BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA. Teknis Panen

I. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman kelapa sawit biasanya mulai menghasilkan buah pada umur 3-4

TINJAUAN PUSTAKA. Panen merupakan salah satu kegiatan yang penting pada pengelolaan

TINJAUAN PUSTAKA. apabila seluruh kondisi perlakuan dilaksanakan dengan baik.

PANEN KELAPA SAWIT Pengrtian Panen Sistim Panen 2.1 Kriteria Matang Panen 2.2 Komposisi TBS Fraksi Komposisi (%) Kematangan

TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit Syarat Tumbuh

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Produktivitas Tanaman Kelapa Sawit Potensi produksi tanaman kelapa sawit ditentukan oleh beberapa faktor sebagai berikut.

PEMBAHASAN Kebutuhan Tenaga Panen

TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit

PEMBAHASAN. I.1 Peralatan Panen

SIMULASI HUBUNGAN ANTARA FRAKSI KEMATANGAN BUAH DAN TINGGI POHON TERHADAP JUMLAH BUAH MEMBRONDOL TANAMAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq)

PEMBAHASAN Penetapan Target

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Kelapa Sawit

segar yang dipanen dapat masuk ke pabrik pada hari yang sama.

II. TINJAUAN PUSTAKA. Panen adalah serangkaian kegiatan kegiatan dimulai dari memotong

I. TINJAUAN PUSTAKA. mandor panen. Rumus peramalan produksi harian yaitu : P = L x K x T x B. L = Luas areal yang akan dipanen (ha)

TEKNIK PENANGANAN KEHILANGAN (LOSSES) BRONDOLANKELAPA SAWIT PADA AREAL BERBUKIT DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT PT

II. TINJAUAN PUSTAKA. pengumpulan hasil (TPH) berikut brondolannya (Vademecum PTPN IV, 2010).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN

TINJAUAN PUSTAKA Manajemen Agribisnis Kelapa Sawit Syarat Tumbuh Kelapa Sawit

I. U M U M. TATA CARA PANEN.

V. ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN. biaya tenaga kerja, biaya per tanaman, biaya per hektar, biaya per blok dan biaya

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2013, No.217 8

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

MANAJEMEN PANEN TANAMAN KELAPA SAWIT

PEMBAHASAN. Tabel 13. Potensi Produksi Kebun Inti 1. Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des

PENDAHULUAN. yang penting di Indonesia dan memiliki prospek pengembangan yang cukup

PEMBAHASAN. Tabel 11. Rencana dan Realisasi Pemupukan Kebun Mentawak PT JAW Tahun 2007 dan 2008.

I. PENDAHULUAN. Menurut data Ditjen Perkebunan, areal perkebunan kelapa sawit tersebar di 17 provinsi

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 395/Kpts/OT.140/11/2005 TENTANG

KAJIAN KEGIATAN PANEN DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

PEMBAHASAN Manajemen Panen Teluk Siak Estate

I. PENDAHULUAN. Peluang usaha membudidayakan kelapa sawit di Indonesia sangatlah besar.

TINJAUAN PUSTAKA. serta genus Elaeis dengan spesies Elaeis guineensis Jacq. 8 m ke dalam tanah dan 16 m tumbuh ke samping (PANECO, dkk., 2013).

BAB I PENDAHULUAN. Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan komoditas perkebunan unggulan

TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit

PEMBAHASAN. Kriteria Panen. Tabel 9. Kriteria panen divisi II Unit Kebun Pinang Sebatang Estate. Kriteria panen oleh pemanen

Manajemen Panen Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Sungai Bahaur Estate, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

MATERI PEMBELAJARAN MANAJEMEN PANEN DAN PASCA PANEN KELAPA SAWIT

MEMANEN KELAPA SAWIT. Pendahuluan

Manajemen Panen Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Di Kebun Tambusai Kec. Tambusai, Kabupaten Rokan Hulu, Riau

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 14/Permentan/OT.140/2/2013 TENTANG PEDOMAN PENETAPAN HARGA PEMBELIAN TANDAN BUAH SEGAR KELAPA SAWIT PRODUKSI PEKEBUN

PENGELOLAAN PEMANENAN TANAMAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq. ) DI PERKEBUNAN UJAN MAS PT CIPTA FUTURA, MUARA ENIM, SUMATERA SELATAN.

