HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 KAROTENOID PADA DAUN TEH

dokumen-dokumen yang mirip
1. Teh Hijau (Green Tea)

Gun Gun Gumilar, Zackiyah, Gebi Dwiyanti, Heli Siti HM Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA Universitas Pendidikan Indinesia

4. PEMBAHASAN 4.1. Warna Larutan Fikosianin Warna Larutan secara Visual

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. yang paling banyak dikonsumsi di dunia setelah air, dengan konsumsi per

HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tumbuhan yang akan diteliti dideterminasi di Jurusan Pendidikan Biologi

HASIL DAN PEMBAHASAN Penetapan Kadar Air Hasil Ekstraksi Daun dan Buah Takokak

TEKNOLOGI PENGOLAHAN TEH HIJAU

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kadar air = Ekstraksi

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilakukan dari bulan Agustus 2009 sampai dengan bulan

1. PROSPEK TEH HIJAU SEBAGAI INDUSTRI HILIR TEH

PENDAHULUAN. BAHAN DAN METODE Alat dan Bahan. Metode

Bab III Bahan dan Metode

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

III. METODOLOGI PENELITIAN

1. PENDAHULUAN Latar Belakang

PEMBAHASAN 4.1. Karakteristik Fisik Daya Larut

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1. Karakteristik teh hijau No Parameter SNI Menurut Nasution dan Tjiptadi (1975) 1 Keadaan - Rasa

DAFTAR ISI ABSTRAK... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... BAB I PENDAHULUAN... 1

PATEN NASIONAL Nomor Permohonan Paten :P Warsi dkk Tanggal Permohonan Paten:19 November 2013

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. (Pandanus amaryllifolius Roxb.) 500 gram yang diperoleh dari padukuhan

Lampiran 1. Identifikasi tumbuhan.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. kering, dengan hasil sebagai berikut: Table 2. Hasil Uji Pendahuluan

I PENDAHULUAN. masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Teh merupakan salah satu dari jenis produk minuman yang dikenal dan

BAB I PENDAHULUAN. nutrien untuk menumbuhkan bakteri yang diinginkan. Pembuatan kombucha, teh

Lampiran 1. Surat Identifikasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi-Bogor.

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

Bab IV Hasil dan Pembahasan. IV.2.1 Proses transesterifikasi minyak jarak (minyak kastor)

P E N D A H U L U A N

BAB I PENDAHULUAN Latar belakang

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Januari sampai Juni 2010 di Laboratorium

Lampiran 1. Surat identifikasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi-Bogor.

: Jamu Flu Tulang. Jamu. Jamu Metampiron. Metampiron ekstraksi. 1-bubuk. Jamu. 2-bubuk. Tabel 1 Hasil Reaksi Warna Dengan pereaksi FeCl3

4. PEMBAHASAN 4.1. Penelitian Pendahuluan Penentuan Konsentrasi Mikroenkapsulan

HASIL DAN PEMBAHASAN Persiapan dan Ekstraksi Sampel Uji Aktivitas dan Pemilihan Ekstrak Terbaik Buah Andaliman

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4:1, MEJ 5:1, MEJ 9:1, MEJ 10:1, MEJ 12:1, dan MEJ 20:1 berturut-turut

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2011 sampai bulan Mei 2011 bertempat

Bab II Tinjauan Pustaka

I PENDAHULUAN. Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian, dan (7) Waktu dan Tempat Penelitian.

REAKSI KURKUMIN DAN ETIL AMIN DENGAN ADANYA ASAM

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. umumnya, teh berasal dari tanaman teh (Camellia sinensis). Teh Camellia

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODOLOGI. Metodologi penelitian ini meliputi penyiapan dan pengolahan sampel, uji

4006 Sintesis etil 2-(3-oksobutil)siklopentanon-2-karboksilat

III. METODOLOGI PENELITIAN. Metodologi penelitian meliputi aspek- aspek yang berkaitan dengan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Teh (Camellia sinensis) merupakan salah satu minuman terpopuler di

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Muhammadiyah Semarang di Jalan Wonodri Sendang Raya 2A Semarang.

