BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG

dokumen-dokumen yang mirip
KATA PENGANTAR. Mataram, Januari 2016 Direktur Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma. Dr. Elly Rosila W, SpKJ,MM Pembina TK I NIP

Lampiran I.52 PENETAPAN DAERAH PEMILIHAN DAN JUMLAH KURSI ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI DALAM PEMILIHAN UMUM TAHUN 2014

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LAKIP) RUMAH SAKIT JIWA MUTIARA SUKMA TAHUN 2017

BAB I P E N D A H U L U A N

BERITA DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

KATA PENGANTAR. Mataram, November 2013 Direktur RSJ Provinsi. Dr. Elly Rosila Wijaya, SpKJ, MM NIP

JUMLAH PUSKESMAS MENURUT KABUPATEN/KOTA (KEADAAN 31 DESEMBER 2013)

BAB I PENDAHULUAN. Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum dan

Rencana Kerja Tahun 2014 (Revisi) 1

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN. 4.1 Visi dan Misi Rumah Sakit Ernaldi Bahar Provinsi Sumatera Selatan a.

PENETAPAN KINERJA TAHUN 2014 RUMAH SAKIT UMUM HAJI SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR

BAB I BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Rencana Kerja Tahun 2015 (Revisi) 1 BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

I. SEJARAH RSJ Mataram Rumah Sakit Jiwa Provinsi. Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

PENGERTIAN 1. Cuaca 2. Iklim Hujan 4. Sifat Hujan : a. Atas Normal (AN) b. Normal (N) c. Bawah Normal (BN)

PENETAPAN KINERJA RUMAH SAKIT UMUM HAJI SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2013

Pemerintahan/ Government SEKAT

Tipologi dari Kecamatan dan Pedesaan di NTB

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN. 4.1 Visi dan Misi Rumah Sakit Ernaldi Bahar Provinsi Sumatera Selatan a.

RENCANA KINERJA TAHUNAN RSUD PLOSO KABUPATEN JOMBANG TAHUN 2015 RUMUS/ FORMULA. tahun = Jumlah pasien rawat inap + Jumlah pasien rawat jalan

EVALUASI KINERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) PATUT PATUH PATJU KABUPATEN LOMBOK BARAT TAHUN 2015

TUJUAN, SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN VISI : BERKUALITAS DI SEMUA LINI PELAYANAN MISI TUJUAN SASARAN

REVIEW INDIKATOR RENSTRA DINAS KESEHATAN KOTA BOGOR

BAB 1 PENDAHULUAN. investasi dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pembangunan

BERITA DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT NOMOR TAHUN 2016

GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH

MISI MENJADI RUMAH SAKIT BERSTANDAR KELAS DUNIA PILIHAN MASYARAKAT KEPUASAN DAN KESELAMATAN PASIEN ADALAH TUJUAN KAMI

LAPORAN KINERJA (LKj) RUMAH SAKIT UMUM DAERAH LAWANG TAHUN 2015

RSUD DATU SANGGUL RANTAU KABUPATEN TAPIN

LAPORAN KINERJA UPT RUMAH SAKIT KUSTA SUMBERGLAGAH TAHUN 2016

BUPATI SUMBAWA BARAT PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

RENCANA KERJA (RENJA ) RUMAH SAKIT JIWA SAMBANG LIHUM TAHUN 2016

RENCANA PROGRAM, KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK SASARAN DAN PENDANAAN INDIKATIF RSUD CIBINONG KABUPATEN BOGOR TAHUN

BAB 1 PENDAHULUAN. bidang, termasuk kesehatan dituntut agar lebih berkualitas. Rumah sakit juga berubah

PERATURAN GUBERNUR NUSA TENGGARA BARAT NOMOR 1 TAHUN 2012

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

PERATURAN WALIKOTA TASIKMALAYA

DRAFT RENJA SKPD RSUD BLAMBANGAN KAB. BANYUWANGI TAHUN ANGGARAN Rancangan Renja RSUD Blambangan TA. 2017

Pemerintahan/ Government

KATA PENGANTAR. Buku Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) RSUD Ambarawa

BAB II TINJAUAN UMUM LOKASI PENELITIAN. A. Sejarah Berdirinya Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru

RSUD KOTA BANDUNG RENJA 2014 BAB I PENDAHULUAN. Rencana Kerja (Renja) RSUD Kota Bandung Tahun 2014 merupakan dokumen

LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH RSUD Dr. HARYOTO KABUPATEN LUMAJANG TAHUN 2016

Sukudana. Anyar. Bayan. Bayan. Masbagik. Kopang. Pancor. Sakra. Ganti

B U L E T I N BMKG PENANGGUNG JAWAB WAKODIM, SP. REDAKTUR WAN DAYANTOLIS, SSi, MSi IIS WIDYA HARMOKO, M.Kom

G U B E R N U R J A M B I

INSTANSI PEMERINTAH (LKjIP)

PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH

INDIKATOR KINERJA UTAMA

INDIKATOR KINERJA UTAMA

BAB I PENDAHULUAN Kondisi Umum Identifikasi Masalah

GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG NOMOR: 30 TAHUN 2017 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB 1 PENDAHULUAN. masyarakat menjadi lebih selektif dalam memilih jasa pelayanan dari suatu rumah

INDIKATOR KINERJA UTAMA

1. Persentase peningkatan pasien rawat inap : BOR LOS TOI BTO Penunjang Medis : Laboratorium Radiologi Fisioterapi 68,20 3,31 1,57 74,07

Rencana Kerja Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum

DATA PASAR PERMANEN DAN PASAR SEMI PERMANEN PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

BAB I PENDAHULUAN. Sedangkan Luas Bangunan Rumah Sakit terdiri dari 2 Lantai Gedung, yaitu : Lantai Bawah : 5.721,71 m 2 Lantai Atas : 813,84 m 2

BAB I PENDAHULUAN. memberikan pelayanan rawat jalan, rawat inap dan gawat darurat. Dari

LAPORAN KINERJA (LKj) RUMAH SAKIT UMUM DAERAH LAWANG TAHUN 2015

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LAKIP)

Tahun-1 (2015) Tahun-2 (2016) Tahun-3 (2017) Tahun-4 (2018) Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp

BUPATI BOYOLALI PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOYOLALI NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BERITA DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

8 VI. 9 VII. 12 VIII. 16 IX.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. lain pelayanan berbagai jenis laboratorium, gizi/makanan dan sebagainya.

LAPORAN KINERJA RS JIWA SAMBANG LIHUM 2015

BAB I PENDAHULUAN. tahun 2009). Dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan kesehatan,

LAPORAN LAYANAN INFORMASI PUBLIK PEJABAT PENGELOLA INFORMASI DAN DOKUMENTASI PEMBANTU (PPID PEMBANTU) RSUD UNGARAN TAHUN 2017

INDIKATOR KINERJA UTAMA

RENCANA KERJA RUMAH SAKIT JIWA SAMBANG LIHUM TAHUN 2018

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PENDAHULUAN. derajat kesehatan dilakukan dengan berbagai upaya salah satunya dengan

RENCANA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PLOSO KABUPATEN JOMBANG TAHUN 201 6

BAB 1 : PENDAHULUAN. sehat. Namun saat ini rumah sakit bukan hanya sebagai fasilitas sarana kesehatan

BAB 1 : PENDAHULUAN. Tahun Pemerintah berkewajiban mengupayakan tersedianya pelayanan

BAB II RENCANA STRATEGIS

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

WIL RAWAN KAMTIBMAS : WIL RAWAN KAMTIBMAS : WIL RAWAN KAMTIBMAS : WIL RAWAN KAMTIBMAS : 3C (CURAT, CURAS DAN BIMA KOTA KAB.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

Pemerintahan/ Government

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. SOETOMO SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2015

BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK SASARAN, DAN PENDANAAN INDIKATIF

Pemerintahan/ Government

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG Pembangunan Nasional diharuskan berwawasan kesehatan, yakni setiap kebijakan publik harus memperhatikan dampaknya terhadap kesehatan termasuk dalam pemberlakuan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Pemberlakuan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) bertujuan memberikan kepastian jaminan kesehatan yang menyeluruh bagi setiap rakyat Indonesia agar penduduk dapat hidup sehat, produktif dan sejahtera melalui pelayanan kesehatan paripurna. Ruang lingkupnya mencakup pemeliharaan kesehatan, pencegahan, penyembuhan dan pemulihan kesehatan atau kombinasi daripadanya. Upaya Peningkatan Pelayanan di Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma yang cepat, bermutu, dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat khususnya dalam bidang kesehatan jiwa merupakan salah satu pelayanan yang ingin diwujudkan di RSJ Mutiara Sukma sesuai tujuan pembangunan kesehatan yang diarahkan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dapat terwujud. Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan berdasarkan pada perikemanusiaan, pemberdayaan dan kemandirian, adil dan merata, serta pengutamaan manfaat dengan perhatian khusus pada penduduk rentan dan keluarga miskin. RSJ sebagai salah satu RS Rujukan bagi peserta JKN diharuskan menyediakan pelayanan lebih berkualitas dan memuaskan pelanggan. Penyediaan sarana prasarana, SDM kompeten dan regulasi pendukung menjadi keharusan untuk dipenuhi. Untuk itu, pada tahun 2017, fokus pelayanan RSJ Mutiara Sukma adalah berupaya meningkatkan kualitas pelayanan dan kepuasan pelanggan dengan memberikan pelayanan langsung didalam gedung (intramural) dan luar gedung (ekstramural). 1

Perubahan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah (PPK- BLUD) mendukung RSJ Mutiara Sukma melakukan peningkatan mutu layanan karena BLUD memberikan fleksibilitas dalam pembiayaan kegiatan tersebut. Penyusunan Rencana Kerja (Renja) RSJ Mutiara Sukma tahun 2017 mengacu pada Rencana Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2013-2018 dan Rencana Strategis (Renstra) RSJ Mutiara Sukma tahun 2013-2018. Renja merupakan dokumen yang memuat rencana kerja RSJ Mutiara Sukma untuk 1 (satu) tahun mendatang dan memuat evaluasi hasil pelaksanaan Renja tahun sebelumnya, kebijakan dan program prioritas RSJ Mutiara Sukma, anggaran yang dibutuhkan, sasaran, indikator dan target yang ingin dicapai setahun mendatang. Renja RSJ Mutiara Sukma merupakan pedoman untuk penyusunan RKA dan RBA PPK-BLUD, juga bagi pelaksanaan program dan kegiatan dalam upaya mencapai tujuan dan sasaran dan lebih jauh mencapai visi yang telah ditetapkan. Renja RSJ Mutiara Sukma dapat menjadi pedoman bagi pihak-pihak yang berkepentingan dan merupakan perwujudan komitmen pemerintah, swasta dan masyarakat dalam upaya pembangunan yang akan dilaksanakan secara bersama setahun kedepan. 2. LANDASAN HUKUM Landasan hukum dalam penyusunan Renja RSJ Mutiara Sukma tahun 2017 adalah sebagai berikut: a. Undang-Undang Dasar 1945 Pasal H ayat 1 yang menegaskan tentang Hak untuk Hidup Sejahtera Lahir Batin, Bertempat Tinggal dan Mendapatkan Lingkungan yang Baik, Sehat dan Hak Mendapatkan Pelayanan Kesehatan; b. Undang-Undang RI Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (llembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2

2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421); c. Undang-Undang RI Nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara; d. Undang Undang RI Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara nomor 125 tahun 2004, Tambahan Lembaran Negara nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang nomor 8 tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang nomor 3 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah menjadi Undang Undang (Lembaran Negara tahun 2005 nomor 108, Tambahan Lembaran Negara nomor 4548); e. Undang-Undang RI Nomor 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2015(Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2007 nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia nomor 4700); f. Undang-Undang RI nomor 3 tahun 2009 tentang Kesehatan (Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063); g. Undang-Undang RI nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit (Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5072); h. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Stándar Pelayanan Minimal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 150, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4585); i. Instruksi Presiden Indonesia Nomor 07 tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah; j. Peraturan Menteri Dalam Negeri nomr 61 tahun 2007 tentang Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah (PPK-BLUD); k. Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat Nomor 3 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2005-2025 (Lembaran Daerah Provinsi NTB Tahun 2008 No.32); 3

l. Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat Nomor 9 Tahun 2011 tentang Organisasi dan Tatakerja Inspektorat, Bappeda dan Lembaga Teknis Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Perubahan Atas Perda No.8/2008); m. Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat Nomor 2 Tahun 2014 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2014-2018; n. Surat Keputusan Gubernur Nusa Tenggara Barat No.56 Tahun 2011 tentang Penerapan Status Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah (PPK-BLUD) di Rumah Sakit Jiwa Provinsi; o. Surat Keputusan Gubernur Nusa Tenggara Barat No 440-344 Tahun 2014 Tentang Perubahan Nama Rumah Sakit Jiwa Provinsi NTB menjadi Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma 3. MAKSUD DAN TUJUAN Maksud penyusunan Rencana Kerja RSJ Mutiara Sukma adalah sebagai pedoman perencanaan dan penganggaran untuk periode 1 (satu) tahun anggaran sesuai visi dan misi yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan dan sasaran. Tujuan penyusunan Rencana Kerja RSJ Mutiara Sukma yaitu: a. Sebagai pedoman dalam pelaksanaan program prioritas pengembangan sumber daya guna mengoptimalkan kinerja sesuai dengan tugas dan fungsi setiap unit kerja di lingkungan RSJ Mutiara Sukma sebagai penjabaran Rencana Stategis RSJ Mutiara Sukma Tahun 2013-2018; b. Menetapkan program dan kegiatan RSJ Mutiara Sukma Tahun 2017 dalam penyelenggaraan tugas pokok dan fungsinya; c. Menjadi pedoman bagi RSJ Mutiara Sukma untuk melaksanakan seluruh program dan kegiatan pada tahun 2017; 4

d. Sebagai alat pengendalian dan evaluasi baik pada awal maupun akhir pelaksanaan program dan kegiatan RSJ Mutiara Sukma pada tahun 2017 4. SISTEMATIKA RENJA RSJ MUTIARA SUKMA Sistematika penulisan Renja RSJ Mutiara Sukma tahun 2017 adalah sebagai berikut: Bab I Pendahuluan, memuat tentang latar belakang, landasan hukum, maksud dan tujuan Rencana Kerja 2017. Bab II Evaluasi Pelaksanaan Renja SKPD Tahun 2015, berisi uraian evaluasi kinerja RSJ Mutiara Sukma selama tahun 2015. Bab III Tujuan, Sasaran, Program dan Kegiatan, memuat tentang tujuan, sasaran, program dan kegiatan RSJ Mutiara Sukma selama tahun 2017. Bab IV Indikator Kinerja dan Kelompok sasaran, yang menggambarkan pencapaian Renstra SKPD. Bab V Dana Indikatif beserta sumber daya, memuat tentang pendanaan program kegiatan RSJ Mutiara Sukma yang bersumber dari APBD (subsidi), BLUD maupun APBN (DAK,Dekon,TP), sumberdaya yang dimiliki serta prakiraan maju berdasarkan pagu indikatif (prakiraan tahun 2018). Bab VI Sumber Dana yang Dibutukan untuk Pelaksanaan Program Kegiatan, memuat tentang rincian kebutuhan anggaran RSJ Mutiara Sukma dalam menjalankan program kegiatannya. Bab VII Penutup 5

