II. PROGRESS PPM WILAYAH I 1. Pengaduan Informatif dan Masalah
|
|
|
- Yohanes Lesmono
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 I. PENDAHULUAN Berdasarkan progress capaian pengaduan pada periode Maret 2012 jumlah pengaduan yang masuk sebanyak 801 pengaduan dan secara akumulatif sampai dengan bulan Maret 2012 jumlah pengaduan yang masuk sebanyak pengaduan. Pengaduan bersifat informatif sebanyak pengaduan dengan status proses sebanyak 126 pengaduan dan pengaduan bersifat masalah sebanyak 994 pengaduan dengan status proses sebanyak 69 pengaduan. Progress pengaduan selama kurun waktu triwulan I di tahun 2012 dengan status proses pengaduan terbanyak terdapat di bulan Maret 2012 mencapai 39 pengaduan. Pengaduan dengan status proses terbanyak terdapat di Propinsi Sumatra Utara dengan total pengaduan yang proses terdapat 59 pengaduan. Pengaduan tersebut belum terselesaikan dan bahkan sebagian besar merupakan pengaduan yang bersifat informatif. Pengaduan seluruhnya yang masih berstatus proses selama kurun waktu Januari Maret 2012 sebanyak 86 pengaduan. Dari 86 pengaduan yang berstatus proses tersebut sebanyak 58 pengaduan merupakan pengaduan informatif dimana pengaduan tersebut seharusnya telah selesai dalam kurun waktu 7 hari/ seminggu. Fasilitasi pengaduan informatif yang lambat kurang respon yang terjadi di beberapa propinsi lebih disebabkan oleh kurang sigapnya pihak konsultan dalam merespon setiap pengaduan yang disampaikan atau ada pula yang disebabkan karena ketidak-pahaman pengelola pengaduan baik, di tingkat KMW maupun korkot kota/ kabupaten di dalam merekam seluruh pengaduan yang masuk. 1
2 II. PROGRESS PPM WILAYAH I 1. Pengaduan Informatif dan Masalah Pengaduan informatif pada periode Maret 2012 berjumlah pengaduan dengan 779 pengaduan telah selesai dan 32 pengaduan dalam proses. Jumlah pengaduan proses mengalami peningkatan dari bulan sebelumnya sebesar 36 pengaduan. Pengaduan informatif yang paling banyak pada periode ini berupa pertanyaan sebanyak 518 pengaduan (69,34%). Propinsi dengan pengaduan informatif tertinggi 181 pengaduan (22,60%)terdapat di Propinsi Sumatra Barat. Pengaduan informatif sampai dengan periode Maret 2012 (secara akumulatif) berjumlah pengaduan dengan pengaduan selesai sebanyak (9,20%) dan sedang proses sebanyak 186 pengaduan (1,17%). Pengaduan informatif terbanyak pada periode Maret 2012 terdapat di Propinsi Sumatra Barat dengan jumlah pengaduan sebanyak 179 pengaduan. Pengaduan masalah terbanyak pada periode ini terdapat di Propinsi Sumatra Utara dengan jumlah pengaduan sebanyak 5 pengaduan. Propinsi Informatif Masalah Grand Total NAD SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL LAMPUNG BABEL KEPRI DKI JABAR BANTEN KALBAR Grand Total
3 Pengaduan informatif secara akumulatif sampai dengan periode Maret 2012 masih pada kategori pertanyaan dengan persentase pengaduan mencapai 68%. Dan pengaduan terbanyak kedua adalah pada kategori kritik dengan capaian 20% dan terakhir pada kategori saran sebanyak 12%. Pengaduan masalah pada periode Maret 2012 sebanyak 22 pengaduan, dengan pengaduan yang telah selesai sebanyak 15 pengaduan dan proses sebanyak 7 pengaduan. Pengaduan masalah pada periode ini dalam penanganan masalahnya cukup lambat padahal masalah yang masuk meningkat sehingga terdapat fasilitasi yang kurang intensif terhadap penanganan masalah. Secara akumulatif sampai dengan periode Maret 2012 jumlah pengaduan yang bersifat masalah sebanyak 994 pengaduan dengan pengaduan yang telah selesai ditangani sebanyak 925 pengaduan (93,05%) dan yang dalam proses sebanyak 69 pengaduan (6,94%). Pengaduan dengan kategori Penyalahgunaan mekanisme dan prosedur yang paling dominan dengan capaian sebesar 40%. 3
4 2. Pengaduan Lingkup Administratif dan Keuangan Pengaduan lingkup administratif sampai dengan Maret 2012 sebanyak 660 (86,50%) pengaduan dari total pengaduan 763 pengaduan, dengan pengaduan tertinggi pada lingkup administratif tersebut terdapat di Propinsi Sumatra Barat sebanyak 156 pengaduan (23,63%), Propinsi Jawa Barat sebanyak 98 pengaduan (14,84%),Propinsi Kalbar sebanyak 83 pengaduan (12,57%). Propinsi Admin Keu Grand Total NAD SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI 6 6 SUMSEL LAMPUNG BABEL KEPRI DKI JABAR BANTEN KALBAR Grand Total Pengaduan lingkup keuangan pada periode Maret 2012 mencapai 103 pengaduan (13,49%), dengan jumlah pengaduan terbanyak terdapat di Propinsi Sumatra Barat dan DKI Jakarta dengan jumlah pengaduan masing-masing sebanyak 24 pengaduan. 4
