HASIL DAN PEMBAHASAN 482,91 55, ,01 67,22

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "HASIL DAN PEMBAHASAN 482,91 55, ,01 67,22"

Transkripsi

1 HASIL DAN PEMBAHASAN Konsumsi dan Kecernaan Bahan Kering Konsumsi dan kecernaan bahan kering dapat dilihat di Tabel 8. Penambahan minyak jagung, minyak ikan lemuru dan minyak ikan lemuru terproteksi tidak nyata (P>0,05) mempengaruhi konsumsi bahan kering, bahan kering feses, bahan kering tercerna, dan koefisien cerna bahan kering. Tabel 8. Konsumsi dan Kecernaan Bahan Kering Peubah Konsumsi BK (g/kg BB 0,75 ) BK Feses BK Tercerna Koef. cerna BK (%) Ransum Penelitian P0 MJ MIL MIT ±SEM 458,08 54,79 155,00 303,08 66,23 482,91 55, ,01 67,22 470,48 54,52 145,88 324,60 67,98 437,78 54,84 135,85 301,93 69,84 3,12 0,95 1,13 2,32 1,56 Keterangan: *) P0=Ransum kontrol; MJ=Penggunaan 1,5% Minyak Jagung dalam ransum; MIL= penggunaan 1,5% Minyak Ikan Lemuru dalam ransum; MIT=Penggunaan 1,5% Minyak Ikan Lemuru Terproteksi dalam ransum. Rataan konsumsi bahan kering pada saat koleksi total masing-masing perlakuan berkisar antara 437,78 482,91 gram/ekor/hari atau 54,52-55,85 gram/kg BB 0,75. Menurut Kearl (1982), kebutuhan bahan kering domba dengan bobot badan kg dan PBB gram/hari berkisar antara gram/ekor/hari. Suhardi (2010) juga menyatakan, domba lokal jantan dengan bobot badan rata-rata 21,25 kg yang diberi pakan berupa 70% konsentrat dan 30% rumput gajah menghasilkan konsumsi bahan kering sebesar 75,55 gram/kg BB 0,75. Konsumsi bahan kering (gram/ekor/hari) masih dalam kisaran normal. Pengukuran kecernaan dengan metode koleksi total tidak mengganggu konsumsi bahan kering domba. Konsumsi bahan kering pada bobot badan metabolis lebih rendah jika dibandingkan dengan penelitian Suhardi (2010). Perbedaan ini kemungkinan disebabkan oleh perbedaan kualitas hijauan, kandungan zat makanan konsentrat dan 23

2 bangsa ternak. Menurut Parakkasi (1998), tingkat konsumsi dipengaruhi oleh ternak itu sendiri, pakan yang diberikan serta lingkungan tempat ternak tersebut dipelihara. Kecernaan bahan kering ransum P0, MJ, MIL, dan MIT berturut-turut sebesar 303,08; 326,01; 324,60; dan 301,93 gram/ekor/hari atau 66,23%; 67,22%; 67,98%; dan 67,98%. Karolita et al. (2011) menyebutkan bahwa kombinasi jagung dan bungkil kelapa, onggok dan bungkil kelapa, serta jagung, onggok dan bungkil kelapa dalam ransum domba bunting menghasilkan bahan kering tercerna berturut-turut sebesar 295,92; 301,98; dan 320,47 gram/ekor/hari. Suci et al. (2011) juga menyebutkan, dengan ransum yang sama pada domba jantan lepas sapih menghasilkan koefisien cerna bahan kering berturut-turut sebesar 71,59%; 65,20%; dan 69,88%. Penelitian Adawiyah et al. (2007) menunjukkan bahwa penggunaan 1,5% minyak jagung dan minyak ikan lemuru pada ransum domba garut betina dengan bobot badan rata-rata 22,38 kg tidak mengganggu sistem pencernaan dalam rumen dan menghasilkan kecernaan bahan kering sebesar 68% (dengan minyak jagung) dan 70% (dengan minyak ikan lemuru). Bahan kering tercerna dan koefisien cerna bahan kering lebih tinggi jika dibandingkan dengan hasil penelitian Karolita et al. (2011) dan Suci et al. (2011). Hal ini menunjukkan penambahan minyak dalam ransum dapat memperbaiki kecernaan bahan kering. Menurut Adawiyah et al. (2007) minyak ikan dapat berfungsi dalam membantu penyerapan zat makanan di usus dengan memasok asam lemak arakhidonat sebagai prekursor prostaglandin sehingga meningkatkan kecernaan. Nilai kecernaan yang berbeda dengan Karolita et al. (2011) dan Suci et al. (2011) kemungkinan disebabkan juga oleh perbedaan status fisiologis ternak percobaan, kualitas pakan yang digunakan, dan jumlah konsumsi. Secara umum, peningkatan jumlah konsumsi dapat menurunkan kecernaan, sebab terjadi penurunan waktu retensi rumen dan peningkatan laju aliran pakan dari rumen menuju usus halus sehingga penyerapan zat makanan tidak optimal. Konsumsi dan Kecernaan Protein Kasar Konsumsi dan kecernaan protein kasar dapat dilihat di Tabel 9. Penambahan minyak jagung, minyak ikan lemuru, dan minyak ikan lemuru terproteksi tidak nyata 24

3 (P>0,05) mempengaruhi konsumsi protein kasar (gram/ekor/hari), protein kasar feses, protein kasar tercerna, dan koefisien cerna protein kasar, namun, sangat nyata (P<0,01) meningkatkan konsumsi protein kasar pada bobot badan metabolis. Tabel 9. Konsumsi dan Kecernaan Protein Kasar Peubah Konsumsi PK (g/kg BB 0,75 ) PK Feses PK Tercerna Koef. Cerna PK (%) Ransum Penelitian P0 MJ MIL MIT ±SEM 84,73 10,13 b 21,40 63,33 74, ,51 ab 23,15 59,07 71,72 77,59 8,99 a 21, ,68 72,42 9,07 a 19,91 52,51 72,56 5,35 0,21 a 1,65 4,12 1,18 Keterangan: *) P0=Ransum kontrol; MJ=Penggunaan 1,5% Minyak Jagung dalam ransum; MIL= penggunaan 1,5% Minyak Ikan Lemuru dalam ransum; MIT=Penggunaan 1,5% Minyak Ikan Lemuru Terproteksi dalam ransum. Menurut Kearl (1982), kebutuhan protein kasar domba dengan bobot badan kg dan PBB gram/hari berkisar antara gram/ekor/hari. Rataan konsumsi protein kasar (gram/ekor/hari) masih di atas kisaran normal, yaitu antara 72,42 84,73 gram/ekor/hari. Ransum dengan penambahan minyak ikan lemuru dan minyak ikan lemuru terproteksi menghasilkan konsumsi protein kasar (gram/kg BB 0,75 ) lebih rendah dibandingkan dengan ransum kontrol dan ransum dengan minyak jagung (8,99 dan 9,07 vs 9,51 dan 10,13 gram/kg BB 0,75 ). Hal ini diduga karena kandungan protein kasar pada ransum dengan penambahan minyak ikan dan minyak ikan lemuru terproteksi lebih rendah jika dibandingkan dengan ransum kontrol dan ransum dengan minyak jagung (16,32% vs 16,71% dan 18,27%), seperti yang terlihat pada Tabel 2. Hidajati et al. (2001) menyebutkan ransum yang terdiri dari 85% konsentrat dan 15% rumput gajah menghasilkan rataan konsumsi protein pada domba jantan dan domba betina lepas sapih berturut-turut sebesar 16,39 gram/kg BB 0.75 dan 15,97 gram/kg BB Hasil penelitian ini lebih kecil jika dibandingkan dengan Hidajati et al. (2001). Hal tersebut kemungkinan disebabkan oleh perbedaan komposisi bahan pakan dan optimalitas kondisi rumen ternak. Menurut Soetanto (1994), kebutuhan 25

