BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
|
|
|
- Yenny Susman
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penggunaan lahan merupakan hasil kegiatan manusia baik yang berlangsung secara siklus atau permanen pada sumberdaya lahan alami maupun buatan guna terpenuhinya kebutuhan hidup manusia (Malingreau, 1978). Bentang alam yang mencakup lingkungan fisik berupa tanah, iklim, relief, hidrologi, vegetasi dan sesuatu yang berada di permukaan bumi yang memiliki peranan penting bagi penggunaan lahan adalah sumberdaya lahan (Worosuprojo, 2008). Penggunaan lahan saling berhubungan dengan aktivitas manusia yang berada di atasnya. Lahan mempunyai sifat yang tetap, sedangkan aktivitas manusia cenderung berubah-ubah yang disebabkan oleh suatu hal tertentu. Pertumbuhan penduduk dan variasi aktivitas merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi dinamika aktivitas manusia. Bertambahnya jumlah penduduk dan tekanan penduduk terhadap lahan menyebabkan penggunaan lahan menjadi lebih kompleks. Perkembangan ekonomi yang pesat mampu meningkatkan pertumbuhan suatu wilayah dengan baik. Namun, hal tersebut membawa dampak negatif yaitu tingginya permintaan terhadap lahan untuk menunjang aktivitas ekonomi. Lahan merupakan suatu sumberdaya yang terbatas, sehingga permintaan yang tinggi akan menimbulkan terjadinya alih fungsi lahan (perubahan penggunaan lahan), khususnya dari lahan pertanian ke non pertanian. Selain perkembangan ekonomi dan pertumbuhan penduduk, nilai lahan juga menjadi penyebab alih fungsi lahan pertanian. Apabila suatu lahan hanya digunakan sebagai lahan pertanian maka nilai lahan menjadi menurun. Namun, apabila digunakan sebagai lahan non pertanian maka nilai lahan akan menjadi lebih tinggi, karena pendapatan dari lahan non pertanian lebih tinggi daripada kegiatan dari lahan pertanian. Dalam beberapa dekade ini, Provinsi Jawa Tengah menjadi salah satu penopang produksi beras nasional, di samping Jawa Barat dan Jawa Timur. Kabupaten Klaten merupakan salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Jawa Tengah. Kabupaten Klaten memiliki area pertanian sawah yang luas hingga pada tahun 2013 tercatat lahan sawah seluas hektar (BPS, 2014). Meskipun 1
2 Kabupaten Klaten adalah sentra produksi padi, banyak lahan sawah di Kabupaten Klaten berubah menjadi lahan non sawah sejak beberapa tahun silam. Kabupaten Klaten merupakan kabupaten yang berada di koridor penghubung dua kota besar, yaitu Kota Yogyakarta dan Kota Surakarta. Perkembangan di Kota Yogyakarta dan Surakarta yang berkembang dengan pesat turut mempengaruhi perkembangan internal di Kabupaten Klaten. Berdasarkan statistik Kabupaten Klaten tahun 2013, pertumbuhan penduduk terus meningkat dari tahun 2009 hingga tahun 2012 yang berdampak juga terhadap kepadatan penduduk. Data statistik tersebut dapat dlihat pada Tabel 1.1 berikut ini. Tabel 1.1 Kependudukan Kabupaten Klaten tahun Tahun Jumlah Penduduk (jiwa) Rerata Kepadatan Penduduk (jiwa/km2) Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Klaten (2014) Sektor pertanian merupakan sektor dominan pemberi sumbangan berarti bagi perekonomian Jawa Tengah sebesar 20,43% dengan pertumbuhan riil sebesar 2,78%. Pada tahun 2007, provinsi ini mampu menghasilkan 8,44 juta ton padi sawah pada saat terjadi penyusutan lahan sawah sebesar 0,16% sedangkan luas lahan bukan sawah mengalami peningkatan 0,07%, seperti yang terlihat pada Tabel 1.2 di bawah. Tabel 1.2 Perubahan Lahan Sawah Kabupaten Klaten tahun Tahun Luas Lahan Sawah (Ha) Luas Lahan bukan Sawah (Ha) Penyusutan Luas Lahan Sawah (Ha) Sumber: Kabupaten Klaten dalam Angka (2007) 2
3 Kabupaten Klaten merupakan salah satu penghasil beras utama di Provinsi Jawa Tengah yang terkenal dengan beras Delanggu. Namun, sejalan dengan meningkatnya taraf hidup dan terbukanya kesempatan untuk menciptakan peluang kerja yang ditandai oleh banyaknya investor ataupun masyarakat dan pemerintah dalam melakukan pembangunan, maka semakin meningkatkan kebutuhan lahan. Peningkatan kebutuhan lahan didorong oleh peningkatan jumlah penduduk, sementara ketersediaan dan luas lahan bersifat tetap. Hal ini mengakibatkan terjadinya realokasi penggunaan lahan dari aktivitas yang kurang menguntungkan pada aktivitas yang lebih menguntungkan. Aktivitas yang selalu terancam terutama adalah aktivitas pertanian yang dinilai kurang menguntungkan dibanding aktivitas ekonomi lainnya. Perubahan penggunaan lahan pertanian sawah ke lahan non pertanian yang terjadi di Kabupaten Klaten terutama di Kecamatan Delanggu dan sekitarnya akan menyebabkan penyusutan lahan pertanian yang secara lebih jauh dapat mempengaruhi ketahanan pangan. Oleh karena itu, perlu dilakukan kajian lebih lanjut untuk mengetahui kondisi lahan pertanian