5 Berdasarkan pada grafik diatas jumlah pengaduan yang dominan pada masing-masing propinsi pada periode Maret 2012 pada lingkup administratif. Propinsi yang tidak ada pengaduan masalahnya terdapat di Propinsi Jambi, Sumatra Selatan dan Kalbar. 3. Pengaduan Berdasarkan Derajat Masalah Propinsi Kelurahan Kecamatan Kabupaten /Kota Provinsi Pusat Grand Total NAD SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI 6 6 SUMSEL LAMPUNG BABEL KEPRI DKI JABAR BANTEN KALBAR Grand Total Pada periode Maret 2012 yang tertinggi berada pada derajat tingkat kelurahan dengan jumlah pengaduan 667 pengaduan (87,41%). Sedangkan pengaduan tertinggi pada tingkat kelurahan terdapat di Propinsi Sumatra Barat sebesar 176 pengaduan (26,38%) dari total pengaduan 667 pengaduan. Pengaduan terbanyak pada derajat kecamatan terdapat di Propinsi Jawa Barat sejumlah 5 pengaduan (50%). Pada tingkat kota/ kabupaten pengaduan terbanyak terdapat di Propinsi DKI Jakarta dengan jumlah pengaduan 26 pengaduan (50,98%). Lalu pada tingkat Propinsi jumlah pengaduan terbanyak terdapat di Propinsi DKI Jakarta sebanyak 20 pengaduan (74,07%). Sedangkan pengaduan yang sering masuk ke pusat terbanyak terdapat di Propinsi Banten dengan pengaduan 8 pengaduan (100%). Pengaduan pada tingkat pusat yang sering dilaporkan oleh Propinsi Banten berkaitan dengan pengaduan yang bersifat masalah. 5
6 4. Pengaduan Berdasarkan Media Penyampaian. Pengaduan melalui Media tatap langsung masih menjadi pilihan utama dari masyarakat yang ingin menyampaikan pengaduannya baik berupa, pengaduan bersifat informatif dan pengaduan masalah. Pengaduan tatap langsung pada periode Maret 2012 telah mencapai jumlah pengaduan (93,23%). Pengaduan terbanyak kedua pada media SMS sebanyak 322 pengaduan, surat sebanyak 296 pengaduan dan telephone sebanyak 299 pengaduan. 5. Penyimpangan Dana. Pengaduan yang berkaitan dengan penyimpangan dana yang masuk pada periode Maret 2012 sebanyak 1 pengaduan dari Propinsi Sumatra Utara. Sedangkan pengaduan penyimpangan dana secara akumulatif sampai dengan periode Maret 2012 sebanyak 126 pengaduan, dengan pengaduan status proses sebanyak 20 pengaduan (15,87%). Penyimpangan dengan status proses terbanyak terdapat di Propinsi Sumut sebanyak 7 pengaduan (38.09%), Propinsi Sumatra Selatan sebanyak 6 pengaduan juga (38.09%), Propinsi DKI 1 pengaduan dan Propinsi Jawa Barat sebanyak 6 pengaduan dari 25 pengaduan. Jumlah penyimpangan dana hasil tindak-lanjut temuan BPKP di wilayah I telah berkurang dari temuan sebesar Rp telah kembali sebesar Rp dan dana yang belum kembali sebesar Rp Penyimpangan dana yang ditemukan berdasarkan hasil laporan dari masyarakat sebesar Rp dengan dana telah kembali sebanyak Rp dan sisa dana belum kembali sebesar Rp
7 6. Pengaduan Pada Pelaksanaan Siklus Pemanfaatan BLM Pada pelaksanaan siklus pemanfaatan BLM baik kegiatan infrastruktur, ekonomi dan sosial, pengaduan yang dominan disampaikan oleh masyarakat dihampir seluruh propinsi pada kegiatan pelaksanaan infra-struktur. Namun terdapat perbedaan sedikit di Propinsi Sumatra Barat dimana pengaduan yang agak dominan terdapat pelaksanaan kegiatan ekonomi. 7
8 III. Progress Pengaduan di masing-masing OC 1. Progress Pengaduan di wilayah OC-1 Progress pengaduan di wilayah OC-1 selama kurun waktu Januari Maret 2012 terjadi peningkatan di masing-masing Propinsi. Namun peningkatan yang cukup besar terdapat di Propinsi Sumatra Utara antara bulan Februari Maret 2012 dan pengaduan tertinggi di Bulan Maret. Pengaduan di Propinsi Kepulauan Riau dan Riau peningkatan data pengaduan tidak terlalu besar dan sebagai besar selesai. Sedangkan Pengaduan di Propinsi Sumatra Barat dan NAD masih terdapat pengaduan informatif yang masih dalam status proses. 2. Progress Pengaduan di Wilayah OC-2 Progress pengaduan di wilayah OC-2 dalam kurun waktu Januari Maret 2012 dengan pengaduan cukup dominan peningkatannya terdapat di Propinsi Lampung dengan status pengaduan selesai semua. Sedangkan 8
