Thn Thn Thn Thn JUMLAH 91

dokumen-dokumen yang mirip
PROGRESS PPM WILAYAH I 1. Berdasarkan Lingkup dan Kategori Masalah

III. PROGRESS PPM WILAYAH I 1. Pengaduan Informatif dan Masalah

PROGRESS PPM WILAYAH I 1. Pengaduan Informatif dan Masalah

II. PROGRESS PPM WILAYAH I 1. Pengaduan Informatif dan Masalah

II. PROGRESS PPM WILAYAH I 1. Pengaduan Informatif dan Masalah

LAPORAN TAHUNAN PPM PNPM MANDIRI PERKOTAAN WILAYAH I (Satu) Periode Januari Desember 2011

PROGRESS PPM WILAYAH I 1. Berdasarkan informatif dan masalah

II. PENGENDALIAN DAN PENGELOLAAN DATA. A. Capaian Penanganan Pengaduan

masyarakat dominan pada pelaksanaan kegiatan sosialisasi, ekonomi dan Tabel 1.1. Pengaduan Status Proses di masing-masing Provinsi

II. PENGENDALIAN DAN PENGELOLAAN DATA. A. Capaian Penanganan Pengaduan

Tabel.1. Pengaduan Informatif Pada Siklus BLM

II. PENGENDALIAN DAN PENGELOLAAN DATA. A. Capaian Penanganan Pengaduan

Pengaduan tiap provinsi

Status Pengaduan bulan Juni 2016

Status Pengaduan bulan Sept 16

QS PENGENDALIAN PELATIHAN MASYARAKAT PPMK 2014 Rekap Nasional Periode Laporan (Minggu ke 4) 30 April 2015

Oleh : Direktur Penataan Bangunan dan Lingkungan Disampaikan dalam rangka Sosialisasi Nasional APBNP 2013 Jakarta, 21 Agustus 2013

Perkembangan PPM Bulan Februari 2017

Perkembangan Pengelolaan Pengaduan Bulan Mei 2017

JUSTIFIKASI TEKNIS PENAMBAHAN TENAGA ASISTEN MANAJEMEN DATA DI KMW DAN KOORDINATOR KOTA UPP2-2

REKOMENDASI HASIL UJI PETIK KMP PERIODE 28 November 8 Desember 2007

Pengelolaan Pengaduan Masyarakat Bulan November 2017

Progres PPM PNPM Mandiri Perkotaan Periode Maret Wilayah II. (OC 5 s/d OC 9)

Disampaikan dalam rangka Sosialisasi Nasional P4-IP di Perkotaan Denpasar, Agustus 2013

PELAKSANAAN PPMK. A. Konsep Dasar dan Tujuan PPMK

PENGELOLAAN PENGADUAN MASYARAKAT (PPM) PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MANDIRI PERKOTAAN

AKUNTABILITAS DALAM PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN / P2KP (PROGRAM PENINGKATAN KUALITAS PERMUKIMAN) Rakor Nasional P2KP, 15 Juni 2015

Progres PPM PNPM Mandiri Perkotaan Periode Juli 2014 Wilayah II (OSP 5, OSP 6, OSP 7, OSP 8, OSP 9, OSP 10)

Progres PPM PNPM Mandiri Perkotaan Periode Desember Wilayah II. (OC 5 s/d OC 9)

Bab. IX. Media Pengaduan: Laporan/Temuan BPKP

LAPORAN UJI PETIK PELAKSANAAN SIKLUS PNPM MANDIRI PERKOTAAN 2009 PENGELOLAAN DANA BANTUAN LANGSUNG MASYARAKAT (BLM) Bulan Agustus 2009

Perkembangan PPM Bulan Maret 2017

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

PROSEDUR OPERASI BAKU PENGELOLAAN PENGEMBANGAN KAPASITAS MASYARAKAT PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MANDIRI PERKOTAAN

Progres PPM PNPM Mandiri Perkotaan Periode Agustus 2010 Wilayah I (OC 5 s/d OC 9)

