BAB II GAMBARAN UMUM

dokumen-dokumen yang mirip
BERITA DAERAH KOTA BOGOR. Nomor 40 Tahun 2016 Seri E Nomor 29 PERATURAN WALIKOTA BOGOR NOMOR 40 TAHUN 2016 TENTANG

LAMPIRAN Kajian Kebijakan Standar Pelayanan Angkutan Umum di Indonesia (Menurut SK. Dirjen 687/2002)

Kertas Kerja Audit Auditee : BLU Transjakarta

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Kebutuhan masyarakat akan pelayanan transportasi saat ini semakin

BAB II PT. USAHA PENGANGKUTAN KURNIA MEDAN. A. Sejarah Ringkas PT. Usaha Pengangkutan Kurnia Medan

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB III LANDASAN TEORI. instasi pemerintah berdasarkan indikator indikator teknis, administrasif dan

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan tataguna lahan yang kurang didukung oleh pengembangan

INDIKATOR STANDAR PELAYANAN MINIMAL ANGKUTAN MASSAL DI KOTA BOGOR

BAB II PT. BARUMUN. Transportasi merupakan pemindahan barang dan manusia dari tempat asal

BAB I PENDAHULUAN. Pelayanan publik (Public Service) merupakan segala macam kegiatan dalam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. barang dari suatu tempat ke tempat lain dengan menggunakan kendaraan. penumpang, bus kecil, bus sedang,dan bus besar.

BAB II PROFIL PERUSAHAAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PENGANGKUTAN KURNIA MEDAN. BAB II PT. USAHA PENGANGKUTAN KURNIA MEDAN

ANALISIS ANTRIAN PADA PENGGUNA JASA ANGKUTAN UMUM TRANSJAKARTA KORIDOR 9 DI SHELTER SEMANGGI JAKARTA SELATAN

BAB IV PEMBAHASAN. operasional suatu perusahaan ataupun badan pelayanan sektor publik dibutuhkan

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. yang optimal dalam Implementasi Bus Rapid Transit Sebagai Transportasi Publik

BAB III. DESKRIPSI WILAYAH PENELITIAN Kondisi Provinsi DKI Jakarta Kondisi Geografis Jakarta Kondisi Demografis

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat dan pengembangan wilayah. Sistem transportasi yang ada

PEMERINTAH KABUPATEN PEKALONGAN

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia. Analisis faktor..., Agus Imam Rifusua, FE UI, 2010.

Pandangan Responden Terhadap Proyek Monorel (MRT) di Jakarta Riset dilakukan pada: November 2013 Berdasarkan panelis dari Nusaresearch

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUASAN PENGGUNA BUSWAY Pite Deanda NRP :

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Armandha Redo Pratama, 2015

BAB I PENDAHULUAN. Setiap tahun jumlah penduduk Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

BAB I PENDAHULUAN. Dishubkominfo DIY dalam hal ini UPTD Jogja Trans dalam penyelenggaraan

BAB I PENDAHULUAN. berjalan beriringan, terlebih di Daerah Istimewa Yogyakarta. Arus perekonomian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Munawar, A. (2004), angkutan dapat didefinisikan sebagai

BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. PT. Interindo Wisata Pekanbaru yang beralamat di Jln. SM. Amin No 134,

WALIKOTA PADANG PERATURAN WALIKOTA PADANG NOMOR 28 TAHUN 2013 TENTANG UNIT PELAKSANA TEKNIS TRANS PADANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

I. PENDAHULUAN. Persentasi Jumlah Kendaraan Bermotor di DKI Jakarta Tahun Bus 8% Gambar 1. Pembagian Moda (Dinas Perhubungan DKI Jakarta, 2004)

BAB 1 PENDAHULUAN. perubahan dalam semua bidang kehidupan. Perkembangan yang berorientasi kepada

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sumber kebutuhan manusia tidak berada di sembarang tempat, sehingga terjadi. 1. manusia yang membutuhkan perangkutan,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Tingginya populasi masyarakat Indonesia berimbas pada tingkat