sawah Kecamatan Delanggu dan sekitarnya di waktu mendatang dengan metode dan teknologi yang tepat. Teknologi Penginderaan Jauh (PJ) dan Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat digunakan untuk menganalisis perubahan penggunaan lahan yang mungkin terjadi berdasarkan faktor-faktor tertentu. PJ mampu menghasilkan data dengan berbagai macam resolusi, salah satunya adalah resolusi temporal. Resolusi temporal dalam PJ berarti kemampuan PJ dalam melakukan perekaman ulang wilayah yang sama pada interval waktu tertentu, sehingga menghasilkan citra multitemporal. Citra multitemporal dapat dimanfaatkan sebagai sumber data dalam menganalisis dinamika perubahan yang terjadi pada suatu wilayah. Lebih lanjut, hasil analisis perubahan wilayah dari citra PJ dapat diterapkan sebagai data dalam pembuatan model melalui analisis SIG. SIG mampu melakukan pemodelan karena menurut Star dan Estes (1990) SIG memiliki fungsi untuk pemetaan, pemodelan, pengukuran, dan pemantauan. Pemodelan spasial dengan menggunakan SIG dapat diterapkan untuk mengkaji perubahan lahan pertanian sawah dengan pemodelan yang bersifat dinamis. Salah satu pemodelan spasial yang dapat digunakan untuk mengkaji perubahan lahan adalah Cellular Automata (CA). Hal ini karena pada pemodelan CA memungkinkan 3
4 untuk dilakukan prediksi perubahan lahan sesuai dengan data yang digunakan. Pemodelan spasial menggunakan CA dapat diintegrasikan dengan model lain sehingga dapat diperoleh pemodelan yang lebih baik sesuai dengan realita di lapangan. 1.2 Perumusan Masalah Alih fungsi lahan pertanian ke lahan non pertanian membawa dampak negatif terhadap penurunan produksi pertanian di Kabupaten Klaten. Alih fungsi lahan ini dapat disebabkan oleh jumlah penduduk yang terus meningkat sehingga terjadi peningkatan kebutuhan lahan untuk menyelenggarakan kegiatannya. Peningkatan jumlah penduduk menyebabkan perubahan penggunaan lahan, terutama lahan pertanian menjadi lahan non pertanian karena semakin banyak jumlah penduduk maka kebutuhan lahan untuk permukiman, perdangan dan jasa pun semakin bertambah besar. Kabupaten Klaten merupakan kabupaten yang berada di koridor penghubung dua kota besar, yaitu Kota Yogyakarta dan Kota Surakarta. Perkembangan di Kota Yogyakarta dan Surakarta yang pesat turut mempengaruhi perkembangan internal di Kabupaten Klaten terutama pada wilayah-wilayah yang berada di jalur utama penghubung Kota Yogyakarta dan Kota Surakarta. Kecamatan Delanggu merupakan kecamatan yang terkenal sebagai sentra produksi padi dan berada tepat di jalur utama penghubung kedua kota tersebut, sehingga perlu kajian mengenai perubahan lahan pertanian sawah yang terjadi. Analisis ketersediaan lahan pertanian dapat dilakukan dengan menggunakan analisis PJ dan SIG. PJ mampu menghasilkan citra multitemporal yang dapat dimanfaatkan untuk menganalisis dinamika perubahan lahan yang terjadi pada suatu wilayah sesuai dengan berjalannya waktu. Pemetaan lahan pertanian sawah dan lahan non pertanian melalui analisis citra digital sangat diperlukan sebagai bahan untuk mengetahui dinamika perubahan lahan yang terjadi. Analisis lahan pertanian sawah dan lahan non pertanian dari hasil pemetaan melalui citra PJ multitemporal akan diperoleh informasi mengenai lokasi-lokasi terjadinya perubahan lahan. Selain itu, dapat pula diperoleh luas perubahan lahan yang terjadi dari lahan pertanian sawah menjadi lahan non sawah termasuk lahan non pertanian. 4
5 Terdapat banyak citra satelit yang umumnya dimanfaatkan untuk menganalisis perubahan lahan pada tingkat skala menengah, seperti citra Landsat, ALOS, dan ASTER. Penelitian ini mengkaji perubahan lahan sawah tahun Pada tahun 2002, citra ALOS belum tersedia sehingga tidak dapat digunakan sebagai bahan penelitian. Sementara itu, pada tahun yang sama, citra ASTER telah tersedia. Namun, pada penelitian ini tidak menggunakan citra ASTER karena citra tersebut tidak memiliki saluran biru, di mana saluran biru peka terhadap objek air. Penggunaan saluran biru ini penting dalam mengidentifikasi lahan sawah terutama lahan sawah tergenang pada tahap awal pengolahan, sehingga penggunaan saluran biru dapat memudahkan dalam membedakan objek yang mengandung air pada komposit tertentu. Oleh karena beberapa hal itu, maka penelitian ini menggunakan citra Landsat untuk bahan penelitian. Citra Landsat mampu merekam wilayah yang luas karena didukung oleh resolusi spasial sebesar 30 meter, sehingga mampu memetakan berbagai fenomena hingga batas kemampuan resolusi spasialnya. Selain itu, perekaman ulang citra Landsat setiap 16 hari memungkinkan untuk dilakukannya analisis secara multitemporal terhadap perubahan lahan yang terjadi. Salah satu fenomena perubahan lahan yang dapat dianalisis melalui citra Landsat adalah perubahan penggunaan lahan. Pemetaan penutup dan penggunaan lahan melalui citra digital penginderaan jauh telah banyak dilakukan sehingga terdapat berbagai macam metode pemetaan yang dapat digunakan. Penutup lahan, dapat langsung diperoleh dengan melakukan klasifikasi multispektral terhadap citra yang digunakan, baik secara supervised classification maupun unsupervised classification. Akan tetapi, untuk pemetaan penggunaan lahan, seperti lahan sawah, membutuhkan metode dan pendekatan lain dalam melakukan klasifikasinya. Hal ini karena dari peta lahan sawah multitemporal dapat diketahui perubahannya secara spasial, di mana data perubahan lahan sawah sebagian Kabupaten Klaten dan sekitarnya secara spasial ini belum tersedia sebagai data untuk pemodelan. Oleh karena itu, pemetaan lahan sawah dan lahan non sawah termasuk di dalamnya lahan non pertanian diperlukan untuk melakukan pemodelan. Lahan pertanian sawah sebagian Kabupaten Klaten dan sekitarnya dapat dimodelkan perubahannya melalui analisis SIG. Hal ini karena SIG mempunyai beberapa kegunaan yaitu pemodelan, pemetaan, pemantauan, dan pengukuran. 5
6 Pemodelan spasial dengan SIG dapat digunakan untuk memprediksi lahan pada waktu mendatang. Salah satu model yang dapat diaplikasikan untuk mengetahui perubahan ataupun perkembangan lahan adalah model Cellular Automata (CA). Model CA dapat digunakan untuk kajian ini karena model CA cenderung bersifat dinamis. Seiring dengan berjalannya waktu, khususnya perkembangan wilayah di Indonesia dapat mengakibatkan terjadinya penyusutan luas lahan pertanian. Informasi spasial lahan sawah digunakan sebagai bahan utama untuk melakukan pemodelan. Namun, perlu diketahui pula bahwa perubahan lahan pertanian sawah dapat disebabkan oleh faktor-faktor tertentu, baik faktor pendorong maupun penghambat perubahan. Penambahan data spasial lain (aksesibilitas, pusat kegiatan, lahan terbangun, jaringan sungai, dan kemiringan lereng) dalam pemodelan CA akan memberikan pengaruh yang berbeda terhadap model yang dihasilkan. Hal ini kemudian akan berpengaruh pula terhadap tingkat akurasinya, sehingga perlu diketahui seberapa besar pengaruh penambahan data spasial lain terhadap model CA yang dihasilkan. Model CA membutuhkan dua macam pendekatan untuk menentukan perubahannya, yaitu probabilitas luasan perubahan dan probabilitas lokasi perubahan. Integrasi CA dengan model lain, baik model berbasis statistik, visual, maupun kecerdasan buatan bertujuan agar diperoleh transition rule yang terbaik dalam menganalisis perubahan. Pemodelan lahan sawah ini perlu dilakukan uji akurasi model agar diketahui seberapa besar tingkat akurasinya sesuai dengan realita di lapangan. Tingkat kebenaran hasil pemodelan dengan realita di lapangan ditunjukkan dengan akurasi model. Akurasi model ini dinyatakan dalam bentuk persentase, di mana nilainya mendekati 100% maka model yang dibuat dapat dianggap mempunyai akurasi yang baik karena mampu menyederhanakan realita di lapangan. Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan dua permasalahan utama, yaitu: 1) Dinamika perubahan lahan dapat ditinjau secara kuantitatif spasial melalui data penginderaan jauh. Perubahan lahan sawah yang dianalisis melalui penggunaan lahannya dari data penginderaan jauh merupakan salah satu bentuk analisis kuantitatif spasial. Analisis kuantitatif spasial dari data penginderaan jauh perlu dilakukan karena hasil analisis ini dapat digunakan sebagai acuan untuk 6
7 melakukan analisis lain yang lebih lanjut, misalnya pemodelan prediksi secara spasial. 2) Penggunaan lahan yang berubah dalam kurun waktu tertentu tidak dapat sepenuhnya dijadikan sebagai acuan dalam memprediksi perubahan yang akan terjadi. Terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan lahan pada suatu wilayah dan bisa digunakan sebagai aturan (rule) dalam analisis prediksi perubahan lahan. Faktor-faktor tersebut dapat berupa data hasil analisis spasial. 1.3 Pertanyaan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah yang telah dijelaskan, maka dapat disimpulkan ke dalam beberapa pertanyaan penelitian yang sekaligus sebagai batasan penelitian yang dilakukan, yaitu: 1. Bagaimana perubahan lahan pertanian sawah sebagian Kabupaten Klaten dan sekitarnya tahun berdasarkan interpretasi citra Landsat? 2. Bagaimana pengaruh penggunaan data spasial lain (aksesibilitas, pusat kegiatan, lahan terbangun, jaringan sungai, dan kemiringan lereng) terhadap model Cellular Automata untuk prediksi lahan pertanian sawah sebagian Kabupaten Klaten dan sekitarnya tahun 2014? 1.4 Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini yaitu: 1. Melakukan pemetaan dan menganalisis perubahan lahan pertanian sawah sebagian Kabupaten Klaten dan sekitarnya tahun berdasarkan interpretasi citra Landsat. 2. Menganalisis pengaruh penggunaan data spasial lain (aksesibilitas, pusat kegiatan, lahan terbangun, jaringan sungai, dan kemiringan lereng) terhadap akurasi model Cellular Automata lahan pertanian sawah sebagian Kabupaten Klaten dan sekitarnya tahun
8 1.5 Hasil yang Diharapkan Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan beberapa informasi berikut: 1. Peta perubahan lahan pertanian sawah sebagian Kabupaten Klaten dan sekitarnya tahun pada resolusi spasial 30 meter. 2. Peta lahan pertanian sawah tahun 2014 resolusi 30 meter hasil prediksi berbasis Cellular Automata beserta tingkat akurasinya dengan penambahan data spasial lain dalam memodelkan lahan pertanian sawah sebagian Kabupaten Klaten dan sekitarnya. 1.6 Manfaat Penelitian Penelitian ini bermanfaat dalam hal: 1. Memberikan visualisasi mengenai perubahan lahan pertanian sawah sebagian Kabupaten Klaten dan sekitarnya tahun Memberikan informasi mengenai akurasi model Celluar Automata dengan penambahan data spasial lain dalam memodelkan lahan pertanian sawah sebagian Kabupaten Klaten dan sekitarnya. 3. Secara lebih lanjut dapat digunakan sebagai bahan rujukan dalam menganalisis kerawanan pangan berdasarkan ketersediaan lahan pertanian sawah hasil pemodelan. 8
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Jumlah penduduk di Indonesia terus bertambah setiap tahun. Laju pertumbuhan penduduk Indonesia tidak menunjukkan peningkatan, justru sebaliknya laju pertumbuhan penduduk
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan daerah memiliki peranan penting dalam menunjang pembangunan nasional. Pada masa Orde baru pembangunan nasional dikendalikan oleh pemerintah pusat, sedangkan
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Kota merupakan obyek geografis yang sangat popular di semua kalangan masyarakat, sehingga menjadikan kota sebagai objek kajian yang menarik untuk dikaji baik itu bagi
BAB I PENDAHULUAN. ditunjukkan oleh besarnya tingkat pemanfaatan lahan untuk kawasan permukiman,
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Perkembangan kota yang ditunjukkan oleh pertumbuhan penduduk dan aktivitas kota menuntut pula kebutuhan lahan yang semakin besar. Hal ini ditunjukkan oleh besarnya tingkat
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Teknologi satelit penginderaan jauh merupakan salah satu metode pendekatan penggambaran model permukaan bumi secara terintegrasi yang dapat digunakan sebagai data dasar
BAB I PENDAHULUAN. sumberdaya lahan (Sitorus, 2011). Pertumbuhan dan perkembangan kota
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penggunaan lahan berhubungan erat dengan dengan aktivitas manusia dan sumberdaya lahan (Sitorus, 2011). Pertumbuhan dan perkembangan kota dipengaruhi oleh adanya
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sumber daya lahan yang terdapat pada suatu wilayah, pada dasarnya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sumber daya lahan yang terdapat pada suatu wilayah, pada dasarnya merupakan modal dasar pembangunan yang perlu digali dan dimanfaatkan dengan memperhatikan karakteristiknya.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Hasil sensus jumlah penduduk di Indonesia, dengan luas wilayah kurang lebih 1.904.569 km 2 menunjukkan adanya peningkatan jumlah penduduk, dari tahun 2010 jumlah penduduknya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pesatnya pertumbuhan penduduk dan pembangunan pada suatu wilayah akan berpengaruh terhadap perubahan suatu kawasan. Perubahan lahan terbuka hijau menjadi lahan terbangun
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Lahan merupakan bentang permukaan bumi yang dapat bermanfaat bagi manusia baik yang sudah dikelola maupun belum. Untuk itu peran lahan cukup penting dalam kehidupan
APLIKASI CITRA LANDSAT UNTUK PEMODELAN PREDIKSI SPASIAL PERKEMBANGAN LAHAN TERBANGUN ( STUDI KASUS : KOTA MUNTILAN)
APLIKASI CITRA LANDSAT UNTUK PEMODELAN PREDIKSI SPASIAL PERKEMBANGAN LAHAN TERBANGUN ( STUDI KASUS : KOTA MUNTILAN) Hernandea Frieda Forestriko Jurusan Sains Informasi Geografis dan Pengembangan Wilayah
Tabel 1.1 Tabel Jumlah Penduduk Kecamatan Banguntapan Tahun 2010 dan Tahun 2016
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Tempat tinggal merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan karena merupakan salah satu kebutuhan primer manusia. Tempat tinggal menjadi sarana untuk berkumpul,
BAB I PENDAHULUAN. Pertambahan penduduk daerah perkotaan di negara-negara berkembang,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pertambahan penduduk daerah perkotaan di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, masih cukup tinggi. Salah satu penyebab adanya laju pertambahan penduduk