BAB II EVALUASI PELAKSANAAN RENJA TAHUN 2015 RUMAH SAKIT JIWA MUTIARA SUKMA Evaluasi hasil pelaksanaan kegiatan atau disebut kinerja merupakan suatu proses penilaian pelaksanaan program kegiatan dalam suatu organisasi sesuai dengan standar kinerja atau tujuan yang ditetapkan lebih dulu. Evaluasi bertujuan untuk menjamin pencapaian sasaran, target dan tujuan suatu organisasi, mengetahui posisi organisasi, tingkat pencapaian sasaran, termasuk hambatan yang terjadi selama pelaksanaan kegiatan tersebut. Hasil evaluasi diharapkan dapat dipergunakan untuk program peningkatan kinerja atau produktivitas, pengembangan organisasi dan menghindari hambatan yang mungkin akan terjadi. Evaluasi atau pengukuran kinerja dilakukan dengan cara membandingkan antara realisasi dengan target kinerja, standar baku atau pencapaian tahun sebelumnya. Pengukuran Kinerja RSJ Mutiara Sukma didasarkan pada realisasi pencapaian indikator dan target program kegiatan yang telah ditetapkan dalam Renja 2015. 1. EVALUASI PROGRAM DAN KEGIATAN Pada tahun 2015 ada beberapa program dan kegiatan yang telah dilaksanakan oleh RSJ Mutiara Sukma yaitu: a. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran b. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur c. Program Upaya Kesehatan Masyarakat d. Program Pengadaan,Peningkatan Sarana dan Prasarana rumah sakit/rumah sakit jiwa/rumah sakit paru-paru/rumah sakit mata e. Program Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan BLUD 6

Berikut gambaran pencapaian indikator dan target Renja 2015 dibandingkan realisasi : Tabel 2.1. Capaian Indikator dan Target Renja 2015 dibandingkan Realisasi PROGRAM KEGIATAN INDIKATOR TARGET REALISASI KET Program pelayanan administrasi perkantoran Penyediaan jasa komunikasi Penyediaan jasa administrasi dan teknis perkantoran Jumlah kegiatan penyediaan jasa komunikasi terselenggara Jumlah kegiatan penyediaan jasa administrasi dan teknis perkantoran terselenggara 1 keg 1 keg 1 keg 1 keg Program peningkatan sarana prasarana aparatur Pembangunan gedung kantor (IPRS &Laundry), Pagar geriatri,finishing Poli Kantor) Jumlah gedung yang dibangun 3 paket 3 paket Pemeliharaan rutin/ berkala gedung kantor Jumlah gedung terpelihara 2 paket 2 paket (Renovasi Rehab Mental & Gizi dan Ruang kelas III DAK) Program Upaya Kesehatan Masyarakat Peningkatan kesehatan masyarakat Program peningkatan dan penanggulangan masalah kesehatan Visite rate % pasung tertangani % gangguan jiwa tertangani % BOR % Napza tertangani % HIV/AIDS 0,006 100% 100% 75% 100% 100% 0,0046 100% 100% 90,76% 100% 100% 7

PROGRAM KEGIATAN INDIKATOR TARGET REALISASI KET Program pengadaan, peningkatan sarana dan prasarana RS. Pengadaan alatalat kesehatan Rumah sakit Tersedianya jumlah alat-alat kesehatan 2 Paket 2 Paket Program Peningkatan mutu pelayanan kesehatan BLUD Pelayanan dan pendukung BLUD % Cost recovery Jumlah kegiatan BLUD terlaksana 100% 54% 100% (59 item) 68,16% 95,34% (49 item) 2. CAPAIAN KINERJA ORGANISASI Secara umum Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma telah melaksanakan tugas dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD ) Provinsi NTB Tahun 2013 2018. Pengukuran capaian kinerja dilakukan dengan cara membandingkan antara realisasi dengan target kinerja. Pengukuran capaian kinerja RSJ Mutiara Sukma didasarkan pada realisasi pencapaian indikator dan target program kegiatan yang telah ditetapkan dalam Renstra 2013-2018, Renja 2015 dan Rencana Bisnis Anggaran (RBA) 2015. Pencapaian sasaran strategis terhadap indikator kinerja tahun 2015 mengacu pada rencana kerja tahunan dan penetapan kinerja : 8

No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target Realisasi (1) (2) (3) (4) (5) 1 Tersedianya pelayanan a) Persentase Pasien 100% 100% kesehatan yang memadai, mudah diakses dan sesuai daya beli masyarakat Pasung yang tertangani b) Persentase pasien gangguan jiwa tertangani c) Persentase Napza terlayani d) Persentase HIV/AIDS terlayani e) BOR mencapai standar nasional 100% 100% 100% 80% 100% 100% 100% 90,76% f) Visite Rate 0,50% 0,83% 2 Tersedia ruang perawatan a) Jumlah gedung yang 3 pkt 3 pkt dan perkantoran yang dibangun layak dan sesuai fungsi ruang 3 Terpeliharanya fisik bangunan secara rutin a) Jumlah gedung terpelihara 2 pkt 2 pkt 4 Tercapainya pelayanan sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM ) 5 Tersedianya peralatan medis dan non medis yang layak dan sesuai standar a) Nilai kepuasan masyarakat tergolong baik b) Persentase Cost recoveri a) Jumlah kegiatan pengadaan alkes terselenggara 78 78,65 55% 88,62 1 keg 1 keg 9

3. CAPAIAN INDIKATOR PELAYANAN Indikator pelayanan yang tercantum dalam Renstra 2015-2018, Renja 2015 dan RBA 2015 adalah pencapaian angka visite rate, jumlah kunjungan rawat jalan, rawat inap, IGD, persentase Bed Occupancy Rate (BOR), persentase pasien gangguan jiwa, Napza dan HIV/AIDS tertangani serta pencapaian kinerja pelayanan lainnya sebagai pendukung, seperti pelayanan Keswamas dan unit penunjang. a. Visite Rate Visite rate merupakan salah satu indikator untuk menilai tingkat keberhasilan rumah sakit yang menggambarkan tingkat utilisasi/ pemanfaatan rumah sakit oleh masyarakat. Berikut gambaran tingkat pemanfaatan RSJ Mutiara Sukma 3 (tiga) tahun terakhir: Tabel 2.2. Gambaran Tingkat Pemanfaatan RSJ Mutiara Sukma Tahun 2013-2015 Uraian 2013 2014 2015 Total Kunjungan RS 21,023 24,667 39,645 Jumlah penduduk NTB (jiwa) 4,57jt 4,63jt 4,77jt Visite rate RSJ (kali) 0,0046 0,0053 0,0083 Sumber : Rekam Medik RSJ Mutiara Sukma 2015 Visite rate sangat dipengaruhi oleh jumlah kunjungan dan populasi penduduk. Untuk tahun 2015, visite rate RSJ Mutiara Sukma mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2014 bahkan melampaui target. Pencapaian visite rate RSJ Mutiara Sukma tahun 2015 apabila dibandingkan dengan standar nasional yakni 1,5 kali maka visite rate RSJ Mutiara Sukma masih belum mencapai standar (untuk rumah sakit khusus belum ada standar baku). Berikut gambaran capaian visite rate RSJ Mutiara Sukma tahun 2015 dibandingkan target : 10

Tabel 2.3. Target dan Realisasi Visite Rate RSJ Mutiara Sukma Tahun 2015 Visite Rate Angka visite rate (kali) Ket Capaian 2015 0,0083 Target tahun 2015 0,0050 Standar nasional 1,5 Capaian lebih tinggi dari target, namun belum mencapai standar nasional Sumber : Rekam Medik RSJ Mutiara Sukma 2015 b. Pelayanan Rawat Jalan Dalam 3 (tiga) tahun terakhir, kunjungan rawat jalan cenderung mengalami peningkatan. Tahun 2013 tercatat jumlah kunjungan sebesar 18.005 kunjungan dan meningkat ditahun 2014 sebesar 21,68% atau menjadi 21.927 kunjungan dan meningkat lagi pada tada tahun 2015 sebesar 67,55% atau 36.740 kunjungan. Berikut gambaran perkembangan kunjungan rawat jalan di RSJ Mutiara Sukma : kunjungan Gambar 3.1. PERKEMBANGAN KUNJUNGAN RAWAT JALAN TAHUN 2013 s.d. 2015 36.740 40.000 35.000 30.000 25.000 20.000 15.000 10.000 5.000 0 21.927 18.008 2013 2014 2015 TAHUN Tahun 2015 merupakan tahun kedua pelaksanaan JKN, sehingga terjadi perubahan pada status bayar pasien terutama pasien Askes dan Jamkesmas, yang berubah menjadi Pasien BPJS. Perubahan tersebut menyebabkan 11

perubahan pada komposisi pasien berdasarkan cara bayar. Berikut komposisi kunjungan pasien rawat jalan berdasarkan status pembayaran: Tabel 2.4 Kunjungan Pasien Rawat Jalan Berdasarkan Status Bayar STATUS BAYAR 2013 2014 2015 Jumlah % Jumlah % Jumlah % Umum 3,390 18,83 3,748 17,11 4,028 10,96 Askes 2,007 11,15 - - - - Jamkesdamas/da / prov/bpjs/bansos 12,608 70,01 18,161 82,89 32,712 89,04 TOTAL 18.005 100 21,927 100 36,740 100 Sumber : Rekam Medik RSJ Mutiara Sukma 2015 Pada tabel di atas terlihat bahwa, sebagian besar kunjungan rawat jalan adalah pasien BPJS yakni 89,04%. Peningkatan kunjungan antara lain disebabkan oleh dukungan kegiatan ekstramural (luar gedung) RSJ Mutiara Sukma dalam menjalin kerjasama dengan semua pihak, promosi dan sosialisasi-sosialisasi langsung maupun tidak langsung. Kunjungan rawat jalan, sebagian besar pasien yang berkunjung adalah pasien lama (94,46%) dan lebih dominan laki-laki (55,23%), berada pada kelompok umur remaja dewasa (25-44th) sebanyak 47,57%. Seperti pada tahun 2014, rujukan terbanyak rawat jalan tetap berasal dari Puskesmas Kota Mataram (31,0%) dan Kab.Lobar (29,22%). Jumlah kunjungan berdasarkan diagnosa masih sama dengan tahuntahun sebelumnya yakni terbanyak adalah skizofrenia, gangguan psikotik akut dan sementara (39,67%). Untuk tingkat pendidikan, jika pada tahun 2014, pendidikan SMA/sederajat (31,74%) lebih tinggi dibandingkan SD/sederajat (29,43%), maka pada tahun 2015 sebaliknya, pendidikan SMA/sederajat (30,24%) lebih tinggi dibandingkan SD/sederajat (29,97%). Untuk distribusi berdasarkan jenis pekerjaan, ditahun 2015 sama dengan tahun 2014 yang sebagian besar tetap terdistribusi pada kelompok tidak bekerja (56,15%). 12

c. Pelayanan Rawat Inap Pelayanan rawat inap terdiri dari pelayanan PHCU, kelas I, II dan III yang terbagi dalam 5 ruang perawatan untuk pasien gangguan jiwa dan 1 ruangan perawatan untuk melayani pasien Napza. Dalam 3 (tiga) tahun terakhir jumlah kunjungan rawat inap cenderung fluktuatif. Tahun 2013 jumlah kunjungan 1,225 orang, namun kembali meningkat tahun 2014 dengan 1,270 orang, sedangkan pada tahun 2015 ada sedikit peningkatan yakni 1,296 orang. Seperti pada kunjungan rawat jalan, pemberlakuan JKN mengubah komposisi pasien berdasarkan status bayar menjadi pasien umum dan pasien BPJS. Untuk tahun 2015 sebagian besar pasien rawat inap adalah pasien BPJS. Berikut gambaran komposisi pasien berdasarkan status pembayaran : Tabel 2.5 Kunjungan Pasien Rawat Inap Berdasarkan Status Bayar STATUS BAYAR 2013 2014 2015 Jumlah % Jumlah % Jumlah % Umum 217 17,71 303 23,86 302 23,30 Askes 78 6,37 - - - - Jamkesmas/da/Prov/ BPJS /Bansos 930 75,92 967 76,14 994 76,70 TOTAL 1,225 100 1,270 100 1,296 100 Sumber : Rekam Medik RSJ Mutiara Sukma 2015 Selain indikator peningkatan jumlah kunjungan, kinerja rawat inap dapat dilihat dari pencapaian indikator mutu, yakni BOR, ALOS, TOI dan indikator mutu lainnya. Gambaran pencapaian kinerja rawat inap berdasarkan indikator mutu RSJ Mutiara Sukma 3 (tiga) tahun terakhir dapat dilihat pada tabel berikut : 13