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 395/Kpts/OT.140/11/2005 TENTANG

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

KAJIAN KEGIATAN PANEN DAN PRODUKSI KELAPA SAWIT

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN PERTANIAN. Kelapa Sawit. Pembelian Produksi Pekebun.

II. TINJAUAN PUSTAKA

KAJIAN PANEN DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

II. TINJAUAN PUSTAKA. terletak di daerah tropis atau subtropis. Perkebunan digunakan untuk

PENGELOLAAN TENAGA KERJA PANEN DAN SISTEM PENGANGKUTAN TANDAN BUAH SEGAR KELAPA SAWIT

AGRIBISNIS TANAMAN PERKEBUNAN

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANG (PKL) BUDIDAYA KELAPA SAWIT DI PT. BUDIDUTA AGROMAKMUR DESA JAHAB KECAMATAN LOA KULU, KABUPATEN KUTAI KARTENEGARA

Pengelolaan Panen Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Riau. Harvest Management of Oil Palm (Elaeis guineensis Jacq.) in Riau

PT. BANGKITGIAT USAHA MANDIRI

PEMBAHASAN Persiapan Panen Sistem Panen

PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG. Pelaksanaan Teknis

Makalah Seminar Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor

Ringkasan. Agro Masang Perkasa III (AMP-III) Tapian kandis, Kecamatan Palembayan, Kabupaten

VI. PENINGKATAN MUTU PRODUK KOMODITAS BERBASIS KELAPA SAWIT

Pengelolaan Pemanenan dan Transportasi Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Bangun Bandar Estate, Sumatera Utara

Produksi dan Panen Kelapa Sawit

LAPORAN AKHIR PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA PENERAPAN TEKNOLOGI

PEMBAHASAN (A) (B) (C) (D) Gambar 13. TBS Yang Tidak Sehat (A) Buah Mentah dan Abnormal, (B) Buah Sakit, (C) Buah Batu dan (D) Buah Matang Normal

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANG DI PT

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANG (PKL) BUDIDAYA KELAPA SAWIT DI PT

METODE MAGANG. Tempat dan Waktu

PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG

II. TINJAUAN PUSTAKA

TEKNIK TANAM MIRING KELAPA SAWIT di LAHAN GAMBUT Pengalaman Replanting di PT. Perkebunan Nusantara IV

Pengelolaan Panen Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Kota Waringin Timur, Kalimantan Tengah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANG (PKL) DI PT. BUDIDUTA AGROMAKMUR KECAMATAN LOAKULU KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA PROPINSI KALIMANTAN TIMUR

guineensis Jacq. Kata Elaeis berasal dari kata Elaion dari bahasa Yunani yang

TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit

III. BAHAN DAN METODE

I.PENDAHULUAN. yang mengalami pertumbuhan produksi yang cukup pesat dibandingkan dengan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Kelapa sawit sebenarnya sudah ada sejak zaman panjajahan Belanda ke

PENDAHULUAN Tanaman kelapa sawit merupakan tidak lepas dari peran perusahaan tanaman perkebunan yang sangat perkebunan besar baik milik negara

KASTRASI DAN MANAJEMEN KANOPI. Disampaikan Pada Materi Kelas PAM

TINJAUAN PUSTAKA. Faktor Lingkungan Tumbuh Kelapa Sawit

TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit

TINJAUAN PUSTAKA. di tempat pengumpulan hasil, pelepahdi letakan di gawangan mati.

