Kata Kunci Failure Mode and Effect Analysis (FMEA), Lean Six Sigma, Root Cause Analysis (RCA), Value Engineering, Waste

dokumen-dokumen yang mirip
Gambar I.1 Part utama Penyusun meter air

ISKANDAR ZULKARNAIN Dosen Pembimbing: H. Hari Supriyanto

PENGUKURAN DAN PENINGKATAN KINERJA RANTAI PASOKAN DENGAN PENDEKATAN SCOR (SUPPLY CHAIN DI PT. XYZ TUGAS SARJANA DEA DARA DAFIKA SIAGIAN NIM.

BAB I PENDAHULUAN. Dasar pemikiran dari lean thinking adalah berusaha menghilangkan waste

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... SURAT PERNYATAAN... LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING... LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI... HALAMAN PERSEMBAHAN... MOTTO...

Permasalahan yang akan dijadikan objek penelitian ini adalah keterlambatan pengerjan proyek pembuatan High Pressure Heater (HPH) di PT.

KATA PENGANTAR. berkenan memberikan rahmat dan hidayahnya sehingga penulis dapat ANALISA PENERAPAN KONSEP LEAN THINKING

ANALISIS PENERAPAN LEAN THINKING UNTUK MENGURANGI WASTE PADA LANTAI PRODUKSI DI PT. SIERAD PRODUCE SIDOARJO SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

Peningkatan Kualitas Produksi Pupuk Organik P-126 Dengan Menggunakan Metode Lean Manufacturing (Studi Kasus: PT. Molindo Raya Industrial)

JURNAL TEKNIK ITS VOL.5, No.2, (2016) ISSN: ( Print)

PENDEKATAN KONSEP LEAN MANUFAKTUR DALAM PENINGKATAN EFISIENSI PADA SISTEM PRODUKSI KACA DI PT. ASAHIMAS FLAT GLASS, Tbk

BAB 1 PENDAHULUAN I.1

Seminar Nasional IENACO 2014 ISSN PENERAPAN LEAN SIX SIGMA CONCEPT UNTUK PERBAIKAN LINI PRODUKSI

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

IMPLEMENTASI LEAN MANUFACTURE DENGAN METODE VSM UNTUK MENGURANGI WASTE PADA PROSES PRODUKSI KAPAL (Studi Kasus PT. PAL Divisi Kaprang)

Reduksi Waste pada Proses Produksi Kacang Garing Medium Grade dengan Pendekatan Lean Six Sigma

BAB 3 LANGKAH PEMECAHAN MASALAH

Dosen Pembimbing :H. Hari Supriyanto, Ir.MSIE Diusulkan Oleh : Aqil Azizi Start

Pengukuran Kapabilitas Proses produksi kacang garing Cont d.

Gambar I.1 Part utama Penyusun meter air

Pendahuluan. I.1 Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. Toyota production system (TPS) sangat populer di dunia perindustrian.

PENERAPAN LEAN SIX SIGMA UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PRODUKSI DENGAN MEMPERHATIKAN FAKTOR LINGKUNGAN STUDI KASUS : PT LOKA REFRACTORIES WIRA JATIM

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

IMPLEMENTASI LEAN PRODUCTION SYSTEM UNTUK MENGELIMINASI WASTE PADA PRODUKSI FILLING CABINET 4D DENGAN PENDEKATAN VALUE STREAM MAPPING

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. performansinya secara terus menerus melalui peningkatan produktivitas. Lean

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

STUDI PENGENDALIAN KUALITAS PINTU KAYU DENGAN MENGGUNAKAN METODE LEAN SIX SIGMA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Usulan Lean Manufacturing Pada Produksi Closet Tipe CW 660J Untuk Meningkatkan Produktivitas

IDENTIFIKASI PROSES PRODUKSI UNTUK MEREDUKSI NON VALUE ADDING ACTIVITY

PENDEKATAN LEAN SIX SIGMA GUNA MENGURANGI WASTE PADA PROSES PRODUKSI GENTENG DAN PAVING (STUDI KASUS DI PT. MALANG INDAH)

BAB 2 LANDASAN TEORI

Bab I Pendahuluan. Support. Webbing QC Sewing. Gambar I.1 Skema alur proses produksi tas di PT. Eksonindo Multi Product Industry

EVALUASI PROSES PRODUKSI SEBAGAI UPAYA UNTUK MEMINIMASI WASTE DENGAN PENDEKATAN LEAN SIX SIGMA (Studi Kasus: PT Temprina Media Grafika Malang)

BAB V ANALISIS HASIL OLAH DATA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

PROGRAM PENDIDIKAN SARJANA EKSTENSI

TUGAS AKHIR PENERAPAN METODE LEAN SIGMA UNTUK MEMPERBAIKI KINERJA QUALITY, COST DAN DELIVERY PRODUK SUNVISOR ASSY DI PT. APM ARMADA AUTOPARTS

SIMULASI VALUE STREAM UNTUK PERBAIKAN PADA PROSES PRODUKSI PELUMAS (Studi Kasus LOBP PT. PERTAMINA UPMS V)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

MENINGKATKAN KUALITAS LAYANAN BANK DENGAN PENDEKATAN LEAN SIX SIGMA DAN VALUE (STUDI KASUS : BNI CABANG KOTA MALANG)

IDENTIFIKASI WASTE DILANTAI PRODUKSI DENGAN PENERAPAN LEAN MANUFACTURING DI PT ISTANA TIARA SURABAYA SKRIPSI

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. kegiatan yang dapat meningkatkan nilai tambah (value added) produk (barang dan

B A B 5. Ir.Bb.INDRAYADI,M.T. JUR TEK INDUSTRI FT UB MALANG 1

BAB I PENDAHULUAN. Kepuasan konsumen merupakan faktor yang sangat penting untuk

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

Perbaikan Kualitas Proses Produksi Dengan Pendekatan Lean Sigma Pada Divisi Produksi Di Hollywood Plastik, Sidoarjo. Michael Hartanto.

REDUCING DEFECTS AND COSTS OF POOR QUALITY OF WW GRAY ROYAL ROOF USING DMAIC AND FMEAP (FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS PROCESS)

PROSES ELIMINASI WASTE DENGAN METODE WASTE ASSESSMENT MODEL & PROCESS ACTIVITY MAPPING PADA DISPENSING

Gambar I. 1 Air Brake System Tipe KE-G-12

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

IMPLEMENTASI LEAN MANUFACTURING UNTUK MENGURANGI LEAD TIME SHOULDER Studi Kasus PT.Barata Indonesia (Persero)

Bab I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

BAB 2 LANDASAN TEORI

WINTER. Template. Meningkatkan Kualitas Layanan Bank Dengan Pendekatan Lean Six Sigma dan Value (Studi Kasus : BNI Cabang Kota Malang)

BAB IV PERANCANGAN SISTEM TERINTEGRASI

KATA PENGANTAR. persyaratan dalam memperoleh gelar sarjana Teknik Industri pada Fakultas

BAB I PENDAHULUAN I.1

Analisis Pemborosan pada Unit Pelayanan Kesehatan Poliklinik dengan Pendekatan Lean Service

MINIMASI WASTE UNTUK PERBAIKAN PROSES PRODUKSI KANTONG KEMASAN DENGAN PENDEKATAN LEAN MANUFACTURING

PENDEKATAN LEAN SIGMA SEBAGAI UPAYA UNTUK MEMINIMASI WASTE PADA PROSES PENGEMASAN INDUSTRI FARMASI

BAB V ANALISA. 5.1 Analisa Tahapan Define

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1

PENDEKATAN KONSEP LEAN MANUFAKTUR DALAM PENINGKATAN EFISIENSI PADA SISTEM PRODUKSI KACA DI PT ASAHIMAS FLAT GLASS, Tbk

PENDEKATAN LEAN THINKING UNTUK PENGURANGAN WASTE PADA PROSES PRODUKSI PLASTIK PE

Mulai. Studi Pendahuluan. Perumusan Masalah. Penetapan Tujuan. Pemilihan Variable. Pengumpulan Data. Menggambarkan Process Activity Mapping

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

UPAYA PENGURANGAN PEMBOROSAN DALAM MENINGKATKAN KAPASITAS PRODUKSI DENGAN PENDEKATAN LEAN MANUFACTURING

STUDI IMPLEMENTASI LEAN SIX SIGMA DENGAN PENDEKATAN VALUE STREAM MAPPING UNTUK MEREDUKSI IDLE TIME MATERIAL PADA GUDANG PELAT DAN PROFIL

