BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV PEMBAHASAN. IV.1. Tahap Penelitian. Tahapan penelitian dibagi menjadi beberapa bagian yaitu: a. Tahap Pendahuluan

BAB IV PENGUMPULAN DATA DAN PEMBAHASAN. 4.1 Strategi Penerapan Just In Time Manufacturing

V. Hasil 3.1 Proses yang sedang Berjalan

BAB II LANDASAN TEORI

BAB IV PEMBAHASAN. bersumber dari beberapa pemasok yang mempunyai merk berbeda. mengenai latar belakang perusahaan dan mengumpulkan informasi yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sebelum penggunaan MRP biaya yang dikeluarkan Rp ,55,- dan. MRP biaya menjadi Rp ,-.

BAB III LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI

SISTEM PRODUKSI TEPAT WAKTU (JUST IN TIME-JIT)

BAB 9 MANAJEMEN OPERASIONAL SISTEM PRODUKSI TEPAT WAKTU (JUST IN TIME-JIT)

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB IV METODE PENELITIAN. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Deskriptif

SISTEM PRODUKSI JUST IN TIME (SISTEM PRODUKSI TEPAT WAKTU) YULIATI, SE, MM

BAB 3 ANALISIS SISTEM YANG BERJALAN. beralamat di Jalan Prepedan Raya No 54, Kalideres, Jakarta Barat.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Konsep Just in Time Guna Mengatasi Kesia-Siaan dan Variabilitas dalam Optimasi Kualitas Produk

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Persaingan antar perusahaan tidak terbatas hanya secara lokal,

BAB IV PEMBAHASAN. IV.1. Evaluasi Efektivitas dan Efisiensi Aktivitas Pembelian, Penyimpanan, dan. Penjualan Barang Dagang pada PT Enggal Perdana

BAB 3 ANALISA SISTEM INVENTORI PERUSAHAAN Sejarah Perusahaan P.T Berkat Jaya Komputindo

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI

BAB 6 MANAJEMEN PERSEDIAAN

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. optimal sesuai dengan pertumbuhan perusahaan dalam jangka panjang, sehingga

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN. Audit operasional atas fungsi pembelian dan hutang usaha pada PT Prima Auto

BAB IV PEMBAHASAN. Survey Pendahuluan. PT. Kurnia Tirta Sembada adalah perusahaan yang bergerak dalam

Akuntansi Biaya. Modul ke: Just In Time And Backflushing 07FEB. Fakultas. Angela Dirman, SE., M.Ak. Program Studi Manajemen

BAB IV. Hasil Praktek Kerja dan Analisis. 4.2 Dokumen-dokumen yang digunakan dalam sistem pembelian impor komponen

MRP. Master Production. Bill of. Lead. Inventory. planning programs. Purchasing MODUL 11 JIT DAN MRP

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

SISTEM PRODUKSI JUST IN TIME (SISTEM PRODUKSI TEPAT WAKTU) YULIATI, SE, MM

MANAJEMEN PERSEDIAAN. HARIRI, SE., M.Ak Universitas Islam Malang 2017

BAHAN AJAR : Manajemen Operasional Agribisnis

Bab 5. Ringkasan. Dunia II, khususnya Toyota. Teknik yang disebut dengan Sistem Produksi Toyota

SISTEM PRODUKSI JUST-IN-TIME

VI. TOYOTA PRODUCTION SYSTEM. A. Pengertian Toyota Production System (TPS)

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

BAB 13 MANAJEMEN SEDIAAN

KERANGKA PEMIKIRAN Kerangka Pemikiran Teoritis

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI

ADVANCED MANAGEMENT ACCOUNTING (Akuntansi Manajemen Lanjut)

BAB IV PEMBAHASAN. Pada proses ini penulis melakukan proses interview dan observation terhadap

Menghilangkan kegagalan/kesalahan dalam segala bentuk Percaya bahwa biaya persediaan dapat dikurangi Perbaikan secara terus menerus

MENGENAL SISTEM PRODUKSI TEPAT WAKTU (JUST IN TIME SYSTEM)

KEWIRAUSAHAAN III. Power Point ini membahas mata kuliah Kewirausahaan III. Endang Duparman. Modul ke: Arissetyanto. Fakultas SISTIM INFORMASI

Prosedur Pemesanan dan Pembelian Persediaan Barang PT. Bondor Indonesia (bagian 1) Diagram Alir Aktivitas

MANAJEMEN PERSEDIAAN

BAB II LANDASAN TEORI

Sistem Produksi. Produksi. Sistem Produksi. Sistem Produksi

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II LANDASAN TEORI

BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA

BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN

COST ACCOUNTING MATERI-9 BIAYA BAHAN BAKU. Universitas Esa Unggul Jakarta

BAB IV AUDIT OPERASIONAL ATAS FUNGSI PEMBELIAN BAHAN BAKU PT KARYADINAMIKA GRAHA MANDIRI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pada Perusahaan Roti Roterdam Malang. Berdasarkan hasil analisis

BAB 2 LANDASAN TEORI

Analisis Dukungan Fungsi Produksi dalam Pencapaian Tujuan Perusahaan. No. Kategori Pertanyaan Y T. tujuan-tujuan jangka pendek?