9 pengaduan dengan peningkatan yang cukup rendah terdapat di Propinsi Bengkulu dan Jambi. 3. Progress Pengaduan di Wilayah OC-3 Pengaduan progress di wilayah OC-3 selama kurun waktu triwulan I di tahun 2012 yang menunjukkan peningkatan data pengaduan cukup besar terdapat di Propinsi Kalbar. Sedangkan peningkatan pengaduan yang rendah terdapat di Propinsi Banten. 4. Progress Pengaduan di Wilayah OC-4 Progess pengaduan di wilayah OC-4 Propinsi Jawa Barat pada triwulan I di tahun 2012 mengalami penurunan di bulan Maret 2012 dimana pengaduan yang masuk masih belum diselesaikan seluruhnya. 9
10 Di KMW Propinsi Jawa Barat terdapat 6 pengaduan penyimpangan dana yang masih dalam proses dan 20 pengaduan lainnya yang statusnya sama masih proses dan bahkan bersifat informatif. IV. Isue-issue Strategis Issue strategis yang terjadi selama kurun waktu periode sampai Maret 2012 yaitu 1) Pelaksana fasilitasi pengelolaan pengaduan dan penanganan masalah dilakukan oleh asskot CD pada tingkat kota/kabupaten dan faskel CD untuk di tingkat kelurahan. 2) Penyimpangan dana fixed cost atau dana pelatihan masyarakat pelaku penyimpangan dana tersebut sudah mulai bergeser dari masyarakat/ KSM/ BKM menjadi faskel, asskot dan Korkot. Penyimpangan dana yang dilaporkan oleh masyarakat berkaitan dengan penggunaan dana BLM dan fixed cost perlu ada pengawasan khusus dari seluruh pihak stakeholder. 3) Selama periode Maret Desember 2011 masih terdapat pengaduan yang masih dalam status proses sebanyak 254 pengaduan. Ada kecenderungan proses penanganan pengaduan belum menjadi prioritas utama bagi pihak pelaku konsultan baik ditingkat propinsi, kota/kabupaten maupun kelurahan. 4) Keterlambatan gaji selama periode Agustus sampai dengan Desember 2011 berdampak pada progress dan keterlambatan laporan dari lapangan. Issue tersebut bergeser menjadi perbaikan sistem gaji, kenaikan gaji dan perbaikan kesejahteraan faskel yang telah mengabdi cukup lama. Persoalan tersebut apabila tidak segera disikapi akan berujung pada permasalahan yang lebih besar dan meluas karena siklus gaji tersebut berulang setiap tahun. 5) Pengaduan yang berkaitan dengan penyimpangan dana telah bergeser dari pelakunya anggota BKM, KSM atau masyarakat menjadi fasilitator dan Korkot. 6) Pengaduan melalui media tatap langsung merupakan pengaduan pendamping yang merupakan kewajiban yang harus disetorkan kepada pihak KMW. Sehingga terkesan dipaksakan adanya peningkatan jumlah pengaduan dibeberapa wilayah bukan karena optimalnya pelayanan pengaduan di masyarakat. 7) Masih terdapat kurangnya pemahaman pengelola data SIM PPM KMW dalam pengelolaan data pengaduan, seperti : Sumatra Utara, Sumatra Selatan dan Banten. 10
11 8) Unit Pengelola pengaduan baik di tingkat kelurahan, kota/kabupaten maupun propinsi belum berjalan optimal dan cenderung kurang aktif di dalam merespon permasalahan dan informasi yang disampaikan oleh masyarakat. 9) Sosialisasi media pengaduan dan unit pengelola pengaduan belum terdistribusi meluas di kalangan masyarakat maupun pemerintah sehingga keberadaan UPM belum diketahui oleh masyarakat. 10) Masyarakat lebih cenderung menggunakan media pengaduan melalui tatap langsung dan masyarakat sering menyampaikan pertanyaanpertanyaan tentang program langsung kepada pihak konsultan sehingga ada kecenderungan media tatap langsung/ pertemuan lebih memudahkan masyarakat di dalam mendapatkan respon yang cepat. 11) Respon terhadap pengaduan baik di tingkat KMW (propinsi),korkot (kota/kabupaten) kurang tanggap dan cepat di dalam penanganan masalah sehingga penyampaian respon ini terlambat disampaikan kembali kepada pengadu atau mediator pengaduan. 11
12 III. Rekomendasi Masalah lemahnya pendampingan fasilitator di tingkat masyarakat khusus pada pelaksanaan siklus pemberdayaan atau pengorganisasian masyarakat ditunjukkan dengan seringnya pengaduan tentang kegiatan dari masing-masing tahapan siklus masyarakat tersebut. Adanya kecenderungan penyimpangan dana pelatihan masyarakat yang dilakukan oleh pihak konsultan, harus menjadi perhatian serius dari seluruh pihak baik dari tingkat pusat maupun ke daerah. Serta harus diberikan sanksi yang tegas terhadap pelaku penyimpangan dana tersebut. Dalam rangka mengoptimalkan pengelolaan pengaduan masyarakat baik yang dilakukan oleh BKM, pihak konsultan dan pemerintah daerah maka perlu dibentuk Unit pengaduan PPM yang dikelola bersama melalui Pokja TKPKD yang dikoordinir oleh pemerintah daerah melalui kegiatan KBP kota/kabupaten. Juga dalam peningkatan kontrol masyarakat dalam pengelolaan program perlu dibentuk Pusat Informasi Program (Pusinfo) dimana pengelolaannya dapat melalui Satuan Unit Bersama antara masyarakat, kelompok peduli dan pemerintah daerah. Demikian laporan progress pengaduan masyarakat ini disampaikan. Mohon saran dan masukan dalam perbaikan laporan ini sangat diharapkan. 12
