KAJIAN EKONOMI REGIONAL
|
|
|
- Hendra Sudirman
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Jambi Triwulan II 2009 Kantor Bank Indonesia Jambi
2 Halaman ini sengaja dikosongkan
3 K A T A P E N G A N T A R Pertamatama ijinkanlah kami memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas limpahan rahmatnya sehingga Kajian Ekonomi Regional (KER) Provinsi Jambi triwulan II tahun 2009 dapat diselesaikan dengan baik. KER merupakan salah satu terbitan periodik sebagai sarana bagi Bank Indonesia Jambi dalam membangun komunikasi dua arah dalam pertukaran data dan informasi baik dengan stakeholders internal maupun stakeholers eksternal sehingga para pemangku kepentingan seperti pelaku usaha, perbankan dan terutama Pemerintah Daerah Jambi (provinsi dan kabupaten/kota) dapat memperoleh masukan untuk mengambil keputusan dan kebijakan yang sesuai dengan perkembangan yang ada. KER mencakup beberapa aspek seperti perkembangan ekonomi makro regional, perkembangan inflasi daerah, perkembangan perbankan, perkembangan keuangan daerah, perkembangan sistem pembayaran, ketenagakerjaan daerah dan kesejahteraan serta perkiraan ekonomi dan inflasi daerah. Berdasarkan asesmen atas data dan informasi, pada triwulan II tahun 2009 akselerasi pertumbuhan tahunan (yoy) ekonomi Provinsi Jambi masih tumbuh walaupun mengalami pelambatan. Perkembangan inflasi tahunan Kota Jambi mengalami tren penurunan selama periode triwulan laporan. Perkembangan perbankan terutama dari sisi kredit dan dana yang dihimpun menunjukkan peningkatan. Begitu juga dengan perbaikan fungsi intermediasi perbankan yang tercermin dari meningkatnya Loan to deposits ratio (LDR) sehingga menjadi sebesar 77,80%. Namun demikian, ratio NonPerforming Loan (NPL) gross perbankan pada triwulan laporan mengalami penurunan. Pembenahan sektor riil secara langsung diperlukan sebagai upaya akselerasi penyaluran kredit perbankan serta dalam rangka menghadapi dampak dari krisis global. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan yang akan datang sangat tergantung pada peningkatan konsumsi rumah tangga dan pengeluaran konsumsi pemerintah melalui percepatan realisasi belanja APBD. Di sisi lain, pergerakan harga barang dan jasa secara umum perlu mendapatkan perhatian khusus terkait dengan datangnya bulan Ramadhan dan Lebaran. Dalam penyusunan KER triwulan II tahun 2009, kami banyak memperoleh support dari berbagai pihak seperti dinasdinas pemerintah daerah, instansi, perbankan, BUMN/BUMD dan pelaku usaha. Oleh karena itu, kami menyampaikan penghargaan dan mengucapkan terima kasih kepada semua pihak. Kami mengharapkan kerjasama yang telah terjalin selama ini dapat ditingkatkan di masa yang akan datang. Seiring dengan keterbatasan yang ada, kami mengharapkan kritik dan saran dalam meningkatkan kualitas KER ini agar dapat memberikan manfaat yang optimal, untuk kemakmuran masyarakat Jambi. Jambi, Juli 2009
4 Halaman ini sengaja dikosongkan
5 DAFTAR ISI Daftar Isi i Daftar Tabel... ii Daftar Grafik... iii Ringkasan Eksekutif... 1 BAB I. Perkembangan Ekonomi Makro Regional... 5 A. Umum... 5 B. PDRB Sisi Produksi... 7 C. PDRB Sisi Pengeluaran Boks 1 : Perkembangan Sektor Pertambangan dan Pendukungnya di Provinsi Jambi BAB II. Perkembangan HargaHarga A. Kajian Umum B. Inflasi Berdasarkan Kelompok Barang Boks 2 : Launching Forum Koordinasi Pengendalian Inflasi Provinsi Jambi BAB III. Perkembangan Perbankan Daerah A. Perkembangan Kelembagaan B. Bank Umum C. Bank Perkreditan Rakyat Boks 4 : Survei Kredit Perbankan Jambi : Tantangan Di Tahun 2009 BAB IV Keuangan Pemerintah Daerah A. Realisasi Pendapatan Daerah B. Realisasi Belanja Daerah C. Keuangan Pemerintah Pusat di Daerah D. Keuangan Pemerintah Daearah BAB V Perkembangan Sistem Pembayaran A. Perkembangan Alat Pembayaran Tunai B. Perkembangan Alat Pembayaran Non Tunai BAB VI Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan A. Keternagakerjaan Daerah B. Kesejahteraan C. Kemiskinanan BAB VII Perkiraan Ekonomi dan Harga Daerah A. Pertumbuhan Ekonomi B. Proyeksi Inflasi Lampiran Daftar Istilah i
6 DAFTAR TABEL 1.1 Laju Triwulanan (qtq) Pertumbuhan Provinsi Jambi Sisi Produksi dan Sisi Penggunaan Perkembangan Inflasi Kota Jambi Perkembangan Inflasi Triwulanan (qtq) Tahunan (yoy) serta tahunan Kota Jambi Berdasarkan Kelompok dan Sub Kelompok Barang dan Jasa Sumbangan Inflasi Bulanan (mtm) Kota Jambi Berdasarkan Komoditi Periode triwulan I Penghimpunan Dana Bank Umum di Provinsi Jambi Perkembangan Dana Pihak Ketiga Berdasarkan Golongan Pemilik Perkembangan Dana Pihak Ketiga Berdasarkan Lokasi Bank Perkembangan Kredit Bank Umum Provinsi Jambi Perkembangan Kredit Lokasi Proyek Provinsi Jambi Tabel Undisbursed Loan Bank Umum Berdasarkan Jenis Penggunaan dan Berdasarkan Sektor Ekonomi Provinsi Jambi Tabel Persetujuan Kredit Berdasarkan Jenis Penggunaan di Provinsi Jambi Perkembangan Non Performing Loan (NPL) Gross Bank Umum Provinsi Jambi Komposisi Pendapatan Bunga Bank Umum Provinsi Jambi Realisasi APBD Provinsi Jambi Semester I Tahun Perkembangan Realisasi Pendapatan Pemerintah Pusat di Provinsi Jambi Perkembangan Realisasi Belanja Pemerintah Pusat di Provinsi Jambi Perkembangan Sistem Pembayaran Provinsi Jambi Perkembangan Transaksi RTGS Nilai Tukar Petani (NTP) Per Sub Sektor (2007=100) Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Sumatera dan Total Indonesia Garis Kemiskinan Provinsi Jambi Garis Kemiskinan Menurut Komponen Indeks Kedalaman dan Keparahan Kemiskinan Saldo Bersih Tertimbang Perkembangan Dunia Usaha 89 ii
7 DAFTAR GRAFIK 1.1 Perkembangan PDRB Provinsi Jambi (qtq) Perkembangan PDRB Provinsi Jambi dan Nasional (yoy) Kontribusi PDRB Sisi Produksi terhadap Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Jambi (qtq) Distribusi PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Triwulan I Tahun Luas Tanam Sektor Tabama triwulan IV Tahun Luas Tanam Sektor Tabama Triwulan I Tahun Luas Panen Sektor Tabama Trwulan IV Tahun Luas Panen Sektor Tabama Triwulan I Tahun Perkembangan harga CPO, Inti dan TBS 10 Tahun di Provinsi Jambi Pertumbuhan Indikator Produksi Sub Sektor Tanaman Perkebunan (%) Pertumbuhan Indikator Produksi Sub Sektor Hortikultura, Sub Sektor Peternakan dan Sub Sektor Perikanan Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Jambi Pertumbuhan Indeks terima dan Indeks Bayar Petani Distribusi Jenis Pupuk Jumlah dan Pertumbuhan Realisasi Pupuk Perkembangan Indikator produksi Bulanan Sektor PHR Perkembangan Konsumsi Listrik Sektor Bisnis PDRB Sub Sektor Minyak dan Gas Bumi serta Lifting Minyak Bumi Pertumbuhan Lifting Gas Alam Indeks Produksi Batubara dan Bahan Galian Gol. C PDRB Industri Pengolahan Perkembangan Total Pemakaian Listrik Sektor Industri Indeks Produksi Industri CPO, Karet, Kopra Makanan dan Minuman Indeks Produksi Industri Barang dari Kayu, Barang dari Semen, dan Batu Bata Perkembangan Total Pemakaian Listrik Perkembangan Jumlah Pelanggan Listrik Perkembangan Total Konsumsi Air Kota Jambi Perkembangan PDRB Sektor Bangunan dan Konsumsi Semen Perkembangan Kredit KPR Perkembangan Kredit Ruko/Rukan PDRB Sub Sektor Angkutan Udara Perkembangan Keberangkatan dan Kedatangan Penumpang Perkembangan Jumlah Bongkar dan Muat Barang Perkembangan Total Arus Peti Kemas Perkembangan Kunjungan Kapal 21 iii
8 1.36 Kontribusi PDRB Sisi Pengeluaran Terhadap Pertumbuhan (qtq) Distribusi PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Pengeluaran Triwulan I tahun Indeks Kondisi Ekonomi Konsumsi Listrik Rumah Tangga Pertumbuhan Pendaftaran Kendaraan Bermotor Baru Perkembangan Penjualan Premium dan Solar Perkembangan Penjualan Minyak Tanah Nominal dan Pertumbuhan Kredit Konsumsi di Provinsi Jambi Pertumbuhan Pendaftaran Sedan, Jeep, Minibus Baru Pertumbuhan Pendaftaran Sepeda Motor Baru Pertumbuhan Pendaftaran Truck/Pick Up Baru Nominal dan Pertumbuhan Kredit Investasi di Provinsi Jambi Konsumsi Semen Provinsi Jambi Perkembangan Ekspor dan Impor Non Migas Provinsi Jambi Perkembangan Ekspor Provinsi Jambi Lima Komoditi Tertinggi Nilai Ekspor Provinsi Jambi Perkembangan Ekspor Non Migas Provinsi Jambi Berdasarkan Negara Tujuan Pangsa Ekspor Non Migas Provinsi Jambi Berdasarkan Negara Tujuan Perkembangan Impor Non Migas Provinsi Jambi Lima Komoditi Tertinggi Nilai Impor Provinsi Jambi Perkembangan Impor Non Migas Provinsi Jambi Berdasarkan Negara Penjual Pangsa Impor Non Migas Provinsi Jambi Berdasarkan Negara Penjual Perkembangan Inflasi Kota Jambi Perkembangan Inflasi Tahun Kalender Kota Jambi Periode Tahun 2003 s.d Juni Perkembangan Laju Inflasi Kota Jambi Perbandingan Inflasi (yoy) Kota Jambi dan Kota Sekitarnya Perkembangan Harga CPO dan Minyak Goreng Perkembangan Harga Tepung Terigu Perkembangan Harga Cabe Merah dan Bawang Perkembangan Harga Jagung Perkembangan Harga Daging Perkembangan Harga Beras Perkembangan Harga Emas di Pasar Internasional Perkembangan Harga Minyak di Pasar Internasional Perkembangan Aset Bank Umum Provinsi Jambi Perkembangan Dana Pihak Ketiga Bank Umum Provinsi Jambi Perkembangan Loan to Deposit Ratio (LDR) Bank Umum Provinsi Jambi Loan to Deposit Ratio (LDR) Berdasarkan Lokasi Proyek per kabupaten/kota di Provinsi Jambi Perkembangan Kredit UMKM Bank Umum Provinsi Jambi Pangsa Kredit Bank Umum Provinsi Jambi 60 iv
9 3.7 Perkembangan Laba Rugi Triwulanan Perkembangan Suku Bunga Ratarata Tertimbang Kredit dan Deposito Bank Umum Provinsi Jambi Perkembangan Pendapatan APBD Provinsi Jambi Perkembangan Belanaja APBD Provinsi Jambi Pangsa Realisasi Pendapatan Pemerintah Pusat di Provinsi Jambi Pangsa Realisasi Pendapatan Pajak Dalam Negeri di Provinsi Jambi Pangsa (Share) Realisasi Belanja Pemerintah Pusat Di Provinsi Jambi Perkembangan Deposito dan Giro Pemerintah Daerah di Provinsi Jambi Inflows, Outflows, Netflows dan Perkembangan Netflows di Provinsi Jambi Perkembangan Nominal Perkembangan Volume Kliring Jumlah Pencari Kerja per Jenjang Pendidikan di Provinsi Jambi Grafik Nilai Saldo Ekspektasi Pengangguran dan Kondisi Pengangguran Perkembangan Harga Beras Perkembangan Harga Tepung Terigu Perkembangan Harga Minyak Goreng Perkembangan Harga Komoditas Lainnya Penyaluran Raskin di Provinsi Jambi Perkembangan Ekspektasi Ekonomi, Ekspektasi Pengangguran dan Ekspektasi Penghasilan Rencana Konsumsi dalam 612 Bulan yang akan datang Saldo Bersih Ekspektasi Harga dalam 612 bulan yang akan datang Perkembangan Inflasi Tahun Kalender (ytd) Kota Jambi Periode Tahun 2003 s.d 2009 (Juni) serta Perkiraan Juli s.d Desember Perkembangan Inflasi Tahunan (yoy) Kota Jambi Periode Tahun 2003 s.d 2009 (Juni) serta Perkiraan Juli s.d Desember v
10 Halaman ini sengaja dikosongkan
11 TABEL INDIKATOR EKONOMI TERPILIH a. Inflasi dan PDRB INDIKATOR TRW.I Trw.II Trw.III Trw.IV TRW.I TRW.II MAKRO Indeks Harga Konsumen Kota Jambi Laju Inflasi Tahunan (yoy) Kota Jambi PDRB Harga Konstan (Juta Rp) 1) 3,692,923 3,796,013 3,889,689 3,947,084 3,977,714 4,025,187 Pertanian 1,133,291 1,176,045 1,205,712 1,205,126 1,207,280 1,213,048 Pertambangan dan Penggalian 395, , , , , ,916 Industri Pengolahan 514, , , , , ,676 Listrik, Gas, dan Air Bersih 30,089 30,672 31,109 30,406 30,716 30,720 Bangunan 176, , , , , ,687 Perdagangan Hotel dan Restoran 641, , , , , ,347 Pengangkutan dan Komunikasi 298, , , , , ,564 Keuangan, Persewaan dan Jasa 173, , , , , ,963 Jasa 329, , , , , ,266 Nilai Ekspor Non Migas (USD ribu) 2) 241, , , , ,430 90,612 Volume Ekspor Nonmigas (ribu ton) 311, , , , , ,488 Nilai Impor Nonmigas (USD Ribu) 3) 34,269 35,842 29,826 21,592 26,514 17,376 Volume Impor Nonmigas (ribu ton) 80,358 18,100 27,115 18,243 11,209 8,707 Catatan 1) Angka sementara 2) Pengklasifikasian komoditi menggunakan 21 kelompok barang berdasarkan SITC 2 digit yang berlaku.data Trw.II2009 s.d May ) Pengklasifikasian komoditi dalam statistik impor menggunakan SITC 2 digit yang berlaku data Trw.I2009 s.d Bulan May 2009
12 TABEL INDIKATOR EKONOMI TERPILIH b. Perbankan INDIKATOR TAHUN 2007 TAHUN 2008 TAHUN 2009 Tw.II Tw.III Tw.II08 Tw.III08 Tw.IV08 Tw.I09 Tw.II09 1) PERBANKAN A. Bank Umum : a. Bank Umum Konvensional: Total Aset (Rp Juta) 9,413,252 10,083,592 11,707,242 12,088,126 11,913,790 11,980,624 12,565,570 DPK(Rp Juta) 8,065,441 8,601,267 10,186,986 9,960,462 9,872,159 10,080,116 10,176,887 Tabungan 2,411,518 3,617,731 4,743,800 4,545,503 2,316,927 2,325,515 2,279,416 Giro 2,294,901 2,626,409 2,778,635 2,442,357 4,884,047 4,610,190 4,651,034 Deposito 3,359,022 2,357,127 2,664,551 2,972,602 2,671,185 3,144,411 3,246,437 Kredit (Rp Juta) berdasarkan lokasi proyek 7,179,554 7,638,734 12,599,263 10,111,910 9,880,319 9,947,046 10,231,361 Modal Kerja 3,003,634 3,018,863 3,608,379 3,799,215 3,766,949 3,664,993 3,819,935 Konsumsi 2,259,769 2,582,007 6,776,342 3,768,119 3,846,508 3,988,832 4,058,495 Investasi 1,916,151 2,037,864 2,214,542 2,544,576 2,266,862 2,293,221 2,352,931 Dana 8,038,672 8,613,144 10,291,998 10,104,502 9,923,195 10,256,857 10,342,544 LDR Kredit (Rp Juta) berdasarkan lokasi kantor cabang 4,733,545 5,099,981 5,974,336 7,513,877 7,317,897 7,431,265 7,748,461 Modal Kerja 2,079,992 2,111,673 2,832,943 2,997,699 2,843,934 2,796,879 2,920,719 Konsumsi 1,909,516 2,136,652 1,844,313 3,078,659 3,081,939 3,244,468 3,406,570 Investasi 744, ,656 1,297,080 1,437,519 1,392,024 1,389,918 1,421,172 LDR (%) Kredit UMKM (Rp Juta) Kredit Mikro (< Rp 50 juta) (Rp Juta) 1,890,283 2,064,789 2,465,015 2,671,276 2,657,187 2,679,522 2,763,338 Kredit Modal Kerja 252, , , , , , ,659 Kredit Investasi 140, , , , , , ,851 Kredit Konsumsi 1,497,397 1,601,591 1,766,506 1,888,947 1,878,710 1,945,588 1,930,828 Kredit Kecil (Rp 50 < x Rp500 juta) (Rp Juta) 1,040,725 1,191,908 1,749,407 2,064,029 2,173,654 2,287,884 2,561,011 Kredit Modal Kerja 575, , , , , , ,840 Kredit Investasi 97, , , , , , ,668 Kredit Konsumsi 367, , ,425 1,022,252 1,107,035 1,221,335 1,402,503 Kredit Menengah (Rp500 juta < x Rp5 miliar) ((Rp Juta) 830, ,253 1,259,201 1,362,338 1,367,048 1,252,103 1,305,778 Kredit Modal Kerja 594, , , , , , ,696 Kredit Investasi 190, , , , , , ,843 Kredit Konsumsi 44,322 57,823 84,942 95,918 96,193 77,545 73,239 Total Kredit MKM (Rp Juta) 3,761,036 4,208,950 5,473,623 6,097,643 6,197,889 6,219,509 6,630,127 NPL MKM gross (%) NPL MKM Gross Nominal 157, , , , , , ,272 PPAP 82,829 89,512 76,912 66, , , ,864 NPL MKM net (%) b. Bank Umum Syariah: Total Aset (Rp Juta) 164, , , , , , ,006 DPK(Rp Juta) 114, , , , , , ,416 Tabungan 39,492 55,201 90,398 99,495 49,508 50,230 47,930 Giro 25,566 44,884 54,130 46, , , ,137 Deposito 49,121 25,850 29,907 32,766 45,806 47,361 56,349 Kredit (Rp Juta) berdasarkan lokasi kantor cabang 111, , , , , , ,093 Modal Kerja 67,286 73,387 96, , , ,196 Konsumsi 35,020 40,534 62,999 71,542 71, ,714 Investasi 8,944 8,842 44,048 60,375 62, ,183 LDR Kredit UMKM (Rp Juta) Kredit Mikro (< Rp 50 juta) (Rp Juta) 14,321 16,357 34,124 38,062 43,484 51,689 49,542 Kredit Modal Kerja 1,245 1,560 2,221 3,457 8,518 13, Kredit Investasi ,629 7,226 7,582 7,987 8,234 Kredit Konsumsi 12,512 14,266 25,274 27,379 27, ,532 Kredit Kecil (Rp 50 < x Rp500 juta) (Rp Juta) 46,322 56,324 95, , , , ,173 Kredit Modal Kerja 24,163 29,740 36,438 49,070 66, ,240 Kredit Investasi 3,490 3,922 26,333 37,026 39,068 38,597 40,113 Kredit Konsumsi 18,669 22,662 32,398 39,395 38, ,820 Kredit Menengah (Rp500 juta < x Rp5 miliar) (Rp Juta) 45,171 45,021 65,037 76,292 79,809 91,579 95,333 Kredit Modal Kerja 36,442 37,026 48,624 55,401 57, ,135 Kredit Investasi 4,890 4,389 11,086 16,123 16,305 16,908 16,836 Kredit Konsumsi 3,839 3,606 5,327 4,768 5, ,362 Total Kredit MKM (Rp Juta) 105, , , , , , ,048 NPL MKM gross (%) ,575 2,340 4,377 6,218 NPL MKM Gross Nominal 787 1,596 2,623 1,543 1, ,933 PPAP , ,284 NPL MKM nett (%)
13 INDIKATOR TAHUN 2007 TAHUN 2008 TAHUN 2009 Tw.II Tw.III Tw.II08 Tw.III08 Tw.IV08 Tw.I09 Tw.II09 1) B. BPR : Total Aset (Rp Juta) 179, , , , , , ,844 DPK (Rp Juta) 129, ,779 56, , , , ,415 Tabungan (Rp Juta) 25,054 26,311 7,988 30,049 30,418 31,554 31,709 Deposito (Rp Juta) 104, ,468 48, , , , ,706 Kredit (Rp Juta) berdasarkan lokasi proyek 132, , , , , , ,953 Modal Kerja 33,630 47,359 52,990 51,524 44,811 43,295 44,785 Konsumsi 85,436 78,793 90,221 93,300 95,232 94,338 97,041 Investasi 13,264 17,664 25,991 31,725 29,780 27,881 27,126 Kredit UMKM (Rp Juta) 132, , , , , , ,953 Rasio NPL Gross (%) NPL Gross (Nominal) 5,901 7,277 9,727 10,737 9,727 13,668 14,481 PPAP 1,373 1,543 3,106 3,153 3,402 4,707 4,552 Rasio NPL Net (%) LDR (%) Catatan : Data s.d Bulan Mei 2009
14 Halaman ini sengaja dikosongkan
15 RINGKASAN EKSEKUTIF PEREKONOMIAN JAMBI Perekonomian Provinsi Jambi triwulan II tahun 2009 ditandai tumbuhnya laju pertumbuhan ekonomi sebesar 1,19% (qtq)... Pada triwulan II 2009, Provinsi jambi mengalami inflasi sebesar 1,10% (yoy)... I. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Perekonomian Provinsi Jambi pada triwulan II tahun 2009 menunjukkan pertumbuhan sebesar 1,19% (qtq), meningkat dibandingkan dengan triwulan I tahun 2009 yang mencapai 0,78% (qtq). Namun demikian secara tahunan, pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi tumbuh melambat yaitu sebesar 6,41% (yoy) dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar 8,43%. Pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi tersebut masih lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan II tahun 2009 yang diperkirakan berkisar 3,74,0%. 1 Pada triwulan laporan, pertumbuhan ekonomi secara triwulanan (qtq) dipicu oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran (PHR), sektor pertanian, dan sektor jasajasa. Ditinjau dari sisi pengeluaran, peningkatan PDRB Provinsi Jambi pada triwulan laporan terutama berasal dari meningkatnya pengeluaran konsumsi pemerintah serta konsumsi rumah tangga dibandingkan triwulan sebelumnya. Sementara, pertumbuhan ekspor dan impor mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya. II. Perkembangan HargaHarga Pada triwulan II tahun 2009, Kota Jambi mengalami deflasi sebesar 0,72% (qtq), menurun dibandingkan triwulan I tahun 2009 yang sebesar 0,26% (qtq). Pergerakan inflasi bulanan yang tercatat di bulan April, Mei, dan Juni 2009 masingmasing sebesar minus 1,27%(mtm), 0,97%(mtm) dan minus 0,41% (mtm). Dengan perkembangan tersebut, angka inflasi tahunan (yoy) Kota Jambi juga bergerak menurun dari 9,16% (yoy) pada Maret 2009 menjadi 1,10% (yoy). Inflasi tahunan Kota Jambi ini lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang sebesar 3,65%. 1 Angka perkiraan dari Laporan Kebijakan Moneter Triwulan II2009, Bank Indonesia. 1
16 RINGKASAN EKSEKUTIF Deflasi yang terjadi pada triwulan laporan terutama berasal dari sumbangan angka deflasi kelompok bahan makanan serta kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar. Menurunnya harga bahan kebutuhan pokok seperti beras, cabe merah, bayam, ikan patin selama periode triwulan laporan memberikan sumbangan penurunan harga (deflasi) pada kelompok bahan makanan. III. Perkembangan Perbankan Daerah Kinerja perbankan pada triwulan II tahun 2009 menunjukkan peningkatan baik dari segi penghimpunan dana maupun penyaluran kredit. Fungsi intermediasi yang tercermin dari nilai Loan to deposits ratio (LDR) perbankan juga menunjukkan peningkatan dari triwulan sebelumnya menjadi 77,80%. Namun demikian, kualitas kredit yang diberikan memburuk yang tercermin dari meningkatnya rasio Non Performing Loan (NPL) gross. Outstanding kredit bank umum meningkat sebesar 4,32% sehingga menjadi sebesar Rp8,08 triliun. Sementara, DPK meningkat sebesar 1,04%. Memburuknya kualitas kredit yang disalurkan oleh perbankan ditandai dengan meningkatnya Non Performing Loan (NPL) gross perbankan pada triwulan laporan menjadi sebesar 3,82%. Sementara itu, aset perbankan pada triwulan laporan sebesar Rp12,94 triliun. IV. Perkembangan Keuangan Daerah Realisasi pendapatan provinsi Jambi di semester pertama tahun 2009 adalah sebesar Rp`506,80 miliar atau setara dengan 40,32% dari rencana pendapatan APBD yang sebesar Rp1,26 triliun sementara realisasi belanja pemerintah provinsi Jambi pada semester pertama tahun 2009 adalah sebesar Rp389,63 miliar atau sebesar 24,04% dari anggaran belanja APBD yang sebesar Rp1,62 triliun Hal ini menunjukkan bahwa akselerasi belanja pemerintah provinsi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Jambi belum menunjukkan kontribusi yang optimal. Sementara, simpanan pemerintah daerah di perbankan Jambi mencapai Rp1,96 triliun pada triwulan laporan (Mei 2009). Kinerja perbankan mulai membaik ditandai dengan meningkatnya jumlah penghimpunan dana, penyaluran kredit serta rasio LDR... Realisasi belanja pada triwulan II 2009 adalah sebesar 24,04% dari APBD Provinsi Jambi tahun
17 Di bidang sistem pembayaran, aktivitas pembayaran tunai maupun non tunai mengalami peningkatan... NTP Provinsi Jambi meningkat... Laju pertumbuhan PDRB triwulan III tahun 2009 diperkirakan berkisar 5,006,00% (yoy)... RINGKASAN EKSEKUTIF V. Perkembangan Sistem Pembayaran Aktivitas sistem pembayaran di Jambi mengalami peningkatan baik untuk aktivitas pembayaran tunai maupun non tunai. Pada triwulan laporan, nilai transaksi kliring meningkat sebesar 12,12%. Sementara itu, aliran kas keluar meningkat sebesar Rp250,58 miliar sedangkan kas masuk menurun sebesar Rp57,65 miliar sehingga secara secara total, aliran kas masih menunjukkan lebih tingginya aliran kas keluar dibandingkan aliran kas masuk. VI. Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan Jumlah pencari kerja berdasarkan jenjang pendidikan meningkat 2,97% jika dibandingkan dengan triwulan I tahun Sejalan dengan hal tersebut, hasil survei ekspektasi konsumen (SEK) pada periode triwulan laporan mulai menunjukkan perbaikan nilai saldo kondisi pengangguran serta ekspektasi masyarakat terhadap kondisi pengangguran. Perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) pada triwulan laporan (posisi bulan Mei 2009) mengalami peningkatan jika dibandingkan triwulan sebelumnya (posisi Maret 2009). Sementara itu, rasio Upah Minimum Provinsi (UMP) terhadap kebutuhan hidup minimum (KHM)/kebutuhan hidup layak (KHL) pada triwulan II tahun 2009 menurun sebesar 672 bps jika dibandingkan triwulan I tahun VII. Perkiraan Ekonomi dan Harga Daerah Laju pertumbuhan PDRB Provinsi Jambi pada triwulan III tahun 2009 diperkirakan masih tumbuh positif, pada kisaran 5,006,00% (yoy). Pengeluaran konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah diperkirakan menjadi kontributor utama pendorong pertumbuhan ekonomi Jambi pada triwulan mendatang. Dari sisi penawaran, kontribusi pertumbuhan ekonomi Jambi masih disumbangkan oleh sektor pertanian, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor pertambangan dan penggalian, sektor industri pengolahan serta sektor pengangkutan dan komunikasi. 3
18 RINGKASAN EKSEKUTIF Perkembangan hargaharga pada triwulan III tahun 2009 diperkirakan akan meningkat dibandingkan dengan triwulan II Pada triwulan mendatang angka inflasi secara tahunan diperkirakan akan berada pada kisaran sebesar 1,50%2,50%/yoy (skenario optimis) atau sebesar 2,51%3,51%/yoy (skenario pesimis). Faktorfaktor yang berpotensi akan memberikan tekanan inflasi selama triwulan mendatang antara lain 1)Meningkatnya demand masyarakat terhadap kebutuhan barang dan jasa terutama terkait dengan datangnya bulan Ramadhan dan perayaan Idul Fitri 1430 H serta perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, 2) Meningkatnya income masyarakat (pembayaran THR) dan menurunnya suku bunga perbankan dapat memicu meningkatnya konsumsi masyarakat, 3) Kondisi infrastruktur (jalan, jembatan) yang masih terkendala akan meningkatkan biaya distribusi dan transportasi barang dan jasa, 4) Tekanan melemahnya Rupiah dapat mempengaruhi inflasi barang impor, 5) Kondisi cuaca di musim pancaroba ini dapat menjadi ancaman dalam produksi pertanian dan pendistribusian barang, serta 6)Potensi kenaikan harga minyak mentah dunia yang diikuti pergerakan hargaharga komoditas bahanbahan pangan (kedelai, jagung, gandum), crude palm oil (CPO) di pasar internasional. Beberapa hal tersebut diperkirakan akan memacu meningkatnya angka inflasi pada periode triwulan III tahun Pada triwulan III tahun 2009, inflasi Kota Jambi diperkirakan pada kisaran 1,50% 2,50%/yoy (skenario optimis) atau sebesar 2,51%3,51%/yoy (skenario pesimis) 4
19 BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL A. Umum Pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi pada triwulan II tahun 2009 yang dicerminkan oleh PDRB atas dasar harga konstan tahun meningkat dibandingkan triwulan I tahun Pertumbuhan ekonomi Jambi di triwulan laporan yaitu sebesar 1,19% (qtq) meningkat setelah mengalami pelambatan semenjak triwulan III tahun 2008 (3,07%/qtq), diikuti pelambatan pada triwulan IV2008 (1,25%/qtq) yang terus berlanjut pada triwulan I tahun 2009 menjadi sebesar 0,78%(qtq). Namun demikian, pertumbuhan ini menurun jika dibandingkan dengan pertumbuhan kuartal yang sama pada tahun 2008 yang sebesar 3,11% (qtq). Grafik 1.1. Perkembangan PDRB Provinsi Jambi (qtq) Rp miliar 4,500 4,000 3,500 3,000 Nominal (aksis kiri) Pertumbuhan (aksis kanan) Persen , ,000 1,500 1, Memasuki musim liburan dan terselenggaranya pemilihan umum (pemilu) baik legislatif maupun presiden pada triwulan laporan menyebabkan kembali 2 Angka PDRB Provinsi Jambi triwulan II tahun 2009 adalah angka sementara proyeksi Bank Indonesia Jambi. 5
20 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL menggeliatnya perekonomian Jambi. Kondisi tersebut tercermin dari meningkatnya sekor perdagangan, hotel dan restoran pada triwulan laporan. Dari sisi permintaan, membaiknya daya beli masyarakat tercermin dari meningkatnya pengeluaran konsumsi rumah tangga pada periode triwulan laporan. Sementara penyelenggaraan pemilu menyebabkan jumlah konsumsi pemerintah meningkat pada triwulan laporan. Grafik 1.2. Perkembangan PDRB Provinsi Jambi dan Nasional (yoy) % 8.00 Indonesia Jambi ^ TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II * 2008** 2009** Sumber: BPS (diolah) ^): Perkiraan berdasarkan Laporan Kebijakan Moneter (LKM) triwulan II2009 oleh Bank Indonesia Secara tahunan, pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi tumbuh melambat yaitu sebesar sebesar 6,41% (yoy) dibandingkan dengan triwulan lalu yang sebesar 8,43%. Melambatnya pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi secara tahunan tersebut salah satunya disebabkan oleh tingginya pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi pada periode yang sama tahun 2008 (sebesar 6,80%/yoy). Namun demikian, pertumbuhan ekonomi Jambi masih lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang pada triwulan II tahun 2009 diperkirakan berkisar 3,74,00%. 3 3 Sumber : Laporan Kebijakan Moneter (LKM) triwulan II2009, BI. 6
21 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Secara triwulanan (qtq), pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi pada triwulan laporan dipicu oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran serta sektor pertanian dan jasajasa. Di sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi pada triwulan laporan terutama berasal dari meningkatnya pengeluaran konsumsi pemerintah, rumah tangga serta akselerasi konsumsi lembaga swasta. Sementara ekspor mengalami penurunan yang disertai dengan menurunnya jumlah impor. Tabel 1.1. Laju Triwulanan (qtq) Pertumbuhan Provinsi Jambi Sisi Produksi dan Sisi Penggunaan LAPANGAN USAHA 2007* 2008** 2009** II III IV I II III IV I II Pertanian (0.37) Pertambangan dan Penggalian (7.78) 0.25 (1.84) (0.27) Industri Pengolahan (0.44) Listrik, Air dan Gas (3.79) Bangunan Perdagangan, Hotel dan Restoran (0.28) (0.76) Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan dan Jasa Keuangan (0.70) JasaJasa PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO JENIS PENGELUARAN 2007* 2008** 2009** II III IV I II III IV I II Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga (4.38) 0.44 Pengeluaran Konsumsi Pemerintah Lembaga Swasta Nirlaba Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (2.24) 1.32 Perubahan Stok Ekspor Impor PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO B. PDRB Sisi Produksi Perkembangan PDRB Provinsi Jambi menunjukkan bahwa sektorsektor yang masih memberikan kontribusi cukup besar adalah sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran, pertanian dan sektor jasajasa (lihat grafik 1.3). Kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan disumbangkan oleh sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran terhadap pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi sebesar 0,60% (qtq) pada periode triwulan laporan, diikuti oleh sektor pertanian (0,15%/qtq) serta sektor jasajasa yang memiliki kontribusi sebesar 0,11%/qtq. 7
22 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Grafik 1.3. Kontribusi PDRB Sisi Produksi terhadap Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Jambi (qtq) JasaJasa Keuangan, Persewaan dan Jasa Keuangan Pengangkutan dan Komunikasi Perdagangan, Hotel dan Restoran bangunan Listrik, Air dan Gas Industri Pengolahan Pertambangan dan Penggalian Pertanian Trw II09 Trw I09 (0.80) (0.60) (0.40) (0.20) Dari sisi distribusinya (share), pada periode triwulan laporan menunjukkan bahwa sektor primer masih menjadi penyumbang terbesar yaitu 43,05% dari jumlah PDRB Provinsi Jambi, diikuti sektor jasajasa (tersier) sebesar 38,26% dan sektor sekunder sebesar 18,69%. Grafik 1.4. Distribusi PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Triwulan II Tahun 2009 Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 4.93% Pengangkutan dan Komunikasi 7.07% Jasajasa 10.70% Pertanian, Perkebunan, Peternakan, Kehutanan & Perikanan 25.51% Perdagangan, Hotel dan restauran 15.56% Bangunan 4.94% Industri Pengolahan Listrik dan Air bersih 12.82% 0.93% Pertambangan dan Penggalian 17.55% Nominal PDRB Provinsi Jambi atas dasar harga berlaku tercatat sebesar Rp10,20 triliun yang secara sektoral masih didominasi oleh sektor pertanian sebesar 25,51%, sektor pertambangan dan penggalian sebesar 17,55%, serta sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 15,56%. Dengan demikian, 8
23 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL struktur ekonomi regional dalam jangka pendek relatif tidak mengalami perubahan dibandingkan triwulan sebelumnya (Grafik 1.4). 1. Sektor Pertanian, Perkebunan, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan Secara triwulanan, sektor pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan tumbuh sebesar 0,48% (qtq), meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 0,18% (qtq). Peningkatan laju pertumbuhan sektor ini berasal dari meningkatnya pertumbuhan sub sektor tanaman bahan pangan dan perkebunan. 746 Grafik 1.5 Luas Tanam Sektor Tabama Triwulan I tahun 2009 (ha) Grafik 1.6 Luas Tanam Sektor Tabama Triwulan II tahun 2009 (ha) ,606 1, ,009 3,476 1,258 11,771 28,108 10,655 32,927 Padi Sawah Padi Ladang Jagung Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Ubi Kayu Ubi Jalar Padi Sawah Padi Ladang Jagung Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Ubi Kayu Ubi Jalar Grafik 1.5 Grafik 1.6 Grafik 1.7 Luas Panen Sektor Tabama Triwulan I tahun 2009 (ha) Grafik 1.8 Luas Panen Sektor Tabama Triwulan II tahun 2009 (ha) 1, , ,410 10, , ,190 2,203 Padi Sawah Padi Ladang Jagung Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Padi Sawah Padi Ladang Jagung Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Grafik 1.7 Grafik 1.8 Sumber: BPS Provinsi Jambi, 2009 Selama triwulan laporan, terdapat penambahan luas tanam padi (grafik 1.5grafik 1.6) yaitu dari 28,11 Kha pada triwulan lalu menjadi 32,93 Kha pada triwulan laporan. Penambahan luas tanam ini dialami oleh hampir semua komoditas tabama kecuali untuk padi sawah. Meningkatnya pertumbuhan sub sektor tabama pada triwulan laporan dipicu oleh membaiknya kondisi cuaca pada triwulan laporan. Hujan deras yang melanda beberapa daerah sentra padi provinsi Jambi pada triwulan lalu menyebabkan berkurangnya hasil panen pada triwulan 9
24 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL lalu. Hal ini menyebabkan walaupun luas area panen padi menurun namun hasil produksi padi mengalami peningkatan di triwulan laporan. Pada triwulan laporan (s.d. bulan Mei 2009), Nilai Tukar Petani (NTP) mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya. 4 NTP Mei 2009 dibandingkan NTP Maret 2009 meningkat sebesar 0,51% menjadi 94,78. Hal ini dikarenakan terjadinya penurunan indeks yang dibayarkan oleh petani sebesar 0,70%, semenstara indeks yang diterima petani juga mengalami penurunan sebesar 0,18% (lihat grafik 1.12 dan 1.13). Sementara itu, sub sektor perkebunan yang mempunyai share sebesar 10,86% dari PDRB mengalami pertumbuhan positif sebesar 0,62% (qtq), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh negatif 1,81% (qtq). Meningkatnya pertumbuhan sub sektor ini antara lain didukung oleh meningkatnya produksi komoditas ini dengan membaiknya cuaca di Jambi. Hujan lebat yang mendera Jambi di triwulan lalu menyebabkan menurunnya hasil produksi perkebunan triwulan lalu. Selain itu, kembali meningkatnya harga komoditas ini meningkatkan gairah para petani dalam memanen hasil perkebunan. Grafik 1.9. Perkembangan Harga CPO, Inti dan TBS 10 Tahun di Provinsi Jambi Harga (Rp) 10, , , CPO INTI TBS #VALUE! 8, , , , , , , , , , Sumber: Dinas Perkebunan Provinsi Jambi 4 Data NTP s.d. bulan Mei NTP adalah angka perbandingan antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayar petani yang dinyatakan dalam bentuk persentase. Sehingga NTP merupakan cerminan atau indikator relatif tingkat kesejahteraan petani. 10
25 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Sementara, setelah mengalami tekanan harga yang mencapai titik terendahnya di bulan November 2008 maka harga tandan buah segar (TBS) serta CPO Jambi mulai meningkat kembali. Pada triwulan laporan Harga TBS 10 tahun dan CPO masingmasing mencapai Rp1.432,16/ kg dan Rp6.930,83/kg pada Juni 2009 meningkat masingmasing sebesar 12,82% dan 9,91% dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Meningkatnya pertumbuhan sub sektor perkebunan disumbangkan oleh meningkatnya hasil perkebunan kelapa sawit dan karet yang merupakan komoditas perkebunan utama Jambi. Berdasarkan data prompt indikator sub sektor perkebunan selama periode triwulan laporan, sub sektor perkebunan sawit mengalami peningkatan sebesar 11,20% sementara produksi karet tumbuh sebesar 4,14%. (lihat grafik 1.10) (10) (20) NTP Grafik 1.10 Pertumbuhan Indikator Produksi Sub Sektor Tanaman Perkebunan (%) Grafik 1.11 Pertumbuhan Indikator Produksi Sub Sektor Hortikultura, Sub Sektor Peternakan dan Sub Sektor Perikanan (5) TWII TWIII(15.73) TWIV TWI (12.57) TWII (10) (6.16) TWII TWIII TWIV TWI TWII(14.76) (14.82) (20) Produksi Karet Produksi Kelapa Sawit Produksi Kelapa Produksi Pinang Produksi Perikanan Produksi Telur Produksi Daging Produksi Hortikultura Grafik 1.10 Grafik 1.11 Grafik 1.12 Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Jambi Grafik 1.13 Pertumbuhan Indeks terima dan Indeks Bayar Petani x 2008y 2009 Persen (%) g.indeks diterima g.indeks bayar (2.0) (4.0) (6.0) (8.0) sumber: BPS Provinsi Jambi, 2008 keterangan: 2008x adalah NTP menggunakan tahun dasar y adalah NTP menggunakan tahun dasar 2007 Sejak Mei 2008, BPS mulai menggunakan NTP tahun dasar 2007 Grafik 1.12 Sumber: BPS Provinsi Jambi,2009. (10.0) (12.0) Sumber: BPS Provinsi Jambi Mulai Mei 2008 menggunakan NTP tahun dasar 2007 Grafik
26 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Meningkatnya sektor pertanian pada triwulan laporan juga dapat dilihat dari meningkatnya realisasi penyaluran pupuk dalam menunjang proses produksi sub sektor tanaman bahan makanan dan sub sektor tanaman perkebunan pada triwulan laporan. 5 Berdasarkan informasi dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jambi, penyaluran pupuk bersubsidi sebesar ton atau meningkat sebesar 1,73% dibandingkan triwulan sebelumnya ( ton). Penggunaan pupuk bersubsidi sebagian besar didominasi oleh pupuk Urea (66,16%), diikuti oleh pupuk SP36 (16,09%), NPK Phonska (14,44%), dan ZA (3,31%). Grafik Distribusi Jenis Pupuk Grafik Jumlah dan Pertumbuhan Realisasi Pupuk TW II TW I TW IV TW III TW II TW I TW IV TW III TW II TW I TW IV TW III TW II TW I TW IV TW III TW II (Ton) Ton TW II TW III TW TW I TW II TW III TW TW I TW II TW III TW TW I TW II TW III TW TW I TW II IV IV IV IV Persen (%) (20.00) (40.00) Realisasi Pupuk (Ton) Pertumbuhan Realisasi Pupuk SP36 ZA NPK PHONSKA Urea Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jambi Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jambi Grafik 1.15 Grafik 1.14 Sub sektor perikanan kembali mengalami pertumbuhan negatif sebesar 0,39% (qtq) setelah pada triwulan sebelumnya juga mengalami penurunan sebesar 1,43% (qtq). Hal ini tercermin dari menurunnya indeks produksi perikanan sebesar 14,76%. Kondisi cuaca yang relatif kurang baik juga merupakan hambatan nelayan untuk berlayar. Sub sektor kehutanan mengalami peningkatan pertumbuhan yaitu sebesar 0,18% (qtq) dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang sebesar 0,13% (qtq). Namun demikian, aktivitas penebangan liar (illegal logging) yang mengalami penurunan drastis dibandingkan dengan periode tahuntahun sebelumnya menyebabkan terbatasnya pertumbuhan sektor ini. Selama 8 (delapan) triwulan terakhir sub sektor kehutanan tumbuh dibawah level 1%. 5 Jenis pupuk bersubsidi yang disalurkan terdiri dari SP36, ZA, NPK Phonska dan Urea. 12
27 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Pada triwulan laporan, sub sektor peternakan dan hasilhasilnya mengalami penurunan yaitu negatif 1,74% (qtq) setelah pada triwulan lalu tumbuh sebesar 1,76% (qtq). 2. Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran (PHR) Sektor perdagangan, hotel dan restoran tumbuh sebesar 3,63% (qtq); meningkat dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 0,73% (qtq). Meningkatknya angka pertumbuhan tersebut disebabkan oleh meningkatnya pertumbuhan sub sektor perdagangan besar dan eceran serta sub sektor hotel. Sub sektor perdagangan besar dan eceran tumbuh sebesar 3,90% (qtq) pada triwulan laporan, lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 0,74% (qtq) sedangkan sub sektor hotel tumbuh sebesar 2,03% (qtq). Sementara sub sektor restoran tumbuh sedikit melambat menjadi 0,61% (qtq). Datangnya musim liburan serta berlangsungnya Pemilu baik legislatif dan presiden memacu aktivitas perekonomian pada periode triwulan laporan baik dari sisi perdagangan, hotel maupun restoran (5) (10) (15) Grafik Perkembangan Indikator produksi Bulanan Sektor PHR Grafik Perkembangan Konsumsi Listrik Sektor Bisnis TRW.I TRW.II Trw III TRW.I TRW.II Restorasi Harga Perdagangan Besar (aksis kanan) Tingkat Hunian Hotel* 15,000,000 12,000,000 9,000,000 6,000,000 3,000, * Perhitungan tingkat hunian hotel sejak tahun 2009 Grafik 1.16 Bisnis (KWH) Pertumbuhan Grafik 1.17 Meningkatnya sektor PHR pada triwulan laporan juga dikonfirmasi dengan meningkatnya indeks produksi baik sub sektor perdagangan besar, restorasi dan tingkat hunian hotel. Peningkatan yang cukup signifikan dialami oleh indeks restorasi dan tingkat hunian hotel yaitu masingmasing sebesar 13
28 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL 30,01% dan 24,84%. Sementara itu, indeks produksi perdagangan besar masih tumbuh yaitu sebesar 0,03% (lihat grafik 1.16.). Meningkatnya perkembangan sub sektor perdagangan hotel dan restoran didukung juga dengan meningkatnya konsumsi listrik sektor bisnis sebesar 12,03% pada triwulan laporan (posisi AprilMei 2009 dibandingkan dengan posisi JanuariFebruari 2009). Sektor perdagangan, hotel dan restoran berdasarkan pangsanya didominasi oleh sub sektor perdagangan besar dan eceran yang mencapai 14,41% terhadap PDRB, diikuti oleh sub sektor restoran dan sub sektor hotel masingmasing sebesar 1,00% dan 0,15%. 3. Sektor Pertambangan dan Penggalian Sektor pertambangan dan penggalian tumbuh sedikit melambat yaitu sebesar 0,62% (qtq) jika dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 0,64% (qtq). Pelambatan ini dipicu oleh melambatnya pertumbuhan sub sektor penggalian dan sub sektor minyak dan gas bumi yang tumbuh masingmasing sebesar 1,19% (qtq) dan 0,27% (qtq) dari triwulan sebelumnya yang tumbuh masingmasing sebesar 4,01% (qtq) dan 0,84% (qtq). Di sisi lain, sub sektor pertambangan non migas mengalami pertumbuhan sebesar 2,09% setelah pada triwulan lalu mengalami penurunan pertumbuhan sebesar minus 2,31% (qtq). Berdasarkan hasil liaison Bank Indonesia, eksplorasi migas di Jambi mengalami sedikit penurunan dibandingkan dengan tahun lalu. Hal ini disebabkan sudah mulai tuanya sumur yang ada sementara perizinan sumur baru sulit didapatkan. 14
29 juta rupiah 450, , , , , , , ,000 50,000 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Grafik PDRB Sub Sektor Minyak dan Gas Bumi serta Lifting Minyak Bumi Grafik 1.19 Pertumbuhan Lifting Gas Alam I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I* II* ribu barrel BBTU 14,000 12,000 10,000 8,000 6,000 4,000 2,000 Lifting Gas Alam (BBTU), aksis kiri Pertumbuhan, aksis kanan II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I* II* Persen (%) (10.00) (20.00) (30.00) (40.00) PDRB sub sektor minyak dan gas bumi Lifting Minyak Bumi 2 per. Mov. Avg. (Lifting Minyak Bumi) Keterangan: *) angka perkiraan Bank Indonesia Jambi untuk bulan Juni 2009 Sumber: Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jambi dan BPS Provinsi Jambi (diolah) Sumber: Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jambi. *: Angka proyeksi Bank Indonesia Jambi untuk bulan Juni 2009 Grafik 1.18 Grafik 1.19 Meningkatnya pertumbuhan sub sektor pertambangan tanpa migas (2,09%/qtq) berasal dari meningkatnya aktivitas pertambangan batu bara. Banyaknya pembukaan pertambangan baru berdampak meningkatnya volume pertambangan batu bara di Jambi. Hal tersebut juga dikonfirmasi dengan meningkatnya indeks produksi batu bara sebesar 8,07% pada triwulan laporan. Grafik Indeks Produksi Batubara dan Bahan Galian Gol. C (5) (10) (15) (20) TRW.I TRW.II Trw III TRW.I TRW.II Produksi Batubara Produksi Bahan Galian Gol.C 4. Sektor Industri Pengolahan Sektor industri pengolahan tumbuh melambat yaitu sebesar 0,67% (qtq) bila dibandingkan angka triwulan sebelumnya 1,20% (qtq). Melambatnya pertumbuhan pada sektor ini dipicu oleh melambatnya pertumbuhan baik sub sektor industri migas ataupun tanpa migas yang tumbuh masingmasing sebesar 0,45% (qtq) dan 0,68% (qtq). 15
30 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Grafik PDRB Industri Pengolahan Grafik Perkembangan Total Pemakaian Listrik sektor industri , , , , , ,000 TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV I II PDRB industri pengolahan (juta Rp), aksis kanan Pertumbuhan (%), aksis kiri Sumber: BPS Provinsi Jambi.,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, Grafik ,000,000 4,000,000 3,000,000 2,000,000 1,000, Industri (KWH) pertumbuhan Grafik 1.22 Pertumbuhan sub sektor industri migas terutama masih didorong dengan peningkatan pengilangan minyak bumi yang produknya antara lain meliputi LPG. Dengan demikian melambatnya pertumbuhan sub sektor pertambangan migas di Jambi memicu pelambatan industri migas. Melambatnya 16
31 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL produksi sektor industri pengolahan juga tercermin dari menurunnya konsumsi listrik sub sektor industri pada periode triwulan laporan yang meningkat sebesar 2,52% (posisi JanuariFebruari 2009 dibandingkan dengan AprilMei 2009). Melambatnya perkembangan industri tanpa migas pada triwulan laporan antara lain disebabkan oleh mulai melambatnya perkembangan produksi barang dari karet, semen, serta minuman. Namun sebaliknya, meningkatnya pertumbuhan produksi makanan dan CPO pada triwulan laporan menyebabkan masih tumbuhnya industri pengolahan pada triwulan laporan. Meningkatnya hasil perkebunan kelapa sawit menyebabkan meningkatnya industri pengolahan CPO pada triwulan laporan sementara memasuki masa liburan ikut mendongkrak perkembangan industri pengolahan makanan (lihat grafik 1.23). Grafik Indeks Produksi Industri CPO, Karet, Kopra, Makanan dan Minuman Grafik 1.24 Indeks Produksi Industri Barang dari Kayu, Barang dari Semen, dan Batu Bata (20) (40) TWII TWIII TWIV TWI TWII Produksi Kopra Produksi Karet Produksi CPO Produksi Makanan Produksi Minuman (50) (100) TWII TWIII TWIV TWI TWII Produksi Batu Bata dan Genteng Produksi Barang dari Semen Produksi Barang dari Kayu Grafik 1.23 Grafik Sektorsektor Lain Sektor listrik, gas, dan air bersih meningkat sebesar 0,02% (qtq) pada triwulan laporan atau lebih rendah dibandingkan laju pertumbuhan triwulan sebelumnya yaitu sebesar 1,02% (qtq). Menurunnya pertumbuhan sektor ini berasal dari menurunnya sub sektor listrik menjadi sebesar minus 0,02% (qtq) serta melambatnya pertumbuhan sub sektor air bersih menjadi sebesar 0,20% (qtq). 17
32 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Grafik Perkembangan Total Pemakaian Listrik Grafik Perkembangan Jumlah Pelanggan Listrik 80,000,000 60,000,000 40,000,000 20,000, , , , , , , , , Total (KWH) Pertumbuhan Total Pelanggan Pertumbuhan (%) Grafik 1.25 Grafik 1.26 Masih tumbuhnya pertumbuhan sektor air bersih juga terlihat dari masih meningkatnya volume penjualan air selama periode triwulan laporan. Penjualan air yang tercatat di PDAM Kota Jambi menunjukkan peningkatan sebesar 1,92% selama triwulan laporan. Grafik Perkembangan Total Konsumsi Air Kota Jambi m 3 900, , , , , , , , ,000 Rumah Tangga Industri m 3 50,000 45,000 40,000 35,000 30,000 25,000 20,000 15,000 10,000 5, Sumber: PDAM Tirta Mayang Kota Jambi, 2009 Sektor bangunan juga menunjukkan pelambatan dengan tumbuh sebesar 1,21% (qtq) dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 3,85% (qtq). Pelambatan sektor bangunan dikonfirmasi dengan menurunnya indeks perumahan rakyat serta produksi batu bata dan genteng yaitu masingmasing sebesar 38,44% dan 59,06% pada triwulan laporan. Hal yang senada 18
33 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL juga ditunjukkan oleh jumlah konsumsi semen yang mengalami penurunan sebesar 20,02% pada triwulan laporan. Grafik Perkembangan PDRB Sektor Bangunan dan Konsumsi Semen 250, , , ,000 50,000 TW II TW IIITW IV TW I TW II TW IIITW IV TW I TW II TW IIITW IV TW I TW II TW IIITW IV TW I TW II (10.00) (20.00) (30.00) PDRB sektor Bangunan (juta Rp), aksis kiri Pert. Konsumsi Semen (%), aksis kanan Konsumsi Semen (ton), aksis kiri Pert. PDRB Sktr Bangunan (%), aksis kanan Sumber: Asosiasi Semen Indonesia dan BPS Provinsi Jambi (diolah) Pembangunan properti residensial (perumahan) oleh developer (perusahaan pengembang) dan masyarakat umum maupun properti komersial (ruko, hotel) masih terus berlanjut pada triwulan laporan walaupun semakin terbatas. Permintaan kredit KPR 6 masih menunjukkan pelambatan pertumbuhan walaupun dibandingkan triwulan sebelumnya. Kredit KPR tumbuh sebesar 2,85% (Rp25,21miliar), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang mampu tumbuh sebesar 4,90%. Sementara itu kredit Ruko/Rukan mengalami peningkatan pertumbuhan pada triwulan laporan yaitu sebesar 3,84% setelah mengalami penurunan pada triwulan sebelumnya (minus 2,30%). 7 Melambatnya pertumbuhan kredit KPR mencerminkan melambatnya minat masyarakat terhadap permintaan perumahan. Namun demikian pertumbuhan kredit ruko/rukan yang meningkat mencerminkan bahwa permintaan masyarakat akan bangunan untuk usaha sudah mulai membaik kembali. 6 Yang dimaksud kredit KPR adalah kredit untuk membeli atau memperbaiki/memugar rumah atau apartemen. Sedangkan kredit Ruko/Rukan adalah kredit yang diberikan dalam rangka pemilikan rumah dan toko (Ruko) atau rumah dan kantor (Rukan) 7 Posisi kredit KPR dan kredit Ruko/Rukan pada triwulan II tahun 2009 s.d. bulan Mei
34 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL juta Rp 1,000,000 Grafik Perkembangan Kredit KPR Grafik Perkembangan Kredit Ruko/Rukan Persen juta Rp 80,000 Persen , , , ,000 KPR ,000 40,000 20,000 Ruko/Rukan Pertumbuhan (20.00) II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II (40.00) Grafik 1.29 Grafik 1.30 Sektor pengangkutan dan komunikasi mengalami pertumbuhan sebesar 0,65% (qtq) pada triwulan laporan atau lebih tinggi bila dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 0,53% (qtq). Meningkatnya angka pertumbuhan sektor ini terutama berasal meningkatnya pertumbuhan sub sektor pengangkutan. Dari sub sektor pengangkutan, pertumbuhan angkutan sungai, angkutan udara dan jasa angkutan mengalami peningkatan pertumbuhan sementara angkutan rel dan jalan raya mengalami pelambatan. Meningkatnya pertumbuhan sub sektor pengakutan terutama terkait dengan masa high season di musim liburan ini sehingga demand masyarakat dalam menggunakan moda transportasi udara cenderung meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang merupakan masa low season. Grafik PDRB Sub Sektor Angkutan Udara Grafik Perkembangan Keberangkatan dan Kedatangan Penumpang Grafik Perkembangan Jumlah Bongkar dan Muat Barang 45,000 40,000 35,000 30,000 25,000 PDRB sub sektor Angkutan Udara (juta Rp), aksis kiri Pertumbuhan (%), aksisi kanan ,000 15,000 10,000 5,000 TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II (10.00) (20.00) (30.00) (40.00) Sumber: BPS Provinsi Jambi (diolah) Grafik
35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL orang Persen (%) kg Persen (%) (5.00) (10.00) (15.00) (20.00) (10.00) (20.00) 0 II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II (25.00) 0 II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II (30.00) Kedatangan Penumpang (aksis kiri) Keberangkatan Penumpang (aksis kiri) Jumlah 2005 Bongkar (aksis kiri) Jumlah Muat (aksis kiri) Datang (aksis kanan) Berangkat (aksis kanan) Pertumbuhan Bongkar (aksis kana) Pertumbuhan Muat (aksis kanan) Sumber: PT. Angkasa Pura II Sumber: PT.Angkasa Pura II Grafik 1.32 Grafik 1.33 Meningkatnya sektor angkutan udara tercermin dari meningkatnya lalu lintas penumpang di Bandar Udara Sultan Thaha. Baik jumlah penumpang menuju dan dari Jambi di bandara tersebut mengalami peningkatan di triwulan laporan yaitu masingmasing sebesar 10,42% dan 15,51%. Cenderung meningkatnya demand masyarakat menggunakan jasa angkutan udara selama periode triwulan laporan direspon pihak maskapai penerbangan dengan meningkatkan tarif angkutan udara. unit Grafik Perkembangan Total Arus Peti Kemas Grafik Perkembangan Kunjungan Kapal II III IV I II III IV I II III IV I II persen(%) unit II III IV I II III IV I II III IV I II persen(%) Jumlah Arus Peti Kemas Pertumbuhan Sumber: Pelindo Jambi Unit Sumber: Pelindo Jambi Pertumbuhan Grafik 1.35 Grafik 1.34 Pada triwulan laporan, sub sektor angkutan laut tumbuh sebesar 0,20%. Sementara, perkembangan arus peti kemas dan kunjungan kapal pada triwulan laporan menunjukkan perkembangan yang baik. Jumlah unit kapal bersandar 21
36 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL sebesar 1151 unit. 8 Sedangkan jumlah arus peti kemas berdasarkan perdagangan di Pelabuhan Tungkal dan Pelabuhan Talang Dukuh sebesar peti kemas. 9 Perkembangan sub sektor telekomunikasi tercermin dari jasa pos dan telekomunikasi serta jasa penunjang komunikasi masingmasing yang mengalami pertumbuhan sebesar 1,38% (qtq) dan 1,81% (qtq), melambat dari pertumbuhan triwulan sebelumnya masingmasing sebesar 2,68% (qtq) dan 1,84% (qtq). Sektor keuangan, persewaan, dan jasajasa perusahaan tumbuh sebesar 1,19% (qtq) pada triwulan laporan atau melambat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 1,54% (qtq). Pelambatan tersebut terutama disebabkan oleh melambatnya pertumbuhan semua sub sektor kecuali untuk sewa bangunan. Sub sektor bank tumbuh sebesar 0,82% (qtq) begitu juga dengan sub sektor lembaga keuangan bukan bank tumbuh sebesar 0,39% (qtq). Sektor jasajasa pada triwulan laporan mengalami percepatan pertumbuhan menjadi sebesar 1,28% (qtq) dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 0,62% (qtq). Pertumbuhan ini dipicu oleh meningkatnya pertumbuhan sub sektor pemerintahan umum (1,53%/qtq) yang disebabkan mulai terealisasinya belanja pembangunan proyekproyek pemerintah walaupun masih dalam tahap terbatas. Sedangkan perkembangan sub sektor swasta tumbuh melambat yang disebabkan oleh jasa perorangan dan rumah tangga dibandingkan triwulan sebelumnya. C. PDRB Sisi Pengeluaran Ditinjau dari sisi pengeluaran, meningkatnya pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi pada triwulan laporan didorong oleh meningkatnya kontribusi pengeluaran konsumsi pemerintah serta konsumsi rumah tangga. Di sisi lain, 8 Kunjungan kapal yang dimaksud adalah pelayaran luar negeri, pelayaran dalam negeri dan pelayaran rakyat. 9 Arus Peti kemas diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) kategori yaitu: 20, 40 serta diatas 40. Arus barang berdasarkan perdagangan yaitu impor, ekspor, bongkar dan muat. 22
37 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL ekspor provinsi Jambi mengalami penurunan yang diikuti dengan penurunan impor sehingga secara net ekspor masih tumbuh positif. Grafik Kontribusi PDRB Sisi Pengeluaran terhadap Pertumbuhan (qtq) 10 Net Ekspor/Impor Perubahan Stok Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto 0.38 Lembaga Swasta Nirlaba Pengeluaran Konsumsi Pemerintah Trw II09 Trw I Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga Dari sisi distribusinya (share), konsumsi rumah tangga masih mempunyai pangsa yang paling besar, yaitu mencapai 67,74% dari PDRB Jambi pada triwulan II tahun 2009 (lihat grafik 1.37). Selain itu, pengeluaran konsumsi pemerintah dan PMTDB juga memiliki pangsa yang relatif besar dengan masingmasing sebesar 17,96% dan 18,32%. Sedangkan share perubahan stok sebesar 2,72% dan lembaga swasta nirlaba sebesar 0,68%. Grafik Distribusi PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Pengeluaran Triwulan II tahun Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto 18.32% Perubahan Stok 2,72% Net Impor 7.43% Lembaga Swasta Nirlaba 0.68% Pengeluaran Konsumsi pemerintah 17.96% Pengeluaran konsumsi rumah tangga 67.74% 10 Yang dimaksud kontribusi net ekspor adalah nilai kontribusi ekspor terhadap pertumbuhan dikurangkan dengan nilai kontribusi impor terhadap pertumbuhan pada triwulan laporan. Jika bernilai positif disebut net ekspor, sedangkan jika bernilai negatif disebut net impor. 11 Pangsa (share) net impor sebesar 8,86% merupakan pengurang dari total share PDRB sisi pengeluaran. 23
38 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL 1. Pengeluaran Konsumsi Pertumbuhan pengeluaran konsumsi rumah tangga atas dasar harga konstan selama triwulan laporan 0,44% (qtq), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh minus 3,20% (qtq). Setelah mengalami penurunan konsumsi sebagai dampak dari krisis ekonomi global dimana masyarakat cenderung mengurangi konsumsi barang dan jasa maka pada periode triwulan laporan konsumsi masyarakat mulai membaik. Hal ini ditunjukkan juga dengan meningkatnya daya beli masyarakat yang diindikasikan oleh meningkatnya pembelian kendaraan bermotor pada triwulan laporan (Grafik 1.39). Sementara, konsumsi listrik rumah tangga (RT) juga mengalami peningkatan sebesar 2,98% (posisi JanuariFebruari 2009 dibandingkan dengan AprilMei 2009). Indeks II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II Grafik Indeks Kondisi Ekonomi Grafik Konsumsi Listrik Rumah Tangga (%) (20.00) (40.00) (60.00) 50,000,000 40,000,000 30,000,000 20,000,000 10,000, Kondisi ekonomi saat ini dibandingkan 6 12 bln yg lalu Pertumbuhan (%) Rumah Tangga (KWH) pertumbuhan Grafik 1.38 Grafik 1.39 Penjualan kendaraan bermotor pada triwulan laporan meningkat sebesar 8,22%. Hal ini didorong oleh meningkatnya penjualan mobil baru (sedan, jeep, minibus) sebesar 50,17%, begitu juga dengan penjualan sepeda motor yang meningkat 9,33%. Hal ini mencerminkan bahwa konsumsi masyarakat terhadap kendaraan bermotor mulai membaik setelah mengalami penurunan semenjak triwulan III tahun Di sisi lain, penyaluran kredit konsumsi tumbuh sebesar 4,79%, melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang mampu mencapai 5,48% (qtq). Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan konsumsi rumah tangga untuk membeli barang 24
39 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL tahan lama (durable goods) melalui fasilitas pinjaman yang disediakan oleh bank masih dalam kondisi baik walaupun sedikit melambat. Pada periode triwulan laporan, pengeluaran konsumsi pemerintah tumbuh sebesar 2,19% (qtq), meningkat dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 0,09% (qtq). Meningkatnya pengeluaran konsumsi pemerintah pada triwulan laporan terkait dengan mulai terealisasinya belanja Pemerintah Daerah pada triwulan laporan serta penyelengaraan Pemilu. Sementara, pengeluaran konsumsi lembaga nirlaba juga tumbuh sebesar 3,44% (qtq) atau melambat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 5,59% (qtq). Grafik Pertumbuhan Pendaftaran Kendaraan Bermotor Baru Grafik Perkembangan Penjualan Premium dan Solar Grafik Perkembangan Penjualan Minyak Tanah Grafik Nominal dan Pertumbuhan Kredit Konsumsi di Provinsi Jambi Grafik Pertumbuhan Pendaftaran Sedan, Jeep, Minibus Baru Grafik Pertumbuhan Pendaftaran Sepeda Motor Baru unit 40,000 35,000 30,000 25,000 20,000 15,000 10,000 5, (49.37) (14.21) (19.40) (1.58) (32.52) II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II Persen(%) (10) (20) (30) (33.43) (40) (50) (60) Ribu Liter 90,000 80,000 70,000 60,000 50,000 40,000 30,000 20,000 10,000 Persen (%) (50.00) (100.00) * KENDARAAN BERMOTOR Pertumbuhan Konsumsi Premium (aksis kiri) Konsumsi Solar (aksis kiri) Sumber: Dispenda Provinsi Jambi Premium (aksis kanan) Sumber: Pertamina Wira Penjualan Jambi * Triwulan II 2009 adalah angka perkiraan Bank Inonesia Solar (aksis kanan) Grafik Grafik Ribu Liter 30,000 25,000 20,000 15,000 10,000 5,000 TW II TW TWTWTWTWTWTWTWTWTWTWTWTWTWTWTW III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II* (%) (50.0) (100.0) TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I 4,000,000 3,500,000 3,000,000 2,500,000 2,000,000 1,500, ,000, , M.Tanah/Kerosine Pertumbuhan 2009 Sumber: Pertamina Wira Penjualan Jambi * Angka perkiraan * Angka perkiraan. Grafik Kredit Konsumsi (juta Rp), aksis kanan Pertumbuhan Kredit Konsumsi (%),aksis kiri Grafik
40 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL unit 1, (65.01) (5.47) (15.88) (9.42) (3.49) (13.23) (4.65) II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II Sedan, Jeep, Minibus Pertumbuhan Persen(%) (50) (100) unit 40,000 35,000 30,000 25,000 20,000 15,000 10,000 5, (50.50) (15.19) (19.17) (1.04) (32.73) II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II SEPEDA MOTOR Pertumbuhan Persen(%) (10) (20) (30) (34.04) (40) (50) (60) Sumber: Dispenda Provinsi Jambi Sumber: Dispenda Provinsi Jambi Grafik Grafik Investasi Pada triwulan laporan, pembentukan modal tetap domestik bruto (PMTDB) mengalami peningkatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Pembentukan modal tetap domestik bruto (PMTDB) meningkat sebesar 1,32% (qtq) dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh minus 2,24% (qtq) yang mencerminkan bahwa kondisi investasi mulai terealisasi dengan baik dalam mendukung percepatan perekonomian Jambi. Grafik Pertumbuhan Pendaftaran Truck/Pick Up Baru Grafik Nominal dan Pertumbuhan Kredit Investasi di Provinsi Jambi Grafik Konsumsi Semen Provinsi Jambi unit Persen(%) 20 1,600,000 1,400 1, Kredit Investasi (juta Rp), aksis kanan Pertumbuhan Kredit Investasi (%),aksis kiri ,400,000 1, (20) ,200,000 1,000, , (40) 6 600,000 II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II TRUCK/PICK UP Pertumbuhan (60) , , TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II 0 Sumber: Dispenda Provinsi Jambi Grafik Grafik
41 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Ton 45,000 40,000 35,000 30,000 25,000 20,000 15,000 10,000 5,000 Konsumsi Semen Pertumbuhan (%) (20.0) (40.0) (60.0) Sumber: Asosiasi Semen Indonesia (ASI), diolah Grafik Sementara itu, dari hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) terlihat situasi bisnis masih cukup baik pada triwulan laporan, tercermin dari nilai saldo bersih situasi bisnis dunia usaha sebesar 30,56. Masih relatif baiknya situasi bisnis dunia usaha juga berdampak pada masih tumbuhnya kredit investasi sebesar 2,27% atau sebesar Rp32,95 miliar pada triwulan laporan. Perubahan stok pada triwulan I tahun 2009 mengalami pertumbuhan sebesar 0,82% (qtq), lebih rendah bila dibandingkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sebesar 2,78% (qtq). Sementara, pangsa stok pada triwulan laporan sebesar 2,72%. 3. Perdagangan Eksternal Jumlah perdagangan eksternal ke luar Provinsi Jambi mengalami penurunan sebesar 0,25% (qtq) menurun dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 1,83% (qtq). Sementara pertumbuhan impor barang baik yang berasal dari luar provinsi maupun luar negeri masih mengalami penurunan yaitu sebesar 0,58% (qtq). 27
42 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Grafik Perkembangan Ekspor dan Impor Non Migas Provinsi Jambi ribu USD 350, ,000 Impor Ekspor Net 250, , , ,000 50, ,075 72,175 73,849 34, , , , , , , , , , , , , ,657 70,869 TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II* Keterangan: *) S.d. Mei 2009 Berdasarkan dokumen pemberitahuan ekspor barang (PEB), ekspor Provinsi Jambi sebesar USD 90,61 juta sedangkan impor sebesar USD 19,74 juta pada triwulan laporan. 12 Dengan kondisi tersebut, Provinsi Jambi mengalami net ekspor sebesar USD 70,87 juta, menurun sebesar 0,62% dibandingkan posisi yang sama periode triwulan sebelumnya yang mencapai USD 71,31 juta. 13 Ekspor Provinsi Jambi masih didominasi oleh komoditas karet dan CPO. 14 Sementara kelompok peralatan mesin dan transport masih mendominasi nilai impor Provinsi Jambi pada triwulan laporan. Grafik Perkembangan Ekspor Provinsi Jambi dalam Ribu USD 120, ,000 EKSPOR CRUDE MATERIALS, INEDIBLE ANIMAL & VEGETABLE OILS&FATS 80,000 60,000 40,000 20, Data s.d. bulan Mei 2009 (Sumber: Direktorat Statistik dan Ekonomi Moneter, Bank Indonesia). 13 Net ekspor yang dimaksud disini adalah net ekspor bulan AprilMei 2009 dibandingkan net ekspor bulan JanuariFebruari Klasifikasi barang menurut Standard International Trading Classification (SITC). 28
43 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Grafik Lima Komoditi Tertinggi Nilai Ekspor Provinsi Jambi Ribu USD 90,000 80,000 70, CRUDE RUBBER 25 PULP AND WASTE PAPER 42 FIXED VEGETABLE OILS & FATS 63 WOOD AND CORK MANUFACTURES 32 COAL, COKE AND BRIQUETTES LAINNYA 60,000 50,000 40,000 30,000 20,000 10, Pada triwulan laporan (AprilMei 2009), ekspor ke luar negeri Provinsi Jambi meningkat sebesar 3,78% dibandingkan periode yang sama triwulan sebelumnya (JanuariFebruari 2009), yaitu dari USD 87,31 juta menjadi USD 90,61 juta. Berdasarkan komoditasnya peningkatan ekspor pada triwulan laporan dipicu oleh meningkatnya ekspor karet mentah (crude rubber) sebesar USD 14,20 juta (43,72%) setelah mengalami penurunan pada triwulan lalu. Hal tersebut dipicu dari mulai membaiknya permintaan karet mentah oleh Singapura di triwulan. Selain itu, meningkatnya ekspor Jambi juga dipicu oleh meningkatnya ekspor CPO ke Belanda sebesar USD 10,33 juta. Berdasarkan jenis komoditasnya, nilai ekspor tertinggi (AprilMei 2009) dicapai oleh komoditas karet mentah (crude rubber) sebesar USD 46,67 juta atau 51,51% dari total ekspor non migas, sementara nilai ekspor lemak nabati dan minyak (fixed, vegetable oil and fats), serta pulp dan kertas (pulp and waste paper) masingmasing mencapai USD 18,37 juta (20,27% dari total ekspor non migas), dan USD 3,61 juta (19,55% dari total ekspor non migas). 29
44 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Grafik Perkembangan Ekspor Non Migas Provinsi Jambi Berdasarkan Negara Tujuan Ribu USD 40,000 35,000 C. UNITED STATES OF AMERICA SINGAPORE MALAYSIA C. JAPAN C. R.R.C C. SOUTH KOREA LAINNYA 30,000 25,000 20,000 15,000 10,000 5, Grafik Pangsa Ekspor Non Migas Provinsi Jambi Berdasarkan Negara Tujuan 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% C. UNITED STATES OF AMERICA SINGAPORE MALAYSIA C. JAPAN C. R.R.C C. SOUTH KOREA LAINNYA Ekspor non migas lain yang cukup besar kontribusinya adalah komoditas batubara, kokas dan briket (coal, coke and briquettes), serta barangbarang kayu dan gabus (wood and cork manufactures) yang masingmasing mencapai USD 5,43 juta (5,99%) serta USD 5,51 juta (6,08%). Berdasarkan struktur ekspor non migas Jambi, terlihat bahwa ekspor produk primer masih mendominasi terutama komoditas karet mentah, lemak nabati dan minyak, serta batubara disusul produk hasil industri pengolahan (barangbarang kayu serta kertas dan olahannya). Berdasarkan negara tujuan, ekspor Provinsi Jambi sebagian besar ke negaranegara dikawasan Asia yang hampir setara dengan 69,87% total ekspor Provinsi Jambi. Penyumbang utama ekspor dari negara Asia adalah Singapore yang mencapai USD 14,48 juta (15,98%), diikuti dengan Republik Rakyat China (RRC) sebesar USD 14,02 juta (15,48%), Jepang sebesar USD 12,08 juta 30
45 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL (13,34%) serta Malaysia sebesar USD 8,75 juta (9,65%). Sementara ekspor ke negara Amerika Serikat sebesar USD 11,21 juta (12,37%) pada triwulan laporan. Dari sisi impor (AprilMei 2009), impor non migas mengalami peningkatan sebesar 23,41% (USD 3,76 juta) jika dibandingkan periode yang sama triwulan sebelumnya (JanuariFebruari 2009) sehingga menjadi sebesar USD 19,74 juta. Pada triwulan laporan, impor terbesar terjadi pada sub kelompok peralatan dan mesin daya generator (Power Generating Mach & Eqp) sebesar USD 12,25 juta (62,04%). Peningkatan impor pada triwulan laporan disebabkan oleh meningkatnya sub kelompok tersebut sebesar USD 11,69 juta. Meningkatnya pertumbuhan impor Jambi dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang sebesar 0,86% menunjukkan bahwa perekonomian Jambi kembali menggeliat. Grafik Perkembangan Impor Non Migas Provinsi Jambi dalam Ribu USD 35,000 30,000 25,000 IMPOR MACHINERY & TRANSPORT EQP CHEMICAL 20,000 15,000 10,000 5,
46 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Grafik Lima Komoditi Tertinggi Nilai Impor Provinsi Jambi Ribu USD 35,000 30,000 25,000 20, POWER GENERATING MACH. & EQP 72 MACH.SPECIAL FOR PARTIC.INDS 74 GENERAL INDUSTRIAL MACH.&EQP 59 CHEM.MATERIALS& PRODUCTS,NES 56 FERTILIZERS MANUFACTURED LAINNYA 15,000 10,000 5, Pangsa impor Provinsi Jambi pada periode triwulan laporan masih didominasi oleh kelompok peralatan mesin dan transport (machinery&transport equipment) yang menguasai 87,75% dari nilai impor. Selain itu, kelompok bahan kimia (chemical) juga memberikan kontribusi impor sebesar 4,57% dari total impor Provinsi Jambi dengan komoditas utamanya adalah bahan kimia organik dan non organik masingmasing sebesar USD 390,45 ribu dan USD 262,39 ribu. Grafik Perkembangan Impor Non Migas Provinsi Jambi Berdasarkan Negara Penjual Ribu USD 40,000 35,000 C. CANADA SINGAPORE MALAYSIA C. HONGKONG C. TAIWAN C. R.R.C LAINNYA 30,000 25,000 20,000 15,000 10,000 5,000 (5,000)
47 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Grafik Pangsa Impor Non Migas Provinsi Jambi Berdasarkan Negara Penjual 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% C. CANADA SINGAPORE MALAYSIA C. HONGKONG C. TAIWAN C. R.R.C LAINNYA Berdasarkan negara penjual, impor Provinsi Jambi pada triwulan laporan terutama berasal dari Republik Rakyat Cina (RRC) sebesar USD 14,64 juta (74,16%), diikuti dengan Singapura sebesar USD 3,44 juta (17,40%) dari total impor pada triwulan laporan (s.d. bulan Mei) sebesar USD 19,74 juta. 33
48 Halaman ini sengaja dikosongkan
49 Boks 1. PERKEMBANGAN SEKTOR PERTAMBANGAN DAN PENDUKUNGNYA DI PROVINSI JAMBI Sektor pertambangan merupakan sektor dengan pangsa kedua terbesar di Jambi (17,55%). Krisis ekonomi yang melanda dunia yang akhirnya berimbas pada perekonomian Jambi juga tak luput dirasakan oleh sektor ini. Dampak yang paling terasa bagi sektor ini adalah menurunnya harga jual produk (lihat grafik 1). Grafik 1. Perkembangan Harga Komoditas Minyak bumi (USD/barrel) Batubara (USD/mt) Jan04 Apr04 Jul04 Oct04 Jan05 Apr05 Jul05 Oct05 Jan06 Apr06 Jul06 Oct06 Jan07 Apr07 Jul07 Oct07 Jan08 Apr08 Jul08 Oct08 Jan09 Apr09 Sumber: Bloomberg Berdasarkan hasil liaison dengan pelaku usaha di bidang pertambangan seperti migas dan batu bara, penjualan komoditas ini relatif masih cukup baik walaupun mengalami penurunan harga. Untuk perusahaan migas, jumlah penjualan bergantung kepada besar produksi perusahaan yang berarti bergantung kepada kemampuan sumur dalam menghasilkan minyak. Sementara itu, penurunan pesanan dirasakan oleh perusahaan batubara akibat menurunnya permintaan dari perusahaan pembeli. Batubara merupakan salah satu bahan bakar dalam industri sehingga ketika terjadi penurunan produksi usaha pembeli akan berimbas pula dalam penggunaan batubara sebagai bahan bakarnya. Namun demikian ke depannya prospek batubara akan membaik terkait dengan masih besarnya peluang pasar usaha ini serta mulai membaiknya kondisi ekonomi. Hasil liaison yang dilakukan terhadap distributor alat berat menunjukkan bahwa terjadi penurunan penjualan sebagai dampak dari krisis global. Sebagai perusahaan dengan pembeli utama industri maka jumlah penjualannya sangat bergantung dengan I
50 kondisi usaha pembeli. Pembeli utama alat berat merupakan perusahaan kehutanan, perkebunan dan pertambangan. Perusahaan kehutanan dan perkebunan yang terkena imbas krisis akibat menurunnya harga jual dan permintaan dunia mengambil langkah antisipasi dengan mengurangi investasi ekspansi mereka. Hal tersebut berdampak pada menurunnya permintaan akan alatalat berat di Jambi. Namun tidak demikian yang terjadi untuk pembeli dari sektor pertambangan. Potensi pertambangan yang masih cukup besar membuat permintaan dari sektor ini tidak sejatuh dibandingkan dengan sektor kehutanan. Ke depannya contact dalam usaha distributor ini memandang positif akan perkembangan penjualan seiring dengan mulai membaiknya usaha pembeli. Terkait dengan biaya operasional semua contact menyatakan terdapat penurunan dalam biaya yang diakibatkan oleh berkurangnya produksi ataupun penjualan namun demikian biaya tenaga kerja tetap mengalami kenaikan seiring dengan meningkatnya Upah Minimum Provinsi (UMP) Dampak dari krisis ekonomi global ini terutama dirasakan pada turunnya harga jual produk sektor pertambangan. Harga jual minyak bumi bahkan turun mencapai 74% dari harga tertingginya. Namun menurut contact harga jual di titik terendah pun masih di atas harga pokok produksi minyak bumi. Di sisi lain harga jual batubara saat ini sudah mengalami peningkatan sebesar 27% dibandingkan akhir tahun Menurunnya penjualan dan produksi dari beberapa perusahaan tersebut tidak serta merta membuat perusahaan melakukan kebijakan dalam tenaga kerja. Sampai dengan saat ini tidak ada pegawai dari perusahaan migas, pertambangan, maupun distributor alat berat yang dirumahkan. Investasi bagi perusahaan migas sangat tergantung dengan perizinan. Contact menyatakan untuk dapat memperoleh izin pengetesan sebuah sumur minyak, perusahaan harus melalui 30 (tiga puluh) aparat pemerintah daerah. Sementara bagi perusahaan batubara, hambatan dalam berinvestasi berasal dari kesulitan pembebasan tanah dari penduduk setempat serta kondisi dan kapasitas jalan yang belum memadai untuk dilalui truk pengangkut yang membuat kondisi jalan relatif cepat rusak. Kesimpulan dan Rekomendasi Permasalahan yang ditemui dalam usaha pertambangan ini adalah mengenai perizinan. Sulitnya perusahaan mendapatkan izin untuk mengembangkan usaha dan panjangnya birokrasi yang harus ditempuh membuat banyaknya waktu dan biaya yang terserap. Oleh sebab itu diperlukan peninjauan kembali mengenai jalur proses perizinan sehingga proses ini dapat berlangsung secara lebih efisien. II
51 Permasalahan kondisi jalan yang cepat rusak perlu ditindaklanjuti baik oleh pemerintah daerah maupun perusahaan pertambangan sendiri. Saat ini belum semua perusahaan pertambangan di Jambi telah memiliki izin operasi dan baru beberapa perusahaan saja yang sudah menyumbangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi penerimaan PEMDA. Oleh sebab itu penggalakan izin operasi dan penyetoran PAD harus terus ditingkatkan yang nantinya dari dana tersebut diharapkan dapat dibelanjakan kembali dalam bentuk perbaikan jalan dsb. III
52 Halaman ini sengaja dikosongkan
53 BAB II PERKEMBANGAN HARGAHARGA A. Kajian Umum Inflasi Kota Jambi pada triwulan II tahun 2009 sebesar 0,72% (qtq), menurun dibandingkan triwulan I tahun 2009 yang mengalami inflasi sebesar 0,26% (qtq). Deflasi yang terjadi di Kota Jambi pada triwulan laporan berasal dari menurunnya laju inflasi kelompok bahan makanan serta kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar. Grafik 2.1. Perkembangan Inflasi Kota Jambi Persen (%) Bulanan (mtm) Triwulanan (qtq) Year to date (ytd) Year on year (yoy) (5.00) Sumber: BPS Provinsi Jambi. Sejak Januari 2008 menggunakan IHK tahun dasar 2007=100 Perkembangan inflasi Kota Jambi secara tahunan terus mengalami tren penurunan yang signifikan. Inflasi Kota Jambi pada akhir periode triwulan II2009 sebesar 1,10% (yoy) dari sebelumnya 9,16% (yoy) pada Maret Sementara, pergerakan inflasi bulanan yang tercatat di bulan April, Mei dan Juni 2009 masingmasing sebesar minus 1,27%(mtm), 0,97%(mtm) dan minus 0,41%(mtm). 35
54 INFLASI ytd (%) Grafik 2.2. Perkembangan Inflasi Tahun Kalender Kota Jambi Periode Tahun 2003 s.d. Juni Dari perkembangan diatas, inflasi Kota Jambi s.d. bulan Juni 2009 secara kumulatif berada pada level minus 0,46% (ytd), terendah dalam 6 tahun terakhir. Sementara, deflasi yang terjadi pada triwulan laporan terutama berasal dari sumbangan angka deflasi kelompok bahan makanan serta kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar (lihat tabel 2.1.). Tabel 2.1. Perkembangan Inflasi Kota Jambi KELOMPOK Triwulan III2008 Triwulan IV2008 Triwulan I2009 Triwulan II2009 qtq yoy qtq yoy qtq yoy qtq yoy I Bahan Makanan II Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau III Perumahan, Air, Listrik & Bahan Bakar IV Sandang V Kesehatan VI Pendidikan, Rekreasi & Olahraga VII Transpor, Komunikasi & Jasa Keuangan INFLASI Sumber : BPS (diolah) Menurunnya harga bahan kebutuhan pokok seperti beras, cabe merah, bayam, ikan patin selama periode triwulan laporan memberikan sumbangan penurunan harga (deflasi) pada kelompok bahan makanan. Sementara itu, penurunan kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar disebabkan oleh menurunnya angka inflasi sub kelompok yang terutama disumbangkan oleh menurunnya haraga komoditas pasir dan semen
55 INFLASI Perkembangan inflasi Kota Jambi dan nasional pada triwulan laporan terus mengalami tren penurunan semenjak triwulan IV2008. Inflasi Kota Jambi secara tahunan (yoy) menurun signifikan sebesar 806 bps menjadi 1,10% jika dibandingkan periode triwulan I2009. Sementara, angka inflasi nasional menurun sebesar 427 bps menjadi sebesar 3,65%(yoy) (lihat grafik 2.3). Penurunan ini terjadi karena basis perhitungan inflasi kuartal kedua (Juni) tahun lalu sudah tinggi. 15 Disamping itu, kondisi stok bahan makanan yang relatif mencukupi, distribusi yang relatif lancar serta tidak terjadinya gangguan pada sisi supply membuat angka inflasi tidak bergejolak dan relatif rendah pada triwulan laporan. Persen Grafik 2.3. Perkembangan Laju Inflasi Kota Jambi Grafik 2.4. Perbandingan Inflasi (yoy) Kota Jambi dan Kota sekitarnya Kota Jambi Nasional Grafik Base line inflasi pada Juni 2008 sangat tinggi yaitu 2,46% (untuk Nasional) serta 4,19% (untuk Kota Jambi) yang disebabkan oleh kenaikan harga BBM pada 15 Mei
56 INFLASI YOY Bengkulu Jambi Padang Palembang Pekanbaru catatan: mulai bulan Juni 2008, angka inflasi menggunakan tahun dasar 2007 Grafik 2.4 Perkembangan secara regional, tingkat inflasi di Jambi paling rendah dibandingkan daerah sekitarnya. Inflasi di Jambi lebih rendah dibandingkan Pekanbaru (3,68%/yoy), Bengkulu (3,29%/yoy), Palembang (2,92%/yoy) serta Padang (2,80%/yoy) pada triwulan laporan. 16 B. Inflasi Berdasarkan Kelompok Barang Dilihat per sub kelompok, deflasi tertinggi pada triwulan laporan adalah sub kelompok bumbubumbuan dan sub kelompok ikan segar. Sementara itu, sub kelompok yang mengalami inflasi terbesar adalah sub kelompok daging dan hasilhasilnya serta sub kelompok buahbuahan. Berdasarkan komoditinya (Tabel 2.3.), penyumbang pembentukan deflasi terbesar adalah cabe merah; daging ayam ras; udang basah (April 2009), tempe; jeruk; pisang (Mei 2009) serta cabe merah; minyak goreng; bayam (Maret 2009). Kelompok bahan makanan merupakan penyumbang utama deflasi selama periode triwulan laporan. 16 Sumber: DSM, Bank Indonesia