2. PENGEPAKAN, KEMASAN,

BAB II LANDASAN TEORI

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Perubahan tersebut tidak hanya bersifat evolusioner namun seringkali sifatnya

BAB 1 PENDAHULUAN. Dewasa ini banyak perusahaan-perusahaan khususnya otomotif dan juga

Bab I Pendahuluan. I.1 Latar Belakang

Manajemen Persediaan. Perencanaan Kebutuhan Barang_(MRP) Lot for Lot. Dinar Nur Affini, SE., MM. Modul ke: 10Fakultas Ekonomi & Bisnis

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II LANDASAN TEORI

BAB 1 PENDAHULUAN. oleh konsumen sehingga produk tersebut tiba sesuai dengan waktu yang telah

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

LAMPIRAN WAWANCARA. Produk yang diproduksi dan dijual kepada pelanggan PT. Lucky Print Abadi. adalah kain bercorak. Kain dijual dalam ukuran yard.

Akuntansi Biaya. Bahan Baku : Pengendalian, Perhitungan Biaya, dan Perencanaan (Materials : Controlling, Costing and Planning)

BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN & ANALISIS DATA

APLIKASI JUST IN TIME PADA PERUSAHAAN INDONESIA

Manajemen Keuangan. Pengelolaan Persediaan. Basharat Ahmad, SE, MM. Modul ke: Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Program Studi Manajemen

BAB I PENDAHULUAN. Tujuan perusahaan adalah untuk mendapat keuntungan dengan biaya

Manajemen Keuangan. Idik Sodikin,SE,MBA,MM MENGELOLA PERSEDIAAN PERUSAHAAN. Modul ke: Fakultas EKONOMI DAN BISNIS. Program Studi Akuntansi

PERANCANGAN PENGELOLAAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU PIPA PVC DI PT. DJABES SEJATI MENGGUNAKAN METODE JUST IN TIME (JIT) ABSTRAK

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pada era yang sudah maju pada saat ini manusia sangat memerlukan

BAB IV PEMBAHASAN. Secara umum, penelitian ini bertujuan membantu perusahaan dalam

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB IV AUDIT OPERASIONAL ATAS FUNGSI PENJUALAN, PIUTANG USAHA DAN PENERIMAAN KAS PADA PT GITA MANDIRI TEHNIK

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. jumlah tertentu dalam setiap periode waktu tertentu. Untuk itu, perlu dibuat suatu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B A B 5. Ir.Bb.INDRAYADI,M.T. JUR TEK INDUSTRI FT UB MALANG 1

BAB 2 LANDASAN TEORI. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian (Zulian Zamil : 2003).

3 BAB III LANDASAN TEORI

BAB III. Objek Penelitian. PT. Rackindo Setara Perkasa merupakan salah satu perusahaan swasta yang

PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

MANAJEMEN PERSEDIAAN Modul ini akan membahas tentang gambaran umum manajemen persediaan dan strategi persdiaan barang dalam manajemen persediaan

A. Prosedur Pemesanan dan

BAB I PENDAHULUAN. Pada sebuah industri manufaktur, proses perencanaan dan pengendalian produksi

Transkripsi:

50 BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN A. Analisis Penerapan Sistem JIT Purchasing pada PT Sanken Indonesia 1. Pembelian bahan Baku PT SKI melakukan pembelian bahan baku berdasarkan kuantitas yang dibutuhkan untuk memproduksi produk sesuai dengan permintaan pelanggan. Sistem pembelian bahan baku yang dilaksanakan oleh PT SKI adalah dengan melakukan kontrak jangka panjang dengan beberapa supplier, dimana kontrak jangka panjang tersebut meliputi kesepakatan harga, kualitas dan kuantitas bahan baku, waktu penngiriman dan tanggung jawab pengiriman bahan baku. Sebelum dilakukan transaksi pembelian (khususnya pembelian rutin), SKI mengikat kontrak dengan pemasok melalui Surat perjanjian yang berisi pasal-pasal yang mengatur transaksi (kecuali pemasok yang ditunjuk oleh SANKEN Jepang, atau pelanggan). Pengiriman bahan baku yang datang tepat pada saat bahan baku dibutuhkan untuk proses produksi dan dalam jumlah yang kecil menyebabkan laju pengeluaran barang tetap sesuai dengan pesanan. 2. Mutu Bahan baku Jaminan kualitas tehadap barang yang dikirim oleh supplier merupakan prioritas yang utama sehingga barang yang dikirim benarbenar telah sesuai dengan persyaratan mutu yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Bahan baku yang telah diterima, diperiksa oleh bagian 50

51 penerimaan bahan baku apabila ada bahan baku yang cacat maka akan dikembalikan dan ditukar dengan bahan baku yang bagus. Dalam hal ini pemeriksaan bahan baku biasanya bagian penerimaan barang melihat Purchase Order, apakah barang yang diterima memang telah memenuhi persyaratan atau belum. 3. Supplier Dalam proses produksinya PT SKI mendapatkan bahan baku dari beberapa supplier baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Penilain supplier dilakukan dengan cara : melihat company profile perusahaan supplier, kinerja tahun lalu, hasil kunjungan / survey ke pemasok, evalusi supplier control sheet dan referensi dari perusahaan lain yang menggunakan supplier yang sama. Faktor utama pemilihan supplier dititikberatkan pada kemampuan supplier dalam pengiriman bahan baku tepat waktu dan tingkat kualitas yang sesuai dengan kriteria perusahaan. Selain itu, bahan baku yang diminta oleh perusahaan datang tepat pada saat bahan baku tersebut dibutuhkan untuk proses produksi, sehinggan perusahaan telah melakukan zero inventory dan biaya pengiriman yang minimum. 4. Pengiriman Bahan Baku Pengiriman bahan baku harus sesuai dengan waktu yang ditentukan dalam Purchase Order (PO). Dengan diadakannya kontrak jangka panjang dimana didalamnya terdapat perjanjian mengenai konsinyasi persediaan bahan baku, dimana bahan baku selama belum diperlukan disimpan

