BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
|
|
|
- Sudomo Sudirman
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Profil SDN 1 Ngadirejo SDN 1 Ngadirejo merupakan lembaga pendidikan milik pemerintah yang berdiri tahun 1951 yang sebelumnya juga sebagai Sekolah Rakyat pada jaman Belanda menjajah Indonesia, sehingga sampai sekarang pun telah dikenal banyak masyarakat. SDN 1 Ngadirejo berada pada lokasi yang sangat strategis karena berada di pusat persimpangan 4 kecamatan, yaitu kecamatan Candiroto, kecamatan Wonoboyo, kecamatan Jumo, dan kecamatan Parakan, bahkan di sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Wonosobo. Hubungan dengan keamanan, SDN 1 Ngadirejo dalam keadaan kondusif. Hal ini terbukti jauh dari kejahatan, hanya yang perlu menjadi perhatian adalah keamanan siswa terkait penyeberangan jalan karena ramainya lalu lintas kendaraan, sehingga sekolah bekerjasama dengan tukang parkir untuk membantu siswa menyeberang jalan. Keberadaan SDN 1 Ngadirejo ditujukan untuk mewujudkan program pemerintah yaitu Mencerdaskan kehidupan bangsa, sesuai dengan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alenia 4 dan UU No
2 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Oleh karena itu SDN 1 Ngadirejo secara berkelanjutan selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas dalam penuntasan Wajib Belajar 9 tahun. Pada tanggal 1 Juli 2008 SDN 1 Ngadirejo ditetapkan sebagai Sekolah Dasar Standar Nasional setelah Tim menyatakan lulus verifikasi. SDN 1 Ngadirejo memiliki visi dan misi yang tertuang dalam dokumen sekolah sebagai berikut. 1. Visi Iman dan taqwa, unggul dalam prestasi, santun dalam perilaku, berwawasan budaya bangsa serta ilmu pengetahuan dan teknologi. 2. Misi 1) Memantapkan penghayatan dan pengamalan hidup beragama sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing; 2) Menanamkam nilai-nilai Aqidah dan budi pekerti luhur dengan maksimal; 3) Mengimplementasikan proses pembelajaran dengan efektif dan maksimal; 4) Menumbuhkembangkan prestasi siswa yang cakap dan handal serta mampu bersaing di dunia pendidikan maupun lingkungan masyarakat; 5) Menumbuhkembangkan karakter siswa yang dapat dipercaya (trustworthiness), mempunyai rasa 60
3 hormat dan perhatian (respect), tekun (diligence), tanggung jawab (responsibility), berani (courage), integritas (integrity), peduli (caring), jujur (fairnes), dan kewarganegaraan (citizenship); 6) Menanamkan nilai-nilai budaya bangsa sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia; 7) Mendorong siswa untuk memahami dan mengkaji serta menumbuhkembangkan potensi siswa dengan berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai dengan situasi dan kondisi siswa melalui proses pembelajaran maupun bimbingan karir Data Siswa Dari tahun ke tahun siswa SDN 1 Ngadirejo semakin bertambah. Penerimaan siswa baru hanya mengacu juknis dari dinas pendidikan yaitu hanya menggunakan kriteria usia, tidak ada seleksi akademik atau lainnya sehingga meskipun jumlah siswa banyak bukan berarti potensi awal siswa semuanya bagus. 61
4 No Th 2013/ / / /2011 Tabel 4.1 Jumlah Siswa 4 Tahun Terakhir Kelas Ia Ib IIa IIb IIIa IIIb IVa IVb Va Vb VI L P Jml Total L P 156 = 298 L P Jml Total L P 181 = 334 L P Jml Total L P 198 = 357 L P Jml Total L P 196 = Data Pendidik dan Tenaga Kependidikan Tabel 4.2 Jumlah Pendidik dan Tenaga Kependidikan SDN 1 Ngadirejo No Jabatan PNS WB L P L P Jml 1 Kepsek Guru Kelas Gr Ag Islam Gr Ag Kristen Gr Ag Katolik Gr Penjasorkes Gr PKS Ag Islam Penjaga Jml Keterangan Semuanya gr pengampu (divinitif di SD lain) 62
5 Jumlah guru yang mengajar di SDN 1 Ngadirejo ada 19 orang, ditambah 1 kepala sekolah dan 1 penjaga sekolah. SDN 1 Ngadirejo terdiri dari 11 rombel dengan guru kelas 11 orang, guru agama islam 1 orang, guru PKS agama Islam 1 orang, guru agama Katholik 1 orang, guru agama Kristen 1 orang, guru penjaskes 4 orang yang semuanya merupakan guru pengampu dan devinitif di SD lain. Dari 19 guru tersebut yang PNS ada 13 orang, yang wiyata bhakti 6 orang. No Tabel 4.3 Kualifikasi Akademik Guru SDN 1 Ngadirejo Jabatan PNS WB S1 D2 S1 D2 1 Guru Kelas Guru Mapel Jml Jumlah Guru-guru di SDN 1 Ngadirejo hampir semua mempunyai ijasah S1, hanya tinggal 2 guru yang berijasah D2 dan keduanya sekarang dalam proses mengikuti S1. Dari guru yang PNS maupun guru yang wiyata bhakti semuanya ada 89% yang sudah memenuhi kualifikasi pendidikan S Sarana Prasarana 1. Sarana Dari hasil pengamatan dan telaah dokumen dapat dijelaskan bahwa SDN 1 Ngadirejo memiliki 63
6 sarana pembelajaran yang masih jauh dari sempurna. Sarana tersebut meliputi: buku teks pelajaran beberapa tahun terakhir ini sudah memenuhi jumlah siswa, alat peraga cukup (seperti peta/atlas, globe, torso, kit bhs Indonesia, alat peraga IPS dan lain-lain). Media pembelajaran berbasis TIK masih sangat minim diantaranya: LCD 1 unit, komputer 3, laptop 3, TV 21 inci 2, VCD I unit, tape recarder 1, sound sistem 3. Sarana kegiatan ekstrakurikuler sudah ada tetapi belum lengkap, yaitu: alat drumband I unit, alat rebana 1 unit, tenda 2, dan alat olah raga yang sudah ada diantaranya bola sepak 1, matras 2, alat senam lantai 1 set, alat badminton 1 set, dan alat tenis meja 1 set. 2. Prasarana Prasarana SDN 1 Ngadirejo sementara ini juga belum lengkap, diantaranya: ruang kelas kurang satu ruang, laborat dan kantor pimpinan belum ada, ruang sirkulasi belum memenuhi ketentuan, tempat bermain/olah raga luas dan sarananya kurang, gudang luasnya belum memenuhi, aula dan mushola belum ada, bahkan jamban siswa jumlahnya masih sangat kurang dibandingkan jumlah siswa. Keadaan prasarana lebih jelasnya bisa diamati pada tabel berikut: 64
7 Tabel 4.4 Keadaan Prasarana Pendidikan SDN 1 Ngadirejo No Jenis Ruang Baik Keadaan Rusak Ukuran (Meter) Jml 1 Kelas - 7X Perpust - 7X8 1 Ket Kurang 1 ruang 3 Laborat Belum ada 4 Kantor Pimpinan Belum ada 5 Kantor Guru - 7X8 1 Luas belum memenuhi 6 Mushola Belum ada 7 Aula / ruang serba guna Belum ada 8 UKS - 3X6 1 9 Koperasi - 2X Jamban Siswa - 1X Jamban Guru - 1X Gudang - 2X Sirkulasi - 2X Tempat bermain/ berolahraga - 10X51 15 Tempat Parkir - 2,8X7,5 1 Jml sangat kurang Luas kurang Luas belum memenuhi Luas dan sarana belum memenuhi 4.2 Hasil Penelitian Hasil Wawancara, Observasi, dan Studi Dokumen Pada bagian ini disajikan hasil wawancara yang dilakukan dengan kepala sekolah dan guru SDN 1 65
8 Ngadirejo tentang upaya-upaya yang sudah dilakukan sekolah dalam rangka peningkatan mutu. Berdasarkan hasil wawancara dapat diketahui ada beberapa upaya yang sudah dilakukan SDN 1 Ngadirejo dalam rangka peningkatan mutu seperti tercantum dalam Tabel 4.5 di bawah ini. Tabel 4.5 Upaya yang Sudah Dilakukan SDN 1 Ngadirejo dalam Rangka Peningkatan Mutu Upaya dalam NO Rangka Peningkatan mutu 1 Merencanakan program yang jelas dan berkelanjutan 2 Meningkatkan mutu akademik dan non akademik 3 Memberdayakan dan meningkatkan profesional guru 4 Memberdayakan potensi peserta didik 5 Kerja sama dengan orangtua dan masyarakat Keterangan 1. Merumuskan visi misi yang jelas 2. Menyusun rencana kerja tahunan dan rencana kerja empat tahunan atau rencana kerja jangka menengah. 3. Mengembangkan kurikulum yang inovatif 1. Mengefektifkan alokasi waktu pembelajaran. 2. Menerapkan Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAIKEM) 3. Melaksanakan program perbaikan dan pengayaan 4. Meningkatkan rata-rata pencapaian KKM 5. Meningkatkan rata-rata nilai UN dan prosentase kelulusan 6. Meningkatkan peringkat dalam lomba siswa baik lomba akademik maupun non akademik 1. Melibatkan semua guru dalam kegiatan sekolah 2. Mendukung studi lanjut S1 3. Memberdayakan guru dalam kegiatan KKG 4. Mengikutsertakan guru dalam pelatihanpelatihan inovatif seperti pelatihan karya ilmiah, workshop tematik dan lain-lain. 1. Memberi tambahan jam pelajaran 2. Memfasilitasi siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler 3. Melaksanakan pendidikan karakter dan pendidikan kecakapan hidup 1. Mengadakan pertemuan rutin setiap awal tahun dan akhir semester 2. Memberdayakan komite dalam programprogram sekolah. 66
9 Menurut penjelasan dari kepala sekolah, dalam pelaksanaannya upaya-upaya peningkatan mutu tersebut kadang dilakukan secara simultan karena antara kegiatan yang satu dengan yang lainnya ada yang saling terkait dan saling mendukung. Dan dari upaya-upaya yang sudah dilakukan sekolah ternyata sudah banyak hasil yang diraih meskipun ada beberapa yang belum mencapai target yang diharapkan. Berdasarkan hasil wawancara, observasi dan studi dokumen maka peneliti juga dapat mengumpulkan data tentang hasil yang sudah dicapai oleh sekolah atas upaya peningkatan mutu tersebut. Untuk lebih jelasnya hubungan antara upaya peningkatan mutu yang sudah dilakukan SDN 1 Ngadirejo dengan hasil yang telah dicapai dapat dilihat pada tabel 4.6 berikut: Tabel 4.6 Hubungan Antara Upaya Peningkatan Mutu SDN 1 Ngadirejo dengan Hasil yang dicapai Upaya NO Peningkatan Mutu 1 Merencanakan program yang jelas dan berkelanjutan 2 Meningkatkan mutu akademik dan non akademik Hasil yang Dicapai 1. Mempunyai visi misi yang jelas 2. Mempunyai program tahunan dan program jangka menengah 3. Mempunyai kurikulum yang inovatif 1. Rata-rata pencapaian KKM per kelas 99% tercapai 2. Rata-rata pencapaian UN - Thn 2009 : 8,36 peringkat 1 Kec - Thn 2010 : 8,70 peringkat 2 Kec - Thn 2011 : 8,59 peringkat 1 Kec - Thn 2012 : 8,85 peringkat 1 Kec - Thn 2013 : 8,68 peringkat 1 Kec Prosentase kelulusan selalu 100% 3. Kejuaraan lomba 67
10 3 Memberdayakan dan meningkatkan profesional guru 4 Memberdayakan potensi peserta didik 5 Kerja sama dengan orangtua dan masyarakat Tahun 2010 Juara 1 kec : olimpiade Mat IPA, LCC Mapel, Dokcil, cipta puisi, menyanyi tunggal, OR Atletik. Juara 3 kec : pidato Juara kab : juara 2 olimpiade Mat, Juara 2 olimpiade IPA, juara 1 cipta puisi Tahun 2011 Juara 1 kec : olimpiade Mat, olimpiade IPA, LCC Mapel, siswa prestasi, cipta puisi Juara 2 kec : OR Atletik, drumband, pramuka Juara 3 kec : pidato, Mapsi, seni lukis. Juara kab : juara 1 olimpiade IPA, juara 3 olimpiade matematika, juara 3 LCC Mapel. Tahun 2012 Juara 1 kec : olimpiade mat, olimpiade IPA, LCC Mapel, siswa prestasi, cipta puisi, lomba gugus. Juara kab : juara 2 olimpiade mat, juara 5 lomba gugus Tahun 2013 Juara kec : juara 2 olimpiade mat, juara 2 LLC Mapel, juara 1 Dokcil, juara 1 cipta puisi, juara 2 Pramuka Juara kab : juara 1 cipta puisi 1. 89% guru berijazah S1 2. KKG seminggu sekali 3. Guru bisa menyusun Penelitian Tindakan Kelas (PTK) 4. Guru bisa merencanakan dan melaksanakan pembelajaran Tematik 1. Les kelas VI seminggu 4 kali, les kelas IV dan V seminggu 2 kali 2. Terlaksana kegiatan ekstrakurikuler Pramuka dan drumband. 3. Terlaksana sebagian program pendidikan karakter 4. Terlaksana pendidikan kecakapan meskipun belum maksimal. 1. Rapat pleno setiap awal tahun, rapat wali murid pengambilan raport setiap akhir semester, rapat koordinasi ujian kelas VI dan rapat komite secara insidental. 2. Bantuan dana dari komite: a. Tahun 2008 : perbaikan pagar halaman Rp b. Tahun 2009 : membantu pembangunan ruang kelas IB dan tralis ruang perpustakaan Rp c. Tahun 2010 : pembangunan ruang kelas 1A Rp d. Tahun 2011 : menambah keramik 1 ruang kelas Rp
11 e. Tahun 2013 : pembangunan joglo dan pintu gerbang Rp Total bantuan komite yang sudah diterima oleh sekolah dari tahun 2008 sampai tahun 2013 sejumlah Rp ,- Sumber : data primer yang diolah Hasil dari upaya peningkatan mutu yang dilakukan SDN 1 Ngadirejo bila kaji/dikaitkan dengan indikator mutu pendidikan ternyata sangat terkait dan sangat relevan. Analisa hasil yang dicapai dalam rangka peningkatan mutu dengan indikator mutu pendidikan dapat dilihat pada Tabel 4.7 di bawah ini. Tabel 4.7 Analisa Hasil yang dicapai dalam Rangka Peningkatan Mutu dengan Indikator Mutu Pendidikan NO Indikator mutu pendidikan Hasil yang dicapai 1 Hasil akhir pendidikan 1. Dalam 5 tahun terakhir prosentase kelulusan kelas 6 selalu 100%, ranking 2 kecamatan 1 kali dan ranking 1 kecamatan 4 kali 2 Hasil langsung pendidikan 1. Pencapaian KKM tiap kelas 99% tercapai 2. Mencapai prestasi akademik tingkat kecamatan maupun kabupaten 3 Proses pendidikan 1. Penerapan PAIKEM dalam KBM 2. Program perbaikan pengayaan 3. Pendidikan karakter dan kecakapan hidup 4 Instrumen input 1. Guru yang bersemangat dan berkomitmen tinggi 2. Kurikulum yang inovatif 3. Dukungan sarana dan prasarana 5 Raw input dan lingkungan 1. Kepedulian orang tua terhadap belajar anak 2. Dukungan komite terhadap dana pendidikan 69