4 protein ternak (induk semang) dapat dipenuhi oleh mikroba sebanyak 70% apabila kondisi rumen yang optimal bagi pertumbuhan dan sintesis protein mikroba dapat dicapai. Kecernaan protein kasar ransum P0, MJ, MIL, dan MIT berturut-turut sebesar 63,33; 59,07; 5,99; dan 52,51 gram/ekor/hari atau 74,71%; 71,72%; 71,68%; dan 72,56%. Kecernaan protein dalam tubuh ruminansia sangat tergantung dengan jumlah rumen undegradable protein (RUP) dan sintesis protein mikroba. Menurut Sutton et al. (1975), penggunaan minyak ikan tidak berpengaruh terhadap sintesis protein mikroba selama konsumsi tidak menurun. Suci et al. (2011) menyebutkan bahwa kombinasi jagung dan bungkil kelapa, onggok dan bungkil kelapa, serta jagung, onggok dan bungkil kelapa dalam ransum domba jantan lepas sapih menghasilkan koefisien cerna protein kasar berturut-turut sebesar 75,72%; 72,55%; dan 77,69%. Karolita et al. (2011) juga menyebutkan bahwa protein kasar tercerna dari ransum yang sama pada domba bunting berturutturut sebesar 52,11; 40,80; dan 52,59 gram/hari/ekor. Protein kasar tercerna dan koefisien cerna protein kasar pada penelitian ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan penelitian Suci et al. (2011) dan Karolita et al. (2011). Hal ini kemungkinan disebabkan oleh penambahan urea pada ransum penelitian. Penambahan urea tersebut cukup efisien dengan adanya onggok dalam ransum, sebab kecernaan protein kasar pada ternak ruminansia sangat dipengaruhi oleh ketersediaan nitrogen dari pakan serta energi. Menurut Orskov (1992), tiga sumber protein terdiri dari protein mikroba, protein by-pass dan protein endogenous yang berasal dari recycling N dari hati menuju saliva kemudian masuk ke dalam rumen lagi bersama-sama dengan pakan yang terkonsumsi. Protein mikroba disintesis oleh mikroba dengan memanfaatkan ammonia yang berasal dari urea sebagai salah satu sumber Non-Protein Nitrogen (NPN). Hampir semua NPN dan 60% protein pakan dirombak menjadi ammonia dalam rumen dan dimanfaatkan untuk proses sintesis protein mikroba dan hanya 40% dari protein pakan yang mampu melewati rumen (by-pass protein). Minyak ikan lemuru terproteksi juga mengandung bahan pakan berupa onggok. Onggok sebagai sumber energi mengandung 68% karbohidrat. Dengan adanya ketersediaan energi tinggi yang 26

5 mudah terfermentasi, seperti onggok, 80% 85% N-NH 3 dari urea dapat efisien dimanfaatkan mikroba untuk mensintesis protein mikroba (Orskov, 1992). Konsumsi dan Kecernaan Lemak Kasar Konsumsi dan kecernaan lemak kasar dapat dilihat di Tabel 10. Penambahan minyak jagung, minyak ikan lemuru dan minyak ikan lemuru terproteksi dalam ransum sangat nyata (P<0,01) meningkatkan konsumsi lemak kasar, lemak kasar tercerna, dan koefisien cerna lemak kasar. Tabel 10. Konsumsi dan Kecernaan Lemak Kasar Peubah Konsumsi LK (g/kg BB 0,75 ) LK Feses LK Tercerna Koef. Cerna LK (%) Ransum Penelitian P0 MJ MIL MIT ±SEM 17,80 a 2,13 a 3,01 14,79 a 83,49 a 25,64 ab 2,95 b 2,23 23,41 b 91,13 b 30,42 b 3,52 c 3,25 27,17 b 89,55 ab 41,81 c 5,23 d 2,50 39,34 c 94,08 b 3,23 0, ,19 1,41 Keterangan: *) P0=Ransum kontrol; MJ=Penggunaan 1,5% Minyak Jagung dalam ransum; MIL= penggunaan 1,5% Minyak Ikan Lemuru dalam ransum; MIT=Penggunaan 1,5% Minyak Ikan Lemuru Terproteksi dalam ransum. Rataan konsumsi lemak kasar berkisar antara 17,80 41,81 gram/ekor/hari atau 2,13 5,23 gram/kg BB 0,75. Peningkatan ini diduga karena kandungan lemak kasar yang tinggi pada ransum yang ditambah dengan minyak jagung, minyak ikan lemuru dan minyak ikan lemuru terproteksi. Penambahan minyak ikan lemuru terproteksi menghasilkan nilai konsumsi lemak kasar tertinggi diikuti dengan penambahan minyak jagung dan minyak ikan lemuru, serta ransum kontrol. Kecernaan lemak kasar ransum P0, MJ, MIL, dan MIT berturut-turut sebesar 14,79; 23,41; 27,17; dan 39,34 gram/ekor/hari atau 83,49%; 91,13%; 89,55%; dan 94,08%. Penambahan minyak ikan lemuru terproteksi menghasilkan lemak kasar tercerna yang paling tinggi. Sementara itu, penambahan minyak jagung dan minyak ikan lemuru terproteksi menghasilkan koefisien lemak kasar paling tinggi. Peningkatan lemak kasar tercerna sejalan dengan meningkatnya konsumsi lemak kasar. Menurut Manso (2006), kecernaan lemak kasar meningkat seiring dengan penambahan jumlah lemak dalam pakan. Minyak mengandung hampir 100% 27

6 lemak. Komponen lemak merupakan komponen yang mudah dicerna, sehingga jumlah lemak yang tinggi pada pakan juga akan menunjukkan kecernaan lemak yang tinggi pula. Kecernaan lemak tidak dipengaruhi oleh bahan pakan lain dalam ransum, hampir 90% lemak yang terkandung dalam ransum asal sumbangan bahan-bahan pakan penyusunnya dapat dicerna. Ransum penelitian yang terdiri dari hijauan juga mengandung lemak kasar sebanyak 1,83%. Oleh sebab itu, selain dari lemak konsentrat, tingginya lemak hijauan yang mendorong tingginya tingkat kecernaan lemak juga disumbangkan dari lemak hijauan. Menurut Parrakasi (2005), komponen asam lemak dari hijauan terdiri dari asam lemak tak jenuh. Hasil penelitian ini sesesuai dengan penelitian Bayourthe (1993) yang menyebutkan bahwa penggunaan lemak terproteksi (prolip) sebesar 0%; 5%; 10%, dan 15% pada ransum domba jantan dewasa signifikan dapat meningkatkan kecernaan lemak kasar secara linier sebasar 48,0%; 64,9%; 74,6%; dan 84,6%. Manso (2006) juga menyebutkan penambahan 44% minyak kelapa sawit dan sabun kalsium minyak kelapa sawit dalam pakan domba dapat meningkatkan nilai kecernaan lemak kasar dan konversi pakan, meskipun tidak mempengaruhi nilai karkas. Menurut Johnson (1973), penambahan 4% minyak jagung dapat menghasilkan kecernaan lemak kasar sebesar 87% dan absorbsi lemak sebesar 1,39 gram/kg BB 0,75, dengan kandungan lemak kasar dalam ransum sebesar 5,77%. Pond et al. (2005) menyatakan bahwa daya cerna sejati lemak yaitu melebihi 80%. Kecernaan lemak kasar hasil penelitian ini menunjukkan nilai masing-masing perlakuan masih di atas nilai kisaran normal. Toharmat et al. (2006) menyebutkan komponen lemak pakan lebih banyak dicerna jika komponen lemak lebih terikat pada komponen serat pakan. Komponen lemak pakan lebih banyak dicerna jika komponen lemak lebih banyak terikat pada komponen serat kasar dari bahan pakan penyusun ransum. Penambahan minyak ke dalam ransum, khususnya onggok yang mengandung serat tinggi dapat meningkatkan daya ikat partikel bahan sehingga mudah dicerna. Konsumsi dan Kecernaan Karbohidrat Konsumsi dan kecernaan serat kasar dan BETN dapat dilihat di Tabel 11. Penambahan minyak jagung, minyak ikan, dan minyak ikan lemuru tidak nyata 28