BAB IV GAMBARAN UMUM TEMPAT PENELITIAN. 4.1 Visi dan Misi Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kota Pekanbaru

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Angkutan umum sebagai salah satu moda transportasi untuk melakukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Penelitian Sejarah Singkat Perusahaan

EVALUASI STANDAR PELAYANAN MINIMAL OPERASIONAL TRANSJAKARTA KORIDOR 9 DAN KORIDOR 12

NOMOR 11 TAHUN 2001 TENTANG PENGELOLAAN TERMINAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

BAB 1 PENDAHULUAN 1-1. Universitas Kristen Maranatha

I. PENDAHULUAN. transportasi sehingga bertambah pula intensitas pergerakan lalu lintas kota.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. yakni bentuk keterikatan dan keterkaitan antara satu variabel dengan variabel. optimalisasi proses pergerakan tersebut.

BUPATI MALANG PROVINSI JAWA TIMUR

BAB 5. SIMPULAN, DISKUSI dan SARAN. transjakarta menunjukkan bahwa aspek yang paling dominan. menggambarkan secara umum mengenai kualitas pelayanan

BAB II SUMATERA EYE CENTER MEDAN. yang menyediakan barang dan jasa bagi masyarakat dengan maksud untuk

BAB I PENDAHULUAN. Pada masa sekarang ini, transportasi atau pengangkutan menjadi bidang

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

KEMUNGKINAN PENERAPAN SISTEM BUY THE SERVICE PADA ANGKUTAN UMUM PENUMPANG (AUP) DI KOTA SEMARANG TUGAS AKHIR. Oleh: TRI WURI ANGGOROWATI L2D

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Oleh : Aji Tri Utomo, Aufarul Marom. Universitas Diponegoro

STRUKTUR ORGANISASI PT. X

BUPATI SUKOHARJO PERATURAN BUPATI SUKOHARJO NOMOR 48 TAHUN 2008 TENTANG

BAB 3 ANALISIS ATAS PENGELOLAAN PERSEDIAAN SUKU CADANG KENDARAAN BERMOTOR PADA PT. PUTRATUNGGAL ANEKA

BAB III METODE PERANCANGAN

PEMERINTAH KOTA BATU

LAKIP LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH TAHUN 2014 DINAS PERHUBUNGAN KOTA SURABAYA

MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN BUPATI TENTANG SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA DIREKSI PERUSAHAAN DAERAH PASAR BAUNTUNG BATUAH KABUPATEN BANJAR.

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS PERHUBUNGAN RENCANA KERJA (RENJA) TAHUN 2015

PEMERINTAH KOTA SURABAYA PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR 6 TAHUN 2002 TENTANG PENGUJIAN KENDARAAN BERMOTOR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

WALI KOTA BALIKPAPAN PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERATURAN DAERAH KOTA BALIKPAPAN NOMOR 10 TAHUN 2015

WALIKOTA MAKASSAR PROVINSI SULAWESI SELATAN. PERATURAN WALIKOTA MAKASSAR Nomor 4 Tahun 2016 TENTANG

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB II TINJAUAN UMUM LOKASI PENELITIAN. A. Gambaran Umum PT. Freshklindo Graha Solusi

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB I PENDAHULUAN. lalu lintas untuk mempermudah mobilitas masyarakat kota melalui sistem dan. maupun berpindah tempat untuk memenuhi kebutuhannya.

KEMENTERIAN PERHUBUNGAN DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT DIREKTORAT LALU LINTAS DAN ANGKUTAN SUNGAI, DANAU DAN PENYEBERANGAN

BAB l PENDAHULUAN. Tahun 2008 sampai dengan Tahun 2012, untuk lalu lintas dan angkutan jalan ratarata

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Marlok (1981), transportasi berarti memindahkan atau. mengangkut sesuatu dari satu tempat ke tempat yang lain.