PROGRAM PENANGANAN KAWASAN KUMUH PERKOTAAN (P2KKP) LAPORAN MONITORING KMP PERIODE TRIWULAN III (BASELINE )

PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PNPM Mandiri Perkotaan LAPORAN UJI PETIK PELAKSANAAN SIKLUS MASYARAKAT PERIODE TRIWULAN I TAHUN 2014

DIREKTORAT JENDRAL CIPTA KARYA DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM. PROGRES PINJAMAN DANA BERGULIR (PDB) WILAYAH 1 Status data : MEI 2015

Oleh : Kepala PMU P2KP. Disampaikan dalam rangka Sosialisasi Nasional P4IP Tahun 2013 Denpasar, Agustus 2013

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM

DIREKTORAT JENDRAL CIPTA KARYA DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM. PROGRES PINJAMAN DANA BERGULIR (PDB) WILAYAH 1 Status data : MARET 2015

STRATEGI DAN INSTRUMEN PENELITIAN PT. DWIKARSA ENVACOTAMA

I. KEGIATAN PENGELOLAAN DANA BLM II. CAKUPAN PELAKSANAAN UJI PETIK III. HASIL UJI PETIK. 1. Capaian Umum

Panduan Operasional Baku Pendistribusian Material Printing

Mengenali Kampung Sendiri Melalui Pemetaan Swadaya

Perkembangan Kelembagaan BKM

Panduan Penulisan Profil PNPM Mandiri Perkotaan

PROGRESS PELAKSANAAN PILOT BDC PER 31 DESEMBER 2016

Yogyakarta, 13 Desember 2013

Tingkat Kemiskinan Per Provinsi Wilayah Sumatera Tahun 2014

LAPORAN PERKEMBANGAN PENINGKATAN PENGHIDUPAN MASYARAKAT BERBASIS KOMUNITAS (PPMK)

Kerangka Acuan Kerja

WALIKOTA SURABAYA PERATURAN WALIKOTA SURABAYA NOMOR 37 TAHUN 2010

BUPATI BINTAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU

PANDUAN PENGGUNAAN Aplikasi SIM Persampahan

ISU-ISU STRATEGIS DALAM PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN 2011

Bab 5. SISTEM INFORMASI MANAJEMEN P2KP BERBASIS WEBSITE

KEBIJAKAN STRATEGIS PNPM MANDIRI KE DEPAN

INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN II-2017 DAN PERKIRAAN TRIWULAN III-2017

LAPORAN UJI PETIK PELAKSANAAN SIKLUS PNPM MANDIRI PERKOTAAN 2009 KEGIATAN REMBUG KESIAPAN MASYARAKAT (RKM) Bulan Agustus 2009

EVALUASI KINERJA SIM PM-BLM TRIWULAN KE-4 OKTOBER-DESEMBER 2014

Kurikulum Pelatihan Pelaku PNPM Mandiri Perkotaan

Lampiran Tanggapan Temuan BPKP

TARGET DAN KINERJA USK KMP PNPM MANDIRI PERKOTAAN SAMPAI DENGAN APRIL Satker P2KP Pusat

Kerangka Acuan PELATIHAN ASMANDAT SENIOR PNPM MANDIRI PERKOTAAN

Peran dan Tanggung Jawab Pelaku Dalam Kegiatan Pengendalian PLPBK

LAPORAN UJI PETIK SIKLUS MASYARAKAT KEGIATAN PEMANFAATAN BLM (BANTUAN LANGSUNG MASYARAKAT)

Transkripsi:

