAS AKHIR

PANDUAN PENGELOLAAN RIPARIAN

PERKEMBANGAN PERTANIAN LAHAN KERING SEBAGAI PENDORONG EROSI DI DAERAH ALIRAN CI KAWUNG

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada Mei - Juli Lokasi penelitian adalah di kawasan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2017 s/d bulan Februari 2017

DEPARTEMEN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL REHABILITASI LAHAN DAN PERHUTANAN SOSIAL PEDOMAN INVENTARISASI DAN IDENTIFIKASI LAHAN KRITIS MANGROVE

III. METODE PENELITIAN. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Januari sampai Febuari 2015 di kanan

BAB I. PENDAHULUAN. bagi makhluk hidup. Keanekaragaman hayati dengan pengertian seperti itu

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli-November Penelitian ini

BAB II KAJIAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA. Berdasarkan Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan,

IV. METODE PENELITIAN

BAGIAN 1-3. Dinamika Tutupan Lahan Kabupaten Bungo, Jambi. Andree Ekadinata dan Grégoire Vincent

PENYUSUNAN PROFIL KEANEKARAGAMAN HAYATI DAN PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN GUNUNG PULOSARI PEGUNUNGAN AKARSARI

BAB VI PROFIL TUTUPAN LAHAN

METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari hingga April 2014 di Kawasan

I. PENDAHULUAN. masyarakat Kota Bandar Lampung dan Kabupaten Pesawaran. Selain itu taman

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan. Hampir semua sektor pembangunan fisik memerlukan lahan,

BAB I PENDAHULUAN. endangered berdasarkan IUCN 2013, dengan ancaman utama kerusakan habitat

Gambar 7. Peta Lokasi Penelitian

5. SIMPULAN DAN SARAN

II. TINJAUAN PUSTAKA Pertumbuhan Penduduk dan Dampaknya terhadap Perkembangan Suatu Wilayah

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN

METODE PENELITIAN. Lokasi dan Waktu Penelitian

Keanekaragaman Jenis dan Pola Distribusi Nepenthes spp di Gunung Semahung Kecamatan Sengah Temila Kabupaten Landak

III. METODOLOGI. Gambar 1. Peta Administrasi Kota Palembang.

IV. KONDISI DAN GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. administratif berada di wilayah Kelurahan Kedaung Kecamatan Kemiling Kota

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

PEMETAAN KESESUAIAN HABITAT OWA JAWA (Hylobates moloch Audebert 1797) DI TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN-SALAK

BAB I PENDAHULUAN. dalam Ilmu Ekologi dikenal dengan istilah habitat. jenis yang membentuk suatu komunitas. Habitat suatu organisme untuk

PENYUSUN : TIM KONSULTAN PT ECOSITROP 1. Dr. Yaya Rayadin 2. Adi Nugraha, SP.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

PETA SUNGAI PADA DAS BEKASI HULU

III. METODOLOGI. 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian

Gambar 4.15 Kenampakan Satuan Dataran Aluvial. Foto menghadap selatan.

METODE PENELITIAN. Lokasi dan Waktu Penelitian. dalam kawasan wisata alam Trinsing yang secara administratif termasuk ke dalam

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan juni sampai dengan Juli 2013 di zona pemanfaatan terbatas,

KESESUAIAN LAHAN PENGEMBANGAN PERKOTAAN KAJANG KABUPATEN BULUKUMBA

BAB III METODE PENELITIAN

IV. KONDISI UMUM 4.1 Letak Geografis dan Aksesibilitas

III. METODOLOGI PENELITIAN

Perubahan Penggunaan Lahan Terhadap Nilai Koefisien Limpasan di DAS Krueng Meureudu Provinsi Aceh

III. METODE PENELITIAN

DAFTAR ISI. 1.1 Latar Belakang Perumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian... 4

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. dari pemanfaatan yang tidak banyak mempengaruhi kondisi ekosistem hutan sampai kepada

TINJAUAN PUSTAKA. Defenisi lahan kritis atau tanah kritis, adalah : fungsi hidrologis, sosial ekonomi, produksi pertanian ataupun bagi

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hutan Sekipan merupakan hutan pinus yang memiliki ciri tertentu yang membedakannya dengan hutan yang lainnya.

RIZKY ANDIANTO NRP

KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

Gambar 8. Citra ALOS AVNIR-2 dengan Citra Komposit RGB 321

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB III METODE PENELITIAN. Taman Nasional Baluran, Jawa Timur dan dilakasanakan pada 28 September

Transkripsi:

V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Analisis Vegetasi 5.1.1. Kondisi Habitat Daerah Aliran Sungai Analisis vegetasi dilakukan pada tiga lokasi dengan arah transek tegak lurus terhadap Hulu Sungai Plangai dengan total panjang transek sepanjang 2 km. Pemilihan Hulu Sungai Plangai sebagai lokasi transek didasarkan pada banyaknya jejak tapir yang ditemukan di sekitar sungai dibandingkan dengan sungai lainnya seperti Sungai Lengayang. Hulu sungai Plangai yang menjadi lokasi pengamatan merupakan sumber air tetap yang dapat digunakan tapir karena sungai tersebut mengalir sepanjang tahun tanpa dipengaruhi musim. Pengaruh musim terhadap hulu sungai Plangai yaitu pada jumlah debit air. Aliran air hulu sungai Plangai pada tiga lokasi pengamatan mengalir tenang (tidak deras) dengan kedalaman sungai berkisar 10-50cm seperti terlihat pada Gambar 12. Gambar 12 Kondisi hulu sungai Plangai. Hasil analisis vegetasi ditemukan sebanyak 50 jenis vegetasi (Lampiran 1) baik berupa semai, pancang, tiang, maupun pohon yang mana pada masingmasing tingkat vegetasi tersebut memiliki jumlah jenis yang berbeda seperti terlihat pada Gambar 13.