12 4.2.2 Analisis SWOT Analisis dilakukan peneliti bersama kepala sekolah, guru dan komite di SDN 1 Ngadirejo dalam Focus Group Discussion (FGD) selama dua kali pertemuan yaitu pada tanggal 22 dan 27 Juli 2013, yang setiap pertemuan berlangsung kurang lebih 2 sampai 3 jam. FGD dilakukan dengan menggunakan panduan pertanyaan yang disusun berdasarkan hasil wawancara, observasi, serta hasil studi dokumen. Dalam pelaksanaan FGD masing-masing peserta memiliki pendapat yang berbeda-beda sehingga terjadi brainstorming pada waktu mengidentifikasi faktorfaktor strategi internal dan faktor-faktor strategi eksternal. Data dibagi dalam tiga matrik yaitu matrik IFAS (Internal Factors Analysis Summary), matrik EFAS (External Factors Analysis Summary) dan matrik SWOT (Strength, Weaknesses, Opportunities, and Treats). Analisis SWOT dilakukan dengan mengidentifikasi faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman bagi peningkatan mutu sekolah di SDN 1 Ngadirejo dalam tiga aspek yaitu input, proses dan output yang diuraikan sebagai berikut: 1. Aspek Input Yang termasuk dalam aspek input berdasarkan pendekatan terbuka Lewis dan Smith (dalam Tjiptono & Diana, 2003) adalah meliputi kemampuan dasar siswa, sumber daya finansial, fasilitas, program dan jasa pendukung. 70
13 Hasil analisis faktor kekuatan dan kelemahan aspek input, serta pemberian skor sampai diperoleh matrik IFAS (Internal Factors Analysis Summary) dapat dilihat pada Tabel 4.8 berikut: Tabel 4.8 Matrik IFAS Aspek Input No Elemen SWOT Bobot Skor Bobot x Skor KEKUATAN 1 Minat dan motivasi belajar siswa tinggi 0,21 4 0,84 2 Jumlah buku ajar untuk guru dan siswa cukup 0,19 4 0,76 3 Dana untuk operasional sekolah mencukupi 0,15 4 0,6 4 Kepemimpinan kepala sekolah sudah relevan 0,12 4 0,48 5 Sekolah mempunyai program kerja yang jelas 0,10 4 0,4 6 Kerjasama antar guru bagus 0,08 4 0, % guru berpendidikan S1 0,06 5 0,3 8 Lokasi sekolah sangat strategis 0,05 3 0,15 9 Jumlah siswa semakin banyak 0,04 4 0,16 Total Skor 1 4,01 KELEMAHAN 1 Jumlah ruang kelas belum memenuhi jumlah rombel 0,22 4 0,88 2 Jumlah guru yang PNS kurang 0,18 2 0,36 3 Tingkat kemampuan siswa beragam 0,15 2 0,3 4 Fasilitas olah raga dan seni belum memadai 0,11 2 0,22 5 Media pembelajaran berupa media audio visual sangat kurang 0,10 2 0,2 6 Guru OR semuanya guru pengampu dan divinitif di SD lain 0,09 3 0,27 7 Area sekolah kurang hijau dan kebersihan lingkungan sekolah masih kurang 0,07 3 0,21 8 Belum ada ruang serba guna (aula), mushola dan ruang kegiatan ekstra kurikuler 0,05 2 0,1 9 Belum ada tim evaluasi program sekolah 0,03 2 0,06 Total Skor 1 2,6 Total Skor Akhir (Kekuatan - Kelemahan) Sumber: Hasil Focus Group Discussion, ,41 71
14 Untuk hasil input, kekuatan yang paling berpengaruh adalah minat dan motivasi belajar siswa yang tinggi dengan bobot 0,21 dan skor 4. Meskipun jumlah siswa banyak tetapi kemampuan siswa sangat beragam disebabkan penerimaan siswa baru hanya berdasarkan usia, tidak ada seleksi akademik sehingga yang paling mempengaruhi mutu adalah minat dan motivasi belajar siswa yang tinggi. Hal itu semakin bagus dengan ditunjang jumlah buku ajar untuk guru dan siswa yang cukup, dengan bobot 0,19 dan skor 4. Dengan motivasi belajar yang tinggi ditunjang buku yang cukup anak akan lebih maksimal dalam belajar. Usaha siswa ditunjang juga oleh dana operasional sekolah yang mencukupi, yang diberi bobot 0,15 dan skor 4. Dengan dana yang cukup maka sekolah bisa memberi honor guru-guru wiyata bhakti yang terdiri dari 6 orang untuk mengatasi jumlah guru PNS yang kurang dan juga bisa mencukupi kebutuhan operasional lainnya. Meskipun demikian dana yang ada belum bisa untuk memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana sekolah, sehingga disamping menunggu bantuan dari pemerintah juga tetap membutuhkan bantuan dari komite sekolah. Kepemimpinan kepala sekolah yang relevan dan program sekolah yang jelas adalah merupakan kekuatan bagi sekolah. Dengan kepemimpinan yang relevan dan adanya program kerja yang jelas maka sekolah bisa melaksanakan kegiatan dengan lebih mudah dan lebih terarah. Kekuatan yang lain adalah 72
15 kerjasama antar guru yang bagus dengan bobot 0,08 dan skor 4, serta 89% guru berpendidikan S1 yang diberi bobot 0,06 dan skor 5, dan Lokasi sekolah yang sangat strategis dengan bobot 0,05 skor 3. Selain itu jumlah siswa yang semakin banyak juga mempengaruhi mutu pendidikan yang diberi bobot 0,04 dan skor 4. Memang benar jumlah guru SDN 1 Ngadirejo yang PNS kurang, tetapi karena kerjasama antar guru bagus didukung kualifikasi pendidikan guru sebagian besar S1 maka kegiatan pembelajaran berjalan lancar. Apalagi ditunjang lokasi sekolah yang sangat strategis menambah minat orang tua menyekolahkan anaknya di SDN 1 Ngadirejo semakin tinggi, sehingga jumlah murid semakin banyak dan otomatis dana pendidikan dari pemerintah juga semakin banyak. Dengan kekuatan ini sekolah mempunyai kesempatan untuk menyiapkan diri dalam usaha meningkatkan mutu sekolah khususnya mutu input. Total bobot dikalikan skor untuk faktor kekuatan aspek input adalah 4,01. Walaupun memiliki beberapa kekuatan yang diandalkan, sekolah juga memiliki kelemahan-kelemahan yang perlu diatasi seperti jumlah ruang kelas yang belum memenuhi jumlah rombel, yang diberi bobot 0,22 dan skor 4. Selain itu jumlah guru yang PNS juga kurang yang diberi bobot 0,18 dan skor 2. Tingkat kemampuan siswa SDN 1 Ngadirejo juga sangat beragam disebabkan seleksi siswa baru hanya berdasarkan usia tidak ada seleksi akademik, yang 73
16 diberi bobot 0,15 dan skor 2. Fasilitas olahraga dan seni belum memadai dengan bobot 0,11 dan skor 1, media pembelajaran yang berupa media audio visual juga sangat kurang dengan bobot 0,1 dan skor 0,2, bahkan guru olahraga yang terdiri dari 4 orang semuanya guru pengampu yang definitif di SD lain dengan bobot 0,09 dan skor 3. Dalam program sekolah sebenarnya pengembangan sarpras dan penambahan guru PNS sudah diprogramkan, tetapi pengembangan sarpras tidak terlepas dari dana sehingga perlu dilaksanakan secara bertahap sesuai dana yang ada. Sedangkan masalah kekurangan guru PNS, sekolah menunggu jatah dari dinas pendidikan dan sementara sebagai solusinya sekolah menerima beberapa guru wiyata bhakti yang cukup berpotensi. Kelemahan yang lain adalah area sekolah kurang hijau dan kebersihan lingkungan sekolah masih kurang diberi bobot 0,07 dan skor 3. Area sekolah yang kurang hijau dan kebersihan lingkungan sekolah yang masih kurang tentu saja mengurangi kenyamanan siswa selama aktivitas di luar kelas. Sekolah juga belum mempunyai ruang serba guna (aula), mushola dan ruang kegiatan ekstra kurikuler yang diberi bobot 0,05 dan skor 2. Hal tersebut menyebabkan pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler kurang maksimal. Kelemahan yang terakhir adalah untuk mengevaluasi program sekolah sudah terlaksana atau belum, sekolah juga belum mempunyai tim evaluasi program sekolah yang diberi bobot 0,03 dan 74
17 skor 2. Seandainya sekolah mempunyai tim evaluasi program sekolah maka sekolah akan mempunyai gambaran yang jelas tentang program yang belum terlaksana, apa kendalanya, dan bagaimana tindaklanjutnya untuk menyusun program yang akan datang. Total bobot dikalikan skor untuk faktor kelemahan adalah 2,6. Total skor akhir kekuatan dikurangi kelemahan untuk aspek input adalah 1,41, berarti faktor kekuatan lebih dominan daripada kelemahan. Ini berarti sekolah bisa menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk mengatasi kelemahan-kelemahan yang muncul. Hasil analisis faktor peluang dan ancaman aspek input dapat dilihat pada Tabel 4.9. Selanjutnya diberi bobot dan skor serta dilakukan perhitungan skor akhir, dan diperoleh Matriks External Factor Analysis Summary (EFAS) sebagai berikut: 75
18 Tabel 4.9 Matrik EFAS Aspek Input No Elemen SWOT Bobot Skor Bobot x Skor PELUANG 1 Kepedulian orang tua terhadap pendidikan bagus 0,35 5 1,75 2 Keberadaan komite cukup bagus 0, Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi semakin mudah diakses 0,21 3 0,63 4 Hubungan dengan dinas pendidikan kecamatan sangat dekat 0,19 4 0,76 Total Skor 1 4,14 ANCAMAN 1 Prestasi sekolah lain semakin bersaing 0,35 4 1,4 2 Banyak sekolah lain yang vasilitasnya lebih bagus 0,30 3 0,9 3 Ada pendapat SDSN tidak layak kalau pendidiknya banyak guru wiyata bhakti 0,20 2 0,4 4 Pemanfaatan teknologi untuk hal-hal negative yang mengganggu belajar siswa 0,15 2 0,3 Total Skor 1 3 Total Skor Akhir (Peluang - Ancaman) 1,14 Sumber: Hasil Focus Group Discussion, 2013 Ada beberapa hal yang menjadi peluang bagi SDN 1 Ngadirejo dalam peningkatan mutu. Menurut pihak sekolah peluang yang memiliki bobot paling tinggi pada aspek input adalah kepedulian orang tua terhadap pendidikan bagus, yang diberi bobot 0,35 dan skor 5. Selain itu keberadaan komite cukup bagus, dengan bobot 0,25 dan skor 4. Faktor tersebut diberi bobot tinggi karena sangat penting untuk mendukung kemajuan belajar siswa dan kemajuan sekolah. Sedangkan skor diberi angka tinggi karena kepedulian orang tua dan keberadaan komite yang bagus memberikan pengaruh besar pada peningkatan 76
19 mutu sekolah. Peluang berikutnya adalah perkembangan teknologi komunikasi dan informasi semakin mudah diakses, yang diberi bobot 0,21 dan skor 3. Jika guru dapat menangkap peluang ini dengan baik guru akan berkembang optimal. Peluang yang terakhir adalah hubungan dengan dinas pendidikan kecamatan yang sangat dekat dengan bobot 0,19 dan skor 4. Hal tersebut memudahkan koordinasi sehingga tidak pernah ada miskomunikasi terkait dengan informasi dinas. Total akhir bobot dikalikan skor untuk faktor peluang adalah 4,14. Di samping mempunyai peluang yang tinggi sekolah juga menemui beberapa ancaman pada aspek input antara lain prestasi sekolah lain yang semakin bersaing, dengan bobot 0,35 dan skor 4. Banyak juga sekolah lain yang fasilitasnya lebih bagus, yang diberi bobot 0,30 dan skor 3, bahkan ada pendapat bahwa SDSN tidak layak kalau pendidiknya banyak guru wiyata bhakti, yang diberi bobot 0,20 dan skor 2. Kalau SDN 1 Ngadirejo tidak memperhatikan hal ini dengan serius maka bisa saja pada waktu selanjutnya SDN 1 Ngadirejo tertinggal dengan SD yang lain. Termasuk juga pemanfaatan teknologi untuk hal-hal negatif yang bisa mengganggu belajar siswa, seperti HP yang bisa mengakses gambar porno dan lain-lain, diberi bobot 0,15 dan skor 2. Hal tersebut kalau tidak segera ditangani bisa menyebabkan turunnya prestasi belajar siswa dan otomatis mutu sekolah juga pasti akan menurun. 77
20 Total skor untuk faktor ancaman bobot dikalikan skor adalah 3. Total skor akhir faktor peluang dikurangi faktor ancaman untuk aspek input adalah 1,14, berarti faktor peluang lebih dominan daripada faktor ancaman sehingga sekolah bisa memanfaatkan peluang yang ada untuk meminimalkan ancaman yang datang. 2. Aspek Proses Komponen proses meliputi kemampuan guru, desain pembelajaran, metode pembelajaran, fasilitas belajar, kurikulum, media, dan evaluasi. Hasil analisis faktor kekuatan dan faktor kelemahan untuk aspek proses sampai diperoleh Matrik Internal Factors Analysis Summary (IFAS) dapat dilihat pada Tabel 4.10 berikut: 78
21 Tabel 4.10 Matrik IFAS Aspek Proses No Elemen SWOT Bobot Skor Bobot x Skor KEKUATAN 1 Memiliki kurikulum yang inovatif 0,25 5 1,25 Diterapkan Pembelajaran Aktif, Inovatif, 2 Kreatif, Efektif dan Menyenangkan 0,20 4 0,8 (PAIKEM) Guru menentukan KKM setiap mata 3 pelajaran dan melaksanakan program 0,18 4 0,72 perbaikan dan pengayaan 4 Tenaga pengajar banyak yang menguasai TIK 0,15 4 0,6 5 Ada jam pelajaran tambahan (les) untuk kelas IV, V dan VI. 0,12 3 0,36 Mempunyai konsep pendidikan yang 6 beriman, berkarakter dan akademis sesuai 0,10 3 0,3 visi misi sekolah Total Skor 1 4,03 KELEMAHAN 1 Belum semua kegiatan berjalan sesuai kurikulum 0,25 2 0,5 2 Masih ada guru yang mengajar secara konvensional 0,20 2 0,4 3 Belum ada lab komputer sebagai penunjang proses KBM 0,16 2 0,32 4 Kegiatan siswa yang bersifat keagamaan belum maksimal 0,15 3 0,45 5 Supervisi dan pembinaan dari kepala sekolah belum maksimal 0,14 2 0,28 6 Kerjasama dengan tenaga pengajar/pelatih dari luar sekolah untuk kegiatan 0,10 3 0,3 ekstrakurikuler masih kurang Total Skor 1 2,25 Total Skor Akhir (Kekuatan-Kelemahan) 1,78 Sumber: Hasil Focus Group Discussion, 2013 Faktor kekuatan yang paling berpengaruh pada aspek proses yaitu sekolah memiliki kurikulum yang inovatif dengan bobot 0,25 dan skor 5. Kalau semua kegiatan dilaksanakan sesuai kurikulum tentu mutu pendidikan SDN 1 Ngadirejo akan sangat bagus. Hal 79
