KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Jambi Triwulan IV - 2012 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi
Halaman ini sengaja dikosongkan. This page is intentionally blank.
K A T A P E N G A N T A R Pertama-tama ijinkanlah kami memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat-nya sehingga Kajian Ekonomi Regional (KER) Provinsi Jambi triwulan IV-2012 dapat diselesaikan dengan baik. KER merupakan salah satu terbitan periodik Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi sebagai sarana untuk membangun komunikasi dua arah dalam pertukaran data dan informasi baik dengan stakeholders internal maupun eksternal. Dengan demikian, para pemangku kepentingan seperti pelaku usaha, perbankan dan terutama Pemerintah Daerah Jambi (provinsi dan kabupaten/kota) diharapkan dapat memperoleh masukan dalam merumuskan kebijakan pengembangan ekonomi daerah. KER mencakup beberapa aspek seperti perkembangan ekonomi makro regional, inflasi daerah, perbankan dan sistem pembayaran, keuangan daerah, ketenagakerjaan daerah dan kesejahteraan. Publikasi ini juga memuat perkiraan ekonomi dan inflasi daerah. Berdasarkan asesmen atas data dan informasi, perekonomian Jambi pada triwulan IV-2012 menunjukkan peningkatan pertumbuhan yaitu dari 7,29% (yoy) menjadi 9,09% (yoy). Pergerakan pertumbuhan ekonomi di Jambi lebih tinggi dibandingkan dengan perekonomian nasional yang tumbuh 6,11%. Perekonomian Jambi selama tahun 2012 menghasilkan output Rp72,65 triliun atau 0,88% perekonomian Indonesia yang sebesar Rp8.241,9 triliun. Dari sisi harga, kota Jambi mengalami inflasi 4,22% (yoy) lebih rendah dari triwulan lalu 4,43% (yoy) serta inflasi nasional 4,30% (yoy). Perkembangan perbankan juga menunjukkan peningkatan dari sisi aset, penghimpunan dana dan penyaluran kredit. Loan to Deposits Ratio (LDR) perbankan berdasarkan bank pelapor juga cukup baik yaitu sebesar 107,48% Sementara itu, kualitas kredit masih berada pada level yang aman, ditunjukkan oleh angka Non Performing Loan (NPL) sebesar 1,70%. Pembenahan sektor riil secara terus menerus diperlukan sebagai upaya akselerasi penyaluran kredit perbankan terutama dalam rangka meningkatkan investasi. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan yang akan datang bergantung pada peningkatan konsumsi rumah tangga serta Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto. Dalam penyusunan KER triwulan IV-20112 kami banyak memperoleh support dari dinas-dinas pemerintah daerah, instansi, perbankan, BUMN/BUMD dan pelaku usaha. Oleh karena itu, kami menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada semua pihak. Semoga kerjasama yang telah terjalin selama ini dapat ditingkatkan di masa yang akan datang. Seiring dengan keterbatasan yang ada, kami mengharapkan kritik dan saran dalam meningkatkan kualitas KER ini agar dapat memberikan manfaat yang optimal, untuk kemakmuran masyarakat Jambi. Jambi, Februari 2012 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI JAMBI Marlison Hakim Kepala Perwakilan
Halaman ini sengaja dikosongkan. This page is intentionally blank.
DAFTAR ISI Daftar Isi...... i Daftar Tabel... ii Daftar Grafik... iii Ringkasan Eksekutif... 1 BAB I. Ekonomi Makro Regional... 5 A. Umum... 5 B. PDRB Sisi Produksi... 7 1. Sektor Pertanian, Perkebunan, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan...... 8 2. Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran (PHR)... 11 3. Sektor Pertambangan dan Penggalian...... 12 4. Sektor Industri Pengolahan...... 14 5. Sektor-sektor Lain...... 15 C. PDRB Sisi Pengeluaran... 17 1. Pengeluaran Konsumsi...... 18 2. Investasi...... 20 3. Perdagangan Eksternal...... 22 3.1 Ekspor Luar Negeri Provinsi Jambi..... 22 3.2 Impor Luar Negeri Provinsi Jambi..... 24 BAB II. Inflasi... 27 A. Kajian Umum... 27 B. Inflasi Berdasarkan Kelompok Barang... 29 1. Kelompok Bahan Makanan...... 31 2. Kelompok Makanan Jadi...... 34 3. Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar...... 34 4. Kelompok Sandang...... 34 5. Kelompok Kesehatan...... 35 6. Kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga..... 35 7. Kelompok Transportasi, Komunikasi dan Jasa Keuangan 35 Boks 1. Upaya Peningkatan Ketahanan Pangan Di Provinsi Jambi Boks 2. Produksi Dan Distribusi Beras Di Provinsi Jambi BAB III. Perbankan Dan Sistem Pembayaran... 37 A. Perkembangan Kelembagaan... 37 B. Bank Umum... 38 1. Perkembangan Aset Bank...... 38 i
2. Perkembangan Dana Masyarakat..... 39 3. Perkembangan Kredit/Penyaluran Dana....... 42 4. Undisbursed Loan..... 44 5. Peran Intermediasi Perbankan dan Kondisi Non Performing Loans (NPL) Gross Bank Umum di Provinsi Jambi... 44 6. Perkembangan Kredit UMKM... 46 C. Bank Perkreditan Rakyat (BPR)... 47 D. Perkembangan Alat Pembayaran Tunai... 47 1. Aliran Uang Kartal Melalui Bank Indonesia Jambi.... 48 2. Penyediaan Uang Layak Edar...... 49 3. Perkembangan Jumlah Uang palsu yang Ditemukan.... 49 4. Perkembangan Kliring Lokal...... 49 5. Transaksi Real Time Gross Settlement (RTGS)... 50 BAB IV Keuangan Pemerintah Daerah... 51 A. Realisasi Pendapatan DaerahTahun 2012... 51 B. RealisasiBelanja Daerah Tahun 2012... 52 C. APBD 2013... 53 D. Keuangan Pemerintah Pusat di Daerah... 54 E. Keuangan Pemerintah Daerah... 56 Boks 2. Belanja Modal Provinsi Jambi BAB V Ketenagakerjaan Daerah Dan Kesejahteraan... 57 A. Ketenagakerjaan Daerah... 57 B. Kemiskinan... 59 BAB VI Prospek Perekonomian... 63 Lampiran Glosary A. Pertumbuhan Ekonomi... 63 B. Proyeksi Inflasi... 65 ii KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI TRIWULAN IV-2012
DAFTAR TABEL 1.1 Laju Pertumbuhan Ekonomi Triwulanan (q-t-q) 6 1.2 Andil PDRB Sisi Produksi terhadap Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Jambi (y-o-y) 7 1.3 Pertumbuhan Produksi Industri Manufaktur Besar dan Sedang 15 1.4 Kontribusi PDRB Sisi Pengeluaran Terhadap Pertumbuhan (q-t-q) 18 1.5 Realisasi Investasi PMA Jambi 21 2.1 Perkembangan Inflasi Kota Jambi 29 2.2 Perkembangan Inflasi Triwulanan (q-t-q) serta Tahunan (y-o-y) Kota Jambi Berdasarkan Kelompok dan Sub Kelompok Barang dan Jasa 30 2.3 Sumbangan Inflasi Bulanan (m-t-m) Kota Jambi Berdasarkan Komoditi Periode Triwulan III-2012 30 3.1 Perkembangan Jumlah Kantor Bank Umum dan BPR Provinsi Jambi 38 3.2 Penghimpunan Dana bank umum di Provinsi Jambi 40 3.3 Perkembangan Dana Pihak Ketiga Berdasarkan Golongan Pemilik 41 3.4 Perkembangan Dana Pihak Ketiga Berdasarkan Lokasi Proyek 42 3.5 Perkembangan Kredit Bank Umum Provinsi Jambi 42 3.6 Perkembangan Kredit Lokasi Proyek Provinsi Jambi 44 3.7 Tabel Undisbursed loan Bank Umum Berdasarkan Jenis Penggunaan dan Berdasarkan Sektor Ekonomi Provinsi Jambi 44 3.8 Perkembangan Non Performing Loan (NPL) Gross Bank Umum di Provinsi Jambi 45 3.9 Perkembangan System Pembayaran Melalui KPw Bank Indonesia Provinsi Jambi 48 3.10 Perkembangan Transaksi RTGS 50 4.1 Perkembangan Pendapatan APBD Provinsi Jambi Triwulanan IV-2012 52 4.2 Perkembangan Belanja APBD Provinsi Jambi Triwulanan III-2012 52 4.3 Perkembangan Realisasi Pendapatan Pemerintah Pusat di Provinsi Jambi 55 4.4 Perkembangan Realisasi Belanja Pemerintah Pusat di Provinsi Jambi 56 5.1 Perbandingan UMP Wilayah Sumatera 57 5.2 Nilai Tukar Petani (NTP) Per Sub Sektor ( 2007 = 100 ) 59 6.1 Saldo Bersih Tertimbang Perkembangan Dunia Usaha 64 TRIWULAN IV-2012 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI iii
DAFTAR GRAFIK 1.1 Perkembangan PDRB Provinsi Jambi dan Nasional (y-o-y) 5 1.2 Perkembangan PDRB Provinsi Jambi (q-t-q) 6 1.3 Distribusi PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Triwulan IV Tahun 2012 8 1.4 Panen Padi Provinsi Jambi (Ha) 9 1.5 Panen Jagung dan Kedelai Provinsi Jambi (Ha) 9 1.6 Nilai Tukar Petani(NTP) Provinsi Jambi 9 1.7 Perkembangan Harga CPO, Inti dan TBS 10 tahun di Provinsi Jambi 10 1.8 Perkembangan Harga Bokar di Provinsi Jambi 10 1.9 Distrbusi Jenis Pupuk 11 1.10 Jumlah dan Pertumbuhan Realisasi Pupuk 11 1.11 Tingkat Hunian Hotel 12 1.12 PDRB Sub Sektor Minyak dan Gas Bumi serta Lifting Minyak Bumi 13 1.13 Lifting Minyak Bumi 13 1.14 Lifting Gas Alam 13 1.15 Perkembangan Produksi Karet Jambi 14 1.16 Perkembangan Total Pemakaian Listrik 15 1.17 Perkembangan Jumlah Pelanggan Listrik 15 1.18 Perkembangan Indeks Produksi Listrik dan Air Bersih 15 1.19 PDRB Sub Sektor Angkutan Udara dan Jumlah Konsumsi Avtur 16 1.20 Perkembangan Keberangkatan dan Kedatangan Penumpang 16 1.21 Perkembangan Jumlah Bongkar dan Muat Barang 16 1.22 Perkembangan Jumlah Kunjungan Kapal 17 1.23 Perkembangan Total Arus Barang 17 1.24 Distribusi PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Pengeluaran Triwulanan IV Tahun 2012 18 1.25 Perkembangan Penjualan Premium 19 1.26 Perkembangan Penjualan Solar 19 1.27Pertumbuhan Pendaftaran Kendaraan Bermotor 20 1.28 Pertumbuhan Pendaftaran Sepeda Motor Baru 20 1.29 Nominal dan Pertumbuhan Kredit Real Estate di Provinsi Jambi 20 1.30 Pertumbuhan Pendaftaran Truck/Pick-Up Baru 21 1.31 Nominal dan Pertumbuhan Kredit Investasi di Provinsi Jambi 21 1.32 Konsumsi Semen Provinsi Jambi 21 1.33 Perkembangan Ekspor dan Impor Non Migas Provinsi Jambi 22 1.34 Perkembangan Ekspor Provinsi Jambi 23 1.35 Perkembangan Nilai Ekspor Lima Komoditi Utama 23 1.36 Perkembangan Volume Ekspor Lima Komoditi Utama 23 1.37 Volume Ekspor Non Migas Provinsi Jambi 24 1.38 Pangsa Ekspor Non Migas Provinsi Jambi Berdasarkan Negara Tujuan 24 1.39 Perkembangan Impor Non Migas Provinsi Jambi 25 1.40 Lima komoditi Tertinggi Nilai Impor Provinsi Jambi 25 1.41 Impor Non Migas Provinsi Jambi Berdasarkan Jenis Barang 25 2.1 Perkembangan Inflasi Kota Jambi 27 2.2 Perbandingan Inflasi Core, Volatile Foods, dan Administered Price (y-o-y) 28 iv KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI TRIWULAN IV-2012
2.3 Perbandingan Inflasi (y-o-y) Kota Jambi dan 65 Kota di Indonesia per September 2012 29 2.4 Perkembangan Harga Bumbu-bumbuan 31 2.5 Perkembangan Harga Jagung 32 2.6 Perkembangan Harga Daging 32 2.7 Perkembangan Harga Beras 33 2.8 Perkembangan Harga Tepung Terigu 33 2.9 Perkembangan Harga CPO dan Minyak Goreng 33 2.10 Perkembangan Harga Emas di Pasar Internasional 34 2.11 Perkembangan Harga Minyak di Pasar Internasional 36 3.1 Perkembangan Aset Bank Umum Provinsi Jambi 39 3.2 Perkembangan Dana Pihak Ketiga Bank Umum Provinsi Jambi 40 3.3 PerkembanganLoan to Deposit Ratio (LDR) Bank UmumProvinsi Jambi 45 3.4 Perkembangan Suku Bunga Rata-rata Tertimbang Kredit dan Deposito Bank Umum di Provinsi Jambi 46 3.5 Perkembangan Kredit UMKM Bank Umum Provinsi Jambi 46 3.6 Pangsa Kredit Bank Umum Provinsi Jambi 47 3.7 Inflows, Outflows, Netflows dan Perkembangan Netflows di Provinsi Jambi 48 3.8 Perkembangan Nominal Kliring 49 3.9 Perkembangan Volume Kliring 49 4.1 Perkembangan APBD dan Realisasi 2010-2013 54 4.2 Pangsa Realisasi Pendapatan Pemerintah Pusat di Provinsi Jambi 55 4.3 Pangsa Realisasi Pendapatan Pajak Dalam Negeri di Provinsi Jambi 55 4.4 Pangsa (Share) Realisasi Belanja Pemerintah Pusat di Provinsi Jambi 56 4.5 PerkembanganDepositodanGiroPemerintah Daerah Provinsi Jambi 57 5.1 Perkembangan NTP, Inflasi dan Harga Komoditas 58 5.2 Penyaluran Raskin di Provinsi Jambi 60 6.1 Perkembangan Inflasi Bulanan (m-t-m) Kota Jambi Periode Tahun 2010 s.djanuari 2013 serta Perkiraan Februari s.d Desember 2013 65 6.2 Perkembangan Inflasi Tahunan (y-o-y) Kota Jambi Periode Tahun 2010 s.d Januari 2013 serta Perkiraan Februari s.d Desember 2013 66 6.3 Perkembangan Inflasi Tahun Kalender (y-t-d) Kota Jambi Periode Tahun 2010 s.d Januari 2013 serta Perkiraan Februari s.d Desember 2013 66 TRIWULAN IV-2012 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI v
Halaman ini sengaja dikosongkan. This page is intentionally blank.
TABEL INDIKATOR EKONOMI TERPILIH a. Inflasi dan PDRB INDIKATOR 2011 2011 2012 TRW.IV TRW.I TRW.II TRW.III TRW.IV MAKRO Indeks Harga Konsumen Kota Jambi 133.49 133.49 133.90 137.41 138.68 139.12 Laju Inflasi Tahunan (y-o-y) Kota Jambi 2.76 2.76 3.90 6.80 4.43 4.22 PDRB - Harga Konstan (Juta Rp) 1) 18,962,397 4,878,010 4,867,497 5,010,243 5,174,524 5,321,268 - Pertanian 5,580,225 1,417,451 1,451,187 1,491,500 1,518,732 1,542,865 - Pertambangan dan Penggalian 2,642,297 687,233 632,818 664,546 691,806 724,265 - Industri Pengolahan 2,347,523 610,822 602,129 621,508 645,624 663,663 - Listrik, Gas, dan Air Bersih 161,918 41,083 41,538 42,222 43,115 45,734 - Bangunan 888,073 228,799 232,286 241,825 263,095 294,423 - Perdagangan Hotel dan Restoran 3,340,709 870,155 879,489 899,172 939,087 956,236 - Pengangkutan dan Komunikasi 1,374,510 351,936 352,177 361,214 375,484 384,400 - Keuangan, Persewaan dan Jasa 1,087,897 278,649 282,678 290,388 295,250 304,502 - Jasa 1,539,245 391,882 393,196 397,868 402,330 405,179 Nilai Ekspor Non Migas ( ribu USD) 2) 1,999,592 397,937 330,267 379,947 285,237 295,369 Volume Ekspor Nonmigas (ribu ton) 4,721,239-1,163,958 1,507,099 1,561,561 872,828 1,372,439 Nilai Impor Nonmigas (ribu USD ) 3) 171,462 38,788 34,070 16,962 26,040 30,537 Volume Impor Nonmigas (ribu ton) 165,505 38,236 10,440 33,658 24,426 39,317 Catatan 1) Angka sementara berdasarkan tahun dasar 2000 2) Pengklasifikasian komoditi menggunakan 21 kelompok barang berdasarkan SITC 2 digit yang berlaku. 3) Pengklasifikasian komoditi dalam statistik impor menggunakan SITC 2 digit
TABEL INDIKATOR EKONOMI TERPILIH b. Perbankan INDIKATOR TAHUN 2011 TAHUN 2012 TAHUN 2011 Tw.IV-11 Tw.I-1 Tw.II-12 Tw.III-12 Tw.IV-12 PERBANKAN A. Bank Umum : Total Aset (Rp Juta) 21,001,143 21,001,143 23,052,408 23,780,624 24,163,959 24,475,084 DPK(Rp Juta) 16,388,558 16,388,558 17,255,120 17,611,536 17,917,502 17,945,194 - Tabungan 9,099,034 9,099,034 8,754,559 9,207,801 9,141,330 10,132,421 - Giro 3,167,099 3,167,099 3,866,278 3,373,061 3,687,655 3,762,667 - Deposito 4,122,425-4,122,425 4,634,284 5,030,674 5,088,518 4,050,106 Kredit (Rp Juta) - berdasarkan lokasi proyek1 ) 20,666,544 20,666,544 21,339,606 23,116,929 23,608,285 25,707,902 - Modal Kerja 8,572,331 8,572,331 8,956,344 9,761,212 9,281,782 9,935,402 - Konsumsi 3,520,586 3,520,586 3,671,188 4,211,014 9,574,000 10,289,952 - Investasi 8,573,626 8,573,626 8,712,074 9,144,703 4,752,503 5,482,548 - Dana 16,090,956 16,090,956 16,867,872 17,236,728 17,075,570 17,799,606 - LDR 128.44-128.44 126.51 134.11 138.26 144.43 Kredit (Rp Juta) - berdasarkan lokasi kantor cabang 15,106,829 15,106,829 15,710,619 16,843,087 17,951,066 19,287,676 - Modal Kerja 6,454,596 6,454,596 6,483,171 7,075,722 6,914,923 7,326,502 - Konsumsi 6,151,718 6,151,718 6,534,233 6,921,191 7,784,459 3,723,619 - Investasi 2,500,515 2,500,515 2,693,215 2,846,175 3,251,684 8,237,555 - LDR (%) 92.18 92.18 91.05 95.64 100.19 107.48 - NPL Gross (%) 260,903 260,903 274,616 301,173 319,845 328,384 - NPL Gross nominal 1.73 1.73 1.75 1.79 1.78 1.70 Kredit MKM (Rp Juta) Kredit Mikro (< Rp 50 juta) (Rp Juta) 3,001,269 3,001,269 3,058,451 3,118,341 3,439,722 3,388,031 - Kredit Modal Kerja 1,116,950 1,116,950 1,171,534 1,266,632 1,464,483 1,464,794 - Kredit Investasi 193,105 193,105 203,093 226,438 246,076 265,709 - Kredit Konsumsi 1,691,215 1,691,215 1,683,825 1,625,270 1,729,163 1,657,528 Kredit Kecil (Rp 50 < x Rp500 juta) (Rp Juta) 6,828,723 6,828,723 7,245,244 8,169,666 8,582,895 9,193,184 - Kredit Modal Kerja 2,069,518 2,069,518 2,100,859 2,324,547 2,014,978 2,084,917 - Kredit Investasi 741,010 741,010 824,744 952,979 1,028,456 1,117,634 - Kredit Konsumsi 4,018,195 4,018,195 4,319,640 4,892,140 5,539,461 5,990,633 Kredit Menengah (Rp500 juta < x Rp5 miliar) ((Rp Juta) 3,050,007 3,050,007 3,153,428 3,252,103 3,368,116 2,588,797 - Kredit Modal Kerja 2,067,299 2,067,299 2,047,667 2,237,132 2,235,693 1,655,435 - Kredit Investasi 544,169 544,169 584,976 613,395 654,497 452,035 - Kredit Konsumsi 438,539 438,539 520,786 401,576 477,927 481,328 Total Kredit MKM (Rp Juta) 12,880,000 12,880,000 13,457,123 14,540,110 15,390,733 15,170,012 NPL MKM gross (%) 2.03 2.03 1.76 3.85 1.30 2.13 - NPL MKM Gross Nominal 260,903 260,903 236,264 559,480 200,255 322,875 B. BPR : Total Aset (Rp Juta) 423,987 423,987 460,613 534,589 622,101 644,378 DPK (Rp Juta) 316,427 316,427 349,774 410,115 431,198 481,763 - Tabungan (Rp Juta) 64,647 64,647 63,909 69,101 71,206 80,701 - Deposito (Rp Juta) 251,780 251,780 285,865 341,013 359,992 401,062 Kredit (Rp Juta) 288,561 288,561 337,067 410,499 463,125 487,782 - Modal Kerja 80,588 80,588 87,282 102,479 114,570 123,865 - Investasi 61,977 61,977 73,586 87,528 98,433 95,547 - Konsumsi 145,995 145,995 176,199 220,492 250,123 268,370 Kredit UMKM (Rp Juta) 142,565 142,565 160,868 190,007 213,003 219,412 Rasio NPL Gross (%) 9.09 9.09 8.86 7.96 7.90 6.27 - NPL Gross (Nominal) 12,955 12,955 14,246 15,131 16,822 13,762 - PPAP 6,918 6,918 7,257 8,131 8,582 8,560 Rasio NPL Net (%) 2.09 2.09 2.07 1.71 1.78 1.07 LDR (%) 91.19 91.19 96.37 100.09 107.40 101.25
TABEL INDIKATOR EKONOMI TERPILIH c. Sistem Pembayaran INDIKATOR TAHUN 2011 Tahun 2011 Tahun 2012 Tw.IV-11 Tw.I-12 Tw.II-12 Tw.III-12 Tw.IV-2012 SISTEM PEMBAYRAN Inflow (Rp Juta) 1,867,244 489,008 518,106 418,971 805,987 393,685 Outflow (Rp Juta) 5,249,945 1,334,919 771,960 1,187,425 1,387,811 1,565,822 Pemusnahan Uang (ribu lembar) 351,723 109,877 272,452 24,127 11,991 66,122 Nominal Transaksi RTGS (Rp miliar) *) 136,011 38,746 64,796 72,693 48,131 52,404 Volume Transaksi RTGS 166,524 43,497 39,368 44,630 44,319 48,651 Nominal Kliring Debet (Rp juta) 9,094,295 2,493,524 2,534,615 2,347,560 2,380,495 2,594,776 Volume Kliring Debet (lembar) 267,248 67,865 69,746 65,514 61,324 69,487 Rata-rata Harian Nominal Kliring Debet 36,523 40,218 40,232 37,883 38,559 41,187 Rata-rata Harian Volume Kliring Debet 1,073 1,095 1,107 1,017 973 1,103 Nominal Kliring Pengembalian (Rp juta) 196,513 59,861 45,677 39,077 48,694 46,655 Volume Kliring Pengembalian (lembar) 4,676 1,418 1,225 1,430 1,451 1,485 Rata-rata Harian Nominal Kliring Pengembalian 789 966 725 620 798 765 Rata-rata Harian Volume Kliring Pengembalian 19 23 19 23 24 24 Nominal Tolakan Cek/BG Kosong (Rp juta) 171,855 59,861 36,225 33,051 40,025 35,192 Volume Tolakan Cek/BG Kosong (lembar) 3,947 1,418 856 1,164 1,150 1,134 Rata-rata Harian Nominal Tolakan Cek/BG Kosong 690 903 575 525 656 577 Rata-rata Harian Volume Tolakan Cek/BG Kosong 16 14 14 18 19 19
Halaman ini sengaja dikosongkan. This page is intentionally blank.