Uji antibakteri komponen bioaktif daun lobak (Raphanus sativus L.) terhadap Escherichia coli dan profil kandungan kimianya

HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG

Beberapa ciri yang membedakan antara bahan baku agroindustri dengan bahan baku industri lain antara lain : bahan baku agroindustri bersifat musiman,

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISIS KANDUNGAN TUMBUHAN OBAT. ANALISIS Etil p-metoksi sinamat DARI RIMPANG KENCUR (Kaempferia galanga L.)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

REAKSI KURKUMIN DAN METIL AKRILAT DENGAN ADANYA ION ETOKSI

J. Gaji dan upah Peneliti ,- 4. Pembuatan laporan ,- Jumlah ,-

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dengan metode purposive sampling, dimana pengambilan sampel dilakukan

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Penelitian Pendahuluan (Pembuatan Biodiesel)

OLEH Burhanuddin Taebe Andi Reski Amalia Sartini

SKRIPSI. ISOLASI DAN IDENTIFIKASI KOMPONEN KIMIA MINYAK ATSIRI DAUN KAYU PUTIH (Eucalyptus alba) DARI PULAU TIMOR

Beberapa keuntungan dari kromatografi planar ini :

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN. Hasil pemeriksaan ciri makroskopik rambut jagung adalah seperti yang terdapat pada Gambar 4.1.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

TEKNOLOGI PENGOLAHAN TEH HITAM

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Bekatul adalah bagian terluar dari bagian bulir yang terbungkus oleh

II. TINJAUAN PUSTAKA. penting dalam masalah budidaya kopi di berbagai Negara hanya beberapa

Bab I Pengantar. A. Latar Belakang

BAB V HASIL PENELITIAN. 5.1 Penyiapan Bahan Hasil determinasi tumbuhan yang telah dilakukan di UPT Balai

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Monggupo Kecamatan Atinggola Kabupaten Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENETAPAN KADAR ASAM GALAT, KAFEIN DAN EPIGALOKATEKIN GALAT PADA BERBAGAI PRODUK TEH CELUP

ANALISIS POLIFENOL TOTAL DAN AKTIVITAS PENANGKAPAN RADIKAL BEBAS DPPH

pembentukan vanilin. Sedangkan produksi glukosa tertinggi dihasilkan dengan penambahan pektinase komersial. Hal ini kemungkinan besar disebabkan

BAB I PENDAHULUAN. berasal dari seduhan tanaman teh ( Camelia sinensis ). Secara umum teh

PENGERINGAN PENDAHULUAN PRINSIP DAN TUJUAN PENGOLAHAN SECARA PENGERINGAN FAKTOR-FAKTOR PENGERINGAN PERLAKUAN SEBELUM DAN SETELAH PENGERINGAN

METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Alat dan Bahan Prosedur Penelitian

I. PENDAHULUAN. beriklim dingin maupun di daerah beriklim panas (Sato et al, 2006). untuk pengembangan budidayanya maupun penelitian ilmiah.

Lampiran 1. Identifikasi tumbuhan

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. sumber daya alam tersebut adalah tumbuh-tumbuhan. Berbagai macam tumbuhan tersebut

S K R I P S I. KOMPOSISI KIMIA MINYAK ATSIRI KULIT BUAH DAN DAUN JERUK MANIS (Citrus sinensis, sp) ASAL EBAN TIMOR OLEH ALFRIDA TAOLIN

Bab IV Hasil dan Pembahasan

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Dari 100 kg sampel kulit kacang tanah yang dimaserasi dengan 420 L

Lampiran 1. Identifikasi Tumbuhan

BAB I PENDAHULUAN. sebagai obat. Sekarang ini banyak sekali berbagai jenis obat yang dikemas

Bab IV Hasil dan Pembahasan

I. PENDAHULUAN. dihasilkan dari buah kakao (Theobroma cacao. L) yang tumbuh di berbagai

TINJAUAN PUSTAKA. Ukuran tumbuhan ini bervariasi, mulai dari 50 cm hingga 5 meter, bahkan di Papua

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. METODE PENELITIAN di Laboratorium Biomassa Terpadu Universitas Lampung.