22 itu ditunjang dengan penerapan Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAIKEM) dengan bobot 0,20 dan skor 4 sehingga pembelajaran lebih bermakna bagi siswa. Kekuatan yang lain adalah guru menentukan KKM setiap mata pelajaran dan melaksanakan program perbaikan dan pengayaan, yang diberi bobot 0,18 dan skor 4. Hal tersebut untuk mendorong siswa semakin berpacu dalam meraih prestasi baik saat ulangan harian maupun ulangan semester. Ditunjang lagi dengan banyaknya tenaga pengajar yang menguasai TIK, dengan bobot 0,15 dan skor 4. Seandainya sekolah mempunyai lab komputer dengan adanya guru-guru yang menguasai TIK pasti sangat menunjang proses KBM. Kekuatan lain yang juga mempengaruhi mutu adalah adanya jam pelajaran tambahan (les) untuk kelas IV, V dan VI yang diberi bobot 0,12 dan skor 3. Di samping les sangat berguna meningkatkan prestasi siswa di kelas masing-masing, juga berpengaruh dalam peningkatan hasil UN karena materi UN terdiri dari materi kelas IV, V dan VI sehingga kematangan materi di kelas bawahnya akan mendukung prestasi UN. Kekuatan terakhir yaitu sekolah mempunyai konsep pendidikan yang beriman, berkarakter dan akademis sesuai yang tertuang dalam visi misi sekolah, dengan bobot 0,10 dan skor 3. Kalau guru memahami konsep pendidikan tersebut dan melaksanakan semua kegiatan sesuai visi misi sekolah maka mutu pendidikan di SDN 1 Ngadirejo akan maksimal. 80
23 Total bobot dikalikan skor untuk faktor kekuatan adalah 4,03. Adapun beberapa kelemahan yang dimiliki sekolah dalam aspek proses adalah belum semua kegiatan berjalan sesuai kurikulum yang diberi bobot 0,25 dan skor 2. Meskipun kurikulumnya inovatif sesuai kebutuhan siswa dan perkembangan IPTEK, tetapi kalau tidak dilaksanakan secara maksimal hasilnya tetap saja tidak ada peningkatan. selain itu masih ada guru yang mengajar secara konvensional yang diberi bobot 0,20 dan skor 2. Sekolah juga belum mempunyai lab komputer sebagai penunjang KBM dengan bobot 0,16 dan skor 2, termasuk kegiatan siswa yang bersifat keagamaan belum dilaksanakan secara maksimal dengan bobot 0,15 dan skor 3. Supervisi dan pembinaan dari kepala sekolah juga belum maksimal yang diberi bobot 0,14 dan skor 2. Dengan kurang maksimalnya supervisi dan pembinaan dari kepala sekolah maka hal-hal yang menjadi kekurangan dan kesalahan guru ketika mengajar tidak segera diperbaiki dan guru cenderung mengelola kelas dengan apa adanya tidak kreatif. Kelemahan yang terakhir adalah kerjasama dengan tenaga pengajar/ pelatih dari luar sekolah untuk kegiatan ekstra kurikuler masih kurang yang diberi bobot 0,10 dan skor 3. Hal itu menyebabkan potensi siswa tidak berkembang secara maksimal. Total bobot dikalikan skor untuk faktor kelemahan yaitu 2,25. Sedangkan total skor akhir faktor 81
24 kekuatan dikurangi faktor kelemahan adalah 1,78. Dari kedua faktor yang mempengaruhi aspek proses SDN 1 Ngadirejo tersebut ternyata faktor kekuatan menjadi faktor yang lebih dominan dibandingkan faktor kelemahan. Kelemahan-kelemahan yang ada bisa diatasi dengan mengoptimalkan kekuatan yang lebih dominan. Hasil analisis faktor peluang dan ancaman aspek proses dapat dilihat pada Matrik External Factors Analysis Summary (EFAS) pada Tabel Tabel 4.11 Matrik EFAS Aspek proses No Elemen SWOT Bobot Skor Bobot x Skor PELUANG 1 Kesadaran wali murid menyumbang dana belajar cukup besar 0,38 4 1,52 2 Semakin banyak media pembelajaran yang bisa diakses 0,25 3 0,75 3 Ada pelatihan-pelatihan guru satu gugus yang menunjang PBM 0,22 3 0,66 4 Kebutuhan orang tua terhadap kegiatan keagamaan anak sangat tinggi 0,15 4 0,6 Total Skor 1 3,53 ANCAMAN 1 Semakin tinggi persaingan positif antar sekolah 0,31 2 0,62 2 Banyak muncul les di luar sekolah sehingga ada siswa yang tidak serius les 0,26 1 0,26 di sekolah 3 Munculnya sekolah favorit lain yang mempunyai kelebihan di bidang 0,23 3 0,69 keagamaan 4 Masyarakat semakin kritis menilai kualitas guru 0,20 2 0,6 Total Skor 1 2,17 Total Skor Akhir (Peluang Ancaman) 1,36 Sumber: Hasil Focus Group Discussion,
25 Untuk aspek peluang kesadaran wali murid menyumbang dana belajar cukup besar dengan bobot 0,38 dan skor 4. Hal tersebut sangat penting untuk pengembangan sarana dan prasarana sekolah yang menunjang kemajuan pendidikan. Di samping itu semakin banyak media pembelajaran yang bisa diakses yang diberi bobot 0,25 dan skor 3, sehingga guru bisa mencari sumber belajar baik berupa materi pokok, materi pengayaan maupun materi-materi untuk penugasan siswa. Ada pelatihan-pelatihan guru satu gugus yang menunjang PBM dengan bobot 0,22 dan skor 3. Dengan adanya pelatihan-pelatihan tersebut diharapkan guru dapat meningkatkan kemampuan mengajarnya yang berimbas pada peningkatan hasil belajar siswa. Peluang aspek proses yang lain adalah kebutuhan orang tua terhadap kegiatan keagamaan anak sangat tinggi dengan bobot 0,15 dan skor 4. Meskipun SDN 1 Ngadirejo bukan merupakan sekolah dari yayasan keagamaan, tetapi orang tua berharap anaknya tidak hanya memiliki ilmu pengetahuan saja tetapi juga memiliki moral agama yang tinggi. Kalau sekolah bisa memfasilitasi keinginan orang tua tersebut hasilnya sekolah akan semakin bermutu. Total bobot dikalikan skor untuk faktor peluang adalah 3,53. Untuk faktor ancaman yang mempunyai bobot paling tinggi adalah semakin tingginya persaingan positif antar sekolah dengan bobot 0,31 dan skor 2. Hal tersebut ditandai sekolah lain baik negeri maupun 83
26 swasta bersaing dalam meraih prestasi baik prestasi akademik dan non akademik. Faktor ancaman berikutnya adalah banyak muncul les di luar sekolah sehingga ada siswa yang tidak serius les di sekolah yang diberi bobot 0,26 dan skor 1. Bagaimana pun guru kelas pasti lebih paham dengan karakteristik siswanya dibandingkan dengan guru yang lain, bahkan guru kelas juga sangat paham dengan materi pelajaran yang kurang dikuasai siswa sehingga les di sekolah sangat diperlukan utamanya untuk memperdalam materi yang dianggap sulit oleh siswa. Kadang les yang bermunculan di luar sekolah cenderung mengarah ke komersial bukan ke kualitas, sehingga kalau ada siswa yang mengandalkan les di luar sekolah dan tidak serius les di sekolah prestasinya bisa tertinggal dibanding siswa yang lain. Bahkan ancaman yang lain adalah munculnya sekolah favorit yang mempunyai kelebihan dibidang keagamaan diberi bobot 0,23 dan skor 3. Kalau SDN 1 Ngadirejo tidak berlomba dalam bidang tersebut bisa jadi suatu saat siswanya berkurang. Di samping itu masyarakat juga semakin kritis menilai kualitas guru diberi bobot 0,20 dan skor 2. Hal tersebut harus menjadi kewaspadaan sekolah agar senantiasa menjaga dan meningkatkan kualitas guru. Total bobot dikalikan skor untuk faktor ancaman adalah 2,17 sehingga total skor akhir faktor peluang dikurangi faktor ancaman adalah 1,36. Dari hasil analisis faktor eksternal tersebut diketahui bahwa SDN 1 Ngadirejo mempunyai banyak 84
27 peluang yang masih bisa dimanfaatkan. Memang ada beberapa hal yang menjadi ancaman dalam aspek proses yang perlu mendapat perhatian, tetapi faktor peluang masih lebih dominan. 3. Aspek Output Komponen output meliputi prestasi siswa dan pasca kelulusan. Hasil analisis faktor kekuatan dan kelemahan aspek output yang diperoleh melalui FGD dapat dilihat pada Tabel 4.12 di bawah ini. Tahap selanjutnya diberi bobot dan penilaian, serta dilakukan perhitungan skor akhir, dan diperoleh Matrik Internal Factors Analysis Summary (IFAS) sebagai berikut: Tabel 4.12 Matrik IFAS Aspek Output No Elemen SWOT Bobot Skor Bobot x Skor KEKUATAN 1 Nilai rata-rata UN tinggi 0,30 5 1,5 2 Prosentase kelulusan tinggi 0,30 4 1,2 3 Lulusan berprestasi dalam bidang akademik dan non akademik 0, Semua lulusan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dan banyak diterima di 0,15 4 0,6 sekolah favorit Total Skor 1 4,3 KELEMAHAN 1 Prestasi lulusan dalam bidang non akademik belum maksimal 0,4 2 0,8 2 Lulusan kurang mempunyai karakter yang kuat terkait bidang kerokhanian 0,3 2 0,6 3 Output yang dihasilkan kurang kompeten dalam pendidikan kecakapan hidup 0,2 2 0,4 4 Belum ada jaringan alumni 0,1 1 0,1 Total Skor 1 1,9 Total Skor Akhir (Kekuatan Kelemahan) 2,4 Sumber: Hasil Focus Group Discussion,
28 Untuk aspek output, kekuatan berasal dari nilai rata-rata UN yang tinggi yang diberi bobot 0,3 dan skor 5, juga prosentase kelulusan yang tinggi dengan bobot 0,3 dan skor 4. Di samping itu kelulusan berprestasi dalam bidang akademik dan non akademik dengan bobot 0,25 dan skor 4. Prestasi tersebut dapat menjadi daya tarik sekolah, karena orang tua cenderung tertarik menyekolahkan putra-putrinya ke sekolah yang berprestasi. Bahkan semua lulusan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dan banyak diterima di sekolah favorit yang diberi bobot 0,15 dan skor 4. Itu disebabkan karena rata-rata perolehan nilai UN tinggi sehingga bisa bersaing dengan siswa yang berasal dari sekolah lain. Total akhir bobot dikalikan skor adalah 4,3. Selain kekuatan, sekolah juga mempunyai kelemahan dalam aspek output. Faktor kelemahan yang mempunyai bobot paling tinggi adalah prestasi lulusan dalam bidang non akademik belum maksimal dengan bobot 0,4 dan skor 2. Hal tersebut disebabkan karena pelaksanaan kegiatan ekstra kurikuler belum maksimal. Kelemahan yang lain adalah lulusan kurang mempunyai karakter yang kuat terkait bidang kerokhanian yang diberi bobot 0,3 dan skor 2. Salah satu penyebabnya adalah sarana dan prasarana untuk kegiatan keagamaan belum memadai yaitu belum mempunyai mushola untuk tempat kegiatan agama Islam, begitu juga sarana prasarana untuk kegiatan agama lain. Kelemahan berikutnya adalah output yang 86
29 dihasilkan kurang kompeten dalam pendidikan kecakapan hidup diberi bobot 0,2 dan skor 2. Pendidikan kecakapan hidup yang diprogramkan oleh sekolah adalah pendidikan TIK, tetapi pelaksanaannya terkendala oleh kurangnya fasilitas komputer untuk pembelajaran siswa. Sekolah baru mempunyai 3 unit komputer dan 3 laptop sehingga belum mencukupi. Kelemahan yang terakhir adalah sekolah belum mempunyai jaringan alumni dengan bobot 0,1 dan skor 1. Jaringan alumni sangat dibutuhkan oleh sekolah untuk diberdayakan dalam kegiatan-kegiatan sekolah, jika sudah ada jaringan alumni maka berbagai keperluan lulusan maupun kegiatan sekolah dapat dikomunikasikan. Total bobot dikalikan skor untuk faktor kelemahan pada aspek output adalah 1,9 sehingga total skor akhir IFAS pada aspek output adalah 2,4. Dari kedua faktor yang mempengaruhi output SDN 1 Ngadirejo tersebut ternyata faktor kekuatan menjadi faktor yang lebih dominan daripada faktor kelemahan. Kelemahan-kelemahan yang ada bisa diatasi dengan mengoptimalkan kekuatan yang lebih dominan. Hasil analisis faktor peluang dan ancaman aspek output dapat dilihat pada Tabel Selanjutnya faktor-faktor tersebut diberi bobot dan skor, serta dilakukan perhitungan skor akhir, dan diperoleh Matrik Eksternal Factors Analysis Summary (EFAS). Sebagai berikut: 87
30 Tabel 4.13 EFAS Aspek Output No Elemen SWOT Bobot Skor Bobot x Skor PELUANG 1 Hasil UN dapat dijadikan pertimbangan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih 0,30 4 1,2 tinggi 2 Kepercayaan masyarakat terhadap sekolah semakin bagus 0, Harapan orang tua agar lulusan tidak hanya berprestasi dalam bidang akademik tetapi juga maksimal dalam bidang non 0,18 4 0,72 akademik (ekstrakurikuler) 4 Harapan orang tua agar lulusan menjadi generasi yang cerdas, agamis dan siap 0,15 4 0,6 menghadapi tantangan masa depan 5 Mempunyai peluang yang bagus untuk menjalin kerjasama dengan alumni. 0,12 3 0,36 Total Skor 1 3,88 ANCAMAN 1 Kekhawatiran orang tua bahwa kemungkinan lulusan hanya bagus dalam kompetensi 0,30 3 0,9 duniawi 2 Semakin meningkatnya saran kualitas lulusan dari stakeholder 0,25 2 0,5 3 Semakin kompleksnya tuntutan masyarakat terhadap mutu sekolah 0,20 2 0,4 4 Orang tua melihat keberhasilan anak dari sisi hasil/nilai, bukan proses 0,15 2 0,3 5 Kemampuan lulusan untuk beradaptasi dengan kemajuan teknologi 0,10 1 0,1 Total Skor 1 2,2 Total Skor Akhir (Peluang Ancaman) 1,68 Sumber: Hasil Focus Group Discussion, 2013 Salah satu peluang yang bisa dimanfaatkan sekolah adalah hasil UN dapat dijadikan pertimbangan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi yang diberi bobot 0,30 dan skor 4. Dengan hasil UN yang tinggi maka kepercayaan masyarakat terhadap sekolah semakin bagus diberi bobot 0,25 dan skor 4. Di 88
31 samping itu orang tua juga menaruh harapan agar lulusan tidak hanya berprestasi dalam akademik tetapi juga maksimal dalam bidang non akademik (ekstra kurikuler) dengan bobot 0,18 dan skor 4. Harapan orang tua yang lain adalah agar lulusan menjadi generasi yang cerdas, iman dan taqwa yang diberi bobot 0,15 dan skor 4. Terakhir sekolah juga mempunyai peluang yang sangat bagus untuk menjalin kerjasama dengan alumni yang diberi bobot 0,12 dan skor 3. Total akhir bobot dikalikan skor untuk faktor peluang aspek output adalah 3,88. Untuk faktor ancaman yang paling berpengaruh adalah kekhawatiran orang tua bahwa kemungkinan lulusan hanya bagus dalam kompetensi duniawi yang diberi bobot 0,30 dan skor 3. Di samping itu semakin meningkatnya saran kualitas lulusan dari stakeholder dengan bobot 0,25 dan skor 2. Termasuk juga semakin kompleksnya tuntutan masyarakat terhadap mutu sekolah yang diberi bobot 0,20 dan skor 2. Ada juga orang tua yang melihat keberhasilan anak hanya dari sisi hasil/nilai bukan proses dengan bobot 0,15 dan skor 2. Ancaman yang terakhir adalah kemampuan lulusan untuk beradaptasi dengan kemajuan teknologi dengan bobot 0,10 dan skor 1. Total bobot dikali skor untuk faktor ancaman adalah 2,2 maka total akhir faktor peluang dikurangi faktor ancaman adalah 1,68. Dari hasil analisis faktor eksternal tersebut diketahui bahwa SDN 1 Ngadirejo mempunyai banyak peluang yang masih bisa dimanfaatkan. Memang ada 89