Tabel 2.6 Pencapaian Kinerja RSJ Mutiara Sukma Berdasarkan Indikator Mutu NO INDIKATOR TAHUN 2013 2014 2015 1 BOR(Bed Occupancy Rate) 92,2% 86,1% 90,76% 2 ALOS(Average Length Of Stay) 16 hari 14,5 hari 17,8 hari 3 BTO (Bed Turn Over) 21,5 kali 22,87 kali 19,64 kali 4 TOI (Turn Over Interval) 1,3 hari 2,2 hari 1,71 hari 5 NDR (Nett Death Rate) 0 0 0 6 GDR (Gross Death Rate) 0 0 0 7 Jumlah TT 100 100 100 8 Hari Perawatan 33.640 31.437 34.994 8 Lama Perawatan 34.466 33.243 33.131 Sumber : Rekam Medik RSJ Mutiara Sukma 2015 Pencapaian BOR suatu RS sangat dipengaruhi oleh hari perawatan. Pada tabel diatas terlihat bahwa BOR tahun 2015 mengalami peningkatan, karena hari perawatan yang mengalami peningkatan. Dilihat dari target dan standar nasional, pencapaian BOR RSJ Mutiara Sukma telah melampaui target. Kerja keras serta kerjasama yang baik semua pihak dan dukungan kegiatan ekstramural (luar gedung) RSJ Mutiara Sukma dalam mensosialisasikan dan mempromosikan pelayanan kesehatan jiwa adalah faktor-faktor yang mendukung pencapaian target kinerja. Berikut gambaran target dan realisasi capaian kinerja rawat inap RSJ Mutiara Sukma : Tabel 2.7 Realisasi Pencapaian Kinerja Pelayanan Rawat Inap Dibanding Target NO INDIKATOR TARGET 2015 REALISASI 1 BOR 85.00% 90,76% (Bed Occupancy Rate) 2 ALOS <42 hari 17,8 hari (Average Length Of Stay) 3 BTO 40 kali 19,64 kali (Bed Turn Over) 4 TOI 3 hari 1,71hari (Turn Over Interval) 5 NDR 0/1000 pasien 0/1000 pasien (Nett Death Rate) 6 GDR 0/1000 pasien 0/1000 pasien (Gross Death Rate) Sumber : Rekam Medik RSJ Mutiara Sukma 2015 14

Kunjungan tahun 2015 dilihat dari jenis kunjungan hampir sama dengan tahun 2014 yakni sebagian besar pasien lama (66,28%). Sedangkan berdasarkan jenis kelamin, pasien laki-laki tetap dominan (69,68%). Tahun 2015 rujukan terbanyak berasal dari Lombok Timur (26,10%) dan Lombok Tengah (21,48%), Untuk kelompok umur tetap berada pada kelompok umur 25-44 tahun (59,49%) dengan tingkat pendidikan terbanyak adalah SMA (33,49%) dengan diagnosa terbanyak sama dengan tahun sebelumnya yakni skizofrenia, gangguan skizofital, psikotik akut dan sementara (73,23%). d. Pelayanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) Tahun 2015, kunjungan ke IGD mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2014. Tahun 2013 tercatat jumlah kunjungan ke IGD sebanyak 1,793 kunjungan, ditahun 2014 menurun menjadi 1483 kunjungan, pada tahun 2015 mengalami peningkatan lagi sebanyak 1609 kunjungan. Berikut gambaran kunjungan pasien ke IGD 3 (tiga) tahun terakhir : Gambar 3.2. KUNJUNGAN PASIEN IGD 2013-2015 1800 1600 1400 1200 1000 800 600 400 200 0 1793 1609 1483 2013 2014 2015 Seperti pada rawat jalan dan rawat inap, pasien dengan status pasien BPJS masih merupakan pasien dominan dengan pencapaian 64,39%. Berikut rincian kunjungan pasien berdasarkan status pembayaran: 15

STATUS BAYAR Tabel 2.8 Kunjungan Pasien IGD Berdasarkan Status Bayar 2013 2014 2016 Jumlah % Jumlah % Jumlah % Umum 481 26,83 407 27,44 573 35,61 Askes 106 5,91 - - - - Jamkesmas/da/Prov / BPJS 2,206 67,26 1,076 72,56 1036 64,39 TOTAL 1,793 100 1,483 100 1609 100 Sumber : Rekam Medik RSJ Mutiara Sukma 2015 Pasien yang paling banyak datang ke IGD adalah pasien dengan status Darurat Tidak Gawat (DTG) sebesar 77,25% dan sebagian besar pasien menjalani perawatan lanjutan (rawat inap) yakni 70,48%, dan 26,79% yang menjalani rawat jalan serta 1,37% yang menolak dirawat. Berdasarkan diagnosa, kunjungan terbanyak adalah skizofrenia paranoid 40,09%, sedangkan berdasarkan asal rujukan, pasien umum/langsung/ tanpa rujukan merupakan rujukan terbanyak yakni 69,92%. Pasien terbanyak di IGD adalah pasien lama 58,61%, dan pasien laki-laki adalah pasien yang dominan 67,31%, dengan kelompok umur terbesar berada pada kelompok umur 25-44th yakni 56,56% dan belum bekerja 82,22%. 5.Pelayanan Napza Selain melayani pasien gangguan jiwa, tugas pokok lain RSJ Mutiara Sukma adalah penanganan pasien penyalahgunaan Napza. Penanganan Napza menjadi salah satu indikator kinerja dalam Renstra dan Renja. RSJ Mutiara Sukma adalah satu-satunya rumah sakit yang memiliki unit khusus terapi dan rehabilitasi penyalahgunaan Napza di NTB yang dinamakan One Stop Centre (OSC) Wisma Anggrek dan satu-satunya institusi pelayanan yang ditunjuk sebagai penerima wajib lapor (IPWL) bagi Orang Dengan Penyalahgunaan Napza (ODPGN). 16

Berdasarkan laporan dari unit OSC, tahun 2015 jumlah kasus penyalahgunaan Napza yang ditangani di RSJ Mutiara Sukma adalah 284 kasus, meningkat sebesar 55,19% dibandingkan tahun 2014. Peningkatan disebabkan oleh meningkatnya ODPGN yang menjalani rawat jalan. Semua kasus yang datang ke RSJ Mutiara Sukma mendapat penanganan (100% tertangani). Berikut gambaran kasus narkoba yang menjalani perawatan di unit OSC RSJ Mutiara Sukma 3 (tiga) tahun terakhir : Gambar 3.3. Jumlah Kasus Napza yang Datang dan Ditangani RSJMS 381 400 300 200 100 0 183 284 2013 2014 2015 Kalau pada 2 (dua) tahun terakhir penggunaan zat selain psikotropika aktif, zat adiktif dan polidrug (penyalahgunaan obat-obatan medis berlebihan yang adiktif) banyak ditemukan, maka kondisi berbeda terjadi pada tahun 2015. Berdasarkan laporan OSC, pengguna zat tropika aktif dan narkoba (shabu dan ganja) adalah kasus terbanyak di tahun 2015 yakni 68,7% pengguna shabu. Kasus yang dirawat sebagian besar adalah kasus dengan jenis kelamin laki-laki (100%), berpendidikan SMA/sederajat (51,41%) dan merupakan usia produktif (16-49th). Kasus yang terjadi ditahun 2014 dan tahun 2015 hampir sama yakni mayoritas pengguna zat tropika aktif jenis shabu. Penemuan ini perlu mendapat perhatian dari semua pihak mengingat bahaya dari penggunaannya dan sebagian besar penggunanya masih berusia produktif. e. Pelayanan HIV/AIDS di Unit Voulentary Counseling Testing (VCT) Bale Matahari Salah satu indikator pelayanan yang terdapat dalam Renstra dan Renja RSJ Mutiara Sukma adalah persentase penanganan HIV/AIDS. Pelayanan 17

HIV/AIDS di RSJ Mutiara Sukma dilaksanakan di unit VCT (Voluntary Counseling and Testing) Bale Matahari. Berdasarkan laporan dari unit VCT Bale Matahari, jumlah klien yang menjalani test dalam 3 (tiga) tahun terakhir. Tahun 2013 jumlah klien yang menjalani test adalah 1596 klien, meningkat 4,4% menjadi 1667 klien tahun 2014 dan menurun ditahun 2015 sebesar 19,8% menjadi 1337 klien. Berikut gambaran jumlah klien yang menjalani test di unit VCT RSJ Mutiara Sukma dalam 3 (tiga) tahun terakhir: Gambar 3.4. JUMLAH KLIEN KLINIK VCT 2013-2015 2000 1500 1000 1596 1667 1337 BARU LAMA 500 0 47 0 2013 2014 2015 0 Dari 1337 klien menjalani test, jumlah klien yang ditemukan positif HIV adalah 13 orang, naik dibanding tahun 2014 dengan 8 orang. Kenaikan temuan klien positif disebabkan wilayah penjangkauan yang semakin luas sehingga klien yang terjaring untuk menjalani tes semakin banyak. Berikut gambaran jumlah pasien positif HIV yang dilaporkan unit VCT Bale Matahari RSJ Mutiara Sukma: Gambar 3.5. JUMLAH PASIEN IKUT TEST DAN POSITIF HIV/AIDS 2013-2015 2000 1500 1643 1667 1337 TEST POSITIF AIDS 1000 500 0 24 8 2013 2014 2015 13 18

Dari 13 klien positif HIV, 8 orang klien adalah laki-laki dan 5 klien perempuan. Klien yang ditemukan positif oleh RSJ Mutiara Sukma semuanya dapat ditangani atau 100% tertangani. Penjangkauan klien atau penemuan kasus oleh RSJ Mutiara Sukma dilakukan dengan 2 cara yakni melalui kegiatan statis (datang ke RSJMS) dan mobile (diluar gedung RSJMS), berikut rincian hasil kedua kegiatan tersebut : Tabel 2.9 Gambaran Hasil Kegiatan Penjangkuan Klien oleh RSJ Mutiara Sukma Melalui Kegiatan Statis dan Mobile Tahun 2015 NO NAMA KEGIATAN JUMLAH KUNJUNGAN LAKI-LAKI PEREMPUAN TOTAL (1) (2) (3) (4) (5) 1 klien yang datang sendiri (statis) 177 104 281 2 klien yg datang atas rujukan (statis): a. Klinik/Praktek dokter swasta 0 0 0 b. PITC 4 2 6 c. Yayasan peduli anak 8 5 13 d. Penjangkauan Inset 0 7 7 e. PKBI 0 0 0 f. RSJ 122 14 136 g. KKP Lembar 0 0 0 Jumlah Kegiatan Statis (1+2) 311 132 443 3 Mobile VCT : Lapas Lapas Mataram 303 29 332 Lapas Lobar 0 0 0 Lapas Loteng 24 0 24 Lapas Lotim 0 0 0 Lapas Sumbawa 0 0 0 Lapas Dompu 0 0 0 Lapas Bima 0 0 0 KPP Lembar 43 0 43 Daerah Gomong mataram 14 6 20 Daerah Gegutu 12 12 24 Kantor Pengadilan mataram 8 5 13 Qunci Villas(lobar) 136 37 173 STIKes Mataram 8 17 25 Yayasan PSBR (Lobar) 30 48 78 Yayasan Paramita 94 47 141 Ponpes 13 15 28 Jumlah Kegiatan Mobile 685 216 901 TOTAL (statis+mobile) 996 348 1344 Sumber : Unit VCT Bale Matahari RSJ Mutiara Sukma 2015 19

Dari tabel di atas terlihat bahwa penjangkauan klien dengan kegiatan mobile lebih tinggi (67,03%) dibandingkan dengan kegiatan statis (32,96%) dan tempat penjangkauan beresiko yang paling banyak klien menjalani tes adalah di LAPAS Mataram. Seperti pada kasus narkoba, klien yang terinfeksi HIV dan kasus AIDS merupakan klien berusia produktif yakni kelompok usia 20-24 th (38,46%) dan 25-49th (61,53%), berada pada tingkat pendidikan tinggi SMA/sederajat (76,92%) dan PT (23,08%) dan dominan berjenis kelamin laki-laki (61,53%). Hal yang menarik data temuan kasus positif HIV/AIDS adalah pada distribusi klien berdasarkan faktor resiko, karena sebagian klien adalah klien heteroseksual (69,23%). Kondisi ini patut mendapat perhatian serius dari semua pihak mengingat ekses yang dapat ditimbulkan bagi masyarakat luas. f. Pelayanan Rehabilitasi Mental Rehabilitasi mental adalah tahapan akhir dari perawatan pasien rawat inap dan melatih kemandirian bagi pasien day care. Pelayanan rehabilitasi mental dikoordinir oleh instalasi rehabilitasi mental. Tujuannya untuk mempersiapkan pasien kembali ke keluarga dan masyarakat dengan memberikan beberapa terapi secara psikologis dan membekali mereka dengan berbagai keterampilan agar siap kembali ke masyarakat dan mampu kembali produktif dan berkarya, sehingga tidak menjadi beban bagi masyarakat dan keluarganya. Berikut gambaran kegiatan yang diikuti pasien saat mengikuti tahapan rehabilitasi selama tahun 2015 : 20