30 60 50 50 40 30 20 21 37 28 32 10 0 Semai Pancang Tiang Pohon Total Gambar 13 Diagram jumlah jenis vegetasi. Rakhmat (1999) menyatakann bahwa teduhan (thermal cover) yang cocok bagi tapir berupa rimbunan pohon yang berdaun lebar dan semak belukar dengan struktur vegetasi yang lebih rapat dan beragam. Hasil analisiss vegetasi menunjukann pada daerah pinggirann sungai (riparian), jenis pohon Jambu-jambu (Syzigium sp.) memiliki kerapatan paling tinggi dengan nilai kerapatan sebesar 81,75 ind/ha dan lebih banyak ditemukan dengan nilai frekuensi sebesar 0,56. Pada tingkat tiang, jenis Jambu-jambu (Syzigium sp.) juga memilikii kerapatan paling tinggi dengan nilai kerapatan sebesar 104 ind/ha dan lebih banyak ditemukan dengan nilai frekuensi sebesar 0,51. Tapir termasuk jenis satwa browser dan menyukai vegetasi pada tingkat semai dan pancang sebagai pakan. Dalam kemudahan bergerak dan mencari makan tapir menyukai daerah yang dekat dengan perairan seperti daerah aliran sungai. Berdasarkan hasil analisis vegetasi pada tingkat semai, jenis Plangeh memiliki kerapatan paling tinggi dengan nilai kerapatan sebesar 4850 ind/ha dan jenis ini juga yang paling banyak ditemukan dengan nilai frekuensi sebesar 0,50. Pada tingkatt pancang jenis Plangeh memiliki kerapatan paling tinggi dengan nilai kerapatan sebesar 904 ind/ha dan jenis Jambu-jambu sebesar 0,63. (Syzigium sp.) yang paling banyak ditemukan dengan nilai frekuensi Keanekaragamann jenis vegetasi ditunjukan oleh nilai indeks keanekaragaman Shanon-Wiener, dimana nilai indeks keanekaragaman pada seluruh tingkat vegetasi di lokasi penelitian berada pada kisaran angkaa 1,93 2,27

31 (Tabel 2). Jika dibandingkan dengan hutan konservasi lainnya, nilai indeks keanekaragaman yang diperoleh tergolong sedang. Lestari (2006) memperoleh nilai indeks keanekaragaman vegetasi di Taman Nasional Way Kambas sebesar 2,18 hingga 3,27. Menurut Soerianegara (1996), keanekaragaman jenis di suatu daerah tidak hanya dipengaruhi oleh banyaknya jenis saja melainkan juga dipengaruhi oleh banyaknya individu dari setiap jenis tersebut. Disamping itu, hingga saat ini belum diketahui mengenai ukuran tinggi rendahnya indeks keanekaragaman di suatu daerah. Namun di Indonesia, berdasarkan perhitungan pada berbagai tipe hutan diketahui bahwa nilai indeks keanekaragaman Shanon- Wiener sebesar >3,5 menunjukan keanekaragaman vegetasi tinggi. Seluruh vegetasi juga tidak menyebar secara merata ditunjukan dengan nilai indeks kemerataan yang tidak terlalu tinggi. Nilai indeks kemerataan yang semakin mendekati nilai 1 menunjukan penyebaran vegetasi yang semakin merata. Tabel 2 Indeks keanekaragaman dan indeks kemerataan daerah aliran sungai No. Tingkat Indeks Indeks Keanekaragaman (H ) Kemerataan (E) 1 Semai 1,93 0,63 2 Pancang 2,20 0,61 3 Tiang 2,27 0,68 4 Pohon 2,27 0,66 Rendahnya keanekaragaman dan kemerataaan vegetasi daerah aliran sungai pada lokasi penelitian dapat dipengaruhi oleh letak plot contoh yang berada ketinggian 1300 1600 mdpl dan termasuk dalam kelas hutan hujan pegunungan bawah. Keanekaragaman jenis vegetasi sangat dipengaruhi oleh faktor ketinggian dan iklim pada suatu wilayah karena setiap vegetasi memiliki tingkat adaptasi yang berbeda tergantung pada berbagai hal diantaranya dua faktor tersebut. Semakin jauh dari tepi sungai maka tingkat elevasi juga semakin tinggi dan kondisi lantai hutan semakin ditutupi oleh lumut-lumutan. Lumut tersebut tidak hanya menutupi lantai hutan namun juga menutupi batang tiang dan pohon. Kondisi lumut yang cukup tebal pada lantai hutan memberikan persaingan dalam memperoleh tempat untuk tumbuh terhadap anakan pohon (semai) dan tumbuhan bawah.

