PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
PEMBAHASAN 4.1. Karakteristik Fisik Volume Pengembangan Roti Manis

4. PEMBAHASAN 4.1. Karakteristik Fisik Volume Pengembangan Roti Manis

TINJAUAN PUSTAKA. Kerupuk merupakan makanan khas Indonesia dan sudah sangat dikenal. Kerupuk atau krupuk adalah makanan ringan yang dibuat dari adonan

I PENDAHULUAN. Penelitian merupakan sebuah proses dimana dalam pengerjaannya

BAB I PENDAHULUAN. menyebabkan beras ditempatkan sebagai makanan pokok yang strategis.

BAB I PENDAHULUAN. Pemanfaatan tepung-tepungan lokal atau non terigu saat ini telah menjadi

II. TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. Provinsi Lampung merupakan daerah penghasil ubi kayu terbesar di Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN. Tepung terigu digunakan untuk pembuatan mie, roti, kue sebagai bahan

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara beriklim tropis yang memiliki potensi di sektor

BAB I PENDAHULUAN. penganekaragaman produk pangan, baik berupa serealia (biji-bijian), tahun terjadi peningkatan konsumsi tepung terigu di

I. PENDAHULUAN. Ubi jalar (Ipomoea batatas L) merupakan salah satu hasil pertanian yang

1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Kue Bolu. Kue bolu merupakan produk bakery yang terbuat dari terigu, gula,

MAKALAH TEKNOLOGI PENGOLAHAN ROTI DAN KUE Bahan-bahan Pembuatan Roti dan Kue. Disusun Oleh : Diana Karisa

I PENDAHULUAN. Umumnya dalam sebuah penelitian diawali dengan identifikasi masalah. hipotesis dan sekaligus untuk menjawab permasalahan penelitian.

BAB I PENDAHULUAN. Meningkatnya jumlah penduduk indonesia setiap tahun menyebabkan

BAB 1 PENDAHULUAN. akan tetapi sering dikonsumsi sebagai snack atau makanan selingan. Seiring dengan meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang gizi

I PENDAHULUAN. (6) Hipotesis Penelitian dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian. Indonesia memiliki beraneka ragam jenis umbi-umbian yang belum

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

I. PENDAHULUAN. Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) merupakan salah satu jenis sayuran sehat

BAB I PENDAHULUAN. impor. Volume impor gandum dari tahun ke tahun semakin meningkat. Berdasarkan data APTINDO (2013), Indonesia mengimpor gandum

BAB I PENDAHULUAN. tuntutan inovasi dan kebutuhan masyarakat terhadap konsumsi roti yang terus

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PRODUKSI CASSAVA SOUR STARCH DENGAN VARIASI MEDIA STARTER BAKTERI ASAM LAKTAT DAN LAMA FERMENTASI

LOGO BAKING TITIS SARI

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara penghasil singkong. Menurut

Sutomo, B

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Kandungan gizi pada ikan adalah protein, lemak, vitamin-vitamin, mineral,

TINJAUAN PUSTAKA. pisang raja berasal dari kawasan Asia Tenggara dan pulau-pulau pasifik barat. Selanjutnya

I. PENDAHULUAN. (1995) roti adalah produk yang diperoleh dari adonan tepung terigu yang. makanan lain dan bahan tambahan makanan yang diizinkan.

BAB I PENDAHULUAN. Kebutuhan terigu oleh masyarakat Indonesia terus meningkat. Berdasarkan data dari APTINDO (2014) dilaporkan bahwa konsumsi tepung

BAB I PENDAHULUAN. makanan sangat terbatas dan mudah rusak (perishable). Dengan pengawetan,

I. PENDAHULUAN. Buah naga (Hylocereus polyrhizus) merupakan buah yang saat ini cukup populer

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tepung terigu yang ditambahkan dengan bahan bahan tambahan lain, seperti

I PENDAHULUAN. Hipotesis Penelitian, Tempat dan Waktu Penelitian. dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan bernilai gizi tinggi seperti kacang

I PENDAHULUAN. 6. Hipotesis Penelitian, dan 7. Waktu dan Tempat Penelitian. keperluan. Berdasarkan penggolongannya tepung dibagi menjadi dua, yaitu

KADAR BIOETANOL LIMBAH TAPIOKA PADAT KERING DENGAN PENAMBAHAN RAGI DAN LAMA FERMENTASI YANG BERBEDA

I. PENDAHULUAN. Kebutuhan tepung terigu di Indonesia saat ini terus meningkat. Asosiasi Produsen

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

I PENDAHULUAN. Pemikiran, 1.6 Hipotesis Penelitian, dan 1.7 Tempat dan Waktu Penelitian.

PENGAWETAN PANGAN. Oleh: Puji Lestari, S.TP Widyaiswara Pertama

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I PENDAHULUAN. selain sebagai sumber karbohidrat jagung juga merupakan sumber protein yang

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN

TINJAUAN PUSTAKA. agar gluten yang terbentuk dapat menyimpan gas sebanyak-banyaknya. Umumnya, dalam

KADAR GLUKOSA DAN BIOETANOL PADA FERMENTASI TEPUNG KETELA POHON (Manihot utilissima Pohl) DENGAN DOSIS RAGI DAN WAKTU FERMENTASI YANG BERBEDA

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Perbandingan Tepung Tapioka : Tepung Terigu :

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kue bolu merupakan kue berbahan dasar tepung terigu dengan penambahan

I. PENDAHULUAN. Singkong ( Manihot esculenta) merupakan salah satu komoditas yang memiliki

BAB I PENDAHULUAN. tahunnya. Ketela pohon banyak dikenal masyarakat sebagai bahan pangan

BAB I PENDAHULUAN. (APTINDO, 2013) konsumsi tepung terigu nasional meningkat 7% dari tahun

I. PENDAHULUAN. Ubi jalar adalah salah satu komoditas pertanian yang bergizi tinggi, berumur

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Ketela pohon merupakan tanaman yang sudah tidak asing lagi bagi

TEPUNG MOCAF SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI TEPUNG TERIGU Oleh: Puji Lestari, S.TP Widyaiswara Pertama

BAB I LATAR BELAKANG

I. PENDAHULUAN. Ubi jalar mengandung karbohidrat sebanyak 27,9 g yang dapat menghasilkan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. selongsong. Sosis dapat diolah dari daging sapi, ayam, babi, ikan dan lainnya.

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini ketergantungan masyarakat terhadap tepung terigu untuk

Prinsip-prinsip Penanganan dan Pengolahan Bahan Agroindustri

BAB I PENDAHULUAN. antara lain serealia, palmae, umbi-umbian yang tumbuh subur di hampir

TINJAUAN PUSTAKA. ditentukan oleh kandungan racun yang disebut juga linamarin (senyawa sianoglukosida

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Beras bahan makanan yang dihasilkan oleh padi. Meskipun sebagai bahan

I. PENDAHULUAN. Ubi jalar merupakan sumber karbohidrat yang banyak mengandung pati

I PENDAHULUAN. Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian, dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian.

PEMBUATAN ROMO (ROTI MOCAF) YANG DIPERKAYA DENGAN TEPUNG KACANG HIJAU (Vigna radiata L.) SEBAGAI SUMBER PROTEIN SKRIPSI OLEH:

BAB I PENDAHULUAN. Tanaman singkong adalah komoditas tanaman umbi-umbian yang dapat

II. TINJAUAN PUSTAKA. dan banyak tumbuh di Indonesia, diantaranya di Pulau Jawa, Madura, Sulawesi,

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kerupuk

BAB I PENDAHULUAN. menggunakan bantuan kapang golongan Rhizopus Sp. Menurut Astawan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman Singkong (Manihot utilissima) adalah komoditas tanaman pangan yang

1 I PENDAHULUAN. yang cukup baik terutama kandungan karbohidrat yang tinggi.

BAB I PENDAHULUAN. tanaman pangan lokal umbi-umbian, namun sampai saat ini pemanfaatan. Tanaman talas merupakan tumbuhan asli daerah tropis.

BAB I PENDAHULUAN. oleh konsumen rumah tangga dan industri makanan di Indonesia. Tepung

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kelenjar ludah besar dan kecil yang ada pada mukosa oral. Saliva yang terbentuk

PROSES PRODUKSI ROTI MANIS DI VIRGIN CAKE & BAKERY SEMARANG

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Astawan (2008), jambu biji merupakan buah yang sangat

BAB 1 PENDAHULUAN. Sebagian besar produk makanan jajanan di pasaran yang digemari. anak-anak berbahan dasar tepung terigu. Hal ini dapat menyebabkan

BAB I PENDAHULUAN. mempertahankan hidup. Pemenuhan kebutuhan pangan dapat dilakukan dengan

TINJAUAN PUSTAKA. A. Deskripsi dan Kedudukan Taksonomi Kluwih (Artocarpus communis)

I. PENDAHULUAN. Tempe merupakan produk pangan tradisional Indonesia berbahan dasar kacang

PENGARUH PROPORSI TEPUNG TERIGU : PISANG TANDUK KUKUS DAN PENAMBAHAN TELUR TERHADAP KUALITAS CAKE SKRIPSI. Oleh :

I. PENDAHULUAN. kurangnya Indonesia dalam menggali sumberdaya alam sebagai bahan pangan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. daratan Malaya. Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi Linn.) banyak ditemui

I PENDAHULUAN. Pada pendahuluan menjelaskan mengenai (1) Latar Belakang, (2)

Tekstur biasanya digunakan untuk menilai kualitas baik tidaknya produk cookies.

BAB II LANDASAN TEORI

LAPORAN TUGAS AKHIR PEMBUATAN TEPUNG DARI BUAH SUKUN. (Artocarpus altilis)

APLIKASI SARI BELIMBING WULUH (Averrhoa blimbi) SEBAGAI ASIDULAN TERHADAP KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA ROTI MANIS BERBASIS TEPUNG GAPLEK

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Konsumsi rata-rata kue kering di kota dan di pedesaan di Indonesia 0,40

BAB I PENDAHULUAN. mengektrak pati dari ubi kayu dan menjadikannya tepung tapioka. Pada

II. TINJAUAN PUSTAKA Nugget Ayam Menurut SNI (2002) nugget merupakan salah satu produk olahan daging

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

Transkripsi:

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada era modern seperti saat ini, terdapat banyak jenis produk bakeri yang dapat ditemui di pasaran. Produk-produk tersebut beberapa dibuat menggunakan substitusi tepung terigu dengan memanfaatkan bahan-bahan pangan alami, seperti tepung bijibijian, tepung buah-buahan dan tepung umbi. Produk bakeri mudah diterima oleh masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan, sehingga substitusi tepung dalam komposisi produk bakeri diharapkan dapat menambah variasi jenis produk dan meningkatkan pemanfaatan pangan lokal. Tepung gaplek dapat digunakan sebagai salah satu bahan substitusi untuk pembuatan produk bakeri. Tepung gaplek adalah tepung yang diolah dari ketela pohon (Manihot utilissima) yang sudah dikeringkan dan digarami dengan tujuan pengawetan. Tepung gaplek umum digunakan di Indonesia sebagai komponen utama makanan ringan tradisional, tetapi belum banyak dimanfaatkan dalam industri bakeri. Tepung gaplek memiliki kandungan karbohidrat tinggi, mencapai 81,30 gram dalam 100 gram beratnya (Direktorat Gizi Depkes, 1981). Tepung gaplek menghasilkan 338 kilokalori dalam 100 gram (Hidayat et al, 2000). Tepung gaplek dapat digunakan sebagai bahan substituen dalam pembuatan roti manis, karena memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi, sehingga dapat diproses oleh yeast selama proses fermentasi dalam pembuatan roti berlangsung. Substitusi tepung terigu sebaiknya dilengkapi dengan penggunaan bahan tambahan pangan yang membantu kerja bahan pengembang adonan, karena dengan adanya substitusi tepung terigu, produk bakeri yang dihasilkan biasanya cenderung kurang mengembang, bertekstur keras, kering dan warnanya kurang menarik. Bahan tambahan pangan tersebut adalah asidulan. Asidulan merupakan aditif pangan yang bersifat asam, dengan sifat asam tersebut asidulan akan bereaksi mendukung kerja bahan pengembang kimia dalam adonan. Asidulan bereaksi dengan soda kue menghasilkan gas CO 2 ketika proses pemanggangan adonan roti berlangsung. Jenis-jenis asam yang digunakan sebagai asidulan adalah asam sitrat, asam fumarat, asam tartrat, asam malat, asam suksinat dan asam laktat (Igoe, 2011). Asam-asam untuk asidulan ini tersedia secara alami dalam buah-buahan sebagai kandungan asam organik. 1

2 Belimbing wuluh (Averrhoa blimbi) adalah buah yang banyak ditemui dan juga belum banyak dimanfaatkan dalam industri pangan di Indonesia (Ferawati, 2005). Pemanfaatan belimbing wuluh umumnya sebagai bumbu untuk masakan domestik dan bahan untuk manisan tradisional. Belimbing wuluh dikenal memiliki rasa yang sangat asam karena mengandung asam organik yang tinggi, dengan kandungan terbesar adalah asam sitrat (Subhadrabandu, 2001). Asam sitrat termasuk asam yang mudah larut air, sehingga dapat digunakan sebagai asidulan dalam pengolahan produk bakeri untuk mendukung pengembangan adonan. 1.2. Tinjauan Pustaka 1.2.1. Roti Manis Roti manis merupakan makanan yang dibuat dari campuran tepung terigu protein tinggi (11-13%), yeast, air dan gula. Proses pembuatan roti manis melibatkan fermentasi dari yeast untuk menghasilkan pengembangan adonan (Hou & Popper, 2007). Selain yeast, digunakan pula bahan pengembang kimia untuk membantu pengembangan adonan roti agar memberikan hasil yang lebih optimal. Bahan pengembang adonan akan melakukan reaksi pembentukan gas karbondioksida dari hasil reaksi sumber karbondioksida dan asam. Gas yang terbentuk akan terperangkap di dalam adonan, membentuk ronggalrongga udara (Pop, 2007). Rongga gas karbondioksida di dalam adonan akan bertambah besar selama proses pemanggangan berlangsung (Pop, 2007). Karbon dioksida yang terperangkap dalam adonan juga memberikan peningkatan volume dan karakteristik tekstur (Manthey, 2002). Tepung sebagai bahan pembuat roti manis akan membentuk gluten ketika dicampurkan dengan air. Gluten akan menahan gas karbondioksida sehingga dihasilkan adonan roti yang mengembang (Hou & Popper, 2007). 1.2.2. Tepung Gaplek Tepung gaplek dibuat dari gaplek, atau singkong yang diawetkan dengan cara dipotongpotong dan direndam dalam air garam selama satu malam, kemudian dikeringkan (Hadinataria, 2011). Untuk diolah menjadi tepung, gaplek digiling atau ditumbuk, kemudian diayak (Manuri, 2000). Singkong (Manihot utilissima) memiliki kandungan karbohidrat tinggi, sehingga dalam bentuk tepung dapat dimanfaatkan sebagai bahan

3 untuk membuat roti (Arlene et al, 2009). Tepung gaplek memiliki kandungan karbohidrat, kalsium dan fosfor yang cukup tinggi, kandungan karbohidrat mencapai 81,30 gram, kandungan kalsium sebesar 80,00 gram dan fosfor sebesar 60,00 gram dalam 100 gramnya (Direktorat Gizi Depkes, 1981). Tepung gaplek menghasilkan 363 kilokalori dalam 100 gram (Hidayat et al, 2000). Tepung dari singkong diketahui dapat memberikan tekstur keras pada roti yang dihasilkan, karena tepung tersebut tidak dapat mengikat air dan mempengaruhi pengembangan roti sesuai jumlah penambahannya (Arlene et al, 2009). Kandungan tepung bahan dasar singkong juga dapat mengurangi elastisitas adonan roti (Eriksson et al, 2014). Kandungan makronutrien tepung gaplek dibandingkan dengan tepung terigu per 100 gram dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Perbandingan Komposisi Tepung Terigu dan Tepung Gaplek per 100 gram. Komposisi Tepung Terigu Protein Tinggi Komposisi Tepung Gaplek Energi (kkal) 340 Energi (kkal) 338 Protein (g) 11 Protein (g) 1,5 Karbohidrat (g) 70 Karbohidrat (g) 81,3 Amilosa (%) 20 Amilosa (%) 27,38 Amilopektin (%) 70 Amilopektin (%) 72,62 Lemak (g) 0,9 Lemak (g) 0,7 (Hadinataria, 2011) Tepung dari singkong memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi, lebih tinggi dibandingkan tepung terigu (Arlene et al, 2009), sehingga, semakin tinggi kandungan tepung olahan singkong sebagai komposit pembuatan roti menyebabkan terbentuknya tekstur yang lebih keras dan kadar air yang lebih sedikit, dibandingkan dengan roti yang terbuat hanya dengan tepung terigu. Roti dengan kandungan tepung non terigu dalam adonannya dimungkinkan memiliki struktur adonan yang tidak seragam, karena tepung non terigu biasanya memiliki kemampuan membentuk gluten yang kurang baik jika dibandingkan dengan tepung terigu (Lopez et al, 2004). Batas maksimal substitusi terhadap tepung terigu dalam pembuatan roti sebaiknya sebesar 30%, karena bahan pensubstitusi kemungkinan memiliki kandungan karbohidrat dan protein dalam jumlah berbeda dengan kandungan yang dimiliki tepung terigu, menyebabkan semakin tingginya bahan substitusi, maka akan semakin menurunkan kualitas roti yang dihasilkan (Antarlina, 1994).

4 Tepung gaplek banyak diproduksi oleh masyarakat Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tepung gaplek biasanya digunakan sebagai bahan makanan komplementer pengganti beras. Beberapa inovasi pemanfaatan tepung gaplek menjadi makanan komersial telah dilakukan untuk meningkatkan nilai jualnya di pasaran, namun belum banyak dilakukan pemanfaatan tepung gaplek dalam industri bakeri. Konsumen bagi perindustrian bakeri dapat mencakup seluruh kalangan, dan produk-produk bakeri mudah diterima oleh masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat modern (Bayu, 2010). Pembuatan produk bakeri dengan substitusi tepung gaplek memungkinkan pemanfaatan tepung gaplek yang lebih luas. Namun, karena tepung gaplek memiliki kandungan pati yang tinggi, jika digunakan sebagai substituen tepung terigu dalam membuat roti manis, pengembangan yang dihasilkan kurang maksimal dan tekstur roti cenderung keras, sehingga diperlukan penambahan asidulan untuk membantu menghasilkan roti manis substitusi tepung gaplek dengan karakteristik fisikokimia yang lebih baik. 1.2.3. Bahan Pengembang Adonan Dalam membuat produk bakeri, ditambahkan macam-macam bahan pengembang adonan untuk memberikan karakteristik yang baik bagi produk. Bahan pengembang adonan roti digunakan untuk mendukung pengembangan adonan dengan menghasilkan karbon dioksida yang kemudian akan terdispersi dan membentuk struktur adonan yang baik. Contoh-contoh bahan pengembang yang sering digunakan dalam pembuatan produk bakeri antara lain, soda kue (sodium bikarbonat), amonium bikarbonat, potasium bikarbonat, baking powder dan asam (Pop, 2007). Jenis bahan pengembang yang biasa digunakan dalam pembuatan roti adalah soda kue dan baking powder (Matz, 1992). Reaksi bahan pengembang adonan tergantung dari solubilitas dan suhu. Soda kue merupakan garam, dengan rumus kimia NaHCO 3. Soda kue berperan seperti yeast dalam proses pembuatan roti, yaitu menghasilkan gas CO 2, yang mendukung pengembangan adonan. Soda kue bekerja terdekomposisi melepas gas karbon dioksida pada suhu 149 0 C (Whiteley, 1971). Reaksi pelepasan gas karbon dioksida oleh soda kue dapat dibantu dengan penambahan asam, atau asidulan, yang akan membantu pembentukan H 2 O dan gas CO 2 berjalan lebih cepat (Matz, 1992).

5 1.2.4. Asidulan Dalam mendukung pengembangan adonan roti, soda kue dapat dibantu dengan asidulan untuk menghasilkan reaksi yang lebih cepat. Asidulan akan membantu menghasilkan gas karbon dioksida atau CO 2 yang terbentuk selama pemanasan, sehingga terjadi pengembangan adonan (Matz, 1992). Asidulan bereaksi dengan garam dalam bahan pengembang adonan dan menghasilkan reaksi yang membentuk gas karbondioksida dan air (Bellido et al, 2008). Asidulan dapat mendukung kerja soda kue dengan mempercepat reaksi pelepasan karbondioksida pada suhu yang lebih rendah dibandingkan reaksi tanpa asidulan, yaitu sekitar 40-50 0 C (Harris, 2007). Berikut ini reaksi pembentukan gas CO 2 dari soda kue dan asidulan (asam sitrat) : 3NaHCO 3 + C 6 H 8 O 7 3 Na + + C 6 H 5 O 3-7 + 3H 2 O + 3CO 2 (soda kue) (asidulan (asam sitrat)) Asam sitrat dapat bereaksi dengan soda kue menghasilkan karbondioksida dalam bentuk gas (Rakte & Nanjwade, 2015). Asidulan dapat diperoleh secara alami dari buah-buahan dalam bentuk asam organik (Saha et al, 2013). Asidulan alami yang terdapat dalam buah-buahan antara lain asam sitrat, asam malat dan asam tartarat (Rakte & Nanjwade, 2015). Penambahan asidulan menyebabkan timbulnya suasana asam dalam adonan roti. Pembentukan gel pati optimum pada ph 4-7, jika suasana terlalu asam, maka dapat dimungkinkan pati dalam adonan roti mengalami kerusakan. Dalam hal ini dimungkinkan konsentrasi asidulan yang terlalu tinggi akan menyebabkan menurunnya kualitas roti yang dihasilkan (Winarno, 2002). Asam ph rendah (1-3,5) dapat menyebabkan proses pemutusan rantai pada gel pati, membentuk molekul dekstrin, kemudian kembali terpecah membentuk maltosa, dan terakhir menjadi unit glukosa, atau unit yang paling sederhana (Fennema, 1996). 1.2.5. Belimbing Wuluh (Averrhoa blimbi) Belimbing wuluh (Averrhoa blimbi) adalah tanaman dari famili Oxalidaceae dan merupakan tanaman kebun yang banyak ditemui di Indonesia. Belimbing wuluh memiliki kandungan air dan asam yang tinggi, dengan ph sebesar 3,15, sehingga belum banyak dimanfaatkan dalam industri pangan. Substitusi tepung non serealia dalam pembuatan roti manis dapat menghambat pengembangan adonan, sehingga roti yang dihasilkan kurang menarik (Kurniawati & Ayustaningwarno, 2012). Kandungan asam

6 dalam belimbing wuluh dapat berfungsi sebagai asidulan yang mendukung kerja bahan pengembang adonan untuk membantu menghasilkan struktur adonan yang baik dan membentuk hasil akhir produk yang lebih menarik. Kandungan asam organik dalam belimbing wuluh adalah asam asestat, asam sitrat, asam format, asam laktat, asam malat dan asam oksalat ((Carangal et al, 1961 cit Subhadrabandhu, 2001). Masing-masing asam tersebut terdiri dalam jumlah yang berbeda. Jumlah kandungan asam organik belimbing wuluh dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Jumlah Kandungan Asam Organik dalam Belimbing Wuluh Asam organik Konsentrasi (meq acid/100 g total padatan) Asam asetat 1,6-1,9 Asam sitrat 92,6-133,8 Asam format 0,4-0,9 Asam laktat 0,4-1,2 Asam malat Trace Asam oksalat 5,5-8,9 (Carangal et al, 1961 cit Subhadrabandhu, 2001) 1.3. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penambahan tepung gaplek dan sari belimbing wuluh sebagai asidulan, terhadap karakterisitik fisikokimia roti manis, meliputi volume pengembangan, diameter pori, warna, tekstur dan kadar air. Penambahan tepung gaplek dan sari belimbing wuluh dengan hasil roti manis yang paling optimal dapat menjadi pedoman dalam memanfaatkan tepung gaplek sebagai substitusi pembuatan roti manis dan penambahan sari belimbing wuluh untuk menghasilkan roti manis dengan karakteristik fisikokimia yang baik.