INTEGRASI MODEL SPASIAL CELLULAR AUTOMATA

dokumen-dokumen yang mirip
PEMODELAN SPASIAL PERKEMBANGAN FISIK PERKOTAAN YOGYAKARTA MENGGUNAKAN MODEL CELLULAR AUTOMATA DAN REGRESI LOGISTIK BINER

PREDIKSI PERUBAHAN LAHAN PERTANIAN SAWAH SEBAGIAN KABUPATEN KLATEN DAN SEKITARNYA MENGGUNAKAN CELLULAR AUTOMATA DAN DATA PENGINDERAAN JAUH

MODEL SIG-BINARY LOGISTIC REGRESSION UNTUK PREDIKSI PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN (STUDI KASUS DI DAERAH PINGGIRAN KOTA YOGYAKARTA) TESIS

PEMODELAN SPASIAL PERKEMBANGAN FISIK KOTA YOGYAKARTA MENGGUNAKAN CELLULAR AUTOMATA DAN MULTI LAYER PERCEPTRON NEURAL NETWORK

Komparasi Akurasi Model Cellular Automata untuk Simulasi Perkembangan Lahan Terbangun dari Berbagai Variasi Matriks Probabilitas Transisi

BAB IV ANALISIS HASIL PEMODELAN

ANALISIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS STATISTIK LOGISTIK BINER DALAM UPAYA PENGENDALIAN EKSPANSI LAHAN TERBANGUN KOTA YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian dan Perumusan Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Prediksi Spasial Perkembangan Lahan Terbangun Melalui Pemanfaatan Citra Landsat Multitemporal di Kota Bogor

Model Perubahan Penggunaan Lahan Untuk Mendukung Rencana Pengelolaan Kesatuan Pengelolaan Hutan (Studi Kasus KPH Yogyakarta)

PEMANFAATAN TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH UNTUK MONITORING DENSIFIKASI BANGUNAN DI DAERAH PERKOTAAN MAGELANG

Dinamika dan Proyeksi Perubahan Penggunaan Lahan di Kawasan Peri-Urban Kota Makassar (Kawasan Mamminasata)

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan (Brundtland, 1987).

METODE PENELITIAN. Badan Pusat Statistik Kabupaten Bengkalis

APLIKASI CITRA LANDSAT UNTUK PEMODELAN PREDIKSI SPASIAL PERKEMBANGAN LAHAN TERBANGUN ( STUDI KASUS : KOTA MUNTILAN)

Modeling Land Use/Cover Change Using Artificial Neural Network and Logistic Regression Approach (Case Study: Citarum Watershed, West Jawa)

3 METODE. Lokasi dan Waktu Penelitian

PREDIKSI SPASIAL DINAMIKA AREAL TERBANGUN KOTA SEMARANG DENGAN MENGGUNAKAN MODEL REGRESI LOGISTIK

ANALISIS HARGA DAN NILAI LAHAN DI KECAMATAN SEWON DENGAN MENGGUNAKAN PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS.

Bangunan Berdasarkan Citra Landsat 5 TM dan Sentinel 2A MSI (Kasus: Kota Salatiga) Anggito Venuary S

METODE PENELITIAN. Lokasi dan Waktu Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

STUDI KOMPARASI METODE STOKASTIK DAN DETERMINISTIK DALAM PEMODELAN SPASIAL PERUBAHAN PENUTUP LAHAN MENGGUNAKAN CELLULAR AUTOMATA

Jurnal Bumi Lestari, Volume 13 No. 2, Agustus 2013, hlm

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENGANTAR. Perkembangan fisik kota merupakan konsekuensi dari peningkatan jumlah

METODE PENELITIAN. Kerangka Pemikiran

MODEL PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN MENGGUNAKAN CELLULAR AUTOMATA MARKOV CHAIN DI KAWASAN MAMMINASATA

Gambaran umum Surabaya Barat

PEMODELAN PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN - CELLULAR AUTOMATA DI KECAMATAN ASEMROWO, KOTA SURABAYA

2 TINJAUAN PUSTAKA Penggunaan Lahan dan Penutupan Lahan Penginderaan Jauh dalam Penutupan Lahan

PEMROSESAN CITRA SATELIT DAN PEMODELAN UNTUK MEMPREDIKSI PENYEBARAN BANJIR BENGAWAN SOLO MENGGUNAKAN METODE NAVIER STOKES