No Tabel 2.10 Jenis Kegiatan yang Diikuti Pasien Rehabilitasi Tahun 2015 Jenis Terapi Umum Cara Bayar Jamkesmas/ BPJS Jumlah % (1) (2) (3) (5) (6) (7) 1. 2. 3. 4. 5. Terapi aktifitas kelompok Terapi gerak Terapi rileksasi Terapi religius Terapi bermain 6. Terapi kerja : Terapi pertanian Terapi perikanan Terapi melukis Terapi kerajinan tangan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4,088 5,811 1,365 1,259 0 3,232 90 386 100 4,088 5,811 1,365 1,259 0 3,232 90 386 100 25.0 35.6 8.4 7.7 0 19,8 0,6 2,4 0,6 TOTAL 0 16,331 16,331 100 Sumber : Instalasi Rehabilitasi RSJ Mutiara Sukma 2015 Jenis terapi yang dijalani pasien di unit rehabilitasi ditentukan berdasarkan skrining awal saat pasien pertama kali dikirim ke unit rehabilitasi, namun selanjutnya pasien tetap diperkenankan mengikuti semua terapi jika mampu. Jenis terapi yang banyak diikuti pasien sama antara tahun 2015 dan tahun 2014 yakni terapi gerak, pertanian dan aktifitas kelompok. Jumlah pasien yang mengikuti kegiatan rehabilitasi tahun 2015 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2014, yakni dari 20,891 kunjungan turun menjadi 16,331 kunjungan ditahun 2015 atau turun 21,82%. Sebagian besar pasien yang mengikuti terapi di unit rehablitasi adalah pasien jamkesmas (100%) dan sebagian besar adalah pasien lama (100%). Permasalahan yang masih dihadapi pada pelaksanaan kegiatan rehabilitasi adalah ketersediaan instruktur masing-masing terapi yang masih terbatas. Perencanaan dan usulan pengadaan tenaga sesuai kebutuhan terus diupayakan oleh pihak manajemen atau direksi. 21

g. Pencapaian kinerja pelayanan ekstramural Pelayanan kesehatan jiwa yang dilakukan RSJ Mutiara Sukma dilakukan dalam gedung (intramural) dan di luar gedung (ekstramural). Kegiatan di dalam gedung merupakan kegiatan rutin, sedangkan kegiatan ekstramural adalah pelayanan langsung ke masyarakat yang dikoordinir oleh instalasi kesehatan jiwa masyarakat (Keswamas). Dalam pelaksanaannya Instalasi Keswamas membentuk suatu tim yang disebut Tim Keswamas yang beranggotakan 4-5 orang terdiri dari psikiater, dokter umum, psikolog dan perawat, dengan difasilitasi oleh dokter, perawat atau petugas Puskesmas setempat. Kegiatan tersebut bekerjasama dengan dinas kesehatan dan Puskesmas dalam penentuan daerah tujuan kegiatan. Sasaran dari kegiatan ini adalah masyarakat umum dan klien gangguan jiwa yang secara geografis sulit mengakses pelayanan kesehatan jiwa atau daerah-daerah yang angka gangguan jiwanya tinggi namun kepatuhan berobatnya rendah serta pasien yang dipasung oleh keluarga atau masyarakat. Tujuan dari kegiatan ini secara umum adalah meningkatkan peran serta masyarakat dalam pelayanan kesehatan jiwa komunitas dan mengaktifkan Puskesmas sebagai gate keepers pelayanan kesehatan jiwa di daerah. Sedangkan secara khusus kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan pelayanan langsung dan advokasi kepada masyarakat, dan membantu Puskesmas dalam pengembangan model pelayanan kesehatan jiwa sesuai kondisi dan situasi setempat. Bentuk kegiatan ekstramural yang dilakukan RSJ Mutiara sukma adalah mobile clinic, home visit, integrasi, dropping, temu konsultasi, Layanan ACT mobile hotline layanan krisis, Self Help Group (SHG), penjangkauan pasien pasung, dan penanganan korban gangguan jiwa akibat bencana serta sosialisasi melalui leaflet, media massa, majalah, dan pameran. Kegiatan mobile clinic. 1) Kegiatan integrasi dan mobile clinic kesehatan jiwa Pelayanan ekstramural integrasi pada tahun 2015 fokus dilaksanakan di Puskesmas dengan pertimbangan efektifitas pelayanan. Kegiatan ini 22

dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan petugas kesehatan tentang masalah kesehatan jiwa dan penanganannya, serta mampu berperan aktif mendorong pemberdayaan masyarakat dalam penanganan kesehatan jiwa. Sasaran kegiatan ini adalah dokter dan petugas kesehatan dengan bentuk kegiatan berupa penyuluhan dan bimbingan tentang pelayanan kesehatan jiwa. Jumlah Puskesmas yang berhasil dikunjungi pada tahun 2015 adalah 20 Puskesmas se-ntb. Berikut 20 Puskesmas yang dikunjungi tim integrasi: No Tabel 2.11 Puskesmas dan RSUD yang Dikunjungi Tim Integrasi s.d. Desember 2015 Wilayah Puskesmas, RSUD 1 Lombok Barat Labuapi, Banyumulek 2 Lombok Tengah Penujak,Pengadang 3 Lombok Utara Gangga, Senaru 4 Lombok Timur Lendang nagka, Kota Raja 5 Sumbawa Rhee, Unit 2 Seketeng. 6 Sumbawa Barat Tano, Taliwang 7 Kab.Bima Bolo, Wera 8 Kota Bima Paruga,Rasanae Timur 9 Dompu Kempo,Calabae 10 Kota Mataram Kota Mataram,Karang Pule,Pejeruk Sumber : Instalasi Keswamas 2015 Kegiatan integrasi dilaksanakan bersama dengan kegiatan mobile clinic kecuali Kota Mataram karena di Kota Mataram tidak ada kegiatan mobile clinic. Berikut hasil kegiatan mobile clinic selama tahun 2015 : 23

Tabel 2.12. Hasil Kegiatan Mobile Clinic RSJ Mutiara Sukma Se-NTB Tahun 2015 NO. LOKASI April Mei Sept TOTAL 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Lobar Loteng Lombok Utara Lotim Sumbawa Barat Sumbawa Bima Kota Bima Dompu Kota Mataram 14 14 48 36 13 JUMLAH 125 25 130 280 Sumber: Instalasi Keswamas 2015 1 12 12 29 14 47 24 16 1 12 12 43 28 95 60 29 Jumlah pasien hasil kegiatan mobile clinic tahun 2015 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2014 dengan 383 pasien atau menurun 26,63% ditahun 2015. Penurunan ini salah satunya disebabkan oleh keluarga pasien yang sudah koperatif untuk menjemput anggota keluarganya jika sudah ada instruksi untuk bisa dipulangkan. 2) Kegiatan home visit Untuk kegiatan home visit, seperti pada tahun-tahun sebelumnya, kegiatan ini hanya dilaksanakan di Pulau Lombok dengan semua kabupaten dan kota. Kegiatan tersebut lebih difokuskan pada penanganan pasien pasung dengan melakukan kunjungan ke rumah pasien pasung baik yang pernah dirawat namun tidak pernah lagi menjalani perawatan setelah kembali ke rumah atau kasus pasung yang baru. Berikut hasil kegiatannya : 24

Tabel 2.13. Hasil Kegiatan home visit RSJ Mutiara Sukma Se-Pulau Lombok Tahun 2015 NO. LOKASI Feb Mar April Mei Agst Sept Nov Total 1. Lobar 4 3 4 4 11 2. Loteng 7 2 7 16 3. Lotim 5 4 3 4 13 29 4. 5. Kota Mataram Lombok Utara 8 1 2 1 1 11 JUMLAH 5 15 11 3 11 2 26 68 Sumber : Instalasi Keswamas 2015 3) Kegiatan Penanganan Pasien Pasung Penemuan dan penanganan pasung mulai digiatkan sejak pencangangan Program Nasional Indonesia Bebas Pasung 2010 yang kemudian berlanjut dengan Indonesia Bebas Pasung 2018 yang dijalankan di NTB menjadi NTB Bebas Pasung 2018. Kegiatan ini difokuskan pada penjangkauan pasien pasung untuk mendapat penanganan di Puskesmas ataupun perawatan lanjutan di RSJ. Estimasi pasien pasung di NTB semula 319 orang didasarkan pada estimasi WHO yang memperkirakan 1% dari pasien yang mengalami gangguan jiwa berat mengalami tindakan pemasungan, sedangkan prevalensi gangguan jiwa berat di NTB menurut Riskesdas 2007 adalah 0,99% (dibulatkan menjadi 1%) dari jumlah penduduk 15 tahun ke atas atau sekitar 31.820 orang. Akan tetapi berdasarkan hasil Riskesdas 2013, estimasi pasien pasung bertambah menjadi 1409 orang karena peningkatan estimasi gangguan jiwa di Provinsi NTB. Kegiatan ini ditargetkan tuntas pada tahun 2018. Penyisiran atau penjangkauan langsung pasien pasung mulai dilaksanakan tahun 2011 dan tercatat ada 12 Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) di 6 kabupaten yang mengalami pemasungan. Tahun 2012, 25

penjangkauan dilakukan di 10 kabupaten/kota, dan berhasil menjangkau 78 pasien pasung. Tahun 2013 tercatat lonjakan penjangkauan pasung yang sangat signifikan yakni sebesar 325,64% atau 254 pasien pasung sehingga total pasung yang ditangani s.d. Desember 2013 adalah 332 pasien pasung. Untuk tahun 2014, RSJ Mutiara Sukma berhasil menemukan dan menjangkau 70 pasien pasung, sehingga total pasien pasung yang berhasil ditemukan adalah 402 pasien pasung. Untuk tahun 2015 RSJ Mutiara Sukma dapat menjangkaun 89 pasien pasung sehingga total sampai bulan desember 2015 sebayak 491 pasien pasung. Semua pasien pasung yang ditemukan mendapat penanganan dari RSJ Mutiara Sukma (100% tertangani). Pelaksanaan NTB Bebas Pasung yang didukung penuh oleh Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/kota dan Dinas Kesehatan serta masyarakat adalah faktor yang mempengaruhi pencapaian positif kegiatan tersebut. Berikut distribusi pasien pasung yang ditangani sampai Desember 2015 berdasarkan wilayah : Tabel 2 14 Distribusi Pasien Pasung Hasil Penjangkauan Tahun 2011 s.d. Desember 2015 No Wilayah/PKM Jumlah (org) Keterangan 1 Mataram 27 Selagalas, Cakranegara, Ampenan, Pagesangan, Pagutan, karang pule,karang Taliwang, Selaparang, Kota Mataram 2 Lombok Barat 43 Sekotong, Lembar, Kekait, Labuapi, Batu Layar, Narmada, Gerung, Kuripan, Gunung Sari,Lingsar, Meninting,Penimbung, Sedau,Parampuan. 3 Lombok Tengah 79 Kopang, Jonggat, Sengkol, Teratak, Aik Bukak, Pringgarata, Batu Jai, Praya, Batukliang, Darmaji, Janapria, Aik Darek, Kuta, Penujak, Mujur, Pengadang, Batu Jangkih, Penujak Darek, Bagu 26

No Wilayah/PKM Jumlah (org) Keterangan 4 Lombok Utara 39 Tanjung, Bayan, Santong, Kayangan, Gangga 5 Lombok Timur 96 Dasan Lekong, Wanasaba, Keruak, Aikmel, Terara, Kalijaga, Pohgading, Sambelia, masbagik, Pringgasela, selong, Sakra, Sikur, Suralaga, Suela Batuyang,Montong Betok, Labuhan Haji, Lepak, Rising, Lendang Nangka 6 Sumbawa 39 Alas-Mapin, Moyo, Utan, Rhee, Empang, Plampang, Maronge, Lantung, Ropang, Lenangguar, Lunyuk, Orong Telu,Unter Iwis,Batu Lanteh, Tarano,Unit I, Unit II 7 Sumbawa Barat 12 Labu Lalar-Taliwang, Seteluk,Brang Ene, Seteluk, Pototano 8 Dompu 28 Woja, Dusun O O, Pajo, Pelat, Manggalawe, Hu u, Pekat,Rasabou, Dompu Timur, Dompu Kota, Dompu Barat, Soriutu 9 Kab.Bima 114 Woha, Sape, Mambanae, Lambu, Madapangga, Palibelo, Langgudu, Sila, Parado, Ngali, Wawo,Rato Ambalawi, Doridongga, Bumi Pajo, Monta, Mpa, Kole, Rite, Tolowata, Talapiti, nipa, Mawu, Pai, Kilo, Soromansi, Sampunggu, Sai, Wonto, Bolo, Sondo Sia, Ngembe, Rasa Bou, Wera 10 Kota Bima 17 Mpuda, Rasanae, Asakota, Raba, Jatibaru, Mpudi, Kumbe,Rasanae Timur Jumlah 491 Sumber : Instalasi Keswamas 2015 27

