BAB V ANALISIS Bab ini berisi tentang analisis yang dilakukan pada pengolahan data yang telah diolah. Pada bab ini berisi mengenai analisis SCOR (Supply Chain Operation Reference) dan analisis desain traceability. 5.1. Analisis SCOR (Supply Chain Operation Reference) Pengolahan data SCOR level 1 menghasilkan kendala yang berkaitan dengan traceability dalam rantai pasok ekspor tersebut. Kendala traceability yang ditemukan pada eksportir 17 atau 61% kendala, 5 kendala atau 18% pada petani, 4 kendala atau 14% pada pengepul, dan 2 kendala atau 7% pada distributor luar negeri. Permasalahan traceability terbanyak terjadi pada eksportir dikarenakan aktivitas pengolahan produk banyak dilakukan oleh eksportir. Pengolahan produk mulai dari supplier yang bekerjasama hingga pengiriman ke pembeli dilakukan dan diatur oleh eksportir. Eksportir banyak memiliki permasalahan terkait traceability khususnya pada proses manajemen source dan make. Proses manajemen source memiliki permasalahan yang berhubungan dengan supplier. Permasalahannya yaitu informasi yang berhubungan dengan komoditas hasil panen tidak dikelola informasinya dengan baik. Penyebab utama permasalah tersebut yaitu kontrol yang lemah dari perusahaan dan himbauan atau arahan yang diberikan perusahaan tidak dilakukan supplier khususnya petani yang bekerjasama. Kontrol yang dilakukan perusahaan tidak memiliki dokumentasi informasi mengenai perlakuan yang dilakukan petani selama tanam, sehingga perusahaan tidak dapat menganalisa dengan baik tindakan petani. Arahan yang diberikan perusahaan terkadang tidak dilakukan oleh petani yang bekerjasama dikarenakan petani memiliki pendekatan atau pemikiran tersendiri dalam proses tanam. Proses manajemen make memiliki permasalahan berhubungan dengan pengolahan produk di perusahaan. Eksportir dalam melakukan pengolahan produk masih menggunakan sistem pencatatan manual dan spreadsheet. Pencatatan manual menggunakan dokumen atau kertas digunakan pada saat barang diterima V-1
hingga stasiun pengemasan, tidak hanya itu pencatatan manual pada saat pengembalian barang juga dilakukan. Spreadsheet dibuat digunakan sebagai dokumentasi dari pencatatan manual yang dibuat. Dari kedua permasalahan tersebut terlihat bahwa pencatatan yang dilakukan menghabiskan waktu dan rentan terjadi kesalahan. Pencatatan manual dapat mengakibatkan kesalahan seperti pembacaan dan penulisan. Pencatatan kembali dengan spreadsheet membutuhkan waktu dan penataan yang baik pada bagian entitas (seperti nama supplier, komoditas, dan lainnya), sehingga dapat mudah dibaca atau dicari informasi yang dibutuhkan. Proses pencatatan tersebut mengakibatkan aliran informasi cenderung lama dan dapat terjadi kesalahan dalam pembacaan atau penulisan yang dapat merugikan perusahaan. Level 2 pendekatan SCOR dapat diketahui aktivitas eksportir pada tiga tipe proses dan proses manajemen. Aktivitas dari perusahaan sudah sesuai dengan standar operasi produksi (SOP), namun belum menunjang adanya sistem traceability khususnya pada proses manajemen source dan make. Perencanaan aktivitas perusahaan lebih mempersiapkan untuk mencukupi pesanan atau pemenuhan produk. Tindakan aktivitas perusahaan juga difokuskan untuk memenuhi target produksi. Aktivitas proses manajemen source memperlihatkan antara perusahaan dan supplier memiliki kerjasama yang berfokus pada pemenuhan hasil produksi. Proses manajemen make menujukkan bahwa aktivitas perusahaan tidak menunjang pengelolaan informasi melainkan hanya menunjang produksi. Antara perusahaan dan supplier tidak terdapat aktivitas pengelolaan informasi. Informasi yang diberikan dari supplier ke eksportir maupun sebaliknya dilakukan secara sederhana. Penukaran informasi dilakukan hanya melalui percakapan dan tidak didokumentasikan. Proses pengelolaan hasil panen dalam perusahaan dilakukan dengan alat produksi yang memadai, namun alat penunjang pencatatan informasi masih sederhana. Informasi dalam perusahaan dicatatakan menggunakan dokumen dan spreadsheet. Disimpulkan dari kedua proses pendekatan SCOR maka diperlukan pembuatan desain traceability dalam rantai pasok sayur french beans. Desain V-2
