Oleh: Rachman Effendi dkk

dokumen-dokumen yang mirip
Sintesis Penelitian Integratif 25. Bogor, 19 Maret 2015

Penguatan Tata Kelola dan Industri Perdagangan Hasil Hutan

KODEFIKASI RPI 25. Penguatan Tata Kelola Industri dan Perdagangan Hasil Hutan

PENGEMBANGAN INDUSTRI KEHUTANAN BERBASIS HUTAN TANAMAN penyempurnaan P.14/2011,P.50/2010, P.38 ttg SVLK) dan update peta P3HP.

Kementerian Kehutanan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan. Implikasi Kebijakan

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan MARI DUKUNG! I M P L E M E N T A S I P E N U H. oleh Agus Justianto

disampaikan oleh: Direktur Perencanaan Kawasan Kehutanan Kementerian Kehutanan Jakarta, 29 Juli 2011

Oleh : Ketua Tim GNPSDA. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Pontianak, 9 September 2015

BAB I PENDAHULUAN. dekade 1990-an. Degradasi dan deforestasi sumberdaya hutan terjadi karena

I. PENDAHULUAN. (UKM) dengan sistem home industry yang bekerjasama dengan industri-industri

lmplikasi Kebijakan Kenaikan DR.dan PSDH terhadap Laba Pengusaha Hutan Alam dan PNBP Sektor Kehutanan Ringkasan Rekomendasi

BADAN PENELITIAN, PENGEMBANGAN DAN INOVASI PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HASIL HUTAN LATAR BELAKANG. Defisit kemampuan

Oleh : Direktur Jenderal Planologi Kehutanan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

BRIEF Volume 11 No. 02 Tahun 2017

STRATEGI DAN KEBIJAKAN INOVASI PENGEMBANAGAN AGROINDUSTRI ROTAN DI KALIMANTAN TENGAH

Mengekspor di Tengah Perubahan Lansekap Hukum

Perkembangan Bisnis Kehutanan Indonesia dan Permasalahannya

LUAS KAWASAN (ha)

KERANGKA PROGRAM. Lokasi : Kab. Kuningan, Kab. Indramayu, Kab. Ciamis. Periode Waktu :

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERKEBUNAN No.60/Kpts/RC.110/4/08 TENTANG

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.141, 2009 DEPARTEMEN KEHUTANAN. Penilaian. Kinerja. Verifikasi. Legalitas. Pemegang Izin. Pedoman.

I. PENDAHULUAN. Sejak awal tahun 1980-an peranan ekspor minyak dan gas (migas) terus

BAB I PENDAHULUAN. Sejak akhir tahun 1970-an, Indonesia mengandalkan hutan sebagai penopang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Penanaman modal atau investasi merupakan langkah awal kegiatan

BAB I PENDAHULUAN. memilikinya,melainkan juga penting bagi masyarakat dunia.

DAFTAR ISI. Halaman DAFTAR TABEL... xvi DAFTAR GAMBAR... xvii DAFTAR LAMPIRAN.. xix

BAB I PENDAHULUAN. Buku laporan State of the World's Forests yang diterbitkan oleh Food and

KEPUTUSAN GUBERNUR PROVINSI PAPUA NOMOR 72 TAHUN 2002 TENTANG KETENTUAN EKSPOR KAYU BULAT JENIS MERBAU DI PROVINSI PAPUA GUBERNUR PROVINSI PAPUA

Boks. Perkembangan Terkini Beberapa Sektor Ekonomi Utama di Kalimantan Timur Sehubungan dengan Krisis Keuangan Global

IV. GAMBARAN UMUM. yang yang hanya memiliki luas Ha sampai Ha saja.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.128, 2009 DEPARTEMEN KEHUTANAN. Tata Cara. Perizinan. Karbon. Hutan Lindung. Produksi. Pemanfaatan.

ARAHAN DIREKTUR JENDERAL BINA PRODUKSI KEHUTANAN

Direktorat Jenderal Bina Produksi Kehutanan Departemen Kehutanan

PRODUKSI DAN PEREDARAN KAYU: STUDY KASUS DI SUMATRA SELATAN

KEBIJAKAN PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI OLEH DIREKTUR JENDERAL BUK SEMINAR RESTORASI EKOSISTEM DIPTEROKARPA DL RANGKA PENINGKATAN PRODUKTIFITAS HUTAN

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.62/Menhut-II/2011 TENTANG

2014, No menetapkan Peraturan Menteri Kehutanan tentang Tata Cara Penetapan Peta Indikatif Arahan Pemanfaatan Kawasan Hutan Produksi Yang Tidak

BAB I PENDAHULUAN. suatu negara. Hubungan keduanya dijelaskan dalam Hukum Okun yang menunjukkan

I PENDAHULUAN Latar Belakang

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN INDUSTRI AGRO DAN KIMIA

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN Nomor : P. 7/Menhut-II/2009 TENTANG PEDOMAN PEMENUHAN BAHAN BAKU KAYU UNTUK KEBUTUHAN LOKAL

LESTARI PAPER NO. 03 PERAN HPH DALAM MENJAGA KEBERLANJUTAN HUTAN ALAM. Nana Suparna

Lampiran 3b. Rencana Strategis Program Peningkatan Pemanfaatan Hutan Produksi

PROGRAM KEHUTANAN UNTUK MITIGASI PERUBAHAN IKLIM & PENGUKURAN, PELAPORAN SERTA VERIFIKASINYA (MRV) Tindak Lanjut COP 15

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PEMBANGUNAN

INDIKASI KERUGIAN NEGARA AKIBAT DEFORESTASI HUTAN. Tim Penulis: Egi Primayogha Firdaus Ilyas Siti Juliantari Rachman

dari Indonesia demi Indonesia

Kebijakan Fiskal Sektor Kehutanan

(KEBIJAKAN) TATA KELOLA DAN EKONOMI KEHUTANAN

RPPI 14 Keekonomian & Daya Saing Industri serta Kebijakan Tata Kelola LHK

PROSIDING Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2006 : 24-34

Disampaikan oleh: DIREKTUR PERENCANAAN KAWASAN HUTAN DALAM SEMINAR PEMBANGUNAN KEHUTANAN BERKELANJUTAN DALAM PERSPEKTIF TATA RUANG

Penetapan Lokasi IUPHHK-RE di Tengah Arus Perubahan Kebijakan Perizinan. Hariadi Kartodihardjo 27 Maret 2014

BAB I PENDAHULUAN. Sejak tahun 1970-an telah terjadi perubahan menuju desentralisasi di antara negaranegara,

Oleh : SOENARNO (Ketua) SUKADARYATI (Wakil Ketua) Prof.Riset DULSALAM (Pembina) HOTEL PERMATA, BOGOR MEI 2015

KONSULTANSI SISTEM VERIFIKASI LEGALITAS KAYU

K E P U T U S A N KEPALA PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEHUTANAN Nomor : SK.80/Dik-2/2011. T e n t a n g

Perkembangan Bisnis Kehutanan Indonesia dan Permasalahannya

DISAMPAIKAN PADA RAPAT KOORDINASI DAN SINKRONISASI PENYUSUNAN PROGRAM KEBIJAKAN PENGEMBANGAN INDUSTRI AGRO TAHUN 2013 Oleh : SEKRETARIS DIREKTORAT

Pengumuman Hasil Sertifikasi Legalitas Kayu pada IUIPHHK PT. Suka Jaya Makmur, Provinsi Kalimantan Barat oleh SUCOFINDO ICS

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN Nomor : P.64/Menhut-II/2006 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P. 35/Menhut-II/2009 TENTANG TATA CARA PENERBITAN REKOMENDASI EKSPOR PRODUK KAYU ULIN OLAHAN

TANYA-JAWAB SEPUTAR KUR

RPPI 14 Keekonomian/Daya Saing Industri dan Kebijakan Tata Kelola LHK

Membuka Kebuntuan Program HTR

2016, No dengan Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 tentang Tata Hutan dan

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA

GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH PROGRES IMPLEMENTASI SASARAN RENCANA AKSI KORSUP KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P. 13/Menhut-II/2009 TENTANG HUTAN TANAMAN HASIL REHABILITASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

DAMPAK KEBIJAKAN LARANGAN EKSPOR KAYU BULAT TERHADAP SEKTOR KEHUTANAN INDONESIA. Oleh: E.G. Togu Manurung, Ph.D.

tertuang dalam Rencana Strategis (RENSTRA) Kementerian Kehutanan Tahun , implementasi kebijakan prioritas pembangunan yang

RINGKASAN EKSEKUTIF AGUS RUSLI.