Selain berperan dalam penanganan pasien pasung, RSJ Mutiara Sukma juga aktif mengupayakan pemberdayaan pasien pasung setelah menjalani perawatan di RSJ Mutiara Sukma. Kegiatan tersebut dilaksanakan bekerjasama dengan lintas sektoral seperti tokoh masyarakat, dinas sosial, dinas ketenagakerjaan dan transmigrasi, perangkat desa, kader dan lain-lain, dengan tujuan agar pasien setelah kembali ke keluarganya mampu kembali bekerja secara mandiri dan tidak menjadi beban keluarga atau masyarakat. 4) Kegiatan Dropping Kegiatan dropping adalah upaya RSJ Mutiara Sukma untuk mengembalikan pasien ke keluarganya setelah selesai menjalani perawatan dan tidak mampu dijemput kembali oleh keluarganya. Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan merupakan kewajiban RSJ Mutiara Sukma untuk mengembalikan pasien ke keluarganya. Selama tahun 2015, jumlah pasien yang di dropping adalah 33 orang, dengan rincian : Tabel 3.14. Distribusi Pasien Dropping s.d. Desember 2015 No Wilayah/PKM Jumlah (org) Puskesmas 1 Lombok Barat 1 Jembatan Kembar, 2 Lombok Tengah 4 Teratak, Mantang,Pringgarata 3 Lombok Timur 17 Terara, Rensing, Jerowaru, Kalijaga,Wanasaba,Labuan Lombok 4 Lombok Utara 1 Bayan 5 Sumbawa 3 Unit 1,Labuan badas, Lopok 6 Sumbawa Barat - 7 Kab Bima 4 Ngali, Wera, Sape 8 Bima 1 Panana nae 9 Dompu 1 Cala bae, 10 Jakarta 1 Dinsos DKI Jakarta Jumlah 33 Sumber : Instalasi Keswamas 2015 28

5) Kegiatan penanganan gangguan jiwa korban bencana/konflik Untuk tahun 2015, kegiatan tersebut tidak dilaksanakan karena tidak ada kejadian bencana atau konflik selama tahun 2015, sehingga pencapaian indikator kegiatan ini 0%. 6) Kegiatan Accertive Community Therapy (ACT) Kegiatan ACT atau terapi komunitas adalah bentuk terapi yang berusaha memanipulasi lingkungan untuk keuntungan pasien di lingkungan sosialnya. Pendekatan ini biasanya digunakan pada kasus penyalahgunaan Napza atau individu dengan gangguan/ketidakmampuan fungsi normal kehidupannya atau keluarga yang tidak mampu melakukan perawatan terhadap pasien yang mengalami masalah kejiwaan di masyarakat. Program ACT didesain untuk menurunkan hospitalisasi, meningkatkan kemandirian, fungsi dan produktifitas individu serta memberi support pada keluarga. Dalam pelaksanaannya terapi ini membutuhkan tim yang terdiri dari multidisiplin ilmu seperti psikiater, dokter, perawat dan seorang koordinator. Bentuk layanan yang diberikan adalah : - Layanan ACT statis : dilakukan di poliklinik RSJ Mutiara Sukma, dengan sasaran pasien dengan frekuensi rawat jalan tinggi, pasien pasung dan keluarganya - Layanan ACT mobile : dengan kunjungan pada pasien, keluarga dan masyarakat sekitarnya Untuk mendukung Layanan ACT mobile, RSJ Mutiara Sukma membuka hotline layanan krisis yang bisa diakses 24 jam oleh keluarga pasien ODMK, keluarga pasung, petugas kesehatan atau masyarakat umum. Penyediaan hotline layanan krisis 24 jam dimaksudkan untuk memudahkan masyarakat melaporkan temuan pasung atau kejadian yang berkaitan dengan kejiwaan yang membutuhkan penanganan secepatnya. 29

Tahun 2015 RSJ Mutiara Sukma menargetkan layanan ACT mobile dilaksanakan sebanyak 10 kali dan terealisasi 7 kali. Realisasi layanan ACT mobile sangat dipengaruhi oleh keaktifan masyarakat dalam mengadukan kasus gangguan jiwa yang ditemukan di masyarakat. Kedepannya sosialisasi hotline layanan krisis dan kerjasama dengan kelompok masyarakat pemerhati gangguan jiwa, tokoh masyarakat, tokoh agama dan unsur kunci di masyarakat perlu ditingkatkan, guna memotivasi dan mendorong peran aktif mereka dalam layanan ACT mobile. 7) Kegiatan Selp Help Group (SHG) kesehatan jiwa Kegiatan SHG adalah kegiatan yang ditujukan untuk meningkatkan pemberdayaan masyarakat dalam menangani gangguan jiwa di masyarakat dengan membentuk suatu kelompok yang disebut kelompok swabantu. Unsur kelompok SHG adalah penderita gangguan jiwa dan keluarganya serta pemerhati gangguan jiwa yang dibina oleh tim Community Mental Health Nursing (CMHN) yang ada di Puskesmas setempat dan tim ACT RSJ Mutiara Sukma. Untuk tahun 2015, kegiatan ini dilaksanakan 2 (kali) di RSJ Mutiara Sukma dengan dikuti oleh 20 orang anggota kelompok swabantu untuk 1 kali pertemuan. Untuk tahun mendatang kegiatan ini diharapkan dapat dilaksanakan di luar RSJ Mutiara Sukma agar lebih efektif dalam menjangkau sasaran. 8) Kegiatan ekstramural lainnya Kegiatan lain yang dilaksanakan Instalasi Keswamas adalah workshop dan temu konsultasi kesehatan jiwa, serta penyebaran bulletin/ majalah dan leaflet yang ditujukan bagi masyarakat umum, kelompok beresiko, tokoh agama/tokoh masyarakat dan institusi swasta maupun pemerintah. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mensosialisasikan keberadaan RSJ Mutiara Sukma, mendapat dukungan dalam pelaksanaan pelayanan program kesehatan jiwa dan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat serta bentuk keseriusan RSJ Mutiara Sukma dalam mendukung program pemerintah dibidang kesehatan. 30

Khusus untuk klien Napza dan HIV/AIDS yang menjalani perawatan atau pernah dirawat di RSJ Mutiara Sukma, temu konsultasi diadakan dalam bentuk Family Support Group (FSG) dengan melibatkan keluarganya. Kegiatan outing yang merupakan bagian dari terapi juga dilaksanakan khusus untuk klien Napza. Setiap tahun RSJ Mutiara Sukma berusaha melakukan terobosan atau inovasi pelayanan terutama pelayanan ekstramuralnya sebagai salah satu upaya mendukung program generasi emas Pemerintah Daerah Provinsi NTB dan SDM berdaya saing. Terbatasnya sumber daya yang tersedia seperti kendaraan operasional, alokasi anggaran dan SDM adalah beberapa hambatan yang dihadapi tim dalam melaksanakan kegiatan ekstramural. Untuk itu, dukungan Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat sangat diharapkan. h. Pelayanan Penunjang Kegiatan pelayanan penunjang medis merupakan kegiatan yang sifatnya membantu pelayanan medis untuk menegakkan diagnosa dan rehabilitasi medik pasien serta menunjang kegiatan pelayanan lainnya. Kegiatan penunjang yang tersedia di RSJ Mutiara Sukma adalah pelayanan psikometri, laboratorium, farmasi, radiologi, elektromedik, gigi dan mulut. 1) Pelayanan Elektromedik Pelayanan elektromedik dalam 2 (dua) tahun terakhir mengalami penurunan. Berdasarkan laporan dari unit elektromedik, jumlah kunjungan tahun 2013 sebanyak 735 kunjungan dan menurun tahun 2014 menjadi 615 kunjungan, pada tahun 2015 kembali mengalami penurunan 404 Kunjungan. Penurunan kunjungan salah satunya disebabkan oleh tidak adanya kerjasama RSJ Mutiara Sukma dengan pihak luar dan rujukan dari RS lain. Kunjungan pasien tahun 2015 berdasarkan status pembayaran sebagian besar merupakan pasien BPJS (67,57%), sedangkan pemeriksaan yang paling banyak adalah pemeriksaan infra red radiator (30,45%) dan electrical stimulation (30,45%), pemeriksaan paling sedikit adalah EEG (12,38%). 31

Ketenagaan di unit pelayanan elektromedik adalah 3 orang fisioterapis yang merangkap sebagai tenaga administrasi. Unit rehabilitasi medik/elektromedik sudah memiliki beberapa alat canggih seperti EEG dan brainstimulator for ADHD. 2) Pelayanan Psikometri Pelayanan psikometri dilaksanakan di poli psikologi dan poli pskiatri anak Mental Sehat Ceria (poli MSC). Selain pelayanan tes psikometri, di poli MSC juga melayani anak-anak berkebutuhan khusus seperti autisme, retardasi mental, dan epilepsi yang berindikasi ke kelainan mental. Berdasarkan laporan dari unit psikometri, jumlah pemeriksaan tahun 2015 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2014. Dari 1,162 pemeriksaan tahun 2014, menjadi 548 pemeriksaan tahun 2015 atau menurun sebesar 52,83%. Penurunan jumlah pemeriksaan yang sangat bermakna tersebut disebabkan oleh tidak ada permintaan tes pejabat publik untuk mendapatkan surat keterangan sehat jiwa. Berdasarkan asal rujukan sebagian besar kunjungan di poli psikologi adalah Rawat inap sebesar 11,13% dan rujukan dari poliklinik sebesar 88,86% dengan status pembayaran terbanyak pembayaran umum sebesar 99,08%. Jenis pemeriksaan sebagian besar adalah tes MMPI (85,40%). Untuk pelayanan poli MSC, jumlah kunjungan tahun 2015 sebanyak 1808 kunjungan mengalami peningkatan dari tahun 2014 sebayak 886 kunjungan. Pemeriksaan terbanyak ditahun 2015 yakni pemeriksaan fisik dan mental (66,18%) dan test IQ (6,36%). 3) Pelayanan gigi dan mulut Poliklinik gigi dan mulut tidak membuka pelayanan dikarenakan adanya kegiatan Finishing poliklinik yang merupakan kegiatan lanjutan dari renovasi dan perluasan poliklinik dan gedung kantor. 32

4) Pelayanan Farmasi Tahun 2015 adalah tahun kedua pemberlakuan JKN yang menyebabkan perubahan pada status pembayaran pasien, baik yang rawat inap maupun rawat jalan. Salah satu implikasinya adalah dalam kefarmasian, sebelum pemberlakuan BPJS, penggunaan obat bagi pasien IGD masih dapat diklaim tersendiri, tetapi setelah pemberlakuan BPJS penggunaan obat di IGD tidak lagi diklaim tersendiri tetapi menjadi satu dengan status rawat pasien, apakah rawat jalan atau rawat inap. Kegiatan pelayanan Farmasi di RSJ Mutiara Sukma meliputi penyediaan obat bagi pasien rawat jalan, rawat inap dan bagi kegiatan ekternal RSJ Mutiara Sukma seperti kegiatan penanggulangan bencana dan pasung bagi pasien umum dan pasien dengan jaminan. Pelayanannya berorientasi kepada pelayanan pasien, penyediaan obat yang bermutu dan terjangkau bagi semua lapisan masyarakat. Berdasarkan laporan dari instalasi farmasi, sebagian besar obat di RSJ Mutiara Sukma dipergunakan untuk pasien BPJS baik dari rawat jalan maupun rawat inap. Jenis obat yang disediakan terdiri dari obat generik dan obat non generik. Untuk obat generik sebanyak 128 item atau 53% dan obat non generik 113 item atau 47%. Semua resep yang masuk ke unit farmasi terlayani (100%). Obat-obatan yang dipergunakan adalah obat anti psikotik 44 jenis tahun 2015 lebih banyak daripada 2014 dengan 38 jenis, anti depresi 13 jenis tahun 2014 dan 10 jenis tahun 2013, anti mania 5 jenis tahun 2015 dan 4 jenis di tahun 2013, anti epilepsi/konkulsi 10 jenis tahun 2015 dan 9 jenis di tahun 2013, anti anxietas 22 jenis tahun 2014 dan 23 jenis di tahun 2013, anti parkinson 8 jenis tahun 2014 dan 7 jenis di tahun 2013, neurotropik 10 jenis tahun 2014 dan 5 jenis di tahun 2013, anti ADHD 1 jenis tahun 2014 dan 1 jenis di tahun 2013. Selain obat jiwa, farmasi juga menyediakan obat umum sebanyak 120 jenis tahun 2015 dan 104 jenis tahun 2013 serta BAHKP 34 jenis tahun 2015 dan 104 jenis di tahun 2014. Golongan obat demensia yang pertama kali diadakan tahun 2013 sebanyak 1 jenis menjadi 3 jenis di tahun 2014 masih sama ditahun 2015 ada 3 jenis obat dimentia. Secara umum penggunaan jenis obat di tahun 2015 mengalami peningkatan dibandingkan 33

tahun 2014, yang disebakan oleh adanya perubahan kebijakan penggunaan obat-obatan di RS. Jumlah kunjungan di unit farmasi dihitung berdasarkan jumlah kertas resep yang dilayani. Jumlah kunjungan berdasarkan jumlah kertas resep tahun 2015 adalah 68,634, kunjungan, meningkat 22,5% dibandingkan tahun 2014. Hal ini disebabkan karena terjadinya peningkatan jumlah pasien. Berdasarkan jumlah resep yang ditulis oleh dokter, tahun 2015 adalah 227.171 resep, meningkat 21,41% dibanding tahun 2014 dengan 178,513 resep. 5) Pelayanan Radiologi Pelayanan Radiologi tidak membuka pelayanan dikarenakan adanya kegiatan Finishing poliklinik yang merupakan kegiatan lanjutan dari renovasi dan perluasan poliklinik dan gedung kantor. 6) Pelayanan Laboratorium Jumlah pemeriksaan di Laboratorium tahun 2015 adalah 9,893 pemeriksaan, mengalami penurunan sebesar 28,54% dibandingkan tahun 2014 dengan 13,845 pemeriksaan. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya peningkatan yang signifikan disebabkan oleh adanya kerjasama dengan pihak luar seperti tes CPNS dan pelamar kerja lainnya untuk pemeriksaan bebas Narkoba. Kunjungan ke unit pelayanan laboratorium RSJ Mutiara Sukma untuk tahun 2015 terbanyak berasal dari poliklinik (81,83%). Selain dari poliklinik, kunjungan juga berasal dari IGD (1,56%), Intensif (10,04%) dan rawat inap (6,55%). Sedangkan jenis pemeriksaan terbanyak adalah pemeriksaan narkoba (78,12%). Berdasarkan status pembayaran, terbanyak adalah Umum (83,01%) dan sisanya adalah pasien BPJS (16,98%). Pelayanan di unit laboratorim masih ada kendala seperti mikroskop dan alat pemeriksaan kimia klinik masih kurang dan fungsi ruang yang sudah tidak sesuai dengan volume pelayanan. 34