I. PENDAHULUAN Pada bulan September 2013 direncanakan akan dilakukan penutupan data SIM PPM sampai dengan akhir tahun 2010. Penutupan data tersebut bertujuan data di bawah tahun 2010 tidak ada lagi data pengaduan yang berstatus proses baik pengaduan hasil laporan masyarakat maupun temuan BPKP/Inspektorat. Data yang telah masuk di PPM Pusat tidak ada lagi perubahan data. Sehingga setiap KMW Propinsi di wilayah I sudah harus memastikan data aduan di bawah tahun 2010 tidak ada lagi yang berstatus proses pada akhir bulan September 2013. Berdasarkan data SIM PPM bulan Agustus 2013 masih terdapat 7 data pengaduan yang masih berstatus proses yang berada di bawah tahun 2010. Data pengaduan yang berstatus proses tersebut berasal dari Propinsi Jawa Barat sebanyak 5 pengaduan dan 2 pengaduan dari Propinsi Sumatera Utara. Sedangkan data pengaduan yang masih status proses sampai Agustus 2013 mencapai 95 pengaduan. Namun data aduan yang berstatus proses dari tahun ke tahun semakin meningkat, seperti terlihat pada tabel berikut di bawah ini. Tabel 1.1. Data Aduan berstatus Proses setiap tahun Status Proses Jumlah Thn 2010 3 Thn 2011 7 Thn 2012 36 Thn 2013 45 JUMLAH 91 Peningkatan data aduan tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh aduan hasil temuan BPKP tetapi juga pengaduan yang dilaporkan masyarakat. Data pengaduan yang dilaporkan masyarakat pun cenderung penyelesaiannya sangat lambat dibanding dengan hasil temuan BPKP/Inspektorat. Penyelesaian pengaduan yang dilaporkan masyarakat/ non BPKP yang berkaitan dengan penyimpangan dana tingkat pengembaliannya baru mencapai 32%. Keterlambatan penyelesaian kasus-kasus penyimpangan dana non BPKP tersebut telah bergeser dari pelaku penyimpangan dari masyarakat berubah ke pendamping/ konsultannya sendiri. Apakah hal tersebut berkaitan dengan remunerasi yang kurang memadai atau sering terlambat. II. PROGRESS PPM WILAYAH I 1. Berdasarkan Sifat Pengaduan Selama kurun waktu tiga bulan terakhir Juni Agustus 2013 jumlah pengaduan sampai dengan Agustus 2013 semakin menurun/ berkurang. Pengurangan jumlah aduan pada bulan Agustus 2013 ini dipengaruhi oleh intensitas pendampingan fasilitator yang semakin berkurang di lapangan. Juga beberapa Propinsi seperti Kalbar, Bengkulu, Lampung dan jambi tidak mengirimkan data aduan dan cenderung aduan yang disampaikan jumlahnya sama. Hal ini dapat kita lihat pada grafik di bawah ini. 1

Berdasarkan pada sifat aduan antara pengaduan informatif dan masalah masih didominasi selama kurun waktu triwulan Juni Agustus 2013 masih didominasi pengaduan informatif yang mencapai 97,31%. Di kurun waktu tersebut pengaduan informatif tersebut masih didominasi oleh kategori pertanyaan yang mencapai 77,26% dari 7.913 pengaduan informatif. Pada kategori pertanyaan tersebut masih berkaitan pada kegiatan ekonomi dan infrastruktur yang paling mendominasi. Berdasarkan grafik di atas pengaduan pada kategori pertanyaan yang paling dominan terdapat di Propinsi Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat dan seluruh propinsi lainnya. Sedangkan yang kecenderung hampir sama dari ketiga kategori tersebut terdapat di Propinsi Sumatera Utara. 2