RINGKASAN EKSEKUTIF PEREKONOMIAN JAMBI Perekonomian Provinsi Jambi triwulan IV- 2012 mengalami peningkatan yaitu dari 7,29% (yoy) menjadi 9,09% (yoy)... I. Ekonomi Makro Regional Perekonomian Jambi pada Triwulan IV-2012 tumbuh sebesar 9,09% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya 7,29%. Dari sisi permintaan, perekonomian terutama didorong oleh peningkatan investasi dan konsumsi rumah tangga sementara dari sisi penawaran, pertumbuhan sektor pertanian dan perdagangan hotel dan restoran menjadi penyumbang utama pertumbuhan. Struktur perekonomian Jambi pada triwulan IV 2012 menunjukkan bahwa sektor primer masih menjadi penyumbang terbesar yaitu 46,68% dari jumlah PDRB Provinsi Jambi, diikuti sektor jasa-jasa (tersier) 36,01% dan sektor sekunder sebesar 17,31%. Pergerakan pertumbuhan ekonomi di Jambi lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi perekonomian nasional yang tumbuh 6,11%. Perekonomian Jambi selama tahun 2012 menghasilkan output Rp72,65 triliun atau 0,88% perekonomian Indonesia yang sebesar Rp8.241,9 triliun. Pangsa perekonomian Jambi tersebut meningkat dari tahun 2011 yang sebesar 0,85%. Dari sisi penawaran, seluruh sektor ekonomi menunjukkan peningkatan produksi pada angka yang relatif tinggi dengan laju pertumbuhan utama masih ditopang oleh tingginya pertumbuhan sektor pertanian serta Perdagangan, Hotel dan Restoran serta terakselerasinya perkembangan sektor konstruksi. Ditinjau dari sisi pengeluaran, meningkatnya ekonomi Provinsi Jambi terutama disebabkan oleh meningkatnya investasi fisik yang tercatat melalui Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTDB) serta konsumsi rumah tangga. Pada triwulan IV-2012, Kota Jambi mengalami inflasi sebesar 4,22% (yoy)... II. Inflasi Pada triwulan IV-2012,inflasi kota Jambi tercatat 4,22% (yoy),lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar 4,43% (yoyy) serta rata-rata inflasi triwulan IV dalam tiga tahun terakhir 5,83% (yoyy). 1
RINGKASAN EKSEKUTIF Penurunan tersebut juga sejalan dengan menurunnya inflasi nasional dari 4,31% (yoy) menjadi 4,30% (yoy). Berdasarkan asesmen Bank Indonesia, menurunnya inflasi kota Jambi utamanya disebabkan oleh menurunnya inflasi inti dari 5,04% (yoy) menjadi 4,98% (yoy) diikuti dengan penurunan inflasi administered price yaitu dari 6,69% (yoy) menjadi 5,05% (yoy). 1 Di sisi lain, inflasi volatile food masih menunjukkan peningkatan yaitu dari 1,82% (yoy) menjadi 2,33% (yoy). Kenaikan ini bersumber dari meningkatnya harga bahan makanan terutama daging ayam ras yang meningkat 16,73% dengan sumbangan inflasi 0,3260%. Pergerakan angka inflasi bulanan (m-t-m) pada bulan Oktober, Novemberdan Desember 2012 masing-masing 0,05%(m-t-m);-0,35%(m-t-m); dan 0,62%(m-t-m). III. Perbankan dan Sistem Pembayaran Kinerja perbankan pada triwulan IV-2012 secara umum menunjukkan peningkatan baik dari sisi aset, penghimpunan dana maupun penyaluran kredit. Loan to Deposits Ratio (LDR) perbankan berdasarkan bank pelapor naik sebesar 729 bps yaitu menjadi 107,48%. Kualitas kredit yang diberikan baik tercermin dari rasio Non Performing Loan (NPL) gross bank umum, yaitu sebesar 1,70% (di bawah ketentuan 5%) serta sedikit lebih rendah dari triwulan sebelumnya sebesar 1,78%. Outstanding kredit bank umum meningkat 7,45% (qtq) menjadi Rp19.287,68 miliar, sementara DPK meningkat 0,15% (qtq) menjadi Rp17.945,19 miliar. Aset perbankan pada triwulan laporan sebesar Rp24.475,08 miliar. Aktivitas pembayaran tunai mengalami peningkatan hal ini tercermin dari meningkatnya cash outflow sebesar 12,80% serta RTGS dan transaksi kliring. Untuk pembayaran non tunai, nilai kliring mengalami peningkatan sebesar 7,04% dibandingkan triwulan sebelumnya menjadi Rp 2.548,12 miliar. Sedangkan pembayaran melalui RTGS dari Jambi mengalami peningkatan sebesar 8,88% dibandingkan triwulan sebelumnya. Kinerja perbankan meningkat ditandai dengan meningkatnya jumlah aset, penghimpunan dana dan penyaluran kredit... 1 Perhitungan disagregasi inflasi berdasarkan sub kelompok barang. 2 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI TRIWULAN IV-2012
RINGKASAN EKSEKUTIF Realisasi pendapatan 2012 mencapai 122,08% dari APBD sementara realisasi belanja mencapai 92,51%... IV. Keuangan Pemerintah Daerah Realisasi pendapatan pemerintah Provinsi Jambi pada tahun 2012 mencapai Rp2.662,91 miliar (terealisasi 122,08% dari APBD-P), sementara itu realisasi belanja mencapai Rp2.559,27 miliar (92,51%). Jika dibandingkan dengan semester lalu, realisasi tersebut meningkat masing-masing sebesar 30,44% dan 92,51%. Pendapatan Pemerintah Daerah Provinsi Jambi pada tahun 2012 dianggarkan meningkat 12,11% dibandingkan anggaran APBD-P 2012 menjadi Rp2.445,37 miliar sementara belanja Pemerintah Daerah Provinsi Jambi pada tahun 2012 sebesar Rp2.652,83 miliar atau turun 4,11% dari tahun sebelumnya. Dengan demikian akan terdapat defisit sebesar RP207,45 miliar yang akan dibiayai oleh sisa lebih perhitungan anggaran (SILPA)tahun 2012 yang sebesar Rp689,91 miliar. UMP Jambi meningkat 13,79% V. Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan Perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) pada triwulan laporan mengalami penurunan jika dibandingkan triwulan sebelumnya yaitu menjadi 90,64 dari 90,96 pada triwulan lalu. Dari sisi upah, UMP provinsi Jambi pada tahun 2013 meningkat 13,79% yaitu dari Rp1.142.500,- menjadi Rp1.300.000. UMP tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan Lampung, Bangka Belitung dan Bengkulu. Laju pertumbuhan PDRB triwulan I-2013 diperkirakan berkisar 10,5%-11,0% (yoy)... VI. Prospek Perekonomian Berdasarkan proyeksi Bank Indonesia, Laju pertumbuhan tahunan Provinsi Jambi pada triwulan I-2013 diperkirakan meningkat dibandingkan triwulan IV-2012. Peningkatan investasi dan pengeluaran konsumsi rumah tangga diperkirakan masih menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi Jambi pada triwulan mendatang. Dari sisi penawaran, kontribusi pertumbuhan ekonomi Jambi masih didominasi sektor pertanian, serta perdagangan, hotel dan restoran. Pertumbuhan ekonomi Jambi diperkirakan berada pada angka yang tinggi bahkan di atas 10% yaitu pada kisaran 10,5%-11,0% (yoy) dari triwulan laporan yang tumbuh mencapai 9,09% (yoy). Sementara proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2012 diperkirakan pada kisaran 7,4%-7,8%. TRIWULAN IV-2012 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI 3
RINGKASAN EKSEKUTIF Perkembangan harga-harga pada triwulan I-2013 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan triwulan IV-2012 mencapai 5,0%-5,50% (yoy) meningkat dari triwulan laporan 4,22% (yoy). Faktor penyebab inflasi terutama bersumber dari sisi penawaran. Produksi bumbu-bumbuan yang masih terbatas menjadi penyebab peningkatan inflasi volatile foods. Namun demikian, masuknya musim panen padi diharapkan dapat menahan laju inflasi kelompak ini. Dari sisi kebijakan, adanya kenaikan harga TTL (Tarif Tenaga Listrik) secara bertahap berdampak pada tambahan kenaikan inflasi baik secara langsung maupun dampak lanjutannya. Dari sisi permintaan, tingginya investasi di Jambi juga berdampak pada meningkatnya ekspektasi masyarakat terhadap harga-harga barang investasi terutama properti. Maraknya pembangunan properti di kota Jambi dalam beberapa tahun terakhir memicu turut menyebabkan kenaikan harga properti Jambi Faktor yang berpotensi akan memberikan tekanan inflasi selama triwulan mendatang dan menyebabkan perkiraan inflasi keluar dari sasaran antara lain 1) Terbatasnya produksi beberapa jenis komoditas kelompok bumbubumbuan, 2) Meningkatnya pembangunan konstruksi masyarakat, 3) Kondisi infrastruktur (jalan, jembatan) yang masih terkendala akan meningkatkan biaya distribusi dan transportasi barang dan jasa, 4) Kondisi memasuki musim hujan yang dapat menghambat distribusi. Beberapa hal tersebut diperkirakan akan memacu meningkatnya angka inflasi pada periode triwulan I tahun 2013. Laju inflasi Triwulan I- 2013 diperkirakan berkisar 5,00-5,50% (yoy)... 4 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI TRIWULAN IV-2012
BAB I EKONOMI MAKRO REGIONAL A. Umum Perekonomian Jambi pada Triwulan IV-2012 tumbuh sebesar 9,09% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya 7,29%. Dari sisi permintaan, perekonomian terutama didorong oleh peningkatan investasi dan konsumsi rumah tangga. Sementara itu dari sisi penawaran, pertumbuhan sektor pertanian dan perdagangan hotel dan restoran menjadi penyumbang utama pertumbuhan. Struktur perekonomian Jambi pada triwulan IV 2012 menunjukkan bahwa sektor primer masih menjadi penyumbang terbesar yaitu 46,68% dari jumlah PDRB Provinsi Jambi, diikuti sektor jasa-jasa (tersier) 36,01% dan sektor sekunder sebesar 17,31%. Pergerakan pertumbuhan ekonomi di Jambi lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi perekonomian nasional yang tumbuh 6,11%. Perekonomian Jambi selama tahun 2012 menghasilkan output Rp72,65 triliun atau 0,88% perekonomian Indonesia yang sebesar Rp8.241,9 triliun. Pangsa perekonomian Jambi tersebut meningkat dari tahun 2011 yang sebesar 0,85%. 30 % 25 20 15 10 5 0 Grafik 1.1. Perkembangan PDRB Provinsi Jambi dan Nasional (yoy) 10 9.04 8.74 9.09 8.56 9 15.1 15.6 16.2 16.5 16.7 17.6 18.7 19.6 8 7.86 7.15 7.29 6.3 7 6.5 6.5 6.5 6 6.37 6.15 6.17 6.11 6.5 5 4 Q1-11 Q2-11 Q3-11 Q1V-11 Q1-12 Q2-12 Q3-12 Q1V-12 Output Provinsi Jambi Pertumbuhan Indonesia Pertumbuhan Jambi Sumber: BPS (diolah) 5
EKONOMI MAKRO REGIONAL Secara perkembangan Jambi triwulanan, perekonomian menunjukkan peningkatan 2,84% (qtq) melambat dibandingkan triwulan III-2012 yang tumbuh mencapai 3,28% (qtq). Secara Rp miliar 5,400 5,200 5,000 4,800 4,600 4,400 4,200 triwulanan, pertumbuhan ekonomi tersebut disebabkan oleh meningkatnya sektor pertambangan dan bangunan. Sektor pertambangan tumbuh 4,69% (qtq) dengan andil 0,63%. Produksi migas yang cenderung melambat dalam tiga triwulan awal tahun 2012, kembali menunjukkan peningkatan di triwulan laporan. Sementara itu maraknya pembangunan konstruksi terutama perumahan dalam beberapa waktu terakhir menyebabkan sektor bangunan dapat tumbuh 11,91% (qtq) dengan sumbangan 0,60%. Grafik 1.2. Perkembangan PDRB Provinsi Jambi (qtq) Tabel 1.1. Laju Pertumbuhan Ekonomi Triwulanan (qtq) 2011 2012 Tw IV-2012 LAPANGAN USAHA I II III IV I II III Growth Andil Pertanian 1.17 1.34 1.97 0.39 2.38 2.78 1.83 1.59 0.47 Pertambangan dan Penggalian 4.15 4.60 4.40 1.01 (7.92) 5.01 4.10 4.69 0.63 Industri Pengolahan 0.85 1.65 3.85 2.36 (1.42) 3.22 3.88 2.79 0.35 Listrik, Air dan Gas 1.05 0.87 1.09 0.97 1.11 1.65 2.12 6.07 0.05 Bangunan 0.87 1.58 2.01 2.22 1.52 4.11 8.80 11.91 0.61 Perdagangan, Hotel dan Restoran 1.03 2.16 5.16 1.50 1.07 2.24 4.44 1.83 0.33 Pengangkutan dan Komunikasi 0.09 1.26 2.51 1.15 0.07 2.57 3.95 2.37 0.17 Keuangan, Persewaan dan Jasa Keuangan 1.31 1.62 2.00 1.41 1.45 2.73 1.67 3.13 0.18 Jasa-Jasa 0.94 1.21 2.03 0.71 0.34 1.19 1.12 0.71 0.06 PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO 1.39 1.97 3.14 1.15 (0.22) 2.93 3.28 2.84 2.84 2011 2012 Tw IV-2012 JENIS PENGELUARAN I II III IV I II III Growth Andil Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga 0.56 0.90 2.18 1.25 0.47 1.06 2.42 0.73 0.49 Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (3.07) 3.88 6.91 5.08 (5.27) 2.68 3.22 1.11 0.21 Lembaga Swasta Nirlaba 1.28 2.35 6.76 0.60 1.63 1.97 2.56 1.67 0.01 Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto 0.05 5.72 3.45 2.51 1.21 4.22 6.84 6.42 1.15 Perubahan Stok 0.53 3.90 2.48 13.64 0.54 2.28 (2.01) 7.66 0.23 Ekspor 2.01 2.02 6.73-9.01-8.77 11.58-2.62-0.22-0.14 Impor -0.09 2.34 6.54-6.46-8.17 8.99-2.25-1.23-0.88 PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO 1.39 1.97 3.14 1.15 (0.22) 2.93 3.28 2.84 2.84 1.39 Nominal (aksis kiri) 1.97 3.14 1.15 Pertumbuhan (aksis kanan) (0.22) 2.93 3.28 2.84 Q I-11 Q II-11 Q III-11 Q IV-11 Q I-12 Q II-12 Q III-12 Q IV-12 Persen 4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 - (0.5) Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi ditopang oleh PMTDB yang meningkat 6,42% (qtq) dengan sumbangan inflasi 1,15%. Pengeluaran konsumsi rumah tangga memiliki bobot terbesar mengalami perlambatan pertumbuhan menjadi 1,59% dari 1,83% di triwulan sebelumnya. Setelah adanya perayaan hari besar keagamaan pada triwulan sebelumnya, konsumsi masyarakat di triwulan 6 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI TRIWULAN IV-2012
EKONOMI MAKRO REGIONAL laporan kembali normal. Namun demikian, banyaknya intensitas acara di akhir tahun mampu menjaga konsumsi pada level yang cukup baik. B. PDRB Sisi Produksi Dari sisi penawaran, seluruh sektor ekonomi menunjukkan peningkatan produksi pada angka yang relatif tinggi dengan laju pertumbuhan utama masih ditopang oleh tingginya pertumbuhan sektor pertanian serta sektor perdagangan, hotel dan restoran serta terakselerasinya perkembangan sektor konstruksi. Sektor pertanian yang merupakan sektor utama di Jambi memberikan andil pertumbuhan ekonomi mencapai 2,57% diikuti oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran 1,76% serta sektor konstruksi 1,35%. Tabel 1.2. Andil PDRB Sisi Produksi terhadap Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Jambi (yoy) 2011 2012 Tw IV-2012 LAPANGAN USAHA IV I II III Growth Andil Pertanian 4.96 6.22 7.72 7.56 8.85 2.57 Pertambangan dan Penggalian 14.89 1.57 1.98 1.68 5.39 0.76 Industri Pengolahan 8.97 6.51 8.16 8.19 8.65 1.08 Listrik, Air dan Gas 4.05 4.11 4.90 5.97 11.32 0.10 Bangunan 6.84 7.54 10.21 17.54 28.68 1.35 Perdagangan, Hotel dan Restoran 10.16 10.21 10.30 9.54 9.89 1.76 Pengangkutan dan Komunikasi 5.09 5.06 6.42 7.91 9.22 0.67 Keuangan, Persewaan dan Jasa Keuangan 6.50 6.64 7.80 7.45 9.28 0.53 Jasa-Jasa PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO Nominal PDRB Provinsi Jambi atas dasar harga berlaku tercatat sebesar Rp19,59 triliun yang secara sektoral masih didominasi oleh sektor pertanian sebesar 29,27%, sektor pertambangan dan penggalian sebesar 17,41%, serta sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 15,99%. Dengan demikian, struktur ekonomi regional dalam jangka pendek relatif tidak mengalami perubahan dibandingkan triwulan sebelumnya (Grafik 1.3). 4.97 4.34 4.32 3.39 3.39 0.27 7.86 6.15 7.15 7.29 9.09 9.09 TRIWULAN IV-2012 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI 7
EKONOMI MAKRO REGIONAL Grafik 1.3. Distribusi PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Triwulan IV Tahun 2012 Pengangkutan dan Komunikasi, 6.35 Jasa-jasa, 8.55 Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan, 5.12 Pertanian, 29.27 Perdagangan, Hotel dan restauran, 15.99 Bangunan, 5.36 Listrik, gas & air, 0.94 Industri Pengolahan, 11.00 Pertambangan dan Penggalian, 17.41 1. Sektor Pertanian, Perkebunan, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan Produksi sektor pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan menunjukkan kinerja yang baik dengan tumbuh 8,85% (yoy) lebih tinggi dari pertumbuhan triwulan lalu 7,56% (yoy). Secara triwulanan pertumbuhan sektor ini mencapai 1,59% (qtq) sedikit melambat dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang mencapai 1,83% (qtq). Pada triwulan laporan, sub sektor tanaman bahan makanan tumbuh 0,34% (qtq) lebih tinggi dari triwulan lalu yang turun 0,61%(qtq). Produksi padi cenderung tinggi di awal tahun terutama pada bulan Februari Juli, seiring tingginya produksi padi di wilayah Kerinci. Produksi tersebut kemudian meningkat kembali di bulan Desember seiring memasuki masa panen padi di wilayah Tanjung Jabung. Berdasarkan angka ramalan yang dikeluarkan oleh BPS, luas panen padi selama bulan September Desember mencapai 46.760 ha meningkat 2,16% dari tahun sebelumnya 45.770 ha. Untuk itu, produksi tanaman bahan makanan menunjukkan pertumbuhan mencapai 7,12% (yoy) dibandingkan posisi yang sama tahun lalu. 8 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI TRIWULAN IV-2012
EKONOMI MAKRO REGIONAL Grafik 1.4 Panen Padi Provinsi Jambi (Ha) 70,000 60,000 50,000 40,000 30,000 20,000 10,000 0 2010 2011 2012 (ARAM II) 0 Jan - Apr Mei - Agt Sep - Des Grafik 1.5 Panen Jagung dan Kedelai Provinsi Jambi (Ha) 6,000 5,000 4,000 3,000 2,000 1,000 2010 2011 2012 (ARAM II) Jan - Apr Mei - Agt Sep - Des Jagung Jan - Apr Mei - Agt Sep - Des Kedelai Namun demikian, meningkatnya produksi tanaman bahan makanan di triwulan laporan tidak diikuti oleh peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP). NTP Desember 2012 dibandingkan NTP September 2012 turun 0,35% menjadi 90,64. Menurunnya NTP tersebut disebabkan oleh melambatnya harga jual terutama tanaman perkebunan. Sementara itu, indeks yang harus dibayar oleh petani mengalami kenaikan yang lebih tinggi. Salah satu yang harus diperhatikan terkait nilai tukar ini adalah petani yang menggantungkan pendapatan hidupnya hanya dari satu sumber saja, misalkan perkebunan. Penurunan harga komoditas ini akan berdampak pada penurunan pendapatan mereka. Grafik 1.6. Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Jambi 140 indeks terima indeks bayar NTP 130 120 110 100 90 80 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 2012 Sub sektor perkebunan yang mempunyai share sebesar 14,45% dari PDRB mengalami pertumbuhan positif sebesar 2,33% (qtq), melambat dari pertumbuhan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 3,52% (qtq). Perlambatan ini terutama disebabkan oleh melambatnya produksi kelapa sawit. TRIWULAN IV-2012 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI 9
EKONOMI MAKRO REGIONAL Kelapa sawit mengalami perlambatan produksi di triwulan laporan. Tingginya pasokan akibat melimpahnya produksi triwulan lalu sementara permintaan yang terbatas menjadi penyebab penumpukan tersebut. Kondisi ini akhirnya berdampak pada turunnya harga jual kelapa sawit baik di Jambi maupun harga jual internasional. Harga rata-rata TBS usia 10 tahun Rp1.195,51/kg turun 22,39% dari triwulan lalu sementara harga CPO di Jambi turun 19,83%. Kondisi ini sejalan dengan turunnya harga di tingkat internasional 22,16% menjadi USD 714,74/metric ton. Harga kelapa sawit ini merupakan yang terendah semenjak pertengahan tahun 2009. Selain itu, yang perlu dikhawatirkan adalah harga kelapa sawit di petani bukan plasma mengalami penurunan yang lebih tinggi. Grafik 1.7 Perkembangan Harga CPO, Inti dan TBS 10 Tahun di Provinsi Jambi Harga (Rp) 10,000 8,000 CPO INTI TBS 10 TAHUN CPO Int'l 6,000 4,000 2,000 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 2011 2012 Sumber: Disbun Provinsi Jambi Harga bokar di Jambi mulai menunjukkan peningkatan. Harga rata-rata bokar Rp24.643/kg meningkat 9,13% (qtq). Sebaliknya, harga karet di tingkat internasional masih menunjukkan penurunan mencapai 4,45% menjadi USD 313,06/cent. Selama tahun 2012, harga karet turun Grafik 1.8 Perkembangan Harga Bokar di Provinsi Jambi Rp/Kg 50,000 40,000 30,000 20,000 10,000 Sumber: Disperindag Provinsi Jambi mencapai 26,70% yang disebabkan oleh merosotnya permintaan dunia. - Harga Bokar (Rp/kg) Harga Karet Internasional (USD cent/kg) 1 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 9101112 2011 2012 USD cent/kg 700 600 500 400 300 200 100-10 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI TRIWULAN IV-2012
2011 2012 EKONOMI MAKRO REGIONAL Realisasi penyaluran pupuk dalam menunjang proses produksi sub sektor tanaman bahan makanan dan sub sektor tanaman perkebunan sebesar 30.155 ton meningkat 81,28% (qtq) dari triwulan lalu. 3 Penyaluran pupuk tersebut cenderung meningkat di akhir tahun. Berdasarkan informasi dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jambi, penyaluran pupuk bersubsidi sebagian besar didominasi oleh pupuk NPK Phonska (38,97%), diikuti oleh pupuk Urea (38,12%), SP-36 (16,22%), dan ZA (6,69%). Selama tahun 2012, penyaluran pupuk bersubsidi meningkat 81,28% dari tahun lalu. TW IV TW III TW II TW I TW IV TW III TW II TW I rafik 1.9. Distribusi Jenis Pupuk Grafik 1.10. Jumlah dan Pertumbuhan Realisasi Pupuk Kilo Ton 35 30 25 20 15 10 5 0 20.18 14.42 12.84 32.60 22.95 29.94 16.64 TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV Persen (%) 200 30.16 150 100 50 0-50 -100 0 5 10 15 20 25 30 35 2011 2012 (Kilo Ton) Realisasi Pupuk (Ton) Pertumbuhan Realisasi Pupuk SP-36/Superphos ZA NPK PHONSKA Urea Grafik 1.10 Grafik 1.9 Sub sektor peternakan tumbuh 1,25% (qtq) melambat dibandingkan triwulan lalu yang sebesar 2,10% (qtq). Pasca perayaan hari besar keagamaan dimana kebutuhan akan daging meningkat, produksi daging cenderung mengalami perlambatan. Sementara itu, sub sektor perikanan turun 0,15% lebih sebaliknya, sub sektor kehutanan mampu tumbuh 5,30% (qtq) lebih tinggi dari triwulan sebelumnya 2,18% (qtq). 2. Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran (PHR) Sektor perdagangan, hotel dan restoran menunjukkan pertumbuhan 9,89% (yoy); dengan sumbangan inflasi 1,76%. Perkembangan sektor ini terutama didukung oleh tingginya perkembangan perdagangan besar dan eceran di Jambi yang tumbuh 9,99% (yoy). Peningkatan investasi di Jambi berpengaruh 3 Jenis pupuk bersubsidi yang disalurkan terdiri dari SP-36, ZA, NPK Phonska dan Urea. TRIWULAN IV-2012 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI 11
EKONOMI MAKRO REGIONAL terhadap tinggi kebutuhan barang pendukung sehingga sektor perdagangan juga turut meningkat. Berdasarkan perhitungan triwulanan, sub sektor perdagangan besar dan eceran yang memiliki pangsa terbesar dalam sektor PHR (pangsa 92,47%) tumbuh 1,86% (qtq) melambat dari triwulan sebelumnya yang tumbuh 4,53% (qtq). Perlambatan tersebut disebabkan oleh faktor musim dimana pada triwulan lalu tedapat perayaan hari besar keagamaan. Sementara itu, sub sektor hotel menunjukkan peningkatan mencapai 3,69% (qtq) lebih tinggi dari triwulan sebelumnya 2,44% (qtq). Pada akhir tahun, terdapat kecenderungan peningkatan intensitas kegiatan baik oleh swasta atau pemerintah Grafik 1.11. Tingkat Hunioan Hotel Jumlah Tamu Menginap T. Hunian Hotel (RHS) 70,000 60 60,511 54,126 50,954 57,930 58,288 60,000 50,821 50 47,293 50,000 40 40,000 30 30,000 20,000 20 10,000 10 0 0 Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV 2011 2012 Grafik 1.11 yang berdampak pada peningkatan sub sektor hotel. Kondisi ini juga terlihat dari meningkatnya tingkat hunian hotel dari 47,34% di triwulan lalu menjadi 47,86% di triwulan laporan yang diikuti dengan meningkatnya jumlah tamu menginap 23,25% menjadi 58.288 orang. 3. Sektor Pertambangan dan Penggalian Sektor pertambangan dan penggalian tumbuh sebesar 5,39% (yoy) lebih tinggi dari triwulan sebelumnya 1,68% (yoy). Meningkatnya nilai tambah sub sektor migas yang mencapai 6,28% (qtq) menjadi pendorong utama kembali tumbuhnya sektor tersebut. Produksi migas yang sempat turun di awal tahun 2012, kembali menunjukkan peningkatan. Produksi migas di triwulan laporan meningkat 32,32% (qtq) dibandingkan triwulan lalu. Namun demikian produksi gas alam cenderung turun 2,28% dibandingkan triwulan lalu. 12 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI TRIWULAN IV-2012
EKONOMI MAKRO REGIONAL Grafik 1.12. PDRB Sub Sektor Minyak dan Gas Bumi serta Lifting Minyak Bumi ribu barel PErsentase 2,500 25 Lifting Minyak Bumi 2,000 Pertumbuhan PDRB 4.92 5.37 5.11 1.03 5.72 1,500 1,000 500 5.64 0 0.17 (14.25) 0-25 I II III IV I II III IV* 2011 2012 * Angka perkiraan Bank Indonesia untuk Bulan Desember 2012 Grafik 1.13. Lifting Minyak Bumi Grafik 1.14. Lifting Gas Alam K Barel 3,000 2,500 2,000 1,500 1,000 500 - Persen (%) 40 Minyak Bumi (Barel) Pertumbuhan, aksis kanan 30 25.53 32.32 20 10 (7.59) (10.28) - (7.98) (10) (7.41) (9.74) (10.34) (20) I II III IV I II III IV* BBTU 20,000 15,000 10,000 5,000 - Persen (%) 30 Lifting Gas Alam (BBTU) Pertumbuhan, aksis kanan 20 15.82 5.48 10 4.46 - (3.11) (15.50) (5.72) (1.49) (2.28) (10) (20) I II III IV I II III IV* 2011 2012 Sumber: Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jambi. *: Angka proyeksi Bank Indonesia Jambi untuk bulan Desember 2012 2011 2012 Sumber: Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jambi. *: Angka proyeksi Bank Indonesia Jambi untuk bulan Desember 2012 Produksi migas selama triwulan IV-2012 mencapai 1.671,64 Kbarrel. Adanya lokasi pertambangan baru juga ikut mendorong kinerja sub sektor ini. Sementara itu, lifting gas alam diperkirakan turun menjadi 12.495 BBTU. Secara akumulatif di tahun 2012, lifting minyak bumi Jambi mengalami penurunan mencapai 11,84% yang disebabkan oleh kondisi sumur yang sudah cukup tua sementara produksi gas alam cenderung stabil dari waktu ke waktu. 4 Sementara itu, produksi pertambangan tanpa migas meningkat cukup signifikan mencapai 34,74% (yoy) atau 6,35% dari triwulan lalu. Meningkatnya produksi batubara menjadi pendorong kenaikan tersebut. Harga batu bara yang merosot semenjak awal tahun 2012 kembali menunjukkan peningkatan di triwulan laporan. Harga rata-rata batu bara di tingkat internasional mencapai 4 Data bulan September 2012 merupakan perkiraan data Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi TRIWULAN IV-2012 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI 13