7 (P>0,05) mempengaruhi konsumsi serat kasar dan BETN, serat kasar dan BETN feses, serat kasar dan BETN tercerna, serta koefisien cerna serat kasar dan BETN. Rataan konsumsi serat kasar dan BETN berturut-turut berkisar antara 64,11 73,08 gram/ekor/hari dan 226,31 264,62 gram/ekor/hari atau sebesar 8,00-8,45 gram/kg BB 0,75 dan 29,4-30,60 gram/kg BB 0,75. Tabel 11. Konsumsi dan Kecernaan Serat Kasar dan BETN Peubah Konsumsi SK (g/kg BB 0,75 ) SK Feses SK tercerna Koef. Cerna SK (%) Konsumsi BETN (g/kg BB 0,75 ) BETN Feses BETN tercerna Koef. Cerna BETN (%) Ransum Penelitian P0 MJ MIL MIT ±SEM 66,91 8,00 31,23 35,68 53,41 248,64 29,74 78,79 169,85 73,08 8,45 33,15 39,92 54,12 264,62 30,60 76,83 187,79 70,41 8,16 30,96 39,45 54,37 253,85 29,4 68,40 185,45 64,11 8,03 29,08 35,02 54,86 226,31 28,35 64,62 161,70 4,73 0,15 2,38 3,32 2,40 1,72 0,57 63,26 66,91 67,20 68,69 1,65 Keterangan: *) P0=Ransum kontrol; MJ=Penggunaan 1,5% Minyak Jagung dalam ransum; MIL= penggunaan 1,5% Minyak Ikan Lemuru dalam ransum; MIT=Penggunaan 1,5% Minyak Ikan Lemuru Terproteksi dalam ransum. 5,37 1,36 Hasil ini sesuai dengan penelitian Hartati et al. (2008) yang menyebutkan bahwa tidak ada pengaruh terhadap konsumsi serat kasar dan BETN dari ransum sapi bali yang terdiri atas rumput dan pakan padat gizi dengan penambahan 1,5% minyak ikan lemuru dan ZnSO 4 dengan rasio 70%:30%. Konsumsi serat kasar dan BETN menunjukkan nilai yang lebih tinggi pada ransum MJ dan MIL. Hal ini di duga karena kandungan serat kasar dan BETN pada ransum MJ yang lebih tinggi dibandingkan dengan ransum yang lain. Sukarji et al. (2005) menyatakan konsumsi serat kasar kambing PE umur 6-7 bulan dengan bobot badan 17,3 kg yaitu sebesar 7,54 gram/kg BB 0,75 dari ransum yang terdiri dari rumput lapang ad libitum dan konsentrat 1,5% dari bobot badan. Konsumsi serat kasar (gram/kg BB 0,75 ) lebih tinggi jika dibandingkan dengan 29

8 penelitian Sukarji et al. (2005). Hal tersebut diduga karena perbedaan jenis ternak yang digunakan, rasio antara hijauan dan konsentrat, serta komposisi kimia hijauan dan konsentrat. Kecernaan serat kasar pada ransum P0, MJ, MIL, dan MIT berturut-turut sebesar 31,23; 33,15; 30,96; dan 29,08 gram/ekor/hari atau sebesar 54,41%; 54;12%; 54,37%; dan 54,86%. Kecernaan BETN pada ransum P0, MJ, MIL, dan MIT berturut-turut sebesar 169,85; 187,79; 185,45; dan 161,70 gram/ekor/hari atau sebesar 63,26%; 66,91%; 67,20%; dan 68,69%. Meskipun lemak dapat mempengaruhi degradasi serat dan sebagian komponen karbohidrat dalam rumen, dengan menghambat aktivitas mikroba selulitik, penambahan minyak 1,5% dalam ransum tidak mempengaruhi kecernaan serat kasar. Menurut Pond et al. (2005), kadar lemak ransum yang melebihi 7% dapat mengganggu pencernaan, terutama pada proses fermentasi serat kasar di rumianansia. Meskipun ransum MIT memiliki kandungan lemak kasar sebesar 9,32%, namun, perlakuan ransum MIT tersebut tidak sampai menurun serat kasar tercerna dan bahkan menghasilkan nilai yang hampir sama dengan serat kasar tercerna pada perlakuan kontrol. Hal ini diduga karena bahan yang digunakan dalam proteksi minyak ikan lemuru masih dapat menjaga kestabilan sistem fermentasi rumen sehingga tidak menggangu kecernaan. Suci et al. (2011) menyebutkan bahwa kombinasi jagung dan bungkil kelapa, onggok dan bungkil kelapa, serta jagung, onggok dan bungkil kelapa dalam ransum domba jantan lepas sapih menghasilkan koefisien cerna serat kasar berturut-turut sebesar 67,54%; 65,89%; dan 74,25%. Koefisien cerna serat kasar lebih tinggi jika dibandingkan dengan penelitian Suci et al. (2011). Hal ini diduga karena kualitas pakan sumber serat seperti onggok dan hijauan yang berbeda, serta musim dan bangsa ternak yang berbeda. Cheeke (2004) menyebutkan serat kasar onggok dapat mencapai 14,73%. Meskipun mudah tercerna karena memiliki struktur karbohidrat dengan ikatan α1-4 dan α1-6, onggok yang mengandung serat kasar tinggi dapat mempengaruhi kecernaan serat kasar. Jafar dan Hassan (1990) juga menyatakan bahwa kandungan lignin, selulosa dan hemiselulosa pada hijauan dapat mempengaruhi kecernaan. Hijauan biasanya didominasi oleh kandungan lignin dan selulosa yang mempunyai struktur karbohidrat dengan ikatan β1-4 yang sulit dicerna. Semakin tinggi kandungan lignin dan selulosa maka koefisien cerna hijauan tersebut 30

9 semakin rendah. Menurut Jung (1989), lignin sebagai komponen kimia dinding sel hijauan sering dihubungkan dengan pengurangan kecernaan serat kasar. Meskipun cenderung meningkat, ransum dengan penambahan minyak tidak mempengaruhi koefisien cerna BETN. Hal ini sejalan dengan penelitian Kucuk et al. (2004), yang menyebutkan bahwa penambahan minyak biji kedelai dari 0%; 3,2%; 6,3% hingga 9,4% dalam pakan konsentrat pada domba tidak berpengaruh terhadap kecernaan karbohidrat. Total Digestible Nutrient (TDN) TDN dapat dilihat di Tabel 12. Penambahan minyak jagung, minyak ikan, dan minyak ikan lemuru tidak nyata (P>0,05) mempengaruhi TDN. Tabel 12. Total Digestible Energy (TDN) Peubah TDN (%) Ransum Penelitian P0 MJ MIL MIT ±SEM 458,08 66,03 482,91 69,99 470,48 71,74 437,78 77,33 3,12 1,84 Keterangan: *) TDN = % PK tercerna + (2,25x%LK tercerna) + % SK tercerna + % BETN tercerna + (NRC, 1985). P0=Ransum kontrol; MJ=Penggunaan 1,5% Minyak Jagung dalam ransum; MIL=penggunaan 1,5% Minyak Ikan Lemuru dalam ransum; MIT = Penggunaan 1,5% Minyak Ikan Lemuru Terproteksi dalam ransum. TDN pada ransum P0, MJ, MIL, dan MIT berturut-turut sebesar 458,08; 482,21; 470,48; dan 437,78 gram/ekor/hari atau sebesar 66,03%; 69,99%; 71,74%; dan 77,33%. TDN yang tinggi kemungkinan disebabkan oleh lemak kasar tercerna yang tinggi. Penggunaan bungkil kelapa, minyak jagung, serta minyak ikan dapat meningkatkan kadar lemak kasar dan pada akhirnya berpengaruh pada nilai TDN, sebab lemak kasar yang tercerna memberikan 2,25 kali energi dari yang disumbangkan protein serta karbohidrat tercerna. Semakin banyak lemak kasar tercerna dapat meningkatkan pula nilai TDN. Ketersediaan energi untuk metabolism ketika lemak ditambahakan ke dalam pakan diperkirakan sebesar 85% 90% (Chiliard, 1993). Menurut Sutardi (1981), bungkil kelapa juga banyak mengandung lemak kasar, yaitu sebesar 10,9%. Rataan TDN (66,03%-77,33%) cenderung meningkat dengan adanya penambahan minyak meskipun tidak berbeda nyata. Jenkins et al. (1995) juga 31

10 menyebutkan meskipun berpengaruh terhadap kecernaan serat, penambahan lemak tidak berpengaruh terhadap kecernaan energi. Menurut Moore et al. (1986), konsumsi energi tercerna pada sapi kebiri meningkat ketika 4% lemak menggantikan pakan berupa jerami, meskipun konsumsi energi tercerna tidak menunjukkan perbedaan secara nyata dengan penambahan antara 2% - 4% lemak. NRC (1985) menyebutkan domba dengan bobot badan kg dan PBB gram/hari membutuhkan TDN sebasar gram/ekor/hari. Kearl (1982) juga menyebutkan, domba dengan bobot badan kg dan PBB gram/hari membutuhakan TDN gram/ekor/hari. Kebutuhan TDN masih berada di atas kisaran normal. Menurut Haryanto (1992), kebutuhan energi harian domba untuk bobot badan berkisar 14 kg dengan PBB 0-50 gram/hari, yaitu sebanyak 1,33 MKal. Jika dibandingkan dengan penelitian Haryanto (1992), ketersediaan energi dapat dicerna pada masing-masing perlakuan ini masih lebih tinggi yakni antara 1,33 1,51 MKal (konversi TDN ke energi dapat dicerna menurut NRC, 1985). Hal tersebut diduga karena panambahan lemak yang dapat dikonversikan menjadi sumber energi. Menurut Czerkawski et al. (1969), penambahan PUFA dapat meningkatkan efisiensi penggunaan energi. Energi yang disumbangkan dari lemak merupakan energi asal VFA yang didapat dari fermentasi gliserol penyusun lemak. Menurut Perry et al. (2003), nilai TDN dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu kecernaan bahan kering dan jumlah lemak dalam bahan kering yang dapat dicerna. Nilai TDN yang diperoleh pada penelitian ini cukup tinggi diduga juga karena kecernaan bahan kering yang tinggi pada masing-masing perlakuan. 32

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Kandungan Nutrien Ransum Berdasarkan hasil analisa proksimat, kandungan zat makanan ransum perlakuan disajikan pada Tabel 10. Terdapat adanya keragaman kandungan nutrien protein, abu

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Performa Produksi Bobot Badan Akhir dan Pertambahan Bobot Badan Harian Bobot badan merupakan salah satu indikator untuk mengetahui performa produksi suatu ternak. Performa produksi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Konsumsi Pakan

HASIL DAN PEMBAHASAN. Konsumsi Pakan Konsumsi Bahan Kering (BK) HASIL DAN PEMBAHASAN Konsumsi Pakan Konsumsi pakan merupakan jumlah pakan yang dimakan oleh ternak yang akan digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup pokok dan proses produksi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Kecernaan Protein Kasar

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Kecernaan Protein Kasar 37 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Kecernaan Protein Kasar Kecernaan diartikan sebagai nutrien yang tidak diekskresikan dalam feses dimana nutrien lainnya diasumsikan diserap oleh

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. yaitu ekor menjadi ekor (BPS, 2016). Peningkatan

PENDAHULUAN. yaitu ekor menjadi ekor (BPS, 2016). Peningkatan I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ternak Domba Garut merupakan ternak ruminansia kecil yang banyak dipelihara oleh masyarakat, karena pemeliharaannya yang tidak begitu sulit, dan sudah turun temurun dipelihara

Lebih terperinci

Gambar 6. Pemberian Obat Pada Domba Sumber : Dokumentasi Penelitian

Gambar 6. Pemberian Obat Pada Domba Sumber : Dokumentasi Penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian Secara umum penelitian ini dapat berjalan dengan baik. Meskipun demikian terdapat hambatan-hambatan dalam pelaksanaannya, diantaranya adalah kesulitan mendapatkan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Domba adalah salah satu ternak ruminansia kecil yang banyak. Indonesia populasi domba pada tahun 2015 yaitu ekor, dan populasi

PENDAHULUAN. Domba adalah salah satu ternak ruminansia kecil yang banyak. Indonesia populasi domba pada tahun 2015 yaitu ekor, dan populasi 1 I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Domba adalah salah satu ternak ruminansia kecil yang banyak dikembangbiakan oleh masyarakat. Pemeliharaan domba yang lebih cepat dibandingkan ternak sapi, baik sapi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 4. Kandungan Nutrien Silase dan Hay Daun Rami (%BK)

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 4. Kandungan Nutrien Silase dan Hay Daun Rami (%BK) HASIL DAN PEMBAHASAN Kandungan Nutrien Ransum Hasil analisis kandungan nutrien silase dan hay daun rami yang dilakukan di Laboratorium PAU IPB dapat dilihat pada Tabel 4 dan kandungan nutrien ransum disajikan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Konsumsi Nutrien

HASIL DAN PEMBAHASAN. Konsumsi Nutrien HASIL DAN PEMBAHASAN Konsumsi Nutrien Konsumsi pakan merupakan faktor penting untuk menentukan kebutuhan hidup pokok dan produksi karena dengan mengetahui tingkat konsumsi pakan maka dapat ditentukan kadar

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. terhadap lingkungan tinggi, dan bersifat prolifik. Populasi domba di Indonesia pada

PENDAHULUAN. terhadap lingkungan tinggi, dan bersifat prolifik. Populasi domba di Indonesia pada 1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Domba merupakan ternak ruminansia yang banyak dipelihara masyarakat dan dimanfaatkan produksinya sebagai ternak penghasil daging dan sebagai tabungan. Domba memiliki

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Kecernaan Protein Kasar. Kecernaan adalah bagian zat makanan dari pakan/ransum yang tidak

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Kecernaan Protein Kasar. Kecernaan adalah bagian zat makanan dari pakan/ransum yang tidak 34 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Kecernaan Protein Kasar Kecernaan adalah bagian zat makanan dari pakan/ransum yang tidak diekskresikan dalam feses (Tillman, dkk., 1998). Zat

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Konsumsi Bahan Kering Konsumsi adalah jumlah pakan yang dimakan oleh ternak yang akan digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup pokok dan produksi. Rataan konsumsi rumput, konsentrat

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan Terhadap Kecernaan Serat Kasar. Kecernaan serat suatu bahan pakan penyusun ransum akan mempengaruhi

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan Terhadap Kecernaan Serat Kasar. Kecernaan serat suatu bahan pakan penyusun ransum akan mempengaruhi IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Perlakuan Terhadap Kecernaan Serat Kasar Kecernaan serat suatu bahan pakan penyusun ransum akan mempengaruhi keseluruhan kecernaan ransum. Nilai kecernaan yang paling

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Komposisi Nutrien Biskuit Rumput Lapang dan Daun Jagung Komposisi nutrien diperlukan untuk mengetahui kandungan zat makanan yang terkandung di dalam biskuit daun jagung dan rumput