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Republik Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Indonesia memiliki kurang lebih 17.508 pulau (Indonesia.go.id). Wilayah Indonesia didominasi laut dengan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Jumlah penduduk Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada tahun 1990 jumlah penduduk
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Realitas dinamika kehidupan pada masa lalu, telah meninggalkan jejak dalam bentuk nama tempat yang menggambarkan tentang kondisi tempat berdasarkan sudut filosofi,
BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1. Persebaran Lahan Produksi Kelapa Sawit di Indonesia Sumber : Badan Koordinasi dan Penanaman Modal
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan dengan jumlah penduduk pada tahun 2014 sebanyak 237.641.326 juta jiwa, hal ini juga menempatkan Negara Indonesia
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara berkembang yang mempunyai permasalahan dalam mengelola tata ruang. Permasalahan-permasalahan tata ruang tersebut juga timbul karena penduduk
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penginderaan jauh didefinisikan sebagai proses perolehan informasi tentang suatu obyek tanpa adanya kontak fisik secara langsung dengan obyek tersebut (Rees, 2001;
PEMANFAATAN TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH UNTUK MONITORING DENSIFIKASI BANGUNAN DI DAERAH PERKOTAAN MAGELANG
PEMANFAATAN TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH UNTUK MONITORING DENSIFIKASI BANGUNAN DI DAERAH PERKOTAAN MAGELANG Vembri Satya Nugraha [email protected] Zuharnen [email protected] Abstract This study
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Lahan dan Penggunaan Lahan Pengertian Lahan
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Lahan dan Penggunaan Lahan 2.1.1 Pengertian Lahan Pengertian lahan tidak sama dengan tanah, tanah adalah benda alami yang heterogen dan dinamis, merupakan interaksi hasil kerja
PEMANFAATAN CITRA SATELIT LANDSAT DALAM PENGELOLAAN TATA RUANG DAN ASPEK PERBATASAN DELTA DI LAGUNA SEGARA ANAKAN. Oleh : Dede Sugandi *), Jupri**)
PEMANFAATAN CITRA SATELIT LANDSAT DALAM PENGELOLAAN TATA RUANG DAN ASPEK PERBATASAN DELTA DI LAGUNA SEGARA ANAKAN Oleh : Dede Sugandi *), Jupri**) Abtrak Perairan Segara Anakan yang merupakan pertemuan
BAB I. sejak tersedianya data spasial dari penginderaan jauh. Ketersediaan data
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kemajuan di bidang pemetaan perubahan penggunaan lahan meningkat sejak tersedianya data spasial dari penginderaan jauh. Ketersediaan data penginderaan jauh
1 BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemanfaatan penggunaan lahan akhir-akhir ini semakin mengalami peningkatan. Kecenderungan peningkatan penggunaan lahan dalam sektor permukiman dan industri mengakibatkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dinamika bentuk dan struktur bumi dijabarkan dalam berbagai teori oleh para ilmuwan, salah satu teori yang berkembang yaitu teori tektonik lempeng. Teori ini
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perubahan penutup lahan adalah suatu fenomena yang sangat kompleks berdasarkan pada, pertama karena hubungan yang kompleks, interaksi antara kelas penutup lahan yang
BAB I PENDAHULUAN I-1
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sawah merupakan media atau sarana untuk memproduksi padi. Sawah yang subur akan menghasilkan padi yang baik. Indonesia termasuk Negara agraris yang sebagian wilayahnya
PREDIKSI PERUBAHAN LAHAN PERTANIAN SAWAH SEBAGIAN KABUPATEN KLATEN DAN SEKITARNYA MENGGUNAKAN CELLULAR AUTOMATA DAN DATA PENGINDERAAN JAUH
PREDIKSI PERUBAHAN LAHAN PERTANIAN SAWAH SEBAGIAN KABUPATEN KLATEN DAN SEKITARNYA MENGGUNAKAN CELLULAR AUTOMATA DAN DATA PENGINDERAAN JAUH Dicky Setiady [email protected] Fakultas Geografi, Universitas
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris dimana sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani. Berdasarkan sensus penduduk tahun 2010, jumlah penduduk yang bermata pencaharian
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Bahan organik merupakan komponen tanah yang terbentuk dari jasad hidup (flora dan fauna) di tanah, perakaran tanaman hidup maupun mati yang sebagian terdekomposisi
PENDAHULUAN Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan dititikberatkan pada pertumbuhan sektor-sektor yang dapat memberikan kontribusi pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Tujuan pembangunan pada dasarnya mencakup beberapa
BAB I PENDAHULUAN. (1989), hingga tahun 2000 diperkirakan dari 24 juta Ha lahan hijau (pertanian,
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bentuk penggunaan lahan suatu wilayah terkait dengan pertumbuhan penduduk dan aktivitasnya. Semakin meningkatnya jumlah penduduk dan semakin intensifnya aktivitas
