Rima Puspa Aryani : A1C311010

dokumen-dokumen yang mirip
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR I

SIFAT KOLIGATIF LARUTAN

BAB I PENDAHULUAN A. KENAIKAN TITIK DIDIH DAN PENURUNAN TITIK BEKU

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR 1

Sulistyani M.Si

Pilihan Ganda Soal dan Jawaban Sifat Koligatif Larutan 20 butir. 5 uraian Soal dan Jawaban Sifat Koligatif Larutan.

RINGKASAN MATERI PETA KONSEP KIMIA

I Sifat Koligatif Larutan

Sifat Koligatif Larutan

SIFAT KOLIGATIF LARUTAN

Sifat Koligatif Larutan

BAB 1 SIFAT KOLIGATIF LARUTAN. STANDART KOMPETENSI Mendeskripsikan sifat-sifat larutan, metode pengukuran serta terapannya.

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIK I PERCOBAAN IX ENTALPI DAN ENTROPI PELEBURAN

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA

SIFAT KOLIGATIF LARUTAN

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

SIFAT KOLIGATIF LARUTAN

TITIK DIDIH LARUTAN. Disusun Oleh. Kelompok B-4. Zulmijar

Sifat-sifat Fisis Larutan

BAB 5 KONSEP LARUTAN 1. KOMPOSISI LARUTAN 2. SIFAT-SIFAT ZAT TERLARUT 3. KESETIMBANGAN LARUTAN 4. SIFAT KOLIGATIF LARUTAN

KEGIATAN PEMBELAJARAN 1 SIFAT KOLIGATIF LARUTAN

SIFAT KOLIGATIF LARUTAN

Kumpulan Laporan Praktikum Kimia Fisika PERCOBAAN VI

Sifat koligatif larutan. Pak imam

OSMOSIS LATAR BELAKANG

Sifat Dasar Larutan Kelarutan Pengaruh Jenis Zat pada Kelarutan

Kegiatan Belajar 1: Sifat Koligatif Larutan. Menguasai teori aplikasi materipelajaran yang diampu secara mendalam pada kimia larutan.

SIFAT KOLIGATIF LARUTAN

I. Judul : Membandingkan Kenaikan Titik Didih Larutan Elektrolit dan Non-Elektrolit.

SOAL REMEDIAL SIFAT KOLIGATIF LARUTAN

L A R U T A N d a n s i f a t k o l i gat if l a r u t a n. Putri Anjarsari, S.S.i., M.Pd

Kelompok 2 JUWITA ARRAHMA W NOVIAN ARRADEX C SURI ANDAYANA 2 KI A TAHUN AKADEMIK 2016 POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA

Perhatikan gambar diagram P-T berikut:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Belajar merupakan salah satu faktor yang berperan penting dalam

BAB 4 TEMUAN DAN PEMBAHASAN. merumuskan indikator dan konsep pada submateri pokok kenaikan titik didih

KIMIA TERAPAN LARUTAN

Kimia. Mari Belajar. untuk SMA-MA Kelas XII IPA

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA PENENTUAN BERAT MOLEKUL BERDASARKAN PENGUKURAN MASSA JENIS GAS

PERCOBAAN I PENENTUAN BERAT MOLEKUL BERDASARKAN PENGUKURAN MASSA JENIS GAS

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA II

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK 1 PEMISAHAN KOMPONEN DARI CAMPURAN 11 NOVEMBER 2014 SEPTIA MARISA ABSTRAK

HUKUM RAOULT. campuran

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA PENENTUAN BERAT MOLEKUL BERDASARKAN PENGUKURAN MASSA JENIS GAS

PERTEMUAN VI DAN VII SIFAT KOLIGATIF LARUTAN

Jurnal sains kimia Vol.II No.2,2010 PENURUNAN TITIK BEKU LARUTAN

SIFAT KOLIGATIF LARUTAN

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA KELARUTAN TIMBAL BALIK SISTEM BINER FENOL AIR

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIK VOLUM MOLAL PARSIAL. Nama : Ardian Lubis NIM : Kelompok : 6 Asisten : Yuda Anggi

Kata Pengantar. Surakarta, Juli Penyusun. Sains KIMIA SMA/MA Kelas X 3

PENENTUAN BERAT MOLEKUL MELALUI METODE PENURUNAN TITIK BEKU (CRYOSCOPIC)

KESETIMBANGAN FASA. Komponen sistem

UH : SIFAT KOLIGATIF LARUTAN KODE SOAL : A

Larutan dan Konsentrasi

MAKALAH KIMIA FISIKA LARUTAN ELEKTROLIT DAN NON ELEKTROLIT

A. Pengertian larutan B. Jenis-jenis larutan C. Sifat larutan

LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM ANORGANIK PERCOBAAN 1 TOPIK : SINTESIS DAN KARAKTERISTIK NATRIUM TIOSULFAT

KIMIA. Sesi. Sifat Koligatif (Bagian II) A. PENURUNAN TEKANAN UAP ( P)

20 % w/w = 100% 26.67% x =

KISI KISI SOAL ULANGAN AKHIR SEMESTER GASAL MADRASAH ALIYAH TAHUN PELAJARAN 2015/2016

ARTIKEL ILMIAH PENGEMBANGAN MULTIMEDIA CROCODILLE CHEMISTRY MENGGUNAKAN CAMTASIA STUDIO 7 PADA MATERI SIFAT KOLIGATIF LARUTAN KELAS XII SMAN 2 JAMBI

Siti Nur Faedah Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan PMIPA FKIP Universitas Riau, Pekanbaru 28293

DAFTAR LAMPIRAN...xi

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

PERCOBAAN I PEMBUATAN DAN PENENTUAN KONSENTRASI LARUTAN

LAPORAN PENENTUAN BERAT MOLEKUL SENYAWA BERDASARKAN PENGUKURAN MASSA JENIS GAS

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN KALOR DALAM MENGUBAH SUHU DAN WUJUD BENDA

A. Tujuan Percobaan Adapun tujuan dari percobaan ini yaitu menghasilkan minyak sereh dengan cara destilasi

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA PENENTUAN BERAT MOLEKUL BERDASARKAN PENGUKURAN MASSA JENIS GAS. Oleh:

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA KIMIA FISIK II SEL ELEKTROLISIS (PENGARUH SUHU TERHADAP SELASA, 6 MEI 2014 DISUSUN OLEH: Fikri Sholiha

BY SMA NEGERI 16 SURABAYA

MODUL I SIFAT KOLIGATIF LARUTAN Penurunan Titik Beku Larutan

TUGAS KIMIA DASAR LARUTAN

VOLUME MOLAR GAS. I. TUJUAN Menentukan volume relatif dari zat dalam wujud yang berbeda

Soal dan Pembahasan. Soal dan Pembahasan Fraksi Mol. 1.Tentukan kemolalan larutan dari 0,01 mol NaOH dalam 200 gram air!

PRAKTIKUM KIMIA DASAR I

Laboratorium Kimia SMA... Praktikum II Kelas XI IPA Semester I Tahun Pelajaran.../...

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA KELARUTAN SEBAGAI FUNGSI SUHU

BAB II PEMBUATAN DAN PENGENCERAN LARUTAN

Laporan Praktikum Kimia

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Kata media berasal dari bahasa latin yaitu medius yang secara harfiah berarti

BAB III HASIL PENELITIAN

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA I DIAGRAM TERNER (SISTEM ZAT CAIR TIGA KOMPONEN)

Laporan Praktikum Kimia Laju Reaksi

MAKALAH KIMIA ORGANIK FISIK GEJALA SOLVASI

Sifat Koligatif Larutan (Bagian I)

LAPORAN PRAKTIKUM II.3 BIOKIMIA (AKKC 223) DENATURASI PROTEIN

Titik Leleh dan Titik Didih

FORMAT WAWANCARA GURU

BAGAIMANA HUBUNGAN ANTARA SIFAT BAHAN KIMIA SEHARI-HARI DENGAN STRUKTUR PARTIKEL PENYUSUNNYA? Kegiatan 2.1. Terdiri dari

TEGUH PANGAJUANTO TRI RAHMIDI KIMIA 3 UNTUK SMA/MA KELAS XII

Konsep Mol. 1. Jumlah Partikel Dalam 1 Mol Zat

Kimia Fisika Bab 6. Kesetimbangan Fasa OLEH: RIDHAWATI, ST, MT

Jurnal Praktikum. Kimia Fisika II. Difusi Gas. Tanggal Percobaan: Senin, 08-April Disusun Oleh: Aida Nadia ( ) Kelompok 3 Kloter I:

Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional dilindungi Undang-undang

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. cara. Secara umum strategi ialah suatu garis besar haluan dalam bertindak

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA II ENERGI KESETIMBANGAN FASA Sabtu, 19 April 2014

KETERAMPILAN LABORATORIUM DAFTAR ALAT LABORATORIUM

bemffums.blogspot.com

KELARUTAN SEBAGAI FUNGSI TEMPERATUR

SIFAT KOLIGATIF LARUTAN

Transkripsi:

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA SMA (AKKC 351) PERCOBAAN VIII SIFAT KOLIGATIF LARUTAN Dosen: Dra. Hj. St. H. Nurdiniah, M.Si Drs. Rusmansyah, M.Pd Asisten Praktikum: Siti Meisyarah Trisda Mila Disusun Oleh: Kelompok 8 Dewi Artika : A1C311038 Eryn Rahmawati : A1C311061 Fitriana Aida : A1C311029 Normilawati : A1C311005 Rima Puspa Aryani : A1C311010 Sri Yulianti : A1C311052 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARMASIN NOVEMBER 2013

PERCOBAAN VIII Judul Tujuan : Sifat Koligatif Larutan : Mengamati titik didih zat pelarut (air) dan pengaruh zat terlarut pada titik didih larutan, serta menentukan nilai kenaikan titik didih larutan. Hari/ tanggal : Jum at/29 November 2013 Tempat : Laboratorium kimia PMIPA FKIP UNLAM Banjarmasin I. DASAR TEORI Sifat sifat larutan yang tidak bergantung pada jenis zat terlarut, tetapi hanya pada konsentrasi partikel terlarutnya disebut Sifat Koligatif. Istilah koligatif berasal dari bahasa latin yang artinya kolega atau kelompok. Sifat koligatif hanya bergantung pada jumlah partikel atau kelompok partikel zat terlarut di dalam larutan. Sifat koligatif larutan elektrolit akan berbeda dengan sifat koligatif larutan nonelektrolit, meski jumlah mol zat terlarutnya sama. Sifat koligatif meliputi tekanan uap, kenaikan titik didih, penurunan titik beku, dan tekanan osmotik. (Sumber: Michael Purba, 2006, hlm. 2 ) 1. Penurunan tekanan uap larutan Pada setiap suhu, zat cair selalu mempunyai tekanan tertentu. Tekanan ini adalah tekanan uap jenuhnya pada suhu tertentu. Penambahan suatu zat ke dalam zat cair menyebabkan penurunan tekanan uapnya. Hal ini disebabkan karena zat terlarut itu mengurangi bagian atau fraksi dari pelarut, sehingga kecepatan penguapan berkurang. Penurunan tekanan uap jenuh dirumuskan sebagai : P = X B. P 0 Keterangan : P = penurunan tekanan uap jenuh X B = fraksi mol zat terlarut

P 0 = tekanan uap jenuh air murni P = X A. P o Keterangan : P = tekanan uap jenuh larutan X A = fraksi mol pelarut P 0 = tekanan uap jenuh air murni 2. Kenaikan Titik Didih Titik didih adalah suhu ketika tekanan uap larut sama dengan pelarut di dalam larutan. Pada suhu ini, tekanan uap zat cair sama dengan tekanan udara disekitarnya. Hal ini menyebabkan terjadinya penguapan di seluruh bagian zat cair. Titik didih zat cair diukur pada tekanan 1 atm. Dari hasil penelitian, ternyata titik didih larutan selalu lebih tinggi dari titik didih pelarut murninya. Hal ini disebabkan adanya partikel - partikel zat terlarut dalam suatu larutan menghalangi peristiwa penguapan partikel - partikel pelarut. Oleh karena itu, penguapan partikel - partikel pelarut membutuhkan energi yang lebih besar. Perbedaan titik didih larutan dengan titik didih pelarut murni disebut kenaikan titik didih yang dinyatakan dengan (ΔT b ). Raoult telah menganalisis bahwa kenaikan titik didih suatu larutan berbanding lurus dengan molalitas dikalikan dengan tetapan kenaikan titik didih molal dari larutan tersebut. Persamaan yang dikemukakan oleh Raoult adalah sebagai berikut. T b = K b m Keterangan : T b = K b ΔT b = T b larutan T b pelarut ΔT b K b = kenaikan titik didih = tetapan kenaikan titik didih molal

g Mr m = massa zat terlarut = massa molekul relatif = molalitas larutan 3. Penurunan Titik Beku Larutan mempunyai titik beku yang lebih rendah dibandingkan dengan pelarut murni. Selisih antara titik beku pelarut dengan titik beku larutan dinamakan penurunan titik beku larutan ( T f ). berikut. Menurut hukum Raoult penurunan titik beku larutan dirumuskan seperti T f = K f. m atau T f = K f. ΔT f = T f pelarut T f larutan Keterangan : ΔT f K f g Mr m = penurunan titik beku = tetapan kenaikan titik beku molal = massa zat terlarut = massa molekul relatif = molalitas larutan 4. Tekanan Osmosis Gejala osmosis adalah perjalanan pelarut murni ke dalam larutan, yang keduanya terpisah oleh membran semipermiabel, yaitu membran yang dapat diresapi oleh pelarut tetapi tidak oleh zat terlarutnya. Tekanan osmosis adalah

tekanan yang harus diberikan kepada larutan agar alirannya berhenti (terhentinya perpindahan molekul-molekul pelarut ke dalam larutan melalui membran semipermeabel). Menurut Van t hoff tekanan osmosis mengikuti hukum gas ideal: PV = nrt Karena tekanan osmosis =, maka : atau Keterangan : π M R T = tekanan osmosis (atm) = konsentrasi larutan (M) = tetapan gas universal = 0,082 L.atm/mol K = suhu mutlak (K) (Sumber: Asri Nisa Sakinah, 2011, hlm. 2-3) II. ALAT DAN BAHAN A. Alat Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini antara lain : 1. Neraca analitik 1 buah

2. Termometer -10 s.d. 110 0 C 3 buah 3. Gelas ukur 100 ml 3 buah 4. Gelas kimia 200 ml 3 buah 5. Batang pengaduk kaca 2 buah 6. Sendok 1 buah 7. Pembakar bunsen 3 buah 8. Kasa asbes dan kaki tiga 3 buah 9. Statif dan klem 3 buah 10. Stopwatch 3 buah B. Bahan Bahan-bahan yang diperlukan dalam percobaan ini adalah : 1. Gula pasir 2. Aquades III. PROSEDUR KERJA A. Menentukan Titik Didih Zat Pelarut 1. Memasukkan 100 ml aquades ke dalam gelas kimia 200 ml. 2. Memanaskan aquades tersebut dengan menggunakan pembakar bunsen. 3. Mencatat suhu setiap setengah menit sampai aquades mendidih dan suhu tetap. B. Menentukan Titik Didih Larutan 1. Menimbang 26 gram gula pasir. 2. Memasukkan 100 ml aquades dan 26 gram gula pasir ke dalam gelas kimia, mengaduknya hingga larut. 3. Melakukan kegiatan yang sama seperti menentukan Titik Didih Zat Pelarut. 4. Mengulangi lagi semua kegiatan di atas dengan mengganti massa gula pasir menjadi 13 gram. IV. HASIL PENGAMATAN No Perlakuan Hasil Pengamatan A. Menentukan titik didih Pelarut 1. Memasukkan 100 ml aquades ke dalam gelas kimia, kemudian memanaskan aquades tersebut dengan Suhu Awal 29 C 30 C 63 C 83 C 31 C 65 C 83,5 C

2 menggunakan pembakar bunsen. Mencatat suhu setiap setengah menit sampai aquades mendidih dan suhu tetap. 34 C 66 C 84 C 36 C 67 C 84,5 C 38 C 68 C 85 C 40 C 70 C 85,5 C 43 C 71 C 86 C 45 C 73 C 86,5 C 48 C 74 C 86,5 C 49,5 C 75,5 C 86,5 C 51 C 77 C 87 C 54 C 78 C 87 C 56 C 79 C 87 C 57,7 C 80 C 87,5 C 59,5 C 81 C 87,5 C 61,5 C 82 C 87 C No. Perlakuan Hasil Pengamatan Suhu akhir titik didih air = 87 C B. Menentukan Titik Didih Larutan 1. Memasukkan 100 ml aquades dengan 26 gram gula ke dalam gelas kimia dan mengaduknya hingga larut. Larutan gula 2. Memanaskan larutan gula dengan menggunakan pembakar bunsen. Mencatat suhu setiap setengah menit sampai larutan mendidih dan suhu tetap. Suhu Awal 30,5 C 33 C 47 C 59 C 34,5 C 48 C 59,5 C 36 C 49 C 60 C 38 C 50 C 60,5 C

39 C 51 C 61 C 40 C 51,5 C 61,5 C 40,5 C 52 C 62 C 41 C 53,5 C 62,5 C 42 C 54 C 62,75 C 42,5 C 55 C 63 C 43 C 56 C 63,25 C 43,5 C 56,5 C 63,5 C 44,5 C 57 C 63,75 C 44,5 C 57,5 C 64 C 46 C 58 C 64,25 C No. Perlakuan Hasil Pengamatan

64,5 C 81 C 86 C 64,75 C 81,5 C 87 C 65 C 82 C 87,5 C 65,25 C 82,25 C 88 C 65,5 C 82,5 C 88 C 65,75 C 83 C 88 C 66 C 83 C 88 C 66,25 C 83,25 C 88,5 C 66,5 C 83,5 C 89 C 68 C 84 C 89,5 C 70,5 C 84,25 C 90 C 71,5 C 84,25 C 90 C 73 C 84,5 C 90 C 74 C 84,5 C 90 C 75 C 84,5 C 90 C 77 C 85 C 90 C 78 C 85 C 90 C 78,5 C 85 C 90 C 79 C 85,5 C 79,5 C 85,5 C 80,5 C 86 C Suhu akhir titik didih larutan gula 90 C No. Perlakuan Hasil Pengamatan 3 Memasukkan 100 ml Larutan Gula

4 aquades dengan 13 gram gula ke dalam gelas kimia dan mengaduknya hingga larut. Memanaskan larutan gula dengan menggunakan pembakar bunsen. Mencatat suhu setiap setengah menit sampai larutan mendidih dan suhu tetap. Suhu awal 29 32 C 68 C 85,5 C 33,5 C 70 C 86 C 37 C 72 C 87 C 40 C 74 C 87 C 42 C 75 C 88 C 45 C 76 C 88 C 48 C 77 C 88 C 51 C 78 C 88,5 C 53 C 80 C 89 C 55 C 81 C 89 C 58 C 82 C 89 C 60 C 83 C 89 C 62 C 83,5 C 89 C 64 C 84 C 66 C 85 C Suhu akhir titik didih larutan gula 89 C V. ANALISIS DATA A. Menentukan Titik Didih Pelarut Dari percobaan mendidihkan 100 ml aquades, diperoleh bahwa titik didih aquades adalah 87. Hal ini diketahui dengan mengukur suhu aquades setiap setengah menit, dimana pada menit ke-24 hingga seterusnya suhu aquades tetap pada 87. Nilai titik didih tersebut tidak sesuai dengan titik didih aquades murni yang 100 pada keadaan normal. B. Menentukan Titik Didih Larutan

Dari percobaan mendidihkan larutan yakni larutan gula, diperoleh titik didih larutan sebesar 90. Sama halnya dengan aquades, titik didih larutan diketahui dengan mengukur suhu setiap setengah menit, dimana pada menit ke-52 hingga seterusnya suhu tetap pada 90. Nilai titik didih larutan gula tersebut lebih tinggi dibandingkan titik didih pelarut murni (aquades). Hal ini terjadi karena adanya zat terlarut dalam larutan, yakni gula. Adapun jumlah gula yang dilarutkan seberat 26 gram. Selanjutnya percobaan dilakukan lagi dengan melarutkan gula seberat 13 gram untuk membandingkan titik didih kedua larutan. Dimana pada percobaan ini diperoleh pada menit ke-21 hingga seterusnya suhu tetap pada 89. Nilai titik didih ini lebih rendah daripada nilai titik didih larutan sebelumnya (larutan dengan zat terlarut 26 gram gula), hal ini dikarenakan jumlah zat yang dilarutkan juga lebih sedikit. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa banyak sedikitnya zat yang dilarutkan mempengaruhi titik didih suatu larutan. Dari hasil perhitungan diperoleh kenaikan titik didih larutan 26 gram gula adalah 3. Sedangkan kenaikan titik didih larutan 13 gram gula adalah 2 VI. KESIMPULAN 1. Dari percobaan diperoleh bahwa titik didih pelarut (aquades) sebesar 87. Sedangkan titik didih larutan 26 gram gula sebesar 90 dan larutan 13 gram gula sebesar 89.

2. Kenaikan titik didih larutan 26 gram gula sebesar 3 dan kenaikan titik didih larutan 13 gram gula sebesar 2. 3. Titik didih larutan lebih tinggi daripada titik didih pelarut murni. 4. Semakin banyak zat terlarut semakin tinggi titik didih larutan.

DAFTAR PUSTAKA Atkins, P.W. 1996. Kimia Fisika Jilid 1 edisi ke-4. Jakarta : Erlangga Purba, Michael. 2006. Kimia untuk SMA Kelas XII. Jakarta : Erlangga Syukri. 1999. Kimia Dasar Jilid 2. Bandung : ITB Anonim. 2009. Sifat Koligatif Larutan (Online). http://www.chem-istry.org/materi_kimia/kimia-smk/kelas_x/sifat-koligatif-larutan/. Diakses pada 9 Oktober 2013 Sakinah, Asri Nisa. 2011. Sifat Koligatif Larutan Jurnal (Online). http://www.scribd.com/doc/125750928/sifat-koligatif-larutan-jurnal- Repaired#download. Diakses pada 9 Oktober 2013

LAMPIRAN Pertanyaan 1. Tentukan kenaikan titik didih larutan tersebut! 2. Tentukan jumlah molalitas gula yang dilarutkan dalam larutan! 3. Bagaimana pengaruh zat terlarut terhadap kenaikan titik didih? Jawaban: 1. Diketahui: 90 0 C Ket : A = 26 gram gula 89 0 C Ket : B = 13 gram gula 87 0 C Ditanya : a. b. Jawab : a. Gula yang dilarutkan sebesar 26 gram, sehingga = = 90 0 C 87 0 C = Jadi kenaikan titik didih larutan adalah sebesar. b. Gula yang dilarutkan sebesar 13 gram, sehingga = = 89 0 C 87 0 C = Jadi kenaikan titik didih larutan adalah sebesar.

2. Molalitas 26 gram gula yang dilarutkan m = m = m = 1,4 molal Jadi jumlah molalitas gula yang dilarutkan sebesar 1,4 molal. Molalitas 13 gram gula yang dilarutkan m = m = m = 0,72 molal Jadi jumlah molalitas gula yang dilarutkan sebesar 0,72 molal. 3. Zat terlarut berpengaruh terhadap kenaikan titik didih, dimana dengan bertambahnya zat terlarut maka titik didih larutan semakin tinggi, karena konsentrasi larutan semakin tinggi. Adanya zat terlarut (solute) yang sukar menguap (nonvolatile) mengakibatkan tekanan uap dari larutan turun dan ini menyebabkan titik didih larutan lebih tinggi dari pada titik didih pelarutnya.