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN

BAB 3 ANALISIS SISTEM BERJALAN

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG PENGELOLAAN SISTEM BUS RAPID TRANSIT

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian khususnya perkotaan. Hal tersebut dikarenakan transportasi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Suatu proses bidang kegiatan dalam kehidupan masyarakat yang paling

PEMERINTAH KABUPATEN TUBAN

BAB II LANDASAN TEORI. transportasi untuk kebutuhan produksi, distribusi dan konsumsi

RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM JARINGAN TRANSPORTASI JANGKA PENDEK

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Sebuah perusahaan kereta api merupakan suatu organisasi yang

perbaikan hidup berkeadilan sosial.

BAB 3 GAMBARAN UMUM OBJEK PEMBAHASAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 14 TAHUN 2009 TENTANG PELAYANAN PERIZINAN PENYELENGGARAAN ANGKUTAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Transkripsi:

BAB II GAMBARAN UMUM A. Sejarah Singkat Perusahaan Sejak pertengahan juni 2009, kota Pekanbaru telah memiliki fasilitas angkutan umum dengan mengedepankan paradigma pelayanan angkutan umum yang baru dan berbeda dari sistem sebelumnya. Pemerinta kota Pekanbaru bekerja sama dengan Dirjen Perhubungan Darat Kementrian Perhubungan, meluncurkan sistem angkutan umum massal berbasis bus, yaitu sistem Bus Rapit Transit dinamakan Trans Metro Pekanbaru untuk memberikan pelayanann angkutan umum bagi warga kota Pekanbaru dan wilayah sekitarnya. 18 Pengelolahan Trans Metro Pekanbaru dilaksanakan oleh PD. Pembangunan Pekanbaru, dibawah koordinasi dan pengawasan Dinas Perhubungan Kota Pekanbaru. Sebanyak 75 (tujuh puluh lima) unit armada bus, salah satu tujuan penting dalam mengembangkan sistem angkutan umum massal adalah menciptakan kesinambungan proses dalam pelayanan dan operasional yang berkaitan langsung dengan kebutuhan publik. Supaya berkelanjutan proses tersebut dapat terlaksana dengan baik dan guna meningkatkan kinerja PD. Pembangunan Pekanbaru sebagai pengelolah Trans Metro Pekanbaru, pemerinta kota Pekanbaru berencana untuk menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah. Pelayanan publik yang terjangkau tanpa berorientasi kepada keuntungan, perlu 18 Standar Pelayanan Minimum, PD. Pembanguna Trans Metro Pekanbaru, tahun 2014 13

14 didukung dengan suatu standar pelayanan yang menjamin kualitas pelayanan publik yang disediakan oleh pemerintah sebagai salah satu indikator kesejahteraan masyarakat yang dikenal sebagai Standar Pelayanan Minimal. B. Visi dan Misi Perusahaan Bagi suatu perusahaan visi dan misi memiliki peranan yang sangat penting untuk menentukan arah kebijakan dan tujuan perusahaan yang ingin dicapai. Maka dari itu adapun visi dan misi perusahaan PD. Pembangunan Trans Metro Pekanbaru adalah sebagai berikut : 1. Visi Visi dari PD. Pembangunan Trans Metro Pekanbaru adalah untuk memastikan bahwa kebutuhan publik akan layanan angkutan umum yang baik dapat disediakan dengan standar yang minimal bagi masyarakat. 2. Misi Misi dari PD. Pembangunan Trans Metro Pekanbaru yaitu: a. Melaksanakan pelayanan angkutan umum massal di perkotaan yang aman, nyaman, terjadwal, dan andal b. Mewujudkan kemandirian pengelolaan angkutan yang profesional c. Mewujudkan pola kinerja petugas dan operator yang profesional d. Melaksanakan reformasi sistem angkutan umum dan budaya penggunaan angkutan umum e. Memberikan solusi terhadap permasalahan angkutan umum disektor angkutan umum f. Mengembangkan sistem angkutan umum yang terintegritas