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

KEMENTERIAN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL PLANOLOGI KEHUTANAN

Keterbukan Infomasi Pintu Perbaikan Tata Kelola Hutan

PR MENTERI LKH: TUTUP CELAH KORUPSI MELALUI REVISI REGULASI SEKTOR KEHUTANAN

Policy Brief Perbaikan Regulasi Lahan Gambut Dalam Mendukung Peran Sektor Industri Kelapa Sawit Indonesia 2017

BRIEF Volume 11 No. 02 Tahun 2017

KAJIAN SISTEM DAN KEBUTUHAN BAHAN BAKU INDUSTRI PENGOLAHAN KAYU DI KALIMANTAN SELATAN

BAB I PENDAHULUAN. pada sektor pertanian. Wilayah Indonesia yang luas tersebar diberbagai. meningkatkan perekonomian adalah kelapa sawit. Gambar 1.

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.39/Menhut-II/2013 TENTANG PEMBERDAYAAN MASYARAKAT SETEMPAT MELALUI KEMITRAAN KEHUTANAN

POSTUR INDUSTRI DAN PERDAGANGAN PRODUK KEHUTANAN

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.389, 2009 KEMENTERIAN KEHUTANAN. Tanaman Industri. Rakyat. Standar Biaya. Pembangunan. Pencabutan.

ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV

KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL DIREKTORAT JENDERAL ENERGI BARU, TERBARUKAN DAN KONSERVASI ENERGI KEMENTERIAN ENERGI & SUMBER DAYA MINERAL

Yang Terhormat: 1. Menteri Kelautan RI / Eselon 1 di KKP. 2. Kepala Staf Kantor Kepresidenan. 3. Ketua Satgas IUU Fishing

TERM OF REFERENCE (TOR) PENUNJUKAN LANGSUNG TENAGA PENDUKUNG PERENCANAAN PENGEMBANGAN PENANAMAN MODAL DI BIDANG AGRIBISNIS TAHUN ANGGARAN 2012

BAB I PENDAHULUAN. peradaban umat manusia di berbagai belahan dunia (Maryudi, 2015). Luas hutan

I. PENDAHULUAN. menonjol terutama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi pada periode

Catatan Pengarahan FLEGT

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN Nomor 78/M-DAG/PER/10/2014 TENTANG KETENTUAN IMPOR PRODUK KEHUTANAN

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.39/Menhut-II/2013 TENTANG PEMBERDAYAAN MASYARAKAT SETEMPAT MELALUI KEMITRAAN KEHUTANAN

Oleh : Ketua Tim GNPSDA. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Disampaikan pada acara :

Indonesia dan Belanda Perkuat Kerja Sama di Bidang Perdagangan dan Pembangunan Infrastruktur Rabu, 23 November 2016

MATERI 1. TANTANGAN SAAT INI 2. MENJALANKAN VISI KEADILAN 3. PERATURAN-PERUNDANGAN 4. MASALAH IMPLEMENTASI 5. PILIHAN STRATEGIS DAN TAKTIS

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.100, 2010 KEMENTERIAN KEHUTANAN. Iuran Izin Usaha Pemanfaatan. Prosedur. Hutam Produksi.

PERSIAPAN DUKUNGAN BAHAN BAKU INDUSTRI BERBASIS KEHUTANAN. Oleh : Direktur Jenderal Bina Usaha Kehutanan Kementerian Kehutanan

Rencana Strategis Pemantauan Independen Kehutanan di Indonesia

KEJAHATAN KEHUTANAN DAN PENCUCIAN UANG

PEMETAAN DAYA SAING PERTANIAN INDONESIA

Transkripsi:

Oleh: Rachman Effendi dkk Disampaikan pada: Pertemuan Forum komunikasi peneliti, widyaiswara Dan Penyuluh Kehutanan ((FKPWP) Hotel braja Mustika, Bogor 23 Oktober 2014

Seiring dengan penurunan luas tutupan dan potensi HP per ha: - PDB sek. kehutanan: pertumbuhan negara rataan -0,40% (2004-2009). - Sektor industri kayu & produk2 lainnya: - 0,57% (2004-2009). Bukti telah terjadinya pemanfaatan hutan yang tidak lestari. Terdapat pandangan: - Kegiatan investasi di bidang industri hasil hutan kurang menarik dibandingkan industri bukan hasil hutan (mis: perkebunan), dan - Kebijakan industri & perdagangan hasil hutan belum kondusif. Dampak krisis finansial global menekan inves. industri & perdagangan. Untuk meningkatkan kontribusi sektor kehutanan dalam PDB nasional diperlukan upaya perbaikan tata kelola industri & perdagangan hasil hutan. Tata kelola yang baik pada: Investasi industri & perdagangan hasil hutan. Perolehan pungutan bukan pajak sektor kehutanan yang meningkat. Maka: kontribusi sektor kehutanan akan meningkat.