Propinsi Tabel 2.3 Rasio Pengaduan Masalah (Periode Agustus 2013) Jmlh Kelurahan Masalah Rasio NAD 401 216 0,54 SUMUT 597 189 0,32 SUMBAR 383 35 0,09 RIAU 103 13 0,13 JAMBI 81 100 1,23 SUMSEL 307 210 0,68 BENGKULU 122 117 0,96 LAMPUNG 152 66 0,43 BABEL 85 80 0,94 KEPRI 110 78 0,71 DKI 267 31 0,12 JABAR 1697 602 0,35 BANTEN 423 257 0,61 KALBAR 88 61 0,69 2. Berdasarkan asal pengaduan Tabel.3.1. Berdasarkan Asal Aduan PROPINSI Kabupaten/Kota Kecamatan Kelurahan Provinsi Pusat Grand Total NAD 186 94 2666 60 3 3009 SUMUT 210 13 4394 36 34 4687 SUMBAR 50 16 8098 81 3 8248 RIAU 31 10 1054 7 3 1105 JAMBI 14 1 234 2 251 SUMSEL 495 19 973 23 5 1515 BENGKULU 18 1 180 14 10 223 LAMPUNG 157 44 1046 19 7 1273 BABEL 44 82 440 65 631 KEPRI 73 10 1217 13 13 1326 DKI 468 33 2590 362 22 3475 JABAR 495 117 5183 24 6 5825 BANTEN 380 31 1326 25 45 1807 KALBAR 23 2 2671 3 3 2702 Grand Total 2644 473 32072 734 154 36077 Secara akumulatif sampai dengan periode Agustus 2013 pengaduan berdasarkan asal aduan paling dominan terdapat di tingkat kelurahan sebanyak 32.072 (88,90%). Pengaduan di tingkat kelurahan masih tetap dominan karena basis saluran aduan lebih banyak disampaikan oleh masyarakat kepada pendamping kelurahan. Artinya kepercayaan masyarakat dalam menyampaikan aduan masih cenderung kepada pihak konsultan. Pengaduan pada tingkatan lain yang cukup banyak seperti di tingkat kota/kabupaten terdapat di Propinsi Sumatera selatan, DKI Jakarta dan Jawa Barat. Pada tingkat Propinsi DKI Jakarta cukup dominan mencapai 49,31%. Pengaduan yang dominan berkaitan dengan 3

kebijakan yang tumpang tindih antara pemerintah pusat dan daerah selain permasalahan gaji. 3. Pengaduan berdasarkan media pengaduan. Pengaduan berdasarkan media penyampaian pada Agustus 2013 masih didominasi pengaduan pada media tatap langsung mencapai 677 aduan (91,50%). Pengaduan melalui media tatap langsung pada status Agustus 2013 mencapai 94% dari 802 pengaduan yang masuk. Selain itu, pengaduan pada media telephone dan surat mendominasi setelah media tatap langsung. Pengaduan secara akumulatif sampai periode Agustus 2013 dengan media pengaduan tatap langsung masih mendominasi. Media tatap langsung yang disampaikan oleh masyarakat masih cenderung menggunakan media tatap langsung yang disampaikan oleh masyarakat berupa pertanyaan, kritik dan saran (pengaduan informatif) yang cenderung sering disampaikan kepada pendamping/ fasilitator. Media tatap langsung sampai dengan Agustus 2013 yang digunakan dalam penyampaian pengaduan mencapai 91,32% dari jumlah total pengaduan 33.009 pengaduan. 4

Tabel.4.1. Pengaduan berdasarkan Media Aduan PROPINSI Buku aduan Email Fax Lainnya MB PO SMS Surat Tatap Langsung Telepon Grand Total NAD 3 6 41 2 1 78 184 2662 32 3009 SUMUT 5 74 3 6 106 4434 59 4687 SUMBAR 1 6 14 1 112 8084 30 8248 RIAU 1 1 1 6 76 985 35 1105 JAMBI 7 4 14 210 16 251 SUMSEL 4 11 4 11 121 1331 33 1515 BENGKULU 1 5 1 1 73 135 7 223 LAMPUNG 3 3 24 55 1134 54 1273 BABEL 5 22 19 2 18 30 497 38 631 KEPRI 1 1 1 7 7 1285 24 1326 DKI 6 3 63 24 58 3191 130 3475 JABAR 65 7 2 35 8 3 254 213 5070 168 5825 BANTEN 380 1 2 3 17 44 1324 36 1807 KALBAR 1 5 1 13 2667 15 2702 Grand Total 463 34 2 283 39 13 451 1106 33009 677 36077 4. Penyimpangan dana. Penyimpangan dana terdiri dari 2 jenis aduan, yaitu : Penyimpangan dana hasil temuan BPKP dan penyimpangan hasil temuan masyarakat (Non BPKP). a) Penyimpangan dana Hasil temuan BPKP Penyimpangan dana hasil temuan BPKP sampai dengan Agustus 2013 dari data yang telah dikelola di SIM PPM mencapai 6,4 Milliar dengan dana kembali mencapai 5,9 Milliar atau 92,70% dana telah kembali. Penyimpangan dana hasil temuan BPKP tertinggi terdapat di wilayah OC-2 dengan jumlah dana hasil temuan mencapai 5,2 Milliar dan dana yang telah dikembalikan mencapai 5,03 Milliar (95.29%). Penyimpangan tertinggi di OC-2 terdapat di Propinsi Sumatera Selatan dengan jumlah dana yang telah disimpangkan mencapai 2,7 Milliar dengan dana telah kembali sebesar 2,6 Milliar(97%). Disusul dari Propinsi Bengkulu yang mencapai 1,6 Milliar dan telah kembali 1,6 Milliar kurang 2,5 juta. Secara keseluruhan ada penurunan data pengembalian dari 6,04 Milliar dana yang telah dikembalikan menjadi 5,9 Milliar. 5