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Devendra dan Burns (1994) menyatakan bahwa kambing menyukai pakan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Devendra dan Burns (1994) menyatakan bahwa kambing menyukai pakan II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pakan Ternak Devendra dan Burns (1994) menyatakan bahwa kambing menyukai pakan beragam dan tidak bisa tumbuh dengan baik bila terus diberi pakan yang sama dalam jangka waktu yang

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Kandungan Nutrien Pellet Kandungan nutrien suatu pakan yang diberikan ke ternak merupakan hal penting untuk diketahui agar dapat ditentukan kebutuhan nutrien seekor ternak sesuai status

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN M0 9,10 MJ 6,92 MIL 7,31 MILT 12,95 SEM 1.37

HASIL DAN PEMBAHASAN M0 9,10 MJ 6,92 MIL 7,31 MILT 12,95 SEM 1.37 HASIL DAN PEMBAHASAN Populasi Protozoa Protozoa merupakan jenis mikroorganisme yang menempati populasi kedua terbesar di dalam rumen. Berdasarkan hasil sidik ragam, tidak ada pengaruh yang nyata (P>0,05)

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Keadaan Umum Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN. Keadaan Umum Penelitian Suhu dan Kelembaban HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian Suhu dalam kandang saat penelitian berlangsung berkisar antara 26,9-30,2 o C. Pagi 26,9 o C, siang 30,2 o C, dan sore 29,5 o C. Kelembaban

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ternak disamping manajemen pemeliharaan dan pemberian pakan adalah faktor manajemen lingkungan. Suhu dan kelembaban yang

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Nilai rataan konsumsi protein kasar (PK), kecernaan PK dan retensi nitrogen yang dihasilkan dari penelitian tercantum pada Tabel 5. Tabel 5. Rataan Konsumsi, Kecernaan PK, Retensi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Konsumsi Zat Makanan Berdasarkan analisis statistik, konsumsi bahan kering nyata dipengaruhi oleh jenis ransum, tetapi tidak dipengaruhi oleh jenis domba dan interaksi antara kedua

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Konsumsi Ransum

HASIL DAN PEMBAHASAN Konsumsi Ransum 32 HASIL DAN PEMBAHASAN Konsumsi Ransum Konsumsi adalah jumlah pakan yang dimakan oleh ternak atau sekelompok ternak selama periode tertentu dan ternak tersebut punya akses bebas pada pakan dan tempat

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kambing Peranakan Etawa (PE) Kambing merupakan jenis ruminansia kecil yang memiliki tingkat pemeliharaan lebih efesien dibandingkan domba dan sapi. Kambing dapat mengkomsumsi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kualitas Sabut Kelapa Sawit Fermentasi oleh Pleurotus ostreatus dan Kandungan Ransum Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kualitas Sabut Kelapa Sawit Fermentasi oleh Pleurotus ostreatus dan Kandungan Ransum Penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Kualitas Sabut Kelapa Sawit Fermentasi oleh Pleurotus ostreatus dan Kandungan Ransum Penelitian Peranan Pleurotus ostreatus pada Kualitas Sabut Kelapa Sawit Fermentasi dengan Pleurotus

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tanduknya mengarah ke depan (Rahman, 2007). Sapi FH memiliki produksi susu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tanduknya mengarah ke depan (Rahman, 2007). Sapi FH memiliki produksi susu 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sapi Perah Sapi perah FH merupakan sapi yang memiliki ciri warna putih belang hitam atau hitam belang putih dengan ekor berwarna putih, sapi betina FH memiliki ambing yang

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kandungan Zat Makanan Biomineral Dienkapsulasi

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kandungan Zat Makanan Biomineral Dienkapsulasi HASIL DAN PEMBAHASAN Kandungan Zat Makanan Biomineral Dienkapsulasi Kandungan nutrien biomineral tanpa proteksi dan yang diproteksi serta mineral mix dapat dilihat pada Tabel 7. Kandungan nutrien biomineral

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Waktu dan Lokasi. Materi

MATERI DAN METODE. Waktu dan Lokasi. Materi MATERI DAN METODE Waktu dan Lokasi Penelitian ini dilaksanakan di Kandang B, Laboratorium Biologi Hewan, Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi, Laboratorium Terpadu Departemen Ilmu Nutrisi

Lebih terperinci

PEMBAHASAN. Zat Makanan Ransum Kandungan zat makanan ransum yang diberikan selama penelitian ini secara lengkap tercantum pada Tabel 4.

PEMBAHASAN. Zat Makanan Ransum Kandungan zat makanan ransum yang diberikan selama penelitian ini secara lengkap tercantum pada Tabel 4. PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian Rata-rata suhu lingkungan dan kelembaban kandang Laboratotium Ilmu Nutrisi Ternak Daging dan Kerja sekitar 26,99 0 C dan 80,46%. Suhu yang nyaman untuk domba di daerah

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Konsumsi Pakan Penambahan daun Som Jawa pada ransum menurunkan kandungan serat kasar dan bahan kering ransum, namun meningkatkan protein kasar ransum. Peningkatan protein disebabkan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Domba Ekor Gemuk. Domba Lokal memiliki bobot badan antara kg pada

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Domba Ekor Gemuk. Domba Lokal memiliki bobot badan antara kg pada BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Domba Lokal Domba pada umumnya dipelihara sebagai penghasil daging (Edey, 1983). Domba Lokal yang terdapat di Indonesia adalah Domba Ekor Tipis, Priangan dan Domba Ekor Gemuk.

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. terhadap produktivitas, kualitas produk, dan keuntungan. Usaha peternakan akan

PENDAHULUAN. terhadap produktivitas, kualitas produk, dan keuntungan. Usaha peternakan akan 1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pakan menjadi salah satu faktor penentu dalam usaha peternakan, baik terhadap produktivitas, kualitas produk, dan keuntungan. Usaha peternakan akan tercapai bila mendapat

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian Secara umum penelitian ini sudah berjalan dengan cukup baik. Terdapat sedikit hambatan saat akan memulai penelitian untuk mencari ternak percobaan dengan umur

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Kelapa sawit adalah salah satu komoditas non migas andalan Indonesia.

I. PENDAHULUAN. Kelapa sawit adalah salah satu komoditas non migas andalan Indonesia. I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kelapa sawit adalah salah satu komoditas non migas andalan Indonesia. Selain menghasilkan produksi utamanya berupa minyak sawit dan minyak inti sawit, perkebunan kelapa

Lebih terperinci

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan Terhadap Kecernaan NDF. dengan konsumsi (Parakkasi,1999). Rataan nilai kecernaan NDF pada domba

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan Terhadap Kecernaan NDF. dengan konsumsi (Parakkasi,1999). Rataan nilai kecernaan NDF pada domba 33 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Perlakuan Terhadap Kecernaan NDF NDF adalah bagian dari serat kasar yang biasanya berhubungan erat dengan konsumsi (Parakkasi,1999). Rataan nilai kecernaan NDF pada

Lebih terperinci

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian kecernaan protein dan retensi nitrogen pakan komplit dengan

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian kecernaan protein dan retensi nitrogen pakan komplit dengan 16 BAB III MATERI DAN METODE Penelitian kecernaan protein dan retensi nitrogen pakan komplit dengan kadar protein dan energi berbeda pada kambing Peranakan Etawa bunting dilaksanakan pada bulan Mei sampai

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Penelitian Masalah yang sering dihadapi oleh peternak ruminansia adalah keterbatasan penyediaan pakan baik secara kuantitatif, kualitatif, maupun kesinambungannya sepanjang

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Komposisi Nutrien dan Asam Fitat Pakan Pakan yang diberikan kepada ternak tidak hanya mengandung komponen nutrien yang dibutuhkan ternak, tetapi juga mengandung senyawa antinutrisi.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian Unit Pendidikan, Penelitian dan Peternakan Jonggol (UP3J) merupakan areal peternakan domba milik Institut Pertanian Bogor (IPB) yang terletak di desa Singasari