PENCAPAIAN INDIKATOR KINERJA KEUANGAN 1. Pencapaian Kinerja Berdasarkan Realisasi Anggaran Sumber pembiayaan kegiatan RSJ Mutiara Sukma tahun 2015 berasal dari pendapatan fungsional BLUD dan APBD subsidi termasuk Dana Alokasi Khusus (DAK). Sedangkan dana Tugas Pembantuan (TP) untuk tahun 2015 tidak diperoleh. Alokasi anggaran RSJ Mutiara Sukma secara total dalam 3 (tiga) tahun terakhir mengalami peningkatan, tetapi apabila dicermati, belanja yang konsisten meningkat adalah Belanja Tidak Langsung (BTL), sedangkan Belanja Langsung (BL) cenderung fluktuatif. Berikut gambaran pembiayaan RSJ Mutiara Sukma berdasarkan sumbernya: TAHUN Tabel 2.15. Sumber Pembiayaan/Anggaran RSJ Mutiara Sukma Tahun 2013-2015 Belanja Tidak Langsung APBD Belanja Langsung APBN (TP) JUMLAH 2013 13.113.218.700 10.879.715.000 1.000.000.000 24.992.933.700 2014 14.001.313.000 21.379.715.000 0 35.381.028.000 2015 16.660.432.098 31.929.206.502 0 48.589.629.600 Sumber : Bagian keuangan dan Perencanaan RSJMS 2015 Peningkatan belanja tidak langsung pada tabel di atas disebabkan oleh bertambahnya jumlah pegawai karena mutasi, kenaikan gaji dan tunjangan. Sedangkan penurunan belanja langsung disebabkan oleh penurunan alokasi subsidi dari Pemerintah Daerah dan Dana Alokasi Khusus (DAK). Berikut gambaran realisasi anggaran RSJ Mutiara Sukma tahun 2015 35

NO URAIAN Tabel 2.16. Realisasi Anggaran APBD RSJ Mutiara Sukma Tahun 2015 ANGGARAN SETELAH PERUBAHAN REALISASI SISA ANGGARAN % A BELANJA TIDAK LANGSUNG 16.660.423.098 15.501.162.476 1.159.260.622 93,04 A Gaji dan tunjangan 12.085.313.098 11.139.334.446 945.978.652 92,17 B Tambahan penghasilan PNS 4.575.110.000 4.361.828.030 213.281.970 95,34 B BELANJA LANGSUNG 31.929.206.502 29.620.107.841 2.309.098.661 92,77 1 Program Pelayanan Administrasi Perkantoran 87.400.000 83.800.000 3.600.000 95,88 a Penyediaan jasa komunikasi 24.000.000 20.400.000 3.600.000 85,00 b Penyediaan jasa administrasi 63.400.000 63.400.000 0 100,00 dan teknis perkantoran 2 Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur 11.796.365.800 10.349.421.650 1.446.944.150 87,73 a Pembangunan Gedung kantor 3.626.794.500 2.994.890.000 631.904.500 82.58 b Pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor 8.169.571.300 7.354.531.650 815.039.650 90,02 3 Program Upaya Kesehatan Masyarakat 738.625.202 633.113.890 105.511.312 85,72 a Peningkatan Kesehatan Masyarakat 268.429.000 256.152.082 12.276.918 95,43 b Peningkatan Pelayanan dan Penanggulangan Masalah Kesehatan 470.196.202 376.961.808 93.234.394 80,17 4 Program Pengadaan Peningkatan Sarana dan prasarana Rumah sakit 3.290.750.000 3.248.480.350 6.269.650 99,81 a Pengadaan alat-alat kesehatan rumah sakit. 3.290.750.000 3.248.480.350 6.269.650 99,81 5 Program Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan BLUD 16.016.065.500 15.269.291.951 746.773.449 95,34 a Pelayanan dan Pendukung Pelayanan BLUD 16.016.065.500 15.269.291.951 746.773.449 95,34 TOTAL SKPD 48.589.629.600 45.121.270.317 3.468.359.283 92,86 Sumber : Bagian Keuangan RSJ Mutiara Sukma 2015 36

Realisasi total belanja RSJ Mutiara Sukma tahun 2015 (92,86%) lebih Rendah dibandingkan tahun 2014 (94,52%). Berbeda dengan tahun 2014 yang realisasi belanja langsung lebih tinggi dari belanja tidak langsungnya, maka sebaliknya di tahun 2015, realisasi belanja tidak langsungnya (93,04%) lebih besar dibandingkan belanja langsung (92,86%). Realisasi anggaran RSJ Mutiara Sukma tergolong baik karena hampir semua kegiatan dapat dilaksanakan. 37

Rencana Kerja RSJ Provinsi 2016 44

BAB III TUJUAN, SASARAN, PROGRAM DAN KEGIATAN RSJ MUTIARA SUKMA A.Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah RSJ Mutiara Sukma NO TUJUAN SASARAN 1 1.1 Meningkatkan efektivitas pengelolaan administrasi keuangan, aset dan perlengkapan 1.1.1 Terwujudnya pengelolaan administrasi keuangan yang tertib 1.1.2 Tersedianya data, informasi dan laporan aset tepat waktu dan akurat INDIKATOR KINERJA SASARAN (OUTCOME) Pelaporan keuangan tepat waktu dan akurat Pelaporan aset tepat waktu dan akurat TARGET KINERJA SASARAN PER SATUAN TAHUN 2014 2015 2016 2017 2018 persen 100 100 100 100 100 persen 100 100 100 100 100 Rencana Kerja RSJ Provinsi 2016 46

NO TUJUAN SASARAN 1.2 Meningkatkan efektivitas perencanaan, penganggaran, pendataan dan pelaporan 1.1.3 Tersedianya kebutuhan barang rumah tangga dan perlengkapan kantor RSJ dengan tertib 1.2.1 Terwujudnya sistim perencanaan dan penganggaran yang terpadu 1.2.2 Tersusunnya dokumen perencanaan dan penganggaran yang akurat dan tepat waktu INDIKATOR KINERJA SASARAN (OUTCOME) Nilai kepuasan pelanggan baik Perencanaan dan penganggaran tepat waktu Jumlah dokumen perencanaan dan penganggaran TARGET KINERJA SASARAN PER SATUAN TAHUN 2014 2015 2016 2017 2018 Nilai IKM 77,5 78 78,5 79 80 persen 100 100 100 100 100 dokumen 2 2 2 2 2 Rencana Kerja RSJ Provinsi 2016 47

NO TUJUAN SASARAN 1.3 Meningkatkan efektivitas pengelolaan administrasi umum, kepegawaian, unit 1.3.1 Terwujudnya administrasi umum perkantoran yang tertib Kerjasama dan IT 1.3.2 Terpenuhinya usulan kebutuhan tenaga kesehatan sesuai standar 1.3.3 Terkirimnya tenaga untuk peningkatan kompetensi dan profesionalisme 1.3.4 Terwujudnya kerjasama antara RSJ Provinsi dengan mitra kerja lintas sektor/ swasta INDIKATOR KINERJA SASARAN (OUTCOME) Kepuasan pelanggan meningkat Kinerja pegawai meningkat Kepuasan pelanggan meningkat Kerjasama dengan pihak ketiga meningkat TARGET KINERJA SASARAN PER SATUAN TAHUN 2014 2015 2016 2017 2018 persen 77,5 78 78,5 79 80 persen 71 72 73 74 75 persen 77,5 78 78,5 79 80 Kesepakatan bersama 45 47 49 50 52 Rencana Kerja RSJ Provinsi 2016 48

NO TUJUAN SASARAN 2 2.1 Meningkatakan mutu pelayanan 2.2 Menyediakan pelayanan terjangkau 3 3.1 Menyediakan ruang perawatan dan perkantoran yang sesuai standar 2.1.1 Tercapainya pelayanan sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM) 2.1.2 Terakreditasinya RSJ sesuai standar versi 2012 2.2.1 Tersedianya pelayanan kesehatan yang memadai, mudah diakses dan sesuai daya beli masyarakat 2.2.2 Terbentuknya citra positif dan terhapusnya stigma negatif terhadap RSJ 3.1.1 Tersedia ruang perawatan dan perkantoran yang layak dan sesuai fungsi ruang INDIKATOR KINERJA SASARAN (OUTCOME) Kepuasan pelanggan meningkat RSJ terakreditasi Tingkat 5 pelayanan TARGET KINERJA SASARAN PER SATUAN TAHUN 2014 2015 2016 2017 2018 persen 77,5 78 78,5 79 80 5 pelayanan Dasar Dasar Dasar Visite rate meningkat persen 0,47 0,5 0,53 0,56 0,59 BOR mencapai standar persen 85 85 85 85 85 nasional Kerjasama dengan pihak ketiga meningkat Kesepakatan bersama 45 47 49 50 52 Kelas RSJ meningkat tipe B B A A A Rencana Kerja RSJ Provinsi 2016 49

NO TUJUAN SASARAN INDIKATOR KINERJA SASARAN (OUTCOME) SATUAN TARGET KINERJA SASARAN PER TAHUN 2014 2015 2016 2017 2018 3.2 Meningkatkan mutu peralatan medis dan nonmedis sesuai standar 3.1.2 Terpeliharanya fisik bangunan secara rutin 3.2.1 Tersedia peralatan medis dan nonmedis yang layak dan sesuai standar 3.2.2 Terpeliharanya peralatan medis dan non medis RSJ terakreditasi Tingkat 5 pelayanan RSJ terakreditasi Tingkat 5 pelayanan RSJ terakreditasi Tingkat 5 pelayanan 5 pelayanan 5 pelayanan 5 pelayanan Dasar Dasar Dasar Dasar Dasar Dasar Dasar Dasar Dasar Rencana Kerja RSJ Provinsi 2016 48

NO TUJUAN SASARAN 4 4.1 Meningkatkan mutu pelayanan keperawatan 4.2 Meningkatkan kualitas rencana pengembangan keperawatan 4.1.1 Terwujudnya pelayanan keperawatan dengan SDM yang kompeten 4.1.2 Tersedia dan terpeliharanya sarana prasarana kerja keperawatan 4.2.1. Tersedianya perencanaan keperawatan yang tertib 4.2.2 Terwujudnya administrasi dan manajemen keperawatan yang tertib dalam implementasi keperawatan profesional INDIKATOR KINERJA SASARAN (OUTCOME) Kepuasan pelanggan meningkat RSJ Terakreditasi Tingkat 5 pelayanan Jumlah dokumen perencanaan keperawatan tersedia TARGET KINERJA SASARAN PER SATUAN TAHUN 2014 2015 2016 2017 2018 persen 77,5 78 78,5 79 80 5 pelayanan Dasar Dasar Dasar dok 1 1 1 1 1 Kepuasaan pelanggan persen 77,7 78 78,5 79 80 Rencana Kerja RSJ Provinsi 2016 49

B.PROGRAM DAN KEGIATAN 1. Prioritas Kerja Rumah Sakit Jiwa Tahun 2016 a. Pelaksanaan evaluasi lanjutan Akreditasi Versi 12 b. Meningkatkan pelayanan ekstamural dalam upaya mendukung Program Generasi Emas Pemerintah Daerah Provinsi NTB c. Peningkatan pelaksanaan pelayanan Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan pencapaian target yang telah ditetapkan. 2. Usulan Program Kerja Sumber APBD: Rencana program kerja RSJ Mutiara Sukma pada Tahun 2017 disusun berdasarkan kebutuhan dengan tetap berfokus pada peningkatan mutu pelayanan, mendekatkan akses masyarakat ke pelayanan jiwa, dan pengembangan pelayanan, melalui program-program sebagai berikut : a. Program pelayanan administrasi perkantoran 1) Penyediaan jasa administrasi keuangan 2) Penyediaan jasa administrasi dan teknis perkantoran 3) Pengadaan jasa komunikasi b. Program peningkatan pengembangansistim capaian kinerja & keuangan 1) Penyusunan laporan kinerja dan iktisar realisasi kinerja 2) Penyusunan pelaoran keuangan akhir tahun 3) Penyusunan rencana kerja 4) Penyusunan RKA dan DPA c. Program Peningkatan Kapasitas SD Aparatur 1) Pendidikan dan pelatihan formal d. Program Kebijakan dan Manajemen Kesehatan 1) Penyusunan dokumen pelaporan survei SPM e. Program Standarisasi Pelayanan RS 1) Penyusunan standar pelayanan kesehatan Rencana Kerja RSJ Provinsi 2016 52

f. Program Upaya Kesehatan Masyarakat 1) Peningkatan kesehatan masyarakat 2) Peningkatan Pelayanan dan Penanggulangan Masalah Kesehatan g. Program Kemitraan Peningkatan Pelayanan Kesehatan 1) Kemitraan asuransi kesehatan masyarakat 2) Kemitraan pencegahan dan penanggulangan penyakit menular 3) Kemiraan pengolahan limbah 4) Kemitraan peningkatan kualitas dokter dan paramedis 5) Kemitraan bagi pasien kurang mampu 6) Kemitraan dengan media massa h. Program Pegadaan, Peningkatan Sarana dan Prasarana Rumah Sakit/Rumah Sakit Jiwa/Rumah Sakit Paru-paru/ Rumah Sakit Mata 1) Pengadaan alat-alat kesehatan RS 2) Pengadaan obat-obatan RS 3) Pengadaan Meubeler 4) Pengadaan perlengkapan rumahtangga RS 5) Pengadaan logistik (makanan pasien) 6) Pengadaan pencetakan administrasi dan surat RS i. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur 1) Pembangunan gedung kantor : VIP, Gedung Kuliah dan Musholla 2) Pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor : Renovasi ruang perawatan. j. Program Pemeliharaan Sarana Prasarana RSJ 1) Pemeliharaan rutin/berkala alkes 2) Pemeliharaan rutin/berkala ambulance 3) Pemeliharaan rutin/berkala meubeler 3. Usulan Program Kerja Bersumber BLUD : Rencana Kerja RSJ Provinsi 2016 53