52 digudang pemasok dan baru ditarik setelah perusahaan membutuhkan barang tersebut dan masalah kewajiban bagi pemasok menyerahkan barang yang dipesan tepat waktu sesuai dengan jadwal produksi yang dibuat sehingga barang yang dipesan datang pada saat produksi akan dimulai. Namun, ada kalanya perusahaan mengalami keterlambatan dalam pengiriman bahan baku. Hal ini dapat mempengaruhi kegiatan proses produksi yang pada akhirnya akan mengalami keterlambatan dalam pengiriman barang jadi kepada konsumen, sementara perusahaan dituntut untuk melakukan pengiriman barang jadi sesuai dengan jadwal yang sudah ditetapkan. Apabila terjadi keterlambatan dalam pengiriman barang jadi kepada konsumen, maka perusahaan akan dikenakan biaya tambahan. Untuk mencegah hal tersebut terjadi, perusahaan berusaha untuk tetap mengirimnya sesuai dengan batas akhir jadwal pengiriman barang jadi kepada konsumen dengan konsekuensi biaya pengirimannya ditanggung oleh supplier dengan harus menggunakan alat transportasi udara yaitu mengirim melalui pesawat pengangkut barang. Biasannya dalam pengiriman barang jadi kepada konsumen, perusahaan lebih banyak menggunakan jasa transportasi laut, karena biaya yang dikeluarkan relative lebih murah daripada menggunakan pesawat. Operasi pembelian pada PT SKI merupakan langkah awal yang harus dilakukan untuk dapat menyediakan bahan baku untuk proses

53 produksi. Prosedur pembelian yang dilakukan oleh perusahaan adalah sebagai berikut : 1. Permintaan Pembelian Prosedur permintaan pembelian pada PT SKI dilakukan dengan cara Internal Production Departemen mengajukan Forecast pengadaan sub untuk periode 1 bulan berdasarkan Forecast produksi dari departemen PPC. Pengajuan permintaan ke departemen Purchasing dilakukan per minggu berdasarkan pengajuan internal periode 1 bulan. Departemen Produksi melakukan permintaan pembelian sub material dengan memperhatikan material Safety Data Sheet (MSDS) jika diharuskan dan ditujukan kepada departemen purchasing, dimana hal yang harus diperhatikan antara lain : spec material, jumlah material, harga dan batas waktu pengiriman, dan pengajuan permintaan harus diperiksa terlebih dahulu oleh Manager dan disetujui oleh Senior Manager. Departemen Purchasing kemudian mengeluarkan Purchase Order (PO) sesuai dengan permintaan departemen Produksi dan memberikan informasi kepada departemen produksi bahwa pengorderan bahan baku telah dilakukan. 2. Good Receipt Sub Material yang masuk di SKI diterima oleh Departemen Purchasing, kemudian dilakukan pengecekan oleh petugas penerima

54 barang dengan memperhatikan dokumen-dokumen seperti : Invoice, packing List, Material Safety Data Sheet, jika ditemukan ketidaksesuaian maka diserahkan kembali kebagian purchasing untuk ditindak lanjuti. Untuk semua sub material perlu dilakukan pengecekan kandungan Cadmium (Cd) dan Timbal (Pb) yang akan diperiksa dengan menggunakan mesin EDX oleh departemen QA. Selain itu diperlukan juga Copy Sertifikat hasil pemeriksaan ICP dari departemen Engineering dan Copy Sertifikat ICP akan disimpan oleh bagian produksi bersama MSDS data. Sub material akan diperiksa ulang ICP datanya setiap 1 tahun, pengajuan pemriksaan ulang ICP data sub material diajukan oleh departemen produksi ke departemen engineering selambat-lambatnya 2 bulan sebelum masa periksa ulang dan pengecekan EDX pun dilakukan setiap 6 bulan sekali. Setelah proses diatas selesai dilakukan dan hasilnya OK maka material tersebut diserahkan ke bagian produksi, dan departemen produksi akan mencatat datangnya sub material yang diterima pada lembaran isian F.Prod.060 R.00 Dan pada tiap boxes atau kemasan sub material harus dituliskan tanggal kedatangan material tersebut (SKI in ) untuk pengontrolan First In- First-Out kemudian disimpan sesuai ketentuan dengan memperhatikan identifikasi dan melakukan pemisahan antara material RoHS dan non-rohs yang kemudian akan didistribusikan ke line produksi.

55 Dokumen- dokumen yang digunakan PT SKI dalam proses pembelian bahan baku antara lain : 1. Purchase requisition (PR) Adalah dokumen yang menyatakan keperluan atau kebutuhan akan suatu barang atau jasa. 2. Purchase Order (PO) Adalah dokumen permintaan formal kepada supplier untuk menyediakan barang atau jasa tertentu dengan kondisi tertentu pula. 3. Good receipt (GR) Adalah bukti permintaan barang yang dikeluarkan oleh bagian penerimaan barang untuk barang-barang yang diterima dalam keadaan baik. 4. Supplier invoice Adalah dokumen yang digunakan sebagai pernyataan tagihan yang harus dibayar oleh customer. 5. Packing List Rincian delivery kedatangan, yang berisi item material dan beratnya. 6. Delivery order (DO) Adalah surat jalan atau bukti pengiriman barang yang di pesan PT SKI.