32 5.1.2. Kondisi Habitat Tiap Transek Pengambilan data vegetasi dilakukan pada tiga lokasi yang berbeda dengan panjang masing-masing transek adalah 700 meter untuk Jalur 1, 600 meter untuk Jalur 2, dan 700 meter untuk Jalur 3. Masing-masing transek memiliki nilai indeks keanekaragaman, indeks kemerataan, dan indeks kekayaan jenis yang berbeda seperti dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3 Indeks keanekaragaman, indeks kekayaan, dan indeks kemerataan tiap transek No Transek Tingkat Indeks 1. Jalur 1 2. Jalur 2 3. Jalur 3 Keanekaragaman (H ) Indeks Kekayaan (D Mg ) Indeks Kemerataan (E) Semai 1,44 2,08 0,58 Pancang 1,51 1,91 0,61 Tiang 1,51 2,06 0,63 Pohon 1,42 2,06 0,54 Semai 1,45 2,48 0,55 Pancang 1,47 3,56 0,52 Tiang 1,66 2,54 0,65 Pohon 1,78 2,83 0,61 Semai 1,88 2,59 0,71 Pancang 2,47 4,90 0,75 Tiang 2,54 4,97 0,80 Pohon 2,44 4,71 0,73 Jumlah Temuan Perjumpaan Tapir 3 Bentuk Temuan Perjumpaan Tapir Kotoran (2) Tapak (1) 2 Tapak (2) 4 Kotoran (2) Tapak(2) Indeks kesamaan jenis vegetasi dan dendogram menunjukan seberapa kesamaan antar komunitas vegetasi antar transek (Tabel 4 dan Gambar 14). Tabel 4 Indeks kesamaan jenis vegetasi tiap transek Transek 1 Transek 2 Transek 3 Transek 1 1 0,46 0,38 Transek 2 1 0,38 Transek 3 1

33 Jalur 1 Jalur 2 Jalur 3 0,46 0,38 0,5 0,4 0,3 Gambar 14 Dendrogram kesamaan jenis vegetasi antar jalur. Transek 1 dan transek 2 memiliki nilai indeks kesamaan tertinggi sebesar 0,46 artinya kedua transek tersebut memiliki kesamaan komunitas jenis vegetasi tertinggi dibandingkan terhadap transek 3. Hal ini dapat terjadi karena jarak antar transek 1 dan transek 2 cukup dekat yaitu hanya berkisar antara 100 meter hingga 200 meter memotong hulu sungai Plangai dengan arah yang berlawanan. Meskipun demikian, perbedaan nilai indeks kesamaan vegetasi tidak bernilai cukup besar karena kondisi habitat ketiga transek tersebut sama yaitu mewakili satu tipe habitat hutan hujan pegunungan bawah yang belum terganggu. Dilihat dari nilai indeks keanekaragaman, indeks kekayaan, dan indeks kemerataan dari transek 1 hingga transek 3 menunjukan peningkatan nilai indeks. Begitu juga dengan penemuan tapir secara tidak langsung berupa tapak dan kotoran menunjukan penambahan tingkat pertemuan yaitu 3 temuan pada transek 1, 2 temuan pada transek 2, dan 4 temuan pada transek 3. Pada seluruh jalur, jarak antara tepi sungai dan punggungan gunung cukup dekat sehingga pada jarak 100 hingga 300 meter dari tepi sungai pada seluruh transek telah ditemukan jalur satwa pada punggungan gunung. Jalur satwa tersebut diindikasi sebagai jalur satwa aktif terlihat dari bukaan jalur akibat pergerakan/perpindahan satwa. Jalur tersebut cukup lurus mengikuti punggungan gunung dan memiliki kelerengan curam pada kiri kanannya. Tapir termasuk satwa yang menggunakan jalur tesebut karena ditemukan tapak dan kotoran tapir pada jalur-jalur satwa tersebut. Menurut Rakhmat (1999), dalam melakukan gerak berpindah, tapir cenderung berjalan lurus dalam jalan utamanya namun apabila dalam perjalananya tapir menemukan tumbuhan pakannya maka aktivitas gerak berpindah akan diselingi dengan aktivitas makan.

34 Berbeda dengan jalur pada punggungan gunung, pada jarak 100 hingga 300 meter dari tepi sungai tidak ditemukan jalur satwa yang tetap. Tumbuhan bawah dan semai juga terlihat lebih rapat. Mekipun demikian tetap ditemukan temuan tapak dan kotoran tapir dan satwa lainnya dengan pola yang tidak beraturan. Jenis pohon yang tumbuh pada daerah ini juga lebih beragam dibandingkan dengan daerah punggungan gunung yang cenderung lebih mengelompok dan didominasi pada jenis tertentu saja. 5.2. Komponen dalam Pemodelan Kesesuaian Habitat Tapir 5.2.1. Ketinggian Tempat Tapir ditemukan diberbagai ketinggian pada semua habitat dari dataran rendah yaitu pada hutan payau dengan ketinggian 50 m dpl hingga hutan dataran tinggi dengan ketinggian 2.400 m dpl (Holden et al. 2003). Santiapillai dan Ramono (1990) mengatakan bahwa tapir dapat ditemukan pada berbagai tipe hutan Sumatera seperti hutan rawa, hutan dataran rendah, hutan perbukitan, dan hutan pegunungan bawah. Hasil analisis peta diketahui lokasi penelitian berada pada ketinggian 545 2.011 m dpl. Oleh karena itu berdasarkan ketinggian tempat, lokasi penelitian dibedakan menjadi tiga tipe hutan yaitu tipe hutan dataran rendah dan perbukitan (lowland and hill forest) dengan ketinggian 0-600 m dpl, hutan pegunungan bawah (sub-montana forest) dengan ketinggian 600-1.500 m dpl dan hutan pegunungan (montana forest) dengan ketinggian >1.500 m dpl. Luas masingmasing tipe hutan dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5 Luas tiap kelas ketinggian No Kelas Ketinggian (m pdl) Tipe Hutan Luas (Ha) 1 0-600 Dataran rendah dan perbukitan 41,58 2 600 1.500 Pegunungan bawah 20.918,43 3 >1.500 Pegunungan 6.222,33 Hasil identifikasi 71 jejak tapir yang ditemukan di lokasi penelitian terhadap ketinggian tempat, tapir lebih banyak ditemukan pada hutan pegunungan bawah (35 jejak) dan hutan pegunungan (36 jejak). Hal ini dikarenakan lokasi penelitian lebih didominasi oleh kedua tipe hutan tersebut dibandingkan dengan

35 hutan dataran rendah dan hutan perbukitan. Kondisi hutan dataran rendah dan perbukitan pada lokasi penelitian umumnya telah banyak berubah fungsi menjadi lahan pertanian, perkebunan, dan pemukiman manusia. Peta ketinggian pada lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 15. 5.2.2. Kemiringan Lereng Jaya (2002) mendefinisikan kemiringan lereng atau slope merupakan ukuran kemiringan dari suatu permukaan yang dapat dinyatakan dalam derajat atau persen. Menurut Novarino et al. (2005), tapir lebih menyukai daerah yang datar dan basah dibandingkan dengan daerah yang kering dan memiliki topografi dan kemiringan yang curam. Pengelompokan kelas kemiringan lereng didasarkan pada tabel kriteria penetapan hutan lindung menurut SK Menteri Pertanian No. 837/Kpts/Um/II/1980. Luas masing-masing kelas kemiringan lereng dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6 Luas tiap kelas kemiringan lereng No Kemiringan Lereng (%) Kategori Kelas Kemiringan Lereng Luas (Ha) 1 0-8 Datar 458,19 2 8 15 Landai 1.501,47 3 15 25 Agak Curam 4.692,06 4 25 40 Curam 10.571,47 5 >40 Sangat Curam 9.958,95 Hasil identifikasi jejak tapir yang ditemukan di lokasi penelitian terhadap kemiringan lereng, tapir lebih banyak ditemukan pada daerah yang agak curam (19 jejak). Temuan tapir juga banyak ditemukan pada daerah curam (17 jejak), sangat curam (17 jejak), dan landai (15 jejak). Temuan jejak tapir sangat sedikit ditemukan pada kelerengan datar (3 jejak) karena pada lokasi penelitian sangat sedikit daerah yang kemiringan lerengnya datar. Peta kemiringan lereng pada lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 16.

Gambar 15 Peta Ketinggian. 36

Gambar 16 Peta kemiringan lereng. 37

38 5.2.3. Jarak dengan Sungai TNKS mempunyai peran hidrologi yang penting dalam menyediakan air untuk wilayah sekitarnya karena TNKS cukup banyak dialiri oleh sungai-sungai besar. Terdapat beberapa sungai besar yang mengalir pada lokasi penelitian, diantaranya Sungai Lengayang, Sungai Plangai dan Sungai Belantik. Sungaisungai besar di daerah ini lebih kenal dengan sebutan batang sehingga sebutannya menjadi Batang Lengayang, Batang Plangai, dan Batang Belantik. Selain dialiri oleh sungai besar, lokasi penelitian juga banyak dialiri oleh anakanak sungai (sungai kecil) yang mengalir sepanjang tahun. Air merupakan kebutuhan pokok bagi makhluk hidup. Alikodra (1990) menyebutkan salah satu faktor pembatas yang sangat penting bagi kehiudpan satwaliar adalah air. Berdasarkan penelitian Rakhmat (1999) tapir lebih sering menggunakan air sungai untuk keperluan sebagai air minum dan mandi meskipun kebutuhan akan air juga didapat oleh tapir dari vegetasi pakannya terutama dari pucuk daun dan ranting muda. Dari segi ketergantungan terhadap air, tapir dikategorikan sebagai binatang water dependent species, artinya binatang yang memerlukan air untuk penghancuran makannya dan memerlukan air setiap hari untuk berkubang/mandi Pada penelitian kali ini, pembagian kelas jarak dengan sungai dibagi menjadi 5 kelas dengan jarak antar kelas sebesar 250 m. Luas masing-masing kelas jarak dengan sungai dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7 Luas tiap kelas jarak dengan sungai No Jarak dengan Sungai (m) Luas (Ha) 1 0-250 19.168,74 2 250 500 6.899,94 3 500 750 971,73 4 750 1.000 129,42 5 >1.000 12,51 Hasil identifikasi 71 jejak tapir yang ditemukan di lokasi penelitian terhadap jarak dengan sungai, hampir seluruh jejak (68 jejak) berada di jarak 0 500 m dari sungai yaitu 31 jejak pada jarak 0-250 m dan 37 jejak pada jarak 250-500 m. Hanya 1 jejak yang berada pada jarak 500 750 m dan 2 jejak yang berada

39 pada jarak 750 1.000 m. Tidak ditemukan jejak tapir yang berada pada jarak lebih dari 1.000 m. Peta jarak dengan sungai dapat dilihat pada Gambar 17. 5.2.4. Jarak dengan Jalan Menurut Pinard et al. (1996) diacu dalam Meijaard et al. (2007) jalan, jalan sarad, dan hutan yang dikonversi untuk penggunaan lain memberikan dampak terhadap satwaliar selain dampaknya terhadap habitat, dengan isu utamanya adalah berkurangnya konektivitas hutan, penurunan luas habitat, dan peningkatan aksesibilitas yang meningkatkan tekanan perburuan, serta menghambat regenerasi hutan. Rakmat (1999) mengatakan bahwa pembukaan jalan makin memberikan kemudahan bagi peladang berpindah untuk membuka ladangnya yang akan memutuskan jalur jelajah tapir dan mengancam kelangsungan hidup tapir karena tapir dianggap sebagai perusak ladang/hama. Pada penelitian kali ini, pembagian kelas jarak dengan jalan dibagi menjadi 5 kelas dengan jarak antar kelas sebesar 500 m. Luas masing-masing kelas jarak dengan jalan dapat dilihat pada Tabel 8. Tabel 8 Luas tiap kelas jarak dengan jalan No Jarak dengan Jalan (m) Luas (Ha) 1 0-500 100,98 2 500 1.000 176,49 3 1.000 1.500 275,04 4 1.500 2.000 469,17 5 >2.000 26.160,66 Hasil identifikasi 71 jejak tapir yang ditemukan di lokasi penelitian terhadap jarak dengan jalan, seluruh jejak berada di jarak lebih dari 2.000 m dari jalan. Jalan yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu berupa jalan raya aspal yang biasa digunakan oleh manusia sebagai akses transportasi. Kondisi jarak jalan dengan kawasan hutan memang cukup jauh karena jalan tidak berbatasan langsung dengan hutan. Pada kiri dan kanan jalan lebih didominasi dengan persawahan, perkebunan, dan lahan terbangun. Namun terdapat jalan yang telah masuk dalam kawasan TNKS dan terdapat bukaan lahan pada kiri kanan jalan tersebut. Peta jarak dengan jalan dapat dilihat pada Gambar 18.

Gambar 17 Peta jarak dengan sungai. 40

Gambar 18 Peta jarak dengan jalan. 41

42 5.2.5. Jarak dengan Tepi Hutan Berdasarkan hasil identifikasi dan klasifikasi Citra Landsat TM tahun 2008 pada wilayah lokasi penelitian dan sekitarnya, diperoleh 7 jenis penutupan lahan berupa hutan, kebun, semak, ladang, sawah, lahan terbuka, dan badan air. Tutupan lahan berupa hutan mendominasi tutupan lahan pada lokasi penelitian seperti dapat dilihat pada Gambar 19. Meskipun demikian terdapat semak, kebun dan lahan terbuka pada daerah yang seharusnya berupa hutan dan masuk dalam kawasan TNKS. Semak dan lahan terbuka dapat terjadi akibat proses alami contohnya seperti akibat tumbangnya pohon dan proses erosi akibat kemiringan lereng yang sangat curam sehingga pada daerah tersebut didominasi oleh semak. Namun faktor gangguan manusia akibat pembukaan lahan hutan lebih besar pengaruhnya dilihat dari bukaan lahan hutan pada daerah tepi-tepi hutan yang berubah fungsi menjadi kebun. Menurut Rakhmat (1999), tekanan terhadap habitat dan kelangsungan hidup tapir oleh kegiatan manusia berupa kegiatan perkebunan dan perladangan merupakan ancaman yang sangat serius karena tapir dianggap sebagai satwa hama yang merusak tanaman. Ketika dalam pola jelajahnya (90-100 hari) tapir kembali ke tempat semula yang keadaannya telah berubah fungsi menjadi kebun atau ladang, maka tapir akan cenderung merusak tanaman. Karena hal ini tapir lebih dianggap sebagai hama dan kelangsungan hidupnya akan terancam karena pihak pemilik perkebunan atau peladang akan berusaha untuk memusnahkan tapir dengan berbagai cara termasuk meracun dan menembak. Menurut Santiapilai dan Ramono (1990), terdapat beberapa catatan yang menunjukan keberadaan tapir di kebun sawit, selain itu tapir juga terlihat melintasi pemukiman penduduk ataupun pemukiman petugas di HPH. Pada penelitian kali ini, pembagian kelas jarak dengan tepi hutan dibagi menjadi 5 kelas dengan jarak antar kelas sebesar 250 m. Luas masing-masing kelas jarak dengan jalan dapat dilihat pada Tabel 9.

Gambar 19 Peta tutupan lahan. 43

44 Tabel 9 Luas tiap kelas jarak dengan tepi hutan No Jarak dengan Tepi Hutan (m) Luas (Ha) 1 0-250 4.913,46 2 250 500 2.982,96 3 500 750 2.522,43 4 750 1.000 2.584,17 5 >1.000 14.179,32 Hasil identifikasi 71 jejak tapir yang ditemukan di lokasi penelitian terhadap jarak dengan tepi hutan, sebanyak 27 titik berada di jarak lebih dari 1.000 m dan jejak lainnya tersebar dengan jumlah jejak lebih sedikit pada masingmasing kelas yaitu 14 jejak pada jarak 0 250 m, 15 jejak pada jarak 250 500 m, 6 jejak pada jarak 500 750 m, dan 9 jejak pada jarak 750 1.000 m. Peta jarak dengan tepi hutan dapat dilihat pada Gambar 20. 5.2.6. Nilai Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) Indeks vegetasi digunakan untuk mengukur biomassa atau intensitas vegetasi di permukaan bumi dengan pengukuran kuantitatif berdasarkan digital number dari data penginderaan jauh (Tampubulon et al. 2009). Salah satu metode umum yang digunakan untuk menghitung indeks vegetasi adalah NDVI (Normalized Difference Vegetation Index). Nilai NDVI menggambarkan penutupan vegetasi di atas permukaan tanah dengan nilai kecerahan yang berbedabeda diperoleh dari penerimaan gelombang elektromagnetik merah (red) dan infra merah dekat (near IR). Nilai NDVI -1 0 menunjukan tutupan lahan berupa badan air (air ataupun es), nilai 0 0,1 menunjukan tanah terbuka, dan nilai >0,1 menunjukan vegetasi (Anonim 2002). Tapir merupakan satwa yang memerlukan biomassa vegetasi tinggi dilihat dari kebutuhannya akan kerapatan tajuk untuk bernaung dan ketersediaan tumbuhan bawah, semai, dan pancang untuk pakannya. Hasil analisis regresi antara NDVI dan kerapatan vegetasi diperoleh persamaan sebagai berikut: Y = 0,629 + (1,24x10-7 )X Keterangan : Y X = NDVI = Kerapatan total vegetasi (ind/ha)

Gambar 20 Peta jarak dengan tepi hutan. 45

46 Nilai probabilitas yang diperoleh dari persamaan tersebut bernilai >0,05 yakni sebesar 0,933 dengan demikian model persamaan tidak signifikan sehingga model tidak dapat diterima. Nilai koefisien korelasi (r) yang dihasilkan analisis regresi sebesar 0,033. Hal ini menunjukan bahwa kerapatan vegetasi memiliki hubungan korelasi yang positif namun tidak kuat terhadap nilai NDVI. Lemahnya keeratan hubungan antara kerapatan vegetasi dan nilai NDVI juga ditunjukan oleh nilai koefisien determinan (R square) yang sangat kecil yaitu bernilai 0,1%. Semakin kecil nilai koefisien determinan maka data semakin menyebar menjauhi garis linier seperti terlihat pada Gambar 21. Lemahnya keeratan hubungan antara kerapatan vegetasi dan nilai NDVI dapat terjadi karena nilai NDVI yang dihasilkan dari analisis peta dipengaruhi oleh faktor lain salah satunya faktor kemiringan lereng. Kemiringan lereng dapat menyebabkan perbedaan digital number yang diterima oleh satelit khususnya untuk penerimaan gelombang elektromagnetik merah (red) dan infra merah dekat (near infrared). 0.68 NDVI 0.66 0.64 0.62 0.60 0.58 5000.00 10000.00 15000.00 20000.00 25000.00 Kerapatan total vegetasi 30000.00 Gambar 21 Diagram pencar nilai yang diamati antara kerapatan vegetasi dan nilai NDVI. Dengan demikian pada penelitian kali ini, pembagian kelas nilai NDVI dibagi menjadi 3 kelas dengan luas masing-masing kelas nilai NDVI dapat dilihat pada Tabel 10.

47 Tabel 10 Luas tiap kelas nilai NDVI No Nilai NDVI Luas (Ha) 1-1 - 0,25 291,33 2 0,25 0,5 823,75 3 0,5 1 26.065,26 Hasil identifikasi 71 jejak tapir yang ditemukan di lokasi penelitian terhadap nilai NDVI, sebanyak 64 jejak berada di rentang nilai NDVI 0,5 1. Hanya 6 jejak yang berada direntang 0,25 0,5 dan hanya 1 jejak yang mempunyai nilai kurang dari 0,25. Peta nilai NDVI dapat dilihat pada Gambar 22. 5.3. Model Kesesuaian Habitat Penentuan bobot untuk mendapatkan model kesesuaian habitat tapir diperoleh dengan menggunakan Analisis Komponen Utama (Principal Component Analysis / PCA) berdasarkan hasil analisis spasial 71 jejak tapir terhadap 6 variabel habitat tapir yang diteliti meliputi ketinggian, kemiringan lereng, jarak dengan sungai, jarak dengan jalan, jarak dengan tepi hutan, dan nilai NDVI (Lampiran 3). PCA akan menghasilkan komponen utama sesuai dengan jumlah variabel yang digunakan namun banyaknya komponen utama yang dijelaskan tergantung pada jumlah keragaman kumulatif yang dapat dijelaskan. Menurut Timm (1975) diacu dalam Paraira (1999), jumlah komponen utama yang dapat digunakan dianggap cukup mewakili jika keragaman kumulatifnya mencapai 70%-80%. Dari hasil PCA diperoleh 6 komponen utama dengan keragaman total seperti dapat dilihat pada Tabel 11. Komponen utama yang dapat digunakan yaitu 3 komponen utama pertama dengan nilai keragaman kumulatif mencapai 72,924%. Tabel 11 Total keragaman yang dijelaskan Akar Ciri Komponen Total % Keragaman % Kumulatif 1 2,015 33,583 33,583 2 1,233 20,552 54,135 3 1,127 18,790 72,924

Gambar 22 Peta Nilai NDVI. 48

49 Komponen Akar Ciri Total % Keragaman % Kumulatif 4 0,717 11,951 84,876 5 0,523 8,710 93,586 6 0,385 6,414 100,000 Hasil analisis tersebut kemudian digunakan untuk menetapkan bobot masing-masing variabel. Keeratan hubungan antara keenam variabel habitat dengan komponen utama dapat dilihat dari vektor ciri dari PCA yang disajikan dalam Tabel 12. Tabel 12 Vektor ciri PCA Komponen Utama Variabel 1 2 3 Ketinggian -0,260 0,697-0,503 Kemiringan Lereng 0,582 0,342 0,403 Jarak dengan Sungai 0,542 0,573 0,281 Jarak dengan Jalan 0,846-0,105 0,032 Jarak dengan Tepi Hutan 0,630-0,509-0,357 Nilai NDVI -0,451-0,179 0,710 Bobot masing-masing variabel untuk mendapatkan model kesesuaian habitat tapir diperoleh dari nilai vektor ciri PCA masing-masing variabel yang mempunyai nilai positif tertinggi terhadap komponen utama yang dihasilkan. Hasil diatas menunjukan bahwa variabel kemiringan lereng, jarak dengan jalan, dan jarak dengan tepi hutan mempunyai hubungan positif yang tinggi terhadap komponen utama pertama. Sedangkan variabel ketinggian dan jarak dengan sungai mempunyai hubungan positif yang tinggi terhadap komponen kedua. Dan terakhir variabel nilai NDVI mempunyai hubungan positif yang tinggi terhadap komponen utama ketiga. Dengan demikian besarnya bobot masing-masing variabel kesesuaian habitat dapat dilihat pada Tabel 13. Tabel 13 Bobot masing-masing variabel No Variabel Nilai bobot 1 Kemiringan Lereng 2,015 2 Jarak dengan Jalan 2,015 3 Jarak dengan Tepi Hutan 2,015 4 Ketinggian 1,233 5 Jarak dengan Sungai 1,233 6 Nilai NDVI 1,127

50 Dari nilai bobot tersebut maka dapat diketahui model Kesesuian Habitat Tapir dengan persamaan sebagai berikut : Y = (1,233 x Fk1) + (2,015 x Fk2) + (1,233 x Fk3) + (2,015 x Fk4) + (2,015 x Fk5) + (1,127 x Fk6) Keterangan : Y = Kesesuaian Habitat Tapir Fk1 = Faktor Ketinggian Fk2 = Faktor Kemiringan Lereng Fk3 = Faktor Jarak dengan Sungai Fk4 = Faktor Jarak dengan Jalan Fk5 = Faktor Jarak dengan Tepi Hutan Fk6 = Faktor nilai NDVI 5.4. Peta Kesesuaian Habitat Tapir Untuk menghitung nilai Kelas Kesesuaian Habitat Tapir dengan menggunakan model persamaan di atas, dilakukan proses tumpang tindih (overlay) terhadap masing-masing variabel habitat yang digunakan. Sebelum melakukan proses tersebut, terlebih dahulu dilakukan proses pengkelasan (class) yaitu pengkelasan tiap variabel habitat untuk dilakukan pengharkatan (scoring/skor) tiap kelas dari masing-masing variabel. Dimana nilai skor dari tiap kelas dalam satu variabel berbeda antara satu dengan yang lain seperti dapat dilihat pada Tabel 14. Tabel 14 Skor tiap variabel Variabel Kelas Skor 0-600 3 Ketinggian (mdpl) 600 1.500 2 >1.500 1 0 8 5 8 15 4 Kelerengan (%) 15 25 3 25 40 2 >40 1 0-250 5 250-500 4 Jarak dengan sungai (m) 500-750 3 750 1.000 2 1.000 1.250 1

51 Variabel Kelas Skor >2000 5 1.500 2.000 4 Jarak dengan jalan (m) 1.000 1.500 3 500 1.000 2 0-500 1 >1.000 5 750 1.000 4 Jarak dengan tepi hutan (m) 500-750 3 250-500 2 0-250 1 > 0,5 3 Nilai NDVI 0,25 0,5 2-1 0,25 1 Hasil analisis spasial dengan metode pembobotan, pengkelasan (class), pengharkatan/skoring (scoring), dan tumpang tindih (overlay) menghasilkan nilai piksel terendah adalah 16,824 dan tertinggi 43,47. Dengan standar deviasi sebesar 4,265; rata-rata sebesar 32,557 dan median sebesar 33,621. Untuk menentukan kelas kesesuaian habitat tapir terlebih dahulu dicari nilai selang antar kelas kesesuaian, yaitu dengan membagi rata selisih antara nilai piksel tertinggi dan nilai piksel terendah dengan jumlah kelas kesesuian habitat. Dalam penelitian kali ini, kelas kesesuaian habitat tapir dibagi menjadi tiga kelas yaitu kesesuaian rendah, kesesuaian sedang, dan kesesuaian tinggi. Nilai skor dan luas masingmasing kelas kesesuaian habitat tapir dapat dilihat pada Tabel 15. Dan peta kesesuaian habitat tapir dapat dilihat pada Gambar 22. 43,47 16,824 Selang 8,882 3 Tabel 15 Skor dan luas tiap kelas kesesuaian habitat Kelas Skor Luas (Ha) Persentase Kesesuaian rendah 16,824 25,706 1.979,73 7,28% Kesesuaian sedang 25,706 34,588 15.638,76 57,54% Kesesuaian tinggi > 34,588 9.563,85 35,18% Daerah kelas kesesuaian rendah didominasi oleh kelas ketinggian 600-1.500 m dpl berupa hutan pegunungan bawah, kemiringan lereng yang sangat curam (>40%), jarak dari sungai 0-250 m, jarak dari jalan lebih dari 2.000 m, jarak dari tepi hutan 0 250 m, dan nilai NDVI lebih dari 0,5. Daerah kelas

Gambar 23 Peta kesesuaian habitat Tapir. 52

53 kesesuaian sedang didominasi oleh kelas ketinggian 600-1.500 m dpl berupa hutan pegunungan bawah, kemiringan lereng yang sangat curam (>40%), jarak dari sungai 0-250 m, jarak dari jalan lebih dari 2.000 m, jarak dari tepi hutan lebih dari 2.000 m, dan nilai NDVI lebih dari 0,5. Daerah kelas kesesuaian tinggi didominasi oleh kelas ketinggian 600-1.500 m dpl berupa hutan pegunungan bawah, kemiringan lereng yang curam (25-40%), jarak dari sungai 0-250 m, seluruhnya berada pada jarak dari jalan lebih dari 2.000 m, jarak dari tepi hutan lebih dari 2.000 m, dan nilai NDVI lebih dari 0,5. Dilihat dari peta kesesuaian habitat tapir yang dihasilkan, batas kawasan TNKS termasuk pada daerah kesesuaian sedang. Hal ini menunjukan daearah tersebut memiliki potensi sebagai daerah yang sesuai untuk wilayah jelajah tapir meskipun ketika pengamatan tidak ditemukan jejak tapir pada daerah tersebut. Bentuk tutupan lahan pada daerah batas kawasan TNKS lebih banyak berupa kebun dan semak. Hal ini akan mengancam kelestarian tapir mengingat tapir dianggap sebagai satwa hama oleh masyarakat. 5.5. Validasi Model Validasi model dilakukan untuk menerima model yang telah dibangun dengan tingkat kepercayaan tinggi (lebih dari 85%) pada kelas kesesuaian sedang dan tinggi. Validasi model kesesuaian habitat tapir menggunakan 35 jejak tapir pada saat survei lokasi penelitian. Nilai validasi diperoleh dengan membagi banyaknya jejak tapir pada suatu kelas kesesuaian terhadap total jejak tapir yang ditemukan. Hasil validasi tiap kelas kesesuaian habitat tapir dapat dilihat pada Tabel 16. Tabel 16 Validasi tiap kelas kesesuaian habitat tapir Kelas Kesesuaian Jumlah Jejak Tapir Validasi (%) Kesesuaian rendah 0 0 Kesesuaian sedang 20 57,14 Kesesuaian tinggi 15 42,86 Hasil validasi menunjukan model kesesuaian habitat tapir dapat diterima 100% pada kelas kesesuaian sedang dan tinggi. Artinya model yang dibangun cukup representatif untuk menunjukan daerah kesesuaian habitat tapir dengan kelas kesesuaian sedang dan kesesuaian tinggi. Namun demikian, dilihat dari tingginya nilai validasi

54 pada kelas kesesuaian sedang dibandingkan pada kelas kesesuaian tinggi menunjukan model yang dibangun belum memberikan hasil yang optimal, artinya terdapat komponen habitat lain yang mempengaruhi kesesuaian habitat tapir selain dari enam komponen habitat yang digunakan untuk membangun model. Hal ini dapat disebabkan karena komponen habitat yang digunakan dalam membangun model belum mewakili komponen habitat yang sensitif sangat diperlukan oleh tapir karena komponen habitat yang digunakan dalam membangun model lebih banyak berupa komponen abiotik yang bersifat struktural seperti faktor ketinggian, kemiringan lereng, jarak dari jalan, dan jarak dari tepi hutan. Kesesuaian habitat tapir dipengaruhi oleh komponen habitat biotik yang bersifat fungsional seperti ketersediaan pakan, sesapan (salt lick), teduhan, dan lindungan. Faktor jarak dengan sungai dan nilai NDVI belum cukup mewakili komponen habitat biotik yang bersifat fungsional dalam membangun model kesesuaian habitat tapir. Kebutuhan tapir akan pakan, teduhan, dan lindungan belum dapat diwakili oleh nilai NDVI karena nilai NDVI yang dihasilkan pada penelitian kali ini sangat dipengaruhi oleh kemiringan lereng dan kurang sesuai diterapkan untuk daerah penelitian yang kemiringan lerengnya sangat bervariasi. Ditjen PHKA (Inpress) mengatakan bahwa faktor penting yang sangat berperan bagi kelestarian tapir adalah keberadaan sesapan untuk memenuhi kebutuhan unsur mikro bagi tapir dan dalam memenuhi kebutuhannya tersebut tapir terkadang melakukan perjalanan yang jauh. Untuk membangun model kesesuaian habitat tapir dengan tingkat kesesuaian tinggi, maka sangat diperlukan informasi spasial mengenai pakan, teduhan, lindungan, dan keberadaan sesapan. Namun untuk memperoleh informasi tersebut dibutuhkan waktu pengamatan yang cukup lama.