PENYAKIT DARIER PADA ANAK

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 1 PENDAHULUAN. Psoriasis adalah salah satu penyakit kulit termasuk dalam kelompok

FORM UNTUK JURNAL ONLINE. : Does Dimenhydrinate Suppress Skin Prick Test (SPT) Response? A. Preliminary Study of Histamine Skin Test

TUBERKULOSIS KUTIS VERUKOSA

BAB I PENDAHULUAN. Kanker kulit terbagi 2 kelompok yaitu melanoma dan kelompok non

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. kulit, membran mukosa maupun keduanya, secara histologi ditandai dengan

BAB 1 PENDAHULUAN. contohnya wajah dan leher (Wolff et al., 2008). Lesi melasma ditandai oleh

MODUL GLOMERULONEFRITIS AKUT

BAB 1 PENDAHULUAN. kulit, membran mukosa maupun keduanya, secara histologi ditandai dengan

BAB 1 PENDAHULUAN. kronik yang sering ditemukan (Kurniati, 2003). Biasanya terjadi di daerah yang

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. Karsinoma sel basal merupakan keganasan kulit. tersering, menempati kira-kira 70% dari semua keganasan

BAB I PENDAHULUAN. Dermatitis Kontak Alergika (DKA) merupakan suatu penyakit keradangan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dengan gejala klinis berupa plak eritematosa berbatas tegas dalam berbagai

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASKEP AN. R DENGAN BISITOPENIA DI RUANG HCU ANAK RSUD Dr. SAIFUL ANWAR MALANG

Pola Lekemia Limfoblastika akut di Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK-USU/RS. Dr. Pirngadi Medan

TEAM BASED LEARNING MODUL BINTIL PADA KULIT

BAB I PENDAHULUAN. Istilah onikomikosis merupakan suatu istilah yang merujuk pada semua

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. : Ilmu penyakit kulit dan kelamin. : Bagian rekam medik Poliklinik kulit dan kelamin RSUP Dr.

BAB I PENDAHULUAN. yang berbatas pada bagian superfisial kulit berupa bintul (wheal) yang

BAB 1 PENDAHULUAN. mutasi sel normal. Adanya pertumbuhan sel neoplasma ini ditandai dengan

BAB 1 PENDAHULUAN. mencapai stadium lanjut dan mempunyai prognosis yang jelek. 1,2

GAMBARAN HISTOPATOLOGIS PEMPHIGUS VULGARIS

BAB I PENDAHULUAN. dengan istilah tinea unguium (Monero dan Arenas, 2010). merupakan kelainan kuku paling sering (Welsh et al, 2010).

BAB I PENDAHULUAN. Yunani, melas yang berarti hitam. Melasma merupakan kelainan hiperpigmentasi didapat, berupa

LAPORAN PRAKTIKUM. Oleh : Ichda Nabiela Amiria Asykarie J Dosen Pembimbing : Drg. Nilasary Rochmanita FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

MODUL PROBLEM BASED LEARNING KELAS REGULER SISTEM INDRA KHUSUS

BAB I PENDAHULUAN. Psoriasis vulgaris merupakan suatu penyakit inflamasi kulit yang bersifat

Variasi Klinis dan Gambaran Histopatologis Penyakit Darier

Kebutuhan Personal Higiene. Purnama Anggi AKPER KESDAM IM BANDA ACEH

KULIT SEBAGAI ORGAN PROTEKSI DAN ESTETIK

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang. Penyakit ginjal kronik (PGK) adalah suatu proses patofisiologi dengan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dermatofita, non dermatofita atau yeast, 80-90% onikomikosis disebabkan oleh

PENDAHULUAN LAPORAN KASUS

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. akibat proses tersebut maka tampak skuama, eritema dan indurasi. 7

BAHAYA AKIBAT LEUKOSIT TINGGI

BAB 1 PENDAHULUAN. didefenisikan sebagai masa kehidupan pertama ekstrauterin sampai dengan usia 28

Pengetahuan Mengenai Insulin dan Keterampilan Pasien dalam Terapi

Bab 2 Metode Penelitian

STATUS PENELITIAN. Jenis kelamin : 1. Laki-laki 2. Perempuan. 4.Hindu 5. Budha. 2. SD / sederajat. 5. Perguruan tinggi. 2.

BAB 1 PENDAHULUAN. selama masa bayi dan anak-anak, sering berhubungan dengan. peningkatan kadar IgE dalam serum dan riwayat atopi pada keluarga

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Naskah Penjelasan kepada Peserta Penelitian

KARSINOMA SEL SKUAMOSA

BAB 1 PENDAHULUAN. pemeriksaan rutin kesehatan atau autopsi (Nurdjanah, 2014).