15 g. Mengembangkan struktur institusi yang berkesinambungan h. Mengmbangkan sistem kelembagaan dengan berlandaskan akuntabilitas dan transparan. C. Struktur Organisasi Perusahaan Struktur organisasi berarti penetapan batas tugas dan tanggung jawab serta wewenang dari mesing-masing karyawan. Oleh karena itu dengan adanya struktur organisasi diharapkan setiap bagian dapat melaksanakan tugasnya masing-masing dengan baik sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai. Menurut Mulyadi dan Setyawan bahwa struktur organisasi menggambarkan pengorganisasian sumber daya manusia untuk memanfaatkan sumber daya organisasi dalam mewujudkan tujuan organisasi. Pemisahan tugas harus dilakukan dalam suatu perusahaan. Misalnya bagian akuntansi disatukan dengan bagian penyimpanan, maka akan memungkinkan terjadinya kesalahan transaksi sehingga data yang dihasilkan adalah data yang tidak dapat dipercaya kebenarannya. Organisasi dalam manajemen yang baik akan memberikan keseimbangan pada tugas, sistem informasi manajemen kekuasaan, kesatuan perintah, wewenang serta tanggung jawab. Hal ini memberi efek yang positif pada perusahaan dimana perusahaan dimana perusahaan akan menemukan kelancaran dalam menjalankan aktifitas-aktifitasnya yang digambarkan dalam struktur organisasi.

16 Struktur organisasi harus fleksibel terhadap perubahan dan perkembangan dilingkungannya. Maka perusahaan atau badan usaha pada umumnya beranggapan bahwa struktur organisasi ini sangat perlu.kelebihan yang dicapai dari penggunaan struktur organisasi yaitu: 1. Bagan organisasi dapat digunakan untuk mendeskripsikan rencana kerja yang sesuai sebagai dasar untuk mengetahui perbedaan antara atasan dan bawahan. 2. Dengan adanya bagan organisasi dapat diketahui kegiatan-kegiatan perusahaan serta sehubungan yang ada diperusahaan dari setiap kegiatan. Setiap ada kelebihan tentu saja ada kelemahan, begitu juga pada bagan organisasi. Adapun kelemahannya yang mungkin terjadi dari bagan organisasi yaitu bagi masyarakat yang tidak mengerti dengan bagan yang dilihatnya, kemungkinan akan menimbulkan kerancuan apabila tidak dicantumkan penjelasan dari bagan organisasi tersebut.secara ringkas struktur organisasi dapat dicantumkan sebagai berikut:

17 Gambar II.1 Struktur organisasi PD. Pembangunan Trans Metro Pekanbaru Tahun 2015 WALI KOTA FIRDAUS MT DIRUT HERI SUSANTO KANIT PANZI BARZA KAS ANALISA RAHMAD KABIRO OPERASIONAL YUNI ANTO BIRO UMUM ANTO BADAI KASIPUL JON HENDRI KASI KEUANGAN MAYA KASI OPERASIONAL BOBY TIKETING ALFIAN STAF OPERASIONAL JONI STAFF RAMON S Sumber Data. Laporan Tahunan PD. Pembangunan Tahun 2015

18 1. Wali kota Wali kota sebagai pimpinan yang tertinggi perusahaan yang berfungsi melindungi keseluruhan perusahaan, antara lain: a. Pelindung wewenang perusahaan b. Penanggung jawab tertinggi dalam perusahaan 2. Direktur Direktur utama sebagai pimpinan tertinggi perusahaan yang berfungsi memimpin keseluruhan aktifitas-aktifitas perusahaan, antara lain: a. Mengambil keputusan dalam menetapkan kebijakan dan pengambilan kegiatan perusahaan b. Menyetujui dan menolak pengangkatan dan pemberhentian setiap bagian dalam penambahan tenaga kerja. c. Memelihara dan meningkatkan motivasi kerja karyawan d. Mengadakan perencanaan tentang keadaan perusahaan dimasa yang akan datang. e. Menyetujui dan meberikan pengesahan atas pembelian alat inventaris perusahaan f. Mengkoordinasi pelaksanaan tugas setiap bagian serta menerima laporan tertulis dari setiap bagian tersebut. 3. Kanit/Wakil direktur Kanit/Wakil direktur, merupakan pimpinan kedua tertinggi dan wakil dari direktur. Wakil direktur mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut:

19 a. Membantu direktur dalam menyusun rencana kerja serta anggaran untuk mencapai tujuan perusahaan. b. Membantu direktur dalam memimpin dan mengkoordinir seluruh aktifitas perusahaan. c. Membantu direktur dalam mengambil keputusan dan kebijakankebijakan yang dianggap perlu untuk kebaikan dan kemajuan perusahaan. 4. Kasi Analisa Kasi Analisa merupakan bawahan dari wakil direktur atau kanit, kasi Analisa mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut: a. Menganalisa laporan keuangan perusahaan b. Menganalisa perusahaan secara menyeluruh apabila terjadi kerugian c. Menganalisa perusahaan secara menyeluruh apabila mendapat keuntungan 5. Kabiro Kabiro terbagi menjadi dua operasi dampul dan biro umum 6. Operasi dampul a. Penanggung jawab pramudi apabila terjadi pelanggaran ataupun kesalahan dilapangan b. Penanggung jawab kondektur apabila terjadi pelanggaran atau kesalahn di lapangan 7. Kasipul Penanggung jawab kerusakan kendaraan di lapangan seperti: a. Kerusakan ban mobil b. Ganti oli c. Kerusakan lampu

20 8. Kasi operasional Kasi operasional merupakan pengawas lapangan tugasnya seperti: a. Mengawasi apabila karyawan tidak masuk b. Mengawasi apabila karyawan saki atau cuti c. Mencari pengganti apabila karyawan tidak masuk 9. Staf operasional Staf operasional merupakan pembuat data karyawan tugasnya seperti: a. Membuat daftar kerja pramudi sesuai dengan rute b. Membuat daftar kondektur sesuai dengan rute c. Membuat pengumuman untuk pramudi dan kondektur 10. Biro umum Kabiro umum merupakan penanggung jawab dari semua kendaraan tugasnya seperti: a. Memeriksa semua kendaraan tugas pramudi berakhir b. Memeriksaapakah ada kerusakan pada semua kendaraan c. Memeriksa apakah ada yang hilang barang-barang dari semua kendaraan 11. Kasi keuangan Kasi keuangan merupakan menghitung tiket tugasnya seperti: a. Menghitung pendapatan tiket per hari b. Menghitung tiket yang terjual oleh kondektur

21 12. Tiketing Tiketing merupakan membagikan tiket tugasnya seperti: a. Membagikan tiket ke seluruh pengawas disetiap koridor b. Mengecek apakan ada pengawas yang belum mendapatkan tiket 13. Staff Staff merupakan pengawas tunggal tugasnya seperti: a. Mengawasi pengawas disetiap koridor b. Mengecek apakah pengawas disetiap koridor telah bekerja sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya. D. Program PD. Pembangunan Trans Metro Pekanbaru 1. Kehandalan pelayanan Sebuah pelayanan jasa sistem bus rapit transit pada umumnya terfokus pada pengoprasian sistem itu sendiri. Oleh karena pentingnya kehandalan pelayanan dalam menilai kesempurnaan sistem busway, dalam subtansi kehandalan terdapat 3 (tiga) indikator: a. Ketepatan waktu jedah keberangkatan antar bus, merupakan faktor penting dalam pelayanan sistem busway. Jedah waktu ini sebagai alat bagi trans metro pekanbaru untuk mengendalikan sekaligus realisasi dalam pelayanan sistem Bus Rapit Transit yang membedakan dengan sistem angkutan umum konvensional. b. Ketepatan waktu perjalanan, merupakan indikator penting untuk mendapatkan kepastian akan lamanya perjalanan bus.