BAGIAN 1-3. Dinamika Tutupan Lahan Kabupaten Bungo, Jambi. Andree Ekadinata dan Grégoire Vincent
BAGIAN 1-3 Dinamika Tutupan Lahan Kabupaten Bungo, Jambi Andree Ekadinata dan Grégoire Vincent 54 Belajar dari Bungo Mengelola Sumberdaya Alam di Era Desentralisasi PENDAHULUAN Kabupaten Bungo mencakup
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada akhir tahun 2013 hingga awal tahun 2014 Indonesia dilanda berbagai bencana alam meliputi banjir, tanah longsor, amblesan tanah, erupsi gunung api, dan gempa bumi
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Jaringan jalan merupakan sistem prasarana utama yang menjadi bagian dari sistem jaringan transportasi darat. Jaringan jalan disebut juga sebagai tonggak penggerak
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang rawan terjadi kekeringan setiap tahunnya. Bencana kekeringan semakin sering terjadi di berbagai daerah di Indonesia dengan pola dan
BAB I PENDAHULUAN. penduduk akan berdampak secara spasial (keruangan). Menurut Yunus (2005),
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Peningkatan jumlah penduduk yang disertai dengan peningkatan kegiatan penduduk akan berdampak secara spasial (keruangan). Menurut Yunus (2005), konsekuensi keruangan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Lahan merupakan bagian bentang alam (landscape) yang mencakup komponen fisik yang terdiri dari iklim, topografi (relief), hidrologi dan keadaan vegetasi alami (natural
Gambar 11. Citra ALOS AVNIR-2 dengan Citra Komposit RGB 321
V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Analisis Spektral Citra yang digunakan pada penelitian ini adalah Citra ALOS AVNIR-2 yang diakuisisi pada tanggal 30 Juni 2009 seperti yang tampak pada Gambar 11. Untuk dapat
BAB I PENDAHULUAN. kondisi penggunaan lahan dinamis, sehingga perlu terus dipantau. dilestarikan agar tidak terjadi kerusakan dan salah pemanfaatan.
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pembangunan sangat diperlukan untuk kelanjutan hidup manusia. Kemajuan pembangunan di suatu wilayah sejalan dengan peningkatan jumlah pertumbuhan penduduk yang diiringi
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Di bumi terdapat kira-kira 1,3 1,4 milyar km³ air : 97,5% adalah air laut, 1,75% berbentuk es dan 0,73% berada di daratan sebagai air sungai, air danau, air tanah,
A. Latar Belakang. ekonomi, sosial, dan lingkungan. Kebutuhan lahan untuk kegiatan nonpertanian
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lahan pertanian dapat memberikan banyak manfaat seperti dari segi ekonomi, sosial, dan lingkungan. Kebutuhan lahan untuk kegiatan nonpertanian cenderung terus meningkat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Waduk (reservoir) merupakan bangunan penampung air pada suatu Daerah Aliran Sungai (DAS) yang dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian, perikanan, regulator air
BAB 1 PENDAHULUAN. Kabupaten Jombang merupakan salah satu Kabupaten yang terletak di
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kabupaten Jombang merupakan salah satu Kabupaten yang terletak di bagian tengah Provinsi Jawa Timur dengan luas wilayah sebesar 1.159,50 km². Penggunaan lahan di Kabupaten
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Teh merupakan salah satu komoditas unggulan Negara Indonesia. Berdasarkan data Direktorat Jendral Perkebunan (2014), perkebunan teh di Indonesia mencapai 121.034 Ha
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Teh merupakan salah satu komoditi subsektor perkebunan yang memiliki berbagai peranan dan manfaat. Teh dikenal memiliki kandungan katekin (antioksidan alami) yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
1.1 LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN Aplikasi teknologi penginderaan jauh dan sistem informasi geografis semakin meluas sejak dikembangkan di era tahun 1960-an. Sejak itu teknologi penginderaan jauh dan
I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pulau Jawa merupakan wilayah pusat pertumbuhan ekonomi dan industri.
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pulau Jawa merupakan wilayah pusat pertumbuhan ekonomi dan industri. Seiring dengan semakin meningkatnya aktivitas perekonomian di suatu wilayah akan menyebabkan semakin
DAFTAR ISI. Halaman ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... ii DAFTAR ISI... iii DAFTAR TABEL... v DAFTAR GAMBAR... vii
DAFTAR ISI ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... ii DAFTAR ISI... iii DAFTAR TABEL... v DAFTAR GAMBAR... vii BAB I PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang Masalah... 1 B. Rumusan Masalah... 3 C. Tujuan... 4 D. Manfaat...