LAPORAN KASUS / RESUME DIARE

KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA. Nomor HK

PTIRIASIS VERSIKOLOR

Universitas Sumatera Utara

3. Pemeriksaan Tajam Penglihatan (Visus) dan Buta Warna. Pemeriksaan HBs Ag Malaria (untuk daerah endemis malaria)

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan metode cross sectional dengan cara mengambil data rekam medis di

BAB I PENDAHULUAN. Psoriasis merupakan penyakit kulit autoimun kronis yang mengakibatkan

BAB I PENDAHULUAN. timbul yang disertai rasa gatal pada kulit. Kelainan ini terutama terjadi pada masa

Laporan Kasus REAKSI KUSTA TIPE 2 PADA PENDERITA KUSTA MULTIBASILER (MB) YANG TELAH MENYELESAIKAN TERAPI MDT-MB. dr. Cut Putri Hazlianda

BAB 3 KERANGKA KONSEP PENELITIAN DAN DEFINISI OPERASIONAL

BAB 3 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Pasien dapat mengalami keluhan gatal, nyeri, dan atau penyakit kuku serta artritis

BAB 2 BAHAN, SUBJEK, DAN METODE PENELITIAN. Pada bab ini akan dibahas mengenai sediaan obat uji, subjek uji dan disain penelitian.

BAB I PENDAHULUAN. Rambut merupakan mahkota bagi setiap orang. Masalah kulit kepala sering

BAB I. berbagai program dan upaya kesehatan (Depkes, 2004). mutu pelayanan dan mutu hasil pemeriksaan di laboratorium.

PEMERIKSAAN KESEHATAN PEKERJA RADIASI DI PTKMR

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Bab 4 Batuk dan Kesulitan Bernapas Kasus II. Catatan Fasilitator. Rangkuman Kasus:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 2 DESKRIPSI SINGKAT PEMBESARAN GINGIVA. jaringan periodonsium yang dapat terlihat secara langsung sehingga mempengaruhi

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Notoatmodjo(2011),pengetahuan mempunyai enam tingkatan,yaitu:

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. merupakan cermin kesehatan dan kehidupan. Salah satu kelainan kulit yang dapat

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. kedokteran disebut dengan Systemic Lupus Erythematosus (SLE), yaitu

BAB 1 PENDAHULUAN. tumor dengan bentuk dan susunan serabut-serabut yang bervariasi, dan oleh Mallory

BAB I PENDAHULUAN. dermatitis atopik. White Dermographism pertama kali dideskripsikan oleh Marey

BAB I PENDAHULUAN. hormon insulin baik secara relatif maupun secara absolut. Jika hal ini dibiarkan

umumnya, termasuk kesehatan gigi dan mulut, mengakibatkan meningkatnya jumlah anak-anak

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bagian luar badan (kulit, rambut, kuku, bibir dan organ kelamin bagian luar), gigi

Profil dermatitis seboroik di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari Desember 2015

BAB I PENDAHULUAN. Psoriasis merupakan penyakit kulit yang penyebabnya sampai saat ini masih belum

BAB I PENDAHULUAN. kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae yang bersifat intraseluler. mengenai organ lain kecuali susunan saraf pusat.

Tindakan keperawatan (Implementasi)

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2015 TENTANG TARIF PEMERIKSAAN KESEHATAN CALON TENAGA KERJA INDONESIA

BAB 3 KERANGKA KONSEP PENELITIAN DAN DEFINISI OPERASIONAL

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

ChyntiaBlog Annyeong haseyo terima kasih udah berkenan mengunjungi blog saya semoga bermanfaat dan menghibur :)

BAB I PENDAHULUAN. sekitar 90 % dan biasanya menyerang anak di bawah 15 tahun. 2. Demam berdarah dengue merupakan masalah kesehatan masyarakat karena

HEMANGIOMA KAVERNOSA PADA BIBIR DAN MUKOSA BUKAL PASIEN BERUSIA 40 TAHUN (LAPORAN KASUS)

PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS MALARIA BALAI LABORATORIUM KESEHATAN PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2013

Peningkatan kadar kreatinin serum 24 jam setelah tindakan intervensi koroner di RSUP.H. Adam Malik Medan.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. rawat inap di RSU & Holistik Sejahtera Bhakti Kota Salatiga. kanker payudara positif dan di duga kanker payudara.