Tujuan Umum : Untuk mengkaji tata kelola industri dan perdagangan hasil hutan berdasarkan dari hasilhasil penelitian yang telah dilakukan Tujuan Khusus : 1. Mengkaji besaran pungutan bukan pajak hasil hutan tanaman 2. Mengkaji daya saing investasi industri hasil hutan 3. Mengkaji daya saing perdagangan hasil hutan

Sasaran : 1. Tersedianya informasi faktor-faktor ekonomi dan kelembagaan yang mempengaruhi pungutan bukan pajak hasil hutan tanaman. 2. Tersedianya informasi faktor-faktor ekonomi dan kelembagaan yang mempengaruhi daya saing investasi industri hasil hutan. 3. Tersedianya informasi faktor-faktor ekonomi dan kelembagaan yang mempengaruhi daya saing perdagangan hasil hutan.

Luaran 1 Rekomendasi kebijakan perhitungan besaran pungutan bukan pajak hasil hutan tanaman. Luaran 2 Rekomendasi kebijakan peningkatan daya saing investasi industri hasil hutan dari sisi: (a) penawaran dan permintaan kayu, (b) kelayakan finansial usaha hutan tanaman dan (c) Perizinan Usaha Hutan Tanaman. Luaran 3 Rekomendasi kebijakan peningkatan daya saing perdagangan hasil hutan yang berorientasi ekspor dari sisi: (a) keunggulan produk kehutanan, (b) efisiensi sistem tata niaga, (c) harmonized system (HS), dan (d) non tariff barrier.

1. Meningkatnya daya saing produk kehutanan. 2. Terciptanya arah keseimbangan pasokan permintaan produk kehutanan. 3. Terciptanya diversivikasi produk kehutanan. 4. Meningkatnya nilai tambah produk-produk kehutanan. 5. Optimalnya nilai tambah dan manfaat produk kehutanan.

Kontribusi Sektor Kehutanan Perekonomian Nasional Investasi Industri Hasil Hutan Perdagangan Hasil Hutan Daya Saing Investor Besaran Pungutan Bukan Pajak Hasil Hutan (DR & PSDH) Faktor-Faktor Ekonomi & Kelembagaan Daya Saing Pasar Notes: Besaran pungutan bukan pajak hasil hutan dan daya saing investasi industri serta perdagangan hasil hutan dipengaruhi oleh faktor-faktor ekonomi dan kelembagaan. Faktorfaktor tersebut yang menjadi fokus dalam kajian-kajian yang dilakukan.

Metode: Deskripitif (berdasarkan bahan utama sintesis hasil penelitian yang tegabung dalam penelitian integratif tata kelola industri dan perdagangan hasil hutan) Tahapan Pelaksanaan : 1. Pengumpulan bahan/materi (hasil-hasil penelitian). 2. Studi literatur (desk study). 3. Pembahasan internal dan eksternal (FGD).