Lebih terperinci

Gambar 2. Domba didalam Kandang Individu

Gambar 2. Domba didalam Kandang Individu MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Lapang Nutrisi Ternak Daging dan Kerja (kandang B) pada bulan Mei sampai dengan bulan November 2010. Analisis sampel dilakukan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. P2 * hari hari hari

HASIL DAN PEMBAHASAN. P2 * hari hari hari HASIL DAN PEMBAHASAN Konsumsi Pakan Pra Sapih Konsumsi pakan dihitung berdasarkan banyaknya pakan yang dikonsumsi setiap harinya. Pakan yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan ternak tersebut. Pakan

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Gambar 2. Contoh Domba Penelitian

MATERI DAN METODE. Gambar 2. Contoh Domba Penelitian MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang dan Laboratorium Ilmu Nutrisi Ternak Daging dan Kerja, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan,

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Gambar 4. Ternak Kerbau yang Digunakan Dalam Penelitian

MATERI DAN METODE. Gambar 4. Ternak Kerbau yang Digunakan Dalam Penelitian MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juni hingga bulan September 2011 dan bertempat di Laboratorium Lapang Blok A, Laboratorium Ruminansia Besar, Fakultas Peternakan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. nutrisi makanan. Sehingga faktor pakan yang diberikan pada ternak perlu

BAB I PENDAHULUAN. nutrisi makanan. Sehingga faktor pakan yang diberikan pada ternak perlu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Produktivitas ternak dipengaruhi oleh berbagai faktor salah satunya adalah pakan. Davendra, (1993) mengungkapkan bahwa pertumbuhan dan perkembangan berat badan maupun

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Biskuit Pakan Biskuit pakan merupakan inovasi bentuk baru produk pengolahan pakan khusus untuk ternak ruminansia. Pembuatan biskuit pakan menggunakan prinsip dasar pembuatan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. persilangan antara sapi Jawa dengan sapi Bali (Rokhana, 2008). Sapi Madura

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. persilangan antara sapi Jawa dengan sapi Bali (Rokhana, 2008). Sapi Madura 14 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sapi Madura Sapi Madura termasuk dalam sapi lokal Indonesia, yang berasal dari hasil persilangan antara sapi Jawa dengan sapi Bali (Rokhana, 2008). Sapi Madura memiliki

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. nutrien pakan dan juga produk mikroba rumen. Untuk memaksimalkan

I. PENDAHULUAN. nutrien pakan dan juga produk mikroba rumen. Untuk memaksimalkan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Produktivitas ternak ruminansia sangat tergantung oleh ketersediaan nutrien pakan dan juga produk mikroba rumen. Untuk memaksimalkan produktivitas ternak tersebut selama

Lebih terperinci

TEKNOLOGI PAKAN PROTEIN RENDAH UNTUK SAPI POTONG

TEKNOLOGI PAKAN PROTEIN RENDAH UNTUK SAPI POTONG TEKNOLOGI PAKAN PROTEIN RENDAH UNTUK SAPI POTONG Pakan merupakan komponen biaya tertinggi dalam suatu usaha peternakan, yaitu dapat mencapai 70-80%. Pengalaman telah menunjukkan kepada kita, bahwa usaha

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. hijauan serta dapat mengurangi ketergantungan pada rumput. seperti jerami padi di pandang dapat memenuhi kriteria tersebut.

I. PENDAHULUAN. hijauan serta dapat mengurangi ketergantungan pada rumput. seperti jerami padi di pandang dapat memenuhi kriteria tersebut. I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu faktor penentu dalam keberhasilan usaha peternakan adalah ketersediaan pakan ternak secara kontinyu. Saat ini sangat dirasakan produksi hijauan makanan ternak

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pakan merupakan masalah yang mendasar dalam suatu usaha peternakan. Minat

I. PENDAHULUAN. Pakan merupakan masalah yang mendasar dalam suatu usaha peternakan. Minat 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Pakan merupakan masalah yang mendasar dalam suatu usaha peternakan. Minat masyarakat yang tinggi terhadap produk hewani, terutama daging kambing, menyebabkan

Lebih terperinci

Keterangan: * = berbeda nyata (P<0,05)

Keterangan: * = berbeda nyata (P<0,05) Lampiran 1. Hasil Sidik Ragam Konsumsi Bahan Kering Perlakuan 2 95663 98356 49178 1,97 0,234 Kelompok 3 76305 76305 25435 1,02 0,459 Galat 5 124978 124978 24996 Total 10 296946 S = 158,100 R-Sq = 57,91%

Lebih terperinci

PENGANTAR. sangat digemari oleh masyarakat. Sate daging domba walaupun banyak. dipopulerkan dengan nama sate kambing merupakan makanan favorit di

PENGANTAR. sangat digemari oleh masyarakat. Sate daging domba walaupun banyak. dipopulerkan dengan nama sate kambing merupakan makanan favorit di PENGANTAR Latar Belakang Domba termasuk ternak ruminansia kecil dengan potensi daging yang sangat digemari oleh masyarakat. Sate daging domba walaupun banyak dipopulerkan dengan nama sate kambing merupakan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kambing Kacang merupakan kambing lokal Indonesia yang memiliki

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kambing Kacang merupakan kambing lokal Indonesia yang memiliki 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kambing Kacang Kambing Kacang merupakan kambing lokal Indonesia yang memiliki keunggulan antara lain pemeliharaan yang mudah serta memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dalam memenuhi kebutuhan protein hewani adalah kambing. Mengingat kambing

I. PENDAHULUAN. dalam memenuhi kebutuhan protein hewani adalah kambing. Mengingat kambing 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Salah satu jenis ternak pengahasil daging dan susu yang dapat dikembangkan dalam memenuhi kebutuhan protein hewani adalah kambing. Mengingat kambing adalah

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Sapi Perah Sapi Friesian Holstein (FH) Produktivitas Sapi Perah

TINJAUAN PUSTAKA Sapi Perah Sapi Friesian Holstein (FH) Produktivitas Sapi Perah TINJAUAN PUSTAKA Sapi Perah Pemeliharaan sapi perah bertujuan utama untuk memperoleh produksi susu yang tinggi dan efisien pakan yang baik serta mendapatkan hasil samping berupa anak. Peningkatan produksi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Ketersediaan pakan khususnya pakan hijauan baik kualitas, kuantitas

I. PENDAHULUAN. Ketersediaan pakan khususnya pakan hijauan baik kualitas, kuantitas I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ketersediaan pakan khususnya pakan hijauan baik kualitas, kuantitas maupun kontinuitasnya merupakan faktor yang penting dalam menentukan keberhasilan usaha peternakan

Lebih terperinci

DAYA CERNA RANSUM YANG DITAMBAH MINYAK JAGUNG DAN MINYAK IKAN LEMURU PADA DOMBA LOKAL CALON INDUK SKRIPSI INDARI ICI

DAYA CERNA RANSUM YANG DITAMBAH MINYAK JAGUNG DAN MINYAK IKAN LEMURU PADA DOMBA LOKAL CALON INDUK SKRIPSI INDARI ICI DAYA CERNA RANSUM YANG DITAMBAH MINYAK JAGUNG DAN MINYAK IKAN LEMURU PADA DOMBA LOKAL CALON INDUK SKRIPSI INDARI ICI DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Gambar 1. Ternak Domba yang Digunakan

MATERI DAN METODE. Gambar 1. Ternak Domba yang Digunakan MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang dan Laboratorium Ilmu Nutrisi Ternak Daging dan Kerja, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Kadar Nutrien Berbagai Jenis Rumput Kadar nutrien masing-masing jenis rumput yang digunakan berbeda-beda. Kadar serat dan protein kasar paling tinggi pada Setaria splendida, kadar