BAB 4 METODE PENELITIAN. Jenis penelitian adalah eksperimental dengan rancangan pre and post

BAB 6 PEMBAHASAN. tahun, usia termuda 18 tahun dan tertua 68 tahun. Hasil ini sesuai dengan

I. PENDAHULUAN. sikap yang biasa saja oleh penderita, oleh karena tidak memberikan keluhan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Rinosinusitis kronis merupakan inflamasi kronis. pada mukosa hidung dan sinus paranasal yang berlangsung

LAPORAN KASUS IDENTITAS PASIEN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

INSIDENSI LESI RONGGA MULUT YANG DIDIAGNOSA DI TIGA LABORATORIUM PATOLOGI ANATOMI DI MEDAN TAHUN

Profil dermatitis kontak alergi di poliklinik rsup prof. Dr. R.D. Kandou Manado periode Januari Desember 2013

III. METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit alergi sebagai reaksi hipersensitivitas tipe I klasik dapat terjadi pada

TEAM BASED LEARNING MODUL. Diberikan pada Mahasiswa Semester V Fakultas Kedokteran Unhas DISUSUN OLEH :

BAB 3 KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP PENELITIAN

Transkripsi:

PENYAKIT DARIER PADA ANAK dr. Imam Budi Putra, SpKK DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA RSUP H. ADAM MALIK M E D A N

PENYAKIT DARIER PADA ANAK Pendahuluan Penyakit Darier adalah penyakit autosomal dominan, yang ditandai adanya papel-papel hyperkeratotik pada daerah seboroik serta adanya perubahan pada kuku dan membran mukosa. Penyakit ini bersifat progresif lambat, ditemukan pada dekade pertama dan dekade kedua dari kehidupan, terbanyak usia 11-15 tahun. Penyakit ini diperberat oleh sinar matahari. 1,2,3 Kelainan yang dijumpai pada kulit berupa papel-papel sewarna kulit yang dapat berubah menjadi kecoklatan atau keabu-abuan, hyperkeratotik, dapat bersatu membentuk plak berkrusta dan disertai skuama berminyak. Mudah terjadi infeksi sekunder terutama pada daerah lipatan-lipatan terutama tungkai bawah sehingga berbau. 1,2,34 Kuku biasanya berwarna lebih putih, mudah patah pada bagian distal, juga didapatkan gambaran seperti huruf V dibagian kuku yang bebas dan subungual keratosis. Kadang-kadang terdapat garis-garis longitudinal merah dan putih. Pada membran mukosa terdapat gambaran papel-papel putih dengan penekanan ditengah (umbilikasi). 1,2,3 Pada pemeriksaan histopatologi didapat hyperkeratosis, parakeratosis dan akantosis tidak teratur serta akantolisis yang ditandai adanya celah suprabasal. Sel diskeratotik berupa corps ronds stratum spinosum dan grains distratum korneum. 2,5 Hasil pengobatan biasanya selalu tidak memuaskan. Banyak pasien penyakit Darier tidak memerlukan pengobatan khusus, hanya diberikan emolien, sun-block dan menghindari pajanan sinar matahari. Topikal retinoid acid dapat membantu dan efektif meskipun berpotensi untuk tegjadi iritasi tapi dapat diminimalkan dengan penurunan konsentrai dan dikombinasi dengan topical kortikoteroid. 3,4 Laporan Kasus Seorang laki-laki berusia 14 tahun dari suku Batak datang ke poliklinik Kulit dan Kelamin RSU. Dr. Pirngadi Medan dengan keluhan utama bintil-bintil menebal disertai rasa gatal pada daerah kening dan kuku mudah patah, berwarna sangat putih.

Keadaan ini telah berlangsung selama tiga tahun. Mula-mula berupa bintil-bintil kecoklatan didaerah kening, wajah, leher, ketiak dan sela paha. Makin lama makin menebal disertai skuama berminyak terutama pada daerah kening. Penyakit dirasakan bertambah parah jika terkena sinar matahari. Tidak ada riwayat penyakit serupa pada keluarga. Pasien belum pernah mendapat pengobatan sebelumnya. Pada pemeriksaan klinis, status generalisata dalam batas normal. Status dermatologis ; papel-papel hyperkeratotik, multipel berwarna kecoklatan pada daerah kening. Dijumpai papel-papel pada daerah wajah, leher, ketiak dan sela paha. Kuku berwarna sangat putih, rapuh dan mudah patah. Pada mukosa mulut tidak dijumpai kelainan. Hasil pemeriksaan laboratorium, darah rutin didapatkan Hb 12,6 gr %, Leukosit 7100/mm 3, LED 17 mm/jam, Hematokrit 38%, Trombosit 301.000/mm 3. Hitung jenis : Eosinofil 7%, Basofil 0%, Neutrofil Batang 0%, Neutrofil Segmen 55%, Limfosit 34%, Minosit 4%. Pemeriksaan kadar trigliserida, kolesterol total, SGOT, SGPT, ureum dan kreatinin, gula darah sewaktu serta urin dalam batas normal. Pada foto thoraks tidak ada kelainan. Hasil pemeriksaan histopatologis menunjukkan epidermis hyperkeratotik, akantosis dan tampak celah suprabasal dengan proses akantolisis, tampak sebukan sel radang menahun, batas sel daapt dikenal. Didalam lapisan granuler terlihat corps ronds yang dikelilingi oleh halo jernih. Tidak dijumpai tanda - tanda keganasan. Dapat disimpulkan bahwa gambaran ini sesuai dengan Penyakit Darier. Berdasarkan anamnesis, gambaran klinis dan pemeriksaan histopatologis maka ditegakkan diagnosis, Penyakit Darier. Pengobatan yang diberikan adalah Topikal Retinoat Acid 0,05% cream (kombinasi dengan Hidrocortison 1% cream untuk menghindari iritasi). Sun-block SPF 15 dan oral anti oxidant 1 tablet perhari. Pasien berobat jalan dan kontrol sekali seminggu. Setelah 3 bulan keadaan kulit menunjukkan perbaikan yang berarti. Pengobatan masih dilanjutkan dan dalam pengawasan.

Diskusi Diagnosis Penyakit Darier pada kasus ini ditegakkan berdasarkan analnnesis, gambaran klinis dan pemeriksaan histopatologis. Pada anamnesis didapati mulai penyakit pada usia 11 tahun. Hal ini sesuai dengan kepustakaan yang mengatakan bahwa usia tersering pada 11-15 tahun. Penyakit ini berjalan secara progresif dan lambat, mula - mula hanya berupa bintil-bintil didaerah kening dan makin lama makin menebal dan bertambah parah oleh pajanan sinar matahari. Hal tersebut sesuai Dengan kepustakaan.tidak ada riwayat keluarga dengan penyakit serupa, sedangkan didalam kepustakaan penyakit ini adalah penyakit genetik yang autosomal dominan. Gambaran klinis yang didapat sesuai dengan Penyakit Darier, yaitu dijumpainya papel - papel hyperkeratotik yang tebal disertai skuama berminyak. Pada kuku dijumpai warna kuku yang sangat putih, rapuh dan mudah patah namun tidak dijumpai gambaran bentuk huruf V pada bagian distal kuku dan garis-garis longitudinal merah - putih sebagaimana yang disebut dalam kepustakaan. Mengenai daerah predileksi menurut kepustakaan daerah seboroik, sedangkan daerah lipatan pada ekstremitas dan mukosa mulut tidak dijumpai kelainan. Pada pasien ini dilakukan pemeriksaan histopatologi yang hasilnya sesuai dengan Penyakit Darier. Sehingga berdasarkan hal tersebut di atas ditegakkan diagnosis Penyakit Darier. Pengobatan yang diberikan Topikal Retinoat Acid 0,05 % cream yang dikombinasikan dengan Hidrocortison 1 % cream untuk mengatasi iritasi yang mungkin timbul, sun-block SPF 15 dan oral antioxydant 1 tablet perhari. Menurut kepustakaan pengobatan ini memberikan hasil yang cukup efektif. Pada pasien ini hasil pengobatan selama 3 bulan ini menunjukkan ada perbaikan namun masih belum memuaskan dan pengobatan masih dilanjutkan dan dalam pengawasan. Dan menurut kepustakaan tidak ada pengobatan khusus untuk penyakit ini.

Daftar Pustaka 1. Burge. S. Darier's Disease, Dalam: Harper J, Oranje A, Prose N, Editor. Textbook of Pediatric Dermatology. Oxford : Blackwell Scince, 2000, 1153-7. 2. Kwok. P.K. Keratosis Follicularis (Darier's Diasease). Dalam: http://www.emedicine.com 3. Hurwitz. S. Keratosis Follicularis (Darier Disease) Dalam: Clinical Pediatric Dermatology, Textbook of Skin Disorders of Childhood and AdolescenceW.B Saunders company,1993: 188-90. 4. Odom. RB, James WD, Gerber. GT. Darier's Disease (Keratosis Follicularis) Dalam : Adrew's Diseases of the Skin Clinical Dermatology, ed 9 th WB. Saunders company 2000 : 716-8. 5. Murphy GF., Maturational and Degenerative Disorders. Dalam : Dermatophatology WB, Saunderscompany 1995 : 335- B.