EKONOMI MAKRO REGIONAL USD 66,80/mt di triwulan laporan meningkat 9,07% dari triwulan lalu. Namun apabila dibandingkan dengan harga tahun lalu, harga batu bara masih 15,38% lebih rendah. 4. Sektor Industri Pengolahan Sektor industri pengolahan meningkat mencapai 8,65% (yoy), dengan andil pertumbuhan 1,76%. Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dari pertumbuhan triwulan lalu yang sebesar 8,19% (yoy). Namun demikian, berdasarkan perhitungan triwulanan, sektor industri pengolahan tumbuh 2,73% melambat dari triwulan lalu 3,92%. Perlambatan tersebut disebabkan oleh melambatnya industri tanpa migas, terutama produksi CPO. 120,000 100,000 Grafik 1.15. Perkembangan Produksi Karet Jambi 80,000 60,000 40,000 20,000 0 Volume Produksi Bokar (Ton) Pertumbuhan (%) 88,713 85,867 81,805 68,679 Sumber: Gapkindo Cabang Jambi 74,585 77,418 76,065 75,165 Trw I Trw II Trw III Trw IV Trw I Trw II Trw III Trw IV 2011 2012 Berdasarkan data dari Gapkindo (Gabungan Pengusaha Karet Indonesia) produksi crumb rubber di triwulan laporan menunjukkan penurunan 1,18% yaitu dari 76.065 ton di triwulan lalu menjadi 75.165 di triwulan laporan. Masih terdapatnya stok karet di pedagangan menyebabkan produksi sedikit menurun di triwulan laporan. Kondisi ini juga terkonfirmasi dengan menurunnya pertumbuhan indeks produksi industri Karet dan Barang dari Karet dan Barang dari Plastik 4,58% di triwulan laporan. Jika dibandingkan tahun 2011, produksi karet selama tahun 2012 turun mencapai 6,72%. Penurunan tersebut disebabkan oleh berkurangnya permintaan untuk ekspor. Selain itu, harga yang turun juga menjadi disinsentif bagi petani. 5 Tingginya produksi CPO pada triwulan lalu diikuti dengan tingginya stok CPO di PKS dan tanki. Kondisi ini diikuti dengan melambatnya produksi pada triwulan laporan. Pelambatan ini tercermin dari melambatnya industri makanan, minuman dan tembakau sebesar 3,92% (qtq), lebih rendah dari triwulan lalu 20 15 10 5 0-5 -10-15 -20 5 Terdapat 10 (sepuluh) perusahaan pengolah crumb rubber yang tergabung dalam Gapkindo 14 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI TRIWULAN IV-2012
EKONOMI MAKRO REGIONAL 5,29%. Hal ini juga terkonfirmasi dari perlambatan indeks produksi makanan sebesar 3,83% (qtq) dibandingkan triwulan lalu 7,81%. Tabel 1.3. Pertumbuhan Produksi Industri Manufaktur Besar dan Sedang Pertumbuhan Jenis Industri q-to-q y-o-y Trw I-12 Trw II-12 Trw III-12 Trw IV-12 Trw I-12 Trw II-12 Trw III-12 Trw IV-12 Industri Makanan -15.69 18.70 7.81 3.83 9.98 7.76 7.76 5.94 Industri Minuman 7.16-4.93 0.59 5.04 9.91-0.55 7.64 5.43 Industri Karet dan Barang dari -5.58 12.14 5.56-4.58 6.06 2.40 6.66 4.11 Karet dan Barang dari Plastik I B S -12.92 13.96 6.48 4.30 12.22 11.86 7.69 4.38 5. Sektor-sektor Lain Sektor listrik, gas, dan air bersih (LGA) tumbuh sebesar 11,32% (yoy) lebih tinggi dibandingkan laju pertumbuhan triwulan sebelumnya yang sebesar 5,97%. Peningkatan tersebut disebabkan oleh meningkatnya produksi listrik dan air bersih masing-masing 11,68% (yoy) dan 8,88% (yoy). Meningkatnya sub sektor listrik dimaksud tercermin dari meningkatnya jumlah konsumsi listrik di Jambi 13,92% (yoy). Jumlah konsumsi listrik di Jambi selama triwulan laporan mencapai 318.599 MWH dengan jumlah pelanggan mencapai 505.636 rekening. 600 500 400 385 Grafik 1.16. Perkembangan Total Pemakaian Listrik Grafik 1.17. Perkembangan Jumlah Pelanggan Listrik 415 432 443 461 483 486 506 Pelanggan (dalam ribu) 600 500 400 385 415 432 443 461 483 486 506 300 300 200 200 100 100 - I II III IV I II III IV - I II III IV I II III IV 2011 2012 2011 2012 Sumber: PLN cabang Jambi & PLN cabang Muara Bungo (diolah) Sumber: PLN cabang Jambi & PLN cabang Muara Bungo (diolah) Sementara Grafik 1.16 Grafik 1.17 itu, pemakaian sub sektor air bersih yang dicatat oleh PDAM Tirta Mayang menunjukkan penurunan di triwulan laporan. tercermin dari menurunnya Rata-rata konsumsi air bersih Grafik 1.18. Perkembangan Indeks Produksi Listrik dan Air Bersih ribu M3 875 870 865 860 855 850 845 840 861-0.61 872 1.33 858 Total Konsumsi Air (LHS) Pertumbuhan (RHS) -1.64 852-0.68 863 1.34 857 Trw 3 Trw 4 Trw 1 Trw 2 Trw 3 Trw 4 Sumber: PDAM Tirta Mayang Kota Jambi, 2012 2011 5 3 1-0.73 (1) (3) TRIWULAN IV-2012 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI 15
EKONOMI MAKRO REGIONAL bulanan melalui PDAM Kota Jambi pada triwulan laporan sebesar 857,00 ribu M² lebih rendah dari tahun lalu yang mencapai 834,48 ribu M². Sektor pengangkutan dan komunikasi mengalami peningkatan 9,22% (yoy) pada triwulan laporan, meningkat dari triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 7,91% (yoy). Peningkatan dimaksud berasal dari meningkatnya sub sektor pengangkutan maupun komunikasi yang masing-masing tumbuh 9,40% (yoy) dan 7,51% (yoy). Grafik 1.19. PDRB Sub Sektor Angkutan Udara dan Jumlah Konsumsi Avtur 60.000 50.000 40.000 PDRB sub sektor Angkutan Udara (juta Rp), aksis kiri Konsumsi Avtur (ratusan liter), aksis kiri Pert. Konsumsi Avtur (%), aksis kanan 40 20-30.000 20.000 10.000 - TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III (20) (40) (60) (80) 2011 2012 Sumber: PT. Pertamina UPMS II, Palembang dan BPS Provinsi Jambi (diolah) Grafik 1.20. Perkembangan Keberangkatan dan Kedatangan Penumpang Grafik 1.21. Perkembangan Jumlah Bongkar dan Muat Barang ribu orang 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 Kedatangan Penumpang Keberangkatan Penumpang I II III IV I II III IV ton 1500 1000 500 0 Jumlah Bongkar Jumlah Muat I II III IV I II III IV 2011 2012 Sumber: PT. Angkasa Pura II 2011 2012 Sumber: PT.Angkasa Pura II Grafik 1.20 Grafik 1.21 Jumlah penumpang baik yang datang maupun berangkat dari Bandara Sultan Thaha Jambi terus menunjukkan peningkatan seiring dengan bertambahnya jumlah penerbangan. Pada triwulan laporan, jumlah penumpan (total berangkat dan datang) meningkat 15,84% dari tahun lalu. Adanya perluasan bandara di tahun 2012 turut memperbesar kapasitas pesawat yang dapat beroperasi. Sub sektor angkutan laut tumbuh sebesar 6,45% (yoy) lebih tinggi dibandingkan triwulan lalu yang turun 4,21% (yoy). Namun demikian, total arus barang di pelabuhan menunjukkan penurunan 31,98% (yoy) menjadi 1.306,77 16 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI TRIWULAN IV-2012
EKONOMI MAKRO REGIONAL kilo ton. 6 Menurunnya aktivitas ekspor di triwulan laporan berdampak pada penurunan aktivitas di pelabuhan. unit 2,000 1,500 1,000 500 - Unit 80.64 112.95 40.52 33.43 Grafik 1.120 Perkembangan Jumlah Kunjungan Kapal Grafik 1.21. Perkembangan Total Arus Barang 11.31 Pertumbuhan -1.24-4.21 persen(%) 150 6.45 I II III IV I II III IV 100 50 0-50 unit 3,500 3,000 2,500 2,000 1,500 1,000 500 - Jumlah Total Arus Barang Pertumbuhan -3.28 25.20 39.24 28.81-5.39 123.60 88.86 persen(%) 150 100-31.98-50 I II III IV I II III IV 50 0 2011 2012 Sumber: Pelindo Jambi 2011 2012 Sumber: Pelindo Jambi Grafik 1.20 Grafik 1.21 Sub sektor komunikasi tumbuh 7,51% (yoy) yang didukung pertumbuhan pos dan telekomunikasi 7,54% (yoy) dan jasa penunjang komunikasi 5,10% (yoy). Sektor keuangan, persewaan, dan jasa-jasa perusahaan tumbuh sebesar 9,28% (yoy) lebih tinggi dari triwulan sebelumnya yang tumbuh 7,45% (yoy). Peningkatan ini terutama didukung oleh meningkatnya pertumbuhan sub sektor bank 12,26% (yoy) lebih tinggi dari pertumbuhan triwulan lalu 8,92% (yoy). Sektor jasa-jasa pada triwulan laporan tumbuh 3,39% (yoy) stabil dari pertumbuhan triwulan sebelumnya. Sektor ini didukung oleh sub sektor jasa pemerintahan umum 2,96% (yoy) dan sub sektor jasa swasta 5,49% (qtq). C. PDRB Sisi Pengeluaran Ditinjau dari sisi pengeluaran, meningkatnya ekonomi Provinsi Jambi terutama disebabkan oleh meningkatnya investasi fisik yang tercatat melalui Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTDB) serta konsumsi rumah tangga. Investasi fisik tercatat meningkat 19,93% (yoy) dengan andil pertumbuhan 3,35% sementara konsumsi rumah tangga meningkat 4,75% (yoy) dengan andil 3,22%. Berdasarkan strukturnya, 55,96% perekonomian Jambi ditopang oleh konsumsi, diikuti dengan investasi fisik 18,31%. Namun demikian, pangsa konsumsi rumah tangga tersebut cenderung mengalami penurunan dari 6 Total arus barang yang dimaksud terdiri dari impor, ekspor, bongkar dan muat. TRIWULAN IV-2012 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI 17
EKONOMI MAKRO REGIONAL waktu ke waktu. Pada triwulan IV-2011, pangsa konsumsi rumah tangga masih sebesar 59,93%. Tabel 1.4. Kontribusi PDRB Sisi Pengeluaran terhadap Pertumbuhan (qtq) 7 2011 2012 Tw IV-2012 JENIS PENGELUARAN IV I II III Growth Andil Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga 4.97 4.88 5.05 5.29 4.75 3.22 Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 13.12 10.55 9.27 5.50 1.52 0.30 Lembaga Swasta Nirlaba 11.34 11.72 11.31 6.92 8.05 0.05 Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto 12.17 13.47 11.87 15.53 19.93 3.35 Perubahan Stok 21.64 21.65 19.74 14.49 8.47 0.27 Ekspor Impor PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO 1.07-9.61-1.14-9.80-1.08-0.75 1.90-6.34-0.25-8.48-3.37-2.63 7.86 6.15 7.15 7.29 9.09 9.09 Grafik 1.22. Distribusi PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Pengeluaran Triwulan IV tahun 2012 8 Net Impor, - 5.32 PMTDB, 18.31 Perubahan Stok, 2.58 Konsumsi pemerintah, 17.21 Lembaga Swasta Nirlaba, 0.62 Konsumsi rumah tangga, 55.96 1. Pengeluaran Konsumsi Pertumbuhan pengeluaran konsumsi rumah tangga atas dasar harga konstan sebesar 4,75% (yoy), lebih rendah dari triwulan sebelumnya 5,29% (yoy). Menurunnya harga jual komoditas berdampak pada perlambatan konsumsi rumah tangga. Di samping itu, melambatnya produksi hasil perkebunan (yang merupakan mata pencaharian utama masyarakat Jambi) juga menjadi faktor perlambatan dimaksud. Kondisi ini juga tercermin dari melambatnya indeks tendensi konsumen yaitu dari 109,14 di triwulan lalu menjadi 103,10. Namun angka yang masih 7 dikurangkan dengan nilai kontribusi impor terhadap pertumbuhan pada triwulan laporan. Jika bernilai positif disebut net ekspor, sedangkan jika bernilai negatif disebut net impor. 8 Pangsa (share) net impor sebesar 8,66% merupakan pengurangan dari total share PDRB sisi pengeluaran. 18 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI TRIWULAN IV-2012
EKONOMI MAKRO REGIONAL diatas 100, menunjukkan bahwa masyarakat masih optimis memadang perekonomian Jambi. 9 Melambatnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga di triwulan laporan juga tercermin dari menurunnya penjualan kendaraan bermotor. Penjualan sepeda motor mengalami penurunan 52,31%. Penjualan kendaraan roda empat seperti sedan, jeep dan minibus juga menunjukkan penurunan sebesar 3,23%. Sementara itu, penyaluran kredit real estate masih terus meningkat 25,41% (yoy) menjadi sebesar Rp163,38 miliar. Kondisi ini juga didukung dengan melambatnya konsumsi BBM oleh masyarakat. Jumlah konsumsi premium di triwulan laporan 111.482 kilo liter meningkat 5,14% dari tahun lalu tapi masih lebih rendah dari konsumsi triwulan III-2012. Sebaliknya, konsumsi solar juga menunjukkan penurunan 5,08% menjadi 114.133 kilo liter. Jumlah konsumsi premium selama tahun 2012 mencapai 411.920 kilo liter meningkat 8,07% dari tahun lalu sementara konsumsi solar turun 3,76% menjadi 471.588 kilo liter. Pengeluaran konsumsi pemerintah mengalami peningkatan sebesar 1,52% (yoy) melambat dari triwulan lalu 5,50% (yoy) dengan andil pertumbuhan 0,30%. Realisasi penyaluran belanja APBD cenderung meningkat di akhir tahun namun pada tahun 2012 realisasi belanja sudah tersebar semenjak awal tahun. Dengan demikian terjadi perlambatan penyaluran APBD di akhir tahun pada triwulan laporan. Grafik 1.23. Perkembangan Penjualan Premium Kilo Liter 120,000 115,000 110,000 105,000 100,000 95,000 90,000 85,000 95,318 100,155 107,417 106,030 109,381 107,211 113,846 111,482 I II III IV I II III IV Grafik 1.24. Perkembangan Penjualan Solar Kilo Liter 135,000 130,000 125,000 120,000 115,000 110,000 105,000 100,000 129,301 128,048 112,448 124,244 120,237 120,354 112,856 114,133 I II III IV I II III IV 2011 2012 Sumber: PT. Pertamina UPMS II, Palembang 2011 2012 Sumber: PT. Pertamina UPMS II, Palembang 9 Indeks Tendensi Konsumen (ITK) adalah indikator perkembangan ekonomi terkini yang dihasilkanbadan Pusat Statistik melalui Survei Tendensi Konsumen (STK). ITK merupakan indeks yang menggambarkan kondisi ekonomi konsumen pada triwulan berjalan dan perkiraan pada triwulan mendatang. TRIWULAN IV-2012 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI 19
Rp Miliar EKONOMI MAKRO REGIONAL unit 70,000 60,000 50,000 40,000 30,000 20,000 10,000 - Grafik 1.25. Pertumbuhan Pendaftaran Kendaraan Bermotor Grafik 1.26. Pertumbuhan Pendaftaran Sepeda Motor Baru Grafik 1.27. Nominal dan Pertumbuhan Kredit Real Estate di Provinsi Jambi 50,051 47,182 59,071 45,479 34,214 39,296 30,635 23,511 I II III IV I II III IV Sumber: Dispenda Provinsi Jambi 2011 2012 60,000 Sedan, Jeep, Minibus 47,683 50,000 44,449 40,000 30,000 20,000 10,000 55,942 42,106 30,913 Grafik 1.25. Grafik 1.26. unit - 36,299 27,851 20,081 I II III IV I II III IV 2011 2012 Sumber: Dispenda Provinsi Jambi SEPEDA MOTOR 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 Kredit Real Estate Pertumbuhan 71.19 44.85 44.92 42.20 54.25 37.09 34.37 25.41 Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV 80 70 60 50 40 30 20 10 0 2011 2012 Grafik 1.27. 2. Investasi Pembentukan modal tetap domestik bruto (PMTDB) tumbuh 19,93% (qtq) meningkat dibandingkan triwulan lalu yang mencapai 3,34% (qtq). Selama tahun 2012, investasi di Jambi terus menunjukkan peningkatan yang disebabkan oleh tingginya pembangunan fisik baik oleh pemerintah ataupun swasta. Kondisi ini juga didukung oleh peningkatan kredit investasi mencapai 48,91%. Sementara menurut pendapat pengusaha melalui hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU), optimisme pengusaha dalam memandang kondisi bisnis meningkat yang ditunjukkan dengan meningkatnya indeks situasi bisnis dari 6,25% menjadi 10,42%. 20 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI TRIWULAN IV-2012
Rp ribu EKONOMI MAKRO REGIONAL Tabel 1.5 Realisasi Investasi PMA dan PMDN Jambi Keterangan 2012 Tw 1 Tw 2 Tw 3 Tw 4 PMA (USD ribu) 48,952 96,406 5,336 5,628 PMDN (Rp Juta) 19,702 20,772 25,208 394,930 Jumlah investasi PMA yang dicatat oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) terdapat investasi mencapai USD 5.628 ribu selama triwulan IV- 2012 meningkat 5,48% dibandingkan triwulan lalu. Berdasarkan sektornya, investasi PMA terbesar ditujukan untuk perdagangan dan reparasi mencapai USD4.072 ribu (72,36%) diikuti dengan pertambangan USD 1.214 ribu (21,57%). Sejalan dengan itu, investasi PMDN menunjukkan peningkatan yang signifikan dari Rp25,21 miliar di triwulan III-2012 menjadi Rp394,93 miliar di triwulan laporan. Adanya investasi di Industri Kertas, Barang dari kertas dan Percetakan mencapai Rp293,24 miliar menjadi penyumbang utama tingginya investasi Jambi. Grafik 1.28. Pertumbuhan Pendaftaran Truck/Pick Up Baru Grafik 1.29. Nominal dan Pertumbuhan Kredit Investasi di Provinsi Jambi Grafik 1.30. Konsumsi Semen Provinsi Jambi unit 2,500 2,000 1,500 1,000 500 - TRUCK/PICK UP 2,021 1,878 1,839 1,907 1,502 1,564 1,637 1,324 I II III IV I II III IV 4,000 3,500 3,000 2,500 2,000 1,500 1,000 500 - Kredit Investasi (juta Rp) Pertumbuhan (%) 46.91 43.25 41.92 41.27 48.91 33.17 12.83 6.65 TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV 60 50 40 30 20 10 0 2011 2012 2011 2012 Sumber: Dispenda Provinsi Jambi Grafik 1.28. Grafik 1.29. KTon Konsumsi Semen Pertumbuhan 160 140 24.90 27.37 120 100 80 2.81 3.78 60 (5.74) (4.47) 40 20 (10.96) (9.27) - I II III IV I II III IV (%) 30 20 10 0-10 -20 2011 2012 Sumber: Asosiasi Semen Indonesia (ASI), diolah Grafik 1.30. TRIWULAN IV-2012 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI 21
Juta USD EKONOMI MAKRO REGIONAL Pertumbuhan perubahan stok sebesar 8,47% (qtq) lebih rendah dari triwulan sebelumnya yang sebesar 19,93% (qtq). Sementara, pangsa untuk perubahan stok sebesar 2,58%. 3. Perdagangan Eksternal Perkembangan ekspor Provinsi Jambi (ke luar daerah dan luar negeri) dan impor Provinsi Jambi (dari luar daerah dan luar negeri) mengalami penurunan pada triwulan laporan. Ekspor barang (dari luar provinsi maupun luar negeri) turun 0,85% (qtq). Penurunan ini disebabkan oleh menurunnya ekspor antar daerah 5,40% (qtq), sementara ekspor ke luar negeri meningkat 5,70% (qtq). Impor barang (dari luar provinsi maupun luar negeri) turun 4,56% (qtq). Pada triwulan laporan, ekspor Provinsi Jambi mencapai Rp8,77 triliun, lebih tinggi dibandingkan impor yang mencapai Rp7,82 triliun. Berdasarkan dokumen pemberitahuan ekspor barang (PEB), ekspor luar negeri Provinsi Jambi sebesar USD 295,40 juta sedangkan impor USD 30,54 juta. Dengan kondisi tersebut, Provinsi Jambi mengalami net ekspor Grafik 1.31. Perkembangan Ekspor dan Impor Non Migas Provinsi Jambi 800 700 600 500 400 300 200 100 0 561 550 489 539 462 398 467 330 359 21 83 Ekspor Impor Net Ekspor 380 363 285 296 259 28 39 34 17 26 Trw I Trw II Trw III Trw IV Trw I Trw II Trw III 2011 2012 sebesar USD 264,83juta. 3.1. Ekspor Luar Negeri Provinsi Jambi Ekspor ke luar negeri provinsi Jambi pada triwulan laporan mencapai USD 295,40 juta meningkat 3,55% dari triwulan lalu USD 285,24 juta namun masih lebih rendah dari triwulan IV-2012 yang mencapai USD397,94 juta. Meningkatnya ekspor triwulan laporan utamanya disebabkan oleh meningkatnya nilai ekspor batu bara serta pulp dan kertas masing-masing USD 6,71 juta (24,66%) dan USD 7,84 juta (38,61%) dibandingkan triwulan lalu. Meningkatnya nilai ekspor tersebut terutama disebabkan oleh kembali beroperasinya beberapa perusahaan batu bara di Jambi yang sempat tutup akibat merosotnya harga di awal tahun. Harga batu bara yang mulai meningkat kembali menjadi instentif 22 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI TRIWULAN IV-2012
Juta USD Juta USD EKONOMI MAKRO REGIONAL bagi pengusaha untuk kembali meningkatkan produksi. Kondisi ini terlihat dari peningkatan volume batu bara yang lebih tinggi dari peningkatan nilainya yaitu sebesar 64,40%. Sementara itu, produksi pulp dan kertas juga meningkat seiring dengan bertambahnya investasi di bidang usaha ini. Sebaliknya, anjloknya harga kelapa sawit diikuti dengan turunnya nilai ekspor komoditi ini mencapai 2,31% yaitu dari USD 36,54 juta menjadi USD 35,70 juta. Selama tahun 2012, ekspor Jambi turun mencapai 35,40% yang disebabkan oleh menurunnya ekspor hampir semua komoditas utama. Penurunan tersebut selain disebabkan oleh menurunnya harga juga disebabkan oleh menurunnya produksi akibat turunnya permintaan. Berdasarkan komoditasnya, minyak dan lemak sayur (CPO) merupakan komoditas yang mengalami penurunan ekspor tertinggi mencapai 40,59% dengan penurunan volume 28,20%. Untuk mengurangi dampak penurunan permintaan dunia, perusahaan kelapa sawit cenderung untuk menjual hasil produksi di dalam negeri ataupun mencari pangsa tujuan baru. Grafik 1.32. Perkembangan Ekspor Provinsi Jambi 800 700 600 500 400 300 200 100 0 Lainnya Batu Bara, Kokas dan Briket Fixed Vegetable Oil Crude Rubber 15.04 3.55 12.30-11.07-1.86-17.01-24.93-18.68 Trw I Trw II Trw III Trw IV Trw I Trw II Trw III Trw IV 25 15 5-5 -15-25 -35 2011 2012 Grafik 1.33. Perkembangan Nilai Ekspor Lima Komoditi Utama 400 350 300 250 200 150 100 50 0 Karet Mentah Sayur dan buah Minyak, lemak sayur Batu bara, briket Lainnya Trw I Trw II Trw III Trw IV Trw I Trw II Trw III Trw IV 2011 2012 250 200 150 100 50 0 Grafik 1.34. Perkembangan Volume Ekspor Lima Komoditi Utama Karet Mentah Sayur dan buah Minyak, lemak sayur Lainnya Batu bara, briket (RHS) Trw I Trw II Trw III Trw IV Trw I Trw II Trw III Trw IV 2011 2012 1,800 1,600 1,400 1,200 1,000 800 600 400 200 0 TRIWULAN IV-2012 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI 23
Juta USD EKONOMI MAKRO REGIONAL Berdasarkan jenis komoditinya, nilai ekspor terbesar dicapai oleh komoditas karet mentah (crude rubber) sebesar USD 168,10 juta atau 56,91% dari total ekspor non migas, diikuti oleh minyak dan lemak sayur serta batu bara dan briket masing-masing mencapai USD 35,70 juta (12,08% dari total ekspor non migas), dan USD 31,50 juta (10,66% dari total ekspor non migas). Berdasarkan struktur ekspor non migas Jambi, terlihat bahwa ekspor produk primer masih mendominasi baik untuk hasil perkebunan maupun pertambangan. Grafik 1.35. Volume Ekspor Non Migras Provinsi Jambi Lainnya 17.71% Grafik 1.36. Pangsa Ekspor Non Migas Provinsi Jambi Berdasarkan Negara Tujuan 120 100 80 Amerika Serikat Malaysia Singapura Jepang RRC Eropa India Lainnya Batu bara, briket 10.66% Minyak, lemak sayur 12.08% Sayur dan buah 2.63% Karet Mentah 56.91% 60 40 20 0 Trw I Trw II Trw III Trw IV Trw I Trw II Trw III Trw IV 2011 2012 Berdasarkan negara tujuan, menurunnya ekspor Provinsi Jambi dimaksud dipicu oleh menurunnya ekspor ke Malaysia mencapai USD 2,98 juta (7,39%) yang didominasi oleh kelapa sawit. Berdasarkan pangsanya negara tujuan ekspor utama Provinsi Jambi berada di kawasan Asia yang hampir setara dengan 65,28% total ekspor Provinsi Jambi. Jika berdasarkan negara, ekspor utama Jambi di triwulan laporan adalah ke Amerika Serikat yang mencapai USD 53,92 juta (18,14%) diikuti dengan Jepang USD 46,97 juta (15,90%). Berdasarkan negaranya, penurunan ekspor selama tahun 2012 terutama dipicu oleh menurunnya ekspor ke tiga negara yaitu Singapura, Jepang dan RRC. Singapura merupakan salah satu negara persinggahan sebelum memasarkan hasil produksi Jambi ke negara lainnya. Ekspor ke Singapura didominasi oleh karet mentah dimana pada negara ini akan dilakukan pemasaran hasil produksi bersama. Menurunnya permintaan akan karet menjadi penyebab turunnya ekspor ke Singapura. Kondisi yang sama terjadi untuk Jepang yang merupakan salah satu negara tujuan ekspor karet mentah Jambi. Sementara, melambatnya pertumbuhan ekonomi China berdampak pada menurunnya permintaan akan cpo dari Jambi. 24 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI TRIWULAN IV-2012
Juta USD Juta USD Juta USD EKONOMI MAKRO REGIONAL 3.2. Impor Luar Negeri Provinsi Jambi Impor non migas mengalami peningkatan sebesar 17,27% (USD 4,50 juta) jika dibandingkan triwulan lalu menjadi USD 30,54 juta. Meningkatnya jumlah impor tersebut disebabkan oleh meningkatnya impor mesin listrik menjadi USD 4,92 juta (meningkat USD4,34 juta). Grafik 1.37. Perkembangan Impor Non Migas Provinsi Jambi 21-57.67 Pangsa impor Provinsi Jambi pada periode triwulan laporan didominasi oleh kelompok bahan baku USD 28,25 juta (92,50%) diikuti dengan barang modal USD 2,27 juta (7,43%) serta barang konsumsi USD 0,23 juta (0,07%). Meningkatnya impor di triwulan laporan utamanya disebabkan oleh meningkatnya impor bahan baku USD 10,01 juta (54,92%). Meningkatnya investasi di Jambi diikuti dengan meningkatnya impor bahan baku sebagai salah satu bahan pembangunan fisik. Berdasarkan komoditinya, impor Provinsi Jambi terbesar adalah mesin pembangkit tenaga yang mencapai USD 8,04 juta (26,33%), dan mesin industri khusus USD 7,08 juta (23,19%). 83 290.93 Grafik 1.38. Lima Komoditi Tertinggi Nilai Impor Provinsi Jambi 60 50 40 30 20 10 0 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 28-66.78 39 34 17 40.31-12.16-50.21 Impor 26 53.52 Trw I Trw II Trw III Trw IV Trw I Trw II Trw III Trw IV Mesin Industri Tertentu/Khusus Mesi Industri dan Perlengkapannya Alat Pengangkutan Lainnya 2011 2012 Besi dan Baja Mesin Pembangkit Tenaga Lainnya Trw I Trw II Trw III Trw IV Trw I Trw II Trw III Trw IV 2011 2012 g. Impor (RHS) 350 300 250 200 150 31 100 50 17.27 0-50 -100 Grafik 1.39. Impor Non Migas Provinsi Jambi Berdasarkan Jenis Barang 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Barang Konsumsi Barang Modal Bahan Baku Trw I Trw II Trw III Trw IV Trw I Trw II Trw III Trw IV Trw I Trw II Trw III Trw IV 2010 2011 2012 TRIWULAN IV-2012 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI 25
Halaman ini sengaja dikosongkan. This page is intentionally blank.