traceability yang akan dibuat akan berfokus pada proses manajemen source dan make eksportir. Pemakaian teknologi akan digambarkan sebagai penunjang sistem traceability rantai pasok french beans. Pengumpulan dan pengolahan data tentang gambaran umum perusahaan dan struktur rantai pasok telah dilakukan dalam penelitian ini. Namun, keterbatasan dalam pengumpulan data untuk menganalisis kinerja rantai pasok menjadi kekurangan dalam penelitian ini. Data untuk menganalisis kinerja rantai pasok seperti trend produksi, neraca keuangan, dan daftar nama pemasok diperlukan dalam penelitian lebih lanjut. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengukur atribut kinerja pendekatan SCOR. Atribut kinerja dalam pendekatan SCOR yaitu supply chain reliability, supply chain responsiveness, supply chain costs, dan supply chain asset management. Perhitungan atribut kinerja pendekatan SCOR dapat dilakukan menggunakan Perfect Order Fulfillment (POF), Order Fulfillment Cycle-Time (OFCT), Cost of Good Sold (COGS), dan Cash-to-cash cycle time (CTCCT). 5.2. Analisis Desain Traceability Perubahan desain sistem traceability dilakukan dalam penelitian ini lebih memfokuskan pada kedua proses manajemen source dan make dari eksportir. Aktivitas dalam proses manajemen source berhubungan dengan pengumpulan informasi dari supplier. Pencatatan informasi yang berkaitan dengan supplier sebelum pendesainan hanya dilakukan secara sederhana dengan mencatatkan nama dan jumlah hasil panen saat pengiriman. Sedangkan perubahan dilakukan dengan penambahan aktivitas dalam pendesainan yang baru untuk pengumpulan informasi secara detail dari supplier. Aktivitas yang ditambahkan berupa pembuatan standart operational proses penanaman petani dan standart operational proses untuk supplier. Tindakan yang dilakukan untuk mendukung aktivitas traceability tersebut dengan pengumpulan informasi menggunakan paper base traceability pada supplier yaitu petani dan pengepul. Supplier menggunakan paper base traceability dikarenakan supplier yang menjadi rekanan masih memiliki keterbatasan dalam penggunaan teknologi. V-3
Dalam kasus pertanian kecil, sebuah sistem paper base traceability yang efisien (bentuk sederhana seperti formulir traceability) memungkinkan untuk secara efektif melacak produk, yang menunjukkan bahwa tidak ada kebutuhan untuk memperkenalkan sistem traceability mahal dan rumit di tingkat petani (Bohana, 2010). Paper base traceability yang diberikan pada petani digunakan sebagai dokumen traceability. Dalam paper base traceability terdapat formulir-formulir yang wajib diisikan oleh petani maupun pengepul. Formulir-formulir yang diisikan berkaitan dengan aktivitas petani selama penanaman, mulai dari pembibitan hingga panen dilakukan. Dengan adanya dokumen tersebut perusahaan dapat dengan jelas mengontrol treatment dan cara perlakuan yang dilakukan petani dalam mengolah tanaman serta perusahaan mampu secara jelas menginvestigasi bila terjadi permasalahan kontaminasi pada sayuran. Melalui formulir-formulir tersebut juga dapat menjadi dokumentasi dan alat untuk analisis perusahaan dalam mengontrol supplier. Perubahan dan penambahan aktivitas juga terjadi pada proses manajemen make. Sebelum pendesainan proses produksi di dalam perusahaan menggunakan pencatatan manual pada setiap stasiun. Pencatatan manual tersebut menimbulkan permasalahan. Penambahan teknologi pada pendesainan sistem traceability di perusahaan dilakukan untuk mengurangi permasalahan yang terjadi. Pendesainan menggambarkan penerapan teknologi RFId dan barcode pada proses produksi perusahaan. Penerapan teknologi RFId digunakan mulai saat pengambilan hingga penyimpanan produk. Reuse tag digunakan untuk mencatatkan kode identitas dan informasi sederhana mulai dari penagambilan hasil panen. Informasi yang dicatatkan akan diunggah melalui aplikasi sistem ke database perusahaan. Pelabelan produk digunakan sistem barcode untuk mencatatkan kode identifikasi produk yang dikemas. Informasi dari kode produk pada label kemasan akan diunggah dan dibagikan oleh perusahaan melalui internet ke dalam database distributor luar negeri. V-4