57 INFLASI Tabel 2.2. Perkembangan Inflasi Triwulanan (qtq) serta Tahunan (yoy) Kota Jambi Berdasarkan Kelompok dan Sub Kelompok Barang dan Jasa KELOMPOK/SUBKELOMPOK Triwulan III2008 Triwulan IV2008 Triwulan I2009 Triwulan II2009 qtq yoy qtq yoy qtq yoy qtq yoy I. BAHAN MAKANAN a. PADIPADIAN, UMBIUMBIAN DAN HASILNYA b. DAGINGDAN HASILHASILNYA c. IKAN SEGAR d. IKAN DIAWETKAN e. TELUR, SUSU DAN HASILHASILNYA f. SAYURSAYURAN g. KACANGKACANGAN h. BUAHBUAHAN i. BUMBUBUMBUAN j. LEMAK DAN MINYAK k. BAHAN MAKANAN LAINNYA II. MAKANAN JADI,MINUMAN,ROKOK & TEMBAKAU a. MAKANAN JADI b. MINUMAN YANG TIDAK BERALKOHOL c. TEMBAKAU DAN MINUMAN BERALKOHOL III. PERUMAHAN, AIR, LISTRIK, GAS & BHN BAKAR a. BIAYA TEMPAT TINGGAL b. BAHAN BAKAR, PENERANGAN DAN AIR c. PERLENGKAPAN RUMAHTANGGA d. PENYELENGGARAAN RUMAHTANGGA IV. SANDANG a. SANDANG LAKILAKI b. SANDANG WANITA c. SANDANG ANAKANAK d. BARANG PRIBADI DAN SANDANG LAINNYA V. KESEHATAN a. JASA KESEHATAN b. OBATOBATAN c. JASA PERAWATAN JASMANI d. PERAWATAN JASMANI DAN KOSMETIKA VI. PENDIDIKAN, REKREASI DAN OLAHRAGA a. JASA PENDIDIKAN b. KURSUSKURSUS / PELATIHAN c. PERLENGKAPAN / PERALATAN PENDIDIKAN d. REKREASI e. OLAHRAGA VII TRANSPOR, KOMUNIKASI & JASA KEUANGAN a. TRANSPOR b. KOMUNIKASI DAN PENGIRIMAN c. SARANA DAN PENUNJANG TRANSPOR d. JASA KEUANGAN INFLASI (UMUM) Sumber : BPS (diolah) Sementara, penyumbang pembentukan inflasi terbesar secara bulanan selama periode triwulan laporan adalah pisang; petai; pepaya (April 2009), daging ayam ras; cabe merah; minyak goreng (Mei 2009), daging ayam ras; petai; tomat buah (Juni 2009). 39
58 INFLASI Tabel 2.3. Sumbangan Inflasi Bulanan (mtm) Kota Jambi Berdasarkan Komoditi Periode triwulan II KOMODITAS PENYUMBANG INFLASI TW II KOMODITAS PENYUMBANG DEFLASI TW II2009 Sumbangan Sumbangan APRIL APRIL 1 Pisang Cabe Merah Petai Daging Ayam Ras Pepaya Udang Basah Jeruk Bayam Seragam Sekolah Anak Ikan Nila Keramik Tempe Susu Bubuk Beras Nanas Ikan Teri (diawetkan) Kentang Ikan Saluang Obat Dengan Resep Tomat Sayur Sumbangan 10 Komoditas Sumbangan 10 Komoditas MEI MEI 1 Daging Ayam Ras Tempe Cabe Merah Jeruk Minyak Goreng Pisang Bayam Tomat Buah Kangkung Tahu Mentah Ikan Nila Semen Kacang Panjang Ikan Dencis Tomat Sayur Kentang Daun Singkong Ikan Patin Udang Basah Pasir Sumbangan 10 Komoditas Sumbangan 10 Komoditas JUNI JUNI 1 Daging Ayam Ras Cabe Merah Petai Minyak Goreng Tomat Buah Bayam Bawang Putih Ikan Nila Bahan Pelumas/Oli Beras Pemeliharaan/Service Kangkung Emas Perhiasan Udang Basah Tahu Mentah Ikan Dencis Pisang Ikan Patin Genteng CumiCumi Sumbangan 10 Komoditas Sumbangan 10 Komoditas Sumber : BPS (diolah) 1. Kelompok Bahan Makanan Kelompok bahan makanan pada triwulan II tahun 2009 mengalami deflasi sebesar 2,73% (qtq). Berdasarkan sub kelompoknya, deflasi tertinggi terjadi pada sub kelompok bumbubumbuan sebesar 15,27% (qtq) serta sub kelompok ikan segar sebesar 12,43% (yoy)
59 INFLASI Grafik 2.5. Perkembangan Harga CPO dan Minyak Goreng (Ringgit/Ton) CPO internasional (aksis kiri) Minyak goreng lokal (aksis kanan) (Rp/Kg) Sumber: Bloomberg & Disperindag Prov. Jambi Sementara itu, tren peningkatan kembali harga crude palm oil (CPO) di pasar internasional s.d. bulan April 2009 diikuti juga oleh harga minyak goreng curah (tanpa merek) yang meningkat. Namun demikian, penurunan harga CPO internasional di 2 bulan terakhir periode triwulan laporan juga turut membuat harga minyak goreng curah kembali menurun pada bulan Juni Harga CPO internasional pada tahun 2008 yang sempat mencapai titik terendah sebesar ringgit/ton (Oktober 2008), berangsurangsur mengalami peningkatan menjadi sebesar ringgit/ton pada Desember 2008 dan menjadi ringgit/ton bulan April Sejalan dengan perkembangan tersebut, harga ratarata minyak goreng curah (tanpa merek) di Provinsi Jambi juga mengalami peningkatan dari Rp6.897/kg pada bulan Desember 2008 menjadi Rp8.641/kg pada bulan April Bahkan pada bulan Mei 2009, harga minyak goreng curah sempat menyentuh level Rp9.323/kg (harga tertinggi pada tahun 2009). Sementara, perkembangan harga tepung terigu merek Segitiga Biru yang sempat menurun pada periode triwulan I2009 menjadi sebesar Rp7.000/kg mulai bergerak naik pada triwulan laporan menjadi sebesar Rp7.467/kg. Namun 41
60 INFLASI demikian, hal ini bertolak belakang dengan pergerakan harga gandum di pasar internasional yang merupakan bahan baku tepung terigu. Selama periode triwulan laporan, harga gandum bergerak cukup fluktuatif dari USD 524,25/bushel (April 2009), 637,25/bushel (Mei 2009), 511,25/bushel (Juni 2009). 17 Grafik 2.6. Perkembangan Harga Tepung Terigu (USD/Bushel) (Rp/Kg) Wheat/Gandum (aksis kiri) Tepung Terigu lokal (aksis kanan) Sumber: Bloomberg & Disperindag Prov. Jambi 3000 Perkembangan sub kelompok bumbubumbuan pada triwulan laporan mengalami deflasi antara lain dipengaruhi oleh tren menurunnya harga cabai merah keriting dan cabai merah biasa yang penggunaannya sebagai salah satu bahan baku beberapa komoditas makanan jadi cukup dominan diwilayah Jambi. 17 Satu bushel setara dengan 27 kg
61 INFLASI Grafik 2.7. Perkembangan Harga Cabe Merah dan Bawang (Rp/kg) Cabe Merah Keriting Cabe merah Biasa Bawang Putih Bawang Merah Sumber: Disperindag Provinsi Jambi Sub kelompok daging dan hasilhasilnya mengalami inflasi sebesar 2,10% (yoy) dan 7,68% (qtq). Harga ratarata daging ayam relatif mengalami peningkatan selama periode triwulan laporan sehingga berkontribusi terhadap inflasi sub kelompok daging dan hasilhasilnya. Sementara pergerakan harga daging sapi relatif stabil selama triwulan laporan. Sementara itu, harga beras cenderung stabil selama triwulan laporan. (USD/Bushel) Jagung internasional (aksis kiri) Jagung pipilan kering (aksis kanan) Grafik 2.8. Perkembangan Harga Jagung Grafik 2.9. Perkembangan Harga Daging (Rp/Kg) (Rp/Kg) Ayam Kampung (aksis kiri) 8000 Daging Ayam Broiler (aksis kiri) Daging Sapi Murni (aksis kanan) (Rp/Kg) Sumber: Bloomberg & Disperindag Prov. Jambi Grafik 2.8 Sumber: Disperindag Provinsi Jambi Grafik
62 INFLASI Grafik Perkembangan Harga Beras 18 (USD/CWT) 25 (Rp/Kg) Beras internasional (aksis kiri) lokal IR 64 (aksis kanan) Sumber: Bloomberg & Disperindag Prov. Jambi Kelompok Makanan Jadi Kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau pada triwulan II tahun 2009 mengalami inflasi sebesar 7,66% (yoy) dengan laju inflasi triwulanan sebesar 0,16% (qtq). Berdasarkan sub kelompoknya, urutan inflasi tertinggi tercatat pada sub kelompok tembakau dan minuman beralkohol sebesar 0,47% (qtq), diikuti sub kelompok minuman yang tidak beralkohol (0,08%/qtq) serta sub kelompok makanan jadi (0,04%/qtq). 3. Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar Kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar pada triwulan II tahun 2009 mengalami inflasi sebesar minus 0,32% (qtq) atau dengan laju inflasi tahunan mencapai 6,65% (yoy). Berdasarkan sub kelompoknya, sub kelompok perlengkapan rumah tangga mengalami deflasi tertinggi sebesar 1,77% (qtq), diikuti dengan sub kelompok biaya tempat tinggal sebesar 0,59%/qtq. Sementara, sub kelompok bahan bakar, penerangan dan air serta sub kelompok penyelenggaraan rumah tangga masingmasing mengalami inflasi sebesar 0,31%/qtq dan 0,64%/qtq pada triwulan laporan. 18 Cwt maksudnya hundredweight (100 pounds). 1 pounds setara dengan 453,59 gram/0,453 kg. Jadi 100 pounds sekitar 45,3 kg
63 INFLASI 4. Kelompok Sandang Kelompok sandang pada triwulan II tahun 2009 mengalami inflasi sebesar 4,98% (yoy) atau dengan laju inflasi triwulanan mencapai 0,10% (qtq). Inflasi pada kelompok sandang pada triwulan laporan disumbangkan oleh sub kelompok sandang anakanak yang mulai meningkat harganya dikarenakan mulai memasuki tahun ajaran baru sekolah. Sementara, sub kelompok sandang wanita dan sub kelompok barang pribadi dan sandang lainnya mengalami deflasi pada triwulan laporan masingmasing sebesar 0,46% (qtq) dan 0,09% (qtq). Grafik Perkembangan Harga Emas di Pasar Internasional Harga Emas (USD/Troy Ounce) Sumber: Bloomberg Komoditas utama penyumbang deflasi pada sub kelompok barang pribadi dan sandang lainnya pada triwulan laporan adalah emas perhiasan. Harga ratarata emas (logam mulia) 24 karat di Jambi pada bulan Maret 2009 sebesar Rp ,79/gram menurun dibandingkan bulan Maret 2009 yang mencapai Rp ,86/gram Kelompok Kesehatan Kelompok kesehatan mengalami inflasi sebesar 3,28% (yoy) pada triwulan II tahun 2009 atau dengan laju inflasi triwulanan sebesar 1,21% (qtq). Berdasarkan sub kelompoknya, urutan inflasi tertinggi dialami oleh sub kelompok obatobatan sebesar 5,05% (qtq), diikuti sub kelompok perawatan jasmani dan 19 Sumber: BPS Provinsi Jambi. 45
64 INFLASI kosmetika (0,88%/qtq). Sementara itu, sub kelompok jasa perawatan jasmani serta sub kelompok jasa kesehatan relatif tidak mengalami perubahan harga. 6. Kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga Kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga pada triwulan II tahun 2009 mengalami deflasi sebesar 0,10% (qtq). Sub kelompok rekreasi mengalami deflasi triwulanan tertinggi sebesar 1,15% (qtq). Sementara, sub kelompok perlengkapan/peralatan pendidikan mengalami inflasi sebesar 0,62%/qtq). Sementara itu, sub kelompok yang lain relatif tidak mengalami perubahan harga. 7. Kelompok Transportasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan Perkembangan harga yang terjadi pada kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan di kota Jambi pada triwulan I tahun 2009 sebesar 0,39% (qtq) dengan laju inflasi tahunan sebesar minus 6,57% (yoy). Berdasarkan sub kelompoknya, inflasi terjadi pada sub kelompok transportasi sebesar 0,34% (qtq) yang memiliki bobot relatif besar terhadap pembentukan inflasi Kota Jambi serta sub kelompok sarana dan penunjang transportasi (1,77%/qtq). Sementara, sub kelompok komunikasi dan pengiriman serta sub kelompok jasa keuangan relatif tidak mengalami perubahan harga pada triwulan laporan. Grafik Perkembangan Harga Minyak di Pasar Internasional Harga Minyak (USD/Barrel) Sumber: Bloomberg
65 INFLASI Sementara harga minyak di pasar internasional mengalami tren peningkatan sejak awal tahun 2009 dari sebesar USD 41,68/barrel (Januari 2009) menjadi USD 69,89/barrel (Juni 2009). Namun demikian, dibandingkan posisi yang sama tahun lalu, harga minyak sudah mengalai penurunan 50% dari harga tertingginya pada Juni 2008 sebesar USD 140/barrel. Selama periode triwulan laporan harga minyak di pasar internasional masih berada pada kisaran aman dari target pemerintah sehingga tidak ada rencana pemerintah untuk menaikkan kembali harga BBM dalam negeri. Perkembangan inflasi di sub kelompok transportasi terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga pada bahan pelumas/oli serta angkutan udara. Memasuki masa high season, penyedia jasa penerbangan mulai menaikkan tarifnya. Demand masyarakat terhadap permintaan tiket pesawat untuk berlibur meningkat cukup signifikan dibandingkan pada masa low season pada triwulan I Meningkatnya demand tersebut berimbas pada harga tiket pesawat yang relatif lebih mahal. 20 Pada periode triwulan II2009 mulai memasuki masa high season dikarenakan terdapat perayaan hari besar keagamaan serta memasuki musim liburan sekolah sehingga minat masyarakat untuk berlibur keluar daerah cukup tinggi. 47
66 Halaman ini sengaja dikosongkan
67 Boks 2. LAUNCHING FORUM KOORDINASI PENGENDALIAN INFLASI PROVINSI JAMBI Tingginya angka inflasi Provinsi Jambi yang direpresentasikan melalui inflasi Kota Jambi selama tahun 2008 yaitu sebesar 11,57% menyisakan kekhawatiran terhadap perkembangan inflasi pada tahuntahaun berikutnya. Oleh sebab itu, dalam rangka mengantisipasi potensi tekanan inflasi pada waktuwaktu mendatang, Bank Indonesia Jambi berinisiatif untuk mengadakan Forum Koordinasi Pengendalian Inflasi (FKPI) Provinsi Jambi. Untuk mendukung kelancaran berjalannya forum ini secara hukum, maka forum ini telah dilegalkan melalui Keputusan Gubernur No.188/Kep.Gub/Ekbang/2009 tanggal 4 Mei 2009 tentang Forum Koordinasi Pengendalian Inflasi Provinsi Jambi. Untuk itu, pada tanggal 25 Juni 2009, telah diselenggarakan launching Forum Koordinasi Pengendalian Inflasi Provinsi Jambi yang dibuka secara resmi oleh Asisten II SekDa Provinsi Jambi. Inflasi adalah kecenderungan dari hargaharga untuk meningkat secara umum dan terus menerus. Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya inflasi adalah ketidakseimbangan permintaan dan pasokan (output gap), nilai tukar rupiah, ekspektasi inflasi, dampak administered price, serta pasokan dan kelancaran distribusi barang. Untuk dapat menangani semua faktor tersebut diperlukanlah kerjasama antara pemerintah daerah dan dinas/instansi terkait. Bank Indonesia sebagai otoritas moneter berperan dalam mengendalikan inflasi dari sisi permintaan, ekspektasi inflasi serta menjaga kestabilan nilai rupiah. Sementara itu Pemerintah daerah berperan dalam menjaga kecukupan pasokan dan kelancaran distribusi. Selain pentingnya koordinasi dalam dinas/instansi di suatu daerah, koordinasi forum koordinasi di daerah dengan tim pengendalian inflasi nasional juga diperlukan. Tujuan dari koordinasi ini adalah: a. Tercukupinya pasokan dan lancarnya distribusi b. Meningkatkan kesadaran terhadap kebijakan Pemda yang memperhatikan inflasi daerah c. Meningkatkan komitmen dalam mengendalikan inflasi di daerah d. Monitoring kondisi terkini ekonomi dan sumbersumber tekanan harga di daerah Berdasarkan kelompoknya, kelompok bahan makanan merupakan kelompok yang memiliki pergerakan harga yang paling volatile dibandingkan dengan kelompokkelompok lainnya. Hal ini disebabkan oleh tingginya ketergantungan kelompok ini I
68 akan alam dan juga daerah lain sebagai pemasoknya. Berikut ini adalah tabel asal komoditas beserta jalur distribusinya: Tabel 1. Distribusi Kelompok Bahan Makanan Jambi Komoditas Asal Barang Distribusi Melalui Beras Lokal, Sumbar, Sumsel, Jabar/Jakarta Darat/laut Gula pasir Lampung, Sumsel, Riau (Impor), Sumut, Jakarta Darat/laut Minyak goreng Sumsel, Sumut, Jakarta Darat/laut Daging sapi Lokal, Lampung Darat Daging ayam ras Lokal, Sumsel, Medan, Lampung Darat Telor Lokal, Sumut Darat Susu Jakarta Darat Garam Surabaya Laut Tepung terigu Sumsel, Jakarta Darat/laut Kedelai Lokal, Sumut, Jakarta (Impor) Darat Cabe merah Lokal, Sumbar, Sumsel, Jakarta, Jawa Darat/laut Bawang merah Brebes, Jateng Darat Minyak tanah Lokal Darat Dengan kondisi seperti di atas, maka infrastruktur yang baik sangat diperlukan untuk mengurangi bergejolaknya harga. Untuk itu, Bappeda Prov. Jambi telah mencanangkan beberapa pembangunan infrastruktur yang diharapkan dapat mempermudah akses distribusi barang. Dengan demikian biayabiaya yang timbul dalam proses distribusi barang dapat berkurang sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani. Dari sisi pembeli, infrastruktur yang baik juga dapat mengurangi bergejolaknya harga sehingga nilai inflasi dapat ditekan. Pembangunan infrastuktur yang sedang dan akan dijalankan adalah:1.) Memperpendek jarak tempuh Sei. Penuh Muara Sabak, 2.) Pembangunan jembatan Batanghari II, 3.) Pembangunan pelabuhan Muara Sabak, serta 4.) Rencana pembangunan jembatan Muara Sabak Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Dalam menangani inflasi, terdapat beberapa strategi yang dapat dilaksanakan. Pertama adalah pendekatan moneter namun peluang pelaksanaannya relatif kecil mengingat instrumen moneter lebih berada pada tingkat nasional/pusat. Pendekatan kedua adalah pendekatan fiskal yaitu melalui pengaturan siklus pencairan APBD. Pendekatan terakhir adalah pendekatan sektor riil. Pendekatan ini dapat dilaksanakan dengan tiga cara yaitu: 1.) upaya pengembangan sektor ekonomi penghasil komoditas yang berkontribusi besar terhadap inflasi, 2.) Perbaikan sarana infrastruktur untuk mengurangi biaya transportasi, dan 3.) Penggalakan program untuk mengendalikan konsumsi masyarakat seperti program Ayo ke Bank. II
69 KESIMPULAN 1. Inflasi dipengaruhi oleh beberapa hal seperti keseimbangan permintaan dan pasokan (output gap), nilai tukar rupiah, ekspektasi inflasi, perubahan dalam administered, serta pasokan dan distribusi barang. Oleh sebab itu untuk dapat mengendalikan perubahan harga maka diperlukan koordinasi antara Bank Indonesia, Pemerintah Daerah, Pemerintah Pusat, dan Departemen/Dinas Teknis. 2. Terbentuknya forum koordinasi pengendalian inflasi bukan berarti serta merta harus menyelesaikan semua masalah di tingkat provinsi akan tetapi dapat juga memberikan masukan kepada pihak pemerintah pusat. 3. Bahan makanan merupakan salah satu kelompok dengan sumbangan inflasi yang tertinggi dan tergantung akan pasokan dari luar provinsi Jambi oleh sebab itu perlu mendapat perhatian lebih dari pemerintah provinsi. 4. Dari sisi permintaan, tingginya inflasi kota Jambi disebabkan oleh tingginya konsumsi masyarakat. REKOMENDASI 1. Forum Koordinasi Pengendalian Inflasi Provinsi Jambi harus berkoordinasi dengan Tim Pengendalian Inflasi Pusat. Mengingat adanya pembatasan kewenangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah maka perlu adanya koordinasi antara kedua belah pihak. 2. Meningkatkan kegiatan diseminasi untuk memberikan pemahamam kepada masyarakat di daerah terkait kondisi dan prospek ekonomi dan risiko tekanan inflasi. Hal ini bertujuan untuk menggiring persepsi masyarakat sehingga tekanan inflasi dari sisi permintaan dapat dikurangi. 3. Mempersiapkan dana terkait dengan biaya operasional FKPI. Saat ini dana yang tersedia terkait dengan penyelenggaraan FKPI hanya untuk biaya pertemuan saja. Akan tetapi belum terdapat biaya dalam mengimplementasikan rekomendasirekomendasi yang dibuat. 4. Pemerintah daerah harus memberikan perhatian lebih kepada komoditas utama yang masih mengimpor dari daerah lain seperti cabai merah, bawang merah dan beras. Dengan kondisi ketergantungan Jambi akan pasokan dari daerah lain maka diperlukan upayaupaya untuk mengendalikan gejolak harga tersebut. III
70 5. Percepatan pembangunan infrastruktur provinsi Jambi yang telah dilaksanakan saat ini. Dengan terealisasinya pembangunan infrastruktur tersebut maka diharapkan biaya terkait dengan transportasi dapat menurun dan gejolak harga dapat diredam. IV
71 BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH Kinerja perbankan pada triwulan II tahun 2009 menunjukkan peningkatan baik dari segi penghimpunan dana maupun penyaluran kredit. Fungsi intermediasi yang tercermin dari nilai Loan to deposits ratio (LDR) perbankan juga menunjukkan peningkatan dari triwulan sebelumnya. Namun demikian kualitas kredit yang diberikan memburuk yang tercermin dari meningkatnya rasio Non Performing Loan (NPL) gross. A. Perkembangan Kelembagaan Secara kelembagaan, jumlah bank yang beroperasi di wilayah kerja Kantor Bank Indonesia Jambi sampai dengan Triwulan II tahun 2009 tercatat sebanyak 23 (dua puluh tiga) bank umum dan 8 (delapan) BPR yang terdiri dari 177 kantor bank umum termasuk BRI unit dan 14 kantor BPR. Pada periode triwulan laporan tidak terdapat penambahan bank umum maupun BPR baru, namun terdapat penambahan 6 (enam) kantor cabang pembantu (KCP). Enam kantor cabang pembantu yang bertambah yaitu KCP BNI Kayu Aro, KCP CIMB Niaga Sipin, KCP BTPN Merangin, KCP Danamon Bangko, KCP BTPN Ma. Bungo dan KCP BTPN Sipin. Dari 23 (dua puluh tiga) bank umum yang beroperasi di wilayah Jambi, terdiri dari 5 (lima) bank pemerintah diantaranya 1 (satu) Bank Pembangunan Daerah, dan 18 (delapan belas) bank swasta nasional. Dilihat dari sebarannya, jumlah kantor bank terbesar masih di Kota Jambi sebanyak 68 (enam puluh delapan) buah (35,60%), sedangkan untuk kabupaten yang paling sedikit kantor banknya adalah Kabupaten Tanjung Jabung Timur sebanyak 4 (empat) kantor (2,09%). 49
72 PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH B. Bank Umum Perkembangan Aset Bank Aset bank umum di Provinsi Jambi pada triwulan laporan mengalami peningkatan sebesar Rp604,61 miliar (4,90%) lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan aset triwulan lalu yang sebesar 0,87%. Peningkatan aset ini dipicu oleh meningkatnya aset kelompok bank pemerintah sebesar Rp543,99 miliar (6.60%) diikuti oleh peningkatan aset bank syariah sebesar Rp19,66 miliar (5,56%). Dengan demikian secara total, aset bank umum pada triwulan laporan menjadi sebesar Rp12.938,62 miliar. Grafik 3.1 Perkembangan Aset Bank Umum Provinsi Jambi Rp miliar 14,000 12,000 10,000 8,000 6,000 4,000 2,000 Jumlah Aset (aksis kiri) Pertumbuhan (%) Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q Persen Dari total pangsa pasar aset bank umum, aset bank pemerintah merupakan yang terbesar hingga mencapai 67,92%, diikuti oleh aset bank swasta yang memiliki pangsa sebesar 29,20% dan aset bank syariah yang memiliki pangsa sebesar 2,88% pada triwulan laporan. 2. Perkembangan Dana Masyarakat Jumlah dana pihak ketiga yang dihimpun oleh perbankan pada triwulan laporan meningkat sebesar 1,04%, yaitu dari Rp10.281,16 miliar menjadi Rp10.388,30 miliar pada triwulan laporan. Berdasarkan kelompok bank, pertumbuhan DPK dirasakan oleh ketiga kelompok bank yaitu bank pemerintah, bank swasta dan bank syariah 22. Secara 21 Data s.d. bulan Mei Bank Syariah termasuk bank syariah milik pemerintah dan swasta nasional 50
73 PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH nominal, peningkatan DPK terbesar dialami oleh kelompok bank pemerintah dengan peningkatan sebesar Rp96,68 miliar atau setara dengan 1,47% diikuti oleh bank syariah dengan peningkatan sebesar Rp10,37 miliar (5,16%). Dengan demikian pada triwulan laporan, peningkatan DPK perbankan adalah sebesar Rp107,14 miliar atau setara dengan 1,04% dibandingkan dengan triwulan lalu. Tabel 3.1 Penghimpunan Dana Bank Umum di Provinsi Jambi (dalam jutaan rupiah) URAIAN Pertumbuhan Trw III Trw IV Trw I Trw II Nominal Persen Bank Konvensional Bank Pemerintah 6,792,549 6,475,385 6,582,172 6,678,855 96, Giro 2,038,788 1,795,255 1,843,254 1,757,489 (85,765) (4.65) 2 Tabungan 3,117,628 3,405,548 3,071,431 3,116,963 45, Simpanan Berjangka 1,636,133 1,274,582 1,667,487 1,804, , Bank Swasta Nasional 3,370,587 3,396,774 3,497,944 3,498, Giro 529, , , ,927 39, Tabungan 1,470,180 1,478,499 1,538,759 1,534,071 (4,688) (0.30) 3 Simpanan Berjangka 1,370,608 1,396,603 1,476,924 1,442,034 (34,890) (2.36) Bank Syariah 179, , , ,416 10, Giro 46,918 49,508 50,230 47,930 (2,300) (4.58) 2 Tabungan 99, , , ,137 3, Simpanan Berjangka 32,766 45,806 47,361 56,349 8, Jumlah 10,342,315 10,069,369 10,281,162 10,388, , Giro 2,615,505 2,366,435 2,375,745 2,327,346 (48,399) (2.04) 2 Tabungan 4,687,303 4,985,943 4,713,645 4,758,171 44, Simpanan Berjangka 3,039,507 2,716,991 3,191,772 3,302, , Berdasarkan jenis penghimpunan dana, peningkatan DPK pada triwulan laporan dipicu oleh meningkatnya simpanan berjangka sebesar Rp111,01 miliar (3,48%) diikuti oleh tabungan dengan peningkatan sebesar Rp44,53 miliar (0,94%). Meningkatnya jumlah simpanan berjangka tersebut disumbangkan oleh meningkatnya simpanan berjangka oleh kelompok bank pemerintah. Di sisi lain, jumlah simpanan dalam bentuk giro mengalami penurunan sebesar Rp48,40 miliar (2,04%). Penurunan tersebut dipicu oleh menurunnya jumlah giro bank pemerintah sebesar Rp85,77 miliar (4,65%). Berdasarkan pangsanya, penghimpunan dana terbesar masih diraih oleh tabungan yaitu sebesar 45,80%, diikuti oleh deposito 31,79% dan giro 22,40%. 51
74 PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH Grafik 3.2 Perkembangan Dana Pihak Ketiga Bank Umum Provinsi Jambi Rp miliar 5,500 5,000 4,500 4,000 3,500 3,000 2,500 2,000 1,500 1, Q1 03 Q2 03 Q3 03 Q4 03 Q1 04 Q2 04 Q3 04 Q4 04 Q1 05 Q2 05 Q3 05 Q4 05 Q1 06 Q2 06 Q3 06 Q4 06 Q1 07 Q2 07 Q3 07 Q4 07 Q1 08 Q2 08 Q3 08 Q4 08 Q1 Q Giro (aksis kiri) Simpanan Berjangka (aksis kiri) Tabungan (aksis kiri) DPK (aksis kanan) Rp miliar 12,000 10,000 8,000 6,000 4,000 2,000 Berdasarkan golongan pemilik, secara nominal, kenaikan DPK berasal dari meningkatnya penghimpunan dana dari koperasi (Rp39,61 miliar), perorangan (Rp36,16 miliar), Pemerintah Daerah (Rp30,85 miliar) dan lembaga pemerintah (Rp28,77 miliar). No. Tabel 3.2 Perkembangan Dana Pihak Ketiga Berdasarkan Golongan Pemilik (dalam jutaan rupiah) Golongan Pemilik Penduduk/Residents Trw.III2008 Trw.IV2008 Trw.I2009 Trw.II2009 Nominal Share Nominal Share Nominal Share Nominal Share 1 Pemerintah 103, , , , Pemerintah Daerah 2,159, ,149, ,925, ,956, Badan/lembaga pemerintah 81, , , , Badan Usaha Milik Negara 117, , , , Perusahaan asuransi 33, , , , Perusahaan swasta 510, , , , Yayasan dan Badan Sosial 69, , , , Koperasi 35, , , , Perorangan 7,182, ,484, ,287, ,323, Lainnya 49, , , , Jumlah 10,342, ,069, ,281, ,388, Bukan Penduduk/NonResidents Penduduk dan bukan penduduk 10,342,315 10,069,369 10,281,162 10,388,303 Berdasarkan pangsanya, DPK terbesar adalah untuk golongan pemilik perorangan yang mencapai 70,50%; diikuti oleh milik Pemerintah Daerah sebesar 18,83% dan perusahaan swasta sebesar 5,48%. Berdasarkan lokasi bank, jumlah dana masyarakat di perbankan mengalami peningkatan di Kota jambi, Kabupaten Kerinci, Bungo, Tebo, Muara Jambi, dan Tanjabtim. Peningkatan tertinggi (secara nominal) terjadi di Kota Jambi sebesar Rp98,50 miliar (1,51%) diikuti oleh Kabupaten Bungo sebesar 52
75 PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH Rp23,21 miliar (4,66%). Sementara itu penurunan DPK tertinggi dialami oleh Kabupaten Batanghari yaitu sebesar Rp32,60 miliar (7,43%) serta Sarolangun sebesar Rp26,87 miliar (6,47%). Tabel 3.3 Perkembangan Dana Pihak Ketiga Berdasarkan Lokasi Bank (dalam jutaan rupiah) No. Kota/Kabupaten Trw.IV08 Trw.I09 Trw.II09 Pertumbuhan Nominal Share Nominal Share Nominal Share Nominal Persen 1 Kota Jambi 6,565, ,532, ,631, , Batanghari 378, , , (32,601) (7.43) 3 Tanjung Jabung Barat 808, , , (8,785) (0.98) 4 Merangin 362, , , (7,797) (1.97) 5 Kerinci 456, , , , Sarolangun 395, , , (26,868) (6.47) 7 Bungo 573, , , , Tebo 89, , , , Muara Jambi 170, , , , Tanjung Jabung Timur 251, , , , Lainnya (Others ) 18, , , (19) (0.13) JUMLAH 10,069, ,281, ,388, , Perkembangan Kredit/Penyaluran Dana Penyaluran kredit oleh bank umum di Provinsi Jambi mengalami percepatan pertumbuhan yaitu meningkat sebesar 4,32% dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan lalu yang sebesar 2,04%. Dengan demikian total penyaluran kredit pada triwulan laporan adalah sebesar Rp8.082,55 miliar meningkat dari triwulan lalu yang sebesar Rp7.748,15 miliar. URAIAN Tabel 3.4 Perkembangan Kredit Bank Umum Provinsi Jambi (dalam jutaan rupiah) Pertumbuhan TW I TW II TW III TW IV TW I TW II Nominal Persen Kelompok Bank 4,481,416 6,921,211 7,513,877 7,593,187 7,748,152 8,082, , Bank Pemerintah 3,181,450 4,648,746 5,076,829 5,236,482 5,434,083 5,734, , Bank Swasta 1,192,608 2,069,247 2,188,753 2,081,416 1,997,182 2,014,300 17, Bank Syariah 107, , , , , ,093 17, Jenis Penggunaan 4,481,416 6,921,211 7,513,877 7,593,187 7,748,152 8,082, , Modal Kerja 2,014,669 2,861,846 2,997,699 2,984,839 2,968,650 3,110, , Investasi 741,092 1,303,493 1,437,519 1,454,979 1,453,410 1,486,355 32, Konsumsi 1,725,655 2,755,872 3,078,659 3,153,369 3,326,092 3,485, , Sektor Ekonomi 4,481,416 6,921,211 7,513,877 7,593,187 7,748,152 8,082, , Pertanian 756, , ,654 1,006,549 1,009,514 1,018,776 9, Pertambangan 7,654 25,816 15,914 34,866 28,382 28, Perindustrian 391, , , , , ,789 38, Listrik, Gas dan Air 37,843 32,963 31,341 29,330 28,020 26,792 (1,228) (4.38) 5 Konstruksi 140, , , , , , Perdagangan, Restoran dan Hotel 1,124,236 2,019,320 2,088,594 2,145,985 2,156,927 2,299, , Pengangkutan, Pergudangan dan Komunikasi 75, , , , , ,650 (4,107) (3.61) 8 Jasajasa Dunia Usaha 139, , , , , ,302 (5,305) (1.75) 9 Jasajasa Sosial Masyarakat 63, , , , , ,262 5, Lainlain 1,743,627 2,783,614 3,114,540 3,172,430 3,355,061 3,504, ,
76 PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH Berdasarkan Kelompok Bank, peningkatan jumlah kredit dipicu oleh meningkatnya penyaluran kredit bank pemerintah yaitu sebesar Rp300,08 miliar (5,52%), diikuti oleh penyaluran kredit bank syariah sebesar Rp17,21 miliar (5,43%) dan bank swasta Rp17,12 miliar (0,86%). Dilihat dari pangsa (share) penyaluran kredit, kelompok bank pemerintah masih mendominasi dengan pangsa sebesar 70,94% dari total penyaluran kredit perbankan, diikuti dengan kelompok bank swasta (24,92%) serta kelompok bank syariah (4,13%). Berdasarkan Jenis Penggunaan, peningkatan jumlah kredit dialami oleh semua jenis kredit. Kredit modal kerja dan kredit investasi mengalami percepatan pertumbuhan pada triwulan laporan yaitu dengan pertumbuhan masingmasing sebesar Rp142,27 miliar (4,79%) serta kredit investasi (2,27%). Kondisi ini mengindikasikan mulai kembalinya kepercayaan perbankan untuk membiayai usaha masyarakat baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Sementara itu, kredit konsumsi mengalami sedikit perlambatan pertumbuhan yaitu sebesar 4,79% (Rp159,19 miliar) dibandingkan triwulan lalu yang tumbuh sebesar 5,48%. Kondisi tersebut menandakan bahwa daya beli masyarakat masih cukup baik. Berdasarkan pangsanya, kredit terbesar dialokasikan untuk kredit konsumsi yaitu 43,12%, diikuti oleh kredit modal kerja 38,49% dan kredit investasi 18,39% dari total kredit pada triwulan laporan. Berdasarkan Sektor Ekonomi, hampir semua sektor ekonomi mengalami peningkatan jumlah penyaluran kredit kecuali untuk sektor listrik, gas, air; pengangkutan dan komunikasi; serta jasa dunia usaha. Secara nominal, peningkatan kredit terbesar dialami oleh sektor lainlain yaitu sebesar Rp149,10 miliar(4,44%) diikuti dengan PHR yaitu sebesar Rp143,07 miliar (6,63%). Pangsa penyaluran kredit tetap didominasi oleh kredit sektor lainlain sebesar 43,35% terhadap outstanding kredit, diikuti sektor perdagangan, restoran dan hotel sebesar 28,46%, serta sektor pertanian sebesar 12,60%. Penyaluran kredit ketiga sektor tersebut mendominasi penyaluran kredit yang mencapai 84,42% dari total outstanding kredit. 54
77 PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH Berdasarkan lokasi Proyek 23, jumlah kredit yang disalurkan oleh perbankan di Provinsi Jambi juga mengalami peningkatan yaitu tumbuh sebesar 5,18% dibandingkan triwulan sebelumnya yaitu dari Rp10,40 miliar menjadi Rp10,94 miliar. 24 Meningkatnya jumlah kredit ini hampir dialami oleh semua sektor ekonomi kecuali untuk sub sektor industri, pengangkutan dan jasa usaha. Berdasarkan nominal kredit, peningkatan kredit lokasi proyek pada triwulan laporan terutama dipicu oleh meningkatnya kredit sub sektor listrik, gas dan air sebesar Rp301,68 miliar (159,43%), diikuti dengan sektor perdagangan sebesar Rp143,03 miliar (6,40%), serta sektor lainlain sebesar Rp72,18 miliar (1,77%). Tabel 3.5 Perkembangan Kredit Lokasi Proyek Provinsi Jambi (dalam jutaan rupiah) Sektor Ekonomi III IV I II III IV I II Pertanian 1,871,828 1,917,934 1,367,665 1,828,219 1,962,425 1,993,259 1,959,270 1,982,076 Pertambangan 237, , , ,867 68, ,673 97,700 99,726 Perindustrian 732, , , , , , , ,122 Perdagangan 1,563,112 1,663,031 1,807,987 2,108,819 2,185,613 2,247,894 2,234,779 2,377,811 Jasajasa 694, , ,274 1,170,425 1,250,435 1,232,322 1,203,112 1,506,202 listrik, gas dan air 41,814 82,728 86,777 95, , , , ,910 konstruksi 240, , , , , , , ,094 pengangkutan 105, , , , , , , ,893 jasa dunia usaha 224, , , , , , , ,021 jasa sosial masyarakat 82, , , , , , , ,284 Lainlain 2,637,307 2,813,917 3,113,757 3,436,538 3,865,525 3,971,675 4,085,517 4,157,702 TOTAL 7,736,839 8,357,173 8,145,685 9,554,812 10,288,458 10,434,067 10,404,818 10,943,639 Sumber: SEKDA Provinsi Jambi 4. Undisbursed Loan dan Persetujuan Kredit Baru Jumlah undisbursed loan (kredit yang belum ditarik) pada triwulan laporan menunjukkan penurunan sebesar 8,11%. Pada triwulan laporan, total undisbursed loan sebesar Rp685,84 miliar atau lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai Rp746,39 miliar. Hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan plafon kredit oleh perbankan sudah lebih optimal. Berdasarkan jenis penggunaan, proporsi undisbursed loan terbesar terdapat pada kredit modal kerja, yaitu mencapai 87,20% dari total undisbursed loan. Jika berdasarkan sektor ekonomi, undisbursed loan terbesar adalah sektor 23 Data s.d. bulan Mei Sumber: Statistik Ekonomi Keuangan Daerah (SEKDA) Provinsi Jambi. Data kredit lokasi proyek yang dimaksud masih memasukkan kredit dari BPR serta bank asing dan bank campuran sesuai dengan format SEKDA Provinsi Jambi. 24 Data s.d. Bulan Mei Mulai Mei 2007, Data dana/kredit telah menggunakan konsep net, yaitu tidak memasukkan dana/kredit pada pemerintah pusat dan bukan penduduk. Hal ini telah disesuaikan dengan publikasi SEKI (Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia). 55
78 PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH perdagangan, restoran dan hotel (43,21%), diikuti oleh sektor perindustrian (23,76%), serta sektor pertanian (12,15%). Tabel 3.6 Tabel Undisbursed Loan Bank Umum Berdasarkan Jenis Penggunaan dan Berdasarkan Sektor Ekonomi Provinsi Jambi (dalam jutaan rupiah) Kategori TW I TW II TW III TW IV TW I TW II Jenis Penggunaan 1 investasi 79,604 98,903 79,836 86,730 64,087 85,921 2konsumsi 4,594 6,794 5,241 6,038 3,744 1,878 3 modal kerja 502, , , , , ,036 Total 586, , , , , ,835 Sektor Ekonomi 1 Pertanian 78,361 76,635 84,701 77,478 76,241 83,324 2 Pertambangan 2, Perindustrian 24,677 28,764 31,328 41, , ,988 4 Listrik, Gas dan Air Konstruksi 38,669 43,796 53,939 54,226 64,010 74,454 6 Perdagangan, Restoran dan Hotel 354, , , , , ,337 Pengangkutan, Pergudangan dan 7 komunikasi 25,614 21,423 28,031 23,456 25,900 24,999 8 Jasajasa Dunia Usaha 39,140 38,085 33,718 36,317 36,897 39,437 9 Jasajasa Sosial Masyarakat 18,513 15,499 6,038 2,488 2,364 2, Lainlain 4,594 6,830 5,431 6,108 4,321 1,878 Total 586, , , , , ,835 Jumlah persetujuan kredit pada triwulan laporan menunjukkan peningkatan jika dibandingkan triwulan sebelumnya. Pada triwulan laporan, persetujuan kredit meningkat sebesar 16,10%. Meningkatnya jumlah persetujuan kredit pada periode triwulan laporan dipicu oleh meningkatnya persetujuan kredit baru untuk kredit konsumsi yaitu sebesar Rp58,81 miliar (58,81%). Kondisi ini mencerminkan sudah kembali membaiknya kondisi perekonomian dengan meningkatnya daya beli konsumsi masyarakat. Tabel 3.7 Tabel Persetujuan Kredit Berdasarkan Jenis Penggunaan di Provinsi Jambi (dalam jutaan rupiah) Tw III 08 Tw IV 08 Tw I 09 Tw II 09 Jenis Kredit Rp. Juta % Rp. Juta % Rp. Juta % Rp. Juta % 1. Modal Kerja 158, , , , Investasi 60, , , , Konsumsi 217, , , , Jumlah 436, ,542, , ,
79 PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH 5. Peran Intermediasi Perbankan dan Kondisi Non Performing Loans (NPL) gross Bank Umum di Provinsi Jambi Loan to Deposits Ratio (LDR) perbankan 25 di Provinsi Jambi mengalami peningkatan baik dilihat dari kredit berdasarkan lokasi proyek maupun wilayah pelapor. LDR berdasarkan lokasi proyek 26 meningkat dari 99,55% menjadi 103,69% sedangkan LDR berdasarkan wilayah pelapor meningkat dari 75,36% menjadi 77,80%. Peningkatan rasio LDR mencerminkan meningkatnya fungsi intermediasi perbankan di daerah dan mulai meningkatnya kepercayaan perbankan untuk menyalurkan. Rp juta 12,000,000 10,000,000 8,000,000 6,000,000 Grafik 3.3 Perkembangan Loan To Deposit Ratio (LDR) Bank Umum Provinsi Jambi 83.95% 87.15% 86.94% 88.05% 83.26% 58.18% 59.23% 59.84% 60.40% 90.63% 97.77% 75.41% 62.78% 66.80% 72.65% % 99.55% % 110% 90% 75.36% 77.80% 70% 50% 4,000,000 2,000,000 Q107 Q207 Q307 Q407 Q108 Q208 Q308 Q408 Q109 Q209 Kredit Lokasi Proyek (Rp juta) Kredit Perbankan Jambi (Rp juta) DPK Perbankan (Rp juta) LDR Lokasi Proyek (persen) LDR Perbankan Jambi (persen) 30% 10% 10% 25 LDR perbankan disini maksudnya rasio antara kredit yang disalurkan oleh bank umum dibandingkan dengan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) yang dilakukan bank umum pada triwulan laporan. 26 Yang dimaksud LDR berdasarkan lokasi proyek adalah rasio antara kredit yang disalurkan berdasarkan lokasi proyek oleh bank umum dibandingkan dengan penghimpunan DPK bank umum pada triwulan laporan. 57
80 PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH Grafik 3.4 Loan to deposit Ratio (LDR) Berdasarkan Lokasi Proyek per kabupaten/kota di Provinsi Jambi Triwulan I09 Triwulan II LDR < 100% Tebo Ma. Jambi Batanghari Bungo Merangin Saro langun Kerinci Kota Jambi Tanjabbar Tanjabtim dan lainnya Berdasarkan Kabupaten/Kota, Kabupaten Tebo memiliki LDR tertinggi yaitu 274% di antara sepuluh kota/kabupaten di Provinsi Jambi, diikuti oleh Kabupaten Muara Jambi dan lainnya. Sementara itu, terdapat 3 (tiga) kabupaten/kota dengan tingkat LDR kurang dari 100% dengan LDR terendah di Kabupaten Tanjung Jabung Timur dan Kabupaten Tanjung Jabung Barat masingmasing sebesar 50% dan 63%. Kualitas kredit mengalami penurunan pada triwulan laporan. Kondisi ini tercermin dari rasio Non Performing Loan (NPL) gross bank umum yang mengalami peningkatan dari 3,35% pada triwulan sebelumnya menjadi 3,82% pada triwulan laporan. Peningkatan rasio NPL terjadi pada semua sektor ekonomi dengan peningkatan terbesar adalah untuk sektor perindustrian. Berdasarkan sektor ekonomi, NPL tertinggi adalah pada sektor pertanian sebesar 11,71% diikuti dengan sektor perindustrian sebesar 8,91% yang berarti sudah jauh di atas ketentuan Bank Indonesia yang sebesar 5%. Pada triwulan laporan, kenaikan NPL sektor perindustrian terutama disumbangkan oleh sub sektor industri kayu dan hasilhasil kayu yang meningkat sebesar Rp36,08 miliar (177,33%). Sementara itu, NPL sektorsektor ekonomi lainnya masih berada dalam kategori baik (dibawah 5%). 58
81 PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH No Tabel 3.8 Perkembangan Non Performing Loan (NPL) Gross Bank Umum Provinsi Jambi Sektor Ekonomi TW IV08 Nominal NPL NPL (%) Kredit TW I09 Nominal NPL NPL (%) Kredit TW II09 Nominal NPL NPL (%) Kredit 1. Pertanian 1,006, , ,009, , ,018, , Pertambangan 34,866 28,382 28, Perindustrian 379,269 13, ,768 13, ,789 37, Listrik, Gas dan Air 29,330 28,020 26, Konstruksi 276,370 2, ,025 3, ,139 3, Perdagangan, Restoran dan Hotel 2,145,985 49, ,156,927 74, ,299,997 83, Pengangkutan, Pergudangan dan Komunikasi 115, , , Jasajasa Dunia Usaha 303,999 5, ,607 6, ,302 10, Jasajasa Sosial Masyarakat 129, , , Lainlain 3,172,430 38, ,355,061 47, ,504,160 53, J U M L A H 7,593, , ,748, , ,082, , Perkembangan UMKM Seiring dengan kredit perbankan yang mengalami peningkatan yaitu sebesar 5,37% pada triwulan laporan, kredit UMKM juga mengalami pertumbuhan walaupun sedikit di bawah pertumbuhan total kredit yaitu sebesar 4,15%. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan perbankan akan kredit UMKM masih cukup tinggi. Dengan demikian pangsa kredit UMKM terhadap total kredit mengalami sedikit penurunan yaitu dari sebesar 86,22% menjadi 86,08% pada triwulan laporan. Miliar Rp 9,000 8,000 7,000 6,000 5,000 4,000 3,000 2,000 1,000 Grafik 3.5 Perkembangan Kredit UMKM Bank Umum Provinsi Jambi TW I07 TW II07 TW III07 TW IV07 TW I08 TW II08 TW III08 TW IV08 TW I09 TW II09 Total Kredit Bank Pelapor Total Kredit UMKM Mikro Kecil Menengah Pertumbuhan UMKM (%) Pertumbuhan Total Kredit Bank Pelapor Persen Kualitas penempatan dana perbankan daerah dalam bentuk kredit UMKM menunjukkan penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya. Hal ini dicerminkan dari meningkatnya rasio NPL UMKM pada triwulan laporan yaitu dari 3,21%
82 PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH menjadi 3,54%. Namun, kualitas kredit UMKM ini lebih baik dibandingkan dengan kualitas kredit perbankan secara total yang memiliki NPL sebesar 3,82%. Dilihat dari distribusinya, kredit UMKM sektor usaha mikro masih memiliki pangsa yang terbesar yaitu 34,81% lalu diikuti sektor usaha kecil sebesar 33,94%, serta sektor usaha menengah sebesar 17,34% dari total kredit perbankan. Grafik 3.6 Pangsa Kredit Bank Umum Provinsi Jambi 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% TW I06 TW II06 TW III TW IV TW I07 TW II07 TW III TW IV TW I08 TW II08 TW III TW IV TW I09 TW II Kredit Besar/NonUMKM Menengah Kecil Mikro Berdasarkan komposisinya, pertumbuhan kredit UMKM ditopang oleh meningkatnya pertumbuhan kredit usaha kecil yaitu sebesar 10,25%. Sementara kredit usaha mikro dan menengah mengalami pertumbuhan masingmasing sebesar 0,62% dan 0,34%. Berdasarkan jenis penggunaan, kredit UMKM masih didominasi oleh kredit konsumsi yang pangsanya mencapai 50,10%, diikuti kredit modal kerja sebesar 36,69% serta kredit investasi sebesar 13,22%. 7. Profitabilitas 27 Kondisi profitabilitas (net) perbankan di Provinsi Jambi pada triwulan laporan menunjukkan sedikit penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya. Selama periode triwulan II tahun 2009 perbankan di Provinsi Jambi mencatat laba bersih (net) sebesar Rp160,19 miliar meningkat sebesar Rp65,29 miliar jika dibandingkan dengan triwulan I Data s.d. bulan Juni
83 PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH Grafik 3.7 Perkembangan Laba Rugi Triwulanan Miliar Rp L/R (sblm transfer & pajak) 117 L/R (net) Tw II06Tw III 06 Tw IV 06 Tw I 07 Tw II 07 Tw III 07 Tw IV 07 Tw I 08 Tw II 08 Tw III 08 Tw IV 08 6 Tw I 09 Tw II 09 Berdasarkan komposisinya, pendapatan terbesar pada triwulan ini adalah untuk pendapatan kredit. Pendapatan kredit pada triwulan laporan menunjukkan pertumbuhan sebesar 5,41%. Sementara itu pendapatan dari SBI dan surat berharga lainnya juga menunjukkan peningkatan dibandingakan dengan triwulan sebelumnya. Tabel 3.9 Komposisi Pendapatan Bunga Bank Umum Provinsi Jambi Jenis Aset Tw I 07 Tw II 07 Tw III 07 Tw IV 07 Tw I 08 Tw II 08 Tw III 08 Tw IV 08 Tw I 09 Tw I 09 SBI dan surat berharga 497 7,054 10,174 8,303 6,464 10,084 10,263 9,556 4,486 5,793 Kredit 178, , , , , , , , , ,360 Lainnya (41) Total 187, , , , , , , , , ,277 Dilihat dari spread bunga (grafik 3.9), terlihat bahwa margin keuntungan perbankan di Provinsi Jambi terus meningkat pada triwulan laporan. Margin ratarata tertimbang antara suku bunga kredit dengan suku bunga deposito 3 (tiga) bulan meningkat yaitu dari 5,61% pada triwulan lalu menjadi 6,17% pada triwulan laporan. Kenaikan ini dipicu oleh semakin menurunnya suku bunga deposito 3 bulan seiring dengan penurunan BIrate sementara respon untuk menurunkan suku bunga pinjaman lebih lambat. Hal ini menyebabkan beban bunga yang ditanggung pada triwulan ini relatif lebih kecil dibandingkan triwulan sebelumnya. 61
84 PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH Persen (%) Grafik 3.8 Perkembangan Suku Bunga Ratarata Tertimbang Kredit dan Deposito Bank Umum Provinsi Jambi Margin Kredit Deposito 3 Bulan SBI Jul Agus Sept Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agus Sept Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agus Sept Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Trend menurunnya BI rate semenjak bulan Desember 2008 sudah direspon oleh perbankan dengan menurunkan suku bunga simpanannya sejak bulan Februari lalu. Suku bunga simpanan turun dari 9,4% pada triwulan lalu menjadi 8,76% pada triwulan laporan sedangkan suku bunga pinjaman belum menunjukkan penurunan suku bunga yang berarti yaitu hanya turun 8 basis poin pada triwulan laporan yaitu dari 15,01% pada triwulan lalu menjadi 14,93% pada triwulan laporan. C. Bank Perkreditan Rakyat (BPR) 28 Berbeda dengan bank umum yang mengalami percepatan pertumbuhan pada triwulan laporan, kinerja BPR mengalami perlambatan yang tercermin dari menurunnya pertumbuhan jumlah DPK dan kredit serta menurunnya aset perbankan. Jumlah aset seluruh BPR di Provinsi Jambi mencapai Rp217,84 miliar, menurun sebesar 0,04% dibanding pada triwulan sebelumnya yang sebesar Rp217,93 miliar. Di sisi lain, jumlah penghimpunan dana BPR di Provinsi Jambi mengalami perlambatan dengan tumbuh sebesar Rp1,43 miliar (0,88%) dibandingkan triwulan lalu yang tumbuh sebesar 11,98%. Dalam triwulan II ini, jumlah penyaluran kredit juga mengalami perlambatan, yaitu tumbuh sebesar Rp3,44 miliar (2,08%). Dengan demikian 28 Data s.d. Bulan Mei
85 PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH fungsi intermediasi BPR di Provinsi Jambi yang dicerminkan dari rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) sedikit meningkat menjadi 102,76% dari sebelumnya 101,55%. Di sisi lain, kualitas kolektabilitas kredit menunjukkan penurunan yang ditunjukkan dengan meningkatnya persentase Non Performing Loan, yaitu dari 8,26% menjadi sebesar 8,57%. 63
86 Halaman ini sengaja dikosongkan
87 BAB IV KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH Realisasi pendapatan provinsi Jambi di semester pertama tahun 2009 adalah sebesar Rp`506,80 miliar atau setara dengan 40,32% dari rencana pendapatan APBD yang sebesar Rp1,26 triliun. Realisasi pendapatan ini menurun sebesar 25,79% dibandingkan dengan tahun Sementara dari sisi belanja, pengeluaran pemerintah provinsi Jambi pada semester pertama tahun 2009 adalah sebesar Rp389,63 miliar atau sebesar 24,04% dari anggaran belanja APBD yang sebesar Rp1,62 triliun. Realisasi ini meningkat sebesar 19,17% dibandingkan dengan realisasi tahun Tabel 4.1. Realisasi APBD Provinsi Jambi Semester I Tahun 2009 (Dalam miliar Rp) URAIAN ANGGARAN REALISASI SMT.I2008 REALISASI SMT.II2008 ANGGARAN REALISASI SMT.I Nominal Persen Nominal Persen 2009 Nominal Persen PENDAPATAN 1, , , Pendapatan Asli Daerah Pajak Daerah Retribusi Daerah Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Lainlain Pendapatan Asli Daerah yang Sah Pendapatan Transfer Transfer Pemerintah Pusat Dana Perimbangan Dana Bagi Hasil Pajak Dana Bagi Hasil Bukan Pajak (SDA) Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Transfer Pemerintah Pusat Lainnya Dana Penyesuaian Lainlain Pendapatan yang Sah Pendapatan Dana Darurat BELANJA 1, , , Belanja Operasi Belanja Pegawai Belanja Barang Belanja Subsidi Belanja Hibah Belanja Bantuan Sosial Belanja Bantuan Keuangan Belanja Modal Belanja Tanah Belanja Peralatan dan Mesin Belanja Bangunan dan Gedung Belanja Jalan, Irigasi dan Jaringan Belanja Aset Tetap Lainnya Belanja Tak Terduga Belanja Tak Terduga Transfer Transfer Bagi Hasil Ke Kab/Kota/Desa Bagi Hasil Pajak Bagi hasil Retribusi Surplus/(Defisit) (354.49) (363.70)
88 KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH A. Realisasi Pendapatan Daerah Realisasi pendapatan selama semester pertama tahun 2009 mengalami penurunan dibandingkan dengan posisi yang sama tahun lalu. Dalam semester pertama ini, realisasi pendapatan Provinsi Jambi baru mencapai 40,32% dari APBD atau setara dengan Rp`506,80 miliar, menurun sebesar 25,79% dibandingkan pencapaian semester pertama tahun 2008 yang mencapai Rp682,90 miliar atau sebesar 54,14%. Menurunnya pendapatan daerah ini dipicu oleh menurunnya baik Pendapatan Asli Daerah (PAD) maupun pendapatan transfer dari pusat. Pendapatan asli daerah (PAD) di semester pertama ini adalah sebesar Rp202,98 miliar atau mencapai 42,26% dari anggaran dan menurun sebesar 29,95% dari tahun 2008 yang sebesar Rp289,78 miliar (63,77%). Sementara itu, besarnya dana transfer dari pusat baru sebesar 39,12% dari anggaran atau sebesar Rp303,82 miliar menurun dibandingkan realisasi tahun lalu yang sebesar Rp388,12 miliar. miliar (Rp) Grafik 4.1. Perkembangan Pendapatan APBD Provinsi Jambi Pendapatan (aksis kiri) Realisasi Pendapatan (aksis kiri) % Realisasi Pendapatan (aksis kanan) persen (%) TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV SMT ISMT IISMT ISMT IISMT I Sumber: Biro Keuangan (diolah) Mulai tahun 2007, laporan realisasi APBD persemester Dari segi nominal realisasi pendapatan, komponen pendapatan transfer merupakan komponen pendapatan tertinggi yaitu sebesar Rp303,82 miliar, kemudian diikuti oleh pendapatan asli daerah sebesar Rp202,98 miliar. Tingginya komponen pendapatan transfer menunjukkan masih tingginya ketergantungan provinsi akan transfer dana dari pusat. 66
89 KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH B. Realisasi Belanja Daerah Realisai belanja pemerintah Provinsi Jambi semester pertama tahun 2009 meningkat jika dibandingkan dengan posisi yang sama di tahun Namun demikian, belanja pemerintah belum direalisasikan secara optimal dengan baru terealisasi sebesar 24,04% atau sebesar Rp389,63 miliar. Grafik 4.2. Perkembangan Belanja APBD Provinsi Jambi miliar (Rp) persen (%) Belanja (aksis kiri) Realisasi Belanja (aksis kiri) 1600 % Realisasi Belanja (aksis kanan) TW I TW II TW III TW TW I TW II TW III TW TW I TW II TW III TW TW I TW II TW III TW SMT I SMT SMT I SMT SMT I IV IV IV IV II II Sumber: 2003 Biro Keuangan Mulai tahun 2007, laporan realisasi APBD persemester Berdasarkan jenis belanja, realisasi belanja terbesar secara nominal adalah untuk belanja operasi yaitu sebesar Rp251,94 miliar diikuti dengan belanja modal sebesar Rp52,74 miliar. Belanja operasi terealisasi sebesarrp251,94 miliar setara dengan 25,55% dari anggaran dengan komposisi biaya terbesar untuk belanja pegawai yaitu sebesar Rp188,33 miliar diikuti dengan belanja barang sebesar Rp56,40 miliar. Dari sisi belanja modal, pengeluaran terbesar dari komponen belanja ini adalah untuk belanja jalan, irigasi dan jaringan yaitu sebesar Rp31,93 miliar (terealisasi 11,47%). Sementara itu, belanja transfer terealisasi sebesar Rp84,14 miliar (49,22%) di semester pertama ini. Belanja transfer merupakan transfer bagi hasil pajak ke kabupaten/kota/desa di Provinsi Jambi. C. Keuangan Pemerintah Pusat di Daerah Penerimaan pajak pusat di wilayah Jambi pada triwulan II tahun 2009 terealisasi sebesar Rp508,98 meningkat sebesar 38,28% dibandingkan triwulan sebelumnya akan tetapi menurun sebesar 32,80% dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun lalu. Secara nominal, penerimaan pajak tertinggi dicapai 67
90 KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH oleh jenis pajak penghasilan sebesar Rp212,33 miliar, diikuti jenis pajak pertambahan nilai sebesar Rp143,88 miliar. Tabel 4.2. Perkembangan Realisasi Pendapatan Pemerintah Pusat di Provinsi Jambi (dalam juta Rupiah) KEUANGAN PEMERINTAH PUSAT DI DAERAH REALISASI PENDAPATAN Triwulan I Triwulan II Triwulan Triwulan Triwulan I Triwulan II Pertumbuhan III 2008 IV Nominal (%) I Pendapatan Pajak Dalam Negeri 420, , , , , , , Pendapatan Pajak Penghasilan 181, , , , , ,331 46, Pendapatan Pajak Pertambahan Nilai 228, , , , , ,883 4, Pendapatan Pajak Bumi dan Bangunan 1, ,869 19, ,504 22, ,047 89, Pendapatan BPHTB 4,276 5,734 7,021 6,418 4,063 4, Pendapatan Cukai Pendapatan Pajak Lainnya 5,668 6,883 7,190 6,443 5,591 6,819 1, II Pendapatan Pajak Perdagangan 28,151 13,828 9,923 9,623 2,197 5,207 3, Internasional Pendapatan Bea Masuk 3,439 4,538 4,483 6,331 2,197 5,003 2, Pendapatan Pajak/Pungutan Ekspor 24,712 9,290 5,440 3, III Penerimaan Sumber Daya Alam Pendapatan Pertambangan Umum IV Pendapatan PNPB Lainnya 19,060 10,728 14,923 16,507 28,701 24,398 (4,303) (14.99) V Pendapatan Hibah Total Realisasi Pendapatan 468, , , , , , , Sumber: Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kanwil V Jambi, Laporan Arus Kas SAKUN Wilayah Jambi. Unaudited, diolah Berdasarkan pangsanya, pendapatan pajak dalam negeri memiliki pangsa paling besar yaitu 94,18% dari total penerimaan pajak pada triwulan laporan. Jika dirinci lagi dari pendapatan pajak dalam negeri, maka pendapatan pajak penghasilan memiliki pangsa paling besar (44,29%), diikuti pajak pertambahan nilai (30,02%), serta pajak bumi dan bangunan (23,37%). Pendapatan PBB 23.37% Grafik 4.3. Pangsa Realisasi Pendapatan Pemerintah Pusat di Provinsi Jambi Grafik 4.4. Pangsa Realisasi Pendapatan Pajak Dalam Negeri di Provinsi Jambi Pendapatan BPHTB 0.89% Pendapatan Cukai 0.00% Pendapatan PPN 30.02% Pendapatan Pajak Lainnya 1.42% Pendapatan PPh 44.29% Pendapatan PNPB Lainnya 4.79% Pendapatan Hibah 0.00% Pendapatan Pajak Perdaganga n Int'l 1.02% Pendapatan Pajak Dalam Negeri 94.18% Grafik 4.5 Grafik 4.6 Belanja pemerintah pusat di wilayah Jambi pada triwulan II tahun 2009 terealisasi sebesar Rp799,37 miliar, meningkat sebesar 89,12% dibandingkan triwulan sebelumnya dan meningkat sebesar 38,10% jika dibandingkan dengan triwulan yang sama pada tahun lalu. Secara nominal, belanja pemerintah pusat tertinggi adalah untuk belanja pegawai yaitu sebesar Rp266,22 miliar, diikuti 68