22 c. Kehandalan bus selalu harus diperhatikan dalam memberikan suatu pelayanan handal, yaitu bus dalam kondisi layak operasional sebelum diberangkatkan bertugas. d. Konsistensi jam pelayanan, yaitu jam pelayanan yang ditetapkan oleh PD.Pembangunan Trans Metro Pekanbaru, yaitu mulai pukul 06.00 WIB sampai dengan pukul 21.00 WIB 2. Keamanan dan keselamatan Elemen keamanan dan keselamatan menjadi salah satu subtansi yang penting dalam pelayanan, jaminan keamanan dan keselamatan diberikan oleh PD. Pembangunan Trans Metro Pekanbaru meliputi keamanan dan keselamatan selama penumpang berada didalam sistem Bus Rapit Transit, yaitu mencakup area halte, bus, dan selama diperjalanan. Adapun indikator yang terkait yaitu: a. Keamanan di dalam halte, yaitu angka kejadian yang berhubungan dengan tindak pidana kriminalitas yang terjadi di dalam halte. b. Keamanan di dalam bus, yaitu angka kejadian yang berhubungan dengan tindak pidana kriminalitas yang terjadi di dalam bus. c. Keselamatan di dalam halte, yaitu angka kejadian yang berhubungan dengan kecelakaan/ insiden yang terjadi di dalam halte. d. Keselamatan di dalam busway, yaitu angka kejadian yang berhubungan dengan kecelakaan yang terjadi di dalam busway. e. Keselamatan di sepanjang koridor busway, yaitu angka kejadian yang berhubungan dengan kecelakaan yang terjadi di sepanjang koridor

23 busyang berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung terhadap pelayanan busway. 3. Layanan pelanggan Suatu produk layanan yang diberikan secara langsung hendaknya menyediakan informasi, sekaligus mendapatkan umpan dari pengguna jasa. Informasi ini bertujuan untuk mengetahui anggapan dan kepuasan pelayanan dan sebagai alat untuk meningkatkan kualitas layanan. Indokator yang berkaitan dengan layanan pelanggan yaitu: a. Penyediaan informasi pelanggan, yaitu tersedianya informasi terkini yang berkaitan dengan layanan yang diberikan kepada penumpang, mencakup rute layanan, halte transit, dan informasi lainnya. b. Laporan kehilangan barang dan perlindungan, untuk menampung informasi dari penumpang, baik yang kehilangan barang ataupun menemukan barang tertinggal di halte maupun di bus. c. Pelaporan pengaduan dan saran, untuk menjaring informasi yang didapat dari penumpang, terkait dengan kualitas layanan yang diberikan dan saran sebagai masukan untuk meningkatkan kualitas layanan. 19 4. Kenyamanan Kenyamanan penumpang sangat erat kaitannya dengan subtansi yang telah dibahas dan nilai kenyamanan ini sangat tergantung dari persepsi pengguna jasa. Oleh karena itu, indikator yang berpengaruh dalam persepsi penumpang ditentukan sebagai berikut: 19 Ibid.

24 a. Waktu tunggu, yaitu waktu yang diperlukan penumpang untuk menunggu bus di halte sampai dengan masuk ke dalam bus. b. Kebersihan di dalam halte, yaitu seluruh bagian halte dalam kondisi bersih, mulai dari dinding, lantai dan langit-langit halte tidak terdapat partikel yang menempel dan tidak bau. c. Kebersihan di dalam bus, yaitu seluruh bagian bus dalam kondisi bersih, mulai dari lantai, kaca, kursih, dan langit-langit bus tidak terdapat partikel yang menempel dan tidak berbau. d. Penerangan di dalam halte, yaitu kekuatan cahaya di dalam halte yang berdampak kepada kenyamanan penumpang, sehingga pelayanan di dalam halte dapat terlaksana. e. Penerangan didalam bus, yaitu kekuatan cahaya di dalam bus yang berdampak kepada kenyamanan penumpang, sehingga pelayanan di dalam bus dapat terlaksana. f. Kehandalan pengemudi berkaitan dengan penilaian penumpang terhadap keterampilan pengemudi bus dalam mengemudikan bus, termaksuk didalamnya adalah kecepatan, perlambatan bus. g. Pelayanan petugas, yaitu tingkat kepuasan pengguna jasa terhadap petugas yang melayani pengguna jasa secara langsung, seperti penjual tiket, penerima laporan dan petugas di dalam bus. h. Suhu di dalam bus, yaitu suhu di dalam bus yang berdampak pada kenyamanan penumpang, sehingga pelayanan di bus dapat terlaksana. Suhu di dalam bus tidak melebihi 26 0 C. 20 20 Ibid.