BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB V PENUTUP. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang dilakukan, maka kesimpulan yang dapat di ambil yaitu:

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Variabel Distribusi : 1. Apakah Anda mempertimbangkan jarak/lokasi sekolah dengan tempat tinggal Anda?

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB V P E N U T U P. Berdasarkan analisis dan pembahasan yang dilakukan maka kesimpulan yang dapat diambil yaitu:

BAB III METODE PENELITIAN

BAB V PENUTUP. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, maka kesimpulan yang dapat diambil adalah:

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan di Indonesia adalah seluruh pendidikan yang diselenggarakan di

BAB I PENDAHULUAN. penentu bagi perkembangan sosial dan ekonomi ke arah kondisi yang lebih baik,

BAB III METODE PENELITIAN

BAB II MANAJEMEN PEMASARAN

Kata kunci: mutu nonakademik, analisis swot, ban pt, renstra

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

III. METODOLOGI KAJIAN

BAB III METODE PENELITIAN

: Budi Utami, SE., MM

Nofianty ABSTRAK

Strategi Pemasaran Pada Usaha Kuliner Warung Pasta Margonda Raya Depok Dengan Analisis SWOT NPM :

IV. PEMBAHASAN. Perumnas adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berbentuk. perumahan yang layak bagi masyarakat menengah ke bawah.

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan sebagai faktor pendukung yang memegang peranan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. pemasaran terdapat berbagai permasalahan yang penting dan harus segera diselesaikan,

ANALISIS STRATEGI PEMASARAN TERHADAP PENINGKATAN PENJUALAN PADA TOKO PONSEL RIN PULSA.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pengertian bank menurut Hasibuan (2005:2) adalah badan usaha yang

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

ANALISA SWOT DALAM MENENTUKAN STRATEGI PEMASARAN PADA PERUSAHAAN

BAB II DESKRIPSI ORGANISASI. bawah naungan para Suster Kongregasi Suster-Suster Santa Bunda Maria ( SND )

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

3.9 Penyebaran Kuesioner Pendahuluan Pengolahan Kuesioner Pendahuluan Identifikasi Variabel Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. dan globalisasi yang semakin terbuka. Sejalan tantangan kehidupan global,

A. Analisis Situasi Sekolah 1. Sejarah SMK Kristen 1 Klaten berdiri pada tanggal 1 Agustus 1965 menempati gedung SD Krsiten III yang dahulu berada di

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ANALISA SWOT DALAM MENENTUKAN STRATEGI PEMASARAN PADA PERUSAHAAN

BAB II LANDASAN TEORI

BAB 1 PENDAHULUAN. negara berhak mendapat pendidikan, dan ayat (3) menegaskan bahwa

KEWIRAUSAHAAN-II MERANCANG STRATEGI PEMASARAN. Oloan Situmorang, ST, MM. Modul ke: Fakultas Ekonomi Bisnis. Program Studi Manajemen

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pemilihan Judul

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kehidupan. membantu memenuhi kebutuhan hidupnya. Seiring dengan perkembangan ilmu

Judul Penelitian Ilmiah :

BAB I PENDAHULUAN. kepuasaan pelanggan untuk memaksimalkan laba dan menjaga. keberlangsungan perusahaanya. Hal ini juga untuk memberikan kepuasan

III. METODE PENELITIAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan kajian pustaka yang berupa uraian-uraian teori, hasil

BAB IV ANALISIS SWOT PADA STRATEGI PEMASARAN SIMPANAN QURBAN DI BMT HARAPAN UMAT PATI CABANG PURI KABUPATEN PATI

Perencanaan Strategi Sistem Informasi dan Teknologi Informasi pada Sekolah Menengah Kejuruan di Kota Prabumulih

BAB I PENDAHULUAN BAB I

Sumber : Data Primer yang Diolah Tahun 2013 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

ANALISIS LINGKUNGAN INTERNAL DAN EKSTERNAL BISNIS STMIK SUMEDANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE SWOT ANALYSIS

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya perusahaan didirikan adalah untuk menggabungkan semua

PUBLICITAS Publikasi Ilmiah Civitas Akademika Universitas Majalengka

BAB I PENDAHULUAN. KKN-PPL Penjas UNY - SMA N 3 Klaten

STRATEGI PEMASARAN PADA USAHA PERCETAKAN DI CV. TRIJAYA OFFSET PRINTING NORMA DWI ANDRAWINA MANAJEMEN 2010

DAFTAR ISI. KATA PENGANTAR. i DAFTAR ISI. ii RANGKUMAN EKSEKUTIF viii TIM PENYUSUN EVALUASI DIRI.. xi

Seminar Nasional : Menggagas Kebangkitan Komoditas Unggulan Lokal Pertanian dan Kelautan Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN. teoretik. Manajemen strategi didefinisikan sebagai ilmu tentang perumusan

4.1 Gambaran SMPN 1 Bawen

BAB 3 ANALISIS SISTEM YANG BERJALAN. Dunia pendidikan di indonesia sudah berkembang sejak dahulu dan

STRATEGI PEMASARAN DEALER YAMAHA AMIE JAYA UNTUK MENINGKATKAN PENJUALAN MENGGUNAKAN MATRIKS BCG DAN ANALISIS SWOT

BAB II KAJIAN TEORI. bagi suatu perusahaan untuk tetap survive di dalam pasar persaingan untuk jangka panjang. Daya

BAB II TELAAH PUSTAKA

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

PENYELENGGARAAN TK-SD SATU ATAP

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN. Sebagai tolak ukur pelaksanaan akuntabilitas manajemen di SMK Yaditama Sidomulyo

BAB IV PENUTUP. A. Kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian dan evaluasi yang dilakukan oleh peneliti

BAB II DESKRIPSI SMA NEGERI RAYON 08 JAKARTA BARAT

Pentingnya Penerapan Teori Marketing 7P dalam Usaha Anda

ANALISIS STRATEGI PEMASARAN PADA TOKO MITRA BIKE

BAB III IDENTIFIKASI MASALAH

BAB I PENDAHULUAN A. ANALISIS SITUASI

BAB II DESKRIPSI ORGANISASI

BAB II URAIAN TEORITIS. Dalam Upaya Meningkatkan Jumlah Nasabah pada PT. Bank Sumut Cabang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan ekonomi Indonesia saat ini semakin pesat, sehingga terjadi

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pangkalan Data Penjaminan Mutu Pendidikan. Negara Kesatuan Republik Indonesia. Panduan EDS Kepala Sekolah PADAMU NEGERI

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan. Peran sekolah dinilai sangat penting bagi maju dan berkembangnya

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN BAHASAN

BAB I PENDAHULUAN UKDW. dalam mewujudkan tujuannya sangat dipengaruhi oleh kemampuannya dalam

ANALISIS STRATEGI BISNIS PADA PT INDO JAYA SUKSES MAKMUR

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan di sekolah yakni: input, proses, dan out put (Rivai dan Murni, 2009).

NOVIYANTI MANAJEMEN EKONOMI Penerapan Strategi Pemasaran Dalam Konsep Sisitem Multi Level Marketing Pada PT IFARIA GEMILANG

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang Masalah dan Penegasan Judul. berlangsung sepanjang sejarah dan berkembang sejalan dengan perkembangan

PENDAHULUAN. sosial, maupun politik adalah usaha untuk membangun dan mengembangkan

Strategi Pemasaran Dalam Usaha Meningkatkan Jumlah Pelanggan Pada Derkei Futsal. Muhammad Hapriansyah

III. KERANGKA PEMIKIRAN

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI. SMA Negeri 2 Sarolangun) dapat disimpulkan sebagai berikut :

BAB III METODE PENELITIAN

VI. STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA PDAM KABUPATEN SUKABUMI. Dari hasil penelitian pada PDAM Kabupaten Sukabumi yang didukung

Transkripsi:

BAB I HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Profil Sekolah A. isi Sekolah Kasih dan Hati Membangun Citra Berkarakter dan Berbudaya Bangsa Mengantar Pintu Prestasi Meraih Kesuksesan. B. Misi Sekolah 1. Mendidik mengedepankan penanaman nilai moral dan religiusitas serta karakter dan budaya nasionalisme bangsa dalam pembelajaran inovatif, didukung tertib administratif dengan pembimbingan berkesinambungan untuk pengembangan diri siswa sebagai pribadi berkarakter dan berbudaya, matang dan mandiri. 2. Menumbuh kembangkan semangat kompetitif dan pengabdian untuk agama, nusa bangsa, sekolah serta keluarga dalam suasana persaudaraan antar warga sekolah dan komite untuk peningkatan mutu dan pencapaian prestasi. 3. Mendorong terwujudnya iklim yang sejuk yang aman dan nyaman kondusif didukung manajemen partisipasi dengan pemberdayaan berbagai komponen, 33

berbagai managemen sekolah untuk meraih keunggulan. C. Tujuan Sekolah 1. Menjadikan sekolah tempat belajar cinta dan mencinta bagi semua warga sekolah, berdasar hati, kasih, budaya, serta norma yang menggembirakan tanpa membedakan status agama, suku dan ras. 2. Menanamkan, menerapkan, memupuk, membina budaya saling menghargai harkat dan martabat anggota warga sekolah dalam kehidupan dan berkomunikasi atas dasar kasih dan hati. 3. Semua warga sekolah dengan sadar tedorong melaksanakan pembiasaan budaya kasih, jujur, tertib, disiplin, antre dalam rangka penanaman nilai dan norma serta etika. 4. Memandirikan anak dalam membangun pemahaman menguasai kompetensi dan mampu bersaing sehat untuk meningkatkan mutu/kualitas diri agar matang terbangun citra lewat refleksi agar mampumenjadi agen perubahan sosial. 5. Seluruh siswa kelas I I mencapai standar kriteria ketuntasan minimal sesuai jenjang kelas dan menguasai kompetensi, 34

meraih prestasi dan prosentasi kelulusan mencapai 100%. 6. Membangun citra sekolah, menggunakan berbagai media dan pencapaian target prestasi untuk menyebarkan dan promosi sekolah untuk menunjukkan eksistensi. 4.2 Bauran Pemasaran (marketing mix ) Sekolah 1. People (orang) a. Siswa Pada tahun pembelajaran 2012/2013 jumlah siswa di SD Kanisius Gendongan Salatiga adalah 157 siswa, yang meliputi siswa dari kelas I-I. Sedangkan jumlah siswa baru yang duduk di kelas I pada tahun pembelajaran 2012/2013 sebanyak 29 siswa. Jumlah siswa di SD Kanisius Gendongan Salatiga dalam tiga tahun pembelajaran terakhir (dari tahun pembelajaran 2010/2011 sampai dengan 2012/2013) dapat dilihat pada tabel 4.1 di bawah berikut ini : 35

Tabel 4.1 Jumlah Siswa SD Kanisius Gendongan Salatiga Tahun Pelajaran 2010/2011 sampai dengan Tahun Pelajaran 2012/2013 Jumlah Siswa Kelas 2010/2011 2011/2012 2012/2013 I 32 21 29 II 25 32 22 III 27 25 29 I 26 27 24 27 25 28 I 25 27 25 Jumlah 162 157 157 Sumber : dokumen SD Kanisius Gendongan Salatiga, 2012 Berdasarkan data sekolah dari tahun 2009/ 2010 hingga tahun pembelajaran 2011/2012, prosentase kelulusan peserta didik yang mengikuti ujian tergolong baik yang ditunjukkan oleh prosentase kelulusan sebesar 100%. Data kelulusan dalam 3 tahun terakhir, disajikan pada tabel 4.2 di bawah ini : Tabel. 4.2 Data Kelulusan Peserta Didik tahun 2009/2010 s.d 2011/2012 SD Kanisius Gendongan Salatiga Tahun Pelajaran Peserta Ujian Lulus Ujian Prosentase (%) 2009/2010 25 25 100 2010/2011 25 25 100 2011/2012 27 27 100 Sumber : dokumen SD Kanisius Gendongan Salatiga, 2012 36

Tabel 4.2 di atas memperlihatkan bahwa peserta Ujian Nasional di SD Kanisius Gendongan tahun pembelajaran 2009/2010 sebanyak 25 siswa, tahun pembelajaran 2010/2011 peserta Ujian Nasional sebanyak 25 siswa dan pada tahun pembelajaran 2011/2012 peserta Ujian Nasional meningkat menjadi 27 orang siswa yang kesemuanya berhasil dengan predikat lulus 100%. Data di atas mengindikasikan bahwa seluruh peserta didik lulus dalam ujian nasional. b. Tenaga Guru/karyawan Jumlah guru di SD Kanisius Gendongan Salatiga sebanyak 6 orang, satu orang Kepala Sekolah, karyawan terdiri dari satu orang pegawai TU, satu orang karyawan perpustakaan,dan satu orang penjaga sekolah yang merangkap sebagai petugas kebersihan sekolah. Perincian keadaan guru dan staf/karyawan di SD Kanisius Gendongan Salatiga serta kualifikasi pendidikan guru dan staf/karyawan yang ada di SD Kanisius Gendongan dapat dilihat dalam tabel 4.3 sebagai berikut : 37

Tabel 4.3 Kondisi Guru dan Staf/karyawan SD Kanisius Gendongan Salatiga Tahun Pelajaran 2012-2013 No. Panel Keterangan Jumlah 1. Panel A Status Kepegawaian: a. Guru : 1. Dipekerjakan 2. Guru Tetap Yayasan b. Staf/karyawan : - Tetap Yayasan - Honorer - Kontrak yayasan 2 5 1 1 1 2. Panel B Tingkat Pendidikan: a. Guru : - SMA - D2 - D3 - S1 b. Staf/karyawan (TU) : - SMA c. Petugas Perpustakaan : - D2 d. Penjaga Sekolah : - SMP 1 Sumber : dokumen SD Kanisius Gendongan Salatiga,2012 Berdasarkan tabel 4.3 dapat dikatakan bahwa kualifikasi pendidikan Guru dan Staf/karyawan SD Kanisius Gendongan Salatiga Tahun Pelajaran 2012-2013 yang telah mendapatkan gelar sarjana masih tergolong rendah yaitu hanya sebesar 40% atau hanya 4 orang guru dari total 10 orang. 1 1 1 4 1 1 2. Product Sekolah merupakan suatu usaha yang bergerak di bidang pendidikan, maka produk yang ditawarkan berupa jasa, hal ini sesuai dengan visi dan misi yang 38

ingin dicapai sekolah tersebut. Kegiatan pembelajaran yang ditawarkan di SD Kanisius Gendongan Salatiga dilengkapi juga dengan berbagai kegiatan ekstrakurikuler bagi para siswa antara lain : voli, komputer, drumband, tari, paduan suara (koor), dan pramuka. Kegiatan ekstrakurikuler bagi para siswa tersebut tidak dipungut biaya. 3. Price (biaya) Uang pendaftaran siswa baru pada tahun pembelajaran 2012/2013 di SD Kanisius Gendongan Salatiga ditentukan sebesar Rp 10.000,00. Sedangkan untuk USPP ditetapkan sebesar Rp 600.000 Rp 750.000,00. Uang sekolah (dana Iuran Kegiatan Belajar Mengajar/IKM) di SD Kanisius Gendongan Salatiga tahun pembelajaran 2012/2013 berkisar antara Rp 60.000,00 Rp 75.000,00 per bulan. Harga seragam sekolah ditetapkan sebesar Rp 200.000,00. Apabila dibandingkan dengan SD swasta yang lain di Salatiga dalam lingkup kecamatan yang sama, uang sekolah tersebut lebih murah karena di SD Bethany sebesar Rp 350.000,00 Rp 500.000,00, sedangkan SD Kristen III dan SD Kristen I sebesar Rp 150.000,00 Rp 250.000,00. Penetapan uang sekolah, uang gedung, uang Dana Pengembangan Sekolah, biasanya sudah ditetapkan oleh Yayasan pada bulan Februari. Kebijakan Yayasan ini dilakukan tanpa adanya kompromi dengan pihak sekolah, akibatnya biaya 39

tersebut bagi yang berada di daerah dengan ekonomi penduduk sekitar sekolah menjadi sedikit mahal terlebih bila dibandingkan dengan keberadaan SD Negeri di sekitar SD Kanisius Gendongan Salatiga. 4. Place SD Kanisius Gendongan Salatiga terletak di jalan Dr. Muwardi No. 4 Salatiga yang merupakan lokasi strategis sebagai tempat pendidikan, letaknya berada di tepi jalan raya dan dekat dengan pemukiman penduduk. Letak sekolah yang strategis ini memberikan kemudahan bagi warga sekolah maupun calon konsumen dalam menjangkau lokasi sekolah dengan menggunakan sarana layanan transportasi umum. 5. Promotion Dalam rangka Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dari tahun ke tahun yang dilakukan oleh SD Kanisius Gendongan Salatiga memiliki pola yang hampir sama yaitu diantaranya memasang spanduk di lokasi sekolah, pendekatan terhadap orang tua murid siswa TK Kanisius Gendongan,dan kirab (drumband). Pola strategi pemasaran yang cenderung monoton ini tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap jumlah siswa baru, sehingga jumlah siswa baru di SD Kanisius Gendongan setiap tahun cenderung tidak stabil (fluktuatif). Untuk menangggulangi hal tersebut, sudah dilakukan kerja 40

sama antar SD Kanisius dengan SMP Katolik di Salatiga. Usaha lain yang dilakukan sekolah untuk meningkatkan jumlah siswa baru dimulai pada tahun 2012. Dimulai dengan kegiatan promosi yang dilakukan secara lebih intensif pada sekolah-sekolah Taman Kanak-kanak seperti TK Tunas Rimba, TK Pertiwi, TK Kanisius, dan TK Sejahtera Loka. Dalam PPDB tahun pembelajaran 2012/2013 sekolah sudah mempergunakan pendekatan secara individu maupun kegiatan personal selling (door to door promotion), penyebaran brosur ke sekolah-sekolah Taman Kanakkanak yang dekat dengan lokasi sekolah, maupun melalui pengumuman di gerejadan kerjasama dengan wadah kegiatan wanita katolik (WK) setempat sebagai upaya dalam memperoleh siswa baru, serta melakukan kerjasama dengan pihak-pihak dari sekolah lanjutan seperti SMP Pangudi Luhur maupun SMP Stella Matutina. 6. Physical Evidence (bukti fisik)/sarana Prasarana Kondisi ruang atau bangunan SD sampai saat ini bersama dengan TK dan SD Kanisius Gendongan telah memiliki 12 ruang kelas yang digunakan sebagai satu ruang guru, 1 ruang untuk kantor kepala sekolah TK/SD, 1 ruang UKS dan 1 ruang perpustakaan. Kelas formal 6 ruang, TK A 1 ruang, TK B 1 ruang. Selain itu terdapat juga 1 ruang aula yang digunakan sebagai 41

ruang serba guna, 1 ruang doa, 8 kamar mandi/wc,dan 1 ruang laboratorium komputer. Adanya bantuan DAK tahun 2003 untuk meningkat gedung yang sekarang digunakan untuk ruang Kepala Sekolah dan Ruang Guru untuk gedung yang berada dibawah, dan untuk gedung yang diatas digunakan untuk ruang kelas 5 dan kelas 6, tahun 2006 bantuan DAK untuk merenovasi sekolah lama yang rusak. Tahun 2009 DAK yang tujuannya mengganti atap, dan merehab kamar mandi dan WC, tahun 2010 mendapat bantuan blockgrant, tahun 2012 untuk mengganti dan meninggikan atap kelas tetapi tidak terealisasi hingga tahun 2013. 7. Process (proses) Jenjang karir/kenaikan tingkat bagi guru tetap yayasan diberikan setiap 5 tahun, sedangkan kenaikan tingkat secara berkala diberikan bagi para guru tetap yayasan setiap 2 tahun. Penghargaan pengabdian bagi guru yang telah berkarya selama 25 tahun diberikan reward oleh yayasan berupa cincin emas yang biasa disebut sebagai pesta perak. Sedangkan proses pembelajaran yang diberikan bagi para siswa meliputi pembelajaran Tematik (bagi siswa kelas I-III) dan pembelajaran sesuai mata pelajaran (bagi siswa kelas I-I) sesuai dengan kurikulum standar nasional pendidikan Indonesia yang diintegrasikan dengan Paradigma Pembelajaran Reflektif (PPR) dan Pendidikan Karakter Budaya Bangsa 42

(PDKB). Secara ringkas, variabel marketing mix di SD Kanisius Gendongan dapat terlihat seperti pada tabel 4.4 berikut ini : Tabel 4.4 ariabel Marketing Mix SD Kanisius Gendongan No. 1. 2. 3. 4. 5. ariabel Marketing Mix Product (produk) Price (harga) Place (tempat) Promotion (promosi) People (orang) Keterangan Jasa pendidikan yang dilengkapi dengan penambahan kegiatan ekstrakurikuler : voli, komputer, drumband, tari, paduan suara (koor), dan pramuka. Administrasi pendidikan ditetapkan oleh Yayasan untuk tahun pembelajaran 2012/2013: - Uang pendaftaran: Rp 10.000,00 - USPP : Rp 600.000,00 Rp 750.000,00 - IKM : Rp 60.000,00 Rp 75.000,00 - Seragam : Rp 200.000,00 Letaknya strategis yaitu di Jl.Dr. Muwardi No.04 (terletak di pinggir jalan raya) yang mudah di jangkau dengan sarana transportasi umum. Kegiatan promosi dilakukan melalui pemasangan spanduk di lokasi sekolah, personal selling (door to door promotion) yang lebih di utamakan bagi orangtua siswa TK Kanisius Gendongan, kirab, kerjasama dengan sekolah katolik lain (SMP Stella Matutina dan SMP Pangudi Luhur), penyebaran brosur ke Taman Kanakkanak, bekerjasama dengan gereja dan kegiatan Wanita Katolik (WK). Terdiri dari 1 kepala sekolah, 6 guru kelas, 1 orang staf/karyawan TU, 1 43

