HASIL DA PEMBAHASA Konsumsi Bahan Kering Ransum 200 mg/kg bobot badan tidak mempengaruhi konsumsi bahan kering. Hasil yang tidak berbeda antar perlakuan (Tabel 2) mengindikasikan bahwa penambahan ekstrak lerak pada pakan penguat tidak menurunkan konsumsi ransum dibandingkan kontrol. Hasil penelitian ini sama dengan Suharti et al. (2009) yang melaporkan bahwa sapi PO yang diberi tepung dari keseluruhan buah lerak pada taraf 2,5% dan 5% dari konsentrat tidak nyata mempengaruhi konsumsi ransum. Salimah (2010) juga menyatakan bahwa suplementasi EML (Ekstrak Metanol Lerak) dalam bentuk pakan blok pada taraf 0,03% dan 0,08% pada ransum tinggi konsentrat (±60%) tidak nyata mempengaruhi konsumsi bahan kering ransum. Tabel 2. Rataan Nilai Konsumsi Pakan Sapi Potong yang Mendapat Berbagai Level Ekstrak Lerak --------------------- gram (BK) per ekor per hari ------------- Konsumsi 4469,05±372,78 4463,48±347,89 4621,00±212,82 - Rumput Lapang 2953,46±317,12 2917,45±253,97 3100,58±144,13 - Konsentrat 1515,59±55,81 1546,03±115,83 1520,42±74,84 Kisaran konsumsi bahan kering ransum pada penelitian ini yaitu 2,7-3% dari bobot badan. Penelitian Salimah (2010) melaporkan bahwa pada sapi PO yang mendapat suplementasi EML dalam pakan blok pada taraf 0,03% dan 0,08% pada ransum tinggi konsentrat (±60%) dapat konsumsi bahan kering ransum sekitar 3,06-3,13%. Hasil penelitian Nasri et al. (2011) melaporkan bahwa Quillaja saponaria (QS) pada level 60 dan 90 mg QS/kg bahan kering (DMI) tidak berpengaruh terhadap konsumsi pakan dan air ternak domba. Mao et al. (2010) menambahkan bahwa saponin pada daun teh tidak berpengaruh terhadap konsumsi pakan domba. 20
Faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi ransum pada ruminansia yaitu faktor makanan yang diberikan, faktor hewan dan faktor lingkungan (Parakkasi, 1999). Faktor makanan antara lain yaitu bentuk, komposisi nutrien, rasa dan tekstur. Faktor hewan antara lain yaitu bobot badan, palatabilitas, status fisiologis dan kapasitas rumen. Sedangkan faktor lingkungan antara lain yaitu suhu dan kelembaban udara. Konsumsi nutrien yang dibutuhkan ternak tergantung pada bobot badan dan kecepatan laju pertumbuhannya. Nilai konsumsi protein kasar, lemak kasar dan serat kasar pada penelitian ini diduga telah mencukupi kebutuhan ternak sehingga memungkinkan ternak untuk tumbuh dan berproduksi. Hal tersebut dapat tercermin dari bobot badan ternak yang bertambah. Nilai konsumsi protein kasar, lemak kasar dan serat kasar dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Rataan Nilai Konsumsi Protein Kasar, Lemak Kasar, dan Serat Kasar Sapi Potong yang mendapat berbagai Level Ekstrak Lerak Konsumsi Nutrien --------------- gram (BK) per ekor per hari ------------------- - Protein Kasar 606,51±42,17 575,53±51,37 606,95±25,85 - Lemak Kasar 60,83±3,75 59,93±4,18 60,83±2,68 - Serat Kasar 1519,88±117,81 1386,04±190,63 1522,08±64,68 Kecernaan utrien 200 mg/kg bobot badan tidak mempengaruhi kecernaan bahan kering, protein kasar, serat kasar dan lemak kasar (Tabel 4). Nilai rataan kecernaan bahan kering pada penelitian ini berkisar antara 54,95%-58,24%. Penelitian Suharti et al. (2009) juga melaporkan bahwa sapi PO yang diberi tepung dari keseluruhan buah lerak pada taraf 2,5% dan 5% dari konsentrat tidak nyata mempengaruhi kecernaan ransum. Bakrie et al. (1996) menyatakan bahwa nilai kecernaan bahan kering sapi di daerah iklim tropis berkisar antara 40%-65%. 21
Tabel 4. Rataan Nilai Kecernaan Bahan Kering, Protein Kasar, Serat Kasar dan Lemak Kasar Sapi Potong yang Mendapat Berbagai Level Ekstrak Lerak ---------------------------- % ----------------------------- Kecernaan Bahan Kering 58,24±1,19 55,69±6,54 54,95±3,07 Kecernaan Protein Kasar 73,37±1,22 71,39±4,05 71,11±2,25 Kecernaan Lemak Kasar 44,14±13,07 53,63±11,46 40,12±14,36 Kecernaan Serat Kasar 75,90±2,79 73,96±5,46 74,58±2,29 Campbell et al. (2003) menyatakan bahwa kecernaan adalah persentase pakan yang dapat dicerna dalam sistem pencernaan yang kemudian dapat diserap tubuh dan sebaliknya yang tidak terserap dibuang melalui feses. Semakin tinggi kecernaan bahan kering maka semakin tinggi pula peluang nutrien yang dapat dimanfaatkan untuk produktivitas ternak. Penelitian Salimah (2010) pada sapi PO yang mendapat suplementasi EML dalam bentuk pakan blok pada taraf 0,03% dan 0,08% pada ransum tinggi konsentrat (±60%) mempunyai kecernaan BK lebih tinggi (65,18-69,16%), kecernaan PK lebih tinggi (78,68-81,01%), kecernaan LK lebih tinggi (70,77-72,20%) tetapi kecernaan SK lebih rendah (51,59-57,99) dibandingkan penelitian ini. Hal ini dikarenakan pada penelitian ini menggunakan hijauan tinggi sehingga nilai kecernaan serat kasar (SK) lebih tinggi dibandingkan ransum tinggi pakan penguat (konsentrat). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Hristov et al. (1999) yang menyatakan penambahan Yucca schidigera yang mengandung saponin pada pakan sapi betina dara sebanyak 20 dan 60 g/e/hari tidak nyata mempengaruhi kecernaan ransum secara total. Sebaliknya, Abreu et al. (2004) melaporkan bahwa penggunaan saponin yang terkandung dalam Sapindus saponaria sebanyak 8 g/kg bobot hidup menurunkan kecernaan ADF, NDF, serta jumlah protozoa meningkat. Hasil penelitian lain melaporkan bahwa Quillaja saponaria (QS) pada level 60 dan 90 mg QS/kg dari konsumsi bahan kering (DMI) menurunkan kecernaan NDF tetapi tidak berpengaruh terhadap kecernaan protein kasar pada ternak domba (Nasri et al,. 2011). 22
Penambahan hingga taraf 200 mg/kg BB ekstrak lerak menghasilkan variasi nilai kecernaan nutrien. Saponin yang dikonsumsi sebanyak 2 kali lebih besar pada perlakuan 200 mg/kg BB ekstrak lerak cenderung memperlihatkan penurunan nilai kecernaan walaupun tidak berbeda nyata. Hal ini dikarenakan lebih banyaknya saponin yang terdapat dalam lerak. Namun, nilai kecernaan bahan kering, protein kasar, lemak kasar dan serat kasar pada pakan yang tidak mengandung ekstrak lerak menunjukkan hasil yang cenderung lebih baik dibanding perlakuan lainnya. Populasi bakteri yang meningkat ternyata keberadaannya di rumen tidak tetap tidak seperti protozoa yang dapat menempel pada dinding rumen dan memiliki ukuran yang lebih besar. Bakteri dapat lolos bersama partikel pakan menuju pencernaan pasca rumen (Damron, 2006). Efek dari pemberian ekstrak Yucca shidigera yang mengandung saponin dapat menstimulasi pertumbuhan bakteri Prevotella ruminicola, menekan pertumbuhan bakteri Streptococcus bovis, dan menghilangkan bakteri Butyrivibrio fibrisolvens (Wallace et al.,1994). Faktor-faktor yang mempengaruhi kecernaan ransum diantaranya adalah laju alir pakan saat melewati sistem pencernaan, bentuk fisik pakan dan komposisi nutrien pakan (Campbell et al., 2003). McDonald et al. (2002) menambahkan bahwa kecernaan juga dipengaruhi oleh komposisi rasio ransum antara hijauan dan konsentrat, pengolahan pakan dan jumlah pakan yang dikonsumsi. Pertambahan Bobot Badan Harian (PBBH) 200 mg/kg bobot badan tidak mempengaruhi pertambahan bobot badan harian (Tabel 5). Pertambahan bobot badan merupakan salah satu ukuran yang digunakan untuk mengukur pertumbuhan. Menurut McDonald et al. (2002) pertumbuhan ternak ditandai dengan peningkatan ukuran, bobot, dan adanya perkembangan. Pertambahan bobot badan ternak dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya jenis sapi, jenis kelamin, umur, ransum, genetik, kondisi lingkungan, aktivitas hormonal, penyakit, dan teknik pengelolaannya (Parakkasi, 1999). 23
Tabel 5. Rataan Nilai Pertambahan Bobot Badan Harian dan Efisiensi Ransum Sapi Potong yang Mendapat Berbagai Level Ekstrak Lerak PBBH (g/e/h) 481,48±72,51 498,61±38,05 537,50±59,38 Efisiensi Ransum 0,11±0,012 0,12±0,015 0,13±0,022 Pertambahan bobot badan sangat bergantung dari jenis sapi. Nilai PBBH yang normal untuk sapi PO antara 0,4-0,8 kg/e/h tergantung ransum yang diberikan. Pertambahan bobot badan pada penelitian ini berkisar antara 0,48-0,54 kg/e/h. Salimah (2010) menyatakan bahwa suplementasi EML dalam bentuk pakan blok pada taraf 0,03% dan 0,08% pada ransum tinggi konsentrat (±60%) menghasilkan pertambahan bobot badan sebesar 0,74-0,87 kg/e/h. Perbedaan nilai PBBH ini dikarenakan ransum yang diberikan berbeda, ransum dengan hijauan tinggi memiliki nilai energi lebih rendah sehingga nilai PBBH yang dihasilkan lebih rendah dibandingkan dengan ransum tinggi konsentrat. Hasil penelitian Nasri et al. (2011) melaporkan bahwa Quillaja saponaria (QS) pada level 60 dan 90 mg QS/kg bahan kering (DMI) tidak berpengaruh terhadap performa pertumbuhan ternak domba. Mao et al. (2010) juga menambahkan bahwa saponin pada daun teh tidak berpengaruh terhadap pertambahan bobot badan domba. Selain itu kondisi lingkungan juga mempengaruhi pertambahan bobot badan ternak. Suhu didalam kandang pagi hari 20-21 0 C, siang hari 30-32 0 C, dan malam hari 22-24 0 C. Perubahan suhu didalam kandang yang sangat berfluktuatif ini dapat menyebabkan ternak stres, sehingga tidak semua zat nutrisi yang terdapat dalam pakan diubah menjadi daging melainkan digunakan juga untuk beradaptasi dengan lingkungan. Terjadi perbaikan nilai PBBH antara ransum kontrol dengan perlakuan ekstrak lerak 100 mg/kg BB sebesar 3,56% sedangkan dengan ekstrak lerak 200 mg/kg BB sebesar 11,63%. Hal ini menunjukkan bahwa dengan perlakuan ekstrak lerak hingga taraf 200 mg/kg BB nilai PBBH lebih tinggi daripada kontrol. Penelitian Suharti et al. (2009) melaporkan bahwa sapi PO yang diberi tepung dari 24
keseluruhan buah lerak pada taraf 2,5% dan 5% dari konsentrat dapat memperbaiki PBBH 20% lebih tinggi dibandingkan kontrol dengan nilai PBBH sebesar 0,9 kg/hari. Pada 30 hari pertama pemberian ekstrak lerak belum terlihat perbaikan nilai PBBH, namun pada 30 hari kedua (hari 31-60) terlihat adanya peningkatan nilai PBBH pada perlakuan ekstrak lerak 100 mg/kg BB dan ekstrak lerak 200 mg/kg BB. Pada 30 hari terakhir pemeliharaan (hari 61-90) perbaikan nilai PBBH semakin meningkat pada perlakuan ekstrak lerak 100 mg/kg BB dan ekstrak lerak 200 mg/kg BB. Hal ini mengindikasikan bahwa seiring lama waktu pemeliharaan, nilai PBBH semakin meningkat (Gambar 4). 600 550 PBBH (g/e/h) 500 450 400 0-30 hari 31-60 hari 61-90 hari LAMA PEMELIHARAA Kontrol 100 mg/kg BB Ekstrak lerak 200 mg/kg BB Ekstrak lerak Gambar 4. Pola Pertambahan Bobot Badan Harian Sapi Potong yang Mendapat Suplementasi Ekstrak Lerak Pertambahan bobot badan harian yang meningkat pada pemberian ekstrak lerak ini disebabkan pula oleh adanya efek dari saponin yang terkandung pada ekstrak lerak, dimana populasi bakteri Prevotella ruminicola meningkat. Bakteri ini adalah salah satu bakteri penghasil propionat yang aktif mendegradasi xylan, propionat adalah sumber energi utama bagi ternak ruminansia khususnya sapi potong. 25
Efisiensi Ransum 200 mg/kg bobot badan tidak mempengaruhi efisiensi ransum pada ternak. Nilai efisiensi ransum kontrol maupun perlakuan yaitu 0,11-0,13 (Tabel 5) yang artinya setiap 1 kg bahan kering ransum menghasilkan pertambahan bobot badan harian sebesar 0,11 kg. Penelitian pada ransum sapi PO yang disuplementasi EML dalam bentuk pakan blok pada taraf 0,03% dan 0,08% pada ransum tinggi konsentrat ±60% berkisar antara 0,16-0,18 (Salimah, 2010). Nilai efisiensi ransum yang semakin tinggi menunjukkan bahwa ransum yang dikonsumsi semakin tinggi yang diubah untuk menjadi hasil produk pada ternak diantaranya pertambahan bobot badan. Beberapa faktor yang mempengaruhi efisiensi pakan antara lain kemampuan ternak dalam mencerna bahan pakan, kecukupan zat pakan untuk hidup pokok, pertumbuhan dan fungsi tubuh serta jenis pakan yang digunakan (Campbell et al., 2003). Ransum yang digunakan pada ternak akan mempengaruhi nilai efisiensi ransum. Ransum pada penelitian ini memiliki nilai protein yang tinggi tetapi nilai energi rendah, ini karena ransum berbasis hijauan. Nilai protein tinggi pada ransum ruminansia tidak efisien karena protein didegradasi di rumen. Ketidakseimbangan rasio protein dan energi pada ransum ruminansia juga mempengaruhi pertambahan bobot badan ternak, dimana nilai PBBH pada penelitian ini tidak bertambah secara signifikan karena nilai energi pada ransum rendah. 26