LAPORAN TAHUNAN PPM PNPM MANDIRI PERKOTAAN WILAYAH I (Satu) Periode Januari Desember 2011
LAPORAN TAHUNAN PPM PNPM MANDIRI PERKOTAAN WILAYAH I (Satu) Periode Januari Desember 2011 I. PENDAHULUAN Selama kurun waktu Periode Januari Desember 2011 pengaduan yang telah masuk sebanyak 7.875 pengaduan
Thn Thn Thn Thn JUMLAH 91
I. PENDAHULUAN Pada bulan September 2013 direncanakan akan dilakukan penutupan data SIM PPM sampai dengan akhir tahun 2010. Penutupan data tersebut bertujuan data di bawah tahun 2010 tidak ada lagi data
III. PROGRESS PPM WILAYAH I 1. Pengaduan Informatif dan Masalah
I. Anlist.asp II. PENDAHULUAN Pengelolaan pengaduan masyarakat di wilayah I di bulan Januari 2013 dilaporkan hanya oleh 7 Propinsi. Pada bulan Januari 2013 ini seluruh tenaga ahli telah didemobilisasi
PROGRESS PPM WILAYAH I 1. Berdasarkan Lingkup dan Kategori Masalah
I. PENDAHULUAN Pengelolaan pengaduan masyarakat di PNPM Mandiri Perkotaan wilayah I sampai dengan bulan Mei 2013 telah mencapai 31.631 pengaduan. Pengaduan yang telah selesai mencapai 31.581 pengaduan
II. PROGRESS PPM WILAYAH I 1. Pengaduan Informatif dan Masalah
I. PENDAHULUAN Selama kurun waktu tahun 2012 pengaduan yang berkaitan dengan penyimpangan dana cenderung meningkat dari jumlah dana yang terekam di dalam SIM PPM Pengaduan. Penyimpangan dana hasil temuan
PROGRESS PPM WILAYAH I 1. Pengaduan Informatif dan Masalah
I. PENDAHULUAN Pengelolaan Pengaduan pada periode Maret tahun 2013 telah mencapai 2.005 pengaduan. Sedangkan pengaduan informatif berjumlah 1972 pengaduan dan pengaduan masalah berjumlah 23 pengaduan.
PROGRESS PPM WILAYAH I 1. Berdasarkan informatif dan masalah
I. PENDAHULUAN Pengaduan sampai dengan status Oktober 2013 telah mencapai 38.094 aduan dengan jumlah pengaduan yang masih berstatus proses sebanyak 97 aduan. Pengaduan yang berstatus proses terbanyak terdapat
Tabel.1. Pengaduan Informatif Pada Siklus BLM
A. Pelaksanaan PPM di PNPM Mandiri Perkotaan ICDD Phase I Pengelolaan Pengaduan Masyarakat pada phase I oleh KMP ICDD Wilayah I di mulai pada periode Agustus 2010. Jumlah pengaduan yang diserah-kelolakan
masyarakat dominan pada pelaksanaan kegiatan sosialisasi, ekonomi dan Tabel 1.1. Pengaduan Status Proses di masing-masing Provinsi
I. PENDAHULUAN Pengaduan yang berstatus proses pada bulan Februari 2016 telah berkurang/ menurun dibandingkan bulan sebelumnya. Pengaduan status proses pada bulan Februari 2016 sejumlah 214 pengaduan atau
Pengaduan tiap provinsi
SUMATERA UTARA SUMATERA SELATAN BANTEN JAWA BARAT BENGKULU BANGKA BELITUNG LAMPUNG KALIMANTAN BARAT JAMBI Konsultan Manajemen Pusat A. Perkembangan PPM bulan Agustus 2016 Pengaduan pada bulan Agustus 2016
Status Pengaduan bulan Juni 2016
Pada bulan Juni 016 PPM pengaduan yang telah dikelola sebanyak 96 pengaduan. Pengaduan yang telah selesai sebanyak 94 pengaduan(99,3%). Pengaduan yang berstatus proses pengaduan. Pengaduan tersebut terdapat
II. PENGENDALIAN DAN PENGELOLAAN DATA. A. Capaian Penanganan Pengaduan
I. PENDAHULUAN Pengaduan yang masuk pada bulan Maret 2015 yang dikumpulkan dari tingkat KMW dan pengaduan yang masuk ke KMP berjumlah 560 aduan. Pengaduan telah selesai ditangani sejumlah 558 pengaduan
II. PENGENDALIAN DAN PENGELOLAAN DATA. A. Capaian Penanganan Pengaduan
I. PENDAHULUAN Data pengaduan pada bulan Oktober 2014 berkurang dari jumlah pengaduan bulan sebelumnya. Pengurangan jumlah pengaduan tersebut telah dikeluarkannya Provinsi Aceh dari wilayah-1 dan bergabung
II. PENGENDALIAN DAN PENGELOLAAN DATA. A. Capaian Penanganan Pengaduan
I. PENDAHULUAN Pada akhir tahun 2015 pengaduan yang telah dikelola seluruhnya (sejak tahun 2010) di wilayah I mencapai 58.650 pengaduan, dengan pengaduan yang berstatus proses sebanyak 300 pengaduan (0,51%).