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Indonesia dikenal sebagai sebuah negara kepulauan. Secara geografis letak Indonesia terletak pada 06 04' 30"LU - 11 00' 36"LS, yang dikelilingi oleh lautan, sehingga
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Lahan, Penggunaan Lahan dan Perubahan Penggunaan Lahan
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Lahan, Penggunaan Lahan dan Perubahan Penggunaan Lahan Lahan adalah suatu wilayah daratan yang ciri-cirinya menerangkan semua tanda pengenal biosfer, atsmosfer, tanah geologi,
BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. mewujudkan ketahanan pangan, penciptaan lapangan kerja,
1 BAB I PENGANTAR 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian memiliki peranan yang sangat besar dalam perekonomian nasional. Sektor ini mendorong pencapaian tujuan pembangunan perekonomian nasional secara langsung
PENDAHULUAN Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Wilayah pesisir adalah daerah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang dipengaruhi oleh perubahan di darat dan laut. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27 tahun 2007
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penginderaan jauh merupakan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni perolehan informasi objek di permukaan Bumi melalui hasil rekamannya (Sutanto,2013). Objek di permukaan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang penelitian
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang penelitian Perwilayahan adalah usaha untuk membagi bagi permukaan bumi atau bagian permukaan bumi tertentu untuk tujuan yang tertentu pula (Hadi Sabari Yunus, 1977).
BAB I PENDAHULUAN. lahan terbangun yang secara ekonomi lebih memiliki nilai. yang bermanfaat untuk kesehatan (Joga dan Ismaun, 2011).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan merupakan bagian dari perkembangan suatu kota. Pembangunan yang tidak dikendalikan dengan baik akan membawa dampak negatif bagi lingkungan kota. Pembangunan
EVALUASI PEMANFAATAN RUANG DI KECAMATAN UMBULHARJO KOTA YOGYAKARTA TUGAS AKHIR
EVALUASI PEMANFAATAN RUANG DI KECAMATAN UMBULHARJO KOTA YOGYAKARTA TUGAS AKHIR Oleh: YUSUF SYARIFUDIN L2D 002 446 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2007
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Era Teknologi merupakan era dimana informasi serta data dapat didapatkan dan ditransfer secara lebih efektif. Perkembangan ilmu dan teknologi menyebabkan kemajuan
Bab III Pelaksanaan Penelitian
24 Bab III Pelaksanaan Penelitian Secara garis besar, bab ini akan menjelaskan uraian pelaksanaan penelitian. Tahap kegiatan pada pelaksanaan penelitian ini meliputi empat tahap utama antara lain persiapan,
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hutan merupakan seluruh satuan lahan yang menunjang kelompok vegetasi yang didominasi oleh pohon segala ukuran, dieksploitasi maupun tidak, dapat menghasilkan kayu
EXECUTIVE SUMMARY ZONASI DAN ALIH FUNGSI LAHAN IRIGASI DESEMBER, 2012
EXECUTIVE SUMMARY ZONASI DAN ALIH FUNGSI LAHAN IRIGASI DESEMBER, 2012 K E M E N T E R I A N P E K E R J A A N U M U M B A D A N P E N E L I T I A N D A N P E N G E M B A N G A N P U S A T P E N E L I T
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perubahan penggunaan lahan merupakan obyek kajian yang dinilai penting untuk diteliti karena dapat berkaitan dengan masalah global maupun lokal. Masalah dari perubahan
ANALISIS KESESUAIAN LAHAN UNTUK PERMUKIMAN DENGAN MEMANFAATKAN TEKNIK PENGINDERAAN JAUH DAN SIG (Studi Kasus: Kecamatan Umbulharjo, Yogyakarta)
ANALISIS KESESUAIAN LAHAN UNTUK PERMUKIMAN DENGAN MEMANFAATKAN TEKNIK PENGINDERAAN JAUH DAN SIG (Studi Kasus: Kecamatan Umbulharjo, Yogyakarta) TUGAS AKHIR Oleh: SUPRIYANTO L2D 002 435 JURUSAN PERENCANAAN
BAB II METODE PENELITIAN
BAB II METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dalam analisis tingkat kekritisan lahan kawasan budidaya pertanian yaitu dengan menggunakan metode analisis data sekunder yang dilengkapi dengan
BAB I PENDAHULUAN. terjangkau oleh daya beli masyarakat (Pasal 3, Undang-undang No. 14 Tahun 1992
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Transportasi jalan diselenggarakan dengan tujuan untuk mewujudkan lalu lintas dan angkutan jalan dengan selamat, aman, cepat, tertib dan teratur, nyaman dan efisien,
PENDAHULUAN Latar Belakang
1 PENDAHULUAN Latar Belakang Kebijakan otonomi daerah yang berlandaskan UU No. 32 tahun 2004 yang merupakan revisi dari UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah, memberikan kewenangan yang sangat
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan teknologi penginderaan jauh yang semakin pesat menyebabkan penginderaan jauh menjadi bagian penting dalam mengkaji suatu fenomena di permukaan bumi sebagai
Oleh : ERINA WULANSARI [ ]
MATA KULIAH TUGAS AKHIR [PW 09-1333] PENELITIAN TUGAS AKHIR Oleh : ERINA WULANSARI [3607100008] PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang memiliki kawasan pesisir sangat luas,