A. Program Kegiatan BLUD RSJ Mutiara Sukma a) Peningkatan kuantitas, kualitas dan profesionalisme SDM b) Penyelenggaraan pelayanan kesehatan jiwa sesuai standar c) Penyelenggaraan pelayanan Napza, HIV/AIDS d) Evaluasi pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal (SPM) e) Pemeliharaan dan pengadaan sarana prasarana f) Publikasi, kerjasama, pengembangan SIM RS dan utilisasi sarana/prasarana/alat dalam rangka peningkatan pendapatan B. Rincian Pembiayaan BLUD I. Biaya Operasional A. Biaya Pelayanan 1. Biaya Pegawai 1.1. Gaji dan tunjangan pegawai non PNS 2. Biaya Bahan 2.1. Biaya obat 2.2. Biaya Alkes 2.3. Biaya bahan dan alat psikometri,poli anak 2.4. Biaya bahan makanan 3. Biaya Jasa Pelayanan 3.1. Biaya jasa pelayanan medik dan non medik 4. Biaya Pemeliharaan 4.1. Biaya pemeliharaan dan kalibrasi 4.2. Biaya pemeliharaan alat medis/kedokteran 5. Biaya Barang dan Jasa 5.1. Biaya linen 5.2.Biaya cetakan rekam medis,penerimaan, gizi dan psikometri 6. Biaya lain-lain 6.1. Biaya pengurusan dan penyelesaian jamkesmas/da dll Rencana Kerja RSJ Provinsi 2016 54

B. Biaya Umum Dan Administrasi 1. Biaya Pegawai 1.1. Gaji dan tunjangan pegawai non PNS 1.2. Biaya pendidikan dan pelatihan 1.3. Biaya penyusunan Pergub, Dokumen kinerja dan lembur 2. Biaya Administrasi Umum 2.1. Biaya benda pos dan pengiriman 2.2. Biaya ATK 2.3. Biaya cetakan dan penggandaan/copy 2.4. Biaya pakaian dinas/kerja 2.5. Biaya makan minum rapat 2.6. Biaya makan minum tamu 2.7. Biaya lelang 2.8. Biaya langganan media/suratkabar/majalah 2.9. Biaya dokumentasi 2.10. Biaya perjalanan dinas/rakor 2.11. Biaya honoarium panitia 2.12. Biaya honorarium keuangan dan perlengkapan 2.13. Biaya jasa administrasi dan teknis perkantoran 2.15 Biaya keanggotaan 3. Biaya Pemeliharaan 3.1. Biaya pemeliharaan rumdis dan gedung RS 3.2. Biaya pemeliharaan instalasi/jaringan 3.3. Biaya pemeliharaan alat transportasi 3.4. Biaya pemeliharaan teknologi informasi 3.5. Biaya pemeliharaan alat kantor dan RT 3.6. Biaya pemeliharaan perlengkapan RS/kantor 3.7. Biaya pemeliharaan lainnya 4. Biaya Barang dan Jasa 4.1. Biaya bahan dan alat kebersihan 4.2.Biaya bahan bakar minyak Rencana Kerja RSJ Provinsi 2016 55

4.3. Biaya bahan gas untuk dapur 4.4. Biaya bahan dan alat dapur/pantry 4.5. Biaya pengisian tabung pemadam kebakaran 4.6. Biaya persediaan listrik/elektronik/air 4.8. Biaya peralatan kerja/pertukangan/bangunan 4.10. Biaya jasa langganan listrik/air/telp/internet 4.11. Biaya bahan dan jasa kebersihan dan cleaning service 4.12. Biaya pembinaan mental aparatur 4.13. Biaya pembinaan imtaq aparatur 4.14.Biaya jasa administarasi perencanaan BLUD 4.15.Biaya perlengkapan gedung kantor 4.15. Biaya perlengkapan Rumahtangga RS 4.16. Biaya pengurusan izin 5. Biaya Promosi 5.1. Biaya pemasaran dan publikasi 5.2. Biaya survei 6. Biaya lain-lain 6.1. Biaya premi asuransi 6.2. Biaya sosial/bencana/plakat dll 6.3. Biaya hari-hari besar 6.5. Biaya pemeriksaan radiasi radiografer II. Biaya Non Operasional III. Biaya Pengeluaran Investasi 1. Pembangunan gedung rumah sakit 2. Pengeluaran peralatan dan mesin a. Pengeluaran alat kedokteran/kesehatan b. Pengeluaran alat kantor dan RT c. Pengeluaran alat perlengkapan RS d. Pengeluaran mebeuler e. Pengeluaran komputer dan printer Rencana Kerja RSJ Provinsi 2016 56

4. Usulan Rencana Program Kerja Bersumber APBN: a. Usulan Dana Alokasi Khusus (DAK) : 1) Renovasi dan perluasan ruang perawatan kelas III 2) Pengadaan tempat tidur dan peralatan kelas III Tabel 3.3. Program Kegiatan RSJ Mutiara Sukma Bersumber APBD dan BLUDTahun 2017 SASARAN PROGRAM KEGIATAN Terwujudnya administarasi umum perkantoran yang tertib Tersedia ruang perawatan dan perkantoran yang layak dan sesuai fungsi ruang Terkirimnya tenaga untuk peningkatan kompetensi dan profesionalisme Terwujudnya pengelolaaan administrasi keuangan yang tertib, tersusunnya dokumen perencanaan yang tepat waktu dan akurat serta tersedia data dan informasi kinerja yang valid Tersedianya pelayanan kesehatan yang memadai, mudah diakses dan sesuai daya beli masyarakat Pelayanan administrasi perkantoran Peningkatan sarana prasarana aparatur Peningkatan kapasitas SD aparatur Program peningkatan pengembangan sistim capaian kinerja dan keuangan Upaya kesehatan masyarakat Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik Penyediaan jasa administrasi keuangan Penyediaan jasa administrasi dan teknis perkantoran Pengadaan alat listrik dan elektonik Pembangunan gedung kantor Pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor Pendidikan dan pelatihan formal Penyusunan laporan kinerja dan ikhtisar realisasi kinerja Penyusunan pelaporan keuangan akhir tahun Penyusunan rencana kerja Penyusunan RKA dan DPA Peningkatan kesehatan masyarakat Peningkatan dan penanggulangan masalah kesehatan SASARAN PROGRAM KEGIATAN Terakreditasinya RSJ sesuai versi 2012 Standarisasi pelayanan RS Penyusunan standar pelayanan kesehatan (sesuai standar Rencana Kerja RSJ Provinsi 2016 57

Tersedianya peralatan medis dan nonmedis yang layak dan sesuai standar Terpeliharanya peraqlatan medis dan nonmedis Terbentuknya citra positif dan terhapusnya stigma negatif terhadap RSJ Tercapainya standar sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM) Pengadaan, peningkatan sarana prasarana RS/RSJ Pemeliharaan sarana prasarana RS Kemitraan peningkatan pelayanan kesehatan Kebijakan dan manajemen kesehatan Peningkatan mutu pelayanan kesehatan BLUD akreditasi 2012) Pengadaan alat kesehatan Pengadaan obat-obatan Pengadaan meubeler Pengadaan perlengkapan rumahtangga RS Pengadaan logistik (makanan pasien) Pengadaan pencetakan administrasi dan surat RS Pemeliharaan rutin/berkala alat kesehatan Pemeliharaan rutin/berkala ambulance Pemeliharaan rutin/berkala meubeler Kemitraan asuransi kesehatan masyarakat Kemitraan pencegahan dan penanggulangan penyakit menular Kemitraan pengolahan limbah RS Kemitraan peningkatan kualitas dokter dan paramedis Kemitraan bagi pasien kurang mampu Kemitraan dengan media massa Penyusunan dokumen pelaporan survei SPM Pelayanan dan pendukung pelayanan BLUD Rencana Kerja RSJ Provinsi 2016 58

BAB IV INDIKATOR DAN TARGET 2017 Tahun 2017 rumah sakit jiwa telah berhasil diakreditasi dan dinyatakan lulus maka rumah sakit secara legal telah memperoleh pengakuan memiliki mutu pelayanan yang terstandar secara baik dan bermutu. Untuk memberikan pelayanan yang bermutu diperlikan indikator dan target-target untuk mengukur kinerja rumah sakit. Indikator dan target yang ingin dicapai RSJ Mutiara Sukma di tahun 2017 dan sesuai Renstra 2013-1018 adalah peningkatan pada indikator kinerja pelayanan maupun keuangan. Indikator pelayanan antara lain visite rate, Bed Occupancy Rate (BOR), penanganan pasung, HIV/IDS, dan Napza, sedangkan indikator keuangan dilihat dari pencapaian realisasi anggaran dan peningkatan pendapatan. Untuk lengkapnya, berikut indikator dan target yang diharapkan tercapai oleh RSJ Provinsi di tahun 2017 : Rencana Kerja RSJ Mutiara Sukma 2017 64

Tabel 4.1. Indikator Dan Target RSJ Mutiara Sukma Tahun 2017 PROGRAM KEGIATAN KELOMPOK SASARAN Penyediaan jasa Mitra RSJ/ komunikasi, sumber Stakeholder daya air dan listrik Program pelayanan administrasi perkantoran Penyediaan jasa administrasi keuangan Penyediaan jasa administrasi dan teknis perkantoran Pegawai bagian keuangan RSJ Pegawai PTT/ Dokter Spesialis INDIKATOR OUTPUT Jumlah kegiatan penyediaan jasa komunikasi, sumber daya dan listrik terlaksana Jumlah kegiatan penyediaan jasa administrasi keuangan terselenggara Jumlah kegiatan penyediaan jasa administrasi dan teknis perkantoran terlaksana TARGET 1 keg (12 bln) 1 keg (12 bln) 1 keg (12 bln) BULAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V Program peningkatan sarana dan prasarana aparatur Pembangunan gedung kantor (VIP, gedung kuliah dan Musholla) Pasien jiwa dan masyarakat umum Jumlah gedung yang dibangun 2 pkt V V V V V V V V V Rencana Kerja RSJ Mutiara Sukma 2017 65

PROGRAM KEGIATAN Pemeliharaan rutin/ berkala gedung kantor (VCT, Narkoba dan ECT) KELOMPOK SASARAN Pasien jiwa, Napza, HIV/AIDS dan masyarakat umum INDIKATOR Jumlah gedung dipelihara TARGET BULAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 2 pkt V V V V V V V V V Program peningkatan kapasitas SD aparatur Pendidikan dan pelatihan formal Pegawai RSJ % pegawai yang mengikuti atau terpapar pelatihan dan pendidikan lanjut 85% V V V V V V V V V V V V Program peningkatan pengembangan sistim capaian kinerja dan keuangan Penyusunan laporan kinerja dan ikhtisar realisasi kinerja Penyusunan pelaporan keuangan akhir tahun Penyusunan rencana kerja Penyusunan RKA dan DPA Pegawai RSJ dan lintas sektor Pegawai RSj dan lintas sektor Pegawai RSJ dan lintas sektor Pegawai RSJ dan lintas sektor Jumlah dokumen laporan kinerja tersusun Jumlah dokumen laporan keuangan tersusun Jumlah dokumen rencana kerja tersusun Jumlah dokumen RKA dan DPA tersusun 2 dok V V V V V V V V V V V V 1 dok V 1 dok V 3 dok V V V V V V V V V V V V Program Upaya Kesehatan Masyarakat Peningkatan kesehatan masyarakat Pasien jiwa, Napza,HIV/AIDS dan masyarakat umum % pasung tertangani % gangguan jiwa tertangani % BOR % Napza tertangani 100% 100% 85% 100% V V V V V V V V V V V V Rencana Kerja RSJ Mutiara Sukma 2017 66

PROGRAM KEGIATAN KELOMPOK SASARAN Peningkatan dan RSJ, penanggulangan lintassektor dan masalah kesehatan mitra kerja INDIKATOR % HIV/AIDS tertangani % korban bencana gangguan jiwa, dropping, hotline layanan krisis terlayani TARGET 100% 100% BULAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V Program standarisasi pelayanan RS Penyusunan standar pelayanan kesehatan RSJ dan lintas sektor % dokumen akreditasi tersusun sesuai pokja 80% V V V V V V V V V V V V Program pengadaan, peningkatan sarana dan prasarana RSJ Pengadaan Alkes (APBD, DAK) Pengadaan obatobatan RS Pengadaan meubeler Pengadaan perlengkapan RS Pengadaan logistik (makanan pasien) RSJ, lintas sektor dan mitra kerja RSJ, lintas sektor dan mitra kerja RSJ RSJ RSJ Jumlah kegiatan pengadaan alkes dilaksanakan Jumlah kegiatan pengadaan obatobatan dilaksanakan Jumlah kegiatan pengadaan meubeler dilaksanakan Jumlah kegiatan pengadaan perlengkapan RS dilaksanakan Jumlah kegiatan pengadaan makanan pasien dilaksanakan 1 keg (3 pkt) 1 keg (12 bln) V V V V V V V V V V V V V V V V 1 keg V V V V V V V V V V V V 1 keg V V V V V V V V V V V V 1 keg V V V V V V V V V V V V Rencana Kerja RSJ Mutiara Sukma 2017 67