Lebih terperinci

HASIL DA PEMBAHASA. Konsumsi Bahan Kering Ransum

HASIL DA PEMBAHASA. Konsumsi Bahan Kering Ransum HASIL DA PEMBAHASA Konsumsi Bahan Kering Ransum 200 mg/kg bobot badan tidak mempengaruhi konsumsi bahan kering. Hasil yang tidak berbeda antar perlakuan (Tabel 2) mengindikasikan bahwa penambahan ekstrak

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. kebutuhan zat makanan ternak selama 24 jam. Ransum menjadi sangat penting

PENDAHULUAN. kebutuhan zat makanan ternak selama 24 jam. Ransum menjadi sangat penting 1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ransum merupakan campuran bahan pakan yang disusun untuk memenuhi kebutuhan zat makanan ternak selama 24 jam. Ransum menjadi sangat penting dalam pemeliharaan ternak,

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Domba Lokal

TINJAUAN PUSTAKA Domba Lokal TINJAUAN PUSTAKA Domba Lokal Ternak domba termasuk dalam phylum Chordata, kelas Mammalia, ordo Artiodactyla, subfamili Cuprinae, famili Bovidae, genus Ovis, dan spesies Ovis aries. Domba adalah ternak

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Limbah industri gula tebu terdiri dari bagas (ampas tebu), molases, dan blotong.

I. PENDAHULUAN. Limbah industri gula tebu terdiri dari bagas (ampas tebu), molases, dan blotong. 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Limbah industri gula tebu terdiri dari bagas (ampas tebu), molases, dan blotong. Pemanfaatan limbah industri gula tebu sebagai pakan alternatif merupakan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Domba Lokal Jantan

TINJAUAN PUSTAKA Domba Lokal Jantan TINJAUAN PUSTAKA Domba Lokal Jantan Domba merupakan ternak ruminansia kecil yang masih tergolong kerabat kambing, sapi dan kerbau (Mulyono, 2005). Domba dapat diklasifikasikan pada sub famili caprinae

Lebih terperinci

Ransum Ternak Berkualitas (Sapi, Kambing, dan Domba)

Ransum Ternak Berkualitas (Sapi, Kambing, dan Domba) Ransum Ternak Berkualitas (Sapi, Kambing, dan Domba) Cuk Tri Noviandi, S.Pt., M.Anim.St., Ph.D. HP: 0815-7810-5111 E-mail: Laboratorium Teknologi Makanan Ternak Departemen Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 49 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Pengaruh Penggunaan Ampas Kecap Sebagai Substitusi Bungkil Kedelai dalam Ransum Terhadap Nilai Kecernaan Bahan Kering (KcBK) Pengolahan ataupun peracikan bahan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Sapi perah Friesian Holstein (FH) merupakan salah satu jenis sapi perah

TINJAUAN PUSTAKA. Sapi perah Friesian Holstein (FH) merupakan salah satu jenis sapi perah 4 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sapi Perah Friesian Holstein (FH) Sapi perah Friesian Holstein (FH) merupakan salah satu jenis sapi perah persilangan sapi peranakan ongole betina yang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. memiliki ciri-ciri fisik antara lain warna hitam berbelang putih, ekor dan kaki

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. memiliki ciri-ciri fisik antara lain warna hitam berbelang putih, ekor dan kaki 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sapi Perah Sapi perah yang dipelihara di Indonesia pada umumnya adalah Friesian Holstein (FH) dan Peranakan Friesian Holstein (PFH) (Siregar, 1993). Sapi FH memiliki ciri-ciri

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ternak perah adalah ternak yang diusahakan untuk menghasikan susu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ternak perah adalah ternak yang diusahakan untuk menghasikan susu 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sapi Perah Ternak perah adalah ternak yang diusahakan untuk menghasikan susu sebanyak-banyaknya, disamping hasil lainnya. Macam - macam sapi perah yang ada di dunia adalah

Lebih terperinci

menjaga kestabilan kondisi rumen dari pengaruh aktivitas fermentasi. Menurut Ensminger et al. (1990) bahwa waktu pengambilan cairan rumen berpengaruh

menjaga kestabilan kondisi rumen dari pengaruh aktivitas fermentasi. Menurut Ensminger et al. (1990) bahwa waktu pengambilan cairan rumen berpengaruh HASIL DAN PEMBAHASAN Derajat Keasaman (ph) Rumen Hasil analisa sidik ragam menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi (P>0,05) antara jenis ransum dengan taraf suplementasi asam fulvat. Faktor jenis ransum

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Upaya memenuhi kebutuhan hijauan ternak ruminansia saat ini, para

I. PENDAHULUAN. Upaya memenuhi kebutuhan hijauan ternak ruminansia saat ini, para I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Upaya memenuhi kebutuhan hijauan ternak ruminansia saat ini, para peternak selayaknya memanfaatkan bahan pakan yang berasal dari hasil ikutan produk sampingan olahan

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Materi

MATERI DAN METODE. Materi MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian dilakukan dari bulan Juli 2010 hingga April 2011 di peternakan sapi rakyat Desa Tanjung, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang, dan di Departemen Ilmu Nutrisi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2003). Pemberian total mixed ration lebih menjamin meratanya distribusi asupan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2003). Pemberian total mixed ration lebih menjamin meratanya distribusi asupan 17 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Total Mixed Ration (TMR) Pakan komplit atau TMR adalah suatu jenis pakan ternak yang terdiri dari bahan hijauan dan konsentrat dalam imbangan yang memadai (Budiono et al.,

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. karena Indonesia memiliki dua musim yakni musim hujan dan musim kemarau.

PENDAHULUAN. karena Indonesia memiliki dua musim yakni musim hujan dan musim kemarau. I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peternakan di Indonesia sampai saat ini masih sering dihadapkan dengan berbagai masalah, salah satunya yaitu kurangnya ketersediaan pakan. Ketersediaan pakan khususnya

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. perkembangan. Pakan dengan kualitas yang baik, memberikan efek terhadap

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. perkembangan. Pakan dengan kualitas yang baik, memberikan efek terhadap 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pakan Ruminansia Pakan merupakan semua bahan pakan yang dapat dikonsumsi ternak, tidak menimbulkan suatu penyakit, dapat dicerna, dan mengandung zat nutrien yang dibutuhkan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. cara peningkatan pemberian kualitas pakan ternak. Kebutuhan pokok bertujuan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. cara peningkatan pemberian kualitas pakan ternak. Kebutuhan pokok bertujuan 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pakan Kebutuhan pokok dan produksi pada sapi perah dapat dilakukan dengan cara peningkatan pemberian kualitas pakan ternak. Kebutuhan pokok bertujuan untuk mempertahankan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Konsumsi Bahan Kering (BK) 300, ,94 Total (g/e/hr) ± 115,13 Konsumsi BK Ransum (% BB) 450,29 ± 100,76 3,20

HASIL DAN PEMBAHASAN. Konsumsi Bahan Kering (BK) 300, ,94 Total (g/e/hr) ± 115,13 Konsumsi BK Ransum (% BB) 450,29 ± 100,76 3,20 HASIL DAN PEMBAHASAN Konsumsi Bahan Kering (BK) Konsumsi adalah jumlah pakan yang dimakan oleh ternak yang akan digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup pokok, produksi, dan reproduksi. Ratarata konsumsi

Lebih terperinci

II. KERANGKA PENDEKATAN TEORI

II. KERANGKA PENDEKATAN TEORI II. KERANGKA PENDEKATAN TEORI A. Tinjauan Pustaka 1. Ketersediaan Limbah Pertanian Pakan ternak sangat beragam tergantung varietas tanaman yang ditanam petani sepanjang musim. Varietas tanaman sangat berdampak

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 8. Rataan Hasil Pengamatan Konsumsi, PBB, Efisiensi Pakan Sapi PO selama 48 Hari Pemeliharaan