56 Pelaksanaan JIT purchasing telah memberikan beberapa manfaat bagi perusahaan, antara lain : 1. Dengan diadakannya kontrak jangka panjang oleh perusahaan dengan supplier, maka supplier dapat memberikan jaminan kuantitas dan kualitas bahan baku, pengiriman dan prosedur pembayaran yang telah disepakati, perusahaan akan menghemat waktu dan biaya yang dicurahkan dalam proses negoisasi setiap ingin melakukan pembelian dan juga penghematan kertas kerja dapat terlaksana karena nantinya proses pemesanan dapat dilakukan melalui telepon / fax. Selain itu kedua belah pihak dapat saling menjaga hubungan yang saling menguntungkan dalam jangka panjang dan item harga dapat menghasilkan keuntungan wajar bagi keduanya. 2. Karena perusahaan tidak mengadakan stock, maka persediaan sangat minimum dan biaya penyimpanan hampir tidak ada dikarenakan bahan baku yang dipesan langsung di produksi. 3. Tingkat produktivitas dapat meningkat karena jumlah stock yang hampir tidak ada, pengendalian mutu yang sangat baik, jumlah pengerjaan ulang lebih sedikit. Peningkatan ini juga disebabkan oleh sistem yang dilakukan oleh pekerja. Biaya administrasi rendah dan para manager lebih leluasa menangani masalah strategis. Sistem pembelian tepat waktu dari pihak perusahaan sudah dapat ditetapkan, sehingga bahan baku yang diperlukan untuk proses produksi sudah dapat ditentukan dan akan mendukung terciptanya pembelian tepat

57 waktu. Dari pihak pemasok juga mendukung terciptanya pembelian tepat waktu, dikarenakan perusahaan mempunnyai hubungan dengan pemasok bahan baku yang mempunyai kapasitas produksi yang besar sehingga memungkinkan hubungan perusahaan dan pemasok dapat saling mengisi, membantu serta saling membutuhkan satu sama lain. PT Sanken Indonesia belum sepenuhnya menerapkan sistem JIT Purchasing terhadap pembelian material, penerapan JIT diterapkan hanya pada pembelian material yang sering digunakan untuk proses produksi dan kepada supplier yang tempatnya tidak jauh dengan PT SKI. B. Analisis Penerapan Sistem JIT Production pada PT Sanken Indonesia Produksi adalah kegiatan menciptakan atau manambah kegunaan suatu barang atau jasa. Sedangkan proses produksi adalah suatu cara, metode dan teknik bagaimana sesungguhnya sumber-sumber (tenaga kerja, mesin, bahan baku dan dana yang ada diubah menjadi suatu hasil). PT SKI adalah sebuah perusahaan manufaktur yang jenis pekerjaannya bergerak dalam bidang pembuatan power supply. Perusahaan memprediksi suatu barang dengan sistem tarik (Pull System). Artinya produksi berdasarkan permintaan dari proses produksi berikutnya. Barang diproduksi apabila ada permintaan dari konsumen, untuk memenuhi permintaan pelanggan, perusahaan memproduksi barang dengan waktu yang tepat sesuai dengan permintaan.

58 Produk-produk yang dihasilkan oleh PT SKI antara lain : 1. Adaptor (ADP) Customer PT SKI untuk Adaptor diantaranya : a. Toshiba b. Matsushita c. IBM 2. Switch Mode Power Supply (SMPS) Customer PT SKI untuk SMPS Office Appliance ( SMPS untuk peralatan kantor seperti mesin fotocopy, printer) diantaranya : a. Canon b. PFU c. Omron 3. Un-Interuptible Power Supply (UPS) Khusus untuk UPS, saat ini Sanken Indonesia memproduksi berdasarkan permintaan dari Sanken Jepang. Adapun proses pembuatan power supply secara garis besar pada PT Sanken Indonesia adalah : 1. Proses insert pada departemen Auto Insert/SMT Pada proses insert ini dilakukan dengan menggunakan mesin, dimana setiap mesin dioperasikan oleh 1 orang operator. Proses yang dilakukan di Auto Insert/SMT terdiri dari : PCB (Printed Circuit Boards) Blank Proses Eyelet Proses jumper Proses Axial Proses Radial Proses SMT Proses Visual.

59 PT SKI memproduksi banyak model untuk tiap-tiap jenis power supply sesuai dengan permintaan dari pelanggan. Setiap model yang dikerjakan melalui tiap mesin mempunyai tack time yang berbeda-beda. Perhitungan tack time tiap mesin didasarkan pada insert point tiap model per prosesnya dan persentase kecepatan mesin, kecepatan tiap mesin per proses pun berbeda-beda, mesin dengan keluaran terbaru tentunya akan menghasilkan barang dengan tack time yang lebih cepat daripada mesin dengan keluaran lama. Untuk membuat produksi menjadi efisien, dalam hal ini maintenance mesin dan pembuatan schedule sangat berperan penting. Contohnya saja perbaikan mesin secara berkala tanpa mengganggu kelancaran proses produksi seperti di hari libur sangat diperlukan, mengingat setiap mesin mempunyai umur ekonomis yang jika tidak dirawat maka akan cepat rusak. Selain itu pembuatan schedule untuk tiaptiap model dan target per harinya pun harus diperhatikan agar tidak membuat produksi yang berlebihan. Di departemen Auto Insert/SMT ini telah mengoptimize program untuk tiap-tiap model yang akan diproduksi dari proses mesin eyelet sampai ke proses terakhirnya yaitu proses mesin SMT, hal ini dilakukan untuk mengefisiensikan produksi yang ada di Auto Insert/SMT. Optimize program baru dilakukan untuk model-model dengan jumlah yang banyak per harinya dan jalan continue pada proses selanjutnya.

60 2. Proses Sub Assy Proses Sub Assy adalah proses yang terdiri dari: a. Cutting Proses cutting bertujuan untuk mendapatkan ukuran lead komponen dengan tepat dan memudahkan proses cutting setelah dipso. b. Forming Proses forming bertujuan untuk member jarak antara komponen dengan PCB dan agar tidak terjadi kesalahan insert. c. Penyekruan Proses penyekruan bertujuan untuk merakit atau menyatukan material tambahan. 3. Proses line Proses line ini adalah proses lanjutan dari proses Auto Insert/SMT, dimana produk yang telah dihasilkan (WIP) dari departemen Auto Insert/SMT dilanjutkan ke proses line, dimana prosesnya antara lain : Manual Insert Visual atas Dipso visual bawah Syusei Visual ICT Assembly Visual Assy Output Check Hi Pot test Final test Packing. Target tiap line per harinya berbeda-beda sesuai dengan Production Instruction yang dikeluarkan oleh Departement PPIC, dan line harus mencapai target yang telah ditetapkan tersebut. Oleh karena itu Supervisor dan Leader line harus membuat perbaikan-perbaikan secara terus menerus agar proses produksi di line bisa mencapai target. Dalam hal

61 ini Supervisor dan Leader produksi berkerja sama dengan Engineering dan Maintenance untuk pembuatan JIG dan perbaikan mesin-mesin yang ada di line produksi. Pembuatan JIG dapat membantu memudahkan operator dalam bekerja, dan hal ini tidak mengandung biaya tambah, hanya biaya operasional saja, sedangkan perbaikan mesin dengan cepat dapat memudahkan dan melancarkan proses produksi sehingga tidak terjadi waktu tunggu diproses setelah mesin tersebut dan tidak mengalami penumpukan pada proses sebelum mesin tersebut. 4. Proses Outgoing Check Proses Outgoing Check adalah proses pengecekan untuk masalah kualitas produk, diantaranya : a. Visual Atas Visual atas adalah pengecekan pada bagian atas PCB yang telah dirakit oleh departemen Auto Insert/SMT dan proses Line. Pengecekannya meliputi NG : Missing, Wrong Polarity, Wrong Insert, Lifting, OLNI, Double Insert. b. Visual Bawah Visual bawah adalah pengecekan bagian bawah PCB, yang meliputi NG solder seperti : No Solder, Solder Short, Solder Ball. Proses Outgoing Check ini adalah proses terakhir dalam proses produksi, oleh karena itu diproses ini harus memastikan benar-benar bahwa barang yang telah di produksi itu benar-benar baik dan tidak ada cacat, karena setelah ini barang akan langsung di Export. Apabila

62 ada barang yang cacat ditemukan diproses ini maka, seluruh barang yang diproduksi harus dirework terlebih dahulu sebelum di export, hal ini akan membuat biaya bertambah karena yang seharusnya barang jadi di export menggunakan angkutan laut dengan biaya yang tidak terlalu mahal maka akan menggunakan angkutan udara dengan biaya yang mahal, selain itu proses produksi pun terhambat karena harus melakukan rework terlebih dahulu. Rencana pemakaian bahan baku tidak selalu sama setiap bulannya, namun tergantung pada banyaknya permintaan yang ada dan kebijaksanaan perusahaan, serta lead time yang ada. Biasanya management telah mebuat forecast untuk 3 bulan kedepan, setelah itu perusahaan bernegosiasi dengan supplier-supplier yang sanggup untuk memenuhi target pengiriman bahan baku yang tepat waktu kepada PT SKI. Kemudian dibuatlah kontrak jangka panjang kepada supplier yang sanggup memenuhi target yang telah perusahaan ajukan, dimana kontrak tersebut memuat jenis bahan baku, kualitas dan kuantitas bahan baku, pengiriman serta pembayarannya. Bahan baku yang digunakan oleh SKI terdiri dari bahan baku langsung dan bahan baku penolong. Bahan baku langsung merupakan bahan baku yang membentuk bagian integral dari barang jadi dan yang dapat dimasukkan dalam kalkulasi biaya produksi atau bahan yang dapat diidentifikasi terhadap produk yang sudah jadi.

63 Adapun bahan baku langsung yang digunakan untuk membuat Power Supply di PT Sanken Indonesia antara lain : 1. Printed Circuit Boards (PCB) 2. Material Auto Insert 3. Material SMT 4. Material Manual Insert Bahan baku penolong adalah bahan yang tidak menjadi bagian daripada produk jadi atau bahan yang meskipun menjadi bagian dari produk jadi tetapi nilainya relatif kecil, sehingga lebih praktis bila dikatakan merupakan bahan yang ikut memperlancar proses produksi. Adapun bahan baku penolong yang digunakan untuk membuat Power Supply di PT Sanken Indonesia antara lain : a. Silicon b. Timah c. Box d. Glue e. Pasta Untuk menciptakan tenaga kerja yang fleksibel dan memperlancar proses produksi, perusahaan telah memberikan pelatihan kepada semua tenaga kerja sebelum mereka ditempatkan dibagiannya masing-masing. Dalam hal ini bagian training memberikan pelatihan kepada semua tenaga kerja yang baru masuk di PT SKI, dan setelah tenaga kerja baru tersebut ditempatkan ke bagiannya masinng-masing, maka tugas para Leader lah

64 untuk memberikan pelatihan pada setiap proses yang ada di bagian tersebut. Hal ini dimaksudkan agar setiap tenaga kerja baru dapat bekerja dengan teliti dan benar, dan dapat mengoperasionalkan mesin apabila mereka ditempatkan dimesin. Program pelatihan tidak hanya diberikan kepada karyawan baru saja, akan tetapi karyawan lama pun juga diberikan pelatihan sesuai dengan bagian-bagiannya agar mereka mempunyai skill yang baik. Selain itu tenaga kerja dituntut untuk bekerja lebih hati-hati dalam mengrjakan setiap order yang diterima oleh perusahaan. Hal ini memungkinkan untuk memprkecil terjadinya kesalahan dalam setiap proses dan memperkecil produk NG dan SCRAP. Untuk di departemen Auto insert/smt semua operator bekerja menggunakan mesin, mereka mengoperasionalkan mesin. Leader harus memberikan pelatihan yang baik kepada operatornya untuk semua proses mesin yang aada di Auto Insert/SMT, karena apabila nantinya ada salah satu karyawan yang tidak masuk kerja maka operator yang lainnya bisa menggantikannya begitu juga pada waktu istirahat, istirahat mereka dibagi menjadi dua jadi pada saat operator yang pertama istirahat maka operator yang di dalam harus menggantikannya, begitu juga sebaliknya. Hal ini dimaksudkan agar mesin tidak berhenti dan proses produksi tetap berjalan.

65 Manfaat yang diperoleh oleh PT SKI dengan diterapkannya JIT Production adalah : 1. Pengendalian Kualitas Penerapan sistem JIT di perusahaan telah membawa dampak terhadap pengendalian kualitas. Kualitas setiap proses produksi sangan diperhatikan, mulai dari bahan baku yang datang dari supplier sampai proses perakitan dan terakhir proses packing. Selain itu, jumlah lot bahan baku yang digunakan untuk proses produksi kecil akan memudahkan usaha pengendalian kualitas, mempermudah dan mempercepat usaha penemuan penyimpangan dalam proses dan hasil produksi. Selain itu, lot yang kecil akan mempersingkat production lead time. 2. Pengendalian produktivitas Dalam sistem JIT pekerja mempunyai keterampilan untuk menangani beberapa mesin. Kemampuan pekerja dalam arus produksi lebih dikembangkan agar pekerja tidak merasa bosan dari kegitan sehari-hari. Selain itu, selama dalam proses produksi, produktivitas para pekerja dapat ditingkatkan. Di perusahaan sistem ini dapat diterapkan, jika suatu hari pekerja bagian mesin itu tidak hadir, maka pekerja yang lain dapat menjalankan mesin tersebut tanpa harus memberhentikan lini produksinya akibat tidak hadirnya pekerja tersebut. Sistem pekerja

66 ini multifungsi yang dapat meningkatkan efisiensi baik waktu maupun biaya. Aplikasi penerapan Just in Time Production, yaitu : 1. Departemen Production Planning mengeluarkan draft schedule (rencana produksi) untuk satu bulan kedepan. Disini diambil contoh untuk model PANASONIC : 3T270HI-N selama bulan Desember 2009. Qty Produksi selama bulan Desember 2009 : 88.280 pcs Production Amount ($) : 2.125.782,4 Tabel 4.1 Rencana produksi Model 3T270H-N Bulan Desember 2009 Item No Item Description Morder LOT SKI IN SIZE 37214671 N0AC3FJ00001(3T270H-N) MV18480 10000 1091120 37214671 N0AC3FJ00001(3T270H-N) MV18740 5000 1091123 37214671 N0AC3FJ00001(3T270H-N) MV28550 9000 1091130 37214671 N0AC3FJ00001(3T270H-N) MV28560 9000 1091201 37214671 N0AC3FJ00001(3T270H-N) MV28570 7000 1091202 37214671 N0AC3FJ00001(3T270H-N) MV33830 10000 1091207 37214671 N0AC3FJ00001(3T270H-N) MV33860 10000 1091208 37214671 N0AC3FJ00001(3T270H-N) MV39470 10000 1091214 37214671 N0AC3FJ00001(3T270H-N) MV39480 10000 1091215 37214671 N0AC3FJ00001(3T270H-N) MV43260 9000 1091221 37214671 N0AC3FJ00001(3T270H-N) MV43270 9000 1091222 Sumber : Production Schedule, Desember 2009 Keterangan ; Item No : Part number untuk tiap-tiap model Item Description : Nama model yang akan di produksi M. Order : Nama Material Order Lot Size SKI In : Quantity untuk tiap-tiap M.Order : tanggal Order dari konsumen

67 Kemudian memberikan rincian daily produksinya kepada departemen purchasing agar bisa memenuhi kebutuhan material yang akan digunakan tepat waktu dan tidak ada keterlambatan dan masalah baik dari segi kuantitas maupun kualitas. 2. Departemen Purchasing membuat list untuk kebutuhan material untuk model 3T270HI-N per harinya sesuai dengan draft yang diberikan oleh departemen Production Planning. Kemudian mengorder material kepada supplier sesuai dengan kebutuhan per harinya. Departemen purchasing menargetkan lead time 3 hari untuk kedatangan material. Untuk departemen Auto insert material yang dibutuhkan antara lain : PCB Blank : 4900 pcs per hari Eyelet Jumper Axial Radial SMT Line : 3 item : 1 item : 36 item : 25 item : 83 item : 48 item Diketahui : Permintaan rata-rata model 3T270HI-N Permintaan maksimal model 3T270HI-N Permintaan bulanan model 3T270HI-N : 4.013 pcs per hari : 5.150 pcs per hari : 88.280 pcs Biaya penyimpanan per unit : $5 Biaya persiapan : $1.000 per bulan