PROGRAM KEGIATAN Pengadaan pencetakan administrasi dan surat RS KELOMPOK SASARAN RSJ INDIKATOR Jumlah kegiatan pengadaan pencetakan administrasi RS terselenggara TARGET BULAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 keg V V V V V V V V V V V V Program pemeliharaan sarana prasarana RS Pemeliharaan rutin/berkala alat kesehatan Pemeliharaan rutin/berkala ambulance Pemeliharaan rutin/ berkala meubeler RSJ RSJ RSJ Jumlah kegiatan pemeliharaan alat terselenggara Jumlah kegiatan pemeliharaan ambulance terselenggara Jumlah kegiatan pemeliharaan meubeler terselenggara 1 keg V V V V V V V V V V V V 1 keg V V V V V V V V V V V V 1 keg V V V V V V V V V V V V Program kemitraan peningkatan pelayanan kesehatan Kemitraan asuransi kesehatan masyarakat Kemitraan pencegahan dan penanggulangan penyakit menular Kemitraan pengolahan limbah RS RSJ dengan mitra kerja RSJ dengan mitra kerja RSJ dengan mitra kerja Jumlah dokumen kesepakatan bersama terealisasi Jumlah dokumen kesepakatan bersama terealisasi Jumlah dokumen kesepakatan bersama terealisasi 7 kesepakatan 1 kesepakatan 20 kesepakatan V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V Rencana Kerja RSJ Mutiara Sukma 2017 68

PROGRAM KEGIATAN Kemitraan peningkatan kualitas dokter dan paramedis Kemitraan bagi pasien kurang mampu Kemitraan dengan media massa KELOMPOK SASARAN RSJ dengan mitra kerja RSJ dengan mitra kerja RSJ dengan mitra kerja INDIKATOR Jumlah dokumen kesepakatan bersama terealisasi Jumlah dokumen kesepakatan bersama terealisasi Jumlah dokumen kesepakatan bersama terealisasi TARGET 15 kesepakatan 1 kesepakatan 5 kesepakatan BULAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V Program kebijakan dan manajemen kesehatan Program peningkatan mutu pelayanan kesehatan BLUD Penyusunan dokumen pelaporan survei SPM Pelayanan dan pendukung BLUD 1. Biaya pegawai BLUD a. Gaji dan tunjangan pegawai non PNS b. Biaya pendidikan dan pelatihan c. Biaya penyusunan pergub dan dok kinerja Pasien dan masyarakat umum Jumlah dokumen laporan survei tersusun Cost recovery 100% SPM mencapai target 1 dok V 57% 100% V V V V V V V V V V V V Rencana Kerja RSJ Mutiara Sukma 2017 69

PROGRAM KEGIATAN KELOMPOK SASARAN 2. Biaya Barang dan jasa BLUD a. Biaya bahan (obat,alkes, psikometri dll) b. Biaya jasa pelayanan c. Biaya administrasi umum d. Biaya barang dan jasa e. Biaya pemeliharaan f. Biaya promosi g. Biaya lain-lain INDIKATOR TARGET BULAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 3. Biaya investasi/modal BLUD a. Biaya pembelian tanah b. Biaya pembelian bangunan gedung c. Biaya peralatan dan mesin (alkes, kantor, mebeulerdll) Rencana Kerja RSJ Mutiara Sukma 2017 70

Rencana Kerja RSJ Mutiara Sukma 2017 71

BAB V DANA INDIKATIF, SUMBER DAYA DAN PRAKIRAAN MAJU BERDASARKAN PAGU INDIKATIF Sejak RSJ Mutiara Sukma menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah (PPK-BLUD) tahun 2012, pendanaan program kegiatan RSJ Mutiara Sukma mengalami perubahan. Berikut sumber pendanaan program kegiatan RSJ Mutiara Sukma yang telah disusun untuk tahun 2017 : a. Pendapatan Fungsional BLUD Pendapatan fungsional BLUD diperoleh dari pendapatan jasa layanan atau cost center RSJ Mutiara Sukma yakni pelayanan rawat jalan, rawat inap, IGD, diklit, psikometri, radiologi, pelayanan gigi dan mulut, pengolahan limbah padat dan pelayanan penunjang lainnya serta didukung oleh pendapatan lain-lain yang sah seperti kesepakatan bersama dengan instansi swasta atau perorangan dalam sewa lahan. Untuk tahun 2017, RSJ Mutiara Sukma menargetkan pendapatan dari fungsional BLUD sebesar Rp. 14.000.000.000,- yang digunakan untuk mendanai kegiatan operasional RSJ Mutiara Sukma termasuk pembayaran gaji dan tunjangan pegawai non PNS. b. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Pembiayaan yang bersumber dari APBD yang biasa disebut dana subsidi sebagian besar dipergunakan untuk membiayai kegiatan pelayanan kesehatan ekstramural (diluar gedung) sebagai bentuk komitmen Pemerintah Daerah dibidang pelayanan kesehatan jiwa dan belanja investasi guna peningkatan mutu dan perbaikan pelayanan sesuai standar yang ditetapkan secara nasional. Pembiayaan dari APBD dibedakan menjadi Belanja Tidak Langsung (BTL) yang digunakan untuk pembayaran gaji dan tunjangan PNS dan Belanja Langsung (BL) yang digunakan untuk belanja program Rencana Kerja RSJ Mutiara Sukma 2017 70

kesehatan jiwa dan investasi. Untuk tahun 2017, pagu RSJ Mutiara Sukma bersumber dari APBD subsidi adalah : - Belanja Tidak Langsung (BTL) sebesar Rp. 18.521.666.306,- - Belanja Langsung (BL) sebesar Rp. 30.887.699.000,- c. Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara (APBN) Selain dari pendapatan fungsional BLUD dan APBD subsidi, sumber lain pembiayaan program kegiatan RSJ Mutiara Sukma adalah APBN dalam bentuk Dana Alokasi Khusus (DAK) yang difokuskan pada belanja investasi ruang perawatan kelas III. Untuk tahun 2017 RSJ Mutiara Sukma mengusulkan dana DAK untuk pembangunan ruang kelas III (ruang VC, Narkoba dan Bangsal Anak) sebesar Rp. 15.775.426.590,- SUMBER DAYA DAN UPAYA PENINGKATAN PENDAPATAN BLUD : Penerapan PPK-BLUD merupakan upaya institusi pemerintah yang memberikan jasa termasuk RSJ Mutiara Sukma untuk memberikan pelayanan lebih berkualitas dan memuaskan pelanggan. Program kegiatan yang disusun merupakan upaya RSJ Mutiara Sukma dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan dan memuaskan pelanggan yang diharapkan akan berpengaruh positif terhadap brandimage dan pendapatan Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma. Berikut strategi penjualan dan promosi dalam rangka meningkatkan pendapatan RSJ Mutiara Sukma : i. Menjalin dan melanjutkan kemitraan dengan berbagai pihak dalam pemanfaatan sarana prasarana ii. Pengembangan pelayanan non perawatan iii. Meningkatkan promosi RSJ melalui : 1. Seminar, simposium dan pameran 2. Penyebaran leaflet, buletin, poster, booklet dll 3. Penyuluhan tenaga dan kader kesehatan Rencana Kerja RSJ Mutiara Sukma 2017 71

4. Penyuluhan kepada masyarakat umum, anggota LSM, pesantren ormas dll 5. Temu konsultasi kesehatan jiwa, napza dan HIV/AIDS 6. Pelayanan integrasi ke seluruh RS dan Puskesmas se-ntb, home visite dan mobile clinic 7. Pelayanan masyarakat miskin (dropping) 8. Website dan internet 9. Radio, TV, surat kabar dan media massa lainnya iv. Meningkatkan kualitas ruang perawatan v. Melakukan kerjasama dengan pihak luar (badan hukum/perorangan) dalam rangka pemberdayaan sumber daya rumah sakit meliputi : 1. Kontrak tenaga ahli : dokter spesialis, akuntan dll 2. Pelayanan psikologi/psikometri sekolah, tes pejabat dll 3. Pelayanan laboratorium klinik 4. Pelayanan radiologi 5. Konsultasi Gizi 6. Pengelolaan lahan pertanian 7. Pelayanan Laundry 8. Pengelolaan limbah padat dan cair Penerapan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah (PPK-BLUD) yang telah berkontribusi nyata dan sangat signifikan terhadap pelaksanaan program kegiatan RSJ Mutiara Sukma, terlihat dari pencapaian kinerja pelayanan maupun keuangan RSJ Mutiara Sukma. Pencapaian kinerja pelayanan dapat dilihat dari peningkatan angka kunjungan, Bed Occupancy Rate yang mencapai standar nasional dan penunjukkan RSJ Mutiara Sukma sebagai pilot project pelayanan kesehatan jiwa kelas B di Indonesia. Sedangkan pencapaian kinerja keuangan terlihat dari peningkatan pendapatan yang cukup signifikan setiap tahunnya. Berikut gambaran pendanaan indikatif program kegiatan RSJ Mutiara Sukma dan prakiraan maju berdasarkan pagu indikatif : Rencana Kerja RSJ Mutiara Sukma 2017 72

NO Tabel 5.1. Dana Indikatif Program Kegiatan RSJ Mutiara Sukma Tahun 2017 dan Prakiraan Maju Berdasarkan Pagu Indikatif (Prakiraan tahun 2018) SUMBER PEMBIAYAAN PAGU INDIKATIF TAHUN 2017 (Rp) PRAKIRAAN MAJU/ PRAKIRAAN TAHUN 2018 (Rp) 1 Pendapatan fungsional BLUD 14.000.000.000 16.000.000.000 2 3 APBD : Belanja Tidak Langsung (BTL) 18.521.666.306 19.632.966.284 Belanja Langsung (BL) 39.498.034.000 31.211.456.000 APBN Dana Alokasi Khusus (DAK) 6.302.419.700 9.203.454.000 TOTAL 78.322.120.006 76.047,876.284 Rencana Kerja RSJ Mutiara Sukma 2017 73

BAB VI SUMBER DANA YANG DIBUTUHKAN UNTUK MENJALANKAN PROGRAM DAN KEGIATAN Pada bab sebelumnya telah diuraikan tentang sumber pendanaan untuk melaksanakan program kegiatan RSJ Mutiara Sukma yakni pendanaan yang bersumber dari pendapatan fungsional BLUD, APBD subsidi dan APBN serta upayaupaya yang dilakukan untuk meningkatkan pendapatan fungsionalnya. Untuk pendapatan fungsional BLUD sangat tergantung dari pencapaian hasil pelayanan dan besaran tarif pelayanan yang ditetapkan. Untuk tahun 2017 RSJ Mutiara Sukma menetapkan target pendapatannya sebesar Rp. 14.000.000.000,- yang akan digunakan untuk pembiayaan operasional, sedangkan pembiayaan untuk program kesehatan jiwa dan investasi sebagian besar bersumber dari APBD subsidi dan sebagian dari dana APBN. Berikut program kegiatan RSJ Mutiara Sukma untuk tahun 2017 beserta sumber dana yang dibutuhkan serta prakiraan maju berdasarkan pagu indikatif program kegiatan RSJ Mutiara Sukma tahun 2018 : Rencana Kerja RSJ Mutiara Sukma 2017 62

BAB VII PENUTUP Renja RSJ Mutiara Sukma disusun sebagai pedoman bagi RSJ Mutiara Sukma dan juga bagi semua pemangku kepentingan yang terlibat dalam melaksanakan pembangunan kesehatan jiwa 1 (satu) tahun kedepan. Dalam Rencana Kerja (Renja) tahun 2017 RSJ Mutiara Sukma termuat prioritas kerja, usulan program kegiatan yang bersumber dari subsidi APBD, BLUD dan APBN beserta indikator dan target yang akan dicapai. Renja tahun 2017 juga memuat evaluasi hasil kinerja tahun sebelumnya dan prakiraan maju berdasarkan pagu indikatif. Untuk tahun 2017, total pagu indikatif RSJ Mutiara Sukma adalah Rp.79.094.413.406 terdiri dari Belanja Tidak Langsung (BTL) Rp.18.521.666.306 dan Belanja Langsung (BL) Rp.46.572.747.100 Belanja Langsung sudah termasuk usulan Dana Alokasi Khusus (DAK) dan BLUD. Ada 2 (dua) target penting yang hendak dicapai RSJ Mutiara Sukma di tahun 2017 yakni Pelaksanaan evaluasi lanjutan Akreditasi Versi 12 dan meningkatkan pelayanan ekstamural dalam upaya mendukung Program Generasi Emas Pemerintah Daerah Provinsi NTB. Selain target tersebut, RSJ Mutiara Sukma juga menargetkan adanya peningkatan kunjungan pasien, BOR yang mencapai standar nasional dan peningkatan pada realisasi anggaran dan pendapatan. Rencana kerja akan tercapai sesuai perencanaan apabila didukung oleh komitmen penuh, tanggung jawab dan inovasi dalam melaksanakannya. Program kegiatan yang tertuang dalam Renja ini adalah bentuk komitmen dan kontribusi RSJ Mutiara Sukma NTB dibidang kesehatan khususnya bidang kesehatan jiwa. Tidak ada kesehatan tanpa kesehatan jiwa. 68