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 8. Rataan Hasil Pengamatan Konsumsi, PBB, Efisiensi Pakan Sapi PO selama 48 Hari Pemeliharaan HASIL DAN PEMBAHASAN Konsumsi Ransum Konsumsi adalah jumlah pakan yang dimakan oleh ternak atau sekelompok ternak selama periode tertentu dan ternak tersebut mempunyai akses bebas pada pakan dan tempat

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Lokasi Konsumsi Pakan

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Lokasi Konsumsi Pakan HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Lokasi PT. Purwakarta Agrotechnopreneur Centre (PAC), terletak di desa Pasir Jambu, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor. Berdasarkan data statistik desa setempat, daerah

Lebih terperinci

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil Hasil analisis proksimat bahan uji sebelum dan sesudah diinkubasi disajikan pada Tabel 2. Hasil analisis proksimat pakan uji ditunjukkan pada Tabel 3. Sementara kecernaan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Tabel 1. Kandungan Nutrien Daging pada Beberapa Ternak (per 100 gram daging) Protein (g) 21 19, ,5

TINJAUAN PUSTAKA. Tabel 1. Kandungan Nutrien Daging pada Beberapa Ternak (per 100 gram daging) Protein (g) 21 19, ,5 TINJAUAN PUSTAKA Kelinci Kelinci domestik (Oryctolagus cuniculus) merupakan keturunan dari kelinci liar Eropa yang berasal dari negara sekitar Laut Mediterania dan dibawa ke Inggris pada awal abad 12 (NRC,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. seluruh wilayah Indonesia. Kambing Kacang memiliki daya adaptasi yang tinggi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. seluruh wilayah Indonesia. Kambing Kacang memiliki daya adaptasi yang tinggi 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kambing Kacang Kambing Kacang merupakan ternak lokal yang sebarannya hampir di seluruh wilayah Indonesia. Kambing Kacang memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap kondisi

Lebih terperinci

FORMULASI RANSUM PADA USAHA TERNAK SAPI PENGGEMUKAN

FORMULASI RANSUM PADA USAHA TERNAK SAPI PENGGEMUKAN AgroinovasI FORMULASI RANSUM PADA USAHA TERNAK SAPI PENGGEMUKAN Usaha penggemukan sapi potong semakin menarik perhatian masyarakat karena begitu besarnya pasar tersedia untuk komoditas ini. Namun demikian,

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. dengan lingkungan maupun kultur masyarakat Indonesia. Beberapa kelebihan. banyak mengkonsumsi jenis pakan hijauan.

TINJAUAN PUSTAKA. dengan lingkungan maupun kultur masyarakat Indonesia. Beberapa kelebihan. banyak mengkonsumsi jenis pakan hijauan. TINJAUAN PUSTAKA Ternak Domba dan Potensinya Ternak domba menyebar rata diseluruh wilayah Nusantara. Hal ini menunjukkan bahwa domba mempunyai potensi cepat menyesuaikan diri baik dengan lingkungan maupun

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Korelasi Analisa Proksimat dan Fraksi Serat Van Soest

HASIL DAN PEMBAHASAN. Korelasi Analisa Proksimat dan Fraksi Serat Van Soest HASIL DAN PEMBAHASAN Korelasi Analisa Proksimat dan Fraksi Serat Van Soest Penelitian ini menggunakan data hasil analisa proksimat (kadar air, abu, protein kasar, lemak kasar, serat kasar dan ) dan fraksi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Daun Kersen sebagai Pakan Peningkatan produksi daging lokal dengan mengandalkan peternakan rakyat menghadapi permasalahan dalam hal pakan. Pakan yang digunakan oleh peternak rakyat

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Potensi Kambing sebagai Ternak Penghasil Daging

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Potensi Kambing sebagai Ternak Penghasil Daging 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Potensi Kambing sebagai Ternak Penghasil Daging Ternak kambing merupakan komponen peternakan rakyat yang cukup potensial sebagai penyedia daging. Ternak kambing mampu beradaptasi

Lebih terperinci

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Ternak yang digunakan yaitu Domba Garut betina umur 9-10 bulan sebanyak

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Ternak yang digunakan yaitu Domba Garut betina umur 9-10 bulan sebanyak 24 III BAHAN DAN METODE PENELITIAN 3.1 Bahan dan Peralatan Penelitian 3.1.1 Bahan Penelitian Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Ternak Penelitian, Ternak yang digunakan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Sapi perah merupakan sumber penghasil susu terbanyak dibandingkan

PENDAHULUAN. Sapi perah merupakan sumber penghasil susu terbanyak dibandingkan 1 I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sapi perah merupakan sumber penghasil susu terbanyak dibandingkan hewan ternak perah lainnya. Keunggulan yang dimiliki sapi perah tersebut membuat banyak pengusaha-pengusaha

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 19 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Data rata-rata parameter uji hasil penelitian, yaitu laju pertumbuhan spesifik (LPS), efisiensi pemberian pakan (EP), jumlah konsumsi pakan (JKP), retensi protein

Lebih terperinci

BAB III MATERI DAN METODE. Lokasi yang digunakan dalam penelitian adalah Laboratorium Ilmu Ternak

BAB III MATERI DAN METODE. Lokasi yang digunakan dalam penelitian adalah Laboratorium Ilmu Ternak 10 BAB III MATERI DAN METODE Lokasi yang digunakan dalam penelitian adalah Laboratorium Ilmu Ternak Potong dan Kerja, Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang. Penelitian dilaksanakan mulai

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Pertumbuhan dan Pertambahan Bobot Ternak Domba. Definisi pertumbuhan yang paling sederhana adalah perubahan ukuran yang

TINJAUAN PUSTAKA. Pertumbuhan dan Pertambahan Bobot Ternak Domba. Definisi pertumbuhan yang paling sederhana adalah perubahan ukuran yang 3 TINJAUAN PUSTAKA Pertumbuhan dan Pertambahan Bobot Ternak Domba Definisi pertumbuhan yang paling sederhana adalah perubahan ukuran yang meliputi perubahan berat hidup, bentuk, dimensi linear dan komposisi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Minat masyarakat yang tinggi terhadap produk hewani terutama, daging kambing,

I. PENDAHULUAN. Minat masyarakat yang tinggi terhadap produk hewani terutama, daging kambing, 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Minat masyarakat yang tinggi terhadap produk hewani terutama, daging kambing, menyebabkan ketersediaan produk hewani yang harus ditingkatkan baik dari segi

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Domba Lokal

TINJAUAN PUSTAKA Domba Lokal TINJAUAN PUSTAKA Domba Lokal Domba lokal merupakan domba asli Indonesia yang mampu beradaptasi dengan baik pada kondisi iklim tropis serta memiliki sifat karakteristik seasonal polyestrous. Klarifikasi

Lebih terperinci

Semua perlakuan tidak menyebabkan keadaan ekstrim menghasilkan NH 3 diluar

Semua perlakuan tidak menyebabkan keadaan ekstrim menghasilkan NH 3 diluar 38 tersebut maka produksi NH 3 semua perlakuan masih dalam kisaran normal. Semua perlakuan tidak menyebabkan keadaan ekstrim menghasilkan NH 3 diluar kisaran normal, oleh karena itu konsentrasi NH 3 tertinggi

Lebih terperinci

Hasil. rumen domba. efektivitas. cairan Aktifitas enzim (UI/ml/menit) , Protease. Enzim

Hasil. rumen domba. efektivitas. cairan Aktifitas enzim (UI/ml/menit) , Protease. Enzim 22 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Uji Efektivitas Cairan Rumen Domba Penelitian Tahap 1 dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui volume enzim cairan rumen domba dan lama waktu inkubasi yang tepat untuk penurunan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 19 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Suplementasi minyak ikan dan L-karnitin pada ransum basal membuat kandungan energi pada ransum meningkat. Meningkatnya kandungan energi pada ransum basal akan mudah di manfaatkan

Lebih terperinci