PEMBANGUNAN MODEL DISTRIBUSI POPULASI PENDUDUK PADA SISTEM GRID SKALA RAGAM

BAB I PENDAHULUAN. penduduk akan berdampak secara spasial (keruangan). Menurut Yunus (2005),

KAJIAN PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE MULTI LAYER PERCEPTRON DAN LOGISTIC REGRESSION DI TAMAN NASIONAL GUNUNG CIREMAI

PEMODELAN GEOGRAPHICALLY WEIGHTED LOGISTIC REGRESSION

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENGKAJIAN POTENSI RESAPAN AIR MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI STUDI KASUS CEKUNGAN BANDUNG TESIS MAGISTER. Oleh : MARDI WIBOWO NIM :

BAB I PENDAHULUAN I-1

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGAMBILAN KEPUTUSAN PETANI TERHADAP PENGGUNAAN BENIH PADI DI KECAMATAN NISAM KABUPATEN ACEH UTARA

1. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PRISMA FISIKA, Vol. VI, No. 2 (2018), Hal ISSN :

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang .

SKRIPSI PEMODELAN SPASIAL UNTUK IDENTIFIKASI BANJIR GENANGAN DI WILAYAH KOTA SURAKARTA DENGAN PENDEKATAN METODE RASIONAL (RATIONAL RUNOFF METHOD)

ANALISIS GEOSPASIAL MENGGUNAKAN METODE CELLULAR AUTOMATA UNTUK PREDIKSI PERUBAHAN GARIS PANTAI. Baharuddin, Samsu Arif, Sakka*)

APLIKASI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI UNTUK KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KOTA BEKASI. Dyah Wuri Khairina

SKRIPSI. Disusun oleh: DHINDA AMALIA TIMUR

bidang REKAYASA PENDUDUK DALAM PEMODELAN SPASIAL PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN (STUDI KASUS KABUPATEN BANDUNG) LIA WARLINA

1. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang

KETEPATAN KLASIFIKASI KEIKUTSERTAAN KELUARGA BERENCANA MENGGUNAKAN REGRESI LOGISTIK BINER DAN REGRESI PROBIT BINER

BAB II DASAR TEORI 2.1 Pengertian Tata Guna/Tutupan Lahan

BAB IV HASIL DAN ANALISIS

KESESUAIAN LAHAN TAMBAK GARAM MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KABUPATEN SAMPANG

PUBLIKASI KARYA ILMIAH

BAB IV ANALISIS 4.1 Analisis terhadap Data Tutupan Lahan

PEMODELAN SPASIAL DEFORESTASI DI KABUPATEN TASIKMALAYA, PROVINSI JAWA BARAT

Prediksi Tutupan Lahan Terbangun Sebagai Dasar Pengendalian Pemanfaatan Ruang Kawasan Perkotaan Semarang

Aninda Nurry M.F., Ira Mutiara Anjasmara Jurusan Teknik Geomatika FTSP-ITS, Kampus ITS Sukolilo, Surabaya,

MODELING SPATIAL INTEGRATION PROBABILISTIC MARKOV CHAIN AND CELLULAR AUTOMATA FOR THE STUDY OF LAND USE CHANGES REGIONAL SCALE IN DIY YOGYAKARTA

Evaluasi Indeks Urban Pada Citra Landsat Multitemporal Dalam Ekstraksi Kepadatan Bangunan

Pembangunan Geodatabase Ruang Terbuka Hijau Kota Bandung

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK KOTA SEMARANG TAHUN 2011 MENGGUNAKAN GEOGRAPHICALLY WEIGHTED LOGISTIC REGRESSION

ANALISIS SPASIAL PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DALAM KAITANNYA DENGAN PENATAAN ZONASI KAWASAN TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN-SALAK

BAB II DASAR TEORI. Gambar 2.1 : Perbedaan Antara Proses Stationer dan Proses Non-Stationer

TINGKAT KERAWANAN LONGSORLAHAN DENGAN METODE WEIGHT OF EVIDENCE DI SUB DAS SECANG KABUPATEN KULONPROGO. Aji Bangkit Subekti

TATA LOKA VOLUME 18 NOMOR 4, NOVEMBER 2016, BIRO PENERBIT PLANOLOGI UNDIP P ISSN E ISSN

BAB IV HASIL DAN ANALISIS

SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 8. SUPLEMEN PENGINDRAAN JAUH, PEMETAAN, DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI (SIG)LATIHAN SOAL 8.3.

KESESUAIAN LAHAN TAMBAK GARAM MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KABUPATEN SAMPANG

Evaluasi Kesesuaian Tutupan Lahan Menggunakan Citra ALOS AVNIR-2 Tahun 2009 Dengan Peta RTRW Kabupaten Sidoarjo Tahun 2007

BAB III IMPLEMENTASI MODEL MONTE CARLO

BAB III PEMODELAN PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN

TINJAUAN PUSTAKA Kesesuaian Lahan

SKRIPSI. Disusun Oleh : RAHMA NURFIANI PRADITA

PEMODELAN GENANGAN BANJIR PASANG AIR LAUT DI KABUPATEN SAMPANG MENGGUNAKAN CITRA ALOS DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI

METODE PENELITIAN Kerangka Pemikiran

POLA PENGGUNAAN LAHAN PADA DAERAH PERI-URBAN DENGAN PENDEKATAN MODEL DINAMIS (Studi Kasus : Kecamatan Umbulharjo Yogyakarta)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN

SKRIPSI ANALISIS RASIO KEUANGAN DALAM MEMPREDIKSI PERUBAHAN LABA DIMASA YANG AKAN DATANG PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BEJ

Sarono Sigit Heru Murti B.S

DINAMIKA PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DAN PREDIKSINYA UNTUK TAHUN 2025 SERTA KETERKAITANNYA DENGAN PERENCANAAN TATA RUANG DI KABUPATEN BOGOR

PEMANFAATAN METODE MONTE CARLO UNTUK ANALISIS PERUBAHAN LAHAN SECARA SPASIAL (Studi Kasus: Wilayah Bandung)

PEMODELAN NILAI TANAH DI KAWASAN KARST UNTUK PENGENAAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN SEKTOR PERTAMBANGAN TESIS HARRIS WAHJU WIDODO NIM :

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TATA LOKA VOLUME 18 NOMOR 4, NOVEMBER 2016, BIRO PENERBIT PLANOLOGI UNDIP P ISSN E ISSN

PEMODELAN BANGKITAN PERJALANAN PELAJAR DI KOTA YOGYAKARTA

Transkripsi:

INTEGRASI MODEL SPASIAL CELLULAR AUTOMATA DAN REGRESI LOGISTIK BINER UNTUK PEMODELAN DINAMIKA PERKEMBANGAN LAHAN TERBANGUN ( Studi Kasus Kota Salatiga) Muhammad Sufwandika Wijaya sufwandika.geo@gmail.com Bowo Susilo bowo.susilo@gmail.com Abstract This research integrated Cellular Automata (CA) and binary logistic regression model to predict and study the dynamics of built-up area development in Salatiga City. In order to predict land cover distribution in 2012, 2015, and 2020, CA model utilized several factors such as (1)population growth rate, accommodated by transition matrix to predict the extent of built-up area, (2)builtup area development triggering factor such as distance from access, distance from central business district, slope, accommodated in sub-model transition map derived from binary logistic regression model, and (3)land cover condition of the area, accommodated in neighborhood model. The result of this research was landcover prediction map with overall accuracy of 78.4% and Kappa 0.48. Therefore, the validity of the model can be categorized as moderate agreement. The result also predicted that the growth rate of built-up area in Salatiga city for 2012-2020 is 43.84 ha/year and predicted westward. Keywords: Cellular Automata, Raster modeling, binary logistic regression, builtup area, Salatiga Abstrak Penelitian ini mengintegrasikan model Cellular Automata (CA) dan regresi logistik biner untuk memprediksi serta mengkaji dinamika perkembangan lahan terbangun di Kota Salatiga. Model CA pada penelitian ini melakukan prediksi sebaran penutup lahan tahun 2012, 2015, dan 2020 dengan memperhitungkan berbagai faktor. Pertama adalah faktor pertumbuhan penduduk yang diakomodasi dalam matriks area transisi untuk memprediksi luasan lahan terbangun. Kedua adalah faktor pendorong perkembangan lahan terbangun, seperti jarak terhadap aksesibilitas, jarak terhadap pusat kegiatan, serta kemiringan lereng yang diakomodasi dalam peta sub-model transisi hasil model regresi logistik biner. Terakhir adalah keadaan penutup lahan di sekitar suatu lokasi yang diakomodasi dalam model ketetanggaan. Hasil dari penelitian ini adalah peta prediksi penutup lahan dengan akurasi 78,4% serta Indeks Kappa 0,48, sehingga validitas model 125

yang dihasilkan dapat dikategorikan moderate agreement. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa Kota Salatiga pada tahun 2012 hingga 2020 diprediksikan memiliki laju pertambahan luas lahan terbangun rata-rata 43,84 Ha/tahun dan mengarah ke barat. Kata Kunci : Cellular Automata, Pemodelan Raster, Regresi Logistik Biner, Lahan Terbangun, Kota Salatiga PENDAHULUAN Perkembangan lahan terbangun terwujud salah satunya berkat adanya proses ekspansi, proses ekspansi itu sendiri dapat diartikan sebagai proses perubahan tutupan lahan non terbangun menjadi lahan terbangu (Suharyadi, 2010). Proses ekspansi lahan terbangun tanpa kontrol sering berimbas pada hilangnya lahan-lahan yang memiliki fungsi ekologis dan kemudian berdampak pada munculnya masalah lingkungan. Berdasar hal tersebut maka sangat dipelukan kajian berupa monitoring dan prediksi mengenai perkembangan lahan terbangun. Ekspansi lahan terbangun secara spasial dapat dimonitoring dan diprediksi melalui sebuah pemodelan. Model Cellular Automata (CA) merupakan salah satu model spasial yang mampu memprediksi tutupan/penggunaan lahan, sehingga penggunaan model ini untuk prediksi perkembangan lahan terbangun sangat dimungkinkan. Dalam meningkatkan akurasi pemodelan, model CA dapat dintegrasikan dengan model lain. Model lain tersebut digunakan sebagai salah satu rule yang mengakomodasi faktor kualitas 126 inherent lahan. Salah satu model yang dapat diintegrasikan dengan model CA adalah model regresi logstik biner. Model regresi logistik biner merupakan model berbasis analisis statistik sehingga proses serta hasil dari pemodelanya dapat dipertanggungjawabkan secara kuantitatif, akan tetapi integrasi model CA dengan model regresi logistik biner untuk prediksi perkembangan lahan terbangun di Indonesia belum diketahui tingkat akurasi serta validitas pemodelanya. Tingkat akurasi serta validitas pada pemodelan prediksi dirasa sangat penting, oleh karena itu penelitian ini mencoba menguji akurasi serta validitas model CA yang di integrasikan dengan model regresi logstik biner untuk prediksi perkembangan lahan terbangun di Kota Salatiga, Provinsi Jawa Tengah. Pemilihan Kota Salatiga sebagai daerah kajian, dikarenakan kota ini sangat strategis, yaitu berada pada koridor utama penghubung Kota Solo dan Semarang sehingga lahan terbangun sangat mungkin berkembang. Berdasar uraian diatas maka tujuan dari penilitian ini adalah sebagai berikut :

1. Menguji tingkat akurasi serta validitas model Cellular Automata yang diintegrasikan dengan model regresi logistik biner untuk prediksi perubahan penutup lahan. Mengkaji sebaran, luasan, dan arah perkembangan lahan terbangun di Kota Salatiga. METODE PENELITIAN Prediksi perkembangan lahan terbangun pada penelitian ini memperhitungkan faktor pendorong dan penghambat perkembangan lahan terbangun. Faktor pendorong yang digunakan yaitu berupa jarak terhadap pusat pusat kegiatan, aksesbilitas, dan fasilitas, sedangkan faktor penghambat yang diperhitungkan adalah keadaan relief. Kesemua pameter tersebut akan diperhitungkan secara statistik menggunakan model regresi logistik, sehingga akan menghasilkan tingkat probabilitas tiap lahan non terbangun untuk berubah menjadi lahan terbangunyang direpresentasikan secara spasial. Penelitian ini juga memperhitungkan kebutuhan akan lahan terbangun dilihat dari jumlah penduduk daerah kajian. Kebutuhan akan lahan terbangun tersebut kemudian akan direpresentasikan dalam matriks area transisi. Model CA pada penelitian ini meprediksi penutup lahan tahun 2012, 2015 dan 2020. Peta Penutup lahan tahun 2012 hasil prediksi akan digunakan untuk uji model dengan cara dibandingkan dengan keadaan eksisting lapangan. HASIL DAN PEMBAHASAN Peta Probabilitas Perubahan Penutup Lahan Proses perhitungan regresi logistik biner dilakukan dengan bantuan perangkat lunak Idrisi Selva. Berdasarkan analisis regresi logistik biner antara fenomena perubahan penutup lahan non terbangun menjadi lahan terbangun (variabel dependen) dan faktor pendorong perkembangan lahan terbangun (variabel independen), dihasilkan persamaan sebagai berikut : Y = 2.1688 + (1.025*X1) + (3.80*X2) - (1.622*X3) - (1.331*X4) - (4.093*X5) - (1.018*X6) - (7.244*X7) Y : logit perubahan X1 : jarak terhadap pusat ekonomi X2 : jarak terhadap pusat industri X3 : jarak terhadap pusat pendidikan X4 : kemiringan lereng X5 : jarak terhadap jalan non utama X6 : jarak terhadap jalan utama X7 : jarak terhadap lahan terbangun eksisting Variabel independen jarak terhadap lahan terbangun eksisting memiliki kontribusi paling besar terhadap distribusi perubahan lahan non terbangun menjadi lahan terbangun di Kota Salatiga, yaitu dengan koefisien regresi paling tinggi yaitu -7,2. Variabel independen dengan kontribusi paling kecil terhadap distribusi perubahan lahan non terbangun menjadi lahan terbangun di Kota Salatiga adalah jarak terhadap jalan utama, yaitu dengan koefisien regresi -1,018. 127

Peta Probabilitas Perubahan Penutup Lahan Non Terbangun Menjadi Lahan Terbangun Kota Salatiga Matriks Area Transisi Matriks area transisi ini memiliki fungsi sebagai pembatas jumlah piksel yang dinyatakan berubah pada proses automaton, hal tersebut berarti matriks area transisi berkaitan dengan prediksi luasan perubahan penutup lahan.pada penelitian ini, luasan penutup lahan diprediksi dengan mempertimbangkan laju pertumbuhan penduduk di daerah kajian pertumbuhan penduduk di daerah kajian. Asumsi yang digunakan dalam prediksi luas lahan terbangun adalah pertambahan luasan penduduk suatu wilayah selalu diikuti dengan 128

luasan lahan terbangun. Asumsi tersebut yang digunakan sebagai acauan dalam analisis hubungan menggunakan persamaan regresi sederhana antara pertambahan jumlah penduduk (variabel independen) mempengaruhi pertambahan luas lahan terbangun (variabel dependen). Tabel Perbandingan Peningkatan Jumlah Penduduk dan Luas Lahan Terbangun No Tahun Jumlah Penduduk (Jiwa) Luas Lahan Terbangun (Ha) 1 2001 147.425 1540,238 2 2003 152.878 1638,518 3 2006 161.575 1750,14 4 2009 170.947 1813,635 Sumber: Pemrosesan, 2012 Gambar Diagram Pencar Antara Luas Lahan Terbangun (x) denganjumlah Penduduk (y) Sumber: Pemrosesan, 2012 Jumlah penduduk Kota Salatiga tahun 2015 diprediksikan mencapai 191.985 jiwa dengan luas lahan terbangun mencapai 2.090,85 Ha. Pada tahun 2020, jumlah penduduk Kota Salatiga diperkirakan mencapai 212.223 jiwa dengan luas lahan terbangun 2.329,65 Ha. Peningkatan 1 jiwa penduduk di Kota Salatiga disertai dengan peningkatan luas lahan terbangun 0,0118 Ha atau sekitar 118 m 2. Rata-rata pertambahan luas lahan terbangun di Kota Salatiga pada tahun 2012 hingga 2020 adalah 45,96 Ha/tahun. Dilihat dari sudut pandang logika, peningkatan 1 jumlah penduduk yang diikuti dengan peningkatan 118 m 2 terkesan overestimate, seharusnya perlu dilakukan kajian dan klarifikasi ulang di lapangan mengenai hubungan pertambahan lahan terbangun dengan pertambahan penduduk di Kota Salatiga. Tabel Prediksi Luas Lahan Terbangun Tahun 2012, 2015, dan 2020 No Tahun Jumlah Penduduk (jiwa) Persamaan Luas Lahan Terbangun (Ha) 1 2012 181060 Y = 0,118x -174,58 1961,92 2 2015 191985 Y = 0,118x -174,58 2090,85 129

3 2020 212223 Y = 0,118x -174,58 2329,65 Sumber: Pemrosesan, 2012 Berdasar kalkulasi luasan objek lahan terbangun pada tahun 2009 adalah 1.813,635 Ha atau setara 80.607 piksel. Berdasarkan hasil perhitungan prediksi luas lahan terbangun tahun 2012, luas lahan terbangun diprediksikan menjadi 1.961,92 Ha atau sekitar 97.197 piksel (1 piksel = 225 m²). Jumlah piksel yang berubah dari lahan non terbangun menjadi lahan terbangun dari tahun 2009 ke tahun 2012 adalah 97.197 80.607 = 6.590 piksel. Berdasarkan asumsi bahwa perubahan penutup lahan terjadi searah serta hanya terdapat dua kelas penutup lahan maka perubahan penutup lahan dari kelas lahan terbangun menjadi lahan non terbangun adalah 0 piksel. Gambar Matriks Area Transisi perubahan Penutup Lahan Tahun 2009-2012 Class 1 : Lahan Terbangun, Class 2 : Lahan Non Terbnagun Sumber: Pemrosesan, 2012 Proses Automaton Dalam proses automaton, pertama dilakukan filtering terhadap piksel dengan kelas lahan terbangun pada penutup lahan T4 (base landcover) menggunakan model ketetanggan/kernel yang ditentukan. Sederhananya filtering ini adalah menghitung jumlah piksel lahan terbangun disekitar lokasi suatu piksel. Proses filtering dilakukan pada seluruh piksel di liputan daerah kajian. Setelah proses filtering dilakukan proses normalisasi pada peta hasil filtering, sehingga rentang nilai pikselnya menjadi 0-1. Peta hasil normalisasi dari proses filtering tersebut dikalikan dengan peta probabilitas penutup lahan (submodel transisi), sehingga menghasilkan peta baru yang disebut peta probabilitas transisi. Proses terakhir dari pemodelan CA adalah proses penentuan piksel yang akan diputuskan berubah kelas dari lahan non terbangun menjadi lahan terbangun. Berdasarkan matriks area transisi perubahan penutup lahan tahun 2009 ke 2012, terjadi perubahan dari kelas lahan non terbangun menjadi lahan terbangun dengan jumlah 6.590 piksel. Piksel 130

yang diputuskan untuk berubah kelas adalah piksel dengan kelas penutup lahan non terbangun pada peta penutup lahan tahun 2009 (base landcover), yang berjumlah total 6.590 piksel (sesuai matriks area transisi) dengan nilai tertinggi pada peta probabilitas transisi. 2012 2015 2020 Gambar Penutup Lahan Hasil Prediksi Integrasi Model Cellular Automata dan Regresi Logistik Biner (Sumber Pemrosesan 2012) Validasi Model Cellular Automata Overall akurasi optimal yang dihasilkan model Cellular Automata (CA) yang dintegrasikan dengan analisis regresi logistik biner 78,8 %, sedangkan untuk indeks Kappa tertinggi adalah 0,48. Berdasar nilai Perkembangan Lahan Terbangun Kota Salatiga Berdasarkan kalkulasi luasan peta penutup lahan tahun 2001, 2003, 2006 dan 2009 menunjukkan peningkatan luasan lahan terbangun yang cukup signifikan di Kota Salatiga. Pada tahun 2001, luas lahan terbangun mencapai 1.540 Ha dan meningkat pada tahun 2003 menjadi 1.638 Ha. Peningkatan lahan indeks kappa tersebut model CA yang diintegrasikan dengan model regresi logistik biner menghasilkan model prediksi dengan kategori validitas moderate agreement. terbangun terus terjadi hingga pada tahun 2009, yaitu mencapai 1.813 Ha. Jika dihitung rata-rata pertambahan luas lahan terbangun Kota Salatiga dari tahun 2001 hingga tahun 2009 adalah 35.83 Ha/Tahun. Hasil analisis dari model Cellular Automata (CA) menunjukkan bahwa pertambahan luas lahan terbangun 131

akan terus terjadi di masa yang akan datang. Tahun 2012 luas lahan terbangun di Kota Salatiga diprediksikan mencapai 1.962,92 Ha. Luasan tersebut diprediksikan terus mengalami pertambahan hingga mencapai 2090.85 Ha pada tahun 2015, serta 2329.65 Ha pada tahun 2020. Berdasarkan data luasan lahan terbangun tahun 2012, 2015 dan 2020 tersebut, dapat diketahui laju pertambahan luas lahan terbangun rata-rata 45,20 Ha/tahun. Arah Perkembangan Kota Salatiga pada tahun 2001 2009 mengarah kearah barat laut. Pada tahun 2012 2020 berdasar model CA diprediksikan mengarah kearah barat Kota Salatiga. KESIMPULAN 1.Integrasi model Cellular Automata dengan regresi logistik biner dapat dioptimalkan dengan penggunaan matriks area transisi yang mempertimbangkan pertumbuhan penduduk serta dengan berbagai variasi pengaturan model ketanggaan pada proses automaton untuk mencapai akurasi dan tingkat validitas optimal. Intergasi cellular automata dan regresi logistik biner untuk prediksi perubahan penutup lahan di Kota Salatiga mampu mendapatkan overall akurasi 78,20% serta indeks kappa 0,48 sehingga validitas model tersebut tergolong dalam kategori moderate agreement. 2. Pertambahan luas lahan terbangun di Kota Salatiga pada tahun 2001 hingga 2009 memiliki laju 35,83 Ha/tahun. Luas lahan terbangun di Kota Salatiga pada tahun 2001 adalah 1540,238 Ha dan meningkat menjadi 1813,635 Ha pada tahun 2009. Pusat perkembangan lahan terbangun di Kota Salatiga pada tahun 2001 hingga 2009 berada di sekitar perbatasan kecamatan Sidomukti dan Sidorejo atau mengarah ke bagian barat daya jika dilihat dari pusat kota (Central Bisnis Distric Jalan Pangeran Diponegoro). Perkembangan lahan terbangun Kota Salatiga pada gtahun 2012 hingga 2020 diprediksikan mengalami peningkatan laju pertambahan luas jika dibandingkan dengan laju pertambahan luas pada tahun 2001 hingga 2009 yaitu menjadi 45.20 Ha/tahun. Luas lahan terbangun pada tahun 2012 diprediksi mencapai 1962,92 Ha dan akan terus meningkat hingga 2329 Ha pada tahun 2020. Pusat perkembangan lahan terbangun pada tahun 2012 hingga 2020 diprediksikan sedikit bergeser ke selatan jika dibandingkan dengan pusat perkembangan pada tahun 2001 hingga 2009. Dapat disimpulkan bahwa perkembangan lahan terbangun di Kota Salatiga pada tahun 2012 hingga tahun 2020 mengarah ke sebelah barat dari pusat Kota. DAFTAR PUSTAKA Aguayo, M. I., Wiegand, T., Azocar, G. D., Wiegand, K., & Vega, C. E. (2007). Revealing the Driving Forces of Mid-Cities Urban 132

Growth Patterns Using Spatial Modeling: a ase Study of Los Ángeles, Chile. Ecology and Society, 12, 1-30. Deliar, A. (2010). Pemodelan Hibrid Dalam Prediksi Dinamika Perubahan Tutupan Lahan (Studi Kasus: Wilayah Bandung), Disertasi. Bandung: Teknik Geodesi dan Geomatika, Institut Teknologi Bandung. Suharyadi. (2010). Interpetasi Hibrida Citra Satelit Resolusi Spasial Menengah Untuk Kajian Densifikasi Bangunan Daerah Perkotaan Di Daerah Perkotaan Yogyakarta, Ringkasan Desertasi. Yogyakarta : Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada Susilo, B. (2005). Model SIG-Binary Logistic Regression Untuk Prediksi Perubahan Penggunaan Lahan (Studi Kasus di Daerah Pinggiran Kota Yogyakarta), Tesis. Bandung: Teknik Geodesi dan Geomatika, Institut Teknologi Bandung. Susilo, B. (2006). Geokomputasi Berbasis Sistem Informasi Geografi dan Cellular Automata untuk Pemodelan Dinamika Perubahan Penggunaan Lahan di Daerah Pinggiran Kota Yogyakarta, Laporan Penelitian. Yogyakarta: Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada 133