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu pengekspor buah nanas yang menempati posisi

OLIMPIADE SAINS NASIONAL Medan, 1-7 Agustus 2010 BIDANG KIMIA. Ujian Praktikum KIMIA ORGANIK. Waktu 150 menit. Kementerian Pendidikan Nasional

Transkripsi:

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 KAROTENOID PADA DAUN TEH Pengecekan karotenoid pada sampel serbuk kering daun teh hijau dan teh hitam dilakukan untuk mengetahui kemungkinan kandungan karotenoid yang masih ada pada kedua sampel tersebut. Pada berbagai penelitian mengenai komposisi pigmen karotenoid pada daun teh, ditemukan beberapa pigmen karotenoid baik jenis karoten maupun ksantofil, seperti α- dan β-karoten, kriptosantin, zeasantin, dan neosantin. 22 Telah diketahui bahwa karotenoid sangat rentan terhadap pembelahan oksidatif pada ikatan rangkapnya dan menghasilkan produk-produk turunannya, termasuk komponen aroma. Pembelahan oksidatif karotenoid tersebut mungkin sekali terjadi selama proses pengolahan daun teh, khususnya pada tahapan proses oksidasi enzimatis (fermentasi). Peran karotenoid dan produk turunannya sangat penting dalam menentukan kualitas produk minuman teh. Karotenoid sebagai salah satu pigmen yang terkandaung dalam daun teh memberikan kontribusi yang besar dalam pembentukan karakter aroma teh. Aroma teh tersusun dari berbagai komponen volatil yang terkandung pada daun teh. Dari berbagai komponen aroma tersebut, komponen aroma yang berasal dari produk degradasi pigmen karotenoid, mempunyai kontribusi yang cukup besar dalam pembentukan karakter aroma teh. Oleh karena itu, pengecekan 17

terhadap komposisi pigmen karotenoid pada sampel daun teh kering perlu ini perlu dilakukan sebagai identifikasi terhadap pigmen karotenoid yang masih terdapat pada sampel teh setelah proses pengolahan daun teh, sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu dasar pengembangan produk. Analisa komposisi pigmen pada daun teh hitam dan teh hijau dilakukan dengan menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT), berdasarkan warna totol dan nilai faktor retardasi (Rf) (Gambar 4). Pada sampel dauh teh hitam kering, ditemukan 3 totol pigmen. Sedangkan untuk sampel daun teh hijau kering, terdapat 6 totol pigmen. Warna-warna yang ditunjukkan pada pemisahan pigmen dengan menggunakan KLT, dapat digunakan sebagai dasar untuk identifikasi pigmen. 40 B A Gambar 4. Jumlah dan warna totol KLT isolat pigmen teh hijau (A) dan teh hitam (B) 18

Berdasarkan warna visualnya menurut deskripsi Gross, warna pigmen karotenoid memiliki kisaran warna kuning, oranye, dan merah. 41 Analisa terhadap faktor retardasi (Rf) dilakukan untuk memperkuat identifikasi terhadap komposisi pigmen berdasarkan warna. 42 Nilai Rf suatu pigmen yang diamati dengan metode KLT bervariasi, bergantung pada pelarut, penjerap, suhu, kemurnian, dan konsentrasi pigmen. 43 Data kisaran nilai Rf pigmen daun teh hitam dan daun teh hijau ditunjukkan pada Tabel 1. Tabel 1. Nilai Rf pigmen pada daun teh hijau dan daun teh hitam Teh Hijau Teh Hitam Totol Kemungkinan Kemungkinan ke- Nilai Nilai Warna Pigmen Warna Pigmen Rf Rf Karotenoid 38 Karotenoid 38 1 0,05 hijau tua unidentified 0,05 hijau tua unidentified 2 0,16 hijau kekuningan unidentified 0,87 kuning kriptosantin 0,99 3 0,84 kuning unidentified hijau unidentified 4 0,87 kuning kriptosantin 5 0,9 hijau unidentified 6 0,98 kuning oranye beta-karoten Berdasarkan data pengamatan secara kualitatif pada totol KLT terhadap kandungan pigmen pada sampel 19

serbuk kering daun teh hijau dan daun teh hitam, terlihat bahwa pigmen yang terdapat pada serbuk daun teh hijau, lebih banyak daripada yang terdeteksi pada serbuk daun teh hitam. Hal ini mungkin terjadi karena adanya kandungan pigmen pada teh hitam yang mengalami degradasi selama pemrosesan teh. Diketahui bahwa teh hitam mengalami pemrosesan khususnya proses fermentasi yang lebih lama dibandingkan dengan teh hijau. Hal ini mengakibatkan degradasi beberapa komponen dalam teh, termasuk pigmen. 44 Pigmen yang terkandung dalam teh, dalam hal ini karotenoid, selama pemrosesan teh akan mengalami degradasi menjadi komponen flavor volatile (aroma). Karotenoid, khususnya golongan karoten, merupakan prekursor penting pada tanaman teh yang berpengaruh dalam pembuatan teh hitam dengan kualitas tinggi. 45 β-karoten yang terkandung dalam daun teh, menghasilkan komponen β-ionone selama proses pembuatan teh hitam, dan memberikan efek yang kuat terhadap kompleks aroma pada teh hitam. 46 Dekomposisi karotenoid terjadi melalui reaksi oksidatif enzimatik yang terjadi selama proses pelayuan dan fermentasi dan reaksi pirolitik selama proses pengeringan. 47 Telah dilaporkan pada penelitian Hazakira dan Mananta (1983), bahwa degradasi karoten meningkat seiring dengan lamanya waktu pelayuan. 6 Tingkat degradasi karotenoid yang terkandung dalam daun teh, jauh lebih kecil dibandingkan dengan karotenoid murni yang telah diisolasi. Hal ini disebabkan 20

karena adanya antioksidan yang terkandung dalam teh seperti polifenol dan katekin. 48 Pada penelitian ini, terlihat bahwa beberapa karotenoid masih lebih banyak terdeteksi pada daun teh hijau dibandingkan dengan pada daun teh hitam. Hasil ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Ravichandran (2002), yang melakukan pengecekan karotenoid daun teh pada beberapa variasi yaitu pada daun teh hijau segar, daun teh hijau yang telah layu, daun teh hijau yang telah difermentasi, daun teh hijau kering, seduhan daun teh, dan juga residunya. Penelitian tersebut membuktikan bahwa sekitar 70-80% dari total karotenoid terdegradasi selama pemrosesan teh. 5 4.2 FLAVOR TURUNAN KAROTENOID PADA DAUN TEH Komponen aroma yang diproduksi dari degradasi pigmen karotenoid mempunyai andil yang besar pada aroma teh. 49 Pembentukan aroma pada teh dari karotenoid terjadi melalui berbagai rute, yaitu: pembelahan oksidatif, transformasi enzimatis, dan konversi dengan katalis asam (Gambar 5). 8 Pembentukan komponen aroma dari karotenoid bisa terjadi melalui 1 tahap reaksi saja (contoh: pembentukan beta-ionone dari beta karoten) maupun gabungan dari berbagai reaksi yang kompleks (contoh: pembentukan beta-damascenone dari neosantin). 21

beta-karoten Karotenoid Neosantin Step 1 Step 1 O Step 1: Pembelahan Oksidatif HO OH O beta-ionone Step 2 Step 2: Transformasi Enzimatik OH HO OH Step 3 Step 3: Konversi dengan Katalis asam O beta-damascenone Gambar 5. Pembentukan komponen aroma dari karotenoid Pada penelitian ini, dilakukan identifikasi terhadap kandungan komponen aroma turunan karotenoid pada sampel serbuk kering daun teh hijau dan daun teh hitam. Metode isolasi aroma yang dilakukan yaitu dengan metode ekstraksi pelarut dengan alat Likens-Nickerson dan juga dengan metode distilasi uap. Data yang didapatkan dari hasil isolasi aroma dengan kedua metode, ditunjukkan pada Tabel 2. 22

Tabel 2. Data komponen flavor turunan karotenoid pada berbagai variasi kondisi Material Variasi kondisi Flavor turunan karotenoid Likens-Nickerson β-ionone, α-ionone, β-damascenone Teh Hitam Distilasi uap - Likens-Nickerson (Residu daun teh) - Likens-Nickerson - Teh Hijau Distilasi uap - Likens-Nickerson (Residu daun teh) β-ionone, α-ionone Komponen flavor turunan karotenoid pada daun teh hitam yang diisolasi dengan metode ekstraksi Likens- Nickerson yang berhasil terdeteksi adalah komponen ionone dan damascenone. Hal ini berlawanan pada sampel daun teh hijau, yakni tidak ditemukan komponen flavor turunan karotenoid. Kondisi ini mungkin disebabkan karena adanya perbedaan proses produksi teh hitam dan teh hijau, yang berpengaruh pada degradasi prekursor karotenoidnya. Di lain pihak, didapatkan data bahwa pada metode isolasi aroma dengan distilasi uap, tidak dapat mengisolasi komponen aroma turunan karotenoid. Pengambilan komponen aroma dengan metode distilasi uap hanya dapat mengambil aroma dari senyawa rantai pendek seperti golongan aldehida dan golongan ester sederhana. Metode analisa dengan GC-MS dilakukan dengan mencocokkan puncak-puncak kromatogram yang terdeteksi dengan data library NIST98 dan W8N08. Dari pengolahan data dan pengamatan pola fragmentasi setiap 23

puncak yang terdeteksi, teridentifikasi beberapa puncak dari senyawa volatil turunan karotenoid pada sampel teh hitam (dengan metode distilasi-ekstraksi Likens- Nickerson) yaitu: α-ionone (menit ke- 26.072), β- damascenone (menit ke- 30.252), dan β-ionone (menit ke- 34.955) (Gambar 6). Gambar 6. Kromatogram sampel teh hitam hasil ekstraksi Likens-Nickerson 24

Sisa residu daun teh setelah proses distilasi uap, juga dilakukan isolasi terhadap komponen aromanya dengan menggunakan metode ekstraksi Likens-Nickerson. Hal ini dilakukan karena residu daun teh hasil distilasi aroma masih beraroma wangi. Pada sampel daun teh hitam, tidak ditemukan komponen flavor turunan karotenoid, karena mungkin telah terjadi degradasi saat proses distilasi aroma. Sedangkan pada sampel daun teh hijau, terdeteksi komponen flavor turunan karotenoid, yaitu ionone. Pada residu daun teh hijau hasil distilasi aroma, prekursor karotenoid yang terkandung dalam sampel daun teh hijau, mungkin mengalami pembelahan oksidatif selama proses distilasi aroma dan menghasilkan flavor turunan karotenoid. Komposisi flavor turunan karotenoid pada penelitian ini lebih sedikit variasinya bila dibandingkan pada penelitian Ravichandran, 2002. Pada penelitian Ravichandran, komposisi flavor turunan karotenoid yang berhasil didapatkan yaitu α-ionone, β-ionone, 3-Hydroxy-βionone, 3-Hydroxy-5,6-epoxy ionone, theaspirone, β- damascenone, α-damascone, 3-Oxo-β-ionone, dan 1, 2- epoxy-1, 2 -dihydro-β-ionone. Hal ini mungkin disebabkan karena adanya perbedaan jenis sampel daun teh yang digunakan. Perbedaan dari rasa dan aroma teh, dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti: kondisi geografis, 50-52 iklim, 53-55 genetik, 56 proses produksi, 57 musim panen, kondisi tanah, dan perlakuan sebelum dan sesudah panen. 58 Selain itu, perbedaan flavor teh dapat 25

juga dipengaruhi oleh hama serangga, faktor stres, dan cedera mekanis pada tanaman teh. 59-60 Identifikasi terhadap komponen flavor pada daun teh, khususnya komponen flavor turunan karotenoid, dapat dijadikan sebagai penelitian awal terhadap inovasi dan pengembangan produk teh. Komponen flavor turunan karotenoid pada teh merupakan komponen volatile penting yang mempengaruhi karakter dan aroma teh. Penelitian awal terhadap komponen flavor turunan karotenoid pada daun teh dapat memunculkan berbagai ide terhadap pengembangan produk seperti: optimalisasi komponen flavor turunan karotenoid pada daun teh melalui proses bioteknologi, inovasi dalam proses produksi teh dari proses pemetikan hingga menjadi teh kering, dan juga pada inovasi dalam industri minuman teh yaitu khususnya dalam pengembangan rasa dan aromanya. 26