32 beberapa hal yang menjadi ancaman dalam aspek output yang perlu mendapat perhatian, tetapi sekolah bisa memanfaatkan peluang yang ada untuk mengatasi ancaman-ancaman yang muncul Rencana Strategis 1. Rencana Strategis Peningkatan Mutu Sekolah Aspek Input Tabel 4.14 Skor Akhir IFAS dan EFAS Aspek Input IFAS EFAS Kategori Total Skor Kategori Total Skor Kekuatan Peluang 4,01 (S) (O) 4,14 Kelemahan Ancaman 2,6 (W) (T) 3 Total (S-W) 1,41 Total (O-T) 1,14 Berdasarkan hasil analisis lingkungan internal dan eksternal untuk aspek input di SDN 1 Ngadirejo diperoleh hasil skor akhir IFAS (kekuatan kelemahan) adalah 1,41 sedangkan skor akhir EFAS (peluang ancaman) adalah 1,14. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa strategi berada di kuadran SO (strength opportunity) yang mendukung strategi agresif, menggunakan kekuatan dari lingkungan internal sekolah dan meraih peluang yang ada pada lingkungan eksternal untuk meningkatkan mutu sekolah khususnya pada aspek input (Umar, 2002). Hasil analisis tersebut digambarkan pada Gambar 4.1 berikut: 90
33 Peluang Kuadran SO Strategi Agresif Memanfaatkan kekuatan untuk menangkap peluang yang ada (1,41; 1,14) Kelemahan Kekuatan Ancaman Gambar 4.1 Matrik SWOT untuk Aspek Input 91
34 Eksternal Faktor Peluang Internal Faktor Kepedulian orang tua terhadap pendidikan bagus Keberadaan komite cukup bagus Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi semakin mudah diakses Hubungan dengan dinas pendidikan kecamatan sangat dekat Kekuatan 1. Mengembangkan sarana dan prasarana Minat dan motivasi pendidikan. belajar siswa tinggi Jumlah buku ajar untuk guru dan siswa cukup Dana untuk operasional sekolah mencukupi 2. Mengembangkan lingkungan sekolah menuju komunitas belajar melalui program 7K (Kebersihan, Ketertiban, Keindahan, Kerindangan, Keamanan, Keamanan, dan Kekeluargaan). Kepemimpinan kepala sekolah sudah relevan 3. Memberdayakan guru dalam pelatihanpelatihan yang dapat meningkatkan kinerja. Sekolah mempunyai 4. Mengembangkan fasilitas sekolah berbasis program kerja yang TIK sebagai sarana belajar jelas 5. Membentuk klub-klub prestasi untuk Kerjasama antar guru mengembangkan potensi siswa. bagus 6. Dibentuk Tim Evaluasi program sekolah 90% guru berpendidikan S1 Lokasi sekolah sangat strategis Jumlah siswa semakin banyak Berdasarkan hasil analisis SWOT tersebut maka rencana strategis yang perlu dibuat sebagai upaya peningkatan mutu sekolah untuk aspek input di SDN 1 Ngadirejo adalah: (1) Mengembangkan sarana dan prasarana pendidikan; (2) Mengembangkan lingkungan sekolah menuju komunitas belajar melalui program 7K (Kebersihan, Ketertiban, Keindahan, Kerindangan, Keamanan, Keamanan, dan Kekeluargaan); (3) Memberdayakan guru dalam pelatihan-pelatihan yang 92
35 dapat meningkatkan kinerja; (4) Mengembangkan fasilitas sekolah berbasis TIK sebagai sarana belajar; (5) Membentuk klub-klub prestasi untuk mengembangkan potensi siswa; (6) Dibentuk Tim Evaluasi program sekolah. 2. Rencana Strategis Peningkatan Mutu Sekolah Aspek Proses Setelah mengidentifikasi berbagai faktor kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman untuk aspek proses kemudian diberi bobot dan skor maka hasil perhitungan untuk total skor akhir adalah sebagai berikut: Tabel 4.15 Skor Akhir IFAS dan EFAS Aspek Proses IFAS EFAS Kategori Total Skor Kategori Total Skor Kekuatan (S) Kelemahan (W) 4,03 2,25 Peluang (O) Ancaman (T) 3,53 1,97 Total (S-W) 1,78 Total (O-T) 1,56 Berdasarkan hasil analisis lingkungan internal (IFAS) dan lingkungan eksternal (EFAS) untuk aspek proses di SDN 1 Ngadirejo diperoleh hasil skor akhir IFAS aspek proses (kekuatan kelemahan) adalah 1,78. Sedangkan skor akhir EFAS aspek proses (peluang ancaman) adalah 1,56. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa strategi berada di kuadran SO 93
36 (strength opportunity) yang mendukung strategi agresif, memanfaatkan kekuatan yang ada untuk menangkap peluang yang ada dari luar. Hasil analisis tersebut pada Gambar 4.2 berikut: Peluang Kuadran SO Strategi Agresif Memanfaatkan kekuatan untuk menangkap peluang yang ada (1,78; 1,56) Kelemahan Kekuatan Ancaman Gambar 4.2. Matrik SWOT untuk Aspek Proses 94
37 Eksternal Faktor Peluang Internal Faktor Kesadaran wali murid menyumbang dana belajar cukup besar Semakin banyak media pembelajaran yang bisa diakses Ada pelatihan-pelatihan guru satu gugus yang menunjang PBM Kebutuhan orang tua terhadap kegiatan keagamaan anak sangat tinggi Kekuatan 1. Memberdayakan guru untuk Memiliki kurikulum yang inovatif menggunakan teknologi informasi dalam proses belajar mengajar Diterapkan Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAIKEM) 2. Mengintensifkan kegiatan keagamaan untuk membentuk siswa yang iman dan taqwa Guru menentukan KKM setiap mata pelajaran dan melaksanakan program perbaikan dan pengayaan 3. Meningkatkan kerjasama dengan pengajar atau pelatih dari luar sekolah untuk mendukung kegiatan ekstra kurikuler Tenaga pengajar banyak yang menguasai TIK 4. Mengintensifkan kegiatan supervisi dan monitoring oleh kepala sekolah Ada jam pelajaran tambahan 5. Mengefektifkan kegiatan KKG untuk (les) untuk kelas IV, V dan VI. memecahkan masalah-masalah yang Mempunyai konsep pendidikan ditemui guru dalam PBM yang beriman, berkarakter dan akademis sesuai visi misi sekolah Berdasarkan hasil analisis SWOT tersebut, maka rencana strategis yang perlu dibuat sebagai upaya peningkatan mutu sekolah untuk aspek proses di SDN 1 Ngadirejo adalah: (1) Memberdayakan guru untuk menggunakan teknologi informasi dalam proses belajar mengajar; (2) Mengintensifkan kegiatan keagamaan untuk membentuk siswa yang iman dan taqwa; (3) Meningkatkan kerjasama dengan pengajar atau pelatih dari luar sekolah untuk mendukung kegiatan 95
38 ekstra kurikuler; (4 Mengintensifkan kegiatan supervisi dan monitoring oleh kepala sekolah); (5) Mengefektifkan kegiatan KKG untuk memecahkan masalahmasalah yang ditemui guru dalam PBM. 3. Rencana Strategis Peningkatan Mutu Sekolah Aspek Output Setelah mengidentifikasi berbagai faktor kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman untuk faktor output kemudian diberi bobot dan skor maka hasil perhitungan untuk total skor akhir adalah sebagai berikut: Tabel 4.16 Skor Akhir IFAS dan EFAS Aspek Output IFAS EFAS Kategori Total Skor Kategori Total Skor Kekuatan (S) Kelemahan (W) 4,3 1,9 Peluang (O) Ancaman (T) 3,88 Total (S-W) 2,4 Total (O-T) 1,68 2,2 Berdasarkan hasil analisis lingkungan internal (IFAS) dan lingkungan eksternal (EFAS) untuk aspek output di SDN 1 Ngadirejo diperoleh hasil skor akhir IFAS aspek output (kekuatan kelemahan) adalah 2,4. Sedangkan skor akhir EFAS aspek output (peluang ancaman) adalah 1, 68. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa strategi berada di kuadran SO (strength opportunity) yang mendukung strategi agresif, meman- 96
39 faatkan peluang yang ada dari luar untuk mengatasi ancaman yang muncul dari lingkungan eksternal sekolah pada aspek output. Hasil analisis tersebut dapat dilihat pada Gambar 4.3 berikut: Peluang Kuadran SO Strategi Agresif Memanfaatkan kekuatan untuk menangkap peluang yang ada (2,4; 1,68) Kelemahan Kekuatan Ancaman Gambar 4.3 Matrik SWOT untuk Aspek Output 97
40 Eksternal Faktor Peluang Internal Faktor Hasil UN dapat dijadikan pertimbangan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi Kepercayaan masyarakat terhadap sekolah semakin bagus Harapan orang tua agar lulusan tidak hanya berprestasi dalam bidang akademik tetapi juga maksimal dalam bidang non akademik (ekstrakurikuler) Harapan orang tua agar lulusan menjadi generasi yang cerdas, agamis dan siap menghadapi tantangan masa depan Mempunyai peluang yang bagus untuk menjalin kerjasama dengan alumni Kekuatan 1. Membangun image positif sekolah melalui output Prosentase yang dihasilkan kelulusan tinggi Nilai rata-rata UN 2. Meningkatkan prestasi siswa dalam bidang akademik maupun non akademik tinggi 3. Meningkatkan pelaksanaan pendidikan karakter Lulusan berprestasi dalam bidang akademik dan non 4. Meningkatkan pelaksanaan pendidikan kecakapan hidup sesuai yang tertuang dalam kurikulum akademik Semua lulusan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dan banyak diterima di sekolah favorit 5. Membentuk jaringan alumni untuk diberdayakan dalam kegiatan sekolah Berdasarkan hasil analisis SWOT tersebut, maka rencana strategis yang perlu dibuat sebagai upaya peningkatan mutu sekolah untuk aspek output di SDN 1 Ngadirejo adalah: (1) Membangun image positif sekolah melalui output yang dihasilkan; (2) Meningkatkan prestasi siswa dalam bidang akademik maupun non akademik; (3) Meningkatkan pelaksanaan pendi- 98
41 dikan karakter; (4) Meningkatkan pelaksanaan pendidikan kecakapan hidup sesuai yang tertuang dalam kurikulum; (5) Membentuk jaringan alumni untuk diberdayakan dalam kegiatan sekolah. 4.3 Pembahasan Hasil Wawancara, Observasi, dan Studi Dokumen Berdasarkan hasil wawancara, observasi dan studi dokumen diperoleh data tentang upaya-upaya yang sudah dilakukan SDN 1 Ngadirejo dalam rangka peningkatan mutu antara lain: 1. Merencanakan Program yang Jelas dan Berkelanjutan SDN 1 Ngadirejo mempunyai visi, misi dan tujuan sekolah yang jelas menuju tercapainya peningkatan mutu pendidikan. Kepala sekolah bersama dengan dewan guru dan komite sekolah menyusun Rencana Kerja Sekolah (RKS) yang terdiri dari Rencana Kerja Jangka Menengah (RKJM) dan Rencana Kerja Tahunan (RKT). Rencana Kerja Jangka Menengah (RKJM) tersebut disusun yang mengacu pada visi, misi, dan tujuan sekolah. Satu perangkat RKJM dijabarkan dalam empat Rencana Kerja Tahunan (RKT), kemudian RKT dikembangkan dalam bentuk Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS). 99
42 Terkait dengan rencana kegiatan pembelajaran selama satu tahun, sekolah menyusun kurikulum yang inovatif berdasarkan kemajuan IPTEK serta dikembangkan secara sistematis sejalan dengan tujuan yang akan dicapai. Dalam setiap penyusunan program, sekolah sudah melibatkan semua stakeholder tetapi untuk mengevaluasi pelaksanaan program tersebut sekolah belum mempunyai tim evaluasi program sekolah. 2. Meningkatkan Mutu Akademik dan Non Akademik Dalam rangka meningkatan mutu akademik dan non akademik maka sekolah berusaha melaksanakan pembelajaran secara maksimal dengan mengefektifkan alokasi waktu yang ada. Dalam KBM guru berusaha menerapkan Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAIKEM) meskipun satu dua guru masih ada yang mengajar secara konfensional. Disamping itu semua guru dituntut untuk melaksanakan program perbaikan dan pengayaan sehingga secara otomatis berimbas pada peningkatan rata-rata pencapaian KKM yaitu pencapaian KKM tiap kelas 99% tercapai. Karena peningkatan mutu pendidikan tidak terlepas dari peningkatan nilai UN dan prosentase kelulusan maka SDN 1 Ngadirejo melaksanakan kiatkiat peningkatan mutu UN antara lain dengan cara: semua guru kompak mulai kelas I menanamkan 100
43 konsep materi pelajaran dengan baik, dibentuk tim sukses UN yang membantu memecahkan materi yang sulit dan belum dapat dipecahkan oleh guru kelas VI, les untuk kelas IV-VI mulai semester 1, kreatif membuat bank soal sesuai kisi-kisi UN dan tukar soalsoal try out antar kecamatan maupun kabupaten, doa bersama/mujahadah, dan pemberian reward setiap akhir tahun kepada guru kelas VI. Dari kiat-kiat tersebut ternyata prestasi UN dari tahun ke tahun semakin meningkat. Selain itu sekolah juga meningkatkan prestasi siswa dalam lomba akademik maupun non akademik yaitu dengan cara memberdayakan semua guru dalam kegiatan mendidik dan melatih siswa. Hasilnya beberapa tahun terakhir ini banyak memperoleh kejuaraan di tingkat kecamatan maupun kabupaten meskipun belum semuanya maksimal sesuai yang diharapkan. 3. Memberdayakan dan Meningkatkan Profesional Guru Sekolah berusaha memberdayakan semua guru dalam kegiatan sekolah agar potensi dan kemampuannya berkembang mendukung kegiatan pembelajaran yang bermutu. Sekolah juga sangat mendukung guruguru untuk ikut studi lanjut S1 sehingga dari 19 guru tinggal 2 guru yang masih berijazah D2 dan keduanya sekarang dalam proses mengikuti S1. Dengan demikian meskipun gurunya banyak yang wiyata bhakti tetapi dengan latar belakang pendidikan yang mema- 101
44 dai diharapkan layanan pendidikan tetap berkualitas. Di samping itu guru juga diberdayakan dalam kegiatan KKG agar segala permasalahan yang ditemui selama KBM baik itu masalah materi pelajaran, pengelolaan siswa atau masalah lainnya dapat dipecahkan bersama dalam forum KKG. Guru-guru SDN 1 Ngadirejo diberi kesempatan untuk ikut pelatihan-pelatihan baik yang diadakan oleh dinas maupun non dinas yang penting materi yang didapat dari pelatihan itu dapat mendukung peningkatan profesional guru. Bahkan sekolah pernah mendatangkan narasumber dari LPMP untuk pelatihan guru satu gugus seperti pelatihan karya ilmiah, workshop tematik dan lain-lain. Keikutsertaan guru dalam pelatihan-pelatihan inovatif tersebut secara otomatis juga akan berdampak positif pada pembelajaran siswa contohnya dengan guru menguasai pembelajaran tematik maka pembelajaran akan lebih efektif, demikian juga dengan guru menguasai prosedur penyusunan PTK maka akan membantu memecahkan masalah KBM di kelasnya masing-masing. Berdasarkan wawancara dengan kepala sekolah dan komite dapat dijelaskan bahwa meskipun guru SDN 1 Ngadirejo banyak yang wiyata bhakti tetapi kemampuan dan semangat mengajarnya tidak ketinggalan dengan guru PNS. Sehingga meskipun di luar ada wacana SDSN tidak layak kalau gurunya banyak yang wiyata bhakti tetapi sekolah berusaha mengantisipasi wacana tersebut dengan meningkatkan profe- 102
45 sional guru melalui pelatihan-pelatihan. Untuk biaya pelatihan bagi guru yang wiyata bhakti sering dibantu menggunakan uang operasional sekolah, sedangkan untuk guru yang PNS sering dengan biaya sendiri. 4. Memberdayakan Potensi Peserta Didik Siswa SDN 1 Ngadirejo jumlahnya cukup banyak dan mempunyai kemampuan yang beragam, untuk itu sekolah berusaha memberdayakan potensi siswa agar dapat berkembang secara maksimal sesuai karakteristik masing-masing. Pemberdayaan peserta didik tersebut dilakukan oleh sekolah melalui beberapa program yaitu dengan memberi tambahan jam pelajaran, memfasilitasi siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler, serta melaksanakan pendidikan karakter dan pendidikan kecakapan hidup. Menurut kepala sekolah pemberian tambahan jam pelajaran diprogramkan untuk kelas IV sampai kelas VI mulai awal semester satu, dengan pertimbangan bahwa mulai kelas IV materi pelajarannya sudah semakin luas dan rumit. Pertimbangan yang lain bahwa mulai di kelas IV siswa biasanya diikutkan lomba-lomba mata pelajaran baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten sehingga perlu dibimbing secara maksimal agar mencapai hasil dan kejuaraan yang maksimal. Selain itu mulai di kelas IV siswa mulai dipersiapkan untuk menguasai materi pelajaran yang akan diujikan dalam UN kelas VI, sehingga 103
46 diharapkan setelah di kelas VI siswa tidak banyak mengalami kesulitan. Sedangkan untuk memfasilitasi kegiatan ekstrakurikuler selama ini sudah berjalan tetapi belum maksimal. Sesuai hasil wawancara dengan siswa sekolah melaksanakan kegiatan kurikuler hanya pada waktu tertentu saja belum melaksanakan secara rutin. Seperti dicontohkan oleh siswa bahwa latihan Pramuka dilaksanakan setiap menjelang kemah penggalang dan pesta siaga, latihan drumband juga dilaksanakan setiap akan ada kegiatan karnaval saja. Latihan olah raga dan seni seperti sepak takraw, tenis meja, bulu tangkis, seni tari, seni lukis, seni musik dan vokal juga diintensifkan hanya setiap menjelang lomba. Bahkan ada kegiatan kurikuler yang diprogramkan dalam kurikulum tetapi tidak pernah dilaksanakan di antaranya pencak silat dan seni karawitan. Hal tersebut tentu saja mengakibatkan potensi siswa dalam bidang ekstrakurikuler kurang berkembang. Dan menurut hasil wawancara, observasi, dan studi dokumen dapat disimpulkan bahwa penyebab kurang maksimalnya pelaksanaan kegiatan kurikuler adalah karena fasilitas kurang memadai, guru tidak melaksanakan kegiatan sesuai dengan kurikulum, tidak semua guru bisa mengampu kegiatan kurikuler, dan sekolah kurang menjalin kerjasama dengan nara sumber atau pelatih dari luar sekolah. Untuk memberdayakan potensi peserta didik sekolah juga memprogramkan pelaksanaan pendidik- 104
47 an karakter dan pendidikan kecakapan hidup. Pendidikan karakter ditujukan untuk mengembangkan atau membentuk karakter siswa. Nilai karakter yang dikembangkan meliputi: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri,demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Pada prinsipnya pendidikan karakter yang dikembangkan di SDN 1 Ngadirejo terintegrasi dalam mata pelajaran, pengembangan diri dan budaya sekolah. Pengintegrasian dalam mapel sudah dicantumkan dalam RPP, pengintegrasian dalam budaya sekolah tercakup dalam kegiatan kurikuler dan ekstrakurikuler serta interaksi sosial di sekolah, pengintegrasian dalam pengembangan diri melalui: (1) Kegiatan rutin sekolah seperti upacara hari besar, pemeriksaan kebersihan badan, kegiatan-kegiatan ibadah/ keagamaan, berdoa sebelum dan sesudah pelajaran, dan budaya salam; (2) Kegiatan spontan yaitu apabila ada siswa yang berperilaku kurang baik langsung dikoreksi dan dibetulkan oleh guru; (3) Keteladanan yaitu guru memberi contoh sikap dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai karakter agar jadi panutan; (4) Pengkondisian yaitu sekolah harus dikondisikan agar mencerminkan nilai karakter yang diharapkan seperti lingkungan sekolah harus selalu bersih, rapi dan teratur. 105
48 Pendidikan karakter di SDN 1 Ngadirejo belum terlaksana dengan maksimal utamanya untuk mengembangkan nilai religius masih sangat kurang. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru hal itu disebabkan karena fasilitas untuk kegiatan keagamaan belum memadai bahkan tempat ibadah atau mushola saja belum ada. Sedangkan untuk pendidikan kecakapan hidup yang dicantumkan dalam kurikulum adalah Teknologi Informatika, diprogramkan mulai dari kelas I sampai kelas VI. Tetapi kenyataannya kegiatan tersebut belum bisa berjalan sesuai yang diharapkan. Sebenarnya sekolah mempunyai beberapa guru yang menguasai TIK tetapi fasilitas yang ada belum memenuhi. Sekolah baru mempunyai 3 unit komputer dan 3 unit laptop sehingga untuk memfasilitasi pembelajaran TIK belum mencukupi. 5. Menjalin Kerjasama dengan Orang Tua dan Masyarakat Kerjasama dengan orang tua dan masyarakat dilakukan secara intensif oleh sekolah melalui pertemuan rutin tiap awal tahun pelajaran dan setiap akhir semester, menjelang ujian kelas VI, dan rapat komite secara insidental. Kepedulian orang tua dan komite terhadap pendidikan sangat bagus, utamanya dalam membantu pendanaan untuk melengkapi sarana prasarana sekolah. Meskipun dana bantuan dari pemerintah yang berupa dana BOS cukup besar, tetapi itu hanya bisa digunakan untuk mencukupi biaya 106
49 operasional sekolah tidak boleh untuk membangun prasarana sekolah. Sarana prasarana sekolah yang saat ini masih kurang/belum ada adalah mushola, laboratorium, aula, ruang kelas kurang 1 ruang, jamban siswa kurang, dan ruang pimpinan. Wacana ke depan untuk melengkapi sarana prasarana tersebut sekolah mau mencari terobosan bantuan dana tidak hanya mengandalkan dari pemerintah saja, bahkan yang pasti tidak lepas dari kerjasamanya dengan orang tua dan komite sekolah. Bantuan dari komite sejak tahun 2008 sampai 2013 yang sudah diterima oleh sekolah sejumlah Rp ,-. Bantuan tersebut sangat berarti bagi sekolah karena secara bertahap prasarana sekolah menjadi lebih lengkap. Kerjasama dengan orang tua dan masyarakat diharapkan tidak hanya terfokus pada pendanaan saja tetapi juga berupa ide serta masukan demi peningkatan mutu pendidikan di SDN 1 Ngadirejo. Hal tersebut sudah dilaksanakan yaitu setiap penyusunan program sekolah komite selalu dilibatkan Analisis SWOT Aspek Input Berdasarkan hasil perhitungan analisis terhadap faktor lingkungan internal dan faktor lingkungan eksternal aspek input SDN 1 Ngadirejo maka diperoleh hasil skor akhir lingkungan internal aspek input (kekuatan kelemahan) adalah 1,41. Angka ini menunjukkan bahwa faktor kekuatan lebih dominan 107
50 dari faktor kelemahan sehingga dengan kekuatan minat dan motivasi belajar siswa yang tinggi, jumlah buku ajar untuk guru dan siswa yang cukup, serta dana operasional sekolah yang mencukupi dan kerja sama guru yang bagus serta 89% guru berpendidikan S1 dapat mengatasi kelemahan dalam menangani tingkat kemampuan siswa yang beragam, fasilitas sekolah yang kurang dan jumlah guru PNS yang kurang. Sedangkan kepemimpinan kepala sekolah yang relevan, program sekolah yang jelas dapat mengatasi kelemahan dalam pengelolaan sekolah. Skor akhir lingkungan eksternal aspek input (peluang ancaman) adalah 1,14. Ini menunjukkan bahwa faktor peluang masih lebih dominan dari faktor ancaman sehingga sekolah bisa memanfaatkan peluang yang ada untuk mereduksi ancaman-ancaman yang muncul. Hasil perhitungan IFAS dan EFAS menunjukkan bahwa posisi SDN 1 Ngadirejo berada pada titik (1,41; 1,14) berarti ada pada kuadran SO (strength opportunities), hal ini merupakan situasi yang sangat menguntungkan karena sekolah memiliki kekuatan dan peluang yang lebih dominan sehingga perlu diterapkan strategi agresif yang mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif dengan menggunakan kekuatan yang ada pada sekolah untuk memanfaatkan peluang dari luar. 108
51 4.3.3 Analisis SWOT Aspek Proses Berdasarkan hasil perhitungan analisis terhadap faktor lingkungan internal dan faktor lingkungan eksternal aspek proses SDN 1 Ngadirejo maka diperoleh hasil skor akhir lingkungan internal aspek proses (kekuatan kelemahan) adalah 1,78. Angka ini menunjukkan bahwa faktor kekuatan lebih dominan dari faktor kelemahan sehingga sekolah bisa memanfaatkan kekuatan untuk mengatasi kelemahan yang muncul. Sedangkan skor akhir lingkungan eksternal aspek proses (peluang ancaman) adalah 1,56. Angka ini menunjukkan bahwa peluang SDN 1 Ngadirejo lebih besar daripada ancaman yang ada. Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa posisi SDN 1 Ngadirejo berada pada titik (1,78; 1,56) yaitu berada pada kuadran SO (strength opportunities) yang mengindikasikan perlu dilakukannya strategi agresif, memfokuskan upaya menggunakan kekuatan internal SDN 1 Ngadirejo untuk dapat memanfaatkan peluang Analisis SWOT Aspek Output Berdasarkan hasil perhitungan analisis terhadap faktor lingkungan internal dan faktor lingkungan eksternal aspek output di SDN 1 Ngadirejo maka diperoleh hasil skor akhir lingkungan internal aspek output (kekuatan kelemahan) adalah 2,4. Angka ini menunjukkan bahwa faktor kekuatan lebih dominan 109
52 dari faktor kelemahan sehingga sekolah bisa memanfaatkan kekuatan yang dimiliki untuk mengatasi kelemahan yang terjadi. Sedangkan skor akhir lingkungan eksternal aspek output (peluang ancaman) adalah 1,68. Ini menunjukkan bahwa faktor peluang lebih dominan dari faktor ancaman sehingga sekolah bisa memanfaatkan peluang yang ada untuk mereduksi ancaman-ancaman yang muncul. Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa posisi SDN 1 Ngadirejo berada pada titik (2,4; 1,68) berarti pada posisi atau kuadran SO (strength opportunities) yang mengindikasikan perlu diterapkan strategi agresif yaitu menggunakan kekuatan yang ada pada sekolah untuk menangkap peluang dari luar Rencana Strategis Aspek Input Berdasarkan hasil analisis SWOT untuk IFAS dan EFAS menghasilkan strategi di kuadran SO (strength opportunities), yaitu strategi agresif yang mendukung pertumbuhan. Strategi ini menggunakan kekuatan internal sekolah untuk meraih peluangpeluang yang ada di luar sekolah (Robbin & Coulter, 2009). Berikut ini adalah rencana strategis yang dibuat sebagai upaya peningkatan mutu untuk input di SDN 1 Ngadirejo. Renstra pertama, mengembangkan sarana dan prasarana pendidikan. Dengan adanya kepedulian orang tua dan komite yang bagus terhadap pendidikan 110
53 merupakan peluang bagi sekolah untuk bersama-sama membuat program pengembangan sarana prasarana yang sekarang masih banyak kekurangan. Di samping itu pendekatan dengan dinas pendidikan sangat diperlukan agar usulan bantuan baik berupa bangunan maupun sarana pendidikan bisa diwujudkan. Sekolah juga bisa melakukan terobosan-terobosan dengan mengajukan proposal kemana pun yang kira-kira ada peluang untuk memberi bantuan. Hal tersebut sangat diperlukan untuk melengkapi sarana prasarana seperti ruang kelas, ruang pimpinan, ruang laboratorium, mushola, aula/ruang serba guna, dan perangkat teknologi informatika. Kalau sarana prasarana pendidikan sudah memenuhi maka diharapkan mutu pendidikan di SDN 1 Ngadirejo akan lebih meningkat lagi. Renstra kedua, mengembangkan lingkungan sekolah menuju komunitas belajar melalui program 7K (Kebersihan, Ketertiban, Keindahan, Kerindangan, Keamanan, Kenyamanan, dan Kekeluargaan). Pengembangan komunitas belajar di SDN 1 Ngadirejo bisa dimulai dengan menata lingkungan fisik melalui program 7K, sehingga nyaman dan kondusif untuk belajar. Bersamaan dengan itu, kebiasaan belajar ditumbuhkan melalui kegiatan gemar membaca. Guru dapat menugasi siswa untuk membaca buku yang relevan dengan topik/materi pelajaran yang dibahas, bisa ditugaskan secara individual atau kelompok yang penting membiasakan anak membaca. Pola tersebut 111
54 mampu mendorong tumbuhnya komunitas belajar di sekolah. Renstra ketiga, memberdayakan guru dalam pelatihan-pelatihan yang dapat meningkatkan kinerja. Sekolah dengan jumlah siswa banyak secara otomatis bantuan operasional dari pemerintah juga banyak. Dana tersebut sebagian bisa dimanfaatkan untuk memberdayakan guru dalam pelatihan-pelatihan yang dapat mengembangkan pengetahuan dan keterampilan guru sehingga pada gilirannya diharapkan para guru dapat memperoleh keunggulan kompetitif dan dapat memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya. Dengan kata lain, mereka dapat bekerja secara lebih produktif dan mampu meningkatkan kualitas kinerjanya Renstra keempat, mengembangkan fasilitas sekolah berbasis TIK sebagai sarana belajar. Sekolah perlu memfasilitasi siswa dengan sarana belajar berbasis TIK agar siswa dapat memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengembangkan kemampuan yang dimilikinya dan sebagai sarana belajar sehingga bisa meningkatkan prestasinya di sekolah. Dengan kemajuan teknologi siswa bisa mencari materi-materi pelajaran yang diperlukan melalui internet sehingga wawasan anak semakin luas. Renstra kelima, membentuk klub-klub prestasi untuk mengembangkan potensi siswa. Dengan adanya siswa yang banyak dengan kemampuan yang beragam serta minat dan motivasi belajar siswa yang tinggi, 112
55 maka sekolah perlu mengembangkan potensi siswa secara maksimal sesuai dengan kebutuhan, bakat dan minat siswa masing-masing. Sekolah perlu membentuk klub-klub prestasi sehingga siswa yang mempunyai bakat atau kemampuan yang lebih baik dalam bidang akademik, olah raga maupun seni dapat dikembangkan kemampuannya melalui klub-klub prestasi tersebut seperti klub bahasa dan sastra, klub sains, klub sepak bola, klub basket, klub seni dan lain-lain. Klub ini dikembangkan di bawah bimbingan seorang guru ataupun pelatih yang mempunyai kemampuan di bidang tersebut. Renstra keenam, dibentuk Tim Evaluasi program sekolah. Meskipun program sudah berjalan tetapi sekolah perlu membentuk tim evaluasi program yang tugasnya secara periodik mengevaluasi program sekolah untuk mengetahui prosentase ketercapaian program, apa target yang diharapkan, sejauh mana hasil yang sudah dicapai, kesenjangannya apa, dan pemecahannya bagaimana. Hasil dari evaluasi program tersebut bisa dijadikan dasar penyusunan program yang akan datang agar menjadi lebih baik Rencana Strategis Aspek Proses Berdasarkan hasil analisis SWOT untuk IFAS dan EFAS menghasilkan strategi di kuadran SO (strength opportunities), yaitu strategi agresif yang mendukung pertumbuhan. Strategi ini menggunakan 113
56 kekuatan internal sekolah untuk meraih peluangpeluang yang ada di luar sekolah (Robbin & Coulter, 2009). Berikut ini adalah rencana strategis yang dibuat sebagai upaya peningkatan mutu untuk input di SDN 1 Ngadirejo. Renstra pertama, memberdayakan guru untuk menggunakan teknologi informasi dalam proses belajar mengajar. Dengan bantuan media informasi guru dapat melakukan pembelajaran yang kreatif dan menarik sehingga tidak hanya meningkatkan minat belajar siswa tetapi juga meningkatkan kualitas guru dalam tugas mengajar. Selain itu melalui media internet guru dapat mencari materi-materi sebagai tambahan dalam menyiapkan bahan ajar bagi siswa. Renstra kedua, mengintensifkan kegiatan keagamaan untuk membentuk siswa yang iman dan taqwa. Sesuai dengan visi misi sekolah untuk membentuk kepribadian siswa yang iman dan taqwa maka guru harus memantapkan penghayatan dan pengamalan hidup beragama siswa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Selain itu guru juga harus menanamkan nilai-nilai Aqidah dan budi pekerti luhur dengan maksimal. Kegiatan keagamaan tersebut secara rinci sudah dijabarkan dalam kurikulum, sehingga kalau semuanya dilaksanakan sesuai yang tertuang dalam kurikulum maka hasilnya akan maksimal. 114
57 Renstra ketiga, meningkatkan kerjasama dengan pengajar atau pelatih dari luar sekolah untuk mendukung kegiatan ekstra kurikuler, meningkatkan kerjasama dengan pengajar atau pelatih dari luar sekolah untuk mendukung kegiatan ekstrakurikuler. Sekolah perlu mengalokasikan dana untuk kegiatan ekstrakurikuler termasuk untuk honor pelatih dari luar sekolah. Hal tersebut sangat penting untuk memaksimalkan potensi siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler. Renstra keempat, mengintensifkan kegiatan supervisi dan monitoring oleh kepala sekolah. Dengan melaksanakan supervisi dan monitoring secara intensif maka kepala sekolah dapat memberikan bantuan teknis dan bimbingan kepada guru dan staf agar personal tersebut mampu meningkatkan kualitas kinerjanya, dalam melaksanakan tugas dan melaksanakan proses belajar mengajar Renstra kelima, mengefektifkan kegiatan KKG untuk memecahkan masalah-masalah yang ditemui guru dalam PBM. Masalah-masalah yang dihadapi oleh guru dalam proses pembelajaran di kelas beragam bentuk dan modelnya. Penanganan terhadap setiap persoalan untuk mencari jalan keluar antara guru yang satu dengan yang lain berbeda-beda. Guru senior kadang memiliki lebih banyak teknik dan cara-cara dalam mengatasi persoalan terlebih lagi persoalan belajar mengajar. Untuk itulah guru-guru baru atau guru lain yang memiliki persoalan yang menurutnya sulit bisa dipecahkan melalui KKG dengan cara 115
58 berdiskusi dan berbagi pengalaman dengan guru lainnya Rencana Strategis Aspek Output Berdasarkan hasil analisis SWOT untuk IFAS dan EFAS menghasilkan strategi di kuadran SO (strength opportunities), yaitu strategi agresif yang mendukung pertumbuhan. Strategi ini menggunakan kekuatan internal sekolah untuk meraih peluangpeluang yang ada di luar sekolah (Robbin & Coulter, 2009). Berikut ini adalah rencana strategis yang dibuat sebagai upaya peningkatan mutu untuk input di SDN 1 Ngadirejo. Renstra pertama, membangun image positif sekolah melalui output yang dihasilkan. Output adalah hasil akhir dari suatu proses yang dilakukan sekolah. Oleh karena itu output yang dihasilkan diharapkan dapat memenuhi kriteria seperti yang diharapkan masyarakat antara lain lulusan tidak hanya berprestasi dalam bidang akademik tetapi juga maksimal dalam bidang non akademik (ekstrakurikuler), lulusan menjadi generasi yang cerdas, agamis dan siap menghadapi tantangan masa depan. Renstra kedua, meningkatkan prestasi siswa dalam bidang akademik maupun non akademik. Untuk mencapai hal tersebut maka segala kegiatan pembelajaran harus dilaksanakan secara maksimal sesuai kurikulum. Guru harus mau bekerja keras 116
59 dalam memberikan layanan kepada siswa baik dalam kegiatan kurikuler maupun ekstrakurikuler. Renstra ketiga, meningkatkan pelaksanaan pendidikan karakter. Pendidikan karakter sangat penting karena akan menjadi dasar dalam pembentukan karakter siswa, yang tidak mengabaikan nilai-nilai sosial seperti toleransi, kebersamaan, kegotongroyongan, saling membantu, menghormati dan sebagainya. Pendidikan karakter akan melahirkan pribadi unggul yang tidak hanya memiliki kemampuan kognitif saja namun memiliki karakter yang mampu mewujudkan kesuksesan. Pendidikan karakter pada intinya bertujuan membentuk pribadi siswa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa berdasarkan Pancasila. Renstra keempat, meningkatkan pelaksanaan pendidikan kecakapan hidup sesuai yang tertuang dalam kurikulum. Dengan pendidikan kecakapan hidup siswa akan mendapat bekal kecakapan dalam hal keberanian menghadapi problema hidup dan kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara kreatif menemukan solusi serta mampu mengatasinya. Pendidikan kecakapan hidup di SDN 1 Ngadirejo difokuskan pada teknologi informatika, berarti secara bertahap harus dilengkapi fasilitasnya. Dengan bekal kecakapan hidup tersebut, 117
60 diharapkan para lulusan akan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan yang sudah memanfaatkan kemajuan teknologi, dapat memecahkan problema kehidupan yang dihadapi, termasuk mencari atau menciptakan pekerjaan bagi mereka yang suatu saat tidak melanjutkan pendidikannya sampai jenjang tertingg Renstra kelima, membentuk jaringan alumni untuk diberdayakan dalam kegiatan sekolah. Alumni merupakan aset penting yang harus dirangkul dan dikembangkan oleh sekolah. Salah satu indikator keberhasilan proses pendidikan dapat dilihat dari keberhasilan alumni dalam menjalankan peran mereka di jenjang pendidikan yang lebih tinggi maupun berbagai bidang pekerjaan yang mereka jalani secara profesional sesuai minat dan kemampuan. Alumni memiliki posisi strategis karena meskipun mereka tidak lagi merupakan bagian aktif dalam proses pendidikan di sekolah, namun pengalaman mereka selama menjadi siswa dan ikatan batin serta rasa memiliki mereka yang kuat terhadap sekolah dapat menghasilkan dan menawarkan berbagai konsep, ide, pemikiran, masukan dan kritik membangun untuk sekolah. Jadi jaringan alumni merupakan satu wadah yang perlu ditumbuhkembangkan peran dan fungsinya serta didukung keberadaannya. Melalui pengorganisasian alumni secara profesional, berbagai macam peluang dan kesempatan akan dapat terkomunikasikan dengan baik. 118
BAB V P E N U T U P. Berdasarkan analisis dan pembahasan yang dilakukan maka kesimpulan yang dapat diambil yaitu:
BAB V P E N U T U P 5.1 Kesimpulan Berdasarkan analisis dan pembahasan yang dilakukan maka kesimpulan yang dapat diambil yaitu: 1. Upaya-Upaya yang Sudah dilakukan SDN 1 Ngadirejo dalam Rangka Peningkatan
Pedoman Wawancara untuk Kepala Sekolah dan Guru
Lampiran 1 edoman Wawancara untuk Kepala Sekolah dan Guru 1. Dalam waktu 5 tahun terakhir upaya apa saja yang sudah dilakukan SDN 1 Ngadirejo dalam rangka peningkatan mutu? 2. Apakah dalam penyusunan program
BAB I PENDAHULUAN. Upaya peningkatan mutu merupakan agenda setiap institusi pendidikan. Hal ini sejalan dengan pendapat Hardjosoedarmo (2004):
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sekolah mempunyai tanggung jawab terhadap peningkatan mutu pendidikan. Peningkatan mutu pendidikan bukanlah upaya sederhana, melainkan suatu kegiatan dinamis
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Desain yang digunakan untuk penelitian ini adalah desain penelitian pengembangan. Sugiyono (2011) menyatakan bahwa penelitian pengembangan merupakan metode
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Sekolah SMAK St. Petrus Comoro didirikan pada tahun 1986 pada jaman pemerintahan Indonesia, dengan alasan untuk menampung siswa yang mempunyai NEM rendah dan
4.1 Gambaran SMPN 1 Bawen
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran SMPN 1 Bawen SMP Negeri 1 Bawen merupakan salah satu sekolah menengah negeri yang berdiri pada 15 Desember 1983 dan terletak di Jalan Soekarno Hatta
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Obyek Penelitian SD Negeri 3 Candimulyo terletak di ujung timur Kecamatan Kedu. Secara geografis letaknya sangat strategis,karena berada dijalur antara
BAB V PENUTUP. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, maka kesimpulan yang dapat diambil adalah:
BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, maka kesimpulan yang dapat diambil adalah: 1. Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman di SMP Negeri 1 Bawen Berdasarkan hasil analisi
STRUMEN PEDOMAN WAWANCARA
STRUMEN PEDOMAN WAWANCARA 1. Responden : Kepala Sekolah/Guru 2. Hari/tgl/waktu :.. 3. Tempat : Pertanyaan: 1. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir SMP Negeri 9 memiliki prestasi yang membanggakan. Langkah
VISI, MISI DAN TUJUAN
VISI, MISI DAN TUJUAN A. V I S I Terwujudnya kinerja sekolah yang optimal sehingga melahirkan siswasiswa yang beriman dan bertaqwa, memiliki pengetahuan, sikap dan keterampilan sebagai bekal untuk hidup
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Diskripsi Subjek Penelitian Penelitian ini dilakukan di SD Negeri Ngimbrang Kecamatan Bulu Kabupaten Temanggung. SD Negeri Ngimbrang merupakan Sekolah Dasar Inti
BAB III KAJIAN OBJEK PENELITIAN
BAB III KAJIAN OBJEK PENELITIAN A. Sejarah dan Perkembangan SMP 28 Semarang SMP 28 Semarang berdiri tahun 1985 dengan lokasi sekolah berada di ujung barat wilayah Kota Semarang, tepatnya di kelurahan Mangkangkulon
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Tinjauan Historis SD Negeri 03 Kuto Kecamatan Kerjo
32 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Lokasi Penelitian 1. Tinjauan Historis SD Negeri 03 Kuto Kecamatan Kerjo SD Negeri 03 Kuto Kecamatan Kerjo berdiri berdasarkan Surat Keputusan Menteri
BAB III GAMBARAN UMUM SMP NEGERI 1 TRAGAH BANGKALAN. A. Sejarah Singkat SMP Negeri 1 Tragah Bangkalan.
BAB III GAMBARAN UMUM SMP NEGERI 1 TRAGAH BANGKALAN A. Sejarah Singkat SMP Negeri 1 Tragah Bangkalan. Sebelum dikemukakan sejarah berdirinya SMP N 1 Tragah Bangkalan, terlebih dahulu penulis kemukakan
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1 Uraian Tentang Perusahaan 2.1.1 Sejarah SMA Negeri 1 Pandaan SMA Negeri 1 Pandaan berdiri pada tahun 1974 dengan nama SMPP (Sekolah Menengah Persiapan Pembangunan).
BAB IV GAMBARAN UMUM. Sekolah Dasar Negeri 2 Waringinsari Timur merupakan satu dari 4 sekolah yang
BAB IV GAMBARAN UMUM 4.1 Profil SD Negeri 2 Waringinsari Timur 4.1.1 Sejarah SD Negeri 2 Waringinsari Timur Sekolah Dasar Negeri 2 Waringinsari Timur merupakan satu dari 4 sekolah yang berada dipekon Waringinsari
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Pengumpulan Data Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 9 Salatiga yang berada di Jalan Pemuda 7-9 Salatiga. Penelitian berlangsung pada tanggal 18 Mei 2012
PROFIL SEKOLAH Sunday, 27 June :50. A. Latar Belakang
A. Latar Belakang Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia, Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
Latihan: UJI KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH 2012
Latihan: UJI KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH 2012 I. Pilihlah jawaban yang benar dengan memberi tanda silang (X) huruf A, B, C, atau D pada lembar jawaban! 1. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun
BAB I PENDAHULUAN A. ANALISIS SITUASI
BAB I PENDAHULUAN A. ANALISIS SITUASI 1. Kondisi Sekolah Keberadaan SMP N 2 Ngaglik Sleman sejak tahun 1967 yang sebelumnya merupakan Filial SMP N 1 Ngaglik Sleman. SMP N 2 Ngaglik Sleman dikenal luas
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan prasayarat mutlak untuk mencapai tujuan pembangunan. Salah satu wahana untuk meningkatkan kualitas SDM tersebut
Melaksanakan kurikulum berdasarkan 9 (sembilan) muatan KTSP. Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 (delapan) muatan KTSP.
I. STANDAR ISI 1. Sekolah/Madrasah melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 9 (sembilan) muatan KTSP. Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 (delapan) muatan
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. SHAFTA adalah kepanjangan dari Shidiq, Amanah, Fathonah dan Tabligh
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1. Profil SMA SHAFTA Surabaya SHAFTA adalah kepanjangan dari Shidiq, Amanah, Fathonah dan Tabligh yang diambil dari empat sifat Rosul yang artinya: SHIDIQ : Membentuk
2. KTSP dikembangkan oleh program keahlian dengan melibatkan berbagai pihak sesuai dengan tahapan penyusunan KTSP.
I. STANDAR ISI 1. Program keahlian melaksanakan kurikulum berdasarkan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 9 muatan KTSP Melaksanakan kurikulum berdasarkan
PROGRAM KERJA WAKIL KEPALA SEKOLAH BIDANG KURIKULUM TAHUN PELAJARAN 2015/2016
PROGRAM KERJA WAKIL KEPALA SEKOLAH BIDANG KURIKULUM TAHUN PELAJARAN 2015/2016 A. Latar Belakang Sesuai dengan Undang-Undang Sisdiknas Nomor : 20 Tahun 2003 mengamanatkan bahwa : Pendidikan adalah usaha
1. Sekolah/Madrasah melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 9 (sembilan) komponen muatan KTSP.
I. STANDAR ISI 1. Sekolah/Madrasah melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 9 (sembilan) komponen muatan KTSP. Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 (delapan)
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Desain yang digunakan untuk penelitian ini adalah desain penelitian pengembangan. Sugiyono (2011) menyatakan bahwa penelitian pengembangan merupakan metode
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Di dalam bab IV ini akan dibahas tentang hasil penelitian dan pembahasan. Berdasarkan pada permasalahan dan tujuan penelitian, data hasil penelitian bersumber dari
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Profil SMP Negeri 1 Bandungan SMP Negeri 1 Bandungan adalah Sekolah Menengah Pertama yang terletak di Desa Jimbaran Kecamatan Bandungan Kabupaten
PRESENTASI BEST PRACTICE DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN DI KELAS
PRESENTASI BEST PRACTICE DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN DI KELAS OLEH : HIJRAH FITRIYANI, M.PD. GURU SDN SIRAHCAI KKG GUGUS III KEC. JATINANGOR Best Practice ini telah didesiminasikan di depan
PROPOSAL USULAN PEMBANGUNAN DAN RUANGAN SEKOLAH SMP NEGERI 1 PASIR BELENGKONG TAHUN ANGGARAN 2018
PROPOSAL USULAN PEMBANGUNAN DAN RUANGAN SEKOLAH SMP NEGERI 1 PASIR BELENGKONG TAHUN ANGGARAN 2018 PEMERINTAH KABUPATEN PASER DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN SMPN 1 PASIR BELENGKONG TAHUN 2018 PEMERINTAH
BAB II DESKRIPSI SMA NEGERI DI WILAYAH KOTA JAKARTA BARAT
15 BAB II DESKRIPSI SMA NEGERI DI WILAYAH KOTA JAKARTA BARAT 2.1 Standar Pengelolaan Pendidikan Standar pengelolaan pendidikan oleh satuan pendidikan menengah di wilayah kota Jakarta Barat berdasarkan
BAB II DESKRIPSI SMA NEGERI DI WILAYAH KOTA JAKARTA BARAT
10 BAB II DESKRIPSI SMA NEGERI DI WILAYAH KOTA JAKARTA BARAT 2.1 Standar Pengelolaan Pendidikan Standar pengelolaan pendidikan oleh satuan pendidikan menengah di wilayah kota Jakarta Barat berdasarkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Reformasi pendidikan merupakan respon terhadap perkembangan tuntutan global sebagai suatu upaya untuk mengadaptasikan sistem pendidikan yang mampu mengembangkan
Bab IV Analisis Hasil Penelitian
Bab I Analisis Hasil Penelitian A. Profil Sekolah 1. Nama Sekolah : SD Negeri Candisari 2. Nomor Statistik Sekolah : 101030820016 3. Alamat Sekolah : Margoagung Desa : Candisari Kecamatan : Secang Kabupaten
BAB II DESKRIPSI SMA NEGERI RAYON 08 JAKARTA BARAT
9 BAB II DESKRIPSI SMA NEGERI RAYON 08 JAKARTA BARAT 2.1 Standar Pengelolaan Pendidikan Berdasarkan Permendiknas Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah,
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN 4.1. Profil SD Negeri 1 Tegorejo Penelitian Evaluasi Program Supervisi Akademik ini mengambil lokasi di SD Negeri 1 Tegorejo Kecamatan Pegandon Kabupaten Kendal yang
BAB I PENDAHULUAN A. Analisis Situasi
BAB I PENDAHULUAN Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) memiliki bobot 3 SKS dan merupakan salah satu mata kuliah yang wajib ditempuh oleh seluruh mahasiswa UNY yang mengambil jurusan kependidikan. Program
Bab I Pendahuluan. A. Latar Belakang
A. Latar Belakang Bab I Pendahuluan Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni telah membawa perubahan hampir disemua bidang kehidupan manusia, termasuk bidang pendidikan. Perubahan pada bidang
LAPORAN KERJA TAHUNAN SMP NEGERI 05 BATU TAHUN
LAPORAN KERJA TAHUNAN SMP NEGERI 05 BATU TAHUN 2015 2016 OLEH: KEPALA SEKOLAH SMPN 05 BATU DINAS PENDIDIKAN KOTA BATU SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 05 BATU (STATE JUNIOR HIGH SCHOOL) Jl. Lapangan Lemah
BAB 3 GAMBARAN UMUM RESPONDEN
BAB 3 GAMBARAN UMUM RESPONDEN 3.1 Profil Responden 3.1.1 Sejarah Singkat SMP Negeri 127 Jakarta terletak di Jl. Raya Kebon Jeruk No. 126 A, Kecamatan Kebon Jeruk, Kota Jakarta Barat, Propinsi DKI Jakarta.
KEMENTERIAN AGAMA KELOMPOK KERJA PENGAWAS PAI (POKJAWAS PAI) KANTOR KABUPATEN CILACAP Alamat : Jalan DI. Panjaitan No.44 Telp. (0282) Cilacap
KEMENTERIAN AGAMA KELOMPOK KERJA PENGAWAS PAI (POKJAWAS PAI) KANTOR KABUPATEN CILACAP Alamat : Jalan DI. Panjaitan No.44 Telp. (0282)531155 Cilacap PENILAIAN SEKOLAH /MADRASAH BERDASARKAN STANDAR NASIONAL
MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 52 TAHUN 2008 TENTANG
SALINAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 52 TAHUN 2008 TENTANG KRITERIA DAN PERANGKAT AKREDITASI SEKOLAH MENENGAH ATAS/MADRASAH ALIYAH DENGAN RAHMAT
BAB IV ANALISIS UPAYA PENINGKATAN KOMPETENSI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SD NEGERI 03 MOJO KECAMATAN ULUJAMI KABUPATEN PEMALANG
BAB IV ANALISIS UPAYA PENINGKATAN KOMPETENSI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SD NEGERI 03 MOJO KECAMATAN ULUJAMI KABUPATEN PEMALANG A. Analisis Kompenetensi Guru PAI di SD Negeri 03 Mojo Guru merupakan
: Babakan Ciomas RT. 2/3 ds. Parakan Kec. Ciomas Kab. Bogor
Penyusun: Tim Pengembang Madrasah Nama Madrasah Alamat : MTs Al Inayah : Babakan Ciomas RT. 2/3 ds. Parakan Kec. Ciomas Kab. Bogor Program Prioritas MTs. Al Inayah STANDAR ISI 0 MENENTUKAN PROGRAM PRIORITAS
PEDOMAN MERUMUSKAN VISI, MISI, DAN TUJUAN SEKOLAH
PEDOMAN MERUMUSKAN VISI, MISI, DAN TUJUAN SEKOLAH A. Visi Visi adalah wawasan yang menjadi sumber arahan bagi madrasah dan digunkan untuk memandu perumusan misi madrasah. Dengan kata lain, visi adalah
Pangkalan Data Penjaminan Mutu Pendidikan. Negara Kesatuan Republik Indonesia. Panduan EDS Kepala Sekolah PADAMU NEGERI
Pangkalan Data Penjaminan Mutu Pendidikan Negara Kesatuan Republik Indonesia Panduan EDS Kepala Sekolah Dokumen ini diperuntukkan bagi PTK dan Siswa KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN BADAN PENGEMBANGAN
BBM KOMPETENSI MANAJERIAL
LEMBAR KERJA BBM KOMPETENSI MANAJERIAL KELOMPOK KERJA KEPALA SEKOLAH TUGAS INDIVIDU Nama Unit Kerja Kabupaten :.. :.. : 0 A. Manajemen Kompetensi Kepala Sekolah 1. Manajemen 11. Manajemen 2. Manajemen
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian Penelitian Evaluasi Program Kelompok Kerja Guru (KKG) UPTD Pendidikan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian Penelitian Evaluasi Program Kelompok Kerja Guru (KKG) UPTD Pendidikan Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan, dilakukan di Gugus
A. Analisis Situasi BAB I PENDAHULUAN. 1. Analisis kondisi fisik sekolah
BAB I PENDAHULUAN A. Analisis Situasi 1. Analisis kondisi fisik sekolah SMP Negeri 2 Gamping di bagian barat kota Yogyakarta, tepatnya di Trihanggo, Gamping, Sleman. Sekolah ini merupakan salah satu tempat
RUMUSAN VISI DAN MISI SMP NEGERI 1 PAYUNG. Pengambilan keputusan dalam perumusan visi-misi dan tujuan satuan
RUMUSAN VISI DAN MISI SMP NEGERI 1 PAYUNG Pengambilan keputusan dalam perumusan visi-misi dan tujuan satuan pendidikan pengelolaan kurikulum 2013 1. Pengambilan Keputusan Dalam Perumusan Visi-Misi dan
SOAL EDS ONLINE UNTUK KS.
SOAL EDS ONLINE UNTUK KS. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN KS.1.1 Jumlah penghargaan yang diraih sekolah pada tingkat kabupaten/kota pada satu tahun terakhir adalah... KS.1.2 Jumlah penghargaan yang diraih sekolah
1. Sekolah/Madrasah melaksanakan kurikulum berdasarkan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). A.
I. STANDAR ISI 1. Sekolah/Madrasah melaksanakan kurikulum berdasarkan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 muatan KTSP Melaksanakan kurikulum berdasarkan
TERWUJUDNYA INSAN PENDIDIKAN YANG BERPRESTASI DALAM ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI DAN SENI BERLANDASKAN IMAN DAN TAQWA
TEGAR BERIMAN TERWUJUDNYA INSAN PENDIDIKAN YANG BERPRESTASI DALAM ILMU PENGETAHUAN, TEKLOGI DAN SENI BERLANDASKAN IMAN DAN TAQWA Meningkatkan penghayatan dan pengamalan keagamaan Menumbuhkan rasa kebersamaan
FORM EDS KEPALA SEKOLAH
FORM EDS KEPALA SEKOLAH NAMA : Nuptk : 1. KS.1.1 Jumlah penghargaan yang diraih sekolah pada tingkat kabupaten/kota pada satu tahun terakhir adalah... 2. KS.1.2 Jumlah penghargaan yang diraih sekolah pada
BAB I PENDAHULUAN A. Analisis Situasi 1. Kondisi Fisik Sekolah a. Jumlah Kelas b. Ruang Kepala Sekolah c. Ruang Guru d. Ruang Tata Usaha (TU)
BAB I PENDAHULUAN A. Analisis Situasi Berdasarkan observasi yang telah dilaksanakan pada pra-ppl tanggal 22 Februari 2014 di SMP Negeri 1 Ngemplak yang berlokasi di Jl. Kemasan, Jangkang, Widodomartani,
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Profil Sekolah SD Negeri Serangan 1 terletak di Jalan Melayu No.03 Desa Serangan Kecamatan Bonang Kabupaten Demak Propinsi Jawa Tengah. Wilayah SD Negeri
1. Sekolah/Madrasah melaksanakan kurikulum berdasarkan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
I. STANDAR ISI 1. Sekolah/Madrasah melaksanakan kurikulum berdasarkan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 9 muatan KTSP Melaksanakan kurikulum berdasarkan
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian BAB III METODE PENELITIAN Penelitian ini bersifat deskriptif karena menggambarkan faktor-faktor yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang ada di SMAK St. Petrus Comoro
BAB 3 ANALISA SISTEM YANG BERJALAN
BAB 3 ANALISA SISTEM YANG BERJALAN 3.1 Latar Belakang Berdirinya SMP Islam Al Azhar 3 Bintaro SMP Islam Al Azhar 3 didirikan tahun 1992 dengan menempati gedung SD Islam Al Azhar 4 Kebayoran Lama sebagai
Lampiran 1. Instrumen ini digunakan sebagai penggalian data pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan menurut pedoman penyusunan KTSP dari
Lampiran 1. Instrumen ini digunakan sebagai penggalian data pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan menurut pedoman penyusunan KTSP dari BSNP, dalam menyusun tesis. Data selanjutnya digunakan
SALINAN LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 12 TAHUN 2009 TANGGAL 4 MARET 2009
SALINAN LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 12 TAHUN 2009 TANGGAL 4 MARET 2009 INSTRUMEN AKREDITASI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH (SMP/MTs) 1. Periksalah kelengkapan Perangkat
MTs AL IKHLAS MAYUNG
RENCANA KERJA JANGKA MENENGAH ( RKJM ) TAHUN 203/204 s/d 206/207 MTs AL IKHLAS MAYUNG Alamat : Jl Ki Gede Mayung Desa Mayung Kec Gunung Jati Kab. Cirebon 455 Website : www.mtsmayung.sch.id e.mail : [email protected]
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Gambaran Umum SMAN 1 Rejotangan. SMPN 1 Rejotangan, dan SMK Rejotangan.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data Hasil Penelitian 1. Gambaran Umum SMAN 1 Rejotangan a. Letak geografis SMAN 1 Rejotangan terletak di Desa Buntaran Kecamatan Rejotangan Kabupaten
SOAL PILIHAN GANDA. Agus Sukyanto,
SOAL PILIHAN GANDA 1. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah menyebutkan bahwa dimensi kompetensi supervisi meliputi... a. Mengidentifikasi permasalahan,
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pembukaan Undang undang Dasar Negara Republik Indonesia
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembukaan Undang undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan bahwa salah satu tujuan negara Republik Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa,
STATUS SEKOLAH: NEGERI TERAKREDITASI: A NILAI : 94
STATUS SEKOLAH: NEGERI TERAKREDITASI: A NILAI : 94 unggul dalam prestasi berlandaskan imtaq dan iptek Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif sehingga setiap siswa dapat berkembang secara
DIKLAT/BIMTEK KTSP 2009 DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL HALAMAN 1
PANDUAN PENYUSUNAN KTSP DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL HALAMAN 1 LANDASAN UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Permendiknas No.
BAB II SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 29 MEDAN
BAB II SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 29 MEDAN A. Sejarah Ringkas Sekolah Menengah Pertama Negeri 29 Medan diresmikan pada tahun 1984 dan mulai beroperasi pada tahun 1985. Perkembangan Sekolah Menengah
RENCANA KEGIATAN DAN ANGGARAN SEKOLAH ( RKAS ) TAHUN PELAJARAN
RENCANA KEGIATAN DAN ANGGARAN SEKOLAH ( RKAS ) TAHUN PELAJARAN 212-213 Nama Sekolah Desa/ Kecamatan Kabupaten/ Kota Propinsi Triwulan : SDN MAYANG 4 : Mayang : Jember : Jawa Timur : I s/d IV Tahun Anggaran
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Saat ini persaingan antar sekolah menengah tingkat pertama tidak dapat dihindarkan. Tiap sekolah memiliki strategi sendiri untuk bersaing, hal tersebut sudah
BAB I PENDAHULUAN. dan globalisasi yang semakin terbuka. Sejalan tantangan kehidupan global,
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan menghadapi dua tuntutan yaitu tuntutan dari masyarakat dan tuntutan dunia usaha. Hal yang menjadi tuntutan yaitu tentang
I. PENDAHULUAN. Menjadi bangsa yang maju tentu merupakan cita-cita yang ingin dicapai oleh
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menjadi bangsa yang maju tentu merupakan cita-cita yang ingin dicapai oleh setiap negara di dunia. Salah satu faktor yang mendukung kemajuan suatu bangsa adalah melalui
STRATEGI PENGEMBANGAN SMA KATOLIK St. AUGUSTINUS KEDIRI MENUJU SEKOLAH BER-AKSELERASI
STRATEGI PENGEMBANGAN SMA KATOLIK St. AUGUSTINUS KEDIRI MENUJU SEKOLAH BER-AKSELERASI Mariyatun ABSTRAK Tujuan Penelitian ini adalah 1) Untuk mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang dimiliki
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Sejarah SDN No. 59 Dumbo Raya Kecamatan Dumbo Raya Kota Gorontalo
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian 1. Sejarah SDN No. 59 Dumbo Raya Kecamatan Dumbo Raya Kota Gorontalo SDN No. 59 Dumbo Raya Kecamatan Dumbo Raya Kota Gorontalo merupakan
SURAT KETERANGAN NO : 800/.../2012
Lampiran 1 PEMERINTAH KABUPATEN TEMANGGUNG DINAS PENDIDIKAN UPT KECAMATAN KEDU SD NEGERI 3 CANDIMULYO Alamat : Dusun Nglarangan Candimulyo Kedu 56252 SURAT KETERANGAN NO : 800/.../2012 Yang bertanda tangan
BAB II PROFIL INSTANSI / LEMBAGA. Keterangan No. 0260/O/1994 di Kota Binjai Provinsi Sumatera Utara, tepatnya di
BAB II PROFIL INSTANSI / LEMBAGA A. Sejarah Ringkas SMP Negeri 8 Binjai SMP Negeri 8 Binjai didirikan pada tahun 1993 berdasarkan Surat Keterangan No. 0260/O/1994 di Kota Binjai Provinsi Sumatera Utara,
STRATEGI PENINGKATAN MUTU SEKOLAH BERDASARKAN ANALISIS SWOT DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA
K e l o l a Jurnal Manajemen Pendidikan Magister Manajemen Pendidikan FKIP Universitas Kristen Satya Wacana [email protected] ISSN 2549-9661 Volume: 4, No. 1, Januari-Juni 2017 Halaman: 83-96 STRATEGI
CONTOH SUKSES PELAKSANAAN MBS B2-3
CONTOH SUKSES PELAKSANAAN MBS B2-3 FA Book 2 3.indd 1 10/26/10 2:13:03 PM FA Book 2 3.indd 2 10/26/10 2:13:03 PM DAFTAR ISI B2-3 A. Manajemen Sekolah 04 B. PAKEM 06 C. Peran Serta Masyarakat 07 D. Dampak
1. Sekolah/Madrasah melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 muatan KTSP
I. STANDAR ISI 1. Sekolah/Madrasah melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 muatan KTSP Melaksanakan kurikulum berdasarkan 7 muatan KTSP Melaksanakan
BAB I PENDAHULUAN A. Analisis Situasi 1. Kondisi Fisik Sekolah a. Jumlah Kelas b. Ruang Kepala Sekolah c. Ruang Guru d.
BAB I PENDAHULUAN A. Analisis Situasi Berdasarkan observasi yang telah dilaksanakan pada pra-ppl tanggal 2 Februari 2014 sampai tanggal 16 Februari 2014, SMP Negeri 2 Srandakan yang berlokasi di Godegan,
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI Pada bagian ini akan dikaji teori-teori yang relevan guna memberi kerangka rasional untuk melakukan analisis data penelitian. 2.1 Pentingnya Mutu Mutu adalah agenda utama, dan meningkatkan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB I HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Profil Sekolah A. isi Sekolah Kasih dan Hati Membangun Citra Berkarakter dan Berbudaya Bangsa Mengantar Pintu Prestasi Meraih Kesuksesan. B. Misi Sekolah 1. Mendidik
BAB II GAMBARAN UMUM SMAK ST. AUGUSTINUS NGANJUK
BAB II GAMBARAN UMUM SMAK ST. AUGUSTINUS NGANJUK 2.1 Sejarah SMAK St. Augustinus Nganjuk Nganjuk, 2 Januari 1975 berdiri secara resmi SMA Katolik dengan nama St. Augustinus sebagai filial SMA Katolik St.
BAB I PENDAHULUAN A. ANALISIS SITUASI
BAB I PENDAHULUAN Pendidikan merupakan dasar terpenting dalam system nasional yang menentukan kemajuan bangsa. Dalam hal ini Pendidikan nasional sangat berperan penting untuk mengembangkan kemampuan dan
BAB I PENDAHULUAN ANALISIS SITUASI
BAB I PENDAHULUAN Universitas Negeri Yogyakarta sebagai salah satu perguruan tinggi di Indonesia yang dikhususkan bagi mereka pemuda indonesia yang ingin mengabdikan dirinya sebagai guru dan bagi mereka
BAB II GAMBARAN UMUM SEKOLAH. saat itu SMA Negeri 14 Surabaya belum mempunyai gedung sendiri dan
BAB II GAMBARAN UMUM SEKOLAH 2.1 Sejarah Umum SMA Negeri 14 Surabaya SMA Negeri 14 Surabaya berdiri pada tanggal 8 Oktober 1981. Pada saat itu SMA Negeri 14 Surabaya belum mempunyai gedung sendiri dan
BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI. Berdasarkan hasil uji hipotesis menunjukan bahwa faktor-faktor kinerja
BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI A. KESIMPULAN Berdasarkan hasil uji hipotesis menunjukan bahwa faktor-faktor kinerja pengawas sekolah, kinerja kepemimpinan kepala sekolah, kinerja professional
1. Responden : Stakeholder inti Program Studi 2. Hari/ Tanggal/ Waktu : 3. Tempat : 4. Proses Wawancara :
LAMPIRAN INSTRUMEN WAWANCARA 1. Responden : Stakeholder inti Program Studi 2. Hari/ Tanggal/ Waktu : 3. Tempat : 4. Proses Wawancara : I. STANDAR ISI PENDIDIKAN PROGRAM KEAHLIAN TEHNIK KENDARAAN RINGAN
BAB II OBSERVASI. B. Profil Sekolah PROFIL SEKOLAH DASAR. A Nama sekolah SD NEGERI DELEGAN 1. B Tahun Pendirian 01 Agustus 1938
BAB II OBSERVASI A. Lokasi Sekolah Sekolah Dasar Negeri Delegan I terletak di jalan Prambanan-Piyungan km 6 Dusun Dinginan, Desa Sumberharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman. Gedung sekolah ini berupa
1. Sekolah/Madrasah melaksanakan kurikulum berdasarkan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). A.
I. STANDAR ISI 1. Sekolah/Madrasah melaksanakan kurikulum berdasarkan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 muatan KTSP Melaksanakan kurikulum berdasarkan
BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN. Pada Bab ini akan dibahas hal-hal yang berhubungan dengan penyusunan RKS
158 BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN Pada Bab ini akan dibahas hal-hal yang berhubungan dengan penyusunan RKS dan RKT. Dalam penyusunan RKS dan RKT ternyata memiliki proses yang dapat diamati berdasarkan
I. STANDAR ISI. hal. 1/61. Instrumen Akreditasi SMP/MTs
I. STANDAR ISI 1. Sekolah/Madrasah melaksanakan kurikulum berdasarkan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 muatan KTSP Melaksanakan kurikulum berdasarkan
A. ANALISIS SITUASI 1. Kondisi Fisik Sekolah No. Nama Ruang Jumlah
BAB I PENDAHULUAN Pendidikan memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan adalah proses dimana setiap manusia melalui proses dan jenjang untuk pembentukan diri dan penentu
BAB I PENDAHULUAN A. Analisis Situasi 1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Analisis Situasi 1. Latar Belakang Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) sebagai salah satu lembaga yang menghasilkan tenaga kependidikan telah berusaha meningkatkan kualitas pendidikan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. a. Sejarah Singkat SMP Negeri 15 Yogyakarta. terletak di jantung kota Yogyakarta yaitu di sebelah Stasiun
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Deskripsi Tempat Penelitian a. Sejarah Singkat SMP Negeri 15 Yogyakarta SMP N 15 Yogyakarta adalah sekolah menengah pertama yang terletak di
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 13 TAHUN 2009 TENTANG
SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR TAHUN 009 TENTANG KRITERIA DAN PERANGKAT AKREDITASI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN/MADRASAH ALIYAH KEJURUAN (SMK/MAK) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI