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANG BUDIDAYA KELAPA SAWIT DI PT

MANAJEMEN PANEN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) DI KEBUN SEI DADAP PTPN III ASAHAN SUMATERA UTARA BINA MANASEH SIANIPAR

PELAKSANAAN MAGANG. Aspek Teknis

KAJIAN JUMLAH TANDAN BUAH SEGAR DAN GRADING DI PT. SAWIT SUKSES SEJAHTERA KECAMATAN MUARA ANCALONG KABUPATEN KUTAI TIMUR PROPINSI KALIMANTAN TIMUR

PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG

KAJIAN KEGIATAN PANEN DAN PRODUKSI DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANG (PKL) DI PT. PERKEBUANAN NUSANTARA VII (Persero) UNIT BEKRI KAB. LAMPUNG TENGAH PROV. LAMPUNG. Oleh :

guineensis berasal dari kata Guinea yaitu merupakan nama suatu daerah di Pantai

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Kelapa Sawit

RANCANG BANGUN ALAT PEMOTONG PELEPAH KELAPA SAWIT MEKANIS

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANG BUDIDAYA KELAPA SAWIT DI PT. BW.PLANTATION DESA SENYIUR KEC.MUARA ANCALONG KAB. KUTAI TIMUR PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG

PROGRAM STUDI BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN JURUSAN MANAJEMEN PERTANIAN POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA SAMARINDA 2015

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penyebaran Kelapa Sawit Kelapa sawit (Elais guineensis Jacq) diusahakan secara komersial di Afrika, Amerika Selatan, Asia Tenggara, Pasifik selatan, serta beberapa daerah lain dengan skala yang lebih kecil. Perkembangan industri kelapa sawit telah dipaparkan secara jelas oleh Hartley (1988). Ekspor inti dan minyak sawit dari Afrika dimulai pada abad ke 19. Pada masa itu, sumber minyak hanya berasal dari tanaman kelapa sawit yang tumbuh secara liardan minyak masih di ekstrak dengan cara yang sederhana dan efesien. Dari gerombol gerombol kelapa sawit yang tumbuh liar ini akhir nya perkembang menjadi perkebunan rakyat. Perkebunan besar pertama di Sumatra dan Malaysia pada abad ke 19, kemudian di ikuti oleh Congo Belgia(sekarang Zaire) dan negara negara Afrika barat lainnya pada abad ke 20-an. Kelapa sawit pertama di introduksikan ke Indonesia oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1848, tepat nya di kebun raya Bogor. Pada tahun 1876, Sir Joseph Hooker mencoba menanam 700 bibit tanaman kelapa sawit di Labuhan Deli, Sumatra Utara. Sayangnya, 10 tahun kemudian, tanaman yang benih nya dibawa dari Kebun Raya Kew (London) ini di tebang habis dan di ganti oleh tanaman kelapa. (Pahan, 2006) 2.2 Produksi Tanaman kelapa sawit mulai berbunga dan membentuk buah setelah umur 2-3 tahun. Buah akan menjadi masak pada 5-6 bulan setelah penyerbukan. Proses pemasakan buah kelapa sawit dapat dilihat dari perubahan warna kulit buahnya. Pada saat buah masak, kandungan minyak pada daging buah telah maksimal. Jika telalu matang, buah kelapa sawit akan lepas dan jatuh dari tangkai tandan nya. Buah yang jatuh tersebut di sebut memberondol Proses pemanenan pada tanaman kelapa sawit meliputi pekerjaan memotong tandan buah masak, memungut berondolan, dan mengangkutnya dari pohon 3

ketempat pengumpulan hasil (TPH) serta ke pabrik. Dalam pelaksanaan pemanenan perlu memperhatikan beberapa kriteria tertentu karena tujuan panen kelapa sawit adalah untuk mendapatkan rendemen minyak tinggi dan kualitas minyak yang baik. Kriteria panen yang perlu diperhatikan antara lain matang panen, cara panen, alat panen, rotasi dan sistem panen, serta mutu panen. (Fauzi dkk,2014) 2.2.1 Sistem Panen Pemilihan sistem potong buah yang sesuai dengan kondisi perkebunan setempat merupakan hal yang mutlak dilakukan dengan mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan masing-masing sistem potong buah yang ada. Persiapan panen merupakan pekerjaan yang mutlak dilakukan sebelum TBM dimutasikan menjadi TM. Persiapan panen yang baik akan menjamin tercapainya target produksi dengan biaya panen seminimal mungkin. Hal-hal yang perlu dilakukan dalam mempersiapkan pelaksanaan pekerjaan potong buah yaitu : (1) Penyediaan tenaga potong buah. (2) Pembagian seksi potong buah. (3) Penyediaan alat-alat kerja. (Pahan, 2006) 2.2.2 Kriteria matang dan cara panen Kriteria matang panen merupakan indikasi yang dapat membantu agar dapat memotong buah pada saat yang tepat dimasa panen. Kriteria matang panen ditentukan ketika kandungan minyak maksimal dan kandungan asam lemak bebas atau free fatty acid (ALB atau FFA) minimal. Pada saat ini, kriteria umum yang banyak dipakai adalah berdasarkan jumlah berondolan, yaitu tanaman berumur kurang dari 10 tahun dengan jumlah berondolan kurang dari 10 butir dan tanaman berumur lebih dari 10 tahun dengan jumlah berondolan sekitar 15 20 butir. Namun, secara praktis digunakan kriteria umum yaitu pada setiap 1 kg Tandan Buah Segar (TBS) terdapat dua berondolan. (Hartono, 2011). 4

Adapun kriteria yang dipakai adalah 2 berondolan (sudah ada 2 buah lepas dari tandannya atau jatuh ke piringan pohon) untuk tiap kg tandan. Untuk tandan yang lebih dari 10kg dipakai 1 berondolan harus sudah ada yang jatuh di tanah. Namun kriteria ini perlu disesuaikan dengan kondisi setempat, misalnya untuk areal yang rawan pencurian kriteria tersebut dapat diperkecil untuk mengurangi risiko pencurian. Dengan adanya berondolan yang jatuh ke tanah maka pemanen tidak perlu melihat keatas. Panen yang baik adalah : - Tidak ada buah mentah yang dipanen. - Tidak ada buah matang yang tertinggal di piringan pohon. - Tidak ada buah yang tertinggal dipasar panen, TPH dan di lapangan. - Tandan dan berondolan harus bersih dan berondolan dimasukkan di karung. - Janjang kosong tidak ada yang terbawa ke pabrik. - Gagang tandan dipotong mepet berbentuk V. - Pelepah cabang dipotong tiga dan diletakkan di gawangan mati dan ditelungkupkan - Potongan cabang daun (leaf base) mepet ke batang berupa tapak kuda membuat sudut 15-30 derajat arah ke dalam. Untuk tandan yang beratnya rata-rata kurang dari 10 kg dipakai kriteria 1 berondolan/ kg. Tandan yang telah dipanen harus dihadapkan ke arah pasar (jalan) panen dan berondolan dikumpulkan serta dimasukkan ke karung. Tandan ditempat pengumpulan hasil (TPH) disusun5-10 tandan/baris, gagang menghadap keatas dan berondolan yang telah dimasukkan ke dalam karung. (Pahan,2006) Pada pangkal gagang agar ditulis nomor pemanen. Agar TBS tidak kotor dan berpasir sebaiknya dilapis dengan goni atau gedek. Karung plastik bekas pupuk dapat dipakai untuk tempat pengumpulan berondolandan harus memiliki karung yang cukup setiap harinya. Telah diketahui bahwa 12-14% dari berat TBS yang dipanen adalah berondolan maka dari setiap ton TBS yang dipanen perlu disediakan 12/100 x 1 ton = 120 kg berondolan atau 6 karung (1 karung 20kg). Berondolan mengandung minyak yang tinggi yaitu 50-56% terhadap daging buah 5

atau 40-42% minyak terhadap buah (Endang, et. Al, 1984; Siregar dan Purba, 1998). Selanjutnya harus diusahakan agar pelukaan buah seminimal mungkin, baik waktu memotong, membawa ke TPH maupun mengangkut ke truk serta menjaga agar buah tidak terlalu kotor kena tanah atau debu. Janjang kosong yang buahnya telah rontok agar ditinggalkan di TPH. Pelukaan akan mempercepat peningkatan asam lemak bebas (ALB) dimana sebelum dipotong sebesar 0,2-0,7% dan ketika jatuh di tanah kan dapat meningkat sebesar 0,9-1,0% setiap 24 jam sehingga makin cepat diangkut ke pabrik makin baik. Untuk mengatasi keterbatasan ataupun kelemahan dari pemanenan kelapa sawit dengan cara manual/tradisional itu maka dibuatlah suatu alat pemotong pelepah kelapa sawit yang mampu memotong pelepah dan tandah buah kelapa sawit dengan kapasitas yang tinggi serta praktis digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mendesain, membuat dan menguji alat pemotong pelepah kelapa sawit. Bentuk dan pembuatan/perangkaian komponen-komponen alat pemotong pelepah. Setelah itu, dilakukan pengujian alat dan pengamatan parameter. (Lubis, 2008) Keberhasilan panen juga ditentukan oleh kondisi kebun atau situasi lingkungan kebun seperti iklim, topografi, sarana, dan prasarana. Mengingat TBS tersebar di kebun yang luas kemasakannya di tentukan secara visual, maka ramalan produksi (taksasi buah) secara empiris dan perhitungannya secara sampling sangat di perlukan dilapangan. (Sunarko, 2014) 2.2.3 Kapasitas, kwalitas, dan sortasi panen Kapasitas pemanen setiap harinya tergantung pada produksi/ha yang dikaitkan dengan umur tanaman, topografi areal, kerapatan pohon, insentif yang disediakan dan musim yang dikenal sebagi musim panen puncak dan musim panen yang rendah. Didasarkan pada umur tanaman dan produksi maka sebagai contoh tabel dibawah diberikan standar kapasitas pemanen atau baris borong dimana kelebihan 6

kapasitasnya akan dibayar berdasarkan insentif atau rangsangan atau premi yang diatur oleh masing-masing perusahaan. (Lubis, 2008) Tabel 1. Kapasitas dan basis borong pemanen Produksi/ha/tahun (tontbs) Kapasitas/hari (kg/hk) <2,5 400 Basis Borong (kg) 3,0-6,0 500 250 6,0 12,0 600 300 12,0 18,0 700 350 18,0-22,0 800 400 22,0 25,0 900 400 >25 900 450 Sumber : Sulistyo,. 2010. Budidaya Kelapa Sawit. Cetakan Pertama Medan : Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Seperti diterangkan di atas maka basis borong dan kapasitas ini sangat ditentukan oleh kondisi setempat. Kapasitas/hari ini sering disebut sebagai basis tugas yaitu jumlah kg tandan yang harus diselesaikan dalam 1 hari kerja dinas (7 jam). Basis borong atau disebut juga basis premi adalah batasan jumlah tandan yang dipanen dalam basis tugas yang tidak mendapat premi. Untuk mendorong kwalitas yang baik dari pemanenan tandan maupun pohon yang dipanen maka dilakukan upaya pemberian premi didasarkan pada standar yang telah ditentukan. Kelebihan basis borong akan dibayar dan kwalitas dari tandan. Sistem premi ada bermacam-macam tergantung pada lokasi dan keadaan tanaman. Namun batasan-batasannya juga diadakan dan dalam keadaan tertentu dapat diberikan penalti atau pengurangan atau pemotongan penrimaan terutama yang menyangkut kwalitas panen dan kwalitas bekas panen misalnya : - Ditemukan tandan fraksi mentah (00 dan 01). - Ditemukan tandan mentah yang dicincang atau disembunyikan. 7

- Tandan matang tidak dipanen. - Tandan matang tertinggal di piringan pohon. - Berondolan tertinggal di piringan atau tercecer. - Gagang tandan panjang, tidak dipotong. - Pelepah daun tidak dipotong dan tidak diletakkan di gawangan. - Tandan dan berondolan bersampah. Tabel 2. Kriteria tingkat kematangan tandan Fraksi Jumlah buah lepas (% dari buatan luar) Derajat Kematangan 00 Tidak ada, buah masih hitam Sangat mentah 0 1 buah s/d 12,5% Mentah 1 12.5% - 25% Kurang matang 2 25% - 50% Matang 1 3 50% - 75% Matang 2 4 75% - 100% Lewat matang 1 5 Buah dalam ikut memberondol Lewat matang2 Sumber : Pahan. (2006). Panduan Lengkap Kelapa Sawit. Medan : Pusat Penelitian Kelapa Sawit Berdasarkan hal tersebut diatas maka panen yang baik adalah jika jumlah berondolan di pabrik ada 15% dari tandan yang dipanen. - Fraksi 2 dan 3 minimal 65% dari jumlah tandan. - Fraksi 1 maksimum 20% dari jumlah tandan. - Fraksi 4 dan 5 maksimum 15% dari jumlah tandan. Buah luar adalah buah yang terlihat (Lubis, 2006) 8

2.2.4 Alat-alat Panen manual Tabel 3. Alat- alat yang di pergunakan beserta kegunaan dan spesifikasinya No Nama Alat Penggunaan Spesifikasi 1 Dodos kecil Potong buah Lebar mata 8 cm, lebar tanaman umur 5-8 tahun tengah 7 cm, tebal tengah 0,5 cm, tebal pangkal 0,7 cm; diameter gagang 4,5 cm; dan panjang total 18 cm 2 Dodos besar Potong buah Lebar mata 12-14 cm, tanaman umur 5-8 lebar tengah 12 cm, tebal tahun tengah 0,5 cm, tebal pangkal 0,7 cm; diameter gagang 4,5 cm; dan panjang total 20 cm 3 Pisau egrek Potong buah umur > Panjang pangkal 20 cm, 9 tahun (tinggi panjang pisau 45 cm, pokok > 3 m) sudut lengkung dihitung pada sumbu 135, dan berat 0,5 kg 4 Angkong Sebagai tempat atau Sesuai spesifikasi yang wadah TBS dan ada brondolan diangkut ke TPH 5 Keranjang Sebagai tempat atau Diameter keranjang 60-70 wadah TBS dan cm, tinggi 40 cm, dan brondolan diangkut ke TPH panjang tali keranjang 40-60 cm 6 Goni eks-pupuk Sebagi tempat atau - 9

wadah TBS dan brondolan diangkut ke TPH 7 Kapak Sebagai alat Sesuai spesifikasi yang pemotong tangkai ada tandan yang panjang pada tanaman umur > 9 tahun 8 Tali nilon Pengikat pisau egrek 0,5 mm dipilin 3; 1 kg mempunyai panjang 43 m, dan dapat dipakai untuk 5 egrek 9 Batu asah Pengasah dodos dan - pisau egrek 10 Bambu egrek Gagang pisau egrek Panjang 10-11 m, tbal 1-1,5 cm, berat 2,5-3 kg/m. Diameter ujung 4-5 cm, dan diameter pangkal 6-7 cm 11 Alluminium pole Gagang pisau egrek a. EBOR gold EBOR gold pole Diam 1.25 (32,0 mm)- P pole lebih berat, keras 20 (6m) dan tahan lama, serta Diam 1,50 (38,1 mm)- P digunakan pada 20 (6m) pokok yang lebih Diam 1,75 (42,3 mm)- P rendah dari Ultra 20 (6m) b. Ultralight pole light-pole Diam 1.50 (32,0 mm)- P 20 (6m) Diam 1,50 (38,1 mm)- P 30 (6m) 10

Diam 1,75 (42,3 mm)- P 20 (6m) Diam 1,75 (42,3 mm)- P 25 (7,5 m) 12 Gancu Memuat dan Besi beton 3/8 dan membongkar TBS panjang sesuai dengan dari dan ke alat kebiasaan setempat transpor 13 Tojok Memuat dan Disesuaikan dengan membongkar TBS kebiasaan setempat dari dan ke alat transpor Sumber : Pahan,. 2006. Panduan Lengkap Kelapa Sawit. Medan : Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Hal yang harus di perhatikan dalam panen : a. Untuk mengutip berondolan menggunakan ember dan goni b. Untuk mengumpulkan tandan ke TPH menggunakan kereta sorong, sepeda atau keranjang pikul. c. Tempat pengumpulan hasil (TPH) ukuran 3 x 4 meter digaruk bersih setiap bulan d. Jumlah TPH harus tersedia cukup ; 1 TPH tiap Ha atau setiap jarak 100 m di pinggir jalan produksi e. Tangga tangga panen harus berfungsi dan terpelihara baik f. Pasar pikul juga harus terpelihara dan berfungsi g. Pusingan tunas tidak terlambat dari waktu nya ( Risza,1993) 11

2.2.5 Alat Panen Mekanis Bidang ilmu dan teknologi yang dipilih untuk pengembangan mesin pemotongan pelepah dan pemanenan kelapa sawit merupakan teknologi yang strategis yang diperlukan penguasaannya untuk modernisasi aspek perawatan dan pemanenan kelapa sawit di perkebunan-perkebunan rakyat, BUMN maupun swasta di Indonesia. Teknologi mesin pemotong untuk pemotong pelepah dan pemanen kelapa sawit termasuk di dalamnya desain mesin dan alat pemotongnya, aplikasi mesin (motor penggerak) dan aspek ergonomika merupakan pilihan yang tepat, optimal dan efektif untuk acuan pengembangan ke arah modernisasi selanjutnya. Teknologi mesin pemotong untuk pruner dan harvester kelapa sawit merupakan suatu teknologi multi disipliner yang merupakan gabungan beberapa ilmu pengetahuan yang berkaitan. Ruang lingkup pengembangan teknologi pemotongan pelepah dan pemanenan kelapa sawit adalah: studi sifat fisik mekanik pelepah dan tandan buah sawit, aspek perawatan tanaman yaitu pemotongan pelepah dan aspek pemanenan kelapa sawit, teknologi alat mesin pemotongan pelepah dan pemanenan kelapa sawit, pemilihan teknologi dalam pengembangan dan pembuatan desain mesin pemotongan pelepah dan pemanenan kelapa sawit serta kerja sama antar instansi terkait. (Intara dkk, 2011) Tabel 2.2 Perbandingan parameter pemetik buah mekanis dengan manual Parameter Alat Pemotong Pelepah Alat Pemotong Pelepah Mekanis Manual Dimensi(PxLxT) 350cmx28cmx40,1cm 350 cm x 20 cm x 40 cm Kapasitas alat 142,78 pelepah/jam 90-100 pelepah/jam Berat 9,4 kg 2,5 kg Jangkauan alat 1-5,5 meter 4-5 meter Kebutuhan bahan bakar Rp2.422/jam - Tenaga penggerak Motor bakar Manusia Komoditi Kelapa sawit, Kelapa sawit Kelebihan Praktis, kapasitas tinggi Ringan Kekurangan Berat Tidak praktis,kapasitas rendah Sumber : Tarigan dkk. 2015. Rancang Bangun Alat Pemotong Pelepah Kelapa Sawit Secara Mekanis. 12

Dari Tabel tersebut dapat dilihat bahwa terdapat beberapa perbedaan antara alat pemotong pelepah mekanis dengan alat pemotong pelepah manual(dodos) dimana alat pemotong pelepah mekanis pada penelitian ini memiliki dimensi PxLxT adalah 350cmx28cmx40,1cm, dengan kapasitas alat 142,78 pelepah/jam, berat alat 9,4 kg, dengan jangkauan pemotongan 1 meter sampai 5,5 meter, digerakkan oleh motor bakar, kelebihan alat ini praktis, dan berkapasitas tinggi sedangkan kekurangannya berat. Sedangkan alat pemotong pelepah manual(dodos) memiliki dimensi 150 cm, kapasitas alat 90-100 pelepah/jam, berat 2,5 kg, kelebihan alat ini ringan dan kelemahannya tidak praktis dan hanya digunakan untuk komoditi kelapa sawit. (Tarigan dkk, 2013) Setiap perubahan usaha tani melalui mekanisasi didasari tujuan tertentu yang membuat perubahan tersebut bisa dimengerti, logis dan dapat diterima. Secara umum tujuan mekanisasi pertanian adalah: a) Mengurangi kejerihan kerja dan meningkatkan efisiensi tenaga manusia. b) Mengurangi kerusakanproduksi pertanian. c) Menurunkan ongkos produksi. d) Menjamin kenaikan kualitas dan kuantitas produksi. e) Meningkatkan taraf hidup petani. f) Memungkinkan pertumbuhan ekonomi subsistem (tipe pertanian kebutuhan keluarga) menjadi tipe pertanian komersil (comercial farming). g) Mempercepat transisi bentuk ekonomi Indonesia dari sifat agraris menjadi sifat industri dan dapat mendorong tahap tinggal landas. (Tarigan, 2015). 13