KAJIAN EKONOMI REGIONAL
|
|
|
- Widya Atmadja
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Sumatera Selatan Triwulan IV Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VII
2 Kata Pengantar Segala puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karunia-nya Kajian Ekonomi Regional Provinsi Sumatera Selatan Triwulan IV 2012 dapat dipublikasikan. Buku ini menyajikan berbagai informasi mengenai perkembangan beberapa indikator perekonomian daerah khususnya bidang moneter, perbankan, sistem pembayaran, dan keuangan daerah, yang selain digunakan untuk memenuhi kebutuhan internal Bank Indonesia juga sebagai bahan informasi bagi pihak eksternal. Selanjutnya kami mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah memberikan data dan informasi yang diperlukan bagi penyusunan buku ini. Harapan kami, hubungan kerja sama yang baik selama ini dapat terus berlanjut dan ditingkatkan lagi pada masa yang akan datang. Kami juga mengharapkan masukan dari berbagai pihak guna lebih meningkatkan kualitas buku kajian ini sehingga dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melimpahkan berkah dan karunia-nya serta kemudahan kepada kita semua dalam upaya menyumbangkan pemikiran dalam pengembangan ekonomi regional khususnya dan pengembangan ekonomi nasional pada umumnya. Palembang, Februari 2013 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA WILAYAH VII Kepala Perwakilan, Ttd Sutikno Direktur Eksekutif i
3 ii Halaman ini sengaja dikosongkan
4 Daftar Isi Kata Pengantar... i Daftar Isi... iii Daftar Tabel... v Daftar Grafik... vii Daftar Suplemen... xi Indikator Utama... xiii Ringkasan Umum Perkembangan Ekonomi Makro Regional Perkembangan Ekonomi Makro Regional Secara Umum Perkembangan Ekonomi Sisi Sektoral Perkembangan Ekonomi Sisi Penggunaan Perkembangan Inflasi Palembang Inflasi Secara Umum Kondisi Harga di Pasar Internasional Tekanan Inflasi Sisi Penawaran Tekanan Inflasi Sisi Permintaan Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran Kondisi Umum Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) Penghimpunan DPK Penghimpunan DPK Menurut Kabupaten/Kota Penyaluran Kredit/Pembiayaan Penyaluran Kredit/Pembiayaan Secara Sektoral Penyaluran Kredit/Pembiayaan Menurut Penggunaan Penyaluran Kredit/Pembiayaan Menurut Kabupaten Perkembangan Suku Bunga Bank Umum Konvensional Kualitas Penyaluran Kredit/Pembiayaan Kelonggaran Tarik dan Rasio Likuiditas Perkembangan Bank Umum Syariah Perkembangan Bank Perkreditan Rakyat iii
5 3.9. Perkembangan Kliring dan Real Time Gross Settlement (RTGS) Perkembangan Perkasan Perkembangan Kas Titipan Lubuk Linggau Perkembangan Keuangan Daerah Realisasi APBD Tahun Perbandingan Realisasi APBD Tahun 2012 dan APBD Tahun Perkembangan Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan Tingkat Kemiskinan Nilai Tukar Petani Penyaluran Beras untuk Rumah Tangga Miskin (Raskin) Ketenagakerjaan Pengangguran Indikator Kesejahteraan Masyarakat Berdasarkan Survei Konsumen Indikator Ketenagakerjaan Indikator Penghasilan Outlook Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Daerah Pertumbuhan Ekonomi Inflasi Perbankan iv
6 Daftar Tabel Tabel 1.1. Laju Pertumbuhan Tahunan Sektoral PDRB Provinsi Sumatera Selatan ADHK 2000 (%) Tabel 1.2. Laju Pertumbuhan Triwulanan Sektoral PDRB Provinsi Sumatera Selatan ADHK 2000 (%) Tabel 1.3. Pertumbuhan Ekonomi Tahunan (yoy) Provinsi Sumatera Selatan Tabel 1.4. Pertumbuhan Ekonomi Triwulanan (qtq) Provinsi Sumatera Selatan ADHK 2000 menurut Penggunaan Tahun (%) Tabel 1.5. Perkembangan Nilai Ekspor Komoditas Utama Provinsi Sumatera Selatan (USD) Tabel 1.6. Perkembangan Bulanan Nilai Ekspor Komoditas Utama Provinsi Sumatera Selatan (Juta USD) Tabel 1.7. Perkembangan Nilai Impor Komoditas Pilihan Provinsi Sumatera Selatan (USD) Tabel 1.8. Perkembangan Bulanan Nilai Impor Komoditas Pilihan Provinsi Sumatera Selatan (USD Juta) Tabel 2.1. Perkembangan Inflasi Tahunan Per Kelompok Tabel 2.2. Perkembangan Inflasi Bulanan Per Kelompok Tabel 2.3. Andil Inflasi Tahunan Per Komoditas Tabel 2.4. Andil Inflasi Triwulanan Per Komoditas Tabel 3.1. Pertumbuhan DPK Perbankan per Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Selatan Tabel 3.2. Perkembangan Kredit Sektoral Provinsi Sumatera Selatan (Rp miliar) Tabel 3.3. Perkembangan Penyaluran Kredit/Pembiayaan Perbankan per Wilayah di Provinsi Sumatera Selatan (dalam Rp miliar) Tabel 3.4. Perkembangan Bank Umum Syariah di Sumatera Selatan (Rp Miliar) Tabel 3.5. Perputaran Cek dan Bilyet Giro Kosong Provinsi Sumatera Selatan Tabel 3.6. Kegiatan Perkasan di Sumatera Selatan (Rp Miliar) Tabel 3.7. Perkembangan Kas Titipan Lubuk Linggau (Rp Miliar) Tabel 5.1. Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Sumatera Selatan Tahun Tabel 5.2. Garis Kemiskinan, Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Daerah, Maret 2008-September Tabel 5.3. Garis Kemiskinan Makanan dan Bukan Makanan di Sumsel Menurut Daerah, Maret 2009-September Tabel 5.4. Rata-rata Indeks Konsumsi Rumah Tangga Petani di Sumatera Selatan Tabel 5.5. Rata-rata Indeks Biaya Produksi dan Penambahan Modal Petani v
7 Tabel 5.6. Penyaluran Beras Perum Bulog Divre Sumatera Selatan (dalam ton)...71 Tabel 5.7. Jumlah Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas Yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama, Februari 2011 Agustus Tabel 5.8. Jumlah Penduduk Umur 15 Tahun ke Atas Yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan, Februari 2011 Agustus Tabel 5.9. Jumlah Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas Menurut Kegiatan, Februari 2011 Agustus Tabel Pendapat Konsumen Terhadap Ketersediaan Lapangan Pekerjaan Saat Ini Triwulan IV Tabel Pendapat Konsumen Terhadap Ketersediaan Lapangan Pekerjaan 6 Bulan YAD Triwulan IV Tabel Pendapat Konsumen Terhadap Penghasilan Saat Ini Triwulan IV Tabel Pendapat Konsumen Terhadap Penghasilan 6 Bulan YAD Triwulan IV Tabel 6.1. Ringkasan Leading Economic Indicator Kondisi Usaha Provinsi Sumsel Triwulan IV Tabel 6.2. Proporsi Ekspor Sumatera Selatan, Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Negara Tujuan Ekspor Tahun 2012 dan 2013 (dalam persentase)...80 Tabel 6.3. Prediksi Beberapa Indikator Perekonomian pada Triwulan I vi
8 Daftar Grafik Grafik 1.1. PDRB dan Laju Pertumbuhan Tahunan PDRB Provinsi Sumatera Selatan ADHK Grafik 1.2. PDRB dan Laju Pertumbuhan Triwulanan PDRB Provinsi Sumatera Selatan ADHK Grafik 1.3. Sumber Pertumbuhan Ekonomi dan Struktur PDRB Sektoral Provinsi Sumatera Selatan Triwulan IV 2012 (%) Grafik 1.4. Perkembangan Curah Hujan di Sumatera Selatan Grafik 1.5. Perkembangan Harga Tandan Buah Segar Grafik 1.6. Perkembangan Lifting Minyak Bumi Grafik 1.7. Perkembangan Lifting Gas Bumi Grafik 1.8. Perkembangan Harga Batu Bara Grafik 1.9. Perkembangan Harga Minyak Bumi Grafik Perkembangan Harga Karet di Pasar Internasional Grafik Perkembangan Harga CPO di Pasar Internasional Grafik Perkembangan Produksi Crumb Rubber Sumatera Selatan Grafik Perkembangan Konsumsi Semen di Sumatera Selatan Grafik Perkembangan Penyaluran Kredit Konstruksi dan Perumahan di Sumatera Selatan Grafik Perkembangan Pemakaian Listrik di Sumatera Selatan Grafik Perkembangan Jumlah Pelanggan Grafik Perkembangan Arus Bongkar Muat Pelabuhan di Sumatera Selatan Grafik Perkembangan Arus Cargo Bandar Udara di Sumatera Selatan Grafik Perkembangan Pendaftaran Kendaraan Baru di Sumatera Selatan Grafik Perkembangan Penumpang Angkutan Udara di Sumatera Selatan Grafik Perkembangan Penumpang Angkutan Laut Grafik Perkembangan Indeks Ketepatan Waktu Pembelian (Konsumsi) Barang Tahan Lama Grafik Perkembangan Konsumsi BBM di Sumatera Selatan Grafik Perkembangan Nilai Tukar Rupiah Terhadap US Dollar Grafik Perkembangan Nilai Ekspor Provinsi Sumatera Selatan Grafik Perkembangan Volume Ekspor Provinsi Sumatera Selatan Grafik Perkembangan Ekspor Provinsi Sumatera Selatan Berdasarkan Negara Tujuan vii
9 Grafik Pangsa Ekspor Provinsi Sumatera Selatan Berdasarkan Negara Tujuan Sep 12 Nov Grafik Perkembangan Nilai Impor Provinsi Sumatera Selatan...23 Grafik Perkembangan Volume Impor Provinsi Sumatera Selatan...23 Grafik Perkembangan Impor Provinsi Sumatera Selatan Berdasarkan Negara Asal...23 Grafik Pangsa Impor Provinsi Sumatera Selatan Berdasarkan Negara Asal Sep 12-Nov Grafik 2.1. Perkembangan Inflasi Tahunan Palembang dan Nasional...27 Grafik 2.2. Perkembangan Inflasi Bulanan Palembang dan Nasional...27 Grafik 2.3. Event Analysis Perkembangan Inflasi Palembang...28 Grafik 2.4. Realisasi dan Proyeksi Inflasi Palembang...28 Grafik 2.5. Perbandingan Inflasi Tahun Kalender Grafik 2.6. Disagregasi Inflasi Tahunan...29 Grafik 2.7. Disagregasi Inflasi Bulanan...29 Grafik 2.8. Disagregasi Inflasi Aktual Vs. Historis...30 Grafik 2.9. Inflasi Tradeables Vs. Non Tradeables...30 Grafik Perkembangan Harga Komoditas Strategis di Pasar Internasional...33 Grafik Perkembangan Curah Hujan Bulanan...36 Grafik Perkembangan Arus Barang Pelabuhan...37 Grafik Perkembangan Arus Barang Cargo...37 Grafik Andil Disagregasi Inflasi Tahunan...38 Grafik Perkembangan Nilai Tukar Petani...38 Grafik Perkembangan Output Gap dan Inflasi...38 Grafik Perkembangan Keyakinan Konsumen...38 Grafik Indeks Ekspektasi Konsumen terhadap Kenaikan Harga...39 Grafik 3.1. Perkembangan Aset, DPK, dan Kredit Perbankan Provinsi Sumatera Selatan...43 Grafik 3.2. Jumlah Kantor Bank dan ATM di Provinsi Sumatera Selatan...43 Grafik 3.3. Pertumbuhan DPK Perbankan di Provinsi...44 Grafik 3.4. Komposisi DPK Perbankan Triwulan IV 2012 di Provinsi Sumatera Selatan...44 Grafik 3.5. Andil Pertumbuhan DPK Tahunan (%)...46 Grafik 3.6. Pangsa Penyaluran Kredit Sektoral Provinsi Sumatera Selatan Triwulan IV Grafik 3.7. Pertumbuhan Kredit Perbankan di Provinsi Sumatera Selatan...48 viii
10 Grafik 3.8. Komposisi Kredit Perbankan Triwulan IV 2012 di Provinsi Sumatera Selatan Grafik 3.9. Andil Pertumbuhan Kredit Tahunan (%) Grafik Komposisi Penyaluran Kredit Perbankan Provinsi Sumatera Selatan Triwulan IV 2012 Berdasarkan Wilayah Grafik Perkembangan Suku Bunga Simpanan Sumatera Selatan Grafik Perkembangan Suku Bunga Pinjaman Sumatera Selatan Grafik Perkembangan NPL Perbankan Sumatera Selatan Grafik Perkembangan Risiko Likuiditas Perbankan Sumatera Selatan Grafik Perkembangan Undisbursed Loan Perbankan Sumatera Selatan Grafik Perkembangan Aset, DPK, dan Kredit Bank Perkreditan Rakyat di Provinsi Sumatera Selatan Grafik Perkembangan Kliring di Sumatera Selatan Grafik Perkembangan Perputaran Kliring dan Hari Kerja Grafik Perkembangan RTGS di Sumatera Selatan Grafik Perkembangan Bulanan Jumlah Perputaran Kliring di Sumatera Selatan 57 Grafik Perkembangan Jumlah Cek dan Bilyet Giro Kosong di Sumatera Selatan Grafik Perkembangan Kegiatan Perkasan di Sumatera Selatan Grafik Perkembangan Penarikan Uang Lusuh Grafik Perkembangan Bulanan Kas Titipan Lubuk Linggau Tahun Grafik 4.1. Perbandingan Komponen Sisi Pendapatan Realisasi APBD Sumsel Tahun Grafik 4.2. Perbandingan Komponen Sisi Pengeluaran Realisasi APBD Sumsel Tahun Grafik 4.3. Perbandingan Sisi Pendapatan Realisasi APBD Sumsel 2012 dan Grafik 4.4. Perbandingan Sisi Pengeluaran Realisasi APBD Sumsel 2012 dan Grafik 4.5. Delta Realisasi Sisi Pendapatan Grafik 4.6. Delta Realisasi Sisi Pengeluaran Grafik 5.1. Indeks Harga yang diterima, Indeks Harga yang dibayar dan Nilai Tukar Petani Grafik 5.2. Perkembangan Rata-rata Nilai Tukar Petani Sumsel dan Harga Komoditas Unggulan di Pasar Dunia Grafik 6.1. Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Selatan Grafik 6.2. Proyeksi Inflasi Tahunan Sumatera Selatan Grafik 6.3. Ekspektasi Harga Berdasarkan Survei Konsumen ix
11 x Halaman ini sengaja dikosongkan
12 Daftar Suplemen Suplemen 1. Stok Komoditas Unggulan Meningkat... 9 Suplemen 2. Konsumen Optimis Memandang Kondisi Ekonomi Ke Depan Suplemen 3. Harga Volatile Foods Mulai Naik Suplemen 4. Curah Hujan dan Kondisi Infrastruktur Berpengaruh Pada Variasi Harga Bawang Merah Suplemen 5. Proyeksi Perekonomian Sumatera Selatan Suplemen 6. Inflasi Palembang Memulai Siklus Baru xi
13 xii Halaman ini sengaja dikosongkan
14 Indikator Utama A. PDRB & Inflasi xiii
15 B. Perbankan xiv
16 C. Sistem Pembayaran xv
17 xvi Halaman ini sengaja dikosongkan
18 Ringkasan Umum Abstraksi Perekonomian Provinsi Sumatera Selatan tumbuh cukup baik pada 2012, kendati di akhir tahun sedikit melambat. Perlambatan cukup signifikan terjadi pada sektor pertanian dan sektor perdagangan dipengaruhi melambatnya ekspor. Di sisi lain, kondisi permintaan domestik semakin baik dan merespons kenaikan kapasitas dan tingginya stok industri pengolahan, serta mendorong kinerja sektor bangunan. Secara keseluruhan tahun 2012, sektor utama masih menunjukkan peran dominan ditunjang oleh konsumsi rumah tangga dan investasi yang kuat. Dari sisi harga, pencapaian inflasi akhir tahun sangat rendah karena terkendalinya tekanan sisi suplai dan sisi permintaan, dibarengi dengan menurunnya ekspektasi inflasi. Perbankan menunjukkan kinerja yang baik dalam menggelontorkan kredit untuk memicu kapasitas produksi. Perkembangan sistem pembayaran menunjukkan intensitas transaksi yang cukup tinggi. Kesejahteraan masyarakat terindikasi cukup resisten terhadap rendahnya harga komoditas unggulan, ditunjang oleh baiknya ekspektasi konsumen ke depan. Peningkatan pertumbuhan perekonomian diperkirakan terjadi pada triwulan I Pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan lebih tinggi yang didorong oleh pemulihan perdagangan internasional secara gradual dibarengi oleh konsumsi rumah tangga dan investasi yang tetap kuat. Industri pengolahan diperkirakan masih dapat berproduksi karena stok yang melimpah sekalipun kinerja pertanian sempat tersendat rendahnya harga jual. Di sisi harga, inflasi diperkirakan memasuki siklus jangka menengah baru yang dimulai dengan tren peningkatan. Risiko inflasi antara lain dipengaruhi oleh curah hujan yang terlalu tinggi, serta beberapa kebijakan yang akan mendorong kenaikan harga. Penyaluran kredit perbankan diperkirakan akan melanjutkan proses moderasinya dengan risiko kredit yang terkelola dengan baik. 1
19 Ringkasan Umum Permintaan domestik mendorong pertumbuhan ekonomi keseluruhan tahun Secara kumulatif, pada tahun 2012 ekonomi Sumatera Selatan tumbuh sebesar 6,0% (yoy), atau melambat dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 6,5%. Meskipun melambat, namun pencapaian tersebut cukup baik pada kondisi ketidakpastian ekonomi global pada tahun 2012 lalu. Angka pertumbuhan tahun 2012 tersebut berada pada kisaran proyeksi Bank Indonesia pada laporan sebelumnya, yaitu 5,9 6,4% (yoy). Bila diperhitungkan kinerja keseluruhan tahun, sektor-sektor unggulan Sumatera Selatan masih merupakan kontributor utama pertumbuhan ekonomi. Dari sisi permintaan, investasi dan konsumsi rumah tangga merupakan penopang utama perekonomian di tahun Tren perlambatan pertumbuhan ekonomi secara triwulanan masih berlanjut. Pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan pada triwulan IV 2012 mengalami perlambatan dibandingkan kinerja triwulan sebelumnya dari 5,8% (yoy) menjadi 5,5% (yoy). Pertumbuhan ekonomi melambat dipengaruhi perlambatan pada sektor pertanian dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran (PHR), bersamaan dengan bersamaan dengan melemahnya kinerja ekspor. Adapun pertumbuhan ekonomi pada triwulan ini ditopang oleh sektor industri pengolahan, sektor PHR serta sektor bangunan sebagai respons meningkatnya konsumsi pemerintah, investasi, dan konsumsi rumah tangga. Angka pertumbuhan ekonomi tersebut berada pada kisaran proyeksi pada laporan sebelumnya, yaitu 5,4 5,9% (yoy). Sektor ekonomi tumbuh bervariasi namun secara umum masih tumbuh tinggi. Perlambatan pertumbuhan terjadi pada sektor pertanian, sektor perdagangan, hotel dan restoran, serta sektor pengangkutan dan telekomunikasi. Secara absolut, sektor yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah sektor bangunan, diikuti oleh sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan yang masing-masing tumbuh sebesar 10,1% dan 9,2% (yoy) di triwulan IV Dari sisi penggunaan, permintaan domestik kembali menopang pertumbuhan ekonomi. Pada sisi penggunaan, laju pertumbuhan ekonomi secara tahunan didorong oleh perkembangan investasi, konsumsi pemerintah, dan konsumsi rumah tangga. Komponen tersebut juga merupakan kontributor utama pertumbuhan ekonomi secara kumulatif tahun Pertumbuhan ekspor non migas masih negatif yang diakibatkan penurunan kinerja ekspor karet. Penurunan nilai ekspor bukan dipengaruhi oleh volume ekspor namun karena turunnya harga komoditas. Masih menurunnya harga komoditas karet membuat insentif produksi berkurang sehingga menyebabkan kinerja ekspor komoditas tersebut turun, dan berimplikasi pada kinerja ekspor keseluruhan. Adapun pangsa nilai ekspor terbesar masih didominasi oleh komoditas karet. 2
20 Ringkasan Umum Inflasi kota Palembang meningkat tipis. Inflasi tahunan kota Palembang pada akhir triwulan IV 2012 sebesar 2,72% (yoy), sedikit meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 2,60% (yoy), dan sesuai dengan proyeksi pada laporan sebelumnya yang diperkirakan sebesar 3,06 ± 0,5%. Tekanan inflasi periode ini relatif tetap terkendali dari sisi permintaan (demand-pull) karena pertumbuhan konsumsi masyarakat yang terbatas. Selain itu, tekanan inflasi dari sisi penawaran (cost-push) juga rendah karena kondisi pasokan bahan pangan yang baik, walaupun sedikit meningkat di penghujung tahun 2012 karena curah hujan yang tinggi. Selain itu, ekspektasi inflasi jangka pendek mulai meningkat kembali dan menjadi konvergen dengan ekspektasi inflasi dengan jangka waktu yang lebih panjang. Realisasi inflasi lebih rendah dibandingkan inflasi nasional. Pencapaian inflasi Palembang pada triwulan IV 2012 sebesar 2,72% tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang sebesar 4,31%. Berdasarkan tren data historis, kecenderungan inflasi Palembang berada di bawah inflasi nasional sudah terjadi sejak tahun Inflasi seluruh komponen disagregasi tidak banyak berubah. Berdasarkan pemilihan rincian (disagregasi) inflasi tahunan, diketahui bahwa inflasi ketiga jenis komponen (core, volatile foods, dan administered prices) tidak banyak berubah dibandingkan bulan September lalu. Setelah turun pada bulan Oktober, inflasi volatile foods bertendensi meningkat kembali hingga akhir tahun. Hal sebaliknya terjadi pada komponen core inflation, yang bertendensi sedikit menurun sejak bulan November Tingginya curah hujan membuat inflasi volatile foods memulai tren peningkatan kembali, namun lebih rendah dibandingkan rata-rata historis. Implikasi kondisi cuaca terutama adalah perkembangan kondisi pasokan pangan, yang tercermin melalui inflasi tahunan bahan makanan atau inflasi komponen volatile foods. Data arus barang total muat dan bongkar di pelabuhan serta arus barang cargo menurun dibandingkan triwulan sebelumnya, disertai perlambatan pertumbuhan tahunan. Namun, inflasi volatile foods pada triwulan IV 2012 lebih rendah dibandingkan rata-rata 3 tahun terakhir. Perkembangan tekanan inflasi dari sisi permintaan terindikasi stabil. Harga komoditas unggulan Sumatera Selatan tidak banyak berbeda dibandingkan triwulan sebelumnya yang menahan tingkat pendapatan masyarakat, khususnya kelompok menengah-bawah. Hal ini terindikasi dari penurunan Nilai Tukar Petani (NTP) yang mencerminkan daya beli petani, serta relatif stabilnya output gap. Namun di sisi lain, terdapat kecenderungan peningkatan keyakinan konsumen karena membaiknya ekspektasi konsumen ke depan. 3
21 Ringkasan Umum Kinerja perbankan cukup baik. Secara umum, kinerja perbankan di Provinsi Sumatera Selatan pada triwulan IV 2012 (data hingga November 2012) dari beberapa indikator seperti total aset, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) dan penyaluran kredit/pembiayaan mengalami peningkatan yang diiringi dengan terjaganya NPL di tingkat yang rendah. Selain itu, aktivitas sistem pembayaran mengindikasikan intensnya aktivitas ekonomi. Realisasi belanja pemerintah tinggi pada triwulan IV 2012, meskipun secara keseluruhan tahun terindikasi mengalami kendala. Realisasi pendapatan tahun 2012 mencapai 103,9%, sementara realisasi belanja mencapai 90,8%, masing-masing sedikit turun dibandingkan tahun sebelumnya. Perkembangan realisasi APBD pada triwulan IV 2012 mengindikasikan belanja pemerintah yang naik jauh signifikan dibandingkan triwulan III Untuk tahun 2013, pemerintah menganggarkan peningkatan belanja sebesar 7% dan peningkatan pendapatan sebesar 14,7% dibandingkan anggaran tahun Kesejahteraan masyarakat tidak terlalu terpengaruh rendahnya harga komoditas unggulan. Angka kemiskinan menurun sepanjang tahun 2012, Nilai Tukar Petani (NTP) relatif stabil dibandingkan triwulan sebelumnya. Selain itu, masyarakat secara mayoritas berpendapat bahwa tingkat penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja akan membaik pada Semester II Ekonomi Provinsi Sumatera Selatan pada triwulan I 2013 diperkirakan akan meningkat. Berdasarkan data historis, kondisi ekonomi terkini dan prediksi shock yang akan terjadi di masa depan, diperkirakan pertumbuhan ekonomi tahunan (yoy) pada triwulan I 2013 akan berada pada kisaran 5,8 6,3%. Di sisi lain, secara triwulanan (qtq) output diperkirakan cenderung tetap dengan pertumbuhan ekonomi di kisaran -0,3-0,3%. Kegiatan perdagangan internasional diperkirakan mulai membaik secara gradual menyusul ekspektasi membaiknya China dan India, dibarengi dengan konsumsi rumah tangga dan investasi yang tumbuh cukup baik. Namun demikian, laju pertumbuhan ekonomi triwulanan dengan penyesuaian musiman diperkirakan sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi akan didorong oleh perbaikan perdagangan internasional, konsumsi rumah tangga, dan investasi. Kinerja perdagangan internasional diperkirakan akan mulai membaik dengan percepatan ekspor dan perlambatan impor. Selain itu, konsumsi rumah tangga dan investasi juga diperkirakan tumbuh kuat. Namun, konsumsi pemerintah diperkirakan akan menurun cukup signifikan pada triwulan I Mulai triwulan I 2013, pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan diperkirakan berbalik dengan memulai tren kenaikan jangka menengah. 4
22 Ringkasan Umum Inflasi tahunan Kota Palembang pada triwulan I 2013 diperkirakan akan sedikit meningkat pada kisaran 3,30±0,5% (yoy) setelah pada triwulan IV 2012 berada pada tingkat 2,72% (yoy). Sementara itu, inflasi triwulanan (qtq) diperkirakan akan turun menjadi 0,30±0,5%. Selain dipengaruhi tekanan inflasi yang bersifat fundamental, kenaikan inflasi tahunan juga disebabkan oleh efek tahun dasar (base year effect). Di sisi permintaan, tekanan inflasi diperkirakan masih terbatas terkait masih rendahnya harga komoditas di pasar internasional. Kondisi tersebut juga berimplikasi pada pendapatan masyarakat dan terjadinya moderasi konsumsi rumah tangga. Hal ini terkonfirmasi hasil survei konsumen dimana terdapat penurunan keyakinan konsumen. Beberapa prompt indicators menunjukkan stabilnya konsumsi, seperti konsumsi BBM, konsumsi listrik, serta indeks keyakinan konsumen. Secara tahunan, harga karet di pasar internasional masih turun 10,6% (yoy) pada Januari 2013, dan diperkirakan peningkatan harga secara signifikan dalam waktu dekat sulit terjadi mengingat surplus dan stok karet yang cukup tinggi di tingkat dunia. Selain itu, harga TBS sawit cenderung mengalami penurunan dalam beberapa bulan terakhir. Kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) secara gradual memberikan tekanan inflasi ke depan. Kenaikan TDL dilakukan secara gradual per triwulan pada tahun 2013, dengan variasi kenaikan menurut jenis pengguna dan KVA. Kenaikan pada triwulan I berada pada kisaran 4 6%, dan diperkirakan akan memberikan tambahan inflasi sekitar 0,20% (1st round: 0,13%, 2nd round: 0,07%). Pada keseluruhan tahun 2013 dengan kenaikan 15% secara kumulatif, kenaikan TDL diperkirakan memberikan tambahan inflasi sekitar 0,66% (1st round: 0,46%, 2nd round: 0,20%). Namun, informasi dari pelaku usaha menunjukkan respon terhadap harga jual yang lebih elastis. Dari sisi ekspektasi inflasi, masyarakat berekspektasi bahwa harga-harga secara umum akan naik (hasil Survei Konsumen). Selain itu, pada bulan Januari 2013 terjadi kenaikan indeks ekspektasi kenaikan harga untuk 6 dan 12 bulan yang akan datang, yang mengindikasikan sedikit meningkatnya ekspektasi inflasi jangka menengah. Adapun besaran ekspektasi kenaikan harga untuk jangka waktu pendek (3 bulan) terlihat stabil Inflasi Palembang memulai siklus tiga tahunan baru. Berdasarkan asesmen kami, siklus jangka menengah inflasi Palembang berulang setiap sekitar 3 tahun. Dengan menetralisir kenaikan harga BBM secara historis, diperkirakan bahwa siklus tersebut dimulai dengan tren kenaikan inflasi tahunan selama 5 triwulan, dan kemudian dilanjutkan dengan tren penurunan inflasi selama 7 triwulan. Siklus tersebut telah dimulai sejak Desember 2012 lalu dan akan mencapai puncaknya pada Triwulan I
23 Ringkasan Umum Halaman ini sengaja dikosongkan 6
24 1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Pertumbuhan ekonomi tahun 2012 cukup baik di tengah ketidakpastian global Pertumbuhan ekonomi masih cukup tinggi meskipun melambat karena melambatnya kinerja sektor pertanian dan sektor PHR. Pada triwulan IV 2012, pelaku usaha terindikasi melakukan penjualan stok disaat harga jual masih rendah. Pendorong utama pertumbuhan dari sisi permintaan adalah permintaan domestik Perkembangan Ekonomi Makro Regional Secara Umum Tren perlambatan pertumbuhan ekonomi masih berlanjut. Pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan (Sumsel) pada triwulan IV 2012 mengalami perlambatan dibandingkan kinerja triwulan sebelumnya dari 5,8% (yoy) menjadi 5,5% (yoy). Pertumbuhan ekonomi melambat dipengaruhi perlambatan pada sektor pertanian dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran (PHR), bersamaan dengan bersamaan dengan melemahnya ekspor. Adapun pertumbuhan ekonomi pada triwulan ini ditopang oleh sektor industri pengolahan, sektor PHR serta sektor bangunan sebagai respons meningkatnya konsumsi pemerintah, investasi, dan konsumsi rumah tangga. Angka pertumbuhan ekonomi tersebut berada pada kisaran proyeksi pada laporan sebelumnya, yaitu 5,4 5,9% (yoy). Permintaan domestik mendorong pertumbuhan ekonomi keseluruhan tahun Secara kumulatif, pada tahun 2012 ekonomi Sumatera Selatan tumbuh sebesar 6,0% (yoy), atau melambat dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 6,5%. Meskipun melambat, namun pencapaian tersebut cukup baik pada kondisi ketidakpastian ekonomi global pada tahun 2012 lalu. Angka pertumbuhan tahun 2012 tersebut berada pada kisaran proyeksi Bank Indonesia pada laporan sebelumnya, yaitu 5,9 6,4% (yoy). Bila diperhitungkan kinerja keseluruhan tahun, sektor-sektor unggulan Sumatera Selatan masih merupakan kontributor utama pertumbuhan ekonomi. Dari sisi permintaan, investasi dan konsumsi rumah tangga merupakan penopang utama perekonomian di tahun Perlambatan pertumbuhan ekonomi dan signifikansi permintaan domestik selama tahun 2012 terkonfirmasi oleh survei bisnis yang menunjukkan adanya peningkatan penjualan dari dalam negeri, namun belum cukup untuk mengimbangi turunnya harga komoditas unggulan di pasar internasional, sehingga stok komoditas unggulan mengalami peningkatan (lihat Suplemen 1). 7
25 Bab 1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Terjadi pertumbuhan secara musiman. PDRB Sumatera Selatan secara triwulanan mengalami terkontraksi sebesar 2,9% (qtq). Pertumbuhan triwulanan tersebut relatif normal terjadi pada triwulan IV karena adanya faktor musiman. Kinerja triwulanan tersebut relatif sama dibandingkan tahun sebelumnya yang turun sebesar 2,8% (qtq). Grafik 1.1. PDRB dan Laju Pertumbuhan Tahunan PDRB Provinsi Sumatera Selatan ADHK 2000 Grafik 1.2. PDRB dan Laju Pertumbuhan Triwulanan PDRB Provinsi Sumatera Selatan ADHK 2000 Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan, diolah Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan, diolah 8
26 Bab 1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Suplemen 1 Stok Komoditas Unggulan Meningkat 1 Kinerja produk ekspor crumb rubber sampai dengan akhir tahun ini masih menurun yang diakibatkan penurunan penjualan akibat tekanan harga masih berlanjut hingga saat ini. Turunnya harga karet dunia turut mempengaruhi harga bahan baku karet di tingkat petani atau pedagang. Pelaku usaha di subsektor ini menahan produksi terkait dengan kesepakatan 3 (tiga) negara penghasil karet yaitu Indonesia, Malaysia, dan Thailand yang tergabung dalam ITRC (International Trade Rubber Council) yang membatasi produksi untuk menaikkan harga jual karet dunia mulai bulan Oktober Hal ini mengakibatkan persediaan bahan baku karet meningkat. Sementara itu, komoditas CPO yang sebagian besar untuk pasar domestik, pada akhir tahun ini produksi sangat banyak dan tidak terserap seluruhnya di pasar domestik. Hal ini menyebabkan pelaku usaha di sektor ini menyewa tempat penyimpanan hasil produksi CPO di perahu tongkang karena penyimpanan di gudang sudah tidak memadai. Di sisi upstream, kinerja sebagian perkebunan kelapa sawit mengalami penurunan terkait dengan kegiatan replanting. Namun secara umum kapasitas utilisasi pengolahan CPO mengalami peningkatan terkait peningkatan produksi di akhir tahun. Hal ini juga terjadi seiring terdapat pembangunan pabrik pengolahan CPO baru yang menambah kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan domestik. Permintaan domestik untuk subsektor perdagangan ritel di Sumatera Selatan khususnya di Palembang dinilai oleh pelaku usaha cukup bagus. Hal ini ditandai dengan hadirnya banyak gerai minimarket dan tambahan 1 (satu) gerai dengan konsep hypermarket. Namun dengan hadirnya banyak pemain di subsektor ini tingkat persaingan semakin ketat dan cenderung oversupply sehingga salah satu pemain di subsektor perdangan ritel dengan konsep hypermarket tahun ini mengalami sedikit penurunan penjualan. Selain itu, subsektor perdagangan dan jasa banyak melakukan investasi perluasan jaringan, penambahan fasilitas, serta penambahan tenaga kerja. Permasalahan infrastruktur dan perizinan masih menjadi kendala di daerah tertentu. Pelaku usaha mengharapkan adanya peningkatan perhatian pemerintah dalam pembenahan infrastruktur, konsistensi penegakan hukum, serta percepatan proses perizinan. 1 Diperoleh dari hasil Business Survey yang merupakan kegiatan pemantauan kondisi usaha dengan mewawancarai langsung pelaku usaha 9
27 Bab 1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional 1.2. Perkembangan Ekonomi Sisi Sektoral Sektor ekonomi tumbuh bervariasi namun secara umum masih tumbuh tinggi. Perlambatan pertumbuhan terjadi pada sektor pertanian, sektor perdagangan, hotel dan restoran, serta sektor pengangkutan dan telekomunikasi. Secara absolut, sektor yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah sektor bangunan, diikuti oleh sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan yang masing-masing tumbuh sebesar 10,1% dan 9,2% (yoy) di triwulan IV Tabel 1.1. Laju Pertumbuhan Tahunan Sektoral PDRB Provinsi Sumatera Selatan ADHK 2000 (%) Lapangan Usaha IV I II III IV Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan LGA Bangunan PHR Pengangkutan & Komunikasi Keuangan Persewaan & Js. Perusahaan Jasa-jasa Total PDRB Sumber : BPS Provinsi Sumatera Selatan, diolah Tabel 1.2. Laju Pertumbuhan Triwulanan Sektoral PDRB Provinsi Sumatera Selatan ADHK 2000 (%) Lapangan Usaha IV I II III IV Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan LGA Bangunan PHR Pengangkutan & Komunikasi Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan Jasa-jasa Total PDRB Sumber : BPS Provinsi Sumatera Selatan, diolah 10
28 Bab 1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Sektor non primer merupakan pendorong utama pertumbuhan ekonomi. Kontributor pertumbuhan tertinggi pada triwulan IV 2012 adalah sektor industri pengolahan, sektor PHR, serta sektor bangunan. Adapun sektor bangunan mengalami percepatan pertumbuhan secara signifikan pada triwulan IV Untuk keseluruhan tahun 2012, kontributor utama pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan masih merupakan sektor utama Sumatera Selatan, yaitu sektor PHR, sektor industri pengolahan, serta sektor pertanian. Grafik 1.3. Sumber Pertumbuhan Ekonomi dan Struktur PDRB Sektoral Provinsi Sumatera Selatan Triwulan IV 2012 (%) Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan, diolah Sektor pertanian tumbuh sebesar 1,9% (yoy) atau turun signifikan dibandingkan kinerja triwulan sebelumnya yang sebesar 7,4% (yoy). Andil sektor pertanian diperkirakan sekitar 0,4% pada pertumbuhan ekonomi tahunan triwulan IV Secara triwulanan, kontraksi musiman yang terjadi pada sektor pertanian lebih dalam dibandingkan tahun lalu, yaitu 20,3%, lebih dalam dari tahun sebelumnya yang terkontraksi sebesar 11,7% (qtq). Selain harga yang rendah, produksi juga bertendensi turun. Dari sisi prompt indicators, perkembangan curah hujan menunjukkan sifat hujan yang cenderung tinggi pada triwulan IV 2012, dan sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan harga TBS sawit melambat baik untuk CPO maupun untuk inti, dan secara level lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya. Untuk komoditas karet masih mengalami harga yang rendah di pasar internasional, dibarengi penurunan produksi dan perlambatan pertumbuhan tahunan produksi karet. 11
29 Bab 1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Grafik 1.4. Perkembangan Curah Hujan di Sumatera Selatan Grafik 1.5. Perkembangan Harga Tandan Buah Segar di Sumatera Selatan Sumber: Stasiun Klimatologi Kenten Sumber: Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan, diolah Sektor pertambangan dan penggalian mengalami percepatan pertumbuhan yaitu dari yang semula terkontraksi 2,0% menjadi tumbuh 1,5% (yoy). Tingkat output harga konstan pada sektor ini tercatat tidak berubah dibandingkan triwulan sebelumnya. Sektor pertambangan dan penggalian memberikan andil minus 0,3% terhadap pertumbuhan tahunan pada triwulan IV Dari segi pangsa, sektor pertambangan dan penggalian merupakan penyumbang PDRB terbesar setelah industri pengolahan dengan pangsa 21,3%. Grafik 1.6. Perkembangan Lifting Minyak Bumi Provinsi Sumatera Selatan Grafik 1.7. Perkembangan Lifting Gas Bumi Provinsi Sumatera Selatan Sumber: Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Sumber: Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Komoditas pertambangan Sumatera Selatan mengalami perubahan bervariasi, namun secara tahunan masih turun. Rata-rata harga batu bara di pasar internasional pada triwulan ini tercatat di level USD66,8/metrik ton atau mengalami penurunan tajam sebesar 15,4% (yoy) namun secara triwulanan naik 9,1% (qtq). 12
30 Bab 1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Grafik 1.8. Perkembangan Harga Batu Bara di Pasar Internasional Grafik 1.9. Perkembangan Harga Minyak Bumi di Pasar Internasional Sumber: Bloomberg Sumber: Bloomberg Di sisi pertambangan migas, rata-rata harga minyak bumi tercatat di level USD88,1/barrel atau secara triwulanan terkoreksi 4,3% (qtq). Selain itu, dari sisi volume produksi, lifting minyak dan gas bumi mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya, walaupun angka pertumbuhan tahunan sedikit naik untuk volume lifting gas. Kinerja sektor industri pengolahan tumbuh sebesar 6,8% (yoy), lebih cepat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 5,8% (yoy). Peningkatan ini disebabkan perilaku sektor industri pengolahan Sumatera Selatan yang pada triwulan IV 2012 melakukan pengurangan (penjualan) stok barang jadi, walaupun harga jual produk masih rendah. Hal ini antara lain terindikasi dari: 1) Perkembangan data ekspor, dimana volume ekspor Sumatera Selatan mengalami peningkatan signifikan, namun nilai ekspor justru mengalami penurunan. 2) Meningkatnya pertumbuhan tahunan sektor industri pengolahan yang diiringi dengan perlambatan pertumbuhan tahunan sektor pertanian. 3) Perkembangan beberapa prompt indicator yang berkebalikan dengan perkembangan pertumbuhan output sektor industri pengolahan, dimana harga karet dan sawit di pasar internasional mengalami penurunan pada triwulan IV 2012, dan data Gapkindo Sumsel yang mengindikasikan bahwa pertumbuhan rata-rata bulanan produksi karet di Sumatera Selatan pada triwulan IV 2012 mengalami penurunan baik secara triwulanan maupun tahunan. 4) Hasil survei kepada pelaku usaha dimana terindikasi bahwa stok komoditas unggulan sudah terlalu tinggi. 13
31 Bab 1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Grafik Perkembangan Harga Karet di Pasar Internasional Grafik Perkembangan Harga CPO di Pasar Internasional Sumber: Bloomberg Sumber: Bloomberg Grafik Perkembangan Produksi Crumb Rubber Sumatera Selatan Sumber: Gapkindo Sumsel Kinerja sektor bangunan mengalami percepatan signifikan dibandingkan pencapaian triwulan sebelumnya, yaitu dari 8,7% menjadi 10,1% (yoy), dan memberikan andil 0,8% terhadap pertumbuhan ekonomi triwulan IV Secara triwulanan, kinerja sektor bangunan tumbuh sebesar 4,8% (qtq). Perkembangan tersebut diperkirakan terkait dengan pembangunan konstruksi dan pemerintah untuk merealisasikan anggaran tahun Secara konsisten dengan peningkatan yang terjadi, data Asosiasi Semen Indonesia menunjukkan terjadinya peningkatan signifikan penjualan semen menjadi 435,3 juta ton pada triwulan IV 2012 atau naik sebesar 27,3% (yoy) dan secara triwulanan naik 21,3% (qtq). 14
32 Bab 1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Grafik Perkembangan Konsumsi Semen di Sumatera Selatan Grafik Perkembangan Penyaluran Kredit Konstruksi dan Perumahan di Sumatera Selatan Sumber : Asosiasi Semen Indonesia, diolah Sumber: Bank Indonesia Perkembangan pada perbankan menunjukkan perkembangan yang baik pada sektor bangunan. Kredit konstruksi meningkat tinggi, yaitu 62,0% (yoy) atau 4,7% (qtq). Dari sisi kredit bukan lapangan usaha, penyaluran kredit untuk ruko dan rukan serta kredit untuk flat dan apartemen mengalami peningkatan baik secara tahunan maupun secara triwulanan. Namun, penyaluran kredit untuk rumah tinggal tercatat menurun dibandingkan triwulan sebelumnya. Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih (LGA) tumbuh sebesar 5,4% (yoy), mengalami perlambatan dibandingkan kinerja triwulan sebelumnya yang tumbuh 6,5% (yoy). Secara triwulanan, kinerja sektor ini tumbuh sebesar 1,7% (qtq). Grafik Perkembangan Pemakaian Listrik di Sumatera Selatan Grafik Perkembangan Jumlah Pelanggan dan Penjualan Air Bersih di Sumatera Selatan Sumber : PT. PLN WS2JB, diolah Sumber : PT. PDAM Tirta Musi, diolah Beberapa prompt indicator sektor LGA menunjukkan perkembangan yang sejalan. Jumlah penjualan listrik pada triwulan IV 2012 mencapai 924,5 juta KWh, meningkat 5,8% dibandingkan triwulan sebelumnya. Selain itu, penjualan air bersih mencapai 15
33 Bab 1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional 198,2 juta liter dengan laju pertumbuhan penjualan yang meningkat. Adapun jumlah pelanggan listrik dan air bersih mengalami peningkatan sebagaimana diinformasikan oleh instansi terkait. Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran (PHR) mengalami sedikit perlambatan pertumbuhan dari sebesar 9,7% pada triwulan III 2012 menjadi 7,6% (yoy) pada triwulan IV Sementara itu secara triwulanan kinerja sektor PHR tumbuh sebesar 1,3% (qtq). Meskipun tumbuh melambat, andil pertumbuhan tahunan sektor ini tetap cukup tinggi dibandingkan sektor-sektor lainnya, yaitu 1,0%. Perlambatan pertumbuhan sektor PHR dapat merupakan implikasi perlambatan pertumbuhan sektor pertanian. Data pendaftaran kendaraan baru dari Dispenda Provinsi Sumatera Selatan menunjukkan adanya penurunan pendaftaran kendaraan baru dibandingkan triwulan sebelumnya, kecuali untuk jenis truk yang relatif stabil. Namun, berdasarkan informasi dari beberapa pelaku usaha, penjualan truk mengalami penurunan selepas terhentinya pengangkutan batubara akibat jalan khusus batubara yang terendam banjir. Selain itu, arus bongkar muat pelabuhan pada triwulan IV 2012 juga terlihat turun dibandingkan triwulan sebelumnya. Di sisi lain, perdagangan ritel terindikasi masih tumbuh cukup baik, karena meningkatnya konsumsi rumah tangga (lihat pembahasan pertumbuhan ekonomi sisi permintaan). Sejalan dengan itu, Indeks Tendensi Konsumen (ITK) pada triwulan IV 2012 sebesar 107,30 dan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sebesar 134,70, yang mengindikasikan bahwa optimisme konsumen masih kuat. Grafik Perkembangan Arus Bongkar Muat Pelabuhan di Sumatera Selatan Grafik Perkembangan Arus Cargo Bandar Udara di Sumatera Selatan SSumber : PT. Pelindo II, diolah Sumber : PT. Angkasa Pura II, diolah 16
34 Bab 1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Grafik Perkembangan Pendaftaran Kendaraan Baru di Sumatera Selatan Grafik Perkembangan Penumpang Angkutan Udara di Sumatera Selatan SSumber : Dispenda Provinsi Sumatera Selatan Sumber : PT. Angkasa Pura II, diolah Grafik Perkembangan Penumpang Angkutan Laut Pelabuhan Provinsi Sumatera Selatan Sumber : PT. Pelindo II, diolah Sektor Pengangkutan dan Komunikasi mencatat pertumbuhan tahunan sebesar 8,1% (yoy), sedikit lebih lambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 12,0%, namun masih sangat tinggi. Selain itu, sektor ini juga memberikan andil cukup besar terhadap pertumbuhan PDRB pada tahun 2012, yaitu sebesar 0,6%. Selain itu, pertumbuhan triwulanan sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 2,0% (qtq). Data PT. Angkasa Pura menunjukkan bahwa arus bongkar muat cargo maupun penumpang di bandar udara sedikit turun dibandingkan triwulan sebelumnya. Di sisi lain, PT. Pelindo menunjukkan pertumbuhan tahunan arus barang melalui pelabuhan stabil dibandingkan triwulan lalu, serta adanya peningkatan pada jumlah penumpang yang melalui pelabuhan di Palembang. 17
35 Bab 1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan mengalami pertumbuhan tahunan yang relatif tinggi yakni sebesar 9,2% (yoy), sedikit mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 9,6% (yoy). Sementara itu, sektor tersebut mencatat kinerja pertumbuhan triwulanan sebesar 2,9% (qtq). Tingginya kinerja sektor keuangan tidak terlepas dari perkembangan sektor perbankan yang cukup baik (pembahasan lebih lanjut sektor ini dibahas pada bab mengenai Perkembangan Perbankan Daerah dan Sistem Pembayaran). Perkembangan sektor jasa-jasa tidak terlepas dari peningkatan aktivitas ekonomi sebagaimana diindikasikan oleh perkembangan sektor-sektor lainnya, khususnya sektor tersier. Sektor jasa-jasa tumbuh sebesar 8,0% (yoy) pada triwulan IV 2012, mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 6,0% (yoy). Secara triwulanan, kinerja sektor tersebut tumbuh sebesar 3,7% (qtq) Perkembangan Ekonomi Sisi Penggunaan Dari sisi penggunaan, permintaan domestik kembali menopang pertumbuhan ekonomi. Pada sisi penggunaan, laju pertumbuhan ekonomi secara tahunan didorong oleh perkembangan PMTDB, konsumsi pemerintah, dan konsumsi rumah tangga. Komponen tersebut juga merupakan kontributor utama pertumbuhan ekonomi secara kumulatif tahun Tabel 1.3. Pertumbuhan Ekonomi Tahunan (yoy) Provinsi Sumatera Selatan ADHK 2000 menurut Penggunaan Tahun (%) Penggunaan IV I II III IV 1. Konsumsi Rumah Tangga Konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba Konsumsi Pemerintah (0.8) Investasi Ekspor Barang dan Jasa 4.3 (1.6) Impor Barang dan Jasa TOTAL Sumber : BPS Provinsi Sumatera Selatan, diolah Konsumsi bergerak mixed antar pelaku ekonomi. Berdasarkan komponen konsumsi, pertumbuhan konsumsi rumah tangga sedikit meningkat dari 5,8% menjadi 6,6% (yoy) ditopang oleh masih baiknya optimisme konsumen sebagaimana terlihat Indeks Keyakinan Konsumen yang tinggi. Di samping itu, survei konsumen juga menunjukkan naiknya indeks ketepatan waktu pembelian barang tahan lama secara cukup signifikan sejak triwulan II Konsumsi rumah tangga mengalami 18
36 Bab 1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional pertumbuhan secara triwulanan sebesar 1,3% (qtq). Secara keseluruhan tahun, konsumsi rumah tangga meningkat 6,5% (yoy). Grafik Perkembangan Indeks Ketepatan Waktu Pembelian (Konsumsi) Barang Tahan Lama Grafik Perkembangan Konsumsi BBM di Sumatera Selatan Sumber : Survei Konsumen Bank Indonesia, diolah Sumber: Pertamina Konsumsi lembaga swasta nirlaba tumbuh sebesar 4,9% (yoy) atau sedikit meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 3,3% (yoy). Secara triwulanan, konsumsi lembaga swasta nirlaba naik sebesar 1,1% (qtq). Di sisi lain, konsumsi pemerintah tumbuh sebesar 8,3% (yoy) atau naik signifikan dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi sebesar 0,8% (yoy). Delta realisasi APBD Provinsi pada triwulan IV 2012 meningkat tajam dibandingkan triwulan sebelumnya (lihat Bab 4). Tingkat pertumbuhan konsumsi pemerintah telah kembali normal mengingat angka pertumbuhan pada triwulan III 2012 terpengaruh oleh efek tahun dasar, dimana pertumbuhan konsumsi pemerintah sangat tinggi pada tahun sebelumnya karena penyelenggaraan SEA Games di kota Palembang. Pertumbuhan investasi meningkat, menembus level 15% (yoy). Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTDB) mengalami peningkatan 15,7%, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 11,3% (yoy). Sementara secara triwulanan masih naik sebesar 4,1% (yoy). Hasil survei terhadap kondisi dunia usaha di Sumatera Selatan mengindikasikan bahwa pelaku usaha melakukan investasi secara berkelanjutan utamanya terkait perkebunan dan industri terkait komoditas unggulan untuk menambah kapasitas produksi. Sejalan dengan itu pula, kredit investasi mencatat peningkatan paling tinggi yakni sebesar 33,2% (yoy) (lihat Bab 3). Perkembangan perdagangan internasional kembali melemah. Kegiatan ekspor kembali tumbuh melambat sebesar 4,7% (yoy), setelah pada triwulan sebelumnya tumbuh sebesar 5,3% (yoy). Sementara itu, impor tumbuh sebesar 7,8% (yoy), meskipun relatif melambat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 10,9% (yoy). 19
37 Bab 1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Perlambatan pertumbuhan impor terkait dengan penurunan impor gandum dan pupuk seiring menurunnya aktivitas sektor pertanian. Grafik Perkembangan Nilai Tukar Rupiah Terhadap US Dollar Sumber : Bank Indonesia, diolah Secara triwulanan, ekspor mengalami penurunan sebesar 1,7% (qtq) sejalan dengan penurunan harga komoditas unggulan ekspor Sumatera Selatan. Sementara itu, impor mengalami pertumbuhan sebesar 5,0% (qtq). Kurs Rupiah yang terdepresiasi belum dapat memperbaiki kondisi perdagangan internasional. Pada triwulan IV 2012, kurs rupiah terhadap Dollar AS terdepresiasi sebesar 0,7% (qtq). Tabel 1.4. Pertumbuhan Ekonomi Triwulanan (qtq) Provinsi Sumatera Selatan ADHK 2000 menurut Penggunaan Tahun (%) Penggunaan IV I II III IV 1. Konsumsi Rumah Tangga Konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba (1.1) (0.8) Konsumsi Pemerintah 5.4 (15.6) 21.5 (7.6) Investasi 3.5 (1.4) Ekspor Barang dan Jasa (0.8) (3.8) Impor Barang dan Jasa 11.4 (3.4) TOTAL (2.8) (0.7) Sumber : BPS Provinsi Sumatera Selatan, diolah Pertumbuhan ekspor non migas masih negatif. Nilai ekspor selama tiga bulan terakhir (September 2012 November 2012) tercatat sebesar USD834,3 juta, turun sebesar 23,2% (yoy) dari sebesar USD1.086,2 juta. Secara triwulanan, nilai ekspor juga turun sebesar 14,2% (qtq). Penurunan nilai ekspor dikontribusikan oleh penurunan kinerja ekspor karet. Nilai ekspor mengalami penurunan cukup dalam yaitu sebesar 14,2% (qtq), dikontribusikan oleh menurunnya ekspor karet sebesar 20,1% (qtq). Sementara itu, ekspor komoditas batubara dan komoditas CPO mengalami peningkatan masing- 20
38 Bab 1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional masing sebesar 53,3% dan 2,5% (qtq). Masih menurunnya harga komoditas karet membuat insentif produksi berkurang sehingga menyebabkan kinerja ekspor komoditas tersebut turun, dan berimplikasi pada kinerja ekspor keseluruhan. Adapun pangsa nilai ekspor terbesar masih didominasi oleh komoditas karet dengan pangsa sebesar 69,7%. Tabel 1.5. Perkembangan Nilai Ekspor Komoditas Utama Provinsi Sumatera Selatan (USD) Sumber : Departemen Statistik Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, diolah Tabel 1.6. Perkembangan Bulanan Nilai Ekspor Komoditas Utama Provinsi Sumatera Selatan (Juta USD) Sumber : Departemen Statistik Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, diolah Grafik Perkembangan Nilai Ekspor Provinsi Sumatera Selatan Grafik Perkembangan Volume Ekspor Provinsi Sumatera Selatan Sumber: Bank Indonesia Sumber: Bank Indonesia Volume ekspor meningkat, mencerminkan turunnya nilai ekspor lebih diakibatkan faktor penurunan harga. Berdasarkan volume, ekspor pada periode laporan tercatat sebesar 1.719,5 ribu ton, naik 8,9% (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 1.579,8 ribu ton. Sementara dibandingkan triwulan sebelumnya, mengalami peningkatan sebesar 37,4% (qtq) dari sebesar 1.251,5 ribu ton. 21
39 Bab 1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Grafik Perkembangan Ekspor Provinsi Sumatera Selatan Berdasarkan Negara Tujuan Grafik Pangsa Ekspor Provinsi Sumatera Selatan Berdasarkan Negara Tujuan Sep 12 Nov 12 Sumber: Bank Indonesia Sumber: Bank Indonesia Terjadi peralihan tujuan ekspor kembali ke Cina. Berdasarkan negara tujuan, ekspor ke Cina pada triwulan ini tercatat menjadi paling tinggi dengan pangsa sebesar 25,3%, naik dari periode sebelumnya (Juni 2012 Agustus 2012) sebesar 23,0%. Sementara itu, pangsa ekspor ke Amerika Serikat mengalami penurunan dari sebesar 23,3% pada triwulan sebelumnya menjadi 22,3%. Selain itu, pangsa ekspor ke Jepang, Malaysia, India masing-masing mencapai sebesar 7,1%, 5,7% dan 8,1%. Nilai impor nonmigas turun dikontribusikan penurunan impor barang modal dan gandum. Nilai impor nonmigas periode September November 2012 tercatat sebesar USD145,6 juta, turun 17,7% (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar USD177,0 juta. Dibandingkan dengan triwulan sebelumnya terjadi penurunan nilai impor sebesar 8,3% (qtq) dari sebesar USD158,8 juta. Penurunan nilai impor banyak dikontribusikan oleh penurunan pembelian mesin pembangkit, mesin industri dan gandum. Tabel 1.7. Perkembangan Nilai Impor Komoditas Pilihan Provinsi Sumatera Selatan (USD) Sumber : Departemen Statistik Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, diolah Volume impor pada periode ini tercatat sebesar 360,9 ribu ton atau meningkat sebesar 107,0% (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 22
40 Bab 1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional sebesar 174,3 ribu ton. Namun apabila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, volume impor tercatat mengalami kenaikan sebesar 154,8% (qtq) dari sebesar 141,6 ribu ton. Tabel 1.8. Perkembangan Bulanan Nilai Impor Komoditas Pilihan Provinsi Sumatera Selatan (USD Juta) Sumber : Departemen Statistik Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, diolah Pangsa negara asal impor terbesar pada periode ini didominasi oleh negara asal Cina yakni sebesar 48,7% dari keseluruhan impor, kemudian disusul oleh Malaysia dengan pangsa sebesar 10,9%, dan Amerika Serikat dengan pangsa sebesar 7,9%. Grafik Perkembangan Nilai Impor Provinsi Sumatera Selatan Grafik Perkembangan Volume Impor Provinsi Sumatera Selatan Sumber : Departemen Statistik Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Sumber : Departemen Statistik Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Grafik Perkembangan Impor Provinsi Sumatera Selatan Berdasarkan Negara Asal Grafik Pangsa Impor Provinsi Sumatera Selatan Berdasarkan Negara Asal Sep 12-Nov 12 Sumber : Departemen Statistik Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Sumber : Departemen Statistik Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia 23
41 Bab 1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Suplemen 2 Konsumen Optimis Memandang Kondisi Ekonomi Ke Depan I. Perkembangan Indeks Keyakinan Konsumen Selama Triwulan IV 2012 Tingkat Keyakinan Konsumen di Kota Palembang terhadap kondisi perekonomian selama triwulan IV 2012 secara umum sedikit meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Rata-rata Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada periode laporan tercatat 132,74, sedikit meningkat dibandingkan dengan kondisi triwulan sebelumnya yang mencapai 128,04. Kenaikan IKK sangat dipengaruhi oleh peningkatan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) naik ke level 144,41 dari sebelumnya yang sebesar 134,22. Di sisi lain, rata-rata Indeks Keyakinan Ekonomi Saat Ini (IKESI) sebesar 121,08, relatif stabil dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 121,12. Grafik 1. IKK, IKESI, IEK Des 2010-Des 2012 Sumber : Departemen Statistik Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, diolah Grafik 2. Pembentuk Keyakinan Konsumen Des 2010 Des 2012 Sumber : Departemen Statistik Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, diolah 24 Indeks Keyakinan Konsumen diperoleh dari Survei Konsumen. Survei Konsumen merupakan survei bulanan yang dilaksanakan Bank Indonesia sejak Januari Di kota Palembang survei dilaksanakan sejak tahun 2001 terhadap 300 rumah tangga setiap bulan sebagai responden (stratified random sampling). Pengumpulan data dilakukan secara langsung kepada responden secara rotated. Indeks dihitung dengan metode balance score (net balance + 100), sehingga jika indeks diatas 100 berarti optimis, sebaliknya dibawah 100 berarti pesimis.
42 Bab 1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional II. Komponen Keyakinan Konsumen Beberapa hal yang menjadi perhatian utama konsumen Palembang antara lain: peningkatan ketepatan waktu pembelian (konsumsi) barang tahan lama, kenaikan ketersediaan lapangan kerja saat ini, dan kondisi ekonomi 6 bulan yang akan datang (lihat grafik 2). Secara umum IKK selama periode laporan mengalami fluktuasi. Pada bulan Oktober 2012 tercatat sebesar 133,57, dengan IKESI dan IEK masing-masing 119,57 dan 147,57. Pada bulan November mengalami penurunan menjadi sebesar 132,02 dengan IKESI dan IEK masing-masing sebesar 119,80 dan 144,23. Kemudian, IKK pada bulan Desember kembali meningkat ke level 133,65 dengan IKESI dan IEK masing-masing sebesar 123,87 dan 141, Pendapat Responden terhadap Kondisi Ekonomi Mayoritas responden menilai bahwa kondisi ekonomi selama periode laporan lebih baik dibandingkan kondisi 6 bulan sebelumnya. Hal itu terkonfirmasi dari besarnya persentase responden yang berpendapat demikian, yakni sebesar 46,2%. Sementara responden yang menyatakan lebih baik sebanyak 45,9%. 2.2 Pendapat Responden terhadap Ketersediaan Lapangan Kerja Dari sisi ketersediaan lapangan kerja, 47,2% responden berpendapat bahwa ketersediaan lapangan kerja saat ini sama dibandingkan kondisi 6 bulan sebelumnya. Sementara itu, 24,0% responden berpendapat bahwa kondisi ketersediaan lapangan kerja saat ini lebih baik dibandingkan kondisi 6 bulan sebelumnya, dan 28,8% responden menyatakan bahwa ketersediaan lapangan kerja lebih buruk. Untuk persepsi ke depan, 40,6% responden yang berkeyakinan bahwa kondisi ketersediaan lapangan kerja pada 6 bulan yang akan datang akan lebih baik. 2.3 Pendapat Responden terhadap Penghasilan Sebanyak 50,8% responden menyatakan bahwa penghasilan mereka saat ini sama dibandingkan kondisi 6 bulan sebelumnya, dan 45,6% responden berpendapat bahwa penghasilannya saat ini lebih baik. Hanya sekitar 3,7% responden yang berpendapat bahwa peghasilannya lebih buruk. Selain itu, 59,2% berpendapat bahwa penghasilan 6 bulan yang akan datang akan lebih baik dibandingkan saat ini. 2.4 Perkiraan Perkembangan Harga Barang/Jasa 3 Bulan Mendatang Mayoritas responden berpendapat bahwa harga barang/jasa pada 3 bulan yang akan datang akan mengalami peningkatan. Hal tersebut tercermin dari 41,2% responden yang berpendapat bahwa harga-harga akan naik. Bahkan sebanyak 37,4% responden berkeyakinan bahwa harga pada 3 bulan mendatang akan naik secara signifikan. 25
43 Bab 1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Halaman ini sengaja dikosongkan 26
44 2. Perkembangan Inflasi Palembang Pencapaian inflasi 2012 di bawah 3% Tekanan inflasi sisi penawaran terkendali karena pasokan pangan yang memadai, meskipun sedikit terganggu curah hujan tinggi di akhir tahun. Tekanan inflasi sisi permintaan terkendali seiring stabilnya tingkat pendapatan kelompok menengah-bawah Inflasi Secara Umum Inflasi kota Palembang meningkat tipis. Inflasi tahunan kota Palembang pada akhir triwulan IV 2012 sebesar 2,72% (yoy), sedikit meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 2,60% (yoy), dan sesuai dengan proyeksi pada laporan sebelumnya yang diperkirakan sebesar 3,06 ± 0,5%. Tekanan inflasi periode ini relatif tetap terkendali dari sisi permintaan (demand-pull) karena pertumbuhan konsumsi masyarakat yang terbatas. Selain itu, tekanan inflasi dari sisi penawaran (cost-push) juga rendah karena kondisi pasokan bahan pangan yang baik, walaupun sedikit meningkat di penghujung tahun 2012 karena curah hujan yang tinggi. Selain itu, ekspektasi inflasi jangka pendek mulai meningkat kembali dan menjadi konvergen dengan ekspektasi inflasi dengan jangka waktu yang lebih panjang. Realisasi inflasi lebih rendah dibandingkan inflasi nasional. Pencapaian inflasi Palembang pada triwulan IV 2012 sebesar 2,72% tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang sebesar 4,31%. Berdasarkan tren data historis, kecenderungan inflasi Palembang berada di bawah inflasi nasional sudah terjadi sejak tahun Grafik 2.1. Perkembangan Inflasi Tahunan Palembang dan Nasional Grafik 2.2. Perkembangan Inflasi Bulanan Palembang dan Nasional Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan 27
45 Bab 2. Perkembangan Inflasi Palembang Grafik 2.3. Event Analysis Perkembangan Inflasi Palembang Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan Grafik 2.4. Realisasi dan Proyeksi Inflasi Palembang Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan, Proyeksi BI Inflasi tahun kalender 2012 sudah cenderung rendah sejak Agustus Inflasi tahun kalender di Kota Palembang mulai lebih rendah dibandingkan tahun 2011 pada bulan Agustus Pertambahan inflasi tahun kalender per bulannya pada tahun 2012 cenderung lebih rendah dibandingkan rata-rata (dilihat dari pergerakan inflasi tahun kalender yang lebih mendatar), yang mengindikasikan tingkat persistensi inflasi Palembang sudah menurun. Hal ini didukung oleh pembentukan ekspektasi inflasi masyarakat yang telah lebih rasional (Lihat KER Sumatera Selatan Triwulan III 2012, Suplemen 7). Inflasi seluruh komponen disagregasi tidak banyak berubah. Berdasarkan pemilihan rincian (disagregasi) inflasi tahunan, diketahui bahwa inflasi ketiga jenis 28
46 Bab 2. Perkembangan Inflasi Palembang komponen (core, volatile foods 2, dan administered prices) tidak banyak berubah dibandingkan bulan September lalu. Setelah turun pada bulan Oktober, inflasi volatile foods bertendensi meningkat kembali hingga akhir tahun. Hal sebaliknya terjadi pada komponen core inflation 3, yang bertendensi sedikit menurun sejak bulan November Pencapaian inflasi ketiga komponen disagregasi lebih rendah dibandingkan rata-rata historis, khususnya volatile foods. Inflasi volatile foods pada Desember 2012 sebesar 3,41% (yoy), jauh lebih rendah dibandingkan rata-ratanya selama 3 tahun yang sebesar 9,47%. Inflasi core dan administered prices juga lebih rendah dari nilai historisnya, yang secara rata-rata masing-masing sebesar 4,70% dan 4,10% pada 3 tahun terakhir. Grafik 2.5. Perbandingan Inflasi Tahun Kalender Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan, diolah Grafik 2.6. Disagregasi Inflasi Tahunan Grafik 2.7. Disagregasi Inflasi Bulanan Sumber: Estimasi BI Sumber: Estimasi BI 2 Komponen volatile foods merupakan kelompok barang-barang yang harganya cenderung bergejolak. Komponen volatile foods didominasi oleh komoditas pangan. 3 Core inflation (inflasi inti) merupakan komponen barang yang harganya cenderung dipengaruhi oleh tingkat pendapatan. Secara teoretis, kebijakan moneter ditujukan untuk mengendalikan inflasi inti. 29
47 Bab 2. Perkembangan Inflasi Palembang Grafik 2.8. Disagregasi Inflasi Aktual Vs. Historis Grafik 2.9. Inflasi Tradeables Vs. Non Tradeables Sumber: Estimasi BI Sumber: Estimasi BI Inflasi tradeables dan non tradeables hanya sekitar separuh dari nilai historis. Inflasi barang-barang tradeables sebesar 3,86% pada Desember 2012, lebih rendah dibandingkan rata-rata 3 tahun terakhir yang sebesar 6,32% (yoy). Selain itu, inflasi barang-barang nontradeables sebesar 2,18% (yoy) pada Desember 2012, lebih rendah dibandingkan rata-rata 3 tahun terakhir yang sebesar 5,40% (yoy). Hal ini menunjukkan bahwa tekanan inflasi rendah dibandingkan data historis, baik untuk komoditi yang hanya diperdagangkan di dalam negeri, maupun untuk komoditi yang terpengaruh oleh perkembangan perdagangan internasional. Tabel 2.1. Perkembangan Inflasi Tahunan Per Kelompok Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan, diolah 30
48 Bab 2. Perkembangan Inflasi Palembang Inflasi tertinggi dicapai oleh kelompok makanan jadi. Berdasarkan kelompok barang, kelompok makanan jadi mencatat inflasi tahunan tertinggi yaitu sebesar 3,98% (yoy), diikuti oleh kelompok bahan makanan dan kelompok kesehatan yaitu masing-masing sebesar 3,52% dan 3,35% (yoy). Sebaliknya, inflasi paling rendah terjadi pada kelompok perumahan, yaitu sebesar 1,52% (yoy). Perkembangan kinerja komoditas unggulan yang terbatas membuat permintaan atas durable goods menjadi tidak meningkat. Menurut komoditasnya,kontributor terbesar tetap dicatat oleh komoditas bahan makanan. Bawang putih, bawang merah, dan beras merupakan komoditas dengan kontribusi tertinggi pada inflasi tahunan, yaitu masing-masing dengan andil sebesar 0,31%, 0,28% dan 0,21%. Sementara itu, beberapa komoditas makanan jadi juga tercatat sebagai 10 kontributor utama inflasi tahunan, antara lain gula pasir, tahu mentah, dan rokok kretek. Secara triwulanan, kenaikan harga secara umum utamanya dikontribusikan oleh bawang merah, daging ayam ras, dan cabe merah, dengan andil inflasi triwulanan masing-masing sebesar 0,25%, 0,17%, dan 0,09%. Perubahan inflasi tahunan menurut kelompok barang dan jasa dibandingkan triwulan sebelumnya bervariasi. Peningkatan inflasi tertinggi terjadi pada kelompok sandang dari 1,49% pada triwulan III 2012 menjadi 3,12% pada triwulan IV 2012, diikuti oleh kelompok kesehatan yang meningkat dari 2,11% menjadi 3,35%. Inflasi pada kelompok bahan makanan, kelompok perumahan, kelompok pendidikan, serta kelompok transportasi tidak berubah signifikan dibandingkan triwulan sebelumnya. Sebaliknya, penurunan inflasi tertinggi terjadi pada kelompok makanan jadi yang turun dari 4,84% pada triwulan III 2012 menjadi 3,98% pada triwulan IV Tabel 2.2. Perkembangan Inflasi Bulanan Per Kelompok Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan, diolah 31
49 Bab 2. Perkembangan Inflasi Palembang Tabel 2.3. Andil Inflasi Tahunan Per Komoditas Tabel 2.4. Andil Inflasi Triwulanan Per Komoditas Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan, diolah Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan, diolah 2.2. Kondisi Harga di Pasar Internasional Kenaikan harga komoditas pangan di pasar internasional secara umum menurun. Harga kedelai sebesar USD 14,9/bushel, atau turun 11,5% (qtq) namun secara tahunan naik cukup tinggi sebesar 28,9% (yoy). Kemudian, harga terigu relatif stabil dibandingkan triwulan sebelumnya dengan kenaikan tipis 0,7% (qtq), namun secara tahunan naik cukup tajam sebesar 34,1% (yoy) menjadi USD 8,4/bushel. Harga beras pada triwulan IV 2012 mencapai USD 537,8/mt, turun 1,8% (qtq) dan secara tahunan turun sebesar 1,6% (yoy). Perkembangan harga pangan di pasar internasional tersebut sedikit banyak akan mempengaruhi perkembangan harga domestik, termasuk di Palembang. Di sisi lain, Food Price Index yang dikeluarkan oleh Food and Agricultural Organization (FAO) pada Desember 2012 sebesar 209,3, turun 6,4 poin dari posisi September 2012 yang sebesar 215,7. Dari kelima kategori komoditas pangan yang dihitung dalam indeks tersebut, tiga kategori komoditas mengalami penurunan indeks, yaitu gandum, minyak, dan gula. Harga emas terkoreksi secara triwulanan. Harga emas sebesar USD1.717,6/Oz, naik 3,7% (qtq), dan secara tahunan juga mengalami kenaikan sebesar 2,1% (yoy). Pergerakan harga emas di pasar internasional cenderung secara simetris ditransmisikan oleh harga emas di pasar domestik. 32
50 Bab 2. Perkembangan Inflasi Palembang Grafik Perkembangan Harga Komoditas Strategis di Pasar Internasional Sumber: Bloomberg, diolah 33
51 Bab 2. Perkembangan Inflasi Palembang Suplemen 3 Harga Volatile Foods Mulai Naik Survei Pemantauan Harga (SPH) yang dilakukan Kantor Perwakilan Bank Indonesia VII di Palembang secara mingguan pada dua pasar modern dan dua pasar tradisional di Palembang memperlihatkan tendensi terjadinya tendensi kenaikan harga barang/komoditas sebesar 0,33% pada triwulan IV 2012 dibandingkan posisi triwulan III Grafik 1. Perkembangan Harga Komoditas di Pasar Tradisional dan Modern Sumber: SPH, Bank Indonesia Grafik 2. Inflasi SPH dan Inflasi BPS Sumber: BPS, Bank Indonesia 34
52 Bab 2. Perkembangan Inflasi Palembang Sesuai dengan hasil disagregasi inflasi berdasarkan kelompok core, volatile foods, dan administered prices, memperlihatkan bahwa perubahan harga umum secara triwulanan di Kota Palembang lebih dikontribusikan oleh perubahan harga pada komponen volatile foods. Pola pergerakan harga beberapa komoditas bervariasi secara triwulanan. Komponen volatile foods mengalami tendensi peningkatan sebesar 1,6% dibandingkan triwulan sebelumnya. Perkembangan tersebut utamanya dikontribusikan oleh harga beberapa komoditas daging, lemak dan hasil-hasilnya dibandingkan triwulan sebelumnya. Harga daging sapi dan daging ayam naik sekitar 0,9 1,2% (qtq). Harga komponen core inflation cenderung meningkat secara triwulanan. Secara triwulanan, komponen core mengalami kenaikan harga sekitar 0,2%. Komoditas yang mendorong kenaikan harga komponen core adalah rokok kretek yang mengalami kenaikan harga sebesar 0,2% (qtq). Selain itu, harga emas 22 karat dan harga semen juga meningkat masing-masing di sekitar 0,2% (qtq). Sementara itu, perubahan harga komponen administered prices tidak terjadi secara signifikan pada triwulan IV
53 Bab 2. Perkembangan Inflasi Palembang 2.3. Tekanan Inflasi Sisi Penawaran Kondisi cuaca secara umum pada triwulan IV memberikan tantangan distribusi. Berdasarkan data dari Stasiun Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kenten, curah hujan di wilayah Sumatera Selatan cenderung tinggi melebihi tahun sebelumnya pada periode November - Desember Namun demikian, kondisi iklim di kawasan tidak menunjukkan adanya anomali, Australian Bureau of Meteorology mengindikasikan bahwa Southern Oscillation Index (SOI) 4 secara umum normal periode Oktober Desember 2012 dengan kisaran -6.0 s.d Sehingga pada periode tersebut tidak terdapat indikasi la nina maupun el nino. Tingginya curah hujan membuat inflasi volatile foods memulai tren peningkatan kembali. Implikasi kondisi cuaca terutama adalah perkembangan kondisi pasokan pangan, yang tercermin melalui inflasi tahunan bahan makanan atau inflasi komponen volatile foods. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, inflasi bahan makanan relatif meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya, yaitu menjadi 4,90% (yoy) pada triwulan IV Selain itu, inflasi volatile foods tahunan mulai meningkat sejak November 2012, setelah mencapai titik terendah pada Oktober Pada akhir tahun 2012, inflasi volatile foods sebesar 3,41% (yoy). Grafik Perkembangan Curah Hujan Bulanan Sumber: BMKG, diolah Tekanan imported inflation sedikit meningkat. Nilai tukar Rupiah sedikit terdepresiasi menjadi Rp9.650 dibandingkan triwulan sebelumnya yang berada di sekitar Rp Nilai tukar Rupiah yang relatif terdepresiasi terhadap Dollar AS memberikan peningkatan tekanan imported inflation. Arus barang terindikasi turun. Curah hujan yang naik dibandingkan tahun lalu dan triwulan sebelumnya menurunkan risiko hambatan distribusi pada kegiatan pengangkutan barang. Data arus barang total muat dan bongkar di pelabuhan serta 4 Southern Oscillation Index (SOI) merupakan ukuran anomali iklim di wilayah Pasifik yang dapat mengindikasikan el nino (SOI < -8) dan la nina (SOI > +8). SOI merupakan salah satu ukuran penting dalam analisis iklim global. 36
54 Bab 2. Perkembangan Inflasi Palembang arus barang cargo menurun dibandingkan triwulan sebelumnya, disertai perlambatan pertumbuhan tahunan. Grafik Perkembangan Arus Barang Pelabuhan Grafik Perkembangan Arus Barang Cargo Sumber: PT. Pelindo II Sumber: PT. Angkasa Pura 2.4. Tekanan Inflasi Sisi Permintaan Perkembangan tekanan inflasi dari sisi permintaan terindikasi stabil. Harga komoditas unggulan Sumatera Selatan tidak banyak berbeda dibandingkan triwulan sebelumnya yang menahan tingkat pendapatan masyarakat, khususnya kelompok menengah-bawah. Hal ini terindikasi dari penurunan Nilai Tukar Petani (NTP) yang mencerminkan daya beli petani, serta relatif stabilnya output gap. Namun di sisi lain, terdapat kecenderungan kenaikan keyakinan konsumen membaiknya ekspektasi konsumen ke depan. Pendapatan masyarakat diperkirakan mengalami penurunan. Pendapatan masyarakat secara umum mengalami penurunan karena harga komoditas unggulan menurun. Pada triwulan IV 2012, rata-rata harga komoditas karet di pasar internasional sebesar USD 313/mt atau turun 4,5% (qtq), dan secara tahunan turun tajam sebesar 19,4% (yoy). Kemudian, rata-rata sedangkan harga komoditas CPO di pasar internasional sebesar USD 715/mt, atau turun 21,7% (qtq) dan secara tahunan turun sebesar 25,2% (yoy). Permintaan di kelompok menengah-bawah relatif stabil. Pada kelompok menengah-bawah di Sumatera Selatan yang berbasis sektor pertanian, perkembangan pendapatan dapat dicerminkan oleh perubahan pertumbuhan Nilai Tukar Petani (NTP). Nilai NTP tidak banyak berubah dibandingkan triwulan sebelumnya, begitupun dengan laju pertumbuhan tahunan. Sumbangan inflasi inti stabil dibandingkan triwulan lalu. Andil kelompok core (inti) pada inflasi tahunan pada triwulan ini sekitar 1,5%, relatif stabil dibandingkan triwulan sebelumnya. Meskipun demikian, sumbangan inflasi kelompok core terhadap inflasi umum tahunan paling tinggi dibandingkan dua komponen lainnya. 37
55 Bab 2. Perkembangan Inflasi Palembang Grafik Andil Disagregasi Inflasi Tahunan Grafik Perkembangan Nilai Tukar Petani Sumber: BPS Provinsi Sumsel Sumber: BPS Provinsi Sumsel, diolah Grafik Perkembangan Output Gap dan Inflasi Grafik Perkembangan Keyakinan Konsumen Sumber: BPS, Estimasi Peneliti BI Sumber: Survei Konsumen Bank Indonesia Output gap terindikasi stabil, sehingga tekanan inflasi sisi permintaan tidak besar. Secara teoretis, tekanan inflasi dari sisi permintaan secara langsung digambarkan oleh output gap, yakni persentase selisih antara output aktual (yang sudah disesuaikan secara musiman) dan output potensial. Hasil estimasi mengindikasikan bahwa output gap cenderung stabil sejak triwulan I Konsumen Palembang optimis. Nilai indeks keyakinan konsumen (IKK) berada jauh diatas 100 yang menunjukkan optimisme. Tingginya optimisme secara umum ini terutama didorong kenaikan optimisme atas prospek perekonomian ke depan. Namun, optimisme konsumen atas kondisi ekonomi saat ini relatif stabil dibandingkan triwulan sebelumnya. optimisme konsumen mengalami peningkatan khususnya pada bulan Oktober dan Desember Rata-rata IKK pada triwulan IV 2012 sebesar 132,74, lebih tinggi dari triwulan III 2012 sebesar 128,04. Konsumen yang terbilang optimis akan senantiasa melakukan konsumsi sehingga akan memberikan tekanan inflasi dari sisi permintaan. 38
56 Bab 2. Perkembangan Inflasi Palembang Terjadi proses konvergensi atas kenaikan harga jangka pendek dan jangka panjang. Konsumen berpendapat akan terjadi kenaikan harga secara umum dalam 3, 6 dan 12 bulan mendatang. Kondisi tersebut terkonfirmasi dari hasil Survei Konsumen di Kota Palembang. Hal tersebut tercermin dari indeks net balance perkiraan harga 3 bulan dan 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini yang bernilai di atas 100. Ekspektasi atas kenaikan harga dalam horizon waktu yang lebih pendek (3 dan 6 bulan) terlihat meningkat di sepanjang triwulan IV, hingga mencapai level yang setara dengan ekspektasi kenaikan harga untuk horizon waktu yang lebih panjang (12 bulan). Grafik Indeks Ekspektasi Konsumen terhadap Kenaikan Harga Sumber: Survei Konsumen, Bank Indonesia 39
57 Bab 2. Perkembangan Inflasi Palembang Suplemen 4 Curah Hujan dan Kondisi Infrastruktur Berpengaruh Pada Variasi Harga Bawang Merah 5 Komoditas bawang merah merupakan salah satu penyumbang inflasi utama Palembang pada periode ini. Bawang merah, selain dipenuhi melalui produksi di dalam Sumatera Selatan, juga diperoleh dari luar provinsi, khususnya dari Pulau Jawa. Menurut teori keseimbangan harga, perbedaan harga suatu komoditas merupakan proses mencapai keseimbangan. Pada daerah yang surplus, harga yang terbentuk lebih rendah, sementara pada daerah yang defisit harga lebih tinggi. Selisih harga mendorong insentif bagi daerah surplus untuk menjual barangnya di daerah defisit, sehingga terjadi perdagangan antar daerah, dan pada gilirannya terjadi keseimbangan pasar pada tingkat harga dan kuantitas yang sama antar daerah. Karena itu, harga barang homogen yang berbeda antara 2 lokasi hanya dapat disebabkan oleh adanya biaya transportasi. Sehingga, semakin tinggi biaya transportasi, semakin tinggi disparitas harga. Koefisien variasi harga beras cenderung relatif rendah dan cenderung stabil dalam jangka panjang, meskipun sempat meningkat pada tahun 2006 dan Harga beras cenderung lebih rendah di kabupaten sentra produksi di Sumsel, dan juga Lampung dan Bengkulu bagian Selatan. Hal ini mengindikasikan arah perdagangan ke Lampung dan Jawa. Harga beras cenderung tinggi di Bengkulu bagian utara dan Babel. Grafik 1. Koefisien Variasi Harga Bawang Merah Antar Kabupaten di Sumbagsel Grafik 2. Disparitas Harga Bawang Merah antar Kabupaten di Sumbagsel (% terhadap Kota Acuan) Sumber: BPS, Estimasi BI Sumber: BPS, diolah Model yang digunakan adalah sebagai berikut: it jt K α 0 + α1distit + α 2INFRit + β k X k, it k P P = + γ + θ + u i t it 5 Merupakan sebagian pembahasan Bank Indonesia (2012), Riset Pangan Strategis: Ketahanan Pangan, Perdagangan Antar Daerah, dan Disparitas Harga, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VII. 40
58 Bab 2. Perkembangan Inflasi Palembang DImana P P merupakan deviasi absolut selisih harga beras daerah i dengan it jt daerah j (kota acuan) pada waktu t, DIST merupakan jarak ekonomi yang diproxy oleh jarak fisik antara wilayah i ke j dikalikan rasio populasi daerah i terhadap daerah j, INFR merupakan kualitas infrastruktur, K k β merupakan vektor variabel tambahan X k k, it k sejumlah K untuk model extension seperti produktivitas lahan, pendapatan per kapita γ θ riil, biaya input, harga internasional, serta curah hujan. Kemudian, i, t u, dan it masing-masing merupakan fixed effect wilayah, fixed effect waktu, serta residual. Data yang digunakan berbentuk panel, dengan 40 kabupaten se Sumbagsel dan periode data triwulan I 2000 triwulan IV Metode estimasi adalah regresi panel dengan fixed effect 6. Tabel 1. Hasil Estimasi Basic Extension Jarak Ekonomi *** ** (.731) (.745) Kualitas infrastruktur jalan *** * (.545) (.484) Pendapatan per kapita riil *** (.207) Biaya input *** (0.118) Curah Hujan.195 ** (.098) Produktivitas (.073) Region dummy Ya Ya Time dummy Tidak Tidak Observasi R Sumber: Estimasi Peneliti BI Keterangan: 1. Angka dalam kurung adalah robust standard errors 2. *signifikan pada nilai kritis 10% 3. **signifikan pada nilai kritis 5% 4. ***signifikan pada nilai kritis 1% Hasil LM maupun Hausman test yang telah dilakukan sebelum estimasi model menunjukkan signifikansi dengan nilai kritis 1%, sehingga metode yang cocok digunakan pada data panel ini adalah fixed effect. Kedua model (basic dan extension) dapat menjelaskan variasi pada data sebesar 29 34%. Hasil estimasi secara umum menunjukkan bahwa semakin dekatnya jarak ekonomi sebesar 1%, maka akan membuat disparitas harga bawang merah lebih kecil sebesar 1,6-1,8%. Jarak ekonomi merupakan faktor utama yang menentukan variasi disparitas 6 Hasil Hausman test: chi: 16,55 prob: Hasil LM test: chi: 3035,5 prob: 0,000. Sehingga model yang dipakai adalah fixed effect. Untuk rujukan metode estimasi panel data lebih lanjut lihat Baltagi, Badi H (2005), Econometric Analysis of Panel Data, 3 rd ed., John Wiley & Sons. 41
59 Bab 2. Perkembangan Inflasi Palembang harga pada komoditas bawang merah. Selain itu, peningkatan kualitas infrastruktur jalan juga akan secara signifikan menurunkan disparitas harga terhadap kota acuan. Selain itu, pendapatan per kapita riil akan menurunkan disparitas harga bawang merah karena peningkatan tingkat pendapatan akan dapat meningkatkan intensitas perdagangan sehingga meminimalisir biaya transportasi per unit. Di sisi lain, curah hujan dan biaya input ditemukan berhubungan positif dengan disparitas harga bawang merah, karena akan menghambat biaya distribusi dan meningkatkan pengeluaran distributor. Sementara itu, produktivitas tidak signifikan dalam mempengaruhi disparitas harga. Jarak ekonomi berpengaruh sekitar 21% terhadap disparitas harga di wilayah Sumbagsel. Secara umum, perbedaan kontribusi jarak ekonomi terhadap variasi harga tidak begitu besar antar provinsi. Provinsi Lampung memiliki kontribusi jarak ekonomi terhadap variasi harga bawang merah yang paling besar dibandingkan kabupaten/kota lainnya di Sumbagsel. Fixed effect disparitas harga bawang merah lebih besar di Bangka Belitung dan sebagian besar Bengkulu. Secara umum, perbedaan warna antar kabupaten/kota pada peta fixed effect cenderung lebih tidak mencolok dibandingkan perbedaan warna antar kabupaten/kota pada peta disparitas harga bawang merah. Hal ini mengindikasikan bahwa faktor-faktor determinasi disparitas harga pada model telah dapat menjelaskan variasi harga dengan baik, walaupun masih terdapat pengaruh spesifik kabupaten/kota yang tersisa. Grafik 3. Kontribusi Jarak Ekonomi terhadap DIsparitas Harga Grafik 4. Fixed Effect Disparitas Harga Bawang Merah Sumbagsel Sumber: BPS, Estimasi BI, dioilah Sumber: Estimasi BI Hasil asesmen secara umum menunjukkan adanya urgensi percepatan pembenahan infrastruktur pendukung konektivitas antar daerah karena pengaruh biaya transportasi signifikan mempengaruhi disparitas harga antar kabupaten. Dengan mempermudah konektivitas, perdagangan antar daerah dapat lebih lancar sehingga: 1). kendala defisit temporal suatu daerah dapat dengan cepat ditutupi oleh daerah lainnya; 2). menurunkan tekanan kenaikan harga (inflasi) dari sisi supply shocks. 42
60 3. Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran Sumatera Selatan semakin bersinar menjadi tujuan penyaluran kredit Outstanding penyaluran kredit semakin melebihi penghimpunan dana Aktivitas sistem pembayaran mengindikasikan intensnya aktivitas ekonomi Kondisi Umum Kinerja perbankan cukup baik. Secara umum, kinerja perbankan di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) pada triwulan IV 2012 (data hingga November 2012) dari beberapa indikator seperti total aset, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) dan penyaluran kredit/pembiayaan mengalami peningkatan yang diiringi dengan terjaganya NPL di tingkat yang rendah. Pertumbuhan kredit masih tumbuh cepat. Secara triwulanan (qtq) total aset 7 perbankan Sumsel menurun 0,5% menjadi Rp69,0 triliun dan secara tahunan meningkat 8,6% (yoy) dibandingkan triwulan yang sama pada tahun sebelumnya. Penghimpunan DPK 8 mengalami peningkatan sebesar 2,1% (yoy) dibandingkan tahun sebelumnya dari Rp51,4 triliun menjadi Rp52,4 triliun, dan secara triwulanan relatif stabil. Sementara itu, penyaluran kredit/ pembiayaan 9 secara tahunan mengalami peningkatan lebih cepat, yaitu sebesar 27,2% (yoy) dari Rp49,9 triliun menjadi Rp63,5 triliun, sedangkan secara triwulanan tumbuh sebesar 2,4% (qtq). Grafik 3.1. Perkembangan Aset, DPK, dan Kredit Perbankan Provinsi Sumatera Selatan Grafik 3.2. Jumlah Kantor Bank dan ATM di Provinsi Sumatera Selatan *Posisi November 2012 *Posisi November Berdasarkan lokasi bank pelapor. 8 Berdasarkan lokasi bank penghimpun dana. 9 Berdasarkan lokasi proyek. 43
61 Bab 3. Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran Peningkatan penghimpunan DPK yang lebih rendah dari pertumbuhan penyaluran pembiayaan/kredit secara triwulanan telah menyebabkan terjadi peningkatan Loan to Deposit Ratio (LDR) 10 menjadi 121,1% pada triwulan IV 2012 dari sebelumnya 118,1% di triwulan III Angka ini menunjukkan bahwa Sumatera Selatan cenderung lebih banyak menerima penyaluran kredit, ketimbang menjadi sumber penghimpunan dana. Pembukaan jumlah kantor bank terus berlanjut. Jumlah bank yang beroperasi di Provinsi Sumsel sampai dengan November 2012 berjumlah 58 bank. Jumlah kantor bank sebanyak 680 kantor yang terdiri dari 6 Kantor wilayah Bank Umum Konvensional, 1 Kantor Pusat Bank Pemerintah Daerah, 19 Kantor Pusat BPR/S, 69 Kantor Cabang Bank Umum Konvensional, 19 Kantor Cabang Bank Umum Syariah dan 7 Kantor Cabang BPR/S, 406 Kantor Cabang Pembantu Bank Umum Konvensional, 67 Kantor Cabang Pembantu Bank Umum Syariah, serta 77 Kantor Kas Bank Umum, 4 Kantor Kas Bank Syariah dan 5 Kantor Kas BPR. Sementara itu jumlah Anjungan Tunai Mandiri (ATM) tercatat sebanyak 523 unit Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) Penghimpunan DPK Pertumbuhan DPK tertopang giro dan tabungan. Jika dibandingkan dengan akhir triwulan yang sama pada tahun sebelumnya (yoy), DPK mengalami peningkatan sebesar 2,1%. Simpanan giro mengalami peningkatan paling pesat, yaitu dari Rp7,9 triliun menjadi sebesar Rp8,8 triliun atau meningkat sebesar 10,5%. Simpanan tabungan mengalami peningkatan sebesar 4,7% menjadi Rp22,2 triliun. Sementara itu, simpanan deposito tercatat menurun dari Rp21,9 triliun menjadi Rp21,5 triliun atau sebesar 3,4%. Grafik 3.3. Pertumbuhan DPK Perbankan di Provinsi Sumatera Selatan Grafik 3.4. Komposisi DPK Perbankan Triwulan IV 2012 di Provinsi Sumatera Selatan *Posisi November 2012 *Posisi November Merupakan pendekatan melalui rasio antara kredit berdasarkan lokasi proyek terhadap DPK berdasarkan lokasi bank penghimpun. Pendekatan ini lebih berarti untuk analisis ekonomi. 44
62 Bab 3. Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran Secara triwulanan (qtq), penghimpunan DPK relatif stabil di sekitar Rp52,4 triliun. Giro tercatat turun sebesar 9,4%, sedangkan simpanan tabungan dan simpanan deposito tercatat meningkat masing-masing sebesar 2,1% dan 1,7%. Berdasarkan pangsa masing-masing komponen DPK, simpanan tabungan tercatat memiliki pangsa terbesar yaitu sebesar 42,3%. Sementara itu simpanan deposito dan giro masing-masing memiliki pangsa sebesar 41,0% dan 16,7% Penghimpunan DPK Menurut Kabupaten/Kota Sistem pelaporan bank yang dikelola Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VII mengelompokkan perkembangan penghimpunan DPK berdasarkan 13 kabupaten/kota, sedangkan DPK di Kabupaten Banyuasin digabungkan dengan DPK Kabupaten Musi Banyuasin, dan DPK di Kabupaten Lahat digabungkan dengan DPK Kota Pagar Alam. Berdasarkan laju pertumbuhan secara tahunan (yoy), penghimpunan DPK Musi Rawas tercatat mengalami pertumbuhan paling tinggi yakni sebesar 127,7% atau dengan pangsa pertumbuhan tahunan sebesar 0,5%. Kabupaten Ogan Komering Ulu mencatat kontribusi terhadap pertumbuhan tahunan yang tinggi, yaitu sebesar 2,2%. Pada periode ini, hanya penghimpunan DPK di Muara Enim yang mengalami pertumbuhan negatif, yaitu sebesar 28,4%. Tabel 3.1. Pertumbuhan DPK Perbankan per Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Selatan (dalam Rp Miliar) Kabupaten/Kota IV I II III IV* Kab. Musi Banyuasin 2,309 3,018 3,167 3,201 2,934 Kab. Ogan Komering Ulu 1,117 1,244 1,337 1,877 1,827 Kab. Muara Enim 7,044 6,855 4,510 4,942 5,041 Kab. Musi Rawas Kab. Ogan Komering Ilir 1,069 1,247 1,227 1,079 1,131 Kab. Ogan Komering Ulu Selatan Kab. Ogan Komering Ulu Timur Kab. Ogan Ilir Kab. Empat Lawang Kota Palembang 33,541 33,544 34,207 33,731 33,967 Kota Lubuklinggau 1,913 2,080 2,228 2,180 2,074 Kota Prabumulih 1,647 1,703 1,789 1,620 1,687 Kota Pagar Alam 1,606 1,698 1,833 1,967 1,909 Sumatera Selatan 51,361 52,875 53,047 52,527 52,437 *Posisi November
63 Bab 3. Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran Pertumbuhan DPK secara triwulanan di berbagai kabupaten/kota pada periode ini cukup bervariasi. Wilayah Musi Rawas juga tercatat sebagai wilayah dengan peningkatan penghimpunan DPK terbesar secara triwulanan sebesar 8,5%, diikuti oleh Ogan Komering Ilir dan Prabumulih masing-masing sebesar 4,8% dan 4,1%. Terdapat beberapa wilayah yang mencatat penurunan DPK dibandingkan triwulan sebelumnya, diantaranya Wilayah Ogan Komering Ulu Timur, Empat Lawang dan Musi Banyuasin dengan masing-masing penurunan sebesar 7,8%, 9,1% dan 8,4%. Penghimpunan DPK Kota Palembang tercatat memberikan kontribusi terbesar sebagai pada peningkatan DPK secara triwulanan yaitu dengan andil 0,5%. Berdasarkan pangsa, DPK Kota Palembang masih merupakan wilayah dengan pangsa terbesar yakni sebesar 64,8% dari total DPK se-sumatera Selatan, diikuti oleh Muara Enim dan Musi Banyuasin yaitu masing-masing sebesar 9,6% dan 5,6%. Grafik 3.5. Andil Pertumbuhan DPK Tahunan (%) *Posisi November Penyaluran Kredit/Pembiayaan Penyaluran Kredit/Pembiayaan Secara Sektoral Laju pertumbuhan kredit/pembiayaan tercatat mengalami peningkatan sebesar 27,2% dari tahun sebelumnya (yoy) yaitu dari Rp49,9 triliun menjadi Rp63,5 triliun. Pertumbuhan kredit pada kelompok lapangan usaha mencapai 32,3%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit pada kelompok bukan lapangan usaha yang sebesar 17,9%. Pada kelompok lapangan usaha, laju pertumbuhan tertinggi terjadi pada kredit sektor listrik, gas dan air bersih sebesar 102,4%. Andil terbesar pada pertumbuhan kredit secara triwulanan juga dikontribusikan oleh penyaluran kredit pada sektor tersebut, yaitu sebesar 12,7%. Sementara itu, penyaluran kredit di sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan memberikan andil terbesar baik pada pertumbuhan kredit secara tahunan maupun triwulanan. 46
64 Bab 3. Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran Grafik 3.6. Pangsa Penyaluran Kredit Sektoral Provinsi Sumatera Selatan Triwulan IV 2012 *Posisi November 2012 Tabel 3.2. Perkembangan Kredit Sektoral Provinsi Sumatera Selatan (Rp miliar) Sektor IV I II III IV* Lapangan Usaha 32,086 35,580 39,739 41,473 42,462 Pertanian, Peternakan, Kehutanan & Perikanan 7,803 8,434 9,700 10,180 10,902 Pertambangan dan Penggalian 3,236 3,276 3,762 3,923 3,997 Industri Pengolahan 5,333 6,385 6,963 7,158 6,882 Listrik, Gas dan Air Bersih ,330 1,560 1,758 Konstruksi 1,967 1,989 2,333 3,045 3,187 Perdagangan, Hotel dan Restoran 8,187 9,432 10,570 10,746 10,794 Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Real Estate dan Jasa Perusahaan 1,034 1,129 1,314 1,474 1,562 Jasa-jasa 2,971 3,235 3,015 2,636 2,628 Bukan Lapangan Usaha 17,854 18,604 19,490 20,553 21,052 Rumah Tinggal 4,391 4,656 5,289 4,203 4,331 Flat dan Apartemen Rumah Toko (Ruko) dan Rumah Kantor (Rukan) Kendaraan Bermotor 3,517 3,453 3,497 3,339 3,241 Lainnya 9,284 9,798 9,869 12,058 12,494 Total Pinjaman 49,940 54,184 59,229 62,026 63,514 *Posisi November
65 Bab 3. Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran Pertumbuhan penggunaan kredit perbankan pada kelompok yang tidak termasuk lapangan usaha (konsumsi) lebih rendah dibandingkan yang disalurkan pada sektor produksi. Pertumbuhan kredit yang tertinggi secara tahunan untuk kelompok bukan lapangan usaha dicapai oleh kredit untuk flat dan apartemen serta kredit untuk ruko dan rukan, yaitu masing-masing sebesar 329,2% dan 42,8% Penyaluran Kredit/Pembiayaan Menurut Penggunaan Penyaluran kredit/pembiayaan menurut penggunaan mengalami perubahan yang bervariasi dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (yoy). Kredit investasi mencatat peningkatan paling tinggi yakni dari Rp11,8 triliun menjadi Rp15,7 triliun atau 33,2% (yoy). Kredit modal kerja mencatat pertumbuhan sebesar 31,8% dan kredit konsumsi meningkat 17,9% (yoy). Secara triwulanan (qtq), penyaluran kredit/pembiayaan untuk investasi juga tercatat mengalami peningkatan yang tertinggi yaitu sebesar 5,6%. Penyaluran kredit konsumsi mengalami peningkatan sebesar 2,4%, sedangkan kredit modal kerja tercatat sedikit menurun sebesar 0,6%. Grafik 3.7. Pertumbuhan Kredit Perbankan di Provinsi Sumatera Selatan Grafik 3.8. Komposisi Kredit Perbankan Triwulan IV 2012 di Provinsi Sumatera Selatan *Posisi November 2012 *Posisi November 2012 Berdasarkan jenis penggunaan, penyaluran kredit masih didominasi oleh kredit modal kerja yakni sebesar 42,1%, kemudian diikuti kredit konsumsi yakni sebesar 33,2 %, dan kredit investasi dengan pangsa sebesar 24,7% Penyaluran Kredit/Pembiayaan Menurut Kabupaten Berbeda dengan DPK, sistem pelaporan bank yang dikelola Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VII mengelompokkan perkembangan penyaluran kredit berdasarkan 15 kabupaten/kota. Berdasarkan daerah penyaluran kredit, wilayah Lahat merupakan wilayah dengan pertumbuhan kredit tahunan (yoy) tertinggi yaitu sebesar 134,0%, diikuti oleh wilayah Ogan Ilir dan Ogan Komering Ulu Timur yaitu masingmasing sebesar 65,9% dan 42,5%. Wilayah Palembang, Lahat, dan Musi Banyuasin 48
66 Bab 3. Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran tercatat sebagai wilayah yang berkontribusi paling signifikan dalam penyaluran kredit/pembiayaan secara tahunan (yoy) yakni dengan andil pertumbuhan masingmasing sebesar 12,5%, 5,4% dan 3,2%. Grafik 3.9. Andil Pertumbuhan Kredit Tahunan (%) *Posisi November 2012 Tabel 3.3. Perkembangan Penyaluran Kredit/Pembiayaan Perbankan per Wilayah di Provinsi Sumatera Selatan (dalam Rp miliar) Wilayah IV I II III IV* Kab. Musi Banyuasin 6,076 6,642 7,259 7,602 7,672 Kab. Ogan Komering Ulu 2,967 3,113 3,738 3,877 3,925 Kab. Muara Enim 2,344 2,530 2,615 2,721 2,805 Kab. Lahat 1,102 1,345 1,973 2,368 2,580 Kab. Musi Rawas 1,251 1,323 1,447 1,513 1,759 Kab. Ogan Komering Ilir 3,500 3,633 4,016 4,025 4,106 Kab. Banyuasin 1,205 1,327 1,407 1,343 1,359 Kab. Ogan Komeing Ulu Selatan Kab. Ogan Komeing Ulu Timur Kab. Ogan Ilir Kab. Empat Lawang Kota Palembang 26,407 28,760 30,884 32,373 32,798 Kota Lubuklinggau 1,690 1,775 1,877 1,961 2,013 Kota Prabumulih 1,620 1,797 1,871 1,873 2,028 Kota Pagar Alam Sumatera Selatan 49,940 54,184 59,229 62,026 63,514 *Posisi November 2012 Pada pertumbuhan secara triwulanan, wilayah Musi Rawas tercatat sebagai wilayah dengan pertumbuhan kredit paling cepat, yaitu sebesar 16,2%, yang diikuti oleh Lahat 49
67 Bab 3. Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran dan Ogan Komering Ulu Selatan yaitu masing-masing sebesar 8,9% dan 5,6%. Menurut kontribusinya terhadap pertumbuhan kredit triwulanan Sumatera Selatan, wilayah Palembang dan Musi Rawas tercatat sebagai wilayah dengan kontribusi tertinggi terhadap pertumbuhan kredit yakni masing-masing sebesar 0,7% dan 0,4%. Menurut lokasi penyaluran, Palembang tercatat sebagai kota dengan pangsa penyaluran kredit terbesar yakni sebesar 51,6%, kemudian disusul oleh Musi Banyuasin dan Ogan Komering Ilir masing-masing sebesar 12,1% dan 6.5%. Grafik Komposisi Penyaluran Kredit Perbankan Provinsi Sumatera Selatan Triwulan IV 2012 Berdasarkan Wilayah *Posisi November Perkembangan Suku Bunga Bank Umum Konvensional Suku bunga bank umum konvensional yang terdiri dari suku bunga simpanan dan suku bunga pinjaman pada triwulan IV 2012 secara umum tidak banyak berubah. Dalam triwulan ini telah terjadi sedikit penurunan suku bunga pinjaman sementara suku bunga simpanan relatif stabil. Suku bunga simpanan relatif stabil. Suku bunga simpanan yang terdiri dari suku bunga simpanan yang berjangka waktu 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 12 bulan, dan 24 bulan, secara rata-rata cenderung stabil bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. 50
68 Bab 3. Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran Grafik Perkembangan Suku Bunga Simpanan Sumatera Selatan Grafik Perkembangan Suku Bunga Pinjaman Sumatera Selatan Suku bunga simpanan dengan jangka waktu 1 bulan tercatat sebesar 5,53%, sedikit meningkat dibandingkan dengan tingkat suku bunga simpanan pada triwulan sebelumnya, yang sebesar 5,29%. Sementara itu, suku bunga simpanan dengan jangka waktu 3 bulan turun dibandingkan triwulan sebelumnya, yaitu dari 5,40% menjadi 5,16%. Selain itu, suku bunga simpanan dengan jangka waktu 6 dan 12 bulan relatif stabil dibandingkan triwulan sebelumnya. Suku bunga simpanan yang tertinggi saat ini dicatat oleh suku bunga simpanan dengan jangka waktu 6 bulan, yakni sebesar 5,78%. Sedangkan suku bunga simpanan yang memiliki rate paling rendah adalah dengan jangka waktu 12 bulan yakni sebesar 4,85%. Suku bunga pinjaman sedikit turun. Rata-rata tingkat suku bunga pinjaman tercatat sebesar 13,57%, turun dibandingkan dengan tingkat suku bunga pinjaman pada triwulan sebelumnya (qtq) yang sebesar 13,72% maupun dibandingkan dengan tahun sebelumnya (yoy) yang tercatat sebesar 13,84%. Berdasarkan penggunaan, suku bunga kredit yang tertinggi pada triwulan IV 2012 adalah suku bunga kredit konsumsi, yaitu sebesar 13,96%. Sementara itu kredit investasi tercatat sebagai kredit dengan suku bunga terendah, yakni sebesar 13,15%. Spread suku bunga bank umum konvensional, yaitu selisih antara suku bunga kredit dan suku bunga simpanan perbankan tercatat mengalami sedikit penurunan pada triwulan IV 2012, karena stabilnya suku bunga simpanan bersamaan dengan menurunnya suku bunga pinjaman Kualitas Penyaluran Kredit/Pembiayaan Kondisi NPL lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya. Tingkat Non- Performing Loan (NPL) gross perbankan Sumatera Selatan pada triwulan IV
69 Bab 3. Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran sebesar 3,30%, relatif stabil dibandingkan triwulan sebelumnya, namun meningkat jika dibandingkan kondisi tahun sebelumnya yang sebesar 1,66%. NPL net (sudah memperhitungkan PPAP) posisi triwulan IV 2012 tercatat sebesar 3,08%, tidak banyak berubah apabila dibandingkan tingkat NPL net triwulan sebelumnya. Grafik Perkembangan NPL Perbankan Sumatera Selatan 3.6. Kelonggaran Tarik dan Rasio Likuiditas Undisbursed loan meningkat. Dari Laporan Bank Umum (LBU) di wilayah Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VII diperoleh informasi bahwa undisbursed loan (kredit yang belum ditarik oleh debitur) pada triwulan IV 2012 tercatat sebesar Rp8,7 triliun atau 20,0% dari plafon kredit yang disetujui oleh perbankan, secara nominal meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp6,3 triliun atau 19,1%, dan juga bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar Rp6,8 triliun atau 16,8%. Kondisi likuiditas terbilang baik. Likuiditas bank umum konvensional di Provinsi Sumatera Selatan pada triwulan IV 2012 tergolong cukup likuid dengan besaran angka rasio likuiditas sebesar 56,4% 11. Rasio tersebut tercatat relatif stabil jika dibandingkan dengan rasio likuiditas triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 55,3%. Meningkatnya rasio likuiditas merupakan dampak dari peningkatan aktiva likuid < 1 bulan sebesar 2,1% (qtq) menjadi sebesar Rp40,5 triliun yang disertai dengan peningkatan pasiva likuid < 1 bulan sebesar 1,9% (qtq) menjadi sebesar Rp71,9 triliun Diperoleh melalui rasio nilai aktiva likuid < 1 bulan terhadap nilai pasiva likuid < 1 bulan
70 Bab 3. Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran Grafik Perkembangan Risiko Likuiditas Perbankan Sumatera Selatan Grafik Perkembangan Undisbursed Loan Perbankan Sumatera Selatan 3.7. Perkembangan Bank Umum Syariah Perkembangan bank umum Syariah dalam kurun satu tahun terakhir menunjukkan kinerja yang cukup baik. Total aset pada triwulan IV 2012 (hingga akhir November 2012) tercatat sebesar Rp4,2 triliun, meningkat sebesar 21,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (yoy) yang tercatat sebesar Rp3.5 triliun, dan juga meningkat apabila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (qtq), yaitu sebesar 3,8%. Penghimpunan DPK tercatat sebesar Rp2,8 triliun, meningkat sebesar 8,3% (yoy) dan secara triwulanan meningkat sebesar 2,1% (qtq). Dana investasi tidak terikat mendominasi pangsa penghimpunan DPK yakni sebesar 86,2% atau sebesar Rp2,4 triliun yang terdiri dari komponen tabungan mudharabah sebesar Rp826 miliar (pangsa 29,8% dari total DPK) dan deposito mudharabah sebesar Rp1,6 triliun (pangsa 56,4% dari total DPK). Penyaluran pembiayaan mengalami peningkatan sangat tinggi secara tahunan, yaitu sebesar 43,9% (yoy) dan secara triwulanan meningkat sebesar 5,9% (qtq). Dari total penyaluran pembiayaan yang mencapai Rp3,3 triliun, piutang murabahah memiliki pangsa sebesar 69,8% dari total pembiayaan yang disalurkan. Piutang qardh tercatat sebesar Rp321 miliar dengan pangsa sebesar 9,8%, pembiayaan mudharabah tercatat sebesar Rp 217 miliar atau memiliki pangsa sebesar 6,6% dan pembiayaan musyarakah tercatat sebesar Rp413 miliar atau memiliki pangsa sebesar 12,6%. Sementara itu, aktiva ijarah dan piutang istishna pangsanya masih relatif kecil yakni masing-masing sebesar 1,0% dan 0,1%. Secara triwulanan pertumbuhan penyaluran pembiayaan yang lebih rendah dibandingkan pertumbuhan penghimpunan DPK menyebabkan angka Finance to Deposit Ratio (FDR) meningkat dari 113,8% pada triwulan sebelumnya menjadi 118,0%. 53
71 Bab 3. Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran Tabel 3.4. Perkembangan Bank Umum Syariah di Sumatera Selatan (Rp Miliar) INDIKATOR IV I II III IV* Total Aset 3, , , , ,202.7 Dana Pihak Ketiga 2, , , , , Simpanan Wadiah Giro Wadiah Tabungan Wadiah Dana Investasi tidak terikat 2, , , , , Tabungan Mudharabah Deposito Mudharabah 1, , , , ,562.5 Komposisi Pembiayaan 2, , , , , Piutang Murabahah 1, , , , , Piutang Istishna Piutang Qardh Pembiayaan Mudharabah Pembiayaan Musyarakah Aktiva Ijarah Non Performing Financing *) Posisi November 2012 Non Performing Financing (NPF) pada perbankan syariah sedikit turun dibandingkan triwulan sebelumnya, yaitu dari 1,61% menjadi 1,55%. Dibandingkan tahun sebelumnya, tingkat NPF sedikit lebih tinggi dari 1,31%. Tingkat NPF pada triwulan IV 2012 tersebut masih terbilang sangat rendah Perkembangan Bank Perkreditan Rakyat Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Provinsi Sumatera Selatan secara umum menunjukkan perkembangan kinerja. Total aset BPR meningkat sebesar 17,9% (yoy) atau 0,4% (qtq) menjadi Rp992,7 miliar. Peningkatan DPK tetap terjadi walaupun lebih lambat, yakni sebesar 10,0% (yoy) menjadi Rp617,3 miliar dan secara triwulanan menurun sebesar 3,5% (qtq). Penyaluran kredit mengalami peningkatan cukup pesat sebesar 3,0% (qtq) menjadi Rp745,5 miliar, dan secara tahunan juga menunjukkan peningkatan sebesar 29,0% (yoy). Dengan perkembangan DPK dan penyaluran kredit tersebut, Loan to Deposit Ratio (LDR) pada BPR meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yaitu dari 113,1% menjadi 120,8%. Namun, secara bersamaan tingkat Non Performing Loan (NPL) pada BPR meningkat dari 4,30% menjadi 5,04%. 54
72 Bab 3. Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran Grafik Perkembangan Aset, DPK, dan Kredit Bank Perkreditan Rakyat di Provinsi Sumatera Selatan *Posisi November Perkembangan Kliring dan Real Time Gross Settlement (RTGS) Kliring meningkat di triwulan IV Kegiatan kliring pada triwulan IV 2012 menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, baik dari sisi nominal maupun jumlah warkat. Penurunan nominal maupun jumlah warkat kliring juga terjadi dibandingkan triwulan sebelumnya. Jumlah warkat yang dikliringkan pada periode triwulan laporan tercatat sebanyak lembar dengan nominal sebesar Rp9,5 triliun. Jumlah warkat secara tahunan naik sebesar 54,9% (yoy), sedangkan berdasarkan nominal naik sebesar 22,2% (yoy) dari sebesar Rp7,8 triliun. Grafik Perkembangan Kliring di Sumatera Selatan Grafik Perkembangan Perputaran Kliring dan Hari Kerja Dibandingkan triwulan sebelumnya terjadi kenaikan jumlah warkat kliring sebesar 10,5% (qtq) dari sebanyak lembar, sedangkan berdasarkan nominal warkat yang dikliringkan naik sebesar 3,7% (qtq) dari sebesar Rp9,2 triliun. Secara proporsional dibandingkan dengan jumlah hari kerja yang mencapai 60 hari, perputaran kliring harian pada triwulan laporan tercatat sebesar Rp158,2 miliar atau 55
73 Bab 3. Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran naik sebesar 5,4% (qtq) dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai Rp150 miliar/hari. Grafik Perkembangan RTGS di Sumatera Selatan Perkembangan nilai net RTGS pada triwulan periode laporan mengalami kenaikan secara triwulanan sebesar 15,1% (qtq) menjadi Rp8,3 triliun, dan secara tahunan mengalami kenaikan tajam sebesar 37,3% (yoy). Selain itu, volume (transaksi) net RTGS yang mengalami peningkatan baik secara triwulanan maupun tahunan. Dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, volume net RTGS meningkat sebesar 9,9% (yoy), sementara itu jika dibandingkan triwulan sebelumnya tercatat naik sebesar 16,1% (qtq) menjadi transaksi. Tabel 3.5. Perputaran Cek dan Bilyet Giro Kosong Provinsi Sumatera Selatan Keterangan IV I II III IV 1. Lembar Warkat 3,313 3,584 4,432 4,577 5, Nominal (Rp Miliar) Peredaran cek dan bilyet giro kosong mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan aktivitas kliring. Cek dan bilyet giro (BG) kosong yang dikliringkan pada triwulan laporan tercatat sebanyak lembar dengan nominal sebesar Rp199,1 miliar. Jumlah warkat cek/bg kosong naik 18,1% (qtq) dari triwulan sebelumnya yang sebanyak lembar, sedangkan dari sisi nominal naik 26,0% (qtq) dari Rp158,0 miliar. Dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, nominal cek/bg kosong mengalami peningkatan tinggi sebesar 76,9% (yoy) selain itu jumlah warkat tercatat mengalami peningkatan sebesar 18,1% (yoy). 56
74 Bab 3. Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran Grafik Perkembangan Bulanan Jumlah Perputaran Kliring di Sumatera Selatan Grafik Perkembangan Jumlah Cek dan Bilyet Giro Kosong di Sumatera Selatan Aktivitas kliring bulanan paling tinggi selama triwulan laporan terjadi pada bulan Oktober 2012 dengan nominal sebesar Rp3,3 triliun dan warkat sebanyak lembar atau dengan rata-rata perputaran nominal kliring/hari sebesar Rp152,2 miliar dan rata-rata jumlah warkat kliring/hari mencapai lembar Perkembangan Perkasan Net outflow menurun di triwulan IV Kegiatan perkasan Bank Indonesia pada triwulan laporan mencatat inflow sebesar Rp2,3 triliun, naik 43,3% (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp1,6 triliun. Namun demikian, dibandingkan dengan triwulan sebelumnya terjadi penurunan inflow yang sangat tinggi yaitu sebesar 33,6% (qtq) dari Rp3,4 triliun. Pada periode yang sama, outflow tercatat sebesar Rp3,3 triliun, naik 5,5% (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu namun turun sebesar 7,3% (qtq) dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Dengan membandingkan angka inflow dan outflow maka diperoleh net-outflow selama triwulan berjalan sebesar Rp961,2 miliar, jauh lebih tinggi dibandingkan periode triwulan sebelumnya yang tercatat mengalami net-outflow sebesar Rp56,7 miliar. Namun, pada periode yang sama tahun sebelumnya net-inflow tercatat lebih tinggi, yaitu sebesar Rp1,5 triliun. Tabel 3.6. Kegiatan Perkasan di Sumatera Selatan (Rp Miliar) Keterangan IV I II III IV Inflow 1, , , , , Outflow 3, , , , , Net Inflow (Net Outflow) (1,483.77) (563.80) (1,228.46) (56.65) (961.16) 57
75 Bab 3. Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran Grafik Perkembangan Kegiatan Perkasan di Sumatera Selatan Grafik Perkembangan Penarikan Uang Lusuh Melalui kegiatan perkasan, dilakukan pula penarikan uang lusuh di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VII sebagai wujud dari clean money policy Bank Indonesia untuk memenuhi kebutuhan uang dalam kondisi layak edar. Uang lusuh yang ditarik tercatat naik tajam lebih sekitar empat kali lipat dibandingkan jumlah pada triwulan sebelumnya maupun dibandingkan jumlah pada tahun sebelumnya. Menurut proporsinya terhadap inflow, persentase penarikan uang lusuh mengalami kenaikan dari sebesar 1,1% pada triwulan sebelumnya menjadi 8,4%. Secara nominal, uang lusuh yang ditarik dan dimusnahkan pada triwulan laporan mencapai Rp193,6 miliar Perkembangan Kas Titipan Lubuk Linggau Selain kegiatan perkasan yang dilaksanakan di Kota Palembang, Bank Indonesia menyelenggarakan kegiatan kas titipan di Kota Lubuk Linggau. Pertimbangan penyelenggaraan kas titipan di daerah ini dilatarbelakangi oleh relatif tingginya kebutuhan terhadap uang tunai serta jarak yang cukup jauh dari Kota Palembang. Net outflow terjadi di Lubuk Linggau pada triwulan IV Nilai inflow di kas titipan Lubuk Linggau pada triwulan IV 2012 mencapai Rp203,9 miliar, turun 31,6% dibandingkan triwulan sebelumnya, sedangkan nilai outflow mencapai Rp268,5 miliar, turun 25,9% dibandingkan triwulan sebelumnya. Sejalan dengan itu, nilai net intflow di Lubuk Linggau tercatat sebesar Rp64,6 miliar, berbeda dibandingkan triwulan sebelumnya yang mengalami net outflow sebesar Rp64,2 miliar. 58
76 Bab 3. Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran Tabel 3.7. Perkembangan Kas Titipan Lubuk Linggau (Rp Miliar) Keterangan IV I II III IV Inflow Outflow Net Inflow (Net Outflow) (114.20) (137.24) (64.17) (64.60) Grafik Perkembangan Bulanan Kas Titipan Lubuk Linggau Tahun
77 Bab 3. Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran Halaman ini sengaja dikosongkan 60
78 4. Perkembangan Keuangan Daerah Realisasi APBD tahun 2012 dan peningkatan APBD tahun 2013 mendorong pertumbuhan ekonomi Realisasi pendapatan tahun 2012 mencapai 103,9%, sementara realisasi belanja mencapai 90,8%. Tahun 2013 pemerintah menganggarkan peningkatan belanja sebesar 7% dan peningkatan pendapatan sebesar 14,7% Realisasi APBD Tahun 2012 Realisasi pendapatan masih lebih tinggi dibandingkan belanja. Berdasarkan data sementara, pendapatan Daerah Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan tahun 2012 terealisasi sebesar Rp5.227 miliar atau mencapai 103,9% dari total anggaran 2012 yang sebesar Rp5.029 miliar. Sementara itu, total realisasi belanja daerah mencapai Rp4.890 miliar atau sebesar 90,8% dari anggaran yang sebesar Rp5.386 miliar. Realisasi Dana Perimbangan mendominasi pendapatan. Realisasi Dana Perimbangan merupakan yang terbesar di sisi pendapatan, yaitu dengan nominal sebesar Rp2.379 miliar atau sebesar 106,2% dari yang dianggarkan, atau dengan kontribusi sebesar 45,51% dari keseluruhan realisasi pendapatan. Komponen transfer yang mencatat realisasi terbesar merupakan dana bagi hasil pajak/bukan pajak yang berasal dari hasil sumber daya alam atau pajak yang dikelola pemerintah pusat yaitu sebesar Rp1.617 miliar (109,4% dari anggaran), diikuti oleh Dana Alokasi Umum (DAU) sebesar Rp716,2 miliar atau 100% dari anggaran. Sementara itu, realisasi dana alokasi khusus sebesar Rp45,4 miliar atau mencapai 100% dari anggaran. Selain dana perimbangan, realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) mencapai sebesar 105,4% dengan nominal mencapai Rp2.010 miliar dan menyumbang 38,45% terhadap total realisasi pendapatan. Lebih detail, komponen PAD yang mencatat realisasi paling tinggi secara nominal adalah Pajak Daerah yakni Rp1.804 miliar atau dengan realisasi sebesar 104,2% dari anggaran. Realisasi Lain-lain PAD yang sah mencapai Rp107 miliar atau mencapai 147,7% dari anggaran. 61
79 Bab 4. Perkembangan Keuangan Daerah Tabel 4.1. Realisasi APBD Sumsel Tahun 2012 (Rp Miliar)* URAIAN APBD 2012 SET. PERUBAHAN REALISASI % REALISASI PENDAPATAN 5, , Pendapatan Asli Daerah 1, , Pajak Daerah 1, , Hasil Retribusi Daerah Hasil Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan Lain Lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah Dana Perimbangan 2, , Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan Pajak 1, , Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Lain Lain Pendapatan Yang Sah Pendapatan Hibah Dana Penyesuaian Dan Otonomi Khusus BELANJA 5, , Belanja Tidak Lansung 3, , Belanja Pegawai 1 ) Belanja Subsidi Belanja Hibah 1, , Belanja Bantuan Sosial Belanja Bagi Hasil Kepada Prov/Kab/Kota/De Belanja Bantuan Keuangan Kepada Prov/Kab/ Belanja Tidak Terduga Belanja Langsung 2, , Belanja Pegawai 1 ) 40.4 Belanja Barang dan Jasa Belanja Modal 1, , SURPLUS / (DEFISIT) (357.3) (94.4) Sumber: Data Sementara - Biro Keuangan Provinsi Sumatera Selatan, diolah Realisasi belanja didominasi oleh belanja tidak langsung. Sampai dengan akhir tahun 2012, realisasi belanja tidak langsung mencapai Rp3.185 miliar atau sebesar 94,5% dari anggaran, sementara realisasi belanja langsung sebesar Rp1.705,2 miliar atau sebesar 84,6% dari anggaran. Adapun secara nominal, realisasi belanja tidak langsung berkontribusi sebesar 65,13% dari total realisasi belanja tahun ) Realisasi belanja pegawai Tahun 2012 mencakup belanja pegawai langsung dan belanja pegawai tidak langsung sesuai data realisasi APDB Trw IV/2012 dari Pemda Prov. Sumsel. Hal ini menyebabkan realisasi belanja tidak langsung sedikit lebih besar dan realisasi belanja langsung sedikit lebih kecil. Namun perbedaan yang terjadi tidak signifikan mengingat anggaran belanja pegawai langsung hanya sebesar Rp40,4 miliar atau 0,75% dari total anggaran belanja. 62
80 Bab 4. Perkembangan Keuangan Daerah Grafik 4.1. Perbandingan Komponen Sisi Pendapatan Realisasi APBD Sumsel Tahun 2012 Grafik 4.2. Perbandingan Komponen Sisi Pengeluaran Realisasi APBD Sumsel Tahun 2012 Sumber : Biro Keuangan Provinsi Sumatera Selatan, diolah Sumber : Biro Keuangan Provinsi Sumatera Selatan, diolah 4.2. Perbandingan Realisasi APBD Tahun 2012 dan 2011 Realisasi pendapatan sedikit menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Realisasi pendapatan APBD Provinsi Sumatera Selatan tahun 2012 adalah 103,9%, lebih rendah dibandingkan realisasi pendapatan tahun 2011 yang sebesar 104,8%. Hal tersebut dikontribusikan oleh menurunnya realisasi pendapatan asli daerah, yaitu dari 110,8% pada tahun 2011 menjadi 105,4% pada tahun Sementara itu, realisasi dana perimbangan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu dari 100,4% menjadi 106,2%. Grafik 4.3. Perbandingan Sisi Pendapatan Realisasi APBD Sumsel 2012 dan 2011 Grafik 4.4. Perbandingan Sisi Pengeluaran Realisasi APBD Sumsel 2012 dan 2011 Sumber : Biro Keuangan Provinsi Sumatera Selatan, diolah Sumber : Biro Keuangan Provinsi Sumatera Selatan, diolah Realisasi belanja juga sedikit menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Realisasi belanja Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan sebesar 90,8% pada tahun 2012, lebih rendah dibandingkan tahun 2011 yang sebesar 92,5%. Realisasi yang lebih rendah tersebut banyak dikontribusikan oleh penurunan realisasi belanja langsung dari 93,1% menjadi 84,6%. 63
81 Bab 4. Perkembangan Keuangan Daerah Pendapatan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan selama triwulan IV 2012 naik dibandingkan triwulan sebelumnya. Delta realisasi pendapatan pada triwulan IV 2012 naik dibandingkan triwulan sebelumnya dari 21,0% menjadi 32,2%, yang dikontribusikan oleh peningkatan delta realisasi pendapatan asli daerah dari 14,2% menjadi 40,1% dan peningkatan delta realisasi dana perimbangan dari 8,5% menjadi 29,6%. Belanja yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan selama triwulan IV 2012 juga naik dibandingkan triwulan sebelumnya. Delta realisasi belanja naik dibandingkan triwulan sebelumnya dari 22,0% menjadi 36,0%, yang dikontribusikan oleh peningkatan delta realisasi belanja tidak langsung dari 21,7% menjadi 33,8%. Sementara itu, delta realisasi belanja langsung naik dari 22,6% menjadi 39,6%. Grafik 4.5. Delta Realisasi Sisi Pendapatan Grafik 4.6. Delta Realisasi Sisi Pengeluaran Sumber : Biro Keuangan Provinsi Sumatera Selatan, diolah Sumber : Biro Keuangan Provinsi Sumatera Selatan, diolah 4.3. APBD Tahun 2013 APBD tahun 2013 lebih ekspansif. Pada APBD Provinsi Sumatera Selatan tahun 2013, anggaran belanja dinaikkan 7,0% dibanding tahun 2012 menjadi sekitar Rp5,8 triliun. Anggaran pendapatan juga dinaikkan menjadi sekitar Rp5,8 triliun atau meningkat 14,7%. Hal tersebut mengindikasikan bahwa peran fiskal direncanakan lebih ekspansif terhadap perekonomian dibandingkan rencana tahun sebelumnya. Karena itu, diperkirakan konsumsi pemerintah akan tumbuh tinggi dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Sejalan dengan itu, APBD Provinsi Sumatera Selatan tahun 2013 menganggarkan surplus sekitar Rp5 miliar, berkebalikan dari rencana tahun sebelumnya dimana dianggarkan defisit sebesar Rp357 miliar. Kenaikan anggaran belanja dikontribusikan utamanya oleh belanja barang dan jasa. Pada anggaran belanja yang dinaikkan 7,0% dari posisi semula, kenaikan belanja langsung sebesar 17,7% dibandingkan posisi semula, lebih tinggi dibandingkan kenaikan pada belanja tidak langsung yang sebesar 0,6%. Kenaikan nominal terbesar dialokasikan pada belanja barang dan jasa yaitu sebesar Rp323 miliar, atau sekitar 35,8% dibandingkan anggaran tahun sebelumnya. 64
82 Bab 4. Perkembangan Keuangan Daerah Kenaikan anggaran pendapatan dikontribusikan oleh bagi hasil pajak/bagi hasil bukan pajak, pajak daerah dan dana alokasi umum. Dari anggaran pendapatan yang ditingkatkan 14,7% dari sebelumnya, kenaikan nominal tertinggi terjadi pada kenaikan bagi hasil pajak/bagi hasil bukan pajak, yaitu Rp271 miliar atau 18,3% dari yang dianggarkan tahun sebelumnya. Pajak daerah juga mengalami peningkatan sebesar Rp263 miliar atau 15,2% dari anggaran tahun sebelumnya. Sementara itu, pendapatan yang berasal sepenuhnya dari perimbangan keuangan pusat berupa dana alokasi umum meningkat Rp154 miliar atau 21,6% dibanding tahun sebelumnya, sedangkan dana alokasi khusus menurun Rp20,2 miliar atau 44,5% dibanding tahun sebelumnya. Tabel 4.2. APBD Sumsel Tahun 2012 dan 2013 (Rp Miliar)* PERUBAHAN URAIAN APBD 2012 APBD 2013 Nominal % PENDAPATAN 5, , Pendapatan Asli Daerah 1, , Pajak Daerah 1, , Hasil Retribusi Daerah Hasil Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan Lain Lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah Dana Perimbangan 2, , Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan Pajak 1, , Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus (20.2) (44.5) Lain Lain Pendapatan Yang Sah (44.6) (5.1) Pendapatan Hibah (44.6) (67.3) Dana Penyesuaian Dan Otonomi Khusus BELANJA 5, , Belanja Tidak Lansung 3, , Belanja Pegawai Belanja Subsidi 2.6 (2.6) (100.0) Belanja Hibah 1, ,492.7 (129.4) (8.0) Belanja Bantuan Sosial (0.2) (25.0) Belanja Bagi Hasil Kepada Prov/Kab/Kota/Desa Belanja Bantuan Keuangan Kepada Prov/Kab/Kota/Desa/Parpol Belanja Tidak Terduga ,288.9 Belanja Langsung 2, , Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa , Belanja Modal 1, , SURPLUS / (DEFISIT) Sumber: Data Sementara - Biro Keuangan Provinsi Sumatera Selatan, diolah 65
83 Bab 4. Perkembangan Keuangan Daerah Halaman ini sengaja dikosongkan 66
84 5. Perkembangan Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan Kesejahteraan masyarakat tidak terlalu terpengaruh rendahnya harga komoditas unggulan Angka kemiskinan menurun secara berkelanjutan pada satu dekade terakhir Masyarakat secara mayoritas berpendapat bahwa tingkat penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja akan membaik pada Semester II Tingkat Kemiskinan Angka kemiskinan menurun. Jumlah penduduk miskin atau penduduk yang berada di bawah Garis Kemiskinan pada bulan September 2012 tercatat sebesar 1.042,04 ribu jiwa atau 13,48% dari jumlah penduduk Sumsel. Angka tersebut tercatat mengalami penurunan sebesar 1,9% atau sebesar 19,83 ribu jiwa dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (September 2011) yang tercatat sebesar 1.061,87 ribu jiwa. Secara persentase, angka kemiskinan juga tercatat menurun dibandingkan September 2011 (13,95%) maupun dibandingkan Maret 2012 (13,74%). Tabel 5.1. Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Sumatera Selatan Tahun Tahun Jumlah Penduduk Miskin (ribuan) Persentase ,9 15, ,0 17, ,9 23, ,1 22, ,3 21, ,3 20,92 Januari ,0 21,01 Januari ,9 20,99 Maret ,8 19,15 Maret ,61 17,73 Maret ,87 16,28 Maret ,73 15,47 Maret ,81 14,24 September ,87 13,95 Maret ,03 13,78 September ,04 13,48 Sumber : Data BPS Provinsi Sumsel, diolah dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Penurunan kemiskinan terjadi secara berkelanjutan. Jumlah dan persentase penduduk miskin pada periode berfluktuasi dari tahun ke tahun. Pada periode jumlah penduduk miskin meningkat sebesar 464,9 ribu karena krisis ekonomi, persentase penduduk miskin mengalami peningkatan dari 17,04% 67
85 Bab 5. Perkembangan Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan menjadi 23,87%. Namun, pasca krisis ekonomi Asia, angka kemiskinan cenderung mengalami penurunan secara berkelanjutan hingga saat ini. Garis Kemiskinan mengalami peningkatan dalam kurun waktu enam bulan terakhir, yakni sebesar 2,9% dari Rp per kapita/bulan menjadi Rp per kapita/bulan. Berdasarkan pembagian kelompok kemiskinan antara perkotaan dan pedesaan, Garis Kemiskinan di perkotaan dalam enam bulan terakhir tercatat mengalami peningkatan sebesar 2,1% dari Rp per kapita/bulan menjadi Rp per kapita/bulan. Sementara itu, Garis Kemiskinan di daerah pedesaan mengalami kenaikan sebesar 7,6% pada periode yang sama, dari Rp per kapita/bulan menjadi Rp per kapita/bulan. Tabel 5.2. Garis Kemiskinan, Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Daerah, Maret 2008-September 2012 Daerah/Tahun Garis Kemiskinan Jumlah Penduduk (Rp/Kapita/Bulan) Miskin Persentase Perkotaan Maret ,70 18,87 Maret ,03 16,93 Maret ,22 16,73 Maret ,15 15,15 Maret ,65 14,16 September ,64 13,29 Perdesaan Maret ,91 17,01 Maret ,85 15,87 Maret ,50 14,67 Maret ,66 13,73 Maret ,38 13,57 September ,40 13,58 Kota+Desa Maret ,61 17,73 Maret ,87 16,28 Maret ,73 15,47 Maret ,81 14,24 Maret ,03 13,78 September ,04 13,48 Sumber : Data BPS Provinsi Sumsel, diolah dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Peranan komoditi makanan pada garis kemiskinan sedikit turun, namun masih sangat tinggi. Kontribusi garis kemiskinan makanan terhadap garis kemiskinan pada bulan September 2012 tercatat sebesar 76,29%, turun dari bulan Maret 2012 yang mencapai 76,51%. 68
86 Bab 5. Perkembangan Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan Garis kemiskinan makanan makanan pada bulan September 2012 tercatat sebesar Rp /kapita/bulan, dan garis kemiskinan bukan makanan sebesar Rp61.568/kapita/bulan. Kondisi tersebut mengalami kenaikan dibandingkan Maret 2012 yang mencatat Rp /kapita/bulan untuk garis kemiskinan makanan dan Rp59.271/kapita/bulan untuk garis kemiskinan bukan makanan. Tabel 5.3. Garis Kemiskinan Makanan dan Bukan Makanan di Sumsel Menurut Daerah, Maret 2009-September 2012 Garis Kemiskinan (Rp/Kapita/Bln) Daerah/Tahun Total Makanan Bukan Makanan Perkotaan Maret Maret Maret Maret September Perdesaan Maret Maret Maret Maret September Kota+Desa Maret Maret Maret Maret September Sumber : Data BPS Provinsi Sumsel, diolah dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 5.2. Nilai Tukar Petani NTP relatif stabil. Nilai Tukar Petani (NTP) adalah suatu indikator pengukur kemampuan tukar produk pertanian dengan barang dan jasa yang diperlukan petani untuk konsumsi rumah tangganya dan untuk keperluan dalam memproduksi produk pertanian. Rata-rata NTP pada triwulan IV 2012 tercatat sebesar 110,43 yang menunjukkan bahwa daya beli petani hanya naik sekitar 0,30% dibandingkan rata-rata NTP triwulan sebelumnya yang sebesar 110,10. Kenaikan biaya dan penerimaan petani yang relatif sama menyebabkan NTP relatif tetap. Hal tersebut disebabkan kenaikan harga yang diterima petani relatif sama dengan kenaikan harga yang dibayar petani. Rata-rata indeks yang dibayar petani mengalami peningkatan sebesar 0,83% (qtq) dari 132,48 menjadi 133,58, sedangkan indeks yang diterima petani meningkat dari 145,86 menjadi 147,50 atau sebesar 1,12% (qtq). 69
87 Bab 5. Perkembangan Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan Grafik 5.1. Indeks Harga yang diterima, Indeks Harga yang dibayar dan Nilai Tukar Petani Grafik 5.2. Perkembangan Rata-rata Nilai Tukar Petani Sumsel dan Harga Komoditas Unggulan di Pasar Dunia Sumber : BPS Provinsi Sumatera Selatan Sumber : BPS Provinsi Sumatera Selatan & Bloomberg, diolah Rata-rata Indeks Konsumsi Rumah Tangga Petani naik 1,70% (qtq) dibanding triwulan sebelumnya dari 135,90 menjadi 138,21. Komponen indeks konsumsi yang mengalami peningkatan paling tajam adalah bahan makanan yaitu sebesar 2,34% (qtq), diikuti oleh perumahan, kesehatan dan makanan jadi. Tabel 5.4. Rata-rata Indeks Konsumsi Rumah Tangga Petani di Sumatera Selatan Sumber : BPS Provinsi Sumatera Selatan Tabel 5.5. Rata-rata Indeks Biaya Produksi dan Penambahan Modal Petani Sumber : BPS Provinsi Sumatera Selatan Rata-rata biaya produksi dan penambahan modal petani mengalami penurunan tipis yaitu sebesar 0,17% (qtq) seiring dengan penurunan biaya bibit sebesar 1,11% (qtq) serta penurunan penambahan barang modal sebesar 1,01% (qtq). Sementara itu, biaya transportasi tercatat meningkat sebesar 0,67% (qtq). 70
88 Bab 5. Perkembangan Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan 5.3. Penyaluran Beras untuk Rumah Tangga Miskin (Raskin) Penyaluran raskin menurun. Data Perum Bulog Divre Sumsel menunjukkan penyaluran Raskin pada periode laporan sebanyak 27,0 ribu ton atau turun 27,9% (yoy) dibandingkan penyaluran pada tahun sebelumnya, dan lebih rendah 5,6% (qtq) dibandingkan triwulan sebelumnya. Hal tersebut sejalan dengan penurunan angka kemiskinan di Sumatera Selatan. Penyaluran Raskin (sudah dimulai sejak krisis moneter tahun 1998) bertujuan untuk memperkuat ketahanan pangan rumah tangga terutama rumah tangga miskin. Tabel 5.6. Penyaluran Beras Perum Bulog Divre Sumatera Selatan (dalam ton) Tahun Triwulan Operasi Pasar Raskin 2011 IV I II III IV Sumber : Perum Bulog Divre Sumatera Selatan, diolah 5.4. Ketenagakerjaan Kondisi ketenagakerjaan di Sumsel tidak banyak berubah. Pada tahun 2012, terjadi penurunan kelompok penduduk yang bekerja dan sedikit peningkatan tingkat pengangguran. Jumlah angkatan kerja di Provinsi Sumsel pada bulan Agustus 2012 mencapai orang, turun orang atau 0,6% (yoy) dibanding jumlah angkatan kerja pada bulan Agustus 2011 yang tercatat orang. Dari total angkatan kerja, jumlah penduduk yang bekerja tercatat sebesar orang, berkurang orang atau 0,2% (yoy) jika dibandingkan dengan posisi yang sama pada tahun sebelumnya. Tabel 5.7. Jumlah Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas Yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama, Februari 2011 Agustus 2012 *) Lapangan pekerjaan utama/sektor lainnya terdiri dari Sektor Pertambangan, Listrik, Gas dan Air, Bangunan, Pengangkutan dan Komunikasi, Keuangan Perusahaan dan Jasa Perusahaan. Sumber : BPS Provinsi Sumatera Selatan 71
89 Bab 5. Perkembangan Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan Sebagian besar penduduk bekerja di sektor pertanian. Ditinjau dari lapangan pekerjaan utama, komposisi ketenagakerjaan menurut sektor ekonomi relatif sama dengan kondisi tahun-tahun sebelumnya, dengan sebagian besar penduduk (56,37%) bekerja di sektor pertanian, walaupun menurun dibanding semester sebelumnya maupun tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan sektor pertanian merupakan sektor ekonomi utama di Sumsel dan mayoritas penduduk memiliki mata pencaharian pada sektor tersebut. Jumlah penduduk bekerja mengalami perubahan bervariasi antar sektor ekonomi. Jumlah penduduk yang bekerja di Sektor industri mengalami peningkatan tertinggi yaitu sebesar 17,1% (yoy), diikuti oleh jumlah penduduk yang bekerja di sektor lainnya dan sektor jasa kemasyarakatan, sosial dan perorangan yaitu masingmasing sebesar 7,3% dan 2,9% (yoy). Sementara itu, jumlah penduduk yang bekerja di sektor perdagangan, rumah makan dan jasa akomodasi mengalami penurunan sekitar 9,0% (yoy), diikuti oleh penurunan pada sektor pertanian perkebunan, kehutanan dan perburuan sebesar 1,9% (yoy). Dari tujuh pembedaan status pekerjaan yang terekam pada Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), diidentifikasi dua kelompok utama terkait kegiatan ekonomi, yakni formal dan informal. Kegiatan formal terdiri dari mereka yang berstatus berusaha dibantu buruh tetap dan buruh/karyawan. Sementara kelompok kegiatan informal umumnya adalah mereka yang berstatus di luar itu. Jika melihat status pekerjaan berdasarkan klasifikasi formal dan informal, sebanyak 66,72% tenaga kerja Sumatera Selatan pada bulan Agustus 2012 bekerja pada kegiatan informal. Tabel 5.8. Jumlah Penduduk Umur 15 Tahun ke Atas Yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan, Februari 2011 Agustus 2012 Sumber : BPS Provinsi Sumatera Selatan 72
90 Bab 5. Perkembangan Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan 5.5. Pengangguran Pengangguran merupakan indikator utama dari bidang ketenagakerjaan dan kesejahteraan. Klasifikasi penduduk yang menganggur adalah penduduk yang sedang mencari pekerjaan ditambah penduduk yang sedang mempersiapkan usaha (tidak bekerja), yang mendapat pekerjaan tetapi belum mulai bekerja, serta yang tidak mungkin mendapatkan pekerjaan. Angka pengangguran masih rendah. Cukup baiknya kondisi perekonomian secara umum menyebabkan angka pengangguran cukup rendah, walaupun sedikit meningkat dibandingkan posisi Februari lalu. Berdasarkan data BPS Sumsel, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Sumsel pada bulan Agustus 2012 sebesar 5,70%, lebih rendah dibandingkan kondisi pada bulan Agustus 2012 yang sebesar 5,77%, namun sedikit lebih tinggi dibandingkan posisi periode semester sebelumnya yang sebesar 5,59%. Jumlah pengangguran pada bulan Agustus 2012 tercatat mengalami penurunan sebanyak orang atau sebesar 2,9% dibandingkan dengan posisi bulan Februari 2011 yang diperkirakan sebagai dampak dari meningkatnya volume produksi sektor unggulan pada periode survei. Begitupun apabila dibandingkan dengan posisi bulan Agustus 2012, angka pengangguran mengalami peningkatan sebanyak orang atau 1,9%. Tabel 5.9. Jumlah Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas Menurut Kegiatan, Februari 2011 Agustus 2012 Sumber : BPS Provinsi Sumatera Selatan Berdasarkan daerah tempat tinggal, TPT di daerah perkotaan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan daerah pedesaan, yaitu masing-masing sebesar 9,51% dan 3,88%. Tingginya TPT di kota erat kaitannya dengan pertumbuhan alamiah penduduk, arus masuk angkatan kerja dari pedesaan, dan banyaknya pencari kerja sebagai konsekuensi meningkatnya pendidikan penduduk perkotaan. 73
91 Bab 5. Perkembangan Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan 5.6. Indikator Kesejahteraan Masyarakat Berdasarkan Survei Konsumen Survei Konsumen (SK) yang dilakukan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VII mencatat setidaknya ada 2 (dua) pengukuran yang dapat dijadikan indikator kesejahteraan masyarakat. Survei yang dilakukan secara bulanan tersebut melibatkan 300 responden setiap bulannya dari berbagai kalangan pendidikan dan pekerjaan di Kota Palembang Indikator Ketenagakerjaan Ketersediaan lapangan kerja sedikit meningkat. Survei Konsumen di Kota Palembang menunjukkan bahwa 47,2 % responden berpendapat bahwa ketersediaan lapangan kerja pada periode laporan relatif sama dibandingkan 6 bulan sebelumnya. Sementara itu, 24,0% responden berpendapat bahwa ketersediaan lapangan pekerjaan saat ini lebih baik dibandingkan 6 bulan yang lalu, dan 28,4% responden berpendapat bahwa ketersediaan lapangan kerja lebih buruk. Hal tersebut menunjukkan bahwa secara umum kondisi ketersediaan lapangan kerja relatif tidak berubah. Tabel Pendapat Konsumen Terhadap Ketersediaan Lapangan Pekerjaan Saat Ini Triwulan IV 2012 Bulan Ketersediaan Lapangan Kerja Saat ini dibandingkan 6 bulan lalu Lebih Baik Sama Lebih Buruk Jumlah Oktober November Desember Jumlah Sumber : Survei Konsumen Bank Indonesia Ketersediaan lapangan pekerjaan pada masa yang akan datang juga menjadi perhatian responden survei. Proporsi responden yang berpendapat bahwa ketersediaan lapangan pekerjaan 6 bulan mendatang akan lebih baik merupakan pendapat mayoritas, yaitu sekitar 40,6%. Sementara itu, 39,3% responden berpendapat bahwa ketersediaan lapangan kerja 6 bulan mendatang akan sama dibandingkan saat ini. Tabel Pendapat Konsumen Terhadap Ketersediaan Lapangan Pekerjaan 6 Bulan YAD Triwulan IV 2012 Bulan Ketersediaan Lapangan Kerja 6 bulan yad dibandingkan saat ini Lebih Baik Sama Lebih Buruk Jumlah Oktober November Desember Jumlah Sumber : Survei Konsumen Bank Indonesia 74
92 Bab 5. Perkembangan Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan Indikator Penghasilan Penghasilan masyarakat relatif tidak berubah. Dari sisi pendapatan, 50,8% responden menyatakan bahwa penghasilan mereka pada periode laporan adalah sama dibandingkan dengan kondisi 6 bulan sebelumnya. Hal ini diperkirakan terkait dengan harga komoditas yang masih cenderung rendah, bahkan turun dibandingkan triwulan sebelumnya. Namun, masyarakat optimis penghasilan enam bulan ke depan akan lebih tinggi. Sebagian besar responden yakni sebanyak 59,2% berpendapat bahwa penghasilan akan lebih tinggi dibandingkan saat ini. Sementara itu, proporsi responden yang berpendapat bahwa penghasilan akan sama dibandingkan saat ini mencapai 40,1%. Tabel Pendapat Konsumen Terhadap Penghasilan Saat Ini Triwulan IV 2012 Bulan Penghasilan Saat ini dibandingkan 6 bulan lalu Lebih Baik Sama Lebih Buruk Jumlah Oktober November Desember Jumlah Sumber : Survei Konsumen Bank Indonesia Tabel Pendapat Konsumen Terhadap Penghasilan 6 Bulan YAD Triwulan IV 2012 Bulan Penghasilan 6 bulan yad dibandingkan saat ini Lebih Baik Sama Lebih Buruk Jumlah Oktober November Desember Jumlah Sumber : Survei Konsumen Bank Indonesia 75
93 Bab 5. Perkembangan Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan Halaman ini sengaja dikosongkan 76
94 6. Outlook Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Daerah Arah perekonomian diperkirakan akan membaik pada triwulan I 2013 Pertumbuhan ekonomi triwulan I 2013 diperkirakan meningkat didorong oleh perbaikan ekspor dan turunnya impor. Inflasi diperkirakan mulai meningkat memulai siklus jangka menengah baru Pertumbuhan Ekonomi Ekonomi Provinsi Sumatera Selatan pada triwulan I 2013 diperkirakan akan meningkat. Berdasarkan data historis, kondisi ekonomi terkini dan prediksi shock yang akan terjadi di masa depan, diperkirakan pertumbuhan ekonomi tahunan (yoy) pada triwulan I 2013 akan berada pada kisaran 5,8 6,3%. Di sisi lain, secara triwulanan (qtq) output diperkirakan cenderung tetap dengan pertumbuhan ekonomi di kisaran - 0,3 0,3%. Kegiatan perdagangan internasional diperkirakan mulai membaik secara gradual menyusul ekspektasi membaiknya China dan India, dibarengi dengan konsumsi rumah tangga dan investasi yang tumbuh cukup baik. Namun demikian, laju pertumbuhan ekonomi triwulanan dengan penyesuaian musiman diperkirakan sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya, yaitu dari 2,2% menjadi sebesar 1,6% (qtq,sa). 12 Grafik Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Selatan *Proyeksi Bank Indonesia Sumber: BPS, estimasi BI 12 Laju pertumbuhan ekonomi dengan penyesuaian musiman (qtq,sa) diperoleh dari laju pertumbuhan triwulanan dari hasil estimasi PDRB harga konstan yang telah dihilangkan faktor musimannya (seasonally adjusted). Metode yang digunakan adalah X12-ARIMA dengan mengadopsi US Census Bureau. Angka pertumbuhan ekonomi qtq,sa merupakan salah satu pendekatan pertumbuhan ekonomi yang kami gunakan untuk meminimalisir bias interpretasi angka pertumbuhan ekonomi yoy karena adanya efek tahun dasar (base effect). 77
95 Bab 6. Outlook Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Daerah Pertumbuhan ekonomi akan didorong oleh perbaikan perdagangan internasional, konsumsi rumah tangga, dan investasi. Kinerja perdagangan internasional diperkirakan akan mulai membaik dengan percepatan ekspor dan perlambatan impor. Selain itu, konsumsi rumah tangga dan investasi juga diperkirakan tumbuh kuat. Namun, konsumsi pemerintah diperkirakan akan menurun cukup signifikan pada triwulan I Mulai triwulan I 2013, pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan diperkirakan berbaik dengan memulai tren kenaikan jangka menengah. Tabel 6.1. Ringkasan Leading Economic Indicator Kondisi Usaha Provinsi Sumsel Triwulan IV 2012 Aspek Pertumbuhan Triwulan III Penyebab Pertumbuhan Ekspektasi triwulan mendatang Keterangan Ekspektasi Kegiatan Usaha (umum) Melambat Masih rendahnya harga komoditas dan turunnya produksi pertanian Meningkat Permintaan domestik masih kuat, moderasi perdagangan internasional Volume produksi Melambat Menurunnya produksi pertanian Meningkat Bertambahnya kapasitas produksi Nilai penjualan Melambat Penurunan harga komoditas unggulan Meningkat Meningkatnya harga karet Kapasitas produksi Meningkat Investasi tinggi Meningkat Hasil investasi untuk menaikkan produksi Tenaga kerja Meningkat Bertambahnya kapasitas produksi Melambat Kenaikan UMP Volume pesanan Meningkat Meningkatnya konsumsi domestik Meningkat Moderasi perdagangan internasional Harga jual Melambat Masih rendahnya harga komoditas di pasar internasional Meningkat Moderasi perdagangan internasional Kondisi keuangan Melambat Menurunnya profit karena harga yang rendah Melambat Meningkatnya biaya operasional Akses kredit Meningkat Suku bunga kredit sedikit turun Meningkat Meningkatnya aksesibilitas perbankan Situasi bisnis Meningkat Bertambahnya kapasitas produksi dan konsumsi domestik Meningkat Membaiknya kondisi permintaan Sumber: SKDU, Analisa Peneliti Bank Indonesia Pelaku usaha memandang prospek usaha ke depan dengan optimis. Berdasarkan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) triwulan IV 2012 dan analisis yang dilakukan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VII, secara umum kegiatan usaha diperkirakan tumbuh pada triwulan I Permintaan beberapa komoditas dengan pemasaran domestik diperkirakan masih kuat, dan harga komoditas diperkirakan mulai meningkat seiring perbaikan pertumbuhan ekonomi global secara gradual. Selain itu, kegiatan investasi yang dilakukan pada beberapa periode terakhir diperkirakan sudah berimplikasi pada meningkatnya kapasitas produksi. Namun, 78
96 Bab 6. Outlook Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Daerah penggunaan tenaga kerja diperkirakan melambat karena kenaikan UMP dan biaya produksi. Konsumsi rumah tangga diperkirakan kuat pada triwulan I Beberapa indikator yang mengindikasikan konsumsi pada triwulan I 2013 masih kuat. Tingkat Keyakinan Konsumen di Kota Palembang terhadap kondisi perekonomian mulai September hingga Januari 2013 menunjukkan tren peningkatan. Harga komoditas sawit dan karet diperkirakan mulai mengalami kenaikan secara gradual sehingga secara perlahan memperbaiki tingkat pendapatan. Selain itu, BPS juga memperkirakan Indeks Tendensi Konsumen (ITK) pada triwulan I 2013 masih di atas 100, walaupun mengalami sedikit penurunan menjadi 106,92 pada triwulan I 2013 dari 107,30 pada triwulan IV Pengeluaran pemerintah diperkirakan akan turun di triwulan I Sesuai siklus fiskal yang terjadi seperti biasanya, pengeluaran pemerintah diperkirakan masih sangat rendah pada triwulan I. Realisasi belanja tidak langung diperkirakan merupakan anggaran yang terealisasi terlebih dahulu. Sehingga, peran konsumsi pemerintah diperkirakan tidak signifikan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di triwulan I Investasi diperkirakan akan mengalami moderasi. Investasi diperkirakan akan mengalami moderasi seiring dengan perlambatan laju pertumbuhan kredit investasi yang terjadi pada beberapa bulan terakhir. Berdasarkan survey kepada dunia usaha, investasi walaupun terdapat tendensi moderasi, namun masih tinggi terkait adanya rencana penambahan kapasitas kegiatan produksi dan bisnis, yang didukung oleh daya tarik investasi yang tinggi karena potensi sumber daya alam yang melimpah. Pertumbuhan ekonomi negara tujuan ekspor pada 2013 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan Pertumbuhan ekonomi negara tujuan ekspor Sumatera Selatan untuk tahun 2013 diperkirakan sedikit meningkat dibandingkan tahun lalu. International Monetary Fund (IMF) memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2013 sebesar 3,5%, sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun 2012 yang diperkirakan sebesar 3,3%. Pertumbuhan ekonomi China dan India diperkirakan terakselerasi kembali, yaitu masing-masing dari 7,8% dan 4,9% menjadi 8,2% dan 5,9%. Negara tetangga, Malaysia dan Singapura, juga mengalami percepatan pertumbuhan masing-masing dari 4,4% dan 2,1% menjadi 4,7% dan 2,9%. Selain itu, pertumbuhan ekonomi Zona Euro diprediksi mengalami moderasi dari -0,4% menjadi - 0,2%. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat, Jepang, dan Kanada mengalami perlambatan masing-masing dari 2,2%, 2,2% dan 1,9% menjadi 2,0%, 1,2% dan 1,8%. Namun, proyeksi pertumbuhan output dunia tahun 2013 direvisi ke bawah. Walaupun pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan lebih tinggi pada 2013, namun proyeksi terkini (3,5%) sedikit lebih pesimis dibandingkan proyeksi pada Oktober
97 Bab 6. Outlook Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Daerah lalu, dimana diperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia sebesar 3,6% pada Revisi tersebut dilakukan baik untuk pertumbuhan ekonomi negara maju maupun negara berkembang, yang lebih rendah 0,1% dibandingkan proyeksi sebelumnya. Tabel 6.2. Proporsi Ekspor Sumatera Selatan, Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Negara Tujuan Ekspor Tahun 2012 dan 2013 (dalam persentase) 2 Negara Ekspor Proyeksi Oktober 2012 Proyeksi Sumsel 1 Desember AS 27, Euro 14, Cina 18, India 3, Jepang 7, Malaysia 4, NA Singapura 3, NA Kanada 3, Negara Maju Negara Berkembang Dunia Proporsi nilai ekspor Sumatera Selatan pada negara tersebut, menggunakan data Nilai Ekspor Berdasarkan Negara Tujuan periode Januari 2011 sampai dengan Mei 2012, Bank Indonesia 2 IMF, World Economic Outlook, October IMF, World Economic Outlook Update, Januari 2013 Selanjutnya, IMF juga memprediksi bahwa pertumbuhan volume perdagangan dunia akan meningkat dari 2,8% pada 2012 menjadi 3,8% pada Namun demikian, perkiraan tersebut lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya yang sebesar 4,5%. Impor baik dari negara maju maupun negara berkembang diproyeksikan akan mengalami peningkatan, masing-masing dari 1,2% dan 6,1% pada 2012 menjadi 2,2% dan 6,5% pada tahun Peningkatan volume perdagangan dunia secara umum dibandingkan tahun sebelumnya disebabkan oleh adanya percepatan pertumbuhan ekonomi dunia, yang dikontribusikan oleh perlambatan ekonomi di negara maju maupun negara berkembang. Akselerasi ekonomi di China dan India dapat menjadi harapan. Ekspor diperkirakan akan lebih baik. Sebagai dampak dari meningkatnya pertumbuhan ekonomi dunia, penjualan komoditas unggulan Sumatera Selatan diperkirakan akan mulai tumbuh. Ekspor komoditas unggulan diperkirakan terkonsentrasi untuk menghabiskan stok, sehingga tidak terlalu terpengaruh berkurangnya produksi di sektor pertanian. Namun, kendala daya saing pada produk CPO akibat turunnya bea keluar sawit di Malaysia diperkirakan membatasi perbaikan ekspor. 80
98 Bab 6. Outlook Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Daerah Kinerja perkebunan karet diperkirakan stabil yang didukung kenaikan harga sementara volume produksi menurun. Volume produksi karet diperkirakan cenderung turun karena curah hujan yang cukup tinggi. Pada Desember 2012, produksi karet di Sumatera Selatan (dominan di Sumbagsel) cenderung turun berdasarkan data Gapkindo Sumsel-Babel, meskipun di Babel sedikit meningkat. Di sisi harga, harga karet ekspor Sumsel (kualitas 90%) sampai dengan pertengahan Januari 2013 cenderung fluktuatif di kisaran Rp per kg. Dibandingkan akhir tahun 2012, harga karet di tingkat petani pada Januari 2013 meningkat sejalan dengan kenaikan harga crumb rubber di pasar internasional sebesar 6,2% (mtm). Untuk meningkatkan harga, ITRC (International Tripartite Rubber Council) yang terdiri dari Thailand, Malaysia dan Indonesia masih membatasi ekspor karet, kendati belum dapat mendorong kenaikan harga karet secara signifikan. Kinerja perkebunan sawit diperkirakan turun karena margin petani yang semakin tipis. Curah hujan cenderung tinggi pada Desember 2012 Januari 2013, dan diperkirakan menyebabkan sedikit kendala pada distribusi. Berdasarkan pantauan pada beberapa petani sawit, biaya produksi sudah lebih tinggi dibandingkan pemasukan dengan harga TBS yang rendah seperti saat ini. Harga TBS terbilang rendah, mengingat harga CPO yang lebih rendah 28,0% dibandingkan tahun lalu. Terkait hal tersebut, GAPKI juga menjelaskan bahwa beberapa pengusaha kelapa sawit saat ini kesulitan membayar cicilan kredit perbankan. Sehingga, diperkirakan sebagian petani sawit akan menghentikan produksi, atau beralih untuk menanam komoditas lain. Jangka Pendek, kinerja komoditas batubara meningkat karena faktor musiman. Harga batubara di pasar internasional sebesar USD68,1/mt pada Januari 2013, relatif stabil dibandingkan akhir 2012, namun secara tahunan turun 7,6% (yoy). Di sisi eksternal, permintaan batubara dari tiga konsumen utama dunia (Cina, Jepang, Korea) mengalami peningkatan pada triwulan IV/2012 triwulan I/ Namun, hal tersebut hanya merupakan faktor musiman, mengingat harga batubara cenderung naik 2 28% pada triwulan IV triwulan I. Secara riil, belum terdapat peningkatan kebutuhan batubara secara signifikan karena permintaan tenaga listrik belum naik secara substansial di Cina, Jepang, dan Korea. Karena itu, permintaan internasional atas batubara diperkirakan kembali normal pada triwulan II. Dari sisi permintaan domestik, kinerja perusahaan batubara swasta di Sumsel diperkirakan turun sebagai dampak dari penghentian pengangkutan batubara di jalan umum di saat jalan khusus masih rusak (terendam banjir) serta penutupan 10 pelabuhan batubara. Dalam jangka menengah, PTBA memperkirakan peningkatan volume penjualan sebesar 25% pada 2013, yang ditunjang oleh peningkatan kapasitas pelabuhan di Lampung. Peningkatan penjualan juga terkait kerjasama suplai batubara dengan PT. Pupuk Indonesia sejak Desember 2012 lalu, dengan perkiraan rata-rata suplai 2,3 juta ton per tahun. Kinerja industri karet diperkirakan naik yang lebih terkait karena kenaikan harga, walaupun secara fundamental masih lemah. Harga karet di pasar 81
99 Bab 6. Outlook Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Daerah internasional pada Januari 2013 meningkat 6,2% (mtm) menjadi USD322,5 cent/kg antara lain didorong oleh kenaikan ekspor ke China, sebagai salah satu importir utama. Namun, secara tahunan harga karet masih turun 10,6% (yoy). Sampai bulan Februari 2013, harga karet diperkirakan tidak banyak berubah. Berdasarkan International Rubber Consortium Ltd (Irco), suplai karet diperkirakan tetap ketat pada bulan Januari- Februari 2013 karena musim hujan di Indonesia, walaupun di Thailand baru saja lepas dari musim hujan. Secara fundamental, terdapat indikasi bahwa permintaan karet masih akan tetap lemah. Di Eropa, terdapat penurunan replacement rate untuk ban, yaitu sebesar 19% (yoy) untuk truk, dan 13% untuk mobil pribadi. Kinerja CPO diperkirakan turun karena berkurangnya competitiveness dan pasokan barang input. Kompetitor utama Indonesia dalam komoditas CPO, Malaysia, menurunkan bea keluar CPO hingga 0%. Hal tersebut menurunkan competitiveness ekspor CPO Indonesia sekaligus mendorong rendahnya harga CPO di pasar internasional. Selain itu, terdapat urgensi bagi pemerintah untuk melakukan restrukturisasi bea keluar CPO. Pemerintah akan meninjau bea keluar tersebut, walaupun proses revisi diperkirakan tidak akan terjadi dalam waktu dekat, serta mendorong konsumsi biodiesel. Dari sisi permintaan domestik, pemasaran CPO diperkirakan akan stabil karena tidak adanya shock berarti pada industri hilir dan struktur konsumsi pangan masyarakat. Dalam waktu dekat, diperkirakan industri CPO akan mengalami penurunan pasokan bahan baku karena berkurangnya profitabilitas petani dalam menanam/memanen sawit. Harga CPO Januari 2013 naik 8,1% (mtm) menjadi USD733,9/mt masih lebih rendah 28,0% dibandingkan tahun lalu. Margin sektor ritel terpangkas kenaikan TDL dan UMP. Di samping biaya operasional pedagang yang meningkat karena kenaikan TDL dan UMP, kuantitas permintaan juga diperkirakan menurun karena kenaikan harga jual produk. Produsen makanan dan minuman menaikkan harga jual berkisar 10%-15% per kuartal I tahun 2013 ini sebagai langkah untuk menjaga margin akibat kenaikan TDL dan UMP. Upah buruh berkontribusi 10%-15% terhadap biaya produksi makanan dan minuman, sementara biaya listrik berkisar 7,5%-10%. Dengan menaikkan harga jual, produsen menargetkan mampu menjaga margin bersih di 2013 yang berkisar 6%-12%. Penjualan otomotif diperkirakan turun. Sejak pertengahan 2012 lalu, penjualan otomotif khususnya truk sudah mulai menurun karena terhentinya angkutan batubara. Penjualan truk 50% dikuasai angkutan bahan tambang tersebut. Untuk sementara ini dealer menjual truk hanya kepada industri perkebunan dengan jumlah yang tidak banyak. Hal ini berkesesuaian dengan hasil asesmen kepada pelaku usaha. 82
100 Bab 6. Outlook Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Daerah Suplemen 5 Proyeksi Perekonomian Sumatera Selatan 2013 Pertumbuhan output Sumatera Selatan diperkirakan akan mulai terakselerasi secara gradual mulai tahun Pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan pada tahun 2013 diperkirakan 6,0 6,5%, sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun 2012 yang sebesar 6,0% (yoy). Di sisi sektoral, produksi komoditas unggulan diperkirakan meningkat didorong oleh peningkatan kapasitas produksi, mengingat kegiatan investasi yang telah dilakukan secara intens pada dua tahun terakhir. Selain itu, harga komoditas unggulan diperkirakan meningkat secara gradual, karena proses perbaikan ekonomi global yang diperkirakan dimulai pada tahun Namun demikian, peningkatan harga komoditas karet diperkirakan terbatas karena munculnya tantangan lain terkait daya saing, yaitu suplai dan stok karet di tingkat dunia yang diperkirakan sangat baik pada Selain dari sisi eksternal, peningkatan kapasitas produksi, khususnya untuk CPO, akan digunakan untuk memenuhi tumbuhnya permintaan dari industri hilir dalam negeri. Terkait dengan ini pula, pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur menjadi krusial untuk peningkatan daya saing dan pemanfaatan momentum permintaan. Di sisi permintaan, konsumsi dan investasi diperkirakan tumbuh dengan tingkat yang relatif sama dengan tahun Berdasarkan Survei Konsumen Bank Indonesia, terdapat optimisme yang sangat baik khususnya dalam memandang kondisi perekonomian Sumatera Selatan pada sekitar pertengahan tahun Selain itu, investasi diperkirakan masih tumbuh tinggi terkait adanya rencana penambahan kapasitas kegiatan produksi dan bisnis, yang didukung oleh daya tarik investasi yang tinggi karena potensi sumber daya alam yang melimpah. Tabel 1. Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Selatan Tahun 2013 Proyeksi 2013 yoy 2012 Rata-rata Proyeksi 2013 qtq Rata-rata I II III IV Kumulatif Inflasi memulai siklus kenaikan pada 2013, namun kenaikan inflasi diperkirakan terbatas. Pada tahun 2013, inflasi Palembang pada tahun 2013 diperkirakan akan mengalami peningkatan menjadi 4,5±1% (yoy). Tekanan inflasi diperkirakan meningkat baik dari sisi permintaan maupun penawaran. Dari sisi permintaan, kinerja sektor utama Sumatera Selatan diperkirakan meningkat seiring dengan perbaikan ekonomi global 83
101 Bab 6. Outlook Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Daerah secara gradual yang akan meningkatkan daya beli dan berpotensi memicu peningkatan konsumsi masyarakat, walaupun terjadi secara gradual. Selain itu, penyelenggaraan Pemilukada di Sumatera Selatan diperkirakan juga akan memicu permintaan barang dan jasa secara temporer. Dari sisi penawaran, terdapat tekanan inflasi melalui kenaikan biaya produksi dan distribusi, antara lain karena adanya kenaikan UMP secara signifikan di beberapa provinsi yang relatif berdekatan dengan Sumatera Selatan, serta adanya kemungkinan kebijakan pemerintah akan menjadi faktor risiko inflasi pada Setelah kenaikan harga gas industri di awal Januari lalu, terdapat rencana kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) dan wacana kenaikan harga BBM bersubsidi. Pada tahun 2013, IMF memperkirakan rata-rata harga minyak dunia tidak terlalu berubah dibandingkan tahun 2012, namun di sisi lain pemerintah dapat memperbaiki struktur fiskal secara lebih baik untuk mendorong pembangunan infrastruktur bila subsidi BBM dipangkas, yang diperlukan bagi percepatan perkembangan ekonomi dan peningkatan kestabilan harga dalam jangka panjang. Selain itu, berdasarkan asesmen kami, siklus inflasi Palembang akan berbalik meningkat mulai akhir Desember 2012 lalu, dan akan mencapai puncaknya pada triwulan I Namun demikian, tendensi kenaikan harga diperkirakan jauh lebih moderat dibandingkan siklus sebelumnya karena ekspektasi inflasi masyarakat yang lebih rasional dan adanya peningkatan skala ekonomi. Tabel 2. Proyeksi Inflasi Palembang Tahun 2013 Proyeksi 2013 yoy 2012 Rata-rata Proyeksi 2013 qtq Rata-rata I II III IV
102 Bab 6. Outlook Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Daerah 6.2. Inflasi Inflasi tahunan Kota Palembang pada triwulan I 2013 diperkirakan akan sedikit meningkat pada kisaran 3,30±0,5% (yoy) setelah pada triwulan IV 2012 berada pada tingkat 2,72% (yoy). Selain itu, inflasi triwulanan (qtq) diperkirakan akan turun menjadi 0,30±0,5%. Selain dipengaruhi tekanan inflasi yang bersifat fundamental, kenaikan inflasi tahunan juga disebabkan oleh efek tahun dasar (base year effect). Realisasi inflasi sampai dengan bulan Januari 2013 cenderung meningkat. Inflasi tahunan meningkat dibandingkan bulan sebelumnya dari 2,72% menjadi 3,20% (yoy), sedikit di atas median proyeksi di laporan inflasi sebelumnya yang sebesar 2,96%. Secara bulanan, tingkat harga secara umum tercatat naik sebesar 0,64% (mtm), di atas proyeksi sebelumnya dimana Palembang diperkirakan mengalami inflasi sebesar 0,41% (mtm). Kenaikan harga paling tajam terjadi di kelompok bahan makanan, yaitu sebesar 2,09% (mtm). Harga volatile food (VF) naik moderat. Harga VF pada Januari 2013 naik cukup tajam sebesar 2,15% (mtm), dan inflasi VF tahunan naik cukup tajam dari 3,41% menjadi 4,82% (yoy). Kenaikan harga secara bulanan yang terjadi lebih tinggi dari pola musiman di bulan Januari secara historis, dengan rata-rata kenaikan harga 5 tahun terakhir sebesar 1,23%. Kondisi beberapa bahan pangan di beberapa pasar tradisional terganggu oleh tingginya curah hujan. Selain itu, arus barang pelabuhan dan bandar udara terlihat bertendensi sedikit melambat. Tekanan inflasi komponen core stabil. Harga-harga barang kelompok core di bulan Januari 2013 sedikit meningkat sebesar 0,14% (mtm), naik dibandingkan laju kenaikan harga pada bulan sebelumnya. Begitupun secara tahunan, inflasi core tercatat naik dari 2,57% menjadi 2,77% (yoy). Namun, kenaikan harga tersebut lebih rendah dibandingkan pola historisnya yaitu kenaikan harga sebesar 0,24% (mtm). Meskipun terdapat sedikit tekanan nilai tukar Rupiah, namun pada saat yang bersamaan harga emas mengalami penurunan. Harga kelompok administered prices sedikit naik. Harga barang-barang komponen ini relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya dengan deflasi tipis sebesar 0,06% (mtm) dan secara tahunan inflasi juga relatif stabil di sekitar 2,13% (yoy). Hal ini karena belum adanya kebijakan pemerintah yang secara langsung mempengaruhi harga barang/jasa pada bulan ini. Walaupun terdapat kebijakan peningkatan pada tarif dasar listrik (TDL), namun baru berlaku pada tagihan bulan Januari 2013, sehingga diperkirakan akan berimplikasi pada inflasi Februari Di sisi permintaan, tekanan inflasi diperkirakan masih terbatas terkait masih rendahnya harga komoditas di pasar internasional. Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, hal tersebut juga telah berimplikasi pada pendapatan masyarakat dan terjadinya moderasi konsumsi rumah tangga. Hal ini juga terkonfirmasi oleh hasil survei konsumen dimana terdapat penurunan keyakinan konsumen. Beberapa prompt 85
103 Bab 6. Outlook Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Daerah indicators menunjukkan stabilnya konsumsi, seperti konsumsi BBM, konsumsi listrik, serta indeks keyakinan konsumen. Secara tahunan, harga karet di pasar internasional masih turun 10,6% (yoy) pada Januari 2013, dan diperkirakan peningkatan harga secara signifikan dalam waktu dekat sulit terjadi mengingat surplus dan stok karet yang cukup tinggi di tingkat dunia. Selain itu, harga TBS sawit cenderung mengalami penurunan dalam beberapa bulan terakhir. Produksi komoditas tabama diperkirakan kurang optimal. Kenaikan curah hujan yang cukup ekstrim membuat beberapa kawasan sentra produksi padi Sumbagsel mengalami banjir. Selain itu, di Sumsel terdapat serangan hama dan virus yang menyerang tanaman padi. Hal ini akan menyebabkan produksi tabama tidak optimal, khususnya pada panen di triwulan I Kondisi distribusi diperkirakan mulai terkendala tingginya curah hujan dan banjir. Sub kelompok bumbu-bumbuan diperkirakan mengalami inflasi pada kondisi curah hujan yang cukup tinggi seperti pada periode musim penghujan. Berdasarkan BMKG, curah hujan di Sumatera Selatan dan sekitarnya cenderung tinggi, namun dengan sifat hujan yang cenderung normal dibandingkan 30 tahun terakhir. Hal ini akan mengganggu distribusi dan produksi komoditas bumbu-bumbuan. Terdapat kemungkinan kenaikan harga terigu karena kenaikan tarif impor. Pemerintah menetapkan tarif baru bagi impor terigu menjadi 20% dari yang sebelumnya 5%. Impor terigu saat ini hanya memiliki porsi kecil dari seluruh pasokan terigu, namun dapat menjaga harga yang relatif rendah. Dengan tarif baru tersebut dan dengan kenaikan UMP di beberapa provinsi yang cenderung lebih tinggi dari biasanya, maka harga terigu di pasar domestik akan mengalami kenaikan moderat. Terdapat sedikit tambahan inflasi dari pelarangan impor beberapa komoditas pangan. Pemerintah saat ini memberlakukan pelarangan impor sementara (hingga pertengahan tahun) untuk beberapa komoditas: cabe, pisang, kentang, dan beberapa jenis sayuran/buah-buahan. Namun, implikasi dari pelarangan tersebut hanya sedikit mempengaruhi inflasi, karena bobot keseluruhan komoditas tersebut yang hanya sekitar 2,2%. Banjir di beberapa provinsi, termasuk Jakarta, diperkirakan mendongkrak harga pangan. Pada banyak provinsi yang berdekatan secara spasial, terjadi curah hujan tinggi dan banjir. Hal tersebut akan meningkatkan harga pangan, khususnya tercermin dari kenaikan harga yang cukup tinggi pada bulan Januari 2013 (umumnya di atas 1% mtm). Sebagai daerah yang juga melakukan perdagangan pangan dengan provinsi lain, harga-harga di Sumatera Selatan akan juga terpengaruh secara simetris oleh kenaikan harga di provinsi lain. Kenaikan Tarif Dasar Listrik secara gradual memberikan tekanan inflasi ke depan. Kenaikan TDL dilakukan secara gradual per triwulan pada tahun 2013, dengan variasi kenaikan menurut jenis pengguna dan KVA. Kenaikan pada triwulan I berada 86
104 Bab 6. Outlook Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Daerah pada kisaran 4 6%, dan diperkirakan akan memberikan tambahan inflasi sekitar 0,20% (1st round: 0,13%, 2nd round: 0,07%)13. Pada keseluruhan tahun 2013 dengan kenaikan 15% secara kumulatif, kenaikan TDL diperkirakan memberikan tambahan inflasi sekitar 0,66% (1st round: 0,46%, 2nd round: 0,20%). Namun, informasi dari pelaku usaha menunjukkan respon terhadap harga jual yang lebih elastis. Tekanan inflasi dari sisi permintaan akan meningkat seiring output gap yang lebih besar dibandingkan triwulan sebelumnya. Secara teoretis, tekanan inflasi dari sisi permintaan secara langsung digambarkan oleh output gap, yakni persentase selisih antara output aktual (yang sudah disesuaikan secara musiman) dan output potensial. Hasil estimasi mengindikasikan bahwa terdapat kecenderungan bahwa output gap semakin meningkat pada triwulan IV 2012 dan triwulan I Secara historis, output gap berkorelasi cukup tinggi pada inflasi 1-2 triwulan kemudian. Grafik Proyeksi Inflasi Tahunan Sumatera Selatan Grafik Ekspektasi Harga Berdasarkan Survei Konsumen Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan dan proyeksi Bank Indonesia Sumber: Survei Konsumen Dari sisi ekspektasi inflasi, masyarakat berekspektasi bahwa harga-harga secara umum akan naik (hasil Survei Konsumen). Selain itu, pada bulan Januari 2013 terjadi kenaikan indeks ekspektasi kenaikan harga untuk 6 dan 12 bulan yang akan datang, yang mengindikasikan sedikit meningkatnya ekspektasi inflasi jangka menengah. Adapun besaran ekspektasi kenaikan harga untuk jangka waktu pendek (3 bulan) terlihat stabil. 13 Analisis dengan menggunakan bobot komoditas, share konsumsi listrik per tingkatan KVA, dengan asumsi tingkat margin industri tetap. 87
105 Bab 6. Outlook Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Daerah Suplemen 6 Inflasi Palembang Memulai Siklus Baru Tren inflasi Palembang berulang membentuk siklus tiga tahunan. Seperti yang dapat dilihat pada gambar, siklus jangka menengah inflasi Palembang berulang setiap sekitar 3 tahun. Dengan menetralisir kenaikan harga BBM secara historis, diperkirakan bahwa siklus tersebut dimulai dengan tren kenaikan inflasi tahunan selama 5 triwulan, dan kemudian dilanjutkan dengan tren penurunan inflasi selama 7 triwulan. Inflasi natural di Palembang telah turun sekurangnya 5%. Dengan menetralisir faktor kenaikan harga BBM tahun 2005 dan 2008, gabungan empat siklus 3 tahunan membentuk suatu jalur perkembangan inflasi jangka panjang Palembang. Dibandingkan awal dekade 2000an lalu, saat ini inflasi Palembang sekurangnya telah lebih rendah 5-6% per tahunnya. Grafik 1. Pergerakan Inflasi Palembang Jangka Pendek, Siklus Jangka Menengah dan Tendensi Jangka Panjang Sumber: BPS, diolah, Bank Indonesia Siklus terbaru telah dimulai dari Desember 2012 hingga akhir 2015, dengan titik tertinggi yang cenderung lebih rendah, pada awal Titik terendah inflasi pada siklus telah berakhir pada November Mulai Desember 2012, inflasi Palembang memulai siklus baru yang diperkirakan akan berlangsung hingga akhir Inflasi mulai Desember 2012 memiliki tendensi peningkatan hingga mencapai puncak siklus yang diperkirakan jatuh pada Triwulan I Namun, mengingat inflasi natural turun secara gradual, puncak inflasi pada siklus diperkirakan hanya sekitar 4,5 5,5%, lebih rendah dari puncak siklus sebelumnya sebesar 6,02% (Desember 2010). Secara historis, kenaikan BBM dilakukan pada periode penurunan inflasi di dalam suatu siklus tiga tahunan, dan berdampak pada inflasi tahunan selama 12 bulan sejak shock diberlakukan. 88
106 Bab 6. Outlook Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Daerah 6.3. Perbankan Pada triwulan I 2013, diperkirakan kembali akan terjadi perlambatan pada pertumbuhan aset, DPK dan kredit. Perlambatan diperkirakan terjadi karena indikator perbankan yang sudah tumbuh tinggi pada beberapa periode terakhir, khususnya penyaluran kredit. Namun demikian, secara umum kondisi perbankan dapat digolongkan sangat baik. Pertumbuhan kredit diperkirakan stabil dibandingkan triwulan ini. Pertumbuhan kredit secara tahunan diperkirakan diperkirakan tumbuh 23-28% (yoy) pada triwulan I Seperti yang dipaparkan sebelumnya, kegiatan investasi yang telah dilakukan sepanjang satu tahun terakhir diperkirakan akan mengalami moderasi. Sejalan dengan itu, kredit investasi juga diperkirakan melambat. Suku bunga perbankan diperkirakan stabil dibarengi dengan NPL yang dibawah threshold. BI rate stabil di level 5.75% pada beberapa bulan terakhir. Selain itu, arus modal asing masih tumbuh cukup tinggi dan memberikan dana yang cukup besar bagi perbankan. Pertumbuhan kredit yang cukup tinggi karena investasi tinggi sejak tahun lalu diperkirakan tidak mengalami masalah pengembalian yang berarti. Permintaan komoditas unggulan dari pasar domestik diperkirakan akan merespons penambahan kapasitas produksi yang telah diupayakan dalam dua tahun terakhir. Tabel 6.3. Prediksi Beberapa Indikator Perekonomian pada Triwulan I 2013 Indikator Prediksi Faktor Penyebab Ekspor Meningkat Perbaikan permintaan dunia dan harga komoditas unggulan secara gradual. Impor Melambat Berkurangnya belanja modal pada awal tahun, termasuk impor bibit mengingat melambatnya aktivitas sektor pertanian. Pertumbuhan Meningkat Perbaikan ekspor dan tumbuhnya konsumsi rumah tangga Inflasi Meningkat Gangguan distribusi di musim hujan, kebijakan pemerintah. Pengangguran Stabil Berkurangnya aktivitas sektor pertanian, namun output ekonomi secara umum meningkat. Investasi Melambat kegiatan investasi diperkirakan mengalami moderasi setelah tumbuh tinggi pada dua tahun terakhir Konsumsi domestik Stabil Tendensi konsumen yang menunjukkan bahwa optimism konsumen masih kuat. Kredit perbankan Melambat Moderasi kegiatan investasi setelah tumbuh tinggi pada dua tahun terakhir *Prediksi mempertimbangkan kondisi terkini, ekspektasi, dan karakteristik siklikal secara relatif terhadap keadaan normal 89
107 DAFTAR ISTILAH Mtm Qtq Yoy Share Of Growth Investasi Sektor ekonomi dominan Migas Omzet Share effect Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indeks Harga Konsumen (IHK) Indeks Kondisi Ekonomi Indeks Ekspektasi Konsumen Pendapatan Asli Daerah (PAD) Dana Perimbangan Indeks Pembangunan Manusia APBD Andil inflasi Bobot inflasi Ekspor Impor Month to month. Perbandingan antara data satu bulan dengan bulan sebelumnya Quarter to quarter perbandingan antara data satu triwulan dengan triwulan sebelumnya Year on year. Perbandingan antara data satu tahun dengan tahun sebelumnya Kontribusi suatu sektor ekonomi terhadap total pertumbuhan PDRB Kegiatan meningkatkan nilai tambah suatu kegiatan suatu kegiatan produksi melalui peningkatan modal Sektor ekonomi yang mempunyai nilai tambah besar sehingga mempunyai pengaruh dominan pada pembentukan PDRB secara keseluruhan Minyak dan Gas. Merupakan kelompok sektor industri yang mencakup industri minyak dan gas Nilai penjualan bruto yang diperoleh dari satu kali proses produksi Kontribusi pangsa sektor atau subsektor terhadap total PDRB Indeks yang menunjukan level keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi kondisi ekonomi enam bulan mendatang. Dengan skala Sebuah indeks yang merupakan ukuran perubahan rata-rata harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat pada suatu periode tertentu Salah satu pembentuk IKK. Indeks yang menunjukan level keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini, dengan skala Salah satu pembentuk IKK. Indeks yang menunjukan level keyakinan konsumen terhadap ekspektasi kondisi ekonomi saat ini, dengan skala Pendapatan yang diperoleh dari aktifitas ekonomi suatu daerah seperti hasil pajak daerah, retribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah Sumber pendapatan daerah yang berasal dari APBN untuk mendukung pelaksanaan kewenangan pemerintah daerah dalam mencapai tujuan pemberian otonomi daerah. Ukuran kualitas pembangunan manusia, yang diukur melalui pencapaian rata-rata 3 hal kualitas hidup, yaitu pendidikan, kesehatan, daya beli Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, Rencana keuangan tahunan pemerintah daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah yang dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah daerah dan DPR, dan ditetapkan dengan peraturan daerah Sumbangan perkembangan harga suatu komoditas/kelompok barang/kota terhadap tingkat inflasi secara keseluruhan Besaran yang menunjukan pengaruh suatu komoditas, terhadap tingkat inflasi secara keseluruhan, yang diperhitungkan dengan melihat tingkat konsumsi masyarakat terhadap komoditas tersebut Dalah keseluruhan barang yang keluar dari suatu wilayah/daerah baik yang bersifat komersil maupun bukan komersil. Seluruh barang yang masuk suatu wilayah/daerah baik yang bersifat komersil maupun bukan komersil
108 PDRB atas dasar harga berlaku PDRB atas dasar harga konstan Bank Pemerintah Dana Pihak Ketiga (DPK) Loan to Deposits Ratio (LDR) Cash inflows Cash Outflows Net Cashflows Aktiva Produktif Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (ATMR) Kualitas Kredit Capital Adequacy Ratio (CAR) Financing to Deposit Ratio (FDR) Inflasi Kliring Kliring Debet Penjumlahan nilai tambah bruto (NTB) yang mencakup seluruh komponen faktor pendapatan yaitu gaji, bunga, sewa tanah, keuntungan, penyusutan dan pajak tak langsung dari seluruh sektor perekonomian Merupakan perhitungan PDRB yang didasarkan atas produk yang dihasilkan menggunakan harga tahun tertentu sebagai dasar perhitungannya Bank-bank yang sebelum program rekapitalisasi merupakan bank milik pemerintah (persero) yaitu terdiri dari bank Mandiri, BNI, BTN dan BRI Simpanan masyarakat yang ada di perbankan terdiri dari giro, tabungan, dan deposito Rasio antara kredit yang diberikan oleh perbankan terhadap jumlah dana pihak ketiga yang dihimpun Jumlah aliran kas yang masuk ke kantor Bank Indonesia yang berasal dari perbankan dalam periode tertentu Jumlah aliran kas keluar dari kantor Bank Indonesia kepada perbankan dalam periode tertentu Selisih bersih antara jumlah cash inflows dan cash outflows pada periode yang sama terdiri dari Netcash Outflows bila terjadi cash outflows lebih tinggi dibandingkan cash inflows, dan Netcash inflows bila terjadi sebaliknya Penanaman atau penempatan yang dilakukan oleh bank dengan tujuan menghasilkan penghasilan/pendapatan bagi bank, seperti penyaluran kredit, penempatan pada antar bank, penanaman pada Sertifikat Bank Indonesia(SBI), dan surat-surat berharga lainnya. Pembobotan terhadap aktiva yang dimiliki oleh bamk berdasarkan risiko dari masingmasing aktiva. Semakin kecil risiko suatu aktiva, semakin kecil bobot risikonya. Misalnya kredit yang diberikan kepada pemerintah mempunyai bobot yang lebih rendah dibandingkan dengan kredit yang diberikan kepada perorangan Penggolongan kredit berdasarkan prospek usaha, kinerja debitur dan kelancaran pembayaran bunga dan pokok. Kredit digolongkan menjadi 5 kualitas yaitu lancar, Dalam Perhatian Khusus (DPK), Kurang Lancar, Diragukan dan Macet Rasio antara modal (modal inti dan modalpelengkap) terhadap Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (ATMR) Rasio antara pembiayaan yang diberikan oleh bank syariah terhadap dana yang diterima. Konsep ini sama dengan konsep LDR pada bank umum konvensional Kenaikan harga barang secara umum dan terus menerus (persistent) Pertukaran warkat atau Data Keuangan Elektronik (DKE) antar peserta kliring baik atas nama peserta maupun atas nama nasabah peserta yang perhitungannya diselesaikan pada waktu tertentu Kegiatan kliring untuk transfer debet antar bank yang disertai dengan penyampaian fisik warkat debet seperti cek, bilyet giro, nota debet kepada penyelenggara kliring lokal (unit kerja di Bank Indonesia atau bank yang memperoleh persetujuan Bank Indonesia sebagai penyelenggara kliring lokal) dan hasil perhitungan akhir kliring debet dikirim ke Sistem Sentral Kliring (unit kerja yang menagani SKNBI di KP Bank Indonesia) untuk diperhitungkan secara nasional
109 Non Performing Loans/Financing (NPLs/Ls) Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP) Rasio Non Performing Loans/Financing (NPLs/Fs) Rasio Non Performing Loans (NPLs) NET Sistem Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI RTGS) Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKN-BI) Industri Pekerja Pekerja Dibayar Pekerja Tidak Dibayar I n p u t Output Nilai Tambah/Value Added Produktivitas Tingkat Efisiensi Kredit atau pembiayaan yang termasuk dalam kualitas kurang lancar, diragukan dan macet. Suatu pencadangan untuk mengantisipasi kerugia yang mungkin timbul dari tidak tertagihnya kredit yang diberikan oleh bank. Besaran PPAP ditentukan dari kualitas kredit. Semakin buruk kualitas kredit, semakin besar PPAP yang dibentuk, misalnya, PPAP untuk kredit yang tergolong Kurang Lancar adalah 15 % dari jumlah Kredit Kurang Lancar (setelah dikurangi agunan), sedangkan untuk kedit Macet, PPAP yang harus dibentuk adalah 100% dari totsl kredit macet (setelah dikurangi agunan) Rasio kredit/pembiayaan yang tergolong NPLs/Fs terhadap total kredit/pembiayaan. Rasio ini juga sering disebut rasio NPLs/Fs, gross. Semakin rendah rasio NPLs/Fs, semakin baik kondisi bank ybs. Rasio kredit yang tergolong NPLs, setelah dikurangi pembentukan penyisihan penghapusan Aktiva Produktif (PPAP), terhadap total kredit Proses penyelesaian akhir transaksi pembayaran yang dilakukan seketika (real time) dengan mendebet maupun mengkredit rekening peserta pada saat bersamaan sesuai perintah pembayaran dan penerimaan pembayaran. Sistem kliring bank Indonesia yang meliputi kliring debet dan kliring kredit yang penyelesaian akhirnya dilakukan secara nasional. Suatu kegiatan yang mengubah barang dasar menjadi barang jadi/setengah jadi dan atau barang yang kurang nilainya, menjadi yang lebih tinggi nilainya termasuk kegiatan jasa industri, pekerjaan perakitan (assembling) dari bagian suatu industri. Orang yang biasanya bekerja diperusahaan/usaha tersebut. Oorang yang biasanya bekerja diperusahaan/usaha dengan mendapatkan upah/gaji dan tunjangan-tunjangan lainnya baik berupa uang maupun barang. Pekerja pemilik dan pekerja keluarga yang ikut aktif dalam pengelolaan perusahaan tetapi tidak mendapatkan upah/gaji, tidak termasuk mereka yang bekerja kurang dari 1/3 jam kerja yang biasa di perusahaan. Biaya antara yang dikeluarkan dalam kegiatan proses produksi/proses industri yang berupa bahan baku, bahan bakar, barang lainnya diluar bahan baku/penolong, jasa industri, sewa gedung dan biaya jasa non industri lainnya. Nilai keluaran yang dihasilkan dari kegiatan proses produksi/proses industri yang berupa nilai barang yang dihasilkan, tenaga listrik yang dijual, jasa industri yang diterima, keuntungan jual beli, pertambahan stok barang setengah jadi dan penerimaan-penerimaan lainnya. Selisih nilai output dengan nilai input atau biasa disebut dengan nilai tambah menurut harga pasar. Rasio antara nilai out put dengan jumlah tenaga kerja baik yang dibayar maupun yang tidak dibayar. Ratio antara nilai tambah atas dasar harga pasar terhadap output produksi.
110 Intensitas Tenaga Kerja Gross Margin Usaha Perusahaan Perusahaan Industri Jasa Industri Suatu rasio antara biaya upah/gaji yang dikeluarkan untuk tenaga kerja terhadap nilai tambah. Persentase value added dikurangi biaya tenaga kerja dibagi output. Kegiatan yang menghasilkan barang/jasa dengan tujuan sebagian atau seluruh hasilnya untuk dijual/ditukar dan atau menunjang kehidupan dan menanggung resiko. Suatu unit usaha yang diselenggarakan/ dikelola secara komersil yaitu yang menghasilkan barang dan jasa sehomogen mungkin, umumnya terletak pada satu lokasi dan mempunyai catatan administrasi tersendiri mengenai produksi, bahan baku, pekerja dan sebagainya yang digunakan dalam proses produksi. Diklasifikasikan menjadi empat kategori berdasarkan jumlah tenaga kerja tanpa memperhatikan penggunaan mesin maupun nilai dari aset yang dimiliki. Kegiatan dari suatu usaha yang melayani sebagian proses industri suatu usaha industri atas dasar kontrak atau balas jasa ( fee ).
KAJIAN EKONOMI REGIONAL
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Sumatera Selatan Triwulan I - 2013 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VII Kata Pengantar Segala puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat
BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo
BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III 2012 Visi Bank Indonesia : Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional
Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2012
Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2012 Asesmen Ekonomi Pada triwulan I 2012 pertumbuhan Kepulauan Riau mengalami akselerasi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat 6,34% (yoy)
P D R B 7.24% 8.50% 8.63% 8.60% 6.52% 3.05% -0.89% Sumber : BPS Kepulauan Riau *) angka sementara **) angka sangat sementara
Ringkasan Eksekutif Asesmen Ekonomi Di awal tahun 2009, imbas krisis finansial global terhadap perekonomian Kepulauan Riau dirasakan semakin intens. Laju pertumbuhan ekonomi memasuki zona negatif dengan
Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2012
Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2012 Asesmen Ekonomi Laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Riau pada triwulan II 2012 tercatat sebesar 7,25%, mengalami perlambatan dibandingkan
KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL
KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL Provinsi Sumatera Selatan Triwulan IV - 2014 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI SUMATERA SELATAN
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI ACEH
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI ACEH VISI Menjadi Kantor Bank Indonesia yang dapat dipercaya di daerah melalui peningkatan peran dalam menjalankan tugas-tugas Bank Indonesia yang diberikan. MISI Mendukung
BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA TRIWULAN II Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo
BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA TRIWULAN II 2013 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo Visi Bank Indonesia : Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional
KAJIAN EKONOMI REGIONAL
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV - 2011 Kantor Bank Indonesia Palembang 1. KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat
BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo
BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan I 2013 Visi Bank Indonesia : Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional melalui
KAJIAN EKONOMI REGIONAL
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan IV - 2010 Kantor Bank Indonesia Palembang 1. KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat
KAJIAN EKONOMI REGIONAL
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan I - 2009 Kantor Bank Indonesia Palembang KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan
KAJIAN EKONOMI REGIONAL
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Propinsi Sumatera Selatan Triwulan I - 2009 Kantor Bank Indonesia Palembang Daftar Isi KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat
Kajian. Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Kalimantan Tengah
Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Triwulan III 2015 1 KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat-nya (KEKR) Provinsi Kalimantan Tengah Triwulan III
ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III
ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III - 2009 127 ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III - 2009 Tim Penulis
Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan II-2013
Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan II-2013 Asesmen Ekonomi Perekonomian Kepulauan Riau (Kepri) pada triwulan II-2013 mengalami pelemahan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Pada
Ringsek KER Zona Sumbagteng Tw.I-2009 Ekonomi Zona Sumbagteng Melambat Seiring Dengan Melambatnya Permintaan Domestik
B O K S Ringsek KER Zona Sumbagteng Tw.I-29 Ekonomi Zona Sumbagteng Melambat Seiring Dengan Melambatnya Permintaan Domestik PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Pertumbuhan ekonomi Zona Sumbagteng terus
Triwulan III Kajian Ekonomi Regional Banten
Triwulan III 212 Kajian Ekonomi Regional Banten Triwulan III 212 1 Triwulan III 212 Halaman ini sengaja dikosongkan 2 Triwulan III 212 KATA PENGANTAR Puji serta syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT,
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SULAWESI BARAT
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SULAWESI BARAT TRIWULAN-I 2013 halaman ini sengaja dikosongkan iv Triwulan I-2013 Kajian Ekonomi Regional Sulawesi Barat Daftar Isi KATA PENGANTAR... III DAFTAR ISI...
KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL
KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL Provinsi Sumatera Selatan Triwulan I - 2015 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan Penanggung Jawab: Tim Asesmen dan Advisory Kantor Perwakilan
Kajian Ekonomi Regional Banten
Kajian Ekonomi Regional Banten Triwulan I - 2009 i Kata Pengantar Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt yang telah melimpahkan segala rahmat-nya sehingga penyusunan buku Kajian Ekonomi Regional
KAJIAN EKONOMI REGIONAL
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan III - 2008 Kantor Bank Indonesia Palembang Daftar Isi KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
BAB 1 : PERKEMBANGAN MAKRO REGIONAL
BAB 1 : PERKEMBANGAN MAKRO REGIONAL Perekonomian Gorontalo pada triwulan II-2013 tumbuh 7,74% (y.o.y) relatif lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 7,63% (y.o.y). Angka tersebut
BAB 5 : SISTEM PEMBAYARAN
BAB 5 SISTEM PEMBAYARAN BAB 5 : SISTEM PEMBAYARAN Transaksi sistem pembayaran tunai di Gorontalo pada triwulan I-2011 diwarnai oleh net inflow dan peningkatan persediaan uang layak edar. Sementara itu,
ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV
ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV - 2009 263 ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV - 2009 Tim Penulis
1. Tinjauan Umum
1. Tinjauan Umum Perekonomian Indonesia dalam triwulan III-2005 menunjukkan kinerja yang tidak sebaik perkiraan semula, dengan pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan lebih rendah sementara tekanan terhadap
Publikasi ini dapat diakses secara online pada :
i TRIWULAN III 2015 Edisi Triwulan III 2015 Buku Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional ini diterbitkan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Jl. Jend. Sudirman No. 51
Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan IV-2012
Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan -2012 Asesmen Ekonomi Pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Riau pada tahun 2012 tercatat 8,21% lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2011 yang tercatat
Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional
Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Asesmen Ekonomi Pemulihan ekonomi Kepulauan Riau di kuartal akhir 2009 bergerak semakin intens dan diperkirakan tumbuh 2,47% (yoy). Angka pertumbuhan berakselerasi
KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI PAPUA
KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI PAPUA AGUSTUS 2017 Vol. 3 No. 2 Triwulanan April - Jun 2017 (terbit Agustus 2017) Triwulan II 2017 ISSN 2460-490257 e-issn 2460-598212 KATA PENGANTAR RINGKASAN
PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II- 2014
No. 048/08/63/Th XVIII, 5Agustus PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II- Ekonomi Kalimantan Selatan pada triwulan II- tumbuh sebesar 12,95% dibanding triwulan sebelumnya (q to q) dan apabila
Asesmen Pertumbuhan Ekonomi
Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Asesmen Pertumbuhan Ekonomi Penurunan momentum pertumbuhan ekonomi Kepulauan Riau di periode ini telah diperkirakan sebelumnya setelah mengalami tingkat pertumbuhan
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO ACEH
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO ACEH Ekonomi Aceh dengan migas pada triwulan II tahun 2013 tumbuh sebesar 3,89% (yoy), mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 4,79% (yoy). Pertumbuhan
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Triwulan IV 2012
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Triwulan IV 2012 Januari 2013 Kinerja Ekonomi Daerah Cukup Kuat, Inflasi Daerah Terkendali Ditengah perlambatan perekonomian global, pertumbuhan ekonomi berbagai daerah di Indonesia
INDONESIA PADA GUBERNUR BANK PANITIA ANGGARAN SEMESTER
PANDANGAN GUBERNUR BANK INDONESIA PADA RAPAT KERJA PANITIA ANGGARAN DPR RI MENGENAI LAPORAN SEMESTER I DAN PROGNOSIS SEMESTER II APBN TA 2006 2006 Anggota Dewan yang terhormat, 1. Pertama-tama perkenankanlah
BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo
BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan IV 2012 Visi Bank Indonesia : Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO
1.2 SISI PENAWARAN Di sisi penawaran, hampir keseluruhan sektor mengalami perlambatan. Dua sektor utama yang menekan pertumbuhan ekonomi triwulan III-2012 adalah sektor pertanian dan sektor jasa-jasa mengingat
BAB 1 : PERKEMBANGAN MAKRO REGIONAL
BAB 1 : PERKEMBANGAN MAKRO REGIONAL Perekonomian Gorontalo triwulan I-2013 tumbuh 7,63% (y.o.y) lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 7,57% (y.o.y.) Pencapaian tersebut masih
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SUMATERA UTARA KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA WILAYAH IX
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SUMATERA UTARA TRIWULAN III-2013 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA WILAYAH IX 2013 KATA PENGANTAR Buku Kajian Ekonomi Regional Provinsi Sumatera Utara merupakan terbitan
LAPORAN LIAISON. Triwulan I Konsumsi rumah tangga pada triwulan I-2015 diperkirakan masih tumbuh
Triwulan I - 2015 LAPORAN LIAISON Konsumsi rumah tangga pada triwulan I-2015 diperkirakan masih tumbuh terbatas, tercermin dari penjualan domestik pada triwulan I-2015 yang menurun dibandingkan periode
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT TRIWULAN IV-2009 KANTOR BANK INDONESIA BANDUNG Kantor Bank Indonesia Bandung Jl. Braga No. 108 BANDUNG Telp : 022 4230223 Fax : 022 4214326 Visi Bank Indonesia
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO
1.2 SISI PENAWARAN Dinamika perkembangan sektoral pada triwulan III-2011 menunjukkan arah yang melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Keseluruhan sektor mengalami perlambatan yang cukup signifikan
KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI PAPUA
Vol. 3 No. 3 Triwulanan Juli - September 2017 (terbit November 2017) Triwulan III 2017 ISSN xxx-xxxx e-issn xxx-xxxx KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI PAPUA NOVEMBER 2017 DAFTAR ISI 2 3 DAFTAR
Halaman ini sengaja dikosongkan.
2 Halaman ini sengaja dikosongkan. KATA PENGANTAR Puji serta syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan rahmat dan ridha- IV Barat terkini yang berisi mengenai pertumbuhan ekonomi,
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI BENGKULU
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI BENGKULU Triwulan I - 2011 cxççâáâç M Tim Ekonomi Moneter Kelompok Kajian, Statistik dan Survei : 1. Muhammad Jon Analis Muda Senior 2. Neva Andina Peneliti Ekonomi Muda
KAJIAN EKONOMI REGIONAL
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Propinsi Sumatera Selatan Triwulan III - 2009 Kantor Bank Indonesia Palembang KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karunia-nya
PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II- 2013
No. 046/08/63/Th XVII, 2 Agustus 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II- 2013 Ekonomi Kalimantan Selatan pada triwulan II-2013 tumbuh sebesar 13,92% (q to q) dan apabila dibandingkan dengan
BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo
BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan IV 2010 Visi Bank Indonesia : Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional
ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV
ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV - 2010 245 ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV - 2010 Tim Penulis
BAB I PENDAHULUAN. Pencerminan tingkat inflasi merupakan persentasi kecepatan naiknya harga-harga
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perekonomian suatu negara dapat ditinjau dari variabelvariabel makroekonomi yang mampu melihat perekonomian dalam jangka panjang maupun jangka pendek. Variabelvariabel
KAJIAN EKONOMI REGIONAL
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Nusa Tenggara Timur Triwulan II 2014 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Nusa Tenggara Timur Triwulan II - 2014
Grafik 1 Laju dan Sumber Pertumbuhan PDRB Jawa Timur q-to-q Triwulan IV (persen)
BERITA RESMI STATISTIK BPS PROVINSI JAWA TIMUR No. 13/02/35/Th. XII, 5 Februari 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TIMUR I. PERTUMBUHAN DAN STRUKTUR EKONOMI MENURUT LAPANGAN USAHA Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SUMATERA UTARA TRIWULAN I-2013
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SUMATERA UTARA TRIWULAN I-2013 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA WILAYAH IX 2013 KATA PENGANTAR Buku Kajian Ekonomi Regional Provinsi Sumatera Utara merupakan terbitan rutin
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI BENGKULU
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI BENGKULU Triwulan III - 2010 Penyusun : Tim Ekonomi Moneter Kelompok Kajian, Statistik dan Survei : 1. Bayu Martanto Peneliti Ekonomi Muda Senior 2. Jimmy Kathon Peneliti
Inflasi Bulanan Inflasi Tahunan Disagregasi Inflasi Non Fundamental Fundamental/Inti...
Daftar Isi Daftar Isi... i Daftar Tabel... iv Daftar Grafik... v Kata Pengantar... x Tabel Indikator Ekonomi Provinsi Lampung... xii Ringkasan Eksekutif... xv Bab 1 Perkembangan Ekonomi Makro Daerah...
PAPARAN BANK INDONESIA RAKORDAL TW II 17. Kalimantan Tengah. Kalimantan Tengah
Kalimantan Tengah PAPARAN BANK INDONESIA RAKORDAL TW II 17 Kalimantan Tengah Pertumbuhan Ekonomi & Inflasi Tahun 2017 Pasca meningkat cukup tinggi pada triwulan I 2017, ekonomi Kalimantan Tengah diperkirakan
KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL
KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL Provinsi Sumatera Selatan Februari 2017 (Kajian Triwulanan) Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan i Penanggung Jawab: Tim Advisory Ekonomi dan
BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo
BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III 2010 Visi Bank Indonesia : Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional
ii Triwulan I 2012
ii Triwulan I 2012 iii iv Triwulan I 2012 v vi Triwulan I 2012 vii viii Triwulan I 2012 ix Indikator 2010 2011 Total I II III IV Total I 2012 Ekonomi Makro Regional Produk Domestik Regional Bruto (%, yoy)
ANALISA TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III
ANALISA TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran,Triwulan III - 2005 135 ANALISA TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III - 2005 Tim Penulis
Kajian Ekonomi & Keuangan Regional Triwulan III 2014
Kajian Ekonomi & Keuangan Regional Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Tenggara KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL (www.bi.go.id) KATA PENGANTAR Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional
BANK INDONESIA KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI BALI TRIWULAN II 2014
BANK INDONESIA KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI BALI TRIWULAN II 2014 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan II 2014 1 Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi
PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II-2011
No. 43/08/63/Th XV, 05 Agustus 20 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II-20 Ekonomi Kalimantan Selatan pada triwulan II-20 tumbuh sebesar 5,74 persen jika dibandingkan triwulan I-20 (q to q)
Daftar Isi. Kata Pengantar... i Daftar Isi...ii Daftar Tabel...iv Daftar Grafik... v Daftar Lampiran... vii Tabel Indikator Ekonomi Terpilih
Visi Bank Indonesia: Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya (kredibel) secara nasional maupun internasional melalui penguatan nilai-nilai strategis yang dimiliki serta pencapaian inflasi yang
4. Outlook Perekonomian
4. Outlook Perekonomian Pada tahun 2007-2008, ekspansi perekonomian Indonesia diprakirakan terus berlanjut dengan dilandasi oleh stabilitas makroekonomi yang terjaga. Pertumbuhan ekonomi pada 2007 diprakirakan
Laporan Perkembangan Perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta Triwulan I 2014
Laporan Perkembangan Perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta Triwulan I 2014 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA ...Memberikan saran kepada pemerintah daerah mengenai kebijakan
3.1. Inflasi Umum Provinsi Lampung Inflasi Bulanan Inflasi Tahunan Disagregasi Inflasi Non Fundamental.
NOVEMBER 2017 Daftar Isi Daftar Isi... i Daftar Tabel... iv Daftar Grafik... v Kata Pengantar... xi Tabel Indikator Ekonomi Provinsi Lampung... xiii Ringkasan Eksekutif... xvii Bab 1 Perkembangan Ekonomi
Tim Penulis : Unit Asesmen Statistik Survei dan Liaison KPwBI Provinsi Bangka Belitung
i Edisi Triwulan IV 2015 Buku Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional ini diterbitkan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Jl. Jend. Sudirman No. 51 Pangkalpinang No. Telp
Dari sisi permintaan (demmand side), perekonomian Kalimantan Selatan didorong permintaan domestik terutama konsumsi rumah tangga.
No. 064/11/63/Th.XVIII, 5 November 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN III-2014 Perekonomian Kalimantan Selatan pada triwulan III-2014 tumbuh sebesar 6,19 persen, lebih lambat dibandingkan
RELEASE NOTE INFLASI DESEMBER 2017
RELEASE NOTE INFLASI DESEMBER 2017 TPI dan Pokjanas TPID INFLASI IHK Inflasi 2017 Terkendali Dan Berada Pada Sasaran Inflasi Inflasi IHK sampai dengan Desember 2017 terkendali dan masuk dalam kisaran sasaran
KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI LAMPUNG. Kajian Triwulanan Misi Bank Indonesia. Visi, Misi dan Nilai Strategis Bank Indonesia
Visi, Misi dan Nilai Strategis Bank Indonesia KAJIAN EKONOMI DAN Visi Bank Indonesia KEUANGAN REGIONAL PROVINSI LAMPUNG Menjadi lembaga bank sentral yang kredibel dan terbaik di regional melalui penguatan
Tim Penulis : Unit Asesmen Statistik Survei dan Liaison KPwBI Provinsi Bangka Belitung
i Edisi Agustus 2016 Buku Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional ini diterbitkan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Jl. Jend. Sudirman No. 51 Pangkalpinang No. Telp
KAJIAN EKONOMI REGIONAL
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Kalimantan Tengah Triwulan I2010 Kantor Bank Indonesia Palangka Raya KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat Nya sehingga Kajian
ANALISIS Perkembangan Indikator Ekonomi Ma kro Semester I 2007 Dan Prognosisi Semester II 2007
ANALISIS Perkembangan Indikator Ekonomi Makro Semester I 2007 Dan Prognosisi Semester II 2007 Nomor. 02/ A/B.AN/VII/2007 Perkembangan Ekonomi Tahun 2007 Pada APBN 2007 Pemerintah telah menyampaikan indikator-indikator
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT TRIWULAN I-2008 KANTOR BANK INDONESIA BANDUNG Kantor Bank Indonesia Bandung Jl. Braga No. 108 BANDUNG Telp : 022 4230223 Fax : 022 4214326 Visi Bank Indonesia
No.11/02/63/Th XVII. 5 Februari 2014
No.11/02/63/Th XVII. 5 Februari 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2013 Secara triwulanan, PDRB Kalimantan Selatan triwulan IV-2013 menurun dibandingkan dengan triwulan III-2013 (q-to-q)
KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL
KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL AGUSTUS 216 website : www.bi.go.id email : [email protected] VISI BANK INDONESIA : kredibel dan terbaik di regional melalui penguatan nilai-nilai strategis yang
PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2012
No.11/02/63/Th XVII, 5 Februari 2012 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2012 Perekonomian Kalimantan Selatan tahun 2012 tumbuh sebesar 5,73 persen, dengan pertumbuhan tertinggi di sektor konstruksi