No Luaran/Judul/Tahun Penelitian Peneliti Lokasi I Kebijakan Perhitungan Besaran Pungutan Bukan Pajak Hasil Hutan Tanaman 1. Analisis Nilai Tegakan (stumpage value) hutan Tanaman/2010 Rachman Effendi, Indah Bangsawan, RM Mulyadin Sumsel, Kaltim, Jateng, Banten II 2. Analisis Kebijakan Penyediaan Lahan Hutan Tanaman/2010 Epi Syahadat, OK Karyono, Nunung Parlinah Kebijakan Peningkatan Daya Saing Investasi Industri Hasil Hutan 3. Analisis Penawaran dan Permintaan Kayu/2011 Satria Astana, Rachman Effendi, Deden Djaenudin, Handoyo, Mulyadin 4. Analisis Kelayakan Finansial Usaha Hutan Tanaman dan Perkebunan/2011 5. Analisis Perizinan Usaha Hutan Tanaman dan Perkebunan/2011 Rachman Effendi, Satria astana, Indah Bangsawan OK Karyono, Satria Astana, Handoyo III Kebijakan Peningkatan Daya Saing Perdagangan Hasil Hutan 6. Analisis Keunggulan Produk Kehutanan/2012 Magdalena, Andri Setiadi, Rachman Effendi 7. Analisis Efisiensi Tata Niaga Produk kehutanan/2012 Rachman Effendi, Magdalena, Andri Andriadi 8. Analisis Harmonized System (HS) Produk Kehutanan/2012 O.K. Karyono, Satria Astana, Rahman Efendi 9. Analisis Non-Tariff Barrier Produk Kehutanan/2012 R. Supriadi, Magdalena, Rachman Effendi, Andri Setiadi Kalbar, DI Yogyakarta, Jabar Kaltim, Jatim, Jabar Jabar, Sumsel, Kaltim Jambi, Kalbar Banten, Jateng, Jabar, Kaltim Jabar, Jateng, Jatim Jabar, Bali

Puspijak 2013

Hasil penelitian: 1) HTI pola kemitraan lebih efisien daripada pola mandiri. 2) NT HTI pola mandiri dan kemitraan > kewajiban pungutan 3) Faktor ekonomi: accessibility, permintaan, sistem pembayaran, biaya transaksi, modal pembangunan HTI, dan skala produksi. 4) Faktor kelembagaan: kebijakan pengelolaan HTI, TUK dan retribusi pemda serta kelembagaan masyarakat desa hutan. 5) Pengelolaan : skema dan mekanisme tata kelola industri perdagangan didasarkan pada Permenhut No. P.55/Menhut- II/2006 dan Revisi SK Menhut No. 126/Kpts-II/2003. 6) Penerapan P.55/2006 cukup baik, efisien, dan efektif namun koordinasi belum terbangun. 7) Pemberian IUPHH belum efisien.

8) Paling tidak ada 3 hal yang perlu dicapai dalam pelaksanaan tata kelola industri perdagangan: (a) perbaikan pelayanan publik; (b) memaksimalkan atau melindungi penerimaan negara; (c) peran serta Kemenhut dalam menentukan HPS. Rekomendasi: Perlu kebijakan peningkatan PSDH hingga 280%. Perlu penegakan hukum dibidang kehutanan. Penyederhanaan kebijakan pengelolaan HTI, TUK, pengenaan PBB, dan retribusi.

Hasil penelitian: 1) Pengurusan izin IUPHHK dengan sistem pengurusan izin satu pintu (one stop service) melibatkan banyak intitusi. 2) Pedoman pemberian rekomendasi dari Bupati/Walikota dan Gubernur perlu ditetapkan sebagai dasar acuan di seluruh Indonesia dalam memberikan rekomendasi (calon areal IUPHHK dan calon pemegang IUPHHK di wilayahnya). 3) Perlu peningkatan sosialisasi aturan atau kebijakan baru berkaitan dengan mekanisme proses perijinan IUPHHK. 4) Diperlukan suatu uji coba terhadap materi suatu kebijakan dalam mekanisme proses pengurusan perijinan IUPHHK sebelum SK. Menteri atau Permen Kehutanan tersebut diterbitkan/dikeluarkan.

3. Analisis Penawaran dan Permintaan Kayu Hasil penelitian: 1. Adanya penurunan pasokan (penawaran kayu bulat), tetapi terjadi kenaikan jumlah unit dan kapasitas produksi primer. Untuk industri sekunder (kayu lapis) juga terjadi kenaikan kapasitas industri. 2. Berdasarkan model pasokan kayu dari ketiga tipe hutan, model dipengaruhi oleh: a) Produksi kayu bulat dari hutan alam dipengaruhi oleh harga ril kayu bulat, produktivitas hutan alam, tingkat upah, dan kebijakan soft landing. b) Produksi kayu dari hutan tanaman dipengaruhi oleh produktivitas hutan tanaman, iuran hasil hutan, dan tren waktu.

Analisis Penawaran (Lanjutan) c) Produksi kayu dari hutan rakyat dipengaruhi oleh harga kayu bulat hutan alam dan luas tebangan hutan rakyat. 3. Terdapat gap antara penawaran dan permintaan, dikhawatirkan kekurangan bahan kayu ini akan diisi dengan kayu illegal, untuk itu diperlukan kebijakan untuk menanggulangi hal tersebut.

4. Analisis Kelayakan Finansial Usaha Hutan Tanaman dan Perkebunan Hasil Penelitian: 1) Usaha hutan tanaman dan kebun sawit cukup menguntungkan dan layak ditumbuh kembangkan secara finansial & ekonomi. 2) Faktor ekonomi yang berpengaruh nyata terhadap daya saing usaha hutan tanaman adalah harga jual kayu bulat, kebijakan larangan ekspor kayu bulat, jaminan pemberian kredit Bank (Bankable), biaya transaksi, kepastian dan permintaan pasar, aksessibilitas, skala Produksi, nilai tukar rupiah terhadap USD, biaya transaksi, dan kemampuan teknologi budidaya. 3) Faktor kelembagaan yang berpengaruh nyata terhadap daya saing usaha hutan tanaman adalah kebijakan pengelolaan hutan tanaman, TUK, retribusi pemda, dan kelembagaan masyarakat desa.

4) Untuk meningkatkan daya saing, antara lain: (a) harga jual kayu bulat setara dengan harga internasional; (b) dibukanya kran ekspor kayu bulat dari hutan tanaman; (c) adanya Jaminan investasi dari perbankan dan peningkatan daya saing industri hasil hutan. 5) Daya saing usaha hutan tanaman kurang mempunyai keunggulan komparatif dan kompetitif dibandingkan usaha perkebunan dikarenakan usaha hutan tanaman bersifat tidak reaktif terhadap perubahan harga ekspor industri hasil hutan tanaman dan kurang peka terhadap perubahan nilai tukar rupiah terhadap USD.

5. Analisis Perizinan Usaha Hutan Tanaman dan Perkebunan Hasil penelitian: 1) Tidak ada gap kebijakan dalam penyediaan lahan hutan tanaman, pemda mengikuti mekanisme yang sudah ditentukan oleh Kemenhut yang tertera dalam P.19/2007 Jo P.11/2008 (untuk HTI), P.37/2007 Jo P.18/2009 (untuk HKm), dan P.23/2007 Jo P.05/2008 (untuk HTR). 2) Proses perijinan IUPHHK melalui mekanisme permohonanan kepada Menhut belum efektif dan efisien, dengan beberapa pertimbangan diantaranya, yaitu: a) belum adanya ketentuan yang baku mengenai besarnya biaya dalam proses permohonan ijin. b) adanya ketidak singkronan pasal di dalam P.63/2008 dengan P.11/2008 mengenai permohonan rekomendasi gubernur.

6. Analisis Keunggulan Produk Kehutanan Hasil penelitian: 1. Biaya yang diperlukan untuk SVLK lebih mahal dibandingkan dengan sertifikasi sukarela, terutama pada industri, SVLK cenderung lebih tinggi. Namun pada prakteknya ada kecenderungan biaya yang diperlukan untuk sertifikasi ketiga sistem tidak jauh berbeda. 2. Jika sumber daya manusia di industri sudah cukup, tidak perlu diadakan pelatihan SVLK. 3. Dibanding FSC dan LEI, SVLK melibatkan banyak pihak yaitu pemerintah, badan akreditasi (KAN), auditor, dan LSM. 4. Ketiga sistem verifikasi umumnya sama-sama melakukan penilaian terhadap keterlacakan produk, namun FSC dan LEI melihat aspek kualitas manajemen sedangkan SVLK tidak secara eksplisit menilai hal tersebut. 5. Pemerintah perlu meningkatkan negoisasi SVLK kepada negara importir termasuk pihak Uni Eropa (terkait FLEGT- Voluntary Parnership Agreement) untuk meningkatkan rekognisi SVLK. 6. Jika SVLK dilaksanakan dengan benar, maka tidak akan ada masalah menembus Lacey Act di USA karena secara umum kriteria yang diminta LA telah tercantum dalam SVLK.

7. Analisis Efisiensi Tata Niaga Produk Kehutanan Hasil penelitian: 1. Kayu bulat hutan alam dari luar Jawa yang masuk melalui Pelabuhan Karangantu dan Pelabuhan Tanjung Mas berasal dari Provinsi Sulsel, Kalbar, Kalsel, Sumut, Papua, dan Papua Barat. 2. Rotan yang masuk melalui Pelabuhan Semarang berasal adalah Provinsi Kalteng, Kaltim, Kalbar, Kalsel, Sulawesi, dan NTB dengan tujuan ke pedagang, industri kerajinan, dan furniture rotan di Cirebon. 3. Rantai tata niaga kayu bulat yang paling efisien dimulai dari IUPHHK Industri Primer Industri Lanjutan. 4. Rantai tata niaga rotan yang lebih efisien diawali dari Petani/pengumpul rotan Pedagang Pengumpul Pedagang Pengumpul Antar Pulau Industri Pengolah Barang Jadi.

8. Analisis Harmonized System (HS) Produk Kehutanan Hasil penelitian: 1. Empat produk yang di ekspor tapi belum memiliki HS. Dua jenis produk yang di ekspor memiliki ukuran tidak sesuai dengan ukuran yang tercantum dalam HS. Negara dirugikan atau tidak ada penerimaan negara dari kegiatan ekspor produk tersebut. 2. Perlu penyempurnaan kebijakan ekspor produk kehutanan salah satunya mengefektifkan penerapan pengkodeaan HS.

9. Analisis Non-Tariff Barrier Produk Kehutanan Hasil penelitian: 1. Bentuk non-tariff barrier bagi produk kayu yang diekspor ke pasar Uni Eropa digolongkan ke dalam 2 kategori: Technical Barrier to Trade (TBT) dan Voluntary Export Restraints (VER), karena isu illegal logging yang terus berkembang. 2. Pemerintah Indonesia merespon persyaratan teknis produk kayu yang diekspor ke Uni Eropa melalui kebijakan SVLK. 3. Perlu diupayakaan yang sistematis dan berkelanjutan agar produk kayu dapat menembus pasar Uni Eropa.

REKOMENDASI KEBIJAKAN 1. Besaran pungutan bukan pajak hasil hutan tanaman dapat dimaksimalkan dari pungutan pengelolaan hasil hutan kayu dengan cara peningkatan peran serta Kemenhut dalam menentukan harga patokan kayu setempat (HPS) yang didasarkan pada harga ekspor kayu bulat atau harga internasional. 2. Tidak ada gap kebijakan dalam penyediaan lahan hutan tanaman, hanya proses perijinan IUPHHK melalui mekanisme permohonanan kepada Menhut belum efektif dan efisien. 3. Pembayaran DR dan PSDH perlu difungsikan sebagai instrumen kebijakan fiskal dalam menjaga kelestarian hutan, 4. Kebijakan ekspor kayu bulat HT perlu diberlakukan guna memperkecil ketimpangan harga kayu bulat dan pulp. 5. Daya saing usaha hutan tanaman berpeluang untuk ditingkatkan hingga produk industri hilir dalam menyikapi keunggulan komparatif dan kompetitif usaha perkebunan.

SINTESIS (Lanjutan) 6. Peningkatan daya saing perdagangan produk kayu dilakukan dengan peningkatan proses negosiasi Pemerintah Indonesia dengan Uni Eropa dan USA, agar SVLK dikenal dan dapat kemudahan di kedua negara tersebut, selain itu peningkatan peran pemerintah sebagai fasilitator dalam pengurusan SVLK bagi industri skala kecil, menengah, dan besar. 7. Penerapan pengkodeaan HS diperlukan terhadap seluruh produk kehutanan yang diekspor dalam upaya peningkatan penerimaan negara. 8. Efisiensi tata niaga produk kayu dimulai dari IUPHHK, industri primer hingga industri lanjutan, sedangkan untuk rotan lebih banyak lembaga yang terlibat. 9. Penanganan non-tariff barrier bagi produk kayu yang diekspor ke pasar Uni Eropa dengan kategori Technical Barrier to Trade (TBT) dan Voluntary Export Restraints (VER) perlu dituntaskan.

Jika pohon terakhir telah ditebang Ikan telah ditangkap dan air telah tercemar, Maka manusia akan sadar bahwa dia tidak dapat memakan uang (greenpeace) ++ Researchers...

Di sana gunung, di sini gunung, Di tengah-tengah bunga melati Saya bingung kamu pun bingung Kenapa ada bunga melati??? Terima Kasih ++ Researchers...