BAB II INFLASI A. Kajian Umum Pada triwulan IV-2012,inflasi kota Jambi tercatat 4,22% (yoy),lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar 4,43% (yoyy) serta ratarata inflasi triwulan IV dalam tiga tahun terakhir 5,83% (yoyy). Penurunan tersebut juga sejalan dengan menurunnya inflasi nasional dari 4,31% (yoy) menjadi 4,30% (yoy). Berdasarkan asesmen Bank Indonesia, menurunnya inflasi kota Jambi utamanya disebabkan oleh menurunnya inflasi inti dari 5,04% (yoy) menjadi 4,98% (yoy) diikuti dengan penurunan inflasi administered price yaitu dari 6,69% (yoy) menjadi 5,05% (yoy). 13 Kembali terpenuhinya pasokan akan gas elpiji yang sempat menipis ketika bulan puasa dan lebaran, mendorong penurunan harga gas elpiji. Sedangkan menurunnya inflasi inti disebabkan oleh turunnya harga makanan jadi serta bahan konstruksi seperti batu bata dan seng. Di sisi lain, inflasi volatile food masih menunjukkan peningkatan yaitu dari 1,82% (yoy) menjadi 2,33% (yoy). Kenaikan ini bersumber dari meningkatnya harga bahan makanan terutama daging ayam ras yang meningkat 16,73% dengan sumbangan inflasi 0,3260%. Persen (%) Grafik 2.1. Perkembangan Inflasi Kota Jambi 10 5 0 Kota Jambi Nasional 7.99 6.80 5.31 5.54 6.65 3.79 3.97 4.43 4.3 4.45 4.61 3.90 4.53 4.31 4.22 2.76 1 2 3 4 1 2 3 4 2011 2012 13 Perhitungan disagregasi inflasi berdasarkan sub kelompok barang. 27
Banda Aceh Lhokseumawe Batam Palembang Surakarta Tegal Dumai Mamuju Ternate Sibolga Pakanbaru Cirebon Bekasi Pare-Pare Madiun Padang Sidempuan Bima Watampone Medan Tasikmalaya Cilegon Tanjung Pinang Sukabumi Bandung Bogor Mataram Palopo Depok Padang Singkawang Jambi Bandar Lampung Yogyakarta Surabaya Serang Tangerang Jember Jayapura Jakarta Makasar Malang Bengkulu Kediri Sampit Denpasar Pematang Siantar Purwokerto Samarinda Semarang Manokwari Sumenep Kupang Sorong Kendari Gorontalo Palu Probolinggo Banjarmasin Tarakan Manado Balikpapan Maumere Pangkal Pinang Pontianak Ambon Palangkaraya Nasional INFLASI Berdasarkan perhitungan triwulanan, peningkatan harga di triwulan laporan sebesar 0,32% lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,92% serta rata-rata kenaikan inflasi dalam triwulan IV selama tiga tahun terakhir tercatat (1,29%/qtq). Pergerakan angka inflasi bulanan (m-tm) pada bulan Oktober, Novemberdan Desember 2012 masing-masing 0,05%(mt-m);-0,35%(m-t-m); dan 0,62%(m-t-m). Grafik 2.2. Perbandingan Inflasi Core, Volatile Foods, dan Administered Price (yoy) %(y-o-y) 20 Umum Inflasi Inti Volatile Foods Administered Prices 15 10 5 7.98 4.45 5.31 2.75 3.91 6.80 4.43 4.22 0-5 Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV 2011 2012 Dibandingkan dengan kota-kota lain, tingkat inflasi di Kota Jambi masih lebih tinggi dibandingkan Batam, Padang dan Pekan baru, namun masih lebih rendah dibandingkan dengan Bengkulu. 14 15 Grafik 2.3. Perbandingan Inflasi (yoy) Kota Jambi dan 65 Kota di Indonesia per Desember 2012 10 Di bawah Inflasi Nasional Di atas Inflasi Nasional 5 0 14 Sumber: DSM, Bank Indonesia. 28 KAJIANEKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI TRIWULAN IV-2012
INFLASI B. Inflasi Berdasarkan Kelompok Barang Berdasarkan kelompoknya, inflasi Kota Jambi bersumber dari meningkatnya harga kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,62% (qtq) dengan sumbangan inflasi 0,09% (qtq) diikuti oleh kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,43% (qtq) dengan sumbangan inflasi 0,08% (qtq). Tabel 2.1. Perkembangan Inflasi Kota Jambi Inflasi Smbgn Inflasi Smbgn Inflasi Smbgn Inflasi Smbgn I Bahan Makanan -3.50-1.04 6.50 1.89-0.24 (0.07) 0.12 0.04 II Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau 2.03 0.40 1.54 0.31 1.39 0.27 0.43 0.08 III Perumahan, Air, Listrik & Bahan Bakar 3.86 0.77 1.43 0.29 0.93 0.19 0.34 0.07 IV Sandang 1.18 0.07 0.05 0.00 1.84 0.11 0.18 0.01 V Kesehatan 0.46 0.02 0.00 0.00 0.58 0.02 0.61 0.02 VI Pendidikan, Rekreasi & Olahraga 0.76 0.04 0.88 0.05 0.54 0.03 0.08 0.00 VII Transpor, Komunikasi & Jasa Keuangan 0.43 0.06 0.49 0.07 2.54 0.37 0.62 0.09 SumbeSumber: BPS (diolah) KELOMPOK Triwulan I-2012 (q-t-q, %) Triwulan II-2012 (q-t-q, %) Triwulan III-2012 (q-t-q, %) Triwulan IV-2012 (q-t-q, %) INFLASI 0.31 0.31 2.62 2.62 0.92 0.92 0.32 0.32 Tabel 2.2. Perkembangan Inflasi Triwulanan (qtq) serta Tahunan (yoy) Kota Jambi Berdasarkan Kelompok dan Sub Kelompok Barang dan Jasa KELOMPOK/SUBKELOMPOK Triwulan I-2012 Triwulan II-2012 Triwulan III-2012 Triwulan IV-2012 qtq yoy qtq yoy qtq yoy qtq yoy I. BAHAN MAKANAN -3.50-1.13 6.50 7.84-0.24 1.96 0.12 2.65 a. PADI-PADIAN, UMBI-UMBIAN DAN HASILNYA -1.37 7.91 1.53 10.97 5.15 11.52 0.91 6.26 b. DAGING-DAN HASIL-HASILNYA 2.11-1.98 13.97 2.07-10.55-6.95 4.74 9.04 c. IKAN SEGAR -0.47-2.39 0.12-6.76 1.65-4.82 3.83 5.17 d. IKAN DIAWETKAN 9.47 9.83 2.73 8.27 1.05 5.22-1.22 12.25 e. TELUR, SUSU DAN HASIL-HASILNYA 2.38 4.90 0.63 3.57 4.13 7.22 0.18 7.49 f. SAYUR-SAYURAN -1.06 0.10 9.81 6.59 26.98 5.06-9.89 24.30 g. KACANG-KACANGAN -0.11-3.57 0.88-0.01 14.52 12.73 6.10 22.44 h. BUAH-BUAHAN -9.70 2.12-3.19-9.94 16.95 5.27-6.79-4.71 i. BUMBU-BUMBUAN -28.62-22.81 42.69 83.49-37.64-11.89 8.02-31.40 j. LEMAK DAN MINYAK 2.69-4.47-1.74-3.09 1.09-1.72-6.12-4.23 k. BAHAN MAKANAN LAINNYA 3.33 4.36 1.63 5.24 5.89 9.35-1.07 10.02 II. MAKANAN JADI,MINUMAN,ROKOK & TEMBAKAU 2.03 8.51 1.54 8.54 1.39 7.44 0.43 5.48 a. MAKANAN JADI 1.47 8.36 0.26 7.28 1.34 5.77 0.42 3.54 b. MINUMAN YANG TIDAK BERALKOHOL 3.36 5.18 5.22 10.50 2.01 11.55-0.93 9.92 c. TEMBAKAU DAN MINUMAN BERALKOHOL 2.59 10.91 2.40 10.37 1.17 9.03 1.24 7.59 III. PERUMAHAN, AIR, LISTRIK, GAS & BHN BAKAR 3.86 7.14 1.43 8.43 0.93 7.93 0.34 6.69 a. BIAYA TEMPAT TINGGAL 4.63 7.18 3.00 10.18 0.73 9.24 1.56 10.24 b. BAHAN BAKAR, PENERANGAN DAN AIR 3.68 8.64-1.07 7.21 1.58 7.99-1.91 2.20 c. PERLENGKAPAN RUMAHTANGGA 0.19 1.97 0.08 1.51 0.26 0.15-0.03 0.50 d. PENYELENGGARAAN RUMAHTANGGA 3.05 6.60 1.13 7.71 0.64 6.57 0.37 5.28 IV. SANDANG 1.18 7.90 0.05 4.71 1.84 1.80 0.18 3.29 a. SANDANG LAKI-LAKI -0.18 2.74 0.75 1.51 1.21 0.52 0.21 2.00 b. SANDANG WANITA -1.02 6.27-0.06 4.16 0.30-1.04 0.34-0.45 c. SANDANG ANAK-ANAK 5.24 13.98 1.23 10.75 0.52 5.82 0.10 7.19 d. BARANG PRIBADI DAN SANDANG LAINNYA 1.14 9.10-1.29 3.35 4.68 2.23 0.08 4.58 V. KESEHATAN 0.46 1.85 0.00 1.64 0.58 1.29 0.61 1.67 a. JASA KESEHATAN 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 b. OBAT-OBATAN 0.19 0.79 0.19 0.99 2.88 3.27 0.00 3.27 c. JASA PERAWATAN JASMANI 1.86 10.85 0.00 10.85 0.13 6.07 5.44 7.54 d. PERAWATAN JASMANI DAN KOSMETIKA 0.76 2.31-0.13 1.57 0.17 0.51 0.36 1.16 VI. PENDIDIKAN, REKREASI DAN OLAHRAGA 0.76 11.11 0.88 12.03 0.54 2.90 0.08 2.29 a. JASA PENDIDIKAN 0.00 15.82 1.16 17.17 0.56 2.51 0.00 1.73 b. KURSUS-KURSUS / PELATIHAN 2.73 6.14 2.66 8.96 0.77 6.27 0.00 6.27 c. PERLENGKAPAN / PERALATAN PENDIDIKAN 5.66 8.96 1.03 9.89 1.06 9.31-0.19 7.67 d. REKREASI -1.60-0.21-0.87-1.20-0.11-2.54 0.77-1.82 e. OLAHRAGA 0.87 0.28 0.00 0.28 0.06 1.05 0.00 0.93 VII TRANSPOR, KOMUNIKASI & JASA KEUANGAN 0.43 0.54 0.49 0.80 2.54 3.34 0.62 4.13 a. TRANSPOR 0.63 1.01 0.52 1.30 3.82 4.79 0.41 5.46 b. KOMUNIKASI DAN PENGIRIMAN 0.06-1.86 0.00-1.86 0.00 0.06 0.00 0.06 c. SARANA DAN PENUNJANG TRANSPOR 0.00 2.25 1.26 2.83 0.00 1.26 2.94 4.24 d. JASA KEUANGAN 0.00 0.00 0.00 0.00 0.70 0.70 0.00 0.70 INFLASI (UMUM) 0.31 3.90 2.62 6.80 0.92 4.43 0.32 4.22 SumbeSumber: BPS (diolah) TRIWULAN IV-2012 KAJIANEKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI 29
INFLASI Berdasarkan komoditinya (Tabel 2.3.), penyumbang pembentukan inflasi terbesar adalah cabe merah; daging ayam ras; nila(oktober 2012), bawang merah; kontrak rumah; patin (November2012) serta daging ayam ras; bayam dan udang basah (Desember2012). Tabel 2.3. Sumbangan Inflasi Bulanan (mtm) Kota Jambi Berdasarkan Komoditi Periode triwulan IV-2012 TW IV-2012 10 KOMODITAS PENYUMBANG INFLASI 10 KOMODITAS PENYUMBANG DEFLASI Sumbangan OKTOBER OKTOBER TW IV-2012 Sumbangan 1 Cabe Merah 0.1336 1 Kangkung -0.1297 2 Daging Ayam Ras 0.1074 2 Bayam -0.1164 3 Nila 0.0860 3 Bahan bakar rumah tangga -0.0851 4 Tahu Mentah 0.0754 4 Udang Basah -0.0530 5 Kacang Panjang 0.0587 5 Petai -0.0501 6 Nasi 0.0498 6 Daun Singkong -0.0480 7 Pemeliharaan/service 0.0493 7 Tomat Buah -0.0441 8 Tukang bukan mandor 0.0383 8 Minyak Goreng -0.0415 9 Kayu balokan 0.0352 9 Kelapa -0.0292 10 Tomat Sayur 0.0274 10 Gula Pasir -0.0271 Sumbangan 10 Komoditas 0.6611 Sumbangan 10 Komoditas -0.6242 NOVEMBER NOVEMBER 1 Bawang Merah 0.1893 1 Daging Ayam Ras -0.2690 2 Kontrak Rumah 0.0402 2 Cabe Merah -0.1857 3 Patin 0.0400 3 Kacang Panjang -0.1155 4 Sewa Rumah 0.0369 4 Tomat Buah -0.0539 5 Bawang Putih 0.0332 5 Minyak Goreng -0.0336 6 Beras 0.0325 6 Cabe Rawit -0.0281 7 Bahan Bakar Rumah Tangga 0.0317 7 Daun Singkong -0.0276 8 Wortel 0.0289 8 Petai -0.0270 9 Gabus 0.0286 9 Ketimun -0.0258 10 Jeruk 0.0157 10 Telur Ayam Ras -0.0234 Sumbangan 10 Komoditas 0.4770 Sumbangan 10 Komoditas -0.7896 DESEMBER DESEMBER 1 Daging Ayam Ras 0.3260 1 Kacang Panjang -0.0745 2 Bayam 0.1280 2 Minyak Goreng -0.0638 3 Udang Basah 0.0973 3 Bahan Bakar Rumah Tangga -0.0589 4 Bawang Merah 0.0953 4 Cabe Merah -0.0447 5 Kangkung 0.0420 5 Pisang -0.0426 6 Tomay Sayur 0.0367 6 Gula Pasir -0.0195 7 Angkutan Udara 0.0310 7 Patin -0.0181 8 Beras 0.0269 8 Petai -0.0171 9 Cumi-cumi 0.0178 9 Jeruk -0.0163 10 Nila 0.0178 10 Bawang Putih -0.0133 Sumbangan 10 Komoditas 0.8188 Sumbangan 10 Komoditas -0.3688 Sumber : BPS (diolah) 1. Kelompok Bahan Makanan Kelompok bahan makanan mengalami inflasi 0,12% (qtq) dengan sumbangan inflasi 0,04% lebih rendah dari rata-rata inflasi tiga tahun terakhir yang sebesar 1,96% (qtq). Cukup stabilnya harga bahan makanan tersebut bersumber dari menurunnya harga bumbu-bumbuan dan sayur-sayuran yang masing-masing turun 6,79% dan 9,89%. Di samping itu, adanya program 30 KAJIANEKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI TRIWULAN IV-2012
INFLASI peningkatan produksi bahan makanan selama tahun 2012 ikut menyebabkan terkendalinya harga bahan makanan. Inflasi bahan makanan selama tahun 2012 tercatat 2,65% (yoy), lebih rendah dari rata-rata tiga tahun terakhir yang sebesar 5,65% (yoy). Menurunnya harga sub kelompok bumbu-bumbuan didorong oleh menurunnya harga cabe merah 19,43% (qtq) yaitu dari rata-rata Rp20.583.kg menjadi Rp16.583/kg. Kembali stabilnya harga setelah perayaan hari besar keagamaan mendorong Grafik 2.4. Perkembangan Harga Bumbu-bumbuan (Rp/kg) 30,000 Cabe Merah Keriting Cabe merah Biasa Bawang Merah 20,000 10,000-1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 2012 Sumber: Disperindag Provinsi Jambi penurunan harga tersebut. Di samping itu, tingginya pasokan baik dari dalam maupun luar provinsi Jambi ikut menyebabkan stabilnya harga. Namun demikian, harga bawang merah menunjukkan peningkatan 14,38% dari triwulan sebelumnya. Mayoritas pasokan bawang merah didapatkan dari pulau Jawa sehingga menurunnya produksi dari daerah sentra berdampak pada kenaikan harga di Jambi. Harga daging ayam ras turun 11,78% (qtq) yaitu dari Rp26.167/kg menjadi Rp23.083/kg. Pada triwulan lalu, harga daging ayam ras sempat meningkat sejalan dengan kondisi di tingkat nasional. Kenaikan dimaksud disebabkan oleh meningkatnya harga DOC ayam akibat usaha mencari keuntungan lebih dari petani menjelang bulan puasa serta tingginya permintaan menjelang bulan puasa. Namun demikian, harga tersebut sudah kembali stabil dalam triwulan laporan. pada bulan Agustus dan September, harga daging ayam ras perlahan-lahan turun menjadi Rp23.645/kg dan Rp22.733/kg menuju harga normal sehingga terjadi deflasi di triwulan laporan. Harga jagung yang merupakan pakan utama ternak relatif stabil selama triwulan laporan yaitu Rp5.000/kg sama dengan harga akhir triwulan lalu. Sementara itu, harga daging sapi meningkat 2,42%. Setelah mengalami peningkatan pasca perayaan hari besar keagamaan, harga daging sapi belum TRIWULAN IV-2012 KAJIANEKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI 31
INFLASI memnunjukkan penurunan kembali, bahkan terus meningkat. Pada bulan Desember harga daging sapi Rp90.000/kg lebih tinggi dari harga September Rp88.750/kg. Perkembangan harga sub kelompok ikan segar relatif stabil pada triwulan laporan, yaitu mengalami inflasi namun dengan angka yang relatif kecil tercatat 3,83% (qtq). Grafik 2.5. Perkembangan Harga Jagung Grafik 2.6. Perkembangan Harga Daging (USD/Bushel) 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 Jagung internasional (aksis kiri) Jagung pipilan kering (aksis kanan) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 2011 2012 Sumber: Bloomberg & Disperindag Prov. Jambi (Rp/Kg) 9000 8000 7000 6000 5000 4000 3000 2000 1000 0 (Rp/Kg) 60,000 50,000 40,000 30,000 20,000 10,000-1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Sumber: Disperindag Provinsi Jambi Daging Ayam Broiler (aksis kiri) Daging Sapi Murni (aksis kanan) 2012 (Rp/Kg) 90,000 85,000 80,000 75,000 70,000 65,000 60,000 55,000 50,000 Grafik 2.7. Perkembangan Harga Beras 15 (USD/CWT) 600 500 400 300 200 100 0 (Rp ribu/kg) 200 180 160 140 120 100 Beras internasional (aksis kiri) 80 60 Beras King (aksis kanan) 40 Sumber: Bloomberg & Disperindag Prov. Jambi 20-1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 2011 2012 Perkembangan harga beras mengalami peningkatan untuk beras kualitas premium dengan kisaran 2 4% (qtq), Di tingkat internasional harga beras juga meningkat 4,91%. Musim panen beras di wilayah timur Jambi dimulai pada bulan Desember sementara di wilayah barat pada bulan Februari. 15 Cwt maksudnya hundredweight (100 pounds). 1 pounds setara dengan 453,59 gram/0,453 kg. Jadi 100 pounds sekitar 45,3 kg. 32 KAJIANEKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI TRIWULAN IV-2012
INFLASI Perkembangan harga tepung terigu merek Segitiga Biru sedikit meningkat menjadi Rp7.500/kg. Di tingkat internasional harga gandum yang merupakan bahan baku tepung terigu meningkat 0,67% (qtq). 16 2011 2012 Sumber: Bloomberg & Disperindag Prov. Jambi Harga rata-rata Crude Grafik 2.9. Perkembangan Harga CPO dan Minyak Goreng (Ringgit/Ton) 2000 1500 1000 500 0 Palm Oil(CPO) internasional yang meningkat di awal tahun kembali mengalami penurunan di triwulan laporan. Harga rata-rata CPO internasional mencapai USD 715/metric ton turun 21,66% (qtq) dari triwulan sebelumnya yang sebesar USD 912/metric ton. Harga minyak goreng juga menunjukkan penurunan mencapai 10,31% yaitu dari rata-rata Rp10.127/kg menjadi Rp9.083/kg. 2. Kelompok Makanan Jadi Kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau mengalami inflasi 5,48% (yoy) dengan laju inflasi triwulanan 0,43% (qtq). Berdasarkan sub kelompoknya, urutan inflasi tertinggi tercatat pada sub kelompok tembakau dan minuman beralkohol 1,24% (qtq), diikuti sub kelompok makanan jadi (0,42%/qtq) sementara sub kelompok minuman yang tidak beralkohol turun (1,17%/qtq). 3. Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar Kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar pada triwulan IV- 2012 mengalami inflasi sebesar 0,34% (qtq) dengan laju inflasi tahunan mencapai 6,69% (yoy) yang artinya lebih tinggi dari inflasi Jambi yang sebesar 4,22% (yoy). 16 Satu bushel setara dengan 27 kg. CPO internasional (aksis kiri) Minyak goreng lokal (aksis kanan) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2011 2012 Sumber: Bloomberg & Disperindag Prov. Jambi Grafik 2.8. Perkembangan Harga Tepung Terigu (USD/Bushel) 9 8 7 6 5 4 3 2 Wheat/Gandum (aksis kiri) 1 0 Tepung Terigu lokal (aksis kanan) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 (Rp/Kg) 12.000 11.000 10.000 9.000 8.000 7.000 6.000 5.000 TRIWULAN IV-2012 KAJIANEKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI 33 (Rp/Kg) 9000 8000 7000 6000 5000
INFLASI Berdasarkan sub kelompoknya, inflasi tertinggi dialami oleh biaya tempat tinggal yang meningkat 1,54% (qtq) atau 10,24% (yoy) dari posisi yang sama tahun lalu. Peningkatan tersebut bersumber dari meningkatnya biaya kontrak rumah yang meningkat 18,98% (yoy) dengan sumbangan inflasi tahun 2012 mencapai 0,866%. 4. Kelompok Sandang Kelompok sandang pada triwulan IV-2012 mengalami inflasi sebesar 3,29% (yoy) meningkat dari triwulan sebelumnya 1,80% (yoy). Berdasarkan sub kelompoknya, inflasi triwulan laporan terutama disumbangkan oleh sub kelompok barang pribadi dan sandang lainnya sebesar 4,58% (yoy). Relatif meningkatnya inflasi tersebut disebabkan oleh meningkatnya harga emas pada triwulan laporan. Harga rata-rata emas meningkat 3,68% (qtq) dibandingkan dengan rata-rata triwulan lalu menjadi USD 1.717,64/troy ounce. 17 5. Kelompok Kesehatan Harga komoditi yang tergabung dalam kelompok kesehatan meningkat 0,61% (qtq) dibandingkan triwulan sebelumnya. Kenaikan bersumber dari meningkatnya harga jasa perawatan jasmani mencapai 5,44% (qtq). Sementara harga komoditi lainnya relatif stabil. 6. Kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga Kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga mengalami inflasi sebesar 0,08% (qtq) lebih rendah dari triwulan sebelumnya yang sebesar 0,54% (qtq). Inflasi tertinggi disumbangkan oleh sub kelompok rekreasi 0,77% sementara sub kelompok perlengkapan dan peralatan pendidikan mengalami penurunan harga 0,19% dibandingkan triwulan lalu. Grafik 2.10. Perkembangan Harga Emas di Pasar Internasional (USD/troy ounce) 2000.00 1500.00 1000.00 500.00 0.00 Emas internasional (aksis kiri) Sumber: Bloomberg & BPS Prov. Jambi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 2011 2012 17 Sumber: Bloomberg.1 (satu) troy ounce setara dengan 31,1034768 gram (http://en.wikipedia.org) 34 KAJIANEKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI TRIWULAN IV-2012
INFLASI 7. Kelompok Transportasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan Perkembangan harga yang terjadi pada kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan mengalami peningkatan 0,62% (qtq) dengan sumbangan inflasi sebesar0,09% (qtq). Berdasarkan sub kelompoknya, kenaikan tersebut bersumber dari meningkatnya sub kelompok sarana dan penunjang transpor 2,94%. Selama tahun 2012, inflasi kelompok transpor mencapai 4,13% (yoy) dengan sumbangan inflasi 0,59%. Inflasi tersebut utamanya disebabkan oleh kenaikan biaya transpor mencapai 5,46% diikuti dengan sub kelompok sarana dan penunjang transpor 4,24%. Berdasarkan komoditasnya, kenaikan biaya angkutan udara mencapai 37,21% selama tahun 2012 menjadi penyumbang utama inflasi tersebut. Biaya angkutan udara cenderung meningkat pada waktu-waktu tertentu seperti hari besar keagamaan, dan libur sekolah. Namun demikian, kenaikan tersebut cenderung persisten dimana ketika hari besar telah berlalu harga masih belum menunjukkan penurunan. Harga rata-rata minyak di pasar internasional menurun dibandingkan periode triwulan III-2012 yaitu dari USD 92,12/barrel, turun 4,32% menjadi USD 88,14/barrel. Grafik 2.11. Perkembangan Harga Minyak di Pasar Internasional Harga Minyak (USD/Barrel) 125.00 100.00 75.00 50.00 25.00 0.00 Sumber: Bloomberg 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 2011 2012 TRIWULAN IV-2012 KAJIANEKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI 35
Halaman ini sengaja dikosongkan. This page is intentionally blank.