91 KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH dengan belanja modal yang mencapai Rp177,73 miliar. Meningkatnya belanja pemerintah pusat di Jambi menujukkan bahwa pada triwulan laporan pemerintah mulai mengakselerasi realisasi belanja di Provinsi Jambi. Tabel 4.3. Perkembangan Realisasi Belanja Pemerintah Pusat di Provinsi Jambi (dalam juta Rupiah) REALISASI BELANJA Triwulan I Triwulan II Triwulan Triwulan Triwulan I Triwulan I Pertumbuhan III 2008 IV Nominal (%) I Belanja Pegawai 148, , , , , ,221 95, Belanja Gaji dan Tunjangan 143, , , , , ,354 92, Belanja Honorarium/Lembur/ Vakasi/Tunj Khusus 4,182 17,518 19,560 35,897 2,046 6,032 3, Belanja Kontribusi Sosial (72) (133) (132) (392) (35) (165) (131) II Belanja Barang 26,680 74,394 81, ,693 45, ,703 88, Belanja Barang 16,282 44,349 47,091 62,891 26,096 76,162 50, Belanja Jasa 2,589 6,914 9,206 13,686 4,586 10,003 5, Belanja Perjalanan 4,583 15,952 16,670 30,569 6,289 22,509 16, Belanja Pemeliharaan 3,226 7,179 8,753 10,546 8,553 25,029 16, III Belanja Denda dan Subsidi Perusahaan ,227 4,049 4,049 Belanja Denda ,049 4,049 Belanja Subsidi Perusahaan Negara ,227 IV Belanja Bantuan Sosial 36,305 63, , ,146 63, ,520 93, Belanja Bantuan Sosial Lembaga Pendidikan dan Peribadatan 34,712 53,940 94, ,155 62, ,732 80, Belanja Lembaga Sosial Lainnya 1,592 9,973 33,968 98,991 1,152 14,788 13,636 1, V Belanja LainLain 1,686 4,190 22,196 36,621 62,364 60,149 (2,215) (3.55) Belanja LainLain 1,686 4,190 22,196 36,621 62,364 60,149 (2,215) (3.55) VI Belanja Modal 119, , , ,010 76, , , Belanja Modal Tanah 27 1, , Belanja Modal Peralatan dan Mesin 2,844 10,247 20,508 72,977 3,358 9,605 6, Belanja Modal Gedung dan Bangunan 1,438 8,238 20,271 46, ,755 12,359 3, Belanja Modal Jalan, Irigasi, dan Jaringan 111, , , ,583 72, ,965 79, Belanja Pemeliharaan yang dikapitalisasi ,556 Belanja Modal Fisik Lainnya 3,824 10,857 11,861 6, ,655 2, Total Realisasi Belanja 332, , , , , , , Sumber: Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kanwil V Jambi, Laporan Arus Kas SAKUN Wilayah Jambi. Unaudited, diolah Pada triwulan laporan realisasi belanja modal sudah mengalami peningkatan yang cukup tinggi yaitu sebesar 131,88% dibandingkan dengan triwulan lalu. Namun demikian porsi belanja modal yang baru 22,23% menunjukkan bahwa pengeluaran pemerintah untuk meningkatkan pembangunan di daerah masih bisa dioptimalkan lagi. Berdasarkan pangsanya, share tertinggi dari realisasi belanja masih diperuntukkan bagi belanja pegawai yaitu sebesar 33,30% diikuti dengan belanja modal yang mencapai 22,23%, belanja bantuan sosial yang mencapai 19,70% serta belanja lainlain 7,52%. 69
92 KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH Grafik 4.5. Pangsa (Share) Realisasi Belanja Pemerintah Pusat di Provinsi Jambi belanja modal 14.75% belanja lainlain 15.08% belanja denda dan subsidi perusahaan negara 18.13% belanja barang 10.77% belanja bantuan sosial 0.96% belanja pegawai 40.30% D. Keuangan Pemerintah Daerah Perkembangan simpanan pemerintah daerah di perbankan Jambi mencapai Rp1,96 triliun pada triwulan laporan, meningkat sebesar 1,60% dibandingkan triwulan sebelumnya. Berdasarkan pangsanya, simpanan pemerintah daerah di perbankan paling besar dalam bentuk giro (62,55%), diikuti dengan deposito sebesar 36,89%. Grafik 4.6. Perkembangan Deposito dan Giro Pemerintah Daerah Provinsi Jambi (dalam juta Rupiah) 1,800,000 1,600,000 Deposito Giro 1,400,000 1,200,000 1,000, , , , ,000 Jan 08 Feb 08 Mar 08 Apr 08 May 08 Jun 08 Jul 08 Aug 08 Sep 08 Oct 08 Nov 08 Dec 08 Jan 09 Feb 09 Mar 09 Apr 09 May 09 Simpanan pemerintah daerah (secara total) terus mengalami penurunan di bulan Mei setelah terus meningkat dari bulan Februari Mulai menurunnya simpanan pemerintah daerah ini mengindikasikan pemerintah daerah baru mulai merealisasikan anggaran belanja semenjak tengah tahun berjalan. 70
93 BAB V PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN Pada periode triwulan laporan, aktivitas pembayaran di Jambi mengalami peningkatan baik untuk aktivitas pembayaran tunai maupun non tunai. Aktivitas pembayaran tunai tercermin meningkatnya aliran uang keluar/outflows dari kas Bank Indonesia yang berasal dari setoran dan pembayaran kepada bankbank umum. Sementara, perkembangan pembayaran nontunai dilihat dari aktivitas kliring dan RTGS. Uraian Tabel 5.1 Perkembangan Sistem Pembayaran Provinsi Jambi (dalam miliar rupiah) Pertumbuhan (qtq) Trw.I Trw.II Trw. III Trw. IV Trw.I Trw.II Nominal Persen Nilai Kliring (miliar Rp) 1, , , , , , Volume Kliring (lembar warkat) 60,526 67,008 68,947 60,278 58,349 59,407 1, Aliran Uang Masuk/Inflows (miliar Rp) (170.07) (57.65) Aliran Uang Keluar/Ouflows (miliar Rp) , , Net Inflows/ (Net Outflows) (miliar Rp) (462.30) (1,112.46) (964.35) (137.12) (798.48) (830.10) (2,625.18) RTGS dari Jambi (miliar Rp) 5, , , , , , RTGS ke Jambi (miliar Rp) 16, , , , , , RTGS total (miliar Rp) 21, , , , , , , Penemuan Uang Palsu Pecahan Rp ,00 1 Pecahan Rp50.000,00 Pecahan Rp20.000,00 1 Pecahan Rp10.000,00 Jumlah PTTB (miliar Rp) (3.77) (12.73) Perbandingan PTTB thd. Inflows (%) Cek dan BG Kosong Lembar Nominal (miliar Rp) A. Perkembangan Alat Pembayaran Tunai A.1. Aliran Uang Kartal Melalui Bank Indonesia Jambi Pada triwulan laporan, perkembangan aktivitas pembayaran tunai mengalami peningkatan dari sisi pembayaran (outflow) sementara aktivitas penerimaan (inflow) mengalami penurunan jika dibandingkan dengan periode triwulan sebelumnya. Jika dilihat pergerakan outflow secara bulanan menunjukkan bahwa di bulan Juni 2009 outflow mampu mencapai sebesar Rp384,98 miliar atau sebesar 41,69% dari total outflow triwulan laporan. Peningkatan outflow ini merupakan dampak dari masa liburan sekolah. 71
94 PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN Grafik 5.1 Inflows, Outflows, Netflows dan Perkembangan Netflows di Provinsi Jambi Rp miliar 1,600 1,400 1,200 1, Q1 03 Q2 03 Q3 03 Q4 03 Q1 04 Q2 04 Q3 04 Q4 04 Q1 05 Q2 05 Q3 05 Q4 05 Q1 06 Q2 06 Q3 06 Inflows Outflows Net Outflows Pert. Net Outflows (%) Q4 06 Q1 07 Q2 07 Q3 07 Q4 07 Q1 08 Q2 08 Q3 08 Q4 08 Q1 Q Persen 2,800 2,300 1,800 1, Pada triwulan laporan, aliran kas keluar bersih (net cash outflow) meningkat tajam sebesar Rp830,10 miliar (2625,18%). Peningkatan net cash outflow tersebut ditandai oleh meningkatnya aliran kas keluar (cash outflow) sebesar 250,58%, yaitu dari Rp263,40 miliar menjadi Rp923,43 miliar sementara aliran kas masuk mengalami penurunan sebesar 57,65% yaitu dari Rp295,02miliar menjadi Rp124,95 miliar. A.2. Penyediaan Uang Layak Edar Pemberian Tanda Tidak Berharga (PTTB) terhadap uang kartal yang tidak layak edar (lusuh/rusak) yang masuk ke Bank Indonesia ditujukan untuk menjaga kelayakan uang yang diedarkan (fit for circulation). Pada triwulan laporan, jumlah ratio PTTB dibandingkan inflows sebesar 20,66% (Rp25,81 miliar). A.3. Perkembangan Jumlah Uang Palsu yang Ditemukan Pada triwulan laporan tidak ditemukan uang palsu pada pecahan berapapun. Untuk menjaga tidak beredarnya uang palsu di Provinsi Jambi, Kantor Bank Indonesia Jambi masih terus melakukan kegiatan Sosialisasi Ciriciri Keaslian Uang Rupiah kepada masyarakat. B. Perkembangan Alat Pembayaran Non Tunai B.1. Perkembangan Kliring Lokal Lalu lintas pembayaran non tunai melalui kliring lokal pada triwulan laporan sebesar Rp1.585,12 miliar atau meningkat sebesar 12,12% dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar Rp1.413,80 miliar. Peningkatan tersebut 72
95 PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN diikuti juga dengan meningkatnya jumlah warkat kliring sebesar 1,81%, yaitu dari lembar menjadi lembar. Di sisi lain, jumlah nominal penolakan kliring juga mengalami peningkatan sebesar 0,30%, yaitu dari Rp27,29 miliar menjadi Rp34,36 miliar. Peningkatan jumlah nominal penolakan kliring diikuti juga dengan peningkatan cek dan BG kosong. Pada triwulan laporan, jumlah lembar cek dan BG kosong meningkat sebesar 11,35%, yaitu dari 900 lembar menjadi 992 lembar. Grafik 5.2 dan 5.3 Perkembangan Nominal dan Volume Kliring dalam miliar Rupiah Persen lembar warkat Persen 120, , ,067 1,932 2, , ,671 1,585 80, , ,526 67,008 68,947 60,278 1, ,349 59, (3.20) 1,000 40,000 (4.41) (2.74) (5) 500 (15) (12.57) (15) (25) Trw.I Trw.II Trw. III Trw. IV Trw.I Trw.II Trw.I Trw.II Trw. III Trw. IV Trw.I Trw.II Volume Kliring Pertumbuhan Volume Kliring Nilai Kliring Pertumbuhan Nilai Kliring Grafik 5.3 Grafik 5.2 B.2. Transaksi Real Time Gross Settlement (RTGS) Pada triwulan laporan, transaksi melalui Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI RTGS) di Kantor Bank Indonesia Jambi secara total (keluar dan masuk/dari dan ke) meningkat yaitu sebesar 4,17% sehingga menjadi sebesar Rp25,32 triliun dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar Rp24,30 triliun. Transfer keluar dari Provinsi Jambi meningkat sebesar Rp657,26 miliar (11,93%) dan transfer masuk ke Provinsi Jambi meningkat sebesar Rp356,71 miliar (1,90%) pada triwulan II tahun
96 PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN Tabel 5.2 Perkembangan Transaksi RTGS (dalam miliar rupiah) Kumulatif Triwulanan RataRata Harian Pertumbuhan Keterangan Kumulatif triwulanan Ratarata harian Dari Ke Dari Ke Dari Ke Dari Ke TW IV06 7, , TW I07 5, , (28.00) (33.72) (31.48) (36.93) TW II07 5, , (1.50) (1.50) TW III07 6, , TW IV07 6, , (8.26) (0.62) TW I08 5, , (17.22) (17.22) TW II08 6, , TW III08 7, , TW IV08 7, , (1.47) TW I09 5, , (25.37) (1.25) (22.84) 2.10 TW II09 6, , (3.03) Sumber: & KBI Jambi 74
97 BAB VI KETENAGAKERJAAN DAERAH DAN KESEJAHTERAAN Pada periode triwulan laporan, jumlah pencari kerja berdasarkan jenjang pendidikan meningkat 2,97% jika dibandingkan dengan triwulan I tahun Sejalan dengan hal tersebut, hasil survei ekspektasi konsumen (SEK) pada periode triwulan laporan mulai menunjukkan perbaikan nilai saldo kondisi pengangguran serta ekspektasi masyarakat terhadap kondisi pengangguran. 29 Perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) pada triwulan laporan (posisi bulan Mei 2009) mengalami peningkatan jika dibandingkan triwulan sebelumnya (posisi Maret 2009). Sementara itu, rasio Upah Minimum Provinsi (UMP) terhadap kebutuhan hidup minimum (KHM)/kebutuhan hidup layak (KHL) pada triwulan II tahun 2009 menurun sebesar 672 bps jika dibandingkan triwulan I tahun A. Ketenagakerjaan Daerah Berdasarkan data ketenagakerjaan yang dikeluarkan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jambi pada triwulan II tahun 2009 (data sementara, s.d. bulan April 2009), jumlah pencari kerja meningkat 2,97% dibandingkan triwulan sebelumnya, yakni meningkat orang. 31 Secara nominal, jumlah pencari kerja didominasi oleh tingkat pendidikan dari sarjana sebanyak orang, atau meningkat 20,18% dibandingkan triwulan sebelumnya. Berdasarkan distribusinya (share), pencari kerja dengan jenjang pendidikan SMA merupakan bagian terbesar pencari kerja (59,01% dari jumlah pencari kerja) diikuti oleh lulusan sarjana (S1) sebesar 22,35%. 29 Nilai saldo pengangguran meningkat artinya masyarakat menilai saat ini jumlah pengangguran mulai turun. 30 Rasio Upah Minimum Provinsi (UMP) terhadap kebutuhan hidup minimum (KHM)/kebutuhan hidup layak (KHL) dinyatakan dalam satuan persen (%). 31 Mulai tahun 2008, jumlah pencari kerja dihitung berdasarkan pertambahannya. 75
98 KETENAGAKERJAAN DAERAH DAN KESEJAHTERAAN Grafik 6.1. Jumlah Pencari Kerja per Jenjang Pendidikan di Provinsi Jambi 50,000 40,000 30,000 20,000 10,000 Tidak tamat dan Tamat SD SLTP dan sederajat SMU dan sederajat Diploma / Akta I/II Akademi / Akta III Trw.I09 Trw.II09 Pertumbuhan (RHS) Sarjana (S1) (5.00) (10.00) Berdasarkan survei ekspektasi konsumen, jumlah penganguran saat ini dibandingkan 6 s.d 12 bulan yang lalu menunjukkan perbaikan. Kondisi ini tercermin dari meningkatnya nilai saldo kondisi pengangguran dari sebesar 52,67 pada triwulan I tahun 2009 menjadi 70,67 pada triwulan II tahun Sedangkan nilai saldo ekspektasi konsumen terhadap kondisi pengangguran juga membaik yang ditunjukkan dengan peningkatan nilai saldo yaitu dari sebesar Grafik 6.2. Grafik Nilai Saldo Ekspektasi Pengangguran dan Kondisi Pengangguran Indeks Ekspektasi pengangguran Kondisi pengangguran II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II Sumber: Bank Indoneisa (diolah) 64,00 menjadi 66,00. Namun demikian, walaupun menunjukkan perbaikan, nilai saldo kondisi pengangguran serta ekspektasi terhadap pengangguran masih berada pada level pesimis pada triwulan laporan. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat memandang kondisi ketenagakerjaan masih kurang kondusif. 76
99 B. Kesejahteraan KETENAGAKERJAAN DAERAH DAN KESEJAHTERAAN Pergerakan inflasi Kota Jambi pada triwulan laporan mulai mengalami penurunan signifikan menjadi sebesar 1,10%/yoy. Namun demikian, pergerakan inflasi yang cukup tinggi pada bulanbulan sebelumnya tentunya merupakan cerminan kenaikan harga barang dan jasa yang cukup tinggi. Meningkatnya hargaharga beberapa kebutuhan pokok tersebut pada akhirnya menyebabkan naiknya kebutuhan hidup minimum (KHM)/kebutuhan hidup layak (KHL) per bulan di Provinsi Jambi sebesar 8,35%, yaitu dari Rp ,00 menjadi Rp ,80. Grafik Perkembangan Harga Ratarata Bulanan Beberapa Bahan Kebutuhan Pokok Rp Rp Rp 140,000 7,000 8, ,000 6,500 6,000 7,000 6, ,000 80,000 60, ,500 5,000 4,500 4,000 5,000 4,000 3,000 2,000 1, Merk Anggur Merk King Merk Belida IR 64 (aksis kanan) IR 42 (aksis kanan) Perkembangan Harga Beras Grafik Segi Tiga Biru Merk Lencana Perkembangan Harga Tepung Terigu Grafik 6.4 Rp 18,000 16,000 14,000 12,000 10,000 8,000 6,000 4,000 2, Bimoli Botol Special Tanpa Merk Perkembangan Harga Minyak Goreng Grafik 6.5 Rp 40,000 32,000 24,000 16,000 Sumber: Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jambi, , Ayam Kampung (aksis kiri) Susu Merk Dancow (aksis kiri) Kacang Kedelai Impor Daging Ayam Broiler (aksis kiri) Bawang Merah Perkembangan Harga Komoditas lainnya Grafik 6.6 Perkembangan harga beberapa bahan kebutuhan pokok (lihat Grafik 6.2) mengalami perkembangan yang cukup beragam. Harga ratarata beras ukuran 20 kg, yaitu Merek Anggur, Merek King dan Merek Belida mengalami penurunan harga pada kisaran Rp1.065Rp5.496/20kg selama periode triwulan Rp 20,000 16,000 12,000 8,000 4,000 77
100 KETENAGAKERJAAN DAERAH DAN KESEJAHTERAAN laporan. 32 Penurunan harga juga terjadi pada komoditas daging ayam, telur ayam dan cabe merah. Pada periode triwulan laporan, harga ratarata tepung terigu dan bawang merah mengalami kenaikan masingmasing sebesar Rp102/kg dan Rp740/kg. Begitu juga dengan harga ratarata minyak goreng curah (tanpa merek) dan susu merek dancow yang meningkat masingmasing sebesar Rp928/kg dan Rp172/400 gram. Pada triwulan laporan, tantangan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya semakin berat. Sebagaimana diketahui, Upah Minimum Provinsi (UMP) 33 Provinsi Jambi tahun 2009 yang telah ditetapkan sebesar Rp , atau meningkat sebesar 7,82% dibandingkan tahun Namun, meningkatnya harga bahanbahan kebutuhan pokok pasca kenaikan harga BBM serta selama bulan Ramadhan menyebabkan rasio UMP terhadap KHM/KHL mengalami penurunan dari 87,13% pada triwulan I tahun 2009 menjadi 80,42% pada triwulan I tahun Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan UMP dalam menutupi KHM/KHL relatif semakin menurun. Bagi para pekerja yang mendapatkan upah sesuai dengan UMP atau bahkan dibawah UMP tentunya sangat berat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk melihat indikator kesejahteraan petani pada triwulan laporan, antara lain dapat menggunakan Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Jambi pada bulan Mei Pada bulan Mei 2009, NTP sebesar 94,78 atau meningkat 0,51% dibandingkan bulan Maret 2009 (94,30). 34 Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan indeks harga hasil produksi pertanian relatif lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga maupun untuk keperluan produksi pertanian. Indeks harga yang diterima petani (It) dari 5 sub sektor menunjukkan fluktuasi harga beragam komoditas pertanian yang dihasilkan petani. Pada bulan 32 Sumber: Disperindag Provinsi Jambi, Biasanya Upah Minimun Provinsi disesuaikan 1 (satu) tahun sekali. 34 NTP adalah angka perbandingan antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayar petani yang dinyatakan dalam bentuk persentase. NTP juga menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan barang atau jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Sehingga, NTP dapat dikatakan sebagai cerminan atau indikator relatif tingkat kesejahteraan petani. 78
101 KETENAGAKERJAAN DAERAH DAN KESEJAHTERAAN Mei 2009, It mengalami penurunan sebesar 0,18% dibandingkan bulan Maret Namun demikian, penurunan indeks yang dibayar (Ib) yang lebih besar dibandingkan penurunan indeks yang diterima (It) menyebabkan NTP pada bulan Mei 2009 masih relatif lebih baik dibandingkan NTP bulan Maret Tabel 6.1. Nilai Tukar Petani (NTP) Per Sub Sektor (2007=100) PERSENTASE KELOMPOK DAN SUB KELOMPOK PERUBAHAN (%) DES JAN FEB Mar Apr Mei (Desember Ke Februari) 1 Tanaman Padi Palawija a Indeks Diterima Petani Padi Palawija b Indeks Dibayar Petani Indeks Konsumsi Rumah Tangga Indeks BPPBM Nilai Tukar Petani (NTPP) Hortikultura a Indeks Diterima Petani Sayursayuran Buahbuahan b Indeks Dibayar Petani Indeks Konsumsi Rumah Tangga Indeks BPPBM Nilai Tukar Petani (NTPH) Tanaman Perkebunan Rakyat a Indeks Diterima Petani Tanaman Perkebunan Rakyat b Indeks Dibayar Petani Indeks Konsumsi Rumah Tangga Indeks BPPBM Nilai Tukar Petani (NTPPr) Peternakan a Indeks Diterima Petani Ternak Besar Ternak Kecil Unggas Hasil Ternak b Indeks Dibayar Petani Indeks Konsumsi Rumah Tangga Indeks BPPBM Nilai Tukar Petani (NTPPt) Perikanan a Indeks Diterima Petani Penangkapan Budidaya b Indeks Dibayar Petani Indeks Konsumsi Rumah Tangga Indeks BPPBM Nilai Tukar Petani (NTPPi) PROVINSI JAMBI a INDEKS YANG DITERIMA (It) b INDEKS YANG DIBAYAR (Ib) c NILAI TUKAR PETANI (NTPp) Sumber: BPS Provinsi Jambi (diolah) Sementara itu, dari 5 sub sektor NTP, sebanyak 3 sub sektor masih mengalami peningkatan indeks yaitu perkebunan rakyat (4,09%), peternakan (0,66%), serta perikanan (0,03%). Indeks harga yang diterima (Ib) 79
102 KETENAGAKERJAAN DAERAH DAN KESEJAHTERAAN mencerminkan fluktuasi harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat pedesaan, khususnya petani yang merupakan bagian terbesar, serta fluktuasi harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian. Pada bulan Mei 2009, Ib mengalami penurunan sebesar 0,70% dari sebesar 117,04 menjadi 116,22. C. Kemiskinan 35 Dalam rangka turut mensukseskan program pemerintah dalam hal penanggulangan kemiskinan, pemerintah Jambi (melalui Bulog Divre Jambi) secara rutin membagikan beras miskin (raskin) kepada masayarakat yang berhak. Pada triwulan laporan, penyaluran raskin sebesar ton atau meningkat sebesar 217,98% dibandingkan triwulan sebelumnya. Grafik 6.7. Penyaluran Raskin di Provinsi Jambi 14,000, ,000, ,000, ,000, ,000, ,000,000 2,000,000 (50) TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TRW IV TW I TW II (100) Penyaluran Raskin (kg), aksis kiri Sumber: Bulog Prov. Jambi Pertumbuhan Raskin (%), aksis kanan Sumber: Bulog Provinsi Jambi (diolah) Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang telah dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2009, penduduk miskin (penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan) sebesar 249,69 ribu atau mencapai 8,77% dari total penduduk Provinsi Jambi (lihat tabel 6.2). 36 Angka ini 35 Datadata kemiskinan (s.d. bulan Maret 2009) berdasarkan Berita Resmi statistik (BRS) BPS Provinsi Jambi No.35/07/15/Th.III, 1 Juli Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach), dimana kemiskinan dipandang sebagai ketidakmakmuran dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Kebutuhan dasar makanan setara dengan 2100 kalori per kapita sehari dan kebutuhan dasar bukan makanan, yaitu kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan. 80
103 KETENAGAKERJAAN DAERAH DAN KESEJAHTERAAN masih dibawah ratarata penduduk miskin di Indonesia yang mencapai 14,15% (32,53 juta penduduk). Sedangkan dari 10 (sepuluh) provinsi di Sumatera, persentase penduduk miskin di Jambi menempati urutan ke3 (tiga) paling rendah. Persentase penduduk miskin tertinggi adalah Provinsi Nangroe Aceh Darusalam (NAD) sebesar 21,80%, diikuti Lampung (20,22%), dan Bengkulu (18,59%). Di sisi lain, berdasarkan jumlah penduduk miskin, Provinsi Lampung merupakan provinsi yang paling besar jumlah penduduk miskinnya yang mencapai 1,55 juta penduduk, diikuti Sumatera Utara (1,49 juta penduduk) dan Sumatera Selatan (1,16 juta penduduk). Tabel 6.2. Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Sumatera dan Total Indonesia (Rp/Kapita/Bulan) No Provinsi % Penduduk Miskin Penduduk Miskin (000) NAD , Sumatera Utara , , , Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan , , , Bengkulu Lampung , , , Bangka Belitung Kepulauan Riau INDONESIA , , ,530.0 Sumber: BPS Provinsi Jambi dan BPS Pusat (diolah) Garis kemiskinan (GK) Provinsi Jambi pada tahun 2009 sebesar Rp atau mengalami peningkatan dibandingkan GK tahun 2008 yang sebesar Rp (lihat tabel 6.3). 37 Peningkatan ini terjadi karena dipengaruhi oleh Tabel 6.3. Garis kemiskinan Provinsi Jambi (Rp/Kapita/Bulan) Daerah Garis Kemiskinan Mar07 Mar08 Mar09 Kota 214, , ,516 Pedesaan 152, , ,107 Kota + Perdesaan 172, , ,623 Sumber: BPS Provinsi Jambi (diolah) inflasi (inflasi maret 2008 ke inflasi Maret 2009 sebesar 9,16%) dan kenaikan volume pengeluaran. Peranan konsumsi kebutuhan dasar makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan konsumsi kebutuhan 37 Garis kemiskinan (GK) adalah suatu batasan untuk memilah antara penduduk miskin dan penduduk tidak miskin, berupa ratarata pengeluaran per kapita per bulan. GK terdiri dari garis kemiskinan makanan (GKM) dan garis kemiskinan bukan makanan (GKBM). 81
104 KETENAGAKERJAAN DAERAH DAN KESEJAHTERAAN dasar bukan makanan. Dari tabel 6.4 terlihat juga bahwa sumbangan garis kemiskinan makanan (GKM) terhadap GK sebesar 77,32% pada Maret Wilayah Makanan Tabel 6.4. Garis kemiskinan Menurut Komponen Maret 2007 Non Makanan Total Garis Kemiskinan Maret 2008 % GK Non Makanan Makanan Makanan Total % GK Makanan Makanan Non Makanan (Rp/Kapita/Bulan) Maret 2009 Total % GK Makanan Jambi Kota 158,562 56, , ,345 58, , ,805 62, , Perdesaan 122,700 29, , ,973 32, , ,191 36, , Kota + Desa 134,319 38, , ,434 40, , ,350 45, , Indonesia Kota 132,258 55, , ,897 60, , ,909 66, , Perdesaan 116,265 30, , ,207 34, , ,331 40, , Kota + Desa 123,992 42, , ,270 47, , ,339 52, , Sumber: BPS Provinsi Jambi dan BPS Pusat (diolah) Indeks kedalaman kemiskinan (P1) dan indeks keparahan kemiskinan (P2) merupakan salah satu dimensi lain yang perlu diperhatikan dari tingkat kemiskinan. 38 Dari tabel 6.5, terlihat bahwa P1 maupun P2 di daerah perkotaan Provinsi Jambi lebih tinggi dari di pedesaan. Hal ini menunjukkan bahwa kesenjangan pengeluaran penduduk miskin di perkotaan terhadap garis kemiskinannya lebih tinggi daripada di pedesaan dan penyebaran pengeluaran diantara penduduk miskin di perkotaan lebih bervariasi atau heterogen dari Tabel 6.5. Indeks Kedalaman dan Keparahan Kemiskinan (Rp/Kapita/Bulan) Indeks Kedalaman dan Keparahan Kemiskinan Daerah Mar07 Mar08 Mar09 P1 P2 P1 P2 P1 P2 Jambi Kota Desa Kota+ Desa Indonesia Kota Desa Kota+ Desa Ket: P1 = Indeks Kedalaman Kemiskinan P2 = Indeks Keparahan Kemiskinan Sumber: BPS Provinsi Jambi dan BPS Pusat (diolah) pedesaan. Kondisi ini berbeda jika dibandingkan kondisi nasional yang P1 dan P2 nya lebih tinggi di pedesaan. Indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan di Jambi juga masih lebih baik jika dibandingkan dengan indeks nasional yang pada 38 Indeks kedalaman kemiskinan atau poverty gap index (P1) merupakan ukuran ratarata kesenjangan pengeluaran masingmasing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Sedangkan indeks keparahan kemiskinan atau distributionally sensitive index (P2) memberikan gambaran penyebaran pengeluaran di antara penduduk miskin. 82
105 KETENAGAKERJAAN DAERAH DAN KESEJAHTERAAN tahun 2007, tahun 2008 serta tahun 2009 selalu lebih tinggi dibandingkan Provinsi Jambi. 83
106 Halaman ini sengaja dikosongkan
