III. METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian Pengaruh Perlakuan Bahan Pengisi Kemasan terhadap Mutu Fisik Buah Pepaya Varietas IPB 9 (Callina) Selama Transportasi dilakukan pada bulan Maret hingga Mei 2011 yang berlokasi di Laboratorium Teknik Pengolahan Pangan dan Hasil Pertanian (TPPHP) dan Laboratorium Lingkungan dan Bangunan Pertanian (LBP), Departemen Teknik Mesin dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, IPB, Bogor. B. Bahan dan Alat 1. Bahan Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas bahan baku utama dan bahan tambahan lainnya. Bahan baku utama yang digunakan adalah pepaya jenis hermaprodit, karton/ kardus sebagai kemasan selama pengangkutan. Pepaya yang digunakan merupakan pepaya varietas IPB 9 (Callina) yang diperoleh dari petani pepaya daerah Gadog binaan Pusat Kajian Buah Tropika (PKBT) Tajur, Bogor. Bahan lain yang digunakan berupa bahan pengisi kemasan, yaitu: kertas koran yang digunakan untuk membungkus tiap satuan pepaya IPB 9 (Callina), dan kardus berpola, cacahan kertas koran, lembaran dan cacahan spons/ gabus untuk penyekat dan penopang buah yang tersusun vertikal dan horizontal. 2. Alat Peralatan yang digunakan terdiri atas meja simulator untuk simulasi transportasi buah pepaya, refractometer untuk mengukur kandungan total padatan terlarut (TPT), timbangan mettler untuk mengukur susut bobot, rheometer untuk mengukur kekerasan serta alat-alat lainnya yang menunjang terlaksananya penelitian ini. C. Prosedur Penelitian Prosedur penelitian yang dilakukan sebagai berikut: 1. Pepaya yang dipanen dari kebun, dibersihkan dan disortasi. Pepaya yang dipilih adalah pepaya jenis kelamin hermaprodit yang tidak memiliki kerusakan atau cacat pada kulit buahnya, dan memiliki umur petik yang seragam. Setelah itu dilanjutkan dengan pengamatan terhadap bobot, kekerasan, dan kandungan total padatan terlarut (TPT). 2. Sebelum dilakukan pengemasan, pepaya dicuci dengan dengan air untuk menghilangkan getah dan kotoran lain yang menempel pada kulit pepaya, dan dikeringkan dengan kain lap dengan permukaan lembut. Pepaya kemudian dimasukkan ke dalam kemasan kardus karton kapasitas 30 kg sebanyak 8 buah kemasan. 3. Masing-masing kardus diberi perlakuan yang sama pada bahan pembungkus pepaya (kertas koran), perlakuan berbeda terjadi pada penggunaan kardus berpola,cacahan kertas koran, lembaran dan cacahan spons sebagai penyekat dan bahan pengisi serta penyusunan posisi buah di dalam kemasan kardus. 18
a. Kardus pertama, pepaya dibungkus dengan kertas koran dan dimasukkan ke dalam kemasan serta diberi bahan pengisi cacahan kertas koran diantara sela-sela posisi susunan buah agar buah tertopang dan tetap dalam posisinya. Posisi penyusunan buah secara horizontal dan terdiri dari 2 layer. b. Kardus kedua, pepaya dibungkus dengan kertas koran dan dimasukkan ke dalam kemasan serta diberi bahan pengisi cacahan kertas koran diantara sela-sela posisi susunan buah agar buah tertopang dan tetap dalam posisinya. Posisi penyusunan buah secara vertikal dengan tangkai buah berada di bawah. c. Kardus ketiga, pepaya dibungkus dengan kertas koran dan dimasukkan ke dalam kemasan serta diberi penyekat kardus yang berpola diantara sela-sela posisi susunan buah agar buah tertopang dan tetap dalam posisinya. Posisi penyusunan buah secara horizontal dan terdiri dari 2 layer. d. Kardus keempat, pepaya dibungkus dengan kertas koran dan dimasukkan ke dalam kemasan serta diberi penyekat kardus yang berpola diantara sela-sela posisi susunan buah agar buah tertopang dan tetap dalam posisinya. Posisi penyusunan buah secara vertikal dengan tangkai buah berada di bawah. e. Kardus kelima, pepaya dibungkus dengan kertas koran, kemudian dilapisi dengan lembaran spons dan dimasukkan ke dalam kemasan yang berisi cacahan spons diantara sela-sela posisi susunan buah agar buah tertopang dan tetap dalam posisinya. Posisi penyusunan buah secara horizontal dan terdiri dari 2 layer. f. Kardus keenam, pepaya dibungkus dengan kertas koran, kemudian dilapisi dengan lembaran spons dan dimasukkan ke dalam kemasan yang berisi cacahan spons diantara sela-sela posisi susunan buah agar buah tertopang dan tetap dalam posisinya. Posisi penyusunan buah secara vertikal dengan tangkai buah berada di bawah. g. Kardus ketujuh, karena akan dijadikan sebagai kemasan kontrol, maka pepaya hanya akan dibungkus dengan kertas koran dan kemudian dimasukkan ke kotak kardus. Posisi penyusunan buah secara horizontal dan terdiri dari 2 layer. h. Kardus ketujuh, karena akan dijadikan sebagai kemasan kontrol, maka pepaya hanya akan dibungkus dengan kertas koran dan kemudian dimasukkan ke kotak kardus. Posisi penyusunan buah secara vertikal dengan tangkai buah berada di bawah. 4. Kemasan kardus kemudian diatur di atas meja simulator. Simulasi transportasi dilakukan selama 1 jam. Pada arah vertikal dengan amplitudo 4.05 cm dan frekuensi 2.99 Hz. Gambar 10. Penyusunan karton di atas meja simulator 19
5. Setelah simulasi transportasi, dilakukan pengamatan terhadap kerusakan mekanis, susut bobot, perubahan total padatan terlarut, dan uji kekerasan dengan mengambil 2 sampel buah pepaya pada masing-masing kemasan. 6. Pepaya disimpan pada suhu ruangan selama 8 hari. Setiap dua hari sekali dilakukan pengamatan terhadap kerusakan buah pepaya. Adapun data-data yang diambil selama pengamatan adalah pengukuran dan pengamatan terhadap kerusakan mekanis, kekerasan, susut bobot, dan total padatan terlarut. Gambar diagram alir dari metode penelitian dapat dilihat pada Gambar 11. 20
Gambar 11. Diagram alir proses penelitian 21
D. Pengamatan 1. Kerusakan Mekanis Pengamatan terhadap tingkat kerusakan mekanis pepaya dilakukan sebelum dan setelah kegiatan transportasi dan selama masa penyimpanan. Pengamatan dilakukan dengan cara melihat kerusakan seperti luka gores, memar, dan pecah dari masing-masing kemasan. Kegiatan pengujian dilakukan secara visual. Persamaaan yang digunakan untuk menghitung kerusakan mekanis yang terjadi adalah: (1) Klasifikasi kerusakan pada pepaya sebagai berikut: 1. Luka memar, terjadi akibat adanya benturan antara produk dengan dinding alat pengemasan atau tekanan sesama produk. 2. Luka gores, terjadi akibat adanya gesekan antara produk dengan kemasan atau gesekan sesama produk. 3. Luka pecah, terjadi akibat tekanan yang terjadi dari arah vertikal maupun dari arah horizontal produk, selain itu juga dapat diakibatkan karena guncangan selama proses pengangkutan. 2. Kekerasan Uji kekerasan diukur berdasarkan tingkat ketahanan buah terhadap jarum penusuk dari rheometer. Alat diset pada kedalaman 10 mm dengan beban maksimum 10 kg dan diameter jarum 5 mm. Uji kekerasan dilakukan pada tiga titik yang berbeda, yaitu: bagian tengah, bagian ujung, dan bagian pangkal. Pengukuran dilakukan sebanyak dua kali ulangan pada masing-masing sampel dan kemudian dirata-ratakan nilainya. Bagian ujung Bagian tengah Bagian pangkal Gambar 11. Rheometer Gambar 12. Bagian-bagian buah pepaya 22
3. Susut Bobot Penurunan susut bobot dilakukan berdasarkan persentase penurunan berat bahan sejak sebelum dilakuakn simulasi transportasi, awal penyimpanan sampai akhir penyimpanan. Persamaan yang digunakan untuk menghitung susut bobot adalah sebagai berikut: (2) Dimana: W Wa = bobot bahan awal penyimpanan (gram) = bobot bahan akhir penyimpanan (gram) Gambar 13. Timbangan Mettler 4. Total Padatan Terlarut Pengukuran total padatan terlarut dilakukan dengan menggunakan refractometer. Pepaya dihancurkan kemudian dilakukan pengukuran kadar gula dengan meletakkan cairan daging buah yang telah dihancurkan pada prisma refractometer. Sebelum dan sesudah pembacaan, prisma refractometer dibersihkan dengan alkohol. Angka yang tertera pada refractometer menunjukkan kadar total padatan terlarut ( o Brix) yang mewakili rasa manis. Gambar 14. Hand Refractometer 23
E. Rancangan Percobaan Rancangan percobaan yang akan digunakan adalah rancangan acak lengkap dua faktorial dengan dua ulangan perlakuan pada tiap-tiap jenis pepaya. Faktor-faktor yang digunakan untuk masing-masing jenis pepaya adalah: A = Bahan pengisi kemasan A1 = menggunakan cacahan kertas koran A2 = menggunakan lembaran dan cacahan spons A3 = menggunakan sekat kardus A4 = tidak menggunakan bahan pengisi kemasan B = Teknik penyusunan buah pepaya dalam kemasan B1 = posisi horizontal B2 = posisi vertikal Dua faktor tersebut akan menghasilkan kombinasi-kombinasi perlakuan yaitu A1B1,A1B2,A2B1,A2B2,A3B1, A3B2, A4B1, A4B2. Model umum dari rancangan percobaan ini adalah: Y Dimana: A B ( AB) ijk1 i j ij IJ (3) Y ijk1 = Pengamatan pada perlakuan A ke-i dan B ke-j µ = nilai rata-rata harapan A i = perlakuan A ke-i B j = perlakuan B ke-j (AB) ij = interaksi A ke-i dan B ke-j ij Dengan: i j = pengaruh galat percobaan dari perlakuan A ke-i,b ke-j pada ulangan ke-l = 1,2,3,4 (bahan pengisi) = 1,2 (teknik pengemasan) Pengamatan dilakukan setiap dua hari sekali terhadap beberapa respon. Respon yang akan diamati, yaitu: (1) uji kekerasan, (3) kerusakan mekanis, (4) total padatan terlarut. Pada setiap respon akan diamati pengaruh dari kombinasi faktor yang diberikan sehingga akan diketahui apakah ukuran kemasan, jenis kemasan, posisi penyusunan komoditas pada kemasan dan jenis bahan pengisi akan berpengaruh terhadap tingkat kerusakan dan umur simpan pepaya. 24