Aktivitas Produksi Penerimaan dan penimbangan Penyortiran Penyimpanan Pengemasan dan pelabelan Tabel 5.1 Perbandingan aktivitas sistem produksi lama dan sistem baru dengan penambahan teknologi RFId dan Barcode Sistem Lama Pencatatan pada buku log book Penimbangan Pencatatan hasil pada slip proses produksi (SPP) sementara Pemindahan catatan SPP ke stasiun berikutnya Pengambilan SPP dari stasiun penimbangan Penyortiran Pencatatan hasil sortir pada slip proses produksi Pemindahan catatan SPP ke stasiun berikutnya atau administrasi Pengambilan SPP dari stasiun penyortiran Pencatatan tanggal masuk Pencatatan tanggal keluar Pemindahan catatan SPP ke stasiun berikutnya atau administrasi Pencatatan pada dokumen sementara Sistem baru dengan penambahan teknologi Scaning tag Penimbangan Pencatatan hasil dalam aplikasi Scanning tag Pernyortiran Pencatatan hasil sortir dalam aplikasi Scanning tag Pencatatan tanggal masuk ke aplikasi Pencatatan tanggal keluar ke aplikasi Scanning tag Pengemasan Pengemasan Pelabelan Pencetakan label barcode Pemindahan catatan ke Pelabelan administrasi Administrasi Pencatatan SPP dalam Pencetakan SPP spreadsheet Pencetakan SPP Pencetakan surat jalan Pencatatan ulang dokumen produksi Pencetakan surat jalan Pengiriman Pengambilan surat jalan Pengambilan surat jalan Pengecekkan ulang secara manual Pengecekan dengan scanning barcode V-5
Tabel 5.1. menunjukkan perbandingan aktivitas sistem lama dengan aktivitas sistem baru. Dengan adanya penambahan sistem traceability dan penerapan teknologinya dapat mengurangi aktivitas yang berkaitan dengan pencatatan dalam produksi. Permasalahan seperti pengontrolan produksi dalam perusahaan secara langsung dapat dilakukan juga oleh manager maupun kepala produksi melalui aplikasi sistem, sehingga pengecekan produksi lebih cepat dan mudah. Pencatatan melalui aplikasi sistem dan penggunaan teknologi sistem traceability mempercepat jalannya produksi. Informasi yang ada tidak perlu dicatatkan kembali menggunakan pencatatan manual, sehingga dapat mengurangi waktu dan kesalahan saat pencatatan. Pencatatan dan pengaturan kategori dalam spreadsheet tidak perlu dilakukan karena dengan sistem traceability yang memakai teknologi dan aplikasi sistemnya dapat mengatur informasi lebih baik dan tertata. Adanya pendesaian sistem traceability pada penelitian ini menjawab permasalahan traceability pada proses manajemen source dan make eksportir. Permasalahan dalam manajemen source seperti tidak adanya kontrol perusahaan, kelengkapan informasi asal usul hasil panen, dan kualitas sayur yang tidak sesuai dapat diselesaikan dengan pencatatan dokumen kelengkapan untuk supplier. Penerapan teknologi serta desain traceability-nya membantu proses produksi dalam perusahaan. Dengan adanya sistem dan teknologi tersebut permasalahan proses manajemen make mengenai pencatatan informasi yang masih manual, perpindahan informasi yang tidak cepat, kontrol dalam informasi produksi yang susah, dan keakuratan dalam melakukan proses produksi dapat dikurangi. Hasil dari penelitian ini perlu diimplementasikan untuk mengetahui seberapa besar manfaat yang didapat dari desain tersebut seperti halnya pada penelitian Alfaro dan Rabade (2009). Penelitian tersebut telah mengimplementasikan sistem traceability yang menunjukkan adanya peningkatan dari sisi pasokan, produksi, pergudangan, dan distribusi. Secara konseptual penelitian yang dilakukan ini memiliki keunggulan yaitu desain traceability secara spesifik pada supplier dibandingkan penelitian Evizal dkk., (2014). Desain traceability yang dilakukan oleh Evizal dkk., (2014) V-6
secara garis menggambarkan penggunaan teknologi RFID yang mampu memanajemen informasi sehingga dapat diakses oleh forwarder, retailer, dan konsumen. Pendesaianan sistem traceability dan teknologi RFID pada penelitian ini memiliki keuntungan yang dapat menjawab permasalahan yang terjadi pada eksportir. Tetapi diperlukan pengkajian lebih lanjut mengenai kinerja dan implementasi sistem traceability dan teknologi RFID. Pengkajian tersebut perlu dilakukan karena dalam mengembangkan dan mengimplementasikan sistem traceability merupakan tugas mahal dan rumit yang dapat menyebakan masalah keuangan (Bohana, 2010). V-7