Boks.1 UPAYA PENINGKATAN KETAHANAN PANGAN DI PROVINSI JAMBI Ketahanan pangan (food security) adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan secara cukup baik (jumlah dan mutu), aman, merata dan terjangkau sehingga merupakan salah satu isu penting berkaitan dengan ketersediaan pangan (availability dan stability), distribusi (accessibility), dan serapan pangan (food utilization) yang pada akhirnya mempengaruhi ketahanan sosial, stabilitas sosial, ketahanan nasional serta stabilitas ekonomi termasuk pengendalian inflasi (harga) secara umum. Penggolongan pangan yang digunakan FAO dikenal sebagai Desirable Dietary Pattern (Pola Pangan Harapan/PPH) yaitu susunan beragam pangan yang didasarkan pada sumbangan energi dari kelompok pangan utama (baik secara absolute maupun relatif) dari suatu pola ketersediaan atau konsumsi pangan. Di dalam PPH ada sembilan kelompok pangan yaitu:(1) Padi-padian (2) Umbi-umbian (3) Pangan Hewani (4) Minyak dan lemak (5) Buah/biji (6) Kacang-kacangan (7) Gula (8) Sayur dan buah (9) Lain-lain:Teh, kopi, bumbu-bumbuan, makanan dan minuman yang mengandung alkohol. Diantara sembilan kelompok pangan tersebut pola konsumsi pangan penduduk Indonesia saat ini didominasi padi-padian (beras) sehingga upaya peningkatan produksi padi masih menjadi prioritas pemerintah dalam mengatasi persoalan pangan nasional. Aspek fundamental dalam ketahanan pangan adalah ketersediaan pangan dalam jumlah dan kualitas yang memadai melalui peningkatan produktivitas dan produksi bahan pangan serta melalui perbaikan manajemen cadangan makanan. Pemenuhan ketersediaan pangan ini terkait peningkatan permintaan pangan yang lebih cepat akibat peningkatan jumlah penduduk, daya beli masyarakat, pertumbuhan ekonomi dan perubahan selera dibandingkan pertumbuhan penyediaannya yang dapat menimbulkan kesenjangan. Ketahanan pangan di Provinsi Jambi yang strategis mencakup ketersediaan komoditas padi (beras), tebu (gula pasir), cabe merah dan bawang merah sehingga penting melihat peta kondisi produksi dan ketersediaan pangan, serta mengidentifikasi pola perdagangan dan distribusi antar daerah dan identifikasi kendala, potensi dan rekomendasi ketahanan pangan di Provinsi Jambi. Tujuan Penelitian 1. Mengidentifikasi potensi sektor pertanian khususnya komoditas padi, tebu, bawang merah, dan cabe merah di Provinsi Jambi 2. Mengidentifikasi permasalahan (kendala) dalam sektor pertanian dalam kaitannya dengan upaya pencapaian ketahanan pangan di Provinsi Jambi 3. Menggali upaya yang telah dilakukan oleh SKPD untuk mengembangkan pertanian dan pencapaian ketahanan pangan ditinjau berdasarkan komoditas 4. Merumuskan langkah-langkah strategis dalam mencapai ketahanan pangan di Jambi
Ketahanan Pangan di Provinsi Jambi Kondisi Geografis Provinsi Jambi Luas penutup/penggunaan lahan di Provinsi Jambi (tahun 2011) didominasi hutan (31,43%), kebun campur (16,09%), perkebunan lain (14,03%),perkebunan sawit (15,74%), semak/belukar (10,70%), sawah 2,62%, pemukiman 0,95% dan sisanya berupa mangrove, tanah terbuka dan tambak/empang dan lainnya. Produktivitas Padi, Cabe Merah dan Bawang Merah di Provinsi Jambi Tabel Luas Sawah, Produktivitas Padi, Cabe Merah dan Bawang Merah Provinsi Jambi tahun 2011 Kabupaten Sawah Padi Cabe Merah Bawang Merah Luas Luas Luas Sawah Luas Panen Hasil/Ha Produksi Lahan Produksi Lahan Produksi (ha) % (ha) (ku) ( ton) (ha) (ku) (ha) (ku) Tanjabtim 41.437 32,34 28.345 31.07 88.061 278 4.045 0 0 Tanjabbar 18.207 14,21 24.501 36.95 90.542 116 11.957 0 0 Muaro Jambi 14.987 11,70 8.882 44.48 39.506 194 7.032 0 0 Kerinci 13.190 10,30 26.018 51.86 134.94 1.602 171.276 764 78.608 Bungo 8.605 6,72 9.854 40.17 39.587 115 3.231 0 0 Merangin 6.258 4,88 21.803 38.3 83.509 346 29.321 23 586 Sarolangun 5.028 3,92 12.324 40.77 50.248 70 1.995 0 0 Batanghari 5.028 3,92 8.663 47.89 41.489 47 2.449 0 0 Tebo 4.963 3,87 8.298 36.58 30.357 63 1.522 0 0 Kota Jambi*) 0 0 1.155 41.25 4.765 21 1.229 0 0 Provinsi Jambi 128.116 100,00 157.44 41.07 646.64 2.900 235.274 803 79.927 Sumber : Dinas Pertanian Provinsi Jambi (2012) Dari data diatas terlihat hal-hal sebagai berikut: 1. Sawah terluas ada di Kabupaten Tanjung Jabung Timur namun produktivitas padi per hektare-nya terendah karena terkait kualitas sumber daya lahan sawah yang sebagian besar terkontaminasi besi (Pirit) sedangkan produktivitas sawah tertinggi adalah Kabupaten Kerinci yang disebabkan pengelolaan dan sistem irigasi yang ada. 2. Produktivitas cabe merah tertinggi yaitu Kabupaten Kerinci dan Merangin. Dalam hal penanaman, petani di kedua kabupaten tersebut menerapkan teknologi budidaya dengan mulsa plastik hitam perak dan didukung pemupukan unsur makro dan mikro (pupuk pelengkap cair). 3. Saat ini bawang merah hanya ditanam di Kabupaten Kerinci dan Merangin sedangkan kabupaten lain tidak ditanam karena kabupaten tersebut tidak memiliki dataran tinggi yang merupakan kontur yang ideal untuk penanaman bawang merah. 4. Produksi tebu saat ini mulai diprioritaskan Kabupaten Kerinci selain padi, cabe merah dan bawang merah. Tebu yang diupayakan adalah tebu varietas lokal dengan produk akhir berupa gula merah. Terlihat dari Kelompok Tani Sungai
Gedang yang fokus membudidayakan tebu lebih dari 26 hektare mampu menghasilkan 36 ton tebu per tahunnya dengan hasil berupa gula merah dan mensuplai tebu untuk industri kecap di Sumatera Barat. Isu dan Kendala dalam Perkembangan Pangan di Provinsi Jambi Beberapa isu dan kendala terkait dengan perkembangan pangan di Provinsi Jambi antara lain: 1. Terjadinya alih fungsi lahan dan trend kelapa sawit sehingga luas lahan dan produksi pangan semakin berkurang. 2. Belum adanya rencana tata ruang wilayah yang mantap untuk menetapkan alokasi lahan pertanian. 3. Terbatasnya kemampuan sumber daya manusia dalam hal pengembangan dan peningkatan produksi tanaman pangan. 4. Belum memadainya prasarana dan sarana transportasi yang memudahkan akses distribusi produksi pangan sehingga biaya distribusi pangan menjadi cukup tinggi. 5. Kelembagaan pangan berupa lumbung pangan kurang berfungsi. 6. Terbatasnya sistem informasi harga faktor produksi dan harga jual produksi tanaman pangan di tingkat petani sehingga petani mendapatkan harga jual yang cukup rendah dan tidak sebanding dengan biaya produksi yang dikeluarkan. 7. Benih bermutu sulit didapat dan penggunaan pupuk yang tidak berimbang (disebabkan mahalnya pupuk). Upaya Peningkatan Sektor Pertanian 1. Peningkatan produksi pertanian Upaya peningkatan produksi pertanian saat ini masih fokus pada padi saja sedangkan cabe merah dan bawang merah baru sebatas subsidi sarana produksi saja. Adapun upaya peningkatan produksi padi melalui: a. Intensifikasi yaitu melalui program subsidi input sarana produksi pertanian seperti pupuk dan pestisida, alat dan mesin pertanian (alsintan) bagi kelompok tani, sistem budidaya mutakhir seperti sistem tanam jarwo (jajaran legowo) dan SRI (system of rice intensification), peningkatan indeks pertanaman (IP) menjadi dua atau tiga kali dalam setahun, perbaikan sistem irigasi dan drainase. b. Ekstensifikasi memiliki banyak tantangan karena persaingan dengan pengembangan infrastruktur, pemukiman, trend budidaya sawit dan beralih ke komoditas hortikultura yang dapat dipanen beberapa kali dalam setahun. Namun peluang ekstensifikasi ini masih terbuka mengingat penutupan lahan semak belukar dan rawa masih potensial dijadikan lahan sawah. 2. Aspek Distribusi Tanaman Pangan di Provinsi Jambi Sistem distribusi tanaman pangan untuk mengupayakan pengalokaksian pangan kepada masyarakat secara efektif dan efisien dan mendorong terciptanya stabilitas harga pangan di tingkat produsen dan konsumen. Kegiatan yang dilaksanakan melalui: a. Penguatan Lembaga Distribusi Pangan
Penguatan Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (LDPM) adalah upaya pemberdayaan kelompok tani dan gabungan kelompok tani dalam pengelolaan distribusi pangan melalui pembelian, penyimpanan, pengolahan dan pemasaran untuk mendorong stabilitas harga gabah/beras/jagung di tingkat petani dan mengembangkan cadangan pangan masyarakat. Di Provinsi Jambi, LDPM telah dilaksanakan di Kabupaten Kerinci dalam bentuk bantuan sosial sebesar Rp100.000.000,00 kepada kelompok tani yang tergabung dalam GAPOKTAN untuk menjaga stabilitas harga produksi. b. Pemberdayaan Lumbung Pangan Masyarakat Lumbung pangan di Provinsi Jambi sebagian besar sudah tidak berfungsi dengan baik karena produksi pangan langsung dijual ke pasar atau ke pedagang. Mengatasi hal tersebut Badan Ketahanan Pangan Provinsi Jambi memberikan bantuan berupa pembangunan fisik lumbung, pengisian cadangan pangan dan penguatan modal. Di Kabupaten Kerinci, pengembangan lumbung pangan dengan memberikan bantuan sosial kepada 6 (enam) kelompok tani di Desa Mandiri Pangan. c. Stabilisasi Harga Pangan Fluktuatif harga pangan disebabkan beberapa hal diantaranya pengaruh produksi (musiman), permintaan (daya beli), spekulasi, prasarana dan sarana produksi, harga dunia, dan variabel makro ekonomi. Upaya yang dilakukan Pemerintah Provinsi Jambi melalui operasi pasar untuk mencegah lonjakan harga khususnya pada hari-hari besar, menyediakan sistem informasi produksi, konsumsi dan harga bulanan produk tanaman pangan sehingga petani mendapatkan harga yang sesuai dan cukup baik. 3. Program Pemerintah Daerah Provinsi Jambi a. Kabupaten Merangin ditetapkan kawasan strategi cepat tumbuh dengan format agropolitan dan minapolitan serta menetapkan Kawasan Masurai sebagai kawasan pertanian terpadu sebagai upaya penyangga terhadap alih fungsi lahan yang tidak terkendali. b. Kabupaten Tanjung Jabung Timur dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Timur tahun 2011-2013 menetapkan kawasan lahan pertanian berkelanjutan seluas 17.000 hektare dan Gertak Tanpa Dusta c. Kabupaten Tanjung Jabung Barat dengan Gertak Paduka yaitu gerakan tanam dua kali setahun. KESIMPULAN 1. Permasalahan program ketahanan pangan di Provinsi Jambi adalah permasalahan infrastruktur jalur transportasi yang belum memadai menyebabkan jalur distribusi pengadaan input maupun pemasaran hasil produksi menjadi terhambat. 2. Pemerintah Provinsi Jambi melalui SKPD-SKPD melakukan program peningkatan ketahanan pangan yaitu Program optimalisasi lahan, Program subsidi produksi, Program bantuan pengembangan agroindustri gula, dan program subsidi beras. 3. Mengembangkan sistem ketahanan pangan di Provinsi Jambi yang kokoh melalui suatu kondisi yang kondusif sehingga sub sistem produksi, ketersediaan pangan,
distribusi, dan konsumsi pangan dapat berfungsi dan berkembang secara sinergis dan berkesinambungan. 4. Meningkatkan produksi pangan di Provinsi Jambi melalui beberapa alternatif kegiatan seperti: a. Pemantapan rencana tata ruang wilayah, penataan, pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya lahan pangan. b. Perbaikan, pemeliharaan, dan peningkatan infrastruktur pendukung produksi pertanian seperti sistem irigasi untuk meningkatkan frekuensi tanam dan produktifitas lahan. c. Revitalisasi peran koperasi dalam pengadaan dan penyaluran input dan pemasaran hasil pertanian. 5. Pengembangan ketersediaan pangan di Provinsi Jambi melalui beberapa alternatif program kegiatan seperti: a. Pengaturan ekspor dan impor pangan untuk menjamin ketahanan pangan. b. Pengembangan teknologi dan produk pangan olahan bermutu dan aman berbasis sumberdaya pangan lokal. c. Pengembangan kerjasama jaringan distribusi dan informasi pangan baik inter maupun intra provinsi dan kabupaten/ kota di wilayah Provinsi Jambi. SARAN 1. Mengembangkan sistem ketahanan pangan di Provinsi Jambi yang kokoh melalui suatu kondisi yang kondusif sehingga sub sistem produksi, ketersediaan pangan, distribusi, dan konsumsi pangan dapat berfungsi dan berkembang secara sinergis dan berkesinambungan. 2. Meningkatkan produksi pangan di Provinsi Jambi melalui peningkatan ketersediaan dan kualitas data sumberdaya lahan potensial untuk produksi pangan. a. Pemantapan rencana tata ruang wilayah, penataan, dan penetapan alokasi lahan pertanian dan lahan abadi dengan peraturan daerah dalam rangka mencegah dan mengendalikan alih fungsi lahan. b. Perbaikan, pemeliharaan, dan peningkatan infrastruktur pendukung produksi pertanian dan pengembangan sistem penyuluhan dan pendampingan dalam produksi dan pemanfaatan hasil pertanian. c. Revitalisasi peran koperasi dalam pengadaan dan penyaluran input dan pemasaran hasil pertanian. d. Pengembangan teknologi produksi terutama untuk teknologi pasca panen, khususnya untuk menekan kehilangan pasca panen pada saat proses perontokan, pengeringan, penggilingan, maupun transportasi. 3. Pengembangan ketersediaan pangan di Provinsi Jambi melalui beberapa alternatif program kegiatan seperti: a. Peningkatan kemampuan dan kerjasama pemerintah daerah, masyarakat dan swasta secara sinergis dalam pengadaan dan pengelolaan cadangan. b. Pengaturan ekspor dan impor pangan untuk menjamin ketahanan pangan. c. Pengembangan teknologi dan produk pangan olahan bermutu dan aman berbasis sumberdaya pangan lokal.
d. Pengembangan kerjasama jaringan distribusi dan informasi pangan baik inter maupun intra provinsi dan kabupaten/ kota di wilayah Provinsi Jambi. 4. Pengembangan distribusi dan aksesibilitas pangan di Provinsi Jambi. Ada beberapa alternatif kegiatan yang dapat dilakukan antara lain: a. Peningkatan efisiensi dan kelancaran distribusi pangan. b. Peningkatan pengawasan kelancaran pasokan pangan dan stabiltas harga pangan utama. c. Peningkatan upaya pemberdayaan masyarakat untuk peningkatan daya beli pangan melalui kegiatan produktif dan berkesinambungan.
Boks.2 PRODUKSI DAN DISTRIBUSI BERAS DI PROVINSI JAMBI Latar Belakang Produksi beras di Jambi mencapai 628.828 ton pada tahun 2010. Produksi beras dari tahun ke tahun memang menunjukkan peningkatan dalam hal volume namun dengan laju yang relatif kecil. Berdasarkan sebarannya, daerah penghasil beras terutama terletak di Kabupaten Kerinci dengan total produksi 27% dari produksi provinsi, diikuti dengan Tanjung Jabung Timur (16%) dan Tanjung Jabung Barat (12%). Grafik 1 Produksi Beras Jambi Grafik 2 Penyebaran Produksi Beras Jambi 700.000 600.000 500.000 Lainnya 18% Kerinci 27% 400.000 300.000 200.000 100.000-2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Sarolang un 10% Bungo 6% Merangi n 11% Tanjabba r 12% Tanjabti m 16% Apabila kita bandingkan dengan jumlah konsumsi, maka Jambi termasuk wilayah yang surplus beras dimana produksi mencapai 628.828 ton sementara konsumsi beras 417.301 ton sehingga terdapat surplus beras sebesar 211.527 ton. Berdasarkan wilayahnya, 6 (enam) wilayah mengalami surplus beras yaitu Kerinci, Tanjabtim, Tanjabbar, Sarolangun, Merangin, dan Batanghari sementara 4 (empat) wilayah lainnya yaitu Bungo, Muaro Jambi, Tebo dan dan Kota Jambi mengalami defisit beras. Grafik 3 Penyebaran Produksi Beras Jambi Kota Jambi Tebo Muaro Jambi Bungo Batanghari Merangin Sarolangun Tanjung Jabung Barat Tanjung Jabung Timur Kerinci (100.000) (50.000) - 50.000 100.000 150.000
Karakteristik Petani Beras Untuk mengidentifikasi pola perdagangan antar daerah yang mencakup analisa, mengenai masalah transportasi, sistim logistik (pergudangan), pola konsumsi masyarakat, pola distribusi, dan rantai tata niaga, telah dilaksanakan survei kepada petani maupun pedagang beras. Jumlah responden petani padi yang disurvei sebanyak 19 orang yang tersebar di Kerinci (26%), Batanghari (21%), Merangin (21%), Tanjabbar (21%) dan Sarolangun (11%). Mayoritas petani bekerja pada lahan basah (95%) sementara hanya 5% yang bekerja pada lahan kering. Lahan tersebut sebagian besar sudah dimiliki oleh petani (53%), walaupun masih terdapat 37% petani yang bekerja pada lahan sewa dan 10% yang bekerja pada lahan garapan. Jenis padi yang ditanam adalah padi lokal (48%) diikuti dengan Ciherang (33%) dan IR-64 (14%) dan Inpari (5%). Berdasarkan hasil survei diketahui bahwa dalam setahun rata-rata petani menanam sebanyak 2 (dua) kali yaitu awal tahun (Maret/April) serta akhir tahun (September) dengan rata-rata luas lahan yang digarap di relatif kecil yaitu 0,1 1 Ha/masa tanam. Masa panen yang terjadi juga cukup merata, dengan hasil panen terbesar pada bulan Januari dan Juni. Dari sisi komponen biayanya, proporsi biaya terbesar yang dikeluarkan selama masa pra panen adalah biaya tenaga kerja (25,88%), diikuti oleh biaya peralatan (24,24%) dan bibit (18,04%). Keseluruhan komponen input tersebut seperti bibit, pupuk, obat pengendalian hama maupun tenaga kerja berasal dari daerah setempat (satu lokasi dengan responden). Seperti halnya biaya pra panen, mayoritas biaya pasca panen adalah untuk biaya tenaga kerja (34,58%), diikuti oleh biaya penggilingan padi (16,40%) dan biaya peralatan panen (15,13%). Tabel 1 Ringkasan Hasil Survei Mengenai Produksi Padi Kategori Keterangan Beras Sebaran Daerah Kerinci, Merangin, Batanghari, Tanjab Jenis Lahan Lahan Basah Status Kepemilikan Milik Sendiri, Sewa Produksi Jenis yang ditanam Beras lokal Periode Tanam Maret/April, September Periode Panen Januari, Juni Pangsa Biaya Terbesar (Tanam) Tenaga Kerja, Peralatan Pangsa Biaya Terbesar (Panen) Tenaga Kerja Dari hasil survei hanya sedikit responden yang menjual hasil produksi sebelum berlangsungnya panen yaitu sebesar 11%, sementara 89% lainnya memilih untuk menjual setelah panen berlangsung. Pola distribusi padi/beras berdasarkan jawaban responden sebagian besar menjual di kota/kabupaten yang sama terutama melalui pengepul (54%), diikuti konsumen langsung (35%) dan koperasi (11%). Mengingat penjualan kepada konsumen untuk kebutuhan rumah tangga dalam volume yang relatif sedikit, maka dapat disimpulkan dari persepsi responden petani pola distribusi beras kepada konsumen secara luas hanya melalui satu jalur yaitu pengepul di Kab./Kota yang sama (setempat). Pengepul inilah yang nantinya akan membawa beras tersebut ke Kota, Kabupaten ataupun provinsi lainnya.
Tabel 2 Ringkasan Hasil Survei Mengenai Distribusi dan Stok Pergudangan Petani Padi Kategori Keterangan Beras Dijual Sebelum Panen 11% Distribusi Pola Distribusi Petani - Pengepul Lokasi Penjualan Kabupaten sama Stok dan Pegudangan Penggunaan Bahan Makanan Dijual (37%), Disimpan (32%) dan Dikonsumsi (31%) Menggunakan Gudang 1 Responden (5%) Lokasi Gudang Kelurahan Sama Lama Penyimpanan 6-12 bulan Hasil produksi tersebut sebagian besar (37%) langsung dijual, kemudian 32% hasil produksi disimpan untuk dijual sampai masa panen berikutnya sedangkan sisanya 31% dikonsumsi sendiri oleh petani. Mayoritas hasil panen yang langsung dijual tesebut menunjukkan bahwa petani membutuhkan cashflow yang cukup untuk digunakan sebagai modal penanaman berikutnya. Selanjutnya, hanya 1 (satu) orang responden (5%) mengunakan fasilitas penyimpanan/gudang untuk menyimpan hasil produksi dengan sebaran lokasi gudang hanya pada sekitaran kelurahan yang sama saja dengan jangka waktu penyimpanan selama 6-12 bulan. Distribusi Perdagangan Beras Penjualan beras dimulai dari petani kepada pengepul. Pengepul sebagian besar berada di kabupaten/kota yang sama dengan petani yang kemudian melakukan penjualan lintas daerah. Dari pedagang pengepul, beras kemudian mayoritas dijual ke pedagang besar kemudian ke pedagang pengecer dan konsumen. Untuk sumber pasokan beras di Jambi sebagian besar berasal dari pedagang pengepul di luar provinsi Jambi (89%) yang terdiri atas Sumatera Selatan (44%), Lampung (22%), Sumbar (22%) serta dari dalam provinsi Jambi yaitu Kerinci (11%). Selanjutnya, pedagang pengepul menjual beras kepada pedagang-pedagang besar yang mayoritas sudah berada di kota/kabupaten yang sama (59%). Pedagang besar ini yang akan mendistribusikan beras kepada pedagang pengecer di pasar-pasar. Grafik 4 Jalur Distribusi Beras di Jambi 82,35% Petani Pengepul 7,15% 80,00% 13,33% 6,67% Pedagang Grosir 17,65% Pedagang Besar 26,32% 71,43% 21,05% Pedagang Grosir 42,85% Pedagang Pengecer 50% Konsumen
Tabel 3 Asal Pembelian Beras Asal Pembelian Kota/Kab Provinsi Provinsi Sama Sama beda Impor Total Petani/Produsen 50,00 0,00 50,00 0,00 100 Pedagang Pengepul 0,00 11,11 88,89 0,00 100 Pedagang Besar 59,26 22,22 18,52 0,00 100 Pedagang Pengecer 100,00 0,00 0,00 0,00 100 Tabel 4 Sumber Pasokan Beras Petani % Padang 50 Sungai Penuh 50 Total 100 Pedagang Pengepul % Palembang 44,44 Lampung 22,22 Solok, Sumbar 22,22 Kerinci 11,11 Total 100,00 Terkait dengan infrastruktur, sebagian besar responden mempunyai persepsi terhadap kualitas pelabuhan dan bandara relatif lebih baik dari pada jalan. Responden mempersepsikan bahwa 35% jalan masih dalam kondisi rusak. Berdasarkan kondisi aspal jalan, mayoritas responden (44%) mempersepsikan kondisi jalan aspal baru 50 80%, diikuti dengan 42% responden yang mempersepsikan kondisi jalan aspal sudah lebih dari 80% sementara sisanya berpendapat jalan aspal di Jambi masih kurang dari 50%. Kendala utama dalam perdagangan beras di Jambi adalah infrastruktur (55%). Hal ini terkait dengan produksi beras yang berasal dari daerah-daerah sehingga membutuhkan infrastruktur yang baik dalam distribusinya. Tabel 5 Hambatan Perdagangan Beras Hambatan % Bahan Baku 5 Alam 5 Infrastruktur 55 Biaya Angkut 10 Jumlah angkutan 0 Pungli 0 Lainnya 25 Total 100 Terkait dengan manajemen stok dan pergudangan, 6 (enam) responden pedagang (15%) menyatakan menggunakan fasilitas penyimpanan stok (gudang) khusus. Lokasi gudang tersebut berlokasi di wilayah sekitar Kabupaten. Margin responden dalam satu tahun terakhir relatif bervariasi (sebanyak 95% responden) dengan besarnya persentase margin sebagian besar pedagang berada dibawah 10% yang dinyatakan oleh 80% responden. Apabila terjadi kenaikan harga,
maka sebagian besar pedagang (92%) akan meningkatkan harga kepada pedagang selanjutnya/konsumen. Disparitas Harga Beras Untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi variabilitas harga komoditas beras antar daerah dilakukan estimasi terhadap persamaan disparitas harga dengan model panel data dan hasilnya ditunjukkan pada tabel 6. Dengan memasukkan variabel independen jarak (kepada kota referensi dalam hal ini Jakarta), Infrastruktur (Jalan), Biaya Input, Pendapatan per kapita, diharapkan dapat menjelaskan perilaku disparitas harga. Tabel 6 Hasil Estimasi Disparitas Harga Komoditas Beras Variabel R-squared - within Nilai 0.849 R-squared - between 0.4721 R-squared - overall 0.2161 Variable Produksi -0.0046 Pendapatan/Konsumsi 0.4709 *** Infrastruktur -0.1225 ** Input Cost 0.3053 *** Jarak 0.6463 *** Koefisien positif pada kenaikan biaya input menunjukkan bahwa kenaikan biaya input akan memperbesar disparitas harga. Kenaikan pendapatan per kapita riil masyarakat daerah penelitian akan meningkatkan disparitas harga dengan kota referensi karena kenaikan permintaan. Masyarakat dengan pendapatan yang lebih tinggi mengkonsumsi kualitas beras yang lebih baik (dengan harga yang lebih mahal). Selanjutnya, koefisien negatif pada variabel Infrastruktur (Jalan) dapat diintrepetasikan bahwa semakin baik kualitas infrastruktur akan berpengaruh pada semakin kecilnya variabilitas harga beras daerah dengan kota referensi. Variabel jarak ke sentra ekonomi yang merupakan proksi dari biaya transportasi mempunyai positif yang berarti bahwa semakin dekat jarak akan menurunkan tingkat disparitas harga daerah dengan kota referensi (Jakarta). Selanjutnya, koefisien negatif pada jumlah produksi menunjukkan bahwa meningkatnya produksi di Jambi akan mengurangi disparitas harga dengan kota referensi sesuai dengan hipotesa awal. Harga beras di seluruh kabupaten/kota di Jambi relatif lebih tinggi dibandingkan dengan daerah referensi dengan perbedaan relatif mencapai Rp308 Rp3.168 lebih tinggi per kg. Berdasarkan kabupatennya, disparitas harga di Kerinci dan Tanjabtim merupakan yang terkecil, hal ini sesuai dengan kondisi kedua wilayah tersebut yang menjadi produsen beras terbesar di Jambi. Namun yang menarik adalah kota Jambi yang bukan merupakan daerah penghasil beras memiliki disparitas harga yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan wilayah surplus beras lainnya seperti
Merangin. Pasokan yang cukup baik di wilayah ibukota provinsi menyebabkan aliran barang relatif lebih baik dan terjaga sehingga harga juga rendah. Sementara itu, Muaro Jambi sebagai kabupaten yang mengelilingi Kota Jambi juga mendapatkan manfaat dari aliran barang menuju kota. Dengan demikian, harga beras di kedua daerah tersebut cenderung lebih rendah meskipun bukan merupakan wilayah produsen. Grafik 5 Disparitas Harga Beras Per Kabupaten/Kota Tebo Sarolangun Muaro Jambi Bungo Merangin Kota Jambi Tanjabbar Batanghari Tanjabtim Kerinci 0 1000 2000 3000 4000 Kesimpulan Penelitian yang dilakukan baik berdasarkan yang berasal dari hasil estimasi model maupun survei lapangan telah menghasilkan beberapa temuan empiris antara lain : 1. Dalam memenuhi kebutuhan bahan makanan, terjadi perdagangan antar wilayah di Kabupaten-Kota. Kondisi ini juga terlihat dari signifikansi koefisien spatial weight matrix yang menandakan terdapat hubungan spasial antar wilayah yang mempengaruhi pembentukan harga lima komoditas. Interaksi antar wilayah tersebut akan mempengaruhi harga di Provinsi Jambi. 2. Dari hasil survei, sebagian besar kebutuhan beras di Jambi didapatkan dari dalam provinsi. 3. Berdasarkan hasil estimasi model disparitas harga, diketahui bahwa faktor jarak ke sentra ekonomi memberikan pengaruh yang signifikan terhadap disparitas harga. Namun yang menarik, meskipun Kota Jambi bukanlah kota produsen beras yang diteliti ini, namun memiliki disparitas harga yang relatif lebih kecil dibandingkan kabupaten lainnya. Saran dan Rekomendasi Kebijakan Sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan, terapat beberapa hal implikasi kebijakan sebagai yang dapat dilakukan dalam mengatasi permasalahan defisit pangan di Provinsi Jambi di antaranya : 1. Optimalisasi kerjasama perdagangan antar daerah mengingat tingginya saling ketergantungan akan kabupaten/provinsi. Kerjasama tersebut meliputi koordinasi
linat instansi/kabuapten terkait jadwal tanam, panen, maupun stok serta kebutuhan masing-masing daerah. 2. Untuk menunjang kegiatan perdagangan antar daerah maka Provinsi Jambi diharapkan dapat memiliki data antara lain sebagai berikut: a. Neraca produksi dan konsumsi kebutuhan bahan makanan di Provinsi Jambi. b. Produksi bahan makanan dan komoditas unggulan termasuk jalur distribusi, waktu produksi, pembeli serta kebutuhan dalam Provinsi Jambi. c. Ketergantungan bahan makanan di Jambi terhadap daerah lain termasuk jalur distribusi, asal daerah produsen, serta kebutuhan di dalam Provinsi Jambi. d. Peta produksi, distribusi dan konsumsi bahan makanan se- Provinsi Jambi. 3. Perbaikan infrastruktur jalan produksi maupun distribusi. Para pedagang terutama komoditi pertanian cenderung mempersepsikan kondisi jalan dalam keadaan kurang baik. Di samping itu, kondisi infrastruktur mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap disparitas harga antar daerah. Untuk itu, infrastruktur jalan yang baik hendaknya menjadi salah satu prioritas pemerintah daerah.
Halaman ini sengaja dikosongkan. This page is intentionally blank.
BAB III PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN Kinerja perbankan pada triwulan IV-2012 secara umum menunjukkan peningkatan baik dari sisi aset, penghimpunan dana maupun penyaluran kredit. Loan to Deposits Ratio (LDR) perbankan berdasarkan bank pelapor naik sebesar 729 bps yaitu menjadi sebesar 107,48%. Kualitas kredit yang diberikan baik tercermin dari rasio Non Performing Loan (NPL) gross bank umum, yaitu sebesar 1,70% (di bawah ketentuan 5%) serta sedikit lebih rendah dari triwulan sebelumnya sebesar 1,78%. A. Perkembangan Kelembagaan 20 Secara kelembagaan, jumlah bank dan kantor bank yang beroperasi di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi selama Triwulan IV-2012 terdapat penambahan 6 (enam) kantor bank yang terdiri dari 5(lima) kantor bank umum dan 1 (satu) kantor BPR. Dengan demikian terdapat 30 (tiga puluh) bank umum dan 16 (enam belas) BPR, yang terdiri dari 300 kantor bank umum dan 25 kantor BPR. Dari 29 (dua puluh sembilan) bank umum yang beroperasi di wilayah Jambi, terdapat 23 (dua puluhtiga) bank konvensional, termasuk diantaranya 1 (satu) Bank Pembangunan Daerah, dan 6 (enam) bank syariah. Berdasarkan sebaran jumlah kantor bank umum dan BPR, Kota Jambi mendominasi 36,92% atau 120 (seratus dua puluh) kantor dari seluruh kantor bank di Provinsi Jambi, diikuti Kabupaten Bungo 34 (tiga puluh empat) kantor atau 10,46%. Sementara untuk kabupaten yang paling sedikit jumlah kantor banknya adalah Tanjung Jabung Timur dan Kota Sungai Penuh, masing-masing sebanyak 7 (tujuh) kantor atau (2,15%). 20 Rincianjumlah Kantor Bank Umumdan BPR per-kabupaten/kota se-provinsi Jambi dapat dilihat pada halaman lampiran. 37
PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN Tabel 3.1 Perkembangan Jumlah Kantor Bank Umum dan BPR Provinsi Jambi JUMLAH BANK 2010 Trw 1 Trw 2 2011 2012 Trw 3 Trw 4 Trw 1 Trw 2 Trw 3 Trw 4 Pangsa (%) Kota Jambi 89 94 96 103 108 117 117 117 120 36.92 Kerinci 23 22 23 18 19 19 19 19 19 5.85 Bungo 27 28 28 28 30 31 31 32 34 10.46 Muara Jambi 21 22 22 27 31 31 31 32 32 9.85 Sarolangun 20 20 20 23 24 25 25 25 25 7.69 Tebo 16 16 16 18 18 18 18 18 18 5.54 Merangin 18 18 18 20 21 21 21 21 22 6.77 Batanghari 16 16 16 16 18 18 18 18 18 5.54 Tanjung Jabung Barat 19 19 19 21 23 23 23 23 23 7.08 Tanjung Jabung Timur 6 6 7 7 7 7 7 7 7 2.15 Sungai Penuh 1 1 5 7 7 7 7 7 2.15 T O T A L 255 261 265 281 306 317 317 319 325 100.00 B. Bank Umum 1. Perkembangan Aset Bank Total aset bank umum di Provinsi Jambi mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Aset bank umum tumbuh 1,29% lebih rendah dari pertumbuhan triwulan sebelumnya yang sebesar 1,61% menjadi Rp24.475,08 miliar dari triwulan sebelumnya yang sebesar Rp24.163,96 miliar. Dibandingkan dengan posisi yang sama tahun lalu, aset perbankan meningkat mencapai 16,54%. Kenaikan aset perbankan tersebut didorong oleh meningkatnya aset bank swasta maupun bank syariah dengan peningkatan masing-masing adalah Rp357,18 miliar (5,31%) dan Rp110,37 miliar (6,72%).Sementara bank pemerintah mengalami penurunan Rp156,42 miliar (0,99%). Berdasarkan pangsanya, aset perbankan terbesar adalah dari bank pemerintah Rp15.638,91 miliar (63,90%) diikuti dengan bank swasta Rp7.082,54 miliar (28,94%) dan bank syariah Rp1.753,63 miliar (7,16%). 38 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI TRIWULAN IV-2012
PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN Grafik 3.1 Perkembangan Aset Bank Umum Provinsi Jambi 2. Perkembangan Dana Masyarakat Jumlah Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun oleh bank umum naik sebesar 0,15% (Rp27,69 miliar), yaitu dari Rp17.917,50 miliar menjadi Rp17.945,19 miliar dibandingkan triwulan sebelumnya. Secara tahunan, DPK mampu tumbuh sebesar 9,50% atau meningkat Rp1.556,64 miliar. Pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 11,43% (y-o-y). Menurunnya harga komoditas berdampak pada perlambatan DPK tersebut. Untuk mempertahankan konsumsi, masyarakat cenderung untuk mengurangi saving. Berdasarkan kelompok bank, pertumbuhan DPK didukung oleh meningkatnya penghimpunan dana bank konvensional, khususnya bank swasta nasional, maupun bank syariah. Penghimpunan dana bank swasta nasional meningkat Rp225,86 miliar atau sebesar 4,22% dari triwulan sebelumnya menjadi Rp5.584,11 miliar sementara penghimpunan dana oleh bank syariah meningkat 7,98% atau sebesar Rp61,98 miliar menjadi Rp839,13 miliar. Sedangkan penghimpunan bank TRIWULAN IV-2012 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI 39
PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN Tabel 3.2 Penghimpunan Dana Bank Umum di Provinsi Jambi (dalam jutaan rupiah) URAIAN 2011 2012 Pertumbuhan Trw I Trw II Trw III Trw IV Trw I Trw II Trw III Trw IV q-t-q y-o-y Bank Konvensional 14.445.646 14.963.948 15.529.459 15.761.553 16.585.286 16.908.019 17.140.352 17.106.065 (0,20) 8,53 1 Giro 2.912.169 3.093.480 3.253.682 3.042.217 3.719.902 3.262.134 3.544.714 3.545.201 0,01 16,53 2 Tabungan 7.642.613 7.838.189 8.089.803 8.780.598 8.440.494 8.861.544 8.777.027 9.715.665 10,69 10,65 3 Simpanan Berjangka 3.890.864 4.032.279 4.185.974 3.938.738 4.424.891 4.784.341 4.818.612 3.845.199 (20,20) (2,37) Bank Syariah 451.347 473.262 549.690 627.005 669.834 703.517 777.150 839.129 7,98 33,83 1 Giro 64.051 65.357 80.635 124.882 146.376 110.927 142.941 217.466 52,14 74,14 2 Tabungan 232.876 244.079 262.372 318.436 314.065 346.257 364.303 416.756 14,40 30,88 3 Simpanan Berjangka 154.420 163.826 206.683 183.687 209.393 246.333 269.906 204.907 (24,08) 11,55 Jumlah 14.896.993 15.437.210 16.079.149 16.388.558 17.255.120 17.611.536 17.917.502 17.945.194 0,15 9,50 1 Giro 2.976.220 3.158.837 3.334.317 3.167.099 3.866.278 3.373.061 3.687.655 3.762.667 2,03 18,80 2 Tabungan 7.875.489 8.082.268 8.352.175 9.099.034 8.754.559 9.207.801 9.141.330 10.132.421 10,84 11,36 3 Simpanan Berjangka 4.045.284 4.196.105 4.392.657 4.122.425 4.634.284 5.030.674 5.088.518 4.050.106 (20,41) (1,75) Berdasarkan jenis penghimpunan dana,meningkatnya DPK dipicu oleh meningkatnya giro dan tabunganmasing-masing sebesar Rp75,01 milliar (2,03%) dan Rp991,09 miliar (10,84%). Sedangkan simpanan berjangka mengalami penurunan yaitu sebesar Rp1.038,41miliar (-21,41%). Namun jika berdasarkan pangsanya, penghimpunan dana terbesar masih diraih oleh tabungan yaitu sebesar 56,46%, diikuti oleh simpanan berjangka22,57% dan giro 20,97%. Grafik 3.2 Perkembangan Dana Pihak Ketiga Bank Umum Provinsi Jambi Berdasarkan golongan pemilik, meningkatnya nilai DPK terutama berasal dari perseorangan sebesar Rp1.018,047 miliar, bukan lembaga keuangan sebesar Rp500,344 miliar, BUMN atau pemerintah campuran sebesar Rp51,407 miliar, dan 40 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI TRIWULAN IV-2012
PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN BUMD sebesar Rp9,809 miliar. Berdasarkan pangsanya, DPK terbesar masih didominasi oleh perorangan yang mencapai 72,06%, diikuti oleh pemerintah daerah (Pemda) 11,64%, dan bukan lembaga keuangan 11,12%. No. Penduduk/Residents Tabel 3.3 Perkembangan Dana Pihak Ketiga Berdasarkan Golongan Pemilik (dalam jutaan rupiah) Golongan Pemilik Trw.I-2012 Trw.II-2012 Trw.III-2012 Trw.IV-2012 Nominal Share Nominal Share Nominal Share Nominal Share 1 Pemerintah Pusat 76.642 0,44 119.429 0,68 110.646 0,62 138.194 0,77 2 Pemerintah Daerah (Pemda) 3.568.063 20,69 3.560.053 20,23 3.672.156 20,50 2.087.516 11,64 3 Badan Dan Lembaga Pemerintah 30.576 0,18 35.071 0,20 40.134 0,22 26.433 0,15 4 BUMN Atau Pemerintah Campuran 494.475 2,87 536.234 3,05 475.800 2,66 527.207 2,94 5 BUMD 19.921 0,12 44.783 0,25 38.044 0,21 47.853 0,27 6 Lembaga Keuangan Non Bank 94.358 0,55 103.699 0,59 117.708 0,66 121.675 0,68 7 Bukan Lembaga Keuangan 1.315.199 7,63 1.301.403 7,40 1.493.414 8,34 1.993.759 11,12 8 Sektor Swasta Lainnya 16.530 0,10 52.839 0,30 57.217 0,32 69.194 0,39 9 Perseorangan 11.628.010 67,43 11.844.261 67,31 11.907.155 66,47 12.925.202 72,06 Jumlah 17.243.774 100 17.597.773 100 17.912.274 100 17.937.033 100 Bukan Penduduk/Non-Residents 11.346 0 13.762 0 5.228 0 8.160 0 Penduduk dan bukan penduduk 17.255.120 17.611.536 17.917.502 17.945.194 Berdasarkan lokasi proyek, jumlah penghimpunan dana masyarakat mengalami penurunan sebesar Rp202,11 miliar (1,11%). Berdasarkan lokasinya, penurunan terbesar berada di KabupatenTanjung Jabung Barat sebesar Rp116,63 miliar (6,96%) dan Kabupaten Batanghari sebesar Rp40,78 miliar (3,40%). Sedangkan peningkatan terjadi di Kabupaten Kerinci sebesar Rp25,02 miliar (2,43%) dan Kabupaten Merangin sebesar Rp8,99 miliar (1,27%). Berdasarkan pangsanya, 62,65% penghimpunan dana di Provinsi Jambi masih didapatkan dari kota Jambi diikuti dengan Kabupaten Bungo sebesar 9,72%. Tabel 3.4 Perkembangan Dana Pihak Ketiga Berdasarkan Lokasi Proyek 21 (dalam jutaan rupiah) No. Kota/Kabupaten Trw. I-12 Trw. II-12*) Trw. III-12*) Trw. IV-12*) Pertumbuhan Nominal Share Nominal Share Nominal Share Nominal Share Nominal Persen 1 Kota Jambi 10.573.279 62,68 10.782.792 62,56 11.389.479 62,44 11.301.302 62,65 (88.177) (0,77) 2 Batanghari 1.280.421 7,59 1.282.200 7,44 1.197.695 6,57 1.156.919 6,41 (40.776) (3,40) 3 Tanjung Jabung Barat 1.579.445 9,36 1.634.542 9,48 1.676.340 9,19 1.559.714 8,65 (116.625) (6,96) 4 Merangin 870.233 5,16 867.863 5,03 705.492 3,87 714.483 3,96 8.991 1,27 5 Kerinci 1.014.727 6,02 1.011.972 5,87 1.028.536 5,64 1.053.552 5,84 25.017 2,43 6 Sarolangun 444.001 2,63 468.571 2,72 501.837 2,75 499.470 2,77 (2.367) (0,47) 7 Bungo 1.105.766 6,56 1.188.789 6,90 1.742.390 9,55 1.754.217 9,72 11.827 0,68 JUMLAH 16.867.872 100 17.236.729 100 18.241.769 100 18.039.657 100 (202.112) (1,11) 21 Sumber: SEKDA Provinsi Jambi (termasuk BPR) dan berdasarkan lokasi penghimpunan dana sehingga terdapat perbedaan dengan data DPK sebelumnya yang bersumber dari LBU. Data sampai dengan Agustus 2012 TRIWULAN IV-2012 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI 41
PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN 3. Perkembangan Kredit/Penyaluran Dana Penyaluran kredit olehbank umum di Provinsi Jambi pada triwulan laporan meningkat Rp1.336,61miliar (7,45%)yaitu dari Rp17.951,07 miliar pada triwulan sebelumnya menjadi Rp19.287,68 miliar. Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar6,58%. Dibandingkan triwulan yang sama tahun lalu, penyaluran kredit meningkat mencapai 27,68% lebih tinggi dari pertumbuhan triwulan lalu yang sebesar 25,94%. URAIAN Tabel 3.5 Perkembangan Kredit Bank Umum Provinsi Jambi (dalam jutaan rupiah) 2012 Pertumbuhan TW I TW II TW III TW IV Nominal Persen Kelompok Bank 15,710,619 16,843,087 17,951,066 19,287,676 1,336,610 7.45 1 Bank Pemerintah 10,290,880 10,774,901 11,562,677 12,425,598 862,921 7.46 2 Bank Swasta*) 4,141,405 4,639,411 4,853,802 5,230,708 376,906 7.77 3 Bank Syariah 1,278,334 1,428,775 1,534,587 1,631,370 96,783 6.31 Jenis Penggunaan 15,710,619 16,843,087 17,951,066 19,287,676 1,336,610 7.45 1 Modal Kerja 6,483,171 7,075,722 6,914,923 7,326,502 411,579 5.95 2 Investasi 2,693,215 2,846,175 3,251,684 3,723,619 471,935 14.51 3 Konsumsi 6,534,233 6,921,191 7,784,459 8,237,555 453,097 5.82 Sektor Ekonomi 15,710,619 16,843,087 17,951,066 19,287,676 1,336,610 7.45 1 Pertanian 2,084,321 2,379,914 2,645,774 3,028,774 383,000 14.48 2 Pertambangan dan Penggalian 74,895 85,464 105,342 112,898 7,557 7.17 3 Industri 683,728 593,737 512,696 568,332 55,636 10.85 4 LGA 5,316 5,805 5,934 9,297 3,362 56.66 5 Konstruksi 525,704 554,813 608,107 681,974 73,868 12.15 6 Perdagangan Hotel dan Restoran 3,843,098 4,400,752 4,469,047 4,766,386 297,339 6.65 7 Pengangkutan dan Komunikasi 180,290 209,596 270,627 283,620 12,993 4.80 8 Keuangan,Real estate dan Jasa Perusaha 727,319 856,073 902,947 948,469 45,523 5.04 9 Jasa-jasa 1,051,715 835,742 646,134 650,370 4,236 0.66 10 Bukan Lapangan Usaha 6,534,233 6,921,191 7,784,459 8,237,555 453,097 5.82 Berdasarkan Kelompok Bank, peningkatan jumlah kredit dialami oleh bank konvensional maupun bank syariah. Penyaluran kredit bank konvensional tumbuh Rp1.239,83miliar (7,55%), sementara kredit bank syariah tumbuh Rp96,78 miliar (6,31%) dibandingkan triwulan sebelumnya. Jika dilihat dari pangsa (share) penyaluran kredit, pangsa kredit bank konvensional sebesar 91,54% sementara bank syariah sebesar 8,46%. Berdasarkan Jenis Penggunaan, kredit investasi meningkat Rp471,93 miliar (14,51%),modal kerja Rp411,58 miliar (5,95%), dankredit konsumsi sebesar Rp453,10 miliar (5,82%). 42 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI TRIWULAN IV-2012
PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN Berdasarkan pangsanya, kredit terbesar adalahkonsumsi, yaitu sebesar 42,71% diikuti oleh kredit modal kerja sebesar37,99%, dan kredit investasisebesar 19,31%. Berdasarkan Sektor Ekonomi, pertumbuhan kredit terbesar terjadi pada sektor Listrik, Gas dan Air sebesar Rp3,36 miliar (56,66%), sektor pertanian sebesar Rp383 miliar (14,48%) dan sektor konstruksi sebesar Rp73,87 miliar (5,03%). Pangsa penyaluran kredit masih didominasi oleh kredit kepada bukan lapangan usaha, yaitu sebesar 42,71%, diikuti sektor perdagangan, hotel dan restoran 24,71% dan sektor pertanian sebesar 15,70%.Dominasi penyaluran kredit pada ketiga sektor tersebut mencapai 83,12% dari total outstanding kredit. Berdasarkan lokasi Proyek 22, jumlah kredit yang disalurkan ke Provinsi Jambi oleh perbankan meningkat sebesar Rp755,68 miliar (3,09%), yaitu dari Rp24.449,92 miliar menjadi sebesar Rp25.205,60 miliar. Peningkatan tersebut diantaranya di Kotamadya Sungai Penuh sebesar Rp0,355 milyar (11,57%), Kotamadya Jambi sebesar Rp614,91 miliar (5,71), Kabupaten Tanjung Jabung Barat sebesar Rp74,544 miliar (5,65%), Kabupaten Sarolangun sebesar Rp47,88 miliar (4,18%) dan peningkatan terkecil di Kabupaten Muaro Jambi sebesar Rp23,25 miliar (0,98%). Namun terdapat kabupaten yang mengalami penurunan kredit yang diberikan yaitu Kabupaten Bungo sebesar Rp94,324 miliar (3,28%) dan Kabupaten Batanghari sebesar Rp18,24 miliar (1,27%). Tabel 3.6 Perkembangan Kredit Lokasi Proyek Provinsi Jambi (dalam jutaan rupiah) Kabupaten/Kota 2012 Pertumbuhan Tw I Tw II Tw III TW IV*) Nominal % Batanghari 1,358,377 1,408,801 1,436,400 1,418,160-18,240-1.27 Sarolangun 974,325 1,060,049 1,146,119 1,194,003 47,884 4.18 Kerinci 1,016,838 1,082,999 1,073,439 1,114,558 41,119 3.83 Muaro Jambi 2,539,812 2,355,694 2,379,486 2,402,738 23,252 0.98 Tanjung Jabung Barat 1,105,903 1,176,378 1,320,517 1,395,061 74,544 5.65 Tanjung Jabung Timur 343,587 373,274 401,691 415,648 13,958 3.47 Tebo 910,647 1,110,380 1,124,683 1,140,639 15,955 1.42 Merangin 1,557,053 1,905,565 1,923,995 1,960,269 36,275 1.89 Bungo 2,018,162 2,503,720 2,871,542 2,777,218-94,324-3.28 Sungai Penuh - - 3,065 3,420 355 11.57 Jambi 9,514,903 10,140,069 10,768,985 11,383,895 614,910 5.71 T O T A L 21,339,606 23,116,929 24,449,920 25,205,608 755,688 3.09 *) Bulan November 2012 22 Data posisi bulan November 2012. Sumber: Statistik Ekonomi Keuangan Daerah (SEKDA) Provinsi Jambi. Data kredit lokasi proyek termasuk kredit dari BPR serta bank asing dan bank campuran sesuai dengan format SEKDA Provinsi Jambi. TRIWULAN IV-2012 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI 43
PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN 4. Undisbursed Loan Jumlah undisbursed loan (kredit yang belum ditarik) sebesar Rp1.590,10 miliar atau menurun sebesar Rp193,82 miliar dari triwulan sebelumnya yang sebesar Rp1.783,92 miliar.penurunan undisbursed loan tersebut terutama dipicu oleh turunnya kelonggaran tarik konsumsi sebesar Rp71,13 miliar (79,28%),dan kredit modal kerja yang turun Rp112,27 miliar (7,46%). Tabel 3.7 Tabel Undisbursed Loan Bank Umum Berdasarkan Jenis Penggunaan dan Berdasarkan Sektor Ekonomi Provinsi Jambi (dalam jutaan rupiah) Jenis Penggunaan 2011 TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV 1 Investasi 107,400 120,633 127,940 127,334 351,358 233,996 189,242 178,824 2 Konsumsi 77,724 87,041 92,317 85,671 105,891 109,267 89,719 18,590 3 Modal kerja 1,127,137 1,142,458 1,267,721 1,258,585 1,503,475 1,466,023 1,504,962 1,392,690 Total Kategori 1,312,261 1,350,132 1,487,978 1,471,590 1,960,724 1,809,286 1,783,923 1,590,104 2012 5. Peran Intermediasi Perbankan dan Kondisi Non Performing Loans (NPL) gross Bank Umum di Provinsi Jambi Loan to Deposits Ratio (LDR) 23, pada triwulan laporan jika dibandingkan triwulan sebelumnya berdasarkan bank pelapor meningkat sebesar 729 bps yaitu dari 100,19% menjadi 107,48%.Sedangkan LDR berdasarkan lokasi proyek naik400 bps yaitu dari 136,46% menjadi 140,46%. Grafik 3.3 Perkembangan Loan To Deposit Ratio (LDR) Bank Umum Provinsi Jambi Rp triliun 30 137.74% 129.03% 131.26% 136.46% 140.46% 111.71% 117.81% 123.67% 25 20 15 100.19% 107.48% 82.97% 87.07% 88.65% 91.05% 95.64% 92.18% 10 5 0 Q1-11 Q2-11 Q3-11 Q4-11 Q1-12 Q2-12 Q3-12 Q4-12 160% 140% 120% 100% 80% 60% 40% 20% 0% Kredit Lokasi Proyek (Rp juta) Kredit Perbankan Jambi (Rp juta) DPK Perbankan (Rp juta) LDR Lokasi Proyek (persen) LDR Perbankan Jambi (persen) 23 LDR perbankan adalah rasio antara penyaluran kredit bank umum dengan dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun bank umum pada triwulan laporan. 44 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI TRIWULAN IV-2012
PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN Kualitas kredit yang diberikan tergolong baik tercermin dari rasio Non Performing Loan (NPL) gross bank umum, yaitu sebesar 1,70%(di bawah ketentuan 5%) lebih rendah dari triwulan sebelumnya sebesar1,78%. Berdasarkan sektor ekonomi, NPL tertinggi dialami oleh sektor pertambangan dan penggalian sebesar 4,26%, diikuti oleh sektor konstruksisebesar 2,54% dan sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 2,45%. Tabel 3.8 Perkembangan Non Performing Loan (NPL) Gross Bank Umum di Provinsi Jambi TW III-12 TW IV-12 No Sektor Ekonomi Kredit Nominal NPL NPL (%) Kredit Nominal NPL NPL (%) 1. Pertanian Peternakan Kehutanan dan Perikanan 2,645,774 54,786 2.07 3,028,774 71,766 2.37 2. Pertambangan dan Penggalian 105,342 522 0.50 112,898 4,806 4.26 3. Industri 512,696 2,360 0.46 568,332 3,311 0.58 4. LGA 5,934 - - 9,297 - - 5. Konstruksi 608,107 21,481 3.53 681,974 17,334 2.54 6. Perdagangan Hotel dan Restoran 4,469,047 110,784 2.48 4,766,386 116,900 2.45 7 Pengangkutan dan Komunikasi 270,627 714 0.26 283,620 8,377 2.95 8. Keuangan,Real estate dan Jasa Perusahaan 902,947 20,668 2.29 948,469 13,943 1.47 9. Jasa-jasa 646,134 14,050 2.17 650,370 11,491 1.77 10. Bukan Lapangan Usaha 7,784,459 94,480 1.21 8,237,555 80,457 0.98 J U M L A H 17,951,066 319,845 1.78 19,287,676 328,384 1.70 Dilihat dari spread bunga (grafik 3.4), terlihat bahwa margin keuntungan perbankan di Provinsi Jambi mengalami penurunan. Margin rata-rata tertimbang antara suku bunga kredit dengan suku bunga deposito 3 (tiga) bulan menurun dari 8,31% menjadi 8,21%. Demikian juga, suku bunga perbankan untuk dana dan suku bunga kredit mengalami penurunan masing-masing menjadi sebesar 5,19% dan 13,40%. Sementara itu, angka BI-rate dibandingkan triwulan sebelumnya menunjukkan angka yang sama yaitu 5,75%. TRIWULAN IV-2012 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI 45
PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN Grafik 3.4 Perkembangan Suku Bunga Rata-rata Tertimbang Kredit dan Deposito Bank Umum di Provinsi Jambi 6. Perkembangan Kredit UMKM Pada triwulan laporan, kredit UMKM mengalami peningkatan sebesar 6,12%, yaitu dari Rp7,36 miliar menjadi Rp7,81 miliar. Grafik 3.5 Perkembangan Kredit UMKM Bank Umum Provinsi Jambi Pangsa kredit UMKM terhadap total kredit mencapai 40,52%. Berdasarkan distribusinya, kredit menengah memiliki pangsa terbesar yaitu 14,49%, lalu diikuti kredit kecil sebesar 14,08%, serta kredit mikro sebesar 11,95% dari total kredit perbankan. 46 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI TRIWULAN IV-2012
PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN Grafik 3.6 Pangsa Kredit Bank Umum Provinsi Jambi 100% 80% 60% 40% 20% 0% 57.07 55.37 58.98 59.48 13.66 15.10 14.36 14.49 15.68 15.19 14.24 14.08 13.60 14.35 12.42 11.95 TW I-12 TW II-12 TW III-12 TW IV-12 Mikro Kecil Menengah Kredit Bukan UMKM C. Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Kinerja BPR pada triwulan laporan mengalami peningkatan dibanding triwulan sebelumnya, tercermin dari jumlah aset, DPK dan penyaluran kredit yang mengalami pertumbuhan positif. Jumlah aset seluruh BPR di Provinsi Jambi sebesar Rp644,38 miliar atau meningkat 3,58% dibanding pada triwulan sebelumnya yang sebesar Rp622,10 miliar. Sementara itu,jumlah penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) oleh BPR di Provinsi Jambi meningkat sebesar Rp21,36 miliar (4,64%) menjadi Rp481,76 miliar. Pada triwulan laporan, jumlah penyaluran kredit juga mengalami peningkatan sebesar Rp40,24miliar (8,99%) menjadi Rp487,78 miliar. Peningkatan kredit yang lebih tinggi dibandingkan peningkatan dana menyebabkan LDR BPR meningkat 30 bps dibandingkan triwulan sebelumnya, yaitu dari 80,70% menjadi 81,00%. Disisi yang lain, kualitas kredit menunjukkan peningkatan, yaitu dengan turunnya persentase Non Performing Loan(NPL) dari 3,63% menjadi 2,82%. D. Perkembangan Alat Pembayaran Tunai Pada periode triwulan IV-2012, aktivitas pembayaran tunai mengalami peningkatan hal ini tercermin dari meningkatnya cash outflow sebesar 12,80% dan RTGS serta transaksi kliring. TRIWULAN IV-2012 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI 47
PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN Untuk pembayaran non tunai, nilai kliring mengalami peningkatan sebesar 7,04% dibandingkan triwulan sebelumnya menjadi Rp2.548,12 miliar. Sedangkan pembayaran melalui RTGS dari Jambi mengalami peningkatan sebesar 8,88% dibandingkan triwulan sebelumnya. Tabel 3.9 Perkembangan Sistem Pembayaran melalui KPw Bank Indonesia Provinsi Jambi Uraian 2012 Pertumbuhan (q-t-q) Trw 1 Trw.II Trw.III Trw.IV Nominal Persen Nilai Kliring (juta Rp) 2,488,938 2,347,560 2,380,495 2,548,121 167,626 7.04 Volume Kliring (lembar warkat) 70,971 65,514 62,775 70,972 8,197 13.06 Aliran Uang Masuk/Inflows (juta Rp) 518,106 418,971 805,987 393,685 (412,301) (51.15) Aliran Uang Keluar/Ouflows (juta Rp) 771,960 1,187,425 1,387,811 1,565,493 177,682 12.80 Net Inflows/ (Net Outflows) (juta Rp) (253,854) (768,455) (581,824) (1,171,807) (589,983) 101.40 RTGS dari Jambi (miliar Rp) 10,339 15,139 15,677 18,270 2,593 16.54 RTGS ke Jambi (miliar Rp) 51,804 54,010 29,104 29,431 327 1.12 RTGS dari dan ke Jambi (miliar Rp) 2,653 3,543 3,350 4,702 1,352 40.37 Cek dan BG Kosong - Lembar 856 1,164 1,150 1,134 (16.00) (1.39) - Nominal (juta Rp) 36,225 33,051 40,025 35,192 (4,833) (12.07) D.1. Aliran Uang Kartal Melalui Bank Indonesia Jambi Perkembangan aliran uang kartal di Provinsi Jambi pada triwulan laporan, untuk aliran kas keluar (cash outflow) sebesar Rp1.565,49 miliar meningkat 12,80%. Untuk aliran kas masuk (cash inflow) sebesar Rp393,69 miliar menurun 51,15%. Dengan demikian, pada triwulan laporan, Provinsi Jambi mengalami net outflow sebesar Rp1.171,81 miliar. Rp miliar 2.000 1.800 1.600 1.400 1.200 1.000 800 600 400 200 0 Grafik 3.7 Inflows, Outflows, Netflows dan Perkembangan Netflows di Provinsi Jambi Q1-11 Q2-11 Q3-11 Q4-11 Q1-12 Q2-12 Q3-12 Q4-12 Inflows Outflows Net Outflows Pert. Net Outflows (%) Persen 250 200 150 100 50 0-50 -100-150 -200 48 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI TRIWULAN IV-2012
PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN D.2. Penyediaan Uang Layak Edar Secara berkala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi melaksanakan pemusnahan uang yang tidak layar edar (UTLE) melalui kegiatan Pemberian Tanda Tidak Berharga (PTTB). Pemberian tanda terhadap uang kartal tidak layak edar (lusuh/rusak) yang masuk ke Bank Indonesia, bertujuan untuk menjaga kelayakan uang yang diedarkan (fit for circulation). Pada triwulan laporan, pemberian tanda tidak berharga (PTTB) di Provinsi Jambi meningkat sebesar Rp67,44miliar (562,39%) menjadi Rp79,43miliar. D.3. Perkembangan Jumlah Uang Palsu yang Ditemukan Pada triwulan laporan telah ditemukan uang palsu sebanyak 49 lembar pada pecahan Rp100.000 dan sebanyak 4 lembar pada pecahan Rp50.000. Untuk mengantisipasi agar tidak beredarnya kembali uang palsu di Provinsi Jambi, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi secara berkala terus mensosialisasikan Ciriciri Keaslian Uang Rupiah kepada seluruh lapisan masyarakat. D.4. Perkembangan Kliring Lokal Lalu lintas pembayaran non tunai melalui kliring lokal pada triwulan laporan tercatat sebesar Rp2.548,12 miliar atau meningkat 7,04% dibandingkan triwulan sebelumnya. Volume kliring juga meningkat sebesar 13,06%, yaitu dari 62.775 menjadi 70.972 lembar warkat. Grafik 3.8 dan 3.9 Perkembangan Nominal dan Volume Kliring dalam miliar Rupiah 2.364 2.434 2.489 2.348 2.380 2.500 2.188 2.000 1.500 8,02 1.000 6,85 1,40 500 2,94-2,27 Trw. II Trw. III Trw. IV Trw.I Trw.II Trw.III Trw.IV Persen 10 7,04 5 - lembar warkat Persen 120.000 15 69.283 13,06 70.971 67.850 65.51462.775 70.972 80.000 66.886 3,58 4,95 2,44-40.000 2,89 (7,69) (4,18) - (15) Trw. II Trw. III Trw. IV Trw.I Trw.II Trw.III Trw.IV Nilai Kliring 2012 Pertumbuhan Nilai Kliring Volume Kliring 2012 Pertumbuhan Volume Kliring Grafik 3.8 Grafik 3.9 TRIWULAN IV-2012 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI 49
PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN Di sisi lain, jumlah lembar cek dan BG kosong dibandingkan triwulan sebelumnya menurun sebesar 1,39%, yaitu dari 1.150 lembar menjadi 1.134 lembar dan secara nominal jumlah cek dan BG kosong juga menurun sebesar Rp4,83 miliar (12,07%) yaitu dari Rp40,03 miliar menjadi Rp35,19 miliar. B.2. Transaksi Real Time Gross Settlement (RTGS) 24 Pada triwulan laporan, transaksi melalui Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI RTGS) di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi secara total (keluar dan masuk/dari dan ke) naik sebesar Rp4.273 ribu (8,88%) dibandingkan triwulan sebelumnya yaitu dari Rp48.131 miliar menjadi Rp52.404 miliar. Transfer masuk ke Provinsi Jambi meningkat sebesar Rp327 miliar (1,12%), dan transfer keluar dari Provinsi Jambi juga meningkat sebesar Rp2.593 miliar (16,54%) sedangkan transfer masuk dan keluar di Provinsi Jambi Rp1.352 miliar (40,37%). Tabel 3.10 Perkembangan Transaksi RTGS (dalam miliar rupiah) 24 Sistem BI-RTGS adalahsuatu sistem transfer danaelektronikantarpesertadalammatauang Rupiah, yang penyelesaiantransaksidilakukansecaraseketika(real time). 50 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI TRIWULAN IV-2012
BAB IV KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH Realisasi pendapatan pemerintah Provinsi Jambi pada tahun 2012 mencapai Rp2.662,91 miliar (terealisasi 122,08% dari APBD-P), sementara itu realisasi belanja mencapai Rp2.559,27 miliar (92,51%). Jika dibandingkan dengan semester lalu, realisasi tersebut meningkat masing-masing sebesar 30,44% dan 92,51%. A. Realisasi Pendapatan Daerah Tahun 2012 Pada tahun 2012, realisasi pendapatan Provinsi Jambi mencapai Rp2.662,91 miliar atau melebih target APBD-P yang sebesar Rp2.181,29 miliar. Berdasarkan jenisnya, pendapatan terbesar masih tergantung dari transfer pemerintah pusat Rp1.665,59 miliar (62,55%) sementara, Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Jambi baru mencapai Rp995,65 miliar (37,39%). Apabila dibandingkan dengan tahun lalu, pendapatan pemerintah provinsi Jambi meningkat Rp576,21 miliar atau 21,64% dari pendapatan tahun 2011 yang sebesar Rp1.635,67 miliar. Peningkatan tersebut bersumber dari meningkatnya pendapatan transfer mencapai Rp558,47 miliar (33,53%). Pajak daerah yang merupakan sumber kemandirian suatu provinsi menyumbangkan 30,35% (Rp808,26 miliar) dari total pendapatan Jambi. Meningkatnya pajak tersebut juga seiring dengan bertambahnya jumlah kendaraan di Jambi. 51
KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH Tabel 4.1. Perkembangan Pendapatan APBD Provinsi Jambi Triwulan IV-2012 URAIAN APBD-P 2012 S.D TRW III-2012 S.D TRW IV-2012 Nominal Persen Nominal Persen PENDAPATAN 2,181.29 2,041.56 93.59 2,662.91 122.08 Pendapatan Asli Daerah 753.37 751.13 99.70 995.65 132.16 Pajak Daerah 645.32 609.81 94.50 808.26 125.25 Retribusi Daerah 11.16 9.42 84.38 14.25 127.64 Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan 9.61 29.98 312.12 29.98 312.12 Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah 87.28 101.92 116.77 143.16 164.03 Pendapatan Transfer 1,426.76 1,289.25 90.36 1,665.59 116.74 Transfer Pemerintah Pusat - Dana Perimbangan 1,085.73 1,046.02 96.34 1,341.20 123.53 Dana Bagi Hasil Pajak 152.54 97.38 63.84 219.71 144.03 Dana Bagi Hasil Bukan Pajak (SDA) 168.56 253.18 150.20 356.44 211.45 Dana Alokasi Umum 731.95 670.96 91.67 731.95 100.00 Dana Alokasi Khusus 32.67 24.50 75.00 33.11 101.33 Transfer Pemerintah Pusat - Lainnya 341.03 243.23 71.32 324.38 95.12 Dana Penyesuaian 341.03 243.23 71.32 324.38 95.12 Lain-lain Pendapatan yang Sah 1.16 1.18 101.26 1.67 143.71 B. Realisasi Belanja Daerah Tahun 2012 Pada tahun 2012, realisasi belanja Provinsi Jambi mencapai Rp2.559,27 miliar atau mencapai 92,51% dari APBD-P yang sebesar Rp2.766,57 miliar. Berdasarkan jenisnya, belanja terbesar masih ditujukan untuk belanja operasi Rp1.575,06 miliar (61,54%) sementara, realisasi belanja modal sebesar Rp682,90 miliar (26,68%). Apabila dibandingkan dengan tahun lalu, belanja pemerintah provinsi Jambi meningkat Rp802,00 miliar atau 31,34% dari belanja tahun 2011 yang sebesar Rp1.757,27 miliar. Tabel 4.2. Perkembangan Belanja APBD Provinsi Jambi Triwulan III-2012 URAIAN APBD-P 2012 S.D TRW III-2012 S.D TRW IV-2012 Nominal Persen Nominal Persen BELANJA 2,766.57 1,455.74 52.62 2,559.27 92.51 Belanja Operasi 1,726.95 934.06 54.09 1,575.06 91.20 Belanja Pegawai 567.04 376.44 66.39 531.43 93.72 Belanja Barang 657.86 286.14 43.50 596.88 90.73 Belanja Subsidi 0.29 0.00 0.00 0.24 81.34 Belanja Hibah 356.59 243.17 68.19 339.33 95.16 Belanja Bantuan Sosial 65.50 0.00 0.00 32.31 49.33 Belanja Bantuan Keuangan 79.67 28.32 35.54 74.86 93.97 Belanja Modal 723.24 301.24 41.65 682.90 94.42 Belanja Tanah 5.70 0.00 0.00 2.99 52.47 Belanja Peralatan dan Mesin 112.10 37.76 33.69 105.89 94.46 Belanja Bangunan dan Gedung 106.72 37.33 34.98 100.13 93.82 Belanja Jalan, Irigasi dan Jaringan 494.82 224.91 45.45 470.16 95.02 Belanja Aset Tetap Lainnya 3.68 1.03 28.09 3.52 95.81 Belanja Aset Lainnya 0.21 1.41 0.21 96.98 0.21 96.98 Belanja Tak Terduga 10.00 1.99 19.91 2.39 23.94 Belanja Tak Terduga 10.00 1.99 19.91 2.39 23.94 52 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI TRIWULAN IV-2012
KEUANGAN PEMERINTAH DAREAH Berdasarkan jenisnya, realisasi belanja terbesar adalah untuk belanja operasi yang mencapai Rp1.575,06 miliar (61,54%) kemudian diikuti dengan belanja modal Rp682,90 miliar (26,68%). Dirinci lebih lanjut, penyaluran terbesar adalah untuk belanja barang Rp596,88 miliar (terealisasi 90,73%) diikuti belanja pegawai Rp531,43 miliar (terealisasi 93,72%) dan belanja jalan, irigasi dan jaringan Rp470,16 miliar (terealisasi 95,02%). Semakin meningkatnya realisasi belanja untuk infrastruktur akan berdampak pada efisiensi biaya yang timbul dari sisi transportasi dan distribusi. C. APBD 2013 Pendapatan Pemerintah Daerah Provinsi Jambi pada tahun 2012 dianggarkan meningkat 12,11% dibandingkan anggaran APBD-P 2012 menjadi Rp2.445,37 miliar sementara belanja Pemerintah Daerah Provinsi Jambi pada tahun 2012 sebesar Rp2.652,83 miliar atau turun 4,11% dari tahun sebelumnya. Dengan demikian akan terdapat defisit sebesar RP207,45 miliar yang akan dibiayai oleh sisa lebih perhitungan anggaran (SILPA) tahun 2012 yang sebesar Rp689,91 miliar. Silpa Provinsi Jambi cenderung meningkat dari tahun ke tahun dimana pada tahun 2010 dan 2011 Silpa tercatat sebesar Rp 334,75 miliar dan Rp632,70 miliar. Realisasi pendapatan yang cenderung selalu diatas perhitungan APBD (di atas 120%) sementara realisasi belanja cenderung di bawah APBD (sekitar 90%) menyebabkan terus meningkatnya silpa dimaksud. Berdasarkan komponen penyusunan rencana pendapatan, Dana Perimbangan merupakan penyumbang terbesar yaitu Rp1.299,93 miliar (53,16%) yang menandakan masih tingginya ketergantungan dari pusat. Pangsa Dana alokasi umum mencapai Rp836,58 miliar (34,21%) sementara Pendapatan Asli Daerah (PAD) mencapai Rp804,41 miliar (32,89%). Angka PAD tersebut juga masih lebih rendah dari realisasi 2012 yang mencapai Rp995,58 miliar. Di sisi belanja, alokasi terbesar adalah untuk belanja langsung yang mencapai 51,27% (Rp1.359,99 miliar). Jika ditilik lebih lanjut, belanja langsung yang terbesar adalah untuk belanja modal Rp710,01 miliar (26,76%) diikuti TRIWULAN IV-2012 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI 53
2010 2011 2012 2013 KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH dengan belanja barang dan jasa sebesar Rp546,43 miliar (20,60%). Namun demikian, jumlah anggaran belanja modal di tahun ini turun 13,25% dari anggaran tahun sebelumnya. Grafik 4.1. Perkembangan APBD dan Realisasi 2010-2013 Belanja 2,652.8 Pendapatan Belanja 2,445.4 2,558.5 2,766.6 Pendapatan 2,181.3 2,662.8 Belanja 1,757.3 1,938.9 Pendapatan 1,635.7 2,086.7 Belanja Pendapatan 1,492.1 1,596.4 1,625.7 1,395.2 Realisasi APBD D. Keuangan Pemerintah Pusat di Daerah Penerimaan pajak pusat di wilayah Jambi pada selama tahun 2012 mencapai Rp2,32 triliun meningkat 11,42% dibandingkan tahun 2011 yang sebesar Rp2,082 triliun. Peningkatan tersebut disebabkan oleh meningkatnya pendapatan pajak dalam negeri Rp237,77 miliar (11,42%). Apabila dirinci lebih lanjut, peningkatan tersebut bersumber dari pajak penghasilan Rp155,17 miliar (15,99%) diikuti dengan Pajak Pertambahan Nilai Rp68,86 miliar (6,79%). 54 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI TRIWULAN IV-2012
KEUANGAN PEMERINTAH DAREAH Tabel 4.3. Perkembangan Realisasi Pendapatan Pemerintah Pusat di Provinsi Jambi (dalam juta Rupiah) REALISASI PENDAPATAN Berdasarkan komposisinya, penerimaan pajak terbesar adalah untuk pendapatan pajak dalam negeri yang mencapai Rp2,32 triliun (86,79%) diikuti dengan pendapatan PNPB lainnya Rp240,89 miliar (9,01%). Apabila dirinci lebih lanjut, pendapatan terbesar adalah untuk Pajak Pertambahan Penghasilan (PPh) sebesar Rp1.125,66 miliar diikuti (42,12%)Pajak Pertambahan Nilai Rp1.082,52 miliar (40,50%). Tahun 2011 Tahun 2012 Nominal Persen (%) I Pajak Dalam Negeri 2,081,822,299,370 2,319,593,313,544 237,771,014,174 11.42 PPh 970,495,765,733 1,125,662,631,513 155,166,865,780 15.99 PPN 1,013,657,429,900 1,082,521,611,367 68,864,181,467 6.79 PBB 63,432,348,172 73,502,930,423 10,070,582,251 15.88 Cukai 327,431,000 97,524,000 (229,907,000) (70.22) Lainnya 33,909,324,565 37,808,616,241 3,899,291,676 11.50 II Pajak Perdagangan Int'l 267,767,474,540 95,737,529,298 (172,029,945,242) (64.25) Pendapatan Bea Masuk 21,511,394,465 25,511,349,644 3,999,955,179 18.59 Pendapatan Bea Keluar 246,256,080,075 70,226,179,654 (176,029,900,421) (71.48) III Penerimaan SDA 14,053,351,046 16,097,238,097 2,043,887,051 14.54 Pendapatan Pertambangan Umum 13,755,115,046 16,085,652,549 2,330,537,503 16.94 Pendapatan kehutanan 298,236,000 11,585,548 (286,650,452) IV PNPB Lainnya 262,230,782,735 240,886,701,460 (21,344,081,275) (8.14) V Pendapatan Hibah - 297,294,000 297,294,000 Total Realisasi Pendapatan 2,625,873,907,691 2,672,612,076,399 46,738,168,708 1.78 Sumber: Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kanwil V Jambi, Laporan Arus Kas SAKUN Wilayah Jambi. Unaudited, diolah Pertumbuhan Grafik 4.2. Pangsa Realisasi Pendapatan Pemerintah Pusat di Provinsi Jambi Grafik 4.3. Pangsa Realisasi Pendapatan Pajak Dalam Negeri di Provinsi Jambi Penerima Pajak an SDA, Perdaga 0.60 ngan Int'l, 3.58 Pendapa tan Hibah, 0.01 Pajak Dalam Negeri, 86.79 PPN, 40.50 PBB, 2.75 Lainnya, 1.41 PPh, 42.12 Grafik 4.2 Grafik 4.3 Belanja pemerintah pusat di wilayah Jambi pada tahun 2012 terealisasi sebesar Rp4,30 triliun meningkat Rp621,02 miliar (16,89%) dari tahun lalu. Meningkatnya belanja tersebut bersumber belanja modal Rp241,33 miliar diikuti dengan peningkatan belanja pegawai Rp155,98 miliar (13,58%). Berdasarkan pangsanya, belanja tertinggi pemerintah pusat untuk belanja modal yaitu sebesar TRIWULAN IV-2012 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI 55
KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH Rp1.582,43 miliar (36,81%) diikuti dengan belanja pegawai Rp1.304,56 miliar (30,35%). Tabel 4.4. Perkembangan Realisasi Belanja Pemerintah Pusat di Provinsi Jambi (dalam juta Rupiah) REALISASI BELANJA Tahun 2011 Tahun 2012 Nominal Persen (%) I Belanja Pegawai 1,148,579,127,781 1,304,558,576,329 155,979,448,548 13.58 Belanja Gaji dan Tunjangan 1,131,389,450,378 1,275,582,955,585 144,193,505,207 12.74 Belanja Honorarium/Lembur/ Vakasi/Tun 17,917,436,181 30,357,141,560 12,439,705,379 69.43 Belanja Kontribusi Sosial (727,758,778) (1,381,520,816) (653,762,038) 89.83 II Belanja Barang 868,595,428,477 970,364,470,196 101,769,041,719 11.72 Belanja Barang 526,967,747,099 600,208,016,218 73,240,269,119 13.90 Belanja Jasa 62,919,139,704 68,500,798,037 5,581,658,333 8.87 Belanja Perjalanan 153,610,278,982 145,922,929,237 (7,687,349,745) (5.00) Belanja Pemeliharaan 112,975,648,744 140,089,047,897 27,113,399,153 24.00 Belanja Layanan Umum 12,122,613,948 15,643,678,807 3,521,064,859 29.05 III Belanja Denda dan Subsidi Perusaha 2,200,966,647 816,043,569 (1,384,923,078) (62.92) Belanja Denda 2,200,966,647 816,043,569 (1,384,923,078) (62.92) IV Belanja Bantuan Sosial 293,048,169,116 432,228,084,085 139,179,914,969 47.49 Belanja Bantuan Sosial Lembaga Pendidikan 293,048,169,107 432,228,084,185 139,179,915,078 47.49 V Belanja Lain-Lain 24,172,683,395 8,313,607,612 (15,859,075,783) (65.61) Belanja Lain-Lain 24,172,683,395 8,313,607,612 (15,859,075,783) (65.61) VI Belanja Modal 1,341,096,684,948 1,582,427,919,131 241,331,234,183 18.00 Belanja Modal Tanah 4,144,674,128 1,606,692,200 (2,537,981,928) (61.23) Belanja Modal Peralatan dan Mesin 245,927,469,796 360,733,120,593 114,805,650,797 46.68 Belanja Modal Gedung dan Bangunan 155,259,892,120 155,359,269,801 99,377,681 0.06 Belanja Modal Jalan, Irigasi, dan Jaringan 924,385,778,708 1,049,399,676,120 125,013,897,412 13.52 Belanja Modal Fisik Lainnya 11,378,870,196 15,329,160,417 3,950,290,221 34.72 Total Realisasi Belanja 3,677,693,060,364 4,298,708,700,922 621,015,640,558 16.89 Sumber: Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kanwil V Jambi, Laporan Arus Kas SAKUN Wilayah Jambi. Unaudited, diolah Pertumbuhan Grafik 4.4. Pangsa (Share) Realisasi Belanja Pemerintah Pusat di Provinsi Jambi Belanja Modal, 36.81 Belanja Bantuan Sosial, 10.05 Belanja Barang, 22.57 Belanja Pegawai, 30.35 E. Keuangan Pemerintah Daerah Tingginya realisasi belanja pada triwulan laporan juga tercermin dari menurunnya jumlah simpanan Pemerintah Daerah di perbankan Jambi 43,15%. Simpanan pemerintah daerah mencapai Rp2,09 triliun turun Rp1,58 trliun dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar Rp3,67 triliun. 56 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI TRIWULAN IV-2012
KEUANGAN PEMERINTAH DAREAH Grafik 4.5. Perkembangan Deposito dan Giro Pemerintah Daerah Provinsi Jambi (Rp triliun) 4 Giro Deposito Tabungan total dpk pemda 3 3.57 3.56 3.67 2.77 2.90 2 2.35 1.71 1 2.09 0 Tw I - 11 Tw II - 11 Tw III - 11 Tw IV - 11 Tw I - 12 Tw II - 12 Tw III - 12 Tw IV - 12 TRIWULAN IV-2012 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI 57
Halaman ini sengaja dikosongkan. This page is intentionally blank.
BAB V KETENAGAKERJAAN DAERAH DAN KESEJAHTERAAN Perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) pada triwulan laporan mengalami penurunan jika dibandingkan triwulan sebelumnya yaitu menjadi 90,64 dari 90,96 pada triwulan lalu. Dari sisi upah, UMP provinsi Jambi pada tahun 2013 meningkat 13,79% yaitu dari Rp1.142.500,- menjadi Rp1.300.000. UMP tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan Lampung, Bangka Belitung dan Bengkulu. A. Kesejahteraan UMP Provinsi Jambi pada tahun 2013 meningkat 13,79% yaitu dari Rp1.142.500,- menjadi Rp1.300.000. Kenaikan UMP cenderung lebih tinggi dari pada angka inflasi Jambi dimana angka inflasi pada tahun 2012 sebesar 4,22%. Sementara itu, dibandingkan dengan provinsi lainnya, UMP Jambi berada di urutan keempat terkecil dari sepuluh provinsi di Sumatera, namun masih lebih tinggi dibandingkan Provinsi Lampung, Bengkulu, dan Bangka Belitung. Tabel 5.1. Perbandingan UMP Wilayah Sumatera No Provinsi UMP 2011 2012 2013 % 1 NAD 1,350,000 1,400,000 1,550,000 10.71 2 SUMUT 1,035,000 1,200,000 1,305,000 8.75 3 SUMBAR 1,055,000 1,150,000 1,350,000 17.39 4 RIAU 1,120,000 1,238,000 1,400,000 13.09 5 KEPRI 975,000 1,015,000 1,365,087 34.49 6 JAMBI 1,028,000 1,142,500 1,300,000 13.79 7 SUMSEL 1,048,440 1,195,220 1,350,000 12.95 8 BANGKA BELITUNG 1,024,000 1,100,000 1,265,000 15.00 9 BENGKULU 815,000 930,000 1,200,000 29.03 10 LAMPUNG 855,000 975,000 1,150,000 17.95 Berdasarkan survei kecil yang diadakan oleh Bank Indonesia Jambi kepada beberapa perusahaan, didapatkan informasi bahwa kenaikan UMP tidak berpengaruh signifikan terhadap biaya produksi. Kondisi ini disebabkan oleh mayoritas perusahaan yang telah menetapkan standar gaji yang lebih tinggi dari 59
KETENAGAKERJAAN DAERAH DAN KESEJAHTERAAN UMP baru. Namun demikian, apabila kenaikan UMP yang tinggi tersebut akan memperkecil ruang gerak perusahaan dalam menetapkan gaji pegawai ke depannya. Untuk melihat indikator kesejahteraan petani pada triwulan laporan, antara lain dapat menggunakan Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Jambi. Pada bulan Desember 2012, NTP sebesar 90,64 atau turun 32 bps dibandingkan bulan September 2012. 1 Penurunan NTP tersebut dialami oleh semua kategori petani, kecuali petani tanaman padi palawija. Menurunnya harga jual komoditas di tingkat internasional menyebabkan terbatasnya peningkatan indeks yang diterima oleh petani. Sementara itu, adanya inflasi diikuti dengan cenderung meningkatnya indeks yang harus dibayar dari petani. Dengan demikian, angka NTP cenderung terus mengalami penurunan, bahkan di bawah 100. Grafik 5.1. Perkembangan NTP, Inflasi dan Harga Komoditas 15 10 NTP Inflasi Karet CPO 5 0-5 -10-15 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 2012-20 1 NTP adalah angka perbandingan antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayar petani yang dinyatakan dalam bentuk persentase. NTP juga menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan barang atau jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Sehingga, NTP dapat dikatakan sebagai cerminan atau indikator relatif tingkat kesejahteraan petani. 60 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI TRIWULAN IV-2012
KETENAGAKERJAAN DAERAH DAN KESEJAHTERAAN Tabel 5.2. Nilai Tukar Petani (NTP) Per Sub Sektor (2007=100) KELOMPOK DAN SUB KELOMPOK 2012 Juli Agust Sept Okt Nov Des PERUBAHAN (%) ( Sept ke Des) 1 Tanaman Padi Palawija a Indeks Diterima Petani 121.47 121.77 121.80 122.90 122.67 122.76 0.96 - Padi 114.36 114.26 114.28 115.23 115.10 115.55 1.27 - Palawija 149.18 151.05 151.13 152.76 152.20 150.86-0.27 b Indeks Dibayar Petani 136.04 137.25 137.13 137.67 137.77 138.07 0.94 - Indeks Konsumsi Rumah Tangga 136.85 138.12 137.84 138.31 138.46 138.74 0.90 - Indeks BPPBM 132.65 133.59 134.16 134.96 134.87 135.22 1.06 Nilai Tukar Petani (NTP-P) 89.29 88.72 88.82 89.27 89.04 88.91 0.09 2 Hortikultura a Indeks Diterima Petani 118.95 120.81 119.50 120.00 119.09 120.08 0.58 - Sayur-sayuran 118.52 120.06 118.69 119.45 117.91 119.28 0.59 - Buah-buahan 119.47 121.71 120.47 120.67 120.52 121.05 0.58 b Indeks Dibayar Petani 134.58 135.64 135.48 135.90 136.03 136.34 0.86 - Indeks Konsumsi Rumah Tangga 136.57 137.84 137.56 138.01 138.15 138.43 0.87 - Indeks BPPBM 126.99 127.26 127.55 127.88 127.93 128.37 0.82 Nilai Tukar Petani (NTP-H) 88.39 89.06 88.20 88.30 87.55 88.07-0.13 3 Tanaman Perkebunan Rakyat a Indeks Diterima Petani 126.84 127.40 125.26 126.91 126.69 125.40 0.14 - Tanaman Perkebunan Rakyat 126.84 127.40 125.26 126.91 126.69 125.40 0.14 b Indeks Dibayar Petani 135.91 136.80 136.84 137.11 137.54 137.94 1.10 - Indeks Konsumsi Rumah Tangga 137.49 138.53 138.51 138.80 139.26 139.69 1.18 - Indeks BPPBM 129.81 130.16 130.39 130.59 130.92 131.19 0.80 Nilai Tukar Petani (NTP-Pr) 93.33 93.12 91.54 92.56 92.11 90.91-0.63 4 Peternakan a Indeks Diterima Petani 129.88 131.05 130.73 131.40 130.25 130.44-0.29 - Ternak Besar 126.94 128.25 128.10 129.07 127.83 127.77-0.33 - Ternak Kecil 124.90 125.43 125.28 126.27 125.38 124.70-0.58 - Unggas 136.73 137.78 137.06 136.99 135.76 137.11 0.05 - Hasil Ternak 144.54 145.86 145.06 144.88 144.62 144.29-0.77 b Indeks Dibayar Petani 130.07 130.90 130.79 131.08 131.25 131.43 0.64 - Indeks Konsumsi Rumah Tangga 136.53 137.89 137.67 138.01 138.34 138.57 0.90 - Indeks BPPBM 121.14 121.23 121.26 121.49 121.45 121.56 0.30 Nilai Tukar Petani (NTP-Pt) 99.85 100.11 99.96 100.25 99.24 99.25-0.71 5 Perikanan a Indeks Diterima Petani 118.15 119.21 119.38 119.27 119.37 120.01 0.63 - Penangkapan 110.58 111.60 112.29 111.53 111.04 112.19-0.10 - Budidaya 132.68 133.82 133.01 134.15 135.36 135.04 2.03 b Indeks Dibayar Petani 129.75 130.51 130.74 130.94 131.22 131.26 0.52 - Indeks Konsumsi Rumah Tangga 134.94 136.07 136.34 136.57 137.00 137.03 0.69 - Indeks BPPBM 118.81 118.81 118.93 119.07 119.06 119.11 0.18 Nilai Tukar Petani (NTP-Pi) 91.06 91.34 91.31 91.09 90.96 90.64-0.67 PROVINSI JAMBI a INDEKS YANG DITERIMA (It) 123.91 124.69 123.6 124.73 124.31 124.03 0.43 b INDEKS YANG DIBAYAR (Ib) 134.93 135.94 135.89 136.26 136.51 136.83 0.94 c NILAI TUKAR PETANI (NTPp) 91.83 91.73 90.96 91.54 91.06 90.64-0.32 B. Kemiskinan Dalam rangka turut mensukseskan program pemerintah dalam hal penanggulangan kemiskinan, pemerintah Provinsi Jambi (melalui Bulog Divre Jambi) secara rutin membagikan beras miskin (raskin) kepada masyarakat yang berhak. Pada triwulan laporan, penyaluran raskin mencapai sebesar 12.373,52 ton, meningkat 59% dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai TRIWULAN IV-2012 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI 61
Ribu ton KETENAGAKERJAAN DAERAH DAN KESEJAHTERAAN 7.781,89 ton. Penyaluran raskin di triwulan laporan juga termasuk penyaluran raskin ke-13. 2 Grafik 5.2. Penyaluran Raskin di Provinsi Jambi 14 12 10 8 6 4 2-12.37 Penyaluran Raskin (kg) 7.78 6.58 6.89 6.12 5.34 5.16 3.27 TW I TW II TW III TRW IV TW I TW II TW III TRW IV Sumber: Bulog Provinsi Jambi (diolah) Penyaluran raskin ke 13 pada triwulan laporan mencapai 1.274,04 ton 62 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI TRIWULAN IV-2012
BAB VI PROSPEK PEREKONOMIAN Laju pertumbuhan tahunan Provinsi Jambi pada triwulan I-2013 diperkirakan meningkat dibandingkan triwulan IV-2012. Peningkatan investasi dan pengeluaran konsumsi rumah tangga diperkirakan masih menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi Jambi pada triwulan mendatang. Dari sisi penawaran, kontribusi pertumbuhan ekonomi Jambi masih didominasi sektor pertanian, serta perdagangan, hotel dan restoran. Inflasi triwulan mendatang diperkirakan lebih tinggi dibandingkan triwulan laporan. Dari sisi penawaran masih terbatasnya produksi bahan makanan serta cuaca yang dalam musim hujan menjadi faktor peningkatan inflasi triwulan mendatang. Dari sisi kebijakan, adanya kenaikan harga TTL (Tarif Tenaga Listrik) secara bertahap berdampak pada tambahan kenaikan inflasi baik secara langsung maupun dampak lanjutannya. Dari sisi permintaan, tingginya investasi di Jambi juga berdampak pada meningkatnya ekspektasi masyarakat terhadap hargaharga barang investasi terutama properti. Namun demikian, antisipasi yang tepat mengenai kemungkinan-kemungkinan kenaikan harga menjadi faktor penahan tingginya inflasi di triwulan mendatang. A. Pertumbuhan Ekonomi Berdasarkan proyeksi Bank Indonesia, laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi pada triwulan mendatang diperkirakan pada kisaran 1,3%-1,8%(qtq) tumbuh lebih rendah dari triwulan laporan yang mencapai 2,84%. Sementara itu, secara tahunan, pertumbuhan ekonomi Jambi diperkirakan berada pada angka yang tinggi bahkan di atas 10% yaitu pada kisaran 10,5%-11,0% (yoy) dari triwulan laporan yang tumbuh mencapai 9,09% (yoy). Sementara proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2012 diperkirakan pada kisaran 7,4%-7,8%. 63
PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH Peningkatan investasi dan pengeluaran konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama pendorong pertumbuhan ekonomi Jambi pada triwulan mendatang diikuti dengan meningkatnya ekspor seiring dengan meningkatnya produksi komoditas utama yaitu karet. Kondisi ini juga didukung dari hasil SKDU triwulan IV-2012 dimana responden optimis memandang perekonomian triwulan mendatang. Hal ini tercermin dari meningkatnya angka total saldo bersih tertimbang perkembangan dunia usaha triwulan IV-2012 yaitu dari minus 0,72 menjadi 1,79. No Tabel 6.1. Saldo Bersih Tertimbang Perkembangan Dunia Usaha Sektor/Subsektor Saldo Bersih Tertimbang Triwulan IV-2012* Triwulan IV-2012* 1 Pertanian (1.40) 2.09 2 Pertambangan dan Penggalian (1.53) (2.29) 3 Industri Pengolahan - 0.47 4 Listrik dan Air Minum 0.20 0.40 5 Bangunan 0.69 (1.37) 6 Perdagangan, Hotel dan Restoran (1.47) (0.74) 7 Pengangkutan dan Komunikasi - - 8 Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan 1.21 2.43 9 Jasa-jasa 1.59 0.80 Total (0.72) 1.79 Sektor pertanian diperkirakan menjadi salah satu pendukung pertumbuhan ekonomi triwulan mendatang yang didukung oleh tumbuhnya sub sektor tanaman bahan makanan dan perkebunan. Produksi karet diperkirakan akan meningkat sementara masuknya musim panen padi mendorong tumbuhnya sub sektor. Di samping itu, harga komoditi karet yang mulai membaik juga diharapkan menjadi faktor pendorong berkembangnya sektor ini. Sektor industri pengolahan diperkirakan akan meningkat pertumbuhannya sejalan dengan pertumbuhan sektor pertanian. Sektor pertambangan dan penggalian diperkirakan akan tumbuh. Adanya pertambangan migas baru diperkirakan mendorong pertumbuhan sektor ini. 64 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI TRIWULAN IV-2012
PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH Sementara itu, pertumbuhan sektor bangunan di bulan mendatang masih meningkat yang didukung oleh meningkatnya perumahan rakyat. Selanjutnya, menggeliatnya perkembangan ekonomi juga diikuti dengan meningkatnya perdagangan sehingga mendorong sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran. B. Proyeksi Inflasi Perkembangan harga-harga pada triwulan I-2013 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan triwulan IV-2012 mencapai 5,0%-5,50% (yoy) meningkat dari triwulan laporan 4,22% (yoy). Faktor penyebab inflasi terutama bersumber dari sisi penawaran. Produksi bumbu-bumbuan yang masih terbatas menjadi penyebab peningkatan inflasi volatile foods. Namun demikian, masuknya musim panen padi diharapkan dapat menahan laju inflasi kelompak ini. Dari sisi kebijakan, adanya kenaikan harga TTL (Tarif Tenaga Listrik) secara bertahap berdampak pada tambahan kenaikan inflasi baik secara langsung maupun dampak lanjutannya. Dari sisi permintaan, tingginya investasi di Jambi juga berdampak pada meningkatnya ekspektasi masyarakat terhadap harga-harga barang investasi terutama properti. Maraknya pembangunan properti di kota Jambi dalam beberapa tahun terakhir memicu turut menyebabkan kenaikan harga properti Jambi. Komoditi-komoditi yang diperkirakan mengalami peningkatan harga adalah bumbu-bumbuan, dan biaya properti. Grafik 6.1. Perkembangan Inflasi Bulanan (mtm) Kota Jambi Periode Tahun 2010 s.d. Januari 2013 serta Perkiraan Februari s.d Desember 2013 m-t-m (%) 4 3 2 1 2010 2011 2012 2013 0-1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12-2 -3 Catatan: Inflasi Februari - Desember 2013 adalah angka perkiraan TRIWULAN IV-2012 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI 65
PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH Grafik 6.2. Perkembangan Inflasi Tahunan (yoy) Kota Jambi Periode Tahun 2010 s.d. Januari 2013 serta Perkiraan Februari s.d Desember 2013 y-o-y (%) 12 10 8 6 4 2 0 2010 2011 2012 2013 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Catatan: Inflasi Februari - Desember 2013 merupakan angka perkiraan dengan deviasi 1% Grafik 6.2. Perkembangan Inflasi Tahun Kalender (ytd) Kota Jambi Periode Tahun 2010 s.d. Januari 2013 serta Perkiraan Februari s.d Desember 2013 y-t-d (%) 12 10 2010 2011 2012 2013 8 6 4 2 0-2 -4 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Catatan: Inflasi Februari -Desember 2012 merupakan angka perkiraan dengan deviasi 1% Faktor yang berpotensi akan memberikan tekanan inflasi selama triwulan mendatang dan menyebabkan perkiraan inflasi keluar dari sasaran antara lain 1) Terbatasnya produksi beberapa jenis komoditas kelompok bumbu-bumbuan, 2) Meningkatnya pembangunan konstruksi masyarakat, 3) Kondisi infrastruktur (jalan, jembatan) yang masih terkendala akan meningkatkan biaya distribusi dan transportasi barang dan jasa, 4) Kondisi memasuki musim hujan yang dapat menghambat distribusi. Beberapa hal tersebut diperkirakan akan memacu meningkatnya angka inflasi pada periode triwulan I tahun 2013. Sementara, masih tercukupinya stok beberapa kebutuhan pokok cukup mampu meredam potensi gejolak harga yang terjadi sewaktu-waktu. Stok beras di BULOG Divre Jambi juga diprakirakan cukup untuk meredam gejolak harga beras. Selain itu penerapan kebijakan BULOG dalam menyalurkan raskin menjadi 13 (tiga belas) kali dalam setahun diharapkan dapat membantu masyarakat yang kurang mampu. 66 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI TRIWULAN IV-2012
LAMPIRAN KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI
Halaman ini sengaja dikosongkan. This page is intentionally blank.
Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Jambi Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Juta Rupiah) LAPANGAN USAHA 2012 I II III IV J U M L A H 1. PERTANIAN 5,017,519.35 5,315,494.69 5,606,135.46 5,736,268.60 21,675,418.10 a. Tanaman Bahan Makanan 1,488,317.10 1,588,754.20 1,650,528 1,688,077 6,415,677 b. Tanaman Perkebunan 2,733,902.47 2,898,991.92 3,080,312 3,134,775 11,847,982 c. Peternakan dan Hasil-hasilnya 267,500.37 277,128.02 300,515 312,898 1,158,042 d. Kehutanan 302,634.01 316,348.28 329,477 350,662 1,299,121 e. Perikanan 225,165.40 234,272.27 245,303 249,855 954,596 2. PERTAMBANGAN & PENGGALIAN 2,935,154.71 3,034,593.08 3,245,437.92 3,411,489.41 12,626,675.14 a. Minyak dan Gas Bumi 2,332,061.80 2,409,027.70 2,624,182 2,754,472 10,119,743 b. Pertambangan tanpa Migas 438,407.62 453,857.56 440,730 468,001 1,800,996 c. Penggalian 164,685.29 171,707.82 180,526 189,016 705,935 3. INDUSTRI PENGOLAHAN 1,805,130.75 1,923,125.81 2,039,002.81 2,156,261.53 7,923,520.90 a. Industri Migas 161,500.72 169,733.29 178,000.68 187,314.17 696,548.86 1. Pengilangan Minyak Bumi 161,500.72 169,733.29 178,000.68 187,314 696,549 2. Gas Alam Cair - 0.00 0.00 - - b. Industri Tanpa Migas **) 1,643,630.03 1,753,392.53 1,861,002.13 1,968,947.36 7,226,972.05 1. Makanan, Minuman dan Tembakau 657,642.55 702,597.51 760,451 810,169 2,930,859 2. Tekstil, Brg. Kulit & Alas kaki 8,648.80 9,525.38 10,166 10,364 38,703 3. Brg. Kayu & Hasil Hutan lainnya 770,631.62 825,932.08 861,533 912,456 3,370,553 4. Kertas dan Barang Cetakan 84,781.50 86,950.04 92,019 94,268 358,019 5. Pupuk, Kimia & Brg. dari Karet 40,096.87 43,399.10 46,232 46,584 176,312 6. Semen & Brg. Galian bukan logam 55,958.44 58,194.94 62,463 66,348 242,964 7. Logam Dasar Besi & Baja - - - - - 8. Alat Angk., Mesin & Peralatannya 8,303.14 8,805.37 9,264 9,526 35,898 9. Barang lainnya 17,567.12 17,988.09 18,875 19,233 73,663 4. LISTRIK, GAS & AIR BERSIH 154,736.94 160,324.36 169,588.09 184,615.34 669,264.73 a. Listrik 132,323.08 137,209.46 144,809 158,059 572,401 b. Gas - - - - c. Air Bersih 22,413.85 23,114.90 24,779 26,556 96,864 5. BANGUNAN 740,911.40 807,599.30 893,464 1,050,667 3,492,642 6. PERDAGANGAN, HOTEL & RESTORAN 2,603,995.21 2,751,169.47 2,972,192.36 3,132,381.05 11,459,738.10 a. Perdagangan Besar & Eceran 2,398,001.45 2,533,184.76 2,743,300 2,896,370 10,570,857 b. Hotel 36,258.81 38,316.91 40,338 42,319 157,233 c. Restoran 169,734.95 179,667.80 188,554 193,692 731,648 7. PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI 1,067,045.08 1,113,783.59 1,197,357.40 1,243,347.42 4,621,533.49 a. Pengangkutan 980,846.57 1,024,306.75 1,103,333.24 1,145,998.00 4,254,484.56 1. Angkutan Rel - - - - - 2. Angkutan Jalan Raya 676,559.19 706,652.40 753,973 786,783 2,923,967 3. Angkutan Laut 114,097.78 118,145.33 121,442 123,969 477,655 4. Angk. Sungai, Danau & Penyebr. 43,624.84 44,186.13 44,452 44,740 177,003 5. Angkutan Udara 95,149.68 101,738.58 127,526 133,492 457,906 6. Jasa Penunjang Angkutan 51,415.09 53,584.32 55,941 57,014 217,954 b. Komunikasi 86,198.51 89,476.84 94,024.16 97,349.43 367,048.93 1. Pos dan Telekomunikasi 84,863.43 88,088.49 92,581 95,856 361,389 2. Jasa Penunjang Komunikasi 1,335.08 1,388.34 1,443 1,493 5,660 8. KEUANGAN, PERSEWAAN, & JS. PRSH. 872,106.31 914,231.16 958,069.53 1,004,025.23 3,748,432.23 a. Bank 391,502.56 415,728.13 443,397 479,824 1,730,452 b. Lembaga Keuangan tanpa Bank 57,695.33 60,969.28 66,148 68,973 253,785 c. Jasa Penunjang Keuangan 4,062.37 4,256.01 4,586 4,767 17,671 d. Sewa Bangunan 406,117.70 420,213.85 430,545 436,675 1,693,552 e. Jasa Perusahaan 12,728.33 13,063.90 13,393 13,787 52,973 9. JASA-JASA 1,536,501.56 1,586,501.82 1,638,020.93 1,675,915.91 6,436,940.22 a. Pemerintahan Umum 1,316,359.78 1,360,850.41 1,401,344.46 1,430,047.24 5,508,601.90 1. Adm. Pemerintahan & Pertahanan 923,464.04 957,392.98 983,236 998,308 3,862,401 2. Jasa Pemerintah lainnya 392,895.74 403,457.43 418,109 431,739 1,646,201 b. Swasta 220,141.78 225,651.41 236,676.46 245,868.67 928,338.32 1. Sosial Kemasyarakatan 154,344.59 158,243.64 166,285 174,514 653,387 2. Hiburan & Rekreasi 9,966.83 10,307.00 10,938 11,167 42,379 3. Perorangan & Rumahtangga 55,830.37 57,100.76 59,453 60,188 232,572 PDRB Migas 16,733,101.31 17,606,823.30 18,719,268.25 19,594,971.76 72,654,164.62 PDRB Tanpa Migas 14,239,538.78 15,028,062.31 15,917,085.79 16,653,185.52 61,837,872.40 PDRB Tanpa Migas dan batubara 13,639,630.44 14,404,471.46 15,298,354.87 15,997,870.29 59,340,327.06 Keterangan: *angka sementara ** angka sangat sementara
Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Jambi Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Juta Rupiah) LAPANGAN USAHA 2012 I II III IV J U M L A H 1. PERTANIAN 1,451,186.57 1,491,500.03 1,518,732.27 1,542,865.25 6,004,284.13 a. Tanaman Bahan Makanan 532,026.15 545,148.73 541,828 543,672 2,162,675 b. Tanaman Perkebunan 702,512.85 725,854.91 751,430 768,967 2,948,764 c. Peternakan dan Hasil-hasilnya 95,456.39 96,459.78 98,481 99,711 390,108 d. Kehutanan 64,936.63 66,745.15 68,202 71,814 271,698 e. Perikanan 56,254.56 57,291.46 58,791 58,702 231,039 2. PERTAMBANGAN & PENGGALIAN 632,817.93 664,546.24 691,806.04 724,265.28 2,713,435.49 a. Minyak dan Gas Bumi 462,989.81 489,491.91 517,085 540,846 2,010,413 b. Pertambangan tanpa Migas 110,446.89 114,365.25 111,903 119,014 455,729 c. Penggalian 59,381.24 60,689.08 62,818 64,405 247,294 3. INDUSTRI PENGOLAHAN 602,128.98 621,508.05 645,624.17 663,662.58 2,532,923.78 a. Industri Migas 33,678.54 34,590.07 35,713.38 37,079.35 141,061.34 1. Pengilangan Minyak Bumi 33,678.54 34,590.07 35,713.38 37,079 141,061 2. Gas Alam Cair - 0.00 - - b. Industri Tanpa Migas **) 568,450.44 586,917.98 609,910.79 626,583.23 2,391,862.45 1. Makanan, Minuman dan Tembakau 250,968.71 260,069.36 273,824.42 284,558.61 1,069,421 2. Tekstil, Brg. Kulit & Alas kaki 4,177.81 4,426.93 4,584.48 4,620 17,809 3. Brg. Kayu & Hasil Hutan lainnya 234,507.07 242,510.04 248,396.19 252,195 977,608 4. Kertas dan Barang Cetakan 33,376.39 33,571.90 34,592.62 35,170 136,711 5. Pupuk, Kimia & Brg. dari Karet 11,801.83 12,322.81 12,873.32 12,959 49,957 6. Semen & Brg. Galian bukan logam 23,440.80 23,585.87 24,827.20 26,228 98,082 7. Logam Dasar Besi & Baja 0.00 0.00 0.00 - - 8. Alat Angk., Mesin & Peralatannya 3,319.05 3,482.29 3,614.17 3,652 14,068 9. Barang lainnya 6,858.77 6,948.77 7,198.39 7,201 28,207 4. LISTRIK, GAS & AIR BERSIH 41,537.78 42,221.57 43,115.20 45,734.43 172,608.99 a. Listrik 36,271.74 36,925.09 37,714.74 40,063 150,974 b. Gas 0.00 0.00 - - c. Air Bersih 5,266.04 5,296.48 5,400.47 5,672 21,635 5. BANGUNAN 232,285.95 241,824.86 263,095.05 294,423 1,031,629 6. PERDAGANGAN, HOTEL & RESTORAN 879,489.33 899,172.48 939,087.21 956,235.86 3,673,984.88 a. Perdagangan Besar & Eceran 809,836.44 827,576.34 865,079.09 881,149 3,383,641 b. Hotel 15,380.24 15,888.05 16,276.04 16,877 64,421 c. Restoran 54,272.65 55,708.09 57,732.09 58,210 225,923 7. PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI 352,177.09 361,213.60 375,484.18 384,400.33 1,473,275.20 a. Pengangkutan 319,522.49 327,861.55 341,287.30 349,732.30 1,338,403.64 1. Angkutan Rel 0.00-2. Angkutan Jalan Raya 202,129.19 208,254.26 214,552.84 221,068 846,004 3. Angkutan Laut 43,026.37 43,653.82 44,232.08 44,760 175,673 4. Angk. Sungai, Danau & Penyebr. 17,879.40 17,962.09 18,006.22 18,076 71,924 5. Angkutan Udara 36,365.42 37,566.59 43,416.58 44,611 161,959 6. Jasa Penunjang Angkutan 20,122.11 20,424.78 21,079.58 21,218 82,844 b. Komunikasi 32,654.60 33,352.05 34,196.88 34,668.03 134,871.56 1. Pos dan Telekomunikasi 32,298.19 32,990.95 33,829.07 34,296 133,414 2. Jasa Penunjang Komunikasi 356.41 361.10 367.81 372 1,458 8. KEUANGAN, PERSEWAAN, & JS. PRSH. 282,677.58 290,388.04 295,249.61 304,502.14 1,172,817.37 a. Bank 154,075.06 160,109.54 162,965.44 170,697 647,847 b. Lembaga Keuangan tanpa Bank 14,872.36 15,233.60 15,799.13 16,017 61,922 c. Jasa Penunjang Keuangan 1,549.81 1,581.31 1,643.40 1,666 6,440 d. Sewa Bangunan 108,019.05 109,258.77 110,592.95 111,803 439,674 e. Jasa Perusahaan 4,161.30 4,204.82 4,248.68 4,319 16,934 9. JASA-JASA 393,196.05 397,868.41 402,330.21 405,179.46 1,598,574.13 a. Pemerintahan Umum 325,992.49 329,898.89 332,812.45 334,914.83 1,323,618.65 1. Adm. Pemerintahan & Pertahanan 210,188.92 212,765.30 213,973.78 215,016 851,944 2. Jasa Pemerintah lainnya 115,803.57 117,133.59 118,838.67 119,899 471,675 b. Swasta 67,203.56 67,969.52 69,517.76 70,264.63 274,955.48 1. Sosial Kemasyarakatan 43,251.78 43,753.04 44,776.97 45,240 177,022 2. Hiburan & Rekreasi 3,755.93 3,796.16 3,893.68 3,964 15,410 3. Perorangan & Rumahtangga 20,195.85 20,420.32 20,847.12 21,060.44 82,524 PDRB Migas 4,867,497.26 5,010,243.28 5,174,523.97 5,321,268.11 20,373,532.62 PDRB Tanpa Migas 4,370,828.92 4,486,161.31 4,621,725.65 4,743,342.67 18,222,058.54 PDRB Tanpa Migas dan batubara 4,226,703.49 4,337,205.98 4,474,109.28 4,587,249.36 17,625,268.11 Keterangan: *angka sementara ** angka sangat sementara
Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Jambi Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Penggunaan (Juta Rupiah) Komponen I-2012 II-2012 III-2012 IV-2012 Total-2012 1. Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga 9,990,278.95 10,249,898.62 10,741,319.53 10,965,457.70 41,946,954.79 1.1. Makanan 6,307,122.00 6,417,265.04 6,691,116.09 6,775,868.53 26,191,371.65 1.2. Non Makanan 3,683,156.95 3,832,633.58 4,050,203.44 4,189,589.17 15,755,583.14 2. Pengeluaran Konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba 108,741.37 113,045.23 118,367.81 121,908.50 462,062.91 3. Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 3,055,001.96 3,172,848.27 3,303,814.57 3,372,018.16 12,903,682.96 4. Pembentukan Modal Tetap Bruto 2,927,705.53 3,090,876.72 3,336,979.25 3,587,141.88 12,942,703.38 5. Perubahan Stok 455,402.57 475,637.16 473,567.26 505,644.46 1,910,251.45 6. Diskrepansi Statistik 7. Ekspor Barang dan Jasa 7,860,365.36 8,825,487.28 8,941,910.18 8,865,570.85 34,493,333.67 7.1. Ekspor Luar Negeri 4,061,251.32 4,938,356.80 3,664,390.03 3,873,300.12 16,537,298.27 7.2. Ekspor Antar Daerah 3,799,114.04 3,887,130.48 5,277,520.15 4,992,270.73 17,956,035.41 8. Dikurangi Impor Barang dan Jasa 7,664,394.44 8,320,969.99 8,196,690.34 7,822,769.78 32,004,824.55 8.1. Impor Luar Negeri 310,931.83 218,818.06 330,366.51 388,669.61 1,248,786.00 8.2. Impor Antar Daerah 7,353,462.61 8,102,151.93 7,866,323.83 7,434,100.18 30,756,038.55 PDRB 16,733,101.31 17,606,823.30 18,719,268.25 19,594,971.76 72,654,164.62 Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Jambi Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Penggunaan (Juta Rupiah) Komponen I-2012 II-2012 III-2012 IV-2012 Total-2012 1. Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga 3,325,263.11 3,360,578.69 3,441,819.42 3,467,011.76 13,594,672.98 1.1. Makanan 2,170,555.76 2,186,116.89 2,231,222.94 2,240,359.79 8,828,255.38 1.2. Non Makanan 1,154,707.35 1,174,461.80 1,210,596.48 1,226,651.97 4,766,417.60 2. Pengeluaran Konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba 33,059.19 33,712.02 34,573.67 35,149.54 136,494.42 3. Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 928,532.86 953,417.54 984,147.13 995,088.87 3,861,186.40 4. Pembentukan Modal Tetap Bruto 830,604.68 865,689.62 924,886.39 984,300.06 3,605,480.76 5. Perubahan Stok 158,220.72 161,820.24 158,560.24 170,711.44 649,312.64 6. Diskrepansi Statistik 0.00 0.00 7. Ekspor Barang dan Jasa 3,086,956.85 3,444,415.64 3,354,255.91 3,346,976.68 13,232,605.08 7.1. Ekspor Luar Negeri 1,846,285.52 2,224,049.27 1,655,821.24 1,757,540.35 7,483,696.38 7.2. Ekspor Antar Daerah 1,240,671.33 1,220,366.37 1,698,434.67 1,589,436.33 5,748,908.70 8. Dikurangi Impor Barang dan Jasa 3,495,140.16 3,809,390.48 3,723,718.79 3,677,970.24 14,706,219.66 8.1. Impor Luar Negeri 127,847.68 89,565.53 132,424.14 153,841.22 503,678.57 8.2. Impor Antar Daerah 3,367,292.48 3,719,824.95 3,591,294.65 3,524,129.01 14,202,541.09 PDRB 4,867,497.26 5,010,243.28 5,174,523.97 5,321,268.11 20,373,532.62 Keterangan: *angka sementara ** angka sangat sementara
Indeks Harga Konsumen (IHK) Jambi Tahun Dasar 2007=100 URAIAN 2012 JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGS SEP OKT NOV DES I UMUM 134.95 133.21 133.90 133.97 134.91 137.41 137.84 138.42 138.68 138.75 138.26 139.12 II BAHAN MAKANAN 154.01 145.77 145.76 145.34 148.09 155.24 155.85 153.84 154.86 154.58 151.79 155.04 III. MAKANAN JADI, MNMAN, ROKOK & TBK 157.45 157.97 158.67 159.29 159.93 161.11 161.92 163.10 163.35 163.84 164.06 164.05 IV. PERUMAHAN 122.84 123.76 126.05 126.20 126.55 127.85 128.18 129.35 129.04 128.86 129.77 129.48 V. SANDANG 131.11 132.24 133.32 133.35 132.81 133.39 133.46 134.34 135.85 136.12 136.01 136.09 VI. KESEHATAN 121.43 121.77 121.83 121.83 121.80 121.83 122.38 122.54 122.54 122.85 123.15 123.29 VII. PENDIDIKAN, REKREASI & OR 128.69 129.11 129.13 129.46 129.24 130.27 130.91 130.98 130.97 131.10 131.14 131.08 VIII. TRANSPORT & KOMUNIKASI 107.25 107.60 107.63 107.78 108.14 108.16 108.14 111.38 110.91 111.30 111.34 111.60 Sumber: BPS Provinsi Jambi
Daftar Istilah Ekspor adalah seluruh barang yang keluar dari suatu wilayah/daerah baik yang bersifat komersil maupun bukan komersil. Impor adalah seluruh barang yang masuk suatu wilayah/daerah baik yang bersifat komersil maupun bukan komersil. PDRB atas dasar harga pasar adalah penjumlahan nilai tambah bruto (NTB) yang mencakup seluruh komponen faktor pendapatan yaitu gaji, bunga, sewa tanah, keuntungan, penyusutan dan pajak tak langsung dari seluruh sektor perekonomian. PDRB atas dasar harga konstan merupakan perhitungan PDRB yang didasarkan atas produk yang dihasilkan menggunakan harga tahun tertentu sebagai dasar perhitungannya. Bank pemerintah adalah bank-bank yang sebelum program rekapitalisasi merupakan bank milik pemerintah (persero) yaitu terdiri dari Bank Mandiri, BNI, BTN dan BRI. Bank swasta adalah perbankan yang sepenuhnya dimiliki oleh swasta nasional sebelum dilakukannya program rekapitalisasi perbankan. Dana Pihak Ketiga (DPK) adalah simpanan masyarakat yang ada di perbankan terdiri dari giro, tabungan, dan deposito. Net Interest Margin (NIM) adalah selisih bersih antara biaya bunga operasional dengan pendapatan bunga operasional. Loan to Deposits Ratio (LDR) adalah rasio antara kredit yang diberikan oleh perbankan terhadap jumlah dana pihak ketiga yang dihimpun. Non Performing Loan (NPL) adalah jumlah kredit yang termasuk dalam kategori kurang lancar, diragukan dan macet sesuai ketentuan Bank Indonesia. Cash inflows adalah jumlah aliran kas yang masuk ke kantor Bank Indonesia yang berasal dari perbankan dalam periode tertentu. Cash outflows adalah jumlah aliran kas keluar dari kantor Bank Indonesia kepada perbankan dalam periode tertentu. Net cashflows adalah selisih bersih antara jumlah cash inflows dan cash outflows pada periode yang sama terdiri dari Netcash Outflows bila terjadi cash outflows lebih tinggi dibandingkan cash inflows, dan Netcash inflows bila terjadi sebaliknya. Administered prices adalah kelompok barang yang pergerakan harganya ditentukan oleh pemerintah baik secara keseluruhan maupun sebagian.