6. 7. Physical Evidence (bukti fisik) Process (proses) orang penjaga sekolah. Jumlah siswa secara keseluruhan dari kelas I I sebanyak 157 orang siswa. Satu ruang guru, 1 ruang untuk kantor kepala sekolah TK/SD, 1 ruang UKS, 1 ruang perpustakaan, kelas formal 6 ruang, 1 ruang doa, 1 kamar mandi guru, 3 kamar mandi/wc putra, 4 kamar mandi/wc putri,dan 1 ruang laboratorium komputer. a. Jenjang karir/kepangkatan guru: - Jenjang karir/kenaikan tingkat bagi guru tetap yayasan diberikan setiap 5 tahun, sedangkan kenaikan tingkat secara berkala diberikan bagi para guru tetap yayasan setiap 2 tahun. Penghargaan pengabdian bagi guru yang telah berkarya selama 25 tahun diberikan reward oleh yayasan berupa cincin emas yang biasa disebut sebagai pesta perak. b. Proses Pembelajaran: - Proses pembelajaran yang diberikan bagi para siswa meliputi pembelajaran Tematik (bagi siswa kelas I-III) dan pembelajaran sesuai mata pelajaran (bagi siswa kelas I-I) sesuai dengan kurikulum standar nasional pendidikan Indonesia yang diintegrasikan dengan Paradigma Pembelajaran Reflektif (PPR) dan Pendidikan Karakter Budaya Bangsa (PDKB). 4.3 Analisis SWOT Analisis dilakukan bersama Kepala sekolah, panitia Penerimaan Peserta Didik Baru, dan dua orang perwakilan guru yang ada di SD Kanisius Gendongan 44

Salatiga dalam Focus Group Discussion (FGD) yang dilakukan sebanyak dua kali yaitu pada tanggal 20 Oktober 2012 dan 20 Januari 2013 di ruangan kepala sekolah, yang berlangsung sekitar 2 jam. Dalam FGD ini terjadi brainstorming saat mengidentifikasi faktorfaktor strategis internal dan faktor-faktor strategi eksternal, karena masing-masing peserta FGD mempunyai sudut pandang yang berbeda. Data tersebut dibagi kedalam tiga matrik yaitu, matrik Internal Factors Analysis Summary dan matrik External Factors Analysis Summary, serta matrik SWOT untuk komponen variable marketing mix. Matrik yang sudah dibuat saat FGD mengalami sedikit perubahan pada beberapa item seperti penggunaan metode dan alat peraga dalam proses pembelajaran, kegiatan promosi,dan bukti fisik saat peneliti melakukan pemeriksaan sejawat dengan kepala sekolah. Setelah data yang ada disepakati oleh kepala sekolah, peneliti kemudian membuat analisis rencana strategis bagi strategi pemasaran di SD Kanisius Gendongan Salatiga. 4.3.1 Analisis SWOT terhadap ariabel Marketing Mix Analisis SWOT dilakukan dengan mengindentifikasi faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman bagi strategi pemasaran di SD Kanisius Gendongan Salatiga dalam tujuh variable marketing mix yaitu Product (produk), Price (harga), Place (tempat), Promotion (promosi), People (orang), Physical Evidence (bukti fisik) dan Process (proses). 45

Hasil analisis faktor kekuatan dan kelemahan aspek Physical Evidence (bukti fisik), People (orang), Product (produk), Promotion (promosi),dan Process (proses) sampai diperoleh Matrik Internal Factors Analysis Summary (IFAS) dapat dilihat pada tabel 4.5 berikut: 46

Tabel 4.5 Matriks IFAS ariabel Marketing Mix No ELEMEN SWOT Bobot Skor Total Bobot x Skor KEKUATAN 1. PDKB dan PPR yang diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan 0.23 4 0.92 2. Sekolah memiliki gedung dan fasilitas pembelajaran 0.21 4 0.84 3. Akreditasi A 0.19 4 0.76 4. Lokasi sekolah strategis 0.17 3 0.51 5. Kemampuan staf/tu ( dalam pembuatan laporan keuangan, pemberian informasi,dan penyusunan kelengkapan administrasi) 0.12 4 0.48 6. Kemampuan finansial untuk biaya operasional sekolah 0.08 3 0.24 Total Skor 1 3.75 KELEMAHAN 1. Supervisi kepala sekolah 0.23 2 0.46 2. Kegiatan promosi dan humas 0.21 2 0.42 3. Jumlah guru 0.18 3 0.54 4. ariasi penggunaan metode mengajar dan media pembelajaran 0.15 2 0.3 5. Kualifikasi tenaga pendidik/guru 0.14 3 0.42 6. Kemampuan dan penguasaan teknologi informasi guru dan siswa 0.09 2 0.18 Total Skor 1 2.32 Total Skor Akhir (Kekuatan Kelemahan) Sumber: Hasil Focus Group Discussion, 2013 1.43 Pemberian rentang bobot 0,1 sampai dengan 1,0 pada analisis SWOT matriks IFAS untuk elemen kekuatan dan kelemahan yang tertuang pada tabel 4.5 47

di atas dilakukan oleh pihak sekolah ketika sekolah menilai dirinya sendiri dalam FGD. Pemberian skor 1 sampai dengan 5 ditentukan oleh sekolah sesuai dengan skala prioritas sekolah yang dilakukan dalam FGD. Berdasarkan tabel 4.5 analisis SWOT matriks IFAS variabel marketing mix maka hasil analisis faktor kekuatan yang ada di SD Kanisius Gendongan Salatiga sebagai kekuatan/kelebihan yang utama adalah dengan adanya PDKB dan PPR yang diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan yang diberi bobot sebesar 0,23 dan skor 4. Adanya kurikulum yang diterapkan di sekolah tersebut dalam melaksanakan kurikulum pendidikan yang mengintegrasikan pada penerapan pendidikan karakter dan budaya bangsa (PDKB) serta menggunakan paradigma pembelajaran reflektif (PPR) sebagai ciri khusus yang hanya dimiliki oleh sekolah khatolik. Penerapan pendidikan karakter dan budaya bangsa (PDKB) pada sekolah katholik salah satunya ditunjukkan oleh ciri yang ditonjolkan yaitu adanya pemberlakuan kedisiplinan baik bagi siswa, guru, staf maupun kepala sekolah. Pemberlakuan standar disiplin tersebut meliputi kehadiran, jam kerja, administrasi, maupun laporan-laporan tugas dan tanggung jawab baik siswa, guru, staf dan karyawan sekolah. Berdasarkan matriks IFAS di atas kemampuan staf (Tata Usaha) dalam hal pembuatan berbagai macam laporan keuangan, administrasi perkantoran, 48

serta adanya ketersediaan berbagai informasi diberi bobot 0,12 dan skor 4. Elemen kekuatan yang dimiliki sekolah dengan pemberian bobot 0,21 dan skor 4 yang terlihat dalam matriks IFAS selanjutnya adalah adanya kepemilikan gedung beserta sarana dan prasarana yang memadai dengan kondisi yang baik dan lengkap. Dengan adanya ruang kelas, perpustakaan, kantor guru dan kantor kepala sekolah, kamar mandi/wc putra dan putri, ruang doa, aula, serta kelengkapan alat peraga pembelajaran membuat kegiatan pembelajaran dan kegiatan kesiswaan dapat dilaksanakan dengan lancar dan nyaman. Selain adanya ruang dan gedung yang didesain demi kenyamanan proses belajar-mengajar, sekolah juga memberikan fasilitas komunikasi yang memadai untuk telepon dan internet. Pemberian fasilitas komunikasi berupa telepon ini berhubungan dengan adanya peraturan yang ditetapkan bagi siswa-siswi supaya tidak membawa Hand phone (HP) di lokasi sekolah selama proses belajar di sekolah, namun sekolah juga memberikan layanan fasilitas komunikasi dengan menyediakan fasilitas telepon gratis bagi siswasiswi yang membutuhkannya. Fasilitas lain yang disediakan sekolah demi menunjang proses kegiatan belajar mengajar (KBM) adalah fasilitas internet. Namun fasilitas internet tersebut belum sepenuhnya diperuntukkan bagi siswa, sehingga layanan internet hanya digunakan bagi para guru untuk meningkatkan proses pembelajaran. 49

Tersedianya sarana dan prasarana sekolah serta adanya berbagai macam fasilitas yang ada menuntut adanya sumber daya manusia yang memiliki ketrampilan dan keahlian dalam mempergunakannya. Berbagai sarana dan prasarana baik dalam bidang akademik maupun non akademik yang telah ada memberikan peluang bagi para siswa untuk mengembangkan ketrampilan dan menggali bakat minat serta menanamkan kedisiplinan, kerjasama, serta kepemimpinan setiap siswa. Oleh karena itu sekolah memfasilitasi berbagai macam kegiatan ekstrakurikuler bagi para siswanya antara lain menari, kepramukaan, vocal, drumband, dan voli. Selanjutnya pemberian bobot sebesar 0,19 dan skor 4 pada elemen kekuatan sekolah berikutnya yaitu diperolehnya status sekolah yang terakreditasi A dari hasil akreditasi Agustus 2012 lalu. Adanya status sekolah yang terakreditasi A secara tidak langsung merupakan bentuk promosi yang menunjukkan bahwa SD ini memiliki kualitas/mutu pendidikan yang baik beserta dengan berbagai proses pembelajaran, administrasi yang ada, maupun proses pembiayaan sekolah. Berdasarkan hasil laporan keuangan sekolah dari sumber pembiayaan yang ada maka sekolah memiliki kemampuan finansial yang baik untuk biaya operasional sekolah yang dibuktikan dengan perolehan bobot sebesar 0,08 dan skor 3 dalam tabel matriks SWOT diatas. Selanjutnya yang menjadi elemen kekuatan yang dimiliki sekolah dengan pemberian bobot 0,17 dan 50

skor 3 adalah lokasi sekolah yang strategis yaitu berada di pinggir jalan raya dan mudah dijangkau oleh konsumen. Dengan kekuatan ini sekolah mempunyai kesempatan untuk menyiapkan diri dalam usaha untuk meningkatkan jumlah siswa baru dalam Penerimaan Peserta Didik Baru tahun pembelajaran 2013/2014 yang akan datang. Sehingga total bobot dikalikan skor untuk faktor kekuatan adalah 3,75. Walaupun memiliki beberapa kekuatan yang bisa diandalkan, sekolah juga mempunyai kelemahankelemahan yang perlu diatasi seperti kegiatan supervisi kepala sekolah yang belum maksimal dilaksanakan merupakan kelemahan sekolah yang diberi bobot 0,23 dan skor 2. Kegiatan supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah hanya dilakukan sebatas pada supervisi administrasi guru saja, sedangkan pelaksanaan supervisi bagi kegiatan proses belajar-mengajar masih dirasakan sangat kurang. Rendahnya frekuensi pelaksanaan kegiatan supervisi tersebut berdampak pada kemampuan dan penguasaan teknologi informasi guru dan siswa yang tidak maksimal. Hal ini menjadi kelemahan sekolah selanjutnya yang diberi skor 2 dan bobot 0,09. Salah satu hal yang melatarbelakangi kurangnya kemampuan dan penguasaan teknologi informasi guru seperti yang ditunjukkan pada tabel 4.5 yang juga menjadi kelemahan sekolah yaitu kualifikasi tenaga pendidik (guru) yang belum Sarjana. Dari data yang ditunjukkan 51

pada analisis SWOT matriks IFAS dalam tabel 4.5 maka kualifikasi tenaga pendidik/guru yang belum sarjana diberi bobot 0,14 dan skor 3. Data yang diperoleh dari pihak sekolah hingga tahun pembelajaran 2011/2012 menyebutkan bahwa guru yang sudah sarjana hanya 2 orang dari total 6 tenaga pendidik atau sekitar 33% saja, dengan rincian 1 orang guru PNS (yang dipekerjakan) dan 1 orang guru yayasan. Namun pada tahun pembelajaran 2012/2013 tenaga guru dengan kualifikasi pendidikan sarjana meningkat sebesar 67% dengan rincian 3 orang guru yayasan dan 1 orang guru PNS (yang dipekerjakan). Adapun jumlah guru selama ini hanya terdiri dari 6 guru saja, namun pada tahun pembelajaran 2012/2013 jumlah guru di SD Kanisius Gendongan berjumlah 7 orang yang terdiri dari 5 tenaga guru tetap yayasan, 1 guru PNS,dan seorang kepala sekolah. Maka pada tabel 4.5 di atas jumlah guru yang dirasa kurang oleh pihak sekolah diberi bobot 0,18 dan skor 3. Keterbatasan tenaga guru serta kemampuan dan penguasaan teknologi informasi yang rendah mengakibatkan minimnya variasi penggunaan alat peraga, media pembelajaran serta metode pembelajaran yang diberlakukan pada kegiatan pembelajaran. Sehingga kelemahan sekolah selanjutnya yang diberi bobot 0,15 dan skor 2 terlihat pada variabel bukti fisik dan proses yang ditunjukkan oleh rendahnya variasi penggunaan metode mengajar dan penggunaan media pembelajaran. 52

Bagi elemen kelemahan sekolah pada matriks IFAS di atas dengan pemberian bobot sebesar 0,21 dan perolehan skor sebanyak 2 yaitu adanya kegiatan promosi dan hubungan kemasyarakatan yang sangat kurang untuk dilakukan. Meskipun sekolah memiliki Komite Sekolah namun pada kenyataannya peran komite sekolah terhadap kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh sekolah masih sangat kurang, bahkan dalam kegiatan mempromosikan sekolah serta melakukan hubungan kemasyarakatan. Berdasarkan data yang diperoleh maka total bobot dikalikan skor untuk faktor kelemahan adalah 2,32. Sedangkan total skor akhir kekuatan dikurangi kelemahan untuk adalah 1,43. Hal ini menunjukkan bahwa faktor kekuatan lebih dominan daripada kelemahan. Ini berarti sekolah bisa menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk mengatasi kelemahankelemahan yang muncul. Hasil analisis faktor peluang dan ancaman aspek People (orang), proses, Product (Produk), Place (tempat), Promotion (promosi),dan Price (harga) dapat dilihat pada tabel 4.6 selanjutnya diberi bobot dan skor, serta dilakukan perhitungan skor akhirnya, dan diperoleh Matriks Eksternal Factors Analysis Summary (EFAS) sebagai berikut: 53

Tabel 4.6 Matriks EFAS ariabel Marketing Mix No ELEMEN SWOT Bobot Skor 1. 2. Total Bobot x Skor PELUANG Memiliki TK sendiri sebagai pemasok siswa 0.23 4 0.92 Kesadaran dari orang tua untuk mendidik anak bermental Kristiani 0.21 3 0.63 3. Akses transportasi umum 0.17 4 0.68 4. Sumber pendanaan dari Pemerintah 0.16 4 0.64 5. Kepercayaan masyarakat terhadap sekolah makin tinggi 0.15 3 0.45 6. Dekat dengan perumahan penduduk 0.08 4 0.32 Total Skor 1 3.64 ANCAMAN 1. 2. 3. Kebijakan pemerintah yang menghapus biaya pendidikan (sekolah gratis) 0.24 3 0.72 Latar belakang ekonomi orang tua siswa 0.22 3 0.66 Semakin banyak tuntutan dari masyarakat terhadap output yang dihasilkan 0.17 1 0.17 4. Dukungan orang tua terhadap kegiatan sekolah 0.15 2 0.30 5. Lokasi pesaing 0.13 2 0.26 6. Pertumbuhan dan perkembangan pesaing 0.09 2 0.18 Total Skor 1 2.29 Total Skor Akhir (Peluang Ancaman) Sumber: Hasil Focus Group Discussion, 2013 1.35 Pemberian rentang bobot 0,1 sampai dengan 1,0 pada analisis SWOT matriks EFAS untuk elemen peluang dan ancaman yang tertuang pada tabel 4.6 di 54

atas dilakukan oleh pihak sekolah ketika sekolah menilai dirinya sendiri dalam FGD. Pemberian skor 1 sampai dengan 5 ditentukan oleh sekolah sesuai dengan skala prioritas sekolah yang dilakukan dalam FGD. Berdasarkan tabel 4.6 salah satu peluang yang dapat dimanfaatkan sekolah yaitu SD Kanisius Gendongan memiliki TK yang lokasinya berada dalam lingkungan sekolah, dengan kata lain sekolah memiliki TK dalam lingkungan yang sama. Adanya siswa dari TK Kanisius Gendongan sebagai pemasok siswa baru pada penerimaan peserta didik baru di SD Kanisius Gendongan memberikan potensi bagi keberlanjutan sistem pendidikan yang berlatarbelakang Kristiani. Tabel 4.7 di bawah ini memperlihatkan bahwa TK Kanisius Gendongan merupakan pemasok siswa baru pada penerimaan peserta didik baru di SD Kanisius Gendongan setiap tahunnya : Tabel 4.7 TK Pemasok Siswa Baru di SD Kanisius Gendongan No Tahun Ajaran Jml Siswa Baru Jumlah Pemasok siswa berdasar Asal Sekolah TK Kanisius Gendongan TK Lain 1 2009/2010 25 16 9 2 2010/2011 32 23 9 3 2011/2012 21 12 9 4 2012/2013 29 19 10 Sumber: Hasil Focus Group Discussion, 2013 55

Berdasarkan tabel 4.7 di atas dapat dikatakan bahwa setiap tahun pembelajaran jumlah siswa baru di SD Kanisius Gendongan terdiri dari 50% siswa TK Kanisius Gendongan yang lulus dan melanjutkan di sekolah dasar. Oleh karena itu siswa dari TK Kanisius tersebut diberi fasilitas berupa pembebasan biaya dana pembangunan/sumbangan sukarela dan biaya pendaftaran, sehingga diberi bobot 0,23 dan skor 4. Peluang berikutnya yaitu kesadaran dari orang tua untuk mendidik anak bermental Kristiani yang diberi bobot 0,21 dan skor 3. Sesuai dengan kurikulum pembelajaran yang ditawarkan oleh sekolah bahwa character building dan pembelajaran berdasarkan aksirefleksi yang diintegrasikan dengan berbagai mata pelajaran yang ada serta latar belakang sekolah yang mendasarkan iman Kristiani maka banyak orang tua siswa yang memiliki kesadaran untuk mendidik anak bermental Kristiani dengan menyekolahkan di SD Kanisius Gendongan. Selain itu keberadaan lokasi sekolah yang dekat dengan perumahan penduduk membuka adanya peluang yang baik bagi penduduk setempat untuk menyekolahkan putra-putrinya di sekolah yang dekat dengan tempat tinggalnya. Maka keberadaan sekolah yang dekat dengan perumahan penduduk diberi bobot 0,08 dan skor 4. Selain itu lokasi sekolah yang strategis dan mudah dijangkau dengan ketersediaan sarana transportasi umum merupakan peluang dimana sekolah dipilih oleh konsumen. Adapun ketersediaan 56

akses transportasi umum tersebut merupakan factor eksternal yang diberi bobot 0,17 dan skor 4. Faktor eksternal selanjutnya yang merupakan elemen peluang dari variabel marketing mix yaitu kepercayaan masyarakat terhadap sekolah makin tinggi yang terlihat dari banyaknya orang tua yang ingin memasukkan anaknya di SD Kanisius Gendongan. Data yang di dapat dari hasil penelitian seperti yang tercantum pada tabel 2.1 menyatakan bahwa pada tahun pembelajaran 2010/2011 jumlah siswa baru sebanyak 32 siswa dan tahun pembelajaran 2012/2013 jumlah siswa baru sebanyak 29 siswa. Peluang dimana kepercayaan masyarakat terhadap SD Kanisius Gendongan makin tinggi tersebut diberi bobot 0,15 dan skor 3. Di lain sisi data yang di dapatkan dari hasil penelitian yang telah dipadukan dalam FGD menyatakan bahwa sekolah juga menerima bantuan sumber pendanaan dari Pemerintah untuk biaya operasional sekolah yang bersumber dari APBN, APBD I,dan APBD II. Sehingga dengan adanya bantuan biaya operasional sekolah yang diterima, sekolah dapat melakukan subsidi silang untuk meringankan pembebanan biaya sekolah bagi setiap siswa. Pembiayaan operasional sekolah ini juga memberikan dampak yang signifikan dalam kemampuan finansial untuk biaya operasional sekolah bagi keberlangsungan kegiatan-kegiatan yang direncanakan maupun dilaksanakan. Namun meskipun 57

demikian kemampuan finansial sekolah untuk biaya operasional mampu memberikan peluang yang cukup baik yang ditunjukkan dengan pemberian bobot 0,16 dan skor 4. Total bobot dikali skor untuk faktor peluang adalah 3,64. Berdasarkan elemen SWOT yang sangat mengancam keberadaan sekolah yaitu adanya kebijakan pemerintah yang menghapus biaya pendidikan (sekolah gratis) yang diberi bobot 0,24 dan skor 3. Hal ini tentu saja memberikan dampak yang signifikan bagi sekolah-sekolah swasta dimana biaya pendidikan serta kegiatan operasional sekolah bersumber dari pembiayaan secara mandiri, sedangkan di sekolah-sekolah negeri biaya sekolah semuanya gratis. Ancaman selanjutnya yang menyebabkan kekhawatiran pihak sekolah dalam usahanya meningkatkan jumlah siswa baru setiap tahunnya yaitu latar belakang ekonomi orang tua siswa yang termasuk dalam kategori ekonomi menengah ke bawah yang diberi bobot 0,22 dan skor 3, serta semakin banyaknya tuntutan dari masyarakat terhadap output yang dihasilkan baik dalam bidang akademik maupun bidang non akademik serta karakter siswa yang diberi bobot 0,17 dan skor 1. Ancaman terakhir bagi SD Kanisius Gendongan yaitu adanya lokasi pesaing yang diberi bobot 0,13 dan skor 2. Data yang diperoleh terdapat setidaknya 5 sekolah dasar yang lokasinya mudah dijangkau 58

letaknya dekat dengan SD Kanisius Gendongan yang terdiri dari 3 SD negeri dan 2 SD swasta. Dalam lingkup Kecamatan yang sama dan adanya kontribusi pertumbuhan dan perkembangan pesaing maka keberadaan SD Kanisius pun tak luput dari ancaman atas adanya keberadaan kompetitornya yang diberi bobot 0,09 dan skor 2. Total bobot dikali skor untuk faktor ancaman adalah 2,29 maka total skor akhir faktor peluang dikurangi faktor ancaman adalah1,35. Dari hasil analisis faktor eksternal tersebut diketahui bahwa SD Kanisius Gendongan memiliki banyak peluang yang dapat memberikan kontribusi guna meningkatkan jumlah siswa baru pada setiap tahun pembelajaran. Memang ada beberapa hal yang dapat menjadi ancaman dalam hal pembiayaan (price), lokasi sekolah (place), proses, dan produk namun sekolah bisa mengatasi ancaman yang timbul dengan memanfaatkan peluang yang ada. Merujuk pada tujuh variabel marketing mix yang ada di SD Kanisius Gendongan, maka secara ringkas variabel-variabel marketing mix yang paling dominan dalam kegiatan pemasaran sekolah dapat dilihat pada tabel 4.8 di bawah ini : 59

Tabel 4.8 ariabel yang dominan dalam analisis SWOT variabel marketing mix di SD Kanisius Gendongan ariabel Marketing Mix Matriks SWOT IFAS : Kekuatan: 1. PDKB dan PPR yang diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan 2. Sekolah memiliki gedung dan fasilitas pembelajaran 3. Akreditasi A 4. Lokasi sekolah strategis v v Product (produk) Price (harga) Place (tempat) Promotion (promosi) People (orang) Physical Evidence (bukti fisik) Process (proses) 60

5. Kemampuan staf/tu ( pembuatan laporan keuangan, pemberian informasi,dan penyusunan kelengkapan administrasi) 6. Kemampuan finansial untuk biaya operasional sekolah Kelemahan : 1. Supervisi kepala sekolah 2. Kegiatan promosi dan humas 3. Jumlah guru 4. ariasi penggunaan metode mengajar dan media pembelajaran 5. Kualifikasi 61

tenaga pendidik/guru 6. Kemampuan dan penguasaan teknologi informasi guru dan siswa EFAS : Peluang : 1. Memiliki TK sendiri sebagai pemasok siswa 2. Kesadaran dari orang tua untuk mendidik anak bermental Kristiani 3. Akses transportasi umum 4. Sumber pendanaan dari Pemerintah 5. Kepercayaan masyarakat terhadap sekolah makin tinggi 62

6. Dekat dengan perumahan penduduk Ancaman : 1. Kebijakan pemerintah yang menghapus biaya pendidikan (sekolah gratis) 2. Latar belakang ekonomi orang tua siswa 3. Semakin banyak tuntutan dari masyarakat terhadap output yang dihasilkan 4. Dukungan orang tua terhadap kegiatan sekolah 5. Lokasi pesaing 6. Pertumbuhan dan perkembangan pesaing Total dominan variabel 6 4 4 1 4 3 10 63

Pada tabel 4.8 terlihat bahwa variabel yang dominan dalam analisis SWOT variabel marketing mix Matriks IFAS maupun EFAS di SD Kanisius Gendongan berdasar variabel yang dominan yaitu 1. variabel proses sebanyak 10 item, 2. variabel produk sebanyak 6 item, 3. variabel price (biaya), place (tempat), dan people (orang) merupakan variabel yang sama-sama memperoleh 4 item sehingga posisinya sama, sedangkan urutan selanjutnya didominasi oleh variabel bukti fisik sebanyak 3 item. Selanjutnya variabel marketing mix yang memperoleh dominansi paling sedikit terletak pada variabel promosi yang hanya memperoleh 1 item saja. 4.3.2 Rencana Strategi Pemasaran berdasarkan variabel Marketing Mix Setelah mengidentifikasi berbagai faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman untuk variabel Marketing Mix kemudian diberi bobot dan skor maka hasil perhitungan untuk total skor akhir adalah sebagai berikut: Tabel 4.9 Skor Akhir IFAS dan EFAS untuk variabel Marketing Mix IFAS EFAS Kategori Total Skor Kategori Total Skor Kekuatan 3,75 Peluang 3,64 (S) (O) Kelemahan 2,32 Ancaman 2,29 (W) (T) Total (S W) 1,43 Total (O T) 1,35 64

Berdasarkan hasil analisis lingkungan internal dan eksternal untuk variabel Marketing Mix di SD Kanisius Gendongan Salatiga diperoleh hasil skor akhir IFAS (kekuatan-kelemahan) adalah 1,43. Sedangkan skor akhir EFAS (peluang-ancaman) adalah 1,35. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa strategi berada di kuadran SO (strenght-opportunity) yang mendukung strategi agresif, sehingga pihak sekolah dapat menggunakan kekuatan dari lingkungan internal sekolah dan meraih peluang yang ada pada lingkungan eksternal dalam strategi pemasaran sekolah khususnya pada aspek variabel marketing mix untuk meningkatkan jumlah siswa baru. Hasil analisis tersebut digambarkan pada gambar 4.1 berikut: Peluang 3 2 ( 1,43;1,35) KUADRAN - SO Strategi Agresif Memanfaatkan kekuatan untuk menangkap Peluang yang ada Kelemahan 1-3 -2-1 -1 1 2 3 Kekuatan -2-3 Ancaman Gambar 4.1 Matriks SWOT ariabel Marketing Mix 65

Gambar 4.2 Rencana Strategi Pemasaran berdasarkan variabel marketing mix Eksternal Peluang Internal Faktor Faktor Memiliki TK sendiri sebagai pemasok siswa Kesadaran dari orang tua untuk mendidik anak bermental Kristiani Akses transportasi umum Sumber pendanaan dari Pemerintah Kepercayaan masyarakat terhadap sekolah makin tinggi Dekat dengan perumahan penduduk Kekuatan PDKB dan PPR yang diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan Sekolah memiliki gedung dan fasilitas pembelajaran Akreditasi A Lokasi sekolah strategis Kemampuan staf/tu (dalam pembuatan laporan keuangan, pemberian informasi,dan penyusunan kelengkapan administrasi) Kemampuan finansial untuk biaya operasional sekolah 1. Merevisi visi dan misi sekolah 2. Membuat program bedah alat peraga 3. Meningkatkan kualitas layanan pada peserta didik maupun stakeholder 4. Meningkatkan promosi 66

Berdasarkan hasil analisis SWOT tersebut, maka rencana strategi pemasaran yang perlu dibuat sebagai upaya meningkatkan jumlah siswa baru berdasarkan variabel marketing mix di SD Kanisius Gendongan adalah : (1) Merevisi visi dan misi sekolah, (2) Membuat program bedah alat peraga dan fasilitas pembelajaran, (3) Meningkatkan kualitas layanan pada peserta didik maupun stakeholder, (4) Meningkatkan promosi. 4.4 Pembahasan 4.4.1 Tindak Lanjut dari Nilai IFAS dan EFAS Berdasarkan hasil perhitungan analisis terhadap faktor lingkungan internal dan faktor lingkungan eksternal variabel marketing mix SD Kanisius Gendongan maka diperoleh hasil skor akhir lingkungan internal variabel marketing mix (kekuatan kelemahan) adalah 1,43. Angka ini menunjukkan bahwa faktor kekuatan lebih dominan dari pada faktor kelemahan. Sedangkan skor akhir lingkungan eksternal variabel marketing mix (peluang ancaman) adalah 1,35. Ini menunjukkan bahwa faktor peluang masih lebih dominan dari faktor ancaman sehingga sekolah bisa memanfaatkan peluang yang ada untuk mereduksi ancaman-ancaman yang muncul. 67

Hasil perhitungan IFAS dan EFAS menunjukkan bahwa posisi SD Kanisius Gendongan berada pada titik (1,43 ; 1,35) berarti ada pada kuadran SO (Strength Opportunities), yang merupakan situasi sangat menguntungkan karena sekolah memiliki kekuatan dan peluang yang lebih dominan sehingga perlu diterapkan strategi agresif yang mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif dengan menggunakan kekuatan yang ada pada sekolah untuk memanfaatkan peluang dari luar. Sebagai tindak lanjut dari posisi sekolah yang ditunjukkan pada kuadran SO maka sekolah perlu membuat rencana strategi pemasaran sebagai upaya meningkatkan jumlah siswa baru berdasarkan tujuh variabel marketing mix di SD Kanisius Gendongan. 4.4.2 Rencana Strategi Pemasaran berdasarkan variabel marketing mix Berdasarkan hasil analisis SWOT untuk IFAS dan EFAS menghasilkan strategi di kuadran SO (Strengths Oppurtunities), yaitu strategi agresif yang mendukung pertumbuhan. Strategi ini menggunakan kekuatan internal sekolah untuk meraih peluangpeluang yang ada di luar sekolah (Robbins & Coulter, 2009). Berikut ini adalah rencana strategi pemasaran sebagai upaya meningkatkan jumlah siswa baru berdasarkan tujuh variabel marketing mix di SD Kanisius Gendongan : 68

Renstra pertama : Merevisi visi dan misi sekolah dengan menitikberatkan pada kompetensi lulusan, character building, dan paradigma pembelajaran reflektif. Sebagai salah satu ciri utama yang dimiliki sekolah-sekolah Katolik adalah adanya sistem pembelajaran yang mengajarkan pembentukan karakter dan pribadi siswa maka perumusan visi dan misi sekolah didasarkan pada perwujudan aksi refleksi sebagai nilai tambah dari produk jasa yang ditawarkan oleh konsumen. Oleh karena itu sekolah perlu untuk mengembangkan program pembelajaran berdasarkan Paradigma Pembelajaran Reflektif (PPR) serta Pendidikan Karakter dan Budaya Bangsa (PDKB). Program pembelajaran tersebut perlu diintegrasikan dalam kurikulum pembelajaran sebagai ciri utama dari SD Kanisius Gendongan. Adapun pembelajaran reflektif tersebut lebih menekankan pada bagaimana para siswa melakukan aksi dan refleksi atas ilmu pengetahuan yang dipelajarinya dengan kenyataan yang ada serta mengkaitkannya dengan karakter yang sesuai dengan budaya bangsa Indonesia. Sehingga dengan adanya penekanan pada kurikulum pembelajaran berdasarkan PPR dan PDKB sekolah bisa menjual suatu nilai prioritas (value) yang berbeda yang memberikan manfaat (benefit) tersendiri dari output yang dihasilkan SD Kanisius Gendongan di masa yang akan datang. Selain itu adanya pembentukan mental dan karakter sejak dini diharapkan output yang dihasilkan dapat membangun suatu image positif sekolah di benak 69

masyarakat sehingga publisitas output sesuai harapan konsumenpun dapat menjadi media promosi melalui word of mouth. Renstra kedua : Membuat program bedah alat peraga dan fasilitas pembelajaran. Pemberian dana bantuan Blokgrand Disdikpora Kota Salatiga yang diterima SD Kanisius Gendongan sebesar Rp 105.000.000,00 pada tahun 2010 lalu memberikan kontribusi yang sangat besar bagi pemenuhan sarana prasarana serta fasilitas pembelajaran sekolah tersebut, terutama dalam pengadaan alat peraga pembelajaran. Namun pada kenyataannya sejak tahun 2010 hingga tahun pembelajaran 2012/2013 ini beberapa guru enggan untuk menggunakan alat peraga dan media pembelajaran yang ada. Sehingga hasil bidang akademik siswa tidak maksimal. Oleh karena itu sebagai manajemen puncak di sekolah hendaknya Kepala Sekolah memberi motivasi dan dorongan pada tenaga pendidik agar memaksimalkan penggunaan alat peraga dan memanfaatkan fasilitas sekolah. Salah satu cara yang bisa digunakan yaitu dengan membuat program bedah alat peraga. Program tersebut bisa dilakukan dengan cara melakukan kegiatan pembelajaran secara out door atau pembelajaran di luar kelas. Dengan kreatifitas dan keahlian guru dalam mempergunakan alat peraga dan media pembelajaran beserta dengan fasilitas sekolah yang memadai maka pembelajaran dapat dilaksanakan secara PAIKEM. 70

Adanya rutinitas pembelajaran yang dilakukan di luar kelas dapat juga dilakukan sebagai kegiatan promosi secara tidak langsung yang ditujukan kepada para siswa taman kanak-kanak Kanisius Gendongan yang berada satu lokasi dengan SD Kanisius Gendongan. Sekolah juga perlu untuk meningkatkan kenyamanan penggunaan fasilitas dan pelayanan sekolah. Kenyamanan yang diberikan sekolah pada para siswa di saat mereka belajar di sekolah yang meliputi penataan interior, perawatan bangunan, desain eksterior, tingkat kebersihan sekolah, serta pemberian pelayanan yang ramah dan sistem birokrasi yang mudah dan cepat akan memberikan nilai tambah bagi sekolah di mata konsumen. Sekolah dapat mengoptimalkan penggunaan fasilitas sekolah berbasis TIK sebagai sarana belajar siswa dalam memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Renstra ketiga : Meningkatkan kualitas layanan pada peserta didik maupun stakeholder. Pemasaran produk jasa sangat dipengaruhi oleh kualitas layanan. Oleh karena itu setiap guru, karyawan/staf bahkan penjaga sekolah harus mampu untuk memberikan pelayanan yang maksimal demi kepuasan pelanggan, antara lain pemberian respon yang cepat bagi saran maupun usul yang membangun, keterbukaan informasi dan kerjasama antara orangtua dan guru yang berkaitan dengan hasil belajar anak didik, dan sistem birokrasi yang tidak berbelit dalam kegiatan pembelajaran. 71

Renstra keempat : Meningkatkan kegiatan promosi dan mengembangkan program public relation.. Dalam hal ini pihak sekolah perlu memberdayakan komite sekolah yang ada untuk melakukan hubungan kemasyarakatan guna melakukan kerjasama baik dengan tokoh masyarakat setempat, pihak alumni, tokoh pendidikan, maupun tokoh keagamaan. Meningkatkan dan memaksimalkan kegiatan promosi. Untuk melakukan kegiatan promosi dengan gencar perlu adanya anggaran biaya promosi. Adanya kemampuan finansial untuk biaya operasional sekolah yang baik yang bersumber dari pendanaan pemerintah memberikan keuntungan tersendiri bagi pembuatan program promosi yang berkelanjutan. Selama ini kegiatan promosi sekolah hanya dilakukan sekolah saat mendekati tahun ajaran baru saja (musim pendaftaran siswa baru). Selain itu media promosi yang digunakan selalu sama yaitu pemasangan spanduk di lokasi sekolah, penyebaran brosur, kirab dengan drumband di sekitar lingkungan sekolah dan open house. Oleh karena itu kegiatan promosi perlu ditingkatkan dan dimaksimalkan dengan menggunakan berbagai media promosi dan menggunakan waktu yang tidak terbatas, diantaranya siswa dapat diikutsertakan dalam berbagai kegiatan antar sekolah baik kegiatan akademik maupun kegiatan non akademik, sekolah dapat melakukan iklan melalui pemasangan spanduk di tempat yang strategis terutama melalui gereja, sekolah juga dapat membentuk tim promosi yang bertugas mempromosikan sekolah serta meningkatkan kerjasama dengan sekolah lain. Sebenarnya sekolah 72

memiliki TK sebagai pemasok input karena mempunyai TK di lokasi yang sama dengan keberadaan SD Kanisius Gendongan, oleh karena itu sekolah perlu melakukan personal selling dengan melakukan kegiatan tatap muka antara pihak sekolah dasar dengan orang tua murid TK. 73