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Indonesia merupakan negara yang memiliki kawasan pesisir sangat luas, karena Indonesia merupakan Negara kepulauan dengangaris pantai mencapai sepanjang 81.000 km. Selain
ANALISIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS STATISTIK LOGISTIK BINER DALAM UPAYA PENGENDALIAN EKSPANSI LAHAN TERBANGUN KOTA YOGYAKARTA
ANALISIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS STATISTIK LOGISTIK BINER DALAM UPAYA PENGENDALIAN EKSPANSI LAHAN TERBANGUN KOTA YOGYAKARTA Robiatul Udkhiyah 1), Gerry Kristian 2), Chaidir Arsyan Adlan 3) 1,2,3) Program
Faktor penyebab banjir oleh Sutopo (1999) dalam Ramdan (2004) dibedakan menjadi persoalan banjir yang ditimbulkan oleh kondisi dan peristiwa alam
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Bencana alam tampak semakin meningkat dari tahun ke tahun yang disebabkan oleh proses alam maupun manusia itu sendiri. Kerugian langsung berupa korban jiwa, harta
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Perubahan iklim akibat pemanasan global saat ini menjadi sorotan utama berbagai masyarakat dunia. Perubahan iklim dipengaruhi oleh kegiatan manusia berupa pembangunan
ppbab I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
ppbab I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lahan merupakan sumber daya alam yang memiliki fungsi yang sangat luas dalam memenuhi berbagai kebutuhan manusia. Di lihat dari sisi ekonomi, lahan merupakan input
TINJAUAN PUSTAKA. Secara geografis DAS Besitang terletak antara 03 o o LU. (perhitungan luas menggunakan perangkat GIS).
TINJAUAN PUSTAKA Daerah Aliran Sungai (DAS) Besitang Sekilas Tentang DAS Besitang Secara geografis DAS Besitang terletak antara 03 o 45 04 o 22 44 LU dan 97 o 51 99 o 17 56 BT. Kawasan DAS Besitang melintasi
INDIKASI LOKASI REHABILITASI HUTAN & LAHAN BAB I PENDAHULUAN
INDIKASI LOKASI REHABILITASI HUTAN & LAHAN BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hutan merupakan salah satu sumberdaya alam yang memiliki nilai ekonomi, ekologi dan sosial yang tinggi. Hutan alam tropika
V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN
V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 5.1. Letak dan Luas Wilayah Kabupaten Seluma Kabupaten Seluma merupakan salah satu daerah pemekaran dari Kabupaten Bengkulu Selatan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 3
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dewasa ini perkembangan fisik penggunaan lahan terutama di daerah perkotaan relatif cepat dibandingkan dengan daerah perdesaan. Maksud perkembangan fisik adalah penggunaan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tingkat kenyamanan permukiman di kota dipengaruhi oleh keberadaan ruang terbuka hijau dan tata kelola kota. Pada tata kelola kota yang tidak baik yang ditunjukkan dengan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi
PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI KECAMATAN PARIGI KABUPATEN PARIGI MAUTONG TAHUN 2008 DAN 2013
PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI KECAMATAN PARIGI KABUPATEN PARIGI MAUTONG TAHUN 2008 DAN 2013 NILUH RITA AYU ROSNITA A 351 09 044 JURNAL PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN
q Tujuan dari kegiatan ini diperolehnya peta penggunaan lahan yang up-to date Alat dan Bahan :
MAKSUD DAN TUJUAN q Maksud dari kegiatan ini adalah memperoleh informasi yang upto date dari citra satelit untuk mendapatkan peta penggunaan lahan sedetail mungkin sebagai salah satu paramater dalam analisis
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penginderaan jauh merupakan teknologi penyadap dan produksi data citra digital permukaan bumi telah mengalami perkembangan sejak 1960-an. Hal ini dibuktikan dengan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tanah merupakan materi yang terdiri dari agregat (butiran) padat yang tersementasi (terikat secara kimia) satu sama lain serta dari bahan bahan organik yang telah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan menegaskan bahwa air beserta sumber-sumbernya, termasuk kekayaan alam yang terkandung didalamnya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Daerah perkotaan mempunyai sifat yang sangat dinamis, berkembang sangat cepat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Perkembangan daerah perkotaan dapat secara
EXECUTIVE SUMMARY PEMETAAN ZONASI POTENSI DAN ALIH FUNGSI LAHAN IRIGASI
EXECUTIVE SUMMARY PEMETAAN ZONASI POTENSI DAN ALIH FUNGSI LAHAN IRIGASI DESEMBER, 2014 Pusat Litbang Sumber Daya Air i KATA PENGANTAR Puji dan Syukur dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunianya
Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang
1 Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang Lahan merupakan salah satu sumber daya alam yang merupakan modal dasar bagi pembangunan di semua sektor, yang luasnya relatif tetap. Lahan secara langsung digunakan
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM INFORMASI LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM INFORMASI LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa