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

ISSN : e-proceeding of Engineering : Vol.4, No.2 Agustus 2017 Page 2689

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

PERANCANGAN LEAN PRODUCTION SYSTEM DENGAN PENDEKATAN COST INTEGRATED VALUE STREAM MAPPING PADA DIVISI KAPAL NIAGA STUDI KASUS PT PAL INDONESIA

PENDEKATAN LEAN SIX SIGMA DAN METODE WEIGHTED PRODUCT UNTUK MENGURANGI WASTE PADA PROSES PRODUKSI SPARE PART OEM DI PT. SINAR AGUNG SELALU SUKSES

INCREASING QUALITY OF THE INFUS PRODUCTION PROCESS USING LEAN SIX SIGMA APPROACH IN PT. OTSUKA INDONESIA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Reduksi Cacat pada Produk Kaca Lembaran dengan Metode Six Sigma

METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

ABSTRAK. iv Universitas Kristen Maranatha

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. merupakan UKM yang bergerak dibidang produksi furniture.

PENDEKATAN METODE LEAN SIX SIGMA UNTUK MENGANALISIS PROSES PRODUKSI PADA PT. DULMISON INDONESIA

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

DAFTAR ISI. HALAMAN PENGAKUAN... ii. SURAT PENGAMBILAN DATA DARI PERUSAHAAN... iii. HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING... iv. HALAMAN PERSEMBAHAN...

BAB I PENDAHULUAN. Pada umumnya, tujuan akhir suatu perusahaan adalah untuk memperoleh

PENGUKURAN DAN PENINGKATAN PERFORMANSI SUPPLY CHAIN DENGAN PENDEKATAN MODEL SCOR DAN LEAN SIX SIGMA DI PT. GUNAWAN DIANJAYA STEEL, SURABAYA

BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA

APLIKASI KONSEP LEAN SIX SIGMA SEBAGAI UPAYA PERBAIKAN KUALITAS PADA PROSES PRODUKSI SIKAT GIGI (STUDI KASUS : PT X)

Rancangan Perbaikan Proses Produksi dengan Pendekatan Lean Six Sigma di CV. Guntur Malang

Transkripsi:

1 Reduksi Waste Dan Peningkatan Kualitas Pada Proses Produksi Roll Gilingan Tebu Dengan Pendekatan Metodologi Lean Six Sigma Hysmi Ramadan Adi Nugroho, dan H. Hari Supriyanto Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia e-mail: hysmi@yahoo.com dan hariqive@ie.its.ac.id Abstrak Seiring dengan perkembangan zaman, semakin banyak bidang-bidang industri baru yang bermunculan. Hal ini sangat baik untuk mendukung inovasi-inovasi atau ide dari anak bangsa dengan memunculkan banyak industri yang bergerak di berbagai bidang. Bidang industri metal works dan engineering merupakan salah satu bidang yang banyak dibutuhkan oleh perusahaan lain sebagai pemasok untuk membuat komponen. PT Barata Indonesia merupakan salah satu BUMN yang bergerak di bidang metal works dan engineering. Salah satu mitra dari PT Barata yang rutin melakukan order adalah perusahaan pabrik gula untuk memesan roll gilingan tebu baru untuk mengganti roll gilingan yang telah rusak. Roll gilingan terdiri atas dua komponen yaitu poros dan mantel. Namun dalam proses produksinya terdapat beberapa masalah pemborosan seperti jumlah defect yang cukup tinggi berupa keropos dan crack pada mantel. Dan jika terjadi defect keropos yang sangat parah (hingga mencapai 75%) maka mantel akan dilebur kembali untuk dijadikan bahan baku atau melakukan pembuatan ulang mantel yang akan memakan waktu lama hingga siap untuk dilakukan proses assembly dengan poros. Untuk menyelesaikan masalah pemborosan yang terjadi pada proses produksi roll gilingan tersebut dilakukan penelitian dengan menggunakan konsep six sigma untuk mengetahui penyebab permasalahan yang terjadi dan bagaimana cara mencari solusi untuk permasalahan tersebut. Metode yang digunakan antara lain Root Cause Analysis untuk mencari akar permasalahan yang kemudian digunakan metode Failure Mode and Effect Analysis untuk menentukan alternatif perbaikan yang dapat dilakukan. Setelah itu alternatif-alternatif yang telah disusun dicari alternatif terbaik dengan menggunakan value engineering. Kata Kunci Failure Mode and Effect Analysis (FMEA), Lean Six Sigma, Root Cause Analysis (RCA), Value Engineering, Waste I I. PENDAHULUAN NDUSTRI metal works dan engineering merupakan salah satu bidang yang banyak dibutuhkan oleh perusahaan lain sebagai pemasok untuk membuat komponen dari besi dan baja yang tidak dapat diproduksi sendiri oleh perusahaan tersebut. Saat ini mulai banyak perusahaan pada bidang metal works dan engineering di Indonesia baik perusahaan BUMN maupun swasta. Salah satu BUMN yang sudah cukup lama bergerak dalam bidang metal works dan engineering adalah PT. Barata Indonesia yang telah berdiri sejak tahun 1971 dengan nama PT. Barata Metalworks &Engineering yang merupakan marger dari beberapa perusahaan yang bergerak pada bidang yang sama sehingga dapat mendukung berdirinya suatu perusahaan yang bergerak di bidang metal works dan engineering yang mampu bersaing dengan perusahaan-perusahaan yang lebih dulu bergerak pada bidang yang sama di Indonesia. Barata Indonesia saat ini memiliki empat buah workshop dengan fungsi yang berbeda. Workshop 1 dikhususkan untuk pengecoran, sedangkan workshop 2 digunakan secara kondisional tergantung pada proyek yang sedang dikerjakan sesuai permintaan, workshop 3 merupakan bagian yang dikhususkan untuk pengerjaan proyek dengan bahan baku berupa plat baja, dan workshop 4 dikhususkan untuk pengerjaan proyek yang diterima dari pabrik gula yaitu untuk pembuatan roll gilingan tebu yang rutin mendapat pesanan setiap periode. Gambar 1 Penggunaan Bahan Baku di Barata Dalam satu periode produksi roll gilingan pada umumnya terdapat hingga seratus atau lebih order pembuatan roll gilingan dari berbagai pabrik gula di Indonesia, dan perusahaan yang mampu melakukan produksi roll gilingan atau memperbaiki hanya ada dua yaitu PT. Boma Bisma Indra (BBI) dan PT. Barata Indonesia. Namun untuk kapasitas pembuatannya PT. Barata masih lebih tinggi karena dalam satu periode produksi, PT. BBI hanya mampu memproduksi 80-90 buah roll gilingan dari kebutuhan nasional hingga 230. Artinya, PT. BBI hanya mampu memproduksi 35% dari kebutuhan roll gilingan tebu dan PT. Barata Indonesia menutupi sisanya yaitu mencapai 65%. Proses inti yang dilakukan untuk pembuatan roll gilingan adalah proses pengecoran. Proses pengecoran dilakukan oleh untuk membuat mantel dari roll gilingan. Pada proses pengecoran ini dilakukan pada workshop 1 dan

2 membutuhkan waktu yang lama yaitu hingga hampir mencapai 10 hari. Dan pada proses pengecoran ini terdapat beberapa cacat atau defect yang terjadi yang digambarkan pada gambar 1.3. Dalam proses produksi mantel untuk roll gilingan tebu tidak hanya dilakukan proses pengecoran saja, namun juga dilakukan proses fabrikasi yang terletak di workshop 4. Pada proses fabrikasi terdapat inspeksi yang dilakukan yakni inspeksi untuk cacat crack pada mantel. Jika Crack tersebut masih di bawah batas toleransi yaitu 20% maka proses produksi akan dilanjutkan, namun jika crack mencapai 80% atau lebih maka akan dilebur dan dijadikan bahan baku pengecoran dan membuat ulang mantel yang rusak tersebut. Hal ini tentu akan merugikan perusahaan karena dalam satu periode kegagalan tersebut bisa terjadi hingga dua kali. Jika terjadi crack di atas 20%, maka akan dilakukan rework. Inventory Raw Material Pengecoran Supplier Material Pengecoran 8 days Inventory Material Inventory Poros (Workshop 4) 8 days Supplier Poros 14 days Pembuatan Model & Cetak CT = 20 Hours Inventory poros 20 hours 14 days Order CT = 121 Jam Proses Pengecoran CT = 22 Hours 2 orang Fabrikasi (poros) 121 hors 22 hours Production Control Supervisor Daily Schedule Pendinginan CT = 168 Hours 168 hours Total Lead Time 20 days Tota Process Time 121 hours 7 days Customer Order Felting CT = 2 Jam Gambar 3 Current State Value Stream 6 days 2 hours Customer Fabrikasi (mantel) CT = 172 Jam 3 orang 172 hours 8 days Inventory Finish Product Assembly CT = 10 Jam 2 orang 10 hours Shipping Total Lead Time 27 days Total Process Time 394 hours Value Stream mapping digunakan untuk menggambarkan lead time produksi dari perusahaan serta menggambarkan bagaimana hubungan antara konsumen terhadap perusahaan serta supplier. Dari analisis VSM ini akan dapat ditemukan mana proses kritis yang perlu dilakukan perbaikan atau improvement. Pada analisis VSM dapat dilihat bahwa proses pengecoran atau melting sering mengalami gangguan atau berpotensi menimbulkan waste. Gambar 2 Prosesntase Defect Berdasarkan Jenisnya Proses pengecoran merupakan proses utama dalam proses produksi roll gilingan tebu ini, maka diperlukan prosess pengecoran yang baik untuk meminimalisir terjadinya kesalahan-kesalahan atau kegagalan produk yang pada akhirnya memerlukan rework seperti pemopokan dan lain sebagainya. Usaha-usaha improvisasi serta perbaikan kualitas telah dilakukan perusahaan dengan menggunakan beberapa metode. Penggunaan metode Lean Six Sigma dirasa tepat dalam mengatasi permasalahan yang dialami oleh PT. Barata Indonesia. Dengan pendekatan Lean untuk menetapkan waste apa saja yang terjadi pada PT. Barata Indonesia yang kemudian dilakukan penentuan waste kritis. Selain itu juga dilakukan klasifikasi aktivitas untuk mencari non value added activity selama berejalannya proses produksi. Dan terakhir dilakukan analisis untuk menentukan alternatif improve yang sesuai. A. Define II. METODE PENELITIAN 1) Current State Value Stream 2) Activity Classification Berdasarkan aktivitas-aktivitas yang dilakukan selama berjalannya proses produksi terdapat total value added activity sebanyak 15 (31,3%) aktivitas, total necessary non value added sebanyak 28 (58,3%) aktivitas, dan non value added sebanyak 5 (10,4%) aktivitas. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa masih terdapat non value added activity selama proses produksi berlangsung. Selain itu besarnya jumlah aktivitas necessary non value added dapat menimbulkan berbagai kemungkinan, bisa menjadi value added activity atau bahkan bisa menjadi non value added activity 3) Identifikasi Waste Pada penelitian ini waste yang diidentifikasi adalah sembilan waste yaitu E-DOWNTIME. Di mana E- DOWNTIME adalah Environmental, Safety, and Health (EHS) waste, Defect, Over Production, Waiting, Not utilizing employee, Transportation, Inventory, Motion, dan Excess processing. Selama proses identifikasi dapat diketahui jika waste yang muncul hanya defect, waiting, dan excessive processing. Rincian masing-masing waste dapat dilihat pada tabel 1, tabel 2, tabel 3, dan tabel 4. Tabel 1 Jumlah Defect yang Terjadi Pada Mantel Jumlah Jumlah Defect Produksi % 1 39 150 26,00 2 30 130 23,08 3 22 100 22,00 4 27 125 21,60 5 34 133 25,56 Total 152 638 23,82

3 Tabel 2 Data Waktu Downtime Dalam Lima Downtime Waktu (jam) Operasi (jam) % 1 4972 45450 10,94% 2 3766 39390 9,56% 3 2839 30300 9,37% 4 4833 37875 12,76% 5 5165 40299 12,82% TOTAL 21575 193314 11,16% Tabel 3 Jumlah dan Jenis Rework Pada Mantel 1 2 3 4 5 Jenis Rework 20-40% 20 15 16 12 22 Las 41-60% 12 5 2 6 4 Las 61-75% 0 1 0 0 2 Las 75-90% 2 3 1 2 1 Lebur Kembali Total 34 24 19 20 29 Tabel 4 Jumlah dan Jenis Rework Pada Proses Assembly Jenis Jenis Rework defect 1 2 3 4 5 Mantel 3 2 1 3 3 Lebur Kembali Pecah B. Measure 1) Waste Measurement Dalam proses produksi roll gilingan, defect merupakan masalah bagi perusahaan karena jumlah defect yang cukup besar. Berdasarkan data 5 periode terakhir (2008-2012) terdapat jumlah yang cukup besar setiap periodenya, hal tersebut dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 5 Jumlah Defect Mantel Jumlah Defect Jumlah Produksi % Nilai Sigma 1 42 150 26,00 2,83 2 32 130 23,08 2,86 3 23 100 22,00 2,94 4 30 125 21,60 2,91 5 37 133 25,56 2,83 Defect yang terjadi pada mantel ada dua yaitu terjadi keropos dan terjadi crack. Berdasarkan jumlah pada tabel 6 berikut adalah frekuensi terjadinya dua jenis defect tersebut. Tabel 6 Jenis Dan Frekuensi Defect Pada Mantel Jenis defect 1 2 3 4 5 34 24 19 20 29 Crack 5 6 3 7 5 Mantel Pecah 3 2 1 3 3 Total 42 32 23 30 37 Jumlah Produksi 150 130 100 125 133 Bedasarkan jumlah defect yang terjadi di atas, dilakukan penentuan CTQ dengan menggunakan Pareto Chart untuk mencari defect kritis yang terjadi pada roll gilingan. Gambar 4 CTQ Waste Defect Berdasarkan hasil dari Pareto Chart dari defect yang terjadi, maka CTQ untuk defect adalah keropos dan Crack. Dari jumlah defect keropos dan crack yang terjadi selama lima periode dalam proses produksi roll gilingan selanjutnya dalah melakukan penghitungan nilai sigma dari waste defect pada tabel 7. Tabel 7 Nilai Sigma Waste Defect Keterangan Nilai Jumlah produk yang diproduksi 638 Jumlah produk yang cacat / defect 152 Defect per Unit 0,2382 Jumlah CTQ 2 Peluang tingkat kegagalan per karakteristik CTQ 0,1191 DPMO 119122 Nilai Sigma 2,69 Tabel 8 Baya Rework Mantel Defect Defect Jenis Rework Biaya 20-40% Las Rp 2.000.000 41-60% Las Rp 2.000.000-4.000.000 61-75% Las Rp 4.000.000-6.000.000 75-90% Lebur Kembali Rp 200.000.000 Crack Las Rp 2.000.000 Untuk tingkat keropos antara 75-90% membutuhkan biaya yang sangat mahal karena biaya yang harus dikeluarkan adalah sama dengan harga pembuatan mantel baru karena memulai proses dari awal. Begitu juga jika terjadi mantel pecah ketika proses assembly. Untuk itu kerugian yang diterima oleh perusahaan dalam 5 periode tersebut dapat dilihat pada tabel 4.15. Tabel 9 Kerugian Perusahaan akibat Terjadinya Defect Defect 1 2 3 4 5 Total Biaya Total 20-40% 20 15 16 12 22 85 Rp 170.000.000 41-60% 12 5 2 6 4 29 Rp 116.000.000 61-75% 0 1 0 0 2 3 Rp 45.000.000 75-90% 2 3 1 2 1 9 Rp 1.800.000.000 Crack 5 6 3 7 5 26 Rp 52.000.000 TOTAL Rp 2.183.000.000

4 Indikator utama terjadinya waste waiting adalah terjadinya downtime pada mesin selama proses produksi. Downtime yang dimaksud meliputi terjadinya kerusakan mesin, dan downtime lain yang tidak direncanakan. Berikut adalah lamanya downtime dari produksi roll gilingan setiap periode. Tabel 10 Downtime Yang Terjadi Setiap Downtime Waktu (jam) Operasi (jam) % 1 4972 50422 9,86% 2 3766 43156 8,73% 3 2839 33139 8,57% 4 4833 42708 11,32% 5 5165 45464 11,36% TOTAL 21575 214889 10,04% Dari waktu downtime pada tabel 10, maka dapat diketahui lamanya downtime total dalam lima periode yaitu mencapai 11,16% dari waktu operasi normalnya. Tabel 11 Nilai Sigma Dari Waste Waiting Keterangan Nilai Jumlah produk yang diproduksi 214889 Jumlah produk yang cacat / defect 21575 Defect per Unit 0,2382 Jumlah CTQ 1 Peluang tingkat kegagalan per karakteristik CTQ 0,1191 DPMO 119122 Nilai Sigma 2,79 lain yaitu defect karena jika terjadi defect pada mantel, maka bisa dipastikan akan terjadi rework. Tabel 12 Frekuensi Defect Defect Frekuensi % 20-40% 85 13,32% 41-60% 29 4,55% 61-75% 3 0,47% 75-90% 9 1,41% Crack 26 4,08% Mantel Pecah 12 1,88% Jumla Produksi 638 Total rework yang terjadi adalah 25,71% dari jumlah total yang diproduksi dengan total keseluruhan defect yang dapat dilakukan rework sebanyak 164. Berikut ini adalah perhitungan nilai sigma dari excess processing berdasarkan jumlah rework yang terjadi. Tabel 13 Nilai Sigma Waste Excess Processing Keterangan Nilai Jumlah produk yang diproduksi 638 Jumlah produk yang cacat / defect 164 Defect per Unit 0,2382 Jumlah CTQ 3 Peluang tingkat kegagalan per karakteristik CTQ 0,1191 DPMO 119122 Nilai Sigma 2,88 Kemudian untuk menghitung besarnya biaya yang ditanggung perusahaan akibat terjadinya defect waiting adalah dari segi gaji tenaga kerja atau operator dari mesin yang mengalami downtime. Operator yang menoperasikan mesin di perusahaan bekerja dengan sistem shift, di mana satu shiftnya adalah 8 jam. Berarti dalam satu bulan operator bekerja 24 shift dengan gaji per bulan dengan UMR 1.257.000. Dan gaji tiap jam untuk operator adalah Rp 6.547 Untuk itu biaya tenaga kerja selama 5 periode yang harus dikeluarkan adalah sebesar Rp 6.547 x 21575 jam x 9 operator = Rp 1.271.239.454 Selain biaya tenaga kerja, komponen biaya lain adalah biaya pembelian sparepart yang rusak selama 5 periode. Berdasarkan data yang dimiliki perusahaan, total biaya sparepart selama 5 periode adalah sebesar Rp 703.685.000. sehingga biaya total adalah Rp 1.271.239.454 + Rp 703.685.000 = Rp 1.882.925.454 Excess processing terjadi dikarenakan adanya proses berlebih yang dilakukan terhadap suatu produk. Indikator yang dapat digunakan adalah terjadinya rework. Rework dapat terjadi untuk defect seperti keropos, crack, dan mantel pecah ketika proses assembly. Waste ini merupakan efek dari waste Dengan menggunakan biaya yang telah diketahui sebelumnya, dilakukan perhitungan biaya rework untuk semua jenis defect yang dapat dilakukan proses rework. Berikut ini adalah defect yang terjadi serta rework yang dilakukan untuk memperbaiki mantel hingga siap dilakukan proses lanjutan. Berikut adalah biaya rework total yang harus dikeluarkan oleh perusahaan. Tabel 14 Biaya Rework Mantel Untuk 5 Rework Frekuensi Biaya Las 143 Rp 383.000.000 Lebur Kembali 21 Rp 4.200.000.000 Biaya Total Rp 4.583.000.000 2) Penentuan waste kritis Untuk menentukan waste yang akan dianalisis dan menjadi fokusan dalam perbaikan dilakukan pemilihan waste berdasarkan dampak financial atau biaya yang terbesar bagi perusahaan. Berikut ini adalah waste yang memberikan dampak financial bagi perusahaan. Excess Processing Rp 4.583.000.000 Defect Rp 2.183.000.000 Waiting Rp 1.882.925.454

5 Ketiga waste tersebut memberikan dampak finansial yang besar bagi perusahaan. Untuk itu pada bahasan selanjutnya dilakukan analisa terhadap waste excess processing, defect, dan waiting. Selanjutnya dilakukan pembobotan dengan metode borda, pertama yang dilakukan adalah membuat kuisioner yang diberikan kepada lima orang responden dari pihak perusahaan. Berikut adalah hasil rekap data kuisioner yang telah diberikan kepada perusahaan dan telah diurutkan berdasarkan bobot yang didapatkan dengan menggunakan metode Borda. Tabel 15 Rekap data hasil kuisioner Waste Peringkat 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Bobot Ranking Excess Processing 2 2 1 0 0 0 0 0 0 36 0,2 Defect 3 0 1 1 0 0 0 0 0 35 0,19444 Waiting 0 3 1 0 0 0 1 0 0 29 0,16111 Inventory 0 0 2 1 1 0 1 0 0 23 0,12778 Transportation 0 0 0 1 2 1 0 1 0 17 0,09444 Motion 0 0 0 1 1 0 2 1 0 14 0,07778 EHS 0 0 0 1 0 1 1 0 2 10 0,05556 Overproduction 0 0 0 0 0 2 0 3 0 9 0,05 Non utilizing employee 0 0 0 0 1 1 0 0 3 7 0,03889 Bobot 8 7 6 5 4 3 2 1 0 180 1 Berdasarkan hasil kuisioner yang telah dibobotkan dengan menggunakan metode Borda didapatkan bahwa terdapat tiga waste kritis pada proses produksi roll gilingan PT Barata Indonesia yaitu excess processing, defect, dan waiting. III. HASIL DAN DISKUSI Dari ketiga waste kritis yang telah ditentukan kemudian dicari alternatif-alternatif solusi yang akan digunakan sebagai improvement bagi perusahaan yang diambil dari otput root cause analysis (RCA) serta failure mode and effect analysis (FMEA) dengan menggunakan nilai RPN tertinggi sebagai input alternatif solusi perbaikan di mana alternatif yang diberikan yaitu: Membuat atau melakukan penjadwalan ulang maintenance mesin induction furnace dan crane Perbaikan SOP Membuat perencanaan produksi untuk proses pengecoran Dari alternatif tersebut perusahaan diberikan pilihan mana yang akan digunakan sebagai alternatif perbaikan berdasarkan value yang paling besar atau preferensi dari perusahaan sendiri untuk memberikan bobot. IV. KESIMPULAN 1. Terdapat tiga waste kritis yang memiliki pengaruh terhadap proses produksi roll gilingan tebu PT Barata Indonesia yaitu defect yang cukup tinggi yaitu hingga 23,82% dengan defect kritis berupa keropos dan crack, waiting yang terjadi dengan waktu downtime hingga 10,04% dan excess processing berupa rework karena terjadi defect mencapai 25,71% dengan rework berupa pengelasan untuk keropos 20-75% dan crack dan melebur kembali mantel yang dikarenakan keropos diatas 75% dan kegagalan proses assembly. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih disampaikan pada PT. Barata Indonesia yang telah bersedia untuk bekerja sama selama proses pengerjaan penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA [1] Apel, W., 2007. Value Stream Mapping for Lean Manufacturing Implementation. Huazhong: Huazhong University of Science and Technology. [2] Atarogen, C. & Chouseinoglou, O., 2014. A Case Study in Defect Measurement and Root Cause Analysis in a Turkish Software Organization. Software Engineering Research, Management and Applications, Springer, pp. 55-72. [3] Garspersz, V., 2006. Continnuous cost reduction through lean-sigma approach: strategi dramatik reduksi biaya dan pemborosan menggunakan pendekatan lean-sigma. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. [4] Hammond, C. & Charles, J., 2008. Lean six sigma. 9 ed. s.l.:drug Discovery. [5] KPP BUMN, 2008. Departemen Keuangan Republik Indonesia. [Online] Available at: http://www.kppbumn.depkeu.go.id/industrial_profile/pk 4/Profil%20Tebu-1_files/page0011.htm [Accessed 7 Mei 2014]. [6] KPP BUMN, 2008. Departemen Keuangan Republik Indonesia. [Online] Available at: http://www.kppbumn.depkeu.go.id/industrial_profile/pk 4/Profil%20Tebu-1_files/page0011.htm [Accessed 6 Mei 2014]. [7] Sitorus, P. M. T., 2011. Quality planning improvement with lean six sigma approach and economic valuation with willingness to pay: Case in PT Telekomunikasi Indonesua. s.l., IEEE International Summer Conference of Asia Pacific. [8] Sondalini, M., 2004. Understanding How to Use the 5- whys gor Root Cause Analysis. Lifetime Reliability.

6 [9] Subramaniyam, P. & Srinivasan, K., 2011. An Innovative Lean Six Sigma Approach for Engineering Design. [10] Sugartech, 2009. Sugartech's Website. [Online] Available at: http://www.sugartech.in/product-suite- Sample/default.asp [Accessed 7 Mei 2014]. [11] Wijaya, R. H. & Rahardjo, J., 2013. Penurunan TIngkat Kecacatan Produk di CV Omega Plastics. Jurnal Titra, 1(2), pp. 141-148. [12] Womack, J. P. & Jones, D. T., 2007. The Machine that changed the world: the story of lean production-toyota's secret weapon in the global car wars that is now revolutionizing world industry. s.l.:simon and Schuster.