107 BAB VII PERKIRAAN EKONOMI DAN HARGA DAERAH Laju pertumbuhan kuartalan (qtq) PDRB Provinsi Jambi pada triwulan III tahun 2009 diperkirakan tumbuh sedikit meningkat dibandingkan triwulan II tahun Pengeluaran konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah diperkirakan menjadi kontributor utama pendorong pertumbuhan ekonomi Jambi pada triwulan mendatang. Dari sisi penawaran, kontribusi pertumbuhan ekonomi Jambi masih disumbangkan oleh sektor pertanian, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor pertambangan dan penggalian, sektor industri pengolahan serta sektor pengangkutan dan komunikasi. Perkembangan hargaharga pada triwulan mendatang diperkirakan akan terjadi inflasi dengan besaran yang relatif lebih tinggi dibanding triwulan laporan (qtq). Masih adanya potensi kenaikan harga minyak mentah dunia yang diikuti pergerakan hargaharga komoditas bahanbahan pangan (kedelai, jagung, gandum), crude palm oil (CPO) di pasar internasional serta datangnya bulan Ramadhan dan perayaan Idul Fitri 1430 H dapat memicu angka inflasi Kota Jambi pada triwulan III tahun 2009 lebih tinggi dari triwulan laporan. A. Pertumbuhan Ekonomi Laju pertumbuhan PDRB Provinsi Jambi pada triwulan mendatang diperkirakan masih tumbuh melambat yaitu sebesar 5,06,0% (yoy). Namun demikian, secara kuartalan (qtq), pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi diperkirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan II2009. Pengeluaran konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama pendorong pertumbuhan ekonomi Jambi. Hal ini tercermin dengan terus meningkatnya indeks ekspektasi ekonomi yang meningkat menjadi 146,67 dibandingkan triwulan laporan yang sebesar 139,33. 85
108 PERKIRAAN EKONOMI DAN HARGA DAERAH Sementara, masih optimisnya ekspektasi penghasilan terkait dengan ekspektasi meningkatnya kondisi ekonomi pada triwulan mendatang. Pembayaran THR pada triwulan mendatang juga meningkatkan ekspektasi bertambahnya income masyarakat (terutama pegawai negeri sipil/pns dan karyawan perusahaan). Kondisi ini juga menunjukkan bahwa masyarakat yakin bahwa pada triwulan mendatang income yang didapatkannya relatif meningkat sehingga konsumsi terhadap barang dan jasa juga semakin besar. Menurunnya suku bunga perbankan juga berpotensi mendorong konsumsi masyarakat dibandingkan dengan menyimpan dananya di perbankan. Indeks Grafik 7.1. Perkembangan Ekspektasi Ekonomi, Ekspektasi Pengangguran dan Ekspektasi Penghasilan Ekspektasi ekonomi Ekspektasi pengangguran Ekspektasi penghasilan I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II Sementara, dari hasil Survei Ekspektasi Konsumen (SEK) pada triwulan laporan, nilai saldo rencana konsumsi dalam 6 s.d 12 bulan yang akan datang berada pada level pesimis kecuali nilai saldo rencana konsumsi barang sandang yang sebesar 163,33. Sedangkan nilai saldo indikator lainnya yaitu: pembelian/perbaikan rumah (65,33), peralatan rumah tangga (60,67), perabotan rumah tangga (52,67), kendaraan bermotor (24,00), serta rekreasi/tamasya (77,33). Hal ini menunjukkan bahwa kecenderungan belanja masyarakat di triwulan III tahun 2009 terutama untuk memenuhi kebutuhan pokok terlebih dahulu dibandingkan dengan kebutuhankebutuhan lainnya. 86
109 PERKIRAAN EKONOMI DAN HARGA DAERAH Indeks Grafik 7.2. Rencana Konsumsi dalam 612 bulan yang akan datang I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II Peralatan rumah tangga Perabotan rumah tangga Kendaraan bermotor Barang sandang Pembelian/perbaikan rumah Rekreasi/tamasya Sementara itu, pengeluaran konsumsi Pemerintah Daerah pada triwulan mendatang diperkirakan mulai terakselerasi lebih cepat sehingga mampu memberikan kontribusi yang signifikan bagi pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi. Pada triwulan mendatang, realisasi untuk proyekproyek fisik Pemerintah Daerah diperkirakan akan semakin meningkat yang tentunya berdampak pada meningkatnya aktivitas perekonomian serta penyerapan tenaga kerja sehingga mampu mendorong perekonomian. Berdasarkan hasil SKDU triwulan II2009, tercermin bahwa optimisme responden pada triwulan mendatang di sektor pertanian, sektor pertambangan dan penggalian, sektor listrik dan air minum, sektor bangunan, sektor listrik dan air, sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan serta sektor jasajasa masih menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Hal ini terlihat dari perkiraan nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) untuk sektor tersebut yang masih positif (Tabel 7.1). Dari sisi penawaran, perkembangan sektor pertanian pada triwulan mendatang diperkirakan masih tetap tumbuh positif. Mulai membaiknya harga komoditas perkebunan seperti kelapa sawit menjadi pendorong tumbuhnya sektor pertanian pada triwulan mendatang. Sub sektor tanaman bahan makanan juga diperkirakan tumbuh positif yang didorong membaiknya hasil panen 87
110 PERKIRAAN EKONOMI DAN HARGA DAERAH tanaman bahan makanan (tabama). Sektor industri pengolahan diperkirakan akan meningkat pertumbuhannya sejalan dengan pertumbuhan sektor pertanian. Membaiknya harga komoditas unggulan provinsi Jambi (sawit) diperkirakan akan mendukung pertumbuhan sektor industri pengolahan. 88 No Tabel 7.1. Saldo Bersih Tertimbang Perkembangan Dunia Usaha Sektor/Subsektor Saldo Bersih Tertimbang Triwulan II2009 Triwulan III2009* 1 Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik dan Air Minum Bangunan Perdagangan, Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan Jasajasa Total Nilai lifting minyak bumi diperkirakan akan meningkat sejalan dengan membaiknya harga minyak mentah di pasar internasional sehingga mendorong perusahaan minyak bumi meningkatkan produksinya. Begitu juga dengan sektor penggalian dan sektor bangunan diperkirakan meningkat pertumbuhannya sejalan dengan peningkatan akselerasi realisasi APBD Pemerintah Jambi pada periode triwulan III2009. Hal ini didorong oleh masih meningkatnya permintaan pembangunan properti residensial (perumahan) oleh perusahaan pengembang (developer) dan masyarakat umum serta pembangunan properti komersial seperti hotel dan ruko (rumah toko) serta perkiraan meningkatnya pengeluaran konsumsi pemerintah, terutama untuk belanja modal. Sektor perdagangan, hotel dan restoran juga diperkirakan akan meningkat seiring dengan peningkatan pada sektor pertanian dan industri pengolahan serta dipicu oleh bulan puasa dan perayaan hari besar keagamaan serta tahun ajaran baru sekolah yang berlangsung pada periode triwulan III2009. Perayaan tersebut akan memicu aktivitas perdagangan, tingkat kunjungan restoran serta kapasitas hunian hotel. Sektor pengangkutan dan komunikasi juga
111 PERKIRAAN EKONOMI DAN HARGA DAERAH diprakirakan masih tumbuh positif terutama didorong oleh aktivitas sub sektor angkutan. Proyeksi Bank Indonesia Jambi, pertumbuhan ekonomi tahunan (yoy) Provinsi Jambi pada triwulan III tahun 2009 diperkirakan pada kisaran 5,00% 5,50% (skenario pesimis) atau sebesar 5,51%6,00% (skenario optimis). Sementara proyeksi pertumbuhan ekonomi sampai dengan akhir tahun 2009 diperkirakan pada kisaran 4,00%5,00% (skenario pesimis) atau sebesar 5,01% 6,00% (skenario optimis). Dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas ditengah tantangan krisis ekonomi dunia, diperlukan langkah nyata dan effort yang lebih besar dari Pemerintah Daerah Jambi untuk memacu pertumbuhan ekonominya. Beberapa prasyarat agar pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi bisa tumbuh lebih baik, antara lain melalui: 1. Percepatan realisasi APBD terutama pada sektor yang dapat menstimulus perekonomian Jambi. Realisasi belanja APBD Provinsi Jambi sampai dengan semester I2009 baru terealisasi sebesar 24,04%. Bahkan, realisasi belanja modal baru terealisasi 11,63% atau baru mencapai Rp52,74 miliar dari total anggaran belanja modal sebesar Rp453,65 miliar. Dengan sisa satu semester terakhir tahun 2009, percepatan realisasi belanja APBD 2009 memerlukan akselerasi yang lebih tinggi sehingga mampu mempercepat stimulus pembangunan ekonomi di Jambi. Stimulus yang diberikan terutama untuk sektorsektor yang berdampak tinggi terhadap perokonomian Jambi serta ketenagakerjaan seperti sektor pertanian, industri manufaktur, perikanan dan kelautan, migas dan pertambangan, kehutanan, jasa perdagangan, jasa pariwisata, jasa angkutan, jasa tenaga kerja dan UMKM. 2. Pengendalian Inflasi yang Forward Looking. Telah terbentuknya Forum Koordinasi Pengendalian Inflasi (FKPI) Provinsi Jambi sangat berguna dalam memberikan rekomendasi yang berguna bagi pengambil kebijakan di daerah untuk mengendalikan angka inflasi daerah. Dengan demikian, diperlukan kebijakan penanganan inflasi (pengendalian hargaharga) yang koordinatif antar dinas/instansi terkait secara 89
112 PERKIRAAN EKONOMI DAN HARGA DAERAH berkesinambungan sehingga dapat mendukung terciptanya inflasi yang relatif rendah dan stabil melalui pengendalian inflasi yang forward looking diantaranya melalui: a. Koordinasi antara FKPI Provinsi Jambi dengan Tim Pengendalian Inflasi di level pusat. b. Meningkatkan kegiatan diseminasi untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat di daerah terkait kondisi dan prospek ekonomi dan resiko tekanan inflasi. c. Pemerintah daerah memberikan perhatian yang lebih kepada komoditas bahan makanan utama yang masih didatangkan dari luar daerah sehingga harganya berpotensi untuk bergejolak. 3. Optimalisasi Penyerapan Tenaga Kerja Daerah. Dengan terealisasinya belanja modal pemerintah untuk kegiatan pembangunan, terutama untuk proyekproyek fisik serta program percepatan ekonomi lainnya diharapkan dapat mengoptimalkan penggunaan tenaga kerja lokal sehingga mampu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat Jambi yang berdampak pada menurunnya angka pengangguran dan kemiskinan, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. 4. Penguatan ekspor barang dan jasa. Penguatan ekspor di Jambi dapat dilakukan dengan perbaikan kualitas dan produktivitas komoditas utama ekspor (seperti karet dan kelapa sawit) sehingga dapat tetap menjaga daya saing di pasar internasional yang didukung dengan ketersediaan industri hilir. Selain itu, untuk mempermudah jalur transportasi dapat dilakukan dengan percepatan pembangunan jalan dan jembatan dari dan ke pelabuhan Muara Sabak. 5. Kebijakan Agrobisnis yang menguntungkan bagi petani dan pengusaha. Belum tersedianya industri hilir dalam skala besar menyebabkan pergerakan harga komoditas unggulan (sawit dan karet) sangat terpengaruh dengan kondisi pasar dunia. Hal dapat kita lihat semenjak terjadinya krisis global, harga sawit dan karet terus menurun dalam beberapa bulan terakhir sehingga menyebabkan tingkat pendapatan sebagian besar petani menurun. Beberapa hal yang bisa dilaksanakan adalah: 90
113 PERKIRAAN EKONOMI DAN HARGA DAERAH Percepatan realisasi tersedianya industri hilir (misal industri minyak goreng, sabun dll) yang dapat menopang supply sawit dan karet untuk dioptimalkan menjadi komoditas yang memiliki value added lebih baik sehingga dapat meningkatkan daya saing Provinsi Jambi dalam sektor perkebunan dan dapat menjadi buffer ketika harga komoditas sedang turun. Perlunya pemberian subsidi dalam pemenuhan stok pupuk dan obat anti serangga/hama yang dapat digunakan untuk mendukung proses produksi sehingga petani tetap dapat mempergunakan jumlah pupuk yang seimbang dan sesuai untuk meningkatkan proses produksi. Pengawasan distribusi pupuk yang komprehensif sehingga tidak terjadi kelangkaan di tingkat petani yang dapat mendorong peningkatan harga pupuk yang sangat memberatkan petani. Penentuan tingkat harga yang saling menguntungkan antara petani dengan pengusaha sehingga terjadi hubungan bisnis yang kondusif. Oleh karena itu, perusahaan harus menghindari pembelian komoditas tersebut melalui toke Pertumbuhan kredit perbankan Mendorong laju pertumbuhan kredit Provinsi Jambi pada triwulan III tahun 2009 berkisar 1520% (yoy) melalui programprogram pendampingan kepada usaha mikro dan kecil. Jika beberapa prasyarat diatas belum terpenuhi dan dampak dari melambatnya perekonomian dunia semakin terasa memburuk di Provinsi Jambi, maka peluang perekonomian Provinsi Jambi dipacu tumbuh lebih tinggi dibanding triwulan laporan sulit tercapai. B. Proyeksi Inflasi Perkembangan hargaharga pada triwulan III tahun 2009 diperkirakan relatif meningkat dibandingkan triwulan II tahun Kondisi ini tercermin dari hasil Survei Ekspektasi Konsumen (SEK) yang menunjukkan bahwa keyakinan masyarakat terhadap perbaikan hargaharga semakin pesimis. Hal tersebut 39 Toke bisa juga diartikan tengkulak atau cukong. 91
114 PERKIRAAN EKONOMI DAN HARGA DAERAH tercermin dari seluruh indikator ekspektasi harga yang memiliki nilai dibawah 100 atau berada dalam level pesimis (lihat Grafik 7.3). Sedangkan nilai saldo bersih (SB) untuk indikator kenaikan harga umum sebesar 37,33, sedikit meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya (22,22). 40 Grafik 7.3. Saldo Bersih Ekspektasi harga dalam 612 bulan yang akan datang Indeks Bahan sandang Perumahan & bahan bangunan Transportasi & komunikasi Harga Umum Bahan makanan I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II Dalam periode 5 tahun terakhir, perkembangan laju inflasi tahun kalender/ytd (lihat grafik 7.4) pada bulan Desember berkisar antara 4,67% (ytd) s.d 16,50% (ytd). Inflasi Kota Jambi pada Triwulan III2009 diperkirakan sebesar 1,50%2,50%/yoy (skenario optimis) atau sebesar 2,51%3,51%/yoy (skenario pesimis). Pada triwulan mendatang tekanan inflasi dirasakan terutama dalam masa persiapan menjelang bulan Ramadhan dan menyambut perayaan Idul Fitri 1430 H. 40 SB (Saldo Bersih) = (%baik%buruk)+100%. Nilai dibawah 100% berarti pesimis. Nilai diatas 100% berarti optimis. Saldo Bersih ekspektasi harga merupakan hasil survey dari jawaban pertanyaan ekspektasi terhadap harga barang/jasa pada 612 bulan mendatang. 92
115 PERKIRAAN EKONOMI DAN HARGA DAERAH ytd (%) 20 Grafik 7.4. Perkembangan Inflasi Tahun Kalender (ytd) Kota Jambi periode tahun 2003 s.d (Juni) serta Perkiraan Juli s.d. Desember optimis 2009 pesimis Catatan: Inflasi bulan JuliDesember 2009 adalah angka perkiraan Sementara itu laju inflasi sampai dengan tahun 2009 diperkirakan akan sebesar 2,90%4,00%/yoy (skenario optimis) atau sebesar 4,01%5,10%/yoy (skenario pesimis). Tekanan inflasi dalam tahun 2009 ini akan dirasakan terutama pada bulan Juli (tahun ajaran sekolah baru serta berlangsungnya pemilu presiden), Agustus dan September (puasa dan hari raya Idul Fitri), serta Desember (natal dan libur akhir tahun). yoy (%) Grafik 7.5. Perkembangan Inflasi Tahunan (yoy) Kota Jambi periode tahun 2003 s.d (Juni) serta Perkiraan Juli s.d. Desember optimis 2009 pesimis Catatan: Inflasi bulan JuliDesember 2009 adalah angka perkiraan 93
116 PERKIRAAN EKONOMI DAN HARGA DAERAH Beberapa faktorfaktor lain yang masih berpotensi akan memberikan tekanan inflasi selama triwulan mendatang serta berpotensi menyebabkan perkiraan inflasi keluar dari sasaran antara lain 1)Meningkatnya demand masyarakat terhadap kebutuhan barang dan jasa terutama terkait dengan datangnya bulan Ramadhan dan perayaan Idul Fitri 1430 H serta perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, 2) Meningkatnya income masyarakat (pembayaran THR) dan menurunnya suku bunga perbankan dapat memicu meningkatnya konsumsi masyarakat, 3) Kondisi infrastruktur (jalan, jembatan) yang masih terkendala akan meningkatkan biaya distribusi dan transportasi barang dan jasa, 4) Tekanan melemahnya Rupiah dapat mempengaruhi inflasi barang impor, 5) Kondisi cuaca di musim pancaroba ini dapat menjadi ancaman dalam produksi pertanian dan pendistribusian barang, serta 6)Potensi kenaikan harga minyak mentah dunia yang diikuti pergerakan hargaharga komoditas bahanbahan pangan (kedelai, jagung, gandum), crude palm oil (CPO) di pasar internasional. Beberapa hal tersebut diperkirakan akan memacu meningkatnya angka inflasi pada periode triwulan III tahun Sementara, masih tercukupinya stok beberapa kebutuhan pokok diprakirakan cukup mampu meredam potensi gejolak harga yang terjadi sewaktuwaktu akibat kemungkinan shock di sisi penawaran. Stok beras di Bulog Divre Jambi diprakirakan cukup untuk meredam gejolak harga beras. 94
117 LAMPIRAN KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI
118 Halaman ini sengaja dikosongkan
119 Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Jambi Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Juta Rupiah) 2007* 2008* 2009** LAPANGAN USAHA I II III IV I II III IV I II 1. PERTANIAN 1,989, ,071, ,137, ,169, ,278, ,366, ,459, ,537, ,565, ,600, a. Tanaman Bahan Makanan 665, , , , , , , , , , b. Tanaman Perkebunan 948, , , ,013, ,035, ,058, ,092, ,094, ,084, ,107, c. Peternakan dan Hasilhasilnya 103, , , , , , , , , , d. Kehutanan 169, , , , , , , , , , e. Perikanan 101, , , , , , , , , , PERTAMBANGAN & PENGGALIAN 1,611, ,448, ,495, ,525, ,369, ,208, ,473, ,600, ,614, ,788, a. Minyak dan Gas Bumi 1,483, ,297, ,339, ,367, ,131, ,943, ,167, ,220, ,232, ,398, b. Pertambangan tanpa Migas 57, , , , , , , , , , c. Penggalian 70, , , , , , , , , , INDUSTRI PENGOLAHAN 858, , , ,071, ,106, ,163, ,231, ,231, ,259, ,306, a. Industri Migas 90, , , , , , , , , , Pengilangan Minyak Bumi 90, , , , , , , , , , Gas Alam Cair b. Industri Tanpa Migas **) 767, , , , , ,055, ,111, ,122, ,149, ,195, LISTRIK, GAS & AIR BERSIH 64, , , , , , , , , , a. Listrik 52, , , , , , , , , , b. Gas c. Air Bersih 12, , , , , , , , , , BANGUNAN 315, , , , , , , , , , PERDAGANGAN, HOTEL & RESTORAN 1,147, ,146, ,203, ,276, ,306, ,359, ,420, ,452, ,493, ,586, a. Perdagangan Besar & Eceran 1,049, ,051, ,105, ,172, ,200, ,249, ,307, ,339, ,378, ,469, b. Hotel 12, , , , , , , , , , c. Restoran 85, , , , , , , , , , PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI 556, , , , , , , , , , a. Pengangkutan 517, , , , , , , , , , Angkutan Rel 2. Angkutan Jalan Raya 370, , , , , , , , , , Angkutan Laut 55, , , , , , , , , , Angk. Sungai, Danau & Penyebr. 26, , , , , , , , , , Angkutan Udara 38, , , , , , , , , , Jasa Penunjang Angkutan 26, , , , , , , , , , b. Komunikasi 39, , , , , , , , , , Pos dan Telekomunikasi 38, , , , , , , , , , Jasa Penunjang Komunikasi KEUANGAN, PERSEWAAN, & JS. PRSH. 297, , , , , , , , , , a. Bank 86, , , , , , , , , , b. Lembaga Keuangan tanpa Bank 25, , , , , , , , , , c. Jasa Penunjang Keuangan , , , , , , , , , d. Sewa Bangunan 178, , , , , , , , , , e. Jasa Perusahaan 5, , , , , , , , , , JASAJASA 832, , , , , , ,012, ,033, ,046, ,090, a. Pemerintahan Umum 713, , , , , , , , , , Adm. Pemerintahan & Pertahanan 481, , , , , , , , , , Jasa Pemerintah lainnya 231, , , , , , , , , , b. Swasta 119, , , , , , , , , , Sosial Kemasyarakatan 80, , , , , , , , , , Hiburan & Rekreasi 6, , , , , , , , , , Perorangan & Rumahtangga 32, , , , , , , , , , PDRB Migas 7,673, ,793, ,120, ,488, ,558, ,693, ,260, ,576, ,755, ,195, PDRB Tanpa Migas 6,099, ,397, ,680, ,015, ,316, ,641, ,972, ,247, ,413, ,685, Keterangan: * angka sementara ** angka sangat sementara
120 Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Jambi Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Juta Rupiah) 2007* 2008* 2009** LAPANGAN USAHA I II III IV I II III IV I II 1. PERTANIAN 1,093, ,108, ,119, ,115, ,138, ,161, ,180, ,205, ,207, ,213, a. Tanaman Bahan Makanan 396, , , , , , , , , , b. Tanaman Perkebunan 517, , , , , , , , , , c. Peternakan dan Hasilhasilnya 70, , , , , , , , , , d. Kehutanan 67, , , , , , , , , , e. Perikanan 41, , , , , , , , , , PERTAMBANGAN & PENGGALIAN 429, , , , , , , , , , a. Minyak dan Gas Bumi 375, , , , , , , , , , b. Pertambangan tanpa Migas 18, , , , , , , , , , c. Penggalian 35, , , , , , , , , , INDUSTRI PENGOLAHAN 478, , , , , , , , , , a. Industri Migas 30, , , , , , , , , , Pengilangan Minyak Bumi 30, , , , , , , , , , Gas Alam Cair b. Industri Tanpa Migas **) 447, , , , , , , , , , LISTRIK, GAS & AIR BERSIH 25, , , , , , , , , , a. Listrik 21, , , , , , , , , , b. Gas c. Air Bersih 4, , , , , , , , , , BANGUNAN 148, , , , , , , , , , PERDAGANGAN, HOTEL & RESTORAN 607, , , , , , , , , , a. Perdagangan Besar & Eceran 552, , , , , , , , , , b. Hotel 7, , , , , , , , , , c. Restoran 48, , , , , , , , , , PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI 283, , , , , , , , , , a. Pengangkutan 258, , , , , , , , , , Angkutan Rel 2. Angkutan Jalan Raya 168, , , , , , , , , , Angkutan Laut 34, , , , , , , , , , Angk. Sungai, Danau & Penyebr. 16, , , , , , , , , , Angkutan Udara 23, , , , , , , , , , Jasa Penunjang Angkutan 15, , , , , , , , , , b. Komunikasi 24, , , , , , , , , , Pos dan Telekomunikasi 24, , , , , , , , , , Jasa Penunjang Komunikasi KEUANGAN, PERSEWAAN, & JS. PRSH. 136, , , , , , , , , , a. Bank 41, , , , , , , , , , b. Lembaga Keuangan tanpa Bank 10, , , , , , , , , , c. Jasa Penunjang Keuangan , , , , , , , d. Sewa Bangunan 80, , , , , , , , , , e. Jasa Perusahaan 3, , , , , , , , , , JASAJASA 311, , , , , , , , , , a. Pemerintahan Umum 256, , , , , , , , , , Adm. Pemerintahan & Pertahanan 163, , , , , , , , , , Jasa Pemerintah lainnya 92, , , , , , , , , , b. Swasta 54, , , , , , , , , , Sosial Kemasyarakatan 35, , , , , , , , , , Hiburan & Rekreasi 3, , , , , , , , , , Perorangan & Rumahtangga 16, , , , , , , , , , PDRB Migas 3,514, ,541, ,592, ,626, ,668, ,782, ,898, ,947, ,977, ,025, PDRB Tanpa Migas 3,108, ,174, ,225, ,266, ,321, ,397, ,461, ,534, ,561, ,607, Keterangan: * angka sementara ** angka sangat sementara
121 Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Jambi Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Penggunaan (Juta Rupiah) JENIS PENGELUARAN Tahun 2007* Tahun 2008* Tahun 2009** TRW.I TRW.II Trw III TRW IV TRW.I TRW.II TRW.III TRW.IV TRW.I TRW.II 1. Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga 4,866, ,054, ,143, ,362, ,890, ,283, ,623, ,925, ,753, ,906, Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 1,178, ,287, ,317, ,401, ,423, ,552, ,646, ,661, ,740, ,830, Lembaga Swasta Nirlaba 34, , , , , , , , , , Pembentukan Modal Tetap Domestik Br 1,333, ,346, ,376, ,458, ,469, ,528, ,550, ,665, ,787, ,867, Perubahan Stok 188, , , , , , , , , , Ekspor 2,743, ,152, ,488, ,309, ,395, ,892, ,026, ,921, ,279, ,486, Impor 2,669, ,272, ,434, ,291, ,870, ,841, ,874, ,899, ,141, ,243, JUMLAH 7,673, ,793, ,120, ,488, ,558, ,693, ,260, ,576, ,755, ,195, Keterangan: * angka sementara ** angka sangat sementara Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Jambi Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Penggunaan (Juta Rupiah) JENIS PENGELUARAN Tahun 2007* Tahun 2008* Tahun 2009** TRW.I TRW.II Trw III TRW IV TRW.I TRW.II TRW.III TRW.IV TRW.I TRW.II 1. Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga 2,486, ,506, ,542, ,649, ,652, ,727, ,820, ,881, ,754, ,766, Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 652, , , , , , , , , , Lembaga Swasta Nirlaba 17, , , , , , , , , , Pembentukan Modal Tetap Domestik Br 565, , , , , , , , , , Perubahan Stok 99, , , , , , , , , , Ekspor 1,572, ,796, ,961, ,353, ,058, ,110, ,943, ,916, ,951, ,946, Impor 1,879, ,102, ,273, ,818, ,495, ,528, ,387, ,415, ,284, ,270, JUMLAH 3,514, ,541, ,592, ,626, ,668, ,782, ,898, ,947, ,977, ,025, Keterangan: * angka sementara ** angka sangat sementara
122 Indeks Harga Konsumen (IHK) Jambi Tahun Dasar 2007=100 URAIAN JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGS SEP OKT NOV DES JAN FEB MAR APR MEI JUN I UMUM II BAHAN MAKANAN III. MAKANAN JADI, MNMAN, ROKOK & TBK IV. PERUMAHAN V. SANDANG VI. KESEHATAN VII. PENDIDIKAN, REKREASI & OR VIII. TRANSPORT & KOMUNIKASI Sumber: BPS Provinsi Jambi
123 Daftar Istilah Ekspor adalah seluruh barang yang keluar dari suatu wilayah/daerah baik yang bersifat komersil maupun bukan komersil. Impor adalah seluruh barang yang masuk suatu wilayah/daerah baik yang bersifat komersil maupun bukan komersil. PDRB atas dasar harga pasar adalah penjumlahan nilai tambah bruto (NTB) yang mencakup seluruh komponen faktor pendapatan yaitu gaji, bunga, sewa tanah, keuntungan, penyusutan dan pajak tak langsung dari seluruh sektor perekonomian. PDRB atas dasar harga konstan merupakan perhitungan PDRB yang didasarkan atas produk yang dihasilkan menggunakan harga tahun tertentu sebagai dasar perhitungannya. Bank pemerintah adalah bankbank yang sebelum program rekapitalisasi merupakan bank milik pemerintah (persero) yaitu terdiri dari Bank Mandiri, BNI, BTN dan BRI. Bank swasta adalah perbankan yang sepenuhnya dimiliki oleh swasta nasional sebelum dilakukannya program rekapitalisasi perbankan. Dana Pihak Ketiga (DPK) adalah simpanan masyarakat yang ada di perbankan terdiri dari giro, tabungan, dan deposito. Net Interest Margin (NIM) adalah selisih bersih antara biaya bunga operasional dengan pendapatan bunga operasional. Loan to Deposits Ratio (LDR) adalah rasio antara kredit yang diberikan oleh perbankan terhadap jumlah dana pihak ketiga yang dihimpun. Non Performing Loan (NPL) adalah jumlah kredit yang termasuk dalam kategori kurang lancar, diragukan dan macet sesuai ketentuan Bank Indonesia. Cash inflows adalah jumlah aliran kas yang masuk ke kantor Bank Indonesia yang berasal dari perbankan dalam periode tertentu. Cash outflows adalah jumlah aliran kas keluar dari kantor Bank Indonesia kepada perbankan dalam periode tertentu. Net cashflows adalah selisih bersih antara jumlah cash inflows dan cash outflows pada periode yang sama terdiri dari Netcash Outflows bila terjadi cash outflows lebih tinggi dibandingkan cash inflows, dan Netcash inflows bila terjadi sebaliknya. Administered prices adalah kelompok barang yang pergerakan harganya ditentukan oleh pemerintah baik secara keseluruhan maupun sebagian.
124 Aktiva Produktif adalah penanaman atau penempatan yang dilakukan oleh bank dengan tujuan menghasilkan penghasilan/pendapatan bagi bank, seperti penyaluran kredit, penempatan pada antar bank, penanaman pada Sertifikat Bank Indonesia (SBI), dan suratsurat berharga lainnya. Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (ATMR) adalah pembobotan terhadap aktiva yang dimiliki oleh bank berdasarkan risiko dari masingmasing aktiva. Semakin kecil risiko suatu aktiva, semakin kecil bobot risikonya. Misalnya kredit yang diberikan kepada pemerintah mempunyai bobot yang lebih rendah dibandingkan dengan kredit yang diberikan kepada perorangan. Kualitas Kredit adalah penggolongan kredit berdasarkan prospek usaha, kinerja debitur dan kelancaran pembayaran bunga dan pokok. Kredit digolongkan menjadi 5 kualitas yaitu Lancar, Dalam Perhatian Khusus (DPK), Kurang Lancar, Diragukan dan Macet. Capital Adequacy Ratio (CAR) adalah rasio antara modal (modal inti dan modal pelengkap) terhadap Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (ATMR). Dana Pihak Ketiga (DPK) adalah dana yang diterima perbankan dari masyarakat, yang berupa giro, tabungan atau deposito. Financing to Deposit Ratio (FDR) adalah rasio antara pembiayaan yang diberikan oleh bank syariah terhadap dana yang diterima. Konsep ini sama dengan konsep LDR pada bank umum konvensional. Inflasi adalah Kenaikan harga barang secara umum dan terus menerus (persistent). Inflasi Administered Price adalah Inflasi yang terjadi pergerakan harga barangbarang yang termasuk dalam kelompok barang yang harganya diatur oleh pemerintah (misalnya bahan bakar). Inflasi Inti adalah Inflasi yang terjadi karena adanya gap penawaran aggregat and permintaan agregrat dalam perekonomian, serta kenaikan harga barang impor dan ekspektasi masyarakat. Inflasi Volatile Food adalah Inflasi yang terjadi karena pergerakan harga barangbarang yang termasuk dalam kelompok barang yang harganya bergerak sangat volatile (misalnya beras).
125 Kliring adalah pertukaran warkat atau Data Keuangan Elektronik (DKE) antar peserta kliring baik atas nama peserta maupun atas nama nasabah peserta yang perhitungannya diselesaikan pada waktu tertentu. Kliring Debet adalah kegiatan kliring untuk transfer debet antar bank yang disertai dengan penyampaian fisik warkat debet seperti cek, bilyet giro, nota debet kepada penyelenggaran kliring lokal (unit kerja di Bank Indonesia atau bank yang memperoleh persetujuan Bank Indonesia sebagai penyelenggara kliring lokal) dan hasil perhitungan akhir kliring debet dikirim ke Sistem Sentral Kliring (unit kerja yang menangani SKNBI di KP Bank Indonesia) untuk diperhitungkan secara nasional. Kliring Kredit adalah kegiatan kliring untuk transfer kredit antar bank yang dikirim langsung oleh bank peserta ke Sistem Sentral Kliring di KP Bank Indonesia tanpa menyampaikan fisik warkat (paperless). Loan to Deposit Ratio (LDR) adalah rasio antara jumlah kredit yang disalurkan terhadap dana yang diterima (giro, tabungan dan deposito). Net Interest Income (NII) adalah antara pendapatan bunga dikurangi dengan beban bunga. Non Core Deposit (NCD) adalah dana masyarakat yang sensitif terhadap pergerakan suku bunga. Dalam laporan ini, NCD diasumsikan terdiri dari 30% giro, 30% tabungan dan 10% deposito berjangka waktu 13 bulan. Non Performing Loans/Financing (NLPs/Ls) adalah kredit/pembiayaan yang termasuk dalam kualitas Kurang Lancar, Diragukan dan Macet Penyisihan Pengghapusan Aktiva Produktif (PPAP) adalah suatu pencadangan untuk mengantisipasi kerugian yang mungkin timbul dari tidak tertagihnya kredit yang diberikan oleh bank. Besaran PPAP ditentukan dari kualitas kredit. Semakin buruk kualitas kredit, semakin besar PPAP yang dibentuk. Misalnya, PPAP untuk kredit yang tergolong Kurang Lancar adalah 15% dari jumlah kredit Kurang Lancar (setelah dikurangi agunan), sedangkan untuk kredit Macet, PPAP yang harus dibentuk adalah 100% dari total kredit macet (setelah dikurangi agunan). Rasio Non Performing Loans/Financing (NPLs/Fs) adalah rasio kredit/pembiayaan yang tergolong NPLs/Fs terhadap total
126 kredit/pembiayaan. Rasio ini juga sering disebut rasio NPLs/Fs gross. Semakin rendah rasio NPLs/Fs, semakin baik kondisi bank ysb. Rasio Non Performing Loans (NPLs) Net adalah rasio kredit yang tergolong NPLs, setelah dikurangi pembentukan Penyisihan Pengghapusan Aktiva Produktif (PPAP), terhadap total kredit Sistem Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI RTGS) adalah proses penyelesaian akhir transaksi pembayaran yang dilakukan seketika (real time) dengan mendebet maupun mengkredit rekening peserta pada saat bersamaan sesuai perintah pembayaran dan penerimaan pembayaran. Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) adalah sistem kliring Bank Indonesia yang meliputi kliring debet dan kliring kredit yang penyelesaian akhirnya dilakukan secara nasional.
KAJIAN EKONOMI REGIONAL
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Jambi Triwulan III - 2008 Kantor Bank Indonesia Jambi Halaman ini sengaja dikosongkan K A T A P E N G A N T A R Pertama-tama ijinkanlah kami memanjatkan puji dan syukur
KAJIAN EKONOMI REGIONAL
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Jambi Triwulan III - 2009 Kantor Bank Indonesia Jambi Halaman ini sengaja dikosongkan K A T A P E N G A N T A R Pertama-tama ijinkanlah kami memanjatkan puji dan syukur
KAJIAN EKONOMI REGIONAL
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Jambi Triwulan IV 2009 Kantor Bank Indonesia Jambi Halaman ini sengaja dikosongkan K A T A P E N G A N T A R Pertamatama ijinkanlah kami memanjatkan puji dan syukur ke
KAJIAN EKONOMI REGIONAL
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Jambi Triwulan I - 2010 Kantor Bank Indonesia Jambi Halaman ini sengaja dikosongkan K A T A P E N G A N T A R Pertama-tama ijinkanlah kami memanjatkan puji dan syukur kehadirat
KAJIAN EKONOMI REGIONAL
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Jambi Triwulan I - 2013 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi Halaman ini sengaja dikosongkan. This page is intentionally blank. K A T A P E N G A N T A R Pertama-tama
KAJIAN EKONOMI REGIONAL
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Jambi Triwulan IV - 2013 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi Jl. Jenderal Ahmad Yani No.14, Telanaipura JAMBI
KAJIAN EKONOMI REGIONAL
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Jambi Triwulan IV - 2012 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi Halaman ini sengaja dikosongkan. This page is intentionally blank. K A T A P E N G A N T A R Pertama-tama
KAJIAN EKONOMI REGIONAL
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Jambi Triwulan III - 2013 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi Halaman ini sengaja dikosongkan. This page is intentionally blank. K A T A P E N G A N T A R Pertama-tama
KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL Provinsi Jambi
KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL Provinsi Jambi Triwulan IV 2014 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi Jl. Jenderal Ahmad Yani No.14, Telanaipura
KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL Provinsi Jambi
KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL Provinsi Jambi Triwulan I - 2014 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi Jl. Jenderal Ahmad Yani No.14, Telanaipura
KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL Provinsi Jambi
KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL Provinsi Jambi Triwulan I 2015 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi Jl. Jenderal Ahmad Yani No.14, Telanaipura
Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2012
Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2012 Asesmen Ekonomi Laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Riau pada triwulan II 2012 tercatat sebesar 7,25%, mengalami perlambatan dibandingkan
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT TRIWULAN II-2008 KANTOR BANK INDONESIA BANDUNG Kantor Bank Indonesia Bandung Jl. Braga No. 108 BANDUNG Telp : 022 4230223 Fax : 022 4214326 Visi Bank Indonesia
KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL Provinsi Jambi
KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL Provinsi Jambi Triwulan II 2015 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi Jl. Jenderal Ahmad Yani No.14, Telanaipura
KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL Provinsi Jambi
KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL Provinsi Jambi Triwulan III 2015 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi Jl. Jenderal Ahmad Yani No.14, Telanaipura
Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2012
Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2012 Asesmen Ekonomi Pada triwulan I 2012 pertumbuhan Kepulauan Riau mengalami akselerasi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat 6,34% (yoy)
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI BENGKULU
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI BENGKULU Triwulan III - 2010 Penyusun : Tim Ekonomi Moneter Kelompok Kajian, Statistik dan Survei : 1. Bayu Martanto Peneliti Ekonomi Muda Senior 2. Jimmy Kathon Peneliti
Kajian Ekonomi Regional Banten
Kajian Ekonomi Regional Banten Triwulan I - 2009 i Kata Pengantar Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt yang telah melimpahkan segala rahmat-nya sehingga penyusunan buku Kajian Ekonomi Regional
Asesmen Pertumbuhan Ekonomi
Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Asesmen Pertumbuhan Ekonomi Penurunan momentum pertumbuhan ekonomi Kepulauan Riau di periode ini telah diperkirakan sebelumnya setelah mengalami tingkat pertumbuhan
Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan II-2013
Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan II-2013 Asesmen Ekonomi Perekonomian Kepulauan Riau (Kepri) pada triwulan II-2013 mengalami pelemahan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Pada
KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL Provinsi Jambi
KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL Provinsi Jambi Triwulan IV 2015 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi Jl. Jenderal Ahmad Yani No.14, Telanaipura
KAJIAN EKONOMI REGIONAL
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Kalimantan Tengah Triwulan I2010 Kantor Bank Indonesia Palangka Raya KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat Nya sehingga Kajian
KAJIAN EKONOMI REGIONAL
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Kalimantan Tengah Triwulan I2009 Kantor Bank Indonesia Palangka Raya KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmatnya sehingga Laporan
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT TRIWULAN IV-28 KANTOR BANK INDONESIA BANDUNG Kantor Bank Indonesia Bandung Jl. Braga No. 18 BANDUNG Telp : 22 423223 Fax : 22 4214326 Visi Bank Indonesia Menjadi
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT TRIWULAN I-2008 KANTOR BANK INDONESIA BANDUNG Kantor Bank Indonesia Bandung Jl. Braga No. 108 BANDUNG Telp : 022 4230223 Fax : 022 4214326 Visi Bank Indonesia
Kajian. Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Kalimantan Tengah
Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Triwulan III 2015 1 KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat-nya (KEKR) Provinsi Kalimantan Tengah Triwulan III
Pertumbuhan Ekonomi Kepulauan Riau
Ringkasan Eksekutif Asesmen Ekonomi Kondisi perekonomian provinsi Kepulauan Riau triwulan II- 2008 relatif menurun dibanding triwulan sebelumnya. Data perubahan terakhir Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan
BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA TRIWULAN II Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo
BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA TRIWULAN II 2013 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo Visi Bank Indonesia : Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional
KAJIAN EKONOMI REGIONAL
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan I - 2009 Kantor Bank Indonesia Palembang KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI ACEH
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI ACEH VISI Menjadi Kantor Bank Indonesia yang dapat dipercaya di daerah melalui peningkatan peran dalam menjalankan tugas-tugas Bank Indonesia yang diberikan. MISI Mendukung
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO
1.2 SISI PENAWARAN Di sisi penawaran, hampir keseluruhan sektor mengalami perlambatan. Dua sektor utama yang menekan pertumbuhan ekonomi triwulan III-2012 adalah sektor pertanian dan sektor jasa-jasa mengingat
KAJIAN EKONOMI REGIONAL
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan III - 2008 Kantor Bank Indonesia Palembang Daftar Isi KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan IV-2012
Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan -2012 Asesmen Ekonomi Pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Riau pada tahun 2012 tercatat 8,21% lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2011 yang tercatat
KAJIAN EKONOMI REGIONAL
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Nusa Tenggara Timur Triwulan IV - 2013 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur KATA PENGANTAR Sejalan dengan salah satu tugas pokok Bank Indonesia,
KAJIAN EKONOMI REGIONAL
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Jawa Barat Triwulan IV-211 Kantor Bank Indonesia Bandung KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas limpahan rahmat dan karunia- Nya, buku
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI BENGKULU
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI BENGKULU Triwulan III - 2011 cxççâáâç M Tim Ekonomi Moneter Kelompok Kajian, Statistik dan Survei : 1. Muhammad Jon Analis Muda Senior 2. Asnawati Peneliti Ekonomi Muda
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SULAWESI BARAT
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SULAWESI BARAT TRIWULAN-I 2013 halaman ini sengaja dikosongkan iv Triwulan I-2013 Kajian Ekonomi Regional Sulawesi Barat Daftar Isi KATA PENGANTAR... III DAFTAR ISI...
KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL Provinsi Jambi
KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL Provinsi Jambi Triwulan I 2016 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi Jl. Jenderal Ahmad Yani No.14, Telanaipura
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Sumatera Barat
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Sumatera Barat Triwulan I - 29 Kantor Triwulan I-29 BANK INDONESIA PADANG KELOMPOK KAJIAN EKONOMI Jl. Jend. Sudirman No. 22 Padang Telp. 751-317 Fax. 751-27313 Penerbit
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI BENGKULU
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI BENGKULU Triwulan I - 2011 cxççâáâç M Tim Ekonomi Moneter Kelompok Kajian, Statistik dan Survei : 1. Muhammad Jon Analis Muda Senior 2. Neva Andina Peneliti Ekonomi Muda
KAJIAN EKONOMI REGIONAL
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Kalimantan Selatan Triwulan III - 2011 Kantor Bank Indonesia Banjarmasin Kata Pengantar KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO
1.2 SISI PENAWARAN Dinamika perkembangan sektoral pada triwulan III-2011 menunjukkan arah yang melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Keseluruhan sektor mengalami perlambatan yang cukup signifikan
Grafik 1.1 Laju Pertumbuhan Ekonomi Kepulauan Riau (y o y) Sumber : BPS Kepulauan Riau *) angka sementara ; **) angka sangat sementara
RINGKASAN EKSEKUTIF Asesmen Ekonomi Krisis finansial global semakin berpengaruh terhadap pertumbuhan industri dan ekspor Kepulauan Riau di triwulan IV-2008. Laju pertumbuhan ekonomi (y-o-y) kembali terkoreksi
PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN TENGAH TRIWULAN II-2011
No. 06/08/62/Th. V, 5 Agustus 2011 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN TENGAH TRIWULAN II-2011 Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Tengah triwulan I-II 2011 (cum to cum) sebesar 6,22%. Pertumbuhan tertinggi pada
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT TRIWULAN IV-2009 KANTOR BANK INDONESIA BANDUNG Kantor Bank Indonesia Bandung Jl. Braga No. 108 BANDUNG Telp : 022 4230223 Fax : 022 4214326 Visi Bank Indonesia
Kinerja ekspor mengalami pertumbuhan negatif dibanding triwulan sebelumnya terutama pada komoditas batubara
No. 063/11/63/Th.XVII, 6 November 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN III-2013 Secara umum pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan triwulan III-2013 terjadi perlambatan. Kontribusi terbesar
BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo
BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III 2012 Visi Bank Indonesia : Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional
P D R B 7.24% 8.50% 8.63% 8.60% 6.52% 3.05% -0.89% Sumber : BPS Kepulauan Riau *) angka sementara **) angka sangat sementara
Ringkasan Eksekutif Asesmen Ekonomi Di awal tahun 2009, imbas krisis finansial global terhadap perekonomian Kepulauan Riau dirasakan semakin intens. Laju pertumbuhan ekonomi memasuki zona negatif dengan
BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo
BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan I 2013 Visi Bank Indonesia : Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional melalui
KAJIAN EKONOMI REGIONAL
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Nusa Tenggara Timur Triwulan II 2014 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Nusa Tenggara Timur Triwulan II - 2014
Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2014 Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat
Visi Bank Indonesia Menjadi lembaga bank sentral yang kredibel dan terbaik di regional melalui penguatan nilai-nilai strategis yang dimiliki serta pencapaian inflasi yang rendah dan nilai tukar yang stabil
PERKEMBANGAN PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN DI ACEH
PERKEMBANGAN PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN DI ACEH Perbankan Aceh PERKEMBANGAN PERBANKAN DI ACEH KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. ACEH TRIWULAN 4-2012 45 Perkembangan Perbankan Aceh Kinerja perbankan (Bank
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Sumatera Barat
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Sumatera Barat Triwulan II - 2013 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VIII i Bab I : Perkembangan Ekonomi Makro Sumatera Barat Halaman ini sengaja dikosongkan This
Daftar Isi. Kata Pengantar... i Daftar Isi...ii Daftar Tabel...iv Daftar Grafik... v Daftar Lampiran... vii Tabel Indikator Ekonomi Terpilih
Visi Bank Indonesia: Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya (kredibel) secara nasional maupun internasional melalui penguatan nilai-nilai strategis yang dimiliki serta pencapaian inflasi yang
KAJIAN EKONOMI REGIONAL
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Kalimantan Tengah Triwulan IV2009 Kantor Bank Indonesia Palangka Raya KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat Nya sehingga
Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2011 Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat
Visi Bank Indonesia Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional melalui penguatan nilai-nilai yang dimiliki serta pencapaian inflasi yang rendah dan stabil Misi
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Sumatera Barat
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Sumatera Barat Triwulan II - 29 Kantor Ringkasan Eksekutif KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan anugerah-nya sehingga
BAB 1 : PERKEMBANGAN MAKRO REGIONAL
BAB 1 : PERKEMBANGAN MAKRO REGIONAL Perekonomian Gorontalo pada triwulan II-2013 tumbuh 7,74% (y.o.y) relatif lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 7,63% (y.o.y). Angka tersebut
BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo
BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III 2010 Visi Bank Indonesia : Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional
Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional
Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Asesmen Ekonomi Pemulihan ekonomi Kepulauan Riau di kuartal akhir 2009 bergerak semakin intens dan diperkirakan tumbuh 2,47% (yoy). Angka pertumbuhan berakselerasi
KAJIAN EKONOMI REGIONAL
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Nusa Tenggara Barat Triwulan III21 KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Nusa Tenggara Barat Triwulan III21 Kantor Bank Indonesia Mataram KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI NUSA
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SUMATERA UTARA TRIWULAN I-2013
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SUMATERA UTARA TRIWULAN I-2013 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA WILAYAH IX 2013 KATA PENGANTAR Buku Kajian Ekonomi Regional Provinsi Sumatera Utara merupakan terbitan rutin
PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN TENGAH TRIWULAN I-2011
No. 06/05/62/Th.V, 5 Mei 2011 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN TENGAH TRIWULAN I-2011 PDRB Kalimantan Tengah Triwulan I-2011 dibanding Triwulan yang sama tahun 2010 (year on year) mengalami pertumbuhan sebesar
PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II- 2014
No. 048/08/63/Th XVIII, 5Agustus PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II- Ekonomi Kalimantan Selatan pada triwulan II- tumbuh sebesar 12,95% dibanding triwulan sebelumnya (q to q) dan apabila
Laporan Perkembangan Perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta Triwulan I 2014
Laporan Perkembangan Perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta Triwulan I 2014 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA ...Memberikan saran kepada pemerintah daerah mengenai kebijakan
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO ACEH
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO ACEH Ekonomi Aceh dengan migas pada triwulan II tahun 2013 tumbuh sebesar 3,89% (yoy), mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 4,79% (yoy). Pertumbuhan
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT TRIWULAN II-2010 KANTOR BANK INDONESIA BANDUNG Kantor Bank Indonesia Bandung Jl. Braga No. 108 BANDUNG Telp : 022 4230223 Fax : 022 4214326 Visi Bank Indonesia
KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI PAPUA
KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI PAPUA AGUSTUS 2017 Vol. 3 No. 2 Triwulanan April - Jun 2017 (terbit Agustus 2017) Triwulan II 2017 ISSN 2460-490257 e-issn 2460-598212 KATA PENGANTAR RINGKASAN
KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL Daftar Isi
E E Daftar Isi DAFTAR ISI HALAMAN Kata Pengantar... iii Daftar Isi... iv Daftar Tabel... vii Daftar Grafik... viii Daftar Gambar... xii Tabel Indikator Ekonomi Terpilih... xiii RINGKASAN EKSEKUTIF... 1
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SUMATERA UTARA KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA WILAYAH IX
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SUMATERA UTARA TRIWULAN III-2013 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA WILAYAH IX 2013 KATA PENGANTAR Buku Kajian Ekonomi Regional Provinsi Sumatera Utara merupakan terbitan
Publikasi ini dapat diakses secara online pada :
i TRIWULAN III 2015 Edisi Triwulan III 2015 Buku Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional ini diterbitkan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Jl. Jend. Sudirman No. 51
KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI ACEH. Triwulan III 2015
KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI ACEH Triwulan III 215 VISI Menjadi Kantor Perwakilan yang kredibel dalam pelaksanaan tugas BI dan kontributif bagi pembangunan ekonomi daerah maupun nasional.
PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN DAERAH PROVINSI BENGKULU
PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN DAERAH PROVINSI BENGKULU Triwulan I - 2009 PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN DAERAH PROVINSI BENGKULU Penerbit : Bank Indonesia Bengkulu Tim Ekonomi Moneter Kelompok Kajian, Statistik
BAB 1 : PERKEMBANGAN MAKRO REGIONAL
BAB 1 : PERKEMBANGAN MAKRO REGIONAL Perekonomian Gorontalo triwulan I-2013 tumbuh 7,63% (y.o.y) lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 7,57% (y.o.y.) Pencapaian tersebut masih
No.11/02/63/Th XVII. 5 Februari 2014
No.11/02/63/Th XVII. 5 Februari 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2013 Secara triwulanan, PDRB Kalimantan Selatan triwulan IV-2013 menurun dibandingkan dengan triwulan III-2013 (q-to-q)
KAJIAN EKONOMI & KEUANGAN REGIONAL
KAJIAN EKONOMI & KEUANGAN REGIONAL Provinsi Nusa Tenggara Timur Triwulan III - 2014 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur KATA PENGANTAR Sejalan dengan salah satu tugas pokok Bank
Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2010 Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat
Visi Bank Indonesia Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional melalui penguatan nilai-nilai yang dimiliki serta pencapaian inflasi yang rendah dan stabil Misi
PERTUMBUHAN EKONOMI JAMBI TAHUN 2009
No. 09/02/15/Th. IV, 10 Februari 2010 PERTUMBUHAN EKONOMI JAMBI TAHUN Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Jambi pada tahun meningkat sebesar 6,4 persen dibanding tahun 2008. Peningkatan