68 Tenggang waktu : 3 hari EOQ = 2PD/C = 2 x 1.000 x 88.280 : 5 = 35.312.000 = 5.943 pcs Dari data diatas didapat EOQ sebesar 5943 pcs, ini berarti bahwa jumlah bahan baku yang paling ekonomis adalah bahan baku untuk memproduksi 5.943 pcs. Frekuensi pemesanan = 88.280 : 5943 = 14,85 kali atau jika dibulatkan menjadi 15 kali. Safety Stock : Penggunaan maksimal : 5.150 pcs Penggunaan rata-rata Selisih Tenggang waktu Safety stock : 4013 pcs : 1.137 pcs : x3 : 3.411 pcs (1.137 pcs x 3 hari) ROP = (Penggunaan rata-rata x tenggang waktu) + Safety stock = (4.013 x 3 ) + 3.411 pcs = 15.450 pcs 3. Departemen produksi menjalankan sesuai dengan schedule yang diberikan oleh departemen production Planning. Disini departemen produksi harus berusaha untuk mencapai target yang telah ditetapkan

69 dengan sebisa mungkin meminimalkan pemborosan-pemborosan yang ada dengan melakukan perbaikan-perbaikan yang berkesinambungan agar bisa mencapai target tanpa harus menambah waktu kerja (over time). Disini departemen produksi Auto Insert sebagai awal dari produksi telah melakukan perbaikan dengan mengoptimize program pada mesin yang ada dalam proses auto insert mulai dari proses Eyelet sampai dengan proses SMT. Untuk model 3T270HI-N terlihat JIT nya dengan Optimize program sebagai berikut : Tabel 4.2 Optimize Program Mesin PROSES POINT BEFORE TIME AFTER TIME EYELET 84 41 sec/ pcs 30 sec/pcs JUMPER 117 30 sec/pcs 23 sec/pcs AXIAL 56 16 sec/pcs 15 sec/pcs RADIAL 19 16 sec/pcs 14 sec/pcs SMT 244 40 sec/pcs 37 sec/pcs Sumber : Kaizen AI/SMT Departemen, 2009 Misalkan produksi per hari 4900 pcs maka : Before Time : Eyelet : 41 sec * 4900 pcs / 3600 = 55,81 Jam Jumper : 30 sec * 4900 pcs / 3600 = 40,83 Jam Axial : 16 sec * 4900 pcs / 3600 = 21,77 Jam

70 Radial : 16 sec * 4900 pcs / 3600 = 21,77 Jam SMT : 40 sec * 4900 pcs / 3600 = 54,44 Jam After Time : Eyelet : 30 sec * 4900 pcs / 3600 = 40,83 Jam Jumper : 23 sec * 4900 pcs / 3600 = 31,31 Jam Axial : 15 sec * 4900 pcs / 3600 = 20,42 Jam Radial : 14 sec * 4900 pcs / 3600 = 19,06 Jam SMT : 37 sec * 4900 pcs / 3600 = 50,36 Jam Dari data diatas telihat efisiensi kerja mesin akibat dari optimize program : Eyelet : 55,81 jam 40,83 jam = 14.98 jam Jumper : 40,83 jam 31,31 jam = 9,52 jam Axial : 21,77 jam 20,42 jam = 1,35 jam Radial : 21,77 jam 19,06 jam = 2,71 jam SMT : 54,44 jam 50,36 jam = 4,08 jam Untuk mesin eyelet, jumper dan SMT tidak mungkin dikerjakan dalam satu hari dengan satu mesin, maka untuk mencapai target 4900 per hari maka digunakan dua mesin untuk menjalankan model 3T270HI-N. Dalam hal ini peran schedule produksi sangat penting, bagaimana membuat schedule dengan kapasitas mesin yang ada agar target produksi dapat tercapai. Untuk penerapan JIT diproses line antara lain :

71

72 Perbaikan-perbaikan yang dilakukan untuk mengefisiensikan produksi dengan menghilangkan aktivitas-aktivitas yang pada dasarnya merupakan suatu pemborosan antara lain : 1. Reduce dan modifikasi proses dimanual insert dengan malakukan proses bending di M/I 1-2 2. Untuk memudahkan flow produk dari shock test ke burn in menggunakan rak sekat dengan kapasitas 16 pcs, dimana sebelumnnya hanya menggunakan box hitam dengan kapasitas 4 psc. 3. Kemudian dilakukan perbaikan kembali untuk burn in rack dari bentuk horizontal dengan kapasitas 45 pcs menjadi bentuk vertikal dengan kapasitas 45 pcs sehingga memperkecil tempat untuk penyimpanan WIP 4. Pengurangan operator pada proses V-Cut dan pembubuhan dari 2 orang menjadi 1 orang. 5. Pengurangan operator di Sub Assy dari 3 orang menjadi 2 orang. 6. Perbaikan proses handling dari burn in-noise-f/t dengan menggunakan rell yang menghilangkan adanya proses handling yang memakan waktu. Setelah dilakukan perbaikan-perbaikan diatas, maka tact time untuk line produksi berubah menjadi :

73

74 Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa produktivitas menjadi meningkat dengan melakukan perbaikan pada point-point seperti : 1. Perbaikan proses ( metode, JIG, dan keahlian operator) 2. Perbedaan proses 3. Pengurangan operator Tabel 4.5 Productivity UP MAN POWER QTY/8H B Sub Assy 3 E Manual Insert 12 F Syusei 7 O Assy 7 800 pcs R Burn-In 2 E Noise 1 Total 32 A Sub Assy 2 F Manual Insert 11 T Syusei 7 E Assy 7 1100 pcs R Burn-In 2 Noise 1 Total 30 Sumber : kaizen OA Departemen, 2009 Catatan ; Untuk model 3T270H-N dari data diatas terjadi penurunan biaya:

75 Sebelum : Target Man Power ; 800 / 8H : 32 Orang ST : 0.32 ( 32 * 8H / 800) Sesudah : Target Man Power : 1100 / 8H : 30 Orang ST : 0.22 ( 30 * 8H / 1100 ) Dari data diatas terjadi efisiensi pada Man Power yang awalnya 32 orang menjadi 30 orang dan efisiensi waktu dengan ST awal 0.32 menjadi 0.22. Dari data diatas juga terdapat peningkatan produktivitas sebesar 47% (( 0.32-0.22) / 0.22 * 100%). Dan memberikan keuntungan US$ 7.611 per bulannya ((1100-800) * $25,37) atau Rp. 72.304.500,00 per bulannya. Catatan:- harga 1 pcs produk jadi model 3T270H-N adalah $25,37 - harga $1 adalah Rp.9.500 C. Manfaat penerapan JIT dalam kaitannya dengan efisiensi produksi pada PT Sanken Indonesia Manfaat atau keuntungan yang didapat oleh PT SKI di dalam menerapkan sistem JIT adalah : 1. Ruangan yang digunakan untuk menyimpan persediaan tidak banyak, karena sebagian telah menggunakan sistem JIT dimana bahan baku yang baru datang langsung diproduksi.

76 2. Mengurangi biaya perawatan penyimpanan bahan baku, karena persediaan yang menganggur tidak banyak. 3. Mengurangi pemborosan bahan baku yang rusak pada proses produksi, karena apabila terjadi kesalahan pada proses produksi maka kesalahan tersebut langsung diatasi dengan sistem pengendalian kualitas yang telah diterapkan oleh perusahaan. 4. Penyusunan schedule produksi yang tepat untuk menentukan kapan berbagai produk yang berbeda harus dimasukkan kedalam proses produksi oleh departemen PPIC, dengan memperhatikan kondisi bahan baku yang akan digunakan sehingga proses produksi akan berjalan lancar. 5. Proses produksi dapat dilakukan dengan cepat, karena hampir seluruh proses produksi dilakukan dengan mesin terutama pada departemen Auto Insert/SMT, sehingga menghasilkan produk dengan kuantitas yang besar dan dalam waktu yang tepat. 6. Pengurangan lead time produksi memungkinkan perusahaan berproduksi dengan waktu yang efisien dan efektif. 7. Penggunaan Lot yang kecil dapat mempercepat proses produksi dan mempermudah penelusuran apabila terjadi penyimpangan pada setiap proses. 8. Adanya kontrak jangka panjang dengan konsumen sehingga perusahaan tidak akan menalami kekurangan akan order produksi.

77 9. Tingkat produktivitas dapat meningkat karena jumlah stock yang hampir tidak ada, pengendalian mutu yang sangat baik dan jumlah pengerjaan ulang yang lebih sedikit. 10. Layout pabrik yang baik dimana antara proses yang satu dengan proses yang lain yang saling berhubungan tidak berjauhan, sehingga mengurangi waktu tunggu dalam proses produksi akibat pemindahan barang dalam proses, dan barang jadi dari satu tempat ke tempat lain. D. Hambatan hambatan yang dialami PT Sanken Indonesia dalam menerapkan sistem JIT. Tidak semua perusahaan manufaktur dapat menerapkan sistem JIT dengan baik dan benar begitu juga dengan PT SKI. Oleh karena itu, meskipun perusahaan mendapatkan beberapa manfaat dari penerapan sistem JIT akan tetapi perusahaan juga mengalami hambatan karena penerapan sistem JIT tersebut. Hambatan-hambatan yang dialami PT SKI dalam menerapkan sistem JIT antara lain : 1. Karena supplier untuk bahan baku belum banyak yang menggunakan sistem JIT terutama supplier yang berada di luar negeri, terkadang kedatangan bahan baku terutama material sering terlambat sehingga menghambat proses produksi dan membuat produksi menjadi tidak efisien. 2. Terbatasnya tenaga kerja pada lini produksi, karena jumlah karyawan pada lini produksi disesuaikan dengan jumlah mesin yang digunakan pada lini produksi. Sehingga apabila satu karyawan pada lini produksi tersebut ada

78 yang tidak masuk kerja, maka ada satu karyawan yang bekerja tidak hanya menangani pada satu lini produksi tetapi lebih dari satu lini produksi. 3. Penanganan masalah kualitas, apabila ada cacat produksi ditemukan, maka proses selanjutnya akan berhenti dan persediaan akan menumpuk serta pengiriman produk ke konsumen akan terlambat sehingga akan mengeluarkan biaya tambahan karena seharusnya menggunakan angkutan laut jadi menggunakan angkutan udara. 4. Bertambahnya biaya perawatan mesin yang digunakan untuk melakukan proses produksi agar proses produksi dapat berjalan dengan lancar. Karena apabila mesin yang digunakan untuk melakukan proses produksi tidak dirawat dengan baik, maka mesin akan cepat rusak dan hal tersebut dapat menghambat jalannya proses produksi. 5. Karena hampir semua proses produksi menggunakan mesin, maka akan memungkinkan terjadinya kecelakaan dalam proses produksi yang dapat dialami oleh karyawan, oleh karena itu di perlukan adanya kewaspadaan yang tinggi dari setiap karyawan dalam melakukan kegiatan.