b) Penyimpangan dana Hasil laporan masyarakat (Non BPKP) Penyimpangan dana hasil laporan masyarakat (Non BPKP) sampai dengan status Agustus 2013 mencapai 1,8 Milliar, dengan dana yang telah kembali mencapai 630 juta (33%). Penyimpangan dana di bulan Agustus 2013 ini terjadi kenaikan 100 juta dari bulan sebelumnya atau naik sekira 3%. Penyimpangan dana Non BPKP masih yang tertinggi di Propinsi Banten dengan capaian dana yang telah diselewengkan mencapai 813 juta dan 595 juta kasusnya dilaporkan ke pihak kepolisian. Pada bulan Agustus 2013 penyimpangan dana di wilayah OC-2 bertambah sebesar 100 juta. Peningkatan jumlah dana terdapat di Propinsi Sumatera Selatan. 6

IV. Isue-issue Strategis Issue strategis yang terjadi selama kurun waktu periode Agustus 2013 masih berkisar yaitu : 1) Closing data SIM PPM menjadi keharusan terutama data aduan yang telah selesai di tahun 2010 ke bawah sehingga diharapkan data aduan yang akan ditutup tersebut sudah status selesai semuanya. Hal tersebut untuk mengantisipasi database aduan yang semakin besar jumlahnya yang berdampak pada aplikasi SIM PPM yang jadi lambat dan data aduan yang sering dirubah atau dihapus. 2) Masih rendahnya tingkat pengembalian dana Non BPKP terutama di Propinsipropinsi yang telah terjadi penyimpangan dana tetapi kasus penyelesaian penyimpangan dana tersebut tidak diselesaikan secara serius. 3) Jumlah quota personil pendamping/ fasilitator yang tidak terpenuhi dan tidak terlaporkan kepada pihak Satker Propinsi setempat, juga tidak adanya verifikasi dokumen penggajian maka hal tersebut akan menjadi celah bagi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk berkorupsi. 4) Pelaksanaan fasilitasi penanganan pengaduan masyarakat selama ini menjadi tanggung-jawab korkot dan penginputan data diserahkan kepada assmandat sehingga menyebabkan antara pengisian data subtansi aduan dengan penanganan tidak sesuai. Issue ini sudah dilakukan perubahan dengan menjadikan askot CD dan faskel CD untuk menjadikan tugas tersebut bagian dari tupoksinya karena sudah ada di MSAP mereka masing-masing.tetapi penguasaan terhadap aplikasi SIM PPM menjadi kendala baru saat ini karena belum dilatih. 5) Penyimpangan dana baik dana BLM maupun pelatihan masyarakat pelakunya telah bergeser dari masyarakat/ KSM/ anggota BKM ke pendamping masyarakat fasilitator,bahkan koordinator kota (Korkot) dan subprof Admin KMW. Sudah ada kebijakan dari Pusat dana pelatihan masyarakat tidak dikeluarkan secara terpisah tetapi sudah menjadi bagian daripada BLM. Jadi 10% dari dana BLM untuk pelatihan masyarakat sehingga mekanisme penggunaannya pun mengikuti mekanisme pemanfaatan BLM. Hanya belum dijelaskan, pos penggunaannya. 6) Pengaduan masyarakat yang cenderung lebih dominan melalui media tatap langsung di tingkat kelurahan dengan pertanyaan, kritik dan saran terutama pada kategori pertanyaan. (catatan : apakah hal tersebut menunjukkan masyarakat belum paham tentang program dan masih tergantung kepada faskel/ konsultan atau kah hanya aduan yang dibuat oleh faskel untuk memenuhi syarat quota pengaduan) 7) Unit Pengelola pengaduan baik di tingkat kelurahan, kota/kabupaten maupun propinsi belum berfungsi dan efektif. Pencatatan aduan dan penanganan pengaduan masih di dominasi fasilitator dibandingkan anggota BKM. Keterlibatan aparat pemerintah daerah di tingkat kelurahan, kecamatan maupun kota/kabupaten. Hal ini 7

menjadi kesepakatan di dalam EGM Monev PPM yang dilaksanakan pada April 2013 dimana langkah awal dari pelaksanaan ini adalah melibatkan aparat pemerintah daerah dalam penangaan kasus penyimpangan dana baik temuan BPKP maupun non BPKP. III. Rekomendasi Berdasarkan Issue permasalahan yang terekam berdasarkan trends di bulan ini, maka rekomendasi yang disampaikan sebagai berikut : 1) Closing data SIM PPM sampai akhir tahun 2010 yang ditargetkan sampai dengan akhir September 2013 ini belum dapat tercapai karena masih terdapat 1 pengaduan yang berstatus proses di Kab.Deli Serdang Propinsi Sumatera Utara. 2) Perlu adanya konsolidasi bersama antara pihak KMP dan KMW di dalam penyelesaian dan penanganan kasus penyimpangan dana. Upaya penyelesaiannya diutamakan melalui jalur non litigasi sehingga diharapkan uang yang telah diselewengkan oleh pelaku dapat dikembalikan dengan jaminan aset yang dapat disita oleh masyarakat yang berhak menerima dana tersebut. 3) Perlunya melakukan pelatihan khusus untuk Tim Satker baru tentang PNPM Mandiri Perkotaan karena berdampak pada proses verifikasi dan pengawasan dari Satker terhadap evaluasi pelaksanaan pendampingan oleh faskel dan Korkot tidak tepat. 4) Penanganan masalah pengaduan yang dikhususkan dilakukan oleh faskel CD dan asskot CD di wilayah I dalam pengorganisasiaan penyelesaian masalah dan penginputan data secara substantif di dalam SIM PPM akan lebih efektif sehingga perekaman data dalam SIM lebih baik dibandingkan oleh asmandat. 5) Kecenderungan meningkatnya penyimpangan dana yang diadukan oleh masyarakat dan semakin meningkatnya jumlah pelaku penyimpangan dana oleh konsultan sehingga perlu pembenahan terhadap system recruitmen dan pelatihan/ peningkatan kapasitas. Peningkatan kapasitas lebih didorong pada kepedulian dan rasa emphatic seluruh jajaran konsultan terhadap kelompok marginal dengan model pelatihan langsung di lingkungan kelompok tersebut. 6) Perlu adanya sistem kaderisasi anggota BKM di dalam mengantisipasi lemahnya pemahaman anggota BKM terhadap program serta terjadinya disorientasi dan motivasi anggota BKM di dalam mengelola program penanggulangan kemiskinan di wilayahnya. 7) Perlunya mendorong kota/kabupaten yang mendukung PNPM Mandiri Perkotaan dan telah memiliki Perda Nangkis supaya dapat merevitalisasi TKPKD tingkat kota/kabupaten dan membentuk struktur Pokja Pengelolaan Pengaduan sampai tingkat Kecamatan. 8

Demikian laporan progress pengaduan masyarakat ini disampaikan. Mohon saran dan masukan dalam perbaikan laporan ini sangat diharapkan. Jakarta, 20 Sept 2013 PPM KMP PNPM WILAYAH-1 9