Perkembangan PPM Bulan Februari 2017
Perkembangan PPM Bulan Februari 2017 Pengelolaan Pengelolaan pengaduan pada bulan Februari 2017 telah dikelola mencapai 751 pengaduan, dengan status penanganan telah selesai 750 atau 99,9 % dan status
Status Pengaduan bulan Sept 16
DKI JAKARTA SUMATERA UTARA SUMATERA SELATAN JAWA BARAT BANTEN BENGKULU SUMATERA BARAT KALIMANTAN BARAT BANGKA BELITUNG LAMPUNG RIAU JAMBI KEPULAUAN RIAU A. Perkembangan PPM bulan September 2016 Jumlah
QS PENGENDALIAN PELATIHAN MASYARAKAT PPMK 2014 Rekap Nasional Periode Laporan (Minggu ke 4) 30 April 2015
2014 STATUS KEGIATAN PENGEMBANGAN KAPASITAS TINGKAT MASYARAKAT PROPOSAL KEGIATAN PEMANFAATAN DANA PELATIHAN MASYARAKAT DANA DARI DANA DI REK BKM KE PANITIA BKM (Rp) PELAKSANA (Rp) PENCAIRAN BLM/APBN (Rp)
Perkembangan Pengelolaan Pengaduan Bulan Mei 2017
Perkembangan Pengelolaan Pengaduan Bulan Mei 2017 Pengelolaan pengaduan pada bulan Mei 2017 telah dikelola mencapai 912 pengaduan, dengan status penanganan telah selesai 908 atau 99,56 % dan status dalam
Pengelolaan Pengaduan Masyarakat Bulan November 2017
Pengelolaan Pengaduan Masyarakat Bulan November 2017 Gambaran Umum Pengelolaan pengaduan pada bulan November 2017 mencapai 873 pengaduan, dengan status penanganan telah selesai seluruhnya atau 100%. Pengaduan
Perkembangan PPM Bulan Maret 2017
Perkembangan PPM Bulan Maret 2017 Pengelolaan Pengelolaan pengaduan pada bulan Maret 2017 telah dikelola mencapai 729 pengaduan, dengan status penanganan telah selesai 694 atau 95,2 % dan status dalam
Progres PPM PNPM Mandiri Perkotaan Periode Desember Wilayah II. (OC 5 s/d OC 9)
Wilayah II KMP Jateng DIY Jatim Bali NTB NTT Kalteng Kalsel Kaltim Sulut Sulteng Sulsel Sultra Gorontalo Sulbar Maluku Malut Papua Barat Papua Pendahuluan Progres PPM PNPM Mandiri Perkotaan Periode Desember
Progres PPM PNPM Mandiri Perkotaan Periode Maret Wilayah II. (OC 5 s/d OC 9)
Wilayah II KMP Jateng DIY Jatim Bali NTB NTT Kalteng Kalsel Kaltim Sulut Sulteng Sulsel Sultra Gorontalo Sulbar Maluku Malut Papua Barat Papua Pendahuluan Progres PPM PNPM Mandiri Perkotaan Periode Maret
PELAKSANAAN PPMK. A. Konsep Dasar dan Tujuan PPMK
A. Konsep Dasar dan Tujuan PPMK PELAKSANAAN PPMK Program Peningkatan Penghidupan Masyarakat Berbasis Komunitas (PPMK) merupakan program lanjutan dalam PNPM Mandiri Perkotaan untuk mendorong proses transformasi
REKOMENDASI HASIL UJI PETIK KMP PERIODE 28 November 8 Desember 2007
REKOMENDASI HASIL UJI PETIK KMP PERIODE 28 November 8 Desember 2007 Gambaran Umum Secara umum proses kegiatan di lokasi baru mengalami keterlambatan rata-rata 1,5 bulan dari master schedule, sementara
Progres PPM PNPM Mandiri Perkotaan Periode Agustus 2010 Wilayah I (OC 5 s/d OC 9)
Pendahuluan Progres PPM PNPM Mandiri Perkotaan Periode Agustus 2010 Wilayah I (OC 5 s/d OC 9) Progres data pengaduan bulan Agustus 2010 diperoleh dari SIM aplikasi PPM meliputi OC 5 s/d OC 9 menggunakan
LAPORAN UJI PETIK PELAKSANAAN SIKLUS PNPM MANDIRI PERKOTAAN 2009 PENGELOLAAN DANA BANTUAN LANGSUNG MASYARAKAT (BLM) Bulan Agustus 2009
LAPORAN UJI PETIK PELAKSANAAN SIKLUS PNPM MANDIRI PERKOTAAN 2009 PENGELOLAAN DANA BANTUAN LANGSUNG MASYARAKAT (BLM) Bulan Agustus 2009 KEGIATAN PENGELOLAAN DANA BLM Dana BLM merupakan dukungan dana stimulan
Progres PPM PNPM Mandiri Perkotaan Periode Juli 2014 Wilayah II (OSP 5, OSP 6, OSP 7, OSP 8, OSP 9, OSP 10)
Progres PPM PNPM Mandiri Perkotaan Periode Juli 2014 Wilayah II (OSP 5, OSP 6, OSP 7, OSP 8, OSP 9, OSP 10) Pendahuluan Progres ini merupakan rekapitulasi dokumen hasil PPM di wilayah PNPM Mandiri Perkotaan
Oleh : Direktur Penataan Bangunan dan Lingkungan Disampaikan dalam rangka Sosialisasi Nasional APBNP 2013 Jakarta, 21 Agustus 2013
Oleh : Direktur Penataan Bangunan dan Lingkungan Disampaikan dalam rangka Sosialisasi Nasional APBNP 2013 Jakarta, 21 Agustus 2013 DIREKTORAT PENATAAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN LATAR BELAKANG Pada Tahun
JUSTIFIKASI TEKNIS PENAMBAHAN TENAGA ASISTEN MANAJEMEN DATA DI KMW DAN KOORDINATOR KOTA UPP2-2
JUSTIFIKASI TEKNIS PENAMBAHAN TENAGA ASISTEN MANAJEMEN DATA DI KMW DAN KOORDINATOR KOTA UPP2-2 A. LATAR BELAKANG Proyek Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) I tahap I telah dilaksanakan sejak
PENGELOLAAN PENGADUAN MASYARAKAT (PPM) PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MANDIRI PERKOTAAN
PENGELOLAAN PENGADUAN MASYARAKAT () PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MANDIRI PERKOTAAN 1 PENANGANAN PENGADUAN UNTUK TATA PEMERINTAHAN YANG LEBIH BAIK TINGKAT KOMUNITI RELAWAN, KSM, BKM, MASYARAKAT
Tingkat Kemiskinan Per Provinsi Wilayah Sumatera Tahun 2014
Persentase (%) Persentase (%) 30 25 20 15 10 5 0 Pergerakan Tingkat Kemiskinan Wilayah Sumatera Periode 2007-2014 26.65 23.53 22.19 21.8 20.98 22.13 20.98 20.22 19.57 20.64 18.58 17.72 19.15 18.94 18.59
LAPORAN UJI PETIK SIKLUS MASYARAKAT KEGIATAN PEMANFAATAN BLM (BANTUAN LANGSUNG MASYARAKAT)
PNPM MANDIRI PERKOTAAN 2010 LAPORAN UJI PETIK SIKLUS MASYARAKAT KEGIATAN PEMANFAATAN BLM (BANTUAN LANGSUNG MASYARAKAT) Februari 2011 1 P a g e I. LATAR BELAKANG PELAKSANAAN UJI PETIK PEMANFAATAN BLM (BANTUAN
PROGRESS PELAKSANAAN PILOT BDC PER 31 DESEMBER 2016
PROGRESS PELAKSANAAN PILOT BDC PER 31 DESEMBER 2016 A. Gambaran Umum Program ICDD Phase 3 telah memfasilitasi penguatan peran Pemerintah Daerah dalam rangka menjalin kemitraan, yang akan mensinergikan
Oleh : Kepala PMU P2KP. Disampaikan dalam rangka Sosialisasi Nasional P4IP Tahun 2013 Denpasar, Agustus 2013
Oleh : Kepala PMU P2KP Disampaikan dalam rangka Sosialisasi Nasional P4IP Tahun 2013 Denpasar, 28-30 Agustus 2013 DIREKTORAT PENATAAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN 1. KETENTUAN UMUM 2 1. LOKASI SASARAN Lokasi
LAPORAN UJI PETIK SIKLUS MASYARAKAT KEGIATAN RWT (REMBUG WARGA TAHUNAN)
PNPM MANDIRI PERKOTAAN 2010 LAPORAN UJI PETIK SIKLUS MASYARAKAT KEGIATAN RWT (REMBUG WARGA TAHUNAN) Februari 2011 1 P a g e LATAR BELAKANG PELAKSANAAN UJI PETIK RWT (REMBUG WARGA TAHUNAN) RWT adalah singkatan
DIREKTORAT JENDRAL CIPTA KARYA DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM. PROGRES PINJAMAN DANA BERGULIR (PDB) WILAYAH 1 Status data : MEI 2015
DIREKTORAT JENDRAL CIPTA KARYA DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM PROGRES PINJAMAN DANA BERGULIR (PDB) WILAYAH 1 Status data : MEI 2015 INFORMASI DATA PINJAMAN BERGULIR LOKASI WILAYAH-1 No I. INFORMASI KINERJA
LAPORAN UJI PETIK SIKLUS MASYARAKAT KEGIATAN PEMANFAATAN BLM (BANTUAN LANGSUNG MASYARAKAT)
PNPM MANDIRI PERKOTAAN 2010 LAPORAN UJI PETIK SIKLUS MASYARAKAT KEGIATAN PEMANFAATAN BLM (BANTUAN LANGSUNG MASYARAKAT) Desember 2010 1 P a g e I. LATAR BELAKANG PELAKSANAAN UJI PETIK PEMANFAATAN BLM (BANTUAN
AKUNTABILITAS DALAM PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN / P2KP (PROGRAM PENINGKATAN KUALITAS PERMUKIMAN) Rakor Nasional P2KP, 15 Juni 2015
AKUNTABILITAS DALAM PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN / P2KP (PROGRAM PENINGKATAN KUALITAS PERMUKIMAN) Rakor Nasional P2KP, 15 Juni 2015 Latar Belakang Audit Sempit: Pemenuhan kewajiban Loan/Grant Agreement.
DIREKTORAT JENDRAL CIPTA KARYA DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM. PROGRES PINJAMAN DANA BERGULIR (PDB) WILAYAH 1 Status data : MARET 2015
DIREKTORAT JENDRAL CIPTA KARYA DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM PROGRES PINJAMAN DANA BERGULIR (PDB) WILAYAH 1 Status data : MARET 2015 INFORMASI DATA PINJAMAN BERGULIR LOKASI WILAYAH-1 No I. INFORMASI KINERJA
PENILAIAN KINERJA PROPINSI TINGKAT KAB./KOTA. Triwulan 2 - Tahun 2012
PENILAIAN KINERJA PROPINSI TINGKAT KAB./KOTA Triwulan 2 - Tahun 2012 ASPEK DAN BIDANG EVALUASI KINERJA TINGKAT PROVINSI ASPEK FASILITASI ASPEK CAPAIAN INDIKATOR HASIL terdiri dari bidang2 : 1. SIM 2. PPM
I. KEGIATAN PENGELOLAAN DANA BLM II. CAKUPAN PELAKSANAAN UJI PETIK III. HASIL UJI PETIK. 1. Capaian Umum
PNPM MANDIRI PERKOTAAN 2010 LAPORAN UJI PETIK KEGIATAN SIKLUS MASYARAKAT PENGELOLAAN DANA BANTUAN LANGSUNG MASYARAKAT (BLM) Periode : Bulan Juli - September 2010 I. KEGIATAN PENGELOLAAN DANA BLM Dana BLM
INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN I-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN II-2016
BPS PROVINSI LAMPUNG No. 10/05/18/Th. VI, 4 Mei 2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN I-2016 DAN PERKIRAAN TRIWULAN II-2016 INDEKS TENDENSI KONSUMEN LAMPUNG TRIWULAN I-2016 SEBESAR 101,55
INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI PAPUA TRIWULAN IV-2016
BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI PAPUA INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI PAPUA TRIWULAN A. Penjelasan Umum No. 11/02/94/Th. VII, 6 Februari 2017 Indeks Tendensi Konsumen (ITK) adalah indikator perkembangan
LAPORAN PERKEMBANGAN PENINGKATAN PENGHIDUPAN MASYARAKAT BERBASIS KOMUNITAS (PPMK)
KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT DIREKTORAT JENDERAL CIPTA KARYA LAPORAN PERKEMBANGAN PENINGKATAN PENGHIDUPAN MASYARAKAT BERBASIS KOMUNITAS (PPMK) PER 31 DESEMBER 2014 I. LOKASI PPMK TAHUN
Yogyakarta, 13 Desember 2013
Yogyakarta, 13 Desember 2013 Banyaknya Fasilitator kelurahan yang masuk-keluar (turn over); terutama Faskel Infrastruktur - karena faktor-2 : gaji yang relatif lebih rendah (dibanding program sejenis lain),
ISU-ISU STRATEGIS DALAM PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN 2011
ISU-ISU STRATEGIS DALAM PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN 2011 (Disampaikan dalam acara Pembukaan Workshop NMC - NCEP 2011) haripras Didiet Arief Achdiat Kepala PMU P2KP Program Penanggulangan Kemiskinan
Historical cakupan lokasi sasaran PNPM Mandiri Perkotaan
Historical cakupan lokasi sasaran PNPM Mandiri Perkotaan A. Tahun 2006 Pada tahun 2006 merupakan lokasi P2KP yang terdiri dari lokasi P2KP-I, P2KP-II DAN P2KP-III. Adapun pembagian lokasi sasaran adalah
Bab 5. SISTEM INFORMASI MANAJEMEN P2KP BERBASIS WEBSITE
Bab 5. SISTEM INFORMASI MANAJEMEN P2KP BERBASIS WEBSITE 5.1. Pendahuluan Sistem Informasi Manajemen (SIM) P2KP merupakan salah satu alat yang sangat strategis untuk melakukan monitoring dan evaluasi terhadap
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Komponen pengembangan kapasitas (Capacity Building) merupakan salah satu pilar program PNPM Mandiri Perkotaan, karena program ini yang meyakini bahwa pembelajaran merupakan
DESKRIPTIF STATISTIK PONDOK PESANTREN DAN MADRASAH DINIYAH
DESKRIPTIF STATISTIK PONDOK PESANTREN DAN MADRASAH DINIYAH Deskriptif Statistik Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah Pendataan Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah Tahun 2007-2008 mencakup 33 propinsi,
PANDUAN PENGGUNAAN Aplikasi SIM Persampahan
PANDUAN PENGGUNAAN Aplikasi SIM Persampahan Subdit Pengelolaan Persampahan Direktorat Pengembangan PLP DIREKTORAT JENDRAL CIPTA KARYA KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT Aplikasi SIM PERSAMPAHAN...(1)
HASIL MASUKAN DISKUSI TIM KAJIAN PERAN PEMDA 10 SEPTEMBER 2009
HASIL MASUKAN DISKUSI TIM KAJIAN PERAN PEMDA 10 SEPTEMBER 2009 15 SEPTEMBER 2009 Hasil Diskusi Kajian Peran Pemda Sebagian masukan dari Meja 1 s/d Meja 4 sudah terakomodir dalam laporan dan analisa Tim
PENCAIRAN DAN PEMANFAATAN DANA PENGEMBANGAN KAPASITAS MASYARAKAT DIPA TA. 2015
PENCAIRAN DAN PEMANFAATAN DANA PENGEMBANGAN KAPASITAS MASYARAKAT DIPA TA. 2015 Latar Belakang Pengembangan Kapasitas dalam P2KKP merupakan salah satu pilar penting, karena merupakan sistem yang akan menghantarkan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Prasarana Kereta Api Berdasarkan UU No.23 tentang perkeretaapian, prasarana kereta api adalah jalur dan stasiun kereta api termasuk fasilitas yang diperlukan agar sarana kereta
BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT
BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT No. 28/ 05/ 61/ Th,XVI, 6 Mei 2013 INDEKS TENDENSI KONSUMEN KALIMANTAN BARAT TRIWULAN I- 2013 A. Kondisi Ekonomi Konsumen Triwulan I-2013 Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Kalimantan
INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI PAPUA TRIWULAN I-2017
BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI PAPUA INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI PAPUA TRIWULAN I-2017 A. Penjelasan Umum 1. Indeks Tendensi Konsumen (ITK) I-2017 No. 27/05/94/Th. VII, 5 Mei 2017 Indeks Tendensi
LAPORAN UJI PETIK SIKLUS MASYARAKAT KEGIATAN TINJAUAN (REVIEW) PARTISIPATIF
PNPM MANDIRI PERKOTAAN 2010 LAPORAN UJI PETIK SIKLUS MASYARAKAT KEGIATAN TINJAUAN (REVIEW) PARTISIPATIF Oktober 2010 P a g e 1 I. LATAR BELAKANG PELAKSANAAN UJI PETIK REVIEW PARTISIPATIF Tinjauan (Review)
Kerangka Acuan Kerja
Kerangka Acuan Kerja Pemandu Pelatihan Tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota Program Pamsimas II TRAINING DEVELOPMENT AND PROJECT MANAGEMENT SERVICES TO CENTRAL PROJECT MANAGEMENT UNIT [CPMU] 1. Latar Belakang
DATA INSPEKTORAT JENDERAL
DATA INSPEKTORAT JENDERAL 1. REALISASI AUDIT BERDASARKAN PKPT TAHUN 2003-2008 No. Tahun Target Realisasi % 1 2 3 4 5 1 2003 174 123 70,69 2 2004 174 137 78,74 3 2005 187 175 93,58 4 2006 215 285 132,55
PNPM MANDIRI PERKOTAAN LAPORAN UJI PETIK SIKLUS MASYARAKAT KEGIATAN TINJAUAN (REVIEW) PARTISIPATIF Agustus 2009 April 2010
PNPM MANDIRI PERKOTAAN 2009-2010 LAPORAN UJI PETIK SIKLUS MASYARAKAT KEGIATAN TINJAUAN (REVIEW) PARTISIPATIF Agustus 2009 April 2010 1. KEGIATAN REVIEW PARTISIPATIF Tinjauan (Review) Partisipatif merupakan
STRATEGI DAN INSTRUMEN PENELITIAN PT. DWIKARSA ENVACOTAMA
STRATEGI DAN INSTRUMEN PENELITIAN PT. DWIKARSA ENVACOTAMA Logical Framework PERAN PEMERINTAH DAERAH PERTANYAAN PENELITIAN 1. Bagaimana koordinasi antara berbagai badan pemerintah dengan KBP dapat diperkuat
INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN III-2015 DAN PERKIRAAN TRIWULAN IV-2015
BPS PROVINSI LAMPUNG No. 10/11/18.Th.V, 5 November 2015 INDEKS TENDENSI KONSUMEN PROVINSI LAMPUNG TRIWULAN III-2015 DAN PERKIRAAN TRIWULAN IV-2015 INDEKS TENDENSI KONSUMEN LAMPUNG TRIWULAN III-2015 SEBESAR
Pembatasan Pengertian Perencanaan Partisipatif
1 Pembatasan Pengertian Perencanaan Partisipatif (a) Perencanaan Partisipatif disebut sebagai model perencanaan yang menerapkan konsep partisipasi, yaitu pola perencanaan yang melibatkan semua pihak (pelaku)
INDONESIA Percentage below / above median
National 1987 4.99 28169 35.9 Converted estimate 00421 National JAN-FEB 1989 5.00 14101 7.2 31.0 02371 5.00 498 8.4 38.0 Aceh 5.00 310 2.9 16.1 Bali 5.00 256 4.7 30.9 Bengkulu 5.00 423 5.9 30.0 DKI Jakarta
PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI (NTP) PROVINSI PAPUA BULAN FEBRUARI 2014
No. 14 / 03 / 94 / Th. VII, 2 Maret 2015 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI (NTP) PROVINSI PAPUA BULAN FEBRUARI 2014 Nilai Tukar Petani Papua pada Februari 2015 sebesar 97,12 atau mengalami kenaikan 0,32
